tawarikh ester 4

Kamis, 30 Januari 2025

tawarikh ester 4


 


engan takut, bahkan ketika kita menjadi hamba 

kepada TUHAN dengan sukacita. 

4. Hendaklah kegusaran Daud sebab  peristiwa ini memperingatkan kita agar 

menjaga roh kita ketika mendapat teguran ilahi, supaya kita berserah 

kepada Tuhan  dan bukannya berbantah-bantah dengan-Nya. Apabila Tuhan  

marah kepada kita, beranikah kita marah kepada-Nya? 

5. Biarlah teguran berat itu menjadi peringatan keras bagi kita agar tidak 

menjauh dari tugas kita, jika penyelenggaraan Tuhan  itu bertujuan 

menjauhkan kita dari dosa. Daud seharusnya melanjutkan pekerjaan itu 

meskipun Uza dihukum, supaya dengan demikian pelanggaran itu dapat 

ditebus. 

6. Kiranya berkat yang didatangkan tabut itu kepada rumah Obed-Edom, 

mendorong kita untuk menyambut ketetapan-ketetapan Tuhan  di rumah kita, 

dengan percaya bahwa tabut itu merupakan tamu yang tidak akan 

mendatangkan kerugian. Janganlah ketetapan Tuhan  kurang kita hargai hanya 

sebab  ia menjadi batu sandungan dan menyebabkan pelanggaran bagi 

beberapa orang. Apabila bagi beberapa orang Injil menjadi bau kematian 

yang mematikan, seperti tabut itu mendatangkan kematian atas Uza, namun 

hendaklah kita menyambutnya dalam kasih, supaya bagi kita Injil itu 

menjadi bau kehidupan yang menghidupkan. 

 

 

 

PASAL  14  

Di dalam pasal ini diceritakan tentang, 

I. Kerajaan Daud ditegakkan (ay. 1-2). 

II.  Anggota keluarganya bertambah (ay. 3-7). 

III. Musuhnya, yaitu orang Filistin, dikalahkan dalam dua pertempuran (ay. 

8-17). Catatan ini diulangi di sini, diambil dari 2 Samuel 5:11. 

Kerajaan Daud Ditegakkan 

(14:1-7) 

1 Hiram, raja negeri Tirus, mengirim utusan kepada Daud dan kayu aras, tukang-tukang batu 

dan tukang-tukang kayu untuk mendirikan sebuah istana baginya. 2 Lalu tahulah Daud, 

bahwa TUHAN telah menegakkan dia sebagai raja atas Israel, sebab martabat 

pemerintahannya terangkat tinggi oleh sebab  Israel umat-Nya. 3 Daud mengambil lagi 

beberapa isteri di Yerusalem, dan ia memperanakkan lagi anak-anak lelaki dan wanita . 4 

Inilah nama anak-anak yang lahir bagi dia di Yerusalem: Syamua, Sobab, Natan, Salomo, 5 

Yibhar, Elisua, Elpelet, 6 Nogah, Nefeg, Yafia, 7 Elisama, Beelyada dan Elifelet. 

Di sini dapat kita amati, 

1. Tidak seorang pun yang begitu berkecukupan sehingga tidak memerlukan 

apa-apa lagi. Sebaliknya, orang tetap membutuhkan bantuan sesamanya dan 

mempunyai alasan untuk mensyukuri bantuan mereka. Daud memiliki 

kerajaan yang sangat besar, sedang  Hiram hanya memiliki kerajaan 

sangat kecil. Meskipun demikian, Daud tidak sanggup membangun rumah 

seperti yang ada di dalam pikirannya kecuali Hiram menyediakan baik 

pekerja maupun bahan-bahan bangunan baginya (ay. 1). Inilah alasan 

mengapa kita tidak boleh memandang rendah siapa pun, namun  bersedia 

membantu semua orang bila mempunyai kesempatan. 

2. Alangkah besar kepuasan yang diperoleh orang bijaksana apabila 

kedudukannya telah dimantapkan, dan betapa puas hatinya orang baik saat 

melihat penyelenggaraan istimewa Tuhan  memantapkan kedudukannya. 


 

112 

Rakyat telah mengangkat Daud menjadi raja. Namun, ia belum bisa tenang 

atau merasa bahagia, sampai ia tahu bahwa TUHAN telah menegakkan dia 

sebagai raja atas Israel (ay. 2). “Siapa gerangan dapat menggoyahkanku 

apabila Tuhan  sendiri telah mengukuhkanku?” 

3. Kita harus memandang semua kemajuan kita sebagai hal yang dirancang 

demi kegunaan kita. Martabat pemerintahannya terangkat tinggi, bukan 

supaya ia terlihat hebat, melainkan oleh sebab  Israel umat-Nya, supaya ia 

dapat menjadi pembimbing dan pelindung mereka. Kita diberkati supaya 

bisa menjadi berkat (Kej. 12:2). Kita tidak lahir ataupun hidup bagi diri 

sendiri. 

4. Sungguh sulit untuk berkembang dengan pesat tanpa merasa aman dan 

menggemari kedagingan. Kelemahan Daud ketika sudah dikukuhkan dalam 

kerajaannya yaitu , ia mengambil lagi beberapa isteri (ay. 3), namun 

sejumlah besar keturunan telah ditambahkannya pada kehormatan serta 

kekuatannya. Sesungguhnya, anak-anak lelaki yaitu  milik pusaka dari pada 

TUHAN. Kita mendapati catatan tentang anak-anak Daud, tidak saja di Kitab 

Samuel, namun  di dalam kitab ini juga (3:1 dst.), dan sekarang di pasal ini lagi. 

Sebab, sungguh merupakan kehormatan bagi anak-anak itu untuk memiliki 

bapa seperti dia. 

Kekalahan Orang Filistin 

(14:8-17) 

8 Ketika didengar orang Filistin, bahwa Daud telah diurapi menjadi raja atas seluruh 

Israel, maka majulah semua orang Filistin untuk menangkap Daud. namun  Daud 

mendengar hal itu, lalu majulah ia menghadapi mereka. 9 Ketika orang Filistin itu datang 

dan mengadakan penyerbuan di lembah Refaim,  

10 bertanyalah Daud kepada Tuhan : “Apakah aku harus maju melawan orang Filistin itu 

dan akan Kauserahkankah mereka ke dalam tanganku?” TUHAN menjawab: “Majulah, Aku 

akan menyerahkan mereka ke dalam tanganmu.”  

11 Lalu majulah ia ke Baal-Perasim, dan Daud memukul mereka kalah di sana. Berkatalah 

Daud: “Tuhan  telah menerobos musuhku dengan perantaraanku seperti air menerobos.” 

Sebab itu orang menamakan tempat itu Baal-Perasim. 12 Orang Filistin itu meninggalkan 

para Tuhan nya di sana, lalu orang Israel membakarnya habis atas perintah Daud. 13 Ketika 

orang Filistin menyerbu sekali lagi di lembah itu, 14 maka bertanyalah lagi Daud kepada 

Tuhan , lalu Tuhan  menjawab: “Janganlah maju di belakang mereka, namun  buatlah gerakan 

lingkaran terhadap mereka, sehingga engkau dapat menyerang mereka dari jurusan 

pohon-pohon kertau. 15 Dan bila engkau mendengar bunyi derap langkah di puncak 

pohon-pohon kertau itu, maka haruslah engkau keluar bertempur, sebab Tuhan  telah 

keluar berperang di depanmu untuk memukul kalah tentara orang Filistin.” 16 Dan Daud 

berbuat seperti yang diperintahkan Tuhan  kepadanya, maka mereka memukul kalah 

tentara orang Filistin, mulai dari Gibeon sampai Gezer. 17 Lalu termasyhurlah nama Daud 

di segala negeri, dan TUHAN mendatangkan rasa takut kepadanya atas segala bangsa. 

Kitab 1 Tawarikh 14:8-17 

 

113 

Kisah mengenai kemenangan Daud atas orang Filistin ini sangat mirip dengan 

yang terdapat di dalam Kitab 2 Samuel 5:17 dan seterusnya. 

1. Hendaklah serangan orang Filistin terhadap Daud mengajarkan kita untuk 

tidak merasa aman-aman saja ketika kita sudah merasa makmur atau 

berjaya. Sebaliknya, kita tetap harus siaga menantikan penganiayaan di 

dunia ini. Ketika kita merasa paling nyaman, sesuatu bisa saja terjadi 

sehingga membuat kita ketakutan atau bingung. Demikianlah kerajaan 

Kristus dihina oleh keturunan ular, terutama ketika mengalami kemajuan. 

2. Hendaklah pertanyaan Daud kepada Tuhan  pada waktu orang Filistin 

menyerbunya, memimpin kita untuk mengakui Tuhan  dalam segala jalan kita. 

Di tengah kesukaran hendaklah kita berlari kepada-Nya, ketika disalahi, 

berserulah kepada-Nya, dan ketika kita tidak tahu harus berbuat, mintalah 

nasihat dari-Nya untuk memperoleh petunjuk-Nya. Marilah kita memohon 

kepada-Nya untuk menunjukkan jalan yang benar kepada kita. 

3. Hendaklah keberhasilan Daud mendorong kita untuk melawan musuh-

musuh rohani kita, dengan cara memperhatikan petunjuk ilahi dan 

bergantung pada kekuatan ilahi. Lawanlah Iblis, maka ia akan melarikan diri 

seperti halnya orang Filistin lari dari hadapan Daud. 

4. Hendaklah bunyi gesekan di puncak pohon-pohon kertau itu membimbing 

kita untuk mengikuti tindak tanduk Tuhan , baik dalam penyelenggaraan-Nya 

maupun di dalam pengilhaman Roh-Nya. Ketika kita tahu bahwa Tuhan  

berjalan di depan kita, marilah kita mengenakan ikat pinggang dan 

persenjataan kita, kemudian mengikut Dia. 

5. Hendaklah tindakan Daud membakar Tuhan -Tuhan  orang Filistin ketika 

mereka jatuh ke tangannya, mengajarkan supaya kita memiliki amarah 

kudus terhadap penyembahan berhala dan segala sesuatu yang tersisa 

darinya. 

6. Hendaklah pengakuan Daud yang penuh rasa syukur atas campur tangan 

Tuhan  dalam semua keberhasilannya, membimbing kita untuk membawa 

semua korban persembahan puji syukur kita ke mezbah Tuhan . Bukan kepada 

kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, namun  kepada nama-Mulah beri 

kemuliaan. 

7. Hendaklah nama baik yang telah diraih Daud, tidak saja di dalam 

kerajaannya, namun  juga di antara bangsa-bangsa lain, dipandang sebagai 

perlambang dan gambaran dari kehormatan tinggi yang diberikan kepada 

Anak Daud (ay. 17): Lalu termasyhurlah nama Daud di segala negeri. Ia 

sering diperbincangkan orang dan dikagumi seluruh rakyat, dan TUHAN 

mendatangkan rasa takut kepadanya atas segala bangsa. Semua orang 

memandang dia sebagai musuh mengerikan dan sekutu yang diinginkan. 


