doktrin kristologi

Tampilkan postingan dengan label doktrin kristologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label doktrin kristologi. Tampilkan semua postingan

doktrin kristologi


 


Doktrin Kristologi (Tabiat dan kehendak: Ke-Ilahian 

dan Ke-Insanan)

Akar Masalah Timbulnya Ide Kristologi dan Munculnya Keragaman Ide Pada Abad 1-7

Konsili Efesus, kalcedon & Konstantinopel II-III

Sebagai umat Kristiani tentunya pemahaman yang paling didalami yaitu  ajaran 

tentang Kristus. Sehingga perlu mengetahui kesiapaan Yesus itu yang sebenarnya dan 

apa yang ia perbuat sehingga sangat mempengaruhi banyak orang.

Pengertian Kristologi

Kristologi berasal dari bahasa Yunani yaitu “Kristos” yang artinya Kristus dan “Logos” 

yang artinya ilmu pengetahuan, jadi Kristologi yaitu  ilmu yang mempelajari mengenai 

Kristus.

Kristologi ialah menyelidiki kesiapaan Dia dalam diri-Nya sendiri dan artinya bagi orang-

orang yang percaya kepada-Nya. Masalah Kristologi merupakan soal khusus Kristiani, 

dalam kristologi ditanyakan bagaimana yang ilahi dan yang insani berhubungan satu 

sama lain dalam pribadi tertentu, yakni dalam diri Yesus Kristus.

Pertanyaan ini hanya diajukan oleh orang yang telah berjumpa dengan Yesus Kristus, 

dan dan yang kemudian ingin mengungkapkan iman kepercayaannya bahwa di satu 

pihak Yesus itu sungguh manusia, namun  di lain pihak Allah sendiri hadir di dalam Dia, 

malahan bahwa Yesus sendirilah Allah.

Pandangan para Tokoh tentang Kristologi

Berikut ini yaitu  beberapa pandangan atau rumusan para tokoh yang berkisar pada 

abad I-VII, terhadap  pemahaman tentang Kristologi. Tokoh tokoh tersebut yaitu :

A. Ignatius dari Antiokhia (Abad I)

Ajarannya pada umumnya berbau ortodoks. Ia melawan ajaran-ajaran sesat,  seperti 

Dosetisme. Menurut dia, Yeus yang disalibkan yaitu  Allah yang menjadi manusia. 

Kristus sungguh-sungguh lahir dari dara Maria dan mati dibawah pemerintahan Pontius 

Pilatus. Kematian Kristus yaitu  sumber kehidupan orang percaya.

B. Marcion (Abad II)

Menurut Marcion, Tuhan Yesus yang diutus oleh Allah Bapa untuk menyelamatkan 

manusia, tidak memiliki tubuh jasmani Ia hanya memiliki bentuk penampakan yang 

bersifat sementara atau memiliki tubuh yang semu. Ia tidak dilahirkan, namun  Ia 

menampakkan diri dengan sokonyong-konyong.

C. Yustinus Martir (Abad II)

Bagi Yustinus, seluruh kebenaran yaitu  kebenaran Allah. Ia mengutib prinsip Yohanes

tentang Kristus sebagai Logos, Firman. Allah bapa yaitu  kudus adanya dan terpisah 

dari manusia yang jahat. Namun melalui Kristus, Logos-Nya, Allah dapat berhubungan 

dengan manusia.  Ajarannya mengenai Logosdikatakan bahwa Logos dapat dibedakan 

menjadi dua, yaitu Logos dalam Allah dan Logos yang keluar dari Allah. Yustinus 

melukiskan proses kelahiran Logos sebagai kelahiran tanpa pemisahan dan 

pengurangan terhadap hakekat Allah. Logos dilahirkan sebelum penciptaan dan keluar 

dari kehendak bebas Allah. Logos itu sudah ada diantara manusia sebagai benih-benih 

kebenaran.

D. Tertullianus (Abad III)

Ia mengatakan bahwa “Sabda telah menjadi daging” bukan berarti bahwa dengan 

demikian sabda ilahi bukan sabda ilahi lagi, seakan-akan mengalami perubahan hakiki, 

melainkan bahwa sabda manerima daging insani. Juga sesudah  menjelma menjadi 

manusia, Firman Allah tetaplah Firman Allah. Kalau Firman itu menerima daging 

menusiawi dan tetap tinggal Firman ilahi, maka hal ini berarti bahwa Yesus Kristus 

memiliki  dua kodrat atau substansi, yang bersifat utuh denga cirri dan coraknya 

sendiri. Masing-masing pula memiliki  fungsinya sendiri yang berbeda-beda. Sang 

Logos mengerjakan mukjizat, sedangkan kodrat insani menderita sengsara.

E. Origenes (Abad III)

Origenes beranggapan bahwa jiwa insani Yesus sudah ada sebelum inkarnasi. Jiwa 

insani Yesus sudah dalam keadaannya yang pra-ada dipersatukan dengan Logos ilahi. 

Persatuan itu demikian erat sehingga jiwa Kristus yang pra-ada itu memasukkan Logos 

seluruhnya kedalam dirinya, akibatnya dari Logoslah jiwa Yesus menerima terang  dan 

kemuliaanNya. Dan kareka kesatuan dengan Logos pula jiwa Yesus kehilangan 

kemampuan untuk berbuat dosa. Pada waktu inkarnasi, Logos yang sudah 

dipersatukan dengan jiwa Yesus itu masuk mkedalam tubuh Yesus. Sejak saat itu, jiwa 

Yesus memainkan peranan penengah antara Logos abadi dengan tubuh Yesus yang 

terbatas. Maksudnya, sebagaiman jiwa telah menampung Logos, begitu pula tubuh 

menerima jiwa, dan melalui jiwa itu menerima Logos juga. Dengan demikian menurut 

anggapan Origenes Yesus merupakan seorang manusia sungguh-sungguh, sama 

seperti manusia lainnya.

F. Athanasius (Abad IV)

Ia menjelaskan bagaimana Logos ilahi menjadi satu dengan kemanusiaan Yesus 

menyelamatkan manusia. Baginya Yesus Kristus sungguh-sungguh manusia. Putra 

Allah yaitu  sehakekat dengan Allah Bapa. Yesus Kristus sungguh-sungguh Allah dan 

hanya demikian Ia dapat menyelamatkan manusia.

G. Cyrillus (Abad V)

Cyrillus (Uskup Aleksandria 412-444) menyatakan bahwa hubungan antara tabiat 

keilahian dan kemanusiaan Kristus seperti hubungan antara susu dengan air: sifat 

khusus air tidak tampak lagi bila dicampur dengan susu. Begitu juga dengan sifat-sifat 

khusus dari kemanusiaan Kristus menjadi hilang ketika tabiat itu digabungkan dengan 

keilaahian Kristus, sehingga tubuh Kritus mengambil alih sifat-sifat ilahi, seperti 

kekekalan.

H. Santo Paulus (Abad V)

Dalam tulisannya ada  tiga teks yang penting sebagai dasar biblis bagi ajaran 

tentang Kristus sebagaimana kemudian ditetapkan Gereja. Tiga teks itu ialah Gal. 4:4 

dimana pra-eksistensi Yesus dinyatakan, dan Roma 1:3-4 serta Flp. 2:5-11 yang 

menyebutkan bahwa Yesus memiliki  dua cara berada, yaitu cara duniawi dan 

jasmani disatu pihak dan cara surgawi dan rohani di lain pihak. Menjurut yang pertama 

itu Yesus serupa denga kita manusia; menurut yang kedua, ia jauh melebihi kita. 

Menurut daging, Yesus Kristus berasal dari Daud; menurut Roh Kudus, Ia dinyatakan 

Anak Allah yang berkuasa.

I. Kaisar Heraklius (Abad VII)

Kaisar Heraklius pada tahun 638 mengeluarkan suatu dekret yang melarang barbicara 

selanjutnya satu atau dua daya (kerja). Sebab yang satu dan sama, Tuhan kita Yesus 

Kristus, mengerjakan baik apa yang ilahi maupun apa yang insan. Agar orang tidak 

berkesan bahwa pada Yesus Kristus ada dua kehendak yang berlawanan, maka kami 

(kaisar) mengakui adanya satu kehendak Tuhan kita Yesus Kristus, sungguh-sungguh 

Allah dan sungguh-sungguh manusia.

J. Johanes dari Damsyik (Abad VII)

Ia mengatakan Kristus memiliki  dua kodrat. namun , karena kedua kodrat-Nya 

memiliki  satu hypostatis (kepribadian), maka kita percaya bahwa hanya satu pribadi 

yang berkehendak yang berdaya dalam kedua kodrat tanpa perceraian, melainkan 

kesatuan yang utuh. Sebab dalam  betuk (kodrat) apapun ia berkehendak atau berdaya

, selalu ada hubungan erat dengan kodrat yang lain.

