Kisah pararasul 18

Senin, 10 Februari 2025

Kisah pararasul 18



 ah sangat mengacaukan 

jemaat Galatia, dengan menyesatkan mereka supaya menen-

tang Paulus dan menjauhkan mereka dari Injil Kristus, sebab  

dalam suratnya Paulus menegur mereka dengan keras menge-

nai hal itu. Namun mungkin peristiwa itu terjadi cukup lama 

setelah ini. 

2.  saat  itu mereka dicegah untuk memberitakan Injil di Asia 

(daerah itu memang disebut demikian). Ini sebab  daerah itu 


 678

tidak membutuhkan mereka, sebab sudah ada orang lain yang 

melakukannya di sana. Atau sebab  saat itu orang-orang di 

sana belum siap menerima Injil, seperti sesudah itu (19:10), 

 saat  semua penduduk Asia mendengar firman Tuhan. Atau, 

seperti pendapat Dr. Lightfoot, sebab  pada saat itu Kristus 

mau menugaskan Paulus di dalam pekerjaan yang baru, yaitu 

memberitakan Injil kepada sebuah daerah jajahan Roma di 

Filipi, sebab  hingga saat itu orang bukan-Yahudi yang diinjili 

olehnya hanya orang Yunani. Orang Yahudi lebih membenci 

orang Romawi jika dibandingkan dengan orang-orang bukan-

Yahudi lainnya. Pasukan Romawi yaitu  pembinasa keji. Ka-

rena itu, untuk alasan yang luar biasa khususnya di dalam 

panggilannya selama itu, Paulus dilarang memberitakan Injil 

di Asia dan di tempat lain, supaya ia memberitakan Injil di 

Filipi. Hal ini menyiratkan bahwa setelah itu terang Injil akan 

bergerak lebih ke barat dibandingkan  ke timur. Roh Kuduslah yang 

mencegah mereka, entah itu melalui bisikan batin dalam 

pikiran mereka, dan  saat  mereka saling membandingkannya, 

ternyata isinya sama dan juga berasal dari Roh yang sama. 

Atau, melalui beberapa nabi yang menyampaikan perkataan 

Roh kepada mereka. Pemindahan hamba-hamba Tuhan dan 

penghentian penyaluran sarana kasih karunia melalui mereka, 

terjadi sesuai dengan tuntunan dan petunjuk Tuhan . Kita mene-

mukan dalam Perjanjian Lama seorang hamba Tuhan dilarang 

untuk memberitakan firman sama sekali (Yeh. 3:26), engkau 

akan menjadi bisu. Namun para pelayan di zaman Perjanjian 

Baru ini dilarang memberitakan firman di satu tempat saja, se-

mentara mereka diarahkan ke tempat lain yang lebih mem-

butuhkan. 

3. Mereka hendak pergi ke Bitinia,namun  tidak diizinkan. Roh Ye-

sus tidak mengizinkan mereka (ay. 7). Mereka datang ke Misia, 

dan tampaknya memberitakan Injil di sana. sebab  meskipun 

Misia yaitu  suatu daerah yang sangat hina, bahkan dipakai 

dalam perumpamaan (Mysorum ultimus, menurut Cicero, yang 

artinya orang yang paling hina), namun para pemberita Injil 

tidak merasa terhina untuk mengunjunginya, sebagai orang 

yang berutang baik kepada orang terpelajar, maupun kepada 

orang tidak terpelajar (Rm. 1:14). Di Bitinia ada kota 

Nicaea, di mana konsili umum pertama diadakan untuk me-

Kitab Kisah Para Rasul 16:6-15 

 

 679 

nentang para pengikut ajaran Arius (yang beranggapan bahwa 

Yesus tidak satu dengan Bapanamun  diciptakan untuk mencip-

takan dunia – pen.). Ke daerah-daerah inilah Petrus mengirim-

kan suratnya (1Ptr. 1:1). Juga, di sini ada jemaat-jemaat yang 

sedang berkembang, sebab , meskipun saat itu Injil belum 

diberitakan kepada mereka, tidak lama sesudahnya mereka 

mendengar Injil  saat  tiba giliran mereka. Perhatikan, meski-

pun mereka memutuskan dan hendak pergi ke Bitinia, namun 

setelah mengetahui kehendak Tuhan  secara luar biasa, mereka 

taat dan berubah pikiran. Kita harus mematuhi sang Peme-

lihara Tuhan , dan tunduk pada tuntunan tiang awan dan tiang 

api. Jika Dia tidak mengizinkan kita melakukan apa yang hen-

dak kita lakukan, kita harus patuh, dan percaya bahwa itulah 

yang terbaik. Roh Yesus tidak mengizinkan mereka. Banyak 

salinan kuno menafsirkannya demikian. Hamba-hamba Tuhan 

Yesus harus selalu ada di bawah pemeriksaan dan pimpinan 

Roh Tuhan Yesus, yang mengatur pikiran manusia.     

4. Mereka melintasi Misia, atau melewatinya (begitulah menurut 

beberapa orang). Kita bisa menduga bahwa mereka menabur-

kan benih yang baik,  saat  mereka melewatinya. Lalu mereka 

pergi ke Troas, yaitu kota Troya, yang banyak dibicarakan 

orang, atau ke daerah-daerah sekitarnya, yang mengambil na-

manya dari nama kota itu. Di sini ada jemaat yang ditanam, 

sebab  di sini kita melihat ada gereja yang sedang dibentuk 

(20:6-7), dan mungkin benihnya ditanam pada saat itu, dalam 

masa yang singkat. Agaknya Lukas bertemu dengan Paulus di 

Troas, dan menjadi rekan sekerjanya, sebab  mulai saat itu-

lah,  saat  berbicara tentang perjalanan Paulus, kebanyakan 

Lukas menempatkan dirinya termasuk salah satu dari orang 

yang ada dalam rombongan Paulus, dan menggunakan kata 

kami pergi (ay. 10). 

II. Panggilan Paulus secara khusus ke Makedonia, yaitu Filipi, ibu 

kotanya, yang agaknya penduduknya kebanyakan orang Roma (ay. 

21). Di sini kita dapati, 

1. Penglihatan yang didapatkan Paulus (ay. 9). Paulus memper-

oleh banyak penglihatan, terkadang untuk menguatkan, terka-

dang seperti di sini, untuk menuntunnya dalam melakukan 

pekerjaan. Seorang malaikat muncul di hadapannya, untuk 


 680

mengatakan kepadanya bahwa Kristus ingin supaya ia pergi ke 

Makedonia. Semoga ia tidak menjadi kecewa dengan larangan 

yang diberikan kepadanya lagi dan lagi, yang menghalangi apa 

yang telah direncanakannya. Sebab, meskipun tidak pergi ke 

tempat yang dipikirkannya, ia pergi ke tempat di mana Tuhan  

menyediakan pekerjaan baginya. Sekarang perhatikanlah, 

(1) Orang yang dilihat Paulus. Di hadapannya berdirilah se-

orang Makedonia, yang dikenali oleh Paulus melalui sikap 

atau logat bicaranya. Atau, mungkin orang itu memberita-

hukannya bahwa ia yaitu  orang Makedonia. Menurut be-

berapa orang, malaikat itu mengambil wujud orang yang 

seperti itu. Atau, seperti anggapan sebagian orang lain, ma-

laikat itu memberi kesan dalam benak Paulus,  saat  Pau-

lus dalam keadaan setengah tidur setengah terjaga, gam-

baran seorang manusia seperti itu, yaitu ia bermimpi meli-

hat orang yang demikian. Kristus menyuruh Paulus ke 

Makedonia, tidak seperti para rasul di lain waktu, yang di-

sampaikan melalui utusan dari sorga, dan menyuruh me-

reka ke sana, melainkan melalui seorang utusan yang ber-

asal dari tempat itu, yang memanggilnya ke tempat ini . 

Dengan cara ini, setelah peristiwa ini, Kristus akan meng-

arahkan arah gerakan para pelayan-Nya dengan jalan biasa 

saja, yaitu dengan menggerakkan hati orang-orang yang 

membutuhkan mereka untuk mengundang mereka. Paulus 

akan diundang ke Makedonia oleh seorang Makedonia, dan 

orang itu berbicara atas nama orang-orang Makedonia yang 

lainnya. Beberapa orang beranggapan bahwa orang ini ada-

lah malaikat penjaga wilayah Makedonia, berdasarkan pe-

mikiran bahwa malaikat juga memiliki tugas untuk men-

jaga beberapa wilayah tertentu selain menjaga orang demi 

orang. Hal demikian memang banyak dikatakan, seperti da-

lam  Daniel 10:20, di mana kita membaca tentang pemimpin 

orang Persia dan Yunani, yang sepertinya yaitu  para malai-

kat. Namun tidak ada kepastian tentang hal ini. Gambaran 

seorang Makedonia muncul entah di mata Paulus atau di 

dalam hatinya. Malaikat itu tidak boleh memberitakan Injil 

sendiri kepada orang-orang Makedonia,namun  harus mem-

bawa Paulus kepada mereka. Ia juga tidak menggunakan 

kuasanya sebagai seorang malaikat untuk memerintah 

Kitab Kisah Para Rasul 16:6-15 

 

 681 

Paulus pergi,namun  menggunakan wujud seorang Make-

donia yang mengundangnya supaya datang. Seorang Make-

donia, yang bukan seorang pembesar di wilayah itu, apalagi 

seorang imam (Paulus tidak terbiasa menerima undangan 

dari orang yang demikian), melainkan seorang penduduk 

biasa di wilayah itu, seorang rakyat biasa, yang pada wajah-

nya tersirat kejujuran dan kesungguhan. Ia datang bukan 

untuk mempermainkan Paulus atau menggodanya, melain-

kan dengan sungguh-sungguh dan dengan segenap kesung-

guhannya untuk memohon bantuannya. 

(2) Undangan yang ditujukan kepada Paulus. Orang Make-

donia yang jujur ini berseru kepadanya, katanya:  Menye-

beranglah ke mari dan tolonglah kami!” Yakni,  Datanglah 

dan beritakanlah Injil kepada kami. Kiranya kami memper-

oleh keuntungan dari jerih payahmu.” 

[1]  Engkau telah menolong banyak orang. Kami telah men-

dengar tentang orang-orang yang kamu tolong di daerah 

ini dan daerah-daerah lainnya, yang sangat tertolong 

olehmu. Dan mengapa kami tidak mendapat bagian? 

Oh, datanglah dan tolong kami.” Jika orang lain mene-

rima keuntungan dari Injil, maka itu haruslah mendo-

rong kita untuk mempertanyakan, atau mempertanya-

kan lebih jauh, tentang hal itu.  

[2]  Itulah pekerjaanmu, dan sukacitamu, untuk menolong 

jiwa-jiwa yang malang. Engkau yaitu  tabib bagi orang 

sakit, yang siap dipanggil oleh siapa saja yang sakit. Oh, 

datanglah dan tolong kami.” 

[3]  Kami membutuhkan pertolonganmu, sama seperti ba-

nyak orang lainnya. Kami di Makedonia tidak tahu apa-

apa dan tidak peduli terhadap agama, sama seperti se-

mua orang lain di dunia. Kami juga menyembah berhala 

dan sama jahatnya seperti yang lainnya, dan juga rajin 

serta tekun untuk menghancurkan diri sendiri, seperti 

yang lain-lainnya. sebab  itu, datanglah, datanglah 

cepat-cepat kemari. Jika engkau dapat berbuat sesuatu, 

kasihanilah dan tolonglah kami.” 

[4]  Sedikit saja dari kami yang memahami hal-hal Tuhan , 

serta peduli terhadap jiwa mereka dan jiwa orang lain, 

dan telah mengerjakan apa yang dapat dikerjakan, de-


 682

ngan bantuan terang alam. Aku telah mengerjakan ba-

gianku. Kami telah mengusahakannya sejauh mungkin, 

meyakinkan sesama kami supaya takut akan Tuhan  dan 

menyembah Dia,namun  hanya sedikit yang bisa kami 

lakukan terhadap mereka. Oh, datanglah kemari, dan 

tolong kami. Injil yang engkau beritakan memiliki alasan 

dan kuasa yang melampaui apa yang kami punyai.” 

[5]  Jangan hanya menolong kami dengan doamu saja, ka-

rena itu tidak ada gunanya. Engkau harus datang dan 

menolong kami.” Perhatikan, banyak orang sangat me-

merlukan pertolongan bagi jiwa mereka, dan merupa-

kan tugas merekalah untuk mencari pertolongan itu 

dan mengundang orang-orang yang sanggup menolong 

mereka. 

2. Tafsiran atas penglihatan ini  (ay. 10). Mereka menarik ke-

simpulan, bahwa Tuhan  telah memanggil mereka untuk mem-

beritakan Injil kepada orang-orang di sana. Dan mereka pun 

siap pergi ke mana pun Tuhan  menyuruh mereka. Perhatikan, 

kadang-kadang kita bisa menyimpulkan adanya suatu pang-

gilan dari Tuhan  berdasarkan suatu panggilan yang dialami se-

seorang. Jika seorang Makedonia berkata,  Datanglah dan 

tolonglah kami,” maka dari situ Paulus menarik kesimpulan 

bahwa Tuhan  berkata,  Pergilah dan tolonglah mereka.” Para pe-

layan harus berangkat dengan penuh sukacita dan keberanian 

dalam bekerja  saat  mereka merasakan bahwa Kristus me-

manggil mereka, bukan hanya untuk memberitakan Injil, me-

lainkan untuk memberitakannya pada saat tertentu, di tempat 

tertentu, dan kepada orang-orang tertentu. 

