tawarikh ester 22

Kamis, 30 Januari 2025

tawarikh ester 22


 


di dalam doa. Dan bukalah mata-Mu bagi hati yang memanjatkan doa itu, dan 

bagi perkara yang diadukan kepada-Mu di dalam doa.” Tuhan lah yang 

menanamkan telinga dan membentuk mata. Oleh sebab  itu, masakan Dia 

tidak memandang dengan jelas? Masakan Dia tidak mendengar dengan 

penuh perhatian? 

III. Pengakuan dosa yang dibuat Nehemia dengan penuh penyesalan. Tidak 

hanya Israel telah berdosa (bukanlah penghinaan besar baginya untuk 

mengakui hal itu), melainkan juga aku dan keluargaku telah berbuat dosa 

(ay. 6). Demikianlah dia merendahkan dirinya, dan menanggung malu 

sendiri, dalam pengakuan ini. Kami (aku dan keluargaku di antara yang lain) 

telah sangat bersalah terhadap-Mu (ay. 7). Dalam pengakuan dosa, 

hendaklah dua hal ini diakui sebagai kejahatannya – bahwa dosa yaitu  

Kitab Nehemia 1:1-4 

 

739 

kebobrokan diri kita sendiri dan penghinaan bagi Tuhan . Dosa yaitu  

bersalah terhadap Tuhan , dengan menegakkan kebobrokan hati kita sendiri 

untuk menentang perintah-perintah Tuhan . 

IV. Seruan-seruan yang didesakkan Nehemia untuk meminta belas kasihan bagi 

bangsanya Israel. 

1. Nehemia menyerukan apa yang telah difirmankan Tuhan  pada zaman 

dulu kepada mereka, peraturan yang telah ditetapkan-Nya tentang 

bagaimana Ia akan bertindak terhadap mereka, yang dapat menjadi 

pedoman tentang apa yang bisa mereka harapkan dari-Nya (ay. 8-9). Ia 

memang telah berfirman bahwa, jika mereka melanggar kovenan dengan 

Dia, maka Dia akan mencerai-beraikan mereka di antara bangsa-

bangsa, dan ancaman tersebut telah digenapi dalam pembuangan 

mereka. Tidak pernah ada suatu bangsa yang diserakkan ke berbagai 

tempat yang begitu jauh seperti Israel pada waktu itu, kendati pada 

awalnya mereka begitu bersatu padu. namun  bersamaan dengan itu, Dia 

juga telah berfirman bahwa jika mereka berbalik kepada-Nya, seperti 

yang sedang mulai mereka lakukan sekarang ini, dengan meninggalkan 

penyembahan berhala dan menjalankan ibadah di Bait Suci, maka Dia 

akan mengumpulkan mereka kembali. Firman ini dikutip Nehemia dari 

Ulangan 30:1-5, dan ia meminta izin untuk mengingatkan Tuhan  akan hal 

tersebut (kendati Pikiran yang Kekal tidaklah perlu pengingat) sebagai 

pemandu keinginan-keinginannya, dan dasar bagi iman serta 

pengharapannya, dalam memanjatkan doa ini: Ingatlah akan firman 

itu. Sebab Engkau telah berfirman, ingatkanlah Aku. Nehemia telah 

mengakui (ay. 7), kami tidak mengikuti peraturan-peraturan yang telah 

Kauperintahkan kepada Musa, hamba-Mu itu. Namun dia memohon (ay. 

8), TUHAN, ingatlah peraturan-peraturan yang telah Kauperintahkan ke-

pada Musa, hamba-Mu itu. Sebab kovenan itu sering dikatakan sebagai 

sesuatu yang diperintahkan. Apabila Tuhan  tidak mengingat janji-janji-

Nya dibandingkan  kita mengingat perintah-perintah-Nya, maka tentulah kita 

akan binasa. Oleh sebab  itu, permohonan-permohonan terbaik kita di 

dalam doa yaitu  permohonan yang didasarkan pada janji Tuhan , firman 

yang telah membuat kita berharap (Mzm. 119:49). 

2 Nehemia menyerukan hubungan yang sejak dulu terjalin antara bangsa 

Israel dengan Tuhan : “Mereka ini yaitu  hamba-hamba-Mu dan umat-

Mu (ay. 10), yang telah Engkau kuduskan bagi diri-Mu, dan yang telah 

Engkau masukkan ke dalam kovenan dengan-Mu. Apakah Engkau akan 

membiarkan musuh-musuh bebuyutan-Mu menginjak-injak dan 


 

740 

menindas hamba-hamba yang mengikat perjanjian dengan-Mu? Jika 

Engkau tidak tampil bagi umat-Mu, bagi siapakah Engkau akan tampil?” 

(lih. Yes. 63:19). Sebagai bukti bahwa mereka yaitu  hamba-hamba Tuhan , 

Nehemia menggambarkan mereka dengan sifat ini (ay. 11): “Mereka rela 

takut akan nama-Mu. Mereka tidak hanya disebut dengan nama-Mu, 

namun  juga benar-benar memiliki rasa hormat akan nama-Mu. Kini me-

reka menyembah Engkau, dan hanya Engkau, sesuai dengan kehendak-

Mu, dan mereka merasa gentar melihat segala hal yang berkenan Engkau 

singkapkan tentang diri-Mu sendiri. Inilah yang rindu mereka lakukan.” 

Hal ini menyatakan,  

(1) Kehendak baik mereka untuk menjalankan ibadah kepada-Nya. 

“Mereka senantiasa memberi perhatian dan berusaha untuk didapati 

sedang melakukan kewajiban, dan mereka berupaya 

menjalankannya dengan baik, kendati dalam banyak hal mereka 

masih kurang.”  

(2) Kepuasan hati mereka di dalam ibadah itu. “Mereka dengan senang 

hati takut akan nama-Mu (demikian seharusnya ayat itu dibaca). 

Mereka tidak hanya sekadar melakukan kewajiban mereka, namun  

juga melakukannya dengan gembira.” Orang-orang yang sungguh-

sungguh rindu untuk takut akan nama-Nya pasti akan diterima Tuhan  

dengan penuh rahmat. Sebab kerinduan yang demikian yaitu  pe-

kerjaan-Nya sendiri. 

3. Nehemia menyerukan perkara-perkara besar yang dahulu telah 

dikerjakan Tuhan  bagi mereka (ay. 10): “Hamba-hamba-Mu yang telah 

Kaubebaskan dengan kekuatan-Mu yang besar, di masa lalu. Kekuatan-

Mu tetap sama. Oleh sebab itu, tidakkah Engkau masih akan menebus 

mereka dan menyempurnakan penebusan mereka itu? Jangan biarkan 

orang-orang yang mempunyai Tuhan  yang maha kuasa di pihak mereka 

dikalahkan oleh musuh.”  

Yang terakhir, Nehemia menutup dengan suatu permohonan khusus, 

yaitu agar Tuhan  membuatnya berhasil dalam usahanya dan mendapat 

perkenanan sang raja. Orang ini, demikian dia menyebut sang raja, sebab 

orang-orang yang terbesar sekalipun hanyalah manusia biasa di hadapan 

Tuhan . Mereka sendiri harus tahu bahwa mereka itu manusia saja (Mzm. 

9:21), dan orang-orang lain harus tahu bahwa mereka yaitu  demikian. 

Siapakah engkau maka engkau takut terhadap manusia? Mendapat belas 

kasihan dari orang ini, itulah yang didoakannya, bukan belas kasihan 

dari sang raja, melainkan belas kasihan dari Tuhan  ketika ia datang 

Kitab Nehemia 1:1-4 

 

741 

menghadap raja. Mendapat perkenanan manusia barulah akan 

menghibur kita apabila kita dapat melihat bahwa perkenanan itu 

memancar dari belas kasihan Tuhan . 

 

PASAL  2  

agaimana Nehemia bergumul dengan Tuhan  dan menang, telah kita baca 

dalam pasal sebelumnya. Sekarang dalam pasal ini kita diberi tahu 

bagaimana, seperti Yakub, ia juga menang bergumul melawan manusia, dan 

dengan begitu mendapati bahwa doa-doanya didengar dan dijawab. 

I. Ia menang bergumul dengan raja, sehingga sang raja mengutusnya ke 

Yerusalem dengan sebuah perintah untuk membangun tembok di 

sekeliling kota itu, dan memberikan kepadanya apa yang ia butuhkan 

untuk mengerjakannya (ay. 1-8). 

II. Ia menang bergumul melawan musuh-musuh yang hendak 

menghalanginya dalam perjalanannya (ay. 9-11), dan yang mengolok-

olok dirinya sebab  usahanya itu (ay. 19-20).  

III. Ia menang bergumul dengan orang-orang sebangsanya sendiri, 

sehingga mereka mau bergabung bersamanya dalam pekerjaan baik 

ini, dengan meninjau reruntuhan tembok-tembok Yerusalem (ay. 12-

16), lalu berhasil membujuk mereka semua untuk mengulurkan tangan 

guna membangun kembali tembok-tembok itu (ay. 17-18). 

Demikianlah Tuhan  memberikan pengakuan terhadap dirinya dalam 

pekerjaan yang menjadi panggilannya. 

Permintaan Nehemia kepada Raja 

(2:1-8) 

1 Pada bulan Nisan tahun kedua puluh pemerintahan raja Artahsasta, ketika menjadi 

tugasku untuk menyediakan anggur, aku mengangkat anggur dan menyampaikannya 

kepada raja. sebab  aku kelihatan sedih, yang memang belum pernah terjadi di hadapan 

raja, 2 bertanyalah ia kepadaku: “Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? 

Engkau tentu sedih hati.” Lalu aku menjadi sangat takut. 3 Jawabku kepada raja: “Hiduplah 

raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat pe-

kuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis 

dimakan api?” 4 Lalu kata raja kepadaku: “Jadi, apa yang kauinginkan?” Maka aku berdoa 


 

744 

kepada Tuhan  semesta langit, 5 kemudian jawabku kepada raja: “Jika raja menganggap baik 

dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek 

moyangku, supaya aku membangunnya kembali.” 6 Lalu bertanyalah raja kepadaku, 

sedang permaisuri duduk di sampingnya: “Berapa lama engkau dalam perjalanan, dan 

bilakah engkau kembali?” Dan raja berkenan mengutus aku, sesudah aku menyebut suatu 

jangka waktu kepadanya. 7 Berkatalah aku kepada raja: “Jika raja menganggap baik, 

berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya 

mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. 8 Pula sepucuk surat bagi 

Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-

balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah 

yang akan kudiami.” Dan raja mengabulkan permintaanku itu, sebab  tangan Tuhan ku 

yang murah melindungi aku. 

