tawarikh ester 14

Kamis, 30 Januari 2025

tawarikh ester 14



 egala 

kerugian dan kerusakan yang kita alami dalam melayani-Nya, akan 

membuat kuk-Nya terasa mudah dan beban-Nya sangat ringan. Apa 

artinya percaya kepada Tuhan  selain dari bersedia menanggung kerugian 

akan segala sesuatu bagi Dia, dengan yakin penuh bahwa Ia pasti akan 

menjamin keamanan bagi kita sehingga kita tidak akan rugi sebab  Dia. 

Apa pun yang kita lepaskan demi Tuhan  akan digantikan-Nya kepada kita 

dalam kebaikan. Saat kita tidak rela melepaskan apa pun bagi Tuhan  dan 

ibadah kita, kiranya hal ini memuaskan kita: yaitu bahwa Tuhan  sanggup 

memberikan lebih banyak dibandingkan  itu. Dia itu adil, Dia baik, dan Dia 

sanggup membayar. Raja Amazia kehilangan seratus talenta sebab  ke-

taatannya, dan kita melihat bahwa jumlah yang tepat sama diberikan 

kepada cucunya, Yotam, sebagai upeti (27:5). Jumlah pokoknya sudah 

terbayar, dan sebagai bunganya, 10.000 kor gandum dan 10.000 kor 

jelai. 

4. Ketaatan Amazia kepada Tuhan  dicatat menjadi kehormatannya. Ia lebih 

baik kehilangan uang, membatalkan persekutuannya, dan membubarkan 

seperempat dari tentaranya tepat ketika mereka hendak berangkat ke 

medan perang, dibandingkan  menyakiti hati Tuhan : Amazia memisahkan 

pasukan yang datang bergabung kepadanya dari Efraim, supaya mereka 

kembali ke tempat tinggalnya (ay. 10). Mereka pun pulang dengan 

amarah yang menyala-nyala, merasa dipermainkan dan menganggapnya 

sebagai penghinaan besar. Mereka mungkin kesal memikirkan 

Kitab 2 Tawarikh 25:1-13 

 

459 

keuntungan yang sudah mereka bayangkan nanti saat mengambil 

jarahan dan rampasan dengan bergabung bersama Yehuda melawan 

Edom. Manusia cenderung marah jika terjadi sesuatu yang mengganggu 

keuntungan atau reputasi mereka, meskipun hal itu melepaskan mereka 

dari masalah. 

5. Kemenangan Amazia atas orang Edom (ay. 11-12). Di medan 

pertempuran itu, ia menewaskan sepuluh ribu orang. Sepuluh ribu orang 

lagi diangkutnya sebagai tawanan dan dibunuh dengan ganasnya, 

dengan cara melemparkan mereka dari tebing terjal dan curam. Tidak 

diceritakan kegusaran apa yang membuatnya sampai melakukan 

kekejaman itu terhadap mereka. namun  tindakan itu memang sungguh 

kejam. 

6. Kejahatan yang dibuat oleh tentara Israel yang dipulangkan Amazia 

terhadap kota-kota Yehuda, entah saat mereka kembali atau segera 

sesudahnya (ay. 13). Orang Israel itu sangat murka sebab  dikirim 

pulang sehingga, jika tidak bisa berbagi jarahan Edom dengan Yehuda, 

mereka akan memangsa Yehuda sendiri. Beberapa kota yang terletak di 

perbatasan mereka jarah, dan tiga ribu orang yang melawan pun 

dibunuh. Akan namun , mengapa Tuhan  membiarkan bencana itu terjadi? 

Bukankah mereka dipulangkan sebab  ketaatan kepada-Nya, namun  

mengapa negeri itu harus pula menderita sebab  ketaatan? Tentulah 

jalan Tuhan  melalui laut! Bukankah nabi tadi telah mengatakan bahwa 

Tuhan  tidak menyertai anak-anak Efraim, namun  mengapa mereka 

dibiarkan menang atas Yehuda? Tidak diragukan, dalam hal ini Tuhan  

bermaksud menghukum kota-kota Yehuda itu sebab  menyembah 

berhala. Penyembahan berhala paling banyak terjadi di daerah yang ter-

letak bersebelahan dengan Israel. Orang Israel telah menyerongkan 

Yehuda, dan sekarang orang Israel itu dijadikan tulah bagi mereka. Iblis 

itu menggoda sekaligus menyiksa. 

Amazia Menyembah Berhala 

(25:14-16)  

14 Ketika Amazia kembali, setelah mengalahkan orang-orang Edom itu, ia mendirikan para 

Tuhan  bani Seir, yang dibawanya pulang, sebagai Tuhan nya. Ia sujud menyembah kepada 

Tuhan -Tuhan  itu dan membakar korban untuk mereka. 15 Maka bangkitlah murka TUHAN 

terhadap Amazia; Ia menyuruh seorang nabi kepadanya yang berkata: “Mengapa engkau 

mencari Tuhan  sesuatu bangsa yang tidak dapat melepaskan bangsanya sendiri dari 

tanganmu?” 16 Waktu nabi sedang berbicara, berkatalah Amazia kepadanya: “Apakah 

kami telah mengangkat engkau menjadi penasihat raja? Diamlah! Apakah engkau mau 

dibunuh?” Lalu diamlah nabi itu setelah berkata: “Sekarang aku tahu, bahwa Tuhan  telah 


 

460 

menentukan akan membinasakan engkau, sebab  engkau telah berbuat hal ini, dan tidak 

mendengarkan nasihatku!” 

Pada perikop di atas, terdapat 

I. Amazia memberontak terhadap Tuhan  Israel dan beralih kepada para ilah 

orang Edom. Kebodohan yang mengerikan! Raja Ahas menyembah para Tuhan  

orang Damsyik yang telah mengalahkan dia, dan ini cukup beralasan bagi dia 

(28:23). Akan namun , menyembah para Tuhan  dari bangsa yang telah 

ditaklukan, berhala yang tidak sanggup melindungi pemujanya sendiri, 

yaitu  kekonyolan terbesar yang ada. Apa yang dilihat Amazia pada para 

ilah bani Seir sehingga ia tergoda untuk mendirikan para Tuhan  yang 

dibawanya pulang, sebagai Tuhan nya dan sujud menyembah kepada Tuhan -

Tuhan  itu (ay. 14)? Seandainya berhala-berhala itulah yang ia lemparkan dari 

tebing dan dihancurkan, dan bukannya 10.000 tawanan itu, maka tentulah ia 

lebih menunjukkan kesalehan dan belas kasihan seorang Israel. Namun, 

mungkin sebab  tindakan kejinya yang tidak berperikemanusiaan itulah ia 

diserahkan ke dalam kebodohan penyembahan berhala ini. 

II. Teguran Tuhan  kepada Amazia atas dosanya yang Dia kirimkan lewat seorang 

nabi. Bangkitlah murka TUHAN terhadap Amazia, dan murka itu adil adanya. 

Namun, sebelum mengirimkan kehancuran kepada Amazia, Tuhan  berusaha 

menginsafkan dan mendapatkannya kembali, supaya mencegah 

kebinasaannya. Sang nabi berkata-kata kepadanya dengan baik-baik dan 

sangat lembut: “Mengapa engkau mencari Tuhan  sesuatu bangsa yang tidak 

dapat melepaskan bangsanya sendiri dari tanganmu?” (ay. 15). Jika orang 

mau sungguh mempertimbangkan ketidakberdayaan segala berhala itu 

dalam menolong mereka saat mereka meninggalkan Tuhan , maka mereka 

tidak akan menjadi musuh bagi dirinya sendiri. 

III. Amazia mengecam si penegur (ay. 16). Ia tidak dapat memberi alasan apa 

pun untuk membenarkan kebodohannya. Teguran itu terlalu benar untuk 

dibantah. Jadi ia berbalik murka terhadap nabi yang menegurnya itu.  

1. Ia mengatainya kurang ajar dan kelewatan, ikut campur dalam perkara 

yang bukan urusannya: Apakah kami telah mengangkat engkau menjadi 

penasihat raja? Tidak adakah kata-kata yang lebih baik dibandingkan  itu, 

sampai ia harus dikatai mencuri tugas seorang penasihat pribadi? Akan 

namun , sebagai nabi, sesungguhnya dia memang dijadikan penasihat raja 

oleh sang Raja segala raja, maka raja terikat kewajiban bukan hanya 

untuk mendengarkannya, namun  juga meminta nasihatnya.  

Kitab 2 Tawarikh 25:1-13 

 

461 

2. Amazia menyuruh nabi itu diam, melarang dia mengatakan apapun 

kepadanya. Ia mengatakan kepada para tukang tilik: “Jangan menilik,” 

(Yes. 30:10). Orang senang mengendalikan nabi mereka, yaitu 

membuatnya mengatakan apa yang mereka kehendaki, pada waktu yang 

mereka inginkan, bukan sebaliknya.  

3. Amazia mengancam nabi itu: “Apakah engkau mau dibunuh? 

Tanggunglah sendiri resikomu jika engkau berbicara sepatah kata pun 

lagi mengenai perkara ini.” Kelihatannya, Amazia mengingatkan nabi itu 

tentang nasib Zakharia dalam pemerintahan terakhir, yang dihukum 

mati sebab  berani menegur raja. sebab  itu ia menyuruh sang nabi 

memperhatikan peringatannya itu. Dengan demikian, lewat ancaman itu 

berarti Amazia membenarkan pembunuhan nabi Zakharia, sehingga 

sebagai akibatnya ia berdosa terhadap darah kedua nabi itu. Ia 

mendengarkan nabi yang menyuruh dia memulangkan tentara Israel dan 

mau diperintah oleh nabi itu meski hal itu bertentangan dengan 

rencananya dan membuat ia rugi seratus talenta (ay.  10). Namun, 

terhadap nabi yang menghalanginya menyembah para ilah Edom ini, 

Amazia menghadapinya dengan murka yang tidak terperi, yang tentu 

disebabkan oleh sihir penyembahan berhala. Amazia dengan mudah 

dapat dibujuk untuk melepaskan uang peraknya, namun  sama tidak bisa 

dipisahkan dari berhala peraknya. 

IV. Kebinasaan yang disampaikan oleh sang nabi kepada Amazia atas dosa 

tersebut. Nabi itu ingin berkata-kata lebih lanjut dengan bimbingan dan 

nasihat, namun  setelah melihat Amazia berkeras hati dalam kesalahannya, ia 

pun menahan diri. Sang raja bersekutu dengan berhala-berhala, biarkanlah 

dia (Hos. 4:17). Betapa menyedihkan keadaan orang yang tentangnya 

dikatakan melalui para hamba Tuhan dan hati nuraninya sendiri, “Roh-Ku 

tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam dia” (Kej. 6:3). Dua orang 

penegur, baik yang di pintu gerbang maupun yang di dalam hati, jika lama 

ditekan dan dikekang, pada akhirnya akan undur diri. Jadi, Aku membiarkan 

dia dalam kedegilan hatinya. Bagi orang berdosa yang merasa aman-aman 

saja, mungkin membungkam para penegur dan pengawas serta 

menyingkirkan mereka dianggap sebagai suatu prestasi yang mulia dan 

menyenangkan hati. Akan namun , apa hasilnya? “Sekarang aku tahu, bahwa 

Tuhan  telah menentukan akan membinasakan engkau. Jelas sudah, bahwa 

engkau telah ditetapkan untuk kehancuran, sebab  engkau telah berbuat hal 

ini, dan tidak mendengarkan nasihatku!” Barang siapa menutup telinga 


 

462 

terhadap teguran, ia sedang melangkah cepat menuju kehancuran (Ams. 

