tawarikh ester 23

Kamis, 30 Januari 2025

tawarikh ester 23


 


di 

bawah perlindungan ilahi (ay. 9): Kami berdoa kepada Tuhan  

kami. Itulah cara yang dipakai orang baik ini, dan seharusnya 

menjadi cara kita pula. Segala kekhawatirannya, segala 

kesedihannya, dan segala ketakutannya, dicurahkannya ke hadapan 

Tuhan , sehingga membuatnya tenang. Ini yaitu  hal pertama yang 


 

772 

dilakukannya. Sebelum dia menggunakan cara-cara lain, dia meman-

jatkan doa kepada Tuhan , sebab bersama Dialah kita harus selalu 

memulai segala sesuatu.  

(2) Ia mengamati di sekelilingnya. Sesudah berdoa, dia mengadakan 

penjagaan terhadap mereka. Petunjuk-petunjuk yang telah diberikan 

oleh Kristus kepada kita dalam peperangan rohani kita yaitu  

sejalan dengan teladan ini (Mat. 26:41). Berjaga-jagalah dan 

berdoalah. Jika kita mengira kita dapat melindungi diri kita sendiri 

hanya dengan doa saja, tanpa berjaga-jaga, maka kita malas dan 

mencobai Tuhan . Jika dengan berjaga-jaga saja, tanpa doa, maka kita 

sombong dan meremehkan Tuhan . Dan, dengan cara yang mana saja, 

kita kehilangan perlindungan-Nya.  

2. Amatilah, 

(1) Bagaimana Nehemia menempatkan para penjaga (ay. 13). Ia 

menempatkan mereka di bagian-bagian yang paling rendah dari 

tempat itu, di belakang tembok, supaya mereka dapat mengganggu 

musuh yang ada di balik tembok, sebagai pertahanan. namun  dia 

menempatkan rakyat di tempat-tempat yang terbuka, di mana 

tembok sudah dibangun mencapai ketinggian yang penuh, sehingga 

dari atasnya mereka dapat melempar batu atau anak panah ke atas 

kepala para penyerang. Ia menempatkan mereka menurut kaum 

keluarganya, sehingga hubungan saudara dapat menggerakkan 

mereka untuk saling membantu.  

(2) Bagaimana Nehemia menyemangati dan menguatkan segenap 

bangsa (ay. 14). Ia mengamati bahwa bahkan para pemuka dan 

penguasa sendiri, seperti juga rakyat selebihnya, merasa sangat 

khawatir mendengar berita yang dibawa kepada mereka, dan sudah 

siap menyimpulkan bahwa mereka semua akan binasa. Hal ini 

membuat tangan mereka menjadi lemah baik untuk bekerja maupun 

berperang. Oleh sebab  itu dia berusaha meredakan ketakutan mere-

ka. “Mari,” katanya, “jangan kamu takut terhadap mereka, namun  

bersikaplah gagah berani, dengan mempertimbangkan,  

[1] Di bawah siapa engkau berperang. Tidak ada panglima lain yang 

lebih baik seperti yang ada padamu: Ingatlah kepada Tuhan yang 

maha besar dan dahsyat. Engkau menganggap musuh-

musuhmu kuat dan mengerikan, namun  apalah mereka itu jika 

dibandingkan dengan Tuhan , terutama jika diperlawankan dengan 

Dia? Tuhan  itu jauh lebih besar di atas mereka sehingga dapat me-

Kitab Nehemia 4:1-6 

 

773 

ngendalikan mereka, dan akan menjadi kengerian bagi mereka 

ketika Ia datang untuk mengadakan perhitungan dengan 

mereka.” Orang-orang yang dengan mata iman melihat Tuhan  

jemaat sebagai Tuhan  yang Mahabesar dan dahsyat, akan melihat 

musuh-musuh jemaat sebagai orang-orang yang rendah dan 

hina. Rasa takut akan Tuhan  yang meraja dalam diri kita yaitu  

penangkal terbaik terhadap rasa takut yang menjerat terhadap 

manusia. Orang yang takut terhadap manusia yang memang akan 

mati, melupakan TUHAN yang menjadikannya (Yes. 51:12-13).  

[2] “Untuk siapa engkau berperang. Tidak ada kepentingan lain yang 

lebih baik seperti yang engkau miliki. Engkau berperang untuk 

saudara-saudaramu (Mzm. 122:8), untuk anak-anak lelaki dan 

anak-anak wanita mu. Semua yang engkau sayangi di dunia 

sedang dipertaruhkan. Oleh sebab  itu, bersikaplah gagah 

berani.” 

V. Kekecewaan yang dialami oleh para musuh sebab  tindakan Nehemia ini, 

yang membawa kebahagiaan bagi orang Yahudi (ay. 15). Ketika para musuh 

mendapati bahwa rancangan mereka telah diketahui, dan bahwa orang-

orang Yahudi telah berjaga-jaga, maka mereka menyimpulkan bahwa tidak 

ada gunanya untuk mengupayakan apa pun, namun  bahwa Tuhan  telah meng-

gagalkan rancangan mereka. Mereka tahu bahwa mereka tidak akan dapat 

mencapai tujuan mereka kecuali dengan mengadakan serangan secara tiba-

tiba, dan, jika rencana mereka ini diketahui, maka gagal sudah rencana itu. 

Orang-orang Yahudi kemudian masing-masing kembali ke 

pekerjaannya, dengan jauh lebih riang sebab  mereka melihat dengan jelas 

bahwa Tuhan  memberikan pengakuan terhadap pekerjaan pembangunan 

tembok itu, dan terhadap mereka dalam mengerjakannya. Perhatikanlah, 

kepedulian Tuhan  akan keselamatan kita haruslah menggugah dan 

mendorong kita untuk terus melaksanakan kewajiban kita dengan penuh 

semangat. Segera sesudah bahaya lewat, marilah kita kembali ke pekerjaan 

kita, dan percayakan saja waktu-waktu lain kepada Tuhan .  

Tindakan yang Diambil Nehemia untuk Berjaga-jaga 

(4:16-23) 

16 Sejak hari itu sebagian dari pada anak buahku melakukan pekerjaan, dan sebagian yang 

lain memegang tombak, perisai dan panah dan mengenakan baju zirah, sedang para 

pemimpin berdiri di belakang segenap kaum Yehuda 17 yang membangun di tembok. 

Orang-orang yang memikul dan mengangkut melakukan pekerjaannya dengan satu 


 

774 

tangan dan dengan tangan yang lain mereka memegang senjata. 18 Setiap orang yang 

membangun bekerja dengan berikatkan pedang pada pinggangnya, dan di sampingku 

berdiri peniup sangkakala. 19 Berkatalah aku kepada para pemuka dan para penguasa dan 

kepada orang-orang yang lain: “Pekerjaan ini besar dan luas, dan kita terpencar pada 

tembok, yang satu jauh dari pada yang lain. 20 Dan kalau kamu mendengar bunyi 

sangkakala di suatu tempat, berkumpullah ke sana mendapatkan kami. Tuhan  kita akan 

berperang bagi kita!” 21 Demikianlah kami melakukan pekerjaan itu, sedang sebagian dari 

pada orang-orang memegang tombak dari merekahnya fajar sampai terbitnya bintang-

bintang. 22 Pada waktu itu juga aku berikan perintah kepada rakyat: “Setiap orang dengan 

anak buahnya harus bermalam di Yerusalem, supaya mereka mengadakan penjagaan bagi 

kami pada malam hari, dan melakukan pekerjaannya pada siang hari.” 23 Demikianlah aku 

sendiri, saudara-saudaraku, anak buahku dan para penjaga yang mengikut aku, kami 

semua tidak sempat menanggalkan pakaian kami. Setiap orang memegang senjata dengan 

tangan kanan. 

Walaupun para pembangun tembok mempunyai alasan yang begitu kuat untuk 

berpikir bahwa rancangan para musuh telah digagalkan, sehingga mereka dapat 

kembali ke pekerjaan mereka, namun mereka tidak merasa begitu aman hingga 

dapat meletakkan senjata mereka. Sebab mereka mengetahui betapa para 

musuh tidak tinggal diam dan tidak kenal lelah dalam upaya-upaya mereka, dan 

bahwa, jika satu rencana gagal, maka mereka akan memikirkan rencana lain. 

Demikian pula kita harus selalu berjaga-jaga terhadap musuh-musuh rohani kita, 

dan jangan berharap bahwa peperangan kita akan selesai sebelum pekerjaan 

kita selesai. Lihatlah cara apa yang diambil oleh Nehemia, supaya orang-orang 

dapat mempersiapkan diri, kalau-kalau ada serangan.  

1. Sementara sebagian orang bekerja, sebagian yang lainnya siap-siap dengan 

senjata mereka, memegang tombak, perisai dan panah, bukan hanya bagi diri 

mereka sendiri melainkan juga bagi para pekerja, yang akan segera 

menghentikan pekerjaan mereka, dan pergi mengambil senjata, begitu 

mendengar tanda bahaya yang pertama (ay. 16). Ada kemungkinan bahwa 

mereka mengubah tugas pada jam-jam yang ditentukan, yang akan 

meringankan kelelahan kedua pihak, dan secara khusus akan membawa 

kelegaan bagi para pengangkat beban yang kekuatannya sudah merosot (ay. 

10). Selama menyandang senjata, mereka beristirahat namun tidak lengah. 

Demikianlah, dengan membagi waktu antara sekop dan tombak, mereka 

dikatakan melakukan pekerjaan dengan satu tangan, dan dengan tangan 

yang lain memegang senjata (ay. 17), yang tidak dapat dipahami secara 

harfiah, sebab pekerjaan itu menuntut kedua tangan. Namun perkataan itu 

menyiratkan bahwa mereka sama-sama bekerja untuk kedua hal tersebut. 

Demikian pula kita harus mengerjakan keselamatan kita dengan senjata 

perang di tangan kita. Sebab dalam setiap tugas panggilan, kita harus siap 

menjumpai perlawanan dari musuh-musuh rohani kita, dan untuk melawan 

mereka, kita tetap harus bertanding dalam pertandingan iman yang benar.  

Kitab Nehemia 4:1-6 

 

775 

2. Setiap orang yang membangun tembok berikatkan pedang pada 

pinggangnya (ay. 18), yang dapat dibawanya tanpa menghalangi 

pekerjaannya. Firman Tuhan  yaitu  pedang Roh, yang harus selalu kita bawa 

di tangan dan tidak boleh dicari-cari terlebih dahulu, baik dalam pekerjaan 

kita maupun dalam perjuangan kita sebagai orang Kristen.  

