delusi tuhan 14



 iki sistem saraf, tentu dia kalah menderita dengan, misalnya, 

seekor sapi dewasa di rumah jagal.) Apakah perempuan hamil, atau keluarganya, menderita jika 

dia tidak mendapat aborsi? Sangat mungkin ya; dan, bagaimanapun, karena embrio tidak 

memiliki sistem saraf, bukankah sistem saraf ibu yang sudah berkembang dengan baik yang 

mendapat pilihannya? 

  Ini tidak berarti orang konsekuensalis tidak mungkin mempunyai dasar untuk melawan 

aborsi. Argumen-argumen ‘slippery slope’ dapat dibuat oleh para konsekuensalis (meskipun saya 

tidak akan melakukan itu dalam kasus ini). Mungkin embrio tidak menderita, tetapi suatu 

kebudayaan yang menoleransi perenggutan nyawa manusia berisiko menjadi kelewatan: di mana 

semua itu berakhir? Dalam infantisida? Saat kelahiran menyediakan suatu batas alami untuk 

mendefinisikan peraturan, dan kita dapat berargumen bahwa sulit menemukan batas lebih awal 

daripada perkembangan embrionik. Jadi, argumen-argumen slippery slope dapat membuat kita 

menganggap saat kelahiran lebih signifikan daripada yang akan dipilih oleh utilitarianisme dalam 

arti sempit. 

  Argumen-argumen melawan eutanasia juga dapat dipresentasikan dengan merujuk 

slippery slope. Mari kita mengarang suatu kutipan imajiner dari seorang filsuf moral: ‘Jika kita 

membolehkan dokter membuat pasien terminal mati, berikutnya semua orang akan membunuh 

neneknya untuk mendapat uangnya. Kami para filsuf mungkin sudah terlalu dewasa untuk 

absolutisme, tetapi masyarakat membutuhkan disiplin peraturan mutlak seperti “Jangan 

membunuh,” jika tidak masyarakat tidak tahu di mana harus berhenti. Dalam keadaan tertentu 

absolutisme mungkin, untuk alasan yang kurang baik tetapi cocok dalam dunia yang kurang 

ideal, menyebabkan konsekuensi lebih baik daripada konsekuensialisme naif! Kami para filsuf 

mungkin sulit melarang orang makan manusia yang sudah mati dan tidak diratapi – misalnya 

gelandangan yang ditabrak mobil. Tetapi, untuk alasan slippery slope, tabu absolutis yang 

melarang kanibalisme terlalu bernilai untuk dilepaskan.’ 

  Argumen slippery slope mungkin dipandang sebagai cara para konsekuensialis dapat 

memasukkan ulang suatu bentuk absolutisme tidak langsung. Tetapi musuh religius aborsi tidak 

mengindahkan slippery slope. Bagi mereka, isunya jauh lebih sederhana. Sebuah embrio yaitu  

‘bayi’, membuatnya mati yaitu  pembunuhan, begitulah: akhir diskusi. Banyak yang menyusul 

dari sikap absolutis ini. Sebagai permulaan, penelitian sel induk embrionik harus berhenti, 

kendati potensi besarnya untuk ilmu pengetahuan medis, karena penelitian itu meniscayakan 

kematian sel-sel embrionik. Inkonsistensinya mencolok ketika kita berefleksi bahwa masyarakat 

sudah menerima IVF (fertilisasi in vitro), di mana dokter secara rutin menstimulasikan 

perempuan untuk menghasilkan ovum surplus yang kemudian dibuahi di luar tubuh. Sebanyak 

12 zigot yang dapat hidup bisa diproduksi, lalu dua atau tiga dari 12 itu ditanam di rahim. 

Harapannya yaitu , dari dua atau tiga tersebut, satu atau mungkin dua akan bertahan hidup. Jadi 

IVF membunuh embrio pada dua tahap prosedurnya, dan masyarakat pada umumnya tidak 

terganggu olehnya. Selama 25 tahun, IVF telah menjadi prosedur standar untuk menghibur hati 

pasangan tanpa anak. 

  Namun, para absolutis religius dapat terganggu oleh IVF. Guardian pada 3 Juni 2005 

memuat sebuah artikel aneh di bawah kepala berita ‘Christian couples answer call to save 

embryos left by IVF’. Artikelnya bercerita tentang suatu organisasi bernama Snowflakes yang 

berusaha ‘menyelamatkan’ embrio-embrio surplus yang tersisa di klinik IVF. ‘Kami sungguh 

merasa dipanggil oleh pencipta  untuk berusaha memberi embrio-embrio ini – anak-anak ini – 

kesempatan untuk hidup,’ kata seorang perempuan di negara bagian Washington, yang anak 

keempatnya berasal dari ‘persekutuan tak terduga yang dibentuk para junjungan kristen  konservatif dengan 

dunia bayi tabung’. Khawatir mengenai persekutuan itu, suaminya berkonsultasi dengan seorang 

ketua gereja, yang menasihatinya, ‘Jika kau ingin membebaskan budak, terkadang kau harus 

membuat kesepakatan dengan pedagang budak.’ Saya bertanya apa yang orang-orang ini akan 

katakan jika mereka tahu bahwa mayoritas embrio yang dibuahi gugur secara spontan 

bagaimanapun. Mungkin sebaiknya dipandang sebagai semacam ‘pengendalian mutu’ alami. 

  Sejenis pikiran religius tertentu tidak mampu melihat perbedaan moral di antara 

membunuh sekumpulan sel yang mikroskopik di satu sisi, dengan membunuh seorang dokter 

dewasa di sisi lain. Saya sudah mengutip Randall Terry dan ‘Operation Rescue’. Mark 

Juergensmeyer, dalam bukunya yang seram Terror in the Mind of God, mencetak sebuah foto 

yang menggambarkan Pendeta Michael Bray dengan temannya Pendeta Paul Hill, memegang 

spanduk tertulis: ‘Apakah menghentikan pembunuhan bayi-bayi tidak bersalah itu salah?’ 

Keduanya tampak sebagai pria muda yang ramah dan cukup mapan, bersenyum menarik, 

berpakaian rapih kasual, sama sekali bukan orang gila dengan mata membelalak. Namun mereka 

dan temannya, Tentara pencipta  (Army of God, AOG), menyibukkan diri dengan membakar klinik 

aborsi, dan mereka tidak merahasiakan keinginan mereka untuk membunuh dokter. Pada 29 Juli 

1994, Paul Hill membawa senapan gentel dan membunuh dr John Britton dan pengawal 

pribadinya James Barrett di luar klinik Britton di Pensacola, Florida. Dia kemudian menyerahkan 

dirinya kepada polisi, dengan berkata bahwa dia membunuh dokter itu untuk mencegah kematian 

‘bayi tidak bersalah’ di masa depan. 

  Michael Bray mempertahankan tindakan seperti itu secara fasih dengan segala 

penampakan tujuan moral, sebagaimana saya temukan ketika saya mewawancarainya, di sebuah 

taman publik di Colorado Springs, untuk dokumenter televisi saya mengenai kepercayaan .* Sebelum 

mengangkat masalah aborsi, saya mengukur moralitas berdasarkan-Alkitab Bray dengan 

melontarkan beberapa pertanyaan awal. Saya menunjukkan bahwa hukum Alkitab menghukum 

orang berzina mati melalui pelemparan batu. Saya mengira dia akan menyangkal contoh 

partikular tersebut sebagai jelas berlebihan, tetapi dia mengejutkan saya. Dia dengan senang hati 

sepakat bahwa, setelah proses hukum tuntas, orang yang berzina harus dihukum mati. Kemudian 

saya menunjukkan bahwa Paul Hill, dengan dukungan penuh Bray, tidak mematuhi proses 

hukum tetapi bermain hakim sendiri dan membunuh seorang dokter. Bray mempertahankan 

tindakan sesama pendetanya dengan bahasa yang sama yang ia gunakan saat diwawancarai oleh 

Juergensmeyer, dengan membedakan di antara pembunuhan sebagai pembalasan dendam, 

misalnya terhadap seorang dokter yang sudah pensiun, dengan membunuh seorang dokter yang 

masih praktik sebagai sarana untuk mencegah dia ‘membunuh bayi secara berkala’. Saya 

kemudian berkata kepadanya bahwa, meskipun ketulusan kepercayaan Paul Hill tak teragukan, 

masyarakat akan jatuh ke dalam anarki yang mengerikan jika setiap orang mengandalkan 

keyakinan pribadi untuk bermain hakim sendiri, daripada mematuhi undang-undang negara. 

Bukankah jalan yang benar yaitu  berusaha untuk mengubah undang-undang, secara 

demokratis? Bray membalas: ‘Inilah masalahnya ketika kita tidak mempunyai hukum yang 

sebenarnya merupakan hukum sejati; ketika kita mempunyai hukum yang diciptakan saja oleh 

manusia pada saat itu, sewenang-wenang, sebagaimana kita lihat dalam kasus apa yang dianggap 

sebagai hak aborsi, itu dipaksakan kepada rakyat oleh para hakim...’ Kemudian kami berdebat 

mengenai konstitusi Amerika dan asal-usul hukum. Sikap Bray terhadap persoalan seperti itu 

ternyata sangat menyerupai sikap para Muslim militan yang hidup di Britania dan menyatakan 

dirinya secara terbuka sebagai terikat hanya oleh syariat Islam, tidak oleh undang-undang 

demokratis negara yang telah mereka pilih sebagai negaranya sendiri. 

  Pada 2003 Paul Hill dieksekusi untuk pembunuhan dr Britton dan pengawal pribadinya, 

dan dia berkata bahwa dia akan melakukannya lagi untuk menyelamatkan mereka yang belum 

lahir. Secara terbuka menanti kematiannya demi pergerakannya, dia berkata di suatu konferensi 

pers, ‘Saya percaya bahwa negara, dengan mengeksekusi saya, akan menjadikan saya seorang 

martir.’ Para penolak aborsi sayap-kanan yang berunjuk rasa di eksekusinya bergabung dalam 

suatu persekutuan tidak suci dengan pelawan hukuman mati sayap kiri, yang menghimbau 

supaya Gubernur Florida, Jeb Bush, ‘menghentikan kemartiran Paul Hill’. Mereka berargumen 

secara masuk akal bahwa pembunuhan yudisial Hill akan sebenarnya menghasut pembunuhan 

lebih banyak, justru bertolak belakang dengan efek pencegah yang diharapkan dari hukuman 

mati. Hill sendiri senyum sepanjang perjalanannya ke ruang eksekusi, dan berkata, ‘Aku 

mengharapkan pahala yang besar di surga....aku menanti kejayaan.’128 Dan dia mengusulkan 

supaya orang lain mengikuti pergerakannya yang penuh kekerasan. Mengantisipasi serangan 

balas dendam untuk ‘kemartiran’ Paul Hill, polisi ditetapkan siaga satu saat dia dieksekusi, dan 

beberapa individu terkait kasusnya menerima surat ancaman disertai peluru. 

  Semua keburukan ini berasal dari suatu perbedaan persepsi belaka. Ada orang yang, 

karena keyakinan religiusnya, menganggap aborsi sebagai pembunuhan dan siap untuk 

membunuh demi mempertahankan embrio, yang mereka pilih untuk sebut sebagai ‘bayi’. Di sisi 

lain ada pendukung aborsi yang sama tulusnya, yang memiliki keyakinan religius yang berbeda, 

                                                 

* Para partisan pembebasan hewan yang dengan kekerasan mengancam ilmuwan yang menggunakan hewan untuk 

penelitian medis akan mengklaim tujuan moral yang sama tingginya. 

atau tidak berkepercayaan , bersama dengan moral-moral konsekuensialis yang sudah dipikirkan baik-

baik. Mereka juga memandang dirinya sebagai idealis, menyediakan suatu layanan medis untuk 

pasien-pasien yang membutuhkannya, dan jika layanan itu tidak ada maka pasien tersebut akan 

pergi ke dukun yang berbahaya. Kedua belah pihak melihat pihak lain sebagai pembunuh atau 

pendukung pembunuhan. Kedua belah pihak, menurut penalarannya sendiri, sama tulusnya. 

  Seorang juru bicara untuk salah satu klinik aborsi yang lain mendeskripsikan Paul Hill 

sebagai seorang psikopat yang berbahaya. Tetapi orang seperti dia tidak menganggap dirinya 

sebagai psikopat yang berbahaya, mereka menganggap dirinya sebagai orang baik dan bermoral 

yang dibimbing pencipta . Memang, saya tidak mengira Paul Hill yaitu  psikopat. Hanya sangat 

religius. Berbahaya, ya, tetapi bukan psikopat. Religius secara berbahaya. Menurut iman 

religiusnya, Hill sepenuhnya benar dan bermoral untuk menembak dr Britton. Apa yang salah 

dengan Hill yaitu  iman religiusnya sendiri. Michael Bray, juga, saat saya menemuinya, tidak 

terkesan bagi saya sebagai seorang psikopat. Sebenarnya saya agak menyukainya. Saya berpikir 

bahwa dia yaitu  orang yang jujur dan tulus, bersuara halus dan cukup bijak, tetapi pikirannya 

sayangnya ditangkap oleh omong kosong religius yang beracun. 

  Hampir semua lawan kuat aborsi yaitu  orang religius secara mendalam. Pendukung 

aborsi yang tulus, apakah religius secara pribadi atau tidak, lebih mungkin akan mengikuti suatu 

filsafat moral konsekuensalis yang tidak religius, barangkali dengan menyebut pertanyaan 

Jeremy Bentham, ‘Bisakah mereka menderita?’ Paul Hill dan Michael Bray tidak melihat 

perbedaan moral di antara membunuh sebuah embrio dan membunuh seorang dokter kecuali 

bahwa embrio itu yaitu , bagi mereka, seorang ‘bayi’ yang tidak bersalah sama sekali. Orang 

konsekuensialis melihat perbedaan yang besar sekali. Sebuah embrio awal memiliki kesadaran, 

dan bentuk, seekor kecebong. Seorang dokter yaitu  makhluk dewasa dan sadar dengan harapan, 

cinta, aspirasi, ketakutan, simpanan pengetahuan manusiawi yang sangat besar, kemampuan 

untuk emosi mendalam, sangat mungkin seorang janda yang remuk dan anak yatim, barangkali 

orang tua yang sudah lansia yang masih menyayanginya. 

  Paul Hill menyebabkan penderitaan yang nyata, mendalam, dan bertahan, kepada 

makhluk dengan sistem saraf yang mampu menderita. Korban dokternya tidak melakukan apa 

pun seperti itu. Embrio-embrio awal yang belum memiliki sistem saraf tentu saja tidak 

menderita. Dan jika embrio-embrio yang diaborsi pada stadium akhir dan memiliki sistem saraf – 

meskipun semua penderitaan tercela – alasan mereka menderita bukan karena mereka manusia. 

Tidak ada alasan umum untuk mengandaikan bahwa embrio manusia pada usia berapa pun 

menderita lebih dari embrio sapi atau domba pada tahap perkembangan yang sama. Dan ada 

segala alasan untuk mengandaikan bahwa semua embrio, apakah manusia atau tidak, menderita 

jauh lebih sedikit daripada sapi atau domba dewasa di rumah jagal, khususnya rumah jagal 

kosher atau halal di mana, untuk alasan religius, mereka harus sepenuhnya sadar saat lehernya 

dipotong sesuai kepercayaan . 

  Penderitaan sulit untuk diukur,129 dan detail-detailnya dapat dibantah. Tetapi itu tidak 

memengaruhi poin utama saya, yang berkaitan dengan perbedaan di antara filsafat moral yang 

konsekuensialis sekuler dengan yang mutlak secara religius.* Satu mazhab pemikiran peduli 

mengenai apakah embrio dapat menderita. Yang lain peduli mengenai apakah embrio yaitu  

manusia. Tukang moral religius dapat didengar memperdebatkan pertanyaan seperti, ‘Kapan 

embrio yang berkembang menjadi pribadi – manusia?’ Tukang moral sekuler lebih mungkin 

                                                 

* Tentu saja, ini tidak membahas semua kemungkinan. Suatu mayoritas substansial para junjungan kristen  Amerika tidak 

mengambil sikap absolutis terhadap aborsi, dan mendukungnya secara legal (pro-choice). Lihat, misalnya, Koalisi 

Religius untuk Pilihan Reproduktif, di www.rcrc.org/. 

bertanya, ‘Tidak penting apakah embrio yang berkembang yaitu  manusia (apa artinya itu untuk 

sebuah kumpulan sel kecil?); pada usia berapa embrio apa pun yang sedang berkembang, dari 

spesies apa pun, menjadi mampu menderita?’ 

