tawarikh ester 15

Kamis, 30 Januari 2025

tawarikh ester 15



 engambil nyawa Ahas di puncak 

usianya ketika ia baru berusia tiga puluh enam tahun. Dosa ini 

merusak moral rakyat sehingga pembaharuan pemerintahan berikut-

nya tidak sanggup menyembuhkan mereka dari kecenderungan hati 

mereka untuk menyembah berhala. Sebaliknya, mereka memendam 

akar kepahitan itu sampai pembuangan di Babel mencabutnya 

kembali. 

Pasal ini ditutup dengan akhir pemerintahan Ahas (ay. 26-27). 

Sepanjang yang bisa dilihat, ia mati tanpa pertobatan, dan oleh sebab 

itu mati dalam keadaan hina, sebab ia tidak dikuburkan di pekuburan 

raja-raja Israel. Sudah sepantasnya ia dianggap tidak layak untuk 

dikuburkan di antara raja-raja yang begitu berbeda. Ia dikuburkan 

bersama para raja yang telah memanfaatkan kekuasaan raja untuk 

menghancurkan dan bukannya melindungi serta membangun 

jemaat. 

 

 

 

 

PASAL  29  

i sini kita sedang memasuki suatu pemandangan yang menyenangkan, 

pemerintahan yang mulia dan baik dari Hizkia. Dalam pemerintahan ini 

kita akan menemukan tentang Tuhan  dan agama mungkin lebih banyak dibandingkan  

yang kita lihat dalam semua pemerintahan yang baik sebelumnya. Sebab Hizkia 

yaitu  seorang yang bersemangat, bersungguh-sungguh dan baik, tak seorang 

pun seperti dia. Dalam pasal ini kita menemukan sebuah kisah tentang peker-

jaan pembaharuan yang dimulainya dengan semangat besar segera sesudah 

pelantikannya sebagai raja. Inilah,  

I. Dorongan semangatnya kepada para imam dan orang-orang Lewi, 

ketika dia menugasi mereka untuk mengurus rumah TUHAN kembali 

(ay. 1-11).  

II. Perhatian dan jerih payah yang diberikan oleh orang-orang Lewi untuk 

mentahirkan rumah TUHAN dan menata segala sesuatu di sana (ay. 12-

19).  

III. Kebangkitan kembali upacara dan ketetapan Tuhan  yang telah diabaikan 

selama itu, di mana penebusan dibuat bagi dosa-dosa pemerintahan yang 

lalu, dan roda ibadah diatur kembali, dan raja serta rakyat pun bersuka 

sebab nya (ay. 20-36). 

Pemerintahan Hizkia  

(29:1-11) 

1 Hizkia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh 

sembilan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Abia, anak 

Zakharia. 2 Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan 

Daud, bapa leluhurnya. 3 Pada tahun pertama pemerintahannya, dalam bulan yang 

pertama, ia membuka pintu-pintu rumah TUHAN dan memperbaikinya. 4 Ia 

mendatangkan para imam dan orang-orang Lewi, dan mengumpulkan mereka di halaman 

sebelah timur.  

5 Katanya kepada mereka: “Dengarlah, hai orang-orang Lewi! Sekarang kuduskanlah 


 

498 

dirimu dan kuduskanlah rumah TUHAN, Tuhan  nenek moyangmu! Keluarkanlah 

kecemaran dari tempat kudus! 6 sebab  nenek moyang kita telah berubah setia. Mereka 

melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, Tuhan  kita, telah meninggalkan-Nya, mereka 

telah memalingkan muka dari kediaman TUHAN dan membelakangi-Nya. 7 Bahkan 

mereka menutup pintu-pintu balai rumah TUHAN dan memadamkan segala pelita. 

Mereka tidak membakar korban ukupan dan tidak mempersembahkan korban bakaran 

bagi Tuhan  orang Israel di tempat kudus, 8 sehingga murka TUHAN menimpa Yehuda dan 

Yerusalem. Ia membuat mereka menjadi kengerian, kedahsyatan dan sasaran suitan 

seperti yang kamu lihat dengan matamu sendiri. 9 sebab  hal itulah nenek moyang kita 

tewas oleh pedang, dan anak-anak lelaki dan anak-anak wanita  kita beserta isteri-

isteri kita menjadi tawanan. 10 Sekarang aku bermaksud mengikat perjanjian dengan 

TUHAN, Tuhan  Israel, supaya murka-Nya yang menyala-nyala itu undur dari pada kita. 11 

Anak-anakku, sekarang janganlah kamu lengah, sebab  kamu telah dipilih TUHAN untuk 

berdiri di hadapan-Nya untuk melayani Dia, untuk menyelenggarakan kebaktian dan 

membakar korban bagi-Nya.” 

Inilah,  

I. Umur Hizkia ketika dia naik takhta. Ia berumur 25 tahun. Yoas, yang naik 

takhta sesudah dua pemerintahan yang jahat, hanya berumur 7 tahun. Yosia, 

yang naik takhta setelah dua pemerintahan yang jahat, hanya berumur 8 

tahun, yang menyebabkan tertundanya pembaharuan. namun  Hizkia baru 

memerintah ketika usianya sudah lebih tua dari mereka, sehingga dia segera 

melakukan pembaharuan. Kita dapat menduga, betapa sedih hatinya melihat 

penyembahan berhala dan kecemaran ayahnya. Betapa hatinya sangat 

terusik melihat pintu-pintu rumah TUHAN ditutup, dan ia tidak punya kuasa 

untuk membukanya selama ayahnya masih hidup. Jiwanya, tak diragukan, 

menangis diam-diam sebab  hal itu, dan dia bersumpah bahwa ketika dia 

mendapatkan jemaah itu, dia akan memperbaiki semua keluhan ini. sebab  

itulah, ia segera melakukan pembaharuan dengan hati yang lebih siap dan 

tekad yang bulat. 

II. Perilaku Hizkia secara umum. Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, 

tepat seperti yang dilakukan Daud (ay. 2). Tentang beberapa dari 

pendahulunya telah dikatakan bahwa mereka melakukan apa yang 

benar, namun  tidak seperti yang dilakukan Daud, tidak dengan kelurusan dan 

kesungguhan seperti Daud. Namun di sini ada Hizkia yang memiliki 

kecintaan sepenuh hati kepada tabut perjanjian dan hukum Tuhan  seperti 

yang dimiliki Daud.  

III. Tindakannya yang cepat dalam menjalankan karya pembaharuan besar-

besaran untuk memulihkan agama. Hal pertama yang dilakukannya yaitu  

membuka pintu-pintu rumah TUHAN (ay. 3). Kita menduga ayahnya tidak 

menekan habis ibadah di rumah TUHAN. Sebab kalau tidak, api suci di atas 

Kitab 2 Tawarikh 29:1-11 

 

499 

mezbah pasti sudah sirna dan kita tidak membaca tentang api itu dinyalakan 

kembali. Sebaliknya ayahnya, Raja Ahas, hanya mencegah umat untuk 

menghadiri ibadah di rumah TUHAN, selain para imam yang berasal dari 

golongannya sendiri (2Raj. 16:15). namun  Hizkia segera membuka pintu-

pintu rumah TUHAN, dan mendatangkan para imam dan orang-orang 

Lewi. Ia mendapati Yehuda hina dan telanjang, namun  tidak 

mengutamakannya sebagai pekerjaan pertamanya untuk menghidupkan 

kembali kepentingan rakyat kerajaannya, melainkan memulihkan agama 

kepada keadaannya yang baik seperti semula. Orang-orang yang memulai 

dengan Tuhan , memulai dengan tujuan yang baik dari pekerjaan mereka, dan 

pekerjaan mereka akan berhasil.  

IV. Pidatonya di hadapan para imam dan orang-orang Lewi. Sangat diketahui, 

tak diragukan, bahwa dia memiliki niat baik bagi agama dan sangat hancur 

hatinya oleh kebejatan pemerintahan sebelumnya. Namun kita tidak 

menemukan para imam dan orang-orang Lewi mengajukan permohonan 

kepadanya untuk membaharui pelayanan di rumah TUHAN. Malah 

sebaliknya, ialah yang memanggil mereka. Saya jadi bertanya-tanya, hal ini 

mungkin menunjukkan betapa dinginnya sikap para imam dan orang Lewi 

itu terhadap ibadah di rumah TUHAN, kebalikan dari semangat hati Hizkia. 

Sebab, seandainya mereka benar melakukan bagian mereka dengan penuh 

semangat, maka pastilah keadaan mereka tidak sedemikian buruk seperti 

yang dijumpai Hizkia ketika melihat mereka. sebab  itulah dorongan dan 

nasihat Hizkia kepada orang-orang Lewi itu sangatlah menyentuh hati. 

1. Ia membeberkan di hadapan mereka kehancuran agama dan keadaan 

menyedihkan yang diakibatkannya di antara mereka (ay. 6-7): Nenek 

moyang kita telah berubah setia. Ia tidak berkata, “Ayahku,” sebab  

patutlah ia sebagai anak untuk menghormati nama ayahnya, dan sebab  

ayahnya tidak akan melakukan semuanya ini jika para orangtua mereka 

dahulu tidak mengabaikan kewajiban mereka. Uria sang imam telah 

bergabung dengan Ahas dalam mendirikan mezbah penyembahan 

berhala. Hizkia mengeluh,  

(1) Bahwa rumah TUHAN telah ditinggalkan: Mereka telah memalingkan 

muka dari kediaman TUHAN dan membelakangi-Nya. Perhatikanlah, 

memalingkan diri dari ketetapan-ketetapan Tuhan  sungguh-sungguh 

dapat dikatakan sebagai meninggalkan Tuhan .  

(2) Bahwa ibadah kepada Tuhan  yang telah dipelihara selama ini 

dibiarkan terbengkalai. Lampu-lampu tidak dinyalakan dan dupa 


 

500 

tidak dibakar. Masih ada pengabaian seperti itu di zaman sekarang 

ini, dan dosanya tidak kurang besarnya, ketika firman tidak dibaca 

dan dibuka seperti seharusnya sebab hal ini ditandai dahulu dengan 

cahaya lampu, dan ketika doa dan puji-pujian tidak dipersembahkan 

dengan benar, sebab hal ini ditandai dahulu dengan pembakaran 

dupa.  

2. Hizkia menunjukkan akibat-akibat yang menyedihkan dari pengabaian 

dan kemerosotan agama di antara mereka (ay. 8-9). Inilah penyebab dari 

semua bencana yang telah menimpa mereka. Tuhan  dalam murka-Nya 

telah menyerahkan mereka kepada persoalan, pedang, dan penawanan. 

Pada waktu kita berada di bawah hardikan penyelenggaraan Tuhan  

yaitu  baik bagi kita untuk menyelidiki apakah kita tidak telah meng-

abaikan hukum dan ketetapan-Nya, dan apakah perseteruan-Nya 

terhadap kita diakibatkan oleh pengabaian ini atau tidak. 

