gereja masehi 1

Tampilkan postingan dengan label gereja masehi 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gereja masehi 1. Tampilkan semua postingan

gereja masehi 1


 


kebanyakan orang tidak mengetahui makanan yang disebutkan di atas, tapi di bebe-

rapa negara, makanan ini  yaitu  sesuatu yang biasanya disediakan pada waktu 

sarapan.

Menurut Mayo Clinic—institusi medis terkenal yang berlokasi di Amerika Se-

rikat—untuk mengurangi kemungkinan gangguan jantung, ada satu makanan yang 

tidak boleh Anda lewatkan. Anda akan setuju bahwa sebagian besar orang di dunia 

tumbuh dengan mendengar ibu mereka mengatakan bahwa sarapan yaitu  waktu 

makan terpenting hari itu. Dan bagi Anda yang menyukai sejarah, anggapan bah-

wa “Sarapan yaitu  makanan terpenting hari ini” ditemukan pada abad ke-19 oleh 

anggota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh—James Caleb dan John Harvey Kel-

logg—untuk menjual sereal sarapan penemuan mereka. Jika Anda ragu, buktikan di 

mesin pencari Google.

Dr. Naima Covassin, seorang peneliti di Laboratorium Fisiologi Kardiovaskular 

Mayo Clinic menemukan dalam sebuah penelitian baru-baru ini bahwa orang yang 

sarapan secara teratur hanya mengalami pertambahan berat badan sebanyak tiga pon 

dalam setahun, dan mereka yang tidak sarapan justru naik berat badan sebanyak dela-

pan pon. Pertambahan berat badan itu yaitu  lemak berbahaya—menurut Dr. Covas-

sin—dan secara konsisten dikaitkan dengan hipertensi, tekanan darah tinggi, diabetes, 

dan penyakit jantung.1

Untuk memastikan, para peneliti menganjurkan bangun dan makan sarapan ber-

gizi untuk memulai hari Anda dengan baik. Sarapan yang mencakup biji-bijian utuh, 

protein tanpa lemak, buah-buahan dan sayuran, dan jus buah 100 persen tanpa tam-

bahan gula sangat penting untuk menghindari masalah jantung yang serius di kemu-

dian hari.2

Jadi—tidak diragukan lagi—sarapan yang sehat itu penting!

Pesan kami hari ini berjudul: Beri Makan Hati Anda: Menemukan Kesehatan 

Emosional di Dunia yang Hancur. Mari kita berdoa.

II. SUMBER AYAT

Yohanes 14: 1–3, 12, 13, 15, 18.

“(1) Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-

Ku. (2) Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku 

mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat 

bagimu. (3) Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat 

bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di 

tempat di mana Aku berada, kamupun berada .… (12) Aku berkata kepadamu: 

Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga peker-

jaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar 

dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; (13) dan apa juga yang kamu minta 

dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam 

Anak. (15) Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku 

.… (18) Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”


III. PENJELASAN DAN PENERAPAN

HATI YANG TIDAK GELISAH? BENARKAH?

Para ibu dan penyelidik medis bukan satu-satunya yang peduli dengan masalah 

jantung. Begitu juga Yesus. Dalam pengajaran hari ini, Yesus tahu bahwa sekelompok 

kecil pengikut-Nya dapat dan akan tercengang oleh pengumuman kepergian-Nya teta-

pi juga oleh fakta bahwa Dia akan segera menjadi Anak Domba yang disalibkan.3 Jadi, 

Yesus memberi murid-murid-Nya—dan kita hari ini—perintah yang jelas, “Janganlah 

gelisah hatimu” (Yohanes 14: 1). Lagi pula—Dia menyampaikan pekabaran pengha-

rapan ini—bahwa Dia bersama kita sekarang, dan bahwa Dia akan segera datang kem-

bali untuk kita, jadi tidak ada alasan untuk menjadi khawatir atau resah.

Ellen White menawarkan pandangan tentang momen antara Yesus dan murid-

murid-Nya dalam buku Kerinduan Segala Zaman, hlm. 305.2: “Maksud kepergian 

Kristus berlawanan dengan yang dikhawatirkan oleh murid-murid. Hal itu bukannya 

berarti suatu perpisahan yang terakhir. Ia akan pergi menyediakan tempat bagi mere-

ka, agar Ia datang kembali .... Sementara Ia mendirikan tempat bagi mereka, seharus-

nya mereka membangun tabiat yang serupa dengan Ilahi”4

Memang benar, Yesus tidak berbicara tentang kadar kolesterol atau opera-

si  bypass.5 namun , Yesus berbicara tentang jenis gangguan hati yang berbeda—jenis 

yang juga dapat diklasifikasikan sebagai kecemasan, kepedihan, keprihatinan, keta-

kutan, kekhawatiran, atau stres. Jenis gangguan hati yang bisa terasa seperti kehi-

langan harapan, kurang beriman, serangan panik, atau kepedihan sebab  ketidak-

pastian. Jenis masalah hati yang membuat Anda terjaga di malam hari memikirkan 

uang, menggigit kuku saat mengkhawatirkan anak Anda, berkomunikasi dengan te-

man yang menginginkan saran untuk pernikahan yang hancur, atau mengkhawatir-

kan tantangan sulit dalam hubungan pernikahan Anda sendiri yang sepertinya tidak 

pernah selesai.

Mungkin hari ini Anda sudah merasa khawatir atau takut tentang beberapa masa-

lah keuangan atau masalah dengan pasangan dan anak-anak Anda. Itulah jenis gang-

guan hati yang Yesus bicarakan. Ini yaitu  jenis yang kita semua alami. Ini yaitu  jenis 

masalah hati, masalah iman, masalah kurangnya kedamaian yang cenderung meng-

amuk dan merajalela dalam hidup kita. Masalah yang sepertinya muncul setiap hari 

dalam hidup kita; jenis masalah yang belum pernah terbayangkan dan terpikirkan se-

belumnya.

Sangat jelas bahwa gangguan hati—baik itu fisik, emosi, dan rohani—meru-

pakan ancaman signifikan bagi kesejahteraan kita sebagai pengikut Kristus. Ber-

kat studi ilmiah, kita tahu bahwa sarapan sehat akan melancarkan saluran darah 

kita. Tapi bagaimana dengan hati iman kita, kekhawatiran, dan kecemasan kita? 

Bagaimana dengan ketakutan yang menggerogoti pikiran kita? Jujur saja—mung-

kinkah—sebagai pengikut Yesus di dunia yang sangat kacau ini, untuk mendengar-

kan perintah-Nya dan memiliki hati yang tenang? Benarkah? Tentu saja. Lagipu-

la,  Yesus, Anak Allah; Yesus, Sang Mesias; Yesus, Tuhanmu, dan Tuhanku; Yesus, 

 Juruselamatmu, dan Juruselamatku, yaitu  Dia yang berkata, “Janganlah gelisah 

hatimu” (Yohanes 14: 1).

Menurut Firman Tuhan—sebenarnya, menurut Yesus sendiri—memiliki hati 

iman yang tenang semuanya tergantung pada makanan apa yang Anda berikan untuk 

hati Anda. Sama seperti bagaimana makanan sehat membuat perbedaan secara fisik, 

apa yang Anda konsumsi akan berpengaruh pada kondisi rohani dan emosi Anda.

Tanyakan pada para ahli, dan mereka akan memberi tahu Anda bahwa ada tiga 

kunci untuk menjadi sehat secara fisik: pola makan yang sehat, olahraga teratur, dan 

istirahat yang cukup. Jika Anda mengabaikan salah satu dari hal ini, hidup Anda akan 

bermasalah. Hal yang sama berlaku dengan hati iman dan kesehatan emosional Anda. 

Hati iman harus menerima makanan bergizi dan dikelola dengan baik untuk menjadi 

sehat dan kuat secara rohani dan emosional. Jika kita melihat lagi kata-kata Yesus, kita 

mendengar Dia berkata: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percaya-

lah juga kepada-Ku” (Yohanes 14: 1). Yesus memberi tahu kita kunci untuk hati yang 

sehat—yang mencakup kesehatan emosi—yaitu  percaya dan bersukaria dengan Dia. 

