tawarikh ester 15
engambil nyawa Ahas di puncak
usianya ketika ia baru berusia tiga puluh enam tahun. Dosa ini
merusak moral rakyat sehingga pembaharuan pemerintahan berikut-
nya tidak sanggup menyembuhkan mereka dari kecenderungan hati
mereka untuk menyembah berhala. Sebaliknya, mereka memendam
akar kepahitan itu sampai pembuangan di Babel mencabutnya
kembali.
Pasal ini ditutup dengan akhir pemerintahan Ahas (ay. 26-27).
Sepanjang yang bisa dilihat, ia mati tanpa pertobatan, dan oleh sebab
itu mati dalam keadaan hina, sebab ia tidak dikuburkan di pekuburan
raja-raja Israel. Sudah sepantasnya ia dianggap tidak layak untuk
dikuburkan di antara raja-raja yang begitu berbeda. Ia dikuburkan
bersama para raja yang telah memanfaatkan kekuasaan raja untuk
menghancurkan dan bukannya melindungi serta membangun
jemaat.
PASAL 29
i sini kita sedang memasuki suatu pemandangan yang menyenangkan,
pemerintahan yang mulia dan baik dari Hizkia. Dalam pemerintahan ini
kita akan menemukan tentang Tuhan dan agama mungkin lebih banyak dibandingkan
yang kita lihat dalam semua pemerintahan yang baik sebelumnya. Sebab Hizkia
yaitu seorang yang bersemangat, bersungguh-sungguh dan baik, tak seorang
pun seperti dia. Dalam pasal ini kita menemukan sebuah kisah tentang peker-
jaan pembaharuan yang dimulainya dengan semangat besar segera sesudah
pelantikannya sebagai raja. Inilah,
I. Dorongan semangatnya kepada para imam dan orang-orang Lewi,
ketika dia menugasi mereka untuk mengurus rumah TUHAN kembali
(ay. 1-11).
II. Perhatian dan jerih payah yang diberikan oleh orang-orang Lewi untuk
mentahirkan rumah TUHAN dan menata segala sesuatu di sana (ay. 12-
19).
III. Kebangkitan kembali upacara dan ketetapan Tuhan yang telah diabaikan
selama itu, di mana penebusan dibuat bagi dosa-dosa pemerintahan yang
lalu, dan roda ibadah diatur kembali, dan raja serta rakyat pun bersuka
sebab nya (ay. 20-36).
Pemerintahan Hizkia
(29:1-11)
1 Hizkia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh
sembilan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Abia, anak
Zakharia. 2 Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan
Daud, bapa leluhurnya. 3 Pada tahun pertama pemerintahannya, dalam bulan yang
pertama, ia membuka pintu-pintu rumah TUHAN dan memperbaikinya. 4 Ia
mendatangkan para imam dan orang-orang Lewi, dan mengumpulkan mereka di halaman
sebelah timur.
5 Katanya kepada mereka: “Dengarlah, hai orang-orang Lewi! Sekarang kuduskanlah
D
498
dirimu dan kuduskanlah rumah TUHAN, Tuhan nenek moyangmu! Keluarkanlah
kecemaran dari tempat kudus! 6 sebab nenek moyang kita telah berubah setia. Mereka
melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, Tuhan kita, telah meninggalkan-Nya, mereka
telah memalingkan muka dari kediaman TUHAN dan membelakangi-Nya. 7 Bahkan
mereka menutup pintu-pintu balai rumah TUHAN dan memadamkan segala pelita.
Mereka tidak membakar korban ukupan dan tidak mempersembahkan korban bakaran
bagi Tuhan orang Israel di tempat kudus, 8 sehingga murka TUHAN menimpa Yehuda dan
Yerusalem. Ia membuat mereka menjadi kengerian, kedahsyatan dan sasaran suitan
seperti yang kamu lihat dengan matamu sendiri. 9 sebab hal itulah nenek moyang kita
tewas oleh pedang, dan anak-anak lelaki dan anak-anak wanita kita beserta isteri-
isteri kita menjadi tawanan. 10 Sekarang aku bermaksud mengikat perjanjian dengan
TUHAN, Tuhan Israel, supaya murka-Nya yang menyala-nyala itu undur dari pada kita. 11
Anak-anakku, sekarang janganlah kamu lengah, sebab kamu telah dipilih TUHAN untuk
berdiri di hadapan-Nya untuk melayani Dia, untuk menyelenggarakan kebaktian dan
membakar korban bagi-Nya.”
Inilah,
I. Umur Hizkia ketika dia naik takhta. Ia berumur 25 tahun. Yoas, yang naik
takhta sesudah dua pemerintahan yang jahat, hanya berumur 7 tahun. Yosia,
yang naik takhta setelah dua pemerintahan yang jahat, hanya berumur 8
tahun, yang menyebabkan tertundanya pembaharuan. namun Hizkia baru
memerintah ketika usianya sudah lebih tua dari mereka, sehingga dia segera
melakukan pembaharuan. Kita dapat menduga, betapa sedih hatinya melihat
penyembahan berhala dan kecemaran ayahnya. Betapa hatinya sangat
terusik melihat pintu-pintu rumah TUHAN ditutup, dan ia tidak punya kuasa
untuk membukanya selama ayahnya masih hidup. Jiwanya, tak diragukan,
menangis diam-diam sebab hal itu, dan dia bersumpah bahwa ketika dia
mendapatkan jemaah itu, dia akan memperbaiki semua keluhan ini. sebab
itulah, ia segera melakukan pembaharuan dengan hati yang lebih siap dan
tekad yang bulat.
II. Perilaku Hizkia secara umum. Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN,
tepat seperti yang dilakukan Daud (ay. 2). Tentang beberapa dari
pendahulunya telah dikatakan bahwa mereka melakukan apa yang
benar, namun tidak seperti yang dilakukan Daud, tidak dengan kelurusan dan
kesungguhan seperti Daud. Namun di sini ada Hizkia yang memiliki
kecintaan sepenuh hati kepada tabut perjanjian dan hukum Tuhan seperti
yang dimiliki Daud.
III. Tindakannya yang cepat dalam menjalankan karya pembaharuan besar-
besaran untuk memulihkan agama. Hal pertama yang dilakukannya yaitu
membuka pintu-pintu rumah TUHAN (ay. 3). Kita menduga ayahnya tidak
menekan habis ibadah di rumah TUHAN. Sebab kalau tidak, api suci di atas
Kitab 2 Tawarikh 29:1-11
499
mezbah pasti sudah sirna dan kita tidak membaca tentang api itu dinyalakan
kembali. Sebaliknya ayahnya, Raja Ahas, hanya mencegah umat untuk
menghadiri ibadah di rumah TUHAN, selain para imam yang berasal dari
golongannya sendiri (2Raj. 16:15). namun Hizkia segera membuka pintu-
pintu rumah TUHAN, dan mendatangkan para imam dan orang-orang
Lewi. Ia mendapati Yehuda hina dan telanjang, namun tidak
mengutamakannya sebagai pekerjaan pertamanya untuk menghidupkan
kembali kepentingan rakyat kerajaannya, melainkan memulihkan agama
kepada keadaannya yang baik seperti semula. Orang-orang yang memulai
dengan Tuhan , memulai dengan tujuan yang baik dari pekerjaan mereka, dan
pekerjaan mereka akan berhasil.
IV. Pidatonya di hadapan para imam dan orang-orang Lewi. Sangat diketahui,
tak diragukan, bahwa dia memiliki niat baik bagi agama dan sangat hancur
hatinya oleh kebejatan pemerintahan sebelumnya. Namun kita tidak
menemukan para imam dan orang-orang Lewi mengajukan permohonan
kepadanya untuk membaharui pelayanan di rumah TUHAN. Malah
sebaliknya, ialah yang memanggil mereka. Saya jadi bertanya-tanya, hal ini
mungkin menunjukkan betapa dinginnya sikap para imam dan orang Lewi
itu terhadap ibadah di rumah TUHAN, kebalikan dari semangat hati Hizkia.
Sebab, seandainya mereka benar melakukan bagian mereka dengan penuh
semangat, maka pastilah keadaan mereka tidak sedemikian buruk seperti
yang dijumpai Hizkia ketika melihat mereka. sebab itulah dorongan dan
nasihat Hizkia kepada orang-orang Lewi itu sangatlah menyentuh hati.
1. Ia membeberkan di hadapan mereka kehancuran agama dan keadaan
menyedihkan yang diakibatkannya di antara mereka (ay. 6-7): Nenek
moyang kita telah berubah setia. Ia tidak berkata, “Ayahku,” sebab
patutlah ia sebagai anak untuk menghormati nama ayahnya, dan sebab
ayahnya tidak akan melakukan semuanya ini jika para orangtua mereka
dahulu tidak mengabaikan kewajiban mereka. Uria sang imam telah
bergabung dengan Ahas dalam mendirikan mezbah penyembahan
berhala. Hizkia mengeluh,
(1) Bahwa rumah TUHAN telah ditinggalkan: Mereka telah memalingkan
muka dari kediaman TUHAN dan membelakangi-Nya. Perhatikanlah,
memalingkan diri dari ketetapan-ketetapan Tuhan sungguh-sungguh
dapat dikatakan sebagai meninggalkan Tuhan .
(2) Bahwa ibadah kepada Tuhan yang telah dipelihara selama ini
dibiarkan terbengkalai. Lampu-lampu tidak dinyalakan dan dupa
500
tidak dibakar. Masih ada pengabaian seperti itu di zaman sekarang
ini, dan dosanya tidak kurang besarnya, ketika firman tidak dibaca
dan dibuka seperti seharusnya sebab hal ini ditandai dahulu dengan
cahaya lampu, dan ketika doa dan puji-pujian tidak dipersembahkan
dengan benar, sebab hal ini ditandai dahulu dengan pembakaran
dupa.
2. Hizkia menunjukkan akibat-akibat yang menyedihkan dari pengabaian
dan kemerosotan agama di antara mereka (ay. 8-9). Inilah penyebab dari
semua bencana yang telah menimpa mereka. Tuhan dalam murka-Nya
telah menyerahkan mereka kepada persoalan, pedang, dan penawanan.
Pada waktu kita berada di bawah hardikan penyelenggaraan Tuhan
yaitu baik bagi kita untuk menyelidiki apakah kita tidak telah meng-
abaikan hukum dan ketetapan-Nya, dan apakah perseteruan-Nya
terhadap kita diakibatkan oleh pengabaian ini atau tidak.
