Spiritual Hindu 2

Spiritual Hindu 2



 a bahkan sejak era raja-raja Nusantara. Provinsi Lampung 

tercatat sebagai salah satu provinsi yang mengalami 

perkembangan agama Hindu yang pesat dan bahkan 

termasuk provinsi kedua sesudah  Bali yang memiliki populasi 

penduduk beragama Hindu terbesar di negara kita . Umat 

                                                          

______________________26

Hindu di Provinsi Lampung mayoritas beretnis Bali yang 

tersebar di 14 kota dan kabupaten di Provinsi Lampung 

dengan komposisi, sebagai berikut:  

1. Kabupaten Lampung Barat (7.921 jiwa);  

2. Kabupaten Tanggamus (16.791 jiwa);  

3. Kabupaten Lampung Selatan (244.264 jiwa);  

4. Kabupaten Lampung Timur (184.998 jiwa);  

5. Kabupaten Lampung Tengah (304.713 jiwa);  

6. Kabupaten Lampung Utara (32.131 jiwa);  

7. Kabupaten Way Kanan (55.863 jiwa);  

8. Kabupaten Tulang Bawang (69.381 jiwa);  

9. Kabupaten Pesawaran (29.190 jiwa);  

10. Kabupaten Pringsewu (10.617 jiwa);  

11. Kabupaten Mesuji (2.784 jiwa);  

12. Kabupaten Tulang Bawang Barat (8.650 jiwa);  

13. Kota Bandar Lampung (8.761 jiwa);  

14. Kota Metro (4.928 jiwa).  

(Data Kementerian Agama Provinsi Lampung Tahun 2014) 

Perkembangan ini diiringi dengan jumlah Pura yang 

tersebar pula di berbagai daerah di Provinsi Lampung guna 

memudahkan umat untuk beribadah di Pura yang jumlahnya 

sudah mencapai 1.041 Pura. Selanjutnya data lain menyangkut 

keberadaan Hindu di Provinsi Lampung, berdasar  data 

Pembimas Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama 

Provinsi Lampung Tahun 2014, secara terperinci tergambar 

______________________27

berikut: 4 Penyuluh PNS, 95 Penyuluh non-PNS, 169 Guru, 2 

Pengawas Pendidikan. 

Sejarah keberadaan warga Hindu Bali di Provinsi 

Lampung dimulai sejak tahun 1950-an. Saat itu, Lampung 

masih merupakan sebuah Keresidenan yang tergabung 

dengan Provinsi Sumatera Selatan. Keberadaan warga Bali di 

Provinsi Lampung dimulai pada tahun 1952. Saat itu 

gelombang pertama transmigran asal Bali tiba di 'tanah 

harapan' ini lewat Pelabuhan Panjang Lampung. Gelombang 

pertama transmigran asal Bali ini berasal dari beberapa 

Kabupaten di Bali seperti Tabanan, Karangasem, dan 

Klungkung. Transmigran Bali yang datang pada tahun 1952 

ini kemudian menempati wilayah Seputih Raman di Lampung 

Tengah.  

sesudah  gelombang pertama tahun 1952, gelombang 

kedua transmigran asal Bali datang ke Provinsi Lampung 

tahun 1963-1964, pasca letusan Gunung Agung di Bali. 

Gelombang kedua transmigran asal Bali tahun 1963 ini 

mendiami wilayah Lampung Selatan, termasuk warga Desa 

Balinuraga yang berkonflik dengan warga lain beberapa 

waktu ini. Seperti halnya gelombang pertama, transmigran 

asal Bali yang datang tahun 1963 ini juga mampu bertahan 

hidup di tengah kerasnya kondisi alam di belantara Lampung 

waktu itu. Berkat keuletan serta kegigihannya, mereka bisa 

bertahan hidup dan sukses menjadi petani di perantauan. Kini 

warga asal Bali sudah tersebar di 14 Kabupaten/Kota di 

Lampung.10  

Dari berbagai kelompok pendatang di Lampung, etnis 

Bali (pemeluk Hindu) memiliki ciri khas yang menonjol yakni 

                                                          

ke-Bali-annya. Mereka dapat “membali” atau menjadi Bali di 

Lampung. Meskipun mereka berbaur satu sama lain dengan 

etnis dan agama yang berbeda, namun Ikatan sosial dengan 

tanah leluhur tetap dipertahankan demi kelestarian identitas 

ke-Bali-annya. “Membali” di Lampung tentu saja merupakan 

sebuah proses pembentukan identitas ke-Bali-an komunitas 

Hindu di Lampung. (Yulianto, 2011: 5). Hal ini  memang 

sangat nampak pada saat warga Hindu Lampung merayakan 

festival Ogoh-Ogoh dengan menampilkan elemen-elemen 

kebudayaan Bali termasuk dalam hal busana yang dikenakan 

oleh warga Hindu di Lampung.11  

Namun demikian, dari penggambaran tentang 

keberadaan umat Hindu beretnis Bali di Provinsi Lampung 

ini , tidak seluruhnya dapat dikategorikan sebagai umat 

Hindu Bali yang cukup kuat nuansa ritual  keagamaannya 

atau dalam bahasa lain disebut sebagai Hindu Umum atau 

Hindu Tradisional. Di antara mayoritas Hindu Umum 

ini  ada  beberapa kelompok spiritual yang 

mempraktikan keberagamaannya dengan cara yang berbeda 

meskipun sebagian besar sama-sama berlatar-belakang etnis 

Bali dan tetap tidak mengabaikan dan meninggalkan tradisi 

dan perayaan yang termasuk ke dalam kekhasan kelompok 

warga  Hindu Umum.12  

Adapun kelompok spiritual yang berada di Provinsi 

Lampung  ada di 4 lokasi, yaitu:  

1. Asrama Prahlada (SAKKHI), yang berlokasi di Jl. Bumi 

Manti No. 96 Kampung Baru Kodya Bandar Lampung. 

                                                          

2. Gita Nagari Baru (SAKKHI), yang berlokasi di Jl. Gita 

Nagari Baru Kahuripan Dalam Kecamatan Manggala 

Timur Kabupaten Tulang Bawang Barat. 

3. Sri Radha Giridhari Asram (Kesadaran Krisna) yang 

berlokasi di Jl. Dusun V Jatisari RT.45 B Jatimulyo 

Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan. 

4. Mandir Prema Atma Nanda (Sai Baba) yang belokasi di Jl. 

Saraswati No.1 Rama Gunawan 7 Seputih Rama 

Kabupaten Lampung Tengah. 

 

Perkembangan SAKKHI dan Asrama Prahlada  

Perkumpulan Sampradaya Hare Krishna tercatat telah 

memiliki lebih dari 30 temple/center di negara kita  dengan lebih 

dari 4000 pengikut yang tersebar di beberapa daerah termasuk 

di Provinsi Lampung (Media Kit Iskcon Sakkhi: 2). Di Provinsi 

Lampung ada  3 yayasan yang merupakan bagian dari 

Perkumpulan Hare Krishna. Namun dalam penelitian ini 

hanya satu perkumpulan yang diteliti lebih mendalam yakni 

sebagai berikut: Asrama Prahlada. 

Asrama Prahlada didirikan pada tanggal 7 Desember 

1998 oleh 3 serangkai yakni HM Bhakti Raghava Swami, HG 

Gaura Mandala Bumhi, dan Angalata Devi Dasi. Asrama ini 

berada di bawah payung Yayasan Prahlada. Asrama ini 

dibangun sehubungan dengan meningkatnya jumlah anggota 

yang tergabung ke dalam SAKKHI di bawah naungan 

Yayasan Prahlada. Asrama ini terdiri atas dua buah bangunan 

tempat tinggal untuk anggota laki-laki dan perempuan, satu 

bangunan dapur umum untuk kegiatan masak dan makan 

bersama. Adapun pembiayaan pembangunan asrama 

______________________30

termasuk pengadaan tanahnya sepenuhnya menjadi tanggung 

jawab ketiga pendiri Yayasan Prahlada. sedang  untuk 

biaya sehari-hari dan perawatan asrama menjadi tanggung 

jawab dari para anggota yang mendiami asrama ini . 

Sebelum dibangun asrama ini, para anggota awalnya 

melakukan pertemuan di kampus Universitas Negeri 

Lampung kemudian pindah ke tempat lain yang lokasinya 

berada di Kampung Baru, sama seperti letak asrama 

Prahlada.13  

Saat ini, asrama Prahlada yang berlokasi di Jl. Bumi 

Manti No. 96 Kampung Baru, Kota Bandar Lampung didiami 

oleh 20 orang anggota yang masih tergolong mahasiswa. 

Mereka tidak hanya menjadikan asrama sebagai tempat 

tinggal layaknya tempat kost mahasiswa pada umumnya. 

Namun mereka melakukan aktifitas-aktifitas pengkajian kitab 

Bhagavad Gita dan kitab-kitab lainnya secara rutin termasuk 

melakukan ibadah bersama. Namun demikian, asrama 

ini  bukanlah tempat ibadah bagi mereka mengingat 

tempat ibadah anggota Sampradaya Kesadaran Krishna 

yaitu  di temple-temple yang menjadi tempat suci bagi 

anggota kelompok spiritual ini .14  

Dalam hal administrasi dan registrasi kelembagaan, 

hingga saat ini keberadaan organisasi Yayasan Prahlada 

belum terdaftar di Ditjen Bimas Hindu dan Kesbangpol 

setempat, dan baru sebatas akta notaris pendirian yayasan. 

Namun demikian, sebagai kelompok yang termasuk ke dalam 

agama Hindu maka Yayasan Prahlada ini bernaung di dalam 

organisasi Parisada Hindu Dharma negara kita . 