29:1). 

Kematian Amazia 

(25:17-28)  

17 Kemudian Amazia, raja Yehuda, mengadakan perundingan, lalu menyuruh orang 

kepada Yoas bin Yoahas bin Yehu, raja Israel, mengatakan: “Mari kita mengadu tenaga!” 18 

namun  Yoas, raja Israel, menyuruh orang kepada Amazia, raja Yehuda, mengatakan: “Onak 

yang di gunung Libanon mengirim pesan kepada pohon aras yang di gunung Libanon, 

bunyinya: Berikanlah anakmu wanita  kepada anakku laki-laki menjadi isterinya. 

namun  binatang-binatang hutan yang ada di gunung Libanon itu berjalan lewat dari sana, 

lalu menginjak onak itu. 19 Pikirmu, engkau sudah mengalahkan Edom, sebab itu hatimu 

mengangkat-angkat dirimu untuk mendapat kehormatan. Sekarang, tinggal saja di rumah. 

Untuk apa engkau menantang malapetaka, sehingga engkau jatuh dan Yehuda bersama-

sama engkau?” 20 namun  Amazia tidak mau mendengarkan; sebab hal itu telah ditetapkan 

Tuhan  yang hendak menyerahkan mereka ke dalam tangan Yoas, sebab  mereka telah 

mencari Tuhan  orang Edom. 21 Sebab itu majulah Yoas, raja Israel, lalu mengadu tenagalah 

mereka, ia dan Amazia, raja Yehuda, di Bet-Semes yang termasuk wilayah Yehuda. 22 

Yehuda terpukul kalah oleh Israel, sehingga masing-masing lari ke kemahnya. 23 Yoas, raja 

Israel, menangkap Amazia, raja Yehuda, anak Yoas bin Yoahas, di Bet-Semes. Lalu Yoas 

membawa dia ke Yerusalem. Ia membongkar tembok Yerusalem dari Pintu Gerbang 

Efraim sampai ke Pintu Gerbang Sudut, empat ratus hasta panjangnya. 24 Sesudah itu ia 

mengambil segala emas dan perak dan segala perkakas yang terdapat dalam rumah Tuhan  

dan yang berada di bawah pengawasan keluarga Obed-Edom, juga perbendaharaan istana 

raja dan orang-orang sandera, kemudian pulanglah ia ke Samaria. 25 Amazia bin Yoas, raja 

Yehuda, masih hidup lima belas tahun lamanya sesudah Yoas bin Yoahas, raja Israel, mati.  

26 Selebihnya dari riwayat Amazia, dari awal sampai akhir, bukankah semuanya itu 

tertulis dalam kitab raja-raja Yehuda dan Israel? 27 Sejak Amazia menjauhi TUHAN, orang 

mengadakan persepakatan melawan dia di Yerusalem, sebab itu larilah ia ke Lakhis. 

namun  mereka menyuruh mengejar dia ke Lakhis, lalu dibunuhlah ia di sana. 28 Ia 

diangkut dengan kuda, lalu dikuburkan di samping nenek moyangnya di kota Daud. 

Sang raja yang bobrok akhlaknya itu dipermalukan oleh tetangganya dan 

dibunuh oleh rakyatnya sendiri. 

I. Belum pernah ada raja angkuh dipermalukan sejadi-jadinya seperti Amazia 

dipermalukan oleh Yoas, raja Israel. 

1. Bagian cerita ini (yang seluruhnya diambil dari 2 Raja-raja 14:8 seperti 

adanya di sini) berisikan tantangan bodoh yang dikirim Amazia kepada 

Yoas (ay. 17), jawaban Yoas yang congkak dan menghina (ay. 18), 

disertai saran bersahabat supaya Amazia tinggal diam saja baik-baik (ay. 

19). Dilanjutkan dengan Amazia yang sengaja bersikeras dengan tan-

tangannya (ay. 20-21), kekalahan yang dideritanya (ay. 22), dan mala-

petaka yang ia datangkan kepada dirinya sendiri serta kotanya (ay. 23-

24). Hal ini membuktikan dua amsal Salomo:  

Kitab 2 Tawarikh 25:1-13 

 

463 

(1) Keangkuhan merendahkan orang (Ams 29:23). Keangkuhan Amazia 

mendahului kehancurannya. Kehancuran itu bukan hanya sebagai 

hasil yang didapat akibat keangkuhan, namun  sering kali juga terjadi 

segera. Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan.  

(2) Orang yang terburu-buru membuat perkara pengadilan akan 

kehilangan akal apa yang harus ia lakukan pada akhirnya, ketika 

sesamanya telah mempermalukan dia (Ams. 25:8). Barang siapa 

menyukai pertikaian akan merasakan akibatnya lebih cepat dibandingkan  

yang ia duga. 

2. Ada dua bagian dalam cerita ini yang tidak tertulis dalam Kitab Raja-raja 

sebelumnya.  

(1) Amazia mengadakan perundingan sebelum menantang raja Israel 

(ay. 17). Berunding dengan siapa? Bukan dengan nabi, sebab ia tidak 

diangkat menjadi penasihat raja, melainkan dengan para pejabatnya 

yang senang menyanjung-nyanjung dia dan membujuknya untuk 

maju dan menang. Meminta nasihat yaitu  hal yang baik, namun  

harus dengan orang-orang yang tepat untuk memberi nasihat. 

Barang siapa tidak menerima nasihat dari firman Tuhan  yang menun-

tun dalam kebenaran, dengan adil akan dibiarkan mengikuti nasihat 

buruk dari orang-orang yang menuntun mereka kepada kebinasaan. 

Barang siapa tidak mau berhikmat, biarlah ia menjadi bodoh.  

(2) Kelalaian Amazia mendatangkan hukuman atas ketidaktaatannya 

(ay. 20): hal itu telah ditetapkan Tuhan . Tuhan  membiarkan Amazia 

bertindak bodoh, sehingga ia dan rakyatnya diserahkan ke dalam 

tangan musuh mereka, sebab  mereka telah meninggalkan Tuhan  dan 

mencari Tuhan  orang Edom. Barang siapa tidak mau dinasihati untuk 

berbuat baik bagi jiwanya sendiri, dengan adil akan dibiarkan 

melakukan pertimbangannya sendiri untuk berbuat jahat terhadap 

dirinya sendiri, bahkan untuk urusan-urusan lahiriahnya. 

II. Belum pernah ada raja yang begitu malang, diburu dengan ganas oleh 

rakyatnya sendiri. Sejak Amazia menjauhi Tuhan (ay. 27), hati rakyatnya pun 

menjauhi dia dan mereka mulai menyusun rencana melawannya di 

Yerusalem. Kemungkinan, kegusaran rakyat terhadap raja mereka itu lebih 

disebabkan sebab  ia dengan gegabah berperang melawan Israel, bukan 

sebab  ia menyembah berhala-berhala Edom. Namun, pada akhirnya per-

golakan rakyat menjadi sangat besar, dan Amazia melihat bahwa persekong-

kolan sudah semakin dalam sehingga ia merasa perlu keluar dari kota 


 

464 

kerajaannya dan melarikan diri ke Lakhis. Mungkin ia mencari tempat sepi 

di sana untuk bersembunyi, atau mencari sebuah tempat berkubu untuk 

berlindung. Namun, rakyat menyuruh orang mengejar dia ke sana dan 

membunuhnya di situ. Dengan tindakan ini, pembunuhan Amazia 

tampaknya dilakukan dengan sengaja dan bukan merupakan perbuatan satu 

atau dua orang hamba yang murka, melainkan oleh sekumpulan besar orang 

dengan berani dan terang-terangan. Betapa pun fasiknya mereka dalam hal 

ini, Tuhan  itu adil. 

 

 

PASAL  26  

asal ini memberikan catatan tentang pemerintahan Uzia yang di dalam Kitab 

Raja-Raja disebut Azarya, lebih lengkap dibandingkan  catatan sebelumnya. 

Meskipun panjang dan dalam beberapa mengandung kisah-kisah terkenal, 

namun pemerintahan ini sangat ringkas disinggung dalam 2 Raja-raja 14:21 dan 

15:1. Dalam 2 Tawarikh 26 ini, tercatat, 

I. Sifat baik Uzia secara garis besar (ay. 1-5). 

II. Keberhasilan besarnya dalam peperangan, pembangunan, dan semua 

urusan kerajaannya (ay. 6-15). 

III. Kelancangannya dalam menyerobot jabatan para imam, yang 

sebab nya ia dihukum dengan penyakit kusta dan diasingkan (ay. 16-

21) sampai hari matinya (ay. 22-23). 

Keberhasilan Uzia 

(26:1-15)  

1 Segenap bangsa Yehuda mengambil Uzia, yang masih berumur enam belas tahun dan 

menobatkan dia menjadi raja menggantikan ayahnya, Amazia. 2 Ia memperkuat Elot dan 

mengembalikannya kepada Yehuda, sesudah raja mendapat perhentian bersama-sama 

dengan nenek moyangnya. 3 Uzia berumur enam belas tahun pada waktu ia menjadi raja 

dan lima puluh dua tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah 

Yekholya, dari Yerusalem. 4 Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti 

yang dilakukan Amazia, ayahnya. 5 Ia mencari Tuhan  selama hidup Zakharia, yang 

mengajarnya supaya takut akan Tuhan . Dan selama ia mencari TUHAN, Tuhan  membuat 

segala usahanya berhasil. 6 Maka majulah ia berperang melawan orang-orang Filistin dan 

membongkar tembok Gat, Yabne dan Asdod, lalu mendirikan kota-kota di sekitar Asdod 

dan di lain-lain wilayah orang Filistin. 7 Tuhan  menolongnya terhadap orang Filistin, dan 

terhadap orang Arab yang tinggal di Gur-Baal, dan terhadap orang Meunim. 8 Orang-orang 

Amon membayar upeti kepada Uzia. Namanya termasyhur sampai ke Mesir, sebab  

kekuatannya yang besar. 9 Uzia mendirikan menara di Yerusalem di atas Pintu Gerbang 

Sudut di atas Pintu Gerbang Lebak dan di atas Penjuru, serta mengokohkannya. 10 Ia 

mendirikan juga menara-menara di padang gurun dan menggali banyak sumur, sebab  

banyak ternaknya, baik di Dataran Rendah maupun di Dataran Tinggi. Juga ia mempunyai 

petani-petani dan penjaga-penjaga kebun anggur, di gunung-gunung dan di tanah yang 


 

468 

subur, sebab  ia suka pada pertanian. 11 Selain itu Uzia mem-punyai tentara yang sanggup 

berperang, yang maju berperang dalam laskar-laskar menurut jumlah anak buah yang 

dicatat oleh panitera Yeiel dan penata usaha Maaseya, di bawah pimpinan Hananya, salah 

seorang panglima raja. 12 Kepala-kepala puak pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa itu 

se-luruhnya berjumlah dua ribu enam ratus orang. 13 Di bawah pimpinan mereka terdapat 

satu balatentara, terdiri dari tiga ratus tujuh ribu lima ratus orang yang gagah perkasa 

dalam berperang, untuk membantu raja dalam menghadapi musuh. 14 Uzia 

memperlengkapi seluruh tentara itu dengan perisai, tombak, ketopong, baju zirah, busur 

dan batu umban. 15 Ia membuat juga di Yerusalem alat-alat perang, ciptaan seorang ahli, 

yang dapat menembakkan anak panah dan batu besar, untuk ditempatkan di atas 

menara-menara dan penjuru-penjuru. Nama raja itu termasyhur sampai ke negeri-negeri 

yang jauh, sebab  ia ditolong dengan ajaib sehingga menjadi kua. 

