Spiritual Hindu 5
h Jawa dan datang ke Bali. Kerajaan
Majapahit yang mayoritas memeluk Agama Hindu datang ke
Bali dan menaklukan kerajaan di Bali.
Pada zaman raja-raja Majapahit yang datang dari tanah
Jawa ke Bali inilah para pande juga ikut bersama dengan raja.
Berikutnya mereka datang ke Bali, tidak berbarengan dengan
raja, mereka ada yang datang duluan, serta yang datang
kemudian. Ajaran yang diikuti oleh para pande kebanyakan
belajar dari ajaran Majapahit. Adapun para pande yang
datang bersama dengan raja, yaitu para pande pilihan.
Namun demikian tidak diketahui pande yang mana yang
lebih dahulu datang ke Bali, sebab klan pande ini sudah
tersebar dimana-mana waktu itu. Pertama kali raja datang ke
Klungkung bersamaan dengan 400 orang Agama Hindu dan
termasuklah para pande. sesudah di Klungkung, mereka
menyebar dibeberapa daerah di Bali dan salah satunya
bertempat tinggal di Tatasan yang menjad leluhur Sire Mpu
Pande Aji yang memimpin Pure Dalam Pande Majapahit
Tatasan. Leluhur Pande Majapahit Tatasan merupakan abdi
dari Raja Puri Satria atau Raja Badung. Sri Mpu Pande Aji
tidak mengetahui secara pasti tahun berapa kedatangan
ini , diperkirakan abad ke 11.
Kemudian para pande yang datang bersama raja, di
daerah Tatasan membangun rumah dan beberapa bangunan
lainnya yang dibiayai oleh raja. Banyak pura yang dibangun
seadanya, sedang prapen tidak diketahui mulainya sejak
kapan, yang pasti prapen (bhs negara kita : perapian) sudah ada
sejak dulu, apakah prapen lebih dulu ada sebelum para pande
datang, ataukah berbarengan dengan para pande, atau datang
kemudian, hal ini belum diketahui pastinya kapan. Namun
para pande yaitu orang-orang yang selalu bersentuhan
dengan prapen. sebab sebelum adanya pande warga
Bali kuno sudah menggunakan logam, besi, kampak sebagai
alat-alat keseharian mereka. Namun apakah bahan-bahan
ini dibuat di Bali atau dibuat di luar Bali kuno belum ada
penjelasan untuk itu, begitu juga dengan kata prapen (tempat
proses pembuatan keris dan alat-alat pandai besi lainnya)
belum diketahui sejak kapan istilah itu muncul di Bali. Namun
yang pasti saat para pande sebagai pemegang hak turun
temurun sebagai pemegang tradisi pande besi, prapen sudah
dipakai .
Dalam struktur pemerintahan para raja di Bali dibantu
oleh kaum pande dalam menyelenggarakan pemerintahannya.
Para pande pada masa itu yang memberikan pertimbangan
bagi raja dalam persenjataan dan bertugas membuat senjata
bagi raja. Raja membiayai kegiatan pande, membiayai
pembuatan rumah, pura dan perapen (tempat membuat
senjata besi).
Dari 400 orang yang datang bersama raja ini ,
tidak diketahui berapa orang yang dari Klan Pande.
Disebutkan bahwa datang ke Tatasan diawalnya hanya ada 9
KK pande. Kemudian bertambah, sehingga dikemudian hari
sebanyak 40 KK menyebar ke bukit-bukit untuk membuat
kehidupan yang baru. Para pande ini menyebar dalam rangka
untuk membantu para petani yang kekurangan alat-alat jika
mereka membutuhkan. Para pande tidak hanya membuat alat-
alat dari logam dan besi, tapi mereka juga mengajarkan ajaran
para leluhur mereka kepada warga Bali dimana mereka
berada hingga sekarang.
Keberadaan kelompok tradisional Klan Pande di Pura
Keluarga dalam Agama Hindu di Kota Denpasar Bali. Klan
Pande merupakan salah satu kelompok tradisional Agama
Hindu yang ada di Bali. Klan pande, sudah ada sejak zaman
dahulu, berbarengan datangnya dengan raja-raja dari
Majapahit. Klan pande ini masih bertahan sampai hari ini
mempertahankan tradisi pande besi dilingkungan warga
Bali. Tradisi pande besi tidak hanya untuk membuat peralatan
dari besi untuk kehidupan sehari-hari namun lebih jauh dari itu
yaitu mempertahankan pusaka nenek moyang atau leluhur
mereka. Selain sebagai seorang pandai besi juga menjadikan
barang pusaka bernilai magis dan mempunyai kekuatan
supranatural. Kelompok tradisional pande ini hidup dalam
lingkungan keluarga dan dalam komplek keluarga yang
menyatu dengan tradisi keagamaan, menyatu dalam
lingkungan pura keluarga.
Sudah menjadi tradisi di dalam kehidupan warga
Bali ada pura di dalam komplek rumah, yang biasa mereka
sebut pura keluarga. Pura ini berfungsi sebagai tempat
sembahyang setiap hari untuk mendekatkan diri kepada
Tuhan Sang Hyang Widhi Wasa dan arwah keluarga yang
sudah meninggal atau leluhur/nenek moyang mereka. Pura
keluarga ini dimiliki oleh masing-masing keluarga yang sudah
menikah dan mempunyai rumah tersendiri. Kumpulan dari
keluarga-keluarga mempunyai pura ibu atau pura kemulan.
Kumpulan dari pura ibu atau pura kemulan dinamakan Pura
Dadya.
Kumpulan dari pura Dadya dinamakan Pura Kawitan,
demikian diungkapkan Lastra, seorang Bendesa Adat di Bali
sekaligus Kepala Urusan Agama Hindu Kemenag Prov. Bali.
Rumah di Bali di bangun dalam satu komplek dengan pura,
sehingga rumahnya pun dibuat petak-petak secara terpisah.
Ruang tamu pisah dengan ruang dapur, ruang acara do’a
terpisah dengan ruang untuk ritual pernikahan atau
kematian, ruang prapen (bagi klan pande) terpisah dari ruang
lainnya, dan begitu seterusnya. Masing-masing rumah sangat
mungkin memiliki letak bagian-bagian pura yang berbeda.
Umumnya tempat suci sebagai pura keluarga yang lazim
disebut sanggah, penempatannya mempertimbangkan arah
kiblat yaitu arah Timur atau Utara pekerangan rumah tinggal.
Pura sebagai tempat sembahyang kepada Tuhan dan
memuja roh leluhur terus ditanamkan dalam kehidupan
keluarga mayarakat Bali. Tradisi turun temurun ini terus
berlangsung, dimana rumah masih terjaga dengan keberadaan
pura keluarga ini . Adanya pura keluarga menjadikan
warga Bali sangat religius dalam kesehariannya. Dengan
kebaradaan pura keluarga, sisi positifnya yaitu
keluarga/anak turunan tidak dengan mudah menjual tanah
warisan. Menjadikan warga Bali memiliki mental berani
keluar dari rumah. sebab dimanapun mereka berada, maka
setiap keluarga Hindu Bali akan membangun pura keluarga di
dalam lingkungan rumahnya, dan dimanapun mereka berada,
mereka tidak akan meninggalkan kawitan mereka (manusia
dengan leluhurnya).
Keluarga Pande Pura Kawitan dalam Pande Majapahit
Tatasan, sudah ada sejak jaman Majapahit, dan tinggal di
daerah Tatasan sekarang Jalan Ratna. Pura ini sudah
beberapa kali mengalami renovasi, terakhir direnovasi tahun
1990. Awalnya dibangun rumah, kemudian dibangun prapen,
dan pura. Dulu prapen dibangun sangat manual yaitu
menggunakan bambu, namun sekarang sudah modern.
Keluarga pande di Denpasar terdiri dari empat (4) klan besar
(pura paibon). Setiap Klan memiliki pura paibon (sanggah
besar) masing – masing. Pura Paibon (sanggah besar) yaitu
gabungan keluarga besar dalam satu daerah. 4 pura paibon
ini bersaudara dan dari keempat paibon keluarga
disatukan dalam Pura Kawitan Pande dalam Tatasan. Adapun
4 Pura ini yaitu Pura Dalam Pande Majapahit, Pura
Maospahit, Pura Tamansari dan Pura Ibusari.
Pura Dalam Pande Majapahit Tatasan hanya membuat
keris/senjata dengan segala proses pemberian jiwanya
(pasopati). sedang tiga pura lain selain senjata, mereka juga
memproduksi alat rumah tangga,pisau. Pande di tiga pura
ini lebih berperan sebagai pengrajin besi.
Konsep Ketuhanan Kelompok Tradisional Pande
Kelompok tradisional Pande sama halnya dengan
warga Bali pada umumnya yang beragama Hindu,
meyakini bahwa konsep ketuhanan secara monotisme. Mereka
meyakini bahwa Tuhan itu ada, tidak berwujud dan tidak
berbentuk apapun. Disebab kan tidak berwujud dan meyakini
Tuhan itu ada, maka agar umat Hindu mudah memahami dan
memaknai kalau Tuhan itu ada, sehingga kelompok
tradisional pande khususnya dan umat Hindu di Bali pada
umumnya, perlu memanifestasikan Tuhan dalam bentuk
personifikasi dalam wujud yang lain seperti para dewa.
