sejarah al-quran 12

Tampilkan postingan dengan label sejarah al-quran 12. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah al-quran 12. Tampilkan semua postingan

sejarah al-quran 12


 




h Wahl (1828), Ulmann (1840),

Henning (1901), dan Paret (1966). Sementara terjemahan lainnya

ke dalam bahasa Belanda, antara lain, digarap oleh  Glazemaker

(1658), Tollens (1859), Keyzer (1860), dan Kramers (1956).15

Noeldeke menilai bahwa terjemahan-terjemahan al-Quran

berbahasa Jerman yang ada – paling tidak sampai ke masanya –

belum bisa menandingi terjemahan al-Quran ke dalam bahasa

Inggris.16  Penilaian Noeldeke atas terjemahan-terjemahan al-Quran

ke dalam bahasa Jerman ini barangkali tidak dapat diaplikasikan

secara sepenuhnya terhadap terjemahan Rudi Paret, Der Koran

(1966), seorang  sarjana Jerman yang menjadikan al-Quran sebagai

pusat perhatian utamanya. Terjemahan Paret muncul secara berkala

dalam empat Lieferungen (“bagian”) mulai 1963 sampai 1966 di

Stuttgart, kemudian diterbitkan secara lengkap dalam berbagai edisi.

Terjemahan ini, selain dimaksudkan untuk mengungkapkan

pemahaman al-Quran secara historis, terutama didasarkan pada

perbandingan menyeluruh atas semua contoh penggunaan

ungkapan al-Quran. sebab  itu, karya Paret menjanjikan suatu

terjemahan yang akurat dari makna-makna al-Quran sebagaimana

dipahami pendengar pertamanya. Tidak ada usaha  untuk

menerapkan analisis sturktural yang “njelimet,” dan tidak ada

catatan apapun, selain tambahan penjelasan yang ditempatkan

dalam teks terjemahan di dalam tanda kurung, serta dalam catatan

kaki untuk terjemahan harfiah kata-kata tertentu yang dalam teks

utama diterjemahkan secara bebas demi kepentingan gaya serta

kejelasan makna. namun , dalam edisi belakangan

(Taschenbuchausgabe, “edisi buku-saku,” 1979), selain sistem

penghitungan   ayat  al-Quran edisi  Fluegel   ditinggalkan   dan

diganti dengan   sistem penomoran ayat al-Quran edisi standar

Mesir, catatan-catatan kaki kini ditempatkan ke dalam teks. Dengan

demikian, jumlah penjelasan yang ditempatkan di dalam tanda

kurung bertambah banyak. Namun, sekalipun tidak begitu disukai

Paret, hal ini diimbangi dengan penghilangan ungkapan-ungkapan

Arab yang ditransliterasikan dalam edisi sebelumnya dan

ditempatkan dalam tanda kurung.17

Andrew Du Ryer, yang pernah menjadi Konsul Perancis di

Mesir, merupakan penerjemah pertama al-Quran ke dalam bahasa

Perancis. Karya terjemahannya, L’alcoran de Mahomet translatè

d’arabe en françois, muncul dalam berbagai edisi antara 1647

sampai 1775. Setiap edisinya berisi suatu ringkasan “agama orang

Turki” – yakni Islam – dan dokumen-dokumen lainnya. namun ,

Sale menilai terjemahan ini tidak akurat, mengandung banyak

perubahan, pengurangan dan bahkan tambahan. Terjemahan ke

dalam bahasa Perancis yang lebih baik muncul sesudah  itu, antara

lain digarap oleh Savary (1751), Kasimirski (1840), Pauthier (1852),

Montet (1929), Blachere (1949), Mercier (1956), dan Mason (1967).

Terjemahan al-Quran ke dalam bahasa Inggris pertama kali

digarap oleh Alexander Ross dan terbit pada 1649. Karya ini tidak

langsung mengacu kepada teks orisinal Arab, namun  didasarkan

pada terjemahan Perancis Du Ryer. Dengan demikian, berbagai

kelemahan dalam terjemahan Du Ryer juga menimpa terjemahan

Ross. Tingkat akurasi yang lebih baik dicapai dalam terjemahan

al-Quran yang disusun George Sale, terbit pada 1734. Dalam

terjemahannya, Sale menyertakan suatu “Prawacana” (Preliminary

Discourse) berisi pemikiran-pemikiran obyektif yang ringkas

tentang Islam. Terjemahan ini didasarkan pada karya-karya para

mufassir Muslim, khususnya al-Baydlawi, dan disertai catatan-

catatan penjelasan yang singkat, berimbang dan informatif. sesudah 

itu, muncul berbagai terjemahan Inggirs lainnya, seperti yang

digarap oleh Rodwell (1861), Palmer (1880), Bell (1937-1939), dan

Arberry (1953).

Terjemahan Bell, The Qur’an Translated, with a critical rear-

rangement of the Surahs, terbit dalam dua jilid, merupakan

terjemahan yang unik, sebab  usaha  penyusunnya untuk menata

ulang secara kritis materi-materi al-Quran ke dalam berbagai periode

pewahyuan. Lantaran asumsi-asumsinya tentang al-Quran, seperti

telah diutarakan dalam bab 3, Bell memilah-milah bagian-bagian

– bahkan ayat – al-Quran  ke dalam potongan-potongan kecil dalam

usaha  memberikan penanggalan atasnya. namun , usaha  ini sebagian

besarnya lebih bersifat tentatif ketimbang meyakinkan.18

Pemotongan-pemotongan yang dilakukan Bell, pada faktanya, lebih

banyak mengganggu alur terjemahan dan menyulitkan

pembacanya.