Apa yang dibutuhkan hati kita untuk tetap sehat dan kuat yaitu  makanan teratur dari 

Kristus dan hidup aktif mengikuti Kristus. Seperti otot-otot dalam tubuh kita, semakin 

kita melatih iman maka kita akan semakin kuat. Semakin banyak pengalaman yang 

Anda miliki dengan Tuhan, semakin yakin Anda bahwa apa yang Dia katakan akan 

Dia lakukan; janji-janji yang Dia buat, akan Dia tepati!

Yesaya 41: 10 mengingatkan kita: “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, 

janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan me-

nolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang memba-

wa kemenangan.”

Yosua 1: 9 memberi semangat kepada hati yang ketakutan dengan menyatakan: 

“… Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke-

manapun engkau pergi.”

Ellen White menuliskan dalam buku Mind, Character, and Personality, vol. 1, hlm. 

68: “Lihatlah Penolongmu, Yesus Kristus. Sambutlah Dia dan undang kehadiran-Nya 

yang murah hati. Pikiran Anda dapat diperbarui dari hari ke hari, dan merupakan hak 

istimewa Anda untuk menerima kedamaian dan istirahat, mengatasi kekhawatiran, 

dan memuji Tuhan atas berkat-berkat Anda.”6

Pemazmur menekankan kembali alasan pengharapan kita dalam Mazmur 27: 

1, “TUHAN yaitu  terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? 

 TUHAN yaitu  benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?”

Sepintas, jawaban ini mungkin terlihat, atau terasa seperti terlalu sederhana. Na-

mun, itu benar! Terlalu banyak pengikut Yesus mengalami gangguan hati yang berasal 

dari kenyataan bahwa hidup mereka tidak teratur mengkonsumsi Yesus—dari Firman-

Nya—tanpa tindakan nyata dari iman mereka kepada-Nya dan tidak ada perhentian 

sejati di dalam Dia. Akibatnya, mereka tidak mampu menahan kecemasan hidup yang 

muncul setiap hari. Lapar akan petunjuk yang datang dari Kristus dalam Firman-Nya 

atau mendambakan kedamaian abadi yang hanya dapat datang dari kesetiaan dalam 

perjanjian-Nya, kita akhirnya mencari makanan di segala tempat yang salah.

Kita cenderung melewatkan jamuan makan rohani demi solusi duniawi. Kemudi-

an, kita makan berlebihan pada hal-hal duniawi, dan percaya semua itu akan memberi 

14 | _____________________________

BERI MAKAN HATI ANDA: MENEMUKAN KESEHATAN ROHANI DAN EMOSIONAL DALAM DUNIA YANG HANCUR

kita hal-hal yang bersifat Ilahi. Misalnya, Anda mungkin secara pribadi suka meng-

konsumsi berita dari TV, berpikir bahwa berbagai debat politik yang Anda tonton da-

pat membuat Anda bisa lebih bijak lagi di dunia ini. Anda mungkin bergabung dengan 

gym di lingkungan sekitar dan mulai terobsesi dengan penampilan fisik dan jumlah 

kalori Anda, dengan keyakinan yang salah bahwa Anda dengan tubuh yang atletis, 

makan Anda tidak akan lagi merasa takut, khawatir, dan cemas.

Sementara itu, hati iman kita yang tidak terpuaskan mengalami periode kema-

lasan yang acuh tak acuh. Hati iman kita yang dulunya diuji secara matang saat  kita 

berdebat dengan alot bersama teman yang berbeda iman di kuliah atau tempat kerja, 

dan yang dihadapkan dengan berbagai kesulitan serta tantangan, sekarang menjadi 

terlena dan hanya menerima makanan rohani yang tidak bermutu. Tidak heran kita 

cenderung merasa tidak berdaya, tidak terlindungi, dan rentan, saat kita menghadapi 

keraguan, ketidakpastian, dan kekhawatiran hidup!

Ellen White menasihatkan dalam buku An Appeal to the Youth, hlm. 79: “Sementa-

ra Anda membuat Kitab Suci lebih banyak dipelajari, dan menjadi lebih akrab dengan-

nya, Anda akan lebih dibentengi melawan godaan setan.”7

Lagi pula, jika kita mengikuti Firman Tuhan, kita akan menemukan dalam Maz-

mur 46: 1, 2: “… Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai peno-

long dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut .…

Jika kita mempelajari Firman Tuhan, kita akan terhibur oleh pesan Yakobus 1: 5, 

“namun  apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia meminta-

kannya kepada Allah—yang memberi  kepada semua orang dengan murah hati dan 

dengan tidak membangkit-bangkit—maka hal itu akan diberikan kepadanya.”

Dan Yakobus 3: 17 menyatakan: “namun  hikmat yang dari atas yaitu  pertama-

tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-

buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.”

Tentu saja, kami tidak menyarankan bahwa penyakit mental yaitu  tidak nya-

ta, atau kondisi yang tidak memerlukan bantuan profesional. Tuhan memberi  

karunia seperti konseling (penolong) kepada tubuh Kristus—sebagaimana Rasul 

Paulus uraikan dalam 1 Korintus 12—untuk pembangunan gereja. Jadi, jika Anda 

memiliki kecemasan yang terdiagnosis secara klinis, jangan takut untuk mendapat-

kan bantuan profesional yang profesional jika Anda membutuhkannya dan tersedia 

di wilayah Anda tinggal. Namun, kita juga menyadari bahwa banyak kecemasan, 

ketakutan, kekhawatiran, dan stres harian yang muncul sebab  kita lalai untuk ma-

kan makanan yang rutin dan bergizi dari Firman Tuhan. Kita belum menghidup-

kan kasih-Nya, sukacita-Nya, kedamaian-Nya, kesabaran-Nya, kemurahan-Nya, 

kebaikan-Nya, kesetiaan-Nya, kelembutan-Nya, atau pengendalian diri-Nya (Gal. 

5: 22, 23). Dan kita telah lupa bahwa Allah mengasihi kita dengan kasih yang kekal 

(Yer. 31: 3).

Jika Anda sudah tahu bahwa Anda menderita penyakit jantung yang sebenarnya, 

para ahli akan memberi  serangkaian saran langkah-langkah praktis untuk mem-

bantu Anda dalam membangun gaya hidup sehat. Cukup tinggalkan semua kebiasaan 

buruk, kendalikan kolesterol Anda, atur pola makan Anda, bergerak selama 30 menit 

setiap hari, kelola stres Anda, praktikkan kebersihan yang baik, pertahankan berat ba-

dan yang sehat, minum vitamin Anda dan pastikan untuk mendapat  vaksinasi flu 

atau apa pun yang diperlukan untuk tetap sehat hari ini.

namun  jika menyangkut hati iman kita, sekali lagi ini hanya tentang tiga hal. Hati 

kita yang bermasalah perlu diisi dengan Yesus, dilatih dalam kehidupan untuk mengi-

kuti Dia, dan menerima berkat Sabat secara serius. Ini akan membantu kita menerima 

istirahat jasmani, rohani, dan emosional yang Allah maksudkan bagi kita setiap ming-

gu. Ingat kata-kata Yesus sendiri segera sesudah  perintah agar hati kita bebas masalah. 

Lima kali—hanya dalam dua ayat—Yesus memakai  kata-kata Saya atau Aku. Ti-

dak kurang dari permohonan bagi kita untuk melabuhkan hati kita pada harapan yang 

Dia berikan dan janjikan bahwa Dia akan segera datang kembali untuk membawa kita 

hidup bersama-Nya selamanya, ke tempat menyenangkan yang bebas dari stres dan 

masalah.

JADI, SEPERTI APAKAH POLA MAKAN YANG DIINGINKAN YESUS?