                              

Ciri Pokok Ajaran SAKKHI 

Teologi 

Sebagai pelaksana ajaran Krishna, para pengikut ajaran 

ini memiliki salah satu tujuan hidup mengembalikan 

keyakinan semua orang kepada Tuhan dan Tuhan yang di 

diyakini oleh pengikut SAKKHI yaitu  Tuhan Krishna 

sebagai entitas tertinggi dan bahkan lebih tinggi dari Tri 

Murti. Dengan demikian maka posisi Tuhan Krishna dalam 

konsep teologis ajaran SAKKHI sungguh berada dalam posisi 

yang sangat supreme bahkan melampaui posisi Sang Hyang 

Widi Wase yang oleh pemeluk Hindu umum atau Hindu 

tradisional di negara kita  sebagai entitas tertinggi. Adapun 

kedudukan Trimurti yakni Syiwa, Brahma dan Whisnu yaitu  

dewa-dewa yang diperintahkan Tuhan Krishna untuk 

mengatur alam semesta sesuai dengan tugas dan 

kedudukannya masing-masing. 

Dalam ajaran SAKKHI, Tuhan dikenal dalam tiga 

aspek atau dikenal dengan sebutan Keinsafan Tuhan, yakni 

Pertama, Bhagavan. Bagawan merupakan Tuhan yang 

berwujud atau memiliki wujud dalam bentuk Krishna. 

Bagawan ini dalam konsep teologi ajaran SAKKHI menempati 

kedudukan paling tinggi. Kedua, Paramatma. Paramatma 

merupakan aspek Tuhan yang berada di setiap hati makhluk 

hidup dan hati diartikan sebagai sumber kehidupan. 

Paramatma ini berada pada kedudukan tertinggi kedua 

sesudah  Bagawan. Ketiga, Brahman. Brahman tidak berwujud 

namun  sinar yang disebut Brahmajoti atau aspek Tuhan 

Krishna dalam bentuk sinar. Sang Hyang Widi Wase termasuk 

dalam tingkatan Tuhan yang disebut sebagai Brahman.  

______________________32

Di samping itu, Sri Krishna juga diyakini sebagai 

perwujudan keabadian, pengetahuan dan kebahagiaan. Sri 

Krishna yaitu  Personalitas Tertinggi Tuhan Yangg Maha Esa, 

Sang Pengendali semua pengendali bawahan lainnya dan 

merupakan sumber semua inkarnasi atau penjelmaan Tuhan. 

Sri Krishna tidak memiliki asal mula atau sumber, melainkan 

Sri Krishna yaitu  sumber segalanya dan sebab dari segala 

sesuatu. Dengan demikian, Bhagavan sebagaimana telah 

disebut di atas, merupakan sosok bercahaya sendiri yang 

patut dipuja, Kebenaran Mutlak Tertinggi dan perwujudan 

kebahagiaan abadi. Dia sibuk dalam kegiatan rohani bersama 

potensi internal-Nya di tempat tinggal kekal milik-Nya sendiri 

dan Dia tidak memiliki hubungan langsung dengan alam 

material yang bersifat mati.15  

Konsep teologis ini dijelaskan oleh A.C. Bhaktivedanta 

Swami, Pendiri Ajaran Sampradaya Kesadaran Krishna dalam 

kata pengantar panjangnya di dalam kitab Bhagavad Gita 

Menurut Aslinya, “Sri Krishna merupakan kepribadian Tuhan 

Yang Maha Esa sebagaimana dibenarkan oleh seua acarya 

atau para guru kerohanian yang mulia seperti Sankaracarya, 

Ramanujacarya, Madvhacarya, Nimbarka Swami, Sri Caitanya 

Mahaprabhu dan banyak penguasa pengetahuan Veda 

lainnya. Sri Krishna sendiri membuktikan bahwa Sri Krishna 

merupakan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa dalam 

Bhagavad Gita dan Sri Krishna diakui demikian dalam 

Brahma-Samhita dan semua Purana khususnya dalam Srimad-

Bhagavatam yang terkenal dengan judul Bhagavata Purana.” 

(Kitab Bhagavad Gita Menurut Aslinya, 1971: 3). 

                                                          

15 Wawancara dengan I Wayan Ardika, I Kadek dan I Nyoman, pengurus 

Asrama Prahlada, tanggal 6 Maret 2016. 

Inilah yang membedakan dengan Hindu Umum atau 

Hindu Tradisional yang umumnya mengakui Sang Hyang 

Widi Wasa atau Brahman sebagai Tuhan dan Trimurti 

merupakan dewa penjelmaan dari Brahman.  

 

Etika dan Moralitas 

Dalam ajaran SAKKHI, menurut Kadek Setiawan16 

ada  4 prinsip yang harus dijalankan oleh pengikutnya 

yakni:  

a. Tidak memakan daging, ikan dan telur. Prinsip ini terkait 

dengan prinsip menghargai kehidupan;  

b. Tidak Mabuk-mabukan;  

c. Tidak Berjudi;  

d. Tidak Berzina.  

Di samping keempat prinsip ini , dikenal pula 4 

pilar keyakinan yang terdiri atas welas asih, kejujuran, 

kesucian, dan pertapaan/pengendalian diri. Keempat pilar 

kehidupan rohani ini  juga harus dijalankan dan setiap 

anggota harus berlatih untuk menjalankan keempat pilar 

ini . Untuk memperkokoh prinsip-prinsip ini  dan 

untuk memusatkan pikiran dan indera-indera pada 

pencapaian spiritual, anggota harus mengikuti aturan-aturan 

dasar yakni diet vegetarian yang ketat, dan tidak melakukan 

keempat larangan sebagaimana telah disebut di atas. 

Mereka meyakini bahwa sumber daya alam, 

lingkungan, dan tubuh manusia yaitu  pemberian suci dari 

Tuhan dan harus dikelola dengan penuh tanggungjawab. 

                                                l

Filosofi Vaisnawa sebagai akar Hare Krishna mengajarkan 

bahwa setiap mahluk hidup saling memiliki jalinan 

hubungan, dengan Krishna sebagai yang tertinggi. 

Penyembah Krishna menghormati hak hidup binatang, dan 

menjalani pola makan seminimal mungkin melakukan  

kekerasan dan eksploitasi. Oleh sebab  itu, mereka 

memandang bahwa vegetarianisme dengan keuntungan 

ekologi, sosial dan kesehatan yang tidak terhitung besarnya 

merupakan pola hidup yang cocok untuk mengembangkan 

cinta kasih. 

 

Sumber Ajaran 

Dalam hal kitab suci yang menjadi sumber ajarannya, 

ajaran Pokok umat Hindu pengikut Sampradaya Kesadaran 

Krishna negara kita  secara umum tidak berbeda dengan 

sebagian besar pemeluk agama Hindu yang menjadikan Veda 

dan Bhagavad Gita sebagai sumber ajaran pokok. Pengikut 

kelompok ini mendasarkan filosofinya pada kesusasteraan 

Veda yang meliputi Bhagavad Gita, 30 Jilid Srimad 

Bhagavatam, dan 17 jilid Caitanya-caritamrita. Pembelajaran 

kitab-kitab ini berlangsung setiap hari. dan kelas-kelas khusus 

biasanya diberikan pada saat perayaan tertentu maupun 

kegiatan-kegiatan mingguan. 

 

Ciri-ciri atau simbol keseharian 

Ciri-ciri atau simbol yang nampak dalam keseharian 

pengikut Sampradaya Kesadaran Krisna negara kita  yaitu  

sebagai berikut:  


a. Kalung Kantimala yang dikenakan di leher. Kalung ini 

wajib dipakai oleh setiap pengikut;  

b. Tilaka atau tanah liat yang sudah diayak yang warnanya 

nampak keputihan dan dikenakan di bagian wajah 

tepatnya dibubuhkan di antara kedua mata hingga ke 

bagian hidung bagian atas;  

c. Pakaian sembahyang bernama Doti untuk laki-laki dan 

baju sari dipakai  oleh perempuan. Namun demikian 

pakaian ini bukan keharusan sebab  bisa juga 

menggunakan pakaian lain sesuai adat daerah.17  

Di samping itu hal lain yang tampak pada ajaran 

SAKKHI yaitu  adanya perbedaan dengan Hindu Umum 

atau Hindu Tradisional yakni mereka menganggap suci 

pohon tulasi sehingga di depan altar sembahyangnya 

diletakkan pohon ini . sedang  di Hindu tradisional 

pohon yang dianggap suci yaitu  pohon beringin. Selain itu, 

di depan altar sembahyang diletakkan pula gambar-gambar 

guru dan patung Hare Krisna yang dianggap sebagai 

Tuhannya. 

Penjelasan dari peletakan gambar dan patung ini  

dilandasi oleh keyakinan mereka bahwa Sang roh dianggap 

mempunyai hubungan yang kekal dengan Hare Krisna 

melalui pengabdian suci bhakti yang bersifat rohani. Dengan 

menghidupkan kembali bhakti yang murni, seseorang dapat 

kembali kepada Hare Krisna di alam rohani (Bhagavadgita, 


______________________36

Tradisi Keagamaan/ritual /Ritual Keagamaan/Hari Besar 

Sampradaya Kesadaran Krishna negara kita  merupakan 

kelompok yang mengikuti tata cara aturan murni dari India 

dengan ciri-cirinya, sebagai berikut:  

a. Membaca kitab suci Bhagavat Gita dan kitab Purana 

sebanyak 2 kali di siang dan malam;  

b. Melakukan sembahyang rutin sebanyak 2 kali setiap hari 

dan 3 kali di setiap hari minggu di pagi, siang dan malam;  

c. Mengucapkan nama suci Tuhan Krishna dengan 

bernyanyi memakai bahasa India, pagi mulai jam 05.00 

hingga jam 05.45 dan malam hari pada jam 18.30;  

d. Sarana sembahyangnya meliputi: api, dupa, bunga, air, 

minyak, kapas, hio dan wangi-wangian serta gambar foto 

atau patung Hare Krisna dan para guru yang diletakkan di 

altar depan tempat ibadah.  

e. Melakukan pola makan vegetarian;  

f. cara berpakaian dalam sembahyang mengikuti pola dari 

India. 

