tawarikh ester 21
k bebas
dari kesalahan. Kabar itu disampaikan kepada orang yang memiliki kuasa
untuk membereskan masalah ini, yang sebagai seorang ahli kitab, dapat
beradu pendapat dengan mereka, dan sebagai pejabat raja, dapat membuat
mereka bersikap hormat. Ada kemungkinan bahwa para pemuka ini telah
sering berusaha mengatasi masalah ini, namun tidak berhasil. namun
sekarang mereka memohon kepada Ezra, dengan harapan bahwa hikmat,
wewenang, dan pengaruhnya akan berhasil mengatasinya. Orang-orang yang
tidak sanggup memperbaiki sendiri penyelewengan-penyelewengan yang
dilakukan banyak orang, masih dapat berjasa dengan memberikan laporan
kepada mereka yang mampu melakukannya.
IV. Kesan yang ditimbulkan oleh kabar ini dalam diri Ezra (ay. 3): Ia
mengoyakkan pakaiannya, mencabut rambut kepalanya, dan duduk tertegun.
Demikianlah ia mengungkapkan kesedihannya yang mendalam,
1. Atas cela yang diberikan kepada Tuhan akibat perbuatan ini. Hati Ezra
sangat sedih memikirkan betapa suatu umat yang disebut dengan nama-
Nya dapat melakukan pelanggaran sebesar itu terhadap hukum-Nya,
tidak banyak belajar dari teguran-Nya, dan membalas perkenanan-Nya
dengan keburukan sebesar itu.
2. Atas celaka yang didatangkan terhadap bangsa itu sendiri akibat
perbuatan ini, dan bahaya yang mengancam mereka bahwa murka Tuhan
akan tercurah atas mereka. Perhatikanlah,
(1) Dosa-dosa orang lain haruslah menjadi kesedihan bagi kita, dan cela
yang didatangkan oleh dosa-dosa itu terhadap kehormatan Tuhan dan
jiwa manusia haruslah membuat hati kita terenyuh.
(2) Dukacita sebab dosa haruslah menjadi dukacita yang mendalam,
sama seperti dukacita Ezra, seperti menangisi seorang anak tunggal
atau anak sulung.
(3) Dosa-dosa memalukan yang dilakukan orang-orang percaya pantas
membuat kita tertegun. Kita dapat terheran-heran melihat
bagaimana orang menentang, merendahkan, merusak, dan
menghancurkan diri mereka sendiri. Sungguh aneh bahwa manusia
dapat bertindak dengan begitu gegabah dan begitu bertentangan
dengan kebaikan diri mereka sendiri! Orang-orang yang lurus hati
tertegun melihat hal ini.
Kitab Ezra 9:1-4
701
V. Pengaruh dukacita Ezra atas perbuatan ini terhadap orang-orang lain. Dapat
kita duga bahwa ia pergi ke rumah TUHAN, untuk merendahkan diri di sana,
sebab dalam kesedihannya ia mengarahkan pandangan kepada Tuhan , dan
memang itulah tempat yang tepat untuk menjauhkan murka-Nya.
Pengumuman pun segera disebarkan perihal perbuatan tidak setia itu, dan
semua orang yang benar-benar saleh yang ada di sekitar Ezra pun
berkumpul kepadanya. Sepertinya, hal ini mereka lakukan atas kehendak
sendiri, sebab tidak disebutkan bahwa mereka disuruh datang (ay. 4).
Perhatikanlah,
1. Sudah menjadi watak orang-orang baik bahwa mereka gentar kepada
firman Tuhan . Mereka takut dan hormat terhadap kewenangan perintah-
perintah firman itu, dan terhadap kekerasan serta keadilan ancaman-
ancamannya. Dan kepada orang-orang seperti itulah Tuhan memandang
(Yes. 66:2).
2. Orang-orang yang gentar kepada firman Tuhan tidak bisa tidak pasti
gemetar melihat dosa manusia, yang olehnya hukum Tuhan dilanggar, dan
murka serta kutuk-Nya didatangkan.
3. Semangat yang saleh dari satu orang melawan dosa bisa jadi merangsang
banyak sekali orang untuk berbuat serupa, seperti yang dikatakan Rasul
Paulus mengenai perkara lain (2Kor. 9:2). Banyak orang yang tidak
memiliki cukup pertimbangan, bakat, dan keberanian untuk memimpin
dalam pekerjaan baik, akan menjadi pengikut.
4. Semua orang baik haruslah memberikan pengakuan terhadap orang-
orang yang tampil dan bertindak bagi kepentingan Tuhan untuk melawan
kejahatan serta kecemaran, harus mendukung mereka, dan berbuat
semampu mungkin untuk menguatkan mereka.
Pembaharuan yang Dilakukan Ezra
(9:5-15)
5 Pada waktu korban petang bangkitlah aku dan berhenti menyiksa diriku, lalu aku
berlutut dengan pakaianku dan jubahku yang koyak-koyak sambil menadahkan tanganku
kepada TUHAN, Tuhan ku, 6 dan kataku: “Ya Tuhan ku, aku malu dan mendapat cela, sehingga
tidak berani menengadahkan mukaku kepada-Mu, ya Tuhan ku, sebab dosa kami telah
menumpuk mengatasi kepala kami dan kesalahan kami telah membubung ke langit. 7 Dari
zaman nenek moyang kami sampai hari ini kesalahan kami besar, dan oleh sebab dosa
kami maka kami sekalian dengan raja-raja dan imam-imam kami diserahkan ke dalam
tangan raja-raja negeri, ke dalam kuasa pedang, ke dalam penawanan dan penjarahan,
dan penghinaan di depan umum, seperti yang terjadi sekarang ini. 8 Dan sekarang, baru
saja kami alami kasih karunia dari pada TUHAN, Tuhan kami yang meninggalkan pada
kami orang-orang yang terluput, dan memberi kami tempat menetap di tempat-Nya yang
kudus, sehingga Tuhan kami membuat mata kami bercahaya dan memberi kami sedikit
702
kelegaan di dalam perbudakan kami. 9 sebab sungguhpun kami menjadi budak, namun di
dalam perbudakan itu kami tidak ditinggalkan Tuhan kami. Ia membuat kami disayangi
oleh raja-raja negeri Persia, sehingga kami mendapat kelegaan untuk membangun rumah
Tuhan kami dan menegakkan kembali reruntuhannya, dan diberi tembok pelindung di
Yehuda dan di Yerusalem. 10 namun sekarang, ya Tuhan kami, apa yang akan kami katakan
sesudah semuanya itu? sebab kami telah meninggalkan perintah-Mu, 11 yang Kau-
perintahkan dengan perantaraan hamba-hamba-Mu, para nabi itu, dengan berfirman:
Negeri yang kamu masuki untuk diduduki yaitu negeri yang cemar oleh sebab
kecemaran penduduk negeri, yaitu oleh sebab kekejian yang mereka lakukan dengan
segala kenajisan mereka di segenap negeri itu dari ujung ke ujung. 12 Jadi sekarang
janganlah kamu memberikan anak-anak wanita mu kepada anak lelaki mereka,
ataupun mengambil anak-anak wanita mereka untuk anak-anak lelakimu. Janganlah
kamu mengikhtiarkan kesejahteraan dan kebahagiaan mereka untuk selama-lamanya,
supaya kamu menjadi kuat, mengecap hasil tanah yang baik, dan mewariskan tanah itu
kepada anak-anakmu untuk selama-lamanya. 13 Sesudah semua yang kami alami oleh
sebab perbuatan kami yang jahat, dan oleh sebab kesalahan kami yang besar, sedang
Engkau, ya Tuhan kami, tidak menghukum setimpal dengan dosa kami, dan masih
mengaruniakan kepada kami orang-orang yang terluput sebanyak ini, 14 masakan kami
kembali melanggar perintah-Mu dan kawin-mengawin dengan bangsa-bangsa yang keji
ini? Tidakkah Engkau akan murka kepada kami sampai kami habis binasa, sehingga tidak
ada yang tinggal hidup atau terluput? 15 Ya TUHAN, Tuhan Israel, Engkau maha benar,
sebab kami masih dibiarkan tinggal sebagai orang-orang yang terluput, seperti yang
terjadi sekarang ini. Lihatlah, kami menghadap hadirat-Mu dengan kesalahan kami.
Bahwasanya, dalam keadaan demikian tidak mungkin orang tahan berdiri di hadapan-
Mu.”
Apa yang direnungkan Ezra sementara ia duduk tertegun selama beberapa jam,
dapat kita perkirakan melalui perkataan mulutnya ketika ia pada akhirnya
berbicara dengan lidahnya. Dan sungguh menyedihkan perkataan yang
disampaikannya kepada sorga pada kesempatan ini. Amatilah,
I. Waktu ketika ia menyampaikan perkataan ini – pada waktu korban petang
(ay. 5). Pada masa itu (ada kemungkinan) orang-orang saleh biasa datang ke
pelataran rumah Tuhan untuk menyemarakkan upacara korban dan
mempersembahkan doa-doa mereka sendiri kepada Tuhan sejalan dengan
korban itu. Ezra memilih membuat pengakuan ini dengan cara yang dapat
didengar oleh mereka, agar mereka dapat disadarkan sebagaimana mestinya
akan dosa-dosa bangsa mereka, yang sampai saat itu tidak mereka
perhatikan atau telah mereka remehkan. Doa juga dapat menjadi khotbah.
Korban, terutama korban petang, merupakan perlambang dari propisiasi
agung, oleh Anak domba Tuhan yang terpuji itu, yang pada petang hari dunia
ini menghapuskan dosa oleh korban-Nya. Dapat kita duga bahwa kepada pen-
damaian agung inilah Ezra mengarahkan mata imannya dalam perkataannya
yang penuh penyesalan ini kepada Tuhan . Ia seakan-akan membuat
pengakuan dengan meletakkan tangan ke atas kepala korban agung itu, yang
melaluinya kita menerima pendamaian. Tentu Ezra mengetahui pesan yang
beberapa tahun sebelumnya pernah disampaikan malaikat Gabriel kepada
Kitab Ezra 9:1-4
703
Daniel, pada waktu korban petang juga, yang seolah-olah merupakan pen-
jelasan dari propisiasi agung itu, menyangkut Mesias Sang Raja (Dan. 9:21,
24). Dan mungkin Ezra memberikan perhatian terhadap kejadian itu dalam
memilih waktu petang ini.
