Allah Tritunggal
Memahami Allah harus dimulai dari kesadaran
bahwa Allah tak terbatas, melampaui akal manusia
yang sangat terbatas. Jadi, bagaimana mungkin
manusia bisa mempelajari dan “mengurung” Allah
yang tidak terbatas di dalam akalnya yang terbatas.
Akan tetapi, hal itu tidak berarti bahwa kita tidak
bisa menjelaskan siapa Allah. Kita dapat mengenal
Allah sebatas DIA menyatakan diri-Nya kepada
manusia di dalam Firman Allah (Alkitab).
Kemudian harus diingat bahwa ketika berbicara
tentang Allah, kita berbicara mengenai hakikat Allah
yang Roh adanya (Yoh 4:24), bukan materi; tidak
terbatas pada ruang dan waktu (Mazmur 93:2), dan
tentu tidak seperti kita, manusia yang bersifat
materi (Mazmur 90: 4-6). Untuk memahami dan
mengenali pribadi Allah sendiri tidaklah mudah bagi
kita semua umat-Nya. Allah itu Agung dan Maha
Besar, kita tak dapat memahami-Nya secara
langsung.
Kita mengenal bahwa Allah itu Esa dan
terdapat istilah Allah Tritunggal di ke-kristenan.
Konsep Tritunggal itu sendiri, memang tidak
disebutkan didalam Alkitab , namun konsep itu
sendiri telah menjadi fondasi utama dalam ajaran
ke-Kristenan yang muncul dan diakui di Konsili
Nicea I dan tetap bertahan ajarannya hingga
sekarang melalui perjalanan panjang. Maka pada
kesempatan kali ini saya akan memaparkan suatu
pembahasan yang berjudul “Ke-Esaan Tritunggal
Allah” yang di dalamnya mencakup tentang
pengertian Tritunggal Allah, Ke-Esaan Allah beserta
hal-hal lainnya.
A. Allah itu Esa
Umat Kristen percaya pada satu Allah yang tidak
terbatas, berkuasa di surga dan di bumi. Allah pencipta
segala yang ada, kekal dan abadi. Kerajaan-Nya tidak
berkesudahan. Alkitab mengatakan: “Dengarlah, hai
orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu
esa.” (Ulangan 6:4). Dalam bahasa aslinyanya
berbunyi: Yahweh elohenu Yahwe èkhed, artinya Tuhan
yaitu Allah kita, Tuhan saja. Kata èkhad diterjemahkan
dengan kata “Esa” atau “saja”.
Di dalam Alkitab, baik perjanjian lama ataupun
perjanjian baru selalu menyatakan bahwa Allah itu Esa.
Bukti-bukti alkitab yang menyatakan Allah yang esa
terdapat dalam : Ulangan 6:4; 1 Korintus 8:4; Galatia
3:20; 1 Timotius 2:5 sedangkan terdapat tiga pribadi
Kejadian 1:1; 1:26;; Yesaya 48:16; 61:1; Matius 3:16-17;
Matius 28:19; 2 Korintus 13:14.
Tuhan Yang Maha Esa itu : MAHA HIDUP, Hidup-
Nya tidak memakai nafas dan menghidupkan semua
umat dan makhluknya pada semua zaman dan peristiwa
secara turun-temurun/berkesinambungan, sehingga
dapat dikatakan bahwa Tuhan itu sumbernya
hidup/pemberi hidup. Maha hidup-Nya Tuhan tidak
hanya berhenti pada proses hidup antara kelahiran dan
kematian melainkan hidup itu bersifat langgeng atau
kekal, sebagaimana sifat dari Tuhan itu sendiri. Hidup
merupakan titah-Nya, yang tentunya kita hidup tidak
tanpa tujuan dibumi yang diberikan oleh Allah ini. Tujuan
hidup yaitu berproses sampai kembalinya kepada
sumber hidup, yaitu Tuhan.
Tuhan Yang Maha Esa itu : MAHA SUCI, tanpa
cacat dan cela, karena itu umat manusia harus bisa
mewujudkan kebenaran dan keadilan, menjauhkan diri
dari keburukan dan ke-tidak adilan. Selain itu, makna
Tuhan Yang Maha Esa itu Maha Suci yaitu kesadaran
manusia yang mengakui bahwa Tuhan itu suci dan
manusia diciptakan Tuhan juga dengan tujuan suci,
sehingga seharusnya manusia selalu bertindak dan
berprilaku baik. Makna tersebut diwujudkan dalam
ketulus-ikhlasan, kejujuran, dan kesabaran untuk
pencerahan batin kepada sumber hidup yaitu Tuhan
yang Maha Suci.
Tuhan Yang Maha Esa itu MAHA KUASA,
Kekuasaan-Nya meliputi segala sesuatu yang ada.
Yang memegang api akan terbakar, memegang air akan
basah, memakan gula akan terasa manis dan
sebagainya, sehingga mendorong umat manusia dan
makhluk-Nya untuk mencari kenikmatan dan
keselamatan hidup. Seperti pada pepatah mengatakan
kesadaran bahwa segala sesuatu yang ada di atas bumi
dan di bawah langit ini yaitu di bawah kekuasaan
Tuhan Yang Maha Esa. Tuhanlah yang menguasai
segala kehidupan dan kematian, atau semua kejadian
yang ada di alam semesta ini, termasuk hidup dan mati
manusia. Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan
perilaku menyadari keberadaan diri manusia yang tidak
ada apa-apanya, karena semua milik Tuhan. Sikap dan
perilaku tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang
dengan Tuhan Yang Maha Esa. Begitu juga seperti di
sebagian masyarakat Batak bahwa Tuhan itu yaitu
“Debata Mulajadi Nabolon” yang mempunyai pengertian
bahwa Tuhan mempunyai kuasa atas segala ciptaan-
Nya. Kekuasaan-Nya tidak mampu dijangkau oleh
pikiran siapapun.
