Kisah pararasul 9

Senin, 10 Februari 2025

Kisah pararasul 9



 kan api ke bumi dan betapa-

kah Aku harapkan, api itu telah menyala. Dan mereka menyangka 

bahwa, dengan menyerakkan orang-orang yang disulut dengan api 

itu, mereka sudah memadamkannya,namun  justru sebaliknya, me-

reka membantu penyebarannya. 

I. Inilah cerita umum tentang apa yang diperbuat oleh mereka se-

mua (ay. 4): Mereka menjelajah seluruh negeri itu sambil membe-

ritakan Injil. Mereka tidak pergi menyembunyikan diri sebab  

takut menderita, atau bahkan untuk menunjukkan bahwa me-

reka bangga dengan penderitaan-penderitaan mereka. Sebaliknya, 

mereka naik turun gunung untuk menyebarkan pengenalan akan 

Kristus di segala tempat di mana mereka tersebar. Mereka pergi 

ke mana-mana, ke jalan bangsa-bangsa lain, dan ke kota-kota 

Samaria, yang sebelumnya tidak boleh mereka kunjungi (Mat. 

10:5). Mereka tidak berkumpul bersama-sama dalam satu tubuh, 

meskipun ini mungkin akan menjadi kekuatan bagi mereka, te-

tapi mereka tersebar ke segala penjuru, bukan untuk mencari ke-

mudahan, melainkan untuk mencari pekerjaan. Mereka pergi 

menginjili dunia, mengabarkan firman Injil. Injil inilah yang me-

menuhi mereka, dan dengannya mereka berusaha memenuhi ne-

geri mereka. Yang menjadi pekabar Injil mengabarkan Injil dengan 

berkhotbah, dan yang lain mengabarkannya melalui percakapan 

biasa. Sekarang mereka berada di negeri di mana tidak ada orang 

asing, sebab Kristus dan murid-murid-Nya sudah banyak ber-

kata-kata di daerah-daerah Yudea. Di sana sudah ada fondasi 


 316

yang di atasnya mereka bisa membangun bangunan. Dan penting 

untuk memberitahukan kepada orang-orang di sana apa jadinya 

dengan ajaran yang sudah diberitakan Tuhan Yesus beberapa 

waktu yang lalu di sana, dan bahwa ajaran itu tidak terhilang dan 

terlupakan, seperti yang mungkin mereka sangkakan. 

II. Cerita khusus tentang apa yang dilakukan Filipus. Kita akan 

mendengar tentang perkembangan dan keberhasilan dari mereka 

yang lain sesudahnya (11:19).namun  di sini kita akan memperha-

tikan gerak-gerik Filipus, bukan Filipus sang rasul, melainkan Fi-

lipus sang diaken, yang dipilih dan ditahbiskan untuk melayani 

meja.namun  sebab  sudah melayani sebagai diaken dengan baik, 

ia beroleh kedudukan yang baik, dan dapat bersaksi dengan le-

luasa (1Tim. 3:13). Stefanus sudah diangkat menjadi martir, se-

mentara Filipus di sini diangkat menjadi penginjil.  saat  baru 

memulai sebagai penginjil, sebab  sekarang ia diwajibkan untuk 

memberi diri mendengar firman dan berdoa, maka, tidak diragukan 

lagi, ia dibebaskan dari pekerjaan sebagai diaken. Sebab bagaimana 

ia bisa melayani meja di Yerusalem, yang wajib dilakukannya se-

bagai diaken, jika  ia mengabarkan Injil di Samaria? Dan ada 

kemungkinan bahwa dua orang lain dipilih untuk menggantikan 

tempat Stefanus dan Filipus. Sekarang amatilah,  

1. Bagaimana Filipus secara menakjubkan berhasil mengabarkan 

Injil, dan bagaimana ia diterima. 

(1) Tempat yang dipilihnya yaitu  kota Samaria, kota utama 

Samaria, kota besar di negeri itu, yang terletak di bekas 

kota Samaria dulu, yang pendiriannya kita baca dalam 1 

Raja-raja 16:24, dan sekarang disebut Sebaste. Sebagian 

orang berpendapat bahwa tempat itu sama dengan Sikhem 

atau Sikhar, kota Samaria yang dikunjungi Kristus (Yoh. 

4:5). Banyak orang dari kota itu percaya kepada Kristus, 

walaupun Ia tidak melakukan mujizat apa-apa di antara 

mereka (ay. 39, 41). Dan sekarang Filipus, tiga tahun sete-

lah itu, melanjutkan pekerjaan yang sudah dimulai waktu 

itu. Orang-orang Yahudi tidak mau berurusan dengan orang-

orang Samaria.namun  Kristus menyampaikan Injil-Nya un-

tuk menghancurkan semua permusuhan, dan terutama 

Kitab Kisah Para Rasul 8:4-13 

 317 

permusuhan antara orang-orang Yahudi dan orang-orang 

Samaria, dengan menyatukan mereka di dalam jemaat-Nya. 

(2) Ajaran yang diberitakannya yaitu  Kristus. Sebab, ia ber-

tekad untuk tidak mau mengetahui yang lain. Ia memberi-

takan Mesias kepada mereka. Ia menyatakan Kristus ke-

pada mereka (demikianlah arti kata yang dipakai), seperti 

seorang raja,  saat  naik takhta, dinyatakan di seluruh wi-

layah kekuasaannya. Orang-orang Samaria mengharapkan 

kedatangan Mesias, seperti yang tampak dalam Yohanes 

4:25. Sekarang Filipus memberi tahu mereka bahwa Mesias 

itu sudah datang, dan bahwa orang-orang Samaria disam-

but oleh-Nya. Urusan hamba-hamba Tuhan yaitu  membe-

ritakan Kristus, yaitu tentang Kristus dan bahwa Dia disa-

libkan, tentang Kristus dan bahwa Ia telah dimuliakan. 

(3) Bukti-bukti yang ditunjukkan-Nya untuk meneguhkan 

ajaran-Nya yaitu  mujizat-mujizat (ay. 6). Untuk meyakin-

kan mereka bahwa Ia diberi mandat dari sorga (dan oleh 

sebab itu mereka tidak saja dapat mempertaruhkan nyawa 

mereka pada apa yang dikatakan-Nya,namun  juga wajib me-

nurutinya), Ia menunjukkan kepada mereka meterai yang 

besar dari langit ini, yang dicapkan pada ajaran-Nya, dan 

yang Tuhan  segala kebenaran tidak akan berdusta menge-

nainya. Mujizat-mujizat itu tidak bisa disanggah. Mereka 

mendengar dan melihat mujizat-mujizat yang diadakan-

Nya. Mereka mendengar kata-kata yang penuh kuasa me-

merintah yang diucapkan-Nya, dan melihat dengan segera 

dampak-dampak yang mengagumkan dari ucapan-Nya itu. 

Apa yang dikatakan-Nya, itu terjadi. Dan sifat dari mujizat-

mujizat itu bekerja sedemikian rupa sehingga sesuai de-

ngan maksud dari tugas perutusan-Nya, dan memberi te-

rang dan kemilau pada tugas itu.  

[1] Ia diutus untuk menghancurkan kuasa Iblis. Dan, se-

bagai pertanda dari hal ini, roh-roh jahat, setelah dipe-

rintah dalam nama Tuhan Yesus untuk enyah, keluar 

dari banyak orang yang kerasukan roh-roh jahat itu (ay. 

7). Sejauh Injil berjaya, Iblis dipaksa melepaskan ceng-

keraman dan kepentingannya atas manusia, sehingga 

mereka yang pada waktu dirasuki mengalami gangguan, 

sekarang tersadar, dan kembali waras. jika  Injil di-


 318

akui dan dituruti sebagaimana mestinya, maka roh-roh 

jahat keluar, terutama roh-roh najis, dan semua kecen-

derungan hawa nafsu daging, yang berperang melawan 

jiwa. Sebab Tuhan  telah memanggil kita dari kecemaran 

kepada kekudusan (1Tes. 4:7). Ini ditandai dengan 

pengusiran roh-roh najis ini dari tubuh orang yang, di 

sini dikatakan, keluar sambil berseru dengan suara ke-

ras, yang menandakan bahwa mereka sangat enggan 

keluar, dan itu sangat bertentangan dengan kehendak 

mereka,namun  mereka terpaksa mengakui bahwa me-

reka dikalahkan oleh sebuah kekuatan yang lebih besar 

(Mrk. 1:26; 3:11; 9:26).  

[2] Ia diutus untuk menyembuhkan pikiran manusia, un-

tuk menyembuhkan dunia yang sakit, dan menyehat-

kannya. Dan, sebagai pertanda dari hal ini, banyak 

orang lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan. 

Yang disebutkan di sini yaitu  penyakit-penyakit yang 

paling sulit disembuhkan oleh kuasa alam (supaya mu-

jizat kesembuhannya semakin nyata), dan yang paling 

menunjukkan penyakit dosa serta ketidakmampuan 

moral yang melemahkan jiwa manusia dalam melayani 

Tuhan . Anugerah Tuhan  di dalam Injil dirancang untuk 

menyembuhkan orang-orang yang lumpuh dan timpang 

secara rohani, yang tidak dapat menolong diri mereka 

sendiri (Rm. 5:6). 

(4) Ajaran Filipus, setelah terbuktikan, diterima di Samaria 

(ay. 6): Orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus de-

ngan bulat hati. Itu disebabkan oleh mujizat-mujizat yang 

pada awalnya berguna untuk menarik perhatian, dan de-

ngan demikian secara bertahap mendapat persetujuan. Tim-

bul harapan jika  orang mulai memperhatikan apa yang 

dikatakan kepada mereka tentang perkara-perkara yang 

menyangkut jiwa dan kehidupan kekal mereka – jika  

mereka mulai mendengarkan firman Tuhan , seperti orang 

yang senang mendengarkannya, yang ingin memahami dan 

mengingatnya, dan yang memandang diri mereka sendiri 

turut berkepentingan di dalamnya. Rakyat biasa mende-

ngarkan Filipus, oi ochloi – banyak dari mereka, bukan satu 

di sana dan satu di sini, melainkan mereka semua dengan 

Kitab Kisah Para Rasul 8:4-13 

 319 

bulat hati, mereka semuanya sepikiran, bahwa ajaran Injil 

layak diselidiki dan didengarkan tanpa rasa curiga. 

(5) Kepuasan yang mereka dapatkan dalam memperhatikan 

dan mendengarkan khotbah Filipus, dan pekerjaan baik 

yang dikerjakannya kepada banyak dari antara mereka (ay. 

8): Sangatlah besar sukacita dalam kota itu. Sebab (ay. 12), 

mereka percaya kepada Filipus, dan memberi diri mereka di-

baptis dalam iman kepada Kristus. Mereka pada umumnya, 

baik laki-laki maupun perempuan. Amatilah,  

[1] Filipus memberitakan Injil tentang Kerajaan Tuhan , pen-

dirian kerajaan itu, hukum-hukum dan ketetapan-kete-

tapannya, kebebasan-kebebasan dan hak-hak istimewa-

nya, dan kewajiban-kewajiban yang mengikat kita se-

mua untuk menjadi warga yang setia kepada kerajaan 

itu. Dan ia memberitakan nama Yesus Kristus, sebagai 

Raja dari kerajaan itu – nama-Nya, yang mengatasi se-

gala nama. Dia memberitakan Injil itu dalam kekuatan 

dan kuasanya yang nyata, dan dalam segala sesuatu 

yang dengannya Ia sudah menyatakan diri-Nya sendiri.  

[2] Orang-orang itu tidak hanya mendengarkan apa yang 

dikatakannya,namun  juga pada akhirnya mempercayai-

nya, sepenuhnya yakin bahwa itu berasal dari Tuhan  dan 

bukan manusia. Dan mereka memberi diri untuk dibim-

bing dan diperintah olehnya. Adapun gunung ini, yang 

di atasnya mereka sudah menyembah Tuhan  sampai saat 

itu, dan memandangnya sebagai masalah yang berkait-

an erat dengan agama mereka, mereka sekarang sudah 

tidak melekat lagi padanya seperti dulu-dulu. Dan me-

reka menjadi penyembah-penyembah yang benar, yang 

menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran, dan dalam 

nama Kristus, bait Tuhan  yang sejati (Yoh. 4:20-23).  

[3]  saat  mereka percaya, tanpa ragu (meskipun mereka 

orang Samaria) dan tanpa ditunda-tunda, mereka dibap-

tis. Mereka dengan terang-terangan mengakui iman Kris-

ten, berjanji untuk setia padanya, dan kemudian, di-

basuh dengan air, dimasukkan secara khidmat ke dalam 

persekutuan jemaat Kristen, dan diakui sebagai sau-

dara-saudara seiman oleh para murid. Hanya laki-laki 

yang bisa diakui sebagai jemaat Yahudi melalui sunat. 


 320

Tetapi, untuk menunjukkan bahwa di dalam Kristus 

Yesus tidak ada laki-laki atau perempuan (Gal. 3:28), 

tetapi keduanya sama-sama disambut oleh Dia, upacara 

penerimaannya dilakukan sedemikian rupa sehingga 

bisa diikuti oleh kaum perempuan, sebab mereka juga 

terhitung sebagai umat Israel Tuhan  secara rohani, mes-

kipun tidak sebagai umat Israel menurut daging (Bil. 