Bagaimana kita mengisi hati kita dengan kuasa Yesus? Itu terjadi dengan menjadi 

terhubung pada janji-janji firman-Nya, yang ditemukan di dalam Alkitab, dan kua-

sa kehadiran-Nya, yang ditemukan di dalam umat-Nya. Sama seperti seseorang yang 

mengembangkan kesehatan fisik jantung dengan berlari, ia juga akan berlangganan 

majalah lari untuk mendapat  wawasan dan bergabung dengan kelompok lari lo-

kal untuk pertanggungjawaban—seperti yang dilakukan banyak kerabat dan teman 

kita—Firman Tuhan dan umat-Nya sangat penting untuk hati iman yang kuat yang 

akan memberkati kita secara rohani dan menguatkan kita secara emosional, khusus-

nya dalam hubungan kita yang paling intim dengan pasangan, anak-anak, dan anggota 

keluarga kita lainnya.

Yesus membuat janji dalam ayat 18 saat  Dia berkata: “Aku tidak akan mening-

galkan kamu sebagai yatim piatu; Aku akan datang padamu." Cukup sering—saat  

hati kita gelisah dan kita merasa jauh dari Yesus, itu hanya sebab  kita jauh dari tiga 

tempat—Firman-Nya, umat-Nya, dan hari perhentian-Nya—di mana Dia berjanji un-

tuk selalu ada dan dapat ditemukan. Terlebih lagi, kita hidup di dunia di mana akses 

ke Firman Tuhan begitu mudah didapatkan. Hanya satu contoh: jika Anda mendaftar 

di www.RevivalAndReformation.org dari Asosiasi Kependetaan General Conference, 

di mana Anda bisa menerima renungan harian, panduan membaca Alkitab, dan infor-

masi mingguan United in Prayer yang akan membuat Anda tetap terhubung dengan 

Tuhan, dengan gereja-Nya, dan kehendak-Nya bagi hidup Anda.

sesudah  hati iman Anda diberi makan dengan Yesus, Anda juga harus tetap ber-

tumbuh secara teratur dengan meregangkan, melatih, dan mengasah hati iman terse-

but dengan mengejar Yesus tanpa henti. Segera sesudah  memberi tahu murid-murid-

Nya untuk bersukacita dengan Dia, Yesus dengan berani menyatakan bahwa mereka 

akan menjalani kehidupan iman di mana mereka mencapai hal-hal yang lebih menak-

jubkan bahkan lebih daripada apa yang Yesus alami! “Aku berkata kepadamu: Sesung-

guhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan 

yang Aku lakukan; bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu ...” (Yo-

hanes 14: 12). Para murid membutuhkan hati yang diberi makan dengan Yesus sebab  

mereka akan dibawa ke dalam kehidupan untuk melakukan pekerjaan Yesus yang luar 

biasa, menakutkan, dan melelahkan hati. Ini yaitu  gaya hidup yang perlu Anda geng-

gam untuk dapat memberi makan hati Anda dalam menemukan kesehatan rohani dan 

emosional di dunia yang hancur.

Mungkinkah iman Anda terasa sangat rapuh sebab  Anda tidak pernah beran-

jak dari sofa? Mungkinkah alasan Anda merasa sangat tidak siap untuk menghadapi 

masalah hidup—termasuk tantangan dalam pernikahan atau keluarga Anda—yaitu  

sebab  Anda hanya berusaha menghindarinya? Mungkinkah cara untuk memperku-

at hati iman Anda sehingga Anda dapat mencapai kesehatan rohani dan emosional 

yaitu  dengan mengalami pencobaan dan kesulitan hidup? Lagi pula, Yesus berkata 

kepada murid-murid-Nya—dan pekabaran itu juga dimaksudkan untuk kita hari ini— 

“Dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya 

Bapa dipermuliakan di dalam Anak” (ayat 13). Jika kita akan dapat menemukan kese-

hatan rohani dan emosional di dunia yang rusak, kita perlu mengindahkan suara Yesus 

dan meminta kepada-Nya apa pun yang kita butuhkan untuk menemukan kesehatan 

yang sangat kita butuhkan.

Dan yang terakhir, namun tidak kalah pentingnya, Yesus menawarkan resep untuk 

kesehatan hati: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-

Ku” (ayat 15). Hati fisik Anda tidak akan sehat dan bertahan, apalagi berkembang, jika 

Anda memakan apa pun yang Anda mau, kapan pun Anda mau, dan dalam jumlah 

berapapun yang Anda inginkan; hal yang sama juga berlaku kepada hati rohani dan 

emosional anda, kedua hal ini tidak dapat bertahan jika kita tidak bisa menuruti Dia 

yang begitu mengagumkan dan selalu menciptakan semuanya indah pada waktunya. 

Kita tahu Dia mengasihi kita. namun  jika kita mengasihi Dia, kita akan menunjukkan-

nya dengan ketaatan. Dan ketaatan pada kehendak Tuhan berarti kesehatan hati. Jenis 

kesehatan hati yang akan menghilangkan kecemasan dan ketakutan. Orang bijak me-

nyatakan dalam Amsal 19: 23: “Takut akan Allah mendatangkan hidup, maka orang 

bermalam dengan puas, tanpa ditimpa malapetaka.”


Kenyataannya, para suami dan istri sering kali kelelahan pada masa ini, dan pera-

saan lelah itu pada akhirnya akan berdampak dalam kehidupan rumah tangga sehari-

hari. Tanpa diragukan lagi, kehidupan di abad 21 ini dipenuhi dengan masalah yang 

memakan waktu dan menimbulkan stres. Antara pekerjaan, sekolah, gereja, dan kewa-

jiban sosial, stres mulai bertumbuh, dan berubah  menjadi penyakit utama di zaman 

kita. saat  stres mulai mendominasi kehidupan, itu akan mempengaruhi kesehatan 

fisik, spiritual, dan emosional kita.

Di tengah suasana seperti inilah Yesus berkata: “Janganlah gelisah hatimu” (ayat 1).

Rencana setan yaitu  mengurangi energi fisik, rohani, dan emosional kita dengan 

membuat kita lebih sibuk dari yang seharusnya—sehingga kita terus-menerus terbu-

ru-buru dari satu aktivitas yang tidak perlu ke aktivitas lainnya—yang membuat kita 

selalu kehabisan tenaga. Jika kita memberi makan hati rohani kita dengan makanan 

_____________________________17

BERI MAKAN HATI ANDA: MENEMUKAN KESEHATAN ROHANI DAN EMOSIONAL DALAM DUNIA YANG HANCUR

sampah yang tidak memiliki nutrisi penting untuk menjaga hati kita tetap sehat dan 

kuat, setiap gundukan tanah dari tantangan pernikahan kita akan menjadi gunung be-

sar keputusasaan dan kehancuran yang akan memenuhi dan menghabiskan energi dari 

hubungan kita yang lemah.

Oleh sebab  itu, mengindahkan pesan Yesus berarti memberi makan hati kita den-

gan makanan yang ditemukan dalam Firman-Nya yang menopang, menyegarkan, dan 

menguatkan kita. Dipenuhi dengan pekabaran yang menghasilkan kekuatan ini, hati 

kita akan bertenaga dan kuat secara rohani dan emosional, sehingga kita akan dimam-

pukan untuk mengucapkan kata-kata "Saya minta maaf," "Tolong ampuni saya," atau 

“Saya mengasihimu," pada waktu yang tepat. Itulah bukti yang tepat bahwa kita yaitu  

murid Yesus, dan kita mengisi hati kita dengan Firman kehidupan-Nya. sebab  menjadi 

murid Yesus benar-benar lebih dari sekedar pengakuan atas nama-Nya, melainkan re-

produksi karakter-Nya untuk memberkati rumah kita, komunitas kita, dan gereja kita.

ILUSTRASI

Jim Cymbala, pendeta senior Gereja Brooklyn Tabernacle di Brooklyn, New York, 

menuliskan ini di salah satu dari banyak bukunya:

“saat  saya tumbuh dewasa, saya pikir orang Kristen terhebat pasti orang yang 

berjalan berkeliling dengan badan yang tegak dan kekuatan batin yang luar biasa, 

mengutip Kitab Suci dan membiarkan semua orang tahu dia telah menang. Teta-

pi sekarang, saya percaya bahwa orang yang dewasa secara rohani yaitu  mereka 

yang membungkuk, yang bersandar sangat erat pada Tuhan, dan mengakui ke-

tidakmampuannya untuk melakukan apa pun tanpa Kristus. Orang Kristen ter-

besar bukanlah orang yang paling berhasil namun  mereka yang telah menerima 

paling banyak. Kasih karunia, dan belas kasihan Allah mengalir melalui dia secara 

melimpah sebab  dia berjalan dalam ketergantungan total.”8

Jadi, saat Anda mencoba merundingkan jangkauan dan aktivitas di rumah dengan 

pasangan atau keluarga Anda, petiklah buah Roh—untuk kesehatan hati—setiap hari 

(Galatia 5: 22, 23). Apakah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, 

kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, atau penguasaan diri, makanan bergizi yang 

dikirim dari surga ini, akan menjaga Anda tetap sehat secara rohani dan emosional 

ini akan memastikan, bahwa “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu 

yaitu  murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13: 35).

