Allah Tritunggal

Tampilkan postingan dengan label Allah Tritunggal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Allah Tritunggal. Tampilkan semua postingan

Allah Tritunggal


  

 


Memahami Allah harus dimulai dari kesadaran 

bahwa Allah tak terbatas, melampaui akal manusia 

yang sangat terbatas. Jadi, bagaimana mungkin 

manusia bisa mempelajari dan “mengurung” Allah 

yang tidak terbatas di dalam akalnya yang terbatas. 

Akan tetapi, hal itu tidak berarti bahwa kita tidak 

bisa menjelaskan siapa Allah. Kita dapat mengenal 

Allah sebatas DIA menyatakan diri-Nya kepada 

manusia di dalam Firman Allah (Alkitab). 

 

  Kemudian harus diingat bahwa ketika berbicara 

tentang Allah, kita berbicara mengenai hakikat Allah 

yang Roh adanya (Yoh 4:24), bukan materi; tidak 

terbatas pada ruang dan waktu (Mazmur 93:2), dan 

tentu tidak seperti kita, manusia yang bersifat 

materi (Mazmur 90: 4-6). Untuk memahami dan 

mengenali pribadi Allah sendiri tidaklah mudah bagi 

kita semua umat-Nya. Allah itu Agung dan Maha 

Besar, kita tak dapat memahami-Nya secara 

langsung.   

 

 

 

  Kita mengenal bahwa Allah itu Esa dan 

terdapat istilah Allah Tritunggal di ke-kristenan. 

Konsep Tritunggal itu sendiri, memang tidak 

disebutkan didalam Alkitab , namun konsep itu 

sendiri telah menjadi fondasi utama dalam ajaran 

ke-Kristenan yang muncul dan diakui di Konsili 

Nicea I dan tetap bertahan ajarannya hingga 

sekarang melalui perjalanan panjang. Maka pada 

kesempatan kali ini  saya akan memaparkan suatu 

pembahasan yang berjudul “Ke-Esaan Tritunggal 

Allah” yang di dalamnya mencakup tentang 

pengertian Tritunggal Allah, Ke-Esaan Allah beserta 

hal-hal lainnya. 

 

A. Allah itu Esa  

       Umat Kristen percaya pada satu Allah yang tidak 

terbatas, berkuasa di surga dan di bumi. Allah pencipta 

segala yang ada, kekal dan abadi. Kerajaan-Nya tidak 

berkesudahan. Alkitab mengatakan: “Dengarlah, hai 

orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu 

 

 

esa.” (Ulangan 6:4). Dalam bahasa aslinyanya 

berbunyi: Yahweh elohenu Yahwe èkhed, artinya Tuhan 

yaitu  Allah kita, Tuhan saja. Kata èkhad diterjemahkan  

dengan kata “Esa” atau “saja”.   

     Di dalam Alkitab, baik perjanjian lama ataupun 

perjanjian baru selalu menyatakan bahwa Allah itu Esa. 

Bukti-bukti alkitab yang menyatakan Allah yang esa 

terdapat dalam : Ulangan 6:4; 1 Korintus 8:4; Galatia 

3:20; 1 Timotius 2:5 sedangkan terdapat tiga pribadi 

Kejadian 1:1; 1:26;; Yesaya 48:16; 61:1; Matius 3:16-17; 

Matius 28:19; 2 Korintus 13:14. 

      Tuhan Yang Maha Esa itu : MAHA HIDUP, Hidup-

Nya tidak memakai nafas dan menghidupkan semua 

umat dan makhluknya pada semua zaman dan peristiwa 

secara turun-temurun/berkesinambungan, sehingga 

dapat dikatakan bahwa Tuhan itu sumbernya 

hidup/pemberi hidup. Maha hidup-Nya Tuhan tidak 

hanya berhenti pada proses hidup antara kelahiran dan 

kematian melainkan hidup itu bersifat langgeng atau 

kekal, sebagaimana sifat dari Tuhan itu sendiri. Hidup 

merupakan titah-Nya, yang tentunya kita hidup tidak 

tanpa tujuan dibumi yang diberikan oleh Allah ini. Tujuan 

 

 

hidup yaitu  berproses sampai kembalinya kepada 

sumber hidup, yaitu Tuhan.     

      Tuhan Yang Maha Esa itu : MAHA SUCI, tanpa 

cacat dan cela, karena itu umat manusia harus bisa 

mewujudkan kebenaran dan keadilan, menjauhkan diri 

dari keburukan dan ke-tidak adilan. Selain itu, makna 

Tuhan Yang Maha Esa itu Maha Suci yaitu  kesadaran 

manusia yang mengakui bahwa Tuhan itu suci dan 

manusia diciptakan Tuhan juga dengan tujuan suci, 

sehingga seharusnya manusia selalu bertindak dan 

berprilaku baik. Makna tersebut diwujudkan dalam 

ketulus-ikhlasan, kejujuran, dan kesabaran untuk 

pencerahan batin kepada sumber hidup yaitu Tuhan 

yang Maha Suci.    

      Tuhan Yang Maha Esa itu MAHA KUASA, 

Kekuasaan-Nya meliputi segala sesuatu yang ada. 

Yang memegang api akan terbakar, memegang air akan 

basah, memakan gula akan terasa manis dan 

sebagainya, sehingga mendorong umat manusia dan 

makhluk-Nya untuk mencari kenikmatan dan 

keselamatan hidup. Seperti pada pepatah mengatakan 

kesadaran bahwa segala sesuatu yang ada di atas bumi 

 

 

dan di bawah langit ini yaitu  di bawah kekuasaan 

Tuhan Yang Maha Esa. Tuhanlah yang menguasai 

segala kehidupan dan kematian, atau semua kejadian 

yang ada di alam semesta ini, termasuk hidup dan mati 

manusia. Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan 

perilaku menyadari keberadaan diri manusia yang tidak 

ada apa-apanya, karena semua milik Tuhan. Sikap dan 

perilaku tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang 

dengan Tuhan Yang Maha Esa. Begitu juga seperti di 

sebagian masyarakat Batak bahwa Tuhan itu yaitu  

“Debata Mulajadi Nabolon” yang mempunyai pengertian 

bahwa Tuhan mempunyai kuasa atas segala ciptaan-

Nya. Kekuasaan-Nya tidak mampu dijangkau oleh 

pikiran siapapun.  

