tawarikh ester 8
8, baru sesudah itu takhta
kerajaan. Setelah menerima hikmat dari Tuhan , ia tidak menguburkan talen-
tanya. Sebaliknya, ketika menerima karunia itu, ia terus melayani, dan tidak
membiarkan diri menjalani hidup santai serta bersenang-senang, namun
mengerjakan tugasnya: ia memerintah atas Israel.
2. Kehebatan istananya (ay. 14): Salomo mengumpulkan juga kereta-kereta dan
orang-orang berkuda. Akankah kita memujinya untuk hal ini? Kita tidak
boleh memujinya, sebab raja telah dilarang memperbanyak kuda-kudanya
(Ul. 17:16). Sepertinya kita tidak pernah mendapati ayah Salomo
mengendarai kereta kuda atau menunggang kuda. Hewan tertinggi yang
pernah ditungganginya hanyalah seekor bagal. Kita harus berusaha keras
mengungguli orang-orang yang sudah mendahului kita dalam hal kebaikan
dibandingkan dalam hal kemegahan.
3. Kekayaan dan perdagangan dalam kerajaan Salomo. Ia menjadikan perak
dan emas seperti benda-benda yang sangat murah dan lazim (ay. 15).
Bertambah banyaknya emas merendahkan nilainya. Sebaliknya,
bertambahnya kasih karunia meningkatkan harganya. Semakin banyak
manusia memiliki kasih karunia, semakin tinggi pula mereka menilainya.
Mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak! Ia juga
membuka hubungan dagang dengan Mesir, dari mana ia mendatangkan
kuda-kuda serta benang lenan, yang kemudian dijualnya kembali kepada
raja-raja Aram, dengan keuntungan besar tentu saja (ay. 16-17). Hal ini
sudah kita baca sebelumnya di Kitab 1 Raja-raja 10:28-29. Sungguh
bijaksana apabila para raja menggalakkan hasil kerajinan dan mendorong
perdagangan di wilayah kekuasaan mereka. Boleh jadi Salomo ingin
mendirikan pabrik lenan, sebab ia mendatangkan benang linen dari Mesir,
menenunnya menjadi kain, kemudian mengirimkannya ke bangsa-bangsa
lain, sesuai yang diajarkan ibunya yang memerinci kegiatan ini sebagai salah
satu ciri khas wanita yang cakap. Ia membuat pakaian dari lenan, dan
Kitab 2 Tawarikh 1
253
menjualnya, ia menyerahkan ikat pinggang kepada pedagang (Ams. 31:24).
Dalam tiap jerih payah ada keuntungan.
PASAL 2
egiatan perniagaan Salomo yang kita baca dalam bagian akhir pasal
sebelumnya serta kemajuan yang diadakannya terhadap barang dagangan
dan para perajin sangatlah terpuji. Akan namun , rencana yang ditetapkan bagi
Salomo yaitu untuk menggarap pembangunan, dan dalam pasal ini, ia
mengerjakan tugas tersebut. Di sini tercatat,
I. Ketetapan hati Salomo untuk membangun Bait Suci dan istana
kerajaan, termasuk bagaimana ia menunjuk para pegawai untuk
dipekerjakan (ay. 1-2, 17-18).
II. Permintaan Salomo kepada Huram, raja negeri Tirus, untuk
menyediakan tenaga ahli dan bahan-bahan (ay. 3-10).
III. Jawaban Huram yang menyanggupi permintaan Salomo (ay. 11-16).
Persiapan untuk Membangun Bait Suci
(2:1-10)
1 Salomo memerintahkan untuk mendirikan suatu rumah bagi nama TUHAN dan suatu
istana kerajaan bagi dirinya sendiri. 2 Dan Salomo mengerahkan tujuh puluh ribu kuli,
delapan puluh ribu tukang pahat di pegunungan, dan tiga ribu enam ratus mandur untuk
mengawasi mereka itu. 3 Lalu Salomo mengutus orang kepada Huram, raja negeri Tirus,
dengan pesan: “Perbuatlah terhadap aku seperti yang kauperbuat terhadap ayahku Daud,
ketika engkau mengirim kayu aras kepadanya, sehingga ia dapat mendirikan baginya
suatu istana untuk tinggal di situ. 4 Ketahuilah, aku hendak mendirikan sebuah rumah
bagi nama TUHAN, Tuhan ku, untuk menguduskannya bagi Dia, supaya di hadapan-Nya
dibakar ukupan dari wangi-wangian, tetap diatur roti sajian dan dipersembahkan korban
bakaran pada waktu pagi dan pada waktu petang, pada hari-hari Sabat dan bulan-bulan
baru, dan pada perayaan-perayaan yang ditetapkan TUHAN, Tuhan kami, sebab semuanya
itu yaitu kewajiban orang Israel untuk selama-lamanya. 5 Dan rumah yang hendak
kudirikan itu harus besar, sebab Tuhan kami lebih besar dari segala Tuhan .
6 namun siapa yang mampu mendirikan suatu rumah bagi Dia, sedang langit, bahkan
langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Dia? Dan siapakah aku ini,
sehingga aku hendak mendirikan suatu rumah bagi Dia, kecuali sebagai tempat untuk
membakar korban di hadapan-Nya?
7 Maka sekarang, kirimlah kepadaku seorang yang ahli mengerjakan emas, perak,
K
256
tembaga, besi, kain ungu muda, kain kirmizi, kain ungu tua, dan yang juga pandai
membuat ukiran, untuk membantu para ahli yang ada padaku di Yehuda dan di
Yerusalem, yang telah ditunjuk ayahku Daud. 8 Kirim juga kepadaku kayu aras, sanobar
dan cendana dari gunung Libanon, sebab aku tahu, bahwa hamba-hambamu pandai
menebang pohon dari Libanon. Dalam pada itu hamba-hambaku akan membantu hamba-
hambamu 9 untuk menyediakan bagiku sejumlah besar kayu, sebab rumah yang hendak
kudirikan itu harus besar dan mentakjubkan. 10 Dan untuk tukang-tukang yang menebang
pohon kuberikan gandum dua puluh ribu kor, jelai dua puluh ribu kor, anggur dua puluh
ribu bat dan minyak dua puluh ribu bat, sebagai bahan makanan bagi hamba-hambamu
itu.”
Hikmat Salomo dikaruniakan kepadanya, bukan sekadar hikmat dalam
menebak-nebak, untuk menyenangkan diri sendiri sekalipun hal itu memang
kesenangan para raja. Dan bukan sekadar hikmat dalam berkata-kata, untuk
menyenangkan kawan-kawannya, melainkan hikmat untuk bertindak. sebab
itu, segera saja ia menyibukkan diri untuk bertindak. Perhatikan,
I. Tekadnya mengenai tugas tersebut (ay. 1): Pertama, Salomo sudah
memutuskan untuk membangun suatu rumah bagi nama Tuhan (ay. 1, KJV).