Tuhan Yang Maha Esa itu MAHA LUHUR, Tuhan
itu asal dari segala asal-usul, sumber kemuliaan,
kesejatian, dan cita-cita tertinggi sehingga tidak ada lagi
yang melebihi Tuhan Yang Maha Esa di atas bumi ini.
Makna tersebut diwujudkan dalam tuntunan luhur dari
Tuhan Yang Maha Esa dalam setiap aspek kehidupan.
Tuhan Yang Maha Esa itu MAHA WELAS ASIH,
Tuhan memberikan welas asih yang tidak pernah habis.
Artinya sikap kasih kepada umat tidak pernah berhenti.
Sifat welas asih ini sudah menyatu dalam ketunggalan
Tuhan dalam setiap diri manusia.
Tuhan Yang Maha Esa itu MAHA
SEMPURNA, Tuhan itu sumber dari segala sumber
kehidupan. Tidak ada yang paling sempurna selain
Tuhan yang Maha Sempurna. Makna tersebut
ditunjukan dengan adanya sikap adil dan bijaksana
dalam mencipta mahluk-Nya yang beragam, sehingga
kedudukan umat manusia akan sama derajatnya
dihadapan Tuhan tanpa membedakan dari segi suku,
agama dan kepercayaan, ras, dan golongan.
B. Allah Tritunggal
Dari beberapa ayat yang ada dalam Alkitab
mengakui bahwa Allah itu yaitu Esa. Namun, dalam
Alkitab ada tiga pribadi yang disebut secara bersama-
sama (Matius 28:19) “Karena itu pergilah, jadikanlah
semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam
nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Ketiga pribadi
tersebut dinyatakan sebagai Allah dan memiliki kualitas
ilahi dalam berbagai hal.
Istilah Allah Tritunggal memang tidak ada
dalam Alkitab tetapi itu metafora yang dinyatakan oleh
Allah melalui Alkitab, bahwa dalam Allah yang Esa itu
ada tiga pribadi. Contoh dalam Karya penyelamatan
Allah Bapa merancang penyelamatan manusia,
sedangkan Allah Anak melakukan ingkarnasi menjadi
manusia yang melakukan penyelamatan melalui
kematian
diatas kayu salib dan melakukan penebusan untuk
keselamatan, sedangkan Allah Roh kudus mengambil
peran melahirkan kembali, atau mencipta kembali
menjadi kelahiran baru yang memungkinkan manusia itu
percaya kepada Allah Anak dan memuliakan Allah
Bapa. Selain karya penyelamatan Tuhan Yesus
memperkenalkan dalam melakukan Baptisan yang
harus dilakukan dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh
Kudus.
Tritunggal berarti Tiga Pribadi di dalam Satu Allah,
atau di dalam satu esensi diri Allah, ada tiga pribadi.
"Tri" berarti tiga dan "Tunggal" berarti satu, Tri+Tunggal
= Tritunggal. Satu cara untuk mengetahui apa yang
diungkap oleh Alkitab kepada kita tentang Tuhan,
bahwa Tuhan yaitu tiga "Pribadi" yang memiliki esensi
sifat ke-Tuhanan yang sama. Dan yang tidak muncul di
dalam Alkitab secara istilah, bukan berarti bukan konsep
Alkitab. Sebaliknya, istilah yang muncul di dalam Alkitab
jika ditafsir secara keliru menjadi bukan kebenaran
Firman Tuhan. Faktanya, konsep atau doktrin Tritunggal
terus menerus muncul di dalam Alkitab.
Allah yang melampaui segala sesuatu. Allah
Yang Esa. Allah yang tidak ada bandingnya dan Allah
menyatakan diri sebagai Allah Tritunggal. Doktrin Allah
Tritunggal yaitu doktrin Monotheisme (percaya hanya
kepada Satu Allah), dan bukan Politheisme (percaya
kepada banyak Allah).
Doktrin Allah Tritunggal termasuk monotheisme,
yang percaya kepada Allah Yang Maha Esa. Tiga
Pribadi bukan berarti tiga Allah, dan satu Allah tidak
berarti satu Pribadi. Tiga Pribadi itu mempunyai sifat
dasar atau esensi (Yunani: Ousia, Inggris: Substance)
yang sama, yaitu Allah. Allah Bapa yaitu Allah. Allah
Anak yaitu Allah, dan Allah Roh Kudus yaitu Allah.
Namun Ketiganya memiliki Satu Ousia, yaitu esensi
Allah. Maka Ketiga Pribadi itu yaitu Satu Allah.
Penjelasanya yaitu satu butir telor, tidak bisa
dikatakan tiga butir telor karena kenyataanya yaitu
satu butir telor. Namun didalam satu butir telor itu ada 3
materi yang hadir bersama sama, yaitu Kulit telor, (
Cangkang telor) Putih telor, dan kuning telor. Masing-
masing materi ini saling ketergantungan satu dengan
yang lain dan tidak pernah secara alami hadir sendiri-
sendiri, misal tiba-tiba keluar hanya putih, atau kuning
atau bahkan cangkangnya, jika demikian orang tidak
akan pernah menyebut itu telor.
Bukti Allah Tritunggal
Bukti-bukti bahwa Allah mempunyai tiga pribadi
atau Allah tritunggal sangat dijelaskan oleh Perjanjian
Baru. Perjanjian Baru juga menunjukkan kesetaraan
mereka. Untuk lebih jelas lagi kita dapat menyimak dan
belajar dari bukti-bukti Firman Tuhan yaitu:
Allah Bapa diakui sebagai Allah (Yoh 6:27; 1 Pet 1:2)
Yesus Kristus diakui sebagai Allah, yaitu dari sifat (Mat
9:4; 28:18-20)
dari berbagai perkara yang dilakukan (Mark 2:1-12; Yoh
12:9), dan dari pekerjaan-Nya (Kol 1:17; Yoh 3-5:27),
dan Yoh 1:1 menghubungkan
keAllahan yang benar dan sepenuhnya dengan Firman
atau Logos
(Kristus).