III. Pelayaran Paulus ke Makedonia segera sesudah itu: Dia tidak per-

nah tidak taat kepada penglihatan yang dari sorga itu,namun  ia 

mengikuti tuntunan Tuhan  ini dengan lebih bersukacita dan lebih 

puas lagi dibandingkan  bila ia menuruti rencana atau dorongan hati-

nya sendiri. 

1. Di sana Paulus berubah pikiran. Setelah mengetahui kehen-

dak Tuhan  dalam hal itu, Paulus menjadi yakin, sebab  hanya 

inilah yang diinginkannya. Sekarang ia tidak lagi berpikir ten-

tang Asia, atau Bitinia,namun  segeralah mereka mencari kesem-

Kitab Kisah Para Rasul 16:6-15 

 

 683 

patan untuk berangkat ke Makedonia. Hanya Paulus yang men-

dapatkan penglihatan,namun  ia menyampaikannya kepada 

rekan-rekannya, dan sebab  percaya, mereka semua pun me-

mutuskan untuk pergi ke Makedonia. Sebagaimana Paulus 

mau mengikuti Kristus, demikian juga semua pengikut Paulus 

mau mengikuti dirinya, atau lebih tepatnya mengikuti Kristus 

bersamanya. Mereka segera mempersiapkan segala sesuatu 

untuk melakukan perjalanan ini, tanpa menunda-nunda lagi. 

Perhatikan, panggilan Tuhan  harus ditanggapi dengan segera. 

Seperti halnya kita tidak boleh berbantah untuk taat, begitu 

juga kita tidak boleh menunda untuk taat. Kerjakanlah hal itu 

sekarang juga, jangan sampai hatimu menjadi keras. Perhati-

kan, Paulus dan rekan-rekannya tidak bisa segera berangkat 

ke Makedonia, namun mereka segera berusaha melakukannya. 

Jika kita tidak bisa bertindak secepat mungkin, maka kita bisa 

berusaha untuk melakukannya, dan ini akan dimaklumi.  

2. Dari sana Paulus memulai perjalanannya. Begitu anginnya 

baik, mereka bertolak dengan kapal pertama dari Troas. Me-

reka ingin memastikan lebih dulu bahwa mereka telah me-

ngerjakan apa yang harus dikerjakan di sana  saat  Tuhan  me-

manggil mereka ke tempat lain. Mereka langsung berlayar ke 

Samotrake, dengan sebuah pelayaran yang lancar. Keesokan 

harinya tibalah mereka di Neapolis, sebuah kota di perbatasan 

Trake dan Makedonia. Akhirnya mereka berlabuh di Filipi, se-

buah kota yang namanya diambil dari Philip, raja Makedonia, 

yaitu ayah Aleksander Agung. Disebutkan bahwa kota itu ada-

lah (ay. 12),  

 (1) Kota terbesar di bagian Makedonia ini (KJV). Atau, seperti 

yang ditafsirkan oleh beberapa orang, kota pertama, yaitu 

kota pertama yang mereka kunjungi sejak berangkat dari 

Troas. Seperti halnya pasukan yang ingin menguasai wila-

yah yang mereka datangi memulainya dengan menakluk-

kan tempat pertama yang mereka kunjungi, begitu juga 

Paulus dan rekan-rekannya. Mereka memulai dengan kota 

pertama, sebab  jika  Injil sudah diterima di sana, maka 

Injil akan lebih mudah disebarkan di seluruh wilayah ter-

sebut.  

 (2) Suatu kota perantauan orang Roma. Orang-orang Romawi 

tidak hanya memiliki sepasukan penjaga di sana,namun  juga 


 684

penduduk kota itu yaitu  orang-orang Roma, setidaknya 

para pembesarnya, serta orang-orang yang duduk di peme-

rintahan. Di sana ada beraneka macam orang, sehingga ada 

banyak kesempatan untuk berbuat baik di sana. 

IV. Sambutan dingin yang diterima Paulus dan rekan-rekannya di 

Filipi. Orang akan berharap bahwa dengan memperoleh panggilan 

yang begitu khusus dari Tuhan  dari tempat itu, mereka akan men-

dapatkan sambutan penuh sukacita di sana, seperti yang diterima 

Petrus dari Kornelius  saat  malaikat mengutus Paulus ke tem-

patnya. Di manakah orang Makedonia yang memohon kepada 

Paulus untuk datang segera? Mengapa ia tidak menggerakkan 

orang sebangsanya, setidaknya beberapa, untuk pergi dan men-

jumpai Paulus? Mengapa Paulus tidak diterima dengan upacara 

penyambutan, dan memberi  kepadanya kunci kota itu? Tidak 

ada hal semacam itu yang terjadi, sebab , 

1. Perlu beberapa waktu sebelum semua perhatian diarahkan ke-

pada Paulus. Di kota itu kami tinggal beberapa hari, mungkin 

di penginapan, dan mereka membayarnya sendiri, sebab  ti-

dak ada teman yang mengundang mereka, bahkan untuk ma-

kan pun tidak, sampai Lidia menjamu mereka. Mereka telah 

berusaha secepat mungkin untuk sampai ke sana,namun  se-

telah tiba di sana, mereka hampir tergoda untuk berpikir bah-

wa lebih baik seandainya mereka tidak berangkat. Namun ini 

memang telah diatur untuk menguji apakah mereka mampu 

menanggungnya,  saat  mereka diabaikan dan menganggur. 

Orang-orang yang luar biasa dan berguna tidak pantas hidup 

di dunia ini bila mereka tidak tahu rasanya tidak diacuhkan 

dan diabaikan orang. Jangan sampai para pelayan Tuhan 

menganggap aneh jika mula-mula mereka didesak kuat-kuat 

untuk datang ke suatu tempat,namun   saat  tiba mereka tidak 

dipedulikan.  

2.  saat  mereka memperoleh kesempatan untuk memberitakan 

firman, tempatnya tersembunyi, sederhana dan kecil saja (ay. 

13). Di sana tampaknya tidak ada tempat ibadah orang 

Yahudi, yang bisa menjadi pintu masuk bagi mereka, dan me-

reka juga tidak pernah pergi ke kuil berhala orang-orang kafir 

untuk memberitakan firman di mimbarnya. Namun di sini, 

dengan melakukan pengamatan, mereka menemukan ada se-

Kitab Kisah Para Rasul 16:6-15 

 

 685 

buah pertemuan kecil yang diadakan oleh para wanita baik-

baik, yang merupakan penganut baru ajaran Yahudi. Para 

wanita ini boleh jadi akan berterima kasih kepada Paulus dan 

rekan-rekannya jika mau memberitakan firman kepada me-

reka. Tempat pertemuan itu ada di luar pintu gerbang kota. Di 

sana pertemuan semacam itu tidak dilarang, namun tidak 

akan dibiarkan jika diadakan di mana pun di dalam kota. Itu 

yaitu  suatu tempat sembahyang Yahudi (KJV: tempat di mana 

doa biasa dinaikkan – pen.), proseuchē – suatu rumah doa 

(begitulah menurut beberapa orang), suatu kapel, atau sina-

goge yang lebih kecil. Namun saya cenderung menganggapnya 

seperti yang kita baca, yaitu di mana doa dipanjatkan atau 

biasa dipanjatkan. Orang-orang yang menyembah Tuhan  yang 

sejati, dan tidak mau menyembah berhala, bertemu di sana 

untuk berdoa bersama, dan, sebagaimana menurut gambaran 

doa yang paling kuno dan paling umum, untuk memanggil 

nama Tuhan. Masing-masing dari mereka berdoa sendiri-sen-

diri setiap hari, sebab  inilah yang selalu dilakukan orang-

orang yang menyembah Tuhan . Namun di samping itu, mereka 

datang berkumpul pada hari Sabat. Meskipun mereka hanya 

sedikit jumlahnya dan tidak disukai di kota itu, meskipun 

pertemuan itu diadakan jauh-jauh, meskipun agaknya hanya 

diikuti kaum wanita saja, namun pertemuan ibadah para 

penyembah Tuhan  yang sejati harus dilakukan, jika memung-

kinkan, di hari Sabat. Jika tidak bisa melakukannya persis 

seperti yang kita inginkan, maka kita harus melakukannya 

semampu kita. Jika tidak punya tempat ibadah, kita harus 

bersyukur dengan adanya tempat yang cukup tersembunyi, dan 

berkumpul di sana, sebab  kita tidak boleh menjauhkan diri dari 

pertemuan-pertemuan ibadah kita, selama masih ada kesempat-

an. Dikatakan bahwa tempat ini berada di tepi sungai, yang 

mungkin dipilih sebab  nyaman untuk dipakai untuk mere-

nung. Dikatakan bahwa para penyembah berhala memiliki ba-

gian mereka pada batu-batu licin dari sungai (Yes. 57:6). Na-

mun mungkin para penganut Yahudi ini mengingat teladan 

para nabi yang memperoleh penglihatan, seorang di tepi sungai 

Kebar (Yeh. 1:1), sedang  yang lain di tepi sungai Tigris yang 

besar (Dan. 10:4). Ke sanalah Paulus dan Silas dan Lukas 

pergi, dan duduk untuk mengajar jemaat itu, sehingga mereka 


 686

dapat berdoa dengan lebih baik bersama-sama. Mereka ber-

bicara kepada perempuan-perempuan yang ada berkumpul di 

situ, mendorong mereka untuk melakukan apa yang telah me-

reka ketahui, dan menuntun mereka untuk mengenal Kristus 

lebih jauh.  

V. Pertobatan Lidia, yang mungkin yaitu  orang pertama di sana 

yang menjadi percaya kepada Kristus, meskipun bukan yang ter-

akhir. Dalam Kisah Para Rasul, tidak hanya diceritakan mengenai 

tempat-tempat yang dimenangkan,namun  juga banyak orang se-

cara pribadi. sebab  begitu berharganya jiwa-jiwa, sehingga satu 

orang yang dimenangkan saja sangat berarti bagi Tuhan . Di situ 

juga tidak hanya diceritakan tentang orang yang dimenangkan 

melalui mujizat, seperti Paulus,namun  juga beberapa peristiwa 

yang terjadi melalui cara anugerah yang biasa, seperti Lidia di 

sini. Perhatikan, 

1. Siapakah orang yang dimenangkan ini, sampai-sampai keja-

diannya dicatat secara khusus. Ada empat hal yang dicatat 

mengenai dirinya: 

(1) Namanya, yaitu Lidia. Merupakan suatu kehormatan bagi-

nya bahwa namanya dicatat dalam kitab Tuhan , sehingga di 

mana pun firman dibaca, hal mengenai dia ini akan disebut 

juga. Perhatikan, nama-nama orang kudus berharga bagi 

Tuhan , dan seharusnya demikian pula bagi kita. Kita tidak 

bisa membuat nama kita tercatat di Alkitab. Namun, jika 

Tuhan  membuka hati kita, nama kita akan tercantum di da-

lam kitab kehidupan, dan ini lebih baik (Fil. 4:3), dan mem-

buat kita lebih bersukacita (Luk. 10:20). 

(2) Panggilannya. Lidia yaitu  seorang penjual kain ungu, baik 

zat pewarna kain ungu maupun kain atau sutra yang ber-

warna ungu. Perhatikan, 

[1] Lidia memiliki panggilan, yaitu suatu panggilan yang 

sejati, yang dicatat oleh penulis kitab ini sebagai pujian 

baginya. Ia tidak seperti para wanita yang disebutkan 

oleh Paulus (1Tim. 5:13), yang membiasakan diri berma-

las-malas dan bukan hanya bermalas-malas saja, dan 

sebagainya. 

Kitab Kisah Para Rasul 16:6-15 

 

 687 

[2] Itu merupakan sebuah panggilan yang sederhana. Lidia 

yaitu  penjual kain ungu, bukan pemakai kain ungu. 

Sedikit saja orang yang dipanggil demikian. Yang pen-

ting di sini ialah bahwa hal ini menjelaskan bahwa me-

reka yang bekerja dalam panggilan yang sejati, jika di-

kerjakan dengan sungguh-sungguh, mereka tidak perlu 

malu akan pekerjaan itu. 

[3] Meskipun memiliki panggilan untuk bekerja, namun 

Lidia yaitu  seorang penyembah Tuhan , dan selalu men-

cari waktu untuk meningkatkan keuntungan bagi jiwa-

nya. Pekerjaan yang kita kerjakan berdasarkan panggilan 

kita bisa dibuat supaya sejalan dengan urusan ibadah. 

sebab  itu, pekerjaan bukan alasan bagi kita untuk 

menghindari ibadah, keluarga, dan pertemuan jemaat, 

dengan mengatakan, Kami harus mengurus toko, dan 

harus berjualan. Bukankah kita juga memiliki Tuhan  

yang harus kita layani, dan jiwa yang harus kita peli-

hara? Agama tidak memanggil kita untuk menjauh dari 

pekerjaan kita di dunia,namun  untuk menuntun kita di 

dalamnya. Segala sesuatu ada tempat dan masanya. 