 

114 

Demikian jugalah Tuhan  telah meninggikan Penebus kita, dan memberi-Nya 

nama di atas segala nama. 

 

 

PASAL  15  

embawa tabut Tuhan  ke dalam kota Daud merupakan pekerjaan yang amat 

baik. Hal tersebut sudah ditetapkan (13:4) dan diusahakan sebelumnya, 

namun  tidak berhasil. Waktu itu tabut diletakkan di rumah Obed-Edom di tengah 

perjalanannya. Sekarang pasal ini mengisahkan bagaimana pekerjaan baik 

tersebut diselesaikan. 

I. Bagaimana pekerjaan itu dilaksanakan dengan lebih teratur dibandingkan  

sebelumnya. 

1. Dipersiapkan tempat untuk tabut Tuhan  (ay. 1). 

2. Para imam diperintahkan untuk mengangkutnya (ay. 2-15). 

3. Orang-orang Lewi ditugaskan untuk melayaninya (ay. 16-24). 

II. Bagaimana pekerjaan itu dilaksanakan dengan lebih berhasil dibandingkan  

sebelumnya (ay. 25). 

1. Orang Lewi tidak melakukan kesalahan dalam pekerjaan mereka 

(ay. 26). 

2. Daud dan rakyat tidak lagi menumpahkan air mata dalam sukacita 

mereka (ay. 27-28). Soal Mikhal yang menghina Daud, itu bukan 

apa-apa (ay. 29). 

Pemindahan Tabut Tuhan  

(15:1-24)  

1 Daud membuat bagi dirinya gedung-gedung di kota Daud, lalu ia menyiapkan tempat 

bagi tabut Tuhan  dan membentangkan kemah untuk itu. 2 Ketika itu berkatalah Daud: 

“Janganlah ada yang mengangkat tabut Tuhan  selain dari orang Lewi, sebab merekalah 

yang dipilih TUHAN untuk mengangkat tabut TUHAN dan untuk menyelenggarakannya 

sampai selama-lamanya.”  

3 Kemudian Daud mengumpulkan segenap Israel ke Yerusalem untuk mengangkut tabut 

TUHAN ke tempat yang telah disiapkannya untuk itu. 4 Daud mengumpulkan bani Harun 

dan orang Lewi: 5 dari bani Kehat: Uriel, seorang pemimpin, dan saudara-saudara 

sepuaknya: seratus dua puluh orang; 6 dari bani Merari: Asaya, seorang pemimpin, dan 

saudara-saudara sepuaknya: dua ratus dua puluh orang; 7 dari bani Gerson: Yoel, seorang 


 

116 

pemimpin, dan saudara-saudara sepuaknya: seratus tiga puluh orang; 8 dari bani Elsafan: 

Semaya, seorang pemimpin, dan saudara-saudara sepuaknya: dua ratus orang; 9 dari bani 

Hebron: Eliel, seorang pemimpin, dan saudara-saudara sepuaknya: delapan puluh orang; 

10 dari bani Uziel: Aminadab, seorang pemimpin, dan saudara-saudara sepuaknya: seratus 

dua belas orang. 11 Lalu Daud memanggil Zadok dan Abyatar, imam-imam itu, dan orang-

orang Lewi, yaitu  Uriel, Asaya, Yoel, Semaya, Eliel dan Aminadab, 12 dan berkata kepada 

mereka: “Hai kamu ini, para kepala puak dari orang Lewi, kuduskanlah dirimu, kamu ini 

dan saudara-saudara sepuakmu, supaya kamu mengangkut tabut TUHAN, Tuhan  Israel, ke 

tempat yang telah kusiapkan untuk itu. 13 Sebab oleh sebab  pada pertama kali kamu 

tidak hadir, maka TUHAN, Tuhan  kita, telah menyambar di tengah-tengah kita, sebab kita 

tidak meminta petunjuk-Nya seperti seharusnya.” 14 Jadi para imam dan orang-orang 

Lewi menguduskan dirinya untuk mengangkut tabut TUHAN, Tuhan  Israel. 15 Kemudian 

bani Lewi mengangkat tabut Tuhan  itu dengan gandar pengusung di atas bahu mereka, 

seperti yang diperintahkan Musa, sesuai dengan firman TUHAN. 16 Daud memerintahkan 

para kepala orang Lewi itu, supaya mereka menyuruh berdiri saudara-saudara sepuak 

mereka, yaitu  para penyanyi, dengan membawa alat-alat musik seperti gambus, kecapi 

dan ceracap, untuk memperdengarkan dengan nyaring lagu-lagu gembira. 17 Maka orang 

Lewi itu menyuruh berdiri Heman bin Yoel; dan dari saudara-saudara sepuaknya: Asaf 

bin Berekhya; dari bani Merari, saudara-saudara sepuak mereka: Etan bin Kusaya;  

18 dan bersama-sama mereka itu saudara-saudara mereka dari tingkat kedua: Zakharia, 

Yaaziel, Semiramot, Yehiel, Uni, Eliab, Benaya, Maaseya, Matica, Elifele, Mikneya, dan 

Obed-Edom serta Yeiel, para penunggu pintu gerbang. 19 Para penyanyi, yaitu  Heman, 

Asaf dan Etan harus memperdengarkan lagu dengan ceracap tembaga. 20 Zakharia, Aziel, 

Semiramot, Yehiel, Uni, Eliab, Maaseya, Benaya harus memainkan gambus yang tinggi 

nadanya, 21 sedang Matica, Elifele, Mikneya, Obed-Edom, Yeiel dan Azazya harus memain-

kan kecapi yang delapan nada lebih rendah tingkatnya untuk mengiringi nyanyian. 22 

Kenanya, pemimpin orang Lewi, mendapat tugas pengangkutan; ia mengepalai 

pengangkutan, sebab ia paham dalam hal itu. 23 Berekhya dan Elkana yaitu  penunggu 

pintu pada tabut; 24 dan Sebanya, Yosafat, Netaneel, Amasai, Zakharia, Benaya dan Eliezer, 

yaitu  imam-imam itu, meniup nafiri di hadapan tabut Tuhan , sedang Obed-Edom dan 

Yehia yaitu  penunggu pintu pada tabut itu. 

Di sini, diadakan persiapan untuk membawa pulang tabut Tuhan dari rumah 

Obed-Edom ke kota Daud. Diakui pula bahwa dalam usaha sebelumnya, 

sekalipun pekerjaan itu baik dan mereka melakukannya dengan mencari Tuhan , 

namun mereka tidak meminta petunjuk-Nya seperti seharusnya (ay. 13). “Kita 

tidak menjalankan pekerjaan itu dengan penuh pertimbangan sehingga lajunya 

buruk.” Perhatikanlah, melakukan apa yang baik saja tidak cukup, kita harus 

melakukannya secara baik pula. Tidak cukup bagi kita mencari Tuhan  sesuai 

dengan ketetapan-Nya, kita juga harus mencari Dia seperti seharusnya. 

Perhatikan juga bahwa ketika kita menderita oleh sebab  kesembronoan, dari 

situ kita harus belajar menjadi lebih teratur. Dengan demikian hukuman akan 

berakhir. Mari kita lihat bagaimana perkara ini ditangani. 

1. Sekarang, Daud menyiapkan tempat untuk menerima tabut itu sebelum 

dibawa kepadanya, dan dengan begitu ia bekerja seperti seharusnya. Tidak 

ada cukup waktu bagi Daud untuk membangun bait Tuhan , namun  ia 

membentangkan kemah untuk itu (ay. 1) dari tirai-tirai dan papan, mungkin 

berdasarkan rancangan yang ditunjukkan kepada Musa di atas gunung Sinai 

Kitab 1 Tawarikh 15:1-29 

 

117 

atau semirip mungkin dengannya. Amatilah, ketika Daud membuat bagi diri-

nya rumah-rumah di kota Daud, ia menyiapkan tempat untuk tabut. 

Perhatikan, di mana pun kita membangun bagi diri sendiri, pastikan bahwa 

kita menyediakan ruang bagi tabut Tuhan , yaitu  jemaat dalam rumah kita. 

2. Sekarang Daud memerintahkan agar tabut itu harus diangkut oleh orang 

Lewi atau para imam di atas bahu mereka. Daud kini sudah memikirkan apa 

yang sebelumnya tidak mungkin tidak ia ketahui, yaitu  janganlah ada yang 

mengangkat tabut Tuhan  selain dari orang Lewi (ay. 2). Bani Kehat 

mengangkut tabut itu dengan susunan barisan mereka yang biasa. Jadi, tidak 

ada kereta yang diperuntukkan bagi mereka, sebab tugas orang Kehat yaitu  

mengurus barang-barang kudus, yang harus diangkat di atas bahunya (Bil. 

7:9). Namun, pada kesempatan-kesempatan luar biasa, misalnya ketika 

mereka menyeberangi sungai Yordan dan mengelilingi Yerikho, para imam 

membawa tabut Tuhan . Peraturan ini jelas, namun  Daud sendiri melupakannya 

dan ia meletakkan tabut di dalam kereta. Perhatikan, orang-orang yang 

sangat mengetahui firman Tuhan  pun tidak selalu siap melakukannya seperti 

yang diharapkan ketika mereka harus menerapkan firman itu. Orang bijak 

dan baik bisa saja lalai, namun  segera setelah menyadarinya, mereka akan 

memperbaiki. Daud tidak berusaha membenarkan apa yang telah dilakukan 

secara keliru sebelumnya maupun melempar kesalahan kepada orang lain, ia 

sendiri mengaku bersalah, bersama orang-orang lainnya, sebab  tidak 

mencari Tuhan  seperti seharusnya. Sekarang, ia bukan hanya memanggil 

orang-orang Lewi untuk bersungguh hati seperti yang dilakukannya kepada 

seluruh Israel (ay. 3) dan sebagaimana yang pernah ia lakukan sebelumnya 

(13:2), namun  juga mau melihat mereka berkumpul (ay. 4), khususnya anak-

anak Harun (ay. 11). Kepada mereka, Daud memberikan perintah serius (ay. 

12): “Hai kamu ini, para kepala puak dari orang Lewi, maka haruslah kamu 

mengangkut tabut Tuhan.” Barang siapa lebih tinggi martabatnya dibandingkan  

yang lain haruslah lebih bertanggung jawab dibandingkan  orang lain. “Kalian 

yaitu  kepala puak, sebab  itu lebih diharapkan, baik dalam melayani 

maupun dalam menuntun orang lain. Awalnya, kalian tidak mengerjakannya, 

tidak melaksanakan tanggung jawab itu sendiri maupun mengajari kami. 

sebab  itu kami menanggung pedihnya: TUHAN, Tuhan  kita, telah menyambar 

di tengah-tengah kita. Kita semua telah menderita sebab  kelalaianmu. Oleh 

tangan kamulah terjadi hal itu (lih. Mal. 1:9). sebab  itu, kuduskanlah dirimu 

dan kerjakanlah tanggung jawabmu.” Ketika orang-orang yang menderita 

sebab  berbuat salah kemudian belajar melakukan yang lebih baik, berarti 

teguran itu sudah diberikan dengan benar. 


