Tolak ketuhanan Isa 2

Tolak ketuhanan Isa 2


 


akan saya sudah menjadi juara 

munafiq dan pekerjaan itu merupakan kepalsuan akhlak. 

Apa tujuan yang sebenarnya ingin dicapai pendeta Rev. Roberts dalam membacakan kitab sucinya kepada saya?  

Memang benar, saya mendapatkan "diskon khusus" dari semua kitab yang saya beli dari toko buku itu, dan mungkin saya satu-

satunya orang non Masehi yang mendapatkan diskon seperti itu. Dari ciri-ciri pakaian dan jenggot saya, dia tentu tahu bahwa 

saya seorang muslim. Meskipun saya telah diberinya diskon terhadap semua buku-buku yang saya beli tapi tetap saja dia belum 

bisa merubah saya menjadi seorang Nasrani. 

Dengan lemah lembut dan berusaha bijak bestari, sang direktur yarig pendeta itu membacakan beberapa ayat Injil kepada saya 

untuk mengetahui reaksi saya. Rupanya ia tidak tahu bahwa saya sudah mengetahui semua teks-teks yang indah itu sejak lama. 

Malah akhirnya ia heran, mengapa hingga kini saya belum juga menganut agama Masehi? 

Selama ini pendeta yang sopan itu telah bertindak sebagai guru yang ingin mengajar dan membantu muridnya mengetahui lebih 

dalam. Oleh karena Nabi Saw kita memerintahkan kepada kita dalam sabdanya: "Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang ke 

lahad!"  

"Tuntutlah ilmu meskipun ke negeri Cina!" 

Sebagai umat Muhammad Saw saya amat bersemangat untuk belajar. Maka saya berkata, "Saya sependapat dengan semua yang 

telah anda bacakan kepada saya. Tetapi saya menemukan problem dengan kitab suci anda." 

Ia bertanya, "Problem apa kiranya yang menyulitkan anda?" Saya menjawab, "Saya harap anda membaca Injil Lukas 3:23!" 

Maka ia pun melakukannya. 

 

Saya berkata lagi kepadanya, "Tolong anda bacakan kepada saya!" la pun membacanya. 

"Ketika Yesus memulai pekerjaannya, la berumur kira-kira tiga puluh tahun dan Dia (menurut anggapan orang) yaitu  anak 

Yusuf, anak Eli." (Lukas 3:231) 

Saya perlihatkan kepada pendeta itu kalimat yang diberi kurung: (menurut anggapan orang). Lalu saya bertanya kepadanya, 

"Apakah anda melihat kalimat yang diberi kurung itu?" 

 15 

Ia menjawab, "Ya, saya melihatnya!" Lalu saya tanyakan kepadanya, "Kenapa ada kalimat yang berkurung di situ?" Lantas ia 

mengakui dan berkata, "Saya tidak tahu pasti, tetapi saya akan menanyakannya kepada salah seorang ahli kitab suci." 

Saya heran dengan kerendahan hatinya. Padahal menurut saya, semua direktur Lembaga A1 Kitab di Afrika Selatan berasal dari 

pensiunan pendeta. Akhirnya saya berkata kepadanya, "Baiklah, kalau anda tidak tahu, ijinkanlah saya yang akan 

memberitahukan kepada anda mengenai alasan diberinya kalimat yang berkurung itu. Tidak usahlah anda bersusah-susah 

menanyakannya kepada ahli kitab suci." 

Saya lalu menjelaskan hal itu kepadanya. Dalam "manuskrip" Injil Lukas "yang lebih kuno" tidak ada  kalimat "(menurut 

anggapan orang)". Sebenarnya ini hanya pekerjaan penerjemah Injil yang merasa bahwa tanpa adanya tambahan (penjelasan) 

yang asing ini, dikhawatirkan "domba-domba kecil"1 yang belum kuat benar imannya; akan tergelincir dalam keyakinannya, 

bahwa Yusuf si tukang kayu itulah bapak yang sebenarnya dari Yesus. Dengan alasan itulah, mereka memberikan tambahan 

penjelasan pribadi dan diberi kurung agar jangan sampai terjadi kesalah-pahaman. 

Selanjutnya saya menambahkan, "Sebenarnya saya tidak ingin mencari-cari kesalahan dalam cara atau sistem kalian dalam 

menambah kalimat di antara kurung itu untuk membantu para pembaca yang masih awam." 

"Tetapi yang membuat saya heran ialah karena dalam seluruh penerjemahan kitab suci ke dalam bahasa Afrika dan bahasa Timur 

lainnya, kalian telah membiarkan kalimat "menurut anggapan orang." dan telah menghilangkan kedua kurungnya itu. Kalau 

begitu tidak mungkinkah bangsa-bangsa di seluruh dunia ini (selain Inggris) tidak memahami arti dan tujuan dari kedua kurung 

itu?" 

Saya melanjutkan pembicaraan lagi, "Apa jeleknya orang-orang yang berbicara bahasa Afrikaans? Kenapa kalian menyingkirkan 

kedua kurung itu dari Injil terjemahan ke bahasa Afrikaan, sedang kalimatnya masih tetap?"' 

Mendengar uraian saya itu, sang Direktur yang pendeta itu langsung memprotes, "Saya, tidak melakukannya." 

Saya lalu menjawab lagi, "Saya tidak menuduh anda. Tetapi kenapa lembaga Al Kitab yang anda wakili dan para ulama kitab 

suci berani main-main "dengan firman Allah"2 Bila Allah yang Maha Kuat tidak merasa perlu melindungi Lukas dari kesalahan3 

lantas apa orang lain mempunyai hak untuk menambah atau menghilangkan suatu kalimat dari "kitab Allah"? Atas dasar hak apa 

kalian membuat atau memalsukan "kalimat-kalimat Allah"? 

Ada kemungkinan kalimat-kalimat tambahan yang diletakkan di antara dua kurung itu, jika kedua kurungnya diangkat, maka 

akan dikatakan orang sebagai keterangan dari Lukas juga. Karena dalam penyusunan Injilnya, ia mendapat ilham dari Allah. Oleh 

karena itu pemalsuan yang disusupkan pada teks-teks yang asli itu dengan sendirinya akan menjadi firman Allah juga. 

