Spiritual Hindu 2
a bahkan sejak era raja-raja Nusantara. Provinsi Lampung
tercatat sebagai salah satu provinsi yang mengalami
perkembangan agama Hindu yang pesat dan bahkan
termasuk provinsi kedua sesudah Bali yang memiliki populasi
penduduk beragama Hindu terbesar di negara kita . Umat
______________________26
Hindu di Provinsi Lampung mayoritas beretnis Bali yang
tersebar di 14 kota dan kabupaten di Provinsi Lampung
dengan komposisi, sebagai berikut:
1. Kabupaten Lampung Barat (7.921 jiwa);
2. Kabupaten Tanggamus (16.791 jiwa);
3. Kabupaten Lampung Selatan (244.264 jiwa);
4. Kabupaten Lampung Timur (184.998 jiwa);
5. Kabupaten Lampung Tengah (304.713 jiwa);
6. Kabupaten Lampung Utara (32.131 jiwa);
7. Kabupaten Way Kanan (55.863 jiwa);
8. Kabupaten Tulang Bawang (69.381 jiwa);
9. Kabupaten Pesawaran (29.190 jiwa);
10. Kabupaten Pringsewu (10.617 jiwa);
11. Kabupaten Mesuji (2.784 jiwa);
12. Kabupaten Tulang Bawang Barat (8.650 jiwa);
13. Kota Bandar Lampung (8.761 jiwa);
14. Kota Metro (4.928 jiwa).
(Data Kementerian Agama Provinsi Lampung Tahun 2014)
Perkembangan ini diiringi dengan jumlah Pura yang
tersebar pula di berbagai daerah di Provinsi Lampung guna
memudahkan umat untuk beribadah di Pura yang jumlahnya
sudah mencapai 1.041 Pura. Selanjutnya data lain menyangkut
keberadaan Hindu di Provinsi Lampung, berdasar data
Pembimas Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama
Provinsi Lampung Tahun 2014, secara terperinci tergambar
______________________27
berikut: 4 Penyuluh PNS, 95 Penyuluh non-PNS, 169 Guru, 2
Pengawas Pendidikan.
Sejarah keberadaan warga Hindu Bali di Provinsi
Lampung dimulai sejak tahun 1950-an. Saat itu, Lampung
masih merupakan sebuah Keresidenan yang tergabung
dengan Provinsi Sumatera Selatan. Keberadaan warga Bali di
Provinsi Lampung dimulai pada tahun 1952. Saat itu
gelombang pertama transmigran asal Bali tiba di 'tanah
harapan' ini lewat Pelabuhan Panjang Lampung. Gelombang
pertama transmigran asal Bali ini berasal dari beberapa
Kabupaten di Bali seperti Tabanan, Karangasem, dan
Klungkung. Transmigran Bali yang datang pada tahun 1952
ini kemudian menempati wilayah Seputih Raman di Lampung
Tengah.
sesudah gelombang pertama tahun 1952, gelombang
kedua transmigran asal Bali datang ke Provinsi Lampung
tahun 1963-1964, pasca letusan Gunung Agung di Bali.
Gelombang kedua transmigran asal Bali tahun 1963 ini
mendiami wilayah Lampung Selatan, termasuk warga Desa
Balinuraga yang berkonflik dengan warga lain beberapa
waktu ini. Seperti halnya gelombang pertama, transmigran
asal Bali yang datang tahun 1963 ini juga mampu bertahan
hidup di tengah kerasnya kondisi alam di belantara Lampung
waktu itu. Berkat keuletan serta kegigihannya, mereka bisa
bertahan hidup dan sukses menjadi petani di perantauan. Kini
warga asal Bali sudah tersebar di 14 Kabupaten/Kota di
Lampung.10
Dari berbagai kelompok pendatang di Lampung, etnis
Bali (pemeluk Hindu) memiliki ciri khas yang menonjol yakni
ke-Bali-annya. Mereka dapat “membali” atau menjadi Bali di
Lampung. Meskipun mereka berbaur satu sama lain dengan
etnis dan agama yang berbeda, namun Ikatan sosial dengan
tanah leluhur tetap dipertahankan demi kelestarian identitas
ke-Bali-annya. “Membali” di Lampung tentu saja merupakan
sebuah proses pembentukan identitas ke-Bali-an komunitas
Hindu di Lampung. (Yulianto, 2011: 5). Hal ini memang
sangat nampak pada saat warga Hindu Lampung merayakan
festival Ogoh-Ogoh dengan menampilkan elemen-elemen
kebudayaan Bali termasuk dalam hal busana yang dikenakan
oleh warga Hindu di Lampung.11
Namun demikian, dari penggambaran tentang
keberadaan umat Hindu beretnis Bali di Provinsi Lampung
ini , tidak seluruhnya dapat dikategorikan sebagai umat
Hindu Bali yang cukup kuat nuansa ritual keagamaannya
atau dalam bahasa lain disebut sebagai Hindu Umum atau
Hindu Tradisional. Di antara mayoritas Hindu Umum
ini ada beberapa kelompok spiritual yang
mempraktikan keberagamaannya dengan cara yang berbeda
meskipun sebagian besar sama-sama berlatar-belakang etnis
Bali dan tetap tidak mengabaikan dan meninggalkan tradisi
dan perayaan yang termasuk ke dalam kekhasan kelompok
warga Hindu Umum.12
Adapun kelompok spiritual yang berada di Provinsi
Lampung ada di 4 lokasi, yaitu:
1. Asrama Prahlada (SAKKHI), yang berlokasi di Jl. Bumi
Manti No. 96 Kampung Baru Kodya Bandar Lampung.
2. Gita Nagari Baru (SAKKHI), yang berlokasi di Jl. Gita
Nagari Baru Kahuripan Dalam Kecamatan Manggala
Timur Kabupaten Tulang Bawang Barat.
3. Sri Radha Giridhari Asram (Kesadaran Krisna) yang
berlokasi di Jl. Dusun V Jatisari RT.45 B Jatimulyo
Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan.
4. Mandir Prema Atma Nanda (Sai Baba) yang belokasi di Jl.
Saraswati No.1 Rama Gunawan 7 Seputih Rama
Kabupaten Lampung Tengah.
Perkembangan SAKKHI dan Asrama Prahlada
Perkumpulan Sampradaya Hare Krishna tercatat telah
memiliki lebih dari 30 temple/center di negara kita dengan lebih
dari 4000 pengikut yang tersebar di beberapa daerah termasuk
di Provinsi Lampung (Media Kit Iskcon Sakkhi: 2). Di Provinsi
Lampung ada 3 yayasan yang merupakan bagian dari
Perkumpulan Hare Krishna. Namun dalam penelitian ini
hanya satu perkumpulan yang diteliti lebih mendalam yakni
sebagai berikut: Asrama Prahlada.
Asrama Prahlada didirikan pada tanggal 7 Desember
1998 oleh 3 serangkai yakni HM Bhakti Raghava Swami, HG
Gaura Mandala Bumhi, dan Angalata Devi Dasi. Asrama ini
berada di bawah payung Yayasan Prahlada. Asrama ini
dibangun sehubungan dengan meningkatnya jumlah anggota
yang tergabung ke dalam SAKKHI di bawah naungan
Yayasan Prahlada. Asrama ini terdiri atas dua buah bangunan
tempat tinggal untuk anggota laki-laki dan perempuan, satu
bangunan dapur umum untuk kegiatan masak dan makan
bersama. Adapun pembiayaan pembangunan asrama
______________________30
termasuk pengadaan tanahnya sepenuhnya menjadi tanggung
jawab ketiga pendiri Yayasan Prahlada. sedang untuk
biaya sehari-hari dan perawatan asrama menjadi tanggung
jawab dari para anggota yang mendiami asrama ini .
Sebelum dibangun asrama ini, para anggota awalnya
melakukan pertemuan di kampus Universitas Negeri
Lampung kemudian pindah ke tempat lain yang lokasinya
berada di Kampung Baru, sama seperti letak asrama
Prahlada.13
Saat ini, asrama Prahlada yang berlokasi di Jl. Bumi
Manti No. 96 Kampung Baru, Kota Bandar Lampung didiami
oleh 20 orang anggota yang masih tergolong mahasiswa.
Mereka tidak hanya menjadikan asrama sebagai tempat
tinggal layaknya tempat kost mahasiswa pada umumnya.
Namun mereka melakukan aktifitas-aktifitas pengkajian kitab
Bhagavad Gita dan kitab-kitab lainnya secara rutin termasuk
melakukan ibadah bersama. Namun demikian, asrama
ini bukanlah tempat ibadah bagi mereka mengingat
tempat ibadah anggota Sampradaya Kesadaran Krishna
yaitu di temple-temple yang menjadi tempat suci bagi
anggota kelompok spiritual ini .14
Dalam hal administrasi dan registrasi kelembagaan,
hingga saat ini keberadaan organisasi Yayasan Prahlada
belum terdaftar di Ditjen Bimas Hindu dan Kesbangpol
setempat, dan baru sebatas akta notaris pendirian yayasan.
Namun demikian, sebagai kelompok yang termasuk ke dalam
agama Hindu maka Yayasan Prahlada ini bernaung di dalam
organisasi Parisada Hindu Dharma negara kita .