Selain itu, di dalam ajaran Sampradaya Kesadaran 

Krishna negara kita  ini juga ada  beberapa tradisi 

keagamaan maupun perayaan-perayaan, sebagai berikut:  

a. Krishna Janmastami. Kemunculan Krishna merupakan 

hari yang paling suci bagi penyembah Krishna. Kuil 

merayakan hari ini dengan pemujaan khusus dan 

program-program yang meliputi tarian-tarian tradisional, 

pengucapan nama suci, drama dan makan bersama. 

Mereka juga berpuasa hingga tengah malam kemudian 

berbuka puasa dengan hidangan yang tidak mengandung 

biji-bijian untuk memperingati kemunculan Tuhan di 

dunia;  

b. Perayaan Lahirnya Srila Prabhupada dan Guru-Guru Suci. 

Perayaan ini dirayakan sesudah  Krishna Janmastami. Di 

hari lahir para guru suci ini , pengikut Hare Krishna 

memberikan pelayanannya untuk menunjukan rasa 

syukur dan apresiasi bagi Srila Prabhupada yang telah 

menyebarkan pengetahuan tentang Krishna ke seluruh 

dunia. Para penyembah Krishna berkumpul untuk 

mengenang Srila Prabhupada dengan melakukan makan 

bersama di siang hari;  

c. Rathayatra. Acara yang penuh kebahagiaan ini didasarkan 

pada tradisi turun temurun “festival menarik kereta ini 

dirayakan di seluruh negara kita ;  

d. Ekadasi. Ekadasi merupakan hari raya suci yang 

dirayakan dengan cara berpuasa sebulan dua kali sesuai 

dengan kalender waisnawa. 

Selain perayaan-perayaan dan tradisi keagamaan 

lainnya yang dikerjakan, mereka pada umumnya berasal dari 

etnis Bali dan berada dalam keyakinan sebagai Hindu Umum, 

tidak mengabaikan sepenuhnya apa yang harus dan tidak 

diperbolehkan seperti dalam ajaran Hare Krishna. Mereka 

juga tetap merayakan hari raya nyepi dan galungan serta 

melakukan puasa sebagaimana dilakukan oleh umat Hindu 

pada umumnya. 

 

Strategi Mempertahankan dan Mengembangkan 

Eksistensi SAKKHI 

Dalam mempertahankan dan mengembangkan 

ajarannya, para anggota melakukan beberapa kegiatan 

maupun proyek komunitas dan aktif di kegiatan-kegiatan 

sosial. Mereka berprinsip untuk tidak melakukan misi 

penyebaran sehingga jikapun ada yang tertarik untuk 

bergabung semata-mata bukan sebab  diajak melainkan 

sebab  kesadaran dan ketertarikan seseorang untuk menjadi 

anggota atau pengikut. Sebagaimana telah disinggung 

sebelumnya, bahwa di era sebelum reformasi politik tahun 

1998, ajaran ini relatif sulit melakukan aktifitas pengembangan 

disebab kan situasi politik yang kurang kondusif. Namun 

seiring waktu, di era dan pasca reformasi ini  mereka 

mulai menunjukan eksistensinya melalui aktifitas 

menyanyikan lagu Hare Krishna dengan iring-iringan anggota 

maupun pengikut.      

Selain kegiatan-kegiatan di ruang publik, dalam 

rangka mempertahankan eksistensi ini , mereka juga 

mempraktikan kesadaran Krishna di rumah-rumahnya 

masing-masing. Hal ini  sangatlah efektif meskipun ada 

saja tantangan dari orang-orang terdekat termasuk orang 

tuanya yang umumnya berlatar belakang Hindu Umum atau 

Hindu Spiritual.  

 

Organisasi 

Struktur kepengurusan 

Adapun struktur kepengurusan Asrama Prahlada 

yaitu  sebagai berikut: 

______________________39

Pengawas : Wayan Ardika 

Pembina I : H.H. E Ragava Swami 

Pembina II : H.G Gaura Mandala 

Pembina III : Anggala Dewi Tasi 

Ketua : Kadek Setiawan 

Bendahara : Nyoman  Astawirya 

Bidang Perkebunan :  Wayan Putra Gede 

Bidang Perpustakaan :  Radha Candra 

Bendahara Masak :  Made Ariang 

sedang  Struktur Kepengurusan Yayasan Prahlada 

yaitu  sebagai berikut: 

Pembina I : Ani Farida 

Pembina II :  Made Sukariawan, S.Pd 

Pembina III :  Nyoman Sukerta, Sy, S.Pd 

Ketua :  I Wayan Subur, M.Pd 

Bendahara :  Wayan Tama, A.Md 

Sekretaris :  Wayan  Krisna 

 

Pola kepemimpinan 

Pola kepemimpinan yang berlangsung di Prahlada 

mencerminkan pola kepemimpinan yang berlangsung di 

tubuh Sampradaya Kesadaran Krishna negara kita  pada 

umumnya yang memberikan kesempatan kepada 

kepemimpinan lokal untuk mengatur sendiri aktifitas 

keorganisasiannya. Adapun pada tingkat nasional, Yayasan 

SAKKHI mengikuti otoritas Governing Body Commision atau 

Badan Pengatur yang dibentuk oleh Srila Prbhupada untuk 

mengawasi aktivitas dari komunitas internasional. Komite 

kerohanian ini terdiri atas penyembah-penyembah Krishna 

yang senior yang bekerja bersama-sama sebagai sebuah badan 

untuk membina organisasi. 

 

Pola rekrutmen dan persyaratan pengurus atau anggota 

Satu hal yang menarik dalam hal kepengurusan yaitu  

adanya pelibatan pengikut yang masih tergolong usia muda 

untuk masuk dan aktif dalam struktur kepengurusan yayasan. 

Dengan demikian maka proses kaderisasi kepemimpinan 

betul-betul dijalankan oleh kalangan tua di dalam kelompok 

spiritual Sampradaya Kesadaran Krishna ini. Di samping itu, 

terkait dengan pola rekrutmen yang terjadi, sebagaimana 

informasi yang berhasil digali, diperoleh keterangan bahwa 

pola rekrutmen yang dilakukan yaitu  melalui kegiatan-

kegiatan penerangan ajaran Sampradaya Kesadaran Krishna 

baik yang bersifat individual maupun kelompok tanpa 

menggunakan metode penyiaran dan pemaksaan. Mereka 

memandang bahwa berkeyakinan merupakan sebuah hal 

yang tidak dapat dipaksakan dan harus muncul dari dalam 

kesadaran diri.  

Selanjutnya disebab kan begitu kuatnya kegiatan 

pembacaan dan pengkajian Kitab Bhagavad Gita yang 

dilakukan oleh kalangan muda di kelompok spiritual ini, 

maka menjadi penanda bahwa apa yang dilakukan oleh 

Sampradaya Kesadaran Krishna negara kita  ini membawa 

haluan baru dan ketertarkan baru di kalangan generasi muda 

yang ingin menjadi memahami, mendalami dan menyelami 


makna kitab ini . Dalam hal keanggotaan, etnis Bali 

sangat dominan menjadi anggota pengikut Sampradaya 

Kesadaran Krishna ini. Adapun jumlah anggota secara 

keseluruhan di dalam Yayasan Prahlada ini yaitu  sebanyak 

20 orang anggota.18  

 

Konflik Internal dan Relasi SAKKHI dengan 

Pemerintah dan warga  

Selanjutnya dalam hal relasi pengikut Sampradaya 

Kesadaran Krishna negara kita  di Yayasan Prahlada ini dengan 

mazhab yang berbeda dan umat pemeluk agama lain 

termasuk dengan pemerintah dan warga  berlangsung 

baik dan harmonis. Sejauh ini dengan mazhab lain tidak ada 

masalah dan hidup saling hormat menghormati. (I Nyoman 

Sudiarsa. Wawancara. 5 Maret 2015). Hal ini dikemukakan 

pula oleh Ketua RT di lingkungan tempat domisili Asrama 

Prahlada. Menurutnya, selama ini warga  di lingkungan 

tempat mereka tinggal hampir tidak mempersoalkan 

keberadaan mereka. Hal ini disebab kan sudah bertahun-

tahun lamanya warga  di lingkungan ini  senantiasa 

menjalin dan saling menghormati keberadaan warga  

meskipun berlatar belakang beda baik etnis maupun agama. 

Bahkan dirinya pun menyebutkan saat dan pasca peristiwa 

Balinuraga sekalipun, hampir tidak ada efek negatif yang 

muncul dan mempengaruhi hubungan yang sudah terjalin 

dengan baik. Selain itu, anggota Asrama Prahlada ini pun 

aktif dalam kegiatan-kegiatan yang diinisiasi dan dilakukan 

oleh warga di lingkungan Asrama Prahlada. 