(3) Dari mana ia berasal, dari kota Tiatira, yang sangat jauh 

dari Filipi. Di sanalah Lidia lahir dan dibesarkan, dan sete-

lah itu ia berkeluarga di Filipi atau pindah ke sana sebab  

berdagang. Pemeliharaan Tuhan , selain selalu menentukan, 

juga seringkali memindahkan batas-batas kediaman kita. 

Terkadang Dia membuat perubahan terhadap keadaan la-

hiriah kita atau tempat kediaman kita sehingga menjadi sa-

ngat sesuai dengan rancangan kasih karunia-Nya, yang 

berkaitan dengan keselamatan kita. Pemeliharaan Tuhan  

membawa Lidia ke Filipi, supaya dilayani oleh Paulus. Dan 

di situ, di mana ia dilayani, ia memanfaatkannya. Begitu 

juga seharusnya kita memanfaatkan segala kesempatan.  

(4) Agama yang dianut Lidia sebelum Tuhan membuka hati-

nya. 

[1] Ia menyembah Tuhan  sesuai dengan pengetahuan yang 

dimilikinya. Ia yaitu  salah seorang wanita yang saleh. 

Terkadang anugerah Tuhan  bekerja atas orang-orang 

yang  saat  belum dimenangkan sangat jahat dan keji, 


 688

seperti para pemungut cukai dan orang sundal. Be-

berapa orang di antara kamu demikianlah dahulu (1Kor. 

6:11). Namun terkadang anugerah Tuhan  dinyatakan ke-

pada orang-orang yang bersifat baik, yang memiliki se-

suatu yang baik di dalam diri mereka, seperti sida-sida 

dari Etiopia itu, Kornelius, serta Lidia. Perhatikanlah, 

menjadi seorang penyembah Tuhan  saja tidak cukup, 

kita juga harus percaya kepada Yesus Kristus, sebab  

tidak seorang pun bisa menghampiri Tuhan  sebagai Bapa 

selain melalui Dia sebagai Pengantara. Namun mereka 

yang menyembah Tuhan  menurut terang yang mereka 

miliki, sudah tidak jauh lagi dari perjumpaan dengan 

Kristus, serta kasih karunia-Nya bagi mereka. sebab  

siapa yang memiliki , kepadanya akan diberi, dan me-

reka akan menyambut Kristus dengan tangan terbuka. 

Sebab, orang yang tahu apa artinya menyembah Tuhan  

mengetahui bahwa mereka membutuhkan Kristus, dan 

tahu bagaimana memanfaatkan perantaraan-Nya. 

[2] Ia mendengarkan para pemberita Injil itu. Di sini, di 

mana doa dipanjatkan,  saat  ada kesempatan, firman 

diberitakan. Mendengarkan firman Tuhan  merupakan ba-

gian dari ibadah, dan bagaimana kita bisa mengharap-

kan Tuhan  mendengar doa kita jika kita tidak mende-

ngarkan firman-Nya? Barangsiapa menyembah Tuhan  

menurut terang yang mereka miliki, akan mencari te-

rang yang lebih lanjut lagi. Kita harus memanfaatkan 

hari peristiwa-peristiwa yang kecil,namun  tidak boleh 

berdiam terus di dalamnya. 

2. Apa yang dikerjakan atas dia: Tuhan membuka hatinya. Per-

hatikan di sini, 

(1) Siapa yang melakukannya. Yang melakukannya yaitu  Tu-

han, yaitu Kristus, kepada siapa Lidia memberi  hatinya. 

Yaitu Roh Tuhan, yang menguduskan. Perhatikan, karya 

pertobatan yaitu  pekerjaan Tuhan . Dialah yang mengerja-

kan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan. Bukan 

seolah-olah sebab  tidak ada yang perlu kita kerjakan, me-

lainkan sebab  tanpa kasih karunia Tuhan  kita tidak bisa 

berbuat apa-apa. Bukan juga seolah-olah sebab  Tuhan lah 

Kitab Kisah Para Rasul 16:6-15 

 

 689 

yang paling tidak perlu bertanggungjawab atas kehancuran 

orang-orang yang binasa, melainkan sebab  keselamatan 

yang diterima oleh orang-orang yang diselamatkan harus 

ditujukan sepenuhnya kepada-Nya. 

(2) Di mana terjadinya. Perubahan terjadi di dalam hati. Di 

dalam hatilah perubahan yang indah ini diberikan. Di da-

lam hati Lidialah peristiwa ini dikerjakan. Karya pertobatan 

yaitu  pekerjaan hati. Itu merupakan suatu pembaharuan 

hati, manusia batiniah, roh dan pikiran. 

(3) Sifat pekerjaan ini. Hati Lidia tidak hanya tersentuh,namun  

juga terbuka. Hati yang belum bertobat berada dalam ke-

adaan tertutup, dan dikeraskan melawan Kristus. Hatinya 

tertutup rapat-rapat, seperti kota Yerikho menutup diri 

terhadap Yosua (Yos. 6:1).  saat  Kristus sedang berurusan 

dengan jiwa ini , Ia mengetuk pintu yang tertutup 

bagi-Nya itu (Why. 3:20).  saat  pada akhirnya seorang 

pendosa tergerak untuk menerima Kristus, hatinya terbuka 

supaya Raja Kemuliaan itu masuk. Pikirannya terbuka un-

tuk menerima terang Tuhan , kehendaknya terbuka untuk 

menerima hukum Tuhan , dan perasaannya terbuka untuk 

menerima kasih Tuhan . Maka  saat  hati terbuka bagi Kris-

tus, telinga menjadi terbuka akan firman-Nya, mulut pun 

terbuka untuk berdoa, tangan terbuka untuk bersedekah, 

dan langkah kita diperlebar untuk menaati Injil dalam se-

gala hal.  

3. Apa akibat dari pekerjaan di dalam hati Lidia ini. 

(1) Ia sangat memperhatikan firman Tuhan . Hatinya terbuka be-

gitu lebar sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan 

oleh Paulus. Ia tidak hanya mendengar firman yang disam-

paikan Paulus,namun  juga memperhatikannya. Dia mem-

praktikkan (beberapa orang menafsirkannya demikian) apa 

yang dikatakan oleh Paulus. Firman menghasilkan sesuatu 

yang baik bagi kita dan menimbulkan kesan yang men-

dalam pada diri kita, hanya  saat  kita mempraktikkannya. 

Ini yaitu  bukti bahwa hati Lidia terbuka, dan merupakan 

buah darinya.  saat  hati terbuka melalui kasih karunia 

Tuhan , maka hal itu akan tampak melalui kesungguhan da-

lam mendengarkan dan memperhatikan firman Tuhan , baik 


 690

demi Kristus, yang punya firman itu, maupun demi diri 

kita sendiri, yang begitu punya kepentingan di dalamnya.  

(2) Lidia memberi  diri kepada Yesus Kristus, dan memeluk 

agama-Nya yang kudus. Ia dibaptis, dan melalui upacara 

yang khusyuk ini seorang anggota ditambahkan pada je-

maat Kristus. Bersama dengan dia, seisi rumahnya juga di-

baptis, baik mereka yang lahir di rumahnya, sebab  jika 

akarnya kudus maka demikian pula cabangnya, maupun 

orang dewasa yang ada di bawah pengaruh dan wewenang-

nya. Lidia dan seisi rumahnya dibaptis menurut peraturan 

yang sama dengan yang menjadikan Abraham dan seisi 

rumahnya disunat, sebab  meterai kovenan berlaku bagi 

pihak-pihak yang berjanji beserta keturunan mereka.  

(3) Lidia bersikap sangat ramah terhadap para pelayan Tuhan 

itu, dan sangat ingin supaya diajar lebih jauh lagi oleh me-

reka tentang Kerajaan Tuhan . Ia mengajak kami, katanya, 

 Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh per-

caya kepada Tuhan, jika kamu percaya bahwa aku yaitu  

seorang Kristen yang sungguh-sungguh, maka tunjukkan-

lah kepercayaanmu itu terhadapku dengan ini, marilah 

menumpang di rumahku.” Melalui hal ini Lidia mengingin-

kan suatu kesempatan, 

[1] Untuk memperlihatkan rasa terima kasihnya kepada 

orang-orang yang telah menjadi alat untuk mencurah-

kan kasih karunia Tuhan  yang telah mengerjakan per-

ubahan di dalam dirinya.  saat  hatinya terbuka bagi 

Kristus, rumahnya juga terbuka bagi para hamba yang 

melayani-Nya, dan mereka disambut dengan jamuan 

terbaik yang dimilikinya, yang dianggapnya masih ku-

rang untuk orang-orang yang telah memberi  hal-hal 

rohani secara melimpah kepadanya. Bahkan mereka ti-

dak hanya disambut di rumahnya. Ia juga sangat me-

maksa dan menuntut mereka. Ia mendesak sampai 

kami menerimanya. Ini menyiratkan bahwa Paulus sa-

ngat enggan dan tidak mau ikut, sebab  tidak ingin 

menjadi beban bagi keluarga yang baru saja beriman 

kepada Tuhan. Ia juga ingin belajar memberitakan Injil 

tanpa upah (1Kor. 9:18; Kis. 20:34), supaya orang-orang 

luar tidak memperoleh kesempatan untuk mengecam

Kitab Kisah Para Rasul 16:16-24 

 

 691 

 para pemberita Injil sebagai orang-orang yang memiliki 

maksud tersembunyi dan mementingkan diri sendiri, 

dan supaya saudara-saudara seiman tidak memiliki ke-

sempatan untuk mengeluh tentang apa yang harus 

mereka keluarkan dalam ibadah mereka. Namun Lidia 

tidak mau menerima jawaban tidak. Ia tidak mau per-

caya bahwa mereka telah menerima dia sebagai seorang 

Kristen yang sungguh-sungguh kecuali mereka mau 

melakukan hal ini. Ini seperti Abraham yang meng-

undang para malaikat (Kej. 18:3): Jika aku telah men-

dapat kasih tuanku, janganlah kiranya lampaui hamba-

mu ini. 

[2] Ia mencari kesempatan untuk diajari lebih banyak lagi. 

Jika ia bisa mengajak mereka tinggal di rumahnya ba-

rang sebentar, mungkin ia bisa mendengarkan mereka 

setiap hari (Ams. 8:34), dan tidak hanya pada hari 

Sabat di dalam pertemuan jemaat. Di rumahnya sendiri, 

ia tidak saja bisa mendengarkan mereka,namun  juga 

bertanya kepada mereka. Ia juga bisa meminta mereka 

berdoa bersamanya setiap hari, dan memberkati seisi 

rumahnya. Barangsiapa mengetahui sesuatu tentang 

Kristus mau tidak mau akan ingin tahu lebih jauh, dan 

mencari-cari kesempatan untuk menambah pengenalan 

mereka akan Injil-Nya.    

Roh Jahat Diusir; Penganiayaan di Filipi  

(16:16-24) 

16 Pada suatu kali  saat  kami pergi ke tempat sembahyang itu, kami bertemu 

dengan seorang hamba perempuan yang memiliki  roh tenung; dengan te-

nungan-tenungannya tuan-tuannya memperoleh penghasilan besar. 17 Ia 

mengikuti Paulus dan kami dari belakang sambil berseru, katanya:  Orang-

orang ini yaitu  hamba Tuhan  Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepa-

damu jalan kepada keselamatan.” 18 Hal itu dilakukannya beberapa hari la-

manya.namun   saat  Paulus tidak tahan lagi akan gangguan itu, ia berpaling 

dan berkata kepada roh itu:  Demi nama Yesus Kristus aku menyuruh eng-

kau keluar dari perempuan ini.” Se saat  itu juga keluarlah roh itu. 19  saat  

tuan-tuan perempuan itu melihat, bahwa harapan mereka akan mendapat 

penghasilan lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret me-

reka ke pasar untuk menghadap penguasa. 20 Setelah mereka membawa ke-

duanya menghadap pembesar-pembesar kota itu, berkatalah mereka, kata-

nya:  Orang-orang ini mengacau kota kita ini, sebab  mereka orang Yahudi,   

21 dan mereka mengajarkan adat istiadat, yang kita sebagai orang Rum tidak 

boleh menerimanya atau menurutinya.” 22 Juga orang banyak bangkit me-


 692

nentang mereka. Lalu pembesar-pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan 

pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka. 23 Setelah mereka berkali-

kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperin-

tahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh. 24 Sesuai dengan 

perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang 

paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat. 

Paulus dan rekan-rekannya, meskipun sebelumnya untuk beberapa 

waktu mereka tidak dikenal oleh siapa-siapa di Filipi, namun seka-

rang mereka mulai mendapat perhatian orang banyak. 