Saudaraku, hatimu tidak perlu gelisah sebab  seperti yang dikatakan lagu tentang 

Yesus:

You are here, moving in our midst, I worship you, I worship You. 

(Engkau disini, bergerak di tengah-tengah kami, Ku menyembah Engkau.) 

You are here, working in this place, I worship you, I worship You. 

(Engkau disini, bergerak di tengah-tengah kami, Ku menyembah Engkau.)

You are way maker, miracle worker, promise keeper, light in the darkness, 

(Engkau pembuka jalan, mengerjakan keajaiban, menepati janji, terang dalam kegelapan,) 

My God, that is who You are.

(Allah-ku, itulah Engkau.)

You are way maker, miracle worker, promise keeper, light in the darkness, 

(Engkau pembuka jalan, mengerjakan keajaiban, menepati janji, terang dalam kegelapan,) 

My God, that is who You are. That is who You are.

(Allah-ku, itulah Engkau, itulah Engkau.)

You are here, touching every heart, I worship you, I worship you.

(Engkau disini, menjamah setiap hati, Ku menyembah Engkau, Ku menyembah Engkau.)

You are here, healing every heart, I worship you, Jesus, I worship you.

(Engkau disini, menyembuhkan setiap hati, Ku menyembah Engkau, Ku menyembah Engkau.)

You are here, oh, turning lives around, I worship you, I worship you.

(Engkau disini, oh, mengubah kehidupan, Ku menyembah Engkau.)

You are here, mending every heart, I worship you, I worship you.

(Engkau disini, mengobati setiap hati, Ku menyembah Engkau, Ku menyembah Engkau.)

And You are way maker, miracle worker, promise keeper, light in the darkness,

(Dan Engkau pembuka jalan, mengerjakan keajaiban, menepati janji, terang dalam kegelapan.)

 My God, that is who You are.

(Allah-ku, itulah Engkau.)

That is who You are, and that is who You are, and that is who You are, my Jesus.

(Allah-ku, itulah Engkau, dan itulah Engkau, dan itulah Engkau, Yesus-ku.)

That is who You are. 

(Itulah Engkau).

Even when I don’t see it, You’re working. 

(Sekalipun aku tidak melihatnya, Engkau bekerja.) 

Even when I don’t feel it, You’re working. 

(Sekalipun Aku tidak merasakannya, Engkau bekerja.)

 You never stop, You never stop working. 

(Engkau tidak pernah berhenti, selalu bekerja.)

You never stop, You never stop working.

(Engkau tidak pernah berhenti, selalu bekerja.)

Way maker, miracle worker, promise keeper, Light in the darkness,

(Engkau pembuka jalan, mengerjakan keajaiban, menepati janji, terang dalam kegelapan,)

My God, that is who You are.

(Allah-ku, itulah Engkau.)

His name is above depression, His name is above loneliness;

(Nama-Nya mengatasi depresi, nama-Nya mengatasi kesepian;)

His name is above disease, His name is above cancer.

(Nama-Nya menyembuhkan pengakit, nama-Nya menyembuhkan kanker,)

His name is above every other name, listen, listen,

 (Namanya diatas segala nama, dengarlah, dengarlah,) 

That is who You are, that is who You are.

(Itulah Engkau, Itulah Engkau.) 

Oh, I know that is who You are, that is who You are.

(Oh, Ku tahu itulah Engkau, itulah Engkau.)

Inilah Yesus yang berkata: “Janganlah gelisah hatimu” (ayat 1). Dan ini yaitu  

 Yesus yang sama yang mengubah air menjadi anggur pada pernikahan di Kana di Ga-

lilea (Yohanes 2). Ini yaitu  Yesus yang sama yang membangkitkan Lazarus dari ke-

matian (Yohanes 11). Ini yaitu  Yesus yang sama yang menyembuhkan Bartimeus dari 

kebutaannya (Markus 10). Ini yaitu  Yesus yang sama yang menyembuhkan wanita 

dengan pendarahan dan membangkitkan putri Yairus dari kematian (Markus 5). Ini 

yaitu  Yesus yang sama yang menyembuhkan 10 penderita kusta dari penyakit yang 

mereka takuti (Lukas 17). Ini yaitu  Yesus yang sama yang menyembuhkan orang 

lumpuh di Kapernaum; yang dibawa turun dari atap oleh keempat temannya (Mar-

kus 2). Ini yaitu  Yesus yang sama yang mengusir setan dari putri wanita Sirofenisia 

(Markus 7). Ini yaitu  Yesus yang sama yang memberi makan 5.000 pria, wanita, dan 

anak-anak dengan lima roti dan dua ikan kecil (Matius 14). Ini yaitu  Yesus yang sama 

yang berjalan di atas air (Matius 14). Ini yaitu  Yesus yang sama yang memerintahkan: 

“Janganlah gelisah hatimu” (ayat 1).


Ini yaitu   dengan persamaan dan perbedaan di antara mere-

ka. Kedua keluarga menghadapi krisis dari dunia luar yang menempatkan mereka di 

bawah ujian berat. Sekularisme pada masa mereka menguji kerohanian rumah tangga 

mereka. Kedua keluarga menghindari kejahatan. Kedua keluarga mengenal Allah yang 

benar dan menyembah Dia. namun  pada akhirnya, mereka memiliki nasib yang sangat 

berbeda. Pelajaran dari kisah ini terletak pada perbedaan di antara mereka, mengapa 

satu keluarga bertahan utuh sementara keluarga lainnya berantakan. Lot yaitu  orang 

yang kehilangan keluarganya; Nuh yaitu  orang yang menyelamatkan keluarganya.

PERBANDINGAN LATAR BELAKANG

Baik dunia sebelum Air Bah maupun Kota Sodom, menghadirkan tantangan yang 

paling ekstrim bagi orang-orang percaya pada zaman mereka. Di berbagai tempat 

dalam Perjanjian Baru, dunia kuno dan Kota Sodom masing-masing disajikan sebagai 

tanda eskatologis pemberontakan terakhir melawan Allah dan konsekuensinya. Nubu-

atan Yesus dalam Matius 24 menunjuk pada zaman Nuh sebagai contoh kondisi dunia 

pada masa menjelang kedatangan-Nya kembali.

“Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada 

kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air 

John Nixon, Sr. D.Min., yaitu  seorang pensiunan administrator gereja, profesor teologi, dan 

 pendeta yang menulis dari Hutnsville, Alabama, 


bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh 

masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu 

datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada ke-

datangan Anak Manusia”—Matius 24: 37–39.

Yudas membuat hubungan akhir zaman dengan Kota Sodom.

“Telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang”—

Yudas 7

Yang menarik dari kedua kasus ini  yaitu  bahwa dalam Perjanjian Lama, 

kisah-kisah pada masa itu diceritakan melalui pengalaman keluarga. Kita melihat me-

reka dari dalam. Kedua keluarga ini  yaitu  penerima kasih karunia Allah di te-

ngah penghakiman Ilahi yang menghancurkan (Kejadian 6: 8; Kejadian 19: 16). namun  

hanya satu keluarga yang berhasil melewati krisis tanpa cedera. Ciri-ciri keluarga yang 

tangguh secara rohani terungkap dalam cerita mereka.

I. ZAMAN NUH

“saat  manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi 

mereka lahir anak-anak perempuan, maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-

anak perempuan manusia  itu  cantik-cantik,  lalu  mereka  mengambil  isteri  dari 

antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. Berfirmanlah 

TUHAN: ‘Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, sebab  

manusia itu yaitu  daging, namun  umurnya akan seratus dua puluh tahun saja’”— 

Kejadian 6: 1–3.