Pada perikop di atas, tercatat dua hal mengenai Uzia: 

I. Kesalehannya. Uzia tidaklah sangat menonjol atau giat dalam hal kesalehan, 

namun  ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN. Ia menjaga ibadah 

kepada Tuhan  agar tidak tercemar tepat seperti yang dilakukan Amazia, 

ayahnya, dan ia lebih baik dibandingkan  ayahnya sejauh, jauh lebih baik hingga 

tidak ada alasan bagi kita untuk menduga ia akan menyembah berhala 

seperti ayahnya, di hari-hari akhir hidupnya, ketika ia menjadi tinggi hati. 

Dikatakan (ay. 5), ia mencari Tuhan  selama hidup Zakharia, yang menurut 

dugaan sebagian penafsir, yaitu  putra Zakharia yang dibunuh oleh Yoas, 

kakeknya. Zakharia yang ini yaitu  orang yang memahami penglihatan-

penglihatan dari Tuhan , entah penglihatan yang dikaruniakan kepada dia 

sendiri atau penglihatan para nabi sebelumnya. Zakharia sangat fasih dalam 

nubuatan dan banyak vergaul dengan dunia atas. Ia cerdas, alim, seorang 

yang baik, dan tampaknya sangat berpengaruh terhadap Uzia. Berbahagialah 

orang-orang besar yang memiliki orang seperti itu di dekat mereka, dan 

bersedia menerima nasihat dari mereka. namun  malanglah orang yang 

mencari Tuhan  hanya ketika para penasihat seperti itu bersama mereka, 

sementara ia sendiri tidak mencari Tuhan dari hatinya sendiri sehingga 

dapat bertahan mencari Tuhan  sampai akhir. 

Kitab 2 Tawarikh 26:1-15 

 

469 

II. Keberhasilannya. 

1. Secara umum, selama ia mencari TUHAN, dan memikirkan soal agama, 

Tuhan  membuat segala usahanya berhasil. Perhatikan, 

(1) Yang akan berhasil hanyalah orang yang dibuat berhasil oleh Tuhan , 

sebab keberhasilan yaitu  anugerah-Nya.  

(2) Agama dan kesalehan berteman baik dengan keberhasilan lahiriah. 

Banyak orang telah mengalami kenyataan ini dan mengakuinya, 

bahwa selama mereka mencari Tuhan dan terus melakukan 

kewajiban mereka, mereka berhasil, namun  begitu mereka 

meninggalkan Tuhan , maka sejak itu pula segala sesuatu tidak 

berjalan mulus. 

2. Berikut ini beberapa contoh keberhasilan Uzia:  

(1) Ia berhasil dalam peperangan: Tuhan  menolongnya (ay.7), dan ia pun 

menang atas Filistin yaitu musuh bebuyutan umat Tuhan , dan 

meruntuhkan benteng-benteng segala kota mereka, dan menaruh 

pangkalan tentaranya di antara mereka (ay. 6). Orang Amon 

diwajibkannya membayar upeti (ay. 8). Ia membuat semua tercengang 

dan kagum terhadapnya.  

(2) Ketenaran dan nama baiknya sangat besar. Namanya dirayakan di 

seluruh negeri-negeri tetangga (ay. 8) sebagai nama yang baik, nama 

untuk hal-hal yang baik bagi Tuhan  dan rakyat yang baik. Inilah 

kemasyhuran sejati dan membuat seseorang sungguh-sungguh 

terhormat.  

(3) Usaha pembangunannya. Sementara menggempur ke luar, Uzia tidak 

melupakan pertahanan kerajaan di tanah airnya, ia mendirikan 

menara di Yerusalem serta mengokohkannya (ay. 9). Banyak tembok 

Yerusalem sudah dirobohkan pada zaman ayahnya, terutama di 

bagian Pintu Gerbang Sudut. Namun, pengokohan terbaik yang ia 

lakukan untuk Yerusalem yaitu  ketaatannya untuk tetap dekat 

dengan ibadah penyembahan kepada Tuhan : seandainya ayahnya 

tidak mengabaikan hal ini, tembok Yerusalem tidak akan runtuh. 

Sementara memperkuat kota, Uzia tidak melupakan wilayah 

pedesaan, ia mendirikan juga menara-menara di padang gurun (ay. 

10) untuk melindungi masyarakat desa dari serangan penjarah, 

gerombolan orang yang kadang menakutkan dan merampok mereka, 

seperti dalam 2 Tawarikh 21:16. 

(4) Peternakan dan pertaniannya. Uzia banyak mengurusi peternakan 

dan pertanian, mempekerjakan banyak orang, dan memperoleh 


 

470 

kekayaan besar dari usaha itu. Sebab, ia menikmati pekerjaan itu: ia 

suka pada pertanian (ay. 10), dan kemungkinan ia sendiri yang 

memeriksa urusan pertaniannya di pedesaan. Ia tidak merasa 

terhina, melainkan beruntung turun ke desa, sebab pertanian itu 

meningkatkan hasil di antara rakyatnya. yaitu  suatu kehormatan 

bagi para petani bahwa salah satu raja termasyhur dari keluarga 

Daud mengerjakan dan menyukai pekerjaan itu. Uzia bukan 

termasuk orang yang suka berperang. Ia juga tidak memuaskan diri 

dengan hura-hura dan kesenangan, melainkan bergembira dalam 

pekerjaan pertanian yang tulus dan tenang. 

(5) Pasukan tentaranya yang siap tempur. Tampaknya ia memiliki dua 

pasukan tentara yang siap.  

[1] Tentara yang sanggup berperang untuk bergerak ke luar negeri. 

Mereka ini maju berperang dalam laskar-laskar (ay. 11). Mereka 

membawa jarahan dari negeri-negeri tetangga sebagai balasan 

atas penyerangan yang begitu sering mereka lakukan atas 

Yehuda.  

[2] Pasukan lain sebagai pengawal dan pertahanan yang siap 

melindungi negeri apabila diserang (ay. 12-13). Jumlah dan 

kekuatan mereka sangatlah besar sehingga mereka gagah 

perkasa dalam berperang. Tiada musuh yang berani menghadapi 

mereka, atau setidaknya dapat bertahan di hadapan mereka. 

Orang yang tidak bersenjata hanya bisa berperan sedikit dalam 

pertempuran. Oleh sebab  itu, Uzia memperlengkapi diri dengan 

gudang persenjataan besar, untuk membekali tentaranya dengan 

senjata penyerang dan pertahanan (ay. 14), perisai, tombak, 

ketopong, baju zirah, busur dan batu umban. Pedang tidak 

disebutkan, sebab kemungkinan setiap orang memiliki 

pedangnya masing-masing yang selalu disandang setiap waktu. 

Pada zamannya, diciptakan alat-alat perang berupa panah dan 

tembakan batu-batu besar dari menara dan benteng-benteng 

untuk menghadapi pengepung yang mengusik (ay.15). Alangkah 

malangnya, perang dan perkelahian yang berasal dari hawa 

nafsu manusia telah membuat orang-orang ahli terpaksa 

memakai keterampilannya untuk menciptakan alat-alat 

pembawa maut. 

Kitab 2 Tawarikh 26:1-15 

 

471 

Dosa dan Hukuman Uzia 

(26:16-23)  

16 Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. 

Ia berubah setia kepada TUHAN, Tuhan nya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar 

ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan. 17 namun  imam Azarya mengikutinya dari 

belakang bersama-sama delapan puluh imam TUHAN, orang-orang yang tegas; 18 mereka 

berdiri di depan raja Uzia dan berkata kepadanya: “Hai, Uzia, engkau tidak berhak 

membakar ukupan kepada TUHAN, hanyalah imam-imam keturunan Harun yang telah 

dikuduskan yang berhak membakar ukupan! Keluarlah dari tempat kudus ini, sebab  

engkau telah berubah setia! Engkau tidak akan memperoleh kehormatan dari TUHAN 

Tuhan  sebab  hal ini.” 19 namun  Uzia, dengan bokor ukupan di tangannya untuk dibakar 

menjadi marah. Sementara amarahnya meluap terhadap para imam, timbullah penyakit 

kusta pada dahinya di hadapan para imam di rumah TUHAN, dekat mezbah pembakaran 

ukupan. 20 Imam kepala Azarya dan semua imam lainnya memandang kepadanya, dan 

sesungguhnya, ia sakit kusta pada dahinya. Cepat-cepat mereka mengusirnya dari sana, 

dan ia sendiri tergesa-gesa keluar, sebab  TUHAN telah menimpakan tulah kepadanya. 21 

Raja Uzia sakit kusta sampai kepada hari matinya, dan sebagai orang yang sakit kusta ia 

tinggal dalam sebuah rumah pengasingan, sebab  ia dikucilkan dari rumah TUHAN. Dan 

Yotam, anaknya, mengepalai istana raja dan menjalankan pemerintahan atas rakyat 

negeri itu. 22 Selebihnya dari riwayat Uzia, dari awal sampai akhir, ditulis oleh nabi Yesaya 

bin Amos. 23 Kemudian Uzia mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek 

moyangnya, dan ia dikuburkan di samping nenek moyangnya di ladang dekat pekuburan 

raja-raja, sebab  ia berpenyakit kusta, kata orang. Maka Yotam, anaknya, menjadi raja 

menggantikan dia. 

Inilah satu-satunya noda yang kita lihat pada nama Raja Uzia, dan yaitu  bohong 

jika aib ini tidak ada pada raja-raja lain. Persundalan, pembunuhan, penindasan, 

penganiayaan, dan terkhusus penyembahan berhala menjadi ciri raja-raja yang 

buruk dan beberapa di antaranya menodai raja-raja yang baik, tidak terkecuali 

Daud sendiri dalam perkara Uria. Namun, kita tidak mendapati Uzia bersalah 

atas satu pun dari aib di atas. Meski demikian, ia berubah setia kepada TUHAN, 

Tuhan nya, dan akibatnya Tuhan  tidak berkenan kepada dia, bukan dalam bentuk 

perang atau pemberontakan yang menyulitkan, seperti yang menimpa raja-raja 

lain, melainkan berupa penyakit yang tidak tersembuhkan. 

