tawarikh ester 16
2). Pelayanan Bait Tuhan dikembalikan lagi sesuai
dengan tata cara yang benar, dijalankan menurut saluran yang semula.
Setiap orang diberi tahu pekerjaannya, tempatnya, jadwalnya, dan tugas
yang harus dilakukannya. Perhatikanlah, pengaturan yang baik berpengaruh
sangat besar pada terlaksananya pekerjaan yang baik. Para imam ditunjuk
sesuai rombongannya untuk mempersembahkan korban bakaran dan
korban keselamatan. Orang Lewi sesuai rombongannya sebagian melayani
para imam, sebagian lagi mengucap syukur dan menyanyikan puji-pujian (lih.
530
1Taw. 23:4-5). Semua ini dilakukan di pintu-pintu gerbang atau di pelataran
tempat perkemahan Tuhan. Bait Tuhan di sini disebut sebagai kemah sebab
keistimewaan kemah yaitu dapat dipindahkan dan Bait Tuhan ini tidak lama
lagi akan dipindahkan.
III. Hizkia menyisihkan sebagian pendapatan kerajaannya untuk memelihara
dan menyokong mezbah Tuhan . Walaupun umat sebenarnya yang harus
menanggung korban setiap hari, serta korban pada hari-hari Sabat, bulan-
bulan baru, dan hari-hari raya, namun, supaya tidak membebani rakyat,
Hizkia menanggungnya dari harta miliknya sendiri, atau dari tabungannya,
untuk semua korban tersebut (ay. 3). Tindakan ini begitu murah hati dan
saleh. Hizkia memikirkan kemuliaan Tuhan dan kenyamanan rakyatnya,
sebagai hamba yang setia kepada-Nya dan bapa yang baik bagi rakyatnya.
Biarlah para pemimpin dan orang besar menganggap pemberiannya tepat,
dan diberikan untuk tujuan terbaik jika pemberian itu untuk mendukung
dan mendorong ibadah agama di negerinya.
IV. Hizkia mengeluarkan perintah, mulanya, kepada penduduk Yerusalem (ay.
4), agar orang yang paling dekat dengan Bait Tuhan , dan orang yang
diselamatkan dan dijadikan milik sebab dekat dengan Bait Tuhan , dapat
menjadi teladan yang baik bagi yang lain. namun kemudian diperluas untuk,
atau setidaknya dilakukan oleh, kota-kota Yehuda, bahwa mereka harus
dengan setia membawa sumbangan mereka, menurut ketentuan hukum
Taurat, yang menjadi bagian para imam dan orang Lewi. Hal ini sudah lama
tidak dilakukan lagi sebelum ini, sehingga pelayanan Bait Tuhan terlantar
sebab masalah dalam pemeliharaan akan menyebabkan masalah dalam
pelayanan. Namun, sebab Hizkia sendiri murah hati, maka dengan rahmat,
dia dapat mengharuskan rakyatnya bertindak adil terhadap pelayanan bait
Tuhan . Dan amatilah tujuan Hizkia dalam mengembalikan dan memulihkan
bagian para imam dan orang Lewi, supaya mereka dapat mencurahkan
tenaganya untuk melaksanakan Taurat Tuhan, untuk mempelajarinya, dan
untuk melakukan tugasnya sesuai dengan Taurat itu. Amatilah di sini,
1. Para pelayan Tuhan bukan hanya harus diperhatikan penghidupan
mereka, namun juga didorong, supaya mereka bukan hanya terus
mengerjakan tugasnya, namun juga hidup nyaman dengan pekerjaan itu,
dan supaya mereka melakukan tugasnya dengan sukacita.
2. Meski demikian, penghidupan mereka diperhatikan bukan supaya mereka
hidup dalam kemalasan, kesombongan, dan kemewahan, namun dalam
Kitab 2 Tawarikh 31:1-10
531
Taurat Tuhan, dengan menjalaninya dalam kehidupan sendiri dan
mengajar orang lain akan pengenalan yang benar akan Taurat Tuhan.
V. Mendengar perintah itu, rakyat segera membawa persepuluhan mereka.
Mereka hanya perlu diajak, dan sebab itu, segera setelah perintah ini tersiar,
maka segala hasil pertama dan semua persembahan kudus langsung dibawa
sesuai kewajiban mereka (ay. 5-6). Bagian yang menjadi jatah para imam,
baik untuk mereka sendiri maupun untuk keluarganya, diambil para imam,
dan sisanya diletakkan bertimbun-timbun (ay. 6). Sepanjang masa panen
mereka menambah timbunan ini, seiring hasil bumi dikumpulkan, sebab
Tuhan harus memungut hak-Nya dari mereka semua. Meski permohonan
dapat diajukan untuk modus decimandi – bagian kesepuluh, namun tidak
dapat diajukan untuk pro non decminado – penghapusan persepuluhan.
Begitu panen selesai, selesai pula mereka menimbun (ay. 7). Nah, di sini
diceritakan,
1. Catatan mengenai Hizkia berkaitan dengan timbunan itu. Hizkia
menanyakan para imam dan orang-orang Lewi tentang timbunan itu,
mengapa mereka tidak menggunakan sumbangan yang diberikan itu,
namun malah menumpuknya (ay. 9). Jawaban atas pertanyaan itu yaitu
bahwa mereka telah mengambil semua yang menjadi bagian mereka,
untuk penghidupan mereka sendiri dan keluarga mereka dan untuk
simpanan musim dingin, dan bahwa timbunan itu yaitu sisa dan kele-
bihannya (ay. 10). Mereka tidak menumpuk timbunan itu sebab
ketamakan, namun untuk memperlihatkan betapa melimpah
pemeliharaan yang dibuat Tuhan bagi mereka melalui hukum-Nya, jika
mereka mau mengumpulkan dan membawanya. Selain itu, mereka yang
dengan kesadaran membawa kewajibannya kepada Tuhan dari harta
miliknya akan mendatangkan berkat ke atas segala yang dimilikinya:
Sejak persembahan khusus mulai dibawa, Tuhan telah memberkati umat-
Nya (lih. Hag. 2:19). “Ujilah Aku,” kata Tuhan , “jika engkau tidak mau mem-
percayai-Ku, apakah, setelah membawa persembahan persepuluhanmu ke
rumah perbendaharaan, engkau tidak mengalami berkat tercurah atasmu”
(Mal. 3:10-11; Yeh. 44:30).
2. Pengakuan yang dibuat raja dan para pemimpin atas hal itu (ay. 8).
Mereka mengucap syukur kepada Tuhan atas penyelenggaraan-Nya yang
baik, yang memberi mereka sesuatu untuk dibawa, dan atas kasih
karunia-Nya yang baik, yang memberi mereka hati untuk membawanya.
Mereka juga memuji orang Israel, menyanjung mereka atas kebaikan yang
mereka buat saat ini, tanpa menegur mereka atas kelalaian mereka sebe-
532
lumnya. Kelihatan sekali bahwa setelah mereka mengecap manisnya
ketetapan Tuhan , selama perayaan Paskah terakhir yang sangat indah itu,
mereka menjadi murah hati dalam memelihara pelayanan Bait Tuhan .
Mereka yang mengalami keuntungan pelayanan yang baik, tidak akan
mengeluhkan biayanya.
Pemeliharaan Penghidupan Para Imam
(31:11-21)
11 Kemudian Hizkia menyuruh menyediakan bilik-bilik di rumah TUHAN dan mereka
menyediakannya. 12 Dan dengan setia mereka membawa segala persembahan khusus,
persembahan persepuluhan dan persembahan-persembahan kudus itu ke sana. Konanya,
seorang Lewi, mengawasi semuanya, dan Simei, saudaranya, yaitu orang kedua, 13
sedang Yehiel, Azazya, Nahat, Asael, Yerimot, Yozabad, Eliel, Yismakhya, Mahat dan
Benanya yaitu penilik di bawah Konanya dan Simei, saudaranya itu, sesuai dengan
petunjuk raja Hizkia dan Azarya, kepala rumah Tuhan . 14 Dan Kore bin Yimna, seorang
Lewi, penunggu pintu gerbang di sebelah timur, mengawasi pemberian-pemberian
sukarela untuk Tuhan , serta membagi-bagikan persembahan khusus yang untuk TUHAN
dan persembahan-persembahan maha kudus. 15 Di kota-kota imam ia dibantu dengan
setia oleh Eden, Minyamin, Yesua, Semaya, Amarya dan Sekhanya dalam pembagian itu
kepada saudara-saudara mereka menurut rombongan, kepada orang dewasa dan anak-
anak, 16 kecuali kepada setiap orang yang masuk ke rumah TUHAN, menurut hari-hari
yang ditetapkan, menurut tugas jabatan yang ditugaskan kepadanya, dan menurut rom-
bongannya, yaitu mereka yang tercatat dalam daftar sebagai laki-laki yang berumur tiga
tahun ke atas. 17 Para imam dicatat dalam daftar menurut puak-puak mereka, sedang
orang-orang Lewi yang berumur dua puluh tahun ke atas dicatat menurut tugas dan
rombongan mereka. 18 Para imam terdaftar dengan seluruh keluarga mereka, yaitu isteri,
anak laki-laki dan wanita , seluruh kaum itu, sebab dengan setia mereka
menguduskan diri untuk persembahan kudus. 19 Bagi keturunan Harun, yaitu imam-
imam, yang tinggal di padang-padang penggembalaan sekitar kota-kota mereka, di setiap
kota ada orang-orang yang ditunjuk dengan disebut namanya, untuk mengadakan
pembagian kepada setiap orang laki-laki dari keluarga imam dan kepada setiap orang
Lewi yang terdaftar. 20 Demikianlah perbuatan Hizkia di seluruh Yehuda. Ia melakukan
apa yang baik, apa yang jujur, dan apa yang benar di hadapan TUHAN, Tuhan nya. 21 Dalam
setiap usaha yang dimulainya untuk pelayanannya terhadap rumah Tuhan , dan untuk
pelaksanaan Taurat dan perintah Tuhan , ia mencari Tuhan nya. Semuanya dilakukannya
dengan segenap hati, sehingga segala usahanya berhasil.
Di sini diceritakan,
I. Dua kejadian khusus yang memperlihatkan kepedulian Hizkia terhadap
perkara ibadah, setelah berhasil membuat ibadah berjalan sebagaimana
mestinya, dia berupaya agar tetap seperti itu. Setelah persepuluhan dan
persembahan kudus lain dibawa ke Bait Tuhan , Hizkia memerintahkan,
1. Agar pemberian itu disimpan dengan baik, tidak dibiarkan dalam
timbunan begitu saja, sehingga mudah sekali terbuang atau digelapkan.