Ciri Pokok Ajaran SAKKHI
Teologi
Sebagai pelaksana ajaran Krishna, para pengikut ajaran
ini memiliki salah satu tujuan hidup mengembalikan
keyakinan semua orang kepada Tuhan dan Tuhan yang di
diyakini oleh pengikut SAKKHI yaitu Tuhan Krishna
sebagai entitas tertinggi dan bahkan lebih tinggi dari Tri
Murti. Dengan demikian maka posisi Tuhan Krishna dalam
konsep teologis ajaran SAKKHI sungguh berada dalam posisi
yang sangat supreme bahkan melampaui posisi Sang Hyang
Widi Wase yang oleh pemeluk Hindu umum atau Hindu
tradisional di negara kita sebagai entitas tertinggi. Adapun
kedudukan Trimurti yakni Syiwa, Brahma dan Whisnu yaitu
dewa-dewa yang diperintahkan Tuhan Krishna untuk
mengatur alam semesta sesuai dengan tugas dan
kedudukannya masing-masing.
Dalam ajaran SAKKHI, Tuhan dikenal dalam tiga
aspek atau dikenal dengan sebutan Keinsafan Tuhan, yakni
Pertama, Bhagavan. Bagawan merupakan Tuhan yang
berwujud atau memiliki wujud dalam bentuk Krishna.
Bagawan ini dalam konsep teologi ajaran SAKKHI menempati
kedudukan paling tinggi. Kedua, Paramatma. Paramatma
merupakan aspek Tuhan yang berada di setiap hati makhluk
hidup dan hati diartikan sebagai sumber kehidupan.
Paramatma ini berada pada kedudukan tertinggi kedua
sesudah Bagawan. Ketiga, Brahman. Brahman tidak berwujud
namun sinar yang disebut Brahmajoti atau aspek Tuhan
Krishna dalam bentuk sinar. Sang Hyang Widi Wase termasuk
dalam tingkatan Tuhan yang disebut sebagai Brahman.
______________________32
Di samping itu, Sri Krishna juga diyakini sebagai
perwujudan keabadian, pengetahuan dan kebahagiaan. Sri
Krishna yaitu Personalitas Tertinggi Tuhan Yangg Maha Esa,
Sang Pengendali semua pengendali bawahan lainnya dan
merupakan sumber semua inkarnasi atau penjelmaan Tuhan.
Sri Krishna tidak memiliki asal mula atau sumber, melainkan
Sri Krishna yaitu sumber segalanya dan sebab dari segala
sesuatu. Dengan demikian, Bhagavan sebagaimana telah
disebut di atas, merupakan sosok bercahaya sendiri yang
patut dipuja, Kebenaran Mutlak Tertinggi dan perwujudan
kebahagiaan abadi. Dia sibuk dalam kegiatan rohani bersama
potensi internal-Nya di tempat tinggal kekal milik-Nya sendiri
dan Dia tidak memiliki hubungan langsung dengan alam
material yang bersifat mati.15
Konsep teologis ini dijelaskan oleh A.C. Bhaktivedanta
Swami, Pendiri Ajaran Sampradaya Kesadaran Krishna dalam
kata pengantar panjangnya di dalam kitab Bhagavad Gita
Menurut Aslinya, “Sri Krishna merupakan kepribadian Tuhan
Yang Maha Esa sebagaimana dibenarkan oleh seua acarya
atau para guru kerohanian yang mulia seperti Sankaracarya,
Ramanujacarya, Madvhacarya, Nimbarka Swami, Sri Caitanya
Mahaprabhu dan banyak penguasa pengetahuan Veda
lainnya. Sri Krishna sendiri membuktikan bahwa Sri Krishna
merupakan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa dalam
Bhagavad Gita dan Sri Krishna diakui demikian dalam
Brahma-Samhita dan semua Purana khususnya dalam Srimad-
Bhagavatam yang terkenal dengan judul Bhagavata Purana.”
(Kitab Bhagavad Gita Menurut Aslinya, 1971: 3).
15 Wawancara dengan I Wayan Ardika, I Kadek dan I Nyoman, pengurus
Asrama Prahlada, tanggal 6 Maret 2016.
Inilah yang membedakan dengan Hindu Umum atau
Hindu Tradisional yang umumnya mengakui Sang Hyang
Widi Wasa atau Brahman sebagai Tuhan dan Trimurti
merupakan dewa penjelmaan dari Brahman.
Etika dan Moralitas
Dalam ajaran SAKKHI, menurut Kadek Setiawan16
ada 4 prinsip yang harus dijalankan oleh pengikutnya
yakni:
a. Tidak memakan daging, ikan dan telur. Prinsip ini terkait
dengan prinsip menghargai kehidupan;
b. Tidak Mabuk-mabukan;
c. Tidak Berjudi;
d. Tidak Berzina.
Di samping keempat prinsip ini , dikenal pula 4
pilar keyakinan yang terdiri atas welas asih, kejujuran,
kesucian, dan pertapaan/pengendalian diri. Keempat pilar
kehidupan rohani ini juga harus dijalankan dan setiap
anggota harus berlatih untuk menjalankan keempat pilar
ini . Untuk memperkokoh prinsip-prinsip ini dan
untuk memusatkan pikiran dan indera-indera pada
pencapaian spiritual, anggota harus mengikuti aturan-aturan
dasar yakni diet vegetarian yang ketat, dan tidak melakukan
keempat larangan sebagaimana telah disebut di atas.
Mereka meyakini bahwa sumber daya alam,
lingkungan, dan tubuh manusia yaitu pemberian suci dari
Tuhan dan harus dikelola dengan penuh tanggungjawab.
l
Filosofi Vaisnawa sebagai akar Hare Krishna mengajarkan
bahwa setiap mahluk hidup saling memiliki jalinan
hubungan, dengan Krishna sebagai yang tertinggi.
Penyembah Krishna menghormati hak hidup binatang, dan
menjalani pola makan seminimal mungkin melakukan
kekerasan dan eksploitasi. Oleh sebab itu, mereka
memandang bahwa vegetarianisme dengan keuntungan
ekologi, sosial dan kesehatan yang tidak terhitung besarnya
merupakan pola hidup yang cocok untuk mengembangkan
cinta kasih.
Sumber Ajaran
Dalam hal kitab suci yang menjadi sumber ajarannya,
ajaran Pokok umat Hindu pengikut Sampradaya Kesadaran
Krishna negara kita secara umum tidak berbeda dengan
sebagian besar pemeluk agama Hindu yang menjadikan Veda
dan Bhagavad Gita sebagai sumber ajaran pokok. Pengikut
kelompok ini mendasarkan filosofinya pada kesusasteraan
Veda yang meliputi Bhagavad Gita, 30 Jilid Srimad
Bhagavatam, dan 17 jilid Caitanya-caritamrita. Pembelajaran
kitab-kitab ini berlangsung setiap hari. dan kelas-kelas khusus
biasanya diberikan pada saat perayaan tertentu maupun
kegiatan-kegiatan mingguan.
Ciri-ciri atau simbol keseharian
Ciri-ciri atau simbol yang nampak dalam keseharian
pengikut Sampradaya Kesadaran Krisna negara kita yaitu
sebagai berikut:
a. Kalung Kantimala yang dikenakan di leher. Kalung ini
wajib dipakai oleh setiap pengikut;
b. Tilaka atau tanah liat yang sudah diayak yang warnanya
nampak keputihan dan dikenakan di bagian wajah
tepatnya dibubuhkan di antara kedua mata hingga ke
bagian hidung bagian atas;
c. Pakaian sembahyang bernama Doti untuk laki-laki dan
baju sari dipakai oleh perempuan. Namun demikian
pakaian ini bukan keharusan sebab bisa juga
menggunakan pakaian lain sesuai adat daerah.17
Di samping itu hal lain yang tampak pada ajaran
SAKKHI yaitu adanya perbedaan dengan Hindu Umum
atau Hindu Tradisional yakni mereka menganggap suci
pohon tulasi sehingga di depan altar sembahyangnya
diletakkan pohon ini . sedang di Hindu tradisional
pohon yang dianggap suci yaitu pohon beringin. Selain itu,
di depan altar sembahyang diletakkan pula gambar-gambar
guru dan patung Hare Krisna yang dianggap sebagai
Tuhannya.
Penjelasan dari peletakan gambar dan patung ini
dilandasi oleh keyakinan mereka bahwa Sang roh dianggap
mempunyai hubungan yang kekal dengan Hare Krisna
melalui pengabdian suci bhakti yang bersifat rohani. Dengan
menghidupkan kembali bhakti yang murni, seseorang dapat
kembali kepada Hare Krisna di alam rohani (Bhagavadgita,
______________________36
Tradisi Keagamaan/ritual /Ritual Keagamaan/Hari Besar
Sampradaya Kesadaran Krishna negara kita merupakan
kelompok yang mengikuti tata cara aturan murni dari India
dengan ciri-cirinya, sebagai berikut:
a. Membaca kitab suci Bhagavat Gita dan kitab Purana
sebanyak 2 kali di siang dan malam;
b. Melakukan sembahyang rutin sebanyak 2 kali setiap hari
dan 3 kali di setiap hari minggu di pagi, siang dan malam;
c. Mengucapkan nama suci Tuhan Krishna dengan
bernyanyi memakai bahasa India, pagi mulai jam 05.00
hingga jam 05.45 dan malam hari pada jam 18.30;
d. Sarana sembahyangnya meliputi: api, dupa, bunga, air,
minyak, kapas, hio dan wangi-wangian serta gambar foto
atau patung Hare Krisna dan para guru yang diletakkan di
altar depan tempat ibadah.
e. Melakukan pola makan vegetarian;
f. cara berpakaian dalam sembahyang mengikuti pola dari
India.