3. Hizkia menyatakan tujuan dan ketetapan hatinya untuk sepenuhnya
menghidupkan kembali agama dan memajukan agama sebagai pekerjaan
utamanya (ay. 10): “Sekarang aku bermaksud yaitu, aku berketetapan
penuh mengikat perjanjian dengan TUHAN, Tuhan Israel untuk
menyembah Dia saja dan dengan cara yang telah ditetapkan-Nya. Sebab
aku yakin bahwa, jika tidak, maka murka-Nya yang menyala-nyala itu
tidak akan pergi dari kita.” Kovenan ini tidak hanya akan diadakannya
sendiri, namun juga dengan membawa rakyatnya terikat di dalamnya
juga.
4. Ia mengajak dan menyemangati orang-orang Lewi dan para imam untuk
melakukan tugas mereka pada kesempatan ini. Inilah yang dimulainya
(ay. 5). Dan ini pula yang diakhirinya (ay. 11). Ia menyebut mereka
orang-orang Lewi untuk mengingatkan mereka akan kewajiban mereka
kepada Tuhan , dan menyebut mereka anak-anaknya untuk mengingatkan
mereka akan hubungan dengan dirinya, seperti yang diharapkannya,
bahwa seperti seorang anak kepada ayahnya, mereka harus melayani dia
dalam pembaharuan negeri.
(1) Ia memberi tahu mereka apa yang menjadi kewajiban mereka yaitu
untuk menyucikan diri mereka terlebih dahulu dengan bertobat dari
sikap acuh tak acuh mereka, untuk memperbaharui hati dan hidup
mereka sendiri. Dan kemudian memperbaharui kovenan mereka
dengan Tuhan untuk melakukan tugas mereka dengan lebih baik di
masa yang akan datang. Dan setelah itu untuk mentahirkan rumah
TUHAN, sebagai hamba-hambanya, untuk membersihkannya dari
Kitab 2 Tawarikh 29:1-11
501
segala sesuatu yang dilarang, yaitu penyalahgunaan atau
pencemaran terhadapnya, dan untuk menyiapkannya bagi tujuannya
yang semula.
(2) Ia menggerakkan hati mereka untuk melakukannya (ay.
11): “Janganlah lengah, atau lalai, dalam tugasmu. Jangan sampai
pekerjaan baik ini tertinggal sebab kecerobohanmu.” Jangan tertipu,
demikian tafsiran lainnya. Perhatikanlah, orang-orang yang oleh
kelalaian mereka dalam melayani Tuhan bermaksud untuk menghina
Tuhan , dan berusaha menipu Dia, sama saja dengan menipu diri
sendiri, dan menimpakan kutukan ke atas jiwa mereka sendiri.
Janganlah santai (demikian kata sebagian orang), seakan-akan tidak
ada panggilan mendesak untuk melakukannya atau tidak ada bahaya
untuk tidak melakukannya. Perhatikanlah, sikap acuh tak acuh
manusia dalam beribadah terjadi sebab merasa aman-aman saja.
Pertimbangan yang didesakkannya kepada mereka yaitu sebab
jabatan mereka. Tuhan telah menaruh kehormatan ke atas diri me-
reka: Ia telah memilihmu untuk berdiri di hadapan-Nya. Oleh
sebab nya Tuhan mengharapkan pekerjaan dari mereka. Mereka
tidak dipilih untuk diam saja, untuk menikmati martabat dan
meninggalkan tugas untuk dilakukan oleh orang lain, melainkan
untuk melayani Dia dan untuk menjadi pelayan bagi Dia. Mereka
sebab nya harus malu sebab kelalaian mereka selama ini, dan, kini
ketika pintu-pintu rumah TUHAN telah dibuka kembali, harus
memulai pekerjaan mereka dengan kerajinan dua kali lipat.
Rumah TUHAN Ditahirkan
(29:12-19)
12 Lalu bangunlah orang-orang Lewi itu, yaitu dari bani Kehat: Mahat bin Amasai dan Yoël
bin Azaria, dari bani Merari: Kish bin Abdi dan Azaria bin Yehaleleel, dari orang Gerson:
Yoah bin Zima dan Eden bin Yoah, 13 dari bani Elisafan: Simri dan Yeiel, dari bani Asaf:
Zakharia dan Matanya, 14 dari bani Heman: Yehiel dan Simei, dan dari bani Yedutun:
Semaya dan Uziel. 15 Mereka mengumpulkan saudara-saudaranya dan menguduskan
dirinya. Kemudian mereka datang menurut perintah raja, sesuai dengan firman TUHAN,
lalu mentahirkan rumah TUHAN. 16 Sesudah itu masuklah para imam ke bagian dalam
rumah TUHAN untuk mentahirkannya. Semua yang najis, yang didapati mereka di dalam
bait TUHAN, dibawa ke pelataran rumah TUHAN; orang-orang Lewi menerimanya untuk
diangkut ke luar, ke lembah Kidron.
17 Pekerjaan menguduskan itu dimulai pada tanggal satu bulan yang pertama. Pada hari
kedelapan bulan itu mereka sampai ke balai rumah TUHAN dan menguduskan seluruh
rumah TUHAN dalam delapan hari. Mereka selesai pada hari keenam belas bulan
pertama. 18 Lalu masuklah mereka menghadap raja Hizkia dan berkata: “Kami telah
mentahirkan seluruh rumah TUHAN, juga mezbah korban bakaran dengan segala
perkakasnya dan meja roti sajian dengan segala perkakasnya. 19 Dan segala perkakas,
502
yang dibuang raja Ahas, ketika ia berubah setia pada masa pemerintahannya, telah kami
sediakan dan kami kuduskan. Sekarang semuanya itu ada di depan mezbah TUHAN!”
Di sini kita mendapati pekerjaan yang sangat sibuk, pekerjaan baik dan sangat
perlu, yaitu pentahiran rumah TUHAN.
I. Orang-orang yang dipekerjakan dalam pekerjaan ini yaitu para imam dan
orang-orang Lewi, yang seharusnya menjaga kesucian rumah TUHAN,
namun, sebab tidak melakukannya, menjadi prihatin untuk
mentahirkannya. Beberapa orang Lewi disebutkan namanya di sini, dua
orang masing-masing dari tiga puak, Kehat, Gerson, dan Merari (ay. 12), dan
dua orang masing-masing dari tiga keluarga penyanyi, Asaf, Heman, dan
Yedutun (ay. 13-14). Kita tidak dapat menganggap bahwa orang-orang ini
disebutkan namanya sebab mereka yaitu pemimpin (sebab kalau
demikian adanya, maka pastilah imam besar atau beberapa dari kepala
rombongan imam akan disebutkan namanya), melainkan sebab mereka
lebih bersungguh-sungguh dan giat dibandingkan yang lainnya. Ketika Tuhan
memiliki pekerjaan untuk dilakukan, Ia akan membangkitkan para
pemimpin untuk memimpin pekerjaan tersebut. Dan tidaklah selalu bahwa
orang yang pertama dan memiliki jabatan yaitu yang paling cocok bagi
pelayanan itu atau yang paling gigih. Orang-orang Lewi ini tidak hanya
mengajukan diri sendiri, namun juga mengumpulkan saudara-saudara
mereka, dan mendorong mereka untuk bekerja menurut perintah raja, sesuai
dengan firman TUHAN. Amatilah, mereka bertindak sesuai perintah raja,
namun dengan pandangan tertuju kepada firman Tuhan . Raja memerintahkan
mereka apa yang sudah menjadi tugas mereka menurut firman Tuhan , dan,
dalam melakukannya, mereka memandang firman Tuhan sebagai aturan bagi
mereka, sementara perintah raja sebagai dorongan bagi mereka.
II. Pekerjaannya yaitu mentahirkan rumah TUHAN,
1. Dari kotoran yang biasa menempel saat ditutup dan sarang laba-laba
serta karat pada perkakas-perkakas.
2. Dari semua berhala dan mezbah-mezbah berhala yang diletakkan di
dalamnya, yang kendati ditata begitu rapi, tetap saja menjadi suatu
kecemaran yang luar biasa besar, lebih besar dibandingkan kalau dijadikan
saluran pembuangan umum kota. Para imam tak satu pun yang disebut
sebagai pemimpin dalam pekerjaan ini, bahkan tak seorang pun yang
berani masuk ke bagian dalam rumah TUHAN, untuk
membersihkannya, yang biasanya mereka lakukan, dan mungkin hanya
Kitab 2 Tawarikh 29:1-11
503
imam besar saja yang masuk ke dalam ruang maha kudus, untuk mem-
bersihkannya. Dan, kendati orang-orang Lewi memiliki kehormatan
untuk menjadi pemimpin pekerjaan, namun mereka tidak merasa
rendah untuk menjadi pelayan bagi para imam sesuai dengan jabatan
mereka. Sebab, yang kotor yang dibawa para imam ke dalam pelataran
dibawa orang Lewi ke sungai Kidron. Janganlah kiranya kegunaan orang,
meski sangat menonjol, membuat mereka lupa akan tempat mereka.
III. Pelaksanaan dari pekerjaan mereka sangat luar biasa cepat. Mereka mulai di
hari pertama dari bulan pertama, suatu permulaan yang menyenangkan dari
tahun yang baru, tahun baik yang menjanjikan. Demikianlah seharusnya
setiap tahun dimulai dengan pembaharuan atas apa yang salah, dan
pemurnian, melalui pertobatan yang sejati, dari segala kekotoran yang
melekat selama tahun sebelumnya. Selama 8 hari mereka membersihkan
dan mentahirkan rumah TUHAN, dan dalam 8 hari lagi pelataran rumah
TUHAN (ay. 17). Kiranya orang-orang yang melakukan pekerjaan yang baik
belajar untuk merapikan pekerjaan dan menuntaskannya. Kiranya apa yang
salah diperbaiki dengan segera.
IV. Laporan pekerjaan yang mereka sampaikan kepada Hizkia sangat
menyenangkan (ay. 18-19). Mereka memberi sang raja laporan atas apa yang
telah mereka kerjakan, sebab rajalah yang menugaskan mereka untuk
bekerja. Mereka tidak menyombongkan diri dengan jerih payah mereka, atau
datang kepada raja untuk meminta bayaran, melainkan untuk memberi tahu
raja bahwa segala sesuatu yang telah dikotori kini telah ditahirkan sesuai
dengan hukum Taurat, dan siap untuk digunakan lagi kapan pun sang raja
mau. Mereka tahu bahwa raja yang baik itu telah membulatkan hatinya pada
mezbah Tuhan dan rindu untuk datang ke mezbah-Nya itu. sebab itu mereka
bersikeras menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan itu, agar semua per-
kakas bagi mezbah digosok dan dibuat mengkilap. Semua perkakas yang
dibuang Ahas dalam pelanggarannya sebagai perkakas yang tidak
menyenangkan, mereka kumpulkan semua, mentahirkannya, dan
meletakkannya di tempatnya di hadapan mezbah. Perkakas-perkakas ruang
kudus dapat saja dikotori untuk sementara waktu, namun Tuhan akan
menemukan waktu dan cara untuk menyucikannya. Baik ketetapan-Nya
maupun umatnya tidak akan menderita kegagalan untuk selamanya.