 

118 

3. Orang Lewi dan para imam menguduskan diri (ay. 14) dan siap mengangkut 

tabut Tuhan  di atas bahu mereka sesuai dengan hukum Taurat (ay. 15). 

Perhatikanlah, banyak orang yang amat teledor dalam mengemban tanggung 

jawabnya akan berubah dan menjadi lebih baik jika terus diajari dengan 

setia. Hukuman atas Uza membuat para imam lebih berhati-hati 

menguduskan diri, yaitu membersihkan diri mereka dari segala yang 

dianggap najis menurut hukum ibadat serta menyiapkan hati untuk 

melayani Tuhan  yang khidmat, sehingga menimbulkan rasa hormat di antara 

umat. Ada orang-orang yang dijadikan contoh supaya orang lain belajar 

darinya dan berlaku hati-hati. 

4. Para petugas ditunjuk untuk bersiap memberi sambutan bagi tabut Tuhan  

dengan segala bentuk ungkapan sukacita (ay. 16). Daud memerintahkan 

kepala puak orang Lewi untuk menunjuk orang-orang yang diketahui mahir 

dalam tugas pelayanan ini. Heman, Asaf, dan Etan ditunjuk pertama kali (ay. 

17). Tugas mereka yaitu  membunyikan ceracap tembaga (ay. 19), yang lain 

memainkan gambus, kecapi Seminit atau delapan, yaitu kecapi yang nadanya 

delapan tingkat lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan  lainnya berdasarkan 

tatanan paduan suara (ay. 21). Sebagian dari para imam meniup sangkakala 

(ay. 24) seperti biasa dalam pemindahan tabut Tuhan  (Bil. 10:8) dan pada 

perjamuan-perjamuan agung (Mzm. 81:4). Salah seorang ditunjuk untuk me-

mimpin nyanyian (ay. 22, BIS) sebab ia piawai dalam hal itu, bisa menyanyi 

dengan baik dan mampu mengarahkan yang lain. Perhatikan, layanilah 

seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap 

orang (1Ptr. 4:10), dan barang siapa unggul dalam bakat apa pun tidak boleh 

memakainya hanya untuk kebaikan diri mereka sendiri, namun  ajarilah juga 

orang lain dan jangan iri hati dalam menjadikan orang lain sepiawai dirinya. 

Cara memuji Tuhan  dengan alat-alat musik belum pernah dipakai hingga saat 

itu. Namun, sebagai seorang nabi, Daud memulainya dengan petunjuk ilahi 

serta menambahkannya sebagai peraturan-peraturan untuk hidup insani 

dalam masa itu, begitulah istilah yang dipakai sang rasul (Ibr. 9:10). Dalam 

Perjanjian Baru, menyanyikan mazmur tetap dilakukan, namun  tidak ditunjuk 

musisi gerejawi. Sebagian orang diangkat menjadi penunggu pintu gerbang 

(ay. 18), yang lain menjaga pintu pada tabut (ay. 23-24), salah satunya 

yaitu  Obed-Edom. Tidak diragukan, ia memperhitungkan tugasnya itu 

sebagai suatu kehormatan dan menerimanya sebagai upah sebab  telah 

memelihara tabut Tuhan . Selama tiga bulan, ia sudah menjadi pelayan 

sekaligus tuan rumah bagi tabut itu. Namun, saat ia sudah tidak bisa melaku-

kannya lagi, ada kasih sayang dalam dirinya bagi tabut itu hingga ia dengan 

senang hati menjadi penjaga pintunya. 

Kitab 1 Tawarikh 15:1-29 

 

119 

Pemindahan Tabut Tuhan  

 (15:25-29) 

25 Maka Daud dan para tua-tua Israel dan para pemimpin pasukan seribu pergi untuk 

mengangkut tabut perjanjian TUHAN itu dari rumah Obed-Edom dengan sukacita. 26 Dan 

oleh sebab  Tuhan  menolong orang Lewi yang mengangkat tabut perjanjian TUHAN itu, 

maka dipersembahkanlah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan. 27 Daud 

memakai jubah dari kain lenan halus, juga segala orang Lewi yang mengangkat tabut itu 

dan para penyanyi, dan Kenanya yang mengepalai pengangkutan dan para penyanyi. 

Daud juga memakai baju efod dari kain lenan. 28 Seluruh orang Israel mengangkut tabut 

perjanjian TUHAN itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala, nafiri dan ceracap, 

sambil memperdengarkan permainan gambus dan kecapi. 29 Ketika tabut perjanjian 

TUHAN itu sampai ke kota Daud, maka Mikhal, anak wanita  Saul, menjenguk dari 

jendela, lalu melihat raja Daud melompat-lompat dan menari-nari. Sebab itu ia 

memandang rendah Daud dalam hatinya. 

Segala sesuatu telah siap untuk membawa tabut ke kota Daud dan 

menyambutnya di situ. Ayat-ayat ini mencatat khidmatnya upacara 

pengangkutan tersebut dari rumah Obed-Edom. 

I. Tuhan  menolong orang-orang Lewi yang membawanya. Tabut itu bukan 

sesuatu yang sangat berat sehingga orang yang mengangkatnya memerlukan 

pertolongan luar biasa. Namun,  

1. Alangkah baiknya menyadari pertolongan penyelenggaraan ilahi atas hal-

hal yang berada dalam jangkauan kemampuan  kita sekalipun. Jika bukan 

sebab  pertolongan Tuhan , kita tidak bisa bergerak walau selangkah.  

2. Dalam semua perbuatan ibadah, kita harus secara khusus mencari 

pertolongan dari sorga (lih. Kis. 26:22). Seluruh kesanggupan kita untuk 

melakukan tanggung jawab yang suci berasal dari Tuhan .  

3. sebab  mengingat hukuman yang menimpa Uza, orang Lewi mungkin 

gentar saat mengangkat tabut itu. Akan namun , Tuhan  menolong mereka, 

yaitu dengan mendorong mereka, menenangkan rasa takutnya, dan 

menguatkan iman mereka.  

4. Tuhan  menolong mereka melakukannya secara sesuai dan baik tanpa 

membuat kesalahan. Jika kita menjalankan kewajiban ibadah apa pun 

dan lolos dari hukuman dan nyawa kita selamat, maka kita harus 

mengakui bahwa Tuhan -lah yang menolong kita, sebab jika dibiarkan 

sendiri, kita pasti melakukan kegagalan yang berbahaya. Para pelayan 

Tuhan  yang mengemban bejana-bejana Tuhan memerlukan pertolongan 

ilahi secara khusus dalam pelayanan mereka, supaya Tuhan  dimuliakan 

dan jemaat dibangun melalui mereka. Jika Tuhan  menolong orang Lewi, 

umat pun memperoleh berkat dari hal itu. 


 

120 

II. Saat mengalami tanda-tanda penyertaan hadirat Tuhan , mereka 

mempersembahkan korban puji-pujian kepada-Nya (ay. 26). Dalam hal ini 

pun Dia menolong mereka. Lembu jantan dan domba jantan itu 

kemungkinan mereka persembahkan untuk pendamaian atas kesalahan 

sebelumnya, supaya tidak diingat lagi terhadap mereka, juga untuk 

mengakui pertolongan yang sekarang mereka terima. 

III. Ada banyak ungkapan sukacita yang dipakai: musik yang kudus dimainkan, 

Daud menari, para penyanyi berkidung, dan rakyat bersorak (ay. 27-28). Hal 

ini juga telah dicatat sebelumnya dalam 2 Samuel 6:14-15. Dari situ, kita 

belajar bahwa, 

1. Kita melayani Tuan yang baik, yang senang melihat para hambanya 

bekerja dengan menyanyi. 

2. Masa-masa perubahan masyarakat yaitu , dan seharusnya menjadi – 

masa kegirangan rakyat. 

3. Bukanlah suatu kehinaan bagi orang-orang besar untuk menunjukkan 

semangat mereka dalam tindakan ibadah. Mikhal benar-benar 

memandang rendah Daud (ay. 29), namun  penghinaan darinya itu sama 

sekali tidak membuat Daud tercela. Sang raja sendiri tidak 

memperhitungkannya, orang-orang bijak dan baik hati pun tidak 

berpikir buruk tentang Daud (lagi pula, untuk apa kita mengingini 

penghargaan dari manusia?) 

 

 

PASAL  16  

asal ini menuntaskan perkara besar terkait peletakan tabut perjanjian 

Tuhan di kota kerajaan, dan bersamaan dengan peristiwa tersebut, 

penetapan tata ibadah dan penyembahan kepada Tuhan  bagi rakyat selama masa 

pemerintahan Daud. Dalam pasal ini kita temukan, 

I. Upacara khidmat yang mengiringi peletakan tabut perjanjian Tuhan 

(ay. 1-6). 

II. Mazmur yang diberikan Daud untuk dinyanyikan pada kesempatan ini 

(ay. 7-36). 

III. Penetapan tata ibadah penyembahan kepada Tuhan  dan para 

pelayannya sejak saat itu (ay. 37-43). 

Menetapnya Tabut Tuhan  

(16:1-6)  

1 Tabut Tuhan  itu dibawa masuk, lalu diletakkan di tengah-tengah kemah yang dipasang 

Daud untuk itu, kemudian mereka mempersembahkan korban bakaran dan korban 

keselamatan di hadapan Tuhan . 2 Setelah Daud selesai mempersembahkan korban bakaran 

dan korban keselamatan, diberkatinyalah bangsa itu demi nama TUHAN. 3 Lalu 

dibagikannya kepada setiap orang Israel, baik laki-laki maupun wanita , kepada 

masing-masing sekeping roti, sekerat daging dan sepotong kue kismis. 4 Juga diangkatnya 

dari orang Lewi itu beberapa orang sebagai pelayan di hadapan tabut TUHAN untuk 

memasyhurkan TUHAN, Tuhan  Israel dan menyanyikan syukur dan puji-pujian bagi-Nya. 5 

Kepala ialah Asaf dan sebagai orang kedua ialah Zakharia; lalu Yeiel, Semiramot, Yehiel, 

Matica, Eliab, Benaya, Obed-Edom dan Yeiel yang harus memainkan gambus dan kecapi, 

sedang Asaf harus memainkan ceracap 6 dan Benaya serta Yahaziel, imam-imam itu, 

selalu harus meniup nafiri di hadapan tabut perjanjian Tuhan  itu. 

Sungguh hari yang mulia ketika tabut perjanjian Tuhan  telah berdiam dengan 

aman di dalam kemah yang telah dipasang Daud baginya. Orang berbudi baik itu 

memusatkan seluruh hatinya kepada pekerjaan itu, dan tidak bisa tidur lelap 

sampai pekerjaan itu terlaksana (Mzm. 132:4-5). 