Selain itu, di dalam ajaran Sampradaya Kesadaran
Krishna negara kita ini juga ada beberapa tradisi
keagamaan maupun perayaan-perayaan, sebagai berikut:
a. Krishna Janmastami. Kemunculan Krishna merupakan
hari yang paling suci bagi penyembah Krishna. Kuil
merayakan hari ini dengan pemujaan khusus dan
program-program yang meliputi tarian-tarian tradisional,
pengucapan nama suci, drama dan makan bersama.
Mereka juga berpuasa hingga tengah malam kemudian
berbuka puasa dengan hidangan yang tidak mengandung
biji-bijian untuk memperingati kemunculan Tuhan di
dunia;
b. Perayaan Lahirnya Srila Prabhupada dan Guru-Guru Suci.
Perayaan ini dirayakan sesudah Krishna Janmastami. Di
hari lahir para guru suci ini , pengikut Hare Krishna
memberikan pelayanannya untuk menunjukan rasa
syukur dan apresiasi bagi Srila Prabhupada yang telah
menyebarkan pengetahuan tentang Krishna ke seluruh
dunia. Para penyembah Krishna berkumpul untuk
mengenang Srila Prabhupada dengan melakukan makan
bersama di siang hari;
c. Rathayatra. Acara yang penuh kebahagiaan ini didasarkan
pada tradisi turun temurun “festival menarik kereta ini
dirayakan di seluruh negara kita ;
d. Ekadasi. Ekadasi merupakan hari raya suci yang
dirayakan dengan cara berpuasa sebulan dua kali sesuai
dengan kalender waisnawa.
Selain perayaan-perayaan dan tradisi keagamaan
lainnya yang dikerjakan, mereka pada umumnya berasal dari
etnis Bali dan berada dalam keyakinan sebagai Hindu Umum,
tidak mengabaikan sepenuhnya apa yang harus dan tidak
diperbolehkan seperti dalam ajaran Hare Krishna. Mereka
juga tetap merayakan hari raya nyepi dan galungan serta
melakukan puasa sebagaimana dilakukan oleh umat Hindu
pada umumnya.
Strategi Mempertahankan dan Mengembangkan
Eksistensi SAKKHI
Dalam mempertahankan dan mengembangkan
ajarannya, para anggota melakukan beberapa kegiatan
maupun proyek komunitas dan aktif di kegiatan-kegiatan
sosial. Mereka berprinsip untuk tidak melakukan misi
penyebaran sehingga jikapun ada yang tertarik untuk
bergabung semata-mata bukan sebab diajak melainkan
sebab kesadaran dan ketertarikan seseorang untuk menjadi
anggota atau pengikut. Sebagaimana telah disinggung
sebelumnya, bahwa di era sebelum reformasi politik tahun
1998, ajaran ini relatif sulit melakukan aktifitas pengembangan
disebab kan situasi politik yang kurang kondusif. Namun
seiring waktu, di era dan pasca reformasi ini mereka
mulai menunjukan eksistensinya melalui aktifitas
menyanyikan lagu Hare Krishna dengan iring-iringan anggota
maupun pengikut.
Selain kegiatan-kegiatan di ruang publik, dalam
rangka mempertahankan eksistensi ini , mereka juga
mempraktikan kesadaran Krishna di rumah-rumahnya
masing-masing. Hal ini sangatlah efektif meskipun ada
saja tantangan dari orang-orang terdekat termasuk orang
tuanya yang umumnya berlatar belakang Hindu Umum atau
Hindu Spiritual.
Organisasi
Struktur kepengurusan
Adapun struktur kepengurusan Asrama Prahlada
yaitu sebagai berikut:
______________________39
Pengawas : Wayan Ardika
Pembina I : H.H. E Ragava Swami
Pembina II : H.G Gaura Mandala
Pembina III : Anggala Dewi Tasi
Ketua : Kadek Setiawan
Bendahara : Nyoman Astawirya
Bidang Perkebunan : Wayan Putra Gede
Bidang Perpustakaan : Radha Candra
Bendahara Masak : Made Ariang
sedang Struktur Kepengurusan Yayasan Prahlada
yaitu sebagai berikut:
Pembina I : Ani Farida
Pembina II : Made Sukariawan, S.Pd
Pembina III : Nyoman Sukerta, Sy, S.Pd
Ketua : I Wayan Subur, M.Pd
Bendahara : Wayan Tama, A.Md
Sekretaris : Wayan Krisna
Pola kepemimpinan
Pola kepemimpinan yang berlangsung di Prahlada
mencerminkan pola kepemimpinan yang berlangsung di
tubuh Sampradaya Kesadaran Krishna negara kita pada
umumnya yang memberikan kesempatan kepada
kepemimpinan lokal untuk mengatur sendiri aktifitas
keorganisasiannya. Adapun pada tingkat nasional, Yayasan
SAKKHI mengikuti otoritas Governing Body Commision atau
Badan Pengatur yang dibentuk oleh Srila Prbhupada untuk
mengawasi aktivitas dari komunitas internasional. Komite
kerohanian ini terdiri atas penyembah-penyembah Krishna
yang senior yang bekerja bersama-sama sebagai sebuah badan
untuk membina organisasi.
Pola rekrutmen dan persyaratan pengurus atau anggota
Satu hal yang menarik dalam hal kepengurusan yaitu
adanya pelibatan pengikut yang masih tergolong usia muda
untuk masuk dan aktif dalam struktur kepengurusan yayasan.
Dengan demikian maka proses kaderisasi kepemimpinan
betul-betul dijalankan oleh kalangan tua di dalam kelompok
spiritual Sampradaya Kesadaran Krishna ini. Di samping itu,
terkait dengan pola rekrutmen yang terjadi, sebagaimana
informasi yang berhasil digali, diperoleh keterangan bahwa
pola rekrutmen yang dilakukan yaitu melalui kegiatan-
kegiatan penerangan ajaran Sampradaya Kesadaran Krishna
baik yang bersifat individual maupun kelompok tanpa
menggunakan metode penyiaran dan pemaksaan. Mereka
memandang bahwa berkeyakinan merupakan sebuah hal
yang tidak dapat dipaksakan dan harus muncul dari dalam
kesadaran diri.
Selanjutnya disebab kan begitu kuatnya kegiatan
pembacaan dan pengkajian Kitab Bhagavad Gita yang
dilakukan oleh kalangan muda di kelompok spiritual ini,
maka menjadi penanda bahwa apa yang dilakukan oleh
Sampradaya Kesadaran Krishna negara kita ini membawa
haluan baru dan ketertarkan baru di kalangan generasi muda
yang ingin menjadi memahami, mendalami dan menyelami
makna kitab ini . Dalam hal keanggotaan, etnis Bali
sangat dominan menjadi anggota pengikut Sampradaya
Kesadaran Krishna ini. Adapun jumlah anggota secara
keseluruhan di dalam Yayasan Prahlada ini yaitu sebanyak
20 orang anggota.18
Konflik Internal dan Relasi SAKKHI dengan
Pemerintah dan warga
Selanjutnya dalam hal relasi pengikut Sampradaya
Kesadaran Krishna negara kita di Yayasan Prahlada ini dengan
mazhab yang berbeda dan umat pemeluk agama lain
termasuk dengan pemerintah dan warga berlangsung
baik dan harmonis. Sejauh ini dengan mazhab lain tidak ada
masalah dan hidup saling hormat menghormati. (I Nyoman
Sudiarsa. Wawancara. 5 Maret 2015). Hal ini dikemukakan
pula oleh Ketua RT di lingkungan tempat domisili Asrama
Prahlada. Menurutnya, selama ini warga di lingkungan
tempat mereka tinggal hampir tidak mempersoalkan
keberadaan mereka. Hal ini disebab kan sudah bertahun-
tahun lamanya warga di lingkungan ini senantiasa
menjalin dan saling menghormati keberadaan warga
meskipun berlatar belakang beda baik etnis maupun agama.
Bahkan dirinya pun menyebutkan saat dan pasca peristiwa
Balinuraga sekalipun, hampir tidak ada efek negatif yang
muncul dan mempengaruhi hubungan yang sudah terjalin
dengan baik. Selain itu, anggota Asrama Prahlada ini pun
aktif dalam kegiatan-kegiatan yang diinisiasi dan dilakukan
oleh warga di lingkungan Asrama Prahlada.