I. Seorang hamba perempuan yang memiliki  roh tenung menye-

babkan mereka menjadi perhatian orang, dengan berseru-seru 

bahwa mereka yaitu  hamba Tuhan . Perhatikan, 

1. Apa yang dikatakan mengenai hamba perempuan ini: Dia ada-

lah seorang tukang tenung, orang yang memiliki  semacam 

roh tenung, seperti gadis-gadis yang menjadi perantara sabda 

Apolo di Delfos. Dia digerakkan oleh suatu roh jahat, yang 

memberi  jawaban-jawaban yang tidak jelas kepada orang 

yang bertanya kepadanya, yang memuaskan keinginan mereka 

yang sia-sia untuk mengetahui masa depan,namun  sering kali 

menipu mereka. Pada zaman  saat  banyak orang bersikap tak 

acuh, tidak percaya, dan menyembah berhala, dengan seizin 

Tuhan  Iblis menawan manusia di dalam kehendaknya. Jika 

tidak berpura-pura memberi  nasihat kepada mereka, ia 

tidak akan dipuja-puja seperti sekarang. Dengan kedua hal 

ini , ia bisa terus merebut kedudukan Tuhan  sebagai Tuhan  

dunia ini. Dengan tenungan-tenungan hamba perempuan ini, 

tuan-tuannya memperoleh penghasilan besar. Banyak orang 

datang untuk meminta nasihat kepada tukang sihir ini untuk 

menemukan harta yang hilang dirampok, menemukan barang 

hilang, dan khususnya untuk meramal nasib mereka. Dan 

tidak ada yang datang tanpa membawa upah bagi tenungan 

yang diberikan, tergantung kedudukan orang yang bersang-

kutan dan tingkat pentingnya persoalannya. Mungkin ada ba-

nyak orang yang menjadi peramal, namun agaknya yang ini 

lebih terkenal dibandingkan  yang lain. sebab  sementara yang lain 

mendatangkan sejumlah keuntungan, yang ini mendatangkan 

penghasilan besar bagi tuan-tuannya, sehingga lebih banyak 

didatangi dibandingkan  yang lain.   

Kitab Kisah Para Rasul 16:16-24 

 

 693 

2. Kesaksian yang diberikan hamba perempuan ini mengenai Pau-

lus dan rekan-rekannya. Ia bertemu dengan mereka di jalan, 

 saat  mereka sedang pergi ke tempat sembahyang itu, atau 

untuk berdoa di sana (ay. 16). Mereka pergi ke sana tanpa 

sembunyi-sembunyi, dan setiap orang tahu ke mana mereka 

pergi, dan apa yang hendak mereka lakukan. Jika apa yang di-

lakukan hamba perempuan itu sepertinya mengganggu mere-

ka, atau menghalangi pekerjaan mereka, maka bisa diketahui 

betapa halusnya cara Iblis, si penggoda besar itu, dalam meng-

gunakan kesempatan untuk menyesatkan kita  saat  kita hen-

dak beribadah, untuk membingungkan dan membuat kita 

marah  saat  seharusnya kita bersikap tenang. Saat hamba 

perempuan itu bertemu dengan mereka, ia mengikuti mereka 

sambil berseru-seru,  Orang-orang ini, meskipun tampak hina 

dan dipandang rendah, yaitu  orang-orang besar, sebab  me-

reka yaitu  hamba-hamba Tuhan  yang Mahatinggi. Orang-orang 

ini seharusnya kita sambut dengan baik, sebab  mereka mem-

beritakan kepada kita jalan kepada keselamatan, keselamatan 

yang akan menjadi kebahagiaan kita, dan jalan untuk menda-

patkannya yang akan menguduskan kita.” Perhatikan, 

(1) Kesaksian ini benar. Kesaksian ini merupakan suatu puji-

an yang sangat menyeluruh terhadap Injil, dan menjadikan 

kedatangan mereka indah (Rm. 10:15). Meskipun mereka 

yaitu  orang-orang biasa seperti kita, dan merupakan be-

jana tanah liat, namun,  

[1]  Mereka yaitu  hamba Tuhan  yang Mahatinggi. Mereka 

mendampingi Dia, dipekerjakan oleh Dia, dan dikhu-

suskan bagi kehormatan-Nya, seperti halnya bagi se-

orang hamba. Mereka datang kepada kita sebagai utusan-

Nya, pesan yang mereka bawa berasal dari-Nya, dan 

mereka melayani tujuan serta kepentingan kerajaan-

Nya. Dewa-dewa yang disembah oleh kita, orang-orang 

kafir ini, yaitu  ujud-ujud yang rendah, dan sebab  itu 

mereka bukan Tuhan .namun  orang-orang ini berasal dari 

Roh yang tertinggi, dari Tuhan  yang Mahatinggi, yang 

mengatasi semua manusia, semua Tuhan , yang telah men-

ciptakan kita semua, dan kepada-Nya kita semua ber-

tanggung jawab. Mereka yaitu  hamba-Nya, oleh sebab 


 694

itu kita wajib menghormati dan mendengarkan mereka 

demi Tuhan  mereka, dan celakalah kita jika kita melawan 

mereka.” 

[2]  Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada kesela-

matan.” Bahkan orang kafir pun cukup paham tentang 

keadaan manusia yang malang dan menyedihkan, serta 

membutuhkan keselamatan, dan itulah yang mereka 

cari-cari. Hamba perempuan itu berkata,  Nah, mereka 

ini yaitu  orang-orang yang menunjukkan kepada kita 

apa yang telah kita cari dengan sia-sia dengan ber-

tanya-tanya kepada para imam dan dewa-dewa kita 

yang semuanya hanyalah tahayul dan tidak berguna.” 

Perhatikan, Tuhan  melalui Injil Putra-Nya, telah dengan 

jelas menunjukkan jalan keselamatan kepada kita, dan 

telah memberitahukan apa yang harus kita lakukan su-

paya terbebas dari kemalangan yang menimpa kita 

gara-gara dosa kita sendiri. Namun, 

(2) Bagaimana mungkin kesaksian ini datang dari mulut se-

orang yang memiliki roh tenung? Apakah Iblis terbagi-bagi 

dan melawan dirinya sendiri? Maukah ia meninggikan 

orang-orang yang hendak membinasakan dia? Kita bisa 

memahaminya seperti ini, 

[1] sebab  roh tenung ini dipaksa melakukannya oleh kua-

sa Tuhan  untuk memuliakan Injil. Ini seperti Iblis yang 

dipaksa berkata demikian tentang Kristus (Mrk. 1:24), 

Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Tuhan . Kebe-

naran kadang-kadang diagungkan oleh pengakuan dari 

musuh, yang dengannya mereka justru bersaksi mela-

wan diri sendiri. Kristus mau menggunakan kesaksian 

hamba perempuan ini sebagai pernyataan terhadap 

orang-orang di Filipi yang merendahkan dan menganiaya 

para pemberita Injil. Meskipun sebenarnya Injil tidak 

membutuhkan kesaksian seperti itu, namun kesaksian 

itu akan bermanfaat untuk membuat orang semakin ka-

gum sebab  hamba perempuan yang mereka mintai na-

sihat dalam hal-hal yang lain ternyata mengakui bahwa 

para pemberita Injil itu yaitu  hamba-hamba Tuhan . 

Atau, 

Kitab Kisah Para Rasul 16:16-24 

 

 695 

[2] Seperti yang direncanakan oleh si roh jahat itu, si ular 

yang cerdik itu, untuk merendahkan Injil. Sebagian 

orang berpendapat bahwa dalam hal ini hamba perem-

puan ini merancang hal ini untuk mencari pujian bagi 

dirinya sendiri dan pekerjaan ramalannya. Dengan begitu 

ia bisa menambah penghasilan tuannya dengan ber-

pura-pura memihak para pemberita Injil ini , yang 

menurutnya sedang mulai terkenal. Atau untuk men-

jilat Paulus, supaya Paulus tidak menjaga jarak dengan 

dirinya dan orang-orang semacamnya. Yang lain ber-

pendapat bahwa Iblis, yang mampu menyamar sebagai 

malaikat terang, dan sanggup mengatakan apa saja 

demi mendapatkan keuntungan, dalam hal ini bertu-

juan mempermalukan para pemberita Injil itu. Seakan-

akan perkataan tukang tenung ini berasal dari sumber 

yang sama dengan Tuhan  mereka, sebab tukang tenung 

itu memberi  kesaksian tentang mereka. Dengan be-

gitu orang-orang akan terus percaya kepada apa yang 

sudah biasa mereka percayai. Orang-orang yang ke-

mungkinan besar mau menerima ajaran para rasul ini 

biasanya tidak menyukai roh-roh tenung ini, sehingga 

melalui kesaksian ini, mereka juga bisa berprasangka 

buruk terhadap Injil. sedang  mereka yang menghor-

mati tukang tenung ini, sudah pasti dikuasai oleh Iblis.    

II. Kristus membuat para rasul itu menjadi perhatian orang banyak, 

dengan memberi mereka kuasa untuk mengusir setan dari hamba 

perempuan ini. Hamba perempuan itu melakukan hal ini  be-

berapa hari lamanya (ay. 18), dan agaknya, Paulus tidak mem-

pedulikannya. Paulus mungkin tidak mengetahui bahwa mungkin 

saja hamba perempuan itu sudah ditetapkan Tuhan  untuk mela-

yani-Nya, dengan bersaksi tentang para pelayan-Nya. Namun ka-

rena mungkin Paulus mendapati bahwa kejadian itu menimbul-

kan prasangka buruk terhadap mereka dan bukannya malah 

membantu mereka, maka ia segera membungkam mulut hamba 

perempuan itu, dengan mengusir setan itu keluar darinya. 

1. Paulus tidak tahan lagi. Ia merasa terganggu melihat hamba 

perempuan itu dipakai Iblis untuk menipu orang banyak, dan 

melihat orang-orang terseret oleh ramalannya. Ia merasa ter-


 696

usik mendengar suatu kebenaran kudus dilecehkan begitu 

rupa, dan perkataan yang baik keluar dari mulut yang begitu 

najis, dengan tujuan yang najis dan jahat. Mungkin perkataan 

itu diucapkan dengan nada mengejek dan sinis, seolah meng-

olok-olok apa yang dilakukan para pemberita Injil itu. Ia hen-

dak mengejek mereka, seperti  saat  orang-orang yang meng-

aniaya Kristus menyanjung-Nya dengan mengatakan  Salam, 

hai raja orang Yahudi!” sebab  itu, pantaslah jika  Paulus, 

sebab  hatinya begitu baik, tidak tahan lagi mendengar kebe-

naran Tuhan  diseru-serukan di jalan-jalan dengan nada meng-

hina.  

2. Paulus menyuruh roh jahat itu keluar dari perempuan ini. Dia 

berpaling dengan amarah yang kudus, baik terhadap segala 

sanjungan maupun ejekan dari roh yang najis itu, dan berkata, 

 Demi nama Yesus Kristus aku menyuruh engkau keluar dari 

perempuan ini.” Melalui ini, Paulus ingin menunjukkan bahwa 

orang-orang ini yaitu  hamba Tuhan  yang hidup, dan mampu 

membuktikannya sendiri, tanpa kesaksian perempuan ini. 

Dengan kebungkaman perempuan ini , hal itu akan lebih 

terbukti dibandingkan  melalui kata-kata perempuan itu. Melalui 

peristiwa ini Paulus benar-benar menunjukkan jalan kepada 

keselamatan, yaitu dengan menghancurkan kuasa Iblis dan 

membelenggunya, supaya ia tidak dapat menyesatkan bangsa-

bangsa (Why. 20:3). Peristiwa itu juga menunjukkan bahwa 

keselamatan ini diperoleh hanya di dalam nama Yesus Kristus, 

sebab  di dalam nama-Nyalah Iblis diusir, dan bukan dengan 

nama lain. Jauh sebelum peristiwa ini, dengan sebuah per-

kataan Kristus mengusir setan dari orang-orang yang dirasuki-

nya, yaitu setan yang menakut-nakuti orang banyak dan 

mengganggu mereka sehingga tidak seorang pun yang berani 

melalui jalan itu (Mat. 8:28), dan ini merupakan suatu berkat 

yang luar biasa bagi daerah itu. Namun  saat  sekarang Paulus, 

dengan nama Kristus, mengusir setan keluar dari seorang yang 

menyesatkan orang banyak dan memanfaatkan kepercayaan me-

reka, hal itu menjadi suatu kebaikan yang lebih besar lagi bagi 

daerah ini . Kuasa berjalan seiring dengan firman Kristus, 

dan Iblis tidak mampu bertahan di hadapan kuasa firman-Nya 

ini, dan dipaksa melepaskan cengkeramannya, yang di dalam 

peristiwa ini, begitu kuatnya: Se saat  itu juga keluarlah roh itu.       

Kitab Kisah Para Rasul 16:16-24 

 

 697 

III. Para majikan hamba perempuan yang telah dilepaskan dari roh 

jahat itu membuat para pemberita Injil itu mendapat perhatian 

orang banyak. Mereka membawa rasul-rasul itu menghadap para 

pembesar kota sebab  melakukan hal ini , dan menuduh 

perbuatan mereka itu sebagai tindak kejahatan. Para pemberita 

Injil itu tidak akan pernah memperoleh kesempatan untuk berbi-

cara di hadapan pembesar-pembesar kota, jika mereka tidak 

dihadapkan kepada para pembesar itu sebagai pelaku kejahatan. 