3. Diberikan perhatian baik untuk memperoleh maupun untuk menyampaikan 

pemberitahuan awal tentang mendekatnya musuh, kalau-kalau musuh itu 

berupaya menyerang mereka secara mengejutkan. Nehemia selalu ditemani 

oleh seorang peniup sangkakala di dekatnya untuk membunyikan tanda 

peringatan, begitu diketahui ada bahaya. Pekerjaan membangun tembok itu 

besar, dan para pekerjanya pun terpencar, sebab mereka mengerjakan 

seluruh bagian tembok itu pada waktu yang sama. Nehemia senantiasa 

berjalan berkeliling untuk mengawasi pekerjaan itu dan menguatkan para 

pekerjanya, dan dengan demikian akan segera mendapat pemberitahuan jika 

musuh melakukan serangan. Dan melalui bunyi sangkakala, dia akan segera 

memberitahukan hal itu kepada semuanya, dan mereka harus segera datang 

berkumpul kepadanya dengan keyakinan penuh bahwa Tuhan  mereka akan 

berperang bagi mereka (ay. 18-20). Pada waktu mereka sedang bertindak 

sebagai pekerja, mereka harus berpencar ke tempat di mana ada pekerjaan 

untuk dilakukan. namun  ketika sedang bertindak sebagai prajurit, mereka 

harus datang merapatkan barisan, dan berkumpul sebagai satu kesatuan. 

Demikian pula orang-orang yang bekerja mendirikan bangunan Kristus 

harus siap bersatu melawan musuh bersama.  

4. Para penduduk desa diperintahkan untuk tinggal di dalam kota Yerusalem, 

dengan anak buah mereka, bukan hanya supaya mereka dapat berada lebih 

dekat dengan pekerjaan mereka di pagi hari, melainkan juga agar mereka 

dapat bersiap untuk membantu kalau-kalau ada serangan di malam hari (ay. 

22). Kekuatan sebuah kota lebih terletak pada tangan para penduduknya di-

banding pada tembok-temboknya. Jagalah mereka, dan mintalah berkat 

Tuhan  atas mereka, maka kota akan menjadi aman.  

5. Nehemia sendiri, dan semua orangnya, tetap berada dekat dengan pekerjaan 

mereka. Tombak-tombak diangkat, supaya musuh yang melihatnya menjadi 

gentar, bukan hanya dari fajar ke fajar, melainkan juga dari senja ke senja 

(ay. 21). Demikian pula kita harus selalu berjaga-jaga terhadap musuh-

musuh rohani kita, bukan hanya seperti di sini, ketika hari masih 

terang, melainkan juga ketika hari sudah gelap, sebab mereka yaitu  

penghulu-penghulu dunia yang gelap ini. Bahkan, begitu bersungguh-

sungguh Nehemia dalam pekerjaannya, dan begitu ketat dia mengawasi anak 

buahnya bekerja, sehingga selama pekerjaan itu masih harus dilakukan, baik 


 

776 

dia maupun anak buahnya tidak beranjak untuk pergi ke tempat tidur, 

melainkan setiap malam berbaring di tempat dan tidur dalam pakaian 

mereka (ay. 23). Mereka hanya menanggalkan pakaian mereka sewaktu-

waktu, entah sebab  alasan kebersihan atau sebab  kenajisan yang membuat 

mereka tidak boleh mengikuti upacara ibadah. Suatu tanda bahwa hati 

mereka terpatri pada pekerjaan mereka apabila mereka tidak dapat mene-

mukan waktu untuk mengenakan dan melepas pakaian, namun  bertekad 

bahwa mereka akan siap sedia sepanjang waktu untuk bekerja. Pekerjaan 

baik dapat berlanjut dengan berhasil apabila orang-orang yang bekerja di 

dalamnya bersungguh-sungguh dalam mengerjakannya. 

 

PASAL  5  

agaimana Nehemia, sebagai seorang bupati yang bijaksana dan setia, 

berjaga-jaga dengan berani melawan serangan para musuh dari luar, telah 

kita baca di dalam pasal sebelumnya. Di sini kita mendapati dia tidak kalah 

berani dan giatnya untuk menangani keluhan-keluhan di dalam negeri sendiri. 

Dan, setelah menjaga bangsanya supaya tidak dihancurkan oleh musuh-musuh 

mereka, sekarang ia menjaga mereka supaya tidak menghancurkan satu sama 

lain. Dalam pasal ini kita mendapati,  

I. Keluhan yang disampaikan oleh orang-orang miskin kepada Nehemia 

tentang kesusahan besar yang ditimpakan oleh orang-orang kaya atas 

mereka sehingga mereka terpaksa meminjam uang dari orang-orang 

kaya itu (ay. 1-5).  

II. Tindakan jitu yang diambil Nehemia untuk menyadarkan para 

penindas dan melegakan yang tertindas (ay. 6-13).  

III. Teladan baik yang ditunjukkan oleh Nehemia sendiri, sebagai seorang 

bupati, tentang belas kasihan dan kelemahlembutan (ay. 14-19).  

Keluhan Rakyat Miskin 

(5:1-5) 

1 Maka terdengarlah keluhan yang keras dari rakyat dan juga dari pihak para isteri 

terhadap sesama orang Yahudi. 2 Ada yang berteriak: “Anak laki-laki dan anak wanita  

kami banyak dan kami harus mendapat gandum, supaya kami dapat makan dan hidup.” 3 

Dan ada yang berteriak: “Ladang dan kebun anggur dan rumah kami gadaikan untuk 

mendapat gandum pada waktu kelaparan.” 4 Juga ada yang berteriak: “Kami harus 

meminjam uang untuk membayar pajak yang dikenakan raja atas ladang dan kebun 

anggur kami. 5 Sekarang, walaupun kami ini sedarah sedaging dengan saudara-saudara 

sebangsa kami dan anak-anak kami sama dengan anak-anak mereka, namun kami 

terpaksa membiarkan anak-anak lelaki dan anak-anak wanita  kami menjadi budak 

dan sudah beberapa anak wanita  kami harus membiarkan diri dimiliki orang. Kami 

tidak dapat berbuat apa-apa, sebab  ladang dan kebun anggur kami sudah di tangan 

orang lain.” 


 

780 

Dalam perikop ini kita membaca tentang air mata orang-orang yang tertindas, 

yang diperhatikan oleh Salomo (Pkh. 4:1). Marilah kita perhatikan di sini 

bagaimana air mata itu ditumpahkan di hadapan Nehemia, yang pekerjaannya, 

sebagai bupati, yaitu  meluputkan orang yang lemah dan yang miskin, dan 

melepaskan mereka dari tangan para penindas yang fasik (Mzm. 82:4). Masa 

yang sulit dan hati yang keras membuat orang miskin sengsara. 

I. Masa ketika mereka hidup sungguh sulit. Ada kelangkaan gandum (ay. 3), 

mungkin sebab  tidak ada hujan, yang melaluinya Tuhan  menghukum mereka 

sebab  telah melalaikan rumah-Nya (Hag. 1:9-11) dan tidak membayarkan 

persepuluhan mereka (Mal. 3:9-10). Demikianlah orang-orang berdosa yang 

bodoh mendatangkan hukuman-hukuman Tuhan  ke atas diri mereka sendiri, 

dan kemudian menggerutu dan mengeluh tentangnya. Ketika permintaan 

tinggi namun persediaan langka dan mahal, maka orang miskin pun segera 

merasa kesusahan dan tertekan olehnya. Terpujilah Tuhan  atas belas kasihan 

berupa makanan yang berlimpah-limpah (Yeh. 16:49), dan semoga Dia 

melepaskan kita dari dosa yang dapat timbul darinya. Apa yang membuat 

kelangkaan itu dikeluhkan di sini dengan lebih menyakitkan yaitu  sebab  

anak laki-laki dan anak wanita  mereka banyak (ay. 2). Keluarga yang 

paling membutuhkan yaitu  keluarga yang paling banyak. Di sini ada banyak 

mulut, namun  di manakah makanannya? Sebagian orang memiliki harta 

benda, namun  tidak memiliki anak-anak untuk mewarisinya. Sebagian yang 

lain memiliki anak-anak, namun  tidak memiliki harta benda untuk 

diwariskan. Orang-orang yang memiliki keduanya mempunyai alasan untuk 

bersyukur, dan orang-orang yang tidak memiliki keduanya dapat berpuas 

hati dengan lebih mudah. Orang-orang yang memiliki keluarga banyak dan 

harta sedikit harus belajar untuk hidup oleh iman kepada penyelenggaraan 

dan janji Tuhan . Dan orang-orang yang memiliki keluarga kecil dan harta 

banyak harus mencukupkan kekurangan orang lain dengan kelebihan mereka. 

namun  ini belum yang terburuk. sebab  gandum mahal, maka pajak juga 

tinggi. Upeti raja harus dibayar (ay. 4). Tanda penawanan mereka ini masih 

melekat pada diri mereka. Mungkin pajak yang dituntut itu yaitu  pajak 

yang sama besarnya untuk semua orang, dan sebab  anak-anak laki-laki dan 

anak wanita  mereka banyak, maka pajak itu pun semakin tinggi. 

Semakin banyak yang harus mereka hidupi (sungguh masalah yang berat!) 

semakin besar jumlah yang harus mereka bayar. Sekarang, mereka 

tampaknya tidak memiliki uang sendiri untuk membeli gandum dan mem-

bayar pajak, namun  terpaksa meminjam. Keluarga mereka menjadi miskin 

ketika keluar dari Babel. Mereka telah mengeluarkan banyak biaya untuk 

Kitab Nehemia 5:1-5 

 

781 

membangun rumah-rumah bagi keluarga mereka, dan belum sempat 

memulihkan kekuatan mereka ketika beban-beban baru ini datang menimpa 

mereka. Kesusahan para kepala keluarga yang miskin, yang bersusah payah 

mencari penghidupan dengan jujur, dan kadang-kadang tidak mendapatkan 

pekerjaan yang layak bagi mereka dan keluarga mereka, sangat layak 

mendapat perhatian yang penuh belas kasihan dari orang-orang yang entah 

dengan kekayaan atau kekuasaan mereka mampu menolong para kepala  

keluarga itu.  

II. Orang-orang yang harus mereka hadapi sungguh berhati keras. Uang harus 

diperoleh, namun  harus dipinjam. Dan orang-orang yang meminjami mereka 

uang, dengan mengambil keuntungan dari kebutuhan mereka, berlaku 

sangat keras kepada mereka dan menjadikan mereka sebagai mangsa.  