Dia menyuruh agar dibangun bilik-bilik di sebagian pelataran Bait Tuhan
sebagai gudang penyimpanan (ay. 11). Ke dalam bilik-bilik itu
Kitab 2 Tawarikh 31:1-10
533
persembahan dibawa dan disimpan dengan dikunci rapat (ay. 12-13).
Para bendahara atau penjaga gudang ditunjuk, yang harus mengawasi
persembahan ini, dan memastikan bahwa ngengat dan karat tidak me-
rusakkannya dan pencuri tidak membongkar dan mencurinya. Hikmat
untuk menimbun kelebihan di masa kelimpahan ini dapat kita pelajari
dari semut, yang menyediakan rotinya di musim panas. Penimbunan
persembahan yang dibawa ke Bait Tuhan menjadi dorongan bagi rakyat
untuk memberikan sumbangan mereka. Rakyat akan memberi dengan
sukacita jika pemberian mereka dikelola dengan baik.
2. Bahwa timbunan itu harus dikeluarkan dengan benar, sesuai dengan
kegunaan yang dimaksudkan. Harta jemaat tidak boleh disimpan lebih
lama dari ketika ada kebutuhan untuk dipakai, jangan sampai karat
menjadi saksi terhadap mereka yang menimbunnya. Para petugas
ditunjuk, orang-orang yang tidak diragukan lagi sudah terbukti
berhikmat dan setia, untuk membagi-bagikan persembahan khusus yang
untuk Tuhan dan persembahan-persembahan maha kudus (ay. 14), dan
untuk memastikan bahwa mereka mendapatkan bagian yang memadai
untuk penghidupan mereka sendiri maupun keluarganya. Hukum Taurat
menyediakan cukup untuk mereka semua, dan sebab itu, jika beberapa
orang ada yang kekurangan, maka itu pasti sebab yang lain ada yang
berlebihan. Untuk mencegah ketidakadilan seperti ini, para petugas ini
akan menerapkan peraturan pembagian tertentu tentang pemakaian
pemasukan Bait Tuhan . Dikatakan mengenai para imam itu di sini (ay.
18), bahwa dengan setia mereka menguduskan diri. Dalam iman mereka
menguduskan dirinya (demikianlah makna perkataan ini), artinya,
menurut penjelasan Uskup Patrick, mereka melakukan pelayanan
mereka di rumah Tuhan , tanpa meragukan bahwa mereka pasti dicukupi
dalam segala yang mereka butuhkan. Nah, sebab mereka melayani Tuhan
dengan keyakinan itu, maka upaya dilakukan untuk memastikan bahwa
mereka tidak dipermalukan dalam pengharapan mereka. Perhatikanlah,
mereka yang menguduskan dirinya bagi Tuhan dan pelayanan-Nya dalam
iman, dengan percaya bahwa Dia akan memastikan mereka tidak
kekurangan apa pun yang baik, pasti akan dikenyangkan. Dari persem-
bahan kepada Tuhan itu dibuat pembagian,
(1) Untuk para imam di kota-kota (ay. 15), yang tinggal di rumah ketika
saudara-saudaranya pergi ke Yerusalem, dan melakukan tugasnya di
sana, yaitu mengajar pengetahuan yang benar tentang Tuhan. Para
imam yang berkhotbah juga diperhatikan penghidupannya sama
seperti para imam yang mempersembahkan korban, dan orang yang
534
tinggal di dekat barang-barang memiliki hak yang sama seperti
orang yang pergi berperang.
(2) Untuk setiap orang yang masuk ke rumah Tuhan, semua laki-laki yang
berumur tiga tahun ke atas. Sebab, anak laki-laki, walaupun masih
berusia semuda itu, tampaknya boleh datang ke dalam Bait Tuhan
bersama orangtua mereka, dan ikut mendapat jatah dalam
pembagian ini bersama orangtuanya (ay. 16).
(3) Bahkan orang Lewi yang berusia dua puluh tahun ke atas pun
mendapat bagian (ay. 17).
(4) Istri dan anak para imam dan orang Lewi mendapat tunjangan
pemeliharaan dari persembahan ini (ay. 18). Dalam menyokong
penghidupan para pelayan Tuhan, perhatian juga harus diberikan
kepada keluarganya, supaya bukan hanya mereka, namun juga
keluarganya, mendapat cukup makanan. Di beberapa negara yang
para pelayan Tuhan-nya dibiayai oleh negara, jumlah tunjangan
ditambahkan ketika anak mereka lahir.
(5) Para imam di desa, yang tinggal di padang-padang penggembalaan,
tidak dilewatkan dalam pengaturan ini (ay. 19). Penduduk pedusunan
pun mendapat bagian, walaupun biaya hidup mereka semestinya
lebih sedikit.
II. Ciri khas pelayanan Hizkia untuk mendukung agama (ay. 20-21).
1. Semangat kesalehannya menjangkau semua pelosok kerajaannya:
Demikianlah perbuatan Hizkia di seluruh Yehuda. Setiap bagian negeri
itu, bukan hanya yang letaknya berdekatan dengannya, ikut merasakan
buah-buah yang manis dari pemerintahannya.
2. Dia benar-benar tulus ingin menyenangkan Tuhan , dan mencari
perkenan-Nya dalam segala yang dilakukannya: Ia melakukan apa yang
baik di hadapan Tuhan, Tuhan nya. Yang diinginkannya hanyalah
melakukan perkara yang berkenan kepada Tuhan , apa yang jujur (artinya,
sejalan dengan keadilan yang seharusnya), dan apa yang benar (artinya,
sesuai dengan pewahyuan ilahi dan kovenannya dengan Tuhan ) di
hadapan Tuhan. Dia ingin melakukan perbuatan yang sesuai dengan
hukum Taurat yang kudus, benar, dan baik.
3. Pekerjaan yang telah dimulainya kemudian diteruskannya, dilak-
sanakannya dengan kegigihan, dan dilakukannya dengan segenap hati.
4. Semua niat baiknya mendatangkan hasil yang baik. Dia berhasil dalam
semua yang dikerjakannya dalam pelayanan rumah Tuhan , dan dalam
pemerintahan kerajaannya. Perhatikanlah, setiap upaya yang dilakukan
Kitab 2 Tawarikh 31:1-10
535
dengan pertimbangan tulus untuk kemuliaan Tuhan pasti akan berhasil,
dan akhirnya membawa kemuliaan dan penghiburan bagi kita sendiri.
PASAL 32
Pasal ini melanjutkan dan menutup kisah pemerintahan Hizkia.
I. Serbuan Sanherib terhadap dia, dan usaha Hizkia untuk melindungi
diri, membentengi kota, dan melindungi pikiran rakyatnya dari musuh
tersebut (ay. 1-8).
II. Surat hujatan dan pesan penistaan yang dikirim Sanherib kepadanya
(ay. 9-19).
III. Jawaban yang nyata dari Tuhan atas semua hujatan Sanherib dan atas
doa Hizkia dalam kehancuran tentara Asyur secara mutlak, yang
mempermalukan Sanherib dan memuliakan Hizkia (ay. 20-23).
IV. Penyakit Hizkia dan kesembuhannya, dosa dan pemulihannya dari
dosa, beserta kehormatan yang menyertai dia hidup dan mati (ay. 24-
33).
Serbuan Sanherib; Keyakinan Hizkia yang Sabar
(32:1-8)
1 Setelah peristiwa yang menunjukkan kesetiaan Hizkia itu datanglah Sanherib, raja
Asyur, menyerbu Yehuda. Ia mengepung kota-kota berkubu, dan berniat merebutnya. 2
Ketika Hizkia mengetahui, bahwa Sanherib datang hendak memerangi Yerusalem, 3 ia
berunding dengan para panglima dan pahlawannya untuk menutup segala mata air yang
terdapat di luar kota dan mereka itu bersedia membantunya. 4 Maka berkumpullah
banyak orang. Mereka menutup semua mata air dan sungai yang mengalir dari tengah-
tengah negeri itu. Kata mereka: “Mengapa raja-raja Asyur harus mendapat banyak air,
kalau mereka datang?” 5 Dengan sekuat tenaga Hizkia membangun kembali seluruh
tembok yang telah terbongkar, mendirikan menara-menara di atasnya dan tembok yang
lain di luarnya. Ia memperkuat juga Milo di kota Daud dan membuat lembing dan perisai
dalam jumlah yang besar. 6 Ia mengangkat panglima-panglima perang yang mengepalai
rakyat, menyuruh mereka berkumpul kepadanya di halaman pintu gerbang kota dan me-
nenangkan hati mereka dengan kata-kata: 7 “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu!
Janganlah takut dan terkejut terhadap raja Asyur serta seluruh laskar yang menyertainya,
sebab yang menyertai kita lebih banyak dari pada yang menyertai dia. 8 Yang menyertai
dia yaitu tangan manusia, namun yang menyertai kita yaitu TUHAN, Tuhan kita, yang
538
membantu kita dan melakukan peperangan kita.” Oleh kata-kata Hizkia, raja Yehuda itu,
rakyat mendapat kepercayaannya kembali.
Pada perikop ini terdapat,
I. Rencana menakutkan dari Sanherib terhadap kerajaan Hizkia serta usaha
hebat yang dilakukannya. Sanherib ini, seperti halnya Nebukadnezar di
kemudian hari, menjadi kengerian dan momok serta penindas besar di
bagian dunia itu. Ia bertujuan membangkitkan sebuah kerajaan besar yang
tidak terbatas bagi dirinya sendiri di atas kehancuran seluruh negeri-negeri
tetangganya. Pendahulunya, yaitu Salmanezer, belum lama ini telah berhasil
menjadi tuan atas kerajaan Israel dan mengangkut sepuluh sukunya sebagai
tawanan. Sanherib pun berpikir untuk mendapatkan Yehuda bagi dirinya
seperti cara itu. Kesombongan dan ambisi membuat manusia berusaha
meraih kekuasaan atas semua orang. Dapat dicermati bahwa, kira-kira pada
waktu bersamaan, Roma, kota yang belakangan berkuasa lebih dibandingkan
yang lain atas raja-raja dunia, dibangun oleh Romulus. Sanherib menyerbu
Yehuda segera setelah pembaharuan negeri itu dan penegakan kembali
agama di dalamnya: Setelah peristiwa yang menunjukkan kesetiaan Hizkia itu
datanglah Sanherib, raja Asyur, menyerbu Yehuda (ay. 1).
1. Telah diatur dengan baik oleh Tuhan sang Penyelenggara supaya Sanherib
tidak mendatangkan gangguan sebelum pembaharuan selesai dan
ditegakkan, sebab kalau tidak, serangannya bisa menghentikan segala
usaha itu.