Memang tepat bahwa Dia yang mula-mula haruslah dilayani. yang pertama
haruslah Bait Suci, baru kemudian istana, sebuah rumah yang bukan untuk
dirinya sendiri, untuk kenyamanan maupun kebesarannya, namun terutama
untuk kerajaan, demi kehormatan kerajaan itu di antara negeri tetangga,
serta menjadi tempat yang layak untuk menerima rakyat setiap kali mereka
datang menghadap rajanya. Jadi, dalam kedua pembangunan gedung itu,
tujuan Salomo yaitu kebaikan rakyat. Orang yang paling bijaksana yaitu
mereka yang memberikan diri terutama bagi kehormatan nama Tuhan dan
kesejahteraan masyarakat. Kita tidak dilahirkan untuk diri sendiri,
melainkan bagi Tuhan dan negeri kita.
II. Utusan Salomo kepada Huram, raja Tirus, untuk meminta bantuan dalam
pelaksanaan rancangannya. Maksud dari suruhannya kepada Huram itu
serupa dengan catatan dalam 1 Raja-raja 5:2, hanya saja, di sini dijabarkan
lebih panjang.
1. Alasan Salomo mengajukan permintaan tersebut kepada Huram dijelaskan
lebih lengkap di sini, sebagai pemberitahuan kepada Huram sekaligus
sebagai bujukan.
(1) Salomo mengingatkan kepentingan ayahnya kepada Huram serta
kebaikan yang telah ayahnya terima darinya (ay. 3): Perbuatlah
terhadap aku seperti yang kauperbuat terhadap ayahku, Daud.
Sebagaimana kita harus menunjukkan kebaikan kepada orangtua
Kitab 2 Tawarikh 2:1-10
257
dari teman-teman kita, kita pun bisa mengharapkan balasan
kebaikan dari mereka dan membangun hubungan.
(2) Salomo mengemukakan rancangannya dalam pembangunan Bait
Suci, yaitu dimaksudkan untuk menjadi tempat ibadah agamawi (ay.
4), supaya seluruh korban persembahan yang sudah ditetapkan
Tuhan untuk menghormati nama-Nya bisa dipersembahkan di situ.
Rumah tersebut dibangun untuk dupersembahkan bagi Tuhan dan
dipakai untuk melayani Dia. Inilah yang harus menjadi tujuan kita
dalam segala perkara, yaitu supaya semua yang kita miliki dan yang
kita perbuat bisa menjadi kemuliaan bagi Tuhan . Salomo
menyebutkan sejumlah bantuan khusus yang dimintanya sebagai
petunjuk bagi Huram. Misteri agama yang sejati tidak perlu ditutup-
tutupi, berbeda dengan takhayul kafir.
(3) Salomo berusaha menggerakkan hati Huram dengan pikiran-pikiran
yang agung dan luhur mengenai Tuhan Israel, dengan mengutarakan
rasa hormat yang mendalam terhadap nama-Nya yang kudus, Tuhan
kami lebih besar dari segala Tuhan , lebih dibandingkan segala berhala,
melampaui raja-raja. Berhala tiada artinya, para raja bukan siapa-
siapa, keduanya berada di bawah kendali Tuhan Israel. sebab itu,
[1] “Rumah yang hendak kudirikan itu harus besar. Rumah ini tidak
sepadan dengan kebesaran Tuhan yang kepada-Nya rumah itu
dipersembahkan, sebab di antara yang terbatas dan yang tak
terhingga, tiada yang sepadan dengan-Nya, melainkan hanya
sepadan sebagian dengan nilai dan penghargaan kami yang
mendalam terhadap Tuhan itu.”
[2] “Namun, sebesar apa pun, rumah itu tidak dapat menjadi tempat
tinggal Tuhan yang Maha Agung. Janganlah Huram berpikir bahwa
Tuhan Israel sama seperti ilah bangsa-bangsa lain yang diam
dalam kuil-kuil buatan tangan manusia (Kis. 17:24). Tidak,
bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat
memuat Dia. Rumah itu hanya dimaksudkan sebagai tempat yang
nyaman bagi para imam dan penyembah-Nya untuk membakar
korban persembahan di hadapan-Nya.”
[3] Sebagai raja besar sekalipun, Salomo memandang dirinya tidak
layak mendapat kehormatan untuk bekerja dalam karya agung
ini, Siapakah aku ini, sehingga aku hendak mendirikan suatu
rumah bagi Dia? Kita harus mengerjakan setiap pekerjaan Tuhan
dengan kesadaran bahwa kita sama sekali tidak cukup dan tidak
mampu melakukan apapun setara dengan kesempurnaan ilahi.
258
Bagian dari hikmat ialah menghampiri orang yang tanpa
pengertian dengan hati-hati untuk mencegah segala
kesalahpahaman mereka mengenai Tuhan akibat sesuatu yang
mungkin kita katakan atau lakukan. Jadi, itulah yang Salomo
lakukan dalam perjanjiannya dengan Huram.
2. Permintaan Salomo kepada Huram dipaparkan lebih terperinci.
(1) Dia ingin Huram memperlengkapinya dengan tangan yang baik
untuk bekerja (ay. 7), Kirimlah kepadaku seorang. Daud telah
menyediakan bagi Salomo orang-orang yang ahli di Yerusalem
(1Taw. 22:15). Janganlah kiranya mereka berpikir bahwa di antara
orang Ibrani tidak ada seniman. Namun, “Kirimlah kepadaku seorang
untuk memandu mereka. Di Yerusalem ada orang-orang yang
terampil, namun bukan pemahat seperti yang di Tirus. Jadi, sebab
pekerjaan Bait Suci harus yang terbaik, biarlah aku mendapat orang-
orang terbaik yang ada.”
(2) Bahan-bahan yang baik untuk digarap (ay. 8), kayu aras, sanobar dan
cendana yang berlimpah (ay. 8-9), sebab rumah itu harus besar dan
mentakjubkan, yaitu sangat megah dan agung. Tidak boleh ada harga
yang dihemat dan jangan ada kekurangan tenaga terampil.
3. Tawaran Salomo untuk memelihara para pekerja (ay. 10), memberi
mereka begitu banyak gandum dan jelai, berlimpah anggur dan minyak.
Ia memberi makan para pekerjanya bukan dengan roti dan air,
melainkan dengan kelimpahan segala sesuatu yang terbaik. Barang siapa
mempekerjakan pegawai haruslah memperhatikan bukan hanya
bayaran yang baik, namun juga memberi makan yang cukup, sehat, dan
sesuai bagi mereka. Tuan yang kaya hendaknya memperlakukan para
pekerjanya yang miskin seperti yang terjadi seandainya mereka sendiri
yang menjadi pegawai.
