tentang Kristus. Sehingga perlu mengetahui kesiapaan Yesus itu yang sebenarnya dan
apa yang ia perbuat sehingga sangat mempengaruhi banyak orang.
Kristologi berasal dari bahasa Yunani yaitu “Kristos” yang artinya Kristus dan “Logos”
yang artinya ilmu pengetahuan, jadi Kristologi yaitu ilmu yang mempelajari mengenai
Kristus.
Kristologi ialah menyelidiki kesiapaan Dia dalam diri-Nya sendiri dan artinya bagi orang-
orang yang percaya kepada-Nya. Masalah Kristologi merupakan soal khusus Kristiani,
dalam kristologi ditanyakan bagaimana yang ilahi dan yang insani berhubungan satu
sama lain dalam pribadi tertentu, yakni dalam diri Yesus Kristus.
Pertanyaan ini hanya diajukan oleh orang yang telah berjumpa dengan Yesus Kristus,
pihak Yesus itu sungguh manusia, namun di lain pihak Allah sendiri hadir di dalam Dia,
malahan bahwa Yesus sendirilah Allah.
Berikut ini yaitu beberapa pandangan atau rumusan para tokoh yang berkisar pada
abad I-VII, terhadap pemahaman tentang Kristologi. Tokoh tokoh tersebut yaitu :
A. Ignatius dari Antiokhia (Abad I)
Ajarannya pada umumnya berbau ortodoks. Ia melawan ajaran-ajaran sesat, seperti
Dosetisme. Menurut dia, Yeus yang disalibkan yaitu Allah yang menjadi manusia.
Kristus sungguh-sungguh lahir dari dara Maria dan mati dibawah pemerintahan Pontius
Pilatus. Kematian Kristus yaitu sumber kehidupan orang percaya.
B. Marcion (Abad II)
bersifat sementara atau memiliki tubuh yang semu. Ia tidak dilahirkan, namun Ia
menampakkan diri dengan sokonyong-konyong.
C. Yustinus Martir (Abad II)
Bagi Yustinus, seluruh kebenaran yaitu kebenaran Allah. Ia mengutib prinsip Yohanes
tentang Kristus sebagai Logos, Firman. Allah bapa yaitu kudus adanya dan terpisah
dari manusia yang jahat. Namun melalui Kristus, Logos-Nya, Allah dapat berhubungan
menjadi dua, yaitu Logos dalam Allah dan Logos yang keluar dari Allah. Yustinus
pengurangan terhadap hakekat Allah. Logos dilahirkan sebelum penciptaan dan keluar
dari kehendak bebas Allah. Logos itu sudah ada diantara manusia sebagai benih-benih
kebenaran.
D. Tertullianus (Abad III)
demikian sabda ilahi bukan sabda ilahi lagi, seakan-akan mengalami perubahan hakiki,
melainkan bahwa sabda manerima daging insani. Juga sesudah menjelma menjadi
manusia, Firman Allah tetaplah Firman Allah. Kalau Firman itu menerima daging
menusiawi dan tetap tinggal Firman ilahi, maka hal ini berarti bahwa Yesus Kristus
memiliki dua kodrat atau substansi, yang bersifat utuh denga cirri dan coraknya
sendiri. Masing-masing pula memiliki fungsinya sendiri yang berbeda-beda. Sang
Logos mengerjakan mukjizat, sedangkan kodrat insani menderita sengsara.
E. Origenes (Abad III)
Origenes beranggapan bahwa jiwa insani Yesus sudah ada sebelum inkarnasi. Jiwa
insani Yesus sudah dalam keadaannya yang pra-ada dipersatukan dengan Logos ilahi.
Persatuan itu demikian erat sehingga jiwa Kristus yang pra-ada itu memasukkan Logos
seluruhnya kedalam dirinya, akibatnya dari Logoslah jiwa Yesus menerima terang dan
kemuliaanNya. Dan kareka kesatuan dengan Logos pula jiwa Yesus kehilangan
kemampuan untuk berbuat dosa. Pada waktu inkarnasi, Logos yang sudah
dipersatukan dengan jiwa Yesus itu masuk mkedalam tubuh Yesus. Sejak saat itu, jiwa
terbatas. Maksudnya, sebagaiman jiwa telah menampung Logos, begitu pula tubuh
menerima jiwa, dan melalui jiwa itu menerima Logos juga. Dengan demikian menurut
seperti manusia lainnya.
F. Athanasius (Abad IV)
menyelamatkan manusia. Baginya Yesus Kristus sungguh-sungguh manusia. Putra
Allah yaitu sehakekat dengan Allah Bapa. Yesus Kristus sungguh-sungguh Allah dan
hanya demikian Ia dapat menyelamatkan manusia.
G. Cyrillus (Abad V)
keilahian dan kemanusiaan Kristus seperti hubungan antara susu dengan air: sifat
khusus air tidak tampak lagi bila dicampur dengan susu. Begitu juga dengan sifat-sifat
khusus dari kemanusiaan Kristus menjadi hilang ketika tabiat itu digabungkan dengan
keilaahian Kristus, sehingga tubuh Kritus mengambil alih sifat-sifat ilahi, seperti
kekekalan.
H. Santo Paulus (Abad V)
tentang Kristus sebagaimana kemudian ditetapkan Gereja. Tiga teks itu ialah Gal. 4:4
dimana pra-eksistensi Yesus dinyatakan, dan Roma 1:3-4 serta Flp. 2:5-11 yang
jasmani disatu pihak dan cara surgawi dan rohani di lain pihak. Menjurut yang pertama
Menurut daging, Yesus Kristus berasal dari Daud; menurut Roh Kudus, Ia dinyatakan
Anak Allah yang berkuasa.
I. Kaisar Heraklius (Abad VII)
Kaisar Heraklius pada tahun 638 mengeluarkan suatu dekret yang melarang barbicara
selanjutnya satu atau dua daya (kerja). Sebab yang satu dan sama, Tuhan kita Yesus
Kristus, mengerjakan baik apa yang ilahi maupun apa yang insan. Agar orang tidak
(kaisar) mengakui adanya satu kehendak Tuhan kita Yesus Kristus, sungguh-sungguh
Allah dan sungguh-sungguh manusia.
J. Johanes dari Damsyik (Abad VII)
Ia mengatakan Kristus memiliki dua kodrat. namun , karena kedua kodrat-Nya
memiliki satu hypostatis (kepribadian), maka kita percaya bahwa hanya satu pribadi
kesatuan yang utuh. Sebab dalam betuk (kodrat) apapun ia berkehendak atau berdaya
, selalu ada hubungan erat dengan kodrat yang lain.
Konsili dalam bahasa latin disebut “Concilium” yang artinya rapat perundingan sesuatu,
dalam bahasa Yunani disebut “synodos” yang juga rapat atau pertemuan . Menurut
KBBI konsili yaitu musyawarah besar pembuka-pembuka gereja Khatolik . Jadi bisa
disimpulkan bahwa konsili yaitu sidang resmi para Uskup dan wakil beberapa gereja
yang diundang dengan tujuan merumuskan suatu ajaran atau disiplin gereja .
sesudah penghambatan berakhir gereja dapat hidup dengan tentram, namun sesudah
tekanan dari luar berakhir mulailah pertikaian, Yang dipersoalkan ialah diri Kristus, yaitu
diri Kristus (soal Kristologi), namun hal ini menimbulkan masalah, Filsafat Yunani-
Roniawi memandang zat ilahi bertingkat-tingkat dan pemakaian filsafat itu sebagai
diluarnya. yang mana pokok persoalan mengenai Kristologi ialah bahwa dalam Alkitab
dinyatakan dua hal mengenai Kristus yang juga tidak bisa disejajarkan dengan logis.