2. Kemungkinan, ia bermaksud menghukum Hizkia sebab telah
menghancurkan penyembahan berhala yang disembahnya. Ia memandang
Hizkia begitu kotor atas perbuatan yang telah dilakukannya itu dan
menganggap Hizkia telah mengeluarkan diri dari perlindungan ilahi.
sebab itu, Sanherib memperhitungkan dia sebagai orang yang akan
mudah dijadikan mangsa.
3. Tuhan mengatur kejadian tersebut pada waktu ini supaya Ia dapat
menyatakan diri-Nya kuat bagi umat yang sedang berbalik dan
memperbaharui diri. Tuhan mendatangkan masalah itu ke atas mereka
supaya Ia boleh mendapat kehormatan, dan membuat Israel dihormati,
lewat kelepasannya. Setelah peristiwa yang menunjukkan kesetiaan
Hizkia itu, kita tentu berharap mendengar kedamaian yang sempurna,
dan tidak ada yang macam-macam dengan umat yang patut mendapat
perkenanan ilahi ini. Namun, kabar selanjutnya yang kita dengar ialah
adanya pasukan tentara yang mengancam dan membinasakan sedang
memasuki negeri itu, siap meluluhlantakkan semuanya. Kita bisa saja
Kitab 2 Tawarikh 32:1-8
539
menemui masalah dan bahaya saat sedang menjalankan tanggung jawab.
Tuhan mengaturnya demikian untuk menguji kepercayaan kita kepada-
Nya dan sebagai bentuk pemeliharaan-Nya terhadap kita. Sedikitnya
perlawanan yang dihadapi Sanherib saat memasuki Yehuda
menyebabkan dia berpikir bahwa semua yaitu miliknya. Ia berniat
merebut kota-kota berkubu (ay. 1) dan bertujuan memerangi Yerusalem
(ay. 2 dan 2Raj. 18:7, 13).
II. Persiapan yang diadakan Hizkia dengan bijaksana menanggapi badai yang
mengancamnya: ia berunding dengan para panglima dan pahlawannya
tentang apa yang harus dilakukan, langkah apa yang harus diambil (ay. 3).
Dengan nasihat mereka, ia mempersiapkan,
1. Agar negerinya menyambut Sanherib dengan sambutan dingin. Hizkia
mengatur agar musuh tidak mendapat air di negerinya sehingga
tentaranya mati kehausan, atau setidaknya ada kelangkaan air, sehingga
melemahkan pasukan Sanherib, supaya tidak sanggup berperang. Suatu
tentara yang kuat, jika kekurangan air beberapa hari saja, akan menjadi
timbunan debu kering belaka. Semua tangan segera bekerja untuk
menutup semua mata air dan sungai yang mengalir dari tengah-tengah
negeri itu, (kemungkinan) membelokkannya mengalir ke dalam kota
dengan pipa-pipa bawah tanah. Seperti kebijakan yang lazim diterapkan
pada zaman sekarang, yaitu menghancurkan persediaan makanan saat
tentara musuh menyerbu masuk.
2. Agar kota memberi sambutan hangat kepada Sanherib. Untuk
melakukannya, Hizkia memperbaiki tembok, mendirikan menara-
menara, dan membuat anak-anak panah (atau dalam tafsiran lain
dikatakan pedang dan senjata) serta perisai dalam jumlah besar (ay. 5),
serta mengangkat panglima-panglima (ay. 6). Perhatikan, barang siapa
mempercayai Tuhan untuk keamanan, mereka juga harus memakai cara-
cara yang sesuai untuk mendapatkan keamanan, sebab kalau tidak,
mereka mencobai Tuhan dan tidak mempercayai Dia. Tuhan akan menye-
diakan, namun kita juga harus bersiap.
III. Penghiburan yang Hizkia berikan kepada rakyatnya untuk bersandar kepada
Tuhan di tengah kesesakan ini. Ia mengumpulkan rakyat di jalanan lebar
terbuka dan menenangkan hati mereka dengan kata-kata (ay. 6). Hizkia
sendiri tidak gentar, yakin bahwa serangan itu akan berakhir baik-baik saja.
Ia tidak seperti ayahnya yang memiliki banyak kesalahan sehingga meng-
gentarkan dia, tanpa iman yang menguatkannya, sehingga pada masa bahaya
540
menimpa rakyat, hati Ahas gemetar ketakutan seperti pohon-pohon hutan
bergoyang ditiup angin, sehingga tidak heran bila hati rakyatnya juga
gemetar (Yes. 7:2). Dengan perkataannya, Hizkia menghidupkan kembali
semangat rakyat, terutama para panglima, dan menyentuh hati mereka
dengan perkataan tersebut.
1. Ia berupaya memadamkan ketakutan mereka, “Kuatkanlah dan
teguhkanlah hatimu! Janganlah berpikir untuk menyerahkan kota
ataupun mengadakan perjanjian, melainkan tetapkanlah hati untuk
mempertahankannya sampai titik darah penghabisan. Jangan berpikir
bahwa kalian akan kehilangan kota atau jatuh ke tangan musuh. Tidak
ada bahaya. Kiranya para prajurit berani dan tangguh, siap siaga di
penjagaan, menguatkan lengan, dan bertarung dengan gagah. Kiranya
warga juga menguatkan mereka, janganlah takut dan terkejut terhadap
raja Asyur.” Sang nabi sebelumnya telah menguatkan mereka demikian
dengan firman Tuhan (Yes. 10:24), “Janganlah takut terhadap Asyur,” dan
di sini raja mengulangi perkataannya. Orang-orang yang berdosa terkejut
di Sion (Yes. 33:14), namun orang benar tinggal aman di tempat-tempat
tinggi (Yes. 33:15-16), memikirkan kengerian dan mengatasinya. Lihat
Yesaya 33:18 yang membicarakan peristiwa yang dicatat dalam 2
Tawarikh 32 ini.
2. Hizkia berusaha mempertahankan iman rakyat, untuk menghentikan
dan menekan ketakutan mereka. “Sanherib mempunyai seluruh laskar
yang menyertainya, namun yang menyertai kita lebih banyak dari pada
yang menyertai dia, sebab Tuhan beserta kita, dan berapa banyak yang
mampu menandingi-Nya? Yang menyertai musuh kita yaitu tangan ma-
nusia, yang diandalkan Sanherib. namun yang menyertai kita yaitu
Tuhan, yang kuasa-Nya tidak terkalahkan, Tuhan kita, yang janji-Nya tidak
pernah gugur, Tuhan yang terikat perjanjian dengan kita, untuk menolong
kita dan maju berperang bagi kita, bukan hanya untuk membantu kita
melawan mereka, namun juga melawan mereka bagi kita sesuai
kehendak-Nya.” Demikianlah yang Hizkia katakan. Perhatikanlah,
keyakinan yang penuh kepercayaan kepada Tuhan akan mengangkat kita
mengalahkan rasa takut manusiawi yang mencengkeram kita. Barang
siapa gentar terhadap kepanasan amarah orang penganiaya, melupakan
Tuhan yang menjadikannya (Yes. 51:12-13). Ada kemungkinan Hizkia
berbicara lebih banyak mengenai hal ini dan rakyat mempercayai apa
yang diucapkannya. Mereka tidak hanya sekadar percaya pada kata-
katanya, namun juga pada perkataannya mengenai hadirat Tuhan bersama
mereka dan kuasa-Nya untuk melepaskan mereka, suatu keyakinan yang
Kitab 2 Tawarikh 32:1-8
541
membuat mereka tenang. Kiranya warga dan prajurit Kristus yang baik
bersandar pada firman-Nya dan mendapat ketenangan, sehingga dengan
lantang berkata, Jika Tuhan di pihak kita, siapakah yang akan melawan
kita?
Kekalahan Asyur
(32:9-23)
9 Sesudah itu Sanherib, raja Asyur, yang sedang mengepung Lakhis dengan seluruh
kekuatan tentaranya, mengutus beberapa pegawai ke Yerusalem, kepada Hizkia, raja
Yehuda, dan kepada semua orang Yehuda yang ada di Yerusalem, dengan pesan: 10
“Beginilah titah Sanherib, raja Asyur: Apakah yang kamu harapkan, maka kamu tinggal
saja di Yerusalem yang terkepung ini? 11 Bukankah Hizkia memperdayakan kamu, supaya
kamu mati kelaparan dan kehausan, dengan mengatakan: TUHAN, Tuhan kita, akan
melepaskan kita dari tangan raja Asyur? 12 Bukankah Hizkia ini yang menjauhkan segala
bukit pengorbanan dan mezbah TUHAN itu, dan berkata kepada Yehuda dan Yerusalem:
Hanya di depan satu mezbah kamu harus sujud menyembah dan membakar korban di
atasnya? 13 Tidakkah kamu ketahui apa yang aku dan nenek moyangku lakukan terhadap
semua bangsa negeri-negeri lain? Apakah para Tuhan bangsa-bangsa segala negeri itu
pernah berhasil melepaskan negeri mereka dari tanganku? 14 Siapa dari pada semua Tuhan
bangsa-bangsa yang sudah ditumpas nenek moyangku itu dapat melepaskan bangsanya
dari tanganku? Masakan Tuhan mu dapat melepaskan kamu dari tanganku? 15 Sekarang,
janganlah Hizkia memperdayakan dan membujuk kamu seperti ini! Janganlah percaya
kepadanya, sebab tidak ada Tuhan dari bangsa atau kerajaan manapun yang dapat
melepaskan bangsanya dari tanganku dan dari tangan nenek moyangku, lebih-lebih lagi
Tuhan mu itu takkan dapat melepaskan kamu dari tanganku!” 16 Dan masih banyak lagi
yang diucapkan pegawai-pegawai Sanherib itu menentang TUHAN Tuhan dan menentang
Hizkia, hamba-Nya. 17 Ia menulis juga surat yang penuh cela dan hujat terhadap TUHAN,
Tuhan Israel, bunyinya: “Sebagaimana para Tuhan bangsa-bangsa segala negeri lain tidak
dapat melepaskan bangsanya dari tanganku, demikian pula Tuhan Hizkia takkan dapat
melepaskan bangsa-Nya dari tanganku.” 18 Dan mereka berseru dengan suara nyaring
dalam bahasa Yehuda kepada rakyat Yerusalem yang ada di atas tembok, untuk
menakutkan dan mengejutkan mereka, supaya mereka dapat merebut kota itu. 19 Mereka
berbicara tentang Tuhan Yerusalem seperti tentang para Tuhan bangsa-bangsa di dunia,
yaitu buatan tangan manusia. 20 namun oleh sebab itu raja Hizkia dan nabi Yesaya bin
Amos berdoa dan berseru kepada sorga. 21 Lalu TUHAN mengirim malaikat yang
melenyapkan semua pahlawan yang gagah perkasa, pemuka dan panglima yang ada di
perkemahan raja Asyur, sehingga ia kemalu-maluan kembali ke negerinya. Kemudian ia
ditewaskan dengan pedang oleh anak-anak kandungnya sendiri ketika ia memasuki
rumah Tuhan nya. 22 Demikianlah TUHAN menyelamatkan Hizkia dan penduduk Yerusalem
dari tangan Sanherib, raja Asyur, dan dari tangan semua musuhnya. Dan Ia
mengaruniakan keamanan kepada mereka di segala penjuru. 23 Banyak orang membawa
persembahan ke Yerusalem untuk TUHAN dan barang-barang berharga untuk Hizkia, raja
Yehuda itu. Sejak itu ia diagungkan oleh semua bangsa.