504
Persembahan Korban Hizkia
(29:20-36)
20 Maka pagi-pagi raja Hizkia mengumpulkan pemimpin-pemimpin kota, dan pergi ke
rumah TUHAN. 21 Mereka membawa tujuh ekor lembu jantan, tujuh ekor domba jantan,
tujuh ekor domba muda dan tujuh ekor kambing jantan sebagai korban penghapus dosa
untuk keluarga raja, untuk tempat kudus dan untuk Yehuda. Ia memerintahkan anak-anak
Harun, yaitu para imam, untuk mempersembahkannya di atas mezbah TUHAN. 22 Lalu
mereka menyembelih lembu-lembu itu; para imam menerima darahnya dan menyiram-
kannya pada mezbah. Kemudian mereka, menyembelih domba-domba jantan dan
menyiramkan darahnya pada mezbah. Sesudah itu mereka menyembelih domba-domba
muda dan menyiramkan darahnya pada mezbah. 23 Selanjutnya mereka membawa
kambing-kambing jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa ke hadapan raja dan
jemaah. Mereka meletakkan tangannya ke atas kambing-kambing itu. 24 Dan para imam
menyembelihnya dan mempersembahkan darahnya di atas mezbah sebagai korban
penghapus dosa untuk mengadakan pendamaian bagi seluruh Israel. Sebab raja telah me-
merintahkan untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban penghapus dosa itu
bagi seluruh Israel. 25 Ia menempatkan orang-orang Lewi di rumah TUHAN dengan
ceracap, gambus, dan kecapi sesuai dengan perintah Daud dan Gad, pelihat raja, dan nabi
Natan, sebab dari TUHANlah perintah itu, dengan perantaraan nabi-nabi-Nya. 26 Maka
berdirilah orang-orang Lewi dengan alat-alat musik Daud, demikian pula para imam
dengan nafiri.
27 Lalu Hizkia memerintahkan untuk mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah.
Pada saat persembahan korban bakaran dimulai, mulailah pula dinyanyikan nyanyian
bagi TUHAN dan dibunyikan nafiri, dengan iringan alat-alat musik Daud, raja Israel. 28
Seluruh jemaah sujud menyembah sementara nyanyian dinyanyikan dan nafiri
dibunyikan. Semuanya itu berlangsung sampai korban bakaran habis terbakar. 29 Sehabis
korban bakaran dipersembahkan, raja dan semua orang yang hadir bersama-sama dia
berlutut dan sujud menyembah. 30 Lalu raja Hizkia dan para pemimpin memerintahkan
orang-orang Lewi menyanyikan puji-pujian untuk TUHAN dengan kata-kata Daud dan
Asaf, pelihat itu. Maka mereka menyanyikan puji-pujian dengan sukaria, lalu berlutut dan
sujud menyembah. 31 Kemudian berbicaralah Hizkia: “Sekarang kamu telah mentahbiskan
dirimu untuk TUHAN. Mendekatlah dan bawalah korban-korban sembelihan dan korban-
korban syukur ke rumah TUHAN!” Lalu jemaah membawa korban-korban sembelihan
dan korban-korban puji-pujian; setiap orang yang rela hati membawa juga korban-korban
bakaran. 32 Jumlah korban bakaran yang dibawa jemaah ialah: lembu tujuh puluh ekor,
domba jantan seratus ekor dan domba muda dua ratus ekor. Semuanya sebagai korban
bakaran bagi TUHAN. 33 Persembahan-persembahan kudus terdiri dari: lembu sapi enam
ratus ekor dan kambing domba tiga ribu ekor. 34 namun jumlah imam terlalu sedikit, se-
hingga mereka tidak sanggup menguliti semua korban bakaran. Oleh sebab itu saudara-
saudara mereka, orang-orang Lewi, membantu mereka sampai pekerjaan itu selesai dan
sampai para imam menguduskan dirinya. Sebab orang-orang Lewi itu lebih bersungguh-
sungguh menguduskan dirinya dari pada para imam. 35 Lagipula korban bakaran itu
banyak, dengan segala lemak korban keselamatan dan segala korban curahan pada
korban-korban bakaran itu. Demikianlah ibadah di rumah TUHAN ditetapkan kembali.
36 Hizkia dan seluruh rakyat bersukacita akan apa yang telah ditetapkan Tuhan bagi bangsa
itu, sebab hal itu terjadi dengan tak disangka-sangka.
Rumah TUHAN telah selesai ditahirkan. Sekarang kita membaca di sini
bagaimana rumah TUHAN segera digunakan dengan baik. Suatu kumpulan umat
dipanggil untuk menemui raja di rumah TUHAN, pada hari berikutnya (ay. 20).
Dan tak diragukan lagi, semua orang baik di Yerusalem sangat senang, ketika
dikatakan Mari kita pergi ke rumah TUHAN (Mzm. 122:1). Segera sesudah Hizkia
Kitab 2 Tawarikh 29:1-11
505
mendengar bahwa rumah TUHAN sudah siap baginya, dia tidak mau kehilangan
waktu, namun segera mempersiapkan diri untuknya. Ia bangun pagi-pagi untuk
naik ke rumah TUHAN, lebih pagi pada hari itu dibandingkan hari-hari lainnya, yang
menunjukkan bahwa hatinya tertuju pada pekerjaannya di sana. Nah, pekerjaan
hari ini harus memeriksa dua hal:
I. Pendamaian harus dibuat atas dosa-dosa pemerintahan yang lalu. Mereka
berpikir tidaklah cukup untuk meratapi dan membuang dosa-dosa tersebut,
namun mereka harus membawa sebuah korban penghapus dosa. Bahkan
pertobatan dan pembaharuan kita tidak akan beroleh pengampunan, kecuali
di dalam dan melalui Kristus, yang telah dijadikan dosa (yaitu, korban peng-
hapus dosa) bagi kita. Tidak ada perdamaian, kecuali melalui darah-Nya,
tidak, tidak bagi orang-orang yang bertobat. Amatilah,
1. Korban penghapus dosa yaitu untuk keluarga raja, untuk tempat kudus
dan untuk Yehuda (ay. 21), yaitu, untuk melakukan pendamaian bagi
dosa para raja, para imam, dan umat, sebab mereka semua telah berbuat
dosa. Hukum Musa menetapkan korban untuk pendamaian bagi dosa-
dosa seluruh jemaah (Im. 4:13-14; Bil. 15:24-25), supaya hukuman
terhadap seluruh bangsa sebab dosa-dosa seluruh rakyat dapat
disingkirkan. Untuk tujuan ini kita sekarang harus mengarahkan mata
kepada Kristus Sang Propisiasi Agung, dan juga bagi penghapusan dan
keselamatan orang per orang.
2. Hukum Taurat menentukan hanya satu kambing saja sebagai korban
penghapus dosa, seperti pada hari pendamaian (Im. 16:15) dan pada
kesempatan-kesempatan luar biasa seperti ini (Bil. 15:24). Namun
mereka di sini mempersembahkan tujuh ekor (ay. 21), sebab dosa-dosa
jemaah selama ini begitu luar biasa besar dan berlangsung lama. Tujuh
yaitu sebuah bilangan lambang kesempurnaan. Korban Agung
penghapus dosa kita hanya satu, namun yang satu tersebut menyempur-
nakan untuk selama-lamanya mereka yang disucikan.
3. Raja dan jemaah (yaitu, wakil-wakil dari jemaah) meletakkan tangannya
ke atas kambing-kambing itu sebagai korban penghapus dosa (ay. 23),
sehingga dengan begitu mereka mengakui diri bersalah di hadapan Tuhan
dan menyatakan keinginan mereka agar kesalahan orang berdosa dapat
dipindahkan kepada korban. Oleh iman kita meletakkan tangan kita pada
Tuhan Yesus, sehingga kita pun menerima pendamaian (Rm. 5:11).
4. Korban bakaran dipersembahkan bersama dengan korban penghapus
dosa, tujuh ekor lembu jantan, tujuh ekor domba jantan, tujuh ekor domba
muda dan tujuh ekor kambing jantan. Maksud dari korban bakaran
506
yaitu untuk memberikan kemuliaan kepada Tuhan Israel, yang mereka
akui sebagai satu-satunya Tuhan yang benar. Korban bakaran ini patut
dipersembahkan pada waktu yang sama ketika mereka melalui korban
penghapus dosa mengadakan pendamaian bagi dosa-dosa mereka.
Darah korban bakaran, dan juga korban penghapus dosa, disiramkan ke
atas mezbah (ay. 22), untuk mengadakan pendamaian bagi seluruh Israel
(ay. 24), dan bukan hanya bagi Yehuda saja. Kristus yaitu propisiasi,
bukan untuk dosa-dosa Israel saja, namun untuk seluruh dunia (1Yoh. 2:1,
2).
5. Sementara korban-korban dibakar di atas mezbah, orang-orang Lewi
menyanyikan nyanyian bagi TUHAN (ay. 27), mazmur-mazmur yang
digubah oleh Daud dan Asaf (ay. 30), diiringi oleh alat-alat musik yang
telah diperintahkan oleh Tuhan , melalui para nabinya, untuk digunakan
(ay. 25), yang selama itu telah lama diabaikan. Bahkan kesedihan sebab
dosa janganlah memadamkan hati kita untuk memuji Tuhan . Dengan iman
kita harus bersukaria di dalam Kristus Yesus sebagai kebenaran kita.
Dan doa serta pujian kita harus turut naik bersama dengan korban
persembahan-Nya, supaya diterima hanya oleh sebab korban
persembahan-Nya itu.
6. Raja dan seluruh jemaah menyatakan persetujuan mereka dan sepakat
di dalam semua yang telah mereka lakukan itu, dengan menundukkan
kepala mereka dan menyembah, untuk mengungkapkan pemujaan dan
hormat kepada Tuhan Yang Mulia, dengan sikap memuja. Hal ini
diperhatikan secara khusus di dalam ayat 28-30. Tidak cukup bagi kita
untuk berada di tempat Tuhan disembah, jika kita sendiri tidak
menyembah Dia, dan tidak hanya dengan gerakan badani saja, yang
hanya sedikit gunanya, melainkan dengan hati.
