sejarah al-quran 8

Tampilkan postingan dengan label sejarah al-quran 8. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah al-quran 8. Tampilkan semua postingan

sejarah al-quran 8


 



mberi

kesan tentang Nabi sebagai orang yang tidak lepas dari perbuatan

keliru, dikoreksi untuk menjaga citranya sebagai seorang yang

terpelihara dari kekeliruan atau dosa (ma‘shûm). Ilustrasi yang

memadai di sini yaitu  ungkapan 93:7, wa wajadaka dlãllan (&x)

fahadã (MN). Dalam ayat ini, Nabi dilukiskan sebagai orang yang

khilaf, dan lukisan semacam itu tentunya berseberangan dengan

dogma tentang citranya serta bukan merupakan teks orisinal wahyu.

Ungkapan wahyu yang  sejati di sini yaitu   wa wajadaka dlãllun

( Jx ) fahudiya (MN). Jadi, dengan perubahan kecil – kata dlãllan

diubah menjadi dlãllun serta kata kerja fahadã menjadi bentuk

pasif fahudiyã – ungkapan 93:7 bermakna: “Dan seorang yang khilaf

menemukanmu dan diberi petunjuk (melaluimu).”51

beberapa  koreksi Syi‘ah lainnya yang dilakukan terhadap textus

receptus al-Quran bukan berdasar  tendensi sektarian, namun 

berpijak pada pengamatan umum terhadap partikel illã (& ),

“kecuali,” yang diemendasi dengan walã (&$), “dan juga tidak.”

Contohnya yaitu  2:150, “Agar tidak ada hujjah bagi manusia

atas kamu, kecuali (illã) orang-orang yang zalim di antara mereka.”

Partikel illã di sini diganti dengan walã, sehingga bagian akhirnya

bermakna: “dan juga tidak (walã) bagi yang zalim.” Contoh lain

yaitu  4:92, “Tidak layak bagi seorang mukmin membunuh

mukmin lainnya, kecuali (illã) tidak sengaja,” yang sesudah  partikel

illã diganti dengan walã memiliki makna: “dan juga tidak (walã)

sebab  tidak sengaja.”52

Koreksi yang agak radikal terhadap teks utsmani dikemukakan

sehubungan dengan komposisi ayat di dalam surat-surat. Koreksi

ini ditujukan untuk membuktikan kesembronoan dan kedangkalan

redaksi mushaf utsmani, seperti terlihat di berbagai tempat di dalam

al-Quran yang tidak berjalin atau berkelindan. Sehubungan dengan

fenomena ini , al-Qummi mengemukakan:

Mereka (tim redaksi mushaf utsmani) telah memporak-

porandakan al-Quran dan tidak menyusunnya berdasar  tata

urutannya sebagaimana saat  diturunkan Tuhan: 4:3

sebenarnya merupakan sambungan dari 4:127a, yang berada

di posisi akhir; susunannya secara bersama-sama yaitu  sebagai

berikut: “Mereka meminta fatwa kepadamu tentang wanita;

katakanlah: ‘Allah memberi fatwa kepada kalian tentang mereka

dan apa yang dibacakan kepadamu di dalam Kitab tentang

para wanita yatim yang tidak kamu berikan kepada mereka

apa yang ditetapkan untuk mereka, dan kamu tidak (?) ingin

mengawini mereka’,” kemudian menyusul sambungannya

dalam ayat 3: “Dan jika kamu takut tidak dapat berlaku adil

terhadap perempuan yatim, maka kawinilah wanita-wanita

(lain) yang kamu senangi, dua atau tiga atau empat; dan jika

kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka seorang saja.”

Demikianlah susunan asli ayat ini .53

Senada dengan itu, berbagai bagian al-Quran lainnya – baik

menyangkut ayat-ayat hukum ataupun kisah-kisah serta peringatan

kitab suci ini  – telah direkomposisi untuk memperlihatkan

pemorak-porandaan susunan ayat yang dilakukan dalam teks

utsmani. Jadi, 4:104 dan 16:126 memiliki posisi awal dalam surat

3 dan berada bersama-sama dengan gambaran Perang Uhud; 26:48

merupakan kelanjutan dari 25:5; atau 32:28 semestinya ditempatkan

sesudah  32:21. Demikian pula, 29:16,17 langsung disambung dengan

29:24, sementara ayat-ayat yang berada di antara keduanya memiliki

posisi awal di tempat-tempat lain; penempatannya di sini

merupakan kesembronoan atau kelalaian para pengumpul mushaf

utsmani. Yang sejenis dengan ilustrasi terakhir yaitu  31:13, yang

semestinya ditempatkan langsung sebelum ayat 16; sementara ayat-

ayat yang ada di antara keduanya telah memutuskan kesinambung-

an petuah Luqman terhadap anaknya.54

Tudingan tentang kesembronoan para pengumpul mushaf

utsmani dalam penyusunan ayat-ayat al-Quran ini, dalam

kenyataannya, telah menghantam doktrin yang berkembang secara

luas di kalangan Sunni mengenai susunan ayat-ayat dalam surat-

surat al-Quran sebagai bersumber dari Nabi (tawqîfî, %B-

).

Ketidakberjalinan rangkaian ayat di dalam al-Quran memang

merupakan salah satu karakteristik kitab suci ini . namun ,

mengklaim bahwa hal ini  merupakan kesembronoan para

penghimpun al-Quran yang awal, seperti telah diperlihatkan dalam

bab 4 dan 5, jelas merupakan  pernyataan yang ahistoris.

Merupakan suatu hal yang pasti dalam sejarah bahwa Nabi

sendirilah yang merangkai berbagai bagian atau ayat al-Quran yang

diwahyukan kepadanya dan menetapkan susunannya secara pasti

dalam surat-surat yang ada. Susunan ini diketahui dan diikuti para

sahabatnya. Itulah sebabnya, saat  kita membuka kumpulan al-

Quran para sahabat, yang terutama ditemukan di dalamnya yaitu 

perbedaan-perbedaan substansial dalam aransemen surat, bukan

susunan ayat. Lebih jauh, jika para sahabat telah menghafal dan

menuliskan wahyu dalam kadar yang beragam, maka bisa

diperkirakan berbagai perbedaan substansial dalam komposisi ayat

di dalam naskah-naskah mereka ketimbang yang bisa ditemukan

dalam fenomena mashãhif yang awal. Dengan demikian, tudingan

yang dikemukakan kelompok tertentu Syi‘ah dalam hal ini secara

faktual tidak memiliki pijakan historis, selain angan-angan kosong

belaka.

Di samping berbagai tudingan di atas, di kalangan tertentu

Syi‘ah berkembang gagasan tentang tidak dimasukkannya beberapa 

surat ke dalam mushaf resmi utsmani lantaran niat buruk para

pengumpulnya. Namun, surat-surat jenis ini cuma hanya  sedikit di

antaranya yang bisa diselamatkan dari kemusnahan. Surat-surat

ini, antara lain, yaitu  dua surat ekstra dalam mushaf Ubay –

yakni surat al-khal‘ dan surat al-hafd –  yang telah dibahas di atas,

surat al-nûrayn (42 ayat), serta surat al-walãyah (7 ayat ).

Surat al-nûrayn pertama kali diperkenalkan oleh Garcin de

Tassy dan Mirza Kazembeg dalam Journal Asiatique (edisi 1842,

1843). 

Artinya:

Dengan nama Allah yang maha pengasih, maha penyayang

(1) Wahai orang-orang beriman, berimanlah kepada dua

cahaya yang telah Kami turunkan, yang membacakan

kepada kamu ayat-ayat-Ku dan memperingatkan kamu

tentang azab Hari yang pedih.

(2) Dua cahaya, yang satunya berasal dari lainnya,

sesungguhnya Kami maha mendengar dan maha

mengetahui.

(3) Sesungguhnya orang-orang yang memegang teguh

perjanjian Allah dan rasul-Nya (dalam ayat-ayat?), bagi

mereka surga yang menyenangkan.

(4) Dan orang-orang kafir, sesudah  beriman, yang melanggar

perjanjian dan apa yang telah mereka sepakati bersama

rasul, maka mereka akan dilempar ke dalam api neraka.

(5) Mereka telah menzalimi diri mereka sendiri dan enggan

melakukan yang diperintahkan rasul; mereka itu akan

diberi minum dari kubangan air neraka yang mendidih.

(6) Sesungguhnya Dialah Tuhan yang menyinari langit dan

bumi dengan sekehendak-Nya; Dia memilih di antara

malaikat dan rasul serta memasukkan ke dalam golongan

yang beriman.

(7) Kesemuanya itu merupakan ciptaan-Nya; Tuhan

melakukan apa yang Dia kehendaki, tiada tuhan selain

Dia yang maha pengasih, maha penyayang.

(8) Orang-orang sebelumnya telah melakukan makar terhadap

para rasul. Maka Aku menimpakan balasan atas makar

mereka. Sesungguhnya balasan-Ku amat pedih sekali.

(9) Tuhan telah memusnahkan kaum Ad dan Tsamud atas

perbuatan mereka dan menjadikan mereka sebagai

peringatan bagi kamu, maka tidakkah kamu bertakwa?

(10)Dan Firaun telah Aku tenggelamkan bersama seluruh

pengikutnya lantaran membangkang terhadap Musa dan

saudaranya Harun, agar menjadi pertanda bagi kamu;

sesungguhnya sebagian besar dari kalian yaitu  orang yang

fasik.

(11) Sesungguhnya Tuhan akan mengumpulkan mereka pada

Hari Akhirat, maka tidak ada jawaban yang bisa mereka

kemukakan saat  mereka ditanya.

(12) Sesungguhnya neraka jahim yaitu  tempat kediaman

mereka, dan Tuhan maha mengetahui dan bijaksana.

(13)Hai rasul, sampaikanlah peringatan-Ku kepada mereka,

agar mereka mengerjakannya (mengindahkannya).

(14) Sungguh telah merugi orang-orang yang menghindari dari

ayat-ayat dan hukum-hukum-Ku.56

(15) Perumpamaan orang-orang yang memegang teguh

perjanjian denganmu, sesungguhnya Aku telah memberi

imbalan kepada kamu dengan surga yang penuh

kenikmatan.

(16) Sesungguhnya Tuhanlah yang memiliki ampunan dan

ganjaran yang berlimpah.

(17) Sesungguhnya Ali termasuk orang yang takwa.

(18)Dan sungguh Kami akan menjamin haknya pada Hari

Pengadilan.

(19)Dan Kami tidak membiarkannya dizalimi.

(20)Dan telah Kami muliakan dia di antara keseluruhan

keluargamu.

(21) Ia dan anak keturunannya menunggu dengan sabar.

(22)namun  musuh mereka yaitu  imam orang berdosa.

(23)Katakanlah kepada mereka yang kafir sesudah  beriman:

kalian mencari kemewahan kehidupan duniawi dan

berlomba-lomba dengannya serta melupakan apa yang

dijanjikan Tuhan dan rasul-Nya, melanggar perjanjian-

perjanjian sesudah  dibuat, maka Kami telah membuat untuk

kamu perumpamaan-perumpamaan, semoga kalian

mendapat petunjuk.

(24)Hai rasul, telah Kami turunkan kepadamu ayat-ayat yang

jelas, di dalamnya yaitu  suatu…,57  barang siapa yang mati

dalam keadaan menerimanya  atau barang siapa yang

berpaling darinya sesudah mu, maka semuanya akan

dijelaskan.

(25)Maka berpalinglah kamu dari mereka, sebab  sesungguh-

nya mereka yaitu  orang yang durhaka.

(26)Sungguh mereka akan dihadapkan pada suatu hari, di mana

tidak sesuatupun bermanfaat bagi mereka, dan tidaklah

mereka dikasihani.

(27) Sesungguhnya bagi mereka suatu tempat  di neraka, yang

tidak bisa mereka  tinggalkan.