Kisah tentang kekerasan dan hujatan Sanherib, doa Hizkia, serta kelepasan
Yerusalem melalui kehancuran tentara Asyur, dicatat lebih lengkap dalam Kitab
Raja-raja (2Raj. 18-19). Dalam Kitab Tawarikh ini ceritanya dipersingkat, namun
cukup untuk menunjukkan tiga hal berikut:
542
I. Musuh-musuh gereja tidak takut akan Tuhan dan penuh maksud jahat.
Sanherib mengepung Lakhis dengan seluruh kekuatannya (ay. 9), namun ia
mendengar bahwa Hizkia sedang membentengi Yerusalem dan menguatkan
rakyatnya untuk berdiri teguh. sebab itu, sebelum datang mengepung
mereka, Sanherib mengutus pembawa pesan untuk menyampaikan pidato,
sementara ia sendiri menulis surat-surat untuk menakut-nakuti Hizkia dan
rakyatnya agar menyerahkan kota. Lihatlah,
1. Betapa besar niat jahatnya terhadap raja Yehuda, tampak lewat
upayanya menarik rakyat dari kesetiaan mereka kepada rajanya.
Sanherib tidak memperlakukan Hizkia dengan sikap layaknya orang
terhormat, tidak pula menawarkan syarat-syarat yang adil, namun
memakai kelicikan yang kasar dan keji. Ia menakut-nakuti rakyat biasa
dan menghasut mereka untuk meninggalkan rajanya, sesuatu yang tidak
pantas bagi seseorang yang mengenakan mahkota. Ia menggambarkan
Hizkia sebagai orang yang bertujuan menipu rakyatnya agar binasa dan
meninggalkan mereka mati kelaparan dan kahausan (ay. 11). Ia
menuduh Hizkia sebagai orang yang telah melakukan kesalahan besar
kepada warganya dan membuat mereka terancam tidak mendapat
perkenanan ilahi sebab menyingkirkan bukit pengorbanan dan
mezbah-mezbah (ay. 12). Ia memfitnah Hizkia sebagai orang yang
merugikan rakyatnya dengan melawan pasukan yang pasti akan
membinasakan mereka (ay. 15).
2. Betapa besar penistaan Sanherib terhadap Tuhan Israel, yang disebutnya
Tuhan Yerusalem (ay. 19), sebab Yerusalem yaitu tempat yang dipilih-
Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana, dan sebab kota itu yang kini
berada dalam ancaman musuh dan yang dijaga secara khusus dalam
perlindungan ilahi oleh Tuhan Sang Penyelenggara. Penghujat yang
sombong ini membandingkan Yehova yang agung, Pencipta langit dan
bumi, dengan para ilah bangsa-bangsa yang hanya merupakan timbunan
kotoran, buatan tangan manusia. Sanherib berpikir Tuhan tidak lebih
sanggup menyelamatkan umat-Nya dibandingkan para ilah itu
menyelamatkan pengikut mereka (ay. 19), seolah Roh yang kekal dan
tidak terbatas itu tidak memiliki hikmat dan kuasa yang lebih besar
ketimbang batu atau tumpukan kayu. Sanherib membangga-banggakan
kemenangannya atas dewa-dewa bangsa lain yang tidak satupun dapat
melindungi umatnya (ay. 13-15), sehingga ia bukan hanya
berkesimpulan, Masakan Tuhan mu dapat melepaskan kamu dari
tanganku? (ay. 14), namun juga menganggap Dia lebih lemah dibandingkan
semua ilah lain. “Tidak ada Tuhan dari bangsa atau kerajaan manapun
Kitab 2 Tawarikh 32:1-8
543
yang dapat melepaskan bangsanya dari tanganku dan dari tangan nenek
moyangku, lebih-lebih lagi Tuhan mu itu takkan dapat melepaskan kamu
dari tanganku!” Seolah Ia kurang mampu menolong dibandingkan
dengan para ilah lain. Demikianlah mereka mencemooh, mencela lewat
tulisan yang lebih besar kesalahannya sebab dilakukan dengan sengaja,
terhadap Tuhan Tuhan Israel, seolah Dia hanya nol, nama yang kosong,
seperti semua yang lain (ay. 17). Dalam perkataannya, Sanherib sudah
berbicara lebih dari cukup. Namun, seolah hujatannya itu masih terlalu
sedikit, para pegawainya yang telah belajar keangkuhan dari tuan
mereka berbicara melebihi yang diperintahkan Sanherib menentang
Tuhan Tuhan dan menentang Hizkia, hamba-Nya (ay. 16). Dan Tuhan
membenci apa yang dikatakan menentang para hamba-Nya, dan Ia akan
mengadakan perhitungan untuk itu, beserta hujat yang diucapkan
terhadap diri-Nya sendiri. Semua hujatan itu bertujuan untuk
menggentarkan rakyat dari pengharapan mereka kepada Tuhan , seperti
yang dilakukan oleh musuh-musuh Daud (Mzm. 11:1; 42:11) dengan
berkata, “Baginya tidak ada pertolongan dari pada Tuhan ” (Mzm. 3:3;
71:11). sebab itulah Asyur berharap dapat merebut kota dengan
melemahkan tangan orang-orang yang mempertahankannya. Iblis,
dalam semua pencobaannya, bertujuan menghancurkan iman kita
terhadap kemahacukupan Tuhan . Iblis tahu bahwa dirinya akan menang
jika dapat melakukan itu, sedang kita akan tetap teguh jika iman kita
tidak gugur (Luk. 22:32).
II. Kewajiban dan kepentingan para sahabat umat Tuhan ialah untuk berdoa dan
berseru kepada sorga pada masa kesesakan. Itulah yang dilakukan oleh
Hizkia dan Nabi Yesaya (ay. 20). Merupakan saat yang berbahagia ketika raja
dan nabi bersatu dalam doa. Adakah yang gelisah? Adakah yang ketakutan?
Hendaklah ia berdoa. Dengan begitu, kita mengajak Tuhan bertindak bagi kita.
Dengan begitu, kita menguatkan diri dalam Dia. Dalam bacaan ini, berdoa
kepada Tuhan disebut berseru kepada sorga, sebab saat berdoa, kita harus
memandang-Nya sebagai Bapa kita di sorga. Dari situ Dia memandang anak-
anak manusia, dan di situ pula Ia telah mempersiapkan takhta-Nya.
III. Kuasa dan kebaikan Tuhan, Tuhan umat-Nya. Dia sanggup mengendalikan
musuh-musuh-Nya, setinggi apa pun mereka, sekaligus membebaskan
sahabat-sahabat-Nya, serendah apa pun mereka.
544
1. Seperti hujatan para musuh-Nya mendorong Dia menentang mereka (Ul.
32:27), demikian pula doa umat-Nya menarik Dia membela mereka.
Demikianlah yang terjadi di sini.
(1) Tentara Asyur dilenyapkan oleh pedang seorang malaikat, yang
secara khusus bersorak kemenangan dalam pembunuhan para
pahlawan yang gagah perkasa, pemuka, dan panglima. Ia
mengalahkan pedang siapa pun. Tuhan suka merendahkan orang yang
sombong dan merasa aman-aman. Kitab Targum berkata, “Firman
Tuhan yaitu firman yang kekal, mengutus Gabriel untuk menjalankan
penghukuman itu, dan hal itu dilaksanakan dengan petir pada malam
Paskah, yaitu malam ketika malaikat menghabisi anak-anak sulung
orang Mesir.” Namun, bukan hanya itu.
(2) Raja Asyur, setelah dipermalukan seperti itu, dibunuh oleh pedang
anak-anaknya sendiri. Ia ditewaskan dengan pedang oleh anak-anak
kandungnya sendiri (ay. 21). Demikianlah ia dipermalukan lebih
dahulu, lalu dihabisi, aib mula-mula, lalu dibunuh. Kejahatan
mengejar orang berdosa, dan ketika mereka lolos dari satu bahaya,
mereka masuk ke dalam bahaya lain yang tidak terlihat.
2. Dengan karya mukjizat ini,
(1) Tuhan dipermuliakan sebagai pelindung umat-Nya. Demikianlah Ia
menyelamatkan Yerusalem, bukan hanya dari tangan Sanherib,
namun juga dari tangan semua musuhnya (ay. 22). Kelepasan seperti
ini yaitu bukti dari banyaknya belas kasih dalam perbendaharaan-
Nya. Ia mengaruniakan keamanan kepada mereka, artinya Ia menjaga
mereka di segala penjuru. Tuhan melindungi umat-Nya dengan cara
menuntun mereka, menunjukkan apa yang harus mereka lakukan,
dan dengan demikian menyelamatkan mereka dari rancangan atau
perbuatan yang membahayakan mereka. sebab keselamatan itu,
banyak orang membawa persembahan ke Yerusalem untuk Tuhan,
tatkala mereka melihat kuasa Tuhan yang sangat besar membela
umat-Nya. Akibatnya, orang-orang asing pun terdorong untuk me-
mohon perkenanan-Nya, dan musuh terdorong untuk mencela
murka-Nya, dan kedua pihak membawa persembahan ke bait-Nya
sebagai tanda kepedulian dan kerinduan mereka.
(2) Hizkia pun semakin dimuliakan sebagai kesayangan sorga dan yang
dilindungi secara istimewa. Banyak orang membawa barang-barang
berharga untuk Hizkia (ay. 22-23) sebagai bukti bahwa mereka
Kitab 2 Tawarikh 32:1-8
545
menghormatinya dan berusaha mendapat perkenannya. Dengan
perkenanan Tuhan , musuh hilang, kawan diperoleh.
