gereja masehi 5
Article discussing how loving relationships make the difference
in developing a Biblical worl view in your child. In this semin r, we will disc ss a threefold path
of education which has the capacity, through the power of the Holy Spirit, to form your child’s
worldview through the teachings of Scripture. The first and most pervasive avenue of education
is modeling, which provides constant indirect teachings as your child watches and observes you.
The second avenue is direct education given through daily teachings based on everyday life. The
third avenue is ministering together with your child, an experiential opportunity for education. By
teaching your childre through these thr e avenues, you can help them develop a Biblical worldview.
Shaping the Worldview of Your Child Through Modeling, Teaching, and Ministering
MODELING
See it!
Indirect Education
TEACHING
Hear it!
Direct Education
MINISTERING
Do it!
Experiential Education
Worldview refers to how we see our lives: our assumptions about the world and our answers
to life’s deepest questions.3 Who am I? Why am I here? Where do I come from? Where am I going?
TELADAN PENGAJARAN
M lihat! Mendengar!
Pendidikan tidak
langsung
Pendidikan Langsung
PELAYANAN
Melakukan!
Pendidikan Pengalaman
Membentuk Pandangan Dunia Anak Anda Melalui Teladan, Pengajaran, dan Pelayanan
| 103SEMINAR
MEMBENTUK PANDANGAN DUNIA ANAK ANDA MELALUI TELADAN, PENGAJARAN, DAN PELAYANAN
Anda melihat dan mengamati Anda. Jalan kedua yaitu pendidikan langsung yang
diberikan melalui ajaran sehari-hari berdasarkan kehidupan sehari-hari. Jalan ketiga
yaitu melayani bersama dengan anak Anda, sebuah kesempatan pengalaman untuk
pendidikan. Dengan mengajar anak-anak Anda melalui ketiga cara ini, Anda dapat
membantu mereka mengembangkan pandangan dunia yang alkitabiah.
Pandangan dunia mengacu pada bagaimana kita melihat hidup kita: asumsi kita
tentang dunia dan jawaban kita atas pertanyaan terdalam kehidupan.3 Siapa saya? Me-
ngapa saya disini? Dari mana saya berasal? Ke mana tujuan hidup saya? Apa yang nya-
ta? Apa yang benar dan salah? Siapakah Tuhan? Semua pertanyaan ini dan lebih ba-
nyak lagi, dijawab oleh pandangan dunia yang dikembangkan anak anda, membentuk
pola pikir dan asumsi dasarnya. Tidak ada keputusan yang dibuat tanpa pandangan
dunia. Pandangan dunia kita terbentuk melalui berbagai pengaruh dalam hidup kita.
Sebagai orang Kristen, kita berusaha untuk memiliki pandangan dunia yang alkita-
biah. Pandangan dunia Alkitabiah yaitu cara berpikir berdasarkan Kitab Suci yang
membantu kita melihat dan menafsirkan dunia di sekitar kita melalui pemahaman
alkitabiah. Untuk membuat keputusan yang positif dan sehat, seorang anak membu-
tuhkan pandangan dunia alkitabiah yang positif dan sehat.
KELOMPOK DISKUSI
Dalam kelompok yang terdiri dari 4–5 orang, diskusikan apa artinya memi-
liki pandangan dunia alkitabiah versus pandangan dunia sekuler? Diskusi-
kan tantangan yang Anda hadapi sebagai orang Kristen dan sebagai orang tua
untuk konsisten dalam menularkan pandangan dunia ini kepada anak-anak
Anda.
MENELADANI SEPERTI KRISTUS
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka
melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:
16). Terang yang kita pancarkan untuk anak-anak kita akan mengarahkan mereka ke
Sumber segala terang, artinya tindakan yang kita pilih, berpotensi mengajarkan mere-
ka tentang Tuhan.
Jika Anda tidak percaya pada iman Anda, anak-anak Anda juga tidak akan perca-
ya. Orang beriman yang paling berkomitmen yaitu mereka yang menurunkan iman
mereka kepada generasi berikutnya. Vern Bengtson mencatat bahwa orang tua yang
aktif dalam menghidupi iman mereka akan menghasilkan anak-anak yang cende-
rung tetap berkomitmen kepada Kristus. Namun, “jika orang tua sendiri tidak terlibat
dalam kegiatan keagamaan, jika tindakan mereka tidak sesuai dengan apa yang diajar-
kan, anak-anak jarang termotivasi untuk mengikuti jejak agama orang tua mereka.”4
Orang Kristen yang lemah imannya sendiri, kemungkinan besar akan membesarkan
anak-anak yang lemah imannya juga. Oleh sebab itu, orang tua perlu menunjukkan
104 | SEMINAR
MEMBENTUK PANDANGAN DUNIA ANAK ANDA MELALUI TELADAN, PENGAJARAN, DAN PELAYANAN
nilai-nilai Ketuhanan dalam kehidupan mereka sendiri, jika tidak, pelajaran yang me-
reka ajarkan hanyalah omong kosong. saat Yesus melayani di bumi, perkataan-Nya
selalu didukung oleh perilaku-Nya: bagaimana Dia terlibat dengan orang lain, bagai-
mana Dia bereaksi terhadap keadaan, dan bagaimana Dia menjalani hidup-Nya. Peng-
ajaran eksplisit non-verbal ini sama pentingnya dengan pelajaran terencana yang Anda
berikan kepada anak Anda.5 Dalam mengamati perilaku Anda, anak Anda belajar apa
yang benar dan apa yang salah.
Rasul Paulus menulis kepada Timotius, seorang anak muda yang berbakat, “Jangan
seorang pun menganggap engkau rendah sebab engkau muda. Jadilah teladan bagi
orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu,
dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (1 Timotius 4: 12). Ada 5 aspek kunci dari
keteladanan yang disinggung Paulus dalam ayat ini, dan meskipun dia berbicara kepada
orang muda, prinsip-prinsip keteladanan ini penting bagi orang tua, kakek nenek, dan
pengasuh dari segala usia untuk diperlihatkan kepada anak-anak mereka sendiri.
Perkataan: “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, namun pakailah
perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang men-
dengarnya, beroleh kasih karunia” (Efesus 4: 29). Percakapan kita seharusnya baik
dan bermanfaat bagi orang lain, saling membangun bukan saling menjatuhkan. Apa
yang kita katakan, dan bagaimana kita mengatakannya haruslah sesuai dengan teladan
Kristus, dan itulah yang membuat perbedaan. Saat Anda berkomunikasi dengan orang
lain, lakukanlah dengan penuh kasih. Anak-anak Anda akan melihat dan belajar bah-
wa ini yaitu cara Kristus untuk berhubungan dengan orang lain.
Perilaku: “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika
engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan
Allah” (1 Korintus 10: 31). Pertahankan Tuhan dan kerajaan-Nya di garis depan pi-
kiran Anda saat Anda menjalani hari Anda. Dari buku-buku yang Anda baca hingga
reaksi Anda saat seseorang memotong jalan kendaraan anda, berlakulah lebih baik
daripada standar yang dimiliki dunia ini. Cara pandang anak-anak Anda terhadap pe-
rilaku Anda, akan menentukan perilaku mereka dan mengajarkan bagaimana mereka
harus hidup sebagai seorang pengikut Kristus.
Kasih: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu yaitu murid-
murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13: 35). Kasih harus menjadi
dasar untuk semua yang Anda lakukan dan katakan. Menunjukkan kasih yang berkor-
ban dan tidak mementingkan diri sendiri kepada orang lain dan Tuhan, akan memberi
anak Anda suatu gambaran mengenai kasih Bapa surgawi mereka. Kasihilah orang lain
dengan baik dan anak Anda akan melakukan hal yang sama.