Akhirnya saya sudahi uraian saya dengan kata-kata di bawah ini: 

"Sesungguhnya ulama-ulama ketuhanan modern dewasa ini telah berhasil gemilang. Sementara ahli kimia jaman dahulu telah 

gagal merubah logam yang murah menjadi emas yang berkilau-kilauan." 

Dalam perbincangan ini, sang pendeta mengalihkan pembicaraan, ke luar dari pokok pembicaraan semula. sehingga membuat 

saya berkata, "Hati-hatilah tuan, tampaknya orang Inggris sudah banyak yang tidak mengetahui bahasanya sendiri." 

Dia membalas perkataan saya dengan tajam dan cepat. Katanya, "Apakah dengan begitu, anda bermaksud mengatakan bahwa 

anda lebih memahami bahasa saya daripada diri saya sendiri?" 

Saya menjawab, "Sungguh tidak tahu malu saya, kalau saya mengatakan kepada orang Inggris, bahwa saya lebih memahami 

bahasanya." 

 

Ia bertanya lagi, "Lalu apa yang anda maksud dengan perkataan "tampaknya orang-orang Inggris sudah banyak yang tidak 

mengetahui bahasanya sendiri"?" 

Saya mengulangi peringatan saya sekali lagi, "Hati-hatilah tuan, kalian membaca kitab suci dengan bahasa ibu kalian seperti yang 

dilakukan semua kaum Masehi yang terdiri dari ribuan bahasa dunia. Meskipun begitu, tampaknya setiap kelompok bahasa 

Masehi memahami bahwa suatu hakikat bertolak belakang dari apa yang dibacanya." 

Pendeta itu bertanya lagi, "Maksud anda bagaimana?" 

Saya melanjutkan pembicaraan, "Apakah anda ingat peristiwa ketika Yesus muncul kembali, sesudah disebarluaskan 

pengumuman seolah-olah ia telah disalib. la muncul sambil berkata kepada murid-muridnya, "Damai sejahtera bagi kamu!" 

 16 

Mereka terkejut dan takut. Mereka menyangka bahwa mereka melihat hantu." (Lukas 24:36) 

Mendengar perkataan itu, sang direktur Lembaga A1 Kitab itu menyatakan ingat terhadap peristiwa itu. 

Lalu saya bertanya, "Apa yang membuat mereka (para murid) takut? Jika seseorang melihat temannya datang, seharusnya ia 

memberikan reaksi yang wajar dan normal. Menunjukkan rasa bahagianya yang luar biasa. Malah biasanya ada yang 

menyambutnya dengan peluk cium yang mesra. Tapi mengapa murid-murid Yesus itu malah takut metihat gurunya datang?!" 

Sang pendeta menjawab, "Karena mereka (para murid) menyangka bahwa mereka melihat hantu." 

Saya bertanya lagi, "Apakah Yesus menyerupai hantu?" Dia menjawab, "Tidak!" 

Saya bertanya lagi, "Kalau begitu, mengapa mereka menyangka melihat hantu, jika selama ini Yesus tidak menyerupai hantu?"  

Tampaknya pendeta itu mendapat kesulitan besar. Aku berkata lagi, "Ijinkanlah saya menafsirkan hal itu kepada anda."  

Lantas saya berkata kepadanya, "Hati-hatilah, tuan, sesungguhnya murid-murid Almasih itu bukan saksi mata (eyewitnesses) atau 

saksi dengar (ear-witnesses) atau saksi peristiwa hakiki yang terjadi selama tiga hari yang lalu seperti yang diuraikan Markus, 

bahwa dalam situasi yang paling berbahaya dan paling sulit dalam kehidupan Yesus: "Lalu semua murid itu meninggalkan Dia 

dan melarikan diri." (Markus 14:50)4 

Jadi, semua berita yang diketahui murid-murid itu tentang Yesus diperoleh dari desas-desus5 yang mengatakan, bahwa dia disalib 

dan mereka mendengar dia sudah menghembuskan napas terakhirnya. Mereka juga mendengar bahwa dia sudah dikubur selama 

tiga hari. Orang yang dijejali berita semacam ini6 tidak heran kalau mereka berkesimpulan seperti melihat hantu. Maka tidak 

mengherankan kita bila kesepuluh muridnya yang pemberani itu kaget dan terperanjat ketika melihat Yesus kembali. 

"Untuk menghilangkan salah paham dan rasa. takut yang mengganggu mereka, Yesus mengajak mereka menggunakan akal 

sehat, ucapnya, "Lihatlah tanganKu dan kakiKu: Aku sendirilah ini." (Lukas 24:39) 

Dalam bahasa kita Yesus berkata kepada mereka, "Wahai, kawan-kawan! Kenapa kalian tampak gelisahdan ketakutan. Tidakkah 

kalian melihat, bahwa aku ini yaitu  gurumu yang selalu berjalan bersamamu, yang selalu berbincang-bincang denganmu dan 

memecahkan roti bersamamu. Aku ini orangnya dengan tubuh dan darahnya dari semua. sisinya. Apa yang membuat pikiran 

kalian berubah dan ragu-ragu?" 

"Rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat." (Lukas 24:39) 

Atau dengan kata lain, Yesus seolah-olah berkata kepada mereka, "Kalau aku mempunyai daging dan tulang, maka dengan 

sendirinya aku bukan hantu, mayat, atau roh!" 

Saya bertanya kembali kepada pendeta itu, "Apakah uraian ini benar?" 

Ia menjawab, "Ya, benar!" 

Selanjutnya aku berkata, "'Sesungguhnya Yesus memberitahukan kepada kalian seperti yang tertera dalam nasnya dengan jelas 

dan dengan bahasa yang sangat sederhana, bahwa tubuh yang diminta kepada murid-muridnya untuk diraba dan dilihat itu bukan 

tubuh yang "diperbaharui". Juga bukan tubuh yang dirubah dan yang dibangkitkan. Tubuh yang dibangkitkan dari mati ialah 

tubuh rohani (Spiritualized body). Dia menjelaskan kepada mereka dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami bahwa 

dia tidak seperti yang mereka duga. Murid-muridnya mengira bahwa dia yaitu  roh. Bahwa dia yaitu  tubuh yang dibangkitkan 

ke dalam kehidupan setelah dari kematian. Tetapi Yesus dengan tegas dan jelas mengatakan bahwa dia tidak demikian." 