 

124 

I. Keadaan tabut itu kini, 

1. Lebih baik dibandingkan  sebelumnya. Sebelumnya, tabut itu terasing di 

sebuah kota di pedalaman, di padang. Kini, tabut itu dipindahkan ke 

tempat umum, yaitu  ke kota kerajaan, sehingga semua orang dapat 

mendatanginya. Sebelumnya, tabut itu terabaikan sebagai sebuah bejana 

yang pecah dan hina. Kini, tabut itu dilayani dengan penuh rasa hormat, 

dan dengan demikian, Tuhan  pun turut dimuliakan. Sebelumnya, tabut itu 

meminjam sebuah kamar di rumah orang, yang menikmati kehadiran 

tabut itu sebagai perkenanan Tuhan . Kini, tabut itu mempunyai 

kediamannya sendiri, yang sepenuhnya dikhususkan baginya, dan 

ditempatkan di tengah-tengah, dan tidak terpojokkan di sudut ruangan. 

Perhatikanlah, meski mungkin terkaburkan dan terhalang pada satu 

masa, firman dan ketetapan Tuhan  pada akhirnya akan bercahaya dan 

keluar dari keterasingan. Namun demikian, 

2. Tempat tabut ini masih jauh dari apa yang direncanakan di masa 

kepemimpinan berikutnya, yaitu  ketika Bait Suci Tuhan  akan didirikan. 

Tempatnya saat ini hanya berupa kemah, kediaman yang rendah dan 

hina. Namun demikian, kemah ini merupakan Kemah Suci, Bait yang 

kerap dibicarakan oleh Daud di dalam mazmur-mazmurnya dengan 

penuh kasih. Daud, yang memancang sebuah kemah untuk tabut Tuhan  

dan setia berpaut kepadanya, berbuat jauh lebih baik dibandingkan  Salomo, 

yang mendirikan sebuah bait untuk tabut Tuhan  namun pada akhir masa 

hidupnya berbalik dibandingkan nya. Masa-masa yang terhina dari jemaat 

sesungguhnya merupakan masa-masa di mana keadaannya paling 

murni. 

II. Kini, tenteramlah pikiran Daud, sebab  tabut Tuhan  telah menetap, dan 

menetap di dekatnya. Sekarang, lihatlah bagaimana Daud memastikan, 

1. Agar Tuhan  beroleh kemuliaan dari menetapnya tabut itu. Daud memberi 

kemuliaan bagi Tuhan  pada kesempatan ini dengan dua cara: 

(1) Melalui korban persembahan (ay. 1), yaitu  korban bakaran untuk 

memuji kesempurnaan-Nya, dan korban keselamatan untuk 

bersyukur atas perkenanan-Nya. 

(2) Melalui nyanyian: Daud menunjuk orang Lewi untuk merekam kisah 

ini dalam sebuah nyanyian demi keuntungan orang lain, atau untuk 

merayakannya di antara mereka sendiri dengan menyanyikan syukur 

dan puji-pujian bagi Tuhan  Israel (ay. 4). Segala sukacita kita harus 

Kitab 1 Tawarikh 16:1-6 

 

125 

diungkapkan melalui pengucapan syukur kepada-Nya, sumber segala 

penghiburan kita. 

2. Agar rakyat dapat menikmati sukacita dari menetapnya tabut itu. Oleh 

sebab  perayaan pada hari ini, rakyat akan hidup semakin baik, sebab  

Daud memberi mereka upah yang pantas atas kedatangan mereka ke 

situ, tidak hanya berupa perjamuan kerajaan untuk menghormati hari 

itu (ay. 3). Ia menunjukkan kemurahan hatinya kepada rakyatnya, oleh 

sebab ia telah mendapati Tuhan  memberikan rahmat kepadanya. Barang-

siapa dibesarkan hatinya oleh sukacita kudus, harus menunjukkan 

kebesaran hatinya itu melalui tindakan murah hati. namun  yang jauh 

lebih bernilai lagi, ia juga memberi mereka berkat demi nama Tuhan, 

sebagai seorang bapa, sebagai seorang nabi (ay. 2). Ia berdoa kepada 

Tuhan  bagi mereka, dan menyerahkan mereka ke dalam kasih karunia-

Nya. Di dalam nama Firman Tuhan (demikianlah dikatakan di dalam 

Targum), yaitu  sang firman yang terutama dan kekal, yang yaitu  

Yehova, dan melalui Dia semua berkat datang kepada kita. 

Mazmur Puji-pujian Daud 

(16:7-36)  

7 Kemudian pada hari itu juga, maka Daud untuk pertama kali menyuruh Asaf dan 

saudara-saudara sepuaknya menyanyikan syukur bagi TUHAN:  

8 Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di 

antara bangsa-bangsa! 9 Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah 

segala perbuatan-Nya yang ajaib! 10 Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah 

bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! 11 Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, 

carilah wajah-Nya selalu! 12 Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, 

mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya, 13 hai anak 

cucu Israel, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya! 14 Dialah TUHAN, 

Tuhan  kita, di seluruh bumi berlaku penghukuman-Nya. 15 Ia ingat untuk selama-lamanya 

akan perjanjian-Nya, akan firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan, 16 

yang diikat-Nya dengan Abraham, dan akan sumpah-Nya kepada Ishak, 17 diadakan-Nya 

bagi Yakub menjadi ketetapan, bagi Israel menjadi perjanjian kekal, 18 firman-Nya: “Kepa-

damu akan Kuberi tanah Kanaan sebagai milik pusaka yang ditentukan bagimu.” 19 Ketika 

jumlah mereka tidak seberapa, sedikit saja, dan mereka orang-orang asing di sana, 20 dan 

mengembara dari bangsa yang satu ke bangsa yang lain, dan dari kerajaan yang satu ke 

suku bangsa yang lain, 21 Ia tidak membiarkan siapapun memeras mereka; dihukum-Nya 

raja-raja oleh sebab  mereka: 22 “Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan 

berbuat jahat terhadap nabi-nabi-Ku!” 23 Bernyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi, 

kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari.  

24 Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya 

yang ajaib di antara segala suku bangsa. 25 Sebab besar TUHAN dan terpuji sangat, dan 

lebih dahsyat Ia dari pada segala Tuhan . 26 Sebab segala Tuhan  bangsa-bangsa yaitu  

berhala, namun  Tuhanlah yang menjadikan langit. 27 Keagungan dan semarak ada di 

hadapan-Nya, kekuatan dan sukacita ada di tempat-Nya. 28 Kepada TUHAN, hai suku-suku 

bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan! 29 Berilah kepada TUHAN kemu-

liaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah menghadap Dia! Sujudlah 


 

126 

menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan. 30 Gemetarlah di hadapan-

Nya hai segenap bumi; sungguh tegak dunia, tidak bergoyang. 31 Biarlah langit bersukacita 

dan bumi bersorak-sorak, biarlah orang berkata di antara bangsa-bangsa: “TUHAN itu 

Raja!” 32 Biarlah gemuruh laut serta isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di 

atasnya, 33 maka pohon-pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia 

datang untuk menghakimi bumi. 34 Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! 

Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 35 Dan katakanlah: “Selamatkanlah 

kami, ya TUHAN Tuhan , Penyelamat kami, dan kumpulkanlah dan lepaskanlah kami dari 

antara bangsa-bangsa, supaya kami bersyukur kepada nama-Mu yang kudus, dan 

bermegah dalam puji-pujian kepada-Mu.” 36 Terpujilah TUHAN, Tuhan  Israel, dari selama-

lamanya sampai selama-lamanya. Maka seluruh umat mengatakan: “Amin! Pujilah 

TUHAN!” 

Di sini kita membaca mazmur ucapan syukur yang, oleh Roh Kudus, digubah 

oleh Daud dan diserahkannya kepada pemimpin biduan untuk dinyanyikan pada 

saat kedatangan tabut Tuhan di tengah-tengah masyarakat untuk masuk ke 

dalam kemah yang telah dipersiapkan baginya. Beberapa penafsir menduga, 

Daud menetapkan nyanyian pujian ini untuk dikumandangkan setiap hari di 

dalam ibadah di Bait Tuhan , dimulai pada saat hari kedatangan tabut itu. Apa pun 

mazmur lain yang mereka nyanyikan, mereka tidak boleh meniadakan mazmur 

ini. Sebelum mazmur ini, Daud telah menulis banyak mazmur, yang beberapa 

digubahnya pada masa kesesakannya akibat penindasan Saul. Meski ditulis 

sebelumnya, mazmur ini kini menjadi yang pertama diserahkan kepada Asaf 

untuk dinyanyikan di tengah jemaat. Mazmur ini dikumpulkan dari beberapa 

mazmur yaitu mulai dari awal hingga ayat 23 diambil dari Mazmur 105:1, dst., 

kemudian dari ayat 23, seluruhnya merupakan isi Mazmur 96, dengan sedikit 

perubahan. Ayat 34 diambil dari Mazmur 136:1 dan dari sejumlah mazmur lain. 

Lalu, dua ayat terakhir diambil dari bagian penutup Mazmur 106. Melihat hal ini, 

beberapa penafsir menilai bahwa kita dibenarkan untuk berbuat serupa, yaitu  

untuk menggubah nyanyian pujian dari mazmur-mazmur Daud dengan mengga-

bungkan bagian yang satu dengan bagian yang lain, sehingga menjadi sesuatu 

yang sungguh layak untuk mengungkapkan dan menggugah ibadah orang 

Kristen. Mazmur-mazmur ini akan dengan lebih baik dijelaskan menurut 

letaknya masing-masing jika Tuhan mengizinkan. Di sini, kita memahami 

mazmur-mazmur ini sebagaimana mereka digabungkan, dengan maksud untuk 

menyanyikan syukur bagi Tuhan (ay. 7), sebuah pekerjaan besar yang harus kita 

laksanakan dengan penuh semangat sambil tetap menerima pertolongan.  

1. Biarlah Tuhan  dimuliakan di dalam puji-pujian kita. Biarlah kehormatan-Nya 

menjadi pusat tempat seluruh garis bertemu. Marilah kita memuliakan-Nya 

dengan ucapan syukur kita, Bersyukurlah kepada Tuhan, melalui doa-doa 

kita yaitu Panggillah nama-Nya (ay. 8). Kemudian melalui puji-pujian kita 

(Bermazmurlah bagi-Nya) dan melalui percakapan kita, Percakapkanlah 

Kitab 1 Tawarikh 16:1-6 

 

127 

segala perbuatan-Nya yang ajaib (ay. 9). Marilah kita memuliakan-Nya seba-

gai Tuhan  yang besar dan terpuji sangat (ay. 25), sebagai Tuhan  yang bertakhta 

di atas semua Tuhan , sebagai satu-satunya Tuhan , sebab  semua yang lain 

yaitu  berhala (ay. 26). Marilah kita mengagungkan-Nya sebagai yang paling 

cemerlang dan terberkati dalam diri-Nya sendiri, Keagungan dan semarak 

ada di hadapan-Nya (ay. 27), sebagai pencipta, Tuhanlah yang menjadikan 

langit, sebagai penguasa atas segala ciptaan, Di seluruh bumi berlaku peng-

hukuman-Nya (ay. 14), dan sebagai kepunyaan kita, Dialah Tuhan, Tuhan  kita. 

Demikianlah, kita harus memberi kepada Tuhan kemuliaan sebab  nama-Nya 

(ay. 28-29), dan mengakui kemuliaan itu, dan lebih lagi, sebagai milik-Nya.  

