gereja masehi 2
yang berdosa, mengeluh ke-
pada Tuhan tentang orang b
enar Ayub. Dia berkata, “Apakah kamu tidak membuat
pagar sekelilingnya, sekeliling rumah tangganya, dan sekeliling segala yang dimiliki-
nya ...?” Setan mengakui bahwa Tuhan melindungi Ayub dari rencana jahatnya sendiri
untuk menyakiti Ayub. Bukankah itu yang diinginkan keluarga modern? Pagar pelin-
dung di sekitar keluarga mereka? Saya mengusulkan dalam khotbah ini bahwa ibadah
keluarga yaitu pagar pelindung itu. Di dalam Membina Anak Bertanggung Jawab,
hlm. 549, Ellen White berkata, “Para bapa dan ibu, bagaimanapun mendesaknya urus-
anmu, jangan abaikan untuk mengumpulkan keluargamu di sekeliling Mazbah Allah.
Mintalah penjagaan malaikat-malaikat suci di dalam rumah tanggamu.”
Tepi sungai berbatu setinggi lima ratus kaki melesat melewati Sandy seolah-olah
dia melaju melewati mereka dengan kereta luncur. Lereng Sungai Tuolumne yang di
poles gletser licin seperti es. Sekarang deru air terjun Le Conte yang memekakkan
telinga bergemuruh di telinganya. Bagaimana dia bisa menghentikan perjalanan gaya
Evel-Knievel sebelum terjun ke tepi air terjun setinggi 200 kaki di depannya? Satu-
satunya hal yang ditawarkan sungai untuk dipegang yaitu ganggang hijau, menempel
di bebatuan berlendir. Apakah hari yang dimulai dengan kebahagiaan seperti itu bera-
khir dengan kematian sebab kecelakaannya mengendarai waterboggan?
Pagi itu keluarga berkumpul di sekitar api unggun sebelum melanjutkan perjalan-
an mereka ke dataran tinggi Taman Nasional Yosemite. Paduan suara ayah, ibu, dan
enam anak bernyanyi secara harmonis: “Bapa, kami berterima kasih kepada-Mu untuk
malam ini, dan untuk cahaya pagi yang menyenangkan; untuk istirahat, dan makanan,
dan perhatian penuh kasih, Dan semua itu membuat hari begitu indah. Tolong kami
untuk melakukan hal-hal yang seharusnya kami lakukan, Untuk menjadi baik dan baik
bagi orang lain, dalam semua yang kami lakukan, di tempat kerja atau bermain, untuk
mencintai-Mu lebih baik dari hari ke hari.”
Saat nada terakhir menghilang ke dalam hutan, sang ayah memohon kepada
Tuhan untuk menyerahkan keluarganya ke tangan malaikat pengasih hari itu. Kemu-
dian mereka mulai menyusuri jalan setapak di samping hamparan air terjun setinggi
dua ribu kaki, ransel mereka penuh dengan perbekalan untuk dua belas hari.
saat Sandy yang berusia empat belas tahun, yang berada di depan saudara-
saudaranya, tiba di tempat perkemahan malam berikutnya, dia melepaskan ranselnya,
berganti pakaian renang, dan pergi ke sungai untuk meluncur di air yang mengalir
cepat. Pada awalnya, dia memekik kegirangan saat dia menyelinap. Dia berencana
untuk pergi berenang sebentar di bagian yang dangkal. Namun, dasar sungai granit
yang lebih licin dari perkiraannya, tiba-tiba membuatnya terpeleset dan terbawa arus
ke tengah-tengah sungai. Semakin cepat dan semakin cepat dia mendesing melewati
bebatuan besar dan batu-batu lainnya di tepi sungai yang mengalir deras. Kalau saja
ada sesuatu yang bisa dia pegang, dahan semak atau pohon. Atau, seandainya saja ada
batu yang bisa ia peluk. "Yesus, tolong saya!" dia menangis. Meskipun Sandy berusa-
ha mati-matian, dia tidak dapat menghentikan dirinya yang telah terbawa arus deras.
Ketakutan mencengkeram hatinya saat arus terus menyeretnya ke lebih dekat menuju
air terjun.
Charlene yang berusia tujuh belas tahun, mendaki jalan setapak, tiba di air terjun
tepat pada waktunya untuk melihat air yang deras mendorong Sandy ke tepi jurang.
Dia melihat saudara perempuannya memasuki air terjun yang lebih kecil dan akan se-
gera mengalir ke air terjun yang lebih besar, yang mana air itu akan jatuh ratusan kaki
ke bebatuan bergerigi di bawahnya. Dalam sepersekian detik, air terjun yang menderu
akan menelan mangsanya. Dan lalu Charlene melihat keajaiban itu! Tepat di de-
pan matanya, sebuah tangan tak terlihat mendorong Sandy kembali ke tepian di mana
ia bisa meraih satu batu yang membantunya untuk lepas dari arus sungai yang deras.
Dalam keadaan linglung dan ketakutan, Sandy mengangkat dirinya ke atas batu dan
lalu naik ke tepian di mana dia pingsan, gemetar, dan benar-benar kelelahan.
Sambil berteriak, Charlene berlari ke jalan untuk menjemput ayahnya. Ayahnya lang-
sung bergegas menuruni medan berbatu, dia melihat putrinya terbaring tak bergerak
di atas batu besar, tidak dapat berbicara. lalu dia mulai terisak. sesudah meng-
hiburnya, ayah Sandy yang yaitu seorang dokter, memeriksanya dan menemukan
bahwa dia tidak memiliki goresan ataupun memar di tubuhnya.
Dengan penuh syukur, segenap keluarga berterima kasih kepada Tuhan atas per-
lindungan-Nya dalam ibadah malam itu. Tidak ada yang meragukan bahwa para ma-
laikat turun tangan untuk menyelamatkan Sandy dari kematian hari itu. Tuhan telah
menggenapi bagi mereka janji-Nya: “Sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintah-
kan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang
engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu” (Mazmur 91:
11, 12).
PERLINDUNGAN TERHADAP KOMPROMI ROHANI
Kitab Ayub juga memberi tahu kita bahwa Ayub “bangun pagi-pagi dan memper-
sembahkan korban bakaran” untuk setiap anaknya (Ayub 1: 5). Setan mengeluh ke-
pada Allah, “Bukankah Engkau telah membuat pagar sekelilingnya, sekeliling rumah
tangganya, dan sekeliling segala yang dimilikinya ...?”
Ellen White memberi nasihat berikut. “Pada waktu pagi hari pikiran yang per-
tama dari umat Tuhan haruslah tertuju kepada Allah. Pekerjaan duniawi dan kepen-
tingan diri haruslah menjadi hal yang kedua. Anak-anak harus diajar menghargai dan
menghormati jam-jam permintaan doa .... yaitu tugas orang tua, agar setiap pagi dan
petang, oleh doa yang sungguh-sungguh dan iman yang tekun, mendirikan sebuah pa-
gar di sekeliling anak-anak mereka. Dengan sabar mereka harus mengajar anak-anak
mereka—dengan manis budi dan tidak kenal lelah mengajar mereka bagaimana cara-
nya hidup untuk menyenangkan Allah (Membina Anak Bertanggung Jawab, hlm. 548).”
Abraham yaitu pembangun mazbah lain dari Perjanjian Lama. Alkitab menceri-
takan tentang saat dia tiba di tanah Kanaan. “saat itu TUHAN menampakkan diri
kepada Abram dan berfirman: "Aku akan memberi negeri ini kepada keturunan-
mu." Maka didirikannya di situ mazbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri
kepadanya” (Kejadian 12: 7). lalu dia pindah ke Betel dan di sana “Ia mendirikan
di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN” (ayat 8). sebab kela-
paran di negeri itu, Abram pergi ke Mesir. lalu dia kembali lagi ke Kanaan dekat
Betel, “ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil
nama TUHAN” (Kejadian 13: 4). Abram percaya kepada Allah dan menyembah Dia,
dan “maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (Kejadi-
an 15: 6). Belakangan Allah mengubah nama Abram menjadi Abraham (Kejadian 17:
5). Dan dalam Kejadian 18: 18–19 Tuhan berfirman, “Bukankah sesungguhnya Abra-
ham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas
bumi akan mendapat berkat? ... Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkan-
nya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan
yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya
TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.”
