tawarikh ester 11

Kamis, 30 Januari 2025

tawarikh ester 11


 


sa Bait Suci kedua, dan aturan Kemah 

Pertemuan telah dilengkapi dan senantiasa dibacakan di tempat-tempat ibadah 

mereka, maka mereka sudah terbebas dari penyembahan berhala. Sebab, dari 

antara semua kitab, Kitab Suci makin diteguhkan oleh firman yang telah disam-

paikan oleh para nabi (KJV: merupakan perkataan nubuatan yang paling pasti), 

dan paling membawa hasil. Jemaat tidak seharusnya begitu mudah diperdaya 

oleh kitab suci yang palsu seperti halnya oleh nabi palsu. Dalam ayat-ayat di atas 

diceritakan perihal seorang nabi yang diutus kepada Asa dan pasukannya, ketika 

mereka pulang membawa kemenangan sesudah berperang dengan orang 

Etiopia. Dia tidak datang untuk memuji dan mengucapkan selamat kepada 

mereka atas keberhasilan yang telah mereka capai, namun  untuk mendorong 

mereka melakukan kewajiban mereka. Ini yaitu  tugas yang pantas bagi para 

pelayan Tuhan , bahkan para raja dan orang-orang besar sekalipun. Nabi itu 

dihinggapi Roh Tuhan  (ay. 1), baik untuk memberikan petunjuk tentang apa yang 

harus dikatakannya, maupun untuk memampukan dia menyampaikan pesan itu 

dengan jelas dan berani. 

I. Nabi itu mengatakan dengan terus terang kepada mereka perihal hubungan 

mereka dengan Tuhan . Janganlah mereka berpikir bahwa sebab  telah meraih 

kemenangan, segala sesuatu menjadi milik mereka selamanya. Tidak, ia 

harus memberitahukan kepada mereka bahwa itu bergantung pada perilaku 

mereka. Apabila mereka berperilaku baik, maka keadaan mereka pun akan 

baik, begitu pula sebaliknya. 

Kitab 2 Tawarikh 15:1-7 

 

359 

1. TUHAN beserta dengan kamu bilamana kamu beserta dengan Dia . Pesan 

ini merupakan kata-kata penghiburan, yaitu  bahwa orang-orang yang 

tetap dekat dengan Tuhan  akan senantiasa disertai oleh-Nya. Namun, juga 

merupakan kata-kata peringatan: “TUHAN beserta dengan kamu 

bilamana kamu beserta dengan Dia, tidak lebih dari itu. Kamu sekarang 

memperoleh tanda kehadiran-Nya bersamamu, namun kelanjutannya 

bergantung pada ketekunanmu dalam melaksanakan kewajibanmu.” 

2. “Bilamana kamu mencari-Nya, Ia berkenan ditemui olehmu. Rindukanlah 

perkenan-Nya dengan sungguh dan jadikan itu tujuanmu, maka kamu akan 

memperolehnya. Berdoalah, maka kamu akan menang. Ia tidak pernah dan 

tidak akan pernah berkata, Carilah aku dengan sia-sia.” (lih. Ibr. 11:6). 

Sebaliknya, 

3. “Apabila kamu meninggalkan Dia dan ketetapan-Nya, Ia tidak terikat 

padamu, namun  pasti akan meninggalkanmu. Maka kamu pun akan binasa. 

Kemenanganmu pada hari ini tidak akan menjadi jaminan bagimu. 

Celakalah kamu bila Tuhan  pergi meninggalkanmu.” 

II. Nabi itu mengemukakan akibat berbahaya apabila mereka meninggalkan 

Tuhan  dan ketetapan-Nya. Tidak ada jalan untuk menebus penderitaan selain 

dengan bertobat dan kembali kepada Tuhan . Ketika Israel meninggalkan 

kewajiban, mereka diserbu banjir berupa aliran pikiran yang tidak mengakui 

adanya Tuhan, ketidaksalehan, tidak beragama, dan semua bentuk ketidak-

teraturan (ay. 3). Mereka senantiasa dipermalukan dengan peperangan yang 

menjengkelkan dan menghancurkan, baik di luar maupun di dalam negeri 

(ay. 5-6). Namun, ketika kesukaran membawa mereka kepada Tuhan , mereka 

mendapati bahwa sungguh tidak percuma bila mereka mencari Dia (ay. 4). 

Namun, pertanyaannya yaitu , kepada masa apakah hal ini merujuk? 

1. Ada yang berpendapat kepada masa pemerintahan para hakim di waktu 

dulu. Lama sekali Israel tanpa Tuhan  yang benar, sebab mereka 

menyembah Tuhan -Tuhan  palsu. Itulah masa ketika mereka berada dalam 

kebodohan, sebab meskipun mereka mempunyai imam-imam, mereka 

tidak mempunyai imam yang mengajarkan hal baik kepada mereka. 

Meskipun terdapat tua-tua, mereka hidup tanpa hukum dalam hal apa 

pun (ay. 3). Ini masa yang benar-benar menyedihkan, ketika mereka 

sering ditindas oleh musuh dan terus diusik oleh orang Moab, Midian, 

Amon, dan bangsa-bangsa lain. Mereka terus dikacaukan dengan 

berbagai-bagai kesesakan (ay. 6). Namun, ketika di tengah kebingungan 

mereka lalu berpaling kepada Tuhan  melalui pertobatan, doa, dan 

pembaharuan, Ia membangkitkan sejumlah penyelamat bagi mereka. 


 

360 

Pada masa itulah kebenaran firman tadi acap kali terbukti, yaitu bahwa 

Tuhan  beserta dengan kita apabila kita beserta dengan-Nya. Setiap hal 

semacam ini ditulis, telah ditulis untuk mengingatkan kita juga. 

2. Ada pula penafsir yang berpendapat bahwa hal itu menggambarkan 

keadaan kesepuluh suku (yang sekarang disebut Israel) pada masa 

pemerintahan Asa. “Sekarang, sejak Yerobeam mendirikan patung anak 

lembu, walaupun berpura-pura menghormati Tuhan  yang sudah 

membawa mereka keluar dari Mesir, penyembahan berhalanya telah 

membawa mereka kepada ketidaksetiaan. Mereka tanpa Tuhan  yang 

benar.” Dan tidaklah mengherankan apabila mereka juga tanpa imam 

yang dapat mengajar mereka. Para imam Yerobeam bukanlah pengajar, 

dan oleh sebab itu itu mereka hidup tanpa hukum. Nyaris mustahil 

segala hal yang berhubungan dengan agama dapat dipelihara tanpa 

pelayanan pengajaran. Pada masa itu tidak terdapat ketenteraman (ay. 

5). Perang mereka melawan Yehuda acap kali mendatangkan ketakutan 

kepada mereka. Begitulah yang terjadi dengan pemberontakan Baesa 

dan kejadian-kejadian lain yang tidak disebutkan dalam Kitab Suci. 

Mereka membangkitkan amarah Tuhan  dengan berbagai-bagai kejahatan, 

sehingga Ia pun mengacaukan mereka dengan berbagai-bagai kesesakan. 

Namun, ketika mereka berbalik kepada Tuhan , Ia pun bangkit membela 

mereka. Hendaklah Yehuda memperhatikan hal ini. Hendaklah derita 

negeri-negeri tetangga mereka menjadi peringatan bagi mereka. 

Janganlah menerima patung-patung berhala, sebab kamu bisa melihat 

celaka seperti apa yang didatangkannya. 

3. Penafsir lain berpendapat bahwa seluruh perikop di atas mengacu ke masa 

depan, memandang ke depan: Sesudah ini Israel akan tanpa Tuhan  yang 

benar, tanpa ajaran dari pada imam, dan mereka akan dibinasakan oleh 

penghukuman demi penghukuman sampai mereka berbalik kepada 

TUHAN dan mencari-Nya (lih. Hos. 3:4). 

III. Di atas hal inilah Asa memberi dorongan kepada rakyatnya untuk 

melaksanakan karya pembaharuan dengan bersemangat (ay. 7): kuatkanlah 

hatimu, jangan lemah semangatmu, sebab  ada upah bagi usahamu . 

Perhatikanlah, 

1. Pekerjaan Tuhan  harus dilaksanakan dengan tekun dan senang hati. 

Sebaliknya, ini tidak akan terlaksana tanpa kebulatan hati. 

2. Hal ini sudah seharusnya mendorong kita dalam pekerjaan kerohanian, 

supaya kita tidak kalah. Upaya itu pasti akan mendatangkan upah. 

Kitab 2 Tawarikh 15:1-7 

 

361 

Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Pekerjaan itu sendiri merupakan 

upahnya. 

Asa Membaharui Kerajaannya 

(15:8-19) 

8 Ketika Asa mendengar perkataan nubuat yang diucapkan oleh nabi Azarya bin Oded itu, 

ia menguatkan hatinya dan menyingkirkan dewa-dewa kejijikan dari seluruh tanah 

Yehuda dan Benyamin dan dari kota-kota yang direbutnya di pegunungan Efraim. Ia 

membaharui mezbah TUHAN yang ada di depan balai Bait Suci TUHAN. 9 Ia 

mengumpulkan seluruh Yehuda dan Benyamin dan orang-orang Efraim, Manasye dan 

Simeon yang tinggal di antara mereka sebagai orang asing. Sebab dari Israel banyak yang 

menyeberang memihak kepadanya ketika mereka melihat bahwa TUHAN, Tuhan nya, 

beserta dengan dia. 10 Mereka berkumpul di Yerusalem pada bulan ketiga tahun kelima 

belas dari pemerintahan Asa. 11 Pada hari itu mereka mempersembahkan kepada TUHAN 

tujuh ratus lembu sapi dan tujuh ribu kambing domba dari jarahan yang mereka bawa 

pulang. 12 Mereka mengadakan perjanjian untuk mencari TUHAN, Tuhan  nenek moyang 

mereka, dengan segenap hati dan jiwa. 13 Setiap orang, baik anak-anak atau orang dewasa, 

baik laki-laki atau wanita , yang tidak mencari TUHAN, Tuhan  Israel, harus dihukum 

mati. 14 Mereka bersumpah setia kepada TUHAN dengan suara yang nyaring, dengan 

sorak-sorai dan dengan tiupan nafiri dan sangkakala. 15 Seluruh Yehuda bersukaria atas 

sumpah itu, sebab  dengan segenap hati mereka bersumpah setia dan dengan kehendak 

yang bulat mereka mencari TUHAN. TUHAN berkenan ditemui oleh mereka dan mengaru-

niakan keamanan kepada mereka di segala penjuru. 16 Bahkan raja Asa memecat Maakha, 

neneknya, dari pangkat ibu suri, sebab  neneknya itu membuat patung Asyera yang keji. 

Asa merobohkan patung yang keji itu, menumbuknya sampai halus dan membakarnya di 

lembah Kidron. 17 Sekalipun bukit-bukit pengorbanan tidak dijauhkan dari Israel, namun 

hati Asa tulus ikhlas sepanjang umurnya. 18 Ia membawa persembahan-persembahan 

kudus ayahnya dan persembahan-persembahan kudusnya sendiri ke rumah Tuhan , yaitu  

emas dan perak serta barang-barang lain. 19 Tidak ada perang sampai pada tahun ketiga 

puluh lima pemerintahan Asa. 