Sementara dua jilid terjemahan Arthur J. Arberry, The Koran

Interpreted (1955), dapat dipandang sebagai salah satu terjemahan

terbaik al-Quran ke dalam bahasa Inggris.19  Karya ini yaitu 

kelanjutan dari terbitan perdananya, The Holy Qur’an: An Intro-

duction with Selections (1953),yang merupakan suatu terjemahan

eksperimental bagian-bagian terpilih al-Quran dengan

memakai  berbagai metode. Dalam The Koran Interpreted,

Arberry memperlakukan setiap surat sebagai suatu kesatuan di

dalam dirinya serta memandang al-Quran sebagai suatu wahyu

yang sederhana dan konsisten. Tentang terjemahannya, yang

berusaha  menjaga keindahan ritme al-Quran sejauh mungkin,

Arberry menulis “Karakteristik paling menonjol al-Quran ini –

yakni ‘simfoni yang tidak tertirukan,’ sebagaimana orang beriman

seperti Pickthall melukiskan kitab sucinya: ‘suara terdalam yang

membuat manusia menangis dan gembira’ – hampir secara total

dikesampingkan penerjemah-penerjemah al-Quran yang sudah-

sudah.”20  Sekalipun demikian, Arberry – sehubungan dengan usaha 

pemeliharaan ritme ini  – mengakui terjemahannya merupakan

“poor echo ... of the glorious original.”21

ada  terjemahan-terjemahan al-Quran lainnya ke dalam

berbagai bahasa Eropa yang digarap beberapa  sarjana Barat. Secara

ringkas, terjemahan-terjemahan ini dapat dikemukakan sebagai

berikut:

- Terjemahan al-Quran ke dalam bahasa Rusia digarap antara

lain oleh Postnikov (1716), Veryovkin (1790), Nikolaev

(1864), Sublukov (1877), Krimskiy (1902), Krackovskiy

(1963), dan lainnya.

- Terjemahan al-Quran ke dalam bahasa Polandia digarap

oleh  Sobolewski (1828), dan Buczacki (1858).

- Terjemahan al-Quran ke dalam bahasa Hungaria disusun

oleh Szdmajer (1831), menyusul terjemahan Szokolay

(1854).

- Terjemahan al-Quran ke dalam bahasa Swedia digarap oleh

Crusenstolpe (1843), Tornberg (1874), Zettersteen (1917),

dan Ohlmarks (1961).

- Terjemahan al-Quran ke dalam bahasa Spanyol dibuat oleh

Gerber de Robles, Ortiz de la Puebla (1872), Bergua (1931),

Cansinos Assens (1951), Vernet Gines (1953), Cardona

Castro (1965), dan lain-lain.

- Terjemahan al-Quran ke dalam bahasa Yunani oleh Pentake

(1878), dan Zographou-Meraniou (1959).

- Terjemahan al-Quran ke dalam bahasa Potugis terbit

pertama kali tanpa nama penerjemah (anonim) pada 1882,

menyusul terjemahan Castro (1964).

- Terjemahan al-Quran ke dalam bahasa Serbo-Kroasia

dilakukan oleh Ljubibratic (1895), Pandza dan Causevic

(1936), dan Karabeg (1937).

- Terjemahan al-Quran ke dalam bahasa Bulgaria disusun

oleh Lica (1902), menyusul terjemahan Tomov dan Skulov

sekitar 1930.

- Terjemahan al-Quran ke dalam bahasa Rumania digarap

oleh Isopescul (1912).

- Terjemahan al-Quran kedalam bahasa Cheko ditulis oleh

Vesely (1913), Nykl (1934), dan Hrbek (1972).

- Terjemahan al-Quran ke dalam bahasa Denmark digarap

oleh Buhl (1921, edisi kedua 1954), dan Madsen (1967),

yang disusun secara kronologis.

- Terjemahan al-Quran ke dalam bahasa Finlandia ditulis

oleh ahsen Boere (1942), dan kemudian  Aro (1957).22

Selain  itu, ada  beberapa  terjemahan parsial al-Quran ke

dalam bahasa Albania dan Norwegia, juga sebuah manuskrip

terjemahan al-Quran ke dalam bahasa Ukraina yang digarap

Volodymyr Lezevyc. Artikel J.D. Pearson, “Bibliography of Trans-

lations of the Koran into European Languages,” dalam The Cam-

bridge History of Arabic Literatur, memberikan gambaran lengkap

tentang berbagai usaha  penerjemahan al-Quran ke dalam bahasa-

bahasa Eropa yang dilakukan para sarjana Barat maupun Mus-

lim.23

Dalam kaitannya dengan penyuntingan teks al-Quran, di atas

telah disebutkan usaha  rintisan yang dilakukan Marraci dari

beberapa  manuskrip al-Quran untuk tujuan penerjemahan Latin

yang dilakukannya. namun , tingkat kesarjanaan yang lebih baik

dicapai Gustav Leberecht Fluegel dalam suntingannya, Corani

Textus Arabicus (1834).24  usaha  penyuntingannya dilakukan

dengan meramu bacaan-bacaan kanonik yang tujuh dalam rangka

memperoleh suatu teks al-Quran yang relatif lancar dan mudah

dipahami. namun  lantaran harmonisasi ini, dan juga sebab 

pertimbangan terhadap kesatuan gagasan dan akhiran rima, sistem

penomoran ayat yang digunakan dalam edisi ini  berbeda dari

berbagai edisi al-Quran yang telah eksis di Barat. Bahkan  teks

edisi Fluegel  juga  relatif  berbeda dari tradisi tekstual yang ada di

dunia Islam  –  yang secara konsisten mengikuti salah satu dari

ketujuh bacaan resmi dalam penulisan al-Quran – maupun dengan

teks edisi standar Mesir. namun , seleksi berbagai bacaan dalam kiraah

tujuh yang dipraktekkan Fluegel, pada faktanya, merupakan

penerapan kembali prinsip ikhtiyãr dalam kiraah dari periode klasik

Islam yang, dalam perjalanan sejarah Islam, telah mengalami proses

pemiskinan konseptual dan bisa dikatakan selesai sesudah  penerbitan

al-Quran edisi standar Mesir pada 1923. Fluegel juga menyertakan

semacam indeks untuk edisi al-Qurannya, Concordantiae Corani

Arabicae, yang diterbitkan secara terpisah pada 1842.

Kedua karya Fluegel di atas memiliki pengaruh yang merata

di kalangan sarjana Barat hingga beberapa dekade sesudah  penerbitan

al-Quran edisi standar Mesir. namun , dominasinya mulai menyurut

pada penghujung abad ke-20, saat  edisi standar Mesir memperluas

pengaruhnya ke Barat dan menggantikan peran edisi Fluegel sebagai

rujukan satu-satunya di belahan dunia ini , sebagaimana halnya

di sebagian besar dunia Islam.