Kejatuhan umat manusia dimulai saat  perbedaan antara yang benar dan yang 

salah menghilang. Anak-anak Allah memilih istri berdasarkan lahiriah daripada ba-

tiniah—kecantikan fisik daripada karakter—dan mereka mengambil “siapa saja yang 

disukai mereka”.

Perkawinan campur antara “kaum Set” dan “Kain” menyebabkan putusnya pem-

batasan di antara mereka. Hilangnya batas itu lalu  menyebabkan runtuhnya 

perbedaan antara anak-anak Allah dan anak-anak dunia. Ini yaitu  prinsip hidup, 

“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 

Korintus 15: 33). Di dunia kuno, kebenaran dan kejahatan berbaur bersama sampai 

yang pertama berasimilasi dengan yang terakhir dan pengetahuan tentang Tuhan mu-

lai hilang di bumi.

Nuh yaitu  Bapa dari generasi pertama yang lahir sesudah  kematian Adam. Sela-

ma 900 tahun, manusia pertama di dunia menggendong cucu-cucunya dan menceri-

takan kepada mereka kisah tentang Firdaus yang hilang—tentang taman indah yang 

sekarang dijaga oleh pedang yang menyala—tentang Pohon Kehidupan, yang seka-

rang terlarang—tentang berjalan dengan malaikat dan berbicara tatap muka dengan 


 Tuhan—dari ular dan Pohon Terlarang dan langkah bertahap menjauh dari integritas 

yang menyebabkan kutukan dosa.

Sulit untuk menyangkal keberadaan Tuhan saat  Adam ada di bumi. Dia bisa 

mengatakan dengan keyakinan yang benar apa yang dia lihat dengan matanya sen-

diri. Dia bisa menunjukkan bekas luka di tubuhnya dari operasi Ilahi yang melahir-

kan Hawa. namun  dengan kematiannya, penghalang alami terakhir melawan kejahatan 

hilang dan dosa terus mengamuk. Dunia telah menjadi begitu rusak sehingga hanya 

bahasa yang paling buruk yang dapat dipakai  untuk menggambarkan kondisi bejat 

yang telah membuat umat manusia jatuh, dan kesedihan Tuhan yang memilukan.

“saat  dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa se-

gala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka 

menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu 

memilukan hati-Nya”—Kejadian 6: 5, 6 (TB).

Ini juga masa Nefilim, orang-orang bertubuh besar dan kuat yang merupakan 

"orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan". 

(Kejadian 6:4). Keturunan mereka yaitu  para raksasa yang mengintimidasi orang-

orang yang diutus Musa untuk mengintai tanah Kanaan (Bilangan 13: 33). namun  nama 

Nefilim dalam bahasa Ibrani berarti "yang jatuh", menunjukkan bahwa meskipun me-

reka terkenal di mata manusia, menurut penilaian Allah mereka yaitu  orang-orang 

berdosa. Komentar dari Sejarah Para Nabi memaparkan, "kesalahan mereka dalam 

membiarkan diri dalam kejahatan yaitu  sebanding dengan kesanggupan mental serta 

keahlian mereka." Kejahatan mereka “terbuka dan berani” (Sejarah Para Nabi, hlm. 96).

“Manusia menyisihkan Allah dari pengetahuan mereka dan menyembah barang-

barang hasil ciptaan angan-angan pikiran mereka; dan sebagai akibatnya mereka 

pun menjadi lebih merosot lagi (Sejarah para Nabi, hlm. 97).

Ini yaitu  dunia di mana Nuh harus membesarkan keluarganya. Dia tidak me-

milih kondisi masyarakat dan dia tidak bisa mengendalikan dunia di luar pintunya. 

namun  dia dapat mengendalikan hidupnya sendiri dan rumahnya sendiri dan dia me-

lakukannya dengan integritas dan kesetiaan kepada Tuhan.

II. ZAMAN LOT

“Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, me-

reka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun”—Lukas 17: 28.

Sementara Alkitab menunjuk pada kekerasan sebagai tanda lahiriah dari kerusak-

an pada zaman Nuh (Kejadian 6: 11), Sodom dikenal dengan amoralitas seksualnya, 

dan lebih dari itu, penyimpangan seksual (Yudas 7). namun  sementara praktik-praktik 

yang paling keji dan bejat berlangsung, kehidupan di Sodom terus berlanjut dari hari 



ke hari seolah-olah tidak ada yang aneh. Memang, hal itu sudah menjadi hal biasa, dan 

inilah kehancuran Sodom.

saat  para pria Sodom mencoba mendobrak pintu Lot untuk melakukan pele-

cehan seksual terhadap dua pengunjung di rumahnya, itu yaitu  “Orang-orang lelaki 

dari Kota Sodom itu, dari yang muda sampai yang tua, bahkan seluruh kota, tidak ada 

yang terkecuali, datang mengepung rumah itu” (Kejadian 19: 4). saat  dosa penuh 

tanpa kendali, itu yaitu  tanda bahwa Roh Kudus telah ditolak dan ditarik sepenuhnya 

dan satu-satunya yang tersisa yaitu  penghakiman Ilahi.

Jadi, kita melihat persamaan. Baik Nuh dan Lot membesarkan keluarga mereka 

dalam kondisi yang merusak kehidupan keluarga yang saleh, namun  cara mereka masuk 

dalam kondisi itu berbeda.

MATERIALISME ATAU ROHANI

“Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah 

Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir .... Sebab itu 

Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah ti-

mur dan mereka berpisah”—Kejadian 13: 10, 11.

saat  Lot memutuskan di mana akan membesarkan keluarganya, dia membuat 

keputusan berdasarkan prospek untuk meningkatkan kekayaannya, tanpa menyadari 

pengaruhnya terhadap rumah tangganya. Dia tidak berkonsultasi dengan Tuhan. Lot 

memaparkan keluarganya pada kejahatan. Dia membuat keputusan materialistis dan 

dengan melakukan itu, mengatur keluarganya untuk belajar menghargai hal-hal mate-

ri di atas segalanya. Nilai-nilai ini menjadi pusat bencana yang menimpa keluarganya 

saat  Sodom dihancurkan.

Lot sudah kaya saat  dia memindahkan keluarganya ke Sodom (Kejadian 13: 5). 

Dia tidak membutuhkan apa pun. Dan sebab  materialisme, dia kehilangan keluarga 

dan kekayaannya. Dia “pergi ke Sodom dalam keadaan kaya; dia kembali tanpa apa-

apa” (Counsels on Heath, hlm. 270). Kekalahan pertama sejauh ini yaitu  yang paling 

menghancurkan, namun  hal itu ditentukan oleh nilai-nilai yang mendorong keputusan 

Lot. Lot jatuh ke dalam kehidupan mewah dan kemewahan menghancurkan imannya.

“saat  Lot memasuki kota Sodom, dengan sungguh sungguh dan memerintah-

kan rumah tangganya menurut dia. namun  nyatanya dia telah gagal. Kejahatan 

yang ada di sekelilingnya telah mempengaruhi imannya sendiri, dan hubungan 

anak-anaknya dengan penduduk Sodom mengikat kepentingannya dalam satu 

tingkatan dengan mereka” (Membina Keluarga Bahagia, hlm. 129).

Agar keluarga berkembang secara rohani, pengambilan keputusan harus didasar-

kan pada nilai-nilai rohani juga. Seperti pada zaman Lot, demikian pula sekarang ini. 

Daya pikat materialisme ada di sekitar kita. Janji kekayaan pribadi dan kebahagiaan 

yang akan dibawanya yaitu  ciri esensial kapitalisme. Sistem itu, bagaimanapun, dido-



rong oleh kepentingan pribadi, kepemilikan pribadi demi keuntungan, dan perolehan 

kekayaan sebagai tujuan itu sendiri.