Yang pertama ialah Kristus benar-benar Allah Tuhan. yang kedua ialah: Kristus benar-
benar manusia (bnd. Mat 1:1, 4:2; GaL 4:4). akibatnya gereja terpaksa menertibkan
Karena Nestorius mengabaikan hal yang pertama; Cynillius mengabaikan yang kedua
Nestorius yaitu seorang Rahib yang berasal dan Siria. Pandangannya dipengaruhi
oleh kristologi aliran Antiokhia . Pemikiran Nestorius bersumber pada Teologi Origenes,
dan Cyrillus juga yaitu seorang pengikut frenacus dan Athanasius . Cyrillus, patriakh
Aleksandria, dengan teman-temanya yaitu (golongan Alexandria) . Sehingga kaisar
Theodosius II memanggil Konsili Efesus untuk mencari penyelesaian atas konflik antara
Cyrillus dan Nestorius .
Konsili Efesus dilatar belakangi oleh mencari penyelesaian atas konflik antara Cyrillus
kemanusiaan dan keilahian dalam diri Kristus. Konsili Efesus inii merupakan Konsili
persoalan Nestorius tahun 431. Konsili dibuka pada tahun 22 Juli 431 oleh Memmon,
Siria yang dipimpin oleh Yohanes dari Antiokhia . Dimana kelompok uskup-uskup yang
dukungan, menunggu 15 hari, lalu mulai Konsili dengan 200 uskup, Nestorius dipecat,
empat hari kemudian kelompok Antiokhia tiba. Mereka menolak konsili dan Cyrillus dan
membuat Konsili sendiri dan dimana Cyrillus yang dikutuk, jumblah yang ada 30 Uskup.
Dan dua minggu kemudian delegasi dari Barat tiba dan mengesahkan Konsii Cyrillus .
Nestonius, Nestonius mengajarkan bahwa Yesus memiliki dua pribadi. Di sini
terlihat letak kelemahan Kristologi Nestorius. Karena Kristologinya bertitik
ke-Allah-an Yesus. Nestorius juga menjelaskan bahwa karya dan perbuatan
(Contohnya, tentang kematian-Nya) . sebab Nestorius mengajarkan bahwa
Yesus seakan-akan menjadi sebuah rumah kudus bagi logos Allah. Demikianlah
tinggal dua. Ada perbuatan-perbuatan Kristus yang dilakukan oleh logos
(misalnya sengsara dan Kematian-Nya). Nestorius dan pengikut-pengikutnya,
penceraian Kedua tabial-Nya. dan Kristus seolah-olah dibagi dalam dua oknum,
yaitu ilahi dan insani. Dengan demikian Nestorius beranggapan bahawa Yesus
Cyrillus, Cyrillus yaitu Uskup Aleksardria pada tahun 412. Ia menggantikan
Theopilus, pamannya di Aleksandria. Ia seorang yang sangat bersemangat anti-
Nestorian pada konsili oikumenis yang ke-3 . Ia mengajarkan keesaan dan
kedua tabiat Kristus, sambil menitik-beratkan tabiat ilahi. Akibatnya kemanusiaan
Kristus kurang diperhatikan oleh Cyrillus. Katanya: Anak Allah menyelubungi
dirinya dengan tabiat manusia, sehingga tabiat manusia yang tidak berpribadi itu
telah hilang lenyap. Seperti setitik air susu hilang melebur dalarn samudra .
sempurna, terdiri dari jiwa akali dan tubuh. Ia diperanakan dari sang Bapa
keselamatan kita, Ia dilahirkan dari Anak dara Maria sebagai Manusia. Ia
(homoousios) dengan kita, sebagai manusia. sebab ada kesatuan dua kodrat
Euthyches pada bulan Oktober 451 . Euthyches rahib di Mesir, menjadi penganut
Mazhab Aleksandria dan tidak rnenyetujui pendirian Cyrillus. Yang mana mereka tetap
mempertahankan bahwa Yesus kristus hanya ada satu kodrat (physis, ousia, hipostatis)
seperti, menurut mereka diajarkan oleh cyrillus sebelum menghianati konsili Efesus.
Bisa dikatakan Cyrillus sedikit banyak memberi angin kepada para rahib dari Euthyches
1. Euthyces, yang memperuncing tedensi mazhab aleksandria, yang begitu
apa. paling tidak secara praktis kemanusiaan itu diserap oleh keilahian . Intinya
2. Paus Leo, pokok Kristologi Leo itu yaitu sebagai berikut: adapun diri (persona)
Yesus Kristus, Allah dan manusia, ialah diri Firman Allah dan pra -existen. Yang
satu dan sama serentak Allah sejati dan manusia sejati. Dan dirinya persona)
hanya sam. Dua kodnat (natura) masing-masing dengan ciri —coraknya sendiri,
bergabung dalam satu diri itu. dalam inkarnasi kedua kodrat itu tidak berubah
dan keilahian tidak menyerap kemanusiaan. Kedua kodrat lengkap yang tetap
meskipun selalu selaras. Tiap-tiap kodrat (forma) mengerjakan apa yang sesuai
dengan ciri-coraknya, namun selalu dalam persekutuan satu sama lain. firman
khas bagi daging. Dalam rumusan terakhir ini terungkap bahwa subjek segala
Firman. Dan oleh karena ‘diri’(persona) satu dan sama saja. orang boleh
karena diambilnya kemanusiaan itu oleh Firman. Jadi tidak ada
Keputusan konsili ini ialah: yang diterima oleh Konsili Chalcedon berbunyi sebagai
sama Allah sejati dan manusia sejati (yang terdiri) atas jiwa berakal dan badan,
Maria, Bunda Allah, demi untuk kita dan demi untuk keselamatan kita yang satu dan
sama Tuhan, Kristus, Anak Tunggal, (mesti) diakui dalam dua kodrat(en duo physesin),
tak tercapur (asygkhytos), tak berubah (atreptos), tak terbagi (adiatretos), tak ter-pisah
(akhoristos), dengan sama sekali tidak dihilanigkan perbedaan kodrat-kodrat karena
satu pemersatuan, namun sebaliknya ciri-corak khas kodrat masing masing tetap aman,
(hypostasis) tidak terbagi atau terpisah menjadi dua pribadi (prosopa), melainkan yang
satu dan sama Anak Tuggal, Allah-Firman, Tuhan Yesus Kristus.
Mereka menolak Chalcedon dengan dua kodrat. Para Monofisit menguasai Mesir dan
wilayah lain di Timur. Keberatan-keberaan mereka terhadap Chalcedon dapat dibagi
Aleksandria/ Cyrillus tidak ada dalam dalam hasil Chalcedon: yaitu rumusan” satu-
satunya kodrat yang telah menjadi manusia”, istilah kesatuan Hypostatis” serta ide
bahwa Kristus yaitu “ satu dari dua kodrat”.
