tawarikh ester 7

Kamis, 30 Januari 2025

tawarikh ester 7



 iversis – lebih kecil dibandingkan  mereka 

Kitab 1 Tawarikh 28:1-10 

 

217 

semua secara keseluruhan. Umur dan kelemahannya, juga martabatnya, 

sebenarnya membolehkan dirinya untuk tetap duduk di kursi. namun  dia 

ingin menunjukkan bahwa dengan rendah hati dia sungguh bangga, baik 

dengan jumlah rakyatnya maupun dengan kekuasaannya atas mereka. 

Dengan teramat senang hati dia menikmati mereka semua sebagai hamba-

hambanya selama ini (21:3), namun  sekarang dia menyebut mereka 

sebagai saudara-saudaranya, yang dikasihinya, rakyatnya, yang 

diperhatikannya, bukan lagi sebagai hamba-hambanya, yang diperintahnya: 

Dengarlah, hai saudara-saudaraku dan bangsaku! Demikianlah para atasan 

harus bersikap kepada bawahan mereka, berbicara dengan kasih sayang dan 

sikap rendah hati. Mereka tidak akan menjadi kurang terhormat dengan 

berbuat demikian, melainkan lebih dicintai lagi. Demikianlah Daud menarik 

perhatian mereka kepada apa yang hendak disampaikannya.  

III. Ia menyampaikan tujuan yang telah ditetapkannya untuk membangun 

sebuah rumah bagi Tuhan , namun  bahwa Tuhan  tidak mengizinkan dia untuk 

melakukannya (ay. 2-3). Hal ini telah disampaikannya kepada Salomo 

sebelumnya (22:7-8). Rumah perhentian untuk tabut perjanjian dikatakan di 

sini sebagai sebuah rumah perhentian untuk tumpuan kaki Tuhan  kita. Sebab, 

sorga yaitu  takhta kemuliaan-Nya. Bumi, dan bait-bait suci termegah yang 

dapat dibangun di atasnya, tak lain hanyalah tumpuan kaki-Nya: begitu 

besar perbedaannya antara penyataan kemuliaan Ilahi di dunia atas dan di 

dunia bawah. Para malaikat mengelilingi takhta-Nya (Yes. 6:1). Kita yang 

cacing-cacing tanah hina ini hanya bisa menyembah pada tumpuan kaki-Nya 

(Mzm. 99:5; 132:7). Sebagai bukti dari ketulusan maksudnya untuk 

membangun Bait Suci, Daud memberi tahu mereka bahwa dia telah 

mempersiapkan segala-galanya, namun  Tuhan  tidak mengizinkannya untuk 

memulai membangun, sebab Tuhan  telah menetapkan pekerjaan lain baginya 

untuk dilakukan, yang sudah cukup bagi satu orang, yaitu, untuk mengelola 

perang-perang Israel. Ia harus melayani rakyat dengan pedang. Orang lain 

harus membangun Bait Suci itu dengan tepat dan benar. Waktu damai yaitu  

waktu untuk membangun (Kis. 9:31).  

IV. Ia naik takhta lebih dulu, baru kemudian Salomo, namun keduanya tak 

diragukan jure divino – oleh penetapan ilahi. Mereka mendapat makhkota 

kerajaan ini tidak seperti yang terjadi pada raja manapun di bumi ini. Tuhan 

Tuhan  Israel yang memilih keduanya secara langsung, melalui nubuatan, 

bukan kejadian-kejadian biasa (ay. 4-5). Tidak ada hak kesulungan yang 


 

218 

diistimewakan. Detur digniori, non seniori – Penetapan raja itu terjadi melalui 

kelayakan, bukan berdasarkan umur.  

1. Yehuda bukanlah anak sulung Yakub, namun  Tuhan  memilih suku tersebut 

untuk menjadi suku pemimpin. Yakub mewariskan tongkat kerajaan 

tersebut (Kej. 49:10).  

2. Tidaklah tampak bahwa keluarga Isai yaitu  keluarga sulung dari 

sukunya. Dari garis Yehuda sudah pasti bahwa bukan Isai yang sulung, 

sebab Syela ada sebelum Peres. Entah dari Nahason dan Salmon tidaklah 

pasti. Ram, ayah Nahason, punya seorang saudara yang lebih tua (1Taw. 

2:9). Mungkin juga Boas, Obed, dan Isai punya saudara yang lebih tua. 

Namun “Tuhan  telah memilih keluarga ayahku.”  

3. Daud yaitu  anak laki-laki bungsu dari Isai, namun  Tuhan  senang 

menjadikannya sebagai raja. Tampaknya hal itu baik bagi-Nya. Tuhan  

mengambil siapa yang disukai-Nya, seperti halnya Dia telah memilih Daud, 

seorang yang berkenan di hati-Nya.  

4. Salomo yaitu  salah satu putra termuda dari Daud, namun  Tuhan  memilih 

dia untuk duduk di atas takhta, sebab dia yaitu  yang paling disukai dari 

antara yang lain untuk membangun Bait Suci, yang paling bijaksana dan 

yang terbaik hatinya. 

V. Ia menjelaskan kepada mereka rancangan Tuhan  yang murah hati mengenai 

Salomo (ay. 6-7): Aku telah memilih dia untuk menjadi anak-Ku. Demikianlah 

Daud mengumumkan putusan ketetapan, bahwa Tuhan telah berkata kepada 

Salomo, sebagai gambaran dari Kristus, Anak-Ku engkau! (Mzm. 2:7), anak 

yang Kukasihi. sebab  itu, Salomo disebut Yedija, sebab Tuhan mengasihi 

dia, dan Kristus yaitu  Anak terkasih-Nya. Tentang Salomo Tuhan  berkata, 

sebagai gambaran dari Dia yang akan datang,  

1. Ia akan membangun rumah-Ku. Kristus yaitu  pendiri dan dasar dari 

Bait Suci Injili.  

2. Aku akan mengokohkan kerajaannya sampai selama-lamanya. Firman ini 

memiliki penggenapannya di dalam kerajaan Mesias, yang akan berlanjut 

di dalam tangan Kristus di sepanjang abad (Yes. 9:7; Luk. 1:33) dan yang 

akan dipersembahkan kepada Tuhan , yaitu Sang Bapa, namun  mungkin 

akan dipersembahkan kembali kepada Sang Penebus untuk selama-

lamanya. Mengenai Salomo, janji tentang pendirian kerajaannya di sini 

disampaikan dengan syarat: jika ia bertekun melakukan segala perintah 

dan peraturan-Ku seperti sekarang ini. Salomo saat itu sangat bertumbuh 

dan baik: “Jika dia terus demikian, kerajaannya akan terus berlangsung, 

Kitab 1 Tawarikh 28:1-10 

 

219 

namun  jika tidak maka kerajaannya tidak akan terus berlangsung.” Per-

hatikanlah, jika kita setia kepada kewajiban kita maka kita dapat 

mengharapkan kelangsungan dari perkenanan Tuhan , namun  tidak 

sebaliknya. Biarlah kiranya mereka yang telah diajar dengan baik, dan 

memulai dengan baik, memperhatikan hal ini, bahwa jika mereka tetap 

demikian, mereka akan bahagia. Ketekunan mengenakan mahkota, 

kendati tidak memenangkannya. 

VI. Ia menasihati mereka untuk tetap berpegang kepada Tuhan  dan tugas 

panggilannya (ay. 8). Amatilah,  

1. Isi nasihat: Peliharalah dan tuntutlah segala perintah TUHAN, Tuhan mu. 

TUHAN yaitu  Tuhan  mereka. Hukum-hukum-Nya harus menjadi aturan 

mereka. Mereka harus menghormati semua perintah-Nya itu, bertekad 

untuk memeliharanya, dan, untuk itu, mereka harus menyelidikinya, 

yaitu harus mencari tahu mengenai tugas mereka, menyelidiki Kitab 

Suci, menerima nasihat, mencari hukum Tuhan di dalam mulut orang-

orang yang menyimpan pengetahuan ini, dan berdoa kepada Tuhan  untuk 

mengajar serta mengarahkan mereka. Semua perintah Tuhan  tidak dapat 

terpelihara tanpa rasa kepedulian yang besar.  

2. Kesungguhan dari nasihat. Daud menasihati mereka di hadapan seluruh 

bangsa Israel, yang akan memperhatikan nasihat umum ini, dan di 

hadapan Tuhan  mereka. “Tuhan  yaitu  saksi, dan jemaah ini yaitu  saksi, 

bahwa mereka diberikan nasihat yang disertai peringatan yang bagus 

pula. Jika mereka tidak menerimanya, maka itu yaitu  kesalahan mereka 

sendiri, dan Tuhan  serta manusia akan menjadi saksi yang melawan me-

reka” (lih. 1Tim. 4:1, 5:21). Orang-orang yang mengakui agama, selama 

mereka menjaga perkenan Tuhan  dan nama baik mereka di hadapan 

manusia, harus setia kepada pengakuan mereka itu.  

3. Alasan untuk mematuhi nasihat itu. Itulah cara untuk menjadi bahagia, 

untuk memperoleh kedamaian di tanah negeri mereka yang baik ini, dan 

untuk terus mewariskannya kepada anak-anak mereka.  

VII. Ia mengakhiri pertemuan itu dengan nasihat kepada Salomo sendiri (ay. 9-

10). Ia sangat peduli agar Salomo menjadi orang yang saleh. Salomo akan 

menjadi seorang yang hebat, namun  janganlah ia memandang remeh agama. 

Ia akan menjadi seorang yang berhikmat, dan inilah yang menjadi 

hikmatnya. Amatilah,  


 

220 

1. Nasihat yang diberikan Daud kepadanya. Salomo harus memandang 

kepada Tuhan , Tuhan  ayahnya, ayahnya yang baik, yang telah mengabdikan 

dirinya kepada Tuhan  dan mendidiknya bagi Tuhan . Ia dilahirkan di dalam 

keluarga Tuhan  dan sebab nya terikat untuk menjadi milik-Nya, 

dibesarkan di rumah Tuhan  dan patut untuk bersyukur. Jangan 

kautinggalkan temanmu dan teman ayahmu. Ia harus mengenal Tuhan  dan 

melayani Dia. Kita tidak dapat melayani Tuhan  dengan benar, jika kita 

tidak mengenal Dia dengan benar. Dan sia-sialah kita mengenal Dia, jika 

kita tidak melayani Dia, melayani Dia dengan segenap hati dan pikiran. 

Kita menjadikan agama sia-sia, jika kita tidak mempedulikannya, dan 

mencondongkan hati dan perbuatan kita untuknya. Layanilah Tuhan  

dengan sempurna, yaitu dengan hati yang tulus sebab ketulusan yaitu  

kesempurnaan ajaran Injil kita. Dan dengan pikiran yang rela, 

berdasarkan kasih, serta sebagai suatu umat yang rela hati, dengan riang 

hati dan sukacita. 

