Tolak ketuhanan Isa 2
akan saya sudah menjadi juara
munafiq dan pekerjaan itu merupakan kepalsuan akhlak.
Apa tujuan yang sebenarnya ingin dicapai pendeta Rev. Roberts dalam membacakan kitab sucinya kepada saya?
Memang benar, saya mendapatkan "diskon khusus" dari semua kitab yang saya beli dari toko buku itu, dan mungkin saya satu-
satunya orang non Masehi yang mendapatkan diskon seperti itu. Dari ciri-ciri pakaian dan jenggot saya, dia tentu tahu bahwa
saya seorang muslim. Meskipun saya telah diberinya diskon terhadap semua buku-buku yang saya beli tapi tetap saja dia belum
bisa merubah saya menjadi seorang Nasrani.
Dengan lemah lembut dan berusaha bijak bestari, sang direktur yarig pendeta itu membacakan beberapa ayat Injil kepada saya
untuk mengetahui reaksi saya. Rupanya ia tidak tahu bahwa saya sudah mengetahui semua teks-teks yang indah itu sejak lama.
Malah akhirnya ia heran, mengapa hingga kini saya belum juga menganut agama Masehi?
Selama ini pendeta yang sopan itu telah bertindak sebagai guru yang ingin mengajar dan membantu muridnya mengetahui lebih
dalam. Oleh karena Nabi Saw kita memerintahkan kepada kita dalam sabdanya: "Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang ke
lahad!"
"Tuntutlah ilmu meskipun ke negeri Cina!"
Sebagai umat Muhammad Saw saya amat bersemangat untuk belajar. Maka saya berkata, "Saya sependapat dengan semua yang
telah anda bacakan kepada saya. Tetapi saya menemukan problem dengan kitab suci anda."
Ia bertanya, "Problem apa kiranya yang menyulitkan anda?" Saya menjawab, "Saya harap anda membaca Injil Lukas 3:23!"
Maka ia pun melakukannya.
Saya berkata lagi kepadanya, "Tolong anda bacakan kepada saya!" la pun membacanya.
"Ketika Yesus memulai pekerjaannya, la berumur kira-kira tiga puluh tahun dan Dia (menurut anggapan orang) yaitu anak
Yusuf, anak Eli." (Lukas 3:231)
Saya perlihatkan kepada pendeta itu kalimat yang diberi kurung: (menurut anggapan orang). Lalu saya bertanya kepadanya,
"Apakah anda melihat kalimat yang diberi kurung itu?"
15
Ia menjawab, "Ya, saya melihatnya!" Lalu saya tanyakan kepadanya, "Kenapa ada kalimat yang berkurung di situ?" Lantas ia
mengakui dan berkata, "Saya tidak tahu pasti, tetapi saya akan menanyakannya kepada salah seorang ahli kitab suci."
Saya heran dengan kerendahan hatinya. Padahal menurut saya, semua direktur Lembaga A1 Kitab di Afrika Selatan berasal dari
pensiunan pendeta. Akhirnya saya berkata kepadanya, "Baiklah, kalau anda tidak tahu, ijinkanlah saya yang akan
memberitahukan kepada anda mengenai alasan diberinya kalimat yang berkurung itu. Tidak usahlah anda bersusah-susah
menanyakannya kepada ahli kitab suci."
Saya lalu menjelaskan hal itu kepadanya. Dalam "manuskrip" Injil Lukas "yang lebih kuno" tidak ada kalimat "(menurut
anggapan orang)". Sebenarnya ini hanya pekerjaan penerjemah Injil yang merasa bahwa tanpa adanya tambahan (penjelasan)
yang asing ini, dikhawatirkan "domba-domba kecil"1 yang belum kuat benar imannya; akan tergelincir dalam keyakinannya,
bahwa Yusuf si tukang kayu itulah bapak yang sebenarnya dari Yesus. Dengan alasan itulah, mereka memberikan tambahan
penjelasan pribadi dan diberi kurung agar jangan sampai terjadi kesalah-pahaman.
Selanjutnya saya menambahkan, "Sebenarnya saya tidak ingin mencari-cari kesalahan dalam cara atau sistem kalian dalam
menambah kalimat di antara kurung itu untuk membantu para pembaca yang masih awam."
"Tetapi yang membuat saya heran ialah karena dalam seluruh penerjemahan kitab suci ke dalam bahasa Afrika dan bahasa Timur
lainnya, kalian telah membiarkan kalimat "menurut anggapan orang." dan telah menghilangkan kedua kurungnya itu. Kalau
begitu tidak mungkinkah bangsa-bangsa di seluruh dunia ini (selain Inggris) tidak memahami arti dan tujuan dari kedua kurung
itu?"
Saya melanjutkan pembicaraan lagi, "Apa jeleknya orang-orang yang berbicara bahasa Afrikaans? Kenapa kalian menyingkirkan
kedua kurung itu dari Injil terjemahan ke bahasa Afrikaan, sedang kalimatnya masih tetap?"'
Mendengar uraian saya itu, sang Direktur yang pendeta itu langsung memprotes, "Saya, tidak melakukannya."
Saya lalu menjawab lagi, "Saya tidak menuduh anda. Tetapi kenapa lembaga Al Kitab yang anda wakili dan para ulama kitab
suci berani main-main "dengan firman Allah"2 Bila Allah yang Maha Kuat tidak merasa perlu melindungi Lukas dari kesalahan3
lantas apa orang lain mempunyai hak untuk menambah atau menghilangkan suatu kalimat dari "kitab Allah"? Atas dasar hak apa
kalian membuat atau memalsukan "kalimat-kalimat Allah"?
Ada kemungkinan kalimat-kalimat tambahan yang diletakkan di antara dua kurung itu, jika kedua kurungnya diangkat, maka
akan dikatakan orang sebagai keterangan dari Lukas juga. Karena dalam penyusunan Injilnya, ia mendapat ilham dari Allah. Oleh
karena itu pemalsuan yang disusupkan pada teks-teks yang asli itu dengan sendirinya akan menjadi firman Allah juga.