Pengertian Konsili

Konsili dalam bahasa latin disebut “Concilium” yang artinya rapat perundingan sesuatu, 

dalam bahasa Yunani disebut “synodos” yang juga rapat atau pertemuan . Menurut 

KBBI konsili yaitu  musyawarah besar pembuka-pembuka gereja Khatolik . Jadi bisa 

disimpulkan bahwa konsili yaitu  sidang resmi para Uskup dan wakil beberapa gereja 

yang diundang dengan tujuan merumuskan suatu ajaran atau disiplin gereja .

Latar Belakang Konsili

sesudah  penghambatan berakhir gereja dapat hidup dengan tentram, namun  sesudah  

tekanan dari luar berakhir mulailah pertikaian, Yang dipersoalkan ialah diri Kristus, yaitu

hubungan-Nva dengan Allah Bapa dan Hubungan Tabiat Ilahi dan manusiawi di dalam 

diri Kristus (soal Kristologi), namun hal ini menimbulkan masalah, Filsafat Yunani- 

Roniawi memandang zat ilahi bertingkat-tingkat dan pemakaian filsafat itu sebagai 

wahana amanat Kristen akan menempatkan Kristus (dan Roh) dibawah Allah bahkan 

diluarnya. yang mana pokok persoalan mengenai Kristologi ialah bahwa dalam Alkitab 

dinyatakan dua hal mengenai Kristus yang juga tidak bisa disejajarkan dengan logis. 

Yang pertama ialah Kristus benar-benar Allah Tuhan. yang kedua ialah: Kristus benar-

benar manusia (bnd. Mat 1:1, 4:2; GaL 4:4). akibatnya gereja terpaksa menertibkan 

kaum teolognya dengan menerima rumus yang wajib diterima semua orang percaya. 

Karena Nestorius mengabaikan hal yang pertama; Cynillius mengabaikan yang kedua  

Nestorius yaitu  seorang Rahib yang berasal dan Siria. Pandangannya dipengaruhi 

oleh kristologi aliran Antiokhia . Pemikiran Nestorius bersumber pada Teologi Origenes,

dan Cyrillus juga yaitu  seorang pengikut frenacus dan Athanasius . Cyrillus, patriakh 

Aleksandria, dengan teman-temanya yaitu  (golongan Alexandria) . Sehingga kaisar 

Theodosius II memanggil Konsili Efesus untuk mencari penyelesaian atas konflik antara

Cyrillus dan Nestorius .

Konsili Efesus

Konsili Efesus dilatar belakangi oleh mencari penyelesaian atas konflik antara Cyrillus 

dan Nestorius.  Yang menjadi persoalan ialah: bagaimana eratnya hubungan antaia 

kemanusiaan dan keilahian dalam diri Kristus. Konsili Efesus inii merupakan Konsili 

Oikumenis yang ketiga yang dipanggil oleh Kaisar Theodosius untuk menyelesaikan 

persoalan Nestorius tahun 431. Konsili dibuka pada tahun 22 Juli 431 oleh Memmon, 

Uskup Efesus dan Cyrillus dari Aleksandria tanpa menunggu kedatangan Uskup dan 

Siria yang dipimpin oleh Yohanes dari Antiokhia . Dimana kelompok uskup-uskup yang 

menyokong Nestorius terlambat tiba di Efesus, Cyrillus yang sudah mendapat 

dukungan, menunggu 15 hari, lalu mulai Konsili dengan 200 uskup, Nestorius dipecat, 

empat hari kemudian kelompok Antiokhia tiba. Mereka menolak konsili dan Cyrillus dan 

membuat Konsili sendiri dan dimana Cyrillus yang dikutuk, jumblah yang ada 30 Uskup.

Dan dua minggu kemudian delegasi dari Barat tiba dan mengesahkan Konsii Cyrillus .

Adapun tokoh dari konsili ini ialah:

 Nestonius, Nestonius mengajarkan bahwa Yesus memiliki dua pribadi. Di sini 

terlihat letak kelemahan Kristologi Nestorius. Karena Kristologinya bertitik 

pangkal pada kemanusiaan Yesus, sulit bagi dia untuk menyatukannya dengan 

ke-Allah-an Yesus. Nestorius juga menjelaskan bahwa karya dan perbuatan 

Yesus saling terpisah; ada yang dilakukan hanya dengan kuasa Logos-Nya, dan 

yang lain dilakukan dengan kemanusiaan-Nya tidak menembus Keilahian-Nya 

(Contohnya, tentang kematian-Nya) . sebab Nestorius mengajarkan bahwa 

Yesus seakan-akan menjadi sebuah rumah kudus bagi logos Allah. Demikianlah 

Logos yang kekal itu dan oknum Yesus yang bebas dan yang dapat diubah itu, 

tinggal dua. Ada perbuatan-perbuatan Kristus yang dilakukan oleh logos 

(misalnya Mujizat-mujizat), ada lain pula yang hanya mengenai manusia Yesus 

(misalnya sengsara dan Kematian-Nya). Nestorius dan pengikut-pengikutnya, 

“golongan Antiokhia” namanya, menitik-beratkan kemanusiaan Kristus dan 

penceraian Kedua tabial-Nya. dan Kristus seolah-olah dibagi dalam dua oknum, 

yaitu ilahi dan insani. Dengan demikian Nestorius beranggapan bahawa Yesus 

bukan memiliki dua sifat dalam satu oknum, melainkan dua sifat dan dua oknum 

dalam Yesus Kristus (theophoros) 

 Cyrillus, Cyrillus yaitu  Uskup Aleksardria pada tahun 412. Ia menggantikan 

Theopilus, pamannya di Aleksandria. Ia seorang yang sangat bersemangat anti-

Nestorian pada konsili oikumenis yang ke-3 . Ia mengajarkan keesaan dan 

kedua tabiat Kristus, sambil menitik-beratkan tabiat ilahi. Akibatnya kemanusiaan

Kristus kurang diperhatikan oleh Cyrillus. Katanya: Anak Allah menyelubungi 

dirinya dengan tabiat manusia, sehingga tabiat manusia yang tidak berpribadi itu 

telah hilang lenyap. Seperti setitik air susu hilang melebur dalarn samudra .

 Hasil konsiLi Efesus: “oleh karenanya kami mengaku bahwa Tuhan kita Yesus 

Kristus, Anak Tunggal Allah, yaitu  Allah sempurna dan manusia 

sempurna, terdiri dari jiwa akali dan tubuh. Ia diperanakan dari sang Bapa 

sebelum sagala zaman, sebagai Allah, dan belakangan ini, demi kita dan 

keselamatan kita, Ia dilahirkan dari Anak dara Maria sebagai Manusia. Ia 

sehakekat (homoousios) dengan sang Bapa, sebagai Allah, dan sehakekat 

(homoousios) dengan kita, sebagai manusia. sebab ada kesatuan dua kodrat 

dan oleh Karena itu kami mengaku satu Knistus, satu Anak, dan satu Tuhan. 

Menurut pengertian bahwa kesatuan ini tidak mencampur-adukkan, kami 

mengaku bahwa anak dara kudus yaitu  theotokos (Bunda Allah), karena Allah 

firman menjelma menjadi manusia dan sejak pembuahan-Nya menyatukan pada 

diri-Nya baik yang diambil daripadanya (Maria) 

Konsili Calsedon

Konsili Chalcedon dipanggil oleh Kaisar Marcianus untuk menvelesaikan pensoalan 

Euthyches pada bulan Oktober 451 . Euthyches rahib di Mesir, menjadi penganut 

Mazhab Aleksandria dan tidak rnenyetujui pendirian Cyrillus. Yang mana mereka tetap 

mempertahankan bahwa Yesus kristus hanya ada satu kodrat (physis, ousia, hipostatis)

seperti, menurut mereka diajarkan oleh cyrillus sebelum menghianati konsili Efesus. 