1. Orang-orang kaya itu memungut bunga dari pinjaman sebesar 12 persen, 

seratus dari segala uang dan barang setiap bulan (ay. 11). Jika orang 

meminjam dalam jumlah banyak untuk keperluan berdagang, untuk 

menambah ternak, atau untuk membeli tanah, tidak ada alasan mengapa 

si peminjam tidak boleh berbagi untung dengan yang meminjam. Begitu 

pula jika orang meminjam uang untuk melampiaskan hawa nafsu 

mereka, atau menutupi apa yang telah mereka habiskan dengan cara 

demikian, tidak ada alasan mengapa mereka tidak boleh membayar 

bunga untuk foya-foya mereka. Akan namun , jika orang miskin meminjam 

untuk menghidupi keluarga mereka, dan kita mampu menolong mereka, 

sudah tentu kita harus meminjamkan secara cuma-cuma apa yang 

mereka butuhkan, atau jika mereka sepertinya tidak dapat mengem-

balikannya, sudah tentu kita harus memberikan secara cuma-cuma apa 

yang dapat membantu mereka. Bahkan,  

2. Orang-orang kaya itu memaksa mereka untuk menggadaikan tanah dan 

rumah mereka untuk mendapatkan uang (ay. 3). Dan tidak hanya 

demikian, orang-orang kaya itu juga mengambil keuntungan darinya 

sebagai bunga (ay. 5, bandingkan ay. 11), sehingga sedikit demi sedikit 

mereka dapat menjadikan diri mereka penguasa atas semua yang 

dimiliki orang-orang miskin. Namun ini belum yang terburuk.  

3. Orang-orang kaya itu mengambil anak-anak orang miskin sebagai budak 

rodi, untuk diperbudak atau dijual sesuka hati (ay. 5). Hal inilah yang 

paling mereka keluhkan dengan penuh perasaan, sebagai sesuatu yang 

menusuk hati mereka, dan mereka memperparahnya dengan hal ini: 

“Anak-anak kami sama dengan anak-anak mereka, yang kami sayangi 

sama seperti mereka menyayangi anak-anak mereka. Anak-anak kami 


 

782 

tidak hanya memiliki sifat manusia yang sama, dan berhak mendapat 

kehormatan dan kemerdekaan sebagai manusia (Mal. 2:10; Ayb. 31:15), 

namun  juga berasal dari bangsa kudus yang sama, orang-orang Israel 

yang dilahirkan merdeka, dan dijunjung tinggi martabatnya dengan hak-

hak istimewa yang sama. Pada daging kami ada meterai suci perjanjian 

sunat, seperti juga pada daging saudara-saudara sebangsa kami. Namun 

demikian, ahli waris kami harus menjadi budak mereka, dan kami tidak 

dapat berbuat apa-apa untuk menebus mereka.” Hal ini mereka 

keluhkan dengan rendah hati kepada Nehemia, bukan hanya sebab  

mereka melihat bahwa dia yaitu  seorang tokoh besar yang dapat 

menolong mereka, melainkan juga sebab  ia yaitu  orang baik yang mau 

melakukannya. Ke manakah orang miskin yang dijahati harus berlari 

meminta pertolongan selain kepada perisai-perisai bumi? Ke manakah 

selain kepada badan pengadilan, kepada badan amal, di dalam 

perlindungan istana, dan orang-orang yang mewakilinya untuk 

memberikan bantuan melawan summum jus – keketatan hukum?  

Yang terakhir, kita akan meninggalkan Nehemia yang sedang 

mendengarkan keluhan, dan menyelidiki kebenaran dari pernyataan-

pernyataan para pengadu sebab  teriakan orang miskin tidaklah selalu 

benar, sementara kita duduk dan melihat,  

(1) Dengan penuh rahmat belas kasihan terhadap orang-orang yang 

tertindas, dan meratapi kesulitan-kesulitan yang di bawahnya 

banyak orang di dunia ini sedang merintih. Kita harus menempatkan 

jiwa kita bersama jiwa mereka, dan mengingat dalam segala doa dan 

pertolongan kita orang-orang yang memikul beban, seolah-olah kita 

ikut memikul beban bersama mereka.  

(2) Dengan kemarahan yang pada tempatnya terhadap para penindas 

dan kebencian terhadap kesombongan dan kekejaman mereka, yang 

meminum air mata, dan juga darah, dari orang-orang yang mereka 

injak-injak. Namun biarlah orang-orang yang tidak menunjukkan 

belas kasihan bersiap mendapatkan penghakiman yang tak berbelas 

kasihan. Sungguh memperberat dosa-dosa orang Yahudi yang menin-

das ini bahwa mereka sendiri baru belakangan ini dibebaskan dari 

rumah perbudakan, yang mewajibkan mereka, sebagai ungkapan 

syukur, untuk melepaskan tali-tali kuk (Yes. 58:6). 

Kitab Nehemia 5:1-5 

 

783 

Keluhan Orang-orang Miskin Diatasi 

(5:6-13) 

6 Maka sangat marahlah aku, ketika kudengar keluhan mereka dan berita-berita itu. 7 

Setelah berpikir masak-masak, aku menggugat para pemuka dan para penguasa. Kataku 

kepada mereka: “Masing-masing kamu telah makan riba dari saudara-saudaramu!” Lalu 

kuadakan terhadap mereka suatu sidang jemaah yang besar. 8 Berkatalah aku kepada 

mereka: “Kami selalu berusaha sedapat-dapatnya untuk menebus sesama orang Yahudi 

yang dijual kepada bangsa-bangsa lain. namun  kamu ini justru menjual saudara-

saudaramu, supaya mereka dibeli lagi oleh kami!” Mereka berdiam diri sebab  tidak 

dapat membantah. 9 Kataku: “Tidaklah patut apa yang kamu lakukan itu! Bukankah kamu 

harus berlaku dengan takut akan Tuhan  kita untuk menghindarkan diri dari cercaan 

bangsa-bangsa lain, musuh-musuh kita? 10 Juga aku dan saudara-saudaraku dan anak 

buahku telah membungakan uang dan gandum pada mereka. Biarlah kita hapuskan 

hutang mereka itu! 11 Biarlah kamu kembalikan kepada mereka hari ini juga ladang 

mereka, kebun anggur, kebun zaitun dan rumah mereka, pula hapuskanlah hutang 

mereka, yaitu  uang serta gandum, anggur dan minyak yang kamu tagih dari pada 

mereka!” 12 Berkatalah mereka: “Itu akan kami kembalikan! Dan kami tidak akan menun-

tut apa-apa dari mereka. Kami akan lakukan tepat seperti yang engkau perintahkan!” Lalu 

aku memanggil para imam dan menyuruh mereka bersumpah, bahwa mereka akan 

menepati janji mereka. 13 Juga kukebas lipatan bajuku sambil berkata: “Demikianlah 

setiap orang yang tidak menepati janji ini akan dikebas Tuhan  dari rumahnya dan hasil 

jerih payahnya. Demikianlah ia dikebas dan menjadi hampa!” Dan seluruh jemaah 

berkata: “Amin,” lalu memuji-muji TUHAN. Maka rakyat berbuat sesuai dengan janji itu. 

Sejauh yang terlihat, keluhan sebelumnya disampaikan kepada Nehemia ketika 

dia sedang sibuk-sibuknya mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk 

mengurus kepentingan umum seputar pembangunan tembok. Namun demikian, 

sebab  menganggapnya sebagai keluhan yang adil, dia tidak menolaknya sebab  

keluhan itu disampaikan tidak pada waktu yang tepat. Ia tidak menegur para 

pemohon, atau meluap dalam kemarahan terhadap mereka, sebab  meng-

ganggunya padahal mereka melihat betapa banyak pekerjaan yang harus 

dilakukannya, suatu kesalahan yang terlalu sering dilakukan oleh orang-orang 

yang sibuk bekerja. Ia juga bahkan tidak menunda untuk menggelar sidang 

perkara atau mengambil tindakan hukum atas perkara itu sampai dia 

mempunyai waktu luang. Perkara itu menuntut penanganan yang cepat, dan 

sebab nya dia segera mencurahkan perhatiannya untuk mempertimbangkan 

perkara itu, sebab ia mengetahui bahwa sekalipun dia membangun tembok-

tembok Yerusalem begitu tinggi, begitu tebal, dan begitu kuat, kota itu tidak 

akan dapat aman sementara penyelewengan-penyelewengan yang seperti ini 

dibiarkan saja. Sekarang amatilah, cara apa yang diambil Nehemia untuk 

mengatasi keluhan yang begitu mengancam kepentingan umum ini. 

I. Nehemia sangat marah (ay. 6). Ia mengungkapkan perasaan sangat tidak 

senang terhadap perkara tersebut, sebagai sesuatu yang sangat buruk. 

Perhatikanlah, sudah sepatutnya para penguasa menunjukkan kemarahan 


 

784 

terhadap dosa, supaya dengan kemarahan itu mereka dapat terdorong untuk 

menjalankan kewajiban mereka, dan melalui ungkapan-ungkapan 

kemarahan tersebut orang lain dapat dicegah dari kejahatan.  

II. Nehemia berpikir masak-masak (ay. 7). Melalui hal ini tampak bahwa 

kemarahannya tidaklah berlebihan, namun  tetap dalam batas yang wajar, 

sehingga, kendati rohnya terpancing amarah, dia tidak berkata atau berbuat 

sesuatu secara gegabah. Sebelum menggugat para pemuka, dia berpikir 

masak-masak apa yang akan dikatakannya, kapan, dan bagaimana. 

Perhatikanlah, teguran harus diberikan dengan pertimbangan yang masak, 

supaya apa yang dimaksudkan dengan baik tidak gagal mencapai tujuannya 

sebab  tidak diatur dengan baik. Teguran yang mendidiklah yang 

memberikan jalan kehidupan. Bahkan orang-orang bijak adakalanya 

kehilangan manfaat dari hikmat mereka sebab  tidak berpikir masak-masak 

dan mengambil waktu untuk menimbang-nimbang.  

III. Nehemia menggugat para pemuka dan para penguasa, sebagai kaum yang 

berada, dan yang kekuasaannya mungkin membuat mereka semakin berani 

untuk menindas. Perhatikanlah, bahkan para pemuka dan para penguasa, 

jika melakukan apa yang jahat, harus ditegur oleh orang-orang yang tepat. 

Janganlah seorang pun membayangkan bahwa martabatnya membuat 

dirinya kebal terhadap teguran.  

IV. Nehemia mengadakan suatu sidang jemaah yang besar terhadap para 

pemuka dan para penguasa itu. Ia memanggil umat berkumpul untuk 

menjadi saksi dari apa yang dikatakannya, dan untuk memberikan kesaksian 

mereka, yang dengan senang hati akan dilakukan rakyat pada umumnya, 

melawan penindasan dan pemerasan yang menjadi kesalahan para penguasa 

mereka (ay. 12). Baik Ezra maupun Nehemia yaitu  orang yang sangat 

bijaksana, baik, dan berguna, namun demikian, dalam perkara-perkara yang 

hampir serupa, ada banyak perbedaan di antara keduanya dalam menangani 

masalah. Ketika Ezra diberi tahu tentang dosa para penguasa dalam 

menikahi wanita  asing, ia mengoyakkan pakaiannya, menangis, dan 

berdoa, dan hampir tidak dapat dibujuk untuk mengupayakan suatu 

pembaharuan, takut kalau hal itu tidak dapat dilakukan. Sebab dia yaitu  

seorang yang berperangai halus dan lembut. Sementara pada waktu 

Nehemia diberi tahu tentang suatu perkara yang sama buruknya, dia segera 

tersulut amarah, menegur para pelaku kejahatan, menyulut kemarahan 

orang banyak terhadap mereka, dan tidak mau tinggal diam sampai, dengan 

Kitab Nehemia 5:1-5 

 

785 

segala cara keras yang dapat dilakukannya, dia mendesak mereka untuk 

berubah. Sebab dia yaitu  seorang yang berperangai keras dan berapi-api. 