 

KEKELIRUAN BEETHOVEN BESAR 

 

  Gerakan orang anti-aborsi berikutnya dalam permainan catur verbal biasanya seperti ini. 

Poinnya bukan apakah sebuah embrio manusia dapat menderita atau tidak pada saat ini. Poinnya 

yaitu  potensinya. Aborsi membuatnya merugikan kesempatan untuk suatu kehidupan manusia 

penuh di masa depan. Gagasan ini mencapai puncaknya dalam suatu argumen retoris yang 

kebodohan ekstremnya merupakan satu-satunya pertahanannya dari tuduhan ketidakjujuran 

serius. Maksud saya yaitu  Kekeliruan Beethoven Besar, yang tersedia dalam beberapa bentuk. 

Peter dan Jean Medawar* dalam The Life Science mengatribusikan versi berikut kepada Norman 

St John Stevas (kini Lord St John), seorang Anggota Parlemen Britania dan orang awam Katolik 

Roma yang terkemuka. Dia, pada gilirannya, mendapatkannya dari Maurice Baring (1874-1945), 

seorang mualaf Katolik Roma ternama dan kolega dekat dengan para pembela kuat kepercayaan  

Katolik G.K. Chesterton dan Hilaire Belloc. Dia mempresentasikannya dalam bentuk suatu 

dialog hipotetis di antara dua dokter. 

   

‘Mengenai terminasi kehamilan, aku minta pendapatmu. Ayahnya sakit sifilis, 

ibunya tuberkulosis. Dari empat anak yang lahir, yang pertama buta, yang kedua 

meninggal, yang ketiga tuli dan bisu, yang keempat juga sakit tuberkulosis. Apa 

yang akan kau lakukan? 

  ‘Aku akan mengakhiri kehamilannya.’ 

  ‘Berarti kau akan membunuh Beethoven.’ 

 

  Internet dirasuki dengan apa yang disebut situs web pro-kehidupan (pro-life) yang 

mengulangi cerita konyol ini, dan kebetulan mengubah premis-premis faktual secara 

sembarangan. Berikut suatu versi yang lain. ‘Jika kau mengenal seorang perempuan hamil, yang 

sudah mempunyai 8 anak, tiga darinya tuli, dua darinya buta, satu tunagrahita (semua karena 

perempuannya sakit sifilis), apakah kau akan merekomendasikan bahwa dia mendapat aborsi? 

Kalau begitu kau akan membunuh Beethoven.’130 Penceritaan ini menurunkan komponis besar 

itu dari posisi kelima ke posisi kesembilan di urutan kelahiran, meningkatkan jumlah yang lahir 

tuli hingga tiga dan jumlah lahir buta hingga dua, dan memberi sifilis kepada ibunya, bukan 

ayahnya. Kebanyakan dari 43 situs web yang saya temukan ketika mencari versi cerita ini 

mengatribusikan bukan Maurice Baring melainkan seorang bernama Profesor L.R. Agnew di 

Sekolah Kedokteran UCLA, yang konon melontarkan dilema itu kepada mahasiswanya lalu 

mengatakan, ‘Selamat, Anda baru saja membunuh Beethoven.’ Kita bisa dengan ramah 

mengandaikan saja bahwa L.R. Agnew tidak pernah ada – luar biasa betapa mudahnya legenda 

urban seperti ini muncul. Saya tidak dapat menemukan apakah Baring yang menciptakan 

legendanya, atau apakah diciptakan sebelumnya. 

  Karena legenda itu tentu saja diciptakan. Isinya salah semua. Yang benar, Ludwig van 

Beethoven bukan anak ke-9 atau anak ke-5 dari orang tuanya. Dia yaitu  anak sulung – tepatnya 

nomor dua, tetapi kakaknya meninggal saat bayi, sebagaimana biasa pada zaman itu, dan bukan, 

                                                 

* Sir Peter Medawar memenangkan Penghargaan Nobel untuk Fisiologi dan Kedokteran, 1960. 

sejauh diketahui, buta atau tuli atau bisu atau tunagrahita. Tidak ada bukti bahwa orang tuanya 

sakit sifilis, meskipun benar bahwa ibunya akhirnya mati karena tuberkulosis. Penyakit itu 

tersebar luas pada saat itu. 

  Ini, sebenarnya, merupakan suatu legenda urban dalam arti penuh, suatu fabrikasi, 

disebar dengan sengaja oleh orang yang memiliki kepentingan untuk menyebarnya. Tetapi fakta 

bahwa itu kebohongan, bagaimanapun, tidak relevan. Meskipun itu bukan kebohongan, argumen 

yang disarikan darinya tetap sangat buruk. Peter dan Jean Madawar tidak perlu meragukan 

kebenaran cerita itu untuk menunjukkan kekeliruan argumennya: ‘Penalaran di belakang 

argumen kecil dan buruk ini bersifat keliru secara mengherankan, karena kecuali dikemukakan 

bahwa ada semacam hubungan kausal di antara memiliki seorang ibu yang sakit tuberkulosis dan 

seorang ayah yang sakit sifilis dengan melahirkan seorang genius musikal, dunia tidak lebih 

mungkin kehilangan seorang Beethoven karena aborsi daripada melalui pantang seks.’131 

Penolakan para Medawar yang singkat dan mengejek tidak terjawab (menurut alur salah satu 

cerpen gelap Roald Dahl, suatu keputusan yang sama-sama berat untuk tidak mendapat aborsi di 

1888 menghasilkan Adolf Hitler). Tetapi seseorang membutuhkan sedikit kecerdasan – atau 

barangkali kebebasan dari sejenis pendidikan religius tertentu – untuk menangkap poinnya. Dari 

43 situs web ‘pro-kehidupan’ yang mengutip suatu versi legenda Beethoven yang dihasilkan oleh 

pencarian Google saya pada hari saya menulis ini, tidak satu pun melihat kekeliruan logis 

argumennya. Setiap situs (semuanya religius, sebagai tambahan) menelan kekeliruan itu mentah-

mentah. Salah satunya bahkan mengakui Medawar (ditulis Medavvar) sebagai sumbernya. 

Orang-orang ini begitu bersemangat untuk memercayai suatu kekeliruan yang mendukung 

imannya, mereka bahkan tidak menyadari bahwa para Medawar mengutip argumen itu hanya 

untuk menghancurkannya. 

  Para Medawar sepenuhnya benar untuk menunjukkan bahwa kesimpulan logis dari 

argumen ‘potensi manusia’ yaitu  kita secara potensial merugikan suatu jiwa manusia atas 

kesempatannya untuk ada setiap kali kita gagal untuk mengambil kesempatan untuk 

berhubungan seks. Setiap penolakan atas setiap penawaran untuk persetubuhan oleh seorang 

individu yang subur yaitu , menurut logika ‘pro-kehidupan’ konyol ini, sama dengan membunuh 

seorang anak potensial! Bahkan menolak pemerkosaan dapat direpresentasikan sebagai 

membunuh seorang bayi potensial (dan, sebagai tambahan, ada banyak aktivis ‘pro-kehidupan’ 

yang tidak akan membolehkan aborsi bahkan bagi perempuan yang diperkosa secara kejam). 

Argumen Beethoven merupakan, sebagaimana kita bisa lihat dengan jelas, logika yang memang 

sangat buruk. Kebodohan surealnya dirangkum dengan paling baik dalam lagu luar biasa itu 

‘Every sperm is sacred’, dinyanyikan oleh Michael Palin, dengan paduan suara ratusan anak, 

dalam film Monty Python The Meaning of Life (Jika Anda belum menontonnya, silakan). 

Kekeliruan Beethoven Besar yaitu  contoh tipikal mengenai cara kita terjerumus dalam 

kekacauan logika ketika pikiran kita dibingungkan oleh absolutisme yang terinspirasi oleh 

kepercayaan . 

  Sekarang perhatikan bahwa ‘pro-kehidupan’ tidak persis berarti pro-kehidupan sama 

sekali. Artinya pro-kehidupan-manusia. Penghibahan hak istimewa unik kepada sel-sel spesies 

Homo sapiens sulit disesuaikan dengan fakta evolusi. Jujur, hal ini tidak akan mengganggu 

banyak anti-aborsionis itu yang tidak memahami bahwa evolusi yaitu  suatu fakta! Tetapi 

biarkan saya secara ringkas menjelaskan argumennya demi para aktivis anti-aborsi yang 

mungkin tahu sedikit mengenai ilmu pengetahuan. 

  Poin evolusioner sangat sederhana. Kemanusiaan sel-sel sebuah embrio tidak dapat 

menghibahkannya status moral apa pun yang unik mutlak. Tidak bisa, karena kelanjutan 

evolusioner kita dengan simpanse dan, lebih jauh, dengan setiap spesies di planet. Untuk melihat 

ini, bayangkan bahwa suatu spesies menengah, misalnya Australopithecus afarensis, ternyata 

bertahan hidup dan ditemukan di salah satu daerah terpencil di Afrika. Apakah makhluk itu 

‘terhitung sebagai manusia’ atau tidak? Bagi seorang konsekuensialis seperti saya, pertanyaan itu 

tidak layak dijawab, karena jawabannya tidak berkonsekuensi. Cukup bahwa kita akan takjub 

dan terhormat karena menemui seorang ‘Lucy’ baru. Orang absolutis, sebaliknya, harus 

menjawab pertanyaan itu, supaya bisa menerapkan prinsip moral yang menghibahkan status 

istimewa dan unik kepada manusia karena mereka yaitu  manusia. Jika terpaksa, dapat dikira 

bahwa mereka harus membuat pengadilan, seperti yang untuk apartheid di Afrika Selatan, untuk 

memutuskan apakah suatu individu tertentu ‘dianggap manusia’. 

  Meskipun suatu jawaban jelas mungkin dapat diusahakan untuk Australopithecus, 

kelanjutan bertahap yang merupakan corak tak terelakkan evolusi biologis memberi tahu kita 

bahwa harus ada suatu individu menengah yang akan cukup dekat dengan ‘perbatasan’ sehingga 

mengaburkan prinsip moral itu dan menghancurkan kemutlakannya. Cara lebih baik untuk 

mengatakan ini yaitu , tidak ada perbatasan alami dalam evolusi. Ilusi perbatasan diciptakan 

oleh fakta bahwa spesies menengah evolusioner kebetulan sudah punah. Tentu saja, argumen 

dapat dibuat bahwa manusia lebih mampu, misalnya, menderita dibandingkan dengan spesies-

spesies lain. Ini mungkin saja benar, dan kita mungkin bisa secara sah memberi status istimewa 

kepada manusia karenanya. Tetapi kelanjutan evolusioner memperlihatkan bahwa tidak ada 

pembedaan mutlak. Diskriminasi moral absolutis digerogoti secara mematikan oleh fakta evolusi. 

Suatu kesadaran kurang nyaman akan fakta ini mungkin, memang, melandasi salah satu motivasi 

utama para kreasionis untuk melawan evolusi: mereka takut pada apa yang mereka anggap 

sebagai konsekuensi moralnya. Mereka salah berpikir seperti itu tetapi, bagaimanapun, tentu 

sangat aneh untuk berpikir bahwa suatu kebenaran mengenai dunia nyata dapat dibalikkan oleh 

pertimbangan mengenai apa yang akan lebih diinginkan secara moral. 

 

BAGAIMANA ‘MODERASI’ DALAM IMAN MEMELIHARA KEFANATIKAN 

 

  Sebagai ilustrasi akan sisi gelap absolutisme, saya menyebut para junjungan kristen  di Amerika 

yang meledakkan klinik aborsi, dan Taliban di Afganistan, yang daftar kekejamannya, terutama 

kepada perempuan, saya menganggap terlalu menyakitkan untuk diceritakan ulang. Saya bisa 

saja bercerita lebih lanjut tentang Iran di bawah para ayatollah, atau Arab Saudi di bawah para 

pangeran Saud, di mana perempuan tidak boleh mengendarai mobil, dan dipermasalahkan 

bahkan jika mereka keluar dari rumah tanpa seorang saudara lelaki (yang boleh, sebagai konsesi 

yang murah hati, sebagai anak lelaki kecil).  Lihat buku Jan Goodwin, Price of Honour, untuk 

suatu investigasi dahsyat tentang perlakuan perempuan di Arab Saudi dan teokrasi-teokrasi masa 

kini yang lain. Johann Hari, salah satu penulis kolom paling ramai untuk Independent, menulis 

sebuah artikel dengan judul yang langsung menyampaikan isinya: ‘Cara terbaik untuk 

melemahkan para jihadis yaitu  memicu pemberontakan perempuan Muslim.’132 

  Atau, beralih ke Kristianitas, saya bisa saja mengutip para junjungan kristen  ‘pengangkatan’ 

Amerika yang pengaruhnya yang kuat pada kebijakan Timur Tengah Amerika dirajai oleh 

kepercayaan alkitabiah mereka bahwa Israel memiliki hak yang dikaruniai oleh pencipta  untuk 

seluruh tanah Palestina.133 Beberapa junjungan kristen  pengangkatan menjadi lebih ekstrem lagi dan 

sungguh menginginkan perang nuklir karena mereka menafsirnya sebagai ‘Armagedon’ yang, 

menurut tafsir mereka yang aneh tetapi secara mengusik populer atas kitab Wahyu, akan 

mempercepat Kedatangan Kedua junjungan kristen  .  Saya tidak bisa menulis yang lebih baik daripada 

komentar merindingkan Sam Harris, dalam Letter to a Christian Nation: 

   

Demikian tidak berlebihan untuk berkata bahwa jika kota New York tiba-tiba 

digantikan dengan bola api, suatu persentase signifikan dari populasi Amerika 

akan melihat sisi baiknya dalam awan jamur itu, karena itu akan menunjukkan 

kepada mereka bahwa hal terbaik yang pernah akan terjadi segera akan terjadi: 

kedatangan kembali Kristus. Seharusnya tidak perlu dikatakan bahwa 

kepercayaan semacam ini tidak akan berguna untuk membantu kita 

menciptakan suatu masa depan yang bertahan untuk diri kita sendiri – secara 

sosial, ekonomi, lingkungan, atau geopolitik. Bayangkan konsekuensinya jika 

komponen signifikan apa pun dalam pemerintahan AS sungguh percaya bahwa 

dunia akan segera berakhir dan bahwa akhir itu akan mulia. Fakta bahwa 

hampir separuh populasi Amerika sepertinya memercayai ini, murni 

berdasarkan dogma religius, seharusnya dianggap suatu keadaan darurat moral 

dan intelektual. 

 

  Berarti ada orang yang dibawa oleh iman religiusnya ke luar konsensus tercerahkan 

‘Zeitgeist moral’ saya. Mereka mewakili apa yang saya pernah sebut sebagai sisi gelap 

absolutisme religius, dan mereka sering disebut ekstremis. Tetapi poin saya di seksi ini yaitu , 

bahkan kepercayaan  yang lemah-lembut dan moderat membantu menyediakan iklim iman di mana 

ekstremisme berkembang biak secara alami. 

  Di Juli 2005, London menjadi korban suatu serangan bom bunuh diri yang direncanakan 

serentak: tiga bom di kereta bawah tanah dan satu di sebuah bis. Tidak seburuk serangan 2001 di 

World Trade Center, dan tentu tidak semendadak (memang, London sudah siaga untuk peristiwa 

yang persis seperti itu sejak Blair mengajukan diri kami sebagai pendukung tidak rela dalam 

penyerbuan Irak oleh Bush), namun, ledakan-ledakan London membuat Britania ngeri. Koran-

koran dipenuhi dengan penilaian sengsara mengenai apa yang mendorong empat pemuda hingga 

meledakkan dirinya dan membunuh banyak orang tidak bersalah bersama dengan mereka. Para 

pembunuh yaitu  warga Britania yang menyukai kriket dan sopan-santun, persis jenis pemuda 

yang dengannya kita akan senang menghabiskan waktu bersama. 