Di sini diceritakan tentang betapa baik pengaruh pesan sebelumnya terhadap 

Asa. 

I.   Asa menjadi lebih berani dibandingkan  sebelumnya dalam melayanani Tuhan . 

Kemenangan yang telah diraihnya itu akan mengilhaminya untuk semakin 

membulatkan hatinya, namun  pesan dari Tuhan  ini terlebih hebat lagi dalam 

mendorong dia. Sekarang ia menjadi lebih teguh. Ia melihat betapa 

pentingnya pembaharuan lebih lanjut, dan betapa besar jaminan yang 

diperolehnya melalui kehadiran Tuhan  di dalamnya. Inilah yang membuatnya 

berani dan membantunya dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang 

sebelum itu menghalangi dan menjauhkannya dari pekerjaan itu. Sekarang ia 

memberanikan diri untuk menghancurkan semua berhala menjijikkan 

sejauh jangkauan kekuasaannya. Memang semua bentuk penyembahan 

berhala memang menjijikkan (1Ptr. 4:3). Semua itu disingkirkan. Ia juga 


 

362 

membaharui mezbah TUHAN, yang sepertinya sudah rusak meskipun baru 

berumur tidak lebih dari tiga puluh lima tahun sejak kematian Salomo, yang 

pertama mendirikan mezbah itu. Begitu cepat semua ketetapan upacara 

keagamaan itu mulai bertambah usang, sama seperti hal-hal yang pada 

akhirnya nanti telah dekat kepada kemusnahannya (Ibr. 8:13). 

II.  Asa memperluas pengaruhnya lebih dari sebelumnya (ay. 9). Ia menghimpun 

pertemuan khidmat, terutama orang-orang asing yang telah datang kepadanya 

dari antara kesepuluh suku. 

1. Kedatangan mereka sangat menguatkan hatinya, sebab  alasan 

kedatangan mereka yaitu  sebab   mereka melihat bahwa TUHAN, 

Tuhan nya, beserta dengan dia. Sungguh menyenangkan berada bersama 

orang-orang yang disertai Tuhan , dan menjalin hubungan, berkenalan, 

dan bersahabat dengan mereka yang hidup di dalam takut akan Tuhan  

serta perkenan-Nya. Kami mau pergi menyertai kamu, sebab telah kami 

dengar, bahwa Tuhan  menyertai kamu (Za. 8:23). 

2. Perhatiannya terhadap mereka, dan ajakannya kepada mereka untuk 

menghadiri perhimpunan besar itu sangat menguatkan hati mereka. 

Semua orang asing patut dibantu, namun mereka yang memberi diri 

kepada penyeleggaraan Tuhan , dan memelihara nurani mereka yang 

tulus, sungguh layak diberi kehormatan ganda. Asa memberikan 

perintah agar mereka semua berkumpul (ay. 9). Namun, dikatakan (ay. 

10) bahwa mereka berkumpul sendiri (KJV), atas kemauan sendiri, sebab  

mereka begitu cepat menaati perintah raja. Pertemuan ini diadakan pada 

bulan ketiga, mungkin pada hari raya Pentakosta yang jatuh pada bulan 

itu. 

III. Asa dan rakyatnya mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan , yaitu  

bagian yang diperolehnya dari hasil jarahan (ay. 11). Persembahan mereka 

tidak berarti apabila dibandingkan dengan persembahan Salomo (7:5), 

sebab  berkurangnya semangat atau kekayaan mereka, atau sebab  

keduanya. Persembahan ini dimaksudkan sebagai cara mengucapkan syukur 

atas semua kebaikan yang telah mereka terima, dan sebagai permohonan 

untuk memperoleh kebaikan-kebaikan selanjutnya. Sekarang, doa dan pujian 

merupakan persembahan rohani kita. Sama seperti Asa mengatur agar di atas 

mezbah terdapat persembahan, dia juga mengatur supaya di Bait Suci terdapat 

emas: Ia membawa persembahan-persembahan kudus ayahnya dan 

persembahan-persembahan kudusnya sendiri ke rumah Tuhan  (ay. 18). Sungguh 

merupakan ketulusan bila seseorang memberikan semua hal yang yaitu  milik 

Kitab 2 Tawarikh 15:1-7 

 

363 

Tuhan . Hal yang sudah sejak lama dirancang baginya dan disimpan untuknya, 

seperti halnya persembahan-persembahan kudus yang pada akhirnya 

dikeluarkan baginya. Masakan kita mau merampok Tuhan , atau berlambat-

lambat dalam melunasi kewajibannya kepada Dia yang senantiasa berbuat 

baik kepada kita? 

IV. Mereka mengadakan perjanjian untuk mencari TUHAN. Mereka menyesal 

sebab  telah merusak hubungan dengan-Nya, dan bertekad berbuat lebih 

baik di masa yang akan datang. Sungguh patut bagi orang-orang yang 

menyatakan penyesalan, yang baru bertobat, untuk memperbarui kovenan 

mereka. Sepertinya ajakan itu tidak datang dari Asa, namun  atas kehendak 

rakyat sendiri. Hendaklah setiap orang dengan sukarela mengadakan 

kovenan dengan Tuhan . Bangsamu merelakan diri untuk maju (Mzm. 110:3). 

Amatilah, 

1. Isi kovenan ini. Tidak ada hal lain selain apa yang sebelumnya telah 

diwajibkan kepada mereka. Sumpah atau janji yang mereka buat saat ini 

sama sekali tidak menjadikan kewajiban mereka lebih berat dibandingkan  

perintah ilahi yang sudah diberikan kepada mereka sebelum ini. Namun, 

sumpah atau janji mereka itu memang dapat membuat mereka merasa 

lebih berkewajiban untuk mempersenjatai diri melawan godaan, dan 

akan menjadi kesaksian tentang keadilan dan kebaikan perintah Tuhan  

itu. Selain itu, dengan bersatu dalam kovenan ini, mereka saling 

menguatkan. Mereka melibatkan diri dalam dua hal: 

(1) Bahwa mereka sendiri akan mencari Tuhan  dengan tekun, mencari 

perintah-Nya, dan mencari perkenan-Nya. Apakah arti agama selain 

mencari Tuhan , bertanya kepada Dia, dan memohon kepada-Nya 

dalam segala perkara? Kita belum akan menikmati kebersamaan 

dengan-Nya sampai kita datang ke sorga, sebab  itu sementara 

masih berada di bumi ini, kita harus terus mencari Dia. Mereka 

hendak mencari Tuhan  sebagai Tuhan  nenek moyang mereka, sama 

seperti nenek moyang mereka mencari Dia dan bergantung pada 

janji yang telah diberikan kepada nenek moyang mereka. Mereka 

akan melakukannya dengan segenap hati dan jiwa, sebab hanya 

mereka yang mencari Tuhan  dan berhasil berkenan kepada-Nya 

sajalah yang berada di dalam-Nya, bersungguh-sungguh sepenuhnya 

dalam mencari Dia. Kita akan menyia-nyiakan agama kita apabila 

kita tidak menjalaninya dengan sepenuh hati. Tuhan  menghendaki 

seluruh hati atau tidak sama sekali. Ketika sebuah permata dengan 


 

364 

nilai tidak terhitung seperti perkenan ilahi ingin kita peroleh, maka 

sangatlah sepadan apabila kita mencarinya dengan segenap hati dan 

jiwa. 

(2) Bahwa mereka akan dengan sekuat tenaga mewajibkan orang lain 

untuk mencari Dia (ay. 13). Mereka sependapat bahwa setiap orang 

yang tidak mencari TUHAN, Tuhan  Israel, artinya, yang menyembah 

Tuhan -Tuhan  lain, atau menolak menyembah Tuhan  yang benar bersama 

mereka, dan dengan keras kepala menyembah berhala atau tidak 

mempercayai adanya Tuhan, haruslah dihukum mati. Ini bukanlah 

hukum baru yang mereka buat sendiri, melainkan perintah untuk 

melaksanakan hukum Tuhan  sesuai dengan pokok ini (Ul. 17:2 dst.). 

Apabila hukum ini terlaksana dengan semestinya, maka tidak akan 

terdapat begitu banyak berhala menjijikkan di tanah Yehuda dan 

Benyamin (ay. 8). Patut dipertanyakan apakah di bawah Injil, orang 

pada zaman sekarang terdorong mencari Tuhan dengan cara-cara se-

perti ini. Senjata perang kita tidak bersifat jasmani, namun sangatlah 

kuat. 

2. Dengan cara apa mereka mengadakan kovenan ini. 

(1) Dengan sorak-sorai dan ungkapan sukacita: mereka bersumpah setia 

kepada TUHAN. Tidak dengan diam-diam seolah-olah mereka malu 

mengikat diri terlampau erat dengan-Nya, namun  dengan sorak-sorai, 

untuk mengutarakan semangat dan untuk menyemangati satu sama 

lain. Mereka pun bersukaria atas sumpah itu (ay. 14-15). Mereka tidak 

bersumpah kepada Tuhan  dengan enggan seperti orang yang berutang 

mengakui kesalahannya kepada orang yang memberikan pinjaman 

kepadanya, namun  dengan seluruh kegembiraan dan kepuasan yang 

dapat dibayangkan, bagaikan mempelai laki-laki berjanji untuk setia 

kepada mempelai wanita  ketika mengucapkan kovenan pernikah-

an. Setiap orang Israel yang tulus, merasa senang dengan janjinya 

terhadap Tuhan , dan mereka semua juga senang dengan janji kepada 

satu sama lain. Mereka bersukacita dalam penuh pengharapan 

supaya tidak murtad dari Tuhan , dan sebagai tanda kehadiran Tuhan  

bersama mereka. Perhatikanlah, masa memperbarui kovenan kita 

dengan Tuhan  sudah seharusnya merupakan masa penuh sukacita. 

Pembaharuan seluruh bangsa pastilah akan memberikan kepuasan 

kepada semua orang yang baik. Sungguh merupakan kehormatan 

dan sukacita apabila kita melekat pada Tuhan . 

Kitab 2 Tawarikh 15:1-7 

 

365 

(2) Mereka melakukannya dengan sangat bersungguh-sungguh, 

bersemangat, dan penuh tekad. sebab  dengan segenap hati mereka 

bersumpah setia dan dengan kehendak yang bulat mereka mencari 

TUHAN. Sekarang keadaan orang Israel sangatlah baik. O, seandainya 

saja hati mereka senantiasa seperti itu sejak dahulu! Inilah alasan 

mengapa mereka begitu bersukacita dalam tindakan yang mereka 

lakukan: yaitu sebab  mereka melakukannya dengan sepenuh hati. 

Perhatikanlah, orang-orang yang melakukannya dengan sungguh 

hati dan tulus sajalah yang akan memperoleh sukacita dan 

penghiburan dari agama yang mereka hayati. Apa yang dilakukan 

dengan munafik, tidaklah lebih dari pekerjaan yang membosankan. 

Sebaliknya, apabila Tuhan  memiliki hati kita, maka kita pun akan 

memiliki sukacita itu. 

