gereja masehi 4
Sesuai dengan usia-
nya; Hal ini diperlukan agar seorang anak memiliki rasa aman. Selain merasa memi-
liki, anak-anak perlu merasa aman. Anak-anak tidak dilahirkan dengan disiplin diri,
jadi orang tua harus menetapkan peraturan keluarga dan mengharapkan kepatuh-
an. saat anak-anak diberi batasan yang jelas di masa kanak-kanak, mereka tumbuh
menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab yang memiliki pengertian jelas tentang
siapa mereka, apa yang menjadi tanggung jawab mereka, apa yang mereka kendalikan,
dan apa saja serta siapa saja yang tidak mereka kendalikan. Di dalam buku Boundary
with Kids (Batasan pada Anak-Anak), Drs. Henry Cloud dan John Townsend menga-
takan demikian: “Inti dari batasan yaitu pengendalian diri, tanggung jawab, kebebas-
an, dan cinta. Ini yaitu landasan kehidupan rohani. Selain dari mencintai dan me-
naati Allah, apalagi hasil yang lebih baik dari mengasuh anak selain itu?” (hlm. 19).10
Anak-anak lebih cenderung menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan
sehat secara emosional saat orang tua memiliki keseimbangan yang sehat antara ke-
hangatan dan batasan (dukungan dan kendali). Ada juga kemungkinan yang lebih be-
sar bahwa mereka akan menerima nilai-nilai orang tua, berkembang secara moral se-
suai usia, dan menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab secara sosial dan peduli.
MENCIPTAKAN SUASANA SURGAWI DI RUMAH ANDA
“Seharusnya rumah tangga dijadikan sebagaimana arti yang dikandung dalam
perkataan itu. Rumah tangga itu harus menjadi satu surga kecil di atas dunia ini.
Satu surga kecil di atas dunia ini, satu tempat di mana cinta kasih dipertumbuhkan
gantinya ditindas dengan sengaja. Kebahagiaan kita tergantung atas pemelihara-
an cinta kasih, belas kasihan, dan ramah tamah yang benar terhadap satu dengan
yang lain” (Membina Keluarga Bahagia, hlm. 14)
Ellen G. White menulis kata-kata ini beberapa dekade sebelum para psikolog
perkembangan mengidentifikasi faktor-faktor seperti kehangatan, dukungan, ka-
sih sayang, yang berhubungan dengan perkembangan yang sehat dan kesejahteraan
emosional anak-anak dan menjadi seperti apa kita sebagai orang dewasa. Saat ini, kita
memiliki banyak formasi keluarga yang beragam selain suami dan istri, namun inti
| 79SEMINAR
MEMELIHARA KESEJAHTERAAN EMOSIONAL DALAM KELUARGA
dari pernyataannya yaitu tentang jenis lingkungan rumah yang mengayomi setiap
anggota keluarga dan memberi mereka rasa surgawi.
Berikut yaitu 5 tip untuk memelihara kesejahteraan emosional yang sehat dalam
keluarga Anda:
1. Keluarga yang sehat menciptakan suasana di mana malaikat ingin tinggal.
Ini tidak berarti bahwa segalanya akan selalu sempurna, atau kesalahan tidak
akan terjadi. Keluarga yang sehat belajar menjadi fleksibel dan tahu bagai-
mana meminta maaf dan memaafkan. Mereka dengan sengaja menyelesaikan
konflik dengan cara Kristiani; mereka bekerja sama sebagai tim untuk menye-
lesaikan masalah. Adakan pertemuan keluarga secara teratur untuk memba-
has isu dan masalah yang ada.
2. Keluarga yang sehat mempraktikkan komunikasi yang baik. Setiap orang me-
miliki suara, dan setiap orang harus didengarkan. Ini termasuk memakai
kata-kata dan nada suara yang penuh hormat, baik hati, dan penuh kasih. Ada
pemahaman bahwa orang tua yaitu pemimpin. Tetap saja, anak-anak ha-
rus diperbolehkan untuk membuat pilihan yang sesuai dengan usia mereka—
kadang-kadang izinkanlah mereka untuk memimpin ibadah, mengatur kegi-
atan keluarga, dan memilih pakaian mereka sendiri. Orang tua wajib menjadi
berwibawa, bukan otoriter.
3. Keluarga yang sehat memiliki Waktu Ikatan Keluarga. Memiliki waktu makan
yang teratur menciptakan suasana terbuka untuk mendiskusikan bagaimana
keadaan setiap orang. Ini bukan waktu untuk mencaci atau mempermalukan,
hanya waktu berbagi dengan keluarga secara bersama. Ada banyak penelitian
tentang manfaat makan malam keluarga dan bagaimana kebiasaan itu melin-
dungi anak-anak muda dari sifat yang berbahaya.
4. Keluarga yang sehat bermain dan tertawa bersama. Main permainan, nonton
film lucu, dan baca cerita lucu. Luangkan waktu untuk bersenang-senang. Pi-
sahkan waktu ini dari waktu untuk menyelesaikan masalah-masalah.
5. Keluarga sehat menyembah Tuhan bersama. Berkomitmenlah untuk meng-
adakan ibadah keluarga setiap hari sebagai sebuah keluarga. Tidak harus pan-
jang. Bisa di dalam mobil, saat sarapan, saat makan malam, atau sebelum ti-
dur. Luangkan waktu untuk menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan
Anda dan ajari anak-anak Anda untuk menyembah Tuhan.
Penting untuk diingat bahwa semua keluarga melalui siklus dan tahapan kehi-
dupan yang berbeda-beda sebab individu-individu yang membentuk keluarga juga
melalui siklus dan tahapan kehidupan yang berbeda-beda. Beberapa keluarga meng-
hadapi lebih banyak stres daripada yang lain, namun semua akan mengalami pasang su-
rut kehidupan di mana terjadi kelahiran, kematian, perceraian, pencampuran keluarga
tiri, krisis ekonomi, pandemi, atau kejadian kehidupan lainnya. saat kesejahteraan
emosional anggota keluarga dipupuk, termasuk orang tua dan anak, keluarga menja-
di lebih tangguh, dan anggota individu juga menjadi lebih tangguh. Ketahananan ini
80 | SEMINAR
MEMELIHARA KESEJAHTERAAN EMOSIONAL DALAM KELUARGA
mengakui adanya cobaan namun percaya kesejahteraan emosional yaitu dapat dicapai
meskipun adanya tantangan.11
Dalam seminar ini, kita berfokus pada pola asuh untuk menunjukkan bagaimana
orang dewasa mengembangkan kesejahteraan emosional. Namun, jika seseorang tidak
diasuh secara emosional sejak kecil, masih ada kesempatan untuk memulai perjalan-
an ini di masa dewasa. Cara terbaik untuk itu yaitu dengan mengawali hari
bersama Firman Tuhan. “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab
kepada-Mulah ia percaya”—Yesaya 26: 3. Carilah konselor Kristen terpercaya untuk
membantu Anda memproses luka, trauma, atau pengabaian di masa lalu. Berdoalah
setiap hari dan secara teratur agar Tuhan menyembuhkan pikiran dan jiwa Anda.
REFERENSI
1 Spence-Jones, H. D. M. (Ed.). (1909). Proverbs (hlm. 422). London; New York: Funk
& Wagnalls Company.
2 Dybdahl, J.L. (Ed.). (2010). Andrews Study Bible Notes (hlm. 818). Berrien Springs,
MI: Andrews University Press.
3 White, Ellen G. Membina Anak Bertanggung Jawab. (hlm. 317.3). EGW Writings 2
Versions 7.6.0 for Android
4 World Health Organization (WHO) Mental Health Surveys.
5 National Survey of Children’s Health.
6 Centers for Disease Control (CDC). www.cdc.gov
7 White, Ellen G. Membina Keluarga Bahagia. (hlm. 14.4). EGW Writings 2 Versions
7.6.0 for Android
8 Gottman, John. (2015). 7 Principles for Making Marriage Work. New York, NY: Har-
mony Books.
9 See Baumrind’s Parenting Styles.
10 Cloud, Henry C & Townsend, John. (1998). Boundaries with Kids. Grand Rapids, MI:
Zondervan.