II. Persiapan Ezra untuk menyampaikan perkataannya ini.
1. Ia bangkit dan berhenti menyiksa dirinya, dan melepaskan diri dari beban
dukacitanya sampai sejauh mungkin sehingga ia dapat mengangkat
hatinya kepada Tuhan . Ia pulih dari rasa tertegunnya, berhasil membuat
jiwanya yang bergejolak agak mereda, dan menenangkan rohnya untuk
bersekutu dengan Tuhan .
2. Ia berlutut, mengambil sikap seorang petobat yang sedang merendahkan
diri, dan seorang pemohon yang sedang meminta belas kasihan. Dalam
kedua sikap ini, ia mewakili umat yang untuknya ia sekarang menjadi
pengantara.
3. Ia menadahkan tangannya, sebagai orang yang perasaannya dipenuhi
oleh apa yang hendak dikatakannya, dengan mempersembahkannya
kepada Tuhan , sambil menanti, dan menggapai seakan-akan penuh
pengharapan, untuk menerima jawaban yang penuh rahmat. Di dalam
hal ini ia mengarahkan pandangan kepada Tuhan sebagai Tuhan, dan
sebagai Tuhan nya, Tuhan yang berkuasa, namun juga Tuhan yang penuh
anugerah.
III. Isi perkataan itu sendiri. Perkataan Ezra kurang tepat disebut doa, sebab di
dalamnya tidak terdapat kata permohonan sama sekali. Namun demikian,
apabila kita memberikan kebebasan penuh kepada doa, maka doa berarti
mempersembahkan perasaan yang penuh kesalehan dan ketakwaan kepada
Tuhan . Dan sungguh penuh ketakwaan, penuh kesalehan, perasaan yang
diungkapkan oleh Ezra di sini. Kata-katanya merupakan pengakuan dosa
yang penuh penyesalan. Bukan dosanya sendiri, yang timbul dari hati nurani
yang dibebani oleh kesalahannya sendiri dan yang merasa takut terhadap
bahaya yang akan menimpanya, melainkan dosa bangsanya, yang timbul dari
keprihatinan mendalam akan kehormatan Tuhan dan kesejahteraan Israel. Di
sini ada gambaran yang hidup tentang pertobatan yang tulus. Amatilah
dalam kata-katanya ini,
1. Pengakuan yang dibuat Ezra tentang dosa itu dan hal-hal yang
memberatkannya. Hal ini ditegaskannya, supaya hatinya sendiri dan hati
orang-orang yang bergabung bersamanya diliputi oleh dukacita, rasa
704
malu, dan rasa takut yang kudus ketika merenungkan dosa itu, sehingga
mereka dapat betul-betul merendahkan diri sebab nya. Dan patut
diperhatikan bahwa, meskipun Ezra sendiri sepenuhnya bersih dari ke-
salahan ini, namun ia menempatkan diri ke dalam golongan pendosa itu,
sebab ia merupakan bagian dari masyarakat yang sama – dosa dan
kesalahan kami. Mungkin ia sekarang mengingat dan merasa bersalah,
bahwa ia sudah tinggal begitu lama bersama saudara-saudaranya di
Babel, dan tidak segera memisahkan diri seperti seharusnya dari bangsa-
bangsa di sana. Ketika kita sedang meratapi kejahatan orang fasik, bisa
saja terjadi bahwa, jika kita betul-betul merenungkan diri kita dan
memeriksa batin kita dengan jujur, kita akan mendapati kesalahan yang
sama sifatnya, walau dalam tingkat yang lebih rendah. Bagaimanapun,
Ezra berbicara tentang apa yang pernah, atau yang seharusnya, menjadi
keluhan umum.
(1) Ia mengakui bahwa dosa-dosa mereka sangatlah besar: “Dosa kami
telah menumpuk mengatasi kepala kami (ay. 6). Kami akan segera
binasa di dalamnya seperti di dalam air yang dalam.” Betapa dosa itu
merajalela di mana-mana, begitu dahsyat kekuatannya, dan begitu
mengancam dengan akibat-akibat yang sangat merusak. “Dosa telah
bertumpuk sedemikian tinggi di antara kami hingga mencapai langit,
begitu kurang ajar hingga menantang sorga, dan begitu menyulut
murka hingga, seperti dosa Sodom, dosa itu berteriak kepada sorga
menuntut pembalasan.” namun hendaklah ini menjadi penghiburan
bagi orang-orang yang benar-benar bertobat, bahwa meskipun dosa-
dosa mereka mencapai langit, belas kasihan Tuhan sampai ke langit
(Mzm. 36:6). Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia
menjadi berlimpah-limpah.
(2) Dosa mereka telah mereka lakukan dengan keras hati dalam waktu
yang lama (ay. 7): Dari zaman nenek moyang kami sampai hari ini
kesalahan kami besar. Contoh yang diperlihatkan oleh orang-orang
yang telah mendahului mereka sama sekali tidak dianggap Ezra bisa
dijadikan alasan untuk memaafkan kesalahan mereka, namun justru
memberatkannya. “Kami seharusnya menerimanya sebagai peringat-
an untuk tidak tersandung batu yang sama. Kebobrokan itu
bertambah begitu parah hingga berakar sangat dalam dan mulai
perlu obat untuk menyembuhkannya. Namun melalui sarana ini
kami mempunyai alasan untuk merasa takut bahwa takaran
kejahatan itu sudah hampir penuh.”
Kitab Ezra 9:1-4
705
(3) Penghukuman berat dan menyakitkan yang telah dijatuhkan Tuhan ke
atas mereka sebab dosa-dosa mereka itu sangatlah memperparah
dosa-dosa tersebut: “sebab dosa kami maka kami sekalian
diserahkan ke dalam kuasa pedang dan penawanan (ay. 7), namun
kami belum juga diperbaharui, belum berbalik dari jalan kami. Kami
ditumbuk dalam lesung, namun kebodohan kami belum lenyap (Ams.
27:22), kami dihajar, namun tidak dibuat berbalik kembali.”
(4) Belas kasihan Tuhan yang belakangan ini telah dicurahkan kepada
mereka juga sangat memperparah dosa-dosa mereka. Hal ini sangat
ditekankan Ezra (ay. 8-9). Amatilah,
[1] Jangka waktu belas kasihan itu: Sekarang baru saja, yaitu, “Belum
begitu lama ini kami memperoleh kebebasan, namun sepertinya
hal itu tidak akan berlangsung lama.” Hal ini sangat
memperparah dosa mereka, bahwa belum lama berselang
mereka berada di dalam dapur api, dan mereka tidak tahu
secepat apa mereka bisa saja kembali ke sana lagi. Lalu masih
dapatkah mereka merasa aman?
[2] Sumber belas kasihan itu: Kami alami kasih karunia dari pada
TUHAN. Para raja Persia menjadi alat bagi kelepasan mereka.
namun Ezra beranggapan bahwa kelepasan itu berasal dari Tuhan
dan anugerah-Nya, anugerah-Nya yang cuma-cuma, tanpa jasa
mereka.
[3] Aliran-aliran belas kasihan itu, bahwa di dalam perbudakan itu
mereka tidak ditinggalkan, namun bahkan di Babel pun mereka
melihat tanda-tanda kehadiran Tuhan . Bahwa mereka merupakan
orang-orang Israel yang terluput, sedikit dari banyak orang yang
dengan susah payah berhasil melepaskan diri dari tangan
musuh-musuh mereka, berkat kebaikan raja-raja Persia. Dan ter-
utama bahwa mereka diberi tempat menetap di tempat-Nya yang
kudus, yaitu seperti yang dijelaskan di dalam ayat 9, bahwa
mereka telah membangun rumah Tuhan . Mereka berhasil
membereskan masalah agama mereka dan membuat ibadah di
dalam rumah Tuhan berjalan dengan tetap. Kita harus
menganggapnya sebagai penghiburan dan keuntungan yang
besar apabila kita memiliki kesempatan-kesempatan yang tetap
untuk menyembah Tuhan . Berbahagialah orang-orang yang diam
di rumah Tuhan , seperti Hana yang tidak mau meninggalkan Bait
Suci. Inilah tempat perhentianku selama-lamanya, kata jiwa yang
beroleh anugerah.
706
[4] Dampak-dampak dari semua belas kasihan ini. Belas kasih itu
menerangi mata mereka, dan menghidupkan kembali hati
mereka. Artinya, belas kasih ini sangat menghiburkan mereka,
dan penghiburan itu semakin dapat dirasakan sebab terjadi di
dalam perhambaan mereka. Bagi mereka, belas kasih ini
bagaikan hidup dari antara orang mati. Walaupun hanya sedikit
kelegaan, itu merupakan perkenanan yang besar, mengingat bah-
wa mereka tidak pantas mendapatkannya sama sekali, dan hari
peristiwa-peristiwa kecil yaitu pertanda dari peristiwa-
peristiwa yang lebih besar. “Sekarang,” kata Ezra, “betapa tidak
tahu berterima kasihnya kita sebab telah menyakiti hati Tuhan
yang telah begitu baik kepada kita! Betapa kita tidak berpikir
panjang sebab telah bergaul dalam dosa bersama bangsa-
bangsa yang dari mereka, dalam belas kasihan yang
menakjubkan, kita telah dibebaskan! Betapa kita tidak bijaksana
sebab telah memperhadapkan diri kepada murka Tuhan ketika
kita diuji dengan kembalinya perkenanan-Nya, dan seharusnya
berperilaku baik supaya perkenanan itu dapat berlanjut!”
(5) Dosa itu semakin parah sebab melawan perintah yang jelas: Kami
telah meninggalkan perintah-Mu (ay. 10). Tampaknya sudah menjadi
hukum kaum keluarga Yakub sejak zaman dahulu untuk tidak
berpasangan dengan kaum keluarga yang tidak bersunat (Kej.
34:14). Namun, di samping itu, Tuhan sendiri telah melarangnya
dengan tegas. Ezra mengutip perintah itu (ay. 11-12). Sebab dosa
tampak sebagai dosa, tampak luar biasa berdosa, apabila kita mem-
bandingkannya dengan hukum yang telah dilanggar olehnya. Tidak
ada yang bisa lebih jelas lagi: Janganlah kamu memberikan anak-
anak wanita mu kepada anak lelaki mereka, ataupun mengambil
anak-anak wanita mereka untuk anak-anak lelakimu. Alasan
yang diberikan yaitu sebab , apabila mereka berbaur dengan
bangsa-bangsa itu, mereka akan mencemarkan diri mereka sendiri.
Negeri itu najis, sedang mereka yaitu umat yang kudus.