Perhatikanlah,  

1. Orang-orang yang sangat saleh bisa saja jauh berbeda satu dari yang lain 

dalam perangai mereka dan dalam hal-hal lain yang ditimbulkan 

olehnya.  

2. Pekerjaan Tuhan  dapat dilakukan, dilakukan dengan baik, dan dengan 

berhasil, sekalipun dengan cara-cara yang berlainan. Ini merupakan 

alasan yang baik mengapa kita tidak boleh menyalahkan cara orang lain 

dalam mengaturnya, atau menjadikan cara kita sendiri sebagai patokan. 

Ada rupa-rupa cara kerja, namun  oleh Roh yang sama. 

V. Nehemia membahas perkara itu  bersama para pemuka dan para penguasa 

secara adil, dan menunjukkan kepada mereka kejahatan dari apa yang telah 

mereka perbuat. Cara biasa untuk memperbaiki kehidupan orang yaitu  

dengan berusaha, pertama-tama, untuk menyadarkan hati nurani mereka. 

Ada sejumlah hal yang diajukan Nehemia untuk mereka pertimbangkan, 

yang begitu mengena dan adil hingga tampak bahwa ia telah berpikir masak-

masak. Ia mengemukakan kepada mereka,  

1. Bahwa orang-orang yang mereka tindas yaitu  saudara-saudara 

mereka: Masing-masing kamu telah makan riba dari saudara-saudaramu. 

Menindas orang-orang asing saja sudah jahat, namun  jauh lebih jahat lagi 

menindas saudara-saudara mereka yang miskin, sementara hukum ilahi 

pun tidak memperbolehkan mereka untuk memungut bunga dari 

saudara-saudara mereka itu (Ul. 23:19-20).  

2. Bahwa mereka baru saja ditebus dari tangan bangsa kafir. Demikianlah 

kumpulan bangsa itu telah ditebus oleh penyelenggaraan Tuhan  yang 

menakjubkan. Dan demikian pula dengan beberapa orang tertentu di 

antara mereka, yang selain ikut berbagi dalam penawanan bersama, juga 

menjadi budak bagi tuan-tuan kafir mereka, dan ditebus atas biaya 

Nehemia dan orang-orang lain yang saleh dan berkehendak baik. “Seka-

rang,” kata Nehemia, “setelah kami bersusah payah untuk membebaskan 

mereka dari tangan bangsa kafir, masakan para penguasa mereka sendiri 

memperbudak mereka? Betapa tidak masuk akalnya hal ini! Haruskah 

kami kembali bersusah payah dan mengeluarkan banyak biaya untuk 

menebus mereka dari kamu, sama seperti kami dahulu menebus mereka 

dari Babel?” (ay. 8). Orang-orang yang telah dimerdekakan Tuhan  melalui 


 

786 

anugerah-Nya janganlah kembali berada di bawah kuk perhambaan (Gal. 

5:1; 1Kor. 7:23).  

3. Bahwa merupakan dosa besar untuk menindas orang miskin seperti itu 

(ay. 9): “Tidaklah patut apa yang kamu lakukan itu. Kendati engkau 

memperoleh uang dengan melakukannya, namun engkau bersalah oleh 

sebab nya, dan bukankah kamu harus berlaku dengan takut akan Tuhan ? 

Tentu saja demikian, sebab engkau mengaku beragama, dan memiliki 

hubungan dengan Tuhan . Dan, jika kamu benar-benar berlaku dengan 

takut akan Tuhan , maka kamu tidak akan tamak akan keuntungan 

duniawi atau bertindak kejam terhadap saudara-saudaramu.” Orang-

orang yang berlaku dengan takut akan Tuhan  tidak akan berani berbuat 

fasik (Ayb. 31:13-14, 23).  

4. Bahwa perbuatan mereka itu merupakan suatu aib yang besar, dan 

menjadi cela bagi pengakuan iman mereka. “Pikirkanlah cercaan bangsa-

bangsa lain, musuh-musuh kita, musuh-musuh bagi kita, bagi Tuhan  kita, 

dan bagi agama kita yang suci. Mereka akan senang mendapat 

kesempatan apa saja untuk berbicara menentang kita, dan perbuatanmu 

ini akan memberi mereka kesempatan yang besar. Mereka akan berkata, 

orang-orang Yahudi ini, yang mengaku sangat berbakti kepada Tuhan , 

lihatlah betapa biadabnya mereka satu terhadap yang lain.” 

Perhatikanlah,  

(1) Semua orang yang mengaku beragama harus sangat berhati-hati 

agar mereka tidak berbuat apa-apa yang dapat memperhadapkan 

mereka pada celaan orang-orang yang tidak beragama, supaya 

jangan sampai nama agama tercoreng oleh ulah mereka.  

(2) Tidak ada hal lain yang lebih memperhadapkan agama pada celaan 

musuh-musuhnya selain keduniawian dan kekerasan hati para 

pengikutnya.  

5. Bahwa Nehemia sendiri telah memberi mereka sebuah teladan yang lebih 

baik (ay. 10), yang kemudian dibicarakannya secara panjang lebar (ay. 14, 

dst.). Orang-orang yang dengan keras menuntut hak mereka sendiri, pasti 

dengan sangat tidak tahu malu akan membujuk orang lain untuk 

melepaskan hak mereka.  

VI. Nehemia dengan sungguh-sungguh mendesak para pemuka dan para 

penguasa itu bukan hanya untuk tidak lagi menjadikan saudara-saudara 

mereka yang miskin sebagai barang dagangan seperti itu, namun  juga untuk 

mengembalikan semua yang mereka dapat dari saudara-saudara mereka (ay. 

Kitab Nehemia 5:1-5 

 

787 

11). Lihatlah betapa dia berbicara kepada mereka sebagai orang dekat: 

Biarlah kita hapuskan hutang mereka itu, dengan memasukkan dirinya 

sendiri di antara orang-orang yang bersalah, seperti yang sepatutnya dilaku-

kan oleh mereka yang memberikan teguran, meskipun dia sama sekali tidak 

bersalah atas kejahatan itu. Lihatlah betapa dengan bersungguh-sungguh, 

namun dengan rendah hati, dia membujuk mereka: Aku memohon kepadamu 

hapuskanlah (KJV), dan aku memohon kepadamu kembalikanlah. Kendati dia 

mempunyai wewenang untuk memerintah, namun mengingat kasih, lebih 

baik dia memintanya dari pada mereka. Lihatlah betapa dengan terperinci 

dia mendesak para penguasa itu untuk bersikap baik kepada orang miskin, 

untuk menyerahkan kepada mereka barang-barang gadaian mereka, 

membuat mereka mendapatkan kembali harta benda mereka, 

menghapuskan bunga, dan memberi mereka waktu untuk melunasi utang 

pokok mereka. Ia mendesak para penguasa itu untuk merugi, namun, dengan 

mendesak mereka pada kewajiban mereka, hal itu pada akhirnya akan 

menjadi keuntungan bagi mereka. Apa yang kita maafkan dengan murah hati 

pasti akan diingat dan diganjar, demikian pula dengan apa yang kita berikan 

dengan murah hati.  

VII. Nehemia mewajibkan para pemuka dan para penguasa itu untuk sedapat 

mungkin melakukan apa yang didesakkannya kepada mereka.  

1. Ia menerima janji dari mereka (ay. 12): Itu akan kami kembalikan.  

2. Ia memanggil para imam untuk menyuruh mereka bersumpah bahwa 

mereka akan menepati janji ini. sebab  sekarang rasa bersalah mereka 

begitu kuat, dan mereka tampak sudah menetapkan hati, maka dia ingin 

tetap menjaga mereka dalam suasana hati itu.  

3. Ia mengikat mereka dengan suatu kutuk atau laknat yang diucapkan 

secara sungguh-sungguh, dengan berharap bahwa hal itu akan membuat 

mereka sedikit banyak gentar: Demikianlah setiap orang yang tidak 

menepati janji ini akan dikebas Tuhan  (ay. 13). Ini yaitu  ancaman bahwa 

Tuhan  pasti akan berbuat demikian, dan umat mengucapkan amin untuk 

menyetujuinya, seperti halnya dengan kutuk-kutuk di gunung Ebal (Ul. 

27), sehingga kerongkongan mereka akan dipotong oleh lidah mereka 

sendiri jika mereka sampai ingkar janji, dan supaya oleh kengerian akan 

hal tersebut mereka dapat selalu diingatkan kepada janji mereka. 

Bersama dengan jawaban amin ini, umat memuji-muji TUHAN. Mereka 

sama sekali tidak menyesal telah berjanji, justru mereka berjanji dengan 

segala ungkapan sukacita dan syukur yang dapat ditunjukkan. Demikian 

pula halnya Daud, ketika bernazar kepada Tuhan , bernyanyi dan 


 

788 

mengucap syukur (Mzm. 56:13). Keriangan hati dalam berjanji ini 

memang baik, namun  apa yang dikatakan selanjutnya lebih baik lagi: 

Maka rakyat berbuat sesuai dengan janji itu, dan tetap memegang apa 

yang telah mereka janjikan, tidak seperti nenek moyang mereka dalam 

perkara serupa, yang memperbudak kembali orang-orang yang baru saja 

mereka lepaskan sebagai orang merdeka (Yer. 34:10-11). Janji-janji yang 

baik yaitu  hal yang baik, namun  menepati janji dengan baik yaitu  

segala-galanya. 

Kemurahan Hati Nehemia 

(5:14-19) 

14 Pula sejak aku diangkat sebagai bupati di tanah Yehuda, yaitu  dari tahun kedua puluh 

sampai tahun ketiga puluh dua pemerintahan Artahsasta jadi dua belas tahun lamanya, 

aku dan saudara-saudaraku tidak pernah mengambil pembagian yang menjadi hak 

bupati. 15 namun  para bupati yang sebelumnya, yang mendahului aku, sangat 

memberatkan beban rakyat. Bupati-bupati itu mengambil dari mereka empat puluh syikal 

perak sehari untuk bahan makanan dan anggur. Bahkan anak buah mereka merajalela 

atas rakyat. namun  aku tidak berbuat demikian sebab  takut akan Tuhan . 16 Aku pun 

memulai pekerjaan tembok itu, walaupun aku tidak memperoleh ladang. Dan semua anak 

buahku dikumpulkan di sana khusus untuk pekerjaan itu. 17 Duduk pada mejaku orang-

orang Yahudi dan para penguasa, seratus lima puluh orang, selain mereka yang datang 

kepada kami dari bangsa-bangsa sekeliling kami. 18 Yang disediakan sehari atas 

tanggunganku ialah: seekor lembu, enam ekor kambing domba yang terpilih dan 

beberapa ekor unggas, dan bermacam-macam anggur dengan berlimpah-limpah setiap 

sepuluh hari. Namun, dengan semuanya itu, aku tidak menuntut pembagian yang menjadi 

hak bupati, sebab  pekerjaan itu sangat menekan rakyat. 19 Ya Tuhan ku, demi 

kesejahteraanku, ingatlah segala yang kubuat untuk bangsa ini. 