Iman: “Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, namun pada
kekuatan Allah” (1 Korintus 2: 5). Letakkan iman Anda pada Bapa surgawi Anda. Ke-
tika masa-masa sulit, berpalinglah kepada Tuhan dan tunjukkan iman Anda kepa-
da anak Anda. Jika reaksi Anda yaitu meletakkan kepercayaan Anda kepada Tuhan,
anak Anda akan belajar bahwa Dia dapat dipercaya, dan putra atau putri Anda akan
menjadikan iman mereka pada Tuhan sebagai reaksi alamiah mereka juga.
Kesucian: “Segala jalan orang yaitu bersih menurut pandangannya sendiri, teta-
pi TUHANlah yang menguji hati” (Amsal 16: 2). Tetap selaras dengan niat hati Anda.
| 105SEMINAR
MEMBENTUK PANDANGAN DUNIA ANAK ANDA MELALUI TELADAN, PENGAJARAN, DAN PELAYANAN
Berbakti sepenuhnya kepada Tuhan dan biarkan Dia membersihkan Anda dari semua
kecenderungan untuk berbuat dosa. Saat Tuhan bekerja di dalam diri Anda, Dia akan
memurnikan Anda dan memberi anak Anda gambaran yang lebih baik tentang kehi-
dupan yang ingin Dia berikan kepada kita.
Anak-anak Anda selalu memperhatikan dan mendengarkan, mengamati semua
yang Anda katakan dan lakukan. Andalah yang memberi mereka isyarat tentang apa
yang benar dan salah, bahkan saat Anda tidak secara eksplisit mengatakan hal-hal
seperti itu. Pastikan untuk berdoa dan meminta Tuhan untuk bekerja dalam hidup
Anda sendiri, sehingga saat Anda ditarik lebih dekat kepada-Nya, anak Anda juga da-
pat ditarik lebih dekat.
KELOMPOK DISKUSI
Secara individu, pikirkan tentang orang tua, wali, atau orang dewasa lain yang
Anda kagumi, apa yang dapat Anda ingat dari mengamati tindakan mereka.
Apakah tindakan mereka sesuai dengan kata-kata mereka? Renungkan bagai-
mana komitmen mereka kepada Tuhan, ayat-ayat yang mereka bagikan, atau
kurangnya komitmen memengaruhi pandangan dunia Anda. Model apa dari
orang tua Anda yang ingin Anda pertahankan untuk anak-anak Anda sendiri
dan apa yang ingin Anda buang?
MENGAJAR SEBAGAIMANA INSTRUKSI DARI ALLAH6
Saat orang Israel mengembara di padang gurun, Tuhan memberi mereka perintah
tentang pendidikan 24/7 jam untuk anak-anak mereka. Perintah ini, dikenal sebagai
Shema (
SEMINARS | 91
kind and helpful to others, building one another up instead of tearing each other down. It is both
what you say and how you say it that makes a difference. As you communicate with others, do so
lovingly. Your children will see and learn that this is the Christ-like way to engage with other people.
Conduct: “Therefore, whether you eat or drink, or whatever you do, do all to the glory of
God” (1 Corinthians 10:31). Keep God and His kingdom at the forefront of your mind as you go
through your day. From the books that you read to your reaction when someone cuts you off in
traffic, conduct yourself in a manner that is not of this world. How your children see you behave
will guide them in their own behavior and teach them what is appropriate for a follower of Christ.
Love: “By this all will know that you are my disciples, if you have love for one another”
(John 13:35). Love should be the basis for all that you do and say. Demonstrating a sacrificial,
unselfish love for others and God will give your child a picture of what their heavenly Father’s love
is like. Love others well and your child will do the same.
Faith: “That your faith should not be in the wisdom of men but in the power of God” (1
Corinthians 2:5). Put your trust in your heavenly Father. When times are tough, turn to God and
demonstrate your faith to your child. If your reaction is to put your faith in God, your child will
learn that He is trustworthy, and soon your son or daughter will make putting their trust in God
their natural reaction, too.
Purity: “All a person’s ways seem pure to them, but motives are weighed by the Lord”
(Proverbs 16:2, NIV). Keep in tune with your heart’s intentions. Devote yourself wholly to God
and allow Him to cleanse you of your sinful tendencies. As God works within you, He will purify
you and give your child a better picture of the life He wants to give us.
Your children are always watching and listening, observing all that you say d do. You are
the one who gives them cues about what is right and wrong, even when you are not explicitly saying
such things. Be sure to pray and ask God to work within your own life so that as you are drawn
closer to Him, your child may be drawn closer as well.
GROUP DISCUSSION
Individually, think about your parent(s), guardians or other adults you looked up
to, what can you remember from observing their actions. Did their actions match
their words? Reflect on how their commitment to God, verses they shared, or lack
of commitment influenced your worldview. What modeling from your parents
would you like to keep for your own children and what would you like to discard?
TEACHING AS GOD INSTRUCTED6
As the Israelites were wandering in the desert, the Lord gave them a command concerning
24/7 education for their children. This command, known as the She literally translated as ,עמׁש
SHAPING YOUR CHILD’S WORLDVIEW THROUGH MODELING, TEACHING, AND MINISTERING
secara harfiah diterjemahkan sebagai “dengarkan”), dihafalkan oleh se-
mua orang Israel yang setia sepanjang waktu, dan merupakan ide yang bijak untuk kita
ikuti hari ini.
“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah
TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan de-
ngan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini ha-
ruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang ke-
pada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu,
apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila
engkau bangun.Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada ta-
nganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau me-
nuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu” (Ulangan 6:
4–9).
Implikasi utama dari Shema yaitu pentingnya pengalaman berkelanjutan dalam
mendidik anak-anak. Tuhan memerintahkan orang tua untuk mengajar anak-anak
106 | SEMINAR
MEMBENTUK PANDANGAN DUNIA ANAK ANDA MELALUI TELADAN, PENGAJARAN, DAN PELAYANAN
mereka tentang Dia setiap saat—dari pagi hingga malam, di rumah dan saat bepergi-
an, dan di setiap kesempatan yang diberikan. Kasih Allah kepada kita dan kasih kita
kepada-Nya harus terus ada di bibir kita, serta diteruskan kepada anak-anak kita. Kon-
sep ini bergema di seluruh Perjanjian Lama dan Baru:
Mazmur 78: 2–4: “Aku mau membuka mulut mengatakan amsal, aku mau mengu-
capkan teka-teki dari zaman purbakala. Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan
yang diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami, kami tidak hendak sembu-
nyikan kepada anak-anak mereka, namun kami akan ceritakan kepada angkatan yang
lalu puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan
ajaib yang telah dilakukan-Nya.”
Amsal 22: 6: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada
masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”
Efesus 6: 4: “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati
anak-anakmu, namun didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.
2 Timotius 1: 5: “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman
yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan
yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.” Melalui ajaran Lois dan Eunike yang setia,
pengkhotbah muda Timotius dibesarkan untuk mengajar banyak orang tentang Allah.
Bagaimana mungkin orang tua menghabiskan semua waktu mereka mengajar
anak-anak mereka? saat kita mulai melihat melalui kacamata pengajaran sehari-
hari, kita akan menyadari bahwa banyak pelajaran mengenai Allah yang dapat kita
sampaikan melalui pengalaman hidup.
Tentu saja, Kitab Suci dapat dipakai untuk mengajar anak-anak kita. Shema
mengingatkan kita untuk menulis dan mengetahui konsep Firman Tuhan. Sejarah dan
peristiwa terkini di sekitar kita juga bisa menjadi peluang untuk pengajaran. Kita dapat
menunjukkan bagaimana Tuhan hadir dan terlibat dengan dunia saat ini. Alam juga
bisa menjadi cara yang signifikan untuk mengajar anak-anak Anda tentang Tuhan.
Mazmur diisi dengan contoh cara menghubungkan ciptaan dengan Sang Pencipta.
“Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebi-
jaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu. Lihatlah laut itu, besar dan luas wila-
yahnya, di situ bergerak, tidak terbilang banyaknya, binatang-binatang yang kecil
dan besar” (Mazmur 104: 24–25).
Saat keluarga Anda mengalami hidup bersama, apakah Anda sedang menge-
mudi ke sekolah atau berdiri di tepi Grand Canyon, lihat hubungan apa yang dapat
Anda temukan dengan Tuhan. Pelajaran moralitas apa yang bisa dipelajari? Bagai-
mana Anda bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup Anda? Aspek apa dari
karakter Allah yang dapat dilihat? Berdoalah agar Tuhan membuka mata Anda un-
tuk melihat pelajaran apa yang dapat Anda bawa dari kehidupan sehari-hari, dan
lalu mulailah berbagi dengan anak-anak Anda. Ajukan pertanyaan kepada
mereka tentang apa yang mereka lihat dan alami. Tanyakan kepada mereka bagai-
mana hubungannya dengan apa yang mereka ketahui tentang Tuhan dan Alkitab.
Saat Anda mempraktikkan percakapan ini dengan anak-anak Anda, hal ini secara
| 107SEMINAR
MEMBENTUK PANDANGAN DUNIA ANAK ANDA MELALUI TELADAN, PENGAJARAN, DAN PELAYANAN
bertahap akan menjadi bagian dari rutinitas harian Anda, dan anak-anak Anda akan
terlibat dengan penuh semangat.
MENGAJAR DENGAN RELEVANSI
Thomas dan Tabita yaitu orang tua dari tiga anak laki-laki. Mereka sengaja mem-
baca Alkitab bersama mereka dan bahkan mendorong mereka untuk menghafal ayat-
ayat Kitab Suci. Di sini Thomas memberi contoh bagaimana Kitab Suci membantu
membentuk pandangan dunia putra sulungnya Lukas, yang berusia empat tahun pada
saat cerita ini dibuat:
“Kami telah membaca kitab Keluaran, namun tadi malam Lukas bangun sedi-
kit lebih lambat dari Philip, jadi kami memutuskan untuk menunggu dengan bab
berikutnya dan membaca salah satu cerita dari 2 Raja-Raja yang didengarkan Lu-
kas baru-baru ini dari buku “Your Story Hour.” Berikut yaitu apa yang tertulis:
‘Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta ber-
api dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam
angin badai’—2 Raja-Raja 2: 11. Tentu saja saya tidak memikirkan apa yang terjadi
di akhir pasal sesudah Elisa mengangkat jubah Elia, dan sesudah dia membelah air
Yerikho: ‘Elisa pergi dari sana ke Betel. Dan sedang ia mendaki, maka keluarlah
anak-anak dari kota itu, lalu mencemoohkan dia serta berseru kepadanya: "Naik-
lah botak, naiklah botak!"Lalu berpalinglah ia ke belakang, dan saat ia melihat
mereka, dikutuknyalah mereka demi nama TUHAN. Maka keluarlah dua ekor ber-
uang dari hutan, lalu mencabik-cabik dari mereka empat puluh dua orang anak.
Dari sana pergilah ia ke gunung Karmel dan dari sana pula kembalilah ia ke Sama-
ria’—2 Raja-Raja 2: 23–25.
“Saat kami selesai membaca, saya bertanya kepada Lukas, ‘Jadi bagaimana menu-
rutmu?’ Dan dia segera mulai berbicara tentang kereta, dan Elia naik ke Surga. Sete-
lah itu, saya mengarahkan pembicaraan ke bagian tentang beruang dan anak laki-laki.
'Mengapa itu terjadi? Apa yang mereka lakukan?’ tanya saya. 'Mereka mengolok-olok
Elia, dan bahwa dia naik ke Surga,' jawab Lukas.
“Terbukti dari apa yang terjadi selanjutnya bahwa Lukas tidak memiliki masalah
dengan ceritanya, dan saya telah lama bertanya-tanya apa dampak mempelajari ayat-
ayat Alkitab terhadap anak-anak dan bagaimana hal itu membentuk pandangan dunia
mereka. Jadi, sesudah dia bangun, saya menanyakan pertanyaan berikut: 'Lukas, dari se-
mua ayat Alkitab yang telah kita pelajari, mana yang membuatmu berpikir bahwa apa
yang terjadi dalam cerita ini baik-baik saja?' Dia berdiri di sana selama beberapa detik.
lalu dia menatapku dan berkata, 'Masakan hakim segenap bumi tidak menghu-
kum dengan adil?’—Kejadian 18: 25.
“Baik Tabita dan saya terpesona. Saya tahu bahwa ada banyak hal yang dia tidak
mengerti, dan apa yang dia mengerti jelas diproses dengan caranya sendiri selama 4
tahun. namun dia membuat koneksi! Dia tahu bahwa Tuhan itu adil. Dan itu membantu
saat dia mendengar sebuah cerita yang kemungkinan besar akan dipertanyakan oleh
banyak dari kita.7
108 | SEMINAR
MEMBENTUK PANDANGAN DUNIA ANAK ANDA MELALUI TELADAN, PENGAJARAN, DAN PELAYANAN
Lukas melihat Kitab Suci secara keseluruhan. Untuk menafsirkan cerita dalam
2 Raja-Raja, dia pergi ke Kejadian 18: 25. Ini menunjukkan kepada kita betapa pen-
tingnya untuk dipenuhi oleh Firman Tuhan dan membimbing anak-anak kita untuk
diisi dan dibimbing oleh Firman Tuhan juga. Dengan Kitab Suci di hati anak laki-
laki dan perempuan kita, kita dapat membimbing mereka untuk menafsirkan dan
memahami apa pun yang mungkin mereka temui dalam hidup dengan relevansi dan
kepraktisan.
KELOMPOK DISKUSI
Diskusikan pengalaman Tabita, Thomas, dan Lukas. Apa pengaruh mem-
pelajari ayat-ayat Alkitab terhadap Lukas, dan bagaimana hal itu membentuk
pandangan dunianya?
MELAYANI SEBAGAIMANA ROH KUDUS MEMIMPIN
Banyak yang telah menemukan berbagai manfaat untuk terlibat dalam pelayanan:
hal ini yaitu kegiatan yang sehat untuk belajar dan berkembang.8 Meluangkan waktu
untuk melibatkan seluruh keluarga dalam pelayanan dapat menjadi pengalaman yang
kuat dan membentuk kerohanian yang kokoh bagi anak-anak Anda. Ellen White me-
nulis dalam buku Christian Service, “Ibadah sejati terdiri dari bekerja sama dengan
Kristus. Doa, nasihat, dan pembicaraan yaitu buah-buah yang murah, yang sering
didapatkan; namun buah yang diwujudkan dalam perbuatan baik, dalam menolong me-
reka yang membutuhkan bantuan, anak yatim, dan janda, ini semua yaitu buah sejati
dan tumbuh secara alami di pohon yang baik.”9 Nilai dan pelajaran yang diajarkan di
rumah harus dikuatkan melalui tindakan yang nyata. Selain itu, kita sebagai orang
Kristen dipanggil untuk melayani melalui arahan Roh Kudus. Galatia 5: 13b mengata-
kan, “melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Dan Roma 12: 11 meng-
ingatkan kita bahwa pelayanan kepada Allah ini harus dilakukan dengan gairah dan
semangat. Semangat pelayanan ini harus diwariskan kepada anak-anak kita, terutama
sebab hal itu mengajarkan mereka tentang Tuhan yang kita layani.
saat kedua anak saya, Joseph, masih sangat kecil, keluarga kecil kami memulai
tradisi Natal. Keluarga saya telah berdoa tentang bagaimana kami bisa melayani ber-
sama, dan pada suatu Natal kami merasakan Roh Kudus memimpin kami ke proyek
tertentu. Setiap bulan Desember, gereja kami berpartisipasi dalam program Angel Tree
(Pohon Malaikat). Sebuah pohon Natal dibawa ke dalam gereja dan ditutupi dengan
label dengan nama keluarga yang membutuhkan pertolongan. Setiap tahun, keluarga
kami yang beranggotakan empat orang akan memilih satu keluarga lagi dari pohon
itu, dan kami akan keluar dan membeli hadiah untuk mereka. Anak-anak saya akan
dengan senang hati membungkus kado-kado ini, dan kami dengan bangga akan mem-
bawanya kembali ke gereja untuk diberikan kepada keluarga yang telah kami pilih. Ini
yaitu cara yang mudah dan menyenangkan untuk melibatkan anak-anak saya dalam
| 109SEMINAR
MEMBENTUK PANDANGAN DUNIA ANAK ANDA MELALUI TELADAN, PENGAJARAN, DAN PELAYANAN
pelayanan, dan itu menumbuhkan dalam diri mereka hati yang melayani dan menjadi
peka terhadap mereka yang membutuhkan.