II. Kekhidmatan hari ini juga menanti ke depan. Pelayanan rumah TUHAN
harus dilakukan lagi supaya dapat terus berlangsung. Dan untuk inilah
Hizkia memanggil mereka (ay. 31). “Sekarang sebab kamu semua telah
mentahbiskan dirimu untuk TUHAN, telah mengadakan persembahan untuk
pendamaian dan suatu kovenan dengan korban persembahan, maka dengan
khidmat pula kamu telah diperdamaikan dan diikat dengan Dia. sebab itu,
sekarang Mendekatlah dan bawalah korban-korban.” Perhatikanlah, kovenan
kita dengan Tuhan harus diteruskan dan dikembangkan dalam persekutuan
dengan Dia. Setelah menguduskan diri, pertama-tama, kepada TUHAN, kita
harus membawa korban-korban persembahan berupa doa, pujian, dan
Kitab 2 Tawarikh 29:1-11
507
pemberian, ke rumah-Nya. Nah, dalam pekerjaan ini kita temukan hal-hal
sebagai berikut.
1. Bahwa umat sangat murah hati. Begitu dipanggil oleh raja untuk
membawa persembahan, mereka membawa masuk segala persembahan
mereka, kendati tidak sebanyak seperti di hari-hari gemilang Raja
Salomo sebab Yehuda kini menjadi kecil, miskin, dan rendah. Mereka
hanya membawa sesuai dengan apa yang mereka miliki, dan sebanyak
kemampuan mereka mengingat saat itu mereka miskin dan ada kemero-
sotan besar di antara mereka dalam hal kesalehan.
(1) Sebagian begitu murah hati untuk membawa korban bakaran, yang
seluruhnya dibakar bagi kehormatan Tuhan , sehingga tidak ada
bagian apa pun yang tersisa bagi si pemberi persembahan. Korban
semacam ini ada tujuh puluh ekor, domba jantan seratus ekor dan
domba muda dua ratus ekor (ay. 32).
(2) Orang-orang lain membawa korban pendamaian dan korban ucapan
syukur, yang lemaknya dibakar di atas mezbah, dan dagingnya dibagi
di antara para imam dan para pembawa persembahan (ay. 35).
Korban seperti ini ada lembu sapi enam ratus ekor dan kambing
domba tiga ribu ekor (ay. 33). Mungkin kenangan akan dosa mereka
dalam mempersembahkan korban di bukit-bukit pengorbanan
membuat mereka lebih bersedia untuk membawa korban-korban
mereka sekarang ke mezbah Tuhan .
2. Bahwa jumlah imam terlalu sedikit, terlalu sedikit untuk pelayanan saat
itu (ay. 34). Banyak di antara mereka, kelihatannya, diberhentikan dan
disingkirkan sebab dianggap tercemar dan tidak layak menurut hukum
Taurat, sebab telah mempersembahkan korban kepada berhala semasa
pemerintahan yang lalu, sedang selebihnya lagi tidak mempunyai
semangat melayani seperti yang diharapkan pada kesempatan seperti
ini. Mereka berpikir bahwa sang raja tidak perlu begitu terburu-buru,
tidak perlu tergesa-gesa dalam membuka pintu-pintu rumah TUHAN,
sehingga mereka tidak menaruh peduli untuk menguduskan diri. Dan
sebab menjadi najis dan tidak memenuhi syarat, mereka mencari alasan
untuk tidak ikut melayani. Seakan-akan pelanggaran mereka menjadi
pembelaan diri bagi mereka. Hal tersebut dicatat di sini, bagi kehinaan
abadi para imam, bahwa, kendati mereka begitu dicukupi dengan
persembahan korban bakaran kepada Tuhan, namun mereka tidak
memedulikan tugas pelayanan mereka. Di sini ada pekerjaan yang harus
508
dilakukan, namun kekurangan tangan-tangan yang layak untuk
mengerjakannya.
3. Bahwa orang-orang Lewi lebih siap. Mereka menjadi lebih bersungguh-
sungguh menguduskan dirinya dari pada para imam (ay. 34), lebih
tergugah hati untuk pekerjaan itu, lebih siap dan memenuhi syarat. Ini
menjadi kepujian mereka, dan, sebagai balasannya, mereka mendapat
kehormatan untuk dipakai dalam pekerjaan para imam: mereka
membantu untuk menguliti semua korban. Hal ini tidaklah sesuai dengan
hukum Taurat (Im. 1:5-6), namun ketidaklaziman tersebut diabaikan di
dalam keperluan-keperluan mendesak. Dengan demikian, ini menjadi
semangat yang menguatkan hati bagi orang-orang Lewi yang sungguh-
sungguh setia dan giat itu, namun sebaliknya menjadi kehinaan yang adil
ditimpakan kepada para imam yang ceroboh itu. Keuntungan-
keuntungan keupacaraan yang tidak dimiliki orang-orang Lewi sebab
kelahiran dan tugas mereka, diberikan kepada mereka dengan
berlimpah saat itu sebab keterampilan dan kemampuan mereka yang
luar biasa untuk melakukan pekerjaan tersebut.
4. Bahwa semua orang senang. Raja dan segenap rakyat bersukaria melihat
semua perubahan ini, dan atas wajah baru agama yang dikenakan oleh
kerajaan (ay. 36). Dua hal dalam hal ini yang menyenangkan mereka:
(1) Hal itu terjadi segera: Hal itu dilakukan secara tiba-tiba, dalam waktu
yang singkat, dengan sangat mudah, dan tanpa perlawanan apa pun.
Orang-orang yang melakukan pekerjaan Tuhan dalam iman dan
dengan ketetapan hati akan mendapati bahwa tidak ada kesulitan
yang menghadang seperti yang mereka bayangkan. Yang terjadi
malah sebaliknya, yaitu suatu kejutan menyenangkan, betapa peker-
jaan mereka itu selesai dengan cepat.
(2) Bahwa tangan Tuhan bekerja secara jelas di dalamnya: Tuhan telah
mempersiapkan umat melalui berbagai pengaruh tersembunyi dari
anugerah-Nya, sehingga banyak orang yang dalam pemerintahan lalu
menyukai mezbah-mezbah penyembahan berhala kini sama gigihnya
dalam mengasihi mezbah Tuhan . Perubahan ini, yang Tuhan kerjakan
dalam pikiran mereka, terjadi sangat cepat dan memudahkan peker-
jaan pembaharuan itu. Kiranya para pembesar dan para pelayan
Tuhan melakukan bagian mereka dalam memperbaharui suatu
negeri, dan memberi kemuliaan kepada Tuhan atas apa yang
dilakukan, terutama ketika hal itu dilakukan secara mendadak dan
merupakan suatu kejutan yang menyenangkan. Hal itu terjadi dari
pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita.
Kitab 2 Tawarikh 29:1-11
509
PASAL 30
alam pasal ini kita membaca sebuah kisah tentang perayaan Paskah yang
diadakan dengan khidmat oleh Hizkia dalam tahun pertama
pemerintahannya.
I. Rancangan untuk merayakan Paskah dan ketetapan hati yang
dinyatakan oleh sang raja dan rakyatnya untuk merayakannya (ay. 2-
5).
II. Undangan yang dikirimkan kepada Yehuda dan Israel untuk datang dan
merayakannya (ay. 1, 6-12).
III. Perayaan Paskah yang penuh dengan sukacita (ay. 13-27). Dengan ini
pembaharuan, yang telah dimulai dalam pasal sebelumnya, dengan
pesat diselenggarakan dan dimantapkan, dan tertancap kuat di tempat
kudus Tuhan .
Persiapan Paskah
(30:1-12)
1 Kemudian Hizkia mengirim pesan kepada seluruh Israel dan Yehuda, bahkan menulis
surat kepada Efraim dan Manasye supaya mereka datang merayakan Paskah bagi TUHAN,
Tuhan orang Israel, di rumah TUHAN di Yerusalem. 2 Raja bersama-sama para pemimpin
dan seluruh jemaah di Yerusalem merancangkan untuk merayakan Paskah pada bulan
kedua, 3 sebab mereka tidak dapat merayakannya pada waktunya, sebab para imam
belum menguduskan diri dalam jumlah yang cukup dan rakyat belum terkumpul di Yeru-
salem. 4 Rancangan itu diterima baik oleh raja dan seluruh jemaah. 5 Mereka memutuskan
untuk menyiarkan maklumat di seluruh Israel, dari Bersyeba sampai Dan, supaya masing-
masing datang ke Yerusalem merayakan Paskah bagi TUHAN, Tuhan Israel, sebab mereka
belum merayakannya secara umum seperti yang ada tertulis. 6 Maka berangkatlah pe-
suruh-pesuruh cepat ke seluruh Israel dan Yehuda membawa surat dari raja dan para
pemimpin, dan mengatakan sesuai dengan perintah raja: “Hai, orang Israel, kembalilah
kepada TUHAN, Tuhan Abraham, Ishak dan Israel, maka Ia akan kembali kepada yang
tertinggal dari pada kamu, yaitu mereka yang terluput dari tangan raja-raja Asyur. 7
Janganlah berlaku seperti nenek moyangmu dan saudara-saudaramu yang berubah setia
terhadap TUHAN, Tuhan nenek moyang mereka, sehingga Ia membuat mereka menjadi ke-
dahsyatan seperti yang kamu lihat sendiri. 8 Sekarang, janganlah tegar tengkuk seperti
D
512
nenek moyangmu. Serahkanlah dirimu kepada TUHAN dan datanglah ke tempat kudus
yang telah dikuduskan-Nya untuk selama-lamanya, serta beribadahlah kepada TUHAN,
Tuhan mu, supaya murka-Nya yang menyala-nyala undur dari padamu. 9 sebab bilamana
kamu kembali kepada TUHAN, maka saudara-saudaramu dan anak-anakmu akan
mendapat belas kasihan dari orang-orang yang menawan mereka, sehingga mereka
kembali ke negeri ini. Sebab TUHAN, Tuhan mu, pengasih dan penyayang: Ia tidak akan
memalingkan wajah-Nya dari pada kamu, bilamana kamu kembali kepada-Nya!” 10 Ketika
pesuruh-pesuruh cepat itu pergi dari kota ke kota, melintasi tanah Efraim dan Manasye
sampai ke Zebulon, mereka ditertawakan dan diolok-olok. 11 Namun beberapa orang dari
Asyer, Manasye dan Zebulon merendahkan diri, dan datang ke Yerusalem. 12 Di Yehuda
nyata pula tangan Tuhan yang membulatkan hati mereka untuk melakukan perintah raja
dan para pemimpin sesuai dengan firman TUHAN.
