tawarikh ester 14
egala
kerugian dan kerusakan yang kita alami dalam melayani-Nya, akan
membuat kuk-Nya terasa mudah dan beban-Nya sangat ringan. Apa
artinya percaya kepada Tuhan selain dari bersedia menanggung kerugian
akan segala sesuatu bagi Dia, dengan yakin penuh bahwa Ia pasti akan
menjamin keamanan bagi kita sehingga kita tidak akan rugi sebab Dia.
Apa pun yang kita lepaskan demi Tuhan akan digantikan-Nya kepada kita
dalam kebaikan. Saat kita tidak rela melepaskan apa pun bagi Tuhan dan
ibadah kita, kiranya hal ini memuaskan kita: yaitu bahwa Tuhan sanggup
memberikan lebih banyak dibandingkan itu. Dia itu adil, Dia baik, dan Dia
sanggup membayar. Raja Amazia kehilangan seratus talenta sebab ke-
taatannya, dan kita melihat bahwa jumlah yang tepat sama diberikan
kepada cucunya, Yotam, sebagai upeti (27:5). Jumlah pokoknya sudah
terbayar, dan sebagai bunganya, 10.000 kor gandum dan 10.000 kor
jelai.
4. Ketaatan Amazia kepada Tuhan dicatat menjadi kehormatannya. Ia lebih
baik kehilangan uang, membatalkan persekutuannya, dan membubarkan
seperempat dari tentaranya tepat ketika mereka hendak berangkat ke
medan perang, dibandingkan menyakiti hati Tuhan : Amazia memisahkan
pasukan yang datang bergabung kepadanya dari Efraim, supaya mereka
kembali ke tempat tinggalnya (ay. 10). Mereka pun pulang dengan
amarah yang menyala-nyala, merasa dipermainkan dan menganggapnya
sebagai penghinaan besar. Mereka mungkin kesal memikirkan
Kitab 2 Tawarikh 25:1-13
459
keuntungan yang sudah mereka bayangkan nanti saat mengambil
jarahan dan rampasan dengan bergabung bersama Yehuda melawan
Edom. Manusia cenderung marah jika terjadi sesuatu yang mengganggu
keuntungan atau reputasi mereka, meskipun hal itu melepaskan mereka
dari masalah.
5. Kemenangan Amazia atas orang Edom (ay. 11-12). Di medan
pertempuran itu, ia menewaskan sepuluh ribu orang. Sepuluh ribu orang
lagi diangkutnya sebagai tawanan dan dibunuh dengan ganasnya,
dengan cara melemparkan mereka dari tebing terjal dan curam. Tidak
diceritakan kegusaran apa yang membuatnya sampai melakukan
kekejaman itu terhadap mereka. namun tindakan itu memang sungguh
kejam.
6. Kejahatan yang dibuat oleh tentara Israel yang dipulangkan Amazia
terhadap kota-kota Yehuda, entah saat mereka kembali atau segera
sesudahnya (ay. 13). Orang Israel itu sangat murka sebab dikirim
pulang sehingga, jika tidak bisa berbagi jarahan Edom dengan Yehuda,
mereka akan memangsa Yehuda sendiri. Beberapa kota yang terletak di
perbatasan mereka jarah, dan tiga ribu orang yang melawan pun
dibunuh. Akan namun , mengapa Tuhan membiarkan bencana itu terjadi?
Bukankah mereka dipulangkan sebab ketaatan kepada-Nya, namun
mengapa negeri itu harus pula menderita sebab ketaatan? Tentulah
jalan Tuhan melalui laut! Bukankah nabi tadi telah mengatakan bahwa
Tuhan tidak menyertai anak-anak Efraim, namun mengapa mereka
dibiarkan menang atas Yehuda? Tidak diragukan, dalam hal ini Tuhan
bermaksud menghukum kota-kota Yehuda itu sebab menyembah
berhala. Penyembahan berhala paling banyak terjadi di daerah yang ter-
letak bersebelahan dengan Israel. Orang Israel telah menyerongkan
Yehuda, dan sekarang orang Israel itu dijadikan tulah bagi mereka. Iblis
itu menggoda sekaligus menyiksa.
Amazia Menyembah Berhala
(25:14-16)
14 Ketika Amazia kembali, setelah mengalahkan orang-orang Edom itu, ia mendirikan para
Tuhan bani Seir, yang dibawanya pulang, sebagai Tuhan nya. Ia sujud menyembah kepada
Tuhan -Tuhan itu dan membakar korban untuk mereka. 15 Maka bangkitlah murka TUHAN
terhadap Amazia; Ia menyuruh seorang nabi kepadanya yang berkata: “Mengapa engkau
mencari Tuhan sesuatu bangsa yang tidak dapat melepaskan bangsanya sendiri dari
tanganmu?” 16 Waktu nabi sedang berbicara, berkatalah Amazia kepadanya: “Apakah
kami telah mengangkat engkau menjadi penasihat raja? Diamlah! Apakah engkau mau
dibunuh?” Lalu diamlah nabi itu setelah berkata: “Sekarang aku tahu, bahwa Tuhan telah
460
menentukan akan membinasakan engkau, sebab engkau telah berbuat hal ini, dan tidak
mendengarkan nasihatku!”
Pada perikop di atas, terdapat
I. Amazia memberontak terhadap Tuhan Israel dan beralih kepada para ilah
orang Edom. Kebodohan yang mengerikan! Raja Ahas menyembah para Tuhan
orang Damsyik yang telah mengalahkan dia, dan ini cukup beralasan bagi dia
(28:23). Akan namun , menyembah para Tuhan dari bangsa yang telah
ditaklukan, berhala yang tidak sanggup melindungi pemujanya sendiri,
yaitu kekonyolan terbesar yang ada. Apa yang dilihat Amazia pada para
ilah bani Seir sehingga ia tergoda untuk mendirikan para Tuhan yang
dibawanya pulang, sebagai Tuhan nya dan sujud menyembah kepada Tuhan -
Tuhan itu (ay. 14)? Seandainya berhala-berhala itulah yang ia lemparkan dari
tebing dan dihancurkan, dan bukannya 10.000 tawanan itu, maka tentulah ia
lebih menunjukkan kesalehan dan belas kasihan seorang Israel. Namun,
mungkin sebab tindakan kejinya yang tidak berperikemanusiaan itulah ia
diserahkan ke dalam kebodohan penyembahan berhala ini.
II. Teguran Tuhan kepada Amazia atas dosanya yang Dia kirimkan lewat seorang
nabi. Bangkitlah murka TUHAN terhadap Amazia, dan murka itu adil adanya.
Namun, sebelum mengirimkan kehancuran kepada Amazia, Tuhan berusaha
menginsafkan dan mendapatkannya kembali, supaya mencegah
kebinasaannya. Sang nabi berkata-kata kepadanya dengan baik-baik dan
sangat lembut: “Mengapa engkau mencari Tuhan sesuatu bangsa yang tidak
dapat melepaskan bangsanya sendiri dari tanganmu?” (ay. 15). Jika orang
mau sungguh mempertimbangkan ketidakberdayaan segala berhala itu
dalam menolong mereka saat mereka meninggalkan Tuhan , maka mereka
tidak akan menjadi musuh bagi dirinya sendiri.
III. Amazia mengecam si penegur (ay. 16). Ia tidak dapat memberi alasan apa
pun untuk membenarkan kebodohannya. Teguran itu terlalu benar untuk
dibantah. Jadi ia berbalik murka terhadap nabi yang menegurnya itu.
1. Ia mengatainya kurang ajar dan kelewatan, ikut campur dalam perkara
yang bukan urusannya: Apakah kami telah mengangkat engkau menjadi
penasihat raja? Tidak adakah kata-kata yang lebih baik dibandingkan itu,
sampai ia harus dikatai mencuri tugas seorang penasihat pribadi? Akan
namun , sebagai nabi, sesungguhnya dia memang dijadikan penasihat raja
oleh sang Raja segala raja, maka raja terikat kewajiban bukan hanya
untuk mendengarkannya, namun juga meminta nasihatnya.
Kitab 2 Tawarikh 25:1-13
461
2. Amazia menyuruh nabi itu diam, melarang dia mengatakan apapun
kepadanya. Ia mengatakan kepada para tukang tilik: “Jangan menilik,”
(Yes. 30:10). Orang senang mengendalikan nabi mereka, yaitu
membuatnya mengatakan apa yang mereka kehendaki, pada waktu yang
mereka inginkan, bukan sebaliknya.
3. Amazia mengancam nabi itu: “Apakah engkau mau dibunuh?
Tanggunglah sendiri resikomu jika engkau berbicara sepatah kata pun
lagi mengenai perkara ini.” Kelihatannya, Amazia mengingatkan nabi itu
tentang nasib Zakharia dalam pemerintahan terakhir, yang dihukum
mati sebab berani menegur raja. sebab itu ia menyuruh sang nabi
memperhatikan peringatannya itu. Dengan demikian, lewat ancaman itu
berarti Amazia membenarkan pembunuhan nabi Zakharia, sehingga
sebagai akibatnya ia berdosa terhadap darah kedua nabi itu. Ia
mendengarkan nabi yang menyuruh dia memulangkan tentara Israel dan
mau diperintah oleh nabi itu meski hal itu bertentangan dengan
rencananya dan membuat ia rugi seratus talenta (ay. 10). Namun,
terhadap nabi yang menghalanginya menyembah para ilah Edom ini,
Amazia menghadapinya dengan murka yang tidak terperi, yang tentu
disebabkan oleh sihir penyembahan berhala. Amazia dengan mudah
dapat dibujuk untuk melepaskan uang peraknya, namun sama tidak bisa
dipisahkan dari berhala peraknya.
IV. Kebinasaan yang disampaikan oleh sang nabi kepada Amazia atas dosa
tersebut. Nabi itu ingin berkata-kata lebih lanjut dengan bimbingan dan
nasihat, namun setelah melihat Amazia berkeras hati dalam kesalahannya, ia
pun menahan diri. Sang raja bersekutu dengan berhala-berhala, biarkanlah
dia (Hos. 4:17). Betapa menyedihkan keadaan orang yang tentangnya
dikatakan melalui para hamba Tuhan dan hati nuraninya sendiri, “Roh-Ku
tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam dia” (Kej. 6:3). Dua orang
penegur, baik yang di pintu gerbang maupun yang di dalam hati, jika lama
ditekan dan dikekang, pada akhirnya akan undur diri. Jadi, Aku membiarkan
dia dalam kedegilan hatinya. Bagi orang berdosa yang merasa aman-aman
saja, mungkin membungkam para penegur dan pengawas serta
menyingkirkan mereka dianggap sebagai suatu prestasi yang mulia dan
menyenangkan hati. Akan namun , apa hasilnya? “Sekarang aku tahu, bahwa
Tuhan telah menentukan akan membinasakan engkau. Jelas sudah, bahwa
engkau telah ditetapkan untuk kehancuran, sebab engkau telah berbuat hal
ini, dan tidak mendengarkan nasihatku!” Barang siapa menutup telinga
462
terhadap teguran, ia sedang melangkah cepat menuju kehancuran (Ams.
