Spiritual Hindu 4

Spiritual Hindu 4



 i, namun  kita bukanlah pemilik 

pikiran itu sendiri. Bahkan dengan semakin banyak kita 

mendengar dan berbicara tentang hal-hal positif, semakin 

                                                         

banyak kita bebas dari pengaruh-pengaruh negatif. Dengan 

mengubah tema percakapan dengan cara yang lebih positif, 

akan menciptakan harapan terhadap masa depan.  Dan kita 

bisa tetap damai apapun tantangan dan berita dan situasi 

negatif yang mungkin harus dihadapi, kita mampu 

mempertahankan dengan hati nurani yang damai. 

Brahma Kumaris yaitu  sekolah spiritual yang tidak 

melihat usia. Ibarat sebuah festival film, maka Brahma 

Kumaris boleh ditonton oleh semua umur. Mulai dari anak-

anak, dewasa, hingga para pensiunan sekalipun memiliki hak 

sama untuk belajar di sini. Memang unik cara memberikan 

pelajaran kepada anggota yang baru bergabung, sebab  

dinamika kelasnya memang seperti berbagi pengetahuan dari 

yang telah mempelajari, memahami dan mempraktekkan 

lebih dulu. Jadi hubungannya bukan guru dengan murid, 

namun  cenderung pada rasa persaudaraan.43  

Penelitian ini dilaksanakan di Surabaya pada yayasan 

sosial spiritual Brahma Kumaris Meditasi Raja Yoga yang 

menitikberatkan pada hal-hal spiritual dalam pengendalian 

pikiran (ingatan). Oleh sebab  itu penting untuk dilakukan 

kajian mendalam agar Puslitbang Kehidupan Keagamaan 

memiliki tambahan pustaka berkaitan dengan dengan ragam 

kelompok spiritual dalam agama Hindu serta 

menyumbangkan bahan kebijakan bagi Kementerian Agama 

Cq Bimas Hindu atau pihak-pihak terkait yang 

membutuhkannya. 

                                                       

Profil Lokasi  

Kelurahan Menur Pumpungan terdiri dari 10 RW  48 

RT dan mempunyai luas 157 ha, dengan batas wilayah: 

Sebelah utara : Manyar Jaya  

Sebelah Timur : Manyar Jaya  

Sebelah Selatan  : Manyar Jaya 

Sebelah Barat     : Manyar Jaya 

Jumlah penduduk Kelurahan Menur Pumpungan 

berdasar  data laporan kependudukan bulan april 2015 

seluruhnya 16.774 terdiri dari 8.410 laki-laki 8.364 perempuan. 

Sementara itu Menurut Sudirman ketua RW 08, pensiunan 

apoteker, mengatakan penduduk warga RT 05/RW 08 

berjumlah 700 KK, dan selama ini wrganya tidak pernah 

melapor sebab  terganggu atau gaduh dengan kegiatan 

meditasi dari Brahma Kumaris, termasuk dengan tetangga 

kanan dan kirinya, tidak pernah bermasalah, meskipun 

banyak tamu tetap kondisinya baik-baik saja. 

Sasaran penelitian pada Studi Brahma Kumaris 

Meditasi Raja Yoga yang beralamat di Jl. Manyar Jaya III/C-3 

Surabaya, RT 05/RW 08 Kelurahan Menur Pumpungan 

Kecamatan Sukolilo. Warga RT 05/RW 08 dengan kondisi 

umat yang beragama Islam 10%, sementara yang dominan 

yaitu  umat Buddha dari etnis China sebagai urutan pertama, 

umumnya bermatapencaharian sebagai wiraswasta, 

selanjutnya umat Kristen dan Katolik.  

Menurut Wakil Ketua RT 05 George Hartanto yang 

beragama Katolik mengatakan bahwa untuk lingkungan 

kehidupan keagamaan warganya cukup bagus. Termasuk 


dengan keberadaan tempat meditasi Yoga Brahma Kumaris, 

yang bertepatan bersebelahan dengan tempat tinggal 

temannya mengatakan tidak pernah merasa terganggu, 

bahkan hubungan ketetanggan cukup baik. 

Kenyamanan yang dirasakan oleh warga  

kelurahan Menur Pumpungan, dirasakan pula oleh pengurus 

Yayasan Brahma Kumaris, yang tinggal di wilayah ini sejak 

tahun 2004, tidak pernah merasa was-was atau cemas tinggal 

di Jl. Manyar Jaya III, untuk mendirikan yayasan berupa 

pendidikan  untuk meditasi.  

Wilayah Manyar merupakan lingkungan pemukiman 

elit, dan selain itu ada  juga kampus Untag. Menurut 

pengurus yayasan Brahma Kumaris dan ketua RW 08, bahwa 

terjalin hubungan yang baik dengan pihak Kampus Untag 

yang sering mengundangnya sebagai narasumber dalam acara 

diskusi atau sarasehan mahasiswa. Bahkan bila Brahma 

Kumaris kedatangan tamu Pembina dari India dan Australia, 

menggunakan aula Untag sebagai tempat pertemuan, 

mengingat ruangan yang dimiliki Brahma Kumaris hanya 

mampu menampung sejumlah 50 anggota keluarga.  

 

Kehidupan Keagamaan 

Kehidupan keagamaan umat Islam di lingkungan RW 

08, sebab  belum memiliki masjid, namun dalam kegiatan 

majelis taklim, bergabung dengan Masjid yang berada di RW 

06. namun  sebab  sudah tiga tahun kegiatan keagamaan di 

masjid RW 06 mengalami kefakuman, maka digabung dengan 

l

masjid yang berada di RW 04. Penggabungan kegiatan 

keagamaan majelis taklim warga RW 08 dengan kegiatan yang 

berada di masjid pada RW 04, mengingat di RW 08 hanya 

memiliki Vihara dan Gereja. Meskipun demikian kehidupan 

keagamaan antar umat beragama di lingkungan RW 08, 

sangat kondusif, cukup bagus toleransi antarumat beragama, 

sehingga menjadikan Kelurahan Menur Pumpungan sebagai 

hunian yang aman dan nyaman bagi WNI dan WNA.  

Surabaya terdiri dari 31 kecamatan dengan jumlah 

umat Hindu yang ada  di setiap kecamatan mencapai 

9.000 jiwa termasuk mahasiswa. Umat Hindu telah memiliki 

sejumlah 8 Pura di beberapa kecamatan, di antaranya Tirta 

Wening di Tambaksari, Tirta Ganggga di Gubeng Kertajaya, di 

Karang Pilang Babatan Wiyung bernama Tirta Mpul, 

Kecamatan Semampir Desa Bulak Banteng, bernama Pura 

Tunggal Jati,  Kecamatan Surabaya Kupang bernama Pura 

Sono Panca Giri dan di Tandes Candi Cemoro Agung, 

Kecamatan Tanjung Perak dengan Pura Agung Jagad Karana, 

Kenjeran dengan Pura Segara. 

berdasar  pengamatan dan wawancara dengan 

Pengawas dan Pendidikan Agama Hindu (Ketut Sudiana), 

mengatakan bahwa di Pura Agung Jagad Karana yang berada 

di Jl. Lumba-Lumba Kecamatan Krembangan sebagai Pura 

yang cukup besar, didirikan sejak  tahun 1975. Dalam 

kehidupan keagamaan warga  sekitar Pura terjalin 

hubungan yang baik, lingkungan warga  sekitar sangat 

toleransi terhadap umat yang berbeda agama, termasuk tidak 

pernah ada konflik internal dalam agama Hindu. 

______________________125

Profil Brahma Kumaris di Surabaya 

Brahma Kumaris World Spiritual University (BKWSU), 

didirikan oleh Brahma Baba di Karachi, India, pada 1937 dan 

telah memiliki lebih dari 8500 Pusat Meditasi Raja Yoga 

(center) yang tersebar di lebih dari 137 negara. Atas 

sumbangannya pada dunia dalam menciptakan perdamaian, 

Brahma Kumaris diterima berafiliasi dengan PBB 

(Perserikatan Bangsa-Bangsa) pada tahun 1980. Di negara kita , 

Brahma Kumaris sudah ada sejak tahun 1982 dan terdaftar di 

Departemen Pendidikan Nasional dengan nama Yayasan 

Studi Spiritualitas Brahma Kumaris. Dengan cepat, Brahma 

Kumaris, selanjutnya kami tulis BK, sudah tersebar di Jakarta, 

Surabaya, dan Bali (dikutip dari brosur Meditasi Raja Yoga 

“Kedamaian Kebahagiaan Kekuatan Kesucian Cinta Kasih 

Belas Kasih”). 

BKWSU atau Pusat Studi Spiritual Brahma Kumaris, 

bukanlah badan keagamaan atau badan politik, sehingga tidak 

bergerak dikedua bidang ini . BKWSU tidak mengubah 

kepercayaan seseorang, terbuka bagi semua orang dari 

berbagai kepercayaan, umur, latar belakang ekonomi dan 

pendidikan.  

Adapun tujuan didirikannya BK yaitu  untuk 

meningkatkan moral dan spiritual umat manusia, untuk 

membantu membangkitkan dan menyalurkan kekuatan 

mencipta yang terpendam dalam setiap pribadi menuju 

kearah hal-hal positif bagi umat manusia, dengan kegiatan 

yang diberi nama Meditasi Raja Yoga. Dengan melakukan 

meditasi, jiwa menjadi lebih stabil, jauh dari prasangka buruk, 

luwes dan damai. 