11 Oliver, W. & E. (Ed.). (2021). I Will Go With My Family: Family Resilience. Resource
Book 2022. Review and Herald Publishing Association.
| 81
Willie Oliver, Ph.D., CFLE dan Elaine Oliver, Ph.Dc., LCPC, CFLE
yaitu Direktur Departemen Pelayanan Rumah Tangga General Conference di Kantor Pusat
Advent Sedunia di Silver Spring, Maryland, AS
HIDUP BERSAMA
PASANGAN YANG
MENGALAMI
GANGGUAN
KESEHATAN MENTAL
OLEH WILLIE DAN ELAINE OLIVER
AYAT
“Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang
telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka
Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu”—Filipi 4: 9.
PERNYATAAN TUJUAN
Hidup bersama pasangan yang memiliki gangguan mental bukanlah tugas yang
mudah. Hal itu bisa terasa sangat sulit dan membingungkan jika pasangan Anda tidak
mengakui adanya masalah ini . Komunikasi, dukungan pasangan, dan menjaga
diri sendiri sangat penting bagi keberhasilan dan kebahagiaan pernikahan, dan menja-
di lebih krusial saat ada gangguan mental yang hadir.
82 | SEMINAR
HIDUP BERSAMA PASANGAN YANG MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN MENTAL
PENDAHULUAN
Pernikahan umumnya diyakini memiliki manfaat kesehatan mental—meningkat-
kan kualitas hidup yang lebih tinggi, tingkat kematian yang lebih rendah, penghasilan
lebih banyak, seks yang lebih baik, kesehatan fisik dan mental yang lebih baik, dan
komitmen persahabatan seumur hidup di antara manfaat lainnya. Namun, tergantung
pada sifat perkawinan dan hubungan keluarga, kesehatan mental dapat ditingkatkan
secara positif atau berdampak negatif, terutama pada individu yang sudah bergumul
dengan gangguan mental. Terkadang, sifat hubungan juga dapat memicu gejala pada
individu yang mungkin sudah rentan terhadap gangguan mental.
Sudah terlalu lama, penyakit mental menjadi penyakit “bisu” di dalam komunitas
agama dan di berbagai budaya. Sayangnya, kebisuan ini telah menyebabkan banyak
orang tidak terdiagnosis dan tidak mendapat pengobatan. saat ini terjadi, pa-
sangan dan anggota keluarga lainnya tidak siap menghadapi apa yang mungkin meru-
pakan penyakit ringan namun juga bisa menjadi penyakit yang berpotensi mengancam
jiwa. Dalam banyak kasus, hal ini cenderung menciptakan ketidakamanan dan kera-
puhan dalam pernikahan dan keluarga.
Dalam seminar ini, kami terutama akan membahas penyakit mental ringan dan
memberi panduan tentang bagaimana mengenali gejala dan menawarkan tips ten-
tang bagaimana hidup dengan pasangan yang berjuang dengan penyakit mental. Saat
kami memulai bagian ini, kami ingin menyatakan dengan tegas bahwa Anda tidak bo-
leh mendiagnosis atau menuduh pasangan Anda menderita gangguan mental. Meng-
kritik atau meremehkan pasangan Anda dalam keadaan normal saja sudah merusak
pasangan dan pernikahan Anda, dan dampaknya akan lebih parah lagi jika pasangan
Anda mengalami gangguan mental.
MENGENALI TANDA-TANDA GANGGUAN MENTAL PADA
PASANGAN ANDA
Gangguan kesehatan mental dapat memengaruhi kehidupan seseorang secara
signifikan, termasuk bagaimana mereka menghadapi peristiwa kehidupan, mencari
nafkah, dan berhubungan dengan orang lain. Meskipun setiap gangguan kesehatan
mental memiliki kumpulan gejala yang unik, ada beberapa tanda umum yang dapat
membantu Anda mendapat gambaran umum apakah ada masalah yang perlu di-
atasi. Beberapa dari tanda-tanda ini mungkin tampak seperti kekurangan atau gang-
guan kepribadian biasa, atau Anda mungkin mengira pasangan Anda hanya malas.
Namun, jika gejala ini mengganggu fungsi normal pasangan Anda, bisa jadi itu yaitu
tanda gangguan mental.
• Kesedihan yang berlebihan
• Sulit tidur atau merasa lelah
• Perasaan marah atau mudah tersinggung yang kuat
• Kekhawatiran atau ketakutan yang berlebihan
| 83SEMINAR
HIDUP BERSAMA PASANGAN YANG MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN MENTAL
• Memiliki pikiran untuk bunuh diri
• Perubahan suasana hati yang ekstrem (yaitu, berubah dari perasaan tertekan
menjadi perasaan euforia dengan cepat)
• Memiliki halusinasi atau delusi, atau kesulitan memahami kenyataan
• Isolasi dari teman
• Menarik diri dari kegiatan sosial
• Ketidakmampuan untuk menghadapi masalah sehari-hari atau stres
• Perubahan dorongan seksual
• Perubahan nafsu makan
• Kelesuan yang meluas
Jika Anda telah mengamati salah satu dari tanda-tanda ini pada pasangan Anda
dan menilai bahwa itu lebih dari sekadar gangguan atau keanehan Anda sendiri, mes-
kipun ragu, diskusikan pengamatan Anda dengan pasangan Anda dan sarankan dia
berbicara dengan dokter atau konselor mereka. Ini harus dilakukan dengan ramah,
tanpa kritik atau kata-kata yangmenyerang mereka. Gangguan kesehatan mental ti-
dak selalu dapat dicegah, namun dengan mendapat penilaian dan pengobatan yang
mencakup menghadiri terapi atau bentuk konseling lainnya, Anda dapat mencegah
gangguan yang ada untuk tidak menjadi lebih buruk.
FAKTOR RISIKO KESEHATAN MENTAL
Gangguan mental yaitu kondisi kesehatan yang memengaruhi cara seseorang
berpikir, merasa, dan bertindak. Beberapa orang mungkin memiliki kecenderungan
untuk mengalami gangguan mental. Faktor risiko yang dapat mengembangkan gang-
guan kesehatan mental meliputi berikut ini:
• Riwayat gangguan mental dalam
• Kekerasan atau pengabaian terhadap anak
• Pengalaman traumatis seperti pelecehan seksual atau pertempuran militer
• Pernah mengalami gangguan mental sebelumnya
• Kurangnya hubungan yang sehat
Riwayat kesehatan keluarga Anda mungkin menjadi salah satu petunjuk terbaik
untuk menentukan risiko Anda terkena gangguan mental dan banyak penyakit umum
lainnya. Gangguan mental tertentu cenderung diturunkan dalam keluarga, dan memi-
liki kerabat dekat dengan gangguan mental juga bisa berarti Anda memiliki risiko yang
tinggi untuk mengalami hal yang sama. Banyak dari kita belajar bagaimana mengatasi
atau tidak mengatasi dari keluarga asal kita. Namun, fakta bahwa seseorang di keluar-
ga Anda memiliki penyakit mental tidak berarti Anda juga akan mengalami hal yang
sama. Banyak faktor lain, beberapa disebutkan di atas, yang dapat menyebabkan gang-
guan mental.
84 | SEMINAR
HIDUP BERSAMA PASANGAN YANG MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN MENTAL
TIPS HIDUP BERSAMA PASANGAN DENGAN PENYAKIT MENTAL
BEKERJA SEBAGAI TIM
Hadapi masalah pasangan Anda sebagai masalah "kita", bukan hanya masalahnya.
Meskipun pasangan Anda mungkin yaitu orang yang terdiagnosis secara klinis, hal
itu memengaruhi pernikahan dan keluarga Anda. Pelajari semua yang Anda bisa ten-
tang gangguan mental yang didiagnosis dan cobalah untuk memahaminya. Cari tahu
apa gejalanya dan tunjukkan belas kasih saat Anda melihat gejala itu muncul. Bica-
ralah dengan pasangan Anda dan tanyakan apa yang dia alami.