29:1).
Kematian Amazia
(25:17-28)
17 Kemudian Amazia, raja Yehuda, mengadakan perundingan, lalu menyuruh orang
kepada Yoas bin Yoahas bin Yehu, raja Israel, mengatakan: “Mari kita mengadu tenaga!” 18
namun Yoas, raja Israel, menyuruh orang kepada Amazia, raja Yehuda, mengatakan: “Onak
yang di gunung Libanon mengirim pesan kepada pohon aras yang di gunung Libanon,
bunyinya: Berikanlah anakmu wanita kepada anakku laki-laki menjadi isterinya.
namun binatang-binatang hutan yang ada di gunung Libanon itu berjalan lewat dari sana,
lalu menginjak onak itu. 19 Pikirmu, engkau sudah mengalahkan Edom, sebab itu hatimu
mengangkat-angkat dirimu untuk mendapat kehormatan. Sekarang, tinggal saja di rumah.
Untuk apa engkau menantang malapetaka, sehingga engkau jatuh dan Yehuda bersama-
sama engkau?” 20 namun Amazia tidak mau mendengarkan; sebab hal itu telah ditetapkan
Tuhan yang hendak menyerahkan mereka ke dalam tangan Yoas, sebab mereka telah
mencari Tuhan orang Edom. 21 Sebab itu majulah Yoas, raja Israel, lalu mengadu tenagalah
mereka, ia dan Amazia, raja Yehuda, di Bet-Semes yang termasuk wilayah Yehuda. 22
Yehuda terpukul kalah oleh Israel, sehingga masing-masing lari ke kemahnya. 23 Yoas, raja
Israel, menangkap Amazia, raja Yehuda, anak Yoas bin Yoahas, di Bet-Semes. Lalu Yoas
membawa dia ke Yerusalem. Ia membongkar tembok Yerusalem dari Pintu Gerbang
Efraim sampai ke Pintu Gerbang Sudut, empat ratus hasta panjangnya. 24 Sesudah itu ia
mengambil segala emas dan perak dan segala perkakas yang terdapat dalam rumah Tuhan
dan yang berada di bawah pengawasan keluarga Obed-Edom, juga perbendaharaan istana
raja dan orang-orang sandera, kemudian pulanglah ia ke Samaria. 25 Amazia bin Yoas, raja
Yehuda, masih hidup lima belas tahun lamanya sesudah Yoas bin Yoahas, raja Israel, mati.
26 Selebihnya dari riwayat Amazia, dari awal sampai akhir, bukankah semuanya itu
tertulis dalam kitab raja-raja Yehuda dan Israel? 27 Sejak Amazia menjauhi TUHAN, orang
mengadakan persepakatan melawan dia di Yerusalem, sebab itu larilah ia ke Lakhis.
namun mereka menyuruh mengejar dia ke Lakhis, lalu dibunuhlah ia di sana. 28 Ia
diangkut dengan kuda, lalu dikuburkan di samping nenek moyangnya di kota Daud.
Sang raja yang bobrok akhlaknya itu dipermalukan oleh tetangganya dan
dibunuh oleh rakyatnya sendiri.
I. Belum pernah ada raja angkuh dipermalukan sejadi-jadinya seperti Amazia
dipermalukan oleh Yoas, raja Israel.
1. Bagian cerita ini (yang seluruhnya diambil dari 2 Raja-raja 14:8 seperti
adanya di sini) berisikan tantangan bodoh yang dikirim Amazia kepada
Yoas (ay. 17), jawaban Yoas yang congkak dan menghina (ay. 18),
disertai saran bersahabat supaya Amazia tinggal diam saja baik-baik (ay.
19). Dilanjutkan dengan Amazia yang sengaja bersikeras dengan tan-
tangannya (ay. 20-21), kekalahan yang dideritanya (ay. 22), dan mala-
petaka yang ia datangkan kepada dirinya sendiri serta kotanya (ay. 23-
24). Hal ini membuktikan dua amsal Salomo:
Kitab 2 Tawarikh 25:1-13
463
(1) Keangkuhan merendahkan orang (Ams 29:23). Keangkuhan Amazia
mendahului kehancurannya. Kehancuran itu bukan hanya sebagai
hasil yang didapat akibat keangkuhan, namun sering kali juga terjadi
segera. Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan.
(2) Orang yang terburu-buru membuat perkara pengadilan akan
kehilangan akal apa yang harus ia lakukan pada akhirnya, ketika
sesamanya telah mempermalukan dia (Ams. 25:8). Barang siapa
menyukai pertikaian akan merasakan akibatnya lebih cepat dibandingkan
yang ia duga.
2. Ada dua bagian dalam cerita ini yang tidak tertulis dalam Kitab Raja-raja
sebelumnya.
(1) Amazia mengadakan perundingan sebelum menantang raja Israel
(ay. 17). Berunding dengan siapa? Bukan dengan nabi, sebab ia tidak
diangkat menjadi penasihat raja, melainkan dengan para pejabatnya
yang senang menyanjung-nyanjung dia dan membujuknya untuk
maju dan menang. Meminta nasihat yaitu hal yang baik, namun
harus dengan orang-orang yang tepat untuk memberi nasihat.
Barang siapa tidak menerima nasihat dari firman Tuhan yang menun-
tun dalam kebenaran, dengan adil akan dibiarkan mengikuti nasihat
buruk dari orang-orang yang menuntun mereka kepada kebinasaan.
Barang siapa tidak mau berhikmat, biarlah ia menjadi bodoh.
(2) Kelalaian Amazia mendatangkan hukuman atas ketidaktaatannya
(ay. 20): hal itu telah ditetapkan Tuhan . Tuhan membiarkan Amazia
bertindak bodoh, sehingga ia dan rakyatnya diserahkan ke dalam
tangan musuh mereka, sebab mereka telah meninggalkan Tuhan dan
mencari Tuhan orang Edom. Barang siapa tidak mau dinasihati untuk
berbuat baik bagi jiwanya sendiri, dengan adil akan dibiarkan
melakukan pertimbangannya sendiri untuk berbuat jahat terhadap
dirinya sendiri, bahkan untuk urusan-urusan lahiriahnya.
II. Belum pernah ada raja yang begitu malang, diburu dengan ganas oleh
rakyatnya sendiri. Sejak Amazia menjauhi Tuhan (ay. 27), hati rakyatnya pun
menjauhi dia dan mereka mulai menyusun rencana melawannya di
Yerusalem. Kemungkinan, kegusaran rakyat terhadap raja mereka itu lebih
disebabkan sebab ia dengan gegabah berperang melawan Israel, bukan
sebab ia menyembah berhala-berhala Edom. Namun, pada akhirnya per-
golakan rakyat menjadi sangat besar, dan Amazia melihat bahwa persekong-
kolan sudah semakin dalam sehingga ia merasa perlu keluar dari kota
464
kerajaannya dan melarikan diri ke Lakhis. Mungkin ia mencari tempat sepi
di sana untuk bersembunyi, atau mencari sebuah tempat berkubu untuk
berlindung. Namun, rakyat menyuruh orang mengejar dia ke sana dan
membunuhnya di situ. Dengan tindakan ini, pembunuhan Amazia
tampaknya dilakukan dengan sengaja dan bukan merupakan perbuatan satu
atau dua orang hamba yang murka, melainkan oleh sekumpulan besar orang
dengan berani dan terang-terangan. Betapa pun fasiknya mereka dalam hal
ini, Tuhan itu adil.
PASAL 26
asal ini memberikan catatan tentang pemerintahan Uzia yang di dalam Kitab
Raja-Raja disebut Azarya, lebih lengkap dibandingkan catatan sebelumnya.
Meskipun panjang dan dalam beberapa mengandung kisah-kisah terkenal,
namun pemerintahan ini sangat ringkas disinggung dalam 2 Raja-raja 14:21 dan
15:1. Dalam 2 Tawarikh 26 ini, tercatat,
I. Sifat baik Uzia secara garis besar (ay. 1-5).
II. Keberhasilan besarnya dalam peperangan, pembangunan, dan semua
urusan kerajaannya (ay. 6-15).
III. Kelancangannya dalam menyerobot jabatan para imam, yang
sebab nya ia dihukum dengan penyakit kusta dan diasingkan (ay. 16-
21) sampai hari matinya (ay. 22-23).
Keberhasilan Uzia
(26:1-15)
1 Segenap bangsa Yehuda mengambil Uzia, yang masih berumur enam belas tahun dan
menobatkan dia menjadi raja menggantikan ayahnya, Amazia. 2 Ia memperkuat Elot dan
mengembalikannya kepada Yehuda, sesudah raja mendapat perhentian bersama-sama
dengan nenek moyangnya. 3 Uzia berumur enam belas tahun pada waktu ia menjadi raja
dan lima puluh dua tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah
Yekholya, dari Yerusalem. 4 Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti
yang dilakukan Amazia, ayahnya. 5 Ia mencari Tuhan selama hidup Zakharia, yang
mengajarnya supaya takut akan Tuhan . Dan selama ia mencari TUHAN, Tuhan membuat
segala usahanya berhasil. 6 Maka majulah ia berperang melawan orang-orang Filistin dan
membongkar tembok Gat, Yabne dan Asdod, lalu mendirikan kota-kota di sekitar Asdod
dan di lain-lain wilayah orang Filistin. 7 Tuhan menolongnya terhadap orang Filistin, dan
terhadap orang Arab yang tinggal di Gur-Baal, dan terhadap orang Meunim. 8 Orang-orang
Amon membayar upeti kepada Uzia. Namanya termasyhur sampai ke Mesir, sebab
kekuatannya yang besar. 9 Uzia mendirikan menara di Yerusalem di atas Pintu Gerbang
Sudut di atas Pintu Gerbang Lebak dan di atas Penjuru, serta mengokohkannya. 10 Ia
mendirikan juga menara-menara di padang gurun dan menggali banyak sumur, sebab
banyak ternaknya, baik di Dataran Rendah maupun di Dataran Tinggi. Juga ia mempunyai
petani-petani dan penjaga-penjaga kebun anggur, di gunung-gunung dan di tanah yang
P
468
subur, sebab ia suka pada pertanian. 11 Selain itu Uzia mem-punyai tentara yang sanggup
berperang, yang maju berperang dalam laskar-laskar menurut jumlah anak buah yang
dicatat oleh panitera Yeiel dan penata usaha Maaseya, di bawah pimpinan Hananya, salah
seorang panglima raja. 12 Kepala-kepala puak pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa itu
se-luruhnya berjumlah dua ribu enam ratus orang. 13 Di bawah pimpinan mereka terdapat
satu balatentara, terdiri dari tiga ratus tujuh ribu lima ratus orang yang gagah perkasa
dalam berperang, untuk membantu raja dalam menghadapi musuh. 14 Uzia
memperlengkapi seluruh tentara itu dengan perisai, tombak, ketopong, baju zirah, busur
dan batu umban. 15 Ia membuat juga di Yerusalem alat-alat perang, ciptaan seorang ahli,
yang dapat menembakkan anak panah dan batu besar, untuk ditempatkan di atas
menara-menara dan penjuru-penjuru. Nama raja itu termasyhur sampai ke negeri-negeri
yang jauh, sebab ia ditolong dengan ajaib sehingga menjadi kua.