Mendengar uraian itu, sang pendeta bergumam. Tiba-tiba ia bertanya, "Namun apa yang membuat anda yakin bahwa tubuh yang 

dibangkitkan dari mati tidak akan dapat menjelma sebagai tubuh materi (materialize physically), seperti yang dilakukan Yesus 

dengan jelas?" 

Saya menjawab, "Karena Yesus sendiri yang mengatakan bahwa tubuh yang dibangkitkan dari mati berubah ke alam rohaniah." 

Sang pendeta masih bertanya lagi dengan hati yang belum puas, "Kapan Yesus mengatakannya?" 

Saya menjawab, "Anda masih ingat peristiwa yang dicatat dalam Injil Lukas 20:17 ketika Yesus didatangi ahli-ahli Taurat yang 

sudah tua-tua. Mereka mengajukan berbagai pertanyaan sulit dan pelik kepadanya. Antara lain tentang wanita Yahudi yang kawin 

 17 

dengan tujuh orang lelaki silih berganti, sesuai dengan adat Yahudi8. Setelah beberapa lama kemudian, meninggallah ketujuh 

orang suami dan istrinya itu?" 

Sang pendeta mengatakan, "Ya, saya ingat!" 

Saya lanjutkan perkataan saya, "Adapun perangkap yang dipasang untuk Yesus oleh ahli-ahli Taurat dan tua-tua itu yaitu  untuk 

menggelincirkan Yesus lewat pertanyaan ini:  

"Siapakah di antara orang-orang (suami yang tujuh) itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan?" Mereka sudah 

menghujah Yesus, bahwa "wanita itu yaitu  istri dari tujuh orang (semuanya)" Sewaktu mereka menunaikan tugasnya masing-

masing untuk mendapatkan anak keturunan dari wanita itu memang tidak menemukan masalah apa-apa, karena mereka semua 

yaitu  suaminya. Hal ini dilakukan silih berganti karena mereka masing-masing mengawini wanita itu setelah suaminya 

meninggal dunia. Namun pada hari kiamat, ketika ketujuh suami itu dihidupkan bersama-sama, akan terjadi persengketaan hebat 

di langit. Mereka masing-masing ingin memiliki bekas istrinya, apalagi kalau mereka merasa mendapatkan kepuasan yarig 

mengesankan dari si istri sewaktu mereka hidup bersama dahulu." 

"Yesus berhasil menelanjangi kepalsuan pandangan mereka tentang kiamat dari mati. Dia berkata kepada mereka, bahwa pada 

hari kiamat dari mati "mereka tidak dapat mati lagi". (Lukas 20:36) Ini berarti, orang yang dibangkitkan dari mati akan hidup 

kekal (immortalized). Mereka tidak akan mati lagi. Mereka tidak akan merasa lapar, haus dan letih. Walhasil, semua senjata maut 

tidak akan mampu menewaskan tubuh yang sudah dibangkitkan dari mati. Selanjutnya Yesus menafsirkan dalam sabdanya,  

"Mereka (tubuh yang dibangkitkan dari mati itu) sama seperti malaikat." Ini berarti pembawaan mereka akan berubah yaitu ke 

alam malaikat, alam rohaniah. Mereka akan menjadi makhluk rohaniah (artinya roh-roh). "Mereka sama seperti malaikat-

malaikat dan mereka yaitu  anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan." (Lukas 20:36) 

Sang pendeta kemudian bertanya lagi dengan pertanyaannya yang menantang, "Namun, apa yang membuat anda begitu yakin...?" 

Pertanyaannya telah mengeluarkan saya dari pokok pembicaraan yang tengah saya uraikan. Saya lanjutkan perkataan saya tadi, 

"Dia tidak demikian, seperti yang mereka sangka. Dia tidak berubah jadi roh, hantu atau mayat. Agar lebih jelas, ia 

memperlihatkan tangan dan kakinya untuk diteliti dan diamati untuk membuktikan bahwa tubuhnya masih tetap sepeiti yang dulu 

(material physical body) dan untuk menghilangkan kegelisahan dan keraguan mereka yang tidak beralasan. Setelah itu ia 

bertanya kepada mereka, "Adakah padamu makanan di sini?" (maksudnya, sesuatu yang bisa dimakan). "lalu mereka 

memberikan kepadaNya sepotong ikan goreng (dan sarang madu sedikit9). Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata 

mereka10." (Lukas 24:41-43) 

Lantas apa yang ingin dibuktikan Yesus dengan semua yang dilakukannya itu, yaitu dengan memperlihatkan kedua tangan dan 

kakinya dan menyuruh mereka merabanya. Yesus juga meminta makanan dan mengunyah ikan goreng dan sarang madu yang 

mereka berikan (di hadapan mereka)? 

 

Apakah kata-kata dan peragaannya itu hanya sekedar sandiwara atau permainan komedi semata? 

Untuk lebih jelasnya, baiklah, sekarang kami akan mengetengahkan jawaban yang diberikan oleh F. Schleiermacher11 pada 

tahun 1819. Ia menjawab, "Tidak!" 

Ia mengucapkan jawaban itu seratus tahun yang lalu, sebelum saya dilahirkan. Tuan Albert Schweizer mengabadikan kata-

katanya sebagai berikut: "Kalau Yesus hanya makan untuk membuktikan bahwa ia bisa makan, padahal ia tidak benar-benar 

butuh makanan. Tentu hal itu hanya suatu sandiwara semata dan hanya suatu Docetic12. 

Ketika saya berbincang-bincang mengenai masalah ini dengan direktur Lembaga Alkitab, saya belum tahu sedikitpun tentang F. 

