tawarikh ester 4
engan takut, bahkan ketika kita menjadi hamba
kepada TUHAN dengan sukacita.
4. Hendaklah kegusaran Daud sebab peristiwa ini memperingatkan kita agar
menjaga roh kita ketika mendapat teguran ilahi, supaya kita berserah
kepada Tuhan dan bukannya berbantah-bantah dengan-Nya. Apabila Tuhan
marah kepada kita, beranikah kita marah kepada-Nya?
5. Biarlah teguran berat itu menjadi peringatan keras bagi kita agar tidak
menjauh dari tugas kita, jika penyelenggaraan Tuhan itu bertujuan
menjauhkan kita dari dosa. Daud seharusnya melanjutkan pekerjaan itu
meskipun Uza dihukum, supaya dengan demikian pelanggaran itu dapat
ditebus.
6. Kiranya berkat yang didatangkan tabut itu kepada rumah Obed-Edom,
mendorong kita untuk menyambut ketetapan-ketetapan Tuhan di rumah kita,
dengan percaya bahwa tabut itu merupakan tamu yang tidak akan
mendatangkan kerugian. Janganlah ketetapan Tuhan kurang kita hargai hanya
sebab ia menjadi batu sandungan dan menyebabkan pelanggaran bagi
beberapa orang. Apabila bagi beberapa orang Injil menjadi bau kematian
yang mematikan, seperti tabut itu mendatangkan kematian atas Uza, namun
hendaklah kita menyambutnya dalam kasih, supaya bagi kita Injil itu
menjadi bau kehidupan yang menghidupkan.
PASAL 14
Di dalam pasal ini diceritakan tentang,
I. Kerajaan Daud ditegakkan (ay. 1-2).
II. Anggota keluarganya bertambah (ay. 3-7).
III. Musuhnya, yaitu orang Filistin, dikalahkan dalam dua pertempuran (ay.
8-17). Catatan ini diulangi di sini, diambil dari 2 Samuel 5:11.
Kerajaan Daud Ditegakkan
(14:1-7)
1 Hiram, raja negeri Tirus, mengirim utusan kepada Daud dan kayu aras, tukang-tukang batu
dan tukang-tukang kayu untuk mendirikan sebuah istana baginya. 2 Lalu tahulah Daud,
bahwa TUHAN telah menegakkan dia sebagai raja atas Israel, sebab martabat
pemerintahannya terangkat tinggi oleh sebab Israel umat-Nya. 3 Daud mengambil lagi
beberapa isteri di Yerusalem, dan ia memperanakkan lagi anak-anak lelaki dan wanita . 4
Inilah nama anak-anak yang lahir bagi dia di Yerusalem: Syamua, Sobab, Natan, Salomo, 5
Yibhar, Elisua, Elpelet, 6 Nogah, Nefeg, Yafia, 7 Elisama, Beelyada dan Elifelet.
Di sini dapat kita amati,
1. Tidak seorang pun yang begitu berkecukupan sehingga tidak memerlukan
apa-apa lagi. Sebaliknya, orang tetap membutuhkan bantuan sesamanya dan
mempunyai alasan untuk mensyukuri bantuan mereka. Daud memiliki
kerajaan yang sangat besar, sedang Hiram hanya memiliki kerajaan
sangat kecil. Meskipun demikian, Daud tidak sanggup membangun rumah
seperti yang ada di dalam pikirannya kecuali Hiram menyediakan baik
pekerja maupun bahan-bahan bangunan baginya (ay. 1). Inilah alasan
mengapa kita tidak boleh memandang rendah siapa pun, namun bersedia
membantu semua orang bila mempunyai kesempatan.
2. Alangkah besar kepuasan yang diperoleh orang bijaksana apabila
kedudukannya telah dimantapkan, dan betapa puas hatinya orang baik saat
melihat penyelenggaraan istimewa Tuhan memantapkan kedudukannya.
112
Rakyat telah mengangkat Daud menjadi raja. Namun, ia belum bisa tenang
atau merasa bahagia, sampai ia tahu bahwa TUHAN telah menegakkan dia
sebagai raja atas Israel (ay. 2). “Siapa gerangan dapat menggoyahkanku
apabila Tuhan sendiri telah mengukuhkanku?”
3. Kita harus memandang semua kemajuan kita sebagai hal yang dirancang
demi kegunaan kita. Martabat pemerintahannya terangkat tinggi, bukan
supaya ia terlihat hebat, melainkan oleh sebab Israel umat-Nya, supaya ia
dapat menjadi pembimbing dan pelindung mereka. Kita diberkati supaya
bisa menjadi berkat (Kej. 12:2). Kita tidak lahir ataupun hidup bagi diri
sendiri.
4. Sungguh sulit untuk berkembang dengan pesat tanpa merasa aman dan
menggemari kedagingan. Kelemahan Daud ketika sudah dikukuhkan dalam
kerajaannya yaitu , ia mengambil lagi beberapa isteri (ay. 3), namun
sejumlah besar keturunan telah ditambahkannya pada kehormatan serta
kekuatannya. Sesungguhnya, anak-anak lelaki yaitu milik pusaka dari pada
TUHAN. Kita mendapati catatan tentang anak-anak Daud, tidak saja di Kitab
Samuel, namun di dalam kitab ini juga (3:1 dst.), dan sekarang di pasal ini lagi.
Sebab, sungguh merupakan kehormatan bagi anak-anak itu untuk memiliki
bapa seperti dia.
Kekalahan Orang Filistin
(14:8-17)
8 Ketika didengar orang Filistin, bahwa Daud telah diurapi menjadi raja atas seluruh
Israel, maka majulah semua orang Filistin untuk menangkap Daud. namun Daud
mendengar hal itu, lalu majulah ia menghadapi mereka. 9 Ketika orang Filistin itu datang
dan mengadakan penyerbuan di lembah Refaim,
10 bertanyalah Daud kepada Tuhan : “Apakah aku harus maju melawan orang Filistin itu
dan akan Kauserahkankah mereka ke dalam tanganku?” TUHAN menjawab: “Majulah, Aku
akan menyerahkan mereka ke dalam tanganmu.”
11 Lalu majulah ia ke Baal-Perasim, dan Daud memukul mereka kalah di sana. Berkatalah
Daud: “Tuhan telah menerobos musuhku dengan perantaraanku seperti air menerobos.”
Sebab itu orang menamakan tempat itu Baal-Perasim. 12 Orang Filistin itu meninggalkan
para Tuhan nya di sana, lalu orang Israel membakarnya habis atas perintah Daud. 13 Ketika
orang Filistin menyerbu sekali lagi di lembah itu, 14 maka bertanyalah lagi Daud kepada
Tuhan , lalu Tuhan menjawab: “Janganlah maju di belakang mereka, namun buatlah gerakan
lingkaran terhadap mereka, sehingga engkau dapat menyerang mereka dari jurusan
pohon-pohon kertau. 15 Dan bila engkau mendengar bunyi derap langkah di puncak
pohon-pohon kertau itu, maka haruslah engkau keluar bertempur, sebab Tuhan telah
keluar berperang di depanmu untuk memukul kalah tentara orang Filistin.” 16 Dan Daud
berbuat seperti yang diperintahkan Tuhan kepadanya, maka mereka memukul kalah
tentara orang Filistin, mulai dari Gibeon sampai Gezer. 17 Lalu termasyhurlah nama Daud
di segala negeri, dan TUHAN mendatangkan rasa takut kepadanya atas segala bangsa.
Kitab 1 Tawarikh 14:8-17
113
Kisah mengenai kemenangan Daud atas orang Filistin ini sangat mirip dengan
yang terdapat di dalam Kitab 2 Samuel 5:17 dan seterusnya.
1. Hendaklah serangan orang Filistin terhadap Daud mengajarkan kita untuk
tidak merasa aman-aman saja ketika kita sudah merasa makmur atau
berjaya. Sebaliknya, kita tetap harus siaga menantikan penganiayaan di
dunia ini. Ketika kita merasa paling nyaman, sesuatu bisa saja terjadi
sehingga membuat kita ketakutan atau bingung. Demikianlah kerajaan
Kristus dihina oleh keturunan ular, terutama ketika mengalami kemajuan.
2. Hendaklah pertanyaan Daud kepada Tuhan pada waktu orang Filistin
menyerbunya, memimpin kita untuk mengakui Tuhan dalam segala jalan kita.
Di tengah kesukaran hendaklah kita berlari kepada-Nya, ketika disalahi,
berserulah kepada-Nya, dan ketika kita tidak tahu harus berbuat, mintalah
nasihat dari-Nya untuk memperoleh petunjuk-Nya. Marilah kita memohon
kepada-Nya untuk menunjukkan jalan yang benar kepada kita.
3. Hendaklah keberhasilan Daud mendorong kita untuk melawan musuh-
musuh rohani kita, dengan cara memperhatikan petunjuk ilahi dan
bergantung pada kekuatan ilahi. Lawanlah Iblis, maka ia akan melarikan diri
seperti halnya orang Filistin lari dari hadapan Daud.
4. Hendaklah bunyi gesekan di puncak pohon-pohon kertau itu membimbing
kita untuk mengikuti tindak tanduk Tuhan , baik dalam penyelenggaraan-Nya
maupun di dalam pengilhaman Roh-Nya. Ketika kita tahu bahwa Tuhan
berjalan di depan kita, marilah kita mengenakan ikat pinggang dan
persenjataan kita, kemudian mengikut Dia.
5. Hendaklah tindakan Daud membakar Tuhan -Tuhan orang Filistin ketika
mereka jatuh ke tangannya, mengajarkan supaya kita memiliki amarah
kudus terhadap penyembahan berhala dan segala sesuatu yang tersisa
darinya.
6. Hendaklah pengakuan Daud yang penuh rasa syukur atas campur tangan
Tuhan dalam semua keberhasilannya, membimbing kita untuk membawa
semua korban persembahan puji syukur kita ke mezbah Tuhan . Bukan kepada
kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, namun kepada nama-Mulah beri
kemuliaan.
7. Hendaklah nama baik yang telah diraih Daud, tidak saja di dalam
kerajaannya, namun juga di antara bangsa-bangsa lain, dipandang sebagai
perlambang dan gambaran dari kehormatan tinggi yang diberikan kepada
Anak Daud (ay. 17): Lalu termasyhurlah nama Daud di segala negeri. Ia
sering diperbincangkan orang dan dikagumi seluruh rakyat, dan TUHAN
mendatangkan rasa takut kepadanya atas segala bangsa. Semua orang
memandang dia sebagai musuh mengerikan dan sekutu yang diinginkan.
114
Demikian jugalah Tuhan telah meninggikan Penebus kita, dan memberi-Nya
nama di atas segala nama.