V. Di sini diberitahukan kepada kita tentang hal yang berpengaruh atas mereka 

sebab  mengadakan kovenan dengan Tuhan . 

1. Tuhan  berbuat baik kepada mereka: TUHAN berkenan ditemui oleh 

mereka dan mengaruniakan keamanan kepada mereka di segala penjuru 

(ay. 15). Dengan demikian tidak ada perang sampai lama sesudah itu (ay. 

19). Tidak ada peperangan terbuka, meskipun masih selalu terjadi 

pertengkaran di antara kaum Yehuda dan Israel di daerah perbatasan 

(1Raj. 15:16). Kesalehan seluruh bangsa menghasilkan berkat-berkat bagi 

bangsa. 

2. Secara keseluruhan, sikap mereka terhadap-Nya cukup baik. Mereka 

menjalankan pembaharuan sebegitu rupa hingga Maakha, nenek Asa, 

dicabut pangkatnya sebagai ibu suri akibat penyembahan berhala yang 

dijalankannya, dan semua patung itu pun dihancurkan (ay. 16). Hal ini 

dilakukan dengan berani oleh Asa. Ia tidak mau berkomplot dengan 

penyembahan berhala yang dilakukan orang-orang terdekatnya, seperti 

Lewi yang berkata tentang ayahnya dan tentang ibunya: aku tidak 

mengindahkan mereka (Ul. 33:9). Asa tahu ia harus lebih menghormati 

Tuhan  dibandingkan  neneknya, dan tidak berani membiarkan patung berhala 

tetap berada di dalam istananya sementara ia sedang menghancurkan 

patung-patung berhala di kota-kota dalam kerajaannya. Kita dapat 

memperkirakan bahwa Maakha telah disadarkan perihal dosanya, 

sehingga ia bersedia bergabung dengan mereka untuk mencari TUHAN 

(ay. 12-13). Itulah sebabnya ia tidak dihukum mati seperti orang-orang 

yang menolak untuk bergabung, baik orang dewasa maupun anak kecil, 

wanita  maupun laki-laki. Mungkin sebab  memperhatikan 


 

366 

dirinyalah, kaum wanita  diperinci di sini. Namun demikian, sebab  

Maakha pernah menjadi penyembah berhala, Asa beranggapan bahwa 

sungguh pantas apabila martabat dan wewenangnya dicabut. Boleh jadi 

Asa mengusirnya dari istana dan mengasingkannya, supaya ia tidak bisa 

memengaruhi orang-orang lain dan menularkan kebiasaan buruk itu. 

namun , pembaharuan itu belumlah lengkap. Bukit-bukit pengorbanan 

belum seluruhnya dihancurkan, meskipun sudah banyak juga yang 

dimusnahkan (14:3-5). Bukit-bukit pengorbanan di berbagai kota telah 

dimusnahkan, namun  yang berada di kota-kota Yehuda dan Israel belum 

disingkirkan dari tengah keluarga Daud, yaitu  yang digunakan untuk 

menyembah Tuhan -Tuhan  palsu. Tidak demikian halnya dengan yang 

digunakan untuk menyembah Tuhan  Israel. Asa masih mempertahankan 

mezbah-mezbah ini, namun hatinya tetap tulus dan sempurna. Mungkin 

saja masih terdapat beberapa cacat di dalam beberapa kewajiban 

tertentu di dalam hati manusia yang tulus terhadap Tuhan . Ketulusan 

yaitu  sesuatu yang sedikit di bawah kesempurnaan tanpa dosa. 

 

 

 

 

PASAL  16  

asal ini menutup sejarah pemerintahan Asa, namun  tidak memoles dengan 

indah catatan tentang akhir hidupnya sebagaimana permulaannya. Di sini 

terdapat, 

I. Perjanjian yang bodoh dengan Benhadad, raja Aram (ay. 1-6). 

II. Teguran yang Tuhan  kirimkan kepadanya melalui seorang nabi sebab  

perjanjian tersebut (ay. 7-9). 

III. Ketidaksukaan Asa terhadap sang nabi sebab  kesetiaannya (ay. 10). 

IV. Penyakit, kematian, dan penguburan Asa (ay. 11-14). 

Persekutuan Asa dengan Benhadad 

(16:1-6) 

1 Pada tahun ketiga puluh enam pemerintahan Asa majulah Baesa, raja Israel, hendak 

berperang melawan Yehuda. Ia memperkuat Rama dengan maksud mencegah lalu lintas 

kepada Asa, raja Yehuda. 2 Lalu Asa mengeluarkan emas dan perak dari perbendaharaan 

rumah TUHAN dan dari perbendaharaan rumah raja dan mengirimnya kepada Benhadad, 

raja Aram yang diam di Damsyik dengan pesan: 3 Ada perjanjian antara aku dan engkau, 

antara ayahku dan ayahmu. Ini kukirim emas dan perak kepadamu. Marilah, batalkanlah 

perjanjianmu dengan Baesa, raja Israel, supaya ia undur dari padaku. 4 Lalu Benhadad 

mendengarkan permintaan raja Asa; ia menyuruh panglima-panglimanya menyerang 

kota-kota Israel. Dan mereka memukul kalah Iyon, Dan, Abel-Maim dan segala tempat 

perbekalan kota-kota di Naftali. 5 Segera sesudah Baesa mendengar hal itu, ia berhenti 

memperkuat Rama; ia menghentikan usahanya itu. 6 namun  raja Asa mengerahkan 

segenap orang Yehuda, yang harus mengangkat batu dan kayu yang dipergunakan Baesa 

untuk memperkuat Rama itu. Ia mempergunakannya untuk memperkuat Geba dan Mizpa. 

Saya tidak tahu pasti bagaimana menyesuaikan penanggalan peristiwa ini 

dengan sejarah raja-raja. Baesa mati pada tahun kedua puluh enam 

pemerintahan Asa (1Raj. 16:8). Lantas, bagaimana peristiwa ini terjadi pada 

tahun ketiga puluh enam pemerintahan Asa, saat keluarga Baesa sudah binasa 

dan Omri sudah naik takhta? Biasanya, dikatakan bahwa tahun ketiga puluh 

enam kerajaan Asa, yaitu kerajaan Yehuda, dihitung mulai Raja Rehabeam, 


 

370 

sehingga bertepatan dengan tahun keenam belas pemerintahan Asa. Namun, 

kemudian 2Taw. 15:19 juga harus dipahami demikian. Bagaimana mungkin 

dikatakan sebagai sesuatu yang luar biasa bahwa tidak ada lagi perang hingga 

tahun kelima belas zaman Asa, padahal bacaan tepat sebelumnya terjadi pada 

tahun kelima belas (15:10)? Dan setelah kesalahannya, di sini dicatat bahwa ia 

berperang (ay. 9). Josephus menempatkan peristiwa ini pada tahun kedua puluh 

enam Asa, maka dapat diduga ada kesalahan yang dilakukan oleh penyalin kitab 

di sini dan di pasal 15:19, mengakui kesalahan ini akan memudahkan 

penghitungan. Dalam ayat sebelumnya (1Raj. 15:17) dan perikop di atas, Asa 

bersalah dalam beberapa hal. 

1. Ia tidak melakukan yang benar dalam hal bekerja sama dengan Benhadad, 

seorang raja kafir, dan dengan menilai dirinya begitu tinggi dalam perjanjian 

tersebut seperti yang tampak ia perbuat (ay. 3). Seandainya ia lebih 

bergantung pada kovenannya dan ayahnya dengan Tuhan , tentu ia tidak akan 

membanggakan perjanjiannya dan ayahnya dengan keluarga kerajaan Aram. 

2. Seandainya ia mau menghargai kehormatan Israel secara umum, tentu ia 

akan menemukan jalan lain untuk mengalihkan Baesa, bukannya dengan 

memanggil tentara asing, dan dengan demikian mengundang musuh 

bersama ke dalam negeri, sehingga seiring berjalannya waktu akan menjadi 

bencana bagi Yehuda juga. 

3. Tidak diragukan, Benhadad berdosa dengan memutuskan perjanjiannya 

dengan Baesa tanpa masalah apa pun, hanya sebab  pengaruh suap. Dengan 

demikian, tentu Asa juga berdosa dengan mendorong Benhadad 

melakukannya, khususnya dengan membayar dia agar melakukannya. 

Keyakinan para raja dan kerajaan di muka umum tidak boleh dijadikan 

perkara remeh. 

4. Mengambil perak dan emas dari Bait Tuhan  untuk tujuan tersebut merupakan 

dosa pelanggaran besar (ay. 2). Haruskah Bait Suci dijarah guna memenuhi 

politik duniawi sang raja? Alangkah baiknya jika dia membawa korban dan 

persembahan dengan doa dan permohonan, ke rumah Tuhan untuk 

memohon Tuhan  di pihaknya, dan menjadikan Dia sekutunya, dibandingkan  

menjadikan Benhadad sebagai sekutu sampai harus mengeluarkan biaya 

banyak seperti itu. 

5. yaitu  baik jika Asa tidak harus bertanggung jawab atas semua kejahatan 

yang dilakukan oleh tentara Benhadad dengan sewenang-wenang terhadap 

kota-kota Israel, atas seluruh darah yang telah mereka tumpahkan, dan 

semua rampasan mereka (ay. 4). Mungkin, Asa tidak bermaksud agar 

mereka bertindak sejauh itu. Namun, barang siapa menarik orang lain untuk 

berdosa, ia tidak tahu apa yang diperbuatnya maupun sampai mana perbuat-

Kitab 2 Tawarikh 16:1-6 

 

371 

an itu akan berakhir. Permulaan dosa sama seperti membuka pintu air. 

Meski demikian, rencana itu berhasil. Benhadad berhasil mengusir Baesa, 

yang terpaksa berhenti memperkuat Rama dan pergi memperkuat 

pertahanan negerinya sendiri di sebelah utara. Hal itu memberi kesempatan 

kepada Asa untuk menghancurkan benteng-bentengnya di Rama sekaligus 

merebut bahan-bahan bangunan dan menggunakannya untuk keperluan 

sendiri. 

Kematian dan Penguburan Asa 

(16:7-14)  

7 Pada waktu itu datanglah Hanani, pelihat itu, kepada Asa, raja Yehuda, katanya 

kepadanya: “sebab  engkau bersandar kepada raja Aram dan tidak bersandar kepada 

TUHAN Tuhan mu, oleh sebab  itu terluputlah tentara raja Aram dari tanganmu. 8 

Bukankah tentara orang Etiopia dan Libia besar jumlahnya, kereta dan orang berkudanya 

sangat banyak? Namun TUHAN telah menyerahkan mereka ke dalam tanganmu, sebab  

engkau bersandar kepada-Nya. 9 sebab  mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk me-

limpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Dalam hal 

ini engkau telah berlaku bodoh, oleh sebab itu mulai sekarang ini engkau akan mengalami 

peperangan.” 10 Maka sakit hatilah Asa sebab  perkataan pelihat itu, sehingga ia 

memasukkannya ke dalam penjara, sebab memang ia sangat marah terhadap dia sebab  

perkara itu. Pada waktu itu Asa menganiaya juga beberapa orang dari rakyat. 11 

Sesungguhnya riwayat Asa dari awal sampai akhir tertulis dalam kitab raja-raja Yehuda 

dan Israel. 12 Pada tahun ketiga puluh sembilan pemerintahannya Asa menderita sakit 

pada kakinya yang kemudian menjadi semakin parah. Namun dalam kesakitannya itu ia 

tidak mencari pertolongan TUHAN, namun  pertolongan tabib-tabib.  

