gereja masehi 26
n
kebenaran.”—Kebahagiaan Sejati, hlm. 109, 107.
Rumah tangga yaitu landasan jemaat, dan rumah orang Kristen
yaitu sebuah rumah ibadah. “Para ayah dan ibu,” tulis Ellen G. White,
“bagaimanapun beratnya urusanmu, jangan pernah gagal mengumpul-
kan keluargamu di sekeliling mezbah Allah.... Mereka yang mau meng-
hidupkan kehidupan yang sabar, mengasihi dan gembira haruslah tekun
berdoa.”—Membina Keluarga Sehat, hlm. 355.
Hubungan dengan Masyarakat
Sementara “kewargaan kita yaitu di dalam sorga, dan dari situ juga
kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat” (Flp. 3:20),
namun kita masih berada di dunia dan menjadi bagian yang tak terpisah-
kan dari masyarakat, serta harus memikul tanggung jawab bersama atas
masalah-masalah umum kehidupan. Di mana pun kita tinggal, sebagai
anak-anak Allah kita harus dikenal sebagai warga terbaik dalam integri-
tas Kekristenan kita dan dalam bekerja untuk kebaikan semua orang.
194
Sementara tanggung jawab kita yang tertinggi yaitu kepada gereja
dan perintah Injil, kita harus mendukung semua usaha-usaha yang baik
untuk perbaikan sosial dan masyarakat dengan pelayanan dan sarana
dari kita, meskipun kita harus menjauhkan diri dari semua pertengkar-
an politik dan sosial, kita senantiasa harus, secara diam-diam dan te-
guh, mempertahankan sikap yang tidak mengenal kompromi terhadap
keadilan dan kebenaran dalam masalah-masalah masyarakat, sejalan
dengan ketaatan yang kuat kepada keyakinan rohani kita. yaitu tang-
gung jawab kita untuk menjadi warganegara yang setia di wilayah pe-
merintahan di mana kita berada, memberikan “kepada Kaisar apa yang
wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib
kamu berikan kepada Allah” (Mat. 22:21).
Memelihara Sabat
Lembaga Sabat yang suci yaitu satu tanda kasih Allah kepada ma-
nusia. Itu yaitu satu peringatan akan kuasa Allah dalam penciptaan
pada mulanya dan juga satu tanda dan kuasa-Nya untuk menciptakan
kembali dan menyucikan kehidupan (Yeh. 20:12), dan pemeliharaan-
nya yaitu satu bukti dari kesetiaan kita kepada-Nya dan persekutuan
kita dengan Sang Penebus.
Sabat mendapatkan suatu tempat yang sangat istimewa dalam kehi-
dupan kita. Hari ketujuh dalam minggu, sejak matahari terbenam pada
hari Jumat hingga matahari terbenam pada hari Sabtu (Im. 23:32), ada-
lah suatu karunia dari Allah, suatu tanda kasih karunia-Nya dalam wak-
tu. Itu merupakan suatu kesempatan istimewa, suatu perjanjian istime-
wa dengan Dia yang mengasihi kita dan yang kita kasihi, suatu waktu
yang kudus yang diasingkan oleh hukum Allah, suatu hari kesukaan
untuk menyembah Allah dan berbagi dengan orang lain (Yes. 58:13).
Kita menyambut Sabat dengan sukacita dan bersyukur.
“Sabat—oh!—hari yang paling indah dan paling diberkati dari selu-
ruh hari.”—The Faith I Live By, hlm. 36.
“Sabat... yaitu waktu Allah, bukan milik kita; bilamana kita me-
nyalahgunakannya kita sedang merampas Allah... Allah telah membe-
rikan kita enam hari penuh untuk melakukan pekerjaan kita, dan hanya
STANDAR KEHIDUPAN ORANG KRISTEN 195
mengasingkan satu hari untuk-Nya. Ini haruslah menjadi satu hari ber-
kat bagi kita—satu hari di mana kita harus mengesampingkan semua
perkara duniawi dan memusatkan pemikiran kita kepada Allah dan sur-
ga.... “Janganlah kita mengajarkan kepada anak-anak kita bahwa me-
reka harus tidak berbahagia pada hari Sabat, bahwa berjalan ke alam
terbuka yaitu salah. Oh, jangan. Kristus memimpin murid-murid-Nya
ke tepi danau pada hari Sabat dan mengajar mereka. Khotbah-Nya pada
hari Sabat tidak selalu dikhotbahkan di dalam ruangan.”—In Heavenly
Places, hlm. 152.
“Kasih Allah telah menetapkan suatu batas terhadap tuntutan pe-
kerjaan. Ke atas hari Sabat Ia menempatkan tangan-Nya yang penuh
rahmat. Pada hari-Nya itu Ia memberikan kepada keluarga kesempat-
an untuk bersekutu dengan Dia, dengan alam, dan dengan satu sama
lain.”—Membina Pendidikan Sejati, hlm. 236.
Jam-jam Sabat yaitu milik Allah, dan harus dipergunakan untuk
Dia saja. Kesenangan kita, kata-kata kita, kesibukan kita, pemikiran-
pemikiran kita, tidak boleh menempati pemeliharaan hari Tuhan itu
(Yes. 58:13). Hendaklah kita berkumpul dalam satu lingkaran keluar-
ga ketika hari senja dan menyambut Sabat yang kudus itu dengan doa
dan nyanyian, dan marilah kita menutup hari itu dengan doa dan per-
nyataan syukur atas kasih-Nya yang ajaib. Hari Sabat yaitu satu hari
khusus untuk berbakti di rumah dan di gereja, satu hari yang penuh
sukacita bagi diri kita sendiri dan anak-anak kita, satu hari untuk be-
lajar lebih banyak tentang Tuhan melalui Alkitab dan buku alam yang
besar. Itu yaitu saat untuk mengunjungi orang sakit dan bekerja untuk
keselamatan jiwa-jiwa. Kegiatan biasa pada enam hari bekerja harus-
lah dikesampingkan dan jangan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang
tidak perlu. Janganlah kita membiarkan bacaan-bacaan sekular ataupun
siaran-siaran sekular mengisi waktu kita pada hari kudus Allah.
“Sabat itu bukanlah dimaksudkan untuk menjadi suatu waktu untuk
pekerjaan yang tidak berguna. Taurat melarang pekerjaan badani pada
hari perhentian Tuhan; pekerjaan mencari nafkah haruslah berhenti; ti-
dak ada pekerjaan bagi kesenangan, atau keuntungan dunia ini yang
diizinkan pada hari itu; tetapi sebagaimana Allah telah berhenti dari
pekerjaan-Nya menjadikan, dan berhenti pada hari Sabat dan member-
196
kati hari itu, begitu pula manusia harus meninggalkan pekerjaan hidup
setiap hari, dan mengabdikan tiap jam yang suci itu untuk perhentian
yang sehat, berbakti, dan melakukan perbuatan yang suci.”—Alfa dan
Omega, jld. 5, hlm. 213.
Suatu program yang terarah dalam kegiatan-kegiatan yang selaras
dengan roh pemeliharaan Sabat yang benar akan membuat hari yang di-
berkati itu menjadi saat yang terbaik dan paling membahagiakan dalam
pekan itu, bagi masing-masing kita dan anak-anak kita—awal kenik-
matan yang sesungguhnya dari perhentian surgawi kita.
Hormat Terhadap Tempat Ibadah
Orang-orang Kristen yang menghargai kemahakuasaan Allah, keku-
dusan-Nya, dan kasih-Nya akan selalu mewujudkan satu roh rasa hor-
mat yang mendalam kepada Allah, firman-Nya, dan ibadah-Nya. “Ke-
rendahan hati dan sikap hormat haruslah menandai pembawaan semua
orang yang datang ke hadirat Allah.”—Alfa dan Omega, jld. 1, hlm.
294. Kita akan mengakui bahwa “jam dan tempat berdoa itu kudus,
oleh sebab Allah berada di situ.”—Pelayan Injil, hlm. 157.
Kita akan datang ke rumah ibadah bukan dengan sembarangan, te-
tapi dengan roh yang penuh meditasi dan doa, dan akan menghindari
pembicaraan-pembicaraan yang tidak perlu.