Nehemia telah menyebutkan apa yang diperbuatnya sendiri sebagai bupati, 

sebagai dorongan bagi para pemuka untuk tidak membebani orang miskin, 

sekalipun itu dengan tuntutan-tuntutan yang adil. Dalam perikop ini dia 

menceritakan secara lebih terperinci apa yang diperbuatnya itu, bukan dalam 

kesombongan atau keangkuhan diri, atau untuk memuji diri sendiri, melainkan 

sebagai dorongan bagi para penerusnya dan para pemimpin di bawahnya agar 

bersikap selembut mungkin untuk meringankan beban rakyat. 

I. Nehemia menyatakan apa yang menjadi cara kerja para pendahulunya (ay. 

15). Ia tidak menyebutkan nama mereka, sebab apa yang harus 

dikatakannya tentang mereka bukanlah demi kehormatan mereka, dan 

dalam perkara seperti itu lebih baik tidak menyebutkan nama. namun  rakyat 

tahu betapa berat beban yang telah mereka timpakan, dan betapa negeri itu 

harus membayar mahal untuk segala bantuan yang datang dari 

pemerintahan mereka. Pemerintah memberi mereka empat puluh syikal 

Kitab Nehemia 5:1-5 

 

789 

perak, yang hampir setara dengan 2,5 kilogram, sekian banyak setiap hari, 

mungkin. Akan namun , di samping itu, mereka mewajibkan rakyat untuk 

menyediakan bahan makanan dan anggur bagi mereka, yang mereka tuntut 

sebagai penghasilan tambahan dari jabatan mereka. Dan tidak hanya 

demikian, namun  juga mereka membiarkan anak buah mereka memeras 

rakyat, untuk mendapatkan semua yang bisa mereka dapatkan dari rakyat. 

Perhatikanlah,  

1. Bukan hal baru apabila orang-orang yang bekerja melayani masyrakat 

justru lebih mengedepankan kepentingan mereka sendiri dibandingkan  

kesejahteraan rakyat, bahkan, mengambil keuntungan dari kerugian 

rakyat.  

2.  Para tuan harus bertanggung jawab atas segala tindakan penipuan dan 

ketidakadilan, kekerasan dan penindasan, yang mereka biarkan terjadi 

kepada hamba-hamba mereka.  

II. Nehemia memberi tahu kita seperti apa cara kerjanya sendiri.  

1. Secara umum, dia tidak berbuat seperti para bupati sebelumnya. Ia tidak 

mau, tidak berani, sebab  takut akan Tuhan . Ia gentar akan keagungan Tuhan  

dan ngeri terhadap murka-Nya. Dan,  

(1) Takut akan Tuhan  menahannya dari menindas orang. Orang-orang yang 

sungguh-sungguh takut akan Tuhan  tidak akan berani melakukan 

sesuatu yang kejam atau tidak adil.  

(2) Takut akan Tuhan -lah yang semata-mata menahan dia. Nehemia 

bersikap murah hati seperti itu, bukan supaya ia mendapat pujian 

dari manusia, atau memenuhi tujuannya sendiri dengan mengambil 

hati rakyat, melainkan semata-mata demi tuntutan hati nurani, 

sebab  takut akan Tuhan . Hal ini akan menjadi kaidah keadilan dan 

kasih yang tidak hanya kuat, namun  juga dapat diterima. Bagaimana 

para pendahulunya memanfaatkan dengan baik kedudukan mereka, 

tampak melalui harta kekayaan yang mereka peroleh. Namun 

Nehemia sendiri tidak memperoleh apa-apa, kecuali kepuasan dalam 

berbuat baik: Aku tidak memperoleh ladang (ay. 16). Jadi jangan 

katakan bahwa dia yaitu  seorang suami yang buruk, melainkan 

bahwa dia seorang bupati yang baik, yang tidak bertujuan untuk 

memperkaya diri sendiri. Marilah kita ingat perkataan Tuhan, 

bagaimana Dia berkata, yaitu  lebih berbahagia memberi dari pada 

menerima (Kis. 20:35). 

2. Secara lebih khusus, amatilah di sini,  


 

790 

(1) Betapa sedikit Nehemia menerima dari apa yang bisa saja dia tuntut. 

Ia melakukan pekerjaan bupati, namun  dia tidak mengambil 

pembagian yang menjadi hak bupati (ay. 14), tidak menuntutnya (ay. 

18). Jauh darinya untuk memeras lebih dibandingkan  apa yang menjadi 

haknya, justru sebaliknya, ia tidak pernah menuntutnya, namun  hidup 

berdasarkan apa yang diperolehnya dari istana raja Persia dan dari 

ladangnya sendiri di Yudea. Alasan yang dia berikan atas tindakan 

penyangkalan diri ini yaitu  sebab  pekerjaan itu sangat menekan 

rakyat. Ia bisa saja menggunakan alasan yang biasa dipakai untuk 

bertindak tegas dalam perkara-perkara seperti itu, bahwa ia akan 

menyalahi para penerusnya jika tidak menuntut apa yang menjadi 

haknya. namun  biarlah mereka bercermin pada diri mereka sendiri. 

Dia mempertimbangkan keadaan orang-orang Yahudi yang 

menderita, dan, sementara mereka mengerang di bawah begitu 

banyak kesulitan, dia tidak sampai hati menambah beban mereka, 

namun  lebih memilih mengurangi harta miliknya sendiri dibandingkan  

menghancurkan mereka. Perhatikanlah, dalam tuntutan-tuntutan 

kita, kita harus mempertimbangkan bukan hanya keadilan dari 

tuntutan itu, melainkan juga kesanggupan orang-orang yang kita 

tuntut. Jika tidak ada yang bisa didapat, kita tahu siapa yang akan 

kehilangan haknya.  

(2) Betapa Nehemia memberikan banyak dari apa yang bisa saja 

ditahannya.  

[1] Pekerjaan anak buahnya (ay. 16). Anak buah para raja 

menganggap diri mereka dibebaskan dari bekerja. namun  anak 

buah Nehemia, tentunya oleh perintahnya, dikumpulkan khusus 

untuk pekerjaan itu. Orang-orang yang memiliki banyak anak buah 

harus mencari akal bagaimana mereka bisa berbuat baik melalui 

anak buah mereka dan menjaga mereka untuk tetap bekerja 

dengan baik.  

[2] Makanannya sendiri (ay. 17-18). Ia menyediakan makanan yang 

sangat baik di mejanya, bukan pada hari-hari tertentu saja, 

melainkan terus-menerus. Ia menerima banyak tamu yang 

terhormat, paling sedikit 150 orang yang sebangsa, orang-orang 

yang berkedudukan tinggi, di samping orang-orang asing yang 

datang kepadanya untuk urusan pekerjaan. Dan dia 

menyediakan makanan yang berlimpah bagi tamu-tamunya, 

yaitu daging lembu, kambing domba, unggas, dan segala macam 

anggur. Hendaklah orang-orang yang bekerja melayani rakyat 

Kitab Nehemia 5:1-5 

 

791 

ingat bahwa mereka diangkat untuk berbuat baik, bukan untuk 

memperkaya diri sendiri. Dan hendaklah orang-orang dengan 

kedudukan yang lebih rendah belajar untuk memberi tumpangan 

seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut (1Ptr. 

4:9). 

III. Nehemia menutup dengan sebuah doa (ay. 19): Ya Tuhan ku, demi 

kesejahteraanku, ingatlah segala yang kubuat untuk bangsa ini.  

1. Nehemia di sini menyebut apa yang telah dibuatnya untuk bangsa ini, 

bukan dalam kesombongan, seperti orang yang sedang memegahkan 

diri, atau dalam kemarahan, seperti sedang menegur mereka. Tidak pula 

tampak bahwa ia memiliki alasan untuk melakukannya demi 

membenarkan dirinya sendiri, seperti Paulus ketika menyampaikan 

penyangkalan diri yang serupa kepada jemaat di Korintus, melainkan 

untuk mempermalukan para penguasa agar mereka tidak menindas lagi. 

Hendaklah mereka belajar dari dia untuk tidak tamak dalam tuntutan 

mereka atau kikir dalam pengeluaran mereka, maka mereka akan 

mendapat keuntungan dan penghiburan dari kemurahan hati mereka, 

seperti yang telah didapatkannya.  

2. Nehemia menyebutkan apa yang telah dibuatnya itu kepada Tuhan  di 

dalam doa, bukan seakan-akan dia menganggap bahwa dengan ini dia 

patut mendapat suatu perkenanan dari Tuhan , sebagai suatu utang, 

melainkan untuk menunjukkan bahwa dia tidak mencari imbalan apa 

pun dari manusia atas kemurahan hatinya. Sebaliknya, ia hanya 

bergantung kepada Tuhan  saja untuk mengganti apa yang telah hilang 

darinya dan apa yang telah dikerjakannya bagi kehormatan-Nya. Dan dia 

menganggap perkenanan Tuhan  sebagai imbalan yang sudah cukup. 

“Apabila Tuhan  mengingatku demi kesejahteraanku saja, itu sudah cukup 

bagiku.” Maksud-Nya yang baik untuk kita yaitu  kebahagiaan kita 

(Mzm. 40:6). Nehemia menyerahkan kepada Tuhan  untuk membalasnya 

dengan cara yang dikehendaki-Nya. “Jika orang melupakanku, kiranya 

Tuhan ku selalu mengingatku, maka aku tidak menginginkan apa-apa 

lagi.” 

 

 

PASAL  6  

etelah seruan orang-orang miskin yang tertindas diredam, kita sekarang 

akan mencari tahu bagaimana kelanjutan pembangunan tembok Yerusalem. 

Dan pada pasal ini kita mendapati bahwa pembangunan itu berjalan dengan penuh 

semangat dan diselesaikan dengan penuh sukacita, kendati dengan berbagai upaya 

yang tak kenal lelah dari alam maut untuk merintanginya. Bagaimana musuh-

musuh orang Yahudi dikacaukan dalam rencana mereka untuk menghentikan 

pembangunan itu secara paksa, telah kita baca sebelumnya (ps. 4). Pada pasal ini 

kita mendapati bagaimana upaya mereka untuk membuat Nehemia meninggalkan 

pembangunan itu digagalkan. 