Akhirnya saya sudahi uraian saya dengan kata-kata di bawah ini:
"Sesungguhnya ulama-ulama ketuhanan modern dewasa ini telah berhasil gemilang. Sementara ahli kimia jaman dahulu telah
gagal merubah logam yang murah menjadi emas yang berkilau-kilauan."
Dalam perbincangan ini, sang pendeta mengalihkan pembicaraan, ke luar dari pokok pembicaraan semula. sehingga membuat
saya berkata, "Hati-hatilah tuan, tampaknya orang Inggris sudah banyak yang tidak mengetahui bahasanya sendiri."
Dia membalas perkataan saya dengan tajam dan cepat. Katanya, "Apakah dengan begitu, anda bermaksud mengatakan bahwa
anda lebih memahami bahasa saya daripada diri saya sendiri?"
Saya menjawab, "Sungguh tidak tahu malu saya, kalau saya mengatakan kepada orang Inggris, bahwa saya lebih memahami
bahasanya."
Ia bertanya lagi, "Lalu apa yang anda maksud dengan perkataan "tampaknya orang-orang Inggris sudah banyak yang tidak
mengetahui bahasanya sendiri"?"
Saya mengulangi peringatan saya sekali lagi, "Hati-hatilah tuan, kalian membaca kitab suci dengan bahasa ibu kalian seperti yang
dilakukan semua kaum Masehi yang terdiri dari ribuan bahasa dunia. Meskipun begitu, tampaknya setiap kelompok bahasa
Masehi memahami bahwa suatu hakikat bertolak belakang dari apa yang dibacanya."
Pendeta itu bertanya lagi, "Maksud anda bagaimana?"
Saya melanjutkan pembicaraan, "Apakah anda ingat peristiwa ketika Yesus muncul kembali, sesudah disebarluaskan
pengumuman seolah-olah ia telah disalib. la muncul sambil berkata kepada murid-muridnya, "Damai sejahtera bagi kamu!"
16
Mereka terkejut dan takut. Mereka menyangka bahwa mereka melihat hantu." (Lukas 24:36)
Mendengar perkataan itu, sang direktur Lembaga A1 Kitab itu menyatakan ingat terhadap peristiwa itu.
Lalu saya bertanya, "Apa yang membuat mereka (para murid) takut? Jika seseorang melihat temannya datang, seharusnya ia
memberikan reaksi yang wajar dan normal. Menunjukkan rasa bahagianya yang luar biasa. Malah biasanya ada yang
menyambutnya dengan peluk cium yang mesra. Tapi mengapa murid-murid Yesus itu malah takut metihat gurunya datang?!"
Sang pendeta menjawab, "Karena mereka (para murid) menyangka bahwa mereka melihat hantu."
Saya bertanya lagi, "Apakah Yesus menyerupai hantu?" Dia menjawab, "Tidak!"
Saya bertanya lagi, "Kalau begitu, mengapa mereka menyangka melihat hantu, jika selama ini Yesus tidak menyerupai hantu?"
Tampaknya pendeta itu mendapat kesulitan besar. Aku berkata lagi, "Ijinkanlah saya menafsirkan hal itu kepada anda."
Lantas saya berkata kepadanya, "Hati-hatilah, tuan, sesungguhnya murid-murid Almasih itu bukan saksi mata (eyewitnesses) atau
saksi dengar (ear-witnesses) atau saksi peristiwa hakiki yang terjadi selama tiga hari yang lalu seperti yang diuraikan Markus,
bahwa dalam situasi yang paling berbahaya dan paling sulit dalam kehidupan Yesus: "Lalu semua murid itu meninggalkan Dia
dan melarikan diri." (Markus 14:50)4
Jadi, semua berita yang diketahui murid-murid itu tentang Yesus diperoleh dari desas-desus5 yang mengatakan, bahwa dia disalib
dan mereka mendengar dia sudah menghembuskan napas terakhirnya. Mereka juga mendengar bahwa dia sudah dikubur selama
tiga hari. Orang yang dijejali berita semacam ini6 tidak heran kalau mereka berkesimpulan seperti melihat hantu. Maka tidak
mengherankan kita bila kesepuluh muridnya yang pemberani itu kaget dan terperanjat ketika melihat Yesus kembali.
"Untuk menghilangkan salah paham dan rasa. takut yang mengganggu mereka, Yesus mengajak mereka menggunakan akal
sehat, ucapnya, "Lihatlah tanganKu dan kakiKu: Aku sendirilah ini." (Lukas 24:39)
Dalam bahasa kita Yesus berkata kepada mereka, "Wahai, kawan-kawan! Kenapa kalian tampak gelisahdan ketakutan. Tidakkah
kalian melihat, bahwa aku ini yaitu gurumu yang selalu berjalan bersamamu, yang selalu berbincang-bincang denganmu dan
memecahkan roti bersamamu. Aku ini orangnya dengan tubuh dan darahnya dari semua. sisinya. Apa yang membuat pikiran
kalian berubah dan ragu-ragu?"
"Rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat." (Lukas 24:39)
Atau dengan kata lain, Yesus seolah-olah berkata kepada mereka, "Kalau aku mempunyai daging dan tulang, maka dengan
sendirinya aku bukan hantu, mayat, atau roh!"
Saya bertanya kembali kepada pendeta itu, "Apakah uraian ini benar?"
Ia menjawab, "Ya, benar!"
Selanjutnya aku berkata, "'Sesungguhnya Yesus memberitahukan kepada kalian seperti yang tertera dalam nasnya dengan jelas
dan dengan bahasa yang sangat sederhana, bahwa tubuh yang diminta kepada murid-muridnya untuk diraba dan dilihat itu bukan
tubuh yang "diperbaharui". Juga bukan tubuh yang dirubah dan yang dibangkitkan. Tubuh yang dibangkitkan dari mati ialah
tubuh rohani (Spiritualized body). Dia menjelaskan kepada mereka dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami bahwa
dia tidak seperti yang mereka duga. Murid-muridnya mengira bahwa dia yaitu roh. Bahwa dia yaitu tubuh yang dibangkitkan
ke dalam kehidupan setelah dari kematian. Tetapi Yesus dengan tegas dan jelas mengatakan bahwa dia tidak demikian."