Bisa dikatakan Cyrillus sedikit banyak memberi angin kepada para rahib dari Euthyches

.Adapun tokoh dari konsili ini ialah:

1. Euthyces, yang memperuncing tedensi mazhab aleksandria, yang begitu 

menekankan, keilahian kristus, sehingga kemanusiaan-Nya tidak berarti apa-

apa. paling tidak secara praktis kemanusiaan itu diserap oleh keilahian . Intinya 

bahwa Euthyces menyatakan bahwa Tuhan Yesus Kristus sesudah  kelahirannya 

hanya memiliki satu tabiat saja, yaitu tabiat Allah yang menjadi daging dan 

akhirnya menjadi manusia 

2. Paus Leo, pokok Kristologi Leo itu yaitu  sebagai berikut: adapun diri (persona)

Yesus Kristus, Allah dan manusia, ialah diri Firman Allah dan pra -existen. Yang 

satu dan sama serentak Allah sejati dan manusia sejati. Dan dirinya persona) 

hanya sam. Dua kodnat (natura) masing-masing dengan ciri —coraknya sendiri, 

bergabung dalam satu diri itu. dalam inkarnasi kedua kodrat itu tidak berubah 

dan keilahian tidak menyerap kemanusiaan. Kedua kodrat lengkap yang tetap 

berbeda itu menjadi pangkal serangkaian hal ihwal dan perbuatan yang berbeda,

meskipun selalu selaras. Tiap-tiap kodrat (forma) mengerjakan apa yang sesuai 

dengan ciri-coraknya, namun selalu dalam persekutuan satu sama lain. firman 

mengerjakan apa yang khas bagi firman dan daging melaksanakan apa yang 

khas bagi daging. Dalam rumusan terakhir ini terungkap bahwa subjek segala 

sesuatu ialah Firman, sedangkan daging menjadi semacam alat pelaksana bagi 

Firman. Dan oleh karena ‘diri’(persona) satu dan sama saja. orang boleh 

mengatakan bahwa Anak Allah disalibkan dan anak manusia turun dari surga. 

Kemanusiaan Kristus, manusia yang lengkap dengan jiwa berakal, diciptakan 

karena diambilnya kemanusiaan itu oleh Firman. Jadi tidak ada 

kemanusian/manusia Kristus sebelum dipersatukan dengan firman atau lepas 

dari Firman.  

Keputusan konsili ini ialah: yang diterima oleh Konsili Chalcedon berbunyi sebagai 

berikut; maka dengan mengikuti para moyang suci, kaini sekalian sehati sepikir 

mengajar bahwa mengaku;: yang satu dan sama Anak, Tuhan kita Yesus Kristus, 

yang sama sepurna dalam keilahian dan sempurna dalam kemanusiaan, yang 

sama Allah sejati dan manusia sejati (yang terdiri) atas jiwa berakal dan badan, 

menurut keilahian sehakekat dengan Bapa, dan yang sama sehakekat dengan kita 

menurut kemanusiaan, dalam segalanya sama dengan kita selain dalam dosa; 

menurut keilahian dilahirkan dan Bapa sebelum (segala) zaman, namun  

menurut kemanusiaan pada hari-hari akhir yang sama (dilahirkan) dan perawan 

Maria, Bunda Allah, demi untuk kita dan demi untuk keselamatan kita yang satu dan 

sama Tuhan, Kristus, Anak Tunggal, (mesti) diakui dalam dua kodrat(en duo physesin), 

tak tercapur (asygkhytos), tak berubah (atreptos), tak terbagi (adiatretos), tak ter-pisah 

(akhoristos), dengan sama sekali tidak dihilanigkan perbedaan kodrat-kodrat karena 

satu pemersatuan, namun  sebaliknya ciri-corak khas kodrat masing masing tetap aman, 

dan (kedua kodrat itu) bergabung dalam satu pribadi (prosopon) dan satu diri 

(hypostasis) tidak terbagi atau terpisah menjadi dua pribadi (prosopa), melainkan yang 

satu dan sama Anak Tuggal, Allah-Firman, Tuhan Yesus Kristus.

Konsili konstantinopel II

Mereka menolak Chalcedon dengan dua kodrat. Para Monofisit menguasai Mesir dan 

wilayah lain di Timur. Keberatan-keberaan mereka terhadap Chalcedon dapat dibagi 

dalam dua kelas: pertama, mereka berkeberatan bahwa beberapa bagian ajaran 

Aleksandria/ Cyrillus tidak ada dalam dalam hasil Chalcedon: yaitu rumusan” satu-

satunya kodrat yang telah menjadi manusia”, istilah kesatuan Hypostatis” serta ide 

bahwa Kristus yaitu  “ satu dari dua kodrat”.

 Semua istilah itu ada  dalam ajaran Cyrillus. Kedua, mereka berkeberatan terhadap

bagian-bagian dan rumusan Chalcedon yang menurut mereka membagi-bagikan Yesus

Kristus menjadi dua: yalta ungkapan “dalam dua kodrat” serta beberapa bagian 

karangan Leo . Konsili Chalcedon memang mengutuk Nestorius dan Euthyces, namun  

tidak mengutuk mereka yang dinilai sebagai biang keladi (Theodorus, Uskup 

Mopsuesta) atau pendukung serta pembela Nestorius (Theodoretus uskup Kyros, dan 

ibas uskup (Edessa)  . Oleh karena itu pada Lahun 553 Justianus memanggil konsili 

Konstantinopel, konsili oikumenis yang kelima. Konsili inii berusaha menenangkan para 

Monofisit dengan memberi tafsiran Rumusan Chalcedon menurut Cyrillus

Hanya karya-karya pertama mereka yang anti Cyrillius. Yang terpenting dari Konsili ini 

yaitu  bahwa Chalcedon harus ditafsir menurut tafsiran Aleksandria. Para uskup 

mengaku bahwa kita menerima keempat sinode yang kudus, yaitu: Nicea, 

Konstantinopel, Efesus, dan Chalcedon, kita telah menerima dan sekarang mengajar 

segala yang telah ditetapkan konsili-konsili tersebut mengenai iman yang satu itu. dan 

akhirnya, suatu rumusan Aleksandria yang sangat disukai para Monofosit.

 Diterima, yaitu: “barang siapa memakai  ungkapan” daiam dua kodrat”.... 

Mernakai angka (dua) untuk menceraikan kodrat-kodrat atau membuatnya menjadi 

kepribadian-kepribadian yang sebenarnya, terkutukah ia. “ barang siapa yang 

memakai  ungkapan “dari dua kodrat” atau ungkapan “satu-satunya kodrat Allah 

Firman yang menjadi manusia” dan tidak mengartikainya sebagaimana diajarkan oleh 

para bapa yang kudus... namun  berusaha mengajarkan satu kodrat atau hakikat 

keallahan dan kernanusiaan Kristus, tekutuklah ia. Sebab, kalau kita mengajarkan 

bahwa firman, satu-satunya yang diperanakan, dipersatukan secara hypostatis (dengan

kemanusiaan-Nya), maka kita tidak bemaksud bahwa ada semacam pelarutan timbal 

balik antara kedua kodrat. Barang siapa tidak mengaku bahwa Tuham kita Yesus 

Kristus, yang disalipkan dalam daging, sungguh Allah, raja Kemuliaan dan satu dari 

ketritunggalan yang kudus. terkutuklah ia

Konsili konstantinopel III

Konsili ini bersidang dan tahun 680 sampai 681. Konsili okumenis yang keenam ini 

menyatakan monotelisme ajaran sesat dan memutuskan bahwa sesuai dengan kedua 

kodrat ada juga kehendak pada Yesus Kristus, namun  menambahkan bahwa keduanya 

itu “tak tercampur, tak berubah, tak terbagi, tak terpisah  .

Konsili ini juga menghasilkaan suatu rumusan iman. Rumusan ini menyatakan bahwa 

konsili dengan saleh telah menyetujui sepenuhnya kelima sinode yang kudus dan 

oikumenis. sesudah  mengutip seluruh Rumusan Chalcedon , rumusan tersebut 

melanjutkan sebagai berikut:

kami. menyatakan pula bahwa di dalam diri Yesus Kristus ada dua kehendak yang 

kodrati dan dua daya yang kodrati tanpa perceraian, tanpa perubahan, tanpa 

pemisahan, tanpa pengadukan, menurut ajaran bapa-bapa rang kudus. Kedua 

kehendak kodrati tidak saling bertentangan, sebagaimana ditandaskan leh penyesat-

penyesat yang durhaka. Akan namun  kehendak insani-Nya mengikuti kehendak ilahi-Nya

yang maha Kuasa ia tidak melawan atau segan nenuruti namun  takluk.... Kami percaya 

bahwa Tuhan kita Yesus Kristus yaitu  salah satu dan ketritunggalan dan Allah kita 

yang sejati, juga sesudah  menjadi manusia. kita nyatakan bahwa kedua kodrat-Nya 

bersinar dalam satu hypostasis, dan dalam bentuk ini ia mengadakan mujizat dan 

menderita sepanjang masa inkarnasi. ini bukan hanya kelihatan demikian, namun  

merupakan kenyataan, karena perbedaan kodrat yang harus diakui ada  dalam atu 

hvpostasis. Walaupun berpadu, kedua kodrat mengkehendaki dan melakukan hal-hal 

yang patut baginya. Dan ini terjadi tanpa pemisahan dan tanpa pengadukan. Oleh 

sebab itu kami mengaku dua kehendak dan dua daya, yang bergabung satu dengan 

yang lain untuk menyelamatkan umat manusia . .