Sesudah Nehemia berdoa meminta pertolongan bagi orang-orang sebangsanya, 

dan mungkin dengan menggunakan perkataan Daud (Mzm. 51:20, bangunkanlah 

tembok-tembok Yerusalem), ia tidak duduk diam saja dan berkata, “Biarlah Tuhan  

sekarang mengerjakan pekerjaan-Nya sendiri, sebab sudah tidak ada yang dapat 

aku kerjakan.” Sebaliknya, ia menetapkan hati untuk memperkirakan apa yang 

dapat ia kerjakan untuk mencapainya. Doa-doa kita harus didukung dengan 

usaha yang sungguh-sungguh, jika tidak, kita hanya mempermainkan Tuhan . 

Sudah hampir empat bulan berlalu, dari bulan Kislew sampai bulan Nisan (dari 

November sampai Maret), sebelum Nehemia mengajukan permohonannya 

kepada raja untuk pergi ke Yerusalem. Hal ini mungkin sebab  musim dingin 

bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan seperti itu, dan ia tidak 

mau mengajukan permohonan sebelum ia dapat melaksanakan apa yang 

dimohonkan. Atau mungkin sebab  telah sekian lama waktu berlalu sebelum 

bulan yang dinantikannya tiba, dan ia tidak dapat datang menghadap raja tanpa 

dipanggil (Est. 4:11). Sekarang sebab  ia melayani meja raja, ia pun berharap 

supaya permohonannya didengar sang raja. Kita tidak dibatasi oleh waktu-

waktu tertentu seperti itu untuk berbicara kepada Raja segala raja, melainkan 

memiliki kebebasan untuk menghadap-Nya di setiap waktu. Tidak ada waktu 

yang tidak tepat bagi kita untuk menghampiri takhta anugerah. Sekarang pada 

perikop ini,  

I. Kesempatan yang diberikan Nehemia kepada raja untuk bertanya kepadanya 

apa yang membuatnya khawatir dan berduka, yaitu dengan terlihat sedih di 

hadapan raja. Mereka yang berbicara dengan orang-orang besar seperti itu 

tidak boleh dengan serta-merta menceritakan permasalahan mereka, namun  

harus mencari akal untuk menyampaikannya dengan tepat. Nehemia hendak 

menguji apakah raja dalam keadaan hati yang baik sebelum ia 

memberanikan diri untuk memberitahukan keperluannya kepada raja, dan 

cara berikut ini diambilnya untuk menguji raja. Ia mengangkat anggur dan 

memberikannya kepada raja ketika sang raja memintanya, dengan berharap 

Kitab Nehemia 2:1-8 

 

745 

pada saat itu sang raja akan menatap wajahnya. Ia tidak biasa bersedih di 

hadapan raja, namun  mengikuti peraturan-peraturan istana sebagaimana 

yang harus dilakukan para pegawai istana, yang tidak memperbolehkan ada 

yang bersedih (Est. 4:2). Walaupun seorang asing, seorang tawanan, ia 

bersikap riang dan ramah. Orang-orang baik harus berbuat sebisa mungkin 

dengan keceriaan mereka untuk meyakinkan dunia betapa 

menyenangkannya jalan-jalan agama, dan untuk menghapuskan cela yang 

ditimpakan ke atas mereka sebagai orang-orang pemurung. Akan namun , 

untuk segala sesuatu ada masanya (Pkh. 3:4). Nehemia sekarang memiliki 

alasan, baik untuk bersedih maupun untuk terlihat demikian. Kesengsaraan 

Yerusalem memberinya alasan untuk sedih, dan dengan menampakkan 

kesedihannya, ia dapat memberikan kesempatan kepada raja untuk 

menanyakan alasannya. Ia tidak pura-pura bersedih, sebab ia betul-betul 

berduka sebab  hancurnya keturunan Yusuf, dan tidak seperti orang 

munafik yang mengubah air mukanya. Namun demikian, ia bisa saja 

menyembunyikan kesedihannya jika itu perlu (hati mengenal kepedihannya 

sendiri, dan di tengah-tengah canda tawa ia sering kali merasa sedih). namun  

sekarang dengan menunjukkan kesedihannya Nehemia dapat mencapai 

tujuannya. Walaupun ada anggur di hadapannya, dan mungkin, seturut 

dengan pekerjaan juru minuman, ia sendiri meminum anggur itu sebelum 

memberikannya kepada raja, namun anggur itu tidak menyukakan hatinya, 

selama Israel kepunyaan Tuhan  sedang dalam kesusahan. 

II. Perhatian yang dengan baik hati diberikan sang raja terhadap kesedihan 

Nehemia, dan pertanyaan yang diajukan raja tentang penyebabnya (ay. 2): 

Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? Perhatikanlah, 

1. Dengan berpegang pada dasar ajaran Kristiani untuk berbela rasa, kita 

harus memperhatikan penderitaan dan kesedihan orang lain, bahkan 

orang-orang yang di bawah kita, dan tidak berkata, “Apa urusannya itu 

dengan kita?” Janganlah para tuan memandang rendah kesusahan hati 

hamba mereka, namun  hendaklah mereka berkeinginan untuk 

meringankan kesusahan hati hamba mereka itu. Tuhan  yang Mahabesar 

tidak senang dengan kemurungan dan keresahan umat-Nya, melainkan 

ingin agar mereka beribadah kepada-Nya dengan sukacita dan memakan 

roti mereka dengan sukaria. 

2. Tidaklah mengherankan jika orang yang sedang sakit bermuka sedih, 

oleh sebab  apa yang dirasakan dan apa yang ditakuti. Penyakit dapat 

membuat orang yang paling riang dan gembira sekalipun menjadi 


 

746 

muram. Namun orang yang baik, bahkan dalam kesakitannya, dapat 

berbahagia jika ia mengetahui bahwa dosa-dosanya telah diampuni. 

3. Bebas dari penyakit yaitu  belas kasihan yang begitu besar, sehingga 

selama kita sedang sakit, kita tidak boleh bermuram durja secara 

berlebihan dalam menanggung beban lahiriah apa pun. Namun bersedih 

atas dosa-dosa kita sendiri, dosa-dosa orang lain, dan malapetaka yang 

menimpa jemaat Tuhan , bisa jadi membuat muka kita sedih, walau tanpa 

penyakit. 

III. Penjelasan yang diberikan Nehemia kepada raja tentang alasan ke-

sedihannya, yang disampaikannya dengan lemah lembut dan rasa takut. 

1. Dengan rasa takut. Nehemia mengakui bahwa sekarang ia menjadi 

sangat takut walaupun tampak dari cerita selanjutnya bahwa ia yaitu  

seorang pemberani. Mungkin ia takut akan murka sang raja (sebab raja-

raja dari timur menggenggam kekuasaan mutlak atas hidup dan mati 

(Dan. 2:12-13; 5:19). Atau ia takut salah berkata, dan permintaannya 

tidak dikabulkan sebab  tidak bisa mengatur perkataan). Walaupun se-

orang yang bijak, ia tetap berusaha menjaga diri, supaya jangan sampai 

ia mengatakan sesuatu secara gegabah. Begitu juga seharusnya kita. 

Keyakinan diri yang baik memang yaitu  pencapaian yang baik, namun 

sikap kurang percaya diri yang disertai kerendahan hati bukanlah sifat 

yang tercela.  

2. Dengan lemah lembut. Tanpa mencela siapa pun, dan dengan segala 

hormat, keseganan, dan kehendak baik yang dapat ditunjukkan kepada 

tuan rajanya, ia berkata, “Hiduplah raja untuk selamanya, raja yang bijak 

dan baik, dan yang paling layak di dunia ini untuk berkuasa.” Dengan 

sopan ia bertanya, “Bagaimana mukaku tidak akan muram seperti ini, 

walaupun aku sendiri baik-baik saja dan dalam keadaan tenang, kalau 

kota (raja tahu kota apa yang ia maksud), tempat pekuburan nenek 

moyangku, telah menjadi reruntuhan?” Banyak orang yang muram dan 

sedih namun tidak bisa memberikan alasan mengapa mereka merasa 

demikian, tidak bisa memberi tahu mengapa dan kenapa. Orang-orang 

yang demikian harus menegur diri mereka sendiri atas kesedihan dan 

ketakutan mereka yang tidak wajar serta tidak beralasan itu, sehingga 

mereka dapat keluar darinya. Akan namun , Nehemia dapat memberikan 

alasan yang begitu baik atas kesedihannya, hingga ia dapat mengadukan 

kesedihannya itu kepada raja. Amatilah, 

Kitab Nehemia 2:1-8 

 

747 

(1) Nehemia menyebut Yerusalem sebagai tempat pekuburan nenek 

moyangnya, tempat di mana nenek moyangnya dikubur. Sungguh 

baik bagi kita untuk sering memikirkan tempat pekuburan nenek 

moyang kita. Kita cenderung hanya ingin memikirkan segala 

kehormatan dan jabatan mereka, rumah dan tanah mereka, namun 

marilah kita juga memikirkan tempat pekuburan mereka, dan me-

renungkan bahwa mereka yang telah lahir mendahului kita di dunia 

juga telah pergi mendahului kita dari dunia, dan peninggalan mereka 

yaitu  kenang-kenangan bagi kita. Rasa hormat yang besar juga 

harus diberikan terhadap kenangan akan nenek moyang kita, dan 

kita tidak ingin melihat kenangan itu tercoreng. Semua bangsa, 

bahkan bangsa-bangsa yang tidak memiliki pengharapan akan 

kebangkitan orang mati, juga memandang tempat pekuburan nenek 

moyang mereka sebagai tempat yang pada tingkat tertentu suci dan 

tidak boleh dicemarkan. 

(2) Nehemia membenarkan dirinya dalam merasa sedih: “Memang 

sudah sepantasnya aku bersedih. Bagaimana tidak?” Ada masa 

bahkan bagi orang-orang yang saleh dan sejahtera untuk bersedih 

dan menunjukkan kesedihan mereka. Orang-orang yang paling baik 

sekalipun tidak boleh mencoba untuk mendahului sorga dengan 

membuang segala pikiran yang menyedihkan. Yang sedang kita lalui 

pada saat ini yaitu  lembah air mata, dan kita harus tunduk pada 

keadaan iklimnya.  

(3) Nehemia memandang reruntuhan Yerusalem sebagai penyebab 

sebenarnya dari kesedihannya. Perhatikanlah, segala kesedihan 

jemaat Tuhan , terutama kerusakan-kerusakannya, haruslah menjadi 

sesuatu yang mendukakan dan menyedihkan bagi semua orang baik, 

bagi semua orang yang peduli terhadap kehormatan Tuhan  dan yang 

merupakan anggota tubuh Kristus yang hidup, serta yang hatinya 

sungguh peduli terhadap kebaikan bersama. Mereka bahkan merasa 

kasihan akan debu Sion (Mzm. 102:15). 