Mewujudkan Tuhan kepada berbagai bentuk sesuai dengan
peran dan fungsinya. Dewa merupakan wujud lain dari
Tuhan dan mempunyai salah satu peran dan fungsi dari
Tuhan itu sendiri di muka bumi ini (alam semesta). Adapun
wujud dan bentuk dari para dewa ini disesuaikan
dengan persepsi umat Hindu itu sendiri untuk
mempersepsinya seperti apa. Sehingga wujud dan bentuk
para dewa itu selalu tidak sama, namun secara subtansi peran
dan fungsi dewa itu tidak berubah.
Menurut I Gede Swantana (dosen Pascasarjana IHDN)
bahwa bagi seorang yang pemaham keagamaannya tinggi
maka Tuhan tidak perlu diwujudkan, yang peting kita yakin
dia ada, namun untuk mencapai Tuhan bagi warga biasa
perlu diwujudkan dalam bentuk-bentuk tertentu sesuai
dengan persepsi orang yang memujanya, sebab setiap orang
mempersepsikan Tuhan dengan perwujudan dewa dan
sesuatunya tidak sama. Bisa saja personifikasi dewa Wisnu
menurut A digambarkan seperti orang yang sangat
berwibawa dan tampan sebab Wisnu yaitu personifikasi
Tuhan dalam simbol air, namun pada si B bisa saja Wisnu
digambarkan tidak seperti itu, begitu juga pada si C, belum
tentu personifikasinya sama dengan si A dan B, bisa saja
dengan gambar atau wujud yang lain, Wisnu dapat
diwujudkan dalam banyak personofikasi, begitu juga dengan
dewa-dewa lainnya atau bisa saja sama bentuk yang
dipersonifikasikan ini .
Senada denga hal ini , Yoga Segara (Dosen
Pascasarjana IHDN) berkata-kata bahwa bagi umat Hindu
yang terpenting yaitu mereka mampu menyatukan diri
dengan Tuhannya, persoalan lainnya merupakan sarana saja,
namun masarakat perlu mempersonafikasi Tuhannya dalam
kehidupan sehari-hari, sehingga Tuhan dalam bentuk dewa
bagi seseorang itu tidak sama, tergantung yang bersangkutan
mempersonifikasikannya sesuai fungsinya.
Menurut I Ketut Donder berkata-kata bahwa
warga Hindu barnyak yang tidak tau isi weda yang
aslinya, sehingga mereka kebanyakan memakai bagawangitha
yang merupakan rangkuman dari Weda yang sudah
diterjemahkan dalam bahasa negara kita , kitab-kitab seperti ini
biasanya hanya di baca oleh para resi, kelompok Brahmana
dan para akademisi yang konsen dalam hal keagamaan.
Kebanyakan umat hindu menyembah Siwa, Wisnu dan
Brahma atau Trimurti. Ada beberapa kelompok spiritual yang
hanya cukup dengan melakukan yoga saja, ada yang sudah
modern dengan cara yoga, ada juga yang menggabungkan
keduanya, bahkan ada yang bersifat memahami Tuhan
dengan cara-cara klenik, bahkan ateis. Semua bisa diterima
sepanjang mereka tujuannya satu yaitu penyatuan diri kepada
Tuhan yang maha tunggal.
Sire Mpu Pande Aji, seorang sulinggih dari keluarga
Pande menjelaskan tentang adanya hurup suci yang
diturunkan Tuhan ke alam semesta yang disebut Ongkara.
Huruf suci (Ongkara) itu terdiri atas Ang, Ung dan Mang.
Ketiga hurup itu mewakili unsur alam dan unsur Trimurti.
Ang menjadi simbol unsur Api yang berarti penciptaan yang
dipersonifikasikan dengan Dewa Brahma. Ung menjadi simbol
unsur Air yang berarti pemeliharaan dengan personifikasi
Dewa Wisnu. Mang menjadi simbol unsur angin yang berarti
peleburan atau pengembali dengan personifikasi Dewa Siwa.
Kesemua unsur api, air dan angin itu menjadi satu
kesatuan dalam sistem Trimurti. Tuhan dipercaya sebagai satu
zat yang esa yang dipersonifikasikan dengan fungsi dan peran
Tuhan sebagai pencipta yang disebut dengan Brahma (simbol
api), sebagai pemelihara alam semesta yang disebut dengan
Wisnu (simbol air) dan Siwa (simbol angin) sebagai pelebur,
pengembali alam dan mahluk hidup kepada asalnya.
Dewa sebagai personifikasi Tuhan dapat disimbolkan
berupa alam. Dimana alam memiliki kesamaan substansi
dengan sifat Tuhan atau Dewa ini . Unsur Api dianggap
mewakili sifat penciptaan, sebab api yaitu energi asal dari
kehidupan, inti matahari, inti bumi dan kekuatan yang
memberi kehidupan. Api juga merupakan kekuatan yang
memberi bentuk kepada seuatu seperti api yang dipakai
pada penempaan besi, baja dan nikel menjadi senjata.
sedang unsur air dianggap sebagai wakil pernyataan
tentang pemeliharaan yang menyejukan dan memastikan
kehidupan berjalan dengan baik. Air menjadi penebus dahaga
dan panas, dan menjadi mediapengobatan dari berbagai
penyakit. Berbeda dengan unsur angin atau udara yang
dianggap mewakili sifat melebur dan mengembalikan, sebab
angin yaitu zat yang bisa membawa sesuatu dan merubah
bentuk benda dari bentuk yang telah ada sebelumnya. Jika
konsep trimurti ini dijalankan dengan baik maka akan terjalin
hubungan yang harmonisasi.
Konsep Tri Murti ini dalam keluarga pande pura
tatasan diwujudkan dalam 3 padmasana. Dan keluarga ini
lebih memakai unsur Brahma sebagai unsur api, unsur api
untuk membuat keris yang menjadi pusaka turun temurun
dalam klan pande. Sehingga Tuhan yang berwujud Brahma
tetap hadir dalam tradisi pande besi dan diwujudkan dalam
tradisi membuat keris pusaka yang dibakar besinya dengan
api. Disinilah wujud Tuhan itu hadir.
Pemahaman kelompok tradisional pande ini ,
dikuatkan oleh I Nyoman Lastra yang berkata-kata bahwa
dalam sistem keyakinan orang Bali menganut sistem
ketuhanan yang disebut dengan Tri Murti, yang merupakan
suatu keyakinan tentang keesaan tuhan yang disebut Sang
Hyang Widhi Wasa yang dipersonifikasikan dengan tiga
bentuk yaitu Brahma (pencipta), Wisnu (pemelihara) dan Siwa
(pemralina atau pengembali). Sang Hyang Widhi Wasa
merupakan zat Tuhan Yang Maha Esa.
Menurutnya, sebuah zat yang berada dalam keadaan
yang tidak dapat digambarkan dengan apapun atau
menyerupai apapaun. Dialah yang menjadi pusat segala
sesuatu kehidupan. Brahma merupakan personifikasi Tuhan
sebagai pencipta. Peran Tuhan menciptakan alam semesta dan
terkait unsur–unsur dasar sumber kehidupan. Wisnu yaitu
penggambaran peran Tuhan sebagai pemelihara kehidupan
dan alam semesta. Wisnu yaitu wujud Tuhan yang
menyebarkan kesejahteraan, pengetahuan, peradaban, dan
hallaian yangmemastikan kehidupan manusia dan alam
semesta terpelihara. sedang Siwa yaitu manifestasi
Tuhan yang menjalankan siklus kehidupan, melebur yang ada
menjadi tiada,yang hidup menjadi mati sebagai bagian dari
proses kehidupan yang harus berjalan dengan seimbang.
Senada dengan Lastra, I Gusti Ngurah Sudiana yang
juga menjabat sebagai Ketua Umum PHDI berkata-kata bahwa
dalam sistem kepercayaan warga tradisional Hindu Bali,
Tuhan dipersonifikasikan kepada 9 bentuk peran yaitu :
1. Siwa (peran pelebur dan pengembali)
2. Durga (peran penguasa dunia ghaib, mahluk halus dan
siluman)
3. Brahma (peran Penciptaan)
4. Wisnu (peran pemelihara kehidupan)
5. Indra
6. Gana (Ganesha) (peran penguasa ilmu pengetahuan)
7. Birawa
8. Surya (matahari, sumber kehidupan)
9. Agni (penguasa Api).
Kesembilan simbol peran ini digabung menjadi
tiga dalam satu kesatuan manunggal yang mereka sebut Tri
Murti, yaitu:
1. Siwa (kesatuan dari Durga, Birawa dan Siwa)
2. Wisnu (kesatuan dari Indera, Gana dan Wisnu)
3. Brahma (kesatuan dari Surya, Agni dan Brahma)
Tri Murti inilah yang merupakan representasi dari
Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam setiap ritual keagamaan,
Sang Hyang Widhi Wasa ditunjukan dalam banyak simbol-
simbol lainnya, seperti dalam canang yang didalamnya
ada unsur-unsur pokok dalam banten atau upakhara. Tri
Murti dilambangkan dengan sirih yang merupakan simbol
dari Wisnu sebagai pemelihara. Kapur sebagai simbolis dari
Siwa yang melebur dan mengembalikan dan buah pinang
yang merupakan simbol Brahma atau penciptaan.