Saat Bani Israel siap memasuki Tanah Perjanjian, Musa berkata kepada mereka,
“Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu, Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah TUHAN,
Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap
kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, harus engkau perha-
tikan, Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu, dan
membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam
perjalanan, apabila engkau berbaring, dan apabila engkau bangun” (Ulangan 6: 4–7).
Fokus untuk menyembah Allah dan mengajarkan jalan-jalan-Nya akan mencegah me-
reka menjadi penyembah berhala seperti bangsa-bangsa di sekitar mereka.
Bayangkan hari ini yaitu hari terakhir di Planet Bumi. Raja akan datang! Peka-
baran Tiga Malaikat sudah terdengar dari timur ke barat, dari kutub ke kutub. Seluruh
dunia telah mendengar suara nyaring dari “INJIL KEKAL.” Ya, itu yaitu pekabaran
“SEMBAHLAH DIA [Sang Pencipta] yang menjadikan langit dan bumi” (Lihat Wah-
yu 14). Itu yaitu pekabaran yang sama yang Elia khotbahkan saat dia membangun
kembali mazbah yang rusak di Gunung Karmel, dan lalu berdoa agar Tuhan
mengubah hati orang Israel (lihat I Raja-Raja 18). Ini yaitu pekabaran yang sama,
yang dikhotbahkan oleh Yohanes Pembaptis (Elia kedua) di tepi Sungai Yordan, “Li-
hatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1: 29).
Ini yaitu pekabaran dari para Elia yang hidup di zaman akhir, “Sesungguhnya
Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang be-
sar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa (dan ibu-ibu) berbalik
kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya (dan ibu-ibunya)”—
(lihat Maleakhi 4: 5–6, diparafrase oleh penulis). Dan sekarang ada jeda yang khidmat,
dan pertanyaan yang sungguh-sungguh kepada para orang tua terdengar, “Di mana-
kah kawanan ternak yang diberikan kepadamu, kambing domba yang menjadi kemu-
liaanmu?” (Yeremia 13: 20). Melihat ke sekeliling mereka, keluarga-keluarga mengum-
pulkan orang-orang yang mereka kasihi dalam sebuah lingkaran, dan dengan hati yang
bersyukur dan rendah hati, mereka menjawab, “Sesungguhnya, aku dan anak-anak
yang telah diberikan TUHAN kepadaku!” (Yesaya 8: 18). Hari yang mulia!
Bisakah kita menuntut janji-janji berikut? “Ya. Dapatkah direbut kembali jarahan
dari pahlawan atau dapatkah lolos tawanan orang gagah. Sungguh, beginilah firman
TUHAN: ‘Tawanan pahlawan pun dapat direbut kembali, dan jarahan orang gagah
dapat lolos, sebab Aku sendiri akan melawan orang yang melawan engkau dan Aku
sendiri akan menyelamatkan anak-anakmu’” (Yesaya 49: 24–25). “Semua anakmu akan
menjadi murid TUHAN, dan besarlah kesejahteraan mereka” (Yesaya 54: 13). Bagai-
mana kita dapat membuat semua janji ini menjadi kenyataan bagi keluarga kita hari
ini?
BAGAIMANA Anda TAHU JIKA PENYEMBAHAN Anda
BERKENAN KEPADA ALLAH?
Ada yang mengatakan bahwa manusia yaitu makhluk penyembah. Kita semua
menyembah sesuatu atau seseorang. Beberapa memuja selebritis dunia hiburan. Bebe-
rapa menyembah olahraga (sport). Beberapa menyembah fashion. Beberapa menyem-
bah rekening bank mereka. Jadi kita bertanya, apa atau siapa yang paling banyak men-
dapat perhatian dalam hidup Anda? Itulah siapa atau apa yang Anda sembah. Wahyu
17: 17 mengatakan bahwa pada hari-hari terakhir orang fasik akan “seia sekata ... untuk
memberi pemerintahan mereka kepada binatang itu, sampai segala firman Allah te-
lah digenapi.” Ini berarti bahwa setiap orang akan memilih siapa yang mereka sembah,
dan beberapa memilih penyembahan palsu, mengabaikan Tuhan Pencipta demi do-
rongan duniawi yang bertentangan dengan nasihat dalam Firman Tuhan tentang iba-
dah yang benar, dan memaksa setiap orang untuk menyembah satu tuhan palsu.
Di sisi lain, beberapa orang memusatkan penyembahan mereka pada satu-satunya
Allah yang benar dan Yesus Kristus yang menciptakan setiap manusia. Dia mencipta-
kan kita untuk hanya menyembah Dia. Dalam Yesaya 44: 6, 8 dikatakan, “Beginilah fir-
man TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: ‘Akulah yang terdahulu
dan Akulah yang terlalu ; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.’” Kepada siapa kita
pilih untuk disembah akan mengkristalkan pola pikir kita. Menyembah Tuhan dengan
cara yang telah Dia pilihkan bagi kita menentukan takdir kita dalam hidup, termasuk
hidup yang kekal. Sangat penting bagi kita untuk membuat pilihan yang tepat. Alkitab
berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasa-
an yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Filipi 2: 5). “namun kami memiliki pikir-
an Kristus” (1 Korintus 2: 16). “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera,
sebab kepada-Mulah ia percaya” (Yesaya 26: 3). Jadi kita telah melihat gambaran di
dalam Kitab Suci sebuah peperangan pikiran, dan gagasan, terutama saat kita melewati
hari-hari terakhir dari konflik besar antara yang baik dan yang jahat.
Kita masing-masing harus memutuskan, secara individu, apakah kita memilih pi-
kiran setan atau apakah kita memilih pikiran Kristus. saat anak-anak Israel mema-
suki Tanah Perjanjian, Yosua, pemimpin mereka berkata kepada mereka, “namun jika
kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepa-
da siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di
seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. namun
aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24: 15).
Di rumah tangga Kristen hari ini, ibadah keluarga mengajarkan anak-anak ten-
tang Allah dan rencana-Nya bagi hidup mereka. Hal ini menyampaikan pengetahu-
an tentang Alkitab dan dampaknya dalam kehidupan kita. Itu memberi anak-anak
kesempatan untuk menerima rencana keselamatan di awal kehidupan mereka dan
membangkitkan komitmen untuk melayani Allah dengan sungguh-sungguh. Ke-
tika ibadah keluarga menyenangkan, berpusat kepada Kristus, dan memasukkan
kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan usia, ikatan antara anggota keluarga menjadi
lebih kuat.
BAGAIMANA IBADAH KELUARGA ANDA?
Apakah Anda ingin menjadikan ibadah keluarga sebagai pengalaman yang ru-
tin dan dinamis di rumah Anda? Apakah Anda ingin menawarkan kepada anggota
keluarga Anda manna rohani yang segar setiap hari dari hubungan yang bertumbuh
dengan Tuhan? Mungkinkah saat ibadah keluarga bisa menjadi waktu yang menye-
nangkan bagi semua anggota keluarga?
saat John Elick dan istrinya pergi menginjil ke hutan Amazon yang terletak di
negara Peru, mereka memiliki burung beo sebagai hewan peliharaan keluarga. Burung
beo mendengar mereka menyanyikan sebuah lagu saat mereka merayakan ibadah. Se-
telah beberapa saat, saat hampir waktunya untuk ibadah keluarga, burung beo akan
mulai menyanyikan lagu ibadah mereka meskipun belum ada yang datang, sebab dia
tahu itu yaitu waktu ibadah. Ya, ibadah keluarga harus menjadi kebiasaan rutin dua
kali sehari, jika memungkinkan, meskipun salah satu anggota atau lebih tidak dapat
hadir.