      Tuhan Yang Maha Esa itu MAHA LUHUR, Tuhan 

itu asal dari segala asal-usul, sumber kemuliaan, 

kesejatian, dan cita-cita tertinggi sehingga tidak ada lagi 

yang melebihi Tuhan Yang Maha Esa di atas bumi ini. 

Makna tersebut diwujudkan dalam tuntunan luhur dari 

Tuhan Yang Maha Esa dalam setiap aspek kehidupan.  

      Tuhan Yang Maha Esa itu MAHA WELAS ASIH, 

Tuhan memberikan welas asih yang tidak pernah habis. 

 

 

Artinya sikap kasih kepada umat tidak pernah berhenti. 

Sifat welas asih ini sudah menyatu dalam ketunggalan 

Tuhan dalam setiap diri manusia.  

       Tuhan Yang Maha Esa itu MAHA 

SEMPURNA, Tuhan itu sumber dari segala sumber 

kehidupan. Tidak ada yang paling sempurna selain 

Tuhan yang Maha Sempurna. Makna tersebut 

ditunjukan dengan adanya sikap adil dan bijaksana 

dalam mencipta mahluk-Nya yang beragam, sehingga 

kedudukan umat manusia akan sama derajatnya 

dihadapan Tuhan tanpa membedakan dari segi suku, 

agama dan kepercayaan, ras, dan golongan. 

B. Allah Tritunggal 

    Dari beberapa ayat yang ada dalam Alkitab 

mengakui bahwa Allah itu yaitu  Esa. Namun, dalam 

Alkitab ada tiga pribadi yang disebut secara bersama-

sama (Matius 28:19)  “Karena itu pergilah,  jadikanlah 

semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam 

nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Ketiga pribadi 

tersebut dinyatakan sebagai Allah dan memiliki kualitas 

ilahi dalam berbagai hal.  

     Istilah Allah Tritunggal memang tidak ada 

 

 

dalam Alkitab tetapi itu metafora yang dinyatakan oleh 

Allah melalui Alkitab, bahwa dalam Allah yang Esa itu 

ada tiga pribadi. Contoh dalam Karya penyelamatan 

Allah Bapa merancang penyelamatan manusia, 

sedangkan Allah Anak melakukan ingkarnasi menjadi 

manusia yang melakukan penyelamatan melalui 

kematian  

diatas kayu salib dan melakukan penebusan untuk 

keselamatan, sedangkan Allah Roh kudus mengambil 

peran melahirkan kembali, atau mencipta kembali 

menjadi kelahiran baru yang memungkinkan manusia itu 

percaya kepada Allah Anak dan memuliakan Allah 

Bapa. Selain karya penyelamatan Tuhan Yesus 

memperkenalkan dalam melakukan Baptisan yang 

harus dilakukan dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh 

Kudus.  

    Tritunggal berarti Tiga Pribadi di dalam Satu Allah, 

atau di dalam satu esensi diri Allah, ada tiga pribadi. 

"Tri" berarti tiga dan "Tunggal" berarti satu, Tri+Tunggal 

= Tritunggal. Satu cara untuk mengetahui apa yang 

diungkap oleh Alkitab kepada kita tentang Tuhan, 

bahwa Tuhan yaitu  tiga "Pribadi" yang memiliki esensi 

 

 

sifat ke-Tuhanan yang sama. Dan yang tidak muncul di 

dalam Alkitab secara istilah, bukan berarti bukan konsep 

Alkitab. Sebaliknya, istilah yang muncul di dalam Alkitab 

jika ditafsir secara keliru menjadi bukan kebenaran 

Firman Tuhan. Faktanya, konsep atau doktrin Tritunggal 

terus menerus muncul di dalam Alkitab. 

      Allah yang melampaui segala sesuatu. Allah 

Yang Esa. Allah yang tidak ada bandingnya dan Allah 

menyatakan diri sebagai Allah Tritunggal. Doktrin Allah 

Tritunggal yaitu  doktrin Monotheisme (percaya hanya 

kepada Satu Allah), dan bukan Politheisme (percaya 

kepada banyak Allah).  

    Doktrin Allah Tritunggal termasuk monotheisme, 

yang percaya kepada Allah Yang Maha Esa. Tiga 

Pribadi bukan berarti tiga Allah, dan satu Allah tidak 

berarti satu Pribadi. Tiga Pribadi itu mempunyai sifat 

dasar atau esensi (Yunani: Ousia, Inggris: Substance) 

yang sama, yaitu Allah. Allah Bapa yaitu  Allah. Allah 

Anak yaitu  Allah, dan Allah Roh Kudus yaitu  Allah. 

Namun Ketiganya memiliki Satu Ousia, yaitu esensi 

Allah. Maka Ketiga Pribadi itu yaitu  Satu Allah. 

 

 

             

     Penjelasanya yaitu  satu butir telor, tidak bisa 

dikatakan tiga butir telor karena kenyataanya yaitu  

satu butir telor. Namun didalam satu butir telor itu ada 3 

materi yang hadir bersama sama, yaitu Kulit telor, ( 

Cangkang telor) Putih telor, dan kuning telor. Masing-

masing materi ini saling ketergantungan satu dengan 

yang lain dan tidak pernah secara alami hadir sendiri-

sendiri, misal tiba-tiba keluar hanya putih, atau kuning 

atau bahkan cangkangnya, jika demikian orang tidak 

akan pernah menyebut itu telor. 

 Bukti Allah Tritunggal 

         Bukti-bukti bahwa Allah mempunyai tiga pribadi 

atau Allah tritunggal sangat dijelaskan oleh Perjanjian 

Baru. Perjanjian Baru juga menunjukkan kesetaraan 

 

 

mereka. Untuk lebih jelas lagi kita dapat menyimak dan 

belajar dari bukti-bukti Firman Tuhan yaitu: 

 Allah Bapa diakui sebagai Allah (Yoh 6:27; 1 Pet 1:2) 

 Yesus Kristus diakui sebagai Allah, yaitu dari sifat (Mat 

9:4; 28:18-20) 

dari berbagai perkara yang dilakukan (Mark 2:1-12; Yoh 

12:9), dan dari pekerjaan-Nya (Kol 1:17; Yoh 3-5:27), 

dan Yoh 1:1 menghubungkan  

 keAllahan yang benar dan sepenuhnya dengan Firman 

atau Logos  

 (Kristus). 