Terkait hubungan dengan Hindu pada umumnya atau
Hindu tradisional yang dominan dianut oleh warga
negara kita termasuk umat Hindu yang berada di Lampung,
inisiatif kebersamaan ini memang telah didorong pula oleh
pemerintah, dalam hal ini yaitu Pembimas Hindu di Kantor
Wilayah Provinsi Lampung. Salah satu bentuk upaya
pemerintah pada tingkat pusat yakni di Ditjen Bimas Hindu
Kementerian Agama RI dan Parisada Hindu Dharma
negara kita bersama para pimpinan kelompok Hindu spiritual
pernah menginisiasi terjadinya Kesepakatan Bersama pada
tanggal 5 November 2001 yang berisi empat point kesepakatan
yang pada intinya yaitu sepakat untuk saling menghormati
tata cara kegiatan kerohanian dan keagamaan masing-masing
campradaya. Dasar kesepakatan ini berbasis pada sloka
Bhagavad Gita yang berbunyi “Bagaimanapun jalan manusia
mengikutiKu, Aku Terima, Wahai Arjuna, Manusia mengikuti pada
segala jalan”. (Bhagavad Gita, IV: 11).
Kesepakatan ini telah menjadi jawaban atas
realitas yang tidak dapat dimungkiri bahwa keberadaan
kelompok-kelompok Hindu spiritual ini pernah menjadi
kontroversi di kalangan penganut Hindu dan sempat terjadi
ketegangan antara kelompok spiritual dan Hindu Tradisional
sebagaimana pernah terjadi di Bali.19 Bahkan berdasar
penulusuran di beberapa sosial media, muncul pula polemik
tentang keberadaan Sampradaya Kesadaran Krishna
negara kita yang dipandang sesat.
Namun demikian pandangan semacam ini
terbantahkan oleh pandangan Sekretaris PHDI Provinsi
Lampung yang berkata-kata bahwa dalam agama Hindu tidak
dikenal istilah sesat ataupun menyimpang.20 Ketua PHDI
Provinsi Lampung juga menegaskan bahwa pegangan
beragama di agama Hindu ada 3, yakni mantram atau kunci
sebagai kekuatan doa yang bersumber dari kitab suci Veda.
Doa-doa itu diyakini dan harus dilaksanakan dengan sepenuh
hati. Di dalam hidup tidak cukup mantram tapi perlu jalan
yaitu Tantra. Namun demikian tidak cukup Mantram dan
Tantra namun juga perlu Yantra sebagai sarana seperti halnya
kelompok Kesadaran Krishna yang memakai arca Krishna.
Jadi apa yang dipilih oleh kelompok spiritual Kesadaran
Krishna merupakan pilihan jalan. Sebetulnya dari aspek spirit,
jika orang tidak mengenal dan memahami ketiga hal ini
maka responnya terhadap Sampradaya Kesadaran Krishna
akan berbeda. sedang bagi bagi yang memahami
ketiganya maka akan mengatakan bahwa mereka hebat sekali
dalam melakukan pendakian spiritual. Kalau orang masih di
tataran agama maka akan sepi dalam spiritualitas.
Masih menurut penjelasan Ketua PHDI Provinsi
Lampung, pengertin Spiritual dimaksud merupakan pelaku
yang sudah melaksanakan apa-apa yang diajarkan dalam
kitab suci, sedang jika masih hanya sebatas mengingatkan
dan mengajak namun tidak melakukan, baru berada pada
tingkat agama saja. Dengan adanya perbedaan ini , Ketua
PHDI Prov Lampung sudah menyarankan kepada mereka
untuk berbaur dan jangan ekslusif dan ritual yang sudah ada
di tempel mereka jangan sampai dibawa ke pura. Dulu
mereka memang masih sangat nyentrik. Di kelompok ini
mereka mempunyai guru yakni kumpulan suci atau Syahdu
Sangga. Untuk menjaga kerukunan, Ia pun menegaskan
kepada umat Hindu di Lampung agar saling menghormati.
Menurutnya sah-sah saja berbeda dalam mengagungkan Sri
Krishna sebab dalam dasar agama Hindu ada 3 hal yang
harus difahami bahwa kita Veda-nya harus sama, etikanya
harus sama dan atapnya atau ritual nya yang berbeda.21
Hal yang mempererat hubungan mereka
sesungguhnya yaitu adanya ikatan sosial memperkuat
hubungan antar sampradaya dan Hindu Umum. Namun
demikian perlu diberikan pemahaman kepada internal umat
Hindu bahwa memang ada banyak kelompok spiritual di
dalam Hindu serta berharap kepada anggota Sampradaya
untuk mau membuka diri dan terbuka untuk membangun
kerjasama untuk melakukan pengabdian kepada warga .
Menyangkut praktik spiritual, Hare kresna memang
kelompok spiritualis yang betul betul merupakan pelaku dan
alangkah baiknya praktik spiritual itu juga tanpa harus
mengenyampingkan kecerdasan sosial sebab bukan tidak
mungkin akan terjadi persinggungan-persinggungan.22
Dampak Keberadaan SAKKHI terhadap Kehidupan
Keagamaan
Keberadaan Sampradaya Kesadaran Krishna negara kita
di Provinsi Lampung sama sekali tidak berdampak terhadap
lingkungan sebab kelompok-kelompok spiritual ini
tidak ekslusif dan tidak pernah ada gejolak dan ketegangan.
Hingga detik ini kerukunan umat Hindu masih sangat terjaga
(I Nyoman. FGD. 12 Maret 2016). Hal ini dikemukakan pula
oleh Ketua RT di lingkungan tempat domisili Asrama
Prahlada. Menurutnya, selama ini warga di lingkungan
tempat mereka tinggal hampir tidak mempersoalkan
keberadaan mereka meskipun para anggota Sampradaya
Kesadaran Krishna di Asram Prahlada melaksanakan kegiatan
ibadah di asrama ini .
Penutup
berdasar temuan lapangan dan analisisnya,
kesimpulan hasil penelitian ini antara lain:
1. Keberadaan kelompok Spiritual Hindu Hare Krishna
maupun Hindu Saibaba selama ini tidak menjadi masalah,
sebab kelompok mereka masih mengakui agama Hindu
sebagai agama dan mengakui kitab Weda sebagai kitab
suci agama Hindu. Mereka juga membaca kitab Bhagavad
Gita dan Purana serta rajin dan bersemangat dalam
menjalankan ibadahnya.
2. Keberadaan kelompok keagamaan ini tidak
membawa dampak negatif di warga selama masih
berbaur dengan umat beragama lainnya dan tidak
bersikap ekslusif dan menonjolkan perbedaan-perbedaan
yang ada. Sikap-sikap inilah, mereka dihargai dan
dihormati, baik oleh warga maupun oleh lembaga
keagamaan dan pemerintah.
3. Kelompok Spiritual Hindu Krishna meyakini Krishna
sebagai Tuhan, berbeda dengan Hindu mainstream.
Keberadaan mereka diakui oleh berbagai pihak selama ia
tidak membawa-bawa sarana-sarana dalam
persembahyangan mereka ke Pura. Bahkan Kelompok
Spiritual Hindu Krishna berada di bawah naungan PHDI
dan sudah terdaftar di PHDI, sehingga tidak perlu lagi
mendaftarkan ke Direktorat Bimas Hindu.
berdasar analisis dan kesimpulan di atas, penelitian ini
menghasilkan beberapa rekomendasi, antara lain:
1. Hubungan antara kelompok spiritual Hindu Hare Krishna
dengan kelompok Hindu umumnya (tradisional) maupun
dengan kelompok Sai Baba sudah cukup baik dan harus
terus dipertahankan.
2. Kelompok spiritual Hindu Krishna perlu didaftarkan di
Direktorat Bimas Hindu sebagai legalitas keberadaan
mereka meskipun sudah terdaftar di PHDI.
Sejarah Singkat Kehidupan Bhagavan Shri Satya Sai
Baba
Sai Baba lahir di Desa Puttaparthi, Bangalore India
Selatan pada tanggal 23 November 1926. Menurut cerita,
Puttaparthi yaitu tempat Dewi Saraswati (Dewi
Kebijaksanaan) dan Dewi Laksmi (Dewi Keberuntungan)
berada. Sai Baba putra dari pasangan suami isteri Pedda dan
Eswaramma Raju, suatu keluarga yang taat beragama Hindu.
Waktu kecil Sai Baba bernama Sathya Narayana dan menjadi
anak kesayangan keluarga, bahkan warga desa setempat.
Dari kecil Sai Baba tidak suka makan daging, dan
menjadi penyayang binatang seperti sapi, domba, babi, ayam
dan bebek. Lantaran sikapnya yang menyayangi binatang,
tidak makan daging dan enggan membunuh makhluk Tuhan,
oleh warga setempat beliau disebut “Brahmajnani” yang
berarti jiwa yang telah menginsyapi dirinya. Hal itu terjadi
saat Sai Baba berusia 5 tahun. Sikap terpuji lain yang
dimilikinya yaitu lemah lembut, peka terhadap penderitaan
orang lain, suka menolong orang miskin dan pengemis, dan
tidak pernah menyakiti orang lain serta tidak mendendam
terhadap anak-anak yang berlaku kasar terhadap dirinya.