IV. Dorongan yang diberikan raja supaya Nehemia mengutarakan pikirannya, 

dan permintaan yang disampaikan Nehemia di dalam hatinya kepada Tuhan  

(ay. 4). Sang raja mengasihinya, dan tidak senang melihatnya muram. Ada 

juga kemungkinan bahwa sang raja menunjukkan sikap baik terhadap agama 

orang Yahudi. Sang raja telah menyingkapkan sikap baiknya itu melalui surat 

perintah yang diberikannya kepada Ezra, yang yaitu  seorang tokoh agama, 

dan sekarang ia menyingkapkannya kembali melalui kuasa yang 


 

748 

diberikannya kepada Nehemia, yang yaitu  seorang tokoh negara. Oleh 

sebab  itu, dengan hanya ingin tahu bagaimana ia dapat melakukan sesuatu 

yang berguna bagi Yerusalem, sang raja bertanya kepada temannya yang 

resah ini, “Jadi, apa yang kauinginkan? Sesuatu yang ingin kaudapatkan. Apa 

itu?” Nehemia takut untuk mengatakannya (ay. 2), namun pertanyaan sang 

raja ini memberinya keberanian. Jauh terlebih lagi undangan yang telah 

diberikan Kristus bagi kita untuk berdoa, dan janji bahwa doa kita akan 

dikabulkan, memampukan kita untuk datang dengan penuh keberanian 

menghampiri takhta anugerah. Nehemia langsung berdoa kepada Tuhan  

semesta langit supaya Ia memberinya hikmat untuk bertanya dengan pantas 

dan mencondongkan hati sang raja untuk mengabulkan permintaannya. 

Orang-orang yang hendak mendapatkan perkenanan para raja haruslah 

memastikan diri mendapat perkenanan Raja segala raja. Nehemia berdoa 

kepada Tuhan  semesta langit sebagai Tuhan  yang secara tak terhingga 

mengatasi bahkan sang raja yang perkasa ini. Ini bukanlah doa yang khidmat 

sebab  ia tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya, melainkan 

seruan dari dalam hati yang keluar secara tiba-tiba. Ia mengangkat hatinya 

kepada Tuhan  yang memahami bahasa hatinya: Tuhan, berikan kepadaku 

kata-kata hikmat. Tuhan, biarlah aku mendapat belas kasihan dari orang ini . 

Perhatikanlah, sungguh baik apabila kita sering menyampaikan seruan-

seruan yang penuh kesalehan, terutama dalam kesempatan-kesempatan 

tertentu. Di mana pun kita berada, ada jalan yang terbuka menuju sorga. 

Seruan ini tidak akan menghalangi pekerjaan apa pun, namun  justru memaju-

kannya. Oleh sebab itu, janganlah pekerjaan apa pun menghalangi seruan ini, 

namun  justru memunculkannya. Nehemia telah berdoa dengan sangat 

khidmat persis mengenai kesempatan ini (1:11), sekalipun begitu, ketika 

kesempatan itu sudah di depan mata, ia berdoa lagi. Seruan yang tiba-tiba 

dan doa yang khidmat tidak boleh dipertentangkan satu sama lain, namun  

memiliki tempatnya masing-masing. 

V. Permohonan Nehemia yang penuh kerendahan hati kepada raja. Ketika 

mendapatkan dorongan ini, ia menyampaikan permohonannya dengan 

sangat bersahaja dan sikap tunduk pada kebijaksanaan sang raja (ay. 5), 

namun  itu disampaikannya dengan sangat jelas. Ia meminta sebuah surat 

perintah untuk pergi sebagai bupati Yehuda, untuk membangun tembok 

Yerusalem, dan tinggal di sana selama jangka waktu tertentu, sekian bulan 

lamanya, dapat kita duga. Lalu entah sebab  surat perintah kepadanya 

diperpanjang atau ia kembali dan kemudian dikirim lagi, sehingga ia sampai 

memimpin di sana setidaknya dua belas tahun lamanya (5:14). Ia juga 

Kitab Nehemia 2:1-8 

 

749 

meminta pengawalan (ay. 7), dan surat perintah bagi bupati-bupati, tidak 

hanya untuk mengizinkan dan memperbolehkannya melewati wilayah-

wilayah mereka, namun  juga untuk menyediakan apa yang dibutuhkannya 

untuk mengerjakan tugasnya, disertai surat perintah lain kepada pengawas 

taman raja untuk memberinya kayu bagi pekerjaan yang telah ia rancang. 

VI. Perkenanan raja yang besar kepadanya dalam menanyakan kepadanya 

bilakah ia kembali (ay. 6). Raja menunjukkan bahwa ia tidak ingin 

kehilangan Nehemia, atau berlama-lama tanpanya. Namun untuk 

menyenangkan Nehemia, dan untuk melakukan kebaikan yang nyata 

terhadap bangsanya, sang raja rela melepasnya pergi sementara, dan 

membiarkannya menyelipkan apa saja yang diinginkannya dalam surat 

perintah sang raja (ay. 8). Ini yaitu  jawaban langsung dari doanya, sebab 

keturunan Yakub tidak pernah mencari Tuhan  Yakub dengan sia-sia. Dalam 

penjelasan yang ia berikan mengenai terkabulnya permintaannya ini, Nehe-

mia memberi perhatian, 

1. Tentang kehadiran sang permaisuri. Ia sedang duduk di samping raja 

(ay. 6), yang (menurut para ahli) tidak biasa terjadi di istana Persia (Est. 

1:11). Tidak begitu pasti apakah permaisuri yaitu  musuh sang raja, 

yang hendak menghalangi Nehemia, dan Nehemia mencermati hal ini 

sebagai pujian bagi penyelenggaraan Tuhan  yang penuh kuasa, bahwa 

walaupun permaisuri ada di samping raja, namun Nehemia tetap 

berhasil. Atau mungkin permaisuri yaitu  teman sejati sang raja, dan 

Nehemia mencermati hal ini sebagai pujian bagi penyelenggaraan Tuhan  

yang begitu baik, hingga permaisuri ada di sana untuk membantu 

meluluskan permohonannya.  

2. Tentang kuasa dan anugerah Tuhan . Nehemia mendapatkan apa yang ia 

harapkan, bukan oleh sebab  hasil usahanya, pengaruhnya terhadap 

raja, atau kemampuannya yang baik dalam mengatur perkataannya, 

melainkan oleh sebab  tangan Tuhan nya yang murah melindungi dia. Jiwa 

yang beroleh rahmat memberi perhatian terhadap tangan Tuhan , tangan-

Nya yang baik, dalam segala kejadian yang berpihak kepada mereka. Hal 

itu terjadi dari pihak TUHAN, dan oleh sebab itu sungguh memuaskan 

dua kali lipat. 


 

750 

Perjalanan Nehemia ke Yerusalem; 

 Kejahatan Sanbalat dan Orang-orang Lain  

(2:9-20) 

9 Maka datanglah aku kepada bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat dan 

menyerahkan kepada mereka surat-surat raja. Dan raja menyuruh panglima-panglima 

perang dan orang-orang berkuda menyertai aku. 10 Ketika Sanbalat, orang Horon, dan 

Tobia, orang Amon, pelayan itu, mendengar hal itu, mereka sangat kesal sebab  ada orang 

yang datang mengusahakan kesejahteraan orang Israel. 11 Maka tibalah aku di Yerusalem. 

Sesudah tiga hari aku di sana, 12 bangunlah aku pada malam hari bersama-sama beberapa 

orang saja yang menyertai aku. Aku tidak beritahukan kepada siapa pun rencana yang 

akan kulakukan untuk Yerusalem, yang diberikan Tuhan ku dalam hatiku. Juga tak ada lain 

binatang kepadaku kecuali yang kutunggangi. 13 Demikian pada malam hari aku keluar 

melalui pintu gerbang Lebak, ke jurusan mata air Ular Naga dan pintu gerbang Sampah. 

Aku menyelidiki dengan seksama tembok-tembok Yerusalem yang telah terbongkar dan 

pintu-pintu gerbangnya yang habis dimakan api. 14 Lalu aku meneruskan perjalananku ke 

pintu gerbang Mata Air dan ke kolam Raja. sebab  binatang yang kutunggangi tidak dapat 

lalu di tempat itu, 15 aku naik ke atas melalui wadi pada malam hari dan menyelidiki 

dengan seksama tembok itu. Kemudian aku kembali, lalu masuk melalui pintu gerbang 

Lebak. Demikianlah aku pulang. 16 Para penguasa tidak tahu ke mana aku telah pergi dan 

apa yang telah kulakukan, sebab  sampai kini aku belum memberitahukan apa-apa 

kepada orang Yahudi, baik kepada para imam, maupun kepada para pemuka, kepada para 

penguasa dan para petugas lainnya. 17 Berkatalah aku kepada mereka: “Kamu lihat 

kemalangan yang kita alami, yaitu  Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu 

gerbangnya telah terbakar. Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita 

tidak lagi dicela.” 18 Ketika kuberitahukan kepada mereka, betapa murahnya tangan 

Tuhan ku yang melindungi aku dan juga apa yang dikatakan raja kepadaku, berkatalah 

mereka: “Kami siap untuk membangun!” Dan dengan sekuat tenaga mereka mulai 

melakukan pekerjaan yang baik itu. 19 Ketika Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang 

Amon, pelayan itu, dan Gesyem, orang Arab, mendengar itu, mereka mengolok-olokkan 

dan menghina kami. Kata mereka: “Apa yang kamu lakukan itu? Apa kamu mau berontak 

terhadap raja?” 20 Aku menjawab mereka, kataku: “Tuhan  semesta langit, Dialah yang 

membuat kami berhasil! Kami, hamba-hamba-Nya, telah siap untuk membangun. namun  

kamu tak punya bagian atau hak dan tidak akan diingat di Yerusalem!” 

 Dalam perikop ini diceritakan kepada kita,  

I. Bagaimana Nehemia disuruh pergi dari istana tempat ia diutus. Sang raja 

menunjuk panglima-panglima perang dan orang-orang berkuda 

menyertainya (ay. 9), baik untuk mengawalnya maupun untuk menunjukkan 

bahwa ia yaitu  orang yang raja berkenan menghormatinya, supaya semua 

pegawai raja dapat memperlakukannya dengan hormat sebagaimana 

mestinya. Orang-orang yang diutus oleh Raja segala raja akan dilindungi-Nya 

seperti itu, akan dijunjung martabatnya seperti itu dengan bala tentara 

malaikat untuk melayani mereka.  

II. Bagaimana Nehemia diterima oleh bangsa yang kepadanya ia diutus. 

1. Oleh orang-orang Yahudi dan sahabat-sahabat mereka di Yerusalem. Kita 

diberi tahu, 

Kitab Nehemia 2:1-8 

 

751 

(1) Bahwa ketika Nehemia merahasiakan keperluannya, mereka tidak 

begitu memperhatikan dirinya. Ia berada di Yerusalem tiga hari (ay. 