Kumaris berarti putri yang banyak. sebab  saat awal 

terbentuknya meditasi yang didirikan oleh Brahma, banyak 

diikuti oleh kaum wanita, meskipun ada beberapa dari kaum 

pria, maka dinamakan Kumaris. Sementara yang mendirikan 

ide meditasi ini yaitu  Brahma Baba, sebab  itu dinamakan 

Brahma Kumaris.44  

Awal berdirinya BK di Surabaya, menurut Sister 

Sukreni, sebelumnya bertempat di Denpasar kemudian 

pindah ke Surabaya dan mengontrak di Jl. Sidoresmo Air Gas 

(kurang lebih selama 3–4 tahun). Kemudian atas prakarsa para 

donator dan seorang Pembina BK berasal dari India keturunan 

Malaysia bernama Sister Janaki, sepakat untuk membeli 

rumah yang berada di Jl. Manyar III/C-III di Perumahan 

Nginden Intan Kecamatan Sukolilo, Kelurahan Menur 

Pumpungan, pada akhir tahun 2004. Rumah yang telah dibeli 

oleh yayasan ini, kemudian di renovasi.  

Sejak berdirinya BK Meditasi Raja Yoga di Surabaya 

ini, tercatat hampir berjumlah 1000 orang yang menjadi 

anggota keluarga, dan untuk saat ini yang aktif sebagai 

keluarga BK di Jl. Manyar III ini sekitar 20 orang. Anggota 

Keluarga BK ada yang beragama Islam seperti Bapak Yunardi, 

berumur sekitar 50 tahun dari Ngagel, ada juga yang datang 

diantaranya dari Sidoarjo dan sekitarnya, namun bukan warga 

dari sekitar lingkungan tempat BK Meditasi Raja Yoga berada. 

Dan anggota keluarga yang banyak mengikuti kegiatan 

meditasi ini mencapai 30% dari muslim.45  

Meditasi itu berasal dari kata Mederey (bahasa Latin), 

yang artinya healing (penyembuhan), sembuh dari segala 

                                            

sesuatu yang tidak semestinya, namun  dalam ranah mental 

(jiwa). Dalam psikologi kalau orang marah itu sebab  tidak 

sehat jiwanya, ternyata memang betul sebab  kita ini terdiri 

dari ada jiwa dan ada raga. Yang dipelajari disini yaitu  

tentang Jiwa. Ada lahir ada bathin. Kita tidak belajar 

mengelola lahir namun  mengelola bathin. Dan kebetulan Tuhan 

juga ada pada level bathin. Tuhan tidak bisa di lihat, tidak bisa 

disentuh. Kalau  kita tidak masuk pada ranah bathin, maka 

tidak bisa komunikasi pada Tuhan.46  

 

Karakteristik Meditasi di Brahma Kumaris  

Menurut Sister Alit, bahwa di BK Meditasi Raja Yoga, 

merupakan kelompok spiritual yang melaksanakan meditasi, 

dengan pola vegetarian namun tidak terkait dengan ritual 

agama Hindu. sebab  itu di BK, terbuka bagi siapa pun, 

sebab  tidak mengubah agama yang selama ini sudah menjadi 

keyakinannya.  

Menurut Sister Sukreni bahwa spiritual pada BK 

yaitu  ilmu tentang spirit/energi. Asal kata spirit yaitu  

energi/roh. Jadi spiritual yaitu  ilmu tentang spirit/energi. 

Maksudnya bagaimana energi itu melakukan aktifitasnya, 

menggunakan fikiran, di mana kekuatan saya dalam 

kehidupan sehari-hari bisa kembali kediri saya spirit/energi 

yang positif. sebab  spirit yaitu  energi yang damai dan cinta 

kasih. Spiritual yang dimaksudkan di BK yaitu  pelajaran 

bagaimana spirit melakukan aktivitasnya dengan 

menggunakan sifat-sifat dasar nilai-nilai luhur yang ada 

dalam diri dan sebagai pengontrol atas panca indra. Jadi tidak 

                                          l

ada hubungannya dengan ritual/ritual , atau dengan pernak-

perniknya. namun  bagaimana melakukan pola hidup dengan 

kondisi mental yang damai. Sehingga siapa pun bisa menjadi 

anggota keluarga kami, sebab  disini hanya untuk belajar 

meditasi. Dengan melakukan meditasi, jiwa menjadi lebih 

stabil, jauh dari prasangka buruk, luwes dan damai.  

Dalam melakukan meditasi pikiran tetap pada yang 

satu yaitu Tuhan, meskipun nama atau sebutan kepada Tuhan 

itu bisa bermacam-macam namun  dalam bermeditasi tetap 

konsentrasi kita pada yang Esa/satu, yaitu Tuhan. Dalam 

meditasi membutuhkan kesadaran dalam mengolah pikiran 

dan konsentrasi pada Tuhan, itu artinya mengontrol atau 

menata pikiran. Mengenai konsentrasi pandangan ditujukan 

pada gambar cahaya di hadapan kita, itu hanya sebagai alat 

bantu untuk berkonsentrasi, bukan suatu pemujaan khusus. 

Cahaya yaitu  simbol sosok spiritual dalam diri kita.47  

Pendapat yang sama juga disampaikan Sister Aridha 

dalam memahami apa yang dimaksud dengan spiritual dalam 

BK. Menurutnya, spiritual sama dengan knowledge, yaitu ilmu 

pengetahuan yang mempelajari tentang jiwa, tentang 

spirit/roh, dan bagaimana sifat-sifat asli dari roh kita, sebab  

itu sejati diri kita, itu yang asli. Knowledge (spiritual) yaitu  

membangkitkan kecerdasan melalui meditasi. Sister Aridha 

sebelum menjadi anggota keluarga di BK, membayangkan 

kalau meditasinya itu duduk bersila dan membaca mantera. 

sesudah  bergabung di BK ternyata sangat mudah dilakukan 

membutuhkan kesadaran dalam mengolah pikiran dan 

konsentrasi. 

Dengan meditasi, pikiran baru diciptakan setiap hari, 

bukan saja bagaikan makanan segar untuk jiwa, namun  

memberi nutrisi membuat jiwa sehat walafiat, khususnya 

dalam menghadapi situasi yang tidak stabil, banyak 

menyebabkan keresahan dan kekhawatiran (dikutip dari buku 

Fondasi Moral, Etika dan Spiritual, Pusat Studi Spiritual 

Brahma Kumaris, hal 4). 

berdasar  pengamatan, uniknya, meditasi di BK 

dilakukan dengan mata terbuka. Dan semua Sister dalam cara 

berpakain layaknya pakaian wanita India yaitu menggunakan 

kain Sari berwarna putih, demikian juga dengan yang pria 

berpakaian gamis warna putih juga. Sebelum meditasi 

dilaksanakan, salah seorang pengurus yayasan bernama Sister 

Sukreni membacakan murli atau pelajaran pengetahuan 

spiritual yang isinya berupa nasehat pola kehidupan sehari-

hari anggota. Agar meditasi terjaga kemurniannya, maka setip 

hari diberi arahan tuntunan berupa pesan murni, yang 

berisikan tentang hakekat Ketuhanan dan kehidupan.  

Sister Sukreni dalam membacakan Murli/pelajaran 

pengetahuan spiritual dengan suara yang lemah lembut, tidak 

tergesa-gesa sehingga mudah dicatat oleh anggota, mudah 

diingat. Sedikit cuplikan isi dari ceramah yang disampaikan              

Sister Sukreni, antara lain:  

“Bekerjasamalah dalam menciptakan suasana yg sangat suci 

dan kuat dalam api korban atau center suci ini. Jagalah dia 

dengan cinta kasih yg besar. Jangan menyembunyikan 

apapun dalam diri anda. Jika hati anda bersih semua 

harapan anda akan terpenuhi. Setiap sen/rupiah dari api 

korban ini tidak ternilai harganya, oleh sebab  itu jangan 

sia-siakan bahkan satu grampun. Semoga anda duduk di 

singgasana hati Tuhan. Singgasana yang paling luhur 

untuk diduduki ya hati Tuhan. Jika anda tidak mampu 

duduk diatas singgasana tahapan  ini, anda tidak akan 

mampu duduk diatas singgasana hati Tuhan. Dengan 

pikiran suci ubahlah pikiran negatif menjadi positif”.  

Kemudian dilanjutkan dengan meditasi dengan posisi 

duduk serilek mungkin, sesuai dengan keinginan diri, bisa 

bersila atau duduk di kursi/bangku atau dimana saja. 

Kemudian lampu ruangan yang semula terang, agak 

diredupkan dengan diiringi lagu India sebanyak dua kali, 

untuk mengiringi lamanya meditasi hampir 15 menit. 

Sister Alit mengatakan bahwa, awal untuk mengikuti 

meditasi dengan melalui kursus dasar terlebih dahulu selama 

7 hari, yang diberikan secara cuma-cuma, dan dibimbing oleh 

instruktur yang berpengalaman dan dibantu dengan  slide, 

video untuk memudahkan menerima pembelajaran meditasi. 

Meditasi ini mudah dilakukan hanya dengan memusatkan 

dan mengamati pikiran dalam keheningan meditasi. BKWSU 

tidak merubah kepercayaan  seseorang, terbuka bagi semua 

orang dari berbagai kepercayaan, umur, latar belakang 

ekonomi dan pendidikan. 