C. Keterkaitan Ke-Esaan Allah dengan Ke-
Tritunggalan Allah
Walaupun bukanlah suatu daftar yang lengkap, di
bawah ini yaitu beberapa kutipan dari Kitab Suci yang
menunjukkan Tuhan yaitu satu dalam Tritunggal.
"Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita,
TUHAN itu esa!" (Ul 6:4)
"Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku
tidak ada Allah." (Yes 45:5)
"Tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa." (1 Kor
8:4)
“Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan
pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh
Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu
terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan:
"Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku
berkenan." (Mat 3:16-17)
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-
Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak
dan Roh Kudus" (Mat 28:19)
Yesus berkata : "Aku dan Bapa yaitu satu" (Yoh
10:30)
"Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat
Bapa" (Yoh 14:9)
"Dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang
telah mengutus Aku" (Yoh 12:45)
Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan
milik Kristus. (Rom 8:9)
"Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut
mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang
di dalam kandungannya yaitu dari Roh Kudus." (Mat
1:20)
Jawab malaikat itu kepadanya (Maria): "Roh Kudus
akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi
akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan
kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. (Luk
1:35)
(Yesus berkata kepada para muridNya) "Aku akan
minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan
kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia
menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh
Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab
dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia.
Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu
dan akan diam di dalam kamu."...."Jika seorang
mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-
Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang
kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia."
(Yoh 14:16-17, 23)
2.2 TRITUNGGAL SEBAGAI ALLAH YANG ESA
Wujud Allah itu Esa, penyebutan Allah Tritunggal
itu mutlak dan tidak bisa diganggu keberadaannya,
tetap utuh, tidak akan berubah.
Sumber dalil dan dogma Allah Tritunggal Allah yang
Esa haruslah berdasarkan landasan nats Alkitab dan
tidak bisa terlebas dari Alkitab.
(Kejadian 1:1-3)
1. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
2. Bumi belum berbentuk dan kosong, gelap gulita,
menutupi samudra
raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas
permukaan air.
3. Berfirmanlah Allah “Jadilah terang”
Dalam nats ini jelas nampak ke-Tritunggal-an Allah
itu, yakni:
tiga yang dimaksudkan dalam Allah yang Esa ini
yaitu fungsional Alah atau ke-wibawaan kuasa
Allah.
Pertama: Allah itu sendiri sebagai pencipta.
Kuasa Allah sebagai pencipta, oleh Perjanjian Baru
digambarkan sebagai Oknum Bapa (Matius 11:25
“Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur
kepadaMu Bapa, Tuhan langit dan bumi”)
Kedua: Roh Kudus melayang-layang.
Bermakna bahwa Allah memberkati (memberi hidup)
segala ciptaan-Nya. Roh Allah, dalam Perjanjian Baru
disebut oleh Yesus sebagai Roh Kebenaran atau Roh
Kudus. (Yohanes 14:16, 26). Selanjutnya Kuasa Allah
ini digambarkan sebagai Oknum Rohulkudus.
Ketiga: Allah berfirman.
Semenjak manusia diciptakan, Allah berfirman
kepada umat manusia melalui wahyu kepada para
nabi. Wahyu yang para nabi terima yaitu dalam
berbagai cara, antara lain mimpi, penglihatan,
pendengaran dan perasaan. Wahyu yang mereka
terima itu dinamakan Firman. Akhirnya Allah
berfirman lewat Yesus, Firman itu sendiri menjadi
daging dalam kehidupan Yesus, sehingga Yesus
dikatakan juga sebagai Firman hidup (1Yohanes 1:1).
Istilah kata Firman itu berubah penyebutan istilahnya,
yaitu menjadi istilah Anak Allah (Yohanes 1:14).
Penyebutan Anak Allah dalam pengertian analogi
Fiman. Firman Allah atau Anak Allah.
Kuasa Allah berfirman dalam bentuk Firman Hidup ini,
selanjutnya disebut Oknum Anak. Penyebutan Oknum
Bapa, dan Oknum Anak, dan Oknum Roh Kudus,
tidaklah sama menunjukan Tiga Oknum yang terpisah
satu sama lainnya. Karena yang disebut Bapa,
maupun Anak, maupun Roh Kudus itu yaitu ALLAH
itu sendiri.
Rumusan Allah Tritunggal dikenal dengan
sebutan “1 sama dengan 3” dan “3 sama dengan 1”
Tidaklah diartikan atau dipahami secara matematika,
melainkan dalam pengertian Theologi. “1 sama
dengan 3” Bermakna bahwa satu wujud Allah; dalam
tiga kodrat Kuasa aktivitas, yaitu Mencipta, Berfirman,
Membimbing (memberi taufik dan hidayaht). “3 sama
dengan 1”, bermakna bahwa tiga Oknum Ilahi, yang
disebut Bapa, Anak dan Roh Kudus, ada dalam satu
wujud Allah Yang Maha-Kuasa dan Maha-Esa. Ketiga
Pribadi Nampak memiliki keterpisahan namun tetap
akan menjadi satu kesatuan sampai kapanpun. Bapa
mempunyai kepribadian tersendiri yaitu dia duduk di
atas tahta. Anak mempunyai kepribadianya tersendiri
yaitu dia duduk di sebelah kanan Bapa. Roh Kudus
mempunyai kepribadianya tersendiri yaitu dia nampak
bagaikan obor dihadapan tahta Allah. Itulah sebabnya
Yesus mengatakan jika kamu telah melihat Aku, maka
kamu telah melihat Bapa. Karena Aku dan Bapa yaitu
satu, Aku di dalam Bapa, dan Bapa didalam Aku, begitu
juga Roh Kudus.
Pandangan para teolog Injili biasanya yaitu
pandangan dengan konsep seperti di jelaskan di atas.