2. Alasan-alasan untuk menguatkan nasihat ini.  

(1) Dua alasan kebenaran umum:  

[1] Bahwa rahasia jiwa kita terbuka di hadapan Tuhan . Ia menyelidiki 

semua hati, bahkan hati raja-raja, yang bagi manusia tidak dapat 

terselami (Ams. 25:3). Oleh sebab  itu, kita harus bersungguh-

sungguh dan tulus hati, sebab jika kita berjiwa penipu, Tuhan  

melihatnya, dan Ia tidak dapat diperdayai. Kita sebab nya harus 

menggunakan pikiran kita dan melibatkannya dalam pelayanan 

kepada Tuhan , sebab Dia memahami semua khayalan pikiran kita, 

yang baik dan yang jahat.  

[2] Bahwa kita berbahagia atau menderita di sini, dan untuk 

selamanya, berdasarkan apakah kita beribadah atau tidak 

beribadah kepada Tuhan . Jika kita sungguh-sungguh mencari Dia 

dengan rajin, kita akan menemukan Dia, dan hal itu cukup untuk 

membuat kita bahagia (Ibr. 11:6). Jika kita meninggalkan Dia, 

tidak beribadah kepada-Nya dan berpaling dari mengikut Dia, 

maka Dia akan membuang kita untuk selamanya, dan itu cukup 

untuk membuat kita sengsara. Perhatikanlah, Tuhan  tidak pernah 

membuang siapa pun kecuali mereka yang lebih dahulu 

meninggalkan-Nya. Inilah,  

(2) Sebuah alasan yang khusus bagi Salomo (ay. 10): “Engkau akan 

mendirikan sebuah rumah menjadi tempat kudus. Oleh sebab  itu, 

carilah dan layanilah Tuhan , supaya pekerjaan tersebut dapat 

Kitab 1 Tawarikh 28:1-10 

 

221 

dilakukan berdasarkan hati yang baik, dengan cara yang benar, dan 

yang dapat diterima.” 

3. Sarana-sarana yang dijabarkan di sini yaitu  ditujukan bagi kita semua:  

(1) Kehati-hatian: Camkanlah. Hati-hatilah terhadap sesuatu yang 

kelihatannya jahat atau yang memimpin kepada yang jahat.  

(2) Keberanian: Kuatkanlah, dan lakukanlah itu. Kita tidak dapat 

melakukan pekerjaan kita yang semestinya kecuali kita mempunyai 

tekad bulat dan mendapatkan kekuatan dari anugerah Ilahi.  

Nasihat Daud kepada Salomo 

(28:11-21) 

11 Lalu Daud menyerahkan kepada Salomo, anaknya, rencana bangunan dari balai Bait 

Suci dan ruangan-ruangannya, dari perbendaharaannya, kamar-kamar atas dan kamar-

kamar dalamnya, serta dari ruangan untuk tutup pendamaian. 12 Selanjutnya rencana dari 

segala yang dipikirkannya mengenai pelataran rumah TUHAN, dan bilik-bilik di 

sekelilingnya, mengenai perbendaharaan-perbendaharaan rumah Tuhan  dan 

perbendaharaan-perbendaharaan barang-barang kudus; 13 mengenai rombongan-

rombongan para imam dan para orang Lewi dan mengenai segala pekerjaan untuk ibadah 

di rumah TUHAN dan segala perkakas untuk ibadah di rumah TUHAN. 14 Juga ia 

memberikan emas seberat yang diperlukan untuk segala perkakas pada tiap-tiap ibadah; 

dan diberikannya perak seberat yang diperlukan untuk segala perkakas perak pada tiap-

tiap ibadah, 15 yaitu  sejumlah emas untuk kandil-kandil emas dan lampu-lampunya yang 

dari emas, seberat yang diperlukan tiap-tiap kandil dan lampu-lampunya, dan perak 

untuk kandil perak seberat yang diperlukan perak untuk satu kandil dan lampu-lampu-

nya, sesuai dengan pemakaian tiap-tiap kandil dalam ibadah. 16 Kemudian diberikannya 

sejumlah emas untuk meja-meja roti sajian, meja demi meja, dan perak untuk meja-meja 

dari perak; 17 selanjutnya emas murni untuk garpu-garpu, dan bokor-bokor penyiraman 

dan kendi-kendi, juga untuk piala-piala dari emas seberat yang diperlukan untuk tiap-tiap 

piala, dan perak untuk piala dari perak seberat yang diperlukan untuk tiap-tiap piala;  

18 juga emas yang disucikan untuk mezbah pembakaran ukupan seberat yang diperlukan 

dan emas untuk pembentukan kereta yang menjadi tumpangan kedua kerub, yang 

mengembangkan sayapnya sambil menudungi tabut perjanjian TUHAN. 19 Semuanya itu 

terdapat dalam tulisan yang diilhamkan kepadaku oleh TUHAN, yang berisi petunjuk 

tentang segala pelaksanaan rencana itu. 20 Lalu berkatalah Daud kepada Salomo, anaknya: 

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, dan lakukanlah itu; janganlah takut dan janganlah 

tawar hati, sebab TUHAN Tuhan , Tuhan ku, menyertai engkau. Ia tidak akan membiarkan 

dan meninggalkan engkau sampai segala pekerjaan untuk ibadah di rumah Tuhan  selesai. 

21 Sesungguhnya, rombongan para imam dan para orang Lewi ada untuk melakukan 

segala ibadah di rumah Tuhan , dan ada beberapa sukarelawan yang ahli dalam setiap tugas 

yang dapat membantu engkau. Juga para pemimpin dan seluruh rakyat ini sepenuhnya 

ada di bawah perintahmu.” 

Mengenai nasihat umum yang diberikan Daud kepada putranya untuk mencari 

Tuhan  dan melayani Dia, kitab taurat merupakan satu-satunya aturan, dan tidak 

perlu yang lain. Namun, dalam membangun Bait Suci, Daud kini memberinya tiga 

hal:  


 

222 

1. Sebuah rancangan bangunan, sebab bangunan ini harus menjadi sebuah 

bangunan yang luar biasa yang belum pernah dilihat olehnya atau oleh 

perancangnya. Musa memiliki suatu pola Kemah Suci yang diperlihatkan 

kepadanya di gunung (Ibr. 8:5), demikian pula Daud tentang Bait Suci, 

melalui bantuan yang diilhamkan Tuhan  langsung kepadanya (ay. 19). Hal itu 

diberikan kepadanya dalam bentuk tulisan, mungkin melalui pelayanan 

seorang malaikat, atau yang disampaikan kepada pikirannya secara jelas dan 

tepat seakan-akan seperti dalam sebuah tulisan. Namun dikatakan (ay. 

12), dia memiliki rencana dari segala yang dipikirkannya dengan bantuan 

Roh. Rancangan hasil perenungan Daud atau hikmat Salomo tidak dapat 

diandalkan dalam urusan istimewa seperti ini. Bait Suci harus menjadi 

sesuatu yang kudus dan suatu gambaran dari Kristus. Harus ada di dalamnya 

tidak hanya kenyamanan dan kepatutan, namun  juga kepentingannya: Bait 

Suci yaitu  semacam sakramen dan sebab nya tidak boleh diserahkan 

begitu saja kepada kahlian atau temuan manusia untuk merancangnya, 

namun  harus dirancang oleh ketetapan Ilahi. Kristus Bait Suci yang sejati, 

jemaat Bait Suci yang dibangun di atas dasar Injil, dan sorga Bait Suci yang 

kekal, semuanya dirancang menurut pertimbangan Ilahi, dan rencana dibuat 

berdasarkan hikmat Ilahi, telah dibuat dan disahkan sebelum dunia ada bagi 

kemuliaan Tuhan  dan kehormatan kita. Pola Bait Suci ini diberikan Daud 

kepada Salomo supaya dia tahu apa yang harus disediakan dan harus 

melakukan apa selanjutnya sesuai dengan aturan yang tertentu. Ketika 

Kristus meninggalkan murid-murid-Nya dengan suatu tugas untuk 

membangun jemaat Injili, Dia juga memberi mereka sebuah rancangan yang 

tepat tentangnya, memerintahkan mereka untuk melaksanakannya, dan 

berpaut padanya seperti yang diperintahkan-Nya. Rancangan-rancangan 

tertentu disebutkan di sini, tentang serambi, yang harus lebih tinggi dari yang 

lain, seperti sebuah menara gereja. Kemudian ada ruangan-ruangan, baik 

ruang kudus dan ruang maha kudus, dengan ruangan-ruangan di sebelah, 

untuk perbendaharaan, kamar-kamar atas, dan kamar-kamar sebelah dalam, 

terutama ruangan untuk tutup pendamaian (ay. 11). Juga tentang pelataran-

pelataran, dan bilik-bilik di sekelilingnya, di mana barang-barang kudus 

diletakkan. Uskup Patrick percaya bahwa, dari semua benda lain, kemah suci 

yang didirikan oleh Musa dan segala perabotnya, yang kini sudah tidak 

digunakan lagi, diletakkan di sini, yang menyatakan bahwa dalam kegenapan 

waktu semua sarana yang dipakai di zaman Musa, segala tata upacaranya 

yang berlaku pada waktu itu, harus dikesampingkan dengan rasa hormat, 

dan sesuatu yang lebih baik akan datang menggantikannya. Daud memberi 

Salomo sebuah daftar rombongan para imam, pola-pola dari segala perkakas 

Kitab 1 Tawarikh 28:1-10 

 

223 

untuk ibadah (ay. 13), dan sebuah pola dari kereta yang menjadi tumpangan 

kerub (ay. 18). Di samping dua kerub di atas tutup pendamaian itu, ada dua 

kerub lagi yang jauh lebih besar, yang sayap-sayapnya mencapai dari 

dinding ke dinding (1Raj. 6:23, dst.), dan yang tentangnya Daud di sini 

memberi kepada Salomo polanya, yang disebut sebuah kereta. Sebab para 

malaikat yaitu  kereta-kereta Tuhan  (Mzm. 68:18).  

2. Bahan-bahan yang paling mahal untuk semua perangkat Bait Suci. Dan 

supaya semuanya tidak dibuat kurang dibandingkan  pola yang ada, Daud telah 

menimbang jumlah yang tepat untuk masing-masing perangkat dari emas 

dan perak (ay. 14). Dalam kemah suci di sana hanya ada satu kandil emas. 

Dalam Bait Suci ada sepuluh kandil emas (1Raj. 7:49), di samping yang perak 

(ay. 15). Dalam kemah suci hanya ada satu meja. namun  dalam Bait Suci, di 

samping ada meja roti sajian, di sana juga ada sepuluh meja lain untuk 

keperluan yang lain (2Taw. 4:8), di samping meja-meja yang terbuat dari 

perak. Sebab, rumah ini yang jauh lebih besar dari kemah, akan terlihat 

kosong jika tidak memiliki perangkat yang sepadan dengan luas ruangan. 

Emas untuk mezbah pembakaran ukupan secara khusus dikatakan 

sebagai emas yang disucikan (ay. 18, KJV: ditempa dengan baik), sehingga 

lebih murni dibandingkan  yang lainnya. Oleh sebab  mezbah tersebut merupakan 

gambaran dari kepengantaraan Kristus, yang tidak lain harus lebih murni 

dan lebih sempurna.  