Ellen White menulis, “Anak-anak harus dididik sedemikian rupa sehingga me-
reka akan bersimpati dengan yang lanjut usia dan yang menderita dan akan berusaha
meringankan penderitaan orang miskin dan tertekan. Mereka seharusnya diajarkan
untuk menjadi tekun dalam pekerjaan misionaris; dan sejak tahun-tahun awal, mereka
harus belajar untuk menyangkal diri dan mengorbankan keinginan pribadi demi keba-
ikan orang lain; dan kemajuan pekerjaan Kristus harus ditanamkan, agar mereka dapat
menjadi pelayan bersama Allah.10
Anak-anak berkembang dalam pelayanan saat diberi kesempatan yang tepat un-
tuk mempraktikkan nilai-nilai Kristiani yang telah mereka pelajari. Hal ini tidak hanya
memberi putra atau putri Anda kesempatan untuk bertumbuh dalam iman mereka,
namun juga dapat membantu orang lain dalam iman mereka. Cheri Fuller menulis, “Ja-
ngan beri tahu mereka untuk menunggu sampai mereka dewasa agar Tuhan memakai
mereka. Temukan bagaimana rasanya berbagi kasih Tuhan bersama, sehingga mereka
dapat memiliki beberapa pengalaman puncak.”11 Biarkan anak Anda menikmati peng-
alaman melayani bersama. Itu akan sangat mengembangkan mereka dalam perjalanan
mereka sendiri bersama Tuhan.
KELOMPOK DISKUSI
Bagikan contoh dalam kehidupan Anda sendiri saat orang tua Anda, atau
Anda sebagai orang tua sengaja mengajar anak-anak Anda dari pengalaman
hidup. (Catatan: Ingat, tidak semua pengalaman hidup bermanfaat, relevan,
atau pantas untuk dibagikan dengan anak-anak Anda. Pastikan untuk meng-
ukur nilai pengalaman hidup yang Anda bagikan, apakah itu sesuai dengan
usia mereka, dan apakah itu akan membantu atau menyebabkan lebih banyak
kerugian.)
PENGARUH TELADAN, PENGAJARAN, DAN PELAYANAN
Ellen White menulis, “Anda harus mengajar, memperingatkan, dan menasihati,
selalu mengingat bahwa penampilan, perkataan, dan tindakan Anda memiliki penga-
ruh langsung terhadap masa depan orang-orang yang Anda kasihi. Pekerjaan Anda ti-
dak dilakukan untuk melukis suatu bentuk keindahan di atas kanvas atau memahatnya
dari marmer, namun untuk memberi kesan pada jiwa manusia suatu keindahan citra
Ilahi.12 yaitu keinginan dan perintah Allah agar para ibu dan ayah mendidik anak-
anak mereka untuk mengikuti Kristus. Segala sesuatu yang dilakukan—setiap kata dan
tindakan yang diambil—harus berpusat pada Kristus, menunjukkan pandangan dunia
yang alkitabiah kepada pikiran muda.
Dalam Kejadian 18: 19, Tuhan berbicara tentang Abraham, dengan mengatakan,
“Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan
110 | SEMINAR
MEMBENTUK PANDANGAN DUNIA ANAK ANDA MELALUI TELADAN, PENGAJARAN, DAN PELAYANAN
kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN,
dengan melakukan kebenaran dan keadilan …” Inilah panggilan untuk orang tua la-
kukan: membesarkan dan mengajar anak-anak mereka di jalan Tuhan. Seperti yang
dikatakan oleh penulis Craig Hill, “Jika orang tua tidak melakukan hal lain di dunia
ini mengenai anak-anak mereka, satu hal yang Tuhan inginkan untuk mereka lakukan
yaitu memastikan bahwa mereka yaitu alat Tuhan dalam membentuk identitas dan
panggilan Ilahi dalam diri anak-anak mereka …”13
Contoh terbaik yang dapat kami temukan tentang orang tua yang mewariskan
pusaka iman dengan memakai semua alat yang kami sebutkan, yaitu seorang
wanita bernama Susanna Wesley. Banyak orang mengenal John dan Charles Wesley,
dua tokoh terkemuka dalam agama Kristen yang dikenal sebab membuat musik, ber-
khotbah, dan mendirikan gereja Metodis. Namun tidak banyak yang tahu tentang ibu
mereka, Susanna. Susanna melahirkan 19 anak, meski hanya sepuluh yang selamat.
Dia merawat anak-anaknya dengan sangat serius dan mengabdikan dirinya untuk
pendidikan dan pendewasaan mereka. Sementara suaminya, Samuel juga sering pergi
dari rumah berkhotbah atau menghabiskan waktu di penjara sebab utang yang be-
lum dibayar, Susanna yaitu seorang ibu yang membesarkan anak-anak mereka untuk
mengikuti Kristus.
Dia memberi kepada semua anaknya, baik laki-laki maupun perempuan, pen-
didikan yang ketat. Semua anaknya tahu cara membaca pada usia lima tahun, dan
semuanya diajari bahasa Latin dan Yunani. Namun, yang paling mengesankan yaitu
bagaimana Susanna memasukkan pelajaran rohani ke dalam kehidupan rumah tang-
ga sehari-hari. Dia menyisihkan dua jam setiap hari untuk waktu pribadinya dengan
Tuhan, sehingga anak-anaknya tumbuh dengan melihat betapa pentingnya hubungan
dengan Tuhan. saat gereja lokal tampak sekarat, Susanna mengundang orang-orang
untuk datang ke rumah mereka di mana dia memimpin ibadah keluarga. Hasilnya,
lebih banyak orang yang datang beribadah ke rumahnya daripada ke gereja! Anak-
anaknya ikut serta dalam ibadah bersama ibunya—bagi mereka, itu yaitu cara hidup
mereka sebagai keluarga. Sebelum tidur setiap malam, Susanna akan menghabiskan
satu jam denga satu anak, perempuan atau laki-laki yang berbeda setiap malam.14
Melalui teladan, pelayanan, pengajaran, dan kasihnya, Susanna Wesley membe-
sarkan anak-anaknya untuk menjadi kuat dalam iman mereka. Dampak yang dia tim-
bulkan pada saat mereka anak-anak, terus berkembang di dalam diri mereka sampai
mereka tumbuh menjadi dewasa dan lama sesudah itu. Dampak ini bahkan meluas ke
kekristenan yang lebih besar melalui kontribusi putranya Charles dan John Wesley
khususnya. Pengaruh yang dimiliki orang tua terhadap anak-anak mereka tidak dapat
dibayangkan. Dengan mengarahkan mereka pada lintasan yang mengarah kepada Ye-
sus, orang tua mengatur anak-anak mereka untuk mempertahankan pandangan dunia
alkitabiah dan hubungan dekat dengan Juruselamat mereka sepanjang sisa hidup me-
reka.