  Kenapa pemuda yang menyukai kriket ini melakukannya? Berbeda dengan pemuda di 

Palestina, atau para pilot kamikaze di Jepang, atau para Macan Tamil di Sri Lanka, bom manusia 

ini tidak memiliki harapan bahwa keluarga yang mereka tinggalkan akan dihormati, diurus atau 

didukung dengan uang pensiun martir. Sebaliknya, saudara mereka dalam kasus tertentu terpaksa 

menyembunyikan diri. Salah satu lelaki dengan sembrono membuat istrinya yang hamil seorang 

janda dan membuat anak balitanya seorang yatim. Tindakan empat pemuda ini merupakan 

malapetaka tidak hanya untuk diri mereka sendiri dan korban mereka, tetapi untuk keluarga 

mereka dan untuk seluruh komunitas Muslim di Britania, yang kini kena sangsi. Hanya iman 

religius yang cukup kuat untuk memaksa atau memotivasikan kegilaan seperti itu dalam orang 

yang selain dari itu waras dan baik. Sekali lagi, Sam Harris membuat poinnya secara terus terang 

dan berwawasan, dengan mengangkat contoh pemimpin Al-Qaeda, Osama bin Laden (yang, 

sebagai tambahan, tidak berkaitan dengan pengeboman London). Kenapa siapa pun akan ingin 

menghancurkan World Trade Center dengan semua orang di dalamnya? Memanggil bin Laden 

‘jahat’ yaitu  menghindari tanggung jawab kita untuk menjawab secara layak suatu  pertanyaan 

yang begitu penting. 

   

Jawaban pertanyaan ini sangat nyata – hanya karena telah diartikulasikan 

dengan sabar berulang kali oleh bin Laden sendiri. Jawabanya yaitu , orang 

seperti bin Laden sungguh percaya apa yang mereka katakan mereka percayai. 

Mereka percaya pada kebenaran harfiah Alquran. Kenapa 19 lelaki kaum 

menengah berpendidikan menukar nyawa mereka di dunia ini untuk kesempatan 

membunuh ribuan tetangga kita? Karena mereka percaya bahwa mereka akan 

langsung masuk surga dengan melakukannya. Jarang kita menemukan bahwa 

perilaku manusia dijelaskan dengan begitu lengkap dan memadai. Kenapa kita 

begitu enggan menerima penjelasan ini?134 

 

  Wartawan terhormat Muriel Gray, menulis di Glasgow Herald pada 24 Juli 2005, 

membuat poin yang serupa, dalam kasus ini merujuk pengeboman London. 

  

Semua orang disalahkan, dari duo penjahat jelas, George W. Bush dan Tony 

Blair, hingga kepasifan ‘komunitas’ Muslim. Tetapi belum pernah lebih jelas 

bahwa hanya ada satu pihak untuk disalahkan, dan memang dari dulu demikian. 

Penyebab semua kesengsaraan, kekacauan, kekerasan, teror dan ketidaktahuan 

tentu saja yaitu  kepercayaan  sendiri, dan jika terkesan konyol bahwa saya harus 

menyatakan realitas yang begitu jelas, faktanya yaitu , pemerintahan dan media 

cukup berhasil dalam berpura-pura bahwa hal itu tidak benar. 

 

  Politikus-politikus Barat kita menghindari penyebutan istilah R itu (religion), dan malah 

mendeskripsikan pertempurannya sebagai perang melawan ‘teror’, seolah-olah teror yaitu  

semacam roh atau kekuatan, dengan kehendak dan pikirannya sendiri. Atau mereka 

mendeskripsikan para teroris sebagai termotivasi oleh ‘kejahatan’ murni. Tetapi mereka tidak 

termotivasi oleh kejahatan. Sebetapa bingung kita menilai mereka, mereka termotivasi, seperti 

para junjungan kristen  yang membunuh dokter aborsi, oleh apa yang mereka lihat sebagai kesalehan, 

dengan setia mengejar apa yang mereka disuruh oleh kepercayaan nya. Mereka bukan psikotik; mereka 

yaitu  idealis religius yang, menurut penilaiannya sendiri, rasional. Mereka melihat tindakan 

mereka sebagai baik, tidak karena suatu kekhasan pribadi yang tidak beres, dan tidak karena 

mereka kesurupan Iblis, tetapi karena mereka dibesarkan, sejak bayi, untuk memiliki iman yang 

total dan tidak kritis. Sam Harris mengutip seorang pengebom bunuh diri Palestina yang gagal 

yang berkata bahwa apa yang mendorongnya untuk membunuh orang Israel yaitu  ‘cinta akan 

kemartiran...aku tidak ingin membalas dendam untuk apa pun. Aku hanya ingin menjadi seorang 

martir.’ Pada 19 November 2001, The New Yorker memuat wawancara oleh Nasra Hassan 

dengan seorang pengebom bunuh diri yang lain yang gagal, seorang Palestina yang sopan, 

berusia 27, disebut sebagai ‘S’. Penjelasannya begitu puitis mengenai godaan surga, 

sebagaimana diceritakan dalam khotbah pemimpin dan guru religius moderat, sehingga saya 

menganggapnya layak dikutip dengan cukup panjang: 

 

“Apa menariknya mati syahid?’ Saya bertanya. 

  ‘Kekuatan roh menarik kita ke atas, sedangkan kekuatan benda material 

menarik kita ke bawah,’ katanya. ‘Seorang yang bertekad mati syahid menjadi 

kebal terhadap tarikan material itu. Perencana kami bertanya, “Bagaimana jika 

operasinya gagal?” Kami menjawabnya, “Bagaimanapun, kami sempat 

menemui Nabi dan sahabatnya, insyaallah.” 

  ‘Kami mengapung, berenang, dalam rasa bahwa kami segara akan 

memasuki keabadian. Kami tidak ragu. Kami bersumpah atas Alquran, dalam 

kehadiran Allah – sumpah untuk tidak . Sumpah jihad ini disebut bayt al-

ridwan, untuk taman di Surga yang dikhususkan untuk para nabi dan martir. 

Saya tahu bahwa ada cara lain untuk berjihad. Tetapi cara ini manis – yang 

paling manis. Semua operasi mati syahid, jika dilakukan demi Allah, kalah 

menyakitkan dengan gigitan lalat!’ 

  S memperlihatkan saya sebuah video yang mendokumentasikan perencanaan 

akhir operasinya. Dalam rekaman yang kabur, saya melihatnya dan dua pemuda 

yang lain melakukan dialog ritual yang terdiri dari tanya-jawab mengenai 

keluhuran mati syahid... 

  Para pemuda dan si perencana lalu berlutut dan menaruh tangan kanannya 

pada Alquran. Kata si perencana: ‘Apa engkau siap? Besok, engkau akan berada 

di Surga.’135 

 

  Jika saya yaitu  ‘S’, saya akan tergoda untuk menanyai perencana, ‘Kalau begitu, kenapa 

bukan kau yang berani pegang kata-katamu? Kenapa kau tidak melakukan misi bunuh diri ini 

dan ambil jalan pintas ke Surga?’ Tetapi apa yang begitu sulit kita pahami yaitu  – dengan 

mengulangi poinnya karena begitu penting – orang-orang ini sungguh percaya apa yang mereka 

katakan mereka percayai. Pesan utama yaitu , kita harus menyalahkan kepercayaan  itu sendiri, bukan 

ekstremisme religius – seolah-olah ekstremisme merupakan semacam kesesatan buruk dari 

kepercayaan  yang asli dan baik. Voltaire sudah benar sejak lama: ‘Mereka yang dapat membuatmu 

memercayai absurditas dapat membuatmu melakukan kekejaman.’ Bertrand Russell juga: 

‘Banyak orang akan lebih memilih untuk mati daripada berpikir. Sebenarnya mereka melakukan 

itu.’ 

  Asalkan kita menerima prinsip bahwa iman religius harus dihormati hanya karena ada, 

sulit untuk tidak menghormati untuk iman Osama bin Laden dan para pengebom bunuh diri. 

Alternatifnya, yang saking jelasnnya seharusnya tidak perlu dikatakan, yaitu  melepaskan 

prinsip penghormatan otomatis untuk iman religius. Ini yaitu  salah satu alasan saya membuat 

sebisa mungkin untuk memperingati orang mengenai iman sendiri, dan tidak hanya apa yang 

disebut iman ‘ekstremis’. Ajaran kepercayaan  ‘modern’, meskipun tidak ekstrem pada dirinya sendiri, 

merupakan undangan terbuka kepada ekstremisme. 

  Mungkin dapat dikatakan bahwa tidak ada yang istimewa mengenai iman religius di sini. 

Cinta patriotis untuk negara atau kelompok etnis dapat juga membuat dunia aman untuk versi 

ekstremismenya sendiri, bukan? Ya, sama seperti para kamikaze di Jepang dan Macan Tamil di 

Sri Lanka. Tetapi iman religius merupakan pemadam perhitungan rasional yang ampuh secara 

khusus dan biasanya mengatasi semuanya yang lain. Ini terutama, saya menduga, karena janji 

yang mudah dan menggoda bahwa kematian bukan akhir, dan bahwa surga seorang martir 

memiliki keluhuran khusus. Tetapi itu juga sebagian karena iman mematikan pertanyaan, 

menurut kodratnya sendiri. 

  Kristianitas, sebagaimana juga dengan Islam, mengajarkan anak-anak bahwa iman tidak 

kritis yaitu  suatu keutamaan. Kepercayaan tidak perlu dipertahankan secara rasional. Jika 

seseorang menyatakan bahwa suatu yaitu  bagian dari imannya, seluruh masyarakat, apakah 

imannya sama, atau berbeda, atau tidak ada, diwajibkan, oleh adat kental, untuk 

‘menghormati’nya tanpa pertanyaan; menghargainya hingga hari iman itu memanifestasikan 

dirinya dalam pembantaian mengerikan seperti penghancuran World Trade Center, atau 

pengeboman London atau Madrid. Lalu ada paduan suara besar penyangkalan, ketika para imam 

dan ‘tokoh masyarakat’ (siapa yang memilih mereka, juga?) bergegas untuk menjelaskan bahwa 

ekstremisme yaitu  penyesatan dari iman ‘asli’. Tetapi bagaimana bisa ada penyesatan iman, 

jika iman, yang tidak ada pembenaran objektif, tidak memiliki tolok ukur yang dapat 

didemonstrasikan untuk disesatkan? 

  Sepuluh tahun yang lalu, Ibn Warraq, dalam bukunya yang luar biasa, Why I Am Not a 

Muslim, membuat poin yang serupa dari sudut pandang seorang sarjana Islam dengan 

pengetahuan yang mendalam. Memang, suatu judul alternatif baik untuk buku Warraq mungkin 

yaitu  The Myth of Moderate Islam, yang merupakan judul untuk sebuah artikel yang lebih baru 

dalam London Spectator (30 Juli 2005) oleh seorang sarjana lain, Patrick Sookhdeo, kepala 

Institut Kajian Islam dan Kristianitas. ‘Mayoritas sangat besar Muslim saat ini hidup tanpa 

mengandalkan kekerasan, karena Alquran menyerupai seleksi yang darinya kita dapat memilih-

milih. Jika Anda menginginkan kedamaian, Anda bisa menemukan ayat yang berdamai. Jika 

Anda menginginkan perang, Anda bisa menemukan ayat untuk berperang.’ 

  Sookhdeo kemudian menjelaskan bagaimana para sarjana Islam, agar bisa menerima 

banyaknya kontradiksi yang mereka temukan dalam Alquran, mengembangkan prinsip naskh, 

yang menurutnya teks-teks yang lebih akhir mengungguli teks yang lebih awal. Sayangnya, 

bagian Alquran yang berdamai kebanyakan merupakan teks awal, dari saat Muhammad tinggal 

di Mekkah. Ayat yang lebih bernuansa perang cenderung lebih akhir, setelah pelariannya ke 

Madinah. Hasilnya yaitu  

   

mantra ‘Islam yaitu  kepercayaan  damai’ hampir 1400 tahun mubazir. Hanya selama 

sekitar 13 tahun, Islam yaitu  kepercayaan  damai, dan hanya damai. Bagi Muslim-

Muslim radikal saat ini – sama seperti bagi para fakih abad pertengahan yang 

mengembangkan Islam klasik – lebih benar berkata bahwa ‘Islam yaitu  kepercayaan  

perang’. Salah satu kelompok Islam paling radikal di Britania, al-Ghurabaa, 

menyatakan bahwa setelah kedua pengeboman London, ‘Muslim siapa pun 

yang menolak bahwa teror yaitu  bagian dari Islam yaitu  kafir.’ Seorang kafir 

yaitu  orang yang tidak beriman (yaitu, seorang non-Muslim), suatu istilah 

yang sangat menghina... 

  Apakah mungkin para pemuda yang bunuh diri tidak berada pada pinggiran 

masyarakat Muslim di Britania, dan tidak juga mengikuti tafsir eksentrik dan 

ekstremis atas kepercayaan nya, tetapi mereka malah berasal dari pusat komunitas 

Muslim dan termotivasi oleh tafsir Islam aliran utama? 

 

  Secara lebih umum (dan ini juga berlaku untuk Kristianitas, tidak hanya Islam), apa yang 

sungguh berbahaya yaitu  praktik pengajaran anak bahwa iman sendiri yaitu  suatu keutamaan. 

Iman yaitu  suatu kejahatan justru karena tidak membutuhkan pembenaran dan tidak 

menoleransi argumen. Mengajarkan anak bahwa iman tidak kritis yaitu  suatu keutamaan 

menyiapkan mereka – ditambah beberapa bahan tertentu yang lain yang tidak sulit ditemukan – 

saat dewasa untuk menjadi senjata yang berpotensi letal untuk jihad atau perang salib masa 

depan. Kebal terhadap ketakutan karena janji surga seorang martir, fanatik sejati layak mendapat 

kedudukan tinggi di sejarah senjata, di samping panah, kuda perang, tank, dan bom tandan. Jika 

anak-anak diajarkan untuk mempertanyakan dan memikirkan kepercayaan mereka, daripada 

diajarkan keutamaan unggul iman tidak kritis, dapat diperkirakan bahwa tidak akan ada 

pengebom bunuh diri. Pengebom bunuh diri melakukan apa yang mereka lakukan karena mereka 

sungguh percaya apa yang mereka diajarkan di sekolah religiusnya: bahwa kewajiban kepada 

pencipta  melampaui semua prioritas yang lain, dan bahwa mati syahid deminya akan dihargai di 

taman-taman Surga. Dan mereka diajarkan pelajaran itu belum tentu oleh fanatik ekstremis tetapi 

oleh pengajar religius yang baik, lemah lembut, dan aliran utama, yang membariskannya di 

madrasahnya, duduk tersusun, mengangguk-angguk kepalanya yang tidak bersalah secara 

berirama sambil mereka mempelajari setiap kata dari kitab sucinya seperti burung beo sesat. 

Iman bisa menjadi sangat sangat berbahaya, dan sengaja menanamkannya dalam pikiran rentan 

seorang anak tidak bersalah yaitu  kesalahan berat. Kepada masa kanak-kanak sendiri, dan 

perkosaan masa kanak-kanak oleh kepercayaan , kita belok di bab berikutnya. 

  

BAB 9 

 MASA KANAK-KANAK, KEKERASAN, DAN PELARIAN DARI kepercayaan  

 

Di setiap desa ada sebuah obor – gurunya: dan sebuah pemadam –  pendetanya. 

  –VICTOR HUGO 

 

  Saya mulai dengan suatu anekdot dari Italia abad ke-19. Saya tidak bermaksud untuk 

menyiratkan bahwa apa pun seperti kisah tragis ini dapat terjadi saat ini. Tetapi sikap pikiran 

yang terungkap olehnya sayangnya masih berlaku, meskipun detail-detail praktisnya sudah tidak. 

Tragedi manusia abad ke-19 ini menerangkan tanpa ampun sikap-sikap religius saat ini terhadap 

anak-anak. 

  Di 1858 Edgardo Mortara, seorang anak berusia enam tahun dari orang tua Yahudi yang 

tinggal di Bologna, ditangkap sesuai hukum oleh polisi Vatikan yang diutus oleh Inkuisisi. 

Edgardo diseret paksa dari ibunya yang menangis dan ayahnya yang gelisah ke Katekumen 

(rumah pindah kepercayaan  untuk Yahudi dan Muslim) di Roma, dan setelah itu dibesarkan sebagai 

seorang Katolik Roma. Selain dari beberapa kunjungan singkat yang diawasi secara ketat oleh 

pastor, orang tuanya tidak pernah melihatnya lagi. Kisah itu diceritakan oleh David I. Kertzer 

dalam bukunya yang menakjubkan, The Kidnapping of Edgardo Mortara. 