1:2). Dan dari sini dengan mudah bisa disimpulkan 

bahwa kaum perempuan juga diperbolehkan untuk am-

bil bagian dalam perjamuan Tuhan, meskipun tidak 

tampak bahwa ada perempuan yang hadir di antara 

orang-orang itu  saat  hal ini dinyatakan.  

[4] Kejadian ini membawa sukacita besar. Setiap orang ber-

sukacita bagi dirinya sendiri, seperti orang yang diceri-

takan dalam perumpaan yang menemukan harta terpen-

dam di ladang. Dan mereka semua bersukacita atas 

keuntungan yang dibawa ke kota mereka dengan cara 

ini, dan bahwa itu terjadi tanpa perlawanan, yang kecil 

kemungkinannya akan terjadi seandainya Samaria ma-

sih berada di bawah wilayah kekuasaan imam-imam ke-

pala. Perhatikanlah, dibawanya Injil ke tempat mana 

saja akan membawa sukacita, sukacita besar, bagi tem-

pat itu. Oleh sebab itulah penyebaran Injil ke dunia se-

ring kali dinubuatkan dalam Perjanjian Lama sebagai 

penyebaran sukacita ke tengah bangsa-bangsa: Kiranya 

suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai (Mzm. 

67:5; 1Tes. 1:6). Injil Kristus tidak membuat orang men-

jadi murung,namun  memenuhi mereka dengan sukacita, 

jika diterima sebagaimana mestinya. Sebab, Injil yaitu  

berita kesukaan besar untuk seluruh bangsa (Luk. 2:10). 

2. Ada apa khususnya di kota Samaria ini yang membuat keber-

hasilan Injil di sana luar biasa menakjubkan. 

(1) Bahwa Simon si tukang sihir sudah sibuk bekerja di sana, 

dan sudah banyak menarik perhatian orang, namun mere-

ka percaya pada pemberitaan Filipus. Belajar untuk me-

ninggalkan yang buruk sering kali merupakan pekerjaan 

yang lebih sulit dibandingkan  mempelajari yang baik. Orang-

orang Samaria ini, walaupun bukan penyembah berhala se-

Kitab Kisah Para Rasul 8:4-13 

 321 

perti bangsa-bangsa bukan-Yahudi, atau berprasangka bu-

ruk terhadap Injil sebab  adat-istiadat nenek moyang, bela-

kangan ini tertarik untuk mengikuti Simon, seorang tukang 

sihir (sebab itulah yang diartikan dari kata Magus) yang 

membuat kegaduhan di antara mereka, dan secara meng-

herankan membuat mereka takjub. Kita diberi tahu, 

[1] Betapa kuatnya tipuan Iblis yang menggerakkan mereka 

untuk melayani kepentingan-kepentingan si penipu be-

sar ini. Simon sudah selama beberapa waktu, bahkan, 

sudah lama, menggunakan sihir di kota itu. Mungkin ia 

datang ke sana atas hasutan Iblis, segera setelah Juruse-

lamat kita tiba di sana, untuk menggagalkan apa yang 

sudah dikerjakan-Nya di sana. Sebab Iblis selalu mencari 

jalan untuk menghancurkan pekerjaan yang baik  saat  

masih baru berkembang (2Kor. 11:3; 1Tes. 3:5). Nah, 

Pertama, Simon menganggap dirinya luar biasa: Ia 

berlagak seolah-olah ia seorang yang sangat penting, 

dan ingin agar semua orang berpikiran begitu, dan me-

naruh hormat padanya sebagaimana mestinya. Kalau 

sudah begitu, maka untuk hal-hal lain mereka boleh 

berbuat sesuka mereka. Ia tidak berniat memperbarui 

hidup mereka, atau memperbaiki ibadah dan kesalehan 

mereka,namun  hanya ingin membuat mereka percaya 

bahwa ia tis megas – semacam pribadi Tuhan . Justin Martir 

(filsuf Kristen abad kedua yang mati syahid di Roma – 

pen.) berkata bahwa Simon ingin disembah sebagai 

prōton theon – kepala dewa. Ia menyatakan dirinya seba-

gai Anak Tuhan , Mesias, begitu menurut sebagian orang. 

Atau juga sebagai malaikat, atau seorang nabi. Mungkin 

ia tidak yakin di dalam hatinya apa gelar kehormatan 

yang pura-pura dimilikinya.namun  ia ingin agar orang 

menganggap dia sebagai seorang yang sangat penting. 

Kesombongan, hasrat diri, dan rasa diri besar, selalu 

menjadi penyebab dari banyaknya kejahatan baik ter-

hadap dunia maupun terhadap jemaat. 

Kedua, orang-orang memperlakukan dia seperti yang 

diinginkannya.  


 322

1. Semua orang, besar kecil, mengikuti dia, baik muda 

maupun tua, baik miskin maupun kaya, baik peme-

rintah maupun rakyat. Mereka mengikutinya (ay. 10-

11), dan mungkin terlebih lagi sebab  waktu yang dite-

tapkan bagi kedatangan Mesias pada saat itu sudah 

lewat, sementara mereka semua mengharap-harapkan 

kemunculan seseorang yang hebat di saat-saat ini. 

Mungkin Simon yaitu  penduduk asli negeri mereka, 

dan oleh sebab itu mereka merangkulnya dengan lebih 

senang hati, sehingga dengan menghormati dia mereka 

bisa menghormati diri mereka sendiri.  

2.  Mereka berkata tentang dia, orang ini yaitu  kuasa 

Tuhan  yang terkenal sebagai Kuasa Besar – kuasa 

Tuhan , kuasa yang besar itu (begitu ayat ini bisa di-

baca), kuasa yang menjadikan dunia. Lihatlah bagai-

mana orang yang tidak berpengetahuan dan tanpa 

pertimbangan keliru mengira pekerjaan Iblis sebagai 

pekerjaan kuasa Tuhan . Demikianlah, di dunia bangsa-

bangsa bukan-Yahudi, setan dianggap sebagai dewa. 

Dan juga, dalam kerajaan anti-Kristus seluruh dunia 

mengikut binatang, yang kepada dia naga telah mem-

berikan kekuasaannya, dan yang membuka mulut-

nya untuk menghujat Tuhan  (Why, 13:2-5).  

3. Mereka dibuat percaya oleh sihirnya: Ia mentakjubkan 

rakyat Samaria (ay. 9), mentakjubkan mereka oleh per-

buatan sihirnya (ay. 11), maksudnya, entah,  

(1) Dengan ilmu sihirnya ia mentakjubkan pikiran 

orang, setidak-tidaknya sebagian dari mereka, 

yang ikut menarik orang lain. Iblis, dengan seizin 

Tuhan , memenuhi hati mereka sehingga mereka 

mengikuti Simon. Hai orang-orang Galatia yang 

bodoh, tanya Paulus, siapakah yang telah mem-

pesona kamu? (Gal. 3:1). Orang-orang ini dikata-

kan terpesona oleh Simon, sebab  mereka secara 

begitu mengherankan tergila-gila mempercayai 

suatu kebohongan. Atau,  

(2) Dengan ilmu sihirnya ia melakukan banyak tan-

da dan mujizat palsu, yang tampak sebagai muji-

zat,namun  sebenarnya bukan: seperti mujizat para 

Kitab Kisah Para Rasul 8:4-13 

 323 

ahli sihir Mesir, dan mujizat manusia durhaka itu 

(2Tes. 2:9). sebab  mereka tidak tahu yang lebih 

baik, mereka terpengaruh oleh sihirnya.namun , 

 saat  mereka mengenal mujizat-mujizat nyata 

yang dikerjakan Filipus, mereka melihat dengan 

jelas bahwa mujizat Filipus itu asli dan mujizat 

Simon itu palsu, dan bahwa ada perbedaan yang 

sama seperti antara tongkat Harun dan tongkat 

para ahli sihir. Apakah sangkut-paut jerami de-

ngan gandum? (Yer. 23:28).  

Dengan demikian, kendati Simon si ahli sihir 

berpengaruh atas diri mereka, dan mereka pada 

umumnya tidak mau mengakui kesalahan me-

reka dan mencabutnya kembali, namun,  saat  

mereka melihat perbedaan antara Simon dan Fili-

pus, mereka meninggalkan Simon, tidak lagi 

mendengarkan dia, dan beralih mendengarkan 

Filipus. Dengan demikian kita melihat, 

[2] Betapa kuatnya kuasa anugerah Tuhan , yang olehnya me-

reka dibawa kepada Kristus, yang yaitu  kebenaran itu 

sendiri, dan, bisa saya katakan, Yang Menyadarkan 

orang dari ketertipuan mereka. Melalui anugerah yang 

bekerja menyertai firman itu, orang-orang yang sudah 

ditawan oleh Iblis menjadi tunduk kepada Kristus. Seka-

lipun Iblis, sebagai seorang yang kuat dan yang lengkap 

bersenjata, memasuki istana, dan menyangka dirinya 

aman, Kristus, sebagai seorang yang lebih kuat dibandingkan  

dia, mengusir dia, dan membagi-bagikan rampasan-Nya. 

Ia membawa tawanan-tawanan, dan menjadikan seba-

gai piala kemenangan-Nya orang-orang yang sebelum-

nya dimenangkan oleh Iblis. Janganlah kita berputus 

asa menghadapi yang terburuk, sebab  orang-orang 

yang sudah kena sihir Simon si tukang sihir saja kemu-

dian bisa dibuat menjadi orang percaya. 

(2) Inilah satu hal yang lebih indah lagi, bahwa Simon si tu-

kang sihir sendiri menjadi seorang petobat yang beriman 

kepada Kristus, seperti yang ditunjukkan dan diakuinya, 

untuk sementara waktu. Apakah juga Saul termasuk go-


 324

longan nabi? Ya (ay. 13), Simon sendiri juga menjadi perca-

ya. Ia diyakinkan bahwa Filipus memberitakan ajaran yang 

benar, sebab  ia melihat ajarannya diteguhkan oleh muji-

zat-mujizat yang nyata, yang bisa ia nilai dengan lebih baik 

sebab  ia tahu betul bahwa mujizat-mujizat palsunya ha-

nyalah tipuan belaka.  

[1] Keyakinan yang ada padanya sekarang membawa dia 

begitu jauh, sampai-sampai ia dibaptis, dan diakui, se-

perti orang percaya lain, sebagai anggota jemaat melalui 

baptisan. Dan kita tidak memiliki  alasan untuk ber-

pikir bahwa Filipus berbuat kesalahan dalam membap-

tis dia, bahkan dalam membaptisnya cepat-cepat. Mes-

kipun ia sudah berlaku sangat jahat, seorang penyihir, 

seorang yang mengaku memiliki  gelar-gelar kehor-

matan Tuhan , namun,  saat  ia dengan sungguh-sungguh 

bertobat dari dosanya dan mengakui iman kepada Ye-

sus Kristus, ia dibaptis. Sebab, sama seperti kefasikan 

yang besar sebelum bertobat tidak menghalang-halangi 

para petobat yang sungguh-sungguh untuk menerima 

keuntungan-keuntungan anugerah Tuhan , demikian pula 

kefasikan yang besar tidak akan menghalang-halangi 

orang yang mengaku bertobat untuk bersekutu dengan 

jemaat. Anak-anak yang hilang,  saat  kembali, harus 

disambut pulang dengan sukacita, meskipun kita tidak 

bisa memastikan bahwa mereka tidak akan terhilang 

lagi. Bahkan, meskipun sekarang ia hanyalah seorang 

munafik, dan benar-benar terjerat dalam empedu yang 

pahit dan kejahatan selama ini, dan akan segera dida-

pati demikian jika ia diuji terlebih dahulu selama bebe-

rapa waktu, namun Filipus membaptis dia. Sebab hak 

istimewa Tuhan -lah untuk mengetahui hati. Jemaat dan 

hamba-hamba Tuhan harus menilai berdasarkan asas 

kasih, sejauh ada ruang untuk itu. Sudah menjadi pe-

patah dalam hukum, Donec contrarium patet, semper 

praesumitur meliori parti – Kita harus mengharapkan 

yang terbaik sejauh kita bisa. Dan sudah menjadi pe-

patah dalam pengajaran jemaat, De secretis non judicat 

ecclesia – Rahasia hati hanya Tuhan  yang menilai. 

Kitab Kisah Para Rasul 8:14-25 

 325 

[2] Keyakinan yang ada pada Simon saat itu bisa terus ada 

selama ia bersama-sama dengan Filipus. Meskipun ke-

mudian ia menjadi murtad dari Kekristenan, itu tidak 

terjadi dengan cepat. Ia ingin mengenal Filipus, dan 

orang yang tadinya menyatakan diri sebagai seorang 

yang sangat penting sekarang puas dengan hanya du-

duk di bawah kaki seorang pekabar Injil. Begitulah, 

bahkan orang-orang jahat, sangat jahat sekalipun ada-

kalanya berada dalam keadaaan hati yang baik, sangat 

baik. Dan orang yang hatinya masih ingin memuaskan 

ketamakan tidak saja bisa datang di hadapan Tuhan  se-

perti umat-Nya datang kepada Dia,namun  juga terus 

berada bersama-sama dengan mereka. 