Semua istilah itu ada dalam ajaran Cyrillus. Kedua, mereka berkeberatan terhadap
karangan Leo . Konsili Chalcedon memang mengutuk Nestorius dan Euthyces, namun
ibas uskup (Edessa) . Oleh karena itu pada Lahun 553 Justianus memanggil konsili
Konstantinopel, konsili oikumenis yang kelima. Konsili inii berusaha menenangkan para
Hanya karya-karya pertama mereka yang anti Cyrillius. Yang terpenting dari Konsili ini
yaitu bahwa Chalcedon harus ditafsir menurut tafsiran Aleksandria. Para uskup
Konstantinopel, Efesus, dan Chalcedon, kita telah menerima dan sekarang mengajar
segala yang telah ditetapkan konsili-konsili tersebut mengenai iman yang satu itu. dan
akhirnya, suatu rumusan Aleksandria yang sangat disukai para Monofosit.
kepribadian-kepribadian yang sebenarnya, terkutukah ia. “ barang siapa yang
Firman yang menjadi manusia” dan tidak mengartikainya sebagaimana diajarkan oleh
para bapa yang kudus... namun berusaha mengajarkan satu kodrat atau hakikat
keallahan dan kernanusiaan Kristus, tekutuklah ia. Sebab, kalau kita mengajarkan
bahwa firman, satu-satunya yang diperanakan, dipersatukan secara hypostatis (dengan
balik antara kedua kodrat. Barang siapa tidak mengaku bahwa Tuham kita Yesus
Kristus, yang disalipkan dalam daging, sungguh Allah, raja Kemuliaan dan satu dari
ketritunggalan yang kudus. terkutuklah ia
Konsili ini bersidang dan tahun 680 sampai 681. Konsili okumenis yang keenam ini
itu “tak tercampur, tak berubah, tak terbagi, tak terpisah .
Konsili ini juga menghasilkaan suatu rumusan iman. Rumusan ini menyatakan bahwa
oikumenis. sesudah mengutip seluruh Rumusan Chalcedon , rumusan tersebut
kami. menyatakan pula bahwa di dalam diri Yesus Kristus ada dua kehendak yang
pemisahan, tanpa pengadukan, menurut ajaran bapa-bapa rang kudus. Kedua
kehendak kodrati tidak saling bertentangan, sebagaimana ditandaskan leh penyesat-
penyesat yang durhaka. Akan namun kehendak insani-Nya mengikuti kehendak ilahi-Nya
yang maha Kuasa ia tidak melawan atau segan nenuruti namun takluk.... Kami percaya
bahwa Tuhan kita Yesus Kristus yaitu salah satu dan ketritunggalan dan Allah kita
yang sejati, juga sesudah menjadi manusia. kita nyatakan bahwa kedua kodrat-Nya
menderita sepanjang masa inkarnasi. ini bukan hanya kelihatan demikian, namun
hvpostasis. Walaupun berpadu, kedua kodrat mengkehendaki dan melakukan hal-hal
yang patut baginya. Dan ini terjadi tanpa pemisahan dan tanpa pengadukan. Oleh
yang lain untuk menyelamatkan umat manusia . .
“Kafirlah Hukumnya Orang yang Menyembah Tuhan yang Tiga
Itu”: Menampik Tuduhan Terkait Problem Doktrin Tritunggal
“It is infidel for those who worship the Three Gods”: Dismissing
Allegations Regarding the Problem of the Trinity Doctrine
Yudi Jatmiko
Bukit Batok Presbyterian Church, Singapore
Korespondensi: yudi3036@yahoo.com
Abstrak: Tritunggal adalah sebuah doktrin yang amat mendasar dalam iman Kristen. Sekalipun kata
“tritunggal” tidak pernah muncul dalam Alkitab, kebenarannya mewarnai sepanjang penulisan Kitab Suci.
Walaupun demikian, bukan berarti kebenaran ini diterima begitu saja oleh semua manusia. Dalam konteks
Indonesia, yang notabene mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Islam, ide tentang satu Allah tetapi
tiga dan tiga tetapi satu sangat bernuansa politeisme. Kaum muslim sangat menjunjung tinggi konsep
monoteisme. Berpijak pada kebenaran monoteisme ini, bagi mereka, ide tentang Tritunggal bukan hanya aneh,
tetapi juga harus ditolak dengan keras. Mengamati kedua fakta di atas, penulis melihat perlunya sebuah
pembelaan apologetis terhadap tuduhan tersebut. Tulisan ini berusaha untuk memaparkan tuduhan kaum
muslim berkaitan dengan problem teologis dan logis konsep Allah Tritunggal serta menyajikan sebuah
pembelaan apologetis yang memadai. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan sebuah pembelaan apologetis
yang obyektif dengan keyakinan bahwa doktrin Tritunggal bersifat monoteistik (pembelaan teologis) dan,
walaupun jauh melampaui akal manusia yang terbatas, Tritunggal tidak irasional (pembelaan logis).
Tritunggal adalah sebuah doktrin yang amat
mendasar dalam iman Kristen. Sekalipun kata
“tritunggal” tidak pernah muncul dalam Al-
kitab, kebenarannya mewarnai sepanjang pe-
nulisan Kitab Suci. Teolog dan apologist (pem-
bela iman) Kristen, John Frame, menegaskan
bahwa “far from being an abstruse philosophical
speculation, the doctrine of the Trinity attempts
to describe and account for something biblically
obvious and quite fundamental to the gospel.”1
Jauh dari sekadar spekulasi filsafat manusia,
doktrin Tritunggal merupakan kebenaran
sentral dalam Kitab Suci. Ini disebut sentral
dan fundamental karena Tritunggal terlihat
jelas dalam benang merah sejarah keselamat-
an Allah, mulai dari kitab Kejadian sampai
klimaksnya di kitab Wahyu. Walaupun demi-
kian, bukan berarti kebenaran ini diterima
begitu saja oleh semua manusia.
Dalam konteks Indonesia, yang mayoritas
penduduknya adalah pemeluk agama Islam,
ide tentang satu Allah tetapi tiga dan tiga
tetapi satu sangat bernuansa politeisme. Kaum
muslim sangat menjunjung tinggi konsep
monoteisme. Ini tertuang dalam kebenaran
mendasar yang mereka ajarkan, yaitu bahwa
“Allah SWT mempunyai sifat ahad (Esa), dan
sifat ini merupakan salah satu nama bagi Allah
Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.”2 Dalil Al-
Quran sendiri mengatakan demikian: “Kata-
kanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa’.”3
Keesaan Allah ini harus dipegang teguh oleh
setiap penganut agama Islam. Berpijak pada
kebenaran monoteisme ini, bagi mereka, ide
tentang Tritunggal bukan hanya aneh, tapi
harus ditolak dengan keras.4 Al-Quran surat
Al-Maidah ayat 73 memperingatkan bahwa
1Frame, The Doctrine of God (Phillipsburg: P&R, 2002),
621.
2Alawy bin Abdul Qadir As-Segaf, Mengungkap
Kesempurnaan Sifat-Sifat Allah dalam Al-Quran dan As-
Sunnah (Jakarta: Pustaka Azzam, 1994), 25; bdk. H.A.
Mukti Ali, Memahami Beberapa Aspek Ajaran Islam
(Bandung: Mizan, 1996), 49-50.
3Ibid., 26.
4Amos Sukamto dan Rudy Pramono, “The Roots of
Conflicts between Muslims and Christians in Indonesia in
“sungguh benar-benar kafirlah orang-orang yang
berkata: ‘Sungguh Allah itu adalah yang ketiga
dari Tuhan yang tiga. Padahal tidak ada Tuhan
kecuali Tuhan Yang Maha Esa’.”5 Karena itu,
“kafirlah hukumnya orang yang menyembah
Tuhan yang tiga itu.”6 Mengamati kedua fakta
di atas, artikel ini ditulis dengan fokus untuk
memberikan sebuah pembelaan apologetis
terhadap tuduhan tersebut.