Inilah,
I. Sebuah perayaan Paskah yang telah bulat ditetapkan. Perayaan tahunan
tersebut ditetapkan sebagai suatu peringatan akan dibawanya anak-anak
Israel keluar dari Mesir. Penghidupan kembali ibadah di rumah TUHAN pada
waktu itu terjadi tepat pada hari-hari yang telah ditentukan untuk perayaan
Paskah, yaitu hari ke-17 dari bulan pertama. sebab itu umat pun teringat
akan hari Paskah yang telah lama dilupakan. “Apa yang harus kita lakukan,”
kata Hizkia, “dengan hari Paskah? Paskah yaitu sebuah perayaan yang
membawa penghiburan, namun telah lama diabaikan. Bagaimana kita
menghidupkannya kembali? Waktunya telah lewat untuk tahun ini. Kita
tidak dapat merayakannya segera. Jemaah masih sedikit, rakyat tidak
memperhatikannya, para imam tidak siap (ay. 3). Haruskah kita
menundanya hingga lain tahun?” Banyak orang, sepertinya, ingin
menundanya. namun Hizkia mempertimbangkan bahwa kalau menunggu lagi
hingga 12 bulan, hati umat akan berubah dingin. Juga, itu waktu yang terlalu
lama untuk kehilangan berkat dari perayaan hari tersebut. sebab itu,
setelah mengetahui ada pengecualian dalam hukum Musa bahwa orang-
orang tertentu yang tidak tahir di bulan pertama dapat merayakan Paskah di
hari ke-14 bulan kedua dan itu sah menurut hukum (Bil. 9:11), maka Hizkia
pun tidak ragu-ragu lagi untuk menyampaikannya kepada jemaah. Maka
mereka pun berketetapan untuk merayakan Paskah di bulan kedua. Kiranya
keadaan memberi jalan kepada hal yang merupakan inti, dan jangan biarkan
yang inti itu harus hilang sebab mempertimbangkan ketepatan waktu.
Tempaan sungguh baik ketika besi sedang panas-panasnya, begitu pula
sungguh tepat untuk membawa orang ketika mereka sedang berpikiran baik.
Penundaan itu berbahaya.
II. Sebuah pengumuman dikeluarkan mengenai perayaan Paskah ini, untuk
memanggil rakyat merayakannya.
Kitab 2 Tawarikh 30:1-12
513
1. Sebuah undangan dikirimkan kepada suku-suku yang memberontak
untuk mendorong mereka datang menghadiri perayaan yang khidmat
ini. Surat-surat ditulis kepada Efraim dan Manasye untuk mengundang
mereka ke Yerusalem guna merayakan Paskah ini (ay. 1), tanpa
rancangan politik untuk membawa mereka kembali kepada keluarga
Daud, melainkan dengan suatu maksud yang saleh untuk membawa
mereka kembali kepada TUHAN Tuhan Israel. “Biarlah mereka membawa
siapa yang mereka inginkan bagi raja mereka,” kata Hizkia, “supaya
dengan begitu mereka membawa dia bagi Tuhan mereka.” Segala
perselisihan antara Yehuda dan Israel, entah dalam perkara kerajaan
ataupun keagamaan, tidak akan menjadi penghalang. Jika bangsa Israel
dengan sungguh-sungguh mau kembali kepada TUHAN Tuhan mereka,
maka Hizkia akan menyambut mereka sebaik ia menyambut rakyatnya
sendiri, untuk merayakan Paskah. Pesan dikirim ke segenap suku Israel
dengan desakan yang sungguh-sungguh supaya rakyat mengambil
kesempatan ini untuk kembali kepada Tuhan yang telah mereka lawan.
Nah, kita menemukan,
(1) Isi surat yang diedarkan pada kesempatan itu, di mana Hizkia
menyatakan keprihatinan mendalam bagi kehormatan Tuhan dan
kesejahteraan kerajaan tetangganya itu, serta kemakmuran yang
dengan penuh hasrat dirindukannya. Ia tidak menerima pajak atau
upeti dari undangan yang dikeluarkannya ini, namun ketiadaan dari
semua hal tadi telah sering, dan telah lama, mengusik kerajaannya.
Undangannya ini sama seperti membalas kejahatan dengan ke-
baikan. Amatilah,
[1] Apa yang ditekankan Hizkia kepada mereka (ay. 8): “Serahkanlah
dirimu kepada TUHAN. Supaya dapat masuk ke dalam
persekutuan dengan Dia, masuklah terlebih dahulu ke dalam
kovenan dengan Dia.” Ulurkanlah tangan kepada TUHAN
(demikianlah istilahnya), yaitu, “Sepakatlah untuk mengambil
Dia sebagai Tuhan mu.” Suatu tawaran diteguhkan dengan
memberikan tangan untuk bersalaman. “Terimalah tawaran ini.
Bergabunglah dengan Dia dalam suatu kovenan yang kekal.
Menuliskan pada tangan[mu], [bahwa kamu] kepunyaan TUHAN
(Yes. 44:5). Ulurkanlah tanganmu kepada-Nya sebagai tanda
memberi hatimu kepada-Nya. Letakkan tanganmu pada bajak-
Nya. Abdikan dirimu bagi pelayanan-Nya, untuk bekerja bagi Dia.
Serahkanlah dirimu kepada-Nya,” yaitu, “Terimalah segala per-
514
syaratan-Nya, tunduk di bawah pemerintahan-Nya, jangan lagi
berdiri menentang Dia.” “Serahkanlah dirimu kepada-Nya, untuk
diperintah-Nya secara mutlak dalam hal apa saja, siap di segala
waktu, untuk berada, dan melakukan serta menderita apa pun
sesuai kehendak-Nya. Untuk itu, janganlah tegar tengkuk seperti
nenek moyangmu. Janganlah segala keinginanmu yang jahat dan
buruk itu bangkit melawan dan memberontak terhadap
kehendak Tuhan . Jangan berkata bahwa kamu akan melakukan
apa yang kamu senangi, namun bertekadlah untuk melakukan apa
yang Dia kehendaki.” Dalam pemikiran duniawi selalu ada
kebebalan, keras kepala, ketidaktaatan untuk mematuhi Tuhan .
Kita mewarisinya dari nenek moyang kita. Warisan tersebut ber-
tumbuh dalam tulang kita. sebab itu, hal ini harus ditaklukkan.
Dan keinginan yang ada di dalamnya, roh perlawanan, harus
diluluhkan ke dalam kehendak Tuhan . Dan untuk kuk-Nya, leher
yang kaku keras seperti besi harus ditekuk dan dipasangkan
dengan kuku-Nya itu. Untuk tunduk kepada Tuhan , Raja Hizkia
mendorong mereka untuk datang ke tempat kudus-Nya, yaitu,
untuk menghampiri-Nya di tempat yang telah dipilih-Nya, untuk
meletakkan nama-Nya di sana, dan beribadah kepada Dia dengan
segala aturan dan ketetapan yang telah ditetapkan-Nya. “Pintu-
pintu tempat kudus ini telah dibuka, dan engkau bebas untuk
memasukinya. Pelayanan tempat suci ini telah dihidupkan
kembali, dengan senang hati engkau disambut untuk bergabung
di dalamnya.” Sang raja berkata, Datanglah. Para pembesar dan
para imam berkata, Marilah. Dan barangsiapa yang mau,
hendaklah ia datang. Raja memanggil (ay. 6), kembalilah kepada
TUHAN. Sebab mereka telah meninggalkan Dia dan menyembah
Tuhan -Tuhan lain. Sadarlah dan bertobatlah. Demikianlah orang-
orang yang oleh anugerah telah kembali kepada Tuhan harus
melakukan semua yang dapat dilakukannya untuk membawa
orang-orang lain kembali kepada Dia.
[2] Alasan yang dikemukakan Hizkia untuk membujuk orang Israel
mengikuti perayaan Paskah. Pertama, “Engkau yaitu anak-anak
Israel, dan sebab nya masih memiliki hubungan, masih
berkewajiban, kepada Tuhan Israel, dari siapa engkau
memberontak.” Kedua, “Tuhan yang memanggil engkau untuk
kembali yaitu Tuhan Abraham, Ishak, dan Yakub, Tuhan kovenan
dengan nenek moyangmu, yang beribadah kepada-Nya dan
Kitab 2 Tawarikh 30:1-12
515
tunduk kepada-Nya. Dan itulah yang menjadi kehormatan dan
kebahagiaan mereka untuk melakukan yang demikian.” Ke-
tiga, “Nenek moyangmu yang belum lama ini telah meninggalkan
Dia dan melawan Dia telah diserahkan kepada kehancuran.
Kemurtadan dan penyembahan berhala mereka telah menjadi
kehancuran mereka, seperti yang engkau lihat (ay. 7). Kiranya
celaka mereka menjadi peringatan bagi engkau.” Keempat,
“Engkau hanyalah yang tertinggal dari pada kamu, yaitu mereka
yang terluput dari tangan raja-raja Asyur (ay. 6), dan sebab nya
penting bagimu untuk memohon perlindungan kepada Tuhan
nenek moyangmu, supaya engkau tidak ditelan habis.” Kelima,
“Inilah satu-satunya jalan untuk berpaling dari kengerian murka
Tuhan (ay. 8, KJV), yang pasti akan membakar habis dirimu, jika
engkau tetap tegar tengkuk.” Akhirnya, “Jika engkau kembali
kepada Tuhan di jalan kewajibanmu, maka Ia akan kembali
kepadamu di jalan belas kasihan.” Inilah perkataan yang dimulai
oleh Hizkia (ay. 6) dan diakhiri demikian juga (ay. 9). Secara
umum, “Engkau akan mendapati Dia pengasih dan penyayang,
dan Ia tidak akan memalingkan wajah-Nya dari pada kamu, jika
engkau mencari-Nya, tak peduli engkau telah menyebabkan-Nya
begitu murka.” Secara khusus, “Engkau boleh berharap bahwa Ia
akan mengeluarkan saudara-saudaramu dari penawanan dan
membawa mereka kembali ke negeri asal mereka.” Masih adakah
ungkapan yang menyentuh hati, lebih mengharukan, dibandingkan
ini? Masih adakah alasan yang lebih baik dibandingkan ini? Masih
adakah lagi yang perlu diserukan selain dibandingkan ini?
(2) Sambutan yang dialami oleh para utusan Hizkia dan pesan yang
dibawa mereka. Tidak tampak bahwa Hosea, yang ketika itu menjadi
raja Israel, merasa jengkel dengan atau menentang penyebaran
pesan itu seluruh kerajaannya. Ia juga tidak melarang rakyatnya
untuk menerima undangan itu. Tampaknya ia menyerahkan
sepenuhnya kepada mereka untuk bebas menentukan. Mereka boleh
pergi ke Yerusalem untuk beribadah jika mereka mau. Sebab, meski
dia berbuat jahat, namun bukan seperti raja-raja Israel yang
mendahului dia (2Raj. 17:2). Ia telah melihat kehancuran datang
menimpa kerajaannya, dan, jika ada dari rakyatnya yang ingin
mencoba suatu tindakan untuk mencegahnya, maka mereka
mendapatkan restunya sepenuhnya. namun , mengenai rakyat Israel,
516
[1] Kebanyakan dari mereka mengabaikan panggilan itu dan
menutup telinga. Para utusan Hizkia berangkat dari kota ke kota,
sebagian ke satu kota dan yang lain ke kota lain, dan memohon
dengan sangat agar rakyat datang ke Yerusalem untuk
merayakan Paskah. Akan namun , mereka sangat jauh dari
mematuhi pesan sampai malah melecehkan orang-orang yang
membawanya, menertawakan dan mengolok-olok mereka (ay.