[3] Keyakinan yang ada pada diri Simon sekarang itu diker-

jakan dan dijaga oleh mujizat-mujizat. Ia takjub melihat 

dirinya begitu jauh dikalahkan dalam mengadakan tanda-

tanda dan mujizat-mujizat. Banyak orang yang takjub 

pada bukti-bukti kebenaran Tuhan ,namun  tidak pernah 

mengalami kuasanya. 

Kisah Simon Si Tukang Sihir  

(8:14-25)  

14  saat  rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah 

menerima firman Tuhan , mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. 15 Se-

tibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu ber-

oleh Roh Kudus. 16 Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorang pun di an-

tara mereka, sebab  mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. 17 Ke-

mudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka mene-

rima Roh Kudus. 18  saat  Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus ter-

jadi oleh sebab  rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan 

uang kepada mereka, 19 serta berkata:  Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, 

supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh mene-

rima Roh Kudus.” 20namun  Petrus berkata kepadanya:  Binasalah kiranya 

uangmu itu bersama dengan engkau, sebab  engkau menyangka, bahwa eng-

kau dapat membeli karunia Tuhan  dengan uang. 21 Tidak ada bagian atau hak-

mu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Tuhan . 22 Jadi 

bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia 

mengampuni niat hatimu ini; 23 sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti 

empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan.” 24 Jawab Simon:  Hendak-

lah kamu berdoa untuk aku kepada Tuhan, supaya kepadaku jangan kiranya 

terjadi segala apa yang telah kamu katakan itu.” 25 Setelah keduanya bersak-

si dan memberitakan firman Tuhan, kembalilah mereka ke Yerusalem dan 

dalam perjalanannya itu mereka memberitakan Injil dalam banyak kampung 

di Samaria. 


 326

Tuhan  secara menakjubkan sudah mengakui Filipus dalam pekerjaan-

nya sebagai seorang penginjil di Samaria,namun  Filipus tidak bisa me-

lakukan apa yang lebih dari seorang penginjil. Ada kuasa-kuasa isti-

mewa yang hanya diperuntukkan bagi para rasul, untuk menjaga ke-

hormatan jabatan mereka, dan di sini kita mendapati cerita tentang 

apa yang dikerjakan oleh dua dari antara mereka di sana, yaitu 

Petrus dan Yohanes. Kedua belas rasul tetap berkumpul bersama-

sama di Yerusalem (ay. 1), dan ke sanalah kabar baik ini dibawa 

kepada mereka, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Tuhan  

(ay. 14), bahwa panen jiwa yang besar itu sudah terkumpul, dan ke-

mungkinan akan dikumpulkan kepada Kristus di sana. Firman Tuhan  

tidak hanya diberitakan kepada mereka,namun  juga diterima oleh me-

reka. Mereka menyambutnya, menerima cahayanya, dan tunduk 

pada kuasanya:  saat  mereka di Yerusalem mendengarnya, mereka 

mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. Seandainya Petrus yaitu , se-

perti yang dikatakan sebagian orang, kepala dari para rasul itu, maka 

dialah yang akan mengutus beberapa dari mereka, atau, seandainya 

ia melihat ada alasan, ia sendiri akan pergi ke sana atas kemauan-

nya.namun , ia sama sekali bukanlah orang yang demikian, malah dia 

justru tunduk pada perintah kumpulan rasul itu, dan, seperti layak-

nya hamba bagi jemaat, ia pergi ke tempat mereka mengutusnya. 

Dua rasul diutus, dua yang paling terkemuka, ke Samaria, 

1. Untuk membesarkan hati Filipus, untuk membantu dia, dan mem-

perkuat tangannya. Hamba-hamba Tuhan yang memangku jabat-

an lebih tinggi, dan yang unggul dalam berbagai karunia dan anu-

gerah, harus berusaha membantu orang-orang dalam kedudukan 

yang lebih rendah, dan turut mendukung bagi penghiburan dan 

kegunaan mereka.  

2.  Untuk melanjutkan pekerjaan baik yang sudah dimulai di antara 

orang banyak, dan, dengan anugerah-anugerah sorgawi yang su-

dah memperkaya mereka itu, memberi  karunia-karunia rohani 

kepada mereka. Sekarang amatilah, 

I. Bagaimana mereka mengangkat dan mengembangkan orang-

orang yang tulus dari antara mereka. Dikatakan (ay. 16), Roh Ku-

dus belum turun di atas seorang pun di antara mereka, dengan 

segala kuasa luar biasa yang disampaikan melalui turunnya Roh 

Kudus pada hari Pentakosta itu. Tak satu pun dari mereka yang 

diberi karunia bahasa lidah, yang pada saat itu tampak sebagai 

Kitab Kisah Para Rasul 8:14-25 

 327 

dampak paling biasa yang langsung terjadi dari pencurahan Roh. 

Lihat pasal 10:45-46. Ini sekaligus merupakan tanda yang jelas 

bagi orang-orang yang tidak percaya dan pelayanan yang mulia 

bagi orang-orang percaya. Karunia ini, dan karunia-karunia lain 

semacamnya, tidak mereka miliki, mereka hanya dibaptis dalam 

nama Tuhan Yesus. Jadi mereka telah menjadi bagian dari Dia 

dan memiliki  kepentingan di dalam Dia, yang penting bagi ke-

selamatan mereka. Dan dalam hal ini mereka bersukacita dan 

puas (ay. 8), meskipun mereka tidak bisa berbicara dengan bahasa 

roh. Mereka yang benar-benar diserahkan kepada Kristus, dan te-

lah mengalami kuasa dan pekerjaan yang menguduskan dari Roh 

anugerah, memiliki  banyak alasan untuk bersyukur, dan tidak 

memiliki  alasan untuk mengeluh, meskipun mereka tidak 

memiliki  karunia-karunia hiasan dan bisa membuat mereka 

bersinar. Namun yang dimaksudkan di sini yaitu  agar mereka 

terus menyelesaikan dengan sempurna apa yang sudah menjadi 

bagian mereka pada waktu itu, demi kehormatan Injil yang lebih 

besar. Kita memiliki  alasan untuk berpikir bahwa Filipus su-

dah menerima karunia-karunia Roh Kudus ini sendiri,namun  tidak 

memiliki  kuasa untuk memberi nya. Para rasul harus da-

tang untuk melakukannya. Dan mereka tidak melakukan ini pada 

semua orang yang sudah dibaptis,namun  pada sebagian saja dari 

mereka, dan, tampaknya, pada orang-orang yang dirancang untuk 

memangku suatu jabatan di dalam jemaat, atau setidak-tidaknya 

untuk menjadi anggota-anggotanya yang giat. Dan pada sebagian 

dari antara mereka diberikan satu karunia Roh Kudus, dan pada 

sebagian yang lain diberikan karunia lain. Lihat 1 Korintus 12:4, 

8; 14:26. Nah, untuk melakukannya,  

1. Kedua rasul itu berdoa untuk mereka (ay 15). Roh diberikan, 

bukan hanya untuk diri kita sendiri (Luk. 11:13), melainkan 

juga untuk orang lain, sebagai jawaban doa: Roh-Ku akan Ku-

berikan diam di dalam batinmu (Yeh. 36:27),namun  untuk itu 

Aku menginginkan, supaya kaum Israel meminta dari pada-Ku 

(ay. 37). Kita dapat mengambil penghiburan dari contoh ini, 

bahwa dalam berdoa, kita harus meminta kepada Tuhan  untuk 

memberi  anugerah-anugerah Roh Kudus yang memperba-

harui bagi orang yang kita perhatikan keselamatan rohaninya, 

yaitu bagi anak-anak kita, bagi sahabat-sahabat kita, bagi 

hamba-hamba Tuhan yang melayani kita. Kita harus berdoa, 


 328

dan berdoa dengan sungguh-sungguh, supaya mereka beroleh 

Roh Kudus. Sebab karunia Roh Kudus ini mencakup semua 

berkat.  

2. Kedua rasul itu menumpangkan tangan atas mereka, untuk 

menandakan bahwa doa-doa mereka dijawab, dan bahwa ka-

runia Roh Kudus dianugerahkan kepada mereka. Sebab, pada 

saat menggunakan tanda ini, mereka menerima Roh Kudus, 

dan berbicara dengan bahasa roh. Penumpangan tangan digu-

nakan pada zaman dulu untuk memberkati, oleh mereka yang 

memberi berkat dengan kewenangan. Demikianlah para rasul 

memberkati orang-orang yang baru bertobat ini, menahbiskan 

sebagian sebagai hamba-hamba Tuhan, dan meneguhkan se-

bagian yang lain dalam iman Kristen mereka. Sekarang kita ti-

dak bisa, dan tak seorang pun yang bisa, memberi  Roh Ku-

dus dengan cara menumpangkan tangan seperti itu.namun  hal 

ini dapat menunjukkan kepada kita bahwa jika  kita men-

doakan orang, kita harus berusaha untuk membantu mereka. 

II. Bagaimana mereka menemukan dan membuang orang munafik 

dari antara mereka, dan orang ini yaitu  Simon si tukang sihir. 

Sebab mereka tahu bagaimana membedakan antara yang berhar-

ga dan yang hina. Sekarang amatilah di sini, 

1. Usulan jahat yang dibuat Simon, yang dengannya kemunafik-

annya terbongkar (ay. 18-19):  saat  ia melihat, bahwa pem-

berian Roh Kudus terjadi oleh sebab  rasul-rasul itu menum-

pangkan tangannya (yang seharusnya meneguhkan imannya 

kepada ajaran Kristus, dan memperbesar rasa hormatnya ter-

hadap para rasul), timbul gagasan dalam dirinya tentang Ke-

kristenan sebagai sesuatu yang tidak lain dari ilmu sihir ting-

kat tinggi. Dan ia menganggap dirinya juga mampu menjadi 

seperti para rasul dalam mencapai ilmu sihir itu, dan sebab  

itu ia menawarkan uang kepada mereka, serta berkata:  Beri-

kanlah juga kepadaku kuasa itu.” Dia tidak ingin mereka me-

numpangkan tangan atasnya, supaya ia sendiri bisa menerima 

Roh Kudus (sebab ia tidak melihat bahwa cara itu dipakai 

untuk memperoleh berkat),namun  menghendaki agar meng-

alihkan saja suatu kuasa kepadanya supaya ia juga mampu 

memberi  karunia itu kepada orang lain. Ia sangat ingin 

mendapat kehormatan sebagai seorang rasul,namun  sama se-

Kitab Kisah Para Rasul 8:14-25 

 329 

kali tidak memiliki  kemauan untuk memiliki Roh dan sikap 

hati seorang Kristen. Dia lebih ingin mendapat kehormatan 

bagi dirinya sendiri dibandingkan  berbuat baik kepada orang lain. 

Nah, dalam mengajukan permohonan ini,  

(1) Ia sangat menghina para rasul, seolah-olah mereka mata 

duitan, mau melakukan apa saja demi uang, dan cinta uang 

sama seperti dia. Padahal dalam kenyataannya mereka su-

dah meninggalkan apa yang mereka miliki demi Kristus, dan 

sama sekali tidak memiliki  niat untuk mendapat keun-

tungan.  

(2) Ia sangat menghina Kekristenan, seolah-olah semua mujizat 

yang diadakan untuk membuktikan kebenaran iman Kris-

ten itu dilakukan dengan ilmu sihir, hanya saja sifatnya 

berbeda dari apa yang sebelumnya ia sendiri lakukan.  

(3) Ia menunjukkan bahwa, seperti Bileam, ia bermaksud men-

dapatkan upah dan penghargaan lewat ilmu sihir. Sebab ia 

tidak akan menawarkan uang untuk mendapatkan kekuat-

an ini seandainya ia tidak berharap untuk memperoleh 

uang lewat ilmu itu.  

(4) Ia menunjukkan bahwa ia memandang dirinya sendiri de-

ngan sangat tinggi, dan sama sekali tidak memiliki keren-

dahan hati sedikit pun. Orang malang seperti dia, sebelum 

dibaptis, seharusnya meminta, seperti si anak hilang, un-

tuk dijadikan sebagai seorang upahan saja. Namun, segera 

setelah diakui dalam keluarga, ia tidak akan puas menda-

pat tempat yang lebih rendah dari salah satu pengurus ru-

mah, atau jika tidak diberi kekuasaan yang tidak dimiliki 

oleh Filipus sendiri,namun  yang hanya dimiliki para rasul. 

2. Sudah sewajarnya usulannya ditolak, dan Petrus menegurnya 

dengan keras untuk itu (ay. 20-23). 

(1) Petrus memperlihatkan kejahatan apa yang diperbuat Simon 

(ay. 20): Engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli 

karunia Tuhan  dengan uang. Dengan kejahatan ini,  

[1] Simon si tukang sihir itu memandang kekayaan dunia 

ini terlalu tinggi, seolah-olah kekayaan itu bisa untuk 

apa saja. Juga, seakan-akan, seperti kata Salomo, uang 

memungkinkan semuanya (KJV: kekayaan memberi ja-

waban bagi segala sesuatu – pen.), yang berkaitan de-


 330

ngan kehidupan sekarang ini, maka uang juga akan 

memberi jawaban bagi segala sesuatu yang berkaitan de-

ngan kehidupan di akhirat, dan bisa membeli pengam-

punan dosa, karunia Roh Kudus, dan kehidupan kekal.  