Tulisan ini berusaha untuk menjelaskan dua
hal. Pertama, memaparkan tuduhan kaum
muslim berkaitan dengan problem konsep
Allah Tritunggal. Demi menunjang kedalam-
an analisis, penulis akan mengklasifikasikan
dan membatasi hanya kepada dua problem,
yaitu problem teologis (orang Kristen me-
nyembah tiga Allah) dan problem logis (bagai-
mana mungkin tiga adalah satu dan satu ada-
lah tiga?). Kedua, menyajikan sebuah pem-
belaan apologetis terhadap dua problem yang
diajukan oleh kaum muslim di atas. Pembela-
an apologetis ini akan meliputi dua aspek,
yaitu pembelaan teologis dan logis. Aspek teo-
logis dan logis dipilih karena sering dikaitkan
dengan problem filosofis dalam dialog antar-
agama. Melalui tulisan ini, penulis berharap
dapat memberikan sebuah pembelaan apolo-
getika yang mendalam dan obyektif karena
penulis meyakini bahwa doktrin Tritunggal
bersifat monoteistik (pembelaan teologis) dan
walaupun jauh melampaui akal manusia yang
terbatas, Tritunggal tidak irasional (pembela-
an logis).
bahwa pengajaran tentang Tritunggal ber-
masalah secara teologis dan logis. Pada bagian
ini, penulis akan menguraikan keberatan-
keberatan kaum muslim berkaitan dengan dua
hal di atas.
Problem Teologis
Dalam persepsi agama Islam, iman Kristen
menyembah tiga Allah, yaitu Allah yang
dikenal sebagai Bapa, Allah Anak atau Isa
Almasih, dan Roh Kudus.7 Walau sekilas mirip
dengan Tritunggal dalam teologi Kristen, kon-
sep ini jauh dari apa yang disaksikan dalam
Alkitab. Umat Islam memaknai Tritunggal
demikian:
Menurut kepercayaan Islam yang mereka
katakan Tuhan Bapa itu ialah Tuhan Allah
yang Maha Esa dan Maha Tinggi, sedang
yang mereka katakan Tuhan Putera itu
ialah Nabi Isa Al-Masih, hamba Allah, ma-
nusia biasa, anak Maryam yang diutus seba-
gai Rasul dan yang mereka katakan Tuhan
Rokh Qudus itu ialah Malaikat Jibril,
pembawa wahyu Tuhan kepada Nabi Isa.8
Menjadi jelaslah apa yang Islam mengerti
tentang Tritunggal. Padanan Allah Bapa,
Anak, dan Roh Kudus dimengerti sebagai
Allah, Isa-Almasih, dan malaikat Jibril. Bagai-
manapun padanannya, Islam sejatinya mema-
hami pengajaran Tritunggal sebagai triteisme.
menyatakan bahwa “kepercayaan orang Kristen itu ialah
percaya kepada Tuhan Yesus putera-Nya yang tunggal, …
percaya kepada Rokh Qudus [sic], Tuhan yang memberi
hidup ….” Bandingkan uraian teologis yang ditulis oleh
Mashad Al-Allaf, “Islamic Theology,” dalam The Blooms-
bury Companion to Islamic Studies, ed. Clinton Bennet
(London: Bloomsbury, 2013), 119–134.
8Ibid., 77.
9Istilah-istilah yang biasa digunakan ialah
trinitarianisme dan politeisme (bandingkan misalnya ulasan
Yusuf Al-Qaradhawi di bawah subjudul provokatif “Oleh
Karena Itu Kita Mengafirkan Yahudi dan Nasrani” dalam
Bagaimana Islam Menilai Yahudi dan Nasrani (Jakarta:
Gema Insani, 2000), 72–75 dan Abdal-Hakim Murad, “The
Trinity: A Muslim Perspective,” diakses 10 Maret 2016,
http://masud.co.uk/ISLAM/ahm/trinity.htm.
Islam sendiri biasanya tidak menggunakan
istilah “triteisme” dalam tulisan-tulisan mere-
ka,9 namun ide politeisme yang mereka rujuk
mewakili konsep penyembahan kepada tiga
Allah atau triteisme. Terlepas dari klaim Kris-
ten yang bersifat monoteistik, Islam menilai
konsep Tritunggal Kristen sebagai politeistik.
Dalam artikel berjudul “Who Invented the
Trinity?,” Aisha Brown dengan tajam menga-
takan:
Christianity claims to be a monotheistic
religion. Monotheism, however, has as its
fundamental belief that God is one; the
Christian doctrine of the Trinity––God
being Three-in-One––is seen by Islam as a
form of polytheism. Christians don’t revere
just One God, they revere three.10
Apa yang Brown katakan ada benarnya.11
Iman Kristen tidak hanya menyembah Allah
Bapa, tapi juga Allah Anak dan Allah Roh
Kudus. Dalam perspektif Islam, sangat mudah
untuk langsung menyimpulkan bahwa Kristen
menyembah tiga Allah; dalam hal ini triteisme
atau politeisme. Brown kemudian melanjut-
kan dengan menunjukkan dua fakta Alkitab
yang membantah konsep Tritunggal.12 Per-
tama, baptisan pada gereja mula-mula hanya
menggunakan nama Yesus, sebagaimana
dicatat dalam surat-surat rasul Paulus. Kedua,
amanat agung yang pertama yang ditemukan
dalam injil yang paling tua, yaitu Injil
10Aisha Brown, “Who Invented the Trinity,” The
Religion of Islam, 30 Juli 2007, last modified 9 Desember
2012, diakses 10 Maret 2016, http://www.islamreligion.com
/articles/600/viewall/who-invented-trinity.
11Pembaca diharapkan tidak langsung menyimpulkan
bahwa penulis sepenuhnya setuju dengan tuduhan Brown di
atas. Penulis hanya ingin menunjukkan bahwa apa yang
Brown katakan ada benarnya bahwa iman Kristen bukan
hanya menyembah Allah Bapa tapi juga Allah Anak dan
Allah Roh Kudus. Ketika menempatkan diri pada posisi
Brown, yang adalah muslim, penulis menyadari bahwa pada
bagian ini jika diikuti secara sekilas, seolah-olah iman
Kristen menyembah tiga Allah: Bapa, Kristus, dan Roh
Kudus. Walaupun demikian, pengamatan mendalam yang
memisahkan antara kategori “esensi” dan “pribadi” dalam
Tritunggal menunjukkan sebaliknya. Ini akan dibahas lebih
rinci pada bagian kedua.
Markus,13 tidak mencantumkan formulasi
Tritunggal. Menurut hemat Brown, satu-
satunya rujukan langsung tentang Tritunggal
dalam Alkitab ialah 1 Yohanes 5:7, “Sebab ada
tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga:
Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya
adalah satu.” Sayangnya, ia mengatakan:
Biblical scholars of today, however, have
admitted that the phrase: “ … there are three
that bear record in heaven, the Father, the
Word, and the Holy Ghost: and these three are
one” … is definitely a “later addition” to Bibli-
cal text, and it is not found in any of today’s
versions of the Bible.14
Dengan demikian, dalam konsepsi Brown, ide
tentang Tritunggal sudah runtuh.