Pada perikop di atas, tercatat dua hal mengenai Uzia:
I. Kesalehannya. Uzia tidaklah sangat menonjol atau giat dalam hal kesalehan,
namun ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN. Ia menjaga ibadah
kepada Tuhan agar tidak tercemar tepat seperti yang dilakukan Amazia,
ayahnya, dan ia lebih baik dibandingkan ayahnya sejauh, jauh lebih baik hingga
tidak ada alasan bagi kita untuk menduga ia akan menyembah berhala
seperti ayahnya, di hari-hari akhir hidupnya, ketika ia menjadi tinggi hati.
Dikatakan (ay. 5), ia mencari Tuhan selama hidup Zakharia, yang menurut
dugaan sebagian penafsir, yaitu putra Zakharia yang dibunuh oleh Yoas,
kakeknya. Zakharia yang ini yaitu orang yang memahami penglihatan-
penglihatan dari Tuhan , entah penglihatan yang dikaruniakan kepada dia
sendiri atau penglihatan para nabi sebelumnya. Zakharia sangat fasih dalam
nubuatan dan banyak vergaul dengan dunia atas. Ia cerdas, alim, seorang
yang baik, dan tampaknya sangat berpengaruh terhadap Uzia. Berbahagialah
orang-orang besar yang memiliki orang seperti itu di dekat mereka, dan
bersedia menerima nasihat dari mereka. namun malanglah orang yang
mencari Tuhan hanya ketika para penasihat seperti itu bersama mereka,
sementara ia sendiri tidak mencari Tuhan dari hatinya sendiri sehingga
dapat bertahan mencari Tuhan sampai akhir.
Kitab 2 Tawarikh 26:1-15
469
II. Keberhasilannya.
1. Secara umum, selama ia mencari TUHAN, dan memikirkan soal agama,
Tuhan membuat segala usahanya berhasil. Perhatikan,
(1) Yang akan berhasil hanyalah orang yang dibuat berhasil oleh Tuhan ,
sebab keberhasilan yaitu anugerah-Nya.
(2) Agama dan kesalehan berteman baik dengan keberhasilan lahiriah.
Banyak orang telah mengalami kenyataan ini dan mengakuinya,
bahwa selama mereka mencari Tuhan dan terus melakukan
kewajiban mereka, mereka berhasil, namun begitu mereka
meninggalkan Tuhan , maka sejak itu pula segala sesuatu tidak
berjalan mulus.
2. Berikut ini beberapa contoh keberhasilan Uzia:
(1) Ia berhasil dalam peperangan: Tuhan menolongnya (ay.7), dan ia pun
menang atas Filistin yaitu musuh bebuyutan umat Tuhan , dan
meruntuhkan benteng-benteng segala kota mereka, dan menaruh
pangkalan tentaranya di antara mereka (ay. 6). Orang Amon
diwajibkannya membayar upeti (ay. 8). Ia membuat semua tercengang
dan kagum terhadapnya.
(2) Ketenaran dan nama baiknya sangat besar. Namanya dirayakan di
seluruh negeri-negeri tetangga (ay. 8) sebagai nama yang baik, nama
untuk hal-hal yang baik bagi Tuhan dan rakyat yang baik. Inilah
kemasyhuran sejati dan membuat seseorang sungguh-sungguh
terhormat.
(3) Usaha pembangunannya. Sementara menggempur ke luar, Uzia tidak
melupakan pertahanan kerajaan di tanah airnya, ia mendirikan
menara di Yerusalem serta mengokohkannya (ay. 9). Banyak tembok
Yerusalem sudah dirobohkan pada zaman ayahnya, terutama di
bagian Pintu Gerbang Sudut. Namun, pengokohan terbaik yang ia
lakukan untuk Yerusalem yaitu ketaatannya untuk tetap dekat
dengan ibadah penyembahan kepada Tuhan : seandainya ayahnya
tidak mengabaikan hal ini, tembok Yerusalem tidak akan runtuh.
Sementara memperkuat kota, Uzia tidak melupakan wilayah
pedesaan, ia mendirikan juga menara-menara di padang gurun (ay.
10) untuk melindungi masyarakat desa dari serangan penjarah,
gerombolan orang yang kadang menakutkan dan merampok mereka,
seperti dalam 2 Tawarikh 21:16.
(4) Peternakan dan pertaniannya. Uzia banyak mengurusi peternakan
dan pertanian, mempekerjakan banyak orang, dan memperoleh
470
kekayaan besar dari usaha itu. Sebab, ia menikmati pekerjaan itu: ia
suka pada pertanian (ay. 10), dan kemungkinan ia sendiri yang
memeriksa urusan pertaniannya di pedesaan. Ia tidak merasa
terhina, melainkan beruntung turun ke desa, sebab pertanian itu
meningkatkan hasil di antara rakyatnya. yaitu suatu kehormatan
bagi para petani bahwa salah satu raja termasyhur dari keluarga
Daud mengerjakan dan menyukai pekerjaan itu. Uzia bukan
termasuk orang yang suka berperang. Ia juga tidak memuaskan diri
dengan hura-hura dan kesenangan, melainkan bergembira dalam
pekerjaan pertanian yang tulus dan tenang.
(5) Pasukan tentaranya yang siap tempur. Tampaknya ia memiliki dua
pasukan tentara yang siap.
[1] Tentara yang sanggup berperang untuk bergerak ke luar negeri.
Mereka ini maju berperang dalam laskar-laskar (ay. 11). Mereka
membawa jarahan dari negeri-negeri tetangga sebagai balasan
atas penyerangan yang begitu sering mereka lakukan atas
Yehuda.
[2] Pasukan lain sebagai pengawal dan pertahanan yang siap
melindungi negeri apabila diserang (ay. 12-13). Jumlah dan
kekuatan mereka sangatlah besar sehingga mereka gagah
perkasa dalam berperang. Tiada musuh yang berani menghadapi
mereka, atau setidaknya dapat bertahan di hadapan mereka.
Orang yang tidak bersenjata hanya bisa berperan sedikit dalam
pertempuran. Oleh sebab itu, Uzia memperlengkapi diri dengan
gudang persenjataan besar, untuk membekali tentaranya dengan
senjata penyerang dan pertahanan (ay. 14), perisai, tombak,
ketopong, baju zirah, busur dan batu umban. Pedang tidak
disebutkan, sebab kemungkinan setiap orang memiliki
pedangnya masing-masing yang selalu disandang setiap waktu.
Pada zamannya, diciptakan alat-alat perang berupa panah dan
tembakan batu-batu besar dari menara dan benteng-benteng
untuk menghadapi pengepung yang mengusik (ay.15). Alangkah
malangnya, perang dan perkelahian yang berasal dari hawa
nafsu manusia telah membuat orang-orang ahli terpaksa
memakai keterampilannya untuk menciptakan alat-alat
pembawa maut.
Kitab 2 Tawarikh 26:1-15
471
Dosa dan Hukuman Uzia
(26:16-23)
16 Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak.
Ia berubah setia kepada TUHAN, Tuhan nya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar
ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan. 17 namun imam Azarya mengikutinya dari
belakang bersama-sama delapan puluh imam TUHAN, orang-orang yang tegas; 18 mereka
berdiri di depan raja Uzia dan berkata kepadanya: “Hai, Uzia, engkau tidak berhak
membakar ukupan kepada TUHAN, hanyalah imam-imam keturunan Harun yang telah
dikuduskan yang berhak membakar ukupan! Keluarlah dari tempat kudus ini, sebab
engkau telah berubah setia! Engkau tidak akan memperoleh kehormatan dari TUHAN
Tuhan sebab hal ini.” 19 namun Uzia, dengan bokor ukupan di tangannya untuk dibakar
menjadi marah. Sementara amarahnya meluap terhadap para imam, timbullah penyakit
kusta pada dahinya di hadapan para imam di rumah TUHAN, dekat mezbah pembakaran
ukupan. 20 Imam kepala Azarya dan semua imam lainnya memandang kepadanya, dan
sesungguhnya, ia sakit kusta pada dahinya. Cepat-cepat mereka mengusirnya dari sana,
dan ia sendiri tergesa-gesa keluar, sebab TUHAN telah menimpakan tulah kepadanya. 21
Raja Uzia sakit kusta sampai kepada hari matinya, dan sebagai orang yang sakit kusta ia
tinggal dalam sebuah rumah pengasingan, sebab ia dikucilkan dari rumah TUHAN. Dan
Yotam, anaknya, mengepalai istana raja dan menjalankan pemerintahan atas rakyat
negeri itu. 22 Selebihnya dari riwayat Uzia, dari awal sampai akhir, ditulis oleh nabi Yesaya
bin Amos. 23 Kemudian Uzia mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek
moyangnya, dan ia dikuburkan di samping nenek moyangnya di ladang dekat pekuburan
raja-raja, sebab ia berpenyakit kusta, kata orang. Maka Yotam, anaknya, menjadi raja
menggantikan dia.
Inilah satu-satunya noda yang kita lihat pada nama Raja Uzia, dan yaitu bohong
jika aib ini tidak ada pada raja-raja lain. Persundalan, pembunuhan, penindasan,
penganiayaan, dan terkhusus penyembahan berhala menjadi ciri raja-raja yang
buruk dan beberapa di antaranya menodai raja-raja yang baik, tidak terkecuali
Daud sendiri dalam perkara Uria. Namun, kita tidak mendapati Uzia bersalah
atas satu pun dari aib di atas. Meski demikian, ia berubah setia kepada TUHAN,
Tuhan nya, dan akibatnya Tuhan tidak berkenan kepada dia, bukan dalam bentuk
perang atau pemberontakan yang menyulitkan, seperti yang menimpa raja-raja
lain, melainkan berupa penyakit yang tidak tersembuhkan.