I. Dosa Uzia yaitu  menyerobot tempat pelayanan imam. Jalan yang benar 

hanya satu, namun  jalan potong ada banyak. Pelanggaran para raja 

pendahulunya yaitu  mengabaikan Bait Tuhan, pergi darinya (24:18), dan 

membakar ukupan di atas mezbah-mezbah berhala (25:14). sedang  

pelanggaran Uzia yaitu  memasuki bait TUHAN lebih jauh dibandingkan  yang 

diperbolehkan baginya, dan ia bermaksud membakar ukupan di atas mezbah 

pembakaran ukupan milik Tuhan . Mungkin ia ingin menunjukkan dirinya luar 

biasa bersemangat dan menyayangi Bait Suci. Lihatlah, betapa sukarnya 

menghindari suatu perbuatan yang berlebihan tanpa terjerumus ke dalam 

perbuatan lain secara berlebihan. 


 

472 

1. Yang menjadi dasar dosa Uzia yaitu  kesombongan hati, jenis hawa 

nafsu yang lebih merusak ketimbang yang lainnya (ay. 16): Setelah ia 

menjadi kuat sebab  telah mendapat pertolongan ajaib dari 

penyelenggaraan Tuhan  yang baik hingga ia menjadi seperti itu (ay. 15), 

dan ketika ia sudah menjadi sangat besar dan terkemuka dalam 

kekayaan, kepentingan, dan kuasa, bukannya meninggikan nama Tuhan  

dalam rasa syukur kepada Dia yang telah berbuat begitu banyak baginya, 

Uzia malah menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. 

Demikianlah, kemakmuran orang-orang bodoh akan menggembungkan 

mereka dengan keangkuhan sehingga hancur. Kini, setelah Uzia 

melakukan begitu banyak urusan dan mendapatkan kehormatan begitu 

besar, ia mulai berpikir bahwa tidak ada perkara, tiada kehormatan, 

yang terlalu besar atau terlalu baik baginya. Tidak ada, bahkan jabatan 

keimaman pun tidak. Merasa diri memiliki pengetahuan yang terlarang 

dan menempatkan diri dalam hal-hal yang terlalu tinggi bagi mereka, 

timbul sebab  kesombongan dalam hati dan tanpa alasan membesar-

besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi. 

2. Dosa Uzia yaitu  memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan, 

kemungkinan pada suatu hari perayaan resmi, atau ketika ia sendiri 

hendak memohon perkenanan ilahi. Apa yang menyebabkan dia sampai 

pada perbuatan yang lancang itu, atau yang merasuki pikirannya, saya 

tidak tahu. Tiada satu pun pendahulunya, yang terbaik maupun yang 

terburuk, pernah melakukan hal semacam itu. Ia sendiri tahu bahwa 

hukum Taurat melarangnya dan tidak ada kebiasaan untuk melakukan 

hal itu selama ini. Ia juga tidak bisa mengaku-aku punya keperluan 

seperti ketika Daud memakan roti persembahan sajian.  

(1) Mungkin Uzia berpikir bahwa para imam tidak melakukan tugas 

jabatan mereka dengan cekatan, layak, dan penuh pengabdian 

sebagaimana mestinya, dan bahwa dirinya bisa melakukannya 

dengan lebih baik. Atau  

(2) Uzia melihat bahwa para raja yang menyembah berhala membakar 

sendiri ukupan di atas mezbah-mezbah berhala mereka. Ayahnya 

melakukan itu, demikian pula Yerobeam (1Raj. 13:1). Mungkin 

kehormatan yang mereka kejar, suatu kehormatan yang menggoda 

mereka untuk meninggalkan Bait Tuhan , sebab   mereka dilarang 

melakukan hal demikian di sana. Dan Uzia yang sudah bulat hati 

untuk mendekat ke mezbah Tuhan  mau melanggar batasan tersebut 

dan datang sedekat mungkin seperti yang dilakukan para raja 

penyembah berhala dengan mezbah mereka. Namun, perbuatannya 

Kitab 2 Tawarikh 26:1-15 

 

473 

itu disebut berubah setia kepada Tuhan, Tuhan nya. Uzia tidak puas 

dengan segala kehormatan yang sudah Tuhan  berikan kepadanya, dan 

mau merebut apa yang dilarang baginya, sama seperti nenek moyang 

pertama kita. 

3. Dalam perbuatan itu, Uzia ditentang oleh para imam kepala dan imam 

lainnya yang melayani dan membantu dia (ay. 17-18). Mereka sudah siap 

membakar ukupan demi sang raja sesuai dengan kewajiban jabatan 

mereka. Akan namun , ketika Uzia menawarkan diri untuk melakukannya 

sendiri, dengan terus terang mereka mengatakan bahwa ia ikut campur 

dalam sesuatu yang bukan bagiannya, dan ia akan menanggung 

akibatnya. Para imam itu tidak mencegah Uzia dengan menggunakan 

kekerasan, sekalipun mereka gagah perkasa, melainkan dengan 

menyatakan alasan dan menunjukkan kepadanya bahwa, 

(1) Tidak dibenarkan jika raja membakar ukupan, “Hai, Uzia, engkau 

tidak berhak membakar ukupan! Hanyalah imam-imam keturunan 

Harun yang telah dikuduskan yang berhak membakar ukupan.” 

Harun dan anak-anaknya ditunjuk oleh hukum Taurat untuk 

membakar ukupan (Kel. 30:7, Ul. 33:10 dan 1Taw. 23:13). Daud 

memberkati rakyat, Salomo dan Yosafat juga berdoa dengan umat 

dan berkhotbah. Mungkin Uzia pun sudah melakukannya dan hal itu 

menjadi puji-pujian baginya. Namun, pembakaran ukupan yaitu  

pelayanan yang hanya boleh dilakukan oleh para imam. Jabatan raja 

dan imamat itu terpisah menurut hukum Musa, tidak dapat 

disatukan selain dalam diri Sang Mesias. Jika Uzia memang sungguh 

bermaksud menghormati Tuhan  dan memperoleh perkenanan-Nya 

dengan melakukan perbuatan itu, maka sesungguhnya ia sangat 

melenceng dari tujuan, sebab pembakaran ukupan yaitu  pelayanan 

yang murni berasal dari ketetapan ilahi dan ia tidak bisa berharap 

persembahan itu akan diterima kecuali jika dilakukan dengan cara 

yang Tuhan  tetapkan dan oleh orang yang Tuhan  tunjuk.  

(2) Tindakan itu berbahaya. Bukan saja Engkau tidak akan memperoleh 

kehormatan dari TUHAN Tuhan , namun  juga, “Perbuatan itu akan 

menjadi aib bagimu, dan akibatnya sungguh hebat.” Hukum Taurat 

jelas-jelas melarang semua orang asing datang mendekat (Bil. 3:10; 

18:7), yaitu semua yang bukan imam. Korah dan kaki tangannya, 

sekalipun orang Lewi, harus membayar mahal sebab  membakar 

ukupan, yang merupakan pekerjaan yang hanya boleh dilakukan 

para imam (Bil. 16:35). Ukupan doa kita haruslah dengan iman 


 

474 

diletakkan dalam tangan Tuhan kita Yesus, sang Imam Besar Agung 

yang kita akui, jika tidak, jangan berharap doa itu diterima oleh Tuhan  

(Why. 8:3).  

4. Uzia terbakar amarah terhadap para imam yang menegur dia, dan 

bersikeras melakukan apa yang ia mau itu (ay. 19): Uzia menjadi marah 

dan tidak mau melepaskan bokor ukupan di tangannya. Ia merasa sakit 

hati ditegur, dan tidak mau dihalangi. Nitimur in vetitum – Kita 

cenderung melakukan apa yang dilarang. 

II. Hukuman atasnya yaitu  kusta yang tidak tersembuhkan. Kusta itu timbul 

pada dahinya selagi ia sedang berbantah dengan para imam. Seandainya ia 

tunduk pada peringatan mereka, mengakui kesalahannya, dan berbalik, 

semua akan baik-baik saja. Namun, sebab  amarahnya meluap terhadap para 

imam dan menyalahkan mereka, maka Tuhan  pun murka terhadapnya dan 

memukul dia dengan tulah penyakit kusta. Yosefus, sejarawan Yahudi, 

mengatakan bahwa Uzia mengancam akan membunuh para imam jika 

mereka menentangnya, maka bumi pun berguncang, atap Bait Suci terbuka, 

dan melalui celah retakannya, secercah sinar matahari menyorot langsung 

ke wajah raja, dan di situlah kusta langsung muncul. Ada dugaan bahwa 

ketika itulah terjadi gempa bumi pada zaman Uzia seperti yang tertulis 

dalam Amos 1:1 dan Zakharia 14:5. Jadi, pukulan mendadak itu,  

1. Mengakhiri pertikaian antara Uzia dan para imam, sebab ketika kusta itu 

muncul, mereka berani mengusir dia keluar dari Bait Suci, bahkan ia 

sendiri tergesa-gesa keluar, sebab  Tuhan telah menimpakan tulah 

kepadanya, penyakit yang merupakan tanda bahwa Tuhan  tidak berkenan. 

Lagi pula, ia sendiri tahu bahwa kusta membuatnya terasing dari 

pergaulan biasa dengan manusia, terlebih lagi dari mezbah Tuhan . Ia tidak 

mau diinsafkan oleh apa yang dikatakan imam, maka Tuhan  mengambil 

jalan yang berhasil meyakinkan dia. Jika orang-orang yang lancang tidak 

bisa disadarkan akan kesalahan mereka lewat penghakiman dari mulut 

Tuhan , maka mereka akan disadarkan lewat penghakiman oleh tangan-

Nya. Reaksi Uzia memperlihatkan bahwa hatinya takut akan Tuhan , 

bahkan di tengah pelanggarannya, sebab  begitu melihat bahwa Tuhan  

murka kepadanya, ia bukan hanya menghentikan usahanya, namun  juga 

mundur dengan segera. Meskipun melawan para imam, Uzia tidak mau 

melawan Penciptanya.  