Wafatnya Hizkia
(32:24-33)
24 Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit, sehingga hampir mati. Ia berdoa kepada TUHAN,
dan TUHAN berfirman kepadanya dan memberikannya suatu tanda ajaib. 25 namun Hizkia
tidak berterima kasih atas kebaikan yang ditunjukkan kepadanya, sebab ia menjadi
angkuh, sehingga ia dan Yehuda dan Yerusalem ditimpa murka. 26 namun ia sadar akan
keangkuhannya itu dan merendahkan diri bersama-sama dengan penduduk Yerusalem,
sehingga murka TUHAN tidak menimpa mereka pada zaman Hizkia. 27 Hizkia mendapat
kekayaan dan kemuliaan yang sangat besar. Ia membuat perbendaharaan-
perbendaharaan untuk emas, perak, batu permata yang mahal-mahal, rempah-rempah,
perisai-perisai dan segala macam barang yang indah-indah, 28 juga tempat perbekalan
untuk hasil gandum, untuk anggur dan minyak, dan kandang-kandang untuk berbagai
jenis hewan besar dan kandang-kandang untuk kawanan kambing domba. 29 Ia
mendirikan kota-kota, memperoleh banyak kambing domba dan lembu sapi, sebab Tuhan
mengaruniakan dia harta milik yang amat besar. 30 Hizkia ini juga telah membendung
aliran Gihon di sebelah hulu, dan menyalurkannya ke hilir, ke sebelah barat, ke kota Daud.
Hizkia berhasil dalam segala usahanya. 31 Demikianlah juga ketika utusan-utusan raja-raja
Babel datang kepadanya untuk menanyakan tentang tanda ajaib yang telah terjadi di
negeri, ketika itu Tuhan meninggalkan dia untuk mencobainya, supaya diketahui segala isi
hatinya. 32 Selebihnya dari riwayat Hizkia dan perbuatan-perbuatannya yang setia,
sesungguhnya semuanya itu tertulis dalam penglihatan nabi Yesaya bin Amos, dalam
kitab raja-raja Yehuda dan Israel. 33 Kemudian Hizkia mendapat perhentian bersama-
sama dengan nenek moyangnya, dan dikuburkan di pendakian ke pekuburan anak-anak
Daud. Pada waktu kematiannya seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem memberi
penghormatan kepadanya. Maka Manasye, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.
Kisah Hizkia ditutup dengan catatan tentang tiga hal mengenai dia:
I. Sakit dan kesembuhannya (ay. 24). Sakit Hizkia dicatat secara ringkas saja di
sini, cerita lengkapnya terdapat dalam 2 Raja-raja 20. Penyakitnya itu
kemungkinan besar tampaknya mematikan. Di tengah parahnya sakit itu, ia
berdoa. Tuhan menjawab dia dan memberinya tanda bahwa Hizkia pasti
sembuh, yaitu bayangan matahari yang bergerak mundur sepuluh tapak.
II. Dosa dan pertobatan Hizkia, yang juga diceritakan lebih panjang dalam 2
Raja-raja 20:12. Di sini, dicermati beberapa hal mengenai dosanya yang
tidak terdapat dalam 2 Raja-raja.
1. Waktu terjadinya yaitu ketika raja Babel mengirimkan utusan
kehormatan kepada Hizkia untuk mengucapkan selamat atas
kesembuhannya. Namun, di sini juga ditambahkan bahwa mereka datang
untuk menanyakan tentang tanda ajaib yang telah terjadi di negeri (ay.
31), entah kehancuran tentara Asyur atau matahari yang bergerak
546
mundur. Asyur merupakan musuh Babel, mereka datang untuk mencari
tahu tentang kejatuhan Asyur, supaya mereka bersorak dengan
kejatuhannya. Matahari yaitu dewa Babel, jadi mereka datang untuk
mencari tahu perkenanan apa yang telah dinyatakan oleh dewa matahari
itu kepada Hizkia, supaya mereka menghormatinya sebagai orang yang
telah dihormati oleh dewanya (ay. 31). Mukjizat-mukjizat itu diadakan
untuk mengingatkan dan membangunkan dunia yang bodoh dan
sembrono, serta membalikkan mereka dari berhala yang bodoh dan
lemah kepada Tuhan yang hidup. Orang-orang tercengang sebab nya,
namun tidak bertobat sebelum mujizat yang lebih besar diadakan di
negeri itu dalam kedatangan Yesus Kristus (Mat. 2:1-2).
2. Dalam perkara itu, Tuhan meninggalkan Hizkia untuk menguji dia (ay.
31). Dengan kekuatan anugerah-Nya yang Mahakuasa, Tuhan bisa saja
mencegah dosa Hizkia, namun Dia mengizinkannya demi akhir yang
bijaksana dan suci, sehingga lewat ujian dan kelemahannya, Hizkia dapat
mengetahui, yaitu supaya dapat tersingkapkan (ungkapan lazim bahasa
Ibrani) apa yang ada dalam hatinya, yaitu bahwa dirinya tidak
sesempurna yang ia pikirkan, namun memiliki kebodohan dan kelemahan
seperti manusia lainnya. Tuhan membiarkan Hizkia menyombongkan
hartanya untuk mencegah dia menyombongkan kesucian. yaitu baik
bagi kita untuk mengenal diri sendiri, kelemahan dan keberdosaan kita,
supaya kita tidak sombong atau percaya diri sendiri saja, melainkan
harus selalu rendah hati dan hidup bergantung pada anugerah ilahi. Kita
tidak mengetahui bengkoknya hati kita dan apa yang dapat kita perbuat
kalau Tuhan membiarkan kita. Tuhan, janganlah membawa kami ke dalam
pencobaan.
3. Dosa Hizkia yaitu ia menjadi angkuh (ay. 25). Ia bangga akan
kehormatan yang Tuhan berikan kepadanya dalam begitu banyak hal,
kehormatan yang diberikan oleh negeri-negeri tetangga lewat
persembahan, dan sekarang sebab raja Babel sampai mengirim seorang
utusan kepadanya untuk memuji dan merayu dia: hal ini melambungkan
Hizkia sampai ke langit. Saat ia telah menghancurkan penyembahan
berhala, Hizkia memberhalakan dirinya sendiri. Oh, betapa orang-orang
besar, orang baik, dan orang yang berguna perlu mempelajari kelemahan
dan kebodohan dirinya serta hutangnya kepada anugerah yang cuma-
cuma, supaya jangan pernah mereka memandang tinggi terhadap diri
sendiri. Mereka harus dengan tulus memohon agar Tuhan menjauhkan
kesombongan dan senantiasa menjaga mereka tetap rendah hati!
Kitab 2 Tawarikh 32:1-8
547
4. Dosanya semakin berat sebab balasannya terhadap perkenanan Tuhan
begitu buruk. Malahan ia menjadikan semua perkenanan Tuhan sebagai
makanan dan bahan bakar bagi kesombongannya (ay. 25): Hizkia tidak
berterima kasih atas kebaikan yang ditunjukkan kepadanya.
Perhatikanlah, yaitu adil bila orang yang telah menerima belas kasihan
Tuhan diharapkan akan berusaha memberi balasan yang sesuai atas belas
kasihan yang telah mereka terima. Dan jika tidak, maka sikap mereka
yang tidak tahu berterima kasih pasti akan diperhitungkan atas mereka.
Meskipun kita tidak bisa membalas dengan sepadan ataupun membayar
hutang kita, setidaknya kita harus mengakui anugerah yang kita terima.
Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?
(Mzm. 116:12).
5. Murka ilahi yang menimpa Hizkia atas dosa tersebut. Sekalipun dosa itu
hanya di dalam batin, dan perilaku yang tampak kelihatannya bukan
hanya tidak bersalah namun justru sopan santun (menunjukkan
perbendaharaannya kepada kawan), namun murka menimpa dia dan
kerajaannya atas dosa tersebut (ay. 25). Perhatikanlah, kesombongan
yaitu dosa yang paling dibenci Tuhan seperti dosa lainnya, apalagi
kesombongan pada umat-Nya sendiri. Barang siapa meninggikan diri,
pasti direndahkan, dan dibuat merendah oleh berbagai tindakan
penyelenggaraan Tuhan . Murka menimpa Daud atas kesombongannya
dalam menghitung jumlah rakyat.
6. Pertobatan Hizkia dari dosanya itu: ia sadar akan keangkuhannya itu dan
merendahkan diri. Perhatikanlah:
(1) Meskipun Tuhan mengizinkan umat-Nya jatuh ke dalam dosa, demi
akhir yang bijaksana dan suci, namun Dia tidak akan membiarkan
mereka terus berkanjang di dalamnya, apabila ia jatuh, tidaklah
sampai tergeletak.
(2) Dosa batiniah harus diakui dan disesali, meskipun dosa itu tidak
melangkah lebih jauh.
(3) Perendahan diri yaitu bagian yang diperlukan dalam pertobatan.
(4) Keangkuhan hati yang membuat kita meninggikan diri merupakan
dosa yang mengharuskan kita merendahkan diri secara khusus.
(5) Rakyat harus meratapi dosa para pemimpinnya. Penduduk
Yerusalem merendahkan diri bersama Hizkia, entah sebab mereka
tahu bahwa mereka juga bersalah atas dosa yang sama, atau
setidaknya sebab takut turut menanggung hukumannya. Ketika
Daud menghitung rakyat dalam kesombongannya, mereka semua
turut menderita sebab dosa Daud.
548
7. Penangguhan hukuman yang diberikan. Murka Tuhan tidak datang pada
zaman Hizkia. Selagi ia hidup, kedamaian dan kebenaran berkuasa atas
negeri itu. Demikianlah besarnya manfaat pertobatan untuk
menyisihkan, atau setidaknya menangguhkan perwujudan murka Tuhan .
III. Inilah penghormatan yang diperbuat terhadap Hizkia,
1. Oleh penyelenggaraan Tuhan selama ia hidup. Ia memiliki kekayaan yang
sangat besar (ay. 27), mengisi kembali perbendaharaannya,
memperlengkapi bangunannya, membentengi kota, dan melakukan
segala yang dia mau, sebab Tuhan mengaruniakan dia harta milik yang
amat besar (ay. 29). Di antara pekerjaan-pekerjaan besarnya, disebutkan
pula ia membendung aliran Gihon (ay. 30), yang dilakukan pada waktu
penyerbuan Sanherib (ay. 3-4). Air yang mengalir ke sana tadinya
disebut kolam yang lama (Yes. 22:11) dan kolam atas (Yes. 7:3), namun
Hizkia mengumpulkan air itu ke tempat baru agar lebih memudahkan
kota, yang disebut kolam bawah (Yes. 22:9). Secara umum, ia berhasil
dalam segala yang dikerjakannya, sebab semuanya itu pekerjaan yang
baik.
2. Oleh penghargaan yang diberikan kepadanya ketika ia sudah wafat.
(1) Nabi Yesaya menuliskan tentang kehidupan dan pemerintahannya
(ay. 32), tindakan-tindakannya serta kebaikan atau kesalehannya.
Semuanya itu merupakan bagian dari penghormatan yang perlu
dicatat dan diingat sebagai teladan untuk orang lain.