Mendengar uraian itu, sang pendeta bergumam. Tiba-tiba ia bertanya, "Namun apa yang membuat anda yakin bahwa tubuh yang
dibangkitkan dari mati tidak akan dapat menjelma sebagai tubuh materi (materialize physically), seperti yang dilakukan Yesus
dengan jelas?"
Saya menjawab, "Karena Yesus sendiri yang mengatakan bahwa tubuh yang dibangkitkan dari mati berubah ke alam rohaniah."
Sang pendeta masih bertanya lagi dengan hati yang belum puas, "Kapan Yesus mengatakannya?"
Saya menjawab, "Anda masih ingat peristiwa yang dicatat dalam Injil Lukas 20:17 ketika Yesus didatangi ahli-ahli Taurat yang
sudah tua-tua. Mereka mengajukan berbagai pertanyaan sulit dan pelik kepadanya. Antara lain tentang wanita Yahudi yang kawin
17
dengan tujuh orang lelaki silih berganti, sesuai dengan adat Yahudi8. Setelah beberapa lama kemudian, meninggallah ketujuh
orang suami dan istrinya itu?"
Sang pendeta mengatakan, "Ya, saya ingat!"
Saya lanjutkan perkataan saya, "Adapun perangkap yang dipasang untuk Yesus oleh ahli-ahli Taurat dan tua-tua itu yaitu untuk
menggelincirkan Yesus lewat pertanyaan ini:
"Siapakah di antara orang-orang (suami yang tujuh) itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan?" Mereka sudah
menghujah Yesus, bahwa "wanita itu yaitu istri dari tujuh orang (semuanya)" Sewaktu mereka menunaikan tugasnya masing-
masing untuk mendapatkan anak keturunan dari wanita itu memang tidak menemukan masalah apa-apa, karena mereka semua
yaitu suaminya. Hal ini dilakukan silih berganti karena mereka masing-masing mengawini wanita itu setelah suaminya
meninggal dunia. Namun pada hari kiamat, ketika ketujuh suami itu dihidupkan bersama-sama, akan terjadi persengketaan hebat
di langit. Mereka masing-masing ingin memiliki bekas istrinya, apalagi kalau mereka merasa mendapatkan kepuasan yarig
mengesankan dari si istri sewaktu mereka hidup bersama dahulu."
"Yesus berhasil menelanjangi kepalsuan pandangan mereka tentang kiamat dari mati. Dia berkata kepada mereka, bahwa pada
hari kiamat dari mati "mereka tidak dapat mati lagi". (Lukas 20:36) Ini berarti, orang yang dibangkitkan dari mati akan hidup
kekal (immortalized). Mereka tidak akan mati lagi. Mereka tidak akan merasa lapar, haus dan letih. Walhasil, semua senjata maut
tidak akan mampu menewaskan tubuh yang sudah dibangkitkan dari mati. Selanjutnya Yesus menafsirkan dalam sabdanya,
"Mereka (tubuh yang dibangkitkan dari mati itu) sama seperti malaikat." Ini berarti pembawaan mereka akan berubah yaitu ke
alam malaikat, alam rohaniah. Mereka akan menjadi makhluk rohaniah (artinya roh-roh). "Mereka sama seperti malaikat-
malaikat dan mereka yaitu anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan." (Lukas 20:36)
Sang pendeta kemudian bertanya lagi dengan pertanyaannya yang menantang, "Namun, apa yang membuat anda begitu yakin...?"
Pertanyaannya telah mengeluarkan saya dari pokok pembicaraan yang tengah saya uraikan. Saya lanjutkan perkataan saya tadi,
"Dia tidak demikian, seperti yang mereka sangka. Dia tidak berubah jadi roh, hantu atau mayat. Agar lebih jelas, ia
memperlihatkan tangan dan kakinya untuk diteliti dan diamati untuk membuktikan bahwa tubuhnya masih tetap sepeiti yang dulu
(material physical body) dan untuk menghilangkan kegelisahan dan keraguan mereka yang tidak beralasan. Setelah itu ia
bertanya kepada mereka, "Adakah padamu makanan di sini?" (maksudnya, sesuatu yang bisa dimakan). "lalu mereka
memberikan kepadaNya sepotong ikan goreng (dan sarang madu sedikit9). Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata
mereka10." (Lukas 24:41-43)
Lantas apa yang ingin dibuktikan Yesus dengan semua yang dilakukannya itu, yaitu dengan memperlihatkan kedua tangan dan
kakinya dan menyuruh mereka merabanya. Yesus juga meminta makanan dan mengunyah ikan goreng dan sarang madu yang
mereka berikan (di hadapan mereka)?
Apakah kata-kata dan peragaannya itu hanya sekedar sandiwara atau permainan komedi semata?
Untuk lebih jelasnya, baiklah, sekarang kami akan mengetengahkan jawaban yang diberikan oleh F. Schleiermacher11 pada
tahun 1819. Ia menjawab, "Tidak!"
Ia mengucapkan jawaban itu seratus tahun yang lalu, sebelum saya dilahirkan. Tuan Albert Schweizer mengabadikan kata-
katanya sebagai berikut: "Kalau Yesus hanya makan untuk membuktikan bahwa ia bisa makan, padahal ia tidak benar-benar
butuh makanan. Tentu hal itu hanya suatu sandiwara semata dan hanya suatu Docetic12.
Ketika saya berbincang-bincang mengenai masalah ini dengan direktur Lembaga Alkitab, saya belum tahu sedikitpun tentang F.