11), dan kelihatannya tidak ada pembesar kota itu yang 

menunggunya untuk menyambut kedatangannya. Sebaliknya, ia 

tetap tidak diketahui orang. Raja mengutus orang-orang berkuda 

untuk mengawalnya, namun orang-orang Yahudi tidak mengutus 

satu orang pun untuk menemuinya. Tidak ada binatang lain padanya 

kecuali yang ia tunggangi (ay. 12). Orang-orang bijak, dan mereka 

yang layak menerima kehormatan dua kali lipat besarnya, sekalipun 

demikian tidak berhasrat untuk datang dengan diperhatikan orang, 

untuk mempertunjukkan diri, atau membuat kegaduhan, walaupun 

mereka datang dengan berkat-berkat yang paling besar. Dunia pada 

saat ini tidak mengenal orang-orang yang akan memerintah di pagi 

hari, mereka tetap tersembunyi (1Yoh. 3:1).  

(2) Bahwa walaupun mereka tidak begitu memperhatikan dirinya, ia 

sangat memperhatikan mereka dan keadaan mereka. Ia bangun pada 

malam hari, dan menyelidiki dengan saksama reruntuhan tembok-

tembok itu, mungkin di bawah sinar bulan (ay. 13), supaya ia dapat 

melihat apa saja yang perlu diperbaiki dan dengan cara apa mereka 

harus memperbaikinya, apakah dasar tembok yang lama masih kuat, 

dan apakah ada bahan-bahan bangunan lama yang dapat digunakan. 

Perhatikanlah, 

[1] Pekerjaan baik dapat selesai dengan baik apabila pada awalnya 

dipertimbangkan dengan baik. 

[2] Berhikmatlah bagi orang-orang yang bekerja mengurusi 

kepentingan masyarakat, untuk sebisa mungkin melihat dengan 

mata mereka, dan tidak melanjutkan pekerjaan sepenuhnya 

berdasarkan laporan-laporan dan gambaran dari orang lain. Dan 

sekalipun begitu, mereka harus melakukannya tanpa kegaduhan, 

dan jika mungkin tanpa ada yang tahu. 

[3] Orang-orang yang mau membangun tembok-tembok jemaat 

harus terlebih dahulu memperhatikan reruntuhan tembok-

tembok itu. Mereka yang ingin tahu bagaimana cara 

memperbaiki harus terlebih dahulu mencari tahu apa yang salah, 

apa yang perlu diperbaharui, dan apa yang masih dapat 

digunakan. 

(3) Bahwa ketika Nehemia memberitahukan rencananya kepada para 

penguasa dan rakyat, mereka semua dengan senang hati 


 

752 

menyetujuinya. Ia pada awalnya tidak memberi tahu mereka tujuan 

kedatangannya (ay. 16), sebab ia tidak mau menampakkan bahwa ia 

melakukannya untuk pamer, dan sebab , apabila ia mendapati usaha 

ini tidak bisa dikerjakan, ia dapat mundur dengan lebih terhormat. 

Orang-orang benar yang rendah hati tidak akan mencanangkan 

pemberian sedekah atau perbuatan-perbuatan baik mereka yang 

lain. Namun demikian, setelah Nehemia melihat dengan saksama dan 

mempertimbangkannya, dan mungkin merasakan debar jantung 

para pemimpin dan rakyatnya, ia memberi tahu mereka apa yang 

diberikan Tuhan  dalam hatinya (ay. 12), yaitu untuk membangun 

kembali tembok Yerusalem (ay. 17). Amatilah, 

[1] Betapa dengan adil ia mengusulkan usaha itu kepada mereka: 

“Kamu lihat kemalangan yang kita alami, bagaimana kita tidak 

terlindungi dari musuh-musuh yang ada di sekitar kita, betapa 

dengan wajar mereka mencela kita sebagai orang-orang bodoh 

dan hina, betapa dengan mudah mereka memangsa kita kapan 

pun mereka mau. Oleh sebab  itu mari, kita bangun kembali tem-

bok Yerusalem.” Ia tidak mencoba mengerjakan pekerjaan itu 

tanpa mereka (ini bukan pekerjaan satu orang), tidak pula ia 

menyuruh atau berlagak memerintah mereka, walau ia memiliki 

surat perintah dari raja. Sebaliknya, dengan cara yang 

bersahabat seperti saudara, ia mengimbau dan menggugah 

mereka untuk bergabung bersamanya di dalam pekerjaan ini. 

Untuk menyemangati mereka, ia berbicara tentang rencananya, 

pertama, sebagai rencana yang berasal dari anugerah Tuhan  yang 

istimewa. Ia tidak mengambil pujian atas rencana ini bagi dirinya 

sendiri, sebagai hasil pemikiran yang baik dari dirinya sendiri, 

namun  mengakui bahwa Tuhan  memberikannya dalam hatinya. 

Oleh sebab itu, mereka semua harus menyetujuinya (apa saja 

yang berasal dari Tuhan  harus didukung), dan mereka dapat 

berharap akan berhasil di dalamnya, sebab apabila Tuhan  

menggerakkan manusia untuk melakukan suatu pekerjaan, maka 

Dia akan memberikan pengakuan terhadap mereka dalam 

pekerjaan itu. Kedua, sebagai rencana yang perkembangannya 

sampai saat ini terjadi berkat pemeliharaan Tuhan  yang istimewa. 

Nehemia mengeluarkan surat perintah raja, memberi tahu mereka 

betapa surat itu diberikan dengan mudah, dan betapa raja tergerak 

untuk mendukung rencananya. Dan dalam hal ini Nehemia me-

nyaksikan betapa murahnya tangan Tuhan  yang melindunginya. Hal 

Kitab Nehemia 2:1-8 

 

753 

ini dapat mendorong baik dirinya sendiri maupun mereka untuk 

meneruskan pekerjaan yang disenangi Tuhan  dengan begitu luar 

biasa. Dengan demikian, ia mengusulkan rencana itu kepada 

mereka. Lalu, 

[2] Mereka semuanya pun mencapai keputusan, untuk sepakat 

bekerja bersamanya: Kami siap untuk membangun! Mereka malu 

sebab  telah duduk diam begitu lama tanpa sedikit pun 

mengusahakan pekerjaan yang dibutuhkan ini. Dan sekarang 

mereka menetapkan hati untuk bangkit dari kemalasan, untuk 

segera bertindak, dan menyemangati satu sama lain. “Kami siap 

untuk membangun!,” maksudnya, “marilah kita bekerja dengan 

keras, dengan tekun, dan dengan kesungguhan hati, sebagai 

orang-orang yang menetapkan hati untuk menyelesaikannya.” 

Dan dengan sekuat tenaga, dengan tangan mereka sendiri dan 

tangan satu sama lain, mereka mulai melakukan pekerjaan yang 

baik itu. Perhatikanlah, pertama, banyak pekerjaan baik akan 

menemukan cukup banyak tangan untuk mengerjakan-nya, 

apabila ada satu saja orang baik yang mengepalainya. Mereka 

semua melihat reruntuhan Yerusalem, namun tidak seorang pun 

mengusulkan untuk memperbaikinya. Akan namun , ketika 

Nehemia mengusulkannya, mereka semua menyetujuinya. 

Sangat disayangkan bahwa usul yang baik harus hilang begitu 

saja semata-mata sebab  tidak ada orang yang bangkit bergerak 

dan memulainya. Kedua, dengan menggerakan diri kita sendiri 

dan satu sama lain pada apa yang baik, maka kita menguatkan 

diri kita sendiri dan satu sama lain untuk mengerjakannya. Sebab 

alasan besar mengapa kita lemah dalam mengerjakan kewajiban 

kita yaitu  sebab  kita dingin terhadapnya, tidak acuh dan tidak 

bertekad bulat. Marilah sekarang kita lihat bagaimana Nehemia 

diperlakukan,  

2. Oleh mereka yang mengharapkan hal buruk bagi orang-orang Yahudi. 

Mereka mengutuk orang yang diberkati Tuhan  dan Israel kepunyaan-Nya. 

(1) Ketika Nehemia baru menunjukkan mukanya saja, mereka menjadi 

kesal (ay. 10). Sanbalat and Tobia yaitu  dua orang Samaria, namun 

yang pertama terlahir sebagai orang Moab, dan yang kedua orang 

Amon. Ketika melihat ada seseorang yang datang dengan surat 

perintah dari raja untuk membantu orang Israel, mereka sangat 

kesal, sebab  semua usaha kecil mereka untuk melemahkan Israel di-


 

754 

kacaukan dan digagalkan oleh rancangan yang adil, mulia, dan 

murah hati untuk menguatkan Israel. Tidak ada yang lebih 

mengesalkan musuh-musuh orang baik, yang telah menjelek-

jelekkan mereka kepada raja sebagai orang yang rusuh, pemecah 

belah, dan tidak pantas hidup, selain melihat mereka dipandang 

benar oleh pemimpin mereka, dibersihkan dari tuduhan, dan 

dihapuskan celanya. Dan bahwa mereka dianggap tidak hanya 

pantas hidup, namun  juga pantas dipercaya. Ketika mereka melihat 

seseorang datang dengan cara demikian, yang mengaku mengusaha-

kan kesejahteraan orang Israel, hal ini membuat hati mereka kesal. 

Orang fasik melihatnya, lalu sakit hati. 

(2) Ketika Nehemia mulai bertindak, mereka menetapkan hati untuk 

menghalanginya, namun sia-sia (ay. 19-20). 

[1] Lihatlah di sini dengan alasan remeh seperti apa musuh-musuh 

berusaha mematahkan semangatnya. Mereka menggambarkan 

usaha ini sebagai hal yang tolol: Mereka mengolok-olokkan dan 

menghina kami sebagai tukang-tukang bangunan yang bodoh, 

yang tidak dapat menyelesaikan apa yang kami mulai. Mereka 

juga menggambarkan usaha ini sebagai hal yang jahat, tidak lebih 

baik dibandingkan  pengkhianatan: Apa kamu mau berontak terhadap 

raja? Oleh sebab  ini yaitu  tuduhan yang menyakitkan hati 

yang sudah ada sejak lama, maka walau sekarang mereka 

memiliki surat perintah dari raja dan ditempatkan di bawah 

perlindungannya, tetap saja mereka disebut pemberontak. 

[2] Lihat juga dengan alasan baik seperti apa orang-orang Yahudi 

memandang rendah upaya-upaya untuk mematahkan semangat 

mereka ini. Mereka tabah menghadapinya dengan alasan ini, 

bahwa mereka yaitu  hamba-hamba Tuhan  semesta langit, satu-

satunya Tuhan  yang benar dan yang hidup, dan bahwa mereka 

bertindak bagi-Nya dalam apa yang mereka kerjakan. Oleh sebab 

itu, Ia akan menopang mereka dan membuat mereka berhasil, 

walaupun bangsa-bangsa menjadi rusuh (Mzm. 2:1). Mereka juga 

memandang bahwa alasan mengapa musuh-musuh ini menjelek-

jelekkan mereka seperti itu yaitu  sebab  para musuh tidak 

memiliki hak tingal di Yerusalem, namun  iri terhadap hak mereka 

atas kota itu. Demikianlah ancaman-ancaman yang tidak berdaya 

dari musuh-musuh jemat dapat dengan mudah dipandang rendah 

oleh sahabat-sahabat jemaat. 