Perjanjian Salomo dengan Huram
(2:11-18)
11 Dan Huram, raja negeri Tirus, mengirim surat balasan kepada Salomo, yang berbunyi:
“sebab TUHAN mengasihi umat-Nya, Ia telah mengangkat engkau menjadi raja atas
mereka.” 12 Lalu Huram melanjutkan: “Terpujilah TUHAN, Tuhan orang Israel, yang
menjadikan langit dan bumi, sebab Ia telah memberikan kepada raja Daud seorang anak
yang bijaksana, penuh akal budi dan pengertian, yang akan mendirikan suatu rumah bagi
TUHAN dan suatu istana kerajaan bagi dirinya sendiri! 13 Maka sekarang aku mengirim
seorang ahli, yang penuh pengertian, yaitu Huram Abi, 14 anak seorang wanita dari
bani Dan, sedang ayahnya orang Tirus. Ia pandai mengerjakan emas, perak, tembaga, besi,
batu, kayu, kain ungu muda, kain ungu tua, lenan halus dan kain kirmizi, dan juga pandai
Kitab 2 Tawarikh 2:1-10
259
membuat segala jenis ukiran dan segala jenis rancangan yang ditugaskan kepadanya
dengan dibantu oleh ahli-ahlimu dan oleh ahli-ahli ayahmu, tuanku Daud. 15 Baiklah
sekarang tuanku kirim kepada hamba-hamba tuanku gandum dan jelai, minyak dan
anggur yang telah tuanku sebutkan itu. 16 Dan kami akan menebang kayu dari gunung
Libanon sebanyak engkau perlukan dan membawanya kepadamu dengan rakit-rakit
melalui laut sampai ke Yafo, dan engkau dapat mengangkutnya ke Yerusalem.” 17 Lalu
Salomo menghitung semua orang asing yang laki-laki yang ada di negeri Israel sama
seperti yang pernah dilakukan Daud, ayahnya. Maka terdapatlah seratus lima puluh tiga
ribu enam ratus orang. 18 Dan dari antara mereka, tujuh puluh ribu orang dijadikannya
kuli, delapan puluh ribu orang tukang pahat di pegunungan, dan tiga ribu enam ratus
orang mandur yang harus menyuruh orang-orang itu bekerja.
Di sini kita temukan,
I. Jawaban yang dikirimkan Huram melalui utusan Salomo. Ia menyatakan
penghormatan besar kepada Salomo dan kesiapan untuk membantunya.
Kiranya orang-orang yang angkuh bisa belajar dari para pembesar ini untuk
bersikap ramah dan menyenangkan.
1. Huram mengucapkan selamat bagi Israel sebab memiliki raja seperti
Salomo (ay. 11). sebab TUHAN mengasihi umat-Nya, Ia telah
mengangkat engkau menjadi raja atas mereka. Perhatikan, pemerintahan
yang baik dan bijaksana merupakan berkat besar bagi rakyat dan dapat
dianggap sebagai tanda bukti perkenanan Tuhan . Huram tidak berkata,
sebab TUHAN mengasihi engkau maka Dia menjadikan engkau raja
(meski memang benar Tuhan mengasihi Salomo, 2Sam. 12:24), melainkan
sebab TUHAN mengasihi umat-Nya. Para pemimpin harus memandang
dirinya dipilih bagi kepentingan masyarakat, bukan untuk kepuasan
pribadi mereka sendiri, dan mereka harus memerintah sedemikian rupa
untuk membuktikan bahwa mereka diberikan kepada rakyat sebagai
pemimpin sebab kasih, bukan sebab murka.
2. Huram memuji Tuhan sebab membangkitkan keturunan yang demikian
bagi Daud (ay. 12). Tampaknya, ia bukan hanya semata-mata sangat
menyukai bangsa Yahudi dan bergembira atas kemakmuran mereka,
namun juga telah menjadi seorang pemeluk agama Yahudi. Ia menyembah
Yehova, Tuhan Israel yang dikenal dengan nama itu di antara negeri-
negeri tetangga sebagai Tuhan pencipta langit dan bumi dan sebagai
sumber kuasa sekaligus kehidupan, sebab Dia yang menetapkan raja-
raja. Kini, setelah orang Israel memelihara hukum Taurat serta
beribadah kepada Tuhan dan dengan demikian mempertahankan
kehormatan mereka, negeri-negeri tetangga pun bersedia diajar oleh
bangsa Israel mengenai agama yang sejati. Ini kebalikan dari ketika
Israel pada masa kemurtadannya dahulu dipengaruhi oleh berhala dan
takhayul bangsa-bangsa sekitar. Hal ini meninggikan bangsa Israel,
260
sebab sekarang mereka memiutangi dan tidak meminjam, memiutangi
kebenaran dan tidak meminjam kesesatan dari negeri lain. Dahulu ketika
Israel melakukan yang sebaliknya, hal itu menjadi aib bagi mereka.
3. Huram mengirimi Salomo seorang ahli yang sangat piawai dan teliti,
yang tidak akan gagal memenuhi harapannya dalam segala hal. Orang ini
memiliki campuran darah Yahudi dan non-Yahudi. Ibunya seorang Israel.
Huram menduga wanita itu berasal dari suku Dan, seperti katanya di sini
(ay. 14), namun kelihatannya ia dari suku Naftali (1Raj. 7:14), sedang
ayahnya orang Tirus. Ini sebuah tanda yang baik akan persatuan orang
Yahudi dan bangsa lain dalam bait Injil, seperti yang terjadi juga
kemudian ketika bait suci yang kedua dibangun dengan begitu hebatnya
oleh Raja Darius (Ezra 6), yang diperkirakan yaitu putra ratu Ester,
yang artinya ia juga orang Israel dari garis ibu.
4. Huram juga memenuhi permintaan kayu segera setelah ada kesempatan
dan berupaya mengirimnya ke Yafo. Dengan itu, ia juga menyatakan
kebergantungan pada Salomo dalam hal pemeliharaan para pekerja,
seperti yang telah Salomo janjikan (ay. 15-16). Persetujuan ini kita
temukan dalam 1 Raja-raja 5:8-9.