I. Ketika mereka mengajak Nehemia untuk bertemu, dengan niat untuk 

mencelakakannya, ia tetap bergeming. (ay. 1-4) 

II. Ketika mereka ingin membuat Nehemia percaya bahwa upayanya 

diartikan sebagai pemberontakan dan pengkhianatan, ia tidak 

menghiraukan tuduhan itu (ay. 5-9)  

III. Ketika mereka menyuap para nabi palsu untuk menyuruhnya 

melarikan diri ke dalam Bait Suci demi keamanan dirinya, ia tetap tidak 

beranjak (ay. 10-14) 

IV. Meskipun ada surat-menyurat rahasia di antara mereka dan beberapa 

orang Yahudi yang palsu dan pengkhianat, namun pekerjaan 

pembangunan tembok itu diselesaikan dalam waktu yang singkat (ay. 

15-19).  

Seperti inilah pergumulan antara jemaat dan musuh-musuhnya. Namun 

besarlah perkara Tuhan , dan  pasti akan berhasil dan menang. 


 

796 

Persekongkolan Sanbalat dan Kawan-kawan 

(6:1-9) 

1 Ketika Sanbalat dan Tobia dan Gesyem, orang Arab itu dan musuh-musuh kami yang lain 

mendengar, bahwa aku telah selesai membangun kembali tembok, sehingga tidak ada lagi 

lobang, walaupun sampai waktu itu di pintu-pintu gerbang belum kupasang pintunya, 2 

maka Sanbalat dan Gesyem mengutus orang kepadaku dengan pesan: “Mari, kita 

mengadakan pertemuan bersama di Kefirim, di lembah Ono!” namun  mereka berniat 

mencelakakan aku. 3 Lalu aku mengirim utusan kepada mereka dengan balasan: “Aku 

tengah melakukan suatu pekerjaan yang besar. Aku tidak bisa datang! Untuk apa 

pekerjaan ini terhenti oleh sebab aku meninggalkannya dan pergi kepada kamu!” 4 

Sampai empat kali mereka mengirim pesan semacam itu kepadaku dan setiap kali aku 

berikan jawaban yang sama kepada mereka. 5 Lalu dengan cara yang sama untuk kelima 

kalinya Sanbalat mengirim seorang anak buahnya kepadaku yang membawa surat yang 

terbuka. 6 Dalam surat itu tertulis: “Ada desas-desus di antara bangsa-bangsa dan Gasymu 

membenarkannya, bahwa engkau dan orang-orang Yahudi berniat untuk memberontak, 

dan oleh sebab itu membangun kembali tembok. Lagipula, menurut kabar itu, engkau 

mau menjadi raja mereka. 7 Bahkan engkau telah menunjuk nabi-nabi yang harus 

memberitakan tentang dirimu di Yerusalem, demikian: Ada seorang raja di Yehuda! 

Sekarang, berita seperti itu akan didengar raja. Oleh sebab itu, mari, kita sama-sama 

berunding!” 8 namun  aku mengirim orang kepadanya dengan balasan: “Hal seperti yang 

kausebut itu tidak pernah ada. Itu isapan jempolmu belaka!” 9 sebab  mereka semua mau 

menakut-nakutkan kami, pikirnya: “Mereka akan membiarkan pekerjaan itu, sehingga tak 

dapat diselesaikan.” namun  aku justru berusaha sekuat tenaga. 

Pada perikop ini kita mendapati penjelasan mengenai dua persekongkolan 

melawan Nehemia, bagaimana keduanya disusun dengan licik oleh musuh-

musuhnya, dan bagaimana keduanya digagalkan secara membahagiakan oleh 

penyelenggaraan Tuhan  yang baik dan kehati-hatian Nehemia.  

I. Sebuah persekongkolan untuk menjebak Nehemia ke dalam perangkap. Para 

musuh mendapatkan laporan mengenai kemajuan pembangunan tembok 

yang sedang dikerjakan, bahwa semua lubang tembok telah ditutup, 

sehingga mereka menganggapnya seperti sudah selesai dibangun, meskipun 

pada waktu itu pintu-pintu gerbang belum dipasang pintunya (ay. 1). Oleh 

sebab itu, sekarang atau tidak selama-lamanya, dengan satu hantaman yang 

berani, mereka harus melenyapkan Nehemia. Mereka mendengar bagaimana 

Nehemia dijagai dengan begitu ketat, sehingga mereka tidak dapat 

menyerangnya dengan serta-merta. Oleh sebab  itu mereka hendak 

mencoba, melalui segala macam bujukan, untuk membuatnya datang ke 

tengah-tengah mereka. Amatilah, 

1. Betapa dengan kelicikan yang menyerupai Iblis mereka membujuk 

Nehemia untuk menemui mereka, bukan di sembarang kota, supaya 

jangan sampai hal itu memicu kecurigaan bahwa mereka berniat untuk 

menangkapnya, melainkan di sebuah desa di wilayah suku Benyamin: 

“Mari, kita mengadakan pertemuan bersama untuk membahas tentang 

Kitab Nehemia 6:1-9 

 

797 

kepentingan-kepentingan bersama di daerah kita.” Atau mereka ingin 

supaya Nehemia berpikir bahwa mereka hendak menjalin persahabatan 

dengannya, dan dengan senang hati ingin lebih mengenalnya, demi 

terciptanya pengertian yang baik di antara mereka dan terbinanya 

hubungan yang baik. namun  mereka berniat mencelakakan dia. Ada 

kemungkinan Nehemia mendapat suatu laporan rahasia bahwa mereka 

berniat untuk menangkap atau membunuhnya. Atau mungkin ia 

mengenal mereka dengan begitu baik sehingga, tanpa melanggar hukum 

kasih, ia menyimpulkan bahwa mereka mengincar nyawanya. Oleh sebab 

itu, ketika mereka berkata manis kepadanya, ia tidak percaya kepada 

mereka. 

2. Lihatlah betapa dengan hikmat sorgawi Nehemia menolak usulan 

tersebut. Tuhan nya telah memberinya petunjuk untuk memberikan 

jawaban yang bijak itu kepada mereka melalui utusannya sendiri: “Aku 

tengah melakukan suatu pekerjaan yang besar, aku sangat sibuk, dan 

enggan menghentikan pekerjaan selagi aku meninggalkannya untuk 

pergi kepada kamu” (ay. 3). Apa yang menjadi kepeduliannya yaitu  

supaya pekerjaan itu tidak terhenti. Ia mengetahui bahwa pekerjaan itu 

akan terhenti apabila ia meninggalkannya barang sebentar saja. Dan 

untuk apa pekerjaan ini terhenti oleh sebab aku meninggalkannya dan 

pergi kepada kamu? Ia tidak berbicara apa-apa mengenai 

kewaspadaannya, juga tidak menegur mereka atas rencana mereka yang 

penuh pengkhianatan, namun memberi mereka sebuah alasan yang baik 

dan salah satu alasan yang benar mengapa ia tidak mau datang. Ke-

inginan untuk menyenangkan hati orang harus selalu mengalah pada 

pekerjaan. Hendaklah orang-orang yang tergoda oleh kawan-kawan 

mereka yang tidak berguna untuk menghadiri pertemuan yang sia-sia, 

dan yang hanya untuk senang-senang, menjawab godaan itu demikian, 

“Ada pekerjaan yang harus kami lakukan, dan kami tidak boleh 

mengabaikannya.” Empat kali mereka menyerangnya dengan 

permintaan yang sama, dan empat kali juga ia memberikan jawaban 

yang sama, yang dapat kita duga membuat mereka sangat kesal. Sebab 

sesungguhnya yang menjadi tujuan mereka yaitu  menghentikan 

pekerjaan tersebut, dan harapan mereka untuk menggagalkan pekerjaan 

itu akan pupus ketika mereka melihat para pekerjanya begitu 

bersungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Aku berikan jawaban yang 

sama, kata Nehemia kepada mereka (ay. 4). Perhatikanlah, jangan pernah 

kita membiarkan diri kita dikalahkan oleh desakan yang terus-menerus 

untuk melakukan sesuatu yang berdosa atau ceroboh. Sebaliknya, ketika 


 

798 

kita diserang dengan godaan yang sama, kita harus tetap melawannya 

dengan akal budi dan keteguhan hati yang sama. 

II. Sebuah persekongkolan untuk menakut-nakuti Nehemia sehingga ia 

menghentikan pekerjaannya. Kalau saja mereka dapat membuat Nehemia 

meninggalkan pekerjaannya, maka pekerjaan tersebut pasti akan terhenti. 

Oleh sebab itu, inilah yang berusaha dilakukan oleh Sanbalat, namun sia-sia.  

1. Sanbalat berupaya membuat Nehemia diliputi kekhawatiran bahwa 

usahanya untuk membangun tembok-tembok Yerusalem pada 

umumnya dianggap sebagai tindakan yang mementingkan golongan 

dan menghasut, dan dengan demikian akan dibenci oleh raja (ay. 5-7). 

Orang-orang terbaik sekalipun, bahkan ketika melakukan tindakan 

yang teramat luhur dan tidak mengandung kesalahan, telah terkena 

tuduhan ini. Hal ini dituliskan kepada Nehemia dalam sebuah surat 

yang terbuka, sebagai sesuatu yang diketahui dan dibicarakan secara 

umum, bahwa hal itu diberitakan di antara bangsa-bangsa. Dan Gasymu 

akan membuktikan kebenarannya, bahwa Nehemia hendak menjadikan 

dirinya sebagai raja dan melepaskan kuk Persia. Perhatikanlah, sudah 

biasa bahwa apa yang hanya dipikirkan oleh orang-orang keji, digam-

barkan secara tidak benar oleh mereka sebagai apa yang dipikirkan 

oleh orang kebanyakan. Sekarang, Sanbalat berpura-pura untuk 

memberi tahu Nehemia akan hal ini sebagai seorang kawan, supaya 

Nehemia dapat bergegas ke istana untuk membersihkan tuduhan 

kepadanya, atau menghentikan pekerjaannya, sebab  takut kalau-kalau 

pekerjaan itu disalahartikan seperti itu. Setidak-tidaknya, berdasarkan 

dugaan ini, ia mendesak Nehemia untuk menemuinya. “Mari kita sama-

sama berunding untuk mencari tahu bagaimana meredam berita itu” 

sambil berharap bahwa dengan cara ini ia dapat melenyapkan Nehemia, 

atau setidaknya menjauhkan dia dari pekerjaannya. Demikianlah 

perkataannya lebih lembut dari minyak, namun ia berniat menyerang, 

dan ia berharap, seperti Yudas, untuk mencium lalu membunuh. Namun 

tentu saja, percumalah jaring dibentangkan di depan mata segala yang 

bersayap. Nehemia segera menyadari apa sebenarnya tujuan mereka, 

yaitu untuk membuat para pekerja membiarkan pekerjaan itu (ay. 9). 

Oleh sebab  itu, ia tidak hanya menyangkal kebenaran berita itu, namun  

juga menyangkal bahwa memang ada berita seperti itu. Ia dikenal baik 

oleh rakyat sehingga tidak mungkin ia dicurigai seperti itu.  