I. Dosa Uzia yaitu menyerobot tempat pelayanan imam. Jalan yang benar
hanya satu, namun jalan potong ada banyak. Pelanggaran para raja
pendahulunya yaitu mengabaikan Bait Tuhan, pergi darinya (24:18), dan
membakar ukupan di atas mezbah-mezbah berhala (25:14). sedang
pelanggaran Uzia yaitu memasuki bait TUHAN lebih jauh dibandingkan yang
diperbolehkan baginya, dan ia bermaksud membakar ukupan di atas mezbah
pembakaran ukupan milik Tuhan . Mungkin ia ingin menunjukkan dirinya luar
biasa bersemangat dan menyayangi Bait Suci. Lihatlah, betapa sukarnya
menghindari suatu perbuatan yang berlebihan tanpa terjerumus ke dalam
perbuatan lain secara berlebihan.
472
1. Yang menjadi dasar dosa Uzia yaitu kesombongan hati, jenis hawa
nafsu yang lebih merusak ketimbang yang lainnya (ay. 16): Setelah ia
menjadi kuat sebab telah mendapat pertolongan ajaib dari
penyelenggaraan Tuhan yang baik hingga ia menjadi seperti itu (ay. 15),
dan ketika ia sudah menjadi sangat besar dan terkemuka dalam
kekayaan, kepentingan, dan kuasa, bukannya meninggikan nama Tuhan
dalam rasa syukur kepada Dia yang telah berbuat begitu banyak baginya,
Uzia malah menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak.
Demikianlah, kemakmuran orang-orang bodoh akan menggembungkan
mereka dengan keangkuhan sehingga hancur. Kini, setelah Uzia
melakukan begitu banyak urusan dan mendapatkan kehormatan begitu
besar, ia mulai berpikir bahwa tidak ada perkara, tiada kehormatan,
yang terlalu besar atau terlalu baik baginya. Tidak ada, bahkan jabatan
keimaman pun tidak. Merasa diri memiliki pengetahuan yang terlarang
dan menempatkan diri dalam hal-hal yang terlalu tinggi bagi mereka,
timbul sebab kesombongan dalam hati dan tanpa alasan membesar-
besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi.
2. Dosa Uzia yaitu memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan,
kemungkinan pada suatu hari perayaan resmi, atau ketika ia sendiri
hendak memohon perkenanan ilahi. Apa yang menyebabkan dia sampai
pada perbuatan yang lancang itu, atau yang merasuki pikirannya, saya
tidak tahu. Tiada satu pun pendahulunya, yang terbaik maupun yang
terburuk, pernah melakukan hal semacam itu. Ia sendiri tahu bahwa
hukum Taurat melarangnya dan tidak ada kebiasaan untuk melakukan
hal itu selama ini. Ia juga tidak bisa mengaku-aku punya keperluan
seperti ketika Daud memakan roti persembahan sajian.
(1) Mungkin Uzia berpikir bahwa para imam tidak melakukan tugas
jabatan mereka dengan cekatan, layak, dan penuh pengabdian
sebagaimana mestinya, dan bahwa dirinya bisa melakukannya
dengan lebih baik. Atau
(2) Uzia melihat bahwa para raja yang menyembah berhala membakar
sendiri ukupan di atas mezbah-mezbah berhala mereka. Ayahnya
melakukan itu, demikian pula Yerobeam (1Raj. 13:1). Mungkin
kehormatan yang mereka kejar, suatu kehormatan yang menggoda
mereka untuk meninggalkan Bait Tuhan , sebab mereka dilarang
melakukan hal demikian di sana. Dan Uzia yang sudah bulat hati
untuk mendekat ke mezbah Tuhan mau melanggar batasan tersebut
dan datang sedekat mungkin seperti yang dilakukan para raja
penyembah berhala dengan mezbah mereka. Namun, perbuatannya
Kitab 2 Tawarikh 26:1-15
473
itu disebut berubah setia kepada Tuhan, Tuhan nya. Uzia tidak puas
dengan segala kehormatan yang sudah Tuhan berikan kepadanya, dan
mau merebut apa yang dilarang baginya, sama seperti nenek moyang
pertama kita.
3. Dalam perbuatan itu, Uzia ditentang oleh para imam kepala dan imam
lainnya yang melayani dan membantu dia (ay. 17-18). Mereka sudah siap
membakar ukupan demi sang raja sesuai dengan kewajiban jabatan
mereka. Akan namun , ketika Uzia menawarkan diri untuk melakukannya
sendiri, dengan terus terang mereka mengatakan bahwa ia ikut campur
dalam sesuatu yang bukan bagiannya, dan ia akan menanggung
akibatnya. Para imam itu tidak mencegah Uzia dengan menggunakan
kekerasan, sekalipun mereka gagah perkasa, melainkan dengan
menyatakan alasan dan menunjukkan kepadanya bahwa,
(1) Tidak dibenarkan jika raja membakar ukupan, “Hai, Uzia, engkau
tidak berhak membakar ukupan! Hanyalah imam-imam keturunan
Harun yang telah dikuduskan yang berhak membakar ukupan.”
Harun dan anak-anaknya ditunjuk oleh hukum Taurat untuk
membakar ukupan (Kel. 30:7, Ul. 33:10 dan 1Taw. 23:13). Daud
memberkati rakyat, Salomo dan Yosafat juga berdoa dengan umat
dan berkhotbah. Mungkin Uzia pun sudah melakukannya dan hal itu
menjadi puji-pujian baginya. Namun, pembakaran ukupan yaitu
pelayanan yang hanya boleh dilakukan oleh para imam. Jabatan raja
dan imamat itu terpisah menurut hukum Musa, tidak dapat
disatukan selain dalam diri Sang Mesias. Jika Uzia memang sungguh
bermaksud menghormati Tuhan dan memperoleh perkenanan-Nya
dengan melakukan perbuatan itu, maka sesungguhnya ia sangat
melenceng dari tujuan, sebab pembakaran ukupan yaitu pelayanan
yang murni berasal dari ketetapan ilahi dan ia tidak bisa berharap
persembahan itu akan diterima kecuali jika dilakukan dengan cara
yang Tuhan tetapkan dan oleh orang yang Tuhan tunjuk.
(2) Tindakan itu berbahaya. Bukan saja Engkau tidak akan memperoleh
kehormatan dari TUHAN Tuhan , namun juga, “Perbuatan itu akan
menjadi aib bagimu, dan akibatnya sungguh hebat.” Hukum Taurat
jelas-jelas melarang semua orang asing datang mendekat (Bil. 3:10;
18:7), yaitu semua yang bukan imam. Korah dan kaki tangannya,
sekalipun orang Lewi, harus membayar mahal sebab membakar
ukupan, yang merupakan pekerjaan yang hanya boleh dilakukan
para imam (Bil. 16:35). Ukupan doa kita haruslah dengan iman
474
diletakkan dalam tangan Tuhan kita Yesus, sang Imam Besar Agung
yang kita akui, jika tidak, jangan berharap doa itu diterima oleh Tuhan
(Why. 8:3).
4. Uzia terbakar amarah terhadap para imam yang menegur dia, dan
bersikeras melakukan apa yang ia mau itu (ay. 19): Uzia menjadi marah
dan tidak mau melepaskan bokor ukupan di tangannya. Ia merasa sakit
hati ditegur, dan tidak mau dihalangi. Nitimur in vetitum – Kita
cenderung melakukan apa yang dilarang.
II. Hukuman atasnya yaitu kusta yang tidak tersembuhkan. Kusta itu timbul
pada dahinya selagi ia sedang berbantah dengan para imam. Seandainya ia
tunduk pada peringatan mereka, mengakui kesalahannya, dan berbalik,
semua akan baik-baik saja. Namun, sebab amarahnya meluap terhadap para
imam dan menyalahkan mereka, maka Tuhan pun murka terhadapnya dan
memukul dia dengan tulah penyakit kusta. Yosefus, sejarawan Yahudi,
mengatakan bahwa Uzia mengancam akan membunuh para imam jika
mereka menentangnya, maka bumi pun berguncang, atap Bait Suci terbuka,
dan melalui celah retakannya, secercah sinar matahari menyorot langsung
ke wajah raja, dan di situlah kusta langsung muncul. Ada dugaan bahwa
ketika itulah terjadi gempa bumi pada zaman Uzia seperti yang tertulis
dalam Amos 1:1 dan Zakharia 14:5. Jadi, pukulan mendadak itu,
1. Mengakhiri pertikaian antara Uzia dan para imam, sebab ketika kusta itu
muncul, mereka berani mengusir dia keluar dari Bait Suci, bahkan ia
sendiri tergesa-gesa keluar, sebab Tuhan telah menimpakan tulah
kepadanya, penyakit yang merupakan tanda bahwa Tuhan tidak berkenan.
Lagi pula, ia sendiri tahu bahwa kusta membuatnya terasing dari
pergaulan biasa dengan manusia, terlebih lagi dari mezbah Tuhan . Ia tidak
mau diinsafkan oleh apa yang dikatakan imam, maka Tuhan mengambil
jalan yang berhasil meyakinkan dia. Jika orang-orang yang lancang tidak
bisa disadarkan akan kesalahan mereka lewat penghakiman dari mulut
Tuhan , maka mereka akan disadarkan lewat penghakiman oleh tangan-
Nya. Reaksi Uzia memperlihatkan bahwa hatinya takut akan Tuhan ,
bahkan di tengah pelanggarannya, sebab begitu melihat bahwa Tuhan
murka kepadanya, ia bukan hanya menghentikan usahanya, namun juga
mundur dengan segera. Meskipun melawan para imam, Uzia tidak mau
melawan Penciptanya.