Dalam pelatihan meditasi di BK tidak mengubah 

agama seseorang anggota keluarga, sebagaimana halnya Sister 

Aridha yang muslim, dengan pekerjaannya sebagai dosen dan 

penulis/peneliti di Kampus Unisma 45 Surabaya, tetap 

menjaga keyakinannya sebagai umat Islam. Demikian juga 

dengan Sister Nunik yang beragama Kristen, dan pekerjaan 

sehari-harinya sebagai perias pengantin dan Sister Sukreni 

sebagai umat Hindu tetap melakukan sembahyang secara 

Hindu dan Dr. Ani pemeluk agama Katolik, masing-masing 

tetap pada keyakinannya.  

Sister Alit mengatakan untuk mejadi pengurus 

yayasan BK, tidak ada persyaratan khusus, yang terpenting 

dapat menyatukan keluarga dari semua agama. Jadilah seperti 

susu dan gula, menyatu. Kita yang ditunjuk harus bisa 

menyatukan, dari berbagai keluarga. Kalau ada masalah bisa 

diselesaikan sebagai satu keluarga. Kita disini semuanya 

yaitu  keluarga BK yang mempunyai cinta kasih satu sama 

lain, yang tua menyayangi yang muda dan yang muda dapat 

menghargai yang lebih tua. Dan sebagai pengurus BK, semua 

sebagai tenaga sukarelawan, artinya tanpa digaji dan semua 

dilakukan dengan keikhlasan. Yang menjadi ciri khas lainnya 

dari BK yaitu  setiap minggu ada semacam sarasehan dan 

menyediakan makanan kecil bagi siapapun yang datang 

untuk belajar meditasi. 

Pengamatan lain berupa kata-kata mutiara yang 

terpampang di papan pengumuman ukuran 10 x 20 Cm 

tergantung di pintu gerbang, pada tanggal 18 Februari 2016: 

“Kekuatan Kewibawaan yang sebenarnya bukan terletak pada 

pengurusan orang lain, namun  pengendalian diri sendiri”. 

Kemudian tanggal 5 Maret 2016: “Dimana ada kemampuan 

menghayati keindahan Tuhan YME, disitu ada kemampuan untuk 

mensyukuri ciptaan beliau”.  

Yang tertempel di dinding teras juga ada dengan 

kalimat: “Semoga anda menjadi jiwa yang agung yang memberi 

kebahagiaan kepada jiwa-jiwa melalui interaksi anda yang luhur. 

Berfikir mengenai sesuatu sesudah  melakukannya yaitu  tanda 

penyesalan”.  

Kemudian ada juga tulisan pada tanggal 9 Maret 2016 

yang berbunyi: “Peluang untuk mengubah karakter kita menjadi 

mulia, senantiasa terbuka bagi kita, namun  adakah kita rela 

menyisihkan waktu untuk itu”. Kata-kata indah ini selalu 

berganti setiap hari yang digantung di pintu gerbang sehingga 

dengan mudah bagi orang yang lewat untuk membacanya.  

 

Profil Pengurus Yayasan Brahma Kumaris  

Sister Alit dari Bali kelahiran tahun 1948, sebagai 

seorang pemeluk agama Hindu dengan suami yang beragama 

Islam yang dikaruniai beberapa orang anak yang memilih 

agama Islam yang berbeda dengan Sister Alit. Sister Alit 

sebelumnya bekerja sebagai perawat disebuah rumah sakit 

dan pensiun tahun 1997. sesudah  pensiun lalu diperkenalkan 

oleh seorang temannya untuk mengenal meditasi ini sebagai 

pembentukan karakter (Character Building) secara spiritual, 

sebab disini bukan belajar agama. sebab  anggota sudah 

punya keyakinan agamanya masing-masing dan mereka 

menjadi keluarga untuk belajar meditasi dalam pembentukan 

karakter. Tujuannya, untuk membentuk karakter menjadi 

manusia yang lebih baik, sebab  sesama manusia sebagai 

ciptaan Tuhan. 

Sister Alit sudah 10 tahun menjadi anggota keluarga di 

BK, diangkat menjadi pengurus sejak tahun 2011. Sebelumnya 

bekerja sebagai perawat dan pensiun tahun 1997. 

Pengalamannya menjadi anggota keluarga di BK, melalui 

teman yang lebih dahulu sebagai keluarga di BK untuk 

pembentukan karakter secara spiritual, sebab  disini bukan 

belajar agama, sudah punya keyakinan agamanya masing-

masing dan mereka menjadi keluarga untuk belajar meditasi 

dalam pembentukan karakter. 

Sister Aridha (47 tahun) yang beragama Islam, tinggal 

di Benowo sudah tiga tahun sebagai pengurus di BK. Sister 

Aridha profesinya penulis di Kompas Yana sebagai Pemerhati 

Masalah Ketidakbahagiaan sekaligus dosen Universitas 45 

Surabaya. Sebagai dosen dan penulis banyak sekali yang 

konsultasi tentang berbagai masalah terkait dengan suami istri 

dan lain-lain. Sebagai pengalaman pertama saya mengenal 

meditasi, saya mencari dari yootube tentang happiness, dan 

saya temui pada meditasi Sister Sivhani yang mengajarkan 

bahwa kebahagiaan itu yaitu  sifat asli kita. Kita sebetulnya 

punya original yaitu happienes. Kenapa kita kemudian 

menjadi tidak nyaman. Itu berarti ada sesuatu yang salah. 

Menjadi tidak bahagia. Kita tidak boleh meletakkan happiness 

sebagai titik tujuan. namun  kita sendirilah happiness itu. 

Intinya orang mencari kebahagiaan. Sister Aridha yang 

bertugas juga sebagai salah seorang pengurus dan dalam 

seminggu 3-4 kali datang ke Manyar ini, namun tidak 

bermalam. 

Sister Sukreni menjadi pengurus di Yayasan Studi 

Spiritualitas Brahma Kumaris  Cabang Surabaya, sejak tahun 

2007, dan  kini sebagai pengganti Sister Janaki yang bertugas 

menjadi Center Wasi di Surabaya untuk sepenuhnya yang 

bertanggung jawab selama 24 jam. Masa jabatan pengurus 

Yayasan Brahma Kumaris selama 5 tahun sekali ada 

penggantian pengurus dan baru pada bulan Januari 2016 ini 

ada penggantian pengurus yayasan.  Yang ditunjuk sebagai 

Ketua Yayasan di Surabaya sekarang ini yaitu  Sister Raka, 

yang menggantikan posisi Sister Alit yang sebelumnya 

menjabat sebagai ketua. Kami di sini sebagai sukarelawan 

dimana masing-masing center mengelolanya. Untuk sebutan 

bagi  pengurusnya yang wanita dengan “Sister” dan yang pria  

“Brother”.

Sister Nunik Silalahi, beragama Katolik. Awal mula 

ketertarikannya untuk mengikuti meditsi di BK, kebetulan 

sedang mencarikan guru meditasi untuk ibunya. Sebagai 

pemula ada kelas 7 hari di mana  setiap hari dibacakan 

Murly/pelajaran pengetahuan spiritual. Pada inti sari 

pelajaran itu yang saya tangkap,  yaitu jangan khawatirkan 

orang lain namun  diri sendiri. Sehingga saya mengambil 

kesimpulan bahwa yang harus diperbaiki, ditata yaitu  diri 

sendiri, serta dengan kata Titik. Artinya, bila kita 

mendengarkan pembicaraan, misalnya bergunjing, maka tidak 

perlu ikut campur. sesudah  itu saya pelajari, yang saya rasakan 

damai dari pada dengan sebelumnya. Setiap hari kami 

mendapatkan poin-poin itu dan sesuai dengan masing-masing 

orang berbeda dalam menangkap kata-kata positif. 

Adapun Struktur Organisasi Yaayassan Studi 

Spiritualitas Brahma Kumaris Cabang Surabaya:  

Ketua : N.G.A.A Winarti 

Sekretaris :  Emmy Koentariati 

Bendahara :  Ni Nym Ari  Sukreni 

sedang  Susunan Pelaksana Kegiatan Centre 

Brahma Kumaris Cabang Surabaya 2016-2020:  

Coordinator Centre (CC) : Sister Janaki 

Ketua : Sister Nuniek 

Wakil Ketua :  Bro Madia 

Sekretaris            : Sister Nyoman Juwindyawari 

Bendahara :  Sister Sukreni 

Seksi Dapur  : Sister Raka, Patmiatun, Sr.    

  Lilana 

Seksi Humas dan  

Pengembangan 

Pelayanan : Sr. Sumiatun, Sr Nunik, Bro 

sasra, Sr. Aridha, Bro. Sutama. 

Seksi Keamana  : Bro. Md Kartika, Bro. Madia 

Seksi audio/sound  

sistem/dokumentasi  : Sr. Emmy, Sr. Nym, Sr. Yovita 

Seksi Pemeliharaan  

Bangunan :  Bro. Hendro, Bro. Usman 

Notice board/papan tulis : Bro Hendro, Sr. Wedha 

Seksi Dekorasi & Berkah : Sr. Wedha, Sister Emmy  

Seksi Pertamanan : Bro. Laurent 

Seksi Absensi : Sister Alit 

Seksi Transportasi : Sr. Nuniek, Bro Hendro, Sr. Alit, 

Sr. Dian 

Seksi Pengecekan  

barang/store : Sr. Afifah, Sr. Alit 

(Diketahui oleh Pembina/Coordinator Centre Sr. Janaki pada 

tanggal 8 – 12 – 2015). 

 

Aktivitas Meditasi Spiritual Brahma Kumaris 

Bagi para pemula, awal untuk mengikuti meditasi 

dengan melalui kursus dasar terlebih dahulu selama tujuh 

hari, yang diberikan secara cuma-cuma, dan dibimbing oleh 

instruktur yang berpengalaman dan dibantu dengan  slide, 

video untuk memudahkan menerima pembelajaran meditasi. 