(2) Rakyat memberi penghormatan kepadanya (ay. 33), menguburkan
dia di bagian utama dari pemakaman raja-raja, menyalakan api besar
baginya seperti bagi Asa sebelumnya. Juga, sebagai penghormatan
yang lebih besar lagi, mereka mengadakan ratapan besar untuknya,
seperti untuk Yosia. Lihatlah betapa penghargaan atas kesalehan
yang sungguh-sungguh diperlihatkan dalam hati nurani manusia.
Meski ditakutkan bahwa kebanyakan rakyat tidak mengikuti
pembaharuan para raja dengan sepenuh hati, namun tidak dapat
tidak mereka memuji usaha pembaharuan itu dan kenangan akan
raja-raja tersebut diberkati di antara mereka. Kepada orang-orang
yang telah sungguh berguna selama masa hidupnya, kita berutang
untuk memberikan penghormatan pada hari kematiannya, saat me-
reka telah berada di luar jangkauan pujian orang dan kita melihat
akhir dari perilaku mereka. Membayarkan hutang yang semestinya
Kitab 2 Tawarikh 32:1-8
549
seperti ini akan mendorong orang lain untuk juga melakukan hal-hal
yang berguna semasa hidupnya.
PASAL 33
Dalam pasal ini kita dapati sejarah tentang:
I. Pemerintahan Manasye, yang berlangsung cukup lama.
1. Kemurtadannya dari Tuhan yang menyedihkan, pemberontakannya
dari Tuhan dan melakukan penyembahan berhala dan semua
kejahatan lainnya (ay. 1-10).
2. Kepulangannya yang bahagia kepada Tuhan dalam penderitaannya,
dan pertobatannya (ay. 11-13). Pembaharuannya (ay. 15-17), dan
kemakmurannya (ay. 14), diikuti dengan akhir masa
pemerintahannya (ay. 18-20).
II. Pemerintahan Amon, yang memerintah dengan sangat jahat (ay. 21-
23), dan segera mengakhiri hari-harinya dengan kesedihan (ay. 24-25).
Pemerintahan Manasye
(33:1-10)
1 Manasye berumur dua belas tahun pada waktu ia menjadi raja dan lima puluh lima
tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. 2 Ia melakukan apa yang jahat di mata
TUHAN, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah dihalaukan TUHAN dari
depan orang Israel. 3 Ia mendirikan kembali bukit-bukit pengorbanan yang telah
dirobohkan oleh Hizkia, ayahnya; ia membangun mezbah-mezbah untuk para Baal,
membuat patung-patung Asyera dan sujud menyembah kepada segenap tentara langit
dan beribadah kepadanya 4 Ia mendirikan mezbah-mezbah di rumah TUHAN, walaupun
sehubungan dengan rumah itu TUHAN telah berfirman: “Di Yerusalem nama-Ku akan
tinggal untuk selama-lamanya!” 5 Dan ia mendirikan juga mezbah-mezbah bagi segenap
tentara langit di kedua pelataran rumah TUHAN. 6 Bahkan, ia mempersembahkan anak-
anaknya sebagai korban dalam api di Lebak Ben-Hinom; ia melakukan ramal, telaah dan
sihir, dan menghubungi para pemanggil arwah dan para pemanggil roh peramal. Ia
melakukan banyak yang jahat di mata TUHAN, sehingga ia menimbulkan sakit hati-Nya. 7
Ia menaruh juga patung berhala yang telah dibuatnya dalam rumah Tuhan , walaupun Tuhan
telah berfirman kepada Daud dan kepada Salomo, anaknya: “Dalam rumah ini dan di
Yerusalem, yang telah Kupilih dari antara segala suku Israel, Aku akan menaruh nama-Ku
untuk selama-lamanya! 8 Aku tidak akan membuat pula orang Israel berjejak ke luar dari
tanah yang telah Kutentukan untuk nenek moyangmu, asal saja mereka melakukan
552
dengan setia segala yang telah Kuperintahkan kepada mereka dengan perantaraan Musa,
yaitu segala hukum, ketetapan dan peraturan.” 9 namun Manasye menyesatkan Yehuda
dan penduduk Yerusalem, sehingga mereka melakukan yang jahat lebih dari pada bangsa-
bangsa yang telah dipunahkan TUHAN dari depan orang Israel. 10 Kemudian berfirmanlah
TUHAN kepada Manasye dan rakyatnya, namun mereka tidak menghiraukannya.
Di sini kita membaca sebuah catatan mengenai kejahatan Manasye. Catatan ini
menyedihkan hati, dan isinya hampir sama kata demi kata dengan catatan yang
sudah kita miliki dalam Kitab 2 Raja-raja 21:1-9. Cerita ini bukanlah hal yang
menyenangkan untuk kita renungkan kembali. Raja muda yang dungu ini, hidup
bertentangan dengan teladan dan pendidikan baik yang diberikan ayahnya. Ia
menyerahkan dirinya sendiri kepada segala kejahatan, menyalin dengan lengkap
kekejian orang-orang yang tidak mengenal TUHAN (ay. 2). Ia menghancurkan
hidup keagamaan yang sudah mapan, dan mengacaukan pembaruan agung
ayahnya (ay. 3). Ia menajiskan rumah TUHAN dengan penyembahan berhala (ay.
4-5). Bahkan, dia mempersembahkan anak-anaknya sendiri sebagai korban di
dalam api. Ia menjadikan segala ramalan dusta roh-roh jahat sebagai pemandu
dan penasihatnya (ay. 6). Ia melakukan penghinaan terhadap Tuhan yang
menjadikan Sion sebagai tempat perhentian-Nya untuk selama-lamanya, dan
Israel sebagai umat perjanjian-Nya (ay. 8). Ia melanggar syarat-syarat adil yang
ia tegakkan bersama Tuhan , dengan menyembah dewa-dewa asing, menajiskan
Bait Suci pilihan Tuhan , dan merusak moral umat pilihan-Nya. Ia membuat
mereka bersalah, dan berbuat lebih buruk dari pada orang-orang yang tidak
mengenal Tuhan (ay. 9, KJV). Sebab, jika roh jahat itu kembali, ia akan mengajak
tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya. Hal yang lebih memperburuk dosa
Manasye yaitu , ia dan rakyatnya tidak mau mendengar, ketika Tuhan berfirman
kepada mereka melalui nabi-nabi-Nya (ay. 10). Di sini kita dapat mengagumi
besarnya kasih karunia Tuhan dalam berbicara kepada mereka. sebab tegar hati,
mereka memalingkan telinga yang tuli terhadap-Nya. Namun, kejahatan mereka
tidak cukup untuk mengusir kebaikan-Nya, bahkan Ia masih menunggu supaya
mereka menjadi lembut. Kebaikan-Nya tidak mengubah kejahatan mereka, dan
mereka tetap benci untuk diperbaharui. Sekarang, marilah kita belajar dari sini:
1. Bahwa bukanlah perkara baru, namun sangat menyedihkan, bahwa anak-
anak dari orang tua yang saleh dapat saja menyimpang dari jalan TUHAN
yang baik, di mana mereka telah dilatih. Orangtua dapat memberikan banyak
hal baik kepada anak-anak mereka, namun tidak dapat memberikan anugerah
kepada mereka.
2. Kebobrokan dalam ibadah penyembahan sudah menjadi penyakit jemaat
yang begitu parahnya sampai sangat cenderung kambuh kembali, bahkan
ketika tampaknya sudah disembuhkan.
Kitab 2 Tawarikh 33:1-10
553
3. Ilah dunia ini telah membutakan pikiran manusia secara aneh, dan memiliki
kekuasaan luar biasa atas mereka yang sudah tertawan olehnya. sebab
kalau tidak, ia tidak akan dapat merampas mereka dari TUHAN, Sahabat
mereka, dan membuat bergantung pada musuh bebuyutan mereka itu.
Pemerintahan Manasye
(33:11-20)
11 Oleh sebab itu TUHAN mendatangkan kepada mereka panglima-panglima tentara raja
Asyur yang menangkap Manasye dengan kaitan, membelenggunya dengan rantai tembaga
dan membawanya ke Babel. 12 Dalam keadaan yang terdesak ini, ia berusaha melunakkan
hati TUHAN, Tuhan nya; ia sangat merendahkan diri di hadapan Tuhan nenek moyangnya, 13
dan berdoa kepada-Nya. Maka TUHAN mengabulkan doanya, dan mendengarkan per-
mohonannya. Ia membawanya kembali ke Yerusalem dan memulihkan kedudukannya
sebagai raja. Dan Manasye mengakui, bahwa TUHAN itu Tuhan . 14 Kemudian ia mendirikan
tembok luar pada kota Daud, di sebelah Barat Gihon, di lembah, sampai dekat Pintu
Gerbang Ikan, mengelilingi Ofel. Tembok itu dibuatnya sangat tinggi. Ia menempatkan
juga panglima-panglima perang di tiap kota kubu di Yehuda. 15 Ia menjauhkan Tuhan -Tuhan
asing dan berhala dari rumah TUHAN, juga segala mezbah yang didirikannya di atas
gunung rumah TUHAN dan di Yerusalem, dan membuangnya ke luar kota. 16 Ia
menegakkan kembali mezbah TUHAN, mempersembahkan korban keselamatan dan kor-
ban syukur di atasnya, menyerukan kepada Yehuda untuk beribadah kepada TUHAN,
Tuhan Israel. 17 Walaupun demikian, rakyat masih mempersembahkan korban di bukit-
bukit pengorbanan, namun hanya kepada TUHAN, Tuhan mereka. 18 Selebihnya dari riwayat
Manasye, doanya kepada Tuhan nya, dan ucapan-ucapan para pelihat yang berkata-kata
kepadanya dengan nama TUHAN, Tuhan Israel, sesungguhnya semuanya itu terdapat
dalam riwayat raja-raja Israel. Doanya dan pengabulan doanya, segala dosa dan ketidak-
setiaannya, semua tempat di mana ia telah membangun bukit-bukit pengorbanan serta
mendirikan tiang-tiang berhala dan patung-patung sebelum ia merendahkan diri,
sesungguhnya semuanya itu tertulis dalam riwayat para pelihat. 20 Kemudian Manasye
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di
dalam istananya. Maka Amon, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.
Kita telah melihat bagaimana Manasye dengan kejahatannya merusak kebaikan
yang telah dilakukan ayahnya. Pada perikop di atas kita membaca, bahwa
sekarang dengan pertobatannya, ia memperbaiki kembali kejahatan yang telah
dia lakukan sendiri. Sungguh aneh bahwa pertobatannya ini sama sekali tidak
disebutkan dalam Kitab Raja-raja. Dalam Kitab Raja-raja tidak tampak
perbuatannya yang bertentangan, selain bahwa ia tetap berkanjang dan binasa
di dalam perbuatan dosanya. namun mungkin alasannya yaitu sebab
rancangan sejarah tersebut ingin menunjukkan bahwa kejahatan bangsa itulah
yang membawa kehancuran atas diri mereka sendiri. Dan pertobatan Manasye
serta manfaatnya, sebab hanyalah bersifat pribadi dan bukan pertobatan
seluruh bangsa, tidak diperhatikan dalam catatan sejarah di Kitab Raja-raja itu.