Hidup dengan pasangan yang menderita gangguan mental bisa sangat membuat
frustasi, namun menunjukkan kasih sayang akan memberi perhatian dan dukungan
bagi pasangan Anda. Jika pasangan Anda merasa didukung, dia mungkin lebih berse-
dia untuk mencari bantuan dan tetap menjalani pengobatan. Jika pasangan Anda me-
nolak mencari bantuan, Anda dapat mencari terapi untuk diri sendiri agar membantu
Anda supaya dapat mengatasi gangguan mental pasangan Anda dengan lebih baik.
BERKOMUNIKASI TERBUKA DAN JUJUR DENGAN PASANGAN ANDA
Berada di tim yang sama tidak berarti menjadi pendukung yang pasif atau “karpet”
bagi pasangan Anda. Tanyakan kepada pasangan Anda bagaimana Anda dapat memban-
tu mereka mengatasi gejalanya, namun, pada akhirnya, tanggung jawab untuk pengobat-
an dan kesehatan mereka tetap ada pada pasangan Anda. Mendengarkan tidak berarti
Anda menjadi terapis pasangan Anda; jadilah pasangan yang suportif dan penuh kasih
dan terus mendorong serta mendukung mereka dalam terapi atau perawatan lainnya.
saat pasangan Anda melakukan sesuatu yang menyakiti Anda, meskipun jika
mereka tidak bermaksud demikian, pastikan untuk membicarakannya dengan mereka
lalu . Perjuangkanlah hubungan Anda seperti biasanya seakan-akan gangguan
mental itu tidak ada. Tegaskan hal positif pada pasangan Anda dan pernikahan anda;
lakukan hal-hal istimewa bersama setiap hari. Jika sesuai, Anda dapat menghadiri
konseling pasangan dengan seorang konselor Kristen untuk membantu Anda dalam
mengatasi tantangan dan juga memperkaya hubungan pernikahan Anda.
TETAPKAN BATAS YANG SEHAT
Hidup dengan seseorang dengan penyakit mental dapat menciptakan lingkungan
yang rapuh jika batasan yang sehat dan penuh kasih tidak ditetapkan. Beri tahu pa-
sangan Anda bahwa ledakan kemarahan yang kejam, jahat, dan menghina tidak akan
ditoleransi. Anda dapat mengatakan, "saat kamu bereaksi atau merespons dengan
cara ini, saya tidak akan dapat tetap berada di hadapan kamu dan harus meninggalkan
ruangan." Kekerasan fisik tidak dapat diterima dalam keadaan apa pun dan jika ini ter-
jadi, Anda mungkin perlu mencari tempat yang aman.
MENCARI DUKUNGAN
Ada banyak kelompok dukungan untuk orang dan keluarga penderita gangguan
mental, termasuk sumber daya online (lihat situs web di Referensi). Selain itu, banyak
| 85SEMINAR
HIDUP BERSAMA PASANGAN YANG MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN MENTAL
gereja menawarkan berbagai kelompok kecil; jika tidak ada di gereja setempat Anda,
diskusikan kemungkinan untuk memulainya dengan pendeta Anda. Anda mungkin
terkejut saat mengetahui bahwa anggota lain berurusan dengan pasangan atau anggota
keluarga lain yang memiliki gangguan kesehatan mental. Seperti disebutkan sebelum-
nya, Anda mungkin juga ingin mencari terapi untuk diri sendiri. Kami mendorong
Anda untuk menemukan konselor kesehatan mental Kristen yang memiliki nilai-nilai
yang sama tentang pernikahan dan iman.
MENJALANKAN PERAWATAN DIRI
Salah satu hal terpenting yang dapat Anda lakukan saat hidup bersama seseorang
dengan gangguan mental yaitu menjalankan perawatan diri. Anda harus menjadikan
kesehatan mental Anda sebagai prioritas, jika tidak, Anda akan mengalami penurunan
kesehatan yang juga akan memengaruhi hubungan Anda. Sangat mudah untuk mera-
sakan kelelahan saat hidup bersama pasangan dengan penyakit mental.
Bentuklah rutinitas harian yang mencakup doa, merenungkan Firman Tuhan,
membaca kata-kata positif, dan berolahraga. Menghabiskan waktu terpisah dari pa-
sangan dan bersosialisasi dengan anggota keluarga dan teman lain secara berkala
juga penting. Agar hubungan menjadi sehat harus ada keseimbangan antara kebersa-
maan yang baik dan kesempatan untuk mengejar aktivitas dan minat yang membuat
Anda bahagia. saat Anda menjaga kesehatan Anda sendiri—secara fisik, mental,
sosial, dan rohani, Anda dapat menjadi pasangan yang lebih mendukung dan lebih
terlibat.
HARAPAN BAGI PASANGAN
Terlepas dari beberapa statistik yang menakutkan, banyak pernikahan yang ber-
hasil bertahan dengan pasangan atau anggota keluarga yang mengidap gangguan
mental. Kabar baiknya yaitu bahwa semakin banyak orang menjadi terbuka tentang
tantangan kesehatan mental mereka, dan semakin banyak yang ditulis secara terbuka
tentang efek penyakit mental. sebab meningkatnya jumlah anak-anak, remaja, dan
orang dewasa dengan gangguan mental, ini telah ditetapkan sebagai krisis kesehatan
masyarakat di abad 21.
Di satu sisi, meskipun banyak orang masih tidak mau mengakui gangguan mental
sebagai kondisi kesehatan yang nyata, orang lain mungkin cenderung mengatakan ten-
tang seseorang yang berperilaku aneh— "orang itu bipolar (punya dua kepribadian),
atau pasangan saya menderita depresi." Sebenarnya kebanyakan orang tidak akan mu-
dah mengenali tanda-tanda penyakit mental; fakta bahwa pasangan atau anak Anda
terkadang murung belum tentu berarti mereka bipolar. Yang penting yaitu mengi-
dentifikasi apakah pasangan, anak, atau orang yang Anda cintai, secara konsisten ber-
perilaku dengan cara yang tidak teratur dan tidak dapat diprediksi, dan tingkah mere-
ka menciptakan banyak ketegangan dan ketidakstabilan dalam keluarga. saat Anda
mengidentifikasi gangguan semacam itu, penting untuk mendapat bantuan dari
konselor profesional, psikolog, atau psikiater.
86 | SEMINAR
HIDUP BERSAMA PASANGAN YANG MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN MENTAL
Bagi banyak orang Kristen, mencari bantuan dari spesialis kesehatan mental se-
pertinya tidak terpikirkan. Namun, pertimbangkan bahwa jika Anda sakit gigi, Anda
tidak akan mencoba mencabut gigi sendiri. Atau jika lengan Anda patah, Anda tidak
akan mencoba memasang gips sendiri bukan? Dalam kedua kasus ini , seseorang
akan mencari bantuan dari seorang spesialis—dokter gigi atau ahli bedah ortopedi.
Gangguan mental tidak berbeda dengan penyakit lain yang membutuhkan diagnosis
dan perawatan yang tepat. Jika gigi yang terinfeksi atau lengan yang patah dibiarkan
tanpa perhatian, hal itu akan menyebabkan masalah yang semakin parah. Hal yang
sama berlaku untuk gangguan mental; itu yaitu kondisi medis yang dapat didiagno-
sis.
Intervensi dini, diagnosis yang tepat, dan pengobatan yaitu langkah pertama
yang penting dalam mengelola gangguan mental. Sebagai pasangan atau pengasuh
yang mendukung, edukasilah diri Anda sebanyak mungkin tentang kondisi orang ter-
sebut. Pasangan dan keluarga juga harus mengembangkan strategi penanggulangan
dan rencana keamanan untuk orang yang sakit dan anggota keluarga lainnya. Seseo-
rang yang mengalami depresi klinis, kecemasan, atau telah mencoba bunuh diri dan se-
lamat, mungkin memerlukan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan
sebelum pengobatan, terapi, dan intervensi lain dapat mengurangi gejala dan perasaan
ingin bunuh diri. Empati, kebaikan, dan dukungan dari orang yang dicintai yaitu ba-
gian berharga dari perawatan mereka. Tentu saja, ini mungkin sangat sulit bagi orang
tersayang yang bingung, ketakutan, dan marah. Belajar mengatasi baik perilaku orang
yang sakit jiwa maupun reaksi diri sendiri terhadap perilaku ini sering membu-
tuhkan konseling untuk pasangan dan anggota keluarga lainnya.