2. Biarlah orang lain turut dibangun dan diajar: Perkenalkanlah perbuatan-Nya 

di antara bangsa-bangsa (ay. 8), ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara 

bangsa-bangsa (ay. 24), agar orang-orang yang asing terhadap-Nya dapat 

dipimpin agar mengenal-Nya, bersekutu dengan-Nya, lalu memuja-muja-

Nya. Demikianlah kita harus melayani kepentingan kerajaan-Nya di antara 

manusia, supaya seluruh bumi gemetar di hadapan-Nya (ay. 30). 

3. Biarlah diri kita sendiri dikuatkan untuk bermegah dan percaya di dalam 

Tuhan . Orang yang memberi kemuliaan bagi nama Tuhan  diperbolehkan 

bermegah di dalam nama-Nya (ay. 10), untuk menghargai tinggi diri mereka 

sendiri oleh sebab  hubungan mereka dengan Tuhan  dan sebab  berani 

mempertaruhkan diri mereka sendiri pada janji-Nya kepada mereka. Biarlah 

bersukahati orang-orang yang mencari Tuhan, terlebih lagi orang-orang yang 

telah mendapatkan-Nya. Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah wajah-

Nya: artinya, carilah Dia melalui tabut kekuatan-Nya, yang di dalamnya Ia 

mewujudkan diri-Nya sendiri. 

4. Biarlah kovenan yang kekal untuk selama-lamanya itu menjadi pokok utama 

sukacita dan puji-pujian kita (ay. 15): Ingatlah akan perjanjian-Nya. Di 

bagian lain yang menyajikan ayat yang sama, dituliskan demikian, Ia ingat 

untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya (Mzm. 105:8). Melihat bahwa 

Tuhan  tidak akan pernah melupakan kovenan itu, kita juga harus tidak boleh 

sekali-kali melupakannya. Kovenan itu dikatakan sebagai sesuatu yang di-

perintahkan, sebab  Tuhan  telah menetapkan kita untuk mematuhi segala 

persyaratannya, dan sebab  Ia memiliki baik kewenangan untuk membuat 

janji maupun kemampuan untuk menggenapinya. Meski diberikan di masa 

lampau, kovenan ini tidak boleh dilupakan. Walau dibuat dengan Abraham, 

Ishak, dan Yakub, yang telah lama wafat (ay. 16-18), namun kovenan 

tersebut tetap berlaku bagi keturunan rohani, dan janji-janji di dalamnya 

pun tetap dapat dipinta. 


 

128 

5. Biarlah belas kasihan Tuhan  kepada umat-Nya di masa lampau, kepada nenek 

moyang dan para pendahulu kita orang percaya, kita kenang di masa kini 

dengan rasa syukur dan pujian bagi-Nya. Biarlah diingat, bagaimana Tuhan  

melindungi bapa-bapa leluhur ketika mereka belum menetap. Ketika mereka 

tiba sebagai orang asing di Kanaan dan menjadi pendatang di sana, ketika 

jumlah mereka masih sedikit dan bisa saja dengan mudah dilenyapkan, 

ketika mereka terus-menerus berpindah tempat dan dengan demikian 

terpapar bahaya begitu rupa, ketika ada banyak pihak yang membenci 

mereka dan hendak mencelakakan mereka, tidak ada seorang pun yang 

dibiarkan memeras mereka, baik orang Kanaan, orang Filistin, ataupun 

orang Mesir. Raja-raja dihukum dan ditulahi demi bangsa Israel. Tidak hanya 

Firaun, Abimelekh pun demikian. Israellah bangsa yang diurapi Tuhan, yang 

dikuduskan oleh kasih karunia-Nya, yang dikuduskan oleh kemuliaan-Nya, 

dan yang telah menerima pengurapan Roh Kudus. Merekalah para nabi-Nya, 

diajar di dalam perkara-perkara Tuhan  dan ditugaskan untuk mengajari 

orang-orang lain dan para nabi dikatakan sebagai yang diurapi (1Raj. 19:16; 

Yes. 61:1). Maka dari itu, apabila ada yang mengusik umat Israel, mereka 

mengusik biji mata Tuhan  sendiri. Apabila ada yang mencederai umat Israel, 

biarlah akibatnya mereka tanggung sendiri (ay. 19-22).  

6. Biarlah keselamatan besar yang dari Tuhan menjadi pokok utama puji-

pujian kita (ay. 23): Kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari 

ke hari, yaitu (menurut Uskup Patrick) keselamatan oleh Kristus seperti 

yang dijanjikan-Nya. Kita memiliki alasan untuk merayakan keselamatan itu 

dari hari ke hari, sebab  kita beroleh kebaikan dari padanya setiap hari, dan 

inilah pokok ucapan syukur yang tidak akan pernah ada habisnya. 

7. Biarlah Tuhan  disembah dan dipuji melalui ibadah kita terus-menerus 

sebagaimana yang telah Ia tetapkan bagi kita: Persembahkan korban, waktu 

dahulu berupa buah-buahan hasil bumi, kini buah-buahan ucapan bibir dari 

hati (Ibr. 13:15), dan sujudlah menyembah kepada Tuhan dengan berhiaskan 

kekudusan, di tempat-tempat kudus dan dalam sikap yang kudus (ay. 29). 

Kekudusan merupakan keindahan Tuhan, dan juga keindahan segala jiwa 

yang telah dikuduskan serta segala kegiatan ibadah. 

8. Biarlah kerajaan semesta Tuhan  menjadi kegentaran dan sukacita bagi semua 

orang. Marilah kita memuliakannya: Gemetarlah di hadapan-Nya hai segenap 

bumi. Dan marilah kita bersuka di dalamnya: Biarlah langit bersukacita dan 

bumi bersorak-sorak, sebab  Tuhan itu Raja, dan dengan penyelenggaraan-

Nya Ia menetapkan dunia, sehingga meskipun digoyang, dunia tidak dapat 

dicabut, dan penyelenggaraannya, yang diatur oleh Kebijaksanaan Kekal, 

tidak akan dapat dipatahkan (ay. 30-31).  

Kitab 1 Tawarikh 16:1-6 

 

129 

9. Biarlah penantian akan datangnya penghakiman di kemudian hari 

mengilhami kita dengan kebahagiaan luar biasa. Biarlah bumi dan laut, 

padang dan hutan, meski segalanya akan binasa pada hari Tuhan yang 

dahsyat, bersukacita bahwa Dia akan datang, pasti datang, untuk 

menghakimi bumi (ay. 32-33). 

10. Di tengah-tengah puji-pujian kita, kita tidak boleh lupa berdoa memohon 

pertolongan dan kelegaan bagi orang-orang kudus dan para pelayan Tuhan  

yang berada dalam kesesakan (ay. 35): Selamatkanlah kami, kumpulkanlah 

kami, lepaskanlah kami dari antara bangsa-bangsa, yaitu  orang-orang dari 

antara kita yang terserak dan tertindas. Pada waktu kita bersukacita oleh 

sebab  perkenanan Tuhan  kepada kita, kita harus mengingat saudara-saudara 

kita yang menderita, dan berdoa bagi keselamatan serta kelepasan mereka, 

seperti halnya keselamatan dan kelepasan kita sendiri. Kita masing-masing 

yaitu  anggota yang seorang terhadap yang lain, sehingga oleh sebab itu 

ketika kita bermaksud mengatakan, “Tuhan, selamatkanlah mereka,” tidaklah 

salah untuk mengatakan, “Tuhan, selamatkanlah kami.” Terakhir, marilah 

kita menjadikan Tuhan  sebagai Alfa dan Omega dari puji-pujian kita. Daud 

memulai dengan (ay. 8), Bersyukurlah kepada Tuhan, dan mengakhiri dengan 

(ay. 36), Terpujilah Tuhan. Di tempat di mana doksologi (doa pujian) ini 

dikutip (Mzm. 106:48), ditambahkan, Biarlah seluruh umat mengatakan: 

“Amin!” Haleluya!, sedang  pada pasal ini, kita menemukan bahwa mereka 

berbuat menurut panduan tersebut: Seluruh umat mengatakan: “Amin! 

Pujilah Tuhan!” Sewaktu orang Lewi telah menyelesaikan mazmur atau doa 

dan pujian ini, umat yang hadir dengan serentak, tepat pada saat itu, 

menyatakan persetujuan dan kepatuhan mereka dengan berkata, Amin. 

Demikianlah mereka memuji Tuhan, tak ayal lagi sebab  begitu tersentuh 

oleh cara penyembahan yang baru ditetapkan ini, yang sampai saat itu hanya 

dilaksanakan di sekolah-sekolah para nabi (1Sam. 10:5). Dan, apabila cara 

memuji Tuhan  ini pada pemandangan Tuhan  lebih baik dari pada sapi jantan, 

dari pada lembu jantan yang bertanduk dan berkuku belah, orang-orang yang 

rendah hati akan melihat dan bersukacitalah (Mzm. 69:32-33). 

Pelayanan Tabut Perjanjian 

(16:37-43)  

37 Lalu Daud meninggalkan di sana di hadapan tabut perjanjian TUHAN itu Asaf dan 

saudara-saudara sepuaknya untuk tetap melayani di hadapan tabut itu seperti yang patut 

dilakukan setiap hari; 38 juga Obed-Edom dan saudara-saudara sepuaknya yang enam 

puluh delapan orang itu; Obed-Edom bin Yedutun dan Hosa yaitu  penunggu-penunggu 

pintu gerbang. 39 namun  Zadok, imam itu, dan saudara-saudara sepuaknya, para imam, 


 

130 

ditinggalkannya di hadapan Kemah Suci TUHAN di bukit pengorbanan yang di Gibeon, 40 

supaya pagi dan petang tetap dipersembahkan korban bakaran kepada TUHAN di atas 

mezbah korban bakaran, dan supaya dikerjakan segala yang tertulis dalam Taurat TUHAN 

yang diperintahkan-Nya kepada orang Israel.  

41 Dan bersama-sama mereka ikut Heman dan Yedutun dan selebihnya dari orang-orang 

yang terpilih, yang ditunjuk dengan disebut namanya untuk menyanyikan: “Syukur bagi 

TUHAN. Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” 42 Pada Heman dan 

Yedutun itu ada nafiri dan ceracap untuk para pemain, juga alat-alat musik pengiring 

nyanyian untuk Tuhan . Dan anak-anak Yedutun harus menjaga pintu gerbang. 43 Sesudah 

itu pergilah seluruh bangsa itu masing-masing ke rumahnya, dan Daud pulang untuk 

memberi salam kepada seisi rumahnya. 