Itulah yang dimaksud dengan meninggalkan warisan iman. Susanna Wesley,
Eunike (ibu Timotius) dan Lois (nenek Timotius), dan Paulus sendiri yaitu contoh
nyata dari jenis warisan yang dapat diciptakan saat kita sengaja membentuk pan-
dangan dunia anak-anak kita. Keputusan yang kita buat dalam membantu membentuk
| 111SEMINAR
MEMBENTUK PANDANGAN DUNIA ANAK ANDA MELALUI TELADAN, PENGAJARAN, DAN PELAYANAN
pandangan dunia mereka, dapat berdampak abadi. Semoga warisan yang kita ting-
galkan menjadi salah satu yang mengarahkan anak-anak kita dan bahkan orang lain
kepada Kristus bahkan saat kita tidak ada lagi di dunia ini.
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya
pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Amsal 22: 6)
KELOMPOK DISKUSI
Secara mandiri, dengan pasangan Anda atau dalam kelompok kecil, diskusi-
kan dan doakan hal-hal berikut:
1. Bahaslah apa artinya membentuk pandangan dunia anak Anda me-
lalui teladan, pengajaran, dan pelayanan.
2. Pikirkan tentang bagaimana tindakan Anda, pendidikan langsung,
dan pengalaman yang Anda rencanakan akan mendidik dan ber-
dampak pada kehidupan dan pandangan dunia anak-anak Anda.
Apa cara-cara agar Anda dapat lebih sengaja mentransfer kepercaya-
an Anda kepada anak-anak Anda?
3. Apa dua proyek penjangkauan pelayanan yang dapat melibatkan ke-
luarga Anda untuk mempraktikkan nilai-nilai kristiani yang penting
bagi keluarga Anda? Tambahkan itu ke kalender Anda hari ini!
REFERENSI
1 Ellen White, Child Guidance. (Silver Spring, MD: Review and Herald, 2002), 215.
2 S. Joseph Kidder & Katelyn Campbell Weakley, “Shaping Your Child’s Worldview
Through a Loving Relationship,” in I Will Go with my Family: Family Resilience, (Silver
Spring, MD: Review and Herald, 2021), 116-123.
3 For additional explanation of worldview, see James Sire, The Universe Next Door
(Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1997); and George Barna, Think Like Jesus
(Nashville, TN: Thomas Nelson , 2003); Kevin J. VanHoozer, “Being Biblical in a Plu-
ralistic Age,” Andrews University Seminary Studies 57 no. 2, 2019.
4 Curtis Miller, “Helping Kids Keep the Faith,” Fuller Youth Institute, Dec. 15, 2013.
https://fulleryouthinstitute.org/blog/helping- kids-keep-the-faith.
5 For more discussion on different types of teaching—nonverbal, situational, and
planned teaching—see Dorothy Bertolet Fritz, The Child and the Christian Faith
(Richmond, VA: CLC Press, 1964), 61-97
6 See also Debbie Rivera, “The Shema,” Adventist Review. September 13, 2010. https://
www.adventistreview.org/2010-1530-26.
7 As told to us by Thomas Rasmussen, March 28, 2019.
8 A few examples and discussions can be found at the following sites: Elizabeth Hop-
per, “Can Helping Others Help You Find Meaning in Life?” February 16, 2016.
112 | SEMINAR
MEMBENTUK PANDANGAN DUNIA ANAK ANDA MELALUI TELADAN, PENGAJARAN, DAN PELAYANAN
https://greatergood.berkeley.edu/article/item/can_helping_others_help_you_find_
meaning_in_life/success; “7 Scientific Benefits of Helping Others,” Mental Floss,
accessed Dec. 16, 2021. http://mentalfloss.com/ article/71964/7-scientific-benefits-
helping-others; Adam Lupu, “How Do People Learn Most Effectively,” November 20,
2017. https://www.forbes.com/sites/quora/2017/11/20/how-do-people-learn-most-
effectively/#1b8753d01f05; Kimberly Yam, “10 Facts That Prove Helping Others is
a Key to Achieving Happiness,” accessed Dec. 16, 2021, https://www.huffpost.com/
entry/ international-day-of-happiness-helping_n_6905446.
9 Ellen White, Christian Service (Silver Spring, MD: Review and Herald, 1999), 96.
10 Ellen White, Testimonies, vol. 6, (Nampa, ID: Pacific Press Publishing Association,
2002), 429.
11 Cheri Fuller, Opening Your Childs Spiritual Windows: Ideas to Nurture Your Childs
Relationship with God (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2001), 209.
12 Ellen White, Child Guidance, 218.
13 Craig Hill, Bar Barakah (Littleton, CO: Family Foundational Int., 1998), 8.
14 See Diane Severance, “Susanna Wesley: Christian Mother,” Christianity.com, May
3, 2010, https://www.christianity.com/church/church-history/timeline/1701-1800/
susanna-wesley-christian-mother-11630240.html; Jackie Green and Lauren Green-
McAfee, “The Praying Example of Susanna Wesley,” Faithgateway, June 5, 2018,
https://www.faithgateway.com/praying-example-susanna- wesley/#.XJu_QyhKhPY.
| 113
SUMBER MATERI
KEPEMIMPINAN
Sumber Materi Kepemimpinan
dengan penuh pertimbangan dipilih
untuk membantu Anda menangani
masalah keluarga saat ini dan relevan
dengan gereja lokal Anda.
114 |
Willie Oliver, Ph.D., CFLE dan Elaine Oliver, Ph.Dc., LCPC, CFLE
yaitu Direktur Departemen Pelayanan Rumah Tangga di General Conference Kantor Pusat
Advent Sedunia di Silver Spring, Maryland, AS
APAKAH MASALAH
BESAR DARI
HOMOSEKSUAL?
OLEH WILLIE DAN ELAINE OLIVER
Apa masalah besarnya dengan homoseksualitas? Orang tua di gereja saya se-
ring menyebut homoseksualitas sebagai dosa. Mengapa menjadi dosa jika Tuhan
menciptakan seseorang seperti itu? Bukankah Tuhan dan Alkitab semuanya ber-
bicara tentang cinta? Jadi mengapa harus membedakan siapa yang dicintai sese-
orang? Apakah Tuhan benar-benar mengharapkan seseorang untuk hidup tanpa
cinta jika mereka dilahirkan sebagai homoseksual? Ini sepertinya tidak adil. Ba-
gaimana menurutmu?
Pertanyaan Anda yaitu pertanyaan yang sering ditanyakan oleh orang Kristen
tulus yang mencoba mengetahui kebenaran Tuhan tentang masalah homoseksualitas.
Namun, dalam masyarakat kontemporer, kita dibombardir dengan suara-suara yang
berbeda dan sangat subyektif, tidak sulit untuk mengacaukan etika Kristen dengan
etika utilitarian, sekuler, dan/atau humanis. Jadi, kami awali dengan meminta Anda
untuk mempertimbangkan pesan yang dikatakan Alkitab dalam 1 Korintus 2: 14: “Te-
tapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, sebab hal itu
baginya yaitu suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu ha-
nya dapat dinilai secara rohani.”*
SUMBER MATERI KEPEMIMPINAN | 115
APAKAH MASALAH BESAR DARI HOMOSEKSUAL?