 
 
 
“Kafirlah Hukumnya Orang yang Menyembah Tuhan yang Tiga 
Itu”: Menampik Tuduhan Terkait Problem Doktrin Tritunggal 
 
“It is infidel for those who worship the Three Gods”: Dismissing 
Allegations Regarding the Problem of the Trinity Doctrine 
 
Yudi Jatmiko 
Bukit Batok Presbyterian Church, Singapore 
Korespondensi: yudi3036@yahoo.com 
 
 
Abstrak: Tritunggal adalah sebuah doktrin yang amat mendasar dalam iman Kristen. Sekalipun kata 
“tritunggal” tidak pernah muncul dalam Alkitab, kebenarannya mewarnai sepanjang penulisan Kitab Suci. 
Walaupun demikian, bukan berarti kebenaran ini diterima begitu saja oleh semua manusia. Dalam konteks 
Indonesia, yang notabene mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Islam, ide tentang satu Allah tetapi 
tiga dan tiga tetapi satu sangat bernuansa politeisme. Kaum muslim sangat menjunjung tinggi konsep 
monoteisme. Berpijak pada kebenaran monoteisme ini, bagi mereka, ide tentang Tritunggal bukan hanya aneh, 
tetapi juga harus ditolak dengan keras. Mengamati kedua fakta di atas, penulis melihat perlunya sebuah 
pembelaan apologetis terhadap tuduhan tersebut. Tulisan ini berusaha untuk memaparkan tuduhan kaum 
muslim berkaitan dengan problem teologis dan logis konsep Allah Tritunggal serta menyajikan sebuah 
pembelaan apologetis yang memadai. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan sebuah pembelaan apologetis 
yang obyektif dengan keyakinan bahwa doktrin Tritunggal bersifat monoteistik (pembelaan teologis) dan, 
walaupun jauh melampaui akal manusia yang terbatas, Tritunggal tidak irasional (pembelaan logis).  
 
 
 
Tritunggal adalah sebuah doktrin yang amat 
mendasar dalam iman Kristen. Sekalipun kata 
“tritunggal” tidak pernah muncul dalam Al-
kitab, kebenarannya mewarnai sepanjang pe-
nulisan Kitab Suci. Teolog dan apologist (pem-
bela iman) Kristen, John Frame, menegaskan 
bahwa “far from being an abstruse philosophical 
speculation, the doctrine of the Trinity attempts 
to describe and account for something biblically 
obvious and quite fundamental to the gospel.”1 
Jauh dari sekadar spekulasi filsafat manusia, 
doktrin Tritunggal merupakan kebenaran 
sentral dalam Kitab Suci. Ini disebut sentral 
dan fundamental karena Tritunggal terlihat 
jelas dalam benang merah sejarah keselamat-
an Allah, mulai dari kitab Kejadian sampai 
klimaksnya di kitab Wahyu. Walaupun demi-
kian, bukan berarti kebenaran ini diterima 
begitu saja oleh semua manusia. 
 
Dalam konteks Indonesia, yang mayoritas 
penduduknya adalah pemeluk agama Islam, 
ide tentang satu Allah tetapi tiga dan tiga 
tetapi satu sangat bernuansa politeisme. Kaum 
muslim sangat menjunjung tinggi konsep 
monoteisme. Ini tertuang dalam kebenaran 
mendasar yang mereka ajarkan, yaitu bahwa 
“Allah SWT mempunyai sifat ahad (Esa), dan 
sifat ini merupakan salah satu nama bagi Allah 
Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.”2 Dalil Al-
Quran sendiri mengatakan demikian: “Kata-
kanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa’.”3 
Keesaan Allah ini harus dipegang teguh oleh 
setiap penganut agama Islam. Berpijak pada 
kebenaran monoteisme ini, bagi mereka, ide 
tentang Tritunggal bukan hanya aneh, tapi 
harus ditolak dengan keras.4 Al-Quran surat 
Al-Maidah ayat 73 memperingatkan bahwa 
 
1Frame, The Doctrine of God (Phillipsburg: P&R, 2002), 
621.  
2Alawy bin Abdul Qadir As-Segaf, Mengungkap 
Kesempurnaan Sifat-Sifat Allah dalam Al-Quran dan As-
Sunnah (Jakarta: Pustaka Azzam, 1994), 25; bdk. H.A. 
Mukti Ali, Memahami Beberapa Aspek Ajaran Islam 
(Bandung: Mizan, 1996), 49-50. 
3Ibid., 26.  
4Amos Sukamto dan Rudy Pramono, “The Roots of 
Conflicts between Muslims and Christians in Indonesia in 
“sungguh benar-benar kafirlah orang-orang yang 
berkata: ‘Sungguh Allah itu adalah yang ketiga 
dari Tuhan yang tiga. Padahal tidak ada Tuhan 
kecuali Tuhan Yang Maha Esa’.”5 Karena itu, 
“kafirlah hukumnya orang yang menyembah 
Tuhan yang tiga itu.”6 Mengamati kedua fakta 
di atas, artikel ini ditulis dengan fokus untuk 
memberikan sebuah pembelaan apologetis 
terhadap tuduhan tersebut. 
 
Tulisan ini berusaha untuk menjelaskan dua 
hal. Pertama, memaparkan tuduhan kaum 
muslim berkaitan dengan problem konsep 
Allah Tritunggal. Demi menunjang kedalam-
an analisis, penulis akan mengklasifikasikan 
dan membatasi hanya kepada dua problem, 
yaitu problem teologis (orang Kristen me-
nyembah tiga Allah) dan problem logis (bagai-
mana mungkin tiga adalah satu dan satu ada-
lah tiga?). Kedua, menyajikan sebuah pem-
belaan apologetis terhadap dua problem yang 
diajukan oleh kaum muslim di atas. Pembela-
an apologetis ini akan meliputi dua aspek, 
yaitu pembelaan teologis dan logis. Aspek teo-
logis dan logis dipilih karena sering dikaitkan 
dengan problem filosofis dalam dialog antar-
agama. Melalui tulisan ini, penulis berharap 
dapat memberikan sebuah pembelaan apolo-
getika yang mendalam dan obyektif karena 
penulis meyakini bahwa doktrin Tritunggal 
bersifat monoteistik (pembelaan teologis) dan 
walaupun jauh melampaui akal manusia yang 
terbatas, Tritunggal tidak irasional (pembela-
an logis).  
 
bahwa pengajaran tentang Tritunggal ber-
masalah secara teologis dan logis. Pada bagian 
ini, penulis akan menguraikan keberatan-
keberatan kaum muslim berkaitan dengan dua 
hal di atas. 
 
Problem Teologis 
 
Dalam persepsi agama Islam, iman Kristen 
menyembah tiga Allah, yaitu Allah yang 
dikenal sebagai Bapa, Allah Anak atau Isa 
Almasih, dan Roh Kudus.7 Walau sekilas mirip 
dengan Tritunggal dalam teologi Kristen, kon-
sep ini jauh dari apa yang disaksikan dalam 
Alkitab. Umat Islam memaknai Tritunggal 
demikian: 
 
 Menurut kepercayaan Islam yang mereka 
katakan Tuhan Bapa itu ialah Tuhan Allah 
yang Maha Esa dan Maha Tinggi, sedang 
yang mereka katakan Tuhan Putera itu 
ialah Nabi Isa Al-Masih, hamba Allah, ma-
nusia biasa, anak Maryam yang diutus seba-
gai Rasul dan yang mereka katakan Tuhan 
Rokh Qudus itu ialah Malaikat Jibril, 
pembawa wahyu Tuhan kepada Nabi Isa.8 
 
Menjadi jelaslah apa yang Islam mengerti 
tentang Tritunggal. Padanan Allah Bapa, 
Anak, dan Roh Kudus dimengerti sebagai 
Allah, Isa-Almasih, dan malaikat Jibril. Bagai-
manapun padanannya, Islam sejatinya mema-
hami pengajaran Tritunggal sebagai triteisme. 
 