Penyembahan kepada Tuhan  bukanlah sesuatu yang dikerjakan hanya pada hari 

raya ini dan itu, demi menambah kemuliaan dari kemegahan hari tersebut, 

melainkan harus dikerjakan setiap hari. Oleh sebab itu, Daud di dalam pasal ini 

memutuskan agar ibadah penyembahan kepada Tuhan  itu harus 

berkesinambungan. Oleh sebab  itu ia menetapkan aturan pelayanan ibadah, 

dan mewajibkan orang-orang yang telah ditunjuknya sebagai pejabat untuk 

melaksanakannya sesuai kedudukan masing-masing. Di dalam Kemah Suci Musa, 

dan kemudian di dalam Bait Suci Salomo, tabut perjanjian dan mezbah berada 

bersama-sama, namun  semenjak zaman Eli, keduanya terpisahkan, dan terus 

demikian sampai didirikannya Bait Suci. Saya tidak dapat mengerti apa alasan 

Daud, yang mengenal hukum Taurat dan gigih melaksanakannya, tidak 

membawa tabut perjanjian ke Gibeon, tempat Kemah Suci dan mezbah berada, 

atau membawa Kemah Suci dan mezbah itu ke bukit Sion, tempat tabut 

perjanjian berada. Mungkin tenda-tenda dan tirai-tirai di Kemah Suci Musa 

sudah sedemikian usangnya akibat dimakan waktu dan cuaca sehingga tidak 

layak untuk dipindahkan, dan juga tidak layak menjadi tempat penyimpanan 

tabut perjanjian. Pun demikian, Daud tidak membuat semuanya itu baru, selain 

dari sebuah kemah bagi tabut perjanjian, sebab  saat itu sudah dekat waktunya 

bagi Bait Suci untuk didirikan. Apa pun alasannya, selama masa Daud, tabut per-

janjian, Kemah Suci, serta mezbah terpisahkan, namun  Daud memastikan bahwa 

tidak ada dari ketiganya yang dibiarkan tidak terurus. 

1. Di Yerusalem, tempat tabut perjanjian berada, Asaf dan saudara-saudaranya 

ditunjuk untuk mengurus, untuk tetap melayani di hadapan tabut itu, dengan 

nyanyian puji-pujian, seperti yang patut dilakukan setiap hari (ay. 37). Di 

sana, tidak ada korban dipersembahkan dan juga tidak ada ukupan dibakar, 

sebab  memang tidak ada mezbah di sana. Akan namun , doa-doa Daud 

dipanjatkan seperti persembahan ukupan, dan tangannya yang terangkat 

seperti persembahan korban pada waktu petang (Mzm. 141:2). Begitu 

dininya penyembahan rohani berlangsung di dalam upacara penyembahan.  

Kitab 1 Tawarikh 16:1-6 

 

131 

2. Namun demikian, upacara penyembahan, yang merupakan ketetapan Tuhan , 

sama sekali tidak boleh dihapuskan. Maka dari itu, di Gibeon, tempat mezbah 

berada, para imam melayani di sana, sebab  mereka bertugas 

mempersembahkan korban dan membakar ukupan, yang mereka perbuat 

pagi dan petang dengan tetap, menurut segala yang tertulis dalam Taurat 

Tuhan (ay. 39-40). Semuanya ini harus terus dilaksanakan, meski nilainya 

tidak lebih bernilai dibandingkan  ibadat doa dan puji-pujian secara rohani, 

sebab  semua upacara penyembahan itu merupakan perlambang dari 

keperantaraan Kristus. sebab  itu mereka sangat menghormati semua 

upcara itu dan melaksanakannya, sebab  dampaknya sangat besar. Di 

tempat inilah Zadok bertugas mengawasi jalannya pelayanan mezbah, 

sementara (tampaknya) Abyatar tinggal di Yerusalem untuk melayani tabut 

perjanjian, sebab  tutup dada pernyataan keputusan, yang harus dimintai 

petunjuk di hadapan tabut perjanjian, ada padanya. Inilah alasan mengapa di 

zaman Daud, Zadok dan Abyatar sama-sama menjadi imam (2Sam. 8:17; 

20:25), yang satu bertugas di tempat mezbah berada, satunya lagi di tempat 

tabut perjanjian berada. Di Gibeon, tempat mezbah berada, Daud juga 

menetapkan orang-orang yang terpilih, yang ditunjuk dengan disebut 

namanya untuk menyanyikan: “Syukur bagi Tuhan”, dan isi dari seluruh 

nyanyian mereka haruslah demikian, Bahwasanya untuk selama-lamanya 

kasih setia-Nya (ay. 41). Mereka melakukannya dengan alat-alat pengiring 

nyanyian untuk Tuhan , yaitu alat-alat yang telah ditetapkan dan dilayakkan 

untuk pelayanan ini, dan bukan yang mereka pergunakan pada berbagai 

kesempatan lain. Antara kegirangan biasa dan sukacita kudus, terdapat 

perbedaan yang sangat besar, sehingga batasan dan jarak di antara 

keduanya harus dengan seksama diperhatikan dan dijaga. Dengan 

diputuskannya segala perkara seperti demikian, dan urusan-urusan 

keagamaan telah diselesaikan dengan akhir yang membahagiakan, maka  

(1) Rakyat pun merasa puas dan pulang ke rumah dengan sukacita. 

(2) Daud pulang untuk memberi salam kepada seisi rumahnya, dengan 

tekad untuk tetap menyelenggarakan ibadah penyembahan di tengah 

keluarganya, yang tidak boleh digantikan oleh ibadah penyembahan 

umum. 

 

 

PASAL  17  

asal yang istimewa ini sama dengan Kitab 2 Samuel 7. Ada gunanya bagi kita 

untuk melihat kembali apa yang tertulis di kitab itu. Secara umum, ada dua 

hal yang kita jumpai di dalamnya: 

I. Penerimaan Tuhan  yang penuh rahmat terhadap rencana Daud untuk 

mendirikan bagi-Nya sebuah rumah, dan janji yang dibuat-Nya terkait hal 

itu (ay. 1-15). 

II. Penerimaan Daud yang penuh rahmat terhadap janji Tuhan  yang baik ini, 

untuk mendirikan baginya sebuah rumah, yaitu keturunan, dan doa yang 

diucapkannya terkait hal itu (ay. 16-27).  

Janji Tuhan  kepada Daud 

(17:1-15)  

1 Setelah Daud menetap di rumahnya, berkatalah ia kepada nabi Natan: “Lihatlah, aku ini 

diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut perjanjian TUHAN itu ada di bawah 

tenda-tenda.” 2 Lalu berkatalah Natan kepada Daud: “Lakukanlah segala sesuatu yang 

dikandung hatimu, sebab Tuhan  menyertai engkau.” 3 namun  pada malam itu juga 

datanglah firman Tuhan  kepada Natan, demikian: 4 “Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku 

Daud: Beginilah firman TUHAN: Bukanlah engkau yang akan mendirikan rumah bagi-Ku 

untuk didiami. 5 Aku tidak pernah diam dalam rumah sejak Aku menuntun orang Israel 

keluar sampai hari ini, namun  Aku mengembara dari kemah ke kemah, dan dari kediaman 

ke kediaman. 6 Selama Aku mengembara bersama-sama seluruh orang Israel, pernahkah 

Aku mengucapkan firman kepada salah seorang hakim orang Israel, yang Kuperintahkan 

menggembalakan umat-Ku, demikian: Mengapa kamu tidak mendirikan bagi-Ku rumah 

dari kayu aras? 7 Oleh sebab itu, beginilah kaukatakan kepada hamba-Ku Daud: Beginilah 

firman TUHAN semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika 

menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel. 8 Aku telah 

menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segala 

musuhmu dari depanmu. Aku akan membuat namamu seperti nama orang-orang besar 

yang ada di bumi. 9 Aku akan menentukan tempat bagi umat-Ku Israel dan akan mena-

namkannya, sehingga ia dapat diam di tempatnya sendiri dengan tidak lagi dikejutkan 

dan tidak pula ditekan oleh orang-orang lalim seperti dahulu, 10 sejak Aku mengangkat 

hakim-hakim atas umat-Ku Israel. Aku akan menundukkan segala musuhmu. Juga Aku 

beritahukan kepadamu: TUHAN akan membangun suatu keturunan bagimu. 11 Apabila 


 

136 

umurmu sudah genap untuk pergi mengikuti nenek moyangmu, maka Aku akan 

membangkitkan keturunanmu yang kemudian, salah seorang anakmu sendiri, dan Aku 

akan mengokohkan kerajaannya. 12 Dialah yang akan mendirikan rumah bagi-Ku dan Aku 

akan mengokohkan takhtanya untuk selama-lamanya. 13 Aku akan menjadi Bapanya, dan 

ia akan menjadi anak-Ku. namun  kasih setia-Ku tidak akan Kuhilangkan dari padanya 

seperti yang Kuhilangkan dari pada orang yang mendahului engkau. 14 Dan Aku akan 

menegakkan dia dalam rumah-Ku dan dalam kerajaan-Ku untuk selama-lamanya dan 

takhtanya akan kokoh untuk selama-lamanya.” 15 Tepat seperti perkataan ini dan tepat 

seperti penglihatan ini Natan berbicara kepada Daud. 

Mari kita cermati di sini, 

I. Betapa besar hasrat dan kepedulian yang harus dimiliki orang-orang baik 

untuk melayani kepentingan kerajaan Tuhan  di dunia, hingga titik 

kemampuan mereka yang terakhir. Daud tidak bisa tinggal tenang di dalam 

rumah yang terbuat dari kayu aras sementara tabut perjanjian Tuhan diam 

di dalam tenda (ay. 1). Permasalahan yang menyangkut masyarakat harus 

senantiasa menjadi perhatian kita. Bagaimana mungkin kita dapat menik-

mati kesejahteraan kita sementara kita tidak melihat ada kesejahteraan di 

Yerusalem? Ketika derajat Daud ditinggikan dengan harta kekayaan dan 

kekuasaan, lihatlah apa yang menjadi kepedulian dan rancangannya. Dia 

tidak berpikir seperti ini, “Apa yang akan kulakukan bagi anak-anakku untuk 

membagi-bagikan bagian-bagian kepada mereka? Apa yang akan kulakukan 

untuk mengisi perbendaharaan hartaku dan memperluas wilayah kekuasa-

anku?”, melainkan, “Apa yang akan kulakukan bagi Tuhan  demi melayani dan 

memuliakan-Nya?” Orang-orang yang memikirkan perihal ke mana akan 

menyalurkan buah kerja serta kebaikan mereka, akan berbuat baik dengan 

menanyakan bagaimana keadaan tabut perjanjian Tuhan, dan apakah ada 

orang-orang lain yang tidak menikmati kelimpahan itu. 

II. Seberapa sigap nabi-nabi Tuhan  harus bersikap untuk mendukung setiap 

rencana luhur. Natan dengan segera menyadari rancangan Daud yang baik, 

sehingga ia pun meminta Daud untuk pergi dan melakukan segala sesuatu 

yang dikandung hatinya (ay. 2), sebab  ia sungguh yakin bahwa Tuhan  beserta 

Daud dalam melaksanakan rencana itu. Para hamba Tuhan harus 

membangkitkan talenta dan karunia yang terdapat di dalam diri orang lain, 

dan dalam diri mereka sendiri. 