[2]  Simon memandang rendah karunia Roh Kudus dan me-

nempatkannya sederajat dengan karunia-karunia biasa 

dari pemeliharaan alam. Ia menyangka bahwa kekuatan 

seorang rasul juga bisa diperoleh dengan membayar 

uang yang cukup, sama seperti membayar jasa seorang 

dokter atau pengacara. Ini sungguh merupakan penghi-

naan terbesar terhadap Roh anugerah. Segala kebiasa-

an membeli dan menjual surat pengampunan dan peng-

hapusan dosa di gereja Roma yaitu  hasil dari sang-

kaan jahat yang sama ini, bahwa karunia Tuhan  dapat 

dibeli dengan uang, sementara tawaran anugerah Tuhan  

dengan begitu jelas terjadi tanpa uang dan tanpa harga. 

(2) Petrus menunjukkan kepada Simon seperti apa sikap hati-

nya, yang bisa tampak dari kejahatannya itu. Hanya dari 

kesalahan yang dikatakan dan dilakukan orang, kita tidak 

bisa menyimpulkan bahwa ia munafik  saat  mengaku se-

bagai orang yang beragama.namun  kesalahan Simon ini se-

demikian mendasar sehingga tidak mungkin orang yang ber-

oleh anugerah melakukannya. Dengan menawarkan uang 

(dan itu pun didapat dari ilmu sihir), itu menunjukkan bukti 

yang tidak dapat disanggah bahwa ia masih berada di 

bawah kuasa pikiran duniawi dan kedagingan, dan masih 

menjadi manusia duniawi yang tidak menerima apa yang 

berasal dari Roh Tuhan , dan juga tidak memahaminya. Dan 

oleh sebab itu, Petrus memberi tahu dia jelas-jelas,  

[1] Bahwa hatinya tidak lurus di hadapan Tuhan  (ay. 21). 

 Meskipun engkau mengaku percaya, dan dibaptis, na-

mun engkau tidak tulus hati.” Siapa kita ditentukan 

oleh hati kita. Jika hati kita tidak benar, maka kita sa-

lah. Dan hati kita terbuka di hadapan Tuhan , yang me-

ngetahuinya, menghakiminya, dan menghakimi kita 

berdasarkan hati kita itu. Bagaimana hati kita di mata 

Tuhan , itulah keadaannya yang sebenarnya, sebab Tuhan  

tidak dapat ditipu. Dan jika hati kita tidak benar dalam 

Kitab Kisah Para Rasul 8:14-25 

 331 

pandangan-Nya, apa pun kepura-puraan kita, maka 

sia-sialah agama kita, dan tidak akan membawa man-

faat apa-apa bagi kita. Yang harus menjadi perhatian 

besar kita yaitu  bagaimana membuat diri kita berke-

nan kepada-Nya dengan cara hidup jujur, sebab jika 

tidak demikian maka kita menipu diri kita sendiri, yang 

akan membawa pada kebinasaan. Sebagian orang 

menghubungkan masalah ini secara khusus dengan 

usulan yang diajukan Simon. Apa yang dimintanya ti-

dak diberikan, sebab  hatinya tidak lurus di hadapan 

Tuhan  dalam meminta itu. Ia tidak mengusahakan ke-

muliaan Tuhan  atau kehormatan Kristus dengan usulan-

nya itu,namun  memanfaatkannya untuk dirinya sendiri. 

Ia berdoa,namun  tidak menerima apa-apa, sebab  ia sa-

lah berdoa, sebab yang dia minta itu hendak dihabiskan-

nya untuk memuaskan hawa nafsunya, dan ia ingin te-

tap dipandang sebagai seorang yang sangat penting.  

[2] Bahwa hatimu sudah seperti empedu yang pahit dan 

terjerat dalam kejahatan: sebab kulihat bahwa engkau 

begitu (ay. 23). Beginilah cara tegas untuk mengurus 

masalah, dan ketegasan dalam mengurus masalah ada-

lah hal terbaik jika  kita berurusan dengan perkara 

jiwa dan kehidupan kekal. Simon sudah mendapat na-

ma besar di kalangan orang banyak, dan belakangan ini 

mendapat nama baik juga di kalangan umat Tuhan , te-

tapi Petrus di sini menggambarkannya dengan sifat 

yang buruk. Perhatikanlah, mungkin saja seseorang te-

tap berada di bawah kuasa dosa,namun  ia menunjukkan 

sikap saleh. Sebab kulihat begitu, ujar Petrus. Bukan 

melalui karunia roh yang mencerna sifat orang, yang di-

miliki Petrus, sehingga ia bisa melihatnya, melainkan 

terlebih melalui apa yang diungkapkan Simon sendiri 

dengan usulannya. Perhatikanlah, kedok orang-orang 

munafik sering kali cepat terbuka. Sifat serigala menun-

jukkan dirinya sendiri kendati ia berbulu domba. Nah, 

sifat yang digambarkan untuk Simon di sini benar-be-

nar merupakan sifat semua orang jahat. Pertama, hati 

mereka seperti empedu yang pahit – menjijikkan bagi 

Tuhan , seperti halnya kita jijik pada apa yang pahit 


 332

seperti empedu. Dosa yaitu  hal yang keji, yang dibenci 

Tuhan, yang sebab nya orang-orang berdosa menjadi 

kekejian di mata-Nya. Dalam kodratnya dosa itu sudah 

ada sifat kejinya. Dosa yang berdiam dalam diri orang 

yaitu  akar kepahitan, yang menghasilkan racun atau 

ipuh (Ul. 29:18). Kemampuan-kemampuan jiwa menjadi 

rusak, dan pikiran menjadi pahit terhadap segala sesuatu 

yang baik (Ibr. 12:15). Itu juga menunjukkan dampak-

dampak yang merusak dari dosa. Ujungnya pahit seperti 

empedu. Kedua, hati mereka terjerat dalam kejahatan. 

Terjerat dalam penghakiman Tuhan  sebab  kesalahan 

dosa, dan terjerat di bawah kuasa Iblis sebab  kuasa 

dosa. Hati mereka ditawan oleh kuasa Iblis untuk me-

nuruti kehendaknya, dan ini perbudakan yang berat, se-

perti perbudakan di Mesir, yang membuat hidup pahit. 

(3) Petrus menyatakan kebinasaan Simon dalam dua hal: 

[1] Ia akan tenggelam dengan kekayaan duniawinya, yang 

sangat dihargainya: Binasalah kiranya uangmu itu ber-

sama dengan engkau.  

Pertama, dengan berkata demikian Petrus menolak 

tawarannya dengan nada yang amat menghina dan ma-

rah:  Sangkamu engkau dapat menyuap kami untuk 

mengkhianati kepercayaan yang diberikan kepada kami, 

dan memberi  kuasa yang dipercayakan kepada kami 

kepada tangan yang tidak layak seperti kamu ini? 

Enyahlah engkau dan semua uangmu itu. Kami tidak 

ada sangkut paut apa pun denganmu atau uangmu. 

Enyahlah Iblis.” jika  kita digoda dengan uang untuk 

melakukan kejahatan, kita harus melihat betapa uang 

itu yaitu  barang yang dapat binasa, dan jangan mau 

dibujuk olehnya. Orang jujur akan mengebaskan ta-

ngannya supaya jangan ia menerima dan menyentuh 

suap (Yes. 33:15).  

Kedua, ia memperingatkan Simon bahwa ia akan 

binasa jika terus berpikiran seperti ini:  Uangmu akan 

binasa dan engkau akan kehilangan itu, serta segala se-

suatu yang dapat engkau beli dengannya. Sama seperti 

makanan yaitu  untuk perut dan perut untuk makanan 

Kitab Kisah Para Rasul 8:14-25 

 333 

(1Kor. 6:13), demikian pula barang yaitu  untuk uang 

dan uang untuk barang,namun  kedua-duanya akan dibi-

nasakan Tuhan . Kedua-duanya binasa jika  diguna-

kan.namun  ini belum yang terburuk. Engkau akan bi-

nasa dengan uangmu itu, dan uangmu akan binasa ber-

sama dengan engkau. Dan kehancuranmu akan semakin 

berat, jiwamu yang binasa semakin berbeban berat, ka-

rena engkau sebenarnya memiliki  uang yang semes-

tinya bisa dimanfaatkan untuk maksud baik (Luk. 

16:9). Uang itu bisa saja ditaruh di bawah kaki para ra-

sul, sebagai amal, dan akan diterima,namun  engkau ma-

lah menyodorkannya kepada mereka sebagai suap, dan 

ditolak. Anakku, ingatlah akan hal ini.” 

[2] Ia akan kehilangan berkat-berkat rohani yang engkau 

pandang rendah itu (ay. 21):  Tidak ada bagian atau 

hakmu dalam perkara ini. Engkau tidak memiliki  

urusan apa-apa dengan karunia-karunia Roh Kudus, 

engkau tidak memahaminya, engkau dikeluarkan dari-

nya, engkau telah menempatkan penghalang di pintumu 

sendiri. Engkau sendiri tidak dapat menerima Roh ku-

dus, atau kuasa untuk meneruskan Roh Kudus kepada 

orang lain, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Tuhan , 

jika engkau berpikir bahwa Kekristenan yaitu  barang 

dagangan untuk mencari nafkah di dunia ini. Oleh se-

bab itu, tidak ada bagian atau hakmu dalam kehidupan 

kekal di dunia lain yang ditawarkan Injil.” Perhatikanlah,  

Pertama, ada banyak orang yang mengaku beraga-

ma Kristen, namun tidak memiliki bagian atau hak di 

dalamnya, tidak memiliki bagian di dalam Kristus (Yoh. 

13:8), tidak memiliki bagian di dalam Kanaan sorgawi.  

Kedua, mereka yaitu  orang-orang yang hatinya ti-

dak lurus di hadapan Tuhan , tidak digerakkan oleh roh 

yang benar, atau dibimbing oleh aturan yang benar, 

atau dipimpin ke tujuan yang benar. 

(4) Dia memberinya nasihat yang baik, kendati demikian (ay. 

22), meskipun marah terhadap Simon, ia tidak meninggal-

kannya. Dan, walaupun ia ingin agar Simon melihat bahwa 

masalahnya ini sangat buruk, ia tidak mau Simon berpikir 


 334

bahwa sudah tidak ada lagi harapan baginya. Sekarang 

juga masih ada harapan bagi Israel. Amatilah, 

[1] Apa yang dinasihatinya untuk Simon: Simon harus me-

lakukan apa yang harus pertama-tama dilakukannya.  

Pertama, ia harus bertobat. Ia harus melihat kesa-

lahannya dan mencabutnya kembali. Ia harus meng-

ubah pikiran dan jalannya. Ia harus rendah hati dan 

malu atas apa yang telah diperbuatnya. Pertobatannya 

harus dilakukan secara terperinci:  Bertobatlah dari 

perbuatanmu ini, akuilah bahwa engkau bersalah de-

ngan perbuatan ini, dan menyesTuhan  untuk itu.” Ia ha-

rus membebani dirinya sendiri sebab  perbuatan itu, 

tidak boleh memperlunaknya, dengan menyebutnya se-

bagai suatu kekeliruan, atau semangat yang salah sa-

luran,namun  harus memperberatnya dengan menyebut-

nya sebagai kejahatan, kejahatannya, buah dari kefa-

sikannya sendiri. Orang-orang yang sudah berkata dan 

berbuat salah harus, sejauh mereka bisa, mencabut 

dan menariknya kembali dengan pertobatan.  

Kedua, ia harus berdoa kepada Tuhan , harus berdoa 

agar Tuhan  mau membuatnya bertobat, dan mengam-

puni dosanya setelah ia bertobat. Orang yang bertobat 

harus berdoa, yang menunjukkan kerinduannya akan 

Tuhan , dan akan keyakinan di dalam Kristus. Simon si 

tukang sihir, sekalipun menganggap dirinya seorang 

yang sangat penting, tidak akan diundang bersekutu 

dengan para rasul (betapapun sebagian orang berpikir 

bahwa itu akan membawa kehormatan bagi mereka) 

dengan syarat-syarat lain selain yang juga dituntut atas 

orang-orang berdosa lain, yaitu bertobat dan berdoa.  

[2] Bagaimana ia mendorong Simon untuk melakukannya: 

berdoalah kepada Tuhan , supaya Ia mengampuni niat 

hatimu ini, niat hatimu yang jahat ini. Perhatikanlah,  

Pertama, bisa saja ada banyak kejahatan di dalam 

niat hati, gagasan-gagasannya yang keliru, perasaan-

perasaannya yang kotor, dan rancangan-rancangannya 

yang fasik, yang darinya kita harus bertobat, atau kalau 

tidak kita akan binasa.  