Schleiermacher dan para ulama Masehi lainnya yang juga meragukan kematian Yesus di atas kayu salib. Hal ini juga diabadikan
oleh Albert Schweizer dalam bukunya yang berjudul "In Quest of the Historical Jesus", page.64.
Apa yang membuat umat Masehi ragu-ragu? Bukankah Yesus sudah memberitahukan kepada kalian dengan berbagai gaya
bahasa yang jelas. Malah lebih dijelaskan lagi dengan sebuah peragaan, untuk membuktikan bahwa dia yaitu manusia
seutuhnya, bukan roh dan belum berubah ke alam rohaniah, dan bahwa dia bukan manusia yang dibangkitkan dari kematian. Tapi
biarpun begitu, seluruh alam Masehi tetap meyakini bahwa Yesus telah dibangkitkan dari kematian (Yang saya maksud ialah ia
telah berubah ke alam rohaniah).
Lalu siapa yang telah berbohong, kalian atau dia?
Bagaimana mungkin kalian (semua umat Masehi) membaca kitab suci kalian dengan bahasa ibu kalian meskipun mereka dan
18
semua kelompok bahasa telah dipersiapkan untuk memahami kebalikan dari yang mereka baca?!
Kalau anda membaca kitab suci anda yang berbahasa Ibrani, misalnya, lalu anda mengatakan kurang paham dengan apa yang
anda baca, kemungkinan saya bisa menerima alasan itu. Begitu pula jika anda membacanya dalam bahasa Yunani, lalu anda
mengatakan tidak paham benar maksud dan tujuan yang ditulis. Hal itu mungkin bisa saya terima dengan baik. Tetapi tampaknya
dalam diri kalian sudah ada perlawanan terhadap kaidah ketika kalian membaca kitab suci sekalipun dengan bahasa ibu kalian.
Kalian juga sudah terlatih dalam memahami kebalikan dari apa yang tertulis. Kalau sudah begitu, bagaimana caranya mencuci
otak kalian? Atau seperti yang dikatakan bangsa Amerika: Bagaimana caranya memprogram kalian?
Kalau begitu, saya mohon dengan sangat, supaya kalian memberitahukan kepada saya, siapa yang berbohong, Yesus atau seribu
juta umat Masehi di dunia ini?
Yesus mengatakan: "Tidak!", tentang kebangkitannya dari kematian. Sedangkan kalian semua mengatakan: "Ya!"
Kalau begitu siapa yang patut dipercaya oleh kaum Muslimin, Yesus atau orang-orang yang mengaku muridnya itu?
Kita sebagai kaum Muslimin sudah jelas akan mempercayai gurunya daripada muridnya. Bukankah Yesus sendiri mengatakan,
"Seorang murid tidak lebih daripada gurunya." (Matius 10:24)
Demikianlah perbincangan saya dengan direktur Lembaga Alkitab Durban. Hasilnya ternyata lebih dari yang saya harapkan. Tapi
akhirnya pendeta itu mengakhiri percakapan dengan sopan sambil meminta maaf dan meminta ijin untuk berpisah dengan alasan
toko bukunya akan segera tutup. Dia berharap dapat bertemu lagi dengan saya, tapi tampaknya ia melarikan diri dari pembicaraan
itu walaupun dengan cara yang sopan.
Saya berharap pembaca yang budiman dapat menyingkirkan sarang laba-laba yang direntangkan pada akal anda yang dapat
mengacau pikiran anda dalam masalah "penyaliban". Jika anda dapat memahaminya maka hal ini akan merupakan hadiah besar
untuk saya.
"Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada
mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!" Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Tetapi Ia berkata
kepada mereka, "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tanganKu dan
kakiKu: Aku sendiri ini; rabahlah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada
padaKu." Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kakiNya kepada mereka. Ketika mereka belum percaya karena
girangnya dan masih heran, berkatalah 1a kepada Mereka: "Adakah padamu makanan di sini?" Lalu mereka memberikan
kepadaNya sepotong ikan goreng (dan sarang madu sedikit)13.
Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka". (Lukas 24:36-43).
01. Dalam bicaranya. Ahmed Deedat menggunakan kata (little lambs) seperti yang digunakan Yesus dalam mengisyaratkan
para pengikutnya. Yesus berkata, "Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala." (Lukas 10:3)
Mungkin yang dimaksud penulis dengan "domba-domba kecil" ialah para pengikut yang baru (penerjemah).
02. Dalam transkript bahasa Arab keluaran Lembaga A1 Kitab di Timur Tengah kalimat "(menurut anggapan orang)" tetap
ada, tapi kedua kurungnya sudah dihilangkan. Begitu pula dalam transkript bahasa Indonesia keluaran Lembaga A1
Kitab Indonesia, Jakarta, 1977.
03. Kaum Masehi berkeyakinan bahwa semua Injil yang sah itu ditulis oleh para "murid" dengan wahyu dari Roh Kudus.
Namun berdasarkan bukti ilmiah terbukti bahwa keempat injil yang dikatakan sah dewasa ini, tidak satu pun yang
ditulis oleh kedua belas murid pilihan Yesus! (Baca Encyclopedia Britanica, V-3, P. 573; V-13, P.83; V-14, P. 911 dan
912).
04. Injil Mateus dalam hal ini lebih jelas. Ujarnya. "Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri." (Matius
26:56)
05. Lukas meyakinkan hal itu pada pembukaan Injilnya. Ujarnya, "...Seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka
yang dari semula yaitu saksi mata dan pelayan firman." (Lukas 1:2)
06. Lukas juga meyakinkan kita bahwa murid-murid itu tidak percaya ketika mendengar desas-desus yang disebarluaskan
orang tentang gurunya. Ujarnya, "Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong-kosong dan mereka
tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu. Sungguhpun demikian Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur
itu. Ketika ia menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain kafan saja. Lalu ia pergi, dan ia bertanya dalam hatinya apa
yang kiranya telah terjadi." (Lukas 24:11-12) Memang aneh bin ajaib, bagaimana mungkin mereka merasa heran,
padahal Guru mereka sudah meramalkan dan memberitahukan hal yang diherankan oleh mereka itu?!