Konsep Tri Murti paling fundamental disimbolkan
dalam bentuk pemujaan rong tiga. Di dalam bangunan rong
tiga kita akan melihat simbol ini berupa ruangan
kotak/rong tiga, yang menunjukan persembahan atau
pemujaan terhadap dewa Brahma, Wisnu dan Siwa.
sedang rong dua di kiri dan kanan melambangkan simbol
pemujaan pada leluhur laki-laki dan perempuan, dan rong
satu ditengah untuk pemujaan terhadap roh suci leluhur yang
tunggal dan biasanya ada di areal utama tempat suci
keluarga.
Pendapat yang sama diungkapkan pula oleh Ide
Pandita Dukuh Acharya Daksa, seorang pendeta pada
padukuhan Samiaga dan I Ketut Donder yang berkata-kata
bahwa secara hirarki ketuhanan dalam agama Hindu dibagi
menjadi 2 bagian, yaitu:
1. Nirguna Brahman, yaitu Tuhan tidak mungkin
dibayangkan atau disamakan dengan apapun. sebab
ketidak mampuan umatnya mengenal Tuhannya maka
para resi memohon akan diwujudkan sesuatu yang
berwujud.
2. Saguna Brahman, disinilah yang disebutkan atau
dipersonifikasikan berwujud Brahma, Wisnu, Siwa yang
mampu dibayangkan seakan-akan manusia bagi para resi
(orang suci) dan para yogi. Dan umat pun pada prinsipnya
diarahkan pada pemahaman nirguna brahman. Walaupun
dalam implemntasinya mereka memahami melalui
pemahaman saguna brahman, hal ini terjadi disebab kan
keadaan zaman dalam keadaan seimbang antara
keburukan dan kebaikan.
ritual sebagai Ritual Keagamaan
Dalam penghayatan dan pengajaran Agama Hindu,
dikenal tiga kerangka agama, yaitu tatwa, susila dan ritual .
Dari tatwanya, umat akan mendapatkan pengetahuan tentang
ajaran-ajaran Ketuhanan. Dari ajaran susila, umat akan
mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana prilaku
manusia sebagai mahluk tertinggi ciptaan Tuhan. sedang
dari ritual , umat akan mendapatkan tuntunan bagaimana
melaksanakan ritual agama yang benar, sesuai dengan
sastranya. Dari ketiga unsur agama ini , unsur tatwanya
akan tampak sama, sebab bersumber pada Weda, sebagai
kitab suci agama Hindu. Umat Hindu dimanapun berada,
mesti sama dalam memahami tentang tatwa. Namun dari
unsur susila akan perbedaan-perbedaan perilaku umat Hindu
yang ada disatu daerah dengan umat Hindu daerah lainnya.
Prilaku susila tertata, umum dikatakan adat, yaitu perilaku
manusia yang ditata menurut tempat berada, penataannya itu
sering disebut tata krama.
Begitu pula dengan unsur ritual , manakala umat
Hindu melaksanakan ritual agama, akan tampak wujudnya
berupa seni-budaya, namun landasannya tetap dari Weda
sendiri. Ucapan mantram, dikumandangkan dengan seni,
suara berupa kidung, kemudian tata pelaksanaannya
diwujudkan dalam bentuk seni-tari berupa: rejang, pendet,
baris, wayang, diiringi pula dengan seni-tabuh berupa gong,
gender, gambang, angklung, yang terlihat dalam seni-rupa
berupa lukisan pengider-ngider, kajang dan patung. Kesemua
itu dilaksanakan menurut waktu yang tepat dan pada tempat
yang tepat pula. Demikian pula halnya dalam melaksanakan
ritual agama berupa hari raya keagamaan, perayaannya
dilaksanakan dengan tatanan ritual . Makna dan tujuan
berdasar Tatwa, melalui sastra lontar, pelaksanaan
mengikuti tata krama, dan bentuk ritual nya diwujudkan
menurut seni budaya. Untuk menetapkan waktu, tempat,
bentuk, jenis ritual , itu mengacu pada lontar tatwa wariga
yang ada di Bali, sehingga sering dikatakan agama Hindu di
Bali diberikan identitas sebagai Hindu Bali.
warga Bali sebagai warga yang religius, di
mana antara agama, adat istiadat atau tradisi dan budaya
menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan didalam
kehidupan keseharian mereka. Secara substantif yang
menjalankan tradisi Hindu Bali dalam keagamaan atau secara
tradisional dilakukan oleh umat yang memiliki pura keluarga.
Dalam kesehariannya umat Hindu dalam keluarga dapat
melakukan puja-puja setiap harinya kepada Tuhan atau Sang
Hyang Widhi Wasa didalam tempat beribadah yang ada
dilingkungan rumahnya dengan mengadakan berbagai
ritual . Menurut I Nyoman Lastra dan I Gede Arnawa
(Sekretaris I PHDI Prov. Bali) bahwa ritual atau kegiatan
keagamaan dilaksanakan di pura. Sehingga pura terbagi
kepada tiga tingkatan, yaitu Pura Keluarga, Pura Teritorial
dan Pura Kahayanagan Jagat.
Pura keluarga terdiri atas beberapa jenis, antara lain
sanggah kemulan, sanggah merajan, Pura Panti dan Pura
Dadya. Setiap anggota keluarag terikat dengan pura keluarga,
setiap orang yang sudah menikah dan memisahkan diri dari
keluarga orang tuannya biasannya memiliki pura keluarga
sendiri. Pura Keluarga ini biasanya terdiri atas 1-3
bangunan. Tiap bangunan memiliki tempat persembahan
yang jumlahnya berbeda. bangunan itu, antara lain:
1. Kemulan (Rong Tiga): diperuntukan untuk ritual
pemujaan kepada leluhur yang sudah disucikan/dewa
yang dipersonifikasikan dalam konsep Trimurti (Brahma,
Wisnu dan Siwa).
2. Taksu (Rong Satu): Bangunan yang diperuntukan untuk
memuja atau ritual yang terkait dengan kewibawaan
3. Tugu (Rong Satu): Bangunan yang diperuntukan untuk
penjagaan pekarangan yang ada di rumah agar pemilik
rumah senantiasa terjaga dalam kehidupan yang damai.
4. Rong Dua: Bangunan yang diperuntukan untuk pemujaan
leluhur yang belum disucikan.
Adapun Pura Keluarga terbagi kepada beberapa
jenis,antara lain sanggah kemulan, sanggah merajan, pura merajan
dan sanggah gede /merajan agung yang juga disebut paibon.
Berbagai jenis pura keluarga ini dikategorikan
berdasar kelengkapan padmasana dan tingkatan keluarga.
Sanggah Gede/Paibon yaitu pura pusat keluarga besar atau
klan. Hampir disetiap rumah di Bali memiliki bangunan pura
di bagian depan rumah mereka. Kebanyakan pura rumah
ini memiliki beberapa bangunan tinggi berjumlah tiga
bangunan, walau ada beberapa pura yang memiliki lebih dari
tiga bangunan di dalamnya. Bangunanan padmasana Rong
Satu, Rong Dua dan rong Tiga, kebanyakan pura ini
dibangun dengan batu hitam dan ukiran seni bali.
I Gusti Ngurah Sudiana berkata-kata kelompok
warga Hindu Bali Tradisional terbagi kepada dua jenis
kelompok, yaitu:
1. Kelompok dari Griya61 (rumah Pandita).
2. Kelompok Non Griya (Pasraman62).
Para sulinggih itu memiliki identitas atau sebutan
masing-masing, yaitu:
1. Pedanda (Pendeta yang berasal dari Keluarga Brahmana)
2. Resi (Pendeta dari wangsa satria)
3. Resi Bujangga (Pendeta wangsa Aria)
4. Sire Mpu (Pendeta dari klan Pande)
5. Sri Mpu (Pendeta dari klan Pasek)
6. Dukuh (Pendeta dari Warga Dukuh)
7. Bhagawan (Pendeta dari kaum Kesatria)
Pada Pura Keluarga dalem Pande Majapahit Tatasan,
sulinggih dan keluarganya melakukan sembahyang setiap
harinya di pura keluarga di komplek rumahnya. Proses
sembahyang dilakukan setiap hari oleh sulinggih, istri dan
keluarganya. Sire Mpu Pande Aji, selalu melakukan
persembahyangan yang dibagi dalam 3 waktu atau disebut
Trisandya: pagi sekitar jam 5 subuh dengan membaca mantra
gayatri memuja Dewa Siwa dengan menyebut nama Tuhan
sebanyak 108 kali. Pada siang hari sekitar jam 12 dan sore jam
61 Griya yaitu kelompok Hindu yng secara turun temurun menjalankan
tradisi Hindu yang berpusat pada rumah dan pura pendande/sulinggih klan. Tiap
Kelompok/klan memiliki sulinggih dan paibon sebagai pusat kegiatan tradisi Hindu
Bali mereka.