 

Kitab Nehemia 2:1-8 

 

755 

 

 

PASAL  3  

erbicara dan bertindak sering merupakan dua hal yang berbeda. Banyak 

orang yang siap berkata, “Mari kita bangkit dan membangun,” namun 

mereka tetap duduk dan tidak berbuat apa-apa, seperti anak laki-laki yang 

bermulut manis itu, yang berkata, “Aku mau pergi,” namun kenyataannya tidak 

pergi. Para pekerja di sini tidaklah termasuk orang-orang seperti itu. Segera 

sesudah bertekad untuk membangun tembok di sekeliling Yerusalem, mereka 

tidak mau membuang-buang waktu, melainkan segera memulainya, seperti yang 

kita jumpai dalam pasal ini. Janganlah pernah dikatakan bahwa kita menunda-

nunda pekerjaan baik untuk dikerjakan besok, padahal kita bisa 

mengerjakannya pada hari ini. Pasal ini memberikan sebuah penjelasan tentang 

dua hal:  

I. Nama-nama para pembangun tembok itu, yang dicatat di sini bagi 

kehormatan mereka, sebab mereka dalam hal ini menunjukkan 

semangat yang begitu besar bagi Tuhan  dan negeri mereka. Mereka 

menunjukkan jiwa yang saleh dan yang peduli pada orang banyak, 

mereka menunjukkan baik ketekunan maupun keberanian yang besar. 

Dan apa yang mereka lakukan memang pantas untuk dituliskan secara 

panjang lebar seperti itu, baik sebagai pujian bagi mereka maupun 

untuk mendorong orang lain agar mengikuti teladan mereka.  

II. Urutan pembangunan tembok itu. Mereka mengerjakan apa yang ada di 

hadapan mereka, dan mengakhiri di mana mereka memulai. Mereka 

memperbaiki,  

1. Dari mulai pintu gerbang Domba hingga pintu gerbang Ikan (ay. 1-

2).  

2. Kemudian ke pintu gerbang Lama (ay. 3-5).  

3. Kemudian ke pintu gerbang Lebak (ay. 6-12).  

4. Lalu ke pintu gerbang Sampah (ay. 13-14).  

5. Lalu ke pintu gerbang Mata Air (ay. 15).  


 

758 

6. Lalu ke pintu gerbang Air (ay. 16-26).  

7. Lalu dari pintu gerbang Kuda hingga ke pintu gerbang Domba lagi, 

di mana mereka memulai (ay. 27-32), dan dengan demikian mereka 

bekerja mengelilingi kota itu. 

Pembangunan Kembali Tembok Yerusalem 

(3:1-32) 

1 Maka bersiaplah imam besar Elyasib dan para imam, saudara-saudaranya, lalu 

membangun kembali pintu gerbang Domba. Mereka mentahbiskannya dan memasang 

pintu-pintunya. Mereka mentahbiskannya sampai menara Mea, menara Hananeel. 2 

Berdekatan dengan mereka orang-orang Yerikho membangun, dan berdekatan dengan 

orang-orang itu Zakur bin Imri. 3 Pintu gerbang Ikan dibangun oleh bani Senaa. Mereka 

memasang balok-balok lalu memasang pintu-pintunya dengan pengancing-pengancing 

dan palang-palangnya. 4 Berdekatan dengan mereka Meremot bin Uria bin Hakos meng-

adakan perbaikan, dan berdekatan dengan dia Mesulam bin Berekhya bin Mesezabeel. 

Berdekatan dengan dia Zadok bin Baana mengadakan perbaikan, 5 dan berdekatan 

dengan dia orang-orang Tekoa. Hanya pemuka-pemuka mereka tidak mau memberi 

bahunya untuk pekerjaan tuan mereka. 6 Pintu gerbang Lama diperbaiki oleh Yoyada bin 

Paseah dan Mesulam bin Besoja. Mereka memasang balok-balok lalu memasang pintu-

pintunya dengan pengancing-pengancing dan palang-palangnya. 7 Berdekatan dengan 

mereka Melaca, orang Gibeon, dan Yadon, orang Meronot, mengadakan perbaikan beserta 

orang-orang Gibeon dan Mizpa, yang berada di wilayah kekuasaan bupati daerah sebelah 

barat sungai Efrat. 8 Berdekatan dengan mereka Uziel bin Harhaya, salah seorang tukang 

emas, mengadakan perbaikan, dan berdekatan dengan dia Hananya, seorang juru campur 

rempah-rempah. Mereka memperkokoh Yerusalem sampai tembok Lebar. 9 Berdekatan 

dengan mereka Refaya bin Hur, penguasa setengah wilayah Yerusalem yang satu meng-

adakan perbaikan. 10 Berdekatan dengan dia Yedaya bin Harumaf mengadakan perbaikan, 

tepat di depan rumahnya, dan berdekatan dengan dia Hatus bin Hasabneya. 11 Malkia bin 

Harim dan Hasub bin Pahat-Moab memperbaiki bagian yang lain dan menara Perapian. 12 

Berdekatan dengan mereka Salum bin Halohesh, penguasa setengah wilayah Yerusalem 

yang lain mengadakan perbaikan bersama-sama anak-anak wanita nya. 13 Pintu 

gerbang Lebak diperbaiki oleh Hanun dan penduduk Zanoah. Mereka membangunnya 

kembali dan memasang pintu-pintunya dengan pengancing-pengancing dan palang-

palangnya. Pula tembok diperbaiki sepanjang seribu hasta sampai pada pintu gerbang 

Sampah. 14 Pintu gerbang Sampah diperbaiki oleh Malkia bin Rekhab, penguasa wilayah 

Bet-Kerem. Ia membangunnya kembali dan memasang pintu-pintunya dengan 

pengancing-pengancing dan palang-palangnya. 15 Pintu gerbang Mata Air diperbaiki oleh 

Salum bin Kolhoze, penguasa wilayah Mizpa. Pintu gerbang itu dibangunnya kembali, 

diberinya atap dan dipasangnya pintu-pintunya dengan pengancing-pengancing dan 

palang-palangnya. Juga diperbaikinya tembok kolam penampung air saluran, dekat taman 

raja sampai pada tangga-tangga yang menurun dari kota Daud. 16 Di sampingnya Nehemia 

bin Azbuk, penguasa setengah wilayah Bet-Zur, mengadakan perbaikan sampai di depan 

pekuburan Daud dan sampai pada kolam buatan dan rumah para pahlawan. 17 Di 

sampingnya orang-orang Lewi mengadakan perbaikan, yaitu  Rehum bin Bani, dan 

berdekatan dengan dia Hasabya, penguasa setengah wilayah Kehila yang satu, untuk 

wilayahnya.  

18 Di sampingnya saudara-saudara mereka, yaitu  Binui bin Henadad, penguasa setengah 

wilayah Kehila yang lain, mengadakan perbaikan. 19 Berdekatan dengan dia Ezer bin 

Yesua, penguasa Mizpa, memperbaiki bagian yang berikut, di depan pendakian ke gudang 

senjata, dekat Sudut. 20 Di sampingnya Barukh bin Zabai memperbaiki bagian yang 

berikut, dari Sudut sampai pada pintu masuk rumah imam besar Elyasib. 21 Di 

sampingnya Meremot bin Uria bin Hakos memperbaiki bagian yang berikut, dari pintu 

Kitab Nehemia 3:1-32 

 

759 

masuk rumah Elyasib sampai pada ujung rumah Elyasib. 22 Di sampingnya para imam, 

orang-orang dari Lembah Yordan, mengadakan perbaikan. 23 Di samping mereka Be-

nyamin dan Hasub mengadakan perbaikan di depan rumah mereka. Di samping mereka 

Azarya bin Maaseya bin Ananya mengadakan perbaikan di samping rumahnya. 24 Di 

sampingnya Binui bin Henadad memperbaiki bagian yang berikut, dari rumah Azarya 

sampai Sudut dan sampai Penjuru. 25 Palal bin Uzai mengadakan perbaikan di depan 

Sudut dan di depan menara yang tinggi yang menonjol dari istana raja, dekat pelataran 

penjagaan. Di sampingnya Pedaya bin Paros mengadakan perbaikan 26 sampai di depan 

pintu gerbang Air, di sebelah timur, dan di depan menara yang menonjol. Adapun para 

budak di bait Tuhan  tinggal di Ofel. 27 Di samping Pedaya orang-orang Tekoa memperbaiki 

bagian yang berikut, dari depan menara besar yang menonjol itu sampai tembok Ofel. 28 

Mulai dari pintu gerbang Kuda para imam mengadakan perbaikan, masing-masing di 

depan rumahnya. 29 Di samping mereka Zadok bin Imer mengadakan perbaikan di depan 

rumahnya. Di sampingnya Semaya bin Sekhanya, penjaga pintu gerbang Timur. 30 Di 

sampingnya Hananya bin Selemya dan Hanun, anak Zalaf yang keenam, memperbaiki 

bagian yang berikut. Di samping mereka Mesulam bin Berekhya mengadakan perbaikan 

di depan biliknya. 31 Di sampingnya Malkia, seorang tukang emas, mengadakan perbaikan 

sampai pada rumah para budak di bait Tuhan  dan para pedagang, di depan pintu gerbang 

Pendaftaran dan sampai pada kamar atas di penjuru. 32 Lalu antara kamar atas di penjuru 

dan pintu gerbang Domba para tukang emas dan para pedagang mengadakan perbaikan. 