Perhatikan di sini, 

1. Yang membuat para majikan itu marah yaitu  sebab  hamba 

perempuan itu telah dipulihkan, tuan-tuannya melihat bahwa 

harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap (ay. 19). 

Perhatikan di sini kejahatan seperti apa yang bisa diakibatkan 

oleh cinta uang! Jika pemberitaan Injil mampu menghancur-

kan pekerjaan tukang perak (19:24), terlebih lagi pekerjaan 

tukang ramal. Oleh sebab  itu, timbullah banyak jeritan, ke-

tika kuasa Iblis untuk menipu telah dipatahkan. Para imam 

membenci Injil sebab  Injil membuat manusia berpaling dari 

ketaatan buta kepada berhala yang bisu, sehingga harapan 

mereka untuk mendapat penghasilan pun lenyap. Kuasa 

Kristus, yang tampak  saat  melepaskan perempuan itu dari 

roh jahat, dan kebaikan luar biasa yang dilakukan terhadap 

perempuan itu dengan membebaskannya dari tangan Iblis, 

tidak membuat mereka terkesan  saat  mereka menyadari 

bahwa itu membuat mereka kehilangan uang. 

2. Langkah yang mereka ambil yaitu  memanas-manasi para pe-

nguasa untuk melawan para pemberita Injil itu sebagai orang-

orang yang pantas dihukum. Mereka menangkap Paulus dan 

Silas  saat  hendak pergi, dan dengan penuh amarah dan ke-

kerasan, menyeret mereka ke pasar, di mana proses pengadil-

an dilaksanakan. 

(1) Mereka membawa Paulus dan Silas menghadap penguasa, 

penegak keadilan mereka, untuk mengadili kedua orang itu 

di tangan penegak hukum, yaitu duumviri (penguasa yang 

merupakan gabungan dari dua orang pembesar di zaman 

Romawi kuno – pen.). 

(2) Dari sana, mereka membawa Paulus dan Silas kepada para 

pembesar kota, yaitu para praetor atau penguasa kota itu, 


 698

tois stratēgois – para pejabat pasukan, demikianlah arti 

kata itu, namun secara umum digunakan untuk menyebut 

hakim atau penguasa utama. Kepada mereka inilah para 

majikan itu membawa keluhan mereka. 

3. Tuduhan yang ditimpakan orang-orang kepada Paulus dan 

Silas ialah bahwa mereka mengacau di tempat itu (ay. 20). 

Pikir mereka, inilah orang-orang Yahudi itu, bangsa yang saat 

ini menjadi suatu kekejian bagi bangsa Romawi, seperti begitu 

juga dahulu bagi bangsa Mesir. Sungguh malang nasib para 

rasul itu,  saat  mereka dicela gara-gara mereka orang Yahudi, 

padahal orang-orang Yahudi sendirilah yang menganiaya me-

reka dengan kejam!  

(1) Tuduhan umum yang ditimpakan kepada mereka ialah 

bahwa mereka mengacau kota itu. Mereka dituduh mena-

burkan benih perselisihan, menganggu ketertiban umum, 

dan menimbulkan keributan serta kekacauan, padahal ti-

dak ada tuduhan yang lebih keliru dan lebih tidak adil da-

ripada semuanya itu, seperti tuduhan Ahab terhadap Elia 

(1Raj. 18:17),  Engkaukah itu, yang mencelakakan Israel?” 

Kalaupun benar bahwa mereka membuat keributan di 

sana, itu pun seperti malaikat yang menggoncangkan ko-

lam Betesda, yang membuat goncangan yang menyembuh-

kan, untuk mendatangkan kebahagiaan. Demikianlah orang-

orang yang membangunkan orang malas justru diteriaki 

sedang menyusahkan mereka.  

(2) Bukti tuduhan ini yaitu  bahwa mereka mengajarkan adat 

istiadat yang tidak cocok bagi sebuah wilayah jajahan 

Roma (ay. 21). Orang-orang Romawi selalu merasa tidak 

senang dengan pandangan-pandangan baru dalam agama. 

Benar atau salah, mereka tetap memeluk apa yang telah 

mereka terima dari nenek moyang mereka melalui tradisi, 

betapapun sia-sianya hal itu. Tidak ada Tuhan  asing atau-

pun Tuhan  baru yang boleh ada, tanpa seizin senat. Dewa-

dewa mereka harus menjadi Tuhan  mereka, benar atau sa-

lah. Ketentuan ini merupakan salah satu dari  hukum dua 

belas daftar” (daftar hukum zaman Romawi Kuno yang di-

bagi menjadi dua belas bagian, sehingga disebut demikian 

– pen.). Pernahkah suatu bangsa menukarkan Tuhan nya? 

Kitab Kisah Para Rasul 16:16-24 

 

 699 

Mereka panas hati terhadap Paulus dan Silas sebab  meng-

ajarkan suatu agama yang merusak kepercayaan terhadap 

banyak dewa dan penyembahan berhala, dan menyuruh 

mereka berbalik dari hal-hal yang sia-sia itu. Inilah yang 

membuat orang Romawi tidak tahan:  Jika ini berkembang 

di antara kita, tak lama lagi kita akan kehilangan agama 

kita.” 

IV. Para pembesar kota, dengan mengadili Paulus dan Silas, menye-

babkan keduanya mendapat perhatian orang banyak. 

1.  Dengan mengizinkan penganiayaan atas mereka, para pem-

besar membangkitkan orang banyak melawan mereka (ay. 22): 

Orang banyak bangkit menentang mereka, dan siap merobek-

robek mereka. Merupakan rencana Iblislah untuk menjadikan 

para pelayan dan umat Tuhan dibenci oleh masyarakat. Iblis 

sengaja menjelek-jelekkan mereka sebagai orang-orang yang 

berbahaya, yang berencana merusak peraturan dan mengubah 

adat istiadat, padahal sesungguhnya tidak ada alasan untuk 

menuduh mereka seperti itu. 

2. Dengan bertindak terus dan menjatuhkan hukuman atas me-

reka, para pembesar semakin menunjukkan bahwa mereka 

yaitu  penjahat-penjahat yang sangat keji. Mereka menyuruh 

mengoyakkan pakaian dari tubuh kedua rasul itu dengan 

penuh amarah dan kebencian, tidak sabar lagi untuk melepas-

kan pakaian keduanya, supaya bisa mencambuki mereka. 

Inilah yang dimaksud oleh Paulus  saat  berbicara tentang 

perlakuan yang mereka terima di Filipi (1Tes. 2:2). Para pem-

besar kota menyuruh supaya mereka dicambuki seperti pen-

jahat, oleh para algojo atau penjaga yang melayani para 

praetor dan membawa tongkat untuk keperluan ini . Ini 

merupakan salah satu dari ketiga hukuman yang diterima 

Paulus berupa pukulan dengan tongkat. Hukuman ini  

dilakukan dengan cara Romawi, yaitu tidak ada batasan me-

ngenai jumlah bilur yang tidak boleh lebih dari empat puluh 

buah seperti yang diharuskan oleh hukum Yahudi. Di sini 

dikatakan bahwa mereka berkali-kali didera (ay. 23) tanpa 

menghitung berapa jumlahnya, sebab  mereka tampak rendah 

di hadapan orang Romawi (Ul. 25:3). Sekarang, orang akan 

mengira bahwa ini sudah cukup memuaskan nafsu kekejaman 


 700

orang-orang itu. Jika rasul-rasul sudah dicambuk, mereka 

pasti akan dilepaskan. Namun, mereka justru dipenjarakan, 

dan mungkin tujuannya yaitu  untuk menghukum keduanya 

sampai mati. Sebab, jika tidak demikian, mengapa mereka 

harus sangat berhati-hati menjaga agar jangan sampai Paulus 

dan Silas melarikan diri?  

(1) Para hakim itu sangat ketat dalam mengawasi mereka. Ke-

pala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan 

sungguh-sungguh, dan mengawasi mereka baik-baik, seolah 

mereka itu yaitu  orang-orang berbahaya yang akan men-

coba membobol penjara atau bersekongkol dengan orang-

orang yang berusaha menyelamatkan mereka. Begitulah 

mereka berusaha membuat Paulus dan Silas dibenci, supaya 

bisa membenarkan diri dalam tindakan mereka terhadap 

keduanya. 

 (2) Penjaga penjara mengurung mereka dengan sangat ketat 

(ay. 24). Meskipun sebenarnya sudah cukup aman dengan 

memenjarakan mereka di bagian luar, namun sesuai de-

ngan perintah itu, ia memasukkan mereka ke ruang penjara 

yang paling tengah. Kepala penjara itu merasa bahwa para 

pembesar sangat membenci orang-orang ini, dan cenderung 

bersikap kejam terhadap mereka. sebab  itu, ia ingin men-

jilat para pembesar, dengan juga menggunakan kekuasaan-

nya sehebat mungkin terhadap para rasul itu.  saat  para 

pembesar bersikap kejam, tidak heran para pejabat bawah-

an mereka juga bersikap demikian. Kepala penjara mema-

sukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah, yaitu 

penjara bawah tanah, di mana biasanya tidak ada orang 

yang dimasukkan ke situ selain penjahat yang terbukti ber-

salah. Penjara itu gelap meskipun pada siang hari, lembab, 

dingin, dan kotor, serta sangat mencekam, seperti penjara 

di mana Yeremia dimasukkan (Yer. 38:6). Dan, seolah-olah 

masih belum cukup, ia memasung kaki mereka erat-erat. 

Mungkin sebab  telah mendengar laporan tentang lolosnya 

para pemberita Injil dari penjara, padahal pintu dipalang 

dengan kuat (5:19; 12:9), ia merasa dirinya lebih bijaksana 

dibandingkan  kepala penjara yang lain, sehingga mampu meng-

amankan mereka dengan memasung mereka. Mereka bu-

kan utusan Tuhan  pertama yang kakinya dipasung. Yeremia

Kitab Kisah Para Rasul 16:25-34 

 

 701 

 pun diperlakukan demikian, dan di muka umum pula, di 

pintu gerbang Benyamin (Yer. 20:2). Kaki Yusuf diimpit 

dengan belenggu (Mzm. 105:18). Oh, betapa kejam perlaku-

an yang diterima oleh para hamba Tuhan , seperti di masa 

lalu, demikian pula pada masa-masa sesudahnya! Lihatlah 

Kitab Para Martir, para martir di zaman Ratu Mary.  

Paulus dan Silas di Penjara;  

Kepala Penjara di Filipi Dimenangkan  

(16:25-34) 

25namun  kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan 

puji-pujian kepada Tuhan  dan orang-orang hukuman lain mendengarkan me-

reka. 26 namun   terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi 

penjara itu goyah; dan se saat  itu juga terbukalah semua pintu dan terle-

paslah belenggu mereka semua. 27  saat  kepala penjara itu terjaga dari ti-

durnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya 

hendak membunuh diri, sebab  ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman 

itu telah melarikan diri. 28namun  Paulus berseru dengan suara nyaring, kata-

nya:  Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!” 29 

Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan 

dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas. 30 Ia mengantar 

mereka ke luar, sambil berkata:  Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbu-

at, supaya aku selamat?” 31 Jawab mereka:  Percayalah kepada Tuhan Yesus 

Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” 32 Lalu mere-

ka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada 

di rumahnya. 33 Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan 

membasuh bilur mereka. Se saat  itu juga ia dan keluarganya memberi diri 

dibaptis. 34 Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan ma-

kanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumah-

nya telah menjadi percaya kepada Tuhan . 

Di sini diceritakan bahwa rencana orang-orang yang menganiaya 

Paulus dan Silas dikacaukan dan dihancurkan. 

I. Para penganiaya itu bertujuan melemahkan hati para pemberita 

Injil dan membuat mereka putus asa, membuat mereka muak ter-

hadap tujuan pekerjaan mereka dan merasa lelah terhadap peker-

jaan itu. Namun di sini kita mendapati bahwa mereka berdua 

tabah serta dikuatkan.  

1. Mereka sendiri bersikap tabah, luar biasa tabah. Tidak pernah 

ada tawanan malang yang begitu gembira, dan sedikit pun ti-

dak menyimpan di dalam hati kekerasan yang mereka terima. 

Mari kita renungkan keadaan mereka. Para praetor atau pe-

nguasa Romawi telah menyuruh supaya ke hadapan mereka 

dibawa tongkat-tongkat, dan kapak diikat pada tongkat-tong-


 702

kat itu, yang dinamakan fascis dan securis. Sekarang mereka 

sudah merasakan bagaimana dipukul dengan tongkat, cambuk 

telah dipecutkan pada punggung mereka, dan mengakibatkan 

bilur-bilur yang panjang. Bilur-bilur yang ada pada tubuh 

mereka sangat menyakitkan, dan orang akan menduga bahwa 

mereka akan mengeluh sebab  sakit dan rasa perih pada 

punggung serta bahu mereka. Ini masih belum semuanya. Me-

reka memiliki  alasan untuk takut menghadapi hukuman 

penggal. Guru mereka sudah terlebih dahulu dicambuk dan 

setelah itu disalibkan, dan mereka pun boleh menantikan na-

sib yang sama. Saat itu mereka berada di dalam penjara yang 

paling tengah, dan kaki mereka dipasung, dan menurut bebe-

rapa orang, pasung itu tidak sekadar menawan merekanamun  

juga menyakiti mereka. Namun kira-kira tengah malam,  saat  

seharusnya mereka mencoba beristirahat kalau bisa, mereka 

justru berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan . 