II. Perintah Salomo mengenai para pekerja. Ia tidak mau mempekerjakan
keturunan Israel yang lahir sebagai orang bebas dalam kerja berat
pembangunan Bait Suci, termasuk sebagai mandor. Dalam pekerjaan itu, ia
mempekerjakan orang-orang asing yang sudah menjadi pemeluk agama
Yahudi, yang tidak mewarisi tanah Kanaan seperti orang Israel, sehingga
hanya hidup dari berdagang dan memperoleh penghidupannya dari keahlian
dan pekerjaan. Pada zaman itu, ada sangat banyak orang asing seperti itu di
tanah Israel (ay. 17), dan orang-orang ini, jika mereka berasal dari bangsa-
bangsa yang takluk, maka mereka berada di bawah hukum orang Gibeon,
yaitu menjadi penebang kayu bagi umat Israel. Jika bukan berasal dari
bangsa-bangsa yang takluk ini, maka dalam banyak hal mereka tunduk di
bawah hukum Musa, dan dipandang sejajar dengan orang Israel asli,
sehingga terikat oleh hutang budi untuk melakukan apa yang mereka dapat
bagi pelayanan Bait Suci. Sekalipun begitu, tidak diragukan lagi mereka juga
dibayar dengan baik, entah berupa uang atau sesuatu yang setara uang.
Hukum Taurat berkata, Orang asing janganlah kamu tekan. Pembagian para
pekerja itu dicatat di sini (ay. 2 dan ay. 18), semuanya ada 150.000 orang.
Kanaan yaitu tanah yang subur, yang memberi daging untuk begitu banyak
mulut, melebihi jumlah penduduk aslinya. Bait Suci juga yaitu bangunan
maha besar yang memberi pekerjaan untuk begitu banyak tangan. Menurut
Kitab 2 Tawarikh 2:1-10
261
Tuan Fuller, sebab bangunan Bait Suci ini punya struktur khusus, yang
kerangkanya harus dibentuk terlebih dahulu, maka pekerjaannya sangat
banyak. Saya berpikir pekerjaan itu pasti menyediakan begitu banyak
lowongan bagi sangat banyak tangan untuk dipekerjakan. Sebab di hutan
Libanon, mereka semua kemungkinan bekerja bersama-sama tanpa saling
menyesakkan, hal yang tidak mungkin bisa terjadi di gunung Sion. Lagi pula,
seandainya yang dipekerjakan tidak berjumlah banyak, dengan kerangka
yang sangat besar dan teliti, yang dimulai dan verakhir dalam tujuh tahun,
maka sejauh yang saya tahu, pembangunannya bisa sangat lama seperti
mendirikan katedral Santo Paulus.
PASAL 3
itab Raja-raja memuat sebuah kisah yang lebih luas dan terinci tentang
pembangunan rumah TUHAN dibandingkan di dalam Kitab Tawarikh di sini.
Dalam pasal ini kita menemukan,
I. Tempat dan waktu pembangunan rumah TUHAN (ay. 1-2).
II. Ukuran dan ornamennya (ay. 3-9).
III. Kerubim di dalam ruang yang maha kudus (ay. 10-13).
IV. Tabir (ay. 14).
V. Dua tiang (ay. 15-17). Tentang semuanya ini kita sudah memiliki
kisahnya di dalam 1 Raja-raja 6-7.
Rumah TUHAN Dibangun
(3:1-9)
1 Salomo mulai mendirikan rumah TUHAN di Yerusalem di gunung Moria, di mana
TUHAN menampakkan diri kepada Daud, ayahnya, di tempat yang ditetapkan Daud, yaitu
di tempat pengirikan Ornan, orang Yebus itu. 2 Ia mulai mendirikan rumah itu dalam
bulan yang kedua, pada tahun keempat pemerintahannya. 3 Inilah ukuran dasar yang
dipakai Salomo untuk mendirikan rumah Tuhan : panjangnya enam puluh hasta, menurut
ukuran hasta yang lama dan lebarnya dua puluh hasta. 4 Balai di sebelah depan ruang
besar rumah itu, panjangnya dua puluh hasta, menurut lebar rumah itu, dan tingginya
seratus dua puluh hasta. Balai itu dilapisinya dari dalam dengan emas murni. 5 Ruang
besar dipapaninya dengan kayu sanobar. Kayu itu disaputnya dengan emas tua; kemudian
dipasangnya pohon korma dan untaian rantai di atasnya. 6 Ruang itu dilapisinya juga
dengan batu permata yang mahal-mahal sebagai perhiasan, sedang emasnya emas
Parwaim. 7 Demikianlah ruang itu, balok-baloknya, ambang-ambangnya, dinding-dinding-
nya dan pintu-pintunya disaputnya dengan emas dan pada dinding-dindingnya
diukirkannya kerub. 8 Kemudian ia membuat ruang maha kudus; panjangnya dua puluh
hasta, menurut lebar rumah itu, dan lebarnya dua puluh hasta juga. Lalu ia menyaputnya
dengan emas tua seberat enam ratus talenta; 9 berat paku-paku lima puluh syikal emas.
Juga kamar-kamar atas disaputnya dengan emas.
Inilah,
K
264
I. Tempat rumah TUHAN dibangun. Salomo tidak bebas untuk memilih atau
bingung untuk menentukan tempatnya. Tempatnya telah ditentukan
sebelumnya (1Taw. 22:1), sehingga ia boleh merasa lega.
1. Lokasinya harus di Yerusalem. Sebab di sanalah tempat yang telah
dipilih Tuhan bagi kediaman nama-Nya. Ibu kota kerajaan haruslah kota
suci. Harus ada suatu kesaksian bagi Israel ... Sebab di sanalah ditaruh kursi-
kursi pengadilan (Mzm. 122:4-5).
2 Lokasinya harus di atas gunung Moria, yang dianggap oleh beberapa
orang merupakan tempat di tanah Moria di mana Abraham
mempersembahkan Ishak (Kej. 22:2). Demikian yang dinyatakan dalam
Kitab Targum (terjemahan Kitab Suci Ibrani dalam bahasa Aram – pen.),
dengan menambahkan, Ishak dibebaskan oleh firman TUHAN dan seekor
anak domba disediakan sebagai gantinya. Itulah suatu gambaran dari
pengorbanan Kristus sendiri. Oleh sebab itu tepatlah rumah TUHAN,
yang juga merupakan gambaran tentang Dia, dibangun di sana.
3. Lokasinya ada di tempat TUHAN menampakkan diri kepada Daud dan
menjawab dia dengan menurunkan api dari langit (1Taw. 21:18, 26). Di
sanalah penebusan pernah dilakukan. Dan sebab nya, sebagai
peringatan akan hal itu, penebusan harus tetap dibuat di sana. Di mana
Tuhan menjumpai kita, dapat diharapkan bahwa di sanalah Dia mau
menyatakan diri.