C.   Keterkaitan Ke-Esaan Allah dengan Ke- 

Tritunggalan Allah 

Walaupun bukanlah suatu daftar yang lengkap, di 

bawah ini yaitu  beberapa kutipan dari Kitab Suci yang 

menunjukkan Tuhan yaitu  satu dalam Tritunggal. 

 "Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, 

TUHAN itu esa!" (Ul 6:4) 

 "Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku 

tidak ada Allah." (Yes 45:5) 

 "Tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa." (1 Kor 

8:4) 

 “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan 

pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh 

 

 

Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu 

terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: 

"Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku 

berkenan." (Mat 3:16-17) 

 "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-

Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak 

dan Roh Kudus" (Mat 28:19) 

 Yesus berkata : "Aku dan Bapa yaitu  satu" (Yoh 

10:30) 

 "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat 

Bapa" (Yoh 14:9) 

 "Dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang 

telah mengutus Aku" (Yoh 12:45) 

 Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan 

milik Kristus. (Rom 8:9) 

 "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut 

mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang 

di dalam kandungannya yaitu  dari Roh Kudus." (Mat 

1:20) 

 Jawab malaikat itu kepadanya (Maria): "Roh Kudus 

akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi 

akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan 

kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. (Luk 

1:35) 

 (Yesus berkata kepada para muridNya) "Aku akan 

minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan 

 

 

kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia 

menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh 

Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab 

dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. 

Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu 

dan akan diam di dalam kamu."...."Jika seorang 

mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-

Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang 

kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia." 

(Yoh 14:16-17, 23) 

 

2.2  TRITUNGGAL SEBAGAI ALLAH YANG ESA 

 Wujud Allah itu Esa, penyebutan Allah Tritunggal 

itu mutlak dan tidak bisa diganggu keberadaannya, 

tetap utuh, tidak akan berubah.  

Sumber dalil dan dogma Allah Tritunggal Allah yang 

Esa haruslah berdasarkan landasan nats Alkitab dan 

tidak bisa terlebas dari Alkitab. 

 

 

 

 

  

(Kejadian 1:1-3) 

1. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. 

2. Bumi belum berbentuk dan kosong, gelap gulita, 

menutupi samudra    

    raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas 

 

 

permukaan air. 

3. Berfirmanlah Allah “Jadilah terang”  

Dalam nats ini jelas nampak ke-Tritunggal-an Allah 

itu, yakni: 

tiga yang dimaksudkan dalam Allah yang Esa ini 

yaitu  fungsional Alah atau ke-wibawaan kuasa 

Allah. 

 

Pertama: Allah itu sendiri sebagai pencipta. 

Kuasa Allah sebagai pencipta, oleh Perjanjian Baru 

digambarkan sebagai Oknum Bapa (Matius 11:25 

“Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur 

kepadaMu Bapa, Tuhan langit dan bumi”) 

 

Kedua: Roh Kudus melayang-layang.  

Bermakna bahwa Allah memberkati (memberi hidup) 

segala ciptaan-Nya. Roh Allah, dalam Perjanjian Baru 

disebut oleh Yesus sebagai Roh Kebenaran atau Roh 

Kudus. (Yohanes 14:16, 26). Selanjutnya Kuasa Allah 

ini digambarkan sebagai Oknum Rohulkudus. 

 

Ketiga: Allah berfirman. 

Semenjak manusia diciptakan, Allah berfirman 

kepada umat manusia melalui wahyu kepada para 

nabi. Wahyu yang para nabi terima yaitu  dalam 

berbagai cara, antara lain mimpi, penglihatan, 

pendengaran dan perasaan. Wahyu yang mereka 

terima itu dinamakan Firman. Akhirnya Allah 

berfirman lewat Yesus, Firman itu sendiri menjadi 

daging dalam kehidupan Yesus, sehingga Yesus 

dikatakan juga sebagai Firman hidup (1Yohanes 1:1). 

Istilah kata Firman itu berubah penyebutan istilahnya, 

 

 

yaitu menjadi istilah Anak Allah (Yohanes 1:14). 

Penyebutan Anak Allah dalam pengertian  analogi 

Fiman. Firman Allah atau Anak Allah. 

 

Kuasa Allah berfirman dalam bentuk Firman Hidup ini, 

selanjutnya disebut Oknum Anak. Penyebutan Oknum 

Bapa, dan Oknum Anak, dan Oknum Roh Kudus, 

tidaklah sama menunjukan Tiga Oknum yang terpisah 

satu sama lainnya. Karena yang disebut Bapa, 

maupun Anak, maupun Roh Kudus itu yaitu  ALLAH 

itu sendiri. 

 

 Rumusan Allah Tritunggal dikenal dengan 

sebutan “1 sama dengan 3” dan “3 sama dengan 1” 

Tidaklah diartikan atau dipahami secara matematika, 

melainkan dalam pengertian Theologi. “1 sama 

dengan 3” Bermakna bahwa satu wujud Allah; dalam 

tiga kodrat Kuasa aktivitas, yaitu Mencipta, Berfirman, 

Membimbing (memberi taufik dan hidayaht). “3 sama 

dengan 1”, bermakna bahwa tiga Oknum Ilahi, yang 

disebut Bapa, Anak dan Roh Kudus, ada dalam satu 

wujud Allah Yang Maha-Kuasa dan Maha-Esa. Ketiga 

Pribadi Nampak memiliki keterpisahan namun tetap 

akan menjadi satu kesatuan sampai kapanpun. Bapa 

mempunyai kepribadian tersendiri yaitu dia duduk di 

atas tahta. Anak mempunyai kepribadianya tersendiri 

yaitu dia duduk di sebelah kanan Bapa. Roh Kudus 

mempunyai kepribadianya tersendiri yaitu dia nampak 

bagaikan obor dihadapan tahta Allah. Itulah sebabnya 

Yesus mengatakan jika kamu telah melihat Aku, maka 

kamu telah melihat Bapa. Karena Aku dan Bapa yaitu  

satu, Aku di dalam Bapa, dan Bapa didalam Aku, begitu 

 

 

juga Roh Kudus. 