PASAL 15
embawa tabut Tuhan ke dalam kota Daud merupakan pekerjaan yang amat
baik. Hal tersebut sudah ditetapkan (13:4) dan diusahakan sebelumnya,
namun tidak berhasil. Waktu itu tabut diletakkan di rumah Obed-Edom di tengah
perjalanannya. Sekarang pasal ini mengisahkan bagaimana pekerjaan baik
tersebut diselesaikan.
I. Bagaimana pekerjaan itu dilaksanakan dengan lebih teratur dibandingkan
sebelumnya.
1. Dipersiapkan tempat untuk tabut Tuhan (ay. 1).
2. Para imam diperintahkan untuk mengangkutnya (ay. 2-15).
3. Orang-orang Lewi ditugaskan untuk melayaninya (ay. 16-24).
II. Bagaimana pekerjaan itu dilaksanakan dengan lebih berhasil dibandingkan
sebelumnya (ay. 25).
1. Orang Lewi tidak melakukan kesalahan dalam pekerjaan mereka
(ay. 26).
2. Daud dan rakyat tidak lagi menumpahkan air mata dalam sukacita
mereka (ay. 27-28). Soal Mikhal yang menghina Daud, itu bukan
apa-apa (ay. 29).
Pemindahan Tabut Tuhan
(15:1-24)
1 Daud membuat bagi dirinya gedung-gedung di kota Daud, lalu ia menyiapkan tempat
bagi tabut Tuhan dan membentangkan kemah untuk itu. 2 Ketika itu berkatalah Daud:
“Janganlah ada yang mengangkat tabut Tuhan selain dari orang Lewi, sebab merekalah
yang dipilih TUHAN untuk mengangkat tabut TUHAN dan untuk menyelenggarakannya
sampai selama-lamanya.”
3 Kemudian Daud mengumpulkan segenap Israel ke Yerusalem untuk mengangkut tabut
TUHAN ke tempat yang telah disiapkannya untuk itu. 4 Daud mengumpulkan bani Harun
dan orang Lewi: 5 dari bani Kehat: Uriel, seorang pemimpin, dan saudara-saudara
sepuaknya: seratus dua puluh orang; 6 dari bani Merari: Asaya, seorang pemimpin, dan
saudara-saudara sepuaknya: dua ratus dua puluh orang; 7 dari bani Gerson: Yoel, seorang
M
116
pemimpin, dan saudara-saudara sepuaknya: seratus tiga puluh orang; 8 dari bani Elsafan:
Semaya, seorang pemimpin, dan saudara-saudara sepuaknya: dua ratus orang; 9 dari bani
Hebron: Eliel, seorang pemimpin, dan saudara-saudara sepuaknya: delapan puluh orang;
10 dari bani Uziel: Aminadab, seorang pemimpin, dan saudara-saudara sepuaknya: seratus
dua belas orang. 11 Lalu Daud memanggil Zadok dan Abyatar, imam-imam itu, dan orang-
orang Lewi, yaitu Uriel, Asaya, Yoel, Semaya, Eliel dan Aminadab, 12 dan berkata kepada
mereka: “Hai kamu ini, para kepala puak dari orang Lewi, kuduskanlah dirimu, kamu ini
dan saudara-saudara sepuakmu, supaya kamu mengangkut tabut TUHAN, Tuhan Israel, ke
tempat yang telah kusiapkan untuk itu. 13 Sebab oleh sebab pada pertama kali kamu
tidak hadir, maka TUHAN, Tuhan kita, telah menyambar di tengah-tengah kita, sebab kita
tidak meminta petunjuk-Nya seperti seharusnya.” 14 Jadi para imam dan orang-orang
Lewi menguduskan dirinya untuk mengangkut tabut TUHAN, Tuhan Israel. 15 Kemudian
bani Lewi mengangkat tabut Tuhan itu dengan gandar pengusung di atas bahu mereka,
seperti yang diperintahkan Musa, sesuai dengan firman TUHAN. 16 Daud memerintahkan
para kepala orang Lewi itu, supaya mereka menyuruh berdiri saudara-saudara sepuak
mereka, yaitu para penyanyi, dengan membawa alat-alat musik seperti gambus, kecapi
dan ceracap, untuk memperdengarkan dengan nyaring lagu-lagu gembira. 17 Maka orang
Lewi itu menyuruh berdiri Heman bin Yoel; dan dari saudara-saudara sepuaknya: Asaf
bin Berekhya; dari bani Merari, saudara-saudara sepuak mereka: Etan bin Kusaya;
18 dan bersama-sama mereka itu saudara-saudara mereka dari tingkat kedua: Zakharia,
Yaaziel, Semiramot, Yehiel, Uni, Eliab, Benaya, Maaseya, Matica, Elifele, Mikneya, dan
Obed-Edom serta Yeiel, para penunggu pintu gerbang. 19 Para penyanyi, yaitu Heman,
Asaf dan Etan harus memperdengarkan lagu dengan ceracap tembaga. 20 Zakharia, Aziel,
Semiramot, Yehiel, Uni, Eliab, Maaseya, Benaya harus memainkan gambus yang tinggi
nadanya, 21 sedang Matica, Elifele, Mikneya, Obed-Edom, Yeiel dan Azazya harus memain-
kan kecapi yang delapan nada lebih rendah tingkatnya untuk mengiringi nyanyian. 22
Kenanya, pemimpin orang Lewi, mendapat tugas pengangkutan; ia mengepalai
pengangkutan, sebab ia paham dalam hal itu. 23 Berekhya dan Elkana yaitu penunggu
pintu pada tabut; 24 dan Sebanya, Yosafat, Netaneel, Amasai, Zakharia, Benaya dan Eliezer,
yaitu imam-imam itu, meniup nafiri di hadapan tabut Tuhan , sedang Obed-Edom dan
Yehia yaitu penunggu pintu pada tabut itu.
Di sini, diadakan persiapan untuk membawa pulang tabut Tuhan dari rumah
Obed-Edom ke kota Daud. Diakui pula bahwa dalam usaha sebelumnya,
sekalipun pekerjaan itu baik dan mereka melakukannya dengan mencari Tuhan ,
namun mereka tidak meminta petunjuk-Nya seperti seharusnya (ay. 13). “Kita
tidak menjalankan pekerjaan itu dengan penuh pertimbangan sehingga lajunya
buruk.” Perhatikanlah, melakukan apa yang baik saja tidak cukup, kita harus
melakukannya secara baik pula. Tidak cukup bagi kita mencari Tuhan sesuai
dengan ketetapan-Nya, kita juga harus mencari Dia seperti seharusnya.
Perhatikan juga bahwa ketika kita menderita oleh sebab kesembronoan, dari
situ kita harus belajar menjadi lebih teratur. Dengan demikian hukuman akan
berakhir. Mari kita lihat bagaimana perkara ini ditangani.
1. Sekarang, Daud menyiapkan tempat untuk menerima tabut itu sebelum
dibawa kepadanya, dan dengan begitu ia bekerja seperti seharusnya. Tidak
ada cukup waktu bagi Daud untuk membangun bait Tuhan , namun ia
membentangkan kemah untuk itu (ay. 1) dari tirai-tirai dan papan, mungkin
berdasarkan rancangan yang ditunjukkan kepada Musa di atas gunung Sinai
Kitab 1 Tawarikh 15:1-29
117
atau semirip mungkin dengannya. Amatilah, ketika Daud membuat bagi diri-
nya rumah-rumah di kota Daud, ia menyiapkan tempat untuk tabut.
Perhatikan, di mana pun kita membangun bagi diri sendiri, pastikan bahwa
kita menyediakan ruang bagi tabut Tuhan , yaitu jemaat dalam rumah kita.
2. Sekarang Daud memerintahkan agar tabut itu harus diangkut oleh orang
Lewi atau para imam di atas bahu mereka. Daud kini sudah memikirkan apa
yang sebelumnya tidak mungkin tidak ia ketahui, yaitu janganlah ada yang
mengangkat tabut Tuhan selain dari orang Lewi (ay. 2). Bani Kehat
mengangkut tabut itu dengan susunan barisan mereka yang biasa. Jadi, tidak
ada kereta yang diperuntukkan bagi mereka, sebab tugas orang Kehat yaitu
mengurus barang-barang kudus, yang harus diangkat di atas bahunya (Bil.
7:9). Namun, pada kesempatan-kesempatan luar biasa, misalnya ketika
mereka menyeberangi sungai Yordan dan mengelilingi Yerikho, para imam
membawa tabut Tuhan . Peraturan ini jelas, namun Daud sendiri melupakannya
dan ia meletakkan tabut di dalam kereta. Perhatikan, orang-orang yang
sangat mengetahui firman Tuhan pun tidak selalu siap melakukannya seperti
yang diharapkan ketika mereka harus menerapkan firman itu. Orang bijak
dan baik bisa saja lalai, namun segera setelah menyadarinya, mereka akan
memperbaiki. Daud tidak berusaha membenarkan apa yang telah dilakukan
secara keliru sebelumnya maupun melempar kesalahan kepada orang lain, ia
sendiri mengaku bersalah, bersama orang-orang lainnya, sebab tidak
mencari Tuhan seperti seharusnya. Sekarang, ia bukan hanya memanggil
orang-orang Lewi untuk bersungguh hati seperti yang dilakukannya kepada
seluruh Israel (ay. 3) dan sebagaimana yang pernah ia lakukan sebelumnya
(13:2), namun juga mau melihat mereka berkumpul (ay. 4), khususnya anak-
anak Harun (ay. 11). Kepada mereka, Daud memberikan perintah serius (ay.
12): “Hai kamu ini, para kepala puak dari orang Lewi, maka haruslah kamu
mengangkut tabut Tuhan.” Barang siapa lebih tinggi martabatnya dibandingkan
yang lain haruslah lebih bertanggung jawab dibandingkan orang lain. “Kalian
yaitu kepala puak, sebab itu lebih diharapkan, baik dalam melayani
maupun dalam menuntun orang lain. Awalnya, kalian tidak mengerjakannya,
tidak melaksanakan tanggung jawab itu sendiri maupun mengajari kami.
sebab itu kami menanggung pedihnya: TUHAN, Tuhan kita, telah menyambar
di tengah-tengah kita. Kita semua telah menderita sebab kelalaianmu. Oleh
tangan kamulah terjadi hal itu (lih. Mal. 1:9). sebab itu, kuduskanlah dirimu
dan kerjakanlah tanggung jawabmu.” Ketika orang-orang yang menderita
sebab berbuat salah kemudian belajar melakukan yang lebih baik, berarti
teguran itu sudah diberikan dengan benar.
118
3. Orang Lewi dan para imam menguduskan diri (ay. 14) dan siap mengangkut
tabut Tuhan di atas bahu mereka sesuai dengan hukum Taurat (ay. 15).