2. Kusta itu menjadi hukuman yang terus ada atas pelanggarannya, sebab
ia tetap sakit kusta sampai kepada hari matinya, terkurung dalam
Kitab 2 Tawarikh 26:1-15
475
pengasingan, terkucil dari masyarakat, dan terpaksa menyerahkan
segala urusannya kepada putranya (ay. 21). Demikianlah Tuhan memberi
contoh tentang bagaimana ia menentang orang congkak dan tentang
kecemburuan-Nya mempertahankan kesucian dan kehormatan semua
ketetapan-Nya. Dengan begitu, Dia memberi peringatan yang adil, bah-
kan kepada orang besar dan orang baik agar mereka tahu dan menjaga
jarak serta tidak menerobos ke dalam hal-hal yang belum pernah
mereka lihat. Dengan demikian pula, Tuhan memberikan panggilan yang
nyaring dan terus-menerus kepada Uzia agar bertobat, juga ruang yang
banyak untuk bertobat, sehingga ada alasan bagi kita untuk
mengharapkan dia menjadi lebih baik. Selama ini Uzia menjadi orang
yang sangat sibuk dengan banyak urusan di dunia, namun sekarang, de-
ngan dipisahkan dari semua urusan itu dan dikurung dalam rumah
pengasingan, ia memiliki waktu luang untuk memikirkan dunia yang lain
dan mempersiapkan diri untuk itu. Melalui penghakiman terhadap Raja
Uzia itu, Tuhan bertujuan membuat umat menghormati Bait Suci, jabatan
imamat, dan benda-benda kudus lain, sebab selama itu mereka
cenderung meremehkan semuanya itu. Saat raja menderita kusta, ia
sama seperti orang mati, ia mati selagi masih hidup, dan terkubur hidup-
hidup. Jadi, hukum Taurat pun tergenapi, yaitu bahwa orang asing yang
datang mendekat harus dihukum mati. Aib Uzia hidup lebih lama
dibandingkan dirinya, sebab ketika ia mati, orang tidak menguburkannya di
pekuburan raja-raja, sebab ia sakit kusta, yang menodai seluruh
keagungannya yang lain.
3. Hukuman itu menjawab dosanya seperti muka bertemu muka dalam
cermin.
(1) Akar pelanggaran Uzia ialah kesombongan, maka Tuhan merendahkan
dia dan menimpakan cela kepadanya.
(2) Ia menyerobot tempat dan jabatan imam dengan meremehkan
mereka, maka Tuhan melanda dia dengan penyakit yang
menjadikannya tunduk pada penghakiman dan hukuman para imam,
sebab merekalah yang berhak memberikan penghakiman tentang
penyakit kusta (Ul. 24:8).
(3) Uzia memaksa masuk ke dalam Bait Tuhan , di mana hanya imam yang
diperbolehkan, maka ia pun diusir keluar bahkan dari pelataran Bait
Suci, tempat yang bahkan bisa dimasuki oleh rakyatnya yang terhina
sekalipun, asalkan tahir.
476
(4) Uzia melawan para imam yang menegurnya dan menentang
kepongahannya, sebab itu kusta timbul pada dahinya. Hal ini seperti
pada kasus Miriam, yang diludahi mukanya oleh ayahnya (Bil. 12:14).
(5) Uzia melanggar martabat keimaman yang tidak berhak baginya,
maka ia pun dicabut dari martabat kerajaannya yang merupakan
haknya. Barang siapa mengingini kehormatan yang terlarang akan
kehilangan kehormatan yang diizinkan baginya. Adam, dengan
makan dari buah pohon pengetahuan yang terlarang baginya,
menjadi terhalang dari pohon kehidupan yang sebelumnya boleh ia
makan. Maka hendaklah semua orang yang membaca ini berkata,
“Tuhan itu adil.”
PASAL 27
i sini terdapat uraian sangat singkat perihal pemerintahan Yotam, seorang
raja yang saleh dan sangat berhasil, sehingga orang ingin tahu lebih
banyak mengenai dirinya. Namun, mungkin kita sebaiknya mengabaikan
singkatnya kisah mengenai dirinya, sebab hal yang memperpanjang sejarah
ketiga raja terakhir yaitu kemerosotan mereka, yang diceritakan dengan
panjang lebar. Tidak ada kisah pilu seperti itu dalam sejarah pemerintahan ini,
dan sebab nya hanya berisi catatan tentang,
I. Masa dan kelanjutan pemerintahan ini (ay. 1-8).
II. Sifat umum yang baik tentang pemerintahannya (ay. 2, 6).
III. Keberhasilannya (ay. 3-5).
IV. Lama pemerintahannya (ay. 7, 9).
Pemerintahan Yotam
(27:1-9)
1 Yotam berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan enam belas tahun
lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Yerusa, anak Zadok. 2 Ia
melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Uzia, ayahnya,
hanya ia tidak memasuki Bait TUHAN. namun rakyat masih saja melakukan hal yang
merusak. 3 Ia mendirikan Pintu Gerbang Tinggi di rumah TUHAN dan mengadakan
banyak pembangunan pada tembok Ofel. 4 Ia mendirikan juga kota-kota di pegunungan
Yehuda dan benteng-benteng serta menara-menara di hutan-hutan. 5 Ia berperang me-
lawan raja bani Amon dan mengalahkannya, sehingga pada tahun itu juga bani Amon
membayar kepadanya seratus talenta perak, sepuluh ribu kor gandum dan sepuluh ribu
kor jelai. Juga pada tahun kedua dan ketiga bani Amon membawa upeti itu kepadanya. 6
Yotam menjadi kuat, sebab ia mengarahkan hidupnya kepada TUHAN, Tuhan nya. 7
Selebihnya dari riwayat Yotam, segala peperangan dan tingkah langkahnya,
sesungguhnya semuanya itu tertulis dalam kitab raja-raja Israel dan Yehuda. 8 Ia berumur
dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan enam belas tahun lamanya ia
memerintah di Yerusalem. 9 Kemudian Yotam mendapat perhentian bersama-sama nenek
moyangnya, dan ia dikuburkan di kota Daud. Maka Ahas, anaknya, menjadi raja
menggantikan dia.
D
480
Di sini tidak begitu banyak diceritakan tentang Yotam dibandingkan dengan
yang sudah kita baca sebelum ini di dalam Kitab 2 Raja-raja 15:32 dan
seterusnya.
I. Ia menjalankan pemerintahan dengan baik. Ia melakukan apa yang benar di
mata TUHAN. Caranya bertindak dalam pemerintahan juga baik serta
menyenangkan bagi Tuhan . Perkenanan-Nya menjadi tujuan Yotam, dan
firman-Nya menjadi peraturannya, yang menunjukkan bahwa ia bertindak
berdasarkan asas yang baik. Ia mengarahkan hidupnya kepada TUHAN,
Tuhan nya (ay. 6). Artinya, ia menjalani hidup dengan sangat hati-hati dan
waspada, berusaha menjauhi kejahatan serta menginginkan hal yang baik. Ia
memandang ke depan, dan menempatkan semua urusannya dalam keadaan
serta urutan sedemikian rupa sehingga pelaksanaannya menjadi lebih
mudah. Ia mengukuhkan atau meneguhkan cara-caranya di hadapan TUHAN.
Artinya, ia senantiasa tetap berjalan sesuai kewajibannya, setia dan bulat
hati dalam menjalaninya. Ia tidak seperti beberapa raja sebelum dia, yang
meskipun memiliki beberapa sifat baik di dalam diri mereka, telah
kehilangan kehormatan mereka akibat sikap mereka yang tidak teguh dan
suka menyimpang dari apa yang sudah diputuskan. Mereka telah
menjalankan pemerintahan dengan baik, namun sesuatu telah menghambat
mereka. Tidak demikian halnya dengan Yotam. Di sini terdapat dua hal yang
diamati berkaitan dengan tabiatnya:
1. Apa yang tidak terdapat pada diri ayahnya, diperbaiki olehnya dalam
dirinya sendiri (ay. 2): Ia berbuat tepat seperti yang dilakukan Uzia,
ayahnya, dengan baik dan bijaksana. Namun ia tidak mau meniru
perbuatan sang ayah yang keliru, sebab ia tidak memasuki Bait TUHAN
untuk membakar pedupaan seperti yang dilakukan ayahnya itu.
Sebaliknya, ia belajar dari peringatan itu agar tidak coba-coba
melakukan hal lancang semacam itu. Perhatikanlah, janganlah kita
meniru orang-orang terbaik sekalipun, dan orang-orang yang paling kita
hormati lebih dari perbuatan baik yang mereka lakukan. Sebaliknya,
hendaklah kejatuhan mereka berikut akibat-akibatnya yang merugikan
menjadi peringatan bagi kita untuk hidup menurut jalan-jalan dengan
lebih berhati-hati, supaya kita tidak jatuh sebab batu sandungan yang
telah membuat mereka terjatuh.
2. Kekeliruan rakyatnya tidak berhasil diperbaikinya: namun rakyat masih
saja melakukan hal yang merusak. Boleh jadi hal ini mencerminkan
kesalahannya juga, sebab kekurangan di pihaknya dalam mengadakan
pembaharuan di negerinya. Orang bisa saja sangat baik dalam dirinya
Kitab 2 Tawarikh 27:1-9
481
sendiri, namun tidak memiliki keberanian dan semangat untuk
melakukan hal yang dapat membaharui hidup orang lain. Bagaimanapun,
hal ini jelas mencerminkan kesalahan rakyat, sebab mereka tidak
melakukan seperti seharusnya dengan memanfaatkan berbagai
keuntungan dari pemerintahan sebaik itu. Mereka telah diberi petunjuk
yang sangat baik dan juga teladan yang baik, namun mereka tidak mau
dibaharui. Dengan demikian, bahkan di bawah pemerintahan raja-raja
yang baik dan juga yang jahat, mereka menimbun murka atas diri mereka
sendiri pada hari murka, sebab mereka masih saja berlaku buruk, dan
sia-sia saja orang melebur terus-menerus.
II. Yotam sangat berhasil, dan benar-benar termashur namanya.
1. Ia membangun, dan memulai dengan Pintu Gerbang Tinggi di rumah
TUHAN, yang ia perbaiki, perindah, dan tegakkan. Setelah itu ia
mengadakan banyak pembangunan pada tembok Ofel dan mendirikan
juga kota-kota di pegunungan Yehuda (ay. 3-4). Ia memperkuat
negerinya dengan benteng dan melengkapinya sedapat mungkin.
2. Ia menaklukkan. Ia menang atas orang Amon, yang menyerbu Yehuda
pada zaman pemerintahan Yosafat (20:1). Ia mengalahkan mereka, dan
menarik upeti dalam jumlah besar dari mereka (ay. 5). Ia menjadi kuat
(ay. 6), baik dalam kekayaan, kekuasaan, maupun pengaruh atas bangsa-
bangsa di sekitarnya yang ingin bersahabat dengannya dan takut kepada
amarahnya. Dan semuanya ini ia peroleh dengan cara mengarahkan
hidupnya kepada TUHAN, Tuhan nya. Semakin teguh kita dalam
menjalankan agama, maka semakin kuat pula kita dalam melawan apa
yang jahat dan melaksanakan apa yang baik.