Cara terbaik untuk mengetahui bagaimana membagi pasal ini yaitu  dengan 

mencermati bagaimana pekerjaan membangun tembok itu dibagi di antara para 

pekerja. Pembagian itu dimaksudkan agar setiap orang dapat mengetahui apa 

yang harus dilakukannya, dan dapat mengurusi pekerjaannya sesuai pembagian 

tersebut, dengan keinginan yang kudus untuk berlomba menjadi yang terbaik 

dan paling unggul, namun tanpa pertikaian, permusuhan, atau kepentingan 

sendiri-sendiri. Tidak ada perselisihan yang muncul di antara mereka selain 

siapa yang harus berbuat paling banyak bagi kepentingan bersama. Ada 

sejumlah hal yang patut diperhatikan dalam penjelasan yang diberikan di sini 

tentang pembangunan tembok di sekeliling Yerusalem: 

I. Bahwa Elyasib sang imam besar, dengan saudara-saudaranya para imam, 

memimpin barisan depan dalam pasukan pembangun ini (ay. 1). Hamba-

hamba Tuhan haruslah menjadi yang terdepan dalam setiap pekerjaan baik, 

sebab jabatan mereka mewajibkan mereka untuk mengajar dan 

menggiatkan orang lain melalui keteladanan mereka, seperti juga melalui 

ajaran mereka. Jika ada pekerjaan, siapakah yang begitu pantas untuk 

bekerja selain mereka? Jika ada bahaya, siapakah yang begitu pantas untuk 

memberanikan diri menghadapinya selain mereka? Martabat imam besar 

sangatlah tinggi, dan mewajibkan dia untuk menjadi yang terdepan dalam 

pekerjaan ini. Para imam memperbaiki pintu gerbang Domba, disebut 

demikian sebab melalui pintu itu domba-domba yang harus dikorbankan di 

dalam Bait Suci dibawa masuk. Itulah sebabnya para imam turun tangan 

untuk memperbaikinya, sebab  korban api-apian kepada TUHAN yaitu  


 

760 

bagian mereka. Dan hanya tentang pintu gerbang ini dikatakan bahwa 

mereka mentahbiskannya dengan firman dan doa, dan mungkin dengan 

korban persembahan,  

1. Sebab pintu gerbang tersebut menuju ke Bait Suci. Atau,  

2. Sebab dengan pintu gerbang ini pembangunan tembok dimulai, dan ada 

kemungkinan, kendati mereka mengerjakan seluruh bagian tembok pada 

waktu yang sama, bahwa pintu gerbang inilah yang pertama 

diselesaikan. Oleh sebab nya, di pintu gerbang inilah mereka dengan 

khidmat menyerahkan kota mereka dan tembok-temboknya kepada 

perlindungan ilahi. Atau,  

3 Sebab para imam yaitu  orang-orang yang membangun tembok itu. Dan 

sudah sepatutnya hamba-hamba Tuhan, di atas semua orang lain, sebab 

mereka sendiri secara istimewa dikuduskan bagi Tuhan , untuk 

menguduskan bagi-Nya semua perbuatan mereka, dan untuk melakukan 

bahkan pekerjaan-pekerjaan biasa mereka dengan suatu cara yang 

berkenan kepada Tuhan . 

II. Bahwa para pekerjanya sangat banyak, yang masing-masing mengerjakan 

bagiannya dalam pekerjaan ini, sebagian lebih banyak dan sebagian yang 

lain lebih sedikit, sesuai dengan kemampuan mereka. Perhatikanlah, apa 

yang harus dilakukan demi kebaikan bersama, haruslah setiap orang ikut 

membantu di dalamnya, dan lebih jauh lagi, membantu dengan sebaik-

baiknya menurut tempat dan kedudukannya. Kekuatan gabungan akan me-

naklukkan apa yang tidak berani dilakukan oleh orang perorangan. Banyak 

tangan yang membantu akan meringankan pekerjaan.  

III. Bahwa banyak orang yang bukan penduduk Yerusalem turut giat bekerja 

membangun tembok ini, dan sebab  itu mereka semata-mata 

mengedepankan kesejahteraan bersama dan bukan kepentingan atau 

keuntungan pribadi. Di sini ada orang-orang Yerikho yang membangun 

bersama para pembangun pertama (ay. 2), orang-orang Gibeon dan Mizpa 

(ay. 7), dan penduduk Zanoah (ay. 13). Setiap orang Israel harus 

mengulurkan tangan untuk membantu pembangunan Yerusalem.  

IV. Bahwa sejumlah penguasa, baik dari Yerusalem maupun dari kota-kota lain, 

turut giat bekerja membangun tembok ini, dengan menganggap diri mereka 

terikat oleh rasa hormat untuk berbuat sebaik-baiknya bagi kemajuan 

pekerjaan baik ini,  sebagaimana kekayaan dan kekuasaan mereka 

memampukan mereka untuk melakukannya. Namun patut diperhatikan 

Kitab Nehemia 3:1-32 

 

761 

bahwa mereka disebut penguasa wilayah, atau setengah wilayah, dari kota-

kota mereka. Salah seorang di antara mereka yaitu  penguasa setengah wila-

yah Yerusalem (ay. 12), yang lain penguasa setengah wilayah Bet-Kerem (ay. 

14), yang lain penguasa setengah wilayah Mizpa (ay. 15), dan yang lain lagi 

penguasa setengah wilayah Bet-Zur (ay. 16). Yang seorang yaitu  penguasa 

setengah wilayah Kehila yang satu, dan yang lain yaitu  penguasa setengah 

wilayah Kehila yang lain (ay. 17-18). Mungkin pemerintah Persia tidak mau 

mempercayakan sebuah kota yang kuat kepada satu orang, namun  menunjuk 

dua orang untuk menjadi pengawas satu sama lain. Roma memiliki dua 

orang penguasa. 

V. Di sini ada celaan yang pantas diberikan kepada para pemuka Tekoa, bahwa 

mereka tidak mau memberi bahunya untuk pekerjaan tuan mereka (ay. 5), 

yaitu, mereka tidak mau memikul kuk kewajiban pekerjaan ini. Seakan-akan 

martabat dan kemerdekaan kaum bangsawan yang mereka sandang 

membebaskan mereka dari tugas melayani Tuhan  dan berbuat baik, yang 

sesungguhnya merupakan kehormatan tertinggi dan kemerdekaan yang 

sejati. Janganlah kaum bangsawan merasa rendah untuk mengerjakan apa 

yang dapat memajukan kepentingan-kepentingan negeri mereka. Sebab apa 

gunanya kebangsawanan mereka kalau bukan untuk menempatkan mereka 

dalam kedudukan yang membuat mereka jauh lebih bermanfaat dibandingkan  

yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang ada di bawah mereka?  

VI. Ada dua orang yang bergabung dalam memperbaiki pintu gerbang Lama (ay. 

6), dan dengan demikian keduanya menjadi pendiri bersama, dan berbagi 

kehormatan dalam memperbaiki pintu gerbang itu. Apabila ada pekerjaan 

baik yang tidak dapat kita tangani sendiri, kita harus bersyukur kepada 

orang-orang yang mau bekerja sama dengan kita di dalamnya. Sebagian 

penafsir berpendapat bahwa pintu ini disebut pintu gerbang Lama sebab 

pintu itu termasuk kota kuno Salem, yang dikatakan pertama kali dibangun 

oleh Melkisedek.  

VII. Sejumlah pedagang yang baik dan jujur, dan juga para imam dan penguasa, 

turut giat bekerja membangun tembok ini – tukang emas, juru campur 

rempah-rempah, dan para pedagang (ay. 8, 32). Mereka tidak menganggap 

bahwa pekerjaan mereka mengecualikan mereka dari pembangunan tembok 

ini, atau membela diri bahwa mereka tidak dapat meninggalkan toko mereka 

untuk mengurusi kepentingan umum, sebab mereka mengetahui bahwa apa 


 

762 

yang hilang dari mereka pasti akan dikembalikan kepada mereka oleh berkat 

Tuhan  atas pekerjaan mereka.  

VIII. Beberapa wanita  dikatakan menolong memajukan pekerjaan ini – Salum 

bin Halohesh bersama-sama anak-anak wanita nya (ay. 12). Walaupun 

mereka sendiri tidak mampu bekerja, namun sebab  memiliki bagian milik 

pusaka di tangan mereka sendiri, atau sebab  merupakan para janda yang 

kaya, mereka menyumbangkan uang untuk membeli bahan-bahan bangunan 

dan mengupah para pekerja. Rasul Paulus juga berbicara tentang beberapa 

wanita  saleh yang telah berjuang dengan dia dalam pekabaran Injil (Flp. 

4:3). 

IX. Tentang sebagian orang dikatakan bahwa mereka mengadakan 

perbaikan tepat di depan rumah mereka (ay. 10, 23, 28-29), dan tentang 

seseorang, yang mungkin hanyalah seorang yang menumpang tinggal, 

dikatakan bahwa ia mengadakan perbaikan di depan biliknya (ay. 30). Ketika 

sebuah pekerjaan baik milik bersama harus dilakukan, maka setiap orang 

harus mengerjakan bagian yang berada paling dekat dengannya dan yang 

berada dalam jangkauannya. Jika setiap orang mau menyapu di depan pintu 

rumahnya sendiri, maka jalanan akan menjadi bersih. Jika setiap orang mau 

memperbaiki satu orang, maka kita semua akan menjadi baik-baik saja. Jika 

seseorang yang hanya memiliki sebuah bilik mau mengadakan perbaikan di 

depan bilik itu, maka dia telah melakukan bagiannya. 

X. Tentang seseorang dikatakan bahwa dia dengan sungguh-sungguh 

memperbaiki apa yang menjadi bagiannya (ay. 20, KJV), dia melakukannya 

dengan semangat yang berkobar-kobar. Bukan berarti yang lain bersikap 

dingin atau acuh tak acuh, namun  dialah yang paling bersemangat dari antara 

mereka, dan sebagai akibatnya membuat dirinya menonjol. Memang baik 

kalau orang dengan giat berusaha seperti itu dalam perkara-perkara yang 

baik. Dan ada kemungkinan bahwa semangat orang baik ini telah mendorong 

banyak orang untuk bekerja lebih keras dan lebih cepat.  

XI. Tentang salah seorang dari para pembangun ini dicatat bahwa dia yaitu  

anak yang keenam dari ayahnya (ay. 30). Lima kakak laki-lakinya, 

sepertinya, tidak mengulurkan tangan bagi pekerjaan ini, lain halnya dengan 

dia. Dalam melakukan apa yang baik, kita tidak perlu berdiam diri menunggu 

saudara-saudara kita yang lebih tua bekerja mendahului kita. Jika mereka 

menolak, tidak berarti bahwa kita pun harus menolak. Dengan demikian 

Kitab Nehemia 3:1-32 

 

763 

saudara yang lebih muda, jika dia yaitu  orang yang lebih baik, dan melayani 

Tuhan  serta angkatannya dengan lebih baik, sesungguhnya merupakan orang 

yang lebih berbudi luhur. Orang-orang yang paling terhormat yaitu  orang-

orang yang paling berguna.  

XII. Sebagian dari orang-orang yang selesai terlebih dahulu, kemudian menolong 

saudara-saudara mereka, dan turun tangan melakukan bagian lain yang 

mereka lihat paling dibutuhkan. Meremot mengadakan perbaikan (ay. 4), 

dan lagi (ay. 21). Dan orang-orang Tekoa, di samping bagian yang mereka 

perbaiki (ay. 5), mengadakan perbaikan untuk bagian lain (ay. 27), yang 

semakin mengagumkan sebab  para pemuka mereka memberi contoh yang 

buruk dengan menarik diri dari pekerjaan itu. Dan hal ini bukannya 

memberi mereka dalih untuk duduk-duduk saja, namun  mungkin justru 

membuat mereka lebih tergerak untuk bekerja keras dua kali lipat, supaya 

dengan semangat mereka, mereka dapat mempermalukan atau menebus 

keserakahan dan ketidakpedulian para pemuka mereka.  