Tabel berikut memperlihatkan perbedaan sistem penomoran

ayat dalam teks Fluegel dari sistem penomoran ayat edisi al-Quran

Mesir, yang sekaligus berfungsi sebagai tabel konversi ayat untuk

kedua teks ini :

Tabel Perbandingan dan Konversi

Ayat Teks Fluegel dan Teks Mesir

     No. Surat                 Nama Surat                     Nomor Ayat                Nomor Ayat

                                                                        Teks Fluegel                 Teks Mesir

1 al-Fãtihah 1-6 + 1

2 al-Baqarah 1-19 + 1

19-38 + 2

38-61 + 3

61-63 + 4

63-73 + 5

73-137 + 6

138-172 + 5

173-212 + 4

213-216 + 3

217-218 + 2

219-220 + 1

236-258  - 1

259-269  - 2

270-273  - 3

273-274  - 2

274-277  - 1

3 Ãli ‘Imrãn 1-4 + 1

4-18 + 2

19-27 + 1

27-29 + 2

29-30 + 3

30-31 + 4

31-34 + 5

43-44 + 6

44-68 + 7

69-91 + 6

92-98 + 5

99-122 + 4

122-126 + 5

126-141 + 6

141-145 + 7

146-173 + 6

174-175 + 5

176-179 + 4

180-190 + 3

191-193 + 2

194 + 1

196-198 + 1

    4 al-Nisã’ 3-5 + 1

7-13  -1

14  -2

15  -3

16-29  -4

30-32  -5

32-45  -4

45-47  -3

47-48  -2

49-70  -3

70-100  -2

100-106  -1

118-156 +1

156-170 +2

171-172 +1

174-175 +1

5 al-Mã’idah 3-4  -1

5-8  -2

9-18  -3

18-19  -2

20-35  -3

35-52  -4

53-70  -5

70-82  -4

82-88  -3

88-93  -2

93-98  -1

101-109 +1

6 al-An‘ãm 66-72 +1

136-163  -1

7 al-A‘rãf 1-28 +1

28-103 +2

103-131 +3

131-139 +4

140-143 +3

144-146 +2

147-157 +1

166-186 +1

191-205 +1

8 al-Anfãl 37-43  -1

44-64  -2

64-76  -1

9 al-Tawbah 62-130 - 1

10 Yûnus 11-80 - 1

11 Hûd 6  -1

7-9  -2

10-22  -3

22-54  -2

55-77  -3

77-84  -2

84-87  -1

88-95  -2

96-99  -3

99-120  -2

120-122  -1

12 Yûsuf 97-103  -1

13 al-Ra‘d 6-18  -1

28-30 +1

14 Ibrãhîm 10-11  -1

12-13  -2

14-24  -3

25-26  -4

27-37  -5

37  -4

37-41  -3

41-42  -2

42-45  -1

46-47  -2

47-51  -1

15 al-Hijr Identik  Identik

16 al-Nahl 22-24  -1

25-110  -2

110-128  -1

17 al-Isrã’ 10-26  -1

27-48  -2

49-53  -3

53-106  -2

106-108  -1

18 al-Kahfi 2-21 +1

23-31 +1

31-55 +2

56-83 +1

83-84 +2

85-97 +1

19 Maryam 1-3 +1

8-14  -1

27-76  -1

77-78  -2

79-91  -3

91-93  -2

93-94  -1

20 Thã-hã 1-9 +1

16-34  -1

40-41  -1

42-63  -2

64-75  -3

75-79  -2

80-81  -3

81-88  -2

89-90  -3

90-94  -2

94-96  -1

106-115 +1

115-121 +2

122-123 +1

21 al-Anbiyã’ 29-67  -1

22 al-Hajj 19-21  -1

26-43 +1

43-77 +1

23 al-Mu’minûn 28-34  -1

35-117  -2

117  -1

24 al-Nûr 14-18 +1

44-60 +1

25 al-Furqãn 4-20  -1

21-60  -2

60-66  -1

26 al-Syu‘arã’ 1-48 +1

228  -1

27 al-Naml 45-66  -1

67-95  -2

28 al-Qashash 1-22 +1

29 al-’Ankabût 1-51 +1

30 al-Rûm 1-54 +1

31 Luqmãn 1-32 +1

32 al-Sajdah 1-9 +1

33 al-Ahzãb 41-49 +1

34 Saba’ 10-53 +1

35 Fãthir 8-20  -1

20-21 +1

21-25 +2

25-34 +3

35-41 +2

42-44 +1

36 Yã-Sîn 1-30 +1

37 al-Shãffãt 29-47 +1

47-100 +2

101 +1

38 Shãd 1-43 +1

76-85 +1

39 al-Zumar 4  -1

5-9  -2

10-14  -3

14-19  -2

19-63  -1

40 al-Mu’minûn 1-2 +1

19-32  -1

33-39  -2

40-56  -3

56-73  -2

73-74  -1

41 Fushshilat 1-26 +1

42 al-Syûrã 1-11 +2

12-31 +1

31-42 +2

43-50 +1

43 al-Zukhruf 1-51 +1

44 al-Dukhãn 1-36 +1

45 al-Jãtsiyah 1-36 +1

46 al-Ahqãf 1-34 +1

47 Muhammad 5-16  -1

17-40  -2

48 al-Fath Identik Identik

49 al-Hujurãt Identik Identik

50 Qãf 13-44 +1

51 al-Dzãriyãt Identik Identik

434  /  TAUFIK ADNAN AMAL

52 al-Thûr Identik Identik

53 al-Najm 27-58  -1

54 al-Qamar Identik Identik

55 al-Rahmãn 1-16 +1

56 al-Wãqi‘ah 22-46 +1

66-91 +1

57 al-Hadîd 13-19 +1

58 al-Mujãdalah 3 - 21  -1

59 al-Hasyr Identik Identik

60 al-Mumtahanah Identik Identik

61 al-Shaff Identik Identik

62 al-Jumu‘ah Identik Identik

63 al-Munãfiqûn Identik Identik

64 al-Tagãbun Identik Identik

65 al-Thalãq Identik Identik

66 al-Tahrîm Identik Identik

67 al-Mulk Identik Identik

68 al-Qalam Identik Identik

69 al-Hãqqah Identik Identik

70 al-Ma‘ãrij Identik Identik

71 Nûh 5-22 +1

26-29 +1

72 al-Jinn 23-26  -1

73 al-Muzzammil Identik Identik

74 al-Muddatstsir 32  -1

33  -2

34-41  -3

41-42  -2

42-51  -1

54-55 +1

75 al-Qiyãmah Identik Identik

76 al-Insãn Identik Identik

77 al-Mursalãt Identik Identik

78 al-Naba’ 41  -1

79 al-Nãzi‘ãt Identik Identik

80 ‘Abasa 15-18 +1

81 al-Takwîr Identik Identik

82 al-Infithãr Identik Identik

83 al-Muttaffifîn Identik Identik

84 al-Insyiqãq Identik Identik

85 al-Burûj Identik Identik

86 al-Thãriq Identik Identik

87 al-A‘lã Identik Identik

88 al-Gãsyiyah Identik Identik

89 al-Fajr 1-14 +1

17-25  -1

90 al-Balad Identik Identik

91 al-Syams Identik Identik

92 al-Layl Identik Identik