Seperti pandangan yang dikemukakan oleh:
1. Warfield bahwa ada satu Allah yang benar dan
satu-satunya, tetapi di dalam ke-Esaan dari ke-
Allah-an ini ada tiga pribadi yang sama kekal dan
sepadan, sama di dalam hakikat, tetapi berbeda di
dalam pribadi.
2. Pandangan A.W.Tozer mengatakan bahwa di
dalam Tritunggal ini tidak ada yang lebih dahulu
atau lebih kemudian, tidak ada yang lebih besar
atau lebih kecil, tetapi ketiga pribadi itu sama-sama
kekal, bersama-sama, dan setara.
3. Pandangan Stephen Tong mengatakan “Doktrin
Tritunggal termasuk doktrin monoteisme yang
percaya kepada Allah Yang Maha Esa. Dan Allah
Yang Maha Esa itu mempunyai tiga pribadi, bukan
satu. Pribadi pertama yaitu Allah Bapa, pribadi
kedua yaitu Allah Anak (Yesus Kristus) dan
pribadi ketiga Roh Kudus. Tiga pribadi bukan berarti
tiga Allah, dan satu Allah bukan berarti satu pribadi.
Tiga pribadi itu mempunyai satu esensi atau sifat
dasar (Yunani: Ousia; Inggris : substance) yang
sama, yaitu Allah. Allah Bapa yaitu Allah, Allah
Anak yaitu Allah dan Roh Kudus yaitu Allah,
namun ketiga-Nya mempunyai satu ousia, yaitu
esensi Allah” Dengan demikian dalam konteks
teologia Kristen yang memahami Allah sebagai tiga
pribadi dalam satu kesatuan, maka penekanan
terhadap “keesaan” atau “ketigaan-Nya” saja,
membuat doktrin ini kehilangan artinya, sekaligus
menyebabkan kejatuhan ada dua ekstrim. Yaitu,
pandangan yang menganggap adanya tiga Allah,
dan pandangan yang menganggap adanya satu
Allah dan menyatakan diri dalam tiga keadaan yang
berbeda. Jadi, pengertian yang benar yaitu
pengertian yang mampu mengakomodasi kedua
konsep ini (keesaan dan ketigaan), atau dengan
kata lain mampu menyeimbangkan antara keesaan
(ketunggalan) dan ketritunggalan Allah.
Allah itu “Tritunggal”. Dari pembahasan sebelumnya
telah jelas bahwa “tri-Nya” terletak pada adanya tiga
pribadi ilahi, atau seperti konsep Boettner bahwa ada
tiga pusat pengetahuan, kesadaran, kasih dan
kehendak yang terpisah satu dari yang lain,
sedangkan “tunggal-Nya” (keesaan-Nya) terletak pada
esensi-Nya.
Secara singkat, pengertian esensi secara umum
yaitu hakikat barang sesuatu. Maksudnya yaitu
bahwa esensi itu merupakan sesuatu yang menjadikan
sesuatu itu seperti dirinya sesuatu itu. Jika pengertian
ini dikaitkan dengan konteks teologis, dapatlah
dikatakan bahwa esensi itu hakikat dasar atau “unsur
pembentuk” ke-Allah-an, atau mungkin lebih dapat
dikatakan sebagai “inti dasar” ke-Allah-an. Selanjutnya
sesuai dengan konsepsi Tritunggal yang mengatakan
bahwa letak keesaan pribadi-pribadi Allah Tritunggal
yaitu pada esensi-Nya, maka esensi di sini
mempunyai pengertian sebagai apa yang sama (“unsur
pembentuk” atau “inti dasar”) di antara Mereka bertiga
(pribadi-pribadi Allah Tritunggal) di dalam ke-Allah-an
(Boettner, Op,cit: 106). Maksudnya yaitu bahwa
: ‘Setiap pribadi itu memiliki “in toto” esensi yang tak
terbagi atau terpisahkan dari ilahi di mana sifat dan
kuasa ada di dalamnya, maka setiap pribadi memiliki
pengetahuan ilahi, hikmat, kuasa, kesucian, keadilan,
kebaikan dan kebenaran yang sama. Mereka bekerja
sama dalam suatu harmonisasi yang sempurna dan
bersatu, sehingga kita boleh mengatakan bahwa Allah
Tritunggal bekerja dengan satu pikiran dan satu
kehendak’.
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa,
Alkitab mengajarkan bahwa Bapa yaitu Allah, Yesus
yaitu Allah, dan Roh Kudus yaitu Allah. Alkitab juga
mengajarkan bahwa hanya ada satu Allah.
Ke-Tritunggalan itu merupakan tiga pribadi yang
memiliki satu kesatuan dan sehakekat tanpa ada
perbedaan. Sangat ditekankan bahwa Allah memiliki
suatu kuasa dalam pribadi-Nya Allah Tritunggal
merupakan konsep yang paling hakiki dari Allah sendiri.
Dengan adanya Tritunggal Allah dapat menunjukkan
kasih dan relasi-Nya yang unik. Allah bukan dipisah-
pisah menjadi 3 bagian yang berbeda, namun Allah
tetap satu adanya atau Esa.
Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh kudus
merupakan Satu Allah dalam esensi masing-masing.
Allah Bapa di identikan dengan Allah pencipta Langit
dan Bumi, Allah Anak diidentikan dengan Allah
Penyelamat Umat Percaya, dan Allah Roh Kudus
diidentikan dengan Allah Penghibur Umat Percaya.
Meskipun dapat di pahami dalam beberapa hal
mengenai hubungan antar Pribadi dengan Tritunggal ini,
pada akhirnya kita tetap tidak dapat mengerti secara
utuh. Karena begitu besar kuasa Allah dan begitu tak
terbatas Ia untuk akal manusia yang sangat terbatas.
A. Kepada orang percaya secara keseluruhan.
Bahwa kita dapat mengetahui tentang Allah
Tritunggal, bahwa dalam ke-Esaan Allah dinyatakan
sebagai esensi-Nya atau keberadaan-Nya, sedangkan
keragaman-Nya diekspresikan dalam tiga pribadi yaitu:
Allah Bapa, Allah Anak dan Roh kudus.