3. Petunjuk-petunjuk cara untuk mencari pertolongan dalam usaha yang besar 

ini. “Jangan takut perlawanan. Jangan takut fitnahan dan masalah. Hati-

hatilah jangan sampai salah berperilaku dalam Bait Suci, seperti di dalam 

kasus Uza. Jangan takut akan celaan dari pembangun bodoh, yang mulai 

membangun namun  tidak sanggup menyelesaikannya. Jangan tawar hati.  

(1) Tuhan  akan menolongmu dan engkau haruslah pertama-tama 

mengandalkan Dia (ay. 20): TUHAN Tuhan , Tuhan ku, yang kupilih dan 

kulayani, yang selama ini menyertai aku dan membuat aku sejahtera, 

dan kepada siapa, dari pengalaman pribadiku tentang kuasa-Nya dan 

kebaikan-Nya, aku jamin, Dia pasti akan menyertai engkau, 

mengarahkan, menguatkan, dan membuatmu berhasil. Ia tidak akan 

mengecewakan atau meninggalkan engkau.” Perhatikanlah, kita dapat 

menjadi yakin bahwa Tuhan , yang melindungi nenek moyang kita dan 

menuntun mereka melalui ibadah di zaman mereka, dengan cara yang 

sama, akan menyertai kita di zaman sekarang ini, jika kita setia kepada-

Nya, dan tidak akan meninggalkan kita, selama Ia memiliki pekerjaan 

untuk Ia kerjakan di dalam kita atau melalui kita. Kata-kata yang sama 

yang dipakai untuk menguatkan hati Yosua (Yos. 1:5), dan Salomo, 


 

224 

diberikan juga kepada semua orang percaya (Ibr. 13:5). Ia sekali-kali 

tidak akan membiarkan engkau dan sekali-kali tidak akan meninggalkan 

engkau. Tuhan  tidak akan pernah meninggalkan siapa pun kecuali mereka 

lebih dahulu meninggalkan-Nya.  

(2) “Orang-orang yang baik akan membantu engkau (ay. 21). Para imam dan 

orang-orang Lewi akan menasihati engkau, dan engkau akan dapat 

bertanya kepada mereka. Engkau memiliki para pekerja yang baik, yang 

rela hati dan terampil.” Dan inilah dua sifat yang sangat baik dalam diri 

seorang pekerja, terutama di dalam diri mereka yang bekerja di Bait 

Suci. Dan akhirnya, “Para pembesar dan umat akan dijauhkan dari me-

lawan atau menghalangi pekerjaan itu, sebab mereka semua sepenuhnya 

ada di bawah perintahmu, setiap orang di tempatnya masing-masing 

siap untuk membantumu.” Maka pekerjaan baik pasti akan terus 

berlanjut ketika semua pihak yang terkait sehati di dalamnya, dan tidak 

ada yang secara diam-diam menghalanginya, melainkan semuanya 

bekerja dengan sungguh-sungguh hati di dalamnya. 

 

 

PASAL  29  

aud telah mengatakan apa yang harus disampaikannya kepada Salomo. 

namun  masih ada lagi yang perlu dikatakannya kepada jemaah Israel 

sebelum berpisah dengan mereka.  

I. Ia mendorong mereka untuk memberi dukungan, sesuai dengan 

kemampuan mereka, bagi pembangunan dan penyelesaian Bait Suci 

(ay. 1-5).  

II. Mereka membawa banyak persembahan mereka dengan sukarela (ay. 6-

9).  

III. Daud menaikkan doa dan pujian yang khidmat kepada Tuhan  pada 

kesempatan ini (ay. 10-20), dengan korban persembahan (ay. 21-22).  

IV. Salomo dengan ini dijadikan raja dengan sukacita yang besar dan 

keagungan (ay. 23-25).  

V. Daud, segera sesudah ini menyelesaikan perjalanan hidupnya (ay. 26-

30). Dan sukar untuk mengatakan yang mana yang bersinar lebih 

terang di sini, matahari yang terbenam atau matahari yang terbit. 

Persembahan untuk Bait Suci 

(29:1-9) 

1 Berkatalah raja Daud kepada segenap jemaah itu: “Salomo, anakku yang satu-satunya 

dipilih Tuhan  yaitu  masih muda dan kurang berpengalaman, sedang pekerjaan ini besar, 

sebab bukanlah untuk manusia bait itu, melainkan untuk TUHAN Tuhan . 2 Dengan segenap 

kemampuan aku telah mengadakan persediaan untuk rumah Tuhan ku, yaitu  emas untuk 

barang-barang emas, perak untuk barang-barang perak, tembaga untuk barang-barang 

tembaga, besi untuk barang-barang besi, dan kayu untuk barang-barang kayu, batu 

permata syoham dan permata tatahan, batu hitam dan batu permata yang berwarna-

warna, dan segala macam batu mahal-mahal dan sangat banyak pualam. 3 Lagipula oleh 

sebab  cintaku kepada rumah Tuhan ku, maka sebagai tambahan pada segala yang telah 

kusediakan bagi rumah kudus, aku dengan ini memberikan kepada rumah Tuhan ku dari 

emas dan perak kepunyaanku sendiri 4 tiga ribu talenta emas dari emas Ofir dan tujuh 

ribu talenta perak murni untuk menyalut dinding ruangan, 5 yaitu  emas untuk barang-

barang emas dan perak untuk barang-barang perak dan untuk segala yang dikerjakan 


 

228 

oleh tukang-tukang. Maka siapakah pada hari ini yang rela memberikan persembahan 

kepada TUHAN?” 6 Lalu para kepala puak dan para kepala suku Israel dan para kepala 

pasukan seribu dan pasukan seratus dan para pemimpin pekerjaan untuk raja 

menyatakan kerelaannya. 7 Mereka menyerahkan untuk ibadah di rumah Tuhan  lima ribu 

talenta emas dan sepuluh ribu dirham, sepuluh ribu talenta perak dan delapan belas ribu 

talenta tembaga serta seratus ribu talenta besi. 8 Siapa yang mempunyai batu permata 

menyerahkannya kepada Yehiel, orang Gerson itu, untuk perbendaharaan rumah TUHAN. 

9 Bangsa itu bersukacita sebab  kerelaan mereka masing-masing, sebab dengan tulus hati 

mereka memberikan persembahan sukarela kepada TUHAN; juga raja Daud sangat 

bersukacita. 

Di sini kita dapat mengamati, 

I. Betapa apiknya Daud berbicara kepada para pembesar Israel untuk 

mengajak mereka memberi sumbangan bagi pembangunan Bait Suci. Ini 

yaitu  tugas kita untuk saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan 

baik, tidak hanya untuk berbuat baik sendiri, namun  juga untuk menarik 

orang lain berbuat baik sedapat mungkin. Ada banyak orang yang sangat 

kaya di Israel. Mereka semua akan berbagi manfaat dengan adanya Bait Suci 

itu, serta berbagi hari-hari yang damai yang akan menyertai Bait Suci itu. 

Oleh sebab  itu, kendati Daud tidak mau mengenakan pajak kepada mereka, 

untuk diberikan untuk Bait Suci, dia mengusulkan mereka memberikan 

persembahan sukarela, sebab apa yang dilakukan untuk pekerjaan 

kesalehan dan amal harus dilakukan secara sukarela dan bukan sebab  

paksaan. Sebab Tuhan  mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.  

1. Ia ingin agar jemaah Israel mempertimbangkan bahwa Salomo itu masih 

muda dan belum berpengalaman, sehingga membutuhkan pertolongan. 

Salomolah orang yang telah dipilih Tuhan  untuk melakukan pekerjaan ini, 

dan sebab nya layak untuk mendapatkan sokongan yang baik dari 

mereka. Merupakan hal yang baik untuk mendorong orang-orang yang 

masih muda dan belum berpengalaman dalam pekerjaan Tuhan .  

2. Bahwa pekerjaan itu begitu besar, sehingga semua tangan harus terulur 

untuk melanjutkannya. Istana yang harus dibangun itu bukanlah untuk 

manusia, namun  untuk TUHAN Tuhan . Makin besar yang disumbangkan 

bagi pembangunan itu, makin megah pula ia, dan dengan begitu Bait itu 

akan semakin baik dalam memenuhi tujuannya.  

3. Daud memberi tahu jemaah betapa besar persiapan yang telah 

dibuatnya bagi pekerjaan ini. Ia tidak bermaksud untuk melempar 

semua beban ke pundak mereka, juga bukan bahwa Bait Suci harus 

dibangun sepenuhnya melalui sumbangan, melainkan bahwa mereka 

harus menunjukkan niat baik mereka, dengan menambahkan kepada 

apa yang telah dilakukannya (ay. 2): Dengan segenap kemampuan aku 

Kitab 1 Tawarikh 29:1-9 

 

229 

telah mengadakan persediaan, yaitu, “Aku telah menjadikan pembangun-

an Bait Suci sebagai urusanku.” Pekerjaan bagi Tuhan  memang harus 

dilakukan dengan segenap kekuatan, atau kita tidak akan berhasil.  

4. Daud memberikan kepada jemaah sebuah teladan yang baik. Di samping 

apa yang dikhususkan bagi pelayanan ini di luar jarahan dan upeti dari 

bangsa-bangsa tetangga, yang diperuntukkan bagi pembangunan rumah 

Tuhan  (sebelumnya, 22:14), di luar dari bagiannya, Daud juga telah 

mempersembahkan sejumlah besar persembahan untuk memperindah 

dan melengkapinya, yaitu 3.000 talenta emas dan 7.000 talenta perak 

(ay. 4-5), dan hal ini dilakukannya sebab  kasihnya yang besar kepada 

rumah Tuhan nya. Ia memberikan semuanya ini, bukan seperti pimpinan 

gereja membangun gereja, sebagai pengganti penebusan dosa, atau 

untuk menebus dosa, atau seperti orang Farisi memberikan amal, untuk 

dilihat oleh manusia. namun  murni sebab  ia mencintai tempat kediaman 

Tuhan . Maka dia mengakuinya (Mzm. 26:8) dan di sini dia 

membuktikannya. Orang-orang yang menunjukkan kasih mereka kepada 

pelayanan Tuhan  tidak akan memikirkan kerugian atau harga yang terlalu 

besar untuk dipersembahkan kepadanya. Demikianlah persembahan kita 

akan menyenangkan Tuhan , ketika dilakukan sebab  kasih. Orang-orang 

yang menunjukkan kasih mereka kepada hal-hal yang di atas akan 

menunjukkan kasih mereka kepada rumah Tuhan , jalan kita menuju 

sorga. Nah, Daud menjelaskan tindakannya ini untuk menggugah hati 

mereka agar melakukan hal yang sama. Perhatikanlah, orang-orang yang 

ingin menarik orang lain berbuat apa yang baik harus mendahului 

mereka. Orang-orang yang secara khusus maju melebihi yang lain di 

dalam kedudukan dan martabat, terlebih lagi harus berusaha membuat 

terang mereka bersinar di depan manusia, sebab pengaruh keteladanan 

mereka lebih kuat dan luas dibandingkan  orang lain.  