III. Yotam mengakhiri hidupnya dalam waktu terlampau singkat, namun
mengakhirinya dengan kehormatan. Ia mengalami kemalangan sebab mati
di tengah masa kejayaannya. Namun untuk mengimbangi hal itu, ia bahagia
sebab tidak hidup lebih lama dibandingkan nama baiknya, seperti ketiga
pendahulunya. Ia mati ketika usianya baru menginjak empat puluh satu
tahun (ay. 8). Namun, segala peperangan dan tingkah langkahnya, peperang-
an di luar negeri dan tingkah lakunya di dalam negeri, begitu gemilang
hingga dicatat di dalam kitab raja-raja Israel dan juga raja-raja Yehuda (ay.
7). Kata-kata terakhir dalam pasal ini sangatlah memilukan, sebab
menyampaikan kepada kita bahwa Ahas, anaknya yang tabiatnya dalam
segala hal bertolak belakang dengan Yotam, menjadi raja menggantikan dia.
Ketika kekayaan dan kekuasaan yang telah digunakan orang-orang bijaksana
482
demi kebaikan berpindah ke tangan orang-orang bodoh, hal itu sungguh
menyakiti hati mereka, sangat diratapi, sangat disesali.
PASAL 28
asal ini merupakan sejarah pemerintahan Ahas, anak Yotam.
Pemerintahannya sungguh buruk, sehingga turut menambah murka TUHAN.
Dalam pasal ini diceritakan tentang,
I. Kejahatannya yang luar biasa (ay. 1-4).
II. Masalah yang didatangkannya kepada dirinya sendiri sebagai
akibatnya (ay. 5-8).
III. Teguran yang diberikan Tuhan melalui seorang nabi kepada pasukan
Israel sebab menginjak-injak saudara-saudara mereka dari Yehuda,
dan ketaatan mereka terhadap teguran itu (ay. 9-15).
IV. Sejumlah besar bencana yang mengikuti Ahas dan rakyatnya (ay. 16-
21).
V. Berlanjutnya penyembahan berhala Ahas tanpa memedulikan semua
bencana itu (ay. 22-25), dan demikianlah kisah ini berakhir (ay. 26-27).
Kejahatan Ahas
(28:1-5)
1 Ahas berumur dua puluh tahun pada waktu ia menjadi raja dan enam belas tahun
lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia tidak melakukan apa yang benar di mata TUHAN
seperti Daud, bapa leluhurnya, 2 namun ia hidup menurut kelakuan raja-raja Israel, bahkan
ia membuat patung-patung tuangan untuk para Baal. 3 Ia membakar juga korban di Lebak
Ben-Hinom dan membakar anak-anaknya sebagai korban dalam api, sesuai dengan
perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah dihalaukan TUHAN dari depan orang Israel. 4 Ia
mempersembahkan dan membakar korban di bukit-bukit pengorbanan dan di atas
tempat-tempat yang tinggi dan di bawah setiap pohon yang rimbun.
5 Sebab itu TUHAN, Tuhan nya, menyerahkannya ke dalam tangan raja orang Aram. Mereka
mengalahkan dia dan menawan banyak orang dari padanya, yang diangkut ke Damsyik.
Kemudian ia diserahkan pula ke dalam tangan raja Israel dan mengalami kekalahan yang
besar.
P
484
Belum pernah ada orang yang memperoleh kesempatan lebih besar untuk
berbuat baik dibandingkan Ahas. Ia mendapati segala sesuatu dalam keadaan
baik. Kerajaan makmur dan kuat, serta agama telah dikukuhkan. Walau
demikian, dalam beberapa ayat ini kita mendapati dia,
1. Bertabiat buruk dan sangat rusak moralnya. Ia telah menerima pendidikan
dan contoh yang baik, namun para orangtua memang tidak dapat
memberikan kasih karunia kepada anak-anak mereka. Semua pengajaran
yang telah diterimanya itu tidak berpengaruh atasnya: Ia tidak melakukan
apa yang benar di mata TUHAN (ay. 1). Tidak, ia bahkan melakukan banyak
kesalahan. Kesalahan terhadap Tuhan , terhadap jiwanya sendiri, dan
terhadap rakyatnya. Ia hidup menurut jalan orang Israel yang memberontak
dan orang-orang Kanaan yang sangat gemar menyembah berhala. Ia
membuat patung-patung tuangan dan menyembahnya, bertolak belakang
dengan perintah Tuhan yang kedua. Ia bahkan membuat patung-patung itu
bagi Baal, bertolak belakang dengan perintah Tuhan yang pertama. Ia
mencampakkan rumah TUHAN dan mempersembahkan korban serta
membakar dupa di bukit-bukit pengorbanan, seolah-olah hal ini
membuatnya lebih dekat dengan sorga. Ia juga melakukannya di bawah
setiap pohon rimbun, seolah-olah pepohonan ini memberikan perlindungan
dan pengaruh sorga melalui naungannya. Untuk melengkapi kejahatannya,
sebagai orang yang sudah sepenuhnya melepaskan kasih sayang alami dan
agama, dan sepenuhnya mengabdikan diri untuk beribadah kepada musuh
besar umat manusia serta kepentingannya, Ahas membakar anak-anaknya
sebagai korban dalam api (ay. 3). Ia berpikir bahwa belumlah cukup bila ia
mempersembahkan anak-anaknya itu kepada iblis dari neraka dengan hanya
memaksa mereka berjalan menerobos api. Lihatlah betapa besar kekuasaan
penuh yang dimiliki penguasa udara atas orang-orang durhaka.
2. Secara mengenaskan Ahas dijarah dan dijadikan mangsa. Ketika ia
meninggalkan Tuhan dan dengan mengorbankan banyak hal menempatkan
diri di bawah perlindungan Tuhan -Tuhan palsu, maka Tuhan yang sebenarnya
yaitu Tuhan -nya yang sejati, menyerahkan dia ke tangan musuh-musuhnya.
(1) Orang Aram menghina dan menang atasnya, mengalahkan dia di medan
perang, serta menawan banyak orangnya ke dalam pembuangan.
(2) Walaupun juga merupakan penyembah berhala, raja Israel menjadi
bencana baginya. Ia pun mengalami kekalahan yang besar. Rakyat
menderita akibat penghukuman ini. Darah mereka tercurah, negeri
mereka menjadi tandus, dan keluarga mereka hancur. Ketika mereka
memiliki raja yang baik, meskipun mereka masih saja melakukan hal
Kitab 2 Tawarikh 28:1-5
485
yang merusak (27:2), namun kebaikan-Nya ketika itu masih menaungi
mereka. Namun sekarang ketika mereka memiliki raja yang jahat, maka
seluruh pertahanan telah meninggalkan mereka dan penghukuman pun
membanjiri mereka. Orang-orang yang masa bodoh dengan kebahagiaan
mereka dalam pemerintahan sebelumnya, sekarang diajar untuk
menghargai kebahagiaan itu melalui kesengsaraan dalam pemerintahan
ini.
Raja Israel mengalahkan Ahas
(28:6-15)
6 Sebab dalam sehari Pekah bin Remalya menewaskan di Yehuda seratus dua puluh ribu
orang, semuanya orang-orang yang tangkas, oleh sebab mereka telah meninggalkan
TUHAN, Tuhan nenek moyang mereka. 7 Dan Zikhri, pahlawan dari Efraim, membunuh
Maaseya, anak raja, Azrikam, kepala istana, dan Elkana orang kedua di bawah raja. 8
Orang Israel menawan dari saudara-saudaranya dua ratus ribu orang, yaitu wanita -
wanita serta anak-anak lelaki dan anak-anak wanita . Mereka merampas juga
banyak harta milik dari pada orang-orang itu, dan membawa rampasan itu ke Samaria. 9
namun di sana ada seorang nabi TUHAN yang bernama Oded. Ia pergi menemui tentara
yang pulang ke Samaria dan berkata kepada mereka: “Lihatlah, sebab kehangatan
murka-Nya kepada Yehuda, TUHAN, Tuhan nenek moyangmu, menyerahkan mereka ke
dalam tanganmu, dan kamu telah mengadakan pembunuhan di antara mereka dengan
kegeraman yang sampai ke langit. 10 Dan sekarang kamu bermaksud menaklukkan orang
Yehuda dan Yerusalem menjadi hambamu laki-laki dan wanita . Tidak adakah pada
kamu sendiri kesalahan yang besar terhadap TUHAN, Tuhan mu? 11 Maka sekarang,
dengarkanlah kataku ini: kembalikanlah orang-orang yang kamu tawan dari saudara-
saudaramu itu, sebab murka Tuhan menyala-nyala terhadap kamu.” 12 Lalu bangkitlah
beberapa pemimpin bani Efraim, yaitu : Azarya bin Yohanan, Berekhya bin Mesilemot,
Yehizkia bin Salum dan Amasa bin Hadlai menghadapi orang-orang yang pulang dari
perang, 13 dan berkata kepada mereka: “Jangan bawa tawanan-tawanan itu ke mari, sebab
maksudmu itu menjadikan kita bersalah terhadap TUHAN dan menambah dosa dan
kesalahan kita! Sudah cukup besar kesalahan kita, dan murka yang menyala-nyala telah
menimpa Israel.” 14 Lalu orang-orang yang bersenjata itu meninggalkan tawanan dan
barang-barang rampasannya di muka para pemimpin dan seluruh jemaah. 15 Dan orang-
orang yang ditunjuk dengan disebut namanya bangkit, lalu menjemput para tawanan itu.
Semua orang yang telanjang mereka berikan pakaian dari rampasan itu. Orang-orang itu
diberi pakaian, kasut, makanan dan minuman. Mereka diurapi dengan minyak dan semua
yang terlalu payah untuk berjalan diangkut dengan keledai, dan dibawa ke Yerikho, ke
kota pohon korma, dekat saudara-saudara mereka. Sesudah itu orang Israel itu pulang ke
Samaria.
Dalam perikop di atas kita mendapati,
I. Yehuda yang berkhianat ada di bawah hardikan penyelenggaraan Tuhan , dan
hardikan-Nya itu sungguh sangat keras. Belum pernah terjadi pertumpahan
darah sehebat itu sejak mereka menjadi sebuah kerajaan, dan dilakukan oleh
orang-orang Israel pula. Ahas hidup menurut jalan-jalan para raja Israel, dan
raja Israel dipakai Tuhan sebagai alat untuk melaksanakan penghukuman-
486
Nya. Sungguh adil bagi Tuhan untuk membuat orang-orang yang kita jadikan
teladan atau sekutu kita dalam dosa, menjadi tulah bagi kita. Perang pun
pecah di antara Yehuda dan Israel, dan di dalamnya Yehuda dikalahkan.
Sebab,
1. Banyak sekali orang gugur di medan perang. Sejumlah besar prajurit
yaitu 120.000 orang, para pahlawan yang gagah berani, terbunuh (ay. 6).