3. Hizkia menyatakan tujuan dan ketetapan hatinya untuk sepenuhnya 

menghidupkan kembali agama dan memajukan agama sebagai pekerjaan 

utamanya (ay. 10): “Sekarang aku bermaksud yaitu, aku berketetapan 

penuh mengikat perjanjian dengan TUHAN, Tuhan  Israel untuk 

menyembah Dia saja dan dengan cara yang telah ditetapkan-Nya. Sebab 

aku yakin bahwa, jika tidak, maka murka-Nya yang menyala-nyala itu 

tidak akan pergi dari kita.” Kovenan ini tidak hanya akan diadakannya 

sendiri, namun  juga dengan membawa rakyatnya terikat di dalamnya 

juga.  

4. Ia mengajak dan menyemangati orang-orang Lewi dan para imam untuk 

melakukan tugas mereka pada kesempatan ini. Inilah yang dimulainya 

(ay. 5). Dan ini pula yang diakhirinya (ay. 11). Ia menyebut mereka 

orang-orang Lewi untuk mengingatkan mereka akan kewajiban mereka 

kepada Tuhan , dan menyebut mereka anak-anaknya untuk mengingatkan 

mereka akan hubungan dengan dirinya, seperti yang diharapkannya, 

bahwa seperti seorang anak kepada ayahnya, mereka harus melayani dia 

dalam pembaharuan negeri.  

(1) Ia memberi tahu mereka apa yang menjadi kewajiban mereka yaitu 

untuk menyucikan diri mereka terlebih dahulu dengan bertobat dari 

sikap acuh tak acuh mereka, untuk memperbaharui hati dan hidup 

mereka sendiri. Dan kemudian memperbaharui kovenan mereka 

dengan Tuhan  untuk melakukan tugas mereka dengan lebih baik di 

masa yang akan datang. Dan setelah itu untuk mentahirkan rumah 

TUHAN, sebagai hamba-hambanya, untuk membersihkannya dari 

Kitab 2 Tawarikh 29:1-11 

 

501 

segala sesuatu yang dilarang, yaitu penyalahgunaan atau 

pencemaran terhadapnya, dan untuk menyiapkannya bagi tujuannya 

yang semula.  

(2) Ia menggerakkan hati mereka untuk melakukannya (ay. 

11): “Janganlah lengah, atau lalai, dalam tugasmu. Jangan sampai 

pekerjaan baik ini tertinggal sebab  kecerobohanmu.” Jangan tertipu, 

demikian tafsiran lainnya. Perhatikanlah, orang-orang yang oleh 

kelalaian mereka dalam melayani Tuhan  bermaksud untuk menghina 

Tuhan , dan berusaha menipu Dia, sama saja dengan menipu diri 

sendiri, dan menimpakan kutukan ke atas jiwa mereka sendiri. 

Janganlah santai (demikian kata sebagian orang), seakan-akan tidak 

ada panggilan mendesak untuk melakukannya atau tidak ada bahaya 

untuk tidak melakukannya. Perhatikanlah, sikap acuh tak acuh 

manusia dalam beribadah terjadi sebab  merasa aman-aman saja. 

Pertimbangan yang didesakkannya kepada mereka yaitu  sebab  

jabatan mereka. Tuhan  telah menaruh kehormatan ke atas diri me-

reka: Ia telah memilihmu untuk berdiri di hadapan-Nya. Oleh 

sebab nya Tuhan  mengharapkan pekerjaan dari mereka. Mereka 

tidak dipilih untuk diam saja, untuk menikmati martabat dan 

meninggalkan tugas untuk dilakukan oleh orang lain, melainkan 

untuk melayani Dia dan untuk menjadi pelayan bagi Dia. Mereka 

sebab nya harus malu sebab  kelalaian mereka selama ini, dan, kini 

ketika pintu-pintu rumah TUHAN telah dibuka kembali, harus 

memulai pekerjaan mereka dengan kerajinan dua kali lipat.  

Rumah TUHAN Ditahirkan 

(29:12-19) 

12 Lalu bangunlah orang-orang Lewi itu, yaitu  dari bani Kehat: Mahat bin Amasai dan Yoël 

bin Azaria, dari bani Merari: Kish bin Abdi dan Azaria bin Yehaleleel, dari orang Gerson: 

Yoah bin Zima dan Eden bin Yoah, 13 dari bani Elisafan: Simri dan Yeiel, dari bani Asaf: 

Zakharia dan Matanya, 14 dari bani Heman: Yehiel dan Simei, dan dari bani Yedutun: 

Semaya dan Uziel. 15 Mereka mengumpulkan saudara-saudaranya dan menguduskan 

dirinya. Kemudian mereka datang menurut perintah raja, sesuai dengan firman TUHAN, 

lalu mentahirkan rumah TUHAN. 16 Sesudah itu masuklah para imam ke bagian dalam 

rumah TUHAN untuk mentahirkannya. Semua yang najis, yang didapati mereka di dalam 

bait TUHAN, dibawa ke pelataran rumah TUHAN; orang-orang Lewi menerimanya untuk 

diangkut ke luar, ke lembah Kidron.  

17 Pekerjaan menguduskan itu dimulai pada tanggal satu bulan yang pertama. Pada hari 

kedelapan bulan itu mereka sampai ke balai rumah TUHAN dan menguduskan seluruh 

rumah TUHAN dalam delapan hari. Mereka selesai pada hari keenam belas bulan 

pertama. 18 Lalu masuklah mereka menghadap raja Hizkia dan berkata: “Kami telah 

mentahirkan seluruh rumah TUHAN, juga mezbah korban bakaran dengan segala 

perkakasnya dan meja roti sajian dengan segala perkakasnya. 19 Dan segala perkakas, 


 

502 

yang dibuang raja Ahas, ketika ia berubah setia pada masa pemerintahannya, telah kami 

sediakan dan kami kuduskan. Sekarang semuanya itu ada di depan mezbah TUHAN!” 

Di sini kita mendapati pekerjaan yang sangat sibuk, pekerjaan baik dan sangat 

perlu, yaitu pentahiran rumah TUHAN.  

I. Orang-orang yang dipekerjakan dalam pekerjaan ini yaitu  para imam dan 

orang-orang Lewi, yang seharusnya menjaga kesucian rumah TUHAN, 

namun, sebab  tidak melakukannya, menjadi prihatin untuk 

mentahirkannya. Beberapa orang Lewi disebutkan namanya di sini, dua 

orang masing-masing dari tiga puak, Kehat, Gerson, dan Merari (ay. 12), dan 

dua orang masing-masing dari tiga keluarga penyanyi, Asaf, Heman, dan 

Yedutun (ay. 13-14). Kita tidak dapat menganggap bahwa orang-orang ini 

disebutkan namanya sebab  mereka yaitu  pemimpin (sebab kalau 

demikian adanya, maka pastilah imam besar atau beberapa dari kepala 

rombongan imam akan disebutkan namanya), melainkan sebab  mereka 

lebih bersungguh-sungguh dan giat dibandingkan  yang lainnya. Ketika Tuhan  

memiliki pekerjaan untuk dilakukan, Ia akan membangkitkan para 

pemimpin untuk memimpin pekerjaan tersebut. Dan tidaklah selalu bahwa 

orang yang pertama dan memiliki jabatan yaitu  yang paling cocok bagi 

pelayanan itu atau yang paling gigih. Orang-orang Lewi ini tidak hanya 

mengajukan diri sendiri, namun  juga mengumpulkan saudara-saudara 

mereka, dan mendorong mereka untuk bekerja menurut perintah raja, sesuai 

dengan firman TUHAN. Amatilah, mereka bertindak sesuai perintah raja, 

namun  dengan pandangan tertuju kepada firman Tuhan . Raja memerintahkan 

mereka apa yang sudah menjadi tugas mereka menurut firman Tuhan , dan, 

dalam melakukannya, mereka memandang firman Tuhan  sebagai aturan bagi 

mereka, sementara perintah raja sebagai dorongan bagi mereka.  

II. Pekerjaannya yaitu  mentahirkan rumah TUHAN,  

1. Dari kotoran yang biasa menempel saat ditutup dan sarang laba-laba 

serta karat pada perkakas-perkakas.  

2. Dari semua berhala dan mezbah-mezbah berhala yang diletakkan di 

dalamnya, yang kendati ditata begitu rapi, tetap saja menjadi suatu 

kecemaran yang luar biasa besar, lebih besar dibandingkan  kalau dijadikan 

saluran pembuangan umum kota. Para imam tak satu pun yang disebut 

sebagai pemimpin dalam pekerjaan ini, bahkan tak seorang pun yang 

berani masuk ke bagian dalam rumah TUHAN, untuk 

membersihkannya, yang biasanya mereka lakukan, dan mungkin hanya 

Kitab 2 Tawarikh 29:1-11 

 

503 

imam besar saja yang masuk ke dalam ruang maha kudus, untuk mem-

bersihkannya. Dan, kendati orang-orang Lewi memiliki kehormatan 

untuk menjadi pemimpin pekerjaan, namun mereka tidak merasa 

rendah untuk menjadi pelayan bagi para imam sesuai dengan jabatan 

mereka. Sebab, yang kotor yang dibawa para imam ke dalam pelataran 

dibawa orang Lewi ke sungai Kidron. Janganlah kiranya kegunaan orang, 

meski sangat menonjol, membuat mereka lupa akan tempat mereka.  

III. Pelaksanaan dari pekerjaan mereka sangat luar biasa cepat. Mereka mulai di 

hari pertama dari bulan pertama, suatu permulaan yang menyenangkan dari 

tahun yang baru, tahun baik yang menjanjikan. Demikianlah seharusnya 

setiap tahun dimulai dengan pembaharuan atas apa yang salah, dan 

pemurnian, melalui pertobatan yang sejati, dari segala kekotoran yang 

melekat selama tahun sebelumnya. Selama 8 hari mereka membersihkan 

dan mentahirkan rumah TUHAN, dan dalam 8 hari lagi pelataran rumah 

TUHAN (ay. 17). Kiranya orang-orang yang melakukan pekerjaan yang baik 

belajar untuk  merapikan pekerjaan dan menuntaskannya. Kiranya apa yang 

salah diperbaiki dengan segera. 

IV. Laporan pekerjaan yang mereka sampaikan kepada Hizkia sangat 

menyenangkan (ay. 18-19). Mereka memberi sang raja laporan atas apa yang 

telah mereka kerjakan, sebab  rajalah yang menugaskan mereka untuk 

bekerja. Mereka tidak menyombongkan diri dengan jerih payah mereka, atau 

datang kepada raja untuk meminta bayaran, melainkan untuk memberi tahu 

raja bahwa segala sesuatu yang telah dikotori kini telah ditahirkan sesuai 

dengan hukum Taurat, dan siap untuk digunakan lagi kapan pun sang raja 

mau. Mereka tahu bahwa raja yang baik itu telah membulatkan hatinya pada 

mezbah Tuhan  dan rindu untuk datang ke mezbah-Nya itu. sebab  itu mereka 

bersikeras menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan itu, agar semua per-

kakas bagi mezbah digosok dan dibuat mengkilap. Semua perkakas yang 

dibuang Ahas dalam pelanggarannya sebagai perkakas yang tidak 

menyenangkan, mereka kumpulkan semua, mentahirkannya, dan 

meletakkannya di tempatnya di hadapan mezbah. Perkakas-perkakas ruang 

kudus dapat saja dikotori untuk sementara waktu, namun  Tuhan  akan 

menemukan waktu dan cara untuk menyucikannya. Baik ketetapan-Nya 

maupun umatnya tidak akan menderita kegagalan untuk selamanya. 