Cobalah ajak anak-anak berpartisipasi dalam ibadah keluarga. Dalam satu keluar-
ga, saat kedua anak laki-laki itu masih awal remaja, saat semuanya sudah berkum-
pul, sang ayah akan membagikan secarik kertas. Dia berkata, "Kita telah melakukan
banyak hal bersama, saya ingin kamu membuat daftar pengalaman paling menarik
yang kita pernah alami sebagai sebuah keluarga." Semua orang mulai menulis. Sete-
lah beberapa saat, mereka membuat tabulasi catatan. Betapa terkejutnya Ayah saat
dia membaca semua daftar. Apa yang masuk lebih dulu? Itu yaitu liburan keluarga
dengan kano di Sungai Pierre Marquette, salah satu sungai tercepat di Semenanjung
Bawah Michigan. Anak laki-laki itu naik ke satu kano. Ayah dan Ibu naik ke sampan
kedua dengan makanan, kantong tidur, dan tenda mereka.
Mereka bahkan belum melewati belokan pertama di sungai berarus deras dan ma-
sih menyesuaikan muatan mereka saat "boom!" kano mereka menabrak batang kayu
yang terendam dan terbalik. Kamera Canon baru ayah jatuh ke bawah dan dia menye-
lam untuk mengambilnya. Mereka akhirnya sampai di perkemahan pertama sesudah
gelap. Mereka mendirikan tenda basah dan menyalakan api untuk mengeringkan dua
kantong tidur. Putra mereka, John, sedang berjalan di tepi sungai, cekikikan kepada
orang tuanya yang terkejut saat bunyi "gedebuk!" dia tersandung dengan kantong ti-
durnya sendiri yang tertinggal di jalan setapak, dan tanpa sengaja menendangnya ke
sungai. Keesokan harinya anak laki-lakinya Wes sedang berdiri di sampan lain melihat
sarang tawon yang tergantung di dahan pohon saat "Crash!" kano menabrak batu
yang terendam dan dia terlempar dari perahunya. Sungguh liburan 14 hari yang luar
biasa! Dan dari 14 hari itu, hujan terus turun selama 10 hari. namun saat semuanya
berlalu, tidak ada yang terluka, Tuhan telah melindungi mereka, dan mereka berse-
nang-senang bersama sebagai keluarga.
Saat mereka selesai beribadah malam itu, mengingat liburan keluarga mereka,
anak laki-laki itu berkata, “Hai ayah, itu menyenangkan! Mari kita lakukan ibadah se-
perti itu lagi kapan-kapan!”
Pada kesempatan lain, John dan Wes, sedang bangun dan bersiap-siap ke sekolah
saat ibu mereka memanggil semuanya untuk sarapan. Saat mereka masuk ke dapur,
putra-putra yang terkejut itu saling memandang. "Apa masalahnya? Ulang tahunmu?
Tidak. Ulang tahunku? TIDAK!" Meja itu dihias secara menarik dengan berbagai lilin
dan bunga-bunga indah. Ayah berkata, “5 Desember, apa yang terjadi pada tanggal
5 Desember?” Tiba-tiba wajah John berseri-seri. "Aku ingat! Kita dibaptis tiga tahun
yang lalu hari ini!” lalu ibu mengeluarkan sertifikat baptisan yang telah mereka
tandatangani berjanji kepada Yesus untuk mengikuti Dia. Mereka memberi tahu putra
mereka bahwa mereka bangga dengan keputusan mereka dan mereka semua berdoa
sambil berterima kasih kepada Tuhan atas kebaikan-Nya dan untuk kesempatan me-
rayakan baptisan mereka. lalu Ibu membawakan sarapan yang lezat. Tidak ada
yang mengeluh tentang ibadah keluarga itu!
Ada satu kesamaan dari tiga hal di atas, yaitu perayaan. Ibadah keluarga yang efek-
tif mencakup PERAYAAN.
APA YANG MEMBUAT IBADAH KELUARGA EFEKTIF?
Dr. Edgel Phillips, sewaktu menjadi mahasiswa di Universitas Andrews, melaku-
kan penelitian tentang tujuan dan metode ibadah keluarga di Gereja Masehi Advent
Hari Ketujuh. Ia menemukan bahwa cara yang paling ampuh untuk mendekatkan
keluarga kepada Tuhan dan sesama yaitu aspek relasional yang merupakan bagian
alami dari suasana ibadah keluarga.
Interaksi pribadi:
• Saling menyapa dan menyambut satu dengan yang lain
• Berbagi pengalaman hari itu
• Membahas masalah hari itu
• Mengucap syukur atas hal-hal baik yang telah terjadi
• Meminta pengampunan atas kesalahan yang dilakukan satu sama lain
• Berbicara tentang apa arti Tuhan bagi setiap individu
• Mengutip janji-janji Alkitab.
Penegasan pribadi:
• Rasa memiliki dan penerimaan
• Perasaan cinta dan kesejahteraan,
Berdoa bersama:
• Berdoa bersama di pagi dan sore hari
• Mengundang Roh Kudus ke dalam kehidupan semua orang
• Membagikan permintaan doa
• Membentuk lingkaran sambil berdoa secara bergantian.
Doa yang efektif mencakup dua aspek penting.
1. Kita berbicara kepada Tuhan. Kita berbagi ucapan syukur kita, pujian kita,
kebutuhan kita, dan permintaan kita. Kita berdoa untuk anak-anak kita, un-
tuk mereka yang berperang melawan setan, dan untuk kebutuhan sehari-
hari kita.
2. Tuhan berbicara kepada kita. Doa yaitu komunikasi dua arah—kita tidak
hanya berbicara kepada Tuhan namun kita sering lupa mendengarkan suara-
Nya yang berbicara kepada kita. Ya, dalam doa, kita mendengarkan Tuhan
saat kita menyelidiki dan mempelajari Firman Tuhan—Alkitab. Tuhan juga
dapat berbicara kepada kita dalam keheningan melalui suara Roh Kudus, teta-
pi kita mungkin tidak selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan suara-
Nya. Samuel yang masih kecil mendengar suara Tuhan memanggilnya, “Sa-
muel, Samuel.” Kitab Suci juga mengatakan, "dan telingamu akan mendengar
perkataan ini dari belakangmu: “Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya, entah
kamu menganan atau mengiri” (Yesaya 30: 21).
Bertahun-tahun yang lalu, John B. Youngberg dan istrinya, Millie, berlutut, mem-
baca dan mengeklaim janji itu. John baru saja menyelesaikan gelar doktornya dan
membutuhkan pekerjaan. Beberapa pemimpin gereja telah menghubunginya dan me-
nawarkan pekerjaan, namun posisi ini sepertinya tidak tepat sebab istrinya be-
kerja di Universitas Andrews (AU). Akankah Tuhan mendengar doa mereka untuk
pekerjaan yang lebih dekat dengan Universitas Andrews? Saat mereka dengan sung-
guh-sungguh memohon kepada Tuhan, bel pintu berbunyi. sesudah menjawabnya, se-
orang profesor yang terengah-engah melaporkan bahwa dia baru saja datang dari per-
temuan komite profesor di Departemen Pendidikan dan bahwa mereka telah dipilih
untuk direkomendasikan agar John dipekerjakan untuk Program Pendidikan Agama.
Beban mengajar John musim panas pertama itu ringan dan Millie menyarankan
agar mereka memulai seminar tentang Kehidupan Keluarga, yang mereka selenggara-
kan di AU musim panas itu. Seminar ini, yang lalu diberi nama ‘Kehidupan Ke-
luarga Internasional’ (Family Life International), berlanjut selama 25 tahun di AU, telah
melayani banyak siswa dari enam divisi Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Apakah
Tuhan mendengar dan menjawab doa mereka? Ya! Melebihi semua yang mereka bisa
tanyakan atau pikirkan!