4. Lokasinya harus ada di tempat yang telah disediakan oleh Daud, yang
tidak hanya telah dibelinya, namun juga telah dipilihnya berdasarkan
petunjuk Ilahi. Berhikmatlah Salomo untuk tidak mencari suatu tempat
yang lebih nyaman, melainkan untuk menyetujui apa yang telah
ditetapkan oleh Tuhan , apa pun keberatan yang mungkin timbul
tentangnya.
5. Lokasinya harus di tempat pengirikan Ornan. Sebagai seorang Yebus,
tempat itu memberikan dorongan kepada orang-orang bukan Yahudi,
dan mewajibkan kita untuk memandang rumah TUHAN sebagai
pekerjaan yang membutuhkan kerja pikiran, yang tidak kurang beratnya
dari pekerjaan pengirikan, yang menggunakan tenaga fisik.
II. Waktu memulai pembangunan, yaitu tidak sampai tahun keempat dari
pemerintahan Salomo (ay. 2). Bukan berarti tiga tahun pertama terbuang
dengan percuma, atau Salomo masih berpikir-berpikir untuk membangun
atau tidak. Sebaliknya, tahun-tahun tersebut digunakan sebagai persiapan
yang diperlukan bagi pembangunan. Tiga tahun itu cepat berlalu, sebab ada
banyak tangan yang harus dikumpulkan bersama dan disiapkan untuk
Kitab 2 Tawarikh 3:1-9
265
bekerja. Beberapa orang menduga bahwa tahun awal pembangunan tersebut
yaitu tahun sabat atau tahun pembebasan dan istirahat bagi tanah, ketika
orang dibebaskan dari pekerjaan bertani dan beternak, sehingga mereka
lebih mudah menyumbangkan tenaga bagi permulaan pekerjaan ini. Dan
dalam tahun ketika rumah TUHAN selesai dibangun, waktu itu jatuh pada
tahun sabat berikutnya, di mana rakyat juga memiliki waktu luang untuk
menghadiri upacara penahbisan rumah TUHAN.
III. Ukuran-ukuran dari rumah TUHAN, yang diperintahkan kepada Salomo (ay.
3), seperti di dalam hal-hal lain, oleh ayahnya. Inilah ukuran dasar yang
dipakai Salomo untuk mendirikan rumah Tuhan . Inilah peraturan yang harus
diikutinya, sekian hasta panjang dan lebarnya, menurut ukuran hasta yang
lama, yaitu menurut ukuran yang pertama kali ditetapkan, supaya tidak ada
alasan untuk membuat perubahan ketika pekerjaan sudah mulai dikerjakan.
Sebab semua ukuran itu diberikan oleh hikmat Ilahi, dan segala sesuatu yang
dilakukan Tuhan akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan
tak dapat dikurangi (Pkh. 3:14). Ukuran yang pertama akan menjadi yang
terakhir.
IV. Ornamen-ornamen dari rumah TUHAN. Pekerjaan kayunya sangat halus,
malah di sebelah dalam dilapisi dengan emas murni (ay. 4), dengan emas tua
(ay. 5). Dan ruang tersebut juga diukir berbentuk pohon korma dan untaian
rantai di atasnya. Emasnya yaitu emas Parwaim (ay. 6), emas yang terbaik.
Balok-baloknya, ambang-ambangnya, dinding-dindingnya dan pintu-pintunya,
dilapisi dengan emas (ay. 7). Ruang yang maha kudus, yang 20 hasta
panjangnya (sekitar 10 meter persegi), semuanya disaput dengan emas tua
(ay. 8), juga kamar-kamar atas, atau lebih tepatnya lantai atas atau atap atas.
Jadi, bagian atas, bawah, dan samping-sampingnya, semuanya dilapisi
dengan emas murni. Paku, sekrup dan jarum, untuk mengikatkan lapisan
emas ke dinding, beratnya 50 syikal, atau seharga nilai jasa kerja dan
sebagainya. Banyak batu-batu permata yang dipersembahkan kepada Tuhan
(1Taw. 29:2, 8), dan semuanya ditempatkan di sana-sini, yang akan mem-
perlihatkan kegunaannya yang terbaik. Rumah-rumah yang terbaik sekarang
ini pun hanya memiliki hiasan yang tidak lebih baik dibandingkan cat yang baik di
atap dan dinding. namun ornamen rumah TUHAN ini diperkaya dengan
bahan-bahan yang paling mahal. Rumah TUHAN ini disiapkan dengan batu-
batu permata, sebab rumah TUHAN yaitu suatu gambaran dari Yerusalem
baru, yang tidak memiliki Bait Suci di dalamnya sebab kota itu yaitu Bait
Suci itu sendiri. Dan tembok-tembok, pintu-pintu gerbang, serta dasar-
266
dasarnya dikatakan terbuat dari batu-batu mulia dan permata (Why. 21:18-
19, 21).
Rumah TUHAN Dibangun
(3:10-17)
10 Ia membuat dua kerub berupa pahatan di ruang maha kudus dan melapisinya dengan
emas. 11 Sayap kerub-kerub itu seluruhnya dua puluh hasta panjangnya; sayap yang
sebelah kerub yang satu lima hasta panjangnya dan menyentuh dinding ruang, sedang
sayapnya yang sebelah lagi juga lima hasta panjangnya dan menyentuh sayap kerub yang
lain. 12 Begitu pula sayap kerub yang lain itu lima hasta panjangnya dan menyentuh
dinding ruang, sedang sayapnya yang sebelah lagi juga lima hasta panjangnya dan
bersentuhan dengan sayap kerub yang pertama. 13 Jadi sayap kedua kerub itu
membentang sepanjang dua puluh hasta, sedang kedua kerub itu berdiri di atas kakinya
dan menghadap ruang besar. 14 Kemudian ia membuat tabirnya dari kain ungu tua, kain
ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus, dan menggambarkan kerubim padanya. 15 Di
depan rumah itu dibuatnya dua tiang, yang tingginya tiga puluh lima hasta, dengan ganja
di kepalanya masing-masing setinggi lima hasta. 16 Lalu dibuatnya untaian rantai yang
dipasangnya sebagai kalung di atas kepala tiang-tiang itu, dan dibuatnya seratus buah
delima yang dipasangnya pada untaian rantai itu. 17 Tiang-tiang itu didirikannya di depan
Bait Suci, yang satu di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri; tiang kanan
dinamainya Yakhin, dan tiang kiri Boas.