 

504 

Persembahan Korban Hizkia 

(29:20-36) 

20 Maka pagi-pagi raja Hizkia mengumpulkan pemimpin-pemimpin kota, dan pergi ke 

rumah TUHAN. 21 Mereka membawa tujuh ekor lembu jantan, tujuh ekor domba jantan, 

tujuh ekor domba muda dan tujuh ekor kambing jantan sebagai korban penghapus dosa 

untuk keluarga raja, untuk tempat kudus dan untuk Yehuda. Ia memerintahkan anak-anak 

Harun, yaitu  para imam, untuk mempersembahkannya di atas mezbah TUHAN. 22 Lalu 

mereka menyembelih lembu-lembu itu; para imam menerima darahnya dan menyiram-

kannya pada mezbah. Kemudian mereka, menyembelih domba-domba jantan dan 

menyiramkan darahnya pada mezbah. Sesudah itu mereka menyembelih domba-domba 

muda dan menyiramkan darahnya pada mezbah. 23 Selanjutnya mereka membawa 

kambing-kambing jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa ke hadapan raja dan 

jemaah. Mereka meletakkan tangannya ke atas kambing-kambing itu. 24 Dan para imam 

menyembelihnya dan mempersembahkan darahnya di atas mezbah sebagai korban 

penghapus dosa untuk mengadakan pendamaian bagi seluruh Israel. Sebab raja telah me-

merintahkan untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban penghapus dosa itu 

bagi seluruh Israel. 25 Ia menempatkan orang-orang Lewi di rumah TUHAN dengan 

ceracap, gambus, dan kecapi sesuai dengan perintah Daud dan Gad, pelihat raja, dan nabi 

Natan, sebab  dari TUHANlah perintah itu, dengan perantaraan nabi-nabi-Nya. 26 Maka 

berdirilah orang-orang Lewi dengan alat-alat musik Daud, demikian pula para imam 

dengan nafiri.  

27 Lalu Hizkia memerintahkan untuk mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah. 

Pada saat persembahan korban bakaran dimulai, mulailah pula dinyanyikan nyanyian 

bagi TUHAN dan dibunyikan nafiri, dengan iringan alat-alat musik Daud, raja Israel. 28 

Seluruh jemaah sujud menyembah sementara nyanyian dinyanyikan dan nafiri 

dibunyikan. Semuanya itu berlangsung sampai korban bakaran habis terbakar. 29 Sehabis 

korban bakaran dipersembahkan, raja dan semua orang yang hadir bersama-sama dia 

berlutut dan sujud menyembah. 30 Lalu raja Hizkia dan para pemimpin memerintahkan 

orang-orang Lewi menyanyikan puji-pujian untuk TUHAN dengan kata-kata Daud dan 

Asaf, pelihat itu. Maka mereka menyanyikan puji-pujian dengan sukaria, lalu berlutut dan 

sujud menyembah. 31 Kemudian berbicaralah Hizkia: “Sekarang kamu telah mentahbiskan 

dirimu untuk TUHAN. Mendekatlah dan bawalah korban-korban sembelihan dan korban-

korban syukur ke rumah TUHAN!” Lalu jemaah membawa korban-korban sembelihan 

dan korban-korban puji-pujian; setiap orang yang rela hati membawa juga korban-korban 

bakaran. 32 Jumlah korban bakaran yang dibawa jemaah ialah: lembu tujuh puluh ekor, 

domba jantan seratus ekor dan domba muda dua ratus ekor. Semuanya sebagai korban 

bakaran bagi TUHAN. 33 Persembahan-persembahan kudus terdiri dari: lembu sapi enam 

ratus ekor dan kambing domba tiga ribu ekor. 34 namun  jumlah imam terlalu sedikit, se-

hingga mereka tidak sanggup menguliti semua korban bakaran. Oleh sebab itu saudara-

saudara mereka, orang-orang Lewi, membantu mereka sampai pekerjaan itu selesai dan 

sampai para imam menguduskan dirinya. Sebab orang-orang Lewi itu lebih bersungguh-

sungguh menguduskan dirinya dari pada para imam. 35 Lagipula korban bakaran itu 

banyak, dengan segala lemak korban keselamatan dan segala korban curahan pada 

korban-korban bakaran itu. Demikianlah ibadah di rumah TUHAN ditetapkan kembali.  

36 Hizkia dan seluruh rakyat bersukacita akan apa yang telah ditetapkan Tuhan  bagi bangsa 

itu, sebab  hal itu terjadi dengan tak disangka-sangka. 

Rumah TUHAN telah selesai ditahirkan. Sekarang kita membaca di sini 

bagaimana rumah TUHAN segera digunakan dengan baik. Suatu kumpulan umat 

dipanggil untuk menemui raja di rumah TUHAN, pada hari berikutnya (ay. 20). 

Dan tak diragukan lagi, semua orang baik di Yerusalem sangat senang, ketika 

dikatakan Mari kita pergi ke rumah TUHAN (Mzm. 122:1). Segera sesudah Hizkia 

Kitab 2 Tawarikh 29:1-11 

 

505 

mendengar bahwa rumah TUHAN sudah siap baginya, dia tidak mau kehilangan 

waktu, namun  segera mempersiapkan diri untuknya. Ia bangun pagi-pagi untuk 

naik ke rumah TUHAN, lebih pagi pada hari itu dibandingkan  hari-hari lainnya, yang 

menunjukkan bahwa hatinya tertuju pada pekerjaannya di sana. Nah, pekerjaan 

hari ini harus memeriksa dua hal: 

I. Pendamaian harus dibuat atas dosa-dosa pemerintahan yang lalu. Mereka 

berpikir tidaklah cukup untuk meratapi dan membuang dosa-dosa tersebut, 

namun  mereka harus membawa sebuah korban penghapus dosa. Bahkan 

pertobatan dan pembaharuan kita tidak akan beroleh pengampunan, kecuali 

di dalam dan melalui Kristus, yang telah dijadikan dosa (yaitu, korban peng-

hapus dosa) bagi kita. Tidak ada perdamaian, kecuali melalui darah-Nya, 

tidak, tidak bagi orang-orang yang bertobat. Amatilah,  

1. Korban penghapus dosa yaitu  untuk keluarga raja, untuk tempat kudus 

dan untuk Yehuda (ay. 21), yaitu, untuk melakukan pendamaian bagi 

dosa para raja, para imam, dan umat, sebab mereka semua telah berbuat 

dosa. Hukum Musa menetapkan korban untuk pendamaian bagi dosa-

dosa seluruh jemaah (Im. 4:13-14; Bil. 15:24-25), supaya hukuman 

terhadap seluruh bangsa sebab  dosa-dosa seluruh rakyat dapat 

disingkirkan. Untuk tujuan ini kita sekarang harus mengarahkan mata 

kepada Kristus Sang Propisiasi Agung, dan juga bagi penghapusan dan 

keselamatan orang per orang.  

2. Hukum Taurat menentukan hanya satu kambing saja sebagai korban 

penghapus dosa, seperti pada hari pendamaian (Im. 16:15) dan pada 

kesempatan-kesempatan luar biasa seperti ini (Bil. 15:24). Namun 

mereka di sini mempersembahkan tujuh ekor (ay. 21), sebab dosa-dosa 

jemaah selama ini begitu luar biasa besar dan berlangsung lama. Tujuh 

yaitu  sebuah bilangan lambang kesempurnaan. Korban Agung 

penghapus dosa kita hanya satu, namun  yang satu tersebut menyempur-

nakan untuk selama-lamanya mereka yang disucikan.  

3. Raja dan jemaah (yaitu, wakil-wakil dari jemaah) meletakkan tangannya 

ke atas kambing-kambing itu sebagai korban penghapus dosa (ay. 23), 

sehingga dengan begitu mereka mengakui diri bersalah di hadapan Tuhan  

dan menyatakan keinginan mereka agar kesalahan orang berdosa dapat 

dipindahkan kepada korban. Oleh iman kita meletakkan tangan kita pada 

Tuhan Yesus, sehingga kita pun menerima pendamaian (Rm. 5:11).  

4. Korban bakaran dipersembahkan bersama dengan korban penghapus 

dosa, tujuh ekor lembu jantan, tujuh ekor domba jantan, tujuh ekor domba 

muda dan tujuh ekor kambing jantan. Maksud dari korban bakaran 


 

506 

yaitu  untuk memberikan kemuliaan kepada Tuhan  Israel, yang mereka 

akui sebagai satu-satunya Tuhan  yang benar. Korban bakaran ini patut 

dipersembahkan pada waktu yang sama ketika mereka melalui korban 

penghapus dosa mengadakan pendamaian bagi dosa-dosa mereka. 

Darah korban bakaran, dan juga korban penghapus dosa, disiramkan ke 

atas mezbah (ay. 22), untuk mengadakan pendamaian bagi seluruh Israel 

(ay. 24), dan bukan hanya bagi Yehuda saja. Kristus yaitu  propisiasi, 

bukan untuk dosa-dosa Israel saja, namun  untuk seluruh dunia (1Yoh. 2:1, 

2).  

5. Sementara korban-korban dibakar di atas mezbah, orang-orang Lewi 

menyanyikan nyanyian bagi TUHAN (ay. 27), mazmur-mazmur yang 

digubah oleh Daud dan Asaf (ay. 30), diiringi oleh alat-alat musik yang 

telah diperintahkan oleh Tuhan , melalui para nabinya, untuk digunakan 

(ay. 25), yang selama itu telah lama diabaikan. Bahkan kesedihan sebab  

dosa janganlah memadamkan hati kita untuk memuji Tuhan . Dengan iman 

kita harus bersukaria di dalam Kristus Yesus sebagai kebenaran kita. 

Dan doa serta pujian kita harus turut naik bersama dengan korban 

persembahan-Nya, supaya diterima hanya oleh sebab  korban 

persembahan-Nya itu.  

6. Raja dan seluruh jemaah menyatakan persetujuan mereka dan sepakat 

di dalam semua yang telah  mereka lakukan itu, dengan menundukkan 

kepala mereka dan menyembah, untuk mengungkapkan pemujaan dan 

hormat kepada Tuhan  Yang Mulia, dengan sikap memuja. Hal ini 

diperhatikan secara khusus di dalam ayat 28-30. Tidak cukup bagi kita 

untuk berada di tempat Tuhan  disembah, jika kita sendiri tidak 

menyembah Dia, dan tidak hanya dengan gerakan badani saja, yang 

hanya sedikit gunanya, melainkan dengan hati. 