 

  Pandangan para teolog Injili biasanya yaitu  

pandangan dengan konsep seperti di jelaskan di atas. 

Seperti pandangan yang dikemukakan oleh:  

 

1. Warfield bahwa ada satu Allah yang benar dan 

satu-satunya, tetapi di dalam ke-Esaan dari ke-

Allah-an ini ada tiga pribadi yang sama kekal dan 

sepadan, sama di dalam hakikat, tetapi berbeda di 

dalam pribadi. 

 

2. Pandangan A.W.Tozer mengatakan bahwa di 

dalam Tritunggal ini tidak ada yang lebih dahulu 

atau lebih kemudian, tidak ada yang lebih besar 

atau lebih kecil, tetapi ketiga pribadi itu sama-sama 

kekal, bersama-sama, dan setara.  

 

3. Pandangan Stephen Tong mengatakan “Doktrin 

Tritunggal termasuk doktrin monoteisme yang 

percaya kepada Allah Yang Maha Esa. Dan Allah 

Yang Maha Esa itu mempunyai tiga pribadi, bukan 

satu. Pribadi pertama yaitu  Allah Bapa, pribadi 

kedua yaitu  Allah Anak (Yesus Kristus) dan 

pribadi ketiga Roh Kudus. Tiga pribadi bukan berarti 

tiga Allah, dan satu Allah bukan berarti satu pribadi. 

Tiga pribadi itu mempunyai satu esensi atau sifat 

dasar (Yunani: Ousia; Inggris : substance) yang 

sama, yaitu Allah. Allah Bapa yaitu  Allah, Allah 

 

 

Anak yaitu  Allah dan Roh Kudus yaitu  Allah, 

namun ketiga-Nya mempunyai satu ousia, yaitu 

esensi Allah” Dengan demikian dalam konteks 

teologia Kristen yang memahami Allah sebagai tiga 

pribadi dalam satu kesatuan, maka penekanan 

terhadap “keesaan” atau “ketigaan-Nya” saja, 

membuat doktrin ini kehilangan artinya, sekaligus 

menyebabkan kejatuhan ada dua ekstrim. Yaitu, 

pandangan yang menganggap adanya tiga Allah, 

dan pandangan yang menganggap adanya satu 

Allah dan menyatakan diri dalam tiga keadaan yang 

berbeda. Jadi, pengertian yang benar yaitu  

pengertian yang mampu mengakomodasi kedua 

konsep ini (keesaan dan ketigaan), atau dengan 

kata lain mampu menyeimbangkan antara keesaan 

(ketunggalan) dan ketritunggalan Allah. 

 

 

 

 

  Allah itu “Tritunggal”. Dari pembahasan sebelumnya 

telah jelas bahwa “tri-Nya” terletak pada adanya tiga 

pribadi ilahi, atau seperti konsep Boettner bahwa ada 

tiga pusat pengetahuan, kesadaran, kasih dan 

kehendak yang terpisah satu dari yang lain, 

sedangkan “tunggal-Nya” (keesaan-Nya) terletak pada 

esensi-Nya.  

 

 

 

  Secara singkat, pengertian esensi secara umum 

yaitu  hakikat barang sesuatu. Maksudnya yaitu  

bahwa esensi itu merupakan sesuatu yang menjadikan 

sesuatu itu seperti dirinya sesuatu itu.   Jika pengertian 

ini dikaitkan dengan konteks teologis, dapatlah 

dikatakan bahwa esensi itu hakikat dasar atau “unsur 

pembentuk” ke-Allah-an, atau mungkin lebih dapat 

dikatakan sebagai “inti dasar” ke-Allah-an. Selanjutnya 

sesuai dengan konsepsi Tritunggal yang mengatakan 

bahwa letak keesaan pribadi-pribadi Allah Tritunggal 

yaitu  pada esensi-Nya, maka esensi di sini 

mempunyai pengertian sebagai apa yang sama (“unsur 

pembentuk” atau “inti dasar”) di antara Mereka bertiga 

(pribadi-pribadi Allah Tritunggal) di dalam ke-Allah-an 

(Boettner, Op,cit: 106). Maksudnya yaitu  bahwa 

: ‘Setiap pribadi itu memiliki “in toto” esensi yang tak 

terbagi atau terpisahkan dari ilahi di mana sifat dan 

kuasa ada di dalamnya, maka setiap pribadi memiliki 

pengetahuan ilahi, hikmat, kuasa, kesucian, keadilan, 

kebaikan dan kebenaran yang sama. Mereka bekerja 

sama dalam suatu harmonisasi yang sempurna dan 

bersatu, sehingga kita boleh mengatakan bahwa Allah 

Tritunggal bekerja dengan satu pikiran dan satu 

kehendak’. 

  Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa, 

Alkitab mengajarkan bahwa Bapa yaitu  Allah, Yesus 

yaitu  Allah, dan Roh Kudus yaitu  Allah. Alkitab juga 

mengajarkan bahwa hanya ada satu Allah.  

 

  Ke-Tritunggalan itu merupakan tiga pribadi yang 

memiliki satu kesatuan dan sehakekat tanpa ada 

perbedaan. Sangat ditekankan bahwa Allah memiliki 

suatu kuasa dalam pribadi-Nya Allah Tritunggal 

merupakan konsep yang paling hakiki dari Allah sendiri. 

Dengan adanya Tritunggal Allah dapat menunjukkan 

kasih dan relasi-Nya yang unik. Allah bukan dipisah-

pisah menjadi 3 bagian yang berbeda, namun Allah 

tetap satu adanya atau Esa.  

Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh kudus 

merupakan Satu Allah dalam esensi masing-masing. 

Allah Bapa di identikan dengan Allah pencipta Langit 

dan Bumi, Allah Anak diidentikan dengan Allah 

Penyelamat Umat Percaya, dan Allah Roh Kudus 

diidentikan dengan Allah Penghibur Umat Percaya. 