Yang terakhir, tidak disebutkan di sini bagian apa yang dikerjakan oleh 

Nehemia sendiri dalam pekerjaan ini. Orang yang namanya sama dengan 

Nehemia disebutkan (ay. 16). namun  benarkah Nehemia tidak melakukan 

apa-apa? Ya, kendati dia tidak mengerjakan bagian apa pun dari tembok itu, 

namun dia bekerja lebih banyak dibandingkan  siapa saja dari mereka, sebab dia 

mengawasi mereka semua. Separuh dari anak buahnya bekerja di bagian yang 

paling dibutuhkan, dan separuh lagi berdiri berjaga-jaga, seperti yang kita 

jumpai sesudahnya (4:16). Sementara dia sendiri berjalan keliling, sambil 

mengarahkan dan menguatkan orang-orang yang sedang membangun, 

mengulurkan tangan untuk membantu apabila dilihatnya ada kebutuhan, dan 

tetap mengawasi gerak-gerik musuh, seperti yang akan kita jumpai di dalam 

pasal berikutnya. Seorang nahkoda kapal tidak perlu menarik tali, cukuplah 

baginya untuk mengarahkan kemudi. 

 

 

PASAL  4  

alam pasal sebelumnya kita meninggalkan semua tangan sedang bekerja 

membangun tembok di sekeliling Yerusalem. Namun pekerjaan baik 

seperti itu biasanya tidak dapat dilanjutkan tanpa perlawanan. Sekarang di sini 

kita diberi tahu perlawanan seperti apa yang dilancarkan terhadapnya, dan cara-

cara apa yang diambil Nehemia untuk meneruskan pekerjaan itu, kendati 

dengan perlawanan tersebut.  

I. Para musuh mencela dan mencemooh pekerjaan mereka, namun  ejekan 

para musuh itu mereka balas dengan doa. Mereka tidak menghiraukan 

cemoohan para musuh, namun  melanjutkan pekerjaan mereka kendati 

dengan cemoohan itu (ay. 1-6).  

II. Para musuh membentuk sebuah rancangan yang berdarah melawan 

mereka, untuk menghalang-halangi pekerjaan mereka melalui 

kekerasan dengan senjata (ay. 7-8, 10-12). Untuk berjaga-jaga terhadap 

rancangan ini, Nehemia berdoa (ay. 9), menempatkan para penjaga (ay. 

13), dan menguatkan mereka untuk berperang (ay. 14). Melalui 

tindakannya ini rancangan tersebut digagalkan (ay. 15), dan dengan 

demikian pekerjaan itu dilanjutkan dengan segala kewaspadaan yang 

diperlukan untuk menghadapi serangan mendadak (ay. 16-23). Dalam 

kesemuanya ini Nehemia membuktikan diri sebagai seorang yang 

penuh hikmat dan keberanian, dan juga kesalehan yang tinggi. 

Perlawanan Sanbalat dan Kawan-kawan 

(4:1-6) 

1 Ketika Sanbalat mendengar, bahwa kami sedang membangun kembali tembok, 

bangkitlah amarahnya dan ia sangat sakit hati. Ia mengolok-olokkan orang Yahudi 2 dan 

berkata di hadapan saudara-saudaranya dan tentara Samaria: “Apa gerangan yang 

dilakukan orang-orang Yahudi yang lemah ini? Apakah mereka memperkokoh sesuatu? 

Apakah mereka hendak membawa persembahan? Apakah mereka akan selesai dalam 


 

766 

sehari? Apakah mereka akan menghidupkan kembali batu-batu dari timbunan puing yang 

sudah terbakar habis seperti ini?” 3 Lalu berkatalah Tobia, orang Amon itu, yang ada di 

dekatnya: “Sekalipun mereka membangun kembali, kalau seekor anjing hutan meloncat 

dan menyentuhnya, robohlah tembok batu mereka.” 4 Ya, Tuhan  kami, dengarlah 

bagaimana kami dihina. Balikkanlah cercaan mereka menimpa kepala mereka sendiri dan 

serahkanlah mereka menjadi jarahan di tanah tempat tawanan. 5 Jangan Kaututupi 

kesalahan mereka, dan dosa mereka jangan Kauhapus dari hadapan-Mu, sebab  mereka 

menyakiti hati-Mu dengan sikap mereka terhadap orang-orang yang sedang membangun. 

6 namun  kami terus membangun tembok sampai setengah tinggi dan sampai ujung-

ujungnya bertemu, sebab  seluruh bangsa bekerja dengan segenap hati. 

Dalam perikop ini kita mendapati,  

I. Hinaan yang keji dan penuh cemooh yang dilontarkan Sanbalat dan Tobia 

kepada orang-orang Yahudi atas upaya mereka membangun tembok di 

sekeliling Yerusalem. Hal itu menjadi bahan perbincangan hangat di seluruh 

negeri pada waktu itu, dan kabar tentangnya dibawa ke Samaria, sarang dari 

orang-orang yang memusuhi bangsa Yahudi dan kesejahteraan mereka. Dan 

di sini kita diberi tahu bagaimana para musuh menerima kabar itu.  

1. Di dalam hati. Mereka sangat marah terhadap usaha pembangunan itu, 

dan sangat sakit hati (ay. 1). Sungguh kesal hati mereka bahwa Nehemia 

datang untuk mengupayakan kesejahteraan orang Israel (2:10). Akan 

namun , ketika mendengar bahwa pekerjaan besar ini akan memberi 

kebaikan bagi orang Israel, mereka kehilangan seluruh kesabaran. 

Sampai pada saat itu mereka menghibur diri dengan pikiran bahwa 

selama Yerusalem tidak bertembok, mereka dapat menelannya habis-

habis dan menjadikan diri mereka penguasa atas kota tersebut kapan 

pun mereka mau. Namun, jika ditembok, maka kota itu tidak hanya 

dipagari dari mereka, namun  juga perlahan-lahan akan menjadi sangat 

tangguh bagi mereka. Kekuatan dan keamanan jemaat membuat para 

musuhnya sangat sedih dan kesal.  

2. Dalam perkataan. Para musuh memandang rendah kabar itu, dan 

menjadikannya sebagai bahan ejekan. Dalam hal ini mereka sudah cukup 

memperlihatkan kebencian mereka. Namun kebaikan dimunculkan 

darinya. Sebab, dengan memandangnya sebagai usaha bodoh yang akan 

tenggelam oleh bebannya sendiri, mereka tidak berusaha 

menghalanginya sampai semuanya sudah sangat terlambat. Marilah kita 

lihat betapa dengan penuh kesombongan dan kebencian mereka 

menetapkan hati untuk mengolok-olok usaha itu di hadapan semua 

orang.  

(1) Sanbalat berbicara dengan mencemooh tentang para pekerja: 

“Orang-orang Yahudi yang lemah ini” (ay. 2), “apa yang akan mereka 

Kitab Nehemia 4:1-6 

 

767 

lakukan dengan bahan-bahan bangunannya? Apakah mereka akan 

menghidupkan kembali batu-batu dari timbunan puing? Dan mengapa 

mereka bekerja dengan begitu tergesa-gesa? Apakah mereka 

menyangka akan sanggup menyelesaikan pembangunan tembok di 

sekeliling kota hanya dalam waktu sehari, dan mengadakan 

perayaan penahbisan dengan korban pada hari berikutnya? Dasar 

orang-orang bodoh! Lihatlah betapa mereka membuat diri mereka 

sendiri menjadi konyol!”  

(2) Tobia berbicara dengan tidak kalah menghinanya tentang pekerjaan 

itu sendiri. Ia punya lelucon juga, dan harus menunjukkan 

kebolehannya (ay. 3). Para pencemooh yang cemar menajamkan satu 

sama lain. “Pekerjaan yang menyedihkan,” katanya, “mungkin itulah 

jadinya nanti, dan mereka sendiri akan dibuat malu olehnya. Kalau 

seekor anjing hutan meloncat dan menyentuhnya, bukan dengan ke-

licikannya, melainkan dengan berat tubuhnya, maka ia akan 

merobohkan tembok batu mereka.” Banyak pekerjaan baik telah 

dipandang rendah seperti itu oleh para pencemooh yang kurang ajar 

dan sombong. 

II. Nehemia dengan rendah hati dan saleh membawa dirinya kepada Tuhan   

ketika mendengar cemoohan-cemoohan ini. Ada kabar yang dibawa 

kepadanya tentang apa yang mereka katakan. Ada kemungkinan bahwa 

mereka sendirilah yang sengaja mengirimkan pesan itu kepadanya, untuk 

mematahkan semangatnya, sambil berharap bahwa dengan mengejeknya, ia 

akan meninggalkan upayanya itu. namun  Nehemia tidak menjawab orang-

orang bebal ini menurut kebodohan mereka. Ia tidak menegur mereka atas 

kelemahan mereka, namun  memandang kepada Tuhan  melalui doa.  

1. Nehemia memohon kepada Tuhan  untuk memperhatikan penghinaan-

penghinaan yang ditujukan kepada mereka (ay. 4), dan dalam hal ini kita 

harus meneladani dia: Ya Tuhan  kami, dengarlah bagaimana kami 

dihina. Perhatikanlah,  

(1) Umat Tuhan  telah sering kali menjadi umat yang dipandang hina, dan 

dijejali dengan cercaaan.  

(2) Tuhan  mendengar, dan akan mendengar semua hinaan yang 

ditimpakan ke atas umat-Nya, dan suatu penghiburan bagi mereka 

bahwa Tuhan  mendengarnya, dan suatu alasan yang baik mengapa 

mereka harus berpura-pura seperti orang tuli yang tidak 

mendengarnya (Mzm. 38:14-16). “Engkaulah Tuhan  kami, dan 


 

768 

kepada-Mulah kami mengadu. Perkara kami hanya perlu 

didengarkan secara adil.” 

2. Nehemia memohon kepada Tuhan  untuk membalaskan perkara mereka 

dan membalikkan hinaan itu kepada musuh-musuh itu sendiri (ay. 4-5). 

Dan hal ini diucapkan lebih melalui roh nubuatan dibandingkan  roh doa, dan 

tidak patut ditiru oleh kita yang diajar oleh Kristus untuk berdoa bagi 

orang-orang yang mencaci kita dan menganiaya kita. Kristus sendiri 

berdoa bagi orang-orang yang mencemooh Dia: Ya Bapa, ampunilah 

mereka. Nehemia di sini berdoa, jangan Kaututupi kesalahan mere-

ka. Perhatikanlah,  

(1) Orang-orang yang menimpakan hinaan ke atas umat Tuhan  hanya 

mempersiapkan kehinaan kekal bagi diri mereka sendiri.  