93 al-Dluhã Identik Identik

94 Alam nasyrah Identik Identik

95 al-Tîn Identik Identik

96 al-‘Alaq Identik Identik

97 al-Qadr Identik Identik

98 al-Bayyinah 2-7 +1

99 al-Zalzalah Identik Identik

100 al-‘Ãdiyat Identik Identik

101 al-Qãri‘ah 1-5 +1

5-6 +2

6-8 +3

102 al-Takãtsur Identik Identik

103 al-‘Ashr Identik Identik

104 al-Humazah Identik Identik

105 al-Fîl Identik Identik

106 Quraisy 3 +1

107 al-Mã‘ûn Identik Identik

108 al-Kawtsar Identik Identik

109 al-Kãfirûn Identik Identik

110 al-Nashr Identik Identik

111 al-Masad Identik Identik

112 al-Ikhlãsh Identik Identik

113 al-Falaq Identik Identik

114 al-Nãs Identik Identik

Keterangan:

cuma hanya  perbedaan dalam penomoran ayat yang dikemukakan dalam tabel di atas. Kolom ketiga menyajikan

nomor ayat dalam teks al-Quran edisi Fluegel. Nomor ayat yang berbeda dalam edisi Mesir diperoleh

dengan menambahkan (+) atau mengurangkan (-), seperti ditunjukkan. Contohnya, surat 1:1 edisi Fluegel

sama dengan surat 1:2 dalam edisi Mesir, yakni diperoleh dengan menambahkan satu (+1) ayat. Pada titik-

titik peralihan ayat, penambahan atau pengurangan cuma hanya  diterapkan pada suatu bagian ayat dalam salah

satu dari kedua edisi al-Quran ini .25

Rencana yang lebih ambisius untuk menyiapkan edisi kritis

al-Quran kemudian dicanangkan oleh Gotthelf Bergstraesser,

Arthur Jeffery dan Otto Pretzl.26  Pada 1926, Jeffery dan Bergstraesser

mencapai kata sepakat untuk berkolaborasi dalam rencana besar

menyiapkan arsip bahan-bahan yang suatu saat  akan

memungkinkan penulisan sejarah perkembangan teks al-Quran.

Sebagai salah satu tahap pelaksanaan rencana besar ini yaitu 

penerbitan edisi teks al-Quran dengan apparatus criticus yang

mengungkapkan himpunan berbagai varian tekstual yang

dikumpulkan dari kitab-kitab tafsir, leksika, kitab-kitab kiraah, dan

sumber-sumber lainnya. namun , mendadak Bergstraesser wafat, dan

Pretzl – pelanjut Bergstraesser di Muenchen – mengambil alih

tanggung jawabnya dalam pelaksanaan rencana ini . Pretzl telah

mulai mengorganisasi arsip yang dibutuh oleh Komisi al-Quran,

yang dibentuk oleh Akademi Bavaria atas prakarsa Bergstraesser,

dan telah menghimpun beberapa  besar salinan fotografis

manuskrip al-Quran beraksara kufi yang awal dan karya-karya awal

tentang kiraah yang belum diterbitkan. Di sisi lain, Jeffery juga

telah menghimpun beberapa  bahan dari masa awal Islam dan

menelusuri berbagai varian bacaan dalam karya-karya klasik.

Bahan-bahan yang dikumpulkan ketiga sarjana diatas

sebagiannya telah mulai diterbitkan. namun , perang Dunia ke-2,

yang meluluhlantakkan Jerman dan membagi negeri itu menjadi

dua, telah memporak-porandakan rencana besar ketiga sarjana

ini . beberapa  besar bahan yang dengan susah payah telah

dihimpun, musnah dihajar bom-bom Sekutu. Sampai wafatnya

Pretzl dan Jeffery, rencana ambisius penerbitan edisi kritis al-Quran

tidak pernah terlaksana.

Sekalipun manuskrip-manuskrip lama kini mudah didapatkan,

yang tentunya akan menjustifikasi rencana edisi kritis al-Quran,

namun  tidak satu pun sarjana Barat yang berminat melanjutkannya.

Gerd-R. Puin mengemukakan secara implisit kemungkinan

pelaksanaan rencana ini . Menurutnya, sekalipun suatu

himpunan lengkap varian bacaan al-Quran tidak akan

menimbulkan suatu terobosan dalam kajian-kajian al-Quran, namun 

himpunan ini akan mengungkapkan tahapan-tahapan ortografi

al-Quran dan tulisan Arab.27  Bisa ditambahkan bahwa penerimaan

umum sarjana Barat terhadap al-Quran edisi standar Mesir, yang

disalin dengan kiraah Hafsh ‘an Ashim, barangkali telah

menyurutkan minat mereka di bidang ini. Selain itu, kecemasan

akan reaksi keras yang dikemukakan kaum Muslimin terhadap

usaha  semacam itu merupakan faktor lain yang patut

diperhitungkan.

Kajian-kajian al-Quran Lainnya

Kajian-kajian al-Quran paling awal di Barat, yang bermula pada

abad pertengahan dengan serangkaian penerjemahan yang ada 

dalam Cluniac Corpus, pada faktanya, lebih menunjukkan karakter

apolegetik ketimbang karakter ilmiah. Suasana peperangan Salib –

dimana umat Kristiani Barat berhadap-hadapan dengan umat Is-

lam sebagai musuh bebuyutan – yang berlangsung selama beberapa

abad tampaknya yang paling bertanggung jawab terhadap

perkembangan semacam itu. Dalam suasana semacam ini, gagasan

fantastik dan imajiner tentang al-Quran, ataupun tentang

Muhammad dan Islam, ditempa dalam semangat apolegetik yang

tinggi untuk menunjukkan bahwa sekalipun kaum Muslimin secara

politik lebih superior, namun  secara religius mereka memiliki

keyakinan penuh bidah yang sangat inferior.