Selaku orangtua kita harus dengan rasa hormat mengajar anak-anak
kita tentang bagaimana mereka seharusnya bertingkah laku di dalam
“rumah Allah” (1 Tim. 3:15). Kesetiaan di dalam memberikan instruksi
dan disiplin di rumah, Sekolah Sabat, dan gereja selama masa kanak-
kanak dan masa muda sehubungan dengan penghormatan kepada Allah
dan perbaktian-Nya akan terus berlanjut dalam mempertahankan kese-
tiaan mereka pada tahun-tahun berikutnya.
Para pendeta yang merasakan kesucian pelayanan Allah, melalui te-
ladannya, pengajarannya, dan tingkah-lakunya di mimbar, akan men-
dorong sikap hormat, kesederhanaan, keteraturan, dan penataan gereja
yang baik.
STANDAR KEHIDUPAN ORANG KRISTEN 197
Kesehatan dan Pertarakan
Tubuh kita yaitu bait Roh Kudus (1 Kor. 6:19). “Baik kekuatan
mental maupun rohani yaitu sebagian besar tergantung kepada keku-
atan dan kegiatan jasmani; apa saja yang meningkatkan kesehatan jas-
mani berarti meningkatkan perkembangan pikiran yang kuat dan tabiat
yang seimbang.”—Membina Pendidikan Sejati, hlm. 179.
Untuk alasan inilah, kita memelihara kesehatan dengan baik sesuai
dengan prinsip-prinsip kesehatan dari gerak badan, pernapasan, sinar
matahari, udara bersih, penggunaan air, tidur, dan istirahat. Dengan ke-
yakinan, kita memilih untuk makan sehat, dengan bebas memilih untuk
mengikuti prinsip-prinsip kesehatan, pengendalian diri, dan makanan
sehat. Oleh sebab itu, kita menjauhkan diri dari alkohol, tembakau, dan
obat-obat bius. Kita berusaha memelihara keseimbangan tubuh dan
jiwa kita dengan cara menjauhkan segala yang berlebihan.
Reformasi kesehatan dan pengajaran kesehatan dan pertarakan ada-
lah bagian-bagian yang tidak terpisahkan dari pekabaran Gereja. Ins-
truksi datang kepada kita melalui hamba Tuhan yang telah dipilih “bah-
wa mereka yang memelihara hukum-Nya haruslah dibawa ke dalam
hubungan yang kudus dengan Dia sendiri, dan melalui pertarakan ter-
hadap makanan dan minuman mereka harus memelihara pikiran dan
tubuh dalam kondisi yang terbaik untuk pelayanan.”—Counsels on
Health, hlm. 132, 133. Juga, “yaitu rancangan Allah bahwa pemulih-
an pengaruh reformasi kesehatan akan menjadi bagian dari upaya besar
terakhir untuk mengumandangkan pekabaran Injil.”—Medical Minis-
try, hlm. 259.
Kita yaitu milik Allah, tubuh, jiwa, dan roh. Oleh sebab itu ada-
lah tugas kita untuk menuruti peraturan kesehatan, demi kesejahteraan
dan kebahagiaan kita, dan demi keberhasilan pelayanan kepada Tuhan
dan kepada sesama manusia. Kita harus mengendalikan selera kita. Tu-
han telah menyediakan untuk manusia berbagai jenis makanan yang
cukup untuk memuaskan kebutuhan pangan. “Buah-buahan, gandum,
biji-bijian, dan sayur-sayuran bila dihidangkan secara sederhana... di-
tambah dengan susu dan krem, akan menjadi makanan yang paling
menyehatkan.”—Membina Pola Makan dan Diet, hlm. 92.
198
Apabila kita mempraktikkan prinsip-prinsip hidup sehat, keinginan
untuk zat-zat perangsang tidak akan ada. Penggunaan minuman keras
dan narkotik dalam jenis apa pun dilarang oleh hukum alam. Sejak per-
mulaan pergerakan ini, berpantang dari penggunaan minuman keras
dan tembakau telah menjadi syarat ______________. (Lihat hlm. 61, 63, 83,
125, 230, 231).
Allah telah memberikan kepada kita terang yang besar mengenai
prinsip-prinsip kesehatan, dan penemuan ilmu pengetahuan modern de-
ngan limpah telah membuktikan kebenaran prinsip ini.
Pakaian
Sebagai umat Kristen Masehi Advent Hari Ketujuh kita telah di-
panggil untuk keluar dari dunia. Kita yaitu para pembaru. Agama
kita harus memiliki suatu pengaruh yang membentuk semua aktivitas
kita. Kebiasaan-kebiasaan kita haruslah berakar pada prinsip dan bukan
pada contoh-contoh dunia di sekitar kita. Kebiasaan dan gaya berpakai-
an bisa berubah setiap tahun, tetapi prinsip-prinsip perilaku yang be-
nar tetap sama. Sejak awal sejarah kita Ellen G. White menulis bahwa
tujuan cara orang Kristen berpakaian yaitu “untuk melindungi umat
Allah dari pengaruh dunia yang merusak, dan juga untuk meningkatkan
kesehatan moral dan fisik.”—Testimonies, jld. 4, hlm. 634. Dia juga
menasihatkan bahwa kita haruslah menghindari penampilan mencolok
dan pemakaian barang-barang perhiasan, mode-mode yang hebat dan
iseng-iseng saja, terutama sekali yang sudah melanggar hukum keso-
panan, dan bahwa pakaian kita haruslah, jika memungkinkan, “bahan
yang berkualitas baik, warnanya pantas, dan disesuaikan buat pekerjaan
Tuhan. Haruslah dipilih yang tahan lama daripada hanya bersifat me-
mamerkan saja.” Cara berpakaian kita harus bercirikan kesederhanaan,
“keindahan,” “kepantasan,” dan “kesederhanaan yang sewajarnya.”—
Amat kepada Orang Muda, hlm. 329, 330. Umat Tuhan harus senantia-
sa ditemukan di antara mereka yang berpakaian secara konservatif, dan
tidak akan membiarkan “pertanyaan-pertanyaan tentang pakaian meng-
isi pikiran.”—Evangelism, hlm. 273.
“Berpakaian yang baik, tidak memamerkan perhiasan dalam segala
STANDAR KEHIDUPAN ORANG KRISTEN 199
jenis apa pun, yaitu sesuai dengan iman kita.”—Testimonies, Jld. 3,
hlm. 366. Sangat jelas diajarkan Alkitab bahwa memakai perhias-
an berlawanan dengan kehendak Allah. “Rambutnya jangan berkepang-
kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang
mahal-mahal” yaitu nasihat rasul Paulus (1 Tim. 2:9). Pemakaian per-
hiasan yaitu usaha menarik perhatian yang tidak sesuai dengan sikap
orang Kristen yang mengosongkan diri.
Di beberapa negara kebiasaan memakai cincin kawin dianggap
satu keharusan, dalam pikiran masyarakatnya hal itu telah menjadi satu
syarat yang baik, dan tidak lagi dianggap sebagai perhiasan. Dalam ke-
adaan seperti itu kita tidak cenderung untuk mempersalahkan praktik
ini .
Marilah kita mengingat bahwa bukanlah “perhiasan luar” yang meng-
ekspresikan tabiat Kristen yang sebenarnya, tetapi “manusia batiniah
yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari
roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Al-
lah” (1 Ptr. 3:3, 4). Kita harus menghindari penggunaan kosmetik yang
tidak sesuai dengan citra dan prinsip kesopanan Kristen.
Kebersihan dan tingkah laku seperti Kristus harus dipelihara dan di-
perhatikan oleh setiap orang yang senantiasa berupaya untuk menye-
nangkan Allah dan dengan tepat menampilkan Kristus Tuhan kita. Para
orangtua Kristen harus memikul beban mereka untuk menjadi teladan,
memberikan instruksi, dan berwenang memimpin anak-anak mereka
untuk berpakaian secara sopan, yang dengan demikian memenangkan
rasa hormat dan kepercayaan dari orang-orang yang mengenal mereka.
Biarlah kita semua menganggap bahwa kita berpakaian dengan baik
hanya bila tuntutan kesopanan dipastikan oleh cara berpakaian yang
penuh citarasa dan konservatif.