(1) Mereka berdoa bersama-sama, berdoa kepada Tuhan  supaya 

menopang dan menghibur mereka dalam kesusahan, su-

paya Ia mengunjungi mereka, seperti yang dilakukan-Nya 

kepada Yusuf di dalam penjara, dan menyertai mereka. 

Paulus dan Silas berdoa supaya penghiburan mereka di 

dalam Kristus melimpah, seperti halnya kesukaran mereka 

bagi Dia juga melimpah. Mereka berdoa supaya bahkan 

ikatan dan bilur-bilur yang mereka alami justru dapat me-

nyebarkan Injil lebih lagi. Mereka berdoa bagi orang-orang 

yang menganiaya mereka, supaya Tuhan  mengampuni dan 

membalikkan hati mereka. Semua itu tidak dilakukan pada 

waktu yang biasa dipakai untuk berdoa,namun  di tengah 

malam. Itu bukan dilakukan di tempat sembahyang, me-

lainkan di dalam penjara bawah tanah. Namun demikian, 

itu merupakan saat yang tepat untuk berdoa, dan doa itu 

diterima. Seperti halnya di dalam gelap, dari tempat-tempat 

terdalam pun kita bisa berdoa kepada Tuhan . Tidak ada 

tempat ataupun waktu yang tidak cocok dipakai untuk 

berdoa, jika hati diangkat kepada Tuhan . Barangsiapa ber-

sama-sama mengalami kesusahan harus berdoa bersama-

sama. Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, 

baiklah ia berdoa. Tidak ada persoalan apa pun, seberapa 

pun beratnya, yang boleh mencegah kita berdoa.  

Kitab Kisah Para Rasul 16:25-34 

 

 703 

(2) Mereka menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan . Mereka me-

muji Tuhan . Demikianlah kita harus mengucap syukur da-

lam segala hal. Kita tidak akan kekurangan alasan untuk 

memuji, jika kita tidak kekurangan hati. Dan jika penjara 

bawah tanah dan sepasang pasungan saja tidak berhasil 

menghalangi hati seorang anak Tuhan  untuk melakukan 

tugas ini, apa lagi yang bisa melakukannya? Mereka me-

muji Tuhan  sebab  mereka telah dianggap pantas untuk 

menderita malu bagi nama-Nya, dan sebab  Tuhan  sangat 

menopang dan menguatkan mereka di dalam penderitaan 

mereka, dan sebab  mereka merasakan bahwa penghi-

buran Tuhan  begitu manis, begitu kuat di dalam jiwa mereka. 

Mereka tidak hanya memuji Tuhan,namun  juga menyanyikan 

puji-pujian kepada-Nya, dalam mazmur, kidung puji-pujian 

dan nyanyian rohani, entah itu dari Daud, ataupun dari 

lagu-lagu yang lebih baru, atau nyanyian mereka sendiri, 

seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk 

mengatakannya. sebab  aturan kita yaitu  barangsiapa 

menderita harus berdoa, maka,  saat  mengalami penderi-

taan, mereka pun berdoa. Demikian pula, aturan kita me-

ngatakan bahwa barangsiapa bergembira, haruslah ia ber-

nyanyi mazmur (Yak. 5:13). Maka dari itu, sebab  bergem-

bira dalam penderitaan mereka, mengalami sukacita Tuhan , 

mereka pun menyanyi. Ini membuktikan bahwa bernyanyi 

mazmur merupakan ketetapan Injil, dan harus dilakukan 

oleh semua orang Kristen yang baik. Dan ini ditetapkan 

bukan hanya untuk mengungkapkan kegembiraan  saat  

mengalami kemenangan,namun  juga untuk menyeimbang-

kan dan melepaskan dukacita mereka  saat  menghadapi 

persoalan. Mereka menyanyi pada tengah malam, sesuai 

teladan yang diberikan oleh sang pemazmur Israel yang 

manis (Mzm. 119:62): Tengah malam aku bangun untuk ber-

syukur kepada-Mu.  

(3) Di sini disebutkan bahwa orang-orang hukuman lain men-

dengarkan mereka. Sekiranya para tawanan tidak men-

dengar mereka berdoa, setidaknya mereka mendengar Pau-

lus dan Silas menyanyi puji-pujian.  

[1] Ini menunjukkan betapa sungguh-sungguhnya mereka 

berdua menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan . Mereka 


 704

menyanyi begitu lantang, sehingga meskipun ada di da-

lam penjara bahwa tanah, suara mereka terdengar sam-

pai ke seluruh penjara. Bahkan begitu keras sehingga 

para tawanan terbangun, sebab  kita bisa menduga bah-

wa pada tengah malam, mereka semua sedang tidur. Kita 

harus menyanyi mazmur pujian dengan segenap hati. 

Orang-orang kudus dipanggil untuk bernyanyi dengan 

sorak-sorai di atas tempat tidur mereka (Mzm. 149:5). 

Namun, kasih karunia Injil membawa hal ini lebih jauh 

lagi, dan memberi kita teladan mengenai orang-orang 

yang menyanyi dengan lantang di dalam penjara, dalam 

keadaan terpasung. 

[2] Meskipun mereka tahu bahwa para tawanan akan men-

dengar mereka, mereka tetap menyanyi dengan lantang, 

sebab  mereka tidak malu akan Guru mereka, ataupun 

sebab  melayani-Nya. Haruskah orang-orang yang hen-

dak menyanyi mazmur di dalam rumah mereka mem-

buat alasan, bahwa sebab  takut tetangga mereka men-

dengar, maka mereka tidak perlu melakukan kewajiban 

ibadah mereka? Padahal, orang-orang yang menyanyi-

kan lagu-lagu duniawi meraung-raung, dan tidak peduli 

siapa yang mendengarkan. 

[3] Para tawanan dibuat mendengar nyanyian Paulus dan 

Silas di dalam penjara, supaya mereka siap untuk me-

lihat kebaikan mujizat yang ditunjukkan kepada me-

reka semua, oleh sebab  Paulus dan Silas,  saat  pintu-

pintu penjara terbuka. Melalui penghiburan luar biasa 

yang memenuhi diri Paulus dan Silas, dikumandang-

kanlah bahwa Dia yang mereka beritakan itulah peng-

hiburan bagi Israel. Biarlah para tawanan yang bermak-

sud menentang Dia mendengar dan menjadi gemetar di 

hadapan-Nya. Dan biarlah siapa yang setia kepada-Nya 

mendengar dan bersorak, dan mendapatkan penghibur-

an akan pengharapan yang dikabarkan kepada orang-

orang tahanan (Za. 9:12).  

2. Tuhan  menguatkan hati mereka dengan luar biasa melalui 

tanda penampakan-Nya kepada mereka (ay. 26).  

Kitab Kisah Para Rasul 16:25-34 

 

 705 

(1) Tiba-tiba terjadilah gempa yang hebat. Seberapa jauh 

gempa itu terasa kita tidak diberitahu,namun  goncangan di 

tempat itu begitu kuat sehingga sendi-sendi penjara itu go-

yah.  saat  para tahanan mendengarkan penyembahan 

Paulus dan Silas di tengah malam, dan mungkin sambil 

menertawakan dan mengejek mereka, gempa ini pasti 

membuat mereka sangat ketakutan, dan meyakinkan me-

reka bahwa kedua orang ini yaitu  orang-orang kesayang-

an sorga, dan begitu mendapat penghargaan di mata Tuhan . 

Kita menyaksikan bahwa tempat sembahyang menjadi go-

yang, sebagai jawaban atas doa mereka, dan sebagai tanda 

bahwa Tuhan  menerima doa mereka (4:31). Di sini, penjara 

itu tergoncang. Tuhanlah yang ada di dalam gempa ini, 

untuk menunjukkan murka-Nya atas kejahatan yang diper-

buat terhadap hamba-hamba-Nya, untuk memberi  ke-

saksian kepada mereka yang mengandalkan dunia, bahwa 

apa yang mereka andalkan itu sesungguhnya lemah dan 

goyah. Juga, untuk mengajarkan kepada orang-orang bahwa 

meskipun bumi bergoncang, mereka tidak perlu takut. 

(2) Pintu penjara terlempar dan terbuka, dan pasung para ta-

wanan terlepas. Terlepaslah belenggu mereka semua. Mung-

kin para tawanan ini,  saat  mendengar Paulus dan Silas 

berdoa dan menyanyi puji-pujian, mengagumi mereka, 

berbicara penuh hormat tentang mereka, dan mengucap-

kan apa yang diucapkan hamba perempuan itu mengenai 

mereka: Sungguh, orang-orang ini yaitu  hamba Tuhan  yang 

Hidup. Sebagai balasan kepada mereka atas pandangan 

baik mereka terhadap Paulus dan Silas, serta untuk mene-

guhkan mereka sebab  itu, mereka mendapat bagian dalam 

mujizat itu, dan terlepaslah belenggu mereka. Seperti  saat  

sesudah itu Tuhan  membuat semua orang yang ada ber-

sama-sama dengan Paulus di kapal itu selamat sebab  

Paulus (28:24), demikian pula sekarang Dia membuat se-

mua orang yang ada di dalam penjara bersama Paulus sela-

mat sebab  dia. Dengan ini Tuhan  menunjukkan kepada se-

mua tawanan itu, seperti yang diamati Grotius, bahwa para 

rasul itu,  saat  memberitakan Injil, menjadi berkat bagi 

umat manusia, sebab  mereka memberitakan pembebasan 

kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang 


 706

yang terkurung kelepasan dari penjara (Yes. 61:1). Et per 

eos solvi animorum vincula – dan sebab  mereka ikatan jiwa 

pun dilepaskan. 

II. Orang-orang yang menganiaya mereka bermaksud menghentikan 

kemajuan Injil, supaya tidak ada lagi orang yang menerimanya. 

sebab  itu, mereka bermaksud mengacaukan pertemuan yang di-

adakan di tepi sungai, supaya tidak ada lagi hati yang dibukakan 

di sana. Namun di sini kita mendapati bahwa petobat baru justru 

muncul di dalam penjara. Tempat itu berubah menjadi tempat 

ibadah, dan piala kemenangan Injil ditegakkan di sana. Sedang-

kan kepala penjara, hamba mereka sendiri, telah menjadi hamba 

Kristus. Mungkin beberapa dari para tawanan itu, jika bukan se-

muanya, juga dimenangkan. Pastilah mujizat yang terjadi pada 

tubuh mereka, dengan terlepasnya ikatan mereka, juga terjadi 

pada jiwa mereka. Lihat Ayub 36:8-10; Mazmur 107:14-15. Na-

mun hanya pertobatan kepala penjara saja yang dicatat. 

1. Kepala penjara itu takut kehilangan nyawanya, dan Paulus 

menenangkan dia mengenai hal ini (ay. 27-28).  

(1) Dia terjaga dari tidurnya. Mungkin goncangan gempa itulah 

yang membangunkannya, dan juga terbukanya pintu pen-

jara, serta ungkapan sukacita dan keheranan dari para ta-

wanan,  saat  di dalam gelap mereka mendapati ikatan 

mereka terlepas, dan kemudian saling menceritakan apa 

yang mereka rasakan. Ini sudah cukup untuk membangun-

kan kepala penjara itu, yang pekerjaannya mengharuskan 

dirinya tidak sulit terjaga. Bangunnya kepala penjara itu dari 

tidurnya menandakan bangunnya hati nuraninya dari tidur 

rohaninya. Panggilan Injil yaitu , Bangunlah, hai kamu yang 

tidur (Ef. 5:14), seperti yang dialami Yunus (Yun. 1:6).  

(2) Ia melihat pintu-pintu penjara terbuka, dan mengira, se-

perti yang mungkin akan dilakukannya, bahwa para ta-

wanan sudah melarikan diri. Dan jika demikian, apa yang 

akan terjadi padanya? Dia tahu hukum Roma yang berlaku 

mengenai hal itu, dan belum lama hukum itu dijalankan 

atas para penjaga yang telah membiarkan Petrus melarikan 

diri (12:19). Aturan ini dibuat menurut apa yang dikatakan 

nabi (1Raj. 20:39, 42), Jagalah orang ini, jika ia hilang 

Kitab Kisah Para Rasul 16:25-34 

 

 707 

dengan cara bagaimanapun juga, maka nyawamu yaitu  

ganti nyawanya. Namun, setelah peristiwa ini, para pene-

gak hukum Roma, dalam menafsirkan hukum ini, yakni De 

custodia reorum – penahanan penjahat (yang menetapkan 

bahwa penjaga harus menjalani hukuman yang sama yang 

semestinya diberikan kepada tawanan jika tawanan itu me-

larikan diri), memberi  perkecualian dalam hal tahanan 

yang lolos sebab  mujizat. 