Berpijak pada dua fakta di atas, formulasi
baptisan dan amanat agung mula-mula, Brown
menyimpulkan bahwa Tritunggal bukanlah
konsep murni monoteisme Yahudi.15 Ia me-
nilai bahwa Tritunggal adalah sebuah ide yang
dikembangkan oleh gereja mula-mula, khusus-
nya oleh Tertulianus.16 Ide ini sendiri, menu-
rutnya, bukanlah ajaran yang murni dari Al-
kitab, melainkan sebuah formulasi doktrinal
yang mengawinkan iman Kristen dengan filsa-
fat Yunani, dalam hal ini Platonisme.17 Formu-
lasi yang demikian ialah hasil pemikiran manu-
sia dan tidak menjadi bagian dari firman Allah.
Akhirnya, dengan mantap Brown menyatakan,
Problem Logis
Selain problem teologis, Islam menilai bahwa
ide tentang Tritunggal juga memiliki problem
logis. Problem ini terletak paling tidak dalam
dua hal: (1) ide bahwa tiga adalah satu dan
satu adalah tiga; dan (2) fakta dwinatur Yesus.
Berkaitan dengan yang pertama, di satu sisi,
Kristen menyembah Allah Bapa, Allah Anak,
dan Allah Roh Kudus, namun umat Kristen
meyakini bahwa mereka menyembah hanya
satu Allah. Bagi umat Islam, ini bukan hanya
tidak masuk akal, tapi bertentangan dengan
akal sehat. Muhammad Ali al-Sabuni, seorang
penafsir Al-Quran yang terkemuka dan guru
besar ilmu tafsir Al-Quran dari Universitas
Umm Al-Qura di Mekkah, Arab Saudi,
menggarisbawahi hal ini demikian:
The Christians say: One substance and three
persons: Father, Son and Holy Spirit. These
three are one as the sun consists in its circular
shape, rays and warmth. They claim that the
Father is divine, the Son is divine, the Spirit is
divine, and the whole is one God. It is known
to be false by the intuition of reason that three
is not one and one is not three.19
Walaupun tidak diuraikan lebih lanjut, me-
narik untuk dicermati bahwa al-Sabuni pada
bagian ini menyebutkan kategori “substance”
17Uniknya, pendapat ini disetujui oleh seorang penulis
Kristen terkemuka dalam ranah teologi patristik, Ilaria L.
dan “persons”, namun agaknya hal ini tidak
terlalu menjawab problem logika yang ada
dalam konsep Tritunggal. Al-Sabuni menegas-
kan tidak mungkin logis jika dikatakan bahwa
tiga adalah satu dan satu adalah tiga.
Hal serupa juga disoroti oleh seorang teolog
Muslim ternama, Ibnu Taimiyyah. Selain se-
bagai teolog, ia juga adalah seorang Islamic
scholar and logician. Pemikirannya mengenai
Tritunggal penting untuk dihadirkan pada
bagian ini. Taimiyyah pernah menulis sebuah
tanggapan teologis berkaitan dengan iman
Kristen yang dalam bahasa Arab berjudul Al-
Jawâb al-sahîh li-man baddala din al-masîh.20
Artinya, The Sound Response to Those Who
Have Changed The Religion of Christ. Ber-
kaitan dengan Tritunggal, Taimiyyah meng-
amati bahwa iman Kristen adalah iman yang
berpijak pada wahyu, bukan pada rasio ma-
nusia. Mengenai hal ini, ia menyatakan bahwa
“Christians claim that the divine Books have
revealed these views and that they constitute a
matter beyond reason. They hold this belief to be
of a degree beyond that of the intellect.”21 Pada
bagian ini, Taimiyyah menggarisbawahi butir
teologis penting dalam iman Kristen, di mana
wahyu berfungsi sebagai sumber berteologi.
Tetapi Taimiyyah adalah seorang ahli pikir. Ia
berpendapat bahwa logika dapat menjelaskan
banyak kebenaran tentang Tuhan. Menurut-
nya, wahyu teologis tentang Allah, termasuk
Tritunggal, seharusnya tidak pernah berten-
tangan dengan akal sehat manusia. Sebaliknya,
20Ini adalah sebuah tanggapan teologis yang ditujukan
kepada Paulus dari Antiokhia, seorang pemimpin gereja
pada abad ke-14. Di dalamnya, Taimiyyah mengritisi pe-
mikiran Kristen yang diajukan oleh Paulus dari Antiokhia.
Taimiyyah menilai umat Kristen telah mengubah peng-
ajaran Isa-Almasih dan berpaling dari wahyu yang sejati.
hanya merujuk pada aspek keilahian-Nya. Penulis tidak
rasio mengkonfirmasi apa yang telah
diungkapkan oleh wahyu.22
Taimiyyah berpendapat bahwa Tritunggal
bukanlah ide orisinil pengajaran Isa-Almasih.
Para pemimpin Kristen mula-mula berusaha
memasukkan ide ini ke dalam doktrin Kristen
dan mengalami kesulitan dalam mengharmo-
niskan aspek logikanya.23 Untuk menjaga ke-
langsungan penerimaan doktrin ini, iman
Kristen merujuk pada wahyu, bukan sekadar
sebagai sumber teologi, tapi pelarian teologis
dari jalan buntu problem logis Tritunggal. Ini
amat dikecam oleh Taimiyyah. Itulah sebab-
nya ia mengatakan bahwa “the Trinity is not a
matter simply beyond reason; it is clearly
opposed to reason.”24
Permasalahan kedua tentang problem logis ini
ialah mengenai dwinatur Yesus.25 Iman
Kristen menerima doktrin kemanusiaan dan
keilahian Yesus, tetapi tidak demikian halnya
dengan Islam. Mengatakan bahwa Yesus
adalah Anak Allah, atau setara dengan Allah,
bukan hanya dikecam dalam Islam,26 tetapi
bersifat irasional. Taimiyyah menentang keras
hal ini. Baginya, jika Yesus memiliki substansi
yang sama dengan Allah Bapa, maka amat
logis jika dikatakan mereka memiliki dua
substansi, bukan satu.27 Begitu juga halnya
dengan Roh Kudus. Jika ketiganya memiliki
substansi yang sama, logika menuntut tiga
substansi, bukan satu.28 Taimiyyah menilai
doktrin Tritunggal memiliki problem logis
akan membahas problem kesatuan hipostasis Yesus (Allah-
manusia yang tidak bercampur namun tidak terpisah)
karena itu bukan merupakan topik penelitian ini. Problem
dwinatur Yesus yang penulis hadirkan di sini ialah yang
berhubungan dengan isu logika doktrin Tritunggal, yaitu
bahwa Yesus dalam keilahian-Nya memiliki natur yang
sama dengan Bapa, namun tetap disebut satu Allah, bukan
dua.
26Kecaman mengenai hal ini amat banyak dalam Al-
Quran, misalnya dalam Surat 111 Al-Ikhlas ayat 1–4
dituliskan demikian: “Katakanlah, Tuhan itu Allah Yang
Maha Esa. Allah itu tempat meminta, tidak mempunyai
anak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu yang
menyerupai Allah.” Bandingkan juga misalnya surat As-
Shofat 37:151-152; Al-Isra’ 17:111; dan Kahfi 18:4–5.
yang serius. Ia menyarankan akan lebih masuk
akal jika Yesus dipahami sebagaimana yang
diajarkan oleh Al-Quran, yaitu bahwa Ia
hanyalah manusia, utusan Allah, putra dari
Maryam, dan tidak mengalami kematian
salib.29
PEMBELAAN APOLOGETIS TERHADAP
TUDUHAN PROBLEM DALAM DOKTRIN
TRITUNGGAL
Dua problem yang dituduhkan Islam di atas,
problem teologis dan logis, bukan tidak
memiliki dasar. Doktrin Tritunggal memang
adalah salah satu doktrin yang sulit untuk
dipahami.30 Walaupun demikian, itu tidak ber-
arti bahwa ajaran Tritunggal adalah keliru.