(28)Maka sucikanlah nama Tuhanmu dan jadilah di antara

orang-orang yang bersujud.

(29) Sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dan Harun

(dengan berturut-turut?), maka mereka melakukan

kekerasan terhadap Harun. Maka kesabaran itu lebih baik.

Kemudian Kami jadikan sebagian di antara mereka

menjadi monyet dan babi serta mengutuk mereka hingga

Hari Berbangkit.

(30)Maka Bersabarlah, mereka suatu saat  akan tertimpa.58

(31)Kami telah memberimu kuasa penuh sebagaimana utusan-

utusan sebelummu.

(32)Dan telah Kami berikan untukmu dari mereka suatu tugas,

barangkali mereka akan berbalik kembali.

(33)Dan barang siapa yang berpaling dari perintah-Ku, maka

sesungguhnya Aku akan mengembalikannya. Mereka

cuma hanya  menikmati kekufurannya dalam waktu yang singkat.

Maka janganlah bertanya kepada pengingkar janji.

(34)Hai rasul, telah Kami jadikan untukmu di tengkuk orang-

orang yang beriman suatu perjanjian, maka berpegang

teguhlah dan  jadilah orang yang berterima kasih.

(35) Sesungguhnya Ali cemas akan Hari Kemudian; selama

malam hari ia bersujud dengan khidmat dan meng-

harapkan imbalan dari Tuhannya. Katakanlah: Apakah

sama orang-orang yang zalim …?59  Dan mereka tahu akan

azab-Ku.

(36)Rantai akan dikalungkan ke leher mereka dan mereka akan

menyesali perbuatan mereka.

(37)Kami telah menjanjikan bagimu anak keturunan yang

saleh.

(38)Dan mereka tidak akan menentang perintah Kami.

(39)Atas merekalah salawat dan rahmat dari-Ku, baik dalam

keadaan hidup maupun mati dan pada Hari kebangkitan

mereka.

(40) Dan amarah-Ku bagi orang-orang yang menindas mereka

sesudah  kamu; mereka yaitu  orang-orang jahat yang

merugi.

(41)namun  orang-orang yang mengikuti jalan mereka akan

beroleh rahmat dari-Ku, dan mereka akan aman di dalam

teras kebun surga.

(42)Terpujilah Tuhan, Penguasa sekalian alam. Amin!

Seperti terlihat, rangkaian kata-kata dalam surat di atas – pada

tataran permukaan – memberi kesan yang cukup baik tentangnya

sebagai bagian al-Quran, sebab  sebagian besar kalimat dan

ungkapannya mengikuti gaya kitab suci ini . namun ,

sebagaimana dikemukakan Schwally, saat  diperiksa secara teliti

– dari sisi leksikal (mufradãtî), stilistik (uslûbî ) dan kandungannya

– akan terlihat surat ini sebagai rekayasa belakangan.60  Secara

leksikal, beberapa  kata yang digunakan dalam surat ini  –

seperti kata anzala yang dihubungkan dengan obyek personal, yakni

Muhammad dan Ali, kata nûr yang ditransfer kepada pribadi-

pribadi yang sama,61  kata-kata nawwara, nadima, washiyun, dan

maslakun – tidak pernah muncul di dalam keseluruhan al-Quran.

beberapa  ungkapan juga digunakan dalam konstruksi yang

asing bagi al-Quran. Contohnya, kata ‘ashã yang dikonstruksikan

dengan datif (maf‘ûl gayr al-mubãsyir) dalam ayat 5 di atas, cuma hanya 

muncul di dalam al-Quran secara teratur dalam konstruksi akusatif

(nashb). Ungkapan yawm al-hasyr (ayat 11) tidak pernah digunakan

al-Quran untuk merujuk hari akhirat, sekalipun kata kerja hasyara

sering digunakan. Demikian pula, bagã (ayat 39) di dalam al-Quran

– maupun dalam bahasa Arab – biasanya dihubungkan dengan

‘alã ditambah bentuk person (syakhsh).

Dari sisi stilistik, bagian-bagian tertentu dalam surat di atas

dapat dipertanyakan. Kata-kata bimã syã’a (ayat 6) merupakan cara

pengungkapan yang tidak bagus untuk mã syã’a. Demikian pula,

ungkapan ataynã bika-l-hukmi (ayat 31) sangat aneh dalam bahasa

Arab, sebab  semestinya diformulasikan sebagai ataynãka bi-l-

hukmi. Sementara penggabungan kata-kata ballig indzãrî (ayat 13)

terlihat tidak qurani, sekalipun kata ballaga dan andzara banyak

digunakan di dalam al-Quran. Yang agak lain dari bentuk stilistik

ini yaitu  pencampuradukan antara ayat-ayat panjang dan ayat-


ayat pendek di dalam surat ini . Ayat-ayat pendek – seperti

diyakini beberapa  pakar kajian-kajian al-Quran – merupakan

karakteristik surat-surat Makkiyah  awal, sementara ungkapan yã

ayyuhã-lladzîna ãmanû  (ayat 1) dan yã ayyuhã-l-rasûl ( ayat 13, 23

dan 24) merupakan karakteristik surat-surat Madaniyah.

Dari segi kandungannya, beberapa penilaian bisa dikemukakan.

Pengubahan orang-orang yang memusuhi Musa dan Harun

menjadi monyet dan babi (ayat 29), terlihat mirip dengan

kandungan 5:60, namun  bagian al-Quran ini tidak mengungkapkan

kaitan historisnya dengan  kedua nabi ini . Demikian pula,

tema-tema seperti pesan kepada nabi agar bersabar (ayat 30),

penekanan  yang tegas terhadap hari akhirat, serta kisah umat

terdahulu dengan para utusan Tuhan, merupakan tema-tema favorit

surat-surat Makkiyah di dalam al-Quran. Sebaliknya, pemilahan

manusia ke dalam kategori beriman dan yang kemudian

menyangkali keimanannya (ayat 4, 23), terlihat tidak mengacu

kepada periode pewahyuan manapun, namun  kepada konteks

perseteruan di dalam Islam yang mencuat beberapa saat sesudah 

wafatnya Nabi.

Kesimpulan terakhir di atas didukung oleh beberapa  ayat di

dalam surat ini  yang bertalian dengan Ali. Orang suci Syi‘ah

ini disebut namanya dalam dua kesempatan (ayat 17 dan 35),

kemudian dirujuk dengan kata washî yang populer di kalangan

Syi‘ah.62  Demikian pula, nasib Ali dan anak keturunannya, yang

terjadi jauh sesudah  wafatnya Nabi, dituturkan di beberapa 

kesempatan (ayat 5, 17 ff., 24, dan 40). Sekalipun gelar terhormat

Imãm untuk Ali dan anak keturunannya tidak muncul dalam surat

al-nûrayn, namun  musuh mereka – yakni Mu‘awiyah – dirujuk

sebagai imãm al-mujrimîn (ayat 22).

Sementara kata nûr yang dinisbatkan kepada Muhammad dan

Ali, tampaknya bersumber dari teori gnostik maupun teori Syi‘ah

sendiri. Dalam teori ini dikemukakan bahwa sejak penciptaan

manusia, suatu substansi cahaya Ilahiah berpindah secara teratur

dari Adam kepada anak keturunannya yang terpilih, hingga

akhirnya kepada kakek Muhammad dan Ali, yakni Abd al-

Muthalib. Pada titik ini, cahaya ini  membelah dua serta

berpindah kepada Abd Allah dan Abu Thalib – secara berturut-

turut yaitu  ayah Nabi dan ayah Ali. Dari sini, cahaya ilahi itu


berpindah ke Ali, kemudian menurun dari satu imam ke imam

lainnya dalam tradisi Syi‘ah.63

Analisis terhadap surat al-nûrayn di atas memperlihatkan

bahwa surat ini  jelas merupakan rekayasa Syi‘ah yang

belakangan. Kapan tepatnya surat ini  direkayasa agak sulit

ditetapkan. Yang jelas, otoritas-otoritas Syi‘ah yang awal, seperti

al-Qummi (abad ke-4H), maupun dari abad pertengahan, seperti

Muhammad ibn Murtadla (w. 1044), tampaknya belum mengenal

surat itu. Kalau tidak demikian, mereka tentu akan menyebutnya

dalam karya-karya mereka.64  Menurut Kazem-Beg, tidak ada 

karya otentik dalam tradisi kesarjanaan Syi‘ah Imamiyah yang

menyinggung tentang surat ini, dan tidak seorang penulis pun

yang mengenal nûrayn sebagai judul surat itu sebelum abad ke-16.

Sementara nûrayn sebagai sebutan untuk Muhammad dan Ali baru

muncul pada abad ke-14.65

Kelemahan senada juga terlihat dalam sûrat al-walãyah. Orang

yang mengenal dengan baik bahasa Arab secara langsung akan

menyimpulkannya sebagai rekayasa. Judul surat yang digunakan

dalam manuskrip – ditemukan di Bankipur, India, pada 1912 –

yakni sûrat al-walãyat (dengan 5 , bukan  ), secara jelas telah

menunjukkan kekeliruannya dari sisi bahasa. Lebih jauh, gaya

bahasa surat ini mencoba mengimitasi gaya al-Quran, namun  tidak

selalu berhasil. Ada beberapa  kesalahan gramatik dan penggunaan

kata dalam konteks yang memperlihatkannya sebagai kreasi pasca

pewahyuan al-Quran. Terjemahan surat ini dapat dikemukakan

sebagai berikut:

Dengan nama Allah yang pengasih, yang penyayang

(1) Hai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Nabi

dan kepada pengampu (al-walî ), yang keduanya telah Kami

bangkitkan (utus): Mereka akan membimbing kalian ke

jalan yang benar.

(2) Seorang Nabi dan seorang pengampu, satu dari lainnya,

dan Aku maha mengetahui, maha mendengar.

(3) Sesungguhnya orang-orang yang dengan penuh keimanan

menunaikan perjanjian Tuhan, merekalah pemilik taman

surga.

(4) Dan mereka yang, saat  dibacakan ayat-ayat Kami


kepadanya, menganggap ayat-ayat Kami sebagai ke-

bohongan,

(5) Sungguh mereka akan beroleh tempat yang luas di neraka,

saat  diumumkan kepada mereka di Hari Berbangkit:

“di manakah orang-orang yang bersalah itu, yang

menganggap Utusan-utusan Kami yaitu  pembohong?”

(6) Dia tidaklah menciptakan mereka, para utusan itu, kecuali

dengan kebenaran; dan Tuhan tidak berniat meng-

ungkapkannya hingga suatu waktu yang ditetapkan.

(7) Dan keraskanlah suaramu dalam memuja Tuhanmu, dan

Ali yaitu  (salah satu) dari orang-orang yang me-

nyaksikan.66

Di samping kedua surat di atas, dalam manuskrip Bankipur

juga eksis beberapa  “ayat Syi‘ah” yang tidak terekam di dalam

Mushaf utsmani.67  Tidak berbeda dari “ayat-ayat Syi‘ah” yang telah

dibahas, kandungan ayat-ayat Syi‘ah dalam manuskrip Bankipur

mengekspresikan kemuliaan ahl al-bayt, anak keturunan Ali, sebagai

pewaris sebenarnya hak-hak spiritual Muhammad yang dikehendaki

Tuhan. namun , pada titik inilah ayat-ayat ini  secara jelas

membuktikan dirinya sebagai rekayasa belakangan, sekalipun gaya

bahasanya digubah mengikuti gaya al-Quran, atau secara sederhana

disisipkan ungkapan yang berhubungan dengan ahl al-bayt ke

dalam bagian tertentu al-Quran.