Meditasi ini mudah dilakukan hanya dengan memusatkan 

dan mengamati pikiran dalam keheningan meditasi. Brahma 

Kumaris tidak merubah kepercayaan  seseorang, terbuka bagi 

semua orang dari berbagai kepercayaan, umur, latar belakang 

ekonomi dan pendidikan. Dengan melakukan meditasi, jiwa 

menjadi lebih stabil, jauh dari prasangka buruk, luwes dan 

damai. 

Yang disampaikan dalam pembelajaran dasar, tidak 

menyangkut soal agama namun  mengatur pikiran, emosi, 

sebab  dalam tubuh kita ada jasmani dan rohani yaitu energy 

yang setiap hari berfikir dan tidak mendapat perhatian sebab  

yang setiap hari kita perhatikan hanya jasmani, kita kasih 

makan, pakaian. namun  itu tidak cukup hanya pada jasmani. 

sebab  itu kita juga harus memperhatikan rohani kita yang 

suka ada kebiasaan buruk, marah atau membenci. Dan untuk 

itu perlu dilakukan meditasi. Tujuannya untuk 

menghilangkan pikiran-pikiran yang negatif, menjauhkan dari 

pikiran negatif, namun  kita perlu waspada. Seperti contohnya 

badan kita yang dipakai setiap hari, dikasih makan lalu 

dipakai lagi, sebab  itu perlu di asah, demikian juga dengan 

bermeditasi itu untuk menata pikiran. Meditasi bisa dilakukan 

kapan saja dan dimana saja.  

Bagi Sister Alit ada istilah, bagi kita bagaimana dalam 

menjalani hidup ini menjadi mati sambil hidup artinya mati dari 

segala keinginan duniawi, jadi bisa mematikan, misalnya 

keinginan untuk memiliki baju yang bagus, atau keinginan 

untuk makanan yang enak. Jadi bagaimana kita sebagai 

manusia, menyayangi dan menghormati kepada semua umat 

agama, siapapun keluarga kita, apapun agamanya, jadi tidak 

boleh menilai kelemahan atau kekurangan siapapun. Kepada 

siapapun dia, kita menganggap dari jiwa yang damai, kembali 

pada jati diri kita yaitu  jiwa yang damai, suci, penuh cinta 

kasih, penuh nilai-nilai luhur. Bagaimana kita belajar untuk 

kembali pada jati diri kita yang asli. Dulu kita pemarah 

sekarang kita belajar bagaimana menghilangkan semuanya. 

Kepada siapa pun. Kita lihat kebaikannya, jangan lihat 

kejelekannya. 

Setiap peserta harus mengikuti kelas dasar tentang 

meditasi Raja Yoga. sesudah  itu, peserta baru mengikuti kelas 

Meditasi Perdamaian Dunia. Meditasi dilakukan pada pukul 

06.00-07.30. Sister Alit, mengatakan meditasi dilakukan 

dengan bebas, tidak perlu bersila sambil memejamkan mata, 

namun  dengan mata terbuka. ”Ini membiasakan kita untuk 

meditasi dalam keseharian. Dalam bekerja pun kita bisa 

bermeditasi”.  

Kegiatan meditasi di BK tidak ada kata libur, selalu 

setiap hari terisi dengan meditasi setiap pagi dari pukul 06.00 

WIB sampai 07.30 WIB. Artinya setiap pagi ada kelas, sebelum 

pelajaran bila ada yang sudah datang langsung bermeditasi. 

Kemudian dilanjutkan dengan kelas Murli/pelajaran 

pengetahuan spiritual, dan ditutup dengan meditasi. 

Jumlah anggota yang pernah mengikuti meditasi bisa 

mencapai 50 % yang muslim. Untuk disini bisa 30% yang 

muslim (bapak ibu, ramaja dan anak). Kegiatan harian selalu 

ada, meskipun yang datang hanya seorang tetap akan di 

bimbing bagi pemula, sedang  yang sudah dari pemula 

bisa dilakukannya sendiri di ruang yang khusus bagi yang 

sudah biasa. Dan yang datang ada harian, mingguan atau 

bulanan. Harian itu pasti, ada atau tidak ada  tetap mereka 

meditasi.  

Di samping itu pada BK, tidak ada hari besar 

keagamaan, tidak ada hari libur, namun  bagi anggotanya yang 

beragama Hindu, Kristen/Katolik misalnya tetap 

melaksanakan hari-hari besar keagamaannya. Termasuk yang 

beragama Islam. Dicari hari lain untuk bersama melaksanakan 

meditasi sesudah  melaksanakan hari raya. 

 

Dampak Kehadiran Brahma Kumaris dalam Kehidupan 

Keagamaan 

Menurut Sister Alit, hubungan BK dengan Pembimas 

Agama Hindu Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur 

cukup baik, meskipun pernah ditolak saat akan mengajukan 

surat permohonan izin legalitas, sebab  dalam surat yang 

diajukan ini  tidak mengatakan sebagai lembaga 

keagamaan, yang memberikan ritual sebagaimana ritual 

dalam agama Hindu. Ternyata dengan ketidakpahaman kami, 

maka usulan pengesahan legalitas tidak diterima sebab  tidak 

terkait dengan ritual keagamaan Hindu.  

Hubungan BK dengan lingkungan awal kedatangan 

sebagai warga baru sudah melapor/memberitahukan kepada 

RT/RW bahkan mengundang warga dan Polsek sebagai 

perkenalan. Pengurus BK selalu lapor dengan Satpam atau 

RT/RW, apabila ada acara besar, misalnya kedatangan tamu 

senior untuk memberikan pencerahan bisa di rumah ini yang 

mampu menampung sekitar 50 anggota keluarga, kalau lebih 

banyak bisa keluar atau bahkan sampai meminjam ruangan 

aula dari Universitas Tujuh Belas Agustus. 

sedang  pendapat dari Pengawas Pendidikan 

Sekolah Agama Hindu, bahwa sebab  di BK juga 

melaksanakan kegiatan pendidikan spiritual, maka sama 

halnya dalam agama Hindu yang disebut dengan 

Sampradaya, yaitu yang melaksanakan spiritual, meskipun 

dari BK tidak mengatakan sebagai Sampradaya.49 Masing-

masing dari anggota keluarga yang datang sebab  merasakan 

ada manfaatnya. Meskipun sebenarnya meditasi bisa 

dilakukan dirumah. Namun sebagaimana halnya sekolah 

diperlukan kehadiran murid untuk mendapatkan pelajaran 

selain bisa berkumpul dan berintegrasi dengan teman lain. 

Masing-masing datang untuk memperbaiki dirinya dan 

mereka mau belajar meditasi sebab  ada manfaatnya, 

terutama bagi yang manula ada yang sampai satu jam, bahkan 

ada yang hanya 15 menit saja, kemudian pulang.  

BK terbuka bagi siapa saja  yang ingin belajar meditasi  

dengan cuma-cuma, sekarang ini yang aktif  sekitar 20 orang. 

Mereka datang sebab  merasakan ada manfaatnya, meskipun 

sebenarnya bisa dilakukan meditasi dirumah. Mereka datang 

untuk memperbaiki dirinya dan belajar sebab  merasakan ada 

manfaatnya. Seperti sekolah, tujuannya agar ada 

                                        

perkumpulan ada teman-teman, saling berinteraksi. Demikian 

pula datang ke BK untuk belajar, meskipun ada yang datang 

hanya 15 menit atau sampai satu jam.  Ini merupakan cara Bk 

mempertahankan eksistensinya. 

Menurut Wayan Suraba dari PHDI mengatakan bahwa 

BK itu termasuk salah satu sekte dalam sampradaya. 

Sampradaya itu yaitu  lembaga Hindu yang melaksanakan 

kegiatan-kegiatan spiritual. sebab  dalam Hindu banyak 

mengenal banyak sekte. Di mana didalamnya mengenal ajaran 

weda. sebab  itu sebagai Parisada akan mengayomi semua 

sekte-sekte, sebab  itu tidak bermasalah dengan keberadaan 

BK. Dan tampaknya yang mengikuti BK kelihatannya sangat 

militan yang menjadi anggotanya dalam mengikuti meditasi. 

sebab  kita ini ada istilah “semua yang ada di muka bumi ini 

yaitu  saudara”. sebab  anggota yang ikut meditasi itu juga 

masih menjalankan ajaran agama Hindu, sebab  memang 

sebagai umat Hindu. Salah satu pemangku kami (Wayan 

Juwet) ikut meditasi BK. Tujuan BK itu baik dan positif.  

Dalam pandangan PHDI, BK cukup baik, dan belum 

melihat dampak negatifnya dalam kehidupan keagamaan di 

lingkungan agama Hindu, bahkan kami di undang untuk 

memberikan khutbah, diskusi hampir setiap tahun 

memberikan wacana atas permintaan BK. Dan kami beberapa 

kali ikut dalam meditasi. Kami berpatokan pada sebuah 

tujuan dan ending. Tujuannya baik dan empatinya baik, apa 

yang dilakukan BK. Tujuan akhirnya yaitu  untuk 

menciptakan kedamaian, baik dalam intern maupun terhadap 

lingkungan sangat baik. Kami juga sering mengundang BK 

dalam acara sarasehan misalnya. Dalam kegiatan keagamaan 

Hindu, biasa pula mereka lakukan yang beragama Hindu 

terlibat dalam acara ritual keagamaan ini, sebab  memang 

sebagai pemeluk agama Hindu.  