Iman kepada Tuhan yaitu keuntungan besar bagi orang Kristen yang tinggal
dengan kerabat yang sakit jiwa. Penelitian terbaru telah menegaskan bahwa iman se-
seorang memainkan peran penting dalam membantu individu ini mengatasi
tantangan dalam hidupnya—termasuk membantu anggota keluarga mengatasi stres
sebab merawat untuk kerabat yang sakit jiwa. Namun, iman ini harus intrinsik da-
ripada ekstrinsik (Pargamen, 2001), artinya orang ini harus secara jujur mem-
percayai apa yang diklaimnya sebagai kepercayaannya—“Dan apa yang telah kamu
pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang
telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan me-
nyertai kamu"—Filipi 4: 9.
REFERENSI
Pargament, Kenneth. (2001). The Psychology of Religion and Coping: Theory, Research, and
Practice. The Guilford Press; Revised ed. edition).
Xu, Jianbin. (2016) Pargament’s Theory of Religious Coping: Implications for Spiritually Sensi-
tive Social Work Practice. Br J Soc Work, 46(5):1394-1410.
https://www.nami.org/Blogs/NAMI-Blog/November-2018/How-to-Be-Supportive-of-
Your-Partner-with Mental-I
| 87SEMINAR
HIDUP BERSAMA PASANGAN YANG MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN MENTAL
https://nami.org/About-Mental-Illness/Warning-Signs-and-Symptoms
https://www.nimh.nih.gov/health/publications/looking-at-my-genes
https://988lifeline.org/ The National Suicide Prevention and Crisis Lifeline (USA only)
88 |
DAMPAK
PELECEHAN
SEKSUAL
PADA ANAK
Alina Baltazar, Ph.D., MSW, LMSW, CFLE, CCTP-I, CCTP-F yaitu Direktur Program MSW &
Profesor di School of Social Work dan Co-Associate Director untuk Institut Pencegahan Kecan-
duan di Universitas Andrews, dan juga seorang psikoterapis yang merawat penyakit mental pada
anak-anak/remaja dan keluarga di Berrien Springs, MI, AS.
OLEH ALINA BALTAZAR
AYAT
“Sesungguhnya, anak-anak yaitu milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah
kandungan yaitu suatu upah”—Mazmur 127: 3.
“lalu berkata: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan
menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dia-
lah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang
anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. namun barangsiapa menye-
satkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik ba-
ginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke
dalam laut’”—Matius 18: 3–6.
SEMINAR | 89
DAMPAK PELECEHAN SEKSUAL PADA ANAK-ANAK
PERNYATAAN TUJUAN
Tujuan dari seminar ini yaitu untuk meninjau dampak pelecehan seksual pada
anak-anak, kemungkinan penyebabnya, bagaimana mengenalinya pada anak, melin-
dungi anak-anak dari pelecehan seksual, dan tempat untuk mendapat pemulihan
bagi anak-anak yang mengalami kekerasan seksual. Seminar ini disampaikan dari su-
dut pandang Alkitab.
BAHAN YANG DIPERLUKAN
Laptop, perangkat lunak PowerPoint, dan proyektor. Seminar ini mungkin akan
memakan waktu sekitar 1–1,5 jam.
PERTANYAAN POLLING
Berapa banyak dari Anda yang secara pribadi mengenal seseorang yang
pernah mengalami pelecehan seksual saat masih anak-anak/remaja atau sese-
orang yang telah melakukan pelecehan seksual terhadap anak/remaja?
PERKENALAN
Anak-anak yaitu anugerah istimewa dari Tuhan untuk umat manusia, seperti yang
disebutkan dalam Mazmur 127: 3. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa kita harus men-
jadi seperti anak kecil dalam kerendahan hati, kepolosan, dan ketergantungan mereka
(Matius 18: 3). Anak-anak sepenuhnya bergantung pada orang dewasa untuk memenuhi
kebutuhan dasar mereka dan untuk memberi kasih sayang dan bimbingan pengasuh-
an. Pikiran mereka membutuhkan waktu beberapa tahun untuk berkembang agar dapat
mengurus kebutuhan mereka sendiri dan memiliki kemampuan fungsi eksekutif untuk
mengetahui bagaimana perilaku mereka saat ini berdampak pada masa depan mereka.
Otak manusia belum sepenuhnya matang hingga pertengahan usia 20-an. Lingkungan
yang stabil dan penuh kasih sayang sangat penting bagi anak-anak untuk menjadi ang-
gota masyarakat yang sehat dan berkontribusi. Ada banyak cara dosa merusak perkem-
bangan anak. Salah satu yang paling menghancurkan yaitu pelecehan seksual.
Sayangnya, dosa seksual yaitu cara umum yang ingin dilakukan Iblis untuk me-
nyakiti ciptaan Allah dan hubungan kita dengan-Nya. Ada banyak ayat yang mendo-
rong kesucian seksual dan melawan amoralitas seksual. Di zaman modern, ekspresi
seksual dianggap sebagai perilaku positif dan tidak berbahaya, namun bahkan indivi-
du dan ilmuwan sekuler mengetahui bahaya pelecehan seksual terhadap anak-anak.
sebab ekspektasi yang tinggi terhadap perilaku seksual di kalangan umat Kristiani,
amoralitas seksual, terutama yang berkaitan dengan anak-anak, mendapat stigma yang
besar. Oleh sebab itu, topik ini penting untuk dibahas dalam konteks gereja.
90 | SEMINAR
DAMPAK PELECEHAN SEKSUAL PADA ANAK-ANAK
RATING
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (2022), pelecehan seksual
terhadap anak yaitu masalah kesehatan masyarakat yang signifikan. Pelecehan seksual
terhadap seorang anak melibatkan keterlibatan seorang anak (orang yang berusia ku-
rang dari 18 tahun) dalam aktivitas seksual yang melanggar hukum atau ekspektasi bu-
daya yang tidak sepenuhnya dipahami, tidak disetujui, atau anak ini tidak memiliki
kemampuan perkembangan untuk memberi persetujuan. Apa yang tampak sebagai
hubungan seksual “konsensual” antara gadis remaja berusia 16 tahun dan pacar beru-
sia 21 tahun sebenarnya yaitu pelecehan seksual terhadap anak menurut standar ini.
Apa yang mungkin dianggap oleh orang dewasa sebagai perilaku seksual sukarela oleh
seorang anak terhadap mereka, jika dipakai dengan sengaja untuk membangkitkan
gairah seksual orang dewasa itu, itu juga merupakan pelecehan seksual terhadap anak.
Anak-anak seringkali tidak menyadari pelecehan seksual telah terjadi atau tidak
pernah melaporkan pelecehan seksual sebab takut akan stigma atau pembalasan se-
hingga perkiraan ini mungkin rendah. Perkiraan akan bervariasi di berbagai studi dan
negara bagian, namun penelitian umumnya menemukan bahwa:
• 1 dari 4 wanita dan 1 dari 6 pria di AS akan mengalami serangan pelecehan
seksual sebelum usia 18 tahun.
• 91% pelaku yaitu orang yang dikenal anak ini (teman dan anggota ke-
luarga).
• Pelecehan ini tidak hanya berdampak pada anak dan keluarga, namun juga ma-
syarakat dengan beban ekonomi seumur hidup setidaknya $9,3 miliar pada
tahun 2015.
PERTANYAAN DISKUSI
Apakah statistik ini menakutkan bagi Anda atau menurut Anda itu tidak akan
terjadi pada anak Anda?
DAMPAK PELECEHAN SEKSUAL TERHADAP ANAK/REMAJA
Dari semua pengalaman buruk masa kanak-kanak yang dialami seorang anak,
pelecehan seksual merupakan yang paling merusak sebab dampak jangka panjang-
nya terhadap perkembangan anak. Menurut CDC (2022), pelecehan seksual masa
kanak-kanak berdampak pada anak-anak/remaja/dewasa dalam berbagai cara.