 
menyatakan bahwa “kepercayaan orang Kristen itu ialah 
percaya kepada Tuhan Yesus putera-Nya yang tunggal, … 
percaya kepada Rokh Qudus [sic], Tuhan yang memberi 
hidup ….” Bandingkan uraian teologis yang ditulis oleh 
Mashad Al-Allaf, “Islamic Theology,” dalam The Blooms-
bury Companion to Islamic Studies, ed. Clinton Bennet 
(London: Bloomsbury, 2013), 119–134. 
8Ibid., 77.  
9Istilah-istilah yang biasa digunakan ialah 
trinitarianisme dan politeisme (bandingkan misalnya ulasan 
Yusuf Al-Qaradhawi di bawah subjudul provokatif “Oleh 
Karena Itu Kita Mengafirkan Yahudi dan Nasrani” dalam 
Bagaimana Islam Menilai Yahudi dan Nasrani (Jakarta: 
Gema Insani, 2000), 72–75 dan Abdal-Hakim Murad, “The 
Trinity: A Muslim Perspective,” diakses 10 Maret 2016, 
http://masud.co.uk/ISLAM/ahm/trinity.htm.  
Islam sendiri biasanya tidak menggunakan 
istilah “triteisme” dalam tulisan-tulisan mere-
ka,9 namun ide politeisme yang mereka rujuk 
mewakili konsep penyembahan kepada tiga 
Allah atau triteisme. Terlepas dari klaim Kris-
ten yang bersifat monoteistik, Islam menilai 
konsep Tritunggal Kristen sebagai politeistik. 
Dalam artikel berjudul “Who Invented the 
Trinity?,” Aisha Brown dengan tajam menga-
takan: 
 
 Christianity claims to be a monotheistic 
religion. Monotheism, however, has as its 
fundamental belief that God is one; the 
Christian doctrine of the Trinity––God 
being Three-in-One––is seen by Islam as a 
form of polytheism. Christians don’t revere 
just One God, they revere three.10 
 
Apa yang Brown katakan ada benarnya.11 
Iman Kristen tidak hanya menyembah Allah 
Bapa, tapi juga Allah Anak dan Allah Roh 
Kudus. Dalam perspektif Islam, sangat mudah 
untuk langsung menyimpulkan bahwa Kristen 
menyembah tiga Allah; dalam hal ini triteisme 
atau politeisme. Brown kemudian melanjut-
kan dengan menunjukkan dua fakta Alkitab 
yang membantah konsep Tritunggal.12 Per-
tama, baptisan pada gereja mula-mula hanya 
menggunakan nama Yesus, sebagaimana 
dicatat dalam surat-surat rasul Paulus. Kedua, 
amanat agung yang pertama yang ditemukan 
dalam injil yang paling tua, yaitu Injil 
10Aisha Brown, “Who Invented the Trinity,” The 
Religion of Islam, 30 Juli 2007, last modified 9 Desember 
2012, diakses 10 Maret 2016, http://www.islamreligion.com 
/articles/600/viewall/who-invented-trinity. 
11Pembaca diharapkan tidak langsung menyimpulkan 
bahwa penulis sepenuhnya setuju dengan tuduhan Brown di 
atas. Penulis hanya ingin menunjukkan bahwa apa yang 
Brown katakan ada benarnya bahwa iman Kristen bukan 
hanya menyembah Allah Bapa tapi juga Allah Anak dan 
Allah Roh Kudus. Ketika menempatkan diri pada posisi 
Brown, yang adalah muslim, penulis menyadari bahwa pada 
bagian ini jika diikuti secara sekilas, seolah-olah iman 
Kristen menyembah tiga Allah: Bapa, Kristus, dan Roh 
Kudus. Walaupun demikian, pengamatan mendalam yang 
memisahkan antara kategori “esensi” dan “pribadi” dalam 
Tritunggal menunjukkan sebaliknya. Ini akan dibahas lebih 
rinci pada bagian kedua. 

 
Markus,13 tidak mencantumkan formulasi 
Tritunggal. Menurut hemat Brown, satu-
satunya rujukan langsung tentang Tritunggal 
dalam Alkitab ialah 1 Yohanes 5:7, “Sebab ada 
tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: 
Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya 
adalah satu.” Sayangnya, ia mengatakan: 
 
Biblical scholars of today, however, have 
admitted that the phrase: “ … there are three 
that bear record in heaven, the Father, the 
Word, and the Holy Ghost: and these three are 
one” … is definitely a “later addition” to Bibli-
cal text, and it is not found in any of today’s 
versions of the Bible.14 
 
Dengan demikian, dalam konsepsi Brown, ide 
tentang Tritunggal sudah runtuh. 
 
Berpijak pada dua fakta di atas, formulasi 
baptisan dan amanat agung mula-mula, Brown 
menyimpulkan bahwa Tritunggal bukanlah 
konsep murni monoteisme Yahudi.15 Ia me-
nilai bahwa Tritunggal adalah sebuah ide yang 
dikembangkan oleh gereja mula-mula, khusus-
nya oleh Tertulianus.16 Ide ini sendiri, menu-
rutnya, bukanlah ajaran yang murni dari Al-
kitab, melainkan sebuah formulasi doktrinal 
yang mengawinkan iman Kristen dengan filsa-
fat Yunani, dalam hal ini Platonisme.17 Formu-
lasi yang demikian ialah hasil pemikiran manu-
sia dan tidak menjadi bagian dari firman Allah. 
Akhirnya, dengan mantap Brown menyatakan, 
 

Problem Logis 
 
Selain problem teologis, Islam menilai bahwa 
ide tentang Tritunggal juga memiliki problem 
logis. Problem ini terletak paling tidak dalam 
dua hal: (1) ide bahwa tiga adalah satu dan 
satu adalah tiga; dan (2) fakta dwinatur Yesus. 
Berkaitan dengan yang pertama, di satu sisi, 
Kristen menyembah Allah Bapa, Allah Anak, 
dan Allah Roh Kudus, namun umat Kristen 
meyakini bahwa mereka menyembah hanya 
satu Allah. Bagi umat Islam, ini bukan hanya 
tidak masuk akal, tapi bertentangan dengan 
akal sehat. Muhammad Ali al-Sabuni, seorang 
penafsir Al-Quran yang terkemuka dan guru 
besar ilmu tafsir Al-Quran dari Universitas 
Umm Al-Qura di Mekkah, Arab Saudi, 
menggarisbawahi hal ini demikian: 
 
The Christians say: One substance and three 
persons: Father, Son and Holy Spirit. These 
three are one as the sun consists in its circular 
shape, rays and warmth. They claim that the 
Father is divine, the Son is divine, the Spirit is 
divine, and the whole is one God. It is known 
to be false by the intuition of reason that three 
is not one and one is not three.19 
 
Walaupun tidak diuraikan lebih lanjut, me-
narik untuk dicermati bahwa al-Sabuni pada 
bagian ini menyebutkan kategori “substance” 
17Uniknya, pendapat ini disetujui oleh seorang penulis 
Kristen terkemuka dalam ranah teologi patristik, Ilaria L. 
 
dan “persons”, namun agaknya hal ini tidak 
terlalu menjawab problem logika yang ada 
dalam konsep Tritunggal. Al-Sabuni menegas-
kan tidak mungkin logis jika dikatakan bahwa 
tiga adalah satu dan satu adalah tiga.  
 
Hal serupa juga disoroti oleh seorang teolog 
Muslim ternama, Ibnu Taimiyyah. Selain se-
bagai teolog, ia juga adalah seorang Islamic 
scholar and logician. Pemikirannya mengenai 
Tritunggal penting untuk dihadirkan pada 
bagian ini. Taimiyyah pernah menulis sebuah 
tanggapan teologis berkaitan dengan iman 
Kristen yang dalam bahasa Arab berjudul Al-
Jawâb al-sahîh li-man baddala din al-masîh.20 
Artinya, The Sound Response to Those Who 
Have Changed The Religion of Christ. Ber-
kaitan dengan Tritunggal, Taimiyyah meng-
amati bahwa iman Kristen adalah iman yang 
berpijak pada wahyu, bukan pada rasio ma-
nusia. Mengenai hal ini, ia menyatakan bahwa 
“Christians claim that the divine Books have 
revealed these views and that they constitute a 
matter beyond reason. They hold this belief to be 
of a degree beyond that of the intellect.”21 Pada 
bagian ini, Taimiyyah menggarisbawahi butir 
teologis penting dalam iman Kristen, di mana 
wahyu berfungsi sebagai sumber berteologi. 
Tetapi Taimiyyah adalah seorang ahli pikir. Ia 
berpendapat bahwa logika dapat menjelaskan 
banyak kebenaran tentang Tuhan. Menurut-
nya, wahyu teologis tentang Allah, termasuk 
Tritunggal, seharusnya tidak pernah berten-
tangan dengan akal sehat manusia. Sebaliknya, 
 
20Ini adalah sebuah tanggapan teologis yang ditujukan 
kepada Paulus dari Antiokhia, seorang pemimpin gereja 
pada abad ke-14. Di dalamnya, Taimiyyah mengritisi pe-
mikiran Kristen yang diajukan oleh Paulus dari Antiokhia. 
Taimiyyah menilai umat Kristen telah mengubah peng-
ajaran Isa-Almasih dan berpaling dari wahyu yang sejati. 
hanya merujuk pada aspek keilahian-Nya. Penulis tidak 
rasio mengkonfirmasi apa yang telah 
diungkapkan oleh wahyu.22  
 