5. Daud mendorong mereka untuk melakukan seperti yang telah 

dilakukannya (ay. 5): Maka siapakah pada hari ini yang rela memberikan 

persembahan kepada TUHAN?  

(1) Masing-masing kita, di tempat kita, harus melayani Tuhan dan 

mengkhususkan pelayanan kita kepada-Nya, memisahkannya dari hal-

hal lain yang asing dan tercampur dengannya, dan mengarahkan serta 

merancangnya bagi kehormatan dan kemuliaan Tuhan .  

(2) Kita harus membuat ibadah kepada Tuhan  sebagai urusan kita, harus 

mengisi tangan kita bagi Tuhan, demikianlah istilah bahasa 

Ibraninya. Orang-orang yang melibatkan diri dalam pelayanan Tuhan  

akan membuat tangan mereka terisi penuh. Ada cukup pekerjaan 


 

230 

bagi semua orang dalam pelayanan tersebut. Pemenuhan tangan kita 

dalam pelayanan kepada Tuhan  berarti bahwa kita harus melayani 

Dia saja, melayani Dia dengan berlimpah, dan melayani Dia dengan 

kekuatan anugerah yang berasal dari Dia.  

(3) Kita harus merasa bebas di dalam pelayanan kepada-Nya itu, 

melakukannya dengan sukarela dan segera, melakukannya hari ini, 

ketika kita sedang berpikiran baik. Siapakah yang rela? Sekarang 

kiranya dia menunjukkannya. 

II. Betapa eloknya mereka semua menyokong bagi pembangunan Bait Suci ketika 

mereka telah mendapatkan dorongan. Kendati mereka dibujuk untuk 

melakukannya, namun tetap dikatakan, Mereka mempersembahkannya dengan 

sukarela (ay. 6, KJV). Demikianlah kata Daud yang mengenal hati jemaahnya. 

Bahkan, mereka mempersembahkan dengan tulus hati, dari dasar hati yang 

baik dan dengan penghormatan yang sungguh-sungguh kepada kemuliaan 

Tuhan  (ay. 9). Betapa murah hatinya mereka tampak dari jumlah per-

sembahan mereka (ay. 7-8). Mereka memberi sebagaimana adanya mereka, 

seperti para pemimpin, seperti para pemimpin Israel. Dan merupakan hari 

kerja yang menyenangkan saat itu. Sebab,  

1. Bangsa itu bersukacita, yang dapat dimaksudkan sebagai orang-orang 

yang telah memberi persembahan: mereka senang atas kesempatan 

untuk memuliakan Tuhan  dengan harta mereka, dan senang atas 

pengharapan untuk bahwa pekerjaan yang baik ini akan selesai. Atau, 

rakyat biasa bersukacita atas kemurahan hati para pembesar mereka, 

bahwa mereka memiliki para pemimpin yang demikian tertuju hatinya 

bagi pekerjaan baik ini. Setiap orang Israel senang melihat pekerjaan 

Bait Suci dilanjutkan dengan penuh semangat.  

2. Raja Daud sangat bersukacita melihat dampak yang baik dari kidung-

kidung pujiannya dan dari sarana-sarana ibadah lainnya yang ia 

tetapkan. Ia bersukacita sebab  putranya dan penggantinya akan 

memiliki orang-orang di sekitarnya yang begitu mencintai rumah Tuhan . 

Ia bersuka melihat pekerjaan ini, yang begitu melekat di hatinya, akan 

terus berjalan. Perhatikanlah, sungguh membangkitkan semangat orang-

orang baik yang hendak meninggalkan dunia ini, ketika mereka melihat 

orang-orang yang mereka tinggalkan sangat bersemangat bagi agama dan 

mau tetap mempertahankannya. Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu 

ini pergi dalam damai sejahtera. 

Kitab 1 Tawarikh 29:1-9 

 

231 

Doa Daud kepada Tuhan  dan Korban Persembahan  

(29:10-22) 

10 Lalu Daud memuji TUHAN di depan mata segenap jemaah itu. Berkatalah Daud: 

“Terpujilah Engkau, ya TUHAN, Tuhan nya bapa kami Israel, dari selama-lamanya sampai 

selama-lamanya. 11 Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, 

kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya 

TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya 

sebagai kepala. 12 Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah 

yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam 

tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya. 13 Sekarang, ya 

Tuhan  kami, kami bersyukur kepada-Mu dan memuji nama-Mu yang agung itu. 14 Sebab 

siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan 

persembahan sukarela seperti ini? Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari 

tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu. 15 Sebab kami yaitu  

orang asing di hadapan-Mu dan orang pendatang sama seperti semua nenek moyang 

kami; sebagai bayang-bayang hari-hari kami di atas bumi dan tidak ada harapan. 16 Ya 

TUHAN, Tuhan  kami, segala kelimpahan bahan-bahan yang kami sediakan ini untuk 

mendirikan bagi-Mu rumah bagi nama-Mu yang kudus yaitu  dari tangan-Mu sendiri dan 

punya-Mulah segala-galanya. 17 Aku tahu, ya Tuhan ku, bahwa Engkau yaitu  penguji hati 

dan berkenan kepada keikhlasan, maka aku pun mempersembahkan semuanya itu 

dengan sukarela dan tulus ikhlas. Dan sekarang, umat-Mu yang hadir di sini telah kulihat 

memberikan persembahan sukarela kepada-Mu dengan sukacita. 18 Ya TUHAN, Tuhan  

Abraham, Ishak dan Israel, bapa-bapa kami, peliharalah untuk selama-lamanya kecen-

derungan hati umat-Mu yang demikian ini dan tetaplah tujukan hati mereka kepada-Mu. 

19 Dan kepada Salomo, anakku, berikanlah hati yang tulus sehingga ia berpegang pada 

segala perintah-Mu dan peringatan-Mu dan ketetapan-Mu, melakukan segala-galanya dan 

mendirikan bait yang persiapannya telah kulakukan.” 20 Kemudian berkatalah Daud 

kepada segenap jemaah itu: “Pujilah kiranya TUHAN, Tuhan mu!” Maka segenap jemaah itu 

memuji TUHAN, Tuhan  nenek moyang mereka, kemudian mereka berlutut dan sujud 

kepada TUHAN dan kepada raja. 21 Keesokan harinya mereka mempersembahkan korban 

sembelihan dan korban bakaran kepada TUHAN, yaitu  seribu ekor lembu, seribu ekor 

domba jantan dan seribu ekor domba muda, dengan korban-korban curahannya dan 

sangat banyak korban sembelihan demi seluruh Israel. 22 Lalu mereka makan dan minum 

pada hari itu di hadapan TUHAN dengan sukacita yang besar, kemudian menyatakan 

untuk kedua kalinya Salomo, anak Daud, sebagai raja dan mengurapi dia bagi TUHAN 

sebagai raja dan Zadok sebagai imam. 

Di sini kita mendapati, 

I. Doa khidmat dipanjatkan Daud kepada Tuhan  atas persembahan mulia para 

pembesarnya bagi pembangunan Bait Suci (ay. 10): Lalu Daud memuji 

TUHAN, tidak hanya di kamarnya, namun  di depan mata segenap jemaah 

itu. Inilah yang saya harapkan ketika membaca (ay. 9) bahwa Daud sangat 

bersukacita. Sebab seorang yang saleh seperti dia tidak diragukan lagi akan 

menyatakan syukurnya sama besarnya dengan sukacitanya. Ia yang melihat 

sekeliling dengan sukacita pasti akan melihat ke atas dengan pujian. Daud 

kini sudah tua dan melihat dirinya sedang mendekati ajal. Dan sangat baik 

bagi orang-orang kudus yang lanjut usia, dan yang sedang mendekati ajal, 

untuk melapangkan hati mereka dengan puji-pujian dan ucapan syukur. Hal 

ini akan membungkam keluhan mereka atas kelemahan tubuh dan mem-


 

232 

bantu mengurangi rasa suram terhadap ajal yang mendekat itu. Mazmur 

Daud, menjelang bagian akhir kitab ini, kebanyakannya mazmur pujian. 

Semakin dekat kita datang kepada dunia pujian-pujian yang abadi itu, maka 

kita harus lebih banyak berbicara dengan menggunakan bahasa dan 

melakukan pekerjaan dari dunia itu. Dalam doanya itu, 

1. Daud memuja Tuhan  dan memberikan kemuliaan kepada-Nya sebagai 

Tuhan  Israel, terpujilah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Doa 

Tuhan kita berakhir dengan sebuah doksologi (doa pujian) yang sangat 

mirip dengan kata pembuka Daud di sini, Kerajaan dan kuasa dan 

kemuliaan. Inilah pujian yang benar kepada Tuhan , yaitu dengan rasa 

kekaguman dan rasa hormat yang kudus, dan dengan kasih sayang patut 

mengakui,  

(1) Kesempurnaan-Nya yang tak terbatas. Tidak hanya Tuhan  itu agung, 

berkuasa, mulia, dll., namun  juga bahwa kepunyaan-Nyalah 

kebesaran, kuasa dan kemuliaan, yaitu Dia memiliki semuanya di 

dalam diri-Nya dan dari diri-Nya sendiri (ay. 11). Ia yaitu  sumber 

dan pusat dari segala sesuatu yang cemerlang dan terberkati. Semua 

sifat dan gelar yang dapat kita berikan kepada-Nya dalam puji-pujian 

kita yang terluhur, semuanya tak terbantahkan lagi ada pada-Nya. 

Kepunyaan-Nya yaitu  kebesaran. Kebesaran-Nya yaitu  luar biasa 

hebat dan tak terselami. Dan segala sesuatu yang lain yaitu  kecil, 

bukanlah apa-apa, dibandingkan Dia. Kepunyaan-Nya yaitu  kuasa, 

dan kuasa-Nya yaitu  mahakuasa dan tak terlawankan. Kekuasaan 

yaitu  milik-Nya, dan segala kekuasaan dari semua makhluk ciptaan 

berasal dari Dia dan bergantung pada Dia. Kepunyaan-Nya yaitu  

kemuliaan. Sebab kemuliaan-Nya yaitu  tujuan-Nya dan tujuan dari 

seluruh penciptaan. Segala kemuliaan yang dapat kita berikan 

kepada-Nya dengan hati, bibir, dan hidup kita, sangat jauh dari apa 

yang menjadi hak-Nya. Kepunyaan-Nya yaitu  kemenangan. Ia mele-

bihi dan melampaui semua, dan sanggup untuk menaklukkan dan 

mengalahkan segala sesuatu bagi diri-Nya. Dan kemenangan-Nya 

yaitu  tak tertandingi dan tak terkendalikan. Dan kepunyaan-Nya 

yaitu  keagungan, nyata dan pribadi. Bersama Dia yaitu  keagungan 

yang mengerikan, yang tak terungkapkan dan tak terbayangkan.  