Inilah penjelasan tentang
1. Dua kerubim, yang diletakkan di dalam ruang maha kudus. Sudah ada dua di
atas tabut perjanjian, yang menutupi tutup pendamaian dengan sayap-sayap
mereka. Dua kerubim tersebut berukuran kecil. Kini sebab ruang maha
kudus diperbesar, kendati dua yang kecil ini masih terus ada (menjadi
perlengkapan untuk tabut itu, yang tidak harus dibuat baru, seperti semua
perangkat kemah pertemuan lainnya), namun dua kerubim yang besar di-
tambahkan, yang tak diragukan lagi dibuat menurut penetapan Ilahi, untuk
memenuhi ruang kudus, yang jika tidak akan tampak kosong, seperti sebuah
ruangan tanpa perabot. Kerubim-kerubim ini dikatakan berupa pahatan (ay.
10), yang dirancang, sepertinya, untuk memperlihatkan malaikat-malaikat
yang menyertai keagungan Ilahi. Setiap sayapnya membentang lima hasta,
sehingga seluruhnya ada 20 hasta (ay. 12-13), tepat seukuran lebar ruang
maha kudus (ay. 8). Mereka berdiri di atas kaki mereka, sebagai hamba,
wajah mereka menghadap tabut (ay. 13), sehingga dapat terlihat bahwa
mereka ada di sana tidak untuk disembah, sebab kalau tidak, mereka akan
dibuat duduk, seperti di atas sebuah takhta, dan wajah mereka tertuju
kepada para penyembah mereka. Sebaliknya, mereka tampak sebagai para
pelayan dari Tuhan yang tidak kelihatan. Janganlah kita menyembah malaikat,
namun kita harus menyembah bersama malaikat. Sebab kita sudah datang ke
dalam persekutuan bersama para malaikat (Ibr. 12:22), dan harus
Kitab 2 Tawarikh 3:1-9
267
melakukan kehendak Tuhan seperti yang dilakukan oleh para malaikat.
Perenungan bahwa kita menyembah Tuhan yang di hadapan-Nya para
malaikat menutupi muka mereka, akan membantu mendorong kita supaya
mendekati Dia dengan rasa hormat dan gentar. Bandingkan 1 Korintus 11:10
dengan Yesaya 6:2.
2. Tabir yang memisahkan antara ruang kudus dan ruang maha kudus (ay. 14).
Hal ini menyatakan kegelapan masa itu, dan jarak yang memisahkan para
penyembah. namun , pada saat kematian Kristus, tabir ini terkoyak. Sebab
melalui Dia kita dijadikan dekat, dan memiliki keberanian tidak hanya untuk
memandang, namun juga untuk masuk, ke dalam ruang maha kudus. Pada
saat kematian itu Kristus menjadikan kita seperti kerubim. Ia menyebabkan
kita naik, yaitu, dibuat dalam kuasa pembangkitan, bersulam timbul. Atau Ia
membuat kita dengan sayap dalam posisi naik, seperti kerubim yang berdiri
dalam posisi menjaga, untuk mengingatkan para penyembah mengangkat
hati dan untuk melambung ke atas dalam ibadah mereka.
3. Dua tiang yang dibuat di depan rumah TUHAN. Keduanya seluruhnya di atas
35 hasta panjangnya (ay. 15), sekitar 18 hasta tingginya. (lih. 1Raj. 7:15, dst.) di
mana kita membaca sedikit tentang kedua tiang tersebut, Yakhin dan Boas,
kemapanan dan kekuatan dalam pelayanan rumah TUHAN dan oleh rumah-
Nya itu.
PASAL 4
ita dapati di sini gambaran lanjutan tentang perlengkapan rumah Tuhan .
I. Benda-benda yang terbuat dari tembaga. Mezbah korban bakaran
(ay. 1), “laut” dan bejana pembasuhan untuk menaruh air (ay. 2-6),
pintu-pintu pelataran imam yang dilapisi dengan tembaga (ay. 9),
bejana mezbah dan benda-benda lain (ay. 10-18).
II. Benda-benda yang terbuat dari emas. Kandil dan meja (ay. 7-8),
mezbah pembakaran ukupan (ay. 19), dan perlengkapan dari masing-
masingnya (ay. 20-22). Semuanya ini, kecuali mezbah tembaga (ay. 1),
dijelaskan lebih rinci dalam 1Raj. 7:23, dst..
Perlengkapan Rumah TUHAN
(4:1-10)
1 Lalu ia membuat mezbah tembaga yang dua puluh hasta panjangnya, dan dua puluh
hasta lebarnya dan sepuluh hasta tingginya. 2 Kemudian dibuatnyalah “laut” tuangan yang
sepuluh hasta dari tepi ke tepi, bundar keliling, lima hasta tingginya, dan yang dapat dililit
berkeliling oleh tali yang tiga puluh hasta panjangnya. 3 Di sebelah bawah tepinya ada
gambar lembu-lembu yang mengelilinginya sama sekali, sepuluh dalam sehasta,
merangkum “laut” itu berkeliling; lembu itu dua jajar, dituang setuangan dengan bejana
itu. 4 “Laut” itu menumpang di atas dua belas lembu, tiga menghadap ke utara dan tiga
menghadap ke barat, tiga menghadap ke selatan dan tiga menghadap ke timur; “laut” itu
menumpang di atasnya, sedang segala buntut lembu itu menuju ke dalam. 5 Tebal “laut”
itu setapak tangan dan tepinya serupa tepi piala, seperti bunga bakung yang berkembang.
“Laut” itu dapat memuat tiga ribu bat air. 6 Lagipula dibuatnya sepuluh bejana
pembasuhan dan ditaruhnya lima pada sisi kanan dan lima pada sisi kiri sebagai tempat
pembasuhan; di situ orang membasuh apa yang diperlukan untuk korban bakaran,
sedang “laut” itu yaitu untuk para imam sebagai tempat membasuh. 7 Ia membuat
sepuluh kandil emas sesuai dengan rancangannya dan menaruhnya di dalam Bait Suci,
lima di sebelah kanan dan lima di sebelah kiri. 8 Selanjutnya ia membuat sepuluh meja
dan menempatkannya di dalam Bait Suci, lima di sebelah kanan dan lima di sebelah kiri;
ia membuat pula seratus bokor penyiraman dari emas. 9 Ia membuat juga pelataran para
imam, halaman besar dan pintu-pintu halaman itu; pintu-pintu itu dilapisinya dengan
tembaga. 10 “Laut” itu ditaruhnya pada sisi kanan, arah tenggara.
K
270
Daud sering berbicara dengan penuh semangat tentang bait TUHAN dan
pelataran Tuhan kita. Keduanya tanpa pintu dan di dalamnya terdapat apa yang
merupakan penggambaran dari anugerah Injil dan bayangan dari apa yang harus
datang, yang wujud aslinya yaitu Kristus.
I. Ada benda-benda di pelataran terbuka, yang dapat dilihat oleh semua orang,
yang punya arti sangat penting.