Baik PHDI maupun Kementerian Agama, dalam hal ini 

Pembimas Hindu, mengatakan kalau BK itu organisasi murni 

agama Hindu anggotanya, kita berhak membina namun  sebab  

pengikutnya ada yang dari luar Hindu, organisasinya lintas 

agama, maka kita tidak berhak membinanya. Mengingat 

model belajar meditasi yang dikoordinir BK tidak menerapkan 

ajaran agama Hindu, sebab  itulah sebagai yayasan sosial, 

Brahma Kumaris terdaftar di Dinas Sosial dan memiliki surat 

ijin operasional untuk melakukan kegiatannya dengan nama. 

Brahma Kumaris Yayasan Studi Spiritualitas, 

berdasar  Surat Tanda Pendaftar Ulang dengan Nomor: 

468.3/7959/436.6.15/2014 telah diputuskan di Surabaya pada 

tanggal, 29 September 2014. Selain mendapat Surat Tanda 

Pendaftaran Ulang dari Dinas Sosial, BK juga mendapat Surat 

Keputusan dari Departemen Hukum dan Ham tentang 

Pengesahan Yayasan dengan Nomor: AHU-1723. AH.01.04 

Tahun 2009, ditetapkan tanggal 20 Mei 2009. Kemudian dari 

Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan 

warga , tertera Surat Keterangan Terdaftar di Nomor: 

220/17373/436.7.3/2011, yang ditetapkan di Surabaya tanggal, 4 

November 2011. namun  BK di Surabaya tidak mendapat 

legalitas dari Pembimas Hindu, sebab  anggotanya lintas 

agama.  


berdasar  uraian di atas dan analisis hasil 

penelitian, dapat disimpulkan, antara lain: 

1. Meditasi di Brahma Kumaris atau BK, bukanlah meditasi 

yang diajarkan sebagaimana dalam agama Hindu, 

meskipun berasal dan didirikan oleh Brahma Baba yang 

memeluk agama Hindu.  Meditasi BK tidak dengan 

mengosongkan pikiran, melainkan mengubah cara berfikir 

dengan menghilangkan pikiran-pikiran negatif, tidak 

perlu menghkawatirkan orang lain, mencoba 

membangkitkan sisi positif dalam jiwa yang dibangkitkan 

melalui spiritual dengan menata diri sendiri. Meditasi 

pada BK tidak menutup mata namun  membuka mata 

dengan posisi duduk serilek mungkin, boleh duduk diatas 

bangku/kursi atau sofa, atau dimana saja dan dapat 

dilaksanakan kapan saja. Sebagai pemula mengikuti 

pelajaran meditasi selama 7 kali pertemuan tidak terputus, 

yang dimulai pukul 06.00–07.30 WIB, dan untuk 

selanjutnya bisa diteruskan kapan kesiapan waktunya. 

2. Meditasi spiritual BK tidak membawa dampak buruk 

dalam kehidupan keagamaan umat Hindu, sebab  BK 

merupakan lembaga sosial yang memberikan pelayanan 

melalui meditasi spiritual lintas agama. Oleh sebab itulah 

Pembimas agama Hindu di Surabaya tidak memberikan 

binaan pada BK, sebab  yang mengiktui meditasi pada BK  

juga terdiri dari anggota yang berbeda-beda agama, 

sehingga tidak ada hak untuk memberikan pembinaan 

agama Hindu. Sebagai angggota keluarga BK yang 

beragama Hindu tetap menjalankan ajaran agamanya, 

demikian pula pada umat yang lainnya tetap menjalankan 

ajaran agamanya atau merayakan hari besar 

keagamaannya. Studi Spiritual BK tidak ada hari libur, 

meskipun hari besar keagamaan tetap ada pelajaran 

meditasi. 

Selama ini hubungan BK sebagai lembaga sosial, baik 

dengan Pembimas Agama Hindu dan PHDI terjalin dengan 

baik, sebaiknya BK terus menerus melakukan hubungan yang 

baik, meskipun tidak ada hubungan kerja secara langsung.   


  

Memahami Hindu di Perantauan 

Telah menjadi rahasia umum bahwa diaspora etnis 

Bali termasuk salah satu fenomena yang paling mudah terlihat 

di tanah air. Salah satu bukti eksistensi diaspora Bali yang 

perlu dilihat yaitu  warga  Bali yang beragama Hindu 

dan yang menetap di Cimahi, Jawa Barat. Sejauh ini ada 

upaya elit untuk mereformulasi Hindu lebih kepada inti 

ajaran, dalam pengertian berusaha mengurangi unsur budaya 

dan terlebih unsur ke-Bali-annya. Dalam konteks ini, perlu 

dicatat bahwa Hindu yang berakar di Bali penuh dengan 

unsur ritual, ketimbang spiritual. Hindu di Bali secara turun 

temurun diwarnai dengan rupa-rupa ornamen seni dan 

budaya yang hadir melalui aneka rupa sesajian. Jika dikaitkan 

dengan kerangka dasar Agama Hindu, praktik Hindu di 

negara kita  (di Bali khususnya) lebih menekankan pada aspek 

ritual  (ritual), ketimbang tatwa (filsafat/ajaran) maupun 

susila (etika) (Widnya, 2015: 118). 

Pola reformulasi sedemikian ini sebenarnya bukan hal 

baru. Upaya paling terlihat, salah satunya misalnya dilakukan 

oleh Ida Bagus Mantra50 yang melontarkan kritiknya melalui 

sebuah surat yang dikirimkannya ke Harian Suara negara kita , 

2 Februari 1951 perihal kentalnya aspek ritual dan adat Bali, 

sehingga ia lebih menamakannya Hindu Bali. Ia menilai, 

                                                          

kedatangan kolonial menyebabkan terputusnya jaringan 

dengan India di saat Hindu di India sedang mekarnya 

penggalian aspek spiritual dalam Hindu. Iameminta agar 

Hindu Bali mengacu pada induknya, India, sehingga menjadi 

Agama Hindu. Selain itu perlu juga penerjemahan teks-teks 

suci Hindu yang ada di India ke dalam Bahasa negara kita . 

Kritikan Mantra ini disambut suka cita kalangan intelektual 

Hindu Bali saat itu dan mulailah dilakukan penelusuran ke 

akar agama Hindu di India (Picard, 2011: 492-493). 

Namun tidak lama berselang sejak terbitnya surat 

Mantra ini , muncullah komentar yaitu  Narendra Dev. 

Pandit Shastri orang India yang tinggal di Bali sejak tahun 

1949 dan memperistri orang Bali dan akhirnya memilih 

menjadi orang negara kita . Ia menyebutkan bahwa ajaran Weda 

sebenarnya telah diterapkan di Hindu Bali. Agama Hindu Bali 

tidak lain yaitu  monotheist dan percaya pada Tuhan Yang 

Maha Esa, Sang Hyang Widhi. Brahma, Wisnu dan Shiwa 

yaitu  manifestasi dari Sang Hyang Widhi (Picard, ibid, hlm 

493). Apabila dicermati dari dua pandangan Mantra dan 

Shastri ini  di atas, maka menunjukkan betapa lenturnya 

Ajaran Hindu. Secara kebetulan, saat itu juga sedang menguat 

keinginan agar Agama Bali yang ada saat itu agar segera 

diakui oleh Kementerian Agama RI (ibid, hlm 494). 

 

Umat Hindu Cimahi dan Pura Agung Wira Loka Natha 

Jumlah penganut Agama Hindu di Cimahi berkisar di 

angka 1.000 orang. Umat Hindu paling banyak berdomisili di 

wilayah Kecamatan Cimahi Tengah, tempat berdirinya Pura 

Wira Loka Natha (BPS, 2015: 108-109). Pura Agung Wira Loka 

Natha dibangun di atas tanah milik Kodam Siliwangi, dan 

merupakan pura tertua yangdibangun di wilayah Bandung 

Raya, bahkan Jawa Barat. Letak persisnya berada di Jalan 

Sriwijaya No. D-11 Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi, 

yang sebetulnya wilayah itu dulunya merupakan komplek 

perumahan bagi para perwira TNI AD. Letaknya persis di 

tikungan jalan anatara Jalan Sriwijaya dan Jalan Stasiun, 

menuju ke arah Stasiun Cimahi. 

Tidaklah berlebihan jika dikatakan lokasi pura ini 

cukup strategis sebab selain terletak persisi di pinggir jalan, 

posisi pura ini juga hanya sekitar 100 meter dari stasiun kereta 

api Cimahi. Pura ini juga tidak jauh dari Rumah Sakit Dustira, 

rumah sakit milik militer di Cimahi.Tidakmengherankan jika 

pembangunan pura ini tidak lepas dari aroma kesatuan 

militer. Dilihat dari susunan panitianya, semuanya berpangkat 

militer. Surat Keputusan susunan panitia pembangunan pura 

ini dikeluarkan oleh Kobangdiklat TNI AD yang saat itu 

dijabat Mayjend Seno Hartono dengan nomor 

Skep/890/X/1976 tertanggal 2 Oktober 1976. Ketua umum 

pembangunan pura ini dijabat oleh Brigjend Bambang 

Soepangat, sementara ketua pelaksana pembangunan pura ini 

diketuai oleh Letkol Art Ida Bagus Sudjana 

 

Konsep Ketuhanan dan Ritual 

Tidak jauh berbeda dengan ciri khas umat Hindu Bali, 

terutama dalam mengimani konsep ketuhanan, umat Hindu 

Cimahi menyembah pada Ida Sang Hyang Widhi, sedang  

sumber ajaran utama yaitu  kitab suci Weda. Umat Hindu di 

Cimahi juga meyakini tujuan agama Hindu “moksartham 

jagadhita ya ca iti dharmah”yang artinya bahwa tujuan agama 

atau dharma yaitu  untuk mencapai jagadhita (kesejahteraaan 

dan kebahagiaan duniawi) dan moksa. 