(2) Kekuasaan-Nya yang berdaulat, sebagai pemilik sah atas segala 

sesuatu: Segala-galanya yang ada di langit dan di bumi, dan ada 

dalam penguasaan-Nya, dengan hak penciptaan yang tak 

terbantahkan, dan sebagai penguasa tertinggi dan pemerintah dari 

Kitab 1 Tawarikh 29:1-9 

 

233 

semua: kepunyaan-Mulah kerajaan, dan semua raja yaitu  rakyat-

Mu. Sebab Engkau yaitu  kepala dan yang harus ditinggikan dan 

disembah sebagai kepala di atas segala sesuatu.”  

(3) Pengaruh dan pekerjaan-Nya di seluruh alam semesta. Semua yang 

kaya dan terhormat di antara anak-anak manusia memperoleh 

kekayaan dan kehormatan mereka dari Tuhan . Pengakuan ini yang 

Daud inginkan untuk diperhatikan dan dimiliki oleh para 

pembesarnya, sehingga mereka tidak menganggap diri berjasa apa 

pun kepada Tuhan  dengan pemberian amal mereka. Sebab dari Tuhan  

mereka memperoleh kekayaan dan kehormatan mereka, dan apa 

yang telah mereka kembalikan kepada-Nya hanyalah sebagian kecil 

saja dari apa yang telah mereka terima dari Dia. Barang siapa besar 

di antara sesamanya, tangan Tuhan -lah yang menjadikan mereka 

demikian. Dan, kekuatan apa pun yang kita miliki, Tuhan lah yang 

memberikannya kepada kita, sebagai Tuhan  Bapa kami Israel (ay. 10; 

Mzm. 68:36). 

2. Daud mengakui dengan penuh syukur anugerah Tuhan  yang 

memampukan mereka untuk menyokong dengan sukacita kepada 

pembangunan Bait Suci (ay. 13-14): Sekarang, ya Tuhan  kami, kami 

bersyukur kepada-Mu. Perhatikanlah, semakin kita berbuat baik bagi 

Tuhan , semakin kita berutang budi kepada-Nya atas kehormatan dipakai 

dalam pelayanan-Nya, dan atas anugerah yang memampukan kita, dalam 

takaran apa pun, untuk melayani Dia. Adakah ia berterima kasih kepada 

hamba itu? (Luk. 17:9). Tidak: namun  hamba itu memiliki banyak alasan 

untuk berterima kasih kepada tuannya. Daud bersyukur kepada Tuhan  

sebab  mereka sanggup mempersembahkan dengan 

sukarela. Perhatikanlah,  

(1) Sungguh merupakan sebuah contoh yang agung tentang kuasa 

anugerah Tuhan  di dalam kita untuk dapat melakukan pekerjaan Tuhan  

dengan sukarela. Ia mengerjakan baik kemauan maupun pekerjaan. 

Dan di hari kuasa-Nyalah umat-Nya dibuat-Nya rela hati (Mzm. 

110:3).  

(2) Kita harus memberikan kepada Tuhan  segala kemuliaan dari semua 

kebaikan yang dilakukan kapan pun, baik oleh diri sendiri atau oleh 

orang lain. Pekerjaan baik kita janganlah menjadi hal kebanggaan 

diri, atau pekerjaan baik orang lain menjadi sanjungan kita, namun  

keduanya harus menjadi puji-pujian kita kepada-Nya. Sebab sudah 


 

234 

tentu merupakan kehormatan dan kesukaan besar di dunia untuk 

melayani Tuhan  dengan setia.  

3. Daud berbicara dengan kerendahan hati tentang dirinya, dan bangsanya, 

serta persembahan yang kini mereka bawa kepada Tuhan .  

(1) Bagi diri sendiri, dan orang-orang yang bersamanya, kendati mereka 

yaitu  para pembesar, dia kagum bahwa Tuhan  begitu 

memperhatikan mereka dan melakukan begitu banyak bagi mereka 

(ay. 14): Siapakah aku ini dan siapakah bangsaku? Daud dan Israel 

yaitu  orang-orang yang paling terhormat di dalam dunia. Namun 

dia berbicara tentang dirinya dan mereka sebagai orang-orang yang 

tidak layak untuk mendapatkan perhatian dan perkenanan Ilahi. 

Daud sekarang tampak sangat agung, memimpin dalam sebuah 

sidang yang besar, menunjuk penerusnya, dan membawa suatu 

persembahan yang mulia bagi kehormatan Tuhan . namun  dia merasa 

kecil dan rendah di mata Tuhan : siapakah aku ini, ya TUHAN? Sebab 

(ay. 15) kami yaitu  orang asing di hadapan-Mu dan orang pen-

datang, makhluk ciptaan yang hina dan tercela. Para malaikat di 

sorga tinggal nyaman di sana. namun  orang-orang kudus di bumi 

hanyalah orang asing di sini: sebagai bayang-bayang hari-hari kami 

di atas bumi. Hari-hari hidup Daud sama banyak jumlahnya dengan 

kebanyakan orang. Sebab dia dahulu yaitu  seorang tokoh besar, 

seorang yang baik, seorang yang berguna, namun  kini hanyalah 

seorang yang tua, orang yang hidup lama dan hidup bagi tujuan yang 

baik: namun  dia menganggap diri tidak hanya termasuk dalam 

bilangan orang-orang kebanyakan, namun  juga yang terdepan yang 

harus mengakui bahwa hari-hari di atas bumi yaitu  sebagai bayang-

bayang, yang menyatakan bahwa hidup kita yaitu  suatu kehidupan 

yang sia-sia, suatu kehidupan yang gelap, suatu kehidupan yang 

sementara, dan suatu kehidupan yang akan memiliki titik akhir 

entah di dalam terang yang sempurna atau kegelapan yang pekat. 

Kata-kata berikutnya menjelaskan: Tidak ada harapan. Kita tidak 

dapat mengharapkan hal-hal besar apa pun dari hidup itu, atau 

mengharapkan keberlangsungannya yang lama. Hal ini disebut di 

sini untuk melarang kita menyombongkan pelayanan yang kita 

lakukan bagi Tuhan . Sayang! Pelayanan itu dibatasi pada sedikitnya 

waktu. Pelayanan itu hanyalah bagian dari suatu kehidupan yang 

lemah dan pendek, dan sebab nya apa yang dapat kita banggakan 

olehnya?  

Kitab 1 Tawarikh 29:1-9 

 

235 

(2) Mengenai persembahan mereka, Ya TUHAN, katanya, dari pada-Mulah 

segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami 

berikan kepada-Mu (ay. 14), dan lagi (ay. 16), Segala kelimpahan 

bahan-bahan yang kami sediakan ini untuk mendirikan bagi-Mu 

rumah bagi nama-Mu yang kudus yaitu  dari tangan-Mu sendiri dan 

punya-Mulah segala-galanya. “Kami mendapatnya dari Engkau 

sebagai suatu pemberian yang cuma-cuma, dan sebab nya terikat 

untuk menggunakannya bagi Engkau. Dan apa yang kami 

persembahkan kepada Engkau hanyalah utang atau bunga dari milik-

Mu.” “Demikian pula” (kata Uskup Patrick) “kita harus mengakui 

Tuhan  dalam segala hal rohani, dengan merujuk setiap pikiran yang 

baik, tujuan yang baik, pekerjaan yang baik, sebagai berutang kepada 

anugerah-Nya, dari siapa kita menerimanya.” Barangsiapa yang 

bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan. 

4. Daud menyampaikan kepada Tuhan  mengenai kesungguhan hatinya di 

dalam apa yang telah dilakukannya (ay. 17). Merupakan suatu kepuasan 

besar bagi seorang yang baik untuk berpikir bahwa Tuhan  yaitu  penguji 

hati dan berkenan kepada keikhlasan, sehingga, kalau ada yang salah 

menafsirkan atau menghinanya, maka Dia mengenal dan berkenan 

kepada jalan orang yang benar. Merupakan kelegaan Daud bahwa Tuhan  

mengenal dan berkenan dengan persembahannya dan persembahan 

bangsanya. Ia tidak bangga akan pekerjaan baiknya atau iri hati akan 

pekerjaan baik orang lain. 

5. Daud berdoa kepada Tuhan  untuk bangsa dan untuk Salomo, agar 

keduanya dapat melanjutkan apa yang telah mereka mulai. Dalam doa ini 

Daud menyapa Tuhan  sebagai Tuhan  Abraham, Ishak, dan Yakub, Tuhan  

dalam kovenan dengan mereka dan dengan kita sebab  mereka. Tuhan, 

berilah kami anugerah untuk melakukan dengan baik bagian kami dari 

kovenan itu, supaya kami tidak kehilangan berkatnya. Atau demikian: 

mereka dijaga oleh anugerah Tuhan  untuk tetap setia di jalan mereka. 

Kiranya anugerah yang sama yang cukup bagi mereka juga cukup bagi 

kita.  

(1) Untuk bangsa itu dia berdoa (ay. 18) agar kebaikan yang telah 

ditaruh ke dalam pikiran mereka akan selalu dipelihara-Nya, agar 

mereka tidak akan pernah menjadi lebih buruk dari keadaan mereka 

sekarang, tidak akan pernah kehilangan keyakinan yang mereka 

miliki sekarang, atau menjadi dingin di dalam kasih mereka kepada 

rumah Tuhan , melainkan selalu memiliki pikiran yang sama tentang 


 

236 

segala sesuatu seperti yang mereka miliki sekarang. Hasil-hasil besar 

bergantung pada hal-hal terdalam dan terluhur dalam imajinasi 

pikiran hati kita, apa tujuan kita dan apa yang paling suka kita 

pikirkan. Jika kebaikan menguasai hati kita, atau hati teman-teman 

kita, maka baiklah untuk melalui doa memasrahkan penjagaannya 

kepada anugerah Tuhan : “TUHAN, jagalah, jagalah untuk selamanya. 

Daud telah mempersiapkan bahan-bahan bagi Bait Suci. namun , 

TUHAN, kiranya Engkau mempersiapkan hati mereka untuk 

kesempatan yang istimewa tersebut.” Tetapkanlah hati mereka, 

demikianlah tafsiran luasnya. “Teguhkanlah ketetapan hati mereka. 

Mereka berpikiran baik. Peliharalah mereka agar terus demikian 

ketika aku pergi, mereka dan keturunan mereka untuk selama-

lamanya.”  

(2) Untuk Salomo dia berdoa (ay. 19), Berikanlah hati yang tulus. Ia telah 

menasihati Salomo (28:9) untuk melayani Tuhan  dengan hati yang 

tulus. Kini di sini dia berdoa kepada Tuhan  untuk memberi Salomo hati 

yang demikian. Ia tidak berdoa, “TUHAN, jadikanlah Salomo seorang 

yang kaya, seorang yang besar, seorang yang pandai.” namun , 

“TUHAN, jadikanlah Salomo seorang yang jujur.” Sebab hal itu lebih 

baik dari semua yang lain. “TUHAN, berikanlah Salomo hati yang 

tulus, tidak hanya secara umum untuk berpegang pada segala 

perintah-Mu, namun  juga secara khusus untuk mendirikan bait 

suci, supaya dia dapat melakukan tugasnya dengan mata yang 

terpatri kepadanya.” Namun pembangunan rumah Tuhan  ini tidak 

akan membuktikan bahwa dia memiliki hati yang tulus kecuali dia 

mengarahkan hatinya untuk berpegang kepada segala perintah 

Tuhan . Tidaklah berguna untuk mendirikan gereja yang akan menye-

lamatkan kita, jika kita hidup dalam ketidaktaatan kepada hukum 

Tuhan . 

II. Kesepakatan yang menggembirakan dari sidang pertemuan yang besar dan 

khidmat ini  

1. Mereka bergabung bersama Daud dalam menyembah Tuhan . Ketika Daud 

selesai dengan doanya, dia memanggil mereka untuk menyatakan 

kesepakatan mereka (Pujilah kiranya TUHAN, Tuhan mu, ay. 20), yang 

kemudian mereka lakukan, dengan berlutut dan sujud, suatu gerakan 

pemujaan. Tak peduli suara siapa pun itu yang kedengaran, dari mereka 

yang bergabung bersamanya saat itu, yang memperoleh berkat bukanlah 

Kitab 1 Tawarikh 29:1-9 

 

237 

yang berlutut dan bersujud, namun  yang melakukannya dengan 

mengangkat jiwa.  

2. Mereka menyatakan hormat mereka kepada raja, memandangnya 

sebagai alat di dalam tangan Tuhan  bagi kebaikan mereka. Dan, dengan 

menghormati raja, mereka menghormati Tuhan .  

3. Hari berikutnya mereka mempersembahkan dengan berlimpah korban-

korban bagi Tuhan  (ay. 21), korban bakaran, yang dibakar seluruhnya, 

dan korban sembelihan, di mana sang pemberi mendapat bagian yang 

terbesar bagi dirinya sendiri. Dengan ini mereka menyatakan rasa 

syukur yang tulus kepada Tuhan  atas kebaikan keadaan bangsa mereka, 

kendati Daud sebentar lagi harus meninggalkan dunia ini  

4. Mereka mengadakan perjamuan dan bersukacita di hadapan Tuhan  (ay. 

22). Sebagai tanda sukacita mereka di dalam Tuhan , dan persekutuan 

dengan-Nya, mereka menyantap korban sembelihan mereka dalam 

ibadah di hadapan TUHAN. Apa yang telah dipersembahkan kepada 

Tuhan  itulah yang mereka makan, yang menyatakan kepada mereka 

bahwa mereka tidak akan pernah kekurangan sebab  sokongan sukarela 

mereka saat ini bagi pembangunan Bait Suci. Mereka sendiri seharusnya 

bersukacita atas kelegaan yang diperoleh sebab  Bait Suci itu.  

5. Mereka menjadikan Salomo raja untuk kedua kalinya. Setelah diurapi 

sebelumnya secara tergesa-gesa, pada peristiwa pemberontakan Adonia, 

sekarang dipikirkan tepat untuk mengulangi upacaranya, supaya rakyat 

merasa lebih puas lagi. Mereka mengurapi dia bagi TUHAN. Para 

pembesar harus memandang dirinya sebagai orang-orang yang 

dipisahkan bagi Tuhan , untuk menjadi pelayan-Nya, dan harus 

memerintah dalam takut akan Tuhan . Zadok juga diurapi menjadi imam 

sebagai pengganti Abyatar, yang baru-baru ini telah kehilangan kehor-

matannya. Berbahagialah engkau, hai Israel! Di bawah kepemimpinan 

raja dan imam yang demikian. 

Salomo Dielu-elukan  

(29:23-30) 

23 Kemudian duduklah Salomo sebagai raja menggantikan Daud, ayahnya, di atas takhta 

yang ditetapkan TUHAN; ia mendapat kemujuran, sehingga setiap orang Israel 

mendengarkan perkataannya. 24 Lalu semua pemimpin dan pahlawan, juga semua anak 

raja Daud mengakui kekuasaan raja Salomo. 25 TUHAN membuat Salomo luar biasa besar 

di mata seluruh orang Israel dan mengaruniakan kepadanya keagungan kerajaan seperti 

tidak pernah ada pada semua raja sebelum dia yang memerintah atas Israel. 26 

Demikianlah Daud bin Isai telah memerintah atas seluruh Israel. 27 Ia memerintah atas 

orang Israel selama empat puluh tahun; di Hebron ia memerintah tujuh tahun dan di 


 

238 

Yerusalem ia memerintah tiga puluh tiga tahun. 28 Kemudian matilah ia pada waktu telah 

putih rambutnya, lanjut umurnya, penuh kekayaan dan kemuliaan, kemudian naik rajalah 

Salomo, anaknya, menggantikan dia. 29 Sesungguhnya, riwayat raja Daud dari awal sampai 

akhir tertulis dalam riwayat Samuel, pelihat itu, dan dalam riwayat nabi Natan, dan dalam 

riwayat Gad, pelihat itu, 30 beserta segala hidupnya sebagai raja dan kepahlawanannya 

dan keadaan zaman yang dialaminya dan dialami Israel dan segala kerajaan di negeri-

negeri lain. 

Ayat-ayat ini membawa Raja Salomo ke takhtanya dan Raja Daud ke kuburnya. 

Dengan demikian generasi yang bangkit mendorong keluar yang mendahuluinya 

dan berkata, “Berilah ruang bagi kami.” Setiap orang ada masanya. 

I. Inilah kebangkitan Salomo (ay. 23): Duduklah Salomo di atas takhta yang 

ditetapkan oleh TUHAN. Bukan takhta yang dipersiapkan TUHAN di sorga, 

namun  takhta Israel yang disebut takhta yang ditetapkan TUHAN, sebab tidak 

hanya Dia raja atas segala bangsa, dan semua raja memerintah di bawah Dia, 

namun  juga secara khusus Dia yaitu  raja Israel (1Sam. 12:12). Ia yang 

mendirikan dasar, dan mengisi takhta Israel, dengan petunjuk langsung. 

Hukum-hukum negara dari kerajaan mereka bersifat Ilahi. Urim dan para 

nabi yaitu  penasihat pribadi raja-raja mereka. Oleh sebab nya takhta 

mereka disebut takhta yang ditetapkan TUHAN. Kerajaan Salomo 

menggambarkan kerajaan dari Mesias, dan kerajaan-Nya itu sungguh takhta 

yang ditetapkan TUHAN. Sebab Bapa tidak menghakimi manusia, namun  telah 

menyerahkan seluruh penghakiman kepada-Nya. sebab  itu Daud menyebut 

Dia sebagai Raja-Ku (Mzm. 2:6). Setelah duduk di atas takhta yang 

ditetapkan TUHAN, takhta yang dimaksudkan Tuhan  sendiri bagi dia, Salomo 

menjadi jaya. Orang-orang yang mengikuti petunjuk Ilahi dapat 

mengharapkan kesuksesan melalui berkat Ilahi. Salomo berjaya sebab,  

1. Bangsanya memberi hormat kepadanya, sebagai seorang yang patut 

untuk dihormati: Setiap orang Israel mendengarkan perkataannya, yaitu, 

siap untuk mengikat janji setia kepadanya (ay. 23), semua pemimpin dan 

pahlawan, dan bahkan semua anak raja Daud, kendati oleh sebab  usia 

dan pengalaman lebih berhak atas takhta, menerima dia sebagai raja, 

dan mengakui kekuasaan raja Salomo. Tuhan  mencondongkan hati 

mereka untuk berbuat demikian, sehingga pemerintahannya, dari sejak 

awal, menjadi damai. Ayahnya yaitu  seorang yang lebih baik darinya, 

namun  mencapai takhta dengan banyak kesusahan, setelah penundaan 

yang lama, dan melalui banyak langkah dan lambat pula. namun  Daud 

mempunyai iman yang lebih besar, sehingga menghadapi lebih banyak 

cobaan. Mereka mengakui kekuasaan raja Salomo (Ibrani: mereka 

memberikan tangan di bawah Salomo), yaitu, mengikat diri dengan 

Kitab 1 Tawarikh 29:1-9 

 

239 

sumpah untuk selalu setia kepadanya. Meletakkan tangan di bawah paha 

merupakan sebuah upacara kuno yang digunakan dalam bersumpah. 

Atau mereka semuanya begitu bersungguh-sungguh sehingga menaruh 

tangan mereka di bawah kakinya untuk melayani dia.  

2. Tuhan  menaruh kehormatan ke atas Salomo. sebab  siapa yang 

menghormati Salomo, Tuhan  akan menghormatinya: TUHAN membuat 

Salomo luar biasa besar (ay. 25). Penampilan dan kehadirannya, saya duga 

dengan pasti, memiliki pengaruh yang sangat besar dan dahsyat di 

dalamnya. Semua yang dikatakan dan dilakukannya mendatangkan 

hormat dan penghargaan. Tak seorang pun dari semua hakim atau raja 

Israel, para pendahulunya, menjadi seorang tokoh agung seperti dia atau 

hidup dalam kemegahan yang demikian.  

II. Inilah kesiapan Daud, orang hebat itu, untuk turun dari panggung. Ahli 

sejarah di sini membawa dia kepada akhir masanya, membiarkan dia 

tertidur, dan menarik tirai menutupinya.  

1. Diberikan suatu ringkasan tentang tahun-tahun pemerintahannya (ay. 

26-27). Ia memerintah selama 40 tahun, seperti halnya Musa, Otniel, 

Debora, Gideon, Eli, Samuel, dan Saul, yang ada sebelum dia, dan Salomo 

sesudah dia. 

2. Dikisahkan secara singkat tentang kematiannya (ay. 28), bahwa dia 

meninggal lanjut umurnya, penuh kekayaan dan kemuliaan, yaitu,  

(1) Sarat dengan semuanya. Ia sangat tua, sangat kaya, dan sangat 

dihormati oleh Tuhan  dan manusia. Ia telah banyak berperang sejak 

masa mudanya, sehingga terus terancam nyawanya. namun  dia tidak 

dihapuskan di tengah-tengah hari kejayaannya, melainkan dipelihara 

melewati segala bahaya peperangan, menjalani masa tua dengan 

baik, dan meninggal dalam damai, meninggal di pembaringannya, 

bahkan di ranjang kehormatan.  

(2) Dipuaskan dengan semuanya. Ia lanjut umurnya, penuh kekayaan dan 

kemuliaan. Yaitu dia mendapat kecukupan di dunia ini dari kekayaan 

dan kehormatannya, dan tahu kapan merasa cukup, sebab dia sangat 

siap untuk mati dan meninggalkan semuanya, sembari berkata, Tuhan  

akan menarik aku (Mzm. 49:16), dan, Engkau besertaku (Mzm. 

23:4). Seorang yang baik akan segera penuh hari-harinya, menjadi 

kaya dan terhormat, namun  tidak akan pernah puas dengannya. Tidak 

ada kepuasan selain di dalam kasih kemurahan Tuhan .  


 

240 

3. Untuk kisah yang lebih lengkap tentang kehidupan dan pemerintahan 

Daud, kita dirujuk kepada sejarah atau catatan zaman itu, yang ditulis 

oleh Samuel selama Daud hidup, dan dilanjutkan, setelah kematiannya, 

oleh Natan dan Gad (ay. 29). Di sana kita dapat mengamati 

pemerintahannya di dalam negeri dan peperangannya di luar negeri, 

serta zaman, yaitu, keadaan zaman, yang dialaminya (ay. 29-30). Semua 

catatan ini pernah ada, namun  sekarang telah hilang. Perhatikanlah, 

yaitu  baik untuk mencatat tentang sejarah jemaat yang asli kendati 

tidak keramat atau berasal dari pengilhaman Ilahi. 

T A F S I R A N  M A T T H E W  H E N R Y  

Kitab  

2 Tawarikh  

   

 

TAFSIRAN KITAB 

2 Tawarikh  

Disertai Renungan Praktis  

itab ini diawali dengan pemerintahan Salomo dan pembangunan Bait Suci, 

kemudian berlanjut dengan sejarah raja-raja Yehuda sejak masa itu sampai 

ke masa pembuangan. Dengan demikian kitab ini diakhiri dengan kejatuhan 

kerajaan termasyhur itu serta penghancuran Bait Suci. Kerajaan keluarga Daud 

ini, seperti halnya muncul lebih dahulu, demikian juga ia jauh lebih unggul dalam 

nilai dan martabat dibandingkan dengan keempat kerajaan ternama yang mun-

cul dalam mimpi Nebukadnezar. Menurut perkiraan saya, kerajaan Babel diawali 

dengan Nebukadnezar sendiri – tuankulah kepala yang dari emas itu, dan hanya 

bertahan selama sekitar tujuh puluh tahun. Kerajaan Persia bertahan sekitar 

seratus tiga puluh tahun dalam beberapa keluarga. Kekaisaran Yunani bertahan 

sekitar tiga ratus tahun, terbagi dalam beberapa bagian, sedang  kekaisaran 

Romawi bertahan tiga ratus tahun. Namun, menurut saya, Daud merupakan 

pahlawan yang lebih hebat dibandingkan  para pendiri kerajaan-kerajaan tadi, dan 

Salomo merupakan raja yang lebih agung dibandingkan  semua raja besar semua 

kerajaan itu. Selain itu, pergantian tampuk pemerintahan kerajaan keluarga 

Daud tetap terpelihara menurut garis keturunan di sepanjang sejarah kerajaan 

itu, yang berlangsung selama empat ratus hingga lima ratus tahun. Dan sesudah 

meredup cukup lama, pemerintahan itu kembali bersinar di dalam kerajaan Sang 

Mesias, di mana besar kekuasaannya, dan damai sejahteranya tidak akan 

berkesudahan. Selain lebih asli, sejarah kerajaan Yahudi ini juga lebih menghibur 

dan mengandung pelajaran, dibanding sejarah-sejarah semua kerajaan lain. 

Sebelum ini kita sudah membaca kisah tentang keluarga Daud di dalam Kitab 

Raja-raja pertama dan kedua, yang berselang-seling dengan kisah raja-raja 

Israel, yang memakan tempat lebih banyak dibandingkan  kisah raja-raja Yehuda. 


 

246 

Namun, di dalam Kitab 2 Tawarikh ini kita memiliki kisah tentang raja-raja 

Yehuda seluruhnya. Di sini cukup banyak hal yang sudah pernah kita baca, 

diulang kembali. Namun, banyak bagian kisah yang ditulis lebih lengkap, dan 

banyak cerita lain ditambahkan, yang sebelum ini tidak kita dapati, terutama 

yang berhubungan dengan urusan agama. Sebab, Kitab ini merupakan sejarah 

jemaat dan ditulis sebagai pembelajaran bagi kita, agar bangsa-bangsa dan 

keluarga-keluarga tahu, bahwa mereka dapat berharap akan berhasil dan sejah-

tera hanya dan hanya apabila mereka tetap berada di jalan kewajiban mereka 

terhadap Tuhan . Sebab, sudah sejak dahulu kala raja-raja yang baiklah yang 

berjaya, sedang  raja-raja jahat menderita. Kita mendapati pemerintahan 

Salomo yang penuh kedamaian (ps. 1-9), kemudian pemerintahan Rehabeam 

yang bernoda (ps. 10-12), pemerintahan Abia yang singkat namun sibuk (ps. 13), 

pemerintahan Asa yang cukup panjang dan bahagia (ps. 14-16), pemerintahan 

Yosafat yang saleh dan makmur (ps. 17-20), pemerintahan Yoram dan Ahazia 

yang durhaka dan hina (ps. 21-22), pemerintahan Yoas dan Amazia yang 

goncang (ps. 24-25), pemerintahan Uzia yang panjang dan penuh keberhasilan 

(ps. 26), pemerintahan Yotam yang biasa-biasa saja (ps. 27), pemerintahan Ahas 

yang penuh kecemaran dan lalim (ps. 28), pemerintahan Hizkia yang penuh 

mulia dan gemilang (ps. 29-32), pemerintahan lalim Manasye dan Amon (ps. 33), 

pemerintahan Yosia yang membawa pembaharuan hidup (ps. 34-35), serta 

pemerintahan anak-anaknya yang membawa kehancuran (ps. 36). Bila semua 

digabungkan, kebenaran firman Tuhan  akan tampak, bahwa Siapa yang menghor-

mati Aku, akan Kuhormati, namun  siapa yang menghina Aku, akan dipandang 

rendah. Di dalam pengurutan waktunya, cendekiawan Whiston memperkirakan 

bahwa kitab-kitab yang berisi sejarah yang ditulis sesudah pembuangan umat 

Israel (yaitu kedua Kitab Tawarikh, Kitab Ezra, dan Kitab Nehemia) mengandung 

lebih banyak kesalahan dalam hal nama serta angka, dibandingkan dengan 

semua kitab Perjanjian Lama lainnya, akibat kecerobohan para juru tulisnya. 

Namun, meskipun hal itu masih bisa dimaafkan, kesalahan-kesalahan itu begitu 

kecil sehingga kita boleh meyakini bahwa bagaimanapun juga, dasar yang 

diletakkan Tuhan  itu teguh. 

 

 

PASAL  1  

i akhir Kitab 1 Tawarikh diceritakan bagaimana Tuhan  meninggikan Salomo 

dan umat Israel menaatinya. Tuhan  dan bangsa Israel sama-sama 

menghormatinya. Sekarang dalam Kitab 2 Tawarikh ini diceritakan, 

I. Bagaimana Salomo menghormati Tuhan  dengan mempersembahkan 

korban (ay. 1-6) dan dengan berdoa (ay. 7-12). 

II. Bagaimana Salomo menghormati bangsa Israel dengan meningkatkan 

kekuatan, kekayaan, dan perdagangan mereka (ay. 13-17). 

Kebaikan Tuhan  kepada Salomo 

(1:1-12) 

1 Salomo, anak Daud, menjadi kuat dalam kedudukannya sebagai raja; TUHAN, Tuhan nya, 

menyertai dia dan menjadikan kekuasaannya luar biasa besarnya. 2 Salomo memberi 

perintah kepada seluruh Israel, kepada kepala-kepala pasukan seribu dan pasukan 

seratus, kepada para hakim dan kepada semua pemimpin di seluruh Israel, yaitu  para 

kepala puak. 3 Lalu pergilah Salomo bersama-sama dengan segenap jemaah itu ke bukit 

pengorbanan yang di Gibeon, sebab di situlah Kemah Pertemuan Tuhan  yang dibuat Musa, 

hamba TUHAN itu, di padang gurun. 4 – namun  Daud telah mengangkut tabut Tuhan  dari 

Kiryat-Yearim ke tempat yang disiapkannya bagi tabut itu, – sebab ia telah memasang 

kemah untuk tabut itu di Yerusalem. 5 Namun mezbah tembaga yang dibuat Bezaleel bin 

Uri bin Hur masih ada di sana di depan Kemah Suci TUHAN. Maka ke sanalah Salomo dan 

jemaah itu meminta petunjuk TUHAN. 6 Salomo mempersembahkan korban di sana di 

hadapan TUHAN di atas mezbah tembaga yang di depan Kemah Pertemuan itu; ia 

mempersembahkan seribu korban bakaran di atasnya. 7 Pada malam itu juga Tuhan  

menampakkan diri kepada Salomo dan berfirman kepadanya: “Mintalah apa yang hendak 

Kuberikan kepadamu.” 8 Berkatalah Salomo kepada Tuhan : “Engkaulah yang telah 

menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada Daud, ayahku, dan telah mengangkat aku 

menjadi raja menggantikan dia. 9 Maka sekarang, ya TUHAN Tuhan , tunjukkanlah 

keteguhan janji-Mu kepada Daud, ayahku, sebab Engkaulah yang telah mengangkat aku 

menjadi raja atas suatu bangsa yang banyaknya seperti debu tanah. 10 Berilah sekarang 

kepadaku hikmat dan pengertian, supaya aku dapat keluar dan masuk sebagai pemimpin 

bangsa ini, sebab siapakah yang dapat menghakimi umat-Mu yang besar ini?” 11 

Berfirmanlah Tuhan  kepada Salomo: “Oleh sebab  itu yang kauingini dan engkau tidak 

meminta kekayaan, harta benda, kemuliaan atau nyawa pembencimu, dan juga tidak 

meminta umur panjang, namun  sebaliknya engkau meminta kebijaksanaan dan pengertian 


 

248 

untuk dapat menghakimi umat-Ku yang atasnya Aku telah merajakan engkau, 12 maka 

kebijaksanaan dan pengertian itu diberikan kepadamu; selain itu Aku berikan kepadamu 

kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sebagaimana belum pernah ada pada raja-raja 

sebelum engkau dan tidak akan ada pada raja-raja sesudah engkau.” 

Di sini terdapat, 

I. Keberhasilan Salomo yang luar biasa (ay. 1). Walaupun ia memiliki gelar 

yang harus diperjuangkan melalui persaingan, namun sebab  Tuhan  beserta 

dengannya, ia menjadi kuat dalam kedudukannya sebagai raja. Hati dan 

tangannya dikuatkan, begitu pula perhatiannya kepada rakyat. Penyertaan 

Tuhan  akan menjadi kekuatan kita. 

II.  Kesalehan dan ibadahnya yang luar biasa. Ayahnya seorang nabi, pemazmur, 

dan sebagian besar perhatiannya tertuju kepada tabut perjanjian. Namun, 

sesudah banyak membaca di Kitab Suci perihal Kemah Suci yang didirikan 

Daud berikut mezbah-mezbahnya, Salomo sepertinya lebih memberikan 

penghormatan terhadap semua itu dibanding yang diberikan Daud. 

Keduanya sama-sama bertindak dengan baik, dan jangan seorang pun dari 

mereka yang dicela. Apabila semangat seseorang paling banyak dicurahkan 

kepada satu segi dalam agama, sedang  orang lain mencurahkannya 

kepada segi lain, janganlah mereka menghakimi atau mencela satu sama lain. 

1. Semua para pembesar Salomo haruslah merupakan orang-orang baik, 

supaya mereka ikut bergabung dengannya dalam menyembah Tuhan . Ia 

berbicara kepada para kepala pasukan, para hakim dan kepada semua 

pemimpin, yaitu  para kepala puak, supaya mereka pergi bersamanya ke 

Gibeon (ay. 2-3). Wewenang dan hak haruslah diberikan kepada orang-

orang yang hendak menggunakannya demi kemuliaan Tuhan  dan 

kemajuan agama. Sudah menjadi kewajiban kita untuk melibatkan 

semua orang yang ada di bawah pengaruh kita, supaya mereka bersama-

sama ikut beribadah. Sungguh sangat diharapkan agar banyak orang 

bergabung dengan kita dalam beribadah, semakin banyak semakin baik, 

dan semakin terasa bagaikan berada di sorga. Salomo mengawali 

pemerintahannya dengan mengadakan kunjungan bersama umat ke 

mezbah Tuhan  untuk beribadah di sana. Ini merupakan pertanda yang 

sangat baik. Dengan demikian para pejabat pemerintah dapat lebih 

berusaha sebaik mungkin bagi diri sendiri dan juga bagi rakyat, apabila 

mereka menyertakan Tuhan  dalam kegiatan mereka sedari mula. 

2. Di sana Salomo mempersembahkan korban dengan berlimpah (ay. 6): 

seribu korban bakaran, dan mungkin juga sejumlah besar korban 

Kitab 2 Tawarikh 1 

 

249 

keselamatan, yang dengannya ia mengadakan perayaan di hadapan 

TUHAN bersama umat yang mengikutinya. Apabila Tuhan  menabur 

banyak, Ia juga mengharapkan tuaian yang banyak. Daud, ayahnya, telah 

mewariskan banyak ternak kepadanya (1Taw. 27:29, 31), dan oleh sebab 

itu ia memberi Tuhan  persembahan yang setimpal dari kumpulan ternak 

itu. Tabut Tuhan  berada di Yerusalem (ay. 4), namun  mezbah masih berada 

di Gibeon (ay. 5), maka ke sanalah ia membawa korban 

persembahannya, sebab mezbah itulah yang menguduskan persembahan 

itu. 

3. Salomo memanjatkan doa yang indah kepada Tuhan . Doa ini, termasuk 

jawabannya, telah kita dapati sebelum ini di Kitab  

1 Raja-raja 3:5 dan seterusnya. 

(1) Tuhan  meminta Salomo memohonkan apa yang diinginkannya. Tidak 

saja supaya Ia menempatkan Salomo di jalan yang benar untuk 

menerima perkenan yang memang disediakan baginya Mintalah 

maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu, namun  juga 

supaya Ia dapat mengujinya, bagaimana keadaan hatinya, supaya Ia 

mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Sifat manusia terlihat da-

lam semua pilihan dan keinginan mereka. Pertanyaan “Apa yang 

ingin kaumiliki?” akan menguji seseorang sama baiknya dengan 

pertanyaan “Apa yang akan kaulakukan?” Demikian jugalah Tuhan  

menguji Salomo untuk mengetahui apakah ia merupakan salah satu 

dari anak-anak dunia ini yang berkata, Siapa yang akan mem-

perlihatkan yang baik kepada kita?, atau dari anak-anak terang yang 

berkata, Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya TUHAN. Apa 

yang kita pilih, itulah yang akan kita dapatkan, dan itulah yang akan 

menjadi bagian kita sesuai pilihan kita, apakah itu kekayaan dan 

kesenangan dunia ini, atau kekayaan dan kesukaan rohani. 

(2) Sebagaimana layaknya seorang putra Daud sejati, Salomo lebih 

memilih berkat rohani dibanding berkat yang tidak bertahan lama. 

Yang dimintanya di sini yaitu , hikmat dan pengertian. Ia mengakui 

bahwa kedua hal tersebut merupakan pemberian yang lebih 

diinginkannya, dan bahwa hanya Tuhan  sendirilah yang dapat 

memberikannya (Ams. 2:6). Tuhan  memberikan kemampuan untuk 

memahami, dan kepada-Nya sajalah kita harus memohon untuk 

diperlengkapi dengannya. Di sini terdapat dua hal yang dimintanya 

dan yang tidak kita dapati di dalam Kitab Raja-raja: 


 

250 

[1] Engkaulah yang telah mengangkat aku menjadi raja 

menggantikan ayahku (ay. 8). “TUHAN, Engkau telah menaruhku 

di tempat ini, dan oleh sebab  itu aku dapat dengan iman 

meminta dari-Mu kasih karunia guna memampukanku 

melaksanakan kewajibanku.” Apa pun pelayanan yang kita 

percaya diberikan Tuhan  kepada kita, kita punya alasan untuk 

berharap bahwa Ia akan memberi kita kecakapan untuk 

melakukannya. namun , itu belumlah semua. “TUHAN, Engkau 

telah menaruhku di tempat ini untuk menggantikan Daud, 

seorang yang hebat dan baik hatinya, yang telah memenuhi 

kewajibannya dengan begitu baik. Oleh sebab itu, berilah aku 

hikmat, supaya bangsa Israel tidak mengalami kerugian oleh 

sebab  perubahan yang terjadi akibat perbuatanku. Haruskah 

aku memerintah menggantikan ayahku? TUHAN, beri aku roh 

ayahku.” Perhatikanlah, keunggulan mereka yang mendahului 

kita, dan kewajiban kita untuk memelihara dan melanjutkan 

pekerjaan baik yang telah mereka laksanakan, seharusnya 

mendorong kita untuk berusaha menyamai atau bahkan melebihi 

mereka. Selain itu, untuk mendorong kita berdoa memohon 

hikmat dan kasih karunia dari Tuhan , supaya kita dapat 

melaksanakan pekerjaan Tuhan  dalam hidup kita, sama setia dan 

baiknya seperti yang telah dilakukan orang-orang itu dalam 

hidup mereka. 

[2] Tunjukkanlah keteguhan janji-Mu kepada Daud, ayahku (ay. 9). 

Yang dimaksudkan Salomo yaitu  janji yang berkaitan dengan 

pengganti Daud. “Dalam melaksanakan janji itu TUHAN, berilah 

sekarang kepadaku hikmat.” Kita tidak mendapati hikmat yang 

dimintanya itu termasuk dalam hal-hal yang dijanjikan, namun  

hikmat itu memang diperlukan demi melaksanakan apa yang 

telah dijanjikan (2Sam. 7:13-15). Janji itu berbunyi, Dialah yang 

akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan 

mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. Ia akan 

menjadi anak-Ku, dan kasih setia-Ku tidak akan hilang dari 

padanya. “Sekarang, TUHAN, kecuali Engkau memberiku hikmat, 

rumah-Mu tidak akan dibangun, dan takhta kerajaanku tidak 

akan kokoh. Aku akan berperilaku dengan cara yang tidak pantas 

sesuai hubunganku dengan Engkau sebagai Bapa. Aku akan 

bertindak salah sehingga kehilangan kasih setia-Mu dan menyia-

nyiakannya. Oleh sebab  itu, TUHAN, berilah sekarang kepadaku 

Kitab 2 Tawarikh 1 

 

251 

hikmat.” Perhatikanlah, Pertama, janji-janji Tuhan  merupakan per-

mohonan terbaik kita dalam doa. Ingatlah akan janji yang 

Kauucapkan kepada hamba-Mu. Kedua, anak-anak boleh 

menerima penghiburan dari janji-janji kovenan yang melalui 

baptisan diminta dan dipegang orangtua mereka bagi anak-anak 

mereka. Ketiga, cara terbaik untuk memperoleh manfaat dari 

janji-janji serta hak istimewa kovenan itu yaitu  dengan berdoa 

sungguh-sungguh kepada Tuhan  meminta hikmat serta kasih 

karunia-Nya untuk melaksanakan kewajiban dari janji-janji itu. 

4. Salomo menerima jawaban penuh rahmat atas doa ini (ay. 11-12). 

(1) Tuhan  memberi Salomo hikmat yang dipohonkannya itu, sebab  ia 

memintanya. Hikmat yaitu  karunia yang diberikan Tuhan  dengan 

bebas dan berlimpah seperti karunia-karunia lain, asalkan kita 

menghargainya dan bergumul untuk mendapatkannya, serta 

bertekad untuk menggunakannya. Ia tidak mencela orang-orang 

miskin yang meminta dengan kebodohan mereka (Yak. 1:5). Kasih 

karunia Tuhan  akan senantiasa tersedia bagi orang-orang yang dengan 

tulus ingin mengetahui dan melakukan kewajiban mereka. 

(2) Tuhan  memberi Salomo kekayaan dan kehormatan yang tidak 

dimintanya, walaupun ia tidak meminta hal itu. Orang-orang yang 

mengejar hal-hal duniawi dengan teramat sangat, justru besar 

kemungkinan akan kehilangan hal-hal tersebut. Sebaliknya, orang-

orang yang berserah kepada penyelenggaraan Tuhan  ketika hanya 

memiliki sedikit saja hal-hal tersebut, justru akan memperoleh peng-

hiburan di dalamnya. Orang-orang yang menjadikan dunia ini 

sebagai tujuan akhir mereka, tidak akan memperoleh dunia yang 

lainnya itu, dan malahan akan mengalami kekecewaan di dunia yang 

di sini. Sebaliknya, orang-orang yang menjadikan dunia lain sebagai 

tujuan akhir mereka, tidak saja akan memperolehnya dan merasa 

sangat puas di dalamnya, namun  juga akan menikmati dunia sekarang 

ini dalam jalan hidup mereka.  

Harta Kekayaan Salomo 

(1:13-17) 

13 Lalu pulanglah Salomo dari bukit pengorbanan yang di Gibeon itu, dari depan Kemah 

Pertemuan, ke Yerusalem dan ia memerintah atas Israel. 14 Salomo mengumpulkan juga 

kereta-kereta dan orang-orang berkuda, sehingga ia mempunyai seribu empat ratus 

kereta dan dua belas ribu orang berkuda, yang semuanya ditempatkan dalam kota-kota 

kereta dan dekat raja di Yerusalem. 15 Raja membuat banyaknya emas dan perak di 


 

252 

Yerusalem sama seperti batu, dan banyaknya pohon kayu aras sama seperti pohon ara 

yang tumbuh di Daerah Bukit. 16 Kuda untuk Salomo didatangkan dari Misraim dan dari 

Kewe; saudagar-saudagar raja membelinya dari Kewe dengan harga pasar. 17 Sebuah 

kereta yang didatangkan dari Misraim berharga sampai enam ratus syikal perak, dan 

seekor kuda sampai seratus lima puluh syikal; dan begitu juga melalui mereka 

dikeluarkan semuanya itu kepada semua raja orang Het dan kepada raja-raja Aram. 

Di sini kita dapati, 

1. Salomo menjalankan pemerintahannya (ay. 13): Ia keluar dari depan Kemah 

Pertemuan, dan ia memerintah atas Israel. Ia tidak akan melaksanakan tugas 

pemerintahan sebelum melakukan ibadah. Ia tidak akan mengambil 

kehormatan untuk diri sendiri sebelum ia memberikan kehormatan kepada 

Tuhan , yang pertama yaitu  Kemah Pertemuan