 

 

 

  Meskipun dapat di pahami dalam beberapa hal 

mengenai hubungan antar Pribadi dengan Tritunggal ini, 

pada akhirnya kita tetap tidak dapat mengerti secara 

utuh. Karena begitu besar kuasa Allah dan begitu tak 

terbatas Ia untuk akal manusia yang sangat terbatas. 

   

A. Kepada orang percaya secara keseluruhan.  

Bahwa kita dapat mengetahui tentang Allah 

Tritunggal, bahwa dalam ke-Esaan Allah dinyatakan 

sebagai esensi-Nya atau keberadaan-Nya, sedangkan 

keragaman-Nya diekspresikan dalam tiga pribadi yaitu: 

Allah Bapa, Allah Anak dan Roh kudus. 

 

B. Kepada Hamba Tuhan. 

 Bahwa Hamba Tuhan harus dengan yakin dapat 

menjelaskan tentang konsep Allah tritunggal yang 

benar. Tidak tergantung kepada doktrinal yang berbeda 

namun kembali lagi kepada prinsip Alkitabiah yang 

benar. Bahwa hanya ada satu Allah yang Esa yang kita 

percaya dan kita sembah. 

 

 


Saya ingin mengawali pembahasan ini dengan mengutip pernyataan seorang 

teolog perempuan, yaitu Catherine LaCugna, yang mengatakan, “Tritunggal adalah 

inti iman Kristen.” Artinya, ajaran Tritunggal itu merangkum seluruh karya Allah bagi 

segenap ciptaan yang diimani oleh orang Kristen sesuai kesaksian Alkitab. Tetapi, 

LaCugna juga mengatakan, dan ini yang menjadi perhatian utama saya, bahwa 

“ajaran Tritunggal pada akhirnya adalah doktrin praktis dengan konsekuensi radikal 

bagi kehidupan Kristen.”¹ Ini berarti, ajaran Tritunggal itu bukan hanya menolong kita 

untuk memahami dan mengakui Allah Tritunggal, tetapi juga mengalami-Nya dalam 

kehidupan sehari-hari. Semua aspek itu dipersaksikan Alkitab, seperti yang nyata 

dalam kehidupan beriman umat Israel dan gereja mula-mula. Karena itu, saya 

memandang ajaran Tritunggal ini sebagai ajaran yang membentuk spiritualitas 

keseharian orang percaya. Bahwa, pemahaman dan pengakuan iman Kristen 

terhadap Allah Tritunggal harus menjadi pengalaman hidup yang nyata sebagai 

spiritualitas sehari-hari orang percaya. 

Dengan demikian, memang tepat yang dikatakan dalam pendahuluan draft pokok 

ajaran GMIT tentang Allah Tritunggal, bahwa adalah pokok ajaran ini penting bagi 

anggota GMIT untuk mendalami penghayatan iman. Pokok ajaran ini juga menolong 

anggota GMIT untuk memberikan jawaban berhadapan berbagai pertanyaan, tantangan 

dan perdebatan mengenai ajaran ini khususnya di Indonesia di mana ke-Esa-an Allah 

itu sangat ditekankan. Tetapi, alangkah baiknya juga kalau kebutuhan pokok ajaran ini 

juga mencakupi aspek spiritualitas keseharian yang saya sebutkan di atas. Bahkan, 

kehidupan sehari-hari yang trinitaris itu mungkin lebih menolong anggota GMIT dalam 

pendalaman penghayatan iman serta pertanggung jawaban iman. 

Kalau benar begitu, apa yang dimaksud dengan spiritualitas keseharian dan mengapa itu 

penting dalam memahami, mengakui, dan mengalami Allah Tritunggal sebagai spiritualitas 

keseharian kita? Apakah memang kesaksian Alkitab tentang Allah dan karya-Nya yang 

dirumuskan gereja mula-mula sebagai Tritunggal itu juga berbicara tentang spiritualitas 

keseharian? Kedua pertanyaan ini yang akan saya bahas dalam dialog dengan draft pokok 

ajaran GMIT tentang Allah Tritunggal. Saya mengajukan pembahasan ini untuk didiskusikan 

dan dipertimbangkan dalam finalisasi draft pokok ajaran ini dalam konsultasi-konsultasi 

yang akan dilaksanakan mulai bulan depan sampai pada pembahasan dan penetapannya 

di SSI 2025.


Saat membaca draf pokok ajaran GMIT tentang Allah Tritunggal, pikiran saya 

langsung tertuju pada mayoritas anggota GMIT yang adalah orang-orang sederhana, 

baik secara pendidikan, pekerjaan, ekonomi, maupun status sosial. Sehingga, yang 

muncul di kepala saya adalah bagaimana ajaran Tritunggal yang merupakan hasil 

pergumulan intelektual ini dapat dipahami dan bermakna dalam kehidupan banyak 

anggota GMIT itu. Tentu saja, sebagian kecil dari anggota GMIT memiliki kapasitas 

berbeda yang memungkinkan mereka untuk lebih tertarik pada rumusan-rumusan 

ontologis, sebab itulah kebutuhan mereka. Dan, itu memang penting. Namun, yang tidak 

kalah pentingnya juga adalah bagaimana supaya ajaran ini menjadi bagian dari 

kehidupan para petani di kampung, nelayan tradisional di pesisir, buruh bangunan dan 

pedagang asongan, orang-orang yang bekerja di pasar, para intelektual dst. dalam relasi 

serta pergumulan sosial, politik dan ekologis mereka.

Karena itu, draft yang menurut hemat saya sudah baik ini perlu dilengkapi dengan aspek-aspek yang 

menolong seluruh anggota GMIT dalam konteks beriman mereka. Dan untuk itu, saya memandang spiritualitas 

sehari-hari sebagai salah satu dimensi penting yang dapat melengkapi draft ini. 