Schleiermacher dan para ulama Masehi lainnya yang juga meragukan kematian Yesus di atas kayu salib. Hal ini juga diabadikan 

oleh Albert Schweizer dalam bukunya yang berjudul "In Quest of the Historical Jesus", page.64. 

Apa yang membuat umat Masehi ragu-ragu? Bukankah Yesus sudah memberitahukan kepada kalian dengan berbagai gaya 

bahasa yang jelas. Malah lebih dijelaskan lagi dengan sebuah peragaan, untuk membuktikan bahwa dia yaitu  manusia 

seutuhnya, bukan roh dan belum berubah ke alam rohaniah, dan bahwa dia bukan manusia yang dibangkitkan dari kematian. Tapi 

biarpun begitu, seluruh alam Masehi tetap meyakini bahwa Yesus telah dibangkitkan dari kematian (Yang saya maksud ialah ia 

telah berubah ke alam rohaniah). 

Lalu siapa yang telah berbohong, kalian atau dia?  

Bagaimana mungkin kalian (semua umat Masehi) membaca kitab suci kalian dengan bahasa ibu kalian meskipun mereka dan 

 18 

semua kelompok bahasa telah dipersiapkan untuk memahami kebalikan dari yang mereka baca?! 

Kalau anda membaca kitab suci anda yang berbahasa Ibrani, misalnya, lalu anda mengatakan kurang paham dengan apa yang 

anda baca, kemungkinan saya bisa menerima alasan itu. Begitu pula jika anda membacanya dalam bahasa Yunani, lalu anda 

mengatakan tidak paham benar maksud dan tujuan yang ditulis. Hal itu mungkin bisa saya terima dengan baik. Tetapi tampaknya 

dalam diri kalian sudah ada perlawanan terhadap kaidah ketika kalian membaca kitab suci sekalipun dengan bahasa ibu kalian.  

Kalian juga sudah terlatih dalam memahami kebalikan dari apa yang tertulis. Kalau sudah begitu, bagaimana caranya mencuci 

otak kalian? Atau seperti yang dikatakan bangsa Amerika: Bagaimana caranya memprogram kalian? 

Kalau begitu, saya mohon dengan sangat, supaya kalian memberitahukan kepada saya, siapa yang berbohong, Yesus atau seribu 

juta umat Masehi di dunia ini? 

Yesus mengatakan: "Tidak!", tentang kebangkitannya dari kematian. Sedangkan kalian semua mengatakan: "Ya!" 

Kalau begitu siapa yang patut dipercaya oleh kaum Muslimin, Yesus atau orang-orang yang mengaku muridnya itu? 

Kita sebagai kaum Muslimin sudah jelas akan mempercayai gurunya daripada muridnya. Bukankah Yesus sendiri mengatakan, 

"Seorang murid tidak lebih daripada gurunya." (Matius 10:24) 

Demikianlah perbincangan saya dengan direktur Lembaga Alkitab Durban. Hasilnya ternyata lebih dari yang saya harapkan. Tapi 

akhirnya pendeta itu mengakhiri percakapan dengan sopan sambil meminta maaf dan meminta ijin untuk berpisah dengan alasan 

toko bukunya akan segera tutup. Dia berharap dapat bertemu lagi dengan saya, tapi tampaknya ia melarikan diri dari pembicaraan 

itu walaupun dengan cara yang sopan. 

Saya berharap pembaca yang budiman dapat menyingkirkan sarang laba-laba yang direntangkan pada akal anda yang dapat 

mengacau pikiran anda dalam masalah "penyaliban". Jika anda dapat memahaminya maka hal ini akan merupakan hadiah besar 

untuk saya. 

"Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada 

mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!" Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Tetapi Ia berkata 

kepada mereka, "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tanganKu dan 

kakiKu: Aku sendiri ini; rabahlah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada 

padaKu." Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kakiNya kepada mereka. Ketika mereka belum percaya karena 

girangnya dan masih heran, berkatalah 1a kepada Mereka: "Adakah padamu makanan di sini?" Lalu mereka memberikan 

kepadaNya sepotong ikan goreng (dan sarang madu sedikit)13. 

Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka". (Lukas 24:36-43). 

01. Dalam bicaranya. Ahmed Deedat menggunakan kata (little lambs) seperti yang digunakan Yesus dalam mengisyaratkan 

para pengikutnya. Yesus berkata, "Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala." (Lukas 10:3) 

Mungkin yang dimaksud penulis dengan "domba-domba kecil" ialah para pengikut yang baru (penerjemah). 

02. Dalam transkript bahasa Arab keluaran Lembaga A1 Kitab di Timur Tengah kalimat "(menurut anggapan orang)" tetap 

ada, tapi kedua kurungnya sudah dihilangkan. Begitu pula dalam transkript bahasa Indonesia keluaran Lembaga A1 

Kitab Indonesia, Jakarta, 1977.  

03. Kaum Masehi berkeyakinan bahwa semua Injil yang sah itu ditulis oleh para "murid" dengan wahyu dari Roh Kudus. 

Namun berdasarkan bukti ilmiah terbukti bahwa keempat injil yang dikatakan sah dewasa ini, tidak satu pun yang 

ditulis oleh kedua belas murid pilihan Yesus! (Baca Encyclopedia Britanica, V-3, P. 573; V-13, P.83; V-14, P. 911 dan 

912). 

04. Injil Mateus dalam hal ini lebih jelas. Ujarnya. "Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri." (Matius 

26:56) 

05. Lukas meyakinkan hal itu pada pembukaan Injilnya. Ujarnya, "...Seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka 

yang dari semula yaitu  saksi mata dan pelayan firman." (Lukas 1:2) 

06. Lukas juga meyakinkan kita bahwa murid-murid itu tidak percaya ketika mendengar desas-desus yang disebarluaskan 

orang tentang gurunya. Ujarnya, "Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong-kosong dan mereka 

tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu. Sungguhpun demikian Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur 

itu. Ketika ia menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain kafan saja. Lalu ia pergi, dan ia bertanya dalam hatinya apa 

yang kiranya telah terjadi." (Lukas 24:11-12) Memang aneh bin ajaib, bagaimana mungkin mereka merasa heran, 

padahal Guru mereka sudah meramalkan dan memberitahukan hal yang diherankan oleh mereka itu?! 