II. Kekhidmatan hari ini juga menanti ke depan. Pelayanan rumah TUHAN 

harus dilakukan lagi supaya dapat terus berlangsung. Dan untuk inilah 

Hizkia memanggil mereka (ay. 31). “Sekarang sebab  kamu semua telah 

mentahbiskan dirimu untuk TUHAN, telah mengadakan persembahan untuk 

pendamaian dan suatu kovenan dengan korban persembahan, maka dengan 

khidmat pula kamu telah diperdamaikan dan diikat dengan Dia. sebab  itu, 

sekarang Mendekatlah dan bawalah korban-korban.” Perhatikanlah, kovenan 

kita dengan Tuhan  harus diteruskan dan dikembangkan dalam persekutuan 

dengan Dia. Setelah menguduskan diri, pertama-tama, kepada TUHAN, kita 

harus membawa korban-korban persembahan berupa doa, pujian, dan 

Kitab 2 Tawarikh 29:1-11 

 

507 

pemberian, ke rumah-Nya. Nah, dalam pekerjaan ini kita temukan hal-hal 

sebagai berikut. 

1. Bahwa umat sangat murah hati. Begitu dipanggil oleh raja untuk 

membawa persembahan, mereka membawa masuk segala persembahan 

mereka, kendati tidak sebanyak seperti di hari-hari gemilang Raja 

Salomo sebab Yehuda kini menjadi kecil, miskin, dan rendah. Mereka 

hanya membawa sesuai dengan apa yang mereka miliki, dan sebanyak 

kemampuan mereka mengingat saat itu mereka miskin dan ada kemero-

sotan besar di antara mereka dalam hal kesalehan.  

(1) Sebagian begitu murah hati untuk membawa korban bakaran, yang 

seluruhnya dibakar bagi kehormatan Tuhan , sehingga tidak ada 

bagian apa pun yang tersisa bagi si pemberi persembahan. Korban 

semacam ini ada tujuh puluh ekor, domba jantan seratus ekor dan 

domba muda dua ratus ekor (ay. 32).  

(2) Orang-orang lain membawa korban pendamaian dan korban ucapan 

syukur, yang lemaknya dibakar di atas mezbah, dan dagingnya dibagi 

di antara para imam dan para pembawa persembahan (ay. 35). 

Korban seperti ini ada lembu sapi enam ratus ekor dan kambing 

domba tiga ribu ekor (ay. 33). Mungkin kenangan akan dosa mereka 

dalam mempersembahkan korban di bukit-bukit pengorbanan 

membuat mereka lebih bersedia untuk membawa korban-korban 

mereka sekarang ke mezbah Tuhan .  

2. Bahwa jumlah imam terlalu sedikit, terlalu sedikit untuk pelayanan saat 

itu (ay. 34). Banyak di antara mereka, kelihatannya, diberhentikan dan 

disingkirkan sebab  dianggap tercemar dan tidak layak menurut hukum 

Taurat, sebab  telah mempersembahkan korban kepada berhala semasa 

pemerintahan yang lalu, sedang  selebihnya lagi tidak mempunyai 

semangat melayani seperti yang diharapkan pada kesempatan seperti 

ini. Mereka berpikir bahwa sang raja tidak perlu begitu terburu-buru, 

tidak perlu tergesa-gesa dalam membuka pintu-pintu rumah TUHAN, 

sehingga mereka tidak menaruh peduli untuk menguduskan diri. Dan 

sebab  menjadi najis dan tidak memenuhi syarat, mereka mencari alasan 

untuk tidak ikut melayani. Seakan-akan pelanggaran mereka menjadi 

pembelaan diri bagi mereka. Hal tersebut dicatat di sini, bagi kehinaan 

abadi para imam, bahwa, kendati mereka begitu dicukupi dengan 

persembahan korban bakaran kepada Tuhan, namun mereka tidak 

memedulikan tugas pelayanan mereka. Di sini ada pekerjaan yang harus 


 

508 

dilakukan, namun kekurangan tangan-tangan yang layak untuk 

mengerjakannya.  

3. Bahwa orang-orang Lewi lebih siap. Mereka menjadi lebih bersungguh-

sungguh menguduskan dirinya dari pada para imam (ay. 34), lebih 

tergugah hati untuk pekerjaan itu, lebih siap dan memenuhi syarat. Ini 

menjadi kepujian mereka, dan, sebagai balasannya, mereka mendapat 

kehormatan untuk dipakai dalam pekerjaan para imam: mereka 

membantu untuk menguliti semua korban. Hal ini tidaklah sesuai dengan 

hukum Taurat (Im. 1:5-6), namun  ketidaklaziman tersebut diabaikan di 

dalam keperluan-keperluan mendesak. Dengan demikian, ini menjadi 

semangat yang menguatkan hati bagi orang-orang Lewi yang sungguh-

sungguh setia dan giat itu, namun  sebaliknya menjadi kehinaan yang adil 

ditimpakan kepada para imam yang ceroboh itu. Keuntungan-

keuntungan keupacaraan yang tidak dimiliki orang-orang Lewi sebab  

kelahiran dan tugas mereka, diberikan kepada mereka dengan 

berlimpah saat itu sebab  keterampilan dan kemampuan mereka yang 

luar biasa untuk melakukan pekerjaan tersebut. 

4. Bahwa semua orang senang. Raja dan segenap rakyat bersukaria melihat 

semua perubahan ini, dan atas wajah baru agama yang dikenakan oleh 

kerajaan (ay. 36). Dua hal dalam hal ini yang menyenangkan mereka:  

(1) Hal itu terjadi segera: Hal itu dilakukan secara tiba-tiba, dalam waktu 

yang singkat, dengan sangat mudah, dan tanpa perlawanan apa pun. 

Orang-orang yang melakukan pekerjaan Tuhan  dalam iman dan 

dengan ketetapan hati akan mendapati bahwa tidak ada kesulitan 

yang menghadang seperti yang mereka bayangkan. Yang terjadi 

malah sebaliknya, yaitu suatu kejutan menyenangkan, betapa peker-

jaan mereka itu selesai dengan cepat.  

(2) Bahwa tangan Tuhan  bekerja secara jelas di dalamnya: Tuhan  telah 

mempersiapkan umat melalui berbagai pengaruh tersembunyi dari 

anugerah-Nya, sehingga banyak orang yang dalam pemerintahan lalu 

menyukai mezbah-mezbah penyembahan berhala kini sama gigihnya 

dalam mengasihi mezbah Tuhan . Perubahan ini, yang Tuhan  kerjakan 

dalam pikiran mereka, terjadi sangat cepat dan memudahkan peker-

jaan pembaharuan itu. Kiranya para pembesar dan para pelayan 

Tuhan melakukan bagian mereka dalam memperbaharui suatu 

negeri, dan memberi kemuliaan kepada Tuhan  atas apa yang 

dilakukan, terutama ketika hal itu dilakukan secara mendadak dan 

merupakan suatu kejutan yang menyenangkan. Hal itu terjadi dari 

pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita. 

Kitab 2 Tawarikh 29:1-11 

 

509 

 

 

 

PASAL  30  

alam pasal ini kita membaca sebuah kisah tentang perayaan Paskah yang 

diadakan dengan khidmat oleh Hizkia dalam tahun pertama 

pemerintahannya.  

I. Rancangan untuk merayakan Paskah dan ketetapan hati yang 

dinyatakan oleh sang raja dan rakyatnya untuk merayakannya (ay. 2-

5).  

II. Undangan yang dikirimkan kepada Yehuda dan Israel untuk datang dan 

merayakannya (ay. 1, 6-12).  

III. Perayaan Paskah yang penuh dengan sukacita (ay. 13-27). Dengan ini 

pembaharuan, yang telah dimulai dalam pasal sebelumnya, dengan 

pesat diselenggarakan dan dimantapkan, dan tertancap kuat di tempat 

kudus Tuhan .  

Persiapan Paskah 

(30:1-12) 

1 Kemudian Hizkia mengirim pesan kepada seluruh Israel dan Yehuda, bahkan menulis 

surat kepada Efraim dan Manasye supaya mereka datang merayakan Paskah bagi TUHAN, 

Tuhan  orang Israel, di rumah TUHAN di Yerusalem. 2 Raja bersama-sama para pemimpin 

dan seluruh jemaah di Yerusalem merancangkan untuk merayakan Paskah pada bulan 

kedua, 3 sebab  mereka tidak dapat merayakannya pada waktunya, sebab para imam 

belum menguduskan diri dalam jumlah yang cukup dan rakyat belum terkumpul di Yeru-

salem. 4 Rancangan itu diterima baik oleh raja dan seluruh jemaah. 5 Mereka memutuskan 

untuk menyiarkan maklumat di seluruh Israel, dari Bersyeba sampai Dan, supaya masing-

masing datang ke Yerusalem merayakan Paskah bagi TUHAN, Tuhan  Israel, sebab  mereka 

belum merayakannya secara umum seperti yang ada tertulis. 6 Maka berangkatlah pe-

suruh-pesuruh cepat ke seluruh Israel dan Yehuda membawa surat dari raja dan para 

pemimpin, dan mengatakan sesuai dengan perintah raja: “Hai, orang Israel, kembalilah 

kepada TUHAN, Tuhan  Abraham, Ishak dan Israel, maka Ia akan kembali kepada yang 

tertinggal dari pada kamu, yaitu  mereka yang terluput dari tangan raja-raja Asyur. 7 

Janganlah berlaku seperti nenek moyangmu dan saudara-saudaramu yang berubah setia 

terhadap TUHAN, Tuhan  nenek moyang mereka, sehingga Ia membuat mereka menjadi ke-

dahsyatan seperti yang kamu lihat sendiri. 8 Sekarang, janganlah tegar tengkuk seperti 


 

512 

nenek moyangmu. Serahkanlah dirimu kepada TUHAN dan datanglah ke tempat kudus 

yang telah dikuduskan-Nya untuk selama-lamanya, serta beribadahlah kepada TUHAN, 

Tuhan mu, supaya murka-Nya yang menyala-nyala undur dari padamu. 9 sebab  bilamana 

kamu kembali kepada TUHAN, maka saudara-saudaramu dan anak-anakmu akan 

mendapat belas kasihan dari orang-orang yang menawan mereka, sehingga mereka 

kembali ke negeri ini. Sebab TUHAN, Tuhan mu, pengasih dan penyayang: Ia tidak akan 

memalingkan wajah-Nya dari pada kamu, bilamana kamu kembali kepada-Nya!” 10 Ketika 

pesuruh-pesuruh cepat itu pergi dari kota ke kota, melintasi tanah Efraim dan Manasye 

sampai ke Zebulon, mereka ditertawakan dan diolok-olok. 11 Namun beberapa orang dari 

Asyer, Manasye dan Zebulon merendahkan diri, dan datang ke Yerusalem. 12 Di Yehuda 

nyata pula tangan Tuhan  yang membulatkan hati mereka untuk melakukan perintah raja 

dan para pemimpin sesuai dengan firman TUHAN. 