  Kisah Edgardo sama sekali tidak aneh di Italia pada saat itu, dan alasan untuk penculikan 

oleh pastor itu selalu sama. Dalam setiap kasus, si anak telah dibaptis secara diam-diam pada 

suatu saat yang lebih awal, biasanya oleh seorang pembantu Katolik, dan Inkuisisi kemudian 

mendapat kabar mengenai pembaptisan itu. Suatu unsur inti dari sistem kepercayaan Katolik 

Roma yaitu , ketika seorang anak sudah dibaptis, betapa pun tidak resmi dan rahasia, anak itu 

diubah secara tak dapat ditarik kembali menjadi seorang junjungan kristen . Dalam dunia mental mereka, 

membiarkan seorang ‘anak junjungan kristen ’ tinggal dengan orang tua Yahudinya bukan suatu pilihan, 

dan mereka secara tegas mempertahankan sikap yang aneh dan kejam ini, dengan penuh 

ketulusan, menghadapi kemarahan dari seluruh dunia. Kemarahan tersebut ditolak oleh koran 

Katolik Civilta Cattolica sebagai akibat dari kekuasaan internasional para Yahudi kaya – itu 

tidak terdengar asing, ‘kan? 

  Terlepas dari publisitas yang dipicu olehnya, riwayat Edgardo Mortara sangat tipikal bagi 

banyak anak lain. Dia pernah dijaga oleh Anna Morisi, seorang gadis Katolik yang buta huruf 

dan pada saat itu baru berusia 14 tahun. Edgardo jatuh sakit dan Anna panik, mengira bahwa dia 

akan meninggal. Dibesarkan dalam kedunguan kepercayaan bahwa seorang anak yang mati 

dalam keadaan tidak dibaptis akan menderita selamanya di neraka, dia minta nasihat dari seorang 

tetangga Katolik yang mengajarkannya cara melakukan pembaptisan. Dia kembali ke rumahnya, 

menyiram sedikit air dari ember ke kepala Edgardo kecil dan berkata, ‘Aku membaptis kamu 

dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.’ Begitu saja. Sejak saat itu, Edgardo secara legal 

yaitu  seorang junjungan kristen . Ketika para pastor Inkuisisi mendapat kabar mengenai kejadiannya 

beberapa tahun kemudian, mereka bertindak dengan cepat dan tegas, tanpa mempertimbangkan 

konsekuensi menyedihkan dari tindakan itu. 

  Secara mengherankan, untuk suatu ritus yang dapat begitu signifikan bagi seluruh 

keluarga besarnya, Gereja Katolik membolehkan (dan tetap membolehkan) siapa pun untuk 

membaptis siapa pun yang lain. Si pembaptis tidak perlu pastor. Si anak, atau orang tua, atau 

siapa pun yang lain tidak harus menyetujui pembaptisannya. Tidak ada yang harus 

ditandatangani. Tidak ada yang harus disaksikan secara resmi. Yang diperlukan hanyalah 

siraman air, beberapa patah kata, dan seorang pramusiwi yang menganut takhayul dan telah 

dicuci otaknya oleh katekismus. Sebenarnya, hanya hal terakhir tersebut yang dibutuhkan karena, 

seandainya anaknya terlalu muda untuk menjadi saksi, siapa yang akan tahu? Seorang kolega 

dari Amerika yang dibesarkan sebagai Katolik menulis kepada saya sebagai berikut: ‘Dulu kami 

membaptis boneka-boneka kami. Saya tidak mengingat jika ada dari kami yang membaptis 

teman Protestan kami tetapi tak teragukan itu pernah terjadi dan masih terjadi saat ini. Kami 

menjadikan boneka kami orang Katolik kecil, membawa mereka ke gereja, memberi mereka 

Perjamuan Kudus dst. Kami telah dicuci otak untuk menjadi ibu-ibu Katolik yang baik sejak 

dini.’ 

  Jika gadis-gadis abad ke-19 sedikit saja menyerupai penulis surat tersebut di zaman 

modern, menjadi agak mengejutkan bahwa kasus seperti Edgardo Mortara tidak lebih lazim 

daripada yang sebenarnya. Bagaimanapun, kisah seperti itu sayangnya sangat sering terjadi di 

Italia pada abad ke-19, yang menimbulkan suatu pertanyaan yang mudah dipikirkan. Kenapa 

para Yahudi di Negara-negara Kepausan mempekerjakan pelayan Katolik, dengan risiko 

mengerikan yang bisa menyusul darinya? Kenapa mereka tidak memastikan bahwa mereka 

hanya menerima pelayan Yahudi? Jawabannya, sekali lagi, sama sekali tidak terkait dengan akal 

sehat dan terkait erat dengan kepercayaan . Para Yahudi membutuhkan pelayan yang kepercayaan nya tidak 

melarangnya untuk bekerja pada hari sabat. Seorang pembantu Yahudi memang dapat 

diandalkan untuk tidak membaptis anak Anda sehingga menjadi anak yatim piatu rohani. Tetapi 

dia tidak dapat menyalakan api atau membersihkan rumah pada hari Sabtu. Ini alasannya, dari 

keluarga-keluarga Yahudi di Bologna pada saat itu yang mampu mempekerjakan pelayan, 

kebanyakan mempekerjakan orang Katolik. 

  Dalam buku ini, saya dengan sengaja tidak mendeskripsikan kengerian Perang-perang 

Salib, para conquistadores, atau Inkuisisi Spanyol. Orang-orang kejam dan jahat dapat 

ditemukan di setiap abad dan setiap kelompok manusia. Tetapi kisah ini mengenai Inkuisisi Italia 

dan sikapnya terhadap anak-anak secara khusus menyingkap pikiran religius, dan kejahatan-

kejahatan yang muncul justru karena pikiran itu religius. Pertama, persepsi menakjubkan oleh 

pikiran religius bahwa siraman air dan mantra verbal singkat dapat sepenuhnya mengubah hidup 

seorang anak, secara yang mendahului persetujuan orang tua, persetujuan anak itu sendiri, 

kebahagiaan dan keadaan baik psikologis anak itu sendiri...segala sesuatu yang akal sehat dan 

rasa manusiawi biasa akan anggap penting. Kardinal Antonelli menguraikannya pada saat itu 

dalam sepucuk surat kepada Lionel Rothschild, Anggota Parlemen Yahudi pertama di Britania, 

yang sebelumnya menulis untuk memprotes penculikan Edgardo. Kardinal itu membalas bahwa 

dia tidak mampu campur tangan, dan menambah, ‘Di sini mungkin cocok mengamati bahwa, jika 

suara alam itu ampuh, kewajiban suci kepercayaan  lebih ampuh lagi.’ Ya, kalau begitu, sepertinya 

tidak ada yang lain yang dapat ditambahkan. 

  Kedua yaitu  fakta luar biasa bahwa para pastor, kardinal, dan Sri Paus sepertinya 

dengan tulus tidak memahami betapa buruknya hal yang mereka lakukan kepada Edgardo 

Mortara yang malang. Semuanya melampaui pemahaman yang bijaksana, tetapi mereka sungguh 

percaya bahwa mereka berbuat baik deminya dengan merenggutnya dari orang tuanya agar dia 

bisa dibesarkan secara Kristiani. Mereka merasa berkewajiban untuk melindungi! Sebuah koran 

Katolik di Amerika Serikat mempertahankan sikap Sri Paus terhadap kasus Mortara, dengan 

berargumen bahwa tidak dapat dibayangkan bahwa suatu pemerintahan Kristiani ‘akan 

membiarkan seorang anak junjungan kristen  dibesarkan oleh seorang Yahudi’ dan menyebut prinsip 

kebebasan berkepercayaan , ‘kebebasan seorang anak untuk menjadi seorang junjungan kristen  dan tidak terpaksa 

untuk menjadi seorang Yahudi ... perlindungan Bapa Suci atas anaknya, menghadapi semua 

kefanatikan ketidaksetiaan dan intoleransi yang buas, yaitu  pertunjukan moral terbesar yang 

pernah disaksikan di dunia selama berzaman-zaman.’ Apakah pernah ada penyalahgunaan begitu 

nekat atas kata-kata seperti ‘terpaksa’, ‘ganas’, ‘kefanatikan’, dan ‘intoleransi’? Namun, menurut 

semua indikasinya, para apologis dari Sri Paus sampai ke strata paling bawah di hierarki, dengan 

tulus percaya bahwa apa yang mereka lakukan itu benar: benar secara mutlak dan moral, dan 

benar untuk kebaikan anak itu. Begitulah kekuatan kepercayaan  (aliran utama dan ‘moderat’) untuk 

membengkokkan penilaian dan menyesatkan kebaikan manusia biasa. Koran Il Cattolico 

mengaku kebingungan mengenai kegagalan umum untuk melihat betapa murah hati dan baik 

Gereja terhadap Edgardo Mortara ketika menyelamatkannya dari keluarga Yahudinya: 

   

Siapa pun di antara kita yang sedikit saja memikirkan persoalan ini secara 

serius, membandingkan keadaan Yahudi –  tanpa Gereja yang benar, tanpa Raja, 

dan tanpa negara, tersebar dan selalu seorang asing di mana pun dia hidup di 

muka bumi, dan lagi pula, terkenal jahat untuk noda jelek yang menandai para 

pembunuh Kristus...akan langsung memahami betapa besar keuntungan 

temporal yang Sri Paus peroleh untuk anak Mortara itu. 

 

  Ketiga yaitu  kesombongan yang melaluinya orang-orang religius tahu, tanpa bukti, 

bahwa iman kelahirannya yaitu  satu-satunya yang benar, yang lain semua penyesatan atau 

palsu belaka. Kutipan-kutipan di atas memberi contoh sangat jelas atas sikap ini pada pihak 

Kristiani. Akan tidak adil sekali menganggap kedua belah pihak di perkara ini sama, tetapi ini 

yaitu  tempat yang lumayan baik untuk mencatat bahwa para Mortara dapat langsung mendapat 

Edgardo kembali, seandainya mereka hanya menerima permohonan para pastor dan setuju untuk 

dibaptis. Edgardo telah diculik terlebih dahulu karena siraman air dan selusin kata yang tidak 

bermakna. Saking konyolnya pikiran yang terindoktrinasi oleh kepercayaan , hanya dua siraman lagi 

yang dibutuhkan untuk membalikkan seluruh prosesnya. Bagi beberapa dari kita, penolakan 

orang tuanya menunjukkan kekerasan kepala yang ceroboh. Bagi orang lain, sikap berprinsip 

mereka menaikkan mereka hingga masuk daftar panjang martir demi semua kepercayaan  sepanjang 

zaman-zaman. 

  ‘Hibur dirimu, Tuan Ridley, dan dewasalah: kita pada hari ini dengan rahmat pencipta  akan 

menyalakan lilin yang begitu besar di Inggris, yang saya percaya tidak pernah akan 

dipadamkan.’ Tak teragukan bahwa ada tujuan, yang mati untuknya yaitu  hal yang luhur. 

Tetapi bagaimana bisa para martir Ridley, Latimer dan Cranmer membiarkan diri mereka 

dibakar daripada menyangkal Protestanisme mereka yang picik demi Kekatolikan yang picik –  

apakah perbedaannya begitu penting? Begitulah keyakinan keras kepala –  atau layak dipuji, 

tergantung sudut pandang –  pikiran religius, sehingga para Mortara tidak sampai hati mengambil 

kesempatan yang ditawarkan oleh ritus pembaptisan yang tidak bermakna. Bukankah mereka 

bisa menyilangkan jari, atau membisik ‘tidak’ pelan-pelan sambil dibaptis? Tidak, mereka tidak 

bisa, karena mereka dibesarkan dalam suatu kepercayaan  (moderat), dan karena itu menganggap 

sandiwara konyol itu serius. Kalau saya sendiri hanya memikirkan Edgardo kecil yang malang –  

yang tidak minta untuk dilahirkan dalam dunia yang didominasi oleh pikiran religius, terkena 

dalam baku tembak, dijadikan anak yatim piatu dalam kekejaman yang berniat baik tetapi, bagi 

seorang anak, menghancurkan. 

  Keempat, mengenai tema yang sama, asumsi bahwa seorang anak berusia 6 dapat 

dikatakan memiliki kepercayaan  sama sekali, apakah itu Yahudi atau junjungan kristen  atau apa pun yang lain. 

Dengan kata lain, ide bahwa membaptis seorang anak yang tidak sama sekali mengetahui atau 

memahami ritusnya dapat secara kilat mengubahnya dari satu kepercayaan  ke kepercayaan  lain terkesan 

absurd –  tetapi tentu tidak lebih absurd daripada melabeli seorang anak kecil sebagai termasuk 

dalam salah satu kepercayaan  tertentu terlebih dahulu. Apa yang penting bagi Edgardo bukan kepercayaan  

‘dia’ (dia terlalu muda untuk memiliki pendapat religius yang sudah dipikirkan baik-baik) tetapi 

kasih sayang dan pemeliharaan orang tua dan keluarganya, dan dia kehilangan itu karena para 

pastor selibat yang kekejaman mengerikannya hanya diredakan oleh ketidakpekaan kasarnya 

terhadap perasaan manusia biasa –  suatu ketidakpekaan yang muncul dengan terlalu mudah 

dalam pikiran yang dibajak oleh iman religius. 

  Bahkan tanpa penculikan fisik, bukannya selalu salah satu bentuk kekerasan terhadap 

anak-anak untuk melabelkan anak sebagai pemilik kepercayaan yang mereka terlalu muda untuk 

pikirkan? Namun praktik itu masih lazim hingga saat ini, hampir tidak pernah dipertanyakan. 

Mempertanyakannya yaitu  tujuan utama saya dalam bab ini. 

 

KEKERASAN FISIK DAN MENTAL 

 

  Sebutan kekerasan pastor terhadap anak dewasa ini diasumsikan sebagai kekerasan 

seksual, dan saya merasa diwajibkan, pada mulanya, untuk menyelesaikan persoalan kekerasan 

seksual secara proporsional agar tidak perlu dibahas lagi. Orang lain telah mengamati bahwa kita 

hidup pada zaman histeria mengenai pedofilia, suatu mentalitas ikut-ikutan yang mengingatkan 

saya akan pemburuan penyihir di Salem pada 1692. Pada Juli 2000, News of the World, secara 

luas diakui sebagai koran Britania yang paling menjijikkan di hadapan para pesaing kuatnya 

yang lain, mengadakan suatu kampanye ‘namakan dan permalukan’, yang berhenti hanya 

beberapa langkah sebelum menghasut orang untuk bermain hakim sendiri dan bertindak 

langsung secara keras terhadap pedofil. Rumah seorang dokter spesialis anak di rumah sakit 

diserang oleh orang fanatik yang tidak menyadari akan perbedaan di antara seorang dokter 

spesialis anak dan seorang pedofil.136 Histeria ikut-ikutan mengenai pedofil telah mencapai 

tingkat epidemi dan mendorong orang tua hingga panik. Para Just Williams, Huck Finn, dan 

Swallow dan Amazon saat ini kehilangan kebebasan untuk mengembara yang merupakan suatu 

kesenangan khusus masa kanak-kanak pada zaman sebelumnya (ketika risiko nyata pelecehan 

seksual, dibandingkan dengan risiko yang dipersepsikan, besar kemungkinan sama saja). 

  Agar adil terhadap News of the World, pada waktu kampanye itu, keadaan sudah 

dipanaskan oleh suatu pembunuhan yang sungguh mengerikan dan termotivasi secara seksual. 

Korbannya yaitu  seorang gadis berusia 8 tahun yang diculik di Sussex. Namun, jelas tidak adil 

untuk membalas dendam kepada semua pedofil secara yang layak hanya untuk minoritas sangat 

kecil yang juga pembunuh. Ketiga sekolah asrama di mana saya belajar mempekerjakan guru 

yang kesayangannya terhadap anak lelaki kecil melanggar batas kesusilaan. Hal itu memang 

layak dikecam. Namun jika, 50 tahun kemudian, mereka diburu oleh orang yang main hakim 

sendiri atau pengacara dan dianggap tidak lebih baik daripada pembunuh anak, saya akan merasa 

diwajibkan untuk mempertahankan mereka, bahkan sebagai korban salah satunya (suatu 

pengalaman yang memalukan tetapi selain dari itu tidak berbahaya). 

  Gereja Katolik Roma telah memikul sebagian berat dari beban kesalahan retrospektif itu. 