Sebaliknya, apabila mereka tetap membedakan diri dari bangsa-
bangsa itu, maka ini akan menjadi kehormatan serta keamanan bagi
mereka, dan akan melestarikan kesejahteraan mereka. Nah,
melanggar perintah yang begitu jelas, yang didukung oleh alasan-
alasan yang begitu kuat, dan yang merupakan hukum utama dari
pemerintahan mereka, sungguh merupakan perbuatan yang sangat
menyulut murka Tuhan di sorga.
Kitab Ezra 9:1-4
707
(6) Bahwa dalam penghukuman-penghukuman yang telah membuat
mereka menderita sebab dosa-dosa mereka, Tuhan tidak menghukum
setimpal dengan dosa mereka, sehingga Ia memandang mereka masih
berutang hukuman atas perkara yang lama. “Astaga! Dan sekalipun
demikian, masih jugakah kita menambah kesalahan yang baru?
Bukankah Tuhan sudah memperlakukan kita dengan begitu lembut
dalam menghukum kita? Masa kita menyalahgunakan perkenanan-
Nya seperti itu dan membalas anugerah-Nya dengan berbuat
sembarangan?” Di dalam anugerah dan belas kasih-Nya, Tuhan telah
berfirman tentang pembuangan Sion, Ia telah menerima hukuman dari
tangan TUHAN dua kali lipat sebab segala dosanya (Yes. 40:2). namun
Ezra, dalam kesadaran yang penuh pertobatan akan kejahatan besar
yang terkandung dalam dosa mereka, mengakui bahwa meskipun
hukuman itu sangat berat, itu belumlah setimpal.
2. Perasaan-perasaan yang penuh kesalehan yang bekerja dalam diri Ezra,
dalam membuat pengakuan ini. Ketika berbicara tentang dosa,
(1) Ia berkata-kata seperti orang yang merasa sangat malu. Ia memulai
dengan berkata (ay. 6), Ya Tuhan ku, aku malu dan mendapat cela, ya
Tuhan ku (demikianlah penempatan kata-kata itu), sehingga tidak
berani menengadahkan mukaku kepada-Mu. Perhatikanlah,
[1] Dosa yaitu hal yang memalukan. Begitu orangtua pertama kita
memakan buah terlarang, mereka malu akan diri mereka sendiri.
[2] Rasa malu yang kudus dalam pertobatan yang sungguh-sungguh
dan tulus merupakan unsur yang sama pentingnya seperti
dukacita yang kudus.
[3] Dosa-dosa orang lain haruslah membuat kita malu, dan kita
harus merasa tercela untuk orang-orang bermuka tebal yang
tidak merasakannya. Kita patut merasa malu bahwa kita
mempunyai hubungan saudara dengan orang-orang yang begitu
tidak tahu berterima kasih kepada Tuhan dan tidak bijak terhadap
diri mereka sendiri. Inilah yang disebut membuktikan diri kita
tidak bersalah di dalam perkara itu (2Kor. 7:11).
[4] Orang-orang berdosa yang bertobat tidak pernah melihat alasan
yang begitu kuat untuk merasa malu dan mendapat cela, seperti
ketika mereka datang untuk menengadahkan muka kepada Tuhan .
Perasaan alami menyangkut kehormatan kita sendiri yang telah
kita nodai dengan melakukan kesalahan, akan membuat kita
malu memandang wajah seseorang. namun kepedulian yang
708
penuh rahmat terhadap kehormatan Tuhan akan membuat kita
jauh lebih malu memandang wajah-Nya. Pemungut cukai, ketika
pergi ke Bait Tuhan untuk berdoa, menundukkan kepalanya lebih
dalam dibandingkan sebelumnya, sebagai orang yang merasa malu
(Luk. 18:13).
[5] Memandang Tuhan sebagai Tuhan kita akan sangat berguna bagi
kita dalam melakukan pertobatan. Ezra memulai dengan berkata,
ya Tuhan ku, dan sekali lagi dalam tarikan napas yang sama, ya
Tuhan ku. Merenungkan hubungan kovenan kita dengan Tuhan
sebagai Tuhan kita akan membantu merendahkan diri kita, dan
menghancurkan hati kita atas dosa yang kita perbuat, sebab kita
telah melanggar baik perintah-perintah-Nya kepada kita maupun
janji-janji kita kepada-Nya. Hal ini juga akan mendorong kita
mengharapkan pengampunan pada saat kita bertobat. “Ia yaitu
Tuhan ku, kendati dengan segala pelanggaran ini.” Dan setiap
pelanggaran yang dilakukan di dalam kovenan tidak
mengeluarkan kita dari kovenan itu.
(2) Ezra berkata-kata seperti orang yang sangat tertegun (ay. 10): “Apa
yang akan kami katakan sesudah semuanya itu? Aku sendiri tidak
tahu harus berkata apa. Bila Tuhan tidak menolong kami, binasalah
kami.” Menyadari kesalahan akan memicu rasa tertegun. Semakin
kita merenungkan dosa, semakin buruk dosa terlihat. Kepelikan
perkara itu mendorong rasa tertegun. Bagaimana kita akan memulih-
kan diri kita? Dengan cara apakah kita bisa berdamai dengan Tuhan ?
[1] Orang-orang yang bertobat dengan sungguh-sungguh akan
kehilangan kata-kata. Apakah kita akan berkata, kami tidak
berdosa, atau Tuhan tidak menuntut? Jika demikian, maka kita
menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.
Akankah kita berkata, bersabarlah terhadap kami, maka kami
akan membayar seluruh utang kami kepada-Mu dengan ribuan
domba jantan, atau anak sulung kami akan kami persembahkan
sebab pelanggaran kami? Tuhan tidak akan membiarkan diri-Nya
dipermainkan seperti itu. Ia tahu bahwa kita tidak sanggup
membayarnya. Akankah kita berkata, tidak ada harapan, dan
biarlah terjadi apa pun yang akan terjadi atas diri kita? Hal itu
justru akan memperburuk keadaan.
[2] Orang-orang yang bertobat dengan sungguh-sungguh akan
mempertimbangkan apa yang hendak dikatakan, dan seperti
Kitab Ezra 9:1-4
709
Ezra, harus memohon kepada Tuhan agar mengajari mereka. Apa
yang harus kita katakan? Katakanlah, “Aku telah berdosa, aku
telah bertindak bodoh. Kiranya Tuhan berbelas kasihan
terhadapku, orang berdosa,” dan sejenisnya (lih. Hos. 14:3).
(3) Ezra berkata-kata sebagai orang yang sangat takut (ay. 13-14).
“Semua penghukuman telah dijatuhkan ke atas kami untuk membuat
kami berbalik dari dosa, dan semua kelepasan telah diadakan bagi
kami untuk membuat kami tergerak kepada Tuhan dan kewajiban.
Setelah semuanya itu, jika kami kembali melanggar perintah-Mu,
dengan kawin-mengawin dengan bangsa-bangsa yang keji ini dan
mengikuti jalan-jalan mereka, apa lagi yang dapat kami harapkan
selain bahwa Tuhan akan murka kepada kami sampai kami habis
binasa, sehingga bahkan tidak ada yang tinggal hidup, atau terluput
dari kehancuran?” Tidak ada tanda yang lebih pasti atau yang lebih
menyedihkan akan kehancuran sebuah bangsa dibandingkan
pemberontakan bangsa itu dengan berbuat dosa, dengan berbuat
dosa-dosa yang sama lagi, sesudah mengalami berbagai penghukum-
an yang berat dan pembebasan yang luar biasa. Orang-orang yang
tidak mau disadarkan oleh penghukuman yang berat ataupun
pembebasan yang luar biasa memang pantas ditolak, seperti perak
buangan, sebab sia-sia orang melebur terus-menerus.
(4) Ezra berkata-kata sebagai orang yang sangat yakin akan keadilan
Tuhan , dan membulatkan hati untuk menerima keadilan-Nya dan
menyerahkan perkara itu kepada Dia yang hukuman-Nya
berlangsung secara jujur (ay. 15): “Engkau maha benar, bijaksana,
adil, dan baik. Engkau tidak akan menjahati kami ataupun berlaku
keras terhadap kami. Oleh sebab itu lihatlah, kami menghadap
hadirat-Mu, kami bersimpuh di bawah kaki-Mu, sambil menantikan
hukuman kami. Kami tidak mungkin tahan berdiri di hadapan-Mu,
dengan menegaskan kebenaran kami sendiri, sebab kami tidak
mempunyai pembelaan yang akan mendukung atau membebaskan
kami. Oleh sebab itu, kami jatuh tersungkur di hadapan-Mu, di dalam
pelanggaran kami, dan berserah kepada belas kasihan-Mu.
Lakukanlah kepada kami segala yang baik di mata-Mu (Hak. 10:15).
Tidak ada suatu apa pun yang dapat kami katakan dan kami lakukan,
selain memohon belas kasihan kepada yang mendakwa kami” (Ayb.
9:15). Demikianlah orang yang baik ini membawa kesedihannya ke
hadapan Tuhan , dan kemudian menyerahkannya kepada Dia.
710
PASAL 10
alam pasal ini kita mendapati bahwa permasalahan yang dikeluhkan dan
diratapi dalam pasal sebelumnya sekarang diperbaiki. Amatilah,
I. Bagaimana hati umat dipersiapkan untuk perbaikan itu melalui
perendahan diri yang mendalam atas dosa mereka (ay. 1).
II. Bagaimana usulan perbaikan itu diajukan kepada Ezra oleh Sekhanya
(ay. 2-4).
III. Bagaimana usulan tersebut dilaksanakan.
1. Para pembesar disumpah untuk melaksanakannya dengan setia
(ay. 5).
2. Ezra tampil pertama kali dalam pelaksanaan usulan itu (ay. 6).
3. Segenap jemaah dipanggil berkumpul (ay. 7-9).
4. Mereka semua, dengan menuruti imbauan Ezra, menyetujui
pembaharuan tersebut (ay. 10-14).
5. Para petugas ditunjuk untuk duduk “de die in diem” – hari demi
hari, untuk memeriksa siapa saja yang telah memperistri
wanita -wanita asing dan untuk menyuruh mereka
menyingkirkan wanita -wanita itu. Hal ini dilakukan
sebagaimana mestinya (ay. 15-17), dan daftar nama orang yang
kedapatan bersalah pun disebutkan (ay. 18-44).