Inilah,  

I. Sebuah  perayaan Paskah yang telah bulat ditetapkan. Perayaan tahunan 

tersebut ditetapkan sebagai suatu peringatan akan dibawanya anak-anak 

Israel keluar dari Mesir. Penghidupan kembali ibadah di rumah TUHAN pada 

waktu itu terjadi tepat pada hari-hari yang telah ditentukan untuk perayaan 

Paskah, yaitu hari ke-17 dari bulan pertama. sebab  itu umat pun teringat 

akan hari Paskah yang telah lama dilupakan. “Apa yang harus kita lakukan,” 

kata Hizkia, “dengan hari Paskah? Paskah yaitu  sebuah perayaan yang 

membawa penghiburan, namun telah lama diabaikan. Bagaimana kita 

menghidupkannya kembali? Waktunya telah lewat untuk tahun ini. Kita 

tidak dapat merayakannya segera. Jemaah masih sedikit, rakyat tidak 

memperhatikannya, para imam tidak siap (ay. 3). Haruskah kita 

menundanya hingga lain tahun?” Banyak orang, sepertinya, ingin 

menundanya. namun  Hizkia mempertimbangkan bahwa kalau menunggu lagi 

hingga 12 bulan, hati umat akan berubah dingin. Juga, itu waktu yang terlalu 

lama untuk kehilangan berkat dari perayaan hari tersebut. sebab  itu, 

setelah mengetahui ada pengecualian dalam hukum Musa bahwa orang-

orang tertentu yang tidak tahir di bulan pertama dapat merayakan Paskah di 

hari ke-14  bulan kedua dan itu sah menurut hukum (Bil. 9:11), maka Hizkia 

pun tidak ragu-ragu lagi untuk menyampaikannya kepada jemaah. Maka 

mereka pun berketetapan untuk merayakan Paskah di bulan kedua. Kiranya 

keadaan memberi jalan kepada hal yang merupakan inti, dan jangan biarkan 

yang inti itu harus hilang sebab  mempertimbangkan ketepatan waktu. 

Tempaan sungguh baik ketika besi sedang panas-panasnya, begitu pula 

sungguh tepat untuk membawa orang ketika mereka sedang berpikiran baik. 

Penundaan itu berbahaya.  

II. Sebuah pengumuman dikeluarkan mengenai perayaan Paskah ini, untuk 

memanggil rakyat merayakannya. 

Kitab 2 Tawarikh 30:1-12 

 

513 

1. Sebuah undangan dikirimkan kepada suku-suku yang memberontak 

untuk mendorong mereka datang menghadiri perayaan yang khidmat 

ini. Surat-surat ditulis kepada Efraim dan Manasye untuk mengundang 

mereka ke Yerusalem guna merayakan Paskah ini (ay. 1), tanpa 

rancangan politik untuk membawa mereka kembali kepada keluarga 

Daud, melainkan dengan suatu maksud yang saleh untuk membawa 

mereka kembali kepada TUHAN Tuhan  Israel. “Biarlah mereka membawa 

siapa yang mereka inginkan bagi raja mereka,” kata Hizkia, “supaya 

dengan begitu mereka membawa dia bagi Tuhan  mereka.” Segala 

perselisihan antara Yehuda dan Israel, entah dalam perkara kerajaan 

ataupun keagamaan, tidak akan menjadi penghalang. Jika bangsa Israel 

dengan sungguh-sungguh mau kembali kepada TUHAN Tuhan  mereka, 

maka Hizkia akan menyambut mereka sebaik ia menyambut rakyatnya 

sendiri, untuk merayakan Paskah. Pesan dikirim ke segenap suku Israel 

dengan desakan yang sungguh-sungguh supaya rakyat mengambil 

kesempatan ini untuk kembali kepada Tuhan  yang telah mereka lawan. 

Nah, kita menemukan, 

(1) Isi surat yang diedarkan pada kesempatan itu, di mana Hizkia 

menyatakan keprihatinan mendalam bagi kehormatan Tuhan  dan 

kesejahteraan kerajaan tetangganya itu, serta kemakmuran yang 

dengan penuh hasrat dirindukannya. Ia tidak menerima pajak atau 

upeti dari undangan yang dikeluarkannya ini, namun  ketiadaan dari 

semua hal tadi telah sering, dan telah lama, mengusik kerajaannya. 

Undangannya ini sama seperti membalas kejahatan dengan ke-

baikan. Amatilah, 

[1] Apa yang ditekankan Hizkia kepada mereka (ay. 8): “Serahkanlah 

dirimu kepada TUHAN. Supaya dapat masuk ke dalam 

persekutuan dengan Dia, masuklah terlebih dahulu ke dalam 

kovenan dengan Dia.” Ulurkanlah tangan kepada TUHAN 

(demikianlah istilahnya), yaitu, “Sepakatlah untuk mengambil 

Dia sebagai Tuhan mu.” Suatu tawaran diteguhkan dengan 

memberikan tangan untuk bersalaman. “Terimalah tawaran ini. 

Bergabunglah dengan Dia dalam suatu kovenan yang kekal. 

Menuliskan pada tangan[mu], [bahwa kamu] kepunyaan TUHAN 

(Yes. 44:5). Ulurkanlah tanganmu kepada-Nya sebagai tanda 

memberi hatimu kepada-Nya. Letakkan tanganmu pada bajak-

Nya. Abdikan dirimu bagi pelayanan-Nya, untuk bekerja bagi Dia. 

Serahkanlah dirimu kepada-Nya,” yaitu, “Terimalah segala per-


 

514 

syaratan-Nya, tunduk di bawah pemerintahan-Nya, jangan lagi 

berdiri menentang Dia.” “Serahkanlah dirimu kepada-Nya, untuk 

diperintah-Nya secara mutlak dalam hal apa saja, siap di segala 

waktu, untuk berada, dan melakukan serta menderita apa pun 

sesuai kehendak-Nya. Untuk itu, janganlah tegar tengkuk seperti 

nenek moyangmu. Janganlah segala keinginanmu yang jahat dan 

buruk itu bangkit melawan dan memberontak terhadap 

kehendak Tuhan . Jangan berkata bahwa kamu akan melakukan 

apa yang kamu senangi, namun  bertekadlah untuk melakukan apa 

yang Dia kehendaki.” Dalam pemikiran duniawi selalu ada 

kebebalan, keras kepala, ketidaktaatan untuk mematuhi Tuhan . 

Kita mewarisinya dari nenek moyang kita. Warisan tersebut ber-

tumbuh dalam tulang kita. sebab  itu, hal ini harus ditaklukkan. 

Dan keinginan yang ada di dalamnya, roh perlawanan, harus 

diluluhkan ke dalam kehendak Tuhan . Dan untuk kuk-Nya, leher 

yang kaku keras seperti besi harus ditekuk dan dipasangkan 

dengan kuku-Nya itu. Untuk tunduk kepada Tuhan , Raja Hizkia 

mendorong mereka untuk datang ke tempat kudus-Nya, yaitu, 

untuk menghampiri-Nya di tempat yang telah dipilih-Nya, untuk 

meletakkan nama-Nya di sana, dan beribadah kepada Dia dengan 

segala aturan dan ketetapan yang telah ditetapkan-Nya. “Pintu-

pintu tempat kudus ini telah dibuka, dan engkau bebas untuk 

memasukinya. Pelayanan tempat suci ini telah dihidupkan 

kembali, dengan senang hati engkau disambut untuk bergabung 

di dalamnya.” Sang raja berkata, Datanglah. Para pembesar dan 

para imam berkata, Marilah. Dan barangsiapa yang mau, 

hendaklah ia datang. Raja memanggil (ay. 6), kembalilah kepada 

TUHAN. Sebab mereka telah meninggalkan Dia dan menyembah 

Tuhan -Tuhan  lain. Sadarlah dan bertobatlah. Demikianlah orang-

orang yang oleh anugerah telah kembali kepada Tuhan  harus 

melakukan semua yang dapat dilakukannya untuk membawa 

orang-orang lain kembali kepada Dia. 

[2] Alasan yang dikemukakan Hizkia untuk membujuk orang Israel 

mengikuti perayaan Paskah. Pertama, “Engkau yaitu  anak-anak 

Israel, dan sebab nya masih memiliki hubungan, masih 

berkewajiban, kepada Tuhan  Israel, dari siapa engkau 

memberontak.” Kedua, “Tuhan  yang memanggil engkau untuk 

kembali yaitu  Tuhan  Abraham, Ishak, dan Yakub, Tuhan  kovenan 

dengan nenek moyangmu, yang beribadah kepada-Nya dan 

Kitab 2 Tawarikh 30:1-12 

 

515 

tunduk kepada-Nya. Dan itulah yang menjadi kehormatan dan 

kebahagiaan mereka untuk melakukan yang demikian.” Ke-

tiga, “Nenek moyangmu yang belum lama ini telah meninggalkan 

Dia dan melawan Dia telah diserahkan kepada kehancuran. 

Kemurtadan dan penyembahan berhala mereka telah menjadi 

kehancuran mereka, seperti yang engkau lihat (ay. 7). Kiranya 

celaka mereka menjadi peringatan bagi engkau.” Keempat, 

“Engkau hanyalah yang tertinggal dari pada kamu, yaitu  mereka 

yang terluput dari tangan raja-raja Asyur (ay. 6), dan sebab nya 

penting bagimu untuk memohon perlindungan kepada Tuhan  

nenek moyangmu, supaya engkau tidak ditelan habis.” Kelima, 

“Inilah satu-satunya jalan untuk  berpaling dari kengerian murka 

Tuhan  (ay. 8, KJV), yang pasti akan membakar habis dirimu, jika 

engkau tetap tegar tengkuk.” Akhirnya, “Jika engkau kembali 

kepada Tuhan  di jalan kewajibanmu, maka Ia akan kembali 

kepadamu di jalan belas kasihan.” Inilah perkataan yang dimulai 

oleh Hizkia (ay. 6) dan diakhiri demikian juga (ay. 9). Secara 

umum, “Engkau akan mendapati Dia pengasih dan penyayang, 

dan Ia tidak akan memalingkan wajah-Nya dari pada kamu, jika 

engkau mencari-Nya, tak peduli engkau telah menyebabkan-Nya 

begitu murka.” Secara khusus, “Engkau boleh berharap bahwa Ia 

akan mengeluarkan saudara-saudaramu dari penawanan dan 

membawa mereka kembali ke negeri asal mereka.” Masih adakah 

ungkapan yang menyentuh hati, lebih mengharukan, dibandingkan  

ini? Masih adakah alasan yang lebih baik dibandingkan  ini? Masih 

adakah lagi yang perlu diserukan selain dibandingkan  ini?  

(2) Sambutan yang dialami oleh para utusan Hizkia dan pesan yang 

dibawa mereka. Tidak tampak bahwa Hosea, yang ketika itu menjadi 

raja Israel, merasa jengkel dengan atau menentang penyebaran 

pesan itu seluruh kerajaannya. Ia juga tidak melarang rakyatnya 

untuk menerima undangan itu. Tampaknya ia menyerahkan 

sepenuhnya kepada mereka untuk bebas menentukan. Mereka boleh 

pergi ke Yerusalem untuk beribadah jika mereka mau. Sebab, meski 

dia berbuat jahat, namun  bukan seperti raja-raja Israel yang 

mendahului dia (2Raj. 17:2). Ia telah melihat kehancuran datang 

menimpa kerajaannya, dan, jika ada dari rakyatnya yang ingin 

mencoba suatu tindakan untuk mencegahnya, maka mereka 

mendapatkan restunya sepenuhnya. namun , mengenai rakyat Israel,  


 

516 

[1] Kebanyakan dari mereka mengabaikan panggilan itu dan 

menutup telinga. Para utusan Hizkia berangkat dari kota ke kota, 

sebagian ke satu kota dan yang lain ke kota lain, dan memohon 

dengan sangat agar rakyat datang ke Yerusalem untuk 

merayakan Paskah. Akan namun , mereka sangat jauh dari 

mematuhi pesan sampai malah melecehkan orang-orang yang 

membawanya, menertawakan dan mengolok-olok mereka (ay. 