Taimiyyah berpendapat bahwa Tritunggal 
bukanlah ide orisinil pengajaran Isa-Almasih. 
Para pemimpin Kristen mula-mula berusaha 
memasukkan ide ini ke dalam doktrin Kristen 
dan mengalami kesulitan dalam mengharmo-
niskan aspek logikanya.23 Untuk menjaga ke-
langsungan penerimaan doktrin ini, iman 
Kristen merujuk pada wahyu, bukan sekadar 
sebagai sumber teologi, tapi pelarian teologis 
dari jalan buntu problem logis Tritunggal. Ini 
amat dikecam oleh Taimiyyah. Itulah sebab-
nya ia mengatakan bahwa “the Trinity is not a 
matter simply beyond reason; it is clearly 
opposed to reason.”24 
 
Permasalahan kedua tentang problem logis ini 
ialah mengenai dwinatur Yesus.25 Iman 
Kristen menerima doktrin kemanusiaan dan 
keilahian Yesus, tetapi tidak demikian halnya 
dengan Islam. Mengatakan bahwa Yesus 
adalah Anak Allah, atau setara dengan Allah, 
bukan hanya dikecam dalam Islam,26 tetapi 
bersifat irasional. Taimiyyah menentang keras 
hal ini. Baginya, jika Yesus memiliki substansi 
yang sama dengan Allah Bapa, maka amat 
logis jika dikatakan mereka memiliki dua 
substansi, bukan satu.27 Begitu juga halnya 
dengan Roh Kudus. Jika ketiganya memiliki 
substansi yang sama, logika menuntut tiga 
substansi, bukan satu.28 Taimiyyah menilai 
doktrin Tritunggal memiliki problem logis 
akan membahas problem kesatuan hipostasis Yesus (Allah-
manusia yang tidak bercampur namun tidak terpisah) 
karena itu bukan merupakan topik penelitian ini. Problem 
dwinatur Yesus yang penulis hadirkan di sini ialah yang 
berhubungan dengan isu logika doktrin Tritunggal, yaitu 
bahwa Yesus dalam keilahian-Nya memiliki natur yang 
sama dengan Bapa, namun tetap disebut satu Allah, bukan 
dua.  
26Kecaman mengenai hal ini amat banyak dalam Al-
Quran, misalnya dalam Surat 111 Al-Ikhlas ayat 1–4 
dituliskan demikian: “Katakanlah, Tuhan itu Allah Yang 
Maha Esa. Allah itu tempat meminta, tidak mempunyai 
anak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu yang 
menyerupai Allah.” Bandingkan juga misalnya surat As-
Shofat 37:151-152; Al-Isra’ 17:111; dan Kahfi 18:4–5.  
yang serius. Ia menyarankan akan lebih masuk 
akal jika Yesus dipahami sebagaimana yang 
diajarkan oleh Al-Quran, yaitu bahwa Ia 
hanyalah manusia, utusan Allah, putra dari 
Maryam, dan tidak mengalami kematian 
salib.29  
 
PEMBELAAN APOLOGETIS TERHADAP 
TUDUHAN PROBLEM DALAM DOKTRIN 
TRITUNGGAL 
 
Dua problem yang dituduhkan Islam di atas, 
problem teologis dan logis, bukan tidak 
memiliki dasar. Doktrin Tritunggal memang 
adalah salah satu doktrin yang sulit untuk 
dipahami.30 Walaupun demikian, itu tidak ber-
arti bahwa ajaran Tritunggal adalah keliru. 
Untuk itu, penulis perlu menyajikan pembela-
an apologetis yang memadai.31 
 
Pembelaan Teologis 
 
Usaha untuk menjawab keberatan kaum 
muslim berkaitan dengan ide politeisme dalam 
Tritunggal dilakukan oleh Nancy Roberts. 
 
31Yang penulis maksud dengan pembelaan apologetis 
yang memadai di sini bukanlah sebuah bentuk pembuktian 
kesalahan yang bersifat menghakimi pihak Islam, melain-
kan sebuah bentuk pembelaan apologetis yang tetap 
mengakomodasi terjadinya dialog konstruktif dengan Islam 
sambil tetap dapat menunjukkan dan menyaksikan kebe-
naran iman Kristen. Itulah sebabnya penulis berusaha 
memilih tulisan-tulisan Kristen yang tetap mempertahan-
kan semangat dialogis ini. Karena menurut hemat penulis, 
tanpa keterbukaan dialogis, pembelaan apologetis Kristen 
terancam tidak didengarkan, apalagi dalam tataran aka-
demis pascasarjana, di zaman pascamodernisme seperti 
sekarang ini. Lihat usaha dialog dari perspektif Islam oleh 
Mahmoud Ayub, “The Need for Harmony and Collabo-
ration between Muslim and Christians,” dalam A Muslim 
View of Christianity: Essays on Dialogue by Mahmoud Ayoub, 
ed. Irfan A. Omar (New York: Orbis, 2007), 9–16 dan 
Dalam artikel ilmiah yang berjudul “Trinity vs. 
Monotheism: A False Dichotomy?”32 Roberts 
berusaha menunjukkan bahwa mendikotomi-
kan Tritunggal dengan monoteisme adalah hal 
yang keliru. Mengapa? Karena menurut he-
mat Roberts, Tritunggal adalah monoteisme, 
bukan politeisme.  
 
Roberts memulai diskusinya dengan menun-
jukkan makna sesungguhnya dari penggunaan 
kata “persons” dalam doktrin Tritunggal. Ia 
mengikuti jejak pemikiran Raimundo Panni-
kar yang mengatakan bahwa makna kata ini 
(dan beberapa kata lain seperti “Tritunggal” 
dan “substansi”) sebenarnya tidak terlalu jelas, 
bahkan tidak digunakan dalam teks-teks Per-
janjian Baru.33 Menyarikan pemikiran Panni-
kar, Roberts menyatakan bahwa “that words 
such as ‘Trinity’, ‘person’ and ‘substance’ are 
used nowhere in the New Testament, and that 
the first generations of Christians lived out their 
faith in the Trinity without even knowing 
them.”34 Karenanya, Roberts mengadopsi 
pemahaman Marcus J. Borg35 tentang hal ini 
seraya mengatakan demikian: 
 Borg notes that the three “persons” spoken of 
in the Trinitarian formulation refer not to 
persons as we normally conceive of them, 
rather, the Latin word persona used in the 
ancient texts was the term used for the masks 
worn by actors in Greek and Roman theaters. 
Such masks … were worn not for conceal-
ment, but corresponded to roles. Hence, the 
concept of the Trinity envisages God in three 
distinct roles.36  
 
Istilah “person” dalam Tritunggal, tidak me-
rujuk pada pribadi tapi pada peran yang 
dimainkan, sebagaimana diindikasikan oleh 
penggunaan kata tersebut dalam konteks Yu-
nani dan Romawi. Pemahaman yang demikian 
amat bernuansa modalisme atau sabelianisme. 
Inilah yang memang ditawarkan oleh Roberts 
sebagai “jembatan” untuk menjelaskan mono-
teisme Tritunggal kepada Islam. 
 
Dalam pembelaannya kepada Islam, Roberts 
menjelaskan bahwa tiga pribadi dalam Tri-
tunggal tidak merujuk kepada tiga pribadi 
yang terpisah dan berbeda, melainkan me-
rujuk kepada peran yang berganti.37 Perubah-
an peran ini menjaga keesaan Allah dalam 
konsepsi monoteisme. Roberts bahkan me-
minjam konsep Pannikar yang menyatakan 
bahwa konsep Tritunggal bukan hanya milik 
Kristen, melainkan muncul dalam agama lain, 
misalnya Hindu. Roberts menilai: 
 
 Such considerations lead me to the thought 
that, if the Muslim comes to recognize 
trinitarian thinking about God as an attempt 
to convey in conceptual terms a Reality 
 
memutuskan bagian-bagian Alkitab mana yang sungguh-
sungguh merupakan perkataan Yesus dan yang bukan. 
Lihat penjelasan Daniel L. Lukito, “490 Tahun Reformasi: 
(Oktober 1989):18–19. Tulisan Borg yang diikuti oleh 
Roberts dalam hal ini ialah The God We Never Knew: 
Beyond Dogmatic Religion to a More Authentic Contempo-
rary Faith (New York HarperCollins, 1997). 
36Roberts, “Trinity vs. Monotheism,” 77.  
which, ultimately, is beyond conceptual-
ization and which is, in fact, found within 
religions other than Christianity, including 
both Hinduism and even Islam itself, it may 
become easier for him or her to look upon the 
Trinity, not as a violation of the Divine 
Unity but, rather, as a means of speaking 
about the Divine richness and vitality.38 
 
Menurut pemikiran Roberts, pendekatan 
sabelianisme yang inklusif (dalam hal ini 
menunjukkan pola trinitarianisme dalam 
agama-agama lain) dapat menolong umat 
Islam untuk menerima konsep monoteisme 
dalam Realitas Tritunggal yang Agung itu. 
 