Perhatikanlah, banyak orang yang amat teledor dalam mengemban tanggung
jawabnya akan berubah dan menjadi lebih baik jika terus diajari dengan
setia. Hukuman atas Uza membuat para imam lebih berhati-hati
menguduskan diri, yaitu membersihkan diri mereka dari segala yang
dianggap najis menurut hukum ibadat serta menyiapkan hati untuk
melayani Tuhan yang khidmat, sehingga menimbulkan rasa hormat di antara
umat. Ada orang-orang yang dijadikan contoh supaya orang lain belajar
darinya dan berlaku hati-hati.
4. Para petugas ditunjuk untuk bersiap memberi sambutan bagi tabut Tuhan
dengan segala bentuk ungkapan sukacita (ay. 16). Daud memerintahkan
kepala puak orang Lewi untuk menunjuk orang-orang yang diketahui mahir
dalam tugas pelayanan ini. Heman, Asaf, dan Etan ditunjuk pertama kali (ay.
17). Tugas mereka yaitu membunyikan ceracap tembaga (ay. 19), yang lain
memainkan gambus, kecapi Seminit atau delapan, yaitu kecapi yang nadanya
delapan tingkat lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan lainnya berdasarkan
tatanan paduan suara (ay. 21). Sebagian dari para imam meniup sangkakala
(ay. 24) seperti biasa dalam pemindahan tabut Tuhan (Bil. 10:8) dan pada
perjamuan-perjamuan agung (Mzm. 81:4). Salah seorang ditunjuk untuk me-
mimpin nyanyian (ay. 22, BIS) sebab ia piawai dalam hal itu, bisa menyanyi
dengan baik dan mampu mengarahkan yang lain. Perhatikan, layanilah
seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap
orang (1Ptr. 4:10), dan barang siapa unggul dalam bakat apa pun tidak boleh
memakainya hanya untuk kebaikan diri mereka sendiri, namun ajarilah juga
orang lain dan jangan iri hati dalam menjadikan orang lain sepiawai dirinya.
Cara memuji Tuhan dengan alat-alat musik belum pernah dipakai hingga saat
itu. Namun, sebagai seorang nabi, Daud memulainya dengan petunjuk ilahi
serta menambahkannya sebagai peraturan-peraturan untuk hidup insani
dalam masa itu, begitulah istilah yang dipakai sang rasul (Ibr. 9:10). Dalam
Perjanjian Baru, menyanyikan mazmur tetap dilakukan, namun tidak ditunjuk
musisi gerejawi. Sebagian orang diangkat menjadi penunggu pintu gerbang
(ay. 18), yang lain menjaga pintu pada tabut (ay. 23-24), salah satunya
yaitu Obed-Edom. Tidak diragukan, ia memperhitungkan tugasnya itu
sebagai suatu kehormatan dan menerimanya sebagai upah sebab telah
memelihara tabut Tuhan . Selama tiga bulan, ia sudah menjadi pelayan
sekaligus tuan rumah bagi tabut itu. Namun, saat ia sudah tidak bisa melaku-
kannya lagi, ada kasih sayang dalam dirinya bagi tabut itu hingga ia dengan
senang hati menjadi penjaga pintunya.
Kitab 1 Tawarikh 15:1-29
119
Pemindahan Tabut Tuhan
(15:25-29)
25 Maka Daud dan para tua-tua Israel dan para pemimpin pasukan seribu pergi untuk
mengangkut tabut perjanjian TUHAN itu dari rumah Obed-Edom dengan sukacita. 26 Dan
oleh sebab Tuhan menolong orang Lewi yang mengangkat tabut perjanjian TUHAN itu,
maka dipersembahkanlah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan. 27 Daud
memakai jubah dari kain lenan halus, juga segala orang Lewi yang mengangkat tabut itu
dan para penyanyi, dan Kenanya yang mengepalai pengangkutan dan para penyanyi.
Daud juga memakai baju efod dari kain lenan. 28 Seluruh orang Israel mengangkut tabut
perjanjian TUHAN itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala, nafiri dan ceracap,
sambil memperdengarkan permainan gambus dan kecapi. 29 Ketika tabut perjanjian
TUHAN itu sampai ke kota Daud, maka Mikhal, anak wanita Saul, menjenguk dari
jendela, lalu melihat raja Daud melompat-lompat dan menari-nari. Sebab itu ia
memandang rendah Daud dalam hatinya.
Segala sesuatu telah siap untuk membawa tabut ke kota Daud dan
menyambutnya di situ. Ayat-ayat ini mencatat khidmatnya upacara
pengangkutan tersebut dari rumah Obed-Edom.
I. Tuhan menolong orang-orang Lewi yang membawanya. Tabut itu bukan
sesuatu yang sangat berat sehingga orang yang mengangkatnya memerlukan
pertolongan luar biasa. Namun,
1. Alangkah baiknya menyadari pertolongan penyelenggaraan ilahi atas hal-
hal yang berada dalam jangkauan kemampuan kita sekalipun. Jika bukan
sebab pertolongan Tuhan , kita tidak bisa bergerak walau selangkah.
2. Dalam semua perbuatan ibadah, kita harus secara khusus mencari
pertolongan dari sorga (lih. Kis. 26:22). Seluruh kesanggupan kita untuk
melakukan tanggung jawab yang suci berasal dari Tuhan .
3. sebab mengingat hukuman yang menimpa Uza, orang Lewi mungkin
gentar saat mengangkat tabut itu. Akan namun , Tuhan menolong mereka,
yaitu dengan mendorong mereka, menenangkan rasa takutnya, dan
menguatkan iman mereka.
4. Tuhan menolong mereka melakukannya secara sesuai dan baik tanpa
membuat kesalahan. Jika kita menjalankan kewajiban ibadah apa pun
dan lolos dari hukuman dan nyawa kita selamat, maka kita harus
mengakui bahwa Tuhan -lah yang menolong kita, sebab jika dibiarkan
sendiri, kita pasti melakukan kegagalan yang berbahaya. Para pelayan
Tuhan yang mengemban bejana-bejana Tuhan memerlukan pertolongan
ilahi secara khusus dalam pelayanan mereka, supaya Tuhan dimuliakan
dan jemaat dibangun melalui mereka. Jika Tuhan menolong orang Lewi,
umat pun memperoleh berkat dari hal itu.
120
II. Saat mengalami tanda-tanda penyertaan hadirat Tuhan , mereka
mempersembahkan korban puji-pujian kepada-Nya (ay. 26). Dalam hal ini
pun Dia menolong mereka. Lembu jantan dan domba jantan itu
kemungkinan mereka persembahkan untuk pendamaian atas kesalahan
sebelumnya, supaya tidak diingat lagi terhadap mereka, juga untuk
mengakui pertolongan yang sekarang mereka terima.
III. Ada banyak ungkapan sukacita yang dipakai: musik yang kudus dimainkan,
Daud menari, para penyanyi berkidung, dan rakyat bersorak (ay. 27-28). Hal
ini juga telah dicatat sebelumnya dalam 2 Samuel 6:14-15. Dari situ, kita
belajar bahwa,
1. Kita melayani Tuan yang baik, yang senang melihat para hambanya
bekerja dengan menyanyi.
2. Masa-masa perubahan masyarakat yaitu , dan seharusnya menjadi –
masa kegirangan rakyat.
3. Bukanlah suatu kehinaan bagi orang-orang besar untuk menunjukkan
semangat mereka dalam tindakan ibadah. Mikhal benar-benar
memandang rendah Daud (ay. 29), namun penghinaan darinya itu sama
sekali tidak membuat Daud tercela. Sang raja sendiri tidak
memperhitungkannya, orang-orang bijak dan baik hati pun tidak
berpikir buruk tentang Daud (lagi pula, untuk apa kita mengingini
penghargaan dari manusia?)
PASAL 16
asal ini menuntaskan perkara besar terkait peletakan tabut perjanjian
Tuhan di kota kerajaan, dan bersamaan dengan peristiwa tersebut,
penetapan tata ibadah dan penyembahan kepada Tuhan bagi rakyat selama masa
pemerintahan Daud. Dalam pasal ini kita temukan,
I. Upacara khidmat yang mengiringi peletakan tabut perjanjian Tuhan
(ay. 1-6).
II. Mazmur yang diberikan Daud untuk dinyanyikan pada kesempatan ini
(ay. 7-36).
III. Penetapan tata ibadah penyembahan kepada Tuhan dan para
pelayannya sejak saat itu (ay. 37-43).
Menetapnya Tabut Tuhan
(16:1-6)
1 Tabut Tuhan itu dibawa masuk, lalu diletakkan di tengah-tengah kemah yang dipasang
Daud untuk itu, kemudian mereka mempersembahkan korban bakaran dan korban
keselamatan di hadapan Tuhan . 2 Setelah Daud selesai mempersembahkan korban bakaran
dan korban keselamatan, diberkatinyalah bangsa itu demi nama TUHAN. 3 Lalu
dibagikannya kepada setiap orang Israel, baik laki-laki maupun wanita , kepada
masing-masing sekeping roti, sekerat daging dan sepotong kue kismis. 4 Juga diangkatnya
dari orang Lewi itu beberapa orang sebagai pelayan di hadapan tabut TUHAN untuk
memasyhurkan TUHAN, Tuhan Israel dan menyanyikan syukur dan puji-pujian bagi-Nya. 5
Kepala ialah Asaf dan sebagai orang kedua ialah Zakharia; lalu Yeiel, Semiramot, Yehiel,
Matica, Eliab, Benaya, Obed-Edom dan Yeiel yang harus memainkan gambus dan kecapi,
sedang Asaf harus memainkan ceracap 6 dan Benaya serta Yahaziel, imam-imam itu,
selalu harus meniup nafiri di hadapan tabut perjanjian Tuhan itu.
Sungguh hari yang mulia ketika tabut perjanjian Tuhan telah berdiam dengan
aman di dalam kemah yang telah dipasang Daud baginya. Orang berbudi baik itu
memusatkan seluruh hatinya kepada pekerjaan itu, dan tidak bisa tidur lelap
sampai pekerjaan itu terlaksana (Mzm. 132:4-5).
P
124
I. Keadaan tabut itu kini,
1. Lebih baik dibandingkan sebelumnya. Sebelumnya, tabut itu terasing di
sebuah kota di pedalaman, di padang. Kini, tabut itu dipindahkan ke
tempat umum, yaitu ke kota kerajaan, sehingga semua orang dapat
mendatanginya. Sebelumnya, tabut itu terabaikan sebagai sebuah bejana
yang pecah dan hina. Kini, tabut itu dilayani dengan penuh rasa hormat,
dan dengan demikian, Tuhan pun turut dimuliakan. Sebelumnya, tabut itu
meminjam sebuah kamar di rumah orang, yang menikmati kehadiran
tabut itu sebagai perkenanan Tuhan . Kini, tabut itu mempunyai
kediamannya sendiri, yang sepenuhnya dikhususkan baginya, dan
ditempatkan di tengah-tengah, dan tidak terpojokkan di sudut ruangan.