2. Kusta itu menjadi hukuman yang terus ada atas pelanggarannya, sebab  

ia tetap sakit kusta sampai kepada hari matinya, terkurung dalam 

Kitab 2 Tawarikh 26:1-15 

 

475 

pengasingan, terkucil dari masyarakat, dan terpaksa menyerahkan 

segala urusannya kepada putranya (ay. 21). Demikianlah Tuhan  memberi 

contoh tentang bagaimana ia menentang orang congkak dan tentang 

kecemburuan-Nya mempertahankan kesucian dan kehormatan semua 

ketetapan-Nya. Dengan begitu, Dia memberi peringatan yang adil, bah-

kan kepada orang besar dan orang baik agar mereka tahu dan menjaga 

jarak serta tidak menerobos ke dalam hal-hal yang belum pernah 

mereka lihat. Dengan demikian pula, Tuhan  memberikan panggilan yang 

nyaring dan terus-menerus kepada Uzia agar bertobat, juga ruang yang 

banyak untuk bertobat, sehingga ada alasan bagi kita untuk 

mengharapkan dia menjadi lebih baik. Selama ini Uzia menjadi orang 

yang sangat sibuk dengan banyak urusan di dunia, namun  sekarang, de-

ngan dipisahkan dari semua urusan itu dan dikurung dalam rumah 

pengasingan, ia memiliki waktu luang untuk memikirkan dunia yang lain 

dan mempersiapkan diri untuk itu. Melalui penghakiman terhadap Raja 

Uzia itu, Tuhan  bertujuan membuat umat menghormati Bait Suci, jabatan 

imamat, dan benda-benda kudus lain, sebab  selama itu mereka 

cenderung meremehkan semuanya itu. Saat raja menderita kusta, ia 

sama seperti orang mati, ia mati selagi masih hidup, dan terkubur hidup-

hidup. Jadi, hukum Taurat pun tergenapi, yaitu bahwa orang asing yang 

datang mendekat harus dihukum mati. Aib Uzia hidup lebih lama 

dibandingkan  dirinya, sebab ketika ia mati, orang tidak menguburkannya di 

pekuburan raja-raja, sebab  ia sakit kusta, yang menodai seluruh 

keagungannya yang lain. 

3. Hukuman itu menjawab dosanya seperti muka bertemu muka dalam 

cermin.  

(1) Akar pelanggaran Uzia ialah kesombongan, maka Tuhan  merendahkan 

dia dan menimpakan cela kepadanya.  

(2) Ia menyerobot tempat dan jabatan imam dengan meremehkan 

mereka, maka Tuhan  melanda dia dengan penyakit yang 

menjadikannya tunduk pada penghakiman dan hukuman para imam, 

sebab  merekalah yang berhak memberikan penghakiman tentang 

penyakit kusta (Ul. 24:8).  

(3) Uzia memaksa masuk ke dalam Bait Tuhan , di mana hanya imam yang 

diperbolehkan, maka ia pun diusir keluar bahkan dari pelataran Bait 

Suci, tempat yang bahkan bisa dimasuki oleh rakyatnya yang terhina 

sekalipun, asalkan tahir.  


 

476 

(4) Uzia melawan para imam yang menegurnya dan menentang 

kepongahannya, sebab  itu kusta timbul pada dahinya. Hal ini seperti 

pada kasus Miriam, yang diludahi mukanya oleh ayahnya (Bil. 12:14).  

(5) Uzia melanggar martabat keimaman yang tidak berhak baginya, 

maka ia pun dicabut dari martabat kerajaannya yang merupakan 

haknya. Barang siapa mengingini kehormatan yang terlarang akan 

kehilangan kehormatan yang diizinkan baginya. Adam, dengan 

makan dari buah pohon pengetahuan yang terlarang baginya, 

menjadi terhalang dari pohon kehidupan yang sebelumnya boleh ia 

makan. Maka hendaklah semua orang yang membaca ini berkata, 

“Tuhan itu adil.” 

 

 

PASAL  27  

i sini terdapat uraian sangat singkat perihal pemerintahan Yotam, seorang 

raja yang saleh dan sangat berhasil, sehingga orang ingin tahu lebih 

banyak mengenai dirinya. Namun, mungkin kita sebaiknya mengabaikan 

singkatnya kisah mengenai dirinya, sebab  hal yang memperpanjang sejarah 

ketiga raja terakhir yaitu  kemerosotan mereka, yang diceritakan dengan 

panjang lebar. Tidak ada kisah pilu seperti itu dalam sejarah pemerintahan ini, 

dan sebab nya hanya berisi catatan tentang, 

I. Masa dan kelanjutan pemerintahan ini (ay. 1-8). 

II. Sifat umum yang baik tentang pemerintahannya  (ay. 2, 6). 

III. Keberhasilannya (ay. 3-5). 

IV. Lama pemerintahannya (ay. 7, 9). 

Pemerintahan Yotam 

(27:1-9) 

1 Yotam berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan enam belas tahun 

lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Yerusa, anak Zadok. 2 Ia 

melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Uzia, ayahnya, 

hanya ia tidak memasuki Bait TUHAN. namun  rakyat masih saja melakukan hal yang 

merusak. 3 Ia mendirikan Pintu Gerbang Tinggi di rumah TUHAN dan mengadakan 

banyak pembangunan pada tembok Ofel. 4 Ia mendirikan juga kota-kota di pegunungan 

Yehuda dan benteng-benteng serta menara-menara di hutan-hutan. 5 Ia berperang me-

lawan raja bani Amon dan mengalahkannya, sehingga pada tahun itu juga bani Amon 

membayar kepadanya seratus talenta perak, sepuluh ribu kor gandum dan sepuluh ribu 

kor jelai. Juga pada tahun kedua dan ketiga bani Amon membawa upeti itu kepadanya. 6 

Yotam menjadi kuat, sebab  ia mengarahkan hidupnya kepada TUHAN, Tuhan nya. 7 

Selebihnya dari riwayat Yotam, segala peperangan dan tingkah langkahnya, 

sesungguhnya semuanya itu tertulis dalam kitab raja-raja Israel dan Yehuda. 8 Ia berumur 

dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan enam belas tahun lamanya ia 

memerintah di Yerusalem. 9 Kemudian Yotam mendapat perhentian bersama-sama nenek 

moyangnya, dan ia dikuburkan di kota Daud. Maka Ahas, anaknya, menjadi raja 

menggantikan dia. 


 

480 

Di sini tidak begitu banyak diceritakan tentang Yotam dibandingkan dengan 

yang sudah kita baca sebelum ini di dalam Kitab 2 Raja-raja 15:32 dan 

seterusnya.  

I. Ia menjalankan pemerintahan dengan baik. Ia melakukan apa yang benar di 

mata TUHAN. Caranya bertindak dalam pemerintahan juga baik serta 

menyenangkan bagi Tuhan . Perkenanan-Nya menjadi tujuan Yotam, dan 

firman-Nya menjadi peraturannya, yang menunjukkan bahwa ia bertindak 

berdasarkan asas yang baik. Ia mengarahkan hidupnya kepada TUHAN, 

Tuhan nya (ay. 6). Artinya, ia menjalani hidup dengan sangat hati-hati dan 

waspada, berusaha menjauhi kejahatan serta menginginkan hal yang baik. Ia 

memandang ke depan, dan menempatkan semua urusannya dalam keadaan 

serta urutan sedemikian rupa sehingga pelaksanaannya menjadi lebih 

mudah. Ia mengukuhkan atau meneguhkan cara-caranya di hadapan TUHAN. 

Artinya, ia senantiasa tetap berjalan sesuai kewajibannya, setia dan bulat 

hati dalam menjalaninya. Ia tidak seperti beberapa raja sebelum dia, yang 

meskipun memiliki beberapa sifat baik di dalam diri mereka, telah 

kehilangan kehormatan mereka akibat sikap mereka yang tidak teguh dan 

suka menyimpang dari apa yang sudah diputuskan. Mereka telah 

menjalankan pemerintahan dengan baik, namun sesuatu telah menghambat 

mereka. Tidak demikian halnya dengan Yotam. Di sini terdapat dua hal yang 

diamati berkaitan dengan tabiatnya: 

1. Apa yang tidak terdapat pada diri ayahnya, diperbaiki olehnya dalam 

dirinya sendiri (ay. 2): Ia berbuat tepat seperti yang dilakukan Uzia, 

ayahnya, dengan baik dan bijaksana. Namun ia tidak mau meniru 

perbuatan sang ayah yang keliru, sebab ia tidak memasuki Bait TUHAN 

untuk membakar pedupaan seperti yang dilakukan ayahnya itu. 

Sebaliknya, ia belajar dari peringatan itu agar tidak coba-coba 

melakukan hal lancang semacam itu. Perhatikanlah, janganlah kita 

meniru orang-orang terbaik sekalipun, dan orang-orang yang paling kita 

hormati lebih dari perbuatan baik yang mereka lakukan. Sebaliknya, 

hendaklah kejatuhan mereka berikut akibat-akibatnya yang merugikan 

menjadi peringatan bagi kita untuk hidup menurut jalan-jalan dengan 

lebih berhati-hati, supaya kita tidak jatuh sebab  batu sandungan yang 

telah membuat mereka terjatuh. 

2. Kekeliruan rakyatnya tidak berhasil diperbaikinya: namun  rakyat masih 

saja melakukan hal yang merusak. Boleh jadi hal ini mencerminkan 

kesalahannya juga, sebab  kekurangan di pihaknya dalam mengadakan 

pembaharuan di negerinya. Orang bisa saja sangat baik dalam dirinya 

Kitab 2 Tawarikh 27:1-9 

 

481 

sendiri, namun tidak memiliki keberanian dan semangat untuk 

melakukan hal yang dapat membaharui hidup orang lain. Bagaimanapun, 

hal ini jelas mencerminkan kesalahan rakyat, sebab  mereka tidak 

melakukan seperti seharusnya dengan memanfaatkan berbagai 

keuntungan dari pemerintahan sebaik itu. Mereka telah diberi petunjuk 

yang sangat baik dan juga teladan yang baik, namun mereka tidak mau 

dibaharui. Dengan demikian, bahkan di bawah pemerintahan raja-raja 

yang baik dan juga yang jahat, mereka menimbun murka atas diri mereka 

sendiri pada hari murka, sebab mereka masih saja berlaku buruk, dan 

sia-sia saja orang melebur terus-menerus. 

II. Yotam sangat berhasil, dan benar-benar termashur namanya. 

1. Ia membangun, dan memulai dengan Pintu Gerbang Tinggi di rumah 

TUHAN, yang ia perbaiki, perindah, dan tegakkan. Setelah itu ia 

mengadakan banyak pembangunan pada tembok Ofel dan mendirikan 

juga kota-kota di pegunungan Yehuda (ay. 3-4). Ia memperkuat 

negerinya dengan benteng dan melengkapinya sedapat mungkin. 

2. Ia menaklukkan. Ia menang atas orang Amon, yang menyerbu Yehuda 

pada zaman pemerintahan Yosafat (20:1). Ia mengalahkan mereka, dan 

menarik upeti dalam jumlah besar dari mereka (ay. 5). Ia menjadi kuat 

(ay. 6), baik dalam kekayaan, kekuasaan, maupun pengaruh atas bangsa-

bangsa di sekitarnya yang ingin bersahabat dengannya dan takut kepada 

amarahnya. Dan semuanya ini ia peroleh dengan cara mengarahkan 

hidupnya kepada TUHAN, Tuhan nya. Semakin teguh kita dalam 

menjalankan agama, maka semakin kuat pula kita dalam melawan apa 

yang jahat dan melaksanakan apa yang baik. 

III. Yotam mengakhiri hidupnya dalam waktu terlampau singkat, namun 

mengakhirinya dengan kehormatan. Ia mengalami kemalangan sebab  mati 

di tengah masa kejayaannya. Namun untuk mengimbangi hal itu, ia bahagia 

sebab  tidak hidup lebih lama dibandingkan  nama baiknya, seperti ketiga 

pendahulunya. Ia mati ketika usianya baru menginjak empat puluh satu 

tahun (ay. 8). Namun, segala peperangan dan tingkah langkahnya, peperang-

an di luar negeri dan tingkah lakunya di dalam negeri, begitu gemilang 

hingga dicatat di dalam kitab raja-raja Israel dan juga raja-raja Yehuda (ay. 