13 Kemudian Asa mendapat perhentian bersama-sama nenek moyangnya. Ia mati pada 

tahun keempat puluh satu pemerintahannya, 14 dan dikuburkan di kuburan yang telah 

digali baginya di kota Daud. Mereka membaringkannya di atas petiduran yang penuh 

dengan rempah-rempah dan segala macam rempah-rempah campuran yang dicampur 

menurut cara pencampur rempah-rempah, lalu menyalakan api yang sangat besar untuk 

menghormatinya. 

Di sini terdapat, 

I. Teguran langsung kepada Asa yang disampaikan dengan setia oleh seorang 

nabi Tuhan, sebab  Asa mengadakan perjanjian dengan Benhadad. Yang 

menegur dia yaitu  Hanani, sang pelihat, ayah Yehu, seorang nabi lain yang 

kisahnya terdapat dalam 1 Raja-raja 16:1; 2 Tawarikh 19:2. Tampak 

beberapa kekeliruan dalam perjanjian Asa dengan Benhadad. Namun, apa 

yang ditegur oleh sang nabi sebagai kesalahan terbesar ialah bahwa ia ber-

sandar kepada raja Aram dan tidak bersandar kepada Tuhan Tuhan mu (ay. 7). 

Ia pikir, meski Tuhan  berada di pihaknya, hal itu tidak akan membuatnya 

berdiri tegak kalau tidak ada Benhadad di pihaknya. Ia pikir Tuhan  tidak 

mampu atau tidak mau menolongnya dan ia harus mengambil cara tidak 

langsung untuk menolong diri sendiri. Perhatikan, Tuhan  sangat tidak 


 

372 

berkenan ketika Dia tidak dipercayai dan ketika tangan manusia lebih 

diandalkan dibandingkan  kuasa dan kebaikan-Nya. Dengan meletakkan 

kepercayaan kita dalam Tuhan, kita menghormati Dia, dan ketika kita 

memberikan kehormatan itu kepada yang lain, Dia pun terhina. Dengan 

terus terang Ia mengatakan kepada raja bahwa dalam hal ini ia telah 

bertindak bodoh (ay. 9). Bersandar kepada buluh yang patah yaitu  

tindakan bodoh ketika kita memiliki gunung batu yang kekal sebagai tempat 

bersandar. Untuk meyakinkan Asa akan kebodohannya, sang nabi 

menunjukkan bahwa, 

1. Tindakannya bertentangan dengan pengalamannya sendiri (ay. 8). 

Dibanding semua orang, Asa tidak punya alasan untuk tidak percaya 

kepada Tuhan  yang telah hadir baginya sebagai penolong yang kuat. Tuhan  

telah membuatnya menang atas musuh yang mengancam, sama seperti 

bapaknya sebelum dia, sebab  mereka mengandalkan diri kepada 

TUHAN, Tuhan  nenek moyang mereka (13:18; 14:11). “Aduh!” kata sang 

nabi, “Bukankah tentara orang Etiopia dan Libia besar jumlahnya, cukup 

untuk menelan satu kerajaan? Namun demikian, TUHAN telah 

menyerahkan mereka ke dalam tanganmu, sebab  engkau bersandar 

kepada-Nya. Tidakkah Dia cukup untuk menolongmu melawan Baesa?” 

Perhatikan, jika kita banyak mengalami kebaikan Tuhan , semakin 

bersalahlah kita jika tidak percaya kepada-Nya. Bila Dia telah menolong 

kita dalam enam persoalan, mengapa meragukan Dia dalam masalah 

ketujuh? Namun, lihatlah betapa hati kita penuh tipu daya! Kita percaya 

kepada Tuhan  jika tiada lagi yang bisa dipercaya, ketika ada kebutuhan, 

barulah kita datang kepada-Nya. Akan namun , saat ada hal lain yang bisa 

diandalkan, kita cenderung berpegang pada yang lain dan bersandar 

pada pengertian kita sendiri selama masih berguna. Namun, keyakinan 

yang penuh kepercayaan hanya ada dalam Tuhan , saat dunia yang 

tersenyum merayu-rayu. 

2. Tindakannya bertentangan dengan pengenalannya akan Tuhan  dan 

penyelenggaraan-Nya (ay. 9). Asa tidak mungkin tidak tahu bahwa mata 

TUHAN melesat kian kemari ke seluruh bumi untuk melimpahkan 

kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia (KJV). 

Artinya,  

(1) Tuhan  memerintah dunia dengan hikmat yang tiada berbatas, dan 

semua ciptaan dan segala perbuatan mereka senantiasa berada 

dalam pengawasan-Nya. Mata Tuhan  Sang Pemelihara itu sigap – 

melesat. Mata-Nya jeli, melesat kian kemari, dan menjangkau jauh, ke 

Kitab 2 Tawarikh 16:1-6 

 

373 

seluruh bumi, tiada sudut yang bebas dari penglihatan-Nya, baik yang 

paling gelap maupun yang terjauh. Mata-Nya mengarahkan tangan-

Nya serta lengan kekuatan-Nya, sebab Ia menyatakan bahwa Diri-

Nya kuat. Apakah Iblis berjalan kian kemari di atas bumi? Tuhan  Sang 

Pemelihara melesat kian kemari, tidak pernah keluar dari jalur, tidak 

pernah harus mencari-cari, tidak pernah tersesat.  

(2) Tuhan  memerintah dunia bagi kebaikan umat-Nya, Ia mengerjakan 

semuanya berdasarkan kasih-Nya bagi keselamatan mereka, oleh 

sebab  hamba-Nya Yakub dan Israel, pilihan-Nya (Yes. 45:4). Segala 

sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah 

diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada 

(Ef. 1:22).  

(3) Barang siapa yang tulus hati kepada Dia boleh yakin akan 

perlindungan-Nya dan memiliki alasan pasti untuk bergantung pada 

perlindungan itu. Tuhan  sanggup menjaga umat-Nya di jalan 

kewajiban mereka sebab hikmat dan kekuatan yaitu  milik-Nya, dan 

Ia sungguh-sungguh menghendaki agar mereka terlindung. Tidak 

mempercayai hal ini menyebabkan kita meninggalkan Tuhan  dan 

tidak setia kepada-Nya. Asa tidak dapat mempercayai Tuhan , sebab  

itu ia mengadakan perjanjian dengan Benhadad. 

3. Tindakannya bertentangan dengan keuntungannya.  

(1) Ia telah kehilangan kesempatan untuk memantau kebesaran raja 

Aram yang sedang berkembang (ay. 7), terluputlah tentara raja Aram 

dari tanganmu. Padahal raja Aram mau bergabung dengan tentara 

Baesa dan keduanya akan jatuh bersama.  

(2) Ia mendatangkan kegeraman Tuhan , maka tiada damai yang bisa 

diharapkan, melainkan bahaya perang terus-menerus (ay. 9). Orang 

yang tidak memiliki kepercayaan akan Tuhan  dalam hatinya akan 

kehilangan perlindungan-Nya dan mengeluarkan diri dari 

perlindungan tersebut. 

II. Asa tidak suka ditegur. Meski teguran itu berasal dari Tuhan  lewat seorang 

yang dikenal sebagai pembawa pesan-Nya, meski teguran itu adil, alasannya 

tepat, dan semua ditujukan demi kebaikannya, Asa gusar terhadap sang 

pelihat sebab  menyatakan kebodohannya. Bahkan, ia murka kepada nabi itu 

(ay. 10, KJV). Inikah Asa? Inikah dia yang sempurna hatinya di hadapan Tuhan  

seumur hidupnya? Orang yang merasa dirinya tegak, baiklah ia berhati-hati, 

kalau tidak ia akan jatuh. Seorang bijaksana, namun  murka! Seorang Israel, 


 

374 

namun  murka kepada nabi! Seorang baik, namun  gusar akan teguran dan tidak 

suka ditunjukkan kesalahannya! Ya Tuhan, apakah manusia, ketika Tuhan  

meninggalkan dia? Orang yang memberhalakan caranya sendiri tidak dapat 

menerima pertentangan, dan orang yang memelihara watak mudah 

tersinggung, dapat dibuat menjadi durhaka dan bersikap tidak pantas, dan 

tidak lama kemudian ia akan menentang Tuhan  sendiri. Lihatlah, kegetiran 

dan kepahitan macam apa yang dihasilkan oleh akar pahit. 

1. Dalam kemarahannya, Asa menjebloskan sang nabi ke dalam tahanan, ia 

memasukkannya ke dalam penjara, sebagai seorang penjahat, di dalam 

gudang (demikian beberapa tafsiran), atau kurungan yang sempit. Nabi-

nabi Tuhan  biasanya menjumpai banyak orang yang tidak bisa menerima 

teguran, yang menganggapnya sebagai kesalahan, namun  para nabi harus 

melakukan kewajiban mereka. 

2. Setelah bertindak sejauh itu, Asa menganiaya juga beberapa orang dari 

rakyat, kemungkinan orang-orang yang memihak Nabi Hanani dalam 

penderitaannya atau yang diketahui sebagai kawan-kawannya. Orang 

yang menyalahgunakan kekuasaannya untuk menganiaya nabi Tuhan  

akan dibiarkan menyalahgunakannya lebih lagi untuk menghancurkan 

rakyatnya sendiri, dan dengan demikian ia melemahkan diri sendiri dan 

kehilangan kepentingannya. Kebanyakan penganiaya biasanya yaitu  

penguasa yang lalim. 

III. Penyakit Asa. Dua tahun sebelum wafat, Asa menderita sakit pada kakinya 

(ay. 12), terserang penyakit sendi yang parah. Ia mengurung Nabi Hanani 

dalam kurungan sempit, kini Tuhan  mengurungnya juga. Jadi, hukumannya 

sesuai dengan dosanya. Penyakit itu kemudian menjadi semakin parah, 

menjalar ke atas (kata sebagian penafsir), naik sampai ke kepala (menurut 

tafsiran lain), hingga sakit itu mematikan. Inilah penderitaannya. Namun, 

dalam penyakit sebab  dosanya itu, ia bukannya mencari kelepasan dari 

Tuhan  melainkan pertolongan tabib-tabib. Memang, ia wajib menggunakan 

para tabib, namun  percaya kepada mereka dan mengharapkan dari tabib itu 

sesuatu yang seharusnya hanya berasal dari Tuhan  merupakan dosa dan 

kebodohan Asa. Pertolongan dari ciptaan harus senantiasa dipergunakan 

dengan mata yang tertuju kepada sang Pencipta dan dalam kebergantungan 

kepada Dia yang menciptakan setiap ciptaan yang bermanfaat bagi kita. 