B. Kepada Hamba Tuhan.
Bahwa Hamba Tuhan harus dengan yakin dapat
menjelaskan tentang konsep Allah tritunggal yang
benar. Tidak tergantung kepada doktrinal yang berbeda
namun kembali lagi kepada prinsip Alkitabiah yang
benar. Bahwa hanya ada satu Allah yang Esa yang kita
percaya dan kita sembah.
Saya ingin mengawali pembahasan ini dengan mengutip pernyataan seorang
teolog perempuan, yaitu Catherine LaCugna, yang mengatakan, “Tritunggal adalah
inti iman Kristen.” Artinya, ajaran Tritunggal itu merangkum seluruh karya Allah bagi
segenap ciptaan yang diimani oleh orang Kristen sesuai kesaksian Alkitab. Tetapi,
LaCugna juga mengatakan, dan ini yang menjadi perhatian utama saya, bahwa
“ajaran Tritunggal pada akhirnya adalah doktrin praktis dengan konsekuensi radikal
bagi kehidupan Kristen.”¹ Ini berarti, ajaran Tritunggal itu bukan hanya menolong kita
untuk memahami dan mengakui Allah Tritunggal, tetapi juga mengalami-Nya dalam
kehidupan sehari-hari. Semua aspek itu dipersaksikan Alkitab, seperti yang nyata
dalam kehidupan beriman umat Israel dan gereja mula-mula. Karena itu, saya
memandang ajaran Tritunggal ini sebagai ajaran yang membentuk spiritualitas
keseharian orang percaya. Bahwa, pemahaman dan pengakuan iman Kristen
terhadap Allah Tritunggal harus menjadi pengalaman hidup yang nyata sebagai
spiritualitas sehari-hari orang percaya.
Dengan demikian, memang tepat yang dikatakan dalam pendahuluan draft pokok
ajaran GMIT tentang Allah Tritunggal, bahwa adalah pokok ajaran ini penting bagi
anggota GMIT untuk mendalami penghayatan iman. Pokok ajaran ini juga menolong
anggota GMIT untuk memberikan jawaban berhadapan berbagai pertanyaan, tantangan
dan perdebatan mengenai ajaran ini khususnya di Indonesia di mana ke-Esa-an Allah
itu sangat ditekankan. Tetapi, alangkah baiknya juga kalau kebutuhan pokok ajaran ini
juga mencakupi aspek spiritualitas keseharian yang saya sebutkan di atas. Bahkan,
kehidupan sehari-hari yang trinitaris itu mungkin lebih menolong anggota GMIT dalam
pendalaman penghayatan iman serta pertanggung jawaban iman.
Kalau benar begitu, apa yang dimaksud dengan spiritualitas keseharian dan mengapa itu
penting dalam memahami, mengakui, dan mengalami Allah Tritunggal sebagai spiritualitas
keseharian kita? Apakah memang kesaksian Alkitab tentang Allah dan karya-Nya yang
dirumuskan gereja mula-mula sebagai Tritunggal itu juga berbicara tentang spiritualitas
keseharian? Kedua pertanyaan ini yang akan saya bahas dalam dialog dengan draft pokok
ajaran GMIT tentang Allah Tritunggal. Saya mengajukan pembahasan ini untuk didiskusikan
dan dipertimbangkan dalam finalisasi draft pokok ajaran ini dalam konsultasi-konsultasi
yang akan dilaksanakan mulai bulan depan sampai pada pembahasan dan penetapannya
di SSI 2025.
Saat membaca draf pokok ajaran GMIT tentang Allah Tritunggal, pikiran saya
langsung tertuju pada mayoritas anggota GMIT yang adalah orang-orang sederhana,
baik secara pendidikan, pekerjaan, ekonomi, maupun status sosial. Sehingga, yang
muncul di kepala saya adalah bagaimana ajaran Tritunggal yang merupakan hasil
pergumulan intelektual ini dapat dipahami dan bermakna dalam kehidupan banyak
anggota GMIT itu. Tentu saja, sebagian kecil dari anggota GMIT memiliki kapasitas
berbeda yang memungkinkan mereka untuk lebih tertarik pada rumusan-rumusan
ontologis, sebab itulah kebutuhan mereka. Dan, itu memang penting. Namun, yang tidak
kalah pentingnya juga adalah bagaimana supaya ajaran ini menjadi bagian dari
kehidupan para petani di kampung, nelayan tradisional di pesisir, buruh bangunan dan
pedagang asongan, orang-orang yang bekerja di pasar, para intelektual dst. dalam relasi
serta pergumulan sosial, politik dan ekologis mereka.
Karena itu, draft yang menurut hemat saya sudah baik ini perlu dilengkapi dengan aspek-aspek yang
menolong seluruh anggota GMIT dalam konteks beriman mereka. Dan untuk itu, saya memandang spiritualitas
sehari-hari sebagai salah satu dimensi penting yang dapat melengkapi draft ini.
Berdasarkan penelusurannya terhadap konsep dan praktik spiritualitas dalam sejarah agama-agama, dan
terutama Iman Kristen, Philip Sheldrake mengatakan bahwa spiritualitas adalah seluruh cara hidup
berdasarkan keyakinan iman/kepercayaan². Spiritualitas tidak terbatas pada momen-momen doa atau ritual
keagamaan, melainkan harus menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Dalam pandangannya,
spiritualitas itu bersifat holistik adalah spiritualitas yang meresapi setiap tindakan, keputusan, dan hubungan
yang kita miliki. Dengan mengintegrasikan iman ke dalam keseharian, kita dapat menjalani kehidupan yang
lebih otentik, di mana setiap aspek hidup kita mencerminkan nilai-nilai spiritual yang kita yakini. Sheldrake
menegaskan bahwa spiritualitas itu bukan hanya tentang menjalankan ritus agama, tetapi tentang bagaimana
kita menjalani hidup kita secara keseluruhan sehari-hari.