7). Kata-kata terakhir dalam pasal ini sangatlah memilukan, sebab  

menyampaikan kepada kita bahwa  Ahas, anaknya yang tabiatnya dalam 

segala hal bertolak belakang dengan Yotam, menjadi raja menggantikan dia. 

Ketika kekayaan dan kekuasaan yang telah digunakan orang-orang bijaksana 


 

482 

demi kebaikan berpindah ke tangan orang-orang bodoh, hal itu sungguh 

menyakiti hati mereka, sangat diratapi, sangat disesali. 

 

 

 

 

 

PASAL  28  

asal ini merupakan sejarah pemerintahan Ahas, anak Yotam. 

Pemerintahannya sungguh buruk, sehingga turut menambah murka TUHAN. 

Dalam pasal ini diceritakan tentang, 

I.   Kejahatannya yang luar biasa (ay. 1-4). 

II.  Masalah yang didatangkannya kepada dirinya sendiri sebagai 

akibatnya (ay. 5-8). 

III. Teguran yang diberikan Tuhan  melalui seorang nabi kepada pasukan 

Israel sebab  menginjak-injak saudara-saudara mereka dari Yehuda, 

dan ketaatan mereka terhadap teguran itu (ay. 9-15). 

IV. Sejumlah besar bencana yang mengikuti Ahas dan rakyatnya (ay. 16-

21). 

V. Berlanjutnya penyembahan berhala Ahas tanpa memedulikan semua 

bencana itu (ay. 22-25), dan demikianlah kisah ini berakhir (ay. 26-27). 

Kejahatan Ahas 

(28:1-5) 

1 Ahas berumur dua puluh tahun pada waktu ia menjadi raja dan enam belas tahun 

lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia tidak melakukan apa yang benar di mata TUHAN 

seperti Daud, bapa leluhurnya, 2 namun  ia hidup menurut kelakuan raja-raja Israel, bahkan 

ia membuat patung-patung tuangan untuk para Baal. 3 Ia membakar juga korban di Lebak 

Ben-Hinom dan membakar anak-anaknya sebagai korban dalam api, sesuai dengan 

perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah dihalaukan TUHAN dari depan orang Israel. 4 Ia 

mempersembahkan dan membakar korban di bukit-bukit pengorbanan dan di atas 

tempat-tempat yang tinggi dan di bawah setiap pohon yang rimbun.  

5 Sebab itu TUHAN, Tuhan nya, menyerahkannya ke dalam tangan raja orang Aram. Mereka 

mengalahkan dia dan menawan banyak orang dari padanya, yang diangkut ke Damsyik. 

Kemudian ia diserahkan pula ke dalam tangan raja Israel dan mengalami kekalahan yang 

besar. 


 

484 

Belum pernah ada orang yang memperoleh kesempatan lebih besar untuk 

berbuat baik dibandingkan Ahas. Ia mendapati segala sesuatu dalam keadaan 

baik. Kerajaan makmur dan kuat, serta agama telah dikukuhkan. Walau 

demikian, dalam beberapa ayat ini kita mendapati dia, 

1. Bertabiat buruk dan sangat rusak moralnya. Ia telah menerima pendidikan 

dan contoh yang baik, namun para orangtua memang tidak dapat 

memberikan kasih karunia kepada anak-anak mereka. Semua pengajaran 

yang telah diterimanya itu tidak berpengaruh atasnya: Ia tidak melakukan 

apa yang benar di mata TUHAN (ay. 1). Tidak, ia bahkan melakukan banyak 

kesalahan. Kesalahan terhadap Tuhan , terhadap jiwanya sendiri, dan 

terhadap rakyatnya. Ia hidup menurut jalan orang Israel yang memberontak 

dan orang-orang Kanaan yang sangat gemar menyembah berhala. Ia 

membuat patung-patung tuangan dan menyembahnya, bertolak belakang 

dengan perintah Tuhan  yang kedua. Ia bahkan membuat patung-patung itu 

bagi Baal, bertolak belakang dengan perintah Tuhan  yang pertama. Ia 

mencampakkan rumah TUHAN dan mempersembahkan korban serta 

membakar dupa di bukit-bukit pengorbanan, seolah-olah hal ini 

membuatnya lebih dekat dengan sorga. Ia juga melakukannya di bawah 

setiap pohon rimbun, seolah-olah pepohonan ini memberikan perlindungan 

dan pengaruh sorga melalui naungannya. Untuk melengkapi kejahatannya, 

sebagai orang yang sudah sepenuhnya melepaskan kasih sayang alami dan 

agama, dan sepenuhnya mengabdikan diri untuk beribadah kepada musuh 

besar umat manusia serta kepentingannya, Ahas membakar anak-anaknya 

sebagai korban dalam api (ay. 3). Ia berpikir bahwa belumlah cukup bila ia 

mempersembahkan anak-anaknya itu kepada iblis dari neraka dengan hanya 

memaksa mereka berjalan menerobos api. Lihatlah betapa besar kekuasaan 

penuh yang dimiliki penguasa udara atas orang-orang durhaka. 

2. Secara mengenaskan Ahas dijarah dan dijadikan mangsa. Ketika ia 

meninggalkan Tuhan  dan dengan mengorbankan banyak hal menempatkan 

diri di bawah perlindungan Tuhan -Tuhan  palsu, maka Tuhan  yang sebenarnya 

yaitu  Tuhan -nya yang sejati, menyerahkan dia ke tangan musuh-musuhnya. 

(1) Orang Aram menghina dan menang atasnya, mengalahkan dia di medan 

perang, serta menawan banyak orangnya ke dalam pembuangan.  

(2) Walaupun juga merupakan penyembah berhala, raja Israel menjadi 

bencana baginya. Ia pun mengalami kekalahan yang besar. Rakyat 

menderita akibat penghukuman ini. Darah mereka tercurah, negeri 

mereka menjadi tandus, dan keluarga mereka hancur. Ketika mereka 

memiliki raja yang baik, meskipun mereka masih saja melakukan hal 

Kitab 2 Tawarikh 28:1-5 

 

485 

yang merusak (27:2), namun kebaikan-Nya ketika itu masih menaungi 

mereka. Namun sekarang ketika mereka memiliki raja yang jahat, maka 

seluruh pertahanan telah meninggalkan mereka dan penghukuman pun 

membanjiri mereka. Orang-orang yang masa bodoh dengan kebahagiaan 

mereka dalam pemerintahan sebelumnya, sekarang diajar untuk 

menghargai kebahagiaan itu melalui kesengsaraan dalam pemerintahan 

ini. 

Raja Israel mengalahkan Ahas 

(28:6-15) 

6 Sebab dalam sehari Pekah bin Remalya menewaskan di Yehuda seratus dua puluh ribu 

orang, semuanya orang-orang yang tangkas, oleh sebab  mereka telah meninggalkan 

TUHAN, Tuhan  nenek moyang mereka. 7 Dan Zikhri, pahlawan dari Efraim, membunuh 

Maaseya, anak raja, Azrikam, kepala istana, dan Elkana orang kedua di bawah raja. 8 

Orang Israel menawan dari saudara-saudaranya dua ratus ribu orang, yaitu  wanita -

wanita  serta anak-anak lelaki dan anak-anak wanita . Mereka merampas juga 

banyak harta milik dari pada orang-orang itu, dan membawa rampasan itu ke Samaria. 9 

namun  di sana ada seorang nabi TUHAN yang bernama Oded. Ia pergi menemui tentara 

yang pulang ke Samaria dan berkata kepada mereka: “Lihatlah, sebab  kehangatan 

murka-Nya kepada Yehuda, TUHAN, Tuhan  nenek moyangmu, menyerahkan mereka ke 

dalam tanganmu, dan kamu telah mengadakan pembunuhan di antara mereka dengan 

kegeraman yang sampai ke langit. 10 Dan sekarang kamu bermaksud menaklukkan orang 

Yehuda dan Yerusalem menjadi hambamu laki-laki dan wanita . Tidak adakah pada 

kamu sendiri kesalahan yang besar terhadap TUHAN, Tuhan mu? 11 Maka sekarang, 

dengarkanlah kataku ini: kembalikanlah orang-orang yang kamu tawan dari saudara-

saudaramu itu, sebab  murka Tuhan  menyala-nyala terhadap kamu.” 12 Lalu bangkitlah 

beberapa pemimpin bani Efraim, yaitu : Azarya bin Yohanan, Berekhya bin Mesilemot, 

Yehizkia bin Salum dan Amasa bin Hadlai menghadapi orang-orang yang pulang dari 

perang, 13 dan berkata kepada mereka: “Jangan bawa tawanan-tawanan itu ke mari, sebab 

maksudmu itu menjadikan kita bersalah terhadap TUHAN dan menambah dosa dan 

kesalahan kita! Sudah cukup besar kesalahan kita, dan murka yang menyala-nyala telah 

menimpa Israel.” 14 Lalu orang-orang yang bersenjata itu meninggalkan tawanan dan 

barang-barang rampasannya di muka para pemimpin dan seluruh jemaah. 15 Dan orang-

orang yang ditunjuk dengan disebut namanya bangkit, lalu menjemput para tawanan itu. 

Semua orang yang telanjang mereka berikan pakaian dari rampasan itu. Orang-orang itu 

diberi pakaian, kasut, makanan dan minuman. Mereka diurapi dengan minyak dan semua 

yang terlalu payah untuk berjalan diangkut dengan keledai, dan dibawa ke Yerikho, ke 

kota pohon korma, dekat saudara-saudara mereka. Sesudah itu orang Israel itu pulang ke 

Samaria. 

Dalam perikop di atas kita mendapati, 

I.  Yehuda yang berkhianat ada di bawah hardikan penyelenggaraan Tuhan , dan 

hardikan-Nya itu sungguh sangat keras. Belum pernah terjadi pertumpahan 

darah sehebat itu sejak mereka menjadi sebuah kerajaan, dan dilakukan oleh 

orang-orang Israel pula. Ahas hidup menurut jalan-jalan para raja Israel, dan 

raja Israel dipakai Tuhan  sebagai alat untuk melaksanakan penghukuman-


 

486 

Nya. Sungguh adil bagi Tuhan  untuk membuat orang-orang yang kita jadikan 

teladan atau sekutu kita dalam dosa, menjadi tulah bagi kita. Perang pun 

pecah di antara Yehuda dan Israel, dan di dalamnya Yehuda dikalahkan. 

Sebab, 

1. Banyak sekali orang gugur di medan perang. Sejumlah besar prajurit 

yaitu 120.000 orang, para pahlawan yang gagah berani, terbunuh (ay. 6). 