SECARA PERILAKU
Lebih cenderung memakai dan menyalahgunakan obat-obatan terlarang,
termasuk opioid, berpartisipasi dalam perilaku seksual berisiko (berganti pasangan
seksual atau seks tanpa kondom), dan lebih cenderung melakukan kekerasan seksual.
| 91SEMINAR
DAMPAK PELECEHAN SEKSUAL PADA ANAK-ANAK
SECARA EMOSIONAL
Tingkat depresi, bunuh diri, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD) yang lebih
tinggi. Lebih rentan menjadi korban kekerasan di lalu hari. Perempuan yang
mengalami kekerasan seksual saat kanak-kanak, 2–13 kali lebih besar kemungkinan-
nya mengalami serangan seksual dan dua kali risiko kekerasan dalam rumah tangga
saat dewasa.
SECARA FISIK
Tingkat infeksi seksual menular, cedera fisik, dan kondisi kronis yang lebih tinggi
di lalu hari (penyakit jantung, obesitas, dan kanker).
SECARA SPIRITUAL
sebab sebagian besar serangan seksual dilakukan oleh orang dewasa yang diper-
cayai, hal ini dapat memengaruhi pandangan seorang anak tentang Bapa surgawi yang
penuh kasih. Selain itu, seorang anak mungkin bertanya-tanya bagaimana Tuhan yang
pengasih membiarkan pelecehan terjadi atau tidak menyelamatkannya dari rumah
yang penuh kekerasan. Yesus tahu bagaimana besarnya dampak pelecehan seksual bagi
anak-anak saat Ia berkata, “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak ke-
cil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada leher-
nya lalu ia dibuang ke dalam laut”—Markus 9: 42.
PERTANYAAN DISKUSI
Bagi mereka yang mengenal seseorang yang pernah mengalami pelecehan
seksual saat masih anak-anak/remaja, bagaimana dampaknya terhadap me-
reka?
Periksa keadaan peserta pada titik ini. Menyadari bahaya pelecehan seksual pada
anak dapat menjadi pemicu bagi mereka yang lebih sensitif secara emosional dan ter-
utama bagi mereka yang pernah mengalami sendiri trauma emosional masa kanak-
kanak. Anda perlu mengakui hal ini dan meyakinkan mereka bahwa semua konseku-
ensi ini tidak terjadi pada semua korban dan bahwa ada harapan dan kesembuhan bagi
mereka yang mengalaminya.
MENGENALI PENYERANGAN SEKSUAL
PADA ANAK-ANAK/REMAJA
Anak-anak secara alami mengeksplorasi seksualitas dan bagian reproduksi mere-
ka saat mereka berkembang, terutama di saat ‘pelatihan toilet’ dan masa pubertas. Saat
anak berhenti memakai popok, mereka seperti tiba-tiba sadar ada bagian tubuh yang
92 | SEMINAR
DAMPAK PELECEHAN SEKSUAL PADA ANAK-ANAK
tidak mereka sadari sebelumnya, ternyata memiliki fungsi yang berhubungan dengan
toilet dan memiliki sensasi tertentu saat disentuh. Akibatnya, anak-anak mungkin le-
bih sering menyentuh dirinya sendiri atau membuka diri untuk mendapat reaksi.
Ini dapat berlanjut ke tahun-tahun awal sekolah dasar saat mereka mulai lebih ba-
nyak berinteraksi dengan teman sebayanya. Anak-anak memperhatikan reaksi orang
dewasa terhadap perilaku ini. Terkadang mereka menyukai perhatian yang mereka da-
patkan untuk perilaku bermasalah ini. Ini yaitu tanda-tanda perkembangan anak
yang normal dan bukan gejala pelecehan seksual. Tentu saja, anak-anak memang perlu
dilatih untuk menetapkan batasan terkait bagian reproduksinya, namun mereka tidak
boleh merasa ngeri dengan bagian tubuhnya berdasarkan reaksi orang dewasa. Orang
tua didorong untuk mengajar anak-anak mereka, mengenai perbedaan antara sentuh-
an yang baik dan yang buruk.
Anak-anak cenderung memasuki fase latensi sekitar usia 7 hingga pubertas di
mana perkembangan seksualnya masih terbatas. Anak-anak lebih banyak terlibat de-
ngan teman sesama jenis dan lebih fokus pada hubungan dan sekolah ini . Saat
anak-anak memasuki masa pubertas, mereka mungkin melihat lebih banyak rambut
tumbuh di sekitar alat kelamin mereka, dan lalu mereka melihat perubahan fisik
yang menimbulkan sensasi tubuh baru. Ini yaitu saat lain dari keingintahuan alami
tentang bagian reproduksi mereka yang dapat mengarah pada peningkatan kesadaran
dan minat pada seksualitas. Ini juga merupakan perkembangan anak yang normal.
Sulit untuk mengenali tanda-tanda pelecehan seksual pada anak-anak. Cara ter-
baik yaitu dengan memperhatikan perilaku atau perbedaan emosional yang tidak di-
jelaskan oleh perubahan lain dalam kehidupan anak. Tanda-tanda ini bisa sangat
halus sebab pelaku pelecehan cenderung pandai menyembunyikan apa yang mereka
lakukan dan mungkin telah mengancam sang anak jika anak ini menceritakan-
nya kepada siapa pun. Anak-anak sering tidak menyadari apa yang terjadi pada mere-
ka atau bagaimana mengekspresikan ketakutan dan ketidaknyamanan mereka. Berikut
yaitu beberapa tanda-tanda seorang anak kecil mungkin mengalami pelecehan sek-
sual, menurut Rape, Abuse, & Incest National Network (RAINN, 2022):
Tanda-tanda fisik:
• Infeksi seksual menular
• Tanda-tanda trauma di sekitar area genital atau darah yang tidak dapat dije-
laskan pada seprai, pakaian dalam, atau pakaian
Tanda-tanda perilaku:
• Pembicaraan yang berlebihan atau pengetahuan tentang topik seksual
• Menjaga rahasia, tidak berbicara sebanyak biasanya
• Tidak ingin ditinggal sendirian dengan orang-orang tertentu atau takut jauh
dari pengasuh utama, terutama jika ini yaitu perilaku baru
• Perilaku regresif atau melanjutkan perilaku yang telah mereka tinggalkan, se-
perti mengisap jempol atau mengompol
• Perilaku yang terlalu patuh
• Perilaku seksual yang tidak sesuai dengan usia anak
| 93SEMINAR
DAMPAK PELECEHAN SEKSUAL PADA ANAK-ANAK
• Menghabiskan waktu sendirian dalam jumlah yang tidak wajar
• Mencoba menghindari melepas pakaian untuk berganti pakaian atau mandi
Tanda-tanda emosional:
• Perubahan kebiasaan makan
• Perubahan suasana hati atau kepribadian, seperti peningkatan agresi
• Menurunnya rasa percaya diri atau citra diri
• Kekhawatiran atau ketakutan yang berlebihan
• Peningkatan masalah kesehatan yang tidak dapat dijelaskan seperti sakit perut
dan sakit kepala
• Kehilangan atau penurunan minat pada sekolah, aktivitas, dan teman
• Mimpi buruk atau takut sendirian di malam hari
• Perilaku yang merugikan diri sendiri
Untuk remaja beberapa tanda bisa sama, sementara yang lain berbeda. Jika Anda
memperhatikan tanda-tanda ini, sebaiknya sampaikan kekhawatiran ini kepada
remaja untuk membuka dialog.