62 Adapun Pasraman merupakan tempat berkumpul, kegiatan dan sekaligus
pendidikan, juga sebagai tempat tinggal berupa asrama. Orang yang bergabung
dalam Pasraman belajar dan mengkaji berbagai ilmu yang terkait dengan
kedigdayaan/olah kanuragan, pengobatan, dan Filsafat, ajaran Hindu baik yang
dipelajari dengan membaca weda atau yang mempelajari tanpa membaca Weda.
6 sore menjelang malam. Sembahyang sesungguhnya bisa saja
dilakukan di dalam kamar atau ruangan tertutup yang bersih.
Namun jika di rumah ada pura, sebaiknya sembahyang di
pura. Para ibu atau perempuan biasanya sembahyang pagi
sehabis mandi dan sesudah masak. Sembahyang siang sebelum
makan. Sembahyang malam sesudah mandi sore.
Kelompok tradisonal di Bali pada umumnya
melakukan kegiatan atau tradisi keagamaan melalui berbagai
ritual keagamaan dengan menggunakan media upakara
yang biasa disebut banten yang berbentuk sesajen. Di mana
bentuk, isinya terdiri dari mewakili unsur–unsur pemujaan
sesuai dengan tingkatan ritual nya. Pada prinsipnya ritual
disetiap keluarga kelompok tradisional di Bali sama, tidak ada
perbedaan secara substansial. Namun yang membedakannya
yaitu pada ragam isi sesajen/upakara pada saat ritual
dilaksanakan.
Menurut Lastra, sesajen persembahan dalam agama
Hindu yang paling inti yaitu Canang yang berisi porosan
yang bahannya daun sirih, kapur dan buah pinang. Di mana
daun sirih merupakan simbol pemelihara kekuatan Wisnu,
kapur sebagai simbol peleburan atau pengembali kekuatan
Siwa dan buah pinang merupakan simbol penciptaan
kekuatan brahma. Isi canang ini merupakan perwujudan dari
Brahma, Wisnu dan Siwa atau Trimurti. Sehingga sebesar
apapun banten atau persembahan kepada Sang Hyang Widhi
Wasa bagi umat Hindu, maka canang tidak pernah
ditinggalkan, dia selalu ada.
saat peneliti berada di rumah sulinggih Sire Empu
Pande Aji, istri pande Aji sedang menyiapkan sesajen untuk
bersembahyang, di dalam sajen ini ada canang yang
berisi sedikit daun siri, buah pinang, kapur, diatasnya ditaburi
aneka bunga yang tidak ditentukan berapa jumlahnya.
Canang ini dibawa ke pura dalam lingkungan rumah dan
dilakukan sembahyang disana. Selain itu disiapkan juga
canang yang lain dibeberapa tempat di dalam wilayah pura.
Dari kebiasaan di pura keluarga tatasan disiapkan canang
yang isinya juga lauk pauk yang dimasak hari itu untuk
disisihkan sedikit diatas canang, seperti nasi, ayam, ikan, dll
disisihkan. Hal ini dilakukan dalam rangka ucapan
terimakasih dan rasa syukur keluarga pande sudah diberikan
rezeki makan hari itu dan bisa dimasak untuk dimakan
keluarga. Tradisi yang dilakukan di keluarga pande ini juga
dilakukan oleh umat Hindu lainnya. Hal ini dibenarkan
oleh Luhde Sriti, sebagai umat Hindu Bali yang melaksanakan
keseharian hidupnya secara tradisional.
Hal senada juga disampaikan seorang ibu yang datang
Tulungg Agung dari Klan Pande ke pura tatasan saat peneliti
berada di sana. Setiap hari dia selalu membuat sesajen untuk
berbagai keperluan di rumahnya sebagai bentuk persembahan
kepada Tuhan dan leluhurnya. Menurut Luhde, hampir hari-
harinya melakukan tradisi sembahyang dengan membuat
canang, semua itu dinikmatinya dengan rasa syukur.
Walaupun kadang terasa capek, namun jika tidak dilakukan
seakan ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya jika tidak
melakukan persembahyangan dengan membuat sesajen,
sepertinya tidak sempurna sembahyangnya jika tidak
menyiapkan sesajen.
Kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh kelompok
tradisional di Bali pada umumnya dan keluarga pande pura
tatasan khususnya, semuannya tertuang dalam ajaran Kitab
Weda. Walaupun Sire Mpu Pande Aji menyampaikan bahwa
mengetahui semua isi Weda ini tidak terlalu penting jika
tidak dilaksanakan. Bagi umat Hindu, yang terpenting yaitu
melaksanakan isi Weda ini sekalipun dia tidak pernah
membaca kitab Weda. Menurut belia tradisi turun temurun
yang di sampaikan oleh para leluhur mereka yaitu
bersumber dari kitab Weda. Hal senada di ungkapkan pula
oleh Ida Pedande Made Gunung yang berkata-kata bahwa
semua tradisi yang dilakukan oleh warga Hindu Bali
yaitu bersumber dari Weda. Weda yaitu a ajaran yang
mengayomi, menjangkau dan memberikan makna bagi
budaya lokal. Weda mengajarkan agama yaitu jalan
mencapai keadaan kembali kepada sang pencipta atau moksa,
Dalam ajaran Hindu, Surga yaitu tempat transit jiwa
sebelum dikembalikan kedunia sampai manusia itu mencapai
kesempurnaan dan menyatu dengan sang pencipta.
Dalam ajaran Hindu ada dua jalan besar untuk
mencapai kesempurnaan, yaitu:
1. Jnana Sandiyasa: mencari kesempurnaan melalui pelajaran
teologi,pemahaman weda dan sebagainya.
2. Karma Sandiyasa: mencari kesempurnaan dengan
berhubungan dengan Tuhan melauai perbuatan. Karma
sandiyasa dilakukan dengan media ritual agama.
Karma Sandiyasa dilakuan dengan media ritual
agama, sedang ritual agama yaitu proses pemujaan
atau berhubungan dengan pencipta yang dilakuan dengan
media banten. Disebab kan Weda bukan ajaran doktrin,
sehingga terjadilah berbagai perbedaan dalam ritual .
ritual pada satu keluarga dengan keluarga lainnya tidak
sama, begitu juga ritual dalam satu pura tidak sama, namun
secara substansi diadakan ritual ini tetap tidak
berbeda.
______________________182
Dalam tradisi warga Hindu Bali, berbagai
ritual didasarkan pada tiga hal :
1. Sastra Destra.
ritual harus dilaksanakan berdasar kepada ajaran
yang ada dalam kitab suci weda. ritual merupakan
bentuk implementasi dari berbagai macam yang diajaran
dalam kitab Weda. Semua prosesi dan perangkat ritual
senatiasa mewkili berbagai simbol ajaran yang ada
dalam weda.
2. Desa Destra.
ritual agama dilandasi keadaan alam dan sosiologis
tempat tinggal warga umat Hindu di Bali. Tiap Desa
atau wilayah memiliki situasi yang berbeda sehingga
memiliki macam ragam tradisi ritual yang berbeda,
walau secara substansi tidak keluar dari Weda. Sebagai
contoh, Padmasana (tempat menghaturkan sesajen
/upakara) yang ada di tiap rumah, warga
Denpasar meletakan Padmasana atau Pura keluarganya di
bagian tengah rumah. Di Tabanan, warga
membangun padmasana mereka di bagian depan rumah.
3. Kuna Destra
ritual Adat harus diaksanakan berdasakan tradisi turun
temurun. Dalam pelaksanaan kegiatan ritual agama
Hindu di Bali ada 4 hal yang tidak dapat dipisahkan, dia
menjadi satu kesatuan yang berkaitan yang mencakup
Budaya, Adat, Seni dan Sosial. Ajaran Weda diwujudkan
dalam tradisi desa dresta dan kuna dresta sehingga ajaran
agama Hindu menyatu dalam budaya,adat, seni dan
tatatan sosial. ritual agama umat Hindu Bali tidak
hanya sarana bersyukur kepada Tuhan, tapi sarana
mendidik orang Bali untuk berpikir rumit, kritis dan
dinamis sehingga membentuk warga yang produktif.
Hal itu didasari situasi alam dan warga Bali. Alam
Bali tidak luas dan tidak memiliki kandungan kekayaan
alam yang besar. Maka ritual agama harus menjadi
sarana kreatifitas yang mengandung unsur bisnis dan
ekonomi. Disamping adat, budaya, seni dan sosial.