07. Lihat Lukas 20:1
08. Lihat Ulangan 25:5-10
09. Dalam Lukas 24:43, (dan sarang madu sedikit) terjemahan dalam bahasa lndonesia, keluaran Lembaga Alkitab
Indonesia, ]akarta, 1977, ditiadakan!
19
10. Dalam terjemahan Inggris katolik salinan dari naskah bahasa Vulgar latin, ada tambahan sebagai berikut: "And
when he had eaten in their presence he took what remained and gave it to them." Kalimat inipun dalam terjemahan
bahasa Indonesia tidak ada!
11. F. Schleirmacher, salah seorang ulama kitab suci dan penemu teori tentang sumber-sumber Injil yang empat.
Diketengahkan pada tahun 1832 M. "Dia memperkirakan adanya kumpulan kecil tulisan atau fragmen. Dari sanalah
para pengarang lnjil menulis Injilnya. (Fragments hypothesis)
12. Docetic berasal dari Docetism, yaitu suatu paham, bid'ah dalam agama. Paham ini bertentangan dengan aliran yang
resmi sejak abad kedua Masehi. Ia mengatakan bahwa tubuh Almasih itu hanya seperti hantu (semblance), maya
(phantom) atau benda semacam ether (etheral substance). Kata itu berasal dari bahasa Yunani, "dokesis", artinya maya,
hantu atau dokeein (to seem), berarti: tampaknya. Maksudnya ialah sesuatu yang disebutkan tentang atau yang
dinasabkan kepada orang yang berbicara dengan kata-kata bid'ah itu.
13. Kalimat yang diberi dua kurung di atas: (dan sarang madu sedikit), sudah dibuang dari naskah versi standar yang
diperbaiki (Revised Standard version) dari Kitab Suci dan dari berbagai terjemahan lain dalam bahasa Afrika. Kenapa?
Dalam buku kami yang akan segera diterbitkan: "Apakah Kitab Suci itu Firman Allah?", akan dijelaskan kepada Anda,
kenapa?
BAGIAN KELIMA : Siapa Ahmed Deedat? Seorang Dair Besar Dunia
Tak seorang pun yang menyangka, seorang bekas penjual garam di Afrika Selatan, berubah menjadi seorang da'i besar dunia.
Namanya melanglang buana setelah terjadi perdebatan antara dia dengan seorang pendeta tersohor di Amerika. Sehingga banyak
anak-anak muda Nasrani yang masuk Islam.
Sang da'iyah ini benar-benar menyadari akan apa-apa yang diucapkannya. Ia berbicara dengan
lemah lembut dan sopan santun. la memahami beberapa bahasa asing. Ia membaca ketiga kitab
suci agama samawi dengan mendalam, sehingga ia mampu menangkis serangan lawan terhadap
agama dan nabinya, bahkan terhadap pribadinya sekalipun.
Ia seorang da'i yang penuh tanggung jawab. Ia termasuk salah seorang yang benar-benar
memahami asal muasal dakwah Islam. Ia juga memiliki kemahiran dalam membawakannya.
Ahmed Deedat memiliki kisah unik sejak saat kelahirannya hingga saat kemasyhurannya. Inilah secercah kisahnya yang dikutip
dari harian "Asy Syarqul Ausath", Saudi Arabia.
Inilah perkenalan dan dialog dengan Ahmed Deedat.
Nama Saya Ahmed Husein Deedat. Saya dilahirkan di india dari kedua orang tua Muslim, yaitu Husein Kazim Deedat dan
Fatimah. Ayah saya bekerja sebagai petani dan ibu saya membantunya. Pada usia sembilan tahun, saya dibawa pindah ke Durban,
Afrika Selatan.
Kemudian ayah mengalihkan profesinya dari seorang petani menjadi seorang penjahit pakaian. Saya disekolahkan di Islamic
Centre di Durban untuk belajar Al-Qur'an dan hukum-hukum Islam lainnya.
Pada tahun 1934 saya berhasil menamatkan sekolah Ibtidaiyah. Pada waktu itu saya merasa bertanggung jawab untuk membantu
ayah. Akhirnya saya memutuskan untuk membuka toko menjual garam. lnilah tahap kehidupan yang cukup penting buat saya.
Kemudian saya pindah profesi bekerja di perusahaan pembuat perabot rumah. Di sana saya bekerja selama dua belas tahun.
Mula-mula sebagai supir, kemudian naik ke bagian pemasaran dan terakhir menjabat sebagai direktur perusahaan tersebut. Tetapi
saya tidak meninggalkan bangku sekolah. Dalam diriku seolah-olah ada dorongan batin yang mendorongku untuk terus belajar.
Kemudian saya melanjutkan ke fakultas Seni Negeri yang memuat materi pelajaran matematika dan ilmu manajemen perusahaan.
Saya tidak pernah melupakan bujuk rayu para penginjil kepada saya ketika saya masih berjualan garam. Setiap kali saya bertemu
dengan mereka untuk mendagangkan garam, mereka tak bosan-bosannya menawarkan agamanya kepada saya dan kepada rekan-
rekan lainnya yang muslim. Rupanya demikianlah cara dan kebiasaan mereka di sana.
20
Setelah itu, pada tahun 1949 saya pergi ke Pakistan untuk mencari uang yang lebih banyak lagi agar bisa membiayai dakwah
saya. Saya tinggal di Pakistan selama tiga tahun. Kemudian saya harus cepat-cepat kembali ke Afrika Selatan. Kalau tidak cepat-
cepat, maka ijin tinggal saya bisa dicabut, karena saya tidak dilahirkan di sana. Ini merupakan peraturan yang berlaku di sana.