10), tidak hanya menolak, namun  menolak dengan penghinaan. 

Ceritakanlah tentang Tuhan  Abraham! Mereka tidak mengenal 

Dia, mereka punya Tuhan -Tuhan  lain untuk dilayani, Baal dan 

Asytarot. Ceritakanlah tentang Bait Suci! Bukit-bukit 

pengorbanan mereka sama baiknya. Ceritakanlah tentang belas 

kasih dan murka Tuhan ! Mereka tidak takut kepada yang satu dan 

tidak menginginkan yang lain. Tidak heran bahwa para utusan 

raja diperlakukan dengan hina oleh bangsa yang murtad ini, 

sebab  para utusan Tuhan , juga diperlakukan demikian, yaitu 

hamba-hamba-Nya para nabi yang membawa kepercayaan dari 

Dia. Kehancuran kerajaan dari sepuluh suku itu kini sudah dekat. 

Hal itu terjadi dua atau tiga tahun sesudah ini, yaitu ketika raja 

Asyur mengepung Samaria, yang berakhir dengan penawanan 

sepuluh suku tersebut. Persis sebelum hal ini terjadi, tidak hanya 

raja mereka sendiri mengizinkan mereka untuk kembali ke 

rumah TUHAN, namun  juga raja Yehuda dengan sungguh-sungguh 

mengundang mereka untuk kembali. Seandainya mereka mau 

menerima undangan ini, hal tersebut mungkin dapat mencegah 

kehancuran mereka. namun  ketegaran mereka telah 

mempercepat dan memperberat kehancuran mereka, dan 

meninggalkan mereka tanpa ampun.  

[2] Namun ada beberapa yang menerima undangan itu. Pesan itu, 

kendati bagi sebagian yaitu  suatu bau kematian yang 

mematikan, bagi orang lain merupakan suatu bau kehidupan 

yang menghidupkan (ay. 11). Di hari-hari terburuk pun Tuhan  

selalu mempunyai suatu sisa. Demikian pula yang dimiliki-Nya di 

sini, beberapa orang dari Asyer, Manasye, dan Zebulon (di sini 

tidak disebutkan tentang orang-orang dari Efraim, kendati 

beberapa dari suku tersebut disebutkan dalam ay. 18),  meren-

dahkan diri, dan datang ke Yerusalem, yaitu, mereka menyesali 

dosa-dosa mereka dan tunduk kepada Tuhan . Kesombongan 

Kitab 2 Tawarikh 30:1-12 

 

517 

menahan orang dari menyerahkan diri kepada TUHAN. Ketika 

kesombongan dipatahkan, maka pekerjaan pasti terselesaikan. 

2. Perintah diberikan kepada orang-orang Yehuda untuk menghadiri 

perayaan yang khidmat ini. Dan mereka semua menaatinya (ay. 12). 

Mereka melakukannya dengan satu hati, sehati dan sepikir di dalamnya, 

dan tangan Tuhan  membulatkan mereka sehingga menjadi satu 

hati. Sebab di hari kejayaan para pengikut Kristus dijadikan bersedia. 

Tuhan -lah yang mengerjakan baik kemauan maupun kehendak. Ketika 

orang-orang pada suatu waktu menyatakan suatu keberanian tak 

terduga untuk melakukan apa yang baik, maka kita harus mengakui 

bahwa tangan Tuhan  ada di dalamnya. 

Perayaan Paskah 

(30:13-20) 

13 Maka berkumpullah di Yerusalem banyak orang, suatu jemaah yang sangat besar, untuk 

merayakan hari raya Roti Tidak Beragi pada bulan yang kedua. 14 Lalu bangunlah mereka 

menjauhkan mezbah-mezbah yang ada di Yerusalem; juga semua mezbah korban ukupan 

disingkirkan dan dibuang ke lembah Kidron. 15 Kemudian disembelihlah domba Paskah 

pada tanggal empat belas bulan kedua. Maka para imam dan orang-orang Lewi merasa 

malu, lalu menguduskan dirinya dan membawa korban bakaran ke rumah TUHAN. 16 

Mereka berdiri pada tempatnya menurut peraturan yang berlaku bagi mereka masing-

masing, sesuai dengan Taurat Musa, abdi Tuhan  itu; para imam menyiramkan darah yang 

diterimanya dari orang-orang Lewi. 17 Sebab ada banyak di antara jemaah yang tidak 

menguduskan dirinya, sehingga menjadi tugas orang Lewi untuk menyembelih domba-

domba Paskah bagi setiap orang yang tidak dapat menguduskannya bagi TUHAN sebab  

ia tidak tahir. 18 Sebab sebagian besar dari rakyat – terutama dari Efraim, Manasye, 

Isakhar dan Zebulon – tidak mentahirkan diri. Namun mereka memakan Paskah, 

walaupun tidak sesuai dengan apa yang ada tertulis. namun  Hizkia berdoa untuk mereka, 

katanya: “TUHAN, yang baik itu, kiranya mengadakan pendamaian bagi semua orang, 19 

yang sungguh-sungguh berhasrat mencari Tuhan , yaitu  TUHAN, Tuhan  nenek moyangnya, 

walaupun ketahiran mereka tidak sesuai dengan tempat kudus.” 20 TUHAN mendengar 

Hizkia dan membiarkan bangsa itu selamat. 

Waktu yang ditetapkan bagi Paskah telah tiba, dan berkumpullah sebuah jemaah 

yang sangat besar pada kesempatan tersebut (ay. 13). Sekarang di sini kita 

mendapati, 

I. Persiapan yang mereka buat bagi Paskah dan sungguh sebuah persiapan 

yang baik: Mereka menjauhkan semua mezbah penyembahan berhala yang 

dijumpai, tidak hanya di dalam Bait Suci, namun  juga di Yerusalem (ay. 14). 

Sebelum mereka merayakan Paskah, mereka membuang ragi yang lama ini. 

Persiapan baik yang dapat kita lakukan bagi Paskah Injili yaitu  membuang 

semua pelanggaran kita, semua penyembahan berhala rohani kita. 


 

518 

II. Perayaan Paskah. Dalam perayaan ini orang-orang begitu giat dan 

bersemangat sehingga para imam dan orang-orang Lewi sendiri menjadi 

tersipu-sipu melihat diri mereka dikalahkan oleh orang biasa, melihat 

mereka lebih siap membawa korban persembahan dibandingkan  yang mereka 

tawarkan. Hal ini mendorong mereka untuk menguduskan diri (ay. 15), 

supaya pelayanan tidak terhambat sebab  kekurangan tangan untuk 

menjalankannya. Semangat orang lain dalam beribadah seharusnya 

membuat kita merasa malu akan dinginnya sikap kita sendiri, dan 

seharusnya mendorong kita untuk tidak hanya melakukan kewajiban ibadah 

kita, namun  juga melakukannya dengan baik, dan menguduskan diri untuk 

itu. Para imam dan orang Lewi melakukan kewajiban mereka sesuai tugas 

masing-masing (ay. 16), menyiramkan darah ke atas mezbah, yang 

merupakan gambaran Kristus sang korban Paskah yang dipersembahkan 

bagi kita.  

III. Ketidakberesan yang menjadi kesalahan para imam di dalam upacara ini. 

Hal-hal pokok terkelola dengan baik dan dengan pengabdian yang besar. 

Namun, di samping pelaksanaannya yang sudah terlambat satu bulan,  

1. Orang Lewi telah menyembelih korban Paskah, yang seharusnya 

dilakukan hanya oleh para imam (ay. 17). Mereka juga membantu 

banyak hal lebih banyak dibandingkan  yang biasanya diperbolehkan oleh 

hukum Taurat dalam mempersembahkan korban yang lain, khususnya 

korban-korban untuk mentahirkan yang tidak suci, yang perlu dilakukan 

sekarang sebab  banyak orang yang tidak suci. Beberapa penafsir 

berpikir bahwa itu yaitu  tugas para pemberi persembahan, bukan 

tugas para imam, sehingga orang-orang Lewi boleh melakukannya di 

sini. Biasanya setiap orang menyembelih domba korbannya, namun  

sekarang bagi orang-orang yang tidak tahir menurut hukum Taurat 

dapat diwakili oleh orang-orang Lewi. 

2. Banyak yang diizinkan makan korban Paskah meskipun tidak tahir 

menurut aturan hukum yang ketat (ay. 18). Ini yaitu  bulan yang kedua, 

dan tidak ada jaminan untuk menunda mereka lebih lanjut ke bulan yang 

ketiga, sebab , jika mereka mulai di bulan pertama, hukum 

memperbolehkan mereka makan di bulan kedua. Dan mereka sama 

sekali tidak dilarang untuk makan, supaya umat dari bangsa lain yang 

baru bertobat tidak menjadi tawar hati, dan supaya jangan sampai ada 

yang pulang dengan mengeluh dan bukannya bersukacita. Grotius 

mengamati dari sini bahwa upacara perayaan harus memberi jalan, tidak 

Kitab 2 Tawarikh 30:1-12 

 

519 

hanya bagi kebutuhan umum, namun  juga bagi manfaat dan keuntungan 

umum. 

IV. Doa Hizkia kepada Tuhan  untuk mengampuni mereka atas ketidakberesan ini. 

Semangat Hizkialah yang telah memanggil mereka untuk berkumpul segera, 

sehingga dia tidak mau ada yang menanggung akibat buruk sebab  

sempitnya waktu untuk mengadakan persiapan. sebab  itu ia memikirkan 

diri untuk menjadi juru syafaat bagi orang-orang yang memakan Paskah, 

walaupun tidak sesuai dengan apa yang ada tertulis, supaya tidak akan ada 

murka yang menimpa mereka dari TUHAN. Doanya yaitu ,  

1. Sebuah doa yang singkat namun bertujuan: “TUHAN, yang baik itu, kiranya 

mengadakan pendamaian bagi semua orang  di dalam jemaah yang telah 

menetapkan dan menyiapkan hatinya, terlibat, atau yang sungguh-sungguh 

berhasrat mencari Tuhan , kendati persiapan upacaranya masih kurang. 