Perhatikanlah, meski mungkin terkaburkan dan terhalang pada satu
masa, firman dan ketetapan Tuhan pada akhirnya akan bercahaya dan
keluar dari keterasingan. Namun demikian,
2. Tempat tabut ini masih jauh dari apa yang direncanakan di masa
kepemimpinan berikutnya, yaitu ketika Bait Suci Tuhan akan didirikan.
Tempatnya saat ini hanya berupa kemah, kediaman yang rendah dan
hina. Namun demikian, kemah ini merupakan Kemah Suci, Bait yang
kerap dibicarakan oleh Daud di dalam mazmur-mazmurnya dengan
penuh kasih. Daud, yang memancang sebuah kemah untuk tabut Tuhan
dan setia berpaut kepadanya, berbuat jauh lebih baik dibandingkan Salomo,
yang mendirikan sebuah bait untuk tabut Tuhan namun pada akhir masa
hidupnya berbalik dibandingkan nya. Masa-masa yang terhina dari jemaat
sesungguhnya merupakan masa-masa di mana keadaannya paling
murni.
II. Kini, tenteramlah pikiran Daud, sebab tabut Tuhan telah menetap, dan
menetap di dekatnya. Sekarang, lihatlah bagaimana Daud memastikan,
1. Agar Tuhan beroleh kemuliaan dari menetapnya tabut itu. Daud memberi
kemuliaan bagi Tuhan pada kesempatan ini dengan dua cara:
(1) Melalui korban persembahan (ay. 1), yaitu korban bakaran untuk
memuji kesempurnaan-Nya, dan korban keselamatan untuk
bersyukur atas perkenanan-Nya.
(2) Melalui nyanyian: Daud menunjuk orang Lewi untuk merekam kisah
ini dalam sebuah nyanyian demi keuntungan orang lain, atau untuk
merayakannya di antara mereka sendiri dengan menyanyikan syukur
dan puji-pujian bagi Tuhan Israel (ay. 4). Segala sukacita kita harus
Kitab 1 Tawarikh 16:1-6
125
diungkapkan melalui pengucapan syukur kepada-Nya, sumber segala
penghiburan kita.
2. Agar rakyat dapat menikmati sukacita dari menetapnya tabut itu. Oleh
sebab perayaan pada hari ini, rakyat akan hidup semakin baik, sebab
Daud memberi mereka upah yang pantas atas kedatangan mereka ke
situ, tidak hanya berupa perjamuan kerajaan untuk menghormati hari
itu (ay. 3). Ia menunjukkan kemurahan hatinya kepada rakyatnya, oleh
sebab ia telah mendapati Tuhan memberikan rahmat kepadanya. Barang-
siapa dibesarkan hatinya oleh sukacita kudus, harus menunjukkan
kebesaran hatinya itu melalui tindakan murah hati. namun yang jauh
lebih bernilai lagi, ia juga memberi mereka berkat demi nama Tuhan,
sebagai seorang bapa, sebagai seorang nabi (ay. 2). Ia berdoa kepada
Tuhan bagi mereka, dan menyerahkan mereka ke dalam kasih karunia-
Nya. Di dalam nama Firman Tuhan (demikianlah dikatakan di dalam
Targum), yaitu sang firman yang terutama dan kekal, yang yaitu
Yehova, dan melalui Dia semua berkat datang kepada kita.
Mazmur Puji-pujian Daud
(16:7-36)
7 Kemudian pada hari itu juga, maka Daud untuk pertama kali menyuruh Asaf dan
saudara-saudara sepuaknya menyanyikan syukur bagi TUHAN:
8 Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di
antara bangsa-bangsa! 9 Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah
segala perbuatan-Nya yang ajaib! 10 Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah
bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! 11 Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya,
carilah wajah-Nya selalu! 12 Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya,
mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya, 13 hai anak
cucu Israel, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya! 14 Dialah TUHAN,
Tuhan kita, di seluruh bumi berlaku penghukuman-Nya. 15 Ia ingat untuk selama-lamanya
akan perjanjian-Nya, akan firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan, 16
yang diikat-Nya dengan Abraham, dan akan sumpah-Nya kepada Ishak, 17 diadakan-Nya
bagi Yakub menjadi ketetapan, bagi Israel menjadi perjanjian kekal, 18 firman-Nya: “Kepa-
damu akan Kuberi tanah Kanaan sebagai milik pusaka yang ditentukan bagimu.” 19 Ketika
jumlah mereka tidak seberapa, sedikit saja, dan mereka orang-orang asing di sana, 20 dan
mengembara dari bangsa yang satu ke bangsa yang lain, dan dari kerajaan yang satu ke
suku bangsa yang lain, 21 Ia tidak membiarkan siapapun memeras mereka; dihukum-Nya
raja-raja oleh sebab mereka: 22 “Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan
berbuat jahat terhadap nabi-nabi-Ku!” 23 Bernyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi,
kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari.
24 Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya
yang ajaib di antara segala suku bangsa. 25 Sebab besar TUHAN dan terpuji sangat, dan
lebih dahsyat Ia dari pada segala Tuhan . 26 Sebab segala Tuhan bangsa-bangsa yaitu
berhala, namun Tuhanlah yang menjadikan langit. 27 Keagungan dan semarak ada di
hadapan-Nya, kekuatan dan sukacita ada di tempat-Nya. 28 Kepada TUHAN, hai suku-suku
bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan! 29 Berilah kepada TUHAN kemu-
liaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah menghadap Dia! Sujudlah
126
menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan. 30 Gemetarlah di hadapan-
Nya hai segenap bumi; sungguh tegak dunia, tidak bergoyang. 31 Biarlah langit bersukacita
dan bumi bersorak-sorak, biarlah orang berkata di antara bangsa-bangsa: “TUHAN itu
Raja!” 32 Biarlah gemuruh laut serta isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di
atasnya, 33 maka pohon-pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia
datang untuk menghakimi bumi. 34 Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik!
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 35 Dan katakanlah: “Selamatkanlah
kami, ya TUHAN Tuhan , Penyelamat kami, dan kumpulkanlah dan lepaskanlah kami dari
antara bangsa-bangsa, supaya kami bersyukur kepada nama-Mu yang kudus, dan
bermegah dalam puji-pujian kepada-Mu.” 36 Terpujilah TUHAN, Tuhan Israel, dari selama-
lamanya sampai selama-lamanya. Maka seluruh umat mengatakan: “Amin! Pujilah
TUHAN!”
Di sini kita membaca mazmur ucapan syukur yang, oleh Roh Kudus, digubah
oleh Daud dan diserahkannya kepada pemimpin biduan untuk dinyanyikan pada
saat kedatangan tabut Tuhan di tengah-tengah masyarakat untuk masuk ke
dalam kemah yang telah dipersiapkan baginya. Beberapa penafsir menduga,
Daud menetapkan nyanyian pujian ini untuk dikumandangkan setiap hari di
dalam ibadah di Bait Tuhan , dimulai pada saat hari kedatangan tabut itu. Apa pun
mazmur lain yang mereka nyanyikan, mereka tidak boleh meniadakan mazmur
ini. Sebelum mazmur ini, Daud telah menulis banyak mazmur, yang beberapa
digubahnya pada masa kesesakannya akibat penindasan Saul. Meski ditulis
sebelumnya, mazmur ini kini menjadi yang pertama diserahkan kepada Asaf
untuk dinyanyikan di tengah jemaat. Mazmur ini dikumpulkan dari beberapa
mazmur yaitu mulai dari awal hingga ayat 23 diambil dari Mazmur 105:1, dst.,
kemudian dari ayat 23, seluruhnya merupakan isi Mazmur 96, dengan sedikit
perubahan. Ayat 34 diambil dari Mazmur 136:1 dan dari sejumlah mazmur lain.
Lalu, dua ayat terakhir diambil dari bagian penutup Mazmur 106. Melihat hal ini,
beberapa penafsir menilai bahwa kita dibenarkan untuk berbuat serupa, yaitu
untuk menggubah nyanyian pujian dari mazmur-mazmur Daud dengan mengga-
bungkan bagian yang satu dengan bagian yang lain, sehingga menjadi sesuatu
yang sungguh layak untuk mengungkapkan dan menggugah ibadah orang
Kristen. Mazmur-mazmur ini akan dengan lebih baik dijelaskan menurut
letaknya masing-masing jika Tuhan mengizinkan. Di sini, kita memahami
mazmur-mazmur ini sebagaimana mereka digabungkan, dengan maksud untuk
menyanyikan syukur bagi Tuhan (ay. 7), sebuah pekerjaan besar yang harus kita
laksanakan dengan penuh semangat sambil tetap menerima pertolongan.
1. Biarlah Tuhan dimuliakan di dalam puji-pujian kita. Biarlah kehormatan-Nya
menjadi pusat tempat seluruh garis bertemu. Marilah kita memuliakan-Nya
dengan ucapan syukur kita, Bersyukurlah kepada Tuhan, melalui doa-doa
kita yaitu Panggillah nama-Nya (ay. 8). Kemudian melalui puji-pujian kita
(Bermazmurlah bagi-Nya) dan melalui percakapan kita, Percakapkanlah
Kitab 1 Tawarikh 16:1-6
127
segala perbuatan-Nya yang ajaib (ay. 9). Marilah kita memuliakan-Nya seba-
gai Tuhan yang besar dan terpuji sangat (ay. 25), sebagai Tuhan yang bertakhta
di atas semua Tuhan , sebagai satu-satunya Tuhan , sebab semua yang lain
yaitu berhala (ay. 26). Marilah kita mengagungkan-Nya sebagai yang paling
cemerlang dan terberkati dalam diri-Nya sendiri, Keagungan dan semarak
ada di hadapan-Nya (ay. 27), sebagai pencipta, Tuhanlah yang menjadikan
langit, sebagai penguasa atas segala ciptaan, Di seluruh bumi berlaku peng-
hukuman-Nya (ay. 14), dan sebagai kepunyaan kita, Dialah Tuhan, Tuhan kita.
Demikianlah, kita harus memberi kepada Tuhan kemuliaan sebab nama-Nya
(ay. 28-29), dan mengakui kemuliaan itu, dan lebih lagi, sebagai milik-Nya.