Beberapa dari mereka menduduki tingkatan paling tinggi, salah satunya
putra raja sendiri. Ahas telah mengorbankan beberapa putranya kepada
Molokh. Oleh sebab itu sudah sepantasnya putra yang satu ini
dikorbankan demi pembalasan dendam ilahi. Kemudian ada juga
sahabatnya, orang kedua di bawah raja, perdana menteri kerajaan, atau
mungkin juga yang mendampingi raja dalam pertempuran, sehingga raja
sendiri nyaris saja tidak lolos dari maut (ay. 7). Pada masa ini kerajaan
Israel sendiri belum kuat, namun cukup kuat untuk menghancurkan
Yehuda. Bagaimanapun, begitu banyak orang, orang-orang hebat, gagah
perkasa, tentu saja tidak dapat dibinasakan dalam satu hari apabila
mereka tidak secara aneh dibuat tawar hati, baik oleh tuduhan hati
nurani sendiri yang merasa bersalah maupun oleh tangan Tuhan yang adil
atas mereka. Bahkan orang-orang yang tangkas pun dianggap sebagai
domba-domba sembelihan, dan menjadi mangsa empuk bagi musuh
sebab mereka telah meninggalkan TUHAN, Tuhan nenek moyang mereka,
dan oleh sebab itu Ia telah meninggalkan mereka.
2. Orang Israel menawan banyak sekali wanita -wanita serta anak-
anak lelaki dan anak-anak wanita (ay. 8). Ketika pasukan tentara di
medan perang telah dibasmi, kota-kota besar maupun kecil dan desa-
desa dilucuti dengan mudah. Para penduduknya dibawa sebagai budak,
sedang harta mereka dirampas.
II. Bahkan Israel yang meraih kemenangan pun ditegur Tuhan , sebab mereka
berperang dengan Yehuda atas dasar hati yang jahat, dan menyalahgunakan
kemenangan mereka. Teguran ini menghasilkan kebaikan. Beginilah kita
temukan,
1. Pesan yang dikirimkan Tuhan lewat seorang nabi, yang keluar mendapati
orang Israel, bukan untuk memuji-muji kegagahberanian mereka atau
memberikan selamat atas kemenangan yang telah mereka raih,
meskipun mereka pulang membawa hasil jarahan dan kemenangan
gemilang. Sebaliknya, sang nabi menyampaikan kepada mereka dalam
Kitab 2 Tawarikh 28:1-5
487
nama Tuhan akan kesalahan mereka dan memperingatkan mereka akan
penghukuman-Nya.
(1) Nabi itu mengingatkan mereka bagaimana mereka bisa meraih
kemenangan yang sangat mereka banggakan itu. Hal itu terjadi
bukan sebab Tuhan berpihak kepada mereka, atau sebab mereka
memang pantas menerimanya dari tangan-Nya, melainkan sebab
kehangatan murka-Nya kepada Yehuda, sehingga Ia menjadikan
mereka sebagai alat untuk menyalurkan kemarahan-Nya terhadap
Yehuda. Bukan sebab jasa-jasamu atau sebab kebenaran hatimu,
hendaklah kalian tahu, melainkan sebab kefasikan bangsa-bangsa
itulah (Ul. 9:5), mereka dihalaukan dari hadapanmu. Oleh sebab itu,
janganlah kamu sombong, namun takutlah, supaya jangan sampai Ia
juga tidak akan menyayangkan kamu (Rm. 11:20-21).
(2) Nabi itu mendakwa mereka telah menyalahgunakan kuasa yang
diberikan Tuhan kepada mereka atas saudara-saudara mereka itu.
Orang tidak memahami makna kemenangan, jika mereka menyangka
bahwa dengan kemenangan itu mereka diberi wewenang untuk
berbuat sesuka hati, dan bahwa pedang yang terpanjang memiliki
hak paling jelas untuk menuntut nyawa dan harta (Jusque datum
sceleri – kekuatan yaitu hak). Tidak, sama seperti memanfaatkan
kemenangan tidaklah bijaksana, begitu pula menyalahgunakannya
bukanlah tindakan yang saleh. Di sini, para penakluk itu ditegur,
[1] Atas kekejaman mereka dalam membunuh di medan
pertempuran. Mereka benar-benar menumpahkan darah dalam
zaman damai seakan-akan ada perang. Kita bisa beranggapan
bahwa tindakan mereka tidak melanggar hukum, namun hal itu
terbukti merupakan dosa mereka, sebab mereka melakukannya
atas dasar hati yang jahat, yaitu kebencian terhadap saudara-
saudara sendiri dan juga dengan cara yang kejam, dengan
keganasan yang biadab, kegeraman yang sampai ke langit. Arti-
nya, kejahatan mereka itu berseru kepada Tuhan menuntut
pembalasan dendam terhadap orang-orang yang haus darah
seperti itu, yang bersuka dalam pembantaian ketika terjadi
perang. Apabila orang-orang melayani keadilan Tuhan dengan
amarah dan semangat membalas dendam, maka mereka
menjadikan diri sendiri menjijikkan dan kehilangan kehormatan
untuk bertindak bagi-Nya. Sebab amarah manusia tidak
mengerjakan kebenaran di hadapan Tuhan .
488
[2] Atas perlakuan semena-mena mereka terhadap para tawanan.
“Dan sekarang kamu bermaksud menaklukkan mereka,
memanfaatkan atau menjual mereka sebagai budak, meskipun
mereka sebenarnya saudara-saudaramu sendiri dan orang Israel
yang lahir sebagai orang merdeka.” Tuhan memperhatikan
maksud tujuan manusia, begitu pula apa yang mereka katakan
dan lakukan.
(3) Nabi itu mengingatkan mereka akan dosa-dosa mereka, yang
membuat mereka menjijikkan sehingga patut menerima murka
Tuhan : Tidak adakah pada kamu sendiri kesalahan yang besar
terhadap TUHAN, Tuhan mu? (ay. 10). Ia berseru kepada hati nurani
mereka, dan menyatakan bukti akan kejahatan kesalahan mereka.
“Meskipun kamu sekarang dijadikan alat untuk memperbaiki Yehuda
atas dosa mereka, namun janganlah berpikir bahwa oleh sebab itu
kamu sendiri tidak bersalah. Tidak. Kamu pun bersalah di hadapan
Tuhan .” Perkataan ini dimaksudkan sebagai teguran,
[1] Terhadap perlakuan mereka dalam merayakan keberhasilan
mereka. “Kamu semua pendosa, jadi tidak patut kamu berbangga
diri. Sekarang kamu memang menang, namun janganlah merasa
aman dulu. Roda akan berputar dan berbalik melindasmu. Sebab,
jika penghukuman jatuh ke atas orang-orang yang ada di rumah
Tuhan , bagaimana pula kesudahannya dengan para penyembah
anak lembu?”
[2] Terhadap kekejaman mereka kepada saudara-saudara mereka.
“Kamu telah menguasai mereka sekarang, namun kamu juga
harus berbelaskasihan kepada mereka, sebab kamu sendiri pun
akan binasa sekiranya kamu tidak mendapatkan belas kasihan
Tuhan . Sungguh tidak patut bagi para pendosa untuk bersikap
kejam. Kamu sendiri sudah punya banyak pelanggaran yang
harus kamu pertanggungjawabkan, jadi jangan menambah yang
satu ini lagi.”
(4) Nabi itu memerintahkan mereka untuk melepaskan para tawanan,
dan memulangkan mereka kembali dengan baik-baik (ay. 11):
“sebab kamu sendiri telah berbuat dosa, sehingga murka Tuhan
menyala-nyala terhadap kamu, dan tidak ada jalan lain untuk
menghindari murka-Nya itu selain kalian juga harus menunjukkan
belas kasihan kepada orang lain.”
Kitab 2 Tawarikh 28:1-5
489
2. Keputusan para pemimpin akibat peringatan itu untuk tidak menahan
para tawanan lagi. Mereka menghadapi orang-orang yang pulang dari
perang, meskipun bergelimang kemenangan, dan memberitahukan
mereka dengan terang-terangan agar tidak membawa para tawanan
mereka ke Samaria (ay. 12-13). Mereka sudah cukup banyak melakukan
dosa yang harus mereka pertanggungjawabkan, jadi jangan lagi
menambah-nambah pelanggaran mereka. Dengan sikap ini mereka
menemukan ketaatan terhadap firman Tuhan melalui nabi-Nya, dan rasa
belas kasih yang lembut terhadap saudara-saudara mereka, yang
dikerjakan dalam diri mereka oleh kasih setia Tuhan yang lembut. Tuhan
memperhatikan penderitaan umat yang malang ini, mendengar seruan
mereka, dan diberi-Nya mereka mendapat rahmat dari pihak semua
orang yang menawan mereka (Mzm. 106: 44, 46).
3. Kepatuhan para prajurit terhadap keputusan para pemimpin mengenai
hal ini, dan pembebasan para tawanan sebagai hasilnya.
(1) Meskipun bersenjata dan dengan demikian memiliki kekuatan, para
prajurit itu bisa saja mempertahankan hak mereka atas segala
sesuatu yang telah mereka peroleh melalui pedang. Namun mereka
setuju tanpa membantah, dan meninggalkan para tawanan dan hasil
jarahan mereka di hadapan para pemimpin (ay. 14). Dalam hal inilah
mereka lebih memperlihatkan kegagahberanian sejati dibanding
ketika mereka mendapatkan tawanan dan jarahan itu. Sungguh
merupakan kehormatan besar bagi siapa pun apabila ia tunduk pada
kekuasaan akal sehat dan agama dan mengesampingkan
kepentingannya sendiri.
(2) Dengan sangat bermurah hati, para pemimpin memulangkan para
tawanan malang itu, lengkap dengan persediaan yang sangat
memadai (ay. 15). Oleh sebab itu, orang-orang yang mengharapkan
belas kasihan Tuhan harus belajar bersikap lembut kepada orang-
orang yang bergantung pada belas kasihan mereka. Sungguh
mengherankan bagaimana para pemimpin yang dalam kejadian ini
menaruh rasa hormat sebesar itu kepada firman Tuhan , dan memiliki
pengaruh sedemikian kuat atas rakyat, ternyata tidak memiliki
kebesaran hati untuk menaati berbagai panggilan Tuhan melalui
begitu banyak nabi, supaya mereka membasmi habis penyembahan
berhala dari kerajaan mereka. Sangat menyedihkan, sebab tidak
lama setelah peristiwa ini, mereka semua binasa akibat
penyembahan berhala itu.