• Kenaikan atau penurunan berat badan yang tidak biasa
• Pola makan yang tidak sehat, seperti kehilangan nafsu makan atau makan
berlebihan
• Tanda-tanda kekerasan fisik, seperti memar
• Infeksi menular seksual atau infeksi kelamin lainnya
• Tanda-tanda depresi
• Kecemasan atau kekhawatiran
• Nilai pencapaian menurun
• Perubahan perawatan diri, seperti kurang memperhatikan kebersihan, pe-
nampilan, atau mode dari biasanya
• Perilaku seksual dan pakaian yang tidak pantas dan perubahan dari perilaku
biasanya
• Perilaku merugikan diri sendiri
• Mengekspresikan pikiran tentang bunuh diri atau perilaku bunuh diri
• Penggunaan alkohol atau narkoba
Daftar ini mungkin sulit diingat dan terkadang, ada penjelasan lain untuk pe-
rilaku ini . Hal terbaik untuk dilakukan yaitu memercayai naluri Anda dan
tidak mengabaikan perasaan Anda bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Hal ter-
penting untuk diingat yaitu mendengarkan seorang anak jika dia mengatakan dia
tidak merasa nyaman dengan seseorang atau jika dia memberi tahu Anda tentang
perilaku seksual yang tidak pantas dengan orang dewasa. Percayai mereka, lindungi
mereka, dan berikan bantuan yang mereka butuhkan. Bukan salah anak/remaja,
meskipun dia memilih untuk menyendiri atau awalnya setuju dengan perilaku yang
tidak pantas. Sang pelakulah yang memulai sifat hubungan yang melecehkan secara
seksual.
94 | SEMINAR
DAMPAK PELECEHAN SEKSUAL PADA ANAK-ANAK
Memang, ada kekhawatiran tentang tuduhan palsu terhadap seseorang atas pe-
lecehan seksual yang tidak terjadi, namun yang terbaik yaitu membiarkan para ahli
menyelesaikannya. Ada para profesional yang menjalani pelatihan khusus untuk me-
nyelidiki tuduhan pelecehan seksual, mereka memahami perkembangan anak dan da-
pat mengenali laporan dan gejala apa yang terkait dengan pelecehan. Sebaiknya, ja-
ngan menanyai anak terlalu panjang sebab bisa menimbulkan kebingungan dengan
daya ingat anak yang belum berkembang sempurna. Tempat yang harus dikunjungi
jika ada masalah pelecehan seksual terhadap anak atau remaja oleh anggota keluarga
dewasa yaitu Badan Layanan Perlindungan Anak atau Layanan Anak dan Keluarga
setempat. Laporan ini bersifat anonim. Jika pelakunya dilakukan oleh orang dewasa
lain, maka kepolisian setempat yaitu langkah pertama. Hal ini dilakukan untuk me-
lindungi anak dan anak lain yang mungkin dirugikan. Pelaku pelecehan seksual anak
seringkali memiliki korban-korban anak yang banyak.
FAKTOR RISIKO
Bagaimana seseorang bisa menyebabkan kerusakan seperti itu pada anak-anak?
Anda mungkin mengira orang-orang ini yaitu monster dan tidak pergi ke gereja
Anda atau tinggal di komunitas Anda. Secara kasat mata, banyak dari mereka terlihat
sebagai warga yang terhormat, pasangan dan orang tua yang baik, dan bahkan mung-
kin terlibat dalam kepemimpinan gereja. Itu yaitu bagian dari manipulasi yang juga
dipakai untuk mendandani anak agar menjadi korban. Tidak semua penganiaya
anak yaitu pedofil dan tidak semua pedofil menganiaya anak. Pedofil yaitu orang
dewasa atau remaja usia akhir (biasanya 16 tahun atau lebih) yang objek seksualnya
lebih cenderung menyukai anak-anak pra-pubertas (biasanya bayi hingga usia 13 ta-
hun). Remaja yang berusia 16 tahun harus memiliki perbedaan usia 5 tahun antara
anak dan dirinya untuk dianggap sebagai penganiaya anak (DSM-IV, TR 2006).
Inses telah menjadi masalah dalam keluarga sejak zaman Alkitab. Bahkan Musa
menulis tentang itu dalam Imamat 18: 6, “Siapa pun di antaramu janganlah meng-
hampiri seorang kerabatnya yang terdekat untuk menyingkapkan auratnya; Akulah
TUHAN.” Tuhan pasti sudah tahu bahaya Inses bagi keluarga. Hubungan yang terma-
suk inses yaitu ayah dengan anak perempuannya atau ayah tiri dan anak perempuan
tirinya. Penelitian telah mengidentifikasi beberapa faktor risiko inses ayah-anak pe-
rempuan (Stroebel, 2013):
• Pelecehan verbal atau fisik dalam keluarga
• Keluarga yang mengizinkan ketelanjangan antara ayah–anak perempuan
• Keluarga di mana sang ibu tidak pernah mencium atau memeluk putrinya
• Keluarga yang tinggal dengan laki-laki dewasa selain ayah kandung di rumah
(ayah tiri atau pacar ibu)
Masyarakat semakin menyadari bahwa pelecehan seksual dapat dilakukan oleh
pendeta gereja. Pelecehan ini terjadi bahkan di gereja-gereja Masehi Advent Hari Ke-
| 95SEMINAR
DAMPAK PELECEHAN SEKSUAL PADA ANAK-ANAK
tujuh. Beberapa studi penelitian telah mengidentifikasi pola pelecehan seksual oleh
para pendeta, termasuk demografi mereka yang biasanya terlibat dalam pelecehan.
Frawley-O'Dea (2004) melaporkan bahwa banyak pelaku pelecehan seksual di gereja
Katolik yaitu pendeta yang baru ditahbiskan yang berfokus pada pelayanan kaum
muda, dan pola yang sama juga terjadi di gereja-gereja Protestan. Mereka akan me-
ngembangkan persahabatan dengan kaum muda, seringkali anak laki-laki pra-remaja
atau remaja. Secara perlahan hubungan biasa itu akan menjadi hubungan fisik—kemu-
dian pendeta akan memperkenalkan aktivitas seksual ke dalam hubungan itu. Dalam
analisis terperinci atas situasi ini , Tim Peneliti John Jay College (2011) mene-
mukan bahwa—sama seperti pelanggar seksual anak non-pendeta—ada kerentanan
tertentu bagi mereka yang melakukan tindakan ini. Pelaku memiliki keselarasan emo-
sional dengan anak-anak dan remaja.
Kesesuaian emosional yaitu orang dewasa yang terlalu mengidentifikasi dan
menghubungkan secara emosional dirinya dengan anak-anak (John Jay College, 2011).
Kesesuaian ini terlibat dalam inisiasi dan pemeliharaan pelanggaran seksual terhadap
anak-anak dan remaja muda, sebab anak-anak dan remaja merespons secara positif
hubungan ini dan merasa bahwa mereka telah menemukan orang dewasa yang
memahami mereka.
Pelaku seringkali merasa kesepian, mengalami peningkatan stres di tempat kerja,
dan dalam pikiran mereka, telah menetralkan aktivitas seksual yang diinginkan. Diso-
nansi kognitif juga dapat terjadi, memaksa pelaku untuk bergumul dengan pandang-
an mereka tentang diri mereka sendiri sebagai "orang baik", namun telah melakukan
tindakan menyimpang. Hasil dari pergumulan ini seringkali yaitu merasionalkan
perilaku ini , dengan fokus pada hal-hal positif dalam hubungan yang dianggap
lebih berharga daripada biaya pelecehan, sehingga mengurangi rasa tanggung jawab,
rasa bersalah, dan rasa malu (Finkelhor, 1984). Pada kenyataannya, mereka sedang
melakukan pendekatan terhadap korban dan bekerja keras untuk memastikan pelu-
ang terjadinya pelecehan seksual. Pembentukan ikatan emosional yang kuat, bahkan
kepercayaan dengan orang yang berwenang seringkali merupakan bagian penting dari
memulai dan melanjutkan pelecehan seksual dan mengurangi kemungkinan adanya
pelaporan. Korban seringkali menjadi peserta yang “seolah-olah” rela dan bertahun-
tahun lalu mungkin merasa bahwa mereka sama “bersalahnya” dengan pelaku,
membuat korban tidak yakin apakah mereka dilecehkan (Doyle, 2003).