2. Biarlah orang lain turut dibangun dan diajar: Perkenalkanlah perbuatan-Nya
di antara bangsa-bangsa (ay. 8), ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara
bangsa-bangsa (ay. 24), agar orang-orang yang asing terhadap-Nya dapat
dipimpin agar mengenal-Nya, bersekutu dengan-Nya, lalu memuja-muja-
Nya. Demikianlah kita harus melayani kepentingan kerajaan-Nya di antara
manusia, supaya seluruh bumi gemetar di hadapan-Nya (ay. 30).
3. Biarlah diri kita sendiri dikuatkan untuk bermegah dan percaya di dalam
Tuhan . Orang yang memberi kemuliaan bagi nama Tuhan diperbolehkan
bermegah di dalam nama-Nya (ay. 10), untuk menghargai tinggi diri mereka
sendiri oleh sebab hubungan mereka dengan Tuhan dan sebab berani
mempertaruhkan diri mereka sendiri pada janji-Nya kepada mereka. Biarlah
bersukahati orang-orang yang mencari Tuhan, terlebih lagi orang-orang yang
telah mendapatkan-Nya. Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah wajah-
Nya: artinya, carilah Dia melalui tabut kekuatan-Nya, yang di dalamnya Ia
mewujudkan diri-Nya sendiri.
4. Biarlah kovenan yang kekal untuk selama-lamanya itu menjadi pokok utama
sukacita dan puji-pujian kita (ay. 15): Ingatlah akan perjanjian-Nya. Di
bagian lain yang menyajikan ayat yang sama, dituliskan demikian, Ia ingat
untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya (Mzm. 105:8). Melihat bahwa
Tuhan tidak akan pernah melupakan kovenan itu, kita juga harus tidak boleh
sekali-kali melupakannya. Kovenan itu dikatakan sebagai sesuatu yang di-
perintahkan, sebab Tuhan telah menetapkan kita untuk mematuhi segala
persyaratannya, dan sebab Ia memiliki baik kewenangan untuk membuat
janji maupun kemampuan untuk menggenapinya. Meski diberikan di masa
lampau, kovenan ini tidak boleh dilupakan. Walau dibuat dengan Abraham,
Ishak, dan Yakub, yang telah lama wafat (ay. 16-18), namun kovenan
tersebut tetap berlaku bagi keturunan rohani, dan janji-janji di dalamnya
pun tetap dapat dipinta.
128
5. Biarlah belas kasihan Tuhan kepada umat-Nya di masa lampau, kepada nenek
moyang dan para pendahulu kita orang percaya, kita kenang di masa kini
dengan rasa syukur dan pujian bagi-Nya. Biarlah diingat, bagaimana Tuhan
melindungi bapa-bapa leluhur ketika mereka belum menetap. Ketika mereka
tiba sebagai orang asing di Kanaan dan menjadi pendatang di sana, ketika
jumlah mereka masih sedikit dan bisa saja dengan mudah dilenyapkan,
ketika mereka terus-menerus berpindah tempat dan dengan demikian
terpapar bahaya begitu rupa, ketika ada banyak pihak yang membenci
mereka dan hendak mencelakakan mereka, tidak ada seorang pun yang
dibiarkan memeras mereka, baik orang Kanaan, orang Filistin, ataupun
orang Mesir. Raja-raja dihukum dan ditulahi demi bangsa Israel. Tidak hanya
Firaun, Abimelekh pun demikian. Israellah bangsa yang diurapi Tuhan, yang
dikuduskan oleh kasih karunia-Nya, yang dikuduskan oleh kemuliaan-Nya,
dan yang telah menerima pengurapan Roh Kudus. Merekalah para nabi-Nya,
diajar di dalam perkara-perkara Tuhan dan ditugaskan untuk mengajari
orang-orang lain dan para nabi dikatakan sebagai yang diurapi (1Raj. 19:16;
Yes. 61:1). Maka dari itu, apabila ada yang mengusik umat Israel, mereka
mengusik biji mata Tuhan sendiri. Apabila ada yang mencederai umat Israel,
biarlah akibatnya mereka tanggung sendiri (ay. 19-22).
6. Biarlah keselamatan besar yang dari Tuhan menjadi pokok utama puji-
pujian kita (ay. 23): Kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari
ke hari, yaitu (menurut Uskup Patrick) keselamatan oleh Kristus seperti
yang dijanjikan-Nya. Kita memiliki alasan untuk merayakan keselamatan itu
dari hari ke hari, sebab kita beroleh kebaikan dari padanya setiap hari, dan
inilah pokok ucapan syukur yang tidak akan pernah ada habisnya.
7. Biarlah Tuhan disembah dan dipuji melalui ibadah kita terus-menerus
sebagaimana yang telah Ia tetapkan bagi kita: Persembahkan korban, waktu
dahulu berupa buah-buahan hasil bumi, kini buah-buahan ucapan bibir dari
hati (Ibr. 13:15), dan sujudlah menyembah kepada Tuhan dengan berhiaskan
kekudusan, di tempat-tempat kudus dan dalam sikap yang kudus (ay. 29).
Kekudusan merupakan keindahan Tuhan, dan juga keindahan segala jiwa
yang telah dikuduskan serta segala kegiatan ibadah.
8. Biarlah kerajaan semesta Tuhan menjadi kegentaran dan sukacita bagi semua
orang. Marilah kita memuliakannya: Gemetarlah di hadapan-Nya hai segenap
bumi. Dan marilah kita bersuka di dalamnya: Biarlah langit bersukacita dan
bumi bersorak-sorak, sebab Tuhan itu Raja, dan dengan penyelenggaraan-
Nya Ia menetapkan dunia, sehingga meskipun digoyang, dunia tidak dapat
dicabut, dan penyelenggaraannya, yang diatur oleh Kebijaksanaan Kekal,
tidak akan dapat dipatahkan (ay. 30-31).
Kitab 1 Tawarikh 16:1-6
129
9. Biarlah penantian akan datangnya penghakiman di kemudian hari
mengilhami kita dengan kebahagiaan luar biasa. Biarlah bumi dan laut,
padang dan hutan, meski segalanya akan binasa pada hari Tuhan yang
dahsyat, bersukacita bahwa Dia akan datang, pasti datang, untuk
menghakimi bumi (ay. 32-33).
10. Di tengah-tengah puji-pujian kita, kita tidak boleh lupa berdoa memohon
pertolongan dan kelegaan bagi orang-orang kudus dan para pelayan Tuhan
yang berada dalam kesesakan (ay. 35): Selamatkanlah kami, kumpulkanlah
kami, lepaskanlah kami dari antara bangsa-bangsa, yaitu orang-orang dari
antara kita yang terserak dan tertindas. Pada waktu kita bersukacita oleh
sebab perkenanan Tuhan kepada kita, kita harus mengingat saudara-saudara
kita yang menderita, dan berdoa bagi keselamatan serta kelepasan mereka,
seperti halnya keselamatan dan kelepasan kita sendiri. Kita masing-masing
yaitu anggota yang seorang terhadap yang lain, sehingga oleh sebab itu
ketika kita bermaksud mengatakan, “Tuhan, selamatkanlah mereka,” tidaklah
salah untuk mengatakan, “Tuhan, selamatkanlah kami.” Terakhir, marilah
kita menjadikan Tuhan sebagai Alfa dan Omega dari puji-pujian kita. Daud
memulai dengan (ay. 8), Bersyukurlah kepada Tuhan, dan mengakhiri dengan
(ay. 36), Terpujilah Tuhan. Di tempat di mana doksologi (doa pujian) ini
dikutip (Mzm. 106:48), ditambahkan, Biarlah seluruh umat mengatakan:
“Amin!” Haleluya!, sedang pada pasal ini, kita menemukan bahwa mereka
berbuat menurut panduan tersebut: Seluruh umat mengatakan: “Amin!
Pujilah Tuhan!” Sewaktu orang Lewi telah menyelesaikan mazmur atau doa
dan pujian ini, umat yang hadir dengan serentak, tepat pada saat itu,
menyatakan persetujuan dan kepatuhan mereka dengan berkata, Amin.
Demikianlah mereka memuji Tuhan, tak ayal lagi sebab begitu tersentuh
oleh cara penyembahan yang baru ditetapkan ini, yang sampai saat itu hanya
dilaksanakan di sekolah-sekolah para nabi (1Sam. 10:5). Dan, apabila cara
memuji Tuhan ini pada pemandangan Tuhan lebih baik dari pada sapi jantan,
dari pada lembu jantan yang bertanduk dan berkuku belah, orang-orang yang
rendah hati akan melihat dan bersukacitalah (Mzm. 69:32-33).
Pelayanan Tabut Perjanjian
(16:37-43)
37 Lalu Daud meninggalkan di sana di hadapan tabut perjanjian TUHAN itu Asaf dan
saudara-saudara sepuaknya untuk tetap melayani di hadapan tabut itu seperti yang patut
dilakukan setiap hari; 38 juga Obed-Edom dan saudara-saudara sepuaknya yang enam
puluh delapan orang itu; Obed-Edom bin Yedutun dan Hosa yaitu penunggu-penunggu
pintu gerbang. 39 namun Zadok, imam itu, dan saudara-saudara sepuaknya, para imam,
130
ditinggalkannya di hadapan Kemah Suci TUHAN di bukit pengorbanan yang di Gibeon, 40
supaya pagi dan petang tetap dipersembahkan korban bakaran kepada TUHAN di atas
mezbah korban bakaran, dan supaya dikerjakan segala yang tertulis dalam Taurat TUHAN
yang diperintahkan-Nya kepada orang Israel.
41 Dan bersama-sama mereka ikut Heman dan Yedutun dan selebihnya dari orang-orang
yang terpilih, yang ditunjuk dengan disebut namanya untuk menyanyikan: “Syukur bagi
TUHAN. Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” 42 Pada Heman dan
Yedutun itu ada nafiri dan ceracap untuk para pemain, juga alat-alat musik pengiring
nyanyian untuk Tuhan . Dan anak-anak Yedutun harus menjaga pintu gerbang. 43 Sesudah
itu pergilah seluruh bangsa itu masing-masing ke rumahnya, dan Daud pulang untuk
memberi salam kepada seisi rumahnya.