Diriwayatkan pula sejak usia 6 tahun Sai Baba telah
memiliki kelebihan, mampu memahami dan mengajukan isi
kitab suci Weda, pada hal ia sendiri belum pernah
membacanya. Beliau juga dapat menahan lapar, tidak makan
beberapa hari tapi tetap sehat, bisa mengobati orang sakit
bahkan pernah menghidupkan orang yang diperkirakan
sudah mati. Di sekolah ia menjadi murid yang cerdas, baik
budi, disenangi dan dikagumi oleh teman dan guru-gurunya
sebab banyak memiliki keistimewaan. Umur 10 tahun Sathya
membentuk kelompok Bhajan atau kelompok penyanyi lagu-
lagu keagamaan gubahannya sendiri. Waktu beberapa daerah
setempat diserang wabah kolera dan banyak korban
meninggal, Desa Puttaparthi selamat dari penyakit ini .
warga beranggapan bahwa terhindarnya warga
Puttaparthi itu sebab kesaktian Sathya yang mampu
menghindarkan serangan kolera lewat nyanyian dan tarian
kelompok Bhajan yang dipimpinnya.
Dari hari ke hari Sathya makin populer. Sejak saat itu
Sathya berkata-kata dirinya sebagai Sai Baba yang mempunyai
tugas untuk memulihkan kebenaran, kesucian, kedamaian,
dan kasih sayang umat manusia. Sejak saat itu pula banyak
orang yang datang kepadanya untuk belajar, meminta berkah,
serta melakukan pemujaan atau kebaktian di tempat Sai Baba.
Pada tahun 1974, Sai Baba tampil sebagai Guru Agung Rakyat
dan memimpin Konprensi.
Para pengagum dan pendengar khutbahnya meliputi
berbagai kalangan warga seperti para rahib, pujangga,
cendekiawan, pengusaha, petani, pria dan wanita. Mereka
merasa beruntung sempat menyaksikan kelebihan dan ajaran-
ajaran Sai Baba dan ikut menyebarkan berita tentang
keistimewaan beliau kemana-mana. Pada tahun 1958 Sai Baba
meresmikan majalah “Sanathana Sarathi” (Sais Abadi Yang
Maha Ada), sebagai media untuk menyebarkan ajarannya.
Majalah itu diterbitkan dalam berbagai bahasa antara lain
bahasa Inggris dan bahasa Telegu. Melalui publikasi serta
kunjungan Sai Baba secara pribadi ke berbagai tempat sambil
berceramah dan membantu warga yang sakit, frustasi,
terganggu jiwa dan tertindas, maka ajaran Sai Baba makin
tersebar ke manca Negara, termasuk ke negara kita sekitar
tahun 1979. Sekarang para pengikut Sai Baba diperkirakan 70
juta orang yang tersebar di 128 negara seperti India, Ingggris,
Kanada, Amerika, Thailand, Malaysia, Hongkong, Mexico,
Hawai, Afrika Selatan, serta negara kita
Keberadaan Sai Studi Group (SSG) di negara kita
Untuk memahami dan mengembangkan ajaran Sri
Sathya Sai Baba dibentuk Sai Studi Group negara kita disingkat
SSGI untuk pusat dan Sai Studi Group (SSG) atau Sai
Devotional Group (SDG) di daerah. Sai artinya teaching, studi
artinya bagaimana kita menafsirkan/mengkaji, group
kelompok untuk menjadi orang yang lebih baik. SSGI berarti
kelompok yang berusaha mempelajari ajaran-ajaran Sai Baba
agar menjadi orang yang lebih baik.
Visi dari organisasi SSGI yaitu menyadari ketuhanan
di dalam diri (Aham Brahma Asmi). Hanya sesudah menyadari
ketuhanan di dalam diri, kita akan dapat menyadari esensi
Ketuhanan juga ada dalam setiap makhluk. Dengan demikian,
tidak ada alas an lagi bagi kita untuk saling membenci.
Hukum yang ada hanyalah saling mengasihi untuk mencapai
kebebasan. Visi yaitu arah yang ingin dituju oleh organisasi.
Tidak terlalu penting kita ada di mana, tapi yang jauh lebih
penting yaitu ARAH mana kita akan melangkah.
Untuk mencapai visi ini maka organisasi SSGI
mempunyai misi. Misi yaitu berbagai upaya yang ditujukan
untuk mewujudkan/merealisasikan suatu visi. Misi S SGI
yaitu menumbuhkan, mengembangkan, dan menjalin
persahabatan serta persaudaraan atas dasar cinta kasih antar
sesama umat manusia, tanpa membedakan suku, bangsa, ras,
golongan, jabatan, agama dan kepercayaan. sedang misi
Bhagavan sebagai Sad Guru:
“Aku datang tidak untuk mengganggu apalagi merusak
keyakinan yang telah ada, tapi justru lebih memperkuat -
agar umat Muslim menjadi Muslim yang lebih baik, Kristen
menjadi Kristen yang lebih baik, Buddhist menjadi Buddhist
yang lebih baik, Hindu menjadi Hindu yang lebih baik”.
Dalam rangka merealisasikan misi ini maka
perlu dibudayakan menjadi prilaku dalam kehidupan sehari-
hari yang disebut dengan Budaya Sai. Budaya Sai yaitu
upaya untuk membudayakan apa yang diisyaratkan dalam
Misi Sai. Budaya Sai yaitu : “Love All (Kasihi Semua) - Serve
All (Layani Semua)”. Dengan kata lain Budaya Sai yaitu
upaya untuk membudayakan sifat dan sikap hidup untuk
saling mengasihi dan melayani setiap orang. Kita mungkin
dapat mencintai seseorang (love), kita mungkin dapat
melayani seseorang (serve), Tapi sudahkkah kita dapat
mencintai & melayani SETIAP ORANG (ALL). All (semua)
menjadi prinsip Budaya Sai.
Setiap orang maupun organisasi harus mempunyai
kepribadian. Kepribadian menunjukkan jatidiri seseorang
yang tidak lain yaitu kasih itu sendiri. Kasih selalu menjadi
dasar hidupnya. sebab itu Kepribadian Sai yaitu PANCA
PILAR: Kebenaran, Kebajikan, Kasih Sayang, Kedamaian,
Tanpa Kekerasan.
Seseorang yang hidup di jalan Sai akan hadir sebagai
pribadi yang bijaksana dan penuh Kasih Sayang kepada
sesama, dimana wacananya selalu menyampaikan Kebenaran,
tindakannya selalu mencerminkan kebajikan, perasaannya
selalu dipenuhi kedamaian dan pandangannya selalu
menyiratkan sikap tanpa kekerasan.
Setiap organisasi umumnya mempunyai keunikan
sendiri bila dibandingkan denga organisasi lainnya. Keunikan
Sai yaitu semua dilihat dari perspektif: setiap pandangan,
sikap atau pun kegiatan yang dilakukan selalu dipandang
sebagai usaha untuk merealisasikan dan mengembangkan
spiritualitas diri melalui; SAI = See Always Inside (selalu
melihat dan mulai dari diri sendiri). Unity-Purity-Divinity
(selalu dilihat sebagai usaha untuk membangun dan
mengembangkan Kesatuan—Kemurnian—Ketuhanan). LOVE
in ACTION (setiap tindakan selalu didasari oleh Cinta Kasih).
Sai Baba berkata:
“Tuhan tidak akan bertanya; kapan dan di mana kita
melakukan pelayanan? Tuhan akan bertanya: Dengan niat
apa engkau melakukan pelayanan. yaitu niat yang engkau
harus ingatkan. Engkau dapat saja menambah sevamu
dengan meningkatkan kuantitasnya. Tapi Tuhan selalu akan
melihat kualitas, kualitas hati, kemurnian pikiran dan
kesucian niat” (Sathya Sai Speak 11, hal 5-6).
Sesuatu akan dapat berfungsi sebagaimana mestinya,
bila diposisikan dengan tepat. Begitu juga dengan Sai. sebab
keunikan Sai selalu melihat dari perspektif pengembangan
spiritualitas diri, sehingga posisi Sai yaitu :
1. SAI=Menempatkan Bhagavan Sri Sathya Sai Baba sebagai
Sad Guru. Selalu melihat ke dalam atau mulai dari diri
sendiri;
2. (2). Sosial Spiritual = Selalu mengembangkan rasa bhakti
melalui PELAYANAN/SOSIAL dijiwai nilai-nilai
SPIRITUAL;
3. Forum Studi (Sai Study Group) = Tempat untuk belajar
dan mengembangkan SPIRITUALITAS DIRI.
Sai yaitu Forum bagi setiap orang untuk mempelajari
dan mengembangkan nilai-nilai spiritual yang dipraktekkan
melalui aktivitas pelayanan sosial. SAI yaitu wahana untuk
melakukan Transformasi diri dengan mengembangkan
KESATUAN (Unity), KEMURNIAN (Purirty) dan
KETUHANAN (Divinity) dimulai dari diri sendiri untuk
warga .
Bila inti dari identitas SAI ditarik garis lurus
diketemukan benang merah yang sama yaitu LOVE/CINTA
KASIH = ATMA. Untuk lebih mudah memahami, mari kita
perhatikan tahapannya:
Pertama : Sifat alami/jatidiri kita yaitu Love = Cinta
Kasih = Atma;
Kedua : Visi SAI yaitu menyadari Ketuhanan = Love =
Cinta Kasih di dalam diri;
Ketiga : Misi SAI menimbuhkan, mengembangkan dan
menjalin persahabatan atas dasar Love = Cinta
Kasih kepada sesama;
Keempat : BUDAYA SAI menjadikan Love = Cinta Kasih
sebagai budaya dan prinsip hidup;
Kelima : PRIBADI SAI menjadikan Love = Cinta Kasih
tercermin dalam sikap yang selalu
mencerminkan kebenaran, kebajikan, kasih
sayang, kedamaian dan tanpa kekerasan.