“Agama Hindu itu mengalir seperti air. Sehingga 

bentuk kegiatan ritual, jelas berbeda antara satu daerah 

dengan daerah lainnya. Diibaratkan air di dalam gelas, 

maka air juga menjadi gelas. Jika di dalam kendi, maka 

air juga menjadi kendi. Namun pada hakekatnya tetap 

saja air. Dengan demikian, tidak dapat diharapkan cara 

sembahyang hindu itu sama, semua pasti mempunyai 

corak yang berbeda. Demikian pula dengan 

pakaiannya. Sebagai orang Jawa, cara pakaian dalam 

sembahyang saya berbeda dengan kebanyakan orang 

Bali. Sebagai orang Jawa, saya menggunakan adat jawa 

seperti blankon, surjan dan sebagainya. Menggunakan 

pakaian adat, seperti orang Bali menggunakan pakaian 

adatnya.”51 

Dalam pelaksanaan ritual, ada  ritual sehari-hari 

dan setengah bulan serta menurut pawukon, atau mengikuti 

momen tertentu. Ritual sehari-hari, secara individu masing-

masing umat melakukan persembahyangan tiga kali sehari 

yang disebut tri sandya. Ketiga waktu ini  yaitu  pada 

waktu matahari terbit, matahari tepat di ufuk dan menjelang 

terbenam.52 Selain ritual harian, dilakukan pula ritual setiap 

setengah bulan sekali, mengikuti alur bulan, yaitu yang 

disebut ritual purnama dan ritual tilem, artinya bulan gelap dan 

                                                          


terang. Pada tanggal 1-15 disebut purnama, pada saat tidak ada 

bulan disebut tilem. Pada saat purnama tilem ini banyak umat 

mendatangi pura untuk sembahyang. Di luar ritual harian dan 

setiap setengah bulan ini, ada  pula ritual hari-hari besar 

keagamaan berdasar  pawukon (Galungan, Kuningan, 

Saraswati, dan Pagerwesi).53 

Dalam pelaksanaan ritual tidak lepas dari sesajen atau 

banten yang merupakan sarana ritual . Untuk banten bagi 

umat Hindu di Cimahi itu diwujudkan dengan 

memperhatikan sarana setempat. Syarat yang harus ada 

berupa bunga, daun, buah, api dan air.54 Barangkat dari sini 

banyak kemudian dikembangkan unsur seninya, terutama 

apabila melihat fenomena banten atau upakara Bali. Banten ini 

sebuah simbol persembahan kepada sang pencipta. Sebuah 

cerminan dari kebersihan, ketulusan dan keikhlasan serta juga 

bentuk ucapan terima kasih atas apa yang telah diberikan Ida 

Sanghyang Widhi. 

 

Pengaturan Umat 

Dalam perjalanannya, umat Hindu Cimahi diatur oleh 

beberapa lembaga dengan perannya masing-masing yang 

berbeda. Pengaturan lembaga ini tidak jauh berbeda dengan 

pengaturan desa adat, atau desa pakraman di Bali walaupun 

bentuknya lebih sederhana. Lembaga yang pertama harus 

disebut yaitu  banjar. Lembaga ini didirikan untuk lebih 

bergerak pada kegaitan sosial yang bersifat suka duka. 

Konkritnya untuk menangani kematian dan pernikahan, 


namun yang pertama lebih mengemuka ketimbang yang 

kedua.  

Pengukuhan banjar khusus di Bandung Raya 

dikukuhkan oleh Lembaga Musyawarah Banjar (LMB). 

Lembaga ini perpanjangan tangan parisada. Ditempat lain 

berbeda, tidak persis seperti itu. Biasanya langsung ditunjuk 

PHDI setempat. LMB ini juga berlaku mengawasi kinerja 

pengurus Wasudhana sebab  memegang uang umat. Lebih 

jauhnya, LMB bisa memberhentikan ketua wasudhana.55 

Secara konseptual, sesungguhnya lembaga banjar 

mengurusi hal-hal terkait Panca Yadnya (lima pengorbanan 

yang dilakukan dengan tulus iklhas). Pertama, pengorbanan 

kepada Tuhan (Dewa Yadnya), apabila umat ingin menyatu 

dengan Beliau (denganNya, pen.), dan bersyukur sebab  telah 

diberi rejeki, dalam hal itu konteksnya ke Dewayadnya. 

Konsep ini juga dapat diartikan semua berdasar  Tuhan 

juga. Kedua, Rsi Yadnya. Hal ini terkait dengan keberadaan 

pandita, dan pinandita.  

Ketiga, Pitra Yadnya, pengorbanan kepada leluhur. 

Contohnya, di Bandung juga ada  prosesi ngaben, tidak 

hanya di Bali saja ngaben dilaksanakan. Di Bandung ada  

pemakaman di Gunung Bohong. Praktiknya, abunya 

ditempatkan di situ, tidak perlu dilarung. Bagi keluarga yang 

mampu persoalannya menjadi lain. Dalam hal ini, 

ngabendimaknai sebagai pengorbanan kepada leluhur.  

Keempat, Manusa Yadnya, pengorbanan antarsesama. 

Secara ritual misalnya, anak dalam kandungan, kemudian 

ritual  lahir, tiga bulan, seterusnya sampai ritual  potong 


gigi, dan pernikahan itu merupakan tanggung jawab orang 

tua. Dalam kaitan ini konteksnya manusa yadnya. Berikutnya 

juga kalau memberikan santunan kepada anak asuh. Saat ini 

sedang dikembangkan PHDI sebuah badan dana nasional 

yang mengurusi santunan ini.  

Terakhir yang kelima, yaitu Buta Yadnya. Artinya, 

berkorban untuk alam. Biasanya dalam rangka Nyepi 

dilakukan Buta Yadnya. Manusia seringkali mengeksplorasi 

ciptaan Tuhan berupa Sumber daya alam (SDA), tanpa pernah 

mengembalikannya. Di sini Hindu mengajarkan untuk 

berkorban kepada alam, dan momennya pada hari Raya 

Nyepi. Tepat sehari sebelum Nyepi disebut Tawur Kesanga. 

Hindu juga mengakui derajat di bawah manusia. Itu 

disempurnakan supaya dia nanti hidup lebih sempurna, 

meningkat sesudah  kelahirannya.56 

Untuk lebih menguatkan ikatan itu, dibentuklah 

lembaga yang disebut lembaga Wasudhana, singkatan dari 

Warga Suka Duka Dharma Kencana Bandung Raya. Lembaga 

ini mewadahi umat Hindu hanya khusus di Bandung Raya 

saja. Rata-rata anggotanya masih aktif bekerja dan mencari 

waktu untuk kegiatan social. Dalam lembaga ini, dihimpun 

iuran bulanan, besarnya Rp. 10 ribu setiap bulan per KK. 

Selain itu, tiap KK juga dikenakan iruan Rp. 3 ribu untuk pura 

dan Rp. 2 ribu untuk operasional banjar. Sekarang setiap 

kedukaan diberikan santunan oleh Wasudhana sebesar Rp. 4 

juta. 

Selain banjar, untuk urusan ritual dipegang oleh 

pengurus pura. Sama seperti kepengurusan banjar, ritual 

umat diurus ketua pura dan pengurus lainnya dengan 

 

semangat kesukarelaan. Pengurus pura mengurus semua 

kegiatan di pura, misalnya menyambut hari-hari besar 

keagamaan. Selain itu, pura menangani ritual pada peristiwa 

kedukaan. Kedukaan menggunakan ritual, misalnya apakah 

diselesaikan di sini, artinya di krematorium Cikadut, di 

Bandung atau dibawa ke Bali. Termasuk persiapan di 

krematorium juga ada ritualnya. Peran Ketua Pura 

ditunjukkan dari sisi pelaksanaan ritual ini sebab  memang 

paham tentang ritualnya.57 

Untuk dewan pengurus pura dibentuk banjar. 

Konsekuensinya, aset di pura termasuk aset banjar. Selain itu, 

pasraman dibentuk melalui rapat banjar. Pergantian pengurus 

pura juga melalui rapat banjar. Banjar berwenang menegur 

kinerja pengurus pura maupun pasraman. namun  banjar tidak 

membentuk PHDI. Keberadaan PHDI di atasnya, malah 

mengayomi. Dengan demikian, PHDI sebagai lembaga 

tertinggi umat Hindu, sedang  kantong umatnya di banjar-

banjar.58 

Di pura Wira Loka Natha Cimahi ini juga ada  

pasraman yang dinamakan Widya Dharma. Pasraman ini 

menjadi eksis terutama sebab  siswa-siswanya tidak 

mendapatkan pelajaran agama di sekolah-sekolah umum. 

Siswa itu mulai dari tingkat SD-SMA. Pendidikan pasraman 

itu dilakukan setiap hari Minggu. Jumlah muridnya mencapai 

170an siswa. Siswa-siswa itu lebih sebab  arahan orangtua 

untuk sekolah agama di situ. Terbetik kabar yang 

mengagetkan, bahwa sebenarnya telah ada SK pengangkatan 

seorang guru Agama Hindu di sebuah sebuah sekolah di 

 

Bogor. Namun ternyata guru ini  ditolak masuk di 

sekolah ini .59 

 

Mengukuhkan Fleksibilitas Hindu 

Di samping umat Hindu di Cimahi telah dikondisikan 

sedemikian rupa, pihak pengurus PHDI Jawa Barat juga telah 

memperkuat tekat untuk mengikuti instruksi pengurus pusat 

terkait dengan telah selesainya grand desain 50 tahun umat 

Hindu ke depan. Dalam keagamaan, di PDHI ditetapkan 

bisama, sejenis fatwa. Itulah yang menjadi acuan yang 

ditetapkan parisada pusat. sebab  seperti fatwa, maka bisama 

tidak mempunyai kekuatan hukum secara yuridis. Salah satu 

poin dalam grand desain yang penting dicatat yaitu  perlu 

dikembangkan umat Hindu berdasar  local genius-nya. 