                                               

Terkait hubungan dengan Hindu pada umumnya atau 

Hindu tradisional yang dominan dianut oleh warga  

negara kita  termasuk umat Hindu yang berada di Lampung, 

inisiatif kebersamaan ini memang telah didorong pula oleh 

pemerintah, dalam hal ini yaitu  Pembimas Hindu di Kantor 

Wilayah Provinsi Lampung. Salah satu bentuk upaya 

pemerintah pada tingkat pusat yakni di Ditjen Bimas Hindu 

Kementerian Agama RI dan Parisada Hindu Dharma 

negara kita  bersama para pimpinan kelompok Hindu spiritual 

pernah menginisiasi terjadinya Kesepakatan Bersama pada 

tanggal 5 November 2001 yang berisi empat point kesepakatan 

yang pada intinya yaitu  sepakat untuk saling menghormati 

tata cara kegiatan kerohanian dan keagamaan masing-masing 

campradaya. Dasar kesepakatan ini  berbasis pada sloka 

Bhagavad Gita yang berbunyi “Bagaimanapun jalan manusia 

mengikutiKu, Aku Terima, Wahai Arjuna, Manusia mengikuti pada 

segala jalan”. (Bhagavad Gita, IV: 11). 

Kesepakatan ini  telah menjadi jawaban atas 

realitas yang tidak dapat dimungkiri bahwa keberadaan 

kelompok-kelompok Hindu spiritual ini pernah menjadi 

kontroversi di kalangan penganut Hindu dan sempat terjadi 

ketegangan antara kelompok spiritual dan Hindu Tradisional 

sebagaimana pernah terjadi di Bali.19 Bahkan berdasar  

penulusuran di beberapa sosial media, muncul pula polemik 

tentang keberadaan Sampradaya Kesadaran Krishna 

negara kita  yang dipandang sesat. 

Namun demikian pandangan semacam ini 

terbantahkan oleh pandangan Sekretaris PHDI Provinsi 

Lampung yang berkata-kata  bahwa dalam agama Hindu tidak 

                                                

dikenal istilah sesat ataupun menyimpang.20 Ketua PHDI 

Provinsi Lampung juga menegaskan bahwa pegangan 

beragama di agama Hindu ada 3, yakni mantram atau kunci 

sebagai kekuatan doa yang bersumber dari kitab suci Veda. 

Doa-doa itu diyakini dan harus dilaksanakan dengan sepenuh 

hati. Di dalam hidup tidak cukup mantram tapi perlu jalan 

yaitu Tantra. Namun demikian tidak cukup Mantram dan 

Tantra namun  juga perlu Yantra sebagai sarana seperti halnya 

kelompok Kesadaran Krishna yang memakai arca Krishna. 

Jadi apa yang dipilih oleh kelompok spiritual Kesadaran 

Krishna merupakan pilihan jalan. Sebetulnya dari aspek spirit, 

jika orang tidak mengenal dan memahami ketiga hal ini  

maka responnya terhadap Sampradaya Kesadaran Krishna 

akan berbeda. sedang  bagi bagi yang memahami 

ketiganya maka akan mengatakan bahwa mereka hebat sekali 

dalam melakukan pendakian spiritual. Kalau orang masih di 

tataran agama maka akan sepi dalam spiritualitas.  

Masih menurut penjelasan Ketua PHDI Provinsi 

Lampung, pengertin Spiritual dimaksud merupakan pelaku 

yang sudah melaksanakan apa-apa yang diajarkan dalam 

kitab suci, sedang  jika masih hanya sebatas mengingatkan 

dan mengajak namun  tidak melakukan, baru berada pada 

tingkat agama saja. Dengan adanya perbedaan ini , Ketua 

PHDI Prov Lampung sudah menyarankan kepada mereka 

untuk berbaur dan jangan ekslusif dan ritual yang sudah ada 

di tempel mereka jangan sampai dibawa ke pura. Dulu 

mereka memang masih sangat nyentrik. Di kelompok ini 

mereka mempunyai guru yakni kumpulan suci atau Syahdu 

Sangga. Untuk menjaga kerukunan, Ia pun menegaskan 

kepada umat Hindu di Lampung agar saling menghormati. 

                                                  

Menurutnya sah-sah saja berbeda dalam mengagungkan Sri 

Krishna sebab dalam dasar agama Hindu ada  3 hal yang 

harus difahami bahwa kita Veda-nya harus sama, etikanya 

harus sama dan atapnya atau ritual nya yang berbeda.21  

Hal yang mempererat hubungan mereka 

sesungguhnya yaitu  adanya ikatan sosial memperkuat 

hubungan antar sampradaya dan Hindu Umum. Namun 

demikian perlu  diberikan pemahaman kepada internal umat 

Hindu bahwa memang ada banyak kelompok spiritual di 

dalam Hindu serta berharap kepada anggota Sampradaya 

untuk mau membuka diri dan terbuka untuk membangun 

kerjasama untuk melakukan pengabdian kepada warga . 

Menyangkut praktik spiritual, Hare kresna memang 

kelompok spiritualis yang betul betul merupakan pelaku dan 

alangkah baiknya praktik spiritual itu juga tanpa harus 

mengenyampingkan kecerdasan sosial sebab  bukan tidak 

mungkin akan terjadi persinggungan-persinggungan.22  

 

Dampak Keberadaan SAKKHI terhadap Kehidupan 

Keagamaan 

Keberadaan Sampradaya Kesadaran Krishna negara kita  

di Provinsi Lampung sama sekali tidak berdampak terhadap 

lingkungan sebab  kelompok-kelompok spiritual ini  

tidak ekslusif dan tidak pernah ada gejolak dan ketegangan. 

Hingga detik ini kerukunan umat Hindu masih sangat terjaga 

(I Nyoman. FGD. 12 Maret 2016). Hal ini dikemukakan pula 

oleh Ketua RT di lingkungan tempat domisili Asrama 

                                                         

Prahlada. Menurutnya, selama ini warga  di lingkungan 

tempat mereka tinggal hampir tidak mempersoalkan 

keberadaan mereka meskipun para anggota Sampradaya 

Kesadaran Krishna di Asram Prahlada melaksanakan kegiatan 

ibadah di asrama ini . 

 

Penutup 

berdasar  temuan lapangan dan analisisnya, 

kesimpulan hasil penelitian ini antara lain: 

1. Keberadaan kelompok Spiritual Hindu Hare Krishna 

maupun Hindu Saibaba selama ini tidak menjadi masalah,  

sebab  kelompok mereka masih mengakui agama Hindu 

sebagai agama dan mengakui kitab Weda sebagai kitab 

suci agama Hindu. Mereka juga membaca kitab Bhagavad 

Gita dan Purana serta rajin dan bersemangat dalam 

menjalankan ibadahnya.  

2. Keberadaan kelompok keagamaan ini  tidak 

membawa dampak negatif di warga  selama masih 

berbaur dengan umat beragama lainnya dan tidak 

bersikap ekslusif dan menonjolkan perbedaan-perbedaan 

yang ada. Sikap-sikap inilah, mereka dihargai dan 

dihormati, baik oleh warga  maupun oleh lembaga 

keagamaan dan pemerintah.  

3. Kelompok Spiritual Hindu Krishna meyakini  Krishna 

sebagai Tuhan, berbeda dengan Hindu mainstream. 

Keberadaan mereka diakui oleh berbagai pihak selama ia 

tidak membawa-bawa sarana-sarana dalam 

persembahyangan mereka ke Pura. Bahkan Kelompok 


Spiritual Hindu Krishna berada di bawah naungan PHDI 

dan sudah terdaftar di PHDI, sehingga tidak perlu lagi 

mendaftarkan ke Direktorat Bimas Hindu. 

 berdasar  analisis dan kesimpulan di atas, penelitian ini 

menghasilkan beberapa rekomendasi, antara lain: 

1. Hubungan antara kelompok spiritual Hindu Hare Krishna 

dengan kelompok Hindu umumnya (tradisional) maupun 

dengan kelompok Sai Baba sudah cukup baik dan harus 

terus dipertahankan. 

2. Kelompok spiritual Hindu Krishna perlu didaftarkan di 

Direktorat Bimas Hindu sebagai legalitas keberadaan 

mereka meskipun  sudah terdaftar di PHDI. 

 

Sejarah Singkat Kehidupan Bhagavan Shri Satya Sai 

Baba 

Sai Baba lahir di Desa Puttaparthi, Bangalore India 

Selatan pada tanggal 23 November 1926. Menurut cerita, 

Puttaparthi yaitu  tempat Dewi Saraswati (Dewi 

Kebijaksanaan) dan Dewi Laksmi (Dewi Keberuntungan) 

berada. Sai Baba putra dari pasangan suami isteri Pedda dan 

Eswaramma Raju, suatu keluarga yang taat beragama Hindu. 

Waktu kecil Sai Baba bernama Sathya Narayana dan menjadi 

anak kesayangan keluarga, bahkan warga desa setempat. 

Dari kecil Sai Baba tidak suka makan daging, dan 

menjadi penyayang binatang seperti sapi, domba, babi, ayam 

dan bebek. Lantaran sikapnya yang menyayangi binatang, 

tidak makan daging dan enggan membunuh makhluk Tuhan, 

oleh warga  setempat beliau disebut “Brahmajnani” yang 

berarti jiwa yang telah menginsyapi dirinya. Hal itu terjadi 

saat  Sai Baba berusia 5 tahun. Sikap terpuji lain yang 

dimilikinya yaitu  lemah lembut, peka terhadap penderitaan 

orang lain, suka menolong orang miskin dan pengemis, dan 

tidak pernah menyakiti orang lain serta tidak mendendam 

terhadap anak-anak yang berlaku kasar terhadap dirinya.   