Kesederhanaan
Kesederhanaan telah menjadi satu ciri dasar Gereja Masehi Advent
Hari Ketujuh sejak berdirinya. Kita harus tetap menjadi satu umat yang
sederhana. Bertambahnya kesombongan dalam keagamaan biasanya
sejalan dengan merosotnya kuasa rohani. Sebagaimana “kehidupan
200
Yesus yang memperlihatkan perbedaan yang mencolok” terhadap apa
yang dipamerkan dan diperagakan orang-orang di zaman-Nya (Mem-
bina Pendidikan Sejati, hlm. 69), demikianlah kesederhanaan dan kua-
sa pekabaran kita haruslah menjadi satu perbedaan yang nyata kepada
apa yang dipamerkan oleh dunia di zaman kita. Tuhan mempersalahkan
“penggunaan uang yang boros untuk memuaskan kesombongan dan ke-
cintaan akan penonjolan diri yang tidak perlu.”—Nasihat kepada Pen-
deta dan Pelayan Injil, hlm. 172. Selaras dengan prinsip-prinsip ini,
kesederhanaan dan penghematan harus menjadi ciri acara-acara pena-
matan kita, upacara pernikahan di gereja-gereja kita, dan semua acara-
acara kebaktian jemaat.
Media Modern
Seperti tubuh kita, manusia batiniah kita juga membutuhkan makan-
an sehat untuk pembaruan dan kekuatan (2 Kor. 4:6). Pikiran kita ada-
lah ukuran diri kita. Makanan untuk pikiran haruslah menjadi hal yang
paling penting dalam pertumbuhan karakter dan dalam menjalankan
tujuan-tujuan hidup kita. Untuk itu kebiasaan mental kita harus diawasi
secara hati-hati. Apa yang kita baca, dengar, dan tonton, apakah mela-
lui buku atau majalah, radio atau televisi, internet, atau media modern
lainnya membentuk dan mempengaruhi karakter kita.
Buku-buku dan bahan-bahan bacaan lainnya yaitu salah satu per-
lengkapan yang paling berharga dalam pendidikan dan kebudayaan, te-
tapi hal ini harus dipilih dengan baik dan dipergunakan dengan baik.
Banyak sekali bahan bacaan yang baik, dalam bentuk buku atau terbit-
an berkala; tetapi banyak juga yang buruk, seringkali tersembunyi di
balik penampilan yang sangat menarik tetapi menghancurkan pikiran
dan moral. Kisah-kisah tentang petualangan yang buas dan kelalaian
moral, entah dari kisah nyata atau pun fiksi, seperti yang disajikan di
banyak majalah atau radio yaitu tidak pantas bagi orang Kristen di
usia berapa pun.
“Mereka yang memanjakan kebiasaan membaca cerita-cerita yang
merangsang sedang melumpuhkan kekuatan mental mereka, dan meng-
gagalkan pikiran mereka dalam riset dan ide yang hebat.”—Counsels to
STANDAR KEHIDUPAN ORANG KRISTEN 201
Parents, Teachers, and Students, hlm. 135. Bersamaan dengan akibat-
akibat buruk dari kebiasaan membaca bacaan fiksi, hal itu juga “men-
jadikan jiwa kita tidak layak untuk merenungkan persoalan besar me-
nyangkut tugas dan nasib,” dan “menciptakan suatu rasa benci akan
tugas-tugas praktis kehidupan.”—Counsels to Parents, Teachers, and
Students, hlm. 383. Radio, televisi, dan internet telah mengubah selu-
ruh atmosfer dunia modern kita dan telah membawa kita kepada kontak
yang mudah dengan kehidupan, buah-buah pikiran, dan aktivitas selu-
ruh dunia. Itu dapat menjadi agen-agen pendidik yang luar biasa, yang
melaluinya kita dapat memperluas pengetahuan kita tentang peristiwa-
peristiwa dunia, dan menikmati diskusi-diskusi penting dan musik yang
terbaik.
Namun demikian, sangat disayangkan, radio dan televisi hampir tak
berkeputusan telah membawa kepada para pendengarnya drama dan ba-
nyak pengaruh yang tidak sehat dan tidak meninggikan. Jika kita mem-
buat perbedaan dan ketegasan, sarana media itu akan menuntun rumah
tangga kita ke dalam tontonan-tontonan dan pertunjukan-pertunjukan
murahan dan yang jorok.
Yang aman bagi kita dan bagi anak-anak kita ditemukan dalam satu
ketetapan, oleh pertolongan Tuhan, untuk mengikuti nasihat Rasul Pau-
lus: “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mu-
lia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang
sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikir-
kanlah semuanya itu” (Flp. 4:8).
Rekreasi dan Hiburan
Rekreasi dimaksudkan untuk menyegarkan kuasa tubuh dan pikiran.
Pikiran yang giat dan sehat tidak akan membutuhkan hiburan dunia-
wi, tetapi akan menemukan pembaruan kekuatan dalam rekreasi yang
baik.
“Banyak dari antara kepelesiran-kepelesiran yang populer dewasa
ini, sekalipun bagi mereka yang mengaku diri Kristen, cenderung untuk
memiliki tujuan yang sama seperti yang ada pada orang-orang kafir
pada zaman dulu. Hanya sedikit saja di antara mereka yang tidak dija-
202
dikan Setan sebagai alat untuk membinasakan jiwa. Melalui drama ia
telah bekerja selama berabad-abad membangkitkan nafsu, dan bersuka-
suka dalam kejahatan. Opera, dengan pemandangan yang mempesona-
kan serta musik yang merangsang, tarian-tarian orang yang bertopeng,
dansa-dansi, permainan kartu, Setan telah gunakan untuk menghancur-
kan benteng prinsip dan membuka pintu kepada pemanjaan hawa nafsu.
Di dalam setiap kumpulan untuk mencari kepelesiran di mana kesom-
bongan ditunjukkan dan selera makan dimanjakan, di mana seseorang
dituntun untuk melupakan Tuhan dan kehilangan pandangan terhadap
perkara-perkara yang baka, di sanalah Setan sedang mengikatkan be-
lenggunya kepada jiwa-jiwa manusia.”—Alfa dan Omega, jld. 2, hlm.
58. (Lihat hlm. 230, 231).
Kita harus menghindari apa pun yang menyandiwarakan, menyata-
kan dengan jelas, atau mengarahkan kepada dosa dan kejahatan ma-
nusia—pembunuhan, perzinaan, perampokan dan jenis-jenis kejahat-
an lainnya—sangat bertanggung jawab terhadap kehancuran moralitas
masa sekarang ini. Gantinya, kita harus mencari kesukaan dalam dunia
alam yang telah Allah ciptakan dan pada romantika perwakilan-per-
wakilan manusia serta pekerjaan-pekerjaan Ilahi.
Satu bentuk hiburan lain yang memiliki pengaruh jahat yaitu dansa-
dansi sosial. “Permainan dansa, sebagaimana dilakukan pada zaman se-
karang ini, yaitu satu sekolah kejahatan, satu kutuk yang amat hebat
kepada masyarakat.”—Amanat kepada Orang Muda, hlm. 374. (Lihat
2 Kor. 6:15-18; 1 Yoh. 2:15-17; Yak. 4:4; 2 Tim. 2:19-22; Ef. 5:8-11;
Kol. 3:5-10).
Rekreasi itu penting. Tetapi gantinya bergabung dengan orang ba-
nyak yang “lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah” (2
Tim. 3:4), kita harus berusaha membuat persahabatan kita dan rekreasi-
re kreasi baik yang berpusat pada Kristus maupun berpusat pada gereja.
Musik
“Musik dijadikan untuk melayani suatu maksud yang suci, untuk
mengangkat pikiran kepada perkara-perkara yang suci, agung dan me-
ninggikan, dan untuk membangkitkan di dalam jiwa pengabdian serta
STANDAR KEHIDUPAN ORANG KRISTEN 203
rasa syukur kepada Allah.”—Alfa dan Omega, jld. 2, hlm. 232. Yesus
“mengadakan hubungan dengan surga dalam nyanyian.”—Alfa dan
Omega, jld. 5, hlm. 64.
Musik yaitu salah satu seni tertinggi. Musik yang baik bukan ha-
nya memberikan kesenangan tetapi juga mengangkat pikiran dan me-
nanamkan kualitas hidup yang terbaik. Lagu-lagu rohani sering di-
gunakan Tuhan untuk menjamah hati para orang yang berdosa dan
memimpin kepada pertobatan. Sebaliknya, musik yang merendahkan
derajat, menghancurkan moralitas dan menjauhkan hubungan kita de-
ngan Allah.