APA HASIL IBADAH KELUARGA YANG EFEKTIF?
Persatuan keluarga yaitu salah satu hasil ibadah keluarga yang konsisten. Ada
pepatah yang mengatakan, "Keluarga yang berdoa bersama, tetap bersama." Ilustra-
si ini membandingkan keluarga dengan roda yang jari-jarinya menyatu ke hub pu-
sat. Hub melambangkan Yesus. Anggota keluarga yaitu jari-jari roda. Semakin dekat
jari-jari datang ke hub, semakin dekat satu sama lain. Demikian pula, semakin dekat
anggota keluarga datang kepada Yesus—pusat terbesar—semakin bersatu mereka satu
sama lain.
Manfaat lain dari ibadah keluarga yaitu komunitas gereja yang lebih kuat,
ini merupakan hasil alami dari keluarga yang berkomitmen kuat untuk kemuliaan
Allah. Manfaat-manfaat ini akan menciptakan kesempatan menjangkau masyarakat
secara lebih luas, penginjilan dan kesaksian hidup yang lebih menguatkan, dan efek
yang nyata pada komunitas sekitar. Apa yang telah dihancurkan oleh budaya dunia-
wi hari ini, akan dipulihkan oleh pekabaran Elia “Dan Elia, saat dia datang akan
memulihkan segala sesuatu” (Matius 17: 10–11). Ellen White menyatakan, “Pemu-
lihan dan peningkatan umat manusia dimulai di rumah tangga” (Membina Keluarga
Sehat, hlm. 317).
Seperti yang telah kita bicarakan tentang berbagai aspek ibadah keluarga, Anda
mungkin mengatakan bahwa kita telah mengumpulkan batu-batu yang pecah agar kita
dapat membangun kembali mazbah di rumah kita. Itu penting, namun sudah saatnya
bagi kita untuk membahas yang terpenting. Kunci keberhasilan ibadah keluarga ada-
lah menjadikan Kristus sebagai pusat segalanya. Korban tanpa dosa, yang melambang-
kan Anak Domba Allah, ada di mazbah. Dia menebus kita untuk diri-Nya sendiri,
menanggung dosa kita dan mempersiapkan kita untuk kerajaan-Nya yang mulia.
Seorang ayah telah melakukan perjalanan beberapa hari untuk bekerja dan kem-
bali ke rumah pada hari Jumat. Dia mengumpulkan keluarga untuk beribadah pada
jam matahari terbenam. Untuk topik malam itu, dia merasa terdorong untuk mem-
bagikan ayat-ayat tentang pengorbanan Yesus dari kitab Yesaya ini, secara pribadi,
“namun dia tertikam oleh sebab pemberontakan kita, dia diremukkan oleh sebab
kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepa-
danya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh (TB)” (Yesaya 53: 4–5). Sang ayah
melanjutkan penjelasannya dengan menggambarkan perjalanan menyakitkan Yesus di
luar tembok Yerusalem ke Kalvari, tempat di mana para penjahat dieksekusi.
Dia juga membagikan dengan keluarga tujuh perkataan Yesus di kayu salib. Tiga
perkataan Yesus yang pertama yaitu untuk orang lain. Pertama, saat para prajurit
memakukan paku-paku besar pada tangan dan kaki Yesus, Dia berdoa, "Ya Bapa, am-
punilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat"(Lukas 23: 34). Ka-
ta-kata kedua Yesus yaitu untuk pencuri di sebelah kanan-Nya yang percaya bahwa
Yesus sedang mati untuk dosa-dosanya, dan dia bertobat. Yesus memberi tahu pencuri
itu bahwa dia memang akan bersama-sama dengan Dia di firdaus (Lukas 23: 43). Dan
lalu , Yesus, melihat ibu-Nya dihiburkan oleh murid-Nya yang terkasih, Yohanes,
di kaki salib, menyuruh Yohanes untuk menjaga ibu-Nya sesudah Dia pergi (Yohanes
19: 26–27).
Sang ayah melanjutkan. Empat perkataan terakhir yaitu tentang diri-Nya sen-
diri. Yesus menderita di sana untuk KAMU—Ralph dan Grace dan Bobby, dan un-
tuk Ayah dan ibu. Dia mengambil tempat kita. Dia yaitu pengganti kami. Selama
penderitaan yang luar biasa ini, Yesus tidak dapat melihat wajah Bapa-Nya meskipun
Bapa berada sangat dekat dengan salib, diselimuti kegelapan. Yesus menangis dengan
suara nyaring, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:
46). Yesus menderita kehausan dan meminta minum, “Aku haus” (lihat Yohanes 19:
28). Dia belum minum sejak malam sebelumnya di perjamuan terakhir. Dia menjadi
haus dalam kondisi manusia-Nya sehingga kita dapat memiliki harapan untuk mi-
num dengan bebas dari Sungai Kehidupan di surga suatu hari nanti. lalu dengan
suara menggelegar yang sepertinya bergema di seluruh ciptaan, Yesus berseru, “Su-
dah selesai!” (Yohanes 19: 30). Rencana keselamatan bagi semua orang berdosa telah
selesai. Dia yang turun dari surga untuk menyelamatkan—Ralph, Grace, Bobby, Ibu,
Ayah, dan semua orang di dunia telah berhasil! Setan menjadi musuh yang ditakluk-
kan! lalu , saat kepala Yesus yang bermahkota duri terkulai dalam kematian,
Dia mengulangi Mazmur kesukaan, “Ke dalam tangan-Mulah Kuserahkan nyawa-Ku”
(lihat Lukas 24: 46). Sang ayah melihat ke sekeliling ruang tamu dan melihat ada air
mata di mata dari ketiga anaknya dan di mata ibu juga. Dia berkata, “Oh, betapa Yesus
sangat mengasihi kita masing-masing!” Betapa besar sukacita dan harapan yang kita
miliki sebab pengorbanan-Nya yang besar!
Ibu, Ayah, anak-anak, sebentar lagi kita akan mengadakan “ibadah keluarga” yang
lain. Itu tidak akan terjadi di dunia yang menyedihkan ini namun di surga. Yesus akan
mengumpulkan bersama “yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga
dan di atas bumi menerima namanya” (Efesus 3: 15). Perhatikan, “semua keturunan”
kita yang telah terpisah selama 6.000 tahun akan dipersatukan di sana. lalu se-
tiap lutut akan bertelut dan setiap lidah akan mengaku bahwa Dia yaitu Raja di atas
segala raja dan Tuhan di atas segala tuan! (Yesaya 45: 23 dan Filipi 9–11).
42 |
Jasmine Fraser, Ph.D., yaitu Asisten Profesor dari Discipleship in Lifespan Education dan
Direktur dari Program Discipleship & Lifespan Education di Andrews University di Berrien
Springs, Michigan, AS
DENGAN SEPENUH
HATIMU UNTUK
SEUMUR HIDUP!
OLEH JASMINE FRASER
AYAT-AYAT
“(1) Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, sebab haruslah demi-
kian. (2) Hormatilah ayahmu dan ibumu--ini yaitu suatu perintah yang penting,
seperti yang nyata dari janji ini: (3) supaya kamu berbahagia dan panjang umur-
mu di bumi. (4) Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam
hati anak-anakmu, namun didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan”—
Efesus 6: 1–4.
“(4) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! (5) Ka-
sihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu
dan dengan segenap kekuatanmu. (6) Apa yang kuperintahkan kepadamu pada
hari ini haruslah engkau perhatikan, (7) haruslah engkau mengajarkannya ber-
ulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk
di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring
dan apabila engkau bangun. (8) Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai
tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, (9) dan ha-
ruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu ger-
bangmu”—Ulangan 6: 4–9.