1. Ada mezbah tembaga (ay. 1). Pembuatan mezbah ini tidak disebutkan
dalam Kitab Raja-raja. Di atas mezbah ini semua korban
dipersembahkan dan dikuduskan di sana. Mezbah ini jauh lebih besar
dibandingkan mezbah yang dibuat Musa dalam kemah pertemuan. Mezbah
Musa itu 5 hasta persegi, sedang yang ini 20 hasta persegi. Sekarang
sebab Israel telah menjadi banyak dan lebih makmur, maka diharapkan
mereka lebih bersungguh-sungguh dalam kesalehan sebab setiap
pertambahan umur harus menjadi lebih bijaksana dan lebih baik
dibandingkan sebelumnya, dan diharapkan ada lebih berlimpah
persembahan yang dibawa ke mezbah Tuhan dibandingkan sebelumnya. Oleh
sebab itu dibuatlah sebuah tiang-tiang penopang yang cukup besar
untuk dapat menahan semuanya, supaya jangan ada yang beralasan
tidak membawa persembahan sebab tidak ada cukup ruang untuk
menampung korban mereka. Tuhan telah memperluas batas wilayah
mereka, dan sebab itu patutlah mereka harus pula memperluas mez-
bah-Nya. Apa yang kita kembalikan harus sebanding dengan apa yang
kita terima. Mezbah tersebut 10 hasta tingginya, sehingga orang-orang
yang beribadah di dalam pelataran dapat melihat korban dibakar,
supaya mata mereka dapat mempengaruhi hati mereka dengan
kesedihan sebab dosa: “sebab belas kasihan Tuhan maka aku tidak
dibakar, dan korban ini diterima sebagai penebusan salahku.” Dengan
demikian mereka dapat dituntun untuk mempertimbangkan lebih jauh
akan korban agung yang harus dipersembahkan ketika tiba waktunya,
untuk menghapus dosa dan mengalahkan kematian, yang tidak mungkin
dapat dilakukan oleh darah lembu jantan dan kambing. Dan dengan asap
dari korban bakaran itu, hati mereka dapat naik ke sorga dalam
kerinduan kepada Tuhan dan perkenanan-Nya. Dalam semua ibadah
penyembahan, mata hati kita harus tetap tertuju kepada Kristus, Sang
Pendamai Agung. Bagaimana umat naik ke atas mezbah ini, dan
membawa korban-korban ke atasnya, kita tidak diberi tahu. Beberapa
orang menduga melalui sebuah penampang datar seperti bukit, jadi
tidak melalui tangga, supaya tidak melanggar hukum (lih. Kel. 20:26).
Kitab 2 Tawarikh 4:1-10
271
2. Ada “laut” tuangan, sebuah kuali tembaga yang sangat besar, tempat
mereka menuang air untuk pembasuhan para imam (ay. 2, 6). “Laut”
tersebut diletakkan tepat di pintu masuk ke dalam pelataran para imam,
seperti kolam pembasuhan di pintu masuk di beberapa gereja. Apabila
“laut” itu diisi hingga ke tepinya, wadah tersebut dapat memuat 3.000
bat air (seperti di sini, ay. 5), namun biasanya hanya ada 2.000 bat di
dalamnya (1Raj. 7:26). Roh Kudus dengan hal ini menunjukkan,
(1) Keistimewaan Injil agung kita, bahwa darah Yesus, Anak-Nya itu,
menyucikan kita dari pada segala dosa (1Yoh. 1:7). Bagi kita
ada suatu sumber air yang terbuka bagi semua orang percaya (yang
yaitu imam-imam rohani, Why. 1:5-6), bahkan, bagi semua
penduduk Yerusalem untuk membasuh diri, dari dosa, yang
menajiskan. Ada jasa yang cukup di dalam Yesus Kristus bagi semua
orang yang oleh iman percaya kepada Dia untuk menyucikan hati
nurani mereka, supaya mereka dapat melayani Tuhan yang hidup (Ibr.
9:14).
(2) Kewajiban Injili agung kita, yaitu untuk membersihkan diri kita
melalui pertobatan yang sejati dari semua kecemaran daging dan
kerusakan yang ada di dalam dunia. Hati kita harus disucikan, atau
kita tidak dapat menguduskan nama Tuhan . orang-orang yang datang
mendekat kepada Tuhan harus mentahirkan tangan dan menyucikan
hati mereka (Yak. 4:8). Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau
tidak mendapat bagian dalam Aku. Dan orang yang telah bersih tetap
perlu untuk membasuh kakinya, untuk memperbarui pertobatannya,
ke mana pun ia pergi untuk melayani (Yoh. 13:10).
3. Ada sepuluh bejana kuningan, tempat orang membasuh apa yang
diperlukan untuk korban bakaran (ay. 6). Seperti imam-imam harus
dibersihkan, demikian pula korban-korban. Kita harus tidak hanya
memurnikan diri sendiri sebagai persiapan untuk kegiatan ibadah, namun
juga dengan hati-hati menyingkirkan semua pikiran yang sia-sia dan
tujuan yang keliru yang akan menyimpangkan pelayanan kita dan
mengotorinya.
4. Pintu-pintu pelataran dilapisi dengan tembaga (ay. 9), untuk
menguatkannya dan membuatnya indah, dan supaya pintu-pintu
tersebut tidak membusuk sebab cuaca, yang mudah
mengenainya. Dalam Mazmur 107:16 kita membaca tentang pintu-pintu
tembaga.
272
II. Ada benda-benda tertentu di dalam rumah TUHAN yang hanya boleh dimasuki
oleh imam-imam untuk melayani yang mempunyai arti penting. Semuanya
terbuat dari emas. Makin dekat kita kepada Tuhan , maka kita harus semakin
murni, supaya semakin murni kita jadinya.
1. Ada sepuluh kandil emas, sesuai dengan bentuk dari yang sudah ada di
dalam kemah pertemuan (ay. 7). Firman yang tertulis yaitu sebuah
pelita dan sebuah terang, yang bersinar di dalam tempat yang gelap.
Pada zaman Musa, hanya ada sebuah kandil saja, Pentateukh (kitab
Taurat). namun seiring dengan perkembangan waktu, tambahan kitab-
kitab lain pada Kitab Suci harus dibuat, yang ditunjukkan oleh
penambahan jumlah kandil. Terang terus bertambah besar. Kandil-
kandil yaitu jemaat-jemaat (Why. 1:20). Musa mendirikan hanya satu,
yaitu jemaat Yahudi. namun , dalam Bait Suci yang didirikan di atas Injil,
tidak hanya orang percaya namun juga jemaat-jemaat terus berkembang.