10), tidak hanya menolak, namun menolak dengan penghinaan.
Ceritakanlah tentang Tuhan Abraham! Mereka tidak mengenal
Dia, mereka punya Tuhan -Tuhan lain untuk dilayani, Baal dan
Asytarot. Ceritakanlah tentang Bait Suci! Bukit-bukit
pengorbanan mereka sama baiknya. Ceritakanlah tentang belas
kasih dan murka Tuhan ! Mereka tidak takut kepada yang satu dan
tidak menginginkan yang lain. Tidak heran bahwa para utusan
raja diperlakukan dengan hina oleh bangsa yang murtad ini,
sebab para utusan Tuhan , juga diperlakukan demikian, yaitu
hamba-hamba-Nya para nabi yang membawa kepercayaan dari
Dia. Kehancuran kerajaan dari sepuluh suku itu kini sudah dekat.
Hal itu terjadi dua atau tiga tahun sesudah ini, yaitu ketika raja
Asyur mengepung Samaria, yang berakhir dengan penawanan
sepuluh suku tersebut. Persis sebelum hal ini terjadi, tidak hanya
raja mereka sendiri mengizinkan mereka untuk kembali ke
rumah TUHAN, namun juga raja Yehuda dengan sungguh-sungguh
mengundang mereka untuk kembali. Seandainya mereka mau
menerima undangan ini, hal tersebut mungkin dapat mencegah
kehancuran mereka. namun ketegaran mereka telah
mempercepat dan memperberat kehancuran mereka, dan
meninggalkan mereka tanpa ampun.
[2] Namun ada beberapa yang menerima undangan itu. Pesan itu,
kendati bagi sebagian yaitu suatu bau kematian yang
mematikan, bagi orang lain merupakan suatu bau kehidupan
yang menghidupkan (ay. 11). Di hari-hari terburuk pun Tuhan
selalu mempunyai suatu sisa. Demikian pula yang dimiliki-Nya di
sini, beberapa orang dari Asyer, Manasye, dan Zebulon (di sini
tidak disebutkan tentang orang-orang dari Efraim, kendati
beberapa dari suku tersebut disebutkan dalam ay. 18), meren-
dahkan diri, dan datang ke Yerusalem, yaitu, mereka menyesali
dosa-dosa mereka dan tunduk kepada Tuhan . Kesombongan
Kitab 2 Tawarikh 30:1-12
517
menahan orang dari menyerahkan diri kepada TUHAN. Ketika
kesombongan dipatahkan, maka pekerjaan pasti terselesaikan.
2. Perintah diberikan kepada orang-orang Yehuda untuk menghadiri
perayaan yang khidmat ini. Dan mereka semua menaatinya (ay. 12).
Mereka melakukannya dengan satu hati, sehati dan sepikir di dalamnya,
dan tangan Tuhan membulatkan mereka sehingga menjadi satu
hati. Sebab di hari kejayaan para pengikut Kristus dijadikan bersedia.
Tuhan -lah yang mengerjakan baik kemauan maupun kehendak. Ketika
orang-orang pada suatu waktu menyatakan suatu keberanian tak
terduga untuk melakukan apa yang baik, maka kita harus mengakui
bahwa tangan Tuhan ada di dalamnya.
Perayaan Paskah
(30:13-20)
13 Maka berkumpullah di Yerusalem banyak orang, suatu jemaah yang sangat besar, untuk
merayakan hari raya Roti Tidak Beragi pada bulan yang kedua. 14 Lalu bangunlah mereka
menjauhkan mezbah-mezbah yang ada di Yerusalem; juga semua mezbah korban ukupan
disingkirkan dan dibuang ke lembah Kidron. 15 Kemudian disembelihlah domba Paskah
pada tanggal empat belas bulan kedua. Maka para imam dan orang-orang Lewi merasa
malu, lalu menguduskan dirinya dan membawa korban bakaran ke rumah TUHAN. 16
Mereka berdiri pada tempatnya menurut peraturan yang berlaku bagi mereka masing-
masing, sesuai dengan Taurat Musa, abdi Tuhan itu; para imam menyiramkan darah yang
diterimanya dari orang-orang Lewi. 17 Sebab ada banyak di antara jemaah yang tidak
menguduskan dirinya, sehingga menjadi tugas orang Lewi untuk menyembelih domba-
domba Paskah bagi setiap orang yang tidak dapat menguduskannya bagi TUHAN sebab
ia tidak tahir. 18 Sebab sebagian besar dari rakyat – terutama dari Efraim, Manasye,
Isakhar dan Zebulon – tidak mentahirkan diri. Namun mereka memakan Paskah,
walaupun tidak sesuai dengan apa yang ada tertulis. namun Hizkia berdoa untuk mereka,
katanya: “TUHAN, yang baik itu, kiranya mengadakan pendamaian bagi semua orang, 19
yang sungguh-sungguh berhasrat mencari Tuhan , yaitu TUHAN, Tuhan nenek moyangnya,
walaupun ketahiran mereka tidak sesuai dengan tempat kudus.” 20 TUHAN mendengar
Hizkia dan membiarkan bangsa itu selamat.
Waktu yang ditetapkan bagi Paskah telah tiba, dan berkumpullah sebuah jemaah
yang sangat besar pada kesempatan tersebut (ay. 13). Sekarang di sini kita
mendapati,
I. Persiapan yang mereka buat bagi Paskah dan sungguh sebuah persiapan
yang baik: Mereka menjauhkan semua mezbah penyembahan berhala yang
dijumpai, tidak hanya di dalam Bait Suci, namun juga di Yerusalem (ay. 14).
Sebelum mereka merayakan Paskah, mereka membuang ragi yang lama ini.
Persiapan baik yang dapat kita lakukan bagi Paskah Injili yaitu membuang
semua pelanggaran kita, semua penyembahan berhala rohani kita.
518
II. Perayaan Paskah. Dalam perayaan ini orang-orang begitu giat dan
bersemangat sehingga para imam dan orang-orang Lewi sendiri menjadi
tersipu-sipu melihat diri mereka dikalahkan oleh orang biasa, melihat
mereka lebih siap membawa korban persembahan dibandingkan yang mereka
tawarkan. Hal ini mendorong mereka untuk menguduskan diri (ay. 15),
supaya pelayanan tidak terhambat sebab kekurangan tangan untuk
menjalankannya. Semangat orang lain dalam beribadah seharusnya
membuat kita merasa malu akan dinginnya sikap kita sendiri, dan
seharusnya mendorong kita untuk tidak hanya melakukan kewajiban ibadah
kita, namun juga melakukannya dengan baik, dan menguduskan diri untuk
itu. Para imam dan orang Lewi melakukan kewajiban mereka sesuai tugas
masing-masing (ay. 16), menyiramkan darah ke atas mezbah, yang
merupakan gambaran Kristus sang korban Paskah yang dipersembahkan
bagi kita.
III. Ketidakberesan yang menjadi kesalahan para imam di dalam upacara ini.
Hal-hal pokok terkelola dengan baik dan dengan pengabdian yang besar.
Namun, di samping pelaksanaannya yang sudah terlambat satu bulan,
1. Orang Lewi telah menyembelih korban Paskah, yang seharusnya
dilakukan hanya oleh para imam (ay. 17). Mereka juga membantu
banyak hal lebih banyak dibandingkan yang biasanya diperbolehkan oleh
hukum Taurat dalam mempersembahkan korban yang lain, khususnya
korban-korban untuk mentahirkan yang tidak suci, yang perlu dilakukan
sekarang sebab banyak orang yang tidak suci. Beberapa penafsir
berpikir bahwa itu yaitu tugas para pemberi persembahan, bukan
tugas para imam, sehingga orang-orang Lewi boleh melakukannya di
sini. Biasanya setiap orang menyembelih domba korbannya, namun
sekarang bagi orang-orang yang tidak tahir menurut hukum Taurat
dapat diwakili oleh orang-orang Lewi.
2. Banyak yang diizinkan makan korban Paskah meskipun tidak tahir
menurut aturan hukum yang ketat (ay. 18). Ini yaitu bulan yang kedua,
dan tidak ada jaminan untuk menunda mereka lebih lanjut ke bulan yang
ketiga, sebab , jika mereka mulai di bulan pertama, hukum
memperbolehkan mereka makan di bulan kedua. Dan mereka sama
sekali tidak dilarang untuk makan, supaya umat dari bangsa lain yang
baru bertobat tidak menjadi tawar hati, dan supaya jangan sampai ada
yang pulang dengan mengeluh dan bukannya bersukacita. Grotius
mengamati dari sini bahwa upacara perayaan harus memberi jalan, tidak
Kitab 2 Tawarikh 30:1-12
519
hanya bagi kebutuhan umum, namun juga bagi manfaat dan keuntungan
umum.
IV. Doa Hizkia kepada Tuhan untuk mengampuni mereka atas ketidakberesan ini.
Semangat Hizkialah yang telah memanggil mereka untuk berkumpul segera,
sehingga dia tidak mau ada yang menanggung akibat buruk sebab
sempitnya waktu untuk mengadakan persiapan. sebab itu ia memikirkan
diri untuk menjadi juru syafaat bagi orang-orang yang memakan Paskah,
walaupun tidak sesuai dengan apa yang ada tertulis, supaya tidak akan ada
murka yang menimpa mereka dari TUHAN. Doanya yaitu ,
1. Sebuah doa yang singkat namun bertujuan: “TUHAN, yang baik itu, kiranya
mengadakan pendamaian bagi semua orang di dalam jemaah yang telah
menetapkan dan menyiapkan hatinya, terlibat, atau yang sungguh-sungguh
berhasrat mencari Tuhan , kendati persiapan upacaranya masih kurang.