Berdasarkan penelusurannya terhadap konsep dan praktik spiritualitas dalam sejarah agama-agama, dan 

terutama Iman Kristen, Philip Sheldrake mengatakan bahwa spiritualitas adalah seluruh cara hidup 

berdasarkan keyakinan iman/kepercayaan². Spiritualitas tidak terbatas pada momen-momen doa atau ritual 

keagamaan, melainkan harus menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Dalam pandangannya, 

spiritualitas itu bersifat holistik adalah spiritualitas yang meresapi setiap tindakan, keputusan, dan hubungan 

yang kita miliki. Dengan mengintegrasikan iman ke dalam keseharian, kita dapat menjalani kehidupan yang 

lebih otentik, di mana setiap aspek hidup kita mencerminkan nilai-nilai spiritual yang kita yakini. Sheldrake 

menegaskan bahwa spiritualitas itu bukan hanya tentang menjalankan ritus agama, tetapi tentang bagaimana 

kita menjalani hidup kita secara keseluruhan sehari-hari.

Karena itu, menurut Sheldrake, spiritualitas keseharian menekankan aksesibilitas dan inklusivitas. 

Spiritualitas bukanlah sesuatu yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk 

kegiatan keagamaan, melainkan sesuatu yang dapat diakses oleh semua orang dalam kehidupan sehari-hari 

mereka. Setiap individu, tanpa memandang latar belakang atau tingkat keahlian spiritual, setiap orang dapat 

mengalami kehadiran Allah dalam rutinitas sehari-hari dan itu menolong mereka untuk mengembangkan 

kesadaran yang lebih mendalam akan Tuhan dalam segala situasi.

Selain itu, Sheldrake menekankan bahwa spiritualitas keseharian itu tidak terpisahkan dari komunitas, di 

gereja maupun ruang publik beragam agama, budaya, bahasa dan suku bangsa. Spiritualitas bukan hanya 

tentang pencarian individu, tetapi juga tentang bagaimana kita hidup bersama dalam komunitas. Kehidupan 

etis dan moral yang kita jalani dalam interaksi sehari-hari dengan orang lain merupakan ekspresi dari nilai-nilai 

spiritual yang kita pegang. Dengan demikian, spiritualitas keseharian bukan hanya menguatkan ikatan pribadi 

dengan Tuhan tetapi juga memperkuat hubungan kita dengan sesama, menumbuhkan ketahanan dan makna 

dalam hidup, serta membentuk dunia yang lebih adil dan penuh kasih. 

Menurut saya, pandangan Sheldrake tentang spiritualitas keseharian itu 

menolong kita untuk melihat bahwa iman kepada Allah harus nyata dalam 

keseharian hidup setiap orang percaya. Meskipun Sheldrake tidak secara spesifik 

menyebutkan aspek ekologis di situ, saya kira dia akan setuju bahwa spiritualitas 

keseharian anggota GMIT harus mencakupi aspek ekologis itu, sebab aspek itu 

merupakan bagian dari realitas sehari-hari kita. Jadi, iman kepada Allah Tritunggal 

harus nyata dalam kehidupan sehari-hari dalam berbagai dimensi kehidupan.  

Hal ini sejalan dengan pandangan Simon Chan bahwa spiritualitas yang 

holistik harus melibatkan konsep trinitaris, setidaknya secara tidak langsung. 

Spiritualitas trinitaris memiliki ciri-ciri sebagai berikut: pertama, adanya bentuk dan 

keteguhan serta pemahaman sakramental terhadap ciptaan. Kedua, mencari 

hubungan pribadi dengan Allah melalui Yesus Kristus. Ketiga, terbuka terhadap 

karya Roh Kudus, baik melalui mukjizat maupun “keakraban kudus.” Dalam misi 

gereja, spiritualitas trinitaris berfokus pada keterlibatan aktif di dunia, pemberitaan 

Injil tentang kasih karunia Allah, pertobatan kepada Yesus Kristus, dan pengalaman 

kuasa Allah yang melibatkan keselamatan individu dan tatanan ciptaan³

 

 

Itulah sebabnya Sheldrake menekankan bahwa selain Alkitab, doktrin-doktrin inti Gereja Kristen juga menjadi 

sumber utama spiritualitas Kristen. Doktrin-doktrin ini memberikan wawasan khusus tentang Allah, dunia alam, dan 

sifat manusia. Namun, doktrin-doktrin itu harus melayani perkembangan spiritualitas holistik itu, dan spiritualitas itu 

berkembang dari praktik kehidupan Kristen yang nyata, bukan dari pemikiran intelektual. Keyakinan Kristen yang 

berkembang tentang Allah dan Yesus Kristus tidak muncul karena perubahan dalam pemikiran, melainkan karena 

pengalaman generasi pertama orang Kristen setelah masa hidup Yesus, yang merasakan kehadiran-Nya yang terus 

ada di tengah-tengah mereka. Mereka mengungkapkan pengalaman mereka tentang Yesus Kristus yang bangkit 

dan kehidupan baru mereka “di dalam Kristus” melalui doa dan usaha untuk hidup taat kepada Allah, mengikuti 

teladan Yesus. Dengan demikian, doktrin dan praktik hidup berjalan seiring⁴. Atau, dalam pandangan saya, doktrin 

harus berbicara tentang spiritualitas keseharian, dan sebaliknya spiritualitas keseharian harus menegaskan doktrin-

doktrin itu

Menurut saya, dimensi itu yang masih kurang dalam draf yang sudah ada ini. Draft ini memuat banyak 

sekali catatan Alkitab tentang Allah Tritunggal, yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus, dalam sejarah keselamatan di 

bagian pertama kajian teologis. Tetapi, selain uraian Alkitabiah itu sangat didominasi oleh relasi Allah Tritunggal 

dengan manusia yang bisa jatuh pada antroposentrisme, aspek spiritualitas keseharian yang holistik belum 

tampak sebagai sebuah karakter yang jelas dari pokok ajaran ini. Demikian juga bagian kedua dalam kajian 

teologis, yaitu ajaran Tritunggal pada masa gereja perdana belum menunjukkan hal itu. Bagaimana manusia 

mengalami kehadiran dan karya keselamatan Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam relasi-relasi sosial, politik, 

ekologis, ekonomi, dst. itu belum tampak sebagai sebuah keyakinan iman yang dapat menginspirasi anggota 

GMIT hari ini untuk hidup dalam spiritualitas sehari-hari. 

Memang, aspek itu muncul secara singkat di pembahasan mengenai implikasi ajaran Tritunggal bagi GMIT dengan 

konsep perichoresis. Tetapi, perichoresis itu merupakan pemikiran teologi mengenai relasi ketiga pribadi Allah Tritunggal. 