07. Lihat Lukas 20:1 

08. Lihat Ulangan 25:5-10 

09. Dalam Lukas 24:43, (dan sarang madu sedikit) terjemahan dalam bahasa lndonesia, keluaran Lembaga Alkitab 

Indonesia, ]akarta, 1977, ditiadakan! 

 19 

10. Dalam terjemahan Inggris katolik salinan dari naskah bahasa Vulgar latin, ada  tambahan sebagai berikut: "And 

when he had eaten in their presence he took what remained and gave it to them." Kalimat inipun dalam terjemahan 

bahasa Indonesia tidak ada! 

11. F. Schleirmacher, salah seorang ulama kitab suci dan penemu teori tentang sumber-sumber Injil yang empat. 

Diketengahkan pada tahun 1832 M. "Dia memperkirakan adanya kumpulan kecil tulisan atau fragmen. Dari sanalah 

para pengarang lnjil menulis Injilnya. (Fragments hypothesis) 

12. Docetic berasal dari Docetism, yaitu suatu paham, bid'ah dalam agama. Paham ini bertentangan dengan aliran yang 

resmi sejak abad kedua Masehi. Ia mengatakan bahwa tubuh Almasih itu hanya seperti hantu (semblance), maya 

(phantom) atau benda semacam ether (etheral substance). Kata itu berasal dari bahasa Yunani, "dokesis", artinya maya, 

hantu atau dokeein (to seem), berarti: tampaknya. Maksudnya ialah sesuatu yang disebutkan tentang atau yang 

dinasabkan kepada orang yang berbicara dengan kata-kata bid'ah itu.  

13. Kalimat yang diberi dua kurung di atas: (dan sarang madu sedikit), sudah dibuang dari naskah versi standar yang 

diperbaiki (Revised Standard version) dari Kitab Suci dan dari berbagai terjemahan lain dalam bahasa Afrika. Kenapa? 

Dalam buku kami yang akan segera diterbitkan: "Apakah Kitab Suci itu Firman Allah?", akan dijelaskan kepada Anda, 

kenapa?  

 

 

 

BAGIAN KELIMA : Siapa Ahmed Deedat? Seorang Dair Besar Dunia  

 

Tak seorang pun yang menyangka, seorang bekas penjual garam di Afrika Selatan, berubah menjadi seorang da'i besar dunia. 

Namanya melanglang buana setelah terjadi perdebatan antara dia dengan seorang pendeta tersohor di Amerika. Sehingga banyak 

anak-anak muda Nasrani yang masuk Islam. 

 

Sang da'iyah ini benar-benar menyadari akan apa-apa yang diucapkannya. Ia berbicara dengan 

lemah lembut dan sopan santun. la memahami beberapa bahasa asing. Ia membaca ketiga kitab 

suci agama samawi dengan mendalam, sehingga ia mampu menangkis serangan lawan terhadap 

agama dan nabinya, bahkan terhadap pribadinya sekalipun. 

Ia seorang da'i yang penuh tanggung jawab. Ia termasuk salah seorang yang benar-benar 

memahami asal muasal dakwah Islam. Ia juga memiliki kemahiran dalam membawakannya. 

 

 

Ahmed Deedat memiliki kisah unik sejak saat kelahirannya hingga saat kemasyhurannya. Inilah secercah kisahnya yang dikutip 

dari harian "Asy Syarqul Ausath", Saudi Arabia. 

Inilah perkenalan dan dialog dengan Ahmed Deedat. 

Nama Saya Ahmed Husein Deedat. Saya dilahirkan di india dari kedua orang tua Muslim, yaitu Husein Kazim Deedat dan 

Fatimah. Ayah saya bekerja sebagai petani dan ibu saya membantunya. Pada usia sembilan tahun, saya dibawa pindah ke Durban, 

Afrika Selatan. 

Kemudian ayah mengalihkan profesinya dari seorang petani menjadi seorang penjahit pakaian. Saya disekolahkan di Islamic 

Centre di Durban untuk belajar Al-Qur'an dan hukum-hukum Islam lainnya. 

Pada tahun 1934 saya berhasil menamatkan sekolah Ibtidaiyah. Pada waktu itu saya merasa bertanggung jawab untuk membantu 

ayah. Akhirnya saya memutuskan untuk membuka toko menjual garam. lnilah tahap kehidupan yang cukup penting buat saya. 

Kemudian saya pindah profesi bekerja di perusahaan pembuat perabot rumah. Di sana saya bekerja selama dua belas tahun. 

Mula-mula sebagai supir, kemudian naik ke bagian pemasaran dan terakhir menjabat sebagai direktur perusahaan tersebut. Tetapi 

saya tidak meninggalkan bangku sekolah. Dalam diriku seolah-olah ada dorongan batin yang mendorongku untuk terus belajar. 

Kemudian saya melanjutkan ke fakultas Seni Negeri yang memuat materi pelajaran matematika dan ilmu manajemen perusahaan. 

Saya tidak pernah melupakan bujuk rayu para penginjil kepada saya ketika saya masih berjualan garam. Setiap kali saya bertemu 

dengan mereka untuk mendagangkan garam, mereka tak bosan-bosannya menawarkan agamanya kepada saya dan kepada rekan-

rekan lainnya yang muslim. Rupanya demikianlah cara dan kebiasaan mereka di sana. 

 20 

Setelah itu, pada tahun 1949 saya pergi ke Pakistan untuk mencari uang yang lebih banyak lagi agar bisa membiayai dakwah 

saya. Saya tinggal di Pakistan selama tiga tahun. Kemudian saya harus cepat-cepat kembali ke Afrika Selatan. Kalau tidak cepat-

cepat, maka ijin tinggal saya bisa dicabut, karena saya tidak dilahirkan di sana. Ini merupakan peraturan yang berlaku di sana. 