Pembaharuan yang Dilakukan Ezra
(10:1-5)
1 Sementara Ezra berdoa dan mengaku dosa, sambil menangis dengan bersujud di depan
rumah Tuhan , berhimpunlah kepadanya jemaah orang Israel yang sangat besar jumlahnya,
laki-laki, wanita dan anak-anak. Orang-orang itu menangis keras-keras. 2 Maka
berbicaralah Sekhanya bin Yehiel, dari bani Elam, katanya kepada Ezra: “Kami telah
melakukan perbuatan tidak setia terhadap Tuhan kita, oleh sebab kami telah
memperisteri wanita asing dari antara penduduk negeri. Namun demikian sekarang
juga masih ada harapan bagi Israel. 3 Marilah kita sekarang mengikat perjanjian dengan
D
714
Tuhan kita, bahwa kita akan mengusir semua wanita itu dengan anak-anak yang
dilahirkan mereka, menurut nasihat tuan dan orang-orang yang gemetar sebab perintah
Tuhan kita. Dan biarlah orang bertindak menurut hukum Taurat. 4 Bangkitlah, sebab hal
itu yaitu tugasmu. Kami akan mendampingi engkau. Kuatkanlah hatimu, dan
bertindaklah!” 5 Kemudian bangkitlah Ezra dan menyuruh para pemuka imam dan orang-
orang Lewi dan segenap orang Israel bersumpah, bahwa mereka akan berbuat menurut
perkataan itu, maka bersumpahlah mereka.
Dalam perikop ini diberitahukan kepada kita,
I. Kesan-kesan baik apa yang ditimbulkan dalam diri rakyat oleh sikap Ezra
yang merendahkan diri dan mengaku dosa. Begitu terdengar di kota bahwa
pemimpin baru mereka, yang atasnya mereka bersukacita, sekarang justru
sedang berduka, dan sampai sedemikian dalam, sebab mereka dan dosa
mereka, pada saat itu juga berhimpunlah kepadanya jemaah orang Israel
yang sangat besar jumlahnya, untuk melihat apa yang terjadi dan turut
menangis bersamanya (ay. 1). Ratapan kita atas dosa orang lain dapat
membuat mereka meratapi diri mereka sendiri, yang mungkin bila tidak kita
ratapi akan tetap tidak sadar dan tidak menyesal. Lihatlah betapa
membahagiakan dampak yang dapat ditimbulkan oleh teladan yang baik dari
para pembesar terhadap orang-orang di bawah mereka. Ketika Ezra, seorang
ahli kitab, seorang cendekiawan, orang yang memiliki wewenang di bawah
sang raja, begitu dalamnya meratapi kebobrokan-kebobrokan masyarakat,
maka mereka pun mengerti bahwa kebobrokan-kebobrokan itu memang
sangat menyedihkan, sebab kalau tidak, ia tentu tidak akan berdukacita
seperti itu sebab mereka. Dan hal itu pun menyebabkan banjir air mata
pada setiap orang: laki-laki, wanita , dan anak-anak menangis keras-
keras, ketika ia menangis seperti itu.
II. Betapa baik usulan yang dibuat oleh Sekhanya pada kesempatan ini. Tempat
kejadian itu ada di Bokhim – tempat para peratap. Akan namun , sepanjang
yang bisa disaksikan, ada keheningan yang senyap di antara mereka, seperti
di antara sahabat-sahabat Ayub, yang tidak mengucapkan sepatah kata
kepadanya, sebab mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya,
hingga Sekhanya (salah satu kawan Ezra dari Babel, 8:3, 5) berdiri dan
berbicara kepada Ezra. Dalam perkataannya itu,
1. Sekhanya mengakui dosa bangsa itu, merangkum seluruh pengakuan
Ezra dalam satu kata, dan memeteraikan bahwa hal itu benar adanya:
“Kami telah melakukan perbuatan tidak setia terhadap Tuhan kita, oleh
sebab kami telah memperisteri wanita asing (ay. 2). Perkara ini
terlalu jelas untuk disangkal, dan terlalu buruk untuk dimaafkan.” Tidak
Kitab Ezra 10:1-5
715
tampak bahwa Sekhanya sendiri bersalah dalam perkara ini. Seandainya
ada balok di dalam matanya sendiri, ia tentu tidak dapat melihat dengan
begitu jelas untuk mengambil selumbar dari mata saudaranya. namun
ayahnya bersalah, juga sejumlah anggota keluarga ayahnya (ay. 26), dan
sebab itu ia menempatkan dirinya di antara para pelanggar hukum.
Tidak pula ia berusaha memaklumi atau meringankan dosa tersebut,
meskipun beberapa kerabatnya melakukannya. Sebaliknya, dalam per-
kara menyangkut Tuhan , ia berkata tentang ayahnya, aku tidak
mengindahkan dia, seperti yang dikatakan orang Lewi (Ul. 33:9).
Mungkin wanita asing yang telah diperistri oleh ayahnya itu
menjadi ibu tiri yang jahat dan berlaku tidak adil kepadanya, dan telah
membuat keonaran dalam keluarga. Dan Sekhanya beranggapan bahwa
wanita -persempuan asing lain pun telah melakukan hal serupa,
yang membuatnya semakin tergerak untuk tampil menentang
kebobrokan ini. Jika demikian, ini bukan satu-satunya peristiwa di mana
kebencian pribadi dipakai oleh penyelenggaraan Tuhan guna
mewujudkan kebaikan bersama.
2. Sekhanya menguatkan dirinya dan orang lain untuk berharap bahwa
sekalipun buruk, perkara itu dapat diperbaiki: “Namun demikian
sekarang juga masih ada harapan bagi Israel. Memang, di mana lagi ada
harapan selain di Israel? Orang-orang yang tidak termasuk kewargaan
Israel dikatakan tanpa pengharapan (Ef. 2:12), bahkan mengenai perkara
ini. Persoalan itu menyedihkan, namun bukannya tanpa harapan. Penyakit
itu mengancam, namun bukannya tidak bisa disembuhkan. Ada harapan
bahwa umat bisa diperbaharui, yang bersalah dibuat berbalik kembali,
dan penyebaran penyakit itu dihentikan. Dengan demikian,
penghakiman yang pantas dijatuhkan sebab dosa tersebut bisa dicegah,
dan semua akan baik-baik saja. Sekarang juga masih ada harapan.
Sekarang, sebab penyakitnya sudah diketahui, maka penyakit itu sudah
setengah sembuh. Sekarang, sebab peringatan telah diterima, maka
rakyat mulai menyadari kejahatan mereka, dan meratapinya. Roh
pertobatan tampak tercurah ke atas mereka, dan mereka semua
merendahkan diri seperti itu di hadapan Tuhan sebab kejahatan mereka,
sebab sekarang juga ada harapan bahwa Tuhan akan mengampuni dan
berbelaskasihan. Lembah Akhor, yang berarti persoalan, yaitu pintu
pengharapan (Hos. 2:14), sebab dosa yang sungguh-sungguh mengusik
kita tidak akan membinasakan kita. Sekarang juga ada harapan, sebab
Israel memiliki pemimpin yang begitu bijaksana, saleh, dan giat seperti
Ezra untuk menangani perkara ini. Perhatikanlah,
716
(1) Pada masa-masa kesedihan, kita harus melihat dan mencermati apa
yang mendukung kita dan apa yang melawan kita.
(2) Bisa jadi ada pengharapan yang baik melalui anugerah, sekalipun
ada rasa bersalah yang besar di hadapan Tuhan .
(3) Apabila dosa dilihat dan ditangisi, dan langkah-langkah yang baik
diambil menuju pembaharuan, maka bahkan orang berdosa pun
harus dibesarkan hatinya.
(4) Bahkan orang-orang kudus yang paling hebat sekalipun harus
dengan penuh syukur menerima nasihat dan penghiburan yang
datang tepat waktu dari orang-orang yang berada jauh di bawah
mereka, seperti Ezra menerima dari Sekhanya.
3 Sekhanya mengusulkan agar diambil tindakan cepat dan tuntas untuk
menceraikan para istri dari bangsa asing itu. Masalahnya jelas, kesalahan
yang sudah dilakukan harus ditarik kembali sejauh mungkin. Yang
kurang dibandingkan itu bukanlah pertobatan sejati. Marilah kita mengusir
semua wanita itu dengan anak-anak yang dilahirkan mereka (ay. 3).
Meskipun Ezra tahu bahwa itulah satu-satunya cara untuk memperbaiki
masalah tersebut, namun mungkin ia berpikir bahwa cara itu tidak
mudah dilaksanakan, dan ia kehilangan harapan bahwa rakyat akan mau
melakukannya. Hal ini membuatnya bingung, seperti yang kita lihat
dalam pasal sebelumnya. Akan namun Sekhanya, yang lebih banyak
bergaul dengan umat dibandingkan Ezra, meyakinkan dia bahwa tindakan itu
bisa dilakukan bila mereka bekerja dengan bijaksana. Bagi kita sekarang,
sudah pasti bahwa dosa harus disingkirkan, surat cerai harus diberikan
kepada dosa itu, dengan tekad untuk tidak pernah lagi berurusan
dengannya, meskipun dosa itu disayangi seperti istri sendiri, bahkan
seperti mata kanan atau tangan kanan, sebab jika tidak, maka tiada peng-
ampunan, tiada damai. Apa yang telah diambil dengan tidak benar, tidak
dapat dipertahankan dengan benar, namun harus dikembalikan. Namun,
berkenaan dengan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang
yang tak percaya, usulan Sekhanya itu tidak bisa diberlakukan pada
zaman sekarang, walaupun Sekhanya pada waktu itu melihatnya sebagai
sesuatu yang begitu jelas. Pernikahan-pernikahan seperti itu, sudah
pasti, yaitu sesuatu yang berdosa, dan seharusnya tidak boleh
dilakukan, namun tetap sah adanya. Quod fieri non debuit, factum valet –
Sesuatu yang sebetulnya tidak boleh dilakukan, jika sudah terlanjur
dilakukan, akan tetap mengikat. Pedoman kita di bawah Injil yaitu ,
kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan
Kitab Ezra 10:1-5
717
wanita itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara
itu menceraikan dia (1Kor. 7:12-13).
4. Sekhanya menetapkan cara yang baik bagi mereka untuk mewujudkan
pembaharuan tersebut, dan menunjukkan kepada mereka bukan hanya
bahwa hal itu harus dilakukan, melainkan juga bagaimana caranya.
(1) “Hendaklah Ezra, bersama semua orang yang hadir dalam kumpulan
jemaah ini, sepakat bahwa tindakan ini harus dilakukan (lakukan
segera pemungutan suara untuk mencari tahu hasilnya. Ketetapan
itu sekarang akan dibuat nemine contradicente – dengan suara bulat).
Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa ketetapan itu dilaksanakan
menurut nasihat tuan, pemimpin jemaah ini, dengan persetujuan
bulat dari orang-orang yang gemetar sebab perintah Tuhan kita, yang
merupakan gambaran dari orang-orang yang datang berkumpul
kepada Ezra (9:4). Umumkanlah ketetapan itu sebagai kesadaran
dari semua orang yang berakal sehat dan bersungguh-sungguh di
antara kita, maka tidak bisa tidak, pengaruhnya akan besar di antara
orang Israel.”
(2) “Hendaklah perintah Tuhan dalam perkara ini, yang dikutip Ezra
dalam doanya, diucapkan di hadapan rakyat, dan biarlah mereka
melihat bahwa ketetapan itu diperbuat menurut hukum Taurat. Kita
memiliki hukum Taurat yang memberi kita kuasa untuk
melakukannya, bahkan, yang mengikat kita pada apa yang kita
lakukan. Ini bukanlah tambahan dari kita sendiri terhadap hukum
ilahi, melainkan pelaksanaan yang semestinya dari hukum itu.”
(3) “Selama kita sedang berpikiran baik, marilah kita mengikat diri
dengan sumpah dan kovenan yang khidmat bahwa kita akan
melakukannya, sebab kalau tidak, apabila kesan-kesan yang ada
sekarang telah hilang, perkara ini akan dibiarkan tidak terlaksana.
Marilah kita mengikat kovenan, bukan hanya bahwa, apabila kita
telah memperistri orang asing, kita akan menyingkirkan mereka,
melainkan juga bahwa, apabila tidak, kita akan melakukan apa yang
dapat kita lakukan untuk membuat orang lain menyingkirkan istri-
istri asing mereka.”
(4) “Hendaklah Ezra sendiri yang memimpin perkara ini, sebab dia
diberi wewenang oleh mandat raja untuk mencari tahu apakah
hukum Tuhan dipelihara sebagaimana mestinya di Yehuda dan
Yerusalem (7:14). Dan hendaklah kita semua menetapkan hati untuk
mendukung Ezra dalam perkara ini (ay. 4). Bangkitlah, kuatkanlah
hatimu! Dalam perkara ini, meratap itu baik, namun memperbaharui
718
lebih baik lagi.” Lihat apa yang difirmankan Tuhan kepada Yosua
dalam perkara serupa (Yos. 7:10-11).
III. Keputusan baik apa yang mereka capai atas usulan yang baik ini (ay. 5).
Mereka bukan hanya sepakat bahwa hal itu harus dilakukan, namun juga
mengikat diri dengan sumpah bahwa mereka akan berbuat menurut
perkataan itu. Amankan segera, supaya tidak hilang.
Pembaharuan yang Dilakukan Ezra
(10:6-14)
6 Sesudah itu Ezra pergi dari depan rumah Tuhan menuju bilik Yohanan bin Elyasib, dan di
sana ia bermalam dengan tidak makan roti dan minum air, sebab ia berkabung sebab
orang-orang buangan itu telah melakukan perbuatan tidak setia. 7 Lalu disiarkanlah
pengumuman di Yehuda dan di Yerusalem kepada semua orang yang pulang dari
pembuangan untuk berhimpun di Yerusalem. 8 Barangsiapa dalam tiga hari tidak datang,
maka menurut keputusan para pemimpin dan tua-tua segala hartanya akan disita dan ia
akan dikucilkan dari jemaah yang pulang dari pembuangan. 9 Lalu berhimpunlah semua
orang laki-laki Yehuda dan Benyamin di Yerusalem dalam tiga hari itu, yaitu dalam bulan
kesembilan pada tanggal dua puluh bulan itu. Seluruh rakyat duduk di halaman rumah
Tuhan , sambil menggigil sebab perkara itu dan sebab hujan lebat. 10 Maka bangkitlah
imam Ezra, lalu berkata kepada mereka: “Kamu telah melakukan perbuatan tidak setia,
sebab kamu memperisteri wanita asing dan dengan demikian menambah kesalahan
orang Israel. 11 namun sekarang mengakulah di hadapan TUHAN, Tuhan nenek moyangmu,
dan lakukanlah apa yang berkenan kepada-Nya dan pisahkanlah dirimu dari penduduk
negeri dan wanita -wanita asing itu!” 12 Lalu seluruh jemaah menjawab dan
berseru dengan suara nyaring: “Sesungguhnya, yaitu kewajiban kami melakukan seperti
katamu itu. 13 namun orang-orang ini besar jumlahnya dan sekarang musim hujan,
sehingga orang tidak sanggup lagi berdiri di luar. Lagipula pekerjaan itu bukan perkara
sehari dua hari, sebab dalam hal itu kami telah banyak melakukan pelanggaran.
14 Biarlah pemimpin-pemimpin kami bertindak mewakili jemaah seluruhnya, maka setiap
orang di kota-kota kami yang memperisteri wanita asing harus datang menghadap
pada waktu-waktu tertentu, dan bersama-sama mereka para tua-tua dan para hakim di
tiap-tiap kota, sampai murka Tuhan kami yang bernyala-nyala sebab perkara ini
dijauhkan dari kami.”
Pada perikop ini, kita mendapati tindak lanjut dari keputusan yang belum lama
ini diambil mengenai istri-istri dari bangsa asing. Tiada waktu yang terbuang.
Mereka langsung memanfaatkan kesempatan selagi ada, dan segera saja
memutar roda pembaharuan.
1. Ezra pergi ke bilik penasihat, di mana, ada kemungkinan, para imam biasa
bertemu untuk membicarakan urusan rakyat. Dan sebelum ia tiba di sana
(demikian ayat itu harus dibaca menurut Uskup Patrick), sebelum ia melihat
ada suatu tindakan dilakukan, dan kemungkinan besar akan dilakukan,
untuk memperbaiki masalah ini, ia tidak makan roti dan minum air, namun
Kitab Ezra 10:1-5
719
terus berkabung. Berduka sebab dosa haruslah menjadi duka yang berlang-
sung lama. Pastikan duka itu terus ada sampai dosanya disingkirkan.
2. Ezra memberikan perintah kepada semua orang yang pulang dari
pembuangan untuk datang kepadanya di Yerusalem dalam waktu tiga hari
(ay. 7-8). Dan, sebab diberi wewenang oleh raja untuk menegakkan
perintahnya dengan menyertakan hukuman (7:26), ia mengancam bahwa
barang siapa tidak mau memenuhi panggilan tersebut akan disita hartanya
dan dikucilkan. Hukuman bagi orang yang tidak mau menghadiri
perkumpulan keagamaan ini ialah bahwa harta miliknya, sebagai ganti
dirinya, akan dipakai untuk keperluan agama mereka untuk seterusnya.
sedang orang itu sendiri, atas penghinaannya, akan selamanya diasing-
kan dari segala kehormatan dan hak istimewa agama mereka. Ia harus
dikucilkan.
3. Dalam jangka waktu yang telah ditentukan, sebagian besar rakyat
berkumpul di Yerusalem dan menunjukkan diri di halaman rumah Tuhan (ay.
9). Orang-orang yang tidak bersemangat mengerjakan tugas panggilan itu,
bahkan, mungkin yang tidak menyukainya, sebab mereka sendiri
melanggar hukum, sekalipun begitu menaruh hormat yang begitu besar
terhadap wewenang Ezra, dan begitu gentar oleh ancaman hukumannya,
sehingga mereka tidak berani duduk diam.
4. Tuhan memberi mereka tanda murka-Nya melalui hujan lebat yang turun
pada waktu itu (ay. 9, dan sekali lagi ay. 13), yang kemungkinan membuat
sebagian orang tidak datang, dan sangat menyusahkan orang-orang yang
berkumpul di halaman. Ketika mereka menangis, sorga menangis juga. Hal
ini menandakan bahwa, meskipun Tuhan murka terhadap mereka sebab
dosa mereka, namun Dia amat berkenan pada pertobatan mereka, dan
seperti yang dikatakan dalam Hakim-hakim 10:16, TUHAN tidak dapat lagi
menahan hati-Nya melihat kesukaran mereka. Hujan itu juga merupakan
tanda akan buah-buah yang baik dari pertobatan mereka, sebab hujan
membuat bumi subur.
5. Ezra memberikan perintah kepada kumpulan jemaah yang besar ini. Ia
memberi tahu mereka apa alasannya mengumpulkan mereka sekarang,
yaitu sebab ia melihat bahwa sejak kepulangan mereka dari pembuangan,
mereka telah menambah kesalahan orang Israel dengan memperisteri
wanita asing. Mereka telah menambahkan pelanggaran baru ini ke
dalam dosa-dosa mereka yang dulu, yang pasti akan menjadi jalan masuknya
penyembahan berhala sekali lagi, dosa yang justru telah membuat mereka
menderita dan yang diharapkan Ezra telah sembuh dari mereka dalam
pembuangan. Dan ia memanggil mereka berkumpul supaya mereka dapat
720
mengaku dosa kepada Tuhan , dan, setelah melakukannya, mereka dapat
menyatakan bahwa mereka siap dan bersedia melakukan apa yang berkenan
kepada-Nya, sebagaimana yang akan diberitahukan kepada mereka (yang
pasti akan dilakukan oleh semua orang yang sungguh-sungguh bertobat dari
apa yang telah mereka perbuat sehingga murka-Nya tercurah). Dan khu-
susnya supaya mereka dapat memisahkan diri dari semua penyembah
berhala, terutama istri-istri asing mereka yang menyembah berhala (ay. 10-
11). Dapat kita duga bahwa Ezra berbicara panjang lebar tentang pokok-
pokok bahasan ini, dan kemungkinan membuat pengakuan dosa lain
sekarang seperti yang pernah dibuatnya dalam pasal 9, yang untuk itu ia
meminta rakyat mengucapkan Amin.
6. Umat itu tunduk bukan hanya pada kekuasaan hukum Ezra secara umum,
namun juga pada penyelidikan dan keputusannya dalam perkara ini,
“Sesungguhnya, yaitu kewajiban kami melakukan seperti katamu itu (ay.
12). Kami telah berdosa sebab bercampur baur dengan bangsa kafir, dan
dengan demikian kami tidak hanya terancam bahaya akan dirusakkan oleh
mereka, sebab kami ini rapuh, namun juga akan terhilang di antara mereka,
sebab kami ini hanya sedikit. Oleh sebab itu, kami sadar bahwa mutlak
perlu bagi kami untuk memisahkan diri dari mereka lagi.” Ada harapan bagi
rakyat apabila mereka sadar bahwa bukan hanya menjauhkan diri dari dosa-
dosa mereka yaitu hal yang baik, melainkan juga bahwa hal itu mutlak
perlu. Kita harus melakukannya, atau kita akan binasa.
7. Sudah disepakati bahwa perkara ini harus dilanjutkan, bukan dalam
kumpulan jemaah yang besar, bukan pula bahwa mereka harus
menyelesaikannya secara tiba-tiba, namun bahwa sejumlah perwakilan harus
ditunjuk untuk menerima keluhan, dan mendengarkan serta menjatuhkan
keputusan atasnya. Hal ini tidak bisa dilakukan pada saat itu juga, sebab
belum ditentukan caranya, lagi pula jemaah tidak sanggup berdiri di luar
sebab hujan. Para pelanggar itu banyak jumlahnya, dan perlu waktu untuk
mencari tahu dan memeriksa mereka. Kasus-kasus yang pelik akan timbul,
dan tidak bisa diputuskan tanpa perbantahan dan perembukan (ay. 13).
“Oleh sebab itu, biarlah kumpulan itu dibubarkan, sementara para pemimpin
berdiri untuk menerima laporan menyangkut perkara itu. Biarlah mereka
bergerak dari kota ke kota, dan biarlah para pelanggar dinyatakan bersalah
di hadapan para hakim dan tua-tua kota mereka masing-masing. Dan biarlah
mereka diserahi kepercayaan untuk memastikan bahwa perintah-perintah
tersebut dilaksanakan. Jadi, jangan terburu-buru, maka kita pasti akan
melakukannya dengan lebih cepat, sementara, jika kita terburu-buru, kita
malah hanya mengerjakannya setengah-setengah (ay. 14). Bila dengan cara
Kitab Ezra 10:1-5
721
ini pembaharuan yang menyeluruh diadakan, maka murka Tuhan yang
bernyala-nyala akan dijauhkan dari kita, murka yang kita rasakan siap
tercurah ke atas kita sebab pelanggaran ini.” Ezra tidak keberatan apabila
semangatnya itu harus dibimbing oleh kehati-hatian umat, dan ia pun
mengerjakan perkara tersebut dengan cara ini. Ia tidak malu mengakui
bahwa nasihat itu berasal dari mereka, sama seperti ia tidak malu untuk
menurutinya.
Pembaharuan yang Dilakukan Ezra
(10:15-44)
15 Hanya Yonatan bin Asael, dan Yahzeya bin Tikwa, berdiri menentang perkara itu,
disokong oleh Mesulam dan Sabetai, orang Lewi itu. 16 namun mereka yang pulang dari
pembuangan melakukannya. Maka imam Ezra memilih beberapa orang, kepala-kepala
kaum keluarga, masing-masing untuk kaum keluarganya, semuanya dengan namanya
disebut. Pada hari pertama bulan kesepuluh mereka bersidang untuk menyelidiki perkara
itu,
17 dan mereka menyelesaikan segala urusan mengenai orang yang memperisteri
wanita asing itu pada hari pertama bulan pertama. 18 Di antara kaum imam yang
memperisteri wanita asing terdapat: dari bani Yesua bin Yozadak, dengan saudara-
saudaranya: Maaseya, Eliezer, Yarib dan Gedalya. 19 Dengan memegang tangan, mereka
itu berjanji akan mengusir isteri mereka. Dan mereka mempersembahkan seekor domba
jantan dari kawanan kambing domba sebagai korban penebus salah sebab kesalahan
mereka. 20 Dari bani Imer: Hanani dan Zebaja; 21 dari bani Harim: Maaseya, Elia, Semaya,
Yehiel dan Uzia; 22 dan dari bani Pasyhur: Elyoenai, Maaseya, Ismael, Netaneel, Yozabad
dan Elasa. 23 Dari orang-orang Lewi: Yozabad, Simei, Kelaya (yaitu Kelita), Petahya, Yuda
dan Eliezer. 24 Dari para penyanyi: Elyasib. Dari para penunggu pintu gerbang: Salum,
Telem dan Uri. 25 Dari orang-orang Israel yang lain: dari bani Paros: Ramya, Yezia, Malkia,
Miyamin, Eleazar, Malkia dan Benaya. 26 Dari bani Elam: Matanya, Zakharia, Yehiel, Abdi,
Yeremot dan Elia. 27 Dari bani Zatu: Elyoenai, Elyasib, Matanya, Yeremot, Zabad dan Aziza.
28 Dari bani Bebai: Yohanan, Hananya, Zabai dan Altai. 29 Dari bani Bani: Mesulam,
Malukh, Adaya, Yasub, Seal dan Yeramot. 30 Dari bani Pahat-Moab: Adna dan Kelal,
Benaya, Maaseya, Matania, Bezaleel, Binui dan Manasye. 31 Dari bani Harim: Eliezer, Yisia,
Malkia, Semaya, Simeon, 32 Benyamin, Malukh, dan Semarya. 33 Dari bani Hasum: Matnai,
Matata, Zabad, Elifelet, Yeremai, Manasye dan Simei. 34 Dari bani Bani: Maadai, Amram, Uel, 35
Benaya, Bedeya, Keluhu, 36 Wanya, Meremot, Elyasib,
37 Matanya, Matnai, Yaasai. 38 Dari bani Binui: Simei, 39 Selemya, Natan, Adaya, 40 Makhnadbai,
Sasai, Sarai, 41 Azareel, Selemya, Semarya, 42 Salum, Amarya dan Yusuf. 43 Dari bani Nebo:
Yeiel, Matica, Zabad, Zebina, Yadai, Yoel dan Benaya. 44 Mereka sekalian mengambil sebagai
isteri wanita asing; maka mereka menyuruh pergi isteri-isteri itu dengan anak-anaknya.
Cara untuk menyelesaikan persoalan ini telah diputuskan, dan segenap jemaah
telah dibubarkan, supaya setiap orang pada tempatnya masing-masing dapat
memperoleh dan memberikan keterangan untuk mempermudah penyelesaian
perkara itu. Pada perikop ini diceritakan kepada kita,
1. Siapa saja orang-orang yang turun tangan menangani masalah tersebut dan
membawa perkara secara rutin ke hadapan para petugas (KJV). Mereka
722
yaitu Yonatan dan Yahzeya, dua orang yang giat, entah dari kalangan imam
atau rakyat biasa tidaklah jelas. namun kemungkinan mereka yaitu orang-
orang yang pernah mengajukan usulan yang disebutkan itu (ay. 13-14),
sehingga merekalah orang yang paling tepat untuk memastikan
pelaksanaannya. Dua orang Lewi yang jujur bergabung bersama mereka, dan
menyokong mereka (ay. 15). Dr.Lightfoot memberikan pemaknaan yang
berlawanan mengenai ayat ini: Hanya (atau meskipun demikian) Yonatan bin
Asael dan Yahzeya bin Tikwa berdiri menentang perkara itu (yang memang
sangat didukung bila membaca bahasa aslinya). Dan kedua orang Lewi ini
menyokong mereka dalam menentangnya, entah menentang perkara itu
sendiri atau cara pelaksanaannya yang disebutkan di sini. Memang aneh bila
pekerjaan semacam ini dijalankan tanpa menemui perlawanan sama sekali.
2. Siapa saja para petugas yang duduk menangani masalah ini. Ezra sebagai
ketua, dan bersama dia ada beberapa orang, yaitu kepala-kepala kaum
keluarga yang dilengkapi dengan hikmat dan semangat melebihi orang-
orang lain untuk melakukan pelayanan ini (ay. 16). Sungguh suatu
kebahagiaan bagi mereka bahwa mereka memiliki orang seperti Ezra yang
mengepalai mereka. Mereka tidak akan dapat mengerjakannya dengan baik
tanpa pimpinannya, namun ia juga tidak akan mau melakukannya tanpa per-
setujuan mereka.
3. Berapa lama waktu yang mereka perlukan untuk mengerjakannya. Mereka
mulai pada hari pertama bulan kesepuluh untuk menyelidiki perkara itu (ay.
16), hanya sepuluh hari setelah cara ini diajukan (ay. 9), dan mereka
menyelesaikannya dalam tiga bulan (ay. 17). Mereka duduk dan
mengerjakan tugas mereka dengan tekun, kalau tidak, mereka tidak akan
dapat menyelesaikan begitu banyak perkara di hadapan mereka dalam
waktu yang sesingkat itu. Sebab kita dapat menduga bahwa semua orang
yang didakwa tentu dimintai keterangan secara adil tentang alasan yang
dapat mereka tunjukkan mengapa mereka tidak perlu bercerai. Dan, jika kita
boleh menilai berdasarkan perkara-perkara lain, asalkan sang istri menjadi
pemeluk agama Yahudi, ia tidak boleh disingkirkan. Dan persidangan ini
pasti menuntut perhatian yang besar.
4. Siapa saja orang-orang yang kedapatan bersalah atas kejahatan ini. Nama
mereka dicatat di sini sebagai cela bagi mereka untuk selamanya. Banyak
dari antara para imam, bahkan dari keluarga Yesua, sang imam besar,
dinyatakan bersalah (ay. 18), sekalipun hukum Taurat telah memberikan
ketentuan secara khusus, untuk menjaga kehormatan perkawinan mereka,
bahwa sebab mereka sendiri kudus, maka mereka tidak boleh menikah
dengan orang-orang yang cemar (Im. 21:7). Para imam yang seharusnya
Kitab Ezra 10:1-5
723
mengajarkan hukum Taurat kepada orang lain justru melanggarnya sendiri,
dan melalui contoh yang mereka berikan, mereka membuat orang lain
berani berbuat serupa. Namun, sebab mereka telah kehilangan kekudusan
mereka dalam perkara ini, mereka berbuat benar dengan mengakui
kesalahan mereka dan memberi teladan pertobatan. Sebab mereka berjanji
dengan memegang tangan untuk menyingkirkan istri-istri asing mereka
(sebagian penafsir beranggapan bahwa mereka bersumpah untuk melaku-
kannya dengan mengangkat tangan). Dan mereka memakai cara yang telah
ditetapkan untuk memperoleh pengampunan, yaitu dengan membawa
domba jantan yang ditetapkan oleh hukum Taurat sebagai korban penebus
salah (Im. 6:6). Dengan demikian, mereka mengakui kesalahan mereka dan
ganjaran yang pantas untuknya, serta dengan rendah hati meminta
pengampunan. Kira-kira 113 orang semuanya yang telah memperistri
wanita -wanita asing disebutkan namanya di sini, dan sebagian dari
mereka, demikian dikatakan (ay. 44), mempunyai anak dari wanita -
wanita itu. Hal ini menyiratkan bahwa tidak banyak dari mereka yang
mempunyai anak, sebab Tuhan tidak memahkotai perkawinan-perkawinan
itu dengan berkat anak yang banyak. Tidak jelas apakah anak-anak itu
disingkirkan bersama ibu mereka, seperti yang diusulkan Sekhanya.
Kelihatannya tidak. Bagaimanapun juga, ada kemungkinan bahwa para istri
yang diceraikan itu tetap dinafkahi dengan baik, sesuai dengan kedudukan
mereka. Orang akan mengira bahwa persoalan ini sudah diatasi secara
menyeluruh, namun kita menjumpainya lagi (Neh. 13:23 dan Mal. 2:11),
sebab kebusukan-kebusukan seperti ini bisa masuk dengan mudah dan
tanpa disadari, namun sangat sulit untuk dibersihkan kembali. Para
pembaharu yang terbaik sekalipun hanya bisa berupaya, namun , ketika Sang
Penebus sendiri datang ke Sion, Dia pasti akan menyingkirkan segala
kefasikan dari pada Yakub.
T A F S I R A N M A T T H E W H E N R Y
Kitab
Nehemia
TAFSIRAN KITAB Nehemia
Disertai Renungan Praktis
itab ini melanjutkan sejarah orang-orang buangan, yaitu orang-orang
Yahudi yang malang, yang baru-baru ini kembali dari Babel ke negeri
mereka sendiri. Pada waktu ini tidak hanya kerajaan Persia berkembang pesat
dalam kemegahan dan kekuasaan yang besar, namun juga Yunani dan Roma
mulai menjadi dua negeri yang sangat hebat dan diperhitungkan. Tentang
perkara-perkara yang terjadi pada kedua pemerintahan yang agung dan perkasa
tersebut, kita memiliki catatan sejarah asli yang masih ada. namun sejarah suci
yang penuh dengan ilham ilahi hanya memberi perhatian terhadap
pemerintahan bangsa Yahudi saja, dan tidak menyebut bangsa-bangsa lain
kecuali kalau ada hubungannya dengan Israel milik Tuhan . Sebab bagian TUHAN
yaitu umat-Nya. Mereka yaitu harta-Nya yang istimewa, dan, dibandingkan
dengan mereka, semua bangsa lain di dunia hanyalah sekam saja. Menurut
anggapan saya, meskipun Ezra sang ahli kitab maupun Nehemia sang gubernur
daerah tidak pernah mengenakan sebuah mahkota, namun mereka memimpin
sebuah pasukan, menaklukkan suatu negeri, atau termasyhur sebab
kebijaksanaan atau kepandaian berbicara mereka. Namun keduanya, sebagai
orang-orang yang saleh dan tekun berdoa, dan sangat berjasa di zaman mereka
kepada jemaah Tuhan dan kepentingan-kepentingan agama, sesungguhnya
yaitu orang-orang yang lebih besar dan lebih terhormat, bukan hanya dibandingkan
penguasa atau kepala negara Roma, melainkan juga dibandingkan Xenofon, atau
Demosthenes, atau Plato sendiri, yang hidup di zaman yang sama, tokoh-tokoh
cemerlang dari Yunani. Peran Nehemia dalam membuat bangsa Israel bisa
menetap dengan tenang kita dapati penjelasan lengkapnya dalam kitab ini, yang
berisi ulasan atau riwayat hidupnya sendiri. Di dalamnya dia menuliskan bukan
hanya pekerjaan-pekerjaan tangannya, melainkan juga apa yang berkecamuk di
dalam hatinya, dalam mengurus perkara-perkara masyarakat. Ia menyisipkan ke
dalam cerita itu banyak renungan dan seruan yang penuh kesalehan, yang
K
730
menyingkapkan bahwa di dalam lubuk hatinya tersimpan kesalehan yang
sungguh-sungguh, dan yang menjadi ciri khas tulisannya. Selama dua belas
tahun, dari tahun yang kedua puluh (ay. 1) sampai tahun yang ketiga puluh dua
dari pemerintahannya (13:6), dia menjadi gubernur Yehuda, di bawah Artah-
sasta raja Persia, yang oleh Dr. Lightfoot dianggap sebagai orang yang sama
dengan orang yang telah memberikan perintah kepada Ezra. Kitab ini
menceritakan,
I. Kepedulian Nehemia terhadap Yerusalem dan perintah yang
didapatnya dari sang raja untuk pergi ke sana (ps. 1-2).
II. Pekerjaannya membangun tembok Yerusalem kendati menghadapi
perlawanan (ps. 3-4).
III. Tindakannya dalam mengatasi masalah-masalah rakyat (ps. 5).
IV. Selesainya pembangunan tembok yang dikerjakannya (ps. 6).
V. Penghitungan yang dilakukannya atas rakyat (ps. 7).
VI. Panggilan yang diadakannya kepada rakyat untuk melakukan upacara
pembacaan hukum Taurat, berpuasa, berdoa, dan memperbaharui
kovenan mereka (ps. 8-10).
VII. Perhatian yang diberikannya untuk memadati kembali kota suci dan
membuat suku yang kudus itu menetap dengan tenang (ps. 11-12).
VIII. Semangatnya dalam memperbaiki berbagai penyimpangan (ps.
13). Sebagian orang menyebut kitab ini sebagai kitab kedua dari Ezra,
bukan sebab dia yaitu penulisnya, melainkan sebab kitab ini
merupakan kelanjutan dari sejarah kitab sebelumnya, yang berkaitan
dengan kitab ini (ay. 1). Ini yaitu kitab sejarah yang terakhir,
sebagaimana Maleakhi yaitu kitab nubuatan yang terakhir, dari
Perjanjian Lama.
PASAL 1
alam pasal ini kita pertama kali berjumpa dengan Nehemia di istana
Persia, di mana kita mendapati dia,
I. Merasa ingin tahu tentang keadaan orang-orang Yahudi dan Yerusalem
(ay. 1-2).
II. Mendapat kabar tentang keadaan mereka yang menyedihkan (ay. 3).
III. Berpuasa dan berdoa setelah mendengar kabar itu (ay. 4), dengan
rincian isi doanya (ay. 5-11). Demikianlah awal kemunculan tokoh
besar ini, yaitu melalui kesalehan, bukan melalui kecerdikan dalam
perkara-perkara duniawi.
Kesedihan Nehemia
(1:1-4)
1 Riwayat Nehemia bin Hakhalya. Pada bulan Kislew tahun kedua puluh, ketika aku ada di
puri Susan, 2 datanglah Hanani, salah seorang dari saudara-saudaraku dengan beberapa
orang dari Yehuda. Aku menanyakan mereka tentang orang-orang Yahudi yang terluput,
yang terhindar dari penawanan dan tentang Yerusalem. 3 Kata mereka kepadaku: “Orang-
orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam
kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan
pintu-pintu gerbangnya telah terbakar.” 4 Ketika kudengar berita ini, duduklah aku
menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat
Tuhan semesta langit,
Dari suku apa Nehemia berasal tidaklah dijelaskan di bagian mana pun. Akan
namun , jika benar (sebagaimana pengarang Kitab Makabe memberi tahu kita, 2
Makabe 1:18), bahwa dia mempersembahkan korban, maka kita dapat
menyimpulkan bahwa dia yaitu seorang imam. Amatilah,
I. Kedudukan Nehemia di istana Persia. Kita di sini diberi tahu bahwa dia
berada di puri Susan, atau kota kerajaan, dari raja Persia, tempat istana raja
D
734
biasanya berada (ay. 1). Dan bahwa dia ada-lah juru minuman raja (ay.
11). Raja-raja dan para pembesar mungkin memandang sebagai suatu
kebesaran apabila mereka dilayani oleh berbagai orang dari bangsa-bangsa
lain. Melalui kedudukannya di istana ini, Nehemia akan lebih diperlengkapi
untuk melakukan pelayanan bagi negerinya di tempat yang memang telah
dirancang oleh Tuhan baginya, seperti Musa lebih layak untuk memerintah
sebab dibesarkan di dalam istana Firaun, dan Daud di dalam istana Saul.
Nehemia juga akan mendapatkan kesempatan yang lebih baik untuk
melayani negerinya melalui pengaruhnya atas sang raja dan orang-orang di
sekelilingnya. Amatilah, ia tidak ingin cepat-cepat memberi tahu kita betapa
tinggi kedudukannya di istana. Baru pada akhir pasal ini dia memberi tahu
kita bahwa dia yaitu seorang juru minuman raja (sebuah jabatan dengan
kepercayaan, seperti juga kehormatan dan keuntungan, yang besar), ketika
dia tidak dapat menghindar untuk menyebutkannya oleh sebab apa yang
diceritakan selanjutnya. Namun mula-mula dia hanya berkata, aku ada di
puri Susan. Dari sini kita dapat belajar untuk rendah hati dan bersahaja, dan
menahan diri untuk berbicara tentang keberhasilan diri kita sendiri. namun
dalam penyelenggaraan Tuhan terhadap Nehemia, kita dapat mencermati,
bagi penghiburan kita,
1. Bahwa ketika Tuhan mempunyai pekerjaan untuk dilakukan, Dia tidak
akan pernah kekurangan alat yang dapat dipakai untuk melakukannya.
2. Bahwa apabila Tuhan merancang orang-orang untuk melayani-Nya, maka
Ia akan menemukan cara-cara yang tepat baik untuk melayakkan
mereka bagi pelayanan itu maupun untuk memanggil mereka pada
pelayanan tersebut.
3. Bahwa Tuhan selalu memiliki orang-orang yang tersisa dari umat-Nya di
segala tempat. Kita membaca tentang Obaja di rumah Ahab, orang-orang
kudus di rumah Kaisar, dan Nehemia yang saleh di puri Susan.
4. Bahwa Tuhan dapat membuat istana raja-raja menjadi tempat
pengasuhan pada satu waktu, dan tempat perlindungan pada waktu lain,
bagi para sahabat dan pendukung kepentingan jemaat.
II. Pertanyaan Nehemia yang penuh kelembutan dan kasih sayang tentang
keadaan orang-orang Yahudi di negeri mereka sendiri (ay. 2). Kebetulan
bahwa seorang teman dan kerabatnya datang ke istana, bersama sekawanan
orang lain. Melalui mereka, dia memperoleh kesempatan untuk mengetahui
dengan sepenuhnya bagaimana keadaan orang-orang buangan dan suasana
di Yerusalem, kota tercinta, pada saat ini. Nehemia sendiri hidup dengan
nyaman, dalam kehormatan dan kelimpahan, namun dia tidak dapat lupa
Kitab Nehemia 1:1-4
735
bahwa dia yaitu seorang Israel, tidak pula dapat menghilangkan pikiran
tentang saudara-saudaranya yang sedang kesusahan. Sebaliknya, di dalam
roh (seperti Musa, Kis. 7:23) ia mengunjungi saudara-saudaranya dan
melihat beban penderitaan mereka. Sama seperti jarak tidak dapat mengikis
kasih sayangnya terhadap mereka (jauh di mata, namun dekat di hati),
demikian pula,
1. Kedudukan tinggi yang diperolehnya tidak dapat mengikis kasih
sayangnya terhadap mereka. Kendati dia yaitu seorang pembesar, dan
mungkin masih akan naik lebih tinggi lagi, namun dia tidak merasa
rendah untuk memberi perhatian terhadap saudara-saudaranya yang
berada di bawah dan terhina, tidak pula ia malu mengakui hubungannya
dengan mereka dan kepeduliannya terhadap mereka.
2. Perbedaan antara dorongan hati mereka dan dorongan hatinya, dan
langkah berbeda yang mereka ambil sebagai akibatnya, tidak dapat
mengikis kasih sayangnya terhadap mereka. Kendati dia sendiri tidak
pergi untuk tinggal di Yerusalem, yang menurut kita seharusnya dia
lakukan, sebab sekarang kebebasan telah dimaklumkan, melainkan tetap
setia kepada istana, dan tinggal tenang di sana, namun dia tidak meng-
hakimi atau memandang rendah orang-orang yang kembali, atau
mencela mereka sebagai orang-orang yang tidak cerdas. Sebaliknya, ia
dengan baik hati ambil peduli terhadap mereka, siap untuk menolong
mereka dengan segala kebaikan yang dapat dilakukannya. Dan, agar dia
tahu dengan cara apa dia dapat melakukan kebaikan bagi mereka, ia
menanyakan tentang mereka. Perhatikanlah, bertanya, “Ada kabar apa?”
yaitu hal yang diperbolehkan dan baik adanya. Kita harus bertanya
terutama tentang keadaan jemaat dan agama, dan apa yang sedang
terjadi dengan umat Tuhan . Dan maksud dari pertanyaan kita haruslah,
bukan seperti orang-orang Atena, yaitu supaya ada sesuatu yang dapat
kita perbincangkan, melainkan supaya kita tahu bagaimana
mengarahkan doa-doa kita dan puji-pujian kita.
III. Penjelasan menyedihkan yang diberikan di sini kepada Nehemia tentang
keadaan orang-orang Yahudi dan Yerusalem pada saat ini (ay. 3). Hanani,
orang yang ditanyai Nehemia, digambarkan memiliki sifat ini (7:2), bahwa
dia takut akan Tuhan lebih dari pada orang-orang lain. Oleh sebab nya, ia
tidak hanya akan berbicara dengan jujur, namun juga, ketika berbicara
tentang kehancuran Yerusalem, akan berbicara dengan penuh perasaan. Ada
kemungkinan bahwa keperluannya ke istana kali ini yaitu untuk meminta
736
suatu perkenanan, satu atau lain bantuan, yang sedang mereka butuhkan.
Nah, penjelasan yang disampaikannya yaitu ,
1. Bahwa keturunan yang kudus itu diinjak-injak dan dilecehkan secara
mengenaskan, sedang dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela,
dicemooh setiap saat oleh bangsa-bangsa sekitar mereka, dan kenyang
dengan olok-olok orang-orang yang merasa aman.
2. Bahwa kota suci itu sekarang tanpa perlindungan dan tinggal puing-
puing saja. Tembok Yerusalem masih terbongkar dan pintu-pintu
gerbangnya, pada saat orang Kasdim meninggalkannya, menjadi
reruntuhan. Hal ini membuat keadaan para penduduknya sangat tercela
dengan tanda-tanda kemiskinan dan perbudakan yang terus menempel,
dan juga sangat berbahaya, sebab para musuh mereka bisa saja, kapan
pun para musuh itu mau, memangsa mereka dengan mudah. Bait Suci
telah dibangun, pemerintahan telah berjalan dengan baik, dan pekerjaan
pembaharuan telah mengalami sedikit banyak kemajuan, namun di sini
masih ada satu lagi pekerjaan baik yang belum terselesaikan. Masih ada
yang kurang. Setiap Yerusalem, yang ada di seberang sorga sini, pasti
akan memiliki satu atau lain cacat cela di dalamnya, dan untuk meng-
hapuskannya diperlukan bantuan dan pelayanan dari sahabat-
sahabatnya.
IV. Penderitaan besar yang dirasakan Nehemia setelah mendengar kabar ini dan
keprihatinannya yang mendalam sebab nya (ay. 4).
1. Ia menangis dan berkabung. Bukan hanya tepat ketika dia mendengar
kabar itu tangisannya pecah, namun juga kesedihannya berlanjut selama
beberapa hari. Perhatikanlah, kehancuran dan kesusahan jemaat
haruslah menjadi kesedihan kita, betapapun kita tinggal dengan nyaman.
2. Ia berpuasa dan berdoa. Bukan di hadapan umum (dia tidak mempunyai
kesempatan untuk melakukannya), melainkan ke hadirat Tuhan semesta
langit, yang melihat apa yang tersembunyi, dan akan memberikan
jawaban secara terbuka. Melalui puasa dan doanya,
(1) Ia menguduskan dukacitanya, dan menumpahkan air matanya ke
arah yang benar, berdukacita menurut kehendak Tuhan , dengan mata
yang tertuju kepada Tuhan , sebab nama-Nya telah dicela dalam
penghinaan yang diberikan kepada umat-Nya, sehingga ia
menyerahkan perkaranya kepada Dia seperti itu.
Kitab Nehemia 1:1-4
737
(2) Ia meredakan dukacitanya, dan mengangkat beban jiwanya, dengan
mencurahkan keluhannya di hadapan Tuhan dan memasrahkannya
kepada Dia.
(3) Ia mengambil cara yang benar untuk memperoleh pertolongan bagi
bangsanya dan petunjuk bagi dirinya sendiri tentang apa yang dapat
dilakukannya untuk melayani mereka. Hendaklah orang-orang yang
sedang membentuk rancangan-rancangan yang baik untuk mem-
bantu masyarakat mengikutsertakan Tuhan bersama mereka pada
saat mereka pertama kali menggagasnya, dan menyampaikan semua
rencana mereka di hadapan Dia. Inilah cara untuk berhasil di
dalamnya.
Doa Nehemia
(1:5-11)
5 kataku: “Ya, TUHAN, Tuhan semesta langit, Tuhan yang maha besar dan dahsyat, yang
berpegang pada perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya
dan tetap mengikuti perintah-perintah-Nya, 6 berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu
dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan
malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami
orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat
dosa. 7 Kami telah sangat bersalah terhadap-Mu dan tidak mengikuti perintah-perintah,
ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang telah Kauperintahkan kepada Musa,
hamba-Mu itu. 8 Ingatlah akan firman yang Kaupesan kepada Musa, hamba-Mu itu, yaitu :
Bila kamu berubah setia, kamu akan Kucerai-beraikan di antara bangsa-bangsa. 9 namun ,
bila kamu berbalik kepada-Ku dan tetap mengikuti perintah-perintah-Ku serta
melakukannya, maka sekalipun orang-orang buanganmu ada di ujung langit, akan
Kukumpulkan mereka kembali dan Kubawa ke tempat yang telah Kupilih untuk membuat
nama-Ku diam di sana. 10 Bukankah mereka ini hamba-hamba-Mu dan umat-Mu yang
telah Kaubebaskan dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan tangan-Mu yang kuat? 11
Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu
yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat
belas kasihan dari orang ini.” Ketika itu aku ini juru minuman raja.
Dalam perikop ini kita membaca tentang doa Nehemia, sebuah doa yang
merujuk kepada semua doa yang telah dipanjatkannya pada suatu waktu
sebelumnya kepada Tuhan siang dan malam, selama dia terus berduka atas
kehancuran Yerusalem. Dan bersamaan dengan itu, doa tersebut juga merujuk
pada permohonan yang sekarang hendak disampaikannya kepada tuan rajanya,
supaya sang raja menunjukkan perkenanannya kepada Yerusalem. Kita dapat
mencermati dalam doa ini,
I. Permohonan Nehemia yang penuh kerendahan hati dan rasa hormat kepada
Tuhan , yang di dalamnya dia bersujud di hadapan-Nya dan memberi kepada-
738
Nya kemuliaan sebab nama-Nya (ay. 5). Permohonan ini hampir sama
dengan permohonan Daniel (9:4). Hal ini mengajar kita untuk datang
mendekat kepada Tuhan ,
1. Dengan kegentaran yang kudus akan kebesaran dan kemuliaan-Nya,
mengingat bahwa Dia yaitu Tuhan di sorga, yang secara tak terhingga
jauh di atas kita, dan Tuhan yang berdaulat atas diri kita. Dan bahwa Dia
yaitu Tuhan yang maha besar dan dahsyat, yang secara tak terhingga
mengungguli semua pemerintah dan penguasa baik dari dunia atas
maupun dunia bawah, baik para malaikat maupun para raja. Dan Ia
yaitu Tuhan yang patut disembah dengan takut dan gentar oleh semua
umat-Nya, dan yang kedahsyatan murka-Nya harus ditakuti oleh semua
musuh-Nya. Bahkan kengerian-kengerian Tuhan dapat dimanfaatkan
bagi penghiburan dan dorongan orang-orang yang berharap kepada-
Nya.
2. Dengan keyakinan yang kudus pada anugerah dan kebenaran-Nya, sebab
Ia berpegang pada perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang
kasih kepada-Nya, bukan hanya kasih setia yang dijanjikan-Nya, namun
juga bahkan lebih dibandingkan yang dijanjikan-Nya. Tidak ada suatu apa pun
yang dianggap terlalu besar untuk dilakukan bagi orang-orang
yang kasih kepada-Nya dan tetap mengikuti perintah-perintah-Nya.
II. Permohonan Nehemia secara umum agar semua doa serta pengakuan yang
sekarang dipanjatkannya kepada Tuhan didengar dan diterima (ay. 6):
“Berilah telinga-Mu dan dengarkanlah doa, yang bukan aku ucapkan (doa
yang sekadar diucapkan saja tidak cukup), melainkan yang kupanjatkan ke
hadirat-Mu. Doa kita baru mungkin akan dikabulkan apabila kita memoho