Konsep itu tidak memiliki otoritas seperti Alkitab dan rumusan Tritunggal yang adalah kesepakatan gereja secara ekumenis. 

Perichoresis memang bisa kita pakai untuk menjelaskan apa yang dikatakan Alkitab dan rumusan Tritunggal. Tetapi, selain 

konsep perichoresis itu masih diperdebatkan secara dinamis⁵, kita memerlukan otoritas Alkitab dan rumusan-rumusan 

ekumenis, dalam hal ini pertimbangan teologis atau pergumulan iman di balik rumusan itu, yang menolong anggota GMIT 

untuk ber-spiritualitas keseharian yang trinitaris. Perichoresis itu kita butuhkan sebagai bahasa yang menjelaskan atau 

menegaskan kesaksian kedua sumber berotoritas itu. Sehingga, jika pokok ajaran ini menyebutkan bahwa partisipasi gereja 

dalam gerak perichoresis Allah Tritunggal itu berdampak pada aspek sosio-ekologis dan kehidupan dalam kemajemukan, itu 

harus bertolak dari uraian Alkitabiah dan rumusan Tritunggal mengenai karya Allah Tritunggal sebagai respon terhadap 

kesaksian Alkitab yang hidup dalam keseharian gereja mula-mula. 

Karena itu, saya akan coba menunjukkan bagaimana kedua sumber itu berbicara tentang aspek-aspek yang berkaitan 

dengan spiritualitas keseharian yang holistik. Saya berharap, pembahasan itu akan menolong anggota GMIT untuk 

memahami dan mengalami Allah Tritunggal melalui spiritualitas keseharian mereka – spiritualitas keseharian yang trinitaris.

Alkitab mencatat bahwa karya Allah Tritunggal dalam sejarah keselamatan selalu tertuju kepada seluruh ciptaan, yaitu 

segala makhluk hidup dan elemen alam (tanah dan air, gunung dan laut, dst.). Jika kita memahami bahwa melalui karya itu 

Allah menyatakan diri-Nya sebagai Tritunggal, maka tiap-tiap ciptaan-Nya dan relasi di antara mereka mengalami Allah 

Tritunggal. Misalnya, manusia mengalami Allah Tritunggal dalam relasinya dengan sesama manusia dan makhluk hidup lainnya 

di dalam ruang tertentu, di darat atau laut. Itulah keseharian mereka. Dan, jika dalam relasi-relasi itu terdapat kerusakan, maka 

mereka mengalami Allah Tritunggal dalam keseharian seperti itu. Tetapi, di situ mereka mengalami Allah Tritunggal yang 

menyelamatkan dengan memulihkan mereka dari segala kerusakan itu. Jadi, mereka berjumpa dan mengenal Allah Tritunggal 

dalam keseharian seperti itu, baik keberadaan mereka masing-masing maupun berbagai relasi di antara mereka. 

Lebih jelasnya, kita bisa melihat secara singkat kesaksian Alkitab tentang karya Allah Tritunggal, Bapa, Anak dan Roh 

Kudus, dalam keseharian ciptaan-Nya. 

1. Bapa. Mazmur 85, misalnya, berbicara tentang penataan kembali atau reorganisasi kehidupan bersama dengan 

keyakinan bahwa pemulihan dari Allah akan segera datang. Mazmur 85 ini muncul oleh karena pada masa awal 

pasca pembuangan, Bait Suci dan sistem organisasi peribadahan belum ada dan terjadi gagal panen sehingga 

umat Allah belum mengalami damai sejahtera dan hidup mereka semakin sulit⁶. Itulah keseharian mereka. Mazmur 

85 ini menegaskan bahwa kesulitan/penderitaan yang mereka alami itu terkait erat dengan ciptaan lain dan, karena 

itu, karya pemulihan Allah juga mencakup segenap ciptaan Allah⁷. Ayat 13b mengatakan bahwa negeri (erets: 

bumi, tanah) mereka akan memberi hasilnya. Jadi, bangsa Israel mengalami Allah Bapa yang hadir dalam 

keseharian yang sulit, dan yang membawa mereka menuju keseharian yang penuh damai sejahtera dalam karya 

pemulihan-Nya.

2. Anak. Injil Markus, misalnya, menunjukkan ke-Allah-an Yesus dalam konteks politik kekasaran Romawi yang 

teranyam secara kompleks dengan dunia aspek ekonomis, sosial dan ekologis⁸. Markus melakukan itu dengan cara 

menampilkan kedaulatan Yesus atas laut ketika Dia menenangkan Laut Galilea yang bergelora (Mrk. 4:35-41); 

mewujudkan kedaulatan ini dalam sistem ekonomi – ekonomi berbagi – dengan memberi makan orang banyak dengan 

makanan yang bersumber dari tanah dan Laut Galilea (Mrk. 6:30-44); dan menegaskan ke-Allah-an Yesus dengan 

ungkapan “Tenanglah! Aku ini (ego eimi), jangan takut!” setelah Ia berjalan di atas air Laut Galilea. Cerita-cerita itu 

menunjukkan perlawanan Yesus terhadap klaim kaisar yang menyatakan dirinya sebagai allah dan sistem ekonomi 

yang menindas serta eksploitatif yang merupakan perwujudan dari klaim tersebut⁹. Seperti yang disaksikan oleh 

Markus, keilahian Yesus ditandai oleh tindakan-Nya yang melawan kekuasaan serta sistem ekonomi yang kita kenal 

saat ini sebagai akar dari krisis sosio-ekologis. Ke-Allah-an Yesus itu dialami dalam keseharian orang-orang Galilea 

seperti kisah-kisah itu.

3. Roh Kudus. Mazmur 104:30 mengatakan bahwa Roh Kudus menciptakan dan membaharui segenap ciptaan. 

Bagi manusia, karya itu secara eksplisit disampaikan Yesus dalam Yohanes 14:16 bahwa Roh Kudus 

menolong dan menyertai orang percaya sampai selama-lamanya. Dalam penyertaan-Nya itu, Roma 8:18-30 

menggambarkan peran Roh Kudus sebagai penopang orang percaya dan segala makhluk di tengah 

penderitaan saat ini dan membimbing mereka menuju kemuliaan yang akan datang. Paulus menekankan 

bahwa Roh Kudus memelihara harapan di tengah keluhan ciptaan yang merindukan penebusan penuh¹⁰. 