Di Pakistan, saya menjabat sebagai direktur Perusahaan Tenun. Ketika saya kembali ke Durban saya juga menjabat direktur 

perusahaan yang lama, yang pernah saya jabat sebelum pergi ke Pakistan. Demikianlah, saya mempersiapkan diri hingga tahun 

1956 untuk menjadi seorang da'i. 

Di mana titik perubahan yang hakiki dalam kehidupan tuan Deedat? 

Sebenarnya titik perubahan yang hakiki dalam kehidupannya dimulai pada tahun 1940-an. Perubahan ini dimulai sejak kunjungan 

delegasi Adam ke toko garamnya. Pada waktu itu mereka mengajukan pertanyaan tentang agama Islam. Pada waktu itu Deedat 

belum sanggup menjawab, apalagi menangkisnya. Tapi dari kelemahan dan ketidak-berdayaannya itu, serta dari kegugupan dan 

kebodohannya dia bangkit dan merasa dipacu untuk berpikir dan dengan segala daya membela agamanya. 

Sejak itulah Deedat memutuskan untuk mempelajari kitab Injil dalam berbagai cetakan bahasa Inggris. 

"Suatu kemujuran bagi saya, karena. ternyata saya mahir sekali berbicara dalam bahasa itu. Bahasa Inggris merupakan bahasa 

resmi Afrika Selatan. Saya mempelajari semua kitab Injil dengan tenang dan mendalam, termasuk kitab Injil dalam bahasa Arab. 

Sementara itu saya melakukan perbandingan terhadap berbagai Injil. Setelah saya merasa memiliki kesanggupan yang lumayan 

untuk mengadakan dakwah Islam dan menghadapi serangan para penginjil itu, maka mulailah saya memutuskan untuk 

menghentikan semua kegiatan perusahaan dan perdagangan saya. Ternyata Alhamdulillah, kini saya ridha benar dengan kegiatan 

saya yang baru. Malah kini saya yang bertanya kepada mereka, dan banyak di antara mereka yang tidak berdaya dalam menjawab 

pertanyaan saya!" 

Selain delegasi Adam, apakah ada faktor lain yang mempunyai kesan mendalam di hati tuan Deedat? 

"Ya!" Ada faktor lain yang tidak kalah berkesannya dengan delegasi Adam, dan itu selalu mengganggu pikiran saya. Ini terjadi 

ketika saya bekerja di Pakistan. Ketika saya sedang mengatur barang dalam gudang, saya menemukan sebuah buku yang berjudul 

"Idh harul Haq", ("Menampakkan Kebenaran") yang ditulis oleh Syaekh Rahmatullah A1 Hindi. 

Buku ini menelanjangi sistem penjajahan Inggris di India. Penjajah itu berpendapat bahwa bahaya yang paling besar yang 

dihadapinya selama ini yaitu  dari agama Islam dan kaum Muslimin. Untuk menghadapi bahaya itu, penjajah Inggris menyusun 

rencana yang cermat dan teliti. Mereka mencari cara untuk menghancurkan Islam, mempolarisasikan kaum Muslimin dan 

mengkristenkan mereka. Dengan demikian, yang kemarin menjadi oposisi akan menjadi pendukung penjajahan Barat di India. 

Maka dimulailah penggalakkan kunjungan para missionaris yang beragam. Mereka dibiayai secara besar-besaran untuk 

menghapuskan semua ciri dan adat istiadat Islam dari kehidupan kaum Muslimin. Mahkota Islam berupa sorban dan jilbab sedikit 

demi sedikit mulai berkurang baik di jalan-jalan kota maupun desa di India. 

Para penginjil mulai berkeliaran dan berani mengadakan debat agama dengan kaum Muslimin guna membungkam mereka. Para 

penginjil berani melakukan hal itu karena mereka tahu sebagian besar umat Islam memang tidak banyak mengetahui agamanya 

sendiri. Seperti halnya saya sendiri ketika berhadapan dengan delegasi Adam. Akhirnya saya mulai memahami dan menyadari 

cara kerja mereka dalam mengepung kaum Muslimin, baik di Afrika maupun di Pakistan. 

Namun terkadang obat penyembuhnya ada di dalam penyakit itu sendiri. Dari buku itu ternyata saya mendapatkan pengetahuan 

yang luas dan penting. Buku ini banyak berisi tentang perdebatan. Saya banyak memperoleh ilmu baru dari setiap kalimat yang 

saya baca dalam buku itu. Kini saya benar-benar mempersiapkan diri dan mempelajari buku itu secara mendalam tentang tata 

cara berdialog dan berdebat tanpa harus belajar di akademi atau lembaga khusus dan tanpa melakukan latihan. 

Akhirnya, ternyata saya bisa berdebat dengan bapak gereja, ulama ketuhanan dan dengan tokoh-tokoh missionaris dunia. Dialog 

dan perdebatan itu malah sudah menjadi hobby utama saya, sehingga semakin hari pengetahuan saya tentang agama Islam, 

Masehi dan Yahudi makin kuat dan mantap. Dengan modal itulah saya berhadapan dengan siapapun yang ingin menemukan 

kebenaran. 

 

Anda berbicara tentang dialog dan perdebatan, tetapi anda belum berbicara tentang besarnya pengaruh buku. Bagaimana 

kedudukan buku menurut anda, tuan Deedat? 

Pada tahun empat puluhan saya menyusun buku kecil berjudul "Muhammad dalam Perjanjian Lama dan Baru". Buku ini tersebar 

luas ke seluruh dunia dan dibeli oleh berbagai lapisan penganut agama-agama. Baru-baru ini saya juga telah menyusun buku 

kecil dengan judul "Apakah Injil itu Firman Allah?" 

 21 

Tuan Deedat, metode apa yang anda pakai dalam menyusun buku anda yang terakhir itu? . Saya mengikuti suatu metode yang 

tidak digunakan oleh orang lain sebelumnya, yaitu dengan menggunakan nas-nas Injil sendiri dan menggugurkan masalah yang 

sering dikatakan oleh para missionaris yaitu "injil yaitu  firman Allah". Banyak kata-kata yang ada  dalam Injil yang sulit 

dipercaya dan diterima oleh akal. Selain itu di dalamnya banyak kata-kata yang menceritakan tentang "perzinaan" dan hal itu 

tidak masuk akal bila dikatakan perkataan atau uraian seperti itu datang dari Allah. 