_____________________________43
PENDAHULUAN
Ada satu cerita mengenai seorang pemuda yang dihormati tetangganya, seorang
wanita tua. Setiap hari pemuda itu akan membantu wanita tua itu dengan tugas-tugas
kecil di halaman rumahnya atau membantu dengan membawa barang dari mobilnya.
Suatu hari wanita tua itu, sebab takjub dan penasaran, bertanya kepada pemuda itu,
“Nak, bagaimana kamu menjadi pemuda yang begitu baik?”
Pemuda itu menjawab, “Nah saat saya masih kecil, saya memiliki masalah ‘dise-
ret’. Sebelum wanita tua yang kebingungan itu menanyakan jawabannya lebih lanjut”,
pemuda itu melanjutkan, “Anda lihat, orang tua saya menyeret saya ke gereja untuk
ibadah Sabat, menyeret saya ke gereja untuk kebaktian Minggu malam, dan menyeret
saya ke gereja untuk pertemuan doa Rabu malam.”
Di balik sedikit warna humor dalam cerita ini yaitu kenyataan serius dari upa-
ya orang tua dalam menuruti ayat “didiklah mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan”
(Efesus 6: 4). Saya percaya banyak orang tua melakukan yang terbaik untuk membe-
sarkan anak-anak yang saleh. namun saat masyarakat memasuki era pasca-Kristen1
tanggung jawab mengasuh dan menegur anak-anak demi kehormatan Tuhan menjadi
semakin berat.
Konsep keluarga dilembagakan pada saat penciptaan dan ditetapkan secara Ila-
hi untuk menunjukkan dan menyatakan sifat-sifat karakter Allah, menjaga identitas
dan kesejahteraan setiap anggota keluarga, dan menyediakan kepemimpinan yang
kuat untuk menciptakan masyarakat yang lebih stabil.2 Keluarga mempunyai peranan
penting dalam memperkuat atau menghancurkan masyarakat. Seiring waktu, kita me-
lihat bagaimana kesucian, peran, dan tujuan keluarga terancam oleh sifat alamiah dan
pengaruh dunia yang begitu buruk. Konsekuensinya, kita harus menyadari bahwa di-
butuhkan lebih dari sekadar menyeret atau memaksa anak-anak ke dalam lingkungan
ibadah untuk menanamkan praktik-praktik yang memuliakan Tuhan.
Kami dikejutkan oleh penelitian yang sedang berlangsung yang mengungkapkan
penurunan kehadiran di gereja oleh remaja dan orang dewasa muda. Banyak anak
muda kehilangan kesetiaan dan pengabdian mereka pada agama dari mana mereka
berasal.3 sesudah pandemi global, masalah keluarga menjadi lebih kompleks sebab ba-
nyak keluarga, terutama yang memiliki anak kecil, bergelut dengan tantangan men-
tal-emosional yang memengaruhi proses perkembangan anak dan kualitas hubung-
an orang tua-anak. Sebagai sebuah gereja, penting bagi kita untuk menemukan cara
dalam membantu kaum muda kita menegaskan kembali iman kepada Kristus dan
tetap terhubung melalui ibadah bersama. Pada saat yang sama, sangat penting bagi
kita juga untuk menanggapi kebutuhan orang tua dengan anak-anak yang lebih ke-
cil, membantu mereka mengurangi tantangan mental emosional dan memberdayakan
anak-anak mereka dalam mengembangkan iman dan komitmen seumur hidup kepada
Kristus dan komunitas iman.
Penelitian telah menunjukkan bahwa salah satu faktor yang berkontribusi terha-
dap kedewasaan iman, nilai-nilai kehidupan, dan komitmen kepada Kristus dalam
komunitas iman yaitu proses komunikasi antara orang tua dan anak-anak selama
tahun-tahun perkembangan mereka.4 Studi juga mengungkapkan bahwa "komunikasi
keluarga yang positif mengarah pada pengembangan nilai dan kompetensi sosial pada
anak-anak."5 Banyak upaya sering dicurahkan untuk membantu meningkatkan ko-
munikasi di antara pasangan. Akibatnya, penting juga bagi kami untuk menyediakan
referensi materi yang membantu orang tua dalam mengembangkan dan memelihara
hubungan fungsional dengan anak-anak mereka.
KONTEKS DAN APLIKASI
Hubungan orang tua–anak yaitu salah satu hubungan terpenting yang akan
dialami seorang anak. Pengaruh hubungan ini melampaui masa kanak-kanak dan
memengaruhi perkembangan mereka sebagai orang dewasa, termasuk hubungan per-
kawinan yang akan mereka jalin.6 Faktor-faktor seperti perilaku dan gaya pengasuhan
orang tua, gaya keterikatan anak, dan praktik kebersamaan, memengaruhi kualitas hu-
bungan pola asuh orang tua–anak dan memengaruhi perkembangan mental, emosi-
onal, dan rohani anak secara positif atau negatif. Perhatian dan tanggapan orang tua
terhadap kebutuhan fisik dan emosional anak menentukan kualitas keterikatan emosi-
onal seorang anak serta dinamika hubungan orang tua–anak. Intinya, hubungan orang
tua-anak yaitu penentu yang signifikan dalam kualitas hidup seseorang sepanjang
umur dan lintas generasi.
Tidak mengherankan bahwa Alkitab penuh dengan instruksi untuk mengem-
bangkan dan memelihara hubungan fungsional orang tua–anak. Meskipun banyak
hal berubah dengan pasang surut budaya dan masyarakat, firman Tuhan tetap tidak
berubah. Hal ini menguntungkan dalam membimbing orang tua dalam membangun
hubungan yang fungsional dengan setiap anak.
Hari ini kita akan meninjau kembali beberapa nasihat yang diberikan Alkitab ten-
tang dinamika hubungan orang tua–anak dan, dalam prosesnya, menyarankan cara-
cara di mana orang tua dapat mengembangkan dan memelihara hubungan yang sehat
dengan anak-anak mereka. Pada akhirnya, tujuan kami yaitu untuk memperlengkapi
orang tua, membantu mereka memberdayakan anak-anak mereka untuk komitmen
seumur hidup kepada Kristus dan gereja.
Salah satu perikop Kitab Suci yang sering dijadikan pedoman dalam hubungan
orang tua–anak yaitu Efesus 6: 1–4. Dengan penggunaan perikop ini, penekanan-
nya biasanya ada pada ayat 1–3. Fokusnya sering menyoroti kebutuhan anak-anak
untuk patuh kepada orang tua dengan segala cara. Namun, ayat 4 sering kurang di-
perhatikan. Tidak diragukan lagi bahwa Allah memerintahkan anak-anak untuk
berjalan dalam ketaatan kepada orang tua mereka dan akhirnya kepada-Nya. namun
perlu ditekankan di sini bahwa salah satu ciri dari setiap hubungan fungsional yang
sehat yaitu mutualitas. Menumbuhkan mutualitas dalam hubungan apa pun ber-
arti memperhatikan kebutuhan kedua belah pihak dalam hubungan ini . Oleh
sebab itu, pertemuan relasional orang tua–anak tidak boleh menjadi transaksi sepi-
hak di mana orang tua memberi aturan dan peraturan kepada anak-anak. Seba-
liknya, harus ada tingkat pertukaran dengan timbal balik yang sesuai antara orang
tua dan anak.