Kitab Kisah Para Rasul 8:14-25 

 335 

Kedua, pikiran hati, meskipun begitu jahat, akan 

diampuni, jika  kita bertobat, dan tidak dituntut dari 

kita. Sewaktu Petrus di sini memasukkan kata mungkin 

(KJV: mungkin saja niat hatimu ini diampuni), ia terlebih 

ragu pada ketulusan pertobatan Simon, bukan pada 

pengampunan kepadanya jika  ia bertobat dengan 

tulus. Supaya niat hatimu ini bisa diampuni, begitu kita 

bisa membacanya. Atau itu menunjukkan bahwa sebab  

dosanya besar, maka wajar saja jika pengampunan atas 

dosa itu diragukan, meskipun janji Injil sudah mengha-

puskan keraguan akan hal itu, kalau memang ia benar-

benar bertobat: seperti dalam Ratapan 3:29, mungkin 

ada harapan. 

[3] Permintaan Simon kepada para rasul untuk berdoa 

baginya (ay. 24). Ia tersentak dan cemas oleh perkataan 

Petrus, sebab  mendapati bahwa apa yang disangkanya 

akan diterima dengan tangan terbuka ternyata dibenci 

sedemikian rupa. Dan ia berseru, hendaklah kamu ber-

doa untuk aku kepada Tuhan, supaya kepadaku jangan 

kiranya terjadi segala apa yang telah kamu katakan itu. 

Inilah,  

Pertama, sesuatu yang baik, yaitu bahwa ia mende-

ngar teguran yang diberikan kepadanya, dan takut de-

ngan apa yang digambarkan tentang sifat dia, yang bisa 

membuat gemetar hati yang paling berani sekalipun. 

Dan, sebab  demikian yang akan terjadi, ia memohon 

agar para rasul berdoa untuknya, sambil berharap men-

dapat kepentingan di dalam mereka, yang dipercayainya 

memiliki  kepentingan yang baik di sorga.  

Kedua, ada sesuatu yang kurang. Ia memohon me-

reka untuk berdoa bagi dia,namun  ia sendiri tidak ber-

doa bagi dirinya sendiri, seperti yang semestinya dia la-

kukan. Dan, dalam menginginkan mereka untuk berdoa 

bagi dia, yang lebih diperhatikannya yaitu  agar peng-

hakiman-penghakiman yang akan menimpanya sebab  

kesalahannya sendiri bisa dicegah, dan bukan agar 

kerusakan-kerusakan sifatnya bisa dimatikan, dan hati-

nya, oleh anugerah Tuhan , diluruskan di hadapan Tuhan . 

Seperti Firaun, yang ingin agar Musa memohon kepada 


 336

Tuhan untuk dia, supaya Ia menyingkirkan kematian 

ini saja, dan bukan supaya Ia menyingkirkan dosa ini, 

kekerasan hati ini (Kel. 8:8; 10:17). Sebagian orang ber-

pendapat bahwa Petrus sudah menyatakan penghakiman-

penghakiman tertentu melawan dirinya, seperti mela-

wan Ananias dan Safira.namun  kemudian itu dicegah, 

pada saat Simon berserah diri, melalui perantaraan Ra-

sul Petrus. Atau, dari apa yang disampaikan di sini, ia 

bisa menyimpulkan bahwa suatu tanda murka dari Tuhan  

akan jatuh menimpa dia, yang begitu ditakuti dan ingin 

dihindarinya. 

Terakhir, di sini para rasul kembali ke Yerusalem, setelah me-

reka menyelesaikan urusan mereka, sebab sampai saat ini mereka 

belum tersebar.namun , walaupun mereka datang ke sini untuk me-

lakukan apa yang menjadi pekerjaan rasul, namun, sebab  kesem-

patan itu datang dengan sendirinya, mereka mengerjakan pekerjaan 

yang biasa dilakukan semua pelayan Injil.  

1. Di sana, di kota Samaria, mereka berkhotbah: Mereka memberita-

kan firman Tuhan, dengan penuh kesungguhan menegaskan kebe-

naran Injil, dan meneguhkan apa yang sudah diberitakan oleh 

hamba-hamba Tuhan yang lain. Mereka tidak berpura-pura mem-

bawa sesuatu yang baru, meskipun mereka yaitu  para rasul, te-

tapi memberi  kesaksian tentang firman Tuhan sebagaimana 

mereka sudah menerimanya.  

2. Dalam perjalanan mereka pulang, mereka berkhotbah sambil ber-

keliling.  saat  melewati banyak desa orang Samaria, mereka 

memberitakan Injil. Meskipun jemaat-jemaat di sana tidak begitu 

besar seperti jemaat di kota-kota, entah dalam jumlah atau orang 

ternama, namun jiwa mereka sama berharganya, dan para rasul 

tidak menganggap rendah mengabarkan Injil kepada mereka. Tuhan  

memperhatikan orang-orang-Nya di kampung-kampung di Israel 

(Hak. 5:11), dan begitu pula seharusnya kita. 

Filipus dan Seorang Etiopia  

(8:26-40) 

26 Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: 

 Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun 

dari Yerusalem ke Gaza.” Jalan itu jalan yang sunyi. 27 Lalu berangkatlah

Kitab Kisah Para Rasul 8:26-40 

 337 

Filipus. yaitu  seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala per-

bendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem 

untuk beribadah. 28 Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan 

duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya. 29 Lalu kata Roh 

kepada Filipus:  Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!” 30 Filipus segera ke 

situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata 

Filipus:  Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?” 31 Jawabnya:  Bagaima-

nakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” Lalu ia 

meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya. 32 Nas yang dibacanya itu 

berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; 

dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulu-

nya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya. 33 Dalam kehinaan-Nya ber-

langsunglah hukuman-Nya; siapakah yang akan menceriterakan asal usul-

Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi. 34 Maka kata sida-sida itu kepada 

Filipus:  Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? 

Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?” 35 Maka mulailah Filipus 

berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya. 36 

Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada 

air. Lalu kata sida-sida itu:  Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika 

aku dibaptis?” 37 [Sahut Filipus:  Jika tuan percaya dengan segenap hati, bo-

leh.” Jawabnya:  Aku percaya, bahwa Yesus Kristus yaitu  Anak Tuhan .”] 38 

Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya tu-

run ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis 

dia. 39 Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan 

Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya 

dengan sukacita. 40namun  ternyata Filipus ada di Asdod. Ia berjalan melalui 

daerah itu dan memberitakan Injil di semua kota sampai ia tiba di Kaisarea. 

Di sini kita mendapati kisah tentang seorang sida-sida dari Etiopia 

yang bertobat dan memeluk iman kepada Kristus, yang oleh dia, kita 

bisa menduga, pengetahuan tentang Kristus tersebar di negeri ia 

tinggal. Dan dengan demikian digenapilah nas Kitab Suci itu, Etiopia 

bersegera mengulurkan tangannya (salah satu bangsa yang pertama-

tama melakukannya) kepada Tuhan  (Mzm. 68:32). 

I. Filipus sang penginjil diarahkan ke jalan di mana ia akan bertemu 

dengan seorang Etiopia ini (ay 26).  saat  jemaat-jemaat di Sama-

ria sudah menetap, dan hamba-hamba Tuhan sudah ditentukan 

untuk mereka, para rasul kembali ke Yerusalem.namun  Filipus te-

tap tinggal, dengan berharap akan diberi tugas untuk membajak 

tanah baru di negeri itu. Dan di sini kita mendapati,  

1. Sebuah petunjuk diberikan kepada dia oleh malaikat (mungkin 

dalam mimpi atau penglihatan di suatu malam) tentang arah 

mana yang harus dia tuju: Bangunlah dan berangkatlah ke se-

belah selatan. Meskipun para malaikat tidak diberi tugas un-

tuk mengabarkan Injil, mereka sering kali diberi tugas untuk 

menyampaikan pesan-pesan kepada hamba-hamba Tuhan un-


 338

tuk memberi mereka nasihat dan dorongan, seperti dalam pa-

sal 5:19. Sekarang kita tidak dapat mengharapkan bimbingan-

bimbingan seperti itu di jalan.namun  tidak diragukan lagi 

bahwa ada pemeliharaan Tuhan  secara khusus dalam berpindah 

dan menetapnya hamba-hamba Tuhan, dan dengan satu atau 

lain cara, ia akan mengarahkan orang-orang yang tulus dan 

rindu untuk mengikuti-Nya ke jalan yang di dalamnya Ia akan 

mengakui mereka: Ia akan membimbing mereka dengan mata-

Nya. Filipus harus berangkat ke sebelah selatan, menurut jalan 

yang turun dari Yerusalem ke Gaza, melewati padang pasir 

atau padang gurun Yudea. Dia tidak akan pernah berpikir un-

tuk pergi ke sana, ke padang gurun, ke jalan raya melewati pa-

dang gurun. Pekerjaan apa yang bisa didapat di sana? Namun, 

ke sanalah ia diutus, sesuai perumpamaan Juruselamat kita, 

yang menubuatkan panggilan terhadap bangsa-bangsa bukan-

Yahudi, pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan (Mat. 

22:9). Kadang-kadang Tuhan  membuka pintu bagi para hamba-

Nya di tempat-tempat yang tidak terpikirkan oleh mereka.  

2.  Ketaatannya kepada petunjuk ini (ay. 27): Lalu berangkatlah 

Filipus, tanpa mengajukan keberatan, atau sekadar bertanya, 

 Apa urusanku di sana?” Atau,  Perbuatan baik apa yang bisa 

dilakukan di sana?” Ia berangkat dengan tidak mengetahui 

tempat yang ia tujui, atau siapa yang harus ia temui. 

II. Diberitahukan sesuatu tentang sida-sida ini (ay. 27), siapa dia 

dan apa kedudukannya, yang kepadanya diberikan kebaikan isti-

mewa ini. 

1. Ia yaitu  seorang asing, seorang Etiopia. Ada dua negeri Etiopia, 

yang satu di Arabia,namun  itu terletak di sebelah timur dari 

Kanaan. Tampaknya orang ini yaitu  orang Etiopia dari Afri-

ka, yang terletak di sebelah selatan, di luar Mesir, sangat jauh 

dari Yerusalem. Sebab di dalam Kristus yang dahulu  jauh,” su-

dah menjadi  dekat, sesuai dengan janji itu, bahwa segala 

ujung bumi melihat keselamatan yang besar. Orang-orang Etio-

pia itu dipandang sebagai orang yang paling rendah dan hina 

dari bangsa-bangsa, orang-orang kulit hitam, seolah-olah alam 

sudah menodai mereka. Namun Injil disampaikan kepada me-

reka, dan anugerah Tuhan  memandang mereka, meskipun mereka 

hitam, meskipun matahari sudah menyengat mereka.  

Kitab Kisah Para Rasul 8:26-40 

 339 

2.  Ia seorang yang terhormat, seorang pembesar di negerinya, se-

orang sida-sida, bukan berarti seorang yang dikebiri, melain-

kan seorang petugas atau pengurus istana. Dan entah sebab  

kehormatan kedudukannya atau sifat pribadinya, yang meng-

undang rasa hormat, ia menjadi seorang pembesar, dan men-

jadi orang kepercayaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang 

ada kemungkinan merupakan penerus Ratu Seba, yang dise-

but ratu dari Selatan. Negeri itu dipimpin oleh ratu-ratu, yang 

disebut dengan Kandake sebagai nama umum, seperti Firaun 

bagi raja-raja Mesir. Ia menjadi kepala perbendaharaannya. 

Begitu besar kepercayaan yang diberikan ratu itu kepada dia. 

Tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang ber-

pengaruh, tidak banyak orang yang terpandang, yang dipang-

gil. Hanya ada sebagian.  

3. Ia yaitu  seorang pemeluk agama Yahudi, sebab ia pergi ke 

Yerusalem untuk beribadah. Sebagian orang berpendapat bahwa 

ia penganut agama Yahudi yang benar, yang disunat, dan 

mengikuti hari-hari raya. Sebagian yang lain berpendapat bah-

wa ia hanya seorang pengikut agama Yahudi di pintu gerbang, 

seorang dari bangsa bukan-Yahudi, yang sudah meninggalkan 

penyembahan berhala dan menyembah Tuhan  Israel sekali-kali 

di pelataran bait Tuhan  yang diperuntukkan bagi bangsa-bang-

sa bukan-Yahudi.namun , seandainya memang demikian, maka 

Petrus bukanlah orang pertama yang mengabarkan Injil kepa-

da bangsa-bangsa lain, sebagaimana yang dikatakan demikian 

tentang dia. Sebagian orang berpendapat bahwa ada sisa-sisa 

pengetahuan tentang Tuhan  yang benar di negeri ini, sejak 

zaman Ratu Syeba. Dan mungkin nenek moyang dari sida-sida 

ini yaitu  salah satu yang menjaga pengetahuan itu, yang me-

nyampaikan kepada keturunannya apa yang sudah dia pelajari 

di Yerusalem. 

III. Filipus dan sida-sida itu terlibat dalam percakapan yang akrab. 

Dan saat itu Filipus baru tahu mengapa dia diutus ke padang 

gurun, sebab di sana ia menjumpai sebuah kereta, yang akan 

menjadi tempat ibadah, dan menjumpai seseorang, yang pertobat-

annya akan membawa dampak, sejauh yang diketahuinya, pada 

pertobatan sebuah bangsa secara keseluruhan.  