Diriwayatkan pula sejak usia 6 tahun Sai Baba telah 

memiliki kelebihan, mampu memahami dan mengajukan isi 

kitab suci Weda, pada hal ia sendiri belum pernah 

membacanya. Beliau juga dapat menahan lapar, tidak makan 

beberapa hari tapi tetap sehat, bisa mengobati orang sakit 

bahkan pernah menghidupkan orang yang diperkirakan 

sudah mati. Di sekolah ia menjadi murid yang cerdas, baik  

budi, disenangi dan dikagumi oleh teman dan guru-gurunya 

sebab  banyak memiliki keistimewaan. Umur 10 tahun Sathya 

membentuk kelompok Bhajan atau kelompok penyanyi lagu-

lagu keagamaan gubahannya sendiri. Waktu beberapa daerah 

setempat diserang wabah kolera dan banyak korban 

meninggal, Desa Puttaparthi selamat dari penyakit ini . 

warga  beranggapan bahwa terhindarnya warga 

Puttaparthi itu sebab  kesaktian Sathya yang mampu 

menghindarkan serangan kolera lewat nyanyian dan tarian 

kelompok Bhajan yang dipimpinnya.  

Dari hari ke hari Sathya makin populer. Sejak saat itu 

Sathya berkata-kata  dirinya sebagai Sai Baba yang mempunyai 

tugas untuk memulihkan kebenaran, kesucian, kedamaian, 

dan kasih sayang umat manusia. Sejak saat itu pula banyak 

orang yang datang kepadanya untuk belajar, meminta berkah, 

serta melakukan pemujaan atau kebaktian di tempat Sai Baba. 

Pada tahun 1974, Sai Baba tampil sebagai Guru Agung Rakyat 

dan memimpin Konprensi. 

Para pengagum dan pendengar khutbahnya meliputi 

berbagai kalangan warga  seperti para rahib, pujangga, 

cendekiawan, pengusaha, petani, pria dan wanita. Mereka 

merasa beruntung sempat menyaksikan kelebihan dan ajaran-

ajaran Sai Baba dan ikut menyebarkan berita tentang 

keistimewaan beliau kemana-mana. Pada tahun 1958 Sai Baba 

meresmikan majalah “Sanathana Sarathi” (Sais Abadi Yang 

Maha Ada), sebagai media untuk menyebarkan ajarannya. 

Majalah itu diterbitkan  dalam berbagai bahasa antara lain 


bahasa Inggris dan bahasa Telegu. Melalui publikasi serta 

kunjungan Sai Baba secara pribadi ke berbagai tempat sambil 

berceramah dan membantu warga yang sakit, frustasi, 

terganggu jiwa dan tertindas, maka ajaran Sai Baba makin 

tersebar ke manca Negara, termasuk ke negara kita  sekitar 

tahun 1979. Sekarang para pengikut Sai Baba diperkirakan 70 

juta orang yang tersebar di 128 negara seperti India, Ingggris, 

Kanada, Amerika, Thailand, Malaysia, Hongkong, Mexico, 

Hawai, Afrika Selatan, serta negara kita  

 

Keberadaan Sai Studi Group (SSG) di negara kita  

Untuk memahami dan mengembangkan ajaran Sri 

Sathya Sai Baba dibentuk Sai Studi Group negara kita  disingkat 

SSGI untuk pusat dan Sai Studi Group (SSG) atau Sai 

Devotional Group (SDG) di daerah. Sai artinya teaching, studi 

artinya bagaimana kita menafsirkan/mengkaji, group 

kelompok untuk menjadi orang yang lebih baik. SSGI berarti 

kelompok yang berusaha mempelajari ajaran-ajaran Sai Baba 

agar menjadi orang yang lebih baik. 

Visi dari organisasi SSGI yaitu  menyadari ketuhanan 

di dalam diri (Aham Brahma Asmi). Hanya sesudah  menyadari 

ketuhanan di dalam diri, kita  akan dapat menyadari esensi 

Ketuhanan juga ada dalam setiap makhluk. Dengan demikian, 

tidak ada alas an lagi bagi kita untuk saling membenci. 

Hukum yang ada hanyalah saling mengasihi untuk mencapai 

kebebasan. Visi yaitu  arah yang ingin dituju oleh organisasi. 

Tidak terlalu penting kita ada di mana, tapi yang jauh lebih 

penting yaitu  ARAH mana kita akan melangkah. 

Untuk mencapai visi ini  maka organisasi SSGI 

mempunyai misi. Misi yaitu  berbagai upaya yang ditujukan 

untuk mewujudkan/merealisasikan suatu visi. Misi S SGI 

yaitu  menumbuhkan, mengembangkan, dan menjalin 

persahabatan serta persaudaraan atas dasar cinta kasih antar 

sesama umat manusia, tanpa membedakan suku, bangsa, ras, 

golongan, jabatan, agama dan kepercayaan. sedang  misi 

Bhagavan sebagai Sad Guru:  

“Aku datang tidak untuk mengganggu apalagi  merusak 

keyakinan yang telah ada, tapi justru lebih memperkuat - 

agar umat Muslim menjadi Muslim yang lebih baik, Kristen 

menjadi Kristen yang lebih baik, Buddhist menjadi Buddhist 

yang lebih baik, Hindu menjadi Hindu yang lebih baik”. 

Dalam rangka  merealisasikan misi ini  maka 

perlu dibudayakan menjadi prilaku dalam kehidupan sehari-

hari yang disebut dengan Budaya Sai. Budaya Sai yaitu  

upaya untuk membudayakan apa yang diisyaratkan dalam 

Misi Sai. Budaya Sai yaitu : “Love All (Kasihi Semua) - Serve 

All (Layani Semua)”. Dengan kata lain Budaya Sai yaitu  

upaya untuk membudayakan sifat dan sikap hidup untuk 

saling mengasihi dan melayani setiap orang.  Kita mungkin 

dapat mencintai seseorang (love), kita mungkin dapat 

melayani seseorang (serve), Tapi sudahkkah kita dapat 

mencintai & melayani SETIAP ORANG (ALL). All (semua) 

menjadi prinsip Budaya Sai.  

Setiap orang maupun organisasi harus mempunyai 

kepribadian. Kepribadian menunjukkan jatidiri seseorang 

yang tidak lain yaitu  kasih itu sendiri. Kasih selalu menjadi 

dasar hidupnya. sebab  itu Kepribadian Sai yaitu  PANCA 

PILAR: Kebenaran, Kebajikan, Kasih Sayang, Kedamaian, 

Tanpa Kekerasan.  

Seseorang yang hidup di jalan Sai akan hadir sebagai 

pribadi yang bijaksana dan penuh Kasih Sayang kepada 

sesama, dimana wacananya selalu menyampaikan Kebenaran, 

tindakannya selalu mencerminkan kebajikan, perasaannya 

selalu dipenuhi kedamaian dan pandangannya selalu 

menyiratkan sikap tanpa kekerasan. 

Setiap organisasi umumnya mempunyai keunikan 

sendiri bila dibandingkan denga organisasi lainnya. Keunikan 

Sai yaitu  semua dilihat dari perspektif: setiap pandangan, 

sikap atau pun kegiatan yang dilakukan selalu dipandang 

sebagai usaha untuk merealisasikan dan mengembangkan 

spiritualitas diri melalui; SAI = See Always Inside (selalu 

melihat dan mulai dari diri sendiri). Unity-Purity-Divinity 

(selalu dilihat sebagai usaha untuk membangun dan 

mengembangkan Kesatuan—Kemurnian—Ketuhanan). LOVE 

in ACTION (setiap tindakan selalu didasari oleh Cinta Kasih). 

Sai Baba berkata:  

“Tuhan tidak akan bertanya; kapan dan di mana kita 

melakukan pelayanan? Tuhan akan bertanya: Dengan niat 

apa engkau melakukan pelayanan. yaitu  niat yang engkau 

harus ingatkan. Engkau dapat saja menambah sevamu 

dengan meningkatkan kuantitasnya. Tapi Tuhan selalu akan 

melihat kualitas, kualitas hati, kemurnian pikiran dan 

kesucian niat” (Sathya Sai Speak 11, hal 5-6). 

Sesuatu akan dapat berfungsi sebagaimana mestinya, 

bila diposisikan dengan tepat. Begitu juga dengan Sai. sebab  

keunikan Sai selalu melihat dari perspektif pengembangan 

spiritualitas diri, sehingga posisi Sai yaitu :  

1. SAI=Menempatkan Bhagavan Sri Sathya Sai Baba sebagai 

Sad Guru. Selalu melihat ke dalam atau mulai dari diri 

sendiri; 

2. (2). Sosial Spiritual = Selalu mengembangkan rasa bhakti 

melalui PELAYANAN/SOSIAL dijiwai nilai-nilai 

SPIRITUAL; 

3. Forum Studi (Sai Study Group) = Tempat untuk belajar 

dan mengembangkan SPIRITUALITAS DIRI. 

Sai yaitu  Forum bagi setiap orang untuk mempelajari 

dan mengembangkan nilai-nilai spiritual yang dipraktekkan 

melalui aktivitas pelayanan sosial. SAI yaitu  wahana untuk 

melakukan Transformasi diri dengan mengembangkan 

KESATUAN (Unity), KEMURNIAN (Purirty) dan 

KETUHANAN (Divinity) dimulai dari diri sendiri untuk 

warga . 

Bila inti dari identitas SAI ditarik garis lurus 

diketemukan benang merah yang sama yaitu LOVE/CINTA 

KASIH = ATMA. Untuk lebih mudah memahami, mari kita 

perhatikan tahapannya: 

Pertama : Sifat alami/jatidiri kita yaitu  Love = Cinta 

Kasih = Atma; 

Kedua : Visi SAI yaitu  menyadari Ketuhanan = Love = 

Cinta Kasih di dalam diri; 

Ketiga : Misi SAI menimbuhkan, mengembangkan dan 

menjalin persahabatan atas dasar Love = Cinta 

Kasih kepada sesama; 

Keempat : BUDAYA SAI menjadikan Love = Cinta Kasih 

sebagai budaya dan prinsip hidup; 

Kelima : PRIBADI SAI menjadikan Love = Cinta Kasih 

tercermin dalam sikap yang selalu 

mencerminkan kebenaran, kebajikan, kasih 

sayang, kedamaian dan tanpa kekerasan. 