Dalam implementasinya, kepemimpinan PHDI Jabar sekarang 

ini tidak membawa Bali ke Jawa Barat. Hanya membawa 

Hindu saja. Hal ini sebab  tidak dapat dilakukan, sebab Bali 

sangat campur dengan budaya. Di Jawa Barat terbentur 

waktu, dana, SDM. Namun pengurus bukan hendak 

menggugat. Apabila nanti umat semakin pandai, umat akan 

mempertanyakan apakah demikian itu hakikat beragama.60 

Di Jawa Barat, dengan sekitar 20 ribuan umat dan 95 

persen orang para pekerja dari Bali yang Tersebar di 15 kokab 

di Jabar, pengurus PHDI ingin mengembalikan pemahaman 

Hindu pada back to basic, artinya kembali ke Weda. Mengambil 

tatwa dari Weda. ritual  itu melaksanakan tatwa. Susila 

diperlukan dalam membaca kitab suci. Langkah menyadarkan 

                                                          


umat akan hakikat Hindu ini juga salah satu kiat yang mereka 

lakukan untuk mengarungi hidup sebagai umat Hindu di luar 

Bali.  

warga  Hindu di Cimahi Jawa Barat sejauh ini 

mencoba untuk mereformulasi Hindu lebih kepada inti ajaran, 

dalam pengertian berusaha mengurangi unsur budaya dan 

terlebih unsur ke-Bali-annya. Para pimpinan parisada, pura 

dan banjar memahami keberadaan mereka yang diaspora dari 

Bali. Namun, hal ini dapat dikatakan masih dalam proses 

yang panjang sebab hampir keseluruhan umat Hindu di 

Cimahi mempunyai ikatan leluhur dengan kampung halaman 

mereka di Bali. Kondisi ini tentu menghadirkan pertarungan 

batin tersendiri sebab  sejauh ini dipahami, Hindu Bali-lah 

yang membesarkan mereka. Pemikiran ini bukan hanya 

didorong oleh tokoh-tokoh Hindu yang berasal dari Bali yang 

tinggal di Jawa Barat, khususnya Cimahi, namun juga 

disuarakan oleh tokoh Hindu yang bukan berasal dari Bali. 

Untuk mengidentifikasi eksistensi umat Hindu di 

Cimahi, perlu disebut keberadaan lembaga Banjar Bandung 

Barat dengan tugasnya untuk mengelola kegiatan suka duka 

atau sosial umat Hindu di Cimahi. Selain itu juga ada  

pengurus pura yang bertanggung jawab terhadap jalannya 

ritul. Lembaga tertinggi yang mewadahi umat hindu baik 

secara sosial dan ritual yaitu PHDI juga eksis di Cimahi 

walaupun dalam garis batas kinerja sesuai standar dalam 

pengertian belum banyak terobosan dilakukan. Angin segar 

dengan keberadaan pasraman, namun keberadaan pasraman 

ini seperti kompensasi saja dari tidak disediakannya pelajaran 

Agama Hindu di sekolah-sekolah umum yang seharusnya 

sesuai UU diajarkan kepada siswa oleh guru seagama.  

Di luar itu, mengamati dan mempelajari umat Hindu 

di Cimahi ini ternyata menyajikan upaya menunjukkan 

fleksibilitas Hindu, dengan Pura Agung Wira Loka Natha 

sebagai pusat peribadatan dan kelembagaan agama maupun 

sosial umat Hindu di Cimahi. Fleksibilitas dalam pengertian 

dapat secara lentur mengembangkan local geiusnya, tanpa 

harus membawa akar budayanya, yaitu Budaya Bali ke tatar 

sunda. Namun di samping itu juga dikembangkan Hindu 

yang berupaya kembali ke dalam back to basic-nya, yaitu 

Weda. 


Memahami Hindu di Bali 

Bagi warga  Hindu Bali, agama telah menjadi 

suatu hal yang berbaur dengan adat istiadat. Hindu di Bali 

telah mewujud dalam berbagai ritual ritual  baik di tingkat 

keluarga sampai di tingkat warga  yang luas menjadikan 

berbagai ritual  itu tidak hanya sebagai ungkapan syukur 

dan kecintaan kepada Tuhan, tapi juga menjadi identitas 

warga  Hindu Bali sebagai warga  yang religius, 

kreatif, “rumit” dan produktif. Identitas ini  tergambar 

dalam berbagai tradisi ritual  dan upakhara yang dilakukan 

oleh warga  Hindu Bali. Tradisi yang telah dilakukan 

secara turun temurun ini  merupakan jalan yang diyakini 

dapat mengantarkan para penganutnya menuju 

kesempurnaan dan penyatuan jiwa dengan sang pencipta. 

warga  Hindu di Bali meyakini bahwa ritual  

yang menggunaan banten (upakara/perangkat sesajen) sebagai 

medium ritual , telah dan akan selalu menjadi media yang 

menghubungkan mereka dengan Sang Hyang Widhi Wasa, 

sekaligus menjadi identitas dan sarana pendidikan bagi 

warga  untuk senantiasa merepresentasikan sikap tulus 

berkorban mereka dalam  bentuk variasi bentuk, isi dan 

keadaan dari banten yang mereka persembahkan pada saat 

ritual . 

Cara pandang umat Hindu di Bali yaitu  produk 

penafsiran ajaran Hindu yang telah menyatu dengan kondisi 

dan situasi warga , alam dan nilai–nilai yang telah ada di 

Bali. Ajaran Weda bagi umat Hindu di Bali yaitu  ajaran yang 

pelaksanaannya dapat berasimiliasi dengan situasi alam, 

situasi manusia dan produk-produk budaya yang telah ada di 

tempat ajaran Weda itu dikembangkan. Ajaran Weda di Bali 

juga telah berkembang menjadi sistem tradisi umat Hindu di 

Bali yang turun temurun terus dilakukan sampai hari ini, baik 

dilakukan perseorangan maupun dalam bentuk bersama-sama 

atau dalam sebuah komunitas mulai dari tingkatan 

rumah/keluarga, desa, banjar, yang semuanya menggunakan 

media untuk beribadah kepada Sang Hyang Widhi Wasa, 

terutama di pura sesuai dengan tingkatannya. Tradisi atau 

kebiasaan yang dilakukan secara turun-temurun inilah yang 

kita sebut tradisional.  

Salah satu fitur yang dapat dipakai  untuk 

memahami Hindu di Bali yaitu  sistem pelapisan sosial 

warga nya, selain adat dan budaya. Hal ini penting 

disampaikan di awal sebab  penelitian ini akan melakukan 

penelusuran tentang agama Hindu melalui klan Pande. 

Klan/Soroh yaitu  kelompok kekerabatan yang terdiri atas 

semua keturunan seorang nenek moyang yg diperhitungkan 

dari garis keturunan laki-laki atau wanita. Kesatuan 

geneologis yang mempunyai kesatuan tempat tinggal dan 

menunjukkan adanya integrasi sosial; kelompok kekerabatan 

yang besar; kelompok kekerabatan yang berdasar  asas 

unilineal.  

Yoga Segara (2015: 77-78) menjelaskan cukup panjang 

masalah struktur sosial warga  Bali. Menurtutnya, jika 

merujuk pada istilah keturunan (wangsa, soroh, warga), maka 

sistem pelapisan sosial warga  Bali juga dapat 

dikelompokkan ke dalam beberapa lapisan dengan 

berdasar  sapinda, gotra, dan prawara . Pertama, sapinda, yaitu pengelompokan keluarga untuk 

membangun suatu paguyuban wangsa atau kewargaan yang 

didasarkan atas kesamaan darah dari garis keturunan yang 

jelas, misalnya, apakah seseorang itu sebagai anak, misan, 

mindon, cucu, kumpi, kelab. Mengurai hubungan darah sampai 

ke garis keturunan yang lebih luas seperti ini sangatlah rumit. 

Pelacakan garis keturunan ini paling banyak dapat diketahui 

sampai pada lapis keempat, seperti dari ayah, ibu, kakek, 

nenek dan kumpi, sulit untuk sampai ke lapisan kelab, 

kelampung, canggah, wareng hingga keletek.  

Kedua, gotra, yaitu pengelompokan keluarga 

berdasar  hubungan ketokohan seseorang, yang diyakini 

membentuk suatu keturunan warga yang berarti ikatan atau 

jalinan, terutama jalinan dalam ikatan pemujaan. 

Terbentuknya gotra terjadi secara alami dan bertahap. Mereka 

yang merasa memiliki hubungan kekerabatan, baik sebab  

merasa ikut diperjuangkan nasibnya oleh tokoh bersangkutan 

atau memang sebab  ada hubungan darah meski sudah sangat 

jauh, sebab  ketokohan itulah mereka merasa dekat sebagai 

satu warga. Sistem gotra seperti ini di Bali banyak berlaku, 

misalnya, yang paling terkenal yaitu  Warga Pasek Sanak Sapta 

Resi, Warga Bhujangga Waisnawa, Warga Maha Semaya Pande.  