 340

1. Filipus diperintahkan untuk menemani pelancong yang sedang 

dalam perjalanan pulang dari Yerusalem menuju Gaza ini, 

yang menyangka bahwa ia sudah melakukan semua urusan 

perjalanannya, padahal urusan besar yang dirancangkan pe-

meliharaan Tuhan  yang berkuasa di dalam perjalanan itu belum 

selesai. Ia sudah pergi ke Yerusalem, di mana para rasul 

mengajarkan iman Kristen, dan orang banyak menerimanya. 

Namun ia tidak memperhatikan hal itu di sana, dan tidak 

mencari-cari tahu tentangnya. Bahkan, tampaknya, ia mere-

mehkannya, dan berpaling darinya. Walaupun begitu, anuge-

rah Tuhan  mengejarnya, menyusul dia di padang gurun, dan di 

sana memenangkan dia. Demikianlah Tuhan  sering kali ditemu-

kan oleh orang yang tidak mencari Dia (Yes. 65:1). Filipus di-

beri perintah ini, bukan oleh malaikat, seperti sebelumnya, 

melainkan oleh Roh yang membisikkan perintah itu di telinga-

nya (ay. 29):  Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu. Pergilah 

dekat-dekat dengan orang itu, supaya ia memperhatikan eng-

kau.” Kita harus berusaha berbuat baik kepada orang yang 

kita bimbing dan kita temani di tengah jalan: dengan demikian 

bibir orang benar bisa menggembalakan banyak orang. Kita ti-

dak boleh malu-malu bertemu orang asing, sebagaimana yang 

dirasakan sebagian orang. Dari semua hal lain yang tidak kita 

ketahui tentang orang, kita tahu ini, bahwa mereka mem-

punyai jiwa. 

2.  Filipus mendapati dia sedang membaca Kitab Sucinya, sambil 

duduk di keretanya (ay. 28): Filipus segera ke situ dan mende-

ngar dia sedang membaca. Ia membaca keras-keras, supaya 

semua orang yang ada bersama-sama dengan dia bisa ikut 

mendengar (ay. 30). Ia tidak hanya menyegarkan perjalanan 

yang melelahkan itu,namun  juga memanfaatkan waktu dengan 

membaca, bukan membaca filsafat, sejarah, atau masalah ke-

negaraan, apalagi cerita cinta atau sandiwara, melainkan Kitab 

Suci, kitab nabi Yesaya. Bagian yang dibaca sida-sida itu di 

sini yaitu  bagian yang pernah dibaca Kristus (Luk. 4:17), 

yang dengan demikian kita dianjurkan secara khusus untuk 

membacanya. Mungkin sida-sida itu di sini sedang membaca 

kembali bagian-bagian dari Kitab Suci yang sudah didengar-

nya dibaca dan dijelaskan di Yerusalem, supaya ia bisa meng-

ingat kembali apa yang sudah didengarnya. Perhatikanlah,  

Kitab Kisah Para Rasul 8:26-40 

 341 

(1) Sudah menjadi kewajiban bagi setiap dari kita untuk ba-

nyak-banyak membuka Kitab Suci.  

(2) Orang terhormat harus lebih banyak menjalankan ibadah 

dibandingkan  orang biasa, sebab  teladan mereka akan mempe-

ngaruhi banyak orang, dan mereka juga bisa lebih meng-

atur waktu.  

(3)  Sungguh bijak jika  seorang pekerja memanfaatkan waktu 

untuk menjalankan kewajiban-kewajiban suci. Waktu itu 

berharga, dan pekerjaan yang terbaik di dunia yaitu  me-

ngumpulkan potongan-potongan waktu, sehingga tak satu 

pun yang hilang, mengisi setiap menit dengan sesuatu yang 

akan membawa manfaat.  

(4) jika  kita sudah kembali dari ibadah umum, kita harus 

menggunakan sendiri sarana-sarana untuk memelihara pe-

rasaan-perasaan hati yang baik yang sudah dinyalakan di 

sana, dan untuk menjaga kesan-kesan baik yang sudah di-

tinggalkan di dalam hati kita (1Taw. 29:18).  

(5)  Orang yang rajin menyelidiki Kitab Suci melangkah di jalan 

yang mulus untuk mengembangkan pengetahuan. sebab  

setiap orang yang memiliki , kepadanya akan diberi.  

3. Ia mengajukan pertanyaan yang beralasan kepadanya: Menger-

tikah tuan apa yang tuan baca itu? Tidak dengan cara mencela, 

melainkan dengan maksud untuk menawarkan bantuan. Per-

hatikanlah, apa yang kita baca dan dengar dari firman Tuhan  

sangat penting bahwa kita mengerti, terutama apa yang kita 

baca dan dengar darinya tentang Kristus. Oleh sebab itu, kita 

harus sering-sering bertanya kepada diri kita sendiri apakah 

kita memahaminya atau tidak: Mengertikah kamu semuanya 

itu? (Mat. 13:51). Dan apakah kamu memahaminya dengan 

benar? Kita tidak bisa mendapat keuntungan dari Kitab Suci 

jika  kita tidak cukup memahaminya (1Kor. 14:16-17). Dan, 

terpujilah Tuhan , apa yang penting bagi keselamatan kita mu-

dah untuk dipahami. 

4.  Sida-sida itu dalam arti tertentu membutuhkan bantuannya, 

ia ingin ditemani Filipus (ay. 31):  Bagaimanakah aku dapat 

mengerti, jawabnya, kalau tidak ada yang membimbing aku? 

Oleh sebab  itu, naiklah ke sini, duduklah bersamaku.”  


 342

(1) Dia berbicara seperti orang yang berpikiran sangat rendah 

hati tentang dirinya sendiri, dan tentang kemampuan serta 

pencapaian-pencapaiannya. Ia sama sekali tidak merasa 

terhina dengan ditanya apakah ia mengerti apa yang di-

bacanya, walaupun Filipus seorang asing, yang berjalan 

kaki, dan mungkin tampak hina (banyak orang yang tidak 

sebesar dia pasti akan merasa terhina, dan akan mengang-

gap Filipus tidak sopan, dan menyuruhnya untuk meng-

urusi urusannya sendiri. Ada urusan apa dia dengan orang 

lain?). Sebaliknya, ia menerima pertanyaan itu dengan 

baik, dan memberi  tanggapan yang sangat rendah hati. 

Bagaimana aku bisa? Bisa jadi ia seorang yang cerdas, dan 

juga mengenal baik-baik maksud Kitab Suci seperti keba-

nyakan orang. Namun demikian, ia dengan rendah hati 

mengakui kelemahannya. Perhatikanlah, orang yang mau 

belajar harus sadar akan kebutuhan mereka untuk diajar. 

Nabi harus terlebih dahulu mengakui bahwa ia tidak tahu 

apa maksud dari semuanya ini, maka malaikat akan mem-

beritahukannya kepada dia (Za. 4:13).  

(2) Ia berbicara seperti orang yang sangat ingin diajar, ingin di-

bimbing. Amatilah, ia membaca Kitab Suci, meskipun ada 

banyak hal di dalamnya yang tidak dia mengerti. Walaupun 

ada banyak hal dalam Kitab Suci yang gelap dan sukar di-

fahami, bahkan, yang sering kali disalahpahami, namun 

kita tidak boleh mencampakkannya begitu saja sebab  itu, 

tetapi harus berusaha mempelajari apa yang mudah, yang 

merupakan cara paling mungkin untuk memahami apa 

yang sulit secara perlahan-lahan: sebab pengetahuan dan 

anugerah tumbuh secara bertahap.  

(3)  Ia mengundang Filipus untuk naik dan duduk dengan dia. 

Tidak seperti Yehu yang mengundang Yonadab untuk naik 

ke dalam keretanya, untuk datang dan melihat bagaimana 

giatnya dia untuk Tuhan semesta alam (2Raj. 10:16), me-

lainkan,  Mari naiklah, lihatlah ketidaktahuanku, dan ajar-

lah aku.” Ia dengan senang hati ingin memberi  kehor-

matan kepada Filipus dengan mengajaknya naik ke dalam 

kereta bersama-sama dengan dia, jika Filipus mau berbuat 

baik kepadanya dengan menjelaskan sebagian dari Kitab 

Suci kepadanya. Perhatikanlah, supaya pemahaman kita 

Kitab Kisah Para Rasul 8:26-40 

 343 

akan Kitab Suci benar, penting bagi kita untuk memiliki  

seorang pembimbing. memiliki  buku-buku yang bagus, 

dan mengenal orang-orang yang baik, itu juga penting, te-

tapi di atas semuanya, memiliki  Roh anugerah, untuk 

memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran. 

IV. Bagian dari Kitab Suci yang dibaca oleh sida-sida itu, dengan be-

berapa petunjuk dari perkataan Filipus tentangnya. Para pekabar 

Injil sangat baik menangani orang-orang yang mengenal bagian-

bagian Perjanjian Lama dan menerimanya, terutama jika  me-

reka mendapati orang-orang itu tengah sibuk mempelajarinya, se-

perti sida-sida ini di sini. 

1. Pasal yang sedang dibacanya yaitu  pasal lima puluh – bagian 

ketiga dari Kitab Yesaya, yang dua ayat di antaranya dikutip di 

sini (ay. 32-33), bagian dari ayat ketujuh dan ayat kedelapan. 

Ayat-ayat ini dibagi menurut versi Septuaginta, yang dalam be-

berapa hal berbeda dari versi bahasa asli bahasa Ibrani. 

Grotius berpendapat bahwa sida-sida itu membacanya dalam 

bahasa Ibrani,namun  bahwa Lukas menggunakan terjemahan 

Septuaginta sebab  lebih mudah dibaca dalam bahasa Yunani, 

yang dipakainya  saat  menulis kitab ini. Dan ia menduga 

bahwa sida-sida itu sudah mempelajari baik agama maupun 

bahasa Yahudi dari banyak orang Yahudi di Etiopia.namun , 

dengan menimbang bahwa versi Septuaginta dibuat di Mesir, 

yang bersebelahan dengan Etiopia, dan terletak di antara Etio-

pia dan Yerusalem, saya lebih cenderung berpikir bahwa terje-

mahan itulah yang paling dikenal sida-sida itu. Tampak dari 

Yesaya 20:4 bahwa ada banyak hubungan di antara kedua ne-

gara itu, yaitu Mesir dan Etiopia. Yang paling berbeda antara 

versi bahasa Yunani dan bahasa Ibrani yaitu  bahwa apa 

yang dalam bahasa aslinya tertulis, Dia dibawa dari penjara 

dan dari penghakiman (didorong-dorong dengan sangat keras 

dan kasar dari kursi pengadilan yang satu ke kursi pengadilan 

yang lain. Atau, dari kekuasaan dan dari penghakiman Dia di-

bawa. Maksudnya, sebab  kegeraman rakyat, dan kegaduhan 

mereka yang tidak mau berhenti, dan putusan Pilatus atas 

perkara itu, maka Dia dibawa pergi), di sini tertulis, dalam ke-

hinaan-Nya berlangsunglah hukuman-Nya. Dia tampak begitu 

rendah dan hina di mata mereka sehingga mereka tidak mem-


 344

perlakukan-Nya secara adil sebagaimana mestinya. Dan me-

lawan semua aturan keadilan, yang berhak didapatkan semua 

orang, meskipun mereka menyatakan diri-Nya tidak bersalah, 

tetap saja Dia dihukum mati. Tidak ada tindak kejahatan yang 

bisa dibuktikan atas diri-Nya,namun  sekalipun begitu Dia dija-

tuhi hukuman, dan ke dalam hukumanlah Dia jatuh. Demi-

kianlah dalam kehinaan-Nya berlangsunglah hukuman-Nya. 

Jadi, pengertiannya hampir mirip dengan pengertian bahasa 

Ibrani. Dengan demikian, ayat-ayat ini menubuatkan tentang 

Mesias,  

(1) Bahwa Dia harus mati, harus dibawa ke pembantaian, se-

perti domba yang dipersembahkan sebagai korban, bahwa 

hidup-Nya akan diambil dari antara manusia, diambil dari 

bumi. Jadi, betapa sedikitnya alasan untuk menjadikan ke-

matian Kristus sebagai batu sandungan bagi orang-orang 

Yahudi yang tidak percaya, sebab  peristiwa itu sudah be-

gitu jelas dinubuatkan oleh nabi-nabi mereka sendiri, dan 

begitu penting bagi pencapaian pekerjaan-Nya! Dengan be-

gitu, tidak perlu lagi salib dipandang hina.  

(2) Bahwa Ia harus mati secara tidak adil, harus mati oleh keke-

rasan, harus dicabut nyawa-Nya, dan hukuman-Nya akan 

berlangsung. Ia diperlakukan secara tidak adil. Ia harus 

disingkirkan, padahal tidak ada salahnya apa-apa.  

(3)  Bahwa Ia harus mati dengan sabar. Seperti anak domba 

yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, bah-

kan, di hadapan tukang jagal pun, demikianlah Ia tidak 

membuka mulut-Nya. Belum pernah ada contoh kesabaran 

seperti yang diperlihatkan Yesus Tuhan kita dalam penderi-

taan-penderitaan-Nya.  saat  dituduh, disiksa, Ia diam, ti-

dak membalas dengan mencaci maki, tidak mengancam.  

(4) Bahwa kendati demikian Ia akan hidup untuk selama-la-

manya, selama waktu yang tak terbatas. Sebab demikian-

lah saya pribadi memahami kata-kata ini, siapakah yang 

akan menceriterakan asal usul-Nya? Arti tepat menurut ba-

hasa Ibraninya yaitu  berlangsungnya satu kehidupan 

(Pkh. 1:4). Nah, siapa yang bisa memahami atau menjelas-

kan berapa lama Ia akan terus hidup, kendati dengan se-

mua ini. Sebab nyawa-Nya diambil hanya dari bumi, di 

sorga Ia akan hidup secara tak berkesudahan dan selama 

Kitab Kisah Para Rasul 8:26-40 

 345 

waktu yang tak terbatas, seperti yang bisa disimpulkan 

dari Yesaya 53:10, Ia akan melihat keturunan-Nya (KJV: Ia 

akan memperpanjang hari-hari-Nya). 

2. Pertanyaan sida-sida itu untuk masalah ini yaitu , tentang 

siapakah nabi berkata demikian? (ay. 34). Dia tidak ingin Fili-

pus memberinya semacam ulasan mendalam atas kata-kata, 

ungkapan-ungkapan, dan peribahasa,namun  ia ingin agar Fili-

pus membuatnya mengenal maksud dan rancangan dari nu-

buatan itu secara umum. Ia ingin Filipus memberinya kunci, 

yang jika digunakan bisa saja dia, dengan membandingkan 

satu dan lain hal, dituntun pada maksud dari suatu bacaan 

tertentu. Nubuatan-nubuatan itu biasanya mengandung suatu 

ketidakjelasan, sampai dijelaskan oleh penggenapannya, se-

perti halnya dengan nubuatan ini. Yang ditanyakannya itu 

penting, dan sangat masuk akal:  Apakah nabi itu mengatakan 

ini tentang dirinya sendiri, dengan harapan untuk digunakan, 

atau disalahgunakan, seperti perkataan nabi-nabi lain? Atau-

kah ia mengatakan itu tentang seorang yang lain, pada masa-

nya, atau di suatu masa yang akan datang?” Meskipun orang-

orang Yahudi sekarang tidak mau melihat ini sebagai ayat 

yang berbicara tentang Mesias, para ahli Taurat mereka pada 

zaman dulu menafsirkannya demikian. Dan mungkin sida-sida 

itu mengetahuinya dan memahaminya sebagian seperti itu, 

hanya saja ia mengajukan pertanyaan ini untuk membuka 

percakapan dengan Filipus. Sebab cara untuk maju dalam 

belajar yaitu  meminta nasihat pada orang yang terpelajar. 

Sama seperti mereka harus mencari pengajaran dari mulut para 

imam (Mal. 2:7), demikian pula mereka harus mencari Injil, 

terutama bagian harta itu yang bersembunyi di ladang Perjan-

jian Lama, dari mulut para hamba Kristus. Cara untuk men-

dapatkan pengajaran yang baik yaitu  mengajukan pertanya-

an yang baik. 

3.  Filipus mengambil kesempatan baik ini untuk membukakan 

kepada dia rahasia besar Injil mengenai Yesus Kristus, dan Dia 

yang disalibkan. Ia bertolak dari nas itu, mengambil nas ini 

sebagai bacaannya (sama seperti Kristus bertolak dari bacaan 

lain dari nubuatan yang sama, Luk. 4:21), dan memberitakan 

Injil Yesus kepadanya (ay. 35). Ini saja penjelasan yang diberi-

kan kepada kita tentang khotbah Filipus, sebab hasilnya sama 


 346

saja dengan khotbah-khotbah Petrus, yang sudah kita lihat se-

belumnya. Pekerjaan hamba-hamba Injil yaitu  memberitakan 

Yesus, dan inilah pemberitaan yang bisa berdampak baik. Ada 

kemungkinan bahwa sekarang Filipus mendapat kesempatan 

untuk menggunakan karunia bahasa rohnya, agar ia dapat 

memberitakan Kristus kepada orang Etiopia ini dalam bahasa 

asli negerinya sendiri. Dan di sini kita mendapati sebuah con-

toh tentang berbicara mengenai perkara-perkara Tuhan , dan 

membicarakannya untuk tujuan yang baik, bukan hanya ke-

tika kita duduk di rumah,namun  juga  saat  kita sedang dalam 

perjalanan, sesuai dengan pedoman dalam Perjanjian Lama itu 

(Ul. 6:7). 

V. Sida-sida itu dibaptis dalam nama Kristus (ay. 36-38). Ada ke-

mungkinan bahwa sida-sida itu sudah mendengar tentang ajaran 

Kristus di Yerusalem, sehingga hal itu sama sekali tidak baru ba-

ginya.namun , jika ia sudah mendengarnya, lalu apa yang mem-

buat hatinya cepat ditaklukkan kepada Kristus? Itu sebab  peker-

jaan yang penuh kuasa dari Roh dan oleh khotbah Filipus yang 

melakukannya. Sekarang di sini kita mendapati, 

1. Permohonan sederhana dari sida-sida itu agar dia dibaptis (ay. 

36):  saat  mereka melanjutkan perjalanan mereka, sambil ber-

cakap-cakap tentang Kristus, sida-sida itu mengajukan lebih 

banyak pertanyaan lagi dan Filipus menjawabnya sampai 

puas. Lalu tibalah mereka di suatu tempat yang ada air, sebu-

ah sumur, sungai, atau kolam, yang  saat  tampak oleh sida-

sida itu, terpikir oleh dia untuk dibaptis. Demikianlah adaka-

lanya Tuhan , melalui petunjuk-petunjuk pemeliharaan-Nya 

yang tampak biasa-biasa saja, mengingatkan umat-Nya akan 

kewajiban mereka, yang seandainya tidak demikian mungkin 

tidak akan terpikirkan oleh mereka. Sida-sida itu tidak tahu 

bahwa hanya sebentar saja Filipus akan ada bersamanya, dan 

sesudah itu tidak tahu ke mana bisa mencarinya. Ia tidak bisa 

berharap Filipus dapat menemani perjalanannya ke tempat 

berikutnya. Dan oleh sebab itu, jika dirasa cocok oleh Filipus, 

ia akan memanfaatkan kesempatan baik yang datang sendiri 

sekarang ini untuk dibaptis:  Lihat, di situ ada air, yang mung-

kin jauh sesudah ini tidak akan kita jumpai lagi, jadi apakah 

halangannya, jika aku dibaptis? Apakah ada alasan mengapa 

Kitab Kisah Para Rasul 8:26-40 

 347 

aku tidak boleh diakui sebagai seorang murid dan pengikut 

Kristus melalui baptisan?” Amatilah,  

(1) Ia tidak menuntut baptisan, ia tidak berkata,  Di sini ada 

air, dan sudah bulat hatiku untuk dibaptis.” Ia tidak mela-

kukan hal ini, sebab jika Filipus menawarkan yang sebalik-

nya, ia bersedia menunda keinginannya ini untuk sementa-

ra waktu. Jika Filipus menganggap dia belum pantas untuk 

dibaptis, atau jika ada hal apa saja dalam ketetapan upaca-

ra baptisan yang tidak akan memperbolehkan pelaksana-

annya yang secepat itu, maka ia tidak akan bersikeras me-

nuntutnya. Semangat yang paling giat harus tunduk pada 

tata aturan. Walaupun begitu, 

(2) Ia betul-betul menginginkannya, dan, kecuali Filipus bisa 

menunjukkan alasan mengapa tidak boleh, ia ingin dibap-

tis sekarang, dan tidak mau menunda-nundanya lagi. Per-

hatikanlah, dalam mempersembahkan dan mengabdikan 

diri dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan , baiklah bagi 

kita untuk melakukannya dengan bergegas, dan tidak me-

nunda-nunda waktu. sebab , sekaranglah waktu yang ter-

baik (Mzm. 119:60). Orang-orang yang sudah menerima 

apa yang ditandakan oleh baptisan seharusnya tidak me-

nunda-nunda waktu untuk menerima penandanya. Sida-

sida itu takut kalau-kalau suasana hati yang baik yang 

sekarang dirasakannya akan menjadi dingin dan mereda, 

dan oleh sebab itu ia bersedia untuk lekas-lekas mengikat-

kan jiwanya pada ikatan-ikatan baptisan kepada Tuhan, 

sehingga masalahnya menjadi tuntas. 

2. Filipus memberitahukan dia syarat-syarat yang pantas yang 

harus dipenuhinya supaya ia bisa menerima hak istimewa 

untuk dibaptis (ay. 37):  Jika tuan percaya dengan segenap 

hati, boleh. Maksudnya, jika engkau percaya pada ajaran yang 

sudah kuberitakan kepadamu tentang Yesus ini, dan jika eng-

kau menerima pernyataan yang sudah diberikan Tuhan  tentang 

Dia, dan yakin bahwa itu benar.” Ia harus percaya dengan se-

genap hati, sebab  dengan hati orang percaya. Bukan dengan 

kepala saja, yang menerima kebenaran-kebenaran Injil dengan 

pikiran, melainkan juga dengan hati, yang setuju untuk me-

menuhi syarat-syarat Injil.  Jika memang engkau percaya de-


 348

ngan segenap hatimu, maka dengan begitu engkau dipersatu-

kan dengan Kristus, dan, jika engkau memberi  bukti-bukti 

bahwa engkau memang percaya, engkau boleh bergabung da-

lam jemaat melalui baptisan.” 

3.  Pengakuan iman yang dibuat sida-sida itu supaya bisa dibap-

tis. Pengakuan iman itu sangat singkat,namun  luas dan lang-

sung pada intinya: Aku percaya, bahwa Yesus Kristus yaitu  

Anak Tuhan . Sebelumnya ia yaitu  penyembah Tuhan  yang be-

nar, sehingga yang harus dilakukannya sekarang hanyalah 

menerima Kristus Yesus Tuhan.  

(1) Ia percaya bahwa Yesus yaitu  Kristus, Mesias sebenarnya 

yang dijanjikan, Yang diurapi.  

(2) Bahwa Kristus yaitu  Yesus – Juruselamat, satu-satunya 

Juruselamat yang menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa 

mereka. Dan,  

(3) Bahwa Yesus Kristus ini yaitu  Anak Tuhan , bahwa Ia me-

miliki kodrat Tuhan , sebab  Anak memiliki kodrat yang sama 

dengan Bapa-Nya. Dan juga bahwa, sebagai Anak Tuhan , Ia 

berhak menerima segala yang ada. Inilah ajaran yang uta-

ma dan khas dari Kekristenan, dan siapa saja yang percaya 

padanya dengan segenap hati, dan mengakuinya, mereka 

dan keturunan mereka harus dibaptis. 

4. Dibaptisnya sida-sida itu. Sida-sida itu menyuruh kusirnya 

berhenti, menyuruh menghentikan kereta itu. Tempat air itu 

yaitu  tempat peristirahatan terbaik yang pernah dijumpainya 

dalam semua perjalanannya. Keduanya turun ke dalam air, se-

bab mereka tidak membawa bejana-bejana yang cocok untuk 

menimba air, sebab  sedang dalam perjalanan, dan oleh sebab 

itu mereka harus turun ke dalam air. Bukan berarti bahwa 

mereka melepaskan pakaian mereka, dan masuk ke dalam air 

dengan telanjang,namun  masuk tanpa alas kaki sesuai adat ke-

biasaan, mungkin sedalam mata kaki atau betis. Lalu Filipus 

memerciki dia dengan air, sesuai dengan nubuatan yang 

mungkin baru saja dibaca oleh sida-sida ini, sebab hanya ber-

selang beberapa ayat sebelum Filipus mendapati dia membaca 

ayat-ayat itu, yang sangat cocok dengan keadaannya (Yes. 

52:15): Demikianlah ia akan membuat tercengang (KJV: Demiki-

anlah ia akan memerciki) banyak bangsa, raja-raja, dan orang-

Kitab Kisah Para Rasul 8:26-40 

 349 

orang besar akan mengatupkan mulutnya melihat Dia, akan 

tunduk pada-Nya, dan akan berserah pada-Nya, sebab apa 

yang tidak diceritakan kepada mereka sebelumnya akan me-

reka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pa-

hami. Amatilah, walaupun Filipus belakangan ini telah tertipu 

oleh Simon si tukang sihir, dan sudah membaptis dia, dan ke-

mudian tampak ia bukan orang yang betul-betul bertobat, 

namun Filipus sebab  itu tidak enggan membaptis sida-sida 

segera setelah ia membuat pengakuan iman, tanpa menguji-

nya lebih lama dibandingkan  biasanya. Jika sejumlah orang mu-

nafik berbondong-bondong masuk ke dalam jemaat,namun  ke-

mudian ternyata membawa kesedihan dan aib bagi kita, kita 

tidak boleh sebab  itu membuat pintu masuknya lebih ketat 

dibandingkan  yang sudah dibuat Kristus. Orang-orang itu yang 

akan dituntut pertanggungjawaban atas kemurtadan mereka, 

dan bukan kita. 

VI. Filipus dan sida-sida itu segera terpisah, dan ini sama mengejut-

kannya seperti bagian-bagian lain dari cerita itu. Orang akan 

menyangka bahwa sida-sida itu seharusnya tetap tinggal ber-

sama Filipus, atau membawanya serta bersama-sama dengan 

dia ke negerinya, dan, sebab  ada begitu banyak hamba Tuhan 

di daerah-daerah sekitar, maka ia boleh dilepaskan, dan itu 

sungguh berguna untuk sementara waktu. namun  , Tuhan  

mengatur sebaliknya. Segera setelah mereka keluar dari air, 

sebelum sidasida itu masuk ke dalam keretanya lagi, Roh Tuhan 

tiba-tiba melarikan Filipus (ay. 39), dan tidak memberinya waktu 

untuk memberi  nasihat kepada sida-sida itu, sebagaimana 

yang biasa dilakukan setelah upacara baptisan, yang ada 

kemungkinan diniatkan oleh Filipus dan diharapkan oleh sida-

sida itu.namun  keberangkatannya yang tiba-tiba sudah cukup 

untuk menggantikan nasihat yang hilang itu, sebab kejadian itu 

sangat ajaib, dan ia dilarikan bersama angin dalam pandangan 

sida-sida itu, dan dengan demikian lenyap dari penglihatannya. 

Dan diadakannya mujizat ini atas diri Filipus meneguhkan 

ajarannya, sama seperti jika ia mengadakan mujizat itu sendiri. 

Ia dilarikan, dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Sekalipun 

demikian, setelah kehilangan hamba Tuhan yang melayaninya, 


 350

ia kembali menggunakan Kitab Sucinya lagi. Sekarang di sini 

kita diberi tahu, 

1. Bagaimana perasaan hati sida-sida itu: Ia meneruskan perjala-

nannya dengan sukacita. Ia melanjutkan perjalanannya. Urus-

an kerja memanggilnya pulang, dan ia harus bergegas ke sana. 

Sebab ini bukannya tidak bersesuaian dengan Kekristenan. 

Dalam Kekristenan, untuk menjadi suci atau sempurna orang 

tidak harus menjadi pertapa atau biarawan. Dan Kekristenan 

merupakan agama yang bisa, dan harus, dibawa serta ke 

dalam perkara-perkara hidup ini.namun  ia meneruskan perja-

lanannya dengan sukacita. Ia sama sekali tidak melihat pergo-

lakan dan perubahan, atau lebih tepatnya kemajuan, dalam 

agamanya ini dengan rasa sesal. Sebaliknya, permenungannya 

semakin meneguhkan dia dalam agamanya itu, dan ia mene-

ruskan perjalanannya dengan bergembira sebab  sukacita 

yang mulia dan yang tidak terkatakan. Belum pernah ia mera-

sa sesenang itu seumur hidupnya. Dia bersukacita,  

(1) sebab  ia sendiri bergabung bersama Kristus dan mem-

punyai kepentingan di dalam Dia. Dan,  

(2)  sebab  ia akan membawa kabar baik ini untuk orang-

orang sebangsanya, dan berharap akan membawa mereka 

juga, berdasarkan kepentingannya di tengah-tengah mere-

ka, untuk bersekutu dengan Kristus. Sebab ia kembali 

bukan hanya sebagai seorang Kristen, melainkan juga 

sebagai seorang hamba Tuhan. Beberapa salinan menulis-

kan ayat ini demikian: Dan,  saat  mereka keluar dari air, 

Roh Kudus turun atas sida-sida itu (tanpa upacara penum-

pangan tangan oleh rasul itu),namun  malaikat Tuhan me-

larikan Filipus. 

2. Ke mana Filipus dibawa (ay. 40): Filipus ada di Azotus atau 

Asdod, kota orang-orang Filistin dulu. Di sana malaikat atau 

Roh Tuhan menurunkan dia. Letaknya kira-kira sembilan be-

las kilometer dari Gaza, yang ke sana sida-sida itu pergi, dan, 

menurut Dr. Lightfoot, dari situ ia naik kapal dan berlayar ke 

negerinya sendiri. sedang  Filipus, di mana pun berada, 

dia tidak akan tinggal diam. Ia berjalan melalui daerah itu 

dan memberitakan Injil di semua kota sampai ia tiba di 

Kaisarea. Di sana ia menetap, dan tampaknya, ia menjadi-

Kitab Kisah Para Rasul 8:26-40 

 351 

kannya sebagai tempat kediaman utamanya sesudah itu. 

Sebab di Kaisarea kita mendapati dia di rumahnya sendiri 

(21:8). Dia yang sudah setia bekerja bagi Kristus sebagai 

penginjil keliling akhirnya mendapatkan tempat menetap. 

 

 

 

 

 

 

 

 

PASAL  9  

Dalam pasal ini kita mendapati,  

I. Cerita yang terkenal tentang pertobatan Paulus, dari seorang 

penindas Injil Kristus yang garang menjadi seorang percaya 

dan pemberita Injil terkemuka.  

1. Bagaimana ia untuk pertama kali disadarkan dan diinsaf-

kan oleh penampakan Kristus sendiri kepadanya  saat  

sedang menjalankan tugas ke Damsyik untuk menganiaya 

jemaat. Dan bagaimana keadaannya  saat  ia berada di 

bawah kuasa yang menyakinkan dia akan keberdosaan-

nya dan yang membuatnya ngeri itu (ay. 1-9). 

2.  Bagaimana ia dibaptis oleh Ananias, melalui petunjuk-

petunjuk langsung dari sorga (ay 10-19). 

3. Bagaimana ia sudah menjadi ahli segera setelah ia memu-

lai hidup sebagai orang Kristen, lalu mengabarkan iman 

di dalam Kristus, dan membuktikan apa yang diberita-

kannya (ay. 20-22). 

4. Bagaimana ia dianiaya, dan nyaris terancam nyawanya 

(ay. 23-25). 

5. Bagaimana ia diakui oleh saudara-saudara di Yerusalem: 

bagaimana ia berkhotbah dan dianiaya di sana (ay. 26-

30). 

6. Masa tenang dan tenteram yang dinikmati jemaat-jemaat 

selama beberapa waktu setelah peristiwa ini (ay. 31). 

II. Kesembuhan yang diadakan Petrus pada Eneas, yang sudah 

lama terbaring sebab  lumpuh (ay. 32-35). 

III. Dihidupkannya kembali Tabita, melalui doa Petrus (ay. 36-

43). 


 354

Perjumpaam Saulus dengan Kristus  

(9:1-9) 

1 Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membu-

nuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, 2 dan meminta surat 

kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, 

supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan 

Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem. 3 Dalam 

perjalanannya ke Damsyik,  saat  ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya 

memancar dari langit mengelilingi dia. 4 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah 

olehnya suatu suara yang berkata kepadanya:  Saulus, Saulus, mengapakah 

engkau menganiaya Aku?” 5 Jawab Saulus:  Siapakah Engkau, Tuhan?” 

Kata-Nya:  Akulah Yesus yang kauaniaya itu. 6namun  bangunlah dan pergi-

lah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kau-

perbuat.” 7 Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, sebab  

mereka memang mendengar suara itu,namun  tidak melihat seorang juga pun. 

8 Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya,namun  ia tidak dapat 

melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. 9 Tiga hari 

lamanya ia tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan 

minum. 

Kita mendapati Saulus disebutkan sebanyak dua atau tiga kali dalam 

cerita tentang Stefanus, sebab penulis suci ini begitu rindu untuk 

sampai pada cerita tentang Saulus. Dan sekarang kita sampai juga 

pada cerita tentang dia, tanpa sama sekali meninggalkan Petrus. Te-

tapi mulai dari sekarang, yang sebagian besar mengambil alih yaitu  

Paulus, sang rasul bagi orang-orang bukan-Yahudi, seperti halnya 

Petrus sang rasul bagi orang-orang bersunat. Namanya dalam bahasa 

Ibrani yaitu  Saul – yang diinginkan, meskipun tubuhnya luar biasa 

kecil jika dibandingkan dengan Raja Saul yang tinggi dan berwibawa, 

yang namanya sama dengan dia. Salah satu penulis kuno menyebut-

nya Homo tricubitalis – hanya setinggi 135 cm. Nama Romawi yang di-

pakainya di kalangan warga Roma yaitu  Paulus – kecil. Ia dTuhan rkan 

di Tarsus, sebuah kota di Kilikia, kota merdeka di bawah pemerintah-

an Romawi, dan ia sendiri orang merdeka di kota itu. Ayah dan ibu-

nya sama-sama orang Yahudi asli. Oleh sebab itulah ia menyebut 

dirinya orang Ibrani asli. Ia berasal dari suku Benyamin, yang setia 

kepada Yehuda. Ia dididik pertama-tama di sekolah-sekolah Tarsus, 

yang merupakan Atena kecil untuk tempat belajar. Di sana ia mem-

pelajari filsafat dan puisi orang-orang Yunani. Dari sana ia dikirim ke 

sekolah tinggi di Yerusalem, untuk mempelajari ilmu ketuhanan dan 

hukum Yahudi. Gurunya yaitu  Gamaliel, seorang Farisi terkemuka. 

Paulus memiliki kecerdasan luar biasa, dan perkembangan belajar-

nya sangat pesat. Ia juga berdagang kerajinan tangan (sebab  ia di-

ajari untuk membuat tenda). Sudah biasa bagi orang-orang Yahudi

Kitab Kisah Para Rasul 9:1-9 

 355 

yang dididik untuk menjadi alim ulama (seperti menurut Dr. Light-

foot), bahwa mereka harus mencari penghidupan sehari-hari, dan 

menghindari kemalasan. Inilah pemuda yang di dalam dia anugerah 

Tuhan  mengerjakan perubahan besar yang dicatat di sini, sekitar satu 

tahun, atau lebih sedikit, setelah kenaikan Kristus. Di sini kita diberi 

tahu, 

I. Betapa jahat, betapa sangat jahatnya dia sebelum bertobat. Tidak 

lama sebelumnya ia menjadi musuh bebuyutan Kekristenan, ber-

usaha sekuat tenaga untuk mencabut akar-akarnya, dengan 

menganiaya semua orang yang memeluknya. Dalam hal-hal lain ia 

cukup baik, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat ia 

tidak bercacat. Ia memang bukan seorang yang bermoral bejat, te-

tapi seorang penghujat Kristus, penganiaya orang-orang Kristen, 

dan melukai keduanya (1Tim. 1:13). Dan hati nuraninya tidak be-

gitu tahu apa yang benar, sehingga ia menyangka bahwa ia harus 

melakukan apa yang dilakukannya itu untuk menentang nama 

Kristus (26:9). Ia mengira dengan berbuat demikian ia melayani 

Tuhan . Hal ini sudah dinubuatkan sebelumnya (Yoh. 16:2). Di sini 

kita mendapati, 

1. Sifat permusuhan dan kegeramannya terhadap agama Kristen 

(ay. 1): Sementara itu berkobar-kobar hatinya untuk mengan-

cam dan membunuh murid-murid Tuhan. Orang-orang yang 

dianiaya itu yaitu  murid-murid Tuhan. sebab  mereka murid-

murid Tuhan, ia membenci dan menganiaya mereka. Pengani-

ayaan itu berbentuk ancaman dan pembunuhan. Di dalam 

ancaman ada penganiayaan (4:17, 21). Ancaman itu menakut-

nakuti dan mematahkan semangat. Dan walaupun orang ber-

kata bahwa mereka yang terancam pasti akan hidup lama, na-

mun bagi mereka yang diancam Saulus, jika ia tidak berhasil 

menakut-nakuti mereka dan menjauhkan mereka dari Kristus, 

maka ia akan membunuh mereka, menganiaya mereka sampai 

mati (22:4). Hatinya yang berkobar-kobar untuk mengancam 

dan membunuh menunjukkan bahwa ia sudah biasa melaku-

kannya, dan itu sudah menjadi pekerjaan tetapnya. Ia bahkan 

suka menjalankannya. Hatinya berkobar-kobar dengan api 

yang membara. Bahkan nafasnya, seperti nafas makhluk ber-

bisa, membawa kematian. Ia mengembuskan nafas kematian 

bagi orang-orang Kristen ke mana pun ia pergi. Ia menjadi 


 356

tuan atas mereka dalam kesombongannya (Mzm. 12:5-6), me-

nyemburkan racunnya pada mereka dalam kegeramannya. 

Hati Saulus yang berkobar-kobar seperti itu menunjukkan,  

(1) Bahwa ia masih bersikeras untuk melakukannya. Tidak 

puas dengan darah orang-orang yang sudah dibunuhnya, 

ia terus berteriak, berikan lagi, berikan lagi. 

(2) Bahwa sebentar lagi ia akan berubah pikiran. Sampai saat 

ini hatinya berkobar-kobar untuk mengancam dan membu-

nuh,namun  tidak akan lama ia hidup seperti ini, hati yang 

berkobar-kobar