(2) Menghina umat Tuhan  yaitu  dosa yang darinya para pendosa jarang 

diinsafkan. Tak diragukan lagi bahwa Nehemia mempunyai alasan 

untuk menganggap hati orang-orang berdosa itu sudah mengeras 

tanpa bisa ditolong lagi, sehingga mereka tidak akan pernah bertobat 

darinya, sebab jika tidak, tentu dia tidak akan berdoa agar dosa ter-

sebut jangan dihapuskan. Alasan yang diberikan Nehemia bukan 

sebab  mereka telah menghina kami, melainkan sebab  mereka telah 

menyakiti hati-Mu, dan itu dilakukan di hadapan orang-orang yang 

sedang membangun. Dan ada kemungkinan bahwa mereka 

mengirimkan sebuah pesan yang menghina kepada orang-orang itu. 

Perhatikanlah, kita harus marah terhadap kejahatan para 

penganiaya, bukan sebab  hal itu menghina kita, melainkan sebab  

hal itu menyakiti hati Tuhan . Dan dengan alasan itu kita dapat men-

dasarkan pengharapan bahwa Tuhan  akan tampil melawan kejahatan 

itu (Mzm. 74:18, 22). 

III. Semangat orang-orang yang sedang membangun, kendati dengan segala 

cemoohan ini (ay. 6). Mereka bekerja dengan begitu cepat sehingga dalam 

waktu singkat mereka telah membangun tembok sampai setengah tingginya, 

sebab seluruh bangsa bekerja dengan segenap hati. Hati mereka tertuju pada 

pekerjaan itu, dan mereka ingin agar pekerjaan itu terus maju. 

Perhatikanlah,  

1.  Pekerjaan baik akan terus berjalan dengan baik apabila orang 

mengerjakannya dengan segenap hati.  

2. Celaan para musuh seharusnya menyemangati kita untuk melakukan 

kewajiban kita, dan bukan malah menjauhkan kita darinya.  

Kitab Nehemia 4:1-6 

 

769 

Perlawanan Sanbalat dan Kawan-kawan 

(4:7-15) 

7 Ketika Sanbalat dan Tobia serta orang Arab dan orang Amon dan orang Asdod 

mendengar, bahwa pekerjaan perbaikan tembok Yerusalem maju dan bahwa lobang-

lobang tembok mulai tertutup, maka sangat marahlah mereka. 8 Mereka semua 

mengadakan persepakatan bersama untuk memerangi Yerusalem dan mengadakan 

kekacauan di sana. 9 namun  kami berdoa kepada Tuhan  kami, dan mengadakan penjagaan 

terhadap mereka siang dan malam sebab  sikap mereka. 10 Berkatalah orang Yehuda: 

“Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup 

kami membangun kembali tembok ini.” 11 namun  lawan-lawan kami berpikir: “Mereka 

tidak akan tahu dan tidak akan melihat apa-apa, sampai kita ada di antara mereka, 

membunuh mereka dan menghentikan pekerjaan itu.” 12 Ketika orang-orang Yahudi yang 

tinggal dekat mereka sudah sepuluh kali datang memperingatkan kami: “Mereka akan 

menyerang kita dari segala tempat tinggal mereka,” 13 maka aku tempatkan rakyat 

menurut kaum keluarganya dengan pedang, tombak dan panah di bagian-bagian yang 

paling rendah dari tempat itu, di belakang tembok, di tempat-tempat yang terbuka. 14 

Kuamati semuanya, lalu bangun berdiri dan berkata kepada para pemuka dan para 

penguasa dan kepada orang-orang yang lain: “Jangan kamu takut terhadap mereka! 

Ingatlah kepada Tuhan yang maha besar dan dahsyat dan berperanglah untuk saudara-

saudaramu, untuk anak-anak lelaki dan anak-anak wanita mu, untuk isterimu dan 

rumahmu.” 15 Ketika didengar musuh kami, bahwa rencana mereka sudah kami ketahui 

dan bahwa Tuhan  telah menggagalkannya, maka dapatlah kami semua kembali ke tembok, 

masing-masing ke pekerjaannya. 

Dalam perikop ini kita mendapati,  

I. Persekongkolan yang dibuat oleh musuh-musuh orang Yahudi untuk 

melawan mereka, untuk mencegah pembangunan tembok itu dengan 

membunuh para pembangunnya. Orang-orang yang bersekongkol itu bukan 

hanya Sanbalat dan Tobia, melainkan juga bangsa tetangga lain yang telah 

mereka tarik ke dalam persekongkolan tersebut. Mereka membuai diri 

dengan khayalan bahwa pekerjaan itu akan segera terhenti dengan 

sendirinya. Akan namun , ketika mendengar bahwa pekerjaan itu terus 

berjalan dengan lancar, mereka pun menjadi marah kepada orang-orang 

Yahudi sebab  begitu cepat mendorong maju pekerjaan itu, dan marah 

kepada diri mereka sendiri sebab  begitu lambat dalam melawannya (ay. 7): 

Maka sangat marahlah mereka. Terkutuklah kemarahan mereka, sebab 

amarahnya keras, terkutuklah keberangan mereka, sebab berangnya bengis. 

Tidak ada hal lain yang ingin mereka lakukan selain memerangi 

Yerusalem (ay. 8). namun  mengapa, ada pertengkaran apa antara mereka dan 

orang-orang Yahudi? Apakah orang-orang Yahudi telah berbuat jahat kepada 

mereka? Atau bermaksud untuk berbuat jahat terhadap mereka? Tidak, 

orang Yahudi hidup dengan damai di samping mereka. Mereka ingin 

memerangi orang Yahudi semata-mata sebab  iri hati dan kebencian. 

Mereka membenci kesalehan orang Yahudi, dan sebab nya merasa kesal 


 

770 

melihat keberhasilan orang Yahudi dan berupaya menghancurkan mereka. 

Amatilah,  

1. Betapa kompaknya mereka: Mereka semua mengadakan persepakatan 

bersama. Meskipun ada kepentingan yang berbeda-beda di antara 

mereka sendiri, namun mereka satu hati dalam perlawanan mereka 

terhadap pekerjaan Tuhan .  

2. Betapa tertutupnya perbuatan mereka. Para musuh itu berkata, “Mereka 

tidak akan tahu dan tidak akan melihat apa-apa, sampai kita memegang 

kuasa atas mereka.” Demikianlah mereka mengadakan permufakatan 

yang licik, dan menggali dalam-dalam untuk menyembunyikannya dari 

Tuhan, dan meyakinkan diri sendiri bahwa rencana rahasia mereka akan 

memberi mereka keamanan dan keberhasilan.  

3. Betapa kejamnya mereka: Kita akan datang dan membunuh mereka. Jika 

tidak ada hal lain selain pembunuhan terhadap para pekerja yang akan 

menghentikan pekerjaan itu, maka mereka tidak akan segan-segan 

melakukannya. Bahkan, mereka haus akan darah orang-orang Yahudi, 

dan mereka senang membuat dalih apa saja untuk memuaskan diri 

mereka dengan darah itu.  

4. Apa rancangan itu dan betapa mereka yakin akan keberhasilannya. 

Rancangan mereka yaitu  menghentikan pekerjaan itu (ay. 11), dan 

mereka yakin akan berhasil mewujudkannya. Terhalanginya pekerjaan 

baik yaitu  sesuatu yang ingin dituju dan sangat diharap-harapkan oleh 

orang-orang jahat. namun  pekerjaan baik yaitu  pekerjaan Tuhan , dan 

pasti akan berhasil. 

II. Keadaan-keadaan yang mematahkan semangat yang di dalamnya para 

pembangun itu sendiri bekerja. Tepat pada saat para musuh berkata, mari 

kita hentikan pekerjaan itu, orang Yehuda berkata, “Mari kita sudahi saja 

pekerjaan ini, sebab kita tidak sanggup lagi meneruskannya” (ay. 10). 

Mereka menggambarkan bahwa para pekerja sudah kelelahan, dan bahwa 

kesulitan-kesulitan yang tersisa, bahkan bagian pertama dari pekerjaan 

mereka, yaitu membuang puing-puing, tidak dapat diatasi. Oleh sebab itu, 

mereka berpikir bahwa bijaklah kalau mereka menghentikan pekerjaan itu 

untuk saat ini. Adakah Yehuda, suku pemberani yang selalu siap berperang 

itu, bersikap pengecut seperti ini? Orang-orang yang giat bekerja dan 

menjadi pemimpin sering kali harus bergumul dengan ketakutan teman-

teman mereka, sama seperti dengan kengerian musuh-musuh mereka.  

Kitab Nehemia 4:1-6 

 

771 

III. Laporan yang dibawa kepada Nehemia tentang rencana-rencana musuh (ay. 

12). Ada orang-orang Yahudi yang tinggal dekat mereka, di negeri itu. 

Mereka ini tidak mempunyai cukup semangat untuk pergi ke Yerusalem 

guna membantu saudara-saudara mereka dalam membangun tembok. 

Namun demikian, mereka berada di suatu tempat yang memberi mereka 

kesempatan untuk mengetahui gerak-gerik musuh. Dan sebab  mereka 

mempunyai kejujuran dan rasa cinta yang begitu besar terhadap pemba-

ngunan tembok itu, maka mereka memberikan laporan tentang gerak-gerik 

musuh. Bahkan, agar laporan mereka dapat lebih dipercaya, mereka datang 

sendiri untuk menyampaikannya, dan mereka mengatakannya sebanyak 

sepuluh kali, dengan mengulanginya seperti orang yang bersungguh-

sungguh dan khawatir, dan laporan itu diteguhkan oleh banyak saksi. 

Laporan yang mereka berikan diucapkan secara tiba-tiba, sehingga banyak 

ahli Kitab Suci berusaha keras untuk memahami apa maksudnya. Hal ini 

mungkin dirancang untuk menyatakan bahwa mereka memberikan laporan 

ini sebagai orang-orang yang tergopoh-gopoh dan sedang kebingungan, dan 

wajah mereka berbicara lebih banyak dibandingkan  kata-kata mereka. Saya rasa, 

tanpa menambahkan apa pun, perkataan itu dapat dibaca demikian: “Ke 

mana pun engkau pergi, mereka akan melawan kita, sehingga engkau perlu 

berjaga-jaga di segala sudut.” Perhatikanlah, Tuhan  mempunyai banyak cara 

untuk menyingkapkan, dan dengan demikian menggagalkan, segala rencana 

dan rancangan dari musuh-musuh-Nya dan musuh-musuh jemaat-Nya. 

Bahkan orang-orang Yahudi yang lemah dan bersikap dingin, dan yang 

berpuas diri tinggal di dekat para musuh itu, akan dijadikan sebagai mata-

mata yang mengawasi mereka. Bahkan, bukannya gagal, seekor burung di 

udara akan menyampaikan ucapan mereka. 

IV. Cara-cara yang saleh dan bijak yang dipakai Nehemia, setelah mendengar 

laporan itu, untuk menggagalkan rancangan musuh, dan untuk melindungi 

pekerjaannya dan orang-orangnya. 

1. Dikatakan (ay. 14) bahwa dia mengamati semuanya.  

(1) Ia mengamati dengan melihat ke atas, melibatkan Tuhan  untuk 

berbuat sesuatu baginya, dan menempatkan diri serta perkaranya