Dari kelima di atas, ditambah lagi dengan
keunikan/diferensiasi akan menghadirkan posisi dan
personalitas organisasi SAI yang juga berlandaskan pada Love
= Cinta Kasih. Dengan demikian jelas, Kasih sebagai Dasar
sekaligus Tujuan.
Karakter SAI yaitu LOVE (Cinta Kasih). Jiwa = Atma
= percikan sinar kasih Tuhan yang ada dalam setiap makhluk,
sedang Kasih yaitu wujud dari Atma. Sabda Bhagavan:
“Love is My Form- Truth is My Breath, Bliss is My Food”. (Cinta
Kasih yaitu wujudKu- Kebenaran yaitu nafasKu-
Kebahagiaan yang mendalam yaitu makananKu), Love is My
Message (Kasih yaitu PesanKu). Kasih inilah yang dijadikan
senjata oleh Bhagavan dalam menyelamatkan dunia.
Cinta Kasih yaitu Tuhan dan Tuhan yaitu
perwujudan cinta kasih itu sendiri. Dimana ada cinta kasih,
Tuhan pasti akan hadir disana. Integrasikanlah Cinta Kasih
dalam setiap tindakan pelayanan dan jadikanlah pelayanan
sebagai ibadah. Itulah sadhana tertinggi (Sathya Sai Speaks 4,
hal 309).
Menurut Sai Baba:
Hanya ada satu agama-berlandaskan Cinta Kasih;
Hanya ada satu bahasa-bahasa hati;
Hanya ada satu kasta-kasta kemanusiaan;
Hanya ada satu Tuhan Ia ada di mana-mana dan dihati
setiap makhluk.
Sai menempatkan Bhagavan Sai Sri Sathya Sai Babab
sebagai Sad Guru. sedang hubungan Bakhta dengan
Baghavan:
Pertama : menempatkan Bhagavan sebagai manusia
(aspek fisik). Agar dapat lebih mudah
berkomunikasi/berinteraksi seluruh umat
manusia.
Kedua : Baghavan sebagai Sad Guru (Guru Deva). Agar
Beliau dapat membimbing dan menyampaikan
wejangan/ajaran Ketuhanan untuk
membebaskan umat manusia dari belenggu
khayalan yang mengikatnya selama ini menuju
kesadaran Tuhan.
Ketiga : Bhagavan sebagai kesadaran kosmis (Avatar).
Agar setiap umat manusia dan seluruh
makhluk hidup di semesta ini dapat merasakan
rahmat Sai.
Terkait hubungan Baghavan dengan bhaktaNya,
Beliau pernah berwacana bahwa: “…hubunganKu dengan
engkau yaitu hubungan personal, langsung tanpa perantara…”
Itu artinya, Baba sangat memahami keperluan atau keadaan
individu dari setiap bakhta-Nya. Untuk menjawab keperluan
ini , Baba akan berhubungan langsung, melalui ketiga
aspek pribadiNya (wujud fisik, sad guru, atau pun melalui
kesadaran kosmis) tanpa perantara. Bila kemudian ada
praktik-praktik dan seseorang yang mengatasnamakan
Bhagavan, jelas tidak dibenarkan.
______________________57
Arti Sai Baba secara Etimologi
Kata Sai Baba selama ini sering diartikan hanya
sebagai Ayah atau Ibu Ilahi. Ternyata selain itu setiap huruf
dalam kata menyiratkan makna yang mengantarkan
bakhtanya menuju Ketuhanan. SAI yang sering diartikan
dengan SEE (melihat), ALWAYS (selalu), INSIDE (kedalam)
menyiratakan makna agar kita selalu mengarahkan
pandangan dan penglihatan kita ke dalam atau mulai dari
pengembangan kualitas diri. Lalu apa yang ada di dalam?
Mari kita perhatikan mkananya, serta bagaimana
hubungannya dengan pengertian SAT CHIT ANANDAM.
B = stand for Being atau EXISTENCE (Kebenaran yang juga
berarti SAT)
A = stand for AWARENES (Kesadaran yang juga berarti
Chit)
B = stand for Bliss (Kebahagiaan Abadi yang juga berarti
Anandam)
A = stand for Atma (Ketuhanan)
Pengertian BABA dalam konteks ini yaitu kesadaran
akan kebenaran yang dapat menghadirkan kebahagiaan abadi
dalam ketuhanan. Jadi pengertian SAI BABA yaitu selalu
melihat ke dalam atau mulai dari pengembangan
kualitas/spiritualitas diri menuju kesadaran akan kebenaran
yang membawa kita pada kebahagiaan abadi dalam
ketuhanan.
Memahami Prinsip Bhakti
Tidak semata-mata bhakti yang Aku inginkan, Aku
ingin tindakan yang dimotivasi oleh Bhakti. Bhakti harus
dilandasi motivasi yang tepat, tanpa kepentingan ataupun
ikatan. Memahami Prinsip Pelayanan:
Pelayanan yaitu disiplin spiritual;
Pelayananan sebagai sarana untuk mengekspresikan ajaran
Sai;
Pelayanan sebagai wahana untuk merahi mutiara
kebijaksanaan dan kebahagiaan abadi;
“Menava Sevaye, Madhava Seva (melayani umat manusia,
berarti melayani Tuhan).
Memahami Integritas SAI di warga
Disadari bahwa kita yaitu bagian dari warga ,
bukan warga bagian dari kita. Oleh sebab itu, sudah
menjadi kewajiban kita untuk mendharmabaktikan kehidupan
ini untuk kesejahteraan warga . warga yaitu
kumpulan individu-individu yang mempunyai karakteristik
yang unik. Di warga pula kita akan temukan
keberagaman latar belakang dan pandangan, sebab nya
warga yaitu tempat yang baik untuk mengasah
Kebijaksanaan dengan membangun semangat kesatuan dalam
perbedaan. Dimulai dengan membangun kesatuan dalam
pikiran, perkataan, dan perbuatan, seseorang akan hadir
sebagai pribadi yang memiliki integritas, prinsip dan jati diri.
Sejalan dengan usaha penyatuan (unity) ini akan
mengalir kemurnian dalam dirinya (purity) sehingga
kesadarannya selalu menyatu dalam kesadaran Tuhan
(divinity).
Pribadi ini lebih lanjut akan mampu melihat realitas
warga yang diwarnai keberagaman, mulai dari
perbedaan cara pandang sampai pada perbedaan pola dan
gaya hidup. Dalam keberagaman ini , pribadi ini akan
selalu mengembangkan ruang-ruang kesatuan melihat
keberagaman sebagai wahana untuk meraih dan
mengembangkan mutiara kebijaksanaan.
Pribadi ini juga tidak berfikir untuk mengubah
keadaan, namun ia akan selalu menjadi sumber inspirasi bagi
proses perubahan. Kalau toh pribadi ini harus melakukan
penyesuaian-penyesuaian atas sesuatu yang tidak sesuai
dengan prinsip yang dia pahami., ia tahu bagaimana
menempatkan diri dan juga tahu waktu yang terbaik untuk
memberikan inspirasi dan pertimbangan.
Pribadi ini sangat menyadari tidak ada yang kebetulan
dalam hubungan kewarga an, semuanya ia bhaktikan
sebagai konsekuensi dari HUKUM KARMA yang harus
ditebus dan dilewati dengan bijak. Jadi intinya, warga
yaitu sarana untuk meningkatkan dan mengembangkan
spiritualitas diri untuk meraih kebijaksanaan yang
membebaskan.
Beliau (Sai Baba) menyadarkan kita bahwa siapapun
yang jauh dari warga , akan jauh dari mana-mana.
warga bukanlah bagian dari kita, sebaliknya kitalah yang
menjadi bagian dari warga dan apa yang berguna bagi
warga juga berguna bagi kita. sebab itu sudah menjadi
kewajiban setiap orang untuk melayani dan berbuat kebajikan
bagi warga .
Berbicara tentang kewajiban berarti berbicara tentang
ruang pembebasan. warga pada dasarnya yaitu
wahana untuk meraih kebahagiaan yang membebaskan. Di
Sanalah kita mendapatkan kesempatan untuk mengasah
mutiara kebijaksanaan dengan selalu mengembangkan
pandangan kesatuan dalam perbedaan dan keragaman.
Berikut ini wacana Bhagavan terhadap hal yang perlu
diperhatikan saat menyampaikan kebenaran di warga :
1. Berkatalah Yang Benar (Sathyam Bruyath), ini berhubungan
dengan Aspek Moral.
2. Berkatalah Yang Santun (Pryam Bruyath), ini berhubungan
Aspek Sosial.
3. Jangan Berkata Apa-Apa bila apa yang dianggap benar
tampaknya belum siap atau tidak diterima oleh
warga (Na Bruyath Satyam Apriyam), dan ini
berhubungan dengan Aspek Spiritual.