Kebersamaan dalam hubungan orang tua–anak didasarkan pada “saling peduli
dan menghormati serta komunikasi yang terbuka.”7 Ini berarti bahwa orang tua diberi
tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang aman di mana kebutuhan anak-
anak terpenuhi secara memadai, perhatian dan minat mereka diakui dan ditangani,
dan kepercayaan mereka berkembang. Kepercayaan sangatlah penting dalam pertu-
karan relasional antara anggota keluarga serta hubungan yang dipupuk setiap anggota
keluarga dengan Tuhan. Pada saat yang sama, anak-anak diingatkan untuk menanggapi
dengan patuh kepada orang tua mereka. Praktik mutualitas dalam hubungan orang
tua-anak dikaitkan dengan lebih sedikit masalah perilaku dan peningkatan kompe-
tensi sosial.8 Pada akhirnya, baik orang tua maupun anak-anak memperoleh manfaat
secara mental, emosional, dan spiritual dalam adanya hubungan mutualitas.
Penting untuk dicatat bahwa model mutualitas klasik tertanam dalam Kitab Suci.
Alkitab memakai bahasa pengasuhan untuk menjelaskan “hubungan antara Allah
Pencipta dan ciptaan”9 di mana Tuhan berperan sebagai Bapa. Bukti mutualitas orang
tua–anak terlihat dalam Alkitab melalui undangan yang memikat untuk “marilah
berperkara” dengan Allah dan, dalam prosesnya, mengalami kasih dan belas kasihan
kebapaan-Nya (Yesaya 1: 18; Mazmur 103: 13; 2 Korintus 6: 18). Datang kepada Allah
Bapa dan mengalami simfoni interaksi Ilahi–manusia setiap hari, menjadi dasar bagi
hubungan orang tua dengan anak-anak mereka. Hubungan orang tua dengan Allah
sebagai Bapa sangat penting sewaktu mereka berusaha untuk mengajar dan membim-
bing anak-anak mereka di jalan Tuhan. Hampir tidak mungkin untuk mengajar ten-
tang suatu topik atau memperkenalkan seseorang yang tidak begitu kita kenal. Demi-
kian pula, sulit bagi orang tua untuk mengajar seorang anak tentang Tuhan jika kita
tidak mempunyai hubungan pribadi dengan-Nya.
Para orang tua, saat Anda berusaha untuk mengintegrasikan praktik mutualitas
dalam hubungan Anda dengan setiap anak, saya mendorong Anda untuk merenung-
kan model alkitabiah tentang hubungan orang tua–anak ini. Biarkan pengalaman
Anda dengan Bapa surgawi membimbing hubungan Anda dengan anak-anak Anda.
Perikop lain dari Kitab Suci yang menjadi dasar dalam pemahaman dan praktik
hubungan fungsional orang tua–anak ditemukan dalam Ulangan 6: 4–9. Beberapa
pelajaran tentang bagaimana orang tua harus memuridkan anak-anak mereka ter-
tanam dalam perikop ini. Dalam konteks ini, kita akan fokus pada tiga poin utama
yang saya yakini sangat penting dalam membantu orang tua dalam perjumpaan re-
lasional mereka dengan anak-anak mereka. Poin-poin ini tertanam dalam tanggung
jawab orang tua untuk 1) mendengar Tuhan, 2) mengasihi Tuhan, dan 3) mengajar
anak-anak.
MENDENGAR TUHAN
Ulangan 6 ayat 4 menggemakan panggilan nyaring untuk mendengar Tuhan:
“Dengarlah, hai orang Israel!” Penting untuk diperhatikan bahwa panggilan terse-
but tidak hanya kepada orang tua; itu untuk seluruh bangsa Israel dan pada akhir-
nya untuk kita semua. Panggilan untuk mendengar yaitu dasar dari tujuan hidup
seseorang. Pendengaran memberi arahan atau instruksi tentang menjadi atau
mengenai tugas tertentu. Tanggapan kita terhadap panggilan untuk mendengar bisa
spontan, selektif, atau penuh perhatian. Respons spontan yaitu atribut alami dari
panca indera kita (misalnya: melihat, mengecap, merasakan, mencium, dan mende-
ngar). Secara spontan, kita mendengar percakapan orang saat kita bepergian setiap
hari. Kita mendengar kicauan burung atau gemerisik dedaunan yang bergoyang ter-
tiup angin, namun seringkali tidak menanggapi secara langsung apa yang kita dengar
dalam konteks ini.
Tingkat pendengaran lainnya yaitu selektif: sebuah proses di mana kita memilih
untuk mendengar sesuatu yang diinginkan atau penting bagi kita dan seringkali me-
nyaring yang tidak diinginkan. Orang tua mendengar tawa yang menyenangkan atau
panggilan mendesak seorang anak di atas semua suara lain di taman bermain yang
ramai. Dengan pendengaran selektif, respons kita biasanya didasarkan pada hasil yang
diinginkan atau diantisipasi dari situasi tertentu.
Pendengaran tingkat ketiga yaitu pendengaran penuh perhatian: proses kewas-
padaan mental dan rohani terhadap apa yang dikomunikasikan dengan niat untuk
bertindak berdasarkan apa yang didengar. Dalam konteks ini, kita akan fokus pada
pendengaran penuh perhatian saat kita berusaha memahami apa yang dikomunikasi-
kan dalam ayat 4. Musa, hamba Allah, memanggil Israel untuk mendengar, mende-
ngarkan secara fisik dan mental seraya mengamati apa yang dikomunikasikan, de ngan
maksud untuk bertindak sesuai dengan apa yang mereka dengar. Panggilan untuk
mendengar yaitu panggilan kepemilikan; itu memberi validasi identitas mereka
sebagai anak-anak Allah. Tapi itu juga yaitu suatu panggilan untuk merenungkan
Satu Tuhan yang benar. Sebagai sebuah bangsa, Israel berada di ambang tanah perjan-
jian, sebuah lingkungan yang dipenuhi dengan banyak ilah dan penyembahan berhala.
Mereka perlu diingatkan akan Tuhan yang menjadi milik mereka dan Yang setia me-
melihara mereka dalam segala situasi kehidupan. Mereka perlu diingatkan agar mere-
ka tidak kebingunan akan Satu-satunya Tuhan yang benar di antara berhala-berhala
palsu yang ada di tanah perjanjian.
Seperti Israel di masa lalu, panggilan untuk mendengar datang kepada kita seka-
rang saat kita membaca Firman Tuhan dan bersekutu dengan-Nya dalam doa. Pang-
gilan khusus untuk mendengar Tuhan ini yaitu untuk semua orang, termasuk para
orang tua yang berkeinginan untuk membesarkan anak-anak mereka dalam kasih dan
nasihat Tuhan. Di tengah kebisingan budaya dan masyarakat kita, terkadang sulit un-
tuk mendengar dengan jelas apa yang Tuhan katakan kepada kita. Untuk alasan ini,
kita harus tekun melatih telinga rohani kita untuk mendengar apa yang Tuhan katakan
kepada kita masing-masing dalam keadaan apa pun.
Kita melatih telinga rohani kita untuk mendengar Tuhan melalui pembacaan Ki-
tab Suci dengan penuh perhatian, sebab itu yaitu “pelita bagi kakiku dan terang
bagi jalanku” (Mazmur 119: 105). Kita juga melatih telinga kita untuk mendengar Tu-
han saat kita beristirahat dalam waktu tenang bersama-Nya. Melalui tulisan-tulisan
yang diilhami, kita diingatkan bahwa: Kita harus secara pribadi mendengar [Allah]
berbicara ke dalam hati. saat setiap suara lain dibungkam, dan dalam kehening-
an kita menunggu di hadapan-Nya, keheningan jiwa membuat suara Tuhan lebih je-
las. Dia meminta kita, “Diamlah, dan ketahuilah bahwa Akulah Allah” (Mazmur 46:
10). Hanya di sinilah istirahat sejati dapat ditemukan. Dan ini yaitu persiapan yang
efektif bagi semua orang yang bekerja bagi Tuhan. Di tengah kerumunan orang yang
terburu-buru, dan ketegangan aktivitas kehidupan yang padat, jiwa yang disegarkan
akan dikelilingi oleh suasana terang dan damai. Kehidupan seperti ini akan menghem-
buskan keharuman, dan akan mengungkapkan kekuatan Ilahi yang akan menyentuh
hati manusia.10
MENGASIHI TUHAN
sesudah kita belajar mendengar, selanjutnya yaitu perintah untuk mengasihi
Tuhan dengan sepenuh hati, jiwa, dan kekuatan. Dalam perintah untuk mengasihi,
kita tidak boleh melewatkan penekanan pada sejauh mana kita harus mengasihi Allah.