Di Pakistan, saya menjabat sebagai direktur Perusahaan Tenun. Ketika saya kembali ke Durban saya juga menjabat direktur
perusahaan yang lama, yang pernah saya jabat sebelum pergi ke Pakistan. Demikianlah, saya mempersiapkan diri hingga tahun
1956 untuk menjadi seorang da'i.
Di mana titik perubahan yang hakiki dalam kehidupan tuan Deedat?
Sebenarnya titik perubahan yang hakiki dalam kehidupannya dimulai pada tahun 1940-an. Perubahan ini dimulai sejak kunjungan
delegasi Adam ke toko garamnya. Pada waktu itu mereka mengajukan pertanyaan tentang agama Islam. Pada waktu itu Deedat
belum sanggup menjawab, apalagi menangkisnya. Tapi dari kelemahan dan ketidak-berdayaannya itu, serta dari kegugupan dan
kebodohannya dia bangkit dan merasa dipacu untuk berpikir dan dengan segala daya membela agamanya.
Sejak itulah Deedat memutuskan untuk mempelajari kitab Injil dalam berbagai cetakan bahasa Inggris.
"Suatu kemujuran bagi saya, karena. ternyata saya mahir sekali berbicara dalam bahasa itu. Bahasa Inggris merupakan bahasa
resmi Afrika Selatan. Saya mempelajari semua kitab Injil dengan tenang dan mendalam, termasuk kitab Injil dalam bahasa Arab.
Sementara itu saya melakukan perbandingan terhadap berbagai Injil. Setelah saya merasa memiliki kesanggupan yang lumayan
untuk mengadakan dakwah Islam dan menghadapi serangan para penginjil itu, maka mulailah saya memutuskan untuk
menghentikan semua kegiatan perusahaan dan perdagangan saya. Ternyata Alhamdulillah, kini saya ridha benar dengan kegiatan
saya yang baru. Malah kini saya yang bertanya kepada mereka, dan banyak di antara mereka yang tidak berdaya dalam menjawab
pertanyaan saya!"
Selain delegasi Adam, apakah ada faktor lain yang mempunyai kesan mendalam di hati tuan Deedat?
"Ya!" Ada faktor lain yang tidak kalah berkesannya dengan delegasi Adam, dan itu selalu mengganggu pikiran saya. Ini terjadi
ketika saya bekerja di Pakistan. Ketika saya sedang mengatur barang dalam gudang, saya menemukan sebuah buku yang berjudul
"Idh harul Haq", ("Menampakkan Kebenaran") yang ditulis oleh Syaekh Rahmatullah A1 Hindi.
Buku ini menelanjangi sistem penjajahan Inggris di India. Penjajah itu berpendapat bahwa bahaya yang paling besar yang
dihadapinya selama ini yaitu dari agama Islam dan kaum Muslimin. Untuk menghadapi bahaya itu, penjajah Inggris menyusun
rencana yang cermat dan teliti. Mereka mencari cara untuk menghancurkan Islam, mempolarisasikan kaum Muslimin dan
mengkristenkan mereka. Dengan demikian, yang kemarin menjadi oposisi akan menjadi pendukung penjajahan Barat di India.
Maka dimulailah penggalakkan kunjungan para missionaris yang beragam. Mereka dibiayai secara besar-besaran untuk
menghapuskan semua ciri dan adat istiadat Islam dari kehidupan kaum Muslimin. Mahkota Islam berupa sorban dan jilbab sedikit
demi sedikit mulai berkurang baik di jalan-jalan kota maupun desa di India.
Para penginjil mulai berkeliaran dan berani mengadakan debat agama dengan kaum Muslimin guna membungkam mereka. Para
penginjil berani melakukan hal itu karena mereka tahu sebagian besar umat Islam memang tidak banyak mengetahui agamanya
sendiri. Seperti halnya saya sendiri ketika berhadapan dengan delegasi Adam. Akhirnya saya mulai memahami dan menyadari
cara kerja mereka dalam mengepung kaum Muslimin, baik di Afrika maupun di Pakistan.
Namun terkadang obat penyembuhnya ada di dalam penyakit itu sendiri. Dari buku itu ternyata saya mendapatkan pengetahuan
yang luas dan penting. Buku ini banyak berisi tentang perdebatan. Saya banyak memperoleh ilmu baru dari setiap kalimat yang
saya baca dalam buku itu. Kini saya benar-benar mempersiapkan diri dan mempelajari buku itu secara mendalam tentang tata
cara berdialog dan berdebat tanpa harus belajar di akademi atau lembaga khusus dan tanpa melakukan latihan.
Akhirnya, ternyata saya bisa berdebat dengan bapak gereja, ulama ketuhanan dan dengan tokoh-tokoh missionaris dunia. Dialog
dan perdebatan itu malah sudah menjadi hobby utama saya, sehingga semakin hari pengetahuan saya tentang agama Islam,
Masehi dan Yahudi makin kuat dan mantap. Dengan modal itulah saya berhadapan dengan siapapun yang ingin menemukan
kebenaran.
Anda berbicara tentang dialog dan perdebatan, tetapi anda belum berbicara tentang besarnya pengaruh buku. Bagaimana
kedudukan buku menurut anda, tuan Deedat?
Pada tahun empat puluhan saya menyusun buku kecil berjudul "Muhammad dalam Perjanjian Lama dan Baru". Buku ini tersebar
luas ke seluruh dunia dan dibeli oleh berbagai lapisan penganut agama-agama. Baru-baru ini saya juga telah menyusun buku
kecil dengan judul "Apakah Injil itu Firman Allah?"
21
Tuan Deedat, metode apa yang anda pakai dalam menyusun buku anda yang terakhir itu? . Saya mengikuti suatu metode yang
tidak digunakan oleh orang lain sebelumnya, yaitu dengan menggunakan nas-nas Injil sendiri dan menggugurkan masalah yang
sering dikatakan oleh para missionaris yaitu "injil yaitu firman Allah". Banyak kata-kata yang ada dalam Injil yang sulit
dipercaya dan diterima oleh akal. Selain itu di dalamnya banyak kata-kata yang menceritakan tentang "perzinaan" dan hal itu
tidak masuk akal bila dikatakan perkataan atau uraian seperti itu datang dari Allah.