Walaupun begitu dalam Kitab Tawarikh di sini pertobatannya dikisahkan
sepenuhnya sebagai kenangan akan kelimpahan belas kasihan pengampunan
554
Tuhan dan kuasa anugerah-Nya yang memperbarui. Marilah kita baca lebih lanjut
di sini:
I. Peristiwa yang mendatangkan pertobatan Manasye, yaitu kesengsaraannya.
Dalam kesesakannya, ia tidak berlaku seperti Raja Ahas yang lebih banyak
melakukan pelanggaran terhadap Tuhan . namun ia merendahkan dirinya dan
kembali kepada Tuhan . Penderitaan yang dikuduskan, sering kali terbukti
merupakan alat yang berhasil membuat orang bertobat. Kesusahan apa yang
dialaminya, diberitahukan di sini kepada kita (ay. 11). Tuhan mendatangkan
musuh asing untuk menyerang dia. Raja Babel, yang dahulu berusaha
mengambil hati ayahnya yang setia melayani TUHAN, sekarang menyerang
dia, sebab telah berkhianat kepada Tuhan dan meninggalkan-Nya. Di sini raja
Babel dipanggil sebagai raja Asyur, sebab ia telah menjadi penguasa Asyur.
sebab sudah mengalahkan pasukan Sanherib, lebih mudahnya baginya
untuk menghancurkan Yerusalem. Raja Babel mengincar harta karun yang
pernah dilihat oleh para utusannya, dan semuanya itu merupakan barang-
barang mulia. Akan namun , Tuhan mengirimnya ke Yerusalem untuk
menghajar suatu bangsa yang berdosa, serta menaklukkan seorang raja
sesat. Panglima-panglima tentara membawa Manasye di antara duri-duri,
yaitu menemukan dia di semak-semak, atau di tempat seperti itu, mungkin
di taman istana, tempat dia bersembunyi. Atau ini mungkin bahasa kiasan,
yang menunjukkan dirinya kebingungan di tengah-tengah rencananya
sendiri, dan menjadi malu dalam semua urusannya. ia seperti terjebak dalam
semak-semak dan tidak tahu cara melepaskan diri, sehingga menjadi mangsa
empuk bagi para panglima Asyur. Tidak diragukan lagi para panglima ini
menjarah rumahnya dan membawa pergi apa saja yang mereka sukai,
seperti yang telah dinubuatkan Yesaya sebelumnya (2Raj. 20:17-18). Apa
yang menjadi kebanggaan Hizkia, sekarang berubah menjadi mangsa
mereka. Mereka mengikat Manasye, yang sebelumnya telah ditahan dengan
tali kejahatannya sendiri, dan membawanya ke negeri Babel sebagai
tahanan. Dalam tahun ke berapa pemerintahannya ia ditahan, tidak
diberitahukan di sini, namun menurut orang Yahudi, tahun kedua puluh dua
pemerintahannya.
II. Ungkapan pertobatannya (ay. 12-13). Dalam keadaan yang terdesak, ia
memiliki cukup waktu untuk memikirkan dirinya dan alasan-alasan
kesesakannya. Ia melihat bagaimana ia membuat dirinya seperti itu akibat
dosanya. Ia dapati berhala-berhala yang telah dia layani, ternyata semua
tidak dapat membantunya. Ia tahu bahwa pertobatan yaitu satu-satunya
Kitab 2 Tawarikh 33:1-10
555
jalan untuk memulihkan perkaranya. Oleh sebab itu, kepada Dialah ia ingin
kembali, kembali kepada Dia yang telah ia tinggalkan sebab
pemberontakannya.
1. Ia menjadi insaf bahwa TUHAN yaitu satu-satunya Tuhan yang hidup
dan benar. Kemudian ia mengetahui (artinya, dia percaya dan
mempertimbangkan) bahwa TUHAN itu yaitu Tuhan . Sebetulnya ia bisa
mengetahui hal ini dengan sedikit kerugian, jika saja ia mau memberi
perhatian dan penghargaan kepada firman yang tertulis dan yang
diberitakan. Namun demikian, masih lebih baik u membayar mahal
seperti sekarang ini untuk mengetahui tentang TUHAN dari pada binasa
sebab ketidaktahuan dan ketidakpercayaan. Seandainya ia menjadi
seorang raja di dalam istana Babel, besar kemungkinan dia menjadi
teguh dalam penyembahan berhala. namun sebab menjadi seorang
tawanan di penjara Babel, ia pun menjadi insaf dan dipulihkan dari
penyembahan berhala.
2. Sekarang ia memanggil Dia sebagai Tuhan nya, meninggalkan semua yang
lain, dan memutuskan untuk hanya menyembah Dia saja, Tuhan nenek
moyangnya, Tuhan yang terikat kovenan dengannya.
3. Ia sangat merendahkan dirinya di hadapan-Nya, benar-benar menyesali
dosa-dosanya, merasa sangat malu sebab nya, dan takut akan murka
Tuhan . Sudah sepatutnya memang bagi orang-orang berdosa untuk
merendahkan diri di hadapan wajah Tuhan yang telah mereka sakiti.
Pantaslah bagi orang-orang yang didera derita untuk merendahkan diri
di bawah tangan Tuhan yang menghajar mereka demi kebaikan mereka
sendiri, dan menerima hukuman atas pelanggaran mereka. Hati kita
harus tunduk dan merendah di bawah tindakan penyelenggaraan ilahi
yang merendahkan hati, sehingga dengan demikian kita bisa berserah
diri dan memenuhi tujuan Tuhan dalam semua tindakan-Nya itu.
4. Ia berdoa kepada-Nya untuk memohon pengampunan dosa dan
kemurahan-Nya kembali. Doa merupakan kelegaan bagi orang-orang
yang menyesal, kelepasan bagi mereka yang menderita. Doa Manasye itu
yaitu sebuah doa yang baik, sangat sesuai dengan perkaranya, yang
dapat kita temukan di antara kitab-kitab Apokrifa yang berjudul: “Doa
Manasye, raja Yehuda, ketika dia ditawan di Babel.” Apakah doa itu
memang miliknya atau tidak, kita tidak dapat memastikan. Jika ya, di
dalamnya dia memuliakan Tuhan sebagai Tuhan nenek moyang mereka dan
keturunan mereka yang benar, sebagai Pencipta dunia ini, Tuhan yang
murka-Nya tak tertahankan, akan namun janji-Nya penuh belas kasihan
yang tidak ada taranya. Ia memohon supaya Tuhan yang telah
556
menjanjikan pertobatan dan pengampunan bagi mereka yang telah
berbuat dosa, dan yang telah menganugerahkan pertobatan kepada orang
berdosa, dapat diselamatkan juga. Bukan hanya untuk orang-orang
benar, seperti Abraham, Ishak, dan Yakub, namun bagiku juga (katanya),
yang yaitu seorang berdosa, sebab aku telah berdosa melebihi jumlah
pasir di laut. Jadi ia mengakui dosanya dengan panjang lebar, dan
menekankan hebatnya dosanya. Ia berdoa, Ampunilah aku ya TUHAN!
Ampunilah aku, dan jangan binasakan aku, katanya memohon, Engkau
yaitu Tuhan orang-orang yang bertobat, dan seterusnya. Kemudian ia
mengakhirinya, dan aku akan memuji Engkau untuk selama-lamanya, dan
seterusnya.
III. Penerimaan Tuhan yang penuh rahmat atas pertobatannya. Ia memohon
dengan sungguh-sungguh kepada-Nya, dan Tuhan mendengar permohonannya.
Meskipun kesengsaraan itu mendorong kita kepada Tuhan , Ia tidak akan
menolak kita, apabila kita mencari Dia dengan tulus, sebab kesengsaraan
memang dikirim dengan sengaja untuk membawa kita kepada-Nya. Sebagai
tanda kebaikan Tuhan kepadanya, Dia membuat jalan untuk melarikan diri.
Penderitaan berlanjut tidak lebih dari waktu ketika ia telah menyelesaikan
pekerjaannya. Ketika Manasye dibawa kembali kepada Tuhan nya dan
kewajibannya, maka dengan segera dia dibawa kembali ke kerajaannya .
Lihatlah betapa siapnya Tuhan menerima dan menyambut orang-orang
berdosa yang kembali, seberapa cepat menunjukkan belas kasihan. Janganlah
para pendosa besar berputus asa, sebab Manasye sendiri, begitu bertobat,
mendapat kasih karunia dari Tuhan . Di dalam dirinya Tuhan menunjukkan
seluruh kesabaran-Nya, seperti tertulis dalam 1 Timotius 1:16, dan Yesaya
1:18.
IV. Buah-buah pertobatan yang ia bawa setelah kembali ke negerinya sendiri
(ay. 15-16).
1. Ia berbalik dari dosa-dosanya. Dia menyingkirkan Tuhan -Tuhan asing,
patung-patung mereka, dan berhala-berhala itu (apa pun itu), yang
tadinya telah dia buat dengan penuh rasa hormat di rumah Tuhan,
seolah-olah berhala itulah penguasa rumah itu. Ia melempar keluar
semua mezbah penyembahan berhala yang ada di gunung rumah TUHAN
dan di Yerusalem, sebagai benda-benda menjijikkan. Sekarang (kita
berharap), ia membenci semua hal itu sama kuatnya seperti ia mencintai
mereka sebelumnya, dan berkata kepadanya: Keluar! (Yes. 30:22). “Apa
Kitab 2 Tawarikh 33:1-10
557
yang harus kulakukan lagi dengan berhala? Aku sudah muak dengan
mereka.”
2. Ia kembali kepada kewajibannya: sebab ia menegakkan kembali mezbah
TUHAN, yang telah disalahgunakan dan diruntuhkan oleh beberapa
imam penyembah berhala, atau setidaknya, ditelantarkan dan tidak
pernah dirawat. Ia mempersembahkan korban keselamatan dan korban
syukur atas pembebasannya. Bahkan, sekarang ia menggunakan ke-
kuasaannya untuk memperbaharui bangsanya, sebagaimana dia telah
menyalahgunakan kekuasaan itu untuk merusak mereka: Ia
memerintahkan kepada Yehuda untuk berbakti kepada TUHAN, Tuhan
Israel. Perhatikanlah, orang-orang yang benar-benar bertobat dari dosa-
dosa mereka tidak hanya kembali kepada Tuhan sendiri, namun juga akan
berusaha melakukan segala sesuatu yang dapat mereka kerjakan untuk
memulihkan orang-orang yang tadinya sebab meneladaninya, menjadi
tergoda dan terhilang dari Tuhan . Kalau tidak, mereka belum mem-
bereskan kesalahan-kesalahan yang mereka pernah lakukan, atau
menutup luka yang mereka akibatkan dahulu. Kita mendapati Manasye
berhasil membawa keluar rakyatnya dari dewa-dewa asing mereka,
namun tidak dari bukit-bukit pengorbanan mereka (ay. 17). Mereka masih
mempersembahkan korban, namun hanya kepada TUHAN Tuhan mereka
saja. Manasye tidak dapat melaksanakan pembaharuan lebih lanjut
selama dia masih melakukan kebusukan. Memang mudah untuk meng-
hancurkan perilaku orang yang busuk, namun tidak mudah untuk
memperbaharui hati mereka kembali.
V. Kemakmurannya, dalam beberapa hal, setelah pertobatannya. Dengan jelas
ia dapat melihat bahwa dosalah yang menghancurkan dia. Sebab, ketika dia
kembali kepada TUHAN dengan menunaikan kewajibannya lagi, maka Tuhan
pun hadir kembali dengan menyatakan belas kasihan-Nya. Lalu ia pun
mendirikan tembok luar kota Daud (ay. 14). Sebelumnya, oleh dosalah, ia
telah merobohkan tembok itu, dan membukanya bagi musuh. Ia menem-
patkan juga panglima-panglima perang di tiap-tiap kota berkubu untuk
menjaga keamanan negerinya. Sejarawan Yahudi Yosefus mengatakan
bahwa selama sisa hidupnya, Manasye berubah menjadi begitu lebih baik,
sehingga ia dipandang sebagai orang yang sangat berbahagia.
Akhirnya, inilah kesudahan sejarahnya. Mengenai hal-hal penting lainnya
dari Manasye, kita dirujuk ke tulisan-tulisan lain yang berisi sejarah tentang
raja-raja Israel (ay. 18-19). Di sini kita lihat beberapa catatan mengenai
Manasye,
558
1. Segala dosa dan ketidaksetiaannya, semua tempat di mana ia telah
membangun bukit-bukit pengorbanan serta mendirikan tiang-tiang
berhala dan patung-patung sebelum ia merendahkan diri. Mungkin
bagian ini diambil dari pengakuan yang ia buat akan dosanya ketika
Tuhan memberinya pertobatan, dan yang ia tinggalkan untuk dicatat,
dalam sebuah buku yang berjudul, Kata-kata para pelihat. Kepada para
pelihat yang berkata-kata kepadanya itu (ay. 18), untuk menegur dia atas
dosanya, ia mengirimkan pengakuannya ketika dia bertobat, untuk
ditulis dalam catatan pengalaman mereka, sebagai tanda terima
kasihnya kepada mereka atas kebaikan mereka dalam menegurnya.
Demikianlah para petobat patut menerima rasa malu bagi diri sendiri,
dan memberi ucapan terima kasih kepada orang-orang yang menegur
mereka, serta menyampaikan peringatan kepada orang lain.
2. Ucapan-ucapan para pelihat yang berkata-kata kepadanya dengan nama
TUHAN (ay. 10, 18), yaitu teguran mereka kepadanya sebab dosanya,
dan nasihat mereka kepadanya untuk bertobat. Perhatikanlah, orang-
orang berdosa harus mempertimbangkan, bahwa seberapa kecil pun
perhatian yang mereka berikan terhadap ucapan-ucapan para pelihat
yang berbicara kepada mereka atas nama Tuhan untuk memperingatkan
mereka akan dosa-dosa mereka, memperingatkan mereka akan bahaya
yang mengintai mereka, dan memanggil mereka kembali kepada
kewajiban mereka, perhatian mereka itu akan dipakai nanti untuk
meminta pertanggungjawaban mereka pada hari besar itu.
3. Doanya kepada Tuhan (hal ini disebutkan dua kali sebagai hal yang luar
biasa), dan bagaimana Tuhan mendengarkan permohonannya. Hal ini
ditulis untuk angkatan yang akan datang, supaya orang-orang yang mau
dibentuk dapat memuji Tuhan atas kesiapan-Nya dalam menerima
kembali anak-anak yang terhilang. Diperhatikan juga di sini tempat
pemakamannya, yaitu bukan di makam raja-raja, namun di rumahnya
sendiri. Dia dimakamkan secara pribadi, tanpa upacara kehormatan
seperti yang diberikan kepada ayahnya. Orang-orang yang bertobat
dapat memperoleh kembali penghiburan mereka lebih cepat dibandingkan
puji-pujian.
Pemerintahan dan Kematian Amon
(33:21-25)
21 Amon berumur dua puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua tahun
lamanya ia memerintah di Yerusalem. 22 Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN
Kitab 2 Tawarikh 33:1-10
559
seperti yang telah dilakukan Manasye, ayahnya. Amon mempersembahkan korban
kepada segala patung yang dibuat Manasye, ayahnya, dan beribadah kepada patung-
patung itu. 23 namun ia tidak merendahkan diri di hadapan TUHAN seperti Manasye,
ayahnya, merendahkan diri, malah Amon makin banyak kesalahannya. 24 Maka pegawai-
pegawainya mengadakan persepakatan melawan dia, dan membunuhnya di istananya. 25
namun rakyat negeri itu membunuh semua orang yang mengadakan persepakatan
melawan raja Amon; dan rakyat negeri itu mengangkat Yosia, anaknya, menjadi raja
menggantikan dia
Hanya sedikit catatan tentang Amon yang kita miliki, namun itu sudah cukup,
sebab tidak ada yang baik. Dalam perikop di atas kita temukan,
I. Kejahatannya yang luar biasa. Dia melakukan apa yang dilakukan Manasye
pada masa kemurtadannya (ay. 22). Orang-orang yang menganggap hal ini
sebagai bukti bahwa Manasye tidak sungguh-sungguh bertobat, melupakan
berapa banyak raja baik memiliki anak-anak yang jahat. Tampaknya,
Manasye melakukan kesalahan dalam hal ini, yaitu ketika menjauhkan Tuhan -
Tuhan asing dan berhala-berhala itu, ia sama sekali tidak merusak dan meng-
hancurkannya, padahal hukum Taurat mengharuskan orang Israel untuk
membakar patung-patung itu dengan api (Ul. 7:5). Hal ini merupakan
keharusan, seperti yang diperlihakan hukum Taurat. sebab patung-patung
pahatan itu hanya dibuang begitu saja, dan tidak dibakar oleh Manasye,
maka dengan mudah Amon dapat menemukannya, dan segera
mendirikannya, dan mempersembahkan korban kepadanya. Selain itu, untuk
menunjukkan betapa besar dosanya, dan untuk membenarkan tindakan
Tuhan dalam membinasakan dia dengan begitu cepat, ditambahkan juga
bahwa,
1. Ia berbuat dosa melebihi ayahnya: malah Amon makin banyak
kesalahannya (ay. 23). Ayahnya berbuat jahat, namun dia lebih buruk lagi.
Orang yang bergabung dengan berhala-berhala akan menjadi semakin
keranjingan dengan berhala-berhala itu.
2. Ia tidak bertobat seperti ayahnya. Ia tidak merendahkan diri di hadapan
TUHAN, seperti yang dilakukan ayahnya. Dia jatuh seperti ayahnya, namun
tidak bangkit lagi seperti dia. Sebenarnya, bukan dosa yang sedemikian
menghancurkan manusia, melainkan ketidakmauan untuk bertobat dari
dosa itu. Bukan pelanggaran yang sedemikian menghancurkan pendosa,
namun ketidakmauan mereka untuk merendahkan diri setelah melakukan
pelanggaran itu. Bukan sebab penyakitnya, namun sebab tidak peduli
untuk menerima obatnya.
560
II. Kebinasaan Amon yang begitu cepat. Ia memerintah hanya dua tahun
lamanya, lalu pegawai-pegawainya mengadakan persepakatan melawan dia,
dan membunuhnya (ay. 24). Mungkin, ketika Amon berbuat dosa seperti
yang dilakukan ayahnya pada awal hari-hari pemerintahannya, dia berjanji
pada dirinya sendiri, bahwa dia harus bertobat seperti yang dilakukan
ayahnya pada akhir hari-hari pemerintahannya. namun , pengalamannya
membuktikan betapa bodohnya beranggapan seperti ini. Jika dia berharap
untuk bertobat ketika sudah tua, maka dia akan kecewa dengan sangat
menyedihkan. Sebab, dia terbunuh ketika masih muda. Ia memberontak
melawan Tuhan , maka pegawai-pegawainya sendiri pun memberontak
melawan dia. Dalam hal ini Tuhan benar, namun para pegawainya itu jahat,
maka adillah rakyat negeri itu dalam menghukum mati pegawai-pegawai itu
sebagai pengkhianat. Kehidupan raja-raja secara khusus berada di bawah
Penyelenggaraan ilahi, hukum Tuhan , dan juga hukum manusia.
PASAL 34
ebelum kita melihat Yehuda dan Yerusalem hancur, kita masih dapat melihat
tahun-tahun gemilang, sementara Yosia menjalankan pemerintahan. Melalui
upayanya yang saleh untuk mengadakan pembaharuan, Tuhan menguji mereka
sekali lagi. Seandainya saja mereka menyadari hal ini, yaitu hari ketika mereka
dilawat Tuhan , dan hal-hal yang menjadi damai sejahtera mereka dan
memanfaatkannya, maka kehancuran itu mungkin dapat dicegah. Namun,
sesudah pemerintahan Yosia berakhir, hal-hal yang menjadi damai sejahtera itu
disembunyikan dari mata mereka, maka pemerintahan-pemerintahan berikut
mengakibatkan kehancuran mutlak atas mereka. Di dalam pasal ini kita
mendapati,
I. Uraian umum mengenai watak Yosia (ay. 1-2).
II. Semangatnya untuk membasmi penyembahan berhala sampai ke akar-
akarnya (ay. 3-7).
III. Kepeduliannya untuk memperbaiki rumah TUHAN (ay. 8-13).
IV. Ditemukannya kitab Taurat dan bagaimana mereka memperguna-
kannya dengan baik (ay. 14-28).
V. Hukum Taurat dibacakan di hadapan rakyat dan sesudah itu kovenan
mereka dengan Tuhan diperbaharui (ay. 29-33). Sebagian besar dari
kisah ini telah kita baca juga di dalam Kitab 2 Raja-raja 22.
Pemerintahan Yosia
(34:1-7)
1 Yosia berumur delapan tahun pada waktu ia menjadi raja dan tiga puluh satu tahun
lamanya ia memerintah di Yerusalem. 2 Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan
hid