Tidak disangkal, pendekatan Roberts memi-
liki kreativitas dan keunikannya sendiri. Di-
katakan kreatif dan unik karena Roberts 
berangkat dari persepsi dialogis, bukan se-
kadar apologetis. Roberts juga berusaha untuk 
menemukan semacam “common ground” 
(konsep trinitarianisme inklusif dalam agama-
agama lain) yang dapat dipakai untuk ber-
dialog dengan Islam. Studi kata “person” dan 
dampaknya pada penekanan monoteisme juga 
patut diapresiasi. Walaupun demikian, penulis 
melihat pembelaan apologetis Roberts memi-
liki beberapa kelemahan. Pertama, konsep 
Tritunggal sabelianisme tidak mewakili peng-
ajaran Alkitab,39 dikecam sebagai bidat sejak 
zaman gereja mula-mula,40 dan tidak menun-
jukkan koherensi logika.41 Bahkan Brown, 
seorang proponen Islam menggarisbawahi hal 
ini demikian: 
 
Kedua, sekalipun studi kata “person” merujuk 
kepada “peran”, bapa-bapa gereja mula-mula 
tidak memaksudkannya demikian.43 Mereka 
menggunakan kata “person” justru untuk me-
nunjukkan keberbedaan antar pribadi dalam 
Tritunggal.44 Ketiga, konsep trinitarianisme 
inklusif, sebagaimana diusulkan oleh Roberts 
(serta Pannikar dan Borg) tidak merefleksikan 
trinitarianisme Kristen dalam Alkitab.45 
Roberts benar dalam menandaskan bahwa 
tidak ada dikotomi antara Tritunggal dan 
monoteisme, namun perlu ada penjelasan 
yang lebih memadai mengenai kebenaran ini.   
Adalah Jon Hoover, seorang associate 
professor of Islamic Studies di University of 
Nottingham, Inggris yang memberikan kontri-
busi penting mengenai polemik ini. Dalam 
artikel akademis yang berjudul “Islamic 
Monotheism and the Trinity”, ia mengusulkan 
bahwa kedua pihak, baik Islam maupun Kris-
ten, sama-sama menjunjung tinggi monoteis-
me.46 Monoteisme Kristen amat kentara baik 
dalam PL (misalnya, shémā Israel dalam Ul. 
6:4) maupun dalam PB (misalnya, tentang 
keesaan Allah dalam Mrk. 12:29 dan 1Tit 
2:5).47 Jika Kristen adalah agama monoteistik, 
mengapa mereka menyembah tiga Allah? 
Problemnya terletak pada tiga entitas: Bapa, 
 
 
Meminjam pendekatan bapa-bapa gereja, 
Hoover menunjukkan perbedaan antara 
“esensi atau substansi” dengan “pribadi”. 
Perbedaannya bukan hanya terletak pada 
makna, tapi pada kategorinya. Analogi 
Hoover menolong pada bagian ini. Ia menya-
takan bahwa “the Christian problem of how to 
speak of the three as one and the one as three is 
akin to the Islamic theological problem of 
conceiving the unity of the multiple divine 
attributes in al-tawhîd al-sifât.”49 Maksudnya, 
dalam konsepsi Islam, esensi Allah ialah satu, 
atribut Allah beragam. Esensi dan atribut 
adalah dua kategori yang berbeda. Sebagai-
mana esensi itu satu, atribut itu banyak dalam 
persepsi Islam, demikianlah esensi itu satu, 
pribadi itu tiga dalam Tritunggal Kristen.50 
Inilah yang berusaha dicapai oleh Hoover, 
sebagaimana diilustrasikan oleh Tabel 1 di 
bawah ini:51 
 

 
bahwa Islam dan Kristen sama-sama menyem-
bah Allah yang memiliki esensi satu (dalam hal 
ini monoteisme). Dengan sendirinya, ini mem-
bantah tuduhan politeisme Islam terhadap 
Tritunggal. Kedua, ia memberikan semacam 
analogi “unity-diversity” tentang esensi-atribut 
dalam Islam sendiri untuk memberi gambaran 
tentang pembedaan kategori antara “esensi” 
dan “pribadi” dalam Tritunggal Kristen. Selain 
itu, kata echad dalam Ulangan 6:4, merujuk 
kepada natur Allah yang satu namun memiliki 
nuansa komposit jamak.53 Ini menunjukkan 
adanya nuansa pluralitas dalam singularitas 
rujukan pronomina yang digunakan oleh kata 
tersebut.54 Lantas bagaimana dengan dua 
tuduhan Brown di atas mengenai formula 
baptisan dan amanat agung mula-mula? 
 
Mengatakan bahwa formula baptisan rasul 
Paulus tidak merefleksikan konsep Tritunggal 
adalah kesimpulan yang keliru karena dua hal. 
Pertama, rasul Paulus tidak pernah bermaksud 
dalam surat-suratnya untuk membuat formula 
baptisan.55 Baptisan dalam nama Yesus (khu-
susnya yang sering dilakukan oleh para rasul, 
mis. Kis. 2:38 dan Gal. 3:27) bertujuan untuk 
membedakan dengan baptisan Yohanes.56 
Kedua, konsep Tritunggal jelas terlihat dalam 
tulisan awal rasul Paulus (Gal. 4:6) dan juga 
dalam formula berkat yang Paulus gunakan 
(2Kor. 13:13). Berkaitan dengan “amanat 
agung mula-mula” dalam Injil Markus yang 
tidak memuat formulasi Tritunggal, hal ini 
sama sekali tidak menihilkan konsep Tritung-
gal. Ini disebabkan karena dua hal: (1) Injil 
Markus sendiri tidak menentang konsep 
Tritunggal, sebaliknya malah menegaskan-
nya;57 dan (2) umumnya, amanat agung tidak 
 
merujuk pada Injil Markus, tapi pada Injil 
Matius (28:19-20). Sekalipun istilah Tritunggal 
tidak ada dalam Alkitab, pengajaran tentang 
hal ini tersebar di sepanjang Alkitab. “Meng-
gugurkan” satu ayat dengan bantuan kritik 
tekstual (1Yoh. 5:7) sama seperti mencopot 
sebuah kerikil kecil dari bangunan beton 
teologi yang kokoh. Tidak ada pengaruhnya 
sama sekali! Untuk meruntuhkan konsep 
Tritunggal dalam Alkitab, Brown perlu usaha 
yang lebih keras daripada sekadar mengkritik 
satu ayat firman Tuhan. 
 
Akhirnya, dengan mempertimbangkan pem-
belaan teologis di atas, terlihat bahwa Tritung-
gal Kristen tetap bersifat monoteistik, bukan 
politeistik seperti yang dituduhkan. Poin dia-
logis Roberts yang menihilkan dikotomi an-
tara Tritunggal dan monoteisme adalah hal 
yang benar. Ini dilengkapi oleh usaha Hoover 
untuk menunjukkan analogi kategori pembe-
da dengan menggunakan pemahaman teologis 
Islam sendiri. Dengan demikian, Tritunggal 
Kristen tidak memiliki problem teologis poli-
teisme.  
 