Lebih lanjut Ratu Pendanda Ida Gede Made Gunung,
mengungkapkan bahwa dalam ajaran agama Hindu Bali,
banten merupakan simbol ajaran yang ada dalam Kitab
Weda. Simbol-simbol itu dapat dilihat dari tiga hal yang
disebut dengan Tribuana.yaitu bentuk, isi dan keadaan. Ketiga
hal ini selalau mengandung unsur Bhur berarti alam
bawah, Bwah berarti alam tengah dan Swah berarti . alam atas
atau akasa. Unsur-unsur dimaksud dapat dilihat, antara lain:
1. Dalam bentuk banten, ada jajaitan yang berupa
segitiga (mewakili Bhur), segi empat (Mewakili Bwah)dan
Bundar (mewakili Swah)
2. Dalam isi banten ada unsur tumbuh-tumbuhan
seperti padi dan buah-buahan (mewakili unsur Bhur),
unsur mahluk yang dilahirkan seperti babi (mewakili
unsur Bawah) dan mahluk yang bertelur seperti ayam,
(mewakili unsur Swah)
3. Dalam keadaan banten, ada unsur mentah (mewakili
unsur bhur), unsur benda yang matang (mewakili unsur
bwah) dan benda yang masak (mewakili unsur Swah.)
Ida Sire Empu Pande Aji mengungkapkan bahwa
berbagai jenis ritual yang diselenggarakan di Pura
Keluarganya, antara lain: ,
1. Banten Saiban (setiap hari), Persembahan kepada Tuhan,
bagian/unsur dari makanan yang dimasak dan dmakan
oleh keluarga.
2. Purnama Tilem (setiap 15 Hari)
3. Piodalan/Wedalan (setiap 6 bulan), ritual yang terkait
dengan pendirian bangunan pura keluarga.
Selain ketiga, ritual ini , di lingkungan pura
keluarga tatasan juga diadakan berbagai upacra yang
dilaksanakan setiap 210 hari sekali, antara lain:
1. ritual Tumpak Landap: ritual untuk jiwa pada
benda–benda yang terbuat dari besi. Memuja Dewa
Pasopati
2. ritual Tumpak Wrige: ritual untuk jiwa pada
tumbuh–tumbuhan, memuja Dewi Sangkara.
3. ritual Tumpak Krulut: ritual jiwa pada barang –
barang seni, memuja Dewa Iswara.
4. ritual Tumpak Uye/kandang: ritual untuk jiwa pada
hewan.
5. ritual Tumpak Wayang: ritual untuk jiwa pada
wayang.
6. ritual Tumpak Kuningan: ritual untuk jiwa para
leluhur.
Selain ritual ini di atas, di pura keluarga pande
tatasan, juga ikut melaksanakan hari besar dalam agama
Hindu lainnya seperti hari raya lainnya seperti hari raya
Nyepi, hari raya Galungan, hari raya Kuningan, dll. Biasanya
hari-hari besar ini , Ida Sire Empu Panji, sebagai
Sulinggih dimohonkan untuk memimpin/memuput acara
ini . Dalam pandangan beliau, tradisi dan ritual yang
diadakan oleh umat hindu sesungguhnya membangun nilai
tentang memanusiakan alam dan lingkungan. Alam dan
lingkungan baik benda besi, tumbuhan, hewan,alat seni dan
wayang dianggap sebagai benda yang berjiwa seperti
manusia, sehingga diperlukan suatu ritual khusus untuk
tiap unsur alam dan lingkungan ini sebagai simbol
pengakuan terhadap jiwa di dalamnya.
ritual dalam tardisi warga Hindu Bali juga
mengandung makna memanusiakan manusia, dengan
mangatur etika manusia dalam ritual . Seorang yang datang
ke Pura untuk ritual agama harus mengenakan pakaian
sesuai dengan susila dan etika, dia datang dan duduk, sambil
menunggu ritual dia melantunkan bernyanyi. Nanyian itu
mengandung makna melatih nafas dan suara, jika seseorang
bernafas dengan baik maka hidupnya akan baik. sebab
ritual yaitu media pembentukan jasmani dan rohani.
ritual juga yaitu sarana membangun mindset sebagai
mahluk sosial. Dalam ajaran Hindu, Sembahyang yaitu
media memohon ampun atas kesalahan diri dan memohon
agar alam beserta isinya mendapatkan kebahagian, maka
sembahyang yaitu melatih mindset sosial pelakunya. Oleh
sebab itu tiga hal dalam ritual sebagai pengajaran dalam
agama Hindu sebagai sarana untuk Kasih terhadap alam dan
lingkungan, Cinta kepada sesama manusia dan bhakti kepada
Tuhan.
Strategi Mempertahankan dan Mengembangkan
Keberadaan Klan Pande Pura Tatasan
Seorang pande tidak hanya ahli besi, tapi bisa juga
sebagai seorang sulinggih/pendeta, namun tidak semua pande
menjadi seorang sulinggih. Seorang sulinggih kelompok
pande berkewajiban untuk mencari atau menentukan salah
satu keturunannya untuk menjadi sulinggih atau melanjutkan
jabatan Sulingginya. Kriteria atau ciri keturunan yang
ditunjuk dan dipersiapkan yaitu anak atau keponakan yang
memiliki ketertarikan pada ilmu kepanditaan/kepandean dan
mau belajar ritual -ritual keagamaan, sehingga dia lebih
cepat paham soal agama. Biasanya disiapkan usia 25 tahun,
sebab akan lebih pas jika nanti menjadi sulinggih diusia 40
tahun.
Sulinggih pande yaitu salah satu dari sulinggih yang
ada di Bali. Sulinggih yang berada dari keturunan Pande di
Bali hanya berjumlah 20 orang. sedang jumlah Sulinggih
dari keluarga Pasek mencapai 500 orang, begitu juga sulinggih
dari keluarga Brahmana yang berjumlah 500 orang. Tugas
sulinggih di keluarga pande yaitu memimpin berbagai
ritual besar di kalangan keluarga/klan pande. Pande
bertugas memberikan pelayanan kerohanian bagi umat Hindu
Keluarga pande. Setiap paibon mempunyai pemimpinnya
sendiri-sendiri tapi hanya sebagai seorang pemangku. sebab
untuk ritual -ritual besar harus dipimpin seorang
sulinggih. Misalnya menghidupkan patung atau memberikan
jiwa pada patung. Tidak semua patung ada jiwannya, jika
diminta atau diisi oleh sulinggih baru patung mempunyai
jiwa (hidup) sesuai dengan kepentingannya. Misalnya untuk
menjadi kharismatik, menjaga wibawa, menjaga lingkungan,
dll. sedang untuk patung-patung atau keris yang diluaran
belum tentu diisi jiwa. Secara politik, kelompok sulinggih
terbagi kepada dua unsur besar, yaitu para sulinggih yang
bergabung dengan Pura Besakih dan para sulinggih yang
bergabung di Pura Ubud.
Pada keluarga Klan Pande tradisi pande wajib
diteruskan secara turun temurun dalam keluarga pande.
Menurut Sira Mpu Pande Aji, dirinya sebagai seorang
sulinggih dari keluarga Pande akan merasa sagat berdosa dan
bersalah jika tidak ada anak turunannya yang menjadi
sulinggih pande. Sehingga ada kewajiban bagi dirinya untuk
mempersiapkan agar ada dari keturunannya menjadi seorang
sulinggih. Seorang Sulinggih Pande yaitu pemimpin acara-
acara keagamaan di Pura Paibon Pande dan juga sebagai
tempat konsultasi umat Hindu dari Klan Pande. Adapun
upaya yang dilakukan Sira Mpu Pande Aji untuk
mempersiakan penggantinya yaitu dengan cara
memperhatikan salah seorang putranya dari 4 orang putra
yang ia miliki yang mempunyai ketertarikan terhadap ilmu
keagamaan Hindu, mempelajari Kitab Weda, keahlian dalam
bidang pembuatan keris, senjata dan berbagai perangkat besi,
paham tentang ritual-ritual dan filosofi banten. Hal yang
paling penting yaitu mempunyai mental, integritas
(kejujuran), mempunyai sikap sebagai seorang yang
mengayomi seperti seorang sulinggih, mempunyai
kemampuan untuk belajar memimpin ritual keagamamaan
baik dalam keluarganya sendiri maupun pada kelompok
pande.
Saat ini Sira Mpu Pande Aji melihat bahwa salah satu
dari keturunannya ada yang dapat dipersiapkannya sebagai
sulinggih, yaitu putra bungsunya, namun sayangnya putranya
itu sering mengalami kurang sehat pisiknya (suka sakit-
sakitan). Sehingga Sira Mpu Pande Aji merasa ada ke
khawatiran akan membebani anaknya ini . Namun
demikian beliau tidak merasa keberatan jika pada akhirnya
takdir Tuhan menentukan lain, bahwa yang jadi sulinggih
yang akan menggantikannya bukan dari keturunannya
langsung.
sebab persoalan menjadi sulinggih ini juga
merupakan ketentuan dari Tuhan, namun demikian tidak
salah jika sulinggih menyiapkan calon penggantinya. Beliau
juga berkata-kata jika harus yang lain seperti keponakan atau
dari klan pande lainnya ternyata yang ditentukan Tuhan
untuk menggantikan nya sebagai sulinggih tentunya harus
memenuhi ketentuan-ketentuan yang mengarah pada
kesiapan seorang slinggih seperti yang disebutkan diatas. Dan
juga Sri Mpu Pande Aji akan tetap memerikan pembinaan dan
pembekalan khusus lebih dalam tentang Kitab Weda juga
keahlian kepandean lainnya serta semua ilmu yang
berhubungan dengan pasopati atau pengisian jiwa pada
senjata. Selain itu Sulinggih juga akan mengirim kadernya ke
berbagai tempat untuk menempa ilmu dan mencari
pengalaman skill dan spiritual.