2. Demikianlah Nehemia lolos dari jerat itu dan tetap berdiri teguh. Ia juga 

tidak akan takut menabur dan menuai sebab  ada angin dan awan. 

Kitab Nehemia 6:1-9 

 

799 

Kalaupun memang ada berita seperti itu, kita tidak boleh mengabaikan 

apa yang kita ketahui sebagai kewajiban, hanya sebab  takut akan 

disalahartikan. Sebaliknya, selama kita bertindak sesuai dengan hati 

nurani yang baik, marilah kita mempercayakan nama baik kita kepada 

Tuhan . namun  sesungguhnya tidak ada berita seperti itu. Umat Tuhan , 

meskipun sarat dengan celaan, sesungguhnya tidak sehina seperti yang 

ingin disangkakan kepada mereka oleh sebagian orang. 

Di tengah-tengah keluhan Nehemia atas niat jahat mereka, dalam 

berupaya untuk menakut-nakuti dirinya, dan dengan demikian 

melemahkan tangannya, ia mengangkat hatinya kepada sorga melalui 

doa singkat ini: Maka, ya Tuhan , kuatkanlah tanganku (ay. 9, KJV). 

Sungguh suatu sokongan dan penghiburan yang besar bagi orang-

orang baik bahwa di dalam segala kesukaran dan kesulitan, ada Tuhan  

yang bisa mereka datangi. Dari Dialah, melalui iman dan doa, mereka 

dapat memperoleh anugerah untuk meredam ketakutan mereka dan 

menguatkan tangan mereka, ketika musuh-musuh mereka sedang 

berupaya untuk memenuhi mereka dengan ketakutan dan melemahkan 

tangan mereka. Di dalam pekerjaan dan peperangan kita sebagai orang 

Kristen, ketika kita sedang memasuki suatu pelayanan atau 

perselisihan tertentu, inilah doa yang baik untuk kita panjatkan: “Ada 

suatu kewajiban yang harus kulakukan, suatu godaan yang harus 

kulawan, maka ya Tuhan , kuatkanlah tanganku.” Sebagian penafsir 

membacanya bukan sebagai doa, melainkan sebagai ketetapan hati 

yang kudus, sebab kata ya Tuhan  ditambahkan di dalam terjemahan kita 

(KJV): namun  aku justru berusaha sekuat tenaga. Perhatikanlah, 

keteguhan hati kita sebagai orang Kristen akan diasah melalui 

perlawanan. Setiap godaan untuk menjauhkan kita dari kewajiban harus-

lah justru semakin menyemangati kita untuk melaksanakan kewajiban 

itu.  

Rencana Semaya Digagalkan 

(6:10-14) 

10 Ketika aku pergi ke rumah Semaya bin Delaya bin Mehetabeel, sebab ia berhalangan 

datang, berkatalah ia: “Biarlah kita bertemu di rumah Tuhan , di dalam Bait Suci, dan 

mengunci pintu-pintunya, sebab  ada orang yang mau datang membunuh engkau, ya, 

malam ini mereka mau datang membunuh engkau.” 11 namun  kataku: “Orang manakah 

seperti aku ini yang akan melarikan diri? Orang manakah seperti aku ini dapat memasuki 

Bait Suci dan tinggal hidup? Aku tidak pergi!” 12 sebab  kuketahui benar, bahwa Tuhan  

tidak mengutus dia. Ia mengucapkan nubuat itu terhadap aku, sebab  disuap Tobia dan 

Sanbalat. 13 Untuk ini ia disuap, supaya aku menjadi takut lalu berbuat demikian, sehingga 


 

800 

aku berdosa. Dengan demikian mereka mempunyai kesempatan untuk membusukkan 

namaku, sehingga dapat mencela aku. 14 Ya Tuhan ku, ingatlah bagaimana Tobia dan 

Sanbalat masing-masing telah bertindak! Pun tindakan nabiah Noaja dan nabi-nabi yang 

lain yang mau menakut-nakutkan aku. 

Musuh-musuh orang Yahudi menggunakan segala cara, tidak ada cara yang tidak 

dicoba, untuk membuat Nehemia meninggalkan pekerjaan membangun tembok 

di sekeliling Yerusalem. Demi mencapai hal ini, mereka telah berusaha untuk 

menariknya ke desa untuk bertemu mereka, namun sia-sia. Sekarang mereka 

berusaha untuk membawanya ke dalam Bait Suci demi keamanan dirinya. 

Biarlah Nehemia berada di mana saja asalkan tidak mengerjakan pekerjaannya. 

sebab  mereka memperhatikan bahwa Nehemia yaitu  seorang yang berhati-

hati, maka mereka berusaha untuk mencapai tujuan mereka dengan membuat 

dia tampak seperti seorang pengecut. Amatilah, 

I. Betapa dengan rendah para musuh mengatur godaan ini.  

1. Apa yang mereka rencanakan yaitu  membuat Nehemia melakukan 

suatu hal yang bodoh, sehingga mereka dapat menertawakannya, dan 

menghinanya atas perbuatan itu, dan dengan demikian mengurangi 

wibawa dan pengaruhnya (ay. 13): Supaya aku menjadi takut, dan 

dengan demikian mereka mempunyai kesempatan untuk membusukkan 

namaku, sehingga dapat mencela aku. Ini sungguh-sungguh pekerjaan 

Iblis, yang yaitu  penggoda manusia, sehingga ia dapat menjadi pendak-

wa mereka, menarik manusia kepada dosa supaya ia dapat bermegah 

dalam aib yang menimpa mereka. Kejahatan terbesar yang dapat 

dilakukan oleh musuh-musuh kita terhadap kita yaitu  dengan 

menakut-nakuti kita sehingga kita meninggalkan kewajiban dan 

membuat kita melakukan apa yang berdosa. 

2. Alat-alat yang mereka pergunakan yaitu  seorang nabi dan nabiah palsu, 

yang mereka suap untuk membujuk Nehemia agar menghentikan 

pekerjaannya dan menarik diri demi keamanan dirinya sendiri. Nabi 

palsu itu yaitu  Semaya, yang tentangnya dikatakan bahwa ia menutup 

diri (ay. 10, KJV) di rumahnya sendiri, entah dengan berpura-pura sedang 

menarik diri untuk merenung dan mencari tahu kehendak Tuhan , atau 

untuk memberikan tanda kepada Nehemia agar menyendiri dengan cara 

serupa. Kelihatannya Nehemia menghargai Semaya, sebab ia pergi ke 

rumahnya untuk mencari petunjuk (ay. 10). Ada juga nabi-nabi lain, dan 

seorang nabiah, Noaja (ay. 14), yang berpihak kepada musuh-musuh 

orang Yahudi, yang menerima upah dari musuh-musuh itu dan menjadi 

pengkhianat bagi bangsa mereka sendiri. Tidak tampak apakah mereka 

Kitab Nehemia 6:1-9 

 

801 

mengaku-aku mendapatkan ilham ilahi atau tidak. Mereka tidak berkata, 

beginilah firman Tuhan, sebagaimana yang dikatakan nabi-nabi palsu 

pada zaman dahulu. Sekalipun demikian, mereka ingin dianggap unggul 

dalam pengetahuan ilahi dan hikmat manusia, dan memiliki pengertian 

dan penglihatan yang luar biasa akan masa depan. Oleh sebab  itu, 

mereka dimintai petunjuk dalam perkara-perkara yang sulit, layaknya 

para nabi. Nabi-nabi palsu ini diupah oleh para musuh untuk 

memberikan petunjuk bagi mereka. Marilah dari sini kita mengambil 

kesempatan untuk meratapi, 

(1) Kefasikan orang-orang jahat seperti para nabi ini, bahwa sampai ada 

orang yang begitu durhaka hingga mengkhianati kepentingan Tuhan  

dan bangsa mereka, bahkan dengan dalih bersekutu dengan Tuhan  

dan peduli terhadap bangsa mereka.  

(2) Ketidakbahagiaan orang-orang baik seperti Nehemia, yang terancam 

bahaya diperdaya oleh tipuan-tipuan seperti itu, dan yang bagi 

mereka tidak ada godaan yang lebih kuat dibandingkan  godaan yang 

berkedok agama, wahyu, ibadah, dan yang dibawa oleh tangan para 

nabi.  

3. Kepura-puraan itu tampak dapat dipercaya. Nabi-nabi palsu ini 

mengemukakan kepada Nehemia bahwa para musuh mau datang 

membunuh dirinya, pada malam ini mereka akan membunuhnya, yang 

cukup beralasan untuk dipercayainya. Mereka mau membunuhnya, jika 

mereka dapat, jika mereka berani. Mereka berpura-pura sangat peduli 

akan keselamatannya. Rakyat akan tercerai-berai seluruhnya apabila ada 

bahaya yang menimpa Nehemia. Oleh sebab itu, mereka dengan sangat 

sungguh-sungguh menyarankannya untuk bersembunyi di Bait Tuhan  

sampai bahaya usai. Bait Tuhan  merupakan sebuah tempat yang kokoh 

dan suci, di mana ia akan berada di bawah perlindungan khusus dari 

sorga (Mzm. 27:5). Seandainya Nehemia berhasil dibujuk melakukan hal 

ini, maka rakyat pasti akan langsung pergi meninggalkan pekerjaan 

mereka dan juga meletakkan senjata mereka, dan semua orang akan 

mencari tempat untuk berlindung. Kemudian para musuh akan dengan 

mudah, dan tanpa perlawanan, menghancurkan hasil pekerjaan itu, 

meruntuhkan tembok kembali, dan dengan demikian mencapai tujuan 

mereka. Meskipun penyelamatan diri yaitu  kaidah dasar dari hukum 

alam, namun nasihat yang diaku-aku didasarkan atas hukum alam itu 

tidak selalu merupakan nasihat yang paling baik dan paling bijak. 


 

802 

II. Lihatlah betapa Nehemia dengan berani menaklukkan godaan ini, dan tampil 

sebagai seorang pemenang.  

1. Nehemia langsung bertekad untuk tidak menyerah kepada godaan itu 

(ay. 11). Lihatlah di sini,  

(1) Apa pertimbangan-pertimbangannya: “Orang manakah seperti aku ini 

yang akan melarikan diri? Haruskah aku meninggalkan pekerjaan 

Tuhan , atau mengecilkan hati para pekerjaku sendiri yang telah aku 

pekerjakan dan beri semangat? Haruskah aku terlalu percaya kepada 

kabar berita, dan terlalu khawatir akan nyawaku sendiri? Aku yang 

yaitu  seorang bupati, yang diperhatikan oleh begitu banyak orang, 

baik kawan maupun lawan? Orang lain mungkin saja kabur, namun  

aku tidak. Orang manakah seperti aku ini, dengan jabatanku yang 

penuh kehormatan, kekuasaan, dan kepercayaan, akan pergi ke Bait 

Suci dan bersembunyi di sana, ketika ada pekerjaan yang harus 

dilakukan, bahkan sekalipun itu untuk menyelamatkan nyawaku?” 