Tanpa Dia, tabib yang paling ahli dan setia pun tidak ada artinya. Sebagian 

orang beranggapan bahwa tabib-tabib Asa itu yaitu  orang-orang asing bagi 

negeri Israel dan merupakan tukang sihir. Kepada merekalah Asa meminta 

tolong seolah tidak ada Tuhan  di Israel. 

Kitab 2 Tawarikh 16:1-6 

 

375 

IV. Kematian dan penguburan Asa. Upacara pemakamannya mengandung 

bentuk penghormatan yang tidak biasa (ay. 14). Mereka membaringkannya 

di atas petiduran yang penuh dengan rempah-rempah. Saya sendiri enggan 

beranggapan (seperti sebagian orang lain) bahwa Asa sendiri yang 

memerintahkan penguburan mewah itu, dan bahwa hal itu merupakan 

contoh kesia-siaannya sehingga ia dikuburkan layaknya orang bukan Yahudi, 

bukan dengan cara orang Yahudi. Memang Alkitab mengatakan bahwa ia 

menggali kuburnya sendiri (KJV) layaknya seorang yang memikirkan 

makamnya. Namun, saya mau percaya bahwa kemegahan upacara 

pemakaman itu merupakan ungkapan penghormatan besar dari rakyat bagi 

dia, meskipun pada masa-masa terakhirnya ia gagal dan memiliki 

kelemahan. Memberinya penghormatan pada kematiannya itu sudah 

disepakati. Perhatikanlah, kesalehan yang menonjol dan keberjasaan orang 

baik biasanya diingat sebagai puji-pujian bagi mereka sekalipun mereka 

memiliki kekurangan. Biarlah kesalahan orang-orang demikian dikubur 

dalam makam mereka, sedang  jasa mereka diingat melampaui liang 

lahadnya. Ia yang berkata, “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang 

saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa,” juga mengatakan, 

“Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat.” Terjadilah kiranya 

demikian. 

 

 

 

 

 

 

PASAL  17  

i sinilah dimulainya kehidupan dan pemerintahan Yosafat, yang 

merupakan salah satu di antara ketiga raja yang berjasa. Ia salah satu raja 

terbaik yang pernah memegang tampuk pemerintahan Yehuda sejak kematian 

Daud. Ia merupakan putra yang baik dari seorang ayah yang baik. Dengan 

demikian, pada waktu itu anugerah mengalir di dalam darahnya, bahkan dalam 

darah raja. Berbahagialah putra yang memiliki ayah seperti itu, yang meletakkan 

dasar yang baik di dalam dan bagi dirinya. Berbahagialah ayah yang memiliki 

putra semacam itu, yang mendirikan tembok di atas dasar yang telah 

diletakkannya! Berbahagialah kerajaan yang diberkati dengan dua raja seperti 

itu, dua pemerintahan seperti itu, bersama-sama! Di dalam pasal ini diceritakan 

tentang, 

I. Pengangkatan dan pengukuhan Yosafat di takhta kerajaan (ay. 1-2, 5). 

II. Kepribadiannya yang saleh (ay. 3-4, 6). 

III. Cara yang diambilnya guna memajukan agama di dalam kerajaannya 

(ay. 7-9). 

IV. Pengaruh luar biasa yang ditebarkannya di antara bangsa-bangsa di 

sekitarnya (ay. 10-11). 

V. Kekuatan besar kerajaannya, baik menyangkut pasukan maupun 

angkatan perangnya (ay. 12-19). Demikianlah keberhasilannya 

merupakan upah bagi kesalehannya. Kesalehannya ini merupakan 

anugerah terbesar dan hiasan bagi keberhasilannya. 

Yosafat Menggantikan Asa 

(17:1-9) 

1 Maka Yosafat, anaknya, menjadi raja menggantikan dia. Sebagai pemimpin Israel ia 

memperkuat dirinya 2 dengan menempatkan tentara di semua kota yang berkubu di 

Yehuda dan pasukan-pasukan pendudukan di tanah Yehuda serta di kota-kota Efraim 

yang direbut oleh Asa, ayahnya. 3 Dan TUHAN menyertai Yosafat, sebab  ia hidup 


 

378 

mengikuti jejak yang dahulu dari Daud, bapa leluhurnya, dan tidak mencari Baal-baal, 4 

melainkan mencari Tuhan  ayahnya. Ia hidup menurut perintah-perintah-Nya dan tidak 

berbuat seperti Israel. 5 Oleh sebab itu TUHAN mengokohkan kerajaan yang ada di bawah 

kekuasaannya. Seluruh Yehuda memberikan persembahan kepada Yosafat, sehingga ia 

menjadi kaya dan sangat terhormat. 6 Dengan tabah hati ia hidup menurut jalan yang 

ditunjukkan TUHAN. Pula ia menjauhkan dari Yehuda segala bukit pengorbanan dan tiang 

berhala. 7 Pada tahun ketiga pemerintahannya ia mengutus beberapa pembesarnya, yaitu  

Benhail, Obaja, Zakharia, Netaneel dan Mikha untuk mengajar di kota-kota Yehuda. 8 

Bersama-sama mereka turut juga beberapa orang Lewi, yaitu  Semaya, Netanya, Zebaja, 

Asael, Semiramot, Yonatan, Adonia, Tobia dan Tob-Adonia disertai imam-imam Elisama 

dan Yoram. 9 Mereka memberikan pelajaran di Yehuda dengan membawa kitab Taurat 

TUHAN. Mereka mengelilingi semua kota di Yehuda sambil mengajar rakyat. 

Tentang Yosafat diceritakan di sini, 

I. Betapa berhikmatnya dia. Begitu menduduki takhta, maka sebagai pemimpin 

Israel ia memperkuat dirinya (ay. 1). Ahab, raja yang sangat gemar 

berperang, saat itu sudah tiga tahun lamanya menduduki takhta kerajaan 

Israel. Kekuatan di awal pemerintahannya semakin lemah bersama 

kemerosotan pemerintahan Asa di akhir hidup Asa. Terdapat kemungkinan 

bahwa belakangan kerajaan Israel lebih kuat dibandingkan  kerajaan Yehuda dan 

mulai terasa menakutkan bagi Yehuda. Oleh sebab itu, hal pertama yang 

harus dilakukan Yosafat yaitu  bertindak dengan benar di bidang itu, dan 

menghambat kehebatan raja Israel yang semakin bertumbuh. Ia berhasil 

melakukannya tanpa penumpahan darah, sehingga dalam waktu singkat 

Ahab mengajaknya untuk bersekutu. Ia sama sekali tidak mau mengganggu, 

namun terbukti bahwa ia lebih berbahaya sebagai teman dibandingkan  sebagai 

musuh. Yosafat memperkuat dirinya bukan untuk menyerang Israel atau 

menyerbu mereka, melainkan sekadar untuk memelihara ketenteraman 

kerajaannya sendiri. Hal ini dilakukannya dengan cara memperkuat kota-

kota di garis perbatasannya dengan benteng, dan menempatkan pasukan 

tentara yang lebih kuat di kota-kota daerah Efraim yang dikuasainya (ay. 2). 

Ia tidak memperkuat diri sebagaimana yang dilakukan ayahnya yang 

bersekutu dengan raja Aram, namun  melalui cara-cara yang baik dan umum, 

dengan memohon berkat Tuhan  dan mempercayai-Nya di dalamnya. 

II. Betapa baiknya Yosafat. Di sini diceritakan tentang tabiatnya yang sangat 

baik. 

1. Ia hidup mengikuti jejak yang dahulu dari Daud, bapa leluhurnya. 

Mengenai tabiat para raja, jalan hidup Daud sering kali dijadikan pedoman 

(1Raj. 15:3, 11; 2Raj. 14:3; 2Raj. 16:2; 2Raj. 18:3). Namun, perbedaan di 

antara jalan hidup Daud yang pertama dan terakhir tidak pernah 

ditekankan sekuat di sini. Jalan-jalan hidupnya pada akhir 

Kitab 2 Tawarikh 17:1-9 

 

379 

pemerintahannya tidaklah sebaik yang pertama. Jalan hidup Daud 

sebelum kejatuhannya yang parah dalam perkara Uria (yang disebutkan 

jauh sesudah itu sebagai noda dalam tabiatnya), sungguh baik. Meskipun 

berhasil pulih dari kejatuhan itu, boleh jadi sepanjang sisa hidupnya ia 

tidak pernah pulih kembali kekuatan rohaninya, dan hilangnya perasaan 

tenteram sebagai akibatnya. Yosafat mengikuti jejak Daud sejauh ia 

mengikuti Tuhan , tidak lebih dari itu. Paulus sendiri juga membatasi cara 

kita bisa meneladani dirinya. Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga 

menjadi pengikut Kristus (1Kor. 11:1), bukan dengan cara lain. Banyak 

orang baik memiliki jalan hidup terbaik yang merupakan kasih mula-

mula, yaitu kasih mereka yang terkuat. Di dalam setiap salinan yang 

hendak kita tulis, kita harus memilih bagian yang baik saja, sehingga 

memperoleh yang terbaik. Kata-kata yang tercantum di sini mengenai 

Yosafat juga memberi tempat bagi tafsiran lain yang berbunyi: ia hidup 

mengikuti jejak yang dahulu dari Daud, bapa leluhurnya (Hareshonim), 

jejak yang pertama (KJV), atau juga jejak yang dahulu. Sebagai teladan 

untuk diri sendiri, ia menggunakan jejak-jejak zaman dahulu dalam 

keluarga kerajaan, zaman paling murni sebelum kebobrokan 

pemerintahan-pemerintahan belakangan mulai berdatangan (Yer. 6:16). 

Terjemahan Septuaginta tidak menyebut-nyebut nama Daud, dan 

langsung menunjuk kepada Asa: ia hidup mengikuti jejak yang dahulu 

dari bapa leluhurnya, dan tidak meniru perbuatan keliru yang 

dilakukannya menjelang akhir hidupnya. Sungguh baik apabila kita 

berhati-hati dalam mengikuti teladan orang-orang terbaik sekalipun, 

supaya kita tidak melenceng mengikuti contoh mereka. 

2. Yosafat tidak mencari Baal-baal, melainkan mencari Tuhan  ayahnya (ay. 3-

4). Bangsa-bangsa di sekitar mereka memiliki Baal masing-masing. Satu 

bangsa memiliki Baal-nya, sedang  bangsa lain memiliki Baal-nya sendiri. 

Sebaliknya, Yosafat membenci semua Baal itu dan tidak mau berurusan 

dengan mereka. Ia mencari Tuhan  ayahnya dan hanya Dia semata. Ia hanya 

berdoa dan meminta petunjuk kepada-Nya, dalam upaya mencari Dia. 

3. Yosafat hidup menurut perintah-perintah Tuhan . Ia tidak saja menyembah 

Tuhan  yang benar, namun  menyembah Dia sesuai ketetapan-Nya, dan tidak 

berbuat seperti Israel (ay. 4). Meskipun raja Israel merupakan tetangga 

sekaligus sekutunya, Yosafat tidak mengikuti jalannya. Walaupun 

mengadakan kesepakatan dengan raja Israel dalam kepentingan rakyat, 

ia tidak mau mengadakan persekutuan dengannya, atau mengikuti 

ajaran agamanya. Di dalam hal ini ia tetap memegang teguh aturan. 