Perhatikanlah,
(1) Hal besar yang diharuskan dari kita untuk mendekat kepada Tuhan
dengan mengikuti ibadah ketetapan-Nya yaitu bahwa kita harus
menyiapkan hati kita, sungguh-sungguh berhasrat mencari Tuhan . Kita
harus tulus dan lurus hati dalam semua yang kita lakukan. Manusia
batiniah kita dilibatkan dan khusyuk di dalamnya, dan kita melaku-
kannya dengan sepenuh hati. Tanpa hal ini maka tidak akan ada
artinya. Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam
batin. Hizkia tidak berdoa agar hal ini dapat ditiadakan atau agar
kekurangan hal-hal lain dapat diampuni. Sebab, hanya satu saja yang
perlu, bahwa kita mencari Tuhan , perkenanan-Nya, kehormatan-Nya,
dan kita menyiapkan hati untuk melakukannya.
(2) Di samping kesungguhan dan ketulusan hati ini masih ada banyak
cacat dan kelemahan, baik semangatnya maupun kinerja pelayanan,
sehingga masih kurang ketahiran mereka dari tempat kudus.
Kebobrokan hati tidak sepenuhnya ditaklukkan, pikiran tidak
sepenuhnya dipusatkan, perasaan tidak begitu hidup, iman tidak
begitu bekerja, sebagaimana seharusnya. Inilah kekurangan di
tempat kudus. Tidak ada yang sempurna di bawah matahari, tidak
ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat
dosa.
(3) Semua kekurangan ini membutuhkan anugerah pengampunan dan
kesembuhan. Sebab pengabaian dalam melakukan kewabajiban
yaitu dosa, sama halnya dengan pengabaian tugas. Seandainya
520
Tuhan harus berurusan dengan kita dengan keadilan yang ketat
berdasarkan perilaku kita, maka habislah kita.
(4) Cara untuk memperoleh pengampunan bagi kekurangan kita dalam
tugas panggilan, dan semua pelanggaran kita terhadap hal-hal yang
kudus, yaitu dengan mencarinya dari Tuhan melalui doa. Dan tentu
saja bukan sekadar pengampunan, melainkan harus diperoleh
dengan permohonan melalui darah Kristus.
(5) Dalam doa ini kita harus mendapat kekuatan dari kebaikan Tuhan :
Pendamaian dari TUHAN yang baik. Sebab, ketika Ia menyatakan
kebaikan, Ia bersikeras memberi yang terbaik, mengampuni
kesalahan, pelanggaran dan dosa.
(6) Tugas orang-orang yang memiliki kewajiban atas orang lain yaitu
tidak hanya menjaga diri sendiri, namun juga mereka yang
dipimpinnya, untuk melihat di mana kekurangan mereka, dan
berdoa bagi mereka, seperti Hizkia di sini (lih. Ayb. 1:5).
2. Sebuah doa yang dijawab: TUHAN mendengar Hizkia, senang dengan
kepeduliannya yang tulus kepada jemaah, dan, sebagai jawaban atas
doanya, Ia membiarkan bangsa itu selamat (ay. 20). Ia tidak hanya tidak
menghakimi dosa mereka, namun juga dengan murah hati menerima
semua ibadah mereka. Sebab kesembuhan tidak hanya menyatakan
pengampunan (Yes. 6:10; Mzm. 103:3), namun juga penghiburan dan
kedamaian (Yes. 57:18; Mal. 4:2).
Perayaan Hari Raya Roti Tidak Beragi
(30:21-27)
21 Tujuh hari lamanya orang Israel yang berada di Yerusalem merayakan hari raya Roti
Tidak Beragi dengan kesukaan yang besar, sedang orang-orang Lewi dan para imam
setiap hari menyanyikan puji-pujian bagi TUHAN dengan sekuat tenaga. 22 Hizkia
mengucapkan kata-kata pujian kepada semua orang Lewi yang menunjukkan akal budi
yang baik dalam melayani TUHAN. Demikianlah orang memakan makanan perayaan
selama tujuh hari, sambil mempersembahkan korban keselamatan dan mengucapkan
syukur kepada TUHAN, Tuhan nenek moyang mereka. 23 Kemudian seluruh jemaah
sepakat untuk berhari raya tujuh hari lagi. Lalu mereka berhari raya tujuh hari lagi
dengan sukaria. 24 Sebab Hizkia, raja Yehuda, telah menyumbangkan kepada jemaah
seribu ekor lembu jantan dan tujuh ribu kambing domba. Juga para pemimpin
menyumbangkan kepada jemaah seribu ekor lembu jantan dan sepuluh ribu ekor
kambing domba. Dan sebagian besar para imam telah menguduskan diri. 25 Seluruh
jemaah Yehuda bersukaria, juga para imam dan orang-orang Lewi, dan seluruh jemaah
yang datang dari Israel, serta orang-orang asing, baik yang datang dari tanah Israel,
maupun yang tinggal di Yehuda. 26 Maka besarlah kesukaan di Yerusalem, sebab sejak
Salomo bin Daud, raja Israel, tidak pernah terjadi peristiwa semacam itu di Yerusalem. 27
Sesudah itu para imam Lewi bangun berdiri dan memberkati rakyat. Suara mereka
didengar TUHAN dan doa mereka sampai ke tempat kediaman-Nya yang kudus di sorga.
Kitab 2 Tawarikh 30:1-12
521
Sesudah Paskah, diadakan lagi perayaan hari raya Roti Tidak Beragi yang
berlangsung selama 7 hari. Kita diberi tahu di sini bagaimana perayaan tersebut
dirayakan dan segala sesuatu di dalam kisah ini tampak menyenangkan dan
hidup.
1. Korban-korban yang berlimpah dipersembahkan kepada Tuhan dalam korban
keselamatan, yang melaluinya mereka mengakui dan memohon perkenanan
Tuhan . Dan pada kesempatan tersebut orang-orang yang membawa
persembahan juga merayakan bersama dengan teman-teman mereka selama
tujuh hari ini (ay. 22), sebagai tanda dari persekutuan mereka dengan Tuhan
dan penghiburan yang mereka dapat dalam perkenanan serta perdamaian
mereka dengan Dia. Untuk mengimbangi bagian dari kebaktian ini, agar
mezbah Tuhan dapat dipenuhi dengan lemak dan darah serta para imam dan
orang-orangnya mendapat bagian daging korban keselamatan, Hizkia
memberikan dari simpanannya sendiri 1.000 lembu jantan dan 7.000
domba. Selain itu, para pembesar, yang senang dengan contoh saleh sang
raja, juga memberikan jumlah yang sama dari lembu jantan dan banyak
domba, dan semuanya untuk persembahan korban keselamatan (ay. 24).
Melalui hal ini Tuhan dihormati, sukacita perayaan dipelihara, dan orang-
orang asing didorong untuk datang lagi ke Yerusalem. Apa yang telah
dilakukan dengan kemurahan hati oleh raja dan para pembesar sangatlah
menghibur seluruh jemaah. namun apa gunanya harta yang banyak selain
untuk memampukan orang melakukan lebih banyak kebaikan? Kristus
memberi makan orang-orang yang mengikuti-Nya. Saya percaya bahwa
Hizkia dan para pembesarnya tidak menjadi lebih miskin di akhir tahun itu
setelah mereka memberi dengan saleh dan limpahnya.
2. Banyak doa yang baik yang dipanjatkan kepada Tuhan dengan korban
keselamatan (ay. 22). Mereka mengucapkan syukur kepada TUHAN, Tuhan
nenek moyang mereka. Kepada-Nyalah maksud dan arti dari semua korban
keselamatan itu ditujukan. Ketika para imam memercikkan darah dan
membakar lemak, mereka membuat pengakuan, demikian pula umat ketika
mereka merayakan bagian mereka. Mereka membuat suatu pengakuan iman
atas hubungan mereka dengan Tuhan dan kebergantungan kepada-Nya.
Sebuah pengakuan pendosa atas dosa-dosa dan kesalahan mereka, sebuah
ucapan syukur atas belas kasih Tuhan kepada mereka, dan sebuah
permohonan atas kekurangan dan kerinduan hati mereka. Dan, dalam
kesemuanya ini, mata mereka tertuju kepada Tuhan sebagai Tuhan nenek
moyang mereka, Tuhan yang mengikat kovenan dengan nenek moyang
mereka itu.
522
3. Ada banyak khotbah yang baik. Orang-orang Lewi yang tugasnya tertulis
dalam Ulangan 33:10, mengajar umat pengetahuan yang baik tentang Tuhan ,
membaca dan membuka Kitab Suci, dan mengajarkan jemaah tentang Tuhan
dan tugas panggilan mereka kepada-Nya. Dan ada banyak kebutuhan akan
pengajaran ini di sana, setelah begitu lama terjadi kelaparan firman selama
pemerintahan lalu. Hizkia sendiri tidak berkhotbah, namun dia menyam-
paikan pesan kepada orang-orang Lewi yang berkhotbah, mendengarkan
khotbah mereka, memuji kerajinan mereka, dan meyakinkan mereka akan
perlindungan dan dukungan-Nya. Dengan ini sang raja mendorong mereka
untuk belajar keras dan bersusah payah. Ia memberi penghargaan kepada
mereka, supaya umat dapat menghargai dan memandang martabat mereka.
Para pembesar dan pemimpin, dengan mengakui dan mendorong para peng-
khotbah yang setia dan bekerja keras, sangat mendukung kepentingan
kerajaan Tuhan di antara manusia.
4. Mereka menyanyikan mazmur setiap hari (ay. 21): Orang-orang Lewi dan
para imam setiap hari menyanyikan puji-pujian bagi TUHAN, dengan lagu dan
alat musik, untuk menyatakan sukacita satu sama lain yang meluap di dalam
Tuhan dan syukur kepada-Nya. Memuji Tuhan seharusnya menjadi pelayanan
kita yang besar di dalam ibadah bersama.
5. Setelah merayakan tujuh hari perayaan ini dengan saleh, mereka merasa
sangat terhibur sehingga mereka berhari raya tujuh hari lagi (ay. 23).
Mereka tidak menetapkan cara-cara ibadah yang baru, namun hanya
mengulangi dan meneruskan yang lama. Keadaan mereka sungguh luar
biasa: mereka telah lama tanpa upacara ibadah. Kesalahan mereka
diperdalam dengan mengabaikannya. Mereka sekarang memiliki suatu
jemaah yang sangat besar dan sepenuh hati mau beribadah. Mereka tidak
tahu kapan lagi dapat memiliki kesempatan seperti ini, sehingga tidak mau
berpisah sebelum menambah waktu beribadah dua kali lipat. Banyak dari
mereka yang berada sangat jauh dari rumah, dan punya pekerjaan untuk
diurus di desa, sebab, dalam bulan yang kedua ini, mereka ada di
pertengahan musim panen. namun mereka tidak tergesa-gesa untuk kembali:
gairah kecintaan akan rumah TUHAN membuat mereka melupakan urusan
dunia. Mereka tidak seperti orang-orang yang jenuh dengan ibadah kepada
Tuhan dan berkata, Betapa menjemukan ibadah itu! Atau mereka yang
bertanya, Kapan Sabat akan berlalu? Para hamba Tuhan seharusnya
berlimpah dalam pekerjaan-Nya.