Pada tahun 2021, ada lebih dari satu juta jutawan di Amerika Serikat, bahkan jauh 

lebih banyak. Menurut sebuah laporan, satu juta jutawan baru muncul di AS pada 

tahun 2021 saja. Sekarang ada 14,6 jutawan di Amerika, dengan tahun 2021 menjadi 

“tahun terkuat yang pernah ada untuk lahirnya jutawan.”1

Dengan begitu banyak kekayaan di antara kita dan kemungkinan untuk mempe-

rolehnya terbuka bagi begitu banyak populasi, akan mudah bagi kita untuk jatuh ke 

dalam pola “kehidupan dunia ini”. namun  saat  kita menempatkan hal-hal materi se-

bagai yang terutama dalam nilai-nilai kehidupan kita, kita mempertaruhkan kesehatan 

rohani dan kesehatan keluarga kita. Kehidupan Lot dan keluarganya yaitu  contoh 

yang menunjukkan “konsekuensi di hadapan kita.” (Membina Keluarga Bahagia, hlm. 

129).

Sebaliknya, Nuh membangun hidupnya dan minat keluarganya di sekitar misi 

yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Seluruh hidupnya didorong oleh misi terse-

but. Proyek bahtera menuntut penggunaan dari semua karunia dan talentanya—ke-

cerdikan arsitektural untuk merencanakan instruksi bangunan Tuhan, kekuatan fisik 

untuk menyiapkan dan menempatkan bahan konstruksi, keterampilan kepemimpin-

an untuk mengorganisasi para pekerja untuk memaksimalkan kemampuan dan bakat 

mereka, serta stamina pikiran dan tubuh untuk dipertahankan setiap hari sampai misi 

selesai.

Dia bahkan menginvestasikan aset pribadinya. Nuh mencurahkan uangnya sendi-

ri untuk membangun bahtera sampai dia menghabiskan semuanya. Dia tidak memiliki 

kecemasan akan perpisahan saat  dia memimpin keluarganya ke dalam bahtera kare-

na dia tidak meninggalkan apa pun. Proyek itu juga menunjukkan iman yang besar 

dari Nuh. Dia membangun bahtera di tanah kering di dunia yang belum pernah meli-

hat hujan. Para ilmuwan meremehkannya. Kaum intelektual merendahkannya. Orang 

yang kasar dan tidak sopan mengejeknya. Tapi Nuh terus membangun.

Seluruh hidup Nuh didorong oleh karakter imannya. Pada akhirnya, dia harus 

berpaling sepenuhnya dari generasi pada masanya sebab  mereka terus membelakangi 

Tuhan. Ada pilihan yang jelas antara nilai-nilai dunia tempat dia tinggal dan nilai-nilai 

kerajaan tempat dia melekatkan diri. Dan hasilnya ada di depan kita.

KETEGASAN ATAU KEBIMBANGAN

Salah satu tanda yang paling jelas tentang apa yang terjadi pada iman Lot saat  

dia tinggal di Sodom yaitu  reaksinya saat  dia mengetahui bahwa kotanya akan di-

hancurkan. Jika dia tidak yakin tamunya yaitu  malaikat saat  dia pertama kali me-

nerima mereka, kejadian di depan pintunya membuatnya sangat jelas.

“Dan mereka membutakan mata orang-orang yang di depan pintu rumah itu, dari 

yang kecil sampai yang besar, sehingga percumalah orang-orang itu mencari-cari 

pintu”—Kejadian 19: 11.


Peringatan para malaikat sangat tegas, begitu pula tindakan mereka dalam mem-

bela Lot dan keluarganya dari orang banyak yang bejat. Mereka tidak hanya membuat 

undangan keselamatan kepada Lot, mereka memberi  perintah yang diinstruksikan 

kepada mereka.

“Lalu kedua orang itu berkata kepada Lot: "Siapakah kaummu yang ada di sini 

lagi? Menantu atau anakmu laki-laki, anakmu perempuan, atau siapa saja kaum-

mu di kota ini, bawalah mereka keluar dari tempat ini, sebab kami akan memus-

nahkan tempat ini, sebab  banyak keluh kesah orang tentang kota ini di hadapan 

TUHAN; sebab itulah TUHAN mengutus kami untuk memusnahkannya”—Keja-

dian 19: 12, 13.

Pesannya jelas dan peringatannya segera. Tidak diragukan lagi betapa mendesak-

nya perintah para malaikat itu, namun Lot melakukan hal yang aneh. Dia ragu-ragu.

“saat  fajar telah menyingsing, kedua malaikat itu mendesak Lot, supaya berse-

gera, katanya: ‘Bangunlah, bawalah isterimu dan kedua anakmu yang ada di sini, 

supaya engkau jangan mati lenyap sebab  kedurjanaan kota ini. saat  ia berlam-

bat-lambat, maka tangannya, tangan isteri dan tangan kedua anaknya dipegang 

oleh kedua orang itu, sebab TUHAN hendak mengasihani dia; lalu kedua orang 

itu menuntunnya ke luar kota dan melepaskannya di sana’”—Kejadian 19: 15, 16.

RAHMAT TUHAN UNTUK LOT

Seperti “Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan” (Kejadian 6: 8), Lot juga 

menemukan belas kasihan dalam kesabaran Tuhan. Inilah yang saya sukai dari kisah 

Sodom, Lot yaitu  orang percaya biasa seperti Anda dan saya. Dia bukanlah raksasa 

iman seperti Abraham atau nabi besar seperti Musa. Dia tidak disebut “sempurna di 

generasinya” seperti Ayub. Lot memilih untuk tinggal di Sodom, dan dia memilihnya 

sebab  alasan yang salah. Mula-mula ia berada di pinggiran kota, lalu  ia pindah. 

Ia tetap tinggal di sana meskipun kondisinya demikian sebab  ia hidup dengan nya-

man.

Lot tidak mengambil bagian dalam dosa Sodom. Orang Sodom membencinya 

sebab  dia berkhotbah menentang dosa mereka; dia bukan salah satu dari mereka. 

Tapi dia juga bukan hamba yang sempurna, namun Tuhan bertekad untuk menyela-

matkannya terlepas dari semua kekurangannya.

Malaikat pemusnah tetap bertahan dalam misi mereka untuk menyelamatkan ke-

luarga Lot. Tuhan bertekad untuk menyelamatkan mereka sama seperti Dia menghan-

curkan yang jahat, dan terlebih lagi, sebab  Dia membatasi kuasa-Nya untuk meng-

hancurkan sesuai dengan tujuan-Nya untuk menyelamatkan.

Para malaikat diperintahkan agar mereka tidak boleh berbuat apa-apa sampai Lot 

dan keluarganya selamat (ayat 22). namun  bahkan saat itu, saat  dibawa menuju ke-

selamatan oleh para malaikat Tuhan, Lot seakan ragu-ragu untuk diselamatkan, se-

hingga imannya menjadi lemah. Dia tidak memercayai keselamatan yang disediakan 

Tuhan dan berjanji untuk pergi ke tempat yang aman sesuai pilihannya sendiri. Para 

malaikat memenuhi permintaannya, namun  ternyata tidak seperti yang diharapkan Lot.

Saat keluarga kecil itu berlari menuju tempat yang aman, Istri Lot perlahan-lahan 

memperlambat langkahnya. Langkahnya melambat dan kemajuannya berkurang. Tapi 

itu bukan sebab  kelelahan. Panasnya api berada di belakang leher mereka dan ratap-

an kematian terngiang-ngiang di telinga mereka. sebab  tergesa-gesa dan panik, Lot 

tidak menyadari bahwa istrinya tertinggal. Perasaan istrinya berkecamuk dan gelisah; 

kepalanya berputar-putar.

Tiba-tiba dia berhenti dan melihat ke belakang, dan saat  matanya melihat kota 

yang dia cintai lebih dari apa pun, itu menjadi pandangan terakhir istri Lot di bumi ini. 