Dalam kelemahan orang percaya, Roh Kudus berdoa syafaat dengan keluhan yang tak terucapkan, 

menyelaraskan doa-doa mereka dengan kehendak Allah dan memastikan bahwa segala sesuatu bekerja 

untuk kebaikan mereka yang mengasihi Allah, sesuai dengan rencana-Nya. Dengan demikian, Roh Kudus 

memainkan peran personal dalam kehidupan sehari-hari orang percaya dan kosmik dalam rencana 

penebusan Allah bagi seluruh ciptaan.

 Beberapa teks itu menunjukkan bahwa karya Allah Tritunggal itu nyata dalam seluruh keberadaan atau 

spiritualitas keseharian manusia dan segenap ciptaan. Mereka mengalami dan mengakui Allah Tritunggal dalam 

keseharian mereka, dan di situ spiritualitas mereka terbentuk.

Pengalaman dan pengakuan akan Allah Tritunggal dalam keseharian yang riil seperti itulah yang 

membuat para para Bapa Kapadokia sampai pada rumusan Tritunggal yang ditetapkan di Konsili 

Konstantinopel pertama pada tahun 381 dan diterima sampai hari ini, yaitu Satu Allah, Tiga Pribadi yang 

berbeda: Bapa, Anak dan Roh Kudus. Rumusan itu sangat dipengaruhi oleh teologi Gregorius dari 

Nazianzus yang berkembang dari pengalaman dan konteks sosial-budaya yang rumit pada masanya. 

Menurut Sigurd Bergmann, situasi tersebut ditandai oleh keragaman yang menyebabkan konflik antara 

berbagai aliran filsafat, komunitas kultus, agama, dan ideologi politik yang berubah-ubah. Selain itu, ada 

ketidakadilan sosial yang meningkat, seperti kemiskinan, kehancuran petani kecil, dan penindasan 

terhadap orang asing, perempuan, dan anak-anak. Secara ekonomi, masyarakat beralih dari produksi 

mandiri ke perdagangan dan ekonomi uang, yang menyebabkan kemiskinan dan pengurasan tanah, serta 

penilaian berlebihan atas properti yang berdampak pada ketidakadilan sosial dan ekologis akibat 

spekulasi dan pengelolaan lahan yang buruk¹¹.

Kompleksitas ini menciptakan isu-isu mengenai kekuasaan dan distribusinya yang memengaruhi 

perumusan doktrin Trinitas. Pertanyaan yang berkembang saat itu adalah “Apakah kekuasaan harus 

dikuasai oleh satu orang seperti Kaisar, atau oleh komunitas yang didasarkan pada cinta, keadilan, dan 

keindahan yang trinitaris?” Gregorius menjawab pertanyaan itu dengan Tritunggal sebagai doktrin yang 

menantang model kekuasaan tunggal kaisar yang menyebabkan krisis sosial-budaya dan, pada saat yang 

sama, sebagai doktrin yang mendukung kesejahteraan sosial-budaya¹². 


Jadi, jelaslah menurut uraian di atas bahwa ajaran Tritunggal itu bukanlah sekadar olah intelektual yang 

abstrak, melainkan sebuah pengalaman yang nyata akan kehadiran dan karya Allah Tritunggal – Bapa, Anak 

dan Roh Kudus – dalam kehidupan sehari-hari yang kompleks. Dalam keseharian itulah orang percaya 

mengalami Allah Tritunggal yang kemudian membentuk spiritualitas mereka sebagai orang-orang yang 

mengalami karya keselamatan Allah Tritunggal dalam keseharian mereka. Spiritualitas mereka itu juga 

terbentuk melalui partisipasi mereka, sebagaimana mereka diberi kesempatan oleh Allah Tritunggal untuk 

berpartisipasi dalam persekutuan dengan-Nya¹³ dan karya-Nya dalam keseharian dunia ciptaan-Nya. 


Untuk menutup pembahasan ini, saya ingin kembali pada apa yang menjadi perhatian 

saya, yaitu bagaimana supaya ajaran Tritunggal secara praktis dapat menjadi bagian dari 

spiritualitas keseharian anggota GMIT, khususnya mereka yang sederhana. Saya telah 

menunjukkan bahwa spiritualitas itu sangat penting bagi anggota GMIT, baik untuk 

memahami dan mengakui Allah Tritunggal, maupun mengalami karya sang Bapa, Anak 

dan Roh Kudus dalam segala pergumulan dengan kompleksitasnya setiap hari. Untuk itu, 

saya telah menunjukkan beberapa contoh dalam Alkitab dan dari latar belakang 

perumusan Tritunggal bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang adalah Satu Allah itu hadir 

dan dialami oleh orang-orang dan segenap ciptaan kepunyaan-Nya. Sebagaimana 

ungkapan pastoral trinitaris Joas Adiprasetya, “[Allah Tritunggal] sungguh tak jauh. Ia 

bahkan lebih dekat daripada ‘sejauh doa.’ Allah hadir di dalam setiap sel-sel tubuh 

semesta.”

Karena itu, saya mengusulkan agar dimensi praktis ajaran Tritunggal ini dikemukakan 

dengan lebih jelas dalam Pokok Ajaran GMIT tentang Allah Tritunggal. Itu akan membuat 

iman kita kepada Allah Tritunggal sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita sebagai 

spiritualitas keseharian anggota GMIT. Untuk kepentingan itu, sangat diharapkan agar 

dalam diskusi di sini atau di jemaat masing-masing dan dalam konsultasi-konsultasi 

Pokok-Pokok Ajaran GMIT menuju SSI tahun depan, kita semua dapat membawa segala 

pergumulan baik di lingkup jemaat dan Klasis hidup sehari-hari serta harapan-harapan kita 

dalam pergumulan itu untuk disampaikan. Itu akan sangat membantu perumusan dan 

penetapan pokok ajaran GMIT tentang Allah Tritunggal bermanfaat bagi spiritualitas 

keseharian seluruh anggota GMIT.