Untuk itu, penulis perlu menyajikan pembela-
an apologetis yang memadai.31
Pembelaan Teologis
Usaha untuk menjawab keberatan kaum
muslim berkaitan dengan ide politeisme dalam
Tritunggal dilakukan oleh Nancy Roberts.
31Yang penulis maksud dengan pembelaan apologetis
yang memadai di sini bukanlah sebuah bentuk pembuktian
kesalahan yang bersifat menghakimi pihak Islam, melain-
kan sebuah bentuk pembelaan apologetis yang tetap
mengakomodasi terjadinya dialog konstruktif dengan Islam
sambil tetap dapat menunjukkan dan menyaksikan kebe-
naran iman Kristen. Itulah sebabnya penulis berusaha
memilih tulisan-tulisan Kristen yang tetap mempertahan-
kan semangat dialogis ini. Karena menurut hemat penulis,
tanpa keterbukaan dialogis, pembelaan apologetis Kristen
terancam tidak didengarkan, apalagi dalam tataran aka-
demis pascasarjana, di zaman pascamodernisme seperti
sekarang ini. Lihat usaha dialog dari perspektif Islam oleh
Mahmoud Ayub, “The Need for Harmony and Collabo-
ration between Muslim and Christians,” dalam A Muslim
View of Christianity: Essays on Dialogue by Mahmoud Ayoub,
ed. Irfan A. Omar (New York: Orbis, 2007), 9–16 dan
Dalam artikel ilmiah yang berjudul “Trinity vs.
Monotheism: A False Dichotomy?”32 Roberts
berusaha menunjukkan bahwa mendikotomi-
kan Tritunggal dengan monoteisme adalah hal
yang keliru. Mengapa? Karena menurut he-
mat Roberts, Tritunggal adalah monoteisme,
bukan politeisme.
Roberts memulai diskusinya dengan menun-
jukkan makna sesungguhnya dari penggunaan
kata “persons” dalam doktrin Tritunggal. Ia
mengikuti jejak pemikiran Raimundo Panni-
kar yang mengatakan bahwa makna kata ini
(dan beberapa kata lain seperti “Tritunggal”
dan “substansi”) sebenarnya tidak terlalu jelas,
bahkan tidak digunakan dalam teks-teks Per-
janjian Baru.33 Menyarikan pemikiran Panni-
kar, Roberts menyatakan bahwa “that words
such as ‘Trinity’, ‘person’ and ‘substance’ are
used nowhere in the New Testament, and that
the first generations of Christians lived out their
faith in the Trinity without even knowing
them.”34 Karenanya, Roberts mengadopsi
pemahaman Marcus J. Borg35 tentang hal ini
seraya mengatakan demikian:
Borg notes that the three “persons” spoken of
in the Trinitarian formulation refer not to
persons as we normally conceive of them,
rather, the Latin word persona used in the
ancient texts was the term used for the masks
worn by actors in Greek and Roman theaters.
Such masks … were worn not for conceal-
ment, but corresponded to roles. Hence, the
concept of the Trinity envisages God in three
distinct roles.36
Istilah “person” dalam Tritunggal, tidak me-
rujuk pada pribadi tapi pada peran yang
dimainkan, sebagaimana diindikasikan oleh
penggunaan kata tersebut dalam konteks Yu-
nani dan Romawi. Pemahaman yang demikian
amat bernuansa modalisme atau sabelianisme.
Inilah yang memang ditawarkan oleh Roberts
sebagai “jembatan” untuk menjelaskan mono-
teisme Tritunggal kepada Islam.
Dalam pembelaannya kepada Islam, Roberts
menjelaskan bahwa tiga pribadi dalam Tri-
tunggal tidak merujuk kepada tiga pribadi
yang terpisah dan berbeda, melainkan me-
rujuk kepada peran yang berganti.37 Perubah-
an peran ini menjaga keesaan Allah dalam
konsepsi monoteisme. Roberts bahkan me-
minjam konsep Pannikar yang menyatakan
bahwa konsep Tritunggal bukan hanya milik
Kristen, melainkan muncul dalam agama lain,
misalnya Hindu. Roberts menilai:
Such considerations lead me to the thought
that, if the Muslim comes to recognize
trinitarian thinking about God as an attempt
to convey in conceptual terms a Reality
memutuskan bagian-bagian Alkitab mana yang sungguh-
sungguh merupakan perkataan Yesus dan yang bukan.
Lihat penjelasan Daniel L. Lukito, “490 Tahun Reformasi:
(Oktober 1989):18–19. Tulisan Borg yang diikuti oleh
Roberts dalam hal ini ialah The God We Never Knew:
Beyond Dogmatic Religion to a More Authentic Contempo-
rary Faith (New York HarperCollins, 1997).
36Roberts, “Trinity vs. Monotheism,” 77.
which, ultimately, is beyond conceptual-
ization and which is, in fact, found within
religions other than Christianity, including
both Hinduism and even Islam itself, it may
become easier for him or her to look upon the
Trinity, not as a violation of the Divine
Unity but, rather, as a means of speaking
about the Divine richness and vitality.38
Menurut pemikiran Roberts, pendekatan
sabelianisme yang inklusif (dalam hal ini
menunjukkan pola trinitarianisme dalam
agama-agama lain) dapat menolong umat
Islam untuk menerima konsep monoteisme
dalam Realitas Tritunggal yang Agung itu.
Tidak disangkal, pendekatan Roberts memi-
liki kreativitas dan keunikannya sendiri. Di-
katakan kreatif dan unik karena Roberts
berangkat dari persepsi dialogis, bukan se-
kadar apologetis. Roberts juga berusaha untuk
menemukan semacam “common ground”
(konsep trinitarianisme inklusif dalam agama-
agama lain) yang dapat dipakai untuk ber-
dialog dengan Islam. Studi kata “person” dan
dampaknya pada penekanan monoteisme juga
patut diapresiasi. Walaupun demikian, penulis
melihat pembelaan apologetis Roberts memi-
liki beberapa kelemahan. Pertama, konsep
Tritunggal sabelianisme tidak mewakili peng-
ajaran Alkitab,39 dikecam sebagai bidat sejak
zaman gereja mula-mula,40 dan tidak menun-
jukkan koherensi logika.41 Bahkan Brown,
seorang proponen Islam menggarisbawahi hal
ini demikian:
Kedua, sekalipun studi kata “person” merujuk
kepada “peran”, bapa-bapa gereja mula-mula
tidak memaksudkannya demikian.43 Mereka
menggunakan kata “person” justru untuk me-
nunjukkan keberbedaan antar pribadi dalam
Tritunggal.44 Ketiga, konsep trinitarianisme
inklusif, sebagaimana diusulkan oleh Roberts
(serta Pannikar dan Borg) tidak merefleksikan
trinitarianisme Kristen dalam Alkitab.45
Roberts benar dalam menandaskan bahwa
tidak ada dikotomi antara Tritunggal dan
monoteisme, namun perlu ada penjelasan
yang lebih memadai mengenai kebenaran ini.