Penyembahan kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang dikerjakan hanya pada hari
raya ini dan itu, demi menambah kemuliaan dari kemegahan hari tersebut,
melainkan harus dikerjakan setiap hari. Oleh sebab itu, Daud di dalam pasal ini
memutuskan agar ibadah penyembahan kepada Tuhan itu harus
berkesinambungan. Oleh sebab itu ia menetapkan aturan pelayanan ibadah,
dan mewajibkan orang-orang yang telah ditunjuknya sebagai pejabat untuk
melaksanakannya sesuai kedudukan masing-masing. Di dalam Kemah Suci Musa,
dan kemudian di dalam Bait Suci Salomo, tabut perjanjian dan mezbah berada
bersama-sama, namun semenjak zaman Eli, keduanya terpisahkan, dan terus
demikian sampai didirikannya Bait Suci. Saya tidak dapat mengerti apa alasan
Daud, yang mengenal hukum Taurat dan gigih melaksanakannya, tidak
membawa tabut perjanjian ke Gibeon, tempat Kemah Suci dan mezbah berada,
atau membawa Kemah Suci dan mezbah itu ke bukit Sion, tempat tabut
perjanjian berada. Mungkin tenda-tenda dan tirai-tirai di Kemah Suci Musa
sudah sedemikian usangnya akibat dimakan waktu dan cuaca sehingga tidak
layak untuk dipindahkan, dan juga tidak layak menjadi tempat penyimpanan
tabut perjanjian. Pun demikian, Daud tidak membuat semuanya itu baru, selain
dari sebuah kemah bagi tabut perjanjian, sebab saat itu sudah dekat waktunya
bagi Bait Suci untuk didirikan. Apa pun alasannya, selama masa Daud, tabut per-
janjian, Kemah Suci, serta mezbah terpisahkan, namun Daud memastikan bahwa
tidak ada dari ketiganya yang dibiarkan tidak terurus.
1. Di Yerusalem, tempat tabut perjanjian berada, Asaf dan saudara-saudaranya
ditunjuk untuk mengurus, untuk tetap melayani di hadapan tabut itu, dengan
nyanyian puji-pujian, seperti yang patut dilakukan setiap hari (ay. 37). Di
sana, tidak ada korban dipersembahkan dan juga tidak ada ukupan dibakar,
sebab memang tidak ada mezbah di sana. Akan namun , doa-doa Daud
dipanjatkan seperti persembahan ukupan, dan tangannya yang terangkat
seperti persembahan korban pada waktu petang (Mzm. 141:2). Begitu
dininya penyembahan rohani berlangsung di dalam upacara penyembahan.
Kitab 1 Tawarikh 16:1-6
131
2. Namun demikian, upacara penyembahan, yang merupakan ketetapan Tuhan ,
sama sekali tidak boleh dihapuskan. Maka dari itu, di Gibeon, tempat mezbah
berada, para imam melayani di sana, sebab mereka bertugas
mempersembahkan korban dan membakar ukupan, yang mereka perbuat
pagi dan petang dengan tetap, menurut segala yang tertulis dalam Taurat
Tuhan (ay. 39-40). Semuanya ini harus terus dilaksanakan, meski nilainya
tidak lebih bernilai dibandingkan ibadat doa dan puji-pujian secara rohani,
sebab semua upacara penyembahan itu merupakan perlambang dari
keperantaraan Kristus. sebab itu mereka sangat menghormati semua
upcara itu dan melaksanakannya, sebab dampaknya sangat besar. Di
tempat inilah Zadok bertugas mengawasi jalannya pelayanan mezbah,
sementara (tampaknya) Abyatar tinggal di Yerusalem untuk melayani tabut
perjanjian, sebab tutup dada pernyataan keputusan, yang harus dimintai
petunjuk di hadapan tabut perjanjian, ada padanya. Inilah alasan mengapa di
zaman Daud, Zadok dan Abyatar sama-sama menjadi imam (2Sam. 8:17;
20:25), yang satu bertugas di tempat mezbah berada, satunya lagi di tempat
tabut perjanjian berada. Di Gibeon, tempat mezbah berada, Daud juga
menetapkan orang-orang yang terpilih, yang ditunjuk dengan disebut
namanya untuk menyanyikan: “Syukur bagi Tuhan”, dan isi dari seluruh
nyanyian mereka haruslah demikian, Bahwasanya untuk selama-lamanya
kasih setia-Nya (ay. 41). Mereka melakukannya dengan alat-alat pengiring
nyanyian untuk Tuhan , yaitu alat-alat yang telah ditetapkan dan dilayakkan
untuk pelayanan ini, dan bukan yang mereka pergunakan pada berbagai
kesempatan lain. Antara kegirangan biasa dan sukacita kudus, terdapat
perbedaan yang sangat besar, sehingga batasan dan jarak di antara
keduanya harus dengan seksama diperhatikan dan dijaga. Dengan
diputuskannya segala perkara seperti demikian, dan urusan-urusan
keagamaan telah diselesaikan dengan akhir yang membahagiakan, maka
(1) Rakyat pun merasa puas dan pulang ke rumah dengan sukacita.
(2) Daud pulang untuk memberi salam kepada seisi rumahnya, dengan
tekad untuk tetap menyelenggarakan ibadah penyembahan di tengah
keluarganya, yang tidak boleh digantikan oleh ibadah penyembahan
umum.
PASAL 17
asal yang istimewa ini sama dengan Kitab 2 Samuel 7. Ada gunanya bagi kita
untuk melihat kembali apa yang tertulis di kitab itu. Secara umum, ada dua
hal yang kita jumpai di dalamnya:
I. Penerimaan Tuhan yang penuh rahmat terhadap rencana Daud untuk
mendirikan bagi-Nya sebuah rumah, dan janji yang dibuat-Nya terkait hal
itu (ay. 1-15).
II. Penerimaan Daud yang penuh rahmat terhadap janji Tuhan yang baik ini,
untuk mendirikan baginya sebuah rumah, yaitu keturunan, dan doa yang
diucapkannya terkait hal itu (ay. 16-27).
Janji Tuhan kepada Daud
(17:1-15)
1 Setelah Daud menetap di rumahnya, berkatalah ia kepada nabi Natan: “Lihatlah, aku ini
diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut perjanjian TUHAN itu ada di bawah
tenda-tenda.” 2 Lalu berkatalah Natan kepada Daud: “Lakukanlah segala sesuatu yang
dikandung hatimu, sebab Tuhan menyertai engkau.” 3 namun pada malam itu juga
datanglah firman Tuhan kepada Natan, demikian: 4 “Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku
Daud: Beginilah firman TUHAN: Bukanlah engkau yang akan mendirikan rumah bagi-Ku
untuk didiami. 5 Aku tidak pernah diam dalam rumah sejak Aku menuntun orang Israel
keluar sampai hari ini, namun Aku mengembara dari kemah ke kemah, dan dari kediaman
ke kediaman. 6 Selama Aku mengembara bersama-sama seluruh orang Israel, pernahkah
Aku mengucapkan firman kepada salah seorang hakim orang Israel, yang Kuperintahkan
menggembalakan umat-Ku, demikian: Mengapa kamu tidak mendirikan bagi-Ku rumah
dari kayu aras? 7 Oleh sebab itu, beginilah kaukatakan kepada hamba-Ku Daud: Beginilah
firman TUHAN semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika
menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel. 8 Aku telah
menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segala
musuhmu dari depanmu. Aku akan membuat namamu seperti nama orang-orang besar
yang ada di bumi. 9 Aku akan menentukan tempat bagi umat-Ku Israel dan akan mena-
namkannya, sehingga ia dapat diam di tempatnya sendiri dengan tidak lagi dikejutkan
dan tidak pula ditekan oleh orang-orang lalim seperti dahulu, 10 sejak Aku mengangkat
hakim-hakim atas umat-Ku Israel. Aku akan menundukkan segala musuhmu. Juga Aku
beritahukan kepadamu: TUHAN akan membangun suatu keturunan bagimu. 11 Apabila
P
136
umurmu sudah genap untuk pergi mengikuti nenek moyangmu, maka Aku akan
membangkitkan keturunanmu yang kemudian, salah seorang anakmu sendiri, dan Aku
akan mengokohkan kerajaannya. 12 Dialah yang akan mendirikan rumah bagi-Ku dan Aku
akan mengokohkan takhtanya untuk selama-lamanya. 13 Aku akan menjadi Bapanya, dan
ia akan menjadi anak-Ku. namun kasih setia-Ku tidak akan Kuhilangkan dari padanya
seperti yang Kuhilangkan dari pada orang yang mendahului engkau. 14 Dan Aku akan
menegakkan dia dalam rumah-Ku dan dalam kerajaan-Ku untuk selama-lamanya dan
takhtanya akan kokoh untuk selama-lamanya.” 15 Tepat seperti perkataan ini dan tepat
seperti penglihatan ini Natan berbicara kepada Daud.
Mari kita cermati di sini,
I. Betapa besar hasrat dan kepedulian yang harus dimiliki orang-orang baik
untuk melayani kepentingan kerajaan Tuhan di dunia, hingga titik
kemampuan mereka yang terakhir. Daud tidak bisa tinggal tenang di dalam
rumah yang terbuat dari kayu aras sementara tabut perjanjian Tuhan diam
di dalam tenda (ay. 1). Permasalahan yang menyangkut masyarakat harus
senantiasa menjadi perhatian kita. Bagaimana mungkin kita dapat menik-
mati kesejahteraan kita sementara kita tidak melihat ada kesejahteraan di
Yerusalem? Ketika derajat Daud ditinggikan dengan harta kekayaan dan
kekuasaan, lihatlah apa yang menjadi kepedulian dan rancangannya. Dia
tidak berpikir seperti ini, “Apa yang akan kulakukan bagi anak-anakku untuk
membagi-bagikan bagian-bagian kepada mereka? Apa yang akan kulakukan
untuk mengisi perbendaharaan hartaku dan memperluas wilayah kekuasa-
anku?”, melainkan, “Apa yang akan kulakukan bagi Tuhan demi melayani dan
memuliakan-Nya?” Orang-orang yang memikirkan perihal ke mana akan
menyalurkan buah kerja serta kebaikan mereka, akan berbuat baik dengan
menanyakan bagaimana keadaan tabut perjanjian Tuhan, dan apakah ada
orang-orang lain yang tidak menikmati kelimpahan itu.
II. Seberapa sigap nabi-nabi Tuhan harus bersikap untuk mendukung setiap
rencana luhur. Natan dengan segera menyadari rancangan Daud yang baik,
sehingga ia pun meminta Daud untuk pergi dan melakukan segala sesuatu
yang dikandung hatinya (ay. 2), sebab ia sungguh yakin bahwa Tuhan beserta
Daud dalam melaksanakan rencana itu. Para hamba Tuhan harus
membangkitkan talenta dan karunia yang terdapat di dalam diri orang lain,
dan dalam diri mereka sendiri.
III. Betapa kecilnya kepedulian Tuhan terhadap kemegahan dan semarak ibadah
lahiriah kita. Tabut perjanjian-Nya sudah berpuas meski hanya berdiam di
bawah kemah (ay. 5), dan Dia tidak pernah sama sekali mengucapkan
sesuatu tentang mendirikan sebuah rumah bagi tabut-Nya. Tidak, bahkan
Kitab 1 Tawarikh 17:1-15
137
ketika Dia telah menetapkan umat-Nya diam di kota-kota yang besar dan
baik yang tidak mereka dirikan (Ul. 6:10). Tuhan memerintahkan hakim-
hakim-Nya untuk menggembalakan umat-Nya, namun tidak pernah menyuruh
mereka untuk mendirikan bagi-Nya rumah (ay. 6). Kita harus dapat berpuas
diri untuk sementara waktu berdiam di tempat yang hina, sebab tabut
perjanjian Tuhan pun demikian.
IV. Betapa baiknya Tuhan menerima rancangan baik umat-Nya, meski Ia sendiri
mencegah terlaksananya rancangan itu. Daud dilarang mendirikan rumah
bagi-Nya (ay. 4). Daud memang harus mempersiapkannya, namun tidak boleh
mendirikannya, seperti halnya Musa yang harus membawa Israel melihat
Kanaan, namun kemudian harus menyerahkannya kepada Yosua untuk
membawa mereka mendiaminya. Kristus memiliki hak istimewa untuk
menjadi pencetus dan penuntas karya-Nya. Namun demikian, Daud tidak
boleh berpikir bahwa sebab ia tidak diizinkan untuk mendirikan rumah
bagi Tuhan , maka
1. Pengangkatannya ke derajat yang lebih mulia itu sia-sia. Sama sekali
tidak demikian. “Akulah yang mengambil engkau dari padang, meski
bukan untuk menjadi orang yang mendirikan rumah Tuhan, namun untuk
menjadi raja atas umat-Ku Israel. Cukuplah semua itu menjadi kemuliaan
bagimu. Berikan kemuliaan yang lain kepada orang yang akan bangkit
setelahmu” (ay. 7). Mengapa seorang manusia berpikiran untuk menge-
rahkan seluruh perhatiannya mengerjakan pekerjaan dan menuntaskan
segala pekerjaan baik sampai sempurna? Biarlah ada pekerjaan yang
ditinggalkan bagi orang yang akan datang kemudian. Tuhan telah
memberikan kepada Daud kemenangan dan telah membuat namanya
besar (ay. 8). Lebih lanjut, Tuhan , melalui Daud, berkenan untuk
meneguhkan umat-Nya Israel dan mengamankan mereka dari musuh-
musuh mereka (ay. 9). Ini harus menjadi pekerjaan Daud, yang yaitu
seorang pahlawan perang dan memang tepat untuk pekerjaan tersebut.
sebab itu, ia harus menyerahkan upaya pendirian jemaat-jemaat
kepada orang yang tidak pernah menjadi seorang prajurit. Daud pun
juga,
2. Tidak boleh berpikir bahwa maksud baiknya itu sia-sia, dan bahwa ia
akan kehilangan upah dari keinginannya itu. Tidak demikian, sebab
perbuatan Tuhan -lah yang mencegah perwujudan maksud baiknya itu. Ia
tetap akan mendapat upah, seolah-olah ia sendiri yang telah
melaksanakannya. “TUHAN akan membangun suatu keturunan bagimu
dan menyertakan mahkota Israel kepada keturunannya itu” (ay. 10).
138
Apabila di dalam hati ada kerelaan, maka tidak hanya kerelaan itu akan
diterima, namun juga akan diberi imbalan. Daud juga,
3. Tidak boleh berpikir bahwa sebab dia tidak akan melaksanakan
pekerjaan baik ini, maka rancangan tersebut tidak akan pernah
terlaksana, dan bahwa sia-sia saja memikirkannya. Tidaklah demikian,
Aku akan membangkitkan keturunanmu yang demikian, dan dialah yang
akan mendirikan rumah bagi-Ku (ay. 11-12). Rumah Tuhan akan dibangun
pada waktu yang telah ditetapkan, meski kita mungkin tidak akan
mendapat kehormatan membantu mendirikannya atau mendapat kepuas-
an untuk menyaksikan rumah tersebut didirikan. Daud juga,
4. Tidak boleh membatasi pikirannya hanya dengan kemakmuran
keluarganya yang bersifat sementara, melainkan harus menghibur diri
dengan harapan akan adanya kerajaan Mesias, yang akan berasal dari
keturunannya, dan yang takhtanya akan kokoh untuk selama-lamanya
(ay. 14). Salomo sendiri tidak selamanya teguh berada di dalam rumah
Tuhan seperti yang seharusnya dilakukannya, demikian pula keluarganya
tidak teguh berada di dalam kerajaan: “Akan namun , akan terlahir
seorang dari keturunanmu yang akan Kutegakkan di dalam rumah-Ku
dan kerajaan-Ku.” Ini menandakan bahwa Dia akan sekaligus menjadi
seorang imam besar di dalam rumah Tuhan serta pelaksana tunggal dari
perkara-perkara kerajaan Tuhan di tengah-tengah manusia, segala kuasa
di sorga dan di bumi, di dalam rumah dan kerajaan, di dalam jemaat dan
dunia. Dia akan menjadi imam di sebelah kanan-Nya, dan permufakatan
tentang damai akan ada di antara mereka berdua, dan Dialah yang akan
mendirikan bait Tuhan (Za. 6:12-13).
Pengakuan Syukur Daud
(17:16-27)
16 Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN sambil
berkata: “Siapakah aku ini, ya TUHAN Tuhan , dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau
membawa aku sampai sedemikian ini? 17 Dan hal ini masih kurang di mata-Mu, ya Tuhan ;
sebab itu Engkau telah berfirman juga tentang keluarga hamba-Mu ini dalam masa yang
masih jauh dan telah memperlihatkan kepadaku serentetan manusia yang akan datang, ya
TUHAN Tuhan . 18 Apakah lagi yang dapat ditambahkan Daud kepada-Mu dalam hal Engkau
memuliakan hamba-Mu ini? Bukankah Engkau yang mengenal hamba-Mu ini? 19 Ya
TUHAN, oleh sebab hamba-Mu ini dan menurut hati-Mu Engkau telah melakukan segala
perkara yang besar ini dengan memberitahukan segala perkara yang besar itu. 20 Ya
TUHAN, tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Tuhan selain Engkau menurut
segala yang kami tangkap dengan telinga kami. 21 Dan bangsa manakah di bumi seperti
umat-Mu Israel, yang Tuhan nya pergi membebaskannya menjadi umat-Nya, untuk
mendapat nama bagi-Mu dengan perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat, dan
dengan menghalau bangsa-bangsa dari depan umat-Mu yang telah Kaubebaskan dari
Kitab 1 Tawarikh 17:1-15
139
Mesir? 22 Engkau telah membuat umat-Mu Israel menjadi umat-Mu untuk selama-lamanya
dan Engkau, ya TUHAN, menjadi Tuhan mereka. 23 Dan sekarang, ya TUHAN, diteguhkanlah
untuk selama-lamanya janji yang Kauucapkan mengenai hamba-Mu ini dan mengenai
keluarganya dan lakukanlah seperti yang Kaujanjikan itu. 24 Maka nama-Mu akan menjadi
teguh dan besar untuk selama-lamanya, sehingga orang berkata: TUHAN semesta alam,
Tuhan Israel yaitu Tuhan bagi orang Israel; maka keluarga hamba-Mu Daud akan tetap
kokoh di hadapan-Mu. 25 Sebab Engkau, ya Tuhan ku, telah menyatakan kepada hamba-Mu
ini, bahwa Engkau akan membangun keturunan baginya. Itulah sebabnya hamba-Mu ini
telah memberanikan diri untuk memanjatkan doa ke hadapan-Mu. 26 Oleh sebab itu, ya
TUHAN, Engkaulah Tuhan dan telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hamba-Mu.
27 Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap
ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab apa yang Engkau berkati, ya TUHAN,
diberkati untuk selama-lamanya.”
Kita membaca di sini doa Daud yang begitu tulus kepada Tuhan , sebagai jawaban
atas pesan penuh rahmat yang diterimanya dari pada-Nya. Oleh iman, ia
menerima janji-janji itu, menyambutnya, dan menjadi yakin olehnya, seperti
halnya yang dikerjakan para bapa leluhur (Ibr. 11:13). Betapa dengan rendah hati
ia merendahkan dirinya sendiri di dalam doanya, dan mengakui ketidaklayakan
dirinya! Betapa tingginya ia meninggikan nama Tuhan dan mengagumi anugerah
dan perkenanan-Nya yang penuh perlindungan! Betapa dengan hati yang penuh
ibadah kepada Tuhan ia memuliakan Tuhan Israel, dan betapa tingginya ia
menghargai Israel kepunyaan Tuhan ! Ia menerima janji itu dengan keyakinan
penuh, dengan iman yang sungguh hidup! Betapa ini menjadi contoh teladan
bagi kita bagaimana menaikkan doa yang penuh kerendahan hati, penuh keper-
cayaan, dan kegigihan! Demikianlah Tuhan memampukan kita semua untuk
mencari Dia! Hal-hal ini sebagian besar telah dicermati di dalam Kitab 2 Samuel
7. Oleh sebab itu, pada pasal ini, kita hanya mencermati sejumlah kecil ungkapan
di dalam doa ini, seperti yang kita baca di dalam pasal ini, yang berbeda dengan
yang terdapat di dalam Kitab 2 Samuel 7, beserta beberapa tambahan.
I. Ungkapan yang diutarakan di dalam Kitab 2 Samuel 7 dalam bentuk
pertanyaan Inikah kehormatan bagi manusia, ya Tuhan Tuhan ? (KJV), pada
kitab ini disampaikan dalam bentuk pengakuan: “Engkau melihatku sebagai
orang terpandang (KJV). Engkau telah menjadikanku orang besar, dan
memperlakukan aku dengan sepantasnya.” Melalui kovenan yang diadakan-
Nya dengan kita, Ia mengakui hubungan-Nya dengan kita, sehingga Ia
mengakui kita sebagai orang-orang percaya, menyebut kita demikian, dan
melimpahkan segala karunia kepada kita. Juga, Ia menyiapkan segala
keperluan kita, dan memandang kita sebagai orang terpandang, meski kita
hina dan jahat. Setelah Ia sendiri menguduskan kita, Ia lalu memperlakukan
kita sebagai orang-orang pilihan, menurut derajat yang dengan sukacita
telah disematkan-Nya kepada kita. Beberapa orang menafsirkan kata-kata
140
dalam pasal ini sebagai berikut: “Engkau telah memandangku dalam rupa
seorang manusia yang paling mulia, Tuhan Tuhan ,” atau “Engkau telah mem-
buatku melihat, menurut rupa seorang manusia, kemuliaan Tuhan Tuhan .”