Seperti ditunjukkan Norman Daniel dan R.W. Southern, para

penulis Kristen abad pertengahan pada umumnya telah melakukan

tantangan yang bersifat apologetik terhadap al-Quran berpijak pada

beberapa  alasan yang didasarkan pada nalar dan kitab suci Kristen.28

Secara konstan mereka menegaskan ketidakbenaran al-Quran, atau

bahkan menuduh Muhammad sebagai Nabi palsu. namun ,

kebanyakan dari argumen yang diajukan didasarkan pada premis-

premis yang tidak dapat diterima oleh kaum Muslimin. Gagasan

Barat abad pertengahan tentang al-Quran ini bisa diilustrasikan

dengan berbagai pandangan Ricoldo da Monte Croce (w.1320),

seperti terekspresikan dalam Contra legem Saracenorum

(“Penolakan terhadap Hukum Sarasens”), yang dapat diringkas

sebagai berikut:

(i) Al-Quran tidak lebih dari ramuan bidah-bidah lama yang

ditolak sebelumnya oleh otoritas gereja.

(ii) Al-Quran tidak dapat dipandang sebagai “hukum Ilahi,”

sebab  tidak dinubuwatkan baik oleh Perjanjian Lama

maupun Baru. Lebih jauh, al-Quran dalam beberapa hal

secara eksplisit merujuk kepada Bible. Sedangkan doktrin

tentang pemalsuan Kitab Suci (tahrîf ) oleh kaum Kristiani

dan Yahudi tidak dapat diterima.

(iii) Gaya al-Quran tidak selaras dengan gaya suatu “Kitab

Suci.”

(iv) Tak satupun kandungan al-Quran yang berasal dari Tuhan,

seperti terlihat dalam berbagai kisah fantastik yang tidak

memiliki basis dalam tradisi biblikal. Lebih jauh, beberapa

konsepsi etik al-Quran bertentangan dengan pijakan

keyakinan filosofis.

(v) Al-Quran penuh dengan kontradiksi internal, atau betul-

betul kacau-balau (disorder).

(vi) Reliabilitas al-Quran tidak dibuktikan dengan mukjizat.

Pandangan populer kaum Muslimin bahwa Nabi telah

mendatangkan mukjizat bertentangan dengan kesaksian

al-Quran sendiri.

(vii) Al-Quran menentang nalar (reason). Hal ini terbukti oleh

cara hidup Muhammad yang tidak bermoral, serta oleh

al-Quran sendiri yang berisi keyakinan-keyakinan yang

hina dan nonsen mengenai hal-hal yang bersifat ilahiyah.

(viii)Al-Quran mengajarkan kekerasan untuk menyebarkan Is-

lam dan mengakui berbagai ketidakadilan, seperti terlihat,

misalnya, dalam surat 60.

(ix) Teks al-Quran, sebagaimana terlihat dalam sejarahnya,

tidak menunjukkan sebagai suatu kepastian.

(x) Kisah mikraj Muhammad cuma hanya  merupakan fiksi dan

rekayasa.29

Lebih jauh, Ricoldo juga membahas dalam salah satu bagian

bukunya berbagai kebohongan dan kekeliruan utama yang ada 

di dalam al-Quran, serta yang dipandang sebagai kesalahpahaman

terhadap konsepsi-konsepsi biblikal atau dogmatik Kristen, seperti

masalah trinitas, penyaliban Isa, dan lainnya.30  Makna penting

gagasan-gagasan Ricoldo terletak dalam kenyataan bahwa gagasan-

gagasannya itu dipandang sebagai contoh klasik pandangan Barat

abad pertengahan yang paling berpengaruh tentang al-Quran.

Sementara bertahannya pengaruh Ricoldo selama beberapa abad

di Barat dapat dilihat pada usaha  Martin Luther menerjemahkan

risalah apologetik Ricoldo ke dalam bahasa Jerman, Verlegung des

Alkorans (“Penolakan atas al-Quran”), pada 1542.

Pada penghujung abad pertengahan, sesudah  Constantinople

jatuh ke tangan Turki, Perhatian Barat terhadap Islam semakin

bertambah. Nicholas of Cusa (w. 1464) yang menyepakati gagasan

Juan of Segovia tentang perlunya dialog dengan para ulama Islam,

mengusaha kan realiasasi gagasan ini  dengan menggarap suatu

kajian al-Quran, Cribratio Alchoran (“Penyaringan al-Quran”), yang

memanfaat terjemahan al-Quran Cliniac Corpus dan sumber

lainnya. namun , yang digarap Cusa dalam risalah ini  yaitu 

tema-tema apologi lama seperti yang telah dikemukakan Ricoldo

– salah satu sumber Cusa – dan ia cuma hanya  mengungkapkan kembali

serta memperbarui argumen-argumen lama yang diwarisinya dari

sarjana-sarjana Kristen sebelumnya.31  Sekalipun demikian, karya

Cusa dipandang sebagai representasi periode ini.

Pergerakan Barat dalam mengapresiasi al-Quran berjalan

lambat. Beberapa abad sesudah  Cusa, belum terlihat pergeseran yang

berarti dari sikap apologetik anti-Islam yang ditunjukkan para

sarjana Barat. Terjemahan al-Quran ke dalam bahasa Italia yang

diterbitkan Arrivabene pada 1547, misalnya, mencakupkan de

doctrina, de generatione dan chronica sebagai bagian aktual al-

Quran. Bahkan, al-Quran versi Inggris dari terjemahan Perancis

du Ryer, yang digarap Ross pada 1649, masih memperlihatkan ciri

apologetik lama. Dalam pengantar terjemahan itu, Ross

memandang sangat bijaksana untuk melampirkan sanggahan atau

peringatan bagi orang-orang yang ingin mengetahui manfaat atau

bahaya yang bisa didapatkan dari membaca al-Quran. Ia memulai

kata pengantarnya dengan ungkapan: “Pembaca yang baik, sesudah 

berabad-abad lamanya, akhirnya penipu Arab yang agung (yakni

Muhammad – pen.) kini datang ke Inggris melalui Perancis, dan

Alcoran (al-Quran)-nya atau segudang kesalahan (...) telah belajar

berbahasa Inggris.”32

Merosotnya pengaruh gereja di Barat pada abad ke-18, secara

substansial belum mengubah paradigma lama. Bahkan, latar

belakang dari berbagai serangan dan pujian kesarjanaan Barat

terhadap Islam pada dasarnya dimaksudkan untuk menyerang

Kristen. Senjata yang digunakan untuk tujuan ini  masih tetap

bersumber pada gagasan lama abad pertengahan. Sikap F.M.A.