Dari kelima di atas, ditambah lagi dengan 

keunikan/diferensiasi akan menghadirkan posisi dan 

personalitas organisasi SAI yang juga berlandaskan pada Love 

= Cinta Kasih. Dengan demikian jelas, Kasih sebagai Dasar 

sekaligus Tujuan.  

Karakter SAI yaitu  LOVE (Cinta Kasih). Jiwa = Atma 

= percikan sinar kasih Tuhan yang ada dalam setiap makhluk, 

sedang  Kasih yaitu  wujud dari Atma. Sabda Bhagavan: 

“Love is My Form- Truth is My Breath, Bliss is My Food”. (Cinta 

Kasih yaitu  wujudKu- Kebenaran yaitu  nafasKu- 

Kebahagiaan yang mendalam yaitu  makananKu), Love is My 

Message (Kasih yaitu  PesanKu). Kasih inilah yang dijadikan 

senjata oleh Bhagavan dalam menyelamatkan dunia. 

Cinta Kasih yaitu  Tuhan dan Tuhan yaitu  

perwujudan cinta kasih itu sendiri. Dimana ada cinta kasih, 

Tuhan pasti akan hadir disana. Integrasikanlah Cinta Kasih 

dalam setiap tindakan pelayanan dan jadikanlah pelayanan 

sebagai ibadah. Itulah sadhana tertinggi (Sathya Sai Speaks 4, 

hal 309). 

Menurut Sai Baba: 

Hanya ada satu agama-berlandaskan Cinta Kasih; 

Hanya ada satu bahasa-bahasa hati; 

Hanya ada satu kasta-kasta kemanusiaan; 

Hanya ada satu Tuhan Ia ada di mana-mana dan dihati 

setiap makhluk. 

Sai menempatkan Bhagavan Sai Sri Sathya Sai Babab 

sebagai Sad Guru. sedang  hubungan Bakhta dengan 

Baghavan:  

Pertama : menempatkan Bhagavan sebagai manusia 

(aspek fisik). Agar dapat lebih mudah 

berkomunikasi/berinteraksi seluruh umat 

manusia. 

Kedua : Baghavan sebagai Sad Guru (Guru Deva). Agar 

Beliau dapat membimbing dan menyampaikan 

wejangan/ajaran Ketuhanan untuk 

membebaskan umat manusia dari belenggu 

khayalan yang mengikatnya selama ini menuju 

kesadaran Tuhan. 

Ketiga : Bhagavan sebagai  kesadaran kosmis (Avatar). 

Agar setiap umat manusia dan seluruh 

makhluk hidup di semesta ini dapat merasakan 

rahmat Sai. 

Terkait hubungan Baghavan dengan bhaktaNya, 

Beliau pernah berwacana bahwa: “…hubunganKu dengan 

engkau yaitu  hubungan personal, langsung  tanpa perantara…” 

Itu artinya, Baba sangat memahami keperluan atau keadaan 

individu dari setiap bakhta-Nya. Untuk menjawab keperluan 

ini , Baba akan berhubungan langsung, melalui ketiga 

aspek pribadiNya (wujud fisik, sad guru, atau pun melalui 

kesadaran kosmis) tanpa perantara. Bila kemudian ada 

praktik-praktik dan seseorang yang mengatasnamakan 

Bhagavan, jelas tidak dibenarkan. 

______________________57

Arti Sai Baba secara Etimologi 

Kata Sai Baba selama ini sering diartikan hanya 

sebagai Ayah atau Ibu Ilahi. Ternyata selain itu setiap huruf 

dalam kata menyiratkan makna yang mengantarkan 

bakhtanya menuju Ketuhanan. SAI yang sering diartikan 

dengan SEE (melihat), ALWAYS (selalu), INSIDE (kedalam) 

menyiratakan makna agar kita selalu mengarahkan 

pandangan dan penglihatan kita ke dalam atau mulai dari 

pengembangan kualitas diri. Lalu apa yang ada di dalam? 

Mari kita perhatikan mkananya, serta bagaimana 

hubungannya dengan pengertian SAT CHIT ANANDAM. 

B = stand for Being atau EXISTENCE (Kebenaran yang juga 

berarti SAT) 

A = stand for AWARENES (Kesadaran yang juga berarti 

Chit) 

B  = stand for Bliss (Kebahagiaan Abadi yang juga berarti 

Anandam) 

A = stand for Atma (Ketuhanan) 

Pengertian BABA dalam konteks ini yaitu  kesadaran 

akan kebenaran yang dapat menghadirkan kebahagiaan abadi 

dalam ketuhanan. Jadi pengertian SAI BABA yaitu  selalu 

melihat ke dalam atau mulai dari pengembangan 

kualitas/spiritualitas diri menuju kesadaran akan kebenaran 

yang membawa kita pada kebahagiaan abadi dalam 

ketuhanan.  

 

Memahami Prinsip Bhakti 

Tidak semata-mata  bhakti yang Aku inginkan, Aku 

ingin tindakan yang dimotivasi oleh Bhakti. Bhakti harus 

dilandasi motivasi yang tepat, tanpa kepentingan ataupun 

ikatan. Memahami Prinsip Pelayanan: 

Pelayanan yaitu  disiplin spiritual; 

Pelayananan sebagai sarana untuk mengekspresikan ajaran 

Sai; 

Pelayanan sebagai wahana untuk merahi mutiara 

kebijaksanaan dan kebahagiaan abadi; 

“Menava Sevaye, Madhava Seva (melayani umat manusia, 

berarti melayani Tuhan).  

 

Memahami Integritas SAI di warga  

Disadari bahwa kita yaitu  bagian dari warga , 

bukan warga  bagian dari kita. Oleh sebab  itu, sudah 

menjadi kewajiban kita untuk mendharmabaktikan kehidupan 

ini untuk kesejahteraan warga . warga  yaitu  

kumpulan individu-individu yang mempunyai karakteristik  

yang unik. Di warga  pula kita akan temukan 

keberagaman latar belakang dan pandangan, sebab nya 

warga  yaitu  tempat yang baik untuk mengasah 

Kebijaksanaan dengan membangun semangat kesatuan dalam 

perbedaan. Dimulai dengan membangun kesatuan dalam 

pikiran, perkataan, dan perbuatan, seseorang akan hadir 

sebagai pribadi yang memiliki integritas, prinsip dan jati diri. 

Sejalan dengan usaha penyatuan (unity) ini  akan 

mengalir kemurnian dalam dirinya (purity) sehingga 

kesadarannya selalu menyatu dalam kesadaran Tuhan 

(divinity). 

Pribadi ini lebih lanjut akan mampu melihat realitas 

warga  yang diwarnai keberagaman, mulai dari 

perbedaan cara pandang sampai pada perbedaan pola dan 

gaya hidup. Dalam keberagaman ini , pribadi ini akan 

selalu mengembangkan ruang-ruang kesatuan melihat 

keberagaman sebagai wahana untuk meraih dan 

mengembangkan mutiara kebijaksanaan. 

Pribadi ini juga tidak berfikir untuk mengubah 

keadaan, namun  ia akan selalu menjadi sumber inspirasi bagi 

proses perubahan. Kalau toh pribadi ini harus melakukan 

penyesuaian-penyesuaian atas sesuatu yang tidak sesuai 

dengan prinsip yang dia pahami., ia tahu bagaimana 

menempatkan diri dan juga tahu waktu yang terbaik untuk 

memberikan inspirasi dan pertimbangan. 

Pribadi ini sangat menyadari tidak ada yang kebetulan 

dalam hubungan kewarga an, semuanya ia bhaktikan 

sebagai konsekuensi dari HUKUM KARMA yang harus 

ditebus dan dilewati dengan bijak. Jadi intinya, warga  

yaitu  sarana untuk meningkatkan dan mengembangkan 

spiritualitas diri untuk meraih kebijaksanaan yang 

membebaskan. 

Beliau (Sai Baba) menyadarkan kita bahwa siapapun 

yang jauh dari warga , akan jauh dari  mana-mana. 

warga  bukanlah bagian dari kita, sebaliknya kitalah yang 

menjadi bagian dari warga  dan apa yang berguna bagi 

warga  juga berguna bagi kita. sebab  itu sudah menjadi 

kewajiban setiap orang untuk melayani dan berbuat kebajikan 

bagi warga . 

Berbicara tentang kewajiban berarti berbicara tentang 

ruang pembebasan. warga  pada dasarnya yaitu  

wahana untuk meraih kebahagiaan yang membebaskan. Di 

Sanalah kita mendapatkan kesempatan untuk mengasah 

mutiara kebijaksanaan dengan selalu mengembangkan 

pandangan kesatuan dalam perbedaan dan keragaman. 

Berikut  ini wacana Bhagavan terhadap hal yang perlu 

diperhatikan saat menyampaikan kebenaran di warga : 

1. Berkatalah Yang Benar (Sathyam Bruyath), ini berhubungan 

dengan Aspek Moral. 

2. Berkatalah Yang Santun (Pryam Bruyath), ini berhubungan 

Aspek Sosial. 

3. Jangan Berkata Apa-Apa bila apa yang dianggap benar 

tampaknya belum siap atau tidak diterima oleh 

warga  (Na Bruyath Satyam Apriyam), dan ini 

berhubungan dengan Aspek Spiritual.  