Meskipun pelaku yaitu penyebab pelecehan, ada faktor resiko yang diketahui
bagi anak-anak. Menurut penelitian, pola-pola tertentu telah diidentifikasi:
• Anak-anak yang orang tuanya tidak bekerja
• Anak-anak yang hidup dalam kemiskinan
• Anak-anak yang tinggal di pedesaan (Sedlack, et al., 2010)
• Anak yang menyaksikan atau menjadi korban kejahatan lain (Finkelhor, et al.,
2010)
• Pelaku mencari anak pasif yang pendiam, bermasalah, dan kesepian; yang
berasal dari orang tua tunggal atau keluarga yang berantakan (Elliott, et al.,
1995).
96 | SEMINAR
DAMPAK PELECEHAN SEKSUAL PADA ANAK-ANAK
• Anak-anak yang saling percaya, sehingga pelaku dapat mengembangkan hu-
bungan saling percaya dengan anak sebelum terjadi kekerasan (De Bellis, et al,
2011). Ini mungkin termasuk membangun hubungan saling percaya dengan
keluarga juga (Elliott et al., 1995).
PERTANYAAN APLIKASI
Apa yang akan Anda katakan kepada seorang gadis berusia 12 tahun yang
percaya bahwa dia melakukan perzinaan sebab dia tidak dapat melawan
suami sepupunya yang memperkosa dirinya? Dia takut memberi tahu ibunya
sebab dia pikir ayah tirinya sudah tidak menyukainya dan sekarang akan
berpikir dia yaitu orang berdosa.
MELINDUNGI ANAK DARI SERANGAN SEKSUAL
Tidak semua anak yang dilecehkan masuk dalam kriteria risiko, hal itu bisa terjadi
pada anak mana pun. Tidak ada cara yang mudah untuk melindungi semua anak, te-
tapi ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi risikonya, menurut
RAINN (2022).
• Tunjukkan minat pada kehidupan sehari-hari mereka
• Kenali orang-orang dalam kehidupan mereka
• Pilih pengasuh dengan hati-hati
• Bicarakan hal ini . saat ada berita tentang topik ini, itu yaitu kesem-
patan untuk mendidik anak Anda untuk membantunya memahami.
• Ketahui tanda-tanda peringatannya
• Ajarkan anak untuk menetapkan batasan
• Ajari anak cara berbicara tentang tubuhnya dengan mengetahui nama-nama
bagian reproduksinya sehingga dapat berkomunikasi saat ada yang tidak
beres.
• Beri tahu anak Anda bahwa Anda ada dan siap untuk berbicara tentang apa
pun yang mengganggunya dan lalu pastikan untuk melakukannya un-
tuk menunjukkan bahwa Anda bersungguh-sungguh dengan apa yang Anda
katakan.
• Pastikan mereka tahu bahwa mereka tidak akan mendapat masalah. Pelaku
sering mengancam mereka atau membuat mereka merasa itu yaitu kesalah-
an mereka.
• Jika Anda memiliki kekhawatiran, coba gunakan pertanyaan terbuka untuk
mendorong mereka berbicara, seperti “Apa yang terjadi hari ini?”
Meskipun memiliki orang dewasa yang peduli membantu ketahanan dalam kehi-
dupan seorang anak, perlu ada kesadaran tentang bagaimana melindungi anak-anak
| 97SEMINAR
DAMPAK PELECEHAN SEKSUAL PADA ANAK-ANAK
kita dari penganiayaan oleh orang dewasa. Keluarga, lingkungan sekitar, sekolah, dan
gereja yaitu tempat utama untuk mengembangkan hubungan ini. sebab risiko per-
kembangan keselarasan emosional yang dapat mengarah pada hubungan seksual anta-
ra orang dewasa dan remaja, perlu ada batasan di mana tidak ada waktu sendirian yang
berlebihan atau interaksi yang tidak pantas jika ada orang lain. Orang dewasa perlu
menjalin hubungan dengan orang dewasa lain untuk dukungan emosional mereka se-
hingga mereka tidak berpaling kepada anak-anak untuk memenuhi kebutuhan yang
dapat berkembang menjadi hubungan seksual. Orang dewasa yang telah didiagnosis
atau sadar bahwa mereka menderita pedofilia harus menjauh dari anak-anak untuk
melindungi orang dewasa dan anak ini .
Penelitian telah mengidentifikasi enam rekomendasi untuk mencegah pelecehan
seksual anak di tingkat komunitas: (1) tidak ada toleransi terhadap pelecehan seksual
anak, (2) keterlibatan komunitas dalam pencegahan dan deteksi, (3) pelatihan dalam
mengidentifikasi pelaku yang berpotensi, (4) mendukung korban pelecehan seksual
anak, (5) melindungi mereka yang membela korban dari pelecehan, dan (6) agar ko-
munitas gereja mengikat penolakan pelecehan seksual anak dengan nilai-nilai agama
(Pulido, et al., 2021).
PERTANYAAN APLIKASI
Apa yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan keamanan anak Anda
dan untuk anak-anak dalam hidup Anda?
mendapat BANTUAN
Orang tua bergumul dengan banyak rasa bersalah begitu mereka menyadari bah-
wa anak mereka telah dilecehkan secara seksual. Melindungi anak yaitu tanggung
jawab utama orang tua, namun kita tidak dapat menghentikan semua bahaya. Kerugian
pada anak akan bervariasi tergantung pada seberapa muda, berapa lama, pelecehan
apa yang terjadi, peran pelaku dalam kehidupan anak, dan dukungan yang diberikan
oleh orang dewasa. Orang dewasa harus memperhatikan gejala-gejala bermasalah
yang disebutkan sebelumnya dan mencari bantuan dari seorang konselor yang terlatih
dalam trauma dan bekerja dengan anak-anak yang telah dianiaya. Seorang anak/rema-
ja mungkin tidak terhubung dengan baik dengan terapis. Bersikaplah terbuka untuk
mencoba konselor yang berbeda sampai anak merasa nyaman. Konseling mungkin
tidak banyak membantu pada awalnya, terutama jika anak menolak. Begitu anak-anak
ini menjadi dewasa, mereka sering melihat konselor sebagai sumber saat mereka
siap untuk sembuh dari trauma masa kecil. Konseling keluarga juga dapat membantu
mengatasi setiap konflik yang menyebabkan atau terjadi sesudah penganiayaan.
Ada bantuan bagi gereja untuk melindungi anak-anak sebab para pelaku sering-
kali memanfaatkan hubungan saling percaya antara orang tua dan anak-anak dengan
para relawan gereja atau pemimpin pelayanan. “End it Now” Akhiri Sekarang yaitu
98 | SEMINAR
DAMPAK PELECEHAN SEKSUAL PADA ANAK-ANAK
sumber yang luar biasa dari Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Situs web mereka
mencakup informasi tentang perlindungan anak, kebijakan penyaringan untuk suka-
relawan, apa yang dapat dilakukan oleh pendeta, informasi tentang kesalahan seksual
pendeta, bagaimana mempertahankan batasan yang sehat bagi para pemimpin spiri-
tual, dan bagaimana menghadapi pemangsa seksual di gereja.
KESIMPULAN
saat Tuhan menciptakan pria dan wanita, Dia memulainya dengan sebuah hu-
bungan berdasarkan rasa saling mencintai dan percaya. Hubungan itu dirancang untuk
menjadi landasan keluarga yang stabil dan bahagia di mana semua anggota diperlaku-
kan dengan terhormat dan berharga. Orang tua diharapkan melindungi, memelihara,
dan mengasuh anak.
Alkitab dengan keras mengutuk pelecehan seksual terhadap anak. Itu yaitu
pengkhianatan terhadap rencana awal Tuhan. saat kepercayaan dimanfaatkan dan
hubungan dengan figur otoritas itu membahayakan anak, tidak hanya membahayakan
anak namun juga merusak pandangannya tentang Tuhan yang pengasih. Yesus menge-
tahui hal ini sehingga memakai bahasa yang keras untuk menghukum siapa saja
yang menyebabkan seorang anak disesatkan.
Si jahat hanya ingin menyakiti anak-anak Allah dan menyakiti keluarga. Dosa
seksual yaitu alat umum yang dipakai . Alkitab memberi panduan jelas yang
menetapkan standar, namun saat standar itu tidak dipatuhi, akan ada stigma yang
menghentikan anak-anak dan keluarga mendapat bantuan yang mereka butuhkan.