Voltaire terhadap Islam, misalnya, cuma hanya  berbeda dari gagasan-

gagasan abad pertengahan dalam dua aspek. Dalam Fanatisme, ou

Mahomet le Prophète, ia lebih menyukai merekayasa legendanya

sendiri – ketimbang memanfaatkan yang sudah ada – yang terlihat

tidak begitu kasar untuk tujuannya, yaitu menyerang seluruh agama

wahyu pada umumnya. Di sisi lain, Voltaire juga telah mengikuti

kecenderungan Sale. Dalam Essai sur les moeurs, ia merasa puas

telah menganalisis keyakinan Islam untuk menunjukkan bahwa

keyakinan ini  diramu dari berbagai anasir yang telah eksis

sebelum Islam. Muhammad dipandang sebagai inventor suatu

agama yang berbagai ajarannya diadopsi dari gagasan yang ada di

sekelilingnya.33

namun , selama abad ke-18 dan awal abad ke-19, suatu

kecenderungan mulai menguat dan berusaha  menaksir ulang

gagasan-gagasan Barat abad pertengahan. Kecenderungan ini,

sebagian kecilnya merupakan hasil dari reaksi terhadap Kristen,

dan bagian terbesarnya yaitu  hasil dari eksplorasi sumber-sumber

Islam yang otentik. Perubahan yang mendasar dalam gagasan ini

pertama kali muncul di Inggris, dimotori oleh Thomas Carlyle.

Dalam kuliah keduanya – “The Hero as Prophet: Mahomet: Is-

lam,” 34  disampaikan pada 8 Mei 1840 – Carlyle menertawakan

gagasan abad pertengahan tentang Muhammad sebagai seorang

penipu (impostor) yang menjadi pendiri salah satu agama besar

dunia.35  Carlyle memang telah berbuat banyak dalam

mempurifikasi sikap Barat terhadap Islam dan nabinya, namun  ia

gagal membangun pijakan teoritis yang absah untuk berbagai

apresiasinya. cuma hanya  sisi praktis kuliahnya, yang mengganyang

gagasan-gagasan lama,  terlihat paling berharga.

Kecenderungan baru yang dimotori Carlyle kemudian marak

dalam berbagai belahan dunia Barat pada paruhan kedua abad ke-

19. Kajian-kajian al-Quran di Barat mulai menapaki sisi akademis

dengan munculnya edisi al-Quran yang disunting Fluegel. namun ,

sebagian besar sarjana Barat yang menekuni kajian al-Quran

mengawali karirnya dengan kajian atas kehidupan Nabi. Orang

pertama yang menerapkan metode kritik-historis terhadap biografi

Muhammad yaitu  Gustav Weil, seorang orientalis dari Heidel-

berg, dalam karya monumentalnya, Mohammed der Prophet, sein

Leben und seine Lehre (1843), yang sayangnya tidak didasarkan

pada sumber-sumber terbaik. Sekalipun demikian, sumbangan Weil

paling bermanfaat dalam karya ini yaitu  gagasannya untuk

menjadikan al-Quran sebagai sumber sejarah Nabi.36  sesudah  itu,

Weil menyusulkan karyanya tentang al-Quran, Historische-Kritische

Einleitung in der Koran (1844),37  yang antara lain memuat

kajiannya tentang aransemen kronologis al-Quran. Rancangan

kronologi al-Quran versi Weil ini telah dikemukan dalam bab 3.

Sementara sarjana Jerman lainnya, Aloys Sprenger, sesudah 

menetap selama bertahun-tahun di India serta menemukan sumber-

sumber biografi Nabi yang lebih baik dan  menyadari arti

pentingnya,  menerbitkan suatu esei  tentang  kehidupan Nabi,

Life of Mohammad (1851), di Allahabad India. Esei ini kemudian

direvisi dan diperluas dalam tiga jilid karyanya, Das Leben und

die Lehre des Mohammad (1861-1865), dimana sekitar 36 halaman

dalam jilid ketiganya dicurahkan pada kajian al-Quran. Hal-hal

yang dikemukakan dalam kajian al-Qurannya yaitu  perbedaan

antara surat-surat Makkiyah dan Madaniyah, serta pengumpulan

al-Quran.38

Misionaris Inggris, William Muir, yang juga pernah menetap

selama bertahun-tahun di India dan menemukan sumber-sumber

baru tentang kehidupan Nabi, mengikuti jejak Sprenger dalam

menulis biografi Nabi, namun  ia melangkah lebih jauh lagi ke dalam

penanggalan al-Quran. Eseinya tentang sumber-sumber biografi

Muhammad yang terlampir dalam empat jilid karya

monumentalnya, Life of Mahomet (1858-1861), memuat

kesimpulannya tentang kronologi al-Quran. namun , perhatiannya

yang serius terhadap kajian al-Quran dan penanggalan surat-

suratnya terlihat dalam karyanya, The Coran, Its Composition

and Teaching; and the Testimony its bears to the Holy Scripture

(1878).39  Gagasannya tentang penanggalan al-Quran telah

dikemukakan dalam bab 3.

Demikian pula, Theodor Noeldeke mengawali ketertarikannya

kepada al-Quran dengan menulis biografi Nabi dalam dua jilid

kecil karyanya, Das Leben Muhammed’s nach den Quellen

populaer dargestelt (1862). sesudah  itu, ia memenangkan hadiah

monograf untuk penulisan sejarah kritis teks al-Quran yang

diadakan oleh Parisian Acadèmie des Inscriptions et Belles-Lettres,

dengan tulisannya dalam bahasa Latin yang membahas tentang

asal-usul dan komposisi al-Quran.  Tulisan ini kemudian direvisi

dan diperluas  ke dalam karyanya, Geschichte des Qorans, yang

terbit pada 1860.