Kejadian 2: 24, 25 mencatat rencana awal Allah untuk aktivitas seksual, dan itu
jelas dalam konteks pernikahan heteroseksual antara seorang pria dan seorang wanita,
saat dikatakan: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya
dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka kedua-
nya telanjang, manusia dan isterinya itu, namun mereka tidak merasa malu.”
saat dosa memasuki bumi melalui pilihan yang dibuat oleh orang tua pertama
kita—Adam dan Hawa—seluruh planet menjadi tercemar oleh ketidaktaatan kepada
Tuhan dan akibatnya—kematian—sebagai akibatnya, alam juga mengalami begitu ba-
nyak penyimpangan yang seharusnya bukanlah bagian dari ciptaan Tuhan. Jadi, dalam
upaya Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia, daripada membiarkan mereka
mengalami akibat dosa—kematian—untuk itulah mengapa Rasul Paulus menuliskan
dalam 1 Tesalonika 4: 3–5: “sebab inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu su-
paya kamu menjauhi percabulan,supaya kamu masing-masing mengambil seorang pe-
rempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormat-
an, bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang
tidak mengenal Allah.”
Tuhan lalu memperjelas batasan hubungan seksual bagi mereka yang me-
milih untuk menjadi murid-murid-Nya dalam 1 Korintus 7: 1, 2: “Dan sekarang ten-
tang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. yaitu baik bagi laki-laki, kalau ia tidak
kawin, namun mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai iste-
rinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.” Di sini sekali lagi,
Tuhan menggarisbawahi batasan aktivitas seksual dalam pernikahan heteroseksual,
dan untuk menghindari munculnya aksi-aksi percabulan.
Alkitab juga mencatat daftar orang-orang yang tidak akan mendapat tempat dalam
kekekalan Allah—termasuk mereka yang terlibat dalam aktivitas heteroseksual yang
tidak bermoral—saat hal ini terdapat dalam 1 Korintus 6: 9: “Atau tidak tahukah
kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan
Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang
pemburit (atau homoseksual dalam Alkitab terjemahan sehari-hari {ISH})”
Sejatinya, menjadi pengikut Yesus ditandai dengan pengorbanan dan ketaatan
pada prinsip-prinsip-Nya terlepas dari orientasi seksual seseorang. Lagi pula, terlepas
dari apa pun orientasi seksual seseorang, kecuali seksualitas mereka berada di bawah
kekuasaan Yesus Kristus—artinya mereka yaitu murid yang taat—mereka berada
dalam masalah. Alkitab dengan jelas menyatakan dalam Matius 16: 24: "Lalu Yesus
berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus
menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." Inilah tantangan setiap
pengikut Yesus, apa pun orientasi seksualnya.
Keinginan terdalam kita untuk mencintai dan dicintai ditempatkan di dalam diri
kita oleh Tuhan pada saat Penciptaan. Dia membuat kita menginginkan kasih-Nya
lebih dari apa pun. Cinta terbesar dari semuanya yaitu cinta Tuhan yang teguh dan
tanpa syarat. Yesus sendiri menyatakan dalam Yohanes 15: 13: “Tidak ada kasih yang
lebih besar dari pada kasih seorang yang memberi nyawanya untuk sahabat-saha-
batnya.” Inilah yang Yesus lakukan untuk kita semua, sebab kasih yang Yesus berikan
jauh lebih baik dari kasih apa pun yang kita terima di dunia ini. saat kita menerima
116 | SUMBER MATERI KEPEMIMPINAN
APAKAH MASALAH BESAR DARI HOMOSEKSUAL?
kasih yang abadi ini, kita dimampukan untuk mencintai orang lain semurni Tuhan
mencintai kita. Kasih ini tidak boleh disamakan dengan daya tarik dan dorongan sek-
sual—yang seringkali merupakan gambaran umum dari cinta kasih di masa kini.
Sementara hubungan cinta manusiawi kita seringkali tidak konsisten dan dipe-
nuhi dengan perpisahan dan pengabaian yang nyata, kita dapat bergantung pada cinta
dan kehadiran Yesus yang tak tertandingi dalam hidup kita. Bahkan, Dia menyatakan
dalam Matius 28: 20, "... Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai ke-
pada akhir zaman."
Terlepas dari sifat berdosa kita—bahkan jika itu yaitu praktik homoseksual—
kita dapat menemukan penerimaan, pengampunan, pemulihan, dan keselamatan di
dalam Yesus saat kita menanggapinya dengan ketaatan. Kita melihat ini diwujudkan
saat Yesus berkata kepada wanita yang kedapatan berzinah: “Aku pun tidak meng-
hukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yohanes
8: 11).
Kami berharap bahwa apa yang telah kami bagikan akan memberi Anda kesem-
patan untuk lebih merenungkan kehendak Tuhan bagi para pengikut-Nya. Anda ada
dalam doa kami.
.
| 117
David Sedlacek, Ph.D., LMSW, CFLE yaitu Profesor Pelayanan Rumah Tangga dan Pemuridan
Seminari Teologi Gereja Advent Hari Ketujuh di Universitas Andrews di Berrien Springs, MI, AS.
Beverly Sedlacek, DNP, MSN, PMHCNS-BC, RN, yaitu Terapis Praktik Swasta dan Direktur
Klinis Into His Rest Ministries di Berrien Springs, MI, AS.
MENDISIPLINKAN
ANAK-ANAK KITA
DENGAN KASIH
OLEH DAVID DAN BEVERLY SEDLACEK
Orang tua yaitu seorang wakil Tuhan dalam kehidupan anak-anak mereka. Se-
belum anak-anak mengembangkan hubungan pribadi dengan Tuhan, mereka belajar
tentang Tuhan melalui pengalaman pengasuh utama mereka. Benih-benih cinta diba-
ngunkan dalam sambutan penuh kasih yang diberikan kepada bayi yang baru lahir,
kekaguman dan keajaiban kelahiran mereka, dan tatapan memuja orang tua di mata
sang anak. Selama perkembangan anak menuju kedewasaan, benih-benih ini bertunas
menjadi tumbuhan yang menghasilkan buah, buah Roh: kasih, sukacita, damai sejah-
tera, dan sebagainya (Gal. 5: 23).
Sayangnya, beberapa orang tua tidak mampu memberi sambutan yang pe-
nuh kasih. Orang tua yang memiliki trauma yang belum sembuh dari masa kanak-
kanaknya, yang belum pernah menerima kasih sayang sejati dari orang tua me-
reka, tidak dapat memberi anak mereka apa yang belum mereka terima. Ulangan
5: 9 menyatakan bahwa kesalahan orang tua ditimpakan kepada anak-anak sam-
pai generasi ketiga dan keempat. Kata kesalahan menyiratkan pembentukan anak
yang bengkok atau terdistorsi. Penelitian trauma membantu kita untuk memahami
118 | SUMBER MATERI KEPEMIMPINAN
MENDISIPLINKAN ANAK-ANAK KITA DENGAN KASIH
bahwa anak-anak mengalami efek berbahaya dari trauma warisan orang tua. Mari
jelajahi trauma rohani yang dialami anak-anak di tangan para orang tua yang ber-
maksud baik.
Pelecehan rohani dalam keluarga yaitu bentuk trauma atau pengabaian emosi-
onal. Beberapa orang tua gagal memengaruhi anak-anak mereka secara rohani. Me-
reka tidak berbicara tentang Tuhan atau bahkan mengenai kerohanian. Orang tua ini
mungkin baik hati dan, mencerminkan kasih Allah, namun anak-anak tidak memiliki
kerangka rohani untuk menempatkan realitas ini . Kelaparan akan Tuhan dita-
nam, namun benihnya gagal bertumbuh sebab pengabaian spiritual.
Orang tua lain yang mengidentifikasikan diri mereka sebagai orang Kristen,
mungkin telah diajari pandangan tentang Tuhan yang berdasarkan rasa takut. Jika me-
reka tidak menyadari apa yang salah dengan persepsi mereka terhadap Tuhan, mereka
secara tidak sadar akan meneruskan pandangan tentang Tuhan ini kepada anak-anak
mereka. Bentuk pelecehan rohani ini memiliki banyak wajah. Salah satu bentuk pe-
lecehan rohani terjadi saat orang tua meminta anak untuk patuh untuk mendapat-
kan cinta dan penerimaan mereka. Yesus menghubungkan kasih dan ketaatan saat
dia berkata, "Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-
Ku” (Yohanes 15: 9-10). saat anak-anak dikasihi dengan baik, mereka akan senang
melakukan apa yang diminta orang tua mereka.