 

Struktur dan  Kepengurusan SSGI 

Asas, Dasar dan Sifat 

SSGI bukan organisasi keagamaan namun  organisasi 

yang bersifat sosial dan spiritual (AD. Bab II, Pasal 4). 

Organisasi ini berasaskan Pancasila dan UUD Negara 

Kesatuan Republik negara kita  1945 (AD, Bab II Pasal 2). 

Organisasi ini berdasar  Weda-Sanathana Dharma, Panca 

Pilar, Sembilan Pedoman Prilaku, dan Sepuluh Prinsip Hidup 


Maksud dan Tujuan 

Organisasi ini didirikan untuk membantu para peserta, 

baik sebagai individu maupun anggota warga , 

membangkitkan sifat-sifat Ketuhanan dalam dirinya dan 

menemukan jati dirinya sehingga manusia layak bersatu 

kembali dengan sumber asalnya, Tuhan Yang Maha Esa. 

(Pasal 5). 

 

Tujuan Organisasi  

1. Menumbuhkan, mengembangkan, dan menjalin 

persahabatan dan persaudaraan di atas dasar cinta kasih 

antar sesama umat manusia, tanpa membedakan suku, 

bangsa, ras, golongan, jabatan, agama, dan kepercayaan. 

2. Menumbuhkan dan mengembangkan rasa persatuan dan 

kebersamaan serta meningkatkan kerukunan intern dan 

antar umat beragama, guna menyelaraskan kualitas etik, 

moral, pengabdian, dan pelayanan kepada warga , 

bangsa dan negara. 

3. Menumbuhkan dan mengembangkan budi pekerti yang 

luhur, guna mewujudkan manusia dan warga  yang 

berbakti dan mengasihi Tuhan, menghindari perbuatan 

yang berdosa dan tercela, serta mengembangkan 

kehidupan yang bermoral dalam pergaulan hidup 

bersama di warga . 

4. Meningkatkan kesadaran manusia akan peran dan tugas 

sucinya, tujuan hidup, dan arti keberadaan di jagat 

semesta ini bersama-sama dengan seluruh ciptaan, untuk 

mencapai kemajuan spiritual yang membuahkan 

ketentraman dan kedamaian jiwa raga.                             

(AD Bab III, Pasal 6). 

Dalam ART, tujuan organisasi ditambahkan sebagai 

berikut: Organisasi SSGI yaitu  suatu lembaga tempat 

mempelajari: menghayati, dan mengamalkan wacana-wacana 

Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, SSGI, bukan suatu organisasi 

yang mempunyai misi pemindahan agama, bukan organisasi 

yang mencampuradukkan agama, bukan agama baru atau 

suatu aliran kepercayaan. Tujuan utamanya yaitu  sebagai 

berikut: 

1. Menolong individu untuk: 

a. Menyadari sifat Ketuhanan yang ia miliki dan berbuat  

menurut sifat ini . 

b. menerjemahkan Kasih Tuhan dan kesempurnaan-Nya 

dalam sikap sehari-hari, dengan mengisi hidup ini 

dengan kegembiraaan, keharmonisan, keindahan, 

kebaikan, berkah, dan kebahagiaan yang langgeng. 

c. Meyakini bhawa semua hubungan antar manusia 

didasari prinsip-prinsip, Satya, Dharma, Prema, Shanti, 

Ahimsa. 

2. Mendorong setiap pemeluk agama lebih menekuni agama 

masing-masing dan bertindak sesuai dengan ajaran yang 

didapat dalam agama ini  serta meningkatkan 

kualitas, etik, moral dan pengabdian (ART, BAB I Pasal 1).  

Tujuan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 

dapat tercapai dengan cara-cara berikut ini:  

1. Mempelajari, memahami, dan mengayati prinsip-prinsip 

yang diajarkan oleh Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, yaitu 

sebagai berikut: 

a. Hanya ada satu Tuhan, Ia hadir dimana-mana. 

b. Hanya ada satu agama, agama Kasih Sayang (dengan 

menekankan kesamaan yang menyatukan bahwa 

semua agama didasari oleh satu hal yang sama yaitu 

Cinta Kasih).. 

c. Hanya ada satu kasta, kasta kemanusiaan. 

d. Hanya ada satu bahasa, bahasa hati. 

e.  Hanya ada satu hukum, hukum kerja. 

2. Selalu ingat kepada Tuhan dan melihat semua ciptaan di 

dunia ini sebagai manifestasi atau perwujudan-Nya dalam 

bentuk yang berbeda-beda. 

3. Melihat semua tindakan dan pekerjaan sebagai pelayanan 

kepada Tuhan. 

4. Melihat semua tindakan dengan Kasih Tuhan, takut 

berbuat dosa, dan memiliki moral tinggi yang teguh dalam 

warga . 

5. Melibatkan diri dalam kegiatan spiritual, pendidikan dan 

pelayanan, baik pada tingkat individu maupun 

warga , tanpa mengharapkan imbalan, dan hanya 

menganggap hal itu sebagai cara untuk meningkatkan dan 

mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan serta 

mendapatkan kasih dan berkah Tuhan.(ART, BAB I, Pasal 

2). 

 

Kriteria Pengurus SSGI 

Untuk dapat diangkat jadi pengurus SSGI, harus 

memenuhi kriteria, sebagai berikut:  

1. Dikenal sebagai pribadi yang baik;  

2. Telah mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi sekurang-

kurangnya selama 2 tahun;  

3. Memiliki ketetapan hati untuk sungguh-sungguh 

melaksanakan 9 Pedoman Prilaku dan 10 Prinsip Hidup 

yang digariskan  oleh Bhagawan Sri Sathya Sai Baba;  

4. Tidak sedang merangkap jabatan sebagai pengurus di 

salah satu organisasi spiritual sejenis lainnya (ART, BAB II, 

Pasal 3). 

 

Peserta (Anggota) 

Yang dapat menjadi peserta dalam kegiatan-kegiatan 

organisasi, yaitu  orang-orang, seperti berikut: 

1. Setiap orang yang berminat dan berjiwa spiritual terutama 

bagi mereka yang meyakini ajaran-ajaran suci Bhagawan 

Sri Sathya Sai Baba. 

2. Setiap orang yang mengakui dan menempatkan Bhagawan 

Sri Sathya Sai Baba sebagai Sad Guru. 

3. Setiap orang yang menerima, mengikuti dan tunduk 

terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga 

Organisasi. 

 

Susunan Organisasi dan Kepengurusan 

Susunan organisasi terdiri atas unsur-unsur, sebagai 

berikut: 

1. SSGI berkedudukan di ibu kota Negara Republik 

negara kita . 

2. Sai Study Group (SSG) dan Sai Devotional Group (SDG) 

yang berkedudukan di daerah-daerah. 

3. Kedudukan SSG dan SDG di daerah berada dibawah SSGI, 

dan berkewajiban mentaati serta melaksanakan semua 

keputusan dan peraturan yang dikeluarkan oleh SSGI. 

(AD, BAB VII, Pasal 10). 

Adapun susunan pengurus SSGI terdiri dari:  

1. Seorang Ketua Dewan Penasihat;  

2. Seorang Wakil Ketua Dewan Penasihat;  

3. Anggota Dewan Penasihat;  

4. Seorang Ketua;  

5. Tiga orang Wakil Ketua;  

6. Seorang Sekretaris;  

7. Dua orang Wakil Sekretaris;  

8. Seorang Bendahara;  

9. Dua orang Wakil Bendahara;  

10. Seorang Koordinator Nasional Bidang Spiritual;  

11. Seorang Koordinator Nasional Bidang Pendidikan;  

12. Seorang Koordinator Bidang Pelayanan;  

13. Serang Koordinator Nasional  Bidang Kepemudaan (Youth 

Vikas);  

14. Seorang Koordinator Nasional Bidang Keperempuan 

(Mahila Vibag).  

15. Sembilan orang Koordinator Wilayah.  

Koordinator Wilayah (Korwil) 

Sesuai dengan kebutuhan pada saat ini telah 

ditetapkan Sembilan Koordinator Wilayah dengan rincian 

wilayah, sebagai berikut: 

1. Koordinator Wilayah 1 membawahi Prov Aceh, Riau dan 

Sumatera Utara. 

2. Koordinator Wilayah II membawahi Prov Lampung, 

Bengkulu, Sumsel dan Jambi. 

3. Koordinator Wilayah III membawahi Prov Jawa Barat, 

Banten, dan DKI Jakarta. 

4. Koordinator Wilayah IV membawahi Prov Jawa Tengah 

dan DI Yogyakarta. 

5. Koordinator Wilayah V membawahi Provinsi Jawa Timur 

6. Koordinator Wilayah VI membawahi Prov Kalbar, Kalsel, 

Kaltim dan Kalteng. 

7. Koordinator Wilayah VII membawahi Prov Bali, NTB dan 

NTT. 

8. Koordinator Wilayah VIII membawahi Prov Sulsel, Sulbar 

dan Sultra. 

9. Koordinator Wilayah IX membawahi Prov Sulteng, 

Gorontalo dan Sulawesi Utara. 

berdasar  pembagian korwil di atas SSG sudah 

tersebar di 26 provinsi, hanya 6 daerah yang belum ada SSG-

nya yaitu: Provinsi Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Bangka 

Belitung, Kalimantan Utara, Maluku, Maluku Utara, Papua 

dan Papua Barat. 