Kita harus menaruh perhatian yang besar dalam memilih musik di
rumah kita, pada perkumpulan-perkumpulan sosial, di sekolah, dan di
gereja kita. (Lihat hlm. 127, 202).
Kesimpulan
Sementara berdiri di tengah bahaya-bahaya zaman akhir, memikul
tanggung jawab menyampaikan dengan segera kabar keselamatan yang
kepada dunia, dan menghadapi penghakiman yang akan berakhir de-
ngan penegakan kebenaran di alam semesta, marilah kita mengabdi-
kan tubuh, jiwa dan roh kita kepada Allah, bertekad untuk memeliha-
ra standar-standar kehidupan yang tinggi yang harus menjadi ciri khas
orang-orang yang menantikan Tuhan mereka datang kembali.
204
205
BAB 13
Pernikahan, Perceraian,
dan Pernikahan Kembali
Hubungan Sosial
Allah memberikan kepada kita naluri sosial demi kebahagiaan dan
keuntungan kita. “Oleh hubungan yang saling menguntungkan pikiran
menerima perbaikan dan pemurnian; melalui pergaulan sosial, perke-
nalan terjalin dan persahabatan terikat yang hasilnya akan menyatukan
hati dan terwujud satu suasana kasih yang menyenangkan pada peman-
dangan surga.”—Testimonies, jld. 6, hlm. 172.
Pergaulan yang wajar antara pria dan wanita akan menguntungkan
bagi kedua belah pihak. Pergaulan semacam itu harus dilakukan de-
ngan derajat moral yang tinggi dan sangat memperhatikan tatacara dan
batasan-batasan yang ditentukan, demi perlindungan masyarakat dan
individu itu sendiri. Tentu, yaitu maksud Setan untuk menyimpang-
kan setiap hal yang baik; dan penyimpangan atas suatu hal yang terbaik
seringkali menuntun kepada yang terburuk.
Pada masa sekarang ini idealisme yang membuat hubungan sosial
ini aman dan membahagiakan telah hancur sampai kepada tingkat yang
mengejutkan. Di bawah pengaruh nafsu yang tidak dikekang oleh prin-
sip moral dan agama, pergaulan antara pria dan wanita telah terperosok
melampaui batas kebebasan dan sikap membolehkan yang membaha-
yakan. Penyimpangan seks, berzina dengan saudara kandung, dan pele-
cehan seksual terhadap anak-anak.
206
Jutaan orang telah meninggalkan standar tingkah laku yang Alkitab-
iah dan mengganti pengalaman pernikahan yang indah dan kudus de-
ngan buah-buah nafsu yang pahit dan memalukan. Kejahatan ini bukan
hanya menghancurkan struktur kekeluargaan masyarakat, tetapi juga te-
lah menimbulkan dan membuahkan kejahatan-kejahatan lainnya. Aki-
batnya pada kehidupan anak-anak dan orang muda yang menyimpang
ini sungguh menyedihkan dan menimbulkan rasa iba kita, sementara
efeknya kepada masyarakat bukan hanya menghancurkan tetapi justru
makin berlipat ganda.
Kejahatan ini telah menjadi lebih terbuka dan mengancam bentuk ke-
hidupan ideal dan tujuan rumah tangga Kristen. Perzinaan, pornografi,
pelecehan seksual (termasuk terhadap pasangan, terhadap anak-anak,
dan orangtua), perzinaan dengan saudara kandung (insest), praktik-
praktik homoseksual dan lesbian yaitu hal-hal yang tergolong dalam
penyimpangan dari rencana Tuhan yang semula. Sebagaimana maksud
dari ayat-ayat Alkitab yang jelas (lihat Kel. 20:14; Im. 18:22, 29; 20:13;
1 Kor. 6:9; 1 Tim. 1:10; Rm. 1:20-32) ditolak dan sementara amaran-
nya dibantah dengan opini manusia, lebih banyak ketidakpastian dan
kebingungan yang terjadi. Inilah yang diinginkan Setan. Sejak zaman
purbakala dan zaman peradaban rencana Setan selalu berusaha menye-
babkan agar umat manusia melupakan bahwa Tuhan yaitu Pencipta
mereka dan pada waktu Ia “menciptakan manusia dalam gambar-Nya,”
Ia menciptakan mereka “laki-laki dan perempuan” (Kej. 1:27).
Walaupun Firman Allah mengamarkan kita terhadap akibat-akibat
yang merendahkan dan obsesi dunia terhadap seks dan kecintaan serta
upaya mengejar kenikmatan seks, Kristus telah datang untuk menghan-
curkan pekerjaan Setan dan membangun kembali hubungan antara ma-
nusia dengan Pencipta mereka. Maka, meskipun jatuh seperti Adam dan
tertawan oleh dosa, mereka yang ada dalam Kristus menerima pengam-
punan penuh dan hak untuk memilih kembali jalan hidup yang baik,
jalan menuju pembaruan yang sempurna. Melalui jalan salib dan kuasa
Roh Kudus, semua dapat dibebaskan dari cengkeraman praktik-praktik
dosa sementara kita dipulihkan kepada gambar Pencipta kita.
Selaku orangtua dan orangtua dan pembimbing rohani, kita harus
memperoleh pengertian serta turut merasakan kesulitan mereka, beru-
PERNIKAHAN, PERCERAIAN DAN PERNIKAHAN... 207
paya dengan tekun untuk menyediakan bagi mereka suasana pergaulan
yang terbaik, dan secara rohani mendekatkan diri kepada mereka se-
hingga dapat membagikan cita-cita kehidupan dan inspirasi serta kuasa
Kekristenan.
Apa pun kesalahan yang dilakukan oleh orangtua kita atau teman se-
baya kita, yaitu hak dan kewajiban kita untuk mengetahui dan berpe-
gang pada cita-cita tertinggi pria dan wanita Kristiani. Kita dapat mem-
bangun tabiat Kristiani yang akan menopang kita melawan kejahatan
dan membuat kita menjadi pengaruh yang meninggikan dalam masya-
rakat oleh belajar Alkitab dengan rasa hormat dan tekun, mengetahui
sedalam-dalamnya kegiatan-kegiatan alam, menjaga dengan ketat ke-
mampuan tubuh yang suci, bersungguh-sungguh, senantiasa berdoa, tu-
lus hati, melayani orang lain dengan tidak mementingkan diri sendiri.
Kumpulan-kumpulan sosial bagi orangtua dan pemuda harus dija-
dikan sebagai suatu kesempatan, bukan untuk kesenangan yang tidak
berarti dan sia-sia, melainkan untuk pergaulan yang menggembirakan
dan untuk peningkatan kuasa pikiran dan jiwa. Musik yang baik, per-
cakapan yang mengangkat jiwa, hafalan yang baik, gambar hidup atau
gambar biasa, permainan yang dipilih dengan saksama karena nilai
pendidikannya, dan di atas segalanya itu pembuatan dan pelaksanaan
rencana penginjilan dapat dibuat menjadi acara-acara sosial yang akan
membawa berkat dan kekuatan kepada kehidupan semua orang. De-
partemen Pemuda Advent General Conference telah menerbitkan buku
yang berisi keterangan dan anjuran-anjuran yang berguna untuk men-
jalankan kumpulan-kumpulan sosial dan sebagai penuntun dalam hu-
bungan sosial lainnya.
Rumah kita yaitu tempat yang lebih baik untuk kumpulan sosial
ini . Di kota-kota besar di mana tidak mungkin untuk mengadakan
kumpulan di rumah-rumah, dan di mana kita tidak memiliki gedung
pertemuan sendiri, maka sebuah tempat yang cocok, bebas dari penga-
ruh buruk yang merusak standar orang Kristen harus dicari, ketimbang
satu tempat yang biasa digunakan untuk pertandingan olahraga komer-
sial, gedung-gedung sosial dan lapangan olahraga yang menimbulkan
suasana yang berlawanan dengan standar Kristen.
208
Pengawalan
Pergaulan yang menyenangkan dan akrab antara orang-orang yang
lebih tua dan orang-orang yang lebih muda yaitu salah satu penga-
ruh yang paling baik dalam kehidupan anak-anak dan orang-orang
muda. “Ada bahaya yakni para orangtua dan guru-guru... tidak meng-
adakan hubungan sosial yang cukup dengan anak-anak dan murid-mu-
rid mereka.”—Counsels to Parents, Teachers and Students, hlm. 76.