Lebih lanjut Mpu Sire pande Aji mengatakan bahwa
dirinya tidak keberatan jika seorang sulinggih menguasai
berbagai ilmu dari tempat lain yang bukan asli dari Hindu
Bali atau ilmu turunan keluarga pande. Ilmu baginya hanya
sebagai alat yang diibaratkan korek api untuk memasak.
Selama beras yang dimasak berasal dari dalam atau dari Bali,
tidak masalah jika alat memasak atau menyalakan api
didapatkan dari luar selama bisa mempercepat dan
menyempurnakan proses memasak ini .
Untuk tetap mempertahankan dan mengembangkan
tradisi dari Klan Pande Sira Mpu Pande Aji sedang
menyiapkan pendirian pasraman untuk mendidik para calon
pande yang disebut dengan pasraman pande. Biaya pendirian
Pasraman Pande dengan menggunakan biaya sendiri atau
keluarga pande tanpa bantuan pemerintah. Namun jika
pemerintah ingin memberikan bantuan beliau tidak
menolaknya, namun jika pemerintah mensyaratkan untuk
mendapatkan bantuan ini harus membuat permohonan
pengajuan proposal bantuan dana, beliau tidak
akan melakukannya. sebab dalam keyakinannya
mempersembahkan sesuatu bagi Tuhan tidak boleh dilakukan
dengan dana atau barang yang dihasilkan dari meminta-
minta. Baginya pasraman yang akan dia dirikan merupakan
bentuk persembahan dirinya kepada Tuhan.
Faktor lain yang penting dalam melanjutkan tradisi
dengan berbagai ritual dan pendidikan yaitu masalah
biaya. Maka untuk meastikan biaya tradisi ini tersedia,
keluarga pande menjalankan usaha pembuatan berbagai alat
atau kerajinan yang terbuat dari besi. Tidak semua keluarga
pande menjadi sulinggih, tapi banyak diantara mereka yang
mediirikan pusat kerajinan pande besi yang disebut dengan
perapen.
Biaya ritual tradisional dan pasraman diambil dari
keuntungan pemasaran produk keris. Semua keluarga pande
membuat perapen/pusat kerajinan pande untuk menjual
senjata berupa keris, golok, tombak, peralatan rumah tangga
dsb. Namun Keluarga inti pande atau sulinggih pande yang
menjadi pusat keluarga pande hanya memproduksi senjata
dan memberijiwa pada senjata. Satu keris yang dibuat oleh
pande di pura tatasan beragam harganya, mulai dari yang
murah seharga 700 ribu rupiah, hingga ratusan juta, terutama
keris yang sudah diisi jiwanya.
Banyak hambatan dan tantangan yang dihadapi
keluarga pande dalam mempertahankan tradisi
kepandeannya. Diantaranya yaitu cara pandang generasi
muda pande yang bersifat pragmatis, ditambah lagi era digital
yang mengakibatkan generasi pande lebih banyak memilih
jalur lain dan mengembangkan dirinya untuk melakukan
perubahan dalam kehidupan mereka, kebanyakan mereka
memilih pekerjaan sebagai PNS, swasta, di Bank, dosen, dll
yang merupakan matapencarian kehidupan mereka. Sehingga
keadaan ini telah mempersempit generasi keluarga pande
untuk menjadikan kepandean sebagai profesi mereka. Namun
demikian dengan keadaan seperti ini, Sira Mpu Pande Aji
tetap harus mencari salah satu anggota keluargnya untuk
terus melanjutkan profesi pande dan kependetaan pande ini,
sebab jika tidak diteruskan maka tradisi ini akan hilang dan
lama-lama punah.
Selanjutnya perpindahan keyakinan anggota keluarga
pande dari agama Hindu ke agama lain, dan adanya
perubahan keyakinan ajaran Hindu Tradisional menjadi
pengikut ajaran Hindu Spiritual yang lebih menyederhanakan
ritaul-ritual keagamaan dalam penggunaan banten pada
ritual keagamaan juga menjadi tantangan tersendiri bagi
umat Hindu pada umumnya. Perpindahan keyakinan
seseorang merupakan hak setiap orang untuk menentukan
pilihan keberagamaannya, sehingga Sira Mpu Pande Aji
menganggap bukan persoalan yang menjadi ancaman terlalu
signifikan, walaupun hal ini menjadi pemikiran
tersendiri bagi tokoh agama Hindu untuk lebih menguatkan
keagamaan umatnya. Diantara tantangan ini , beliau
tetap mempersiapkan keturunannya harus ada yang
meneruskan tradisi kepandean dan menjadi penggantinya
sebagai seorang sulinggih.
Struktur Organisasi Pura Pande Majapahit Tatasan
Layaknya sebuah organisasi, kelompok tradisional
Pande Majapahit Tatasan juga mempunyai susunan
kepengurusan organisasi yang sangat sederhana. Organisasi
ini dibentuk dalam rangka untuk memudahkan dalam
melaksanakan berbagai kegiatan keagaman di pura pande
tatasan. Adapun susunan kepengurusan Paibon Pande yaitu
sebagai berikut:
Klian (Ketua atau
yang dituakan) : Made Jana Bertugas mengayomi
kegiatan di pura
Penyarkan
(Sekretaris) : Rai Subawa, bertugas mencatat,
mengarsip dan mengatur
administrasi di Pura
Bendahara : Nyoman Mariana, bertugas
mencatat pemasukan dan
pengeluaran dibidang keuangan
Pengempon
(anggota) : berjumlah 24 orang)
Dari ke-24 orang pengempon ini, mereka sudah
mengetahui apa yang menjadi tugas masing-masing saat
ritual . Dari 24 orang ini kebanyakan perempuan, banyak
yang PNS, tapi dua (2) minggu sebelum kegiatan dimulai
biasanya mereka sudah dikasih surat tentang tugasnya
masing-masing, dan mereka ini ini ada yang mebawa masing-
masing secara bergiliran canang, telur, buah, hewan, dll untuk
ritual keagamaan.
Struktur Denah Kawitan/Keluarga Pura Pande
Majapahit Tatasan yaitu sebagai berikut:
Penjelasan denah:
- Kawitan Lontar merupakan penasehat
- Ratu Gede bertugas sebagai Raja
- Ratu Biang yaitu Istri Raja
- Ratu Pande bertugas sebagai maha patih dan harus
mengayomi umatnya atau klan pande
- Penyarikan/Pemayun yaitu sebagai sekretaris
- Dwa Hyang merupakan Leluhur Klan Pande
- Ratu Ngurah yaitu Penjaga
Kawitan
Lontor/Pen
asehat
Ratu Gede
Ratu
Biang
Ratu
Pande
Dewa
Hiyang
Penyarikan
Ratu
Ngurah
Pura kawitan/keluarga ini , merupakan tempat
komunitas Klan Pande Majapahit Tatasan yang ada di Bali
dan yang ada di luar Bali. Semua keturunan Pande Majapahit
Tatasan dimanapun mereka berada mereka akan kembali ke
pura kawitan Pande Majapahit Tatasan yang ada di Jalan
Ratna No, 50 Denpasar Bali ini. Disinilah komunitas mereka,
sehingga proses ritual hidup dan matinya mereka diurus di
pura pande ini .
Adapun jumlah Komunitas Klan Pande yang terdaftar
di Pura Pande Majapahit Tatasan berjumlah sebanyak 1.800
KK, yang tersebar di 4 Griya, yaitu:
1. Griya Suci Tatasan di Denpasar berjumlah sebanyak 800
KK.
2. Griya Suci Kalianda Negara di Jembrana jumlahnya
sebanyak 200 KK
3. Griya Suci Kalianda Balinuraga di Lampung Selatan
jumlahnya sebanyak 400 KK
4. Griya Suci Lampu Hawa di Sulawesi Selatan jumlahnya
sebanyak 400 KK
Griya Suci Tatasan luasnya 4 hektar, adapun tanahnya
milik desa adat, sedang pura khusu pande hanya memiliki
15 are. 1 are = 10 meter. Jadi 15 are = 150 meter. sedang
khusus ruangan prapen seluas 10 meter.
Dampak Keberadaan Klan Pande terhadap Kehidupan
Keagamaan
Keberadaan kelompok tradisional Pura keluarga Klan
Pande Majapahit Tatasan dalam agama Hindu dan kehidupan
keagamaan di Bali sangatlah banyak. Secara positif klan Pande
dengan sendirinya sudah banyak membantu warga baik
di lingkungan Pande maupun kepada umat beragama lainnya.