6. Semuanya ini mereka lakukan dengan sukaria (ay. 23). Mereka semua
bersukacita, dan terutama orang-orang asing (ay. 25). Maka besarlah
kesukaan di Yerusalem (ay. 26). Tidak pernah ada yang seperti ini sejak
Kitab 2 Tawarikh 30:1-12
523
penahbisan Bait Suci di zaman Salomo. Perhatikanlah, kewajiban suci harus
dilakukan dengan sukacita kudus. Kita harusnya giat dan bergembira dalam
melakukannya, menikmatinya, mengecap manisnya persekutuan dengan
Tuhan , dan memandangnya sebagai kegembiraan dan penghiburan yang tak
terkatakan bahwa kita diperkenankan untuk merasakan sekarang sukacita
besar seperti yang akan kita alami nanti dalam kekekalan
7. Jemaah akhirnya bubar dengan sebuah doa berkat (ay. 27).
(1) Para imam yang menyatakan berkat itu. Sebab menjadi bagian dari tugas
jabatan mereka untuk memberkati umat (Bil. 6:22-23), sebab mereka
menjadi mulut umat dalam berhubungan dengan Tuhan melalui doa, dan
juga menjadi mulut Tuhan bagi umat dengan menyampaikan janji-Nya.
Sebab berkat mereka mencakup keduanya. Dalam berkat itu mereka
menyaksikan kerinduan mereka akan kesejahteraan umat dan kebergan-
tungan mereka kepada Tuhan dan perkataan anugerah-Nya. Betapa
menjadi penghiburan yang besar bagi jemaah yang diutus pulang dengan
mahkota berkat seperti itu!
(2) Tuhan berkata Amin kepada ucapan berkat itu. Suara para imam, ketika
mereka memberkati umat, di dengar TUHAN dan naik ke tempat
kediaman-Nya yang kudus di Sorga. Ketika mereka mengucapkan berkat,
maka Tuhan pun memerintahkan berkat, dan mungkin Ia memberikan
beberapa tanda peneguhan. Doa yang naik ke sorga di dalam awan dupa
akan turun kembali ke bumi ini dalam hujan berkat.
PASAL 3 1
i sini diceritakan kelanjutan kisah pembaharuan yang terberkati itu,
dengan Hizkia sebagai alat kemuliaannya, serta kemajuan
menggembirakan yang dibuatnya dalam pembaharuan itu.
I. Semua sisa penyembahan berhala dihancurkan dan dimusnahkan (ay.
1).
II. Para imam dan orang Lewi mulai bekerja lagi, setiap orang di
tempatnya masing-masing (ay. 2).
III. Tindakan diambil untuk penghidupan para imam dan orang Lewi.
1. Bagian harta kerajaan untuk para imam, dan untuk mendukung
pelayanan di Bait Tuhan , dibayarkan dengan sepatutnya (ay. 3).
2. Perintah diberikan untuk mengumpulkan sumbangan dari rakyat
(ay. 4).
3. Atas perintah itu, rakyat membawa sumbangan mereka dengan
melimpah (ay. 5-10).
4. Para penilik ditunjuk untuk mengawasi pembagian sumbangan
yang masuk (ay. 11-19).
5. Bagian akhir berisi pujian atas ketulusan Hizkia dalam segala
usahanya (ay. 20-21).
Hizkia Menghancurkan Penyembahan Berhala
(31:1-10)
1 Setelah semuanya ini diakhiri, seluruh orang Israel yang hadir pergi ke kota-kota di
Yehuda, lalu meremukkan segala tugu berhala, menghancurkan segala tiang berhala, dan
merobohkan segala bukit pengorbanan dan mezbah di seluruh Yehuda dan Benyamin,
juga di Efraim dan Manasye, sampai musnah semuanya. Kemudian pulanglah seluruh
orang Israel ke kota-kotanya, ke miliknya masing-masing. 2 Hizkia menetapkan
rombongan para imam dan orang-orang Lewi, rombongan demi rombongan, masing-
masing menurut tugas jabatannya sebagai imam atau sebagai orang Lewi, untuk memper-
sembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, untuk mengucap syukur dan
D
528
menyanyikan puji-pujian dan untuk melayani di pintu-pintu gerbang di tempat
perkemahan TUHAN. 3 Raja memberi sumbangan dari harta miliknya untuk korban
bakaran, yaitu : korban bakaran pada waktu pagi dan pada waktu petang, korban bakaran
pada hari-hari Sabat dan pada bulan-bulan baru dan pada hari-hari raya, yang semuanya
tertulis di dalam Taurat TUHAN. 4 Ia memerintahkan rakyat, yaitu penduduk Yerusalem,
untuk memberikan sumbangan yang menjadi bagian para imam dan orang-orang Lewi,
supaya mereka dapat mencurahkan tenaganya untuk melaksanakan Taurat TUHAN. 5
Segera setelah perintah ini tersiar, orang Israel membawa dalam jumlah yang besar hasil
pertama dari pada gandum, anggur, minyak, madu dan segala macam hasil bumi. Mereka
membawa juga persembahan persepuluhan dari segala sesuatu dalam jumlah yang besar.
6 Orang Israel dan orang Yehuda yang tinggal di kota-kota Yehuda juga membawa per-
sembahan persepuluhan yang terdiri dari lembu sapi dan kambing domba, dan
persembahan persepuluhan yang terdiri dari persembahan kudus yang telah dikuduskan
bagi TUHAN Tuhan mereka. Semuanya itu diletakkan mereka bertimbun-timbun. 7 Mereka
mulai membuat timbunan itu pada bulan yang ketiga, dan mereka selesai pada bulan yang
ketujuh. 8 Hizkia dan para pemimpin datang melihat timbunan itu, dan mereka memuji
TUHAN dan umat-Nya, orang Israel. 9 Hizkia menanyakan para imam dan orang-orang
Lewi tentang timbunan itu, 10 dan dijawab oleh Azarya, imam kepala keturunan Zadok
demikian: “Sejak persembahan khusus mulai dibawa ke rumah TUHAN, kami telah makan
sekenyang-kenyangnya, namun sisanya masih banyak. Sebab TUHAN telah memberkati
umat-Nya, sehingga tinggal sisa yang banyak ini.”
Di sini diceritakan kisah yang terjadi setelah Paskah. Hal yang kurang dalam
persiapan perayaan itu sebelumnya diperbaiki sebagaimana seharusnya. Ketika
ibadah untuk merayakan suatu hari Tuhan atau persekutuan telah usai,
janganlah kita berpikir bahwa pekerjaan telah selesai. Tidak, justru setelah itu
mulailah bagian tersulit dari pekerjaan kita, yaitu mewujudkan dalam perilaku
kudus kesan-kesan yang kita terima selama merayakan ketetapan dan ibadah
itu. Demikian pula yang terjadi di sini, setelah semua perayaan ini selesai, masih
ada yang harus dilakukan.
I. Dengan bekerja keras dan bersungguh hati, mereka menghancurkan semua
tugu penyembahan berhala (ay. 1). Raja sudah melakukan yang terbaik
untuk menghancurkan tempat-tempat penyembahan berhala ini (2Raj.
18:4), namun rakyat dapat menemukan sisa-sisa kekejian yang lolos dari
mata para pegawai raja, dan sebab itu, mereka keluar untuk ikut membantu
membersihkan yang tersisa (ay. 1). Tindakan ini langsung dilakukan setelah
perayaan Paskah. Perhatikanlah, indahnya persekutuan dengan Tuhan
semestinya membakar kita dengan semangat kudus dan kemarahan
terhadap dosa, dan terhadap segala sesuatu yang membuat Tuhan murka. Jika
hati kita dibuat menyala-nyala ketika kita sedang melaksanakan ketetapan
Tuhan , maka semangat yang berkobar-kobar itu akan membakar habis
sampah kecemaran. Apakah lagi sekarang sangkut paut-Ku dengan berhala-
berhala? Kegigihan mereka dalam menghancurkan tugu dan tiang berhala,
bukit pengorbanan dan mezbah, terlihat nyata dari,
Kitab 2 Tawarikh 31:1-10
529
1. Mereka melakukan ini bukan hanya di kota-kota Yehuda dan Benyamin,
namun juga di kota-kota Efraim dan Manasye. Beberapa penafsir
menduga kota-kota yang dimaksud yaitu kota-kota yang sudah berada
di bawah perlindungan dan kekuasaan raja Yehuda. Para penafsir lain
berpikir bahwa, Hosea, raja Israel tidak melarangnya, kegigihan rakyat
Yehuda membuat mereka dapat melakukan penghancuran terhadap
penyembahan berhala sampai ke banyak bagian kerajaan Israel.
Setidaknya orang-orang dalam jumlah yang banyak datang dari Efraim
dan Manasye untuk merayakan Paskah (30:18) dan menghancurkan
semua patung dan tiang berhala mereka sendiri, dan melakukan hal yang
sama pada berhala-berhala banyak orang lain yang ada di bawah
pengaruh mereka atau yang dapat mereka yakinkan untuk mendapat
izin. Kita seharusnya tidak hanya memperbaharui diri kita sendiri, namun
melakukan yang terbaik untuk memperbaharui orang lain juga.
2. Mereka menghancurkan semuanya, sampai musnah semuanya. Mereka
tidak menyisakan apa pun sebab kesukaan atau rasa sayang baik pada
patung itu maupun penyembahnya. Walaupun tadinya begitu antik,
begitu mahal, begitu indah, begitu dipuja, tetap saja semua harus
dihancurkan. Perhatikanlah, orang-orang yang tulus menetapkan hatinya
untuk melawan dosa, akan menetapkan hati untuk melawan semua dosa.
3. Mereka tidak mau pulang ke rumahnya masing-masing, walaupun
mereka sudah begitu lama pergi, sampai tugas ini selesai. Mereka tidak
bisa tenang, atau merasa aman, di kota-kota mereka, selama tugu-tugu
dan tiang-tiang berhala itu, para pengkhianat dan penghancur negeri
mereka itu, masih tegak berdiri. Mungkin Nabi Yesaya menunjuk pada
peristiwa ini ketika, tak lama sebelumnya, dia berbicara tentang suatu
hari ketika orang membuang berhala-berhala yang dibuatnya sendiri.
Betapa mengejutkan perubahan yang terberkati ini (Yes. 2:20; 31:6-7).
II. Hizkia menghidupkan kembali dan memulihkan rombongan-rombongan
imam dan orang Lewi, yang dahulu ditetapkan oleh Daud, namun belakangan
tidak lagi dilaksanakan (ay.