Karena itu, menurut Sheldrake, spiritualitas keseharian menekankan aksesibilitas dan inklusivitas.
Spiritualitas bukanlah sesuatu yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk
kegiatan keagamaan, melainkan sesuatu yang dapat diakses oleh semua orang dalam kehidupan sehari-hari
mereka. Setiap individu, tanpa memandang latar belakang atau tingkat keahlian spiritual, setiap orang dapat
mengalami kehadiran Allah dalam rutinitas sehari-hari dan itu menolong mereka untuk mengembangkan
kesadaran yang lebih mendalam akan Tuhan dalam segala situasi.
Selain itu, Sheldrake menekankan bahwa spiritualitas keseharian itu tidak terpisahkan dari komunitas, di
gereja maupun ruang publik beragam agama, budaya, bahasa dan suku bangsa. Spiritualitas bukan hanya
tentang pencarian individu, tetapi juga tentang bagaimana kita hidup bersama dalam komunitas. Kehidupan
etis dan moral yang kita jalani dalam interaksi sehari-hari dengan orang lain merupakan ekspresi dari nilai-nilai
spiritual yang kita pegang. Dengan demikian, spiritualitas keseharian bukan hanya menguatkan ikatan pribadi
dengan Tuhan tetapi juga memperkuat hubungan kita dengan sesama, menumbuhkan ketahanan dan makna
dalam hidup, serta membentuk dunia yang lebih adil dan penuh kasih.
Menurut saya, pandangan Sheldrake tentang spiritualitas keseharian itu
menolong kita untuk melihat bahwa iman kepada Allah harus nyata dalam
keseharian hidup setiap orang percaya. Meskipun Sheldrake tidak secara spesifik
menyebutkan aspek ekologis di situ, saya kira dia akan setuju bahwa spiritualitas
keseharian anggota GMIT harus mencakupi aspek ekologis itu, sebab aspek itu
merupakan bagian dari realitas sehari-hari kita. Jadi, iman kepada Allah Tritunggal
harus nyata dalam kehidupan sehari-hari dalam berbagai dimensi kehidupan.
Hal ini sejalan dengan pandangan Simon Chan bahwa spiritualitas yang
holistik harus melibatkan konsep trinitaris, setidaknya secara tidak langsung.
Spiritualitas trinitaris memiliki ciri-ciri sebagai berikut: pertama, adanya bentuk dan
keteguhan serta pemahaman sakramental terhadap ciptaan. Kedua, mencari
hubungan pribadi dengan Allah melalui Yesus Kristus. Ketiga, terbuka terhadap
karya Roh Kudus, baik melalui mukjizat maupun “keakraban kudus.” Dalam misi
gereja, spiritualitas trinitaris berfokus pada keterlibatan aktif di dunia, pemberitaan
Injil tentang kasih karunia Allah, pertobatan kepada Yesus Kristus, dan pengalaman
kuasa Allah yang melibatkan keselamatan individu dan tatanan ciptaan³
Itulah sebabnya Sheldrake menekankan bahwa selain Alkitab, doktrin-doktrin inti Gereja Kristen juga menjadi
sumber utama spiritualitas Kristen. Doktrin-doktrin ini memberikan wawasan khusus tentang Allah, dunia alam, dan
sifat manusia. Namun, doktrin-doktrin itu harus melayani perkembangan spiritualitas holistik itu, dan spiritualitas itu
berkembang dari praktik kehidupan Kristen yang nyata, bukan dari pemikiran intelektual. Keyakinan Kristen yang
berkembang tentang Allah dan Yesus Kristus tidak muncul karena perubahan dalam pemikiran, melainkan karena
pengalaman generasi pertama orang Kristen setelah masa hidup Yesus, yang merasakan kehadiran-Nya yang terus
ada di tengah-tengah mereka. Mereka mengungkapkan pengalaman mereka tentang Yesus Kristus yang bangkit
dan kehidupan baru mereka “di dalam Kristus” melalui doa dan usaha untuk hidup taat kepada Allah, mengikuti
teladan Yesus. Dengan demikian, doktrin dan praktik hidup berjalan seiring⁴. Atau, dalam pandangan saya, doktrin
harus berbicara tentang spiritualitas keseharian, dan sebaliknya spiritualitas keseharian harus menegaskan doktrin-
doktrin itu
Menurut saya, dimensi itu yang masih kurang dalam draf yang sudah ada ini. Draft ini memuat banyak
sekali catatan Alkitab tentang Allah Tritunggal, yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus, dalam sejarah keselamatan di
bagian pertama kajian teologis. Tetapi, selain uraian Alkitabiah itu sangat didominasi oleh relasi Allah Tritunggal
dengan manusia yang bisa jatuh pada antroposentrisme, aspek spiritualitas keseharian yang holistik belum
tampak sebagai sebuah karakter yang jelas dari pokok ajaran ini. Demikian juga bagian kedua dalam kajian
teologis, yaitu ajaran Tritunggal pada masa gereja perdana belum menunjukkan hal itu. Bagaimana manusia
mengalami kehadiran dan karya keselamatan Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam relasi-relasi sosial, politik,
ekologis, ekonomi, dst. itu belum tampak sebagai sebuah keyakinan iman yang dapat menginspirasi anggota
GMIT hari ini untuk hidup dalam spiritualitas sehari-hari.
Memang, aspek itu muncul secara singkat di pembahasan mengenai implikasi ajaran Tritunggal bagi GMIT dengan
konsep perichoresis. Tetapi, perichoresis itu merupakan pemikiran teologi mengenai relasi ketiga pribadi Allah Tritunggal.
Konsep itu tidak memiliki otoritas seperti Alkitab dan rumusan Tritunggal yang adalah kesepakatan gereja secara ekumenis.