Kita sudah berbicara tentang dakwah, dialog, debat dan penerbitan buku. Tetapi apa sebenarnya peran anda dalam upaya 

mencerdaskan dan menyadarkan kaum Muslimin agar mereka tidak gugup dalam menghadapi serangan gencar dari para 

missionaris? 

Saya sudah berusaha mengadakan penyadaran melalui ceramah-ceramah dan pertemuan-pertemuan di seluruh negeri yang saya 

kunjungi dan di semua universitas yang saya datangi. Saya sudah menghadiri perdebatan di Inggris, Irlandia, Amerika Serikat, 

Kanada, Hongkong, Singapore, India, Zimbabwe, Mauritania, Malawi, Abu Dhabi dan Saudi Arabia. Di antaranya ada yang 

dihadiri tidak kurang dari 30.000 hadirin. 

Apa rencana anda untuk membangkitkan para da'i? 

Saya sudah meyakinkan Mr. Fankar, salah seorang aktifis di pusat Dakwah Islam di Madras untuk membentuk bagian pembinaan 

para da'i. Kami sudah mulai melatih para da'i sepanjang pantai selatan di sana. Pekerjaan ini dalam Ma'had itu akan berjalan 

selama sepuluh tahun terus-menerus sampai memuaskan hati saya, sampai mereka kuat dan mampu mengemban amanat dakwah 

dengan jujur dan ikhlas karena Allah semata. Kami lepaskan mereka untuk menyebarkan agama Allah ke seluruh dunia, baik ke 

Timur maupun ke Barat demi melaksanakan perintah Allah Ta'ala, dengan penuh kejujuran dan kecintaan, sebagaimana dalam 

firmanNya : 

"Serulah (manusia) kepada jalan Robbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik..." (An Nahl: 125) 

Saya melihat ada suatu kekuatan yang menyinari jiwa ragaku untuk mendorong dan menggerakkan diri dalam melangkah 

mengikuti titah perintah Ilahi. Meskipun menderita tapi Islam telah melapangkan dadaku dalam menunaikan tugas besar ini. 

Dalam Islam saya menemukan obat mujarab dan jawaban yang memuaskan dari berbagai kemelut yang terjadi di Afrika Selatan, 

khususnya dalam masalah rasial, minuman keras, perjudian dan masalah lain yang amat merusak kemanusiaan. Islam menjunjung 

tinggi anak Adam dan menjelaskan jalan-jalannya menuju hidayah dan jalan lurus yang diridhai-Nya. Itulah obat penawar satu-

satunya yang dapat memecahkan berbagai problema umat manusia dewasa ini. 

Perdebatan anda yang paling tersohor yaitu ketika berhadapan dengan tuan Sowegart. Apakah selain itu, anda pernah 

mengadakan perdebatan dengan tokoh Masehi lainnya? 

Alhamdulillah, saya telah mengadakan perdebatan dengan 32 orang pendeta di berbagai tempat di dunia. Menurut saya, yang 

paling tersohor yaitu  perdebatan yang terjadi di gedung Albert Hall, London. Perdebatan ini dihadiri oleh orang banyak dengan 

berbagai agama dan lapisan masyarakat. Hanya perdebatan saya dengan Sowegart lah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. 

Apakah setelah perdebatan itu banyak orang yang masuk Islam? 

Saya tidak tahu, apakah ada yang masuk Islam sesudah perdebatan itu atau tidak. Tetapi yang terpenting bagi saya yaitu  agar 

kaum Muslimin mampu menyebarkan dan membela akidahnya dan bisa menjawab tantangan para missionaris. 

Sementara ini di sebagian dunia terdengar desas-desus bahwa tuan Deedat berpaham Qadiani dan berasal dari keturunan Yahudi. 

Bagaimana sanggahan anda? 

Pertanyaan ini sangat penting. Orang memang selalu menyebarkan desas-desus di sekitar pribadi Ahmad Deedat. Tetapi sasaran 

utama dari desas-desus ini ialah agama kita. Buku-buku yang menyerang Islam banyak sekali. Kesalah-pahaman dan kepalsuan 

yang dilontarkan ke alamat Islam tidak terbilang banyaknya. Mereka melihat bahaya terbesar atas keberadaan penjajahan mereka 

di negara manapun akan datang dari Islam dan kaum Muslimin. Oleh karena itu, mereka rela mengeluarkan dana yang amat besar 

untuk menghancurkan Islam. Kalau sekiranya Ahmed Deedat masih berdagang garam, apakah akan ada orang yang mengatakan 

bahwa saya seorang Qadiani atau berasal dari Yahudi? 

Saya mengatakan ini seperti yang saya maklumkan dalam pembicaraan saya di Abu Dhabi. Saya mengatakan bahwa saya seorang 

muslim dan kedua orang tua saya yaitu  muslim. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi juga bahwa 

Muhammad Saw yaitu  hambaNya dan rasulNya. 

Mereka melancarkan serangan kepada saya karena saya sering berbicara tentang masalah Palestina dan keberadaan Yahudi di 

 22 

sana. Karena itulah mereka melontarkan berbagai tuduhan palsu dan keji. 

Lantas, bagaimana tentang Injil? 

Injil berarti kabar gembira yang biasa dibawakan Yesus dan para penulis. Para penulis berita gembira itu mengabadikan 

perjalanan yang dilakukan Yesus dalam menyampaikan berita gembira yang ada dalam Injil. Umpanya: 

"Demikianlah Yesus berkeliling kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil, kerajaan sorga 

serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan." (Matius 9:35) 

"Pada suatu hari ketika Yesus mengajar orang banyak di Bait Allah dan memberitakan Injil." (Lukas 20:1) 

Injil yaitu  berita gembira yang banyak diulang-ulang. Tapi apa berita gembira yang disampaikan Isa itu? 