 

380 

4. Dengan tabah hati ia hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN (ay. 

6), atau ia mengangkat hatinya. Dengan sepenuh hati ia melaksanakan 

pekerjaannya, dan mengangkat hatinya di dalamnya. Kepada-Mu, ya 

TUHAN, kuangkat jiwaku. Hatinya dilapangkan dalam hal-hal yang baik 

(Mzm. 119:32). Ia tidak pernah beranggapan telah berbuat cukup banyak 

bagi Tuhan . Ia bersemangat dan sangat mengasihi agamanya. Rohnya me-

nyala-nyala dan ia melayani Tuhan dengan gembira serta menikmatinya. 

Ia terus mengerjakan tugasnya dengan cekatan, sama seperti Yakub yang 

sesudah memperoleh penglihatan dari Tuhan  di Betel, berangkat dari situ 

(Kej. 29:1). Ia bersikap berani dan tegas dalam jalan-jalan Tuhan  dan 

terus maju dengan gagah berani. Hatinya terangkat melampaui pertim-

bangan akan adanya kesulitan yang mungkin menghalangi tugasnya. 

Dengan mudah ia berhasil mengatasi semuanya. Ia tidak takut kepada 

angin dan awan sehingga tetap menabur dan menuai (Pkh. 11:4). 

Hendaklah kita hidup di dalam roh yang sama. 

III. Betapa bergunanya Yosafat, tidak saja sebagai orang yang baik, namun  juga 

raja yang baik. Ia tidak saja baik, namun  juga berbuat baik pada masa 

angkatannya. Ia berbuat banyak kebaikan. 

1. Ia menyingkirkan para pengajar dusta, demikianlah patung berhala juga 

disebut (Hab. 2:18), juga segala bukit pengorbanan dan tiang berhala (ay. 

6). Yang dimaksudkan yaitu  tempat-tempat untuk menyembah berhala, 

sebab bukit-bukit pengorbanan yang dikhususkan bagi Tuhan  yang benar 

saja yang tidak disingkirkan (20:33). Hanya penyembahan berhala saja-

lah yang dihancurkan olehnya. Tidak ada suatu pun yang lebih merusak 

bangsa dibandingkan  tiang-tiang berhala atau patung-patung yang 

disingkirkannya. 

2. Yosafat mengirimkan pengajar-pengajar kebenaran. Ketika ia 

menanyakan keadaan rohani di kerajaannya, ia mendapati bahwa secara 

umum rakyatnya sangat tidak peduli: mereka tidak tahu, bahwa mereka 

berbuat jahat. Bahkan pada masa pemerintahan yang baik yang ada 

terakhir sebelum dia tidak banyak perhatian diberikan untuk 

mengajarkan kewajiban kepada rakyat. Oleh sebab itu Yosafat bertekad 

memulai pekerjaannya dengan benar. Ia memperlakukan mereka 

sebagai makhluk ciptaan yang berakal sehat. Ia tidak menuntun mereka 

kepada pembaharuan hidup dengan mata buta, namun  berusaha keras 

agar mereka diajar dengan baik, sebab  tahu bahwa itulah cara untuk 

memulihkan mereka. Di dalam pekerjaan yang baik ini ia 

mempekerjakan, 

Kitab 2 Tawarikh 17:1-9 

 

381 

(1) Para pemimpinnya. Ia mengutus mereka yang berada di sekitarnya. 

Mereka yang berada di pedalaman dikirimkannya untuk mengajar di 

kota-kota Yehuda (ay. 7). Di dalam menjalankan keadilan, ia 

memerintahkan kepada mereka agar tidak saja menghukum rakyat 

ketika mereka melakukan kejahatan, namun  juga mengajarkan 

kepada mereka cara berbuat lebih baik. Selain itu, juga untuk 

mengemukakan alasan tentang apa yang mereka lakukan, supaya 

orang-orang mengetahui perbedaan antara baik dan buruk. Para 

pemimpin atau hakim-hakim memiliki banyak kesempatan untuk 

mengajar rakyat perihal kewajiban mereka terhadap Tuhan  dan 

manusia. Hal ini tidak berada di luar bidang wewenang mereka, 

sebab hukum-hukum Tuhan  harus dipandang sebagai hukum-hukum 

yang berlaku bagi seluruh negeri. 

(2) Bersama-sama mereka turut juga beberapa orang Lewi. Mereka 

memberikan pelajaran di Yehuda dengan membawa kitab Taurat (ay. 

8-9). Jabatan mereka yaitu  sebagai pengajar (Ul. 33:10). Mengajar 

merupakan pekerjaan yang untuknya mereka mendapat upah. Tidak 

banyak hal lain yang harus dikerjakan para imam dan orang Lewi. 

Namun, sepertinya mereka telah melalaikan tugas itu, mungkin de-

ngan dalih bahwa mereka tidak berhasil menyuruh rakyat 

mendengarkan mereka. “Baiklah,” kata Yosafat, “kalau begitu kalian 

sebaiknya ikut bersama para pemimpin itu, yang dengan wibawa 

yang mereka milki, mereka dapat mengharuskan rakyat untuk 

datang dan mendengarkan perkataan kalian. Dan, apabila mereka 

tidak diajar dengan baik, maka itu merupakan kesalahan kalian.” 

Betapa banyak kebaikan yang akan tercapai apabila Musa dan Harun 

bergandengan tangan seperti itu dalam melaksanakan tugas mereka, 

apabila para pemimpin dengan kekuasaan mereka, serta para imam 

dan orang Lewi dengan pengetahuan mereka tentang Kitab Suci, 

sepakat mengajarkan kepada mereka pengetahuan yang baik tentang 

Tuhan  dan kewajiban mereka! Para hakim dan pengkhotbah keliling 

ini merupakan alat yang baik untuk menyebarkan terang penuh 

berkat ke semua kota di Yehuda. Dan disebutkan, bahwa mereka  

membawa kitab Taurat TUHAN. 

[1] Untuk dijadikan petunjuk bagi diri mereka sendiri, supaya 

darinya mereka dapat memperoleh semua pengarahan untuk 

diberikan kepada rakyat, dan agar jangan sampai ajaran yang 

mereka ajarkan ialah perintah manusia. 


 

382 

[2] Untuk menyadarkan rakyat, supaya rakyat dapat melihat bahwa 

mereka memiliki jaminan ilahi atas apa yang mereka katakan 

dan sampaikan kepada rakyat, dan bahwa hanya itulah yang 

mereka terima dari TUHAN. Perhatikanlah, ketika para hamba 

Tuhan  pergi untuk mengajar orang, mereka harus membawa serta 

Alkitab bersama mereka. 

IV. Betapa berbahagianya Yosafat. 

1. Betapa berbahagianya dia sebab  berkenan di hati Tuhan , yang dengan 

jelas mengakui dan memberkatinya: TUHAN menyertai Yosafat (ay. 3). 

Firman TUHAN merupakan penolongnya (demikian terjemahan Kitab 

Suci bahasa Aram). TUHAN mengokohkan kerajaan yang ada di bawah 

kekuasaannya (ay. 5). Orang-orang yang disertai Tuhan  akan berdiri 

dengan teguh. Apabila kemurahan Tuhan, Tuhan  kita, berada di atas kita, 

maka hal itu akan meneguhkan perbuatan tangan kita dan mengukuhkan 

kita dalam ketulusan kita. 

2. Betapa berbahagianya dia sebab  mendapat kasih sayang rakyatnya (ay. 

5): Seluruh Yehuda memberikan persembahan kepada Yosafat, untuk 

mengakui kebaikannya dalam mengirimkan para pengkhotbah kepada 

mereka. Semakin agama yang benar ada di antara rakyat, maka semakin 

besar pula kesetiaan yang tulus dari rakyat. Pemerintahan yang 

memenuhi tujuannya pasti akan didukung rakyat. Pengaruh perkenan 

Tuhan  maupun kerajaan-Nya sebegitu rupa sehingga ia menjadi kaya dan 

sangat terhormat. Banyak orang tidak mau mempercayai hal ini, namun  

sungguhlah benar bahwa agama dan kesalehan merupakan sahabat 

terbaik bagi kemakmuran jasmani. Selain itu, amatilah bahwa hal itu 

berdampak langsung kepadanya, sehingga ia dengan tabah hati hidup 

menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN. Bagi banyak orang, kekayaan 

dan kehormatan yang berlimpah justru menjadi hambatan dan rintangan 

untuk hidup di jalan-jalan TUHAN, dan menyebabkan orang menjadi 

sombong, merasa aman-aman saja, serta mengikuti hawa nafsu. Namun, 

hal sebaliknya yang terjadi pada Yosafat: kekayaannya yang berlimpah 

bagaikan minyak untuk melumasi roda-roda ketaatannya. Semakin 

banyak kekayaan dunia yang diterimanya, semakin ia dengan tabah hati 

hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN. 

Kitab 2 Tawarikh 17:1-9 

 

383 

Kemakmuran Yosafat  

(17:10-19) 

10 Ketakutan yang dari TUHAN menimpa semua kerajaan di negeri-negeri sekeliling 

Yehuda, sehingga mereka tidak berani berperang melawan Yosafat. 11 Dari antara orang-

orang Filistin ada yang membawa kepada Yosafat persembahan, dan perak sebagai upeti. 

Juga orang-orang Arab membawa kepadanya kambing domba, domba jantan tujuh ribu 

tujuh ratus ekor dan kambing jantan tujuh ribu tujuh ratus ekor. 12 Yosafat makin lama 

makin kuat, menjadi luar biasa kuat. Di Yehuda ia membangun benteng-benteng dan kota-

kota perbekalan. 13 Banyak perbekalannya di kota-kota Yehuda. Orang-orang perangnya 

ada di Yerusalem, semuanya pahlawan yang gagah perkasa. 14 Inilah daftar kesatuan 

mereka menurut puak-puak mereka; panglima-panglima dari Yehuda ialah panglima 

Adna dengan tiga ratus ribu pahlawan yang gagah perkasa; 15 di samping dia panglima 

Yohanan dengan dua ratus delapan puluh ribu orang; 16 dan di samping dia Amasia bin 

Zikhri, yang dengan sukarela telah menyerahkan dirinya kepada TUHAN, dengan dua 

ratus ribu pahlawan yang gagah perkasa. 17 Dan dari Benyamin ialah Elyada, seorang 

pahlawan yang gagah perkasa, dengan dua ratus ribu orang yang bersenjatakan busur 

dan perisai. 18 Di samping dia Yozabad, dengan seratus delapan puluh ribu orang yang 

bersenjata untuk berperang. 19 Mereka itulah yang bertugas pada raja, selain dari pada 

mereka yang ditempatkan raja di kota-kota yang berkubu di seluruh Yehuda. 

Di sini diceritakan selanjutnya tentang kemakmuran luar biasa yang diraih 

Yosafat dan keadaan kerajaannya yang semakin berkembang. 