490
Kematian Ahas
(28:16-27)
16 Pada waktu itu raja Ahas menyuruh utusan kepada raja negeri Asyur untuk memohon
bantuan. 17 sebab orang Edom telah datang pula dan mengalahkan Yehuda serta
mengangkut tawanan-tawanan. 18 Orang-orang Filistin juga telah menyerbu kota-kota di
Daerah Bukit dan di Tanah Negeb Yehuda. Merekapun merebut Bet-Semes, Ayalon,
Gederot, Sokho dengan segala anak kotanya, Timna dengan segala anak kotanya dan
Gomzo dengan segala anak kotanya, dan menetap di kota-kota itu. 19 Demikianlah TUHAN
merendahkan Yehuda oleh sebab Ahas, raja Israel itu, membiarkan kebiadaban berlaku
di Yehuda dan berubah setia kepada TUHAN. 20 Maka datanglah Tilgat-Pilneser, raja
negeri Asyur, kepadanya, hanya bukan membantu dia, melainkan menyesakkannya. 21
Walaupun Ahas merampas barang-barang dari rumah TUHAN, dari rumah raja dan dari
rumah-rumah para pemimpin dan menyerahkan semua itu kepada raja negeri Asyur,
namun perbuatannya itu tidak menguntungkan dia. 22 Dalam keadaan terdesak itu raja
Ahas ini, malah semakin berubah setia terhadap TUHAN. 23 Ia mempersembahkan korban
kepada para Tuhan orang Damsyik yang telah mengalahkan dia. Pikirnya: “Yang membantu
raja-raja orang Aram yaitu para Tuhan mereka; kepada merekalah aku akan
mempersembahkan korban, supaya mereka membantu aku juga.” namun Tuhan -Tuhan itulah
yang menjadi sebab keruntuhan bagi dia dan bersama-sama dengan dia bagi seluruh
Israel. 24 Ahas mengumpulkan perkakas-perkakas rumah Tuhan dan menghancurkannya.
Ia menutup pintu rumah TUHAN, lalu membuat mezbah-mezbah bagi dirinya di segenap
penjuru Yerusalem. 25 Di tiap-tiap kota di Yehuda ia membuat bukit-bukit pengorbanan
untuk membakar korban bagi Tuhan lain. Dengan demikian ia menyakiti hati TUHAN, Tuhan
nenek moyangnya. 26 Selebihnya dari riwayatnya dan seluruh tingkah langkahnya, dari
awal sampai akhir, sesungguhnya semuanya itu tertulis dalam kitab raja-raja Yehuda dan
Israel. 27 Kemudian Ahas mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya,
dan dikuburkan di dalam kota, di Yerusalem; namun ia tidak dibawa ke pekuburan raja-
raja Israel. Maka Hizkia, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.
Dalam perikop di atas terdapat,
I. Kesesakan luar biasa yang dialami kerajaan Ahas akibat dosanya. Secara
umum,
1. TUHAN merendahkan Yehuda (ay. 19). Belum lama berselang mereka
sangat makmur dan berkuasa. namun Tuhan mempunyai banyak cara
untuk menjatuhkan mereka dan membuat mereka hina, sama seperti
dahulu Ia sanggup menjadikan mereka tampak mengerikan bagi bangsa
lain. Orang-orang yang tidak mau merendahkan diri di bawah firman
Tuhan akan direndahkan dengan adil oleh penghukuman-Nya. Kejahatan
membuat orang tenggelam dalam kesalahan mereka (Mzm. 106:43).
2. Ahas membuat Yehuda telanjang. Sama seperti dosanya merendahkan
derajat mereka, dosa itu juga membuat mereka terpapar tanpa
perlindungan. Dosanya membuat mereka telanjang sehingga
dipermalukan, sebab dosa membuat mereka terbuka untuk dihina,
seperti orang yang tidak mengenakan pakaian. Dosanya membuat
mereka telanjang terhadap bahaya, sebab membuat mereka terbuka
untuk diserang, bagaikan orang yang tidak bersenjata (Kel. 32:25). Dosa
Kitab 2 Tawarikh 28:1-5
491
melucuti manusia. Khususnya orang Edom, untuk balas dendam atas
perlakuan kejam Amazia terhadap mereka (25:12), membunuh orang
Yehuda serta mengangkut banyak tawanan (ay. 17). Orang-orang Filistin
pun menghina mereka dengan merampas serta menguasai sejumlah kota
dan desa yang terletak di dekat mereka (ay. 18). Demikianlah
pembalasan dendam bagi mereka telah terlaksana sebab serangan Uzia
terhadap mereka (26:6). Selain itu, hal ini juga untuk menunjukkan
bahwa dosa Ahas sematalah yang membuat orang Filistin menyerang
negerinya, tepat pada tahun kematiannya seperti yang telah
dinubuatkan Nabi Yesaya tentang penghancuran orang Filistin oleh
anaknya (Yes. 14:28-29).
II. Ahas menambah berat lagi kesesakan maupun kesalahan bangsa.
1. Ahas memperparah kesesakan dengan memohon-mohon kepada raja-
raja asing, dengan harapan mereka akan membantunya. Ketika orang
Edom dan Filistin menjengkelkannya, ia menyuruh utusan kepada raja
negeri Asyur untuk memohon bantuan (ay. 16). Ia mendapati kerajaannya
sendiri lemah dan menjadi telanjang, sedang ia tidak dapat
memercayakan diri kepada Tuhan . Itulah sebabnya ia berusaha keras
memperoleh perhatian raja negeri Asyur. Ia menjarah rumah Tuhan dan
rumah raja, serta memeras uang para pemimpin untuk menyewa
pasukan asing dan memanfaatkan jasa mereka (ay. 21). Walaupun ia
mengikuti kebiasaan menyembah berhala bangsa-bangsa kafir di
sekitarnya, mereka justru tidak menghargainya atau lebih menyukainya.
Meskipun telah mengikuti jalan hidup mereka, yang membuat dia
kehilangan hubungan Tuhan , ia tidak mampu memenangkan hati mereka.
Ia juga tidak mampu menarik perhatian mereka selain dengan uang.
Sudah sering kali didapati bahwa orang-orang jahat tidak benar-benar
berpihak kepada orang-orang yang berpaling kepada mereka, dan tidak
mau berbuat baik kepada mereka. Dari sisi apa pun, dahan yang buruk
dipandang sebagai taruk yang jijik (Yes. 14:19). Lalu apakah yang di-
dapatkan Ahas dari raja Asyur? Maka datanglah raja negeri Asyur,
kepadanya, hanya bukan membantu dia, melainkan menyesakkannya (ay.
20). Pasukan Asyur berkemah di negerinya, sehingga dengan demikian
memelaratkan serta melemahkannya. Sikap mereka semakin kurang ajar
dan semena-mena. Mereka sangat menjengkelkan hati Ahas bagaikan
buluh patah, yang bukan saja tidak berguna, namun juga menusuk tangan
yang memegangnya.
492
2. Ahas memperparah kesalahan melalui cara berhubungan dengan Tuhan -
Tuhan asing, dengan harapan mereka dapat menyelamatkannya. Di dalam
keadaan terdesak itu, alih-alih bertobat dari penyembahan berhala yang
sesungguhnya merupakan kebodohan yang cukup mudah disadarinya, ia
malah semakin berubah setia terhadap TUHAN (ay. 22), dan semakin
tergila-gila kepada berhala-berhalanya. Oleh sebab itulah suatu sebutan
hina diberikan kepadanya: Demikianlah raja Ahas ini, orang bejat yang
menjadi cemar bagi keluarga Daud dan kutuk serta tulah bagi
angkatannya. Perhatikanlah, sungguh semakin keji dan hinalah orang-
orang yang menjadi semakin buruk dan bukan semakin baik akibat
penderitaan yang mereka alami. Dalam keadaan terdesak mereka malah
semakin berubah. Tabiat buruk mereka justru diperparah oleh hal yang
seharusnya meredakannya, dan hati mereka penuh niat untuk berbuat
jahat. Marilah kita lihat apa gerangan pelanggaran yang telah dilakukan
Ahas.
(1) Ahas memperlakukan rumah Tuhan dengan keji, sebab ia
mengumpulkan perkakas-perkakas rumah Tuhan dan meng-
hancurkannya, supaya para imam tidak dapat melaksanakan upacara
di rumah TUHAN, atau melayani dengan cara tidak seperti
semestinya sebab kekurangan perkakas. Akhirnya, ia menutup pintu
rumah TUHAN, supaya orang-orang tidak dapat beribadah di
dalamnya (ay. 24). Perlakuan ini lebih buruk dibandingkan yang pernah
dilakukan raja-raja sebelum dia.
(2) Ahas menentang mezbah Tuhan , sebab ia membuat mezbah-mezbah
bagi dirinya di segenap penjuru Yerusalem. Dengan demikian, seperti
yang dikatakan sang nabi, altar-altarnya itu menjadi seperti timbunan
batu di alur-alur ladang (Hos. 12:11). Juga di kota-kota Yehuda, baik
melalui kekuasaan maupun uangnya, mungkin juga kedua-duanya,
Ahas mendirikan bukit-bukit pengorbanan bagi rakyat untuk mem-
bakar dupa bagi berhala-berhala yang mereka sukai, seakan-akan
dengan sengaja hendak menyakiti hati TUHAN, Tuhan nenek
moyangnya (ay. 25).
(3) Ahas mencampakkan Tuhan sendiri, sebab ia mempersembahkan
korban kepada para Tuhan orang Damsyik (ay. 23), bukan sebab ia
mengasihi mereka, sebab ia yakin mereka memukulnya, melainkan
sebab ia takut kepada mereka. Ia menyangka para Tuhan itu
membantu musuh-musuhnya, sehingga apabila ia dapat menarik
perhatian mereka untuk berpihak kepadanya, mereka akan
menolongnya. Benar-benar orang yang bodoh! Padahal, Tuhan -nya
Kitab 2 Tawarikh 28:1-5
493
sendirilah yang telah memukulnya dan memperkuat orang Asyur
yang melawannya, bukan Tuhan -Tuhan orang Damsyik. Seandainya saja
Ahas mempersembahkan korban kepada-Nya, dan hanya kepada-
Nya semata, Ia pasti akan menolongnya. Bagaimanapun, sungguh
tidak mengherankan apabila perasaan dan ibadah manusia tidak
akan mengarah ke sasaran yang benar kalau mereka salah menilai
siapa yang menyebabkan kesukaran mereka dan siapa yang
menolong mereka. Lalu apakah akibatnya? Para Tuhan orang Aram
ternyata tidak lebih bersahabat terhadap Ahas dibanding yang
dilakukan raja-raja Asyur terhadapnya. Mereka menjadi sebab
keruntuhan bagi dia dan bersama-sama dengan dia bagi seluruh
Israel. Dosa ini membangkitkan murka Tuhan sehingga Ia menjatuhkan
penghukuman ke atas mereka, dan m