Perichoresis memang bisa kita pakai untuk menjelaskan apa yang dikatakan Alkitab dan rumusan Tritunggal. Tetapi, selain
konsep perichoresis itu masih diperdebatkan secara dinamis⁵, kita memerlukan otoritas Alkitab dan rumusan-rumusan
ekumenis, dalam hal ini pertimbangan teologis atau pergumulan iman di balik rumusan itu, yang menolong anggota GMIT
untuk ber-spiritualitas keseharian yang trinitaris. Perichoresis itu kita butuhkan sebagai bahasa yang menjelaskan atau
menegaskan kesaksian kedua sumber berotoritas itu. Sehingga, jika pokok ajaran ini menyebutkan bahwa partisipasi gereja
dalam gerak perichoresis Allah Tritunggal itu berdampak pada aspek sosio-ekologis dan kehidupan dalam kemajemukan, itu
harus bertolak dari uraian Alkitabiah dan rumusan Tritunggal mengenai karya Allah Tritunggal sebagai respon terhadap
kesaksian Alkitab yang hidup dalam keseharian gereja mula-mula.
Karena itu, saya akan coba menunjukkan bagaimana kedua sumber itu berbicara tentang aspek-aspek yang berkaitan
dengan spiritualitas keseharian yang holistik. Saya berharap, pembahasan itu akan menolong anggota GMIT untuk
memahami dan mengalami Allah Tritunggal melalui spiritualitas keseharian mereka – spiritualitas keseharian yang trinitaris.
Alkitab mencatat bahwa karya Allah Tritunggal dalam sejarah keselamatan selalu tertuju kepada seluruh ciptaan, yaitu
segala makhluk hidup dan elemen alam (tanah dan air, gunung dan laut, dst.). Jika kita memahami bahwa melalui karya itu
Allah menyatakan diri-Nya sebagai Tritunggal, maka tiap-tiap ciptaan-Nya dan relasi di antara mereka mengalami Allah
Tritunggal. Misalnya, manusia mengalami Allah Tritunggal dalam relasinya dengan sesama manusia dan makhluk hidup lainnya
di dalam ruang tertentu, di darat atau laut. Itulah keseharian mereka. Dan, jika dalam relasi-relasi itu terdapat kerusakan, maka
mereka mengalami Allah Tritunggal dalam keseharian seperti itu. Tetapi, di situ mereka mengalami Allah Tritunggal yang
menyelamatkan dengan memulihkan mereka dari segala kerusakan itu. Jadi, mereka berjumpa dan mengenal Allah Tritunggal
dalam keseharian seperti itu, baik keberadaan mereka masing-masing maupun berbagai relasi di antara mereka.
Lebih jelasnya, kita bisa melihat secara singkat kesaksian Alkitab tentang karya Allah Tritunggal, Bapa, Anak dan Roh
Kudus, dalam keseharian ciptaan-Nya.
1. Bapa. Mazmur 85, misalnya, berbicara tentang penataan kembali atau reorganisasi kehidupan bersama dengan
keyakinan bahwa pemulihan dari Allah akan segera datang. Mazmur 85 ini muncul oleh karena pada masa awal
pasca pembuangan, Bait Suci dan sistem organisasi peribadahan belum ada dan terjadi gagal panen sehingga
umat Allah belum mengalami damai sejahtera dan hidup mereka semakin sulit⁶. Itulah keseharian mereka. Mazmur
85 ini menegaskan bahwa kesulitan/penderitaan yang mereka alami itu terkait erat dengan ciptaan lain dan, karena
itu, karya pemulihan Allah juga mencakup segenap ciptaan Allah⁷. Ayat 13b mengatakan bahwa negeri (erets:
bumi, tanah) mereka akan memberi hasilnya. Jadi, bangsa Israel mengalami Allah Bapa yang hadir dalam
keseharian yang sulit, dan yang membawa mereka menuju keseharian yang penuh damai sejahtera dalam karya
pemulihan-Nya.
2. Anak. Injil Markus, misalnya, menunjukkan ke-Allah-an Yesus dalam konteks politik kekasaran Romawi yang
teranyam secara kompleks dengan dunia aspek ekonomis, sosial dan ekologis⁸. Markus melakukan itu dengan cara
menampilkan kedaulatan Yesus atas laut ketika Dia menenangkan Laut Galilea yang bergelora (Mrk. 4:35-41);
mewujudkan kedaulatan ini dalam sistem ekonomi – ekonomi berbagi – dengan memberi makan orang banyak dengan
makanan yang bersumber dari tanah dan Laut Galilea (Mrk. 6:30-44); dan menegaskan ke-Allah-an Yesus dengan
ungkapan “Tenanglah! Aku ini (ego eimi), jangan takut!” setelah Ia berjalan di atas air Laut Galilea. Cerita-cerita itu
menunjukkan perlawanan Yesus terhadap klaim kaisar yang menyatakan dirinya sebagai allah dan sistem ekonomi
yang menindas serta eksploitatif yang merupakan perwujudan dari klaim tersebut⁹. Seperti yang disaksikan oleh
Markus, keilahian Yesus ditandai oleh tindakan-Nya yang melawan kekuasaan serta sistem ekonomi yang kita kenal
saat ini sebagai akar dari krisis sosio-ekologis. Ke-Allah-an Yesus itu dialami dalam keseharian orang-orang Galilea
seperti kisah-kisah itu.
3. Roh Kudus. Mazmur 104:30 mengatakan bahwa Roh Kudus menciptakan dan membaharui segenap ciptaan.
Bagi manusia, karya itu secara eksplisit disampaikan Yesus dalam Yohanes 14:16 bahwa Roh Kudus
menolong dan menyertai orang percaya sampai selama-lamanya. Dalam penyertaan-Nya itu, Roma 8:18-30
menggambarkan peran Roh Kudus sebagai penopang orang percaya dan segala makhluk di tengah
penderitaan saat ini dan membimbing mereka menuju kemuliaan yang akan datang. Paulus menekankan
bahwa Roh Kudus memelihara harapan di tengah keluhan ciptaan yang merindukan penebusan penuh¹⁰.