Terbentuknya gotra ini tidak lagi sebatas hubungan 

kasta, sebab  ditemukan juga Warga Brahmana Siwa Wangsa 

yang dibentuk Danghyang Dwijendra. Begitu juga Danghyang 

Astapaka diyakini sebagai pembentuk Warga Brahmana 

Wangsa Budha, dan Mpu Gni Jaya sebagai pembentuk Warga 

Pasek. Sebagian gotra di Bali yang berbeda-beda ada juga yang 

memiliki hubungan satu sapinda. Misalnya, Warga Brahmana 

Siwa Wangsa yang tidak memiliki hubungan keluarga 

berdasar  gotra dengan Warga Pasek Sanak Sapta Resi, namun  

dalam silsilahnya, mereka satu hubungan sapinda, sebab  

leluhur Danghyang Dwijendra sebagai pembentuk Warga 

Brahmana Siwa Wangsa yaitu  Mpu Beradah yang bersaudara 

dengan Mpu Gni Jaya, leluhur Warga Pasek Sanak Sapta Resi. 

Dilihat dari sapindanya, Warga Brahmana Siwa Wangsa masih 

satu keluarga dengan Warga Pasek Sanak Sapta Resi. Akar 

konflik dan perebutan status serta kedudukan sosial di Bali 

yaitu  orang yang bernama Ida Bagus atau Ida Ayu merasa 

sebagai satu-satunya keturunan brahmanawangsa, padahal 

Warga Pasek sebagai keturunan Mpu Geni Jaya yaitu  juga 

keturunan brahmanawangsa. Dan ketiga, prawara artinya yang 

terutama atau yang paling terkemuka. Prawara merujuk pada 

pemujaan terhadap dewa utama tertentu. Jika dewa utama 

yang dipuja yaitu  Siwa, maka pengikutnya akan disebut 

Warga Siwa atau Siwa Paksa, jika Wisnu, pengikutnya yaitu  

Warga Waisnawa. Jadi prawara yaitu  paguyuban ikatan 

kewargaan berdasar  kesamaan dewa yang dipuja. Jenis 

paguyuban ini juga disebut sekte. 

 

Lokasi Penelitian  

Lokasi penelitian ini memilih Kota Denpasar, dengan 

alasan Bali merupakan pusat agama Hindu sekaligus paling 

banyak yang memiliki penganut kelompok tradisional, 

memiliki keberagaman ritual /upakara dalam tradisi dalam 

agama Hindu. Dalam tradisi Hindu di Bali yang sifatnya 

turun temurun dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu 

kelompok Brahmana, Kelompok Pande, Kelompok Pasek, dll.  

Dari berbagai kelompok ini , lebih spesifik lagi 

penelitian ini memilih penelitian kelompok tradisional Pande 

di Jalan Ratna, dengan pertimbangan:  

1. Kelompok Pande ini merupakan pusat komunitas pande 

yang ada di Bali yang satu-satunya kelompok ditugaskan 

leluhur mereka untuk membuat keris dan wajib 

diturunkan pada generasi berikutnya. 

2. Kelompok ini merupakan pusat kelompok Pande yang 

menjaga tradisi merapen (keris pusaka) yang diisi jiwa, 

sementara di kelompok pande lainnya hanya membuat 

keris sebagai pelengkap seni dan budaya saja.  

Kota Denpasar yaitu  ibu kota Provinsi Bali, 

negara kita . Kota Denpasar berada pada ketinggian 0-75 meter 

dari permukaan laut, terletak pada posisi 8°35’31” sampai 

8°44’49” Lintang Selatan dan 115°00’23” sampai 115°16’27” 

Bujur Timur. Sementara luas wilayah Kota Denpasar 127,78 

km² atau 2,18% dari luas wilayah Provinsi Bali. Luas Kota 

Denpasar yaitu  127.78 Km2. Terdiri dari Denpasar Selatan 

49.99 Km2, Denpasar Timur 22.31, Denpasar Barat 24.06 Km2, 

dan Denpasar Utara 31.42 Km2. 

Nama Denpasar dapat bermaksud ‘Pasar Baru’, 

sebelumnya kawasan ini merupakan bagian dari Kerajaan 

Badung, sebuah kerajaan yang pernah berdiri sejak abad ke-

19, sebelum kerajaan ini  ditundukan oleh Belanda pada 

tanggal 20 September 1906, dalam sebuah peristiwa heroik 

yang dikenal dengan Perang Puputan Badung. sesudah  

kemerdekaan negara kita , berdasar  Undang-undang Nomor 

69 Tahun 1958, Denpasar menjadi ibu kota dari pemerintah 

daerah Kabupaten Badung, selanjutnya berdasar  


Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor Des.52/2/36-136 

tanggal 23 Juni 1960, Denpasar juga ditetapkan sebagai ibu 

kota bagi Provinsi Bali yang semula berkedudukan di 

Singaraja. Kemudian berdasar  Peraturan Pemerintah 

Nomor 20 Tahun 1978, Denpasar resmi menjadi ‘’Kota 

Administratif Denpasar’’, dan seiring dengan kemampuan 

serta potensi wilayahnya dalam menyelenggarakan otonomi 

daerah, pada tanggal 15 Januari 1992, berdasar  Undang-

undang Nomor 1 Tahun 1992, dan Kota Denpasar 

ditingkatkan statusnya menjadi ‘’kotamadya’’, yang kemudian 

diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 27 

Februari 1992. Secara administratif Denpasar di bagi dalam 4 

kecamatan (Denpasar Barat, Denpasar Selatan, Denpasar 

Timur dan Denpasar Utara), 43 desa atau kelurahan dengan 

209 dusun.  

 

Penduduk berdasar  Agama   

Menurut sumber Kanwil Kementerian Agama dari 

Januari s.d Desember 2015, jumlah keseluruhan penduduk 

umat agama Hindu di Prov. Bali sebanyak 3.699.582 jiwa, 

sedang  jumlah penduduk umat Agama Hindu di Kota 

Denpasar sebanyak 569.114 jiwa.  

Adapun tempat Ibadah Umat  Agama Hindu di Kota 

Denpasar sebanyak 1 buah Pura Dang Khayangan, 3 buah 

Pura Khayangan Jagad, 105 Pura Khayangan tiga, sedang  

setiap keluarga mempunyai pura masing-masing di rumah 

mereka. 

Sejarah dan Perkembangan Klan Pande di Bali 

Seorang tokoh adat di Bali, I Gusti Made Ngurah 

(tokoh agama)  mengatakan bahwa sebelum masuknya agama 

Hindu di Bali, warga  Bali sudah memeluk suatu 

keyakinan sendiri seperti yang dianut agama Hindu, yaitu 

keyakinan terhadap nenek moyang sebagai leluhur yang 

berada ditempat yang paling tinggi yang biasa disebut 

nomitis, atau banyak orang menyebutkan keyakinan Bali 

Kuno atau Bali Purba. Datangnya Agama Hindu di Bali justru 

menguatkan keyakinan mereka dengan konsep Hindu. 

Keyakinan nenek moyang ini  mirip dengan ajaran Hindu 

yang dibawa oleh penganut Hindu yang masuk ke Bali. yang 

saat ini disebut keyakinan Bali Age. Kemudian masuknya 

kerajaan Majapahit yang banyak memberikan pengaruh pada 

Bali Modern (Bali Upanaga). 

Senada dengan yang disampaikan I Gusti Made 

Ngurah, I Ketut Donder, dosen Pascasarjana IHDN 

menyebutkan bahwa warga  Bali pada awalnya 

melakukan persembahan terhadap apa saja yang ada disekitar 

mereka dengan tradisi mereka dalam rangka pemujaan 

terhadap Tuhan atau Sang Hyang Widhi Wasa. Kemudian 

datangnya Agama Hindu yang diadopsi dari India ke pulau 

Jawa dan dari Jawa ke Bali. warga  Bali yang punya 

sudah mempunyai keyakinan dan tradisi sendiri ini  

mempertahankan tradisi Balinya dan juga 

menggabungkannya dengan ajaran Agama Hindu yang 

datang kemudian.  

Dalam sejarah umat Hindu Bali disebutkan bahwa 

Mpu Kuturan dan Dang Hyang Nirartha yang datang dari 

tanah Jawa yaitu  orang yang dianggap berjasa dalam 

mengembangkan dan menyempurnakan agama Hindu. Umat 

Hindu merasa berhutang jasa kepada beliau. Untuk memuja 

kebesarannya, beliau dianggap sebagai pendeta guru suci atau 

dang guru bagi agama Hindu Bali. sehingga jadilah agama 

Hindu Bali seperti saat ini, yang merupakan asimilasi dan 

akulturasi dari ajaran tradisi Bali kuno dengan ajaran Agama 

Hindu yang datang kemudian. Beberapa narasumber lainnya 

menyebutkan bahwa keyakinan warga  Bali sudah ada 

sebelum datangnya Agama Hindu ke Bali, agama ini yang 

mereka sebut  Agama Titra (air suci). 

Ida Sira Empu Pande Aji, yang merupakan generasi 

ketiga sulinggih dari Klan Pande di Pura Keluarga, Pura 

Kawitan dalem Pande Majapahit Tatasan. Keturunan ketiga 

itu dihitung dari orang tua dan kakeknya. Beliau 

menceritakan bahwa leluhurnya terdahulu diatas kakeknya 

dan seterusnya tidak begitu dia ingat persis silsilahnya ke 

atas. Namun beliau menjelaskan bahwa Agama Hindu yang 

datang dari India ke tana