Sejarah selanjutnya karya Noeldeke benar-benar seperti legenda.

saat  penerbit mengusulkan penerbitan edisi kedua karya ini 

pada 1898, Noeldeke – yang semakin menua – tidak sanggup

menyelesaikannya, dan akhirnya diambil alih muridnya, Friedrich

Schwally. Schwally menyelesaikan perevisiannya dengan sangat

lambat, lantaran kecermatan dan berbagai alasan lainnya,40  dan

baru pada 1909 terbit bagian pertamanya “tentang asal-usul al-

Quran” (Ueber den Ursprung des Qorans). Bagian keduanya,

“pengumpulan al-Quran” (Die Samlung des Qorans), juga muncul

dalam tenggang waktu yang lama pada 1919, sesudah  wafatnya

Schwally pada awal tahun itu, sehingga dalam proses pencetakan

diawasi oleh iparnya, Heinrich Zimmern, dan koleganya, A.

Fischer.41   Sebelum wafat, Schwally telah menulis lebih dari sekadar


pengantar untuk bagian ketiga, “sejarah teks al-Quran” (Geschichte

des Qorantexts). Bagian ini kemudian dilanjutkan penulisannya

oleh Gotthelf Bergstraesser dan diterbitkan secara terpisah dalam

tiga Lieferungen (bagian). sesudah  publikasi Lieferung pertama dan

kedua (1926, 1929), beberapa  bahan penting ditemukan yang

mengakibatkan penundaan penerbitan Lieferung ketiga. Namun,

Bergstraesser tiba-tiba wafat pada 1933. Murid Noeldeke lainnya,

Otto Pretzl, kemudian menyelesaikan penulisan bagian ini 

dan baru diterbitkan pada 1938. Dengan demikian, proses

perevisian karya Noeldeke oleh murid-muridnya berjalan selama

60 tahun. namun , proses perevisian yang lama ini sebanding dengan

hasil  yang  dicapai  karya  ini .  Karya  yang  menunjukkan

hasil  kerjasama kesarjanaan yang menganggumkan itu telah

menjadi karya standar terbaik satu-satunya di bidang ini dan telah

menjadi fondasi bagi seluruh kajian kesarjanaan Barat tentang al-

Quran.42  Gagasan Noeldeke dan murid-muridnya tentang asal-usul

dan kronologi al-Quran, serta lainnya, telah dikemukakan dalam

bab-bab terdahulu.

Prestasi luar biasa yang dicapai Geschichte des Qorans

membuat beberapa  sarjana Barat berlomba-lomba melakukan

penelitian mengenai kronologi al-Quran dan kajian-kajian lain-

nya tentang kitab suci ini . Hubert Grimme, misalnya,

mengungkapkan pandangannya tentang penanggalan al-Quran

dalam jilid kedua karyanya tentang biografi Nabi, Mohammed

(1892-1895). Demikian pula, Hartwig Hirschfeld pada 1902

menerbitkan penelitiannya tentang komposisi dan tafsir al-Quran,

New Researches into the Composition and Exegesis of The Qoran,

yang memuat gagasannya tentang kronologi al-Quran. Sementara

Richard Bell melakukan kajian tentang aransemen kronologis

“bagian-bagian” al-Quran dalam dua jilid terjemahannya, The

Qur’an Translated with a Critical Rearrangement of the Suras

(1937,1939). Senada dengan ini, Règis Blachère, selain membahas

tentang pengumpulan teks al-Quran, keragaman bacaan, sejarah

teks dan bahasan-bahasan lainnya dalam jilid pertama dari tiga

jilid terjemahannya, Le Coran, traduction selon un essai de

reclassement des sourates (1947-1951), juga mengemukakan

pandangan-pandangannya tentang penanggalan al-Quran.

Keseluruhan gagasan Barat tentang penanggalan al-Quran telah

didiskusikan dalam bab 3.

Sementara pada abad ke-20, selain berbagai kajian di atas,

muncul karya-karya kesarjanaan Barat lainnya, baik dalam bentuk

artikel maupun buku, yang membahas berbagai masalah yang

bertalian dengan al-Quran. beberapa  besar karya ini telah

didiskusikan dalam bab-bab yang lalu, sebab  itu tidak perlu

disinggung di sini. Sementara perhatian Barat terhadap sejarah

tafsir al-Quran juga terefleksikan dalam beberapa  buku dan

artikel.43  namun , karya klasik Ignaz Goldziher, Die Richtungen der

islamischen Koranauslegung (1920), masih tetap merupakan karya

standar di bidang ini. Sekalipun banyak penulis Barat telah menulis

semacam pengantar untuk sejarah tafsir, baik sebagai pengantar

untuk suatu buku,44  atau sebagai artikel jurnal,45  dan beberapa

penulis lainnya berusaha  menggarap semacam suplemen untuk

karya Goldziher yang mencakup keseluruhan periode tafsir hingga

periode modern,46  namun tampaknya tidak ada usaha  serius untuk

mengaktualkan, memperluas, atau bahkan menggantikan karya

standar Goldziher. Karya Jane I. Smith, An Historical and Seman-

tic Study of the Term “Islãm” As Seen in a Sequence of Qur’an

Commentaries (1975), sekalipun mencakupkan keseluruhan

periode sejarah tafsir kaum Muslimin, pusat perhatiannya cuma hanya 

terbatas pada penafsiran sarjana-sarjana Muslim tertentu terhadap

beberapa  bagian al-Quran yang bertalian dengan terma “islãm.”47

Dengan demikian, karya klasik Goldziher masih tetap tidak

tergantikan, meskipun telah agak ketinggalan dan butuh perevisian.

Yang lebih buruk lagi yaitu  perhatian kesarjanaan Barat

terhadap studi tentang al-Quran itu sendiri, yakni tafsîr dalam

pengertian sebenarnya. Dalam edisi revisi jilid dua dari Geschichte

des Qorans, Schwally mencatat bahwa karya kesarjanaan Barat

semacam itu belum pernah ditulis. Hasil penafsiran kesarjanaan

Barat umumnya ada  sebagiannya di dalam karya-karya tentang

biografi Nabi, sebagian lagi dalam penelitian-penelitian mandiri

yang beragam, dan sebagian lagi di dalam terjemahan al-Quran

berupa catatan-catatan penjelasan.48  Baru pada 1971 muncul karya

tafsir Paret, Der Koran: Kommentar und Konkordanz, sebagai

lanjutan dari terjemahan al-Qurannya. Sebagaimana terlihat dari

judulnya, karya ini merupakan suatu tafsir sekaligus konkordans,

atau semacam indeks al-Quran. Keduanya dikombinasi secara

 