Panggilan untuk mencintai Tuhan di atas segalanya menunjukkan tindakan pengabdi-
an dan ketaatan, yang muncul dan didorong oleh kapasitas mental dan emosional kita.
Mencintai Tuhan secara terutama juga berarti menyukai-Nya, memiliki kasih sayang
dan kerinduan untuk-Nya; itu yaitu panggilan untuk menyenangkan Dia. Mencintai
Tuhan menyiratkan pikiran yang berbakti dan merindukan kelembutan serta kasih
sayang-Nya; itu melibatkan keterikatan emosional yang kuat dengan-Nya dan keingin-
an untuk hidup di hadirat-Nya. Mengasihi Tuhan secara terutama berarti bahwa Dia
menjadi satu-satunya objek kesetiaan dan penyembahan kita.
Panggilan untuk mencintai ini menjauhkan kita dari dua ekstrem: pengakuan cin-
ta yang tidak serius kepada Tuhan sebab kurangnya semangat, hasrat, dan antusias-
me tanpa penurutan akan hukum-Nya. “Di mana kasih sejati kepada Allah diam di
hati manusia, itu akan diwujudkan dalam keinginan serta kepatuhannya pada hukum
Allah.”11 Orang tua dan anak-anak sama-sama dipanggil untuk mengasihi Allah se-
cara luar biasa, namun tanggapan orang tua terhadap perintah ini kemungkinan besar
akan memiliki dampak jangka panjang dan juga pendek pada kemampuan anak-anak
mereka untuk mengasihi Allah secara luar biasa. Apa yang dipraktikkan orang tua
menjadi alat bantu visual bagi anak-anak, dan mereka lebih cenderung memahami apa
yang mereka lihat daripada apa yang diperintahkan. Pada akhirnya, saat orang tua
menanggapi dengan keinginan yang mendalam akan cinta kepada Allah, pengalaman
mereka memengaruhi hubungan dengan anak-anak mereka dan menjadi contoh bagi
pertumbuhan anak dalam mencintai Allah.
MENGAJAR ANAK-ANAK ANDA
sesudah mengindahkan perintah untuk mendengar dan mengasihi Tuhan, orang
tua lalu diberi tanggung jawab untuk mengajar anak-anak mereka. Mereka harus
menorehkan atau mengukir perintah Tuhan dalam dimensi kognitif dan afektif anak-
anak mereka. Dengan melakukan itu, mereka dibebani dengan tugas untuk melanjut-
kan dalam diri anak-anak mereka hubungan perjanjian yang mereka miliki dengan
Allah. Ini menarik untuk dicatat bahwa ayat 6 menunjukkan bahwa Tuhan memerin-
48 | _____________________________
tahkan Israel untuk menyimpan apa yang Dia katakan kepada mereka di dalam hati
mereka. Menjaga hati berarti menghargai dan melindungi dengan sungguh-sungguh.
Mereka harus menjaga janji-janji Allah dan pengalaman mereka akan kuasa-Nya yang
nyata dalam hidup mereka. sesudah melakukannya, mereka harus mengajar dengan
banyak pertimbangan kepada anak-anak mereka. Melalui tanggapan pribadi terhadap
panggilan untuk mendengar Allah dan mengasihi Dia secara luar biasa, orang tua se-
karang menjadi alat bantu visual yang melaluinya anak-anak mereka dapat menafsir-
kan ajaran yang diberikan kepada mereka dan bertumbuh dalam pengetahuan dan
pemahaman mereka tentang Allah.
Dalam menyoroti pengaruh dan tanggung jawab orang tua terhadap perkem-
bangan dan kesejahteraan rohani anak-anak mereka, Ellen White menyatakan bahwa
“sangat bergantung pada orang tua” dan bahwa “dalam mengolah apa yang terbaik
dalam diri mereka, [mereka] memberi pengaruh untuk membentuk masyarakat
dan mengangkat generasi mendatang.12 Melalui ajaran yang mereka berikan, orang tua
harus mewariskan kepada anak-anak mereka warisan pengalaman kesetiaan Allah dan
bukti pengabdian mereka kepada-Nya.
Panggilan untuk mengajarkan perintah Allah kepada anak-anak secara berulang-
ulang dan di mana pun mereka berada, menunjukkan pentingnya perintah Allah dan
bagaimana itu semua akan memberi dampak yang besar dalam hidup mereka.
Pengajaran seperti itu membutuhkan waktu yang lama dan tidak terbatas hanya pada
saat ibadah Sabat, kebaktian Minggu malam, dan pertemuan doa Rabu malam. Peng-
ajaran antara orangtua-anak tidak terbatas pada pertemuan pagi dan malam di altar
keluarga. Ajaran Tuhan bersifat dinamis, merangkum kapasitas kognitif, afektif, dan
perilaku perkembangan anak. Ajaran-ajaran ini melandasi hubungan perjanjian yang
mengikat masing-masing kita kepada Tuhan seumur hidup dan dilanjutkan kepada
generasi selanjutnya.
Instruksi untuk mengajar anak-anak melalui berbagai metode, tempat, dan konteks
menunjukkan bahwa Tuhan harus dihormati dan dimuliakan dalam setiap bidang kehi-
dupan kita. Untuk memeteraikan mereka di tangan dan di dahi mereka, berarti bahwa
mereka harus mengizinkan Firman Tuhan menuntun setiap pikiran dan tindakan. Me-
nuliskan Firman Tuhan di ambang pintu dan gerbang rumah berarti membiarkan perin-
tah-perintah Allah untuk selalu meresapi setiap pengalaman hidup. Dalam budaya masa
kini, sudah menjadi praktik umum umat Kristiani untuk mengkotak-kotakkan hidup
mereka ke dalam spiritual dan sekuler, sebuah proses di mana Kristus dan praktik nilai-
nilai Kristiani sering dikeluarkan dari bagian hidup tertentu. Kemauan untuk mengajar
dan dengan demikian memuliakan Tuhan dalam semua aspek kehidupan kita merusak
kebiasaan untuk mengkotak-kotakkan kehidupan dan membedakan antara aspek seku-
lar dan rohani. Tuhan ingin agar Ia menjadi nyata di semua bagian kehidupan kita.
Dalam konteks ini, kita telah mendiskusikan pentingnya hubungan fungsio-
nal orang tua–anak dan kontribusinya terhadap kesejahteraan mental, emosional,
dan rohani kedua orang tua dan anak. Stabilitas hubungan ini ditingkatkan mela-
lui kontak timbal balik dalam proses komunikasi antara orang tua dan anak-anak,
dan tanggapan orang tua dalam “mendengar” dan “mencintai” Tuhan sebagai
yang terutama. saat orang tua meneladani hubungan timbal balik dalam kon-
tak relasional mereka dengan anak-anak mereka, dan menanggapi dengan penuh
ketaatan pada panggilan untuk mendengar dan mengasihi Tuhan, pengalaman-
peng alaman ini berkontribusi pada perkembangan mental, emosional, dan spirit-
ual positif anak-anak dan berfungsi sebagai praktik terbaik dalam proses pemu-
ridan keluarga.