Sekolah-sekolah kita dan lembaga-lembaga lainnya wajib memeliha-
ra akhlak dan nama baik orang-orang yang ada di bawah pengawasan
kita. Pengawalan yaitu satu kewajiban kita yang harus dilaksanakan.
Kewajiban itu sama seperti di rumah tangga. Para orangtua harus mem-
perkuat peraturan lembaga di mana orang-orang muda dan anak-anak
kita ditempatkan, dan harus mengadakan penjagaan yang sama pula di
rumah-rumah kita. Supaya hal ini dapat terlaksana, kita wajib mempe-
lajari bagaimana caranya supaya kita disambut anak-anak kita sebagai
teman-teman kita. Tetapi bergantung kepada orang-orang muda itu sen-
diri untuk membuat pengawalan itu sebagai satu hubungan yang dihor-
mati dan menyenangkan.
Pacaran
Pacaran dikenal sebagai satu masa persiapan sebelum pernikahan di
mana seorang pria dan seorang wanita telah saling terpikat, dan lebih
saling mengenal lagi dalam masa persiapan itu untuk pernikahan yang
dimaksudkan.
“Biarlah mereka yang sedang berpikir untuk menikah menimbang
setiap perasaan dan memperhatikan setiap perkembangan tabiat di da-
lam diri seorang dengan siapa mereka merencanakan untuk mempersa-
tukan tujuan hidup mereka. Hendaklah setiap langkah menuju jenjang
pernikahan ditandai dengan kepantasan, kesederhanaan, ketulusan, dan
suatu maksud yang sungguh-sungguh untuk menyukakan dan menghor-
mati Allah. Pernikahan mempengaruhi baik kehidupan selanjutnya di
dunia ini maupun di dunia yang akan datang. Para pengikut Tuhan yang
PERNIKAHAN, PERCERAIAN DAN PERNIKAHAN... 209
tulus tidak akan membuat rencana yang tidak bisa disetujui Allah.”—
Membina Keluarga Sehat, hlm. 325.
Kegagalan mengikuti prinsip-prinsip ini dalam berpacaran orang
Kristen dapat menimbulkan akibat-akibat yang menyedihkan. Kesatu-
an hati antara suami istri dalam cita-cita dan tujuan yaitu satu syarat
dalam membangun satu rumah tangga yang berbahagia dan sukses. Ki-
tab Suci memberi nasihat, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang
tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya” (2 Kor. 6:14).
“Ikatan keluargalah ikatan yang paling rapat, yang paling lemah lem-
but dan suci dari semua ikatan yang ada di dalam dunia ini. Ikatan itu
dimaksudkan supaya menjadi suatu berkat kepada umat manusia. Maka
ikatan itu menjadi suatu berkat di mana pun sumpah pernikahan itu
diadakan dengan khidmatnya, dalam takut akan Allah, dan dengan per-
timbangan yang selayaknya untuk segala tugas kewajibannya.”—Mem-
bina Keluarga Bahagia, hlm. 16.
Ibadah kepada Allah, pengudusan hari Sabat, rekreasi, pergaulan,
penggunaan uang, dan pendidikan anak-anak merupakan faktor-faktor
penentu kebahagiaan hubungan rumah tangga. Karena perbedaan-per-
bedaan dalam hal ini sering mengakibatkan tawar hati, dan bahkan ke-
hilangan pengalaman Kekristenan, maka persiapan yang matang untuk
pernikahan harus tercakup dalam konseling pranikah yang dilakukan
oleh pendeta dalam bidang ini.
“‘Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjan-
ji?’ (Amos 3:3). Kebahagiaan serta kemakmuran dari ikatan pernikah-
an bergantung atas persatuan kedua belah pihak; tetapi di antara orang
yang percaya dan orang yang tidak percaya ada satu perbedaan yang
besar dalam selera, kecenderungan serta maksud-maksud. Mereka se-
dang melayani dua majikan yang tidak pernah bersepakat. Bagaimana-
pun murni dan benarnya prinsip seseorang, pengaruh dari teman hidup
yang tidak percaya itu memiliki satu kecenderungan untuk memim-
pinnya menyeleweng dari Allah.”–Alfa dan Omega, jld. 1, hlm. 199.
Roh Nubuat dengan konsisten memberi nasihat yang menentang
pernikahan di antara “orang percaya dengan yang tidak percaya” dan
memberi amaran lebih jauh melawan persatuan dengan sesama Kris-
210
ten yang “tidak menerima kebenaran zaman ini.”—Testimonies, Jld. 5,
hlm. 364. Pernikahan akan lebih sanggup bertahan dan kehidupan ke-
luarga akan memenuhi rencana Ilahi, bila suami dan istri dipersatukan
dalam satu ikatan nilai rohani dan pola hidup yang sama. Untuk alasan
ini Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh sangat tidak menganjurkan per-
nikahan antara seorang anggota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh
dengan seorang anggota dari agama lain, dan dengan keras meminta
agar para pendeta tidak melaksanakan upacara pernikahan bagi pasang-
an seperti itu.
Gereja menyadari bahwa keputusan terakhir dalam memilih pasang-
an hidup seseorang yaitu hak orang itu sendiri. Namun, gereja berha-
rap agar, jika seseorang memilih pasangan hidupnya dari yang bukan
anggota gereja Advent, pasangan itu harus menyadari dan menghargai
bahwa pendeta Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, yang telah berjan-
ji untuk meninggikan prinsip yang telah digariskan di atas, tidak akan
berharap melaksanakan upacara pemberkatan ini .
Jika ternyata seseorang telah menikah dengan yang tidak seiman, ge-
reja harus menunjukkan kasih dan perhatian dengan maksud untuk men-
dorong pasangan itu menuju persatuan yang lengkap dalam Kristus.
Pernikahan
Pernikahan yaitu suatu institusi Ilahi yang didirikan oleh Allah sen-
diri sebelum kejatuhan, pada saat segala sesuatu, termasuk pernikahan,
yaitu “sungguh amat baik” (Kej. 1:31). “Sebab itu seorang laki-laki
akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya,
sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kej. 2:24). “Allah mera-
yakan pernikahan yang pertama. Demikian peraturan itu berasal dari
Khalik alam semesta. ‘Pernikahan itu mulia;’ itulah karunia pertama
dari Allah kepada manusia, dan itulah salah satu dari dua peraturan,
yang setelah Adam berdosa membawanya ke seberang pintu gerbang
Firdaus.”—Membina Keluarga Bahagia, hlm. 24.
Allah bermaksud agar pernikahan Adam dan Hawa menjadi contoh
bagi semua pernikahan berikutnya, dan Kristus menyokong konsep asli
ini dengan berkata: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang men-
PERNIKAHAN, PERCERAIAN DAN PERNIKAHAN... 211
ciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perem-
puan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan
ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu
daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu,
apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat.
19:4-6). Pernikahan, yang dilembagakan Allah, yaitu monogami, suatu
hubungan heteroseksual antara seorang pria dengan seorang wanita.
Pernikahan yaitu suatu komitmen seumur hidup dari suami dan is-
tri kepada satu sama lain dan antara pasangan itu dengan Allah (Mrk.
10:2-9; Rm. 7:2). Paulus menyatakan bahwa komitmen yang dibuat
Kristus untuk jemaat yaitu suatu contoh hubungan antara suami dan
istri (Ef. 5:31, 32). Allah bermaksud agar hubungan pernikahan itu te-
tap sebagaimana hubungan Kristus dengan jemaat.
Keintiman seksual dalam pernikahan merupakan suatu karunia yang
kudus dari Allah kepada umat manusia. Itu merupakan suatu bagian
yang tidak terpisahkan dari pernikahan, disediakan hanya untuk per-
nikahan (Kej. 2:24; Ams. 5:5-20). Keintiman ini , dimaksudkan
hanya terjadi antara suami istri saja, meningkatkan keintiman, keba-
hagiaan, dan keamanan, dan menyediakan untuk kekekalan bagi umat
manusia.
Kesatuan dalam pernikahan dicapai oleh saling menghormati dan me-
ngasihi. Tidak ada yang unggul (Ef. 5:21-28). “Pernikahan, suatu per-
satuan untuk kehidupan, yaitu suatu simbol persatuan antara Kristus
dan jemaat-Nya. Roh yang ditunjukkan Kristus kepada jemaat yaitu
roh yang harus ditunjukkan oleh suami dan istri terhadap satu dengan
yang lain.”—Testimonies, jld. 7, hlm. 46. Firman Allah mengutuk ke-
kerasan dalam hubungan pribadi (Kej. 6:11, 13; Mzm. 11:5; Yes. 58:4,
5; Rm. 13:10; Gal. 5:19-21). Roh Kristus yaitu mengasihi dan meneri-
ma, berusaha saling menguatkan dan meninggikan pasangan, bukannya
melecehkan atau merendahkan mereka (Rm. 12:10; 14:19; Ef. 4:26;
5:28, 29; Kol. 3:8-14; 1 Tes. 5:11). Di antara para pengikut Kristus tidak
boleh ada kelaliman dan penyalahgunaan kekuasaan (Mat. 20:25-28;
Ef. 6:4). Kekerasan dalam pernikahan dan keluarga yaitu suatu yang
menjijikkan (lihat Membina Keluarga Bahagia, hlm. 326, 327).
“Suami atau istri tidak boleh menuntut kekuasaan. Tuhan telah me-
212
letakkan prinsip yang harus menuntun dalam hal ini. Suami harus me-
ngasihi istrinya sebagaimana Kristus mengasihi jemaat. Dan istri harus
menghormati dan mengasihi suaminya. Keduanya harus memperkem-
bang roh kebaikan, bertekad untuk tidak menyusahkan atau merugikan
yang lain.”—Testimonies, jld. 7, hlm. 47.
Masuknya dosa merugikan pernikahan. Ketika Adam dan Hawa ber-
dosa, mereka kehilangan kesatuan yang mereka miliki dengan Allah
dan satu sama lain (Kej. 3:6-24). Hubungan mereka ditandai dengan
rasa bersalah, malu, saling mempersalahkan, dan rasa sakit. Di mana
dosa berkuasa, pengaruhnya yang menyedihkan terhadap pernikahan
mencakup pemisahan diri, meninggalkan pasangan, ketidaksetiaan,
pengabaian, pelecehan, tindak kekerasan, perpisahan, dominasi satu pi-
hak atas pasangannya, ketidakwajaran seksual, dan perceraian.
Pernikahan dengan lebih dari satu istri yaitu juga ekspresi dari pe-
ngaruh dosa terhadap lembaga pernikahan. Pernikahan semacam itu,
walaupun dipraktikkan di masa Perjanjian Lama, tidak sesuai dengan
rancangan Allah. Rencana Allah untuk pernikahan menuntut umat-Nya
untuk lebih baik daripada adat istiadat budaya populer yang bertentang-
an dengan pandangan Alkitab.
Konsep pernikahan Kristiani mencakup hal-hal berikut:
1. Cita-cita Allah Dipulihkan dalam Kristus—Dalam menebus du-
nia dari dosa dan akibat dosa, Allah juga berusaha memulihkan perni-
kahan kepada cita-cita aslinya. Ini diharapkan terjadi dalam kehidupan
orang-orang yang telah dilahirkan kembali ke dalam kerajaan Kristus,
orang-orang yang hatinya telah disucikan oleh Roh Kudus dan yang
tujuan utama kehidupan mereka yaitu memuliakan Tuhan Yesus Kris-
tus. (Lihat juga 1 Ptr. 3:7; Khotbah di Atas Bukit, hlm. 64.)
2. Kesatuan dan Persamaan Dipulihkan dalam Kristus—Injil me-
nekankan saling mengasihi dan saling tunduk antara suami dan istri (1
Kor. 7:3, 4; Ef. 5:21). Contoh untuk kepemimpinan suami yaitu ka-
sih dan pelayanan yang penuh pengorbanan diri yang Kristus berikan
kepada jemaat (Ef. 5:24, 250). Baik Petrus maupun Paulus berbicara
tentang perlunya saling hormat dalam hubungan pernikahan (1 Ptr. 3:7;
Ef. 5:22, 23).
PERNIKAHAN, PERCERAIAN DAN PERNIKAHAN... 213
3. Kasih Karunia Tersedia bagi Semua Orang—Allah berusaha me-
mulihkan kepada kesempurnaan serta mendamaikan kepada diri-Nya
sendiri semua orang yang telah gagal mencapai standar Ilahi (2 Kor.
5:19). Ini mencakup mereka yang telah mengalami kehancuran hu-
bungan pernikahan.
4. Peran Jemaat—Musa dalam Perjanjian Lama dan Paulus dalam
Perjanjian Baru menghadapi masalah yang disebabkan oleh pernikah-
an-pernikahan yang hancur (Ul. 24:1-5; 1 Kor. 7:11). Keduanya, se-
mentara menegakkan dan meneguhkan cita-cita pernikahan, bekerja se-
cara konstruktif dan bertujuan untuk menyelamatkan mereka yang telah
jauh dari standar Allah. Demikian juga jemaat sekarang ini dipanggil
untuk menegakkan dan meneguhkan cita-cita Allah untuk pernikahan,
dan pada saat yang sama, menjadi satu umat yang mendamaikan, meng-
ampuni, menyembuhkan, menunjukkan pengertian dan belas kasihan
bila terjadi kehancuran pernikahan.
Perceraian
Perceraian bertentangan dengan maksud Allah pada mulanya ketika
menciptakan pernikahan (Mat. 19:3-8; Mrk. 10:2-9), tetapi Alkitab ti-
dak berdiam diri dalam hal ini . Karena perceraian muncul sebagai
bagian dari kehidupan manusia yang telah berdosa, pengesahan Alki-
tab berusaha untuk meninggikan pernikahan dan mencegah perceraian
dengan cara menggambarkan sukacita dari kasih dan kesetiaan perni-
kahan (Ams. 5:18-20; Kid. 2:16; 4:9-5:1), menyamakan hubungan per-
nikahan itu seperti hubungan Allah dengan umat-Nya (Yes. 54:5; Yer.
3:1), memfokuskan pada kemungkinan pengampunan dan pembaruan
pernikahan (Hos. 3:1-3), dan menyatakan kebencian Allah terhadap
perceraian dan penderitaan yang diakibatkannya. (Mal. 2:15, 16). Yesus
mengembalikan pandangan penciptaan tentang pernikahan sebagai sua-
tu komitmen seumur hidup antara seorang pria dan seorang wanita dan
antara pasangan itu dengan Allah (Mat. 19:4-6; Mrk. 10:6-9). Banyak
sekali petunjuk Alkitab yang memperkuat pernikahan dan berusaha un-
tuk memperbaiki masalah-masalah yang cenderung melemahkan atau
menghancurkan fondasi pernikahan (Ef. 5:21-33; Ibr. 13:4; 1 Ptr. 3:7).
214
Pernikahan terletak pada prinsip-prinsip kasih, kesetiaan, kekhusus-
an, kepercayaan, dan dukungan yang dilakukan oleh kedua belah pihak
dalam penurutan kepada Allah (Kej. 2:24; Mat. 19:6; 1 Kor. 13; Ef.
5:21-29; 1 Tes. 4:1-7). Bila prinsip-prinsip ini dilanggar, pernikahan itu
terancam. Kitab suci mengakui bahwa situasi-situasi yang tragis bisa
merusak pernikahan.
Kasih karunia Ilahi yaitu satu-satunya obat untuk kehancuran aki-
bat perceraian. Bilamana pernikahan gagal, pasangan itu harus dido-
rong untuk memeriksa pengalaman mereka dan mencari tahu kehendak
Allah untuk kehidupan mereka. Allah memberikan penghiburan bagi
mereka yang luka. Allah juga menerima pertobatan orang-orang yang
melakukan dosa yang paling merusak, bahkan dosa-dosa yang menda-
tangkan akibat yang tidak dapat diperbaiki (2 Sam. 11; 12; Mzm. 34:18;
86:5; Yoel 2:12, 13; Yoh. 8:2-11; 1 Yoh. 1:9).
Alkitab menyatakan perzinaan dan percabulan (Mat. 5:32) dan juga
ditinggalkan oleh pasangan yang tidak beriman (1 Kor. 7:10-15) seba-
gai alasan-alasan untuk perceraian.
Tidak ada ajaran langsung dalam Alkitab mengenai pernikahan kem-
bali setelah perceraian. Namun demikian, ada implikasi kuat dalam
kata-kata Yesus dalam Matius 19:9 yang mengizinkan pernikahan kem-
bali bagi pihak yang tetap setia, yang pasangannya mengkhianati sum-
pah pernikahannya.
Posisi Gereja dalam Hal Perceraian dan Pernikahan Kembali
Mengakui ajaran-ajaran Alkitab tentang pernikahan, gereja menya-
dari bahwa banyak kali hubungan pernikahan itu jauh dari apa yang
diharapkan. Problem perceraian dan pernikahan kembali dapat dilihat
dalam terang yang sesungguhnya hanya sebagaimana dipandang dari
sudut pandang surga dan bertentangan dengan latar belakang Taman
Eden.
Pusat rencana kudus Allah untuk dunia kita yaitu penciptaan makh-
luk yang dijadikan menurut peta-Nya yang akan berkembang biak dan
memenuhi bumi dan hidup bersama dalam kemurnian, keharmonisan,
dan kebahagiaan. Ia menjadikan Hawa dari tulang rusuk Adam dan
PERNIKAHAN, PERCERAIAN DAN PERNIKAHAN... 215
memberikannya kepada Adam untuk menjadi istrinya. Demikianlah
pernikahan itu dilembagakan—Allah pendiri lembaga itu, Allah yang
melaksanakan pernikahan yang pertama. Setelah Tuhan menunjukkan
kepada Adam bahwa Hawa benar-benar tulang dari tulangnya dan da-
ging dari dagingnya, tidak bisa timbul keragu-raguan dalam pikirannya
bahwa mereka berdua yaitu satu daging. Juga tidak bisa muncul da-
lam pikiran pasangan yang suci itu keraguan bahwa Allah ingin rumah
tangga mereka harus bertahan selama-lamanya.
Gereja menganut pandangan tentang pernikahan dan rumah tangga
ini tanpa syarat, meyakini bahwa segala usaha untuk merendahkan pan-
dangan yang tinggi ini yaitu juga merendahkan cita-cita surga. Ke-
yakinan bahwa pernikahan yaitu lembaga Ilahi berdasar pada Kitab
Suci. Oleh karena itu, semua pemikiran dan pertimbangan yang mem-
bingungkan mengenai perceraian dan pernikahan kembali harus tetap
disesuaikan dengan cita-cita suci yang dinyatakan di Eden.
Gereja percaya pada hukum Allah; juga percaya pada rahmat peng-
ampunan Allah. Gereja percaya bahwa kemenangan dan keselamatan
dapat diperoleh oleh mereka yang telah melanggar dalam hal perceraian
dan pernikahan kembali sama dengan mereka yang telah gagal dalam
standar kudus Allah yang lainnya.
Tidak ada yang dibicarakan di sini dimaksudkan untuk meremehkan
rahmat Allah atau pengampunan Allah. Dalam takut akan Allah, gereja
di sini menyusun prinsip-prinsip dan praktik yang harus dianut dalam
hal pernikahan, perceraian, dan pernikahan kembali ini.
Walaupun pernikahan itu mula-mula dibentuk oleh Allah, diakui
bahwa manusia sekarang hidup di bawah pemerintahan sipil di dunia
ini; oleh sebab itu, pernikahan itu memiliki aspek-aspek Ilahi dan sipil.
Aspek Ilahi diatur oleh hukum Allah, aspek sipil diatur oleh hukum
negara.
Sesuai dengan pengajaran ini, ungkapan-ungkapan berikut ini meng-
gambarkan posisi Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh:
1. Ketika Yesus berkata, “Janganlah dipisahkan oleh manusia,” Ia
memberi satu patokan tingkah laku bagi jemaat pada zaman kemurah-
an ini, yang mengatasi semua undang-undang duniawi, yang mungkin
mengadakan tafsiran yang bertentangan sehubungan dengan pernikah-
216
an. Di sini Tuhan memberikan peraturan itu kepada pengikut-pengikut-
Nya, dan mereka harus taat pada peraturan itu, apakah negara atau adat,
atau kebiasaan memberi keluasan yang lebih besar atau tidak. “Dalam
Khotbah di Atas Bukit, Yesus dengan jelas menyatakan bahwa tidak
boleh ada pembubaran dari ikatan pernikahan, kecuali karena tidak se-
tia kepada sumpah pernikahan.”—Khotbah di Atas Bukit, hlm. 73, 74.
(Mat. 5:32; Mat. 19:9).
2. Ketidaksetiaan pada sumpah pernikahan umumnya berarti perzi-
naan atau percabulan. Namun, kata Perjanjian Baru untuk percabulan
mencakup perilaku penyimpangan seks lainnya. (1 Kor. 6:9; 1 Tim. 1:9,
10; Rm. 1:24-27). Dengan demikian, penyimpangan seksual, terma-
suk praktik homoseksual, diakui juga sebagai penyalahgunaan kekuat-
an seks dan pelanggaran atas pola Ilahi dalam perkawinan. Karena itu
maka ini juga menjadi alasan bagi perceraian.
Walaupun Kitab Suci mengizinkan perceraian karena sesuai dengan
alasan yang telah disebutkan di atas, dan juga karena diceraikan oleh
pasangan yang tidak percaya (1 Kor. 7:10-15), usaha yang sungguh-
sungguh harus dibuat oleh jemaat dan orang-orang yang peduli untuk
mengadakan rekonsiliasi, mendesak pasangan itu untuk saling menun-
jukkan roh seperti Kristus yang mengampuni dan memulihkan. Jemaat
didesak untuk menunjukkan kasih dan pengampunan terhadap pasang-
an itu untuk membantu dalam proses rekonsiliasi.
3. Bila usaha rekonsiliasi tidak berhasil, maka pihak yang tidak ber-
salah itu berhak, menurut Kitab Suci, untuk menuntut perceraian, dan
menikah lagi.
4. Pihak yang melanggar sumpah pernikahan (lihat bagian 1 dan 2
di atas) akan dikenakan disiplin oleh jemaat. (Lihat hlm. 84-89). Jika
sungguh-sungguh bertobat, ia lebih baik dikenakan disiplin celaan un-
tuk beberapa waktu daripada dipecat dari ______________. Bila ia tidak
menunjukkan bukti pertobatan yang sungguh-sungguh maka ia harus
dipecat dari ______________ jemaat. Apabila pelanggaran itu terlalu nyata
sehingga mendatangkan noda atas pekerjaan Allah, maka demi mem-
pertahankan nama baik dan martabat jemaat, orang itu harus dipecat
dari ______________ jemaat.
Semua bentuk disiplin ini yang akan diterapkan harus dijalankan
PERNIKAHAN, PERCERAIAN DAN PERNIKAHAN... 217
oleh jemaat dalam cara yang akan memungkinkan tercapainya dua tu-
juan disiplin jemaat—memperbaiki dan menyelamatkan. Dalam Injil
Kristus, sisi yang menyelamatkan dari disiplin itu selalu berhubungan
dengan perubahan sungguh-sungguh dari orang berdosa menjadi suatu
ciptaan baru dalam Yesus Kristus.
5. Pihak yang bersalah, yang diceraikan, tidak memiliki hak un-
tuk menikah dengan orang lain selama pihak yang tidak bersalah masih
hidup, dan tetap tidak menikah dan bersih. Kalau ia (yang bersalah itu)
menikah, ia harus dipecat. Orang yang dinikahinya, jika ia seorang ang-
gota, juga harus dipecat dari ______________ jemaat.
6. Diakui bahwa kadang-kadang hubungan pernikahan menjadi de-
mikian memburuknya sehingga lebih baik bagi pasangan suami istri
itu bercerai. “Kepada orang-orang yang telah kawin aku—tidak, bu-
kan aku, tetapi Tuhan—perintahkan, supaya seorang istri tidak boleh
menceraikan suaminya. Dan jika ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa
suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh
menceraikan istrinya.” (1 Kor. 7:10, 11). Dalam banyak kasus seperti
itu, pemeliharaan anak, pembagian harta milik, atau bahkan perlindung-
an pribadi mungkin memerlukan adanya perubahan status pernikahan.
Dalam hal seperti itu mungkin dapat diizinkan untuk memperoleh apa
yang dikenal di beberapa negara sebagai pisah secara hukum. Namun,
dalam beberapa hukum sipil pisah seperti itu hanya dapat diperoleh me-
lalui perceraian.