Untuk beraneka ragam alasan, saya tidak menyukai Gereja Katolik Roma. Tetapi saya lebih tidak 

menyukai ketidakadilan, dan saya tidak bisa tidak bertanya apakah satu lembaga ini telah 

dijelekkan secara tidak adil mengenai persoalan ini, khususnya di I


delusi tuhan 15


 


rlandia dan Amerika. Saya 

mengira sebagian kedongkolan publik tambahan berasal dari kemunafikan para pastor yang 

kehidupan profesionalnya terutama berurusan dengan membangkitkan rasa bersalah mengenai 

‘dosa’. Lalu ada penyalahgunaan kepercayaan oleh tokoh yang berwibawa, yang anak itu dilatih 

sejak bayi untuk kagumi. Kedongkolan tambahan seperti itu seharusnya membuat kita lebih 

waspada lagi agar tidak terlalu cepat menilai. Kita harus menyadari akan kekuatan luar biasa 

pikiran untuk menciptakan ingatan palsu, khususnya jika dibantu oleh terapis tidak beretika dan 

pengacara mata duitan. Psikolog Elizabeth Loftus telah menunjukkan keberanian besar, 

menghadapi kepentingan yang penuh dengki, dengan mendemonstrasikan betapa mudah orang 

bisa mengarang ingatan yang seluruhnya palsu tetapi yang terkesan, bagi korban, sama nyatanya 

dengan ingatan asli.137 Hal ini saking berlawanan dengan intuisi, juri-juri masih dibujuk dengan 

mudah oleh kesaksian tulus tetapi palsu.  

  Dalam kasus partikular Irlandia, bahkan tanpa kekerasan seksual, brutalitas para Bruder 

junjungan kristen ,138 yang bertanggung jawab untuk pendidikan sebagian besar penduduk lelaki negaranya, 

sudah legendaris. Dan hal yang sama dapat dikatakan mengenai para suster yang sering kejam 

seperti iblis yang mengepalai banyak sekolah gadis di Irlandia. Sekolah-sekolah Magdalene yang 

terkenal buruk, subjek film Peter Mullan The Magdalene Sisters, terus bereksistensi hingga 

1996. Empat puluh tahun kemudian, menjadi lebih sulit mendapat kompensasi untuk pemukulan 

daripada untuk rabaan seksual, dan tidak ada kekurangan pengacara yang secara aktif mencari 

klien di antara para korban yang seandainya tidak dihasut mungkin tidak akan mengungkit masa 

lalu yang sudah lama. Ada emas dalam rabaan ceroboh di ruang belakang gereja – memang, 

beberapa darinya begitu lama sehingga tersangka besar kemungkinan sudah mati dan tidak 

mampu mempresentasikan ceritanya dari sudut pandangnya sendiri. Gereja Katolik di seluruh 

dunia telah membayar lebih dari satu miliar dolar sebagai kompensasi.139 Kita hampir dibuat 

bersimpati dengannya, sebelum kita mengingat dari mana semua uang mereka berasal. 

  Pernah, di sesi tanya-jawab setelah suatu ceramah di Dublin, saya ditanyai pendapat saya 

mengenai kasus-kasus kekerasan seksual pastor-pastor Katolik di Irlandia yang pada saat itu 

menerima banyak publisitas. Saya membalas bahwa, meskipun kekerasan seksual tentu saja 

mengerikan, dapat dikemukakan bahwa kerusakannya tidak seberat kerusakan psikologis akibat 

anak itu dibesarkan secara Katolik. Itu yaitu  komentar spontan yang dikeluarkan begitu saja, 

dan saya heran bahwa komentar itu mendapat tepukan tangan antusias dari hadirin Irlandia itu 

(yang harus diakui terdiri dari para intelektual Dublin dan kemungkinan besar tidak mewakili 

negaranya pada umumnya). Tetapi saya teringat akan peristiwa itu kemudian ketika saya 

menerima sepucuk surat dari seorang perempuan Amerika umur 40-an yang dibesarkan sebagai 

Katolik Roma. Pada usia tujuh tahun, dia menceritakan dua hal yang tidak menyenangkan yang 

terjadi kepadanya. Dia dilecehkan secara seksual oleh pastor jemaatnya di mobilnya. Dan, di 

sekitar waktu yang sama, seorang teman sekolahnya, yang meninggal secara tragis, masuk 

neraka karena dia yaitu  seorang Protestan. Atau begitulah penulis surat itu dibuat percaya oleh 

doktrin resmi pada waktu itu di gereja orang tuanya. Pandangannya sebagai orang dewasa 

yaitu , dari kedua contoh kekerasan terhadap anak Katolik Roma ini, yang satu fisik dan yang 

satu mental, yang kedua jauh lebih buruk. Dia menulis: 

   

Dilecehkan oleh pastor itu hanya meninggalkan kesan (dari pikiran anak berusia 

7 tahun) ‘jijik’ sedangkan ingatan mengenai teman saya masuk neraka yaitu  

ketakutan yang dingin dan tak terukur. Saya tidak pernah susah tidur karena 

pastor itu – tetapi saya menghabiskan banyak malam ketakutan bahwa orang-

orang yang saya kasihi akan masuk Neraka. Hal itu memberi saya mimpi buruk. 

 

  Jujur, cumbuan seksual yang dia derita di mobil pastor cukup ringan dibandingkan 

dengan, misalnya, rasa sakit dan jijik seorang misdinar yang diperkosa. Dan katanya belakangan 

ini Gereja Katolik tidak begitu menekankan neraka seperti dahulu kala. Tetapi contoh itu 

menunjukkan bahwa mungkin saja kekerasan psikologis anak bisa lebih besar daripada yang 

fisik. Ada kisah bahwa Alfred Hitchcock, ahli sinema besar dalam seni membuat orang takut, 

pernah sedang mengendarai mobil di Swiss, lalu dia tiba-tiba menunjukkan jarinya ke luar 

jendela mobil dan berkata, ‘Itu pandangan paling menakutkan yang pernah saya lihat.’ 

Pandangannya yaitu  seorang pastor yang sedang bercakap dengan seorang anak lelaki kecil, 

tangan pastor pada bahu anak. Hitchcock mengeluarkan kepala dari jendela mobil dan teriak, 

‘Lari, anak kecil! Lari demi hidupmu!’ 

  ‘Tongkat dan batu mungkin mematahkan tulangku, tetapi kata-kata tidak pernah bisa 

menyakitiku.’ Lagu itu benar asalkan kita sebenarnya tidak memercayai kata-katanya. Tetapi jika 

seluruh pendidikan seseorang, dan segala sesuatu yang orang itu pernah diberi tahu oleh orang 

tua, guru dan pastor, telah membuat orang itu percaya, sungguh percaya, secara total, tanpa ragu-

ragu, bahwa para pendosa dibakar di neraka (atau pasal doktrin menjengkelkan lain seperti 

perempuan menjadi milik suaminya), sangat masuk akal bahwa kata-kata bisa berdampak secara 

lebih bertahan lama dan lebih merusak daripada tindakan. Saya cenderung yakin bahwa frasa 

‘kekerasan terhadap anak’ tidak berlebihan ketika digunakan untuk mendeskripsikan apa yang 

dilakukan oleh guru dan pastor kepada anak-anak yang mereka dorong untuk memercayai 

sesuatu seperti hukuman bagi dosa berat yang tidak diampuni dalam suatu neraka abadi. 

  Di acara dokumenter televisi Root of All Evil? yang sudah  saya sebut tadi, saya 

mewawancarai sejumlah pemimpin religius dan dikritik karena memilih para ekstremis Amerika 

dan bukan tokoh aliran utama yang dihormati seperti uskup agung.* Itu terdengar seperti kritik 

yang wajar – kecuali, di Amerika abad ke-21 awal, apa yang terkesan ekstrem bagi dunia luar 

sebenarnya yaitu  aliran utama. Salah satu orang yang saya wawancarai yang paling 

mengganggu penonton televisi di Britania, misalnya, yaitu  Pastor Ted Haggard dari Colorado 

Springs. Tetapi, jauh dari menjadi ekstrem di Amerika zaman Bush, ‘Pastor Ted’ yaitu  presiden 

National Association of Evangelicals dengan 30 juta anggota, dan dia mengklaim diutamakan 

dengan konsultasi melalui telepon dengan Presiden Bush setiap Senin. Jika saya ingin 

mewawancarai ekstremis asli menurut tolok ukur Amerika, saya akan memilih para 

‘Rekonstruktionis’ yang ‘Teologi Dominion’nya secara terbuka menyokong suatu teokrasi 

Kristiani di Amerika. Sebagaimana ditulis kepada saya oleh seorang kolega Amerika yang 

khawatir: 

   

Orang Eropa harus tahu bahwa ada suatu karnival keliling teologis yang 

sungguh mendukung penetapan kembali hukum Perjanjian Lama – pembunuhan 

homoseksual dst. – dan hak untuk memegang jabatan, atau bahkan untuk 

memilih, hanya untuk orang junjungan kristen . Hadirin kaum menengah bersorak-sorai 

ketika mendengar retorika ini. Jika para sekularis tidak waspada, kaum 

Dominionis dan kaum Rekonstruksionis sebentar lagi akan menjadi aliran 

utama dalam suatu teokrasi Amerika asli.† 

                                                 

* Uskup Agung Canterbury, Uskup Agung Kardinal Westminster dan Kepala Rabi Britania semua diajak untuk 

diwawancarai oleh saya. Mereka semua menolak, tentu untuk alasan yang baik. Uskup Oxford setuju, dan dia sama 

menyenangkannya, dan jauh dari ekstremis, seperti mereka pasti akan bersikap. 

† Yang berikut sepertinya asli, meskipun saya semula menduga suatu hoaks sindiran oleh The Onion: 

www.talk2action.org/story/2006/5/29/195855/959. Suatu gim komputer berjudul Left Behind: Eternal Forces. P.Z. 

Meyers merangkumnya di situs webnya yang luar biasa, Pharyngula. ‘Bayangkan, Anda yaitu  seorang prajurit 

dalam suatu kelompok paramiliter yang tujuannya yaitu  membentuk Amerika kembali sebagai suatu teokrasi 

Kristiani dan menetapkan visi duniawinya untuk merajanya Kristus bagi segala aspek kehidupan...Anda memiliki 

misi – baik religius maupun militer – untuk mengonversikan atau membunuh orang Katolik, Yahudi, Muslim, 

Buddha, gay, dan siapa pun yang mendukung pemisahan di antara gereja dengan negara...’ Lihat 

 

  Salah satu orang lagi yang saya wawancarai di televisi yaitu  Pastor Keenan Roberts, 

dari negara bagian yang sama dengan Pastor Ted, Colorado. Jenis kegilaan khas Pastor Roberts 

merupakan apa yang dia sebut sebagai Rumah-rumah Neraka (Hell Houses). Sebuah Rumah 

Neraka yaitu  tempat anak-anak dibawa, oleh orang tuanya atau sekolah Kristianinya, untuk 

dibuat setakut-takutnya mengenai apa yang mungkin akan terjadi kepada mereka setelah mereka 

mati. Para pemain membuat pementasan seram mengenai ‘dosa’ tertentu seperti aborsi atau 

homoseksualitas, dengan seorang iblis berpakaian merah sedang merayakan adegannya. Semua 

itu merupakan pendahuluan bagi pièce de résistance-nya, Neraka sendiri, lengkap dengan bau 

sulfur belerang yang realistis dan jeritan kesakitan mereka yang terkutuk selamanya. 

  Setelah menonton latihannya, dengan Iblisnya yang cukup keiblisan bergaya berlebihan, 

seperti tokoh penjahat dalam melodrama era Victoria, saya mewawancarai Pastor Roberts, 

disaksikan para pemainnya. Dia memberi tahu saya bahwa usia terbaik untuk mengunjungi 

sebuah Rumah Neraka yaitu  12. Saya agak terkejut mendengar itu, dan saya menanyainya 

apakah dia akan khawatir bahwa seorang anak berusia 12 tahun akan mengalami mimpi buruk 

setelah salah satu pertunjukkannya. Dia membalas, sepertinya dengan jujur: 

 

Saya lebih memilih jika mereka memahami bahwa Neraka yaitu  tempat yang 

sangat tidak ingin mereka masuki. Saya lebih memilih untuk menyampaikan 

pesan itu kepada mereka pada usia 12 daripada tidak menyampaikan pesan itu, 

lalu mereka hidup dalam dosa dan tidak pernah menemukan pencipta  junjungan kristen   

Kristus. Dan jika akhirnya mereka mengalami mimpi buruk, karena mengalami 

hal ini, saya kira ada kebaikan lebih tinggi yang akhirnya dicapai dalam hidup 

mereka daripada sekadar mimpi buruk. 

 

  Saya mengira bahwa, jika seseorang sungguh memercayai apa yang Pastor Roberts 

katakan dia percayai, orang itu juga akan menganggap intimidasi terhadap anak benar. 

  Kita tidak bisa mengabaikan saja Pastor Roberts sebagai seorang ekstremis fanatik. 

Seperti Ted Haggard, dia yaitu  aliran utama di Amerika saat ini. Saya akan heran jika mereka 

menerima kepercayaan beberapa sesama junjungan kristen  lain bahwa kita dapat mendengar teriakan orang 

terkutuk jika kita mendengar gunung api,140 dan bahwa cacing tabung raksasa yang ditemukan di 

ventilasi panas di kedalaman laut memenuhi Markus 9: 43–4: ‘Dan jika tanganmu menyesatkan 

engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari 

pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak 

terpadamkan; di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.’ Apa pun yang 

mereka percayai tentang suasana neraka sebenarnya, para penggemar api neraka ini sepertinya 

memiliki Schadenfreude dan kepuasan sombong khas bagi mereka yang tahu bahwa mereka 

termasuk dalam golongan yang selamat, disampaikan dengan baik oleh teolog terkemuka itu, 

Santo Thomas Aquinas, dalam Summa Theologica: ‘Supaya para santo dapat lebih banyak 

menikmati kebahagiaannya dan rahmat pencipta , mereka dibolehkan untuk melihat hukuman 

mereka yang terkutuk di neraka.’ Orang yang baik.* 

  Ketakutan akan api neraka bisa sangat nyata, bahkan bagi orang yang selain dari itu 

                                                                                                                                                             

http://scienceblogs.com/pharyngula/2006/05/gta_meet_lbef.php; untuk ulasan, lihat 

http://select.nytimes.com/gst/abstract.html?res=F1071FFD3C550C718CDDAA0894DE404482. 

* Bandingkan belas kasih Kristiani Ann Coulter yang memesona: ‘Saya menantang siapa pun yang sesama junjungan kristen  

untuk berkata kepada saya bahwa mereka tidak tertawa memikirkan Dawkins terbakar di neraka’ (Coulter 2006: 

268). 

rasional. Setelah acara dokumenter televisi saya tentang kepercayaan , di antara banyak surat yang saya 

terima ada yang ini, dari seorang perempuan yang jelas pintar dan jujur: 

   

Saya belajar di sekolah Katolik dari umur 5 tahun, dan saya terindoktrinasi oleh 

suster-suster yang menghukum dengan cambuk dan tongkat. Saat remaja saya 

membaca Darwin, dan apa yang dia katakan mengenai evolusi sangat masuk 

akal bagi bagian logis pikiran saya. Namun, saya menjalani hidup dengan 

menderita banyak konflik dan ketakutan mendalam akan api neraka yang sangat 

sering terpicu. Saya mendapat psikoterapi yang memungkinkan saya untuk 

menyelesaikan beberapa masalah saya dari dulu tetapi sepertinya saya tidak 

dapat mengatasi ketakutan mendalam ini. 

  Jadi, alasan saya menulis kepada Anda yaitu  tolong bisakah Anda 

mengirim kepada saya nama dan alamat terapis yang Anda wawancarai di 

episode minggu ini yang bekerja dengan ketakutan khusus ini. 

 

  Saya terharu oleh suratnya, dan (sambil menahan penyesalan sesaat dan kurang baikyang 

kurang mulia bahwa tidak ada neraka bagi suster-suster itu) membalas bahwa dia harus 

memercayai akal budinya sebagai suatu pemberian luar biasa yang dia – berbeda dengan orang 

yang kurang beruntung – jelas-jelas miliki. Saya mengemukakan bahwa kengerian ekstrem 

neraka, sebagaimana direpresentasikan oleh pastor dan suster, dibesar-besarkan untuk menutupi 

kemustahilannya. Jika neraka itu masuk akal, maka hanya perlu sedikit tidak nyaman untuk 

membuat orang tidak berdosa. Karena neraka begitu tidak mungkin ada, maka ia harus 

diiklankan sebagai sangat amat menakutkan, untuk mengimbangi kemustahilannya dan 

mempertahankan kemampuannya untuk membuat orang tidak berdosa. Saya juga 

menghubungkannya dengan terapis yang dia sebut, Jill Mytton, seorang yang menyenangkan dan 

tulus secara mendalam, yang saya wawancarai di depan kamera. Jill sendiri dibesarkan dalam 

suatu sekte yang lebih menjijikkan daripada yang biasanya Exclusive Brethren: saking tidak 

menyenangkannya, bahkan ada suatu situs web, www.peebs.net, yang sepenuhnya didedikasikan 

untuk merawat mereka yang telah melarikan diri darinya. 