Salah satu cara sederhana agar kita sebagai gereja dapat membantu dalam kon-
tak hubungan orang tua–anak yaitu dengan menciptakan lingkungan di mana
orang tua dipelihara secara rohani dan emosional. Saya percaya bahwa selain pela-
yanan khusus yang kita miliki untuk anak-anak, remaja, wanita, dan pria, kita dapat
membuat pelayanan orang tua yang berfokus pada proses pemuridan mereka sebagai
orang tua. Melalui pelayanan orang tua, kita juga dapat mendukung para ibu dan
ayah dalam membangun dan mempraktikkan kontak timbal balik dalam hubung-
an mereka dengan anak-anak mereka. Sasaran pelayanan atau pemuridan orang tua
yaitu untuk membantu orang tua bertumbuh dan memperkaya pengalaman mere-
ka dengan Allah. Sebagai hasil dari pengalaman ini, orang tua diperlengkapi untuk
menjadi sumber utama pemuridan bagi anak-anak mereka. Pelayanan atau pemu-
ridan orang tua dapat dilakukan melalui model relasional triadik berurutan yang ter-
diri dari hubungan orang tua–gereja, orang tua–anak, dan gereja–anak.13 Ini berarti
bahwa kita berinvestasi dalam mengasuh orang tua, memberdayakan mereka untuk
mengasuh anak-anak mereka secara rohani dan emosional, dan melalui pelayanan
kita kepada anak-anak, kita menegaskan kembali apa yang ditanamkan oleh orang
tua kepada mereka.
PERJALANAN
KEPUTUSASAAN
OLEH RICK McEDWARD
AYAT
“Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang
tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci”—Yesaya 6: 1.
“(37) Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamana-
kah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan
kami memberi Engkau minum? (38) Bilamanakah kami melihat Engkau seba-
gai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami
memberi Engkau pakaian? (39) Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau
dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? (40) Dan Raja itu akan menjawab
mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan
untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukan-
nya untuk Aku”—Matius 25: 37–40.
Namanya Ahmed*. Kelahiran Suriah. saat dia berusia 7 tahun, perang di Su-
riah terlalu berat untuk keluarganya. Desa mereka berada di garis depan dan sulit
tidur di malam hari sebab seringnya rentetan tembakan atau mortir yang seseka-
li jatuh di dekatnya. Bayangan kematian yang terus menghantui mereka, membuat
orang tua Ahmed mulai berpikir tentang masa depannya. Khawatir anak-anak me-
reka akan dipaksa menjadi pejuang Negara Islam, orang tuanya membuat keputus-
an yang paling sulit ... meninggalkan kehidupan kelas menengah, rumah, furnitur,
pekerjaan, sekolah, teman, dan kerabat mereka, untuk menghindari kengerian pe-
rang dan untuk menyediakan tempat yang aman di mana mereka bisa membesarkan
keluarga mereka.
Dalam pelarian mereka, Ahmed dan keluarganya dibawa dengan bus dari Damas-
kus, namun sebelum tiba di perbatasan, anak laki-laki itu disembunyikan di dalam ko-
per, ditutupi dengan kotak kardus dan harus diam supaya tidak ditemukan. “Ya Tuhan
yang maha pengasih, lindungilah anak-anak kami hari ini,” doa mereka. Begitu mele-
wati perbatasan, orang tua dan anak-anak bernafas, air mata mengalir di wajah orang
tua, mereka berhasil melewati perbatasan ke Lebanon, di mana mereka akan bebas dari
rasa takut.
Setibanya di sana, mereka menghubungi keluarga lain yang mereka kenal. Dengan
tiga keluarga lainnya, mereka berbagi tempat penyimpanan bawah tanah dengan dua
kamar, dan tanpa jendela. Tidak ada udara segar, yang ada hanyalah kegelapan.
Ayah Ahmed, berjuang untuk menjadi "pengungsi", akhirnya mendaftar ke PBB
untuk memulai proses bertahun-tahun tanpa akhir untuk mencari rumah baru di ba-
rat.
Sementara itu, keluarga mereka harus bertahan hidup, dan setiap anggota kelu-
arga perlu berkontribusi. Pekerjaan sulit ditemukan, terutama bagi para pengungsi.
Lebanon menyambut lebih dari satu juta warga Suriah selama rentang waktu 2 tahun,
membuat pekerjaan dan aktivitas yang menghasilkan pendapatan menjadi sangat sulit
untuk didapat.
Anak-anak pengungsi dilarang untuk bersekolah, kalaupun ada, harganya terlalu
mahal untuk keluarga yang sedang berjuang. Ahmed dan saudara-saudaranya meng-
habiskan waktu mereka bermain di jalanan dan gang-gang di lingkungan itu, terka-
dang mendapat sedikit masalah dengan pemilik toko yang ada di sekitar. Suatu hari
mereka mendengar tentang sekolah baru hanya untuk anak-anak pengungsi. Orang
tua mereka bergegas untuk mendaftarkan mereka, namun sekolah itu membatasi mu-
rid-muridnya hanya sebanyak 130 murid saja, namun Ahmed dan saudara perempuan-
nya diundang untuk mengikuti tes masuk.
Saat mereka mengikuti tes masuk, ibu mereka menunggu dengan gugup. saat
anak-anak kembali, salah satu guru ada di sana bersama Ahmed dan saudara perem-
puannya, “Kamu punya dua anak yang sangat baik, mereka bisa mulai sekolah minggu
depan.” Ibunya menangis dan berterima kasih kepada Allah atas kesempatan ini untuk
anak-anak mereka.
Selama sisa sekolah dasar mereka, Ahmed dan saudara perempuannya mengha-
diri Pusat pendidikan Advent di Bourj Hammoud, yang bertempat di Beirut. Di seko-
lah ini Ahmed bertemu banyak guru yang baik, yang memberinya pendidikan yang
baik, keterampilan hidup, dan menunjukkan pola pandang hidup yang positif. Di pu-
sat pendidikan ini, dia bisa tumbuh dan menjadi terang.
Baru-baru ini saya bertemu Ahmed, saya bertanya kepadanya apa yang ingin
dia lakukan dengan hidupnya. “Saya ingin menjadi dokter atau penerjemah,” jawab-
nya. "Tapi apapun itu, saya bertekad untuk memberi yang terbaik untuk melayani
Tuhan dan sesama."
Saya tidak dapat menahan senyum saya, dan sementara saya sedang berbicara de-
ngannya, seorang pria yang lebih tua mendekat, “Dia yaitu pemuda yang hebat, kami
membutuhkan lebih banyak orang seperti dia, terima kasih kepada sekolah Advent
yang telah mendidik dia dengan begitu baik.”
Akibat perang, kelaparan, bencana, dan krisis ekonomi, menurut UNHCR ada 84
juta orang terlantar di dunia. 10–15 juta orang lainnya meninggalkan rumah mereka
sebagai akibat dari perang di Ukraina, sehingga populasi pengungsi dan pengungsi
global mendekati 100 juta. Sekitar satu dari 75 orang di dunia meninggalkan rumah
mereka sebab keadaan di luar kendali mereka.
Sebagai umat Tuhan, bagaimana kita menanggapi keluarga yang mengalami kri-
sis? Apa yang harus kita lakukan dalam menghadapi pandemi pengungsian? Bagaima-
na tanggapan Yesus terhadap keluarga dalam krisis?
Sekilas kita melihat sikap Kristus terhadap orang-orang dalam krisis saat Dia
mengumumkan pelayanan-Nya. Yesus memberi kita ringkasan yang menakjubkan
tentang misi-Nya dalam Lukas pasal 4:
(16) Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada
hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.
(17) Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan sesudah dibuka-Nya, Ia mene-
mukan nas, di mana ada tertulis:
(18) “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk me-
nyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku
(19) untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan peng-
lihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas,
untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”
(20) lalu Ia menutup kitab itu, memberi nya kembali kepada pejabat,
lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.
(21) Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini
sewaktu kamu mendengarnya."
Mengutip dari Yesaya 61: 1, 2 Yesus mengarahkan misinya kepada orang miskin,