III. Betapa kecilnya kepedulian Tuhan  terhadap kemegahan dan semarak ibadah 

lahiriah kita. Tabut perjanjian-Nya sudah berpuas meski hanya berdiam di 

bawah kemah (ay. 5), dan Dia tidak pernah sama sekali mengucapkan 

sesuatu tentang mendirikan sebuah rumah bagi tabut-Nya. Tidak, bahkan 

Kitab 1 Tawarikh 17:1-15 

 

137 

ketika Dia telah menetapkan umat-Nya diam di kota-kota yang besar dan 

baik yang tidak mereka dirikan (Ul. 6:10). Tuhan  memerintahkan hakim-

hakim-Nya untuk menggembalakan umat-Nya, namun  tidak pernah menyuruh 

mereka untuk mendirikan bagi-Nya rumah (ay. 6). Kita harus dapat berpuas 

diri untuk sementara waktu berdiam di tempat yang hina, sebab  tabut 

perjanjian Tuhan  pun demikian. 

IV. Betapa baiknya Tuhan  menerima rancangan baik umat-Nya, meski Ia sendiri 

mencegah terlaksananya rancangan itu. Daud dilarang mendirikan rumah 

bagi-Nya (ay. 4). Daud memang harus mempersiapkannya, namun  tidak boleh 

mendirikannya, seperti halnya Musa yang harus membawa Israel melihat 

Kanaan, namun  kemudian harus menyerahkannya kepada Yosua untuk 

membawa mereka mendiaminya. Kristus memiliki hak istimewa untuk 

menjadi pencetus dan penuntas karya-Nya. Namun demikian, Daud tidak 

boleh berpikir bahwa sebab  ia tidak diizinkan untuk mendirikan rumah 

bagi Tuhan , maka 

1. Pengangkatannya ke derajat yang lebih mulia itu sia-sia. Sama sekali 

tidak demikian. “Akulah yang mengambil engkau dari padang, meski 

bukan untuk menjadi orang yang mendirikan rumah Tuhan, namun  untuk 

menjadi raja atas umat-Ku Israel. Cukuplah semua itu menjadi kemuliaan 

bagimu. Berikan kemuliaan yang lain kepada orang yang akan bangkit 

setelahmu”  (ay. 7). Mengapa seorang manusia berpikiran untuk menge-

rahkan seluruh perhatiannya mengerjakan pekerjaan dan menuntaskan 

segala pekerjaan baik sampai sempurna? Biarlah ada pekerjaan yang 

ditinggalkan bagi orang yang akan datang kemudian. Tuhan  telah 

memberikan kepada Daud kemenangan dan telah membuat namanya 

besar (ay. 8). Lebih lanjut, Tuhan , melalui Daud, berkenan untuk 

meneguhkan umat-Nya Israel dan mengamankan mereka dari musuh-

musuh mereka (ay. 9). Ini harus menjadi pekerjaan Daud, yang yaitu  

seorang pahlawan perang dan memang tepat untuk pekerjaan tersebut. 

sebab  itu, ia harus menyerahkan upaya pendirian jemaat-jemaat 

kepada orang yang tidak pernah menjadi seorang prajurit. Daud pun 

juga, 

2. Tidak boleh berpikir bahwa maksud baiknya itu sia-sia, dan bahwa ia 

akan kehilangan upah dari keinginannya itu. Tidak demikian, sebab  

perbuatan Tuhan -lah yang mencegah perwujudan maksud baiknya itu. Ia 

tetap akan mendapat upah, seolah-olah ia sendiri yang telah 

melaksanakannya. “TUHAN akan membangun suatu keturunan bagimu 

dan menyertakan mahkota Israel kepada keturunannya itu” (ay. 10). 


 

138 

Apabila di dalam hati ada kerelaan, maka tidak hanya kerelaan itu akan 

diterima, namun  juga akan diberi imbalan. Daud juga,  

3. Tidak boleh berpikir bahwa sebab  dia tidak akan melaksanakan 

pekerjaan baik ini, maka rancangan tersebut tidak akan pernah 

terlaksana, dan bahwa sia-sia saja memikirkannya. Tidaklah demikian, 

Aku akan membangkitkan keturunanmu yang demikian, dan dialah yang 

akan mendirikan rumah bagi-Ku (ay. 11-12). Rumah Tuhan  akan dibangun 

pada waktu yang telah ditetapkan, meski kita mungkin tidak akan 

mendapat kehormatan membantu mendirikannya atau mendapat kepuas-

an untuk menyaksikan rumah tersebut didirikan. Daud juga, 

4. Tidak boleh membatasi pikirannya hanya dengan kemakmuran 

keluarganya yang bersifat sementara, melainkan harus menghibur diri 

dengan harapan akan adanya kerajaan Mesias, yang akan berasal dari 

keturunannya, dan yang takhtanya akan kokoh untuk selama-lamanya 

(ay. 14). Salomo sendiri tidak selamanya teguh berada di dalam rumah 

Tuhan  seperti yang seharusnya dilakukannya, demikian pula keluarganya 

tidak teguh berada di dalam kerajaan: “Akan namun , akan terlahir 

seorang dari keturunanmu yang akan Kutegakkan di dalam rumah-Ku 

dan kerajaan-Ku.” Ini menandakan bahwa Dia akan sekaligus menjadi 

seorang imam besar di dalam rumah Tuhan  serta pelaksana tunggal dari 

perkara-perkara kerajaan Tuhan  di tengah-tengah manusia, segala kuasa 

di sorga dan di bumi, di dalam rumah dan kerajaan, di dalam jemaat dan 

dunia. Dia akan menjadi imam di sebelah kanan-Nya, dan permufakatan 

tentang damai akan ada di antara mereka berdua, dan Dialah yang akan 

mendirikan bait Tuhan (Za. 6:12-13). 

Pengakuan Syukur Daud 

(17:16-27)  

16 Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN sambil 

berkata: “Siapakah aku ini, ya TUHAN Tuhan , dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau 

membawa aku sampai sedemikian ini? 17 Dan hal ini masih kurang di mata-Mu, ya Tuhan ; 

sebab itu Engkau telah berfirman juga tentang keluarga hamba-Mu ini dalam masa yang 

masih jauh dan telah memperlihatkan kepadaku serentetan manusia yang akan datang, ya 

TUHAN Tuhan . 18 Apakah lagi yang dapat ditambahkan Daud kepada-Mu dalam hal Engkau 

memuliakan hamba-Mu ini? Bukankah Engkau yang mengenal hamba-Mu ini? 19 Ya 

TUHAN, oleh sebab  hamba-Mu ini dan menurut hati-Mu Engkau telah melakukan segala 

perkara yang besar ini dengan memberitahukan segala perkara yang besar itu. 20 Ya 

TUHAN, tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Tuhan  selain Engkau menurut 

segala yang kami tangkap dengan telinga kami. 21 Dan bangsa manakah di bumi seperti 

umat-Mu Israel, yang Tuhan nya pergi membebaskannya menjadi umat-Nya, untuk 

mendapat nama bagi-Mu dengan perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat, dan 

dengan menghalau bangsa-bangsa dari depan umat-Mu yang telah Kaubebaskan dari 

Kitab 1 Tawarikh 17:1-15 

 

139 

Mesir? 22 Engkau telah membuat umat-Mu Israel menjadi umat-Mu untuk selama-lamanya 

dan Engkau, ya TUHAN, menjadi Tuhan  mereka. 23 Dan sekarang, ya TUHAN, diteguhkanlah 

untuk selama-lamanya janji yang Kauucapkan mengenai hamba-Mu ini dan mengenai 

keluarganya dan lakukanlah seperti yang Kaujanjikan itu. 24 Maka nama-Mu akan menjadi 

teguh dan besar untuk selama-lamanya, sehingga orang berkata: TUHAN semesta alam, 

Tuhan  Israel yaitu  Tuhan  bagi orang Israel; maka keluarga hamba-Mu Daud akan tetap 

kokoh di hadapan-Mu. 25 Sebab Engkau, ya Tuhan ku, telah menyatakan kepada hamba-Mu 

ini, bahwa Engkau akan membangun keturunan baginya. Itulah sebabnya hamba-Mu ini 

telah memberanikan diri untuk memanjatkan doa ke hadapan-Mu. 26 Oleh sebab itu, ya 

TUHAN, Engkaulah Tuhan  dan telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hamba-Mu. 

27 Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap 

ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab apa yang Engkau berkati, ya TUHAN, 

diberkati untuk selama-lamanya.” 

Kita membaca di sini doa Daud yang begitu tulus kepada Tuhan , sebagai jawaban 

atas pesan penuh rahmat yang diterimanya dari pada-Nya. Oleh iman, ia 

menerima janji-janji itu, menyambutnya, dan menjadi yakin olehnya, seperti 

halnya yang dikerjakan para bapa leluhur (Ibr. 11:13). Betapa dengan rendah hati 

ia merendahkan dirinya sendiri di dalam doanya, dan mengakui ketidaklayakan 

dirinya! Betapa tingginya ia meninggikan nama Tuhan  dan mengagumi anugerah 

dan perkenanan-Nya yang penuh perlindungan! Betapa dengan hati yang penuh 

ibadah kepada Tuhan  ia memuliakan Tuhan  Israel, dan betapa tingginya ia 

menghargai Israel kepunyaan Tuhan ! Ia menerima janji itu dengan keyakinan 

penuh, dengan iman yang sungguh hidup! Betapa ini menjadi contoh teladan 

bagi kita bagaimana menaikkan doa yang penuh kerendahan hati, penuh keper-

cayaan, dan kegigihan! Demikianlah Tuhan memampukan kita semua untuk 

mencari Dia! Hal-hal ini sebagian besar telah dicermati di dalam Kitab 2 Samuel 

7. Oleh sebab itu, pada pasal ini, kita hanya mencermati sejumlah kecil ungkapan 

di dalam doa ini, seperti yang kita baca di dalam pasal ini, yang berbeda dengan 

yang terdapat di dalam Kitab 2 Samuel 7, beserta beberapa tambahan. 

I. Ungkapan yang diutarakan di dalam Kitab 2 Samuel 7 dalam bentuk 

pertanyaan Inikah kehormatan bagi manusia, ya Tuhan Tuhan ? (KJV), pada 

kitab ini disampaikan dalam bentuk pengakuan: “Engkau melihatku sebagai 

orang terpandang (KJV). Engkau telah menjadikanku orang besar, dan 

memperlakukan aku dengan sepantasnya.” Melalui kovenan yang diadakan-

Nya dengan kita, Ia mengakui hubungan-Nya dengan kita, sehingga Ia 

mengakui kita sebagai orang-orang percaya, menyebut kita demikian, dan 

melimpahkan segala karunia kepada kita. Juga, Ia menyiapkan segala 

keperluan kita, dan memandang kita sebagai orang terpandang, meski kita 

hina dan jahat. Setelah Ia sendiri menguduskan kita, Ia lalu memperlakukan 

kita sebagai orang-orang pilihan, menurut derajat yang dengan sukacita 

telah disematkan-Nya kepada kita. Beberapa orang menafsirkan kata-kata 


 

140 

dalam pasal ini sebagai berikut: “Engkau telah memandangku dalam rupa 

seorang manusia yang paling mulia, Tuhan Tuhan ,” atau “Engkau telah mem-

buatku melihat, menurut rupa seorang manusia, kemuliaan Tuhan Tuhan .” 