Uraian-uraian sejauh ini tentang pandangan kelompok tertentu

Syi‘ah terhadap integritas dan otentisitas mushaf utsmani, secara

jelas memperlihatkan betapa kecilnya kepercayaan mereka terhadap

mushaf ini . Menurut keyakinan umum kelompok ini,

sekalipun mushaf utsmani bukan salinan al-Quran yang lengkap,

segala sesuatu yang ada di dalamnya yaitu  al-Quran. Redaksi

lengkap dan otentik al-Quran yang dikumpulkan Ali, diwariskan

secara turun-temurun kepada para imam hingga akhirnya berada

di tangan Imam Mahdi yang dinantikan. saat  Imam keduabelas

ini muncul kembali, ia akan mengungkapkan al-Quran yang sejati.

Selama masa penantian, mushaf utsmani tetap digunakan dalam

praxis kehidupan keagamaan pengikut Syi‘ah.68

namun , gagasan tentang tahrîf yang dikemukakan sejauh ini

cuma hanya  merupakan salah satu sudut pandang yang berkembang di


kalangan Syi‘ah. ada  sudut pandang lainnya yang lebih

dominan di dalam sekte ini , yang tidak mengakui eksistensi

pengubahan al-Quran yang ada di tangan kita dewasa ini.

Muhammad ibn Babawayh (w. 991/2), muhaddits terkemuka di

kalangan Syi‘ah Imamiyah, bahkan menghitung keimanan terhadap

non-alterasi al-Quran sebagai bagian doktrin Syi‘ah Imamiyah. Ahli

fikih (faqîh) kelompok Syi‘ah yang sama, Abu Ja‘far Muhammad

ibn al-Hasan al-Thusi (w. 1067), figur mayor lainnya yang

menyepakati sudut pandang ini, bahkan mengutip pandangan

gurunya, al-Syarif al-Murtadla (w. 1044), yang mendukung doktrin

non-alterasi dengan bukti-bukti sangat lengkap. Mufassir Syi‘ah

terkemuka, al-Thabarsi (w. 1153), juga mengkonfirmasi doktrin

ini  dalam pengantar tafsirnya, Majma‘ al-Bayãn. Sementara

di kalangan fuqahã’ Syi‘ah – seperti Syaikh Ja‘far Kasyif al-Githa,

al-Syahsyahani, dan lainnya – juga disepakati gagasan senada.69

Gagasan tentang otentisitas dan integritas mushaf al-Quran

yang ada di tangan kita dewasa ini, belakangan juga diajukan secara

frontal oleh marja‘-e-taqlîd sekte Syi‘ah Imamiyah abad ini, al-Sayyid

Abu al-Qasim al-Musawi al-Khu’i (w. 1992). Dalam pengantar al-

Qurannya, Bayãn fî Tafsîr al-Qur’ãn,70  al-Khu’i membantai gagasan

yang berkembang, baik di kalangan Syi‘ah sendiri maupun di

kalangan Sunni, tentang tahrîf al-Quran, dengan menganalisis

secara cermat pijakan-pijakan yang dikemukakan para pendukung

gagasan ini .71

Otentisitas dan Integritas Mushaf Utsmani dalam

Pandangan Barat

Kajian-kajian modern tentang al-Quran di kalangan sarjana

Barat dalam kenyataannya belum memunculkan masalah serius

sehubungan dengan keaslian dan integritas al-Quran yang ada di

tangan kita dewasa ini. beberapa  sarjana di kawasan matahari

terbenam ini memang telah mengajukan dugaan-dugaan tentang

pemalsuan bagian-bagian tertentu kitab suci ini  yang

dilakukan secara sengaja, namun  argumen-argumen yang

dikemukakan untuk menopang tuduhan itu tampaknya tidak

begitu substansial dan bisa dikesampingkan secara sederhana.

REKONSTRUKSI SEJARAH AL-QURAN  /  287

Sarjana Barat pertama yang secara ilmiah mengemukakan

dugaan kepalsuan bagian tertentu al-Quran yaitu  orientalis asal

Perancis, Silvestre de Sacy. Ia meragukan keaslian 3:144, yang

berbicara tentang kemungkinan wafatnya Nabi. Dalam riwayat

terkenal dikatakan bahwa ayat inilah yang dikutip Abu Bakr saat 

Umar menolak berita mengenai wafatnya Nabi yang baru saja

terjadi.72

Gustav Weil kemudian memperluas skeptisisme ini kepada

beberapa  bagian al-Quran lainnya (3:185; 21:35; 29:57; 39:30), yang

menyiratkan makna kemungkinan wafatnya Nabi. Ia menuduh

interpolasi ini berasal dari Abu Bakr, yang melakukan usaha 

pengumpulan pertama al-Quran. Sebagai bukti utama, Weil

mengemukakan riwayat di atas – berita tentang wafatnya Nabi.73

Namun, secara historis, Abu Bakr tidak mungkin merekayasa ayat

ini , sebab  kesesuaiannya dengan konteks kesejarahannya. Ayat

3:144 merupakan rujukan kepada suatu peristiwa dalam perang

Uhud, yang muncul dalam konteks itu untuk membantah kabar

bohong yang menyebar luas selama pertempuran bahwa Nabi telah

wafat. Sementara ayat-ayat lain yang menyiratkan makna

kemungkinan wafatnya Nabi, seperti ditunjukkan Schwally, juga

sangat cocok dengan konteks-konteksnya dan betul-betul selaras

dengan sisa keseluruhan al-Quran, sehingga asumsi Weil tidak

memiliki alasan yang kuat.74

Weil juga mempermasalahkan otentisitas bagian al-Quran yang

merujuk perjalanan malam Nabi ke Yerusalem (17:1). Ia  mendesak

bahwa tidak ada  rujukan lainnya di dalam al-Quran kepada

perjalanan ini , serta bahwa ayat ini bertentangan dengan klaim

umum Muhammad sebagai sekedar seorang rasul, bukan pembuat

mukjizat (13:7). Ia juga menilai bahwa ayat itu tidak memiliki kaitan

dengan ayat-ayat selanjutnya (17:2 ff.).75  Argumen-argumen Weil ini

bisa dibenarkan, namun  hampir-hampir tidak mendukung kesimpulan

yang didasarkan padanya. Jika perhatian cuma hanya  ditujukan kepada

ayat itu sendiri, tanpa memasukkan struktur legenda yang dibangun

di atasnya, maka tidak ada sesuatupun dalam ayat ini yang tidak

sejalan dengan klaim-klaim Nabi. Di samping itu, banyak ayat-ayat

yang tidak berkelindan di dalam al-Quran, sehingga argumen yang

dibangun berdasar  karakteristik ketidakberjalinan al-Quran pada

dasarnya bukanlah argumen yang konklusif.


Bagian al-Quran lainnya yang dipermasalahkan Weil yaitu 

46:15, yang menurut riwayat merujuk kepada Abu Bakr, dan

kemungkinannya – menurut Weil – direkayasa untuk menghormati

khalifah pertama itu.76  namun , orang yang mengakrabi tafsir

tradisional tidak akan menaruh perhatian pada pernyataan Weil.

Riwayat-riwayat penuh dengan terkaan mengenai pribadi-pribadi

tertentu di kalangan sahabat Nabi yang dirujuk bagian-bagian

tertentu al-Quran. Ayat yang dipermasalahkan di sini bersifat sangat

umum, dan secara sederhana mengungkapkan perintah berbuat

baik kepada kedua orang tua yang muncul di beberapa  tempat

lainnya di dalam al-Quran.

Sarjana Jerman lainnya, H. Hirschfeld juga telah

mempermasalahkan keaslian beberapa  bagian al-Quran.

Menurutnya, 3:144 serta beberapa bagian al-Quran lainnya, yang

memuat nama Muhammad (33:40; 47:2; dan 48:29), merupakan

interpolasi dan bukan bagian al-Quran yang sejati.77  Dengan

bersandar pada pandangan A. Sprenger dan Fr. Bethge, ia

mengemukakan bahwa Muhammad bukanlah nama yang

sebenarnya, namun  sekedar suatu terminus mesianik. Mungkin

ada  hal yang mencurigakan dalam nama semacam itu, namun 

nama Muhammad – berarti “yang terpuji” – telah disandang Nabi

seumur hidupnya. Nama ini tidak cuma hanya  muncul dalam bagian-

bagian al-Quran yang telah disebutkan, namun juga dalam

dokumen-dokumen yang diriwayatkan dalam hadits, seperti dalam

Piagam Madinah dan Perjanjian al-Hudaibiyah.78  Bahkan, nama

diri ini  – dalam kenyataannya – telah digunakan orang-orang

Arab sebelum datangnya Islam.79  Dengan demikian, skeptisisme

Hirschfeld terhadap bagian-bagian al-Quran ini  sama sekali

tidak memiliki pijakan yang kukuh.

Serangan terhadap otentisitas dan integritas al-Quran yang ada

di tangan kita dewasa ini datang dari sarjana Perancis, Paul

Casanova, dalam karyanya, Mohammed et la Fin du Monde (1911-

1924). Tesisnya merupakan pengembangan gagasan bahwa Nabi

tergerak menjalankan misinya lantaran terkesan dengan ide

pengadilan akhirat. Ia memandang bahwa Nabi berada di bawah

pengaruh beberapa  sekte Kristen yang sangat menekankan ide

ini . Pengaruh ini kemudian membentuk tema utama

pekabarannya yang awal dan merupakan bagian penting pesan


ketuhanan yang didakwahkan Nabi hingga penghujung aktivitas

kenabiannya. namun , saat  tidak ada peristiwa yang terjadi untuk

menyokong nujumannya, Muhammad lalu memanipulasi al-Quran

secara masif untuk menghilangkan doktrin itu dari kitab suci

ini , atau setidak-tidaknya menyembunyikan kemencolok-

annya. Tesis Casanova ini tidak begitu diterima di kalangan sarjana

Barat sendiri, sebab  kurang didasarkan pada studi mendalam

terhadap al-Quran ataupun beberapa aspek Islam yang awal.

Pernyataan-pernyataannya sering memperlihatkan misinterpretasi

dan kegagalan dalam mengapresiasi perkembangan historis ajaran

al-Quran.80

Huruf-huruf misterius (fawãtih al-suwar atau al-hurûf al-

muqaththa‘ah/ãt) yang ada pada permulaan 29 surat al-Quran juga

pernah diragukan eksistensinya sebagai bagian al-Quran di kalangan

tertentu sarjana Barat pada masa tertentu.81  Theodor Noeldeke

dapat dipandang sebagai sarjana Barat pertama yang mengajukan

gagasan spekulatif mengenai huruf-huruf misterius di dalam al-

Quran, dengan mengembangkan gagasan klasik kaum Muslim

tentangnya sebagai singkatan. Dalam edisi pertama karya

monumentalnya, Geschichte des Qorãns, Noeldeke mengemukakan

penyesalannya bahwa makna huruf-huruf ini  yang agak pasti

belum berhasil diungkapkan, padahal ia merupakan kunci penting

untuk memahami komposisi al-Quran. Huruf-huruf ini,

menurutnya, tidak berasal dari Nabi, sebab  tentunya sangat aneh

bila ia menempatkan huruf-huruf yang tidak dapat dipahami itu

cuma hanya  dalam wahyu-wahyu tertentu. Huruf-huruf  atau kelompok

huruf potong, baginya, lebih mencerminkan inisial atau mono-

gram pemilik-pemilik (Eigentumsmarken) naskah al-Quran yang

digunakan Zayd ibn Tsabit  saat  pertama kali “mengumpulkan”

al-Quran pada masa kekhalifahan Abu Bakr. Inisial atau mono-

gram ini, menurutnya, secara aksidental masuk ke dalam teks

definitif al-Quran, saat  kaum Muslimin yang belakangan tidak

mengetahui lagi makna huruf-huruf ini . Noeldeke

mengemukakan beberapa  alternatif tentang kepanjangan huruf-

huruf itu sebagai nama pemilik naskah. Jadi 

(a-l-r), menurutnya,

mungkin merupakan inisial dari al-Zubayr;  

(a-l-m-r), dari al-

Mughirah; (= (th-h), dari Thalhah atau Thalhah ibn ‘Ubaydillah;

 (h-m) dan  (n), dari ‘Abd al-Rahman; huruf tengah dari


kelompok huruf PW-N (k-h-y-‘-sh) merupakan singkatan dari kata

ibn, sedangkan dua huruf terakhir yaitu  singkatan dari al-‘Ash;

dan lain-lain.82

namun , berbagai kemungkinan untuk mengajukan nama-nama

alternatif lain sebagai kepanjangan yang ditunjuk oleh huruf-huruf

itu membuat gagasan Noeldeke menjadi absurd. Demikian pula,

yaitu  sulit membayangkan bahwa Zayd cuma hanya  bergantung pada

satu sumber untuk kasus surat-surat panjang yang diawali fawãtih.