Struktur dan Kepengurusan SSGI
Asas, Dasar dan Sifat
SSGI bukan organisasi keagamaan namun organisasi
yang bersifat sosial dan spiritual (AD. Bab II, Pasal 4).
Organisasi ini berasaskan Pancasila dan UUD Negara
Kesatuan Republik negara kita 1945 (AD, Bab II Pasal 2).
Organisasi ini berdasar Weda-Sanathana Dharma, Panca
Pilar, Sembilan Pedoman Prilaku, dan Sepuluh Prinsip Hidup
Maksud dan Tujuan
Organisasi ini didirikan untuk membantu para peserta,
baik sebagai individu maupun anggota warga ,
membangkitkan sifat-sifat Ketuhanan dalam dirinya dan
menemukan jati dirinya sehingga manusia layak bersatu
kembali dengan sumber asalnya, Tuhan Yang Maha Esa.
(Pasal 5).
Tujuan Organisasi
1. Menumbuhkan, mengembangkan, dan menjalin
persahabatan dan persaudaraan di atas dasar cinta kasih
antar sesama umat manusia, tanpa membedakan suku,
bangsa, ras, golongan, jabatan, agama, dan kepercayaan.
2. Menumbuhkan dan mengembangkan rasa persatuan dan
kebersamaan serta meningkatkan kerukunan intern dan
antar umat beragama, guna menyelaraskan kualitas etik,
moral, pengabdian, dan pelayanan kepada warga ,
bangsa dan negara.
3. Menumbuhkan dan mengembangkan budi pekerti yang
luhur, guna mewujudkan manusia dan warga yang
berbakti dan mengasihi Tuhan, menghindari perbuatan
yang berdosa dan tercela, serta mengembangkan
kehidupan yang bermoral dalam pergaulan hidup
bersama di warga .
4. Meningkatkan kesadaran manusia akan peran dan tugas
sucinya, tujuan hidup, dan arti keberadaan di jagat
semesta ini bersama-sama dengan seluruh ciptaan, untuk
mencapai kemajuan spiritual yang membuahkan
ketentraman dan kedamaian jiwa raga.
(AD Bab III, Pasal 6).
Dalam ART, tujuan organisasi ditambahkan sebagai
berikut: Organisasi SSGI yaitu suatu lembaga tempat
mempelajari: menghayati, dan mengamalkan wacana-wacana
Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, SSGI, bukan suatu organisasi
yang mempunyai misi pemindahan agama, bukan organisasi
yang mencampuradukkan agama, bukan agama baru atau
suatu aliran kepercayaan. Tujuan utamanya yaitu sebagai
berikut:
1. Menolong individu untuk:
a. Menyadari sifat Ketuhanan yang ia miliki dan berbuat
menurut sifat ini .
b. menerjemahkan Kasih Tuhan dan kesempurnaan-Nya
dalam sikap sehari-hari, dengan mengisi hidup ini
dengan kegembiraaan, keharmonisan, keindahan,
kebaikan, berkah, dan kebahagiaan yang langgeng.
c. Meyakini bhawa semua hubungan antar manusia
didasari prinsip-prinsip, Satya, Dharma, Prema, Shanti,
Ahimsa.
2. Mendorong setiap pemeluk agama lebih menekuni agama
masing-masing dan bertindak sesuai dengan ajaran yang
didapat dalam agama ini serta meningkatkan
kualitas, etik, moral dan pengabdian (ART, BAB I Pasal 1).
Tujuan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1
dapat tercapai dengan cara-cara berikut ini:
1. Mempelajari, memahami, dan mengayati prinsip-prinsip
yang diajarkan oleh Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, yaitu
sebagai berikut:
a. Hanya ada satu Tuhan, Ia hadir dimana-mana.
b. Hanya ada satu agama, agama Kasih Sayang (dengan
menekankan kesamaan yang menyatukan bahwa
semua agama didasari oleh satu hal yang sama yaitu
Cinta Kasih)..
c. Hanya ada satu kasta, kasta kemanusiaan.
d. Hanya ada satu bahasa, bahasa hati.
e. Hanya ada satu hukum, hukum kerja.
2. Selalu ingat kepada Tuhan dan melihat semua ciptaan di
dunia ini sebagai manifestasi atau perwujudan-Nya dalam
bentuk yang berbeda-beda.
3. Melihat semua tindakan dan pekerjaan sebagai pelayanan
kepada Tuhan.
4. Melihat semua tindakan dengan Kasih Tuhan, takut
berbuat dosa, dan memiliki moral tinggi yang teguh dalam
warga .
5. Melibatkan diri dalam kegiatan spiritual, pendidikan dan
pelayanan, baik pada tingkat individu maupun
warga , tanpa mengharapkan imbalan, dan hanya
menganggap hal itu sebagai cara untuk meningkatkan dan
mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan serta
mendapatkan kasih dan berkah Tuhan.(ART, BAB I, Pasal
2).
Kriteria Pengurus SSGI
Untuk dapat diangkat jadi pengurus SSGI, harus
memenuhi kriteria, sebagai berikut:
1. Dikenal sebagai pribadi yang baik;
2. Telah mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi sekurang-
kurangnya selama 2 tahun;
3. Memiliki ketetapan hati untuk sungguh-sungguh
melaksanakan 9 Pedoman Prilaku dan 10 Prinsip Hidup
yang digariskan oleh Bhagawan Sri Sathya Sai Baba;
4. Tidak sedang merangkap jabatan sebagai pengurus di
salah satu organisasi spiritual sejenis lainnya (ART, BAB II,
Pasal 3).
Peserta (Anggota)
Yang dapat menjadi peserta dalam kegiatan-kegiatan
organisasi, yaitu orang-orang, seperti berikut:
1. Setiap orang yang berminat dan berjiwa spiritual terutama
bagi mereka yang meyakini ajaran-ajaran suci Bhagawan
Sri Sathya Sai Baba.
2. Setiap orang yang mengakui dan menempatkan Bhagawan
Sri Sathya Sai Baba sebagai Sad Guru.
3. Setiap orang yang menerima, mengikuti dan tunduk
terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
Organisasi.
Susunan Organisasi dan Kepengurusan
Susunan organisasi terdiri atas unsur-unsur, sebagai
berikut:
1. SSGI berkedudukan di ibu kota Negara Republik
negara kita .
2. Sai Study Group (SSG) dan Sai Devotional Group (SDG)
yang berkedudukan di daerah-daerah.
3. Kedudukan SSG dan SDG di daerah berada dibawah SSGI,
dan berkewajiban mentaati serta melaksanakan semua
keputusan dan peraturan yang dikeluarkan oleh SSGI.
(AD, BAB VII, Pasal 10).
Adapun susunan pengurus SSGI terdiri dari:
1. Seorang Ketua Dewan Penasihat;
2. Seorang Wakil Ketua Dewan Penasihat;
3. Anggota Dewan Penasihat;
4. Seorang Ketua;
5. Tiga orang Wakil Ketua;
6. Seorang Sekretaris;
7. Dua orang Wakil Sekretaris;
8. Seorang Bendahara;
9. Dua orang Wakil Bendahara;
10. Seorang Koordinator Nasional Bidang Spiritual;
11. Seorang Koordinator Nasional Bidang Pendidikan;
12. Seorang Koordinator Bidang Pelayanan;
13. Serang Koordinator Nasional Bidang Kepemudaan (Youth
Vikas);
14. Seorang Koordinator Nasional Bidang Keperempuan
(Mahila Vibag).
15. Sembilan orang Koordinator Wilayah.
Koordinator Wilayah (Korwil)
Sesuai dengan kebutuhan pada saat ini telah
ditetapkan Sembilan Koordinator Wilayah dengan rincian
wilayah, sebagai berikut:
1. Koordinator Wilayah 1 membawahi Prov Aceh, Riau dan
Sumatera Utara.
2. Koordinator Wilayah II membawahi Prov Lampung,
Bengkulu, Sumsel dan Jambi.
3. Koordinator Wilayah III membawahi Prov Jawa Barat,
Banten, dan DKI Jakarta.
4. Koordinator Wilayah IV membawahi Prov Jawa Tengah
dan DI Yogyakarta.
5. Koordinator Wilayah V membawahi Provinsi Jawa Timur
6. Koordinator Wilayah VI membawahi Prov Kalbar, Kalsel,
Kaltim dan Kalteng.
7. Koordinator Wilayah VII membawahi Prov Bali, NTB dan
NTT.
8. Koordinator Wilayah VIII membawahi Prov Sulsel, Sulbar
dan Sultra.
9. Koordinator Wilayah IX membawahi Prov Sulteng,
Gorontalo dan Sulawesi Utara.
berdasar pembagian korwil di atas SSG sudah
tersebar di 26 provinsi, hanya 6 daerah yang belum ada SSG-
nya yaitu: Provinsi Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Bangka
Belitung, Kalimantan Utara, Maluku, Maluku Utara, Papua
dan Papua Barat.
______________________67
Adapun susunan pengurusnya sampai penelitian ini
dilakukan yaitu :
Ketua : Mohan Leo
Wakil Ketua : Danesh R. Vatwani, Ir. Gede Putu
Suwitra
Sekretaris : Alit Triana
Ketua Dewan
Penasehat : I Ketut Nur Cahya
Penasehat : Pritham Kishordas, Asok P. Nanwani
Wakil Kornas
Seva : Narehs
Logo
Logonya berupa Stuva Sarva Dharma, yang
melambangkan nilai-nilai kemanusiaan (human values).