Dengan ini, perkataan tersebut mengacu kepada Mesias, sebab , seperti
halnya Abraham, demikian halnya Daud, telah melihat hari-Nya dan
bersukacita, melihatnya dengan iman, melihatnya dalam keadaan sebagai
manusia, bahwa Firman itu telah menjadi manusia, dan akan melihat
kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak
Tunggal Bapa. Inilah yang dikatakan Tuhan mengenai kaum keluarga Daud
yang akan datang, di mana penglihatan akan hal itu sangat menyentuh
dirinya lebih dari apa pun. Janganlah dianggap aneh bahwa Daud berbicara
dengan begitu lugasnya mengenai dua natur Kristus. Di dalam roh ia
memanggil-Nya Tuhan, meskipun ia tahu bahwa diri-Nya akan menjadi
Anak-Nya (Mzm. 110:1), dan melihat Kristus untuk waktu yang singkat
sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, namun kemudian
dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat (Ibr. 2:6-7).
II. Setelah perkataan berikut, Apakah lagi yang dapat ditambahkan Daud
kepada-Mu, di dalam pasal ini ditambahkan, dalam hal Engkau memuliakan
hamba-Mu ini? (ay. 18). Catatlah, kehormatan yang diberikan Tuhan kepada
hamba-hamba-Nya, dengan membawa mereka masuk ke dalam kovenan dan
persekutuan dengan diri-Nya sendiri, begitu mulia sehingga mereka tidak
perlu, bahkan mereka tidak mampu, menginginkan untuk diberi kehormatan
yang lebih tinggi lagi. Andai kata mereka duduk dan berharap, mereka tidak
bisa lagi berbicara demi kehormatan mereka sendiri melebihi apa yang telah
dikatakan oleh firman Tuhan .
III. Jelas terlihat bahwa apa yang di dalam Kitab Samuel dikatakan sebagai oleh
sebab firman-Mu, di dalam kitab ini dikatakan sebagai oleh sebab hamba-
Mu (ay. 19). Yesus Kristus yaitu Firman Tuhan (Why. 19:13) sekaligus
Hamba Tuhan (Yes. 42:1), dan demi Kristuslah, di atas segala perenungan-
Nya, janji itu dibuat dan digenapi demi semua orang percaya. Di dalam diri-
Nyalah orang percaya menjadi ya dan amin. Demi Kristus, seluruh kebaikan
dikerjakan, demi Kristus, kebaikan itu diberitakan. Kepada Dialah, kita
berutang seluruh kemuliaan ini, dan dari Dialah kita harus mengharapkan
seluruh hal mulia ini, yaitu kekayaan Kristus yang tidak terduga itu, yang,
apabila oleh iman kita melihat kekayaan itu dan melihatnya di tangan Tuhan
Yesus, tidak bisa tidak kita elu-elukan sebagai hal-hal besar, satu-satunya ke-
muliaan sejati, dan selayaknya memperkatakannya dengan penuh hormat.
Kitab 1 Tawarikh 17:1-15
141
IV. Di dalam Kitab Samuel, Tuhan semesta alam dikatakan sebagai Tuhan atas
Israel, sementara di dalam kitab ini, Tuhan semesta alam dikatakan sebagai
Tuhan Israel, yaitu Tuhan bagi orang Israel (ay. 24). Tuhan , sebagai Tuhan atas
Israel, memperlihatkan sifat Tuhan yang mempunyai nama sebagai Tuhan
mereka, dan dengan demikian memanggil diri-Nya sendiri demikian. Tuhan ,
sebagai Tuhan bagi Israel, memperlihatkan tanggapan-Nya terhadap nama
itu, tindakan-Nya menggenapi hubungan itu, dan segala perbuatan yang
diharapkan dari pada-Nya kepada mereka. Ada yang disebut Tuhan -Tuhan atas
bangsa ini dan itu, Tuhan Asyur dan Mesir, Tuhan Hamat dan Arpad. namun
mereka ini bukanlah Tuhan -Tuhan bangsa Israel, sebab mereka semua tidak
pernah menolong orang Israel, hanya isapan jempol belaka, tiada lain selain
sebuah nama. Akan namun , Tuhan atas Israel yaitu Tuhan bagi Israel, segala
sifat dan kesempurnaan-Nya ditujukan bagi kebaikan dan keuntungan
mereka yang sejati. Berbahagialah bangsa yang Tuhan nya ialah Tuhan, sebab
Ia akan menjadi Tuhan atas mereka, Tuhan yang mencukupkan semuanya.
V. Kata-kata penutup yang tertulis di dalam Kitab Samuel yaitu demikian,
Oleh sebab berkat-Mu keluarga hamba-Mu ini diberkati untuk selama-
lamanya. Inilah ungkapan suatu kerinduan kudus. Akan namun , kata-kata
penutup di dalam pasal ini yaitu ungkapan sebuah iman yang paling kudus:
Apa yang Engkau berkati, ya Tuhan, diberkati untuk selama-lamanya (ay. 27).
1. Daud terdorong untuk memohon berkat sebab Tuhan telah me-
nunjukkan kepadanya bahwa Ia mempunyai berkat tersimpan bagi Daud
dan keluarganya: “Engkau memberkati, ya Tuhan! Maka dari itu, kepada
Engkaulah segala makhluk akan datang untuk memohon berkat, kepada
Engkaulah aku datang untuk memohon berkat yang telah dijanjikan
kepadaku.” Janji dimaksudkan untuk mengarahkan doa dan menghidup-
kannya. Bukankah Tuhan telah berkata, Aku akan memberkati? Biarlah
hati kita menjawab, Tuhan, berkati aku.
2. Daud dengan sepenuh hati memohon berkat sebab ia percaya bahwa
orang yang diberkati Tuhan benar-benar terberkati dan untuk selama-
lamanya terberkati: Apa yang Engkau berkati, diberkati untuk selama-
lamanya. Manusia tidak dapat berbuat apa pun selain memohon berkat.
Tuhan -lah yang memerintahkan berkat. Apa yang dirancang Tuhan ,
dikerjakan-Nya, dan apa yang dijanjikan Tuhan , digenapi-Nya. Bagi Tuhan,
perkataan dan perbuatan bukanlah dua hal yang terpisah. Semuanya itu
akan diberkati untuk selama-lamanya. Berkat-Nya tidak akan dibatalkan,
tidak dapat ditentang, dan kebaikan yang didatangkan oleh berkat-Nya
akan terus bertahan melewati masa. Doa Daud ditutup sama dengan janji
142
Tuhan ditutup (ay. 14), yaitu dengan kata selama-lamanya. Firman Tuhan
tertuju kepada hal-hal yang bersifat kekal, sehingga demikianlah kerin-
duan dan harapan kita juga harus tertuju.
PASAL 18
alam pasal sebelumnya kita telah membaca tentang kesalehan Daud dan
doanya. Di sini, dalam pasal ini, seperti yang patut diharapkan orang,
segera mengikuti sebuah kisah tentang kesejahteraan Daud. Sebab orang-orang
yang mencari dahulu kerajaan Tuhan dan kebenarannya, seperti yang dilakukan
oleh Daud di sini, maka semuanya akan ditambahkan kepada mereka oleh Tuhan
untuk kebaikan mereka. Demikianlah dalam pasal ini,
I. Keberhasilan Daud di luar negeri. Ia menaklukkan orang Filistin (ay. 1),
orang Moab (ay. 2), raja Zoba (ay. 3-4), orang Aram (ay. 5-8),
menjadikan raja Hamat sebagai jajahannya (ay. 9-11), dan orang Edom
(ay. 12-13).
II. Kesejahteraan Daud di dalam negeri. Istana dan kerajaan Daud
berkembang (ay. 14-17). Dan semuanya ini telah dikisahkan
sebelumnya (2Sam. 8).
Kemenangan-kemenangan Daud
(18:1-8)
1 Sesudah itu Daud memukul kalah orang Filistin dan menundukkan mereka; lalu ia
merebut Gat dan segala anak kotanya dari tangan orang Filistin. 2 Dan Daud memukul
kalah orang Moab, sehingga orang Moab takluk kepadanya dan harus mempersembahkan
upeti. 3 Selanjutnya Daud memukul kalah Hadadezer, raja Zoba, dekat Hamat, ketika ia
pergi menegakkan kekuasaannya pada sungai Efrat. 4 Daud merebut dari padanya seribu
kereta, tujuh ribu orang pasukan berkuda dan dua puluh ribu orang pasukan berjalan
kaki, lalu Daud menyuruh memotong urat keting segala kuda kereta, namun dengan
meninggalkan seratus ekor kuda kereta. 5 Lalu orang Aram dari Damsyik datang
menolong Hadadezer, raja Zoba, namun dari antara orang Aram itu Daud menewaskan dua
puluh dua ribu orang. 6 Kemudian Daud menempatkan pasukan-pasukan pendudukan di
daerah orang Aram dari Damsyik, dan orang Aram itu menjadi budak Daud yang harus
mempersembahkan upeti. TUHAN memberi kemenangan kepada Daud ke mana pun ia
pergi berperang. 7 Sesudah itu Daud mengangkut perisai-perisai emas yang dipakai oleh
orang-orang Hadadezer, lalu membawanya ke Yerusalem. 8 Dan dari Tibhat dan dari Kun,
yaitu kota-kotanya Hadadezer, Daud mengangkut amat banyak tembaga; dari padanya
Salomo membuat "laut" tembaga, tiang-tiang dan perlengkapan tembaga.
D
146
Sesudah itu, dikatakan (ay. 1), bahwa Daud melakukan penaklukan besar-
besaran. Sesudah persekutuan yang manis yang dimilikinya bersama dengan
Tuhan melalui firman dan doa, seperti disebutkan dalam pasal sebelumnya, Daud
melanjutkan pekerjaannya dengan semangat dan keberanian yang luar
biasa, memukul kalah dan menundukkan. Demikian pula Yakub, sesudah
menerima penglihatan, dia berangkat (Kej. 29:1).
Kita sebenarnya telah melihat kemenangan-kemenangan ini sebelumnya,
maka sekarang hanya mengamati,
1. Orang-orang yang telah lama menjadi musuh Israel kepunyaan Tuhan akan
ditaklukkan pada akhirnya. Orang Filistin, yang telah menjadi gangguan bagi
Israel selama beberapa generasi, kini dipukul kalah dan ditundukkan oleh
Daud (ay. 1). Demikian pula, semua pemerintah, kerajaan, dan kekuatan yang
melawan, di akhir zaman, akan ditaklukkan oleh Sang Putra Daud, dan para
musuh yang paling kuat akan jatuh tersungkur di hadapan-Nya.
2. Dunia yang tak menentu inilah yang sering menyebabkan manusia
kehilangan kekayaan dan kekuatannya ketika berpikir untuk mengejarnya.
H