Dengan ini, perkataan tersebut mengacu kepada Mesias, sebab , seperti 

halnya Abraham, demikian halnya Daud, telah melihat hari-Nya dan 

bersukacita, melihatnya dengan iman, melihatnya dalam keadaan sebagai 

manusia, bahwa Firman itu telah menjadi manusia, dan akan melihat 

kemuliaan-Nya, yaitu  kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak 

Tunggal Bapa. Inilah yang dikatakan Tuhan  mengenai kaum keluarga Daud 

yang akan datang, di mana penglihatan akan hal itu sangat menyentuh 

dirinya lebih dari apa pun. Janganlah dianggap aneh bahwa Daud berbicara 

dengan begitu lugasnya mengenai dua natur Kristus. Di dalam roh ia 

memanggil-Nya Tuhan, meskipun ia tahu bahwa diri-Nya akan menjadi 

Anak-Nya (Mzm. 110:1), dan melihat Kristus untuk waktu yang singkat 

sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, namun  kemudian 

dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat (Ibr. 2:6-7).  

II. Setelah perkataan berikut, Apakah lagi yang dapat ditambahkan Daud 

kepada-Mu, di dalam pasal ini ditambahkan, dalam hal Engkau memuliakan 

hamba-Mu ini? (ay. 18). Catatlah, kehormatan yang diberikan Tuhan  kepada 

hamba-hamba-Nya, dengan membawa mereka masuk ke dalam kovenan dan 

persekutuan dengan diri-Nya sendiri, begitu mulia sehingga mereka tidak 

perlu, bahkan mereka tidak mampu, menginginkan untuk diberi kehormatan 

yang lebih tinggi lagi. Andai kata mereka duduk dan berharap, mereka tidak 

bisa lagi berbicara demi kehormatan mereka sendiri melebihi apa yang telah 

dikatakan oleh firman Tuhan . 

III. Jelas terlihat bahwa apa yang di dalam Kitab Samuel dikatakan sebagai oleh 

sebab  firman-Mu, di dalam kitab ini dikatakan sebagai oleh sebab  hamba-

Mu (ay. 19). Yesus Kristus yaitu  Firman Tuhan  (Why. 19:13) sekaligus 

Hamba Tuhan  (Yes. 42:1), dan demi Kristuslah, di atas segala perenungan-

Nya, janji itu dibuat dan digenapi demi semua orang percaya. Di dalam diri-

Nyalah orang percaya menjadi ya dan amin. Demi Kristus, seluruh kebaikan 

dikerjakan, demi Kristus, kebaikan itu diberitakan. Kepada Dialah, kita 

berutang seluruh kemuliaan ini, dan dari Dialah kita harus mengharapkan 

seluruh hal mulia ini, yaitu  kekayaan Kristus yang tidak terduga itu, yang, 

apabila oleh iman kita melihat kekayaan itu dan melihatnya di tangan Tuhan 

Yesus, tidak bisa tidak kita elu-elukan sebagai hal-hal besar, satu-satunya ke-

muliaan sejati, dan selayaknya memperkatakannya dengan penuh hormat. 

Kitab 1 Tawarikh 17:1-15 

 

141 

IV. Di dalam Kitab Samuel, Tuhan semesta alam dikatakan sebagai Tuhan  atas 

Israel, sementara di dalam kitab ini, Tuhan semesta alam dikatakan sebagai 

Tuhan  Israel, yaitu Tuhan  bagi orang Israel (ay. 24). Tuhan , sebagai Tuhan  atas 

Israel, memperlihatkan sifat Tuhan  yang mempunyai nama sebagai Tuhan  

mereka, dan dengan demikian memanggil diri-Nya sendiri demikian. Tuhan , 

sebagai Tuhan  bagi Israel, memperlihatkan tanggapan-Nya terhadap nama 

itu, tindakan-Nya menggenapi hubungan itu, dan segala perbuatan yang 

diharapkan dari pada-Nya kepada mereka. Ada yang disebut Tuhan -Tuhan  atas 

bangsa ini dan itu, Tuhan  Asyur dan Mesir, Tuhan  Hamat dan Arpad. namun  

mereka ini bukanlah Tuhan -Tuhan  bangsa Israel, sebab  mereka semua tidak 

pernah menolong orang Israel, hanya isapan jempol belaka, tiada lain selain 

sebuah nama. Akan namun , Tuhan  atas Israel yaitu  Tuhan  bagi Israel, segala 

sifat dan kesempurnaan-Nya ditujukan bagi kebaikan dan keuntungan 

mereka yang sejati. Berbahagialah bangsa yang Tuhan nya ialah Tuhan, sebab  

Ia akan menjadi Tuhan  atas mereka, Tuhan  yang mencukupkan semuanya. 

V. Kata-kata penutup yang tertulis di dalam Kitab Samuel yaitu  demikian, 

Oleh sebab  berkat-Mu keluarga hamba-Mu ini diberkati untuk selama-

lamanya. Inilah ungkapan suatu kerinduan kudus. Akan namun , kata-kata 

penutup di dalam pasal ini yaitu  ungkapan sebuah iman yang paling kudus: 

Apa yang Engkau berkati, ya Tuhan, diberkati untuk selama-lamanya (ay. 27). 

1. Daud terdorong untuk memohon berkat sebab  Tuhan  telah me-

nunjukkan kepadanya bahwa Ia mempunyai berkat tersimpan bagi Daud 

dan keluarganya: “Engkau memberkati, ya Tuhan! Maka dari itu, kepada 

Engkaulah segala makhluk akan datang untuk memohon berkat, kepada 

Engkaulah aku datang untuk memohon berkat yang telah dijanjikan 

kepadaku.” Janji dimaksudkan untuk mengarahkan doa dan menghidup-

kannya. Bukankah Tuhan  telah berkata, Aku akan memberkati? Biarlah 

hati kita menjawab, Tuhan, berkati aku. 

2. Daud dengan sepenuh hati memohon berkat sebab  ia percaya bahwa 

orang yang diberkati Tuhan  benar-benar terberkati dan untuk selama-

lamanya terberkati: Apa yang Engkau berkati, diberkati untuk selama-

lamanya. Manusia tidak dapat berbuat apa pun selain memohon berkat. 

Tuhan -lah yang memerintahkan berkat. Apa yang dirancang Tuhan , 

dikerjakan-Nya, dan apa yang dijanjikan Tuhan , digenapi-Nya. Bagi Tuhan, 

perkataan dan perbuatan bukanlah dua hal yang terpisah. Semuanya itu 

akan diberkati untuk selama-lamanya. Berkat-Nya tidak akan dibatalkan, 

tidak dapat ditentang, dan kebaikan yang didatangkan oleh berkat-Nya 

akan terus bertahan melewati masa. Doa Daud ditutup sama dengan janji 


 

142 

Tuhan  ditutup (ay. 14), yaitu  dengan kata selama-lamanya. Firman Tuhan  

tertuju kepada hal-hal yang bersifat kekal, sehingga demikianlah kerin-

duan dan harapan kita juga harus tertuju. 

 

 

PASAL  18  

alam pasal sebelumnya kita telah membaca tentang kesalehan Daud dan 

doanya. Di sini, dalam pasal ini,  seperti yang patut diharapkan orang, 

segera mengikuti sebuah kisah tentang kesejahteraan Daud. Sebab orang-orang 

yang mencari dahulu kerajaan Tuhan  dan kebenarannya, seperti yang dilakukan 

oleh Daud di sini, maka semuanya akan ditambahkan kepada mereka oleh Tuhan  

untuk kebaikan mereka. Demikianlah dalam pasal ini,  

I. Keberhasilan Daud di luar negeri. Ia menaklukkan orang Filistin (ay. 1), 

orang Moab (ay. 2), raja Zoba (ay. 3-4), orang Aram (ay. 5-8), 

menjadikan raja Hamat sebagai jajahannya (ay. 9-11), dan orang Edom 

(ay. 12-13).  

II. Kesejahteraan Daud di dalam negeri. Istana dan kerajaan Daud 

berkembang (ay. 14-17). Dan semuanya ini telah dikisahkan 

sebelumnya (2Sam. 8). 

Kemenangan-kemenangan Daud 

(18:1-8) 

1 Sesudah itu Daud memukul kalah orang Filistin dan menundukkan mereka; lalu ia 

merebut Gat dan segala anak kotanya dari tangan orang Filistin. 2 Dan Daud memukul 

kalah orang Moab, sehingga orang Moab takluk kepadanya dan harus mempersembahkan 

upeti. 3 Selanjutnya Daud memukul kalah Hadadezer, raja Zoba, dekat Hamat, ketika ia 

pergi menegakkan kekuasaannya pada sungai Efrat. 4 Daud merebut dari padanya seribu 

kereta, tujuh ribu orang pasukan berkuda dan dua puluh ribu orang pasukan berjalan 

kaki, lalu Daud menyuruh memotong urat keting segala kuda kereta, namun  dengan 

meninggalkan seratus ekor kuda kereta. 5 Lalu orang Aram dari Damsyik datang 

menolong Hadadezer, raja Zoba, namun  dari antara orang Aram itu Daud menewaskan dua 

puluh dua ribu orang. 6 Kemudian Daud menempatkan pasukan-pasukan pendudukan di 

daerah orang Aram dari Damsyik, dan orang Aram itu menjadi budak Daud yang harus 

mempersembahkan upeti. TUHAN memberi kemenangan kepada Daud ke mana pun ia 

pergi berperang. 7 Sesudah itu Daud mengangkut perisai-perisai emas yang dipakai oleh 

orang-orang Hadadezer, lalu membawanya ke Yerusalem. 8 Dan dari Tibhat dan dari Kun, 

yaitu kota-kotanya Hadadezer, Daud mengangkut amat banyak tembaga; dari padanya 

Salomo membuat "laut" tembaga, tiang-tiang dan perlengkapan tembaga. 


 

146 

Sesudah itu, dikatakan (ay. 1), bahwa Daud melakukan penaklukan besar-

besaran. Sesudah persekutuan yang manis yang dimilikinya bersama dengan 

Tuhan  melalui firman dan doa, seperti disebutkan dalam pasal sebelumnya, Daud 

melanjutkan pekerjaannya dengan semangat dan keberanian yang luar 

biasa, memukul kalah dan menundukkan. Demikian pula Yakub, sesudah 

menerima penglihatan, dia berangkat (Kej. 29:1). 

Kita sebenarnya telah melihat kemenangan-kemenangan ini sebelumnya, 

maka sekarang hanya mengamati,  

1. Orang-orang yang telah lama menjadi musuh Israel kepunyaan Tuhan  akan 

ditaklukkan pada akhirnya. Orang Filistin, yang telah menjadi gangguan bagi 

Israel selama beberapa generasi, kini dipukul kalah dan ditundukkan oleh 

Daud (ay. 1). Demikian pula, semua pemerintah, kerajaan, dan kekuatan yang 

melawan, di akhir zaman, akan ditaklukkan oleh Sang Putra Daud, dan para 

musuh yang paling kuat akan jatuh tersungkur di hadapan-Nya.  

2. Dunia yang tak menentu inilah yang sering menyebabkan manusia 

kehilangan kekayaan dan kekuatannya ketika berpikir untuk mengejarnya. 

H