Dalam kelemahan orang percaya, Roh Kudus berdoa syafaat dengan keluhan yang tak terucapkan,
menyelaraskan doa-doa mereka dengan kehendak Allah dan memastikan bahwa segala sesuatu bekerja
untuk kebaikan mereka yang mengasihi Allah, sesuai dengan rencana-Nya. Dengan demikian, Roh Kudus
memainkan peran personal dalam kehidupan sehari-hari orang percaya dan kosmik dalam rencana
penebusan Allah bagi seluruh ciptaan.
Beberapa teks itu menunjukkan bahwa karya Allah Tritunggal itu nyata dalam seluruh keberadaan atau
spiritualitas keseharian manusia dan segenap ciptaan. Mereka mengalami dan mengakui Allah Tritunggal dalam
keseharian mereka, dan di situ spiritualitas mereka terbentuk.
Pengalaman dan pengakuan akan Allah Tritunggal dalam keseharian yang riil seperti itulah yang
membuat para para Bapa Kapadokia sampai pada rumusan Tritunggal yang ditetapkan di Konsili
Konstantinopel pertama pada tahun 381 dan diterima sampai hari ini, yaitu Satu Allah, Tiga Pribadi yang
berbeda: Bapa, Anak dan Roh Kudus. Rumusan itu sangat dipengaruhi oleh teologi Gregorius dari
Nazianzus yang berkembang dari pengalaman dan konteks sosial-budaya yang rumit pada masanya.
Menurut Sigurd Bergmann, situasi tersebut ditandai oleh keragaman yang menyebabkan konflik antara
berbagai aliran filsafat, komunitas kultus, agama, dan ideologi politik yang berubah-ubah. Selain itu, ada
ketidakadilan sosial yang meningkat, seperti kemiskinan, kehancuran petani kecil, dan penindasan
terhadap orang asing, perempuan, dan anak-anak. Secara ekonomi, masyarakat beralih dari produksi
mandiri ke perdagangan dan ekonomi uang, yang menyebabkan kemiskinan dan pengurasan tanah, serta
penilaian berlebihan atas properti yang berdampak pada ketidakadilan sosial dan ekologis akibat
spekulasi dan pengelolaan lahan yang buruk¹¹.
Kompleksitas ini menciptakan isu-isu mengenai kekuasaan dan distribusinya yang memengaruhi
perumusan doktrin Trinitas. Pertanyaan yang berkembang saat itu adalah “Apakah kekuasaan harus
dikuasai oleh satu orang seperti Kaisar, atau oleh komunitas yang didasarkan pada cinta, keadilan, dan
keindahan yang trinitaris?” Gregorius menjawab pertanyaan itu dengan Tritunggal sebagai doktrin yang
menantang model kekuasaan tunggal kaisar yang menyebabkan krisis sosial-budaya dan, pada saat yang
sama, sebagai doktrin yang mendukung kesejahteraan sosial-budaya¹².
Jadi, jelaslah menurut uraian di atas bahwa ajaran Tritunggal itu bukanlah sekadar olah intelektual yang
abstrak, melainkan sebuah pengalaman yang nyata akan kehadiran dan karya Allah Tritunggal – Bapa, Anak
dan Roh Kudus – dalam kehidupan sehari-hari yang kompleks. Dalam keseharian itulah orang percaya
mengalami Allah Tritunggal yang kemudian membentuk spiritualitas mereka sebagai orang-orang yang
mengalami karya keselamatan Allah Tritunggal dalam keseharian mereka. Spiritualitas mereka itu juga
terbentuk melalui partisipasi mereka, sebagaimana mereka diberi kesempatan oleh Allah Tritunggal untuk
berpartisipasi dalam persekutuan dengan-Nya¹³ dan karya-Nya dalam keseharian dunia ciptaan-Nya.
Untuk menutup pembahasan ini, saya ingin kembali pada apa yang menjadi perhatian
saya, yaitu bagaimana supaya ajaran Tritunggal secara praktis dapat menjadi bagian dari
spiritualitas keseharian anggota GMIT, khususnya mereka yang sederhana. Saya telah
menunjukkan bahwa spiritualitas itu sangat penting bagi anggota GMIT, baik untuk
memahami dan mengakui Allah Tritunggal, maupun mengalami karya sang Bapa, Anak
dan Roh Kudus dalam segala pergumulan dengan kompleksitasnya setiap hari. Untuk itu,
saya telah menunjukkan beberapa contoh dalam Alkitab dan dari latar belakang
perumusan Tritunggal bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang adalah Satu Allah itu hadir
dan dialami oleh orang-orang dan segenap ciptaan kepunyaan-Nya. Sebagaimana
ungkapan pastoral trinitaris Joas Adiprasetya, “[Allah Tritunggal] sungguh tak jauh. Ia
bahkan lebih dekat daripada ‘sejauh doa.’ Allah hadir di dalam setiap sel-sel tubuh
semesta.”
Karena itu, saya mengusulkan agar dimensi praktis ajaran Tritunggal ini dikemukakan
dengan lebih jelas dalam Pokok Ajaran GMIT tentang Allah Tritunggal. Itu akan membuat
iman kita kepada Allah Tritunggal sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita sebagai
spiritualitas keseharian anggota GMIT. Untuk kepentingan itu, sangat diharapkan agar
dalam diskusi di sini atau di jemaat masing-masing dan dalam konsultasi-konsultasi
Pokok-Pokok Ajaran GMIT menuju SSI tahun depan, kita semua dapat membawa segala
pergumulan baik di lingkup jemaat dan Klasis hidup sehari-hari serta harapan-harapan kita
dalam pergumulan itu untuk disampaikan. Itu akan sangat membantu perumusan dan
penetapan pokok ajaran GMIT tentang Allah Tritunggal bermanfaat bagi spiritualitas
keseharian seluruh anggota GMIT.