Sementara untuk surat-surat yang tidak diawali dengan huruf-huruf

ini , yang jauh lebih banyak dari segi kuantitas, tidak ada 

kejelasan dari mana Zayd “mengumpulkannya.” Lebih jauh,

gagasan ini dengan pasti membabat prasangka dogmatik kaum

Muslimin yang paling mendasar bahwa fawãtih merupakan bagian

dari wahyu Ilahi atau al-Quran yang diterima Muhammad.

Sekalipun demikian, asumsi Noeldeke tentang huruf-huruf

misterius di atas mendapat sambutan dan diterima secara luas di

Barat untuk suatu waktu. Belakangan Hirschfeld berusaha 

mempertahankan dan mengembangkan asumsi-asumsi Noeldeke

tentang huruf-huruf itu sebagai inisial atau monogram nama

pemilik mushaf. Ia juga sepakat dengan Noeldeke dalam

memandang bahwa huruf-huruf ini  tidak berasal dari Nabi.

Namun, ia melangkah lebih jauh dengan memandang bahwa setiap

huruf  fawãtih merupakan inisial nama pemilik mushaf. Solusi

yang diajukannya tentang inisial nama pemilik mushaf ini dapat

diringkas sebagai berikut:

(al)   yaitu  kata sandang tertentu

- f (m)   yaitu  inisial untuk Mughirah

- s (sh)   yaitu  inisial untuk Hafshah

-  (r atau z) yaitu  inisial untuk Zubayr

- z (k)   yaitu  inisial untuk Abu Bakr

- F (h)   yaitu  inisial untuk Abu Hurairah

-  (n)   yaitu  inisial untuk Utsman

- = (th)   yaitu  inisial untuk Thalhah

- < (s)   yaitu  inisial untuk Sa‘d (ibn Abi Waqqash)

-  (h)   yaitu  inisial untuk Hudzaifah

- E (‘ )   yaitu  inisial untuk Umar atau Ali, atau

                      Ibn  ‘Abbas, atau Aisyah

- ; (q)   yaitu  inisial untuk Qasim ibn Rabi‘ah.83


Gagasan Hirschfeld di atas mengalami kelemahan yang sama

dengan gagasan Noeldeke, sebagaimana telah diutarakan di atas;

dan Noeldeke meninggalkan pandangan lamanya itu beberapa saat

sebelum Hirschfeld mempublikasikan karyanya. Dalam gagasan

barunya, Noeldeke mengemukakan dugaan bahwa lewat “huruf-

huruf potong” itu Muhammad hendak mengungkapkan petunjuk

mistis terhadap teks samawi yang asli. Dengan kata lain, huruf-

huruf misterius merupakan simbol-simbol mistik atau tiruan-tiruan

dari tulisan kitab samawi yang disampaikan kepada Nabi.84

Gagasan baru Noeldeke ini belakangan dikembangkan oleh

Alan Jones. berdasar  pernyataan-pernyataan Ibn Hisyam dan

lainnya dalam hadits yang menjelaskan bahwa pada beberapa

kesempatan kaum Muslimin memakai  semboyan atau

teriakan-perang “Hã’mîm, mereka tidak akan dibantu,” Jones

menekankan bahwa huruf-huruf misterius merupakan simbol-

simbol mistik yang memberi kesan bahwa kaum Muslimin

mendapat bantuan Tuhan.85  Gagasan Noeldeke dan Jones ini tentu

saja berbeda jauh dari pandangan sebelumnya, sebab  di sini

ditegaskan bahwa huruf-huruf misterius merupakan bagian dari

wahyu Ilahi yang disampaikan kepada Muhammad.

Perubahan radikal dalam gagasan Noeldeke sebenarnya

dipengaruhi pandangan O. Loth. Dalam kajiannya tentang karya

tafsir al-Thabari, Loth termotivasi oleh uraian ringkas yang

dikemukakan mufassir agung itu tentang makna fawãtih dalam

pengantar kitab tafsirnya, khususnya penjelasan Ikrimah bahwa

ketiga monogram a-l-r,  h-m, dan n secara bersama-sama membentuk

kata al-rahmãn. Berpijak pada gagasan klasik Islam ini, ia

mengemukakan dugaan bahwa monogram-monogram lainnya juga

memberi petunjuk kepada “slogan-slogan tertentu” al-Quran. Loth

juga menyitir dugaan Aloys Sprengers bahwa sebagian “huruf-huruf

potong” itu dapat dibaca dalam susunan terbalik, sehingga a-l-m-

sh, misalnya, bisa dipandang sebagai singkatan dari shirãth al-

mustaqîm; sh dari shirãth; q dari qur’ãn; monogram-monogram

th-h, th-s-m, th-s dan juga mungkin y-s bisa dikaitkan dengan

ungkapan yang ada  dalam 56:79, lã yamassuhû illã-l-

muthahharûn; demikian pula kelompok huruf ‘-s-q bisa dikaitkan

dengan ungkapan la‘alla-l-sã‘ata qarîb.

Lebih jauh, Loth menyerang gagasan awal Noeldeke bahwa


huruf-huruf ini  bukan merupakan bagian dari wahyu Ilahi

atau al-Quran yang diterima Muhammad. Menurut Loth, seluruh

huruf misterius merupakan bagian dari wahyu yang diterima Nabi

pada periode Makkah akhir dan Madinah awal, saat  Muhammad

bergerak mendekati agama Yahudi, sehingga huruf-huruf itu bisa

saja merupakan simbol-simbol kabalistik. Di samping itu, Loth

menekankan bahwa, dalam kebanyakan kasus, ada  petunjuk

pada ayat-ayat permulaan terhadap huruf-huruf ini . Yang

terutama dimaksudkannya di sini yaitu  ungkapan-ungkapan

pembuka yang sering muncul menyertai huruf-huruf misterius itu,

yakni “Inilah ãyãt dari Kitab …” (tilka ãyãt al-kitãb)86 . Ia

memandang kata ãyãt dalam ungkapan ini  bisa diterjemahkan

dengan “simbol-simbol,” dan bagian alfabet ini  – yakni huruf-

huruf misterius – bisa dilihat sebagai simbol wahyu.87

namun  gagasan Loth ditolak dengan tegas oleh Friedrich

Schwally, salah seorang murid Noeldeke yang merevisi karya monu-

mental gurunya, Geschichte des Qorâns. Menurut Schwally, teori

tentang huruf misterius sebagai singkatan terlalu bersifat arbitrer.88

Sekalipun mengeritik argumen-argumen utama Loth, Schwally

memandang sarjana ini  benar dalam pengamatannya bahwa

hampir pada setiap bagian permulaan surat-surat yang diawali

dengan fawâtih selalu ada  penunjukkan kepada kandungannya

sebagai kalam Ilahi yang diwahyukan.89  Schwally juga

menambahkan bahwa ada  beberapa  surat di dalam al-Quran

dengan ungkapan pembuka senada yang tidak diawali dengan

huruf-huruf misterius (misalnya permulaan surat-surat l8; 24; 25;

39; 52; 55; 97), sementara dua surat lainnya yang diawali dengan

fawâtih (29 dan 30) memiliki ungkapan pembuka sangat berbeda.90

Sehubungan dengan gagasan baru gurunya, Noeldeke, Schwally

menilainya sebagai sangat meragukan (zweifelhaft), dan

mengemukakan dugaan bahwa huruf-huruf misterius agaknya

bertalian erat dengan penyusunan (redaksi) surat-surat al-Quran. Ia

juga mengemukakan dugaan bahwa surat-surat yang diawali dengan

huruf-huruf hijaiyah itu mencerminkan usaha  Nabi saat 

menggabungkan wahyu-wahyu berkandungan senada dari berbagai

periode pewahyuan. Namun, Schwally mengakui bahwa gagasan-

gagasannya ini sama sekali tidak menyentuh permasalahan mendasar

tentang makna huruf-huruf ini . Bahkan, lewat gagasan ini ,


Schwally secara jelas telah mementahkan kembali signifikansi huruf-

huruf misterius sebagai bagian al-Quran.

Gagasan terakhir Noeldeke tentang huruf-huruf misterius di

atas, sebagaimana terlihat, memang telah membawa perubahan

yang sangat signifikan di dunia orientalisme Barat dalam

memandang bahwa fawãtih merupakan bagian al-Quran yang sejati.

Kajian-kajian belakangan tentang huruf-huruf potong, tidak lagi

mempermasalahkan otentisitasnya sebagai bagian al-Quran.

Sebaliknya, perkembangan terakhir di Barat justeru telah mengarah

kepada pengakuan bahwa fawãtih merupakan bagian dari wahyu

Ilahi.91  Walaupun demikian, karakter spekulatif dari solusi-solusi

yang diajukan untuk mengungkap misteri huruf-huruf potong al-

Quran itu tetap eksis.

Serangan paling serius terhadap otentisitas dan integritas al-

Quran dewasa ini datang dari John Wansbrough dalam salah satu

kajiannya, Quranic Studies: Sources and Methods of Scriptural

Interpretation (1977). Selain tesisnya tentang kompilasi utsmani

sebagai fiksi, seperti telah disinggung dalam bab 6, Wansbrough

menduga bahwa redaksi final al-Quran belum ditetapkan secara

definitf sebelum abad ke-3H/9. Ia juga memandang bahwa dalam

proses formasi redaksi definitif al-Quran, kaum Muslimin yang

awal telah mengadopsi berbagai gagasan Yahudi, dan hingga taraf

tertentu Kristen, sehingga asal-usul al-Quran berada sepenuhnya

dalam tradisi ini .