(3) Dalam ketakutannya, ia menghunus pedangnya dan hen-

dak membunuh diri, untuk mencegah terjadinya kematian 

yang lebih mengerikan, yang sudah ia duga akan diteri-

manya sebab  membiarkan para tahanan melarikan diri 

dan tidak bisa menjaga mereka baik-baik. Ia sudah diberi 

tugas supaya menjaga Paulus dan Silas dengan luar biasa 

ketat, jadi ia sadar betapa berat hukumannya jika mereka 

sampai kabur. Para filsuf umumnya membolehkan tindakan 

bunuh diri. Seneca, seorang filsuf Romawi, meresepkannya 

sebagai obat terakhir yang boleh diambil oleh orang-orang 

yang tertekan. Golongan Stoa, meskipun mengaku-ngaku 

sudah menaklukkan nafsu, sejauh ini menyerah pada 

nafsu itu sendiri. sedang  golongan Epikuros, yang mem-

perbolehkan kenikmatan indrawi, memilih menghindari pen-

deritaannya dengan mengakhiri hidup. Kepala penjara ini 

mengira bahwa tidak ada salahnya bertindak mendahului 

kematiannya sendiri. Namun Kekristenan membuktikan diri-

nya sebagai berasal dari Tuhan  melalui masalah ini, dengan 

menjaga kita untuk tetap memegang hukum penciptaan 

kita. Kekristenan menghidupkan, menguatkan, dan mene-

gakkan hukum penciptaan itu, dan mewajibkan kita untuk 

berlaku adil terhadap hidup kita, dan mengajar kita untuk 

dengan gembira menerima hidup kita apa adanya,namun  

dengan berani menjaganya dari kejahatan kita. 

(4) Paulus menghentikan perbuatannya (ay. 28). Paulus ber-

seru dengan suara nyaring, bukan hanya supaya kepala 

penjara itu mendengar,namun  juga supaya ia menaatinya. 

Katanya, Jangan menyakiti dirimu sendiri. Jangan celakai 

dirimu. Semua peringatan firman Tuhan  terhadap dosa, se-

gala bentuk dan cara penyampaiannya, memiliki kecende-

rungan ini,  Jangan celakai dirimu. Lelaki atau perempuan, 


 708

jangan sakiti, atau hancurkan dirimu. Jangan lukai dirimu, 

dan dengan demikian tidak ada orang lain yang dapat me-

lukai dirimu. Jangan berbuat dosa, sebab  tidak ada yang 

dapat melukai dirimu.” Bahkan terhadap tubuh, kita diper-

ingatkan terhadap dosa-dosa yang dapat mencelakakan-

nya, dan diajar untuk membenci daging kita sendiri,namun  

harus mengasuhnya dan merawatinya. Kepala penjara itu 

tidak perlu takut akan dipanggil untuk mempertanggung-

jawabkan larinya para tawanan, sebab  mereka semuanya 

masih ada di sini. Aneh, tidak ada di antara mereka yang 

menyelinap pergi, padahal pintu-pintu penjara terbuka dan 

belenggu-belenggu tangan mereka sudah terlepas. Namun, 

keheranan merekalah yang menahan mereka, dan sebab  

merasa bahwa mereka terlepas gara-gara doa Paulus dan 

Silas, mereka tidak mau bergerak kecuali disuruh. Dan Tuhan  

memperlihatkan kuasa-Nya dengan mengikat jiwa mereka, 

seperti yang Ia lakukan dengan melepaskan kaki mereka.  

2. Kepala penjara takut akan kehilangan nyawanya, dan Paulus 

juga menenangkannya dalam hal ini. Ia merasa khawatir de-

ngan satu hal dan semakin khawatir lagi dengan hal lain. De-

mikianlah, sekarang, begitu berhasil dicegah untuk tidak ter-

gesa-gesa meninggalkan dunia ini, ia mulai berpikir, seandai-

nya ia berhasil melaksanakan niatnya tadi, ke mana kematian 

akan membawanya? Akan jadi apa dirinya di seberang kemati-

an sana? Pikiran ini sungguh pantas saja dipikirkan oleh 

orang yang baru saja diselamatkan dari api,  saat  tinggal satu 

langkah saja di antara maut dan dirinya. Mungkin kekejian 

dosa yang hendak dimasukinya itu membantu memperingat-

kan dirinya. 

(1) Apa pun alasannya, kepala penjara itu menjadi sangat ter-

cengang. Roh Tuhan , yang diutus untuk menyadarkan, su-

paya menjadi Penghibur baginya, mendatangkan ketakutan 

padanya, dan membuatnya bingung. Apakah dia ingat un-

tuk menutup pintu penjara lagi atau tidak, kita tidak diberi 

tahu. Mungkin ia lupa, seperti wanita di Samaria, yang me-

ninggalkan tempayannya dan melupakan tujuannya pergi ke 

sumur setelah Kristus menyadarkan hati nuraninya. Ini 

kita tahu sebab  kepala penjara itu menyuruh membawa 

Kitab Kisah Para Rasul 16:25-34 

 

 709 

suluh, lalu berlari masuk ke dalam penjara yang paling 

tengah, dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Pau-

lus dan Silas. Barangsiapa yang dosanya diperhadapkan 

kepadanya, dan diberi tahu tentang kejahatannya, mau ti-

dak mau gemetar  saat  menyadari celaka dan bahaya di 

hadapan mereka. Kepala penjara ini,  saat  dengan cara 

demikian dibuat menjadi gemetar, tidak bisa memohon ke-

pada orang yang lebih tepat selain Paulus, sebab  Paulus 

sendiri pernah mengalami hal yang sama seperti dirinya. 

Paulus sendiri pernah menganiaya orang benar, seperti ke-

pala penjara ini. Ia melemparkan mereka ke penjara, seba-

gaimana kepala penjara ini mengurung keduanya. Dan 

 saat , seperti kepala penjara itu, Paulus disadarkan ten-

tang hal itu, ia gemetar dan terkesima. sebab  itu ia mampu 

berbicara dengan penuh perasaan mengenai masalah itu 

terhadap kepala penjara itu. 

(2) Dalam kebingungannya, kepala penjara itu memohon per-

tolongan kepada Paulus dan Silas. Perhatikan, 

[1] Betapa penuh hormat dan santun cara ia berbicara ke-

pada mereka: Kepala penjara itu menyuruh membawa 

suluh, sebab  mereka berada dalam gelap, dan supaya 

mereka bisa melihat betapa takutnya dirinya. Ia ter-

sungkur di depan mereka, sebab  takjub akan keburuk-

annya sendiri, dan hampir terbenam tertindih beban 

rasa takutnya akan keadaannya itu. Ia tersungkur di 

depan mereka, sebab  rohnya merasakan kekaguman 

terhadap mereka, dan terhadap citra Tuhan  yang tampak 

pada mereka, serta terhadap amanat yang mereka te-

rima dari Tuhan . Mungkin ia sudah mendengar apa yang 

dikatakan hamba perempuan itu tentang mereka, bah-

wa mereka yaitu  hamba-hamba Tuhan  Yang Hidup, 

yang memberitakan kepada mereka jalan kepada kesela-

matan. sebab  itulah ia begitu menunjukkan rasa hor-

matnya kepada mereka. Ia tersungkur di hadapan mere-

ka untuk memohon ampun, sebab  bertobat atas segala 

kejahatan yang telah diperbuatnya kepada mereka, dan 

juga untuk meminta nasihat mereka tentang apa yang 

harus dilakukannya, sebab  ia membutuhkannya. Ia 

memanggil mereka dengan sebutan hormat, tuan-tuan, 


 710

kyrioi – tuan-tuan, guru. Baru saja, mereka disebut se-

bagai sampah dan penjahat, dan ia yaitu  tuan mereka. 

Tetapi sekarang, ia menyebut mereka tuan-tuan, dan me-

reka menjadi tuannya. Anugerah pertobatan mengubah 

kata-kata orang mengenai dan terhadap orang-orang baik 

dan hamba-hamba Tuhan yang baik. Selain itu, bagi 

mereka yang sungguh-sungguh diinsafkan akan dosa, 

kaki mereka yang membawa kabar baik tentang Kristus 

sungguh indah. Ya, meskipun dipasung dengan begitu 

hina.   

[2] Betapa serius pertanyaannya: Apakah yang harus aku 

perbuat, supaya aku selamat? 

Pertama, sekarang keselamatannya menjadi per-

soalan besar baginya, dan sangat dekat di hatinya, pa-

dahal sebelumnya menjadi hal yang paling tidak dipikir-

kan olehnya. Pertanyaannya bukan  Apa yang harus 

aku perbuat, supaya aku disukai, supaya kaya dan ter-

nama di dunia ini?” melainkan  Apakah yang harus aku 

perbuat, supaya aku selamat?” 

Kedua, ia tidak bertanya tentang orang lain, apa 

yang harus mereka perbuat.namun  mengenai dirinya, 

 Apa yang harus kuperbuat?” Yang dipikirkannya yaitu  

jiwanya sendiri yang berharga:  Biarlah orang lain mela-

kukan apa yang mereka kehendaki,namun  beritahu aku 

apa yang harus kuperbuat, langkah apa yang harus ku-

ambil.” 

Ketiga, ia yakin bahwa sesuatu harus diperbuat, 

dan diperbuat olehnya juga, supaya ia selamat. Itu bu-

kan sesuatu yang sudah semestinya terjadi, yang akan 

terjadi dengan sendirinya, melainkan sesuatu yang ha-

rus kita perjuangkan, kita pergumulkan, dan dengan 

susah payah. Dia tidak bertanya,  Apa yang akan diper-

buat untukku?”namun ,  Apa yang harus kuperbuat, ka-

rena sekarang aku takut dan gentar, untuk mengerjakan 

keselamatanku?” Itu seperti yang dikatakan Paulus da-

lam suratnya kepada jemaat di Filipi, dari mana kepala 

penjara ini berasal. Mungkin itu berkaitan dengan per-

tanyaannya yang diajukan dengan gemetar di sini, men-

jelaskan bahwa ia tidak boleh hanya meminta kesela-

Kitab Kisah Para Rasul 16:25-34 

 

 711 

matan (seperti yang telah dilakukannya),namun  juga me-

ngerjakan keselamatannya dengan gentar yang kudus 

(Flp. 2:12). 

Keempat, ia bersedia melakukan apa saja:  Beri 

tahu aku apa yang harus kuperbuat, dan aku siap me-

lakukannya. Tuan-tuan, bawalah aku ke jalan mana 

pun, jika itu yaitu  jalan yang benar dan pasti. Meski-

pun itu sempit, berduri, dan menanjak, aku akan mela-

luinya.” Perhatikan, barangsiapa sungguh-sungguh insaf 

akan dosanya, dan sangat peduli akan keselamatannya, 

akan menyerah secara sukarela kepada Yesus Kristus. 

Ia akan memberi-Nya tempat kosong untuk ditulisi de-

ngan apa saja yang dikehendaki-Nya, dan akan bergem-

bira sebab  memiliki Kristus dengan syarat-syarat-Nya, 

dan di dalam segala hal.   

Kelima, ia ingin tahu apa yang harus diperbuatnya. 

Ia berhasrat untuk mengetahui apa yang harus diper-

buatnya, dan bertanya kepada mereka yang kemungkin-

an besar mau memberitahukan kepadanya. Jika kamu 

mau bertanya, datanglah bertanya (Yes. 21:12). Mereka 

yang menghadapkan wajahnya ke Sion harus menanya-

kan jalan ke sana (Yer. 50:5). Kita tidak bisa menge-

tahuinya sendiri,namun  Tuhan  telah memberitahukannya 

kepada kita melalui firman-Nya. Ia telah menunjuk para 

pelayan-Nya untuk menolong kita memahami firman-

Nya, dan telah berjanji untuk memberi  Roh Kudus 

kepada mereka yang meminta kepada-Nya, untuk men-

jadi penuntun di dalam jalan keselamatan.  

Keenam, ia mengantar mereka ke luar, untuk meng-

ajukan pertanyaan ini kepada mereka, supaya mereka 

tidak menjawab sebab  terpaksa atau sebab  merasa 

diancam,namun  supaya mereka memberitahukannya de-

ngan bebas sama seperti yang mereka lakukan kepada 

orang lain, meskipun ia yaitu  penjaga mereka. Ia 

membawa mereka keluar dari penjara bawah tanah, de-

ngan harapan supaya mereka mengeluarkannya dari 

penjara yang lebih buruk. 

(3) Paulus dan Silas sangat bersedia untuk memberi tahu ke-

pala penjara itu mengenai apa yang harus diperbuatnya 


 712

(ay. 31). Mereka selalu siap menjawab pertanyaan yang de-

mikian. Meskipun kedinginan, kesakitan, dan mengantuk, 

mereka tidak menunda untuk melakukannya pada kesem-

patan dan di tempat yang lebih nyaman. Mereka tidak me-

nyuruhnya mendatangi mereka pada hari Sabat berikutnya 

di tempat pertemuan mereka di tepi sungai, dan barulah 

mereka akan memberi tahu dia. Namun, mereka bertindak 

selagi ada kesempatan, membawanya sekarang selagi pikir-

annya masih baik, supaya jangan kesadaran itu memudar. 