______________________67

Adapun susunan pengurusnya sampai penelitian ini 

dilakukan yaitu :  

Ketua : Mohan Leo  

Wakil Ketua : Danesh R. Vatwani, Ir. Gede Putu 

Suwitra 

Sekretaris : Alit Triana  

Ketua Dewan  

Penasehat : I Ketut Nur Cahya 

Penasehat  : Pritham Kishordas, Asok P. Nanwani 

Wakil Kornas  

Seva : Narehs 

 

Logo 

Logonya berupa Stuva Sarva Dharma, yang 

melambangkan nilai-nilai kemanusiaan (human values). 

Lambang itu menunjukkan lima aspek dasar nilai 

kemanusiaan: sathya, dharma, prema, shanti, dan ahimsa. 

Nilai-nilai ini  merupakan landasan segala agama, tiang-

tiang berdirinya segala rumah kepercayaan. 

Di atas stupa ada  bunga teratai yang berada 

dalam lumpur yang kotor, namun  bunganya berada diatas air, 

di udara bersih. Air kotor tidak melekat pada daun dan 

bunganya, namun  bergulir jatuh. Lambangini mengqiaskan 

bahwa manusia harus hidup seperti bunga teratai, hidup 

dalam dunia, namun  tidak terikat pada dunia kebendaan, 

melainkan menjalankan suatu kehidupan kerohanian murni 

diatas keduniawian.  


Lambang bunga teratai, berdiri di atas sembilan 

lapisan tangga, setiap tangga melambangkan langkah dalam 

perjalanan ziarah manusia, menuju persatuannya dengan 

Tuhan. 

 

Aktivitas/Kegiatan 

Kegiatan yang dilaksanakan oleh SSGI meliputi tiga 

bidang, yaitu bidang spiritual, bidang pendidikan serta 

bidang pengabdian dan pelayanan warga , antara lain: 

1. Kegiatan bidang Spiritual antara lain  meliputi doa 

bersama dengan meditasi, kidung suci (Bhajan), dan 

sadhana spiritual lainnya. Di SSGI kegiatan spiritual 

diadakan dua kali seminggu yaitu hari Kamis jam 18.30 – 

20.00 WIB, dan hari Minggu jam 6.30 – 8.00 WIB, 

bertempat di Sai Center Jl Pasar Baru Selatan no 26 Jakarta 

Pusat. Acara kegiatan spiritual dimulai dengan meditasi 

cahaya, kemudian menyanyikan kidung suci (bhajan) lebih 

kurang selama 2 jam, bahasa yang dipakai yaitu  bahasa 

Sanskerta dan bahasa Inggris, kemudian dharmawacana 

dalam bahasa Inggris, dan terakhir pengumuman-

pengumuman. Dalam pelaksanaan meditasi dan kidung 

mereka duduk bersila, yang laki-laki duduk di sebelah 

kanan, dan perempuan di sebelah kiri. Antara laki-laki dan 

perempuan dibatas dengan seutas tali. Yang 

menyampaikan ceramah siapa saja yang dianggap mampu 

dari para bakhta baik laki-laki, maupun perempuan, baik 

orang tua maupun remaja. Di SSGI tidak dikenal adanya 

pendeta atau pimpinan rohani. Pada waktu peneliti 

mengikuti acara di bidang spiritual diikuti lebih kurang 

100 orang peserta, yang sebagian besar terdiri dari kaum 

perempuan. Nyanyian diiringi oleh tabuh-tabuhan alat 

musik yang terdiri dari rebana, gendang dan tala, seraya 

bertepuk tangan mengikuti irama lagu. sesudah  itu 

dilakukan “ARATHI” (membakar kanver dengan gerakan 

berputar-putar) dan abunya dioleskan ke dahi para peserta 

dan ditiup, sambil  membagi bagikan gula batu dan 

potongan-potongan kelapa kepada para peserta Bhajan 

(Pembacaan kidung pujaan terhadap Tuhan). Pada hari 

minggu sesudah  bhajan dilanjutkan dengan  study circle 

(duduk melingkar) mempelajari ajaran-ajaran Sai Sri 

Sathya Sai Baba. 

2. Kegiatan bidang pendidikan, antara lain meliputi 

pendidikan anak-anak, pendidikan remaja dan pemuda, 

pendidikan nilai-nilai kemanusiaan untuk orang dewasa 

dan orang tua dan lain-lain. Kegiatan pendidikan anak-

anak dilakukan setiap hari Jumat. Melalui Yayasan 

Pendidikan didirikan sekolah Insan Teladan di Parung, 

yang kesemua muridnya beragama Islam, demikian juga 

para gurunya. Sekolah ini tidak memungut biaya kepada 

murid-muridnya, bahkan setiap murid diberikan pakaian 

seragam dan buku-buku secara gratis. 

3. Kegiatan bidang pengabdian dan pelayanan warga , 

antara lain meliputi pemeriksaan kesehatan, donor darah, 

bantuan korban bencana alam, pelayanan dan kunjungan 

ke rumah sakit, panti asuhan, panti jompo, dan bantuan 

atau pelayanan lainnya. Setiap minggu di Balai 

Pengobatan dan Sai Centre diadakan pelayanan kesehatan 

secara gratis. Di Sai Centre setiap minggunya melayanai 

200 orang pasien dan di Cilincing melayani 150 orang 

pasien. Di Cilincing selain hari minggu juga diadakan 

setiap hari rabu sore, sedang  pada hari minggu 

dilangsungkan antara jam 8.30 sampai jam 11.30 WIB. 

Umumnya para pasien merupakan pasien tetap, 

kebanyakan penyakit yang diderita yaitu  tekanan darah 

tingga dan penyakit gula. Pak Supardi yang berasal dari 

Kemayoran telah berobat di klinik ini  selama 4 tahun, 

dan dia mengidap penyakit gula. Dia merasa tertolong 

dengan adanya klinik ini , sebab  dapat berobat 

secara gratis, dengan persyaratan yang sangat mudah, 

yaitu cukup membawa KTP, sedang  di Cilincing 

disamping harus membawa KTP harus membawa surat 

pengantar dari Ketua RT. 

 

Beberapa Ajaran Pokok Sai Baba 

sebab  Sai Study Group negara kita  bukan organisasi 

keagamaan namun  organisasi yang bersifat sosial spiritual, 

maka tidak nampak konsep ketuhanan yang mereka 

kembangkan. Mengingat Sai Baba yaitu  penganut agama 

Hindu, maka banyak ajarannya yang dia kembangkan 

diinspirasi oleh ajaran dari kitab Weda. Konsep ketuhanan 

sesuai dengan agama yang dianut oleh para bhaktanya.  

sebab  sebagian besar para bhakta beragama Hindu 

maka  corak Hindu masih tampak terlihat. Hal ini terlihat 

dalam AD disebut sebagai dasar di antaranya Weda-

sanathana dharma, yang merupakan kitab suci agama Hindu. 

Di depan center ada  patung Ganesha, dan sebelum pintu 

masuk ada  tulisan Sri Sai Sathya Mandir. Mandir 

merupakan bahasa  India, kalau dalam bahasa negara kita  

disebut pura.  

Dalam Sai Study Group ada  beberapa ajaran Sai 

Sri Sathya Sai Baba, di antaranya lima pilar yang sangat 

ditekanankan dan diajarakan kepada semua bakhta. 

Pancapilar itu yaitu :  Kebenaran (Sathya), Kebajikan 

(dharma), Kasih Sayang (Prema), Kedamaian (Shanti), Tanpa 

Kekerasan (Ahimsa). Orang yang hidup di jalan Sai akan hadir 

sebagai pribadi yang bijaksana  Penuh Kasihsayang kepada 

sesama, dimana wacananya selalu menyampaikan Kebenaran, 

tindakannya selalu mencerminkan Kebajikan, perasaannya 

selalu dipenuhi Kedamaian dan pandangannya selalu 

menyiratkan sikap Tanpa Kekerasan. Diantara lima pilar kasih 

sayang merupakan pilar yang utama yang menyinari empat 

pilar lainnya. 

Selain lima pilar ini , juga diajarkan Sembilan 

pedoman perilaku yang harus diamalkan oleh bhakta, antara 

lain:  

1. Bermeditasi dan bersembahyang atau berdoa setiap hari 

2. Menyanyikan kidung suci (bhajan) dan bersembahyang 

atau berdoa dengan seluruh anggota keluarga sekali 

seminggu. 

3. Berpartisipasi dalam program pendidikan untuk anak-

anak yang diadakan oleh organisasi 

4. Mengikuti acara kidung suci (bhajan) dan doa  bersama 

yang dilakukan di center-center kegiatan organisasi,  

sekurang kurangnya satu kali dalam satu bulan. 

5. Berpartisipasi dalam kegiatan pelayanan kewarga an 

dan program lainnya yang dilaksanakan  oleh organisasi 

Sai. 

6. Mempelajari wacana-wacana Sad Guru Bhagawan Sri 

Sathya Sai Baba secara teratur. 

7. Berbicara Lemah lembut penuh kasih kepada siapapun 

8. Tidak membicarakan keburukan orang lain, baik pada saat 

orangnya hadir, terlebih lagi saat  orang ini  tidak 

ada. 

9. Menjalankan kehidupan “membatasi keinginan” dan 

menggunakan tabungan dari hasil pengendalian keinginan 

ini  untuk pelayanan kemanusiaan. 

Pada prinsipnya, 9 pedoman prilaku yaitu  hadiah 

yang diberikan oleh Bhagawan kepada kita semua agar dapat 

lebih mudah menerapkan ajaran Bhagawan serta 

menyelamatkan kita dari pengaruh buruk jaman kali. Dengan 

menerapkan 9 pedoman prilaku berarti seseorang sudah 

menjalankan sadhana individu, keluarga, warga  dan 

organisasi.  

Selain lima pilar dan sembilan pedoman perilaku, para 

bakhta juga diharapkan melaksanakan sepuluh prinsip hidup, 

antara lain: