tawarikh ester 19
aria menetapkan hati untuk menghalangi pekerjaan itu.
I. Mereka menawarkan diri untuk menjadi rekan dalam membangun Bait
Suci, supaya mereka mendapatkan kuasa untuk menghambatnya.
namun mereka ditolak (ay. 1-3).
II. Mereka melemahkan semangat orang Israel dalam membangun Bait
Suci, dan menghalangi orang Israel melakukannya (ay. 4-5).
III. Mereka secara hina menjelek-jelekkan pekerajan itu, dan para
pekerjanya, kepada raja Persia, melalui surat yang mereka kirimkan
kepadanya (ay. 6-16).
IV. Mereka memperoleh perintah dari sang raja untuk menghentikan
pembangunan itu (ay. 17-22), yang mereka laksanakan dengan segera
(ay. 23-24).
Perlawanan yang Dibuat terhadap Orang Yahudi
(4:1-5)
1 Ketika lawan orang Yehuda dan Benyamin mendengar, bahwa orang-orang yang pulang
dari pembuangan itu sedang membangun Bait Suci bagi TUHAN, Tuhan Israel, 2 maka
mereka mendekati Zerubabel serta para kepala kaum keluarga dan berkata kepada
mereka: “Biarlah kami turut membangun bersama-sama dengan kamu, sebab kami pun
berbakti kepada Tuhan mu sama seperti kamu; lagipula kami selalu mempersembahkan
korban kepada-Nya sejak zaman Esar-Hadon, raja Asyur, yang memindahkan kami ke
mari.”
3 namun Zerubabel, Yesua dan para kepala kaum keluarga orang Israel yang lain berkata
kepada mereka: “Bukanlah urusan kita bersama, sehingga kamu dan kami membangun
rumah bagi Tuhan kami, sebab kami sendirilah yang hendak membangun bagi TUHAN, Tuhan
Israel, seperti yang diperintahkan kepada kami oleh Koresh, raja negeri Persia.” 4 Maka
penduduk negeri itu melemahkan semangat orang-orang Yehuda dan membuat mereka
takut membangun. 5 Bahkan, selama zaman Koresh, raja negeri Persia, sampai zaman
P
634
pemerintahan Darius, raja negeri Persia, mereka menyogok para penasihat untuk melawan
orang-orang Yehuda itu dan menggagalkan rancangan mereka.
Di sini kita mendapati sebuah contoh tentang perseteruan lama yang ada antara
keturunan sang wanita dan keturunan si ular. Bait Tuhan tidak boleh
dibangun, atau Iblis akan murka, dan alam maut akan berusaha memeranginya.
Demikian pula halnya, kerajaan Injil akan didirikan dengan banyak pergumulan
dan perlawanan. Dalam hal ini kemuliaan rumah Tuhan yang kemudian lebih
besar dibandingkan kemuliaan rumah Tuhan yang terdahulu. Dan rumah Tuhan yang
kedua ini lebih merupakan perlambang dari rumah jemaat Kristus, sebab
Salomo membangun Bait Sucinya ketika tidak ada lagi lawan dan tidak ada lagi
malapetaka menimpa (1Raj. 5:4). Sebaliknya, Bait Suci yang kedua ini dibangun
kendati dengan perlawanan besar yang dibuat. Dalam menyingkirkan dan
mengalahkan perlawanan itu, dan dalam menuntaskan pekerjaan itu secara
sempurna pada akhirnya, hikmat, kuasa, dan kebaikan Tuhan amat dimuliakan,
dan jemaat didorong untuk percaya kepada-Nya.
I. Para pekerjanya di sini disebut sebagai orang-orang yang pulang dari
pembuangan (ay. 1), yang membuat mereka tampak sangat hina. Mereka
baru saja pulang dari pembuangan, dilahirkan dalam pembuangan, masih
memiliki tanda-tanda pembuangan pada diri mereka. Kendati mereka
sekarang bukan lagi orang buangan, namun mereka tetap berada di bawah
kendali orang-orang yang belum lama ini pernah menawan mereka. Israel
yaitu anak Tuhan , anak-Nya yang sulung. namun oleh pelanggaran mereka,
mereka telah menjual dan memperbudak diri mereka sendiri, sehingga
menjadi anak-anak buangan. Akan namun , tampaknya, dengan menyadari
bahwa mereka yaitu orang-orang buangan, mereka terdorong untuk segera
melakukan pekerjaan ini, sebab oleh pengabaian mereka terhadap Bait
Sucilah maka mereka kehilangan kebebasan mereka.
II. Para penentang pembangunan Bait Suci itu dikatakan di sini sebagai lawan
orang Yehuda dan Benyamin, bukan orang Kasdim atau Persia. Mereka sama
sekali tidak mengusik orang Yehuda dan Benyamin – “biarkanlah mereka
membangun, dan kami persilakan mereka melakukannya,” melainkan sisa-
sisa dari sepuluh suku, dan orang-orang asing yang telah bergabung dengan
mereka. Orang-orang ini telah menambal sulam agama campuran itu, yang
penjelasannya kita baca dalam 2 Raja-raja 17:33. Mereka berbakti kepada
TUHAN, namun dalam pada itu mereka beribadah kepada Tuhan
mereka. Mereka disebut penduduk negeri (ay. 4). Musuh-musuh terburuk
Kitab Ezra 4:1-5
635
yang dimiliki Yehuda dan Benyamin yaitu orang-orang yang menyebut diri
mereka orang Yahudi, namun yang sebenarnya tidak demikian (Why. 3:9).
III. Perlawanan yang diberikan orang Samaria banyak mengandung kelicikan si
ular tua. Ketika mendengar bahwa Bait Suci sedang dibangun, mereka segera
sadar bahwa hal tersebut akan menjadi hantaman yang mematikan bagi
takhayul mereka, maka mereka pun menetapkan hati untuk menentangnya.
Mereka tidak memiliki kekuasaan untuk melakukannya dengan paksa, namun
mereka mencoba segala macam cara yang dapat mereka coba untuk
melakukannya dengan berhasil.
1. Orang Samaria menawarkan jasa mereka untuk turut membangun
bersama orang Israel, sebab hanya dengan cara demikian mereka dapat
memperoleh kesempatan untuk menghambat pekerjaan itu, sementara
mereka berpura-pura untuk memajukannya. Nah,
(1) Tawaran mereka cukup masuk akal, dan terlihat baik: “Kami akan
turut membangun bersama-sama dengan kamu, akan membantumu
membuat rancangannya, dan akan menyumbang pembiayaannya,
sebab kami pun berbakti kepada Tuhan mu sama seperti kamu” (ay. 2).
Ini tidak benar, sebab, kendati mereka berbakti kepada Tuhan yang
sama, mereka tidak berbakti kepada Dia saja, tidak berbakti kepada-
Nya menurut cara yang ditetapkan-Nya, dan sebab itu tidak
berbakti kepada-Nya seperti yang dilakukan oleh orang Israel. Dalam
hal ini mereka merancang, jika memungkinkan, untuk menghambat
pembangunan Bait Suci, paling tidak untuk mencegah mereka
menikmati Bait Suci itu dengan penuh penghiburan. Jika mereka
tidak dapat memiliki Bait Suci sendiri, maka diusahakan supaya
pihak lawan pun tidak memiliki Bait Suci, untuk menyembah secara
murni Tuhan yang benar, dan Dia saja. Demikianlah, ciuman seorang
lawan penuh tipu daya. Mulutnya lebih licin dari mentega, namun ia
berniat menyerang. Akan namun ,
(2) Penolakan terhadap pelayanan yang mereka tawarkan sangatlah
wajar (ay. 3). Para kepala kaum keluarga orang Israel segera sadar
bahwa mereka tidak bermaksud baik, apa pun itu kepura-puraan
mereka, namun sungguh bermaksud jahat terhadap mereka. Oleh
sebab itu, kendati cukup perlu bantuan seandainya bantuan itu
dapat diterima tanpa rasa khawatir, para kepala orang Israel mem-
beri tahu mereka dengan tegas, “Ini bukanlah urusan kita
bersama, tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini. Kalian
636
bukanlah orang Israel sejati atau penyembah Tuhan yang setia. Kamu
menyembah apa yang tidak kamu kenal (Yoh. 4:22). Kalian bukanlah
orang-orang yang dengannya kami berani bersekutu, sebab itu
biarlah kami sendiri yang membangunnya.” Orang Israel tidak
menyerukan hukum Tuhan mereka kepada orang Samaria, yang
melarang mereka untuk berbaur dengan orang-orang asing, kendati
itulah hal yang terutama ada dalam benak mereka. Sebaliknya,
mereka menyerukan apa yang akan lebih diperhatikan oleh orang-
orang itu, yaitu perintah raja, yang ditujukan hanya kepada mereka:
“Raja Persia telah memerintahkan kami untuk membangun rumah
ini, dan kami akan menyangsikan dan menghina dia jika kami
meminta bantuan asing.” Perhatikanlah, dalam melakukan kebaikan,
kita perlu cerdik seperti ular, dan juga tulus seperti burung merpati.
Dan kita perlu, seperti yang dikatakan selanjutnya dalam Kitab
Matius itu, waspada terhadap semua orang (Mat. 10:16-17). Kita
harus berhati-hati dengan siapa kita bergaul dan kepada siapa kita
bergantung. Selama kita percaya kepada Tuhan dengan penuh ke-
yakinan dan kesalehan, kita harus percaya kepada manusia dengan
penuh kewaspadaan dan kehati-hatian.
2. Ketika rencana ini gagal, orang Samaria melakukan apa yang dapat
mereka lakukan untuk mengalihkan perhatian orang Yahudi dari
pekerjaan itu dan mengecilkan hati mereka dalam mengerjakannya.
Orang Samaria melemahkan semangat orang Yahudi dengan memberi
tahu mereka bahwa sia-sia saja untuk membangun Bait Suci itu, dengan
menyebut mereka pembangun yang bodoh, yang memulai apa yang tidak
sanggup mereka selesaikan. Dan melalui banyak sindiran, orang Samaria
menyusahkan hati orang Yahudi, dan membuat mereka berat untuk
bekerja. Tidak semua orang sama-sama bersemangat dalam
mengerjakannya. Mereka yang dingin dan acuh tak acuh dibuat mundur
dari pekerjaan itu oleh upaya-upaya licik ini (ay. 4). Dan sebab apabila
orang Samaria sendiri yang mengatakannya, maka orang Yahudi akan
curiga bahwa mereka bermaksud buruk, dan orang Yahudi sendiri tidak
akan terpengaruh olehnya, maka mereka pun dengan licik menyogok
para penasihat untuk melawan orang-orang Yehuda itu. Mereka berpura-
pura menasihati orang-orang Yehuda untuk mendapatkan apa yang
terbaik, namun sebenarnya mereka hendak mencegah orang-orang
Yehuda melanjutkan pekerjaan itu, dan dengan demikian menggagalkan
rancangan mereka (ay. 5), atau mencegah orang-orang Tirus dan Sidon
mengirimkan kepada mereka kayu yang telah mereka pesan (3:7). Atau
Kitab Ezra 4:1-5
637
urusan apa saja yang dimiliki orang Yahudi di istana Persia, untuk
meminta suatu pemberian atau bantuan tertentu, sesuai dengan
maklumat bagi kebebasan mereka, ada orang-orang yang disuap dan
siap untuk tampil menentang mereka. Janganlah heran akan kegencaran
musuh-musuh jemaat dalam usaha mereka untuk menentang
pembangunan Bait Suci Tuhan . Iblis yang mereka layani, dan yang
pekerjaannya sedang mereka kerjakan, tidak lelah berjalan mengelilingi
dan menjelajah bumi untuk berbuat kejahatan. Dan biarlah orang-orang
yang melemahkan suatu pekerjaan baik, dan mematahkan semangat
mereka yang bekerja di dalamnya, menyadari teladan siapa yang mereka
ikuti.
Orang Yahudi Difitnah
(4:6-16)
6 Pada zaman pemerintahan Ahasyweros, pada permulaan pemerintahannya, mereka
menulis surat tuduhan terhadap orang-orang yang telah menetap di Yehuda dan di
Yerusalem. 7 Dan pada zaman Artahsasta ditulislah surat oleh Bislam, Mitredat dan Tabeel
serta rekan-rekannya yang lain kepada Artahsasta, raja negeri Persia. Naskah surat itu
ditulis dalam bahasa Aram dengan terjemahannya. (Dalam bahasa Aram:) 8 Rehum,
bupati, dan Simsai, panitera, telah menulis surat terhadap Yerusalem kepada raja
Artahsasta, yang isinya sebagai berikut. 9 – Pada waktu itu ditulislah surat itu oleh Rehum,
bupati, dan Simsai, panitera, serta rekan-rekan mereka yang lain, para hakim dan
punggawa dan pegawai-pegawai, orang Persia, orang-orang dari Erekh, dari Babel serta
orang-orang dari Susan, yaitu orang-orang Elam,
10 dan bangsa-bangsa lain, yang oleh Asnapar yang agung dan mulia itu dipindahkan dan
disuruh menetap di kota Samaria dan di daerah yang lain sebelah barat sungai Efrat. 11
Inilah salinan surat yang dikirim mereka kepadanya: “Ke hadapan raja Artahsasta dari
hamba-hamba tuanku, orang-orang di daerah sebelah barat sungai Efrat. Maka 12 kiranya
raja maklum, bahwa orang-orang Yahudi, yang berangkat dari tuanku ke tempat kami,
telah tiba di Yerusalem. Mereka sedang membangun kembali kota yang durhaka dan jahat
itu; mereka menyelesaikan pembangunan tembok-tembok dan memperbaiki dasarnya. 13
Kiranya raja maklum, bahwa jikalau kota itu sudah dibangun dan tembok-temboknya
sudah selesai, orang tidak lagi membayar pajak, upeti atau bea, sehingga kota itu akhirnya
mendatangkan kerugian kepada raja-raja. 14 Sekarang, oleh sebab kami mempunyai hu-
bungan dengan raja dan tidak patut bagi kami melihat raja kena cela, maka oleh sebab itu
kami menyuruh orang memberitahukan hal itu kepada raja, 15 supaya diadakan
penyelidikan dalam kitab riwayat nenek moyang tuanku. Di dalam kitab riwayat itu
tuanku akan mendapati dan mengetahui, bahwa kota itu kota durhaka, yang selalu
mendatangkan kerugian kepada raja-raja dan daerah-daerah, dan bahwa orang selalu
mengadakan pemberontakan di dalamnya sejak zaman dahulu. Itulah sebabnya maka
kota itu dibinasakan. 16 Kami ini memberitahukan kepada raja, bahwa jikalau kota itu
sudah dibangun kembali dan tembok-temboknya sudah selesai, maka bagi tuanku kelak
tidak ada lagi milik di daerah sebelah barat sungai Efrat.”
Koresh dengan teguh berpihak pada kepentingan orang-orang Yahudi, dan
menyokong apa yang sudah diberikannya sendiri kepada mereka. Tidak ada
gunanya mencoba berbuat apa saja kepada sang raja supaya mencabut kembali
638
dukungannya. Apa yang telah dilakukannya berasal dari dasar pandangan yang
baik, dan dalam rasa takut akan Tuhan , dan sebab itu ia tetap berpegang teguh
padanya. Akan namun , kendati lama pemerintahannya secara keseluruhan yaitu
30 tahun, namun setelah penaklukan Babel, dan maklumatnya untuk
membebaskan orang-orang Yahudi, sebagian penafsir berpendapat bahwa dia
memerintah hanya selama tiga tahun saja, sedang menurut sebagian yang
lain tujuh tahun. Kemudian dia meninggal atau menyerahkan sisa
pemerintahannya itu, di mana penerusnya yaitu Ahasyweros (ay. 6), yang
disebut pula Artahsasta (ay. 7), yang diduga merupakan orang yang sama
dengan orang yang oleh penulis kafir disebut Kambisus. Ia tidak pernah memberi
perhatian yang begitu rupa terhadap orang-orang Yahudi yang terhina, hingga
harus ambil peduli terhadap nasib mereka. Ia juga tidak memiliki pengetahuan
tentang Tuhan Israel yang dimiliki oleh pendahulunya. Kepada dialah orang-
orang Samaria ini menulis surat untuk meminta diberi sebuah perintah untuk
menghentikan pembangunan Bait Suci. Dan mereka melakukannya pada
permulaan pemerintahannya, sebab mereka bertekad untuk tidak membuang-
buang waktu ketika mereka menyadari bahwa ada seorang raja yang dapat men-
dukung tujuan mereka. Lihatlah betapa sigapnya musuh-musuh jemaat dalam
mengambil kesempatan pertama untuk berbuat kejahatan kepadanya. Maka
janganlah sahabat-sahabat jemaat kurang sigap untuk berbuat kebaikan
kepadanya. Dalam perikop ini kita mendapati,
I. Maksud umum dari surat yang mereka kirimkan kepada sang raja, untuk
memberitahukan kepadanya tentang masalah ini. Surat itu disebut (ay.
6) surat tuduhan terhadap orang-orang yang telah menetap di Yehuda dan di
Yerusalem. Iblis yaitu pendakwa saudara-saudara kita (Why. 12:10). Dia
melanjutkan rancangan-rancangan jahatnya terhadap mereka, tidak hanya
dengan menuduh mereka di hadapan Tuhan , seperti yang dilakukannya ter-
hadap Ayub, namun juga dengan bertindak sebagai roh dusta di dalam mulut
antek-anteknya. Iblis memakai antek-anteknya itu untuk menuduh saudara-
saudara kita di hadapan para hakim dan raja, dan untuk membuat mereka
dibenci oleh banyak orang dan dipandang meresahkan bagi yang berkuasa.
Janganlah heran jika tipu daya yang sama masih digunakan untuk
menjatuhkan kesalehan yang sungguh-sungguh.
II. Orang-orang yang terkait dalam penulisan surat ini. Para penggagas yang
merencanakan hal itu disebutkan namanya (ay. 7), para penulis yang
menuangkannya dalam surat (ay. 8), dan para pendukung (ay. 9) yang
Kitab Ezra 4:1-5
639
menyetujuinya dan bergabung bersama mereka dalam surat penjelasan ini,
penjelasan yang keliru saya harus menyebutnya. Sekarang lihatlah di sini,
1. Bagaimana para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN
dan Bait Suci-Nya, bersama dengan rekan-rekan mereka. Pembangunan
Bait Suci tidak akan mencelakakan mereka, namun mereka maju untuk
menentangnya dengan kekhawatiran dan kebencian yang sejadi-jadinya,
mungkin sebab para nabi Tuhan Israel telah bernubuat akan men-
dahsyatkan dan melenyapkan para Tuhan bangsa kafir (Zef. 2:11; Yer.
10:11).
2. Bagaimana rakyat sepakat dengan mereka dalam mereka-reka perkara
yang sia-sia ini. Rakyat mengikuti seruan itu, kendati tidak tahu baik
buruknya perkara itu. Semua wilayah jajahan itu (sembilan di antaranya
disebutkan di sini), yang diberi nama berdasarkan tempat asal mereka di
kota-kota atau desa-desa Asyur, Kasdim, Persia, dan lain-lain,
mengulurkan tangan mereka, melalui perwakilan mereka, untuk
mendukung surat ini. Mungkin mereka marah terhadap orang-orang Ya-
hudi yang kembali ini, sebab banyak orang dari kesepuluh suku itu
tinggal di antara mereka, yang wilayahnya sudah mereka duduki. Oleh
sebab itu mereka merasa khawatir, jangan-jangan orang-orang itu
berupaya mengambil kembali wilayah itu nanti.
III. Salinan surat itu sendiri, yang disisipkan Ezra di sini dari arsip kerajaan
Persia, tempat penyimpanan salinan surat itu. Dan syukurlah kita memiliki
salinan tersebut, sehingga kita dapat melihat dari mana orang menyalin
cara-cara yang serupa, yang masih digunakan untuk membahayakan orang-
orang baik dan menggagalkan rancangan-rancangan baik.
1. Orang Samaria menggambarkan diri mereka sebagai orang-orang yang
sangat setia kepada pemerintah, dan sangat peduli terhadap kehormatan
dan kepentingannya. Dan mereka ingin supaya sang raja berpikir bahwa
ia tidak mempunyai warga yang sedemikian penuh kasih dan kesetiaan
di seluruh wilayah kekuasaannya seperti mereka, tak ada yang lain yang
begitu peka akan kewajiban mereka terhadapnya (ay. 14). sebab kami
digarami dengan garam istana (demikianlah dalam tafsiran yang agak
luas), “kami mendapat gaji dari istana, dan tidak dapat hidup tanpanya
sama seperti daging tidak bisa diawetkan tanpa garam.” Atau, seperti
menurut sebagian penafsir, bayaran atau upah mereka dikirimkan dalam
bentuk garam. Atau “sebab kami telah menerima didikan di dalam
istana, dan dibesarkan di meja raja,” seperti yang kita jumpai dalam
640
Daniel 1:5. Mereka ini yaitu orang-orang yang diniatkan untuk diangkat
oleh sang raja. Mereka telah makan dari santapan raja. “Nah, dengan
mempertimbangkan hal ini, tidak patut bagi kami melihat raja kena cela.”
Oleh sebab itu, mereka mendesak sang raja untuk menghentikan pem-
bangunan Bait Suci itu, yang tentu akan menjadi cela bagi raja lebih
dibandingkan hal lain. Perhatikanlah, permusuhan yang tersembunyi
terhadap Kristus dan Injil-Nya sering kali ditutupi dengan berpura-pura
senang kepada kaisar dan kekuasaannya. Orang Yahudi membenci
pemerintahan Roma, namun, demi memenuhi suatu tujuan, mereka
dapat berteriak, kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar. Akan
namun , (dengan merujuk pada hal ini), jika orang-orang yang hidup dari
sokongan kerajaan menganggap diri mereka terikat rasa terima kasih
untuk mendukung kepentingannya seperti itu, maka jauh lebih kuat
alasan bagi kita untuk memiliki rasa peduli yang penuh kesalehan ter-
hadap kehormatan Tuhan . Kita beroleh pemeliharaan dari Tuhan di sorga
dan digarami dengan garam-Nya, hidup di atas kelimpahan-Nya dan
dipelihara oleh penyelenggaraan-Nya. Oleh sebab itu, tidak patut bagi
kita melihat Tuhan kena cela tanpa merasa geram sebab nya dan tanpa
melakukan apa yang dapat kita lakukan untuk mencegahnya.
2. Orang Samaria menggambarkan orang Yahudi sebagai orang-orang yang
tidak setia, dan berbahaya bagi pemerintahan, bahwa Yerusalem yaitu
kota yang durhaka dan jahat (ay. 12), yang selalu mendatangkan
kerugian kepada raja-raja dan daerah-daerah (ay. 15). Lihatlah
bagaimana Yerusalem, kegirangan bagi seluruh bumi (Mzm. 48:3), di sini
dicela sebagai aib bagi seluruh bumi. Musuh-musuh jemaat tidak dapat
melakukan hal-hal buruk yang mereka rancang terhadapnya jika mereka
tidak terlebih dulu menjelek-jelekkannya. Yerusalem telah menjadi kota
yang setia terhadap raja-rajanya yang benar, dan para penduduknya
yang sekarang disukai oleh raja dan pemerintahannya sama seperti para
penduduk di daerah-daerah lain. Daniel, yang yaitu seorang Yahudi,
belum lama ini telah membuktikan dirinya begitu setia kepada rajanya
sehingga para musuhnya yang terburuk sekalipun tidak dapat menemu-
kan kesalahan dalam perilakunya (Dan. 6:5). Akan namun , demikian pula
Elia dengan sangat tidak adil dituduh telah menyusahkan Israel, para
rasul dituduh mengacaukan seluruh dunia, dan Kristus sendiri dituduh
menyesatkan bangsa dan melarang membayar pajak kepada Kaisar. Dan
janganlah kita merasa heran jika permainan yang sama masih
dimainkan. Sekarang di sini,
Kitab Ezra 4:1-5
641
(1) Sejarah masa lampau yang digambarkan orang Samaria tentang kota
itu sungguh menyakitkan, bahwa orang selalu mengadakan
pemberontakan di dalamnya sejak zaman dahulu, dan itulah sebabnya
maka kota itu dibinasakan (ay. 15). Tidak dapat disangkal bahwa
pernyataan ini ada dasarnya, dengan melihat upaya-upaya Yoyakim
dan Zedekia untuk melepaskan kuk dari raja Babel. Padahal
seandainya mereka tetap berpegang teguh pada agama mereka dan
Bait Suci yang sedang mereka bangun sekarang, maka mereka tidak
akan pernah ditimpa kuk itu. Namun harus dipertimbangkan,
[1] Bahwa orang Yahudi sendiri, dan nenek moyang mereka, yaitu
para raja yang berdaulat. Dan segala usaha mereka untuk
mengembalikan hak-hak mereka, andai kata mereka tidak
melanggar sumpah, sepanjang yang saya ketahui, akan dapat
dibenarkan dan juga berhasil, seandainya mereka mengambil
cara yang benar dan berdamai dengan Tuhan terlebih dahulu.
[2] Kendati orang-orang Yahudi ini, dan raja-raja mereka, telah
bersalah atas pemberontakan, namun tetap tidak benar untuk
menempelkan cap yang tak terhapuskan itu atas kota ini, seolah-
olah kota itu selama-lamanya harus dikenal dengan nama kota
yang durhaka dan jahat. Orang-orang Yahudi, dalam
pembuangan mereka, telah memberikan contoh perilaku yang
begitu baik, sehingga bagi orang-orang yang berakal sehat, hal
itu sudah memadai untuk menghapuskan satu cela tersebut.
Sebab mereka diperintahkan (dan beralasan bagi kita untuk
berharap bahwa mereka melaksanakan perintah tersebut) untuk
mengusahakan kesejahteraan kota ke mana mereka
dibuang dan berdoa kepada TUHAN untuk kota itu (Yer. 29:7).
Oleh sebab itu tidaklah adil, kendati bukannya tidak lazim,
untuk menimpakan kesalahan orangtua kepada anak-anak.
(2) Keterangan yang disampaikan orang Samaria tentang apa yang
sedang terjadi sekarang jelas-jelas salah dan tidak sesuai kenyataan.
Betapa dengan sangat hati-hati mereka memberi tahu sang raja
bahwa orang-orang Yahudi telah membangun tembok-tembok kota
ini. Bahkan, bahwa mereka telah menyelesaikannya (demikian dalam
tafsiran yang agak luas) dan memperbaiki dasarnya (ay. 12), padahal
ini jauh dari kenyataan. Mereka baru saja mulai membangun Bait
Suci, yang telah diperintahkan oleh Koresh untuk mereka lakukan.
namun , mengenai tembok-tembok, belum ada sesuatu yang
642
diselesaikan atau hendak diperbaiki, seperti yang tampak melalui
keadaannya bertahun-tahun sesudahnya (Neh. 1:3), bahwa
semuanya menjadi reruntuhan. Apakah yang diberikan kepadamu
dan apakah yang ditambahkan kepadamu, hai lidah penipu, bahkan,
yang lebih buruk lagi, hai pena penipu? Tidak diragukan lagi, mereka
akan terkena panah-panah yang tajam dari pahlawan, dan bara kayu
arar (Mzm. 120:3-4). Seandainya segala kebajikan dan kehormatan
tidak benar-benar hilang dari mereka, mereka tidak akan
menuliskan kepada raja apa yang diketahui oleh semua tetangga
mereka sebagai suatu kebohongan besar. Dan seandainya mereka
tidak merasa sangat aman dalam menghadap sang raja, tentu mereka
tidak akan berani menuliskannya (lih. Ams. 29:12).
(3) Perkiraan orang Samaria akan akibat-akibat dari pembangunan kota
itu sama sekali tidak berdasar dan tidak masuk akal. Mereka merasa
sangat yakin, dan hendak membuat raja percaya pada kata-kata
mereka, bahwa jika kota ini sudah dibangun, maka bukan saja orang-
orang Yahudi tidak akan membayar pajak, upeti atau bea (ay. 13),
melainkan juga sebab kebohongan besar akan segera terucap begitu
kebohongan kecil disampaikan, bahwa sang raja pun tidak akan
mendapat milik sama sekali di seberang sungai ini (ay. 16). Dengan
demikian, semua kota di seberang sungai Efrat ini akan segera
memberontak, sebab terpancing oleh contoh mereka. Dan, jika raja
yang memiliki daerah itu membiarkan hal ini terjadi, maka dia akan
menjahati bukan hanya dirinya sendiri melainkan juga para
penerusnya: Kota itu akan mendatangkan kerugian kepada raja-raja.
Lihatlah bagaimana setiap baris di dalam surat ini mengembuskan
baik kelicikan maupun maksud jahat dari si ular tua.
Orang Yahudi Difitnah
(4:17-24)
17 Maka raja mengirim surat jawaban ini: “Kepada Rehum, bupati, dan Simsai, panitera,
serta rekan-rekan mereka yang lain, yang tinggal di Samaria dan di daerah yang lain
seberang sungai Efrat. Salam! Maka sekarang,
18 surat yang kamu kirim kepada kami, telah dibacakan kepadaku dengan jelas. 19 Lalu
atas perintahku telah diadakan penyelidikan, dan didapati, bahwa kota itu sejak zaman
dahulu selalu bangkit melawan raja-raja dan bahwa penduduknya selalu mendurhaka dan
memberontak. 20 Lagipula dahulu ada raja-raja yang berkuasa atas Yerusalem, yang
memerintah seluruh daerah seberang sungai Efrat, dan kepada mereka dibayarlah pajak,
upeti dan bea. 21 Oleh sebab itu, keluarkanlah perintah, untuk menghentikan orang-orang
itu, supaya kota itu jangan dibangun kembali, sebelum aku mengeluarkan perintah. 22 Dan
ingatlah baik-baik supaya jangan kamu perbuat suatu kelalaian dalam perkara ini. Apakah
Kitab Ezra 4:1-5
643
gunanya kerusakan yang menjadi kerugian raja-raja itu bertambah besar?” 23 Maka
setelah salinan surat raja Artahsasta dibacakan kepada Rehum, dan Simsai, panitera, serta
rekan-rekan mereka, berangkatlah mereka dengan segera ke Yerusalem mendapatkan
orang-orang Yahudi, dan dengan kekerasan mereka memaksa orang-orang itu menghenti-
kan pekerjaan itu. 24 Pada waktu itu terhentilah pekerjaan membangun rumah Tuhan yang
di Yerusalem, dan tetap terhenti sampai tahun yang kedua zaman pemerintahan Darius,
raja negeri Persia.
Dalam perikop ini kita mendapati,
I. Perintah yang diberikan oleh raja Persia, sebagai jawaban atas pem-
beritahuan yang dikirimkan kepadanya oleh orang Samaria yang menentang
orang Yahudi. Ia membiarkan dirinya diperdaya oleh tipuan dan kebohongan
orang Samaria. Ia tidak berusaha memeriksa tuduhan-tuduhan dalam
permohonan mereka tentang apa yang sedang dilakukan oleh orang Yahudi
sekarang, namun menerimanya bagitu saja bahwa tuduhan tersebut benar.
Dan ia sangat bersedia untuk mengabulkan permintaan mereka dengan
memberi mereka sebuah perintah untuk mengambil tindakan hukum.
1. Ia menyelidiki kitab riwayat tentang Yerusalem, dan menemukan bahwa
kota itu memang telah memberontak melawan raja Babel. Oleh sebab
itu, sebagaimana mereka menyebutnya, kota itu yaitu kota yang jahat
(ay. 19). Dan bahwa di samping itu, pada masa lalu raja-raja telah
memerintah di sana, dan raja-raja itu menerima upeti dari semua daerah
di seberang sungai Efrat (ay. 20). Oleh sebab itu, ada bahaya bahwa jika
mereka mampu, yang sepertinya tidak pernah demikian, mereka akan
menuntut semua daerah itu kembali. Demikianlah sang raja Persia
berbicara seperti mereka berbicara, dan berpura-pura memberi suatu
alasan untuk berbuat demikian. Lihatlah nasib berat para raja, yang
harus melihat dan mendengar melalui mata dan telinga orang lain, dan
memberikan penghakiman atas perkara-perkara sebagaimana perkara
itu digambarkan kepada mereka, meskipun sering kali digambarkan
secara keliru. Penghakiman Tuhan selalu adil sebab Dia melihat segala
sesuatu seperti apa adanya, dan sesuai dengan kebenaran.
2. Raja Persia menunjuk orang-orang Samaria ini untuk menghentikan
pembangunan kota itu dengan segera, sampai ada perintah selanjutnya
yang diberikan tentangnya (ay. 21-22). Baik mereka, dalam surat
mereka, maupun sang raja, dalam perintahnya, tidak menyebut sama
sekali tentang Bait Suci, dan pembangunannya. Sebab baik mereka
maupun sang raja tahu bahwa orang Yahudi tidak hanya mendapat izin,
namun juga menerima perintah dari Koresh untuk membangunnya kem-
bali, dan bahkan orang-orang Samaria ini tidak berani mencabutnya.
644
Mereka hanya menyinggung tentang kota saja: “Janganlah kota itu
dibangun,” yaitu, sebagai kota dengan tembok-tembok dan pintu-pintu
gerbang. “Apa pun yang engkau lakukan, cegahlah pembangunan kota
itu, supaya jangan sampai kerugian raja-raja itu bertambah besar.” Dia
tidak mau kalau mahkota sampai hilang sebab dikenakan olehnya.
II. Bagaimana musuh-musuh orang Yahudi memanfaatkan perintah sang raja
ini, yang diperoleh dengan cara yang begitu curang. Setelah menerima
perintah tersebut, berangkatlah mereka dengan segera ke Yerusalem (ay. 23).
Kaki mereka lari menuju kejahatan (Ams. 1:16). Mereka tidak sabar melihat
para pembangun Bait Suci itu dikenakan larangan ini, yang mereka
keluarkan sebagai surat perintah untuk memaksa orang-orang itu
menghentikan pekerjaan itu dengan kekerasan. Sama seperti mereka telah
menyalahgunakan kepercayaan sang raja dalam memperoleh perintah ini
melalui keterangan palsu mereka, demikian pula mereka menyalahgunakan
kepercayaannya dalam melaksanakan perintah itu. Sebab perintah itu hanya
untuk mencegah pembangunan tembok-tembok kota, namun , sebab pada
pihak mereka ada kekuatan dan kekuasaan, mereka memperluas perintah
itu pada Bait Suci. Sebab pada Bait Sucilah mereka mempunyai maksud jahat,
dan mereka hanya memerlukan suatu dalih untuk mencegah
pembangunannya. Memang ada pernyataan umum dalam surat perintah itu,
untuk menghentikan orang-orang itu, yang merujuk pada keluhan mereka
tentang pembangunan tembok-tembok kota. namun mereka menerapkannya
pada pembangunan Bait Suci. Lihatlah betapa perlunya kita berdoa, bukan
hanya untuk raja-raja, melainkan juga untuk semua pembesar di bawah
mereka, dan para pemimpin yang diutus oleh mereka. Sebab ketenangan dan
ketenteraman hidup kita, dalam segala kesalehan dan kehormatan, banyak
bergantung pada kelurusan hati dan hikmat dari para pejabat rendah,
seperti juga dari para pejabat tinggi. Akibatnya yaitu bahwa terhentilah
pekerjaan membangun rumah Tuhan untuk sementara waktu, melalui
kekuatan dan kekurangajaran orang-orang yang memusuhi pekerjaan itu.
Dan dengan demikian, melalui sikap dingin dan acuh tak acuh dari sahabat-
sahabat yang mendukung pekerjaan itu, pembangunan Bait Suci terhenti
sampai tahun yang kedua zaman pemerintahan Darius Histaspes. Sebab bagi
saya tampak jelas, melalui benang merah sejarah suci ini, bahwa raja
tersebut yaitu Darius yang itu (ay. 24). Meskipun sekarang pem-
bangunannya dihentikan oleh kekerasan orang-orang Samaria, namun
orang-orang Yahudi mungkin melanjutkan pekerjaan itu dengan diam-diam
segera sesudahnya, jika mereka memang benar-benar terdorong untuk
Kitab Ezra 4:1-5
645
melakukan pekerjaan itu sebagaimana mestinya. Ini tampak dari hal berikut,
bahwa sebelum mereka mendapatkan surat perintah langsung dari raja
untuk melakukannya (ps. 6), mereka telah ditegur oleh para nabi sebab
tidak melakukannya (5:1), bandingkan dengan Hagai 1:1, dan seterusnya.
Seandainya mereka berusaha sebagaimana mestinya untuk memberi tahu
Kambisus tentang kebenaran masalah ini, mungkin sang raja akan menarik
kembali perintahnya. Namun, sepanjang pengetahuan saya, sebagian dari
para pembangun Bait Suci itu sepertinya ingin agar pembangunan itu
berhenti, sama seperti yang dikehendaki oleh para musuh sendiri. Selama
beberapa kurun waktu tertentu, jemaat telah menderita lebih sebab sikap
dingin para sahabatnya dibandingkan sebab sikap panas para musuhnya. namun
kedua hal itu secara bersama-sama biasanya membuat pekerjaan jemaat
berjalan dengan lambat.
PASAL 5
alam pasal sebelumnya, kita meninggalkan pekerjaan membangun rumah
Tuhan dalam keadaan terhenti sama sekali. Namun, sebab merupakan
pekerjaan Tuhan , maka pekerjaan itu akan dihidupkan kembali, dan dalam pasal
ini kita mendapati penjelasan tentang dihidupkannya kembali pekerjaan
tersebut. Pekerjaan itu dihambat oleh keperkasaan dan kekuatan, namun
sekarang dimulai kembali “oleh Roh Tuhan semesta alam.” Sekarang di sini
diceritakan kepada kita bagaimana Roh yang penuh berkat itu,
I. Menghangatkan dinginnya hati para sahabat yang mendukung
pekerjaan itu, dan membuat mereka bersemangat untuk membangun
(ay. 1-2).
II. Mendinginkan panasnya kepala musuh-musuh yang menentang
pekerjaan itu, dan membawa mereka pada suasana hati yang lebih
baik. Sebab, sekalipun diam-diam mereka tidak menyukai pekerjaan itu
sama seperti orang-orang dalam pasal sebelumnya, namun,
1. Mereka bersikap lebih lunak terhadap para pembangun Bait Suci (ay.
3-5).
2. Mereka lebih adil dalam menggambarkan duduk perkaranya
kepada raja, yang penjelasan tentangnya kita dapati dalam pasal ini
(ay. 6-17).
Orang Yahudi Dikuatkan oleh Nabi-nabi Mereka
(5:1-2)
1 namun nabi Hagai dan Zakharia bin Ido, kedua nabi itu, bernubuat terhadap orang-orang
Yahudi yang tinggal di Yehuda dan di Yerusalem dalam nama Tuhan Israel, yang menyertai
mereka. 2 Pada waktu itu mulailah Zerubabel bin Sealtiel dan Yesua bin Yozadak
membangun rumah Tuhan yang ada di Yerusalem. Mereka didampingi dan dibantu oleh
nabi-nabi Tuhan .
D
650
Sebagian penafsir memperhitungkan bahwa pembangunan rumah Tuhan ditunda
selama sembilan tahun saja. Namun, saya berani berpendapat bahwa penundaan
itu terjadi paling lama sampai lima belas tahun. Selama waktu itu, orang-orang
Yahudi memiliki mezbah dan kemah suci, yang tentunya mereka pergunakan
untuk keperluan mereka. Saat kita tidak dapat melakukan apa yang kita
inginkan, kita harus melakukan apa yang dapat kita lakukan untuk melayani
Tuhan , dan menyesali sebab kita tidak mampu berbuat lebih baik. Akan namun ,
para penasihat yang disogok untuk menghalangi pekerjaan itu (4:5) berkata
kepada orang-orang Yahudi, dan mungkin dengan mengaku mendapat ilham,
bahwa belum tiba waktunya untuk membangun rumah Tuhan (Hag. 1:2), sambil
menegaskan bahwa waktu untuk membangun Bait Suci Salomo masih lama. Dan
dengan demikian, rakyat dibuat tenang-tenang saja di dalam rumah-rumah
mereka yang dipapani dengan baik, sementara Rumah Tuhan tetap menjadi
reruntuhan. Sekarang, dalam pasal ini disampaikan kepada kita bagaimana
pekerjaan baik yang tampaknya terbaring mati itu diberi kehidupan.
I. Rakyat memiliki dua hamba Tuhan yang baik, yang dalam nama Tuhan
berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meyakinkan mereka agar
menggerakkan kembali roda pekerjaan tersebut. Cermatilah,
1. Siapa kedua hamba Tuhan ini, yaitu Nabi Hagai dan Nabi Zakharia, yang
keduanya mulai bernubuat pada tahun yang kedua zaman Raja Darius,
seperti yang tampak dalam Hagai 1:1 dan Zakharia 1:1. Perhatikanlah,
(1) Rumah Tuhan di antara manusia haruslah dibangun melalui nubuatan.
Bukan oleh kekuatan duniawi (yang sering kali justru
menghambatnya, namun hampir tidak pernah memajukannya),
melainkan oleh firman Tuhan . Sama seperti senjata kita dalam
perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan rohani, demikian
pula halnya dengan alat-alat kita untuk membangun. Dan pelayan-
pelayan Injil yaitu ahli-ahli bangunan.
(2) Sudah menjadi tugas para nabi Tuhan untuk menggerakkan umat
Tuhan kepada apa yang baik, dan membantu mereka di dalamnya.
Juga untuk menguatkan tangan mereka, dan, melalui pertimbangan-
pertimbangan yang sesuai yang diambil dari firman Tuhan , untuk
menyemangati mereka agar melakukan kewajiban mereka, serta
menguatkan mereka di dalamnya.
(3) Suatu pertanda bahwa Tuhan menyediakan belas kasihan bagi sebuah
bangsa apabila Ia membangkitkan para nabi di antara mereka untuk
Kitab Ezra 5:1-2
651
menjadi penolong mereka di jalan Tuhan dan di dalam pekerjaan-Nya,
serta untuk menjadi penuntun, pengawas, dan pemimpin mereka.
2. Kepada siapa kedua nabi itu diutus. Mereka bernubuat kepada orang-
orang Yahudi, sebab orang-orang Yahudi dididik di bawah pengajaran
dan bimbingan mereka. Sebab, sebagaimana kepada mereka diberikan
hukum Taurat, demikian pula kepada mereka diberikan karunia
nubuatan, dan sebab itu mereka disebut pewaris nubuat (Kis. 3:25).
Kedua nabi itu bernubuat bahkan terhadap mereka, atas mereka, bahkan
atas mereka (demikian dalam bahasa aslinya), seperti Yehezkiel ber-
nubuat atas tulang-tulang yang kering, supaya mereka hidup (Yeh. 37:4,
KJV). Para nabi itu bernubuat menentang mereka (demikian menurut
Uskup Patrick), sebab kedua nabi itu menegur mereka sebab mereka
tidak membangun rumah Tuhan. Firman Tuhan , jika sekarang tidak
diterima sebagai kesaksian bagi kita, maka di kemudian hari akan
diterima sebagai kesaksian menentang kita, dan akan menghakimi kita.
3. Siapa yang mengutus kedua nabi itu. Mereka bernubuat dalam nama,
atau (sebagaimana sebagian penafsir membacanya) untuk membela
perkara, atau demi kepentingan, Tuhan Israel. Mereka berbicara
berdasarkan amanat dari Dia, dan meyakinkan rakyat berdasarkan
wewenang-Nya atas mereka, kepentingan-Nya di dalam mereka, dan
kepedulian terhadap kemuliaan-Nya di antara mereka.
II. Orang-orang Yahudi memiliki dua petinggi yang baik, yang sigap dan giat
dalam pekerjaan ini, yaitu Zerubabel pemimpin utama mereka dan Yesua
imam besar mereka (ay. 2). Orang-orang yang menduduki tempat terhormat
dan berkuasa haruslah memakai kehormatan mereka itu untuk memberikan
penghormatan pada setiap pekerjaan baik, dan memakai kekuasaan mereka
untuk menghidupkan setiap pekerjaan baik. Dengan demikian, sudah
sepatutnya orang-orang yang terkemuka, dan orang-orang yang memimpin,
untuk menggenapkan seluruh kehendak Tuhan dan saling mendahului dalam
pekerjaan baik, melalui kepedulian dan semangat yang patut dicontoh.
Orang-orang besar ini tidak merasa terhina, namun menganggapnya sebagai
suatu kebahagiaan, untuk diajar dan diatur oleh nabi-nabi Tuhan. Dan
mereka senang mendapat bantuan dari para nabi itu dalam menghidupkan
kembali pekerjaan yang baik ini. Bacalah nubuatan Hagai dalam Hagai pasal
1 (sebab itulah uraian terbaik mengenai dua ayat ini), dan lihatlah betapa
besar perkara-perkara yang diperbuat Tuhan melalui firman-Nya, yang
diagungkan-Nya melebihi segala sesuatu, dan melalui Roh-Nya yang turut
bekerja bersama firman-Nya.
652
Perkara Diajukan kepada Darius
(5:3-17)
3 namun pada waktu itu juga datanglah kepada mereka Tatnai, bupati daerah sebelah
barat sungai Efrat, bersama-sama dengan Syetar-Boznai dan rekan-rekan mereka, dan
beginilah katanya kepada mereka: “Siapakah yang memberi perintah kepadamu untuk
membangun rumah ini dan menyelesaikan tembok ini?” 4 Lalu katanya pula kepada
mereka: “Siapakah nama-nama orang yang mendirikan bangunan ini?” 5 namun mata Tuhan
mengamat-amati para tua-tua orang Yahudi, sehingga mereka tidak dipaksa berhenti oleh
orang-orang itu sampai ada berita diterima oleh Darius dan kemudian dikirim kembali
surat jawaban mengenai hal itu. 6 Inilah salinan surat yang dikirim Tatnai, bupati daerah
sebelah barat sungai Efrat, bersama-sama dengan Syetar-Boznai dan rekan-rekannya,
para punggawa daerah sebelah barat sungai Efrat, kepada raja Darius. 7 Mereka mengirim
laporan tertulis kepadanya yang bunyinya sebagai berikut: “Ke hadapan raja Darius.
Salam sejahtera! 8 Kiranya raja maklum, bahwa kami datang ke daerah Yehuda, ke rumah
Tuhan yang maha besar. Rumah itu sedang dibangun dengan batu yang besar-besar,
sedang dindingnya dilapis dengan kayu, dan pekerjaan itu dikerjakan dengan seksama
dan berjalan lancar di tangan mereka. 9 Kemudian kami menanyai para tua-tua itu dan
beginilah kata kami kepada mereka: Siapakah yang memberi perintah kepadamu untuk
membangun rumah ini dan menyelesaikan tembok ini? 10 Lagipula kami tanyakan kepada
mereka nama-nama mereka, untuk memberitahukannya kepada tuanku, dengan
mencatat nama orang-orang yang mengepalai mereka. 11 Inilah jawaban yang diberikan
mereka kepada kami: Kami yaitu hamba-hamba Tuhan semesta langit dan bumi, dan
kami membangun kembali rumah, yang telah didirikan bertahun-tahun sebelumnya,
didirikan dan diselesaikan oleh seorang raja Israel yang agung. 12 namun sesudah nenek
moyang kami membangkitkan murka Tuhan semesta langit, mereka diserahkan-Nya ke
dalam tangan Nebukadnezar, raja negeri Babel, orang Kasdim, yang merusak rumah itu
dan mengangkut bangsa itu sebagai tawanan ke negeri Babel. 13 Akan namun pada tahun
pertama zaman Koresh, raja negeri Babel, dikeluarkanlah perintah oleh raja Koresh untuk
membangun rumah Tuhan ini. 14 Juga perlengkapan emas dan perak dari rumah Tuhan , yang
telah diambil oleh Nebukadnezar dari bait suci yang di Yerusalem dan dibawa ke dalam
bait suci yang di Babel, diambil pula oleh raja Koresh dari bait suci yang di Babel itu, dan
diserahkan kepada seorang yang bernama Sesbazar yang telah diangkatnya menjadi
bupati. 15 Perintahnya kepadanya: Ambillah perlengkapan ini, pergilah dan taruhlah itu di
dalam bait suci yang di Yerusalem, dan biarlah rumah Tuhan dibangun di tempatnya yang
semula. 16 Kemudian datanglah Sesbazar, meletakkan dasar rumah Tuhan yang ada di
Yerusalem, dan sejak waktu itu sampai sekarang dikerjakanlah pembangunannya, hanya
belum selesai.
17 Oleh sebab itu, jikalau dianggap baik oleh raja, maka hendaklah diadakan penyelidikan
di dalam gedung perbendaharaan raja, di sana, di Babel, apakah pernah dikeluarkan
perintah oleh raja Koresh untuk membangun kembali rumah Tuhan yang di Yerusalem itu.
Kemudian keputusan raja tentang hal itu kiranya dikirimkan kepada kami.”
Dalam perikop ini kita mendapati,
I. Bagaimana para tetangga orang Yahudi segera mengetahui bahwa pekerjaan
yang baik ini dihidupkan kembali. Mata yang penuh iri hati, tampaknya,
mereka arahkan pada orang Yahudi. Dan begitu Roh Tuhan menggerakkan
para sahabat yang mendukung pembangunan Bait Suci untuk tampil
baginya, pada saat itu pula roh jahat menggerakkan para lawan untuk tampil
menentangnya. Ketika orang Yahudi membangun dan memapani rumah-
rumah mereka sendiri, musuh-musuh mereka tidak mengganggu mereka
Kitab Ezra 5:1-2
653
(Hag. 1:4), padahal raja memerintahkan agar pembangunan kota dihentikan
(4:21). Akan namun , ketika mereka mulai mengerjakan Rumah Tuhan kembali,
pada saat itu pula tanda bahaya dibunyikan, dan semua orang berupaya
menghalangi mereka (ay. 3-4). Para lawan orang Yahudi itu disebutkan
namanya di sini: Tatnai dan Syetar-Boznai. Ada kemungkinan bahwa para
kepala daerah yang kita baca dalam pasal 4 telah diganti pada permulaan
pemerintahan yang sekarang, seperti yang biasa terjadi. Sudah menjadi
kebijakan para penguasa untuk sering mengganti para wakil pemerintah,
para bupati, dan para pembesar daerah. Mereka ini, sekalipun merupakan
musuh yang nyata bagi pembangunan rumah Tuhan, sebetulnya memiliki
perangai yang lebih baik dibandingkan orang-orang lain yang disebutkan dalam
pasal sebelumnya. Dan berdasarkan dorongan hati nurani, mereka mau
berkata benar. Kalaupun tidak semua orang beroleh iman (2Tes. 3:2), dan
rasa hormat, syukurlah jika sebagian orang memperolehnya. Musuh-musuh
jemaat tidak sama-sama keji dan tak waras. Penulis kitab ini mulai
menuturkan apa yang terjadi antara para pembangun Bait Suci dan orang-
orang yang menentangnya itu (ay. 3-4), namun ia memotong penuturannya,
lalu menyebut tentang salinan surat yang mereka kirimkan kepada raja.
Surat yang sama tampaknya lebih lengkap dan panjang, dan ia meringkasnya
(ay. 4), atau membuat inti sarinya, walaupun setelah dipikir-pikir lagi, ia
menyisipkan seluruhnya.
II. Perhatian yang diberikan oleh Tuhan Sang Penyelenggara terhadap pekerjaan
baik ini (ay. 5): Mata Tuhan mengamat-amati para tua-tua orang Yahudi, yang
sedang giat bekerja dalam pembangunan Bait Suci tersebut, sehingga
musuh-musuh mereka tidak dapat menghentikan mereka, seperti yang
dikehendaki, sebelum perkara itu sampai kepada Darius. Mereka hanya mau
berhenti setelah mendapat perintah dari raja tentangnya. Namun, mereka
tidak mau menyerah sedikit pun kepada musuh-musuh mereka, sebab mata
Tuhan mengamat-amati mereka, yaitu Tuhan mereka. Dan,
1. Mata Tuhan yang mengamat-amati mereka itu membingungkan musuh-
musuh orang Yahudi, membuat mereka hilang akal dan melemahkan
mereka, serta melindungi para pembangun Bait Suci dari rencana jahat
musuh-musuh mereka. Selagi kita mengerjakan pekerjaan Tuhan , kita
ditempatkan di bawah perlindungan-Nya yang istimewa. Mata-Nya
senantiasa mengawasi kita, tujuh mata di atas satu batu permata di
dalam Bait-Nya (lih. Za. 3:9; 4:10).
2. Mata Tuhan yang mengamat-amati mereka itu menyemangati mereka.
Para tua-tua Yahudi melihat bahwa mata Tuhan mengamat-amati mereka,
654
untuk memperhatikan apa yang mereka perbuat dan mengakui mereka
dalam apa yang mereka kerjakan dengan baik. Maka mereka pun
memiliki cukup keberanian untuk menghadapi musuh-musuh mereka
dan melanjutkan pekerjaan mereka dengan bersemangat, kendati
dengan segala perlawanan yang mereka temui. Jika mata kita meman-
dang Tuhan , dan melihat bahwa mata-Nya sedang mengawasi kita, maka
kita akan tetap setia menjalankan kewajiban kita, dan kita akan
dikuatkan dalam mengerjakannya ketika kesulitan-kesulitan terasa
begitu mengecilkan hati.
III. Laporan yang mereka kirimkan kepada raja mengenai persoalan ini, yang di
dalamnya kita dapat mengamati,
1. Betapa para tua-tua orang Yahudi memberikan penjelasan yang lengkap
tentang tindakan mereka kepada orang-orang Samaria. Saat mendapati
orang-orang Yahudi sibuk bekerja dan pekerjaannya berjalan lancar,
bahwa semua tangan bekerja untuk mendirikan bangunan ini dan bahwa
pekerjaan itu terus berjalan dengan pesat, orang-orang Samaria meng-
ajukan segala pertanyaan ini kepada mereka: “Atas wewenang apa kalian
mengerjakan pembangunan ini, dan siapa yang memberi kalian
wewenang itu? Siapa yang menyuruh kalian bekerja? Adakah sesuatu
yang dapat menyokong tindakan kalian?” Terhadap pertanyaan ini,
mereka menjawab bahwa mereka memiliki cukup surat kuasa untuk
melakukan apa yang mereka lakukan. Sebab,
(1) “Kami yaitu hamba-hamba Tuhan semesta langit dan bumi. Tuhan
yang kami sembah bukanlah dewa setempat, sebab itu kami tidak
dapat dituntut dengan tuduhan membentuk golongan, atau
mendirikan bidah, dalam membangun Bait ini bagi kehormatan-Nya.
Sebaliknya, kami berbakti kepada Tuhan yang menjadi penopang
seluruh ciptaan, dan sebab itu kami harus dilindungi dan didukung
oleh semua pihak, dan tidak boleh dihalangi oleh siapa pun.” Sudah
menjadi hikmat dan juga kewajiban para raja untuk memberikan
sokongan kepada hamba-hamba Tuhan semesta langit.
(2) “Kami memiliki ketentuan atas rumah ini. Rumah ini dibangun bagi
kehormatan Tuhan kami oleh Salomo bertahun-tahun silam.
Pembangunan ini bukanlah hal baru yang kami ciptakan sendiri. Kami
hanya memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan”
(Yes. 58:12).
Kitab Ezra 5:1-2
655
(3) “Untuk menghukum kami atas dosa-dosa kamilah maka kami, untuk
sementara waktu, kehilangan kepemilikan atas rumah ini. Bukan
sebab para ilah bangsa-bangsa lain telah mengalahkan Tuhan kami,
melainkan sebab kami telah membangkitkan murka-Nya (ay. 12),
maka Dia menyerahkan kami dan Bait Suci kami ke dalam tangan
raja Babel. namun dengan berbuat demikian Ia tidak pernah bermak-
sud mengakhiri agama kami untuk selamanya. Kami hanya dihukum
untuk sementara waktu, bukan dibuang untuk selamanya.”
(4) “Kami mendapat titah kerajaan dari Koresh yang membenarkan dan
menyokong kami dalam apa yang kami lakukan. Ia tidak hanya
mengizinkan dan membiarkan kami, namun juga menyuruh dan
memerintahkan kami untuk membangun rumah ini (ay. 13), dan
membangunnya di tempat semula (ay. 15), tempat yang sama di
mana rumah itu berdiri sebelumnya.” Koresh memerintahkan hal itu
bukan hanya dalam belas kasihan kepada orang Yahudi, namun juga
dalam penghormatan kepada Tuhan mereka, dengan berkata, Dialah
Tuhan . Koresh juga memberikan perlengkapan Bait Suci kepada orang
yang dipercayainya untuk memastikan bahwa barang-barang itu
dikembalikan ke tempat dan kegunaannya yang semula (ay. 14). Dan
orang Yahudi memiliki semuanya ini untuk ditunjukkan, yang akan
menguatkan apa yang mereka nyatakan.
(5) “Pembangunan itu dimulai sesuai dengan perintah Koresh segera
setelah kami kembali, sehingga kami tidak kehilangan manfaat dari
perintah tersebut sebab tidak lekas-lekas mengerjakannya pada
waktunya. Bait ini masih dalam pembangunan, namun , sebab kami
menghadapi perlawanan, pembangunan itu belum selesai.”
Akan namun , cermatilah, mereka tidak menyebut-nyebut
kesalahan dan kejahatan dari para kepala daerah sebelumnya, tidak
pula membuat keluhan apa pun tentang mereka, sekalipun mereka
memiliki alasan yang cukup untuk itu. Hal ini mengajar kita untuk
tidak membalas kepahitan dengan kepahitan, atau teguran yang
sangat wajar dengan celaan yang sangat tidak wajar. Sebaliknya, kita
harus merasa puas jika kita bisa mendapat perlakuan yang adil
untuk ke depan, tanpa mengungkit-ungkit segala sesuatu yang
menyakitkan hati di masa silam (ay. 16). Inilah penjelasan yang
diberikan orang Yahudi mengenai tindakan mereka, tanpa
menanyakan wewenang apa yang dimiliki orang Samaria untuk
memeriksa mereka, tidak pula menegur orang Samaria atas
penyembahan berhala, takhayul, dan agama campuran mereka.
656
Marilah kita belajar dari sini untuk memberi pertanggungan jawab
tentang pengharapan yang ada pada kita dengan lemah lembut dan
hormat (1Ptr. 3:15). Pahami dengan benar, dan kemudian nyatakan
dengan siap, apa yang kita lakukan dalam melayani Tuhan dan
mengapa kita melakukannya.
2. Betapa dengan adil orang-orang Samaria mengajukan perkara ini kepada
raja.
(1) Mereka menyebut Bait Suci di Yerusalem sebagai rumah Tuhan yang
maha besar (ay. 8). Sebab meskipun orang Samaria, seperti yang
terlihat, memiliki banyak Tuhan dan banyak tuhan, namun mereka
mengakui Tuhan Israel sebagai Tuhan yang maha besar, yang
mengatasi segala ilah. “Bait itu yaitu rumah Tuhan yang maha besar,
dan sebab itu kami tidak berani menentang pembangunannya tanpa
perintah dari tuan raja.”
(2) Mereka berkata jujur kepada raja tentang apa yang sedang
dikerjakan, dan tidak menyatakan, seperti para pendahulu mereka,
bahwa orang Yahudi membentengi kota itu seolah-olah hendak
berperang, namun hanya bahwa mereka sedang mendirikan Bait Suci
sebagaimana orang yang berniat untuk beribadah (ay. 8).
(3) Mereka mengajukan permohonan mereka secara lengkap, dengan
mengatakan kepada raja apa yang hendak mereka katakan bagi diri
mereka sendiri, dan bersedia agar duduk perkara itu dipahami
dengan benar.
(4) Mereka menyerahkan kepada raja agar ia memeriksa arsip untuk
mengetahui apa benar Koresh telah mengeluarkan perintah seperti
itu, dan kemudian agar raja memberi arahan yang dianggapnya tepat
(ay. 17). Ada alasan bagi kita untuk berpikir bahwa seandainya
Artahsasta, dalam pasal sebelumnya, mendengar perkara orang
Yahudi disampaikan dengan adil seperti yang disampaikan kepada
Darius di sini, maka ia tidak akan memerintahkan agar pekerjaan itu
dihentikan. Umat Tuhan tidak dapat dianiaya jika mereka tidak
difitnah, tidak dapat diserang jika mereka tidak dipakaikan bulu
serigala. Jika kepentingan Tuhan dan kebenaran dinyatakan dengan
adil, dan didengar dengan adil, niscaya ia akan berdiri tegak.
PASAL 6
etapa dengan penuh khidmat dasar rumah Tuhan diletakkan, sudah kita baca
dalam pasal 3. Betapa lamban pembangunan itu berjalan, dan betapa
dengan susah payah, sudah kita dapati dalam pasal 4 dan 5. namun betapa pada
akhirnya batu utamanya diangkat dengan mulia sambil diiringi sorak-sorai, kita
dapati dalam pasal ini. Dan bahkan kita, yang terpisah oleh waktu sekian lama,
ketika membacanya, bisa berseru, “Bagus, bagus sekali batu itu.” Adapun Tuhan ,
jalan-Nya sempurna. Pekerjaan-Nya bisa saja berjalan lamban, namun pasti. Di
dalam pasal ini kita mendapati,
I. Dibacakannya surat perintah Koresh untuk membangun rumah Tuhan
(ay. 1-5).
II. Dikuatkannya surat itu melalui perintah baru dari Darius untuk
menyempurnakan pekerjaan itu (ay. 6-12).
III. Diselesaikannya pekerjaan tersebut sebagai hasilnya (ay. 13-15).
IV. Ditahbiskannya rumah Tuhan dengan khidmat setelah selesai dibangun
(ay. 16-18), dan disahkannya rumah itu (kalau boleh saya katakan)
dengan merayakan Paskah (ay. 19-22). Dan sekarang bisa kita katakan
bahwa keadaan di Yehuda dan Yerusalem berjalan dengan baik, sangat
baik.
Perintah yang Menguntungkan dari Raja Darius
(6:1-12)
1 Sesudah itu atas perintah raja Darius diadakanlah penyelidikan di perbendaharaan di
Babel, di tempat naskah-naskah disimpan. 2 Kemudian di Ahmeta, benteng yang di
propinsi Media, didapati sebuah gulungan, yang isinya sebagai berikut: “Piagam: 3 Pada
tahun pertama zaman raja Koresh dikeluarkanlah perintah oleh raja Koresh: Mengenai
rumah Tuhan di Yerusalem. Rumah itu haruslah dibangun kembali sebagai tempat orang
mempersembahkan korban sembelihan dan korban api-apian; haruslah tingginya enam
puluh hasta dan lebarnya enam puluh hasta. 4 Dan haruslah dipasang tiga lapis batu
besar-besar dan satu lapis kayu. Biayanya harus dibayar dari perbendaharaan kerajaan. 5
B
660
Dan juga perlengkapan emas dan perak rumah Tuhan yang diambil oleh Nebukadnezar
dari bait suci yang di Yerusalem dan dibawa ke Babel itu haruslah dikembalikan, supaya
kembali pula ke dalam bait suci yang di Yerusalem, ke tempatnya yang semula; dan
engkau haruslah menaruhnya di dalam rumah Tuhan .” 6 “Oleh sebab itu, hai Tatnai, bupati
daerah seberang sungai Efrat, dan Syetar-Boznai serta rekan-rekanmu, para punggawa
daerah seberang sungai Efrat, hendaklah kamu menjauhkan diri dari sana. 7 Biarkanlah
pekerjaan membangun rumah Tuhan itu. Bupati dan para tua-tua orang Yahudi boleh
membangun rumah Tuhan itu di tempatnya yang semula. 8 Lagipula telah dikeluarkan
perintah olehku tentang apa yang harus kamu perbuat terhadap para tua-tua orang
Yahudi mengenai pembangunan rumah Tuhan itu, yaitu dari pada penghasilan kerajaan,
dari pada upeti daerah seberang sungai Efrat, haruslah dengan seksama dan dengan tidak
bertangguh diberi biaya kepada orang-orang itu. 9 Dan apa yang diperlukan, yaitu lembu
jantan muda, domba jantan, anak domba untuk korban bakaran bagi Tuhan semesta langit,
juga gandum, garam, anggur dan minyak, menurut petunjuk para imam yang di
Yerusalem, semuanya itu harus diberikan kepada mereka hari demi hari tanpa kelalaian,
10 supaya mereka selalu mempersembahkan korban yang menyenangkan kepada Tuhan
semesta langit dan mendoakan raja serta anak-anaknya. 11 Selanjutnya telah dikeluarkan
perintah olehku, supaya setiap orang yang melanggar keputusan ini, akan dicabut
sebatang tiang dari rumahnya, untuk menyulakannya pada ujung tiang itu dan supaya
rumahnya dijadikan reruntuhan oleh sebab hal itu.
12 Maka Tuhan , yang sudah membuat nama-Nya diam di sana, biarlah Ia merobohkan
setiap raja dan setiap bangsa, yang mengacungkan tangan untuk melanggar keputusan ini
dan membinasakan rumah Tuhan yang di Yerusalem itu. Aku, Darius, yang mengeluarkan
perintah ini. Hendaklah itu dilakukan dengan seksama.”
Di dalam perikop ini kita mendapati,
I. Surat perintah Koresh untuk membangun rumah Tuhan diulang kembali.
Kepada surat inilah orang Samaria merujuk, sebab orang Yahudi
menyerukannya. Dan mungkin orang Samaria berharap agar surat itu tidak
ditemukan, sehingga seruan orang Yahudi akan dipatahkan dan pekerjaan
mereka dihentikan. Maka diperintahkanlah penyelidikan terhadap surat itu
di antara semua naskah yang ada. Sebab, sepertinya, suku-suku Israel tidak
memberi perhatian untuk menyimpan salinan aslinya, yang bisa saja ber-
manfaat bagi mereka, sehingga mereka harus mencari surat yang asli. Surat
perintah itu dicari di Babel (ay. 1), tempat Koresh berada ketika ia
menandatanganinya. Namun, ketika surat itu tidak ditemukan di sana,
Darius tidak menjadikannya sebagai alasan untuk menyimpulkan bahwa itu
berarti tidak terdapat surat perintah semacam itu, dan sebab itu untuk
membuat penghakiman melawan orang Yahudi. namun ada kemungkinan,
sebab ia sendiri telah mendengar bahwa surat perintah seperti itu benar-
benar pernah dibuat, maka ia memerintahkan agar gulungan-gulungan
naskah di tempat-tempat lain juga diselidiki. Dan pada akhirnya gulungan itu
pun ditemukan di Ahmeta, di provinsi Media (ay. 2). Mungkin ada sebagian
orang yang tidak berani memusnahkannya, namun mereka
menyembunyikannya di sana sebab berniat jahat terhadap orang Yahudi,
agar mereka kehilangan manfaat dari surat itu. Akan namun ,
Kitab Ezra 6:1-12
661
Penyelenggaraan Tuhan mengatur sedemikian rupa hingga surat itu
ditemukan juga, dan surat itu diselipkan di sini (ay. 3-5).
1. Inilah surat perintah untuk membangun rumah Tuhan : Biarlah rumah
Tuhan di Yerusalem, ya, biarlah rumah itu dibangun kembali (demikian
ayat itu bisa dibaca), dengan ukuran-ukuran yang sekian, dan dengan
bahan-bahan bangunan yang sekian.
2. Surat perintah supaya biaya pembangunan diambil dari perbendaharaan
kerajaan (ay. 4). Kita tidak mendapati bahwa orang-orang Yahudi telah
menerima apa yang diperintahkan di sini kepada mereka, mengingat
keadaan di istana segera berubah.
3. Surat perintah untuk mengembalikan perlengkapan dan perkakas rumah
Tuhan , yang dahulu telah diambil oleh Nebukadnezar (ay. 5), bersama
perintah supaya para imam, yaitu pelayan-pelayan Tuhan, harus
mengembalikan semuanya itu ke tempatnya yang semula di dalam
rumah Tuhan .
II. Dikuatkannya piagam Koresh itu oleh perintah Darius, yang didasarkan atas
piagam tersebut, dan untuk menindaklanjutinya.
1. Perintah Darius itu sangatlah tegas dan meyakinkan.
(1) Darius melarang para pejabatnya melakukan apa pun yang
menentang pembangunan rumah Tuhan tersebut. Caranya
mengutarakan hal itu menyiratkan bahwa ia tahu bahwa mereka
berencana menghalang-halangi pekerjaan itu: Hendaklah kamu
menjauhkan diri dari sana (ay. 6). Biarkanlah pekerjaan membangun
rumah Tuhan itu (ay. 7). Demikianlah panas hati manusia dijadikan
syukur bagi Tuhan , dan sisa panas hati itu diperikatpinggangkan oleh-
Nya.
(2) Darius memerintahkan para pejabatnya agar menyediakan uang bagi
para pembangun Bait Suci dari perbendaharaannya sendiri,
[1] Untuk melanjutkan pembangunannya (ay. 8). Di dalam hal ini ia
mencontoh teladan yang diberikan oleh Koresh (ay. 4).
[2] Untuk melangsungkan korban-korban persembahan di sana
setelah rumah Tuhan selesai dibangun (ay. 9). Darius
memerintahkan agar orang Yahudi diperlengkapi dengan segala
sesuatu yang mereka butuhkan untuk korban bakaran dan
korban sajian. Ia bersedia bahwa semua biayanya dibebankan
kepada perbendaharaannya, dan memerintahkan agar biaya itu
dibayarkan setiap hari, tanpa terlewat, supaya mereka dapat
662
mempersembahkan korban-korban dan menaikkan doa-doa
bersama korban-korban itu demi kehidupan (yaitu kebahagiaan
dan kesejahteraan) raja serta anak-anaknya (ay. 10). Sebab para
bapa leluhur, ketika mempersembahkan korban, memanggil
nama TUHAN, begitu juga dengan Samuel, Elia, dan yang lain.
Lihatlah di sini bagaimana Darius memberikan kehormatan,
pertama, kepada Tuhan Israel, yang kembali disebutnya sebagai
Tuhan semesta langit. Kedua, kepada hamba-hamba-Nya, dengan
memerintahkan para pejabatnya untuk menyediakan perbekalan
bagi ibadah di rumah Tuhan sesuai ketentuan para imam. Orang-
orang yang berniat untuk mengendalikan para imam sekarang,
dalam perkara ini, harus mengikuti perintah para imam. Suatu
hal yang baru bagi para imam untuk mempunyai pengaruh yang
begitu besar atas keuangan umat. Ketiga, kepada doa: Supaya
mereka mendoakan raja. Darius tahu bahwa mereka yaitu
bangsa yang suka berdoa, dan ia pernah mendengar bahwa Tuhan
dekat dengan mereka dalam segala sesuatu yang mereka serukan
kepada-Nya. Ia menyadari bahwa ia membutuhkan doa-doa
mereka dan dapat menerima manfaat malalui doa-doa mereka.
Dan ia bersikap baik terhadap mereka supaya ia bisa mendapat
bagian dalam doa-doa mereka. Sudah menjadi kewajiban umat
Tuhan untuk mendoakan orang-orang yang berwenang atas
mereka. Mereka tidak hanya harus mendoakan pihak-pihak
berwenang yang baik dan berhati lembut, namun juga yang
angkuh. Akan namun , mereka secara khusus berutang budi untuk
berdoa bagi para pelindung mereka dan orang-orang yang
berjasa terhadap mereka. Dan berhikmatlah para raja apabila
mereka membutuhkan doa-doa para hamba Tuhan dan
melibatkan hamba-hamba Tuhan itu. Janganlah para penguasa
yang paling besar sekalipun memandang rendah doa-doa para
orang kudus yang paling hina sekalipun. Sungguh baik jika
orang-orang kudus berpihak kepada kita, dan sungguh
mengerikan apabila mereka melawan kita.
(3) Darius menguatkan perintahnya dengan hukuman (ay. 11): “Jangan
ada seorang pun yang menentang pekerjaan dan ibadah di rumah
Tuhan , atau menahan sokongan yang diberikan untuk keperluan itu
oleh pihak raja, dengan ancaman hukuman mati. Apabila ada yang
mengubah perintah ini, biarlah ia (digantung di depan pintu
rumahnya sendiri, sebagaimana kita berkata), ditancapkan pada
Kitab Ezra 6:1-12
663
ujung tiang rumahnya sendiri, dan, sebagai orang yang menjijikkan,
biarlah rumahnya dijadikan reruntuhan.”
(4) Darius menyertakan kutuk ilahi atas semua raja dan bangsa kalau
mereka sampai ikut andil untuk menghancurkan rumah ini (ay. 12).
Apa yang tidak akan dilakukannya sendiri untuk melindungi rumah
Tuhan ini, ia ingin supaya Tuhan , yang empunya pembalasan,
melakukannya. Hal ini memperlihatkan bahwa ia gigih membela
perkara itu. Dan meskipun rumah Tuhan ini, pada akhirnya nanti, di-
hancurkan seperti yang sudah selayaknya oleh tangan Tuhan yang
adil, namun mungkin orang Romawi, yang menjadi alat dalam
penghancuran itu, merasakan dampak dari kutuk ini, sebab
kekaisaran itu jelas terlihat terus mengalami kemerosotan sejak saat
itu.
2. Dari semua hal ini kita dapat belajar,
(1) Bahwa hati para raja berada di tangan Tuhan , dan Ia mem-
belokkannya ke arah mana pun yang diinginkan-Nya. Ia menjadikan
mereka sesuai kehendak-Nya, sebab Ia yaitu Raja di atas segala
raja.
(2) Bahwa ketika tiba saatnya Tuhan menggenapi maksud dan tujuan-Nya
yang penuh rahmat menyangkut jemaat-Nya, Ia akan memunculkan
alat-alat untuk mewujudkan maksud dan tujuan-Nya itu melalui
orang-orang yang tanpa disangka-sangka ternyata dapat melakukan
pekerjaan baik seperti itu. Ada kalanya bumi datang menolong
wanita itu (Why. 12:16), dan orang-orang yang tidak begitu ber-
agama justru dipakai untuk membela agama.
(3) Bahwa apa yang tadinya dimaksudkan untuk merugikan jemaat,
sering kali justru dibuat bermanfaat baginya melalui
penyelenggaraan Tuhan yang mengatasi segala tindakan manusia
(Flp. 1:12). Dengan mengajukan permohonan kepada Darius, musuh-
musuh orang Yahudi berharap mendapat perintah untuk menekan
mereka. Namun, bukannya demikian, mereka justru mendapat
perintah untuk memberikan persediaan bagi orang Yahudi. Demi-
kianlah dari yang makan keluar makanan. Di dalam kitab Apokrifa 1
Esdras pasal 3 dan 4, diberikan penjelasan lain tentang perintah
yang berpihak kepada orang Yahudi ini, yaitu bahwa Darius telah
bersumpah untuk membangun rumah Tuhan di Yerusalem apabila ia
bisa naik takhta kerajaan. Dan bahwa Zerubabel, yang merupakan
salah satu pegawainya dan jelas di sini bahwa ia sedang berada di
664
Yerusalem, sebab telah membicarakan perkara itu secara terus
terang dengan Darius (agunglah kebenaran, dan akan menang), maka
ia dipersilakan meminta imbalan yang diinginkannya. Dan Zerubabel
hanya meminta perintah ini, dalam memenuhi sumpah sang raja.
Selesainya Pembangunan Rumah Tuhan yang Kedua
(6:13-22)
13 Kemudian Tatnai, bupati daerah sebelah barat sungai Efrat, Syetar-Boznai dan rekan-
rekan mereka berbuat dengan seksama menurut apa yang diperintahkan raja Darius. 14
Para tua-tua orang Yahudi melanjutkan pembangunan itu dengan lancar digerakkan oleh
nubuat nabi Hagai dan nabi Zakharia bin Ido. Mereka menyelesaikan pembangunan
menurut perintah Tuhan Israel dan menurut perintah Koresh, Darius dan Artahsasta, raja-
raja negeri Persia.
15 Maka selesailah rumah itu pada hari yang ketiga bulan Adar, yaitu pada tahun yang
keenam zaman pemerintahan raja Darius. 16 Maka orang Israel, para imam, orang-orang
Lewi dan orang-orang lain yang pulang dari pembuangan, merayakan pentahbisan rumah
Tuhan ini dengan sukaria. 17 Untuk pentahbisan rumah Tuhan ini mereka
mempersembahkan lembu jantan seratus ekor, domba jantan dua ratus ekor dan anak
domba empat ratus ekor; juga kambing jantan sebagai korban penghapus dosa bagi
seluruh orang Israel dua belas ekor, menurut bilangan suku Israel. 18 Mereka juga me-
nempatkan para imam pada golongan-golongannya dan orang-orang Lewi pada
rombongan-rombongannya untuk melakukan ibadah kepada Tuhan yang diam di
Yerusalem, sesuai dengan yang ada tertulis dalam kitab Musa. 19 Dan pada tanggal empat
belas bulan pertama mereka yang pulang dari pembuangan merayakan Paskah. 20 sebab
para imam dan orang-orang Lewi bersama-sama mentahirkan diri, sehingga tahirlah
mereka sekalian. Demikianlah mereka menyembelih anak domba Paskah bagi semua
orang yang pulang dari pembuangan, dan bagi saudara-saudara mereka, yaitu para imam,
dan bagi dirinya sendiri. 21 Orang-orang Israel yang pulang dari pembuangan memak-
annya dan demikian juga setiap orang yang memisahkan diri dari kenajisan bangsa-
bangsa negeri itu lalu menggabungkan diri kepada mereka, untuk berbakti kepada
TUHAN, Tuhan Israel. 22 Lagipula mereka merayakan hari raya Roti Tidak Beragi dengan
sukacita, tujuh hari lamanya, sebab TUHAN telah membuat mereka bersukacita; Ia telah
memalingkan hati raja negeri Asyur kepada mereka, sehingga raja membantu mereka
dalam pekerjaan membangun rumah Tuhan , yaitu Tuhan Israel.
Di dalam perikop ini kita mendapati,
I. Musuh-musuh orang Yahudi dijadikan sahabat-sahabat mereka. Ketika
menerima perintah ini dari sang raja, mereka datang untuk mendorong dan
membantu pekerjaan itu, dengan sama tergesa-gesanya seperti para
pendahulu mereka yang datang untuk menghentikannya (4:23). Mereka
melakukan apa yang diperintahkan raja, dan, sebab tidak mau dianggap
melakukannya dengan enggan, mereka melakukannya dengan segera (ay. 13,
KJV). Sikap raja yang lunak membuat mereka, bertentangan dengan kemauan
mereka sendiri, bersikap lunak juga.
Kitab Ezra 6:1-12
665
II. Pembangunan rumah Tuhan terus berjalan, dan selesai dalam waktu singkat
(ay. 14-15). Sekarang para tua-tua orang Yahudi melanjutkan pembangunan
itu dengan sukacita. Sepanjang yang saya ketahui, para tua-tua itu
mengerjakannya dengan tangan mereka sendiri. Dan, jika memang benar
demikian, hal ini tidaklah mengecilkan kedudukan mereka sebagai tua-tua,
namun justru merupakan dorongan bagi para pekerja lain.
1. Para tua-tua itu mendapati diri mereka terikat pada pekerjaan itu
menurut perintah Tuhan Israel, yang telah memberi mereka kekuatan
supaya mereka menggunakannya untuk melayani-Nya.
2. Para tua-tua itu mendapati diri mereka dipermalukan untuk
mengerjakannya melalui perintah para raja bukan Yahudi, yaitu Koresh
pada waktu dulu, dan Darius pada masa sekarang, serta Artahsasta di
kemudian hari. Masa para tua-tua orang Yahudi lalai dalam melakukan
pekerjaan baik ini padahal raja-raja asing itu tampak begitu bersemangat
di dalamnya? Masa orang-orang Israel asli mengeluhkan susah payah
mereka dalam membangun rumah Tuhan ini padahal orang-orang asing
tidak mengeluhkan biaya yang harus dikeluarkan untuknya?
3. Para tua-tua itu mendapati diri mereka dikuatkan untuk menger-
jakannya melalui nubuatan Nabi Hagai dan Nabi Zakharia, yang mungkin
menggambarkan kepada mereka (seperti menurut Uskup Patrick)
kebaikan Tuhan yang ajaib dalam menggerakkan hati raja Persia untuk
berpihak kepada mereka seperti itu. Dan sekarang pekerjaan itu berjalan
dengan begitu lancar hingga, hanya dalam waktu empat tahun, pem-
bangunan itu pun selesai. Adapun Tuhan , jalan-Nya sempurna. Jemaat
Injili, Bait Suci yang rohani itu, membutuhkan waktu lama dalam
pembangunannya. Namun demikian, pekerjaan itu pada akhirnya akan
selesai juga, ketika tubuh yang rohani dan misteri itu sudah menjadi
lengkap. Setiap orang percaya merupakan Bait Tuhan yang hidup, yang
membangun diri sendiri di atas dasar iman yang paling suci. Banyak per-
lawanan diberikan terhadap pekerjaan ini oleh Iblis dan kebobrokan kita
sendiri. Kita suka tidak bersungguh-sungguh dalam mengerjakannya,
dan melanjutkannya dengan sering berhenti dan beristirahat. namun Ia
yang telah memulai pekerjaan yang baik itu akan memastikan bahwa
pekerjaan itu terlaksana dengan tuntas, dan akan menjadikan hukum
menang. Roh-roh orang-orang benar akan dijadikan sempurna.
III. Penahbisan rumah Tuhan . Ketika rumah Tuhan itu selesai dibangun, sebab
hanya dirancang untuk keperluan-keperluan ibadah, mereka menunjukkan
cara menggunakannya melalui contoh, yang (menurut Uskup Patrick)
666
merupakan arti yang tepat dari kata menahbiskan. Mereka memasuki rumah
Tuhan dengan khidmat, dan mungkin dengan menyatakan di depan umum
agar tempat itu tidak digunakan untuk keperluan biasa, namun diserahkan
bagi kehormatan Tuhan , untuk beribadah kepada-Nya.
1. Orang-orang yang ditugaskan di dalam ibadah ini bukan saja para imam
dan orang-orang Lewi yang bertugas, melainkan juga orang-orang Israel,
sebagian orang dari kedua belas suku, meskipun Yehuda dan Benyamin
menjadi suku utama. Selain itu terdapat pula orang-orang lain yang
pulang dari pembuangan atau yang diangkut tertawan, yang menyiratkan
bahwa ada banyak lagi selain orang-orang Israel, yang berasal dari
bangsa-bangsa lain, yang diangkut bersama mereka, dan menjadi
pemeluk agama mereka. Kecuali kita membacanya, bahkan saudara-
saudara mereka yang lain yang pulang dari tempat tawanan. Dan jika
demikian, dapat kita duga, di sini dicatat tentang keadaan mereka