Sekarang sementara Tuhan  mulai bekerja, waktunya bagi 

mereka untuk tampil sebagai kawan sekerja Tuhan . Mereka 

tidak mengecam kepala penjara itu gara-gara sikapnya 

yang kasar dan buruk terhadap mereka, dan sebab  ber-

tindak lebih jauh dari apa yang ditugaskan kepadanya. Se-

mua ini dimaafkan dan dilupakan, dan mereka juga dengan 

senang hati menunjukkan kepadanya jalan ke sorga, se-

perti kepada teman baik mereka. Mereka tidak merasa me-

nang darinya, meskipun ia gemetar. Mereka memberinya 

petunjuk yang sama seperti yang mereka berikan kepada 

orang lain, percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus. Orang 

akan menduga bahwa seharusnya mereka berkata,  Berto-

batlah dahulu sebab  sudah menyiksa kami.” Tidak, hal itu 

diabaikan dan dengan mudah dilewati, jika ia mau percaya 

kepada Kristus. Ini merupakan contoh bagi para hamba 

Tuhan bagaimana membesarkan hati para petobat, untuk 

menjumpai orang-orang yang datang kepada Kristus dan 

meraih tangan mereka, bukan membalas sikap buruk yang 

telah dilakukan terhadap mereka,namun  mengutamakan 

kehormatan bagi Kristus lebih dibandingkan  diri mereka sendiri. 

Inilah intisari seluruh Injil, kovenan anugerah itu, dalam 

beberapa kata:  Percayalah kepada Yesus Kristus, dan eng-

kau akan selamat, dan seisi rumahmu.” Di sini terkandung,  

[1] Kebahagiaan yang dijanjikan:  Engkau akan selamat. 

Tidak saja diselamatkan dari kebinasaan kekal,namun  

juga akan dibawa ke dalam kehidupan dan berkat yang 

kekal. Meskipun engkau seorang yang miskin, seorang 

penjaga penjara atau pemegang kunci penjara, rendah 

dan hina di dunia, ini tidak akan menjadi halangan bagi 

keselamatanmu. Sekalipun engkau seorang pendosa be-

Kitab Kisah Para Rasul 16:25-34 

 

 713 

sar dan suka menganiaya, segala pelanggaranmu yang 

keji akan diampuni seluruhnya lewat jasa-jasa Kristus. 

Dengan demikian, tidaklah engkau akan mati sebab  ke-

jahatan atau penyakitmu.” 

[2] Syarat yang diperlukan. Percayalah kepada Tuhan Ye-

sus Kristus. Kita harus mengakui apa yang telah dicatat 

oleh Tuhan  di dalam Injil-Nya mengenai Anak-Nya, dan 

yakin bahwa semua pernyataan-Nya itu dapat dipercaya 

dan patut diterima sepenuhnya. Kita harus setuju de-

ngan cara yang dipakai Tuhan  untuk memperdamaikan 

dunia dengan diri-Nya melalui seorang Pengantara. Ke-

mudian, kita harus menerima Kristus saat ditawarkan 

kepada kita, dan memberi diri untuk diatur, diajar, dan 

diselamatkan oleh-Nya. Ini merupakan satu-satunya ja-

lan yang pasti menuju keselamatan. Tidak ada jalan 

keselamatan selain melalui Kristus, dan tidak ada cara 

supaya kita bisa diselamatkan oleh Kristus selain de-

ngan percaya kepada-Nya. Kita tidak perlu khawatir 

akan gagal jika kita mengambil jalan ini, sebab  inilah 

jalan yang telah ditetapkan Tuhan , dan Ia, yang menjanji-

kannya, setia. Injil itulah yang harus diberitakan ke-

pada setiap makhluk, bahwa siapa yang percaya akan 

diselamatkan. 

[3] Keselamatan juga akan berlaku bagi keluarganya: Eng-

kau akan diselamatkan, dan seisi rumahmu, yakni,  Di 

dalam Kristus, Tuhan  akan menjadi Tuhan  bagi engkau 

dan keturunanmu, seperti Ia adanya bagi Abraham. 

Percayalah, dan keselamatan akan terjadi kepada ru-

mah ini, seperti di dalam Lukas 19:9. Anak-anak yang 

ada di dalam rumahmu akan diterima menjadi jemaat 

bersamamu di dunia ini, dan dengan begitu dibawa 

kepada jalan yang tepat menuju keselamatan. Semen-

tara kepada orang dewasa di rumahmu, sarana kesela-

matan akan ditunjukkan. Dan berapa pun banyaknya 

mereka itu di rumahmu, biarlah mereka percaya kepada 

Yesus Kristus dan mereka akan diselamatkan. Mereka 

semua boleh datang kepada Kristus dengan syarat-sya-

rat yang sama.” 


 714

(4) Mereka lalu mengajarkan ajaran Kristus kepada kepala 

penjara itu dan seisi rumahnya (ay. 32). Mereka memberi-

takan firman Tuhan kepadanya. Berdasarkan apa yang 

tampak, kepala penjara itu sama sekali asing dengan 

Kristus. sebab  itu ia harus diberi tahu siapa Yesus itu, 

supaya dapat percaya kepada-Nya (Yoh. 9:36). Dan, sebab  

inti persoalannya singkat saja, segera apa yang mereka 

sampaikan sudah cukup untuk kemudian membaptiskan-

nya. Pelayan Kristus harus siap dengan firman Tuhan dan 

tinggal secara melimpah di dalam firman, supaya bisa lang-

sung mengajarkannya kepada siapa saja yang ingin men-

dengar dan menerimanya, untuk memberitakan jalan kese-

lamatan kepada mereka. Mereka tidak hanya memberita-

kan firman kepada kepala penjara itu,namun  juga kepada 

semua orang yang ada di rumahnya. Seorang kepala ke-

luarga harus memastikan bahwa semua orang yang ada di 

bawah tanggung jawabnya mengambil bagian dalam sarana 

pengetahuan dan kasih karunia, dan memastikan bahwa 

firman Tuhan  disampaikan kepada mereka. sebab  jiwa-jiwa 

hamba yang paling miskin sama berharganya dengan jiwa 

tuan mereka, dan ditebus dengan harga yang sama. 

(5) Kepala penjara itu dan keluarganya segera dibaptis, dan 

dengan begitu mengakui iman Kristen, tunduk pada hukum-

hukum Kekristenan, dan memperoleh hak-hak istimewa 

sebagai orang Kristen. Itu terjadi setelah mereka menyata-

kan dengan sungguh-sungguh, seperti yang dilakukan oleh 

sida-sida itu, bahwa mereka percaya Yesus Kristus yaitu  

Anak Tuhan . Se saat  itu juga ia dan keluarganya memberi 

diri dibaptis. Baik dia maupun keluarganya tidak ada yang 

meminta waktu lagi untuk mempertimbangkan apakah me-

reka mau dibaptis atau tidak. Demikian pula Paulus dan 

Silas tidak menginginkan waktu lagi untuk memastikan ke-

sungguhan mereka dan mempertimbangkan apakah mereka 

harus dibaptis atau tidak. Sebab, Roh anugerah mengerja-

kan iman dengan begitu kuatnya di dalam diri mereka, 

begitu tiba-tiba, sehingga tidak ada lagi perdebatan. Dan di 

dalam Roh Paulus dan Silas tahu bahwa Tuhan lah yang se-

dang bekerja di dalam diri mereka, sehingga tidak ada alas-

Kitab Kisah Para Rasul 16:25-34 

 

 715 

an untuk menunda. Ini tidak berarti membenarkan sikap 

tergesa-gesa dalam kasus-kasus biasa.  

(6) Segera sesudah itu, kepala penjara ini  bersikap sa-

ngat hormat kepada Paulus dan Silas. Ia tidak tahu bagai-

mana cara mengobati luka yang telah dibuatnya kepada 

mereka, apalagi membalas kebaikan yang telah diterimanya 

dari mereka. Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa 

mereka. Ia tidak mau membiarkan mereka berbaring seme-

nit lebih lama di penjara yang paling tengah itu,namun , 

[1] Ia membasuh bilur-bilur mereka, untuk menyejukkan hati 

mereka, menghilangkan rasa sakit mereka, dan member-

sihkan darah dari bilur-bilur mereka. Mungkin ia me-

mandikan mereka dengan semacam cairan obat, seperti 

halnya orang Samaria yang baik hati itu menolong orang 

yang terluka itu dengan menyiraminya dengan minyak 

dan anggur. 

[2] Ia membawa mereka ke rumahnya, memberi  kepada 

mereka kamar terbaik yang dimilikinya, dan menyiap-

kan tempat tidur terbaiknya bagi mereka. Sekarang ti-

dak ada apa pun yang dianggapnya cukup bagus bagi 

mereka, sebagaimana sebelumnya tidak ada yang ter-

lalu buruk bagi mereka. 

[3] Dia menghidangkan makanan kepada mereka, sebanyak 

yang mampu disediakannya, dan mereka dipersilakan 

menikmatinya, sebagai tanda bahwa seperti itu pula jiwa-

nya menyambut Injil. Mereka telah memberitakan firman 

Tuhan  kepadanya, telah memecah-mecahkan roti hidup 

bagi dia beserta keluarganya. Dan sebab  ia telah menuai 

begitu banyak hasil rohani dari mereka, ia menganggap 

bahwa pantaslah pula jika mereka menuai hasil duniawi 

darinya (1Kor. 9:11). Untuk apa kita memiliki rumah dan 

makanan selain untuk melayani Tuhan  dan umat-Nya, 

jika kita memperoleh kesempatan untuk itu? 

(7) Suara sukacita yang berbaur dengan suara keselamatan 

terdengar di dalam rumah kepala penjara itu. Belum per-

nah terjadi malam yang sedemikian riang gembira di sana 

sebelumnya. Ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi ru-

mahnya telah menjadi percaya kepada Tuhan . Tidak ada 


 716

orang di rumahnya yang menolak dibaptis dan membuat 

sumbang keharmonisan saat itu. Sebaliknya, mereka se-

mua sepakat dalam menerima Injil, yang semakin menam-

bah sukacita yang ada. Atau, bisa ditafsirkan bahwa ia, 

setelah percaya kepada Tuhan , bergembira atas seluruh ru-

mahnya. Panoiki – ia mendatangi semua ruangan, meng-

ungkapkan kegembiraannya. Perhatikan,  

[1] Percayanya kepada Kristus disebut percaya kepada Tuhan , 

yang menunjukkan bahwa Kristus yaitu  Tuhan , dan me-

nunjukkan bahwa tujuan Injil sama sekali bukan untuk 

menjauhkan kita dari Tuhan  (dengan mengatakan, mari 

kita mengikuti Tuhan  lain, Ul. 13:2), sebab  Injil justru me-

miliki kecenderungan langsung untuk membawa kita 

kepada Tuhan . 

[2]  Imannya menghasilkan sukacita. Barangsiapa yang de-

ngan iman telah memberi  dirinya kepada Tuhan  di 

dalam Kristus untuk menjadi milik mereka, memiliki  

banyak alasan untuk bersukacita.  saat  sida-sida itu 

dimenangkan, ia meneruskan perjalanannya dengan su-

kacita. Dan di sini, kepala penjara itu bergembira. Di-

menangkannya bangsa-bangsa lain dikatakan di dalam 

Perjanjian Lama sebagai sukacita mereka (Mzm. 67:5; 

96:11). Sebab, dengan percaya, kita bergembira sebab  

sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan. Percaya 

kepada Kristus artinya bersukacita di dalam Kristus. 

[3] Dia menunjukkan sukacitanya kepada semua orang di 

sekelilingnya. Dengan sukacita yang melimpah di dalam 

hatinya, mulutnya memperkatakan kemuliaan Tuhan , 

sekaligus membangun orang-orang yang percaya kepa-

da Tuhan . Mereka yang telah merasakan sendiri penghi-

buran yang dibawa oleh iman kepercayaannya, harus 

berbuat semampunya untuk membawa orang lain mera-

sakannya juga. Seorang Kristen yang bergembira harus 

membuat banyak orang bergembira pula. 

Paulus dan Silas Dibebaskan  

(16:35-40) 

35 Setelah hari siang pembesar-pembesar kota menyuruh pejabat-pejabat kota 

pergi kepada kepala penjara dengan pesan:  Lepaskanlah kedua orang itu!” 36

Kitab Kisah Para Rasul 16:35-40 

 

 717 

Kepala penjara meneruskan pesan itu kepada Paulus, katanya:  Pembesar-

pembesar kota telah menyuruh melepaskan kamu; jadi keluarlah kamu seka-

rang dan pergilah dengan selamat!” 37namun  Paulus berkata kepada orang-orang 

itu:  Tanpa diadili mereka telah mendera kami, warganegara-warganegara Ro-

ma, di muka umum, lalu melemparkan kami ke dalam penjara. Sekarang me-

reka mau mengeluarkan kami dengan diam-diam? Tidak mungkin demikian! 

Biarlah mereka datang sendiri dan membawa kami ke luar.” 38 Pejabat-pejabat 

itu menyampaikan perkataan itu kepada pembesar-pembesar kota.  saat  

mereka mendengar, bahwa Paulus dan Silas yaitu  orang Rum, maka takut-

lah mereka. 39 Mereka datang minta maaf lalu membawa kedua rasul itu ke 

luar dan memohon, supaya mereka meninggalkan kota itu. 40 Lalu mereka 

meninggalkan p