Metode yang digunakan untuk membuktikan tesis-tesisnya

yaitu  kajian kritis terhadap bentuk sastera (form-criticism) dan

kajian kritis terhadap redaksi (redaction-criticism) al-Quran, atau

juga disebutnya sebagai metode analisis sastera (method of liter-

ary analysis). Metode ini merupakan importasi dari teknik-teknik

kritik Bible (biblical criticsm) yang pada umumnya digunakan

para sarjana Yahudi dan Kristen dalam kajian-kajian modern

tentang Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama.92  Kajian semacam

ini berangkat dari proposisi bahwa rekaman-rekaman sastera sejarah

keselamatan (salvation history), meskipun menampilkan diri

seakan-akan semasa dengan peristiwa yang dilukiskan, pada

faktanya berasal dari periode sesudah  itu.93

Dalam aplikasinya, Wansbrough “menemukan” bahwa al-

Quran merupakan kreasi pasca-kenabian dengan terlihatnya


berbagai pengaruh Yahudi dan kemunculan  beberapa   ayat

“duplikat.”  Bagian awal surat  17,  misalnya,  sama  sekali tidak

membahas tentang isrã’ Nabi, namun  eksodus Musa dan kaumnya

dari Mesir ke Israel. Menurut Wansbrough, penggunaan konstruksi

asrã bi ‘abdihi laylan (17:1) – atau yang mirip dengannya – di

dalam al-Quran, semuanya berkaitan dengan eksodus Musa (20:77;

26:52; 44:23), dan ini terbukti dengan konteks selanjutnya (17:2

ff.) yang berceritera tentang Musa serta kaumnya. Ungkapan min

al-masjid al-harãm ilã al-masjid al-aqshã, yang mengidentifikasi

Muhammad sebagai pelaku isrã’, dipandang Wansbrough sebagai

tambahan dari masa belakangan “untuk mengakomodasi episode

evangelium Islam dalam teks resmi (al-Quran).” Penambahan ini,

menurutnya, berada sepenuhnya di bawah pengaruh Perjanjian

Lama atau Tawrat.94

Ilustrasi untuk ayat-ayat “duplikat” yaitu  analisis Wansbrough

terhadap 55:46-67. Menurutnya bagian al-Quran ini berisi dua versi

jannatãni yang identik. Versi pertama (A) terdiri dari 55:46-61, dan

versi kedua (B) terdiri dari 55:62-76. Dalam kedua versi ini, setiap

rangkaian ayat diselingi dengan semacam refrain – ayat-ayat

47,49,51,53,55,57,59,61 untuk versi pertama, dan ayat-ayat

63,65,67,69,71,73,75 untuk versi kedua – yaitu: fabiayyi ãlã’i

rabbikumã tukadzdzibãn, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah

yang kalian berdua dustakan?” Kedua versi jannatãni ini  dapat

ditampilkan sebagai berikut:95

Dua Versi Jannatãni dalam surat 55

              Versi A (55:46-61)              Versi B (55:62-76)

 46. Tapi bagi orang yang takut akan saat,           62.  Selain yang dua itu ada lagi

       ia berdiri di depan Tuhannya.                 dua sorga.

      Ada dua sorga tersedia.

 48. Dalam keduanya tumbuh aneka macam           64.  Hijau tua warnanya

      pohonan.                 (sebab  daun yang rimbun).

 50. Dalam keduanya mengalir dua mata air.                 66.  Dalam (masing-masing dari)

                keduanya. Ada mata air memancar

                 berlimpah.

 52. Dalam keduanya berpasang-pasangan.           68.  Dalam keduanya ada buah-

       Setiap macam buah-buahan.                 buahan, pohon korma dan

                 delima.

REKONSTRUKSI SEJARAH AL-QURAN  /  295

 54. Mereka berbaring atas permadani.                    70.  Dalam (semua) sorga itu ada

      Yang sebelah dalamnya dari sutera             hauri-hauri yang baik dan

      yang tebal. Buah-buahan kedua sorga             rupawan.

      bergantung rendah (mudah dicapai).

 56. Dalam keduanya (gadis-gadis) yang                    72.  Hauri-hauri yang jelita dan

      suci menundukkan pandang.             sopan diri. Dipingit di

      Tiada manusia maupun jin.             rumah-rumah peranginan.

      Sebelum mereka pernah menjamah.

 58. Mereka laksana permata batu delima                  74.  Tiada manusia maupun jin.

      dan merjan.             Sebelum mereka pernah

            menjamah

 60. Apakah ada balasan kebaikan selain                     76. Mereka bersandar pada bantal-bantal

      kebaikan?             yang hijau. Dan permadani yang

            indah-indah.

Wansbrough merujuk pandangan Zamakhsyari (w. 1143) bahwa

gambaran versi B tidak sebagus versi A, dan mendesak bahwa versi

A merupakan elaborasi versi B dengan memanfaatkan instrumen

retorik dan tambahan tafsir. Selanjutnya, ia menyimpulkan bahwa

kedua versi itu merupakan dua “tradisi” berbeda yang dimasukkan

ke dalam teks definitif al-Quran: “Namun, yang lebih kuat

tampaknya yaitu  penjejeran dua tradisi berbeda yang bertalian

erat di dalam mushaf, dikontaminasi oleh bacaan dalam konteks-

konteks yang identik, atau dihasilkan dari tradisi-tradisi tunggal

lewat transmisi lisan.”96

Dari beberapa ilustrasi yang telah dikemukakan, tampak

Wansbrough memandang transmisi al-Quran dari generasi pertama

Islam ke generasi-generasi berikutnya hingga menjelang munculnya

redaksi final al-Quran pada abad ke-3H/9 yaitu  dalam cara yang

sangat bebas atau “cair.” Kaum Muslimin dari berbagai generasi

yang awal selalu berusaha  “menyempurnakan” al-Quran dengan

berbagai cara. Penyempurnaan ini, menurutnya, berada di bawah

pengaruh tradisi Yahudi. saat  terjadi pembakuan al-Quran,

keseluruhan “tradisi” dari berbagai stase perkembangan umat Is-

lam tetap dipertahankan eksistensinya dalam teks final al-Quran.

Pengaruh Yahudi dan “duplikasi” atau repetisi yang ada  di

dalam al-Quran, dalam pandangan Wansbrough, dengan  gamblang

menunjukkan hal ini . Jadi al-Quran, menurut sudut pandang

ini, bisa dikatakan sebagai karya patungan Muhammad dan

generasi-generasi awal Islam.


Sekalipun mulai memperoleh dukungan di kalangan tertentu

sarjana Barat,97  pijakan-pijakan Wansbrough untuk memunculkan

tesisnya memiliki beberapa  kelemahan mendasar. Tentang

permulaan surat 17 yang dijadikan Wansbrough sebagai basis

tesisnya mengenai pengaruh Yahudi, misalnya, sebelumnya

memang telah dipermasalahkan Weil.98  Argumentasi Weil yang

identik dengan Wansbrough telah dikritik di atas, sebab 

ketidakberjalinan memang merupakan salah satu karakteristik al-

Quran yang paling menonjol, dan tidak dapat dijadikan sebagai

argumen. Sementara tentang duplikasi atau repetisi – yang

menyampaikan Wansbrough kepada kesimpulan bahwa al-Quran

itu merupakan karya patungan Muhammad dan pengikut-

pengikutnya yang awal – dapat dikemukakan bahwa hal ini juga

merupakan karakteristik lain yang paling menonjol dari al-Quran,

serta mesti dipahami secara utuh dalam terma-terma kronologis

dan perkembangan misi kenabian Muhammad. Wansbrough

terlihat kurang memiliki data kesejarahan menganai asal-usul,

karakter, evaluasi, dan orang-orang yang terlibat dalam

pengembangan “tradisi-tradisi.”99  saat  meresensi karya

Wansbrough, Isa J. Boullata mempertanyakan keabsahan metode

dan bahan-bahannya yang selektif.100  Bahkan, seluruh peresensi

Wansbrough telah menolak secara keras metode dan berbagai

tesisnya, kecuali Josep van Ess yang memandang metodenya itu

mungkin bermanfaat.101  Meskipun demikian, van Ess tetap tidak

dapat menerima tesis-tesis Wansbrough.102

Karya Wansbrough, yang secara jelas menghantam otentisitas

dan integritas mushaf utsmani, mewakili secara sepenuhnya

babakan baru dalam kajian-kajian Islam di Barat. Dukungan dan

penerimaan metode serta tesis-tesisnya jelas akan mengarahkan

orientalisme kepada titik balik. Kalau karya-karya Ignaz Goldziher

dan Joseph Schacht telah membawa pengaruh nyata dalam bentuk

skeptisisme hadits, maka penerimaan terhadap gagasan Wansbrough

akan menimbulkan kecenderungan serupa dalam bentuk

skeptisisme al-Quran.



BAGIAN KETIGA

Stabilisasi Teks dan Bacaan

al-Quran

Bagian ini, terdiri dari dua bab, akan mengungkap-

kan berbagai proses yang mengarah dan berujung

pada stabilisasi teks dan bacaan al-Quran. Proses

stabilisasi teks al-Quran diawali dengan standardisasi

mushaf utsmani dan dicapai dengan serangkaian

usaha  eksperimental untuk menyempurnakan aksara

Arab. usaha  ini mencapai puncaknya pada

penghujung abad ke-3H/9 dan berhasil memapan-

kan bentuk teks al-Quran yang lebih memadai. Bab

kedelapan dipusatkan untuk menelaah proses

penyempurnaan aksara ini . Sementara proses

stabilisasi bacaan al-Quran, yang merupakan

kelanjutan logis dari usaha -usaha  sebelumnya,  juga

dicapai melalui serangkaian unifikasi bacaan yang

berjalan berdampingan dengan penyempurnaan

aksara Arab sesudah  dipromulgasikan dan diterima-

nya mushaf utsmani sebagai textus receptus. Proses

ini mencapai kemajuan sangat berarti pada

permulaan abad ke-4H/10 – dengan diterimanya

gagasan Ibn Mujahid mengenai kiraah tujuh – dan

berkulminasi pada 1923 dengan terbitnya al-Quran

edisi standar Mesir yang menjadi panutan mayoritas

umat Islam. Proses unifikasi bacaan ini dibahas

dalam bab kesembilan.

302  /  TAUFIK ADNAN AMAL

REKONSTRUKSI SEJARAH AL-QURAN  /  303

BAB  8

Penyempurnaan

Ortografi al-Quran

Karakteristik Ortografi Utsmani

Ortografi (imlã’) lama, atau scriptio defectiva, yang digunakan

dalam salinan-salinan al-Quran memiliki makna yang penting

untuk sejarah teks kitab suci ini , sekalipun sebagian besarnya

cuma hanya  merupakan hal-hal yang bersifat teknis. Dari bentuk ortografi

inilah simpulan-simpulan tentang bahasa al-Quran dan munculnya

ortografi baru (scriptio plena) bisa ditarik. Dalam karyanya, al-

Muqni‘ fî Ma‘rifah Marsûm Mashãhif Ahl al-Amshãr, Abu Amr al-

Dani telah mendokumentasikan karakteristik-karakteristik ortografi

mushaf utsmani yang menyimpang dari kaidah-kaidah ortografi

yang lazim dikenal di kalangan sarjana bahasa Arab. berdasar 

dokumentasi al-Dani, ditambah beberapa  sumber klasik lainnya,

terutama dari temuan-temuan paleografis atau manuskrip-manuskrip

al-Quran yang awal, G. Bergstraesser menyusun suatu daftar tentang

ciri khas ortografi teks utsmani. Uraian dalam paragraf-paragraf

berikut sebagian besarnya didasarkan pada daftar Bergstraesser

ini .1

Dalam ortografi Arab, kata-kata pada umumnya muncul tidak

dalam bentuk saat  ditempatkan dalam suatu konteks (siyãq,

qarînah), melainkan dalam bentuk pausa.  namun , dalam ortografi

al-Quran, bentuk konteks juga digunakan. Hal ini bisa dilihat dalam

beberapa kasus berikut:

(i) Penulisan  5 sebagai pengganti    dalam kata-kata : C W7 di

sebelas tempat,2  C  di tujuh tempat,3   5 , di  tujuh

tempat,4   C,"  di lima  tempat,  CW

   dalam   3:61; 24:7,

C-TW,"  dalam  58: 8-9,  C ) dalam 7:137, C- 8 " dalam 11: 86,

304  /  TAUFIK ADNAN AMAL

5

  dalam 28:9, " 5V"  dalam 30:30, 52c"  dalam 44:43,

CO dalam 56:89,  C8 dalam 66:12. Di berbagai tempat

lainnya tidak dapat dipastikan apakah kata termaksud

berbentuk tunggal atau jamak – yang dalam kebanyakan

kasus cuma hanya  ditulis 5   –  misalnya kata  C ) dalam 6:115;

10: 96, yang dibaca para qurrã’ Damaskus dalam bentuk

jamak (kalimãt, 5 ) ), sementara qurrã’ kota lainnya

membaca dalam bentuk tunggal (kalimah,  )). Demikian

pula, kata  C  dalam 29:49 dan kata  5 Y  dalam 41:47,

yang dalam bacaan Hafsh ‘an Ashim dibaca dalam bentuk

jamak, namun  dalam bacaan lainnya dalam bentuk tunggal.

(ii) Huruf wãw ( $ ) dan yã’ ( % ) sering dihilangkan,  saat 

vokal diringkas sebab  suatu penggabungan kata (washl).

Kasus penghilangan huruf yã’ (  ) ditemukan di 15

tempat: ' .5Z hA dalam 4:146, X@

D  dalam 6:57,5

4-,Z 

!7 dalam 10:103, …

G 

  dalam 20:12; 28:30; 79:16

dan …

" G $ dalam 27:18, 4

GN

 dalam 22:54 dan # W

GN8

dalam 30:53,6  -@2

" JA dalam 37:163,  >

"  2

  dalam

81:16,  4

G+L dalam surat 39 penghujung ayat 17 dan

awal ayat 18,  ' "    dalam 27:36,7  serta 4 

G dalam

36:23. Sementara kasus penghilangan huruf wãw ( $ )

ada  di beberapa  tempat, yakni: 7& EM$ dalam 17:11,

E M

EM.f  dalam 54:6,  -78

EM dalam 96:18, ' ~ $

dalam 42:24, dan 4-,Z 

~

A dalam 66:4.8  Sedangkan huruf

alif ( ) sebagai huruf vokal, dalam kasus senada, cuma hanya 

ditemukan penghilangannya dalam kata N , yakni menjadi

ayyuha ( ( ) di depan …

, dalam 24:31; 43:49; dan 55:31.

(iii) Nunasi (tanwîn) ditulis dengan  dalam kata  4 –  yakni

4 i " atau 4I , yang membuat derivasi kata ini  dari

 #  menjadi kabur.

Partikel-partikel (’adãh, harf ) bahasa Arab digabungkan dalam

pengucapannya dan, hingga taraf tertentu, dalam penulisannya.

Dalam ortografi al-Quran, hal ini dikembangkan lebih jauh,

terutama dalam ortografi yang belakangan. namun , tampaknya tidak

ada aturan yang baku atau kaku tentangnya, seperti ditemukan di

dalam al-Quran. Jadi, ada  penulisan mimmã (  , ) yang

digabung di hampir keseluruhan teks al-Quran, namun  di tiga tempat

REKONSTRUKSI SEJARAH AL-QURAN  /  305

ditulis terpisah ( , 4, ).9  Ungkapan ‘amman biasanya ditulis

menyatu ( 4 L ), namun  dua kali dipisah ( 4, 4L ). Penulisan ‘ammã

(  L ) umumnya digabung, namun  dalam 7:166 dipisah ( , 4L ).

Ungkapan fîmã lazimnya digabung penulisannya (  - ), namun  di

satu tempat dipisah  ( , % )10 . Penulisan allã ( & ) biasanya digabung,

namun di sepuluh tempat ditulis secara terpisah ( &  ).11  Ungkapan

illam dipisah penulisannya ( 

    ), kecuali dalam 11:14 digabung

( 

 " ). Penulisan amman digabung  ( 4, ), namun  di empat tempat

dipisah ( 4, f ). Penulisan immã digabungkan ( , ), kecuali dalam

13:40 dipisah ( ,  $ ). Partikel innamã ditulis menyatu (  7 ),

kecuali dalam 6:134 ditulis terpisah (,  ). Penulisan annamã

disatukan (  7 ), kecuali di beberapa  tempat dipisahkan ( ,  ).12

Ungkapan aynamã ditulis terpisah ( ,4 ), dan jarang disatukan

(   ).13  Penulisan bi’samã  ditulis terpisah ( ,>d8 ), namun  beberapa

kali disatukan (  d8 ). Ungkapan likaylã  dua kali (16:70; 33:37)

ditulis terpisah ( &%

 ) – juga kaylã (&%) dalam 59:7 – dan empat

kali (3:153; 22:5; 33:50; 57:23) disatukan   ( q-

 ). Penulisan kullamã

disatukan ( )), kecuali di beberapa tempat dipisahkan ( , ).14

Sementara penulisan partikel-partikel lain, yaitu mimman (4 ,),

illã  ( & ), ammã (" , ), ka’annamã (  7 ), ni‘immã ( " W7 ), mahmã

( " N, ), rubbamã (  8 ), wayaka’anna (i$ ), secara konsisten selalu

disatukan. Konsistensi yang sama juga terjadi dalam penulisan

allam ( 

  ) dan haytsumã ( ,^- ) yang selalu dipisah.

Partikel yã (  ), selalu ditautkan pada kasus vokatif, dan lebih

jauh ditulis menyatu dalam ungkapan fZ+ (secara terpisah: f 48 )

dalam 20:94. Di sini, partikel  tidak cuma hanya  dihubungkan

penulisannya dengan kata berikutnya (48 ), namun  juga dengan kata

f . Bentuk penulisan yang agak jarang terlihat dalam 4:78 6&ZF J ,

atau dalam 18:49 

. FJ, , atau dalam 25:7 J

. FJ,, dan

dalam 70:36 $B 4

J  . Dalam bentuk semacam ini, kata depan

li ( 

 ) – yang dalam kaidah umum tidak dapat berdiri sendiri –

ditautkan pada kata sebelumnya, sebagai ganti dari pengaitannya

kepada kata berikutnya yang tidak pas. namun , bentuk pengaitan

ini  telah menimbulkan kerancuan sehubungan dengan

penulisan kata substantif J, , yang bermakna “harta benda,

kekayaan.” Kasus senada juga terlihat dalam penggabungan

penulisan  4-@ &$  – secara terpisah,  4- 5&$ , seperti ada 

dalam hampir semua salinan mushaf utsmani. Abu Ubayd

306  /  TAUFIK ADNAN AMAL

mengaku melihat kasus penulisan semacam itu dalam tulisan

tangan manuskrip utsmaninya, dan Zamakhsyari tidak memper-

masalahkan kebenarannya. namun , al-Dani mengatakan tidak pernah

menemukan kasus ini  dalam berbagai naskah al-Quran tulisan

tangan. Bergstraesser membenarkan pandangan al-Dani dan

mengemukakan bahwa bentuk penulisan semacam itu tidak pernah

muncul dalam berbagai fragmen al-Quran beraksara kufi yang

ada.15

Huruf-huruf vokal ( ‰  ‰ dan $ ), yang biasanya digunakan

untuk mengekspresikan vokal panjang dalam bahasa Arab, tidak

jarang dibuang dalam penulisan al-Quran:

(i) Penghilangan huruf alif ( ) di tengah-tengah kata dalam

penulisan al-Quran merupakan salah satu ciri khas

ortografis paling menonjol dalam tulisan  kufi  –  tulisan

yang digunakan pada masa paling awal untuk menyalin

al-Quran. Jadi, kata-kata seperti al-rahmãn atau kitãb,

biasanya disalin dengan 4 

16  dan U17  secara berturut-

turut. Demikian pula, penulisan huruf vokal alif dalam

akhiran plural -ãt ( 5 ),  akhiran dual -ãni (), dan lainnya

juga sering dihilangkan. Partikel-partikel tertentu, seperti

partikel yã () atau partikel hã  (F), sering kehilangan alif

dalam penulisannya – misalnya yã ayyuhã ( N  menjadi

Ni ) untuk partikel yã, dan hã’antum ( 7 F menjadi 7F )

untuk kasus hã. Kasus-kasus penghilangan huruf alif ini

menjelaskan bahwa orang-orang Makkah, demikian juga

kebanyakan orang Arab lainnya, berujar secara glottal

(hanjarî) – yakni dari pangkal tenggorokan – dan

mengucapkan a’ sebagai ã. Bentuk penulisan ini juga

ada  dalam beberapa  manuskrip, misalnya penulisan

akhtha’nã ( 7iVS ) sebagai VS (2:286), athma’nantum

( 7i = ) sebagai  = , dan lain-lain.18

(ii) Huruf vokal î ( %  atau - ) dihilangkan, saat  bertemu

dengan huruf senada, seperti dalam penulisan  al-nabiyyin

( 4-+

), yang bentuk aslinya yaitu  4--+

. Pengecualiannya

yaitu  dalam 83:18, untuk kata ‘illiyyin ( 4--)L ), dan bentuk

kausatif (sababiyah) dari %-, contohnya dalam ungkapan

yuhyîkum ( --@ ) serta ungkapan afa‘ayiynã ( --W ) dalam

REKONSTRUKSI SEJARAH AL-QURAN  /  307

50:15, di mana vokal ini  tetap dipertahankan.

Penghilangan  semacam ini,  dan penghilangannya dalam

kasus di penghujung suatu kata, barangkali bertalian

dengan penghilangannya dalam artikulasi (nuthq),

terutama dalam dialek suku Quraisy. Contoh lainnya

yaitu  penghilangan vokal ini  di bagian akhir suatu

kata, yang ditemukan dalam penulisan al-Quran, seperti

kata al-dã‘i ( E M

) dalam 2:186; 54:6,8, yawma ya’ti ( 5i f )

dalam 11:105, al-muhtadî (MN 

) dalam 17:97; 18:17, nabgi

( o+7 ) dalam 18:64, kaljawãbi (  2

 ) dalam 34:13, al-

munãdi ( G 

) dalam 50:41, dan lainnya. Demikian pula,

kasus senada terlihat dalam bentuk sufiks nominal orang

pertama tunggal, misalnya du‘ã’i ( 6[LG ) dalam 14:40, da‘ãni

(LG) dalam 2:186, wattaqûni (   $ ) dalam 2:197, tas’alni

( 4)d ) dalam 11:46, dan lain-lain. Penghilangan semacam

ini juga terjadi untuk penyesuaian rima – misalnya al-

muta‘al (13:9), wanudzur (54:16,18,21, 30,37,39), sayahdîni

(43:27), dll. – dan lebih sering lagi pada kasus imperatif

(’amr) dan jusif (jazm). Dalam kesemua kasus ini, ortografi

mestinya dilihat sebagai ekspresi dari artikulasi.

(iii) Huruf wãw ( $ )  sebagai lambang vokal panjang û, selain

dalam kasus penyambungan atau washl, cuma hanya  dihilangkan

saat  bertemu dengan huruf yang sama, misalnya $)

menjadi )  (3:78) dan $  menjadi   (9:19; 16:75;

32:18). Demikian pula, untuk kata ru’yã ( r ) yang ditulis

6 tanpa  $  (12:43; 17:60; 37:105).

Sufiks pronominal hu dan hi ( ` ) –  yakni hã’ al-kinãyah –

yang awalnya berakhir dengan bunyi vokal panjang, ditulis

defektif mengikuti pengucapan pausal. Demikian pula, bentuk

lama humû, -humû (atau -himû dan -himî), -tumû, -kumû, lebih

sering digunakan para penyair, setidak-tidaknya dalam pausa,

dari pada bentuk pendeknya hum, -hum (atau -him), -tum, kum.

Al-Quran, dalam hal ini, menyalinnya dengan F ,  , dan .

namun  dilaporkan bahwa Nafi‘, Abu Ja‘far, Ibn Katsir dan Ibn

Muhaishin membaca untuk kasus 1:7 dengan -û panjang – yakni

‘alayhimû.

308  /  TAUFIK ADNAN AMAL

Huruf vokal panjang yang dibaca  ã, dalam salinan mushaf

utsmani sering ditulis dengan  atau $ . Kasus penulisan dengan 

untuk vokal panjang ã, misalnya, bisa ditemukan saat  

merupakan akar kata ketiga, seperti dalam kata atã ( % ), atau

dalam bentuk fleksi (tashrîf ) – yakni deklinasi kata kerja – seperti

dalam %L M, C-L M (orang kedua), LG , LG (dual, mutsannã). Di

samping itu, kasus senada terjadi dalam penulisan beberapa partikel

seperti ilã (%

), annã ( %7 ), hattã  ( % ), dan lainnya.

Imãla juga memainkan peran penting dalam pembacaan al-

Quran, sekalipun tidak mudah mentransformasikannya ke dalam

bentuk penulisan   dan % . Bentuk penulisan semacam ini cuma hanya 

bisa diubah dalam kasus-kasus berikut:

(i) Terkadang, dalam kasus penyambungan (washl ), sehingga

vokalnya diringkas dan perbedaannya dihilangkan,

misalnya ladã-l-bãb ( +

" " M

 ) dalam 12:25, al-’aqshã-lladzî

( 

T

& ) dalam 17:1, aqshã-l-madînah ( M 

T

) dalam

28:20 dan 36:20, thagã-l-mã’  (6 

_= ) dalam 69:11. Kasus

senada juga terjadi di depan tanwîn (nunasi), seperti tuwa

( = ).19  Jadi, pada umumnya, ortografi bentuk pausal

digunakan dalam kasus-kasus semam ini.

(ii) saat  dua huruf % muncul berturut-turut, baik

mendahului atau mengikuti – seperti -7G ,  *8 , dan -VS.

Jadi, dalam kasus ini, pengubahannya terjadi untuk

menghindari pengulangan. Pengecualiannya yaitu  kata

%-@ sebagai nama diri (yahyã) atau dalam bentuk kata

kerja (yuhyî) – yang mesti dibedakan dari bentuk verbal

(fi‘l) lain, seperti -@7 atau - – serta kata suqyãhã ( N--  )

dalam 91:13, lantaran berima dalam N- - .20

(iii) Bentuk verbal   ditulis , kecuali dalam 53:11,18 disalin

dengan   , mengikuti rima surat. Sementara kasus-kasus

lainnya bisa dijelaskan dengan aturan ke-1 tentang

penyambungan atau penggabungan (washl), misalnya

ungkapan tarã’a-l-jam‘ãn ( 4W 2

  6   untuk  6  ).

(iv) Dalam beberapa kata yang jarang digunakan, seperti kata

tawallãhu ( `& ) dalam 22:4, atau kata sîmãhum ( F - )

dalam 48:29.

REKONSTRUKSI SEJARAH AL-QURAN  /  309

Dalam manuskrip-manuskrip al-Quran tulisan tangan

beraksara kufi yang awal, penggantian  dengan   juga terjadi,

misalnya kata  dalam 15:99 untuk % , kata qL dalam 8:49 untuk

%)L , kata H dalam 26:207 untuk %H , kata Q,$ dalam 43:8 untuk

%Q,$ , dan lainnya.21  Penulisan semacam ini terutama dapat

dijelaskan lewat cara pengartikulasi yang lain dari ortografi yang

diriwayatkan. Belakangan, hal senada juga ditemukan dalam

manuskrip-manuskrip tulisan tangan Magribi.

Penggantian tanda vokal   dengan % di tengah-tengah kata

bisa ditelusuri dalam beberapa kasus. Ashim al-Jahdari, misalnya,

mengabarkan bahwa dalam mushaf  imãm kata  = (4:3) disalin

dengan U-=.  Sementara Abu Hatim al-Sijistani melaporkan bahwa

dalam manuskrip Makkah kata 6O ditulis dengan -O . Penulisan

semacam ini, seperti ditunjukkan dalam bab 5, juga digunakan

dalam mushaf Ubay ibn Ka‘b.

Kasus penulisan dengan untuk vokal panjang ã bisa

ditemukan, misalnya,  dalam kata shalãh  ( )A ), zakãh ( m ),

hayãh ( - ), misykãh  ( *, ),  najãh ( 27 ), manãh ( , ),

gadãh   ( $MH), dan al-ribã  ( 8

). Penulisan tanda vokal dengan $

ini cuma hanya  berlaku bila kata-kata ini  tidak dibubuhi sufiks

(lãhiqah). Apabila dibubuhi sufiks, maka tanda vokal itu disalin

dengan  atau disalin secara defektif (nãqish). namun , dalam

manuskrip mushaf utsmani beraksara kufi yang awal, juga

ditemukan penyalinan vokal ã dengan alif ( ), misalnya  -  dan

 qA.22

Setiap kata yang berakhir dengan $ dalam penulisan biasanya

diikuti (alif), seperti  dalam  penulisan kata  al-ribã ( 8

).23   Hal

ini  terlihat  cuma hanya   bertalian  dengan penampakan grafis bahwa $

biasanya dihubungkan dengan kata berikutnya. beberapa 

pengecualian terhadap aturan ini bisa dijelaskan, seperti penulisan

r8 , rO, dan r dalam 2:226, di mana alif dihilangkan lantaran

diartikulasikan pendek. Demikian pula, alif dalam ungkapan

tabawwa’u-l-dãr (  M

r+ , 59:9) dihilangkan lantaran langsung

diikuti dengan alif pada kata al-dãr, dan sebagainya.

Kesulitan besar dihadapi berkaitan dengan kata-kata yang

memiliki huruf hamzah ( 6 ). Terkadang pengungkapannya berubah,

terkadang lagi diartikulasikan sebagai konsonan penuh. Dalam

ortografi al-Quran lama, hamzah jarang diartikulasikan, bahkan

3

dalam kebanyakan kasus dihilangkan atau diganti dengan % atau

$. Hal ini sejalan dengan dialek Quraisy dan Hijaz pada umumnya.

Beberapa ilustrasi bisa dikemukakan sehubungan dengan masalah

hamzah ini. sesudah  konsonan mati, hamzah dihilangkan, seperti

dalam kata  (untuk Ji ), ,  (untuk  6, , mil’un atau mil’in),

(Vc  ( untuk  `iVc dalam 48:29), dan lain-lain. Yang paling populer

yaitu   penghilangan hamzah ( 6 ) dalam kata  

 , dan alif ( ) di

sini cuma hanya  diperlakukan sebagai huruf vokal.24  Sementara

perubahan hamzah menjadi $ atau % bisa dilihat dalam 33:51 dan

70:13,  " (diartikulasikan tûwî) untuk $Z , atau dalam 19:74, 

(diartikulasikan rîyan) untuk " -I. Masih banyak lagi varian

penulisan hamzah dalam ortografi  lama  al-Quran,  yang dalam

kitab-kitab  kiraah  biasanya dibahas dalam bab-bab tersulit. namun ,

asumsi bahwa pijakan ragam tulis al-Quran bisa ditemukan dalam

kiraah Hijaz pada bab-bab ini  tidak terbukti secara

meyakinkan, dibandingkan pada kasus îmãla untuk akhiran vokal

-î dan -û.

Karakteristik penulisan lain yang menonjol yaitu 

penyingkatan atau reduksi kata %27 menjadi %27 dalam 12:110 (%2)

dan 21:88 ( (-27$ ). Menurut riwayat lainnya, dalam salinan mushaf

Madinah juga ada  penyingkatan Š

"  menjadi Š

" (10:14) dan

T

 menjadi T

 (40:51). namun , al-Dani menegaskan tidak

menemukan adanya reduksi semacam itu dalam salinan mushaf

manapun. Jenis penyingkatan semacam ini barangkali merupakan

kekeliruan yang dilakukan secara tidak sengaja dalam penyalinan

al-Quran.

Huruf alif dalam kata sandang ( 

) tidak cuma hanya  diberi

penekanan dalam kasus relatif pronomina (dlamîr mawshûl) –

misalnya 

" ,  

, dll. – namun  juga dalam kata-kata tertentu seperti

-

untuk " -)

. Sementara dalam kebanyakan kasus, alif

penghubung dihilangkan, seperti dalam formula basmalah ( 8

untuk 8 ), di depan kata sandang (misalnya 4)

 untuk 4

 & ),

sesudah  kata tanya (a) (misalnya dalam 2:80, ‹ ), dalam ungkapan

d$ (untuk  Ji $ ), dan lain-lain.

Dalam penulisan beberapa  konsonan yang diartikulasikan

dalam bunyi desis, ada  beberapa  ketidakberaturan, di mana

dalam kasus-kasus asimilasi terjadi pertukaran konsonan. Dalam

beberapa  kasus, konsonan <  menggantikan s , seperti dalam kata

REKONSTRUKSI SEJARAH AL-QURAN  /  311

= A  yang menjadi  =  ,25   kata VT+  menjadi V+ dalam 2:245 ,

kata  VT8  menjadi V8 dalam 7:69, serta kata V-T, menjadi V-,

dalam 52:37 dan 88:22. Sementara dalam kasus lainnya konsonan

k  berubah menjadi ƒ dalam penyalinannya, seperti dalam 81:24,

kata 4-Q8 menjadi 4-]8 .

Hal lain yang patut disimak yaitu  pengubahan artikulasi

akhiran rima di penghujung ayat,  yang sebagian besar dilakukan

secara tertulis, seperti kata 7]

di penghujung 33:10, kata &

di penghujung 33:66, kata q-+

  di penghujung 33:67, kata (-7V)

di akhir 69:29, dan lainnya. namun , aturan ini tampaknya tidak

diterapkan secara konsisten. Dalam beberapa  kasus, penambahan

untuk menyesuaikan suatu ungkapan dengan akhiran rima di

penghujung suatu ayat tidak dilakukan. Contohnya yaitu  kata

Mm di penghujung 74:15, yang tetap dipertahankan dan tidak

disesuaikan dengan rima ayat.

Apabila ke dalam penyimpangan-penyimpangan yang telah

diuraikan sejauh ini ditambahkan ragam tulis aksara Arab yang

digunakan saat  itu – yang tidak mengenal perbedaan antara

konsonan-konsonan b ( 8 ), t (  ), ts ( Y ), n ( 7 ) dan y (  ) pada

permulaan dan di tengah-tengah suatu kata, atau b ( U ), t ( C ), ts

(^ ) pada penghujung kata, atau f (  ) dan q ( 

 ) pada permulaan

dan di tengah-tengah kata, serta konsonan-konsonan j ( t ), h ( 

) dan kh  ( Œ ), d  ( G ) dan dz (  ),  r  (  ) dan z  (m ), s ( < ) dan sy

(  ),  sh ( s ) dan dl ( k ), th ( = ) dan zh ( ƒ ), ‘ ( E ) dan g ( Ž ),

serta ketiadaan tanda vokal – maka kesimpulan yang akan diperoleh

dalam hal ini yaitu  pengungkapan tertulis teks al-Quran saat 

itu masih bersifat primitif.

Secara teknis aksara primitif yang digunakan untuk menyalin

al-Quran ini disebut sebagai scriptio defectiva – dikontraskan

dengan scriptio plena, yakni aksara Arab yang kemudian telah

mengalami proses penyempurnaan pada tahapan sejarah

selanjutnya, sebagaimana akan dibahas dalam bagian berikut.

Penggunaan jenis tulisan yang belum sempurna di dalam mushaf-

mushaf utsmani yang awal, sebagaimana terlihat, tampaknya juga

turut berpartisipasi dalam melahirkan varian-varian bacaan di

dalam tradisi teks ini .

312  /  TAUFIK ADNAN AMAL

Latar Belakang Penyempurnaan Rasm al-Quran

Langkah penyeragaman teks yang dilakukan oleh Khalifah

Ketiga, Utsman ibn Affan, lewat pengumpulan resmi al-Qurannya,

terutama sekali dapat dilihat sebagai tonggak awal usaha 

standardisasi teks maupun bacaan al-Quran. Alasan utama yang

berada di balik kodifikasi ini  – yakni perbedaan tradisi teks

dan bacaan yang mengarah kepada perpecahan politik umat Is-

lam, seperti dikemukakan dalam bab 6 – dengan gamblang

memperlihatkan hal ini. Namun, lantaran ketidaksempurnaan

aksara Arab yang saat  itu digunakan untuk menyalin al-Quran

langkah ini  belum dapat mencapai hasil yang dihajatkan.