Perhatikanlah,  

(1) Hal besar yang diharuskan dari kita untuk mendekat kepada Tuhan  

dengan mengikuti ibadah ketetapan-Nya yaitu  bahwa kita harus 

menyiapkan hati kita, sungguh-sungguh berhasrat mencari Tuhan . Kita 

harus tulus dan lurus hati dalam semua yang kita lakukan. Manusia 

batiniah kita dilibatkan dan khusyuk di dalamnya, dan kita melaku-

kannya dengan sepenuh hati. Tanpa hal ini maka tidak akan ada 

artinya. Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam 

batin. Hizkia tidak berdoa agar hal ini dapat ditiadakan atau agar 

kekurangan hal-hal lain dapat diampuni. Sebab, hanya satu saja yang 

perlu, bahwa kita mencari Tuhan , perkenanan-Nya, kehormatan-Nya, 

dan kita menyiapkan hati untuk melakukannya.  

(2) Di samping kesungguhan dan ketulusan hati ini masih ada banyak 

cacat dan kelemahan, baik semangatnya maupun kinerja pelayanan, 

sehingga masih kurang ketahiran mereka dari tempat kudus. 

Kebobrokan hati tidak sepenuhnya ditaklukkan, pikiran tidak 

sepenuhnya dipusatkan, perasaan tidak begitu hidup, iman tidak 

begitu bekerja, sebagaimana seharusnya. Inilah kekurangan di 

tempat kudus. Tidak ada yang sempurna di bawah matahari, tidak 

ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat 

dosa.  

(3) Semua kekurangan ini membutuhkan anugerah pengampunan dan 

kesembuhan. Sebab pengabaian dalam melakukan kewabajiban 

yaitu  dosa, sama halnya dengan pengabaian tugas. Seandainya 


 

520 

Tuhan  harus berurusan dengan kita dengan keadilan yang ketat 

berdasarkan perilaku kita, maka habislah kita.  

(4) Cara untuk memperoleh pengampunan bagi kekurangan kita dalam 

tugas panggilan, dan semua pelanggaran kita terhadap hal-hal yang 

kudus, yaitu  dengan mencarinya dari Tuhan  melalui doa. Dan tentu 

saja bukan sekadar pengampunan, melainkan harus diperoleh 

dengan permohonan melalui darah Kristus.  

(5) Dalam doa ini kita harus mendapat kekuatan dari kebaikan Tuhan : 

Pendamaian dari TUHAN yang baik. Sebab, ketika Ia menyatakan 

kebaikan, Ia bersikeras memberi yang terbaik, mengampuni 

kesalahan, pelanggaran dan dosa.  

(6) Tugas orang-orang yang memiliki kewajiban atas orang lain yaitu  

tidak hanya menjaga diri sendiri, namun  juga mereka yang 

dipimpinnya, untuk melihat di mana kekurangan mereka, dan 

berdoa bagi mereka, seperti Hizkia di sini (lih. Ayb. 1:5). 

2. Sebuah doa yang dijawab: TUHAN mendengar Hizkia, senang dengan 

kepeduliannya yang tulus kepada jemaah, dan, sebagai jawaban atas 

doanya, Ia membiarkan bangsa itu selamat (ay. 20). Ia tidak hanya tidak 

menghakimi dosa mereka, namun  juga dengan murah hati menerima 

semua ibadah mereka. Sebab kesembuhan tidak hanya menyatakan 

pengampunan (Yes. 6:10; Mzm. 103:3), namun  juga penghiburan dan 

kedamaian (Yes. 57:18; Mal. 4:2). 

 Perayaan Hari Raya Roti Tidak Beragi 

(30:21-27) 

21 Tujuh hari lamanya orang Israel yang berada di Yerusalem merayakan hari raya Roti 

Tidak Beragi dengan kesukaan yang besar, sedang orang-orang Lewi dan para imam 

setiap hari menyanyikan puji-pujian bagi TUHAN dengan sekuat tenaga. 22 Hizkia 

mengucapkan kata-kata pujian kepada semua orang Lewi yang menunjukkan akal budi 

yang baik dalam melayani TUHAN. Demikianlah orang memakan makanan perayaan 

selama tujuh hari, sambil mempersembahkan korban keselamatan dan mengucapkan 

syukur kepada TUHAN, Tuhan  nenek moyang mereka. 23 Kemudian seluruh jemaah 

sepakat untuk berhari raya tujuh hari lagi. Lalu mereka berhari raya tujuh hari lagi 

dengan sukaria. 24 Sebab Hizkia, raja Yehuda, telah menyumbangkan kepada jemaah 

seribu ekor lembu jantan dan tujuh ribu kambing domba. Juga para pemimpin 

menyumbangkan kepada jemaah seribu ekor lembu jantan dan sepuluh ribu ekor 

kambing domba. Dan sebagian besar para imam telah menguduskan diri. 25 Seluruh 

jemaah Yehuda bersukaria, juga para imam dan orang-orang Lewi, dan seluruh jemaah 

yang datang dari Israel, serta orang-orang asing, baik yang datang dari tanah Israel, 

maupun yang tinggal di Yehuda. 26 Maka besarlah kesukaan di Yerusalem, sebab  sejak 

Salomo bin Daud, raja Israel, tidak pernah terjadi peristiwa semacam itu di Yerusalem. 27 

Sesudah itu para imam Lewi bangun berdiri dan memberkati rakyat. Suara mereka 

didengar TUHAN dan doa mereka sampai ke tempat kediaman-Nya yang kudus di sorga. 

Kitab 2 Tawarikh 30:1-12 

 

521 

Sesudah Paskah, diadakan lagi perayaan hari raya Roti Tidak Beragi yang 

berlangsung selama 7 hari. Kita diberi tahu di sini bagaimana perayaan tersebut 

dirayakan dan segala sesuatu di dalam kisah ini tampak menyenangkan dan 

hidup.  

1. Korban-korban yang berlimpah dipersembahkan kepada Tuhan  dalam korban 

keselamatan, yang melaluinya mereka mengakui dan memohon perkenanan 

Tuhan . Dan pada kesempatan tersebut orang-orang yang membawa 

persembahan juga merayakan bersama dengan teman-teman mereka selama 

tujuh hari ini (ay. 22), sebagai tanda dari persekutuan mereka dengan Tuhan  

dan penghiburan yang mereka dapat dalam perkenanan serta perdamaian 

mereka dengan Dia. Untuk mengimbangi bagian dari kebaktian ini, agar 

mezbah Tuhan dapat dipenuhi dengan lemak dan darah serta para imam dan 

orang-orangnya mendapat bagian daging korban keselamatan, Hizkia 

memberikan dari simpanannya sendiri 1.000 lembu jantan dan 7.000 

domba. Selain itu, para pembesar, yang senang dengan contoh saleh sang 

raja, juga memberikan jumlah yang sama dari lembu jantan dan banyak 

domba, dan semuanya untuk persembahan korban keselamatan (ay. 24). 

Melalui hal ini Tuhan  dihormati, sukacita perayaan dipelihara, dan orang-

orang asing didorong untuk datang lagi ke Yerusalem. Apa yang telah 

dilakukan dengan kemurahan hati oleh raja dan para pembesar sangatlah 

menghibur seluruh jemaah. namun  apa gunanya harta yang banyak selain 

untuk memampukan orang melakukan lebih banyak kebaikan? Kristus 

memberi makan orang-orang yang mengikuti-Nya. Saya percaya bahwa 

Hizkia dan para pembesarnya tidak menjadi lebih miskin di akhir tahun itu 

setelah mereka memberi dengan saleh dan limpahnya.  

2. Banyak doa yang baik yang dipanjatkan kepada Tuhan  dengan korban 

keselamatan (ay. 22). Mereka mengucapkan syukur kepada TUHAN, Tuhan  

nenek moyang mereka. Kepada-Nyalah maksud dan arti dari semua korban 

keselamatan itu ditujukan. Ketika para imam memercikkan darah dan 

membakar lemak, mereka membuat pengakuan, demikian pula umat ketika 

mereka merayakan bagian mereka. Mereka membuat suatu pengakuan iman 

atas hubungan mereka dengan Tuhan  dan kebergantungan kepada-Nya. 

Sebuah pengakuan pendosa atas dosa-dosa dan kesalahan mereka, sebuah 

ucapan syukur atas belas kasih Tuhan  kepada mereka, dan sebuah 

permohonan atas kekurangan dan kerinduan hati mereka. Dan, dalam 

kesemuanya ini, mata mereka tertuju kepada Tuhan  sebagai Tuhan  nenek 

moyang mereka, Tuhan  yang mengikat kovenan dengan nenek moyang 

mereka itu.  


 

522 

3. Ada banyak khotbah yang baik. Orang-orang Lewi yang tugasnya tertulis 

dalam Ulangan 33:10, mengajar umat pengetahuan yang baik tentang Tuhan , 

membaca dan membuka Kitab Suci, dan mengajarkan jemaah tentang Tuhan  

dan tugas panggilan mereka kepada-Nya. Dan ada banyak kebutuhan akan 

pengajaran ini di sana, setelah begitu lama terjadi kelaparan firman selama 

pemerintahan lalu. Hizkia sendiri tidak berkhotbah, namun  dia menyam-

paikan pesan kepada orang-orang Lewi yang berkhotbah, mendengarkan 

khotbah mereka, memuji kerajinan mereka, dan meyakinkan mereka akan 

perlindungan dan dukungan-Nya. Dengan ini sang raja mendorong mereka 

untuk belajar keras dan bersusah payah. Ia memberi penghargaan kepada 

mereka, supaya umat dapat menghargai dan memandang martabat mereka. 

Para pembesar dan pemimpin, dengan mengakui dan mendorong para peng-

khotbah yang setia dan bekerja keras, sangat mendukung kepentingan 

kerajaan Tuhan  di antara manusia.  

4. Mereka menyanyikan mazmur setiap hari (ay. 21): Orang-orang Lewi dan 

para imam setiap hari menyanyikan puji-pujian bagi TUHAN, dengan lagu dan 

alat musik, untuk menyatakan sukacita satu sama lain yang meluap di dalam 

Tuhan  dan syukur kepada-Nya. Memuji Tuhan  seharusnya menjadi pelayanan 

kita yang besar di dalam ibadah bersama.  

5. Setelah merayakan tujuh hari perayaan ini dengan saleh, mereka merasa 

sangat terhibur sehingga mereka berhari raya tujuh hari lagi (ay. 23). 

Mereka tidak menetapkan cara-cara ibadah yang baru, namun  hanya 

mengulangi dan meneruskan yang lama. Keadaan mereka sungguh luar 

biasa: mereka telah lama tanpa upacara ibadah. Kesalahan mereka 

diperdalam dengan mengabaikannya. Mereka sekarang memiliki suatu 

jemaah yang sangat besar dan sepenuh hati mau beribadah. Mereka tidak 

tahu kapan lagi dapat memiliki kesempatan seperti ini, sehingga tidak mau 

berpisah sebelum menambah waktu beribadah dua kali lipat. Banyak dari 

mereka yang berada sangat jauh dari rumah, dan punya pekerjaan untuk 

diurus di desa, sebab, dalam bulan yang kedua ini, mereka ada di 

pertengahan musim panen. namun  mereka tidak tergesa-gesa untuk kembali: 

gairah kecintaan akan rumah TUHAN membuat mereka melupakan urusan 

dunia. Mereka tidak seperti orang-orang yang jenuh dengan ibadah kepada 

Tuhan  dan berkata, Betapa menjemukan ibadah itu! Atau mereka yang 

bertanya, Kapan Sabat akan berlalu? Para hamba Tuhan  seharusnya 

berlimpah dalam pekerjaan-Nya.  