Adalah Jon Hoover, seorang associate
professor of Islamic Studies di University of
Nottingham, Inggris yang memberikan kontri-
busi penting mengenai polemik ini. Dalam
artikel akademis yang berjudul “Islamic
Monotheism and the Trinity”, ia mengusulkan
bahwa kedua pihak, baik Islam maupun Kris-
ten, sama-sama menjunjung tinggi monoteis-
me.46 Monoteisme Kristen amat kentara baik
dalam PL (misalnya, shémā Israel dalam Ul.
6:4) maupun dalam PB (misalnya, tentang
keesaan Allah dalam Mrk. 12:29 dan 1Tit
2:5).47 Jika Kristen adalah agama monoteistik,
mengapa mereka menyembah tiga Allah?
Problemnya terletak pada tiga entitas: Bapa,
Meminjam pendekatan bapa-bapa gereja,
Hoover menunjukkan perbedaan antara
“esensi atau substansi” dengan “pribadi”.
Perbedaannya bukan hanya terletak pada
makna, tapi pada kategorinya. Analogi
Hoover menolong pada bagian ini. Ia menya-
takan bahwa “the Christian problem of how to
speak of the three as one and the one as three is
akin to the Islamic theological problem of
conceiving the unity of the multiple divine
attributes in al-tawhîd al-sifât.”49 Maksudnya,
dalam konsepsi Islam, esensi Allah ialah satu,
atribut Allah beragam. Esensi dan atribut
adalah dua kategori yang berbeda. Sebagai-
mana esensi itu satu, atribut itu banyak dalam
persepsi Islam, demikianlah esensi itu satu,
pribadi itu tiga dalam Tritunggal Kristen.50
Inilah yang berusaha dicapai oleh Hoover,
sebagaimana diilustrasikan oleh Tabel 1 di
bawah ini:51
bahwa Islam dan Kristen sama-sama menyem-
bah Allah yang memiliki esensi satu (dalam hal
ini monoteisme). Dengan sendirinya, ini mem-
bantah tuduhan politeisme Islam terhadap
Tritunggal. Kedua, ia memberikan semacam
analogi “unity-diversity” tentang esensi-atribut
dalam Islam sendiri untuk memberi gambaran
tentang pembedaan kategori antara “esensi”
dan “pribadi” dalam Tritunggal Kristen. Selain
itu, kata echad dalam Ulangan 6:4, merujuk
kepada natur Allah yang satu namun memiliki
nuansa komposit jamak.53 Ini menunjukkan
adanya nuansa pluralitas dalam singularitas
rujukan pronomina yang digunakan oleh kata
tersebut.54 Lantas bagaimana dengan dua
tuduhan Brown di atas mengenai formula
baptisan dan amanat agung mula-mula?
Mengatakan bahwa formula baptisan rasul
Paulus tidak merefleksikan konsep Tritunggal
adalah kesimpulan yang keliru karena dua hal.
Pertama, rasul Paulus tidak pernah bermaksud
dalam surat-suratnya untuk membuat formula
baptisan.55 Baptisan dalam nama Yesus (khu-
susnya yang sering dilakukan oleh para rasul,
mis. Kis. 2:38 dan Gal. 3:27) bertujuan untuk
membedakan dengan baptisan Yohanes.56
Kedua, konsep Tritunggal jelas terlihat dalam
tulisan awal rasul Paulus (Gal. 4:6) dan juga
dalam formula berkat yang Paulus gunakan
(2Kor. 13:13). Berkaitan dengan “amanat
agung mula-mula” dalam Injil Markus yang
tidak memuat formulasi Tritunggal, hal ini
sama sekali tidak menihilkan konsep Tritung-
gal. Ini disebabkan karena dua hal: (1) Injil
Markus sendiri tidak menentang konsep
Tritunggal, sebaliknya malah menegaskan-
nya;57 dan (2) umumnya, amanat agung tidak
merujuk pada Injil Markus, tapi pada Injil
Matius (28:19-20). Sekalipun istilah Tritunggal
tidak ada dalam Alkitab, pengajaran tentang
hal ini tersebar di sepanjang Alkitab. “Meng-
gugurkan” satu ayat dengan bantuan kritik
tekstual (1Yoh. 5:7) sama seperti mencopot
sebuah kerikil kecil dari bangunan beton
teologi yang kokoh. Tidak ada pengaruhnya
sama sekali! Untuk meruntuhkan konsep
Tritunggal dalam Alkitab, Brown perlu usaha
yang lebih keras daripada sekadar mengkritik
satu ayat firman Tuhan.
Akhirnya, dengan mempertimbangkan pem-
belaan teologis di atas, terlihat bahwa Tritung-
gal Kristen tetap bersifat monoteistik, bukan
politeistik seperti yang dituduhkan. Poin dia-
logis Roberts yang menihilkan dikotomi an-
tara Tritunggal dan monoteisme adalah hal
yang benar. Ini dilengkapi oleh usaha Hoover
untuk menunjukkan analogi kategori pembe-
da dengan menggunakan pemahaman teologis
Islam sendiri. Dengan demikian, Tritunggal
Kristen tidak memiliki problem teologis poli-
teisme.
Pembelaan Logis
Salah satu problem logis terletak pada ide
bahwa tiga adalah satu dan satu adalah tiga.
Rumusan yang demikian mengindikasikan
kontradiksi. Tidak heran guru besar ilmu tafsir
Al-Quran, Ali al-Sabuni menyatakan bahwa
ini adalah sebuah “fallacy” dalam logika
berpikir.58 Hukum nonkontradiksi dari filsafat
mengajarkan bahwa “the thing cannot be both
true and false at the same time and in the same
sense.”59 Jika diterapkan dalam konsep
56G. R. Beasley-Murray, “Baptism,” dalam Dictionary of
Paul and His Letters, 60–61.
57Injil Markus tetap mencantumkan peristiwa baptisan
Yesus dengan kehadiran tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh
Kudus (bdk. Mrk. 1:9-11). Jika Injil Markus menentang
konsep Tritunggal, bagian ini akan bersifat kontraproduk-
tif. Sebaliknya, Injil Markus selaras dengan pengajaran
Tritunggal.
58Ali al-Sabuni, Safwat al-tafasir, 357.
59Norman Geisler dan Abdul Saleeb, Answering Islam:
The Crescent in Light of the Cross (Grand Rapids: Baker,
2002), 272.