Dengan adanya pura dalam Pande Majapahit Tatasan semua
klan pande dapat mengenal leluhur mereka dimanapun
mereka berada. warga , khusunya umat Hindu banyak
yang datang melakukan ibadah di pura ini yang datang
dari berbagai daerah baik dari Bali maupun dari luar Bali. Saat
peneliti berada disana, banyak warga yang datang
berkonsultasi dan meminta fatwa dari sulinggih untuk
kegiatan ritual mereka, banten apa yang cocok untuk acara
yang diadakan. Juga ada yang meminta dibuatkan kain bagi
yang keluarganya meninggal dengan meminta hari, tanggal,
bulan baik kapan akan dikuburkan dan menggunakan kain
dengan bunga aksara.
warga juga terbantu dengan adanya klan Pande
pura tatasan sebab banyak memproduksi alat-alat berupa
gong, keris, dll yang bisa dipakai oleh warga untuk
keperluan mereka sehari-hari. Adanya acara odalan/perayaan
keagamaan di Pura Pande Majapahit tatasan, mengakibatkan
banyak pedagang dadakan disekitar pura dan menjadikan
penghasilan tersendiri bagi kehidupan mereka.
Seringnya diadakan ritual keagamaan di Pura Pande
Majapahit Tatasan secara otomatis banyak menggunakan
bunga-bunga, buah dan hewa untuk persembahan, dengan
demikian sudah membantu para pedagang memutar roda
perekonomian dan menambah pendapatan mereka. Para
pedagang ini rata-rata beragama non Hindu. Orang-orang non
Hindu inilah justru lebih mengetahui dimana dan hari apa
ritual -ritual dalam agama Hindu dilaksanakan. Dengan
demikian mereka akan berjualan disekitar tempat acara
ini .
Sisi positif lainnya, yaitu meningkatkan nilai
keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa, mendidik umat
menjadi mengerti nilai-nilai keagamaan, kesabaran,
kerajasama kelompok, menjaga tradisi turun temurun,
sehingga masalah lainnya tidak menjadi pertimbangan yang
siqnifikan. Disinilah kita melihat bahwa keyakinan beragama
dan kecintaan seseorang terhadap ajaran agamanya dapat
membuat seseorang mengorbankan segalanya untuk agama
dan keayakinan yang dia yakini, yang tidak dapat ditukar
dengan apapun.
Hubungan Klan Pande Tatasan dengan Pemerintah dan
warga
Hubungan dengan Pemerintah
Hubungan secara langsung antara kelompok
tradisional Klan Pande Majapahit Tatasan dengan pemerintah
belum terjalin. Namun secara tidak langsung hubungan itu
tetap ada, yaitu melalui bantuan dan pembinaan pemerintah
kepada umat Hindu di tingkat banjar atau desa pakraman,
dimana kelompok tradisional Klan Pande juga berada disana.
Pembinaan pemda tidak sampai kepada tingkatan pura
keluarga, demikian diungkapkan oleh Kepala Biro
Kesejahteraan Rakyat Provinsi Bali (I Gede Griya) dan Kepala
Bidang Urusan Agama (Eka Putri Kusuma Wati).
Bantuan pemerintah ini diberikan kepada pura-
pura yang ada di Bali dan diluar Bali melalui para pemangku
di pura banjar dan desa Pakraman. Bantuan berupa uang
sebanyak Rp. 200 juta untuk setiap desa Pakraman dengan
peruntukannya yaitu untuk pembinaan dalam fasilitasi
terhadap Pemerajan (tempat ibadah) 40 %, Pawongan (manusia
dan warga ): 40 % dan Palemahan (wilayah) 20 %. Selain
pada pura bantuan juga diberikan kepada PHDI dan FKUB
bersifat hibah atau biaya langsung yang jumlahnya tidak
selalu sama dan bervariasi sebesar Rp. 100 juta, kadang Rp.
200 juta, diperuntukan untuk kegiatan mereka. Adapun
program kegiatan yang menetukan yaitu pihak yang
dibantu. Bantuan dana ini hanya bersifat stimulan saja
(sebagai perangsang). Terkait masalah pembinaan dalam hal
substansi ritual atau tradisi keagamaan diserahkan kepada
tokoh agama, dalam hal ini secara institusi yaitu PHDI.
Dalam hal untuk meningkatkan kerukunan umat beragama
baik secara internal umat Hindu maupun antarumat beragama
di serahkan kepada FKUB yang tentunya tetap berkoordinasi
dengan Pemda Biro Kesra dan Bidang Agama.
Selain melakukan pembinaan dalam fasilitasi kepada
umat Hindu Bali, Pemprov juga ikut terlibat dan
berkoordinasi dengan berbagai elemen menangani berbagai
kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di Bali. Jika ada
persoalan di Bali maka Gubernur memanggil semua pihak
yang ada di Bali demi menjaga keamaanan di Bali, terkait
persoalan agama maka yang biasanya dilibatkan yaitu
bagian Biro Kesra dan Bidang Agama ini . Misalnya,
baru-baru ini terjadi perbedaan pendapat tentang pelaksanaan
penanggalan pada acara Tawur Kesanga pada Uncal Balung
yang berbarengan dengan hari raya Nyepi dan sholat gerhana
matahari. Bidang Agama Pemprov. Bali ikut serta dalam rapat
koordinasi bersama dengan pihak-pihak lainnya yang ada di
Bali untuk mencari solusi yang terbaik agar semua kegiatan
keagamaan bisa berlangsung sesuai dengan harapan.
Terkait denga adanya perbedaan pendapat tentang
penanggalan pelaksanaan keagamaan yang bersamaan
dengan hari raya Nyepi ini , Kementerian Agama
mengadakan rapat bersama Gubernur Bali dan Biro Kesra dan
Bidang Agama, Polda Bali, Komandan Korem, 162/Wirasatya,
Kesbangpol Prov. Bali, Bendesa Agung MUDP Bali, FKUB
Prov. Bali, Majelis Agama Prov. Bali (PHDI Prov. Bali, MUI
Prov. Bali, MPAG Prov. Bali, Walubi Prov. Bali dan Matakin
Prov. Bali), pada hari Selasa 16 Februari 2016, bertempat di
Kantor Kementerian Agama Wilayah Prov. Bali dengan acara
pokok tentang pelaksanaan Hari Raya Suci Nyepi Tahun Baru
Caka 1938 yang akhirnya ditetapkan dilaksanakan pada
tanggal 9 Maret 2016 dengan menghasilkan adanya Seruan
Bersama Majelis-majelis Agama dan Keagamaan Prov. Bali
Tahun 2016.
Hubungan dengan warga
Kelompok tradisional Klan Pande Majapahit Tatasan
mempunyai hubungan sosial yang baik terhadap
lingkungannya. Di lingkungan Pura Kawitan Pande Majapahit
Tatasan sesungguhnya lebih banyak dihuni oleh kalangan
Pande, warga Hindu pada umumnya, namun ada
beberapa keluarga non Hindu disekitar Pura Kawitan Pande
Majapahit Tatasan terhadap warga sekitarnya, yaitu
yang beragama Islam dan Kristen. Hubungan keluarga pande
dengan warga pada umumnya terjalin baik dan saling
kerjasama terutama saat dalam melaksanakan kegiatan
keagamaan di Banjar. Mereka saling menghargai dan
kerjasama satu sama lainnya. Bahkan ada beberapa kelompok
lain yang sering datang meminta saran kepada Sri Mpu Pande
Aji tentang keagamaan.
______________________198
warga Bali yang beragama Hindu, termasuk klan
Pande sangat kental dengan kepribadian yang senantiasa
berupaya menjaga keseimbangan, kedamaian, dan
keharmonisan dalam keragaman umat beragama. Sikap
semacam itu merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai
budaya Bali yang dijiwai oleh agama Hindu yang antara lain
tertuang dalam konsep ‘ahimsa (tidak melakukan kekerasan),
‘tat twam asi’ ( engkau yaitu kamu ), angawe sukaning wong len
(berbuat untuk kebahagiaan orang lain) dan sederetan
ungkapan tradisional Bali.
Dengan kepribadian seperti itu, warga non
Hindu ikut berpartisifasi menciptakan suasana tenang damai
dalam kehidupan. Yang paling menonjol saat perayaan hari
raya Nyepi. Hari raya Nyepi merupakan hari raya besar bagi
umat Hindu, saat hari raya Nyepi warga Hindu
dilarang melakukan segala aktivitas selama 24 jam. Pada
perayaan ini semua umat beragam yang ada di Bali ( Islam,
Cina, Buddha, Kristen, Khong Hu Cu) turut bertoleransi
dengan tidak melakukan aktivitas. Umat muslim misalnya
saat melakukan persembahyangan dengan tidak
menggunakan pengeras suara di seluruh Bali. Bagi warga lain
turut memberikan dukungan dan doa agar ritual yang
dilaksanakan dapat berlangsung khidmat.