6. Semuanya ini mereka lakukan dengan sukaria (ay. 23). Mereka semua 

bersukacita, dan terutama orang-orang asing (ay. 25). Maka besarlah 

kesukaan di Yerusalem (ay. 26). Tidak pernah ada yang seperti ini sejak 

Kitab 2 Tawarikh 30:1-12 

 

523 

penahbisan Bait Suci di zaman Salomo. Perhatikanlah, kewajiban suci harus 

dilakukan dengan sukacita kudus. Kita harusnya giat dan bergembira dalam 

melakukannya, menikmatinya, mengecap manisnya persekutuan dengan 

Tuhan , dan memandangnya sebagai kegembiraan dan penghiburan yang tak 

terkatakan bahwa kita diperkenankan untuk merasakan sekarang sukacita 

besar seperti yang akan kita alami nanti dalam kekekalan  

7. Jemaah akhirnya bubar dengan sebuah doa berkat (ay. 27).  

(1) Para imam yang menyatakan berkat itu. Sebab menjadi bagian dari tugas 

jabatan mereka untuk memberkati umat (Bil. 6:22-23), sebab  mereka 

menjadi mulut umat dalam berhubungan dengan Tuhan  melalui doa, dan 

juga menjadi mulut Tuhan  bagi umat dengan menyampaikan janji-Nya. 

Sebab berkat mereka mencakup keduanya. Dalam berkat itu mereka 

menyaksikan kerinduan mereka akan kesejahteraan umat dan kebergan-

tungan mereka kepada Tuhan  dan perkataan anugerah-Nya. Betapa 

menjadi penghiburan yang besar bagi jemaah yang diutus pulang dengan 

mahkota berkat seperti itu! 

(2) Tuhan  berkata Amin kepada ucapan berkat itu. Suara para imam, ketika 

mereka memberkati umat, di dengar TUHAN dan naik ke tempat 

kediaman-Nya yang kudus di Sorga. Ketika mereka mengucapkan berkat, 

maka Tuhan  pun memerintahkan berkat, dan mungkin Ia memberikan 

beberapa tanda peneguhan. Doa yang naik ke sorga di dalam awan dupa 

akan turun kembali ke bumi ini dalam hujan berkat. 

 

PASAL  3 1  

i sini diceritakan kelanjutan kisah pembaharuan yang terberkati itu, 

dengan Hizkia sebagai alat kemuliaannya, serta kemajuan 

menggembirakan yang dibuatnya dalam pembaharuan itu.  

I. Semua sisa penyembahan berhala dihancurkan dan dimusnahkan (ay. 

1). 

II. Para imam dan orang Lewi mulai bekerja lagi, setiap orang di 

tempatnya masing-masing (ay. 2).  

III. Tindakan diambil untuk penghidupan para imam dan orang Lewi. 

1. Bagian harta kerajaan untuk para imam, dan untuk mendukung 

pelayanan di Bait Tuhan , dibayarkan dengan sepatutnya (ay. 3).  

2. Perintah diberikan untuk mengumpulkan sumbangan dari rakyat 

(ay. 4). 

3. Atas perintah itu, rakyat membawa sumbangan mereka dengan 

melimpah (ay. 5-10). 

4. Para penilik ditunjuk untuk mengawasi pembagian sumbangan 

yang masuk (ay. 11-19).  

5. Bagian akhir berisi pujian atas ketulusan Hizkia dalam segala 

usahanya (ay. 20-21). 

Hizkia Menghancurkan Penyembahan Berhala 

(31:1-10) 

1 Setelah semuanya ini diakhiri, seluruh orang Israel yang hadir pergi ke kota-kota di 

Yehuda, lalu meremukkan segala tugu berhala, menghancurkan segala tiang berhala, dan 

merobohkan segala bukit pengorbanan dan mezbah di seluruh Yehuda dan Benyamin, 

juga di Efraim dan Manasye, sampai musnah semuanya. Kemudian pulanglah seluruh 

orang Israel ke kota-kotanya, ke miliknya masing-masing. 2 Hizkia menetapkan 

rombongan para imam dan orang-orang Lewi, rombongan demi rombongan, masing-

masing menurut tugas jabatannya sebagai imam atau sebagai orang Lewi, untuk memper-

sembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, untuk mengucap syukur dan 


 

528 

menyanyikan puji-pujian dan untuk melayani di pintu-pintu gerbang di tempat 

perkemahan TUHAN. 3 Raja memberi sumbangan dari harta miliknya untuk korban 

bakaran, yaitu : korban bakaran pada waktu pagi dan pada waktu petang, korban bakaran 

pada hari-hari Sabat dan pada bulan-bulan baru dan pada hari-hari raya, yang semuanya 

tertulis di dalam Taurat TUHAN. 4 Ia memerintahkan rakyat, yaitu  penduduk Yerusalem, 

untuk memberikan sumbangan yang menjadi bagian para imam dan orang-orang Lewi, 

supaya mereka dapat mencurahkan tenaganya untuk melaksanakan Taurat TUHAN. 5 

Segera setelah perintah ini tersiar, orang Israel membawa dalam jumlah yang besar hasil 

pertama dari pada gandum, anggur, minyak, madu dan segala macam hasil bumi. Mereka 

membawa juga persembahan persepuluhan dari segala sesuatu dalam jumlah yang besar. 

6 Orang Israel dan orang Yehuda yang tinggal di kota-kota Yehuda juga membawa per-

sembahan persepuluhan yang terdiri dari lembu sapi dan kambing domba, dan 

persembahan persepuluhan yang terdiri dari persembahan kudus yang telah dikuduskan 

bagi TUHAN Tuhan  mereka. Semuanya itu diletakkan mereka bertimbun-timbun. 7 Mereka 

mulai membuat timbunan itu pada bulan yang ketiga, dan mereka selesai pada bulan yang 

ketujuh. 8 Hizkia dan para pemimpin datang melihat timbunan itu, dan mereka memuji 

TUHAN dan umat-Nya, orang Israel. 9 Hizkia menanyakan para imam dan orang-orang 

Lewi tentang timbunan itu, 10 dan dijawab oleh Azarya, imam kepala keturunan Zadok 

demikian: “Sejak persembahan khusus mulai dibawa ke rumah TUHAN, kami telah makan 

sekenyang-kenyangnya, namun sisanya masih banyak. Sebab TUHAN telah memberkati 

umat-Nya, sehingga tinggal sisa yang banyak ini.” 

Di sini diceritakan kisah yang terjadi setelah Paskah. Hal yang kurang dalam 

persiapan perayaan itu sebelumnya diperbaiki sebagaimana seharusnya. Ketika 

ibadah untuk merayakan suatu hari Tuhan atau persekutuan telah usai, 

janganlah kita berpikir bahwa pekerjaan telah selesai. Tidak, justru setelah itu 

mulailah bagian tersulit dari pekerjaan kita, yaitu mewujudkan dalam perilaku 

kudus kesan-kesan yang kita terima selama merayakan ketetapan dan ibadah 

itu. Demikian pula yang terjadi di sini, setelah semua perayaan ini selesai, masih 

ada yang harus dilakukan. 

I. Dengan bekerja keras dan bersungguh hati, mereka menghancurkan semua 

tugu penyembahan berhala (ay. 1). Raja sudah melakukan yang terbaik 

untuk menghancurkan tempat-tempat penyembahan berhala ini (2Raj. 

18:4), namun  rakyat dapat menemukan sisa-sisa kekejian yang lolos dari 

mata para pegawai raja, dan sebab  itu, mereka keluar untuk ikut membantu 

membersihkan yang tersisa (ay. 1). Tindakan ini langsung dilakukan setelah 

perayaan Paskah. Perhatikanlah, indahnya persekutuan dengan Tuhan  

semestinya membakar kita dengan semangat kudus dan kemarahan 

terhadap dosa, dan terhadap segala sesuatu yang membuat Tuhan  murka. Jika 

hati kita dibuat menyala-nyala ketika kita sedang melaksanakan ketetapan 

Tuhan , maka semangat yang berkobar-kobar itu akan membakar habis 

sampah kecemaran. Apakah lagi sekarang sangkut paut-Ku dengan berhala-

berhala? Kegigihan mereka dalam menghancurkan tugu dan tiang berhala, 

bukit pengorbanan dan mezbah, terlihat nyata dari,  

Kitab 2 Tawarikh 31:1-10 

 

529 

1. Mereka melakukan ini bukan hanya di kota-kota Yehuda dan Benyamin, 

namun  juga di kota-kota Efraim dan Manasye. Beberapa penafsir 

menduga kota-kota yang dimaksud yaitu  kota-kota yang sudah berada 

di bawah perlindungan dan kekuasaan raja Yehuda. Para penafsir lain 

berpikir bahwa, Hosea, raja Israel tidak melarangnya, kegigihan rakyat 

Yehuda membuat mereka dapat melakukan penghancuran terhadap 

penyembahan berhala sampai ke banyak bagian kerajaan Israel. 

Setidaknya orang-orang dalam jumlah yang banyak  datang dari Efraim 

dan Manasye untuk merayakan Paskah (30:18) dan menghancurkan 

semua patung dan tiang berhala mereka sendiri, dan melakukan hal yang 

sama pada berhala-berhala banyak orang lain yang ada di bawah 

pengaruh mereka atau yang dapat mereka yakinkan untuk mendapat 

izin. Kita seharusnya tidak hanya memperbaharui diri kita sendiri, namun  

melakukan yang terbaik untuk memperbaharui orang lain juga. 

2. Mereka menghancurkan semuanya, sampai musnah semuanya. Mereka 

tidak menyisakan apa pun sebab  kesukaan atau rasa sayang baik pada 

patung itu maupun penyembahnya. Walaupun tadinya begitu antik, 

begitu mahal, begitu indah, begitu dipuja, tetap saja semua harus 

dihancurkan. Perhatikanlah, orang-orang yang tulus menetapkan hatinya 

untuk melawan dosa, akan menetapkan hati untuk melawan semua dosa. 

3. Mereka tidak mau pulang ke rumahnya masing-masing, walaupun 

mereka sudah begitu lama pergi, sampai tugas ini selesai. Mereka tidak 

bisa tenang, atau merasa aman, di kota-kota mereka, selama tugu-tugu 

dan tiang-tiang berhala itu, para pengkhianat dan penghancur negeri 

mereka itu, masih tegak berdiri. Mungkin Nabi Yesaya menunjuk pada 

peristiwa ini ketika, tak lama sebelumnya, dia berbicara tentang suatu 

hari ketika orang membuang berhala-berhala yang dibuatnya sendiri. 

Betapa mengejutkan perubahan yang terberkati ini (Yes. 2:20; 31:6-7). 

II. Hizkia menghidupkan kembali dan memulihkan rombongan-rombongan 

imam dan orang Lewi, yang dahulu ditetapkan oleh Daud, namun  belakangan 

tidak lagi dilaksanakan (ay.