Kita sudah berbicara tentang dakwah, dialog, debat dan penerbitan buku. Tetapi apa sebenarnya peran anda dalam upaya
mencerdaskan dan menyadarkan kaum Muslimin agar mereka tidak gugup dalam menghadapi serangan gencar dari para
missionaris?
Saya sudah berusaha mengadakan penyadaran melalui ceramah-ceramah dan pertemuan-pertemuan di seluruh negeri yang saya
kunjungi dan di semua universitas yang saya datangi. Saya sudah menghadiri perdebatan di Inggris, Irlandia, Amerika Serikat,
Kanada, Hongkong, Singapore, India, Zimbabwe, Mauritania, Malawi, Abu Dhabi dan Saudi Arabia. Di antaranya ada yang
dihadiri tidak kurang dari 30.000 hadirin.
Apa rencana anda untuk membangkitkan para da'i?
Saya sudah meyakinkan Mr. Fankar, salah seorang aktifis di pusat Dakwah Islam di Madras untuk membentuk bagian pembinaan
para da'i. Kami sudah mulai melatih para da'i sepanjang pantai selatan di sana. Pekerjaan ini dalam Ma'had itu akan berjalan
selama sepuluh tahun terus-menerus sampai memuaskan hati saya, sampai mereka kuat dan mampu mengemban amanat dakwah
dengan jujur dan ikhlas karena Allah semata. Kami lepaskan mereka untuk menyebarkan agama Allah ke seluruh dunia, baik ke
Timur maupun ke Barat demi melaksanakan perintah Allah Ta'ala, dengan penuh kejujuran dan kecintaan, sebagaimana dalam
firmanNya :
"Serulah (manusia) kepada jalan Robbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik..." (An Nahl: 125)
Saya melihat ada suatu kekuatan yang menyinari jiwa ragaku untuk mendorong dan menggerakkan diri dalam melangkah
mengikuti titah perintah Ilahi. Meskipun menderita tapi Islam telah melapangkan dadaku dalam menunaikan tugas besar ini.
Dalam Islam saya menemukan obat mujarab dan jawaban yang memuaskan dari berbagai kemelut yang terjadi di Afrika Selatan,
khususnya dalam masalah rasial, minuman keras, perjudian dan masalah lain yang amat merusak kemanusiaan. Islam menjunjung
tinggi anak Adam dan menjelaskan jalan-jalannya menuju hidayah dan jalan lurus yang diridhai-Nya. Itulah obat penawar satu-
satunya yang dapat memecahkan berbagai problema umat manusia dewasa ini.
Perdebatan anda yang paling tersohor yaitu ketika berhadapan dengan tuan Sowegart. Apakah selain itu, anda pernah
mengadakan perdebatan dengan tokoh Masehi lainnya?
Alhamdulillah, saya telah mengadakan perdebatan dengan 32 orang pendeta di berbagai tempat di dunia. Menurut saya, yang
paling tersohor yaitu perdebatan yang terjadi di gedung Albert Hall, London. Perdebatan ini dihadiri oleh orang banyak dengan
berbagai agama dan lapisan masyarakat. Hanya perdebatan saya dengan Sowegart lah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Apakah setelah perdebatan itu banyak orang yang masuk Islam?
Saya tidak tahu, apakah ada yang masuk Islam sesudah perdebatan itu atau tidak. Tetapi yang terpenting bagi saya yaitu agar
kaum Muslimin mampu menyebarkan dan membela akidahnya dan bisa menjawab tantangan para missionaris.
Sementara ini di sebagian dunia terdengar desas-desus bahwa tuan Deedat berpaham Qadiani dan berasal dari keturunan Yahudi.
Bagaimana sanggahan anda?
Pertanyaan ini sangat penting. Orang memang selalu menyebarkan desas-desus di sekitar pribadi Ahmad Deedat. Tetapi sasaran
utama dari desas-desus ini ialah agama kita. Buku-buku yang menyerang Islam banyak sekali. Kesalah-pahaman dan kepalsuan
yang dilontarkan ke alamat Islam tidak terbilang banyaknya. Mereka melihat bahaya terbesar atas keberadaan penjajahan mereka
di negara manapun akan datang dari Islam dan kaum Muslimin. Oleh karena itu, mereka rela mengeluarkan dana yang amat besar
untuk menghancurkan Islam. Kalau sekiranya Ahmed Deedat masih berdagang garam, apakah akan ada orang yang mengatakan
bahwa saya seorang Qadiani atau berasal dari Yahudi?
Saya mengatakan ini seperti yang saya maklumkan dalam pembicaraan saya di Abu Dhabi. Saya mengatakan bahwa saya seorang
muslim dan kedua orang tua saya yaitu muslim. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi juga bahwa
Muhammad Saw yaitu hambaNya dan rasulNya.
Mereka melancarkan serangan kepada saya karena saya sering berbicara tentang masalah Palestina dan keberadaan Yahudi di
22
sana. Karena itulah mereka melontarkan berbagai tuduhan palsu dan keji.
Lantas, bagaimana tentang Injil?
Injil berarti kabar gembira yang biasa dibawakan Yesus dan para penulis. Para penulis berita gembira itu mengabadikan
perjalanan yang dilakukan Yesus dalam menyampaikan berita gembira yang ada dalam Injil. Umpanya:
"Demikianlah Yesus berkeliling kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil, kerajaan sorga
serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan." (Matius 9:35)
"Pada suatu hari ketika Yesus mengajar orang banyak di Bait Allah dan memberitakan Injil." (Lukas 20:1)
Injil yaitu berita gembira yang banyak diulang-ulang. Tapi apa berita gembira yang disampaikan Isa itu?