Perhatikanlah, ketika kita tergoda untuk berdosa, kita harus 

mengingat siapa dan apa diri kita, supaya kita tidak melakukan apa 

yang tidak pantas bagi kedudukan kita dan pengakuan iman yang 

kita buat. Tidaklah pantas bagi raja, hai Lemuel! (Ams. 31:4) 

(2) Apa hasil pertimbangan Nehemia. Ia sampai pada suatu keputusan: 

“Aku tidak akan masuk. Lebih baik aku mati di dalam pekerjaanku 

dibandingkan  hidup dalam pelarian yang hina darinya.” Perhatikanlah, 

keteguhan hati dan keluhuran budi yang kudus akan menggugah 

kita, apa pun harganya, untuk tidak pernah menolak suatu pekerjaan 

yang baik, atau melakukan pekerjaan yang buruk. 

2. Nehemia segera menyadari apa yang sedang terjadi (ay. 12): “sebab  

kuketahui benar, bahwa Tuhan  tidak mengutus dia, bahwa Semaya 

memberikan nasihat ini bukan atas petunjuk ilahi apa pun, yang bersifat 

biasa ataupun luar biasa, melainkan dengan rencana untuk melawanku.” 

Kefasikan orang-orang upahan yang hina seperti itu cepat atau lambat 

akan terbongkar. Dua hal yang dikatakan Nehemia sangat ditakutinya 

dalam apa yang dinasihatkan kepadanya: 

(1) Melawan Tuhan : Supaya aku menjadi takut lalu berbuat demikian, 

sehingga aku berdosa. Perhatikanlah, dosa merupakan hal yang harus 

kita takuti melampaui apa pun, dan obat penawar yang baik 

terhadap dosa yaitu  dengan tidak takut terhadap apa pun kecuali 

dosa. 

Kitab Nehemia 6:1-9 

 

803 

(2) Mempermalukan dirinya sendiri: Sehingga mereka dapat mencela 

aku. Perhatikanlah, selain ngeri terhadap keberdosaan dosa, kita juga 

harus ngeri terhadap  cela yang diakibatkan oleh dosa.  

3. Nehemia dengan rendah hati memohon kepada Tuhan  untuk mengadakan 

perhitungan dengan mereka atas rancangan-rancangan mereka yang keji 

terhadap dirinya (ay. 14): Ya Tuhan ku, ingatlah bagaimana Tobia, dan 

mereka semua, telah bertindak. Ketika Nehemia menyebutkan tentang 

pelayanan-pelayanan baik yang telah ia lakukan, ia tidak berhasrat untuk 

mengatur-atur Tuhan  tentang upah apa yang seharusnya Ia berikan 

kepadanya. Sebaliknya, ia berdoa dengan rendah hati, ingatlah aku, ya 

Tuhan ku (5:19). Demikian pula halnya di sini, ia tidak bersumpah serapah 

agar suatu hukuman tertentu menimpa musuh-musuhnya, namun  ia 

menyerahkan perkara itu kepada Tuhan . “Engkau mengenal hati mereka, 

dan Engkaulah pembalas kejahatan dan kesalahan. Berilah perhatian 

terhadap perkara ini, adililah antara aku dan mereka, dan mintalah per-

tanggungjawaban mereka seturut dengan cara dan waktu yang berkenan 

pada-Mu.” Perhatikanlah, apa pun kejahatan yang dilakukan terhadap kita, 

kita tidak boleh membalasnya, namun  serahkanlah perkara kita kepada Dia 

yang menghakimi dengan adil. 

Tembok Kota Selesai Dibangun  

(6:15-19) 

15 Maka selesailah tembok itu pada tanggal dua puluh lima bulan Elul, dalam waktu lima 

puluh dua hari. 16 Ketika semua musuh kami mendengar hal itu, takutlah semua bangsa 

sekeliling kami. Mereka sangat kehilangan muka dan menjadi sadar, bahwa pekerjaan itu 

dilaksanakan dengan bantuan Tuhan  kami. 17 Pada masa itu pula para pemuka Yehuda 

mengirim banyak surat kepada Tobia, dan sebaliknya mereka menerima surat-surat dari 

padanya,  

18 sebab  banyak orang di Yehuda mempunyai ikatan sumpah dengan dia, sebab ia yaitu  

menantu Sekhanya bin Arah, sedang Yohanan, anaknya, mengambil anak Mesulam bin 

Berekhya sebagai isteri. 19 Juga mereka sebut-sebut segala kebaikan Tobia di mukaku dan 

segala perkataanku terus dibeberkan kepadanya. Pula Tobia mengirim surat-surat untuk 

menakut-nakutkan aku. 

Pada perikop ini Nehemia sedang menyelesaikan pembangunan tembok 

Yerusalem, namun masih juga ia menghadapi kesulitan yang ditimbulkan oleh 

para musuhnya. 

I. Tobia, dan musuh-musuh orang Yahudi lainnya, malu menyaksikan tembok 

yang telah selesai dibangun, kendati dengan semua upaya mereka untuk 

menghalanginya. Tembok itu mulai dan selesai dibangun dalam waktu lima 


 

804 

puluh dua hari, namun kita memiliki alasan untuk meyakini bahwa mereka 

beristirahat pada hari-hari Sabat (ay. 15). Banyak orang yang dipekerjakan, 

dan ada tempat bagi mereka semua. Apa yang mereka kerjakan, dikerjakan 

dengan riang hati, dan mereka memusatkan perhatian pada pekerjaan 

mereka sebab  mereka mencintainya. Ancaman para musuh mereka, yang 

dimaksudkan untuk melemahkan mereka, ada kemungkinan justru 

menggugah mereka untuk meneruskan pekerjaan mereka dengan lebih 

bersemangat, supaya mereka dapat menyelesaikannya sebelum para musuh 

datang. Demikianlah dari yang makan keluar makanan. Lihatlah betapa 

banyak pekerjaan yang dapat dilakukan dalam waktu singkat apabila kita mau 

mengerjakannya dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus. Ketika para 

musuh mendengar bahwa tembok itu telah selesai dibangun padahal mereka 

menyangka pembangunannya belum dimulai dengan baik, dan ketika mereka 

tidak merasa ragu akan dapat menghentikannya, mereka sangat kehilangan 

muka (ay. 16). 

1. Mereka sangat malu akan kepercayaan diri mereka bahwa mereka akan 

menghentikan pekerjaan itu. Mereka menjadi putus asa sebab  

kekecewaan itu. 

2. Mereka iri akan kesejahteraan dan keberhasilan orang-orang Yahudi, 

sedih menyaksikan tembok-tembok Yerusalem selesai dibangun, 

sementara raja-raja Persia mungkin tidak mengizinkan mereka untuk 

membentengi kota-kota Samaria. Ketika Kain iri kepada adiknya, 

mukanya muram (Kej. 4:5) 

3. Hilang sudah harapan mereka untuk mencelakakan orang-orang Yahudi 

seperti yang mereka rancangkan, untuk menjatuhkan orang-orang 

Yahudi, dan memangsa mereka. Dan baguslah mereka merasa demikian, 

sebab  mereka telah sadar, melalui keberhasilan yang luar biasa ini, 

bahwa pekerjaan itu dilaksanakan dengan bantuan Tuhan . Bahkan orang-

orang kafir ini masih mempunyai akal sehat, 

(1) Untuk melihat penyelenggaraan Tuhan  yang istimewa atas perkara-

perkara jemaat ketika perkara-perkara itu berhasil secara luar biasa. 

Berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: “TUHAN telah melakukan 

perkara besar kepada orang-orang ini!” Itu yaitu  perbuatan-Nya 

(Mzm. 126:2). Tuhan  berperang bagi bangsa Israel dan bekerja 

bersama mereka. 

(2) Untuk percaya bahwa pekerjaan Tuhan  akan sempurna. Ketika 

mereka menyadari bahwa pekerjaan itu dilaksanakan dengan 

Kitab Nehemia 6:1-9 

 

805 

bantuan Tuhan , mereka tidak mengharapkan yang lain selain bahwa 

pekerjaan itu akan berlanjut dan berhasil. 

(3) Untuk menyimpulkan bahwa, apabila pekerjaan itu berasal dari 

Tuhan , maka tidak ada gunanya mencoba untuk menentangnya. 

Pekerjaan itu sudah pasti akan berhasil dan menang. 

II. Terlepas dari hal ini, Nehemia merasa kesal melihat beberapa orang dari 

bangsanya sendiri berkhianat dengan berkirim surat dengan Tobia dan 

melayani kepentingannya. Tidak diragukan lagi bahwa hal itu membuat 

Nehemia sangat sedih dan berkecil hati.  

1. Bahkan dari antara para pemuka Yehuda ada yang tidak begitu memiliki 

rasa hormat dan kesadaran akan kebaikan negeri mereka, hingga 

mereka berkirim surat dengan Tobia (ay. 17). Mereka menulis dengan 

begitu bebas dan akrab layaknya teman kepada Tobia, dan menyambut 

surat-surat yang ia tulis untuk mereka. Adakah para pemuka melakukan 

hal yang sedemikian hina? Adakah para pemuka Yehuda melakukan hal 

yang sedemikian fasik? Kelihatannya para pembesar tidak selalu 

bijaksana, tidak selalu jujur. 

2. Banyak orang di Yehuda mengadakan persekongkolan penuh namun 

rahasia dengan Tobia untuk memajukan kepentingan negerinya, 

meskipun hal itu pasti akan menghancurkan negeri mereka sendiri. 

Mereka mempunyai ikatan sumpah dengan dia, bukan sebagai pemimpin 

mereka, melainkan sebagai kawan dan sekutu mereka, sebab  baik dia 

maupun anak laki-lakinya telah menikah dengan anak-anak wanita  

Israel (ay. 18). Lihatlah kejahatan dari menikahi orang kafir. Untuk satu 

orang kafir yang bertobat melalui pernikahan itu, sepuluh orang Yahudi 

disesatkan. Begitu mereka menjadi saudara dengan Tobia, mereka 

segera memiliki ikatan sumpah dengannya. Cinta yang berdosa 

membawa kepada ikatan yang berdosa. 

3. Mereka dengan lancang membujuk Nehemia sendiri untuk berkawan 

dengan Tobia: “Juga mereka sebut-sebut segala kebaikan Tobia di 

mukaku, dengan menggambarkannya sebagai seorang yang cerdas dan 

layak kukenal, seorang pria yang jujur dan dapat kupercaya.” Kita 

memang tidak boleh berbicara buruk tentang siapa pun, namun juga kita 

tidak boleh berbicara baik tentang orang yang buruk. Orang yang meng-

abaikan hukum memuji orang fasik (Ams. 28:4). 

4. Mereka begitu berkhianat hingga memberitahukan rencana-rencana 

Nehemia kepada Tobia. Mereka menyampaikan kata-kata Nehemia 

kepadanya, memutarbalikkan kata-kata