Pembelaan Logis 
 
Salah satu problem logis terletak pada ide 
bahwa tiga adalah satu dan satu adalah tiga. 
Rumusan yang demikian mengindikasikan 
kontradiksi. Tidak heran guru besar ilmu tafsir 
Al-Quran, Ali al-Sabuni menyatakan bahwa 
ini adalah sebuah “fallacy” dalam logika 
berpikir.58 Hukum nonkontradiksi dari filsafat 
mengajarkan bahwa “the thing cannot be both 
true and false at the same time and in the same 
sense.”59 Jika diterapkan dalam konsep 
56G. R. Beasley-Murray, “Baptism,” dalam Dictionary of 
Paul and His Letters, 60–61. 
57Injil Markus tetap mencantumkan peristiwa baptisan 
Yesus dengan kehadiran tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh 
Kudus (bdk. Mrk. 1:9-11). Jika Injil Markus menentang 
konsep Tritunggal, bagian ini akan bersifat kontraproduk-
tif. Sebaliknya, Injil Markus selaras dengan pengajaran 
Tritunggal.  
58Ali al-Sabuni, Safwat al-tafasir, 357.   
59Norman Geisler dan Abdul Saleeb, Answering Islam: 
The Crescent in Light of the Cross (Grand Rapids: Baker, 
2002), 272.  
46  “Kafirlah Hukumnya Orang yang … “ (Yudi Jatmiko) 
 
Tritunggal, artinya ialah: “Dalam waktu dan 
pengertian yang sama, tidak mungkin tiga itu 
satu dan satu itu tiga.” Inilah yang juga 
dikecam oleh Taimiyyah. Ia menduga wahyu 
dalam konsepsi Kristen bukan sekadar men-
jadi sumber teologi, tapi merupakan pelarian 
teologis oleh karena diperhadapkan pada jalan 
buntu problem logika.60 
 
Pertama, perlu digarisbawahi apa yang Taimiy-
yah katakan mengenai wahyu. Taimiyyah benar 
ketika menyimpulkan bahwa teologi Kristen 
berpijak pada wahyu sebagai sumber utama 
dalam berteologi.61 Namun menyatakan bah-
wa wahyu harus dikonfirmasi oleh logika ada-
lah sama seperti mengatakan “seorang bapak 
mirip dengan anaknya” atau “Tuhan ada kare-
na manusia ada.” Itu adalah pola pikir yang 
terbalik! Rasio manusia adalah salah satu sum-
ber dalam berteologi, namun di hadapan wah-
yu Tuhan, rasio manusia bersimpuh sujud 
seperti layaknya seorang hamba di hadapan 
tuannya. Michael Rea, seorang propenen kuat 
dalam Teologi Analitik, menyatakan penting-
nya menggunakan metode yang tepat di mana 
rasio dan filsafat sebagai perangkat dan kenda-
raan berpikir harus dimaksimalkan dengan 
utuh, namun hal ini tidak pernah mengganti-
kan kedudukan wahyu sebagai sumber utama 
kebenaran dalam berteologi.62 Ibarat mata 
yang sehat dapat melihat proyeksi benda kare-
na ada bantuan cahaya, demikian juga rasio 
manusia dapat “melihat” proyeksi teologis ka-
rena bergantung pada bantuan cahaya Ilahi 
dalam wahyu. Proses berpikir terbalik yang 
Taimiyyah tunjukkan dengan sendirinya mem-
buktikan “logical fallacy” dalam pikirannya. 
 
 
Jika doktrin Tritunggal berpijak pada wahyu, 
yang menjadi pertanyaan kemudian ialah apa-
kah Tritunggal tersebut bertentangan dengan 
logika? Jawabannya jelas tidak!63 Di dalam 
artikel akademis teologis yang berjudul “The 
One Divine Nature,” William Hasker menun-
jukkan bahwa pemahaman tentang Allah Tri-
tunggal dengan segala kedalaman komplek-
sitas jauh melampaui nalar rasional manusia, 
namun hal ini sama sekali tidak bertentangan 
secara logika berpikir. Hasker menyatakan, “I 
assert that the logical possibility of a single 
concrete divine nature supporting three distinct 
personal life-strands can be affirmed; there is no 
known evident or plausible objection to this 
possibility.”64 Hasker mengakui bahwa sangat 
ideal jika ada pembanding temporal atau 
semacam teori metafisika yang mampu me-
wakili kebenaran kekal Tritunggal, namun ia 
menegaskan bahwa, “the solution of the logical 
problem of the Trinity does not depend on such 
a developed metaphysical theory. That problem 
of logical consistency can now be put behind us, 
whatever further difficulties may still lie in 
wait.”65 Kebenaran wahyu membuatnya me-
lampaui kemampuan akses logika, sehingga 
ada misteri yang tidak mungkin dijelaskan ha-
nya berdasarkan logika. Walaupun demikian, 
itu tidak menjadikannya bertentangan dengan 
logika.66 Uraian Norman L. Geisler dan Abdul 
Saleeb sangat berguna dalam hal ini: 
 
 
Penting sekali untuk dicermati bahwa ketika 
mengakui adanya misteri dalam Tritunggal, 
Geisler dan Saleeb menegaskan konsistensi 
logika dalam doktrin Tritunggal. Jika Tritung-
gal itu satu pribadi dan tiga pribadi, atau tiga 
natur dan satu natur, keduanya adalah formu-
lasi pemikiran yang kontradiktif. Tetapi kare-
na Tritunggal ialah tiga pribadi dalam satu 
natur, konsistensi logikanya tetap terpelihara. 
Ini juga membantu menjawab problem logis 
kedua, yaitu mengenai dwinatur Yesus. 
 
Jika Yesus memiliki natur (atau substansi) 
yang sama dengan Bapa, logika menyimpulkan 
ada dua natur, bukan satu. Begitu juga halnya 
dengan Roh Kudus, sehingga menjadi tiga na-
tur. Mengenai hal ini, penulis ingin menggaris-
bawahi dulu kebenaran dalam kalimat Taimiy-
yah. Benar yang dikatakan Taimiyyah bahwa 
Bapa, Yesus, dan Roh Kudus memiliki natur 
yang sama.68 Tetapi tidak benar menyatakan 
bahwa mereka memiliki tiga natur karena pro-
ses numerik dalam Tritunggal Kristen merujuk 
bukan kepada natur Allah, melainkan kepada 
pribadi-Nya. Lagi-lagi, ilustrasi Geisler dan 
Saleeb amat membantu menguraikan hal ini:69 
Gambar 1. Pribadi dan Natur Tritunggal 
 
Tritunggal, sebagaimana diilustrasikan dalam 
gambar, ialah tiga Who yang berbeda dan satu 
 
What yang sama. Kategori Who merujuk pada 
pribadi, sedangkan kategori What merujuk 
pada natur atau esensi. Proses numerik dalam 
Tritunggal Kristen tidak terjadi pada kategori 
What (mempertahankan monoteisme), tapi 
pada kategori Who (membantah modalisme). 
  
Dengan demikian gugurlah dua problema 
logis yang dituduhkan terkait doktrin Tri-
tunggal. Walaupun demikian, hal ini tidak 
berarti tidak ada kesulitan logika dalam dok-
trin Tritunggal. Natur wahyu dalam kebenaran 
ini selalu menyisakan tempat untuk misteri. 
Pembelaan apologetis yang ingin disampaikan 
ialah bahwa ajaran Tritunggal tidak bersifat 
kontradiktif. Sebaliknya, ajaran ini selaras de-
ngan konsistensi logika berpikir yang sehat, 
sambil tetap mengakui keagungan Allah da-
lam misteri wahyu ilahi-Nya. 
 
 
 
Pembelaan apologetis yang disampaikan me-
nunjukkan dua hal. Pertama, doktrin Tritung-
gal tidak memiliki problem teologis politeisme 
seperti yang dituduhkan (kontra Brown). 
Monoteisme Tritunggal Kristen tidak terletak 
pada konsep sabelianisme (kontra Roberts), 
tapi pada frasa kunci “pembedaan kategori” 
(Hoover). Penggunaan analogi mengenai 
kategori pembeda antara “esensi/atribut” da-
lam Islam dan “esensi/pribadi” dalam Tritung-
gal Kristen merupakan sebuah pendekatan 
yang kreatif dan prospektif (Hoover). Pende-
katan ini kreatif karena berusaha melihat isu 
dari perspektif Islam sendiri (problem “unity-
diversity”) dan dapat menjadi salah satu contoh 
dari practical ways dalam dialog apologetis 
dengan Islam.70 Selain itu, pendekatan ini juga 
bersifat prospektif karena menjanjikan terbu-
kanya ruang dialog antaragama karena ber-
pijak pada monoteisme yang sama, sebagai 

Kedua, dua problem logis Tritunggal, sebagai-
mana dituduhkan di atas, terbukti tidak benar. 
Ajaran Tritunggal Kristen memang berpijak 
pada wahyu sebagai sumber utama dalam teo-
logi Kristen (Taimiyyah), namun tidak menja-
dikannya sebagai pelarian teologis (kontra 
Taimiyyah). Pembuktian logis menunjukkan 
konsep Tritunggal tidak bertentangan dengan 
prinsip dasar hukum nonkontradiksi dalam 
filsafat (kontra Ali al-Sabuni). Proses penjum-
lahan numerik tidak terjadi pada “natur” 
Allah, tapi pada “pribadi”-Nya (Geisler dan 
Saleeb). Ini menggugurkan tuduhan kontra-
diksi dalam Tritunggal, sekaligus mengesah-
kan koherensi logika Tritunggal, sambil tetap 
mengakui adanya ruang misteri bagi wahyu 
ilahi. Berdasarkan dua pembelaan apologetis 
di atas, penulis menyimpulkan bahwa Tritung-
gal Kristen bersifat monoteistik secara teologis 
dan koheren secara logis. Kepada-Nya, selu-
ruh makhluk harus bersimpuh sujud seraya 
berseru: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN 
semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-
Nya!” (Yesaya 6:3).