Mari kita semua menjaga anak-anak kita dan berbicara saat ada kekhawatiran
LATIHAN
Bagaimana kita bisa melewati stigma berbicara tentang kekerasan seksual ter-
hadap anak-anak?
SUMBER SUMBER
PELECEHAN SEKSUAL
National Sexual Assault Hotline
Available 24 hours crisis hotline
1-800-656-4673
National Organization for Victim Assistance (NOVA)
Available 24-hours crisis hotline
1-800-879-6682
| 99SEMINAR
DAMPAK PELECEHAN SEKSUAL PADA ANAK-ANAK
Rape, Abuse, Incest National Network.
For additional resources check out this website:
https://www.rainn.org/national-resources-sexual-assault-survivors-and-their-
loved-ones
SUMBER GEREJA ADVENT HARI KETUJUH
End it now https://www.enditnownorthamerica.org/ Official statement on child
sexual abuse:
https://www.adventist.org/official-statements/child-sexual-abuse/
COUNSELORS/KONSELOR
Substance abuse and/or mental health professionals
https://findtreatment.samhsa.gov/
Seventh-day Adventist Counselors
https://www.nadfamily.org/resources/counselors/
BUNUH DIRI
National Suicide Prevention Lifeline
https://suicidepreventionlifeline.org/ or 1-800-273-8255
TRAUMA
Preventing Adverse Childhood Experiences
https://www.cdc.gov/violenceprevention/pdf/preventingACES-508.pdf
https://www.cdc.gov/injury/pdfs/priority/ACEs-Strategic-Plan_Final_508.pdf
BUKU-BUKU YANG DIREKOMENDASIKAN
Allender, D.B. (2014).
Wounded Heart: Hope for adult victims of childhood sexual abuse. NavPress.
Kearney, R.T. (2001).
Sexually Abused Children: A handbook for families & churches. InterVarsity Press.
Langberg, D.M. (2014).
On the Threshold of Hope. Xulon Press.
REFERENSI
Centers for Disease Control and Prevention (2022). Violence Prevention. Child Sexual
Abuse (2022). https://www. cdc.gov/violenceprevention/childsexualabuse/fastfact.
html
De Bellis, M.D., Spratt, E.G., & Hooper, S. R. (2011). Neurodevelopmental biology associ-
ated with childhood sexual abuse. Journal of Child Sexual Abuse, 20(5), 548–587
100 | SEMINAR
DAMPAK PELECEHAN SEKSUAL PADA ANAK-ANAK
Doyle, T.P. (2003). Roman Catholic clericalism, religious duress, and clergy sexual abuse.
Pastoral Psychology, 51(3), 189–231. Elliott, M., Browne, K., & Kilcoyne, J. (1995).
Child sexual abuse prevention: What offenders tell us. Child Abuse & Neglect, 5,
579–594.
Finkelhor, D. (1984). Child sexual abuse: New Theory and Research. Free Press: New York.
Finkelhor, D., Ormrod, R.K. & Turner, H.A. (2010). Poly-victimization in a national sample
of children & youth.
American Journal of Preventive Medicine, 38(3), 323-30. doi: 10.1016/j.amepre.2009.11.012.
Frawley-O’Dea, M. G. (2004). The history and consequences of the sexual-abuse crisis in
the Catholic Church.
Studies in Gender and Sexuality, 5 (1), 11–30.
John Jay College Research Team (2011). The causes and context of sexual abuse of minors
by Catholic priests in the United States, 1950-2010. USCCB.
Pulido, C.M., Vidu, A., Rodrigues de Mello, R., Oliver, E. (2021). Zero tolerance of chil-
dren’s sexual abuse from interreligious dialogue. Religions, 12 (7), 549. https://doi.
org/10.3390/rel12070549
Rape, Abuse, & Incest National Network (RAINN). (2022). Warning Signs for Children.
https://www.rainn.org/ articles/warning-signs-young-children
Rape, Abuse, & Incest National Network (RAINN). (2022). Warning Signs for Teens.
https://www.rainn.org/articles/ warning-signs-teens
Rape, Abuse, & Incest National Network (RAINN). (2022). How Can I Protect My Child
From Sexual Assault?
https://www.rainn.org/articles/how-can-i-protect-my-child-sexual-assault
Sedlak, A.J., Mettenburg, J., Basena, M., Petta, I., McPherson, K., Greene, A., and Li, S.
(2010). Fourth National Incidence Study of Child Abuse and Neglect (NIS–4): Report
to Congress, Executive Summary. U.S. Department of Health and Human Services,
Administration for Children and Families.
Stroebel, S., Shih-Ya, K., O’Keefe, S.L., Beard, K. Swindell, S., & Kommor, M.J. (2013). Risk
factors for father- daughter incest: Data from an anonymous computerized survey.
Sexual Abuse, 25 (6), 583–605
| 101
MEMBENTUK
PANDANGAN DUNIA
ANAK ANDA
MELALUI TELADAN,
PENGAJARAN, DAN
PELAYANAN
Joseph Kidder, D.Min., yaitu Profesor Teologi Praktis dan Terapan dan Pemuridan di Seminari
Teologi Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Universitas Andrews di Berrien Springs, Michigan,
AS.
Katelyn Campbell Weakley, M.Div., MSW, yaitu Pendeta Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh
Mount Tabor di Portland, Oregon.
OLEH JOSEPH KIDDER DAN KATELYN CAMPBELL WEAKLEY
AYAT
“Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah
engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu”—Titus 2: 7.
“sebab Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk me-
layani dan untuk memberi nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang"—
Markus 10: 45.
“Di dalam keluarga, para bapa dan ibu harus selalu menampilkan di hadapan anak-
anak mereka teladan yang dikehendaki mereka agar dicontoh oleh anak-anak.
102 | SEMINAR
MEMBENTUK PANDANGAN DUNIA ANAK ANDA MELALUI TELADAN, PENGAJARAN, DAN PELAYANAN
Mereka harus saling menyatakan sikap hormat terhadap satu dengan yang lain,
dalam kata-kata, raut muka, dan perbuatan. Mereka harus menunjukkan kepada
anak-anak bahwa Roh Kudus sedang mengendalikan mereka, dengan menampil-
kan kepada mereka tabiat yang diinginkan Tuhan. Kuasa untuk meniru itu kuat;
dan pada masa kanak-kanak serta masa muda, pada saat kesanggupan ini paling
aktif, satu teladan yang sempurna harus ditunjukkan di hadapan anak-anak yang
masih muda. Anak-anak harus mempunyai kepercayaan pada orang tua mere-
ka, sebab dengan demikian anak-anak akan menyerap pelajaran-pelajaran yang
ingin mereka tanamkan.” Ellen White1
PENDAHULUAN DAN TUJUAN
Pelajaran yang dapat ditunjukkan oleh ibu dan ayah, baik secara sengaja maupun
tidak sengaja memiliki dampak signifikan pada seorang anak. Dalam buku sumber De-
partemen Rumah Tangga Advent 2022, KU Kan Pergi Bersama Keluargaku: Pertahan-
an Keluarga,2 terdapat artikel yang membahas bagaimana hubungan cinta membuat
perbedaan dalam mengembangkan pandangan dunia yang alkitabiah pada anak Anda.
Dalam seminar ini, kita akan membahas tiga jalur pendidikan yang memiliki kemam-
puan, melalui kuasa Roh Kudus, untuk membentuk pandangan dunia anak Anda ber-
landaskan pada ajaran Kitab Suci. Jalan pendidikan pertama dan paling meresap ada-
lah teladan, yang memberi pengajaran tidak langsung terus-menerus saat anak
SEMINARS | 89
SHAPING YOUR CHILD’S WORLDVIEW THROUGH MODELING, TEACHING, AND MINISTERING
should have confide ce in their parents, and thus take in the les o s they would
inculcate.” Ellen White1
INTRODUCTION AND PURPOSE
The lessons a mother and father can demonstrate both intentionally and unintentionally
significantly impact a child. In the 2022 Adventist Family Ministries resource book, I Will Go with
my Family: Family Resilience2, is the a