I. Ia mendapat perhatian besar pada raja-raja dan bangsa-bangsa di 

sekitarnya. Meskipun ia mungkin bukanlah prajurit sehebat Daud, yang 

membuatnya sangat ditakuti oleh mereka, ataupun seorang berpengatahuan 

hebat seperti Salomo yang membuat rakyatnya menjadikan dia pembawa 

sabda Tuhan , namun ketakutan yang dari TUHAN menimpa mereka semua. 

Artinya, Tuhan  begitu memengaruhi dan menguasai roh mereka hingga 

mereka semua menaruh hormat kepadanya (ay. 10). Selain itu, 

1. Mereka tidak berani berperang melawan Yosafat. Penyelenggaraan Tuhan  

mengatur agar sementara para raja dan imam sedang mengajar serta 

memperbaharui negeri, tidak satu pun dari antara bangsa-bangsa di 

sekitarnya yang mengganggu dan menjauhkannya dari pekerjaan yang 

baik itu. Sama halnya ketika Yakub dan putra-putranya hendak 

menyembah di Betel, kedahsyatan Tuhan  meliputi kota-kota di 

sekelilingnya, sehingga anak-anak Yakub tidak dikejar (Kej. 35:5; Kel. 

34:24). 

2. Banyak dari antara mereka yang membawa persembahan kepadanya 

(ay. 11) untuk menjamin tercapainya persahabatan dengannya. Boleh 

jadi persembahan ini merupakan upeti yang sebelumnya dibebankan 

kepada mereka oleh Asa yang menguasai kota-kota orang Filistin dan 

tenda-tenda orang Arab (14:14-15). Bersama ketujuh ribu tujuh ratus 

domba jantan dan kambing jantan berjumlah sama yang dibawa orang 


 

384 

Arab, mungkin masih terdapat domba betina beserta anak-anak mereka 

serta kambing betina berikut anak-anak mereka dalam jumlah seimbang. 

II. Yosafat memiliki banyak perbekalan di kota-kota Yehuda. Ia merobohkan 

lumbung-lumbung lama, dan membangun yang baru dan lebih besar (ay. 12), 

benteng-benteng dan kota-kota perbekalan, untuk menyimpan persenjataan 

serta persediaan makanan. Ia seorang pengusaha yang dalam semua 

pekerjaannya mendahulukan kepentingan umum, baik untuk memelihara 

perdamaian maupun mempersiapkan diri untuk berperang. 

III. Ia memiliki pasukan tentara yang teratur. Sejak Daud membentuknya, tidak 

ada pasukan yang lebih baik dibandingkan  tentara Yosafat. Lima orang pahlawan 

yang gagah perkasa disebutkan namanya di sini, berikut jumlah orang-orang 

bawahan mereka yaitu orang-orang yang siap melayani untuk berperang di 

kawasan masing-masing. Tiga orang di kawasan Yehuda dan dua orang di 

kawasan Benyamin. Tentang Amasia, salah satu dari pemimpin-pemimpin 

perkasa ini, disebutkan bahwa ia dengan sukarela telah menyerahkan dirinya 

kepada TUHAN (ay. 16). Bukan saja kepada raja, untuk mengabdi kepadanya 

di tempatnya, namun  juga kepada TUHAN, supaya bisa memuliakan Dia di 

dalam tugasnya. Dialah yang paling menonjol di antara yang lain sehubungan 

dengan hal ibadah. Ia menerima kedudukan yang ditunjuk baginya, bukan 

demi kehormatan, kekuasaan, atau keuntungan pribadi, melainkan demi 

kepentingan nuraninya terhadap Tuhan , yaitu  supaya ia dapat mengabdi 

kepada negerinya. Sudah menjadi hal umum bagi para panglima besar pada 

masa itu untuk mempersembahkan hasil jarahan mereka kepada TUHAN 

(1Taw. 26:26). Namun, orang yang baik ini mempersembahkan dirinya 

terlebih dahulu kepada TUHAN, baru sesudah itu benda-benda miliknya 

yang telah dikhususkan bagi-Nya. Jumlah prajurit di bawah pimpinan kelima 

panglima ini mencapai satu juta seratus enam puluh ribu orang. Jumlah yang 

sangat besar untuk diperlengkapi dan dikelola demi kawasan sekecil Yehuda 

dan Benyamin. Abia hanya mampu membawa empat ratus ribu orang ke 

medan perang (13:3), dan Asa tidak sampai enam ratus ribu orang (14:8), 

namun  Yosafat memimpin hampir satu juta dua ratus prajurit. Meskipun 

begitu, harus diperhitungkan bahwa, 

1. Tuhan  sudah berjanji untuk membuat keturunan Abraham sebanyak pasir 

di laut. 

2. Masa penuh kedamaian ini sudah berlangsung lama. 

3. Kita boleh memperkirakan bahwa kota Yerusalem sudah sangat 

diperluas. 

Kitab 2 Tawarikh 17:1-9 

 

385 

4. Banyak orang telah datang dari kerajaan-kerajaan Israel yang lain 

(15:19), sehingga dengan demikian meningkatkan jumlah penduduknya. 

5. Yosafat memperoleh berkat istimewa dari Tuhan , sehingga membuat semua 

urusannya sangat berhasil. Kita juga bisa memperkirakan bahwa pasukan 

tentaranya tersebar di seluruh negeri, sedang  setiap orang lebih 

banyak tinggal di tanahnya sendiri. Namun, mereka sering kali datang 

untuk dikerahkan dan dilatih, jadi mereka selalu siap kapan pun mereka 

dibutuhkan. Para panglima bekerja pada raja (ay. 19) sebagai pejabat 

istana, penasihat pribadi, dan juga sebagai menteri-menteri. 

Namun terakhir, amatilah bahwa bukan pasukan tentara yang hebat 

inilah yang sangat ditakuti bangsa-bangsa sekitar, yang mencegah 

mereka berusaha melawan Israel, atau mewajibkan mereka membayar 

upeti, melainkan rasa takut dari Tuhan  yang menimpa mereka saat 

Yosafat memperbaharui negerinya dan menjalankan pelayanan khotbah 

di sana (ay. 10). Ketetapan-ketetapan Tuhan  lebih menjadi kekuatan dan 

keamanan sebuah kerajaan dibanding kekuatan tentaranya. Para abdi 

Tuhan -lah yang lebih kuat dibandingkan  angkatan perangnya. 

 

 

PASAL  18  

isah dalam pasal ini tentang pemerintahan Ahab raja Israel kita temukan 

sama seperti yang diceritakan dalam 1 Raja-raja 22. Namun di Kitab Raja-

raja itu tampaknya tindakan Ahab di situ tampaknya lebih dipuji melebihi semua 

tindakan lainnya sebab  dia mengadakan persekutuan dengan seorang rekan 

yang begitu baik seperti Yosafat. Namun kebalikannya dalam Kitab Tawarikh ini, 

justru menjadi suatu hinaan yang besar dalam pemerintahan Yosafat bahwa dia 

mau saja mengikatkan diri dengan orang yang begitu jahat seperti Ahab (ay. 1). 

Dalam pasal ini kita temukan,  

I. Kesepakatannya yang diadakannya dengan Ahab (ay. 1). 

II. Persetujuannya untuk bergabung dengan Ahab dalam merebut kembali 

Ramot-Gilead dari tangan orang Aram (ay. 2-3).  

III. Mereka bertanya kepada para nabi, yang palsu dan yang benar, 

sebelum mereka berangkat berperang (ay. 4-27).  

IV. Keberhasilan dari upaya mereka. Yosafat lolos dengan susah-payah (ay. 

28-32) dan Ahab menderita luka yang mematikannya (ay. 33-34).  

Persekutuan Yosafat dengan Ahab 

(18:1-3) 

1 Ketika Yosafat kaya dan sangat terhormat, ia menjadi besan Ahab. 2 Beberapa tahun 

kemudian, pergilah ia kepada Ahab di Samaria. Ahab menyembelih banyak kambing 

domba dan lembu sapi untuk dia dan rombongannya, dan mengajaknya untuk menyerang 

Ramot-Gilead. 3 Berkatalah Ahab, raja Israel, kepada Yosafat, raja Yehuda: “Maukah engkau 

pergi ke Ramot-Gilead bersama-sama aku?” Jawabnya kepadanya: “Kita sama-sama, aku dan 

engkau, rakyatmu dan rakyatku, aku akan bersama-sama engkau di dalam perang.” 

Di sini kita mendapati,  

I. Yosafat bertambah lebih kuat dan hebat. Dikatakan sebelumnya (17:5) bahwa 

dia menjadi kaya dan sangat terhormat. Dan di sini dikatakan lagi bahwa 


 

388 

kekayaan dan kehormatannya ditambahkan kepadanya oleh sebab  kesalehan 

dan pemerintahannya yang baik. 

II. Namun Yosafat tidak bertambah bijaksana, sebab jika tidak dia pasti tidak 

akan bergabung dengan Ahab, si orang Israel yang bobrok itu, yang telah 

menjual diri untuk berbuat kejahatan. Kebaikan apa yang dapat dia dapatkan 

dari seseorang yang begitu sedemikian jahat? Kebaikan apa yang dapat ia 

perbuat terhadap orang sedemikian jahat dan bebal, yaitu seorang 

penyembah berhala, seorang penganiaya? Yosafat bersekutu dengan orang 

itu melalui ikatan kekeluargaan, yaitu ia menikahkan putranya Yoram 

dengan Atalia putri Ahab.  

1. Ini yaitu  perjodohan terburuk yang pernah dibuat oleh seseorang dari 

keluarga Daud. Saya ingin tahu apa yang Yosafat janjikan bagi dirinya 

melalui ikatan perkawinan ini.  

(1) Mungkin kesombongan yang membuat perjodohan tersebut, seperti 

yang terjadi pada banyak orang, yang berjalan lancar dengan 

sendirinya. Agamanya melarang dia untuk menikahkan putranya 

dengan seorang putri dari raja-raja kafir di sekitarnya, yaitu 

Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu 

wanita  janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka. Dan, 

setelah menjadi kaya dan sangat terhormat, dia merasa terhina 

untuk menikahkan putranya dengan seorang rakyat biasa. Maka 

haruslah seorang putri raja, dan sebab nya diambillah putri Ahab, 

tanpa mempertimbangkan bahwa Izebel yaitu  ibunya.  

(2) Sebagian orang menganggap dia melakukannya sebagai upaya 

politik, berharap melalui cara ini ia dapat mempersatukan kerajaan 

Yehuda dan Israel dalam diri putranya, dan Ahab mungkin 

membujuknya dengan harapan bahwa dia akan menjadikan 

putranya itu sebagai ahli warisnya, padahal tidak demikianlah 

maksud hatinya. 

2. Perjodohan ini menarik Yosafat,  

(1) Ke dalam ikatan kekeluargaan yang erat dengan Ahab. Ia 

mengunjungi Ahab di Samaria, dan Ahab, yang bangga dengan 

kehormatan yang diberikan oleh Yosafat kepadanya, menjamu 

Yosafat suatu sambutan yang luar biasa, menurut kemewahan zaman 

itu: Ia menyembelih banyak kambing domba dan lembu sapi untuk dia, 

dagingnya saja (ay. 2). Dalam hal ini Yosafat tidak berjalan sedekat 

seperti yang seharusnya dilakukannya di jalan ayahnya Daud, 

Kitab 2 Tawarikh 18:1-3 

 

389 

yang benci kepada perkumpulan orang yang berbuat jahat, dan 

dengan orang fasik aku tidak duduk (Mzm. 26:5), atau 

ingin mengecap sedap-sedapan mereka (Mzm. 141:4).  