Menurut I Nyoman Lastra, kerukunan antarumat
beragama di Bali telah menjadi tradisi yang turun temurun,
seperti contohnya, orang–orang Muslim di Buleleng
membantu penyelenggaraan Nyepi ,mereka memastikan umat
Islam selalau menghormati Nyepi. Kegiatan Nyepi telah
menjadi milik bersama umat beragama di Bali, bukan saja
milik umat Hindu.
berdasar hasil penelitian dan analisisnya, dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Klan Pande di Pura Keluarga dalam agama Hindu di Kota
Denpasar Bali merupakan salah satu kelompok tradisional
dalam agama Hindu yang keberadaannya di Bali sudah
ada sejak zaman dahulu hingga hari ini dan
mempertahankan tradisi pande besi dilingkungan
warga Bali. Tradisi pande besi tidak hanya untuk
membuat peralatan dari besi untuk kehidupan sehari-hari
namun lebih jauh dari itu yaitu mempertahankan pusaka
nenek moyang atau leluhur mereka. Selain sebagai
seorang pandai besi juga menjadikan barang pusaka
bernilai magis dan mempunyai kekuatan supranatural.
Kelompok tradisional pande ini hidup dalam lingkungan
keluarga dan dalam komplek keluarga yang menyatu
dengan tradisi keagamaan, menyatu dalam lingkungan
pura keluarga.
2. Dampak keberadaan kelompok tradisional Pura Keluarga
Klan Pande terhadap kehidupan keagamaan di Bali.
Keberadaan kelompok tradisional Pura Keluarga Klan
Pande Majapahit Tatasan dalam Agama Hindu dan
kehidupannya keagamaan di Bali secara positif banyak
membantu warga baik di lingkungan Pande maupun
kepada umat beragama lainnya.
a) Hubungan Klan Pande Tatasan dengan pemerintah dan
warga sudah berjalan baik. Meski hubungan secara
langsung antara kelompok tradisional Klan Pande
Majapahit Tatasan dengan pemerintah belum terjalin,
namun secara tidak langsung hubungan itu tetap ada,
______________________200
yaitu melalui bantuan dan pembinaan pemerintah kepada
umat Hindu di tingkat banjar atau desa pakraman, di
mana kelompok tradisional Klan Pande juga menjadi
bagian di dalamnya. sedang hubungannya dengan
warga , Klan Pande Majapahit Tatasan mempunyai
hubungan sosial yang baik terhadap lingkungannya,
saling kerjasama terutama saat dalam melaksanakan
kegiatan keagamaan di Banjar. Saling menghormati dan
menghargai, seperti dalam perayaan Hari raya Nyepi dan
ritual nlainnya.
Rekomendasi yang dapat diajukan dalam penelitian ini
yaitu :
1. Pemerintah perlu memberikan perhatian khusus berupa
pembinaan dan memfasilitasi kepada kelompok
tradisional klan pande Majapahit Tatasan untuk menjaga
tradisi pande besi pusaka sebagai aset budaya bangsa,
berupa memberikan bantuan dana dan diklat kepandean..
2. Perlu dipertahankan dan ditingkatkan koordinasi
antarlembaga pemerintah dan warga dalam menjaga
keamanan dan kedamaian di Bali, dengan cara selalu
melakukan pertemuan tidak hanya bersifat formal jika ada
permasalahan saja, namun secara instensif melakukan
dialog-dialog nonformal atau wokshop dan seminar yang
meilibatkan tokoh-tokoh lintas agama agar terjalin
komunikasi yang baik dan setiap permasalahan dapat
diantisipasi sebelum terjadi.
Setting Awal: Hindu Lombok dalam Tiga Gelombang
Sejarah Hindu di Nusa Tenggara Barat (NTB)
khusunya di Lombok tidak bisa dilepaskan dari arus
kedatangan orang orang Bali ke pulau ini . Arus
kedatangan warga Bali di Lombok ada tiga gelombang
(Suyadnya, 2006: 2-3). Gelombang pertama diyakini sebelum
munculnya Kerajaan Karang Asem di Lombok. Beberapa
Pedanda sempat dikirm oleh raja Kelkel Klungkung,
salahsatunya meninggalkan jejak Pura Suranadi dan Pura
Batu Bolong dan beberapa pura lainnya oleh Pedanda Sakti
Wau Rauh.
Gelombang kedua kedatangan orang Bali yaitu
beridirinya Kerajaan Karang Asem pada tahun 1720 (Ibid).
yang kemudian menyatu dengan berbagai kerajaan kecil
menjadi Singasari Lombok. Secara bertahap warga Bali
semakin berkembang di berbagai tempat di Lombok.
Selanjutnya gelombang ketiga, pada era kemerdekaan, berbeda
dengan dua gelombang sebelumnya kedatangan warga Bali
lebih banyak disebabkan profesi ebagai PNS, POLRI/TNI dan
wiraswasta.
Cukup banyak tempat yang disucikan oleh umat
Hindu di Lombok, khususnya Kota Mataram dan Sekirtarnya,
yaitu Kabupaten Lombok Barat. Kekentalan pada budaya
______________________204
Hindu Bali cukup menjadi alasaan utama peneltiian yang
difokuskan pada kelompok tradisional cukup tepat dilakukan
di Lombok, begitu juga dengan cirikhas dan keunikannya
dibanding Hindu di Bali. Terutama aspek adaptasinya dengan
budaya lokal, sehingga sering disebut sebagai Bali Sasak oleh
orang di Bali.
Hindu Lombok yaitu Hindu Bali yang mengalami
pengaruh budaya lokal Lombok, terutama persinggungan
budaya dengan suku Sasak, sehingga banyak keunikan yang
ditemukan dalam praktik dan ritual sosial keagamaan yang
tidak ditemukan di Bali. Terutama menyangkut ritual dan
beberapa pranata sosial yang tidak sama dengan di Bali.
Meskipun pada dasarnya, budaya yang berkembang berakar
kuat pada Hindu Bali.
Strategi Memasuki dan Memahami Hindu Lombok
Untuk memahami lebih dalam lagi tentang Hindu
Lombok, penulis memfokuskan diri pada kelompok
tradisional atau kelompok arus besar Hindu di Lombok,
dibatasi dengan topik yang pada aspek-aspek yang
dimatrikulasi mulai dari struktur ketuhanan, yang teridiri atas
praktik ibadah, etika dan moralitas, tradisi keagamaan, serta
simbol-simbol. Kemudian ritual keagamaan yang periodical.
Berikutnya yaitu cara mempertahankan dan pengembangan
eksistensi kelompok. Matrik berikutnya tentang
kelompok/organisasi keagamaan.
Aspek krusial yaitu kemungkinan adanya konflik
internal maupun ekternal yang menyangkut kehidupan
keagamaan, sedang hubungan dengan pemerintah,
warga dimaksudkan untuk menekankan kondisi kendali
atas interaksi komunikasi yang terjadi pada kelompok
keagamaan ini . Matriks terakhir dimaksudkan untuk
memberikan jawaban pada pertanyaan penelitian tentang
dampak terhadap kehidupan keagamaan baik secara internal
maupun eksternal.
Secara metodologis, jenis penelitian yaitu kualitatif
dengan pendekaatan sosiologis, paradigma fungsional-
strukturalis. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan
observasi langsung pada objek kegiatan dan pengenalan
subjek, serta wawancara mendalam pada subjek secara
terstruktur maupun tidak terstruktur. Alat pengumpulan data
yaitu matrik observasi dan daftar pertanyaan atau instrumen
pengumpulan data, direkam melalui perekam telepon
genggam dan tulisan tangan, dokumentasi melalui foto-foto.
Informan kunci pada penelitian ini informan memiliki
fungsi utama dalam hal mengumpulkan data yang dipilih
berdasar kategori kepanditaan dan kepinanditaan.
Adapun kategori yang dimaksud yaitu , sebagai berikut:
1. Ida Pedanda Gede Made Kerta Arsa, Manggala (ketua)
paruman sulinggih se NTB. beliau seorang Pedanda Siwa.
2. Ida Pandita Empu Acarya Jaya Dharma Daksa Nata,
berasal dari kalangan Pasek yang memiliki organisasi
Mahagotra Pasek Sana Sakte Resi.
3. Ida Pandita Resi Dwija Ariabawa (Resi Agung), yaitu
pandita yang beraliran Waisnawa dari kalangan resi.
4. Ida Pedanda Budha Oka Dharma, Pedanda Budha
5. Ida Pedanda Budha Oka Dwija Putra, Pedanda Budha
6. Pinandita Jero Mangku Karsa, Ketua Parisada Sanggraha
Nusantara
7. Pinandita I Gusti Ngurah Mangku Sunartha, Pemangku
8. Ida Bagus Benny Surya Adi Pramana, Padepokan Seruling
Dewata.
9. I Wayan Sukawan, Hari Krisna
10. I Gede Mandra, Ketua PHDI
11. Ida Wayan Oka Santosa (sekretaris PHDI)
12. I Ketut Ari Setiawan
13. I Wayan Widra, S.Ag., M.Pd.H. Kabid Bimas Hindu
Kanwil Kemenag NTB
14. I Gede Subrata, Kasi Pemberdayaan Umat Hindu
Kemenag NTB
15. I Putu Agung Sanjaya, Penyuluh Agama Hindu Kanwil
Kemenag NTB.
Selain itu, penulis melakukan observasi di di d