  Jill Mytton dibesarkan untuk takut sekali pada neraka, lalu melarikan diri dari Kristianitas 

saat dewasa, dan kini membimbing dan membantu orang lain yang trauma secara serupa di masa 

kanak-kanak: ‘Jika saya mengingat kembali masa kanak-kanak saya, masa itu didominasi 

ketakutan. Dan itu ketakutan akan ketidaksetujuan pada masa kini, tetapi juga akan kutukan 

abadi. Dan bagi seorang anak, gambar-gambar api neraka dan kertak gigi sebenarnya sangat 

nyata. Hal itu tidak metaforis sama sekali.’ Kemudian saya memintanya untuk menguraikan apa 

yang sebenarnya diberitahukan kepadanya mengenai neraka, sebagai seorang anak, dan 

balasannya setelah dia diam sejenak sama mengharukannya dengan mukanya yang ekspresif saat 

dia menjawab: ‘Aneh, bukan? Setelah sekian lama, masih saja mampu ... memengaruhi saya ... 

ketika Anda ... ketika Anda melontarkan pertanyaan itu. Neraka yaitu  tempat yang penuh 

ketakutan. Penolakan mutlak oleh pencipta . Hukuman mutlak, ada api nyata, ada azab nyata, 

siksaan nyata, dan itu berlangsung selamanya jadi tidak ada istirahat darinya.’ 

  Dia kemudian bercerita tentang kelompok dukungan yang dia buat untuk orang yang 

melarikan diri dari masa kanak-kanak yang serupa dengan masa kanak-kanaknya sendiri, dan dia 

merenungkan betapa sulit bagi banyak dari mereka untuk keluar: ‘Proses keluar itu luar biasa 

sulit. Ah, Anda meninggalkan jaringan sosial yang lengkap, suatu sistem lengkap yang di 

dalamnya Anda hampir seluruhnya dibesarkan, Anda meninggalkan suatu sistem kepercayaan 

yang Anda pegang selama bertahun-tahun. Sangat sering Anda meninggalkan keluarga dan 

teman ... Anda sudah tidak begitu ada bagi mereka.’ Saya sempat menceritakan pengalaman saya 

sendiri atas surat dari orang-orang di Amerika yang berkata bahwa mereka telah membaca buku-

buku saya dan keluar dari kepercayaan  mereka sebagai konsekuensinya. Secara membingungkan, 

banyak kemudian berkata bahwa mereka tidak berani memberi tahu keluarga mereka, atau 

bahwa mereka telah memberi tahu keluarga mereka, dan hasilnya sangat buruk. Contoh yang 

berikut lazim. Penulisnya yaitu  mahasiswa kedokteran muda Amerika. 

   

Saya merasa terdorong untuk menulis surel kepada Anda karena pandangan 

saya mengenai kepercayaan  sama dengan Anda, suatu pandangan yang, sebagaimana 

Anda pasti sadari, cukup mengisolasikan di Amerika. Saya besar di sebuah 

keluarga junjungan kristen  dan meskipun ide kepercayaan  tidak pernah cocok dengan saya, saya 

baru saja cukup berani untuk menceritakan itu kepada orang lain. Orang itu 

yaitu  pacar saya yang ... merasa ngeri karenanya. Saya menyadari bahwa 

menyatakan diri ateis bisa saja mengejutkan tetapi kini seolah-olah dia 

memandangi saya sebagai orang yang sepenuhnya berbeda. Dia tidak bisa 

memercayai saya, katanya, karena moral-moral saya tidak berasal dari pencipta . 

Saya tidak tahu apakah kami akan mengatasi ini, dan saya tidak begitu ingin 

mengucapkan kepercayaan saya kepada orang lain yang dekat dengan saya 

karena saya takut akan reaksi jijik yang sama ... Saya tidak mengharapkan 

balasan. Saya hanya menulis kepada Anda karena saya berharap Anda akan 

bersimpati dengan frustrasi saya. Bayangkan kehilangan orang yang Anda 

cintai, dan yang mencintai Anda, atas dasar kepercayaan . Selain dari pandangannya 

bahwa kini saya seorang kafir tidak berpencipta , kami pasangan sempurna. 

Pengalaman ini mengingatkan saya akan pengamatan Anda bahwa orang 

melakukan hal-hal gila atas nama imannya. Terima kasih sudah mendengar. 

 

  Saya membalas pemuda malang ini dengan menunjukkan kepadanya bahwa, sementara 

pacarnya telah mengetahui sesuatu tentang dirinya, dia juga telah mengetahui sesuatu tentang 

diri pacarnya. Apakah pacar itu sungguh cukup baik untuknya? Saya ragu. 

  Saya sudah pernah menyebut aktor dan pelawak Amerika Julia Sweeney dan 

perjuangannya yang gigih dan lucu secara menyenangkan untuk menemukan beberapa sifat baik 

dalam kepercayaan  dan menyelamatkan pencipta  masa kecilnya dari keraguan dewasanya yang semakin 

besar. Akhirnya pencarian dia berakhir dengan bahagia, dan kini dia menjadi seorang panutan 

yang layak dipuji untuk ateis-ateis muda di mana pun. Bagian akhir ceritanya barangkali yaitu  

adegan paling mengharukan dalam pementasannya, Letting Go of God. Dia sudah mencoba 

segalanya. Lalu... 

   

...sambil aku berjalan dari kantorku di halaman belakang ke dalam rumahku, 

aku menyadari bahwa ada suara sangat kecil sedang berbisik dalam otakku. Aku 

tidak tahu berapa lama suara itu sudah ada, tetapi tiba-tiba ia mengeras satu 

desibel saja. Suara itu berbisik, ‘Tidak ada pencipta .’ 

  Dan aku berusaha untuk mengabaikannya. Tetapi suara itu mengeras lagi. 

‘Tidak ada pencipta . Tidak ada pencipta . Ya pencipta , tidak ada pencipta .’ ... 

  Dan aku merinding. Aku merasa tergelincir dari sekoci. 

  Lalu aku berpikir, ‘Tapi aku tidak bisa. Aku tidak tahu jika aku bisa tidak 

percaya akan pencipta . Aku membutuhkan pencipta . ‘Kan, kami sudah punya 

sejarah’ ... 

  ‘Tetapi aku tidak tahu caranya tidak percaya akan pencipta . Aku tidak tahu 

bagaimana itu dilakukan. Bagaimana bangun pagi, bagaimana menjalankan 

hari?’ Aku merasa tidak seimbang... 

  Aku pikir, ‘Baik, tenang. Mari kita coba memakai kacamata tidak-percaya-

akan-pencipta  sejenak, sebentar saja. Pakai saja kacamata tidak-ada-pencipta  dan 

melihat-lihat di sekeliling sekilas lalu langsung lepaskan kacamata itu.’ Dan aku 

memakainya dan melihat-lihat di sekeliling. 

  Aku malu mengatakan bahwa semula aku merasa pusing. Aku sungguh 

berpikir, ‘Kalau begitu, bagaimana Bumi bisa tetap di langit? Berarti kita hanya 

meluncur saja di antariksa? Itu rentan sekali!’ Aku ingin lari keluar dan 

menangkap Bumi pada saat terjatuh dari antariksa ke dalam tanganku. 

  Lalu aku ingat, ‘Ya iya, gravitasi dan momentum sudut akan membuat kita 

terus memutar di sekeliling Matahari untuk waktu yang mungkin sangat, sangat 

lama.’ 

 

  Ketika saya menonton Letting Go of God di sebuah teater di Los Angeles, saya sangat 

terharu oleh adegan ini. Khususnya ketika Julia kemudian bercerita tentang reaksi orang tuanya 

pada laporan pers mengenai penyembuhannya: 

   

Panggilan pertama dari ibuku lebih mirip teriakan. ‘Ateis? ATEIS?!?!’ 

  Ayahku menelepon dan berkata, ‘Kau telah mengkhianati keluargamu, 

sekolahmu, kotamu.’ Seperti aku menjual rahasia ke Rusia. Mereka berdua 

mengatakan bahwa mereka tidak akan berbicara denganku lagi. Ayahku berkata, 

‘Aku bahkan tidak ingin kau menghadiri acara penguburanku.’ Setelah aku 

mematikan teleponnya, aku berpikir, ‘Coba saja menghentikanku.’ 

 

Sebagian dari bakat Julia Sweeney yaitu  dia bisa membuat kita menangis sekaligus tertawa: 

 

Aku mengira orang tuaku sedikit kecewa saat aku berkata aku sudah tidak 

percaya akan pencipta , tetapi menjadi seorang ateis yaitu  persoalan lain lagi. 

 

  Buku Dan Barker, Losing Faith in Faith: Dari Pengkhotbah ke Ateis yaitu  cerita 

konversinya yang pelan-pelan dari pendeta fundamentalis taat dan pengkhotbah keliling 

bersemangat hingga menjadi ateis yang kuat dan percaya diri saat ini. Secara signifikan, Barker 

terus menginjil secara hampa setelah dia menjadi seorang ateis, karena itu yaitu  satu-satunya 

karier yang dia ketahui dan dia merasa terkunci dalam suatu jaringan kewajiban sosial. Kini dia 

mengenal banyak imam Amerika yang lain yang berada di posisi yang sama dengannya tetapi 

hanya mengaku kepadanya, karena sudah membaca bukunya. Mereka tidak berani mengakui 

ateismenya bahkan kepada keluarganya sendiri, begitu buruk tanggapan yang mereka bayangkan. 

Kisah Barker sendiri memiliki bagian penutup yang lebih bahagia. Pertama, orang tuanya sangat 

terkejut dan merasa sengsara. Tetapi mereka mendengarkan penalarannya yang lembut, dan 

akhirnya mereka sendiri menjadi ateis. 

  Dua profesor dari satu universitas di Amerika secara terpisah menulis kepada saya 

mengenai orang tua mereka. Satu mengatakan bahwa ibunya terus berkabung karena dia takut 

untuk jiwanya yang kekal. Yang lain mengatakan bahwa ayahnya berharap dia tidak pernah 

lahir, saking percayanya bahwa anaknya akan abadi di neraka. Dua orang ini yaitu  profesor 

universitas yang berpendidikan tinggi, percaya diri mengenai kesarjanaannya dan 

kedewasaannya, yang dapat dikira telah melampaui orang tuanya dalam segala persoalan intelek, 

tidak hanya kepercayaan . Bayangkan saja bagaimana sukarnya bagi orang yang tidak sekuat itu secara 

intelektual, kurang dibekali oleh pendidikan atau keterampilan retoris daripada profesor-profesor 

itu, atau daripada Julia Sweeney, untuk mempertahankan posisinya di hadapan anggota keluarga 

yang keras kepala. Sama seperti untuk banyak pasien Jill Mytton, barangkali. 

  Lebih awal dalam percakapan kami yang disiarkan di televisi, Jill mendeskripsikan jenis 

pendidikan religius ini sebagai salah satu bentuk kekerasan mental, dan saya kembali ke poin itu, 

sebagai berikut: ‘Anda menggunakan istilah kekerasan religius. Jika Anda membandingkan 

kekerasan dalam membesarkan seorang anak untuk sungguh percaya akan neraka ... bagaimana 

menurut Anda itu dapat dibandingkan secara trauma dengan kekerasan seksual?’ Dia menjawab: 

‘Pertanyaan itu sangat sulit ... Saya pikir ada banyak yang serupa sebenarnya, karena itu 

persoalan penyalahgunaan kepercayaan; itu persoalan tidak memberi anak hak untuk merasa 

bebas dan terbuka dan mampu berhubungan dengan dunia secara normal...itu bentuk degradasi; 

sejenis penolakan diri sejati dalam kedua kasus itu.’ 

  

MEMBELA ANAK-ANAK 

 

  Kolega saya, psikolog Nicholas Humphrey, menggunakan amsal ‘tongkat dan batu’ 

sebagai permulaan untuk Ceramah Amnesty-nya di Oxford pada 1997.141 Humphrey mulai 

dengan berargumen bahwa amsal itu tidak selalu benar, dengan merujuk kasus orang yang 

percaya akan Voodoo Haiti, yang mati (sepertinya akibat efek psikosomatis ketakutan) dalam 

waktu beberapa hari setelah kena ‘sihir’ jahat itu. Lalu dia bertanya apakah Amnesty 

International, yang menerima keuntungan dari seri ceramah dia kontribusikan ini, seharusnya 

berkampanye melawan pidato atau publikasi yang menyakitkan atau merusak. Jawabannya 

yaitu  ‘tidak’ secara kukuh terhadap penyensoran seperti itu pada umumnya: ‘Kebebasan 

berbicara yaitu  kebebasan yang terlalu berharga untuk diganggu.’ Tetapi kemudian dia 

mengejutkan diri liberalnya sendiri dengan mendukung satu pengecualian yang penting: dia 

berargumen untuk penyensoran dalam kasus istimewa anak-anak... 

   

...pendidikan moral dan religius, dan terutama pendidikan yang diterima 

seorang anak di rumah, di mana orang tua boleh – bahkan diharapkan – 

menentukan untuk anak-anaknya apa yang dianggap benar dan salah, baik dan 

buruk. Anak-anak, saya kemukakan, memiliki suatu hak asasi agar pikirannya 

tidak cacat oleh eksposur terhadap ide-ide buruk orang lain – siapa pun orang 

lain itu. Sesuai dengan itu, orang tua tidak memiliki izin dari pencipta  untuk 

membudayakan anak-anaknya dengan cara apa saja yang mereka pilih secara 

pribadi: tidak berhak untuk membatasi horizon pengetahuan anaknya, untuk 

membesarkannya dalam suasana dogma dan takhayul, atau untuk bersikeras 

bahwa anak itu mengikuti jalur lurus dan sempit dari iman orang tua itu sendiri. 

  Pendek kata, anak-anak berhak agar pikirannya tidak dibingungkan oleh 

omong kosong, dan kita sebagai masyarakat wajib melindungi mereka dari itu. 

Jadi seharusnya kita tidak membolehkan orang tua mengajarkan anaknya 

memercayai, misalnya, kebenaran harfiah Alkitab atau bahwa planet-planet 

merajai hidupnya, sama seperti kita tidak membolehkan orang tua untuk 

memukul anaknya hingga giginya lepas atau mengunci mereka di penjara 

bawah tanah. 

 

  Tentu saja, suatu pernyataan keras seperti itu membutuhkan, dan menerima, banyak 

kualifikasi. Bukankah omong kosong itu persoalan opini? Bukankah ilmu pengetahuan ortodoks 

sudah terlalu sering dijungkirbalikkan, sehingga kita harus insaf dan hati-hati? Para ilmuwan 

mungkin menganggap pengajaran astrologi dan kebenaran harfiah Alkitab sebagai omong 

kosong, tetapi ada orang yang berpikir sebaliknya, dan bukankah mereka berhak untuk 

mengajarkannya kepada anak-anaknya? Bukankah sama sombongnya untuk bersikeras bahwa 

anak-anak harus diajarkan ilmu pengetahuan? 

  Saya berterima kasih kepada orang tua saya sendiri karena mereka berpandangan bahwa 

anak-anak tidak begitu perlu diajarkan apa yang harus dipikirkan, tetapi bagaimana mereka 

harus berpikir. Jika, setelah mereka dengan wajar dan layak terekspos kepada semua bukti 

ilmiah, mereka beranjak dewasa dan memutuskan bahwa Alkitab benar secara harfiah atau 

bahwa gerakan planet-planet merajai hidup mereka, itu hak mereka. Poin pentingnya yaitu , hak 

mereka untuk memutuskan apa yang mereka akan pikirkan, dan bukan hak orang tua untuk 

memaksakannya karena kekuatannya yang lebih besar. Dan ini, tentu saja, khususnya penting 

ketika kita berefleksi bahwa anak-anak menjadi orang tua di generasi berikutnya, dalam posisi 

untuk mewariskan indokrinasi apa pun yang mungkin membentuk mereka sebelumnya. 