Perpisahan atau perceraian yang disebabkan oleh faktor-faktor seper-
ti kekerasan fisik atau kasus tidak disebabkan oleh “ketidaksetiaan pada
sumpah perkawinan” (lihat butir 1 dan 2 di atas), tidak memberikan hak
Alkitabiah untuk menikah kembali pada kedua belah pihak, kecuali jika
di antara waktu itu salah seorang telah menikah kembali; melakukan
perzinaan atau percabulan; atau mati. Jika seorang anggota yang telah
bercerai seperti itu menikah kembali tanpa dasar Alkitabiah ini, maka ia
harus dipecat; dan orang yang ia nikahi, jika ia seorang anggota gereja,
akan juga dipecat dari ______________ gereja. (Lihat hlm. 84-89).
7. Pihak yang bersalah yang melanggar sumpah pernikahannya, dan
telah diceraikan dan dipecat dari ______________ jemaat, dan telah meni-
kah lagi, atau seseorang yang telah bercerai karena alasan yang tidak
218
disebutkan pada butir 1 dan 2 di atas telah menikah kembali, dan te-
lah dipecat dari ______________ jemaat, haruslah dipandang sebagai orang
yang tidak layak jadi anggota jemaat kecuali sebagaimana yang diten-
tukan di bawah ini.
8. Hubungan pernikahan itu bukan hanya suci tetapi juga jauh lebih
rumit, misalnya, bilamana itu melibatkan anak-anak. Oleh karena itu,
bila ada permintaan untuk diterima kembali ke dalam ______________ je-
maat, pilihan yang diberikan kepada orang yang bertobat itu sangat ter-
batas. Sebelum keputusan akhir diambil oleh jemaat, maka permintaan
ini harus dibawa oleh jemaat melalui pendeta atau ketua distrik
kepada komite konferens untuk mendapatkan petunjuk dan rekomen-
dasi perihal langkah-langkah apa saja yang harus dijalani oleh orang
yang bertobat itu agar penerimaannya kembali sebagai anggota jemaat
berjalan aman.
9. Orang-orang yang telah dipecat oleh sebab kesalahan-kesalahan
yang disebut di atas, hanya boleh diterima kembali menjadi anggota
jemaat apabila ia dibaptis kembali. (Lihat hlm. 90, 91).
10. Bila seseorang yang tersangkut dalam urusan perceraian akhir-
nya diterima kembali menjadi anggota jemaat, seperti yang dijelaskan
dalam butir 8, maka untuk melindungi persatuan dan kerukunan jemaat
haruslah benar-benar dijaga supaya kepada orang yang demikian tidak
diberikan jabatan pemimpin; terutama jabatan yang menuntut upaca-
ra pengurapan, kecuali melalui pertimbangan yang sangat berhati-hati
dari pimpinan konferens.
11. Tidak ada pendeta yang berhak memimpin upacara pernikah-
an kembali dari siapa pun yang, tidak memiliki hak untuk menikah
kembali menurut Kitab Suci, seperti telah dijelaskan dalam alinea-alin-
ea yang terdahulu.
Pelayanan Jemaat Setempat untuk Keluarga-keluarga
Gereja sebagai agen penebusan Kristus harus melayani anggota-ang-
gotanya dalam semua kebutuhan mereka dan harus memelihara setiap
orang agar semua boleh bertumbuh ke dalam suatu pengalaman Kristen
yang dewasa. Ini sangat tepat secara khusus bila anggota menghadapi
PERNIKAHAN, PERCERAIAN DAN PERNIKAHAN... 219
keputusan seumur hidup seperti menikah dan pengalaman yang menge-
cewakan seperti perceraian. Bila satu pasangan suami istri terancam
ber cerai, segala usaha harus dibuat oleh pasangan itu dan oleh anggota
jemaat atau keluarga yang menggembalakan mereka untuk mendatang-
kan perdamaian yang serasi dengan prinsip-prinsip Ilahi dalam hal me-
mulihkan hubungan yang terluka (Hosea 3:1-3; 1 Kor. 7:10, 11; 13:4-7;
Gal. 6:1).
Sumber-sumber yang dapat membantu anggota-anggota dalam me-
ngembangkan rumah tangga Kristen yang kuat disediakan melalui je-
maat atau organisasi jemaat lainnya. Sumber-sumber ini meliputi: (1)
program-program orientasi bagi pasangan yang bersiap untuk menikah,
(2) program-program petunjuk bagi pasangan suami istri dengan kelu-
arga mereka, dan (3) program-program sokongan bagi keluarga yang
retak dan orang-orang yang bercerai.
Dukungan pendeta sangat penting dalam memberikan petunjuk dan
orientasi dalam hal pernikahan, dan penyembuhan serta pemulihan da-
lam kasus perceraian. Fungsi pendeta dalam kasus terakhir yaitu men-
disiplin dan membantu. Fungsi ini mencakup berbagi informasi
berkaitan dengan kasus itu; namun demikian, penyingkapan informasi-
informasi yang sensitif harus dibuat dengan sangat berhati-hati. Perha-
tian etika ini pun tidak boleh menjadi dasar untuk menghindari tindakan
disiplin yang dibicarakan dalam poin 1-11 di atas.
Anggota-anggota jemaat dipanggil untuk mengampuni dan menerima
mereka yang telah gagal sebagaimana Allah telah mengampuni mereka
(Yes. 54:5-8; Mat. 6:14, 15; Ef. 4:32). Alkitab memintakan kesabaran,
belas kasihan, dan pengampunan dalam kepedulian Kristiani bagi me-
reka yang telah bersalah (Mat. 18:10-20; Gal. 6:1, 2). Selama masa se-
seorang didisiplin, apakah celaan atau pemecatan, jemaat, sebagai alat
dari misi Allah, harus melakukan semua usaha untuk mempertahankan
hubungan kepedulian dan pemeliharaan rohani dengan mereka.
220
221
BAB 14
Dasar-dasar Kepercayaan
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh menerima Alkitab sebagai satu-
satunya dasar kepercayaan mereka dan memegang beberapa kepercaya-
an dasar sebagai pengajaran dari Kitab Suci. Kepercayaan-kepercayaan
ini , sebagaimana yang diungkapkan di sini, merupakan ungkapan
pemahaman gereja atas pengajaran Alkitab. Revisi atas pernyataan-
pernyataan ini mungkin diharapkan pada salah satu rapat umum
General Conference pada saat gereja dituntun oleh Roh Kudus kepa-
da pemahaman yang lebih sempurna akan kebenaran Alkitab atau me-
nemukan bahasa yang lebih baik untuk mengungkapkan ajaran-ajaran
dari Firman Allah yang Kudus.
1. Kitab Suci
Kitab Suci yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru,
yaitu Firman Allah yang tertulis, yang diberikan oleh inspirasi Ilahi
melalui orang-orang kudus Allah yang berbicara dan menulis karena
mereka digerakkan oleh Roh Kudus. Dalam Firman tertulis ini, Allah
telah memberikan kepada manusia pengetahuan yang perlu untuk ke-
selamatan. Kitab Suci yaitu pernyataan tentang kehendak Allah yang
tidak mungkin salah. Itu merupakan ukuran tabiat, ujian pengalaman,
pengungkap doktrin yang sah, dan catatan yang terpercaya perihal tin-
222
dakan-tindakan Allah dalam sejarah. (2 Ptr. 1:20, 21; 2 Tim. 3:16, 17;
Mzm. 119:105; Ams. 30:5, 6; Yes. 8:20; Yoh. 17:17; 1 Tes. 2:13; Ibr.
4:12).
2. Trinitas
Ada satu Allah: Bapa, Anak, dan Roh Kudus, suatu kesatuan dari ti ga
Pribadi yang kekal. Allah itu abadi, Mahakuasa, Mahatahu, lebih dari
segalanya, dan Mahahadir. Allah itu tidak terbatas dan lebih dari pe-
mahaman manusia, namun dikenal melalui penyataan diri-Nya. Dia itu
layak disembah, dipuja dan dilayani selama-lamanya oleh segenap cip-
taan. (Ul. 6:4; Mat. 28:19; 2 Kor. 13:14; Ef. 4:4-6; 1 Ptr. 1:2; 1 Tim.
1:17; Why. 14:7).
3. Bapa
Allah Bapa yang kekal yaitu Pencipta, Sumber, Pemelihara, dan
Raja yang berkuasa atas segala ciptaan. Dia itu benar dan suci, penuh
kemurahan dan rahmat, sabar, dan berlimpah kasih dan kesetiaan. Sifat-
sifat serta kuasa yang ditunjukkan dalam Anak dan Roh Kudus