Pada waktu itu, ia langsung membeku menjadi tiang garam, sebuah monumen menge-

rikan yang menunjukkan konsekuensi dari hati penuh keraguan. Dia hampir berhasil 

selamat, beberapa langkah lagi dan dia akan aman. Sebaliknya, dia tewas bahkan keti-

ka di ambang keselamatan.

saat  saya masih kecil, kisah ini begitu menakutkan. Saya tidak bisa memahami-

nya. Istri Lot melakukan semua yang diperintahkan malaikat kepadanya. Dia hanya 

menoleh. Apakah gerakan ini membuat dia pantas mati? Tentu, malaikat itu menyu-

ruhnya untuk tidak melihat ke belakang tapi mungkin dia lupa. Dengan semua yang 

terjadi, mungkin dia bingung. Satu gerakan kepala dan dia mati! Apakah ini pelajaran 

yang bisa kita ambil dari kehidupan istri Lot?

Tentunya tidak. Jika Tuhan ingin menghancurkan istri Lot, Dia akan meninggal-

kannya di kota. Tuhan berusaha menyelamatkan istri Lot. Apa yang kita lihat di da-

taran Sodom, di tiang garam itu, yaitu  seorang wanita yang menolak keselamatan 

sebab  dia tidak menyukai harga yang harus dibayar. Istri Lot meremehkan pembe-

basan Tuhan sebab  penghakiman-Nya terhadap Sodom memicu  hilangnya 

semua kekayaannya. Rumahnya terbakar di belakang sana. Dia membenci keselamat-

an Tuhan sebab  keselamatan itu tidak bisa mencakup pakaiannya, uangnya, teman-

temannya, dan anak-anaknya yang jahat yang tidak mau menerima peringatan Allah. 

"Dia merasa telah diperlakukan dengan kejam sebab  kekayaan yang dia kumpulkan 

bertahun-tahun harus dibinasakan" (Sejarah Para Nabi, hlm. 183).

Bukan pandangan ke belakang yang membunuh istri Lot. Tindakan itu hanya ge-

jala dari satu penyakit yang fatal. Bukan apa yang dia lakukan dengan kepalanya yang 

menjadi ajalnya; namun  apa apa yang telah dia lakukan dengan hatinya. Dan keraguan 

suaminya untuk melarikan diri dari kehancuran Sodom hanya melemahkan tekadnya. 

Konsekuensi dari kebimbangannya yaitu  nyawanya sendiri.

Tragedi istri Lot mengingatkan kita pada prinsip alkitabiah tentang kerelaan. Al-

kitab tidak mengajarkan bahwa kekayaan yaitu  dosa atau harta benda itu sendiri ja-

hat. Abraham lebih kaya daripada Lot, namun  itu tidak mengorbankan kerohaniannya. 

Bahaya kepemilikan materi bukanlah pada apa yang kita miliki namun  pada apakah itu 

menjadi obsesi kita atau tidak. Kisah Lot mengingatkan kita akan pentingnya bagai-

mana kita berhubungan dengan semua milik kita.

Kerelaan berarti kita menyerahkan milik kita kepada Tuhan melalui perjanjian. 

Kami siap memakai nya untuk tujuan-Nya atau menyerahkannya pada saat itu 

juga seperti yang Dia perintahkan. Dan jika kita memang setia, Tuhan mungkin meng-

ambil kekayaan kita tanpa menjelaskan alasannya. Paulus menghubungkan penyerah-

an dengan kepuasan.

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala 

hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; 

baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan 

maupun dalam hal kekurangan”—Filipi 4: 12.

KETEGASAN NUH

Berbeda dengan kebimbangan Lot, iman Nuh ditunjukkan oleh ketegasannya. 

“Dengan iman, Nuh, sesudah  diperingatkan tentang hal-hal yang belum terlihat, ber-

gerak dalam ketakutan yang kudus dan membangun bahtera untuk menyelamatkan 

keluarganya” (Ibrani 11: 7). Sementara iman Lot melemah selama ia tinggal di Sodom, 

iman Nuh tetap kuat saat diuji.

Iman kepada Tuhan lebih dari sekadar keyakinan bahwa Dia ada. Percaya bahwa 

Allah ada, hanyalah langkah masuk, syarat minimum untuk mengenal Allah (Ibrani 

11: 6). saat  iman matang, itu melampaui keyakinan belaka. Itu menjadi dasar dari 

pandangan dunia baru. Alkitab menggambarkan iman yang dewasa saat  menyata-

kan:

“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, 

sebab  yang kelihatan yaitu  sementara, sedangkan yang tak kelihatan yaitu  ke-

kal”—2 Korintus 4: 18.

Paradoks “Pusatkan perhatian kita” pada sesuatu yang tidak terlihat menunjukkan 

realitas alam rohani. saat  Yesus berkata, “kerajaanku bukan dari dunia ini,” inilah 

yang Dia maksudkan. Ada pandangan dunia dan seperangkat nilai yang tidak berasal 

dari atau sesuai dengan nilai-nilai dunia ini. Ada alam realitas yang tidak terlihat oleh 

mata fisik namun  terlihat oleh mata iman. Pandangan dunia inilah yang menyebabkan 

ketegasan Nuh berbeda dengan kebimbangan Lot.

Tema yang berulang dalam kisah kehidupan Nuh yaitu  ketaatannya yang lang-

sung dan sepenuhnya pada perintah Allah. Sementara Lot berusaha merundingkan 

keselamatannya berdasarkan rasa takut, Nuh menurut dengan iman. Jika ada salah 

satu dari mereka yang bisa dicurigai untuk melarikan diri dari apa yang telah disedi-

akan Tuhan, itu pastilah Nuh—bahtera melawan banjir di dunia yang tidak pernah 

hujan. Tapi Nuh kuat dalam iman, dan itu terbukti dari perbuatannya.

• “Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah 

kepadanya, demikianlah dilakukannya”—Kejadian 6: 22.

• “Lalu Nuh melakukan segala yang diperintahkan TUHAN kepadanya”—Ke-

jadian 7: 5.

• “lalu  datanglah sepasang mendapat  Nuh ke dalam bahtera itu, jan-

tan dan betina, seperti yang diperintahkan Allah kepada Nuh”—Kejadian 7: 9.

Selama 120 tahun Nuh tidak pernah goyah dari tujuan Allah bagi hidupnya. Dia 

menerima cemoohan dan hinaan dari pelayanannya tanpa mengeluh dan tidak pernah 

meminta penugasan yang berbeda. Bayi lahir, besar, dewasa, menikah, punya bayi sen-

diri, yang tumbuh besar, dewasa, dan punya bayi sendiri, dan Nuh masih berkhotbah. 

Pengaruh tindakannya sama seperti pengaruh Lot terhadap keluarganya.

Pada prinsipnya, “anak-anak mewarisi kecenderungan-kecenderungan dari orang 

tua mereka, dan meniru teladan hidup mereka” (Sejarah Para Nabi, hlm. 129). Dan 

sebagaimana “Nuh yaitu  yang paling saleh dan suci dari semua yang ada di bumi” 

(Story of Redemption, hlm. 63), keluarganya sangat diuntungkan oleh pengaruh iman 

dan ketaatannya kepada Allah.

saat  putra Nuh lahir, ayah mereka sudah terlibat dalam proyek bahtera. Mereka 

berpartisipasi di dalamnya di sampingnya segera sesudah  mereka cukup umur untuk 

memegang palu. Mereka berkontribusi pada pembangunan kapal yang akan menyela-

matkan nyawa mereka, di bawah pengawasan ayah mereka.

Ham, Sem, dan Yafet memperhatikan ayah mereka saat mereka tumbuh dewasa 

dan mengenal dia sebagaimana adanya. Nuh yaitu  teladan bagi anak laki-lakinya dan 

pengaruh hidupnya membuat mereka sangat terkesan.

Dalam puisinya, Sermon We See (dalam domain publik), Edgar Guest memiliki 

sajak relevan yang berbunyi: "sebab  saya mungkin salah paham dengan Anda dan 

nasihat tinggi yang Anda berikan, Tapi tidak ada kesalahpahaman tentang bagaimana 

Anda bertindak dan bagaimana Anda hidup."

Rahmat Tuhan kepada Nuh diteruskan kepada putra-putranya; mereka diselamat-

kan oleh teladannya. Nuh sedang menabur benih keselamatan di rumahnya dengan 

hidup sebagai abdi Allah.