(2) Ke dalam suatu persekutuan dengan Ahab melawan orang Aram. 

Ahab membujuknya untuk menggabungkan kekuatan bersamanya 

dalam suatu upaya untuk merebut kembali Ramot-Gilead, sebuah 

kota di dalam suku Gad, di seberang sungai Yordan. Tidakkah Ahab 

tahu bahwa kota tersebut, dan semua kota lain dari Israel, menjadi 

hak milik Yosafat, sebagai pewaris dari keluarga Daud? Dengan 

alasan apakah dia meminta Yosafat untuk membantunya merebut 

kembali kota tersebut bagi dirinya, sementara takhtanya atas 

kerajaan Israel sendiri diperoleh dengan jalan rampasan dan tidak 

pasti keberlangsungannya? Namun Yosafat, seorang yang supel, 

bersedia pergi dengannya: Kita sama-sama, aku dan engkau (ay. 3). 

Kebaikan sebagian orang sangat berbahaya, dan dapat menular ke 

masyarakat. Pesta perjamuan yang diadakan Ahab bagi Yosafat telah 

dirancang untuk membujuk dia dalam serbuan itu. Ciuman dari 

seorang musuh yaitu  menipu (Ams. 27:6, KJV) 

Meminta Nasihat Nabi-nabi 

(18:4-27) 

4 namun  Yosafat berkata kepada raja Israel: “Baiklah tanyakan dahulu firman TUHAN.” 5 

Lalu raja Israel mengumpulkan para nabi, empat ratus orang banyaknya, kemudian 

bertanyalah ia kepada mereka: “Apakah kami boleh pergi berperang melawan Ramot-

Gilead atau aku membatalkannya?” Jawab mereka: “Majulah! Tuhan  akan menyerahkannya 

ke dalam tangan raja.” 6 namun  Yosafat bertanya: “Tidak adakah lagi di sini seorang nabi 

TUHAN, supaya dengan perantaraannya kita dapat meminta petunjuk?” 7 Jawab raja 

Israel kepada Yosafat: “Masih ada seorang lagi yang dengan perantaraannya dapat 

diminta petunjuk TUHAN. namun  aku membenci dia, sebab tidak pernah ia menubuatkan 

yang baik tentang aku, melainkan selalu malapetaka. Orang itu ialah Mikha bin Yimla.” 

Kata Yosafat: “Janganlah raja berkata demikian.” 8 Kemudian raja Israel memanggil 

seorang pegawai istana, katanya: “Jemputlah Mikha bin Yimla dengan segera!” 9 

Sementara raja Israel dan Yosafat, raja Yehuda, duduk masing-masing di atas takhtanya 

dengan pakaian kebesaran, di suatu tempat pengirikan di depan pintu gerbang Samaria, 

sedang semua nabi itu bernubuat di depan mereka, 10 maka Zedekia bin Kenaana 

membuat tanduk-tanduk besi, lalu berkata: “Beginilah firman TUHAN: Dengan ini engkau 

akan menanduk Aram sampai engkau menghabiskan mereka.”  

11 Juga semua nabi itu bernubuat demikian, katanya: “Majulah ke Ramot-Gilead, dan 

engkau akan beruntung; TUHAN akan menyerahkannya ke dalam tangan raja.” 12 Suruhan 

yang pergi memanggil Mikha itu berkata kepadanya: “Ketahuilah, nabi-nabi itu sudah 

sepakat meramalkan yang baik bagi raja, hendaklah engkau juga berbicara seperti salah 

seorang dari pada mereka dan meramalkan yang baik.” 13 namun  Mikha menjawab: “Demi 

TUHAN yang hidup, sesungguhnya, apa yang akan difirmankan Tuhan ku, itulah yang akan 

kukatakan.” 14 Setelah ia sampai kepada raja, bertanyalah raja kepadanya: “Mikha, apakah 

kami boleh pergi berperang melawan Ramot-Gilead atau aku membatalkannya?” 


 

390 

Jawabnya: “Majulah dan kamu akan beruntung, sebab mereka akan diserahkan ke dalam 

tanganmu!” 15 namun  raja berkata kepadanya: “Sampai berapa kali aku menyuruh engkau 

bersumpah, supaya engkau mengatakan kepadaku tidak lain dari kebenaran?” 16 Lalu 

jawabnya: “Telah kulihat seluruh Israel bercerai-berai di gunung-gunung seperti kambing 

domba yang tidak mempunyai gembala, sebab itu TUHAN berfirman: Mereka ini tidak 

punya tuan; baiklah masing-masing pulang ke rumahnya dengan selamat.” 17 Kemudian 

raja Israel berkata kepada Yosafat: “Bukankah telah kukatakan kepadamu: Tidak pernah 

ia menubuatkan yang baik tentang aku, melainkan hanya malapetaka?” 18 Kata Mikha: 

“Sebab itu dengarkanlah firman TUHAN. Aku telah melihat TUHAN sedang duduk di atas 

takhta-Nya dan segenap tentara sorga berdiri di sebelah kanan-Nya dan di sebelah kiri-

Nya. 19 Dan TUHAN berfirman: Siapakah yang akan membujuk Ahab, raja Israel, untuk 

maju berperang, supaya ia tewas di Ramot-Gilead? Maka yang seorang berkata begini, 

yang lain berkata begitu. 20 Kemudian tampillah suatu roh, lalu berdiri di hadapan 

TUHAN. Ia berkata: Aku ini akan membujuknya. TUHAN bertanya kepadanya: Dengan 

apa? 21 Jawabnya: Aku akan keluar dan menjadi roh dusta dalam mulut semua nabinya. Ia 

berfirman: Biarlah engkau membujuknya, dan engkau akan berhasil pula. Keluarlah dan 

perbuatlah demikian! 22 sebab  itu, sesungguhnya TUHAN telah menaruh roh dusta ke 

dalam mulut nabi-nabimu ini, sebab TUHAN telah menetapkan untuk menimpakan mala-

petaka kepadamu.” 23 Sesudah itu tampillah Zedekia bin Kenaana; ditamparnyalah pipi 

Mikha serta berkata: “Bagaimana mungkin Roh TUHAN pindah dari padaku untuk 

berbicara kepadamu?” 24 namun  Mikha menjawab: “Sesungguhnya engkau akan 

melihatnya pada hari engkau lari dari satu kamar ke kamar yang lain untuk 

menyembunyikan diri.” 25 Berkatalah raja Israel: “Tangkaplah Mikha, bawa dia kembali 

kepada Amon, penguasa kota, dan kepada Yoas, anak raja, 26 dan katakan: Beginilah titah 

raja: Masukkan orang ini dalam penjara dan beri dia makan roti dan minum air serba 

sedikit sampai aku pulang dengan selamat.” 27 namun  jawab Mikha: “Jika benar-benar 

engkau pulang dengan selamat, tentulah TUHAN tidak berfirman dengan perantaraanku!” 

Lalu disambungnya: “Dengarlah, hai bangsa-bangsa sekalian!” 

Kata demi kata yang hampir sama persis kita temukan dalam 1 Raja-raja 22. Kita 

tidak akan mengulangi apa yang telah disampaikan di sana, dan juga tidak ada 

banyak hal untuk ditambahkan, namun  ada baiknya kita renungkan sedikit,  

1. Tentang kewajiban besar kita untuk mengakui Tuhan  di dalam semua jalan 

kita dan menanyakan firman-Nya, apa pun yang akan kita lakukan. Yosafat 

tidak mau melanjutkan sebelum dia melakukan hal ini (ay. 4). Dengan doa 

yang penuh iman, dengan membaca Kitab Suci dan bertanya kepada hati 

nurani kita sendiri secara jujur, dan dengan sungguh-sungguh 

memperhatikan setiap petunjuk penyelenggaraan Tuhan , kita boleh mencari 

tahu firman-Nya dan pastilah kita akan menemukannya.  

2. Tentang bahaya besar dari pertemanan yang buruk, bahkan bagi orang yang 

baik sekalipun. Orang-orang yang memiliki hikmat, anugerah, dan ketetapan 

hati yang lebih pun tidak dapat yakin bahwa mereka akan baik-baik saja jika 

bergaul akrab dengan orang jahat. Yosafat di sini, sebab  rasa enggan kepada 

Ahab, duduk dengan jubah kebesarannya dengan sabar mendengarkan nabi-

nabi palsu mengucapkan kebohongan atas nama TUHAN (ay. 9). Hampir-

hampir tidak ada dalam hatinya sedikitpun keinginan untuk menegur Ahab 

atas kebenciannya terhadap seorang nabi TUHAN (ay. 7). Ia juga tidak berani 

mengecam nabi palsu yang dengan keji melecehkan pelihat yang setia itu, 

Kitab 2 Tawarikh 18:1-3 

 

391 

atau menentang Ahab yang memasukkannya ke penjara. Orang-orang yang 

berani duduk di antara kursi para pencemooh, tidak dapat keluar dari sana 

tanpa rasa bersalah besar jika mereka tidak melakukan kewajiban mereka 

untuk menegur para pencemooh.  

3. Tentang ketidaksenangan orang-orang yang dikelilingi dengan para 

penyanjung palsu, terutama para nabi yang menyanjung-nyanjung, yang 

menyerukan damai sejahtera kepada mereka dan menubuatkan tidak lain 

selain hal-hal yang baik. Demikianlah Ahab telah ditipu ke dalam 

kehancurannya sendiri, dan pantaslah dia menerimanya, sebab dia memang 

suka mendengarkan para pembual dan lebih menyukai mereka yang 

menghiburnya dibandingkan  seorang nabi yang memberinya peringatan keras 

akan bahaya yang mengancamnya. Orang-orang yang berbuat baik bagi 

dirinya sendiri yaitu  mengizinkan teman-temannya dan terutama para 

hamba Tuhan untuk berurusan dengan mereka secara jujur dan setia, dan 

menerima teguran mereka tidak hanya dengan sabar, namun  dengan ramah. 

Nasihat yang paling menyenangkan kita belum tentu yang terbaik.  

4. Tentang kuasa Iblis, oleh izin Tuhan , di antara orang-orang durhaka. Satu roh 

kebohongan dapat membuat 400 nabi berbohong dan memperalat mereka 

untuk menipu Ahab (ay. 21). Iblis menjadi seorang pembunuh dengan 

menjadi seorang pendusta dan membinasakan orang dengan menipu 

mereka.  

5. Tentang keadilan Tuhan  dalam menyerahkan orang-orang yang tidak mau 

menerima kasih kebenaran dan memberontak terhadapnya (ay. 21) kepada 

khayalan yang kuat, untuk memercayai suatu kebohongan. Biarkanlah roh 

dusta menang untuk memikat mereka kepada kehancuran mereka yang 

tidak mau dibujuk untuk melakukan k