Salah satu bentuk pelecehan rohani yang paling umum terjadi yaitu saat orang
tua terlalu mengontrol anak-anak mereka dan gagal mengajarkan kepada mereka cara
mengambil keputusan. saat orang tua selalu membuat keputusan untuk anak-anak
mereka, pesannya yaitu , "Saya harus membuat keputusan untuk kamu sebab kamu
tidak mampu melakukannya sendiri." Anak-anak harus didorong dan diberdayakan
untuk membuat keputusan individu sesuai dengan usia di mana mereka berada. saat
anak-anak belajar untuk membuat keputusan sendiri, mereka akan bertumbuh secara
dewasa, dan orang tua dapat membantu mereka untuk mengevaluasi pilihan yang me-
reka tentukan. Sebagai hasil dari proses ini, hubungan antara orang tua dan anak akan
bertambah kuat, dan akan lebih mudah bagi orang tua untuk menurunkan nilai-nilai
kerohanian dalam pribadi anak-anak mereka.
Wajah lain dari pelecehan rohani yaitu memakai Alkitab atau tulisan-tu-
lisan Ellen G. White sebagai pentungan untuk memukul anak. Menyampaikan kepada
seorang anak bahwa mereka tidak memenuhi apa yang Tuhan harapkan dengan cara
yang tidak mendidik tidak akan membentuk kepribadian mereka, namun justru akan
merendahkan atau menciptakan rasa malu pada seorang anak. Dengan cara demikian,
kita malah menunjukkan bahwa Tuhan yaitu pribadi yang sukar untuk dipuaskan
dan justru akan menimbulkan sifat rendah hati yang palsu dalam diri sang anak. Di
permukaan, kerendahan hati palsu ini terlihat sangat rohani. Namun, dibutuhkan ke-
waspadaan yang tinggi untuk tampil sempurna demi mendapat cinta Tuhan atau
untuk menjaganya agar Ia tidak marah.
Neurosains mengungkapkan bahwa hypervigilance (khawatir berlebihan) mencip-
takan kecemasan dan menyebabkan stres. Amigdala, yang terletak di sistem limbik
otak, bertanggung jawab untuk memindai lingkungan internal dan eksternal dari ba-
haya. saat ada ancaman yang akan segera terjadi, amigdala memberi sinyal pada
| 119SUMBER MATERI KEPEMIMPINAN
MENDISIPLINKAN ANAK-ANAK KITA DENGAN KASIH
sistem simpatik untuk memobilisasi respons antara melawan atau melarikan diri. Jika
ancamannya terlalu berlebihan, individu ini mungkin akan tertegun dan tidak
dapat bereaksi. saat sistem simpatik terus-menerus berada di bawah tekanan, sis-
tem kekebalan tubuh akan terganggu, dan korteks prefrontal (bagian otak yang berpi-
kir) menjadi lumpuh. Cinta, pertumbuhan, perkembangan, dan pemikiran sehat akan
menjadi menurun saat rasa takut meningkat (Jennings, 2020). Tak satu pun dari me-
kanisme ini menumbuhkan keintiman atau hubungan saling percaya dengan Tuhan.
Seorang anak mungkin tahu bahwa Tuhan itu nyata namun ia lalu akan mengem-
bangkan perasaan takut yang berlebihan terhadap Tuhan. Pikiran bawah sadar seorang
anak mungkin yaitu , “Jika Tuhan mengenal saya, dia tidak akan mencintai saya; dia
akan menolak saya selamanya.” Kebenaran bahwa mereka dikasihi dengan kasih yang
abadi (Yeremia 31: 3) akan selalu sulit dipahami oleh anak-anak yang mengalami rasa
takut berlebihan terhadap Tuhan.
Yang lebih merusak bagi seorang anak yaitu trauma rohani yang terjadi keti-
ka orang tua secara fisik menganiaya anaknya atas nama disiplin. Sering ada kesa-
lahpahaman dari kata "tongkat" yang ditemukan dalam teks-teks seperti Amsal 13:
24, "Siapa tidak memakai tongkat, benci kepada anaknya ..." dan Amsal 29: 15,
"Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, namun anak yang dibiarkan memper-
malukan ibunya.” Kesalahpahaman kata ini telah memungkinkan orang tua untuk
memukuli anak-anak mereka atas nama disiplin. Tongkat gembala dipakai untuk
membimbing domba dan tongkat itu dipakai untuk menangkis predator. Ellen
White menyarankan bahwa hukuman fisik harus dipakai sebagai pilihan terakhir
saat semuanya telah gagal dan dilakukan dengan kasih, bukan kemarahan. Dengan
menerapkan pukulan sebagai disiplin, anak mungkin menerima pesan bahwa Tuhan
itu kejam dan hal ini menjadi lebih berbahaya saat orang tua mendisiplinkan anak
mereka saat marah. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mengajarkan
bahwa kasihlah yang harus memotivasi disiplin orang tua (Amsal 3: 11–12, Ibrani
13: 5).
Kata-kata juga bisa sangat merusak. Mereka seperti anak panah yang ditembakkan
ke jantung seorang anak yang dapat melukai secara dalam. Salah satu kebutuhan kasih
yang utama dalam setiap anak yaitu pengakuan. saat orang tua hanya menunjuk-
kan aspek negatif dari keberadaan seorang anak, misalnya, “Kamu seharusnya men-
dapatkan semua nilai A”, “Kamu tidak setampan/secantik saudaramu”, “Kamu yaitu
barang rusak, dan tidak akan ada yang menginginkan kamu,” anak-anak membentuk
pemikiran negatif dan memalukan tentang diri mereka sendiri dan ini menghasilkan
kecemasan tentang nilai dan identitas mereka. Jalur saraf ini sulit untuk diberantas.
Makna identitas, nilai kehidupan, dan ego seorang anak dibentuk oleh kata-kata dan
tindakan yang menyampaikan pesan negatif. Jalur saraf baru perlu dibentuk berda-
sarkan nilai sesungguhnya seorang anak sebagai anak Tuhan, yang memiliki nilai tak
terhingga.
Pelecehan seksual khususnya, merusak pandangan seorang anak tentang Allah.
saat orang tua gagal melindungi anak dari pelaku kekerasan, penilaian akan Tuhan
dari sang anak sebagai pelindung menjadi rusak. Kemarahan sang anak akan sering
dialihkan kepada Tuhan dengan pemikiran seperti, “Tuhan, mengapa Engkau mem-
120 | SUMBER MATERI KEPEMIMPINAN
MENDISIPLINKAN ANAK-ANAK KITA DENGAN KASIH
biarkan ini terjadi padaku? Jika kamu mencintaiku, kamu tidak akan membiarkan
ini terjadi!” Jika orang tua, yang mengaku melayani Kristus, melakukan pelecehan
seksual terhadap seorang anak, pertanyaan yang sering diajukan yaitu , “Mengapa
Tuhan memberi saya orang tua yang bejat seperti ini?” Pandangan anak tentang diri
mereka sendiri dapat menjadi begitu terdistorsi sehingga mereka menginternalisasi
diri mereka sebagai objek seksual dan mulai menjalani kehidupan yang merusak se-
cara seksual dalam bentuk pergaulan bebas, prostitusi, atau bahkan menjadi bintang
porno.