  Humphrey mengusulkan bahwa, selama anak-anak masih muda, rentan, dan 

membutuhkan perlindungan, perwalian yang sungguh bermoral memperlihatkan dirinya dalam 

suatu usaha jujur untuk mempertanyakan apa yang mereka akan pilih untuk diri mereka sendiri 

jika mereka cukup besar untuk melakukannya. Dia dengan mengharukan mengutip contoh 

seorang gadis Inka yang jenazahnya yang berusia 500 tahun ditemukan dalam keadaan beku di 

pegunungan Peru pada 1995. Antropolog yang menemukannya menulis bahwa dia yaitu  korban 

suatu pengurbanan ritual. Menurut Humphrey, sebuah film dokumenter mengenai ‘gadis es’ 

muda ini disiarkan di televisi Amerika. Para penonton diajak 

   

mengagumi komitmen rohani para imam Inka dan mengalami bersama dengan 

gadis itu dalam perjalanan terakhirnya kebanggaannya dan kegirangannya 

karena sudah terpilih untuk penghormatan tertinggi, yakni, dikurbankan. Pesan 

acara televisi itu ternyata yaitu  praktik pengurbanan manusia dengan caranya 

sendiri merupakan ciptaan budaya yang luhur – salah satu permata lagi di 

mahkota multikulturalisme, mungkin. 

 

Humphrey marah betul, sama seperti saya. 

   

Tetapi bagaimana bisa ada orang yang berani berkata demikian? Berani sekali 

mereka mengajak kita – di ruang keluarga, sedang menonton televisi – untuk 

merasa terangkat dengan kontemplasi akan suatu tindakan pembunuhan ritual: 

pembunuhan seorang anak yang belum mandiri oleh sekelompok lelaki tua yang 

bodoh, sombong, dan menganut takhayul? Berani sekali mereka mengajak kita 

untuk menemukan kebaikan untuk diri kita sendiri dalam kontemplasi atas 

tindakan imoral terhadap orang lain? 

 

Sekali lagi, pembaca liberal yang baik mungkin akan mulai merasa kurang nyaman. Tidak 

bermoral menurut tolok ukur kita, tentu, dan bodoh, tetapi bagaimana dengan tolok ukur Inka? 

Pasti, bagi para Inka, pengorbanan itu yaitu  tindakan moral dan jauh dari bodoh, diberkati oleh 

semua yang mereka anggap suci? Gadis kecil itu yaitu , tentu saja, seorang yang setia pada 

kepercayaan  di mana dia dibesarkan. Siapa kita yang menggunakan kata seperti ‘pembunuhan’, 

menilai para imam Inka menurut tolok ukur kita sendiri daripada tolok ukur mereka? Barangkali 

gadis ini gembira mengenai nasibnya: barangkali dia sungguh percaya bahwa dia akan langsung 

masuk surga abadi, dihangati oleh kehadiran cemerlang Dewa Matahari. Atau barangkali – yang 

sepertinya jauh lebih mungkin – dia menjerit ketakutan. 

  Poin Humphrey – dan saya – yaitu , tanpa mengindahkan apakah dia yaitu  korban yang 

rela atau tidak, ada alasan kuat untuk menduga bahwa dia tidak akan rela seandainya dia 

memiliki semua faktanya. Misalnya, andaikan bahwa dia tahu bahwa Matahari sebenarnya 

merupakan bola hidrogen, lebih panas dari satu juta derajat Kelvin, sedang mengonversikan 

dirinya sendiri menjadi helium melalui fusi nuklir, dan bahwa Matahari itu semula terbentuk dari 

sebuah cakram gas yang darinya bagian tata surya yang lain, termasuk Bumi, juga 

mengembun...Kalau begitu, dapat diperkirakan bahwa dia tidak akan memuja Matahari sebagai 

dewa, dan hal itu akan mengubah perspektifnya mengenai dikorbankan deminya. 

  Para imam Inka tidak dapat disalahkan untuk ketidaktahuan mereka, dan barangkali dapat 

dianggap terlalu keras jika kita menilai mereka bodoh dan sombong. Tetapi mereka dapat 

disalahkan untuk memaksakan kepercayaannya sendiri kepada seorang anak yang terlalu muda 

untuk memutuskan apakah dia akan memuja Matahari atau tidak. Poin tambahan Humphrey 

yaitu  para pembuat film dokumenter saat ini, dan kita penontonnya, dapat disalahkan untuk 

melihat keindahan dalam kematian gadis kecil itu – ‘suatu yang memperkaya kebudayaan 

kolektif kita’. Kecenderungan yang sama untuk merayakan keanehan kebiasaan religius etnis, 

dan untuk membenarkan kekejaman atas namanya, muncul terus-menerus. Itu yaitu  sumber 

konflik batin yang menggeliat dalam pikiran orang liberal baik yang, di satu sisi, tidak tahan 

melihat penderitaan dan kekejaman, tetapi di sini lain telah dilatih oleh para posmodernis dan 

relativis untuk menghargai budaya lain sama seperti budaya mereka sendiri. Mutilasi kelamin 

perempuan (terkadang disebut khitan pada wanita atau sunat perempuan) tak teragukan sangat 

menyakitkan, menyabotase kenikmatan seksual bagi perempuan (memang, ini besar 

kemungkinan yaitu  tujuan tersembunyinya), dan separuh pikiran liberal baik ingin 

memusnahkan praktik itu. Namun, separuh yang lain ‘menghormati’ kebudayaan etnis dan 

merasa bahwa kita harus tidak campur tangan jika ‘mereka’ ingin memutilasi gadis ‘mereka’.* 

Poinnya, tentu saja, yaitu  gadis ‘mereka’ sebenarnya yaitu  manusia pada dirinya sendiri, dan 

keinginan mereka seharusnya tidak diabaikan. Lebih sulit untuk menjawab, bagaimana jika 

seorang gadis mengatakan bahwa dia ingin dikhitan? Tetapi akankah, dari perspektif masa depan 

seorang dewasa dengan semua informasi terkait, dia ingin bahwa hal itu tidak pernah terjadi? 

Humphrey membuat poin bahwa tak seorang perempuan pun yang entah bagaimana tidak 

dikhitan saat anak-anak akan dengan sukarela memilih untuk mendapat operasi itu kemudian 

hari. 

  Setelah mendiskusikan kaum Amish, dan hak mereka untuk membesarkan anak mereka 

‘sendiri’ dengan caranya ‘sendiri’, Humphrey mengecam antusiasme kita sebagai masyarakat 

untuk 

   

mempertahankan keberkepercayaan n kebudayaan. Baiklah, Anda mungkin ingin 

berkata, jadi berat bagi anak para Amish, atau para Hasidim, atau para gipsi 

untuk dibentuk oleh orang tuanya seperti itu – tetapi setidaknya hasilnya yaitu , 

tradisi-tradisi kebudayaan yang menarik sekali tetap berlangsung. Bukankah 

seluruh peradaban kita akan menjadi lebih miskin jika tradisi itu menghilang? 

Sayangnya, mungkin, ketika individu harus dikorbankan untuk 

mempertahankan keberkepercayaan n seperti itu. Tetapi begitulah: itu harga yang kita 

bayar sebagai masyarakat. Kecuali, saya merasa wajib mengingatkan Anda, kita 

tidak membayar, mereka yang membayar. 

                                                 

* Hal itu yaitu  praktik yang lazim di Britania saat ini. Seorang Penyidik Sekolah senior memberi tahu saya 

mengenai anak-anak perempuan di London pada 2006 yang dikirim ke seorang ‘paman’ di Bradford untuk dikhitan. 

Pemerintahan tidak memperhatikannya, karena takut dianggap rasis dalam ‘komunitasnya’. 

 

  Isu itu mendapat perhatian publik pada 1972 ketika Mahkamah Agung AS memutuskan 

suatu kasus, Wisconsin versus Yoder, yang berkaitan dengan hak orang tua untuk menarik 

anaknya dari sekolah atas dasar religius. Suku Amish hidup di komunitas tertutup di berbagai 

wilayah Amerika Serikat, kebanyakan menggunakan dialek bahasa Jerman lama bernama 

Pennsilfaanisch Deitsch dan menolak, pada tingkat yang berbeda-beda, listrik, motor bakar 

pembakaran dalam, ritsleting, dan manifestasi lain dari kehidupan modern. Ada, memang, hal 

yang cukup menarik mengenai sebuah pulau kehidupan abad ke-17 yang tersedia untuk ditonton 

oleh mata saat ini. Bukankah hal itu layak dilestarikan, demi kekayaan keberkepercayaan n manusia? 

Dan satu-satunya cara melestarikannya yaitu  membolehkan kaum Amish mendidik anaknya 

sendiri dengan caranya sendiri, dan melindungi mereka dari pengaruh korup modernitas. Tetapi, 

kita tentu ingin bertanya, bukankah anak-anak itu sendiri seharusnya mendapat suara mengenai 

persoalannya? 

  Mahkamah Agung diminta untuk memutuskan pada 1972, ketika beberapa orang tua 

Amish di Wisconsin menarik anaknya dari SMA. Konsep pendidikan di atas usia tertentu 

bertentangan dengan nilai-nilai religius Amish, apalagi pendidikan ilmiah. Negara Bagian 

Wisconsin mengadukan orang tuanya, dengan mengklaim bahwa anak-anak itu dirugikan atas 

haknya untuk berpendidikan. Setelah melalui beberapa pengadilan, kasus itu akhirnya sampai ke 

Mahkamah Agung Amerika Serikat, yang memutuskan secara terbagi (6:1) memihak para orang 

tua.142 Opini mayoritas, ditulis oleh Hakim Ketua Warren Burger, memuat yang berikut: 

‘Sebagaimana ditunjukkan oleh catatan, kehadiran sekolah wajib hingga usia 16 untuk anak-anak 

Amish menyebabkan ancaman sangat nyata untuk menggerogoti komunitas dan praktik 

kekepercayaan an Amish sebagaimana adanya saat ini; mereka harus meninggalkan kepercayaan 

mereka dan terasimilasi ke dalam masyarakat pada umumnya, atau terpaksa untuk bermigrasi ke 

kepercayaan  yang lain yang lebih toleran.’ 

  Opini minoritas Hakim William O. Douglas yaitu , anak-anak itu sendiri seharusnya 

ditanyai. Apakah mereka sungguh ingin memutus pendidikannya? Apakah mereka, memang, 

sungguh ingin tetap hidup dalam kepercayaan  Amish? Nicholas Humphrey akan melangkah lebih jauh 

lagi. Meskipun anak-anak itu ditanyai dan telah mengucapkan bahwa mereka memilih kepercayaan  

Amish, apakah kita dapat mengandaikan bahwa mereka akan berpendapat demikian jika mereka 

sudah dididik dan diberi tahu mengenai alternatif-alternatif yang ada? Agar hal itu masuk akal, 

bukankah harus ada contoh pemuda dari dunia luar yang memilih dengan kakinya dan dengan 

suka rela menjadi Amish? Hakim Douglas melangkah lebih jauh ke arah yang sedikit berbeda. 

Dia tidak melihat alasan tertentu untuk memberi pandangan religius orang tua status istimewa 

dalam memutuskan sejauh mana mereka boleh tidak memberi pendidikan kepada anaknya. Jika 

kepercayaan  yaitu  dasar untuk pengecualian, bukankah ada kepercayaan sekuler yang juga masuk 

hitungan? 

  Mayoritas Mahkamah Agung membuat analogi dengan beberapa nilai positif ordo 

monastik, yang secara kontroversial dapat dianggap memperkaya masyarakat melalui 

kehadirannya. Tetapi, sebagaimana ditunjukkan oleh Humphrey, ada perbedaan krusial. 

Biarawan memilih kehidupan monastik secara sukarela dengan kehendak bebasnya sendiri. 

Anak-anak Amish tidak pernah memilih dengan sukarela untuk menjadi Amish; mereka terlahir 

di dalamnya dan tidak sempat memilih. 

  Ada suatu yang sungguh sombong, dan juga tidak manusiawi, mengenai pengurbanan 

siapa pun, khususnya anak-anak, di altar ‘keberkepercayaan n’ dan keutamaan melestarikan beraneka 

ragam tradisi kekepercayaan an. Kita-kita yang lain bisa bahagia dengan mobil dan komputer, vaksin 

dan antibiotik. Tetapi kalian suku aneh nan lucu dengan kerudung dan celana kuno, kereta kuda, 

dialek kuno dan kloset yang berupa lubang di tanah, kalian memperkaya kehidupan kami. Tentu 

saja kalian harus dibolehkan menjebak anak-anak kalian bersama dengan kalian dalam relung 

waktu abad ke-17 kalian itu; jika tidak, suatu yang tidak bisa didapat kembali akan hilang bagi 

kita, sebagian dari keberkepercayaan n luar biasa kebudayaan manusia. Sebagian kecil dari diri saya 

bisa melihat suatu yang meyakinkan di sini.  Tetapi bagian yang lebih besar merasa sungguh 

kurang nyaman. 

  

SUATU SKANDAL PENDIDIKAN 

 

  Perdana Menteri negara saya, Tony Blair, menyebut ‘keberkepercayaan n’ ketika ditantang di 

Dewan Rakyat oleh Anggota Parlemen Jenny Tonge untuk membenarkan subsidi pemerintah 

untuk sebuah sekolah di daerah timur laut Inggris yang (secara hampir unik di Britania) 

mengajarkan kreasionisme alkitabiah harfiah. Pak Blair membalas bahwa sangat disayangkan 

jika kekhawatiran mengenai isu itu mengganggu hadirnya ‘suatu sistem sekolah yang seberagam 

yang selayaknya kita bisa bangun’.143 Sekolah itu, Emmanuel College di Gateshead, yaitu  salah 

satu ‘akademi kota’ yang didirikan dalam suatu prakarsa yang dibanggakan oleh pemerintahan 

Blair. Penyumbang-penyumbang kaya dibujuk untuk memberi sejumlah uang yang relatif kecil 

(£2 juta dalam kasus Emmanuel), yang membeli sejumlah uang pemerintahan yang jauh lebih 

besar (£20 juta untuk sekolahnya, ditambah biaya operasional dan gaji selamanya), dan juga 

memberikan penyumbang hak untuk mengendalikan etos sekolahnya, penetapan mayoritas 

administrator sekolah, kebijakan untuk murid siapa yang boleh masuk atau harus dikeluarkan, 

dan banyak yang lain. 

  Penyumbang 10 persen Emmanuel yaitu  Sir Peter Vardy, seorang penjual mobil kaya 

dengan suatu keinginan yang baik untuk memberi kepada anak-anak saat ini pendidikan yang 

ingin dia dapat saat dia kecil, dan suatu keinginan yang kurang baik untuk mencetak keyakinan 

religius pribadinya kepada mereka.* Sayangnya, Vardy telah terlibat dengan sekelompok guru 

fundamentalis yang terinspirasi oleh Amerika, dipimpin oleh Nigel McQuoid, mantan kepala 

sekolah Emmanuel dan kini direktur konsorsium sekolah-sekolah Vardy. Tingkat pemahaman 

ilmiah McQuoid dapat dinilai dari keyakinannya bahwa umur dunia kurang dari 10 ribu tahun, 

dan juga dari kutipan berikut: ‘Tetapi membayangkan bahwa kita hanya berevolusi dari suatu 

ledakan, bahwa dahulu kita yaitu  monyet, itu terkesan sulit dipercayai ketika kita melihat 

kerumitan tubuh manusia ... Jika kita mengajarkan anak-anak bahwa tidak ada tujuan hidupnya – 

bahwa mereka hanya suatu mutasi kimia – itu tidak membangun kepercayaan-diri.’144 

  Tak seorang ilmuwan pun pernah mengemukakan bahwa seorang anak yaitu  suatu 

‘mutasi kimia’. Penggunaan frasa itu pada konteks seperti itu yaitu  omong kosong buta huruf, 

setara dengan pernyataan-pernyataan ‘Uskup’ Wayne Malcolm, pemimpin gereja Christian Life 

City di Hackney, London timur, yang, menurut Guardian 18 April 2006, ‘membantah bukti 

ilmiah untuk evolusi’. Pemahaman Malcolm mengenai bukti yang dia bantah dapat diukur dari 

pernyataannya bahwa ‘Jelas ada kekosongan dalam catatan fosil terkait tahap perkembangan 

menengah. Jika seekor katak menjadi seekor monyet, bukankah harus ada banyak kanyet?’ 