Di antara 27 kitab Perjanjian Baru, kaum Masehi hanya mau menerima apa yang dibawa oleh Matius, Lukas, Markus, dan
Yohanes. Namun kita tidak menemukan Injil seperti yang ditulis oleh Isa sendiri.
Dengan sepenuh hati kami beriman bahwa apa yang dikatakan Isa Alaihissalam yaitu wahyu ilahi. Ia yaitu Injil dan berita
gembira kepada bani Israil. Menurut sejarah, sepanjang hidupnya Isa Alaihissalam tidak pernah menulis sepatah kata pun, seperti
juga ia tidak pernah memerintah kepada seseorang untuk menulis.
Lalu bagaimana menurut anda mengenai kerukunan agama yang senantiasa diselenggarakan antara umat Islam dan Masehi?
Untuk meninjau masalah ini terlebih dahulu perlu dipelajari dengan seksama dan dengan persiapan yang tepat.
Kaum Muslimin dan Masehi telah sepakat bahwa apa yang bersumber dari Allah melalui wahyu atau ilham wajib diabdikan pada
salah satu dari keempat tujuan ini. Mungkin untuk mengajari dasar ajaran dan akidah kita atau menegur kesalahan yang kita
lakukan, atau menyuguhkan apa yang benar kepada kita. Juga memberikan bimbingan kepada kita menuju jalan yang benar.
Berdasarkan hal itulah kita mempelajari berbagai tujuan ini dalam rangka untuk menyebarluaskan keadilan dan perdamaian di
dunia. Namun hal ini bisa dilakukan bila mereka konsekuen dengan hal-hal yang mereka putuskan atas diri mereka sendiri dalam
pertemuan di Tunis pada tahun 1974. Di situ mereka berjanji uatuk tidak menyebarkan para penginjil ke tengah-tengah kaum
Muslimin. Mereka juga berjanji bahwa kegiatan missionaris mereka hanya akan digalakkan di kalangan umat yang belum
menganut suatu agama, yang sedang menantikan adanya penerangan agama.
Seruan apa yang hendak anda sampaikan melalui harian "Asy Syarqul Ausath"?
Seruan itu akan saya tujukan kepada Al Azhar Asy Syarif yang mernikul beban terberat di seluruh dunia dalam menyiapkan para
da'i. Para da'i harus memahami benar pokok ajaran semua agama dan dapat menjawab dengan lancar semua pertanyaan dan
tantangan yang dilancarkan orang.
Selain itu juga para da'i harus dipersiapkan lebih efektif dan dibekali berbagai bahasa asing, terutama bahasa resmi tempat ia
"beroperasi". Selanjutnya saya serukan juga kepada lembaga-lembaga Islam agar lebih mengerahkan semangat secara jujur demi
mensukseskan dakwah dengan membekali diri pada dua ciri penting, yaitu:
Pertama, mempersatukan program dakwah dan menyadarkannya secara paralel agar semua lembaga yang ikut mendukung benar-
benar konsekuen dengan program itu.
Kedua, mempersatukan derap langkah. Jangan sampai ada orang atau lembaga yang bekerja hanya mengikuti selera dan
nafsunya. Semua harus bekerja sama dan berkompetisi dengan semangat ukhuwah, sehingga pekerjaan itu dapat berhasil dengan
baik dan mendatangkan daya guna yang maksimal.
Terakhir, perlu dipersiapkan suatu studi yang paripurna untuk seluruh kaum Muslimin di dunia, sehingga setiap orang (meskipun
ia berada di negrinya) dapat mengetahui apa yang diinginkan dan diperlukan saudaranya sedien dan seiman di bagian dunia
manapun juga. Selain itu perlu pula mengirimkan para peneliti yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan konsekuen. Juga perlu
mengirimkan delegasi pengajar karena mereka bisa diharapkan menjadi da'i Islam yang terbaik bila mereka selalu bersikap jujur.
23
BAGIAN KEENAM : Wawancara Ahmed Deedat dengan wartawan "Arab News"
Wawancara ini dilakukan oleh Faizah Amba. Dalam uraiannya ini Ahmed Deedat berbicara tentang peran wanita dalam Islam
dan tentang perdebatannya dengan Anis Syurrus, juga tentang Salman Rusydi. Inilah kesimpulannya:
A. Ahmed Deedat Bicara Tentang Peran "Wanita Dalam Islam"
Tanya:
Orang asing selalu memandang wanita Islam seolah-olah sebagai manusia yang dipaksa, tidak
memiliki hak apapun, hidup tertindas di bawah kekuasaan laki-laki. Salah satu contoh yang
mereka kemukakan ialah laki-laki diperkenankan kawin dengan empat orang wanita?
Jawab: Hati-hatilah! Orang Islam tidak adil dengan para istrinya. Tampaknya kita telah
menyimpang dalam perangai dan budaya kita yang jauh dari ajaran Islam. Kita telah melakukan
kezaliman. Sudah tentu dalam hal ini orang Islam yang berbuat kezaliman, bukan agama Islam!
Dalam Islam laki-laki diperkenankan beristri dengan empat orang istri. Sedangkan perempuan tidak diperkenankan bersuami
dengan empat orang suami. Coba tanyakanlah, perempuan mana yang ingin bersuami empat orang? Laki-laki mungkin saja
mempunyai empat orang istri yang semuanya subur. Ini tidak menjadi masalah! Tetapi kalau ada seorang istri yang memiliki
empat orang suami dan kebetulan ia hamil, pada saat itu keempat suaminya akan bersaing tanpa kebenaran!
Kemudian anaknya lahir. Lalu bagaimana dengan anak itu? Siapa ayahnya? Semua suami dari seorang istri itu akan mengatakan:
"Kenapa harus saya yang mengakuinya, wajahnya tidak mirip dengan saya?" Hal ini hanya akan menimbulkan kekacauan.
Pertanyaan semacam itu sudah pernah dilontarkan pada jaman Nabi Saw. Mereka bertanya kepada Rasulullah Saw, "Kenapa kita
tidak diperk