Bentuk scriptio defectiva yang digunakan untuk menyalin al-

Quran saat  itu masih membuka peluang bagi seseorang untuk

membaca teks kitab suci secara beragam.26  Selain non-eksistensi

tanda-tanda vokal, beberapa  konsonan yang berbeda dalam aksara

ini dilambangkan dengan simbol-simbol yang sama, sebagaimana

telah ditunjukkan pada bagian lalu. Kekeliruan pembacaan teks

al-Quran (tashhîf) yang disalin dalam aksara semacam ini tentu

saja bisa diminimalisasi atau dihindari jika seseorang mempunyai

tradisi hafal al-Quran yang kuat atau paling tidak memiliki tingkat

keakraban yang tinggi terhadap teks kitab suci. Kalau tidak

demikian, sangat mungkin baginya terjebak dalam kekeliruan

pembacaan. Fungsi tulisan saat  itu memang cuma hanya  merupakan

alat untuk memudahkan hafalan; dan hafalan – sebagaimana

diketahui secara umum – merupakan tradisi bangsa Arab paling

menonjol sejak beberapa generasi sebelumnya.

Bahwa bentuk aksara primitif Arab yang digunakan untuk

menyalin mushaf utsmani telah membuka peluang untuk

pembacaan teks mushaf  ini  secara beragam, barangkali bisa

dilacak pada berbagai perbedaan bacaan yang eksis dalam bacaan

(qirã’ãt) yang tujuh ataupun berbagai bacaaan non-utsmani lainnya.

Berikut ini akan dikemukakan beberapa ilustrasi – secara purposif

dipilih dua bacaan dari tujuh kiraah paling otoritatif  (qirã’ãt al-

sab‘), yakni kiraah Imam Ashim riwayat Hafsh dan kiraah Imam

Nafi‘ riwayat Warsy27  – yang barangkali bisa menjelaskan

kemungkinan yang telah dikemukakan.28

Kerangka konsonantal atau bentuk grafis $F*7 dalam 2:259,

REKONSTRUKSI SEJARAH AL-QURAN  /  313

misalnya, telah dibaca dalam kiraah Ashim yang diriwayatkan

Hafsh sebagai F*7 (nunsyizuhã); sementara dalam kiraah Nafi‘

yang diriwayatkan Warsy dibaca F*7 (nunsyiruhã). Perbedaan

pemberian titik diaktritis ini sama sekali tidak mempengaruhi arti

keseluruhan ayat, sebab  kedua kata itu memiliki makna senada,

yakni “membangkitkan.” Demikian pula, kerangka konsonantal

M dalam 5:54, terbaca dalam kiraah pertama sebagai yartadda

( M ); sementara dalam kiraah kedua dibaca yartadid ( GM ).

Mengenai perbedaan ini , Zamakhsyari mengemukakan bahwa

keduanya yaitu  bacaan yang tepat, dan menambahkan bacaan

terakhir – yakni yartadid – ada  di dalam mushaf induk (al-

imãm).29  Perbedaan ini pun tidak memiliki efek terhadap makna

ayat atau memperlihatkan divergensi tekstualnya, namun  lebih

merupakan masalah asimilasi (mumãtsalah) kebahasaan. Sementara

kerangka grafis 3:81, - , dalam kiraah pertama dibaca ãtaytukum

( - ), sedangkan dalam kiraah kedua dibaca ãtaynãkum ( - ).

Sebagaimana sebelumnya, kedua bacaan ini juga tidak memiliki

efek apapun terhadap makna. Subyek keduanya sama, yakni Tuhan,

dan barangkali cuma hanya  merupakan pilihan untuk memakai 

bentuk orang pertama tunggal atau jamak – dalam hal ini “Aku”

atau “Kami” – yang  memang sering muncul dalam penggunaan

al-Quran.

Ketiga ilustrasi di atas semata-mata menyangkut perbedaan

pemberian titik-titik diakritis terhadap kerangka konsonantal yang

sama. Dari segi perbedaan vokalisasi, dua ilustrasi berikut bisa

dikemukakan. Yang pertama menyangkut vokalisasi  $y $  dalam

2:125. Dalam riwayat Hafsh terbaca wattakhidzû, sedangkan dalam

riwayat warsy terbaca wattakhadzû. Dalam kasus ini pun tidak

terjadi perbedaan makna yang mendasar, selain masalah pernyataan

langsung (kalãm mubãsyir, “kalimat langsung”) atau pelaporan

suatu tindakan (kalãm gayr mubãsyir, “kalimat tidak langsung”).

Ilustrasi kedua menyangkut vokalisasi J  dalam 2:214. Kiraah

pertama membacanya yaqûla, sedangkan kiraah kedua membacanya

yaqûlu. Dalam kasus ini juga tidak terjadi pebedaan makna, kecuali

masalah aturan gramatikal menyangkut penggunaan kata hattã

( % ) yang mendahului kata J  .

Contoh-contoh di atas memang memperlihatkan bahwa

perbedaan pemberian titik-titik diakritis untuk berbagai kerangka

314  /  TAUFIK ADNAN AMAL

konsonantal dan vokalisasi dalam tradisi teks utsmani ternyata

tidak mengakibatkan munculnya perbedaan makna yang signifikan.

namun  dalam berbagai kasus lainnya, perbedaan-perbedaan makna

yang cukup berarti – khususnya dalam penyimpulan hukum –

bisa dihasilkan dari perbedaan-perbedaan semacam itu. Beberapa

ilustrasi dari kiraah tujuh berikut ini bisa menjelaskannya.

Rangkaian konsonan  NV  dalam 2:222, oleh Hamzah, al-Kisa’i

dan Ashim (riwayat Syu‘bah) dibaca sebagai yaththahharna,

sedangkan Ibn Katsir, Nafi‘, Abu ‘Amr, Ibn ‘Amir dan Ashim

(riwayat Hafsh) membacanya sebagai yathhurna. Makna bacaan

pertama yaitu  “bersuci” – yakni larangan mencampuri isteri yang

haid hingga mereka mandi (bersuci) sesudah  haid. Sementara makna

bacaan kedua yaitu  “suci” – yakni larangan menggauli isteri yang

sedang haid hingga darah haid berhenti.30

Ilustrasi lainnya yaitu  rangkaian konsonan )O $ dalam 5:6.

Ibn Katsir, Hamzah, Abu Amr dan Ashim (riwayat Syu‘bah)

membacanya wa arjulikum. Sementara Nafi‘, Ibn ‘Amir, al-Kisa’i

dan Ashim (riwayat Hafsh) membacanya wa arjulakum.31  Bacaan

pertama menghasilkan makna bahwa dalam berwudlu kaki cuma hanya 

wajib diusap dengan air, seperti pada pengusapan kepala, yang

menjadi pandangan kelompok Syi‘ah Imamiyah. Sedangkan bacaan

kedua mengharuskan kaki dibasuh, sebagaimana membasuh muka

dan tangan, yang merupakan pandangan mayoritas kalangan

Sunni.32

saat  bacaan-bacaan non-utsmani serta yang dikenal secara

teknis sebagai tashhîf33  dimasukkan ke dalam pertimbangan, maka

perbedaan vokalisasi dan pemberian titik-titik diakritis untuk

kerangka grafis senada yang mengakibatkan munculnya perbedaan-

perbedaan makna yang cukup signifikan akan terlihat jelas. Dalam

bab 4 dan 5, saat  membahas beberapa mushaf pra-utsmani,

masalah yang bertalian dengan perbedaan vokalisasi dan pemberian

titik diakritis ini telah dikemukakan secara panjang lebar dan,

sebab  itu, tidak perlu dibahas lagi di sini. Bahkan, dalam kedua

bab ini  juga telah diungkapkan berbagai penyimpangan

tekstual – berupa penambahan atau pengurangan kata, kalimat,

ayat dan juga surat serta lainnya – yang pada gilirannya

membedakan berbagai mushaf pra-utsmani ini  dengan teks

dan bacaan dalam tradisi mushaf utsmani. namun , tentu saja, yang

REKONSTRUKSI SEJARAH AL-QURAN  /  315

disebut belakangan itu tidak memiliki relevansi nyata dengan tujuan

pembahasan bab ini.

Sehubungan dengan tashhîf atau kekeliruan pembacaan

terhadap textus receptus yang disalin dalam scriptio defectiva,

ilustrasi berikut bisa dikemukakan untuk menggambarkannya.

Dikabarkan bahwa seseorang ilmuwan bernama Utsman ibn Abi

Syaibah (w. 851), salah seorang guru ahli hadits terkenal, Bukhari,

membaca kerangka konsonantal = dalam 2:265 – dalam lectio

vulgata dibaca thall, “hujan gerimis” – sebagai zhill, “naungan.”

Kerangka grafis  dalam 5:4 – dalam teks utsmani dibaca jawãrih

, “binatang buas dan burung pemakan daging” – dibaca sebagai

khawãrij, “yang keluar.” Kerangka konsonantal R+ dalam 26:130

– dalam bacaan resmi terbaca jabbãrîn ,“tiran” – dibaca sebagai

khabbãzîn, “tukang roti.” Terakhir, bentuk grafis  dalam 12:70

– dalam mushaf utsmani dibaca rahl, “pelana atau bagasi (kantung

muatan)” – dibaca sebagai rijl, “kaki.”34

Dari berbagai ilustrasi yang telah diutarakan, ditambah

berbagai ilustrasi yang dikemukakan di awal bab ini tentang

karakteristik ortografi utsmani, terlihat sangat memungkinkan

untuk mengemukakan asumsi bahwa salah satu penyebab

timbulnya perbedaan bacaan al-Quran yaitu  tulisan yang

digunakan saat  itu untuk menyalin mushaf resmi – yakni scriptio

defectiva, aksara primitif yang belum memiliki tanda-tanda  vokal

dan titik-titik diakritis pembeda konsonan bersimbol sama. namun ,

kesimpulan semacam ini, tentu saja, tidak dapat diterima mayoritas

sarjana Islam, sekalipun ilustrasi tentang tashhîf secara jelas

memperlihatkan bahwa kesalahan membaca teks al-Quran yang

disalin dengan aksara lama itu betul-betul terjadi. Bagi mereka,

berbagai perbedaan bacaan – terutama dalam tradisi teks utsmani,

khususnya dalam kategori kiraat mutawãtir dan, hingga taraf

tertentu, kiraat masyhûr – merupakan ragam bacaan yang

bersumber dari Nabi Muhammad, dan sebab  itu memiliki otoritas

ilahiyah. Berbagai bacaan resmi atau lectio vulgata itu

ditransmisikan secara oral dari generasi ke generasi, mulai dari

mulut Nabi sendiri yang menerimanya melalui wahyu. sebab 

itu, bacaan-bacaan aktual al-Quran ini  merupakan tradisi oral

otonom yang terpisah dari teks-teks tertulis.

Setiap bacaan resmi dalam tradisi utsmani, menurut sudut

316  /  TAUFIK ADNAN AMAL

pandang ini, telah ditransmisikan melalui mata rantai periwayatan

(asãnîd) yang independen dan otoritatif dalam suatu skala yang

sangat luas, sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan atau

kekeliruan secara sederhana bisa dikesampingkan. Prinsip yang

dikedepankan di sini yaitu  bahwa beberapa  besar pembaca al-

Quran (qurrã’) yang tersebar di berbagai wilayah Islam tidak

mungkin bersepakat pada suatu kekeliruan atau merekayasa bacaan

al-Quran. Prinsip inilah yang dalam literatur Islam diistilahkan

sebagai tawãtur. Dengan demikian, teks tertulis cuma hanya  memiliki

peran yang sangat terbatas.35  namun , sebagaimana akan ditunjukkan

dalam bab mendatang, prinsip tawãtur dalam kiraah ini masih

layak dipertanyakan.

Dalam rangka menjamin independensi bacaan al-Quran

sebagai suatu tradisi oral, para sarjana Muslim selama berabad-

abad telah melarang penyandaran diri semata-mata pada teks tertulis

saat  mempelajari al-Quran. Badr al-Din Muhammad Ibrahim

Sa‘d Allah al-Kinani