Beberapa dari mereka menduduki tingkatan paling tinggi, salah satunya 

putra raja sendiri. Ahas telah mengorbankan beberapa putranya kepada 

Molokh. Oleh sebab itu sudah sepantasnya putra yang satu ini 

dikorbankan demi pembalasan dendam ilahi. Kemudian ada juga 

sahabatnya, orang kedua di bawah raja, perdana menteri kerajaan, atau 

mungkin juga yang mendampingi raja dalam pertempuran, sehingga raja 

sendiri nyaris saja tidak lolos dari maut (ay. 7). Pada masa ini kerajaan 

Israel sendiri belum kuat, namun cukup kuat untuk menghancurkan 

Yehuda. Bagaimanapun, begitu banyak orang, orang-orang hebat, gagah 

perkasa, tentu saja tidak dapat dibinasakan dalam satu hari apabila 

mereka tidak secara aneh dibuat tawar hati, baik oleh tuduhan hati 

nurani sendiri yang merasa bersalah maupun oleh tangan Tuhan  yang adil 

atas mereka. Bahkan orang-orang yang tangkas pun dianggap sebagai 

domba-domba sembelihan, dan menjadi mangsa empuk bagi musuh 

sebab  mereka telah meninggalkan TUHAN, Tuhan  nenek moyang mereka, 

dan oleh sebab itu Ia telah meninggalkan mereka. 

2. Orang Israel menawan banyak sekali wanita -wanita  serta anak-

anak lelaki dan anak-anak wanita  (ay. 8). Ketika pasukan tentara di 

medan perang telah dibasmi, kota-kota besar maupun kecil dan desa-

desa dilucuti dengan mudah. Para penduduknya dibawa sebagai budak, 

sedang  harta mereka dirampas. 

II. Bahkan Israel yang meraih kemenangan pun ditegur Tuhan , sebab  mereka 

berperang dengan Yehuda atas dasar hati yang jahat, dan menyalahgunakan 

kemenangan mereka. Teguran ini menghasilkan kebaikan. Beginilah kita 

temukan,  

1. Pesan yang dikirimkan Tuhan  lewat seorang nabi, yang keluar mendapati 

orang Israel, bukan untuk memuji-muji kegagahberanian mereka atau 

memberikan selamat atas kemenangan yang telah mereka raih, 

meskipun mereka pulang membawa hasil jarahan dan kemenangan 

gemilang. Sebaliknya, sang nabi menyampaikan kepada mereka dalam 

Kitab 2 Tawarikh 28:1-5 

 

487 

nama Tuhan  akan kesalahan mereka dan memperingatkan mereka akan 

penghukuman-Nya. 

(1) Nabi itu mengingatkan mereka bagaimana mereka bisa meraih 

kemenangan yang sangat mereka banggakan itu. Hal itu terjadi 

bukan sebab  Tuhan  berpihak kepada mereka, atau sebab  mereka 

memang pantas menerimanya dari tangan-Nya, melainkan sebab  

kehangatan murka-Nya kepada Yehuda, sehingga Ia menjadikan 

mereka sebagai alat untuk menyalurkan kemarahan-Nya terhadap 

Yehuda. Bukan sebab  jasa-jasamu atau sebab  kebenaran hatimu,  

hendaklah kalian tahu, melainkan sebab  kefasikan bangsa-bangsa 

itulah (Ul. 9:5), mereka dihalaukan dari hadapanmu. Oleh sebab itu, 

janganlah kamu sombong, namun  takutlah, supaya jangan sampai Ia 

juga tidak akan menyayangkan kamu (Rm. 11:20-21). 

(2) Nabi itu mendakwa mereka telah menyalahgunakan kuasa yang 

diberikan Tuhan  kepada mereka atas saudara-saudara mereka itu. 

Orang tidak memahami makna kemenangan, jika mereka menyangka 

bahwa dengan kemenangan itu mereka diberi wewenang untuk 

berbuat sesuka hati, dan bahwa pedang yang terpanjang memiliki 

hak paling jelas untuk menuntut nyawa dan harta (Jusque datum 

sceleri – kekuatan yaitu  hak). Tidak, sama seperti memanfaatkan 

kemenangan tidaklah bijaksana, begitu pula menyalahgunakannya 

bukanlah tindakan yang saleh. Di sini, para penakluk itu ditegur, 

[1] Atas kekejaman mereka dalam membunuh di medan 

pertempuran. Mereka benar-benar menumpahkan darah dalam 

zaman damai seakan-akan ada perang. Kita bisa beranggapan 

bahwa tindakan mereka tidak melanggar hukum, namun  hal itu 

terbukti merupakan dosa mereka, sebab  mereka melakukannya 

atas dasar hati yang jahat, yaitu kebencian terhadap saudara-

saudara sendiri dan juga dengan cara yang kejam, dengan 

keganasan yang biadab, kegeraman yang sampai ke langit. Arti-

nya, kejahatan mereka itu berseru kepada Tuhan  menuntut 

pembalasan dendam terhadap orang-orang yang haus darah 

seperti itu, yang bersuka dalam pembantaian ketika terjadi 

perang. Apabila orang-orang melayani keadilan Tuhan  dengan 

amarah dan semangat membalas dendam, maka mereka 

menjadikan diri sendiri menjijikkan dan kehilangan kehormatan 

untuk bertindak bagi-Nya. Sebab amarah manusia tidak 

mengerjakan kebenaran di hadapan Tuhan . 


 

488 

[2] Atas perlakuan semena-mena mereka terhadap para tawanan. 

“Dan sekarang kamu bermaksud menaklukkan mereka, 

memanfaatkan atau menjual mereka sebagai budak, meskipun 

mereka sebenarnya saudara-saudaramu sendiri dan orang Israel 

yang lahir sebagai orang merdeka.” Tuhan  memperhatikan 

maksud tujuan manusia, begitu pula apa yang mereka katakan 

dan lakukan. 

(3) Nabi itu mengingatkan mereka akan dosa-dosa mereka, yang 

membuat mereka menjijikkan sehingga patut menerima murka 

Tuhan : Tidak adakah pada kamu sendiri kesalahan yang besar 

terhadap TUHAN, Tuhan mu? (ay. 10). Ia berseru kepada hati nurani 

mereka, dan menyatakan bukti akan kejahatan kesalahan mereka. 

“Meskipun kamu sekarang dijadikan alat untuk memperbaiki Yehuda 

atas dosa mereka, namun janganlah berpikir bahwa oleh sebab  itu 

kamu sendiri tidak bersalah. Tidak. Kamu pun bersalah di hadapan 

Tuhan .” Perkataan ini dimaksudkan sebagai teguran, 

[1] Terhadap perlakuan mereka dalam merayakan keberhasilan 

mereka. “Kamu semua pendosa, jadi tidak patut kamu berbangga 

diri. Sekarang kamu memang menang, namun  janganlah merasa 

aman dulu. Roda akan berputar dan berbalik melindasmu. Sebab, 

jika penghukuman jatuh ke atas orang-orang yang ada di rumah 

Tuhan , bagaimana pula kesudahannya dengan para penyembah 

anak lembu?” 

[2] Terhadap kekejaman mereka kepada saudara-saudara mereka. 

“Kamu telah menguasai mereka sekarang, namun kamu juga 

harus berbelaskasihan kepada mereka, sebab kamu sendiri pun 

akan binasa sekiranya kamu tidak mendapatkan belas kasihan 

Tuhan . Sungguh tidak patut bagi para pendosa untuk bersikap 

kejam. Kamu sendiri sudah punya banyak pelanggaran yang 

harus kamu pertanggungjawabkan, jadi jangan menambah yang 

satu ini lagi.” 

(4) Nabi itu memerintahkan mereka untuk melepaskan para tawanan, 

dan memulangkan mereka kembali dengan baik-baik (ay. 11): 

“sebab  kamu sendiri telah berbuat dosa, sehingga murka Tuhan  

menyala-nyala terhadap kamu, dan tidak ada jalan lain untuk 

menghindari murka-Nya itu selain kalian juga harus menunjukkan 

belas kasihan kepada orang lain.” 

Kitab 2 Tawarikh 28:1-5 

 

489 

2. Keputusan para pemimpin akibat peringatan itu untuk tidak menahan 

para tawanan lagi. Mereka menghadapi orang-orang yang pulang dari 

perang, meskipun bergelimang kemenangan, dan memberitahukan 

mereka dengan terang-terangan agar tidak membawa para tawanan 

mereka ke Samaria (ay. 12-13). Mereka sudah cukup banyak melakukan 

dosa yang harus mereka pertanggungjawabkan, jadi jangan lagi 

menambah-nambah pelanggaran mereka. Dengan sikap ini mereka 

menemukan ketaatan terhadap firman Tuhan  melalui nabi-Nya, dan rasa 

belas kasih yang lembut terhadap saudara-saudara mereka, yang 

dikerjakan dalam diri mereka oleh kasih setia Tuhan  yang lembut. Tuhan  

memperhatikan penderitaan umat yang malang ini, mendengar seruan 

mereka, dan diberi-Nya mereka mendapat rahmat dari pihak semua 

orang yang menawan mereka (Mzm. 106: 44, 46). 

3. Kepatuhan para prajurit terhadap keputusan para pemimpin mengenai 

hal ini, dan pembebasan para tawanan sebagai hasilnya. 

(1) Meskipun bersenjata dan dengan demikian memiliki kekuatan, para 

prajurit itu bisa saja mempertahankan hak mereka atas segala 

sesuatu yang telah mereka peroleh melalui pedang. Namun mereka 

setuju tanpa membantah, dan meninggalkan para tawanan dan hasil 

jarahan mereka di hadapan para pemimpin (ay. 14). Dalam hal inilah 

mereka lebih memperlihatkan kegagahberanian sejati dibanding 

ketika mereka mendapatkan tawanan dan jarahan itu. Sungguh 

merupakan kehormatan besar bagi siapa pun apabila ia tunduk pada 

kekuasaan akal sehat dan agama dan mengesampingkan 

kepentingannya sendiri. 

(2) Dengan sangat bermurah hati, para pemimpin memulangkan para 

tawanan malang itu, lengkap dengan persediaan yang sangat 

memadai (ay. 15). Oleh sebab itu, orang-orang yang mengharapkan 

belas kasihan Tuhan  harus belajar bersikap lembut kepada orang-

orang yang bergantung pada belas kasihan mereka. Sungguh 

mengherankan bagaimana para pemimpin yang dalam kejadian ini 

menaruh rasa hormat sebesar itu kepada firman Tuhan , dan memiliki 

pengaruh sedemikian kuat atas rakyat, ternyata tidak memiliki 

kebesaran hati untuk menaati berbagai panggilan Tuhan  melalui 

begitu banyak nabi, supaya mereka membasmi habis penyembahan 

berhala dari kerajaan mereka. Sangat menyedihkan, sebab  tidak 

lama setelah peristiwa ini, mereka semua binasa akibat 

penyembahan berhala itu.  