Lambang itu menunjukkan lima aspek dasar nilai
kemanusiaan: sathya, dharma, prema, shanti, dan ahimsa.
Nilai-nilai ini merupakan landasan segala agama, tiang-
tiang berdirinya segala rumah kepercayaan.
Di atas stupa ada bunga teratai yang berada
dalam lumpur yang kotor, namun bunganya berada diatas air,
di udara bersih. Air kotor tidak melekat pada daun dan
bunganya, namun bergulir jatuh. Lambangini mengqiaskan
bahwa manusia harus hidup seperti bunga teratai, hidup
dalam dunia, namun tidak terikat pada dunia kebendaan,
melainkan menjalankan suatu kehidupan kerohanian murni
diatas keduniawian.
Lambang bunga teratai, berdiri di atas sembilan
lapisan tangga, setiap tangga melambangkan langkah dalam
perjalanan ziarah manusia, menuju persatuannya dengan
Tuhan.
Aktivitas/Kegiatan
Kegiatan yang dilaksanakan oleh SSGI meliputi tiga
bidang, yaitu bidang spiritual, bidang pendidikan serta
bidang pengabdian dan pelayanan warga , antara lain:
1. Kegiatan bidang Spiritual antara lain meliputi doa
bersama dengan meditasi, kidung suci (Bhajan), dan
sadhana spiritual lainnya. Di SSGI kegiatan spiritual
diadakan dua kali seminggu yaitu hari Kamis jam 18.30 –
20.00 WIB, dan hari Minggu jam 6.30 – 8.00 WIB,
bertempat di Sai Center Jl Pasar Baru Selatan no 26 Jakarta
Pusat. Acara kegiatan spiritual dimulai dengan meditasi
cahaya, kemudian menyanyikan kidung suci (bhajan) lebih
kurang selama 2 jam, bahasa yang dipakai yaitu bahasa
Sanskerta dan bahasa Inggris, kemudian dharmawacana
dalam bahasa Inggris, dan terakhir pengumuman-
pengumuman. Dalam pelaksanaan meditasi dan kidung
mereka duduk bersila, yang laki-laki duduk di sebelah
kanan, dan perempuan di sebelah kiri. Antara laki-laki dan
perempuan dibatas dengan seutas tali. Yang
menyampaikan ceramah siapa saja yang dianggap mampu
dari para bakhta baik laki-laki, maupun perempuan, baik
orang tua maupun remaja. Di SSGI tidak dikenal adanya
pendeta atau pimpinan rohani. Pada waktu peneliti
mengikuti acara di bidang spiritual diikuti lebih kurang
100 orang peserta, yang sebagian besar terdiri dari kaum
perempuan. Nyanyian diiringi oleh tabuh-tabuhan alat
musik yang terdiri dari rebana, gendang dan tala, seraya
bertepuk tangan mengikuti irama lagu. sesudah itu
dilakukan “ARATHI” (membakar kanver dengan gerakan
berputar-putar) dan abunya dioleskan ke dahi para peserta
dan ditiup, sambil membagi bagikan gula batu dan
potongan-potongan kelapa kepada para peserta Bhajan
(Pembacaan kidung pujaan terhadap Tuhan). Pada hari
minggu sesudah bhajan dilanjutkan dengan study circle
(duduk melingkar) mempelajari ajaran-ajaran Sai Sri
Sathya Sai Baba.
2. Kegiatan bidang pendidikan, antara lain meliputi
pendidikan anak-anak, pendidikan remaja dan pemuda,
pendidikan nilai-nilai kemanusiaan untuk orang dewasa
dan orang tua dan lain-lain. Kegiatan pendidikan anak-
anak dilakukan setiap hari Jumat. Melalui Yayasan
Pendidikan didirikan sekolah Insan Teladan di Parung,
yang kesemua muridnya beragama Islam, demikian juga
para gurunya. Sekolah ini tidak memungut biaya kepada
murid-muridnya, bahkan setiap murid diberikan pakaian
seragam dan buku-buku secara gratis.
3. Kegiatan bidang pengabdian dan pelayanan warga ,
antara lain meliputi pemeriksaan kesehatan, donor darah,
bantuan korban bencana alam, pelayanan dan kunjungan
ke rumah sakit, panti asuhan, panti jompo, dan bantuan
atau pelayanan lainnya. Setiap minggu di Balai
Pengobatan dan Sai Centre diadakan pelayanan kesehatan
secara gratis. Di Sai Centre setiap minggunya melayanai
200 orang pasien dan di Cilincing melayani 150 orang
pasien. Di Cilincing selain hari minggu juga diadakan
setiap hari rabu sore, sedang pada hari minggu
dilangsungkan antara jam 8.30 sampai jam 11.30 WIB.
Umumnya para pasien merupakan pasien tetap,
kebanyakan penyakit yang diderita yaitu tekanan darah
tingga dan penyakit gula. Pak Supardi yang berasal dari
Kemayoran telah berobat di klinik ini selama 4 tahun,
dan dia mengidap penyakit gula. Dia merasa tertolong
dengan adanya klinik ini , sebab dapat berobat
secara gratis, dengan persyaratan yang sangat mudah,
yaitu cukup membawa KTP, sedang di Cilincing
disamping harus membawa KTP harus membawa surat
pengantar dari Ketua RT.
Beberapa Ajaran Pokok Sai Baba
sebab Sai Study Group negara kita bukan organisasi
keagamaan namun organisasi yang bersifat sosial spiritual,
maka tidak nampak konsep ketuhanan yang mereka
kembangkan. Mengingat Sai Baba yaitu penganut agama
Hindu, maka banyak ajarannya yang dia kembangkan
diinspirasi oleh ajaran dari kitab Weda. Konsep ketuhanan
sesuai dengan agama yang dianut oleh para bhaktanya.
sebab sebagian besar para bhakta beragama Hindu
maka corak Hindu masih tampak terlihat. Hal ini terlihat
dalam AD disebut sebagai dasar di antaranya Weda-
sanathana dharma, yang merupakan kitab suci agama Hindu.
Di depan center ada patung Ganesha, dan sebelum pintu
masuk ada tulisan Sri Sai Sathya Mandir. Mandir
merupakan bahasa India, kalau dalam bahasa negara kita
disebut pura.
Dalam Sai Study Group ada beberapa ajaran Sai
Sri Sathya Sai Baba, di antaranya lima pilar yang sangat
ditekanankan dan diajarakan kepada semua bakhta.
Pancapilar itu yaitu : Kebenaran (Sathya), Kebajikan
(dharma), Kasih Sayang (Prema), Kedamaian (Shanti), Tanpa
Kekerasan (Ahimsa). Orang yang hidup di jalan Sai akan hadir
sebagai pribadi yang bijaksana Penuh Kasihsayang kepada
sesama, dimana wacananya selalu menyampaikan Kebenaran,
tindakannya selalu mencerminkan Kebajikan, perasaannya
selalu dipenuhi Kedamaian dan pandangannya selalu
menyiratkan sikap Tanpa Kekerasan. Diantara lima pilar kasih
sayang merupakan pilar yang utama yang menyinari empat
pilar lainnya.
Selain lima pilar ini , juga diajarkan Sembilan
pedoman perilaku yang harus diamalkan oleh bhakta, antara
lain:
1. Bermeditasi dan bersembahyang atau berdoa setiap hari
2. Menyanyikan kidung suci (bhajan) dan bersembahyang
atau berdoa dengan seluruh anggota keluarga sekali
seminggu.
3. Berpartisipasi dalam program pendidikan untuk anak-
anak yang diadakan oleh organisasi
4. Mengikuti acara kidung suci (bhajan) dan doa bersama
yang dilakukan di center-center kegiatan organisasi,
sekurang kurangnya satu kali dalam satu bulan.
5. Berpartisipasi dalam kegiatan pelayanan kewarga an
dan program lainnya yang dilaksanakan oleh organisasi
Sai.
6. Mempelajari wacana-wacana Sad Guru Bhagawan Sri
Sathya Sai Baba secara teratur.
7. Berbicara Lemah lembut penuh kasih kepada siapapun
8. Tidak membicarakan keburukan orang lain, baik pada saat
orangnya hadir, terlebih lagi saat orang ini tidak
ada.
9. Menjalankan kehidupan “membatasi keinginan” dan
menggunakan tabungan dari hasil pengendalian keinginan
ini untuk pelayanan kemanusiaan.
Pada prinsipnya, 9 pedoman prilaku yaitu hadiah
yang diberikan oleh Bhagawan kepada kita semua agar dapat
lebih mudah menerapkan ajaran Bhagawan serta
menyelamatkan kita dari pengaruh buruk jaman kali. Dengan
menerapkan 9 pedoman prilaku berarti seseorang sudah
menjalankan sadhana individu, keluarga, warga dan
organisasi.
Selain lima pilar dan sembilan pedoman perilaku, para
bakhta juga diharapkan melaksanakan sepuluh prinsip hidup,
antara lain:

