tawarikh ester 22
n
di dalam doa. Dan bukalah mata-Mu bagi hati yang memanjatkan doa itu, dan
bagi perkara yang diadukan kepada-Mu di dalam doa.” Tuhan lah yang
menanamkan telinga dan membentuk mata. Oleh sebab itu, masakan Dia
tidak memandang dengan jelas? Masakan Dia tidak mendengar dengan
penuh perhatian?
III. Pengakuan dosa yang dibuat Nehemia dengan penuh penyesalan. Tidak
hanya Israel telah berdosa (bukanlah penghinaan besar baginya untuk
mengakui hal itu), melainkan juga aku dan keluargaku telah berbuat dosa
(ay. 6). Demikianlah dia merendahkan dirinya, dan menanggung malu
sendiri, dalam pengakuan ini. Kami (aku dan keluargaku di antara yang lain)
telah sangat bersalah terhadap-Mu (ay. 7). Dalam pengakuan dosa,
hendaklah dua hal ini diakui sebagai kejahatannya – bahwa dosa yaitu
Kitab Nehemia 1:1-4
739
kebobrokan diri kita sendiri dan penghinaan bagi Tuhan . Dosa yaitu
bersalah terhadap Tuhan , dengan menegakkan kebobrokan hati kita sendiri
untuk menentang perintah-perintah Tuhan .
IV. Seruan-seruan yang didesakkan Nehemia untuk meminta belas kasihan bagi
bangsanya Israel.
1. Nehemia menyerukan apa yang telah difirmankan Tuhan pada zaman
dulu kepada mereka, peraturan yang telah ditetapkan-Nya tentang
bagaimana Ia akan bertindak terhadap mereka, yang dapat menjadi
pedoman tentang apa yang bisa mereka harapkan dari-Nya (ay. 8-9). Ia
memang telah berfirman bahwa, jika mereka melanggar kovenan dengan
Dia, maka Dia akan mencerai-beraikan mereka di antara bangsa-
bangsa, dan ancaman tersebut telah digenapi dalam pembuangan
mereka. Tidak pernah ada suatu bangsa yang diserakkan ke berbagai
tempat yang begitu jauh seperti Israel pada waktu itu, kendati pada
awalnya mereka begitu bersatu padu. namun bersamaan dengan itu, Dia
juga telah berfirman bahwa jika mereka berbalik kepada-Nya, seperti
yang sedang mulai mereka lakukan sekarang ini, dengan meninggalkan
penyembahan berhala dan menjalankan ibadah di Bait Suci, maka Dia
akan mengumpulkan mereka kembali. Firman ini dikutip Nehemia dari
Ulangan 30:1-5, dan ia meminta izin untuk mengingatkan Tuhan akan hal
tersebut (kendati Pikiran yang Kekal tidaklah perlu pengingat) sebagai
pemandu keinginan-keinginannya, dan dasar bagi iman serta
pengharapannya, dalam memanjatkan doa ini: Ingatlah akan firman
itu. Sebab Engkau telah berfirman, ingatkanlah Aku. Nehemia telah
mengakui (ay. 7), kami tidak mengikuti peraturan-peraturan yang telah
Kauperintahkan kepada Musa, hamba-Mu itu. Namun dia memohon (ay.
8), TUHAN, ingatlah peraturan-peraturan yang telah Kauperintahkan ke-
pada Musa, hamba-Mu itu. Sebab kovenan itu sering dikatakan sebagai
sesuatu yang diperintahkan. Apabila Tuhan tidak mengingat janji-janji-
Nya dibandingkan kita mengingat perintah-perintah-Nya, maka tentulah kita
akan binasa. Oleh sebab itu, permohonan-permohonan terbaik kita di
dalam doa yaitu permohonan yang didasarkan pada janji Tuhan , firman
yang telah membuat kita berharap (Mzm. 119:49).
2 Nehemia menyerukan hubungan yang sejak dulu terjalin antara bangsa
Israel dengan Tuhan : “Mereka ini yaitu hamba-hamba-Mu dan umat-
Mu (ay. 10), yang telah Engkau kuduskan bagi diri-Mu, dan yang telah
Engkau masukkan ke dalam kovenan dengan-Mu. Apakah Engkau akan
membiarkan musuh-musuh bebuyutan-Mu menginjak-injak dan
740
menindas hamba-hamba yang mengikat perjanjian dengan-Mu? Jika
Engkau tidak tampil bagi umat-Mu, bagi siapakah Engkau akan tampil?”
(lih. Yes. 63:19). Sebagai bukti bahwa mereka yaitu hamba-hamba Tuhan ,
Nehemia menggambarkan mereka dengan sifat ini (ay. 11): “Mereka rela
takut akan nama-Mu. Mereka tidak hanya disebut dengan nama-Mu,
namun juga benar-benar memiliki rasa hormat akan nama-Mu. Kini me-
reka menyembah Engkau, dan hanya Engkau, sesuai dengan kehendak-
Mu, dan mereka merasa gentar melihat segala hal yang berkenan Engkau
singkapkan tentang diri-Mu sendiri. Inilah yang rindu mereka lakukan.”
Hal ini menyatakan,
(1) Kehendak baik mereka untuk menjalankan ibadah kepada-Nya.
“Mereka senantiasa memberi perhatian dan berusaha untuk didapati
sedang melakukan kewajiban, dan mereka berupaya
menjalankannya dengan baik, kendati dalam banyak hal mereka
masih kurang.”
(2) Kepuasan hati mereka di dalam ibadah itu. “Mereka dengan senang
hati takut akan nama-Mu (demikian seharusnya ayat itu dibaca).
Mereka tidak hanya sekadar melakukan kewajiban mereka, namun
juga melakukannya dengan gembira.” Orang-orang yang sungguh-
sungguh rindu untuk takut akan nama-Nya pasti akan diterima Tuhan
dengan penuh rahmat. Sebab kerinduan yang demikian yaitu pe-
kerjaan-Nya sendiri.
3. Nehemia menyerukan perkara-perkara besar yang dahulu telah
dikerjakan Tuhan bagi mereka (ay. 10): “Hamba-hamba-Mu yang telah
Kaubebaskan dengan kekuatan-Mu yang besar, di masa lalu. Kekuatan-
Mu tetap sama. Oleh sebab itu, tidakkah Engkau masih akan menebus
mereka dan menyempurnakan penebusan mereka itu? Jangan biarkan
orang-orang yang mempunyai Tuhan yang maha kuasa di pihak mereka
dikalahkan oleh musuh.”
Yang terakhir, Nehemia menutup dengan suatu permohonan khusus,
yaitu agar Tuhan membuatnya berhasil dalam usahanya dan mendapat
perkenanan sang raja. Orang ini, demikian dia menyebut sang raja, sebab
orang-orang yang terbesar sekalipun hanyalah manusia biasa di hadapan
Tuhan . Mereka sendiri harus tahu bahwa mereka itu manusia saja (Mzm.
9:21), dan orang-orang lain harus tahu bahwa mereka yaitu demikian.
Siapakah engkau maka engkau takut terhadap manusia? Mendapat belas
kasihan dari orang ini, itulah yang didoakannya, bukan belas kasihan
dari sang raja, melainkan belas kasihan dari Tuhan ketika ia datang
Kitab Nehemia 1:1-4
741
menghadap raja. Mendapat perkenanan manusia barulah akan
menghibur kita apabila kita dapat melihat bahwa perkenanan itu
memancar dari belas kasihan Tuhan .
PASAL 2
agaimana Nehemia bergumul dengan Tuhan dan menang, telah kita baca
dalam pasal sebelumnya. Sekarang dalam pasal ini kita diberi tahu
bagaimana, seperti Yakub, ia juga menang bergumul melawan manusia, dan
dengan begitu mendapati bahwa doa-doanya didengar dan dijawab.
I. Ia menang bergumul dengan raja, sehingga sang raja mengutusnya ke
Yerusalem dengan sebuah perintah untuk membangun tembok di
sekeliling kota itu, dan memberikan kepadanya apa yang ia butuhkan
untuk mengerjakannya (ay. 1-8).
II. Ia menang bergumul melawan musuh-musuh yang hendak
menghalanginya dalam perjalanannya (ay. 9-11), dan yang mengolok-
olok dirinya sebab usahanya itu (ay. 19-20).
III. Ia menang bergumul dengan orang-orang sebangsanya sendiri,
sehingga mereka mau bergabung bersamanya dalam pekerjaan baik
ini, dengan meninjau reruntuhan tembok-tembok Yerusalem (ay. 12-
16), lalu berhasil membujuk mereka semua untuk mengulurkan tangan
guna membangun kembali tembok-tembok itu (ay. 17-18).
Demikianlah Tuhan memberikan pengakuan terhadap dirinya dalam
pekerjaan yang menjadi panggilannya.
Permintaan Nehemia kepada Raja
(2:1-8)
1 Pada bulan Nisan tahun kedua puluh pemerintahan raja Artahsasta, ketika menjadi
tugasku untuk menyediakan anggur, aku mengangkat anggur dan menyampaikannya
kepada raja. sebab aku kelihatan sedih, yang memang belum pernah terjadi di hadapan
raja, 2 bertanyalah ia kepadaku: “Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit?
Engkau tentu sedih hati.” Lalu aku menjadi sangat takut. 3 Jawabku kepada raja: “Hiduplah
raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat pe-
kuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis
dimakan api?” 4 Lalu kata raja kepadaku: “Jadi, apa yang kauinginkan?” Maka aku berdoa
B
744
kepada Tuhan semesta langit, 5 kemudian jawabku kepada raja: “Jika raja menganggap baik
dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek
moyangku, supaya aku membangunnya kembali.” 6 Lalu bertanyalah raja kepadaku,
sedang permaisuri duduk di sampingnya: “Berapa lama engkau dalam perjalanan, dan
bilakah engkau kembali?” Dan raja berkenan mengutus aku, sesudah aku menyebut suatu
jangka waktu kepadanya. 7 Berkatalah aku kepada raja: “Jika raja menganggap baik,
berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya
mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. 8 Pula sepucuk surat bagi
Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-
balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah
yang akan kudiami.” Dan raja mengabulkan permintaanku itu, sebab tangan Tuhan ku
yang murah melindungi aku.
Sesudah Nehemia berdoa meminta pertolongan bagi orang-orang sebangsanya,
dan mungkin dengan menggunakan perkataan Daud (Mzm. 51:20, bangunkanlah
tembok-tembok Yerusalem), ia tidak duduk diam saja dan berkata, “Biarlah Tuhan
sekarang mengerjakan pekerjaan-Nya sendiri, sebab sudah tidak ada yang dapat
aku kerjakan.” Sebaliknya, ia menetapkan hati untuk memperkirakan apa yang
dapat ia kerjakan untuk mencapainya. Doa-doa kita harus didukung dengan
usaha yang sungguh-sungguh, jika tidak, kita hanya mempermainkan Tuhan .
Sudah hampir empat bulan berlalu, dari bulan Kislew sampai bulan Nisan (dari
November sampai Maret), sebelum Nehemia mengajukan permohonannya
kepada raja untuk pergi ke Yerusalem. Hal ini mungkin sebab musim dingin
bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan seperti itu, dan ia tidak
mau mengajukan permohonan sebelum ia dapat melaksanakan apa yang
dimohonkan. Atau mungkin sebab telah sekian lama waktu berlalu sebelum
bulan yang dinantikannya tiba, dan ia tidak dapat datang menghadap raja tanpa
dipanggil (Est. 4:11). Sekarang sebab ia melayani meja raja, ia pun berharap
supaya permohonannya didengar sang raja. Kita tidak dibatasi oleh waktu-
waktu tertentu seperti itu untuk berbicara kepada Raja segala raja, melainkan
memiliki kebebasan untuk menghadap-Nya di setiap waktu. Tidak ada waktu
yang tidak tepat bagi kita untuk menghampiri takhta anugerah. Sekarang pada
perikop ini,
I. Kesempatan yang diberikan Nehemia kepada raja untuk bertanya kepadanya
apa yang membuatnya khawatir dan berduka, yaitu dengan terlihat sedih di
hadapan raja. Mereka yang berbicara dengan orang-orang besar seperti itu
tidak boleh dengan serta-merta menceritakan permasalahan mereka, namun
harus mencari akal untuk menyampaikannya dengan tepat. Nehemia hendak
menguji apakah raja dalam keadaan hati yang baik sebelum ia
memberanikan diri untuk memberitahukan keperluannya kepada raja, dan
cara berikut ini diambilnya untuk menguji raja. Ia mengangkat anggur dan
memberikannya kepada raja ketika sang raja memintanya, dengan berharap
Kitab Nehemia 2:1-8
745
pada saat itu sang raja akan menatap wajahnya. Ia tidak biasa bersedih di
hadapan raja, namun mengikuti peraturan-peraturan istana sebagaimana
yang harus dilakukan para pegawai istana, yang tidak memperbolehkan ada
yang bersedih (Est. 4:2). Walaupun seorang asing, seorang tawanan, ia
bersikap riang dan ramah. Orang-orang baik harus berbuat sebisa mungkin
dengan keceriaan mereka untuk meyakinkan dunia betapa
menyenangkannya jalan-jalan agama, dan untuk menghapuskan cela yang
ditimpakan ke atas mereka sebagai orang-orang pemurung. Akan namun ,
untuk segala sesuatu ada masanya (Pkh. 3:4). Nehemia sekarang memiliki
alasan, baik untuk bersedih maupun untuk terlihat demikian. Kesengsaraan
Yerusalem memberinya alasan untuk sedih, dan dengan menampakkan
kesedihannya, ia dapat memberikan kesempatan kepada raja untuk
menanyakan alasannya. Ia tidak pura-pura bersedih, sebab ia betul-betul
berduka sebab hancurnya keturunan Yusuf, dan tidak seperti orang
munafik yang mengubah air mukanya. Namun demikian, ia bisa saja
menyembunyikan kesedihannya jika itu perlu (hati mengenal kepedihannya
sendiri, dan di tengah-tengah canda tawa ia sering kali merasa sedih). namun
sekarang dengan menunjukkan kesedihannya Nehemia dapat mencapai
tujuannya. Walaupun ada anggur di hadapannya, dan mungkin, seturut
dengan pekerjaan juru minuman, ia sendiri meminum anggur itu sebelum
memberikannya kepada raja, namun anggur itu tidak menyukakan hatinya,
selama Israel kepunyaan Tuhan sedang dalam kesusahan.
II. Perhatian yang dengan baik hati diberikan sang raja terhadap kesedihan
Nehemia, dan pertanyaan yang diajukan raja tentang penyebabnya (ay. 2):
Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? Perhatikanlah,
1. Dengan berpegang pada dasar ajaran Kristiani untuk berbela rasa, kita
harus memperhatikan penderitaan dan kesedihan orang lain, bahkan
orang-orang yang di bawah kita, dan tidak berkata, “Apa urusannya itu
dengan kita?” Janganlah para tuan memandang rendah kesusahan hati
hamba mereka, namun hendaklah mereka berkeinginan untuk
meringankan kesusahan hati hamba mereka itu. Tuhan yang Mahabesar
tidak senang dengan kemurungan dan keresahan umat-Nya, melainkan
ingin agar mereka beribadah kepada-Nya dengan sukacita dan memakan
roti mereka dengan sukaria.
2. Tidaklah mengherankan jika orang yang sedang sakit bermuka sedih,
oleh sebab apa yang dirasakan dan apa yang ditakuti. Penyakit dapat
membuat orang yang paling riang dan gembira sekalipun menjadi
746
muram. Namun orang yang baik, bahkan dalam kesakitannya, dapat
berbahagia jika ia mengetahui bahwa dosa-dosanya telah diampuni.
3. Bebas dari penyakit yaitu belas kasihan yang begitu besar, sehingga
selama kita sedang sakit, kita tidak boleh bermuram durja secara
berlebihan dalam menanggung beban lahiriah apa pun. Namun bersedih
atas dosa-dosa kita sendiri, dosa-dosa orang lain, dan malapetaka yang
menimpa jemaat Tuhan , bisa jadi membuat muka kita sedih, walau tanpa
penyakit.
III. Penjelasan yang diberikan Nehemia kepada raja tentang alasan ke-
sedihannya, yang disampaikannya dengan lemah lembut dan rasa takut.
1. Dengan rasa takut. Nehemia mengakui bahwa sekarang ia menjadi
sangat takut walaupun tampak dari cerita selanjutnya bahwa ia yaitu
seorang pemberani. Mungkin ia takut akan murka sang raja (sebab raja-
raja dari timur menggenggam kekuasaan mutlak atas hidup dan mati
(Dan. 2:12-13; 5:19). Atau ia takut salah berkata, dan permintaannya
tidak dikabulkan sebab tidak bisa mengatur perkataan). Walaupun se-
orang yang bijak, ia tetap berusaha menjaga diri, supaya jangan sampai
ia mengatakan sesuatu secara gegabah. Begitu juga seharusnya kita.
Keyakinan diri yang baik memang yaitu pencapaian yang baik, namun
sikap kurang percaya diri yang disertai kerendahan hati bukanlah sifat
yang tercela.
2. Dengan lemah lembut. Tanpa mencela siapa pun, dan dengan segala
hormat, keseganan, dan kehendak baik yang dapat ditunjukkan kepada
tuan rajanya, ia berkata, “Hiduplah raja untuk selamanya, raja yang bijak
dan baik, dan yang paling layak di dunia ini untuk berkuasa.” Dengan
sopan ia bertanya, “Bagaimana mukaku tidak akan muram seperti ini,
walaupun aku sendiri baik-baik saja dan dalam keadaan tenang, kalau
kota (raja tahu kota apa yang ia maksud), tempat pekuburan nenek
moyangku, telah menjadi reruntuhan?” Banyak orang yang muram dan
sedih namun tidak bisa memberikan alasan mengapa mereka merasa
demikian, tidak bisa memberi tahu mengapa dan kenapa. Orang-orang
yang demikian harus menegur diri mereka sendiri atas kesedihan dan
ketakutan mereka yang tidak wajar serta tidak beralasan itu, sehingga
mereka dapat keluar darinya. Akan namun , Nehemia dapat memberikan
alasan yang begitu baik atas kesedihannya, hingga ia dapat mengadukan
kesedihannya itu kepada raja. Amatilah,
Kitab Nehemia 2:1-8
747
(1) Nehemia menyebut Yerusalem sebagai tempat pekuburan nenek
moyangnya, tempat di mana nenek moyangnya dikubur. Sungguh
baik bagi kita untuk sering memikirkan tempat pekuburan nenek
moyang kita. Kita cenderung hanya ingin memikirkan segala
kehormatan dan jabatan mereka, rumah dan tanah mereka, namun
marilah kita juga memikirkan tempat pekuburan mereka, dan me-
renungkan bahwa mereka yang telah lahir mendahului kita di dunia
juga telah pergi mendahului kita dari dunia, dan peninggalan mereka
yaitu kenang-kenangan bagi kita. Rasa hormat yang besar juga
harus diberikan terhadap kenangan akan nenek moyang kita, dan
kita tidak ingin melihat kenangan itu tercoreng. Semua bangsa,
bahkan bangsa-bangsa yang tidak memiliki pengharapan akan
kebangkitan orang mati, juga memandang tempat pekuburan nenek
moyang mereka sebagai tempat yang pada tingkat tertentu suci dan
tidak boleh dicemarkan.
(2) Nehemia membenarkan dirinya dalam merasa sedih: “Memang
sudah sepantasnya aku bersedih. Bagaimana tidak?” Ada masa
bahkan bagi orang-orang yang saleh dan sejahtera untuk bersedih
dan menunjukkan kesedihan mereka. Orang-orang yang paling baik
sekalipun tidak boleh mencoba untuk mendahului sorga dengan
membuang segala pikiran yang menyedihkan. Yang sedang kita lalui
pada saat ini yaitu lembah air mata, dan kita harus tunduk pada
keadaan iklimnya.
(3) Nehemia memandang reruntuhan Yerusalem sebagai penyebab
sebenarnya dari kesedihannya. Perhatikanlah, segala kesedihan
jemaat Tuhan , terutama kerusakan-kerusakannya, haruslah menjadi
sesuatu yang mendukakan dan menyedihkan bagi semua orang baik,
bagi semua orang yang peduli terhadap kehormatan Tuhan dan yang
merupakan anggota tubuh Kristus yang hidup, serta yang hatinya
sungguh peduli terhadap kebaikan bersama. Mereka bahkan merasa
kasihan akan debu Sion (Mzm. 102:15).
IV. Dorongan yang diberikan raja supaya Nehemia mengutarakan pikirannya,
dan permintaan yang disampaikan Nehemia di dalam hatinya kepada Tuhan
(ay. 4). Sang raja mengasihinya, dan tidak senang melihatnya muram. Ada
juga kemungkinan bahwa sang raja menunjukkan sikap baik terhadap agama
orang Yahudi. Sang raja telah menyingkapkan sikap baiknya itu melalui surat
perintah yang diberikannya kepada Ezra, yang yaitu seorang tokoh agama,
dan sekarang ia menyingkapkannya kembali melalui kuasa yang
748
diberikannya kepada Nehemia, yang yaitu seorang tokoh negara. Oleh
sebab itu, dengan hanya ingin tahu bagaimana ia dapat melakukan sesuatu
yang berguna bagi Yerusalem, sang raja bertanya kepada temannya yang
resah ini, “Jadi, apa yang kauinginkan? Sesuatu yang ingin kaudapatkan. Apa
itu?” Nehemia takut untuk mengatakannya (ay. 2), namun pertanyaan sang
raja ini memberinya keberanian. Jauh terlebih lagi undangan yang telah
diberikan Kristus bagi kita untuk berdoa, dan janji bahwa doa kita akan
dikabulkan, memampukan kita untuk datang dengan penuh keberanian
menghampiri takhta anugerah. Nehemia langsung berdoa kepada Tuhan
semesta langit supaya Ia memberinya hikmat untuk bertanya dengan pantas
dan mencondongkan hati sang raja untuk mengabulkan permintaannya.
Orang-orang yang hendak mendapatkan perkenanan para raja haruslah
memastikan diri mendapat perkenanan Raja segala raja. Nehemia berdoa
kepada Tuhan semesta langit sebagai Tuhan yang secara tak terhingga
mengatasi bahkan sang raja yang perkasa ini. Ini bukanlah doa yang khidmat
sebab ia tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya, melainkan
seruan dari dalam hati yang keluar secara tiba-tiba. Ia mengangkat hatinya
kepada Tuhan yang memahami bahasa hatinya: Tuhan, berikan kepadaku
kata-kata hikmat. Tuhan, biarlah aku mendapat belas kasihan dari orang ini .
Perhatikanlah, sungguh baik apabila kita sering menyampaikan seruan-
seruan yang penuh kesalehan, terutama dalam kesempatan-kesempatan
tertentu. Di mana pun kita berada, ada jalan yang terbuka menuju sorga.
Seruan ini tidak akan menghalangi pekerjaan apa pun, namun justru memaju-
kannya. Oleh sebab itu, janganlah pekerjaan apa pun menghalangi seruan ini,
namun justru memunculkannya. Nehemia telah berdoa dengan sangat
khidmat persis mengenai kesempatan ini (1:11), sekalipun begitu, ketika
kesempatan itu sudah di depan mata, ia berdoa lagi. Seruan yang tiba-tiba
dan doa yang khidmat tidak boleh dipertentangkan satu sama lain, namun
memiliki tempatnya masing-masing.
V. Permohonan Nehemia yang penuh kerendahan hati kepada raja. Ketika
mendapatkan dorongan ini, ia menyampaikan permohonannya dengan
sangat bersahaja dan sikap tunduk pada kebijaksanaan sang raja (ay. 5),
namun itu disampaikannya dengan sangat jelas. Ia meminta sebuah surat
perintah untuk pergi sebagai bupati Yehuda, untuk membangun tembok
Yerusalem, dan tinggal di sana selama jangka waktu tertentu, sekian bulan
lamanya, dapat kita duga. Lalu entah sebab surat perintah kepadanya
diperpanjang atau ia kembali dan kemudian dikirim lagi, sehingga ia sampai
memimpin di sana setidaknya dua belas tahun lamanya (5:14). Ia juga
Kitab Nehemia 2:1-8
749
meminta pengawalan (ay. 7), dan surat perintah bagi bupati-bupati, tidak
hanya untuk mengizinkan dan memperbolehkannya melewati wilayah-
wilayah mereka, namun juga untuk menyediakan apa yang dibutuhkannya
untuk mengerjakan tugasnya, disertai surat perintah lain kepada pengawas
taman raja untuk memberinya kayu bagi pekerjaan yang telah ia rancang.
VI. Perkenanan raja yang besar kepadanya dalam menanyakan kepadanya
bilakah ia kembali (ay. 6). Raja menunjukkan bahwa ia tidak ingin
kehilangan Nehemia, atau berlama-lama tanpanya. Namun untuk
menyenangkan Nehemia, dan untuk melakukan kebaikan yang nyata
terhadap bangsanya, sang raja rela melepasnya pergi sementara, dan
membiarkannya menyelipkan apa saja yang diinginkannya dalam surat
perintah sang raja (ay. 8). Ini yaitu jawaban langsung dari doanya, sebab
keturunan Yakub tidak pernah mencari Tuhan Yakub dengan sia-sia. Dalam
penjelasan yang ia berikan mengenai terkabulnya permintaannya ini, Nehe-
mia memberi perhatian,
1. Tentang kehadiran sang permaisuri. Ia sedang duduk di samping raja
(ay. 6), yang (menurut para ahli) tidak biasa terjadi di istana Persia (Est.
1:11). Tidak begitu pasti apakah permaisuri yaitu musuh sang raja,
yang hendak menghalangi Nehemia, dan Nehemia mencermati hal ini
sebagai pujian bagi penyelenggaraan Tuhan yang penuh kuasa, bahwa
walaupun permaisuri ada di samping raja, namun Nehemia tetap
berhasil. Atau mungkin permaisuri yaitu teman sejati sang raja, dan
Nehemia mencermati hal ini sebagai pujian bagi penyelenggaraan Tuhan
yang begitu baik, hingga permaisuri ada di sana untuk membantu
meluluskan permohonannya.
2. Tentang kuasa dan anugerah Tuhan . Nehemia mendapatkan apa yang ia
harapkan, bukan oleh sebab hasil usahanya, pengaruhnya terhadap
raja, atau kemampuannya yang baik dalam mengatur perkataannya,
melainkan oleh sebab tangan Tuhan nya yang murah melindungi dia. Jiwa
yang beroleh rahmat memberi perhatian terhadap tangan Tuhan , tangan-
Nya yang baik, dalam segala kejadian yang berpihak kepada mereka. Hal
itu terjadi dari pihak TUHAN, dan oleh sebab itu sungguh memuaskan
dua kali lipat.
750
Perjalanan Nehemia ke Yerusalem;
Kejahatan Sanbalat dan Orang-orang Lain
(2:9-20)
9 Maka datanglah aku kepada bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat dan
menyerahkan kepada mereka surat-surat raja. Dan raja menyuruh panglima-panglima
perang dan orang-orang berkuda menyertai aku. 10 Ketika Sanbalat, orang Horon, dan
Tobia, orang Amon, pelayan itu, mendengar hal itu, mereka sangat kesal sebab ada orang
yang datang mengusahakan kesejahteraan orang Israel. 11 Maka tibalah aku di Yerusalem.
Sesudah tiga hari aku di sana, 12 bangunlah aku pada malam hari bersama-sama beberapa
orang saja yang menyertai aku. Aku tidak beritahukan kepada siapa pun rencana yang
akan kulakukan untuk Yerusalem, yang diberikan Tuhan ku dalam hatiku. Juga tak ada lain
binatang kepadaku kecuali yang kutunggangi. 13 Demikian pada malam hari aku keluar
melalui pintu gerbang Lebak, ke jurusan mata air Ular Naga dan pintu gerbang Sampah.
Aku menyelidiki dengan seksama tembok-tembok Yerusalem yang telah terbongkar dan
pintu-pintu gerbangnya yang habis dimakan api. 14 Lalu aku meneruskan perjalananku ke
pintu gerbang Mata Air dan ke kolam Raja. sebab binatang yang kutunggangi tidak dapat
lalu di tempat itu, 15 aku naik ke atas melalui wadi pada malam hari dan menyelidiki
dengan seksama tembok itu. Kemudian aku kembali, lalu masuk melalui pintu gerbang
Lebak. Demikianlah aku pulang. 16 Para penguasa tidak tahu ke mana aku telah pergi dan
apa yang telah kulakukan, sebab sampai kini aku belum memberitahukan apa-apa
kepada orang Yahudi, baik kepada para imam, maupun kepada para pemuka, kepada para
penguasa dan para petugas lainnya. 17 Berkatalah aku kepada mereka: “Kamu lihat
kemalangan yang kita alami, yaitu Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu
gerbangnya telah terbakar. Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita
tidak lagi dicela.” 18 Ketika kuberitahukan kepada mereka, betapa murahnya tangan
Tuhan ku yang melindungi aku dan juga apa yang dikatakan raja kepadaku, berkatalah
mereka: “Kami siap untuk membangun!” Dan dengan sekuat tenaga mereka mulai
melakukan pekerjaan yang baik itu. 19 Ketika Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang
Amon, pelayan itu, dan Gesyem, orang Arab, mendengar itu, mereka mengolok-olokkan
dan menghina kami. Kata mereka: “Apa yang kamu lakukan itu? Apa kamu mau berontak
terhadap raja?” 20 Aku menjawab mereka, kataku: “Tuhan semesta langit, Dialah yang
membuat kami berhasil! Kami, hamba-hamba-Nya, telah siap untuk membangun. namun
kamu tak punya bagian atau hak dan tidak akan diingat di Yerusalem!”
Dalam perikop ini diceritakan kepada kita,
I. Bagaimana Nehemia disuruh pergi dari istana tempat ia diutus. Sang raja
menunjuk panglima-panglima perang dan orang-orang berkuda
menyertainya (ay. 9), baik untuk mengawalnya maupun untuk menunjukkan
bahwa ia yaitu orang yang raja berkenan menghormatinya, supaya semua
pegawai raja dapat memperlakukannya dengan hormat sebagaimana
mestinya. Orang-orang yang diutus oleh Raja segala raja akan dilindungi-Nya
seperti itu, akan dijunjung martabatnya seperti itu dengan bala tentara
malaikat untuk melayani mereka.
II. Bagaimana Nehemia diterima oleh bangsa yang kepadanya ia diutus.
1. Oleh orang-orang Yahudi dan sahabat-sahabat mereka di Yerusalem. Kita
diberi tahu,
Kitab Nehemia 2:1-8
751
(1) Bahwa ketika Nehemia merahasiakan keperluannya, mereka tidak
begitu memperhatikan dirinya. Ia berada di Yerusalem tiga hari (ay.
11), dan kelihatannya tidak ada pembesar kota itu yang
menunggunya untuk menyambut kedatangannya. Sebaliknya, ia
tetap tidak diketahui orang. Raja mengutus orang-orang berkuda
untuk mengawalnya, namun orang-orang Yahudi tidak mengutus
satu orang pun untuk menemuinya. Tidak ada binatang lain padanya
kecuali yang ia tunggangi (ay. 12). Orang-orang bijak, dan mereka
yang layak menerima kehormatan dua kali lipat besarnya, sekalipun
demikian tidak berhasrat untuk datang dengan diperhatikan orang,
untuk mempertunjukkan diri, atau membuat kegaduhan, walaupun
mereka datang dengan berkat-berkat yang paling besar. Dunia pada
saat ini tidak mengenal orang-orang yang akan memerintah di pagi
hari, mereka tetap tersembunyi (1Yoh. 3:1).
(2) Bahwa walaupun mereka tidak begitu memperhatikan dirinya, ia
sangat memperhatikan mereka dan keadaan mereka. Ia bangun pada
malam hari, dan menyelidiki dengan saksama reruntuhan tembok-
tembok itu, mungkin di bawah sinar bulan (ay. 13), supaya ia dapat
melihat apa saja yang perlu diperbaiki dan dengan cara apa mereka
harus memperbaikinya, apakah dasar tembok yang lama masih kuat,
dan apakah ada bahan-bahan bangunan lama yang dapat digunakan.
Perhatikanlah,
[1] Pekerjaan baik dapat selesai dengan baik apabila pada awalnya
dipertimbangkan dengan baik.
[2] Berhikmatlah bagi orang-orang yang bekerja mengurusi
kepentingan masyarakat, untuk sebisa mungkin melihat dengan
mata mereka, dan tidak melanjutkan pekerjaan sepenuhnya
berdasarkan laporan-laporan dan gambaran dari orang lain. Dan
sekalipun begitu, mereka harus melakukannya tanpa kegaduhan,
dan jika mungkin tanpa ada yang tahu.
[3] Orang-orang yang mau membangun tembok-tembok jemaat
harus terlebih dahulu memperhatikan reruntuhan tembok-
tembok itu. Mereka yang ingin tahu bagaimana cara
memperbaiki harus terlebih dahulu mencari tahu apa yang salah,
apa yang perlu diperbaharui, dan apa yang masih dapat
digunakan.
(3) Bahwa ketika Nehemia memberitahukan rencananya kepada para
penguasa dan rakyat, mereka semua dengan senang hati
752
menyetujuinya. Ia pada awalnya tidak memberi tahu mereka tujuan
kedatangannya (ay. 16), sebab ia tidak mau menampakkan bahwa ia
melakukannya untuk pamer, dan sebab , apabila ia mendapati usaha
ini tidak bisa dikerjakan, ia dapat mundur dengan lebih terhormat.
Orang-orang benar yang rendah hati tidak akan mencanangkan
pemberian sedekah atau perbuatan-perbuatan baik mereka yang
lain. Namun demikian, setelah Nehemia melihat dengan saksama dan
mempertimbangkannya, dan mungkin merasakan debar jantung
para pemimpin dan rakyatnya, ia memberi tahu mereka apa yang
diberikan Tuhan dalam hatinya (ay. 12), yaitu untuk membangun
kembali tembok Yerusalem (ay. 17). Amatilah,
[1] Betapa dengan adil ia mengusulkan usaha itu kepada mereka:
“Kamu lihat kemalangan yang kita alami, bagaimana kita tidak
terlindungi dari musuh-musuh yang ada di sekitar kita, betapa
dengan wajar mereka mencela kita sebagai orang-orang bodoh
dan hina, betapa dengan mudah mereka memangsa kita kapan
pun mereka mau. Oleh sebab itu mari, kita bangun kembali tem-
bok Yerusalem.” Ia tidak mencoba mengerjakan pekerjaan itu
tanpa mereka (ini bukan pekerjaan satu orang), tidak pula ia
menyuruh atau berlagak memerintah mereka, walau ia memiliki
surat perintah dari raja. Sebaliknya, dengan cara yang
bersahabat seperti saudara, ia mengimbau dan menggugah
mereka untuk bergabung bersamanya di dalam pekerjaan ini.
Untuk menyemangati mereka, ia berbicara tentang rencananya,
pertama, sebagai rencana yang berasal dari anugerah Tuhan yang
istimewa. Ia tidak mengambil pujian atas rencana ini bagi dirinya
sendiri, sebagai hasil pemikiran yang baik dari dirinya sendiri,
namun mengakui bahwa Tuhan memberikannya dalam hatinya.
Oleh sebab itu, mereka semua harus menyetujuinya (apa saja
yang berasal dari Tuhan harus didukung), dan mereka dapat
berharap akan berhasil di dalamnya, sebab apabila Tuhan
menggerakkan manusia untuk melakukan suatu pekerjaan, maka
Dia akan memberikan pengakuan terhadap mereka dalam
pekerjaan itu. Kedua, sebagai rencana yang perkembangannya
sampai saat ini terjadi berkat pemeliharaan Tuhan yang istimewa.
Nehemia mengeluarkan surat perintah raja, memberi tahu mereka
betapa surat itu diberikan dengan mudah, dan betapa raja tergerak
untuk mendukung rencananya. Dan dalam hal ini Nehemia me-
nyaksikan betapa murahnya tangan Tuhan yang melindunginya. Hal
Kitab Nehemia 2:1-8
753
ini dapat mendorong baik dirinya sendiri maupun mereka untuk
meneruskan pekerjaan yang disenangi Tuhan dengan begitu luar
biasa. Dengan demikian, ia mengusulkan rencana itu kepada
mereka. Lalu,
[2] Mereka semuanya pun mencapai keputusan, untuk sepakat
bekerja bersamanya: Kami siap untuk membangun! Mereka malu
sebab telah duduk diam begitu lama tanpa sedikit pun
mengusahakan pekerjaan yang dibutuhkan ini. Dan sekarang
mereka menetapkan hati untuk bangkit dari kemalasan, untuk
segera bertindak, dan menyemangati satu sama lain. “Kami siap
untuk membangun!,” maksudnya, “marilah kita bekerja dengan
keras, dengan tekun, dan dengan kesungguhan hati, sebagai
orang-orang yang menetapkan hati untuk menyelesaikannya.”
Dan dengan sekuat tenaga, dengan tangan mereka sendiri dan
tangan satu sama lain, mereka mulai melakukan pekerjaan yang
baik itu. Perhatikanlah, pertama, banyak pekerjaan baik akan
menemukan cukup banyak tangan untuk mengerjakan-nya,
apabila ada satu saja orang baik yang mengepalainya. Mereka
semua melihat reruntuhan Yerusalem, namun tidak seorang pun
mengusulkan untuk memperbaikinya. Akan namun , ketika
Nehemia mengusulkannya, mereka semua menyetujuinya.
Sangat disayangkan bahwa usul yang baik harus hilang begitu
saja semata-mata sebab tidak ada orang yang bangkit bergerak
dan memulainya. Kedua, dengan menggerakan diri kita sendiri
dan satu sama lain pada apa yang baik, maka kita menguatkan
diri kita sendiri dan satu sama lain untuk mengerjakannya. Sebab
alasan besar mengapa kita lemah dalam mengerjakan kewajiban
kita yaitu sebab kita dingin terhadapnya, tidak acuh dan tidak
bertekad bulat. Marilah sekarang kita lihat bagaimana Nehemia
diperlakukan,
2. Oleh mereka yang mengharapkan hal buruk bagi orang-orang Yahudi.
Mereka mengutuk orang yang diberkati Tuhan dan Israel kepunyaan-Nya.
(1) Ketika Nehemia baru menunjukkan mukanya saja, mereka menjadi
kesal (ay. 10). Sanbalat and Tobia yaitu dua orang Samaria, namun
yang pertama terlahir sebagai orang Moab, dan yang kedua orang
Amon. Ketika melihat ada seseorang yang datang dengan surat
perintah dari raja untuk membantu orang Israel, mereka sangat
kesal, sebab semua usaha kecil mereka untuk melemahkan Israel di-
754
kacaukan dan digagalkan oleh rancangan yang adil, mulia, dan
murah hati untuk menguatkan Israel. Tidak ada yang lebih
mengesalkan musuh-musuh orang baik, yang telah menjelek-
jelekkan mereka kepada raja sebagai orang yang rusuh, pemecah
belah, dan tidak pantas hidup, selain melihat mereka dipandang
benar oleh pemimpin mereka, dibersihkan dari tuduhan, dan
dihapuskan celanya. Dan bahwa mereka dianggap tidak hanya
pantas hidup, namun juga pantas dipercaya. Ketika mereka melihat
seseorang datang dengan cara demikian, yang mengaku mengusaha-
kan kesejahteraan orang Israel, hal ini membuat hati mereka kesal.
Orang fasik melihatnya, lalu sakit hati.
(2) Ketika Nehemia mulai bertindak, mereka menetapkan hati untuk
menghalanginya, namun sia-sia (ay. 19-20).
[1] Lihatlah di sini dengan alasan remeh seperti apa musuh-musuh
berusaha mematahkan semangatnya. Mereka menggambarkan
usaha ini sebagai hal yang tolol: Mereka mengolok-olokkan dan
menghina kami sebagai tukang-tukang bangunan yang bodoh,
yang tidak dapat menyelesaikan apa yang kami mulai. Mereka
juga menggambarkan usaha ini sebagai hal yang jahat, tidak lebih
baik dibandingkan pengkhianatan: Apa kamu mau berontak terhadap
raja? Oleh sebab ini yaitu tuduhan yang menyakitkan hati
yang sudah ada sejak lama, maka walau sekarang mereka
memiliki surat perintah dari raja dan ditempatkan di bawah
perlindungannya, tetap saja mereka disebut pemberontak.
[2] Lihat juga dengan alasan baik seperti apa orang-orang Yahudi
memandang rendah upaya-upaya untuk mematahkan semangat
mereka ini. Mereka tabah menghadapinya dengan alasan ini,
bahwa mereka yaitu hamba-hamba Tuhan semesta langit, satu-
satunya Tuhan yang benar dan yang hidup, dan bahwa mereka
bertindak bagi-Nya dalam apa yang mereka kerjakan. Oleh sebab
itu, Ia akan menopang mereka dan membuat mereka berhasil,
walaupun bangsa-bangsa menjadi rusuh (Mzm. 2:1). Mereka juga
memandang bahwa alasan mengapa musuh-musuh ini menjelek-
jelekkan mereka seperti itu yaitu sebab para musuh tidak
memiliki hak tingal di Yerusalem, namun iri terhadap hak mereka
atas kota itu. Demikianlah ancaman-ancaman yang tidak berdaya
dari musuh-musuh jemat dapat dengan mudah dipandang rendah
oleh sahabat-sahabat jemaat.
Kitab Nehemia 2:1-8
755
PASAL 3
erbicara dan bertindak sering merupakan dua hal yang berbeda. Banyak
orang yang siap berkata, “Mari kita bangkit dan membangun,” namun
mereka tetap duduk dan tidak berbuat apa-apa, seperti anak laki-laki yang
bermulut manis itu, yang berkata, “Aku mau pergi,” namun kenyataannya tidak
pergi. Para pekerja di sini tidaklah termasuk orang-orang seperti itu. Segera
sesudah bertekad untuk membangun tembok di sekeliling Yerusalem, mereka
tidak mau membuang-buang waktu, melainkan segera memulainya, seperti yang
kita jumpai dalam pasal ini. Janganlah pernah dikatakan bahwa kita menunda-
nunda pekerjaan baik untuk dikerjakan besok, padahal kita bisa
mengerjakannya pada hari ini. Pasal ini memberikan sebuah penjelasan tentang
dua hal:
I. Nama-nama para pembangun tembok itu, yang dicatat di sini bagi
kehormatan mereka, sebab mereka dalam hal ini menunjukkan
semangat yang begitu besar bagi Tuhan dan negeri mereka. Mereka
menunjukkan jiwa yang saleh dan yang peduli pada orang banyak,
mereka menunjukkan baik ketekunan maupun keberanian yang besar.
Dan apa yang mereka lakukan memang pantas untuk dituliskan secara
panjang lebar seperti itu, baik sebagai pujian bagi mereka maupun
untuk mendorong orang lain agar mengikuti teladan mereka.
II. Urutan pembangunan tembok itu. Mereka mengerjakan apa yang ada di
hadapan mereka, dan mengakhiri di mana mereka memulai. Mereka
memperbaiki,
1. Dari mulai pintu gerbang Domba hingga pintu gerbang Ikan (ay. 1-
2).
2. Kemudian ke pintu gerbang Lama (ay. 3-5).
3. Kemudian ke pintu gerbang Lebak (ay. 6-12).
4. Lalu ke pintu gerbang Sampah (ay. 13-14).
5. Lalu ke pintu gerbang Mata Air (ay. 15).
B
758
6. Lalu ke pintu gerbang Air (ay. 16-26).
7. Lalu dari pintu gerbang Kuda hingga ke pintu gerbang Domba lagi,
di mana mereka memulai (ay. 27-32), dan dengan demikian mereka
bekerja mengelilingi kota itu.
Pembangunan Kembali Tembok Yerusalem
(3:1-32)
1 Maka bersiaplah imam besar Elyasib dan para imam, saudara-saudaranya, lalu
membangun kembali pintu gerbang Domba. Mereka mentahbiskannya dan memasang
pintu-pintunya. Mereka mentahbiskannya sampai menara Mea, menara Hananeel. 2
Berdekatan dengan mereka orang-orang Yerikho membangun, dan berdekatan dengan
orang-orang itu Zakur bin Imri. 3 Pintu gerbang Ikan dibangun oleh bani Senaa. Mereka
memasang balok-balok lalu memasang pintu-pintunya dengan pengancing-pengancing
dan palang-palangnya. 4 Berdekatan dengan mereka Meremot bin Uria bin Hakos meng-
adakan perbaikan, dan berdekatan dengan dia Mesulam bin Berekhya bin Mesezabeel.
Berdekatan dengan dia Zadok bin Baana mengadakan perbaikan, 5 dan berdekatan
dengan dia orang-orang Tekoa. Hanya pemuka-pemuka mereka tidak mau memberi
bahunya untuk pekerjaan tuan mereka. 6 Pintu gerbang Lama diperbaiki oleh Yoyada bin
Paseah dan Mesulam bin Besoja. Mereka memasang balok-balok lalu memasang pintu-
pintunya dengan pengancing-pengancing dan palang-palangnya. 7 Berdekatan dengan
mereka Melaca, orang Gibeon, dan Yadon, orang Meronot, mengadakan perbaikan beserta
orang-orang Gibeon dan Mizpa, yang berada di wilayah kekuasaan bupati daerah sebelah
barat sungai Efrat. 8 Berdekatan dengan mereka Uziel bin Harhaya, salah seorang tukang
emas, mengadakan perbaikan, dan berdekatan dengan dia Hananya, seorang juru campur
rempah-rempah. Mereka memperkokoh Yerusalem sampai tembok Lebar. 9 Berdekatan
dengan mereka Refaya bin Hur, penguasa setengah wilayah Yerusalem yang satu meng-
adakan perbaikan. 10 Berdekatan dengan dia Yedaya bin Harumaf mengadakan perbaikan,
tepat di depan rumahnya, dan berdekatan dengan dia Hatus bin Hasabneya. 11 Malkia bin
Harim dan Hasub bin Pahat-Moab memperbaiki bagian yang lain dan menara Perapian. 12
Berdekatan dengan mereka Salum bin Halohesh, penguasa setengah wilayah Yerusalem
yang lain mengadakan perbaikan bersama-sama anak-anak wanita nya. 13 Pintu
gerbang Lebak diperbaiki oleh Hanun dan penduduk Zanoah. Mereka membangunnya
kembali dan memasang pintu-pintunya dengan pengancing-pengancing dan palang-
palangnya. Pula tembok diperbaiki sepanjang seribu hasta sampai pada pintu gerbang
Sampah. 14 Pintu gerbang Sampah diperbaiki oleh Malkia bin Rekhab, penguasa wilayah
Bet-Kerem. Ia membangunnya kembali dan memasang pintu-pintunya dengan
pengancing-pengancing dan palang-palangnya. 15 Pintu gerbang Mata Air diperbaiki oleh
Salum bin Kolhoze, penguasa wilayah Mizpa. Pintu gerbang itu dibangunnya kembali,
diberinya atap dan dipasangnya pintu-pintunya dengan pengancing-pengancing dan
palang-palangnya. Juga diperbaikinya tembok kolam penampung air saluran, dekat taman
raja sampai pada tangga-tangga yang menurun dari kota Daud. 16 Di sampingnya Nehemia
bin Azbuk, penguasa setengah wilayah Bet-Zur, mengadakan perbaikan sampai di depan
pekuburan Daud dan sampai pada kolam buatan dan rumah para pahlawan. 17 Di
sampingnya orang-orang Lewi mengadakan perbaikan, yaitu Rehum bin Bani, dan
berdekatan dengan dia Hasabya, penguasa setengah wilayah Kehila yang satu, untuk
wilayahnya.
18 Di sampingnya saudara-saudara mereka, yaitu Binui bin Henadad, penguasa setengah
wilayah Kehila yang lain, mengadakan perbaikan. 19 Berdekatan dengan dia Ezer bin
Yesua, penguasa Mizpa, memperbaiki bagian yang berikut, di depan pendakian ke gudang
senjata, dekat Sudut. 20 Di sampingnya Barukh bin Zabai memperbaiki bagian yang
berikut, dari Sudut sampai pada pintu masuk rumah imam besar Elyasib. 21 Di
sampingnya Meremot bin Uria bin Hakos memperbaiki bagian yang berikut, dari pintu
Kitab Nehemia 3:1-32
759
masuk rumah Elyasib sampai pada ujung rumah Elyasib. 22 Di sampingnya para imam,
orang-orang dari Lembah Yordan, mengadakan perbaikan. 23 Di samping mereka Be-
nyamin dan Hasub mengadakan perbaikan di depan rumah mereka. Di samping mereka
Azarya bin Maaseya bin Ananya mengadakan perbaikan di samping rumahnya. 24 Di
sampingnya Binui bin Henadad memperbaiki bagian yang berikut, dari rumah Azarya
sampai Sudut dan sampai Penjuru. 25 Palal bin Uzai mengadakan perbaikan di depan
Sudut dan di depan menara yang tinggi yang menonjol dari istana raja, dekat pelataran
penjagaan. Di sampingnya Pedaya bin Paros mengadakan perbaikan 26 sampai di depan
pintu gerbang Air, di sebelah timur, dan di depan menara yang menonjol. Adapun para
budak di bait Tuhan tinggal di Ofel. 27 Di samping Pedaya orang-orang Tekoa memperbaiki
bagian yang berikut, dari depan menara besar yang menonjol itu sampai tembok Ofel. 28
Mulai dari pintu gerbang Kuda para imam mengadakan perbaikan, masing-masing di
depan rumahnya. 29 Di samping mereka Zadok bin Imer mengadakan perbaikan di depan
rumahnya. Di sampingnya Semaya bin Sekhanya, penjaga pintu gerbang Timur. 30 Di
sampingnya Hananya bin Selemya dan Hanun, anak Zalaf yang keenam, memperbaiki
bagian yang berikut. Di samping mereka Mesulam bin Berekhya mengadakan perbaikan
di depan biliknya. 31 Di sampingnya Malkia, seorang tukang emas, mengadakan perbaikan
sampai pada rumah para budak di bait Tuhan dan para pedagang, di depan pintu gerbang
Pendaftaran dan sampai pada kamar atas di penjuru. 32 Lalu antara kamar atas di penjuru
dan pintu gerbang Domba para tukang emas dan para pedagang mengadakan perbaikan.
Cara terbaik untuk mengetahui bagaimana membagi pasal ini yaitu dengan
mencermati bagaimana pekerjaan membangun tembok itu dibagi di antara para
pekerja. Pembagian itu dimaksudkan agar setiap orang dapat mengetahui apa
yang harus dilakukannya, dan dapat mengurusi pekerjaannya sesuai pembagian
tersebut, dengan keinginan yang kudus untuk berlomba menjadi yang terbaik
dan paling unggul, namun tanpa pertikaian, permusuhan, atau kepentingan
sendiri-sendiri. Tidak ada perselisihan yang muncul di antara mereka selain
siapa yang harus berbuat paling banyak bagi kepentingan bersama. Ada
sejumlah hal yang patut diperhatikan dalam penjelasan yang diberikan di sini
tentang pembangunan tembok di sekeliling Yerusalem:
I. Bahwa Elyasib sang imam besar, dengan saudara-saudaranya para imam,
memimpin barisan depan dalam pasukan pembangun ini (ay. 1). Hamba-
hamba Tuhan haruslah menjadi yang terdepan dalam setiap pekerjaan baik,
sebab jabatan mereka mewajibkan mereka untuk mengajar dan
menggiatkan orang lain melalui keteladanan mereka, seperti juga melalui
ajaran mereka. Jika ada pekerjaan, siapakah yang begitu pantas untuk
bekerja selain mereka? Jika ada bahaya, siapakah yang begitu pantas untuk
memberanikan diri menghadapinya selain mereka? Martabat imam besar
sangatlah tinggi, dan mewajibkan dia untuk menjadi yang terdepan dalam
pekerjaan ini. Para imam memperbaiki pintu gerbang Domba, disebut
demikian sebab melalui pintu itu domba-domba yang harus dikorbankan di
dalam Bait Suci dibawa masuk. Itulah sebabnya para imam turun tangan
untuk memperbaikinya, sebab korban api-apian kepada TUHAN yaitu
760
bagian mereka. Dan hanya tentang pintu gerbang ini dikatakan bahwa
mereka mentahbiskannya dengan firman dan doa, dan mungkin dengan
korban persembahan,
1. Sebab pintu gerbang tersebut menuju ke Bait Suci. Atau,
2. Sebab dengan pintu gerbang ini pembangunan tembok dimulai, dan ada
kemungkinan, kendati mereka mengerjakan seluruh bagian tembok pada
waktu yang sama, bahwa pintu gerbang inilah yang pertama
diselesaikan. Oleh sebab nya, di pintu gerbang inilah mereka dengan
khidmat menyerahkan kota mereka dan tembok-temboknya kepada
perlindungan ilahi. Atau,
3 Sebab para imam yaitu orang-orang yang membangun tembok itu. Dan
sudah sepatutnya hamba-hamba Tuhan, di atas semua orang lain, sebab
mereka sendiri secara istimewa dikuduskan bagi Tuhan , untuk
menguduskan bagi-Nya semua perbuatan mereka, dan untuk melakukan
bahkan pekerjaan-pekerjaan biasa mereka dengan suatu cara yang
berkenan kepada Tuhan .
II. Bahwa para pekerjanya sangat banyak, yang masing-masing mengerjakan
bagiannya dalam pekerjaan ini, sebagian lebih banyak dan sebagian yang
lain lebih sedikit, sesuai dengan kemampuan mereka. Perhatikanlah, apa
yang harus dilakukan demi kebaikan bersama, haruslah setiap orang ikut
membantu di dalamnya, dan lebih jauh lagi, membantu dengan sebaik-
baiknya menurut tempat dan kedudukannya. Kekuatan gabungan akan me-
naklukkan apa yang tidak berani dilakukan oleh orang perorangan. Banyak
tangan yang membantu akan meringankan pekerjaan.
III. Bahwa banyak orang yang bukan penduduk Yerusalem turut giat bekerja
membangun tembok ini, dan sebab itu mereka semata-mata
mengedepankan kesejahteraan bersama dan bukan kepentingan atau
keuntungan pribadi. Di sini ada orang-orang Yerikho yang membangun
bersama para pembangun pertama (ay. 2), orang-orang Gibeon dan Mizpa
(ay. 7), dan penduduk Zanoah (ay. 13). Setiap orang Israel harus
mengulurkan tangan untuk membantu pembangunan Yerusalem.
IV. Bahwa sejumlah penguasa, baik dari Yerusalem maupun dari kota-kota lain,
turut giat bekerja membangun tembok ini, dengan menganggap diri mereka
terikat oleh rasa hormat untuk berbuat sebaik-baiknya bagi kemajuan
pekerjaan baik ini, sebagaimana kekayaan dan kekuasaan mereka
memampukan mereka untuk melakukannya. Namun patut diperhatikan
Kitab Nehemia 3:1-32
761
bahwa mereka disebut penguasa wilayah, atau setengah wilayah, dari kota-
kota mereka. Salah seorang di antara mereka yaitu penguasa setengah wila-
yah Yerusalem (ay. 12), yang lain penguasa setengah wilayah Bet-Kerem (ay.
14), yang lain penguasa setengah wilayah Mizpa (ay. 15), dan yang lain lagi
penguasa setengah wilayah Bet-Zur (ay. 16). Yang seorang yaitu penguasa
setengah wilayah Kehila yang satu, dan yang lain yaitu penguasa setengah
wilayah Kehila yang lain (ay. 17-18). Mungkin pemerintah Persia tidak mau
mempercayakan sebuah kota yang kuat kepada satu orang, namun menunjuk
dua orang untuk menjadi pengawas satu sama lain. Roma memiliki dua
orang penguasa.
V. Di sini ada celaan yang pantas diberikan kepada para pemuka Tekoa, bahwa
mereka tidak mau memberi bahunya untuk pekerjaan tuan mereka (ay. 5),
yaitu, mereka tidak mau memikul kuk kewajiban pekerjaan ini. Seakan-akan
martabat dan kemerdekaan kaum bangsawan yang mereka sandang
membebaskan mereka dari tugas melayani Tuhan dan berbuat baik, yang
sesungguhnya merupakan kehormatan tertinggi dan kemerdekaan yang
sejati. Janganlah kaum bangsawan merasa rendah untuk mengerjakan apa
yang dapat memajukan kepentingan-kepentingan negeri mereka. Sebab apa
gunanya kebangsawanan mereka kalau bukan untuk menempatkan mereka
dalam kedudukan yang membuat mereka jauh lebih bermanfaat dibandingkan
yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang ada di bawah mereka?
VI. Ada dua orang yang bergabung dalam memperbaiki pintu gerbang Lama (ay.
6), dan dengan demikian keduanya menjadi pendiri bersama, dan berbagi
kehormatan dalam memperbaiki pintu gerbang itu. Apabila ada pekerjaan
baik yang tidak dapat kita tangani sendiri, kita harus bersyukur kepada
orang-orang yang mau bekerja sama dengan kita di dalamnya. Sebagian
penafsir berpendapat bahwa pintu ini disebut pintu gerbang Lama sebab
pintu itu termasuk kota kuno Salem, yang dikatakan pertama kali dibangun
oleh Melkisedek.
VII. Sejumlah pedagang yang baik dan jujur, dan juga para imam dan penguasa,
turut giat bekerja membangun tembok ini – tukang emas, juru campur
rempah-rempah, dan para pedagang (ay. 8, 32). Mereka tidak menganggap
bahwa pekerjaan mereka mengecualikan mereka dari pembangunan tembok
ini, atau membela diri bahwa mereka tidak dapat meninggalkan toko mereka
untuk mengurusi kepentingan umum, sebab mereka mengetahui bahwa apa
762
yang hilang dari mereka pasti akan dikembalikan kepada mereka oleh berkat
Tuhan atas pekerjaan mereka.
VIII. Beberapa wanita dikatakan menolong memajukan pekerjaan ini – Salum
bin Halohesh bersama-sama anak-anak wanita nya (ay. 12). Walaupun
mereka sendiri tidak mampu bekerja, namun sebab memiliki bagian milik
pusaka di tangan mereka sendiri, atau sebab merupakan para janda yang
kaya, mereka menyumbangkan uang untuk membeli bahan-bahan bangunan
dan mengupah para pekerja. Rasul Paulus juga berbicara tentang beberapa
wanita saleh yang telah berjuang dengan dia dalam pekabaran Injil (Flp.
4:3).
IX. Tentang sebagian orang dikatakan bahwa mereka mengadakan
perbaikan tepat di depan rumah mereka (ay. 10, 23, 28-29), dan tentang
seseorang, yang mungkin hanyalah seorang yang menumpang tinggal,
dikatakan bahwa ia mengadakan perbaikan di depan biliknya (ay. 30). Ketika
sebuah pekerjaan baik milik bersama harus dilakukan, maka setiap orang
harus mengerjakan bagian yang berada paling dekat dengannya dan yang
berada dalam jangkauannya. Jika setiap orang mau menyapu di depan pintu
rumahnya sendiri, maka jalanan akan menjadi bersih. Jika setiap orang mau
memperbaiki satu orang, maka kita semua akan menjadi baik-baik saja. Jika
seseorang yang hanya memiliki sebuah bilik mau mengadakan perbaikan di
depan bilik itu, maka dia telah melakukan bagiannya.
X. Tentang seseorang dikatakan bahwa dia dengan sungguh-sungguh
memperbaiki apa yang menjadi bagiannya (ay. 20, KJV), dia melakukannya
dengan semangat yang berkobar-kobar. Bukan berarti yang lain bersikap
dingin atau acuh tak acuh, namun dialah yang paling bersemangat dari antara
mereka, dan sebagai akibatnya membuat dirinya menonjol. Memang baik
kalau orang dengan giat berusaha seperti itu dalam perkara-perkara yang
baik. Dan ada kemungkinan bahwa semangat orang baik ini telah mendorong
banyak orang untuk bekerja lebih keras dan lebih cepat.
XI. Tentang salah seorang dari para pembangun ini dicatat bahwa dia yaitu
anak yang keenam dari ayahnya (ay. 30). Lima kakak laki-lakinya,
sepertinya, tidak mengulurkan tangan bagi pekerjaan ini, lain halnya dengan
dia. Dalam melakukan apa yang baik, kita tidak perlu berdiam diri menunggu
saudara-saudara kita yang lebih tua bekerja mendahului kita. Jika mereka
menolak, tidak berarti bahwa kita pun harus menolak. Dengan demikian
Kitab Nehemia 3:1-32
763
saudara yang lebih muda, jika dia yaitu orang yang lebih baik, dan melayani
Tuhan serta angkatannya dengan lebih baik, sesungguhnya merupakan orang
yang lebih berbudi luhur. Orang-orang yang paling terhormat yaitu orang-
orang yang paling berguna.
XII. Sebagian dari orang-orang yang selesai terlebih dahulu, kemudian menolong
saudara-saudara mereka, dan turun tangan melakukan bagian lain yang
mereka lihat paling dibutuhkan. Meremot mengadakan perbaikan (ay. 4),
dan lagi (ay. 21). Dan orang-orang Tekoa, di samping bagian yang mereka
perbaiki (ay. 5), mengadakan perbaikan untuk bagian lain (ay. 27), yang
semakin mengagumkan sebab para pemuka mereka memberi contoh yang
buruk dengan menarik diri dari pekerjaan itu. Dan hal ini bukannya
memberi mereka dalih untuk duduk-duduk saja, namun mungkin justru
membuat mereka lebih tergerak untuk bekerja keras dua kali lipat, supaya
dengan semangat mereka, mereka dapat mempermalukan atau menebus
keserakahan dan ketidakpedulian para pemuka mereka.
Yang terakhir, tidak disebutkan di sini bagian apa yang dikerjakan oleh
Nehemia sendiri dalam pekerjaan ini. Orang yang namanya sama dengan
Nehemia disebutkan (ay. 16). namun benarkah Nehemia tidak melakukan
apa-apa? Ya, kendati dia tidak mengerjakan bagian apa pun dari tembok itu,
namun dia bekerja lebih banyak dibandingkan siapa saja dari mereka, sebab dia
mengawasi mereka semua. Separuh dari anak buahnya bekerja di bagian yang
paling dibutuhkan, dan separuh lagi berdiri berjaga-jaga, seperti yang kita
jumpai sesudahnya (4:16). Sementara dia sendiri berjalan keliling, sambil
mengarahkan dan menguatkan orang-orang yang sedang membangun,
mengulurkan tangan untuk membantu apabila dilihatnya ada kebutuhan, dan
tetap mengawasi gerak-gerik musuh, seperti yang akan kita jumpai di dalam
pasal berikutnya. Seorang nahkoda kapal tidak perlu menarik tali, cukuplah
baginya untuk mengarahkan kemudi.
PASAL 4
alam pasal sebelumnya kita meninggalkan semua tangan sedang bekerja
membangun tembok di sekeliling Yerusalem. Namun pekerjaan baik
seperti itu biasanya tidak dapat dilanjutkan tanpa perlawanan. Sekarang di sini
kita diberi tahu perlawanan seperti apa yang dilancarkan terhadapnya, dan cara-
cara apa yang diambil Nehemia untuk meneruskan pekerjaan itu, kendati
dengan perlawanan tersebut.
I. Para musuh mencela dan mencemooh pekerjaan mereka, namun ejekan
para musuh itu mereka balas dengan doa. Mereka tidak menghiraukan
cemoohan para musuh, namun melanjutkan pekerjaan mereka kendati
dengan cemoohan itu (ay. 1-6).
II. Para musuh membentuk sebuah rancangan yang berdarah melawan
mereka, untuk menghalang-halangi pekerjaan mereka melalui
kekerasan dengan senjata (ay. 7-8, 10-12). Untuk berjaga-jaga terhadap
rancangan ini, Nehemia berdoa (ay. 9), menempatkan para penjaga (ay.
13), dan menguatkan mereka untuk berperang (ay. 14). Melalui
tindakannya ini rancangan tersebut digagalkan (ay. 15), dan dengan
demikian pekerjaan itu dilanjutkan dengan segala kewaspadaan yang
diperlukan untuk menghadapi serangan mendadak (ay. 16-23). Dalam
kesemuanya ini Nehemia membuktikan diri sebagai seorang yang
penuh hikmat dan keberanian, dan juga kesalehan yang tinggi.
Perlawanan Sanbalat dan Kawan-kawan
(4:1-6)
1 Ketika Sanbalat mendengar, bahwa kami sedang membangun kembali tembok,
bangkitlah amarahnya dan ia sangat sakit hati. Ia mengolok-olokkan orang Yahudi 2 dan
berkata di hadapan saudara-saudaranya dan tentara Samaria: “Apa gerangan yang
dilakukan orang-orang Yahudi yang lemah ini? Apakah mereka memperkokoh sesuatu?
Apakah mereka hendak membawa persembahan? Apakah mereka akan selesai dalam
D
766
sehari? Apakah mereka akan menghidupkan kembali batu-batu dari timbunan puing yang
sudah terbakar habis seperti ini?” 3 Lalu berkatalah Tobia, orang Amon itu, yang ada di
dekatnya: “Sekalipun mereka membangun kembali, kalau seekor anjing hutan meloncat
dan menyentuhnya, robohlah tembok batu mereka.” 4 Ya, Tuhan kami, dengarlah
bagaimana kami dihina. Balikkanlah cercaan mereka menimpa kepala mereka sendiri dan
serahkanlah mereka menjadi jarahan di tanah tempat tawanan. 5 Jangan Kaututupi
kesalahan mereka, dan dosa mereka jangan Kauhapus dari hadapan-Mu, sebab mereka
menyakiti hati-Mu dengan sikap mereka terhadap orang-orang yang sedang membangun.
6 namun kami terus membangun tembok sampai setengah tinggi dan sampai ujung-
ujungnya bertemu, sebab seluruh bangsa bekerja dengan segenap hati.
Dalam perikop ini kita mendapati,
I. Hinaan yang keji dan penuh cemooh yang dilontarkan Sanbalat dan Tobia
kepada orang-orang Yahudi atas upaya mereka membangun tembok di
sekeliling Yerusalem. Hal itu menjadi bahan perbincangan hangat di seluruh
negeri pada waktu itu, dan kabar tentangnya dibawa ke Samaria, sarang dari
orang-orang yang memusuhi bangsa Yahudi dan kesejahteraan mereka. Dan
di sini kita diberi tahu bagaimana para musuh menerima kabar itu.
1. Di dalam hati. Mereka sangat marah terhadap usaha pembangunan itu,
dan sangat sakit hati (ay. 1). Sungguh kesal hati mereka bahwa Nehemia
datang untuk mengupayakan kesejahteraan orang Israel (2:10). Akan
namun , ketika mendengar bahwa pekerjaan besar ini akan memberi
kebaikan bagi orang Israel, mereka kehilangan seluruh kesabaran.
Sampai pada saat itu mereka menghibur diri dengan pikiran bahwa
selama Yerusalem tidak bertembok, mereka dapat menelannya habis-
habis dan menjadikan diri mereka penguasa atas kota tersebut kapan
pun mereka mau. Namun, jika ditembok, maka kota itu tidak hanya
dipagari dari mereka, namun juga perlahan-lahan akan menjadi sangat
tangguh bagi mereka. Kekuatan dan keamanan jemaat membuat para
musuhnya sangat sedih dan kesal.
2. Dalam perkataan. Para musuh memandang rendah kabar itu, dan
menjadikannya sebagai bahan ejekan. Dalam hal ini mereka sudah cukup
memperlihatkan kebencian mereka. Namun kebaikan dimunculkan
darinya. Sebab, dengan memandangnya sebagai usaha bodoh yang akan
tenggelam oleh bebannya sendiri, mereka tidak berusaha
menghalanginya sampai semuanya sudah sangat terlambat. Marilah kita
lihat betapa dengan penuh kesombongan dan kebencian mereka
menetapkan hati untuk mengolok-olok usaha itu di hadapan semua
orang.
(1) Sanbalat berbicara dengan mencemooh tentang para pekerja:
“Orang-orang Yahudi yang lemah ini” (ay. 2), “apa yang akan mereka
Kitab Nehemia 4:1-6
767
lakukan dengan bahan-bahan bangunannya? Apakah mereka akan
menghidupkan kembali batu-batu dari timbunan puing? Dan mengapa
mereka bekerja dengan begitu tergesa-gesa? Apakah mereka
menyangka akan sanggup menyelesaikan pembangunan tembok di
sekeliling kota hanya dalam waktu sehari, dan mengadakan
perayaan penahbisan dengan korban pada hari berikutnya? Dasar
orang-orang bodoh! Lihatlah betapa mereka membuat diri mereka
sendiri menjadi konyol!”
(2) Tobia berbicara dengan tidak kalah menghinanya tentang pekerjaan
itu sendiri. Ia punya lelucon juga, dan harus menunjukkan
kebolehannya (ay. 3). Para pencemooh yang cemar menajamkan satu
sama lain. “Pekerjaan yang menyedihkan,” katanya, “mungkin itulah
jadinya nanti, dan mereka sendiri akan dibuat malu olehnya. Kalau
seekor anjing hutan meloncat dan menyentuhnya, bukan dengan ke-
licikannya, melainkan dengan berat tubuhnya, maka ia akan
merobohkan tembok batu mereka.” Banyak pekerjaan baik telah
dipandang rendah seperti itu oleh para pencemooh yang kurang ajar
dan sombong.
II. Nehemia dengan rendah hati dan saleh membawa dirinya kepada Tuhan
ketika mendengar cemoohan-cemoohan ini. Ada kabar yang dibawa
kepadanya tentang apa yang mereka katakan. Ada kemungkinan bahwa
mereka sendirilah yang sengaja mengirimkan pesan itu kepadanya, untuk
mematahkan semangatnya, sambil berharap bahwa dengan mengejeknya, ia
akan meninggalkan upayanya itu. namun Nehemia tidak menjawab orang-
orang bebal ini menurut kebodohan mereka. Ia tidak menegur mereka atas
kelemahan mereka, namun memandang kepada Tuhan melalui doa.
1. Nehemia memohon kepada Tuhan untuk memperhatikan penghinaan-
penghinaan yang ditujukan kepada mereka (ay. 4), dan dalam hal ini kita
harus meneladani dia: Ya Tuhan kami, dengarlah bagaimana kami
dihina. Perhatikanlah,
(1) Umat Tuhan telah sering kali menjadi umat yang dipandang hina, dan
dijejali dengan cercaaan.
(2) Tuhan mendengar, dan akan mendengar semua hinaan yang
ditimpakan ke atas umat-Nya, dan suatu penghiburan bagi mereka
bahwa Tuhan mendengarnya, dan suatu alasan yang baik mengapa
mereka harus berpura-pura seperti orang tuli yang tidak
mendengarnya (Mzm. 38:14-16). “Engkaulah Tuhan kami, dan
768
kepada-Mulah kami mengadu. Perkara kami hanya perlu
didengarkan secara adil.”
2. Nehemia memohon kepada Tuhan untuk membalaskan perkara mereka
dan membalikkan hinaan itu kepada musuh-musuh itu sendiri (ay. 4-5).
Dan hal ini diucapkan lebih melalui roh nubuatan dibandingkan roh doa, dan
tidak patut ditiru oleh kita yang diajar oleh Kristus untuk berdoa bagi
orang-orang yang mencaci kita dan menganiaya kita. Kristus sendiri
berdoa bagi orang-orang yang mencemooh Dia: Ya Bapa, ampunilah
mereka. Nehemia di sini berdoa, jangan Kaututupi kesalahan mere-
ka. Perhatikanlah,
(1) Orang-orang yang menimpakan hinaan ke atas umat Tuhan hanya
mempersiapkan kehinaan kekal bagi diri mereka sendiri.
(2) Menghina umat Tuhan yaitu dosa yang darinya para pendosa jarang
diinsafkan. Tak diragukan lagi bahwa Nehemia mempunyai alasan
untuk menganggap hati orang-orang berdosa itu sudah mengeras
tanpa bisa ditolong lagi, sehingga mereka tidak akan pernah bertobat
darinya, sebab jika tidak, tentu dia tidak akan berdoa agar dosa ter-
sebut jangan dihapuskan. Alasan yang diberikan Nehemia bukan
sebab mereka telah menghina kami, melainkan sebab mereka telah
menyakiti hati-Mu, dan itu dilakukan di hadapan orang-orang yang
sedang membangun. Dan ada kemungkinan bahwa mereka
mengirimkan sebuah pesan yang menghina kepada orang-orang itu.
Perhatikanlah, kita harus marah terhadap kejahatan para
penganiaya, bukan sebab hal itu menghina kita, melainkan sebab
hal itu menyakiti hati Tuhan . Dan dengan alasan itu kita dapat men-
dasarkan pengharapan bahwa Tuhan akan tampil melawan kejahatan
itu (Mzm. 74:18, 22).
III. Semangat orang-orang yang sedang membangun, kendati dengan segala
cemoohan ini (ay. 6). Mereka bekerja dengan begitu cepat sehingga dalam
waktu singkat mereka telah membangun tembok sampai setengah tingginya,
sebab seluruh bangsa bekerja dengan segenap hati. Hati mereka tertuju pada
pekerjaan itu, dan mereka ingin agar pekerjaan itu terus maju.
Perhatikanlah,
1. Pekerjaan baik akan terus berjalan dengan baik apabila orang
mengerjakannya dengan segenap hati.
2. Celaan para musuh seharusnya menyemangati kita untuk melakukan
kewajiban kita, dan bukan malah menjauhkan kita darinya.
Kitab Nehemia 4:1-6
769
Perlawanan Sanbalat dan Kawan-kawan
(4:7-15)
7 Ketika Sanbalat dan Tobia serta orang Arab dan orang Amon dan orang Asdod
mendengar, bahwa pekerjaan perbaikan tembok Yerusalem maju dan bahwa lobang-
lobang tembok mulai tertutup, maka sangat marahlah mereka. 8 Mereka semua
mengadakan persepakatan bersama untuk memerangi Yerusalem dan mengadakan
kekacauan di sana. 9 namun kami berdoa kepada Tuhan kami, dan mengadakan penjagaan
terhadap mereka siang dan malam sebab sikap mereka. 10 Berkatalah orang Yehuda:
“Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup
kami membangun kembali tembok ini.” 11 namun lawan-lawan kami berpikir: “Mereka
tidak akan tahu dan tidak akan melihat apa-apa, sampai kita ada di antara mereka,
membunuh mereka dan menghentikan pekerjaan itu.” 12 Ketika orang-orang Yahudi yang
tinggal dekat mereka sudah sepuluh kali datang memperingatkan kami: “Mereka akan
menyerang kita dari segala tempat tinggal mereka,” 13 maka aku tempatkan rakyat
menurut kaum keluarganya dengan pedang, tombak dan panah di bagian-bagian yang
paling rendah dari tempat itu, di belakang tembok, di tempat-tempat yang terbuka. 14
Kuamati semuanya, lalu bangun berdiri dan berkata kepada para pemuka dan para
penguasa dan kepada orang-orang yang lain: “Jangan kamu takut terhadap mereka!
Ingatlah kepada Tuhan yang maha besar dan dahsyat dan berperanglah untuk saudara-
saudaramu, untuk anak-anak lelaki dan anak-anak wanita mu, untuk isterimu dan
rumahmu.” 15 Ketika didengar musuh kami, bahwa rencana mereka sudah kami ketahui
dan bahwa Tuhan telah menggagalkannya, maka dapatlah kami semua kembali ke tembok,
masing-masing ke pekerjaannya.
Dalam perikop ini kita mendapati,
I. Persekongkolan yang dibuat oleh musuh-musuh orang Yahudi untuk
melawan mereka, untuk mencegah pembangunan tembok itu dengan
membunuh para pembangunnya. Orang-orang yang bersekongkol itu bukan
hanya Sanbalat dan Tobia, melainkan juga bangsa tetangga lain yang telah
mereka tarik ke dalam persekongkolan tersebut. Mereka membuai diri
dengan khayalan bahwa pekerjaan itu akan segera terhenti dengan
sendirinya. Akan namun , ketika mendengar bahwa pekerjaan itu terus
berjalan dengan lancar, mereka pun menjadi marah kepada orang-orang
Yahudi sebab begitu cepat mendorong maju pekerjaan itu, dan marah
kepada diri mereka sendiri sebab begitu lambat dalam melawannya (ay. 7):
Maka sangat marahlah mereka. Terkutuklah kemarahan mereka, sebab
amarahnya keras, terkutuklah keberangan mereka, sebab berangnya bengis.
Tidak ada hal lain yang ingin mereka lakukan selain memerangi
Yerusalem (ay. 8). namun mengapa, ada pertengkaran apa antara mereka dan
orang-orang Yahudi? Apakah orang-orang Yahudi telah berbuat jahat kepada
mereka? Atau bermaksud untuk berbuat jahat terhadap mereka? Tidak,
orang Yahudi hidup dengan damai di samping mereka. Mereka ingin
memerangi orang Yahudi semata-mata sebab iri hati dan kebencian.
Mereka membenci kesalehan orang Yahudi, dan sebab nya merasa kesal
770
melihat keberhasilan orang Yahudi dan berupaya menghancurkan mereka.
Amatilah,
1. Betapa kompaknya mereka: Mereka semua mengadakan persepakatan
bersama. Meskipun ada kepentingan yang berbeda-beda di antara
mereka sendiri, namun mereka satu hati dalam perlawanan mereka
terhadap pekerjaan Tuhan .
2. Betapa tertutupnya perbuatan mereka. Para musuh itu berkata, “Mereka
tidak akan tahu dan tidak akan melihat apa-apa, sampai kita memegang
kuasa atas mereka.” Demikianlah mereka mengadakan permufakatan
yang licik, dan menggali dalam-dalam untuk menyembunyikannya dari
Tuhan, dan meyakinkan diri sendiri bahwa rencana rahasia mereka akan
memberi mereka keamanan dan keberhasilan.
3. Betapa kejamnya mereka: Kita akan datang dan membunuh mereka. Jika
tidak ada hal lain selain pembunuhan terhadap para pekerja yang akan
menghentikan pekerjaan itu, maka mereka tidak akan segan-segan
melakukannya. Bahkan, mereka haus akan darah orang-orang Yahudi,
dan mereka senang membuat dalih apa saja untuk memuaskan diri
mereka dengan darah itu.
4. Apa rancangan itu dan betapa mereka yakin akan keberhasilannya.
Rancangan mereka yaitu menghentikan pekerjaan itu (ay. 11), dan
mereka yakin akan berhasil mewujudkannya. Terhalanginya pekerjaan
baik yaitu sesuatu yang ingin dituju dan sangat diharap-harapkan oleh
orang-orang jahat. namun pekerjaan baik yaitu pekerjaan Tuhan , dan
pasti akan berhasil.
II. Keadaan-keadaan yang mematahkan semangat yang di dalamnya para
pembangun itu sendiri bekerja. Tepat pada saat para musuh berkata, mari
kita hentikan pekerjaan itu, orang Yehuda berkata, “Mari kita sudahi saja
pekerjaan ini, sebab kita tidak sanggup lagi meneruskannya” (ay. 10).
Mereka menggambarkan bahwa para pekerja sudah kelelahan, dan bahwa
kesulitan-kesulitan yang tersisa, bahkan bagian pertama dari pekerjaan
mereka, yaitu membuang puing-puing, tidak dapat diatasi. Oleh sebab itu,
mereka berpikir bahwa bijaklah kalau mereka menghentikan pekerjaan itu
untuk saat ini. Adakah Yehuda, suku pemberani yang selalu siap berperang
itu, bersikap pengecut seperti ini? Orang-orang yang giat bekerja dan
menjadi pemimpin sering kali harus bergumul dengan ketakutan teman-
teman mereka, sama seperti dengan kengerian musuh-musuh mereka.
Kitab Nehemia 4:1-6
771
III. Laporan yang dibawa kepada Nehemia tentang rencana-rencana musuh (ay.
12). Ada orang-orang Yahudi yang tinggal dekat mereka, di negeri itu.
Mereka ini tidak mempunyai cukup semangat untuk pergi ke Yerusalem
guna membantu saudara-saudara mereka dalam membangun tembok.
Namun demikian, mereka berada di suatu tempat yang memberi mereka
kesempatan untuk mengetahui gerak-gerik musuh. Dan sebab mereka
mempunyai kejujuran dan rasa cinta yang begitu besar terhadap pemba-
ngunan tembok itu, maka mereka memberikan laporan tentang gerak-gerik
musuh. Bahkan, agar laporan mereka dapat lebih dipercaya, mereka datang
sendiri untuk menyampaikannya, dan mereka mengatakannya sebanyak
sepuluh kali, dengan mengulanginya seperti orang yang bersungguh-
sungguh dan khawatir, dan laporan itu diteguhkan oleh banyak saksi.
Laporan yang mereka berikan diucapkan secara tiba-tiba, sehingga banyak
ahli Kitab Suci berusaha keras untuk memahami apa maksudnya. Hal ini
mungkin dirancang untuk menyatakan bahwa mereka memberikan laporan
ini sebagai orang-orang yang tergopoh-gopoh dan sedang kebingungan, dan
wajah mereka berbicara lebih banyak dibandingkan kata-kata mereka. Saya rasa,
tanpa menambahkan apa pun, perkataan itu dapat dibaca demikian: “Ke
mana pun engkau pergi, mereka akan melawan kita, sehingga engkau perlu
berjaga-jaga di segala sudut.” Perhatikanlah, Tuhan mempunyai banyak cara
untuk menyingkapkan, dan dengan demikian menggagalkan, segala rencana
dan rancangan dari musuh-musuh-Nya dan musuh-musuh jemaat-Nya.
Bahkan orang-orang Yahudi yang lemah dan bersikap dingin, dan yang
berpuas diri tinggal di dekat para musuh itu, akan dijadikan sebagai mata-
mata yang mengawasi mereka. Bahkan, bukannya gagal, seekor burung di
udara akan menyampaikan ucapan mereka.
IV. Cara-cara yang saleh dan bijak yang dipakai Nehemia, setelah mendengar
laporan itu, untuk menggagalkan rancangan musuh, dan untuk melindungi
pekerjaannya dan orang-orangnya.
1. Dikatakan (ay. 14) bahwa dia mengamati semuanya.
(1) Ia mengamati dengan melihat ke atas, melibatkan Tuhan untuk
berbuat sesuatu baginya, dan menempatkan diri serta perkaranya