  Sebenarnya, ilmu pengetahuan bukan subjek Pak McQuoid juga, jadi, agar adil, 

                                                 

* H.L. Mencken seolah-olah bernubuat ketika dia menulis: ‘Di kedalaman hati setiap penginjil ada seorang penjual 

mobil gagal.’ 

sebaiknya kita lihat kepala ilmu pengetahuannya, Stephen Layfield. Pada 21 September 2001, 

Pak Layfield memberi ceramah di Emmanuel College mengenai ‘Pengajaran Ilmu Pengetahuan: 

Suatu Perspektif Alkitabiah’. Teks ceramah itu dibagi di suatu situs web Kristiani 

(www.christian.org.uk). Tetapi ceramah itu sudah tidak terdapat di sana. The Christian Institute 

menghapus ceramahnya satu hari setelah saya menarik perhatian padanya dalam sebuah artikel 

dalam Daily Telegraph pada 18 Maret 2002, di mana saya membedahnya secara kritis.145 

Namun, sulit untuk menghapus sesuatu secara permanen dari World Wide Web. Mesin pencari 

web bisa begitu cepat karena mereka menyimpan tembolok informasi, dan tembolok itu secara 

tak terelakkan bertahan sejenak bahkan setelah versi asli terhapus. Seorang wartawan Britania 

yang cukup sadar, Andrew Brown, koresponden persoalan kekepercayaan an pertama di Independent, 

cepat menemukan ceramah Layfield, mengunduhnya dari tembolok Google dan membaginya, 

aman dari penghapusan, di situs webnya sendiri, 

http://www.darwinwars.com/lunatic/liars/layfield.html Anda akan menyadari bahwa kata-kata 

yang dipilih oleh Brown untuk URL-nya menjadi bacaan menarik sendiri. Namun, mereka 

kehilangan kekuatannya untuk menghibur ketika kita melihat isi ceramah itu sendiri. 

  Kebetulan, ketika seorang pembaca yang ingin tahu menulis kepada Emmanuel College 

untuk bertanya kenapa ceramah itu ditarik dari situs webnya, dia menerima balasan tidak jujur 

berikut dari sekolahnya, sekali lagi dicatat oleh Andrew Brown: 

   

Emmanuel College telah berada di tengah-tengah suatu debat mengenai 

pengajaran ciptaan di sekolah. Pada tingkat praktis Emmanuel College 

menerima sejumlah panggilan dari pers yang luar biasa besar. Hal ini menuntut 

cukup banyak waktu dari Kepala Sekolah dan para Direktur senior Kampus ini. 

Semua orang ini memiliki pekerjaan lain. Supaya membantu, kami untuk 

sementara menghapus sebuah ceramah oleh Stephen Layfield dari situs web 

kami. 

 

  Tentu saja, para pejabat sekolah mungkin saja terlalu sibuk untuk menjelaskan kepada 

wartawan sikapnya mengenai pengajaran kreasionisme. Tetapi kalau begitu, buat apa menghapus 

dari situs webnya teks ceramah yang melakukan justru itu, dan yang mereka dapat tunjukkan 

kepada para wartawan, dan dengan cara itu menghematkan banyak waktu? Tidak, mereka 

menghapus ceramah kepala ilmu pengetahuan karena mereka menyadari bahwa hal itu layak 

disembunyikan. Paragraf berikut diambil dari bagian awal ceramahnya: 

   

Mari kita katakan dari awal bahwa kita menolak gagasan yang dipopulerkan, 

barangkali tidak dengan sengaja, oleh Francis Bacon pada abad ke-17 bahwa 

ada ‘Dua Kitab’ (yaitu, Kitab alam dan Kitab-kitab Suci) yang boleh ditambang 

secara mandiri untuk kebenaran. Sebaliknya, kita berdiri kukuh pada proposisi 

gamblang bahwa pencipta  telah berfirman secara berwibawa dan tanpa kekeliruan 

di halaman-halaman Kitab Suci. Kiranya seberapa rapuh, kuno, atau naif  

penampakan pernyataan ini, terutama bagi suatu kebudayaan modern yang tidak 

beriman dan mabuk televisi, kita bisa yakin bahwa itu yaitu  suatu dasar 

sekuat-kuatnya, untuk diletakkan dan untuk dibangun di atasnya. 

 

  Anda harus terus mencubit diri Anda sendiri. Anda tidak sedang mimpi. Ini bukan 

seorang pengkhotbah di sebuah tenda di Alabama melainkan kepala ilmu pengetahuan di sebuah 

sekolah tempat pemerintah Britania alirkan dana banyak, dan yang merupakan buah hati Tony 

Blair. Sebagai junjungan kristen  taat, Pak Blair sendiri pada 2004 memimpin acara pembukaan salah satu 

sekolah baru di kelompok sekolah Vardy.146 Keberkepercayaan n mungkin merupakan suatu 

keutamaan, tetapi ini yaitu  keberkepercayaan n yang kebablasan. 

  Layfield kemudian merincikan perbandingan di antara ilmu pengetahuan dengan kitab 

suci, dengan menyimpulkan, dalam setiap kasus yang sepertinya mengandung konflik, bahwa 

kitab suci yang lebih unggul. Setelah menyebut bahwa ilmu bumi kini masuk dalam kurikulum 

nasional, Layfield berkata, ‘Sepertinya akan bijaksana untuk semua pihak yang memberi 

pelajaran ini untuk mulai membaca makalah-makalah geologi Banjir oleh Whitcomb & Morris.’ 

Ya, arti ‘geologi Banjir’ persis seperti yang Anda kira. Maksudnya Bahtera Nuh. Bahtera Nuh! – 

ketika anak-anak bisa saja mempelajari fakta yang membuat menggigil bahwa Afrika dan 

Amerika Selatan pernah menyatu, dan telah berpisah dengan kecepatan yang sama dengan 

pertumbuhan kuku. Berikut lebih banyak dari Layfield (kepala ilmu pengetahuan) mengenai 

banjir Nuh sebagai penjelasan cepat dan baru mengenai fenomena yang, menurut bukti geologis 

asli, membutuhkan ratusan juta tahun untuk terjadi: 

   

Kita harus mengakui dalam paradigma geofisika besar kita historisitas banjir 

sedunia sebagaimana dijelaskan dalam Kej. 6-10.  Jika narasi Alkitabiah aman 

dan genealogi yang diuraikan (mis. Kej. 5; 1 Taw. 1; Mat. 1 & Luk. 3) secara 

substansial lengkap, kita harus menilai bahwa malapetaka bumi ini terjadi di 

masa lalu yang relatif baru. Akibatnya tampak dengan jelas di mana pun. Bukti 

utama ditemukan di batuan sedimen yang sarat fosil, simpanan luas bahan bakar 

hidrokarbon (batu bara, minyak, dan gas) dan kisah-kisah legendaris mengenai 

justru banjir itu di berbagai kelompok populasi di seluruh dunia. Kemungkinan 

menjalankan sebuah bahtera penuh dengan makhluk-makhluk representatif 

selama setahun sebelum air bah cukup surut telah didokumentasikan dengan 

baik oleh, di antara lain, John Woodmorrappe. 

 

  Dalam arti tertentu ini bahkan lebih buruk daripada pernyataan orang yang tidak tahu-

menahu seperti Nigel McQuoid atau Uskup Wayne Malcolm yang dikutip di atas, karena 

Layfield berpendidikan dalam ilmu pengetahuan. Berikut suatu kutipan lagi yang memukau: 

   

Sebagaimana kita katakan di awal, orang junjungan kristen , dengan alasan sangat baik, 

menganggap Kitab-kitab Suci Perjanjian Lama & Baru sebagai penuntun yang 

dapat diandalkan mengenai apa persisnya yang harus kita percayai. Mereka 

bukan sekadar dokumen-dokumen kekepercayaan an. Mereka memberi kita suatu 

penjelasan benar mengenai sejarah Bumi yang bahaya jika diabaikan. 

 

  Implikasi bahwa kitab-kitab suci memberi suatu penjelasan harfiah mengenai sejarah 

geologis akan membuat teolog kredibel siapa pun gelisah. Teman saya Richard Harries, Uskup 

Oxford, menulis sepucuk surat bersama dengan saya kepada Tony Blair, dan kami mendapat 

tanda tangan 8 uskup dan 9 ilmuwan senior.147 Sembilan ilmuwan itu termasuk Presiden Royal 

Society pada saat itu (sebelumnya penasihat utama ilmu pengetahuan Tony Blair), baik sekretaris 

biologis maupun fisik Royal Society, sang Astronomer Royal (kini Presiden Royal Society), 

direktur Museum Sejarah Alam, dan Sir David Attenborough, barangkali orang paling terhormat 

di Inggris. Para uskup meliputi seorang uskup Katolik Roma dan tujuh uskup Anglikan – 

pemimpin-pemimpin kekepercayaan an senior dari seluruh Inggris. Kami menerima balasan otomatis 

dan tidak memadai dari kantor Perdana Menteri, yang merujuk hasil ujian baik sekolahnya dan 

laporannya yang baik dari dinas inspeksi sekolah resmi, OFSTED. Sepertinya Pak Blair tidak 

menyadari bahwa, jika para penyidik OFSTED memberikan laporan sangat baik mengenai 

sebuah sekolah yang kepala ilmu pengetahuannya mengajarkan bahwa seluruh alam semesta 

bermula setelah domestikasi anjing, mungkin saja ada sedikit masalah dengan tolok ukur badan 

inspeksi itu. 

  Barangkali bagian ceramah Stephen Layfield yang paling mengusik yaitu  kesimpulan, 

‘Apa yang dapat dilakukan?’, ketika dia mempertimbangkan taktik yang harus digunakan oleh 

guru-guru yang ingin memasukkan Kristianitas fundamentalis ke dalam ruang belajar ilmu 

pengetahuan. Misalnya, dia mendorong guru ilmu pengetahuan untuk 

   

mencatat setiap kali suatu paradigma evolusioner/bumi-lama (jutaan atau 

miliaran tahun) disebut secara eksplisit atau tersirat dalam sebuah buku 

pelajaran, pertanyaan ujian atau tamu dan dengan sopan menunjukkan bahwa 

pernyataan itu bisa salah. Di mana pun yang mungkin, kita harus memberi 

penjelasan Alkitabiah (selalu lebih baik) mengenai data yang sama. Kita akan 

segera melihat beberapa contoh dari Fisika, Kimia, & Biologi. 

 

  Sisa ceramah Layfield yaitu  panduan propaganda belaka, suatu sumber daya untuk 

guru-guru religius biologi, kimia, dan fisika yang ingin, sambil tetap mematuhi peraturan 

kurikulum nasional, menggerogoti pendidikan ilmu pengetahuan berdasarkan bukti dan 

menggantikannya dengan Alkitab. 

  Pada 15 April 2006, James Naughtie, salah satu pembawa acara berita paling 

berpengalaman di BBC, mewawancarai Sir Peter Vardy di radio. Subjek utama wawancara 

yaitu  investigasi polisi mengenai tuduhan, yang disangkal oleh Vardy, bahwa sogokan – gelar 

kesatria dan bangsawan – telah ditawarkan oleh pemerintahan Blair kepada orang kaya, dalam 

usaha untuk membuat mereka mendukung rencana akademi kota itu. Naughtie juga menanyai 

Vardy mengenai isu kreasionisme, dan Vardy menolak secara kategoris bahwa Emmanuel 

menyokong kreasionisme Bumi muda kepada murid-muridnya. Salah satu alumni Emmanuel, 

Peter French, sama kategorisnya berkata,148 ‘Kami diajarkan bahwa bumi berusia 6000 tahun.’* 

Siapa yang berkata benar di sini? Sebenarnya kita tidak tahu, tetapi ceramah Stephen Layfield 

menguraikan kebijakannya untuk mengajarkan ilmu pengetahuan secara cukup terbuka. Apakah 

Vardy belum pernah membaca manifesto Layfield yang sangat eksplisit itu? Apakah dia 

sebenarnya tidak tahu aktivitas kepala ilmu pengetahuannya? Peter Vardy menjadi kaya menjual 

mobil bekas. Apakah Anda akan membeli darinya? Dan apakah Anda, seperti Tony Blair, akan 

menjual kepadanya sebuah sekolah untuk 10 persen dari harganya – bersama dengan suatu 

penawaran untuk membayar semua ongkos operasional? Mari kita adil terhadap Blair dan 

berasumsi bahwa dia, setidaknya, belum membaca ceramah Layfield. Mungkin kita terlalu 

optimis jika kita berharap bahwa kini dia akan memperhatikannya. 

  Kepala sekolah McQuoid menawarkan suatu pembelaan atas apa yang jelas ia lihat 

sebagai keterbukaan pikiran sekolahnya, yang luar biasa untuk kepasifannya yang meremehkan: 

   

contoh terbaik mengenai keadaan di sini yaitu  suatu ceramah filsafat tingkat 

SMA yang saya berikan. Shaquille sedang duduk di situ dan dia berkata, 

‘Alquran itu tepat dan benar.’ Dan Clare, di sini, berkata, ‘Tidak, Alkitab itu 

benar.’ Jadi kami membahas kemiripan di antara apa yang mereka katakan dan 

tempat mereka tidak setuju. Dan kami setuju bahwa kedua-duanya tidak bisa 

benar. Dan akhirnya saya berkata, ‘Maaf Shaquille, kau keliru, Alkitablah yang 

                                                 

* Agar memahami skala kekeliruannya, itu setara dengan percaya bahwa jarak dari New York ke San Fransisco 

yaitu  7,8 meter. 

benar.’ Dan dia berkata, ‘Maaf Pak McQuoid, Bapak yang keliru, Alquran yang 

benar.’ Dan mereka melanjutkan diskusinya sambil makan siang. Itulah yang 

kami inginkan. Kami ingin anak-anak tahu kenapa mereka memercayai apa 

yang mereka percayai dan mempertahankannya.149 

 

  Gambaran yang menarik! Shaquille dan Clare makan siang bersama, dengan semangat 

berargumen untuk kasus mereka sendiri dan mempertahankan kepercayaan mereka yang tidak 

sesuai. Tetapi apakah itu sungguh menarik? Bukankah itu sebenarnya suatu gambaran tercela 

yang Pak McQuoid lukiskan? Atas dasar apa, akhirnya, Shaquille dan Clare membuat argumen 

mereka masing-masing? Bukti jelas apa yang masing-masing mereka mampu tunjukkan, dalam 

debat yang bersemangat dan konstruktif itu? Baik Clare maupun Shaquille sekadar menyatakan 

bahwa kitab sucinya sendiri lebih unggul, begitu saja. Sepertinya hanya itu yang mereka katakan, 

dan memang hanya itu yang dapat dikatakan ketika anak-anak diajarkan bahwa kebenaran 

berasal dari kitab suci dan bukan dari bukti. Clare dan Shaquille dan teman-temannya tidak 

dididik. Mereka dikecewakan oleh sekolahnya, dan kepala sekolah mereka melakukan 

kekerasan, tidak pada tubuh mereka, tetapi pikiran mereka. 

  

KEBANGKITAN KESADARAN LAGI 

 

  Dan sekarang, salah satu gambaran menarik lagi. Di satu tahun saat Natal, koran harian 

saya, Independent, mencari gambaran musiman dan menemukan suatu yang lintas-kepercayaan  yang 

mengharukan di salah satu pementasan sekolah mengenai kelahiran junjungan kristen  . Tiga Orang Majus 

diperankan oleh, sebagaimana dikatakan dengan bangga dalam tulisan di bawah gambarnya, 

Shadbreet (seorang Sikh), Musharaff (seorang Muslim) dan Adele (seorang junjungan kristen ), semua 

berusia empat tahun. 

  Lucu? Mengharukan? Tidak sama sekali; itu menjijikkan. Bagaimana bisa orang baik 

siapa pun menganggap benar pelabelan anak-anak berusia 4 dengan pendapat kosmis dan 

teologis orang tuanya? Untuk melihat ini, bayangkan sebuah fotograf yang identik, dengan 

tulisan di bawah diubah sebagai berikut: ‘Shadbreet (seorang Keynesian), Musharaff (seorang 

Monetaris) dan Adele (seorang Marxis), semua berusia empat tahun.’ Bukankah ini calon sasaran 

surat-surat protes yang marah? Tentu seharusnya begitu. Namun, karena status kepercayaan  secara 

aneh diutamakan, tidak ada protes sedikit pun, dan tidak pernah ada pada keadaan yang serupa. 

Bayangkan saja kehebohan jika ada tulisan, ‘Shadbreet (seorang Ateis), Musharaff (seorang 

Agnostik), dan Adele (seorang Humanis Sekuler), semua berusia empat tahun.’ Mungkinkah 

orang tua itu diselidiki untuk memastikan bahwa mereka mampu membesarkan anak? Di 

Britania, karena kami tidak memiliki pemisahan da