46 “Kafirlah Hukumnya Orang yang … “ (Yudi Jatmiko)
Tritunggal, artinya ialah: “Dalam waktu dan
pengertian yang sama, tidak mungkin tiga itu
satu dan satu itu tiga.” Inilah yang juga
dikecam oleh Taimiyyah. Ia menduga wahyu
dalam konsepsi Kristen bukan sekadar men-
jadi sumber teologi, tapi merupakan pelarian
teologis oleh karena diperhadapkan pada jalan
buntu problem logika.60
Pertama, perlu digarisbawahi apa yang Taimiy-
yah katakan mengenai wahyu. Taimiyyah benar
ketika menyimpulkan bahwa teologi Kristen
berpijak pada wahyu sebagai sumber utama
dalam berteologi.61 Namun menyatakan bah-
wa wahyu harus dikonfirmasi oleh logika ada-
lah sama seperti mengatakan “seorang bapak
mirip dengan anaknya” atau “Tuhan ada kare-
na manusia ada.” Itu adalah pola pikir yang
terbalik! Rasio manusia adalah salah satu sum-
ber dalam berteologi, namun di hadapan wah-
yu Tuhan, rasio manusia bersimpuh sujud
seperti layaknya seorang hamba di hadapan
tuannya. Michael Rea, seorang propenen kuat
dalam Teologi Analitik, menyatakan penting-
nya menggunakan metode yang tepat di mana
rasio dan filsafat sebagai perangkat dan kenda-
raan berpikir harus dimaksimalkan dengan
utuh, namun hal ini tidak pernah mengganti-
kan kedudukan wahyu sebagai sumber utama
kebenaran dalam berteologi.62 Ibarat mata
yang sehat dapat melihat proyeksi benda kare-
na ada bantuan cahaya, demikian juga rasio
manusia dapat “melihat” proyeksi teologis ka-
rena bergantung pada bantuan cahaya Ilahi
dalam wahyu. Proses berpikir terbalik yang
Taimiyyah tunjukkan dengan sendirinya mem-
buktikan “logical fallacy” dalam pikirannya.
Jika doktrin Tritunggal berpijak pada wahyu,
yang menjadi pertanyaan kemudian ialah apa-
kah Tritunggal tersebut bertentangan dengan
logika? Jawabannya jelas tidak!63 Di dalam
artikel akademis teologis yang berjudul “The
One Divine Nature,” William Hasker menun-
jukkan bahwa pemahaman tentang Allah Tri-
tunggal dengan segala kedalaman komplek-
sitas jauh melampaui nalar rasional manusia,
namun hal ini sama sekali tidak bertentangan
secara logika berpikir. Hasker menyatakan, “I
assert that the logical possibility of a single
concrete divine nature supporting three distinct
personal life-strands can be affirmed; there is no
known evident or plausible objection to this
possibility.”64 Hasker mengakui bahwa sangat
ideal jika ada pembanding temporal atau
semacam teori metafisika yang mampu me-
wakili kebenaran kekal Tritunggal, namun ia
menegaskan bahwa, “the solution of the logical
problem of the Trinity does not depend on such
a developed metaphysical theory. That problem
of logical consistency can now be put behind us,
whatever further difficulties may still lie in
wait.”65 Kebenaran wahyu membuatnya me-
lampaui kemampuan akses logika, sehingga
ada misteri yang tidak mungkin dijelaskan ha-
nya berdasarkan logika. Walaupun demikian,
itu tidak menjadikannya bertentangan dengan
logika.66 Uraian Norman L. Geisler dan Abdul
Saleeb sangat berguna dalam hal ini:
Penting sekali untuk dicermati bahwa ketika
mengakui adanya misteri dalam Tritunggal,
Geisler dan Saleeb menegaskan konsistensi
logika dalam doktrin Tritunggal. Jika Tritung-
gal itu satu pribadi dan tiga pribadi, atau tiga
natur dan satu natur, keduanya adalah formu-
lasi pemikiran yang kontradiktif. Tetapi kare-
na Tritunggal ialah tiga pribadi dalam satu
natur, konsistensi logikanya tetap terpelihara.
Ini juga membantu menjawab problem logis
kedua, yaitu mengenai dwinatur Yesus.
Jika Yesus memiliki natur (atau substansi)
yang sama dengan Bapa, logika menyimpulkan
ada dua natur, bukan satu. Begitu juga halnya
dengan Roh Kudus, sehingga menjadi tiga na-
tur. Mengenai hal ini, penulis ingin menggaris-
bawahi dulu kebenaran dalam kalimat Taimiy-
yah. Benar yang dikatakan Taimiyyah bahwa
Bapa, Yesus, dan Roh Kudus memiliki natur
yang sama.68 Tetapi tidak benar menyatakan
bahwa mereka memiliki tiga natur karena pro-
ses numerik dalam Tritunggal Kristen merujuk
bukan kepada natur Allah, melainkan kepada
pribadi-Nya. Lagi-lagi, ilustrasi Geisler dan
Saleeb amat membantu menguraikan hal ini:69
Gambar 1. Pribadi dan Natur Tritunggal
Tritunggal, sebagaimana diilustrasikan dalam
gambar, ialah tiga Who yang berbeda dan satu
What yang sama. Kategori Who merujuk pada
pribadi, sedangkan kategori What merujuk
pada natur atau esensi. Proses numerik dalam
Tritunggal Kristen tidak terjadi pada kategori
What (mempertahankan monoteisme), tapi
pada kategori Who (membantah modalisme).
Dengan demikian gugurlah dua problema
logis yang dituduhkan terkait doktrin Tri-
tunggal. Walaupun demikian, hal ini tidak
berarti tidak ada kesulitan logika dalam dok-
trin Tritunggal. Natur wahyu dalam kebenaran
ini selalu menyisakan tempat untuk misteri.
Pembelaan apologetis yang ingin disampaikan
ialah bahwa ajaran Tritunggal tidak bersifat
kontradiktif. Sebaliknya, ajaran ini selaras de-
ngan konsistensi logika berpikir yang sehat,
sambil tetap mengakui keagungan Allah da-
lam misteri wahyu ilahi-Nya.
Pembelaan apologetis yang disampaikan me-
nunjukkan dua hal. Pertama, doktrin Tritung-
gal tidak memiliki problem teologis politeisme
seperti yang dituduhkan (kontra Brown).
Monoteisme Tritunggal Kristen tidak terletak
pada konsep sabelianisme (kontra Roberts),
tapi pada frasa kunci “pembedaan kategori”
(Hoover). Penggunaan analogi mengenai
kategori pembeda antara “esensi/atribut” da-
lam Islam dan “esensi/pribadi” dalam Tritung-
gal Kristen merupakan sebuah pendekatan
yang kreatif dan prospektif (Hoover). Pende-
katan ini kreatif karena berusaha melihat isu
dari perspektif Islam sendiri (problem “unity-
diversity”) dan dapat menjadi salah satu contoh
dari practical ways dalam dialog apologetis
dengan Islam.70 Selain itu, pendekatan ini juga
bersifat prospektif karena menjanjikan terbu-
kanya ruang dialog antaragama karena ber-
pijak pada monoteisme yang sama, sebagai
Kedua, dua problem logis Tritunggal, sebagai-
mana dituduhkan di atas, terbukti tidak benar.
Ajaran Tritunggal Kristen memang berpijak
pada wahyu sebagai sumber utama dalam teo-
logi Kristen (Taimiyyah), namun tidak menja-
dikannya sebagai pelarian teologis (kontra
Taimiyyah). Pembuktian logis menunjukkan
konsep Tritunggal tidak bertentangan dengan
prinsip dasar hukum nonkontradiksi dalam
filsafat (kontra Ali al-Sabuni). Proses penjum-
lahan numerik tidak terjadi pada “natur”
Allah, tapi pada “pribadi”-Nya (Geisler dan
Saleeb). Ini menggugurkan tuduhan kontra-
diksi dalam Tritunggal, sekaligus mengesah-
kan koherensi logika Tritunggal, sambil tetap
mengakui adanya ruang misteri bagi wahyu
ilahi. Berdasarkan dua pembelaan apologetis
di atas, penulis menyimpulkan bahwa Tritung-
gal Kristen bersifat monoteistik secara teologis
dan koheren secara logis. Kepada-Nya, selu-
ruh makhluk harus bersimpuh sujud seraya
berseru: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN
semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-
Nya!” (Yesaya 6:3).