Di antara 27 kitab Perjanjian Baru, kaum Masehi hanya mau menerima apa yang dibawa oleh Matius, Lukas, Markus, dan 

Yohanes. Namun kita tidak menemukan Injil seperti yang ditulis oleh Isa sendiri. 

Dengan sepenuh hati kami beriman bahwa apa yang dikatakan Isa Alaihissalam yaitu  wahyu ilahi. Ia yaitu  Injil dan berita 

gembira kepada bani Israil. Menurut sejarah, sepanjang hidupnya Isa Alaihissalam tidak pernah menulis sepatah kata pun, seperti 

juga ia tidak pernah memerintah kepada seseorang untuk menulis. 

Lalu bagaimana menurut anda mengenai kerukunan agama yang senantiasa diselenggarakan antara umat Islam dan Masehi?  

Untuk meninjau masalah ini terlebih dahulu perlu dipelajari dengan seksama dan dengan persiapan yang tepat. 

Kaum Muslimin dan Masehi telah sepakat bahwa apa yang bersumber dari Allah melalui wahyu atau ilham wajib diabdikan pada 

salah satu dari keempat tujuan ini. Mungkin untuk mengajari dasar ajaran dan akidah kita atau menegur kesalahan yang kita 

lakukan, atau menyuguhkan apa yang benar kepada kita. Juga memberikan bimbingan kepada kita menuju jalan yang benar. 

Berdasarkan hal itulah kita mempelajari berbagai tujuan ini dalam rangka untuk menyebarluaskan keadilan dan perdamaian di 

dunia. Namun hal ini bisa dilakukan bila mereka konsekuen dengan hal-hal yang mereka putuskan atas diri mereka sendiri dalam 

pertemuan di Tunis pada tahun 1974. Di situ mereka berjanji uatuk tidak menyebarkan para penginjil ke tengah-tengah kaum 

Muslimin. Mereka juga berjanji bahwa kegiatan missionaris mereka hanya akan digalakkan di kalangan umat yang belum 

menganut suatu agama, yang sedang menantikan adanya penerangan agama. 

Seruan apa yang hendak anda sampaikan melalui harian "Asy Syarqul Ausath"? 

Seruan itu akan saya tujukan kepada Al Azhar Asy Syarif yang mernikul beban terberat di seluruh dunia dalam menyiapkan para 

da'i. Para da'i harus memahami benar pokok ajaran semua agama dan dapat menjawab dengan lancar semua pertanyaan dan 

tantangan yang dilancarkan orang. 

Selain itu juga para da'i harus dipersiapkan lebih efektif dan dibekali berbagai bahasa asing, terutama bahasa resmi tempat ia 

"beroperasi". Selanjutnya saya serukan juga kepada lembaga-lembaga Islam agar lebih mengerahkan semangat secara jujur demi 

mensukseskan dakwah dengan membekali diri pada dua ciri penting, yaitu: 

Pertama, mempersatukan program dakwah dan menyadarkannya secara paralel agar semua lembaga yang ikut mendukung benar-

benar konsekuen dengan program itu. 

Kedua, mempersatukan derap langkah. Jangan sampai ada orang atau lembaga yang bekerja hanya mengikuti selera dan 

nafsunya. Semua harus bekerja sama dan berkompetisi dengan semangat ukhuwah, sehingga pekerjaan itu dapat berhasil dengan 

baik dan mendatangkan daya guna yang maksimal. 

Terakhir, perlu dipersiapkan suatu studi yang paripurna untuk seluruh kaum Muslimin di dunia, sehingga setiap orang (meskipun 

ia berada di negrinya) dapat mengetahui apa yang diinginkan dan diperlukan saudaranya sedien dan seiman di bagian dunia 

manapun juga. Selain itu perlu pula mengirimkan para peneliti yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan konsekuen. Juga perlu 

mengirimkan delegasi pengajar karena mereka bisa diharapkan menjadi da'i Islam yang terbaik bila mereka selalu bersikap jujur. 

 

 

 

 23 

BAGIAN KEENAM : Wawancara Ahmed Deedat dengan wartawan "Arab News"  

 

Wawancara ini dilakukan oleh Faizah Amba. Dalam uraiannya ini Ahmed Deedat berbicara tentang peran wanita dalam Islam 

dan tentang perdebatannya dengan Anis Syurrus, juga tentang Salman Rusydi. Inilah kesimpulannya: 

A. Ahmed Deedat Bicara Tentang Peran "Wanita Dalam Islam" 

Tanya:  

Orang asing selalu memandang wanita Islam seolah-olah sebagai manusia yang dipaksa, tidak 

memiliki hak apapun, hidup tertindas di bawah kekuasaan laki-laki. Salah satu contoh yang 

mereka kemukakan ialah laki-laki diperkenankan kawin dengan empat orang wanita? 

Jawab: Hati-hatilah! Orang Islam tidak adil dengan para istrinya. Tampaknya kita telah 

menyimpang dalam perangai dan budaya kita yang jauh dari ajaran Islam. Kita telah melakukan 

kezaliman. Sudah tentu dalam hal ini orang Islam yang berbuat kezaliman, bukan agama Islam! 

Dalam Islam laki-laki diperkenankan beristri dengan empat orang istri. Sedangkan perempuan tidak diperkenankan bersuami 

dengan empat orang suami. Coba tanyakanlah, perempuan mana yang ingin bersuami empat orang? Laki-laki mungkin saja 

mempunyai empat orang istri yang semuanya subur. Ini tidak menjadi masalah! Tetapi kalau ada seorang istri yang memiliki 

empat orang suami dan kebetulan ia hamil, pada saat itu keempat suaminya akan bersaing tanpa kebenaran! 

Kemudian anaknya lahir. Lalu bagaimana dengan anak itu? Siapa ayahnya? Semua suami dari seorang istri itu akan mengatakan: 

"Kenapa harus saya yang mengakuinya, wajahnya tidak mirip dengan saya?" Hal ini hanya akan menimbulkan kekacauan. 

Pertanyaan semacam itu sudah pernah dilontarkan pada jaman Nabi Saw. Mereka bertanya kepada Rasulullah Saw, "Kenapa kita 

tidak diperk