Hasil dari trauma rohani termasuk rasa diri yang hancur dan pandangan dunia
yang berantakan. Diri yang hancur terdiri dari berbagai gejala tekanan pasca-trauma,
seperti ingatan yang mengganggu, hyperarousal (gairah berlebihan), hypervigilance
(rasa cemas berlebihan), kekhawatiran, depresi, mati rasa, disosiasi, kecenderungan
untuk melakukan hal yang sama, pembatasan jangkauan pengaruh, dan gangguan ti-
dur (Freedman, 2006). Pandangan dunia yang hancur mencakup apa yang dianggap
benar oleh seseorang, seperti perasaan tidak nyaman, menganggap diri sendiri tidak
aman, atau percaya bahwa jenis orang tertentu menimbulkan risiko bagi diri sendiri
atau orang lain (Panchuk, 2018).
Penyembuhan dimulai dengan mengenali bahwa trauma rohani telah terjadi.
Kebanyakan orang yang bertumbuh dalam lingkungan rohani yang tidak sehat, cen-
derung menyangkal trauma rohani yang mereka rasakan. Mereka mungkin tidak
tahu atau tidak menyadari apa itu kerohanian sejati. Seringkali ada kebutuhan un-
tuk mendekonstruksi pandangan keliru seseorang tentang Tuhan dan merekonstruksi
gagasan yang lebih akurat tentang siapa Dia. Banyak orang dewasa masih membawa
gambaran tentang Tuhan yang mereka pelajari saat masih anak-anak dan sekarang
harus mempertimbangkan kembali karakter Tuhan yang mereka pilih untuk diperca-
yai. Anak-anak dan orang dewasa juga harus diberdayakan untuk belajar mengatakan
"tidak" dan menetapkan batasan spiritual yang sehat dalam perjalanan penyembuh-
an. Mereka akan lebih mampu melakukan tugas penting ini begitu mereka mengenal
Tuhan yang mereka pahami sendiri.
Langkah-langkah ini membuka pintu bagi orang ini untuk mulai menjelajahi
dunia di sekitarnya dengan cara yang baru dan menarik. Mereka akan keluar dari pe-
menjaraan rohani yang telah membatasi mereka sangat lama. Mereka memiliki potensi
untuk mengalami Tuhan dengan cara yang menghasilkan pertumbuhan pribadi mere-
ka. Perjalanan ini bertujuan untuk mengalami Tuhan dalam perjalanan mereka, me-
mimpin mereka, dan menumbuhkan mereka. Beberapa orang belajar dari pengalam-
an orang lain yang dapat berhubungan dengan mereka dan cerita mereka. Orang lain
mungkin membutuhkan bantuan terapis yang memberi informasi trauma. Jika Anda
menyadari bahwa Anda termasuk di antara mereka yang mengalami trauma spiritual,
kami mengundang Anda untuk memulai perjalanan penyembuhan yang menyakitkan
namun berani.
| 121SUMBER MATERI KEPEMIMPINAN
MENDISIPLINKAN ANAK-ANAK KITA DENGAN KASIH
REFERENSI
Freedman, Karyn (2006) “The Epistemological Significance of Psychic Trauma.” Hypatia 21
(2): 104–125. http:// dx.doi.org/10.1111/j.1527-2001.2006.tb01096.x.
Jennings, Timothy (2013). The God Shaped Brain: How changing your view of God trans-
forms your life. Downers Grove, IL: Intervarsity Press.
Panchuk, Michelle. THE SHATTERED SPIRITUAL SELF: A PHILOSOPHICAL EXPLO-
RATION OF RELIGIOUS TRAUMA Res
Philosophica, Vol. 95, No. 3, July 2018, pp. 505–530 http://dx.doi.org/10.11612/ resphil.1684
122 |
Claudio Consuegra, D.Min., yaitu Direktur Departemen Pelayanan Rumah Tangga di Gereja Ma-
sehi Advent Hari Ketujuh Divisi Amerika Utara Columbia, Maryland, AS.
Pamela Consuegra,Ph.D., yaitu Associate Director dari Departemen Pelayanan Rumah Tangga
di Divisi Amerika Utara Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Columbia, Maryland, AS
DAMPAK MENTAL
DARI DUKACITA
OLEH CLAUDIO DAN PAMELA CONSUEGRA
Rachel McKinley meninggal seminggu sesudah suaminya yang berusia lima pu-
luh tahun, Raymond, meninggal. Mengapa pasangan lansia mati bersama, atau begitu
dekat dengan kematian satu sama lain? Apakah benar-benar ada yang namanya se-
karat sebab patah hati? Menurut American Heart Association (n.d.), Sindrom Pa-
tah Hati, juga disebut kardiomiopati akibat stres atau kardiomiopati takotsubo, dapat
terjadi bahkan pada orang sehat. Terbukti, wanita lebih mungkin mengalami rasa sa-
kit yang tiba-tiba dan intens dibandingkan pria yang dapat disebabkan oleh peristiwa
stres emosional seperti kematian orang yang dicintai, perpisahan atau perceraian, atau
pengkhianatan atau penolakan romantis.
Jadi, kita tahu bahwa dukacita dapat menimbulkan efek fisik yang merugikan.
Selain itu, dukacita juga dapat menyebabkan penyakit mental. Hensley dan Clayton
(2008) menulis tentang studi longitudinal yang menemukan bahwa satu bulan sete-
lah seseorang menjadi janda, 40% dari orang-orang ini memenuhi kriteria epi-
sode depresi berat. Kabar baiknya yaitu , depresi yang disebabkan oleh kesedihan ini
menurun dari waktu ke waktu, dan sesudah satu tahun, hanya 15% dari populasi ini
yang memenuhi kriteria depresi berat. Selain itu, menurut Hensley dan Clayton (2008)
dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, kesedihan dapat menyebabkan psikosis atau
berkembangnya gejala psikotik.
SUMBER MATERI KEPEMIMPINAN | 123
DAMPAK MENTAL DARI DUKACITA
APA ITU DUKACITA?
Kita perlu berhenti sejenak dan berbicara singkat tentang dukacita, yang merupa-
kan rasa sakit yang hebat sesudah mengalami kehilangan. saat salah satu orang yang
kita kasihi meninggal, kita akan merasakan perasasan kehilangan yang begitu dalam.
Seperti yang dijelaskan oleh Consuegra & Consuegra (2021), “Meskipun dukacita ti-
dak terbatas pada kehilangan seseorang, saat itu terjadi sesudah kematian orang yang
dicintai, itu dapat diperparah oleh perasaan bersalah dan kebingungan, terutama jika
kita memiliki hubungan yang rumit dengan pribadi yang meninggal ini .” C.S.
Lewis mencoba menggambarkan perasaan sedihnya:
“Tidak ada yang pernah mengatakan kepada saya bahwa dukacita sangat mirip
dengan ketakutan. Saya tidak takut, tapi sensasinya seperti takut. Ada gemuruh di
perut yang sama, kegelisahan yang sama, dan kantuk. Saya terus menelan” (Lewis,
1978, hlm. I).
Psikiater Swiss, Elizabeth Kübler-Ross (1969), pertama kali memperkenalkan apa
yang disebutnya lima tahap model dukacita dalam buku terlarisnya, On Death and
Dying (Tentang Kematian dan Sekarat). Saat bekerja dengan orang yang sakit parah,
Kübler-Ross mengamati pengalaman umum tertentu yang dirasakan banyak pasien
dan ini yang membuatnya mengembangkan model yang membuatnya dikenal, di-
salahpahami, dan dikritik. Kübler-Ross awalnya mengembangkan model ini untuk
menggambarkan proses kehilangan, namun dia akhirnya mengadaptasi model ini
untuk menjelaskan semua jenis kesedihan, terutama yang dialami oleh seseorang yang
sedang sekarat. Kübler-Ross mencatat bahwa setiap orang mengalami setidaknya dua
dari lima tahap kesedihan dan bahwa beberapa orang dapat mengunjungi kembali ta-
hap tertentu selama beberapa minggu atau bulan sampai kematian mereka dan orang
yang mereka cintai jug