“Sebagai pahala terhadap kesetiaannya dan ketulusan hatinya, Allah telah menye-

lamatkan seluruh anggota keluarganya bersama dengan dia. Betapa suatu dorong-

an bagi orang tua untuk tetap setia!” (Sejarah Para Nabi, hlm. 103).

Setiap orang tua yaitu  pendeta, dan keluarga yaitu  gereja pertama. Dan inilah 

kebenaran umum yang telah saya pelajari selama bertahun-tahun dalam pelayanan, seo-

rang wanita yang jatuh cinta akan mengikuti suaminya dalam melakukan hal yang benar, 

dan anak-anak akan lahir. Anda sering melihat wanita di gereja tanpa suaminya, namun  

jarang Anda melihat pria saleh di gereja tanpa istri dan anak-anaknya di sampingnya.

Istri Nuh mengikuti suaminya masuk ke dalam bahtera sebab  dia teguh dalam 

keyakinannya, sedangkan istri Lot tidak mengikuti suaminya ke tempat yang aman 

sebab  dia bimbang.

Inilah janji yang ingin dituntut oleh orang tua yang percaya.

“Sungguh, beginilah firman TUHAN: ‘Tawanan pahlawan 3pun dapat direbut 

kembali, dan jarahan orang gagah dapat lolos, sebab Aku sendiri akan melawan 


orang yang melawan engkau dan Aku sendiri akan menyelamatkan anak-anak-

mu’”—Yesaya 49: 25.

Itu yaitu  janji yang indah dan memberi kita harapan saat  anak-anak kita terse-

sat. namun  saat  kita mengklaim janji ini, kita harus ingat bahwa itu memiliki syarat. 

yaitu  sebuah praduga, bukannya iman, bagi kita untuk meminta Tuhan menyela-

matkan anak-anak kita tanpa partisipasi kita. Kita harus melakukan bagian kita seperti 

Nuh melakukan bagiannya. Keluarga Nuh diselamatkan oleh Roh Allah yang bekerja 

melalui Nuh.

“Pengalaman Nuh yaitu  teladan mulia bagi umat Kristiani yang mengetahui 

bahwa mereka hidup di akhir zaman dan sedang mempersiapkan diri untuk di-

pindahkan. Pekerjaan misionaris terbesar mereka harus dilakukan di rumah.”2

Aset terbesar seorang ayah sebagai kepala rumah tangga bukanlah kekerasan atau 

ketegasannya. Bukan seberapa keras dan militer dia dalam memerintahkan keluarga-

nya untuk mematuhi perintahnya. Ayah yang kuat bukanlah orang yang bisa mendo-

minasi semua orang di bawah atapnya. Ayahlah yang dengan teladannya menunjuk-

kan apa artinya menjadi abdi Allah.

Itu berarti sesuatu untuk memiliki seorang ayah yang dapat Anda hormati, seo-

rang yang hidupnya didasarkan pada karakter Kristus. Ini berarti menanamkan prin-

sip ke dalam anak-anak, prinsip mendasar yang tidak pernah bisa mereka hindari se-

penuhnya. Bahkan saat  mereka sendiri tidak hidup sesuai dengan itu, hati nurani 

mereka akan selalu memberi tahu mereka bahwa mereka harus lebih baik dari mereka 

hari itu; bahwa mereka harus seperti ayah. Pemimpin seperti inilah yang seharusnya 

dimiliki oleh setiap kepala keluarga.

CONTOH

Istri saya dan saya beruntung sebab  ayah kami—bukan pria berpendidikan tinggi 

namun  pria jujur pekerja keras yang tulus dalam iman mereka. Saya tidak membanding-

kan mereka dengan Nuh, yang disebut Alkitab sebagai manusia sempurna di generasi-

nya. Mereka sama sekali tidak sempurna, dan bahkan sebagai anak-anak, kami dapat 

melihat kekurangan mereka. Tapi apa yang saya pelajari selama bertahun-tahun yaitu  

bahwa anak-anak akan memaafkan kekurangan orang tua mereka jika mereka percaya 

pada mereka. Mereka akan memaafkan kesalahan orang tua mereka, namun  mereka ti-

dak akan memaafkan kemunafikan.

saat  ayah kami membawa kami ke gereja pada hari Sabat atau mengambil Al-

kitab di rumah untuk kebaktian malam, setiap nasihat yang mereka sampaikan benar-

benar dikatakan dengan sungguh-sungguh. Mereka memercayai apa yang mereka ajar-

kan dan menjalankannya dengan kemampuan terbaik mereka. Inilah yang diperlukan 

untuk menjadi abdi Allah dan menyelamatkan keluarga Anda; hal-hal ini  mem-

butuhkan segalanya. Kita harus benar-benar berserah pada Tuhan secara sepenuhnya.

Dan sekarang kita telah mencapai lingkaran penuh. Perbedaan antara keluarga 

Nuh dan Lot, dan khususnya kedua kepala keluarga itu, yaitu  perbedaan antara me-

reka yang kuat dan lemah secara rohani. Kondisi sosial di sekitar mereka sama. Perbe-

daannya ada di dalam bukan di luar. Perbedaan-perbedaan ini menjadi alasan menga-

pa satu keluarga tetap utuh sementara yang lain hancur. Itu yaitu  perbedaan antara 

kehidupan rohani dan materialisme, dan kemampuan untuk menjadi tegas atau hidup 

dalam kebimbangan. Ciri-ciri ini ditentukan oleh kuat atau lemahnya iman kita kepa-

da Tuhan. Saat kita bertumbuh dalam iman, kita membuktikan cinta dan kepercayaan 

kita akan Allah dan memastikan kebahagiaan kita sendiri.

ILUSTRASI

Ada cerita tentang seorang ayah yang terbangun di tengah malam oleh suara anak 

laki-lakinya, “Ayah ada laki-laki di rumah!” Sang ayah melompat untuk melihat pe-

mandangan yang mengejutkan dari seorang asing yang memegang pisau ke leher pu-

trinya yang masih kecil. Penyusup itu membeku di pintu saat sang ayah menghadapi-

nya. Kedua pria itu saling berhadapan tanpa sepatah kata pun di antara mereka dalam 

tatapan mematikan dengan segala yang dipertaruhkan.

Sang ayah merasakan adrenalin terpacu dan setiap indera meningkat saat dia me-

lihat kesempatannya. Penyusup itu menoleh sejenak untuk mengetahui arahnya dan 

sang ayah mengambil kesempatan. Dia melompat ke penyusup dan perjuangannya di-

mulai. Pisaunya berhasil lepas, putrinya kabur, dan penyusup kabur. Sang ayah mem-

bawa putri dan putranya ke dalam pelukannya. Dia telah menyelamatkan keluarganya.

sesudah  kejadian itu selesai, sang ayah menceritakan apa yang terjadi kepada po-

lisi. Salah satu dari mereka bertanya, "apa yang terlintas dalam pikiranmu?" “Saat saya 

berdiri di sana berhadap-hadapan dengan pria itu, tangannya melingkari leher gadis 

kecil saya, saya membuat janji serius dalam pikiran saya saat itu juga. Tidak peduli apa 

yang terjadi padaku, bahkan jika itu mengorbankan nyawaku, pria itu tidak akan pergi 

dari sini bersama putriku!”

APLIKASI

Seorang penyusup telah memasuki semua rumah kita dengan niat membunuh. 

Dia memegang leher anak-anak kita menunggu kesempatan untuk membawa mereka 

pergi selamanya. Ini lebih nyata di zaman kita daripada sebelumnya. Tapi tidak per-

lu takut. Tuhan ada di pihak kita, dan Dia telah menyediakan jalan keluar dan tem-

pat aman di dalam Anak-Nya, Yesus. Kristus yaitu  Bahtera keselamatan bagi semua 

orang yang menaruh kepercayaan mereka kepada-Nya. Lot atau Nuh? Terserah kepada 

kita untuk memilih. 

 

OLEH JOHN B. YOUNGBERG

AYAT-AYAT

Maleakhi 4: 5–6; Yosua 24: 15

 

PERLINDUNGAN DARI BAHAYA FISIK

Dalam kitab Ayub, Pasal 1, sebuah adegan digambarkan di surga di mana setan, 

yang menganggap dirinya sebagai penguasa Planet Bumi