berurutan antara satu dengan lainnya serta disusun menurut

aransemen surat dan ayat. Kommentar cuma hanya  akan mengabdi pada

satu tujuan, yakni memaknai bunyi teks al-Quran menurut makna

orisinalnya, seperti dimaksudkan oleh Muhammad dalam berbagai

situasi historisnya. Sedangkan Konkordanz berusaha  sejauh

mungkin memberikan petunjuk silang kepada keseluruhan bagian

al-Quran lainnya untuk suatu makna terkait atau suatu ungkapan

yang muncul dalam suatu ayat tertentu. Petunjuk silang ini secara

sekuensial disusun berdasar   prioritas keterkaitannya: (i) ayat-

ayat yang identik atau hampir identik; (ii) ayat-ayat yang berkaitan

erat, yang disusun berdasar  tingkat kemiripan terhadap ayat

termaksud; dan (iii) ayat-ayat yang dapat dirujuk, namun  tingkat

keterkaitannya terbatas. Kesemuanya ini diberi tanda-tanda tertentu:

titik dua (:) untuk kategori pertama; Garis miring (/) untuk kategori

kedua; dan dalam tanda kurung ( ) untuk kategori ketiga.49  Dengan

demikian, Konkordanz Paret ini merupakan pengungkapan

kembali gagasan munãsabah tradisional Islam secara sangat

signifikan dan dalam alur yang progresif.

Sekalipun karya Paret di atas muncul lebih awal, suatu tafsir

al-Quran yang digarap Richard Bell, sebagai lanjutan dari

terjemahan al-Qurannya, dipersiapkan dan selesai mendahului

karya Paret. namun  karya ini baru diterbitkan pada 1991 – hampir

setengah abad sesudah  Bell wafat (1952). Sejarah karya terakhir Bell

ini sangat menyedihkan. sesudah  publikasi terjemahan al-Qurannya,

Bell menyadari bahwa rekonstruksi dan penyusunan kembali

bagian-bagian al-Quran yang dilakukannya dalam terjemahan

ini  perlu mendapat justifikasi secara rinci, lantaran beberapa 

besar catatan penjelasannya tidak terpublikasikan di dalamnya.

Diperkirakan bahwa catatan-catatan inilah yang dikembangkan

Bell dalam dua jilid tafsirnya, A Commentary on the Qur’an

(1991).50  Karya  Bell ini , sesudah  diselesaikan penulisannya

dengan susah payah dan melalui berbagai revisi,51  mengendap

puluhan tahun di tangan penerbit Edinburgh University Press.

Pada permulaan dekade 1970-an, pihak penerbit menyerahkan

naskahnya dalam bentuk mikrofilm kepada C.E. Bosworth, berikut

hak penerbitannya. namun  Bosworth melupakan mikrofilm ini ,

dan baru teringat saat  Josef van Ess menyatakan penyesalannya

bahwa Bell tidak pernah menyelesaikan penulisan tafsirnya untuk

 

menyertai terjemahan al-Qurannya.52

Dalam pengantar karyanya, Bell menegaskan bahwa tafsirnya

tidak ditulis dengan tujuan polemik apapun, namun  dimaksudkan

untuk digunakan berdampingan dengan terjemahan al-Qurannya,

alinea per alinea, serta untuk menjelaskan secara singkat dan

gamblang rekonstruksi dan rearansemen bagian-bagian al-Quran

dalam terjemahan ini .53  Ia juga menegaskan bahwa dalam

penafsirannya, berbagai pandangan mufassir Muslim ataupun

sarjana Barat sejauh mungkin dikesampingkan, diganti dengan

usaha  pembacaan tanpa prakonsepsi lewat pertolongan kamus,

tata bahasa, dan konkordansi al-Quran.54

Eksistensi kedua karya tafsir di atas, demikian pula berbagai

kajian al-Quran Barat lainnya yang telah dikemukakan sejauh ini,

tentunya akan menimbulkan kontroversi di kalangan umat Islam

sendiri. Dalam suatu simposium tentang Islam dan sejarah agama-

agama yang diadakan di Arizona State University pada 1980,

kontroversi tentang keabsahan kajian-kajian keislaman yang

dilakukan oleh outsiders merebak. Dua penulis Muslim ternama,

Muhammad Abdul-Rauf dan Fazlur Rahman, memberikan respon

yang bertolak belakang tentangnya.

Abdul-Rauf, Rektor Universitas Islam Internasional, Kuala

Lumpur, mengungkapkan respon yang penuh kemarahan terhadap

kajian-kajian linguistik dan historis yang dilakukan Barat atas

materi-materi keislaman. Ia menilai kajian-kajian ini  –

menurutnya lebih bersifat historis dan konjektural  –  telah

menjadikan Islam sebagai sasaran analisis kritis yang salah arah,

terkadang keji dan biasanya tidak sensitif. Lebih jauh, ia juga

meletakkan batas-batas wilayah kajian yang tidak boleh dimasuki

outsider, yakni al-Quran dan sunnah Nabi. Kajian-kajian Barat

yang ada selama ini tentang keduanya, menurut Abdul-Rauf, tidak

cuma hanya  merupakan suatu serangan terhadap suara hati berjuta-juta

umat Islam, namun  juga menyesatkan dan tidak layak dipandang

sebagai ilmu.55

Berseberangan dengan Abdul-Rauf, Rahman – dengan

memanfaatkan refleksi filosofis John Wisdom dalam karyanya,

Other Minds – memandang bahwa kajian Islam yang dilakukan

outsider bisa sama absahnya dengan insider. Kajian outsider  yang

dijalankan dengan tanpa prasangka (open-minded), sensitif

simpatik dan memiliki kriteria keilmuan yang layak (knowledge-

able), serta ditujukan untuk pemahaman atau apresiasi intelektual,

bukan cuma hanya  merupakan sejenis pengetahuan ilmiah, namun  juga

akan memungkinkan bagi insider dan outsider untuk saling

bertukar-pikiran. Serangan Abdul-Rauf, menurut Rahman, cuma hanya 

efektif terhadap non-Muslim yang tidak memenuhi kriteria ini .

Rahman mengakui bahwa merupakan tugas kaum Muslimin untuk

mengungkapkan Islam, namun  – menurutnya – Muslim (insider)

dan non-Muslim (outsider) tentunya dapat bekerja sama pada level

pemahaman intelektual.56