 

490 

Kematian Ahas 

(28:16-27) 

16 Pada waktu itu raja Ahas menyuruh utusan kepada raja negeri Asyur untuk memohon 

bantuan. 17 sebab  orang Edom telah datang pula dan mengalahkan Yehuda serta 

mengangkut tawanan-tawanan. 18 Orang-orang Filistin juga telah menyerbu kota-kota di 

Daerah Bukit dan di Tanah Negeb Yehuda. Merekapun merebut Bet-Semes, Ayalon, 

Gederot, Sokho dengan segala anak kotanya, Timna dengan segala anak kotanya dan 

Gomzo dengan segala anak kotanya, dan menetap di kota-kota itu. 19 Demikianlah TUHAN 

merendahkan Yehuda oleh sebab  Ahas, raja Israel itu, membiarkan kebiadaban berlaku 

di Yehuda dan berubah setia kepada TUHAN. 20 Maka datanglah Tilgat-Pilneser, raja 

negeri Asyur, kepadanya, hanya bukan membantu dia, melainkan menyesakkannya. 21 

Walaupun Ahas merampas barang-barang dari rumah TUHAN, dari rumah raja dan dari 

rumah-rumah para pemimpin dan menyerahkan semua itu kepada raja negeri Asyur, 

namun perbuatannya itu tidak menguntungkan dia. 22 Dalam keadaan terdesak itu raja 

Ahas ini, malah semakin berubah setia terhadap TUHAN. 23 Ia mempersembahkan korban 

kepada para Tuhan  orang Damsyik yang telah mengalahkan dia. Pikirnya: “Yang membantu 

raja-raja orang Aram yaitu  para Tuhan  mereka; kepada merekalah aku akan 

mempersembahkan korban, supaya mereka membantu aku juga.” namun  Tuhan -Tuhan  itulah 

yang menjadi sebab keruntuhan bagi dia dan bersama-sama dengan dia bagi seluruh 

Israel. 24 Ahas mengumpulkan perkakas-perkakas rumah Tuhan  dan menghancurkannya. 

Ia menutup pintu rumah TUHAN, lalu membuat mezbah-mezbah bagi dirinya di segenap 

penjuru Yerusalem. 25 Di tiap-tiap kota di Yehuda ia membuat bukit-bukit pengorbanan 

untuk membakar korban bagi Tuhan  lain. Dengan demikian ia menyakiti hati TUHAN, Tuhan  

nenek moyangnya. 26 Selebihnya dari riwayatnya dan seluruh tingkah langkahnya, dari 

awal sampai akhir, sesungguhnya semuanya itu tertulis dalam kitab raja-raja Yehuda dan 

Israel. 27 Kemudian Ahas mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, 

dan dikuburkan di dalam kota, di Yerusalem; namun  ia tidak dibawa ke pekuburan raja-

raja Israel. Maka Hizkia, anaknya, menjadi raja menggantikan dia. 

Dalam perikop di atas terdapat, 

I. Kesesakan luar biasa yang dialami kerajaan Ahas akibat dosanya. Secara 

umum, 

1. TUHAN merendahkan Yehuda (ay. 19). Belum lama berselang mereka 

sangat makmur dan berkuasa. namun  Tuhan  mempunyai banyak cara 

untuk menjatuhkan mereka dan membuat mereka hina, sama seperti 

dahulu Ia sanggup menjadikan mereka tampak mengerikan bagi bangsa 

lain. Orang-orang yang tidak mau merendahkan diri di bawah firman 

Tuhan  akan direndahkan dengan adil oleh penghukuman-Nya. Kejahatan 

membuat orang tenggelam dalam kesalahan mereka (Mzm. 106:43). 

2. Ahas membuat Yehuda telanjang. Sama seperti dosanya merendahkan 

derajat mereka, dosa itu juga membuat mereka terpapar tanpa 

perlindungan. Dosanya membuat mereka telanjang sehingga 

dipermalukan, sebab  dosa membuat mereka terbuka untuk dihina, 

seperti orang yang tidak mengenakan pakaian. Dosanya membuat 

mereka telanjang terhadap bahaya, sebab membuat mereka terbuka 

untuk diserang, bagaikan orang yang tidak bersenjata (Kel. 32:25). Dosa 

Kitab 2 Tawarikh 28:1-5 

 

491 

melucuti manusia. Khususnya orang Edom, untuk balas dendam atas 

perlakuan kejam Amazia terhadap mereka (25:12), membunuh orang 

Yehuda serta mengangkut banyak tawanan (ay. 17). Orang-orang Filistin 

pun menghina mereka dengan merampas serta menguasai sejumlah kota 

dan desa yang terletak di dekat mereka (ay. 18). Demikianlah 

pembalasan dendam bagi mereka telah terlaksana sebab  serangan Uzia 

terhadap mereka (26:6). Selain itu, hal ini juga untuk menunjukkan 

bahwa dosa Ahas sematalah yang membuat orang Filistin menyerang 

negerinya, tepat pada tahun kematiannya seperti yang telah 

dinubuatkan Nabi Yesaya tentang penghancuran orang Filistin oleh 

anaknya (Yes. 14:28-29). 

II. Ahas menambah berat lagi kesesakan maupun kesalahan bangsa. 

1. Ahas memperparah kesesakan dengan memohon-mohon kepada raja-

raja asing, dengan harapan mereka akan membantunya. Ketika orang 

Edom dan Filistin menjengkelkannya, ia menyuruh utusan kepada raja 

negeri Asyur untuk memohon bantuan (ay. 16). Ia mendapati kerajaannya 

sendiri lemah dan menjadi telanjang, sedang  ia tidak dapat 

memercayakan diri kepada Tuhan . Itulah sebabnya ia berusaha keras 

memperoleh perhatian raja negeri Asyur. Ia menjarah rumah Tuhan  dan 

rumah raja, serta memeras uang para pemimpin untuk menyewa 

pasukan asing dan memanfaatkan jasa mereka (ay. 21). Walaupun ia 

mengikuti kebiasaan menyembah berhala bangsa-bangsa kafir di 

sekitarnya, mereka justru tidak menghargainya atau lebih menyukainya. 

Meskipun telah mengikuti jalan hidup mereka, yang membuat dia 

kehilangan hubungan Tuhan , ia tidak mampu memenangkan hati mereka. 

Ia juga tidak mampu menarik perhatian mereka selain dengan uang. 

Sudah sering kali didapati bahwa orang-orang jahat tidak benar-benar 

berpihak kepada orang-orang yang berpaling kepada mereka, dan tidak 

mau berbuat baik kepada mereka. Dari sisi apa pun, dahan yang buruk 

dipandang sebagai taruk yang jijik (Yes. 14:19). Lalu apakah yang di-

dapatkan Ahas dari raja Asyur? Maka datanglah raja negeri Asyur, 

kepadanya, hanya bukan membantu dia, melainkan menyesakkannya (ay. 

20). Pasukan Asyur berkemah di negerinya, sehingga dengan demikian 

memelaratkan serta melemahkannya. Sikap mereka semakin kurang ajar 

dan semena-mena. Mereka sangat menjengkelkan hati Ahas bagaikan 

buluh patah, yang bukan saja tidak berguna, namun  juga menusuk tangan 

yang memegangnya. 


 

492 

2. Ahas memperparah kesalahan melalui cara berhubungan dengan Tuhan -

Tuhan  asing, dengan harapan mereka dapat menyelamatkannya. Di dalam 

keadaan terdesak itu, alih-alih bertobat dari penyembahan berhala yang 

sesungguhnya merupakan kebodohan yang cukup mudah disadarinya, ia 

malah semakin berubah setia terhadap TUHAN (ay. 22), dan semakin 

tergila-gila kepada berhala-berhalanya. Oleh sebab itulah suatu sebutan 

hina diberikan kepadanya: Demikianlah raja Ahas ini, orang bejat yang 

menjadi cemar bagi keluarga Daud dan kutuk serta tulah bagi 

angkatannya. Perhatikanlah, sungguh semakin keji dan hinalah orang-

orang yang menjadi semakin buruk dan bukan semakin baik akibat 

penderitaan yang mereka alami. Dalam keadaan terdesak mereka malah 

semakin berubah. Tabiat buruk mereka justru diperparah oleh hal yang 

seharusnya meredakannya, dan hati mereka penuh niat untuk berbuat 

jahat. Marilah kita lihat apa gerangan pelanggaran yang telah dilakukan 

Ahas. 

(1) Ahas memperlakukan rumah Tuhan  dengan keji, sebab ia  

mengumpulkan perkakas-perkakas rumah Tuhan  dan meng-

hancurkannya, supaya para imam tidak dapat melaksanakan upacara 

di rumah TUHAN, atau melayani dengan cara tidak seperti 

semestinya sebab  kekurangan perkakas. Akhirnya, ia menutup pintu 

rumah TUHAN, supaya orang-orang tidak dapat beribadah di 

dalamnya (ay. 24). Perlakuan ini lebih buruk dibandingkan  yang pernah 

dilakukan raja-raja sebelum dia. 

(2) Ahas menentang mezbah Tuhan , sebab ia membuat mezbah-mezbah 

bagi dirinya di segenap penjuru Yerusalem. Dengan demikian, seperti 

yang dikatakan sang nabi, altar-altarnya itu menjadi seperti timbunan 

batu di alur-alur ladang (Hos. 12:11). Juga di kota-kota Yehuda, baik 

melalui kekuasaan maupun uangnya, mungkin juga kedua-duanya, 

Ahas mendirikan bukit-bukit pengorbanan bagi rakyat untuk mem-

bakar dupa bagi berhala-berhala yang mereka sukai, seakan-akan 

dengan sengaja hendak menyakiti hati TUHAN, Tuhan  nenek 

moyangnya (ay. 25). 

(3) Ahas mencampakkan Tuhan  sendiri, sebab ia mempersembahkan 

korban kepada para Tuhan  orang Damsyik (ay. 23), bukan sebab  ia 

mengasihi mereka, sebab ia yakin mereka memukulnya, melainkan 

sebab  ia takut kepada mereka. Ia menyangka para Tuhan  itu 

membantu musuh-musuhnya, sehingga apabila ia dapat menarik 

perhatian mereka untuk berpihak kepadanya, mereka akan 

menolongnya. Benar-benar orang yang bodoh! Padahal, Tuhan -nya 

Kitab 2 Tawarikh 28:1-5 

 

493 

sendirilah yang telah memukulnya dan memperkuat orang Asyur 

yang melawannya, bukan Tuhan -Tuhan  orang Damsyik. Seandainya saja 

Ahas mempersembahkan korban kepada-Nya, dan hanya kepada-

Nya semata, Ia pasti akan menolongnya. Bagaimanapun, sungguh 

tidak mengherankan apabila perasaan dan ibadah manusia tidak 

akan mengarah ke sasaran yang benar kalau mereka salah menilai 

siapa yang menyebabkan kesukaran mereka dan siapa yang 

menolong mereka. Lalu apakah akibatnya? Para Tuhan  orang Aram 

ternyata tidak lebih bersahabat terhadap Ahas dibanding yang 

dilakukan raja-raja Asyur terhadapnya. Mereka menjadi sebab 

keruntuhan bagi dia dan bersama-sama dengan dia bagi seluruh 

Israel. Dosa ini membangkitkan murka Tuhan  sehingga Ia menjatuhkan 

penghukuman ke atas mereka, dan m