2. Ada sepuluh meja emas (ay. 8), meja-meja tempat menaruh roti
sajian (ay. 19). Mungkin setiap meja ditaruh 12 ketul roti sajian di
atasnya. Ketika rumah yang diperluas, demikian pula halnya
pengelolaannya. Di rumah bapaku ada cukup roti bagi seluruh anggota
keluarga. Di atas meja-meja tersebut ditaruh 100 bokor penyiraman dari
emas. Sebab meja-meja Tuhan harus dilengkapi dengan baik.
3. Ada sebuah mezbah emas (ay. 19), tempat membakar ukupan di atasnya.
Mungkin altar ini diperluas sesuai dengan ukuran mezbah tembaga.
Kristus, yang hanya sekali dan untuk selamanya dijadikan korban
penebusan bagi dosa, menaikkan doa syafaat atas dasar penebusan
tersebut ketika Ia hidup kembali.
Perlengkapan Rumah TUHAN
(4:11-22)
11 Dan Huram membuat juga kuali-kuali, penyodok-penyodok dan bokor-bokor
penyiraman. Demikianlah Huram menyelesaikan pekerjaan yang harus dilakukannya bagi
raja Salomo di rumah Tuhan , 12 yaitu kedua tiang, dengan kedua bulatan ganja di kepala
tiang itu, kedua jala-jala yang menutup kedua bulatan ganja itu; 13 keempat ratus buah
delima untuk kedua jala-jala itu, dua jajar buah delima untuk satu jala-jala guna menutupi
kedua bulatan ganja yang di atas tiang itu. 14 Juga telah dibuatnya kereta-kereta penopang
dan bejana-bejana pembasuhan yang di atas kereta-kereta itu; 15 “laut” yang satu itu dan
kedua belas lembu di bawahnya. 16 Kuali-kuali, penyodok-penyodok, garpu-garpu dan
segala perlengkapan lain yang dibuat Huram-Abi bagi raja Salomo untuk rumah TUHAN
yaitu dari tembaga upaman. 17 Raja menuang semuanya itu di Lembah Yordan di dalam
tanah liat antara Sukot dan Zereda. 18 Salomo membuat segala perlengkapan itu dalam
jumlah yang amat besar, sehingga berat tembaga itu tidaklah terhitung. 19 Salomo mem-
buat juga segala perlengkapan yang ada di rumah Tuhan , yaitu mezbah dan meja-meja
tempat menaruh roti sajian, 20 lagipula kandil-kandil dari emas murni dengan pelita-
Kitab 2 Tawarikh 4:1-10
273
pelitanya, untuk dinyalakan di depan ruang belakang sesuai dengan peraturan; 21
kembang-kembangnya, pelita-pelitanya dan sepit-sepitnya, dari emas, semuanya dari
emas murni; 22 pisau-pisaunya, bokor-bokor penyiramannya, cawan-cawannya dan
perbaraan-perbaraannya, dari emas murni; juga pintu masuk rumah itu, dan pintu-pintu
yang di sebelah dalam ke tempat maha kudus, dan pintu-pintu ke ruang besar Bait Suci,
semuanya dari emas.
Di sini kita membaca sebuah ringkasan tentang pekerjaan tembaga dan pekerjaan
emas dari rumah TUHAN seperti yang kita baca sebelumnya (1Raj. 7:13, dst.), di
mana kita tidak mendapati hal lain selain,
1. Bahwa Huram sang ahli sangat tepat waktu: Demikianlah Huram
menyelesaikan pekerjaan yang harus dilakukannya (ay. 11), dan tidak
meninggalkan bagian apapun dari pekerjaannya tidak terselesaikan. Huram,
ayahnya, demikian sebutannya (ay. 16). Mungkin itu semacam nama
panggilan yang dengannya dia dikenal secara umum, Bapa Huram. Sebab
raja Tirus memanggilnya Huram Abi, ayahku, dan demikian pula Salomo
memanggilnya, sebab dia menjadi seorang seniman agung dan bapak dari
semua seniman besi dan tembaga. Ia mengerjakan tugasnya sendiri dengan
keaslian dan ketelitian.
2. Salomo begitu murah hati. Ia membuat segala perlengkapan itu dalam jumlah
yang sangat besar (ay. 18), banyak macamnya, sehingga banyak tangan yang
dapat dipakai, sehingga pekerjaan dapat berlanjut dengan cepat, atau
sebagian dapat disimpan sebagai cadangan ketika yang lain sudah rusak.
Dengan cuma-cuma dia telah menerima dan dengan cuma-cuma pula dia
memberi. Ketika dia telah membuat cukup perlengkapan untuk saat ini, dia
tidak mau mengalihkan sisa bahan tembaga untuk dipakainya sendiri.
Semuanya telah diabdikan kepada Tuhan , dan akan digunakan bagi Dia.
PASAL 5
etelah Bait Suci dibangun dan diperlengkapi untuk Tuhan , di sini kita
mendapati,
I. Kepemilikan atas rumah TUHAN itu diberikan kepada Tuhan , dengan
dibawa masuknya barang-barang kudus yang dikhususkan kepada-Nya
(ay. 1), terutama tabut, tanda hadirat-Nya (ay. 2-10).
II. Kepemilikan atas rumah itu diterima oleh TUHAN, di dalam awan (ay.
11-14). Sebab, apabila seseorang membuka pintu hatinya kepada Tuhan ,
maka Ia akan masuk ke dalam hati orang itu (Why. 3:20).
Tabut Ditempatkan di dalam Bait Suci
(5:1-10)
1 Maka selesailah segala pekerjaan yang dilakukan Salomo untuk rumah TUHAN itu.
Kemudian Salomo memasukkan barang-barang kudus Daud, ayahnya, dan menaruh
perak, emas dan barang-barang itu dalam perbendaharaan rumah Tuhan . 2 Pada waktu itu
Salomo menyuruh para tua-tua Israel dan semua kepala suku, para pemimpin puak orang
Israel, berkumpul di Yerusalem, untuk mengangkut tabut perjanjian TUHAN dari kota
Daud, yaitu Sion. 3 Maka pada hari raya di bulan ketujuh berkumpullah di hadapan raja
semua orang Israel. 4 Setelah semua tua-tua orang Israel datang, maka orang-orang Lewi
mengangkat tabut itu. 5 Mereka mengangkut tabut itu dan Kemah Pertemuan dan segala
barang kudus yang ada dalam kemah itu; semuanya itu diangkut oleh imam-imam dan
orang-orang Lewi. 6 namun raja Salomo dan segenap umat Israel yang sudah berkumpul di
hadapannya, berdiri di depan tabut itu, dan mempersembahkan kambing domba dan
lembu sapi yang tidak terhitung dan tidak terbilang banyaknya. 7 Kemudian imam-imam
membawa tabut perjanjian TUHAN itu ke tempatnya, di ruang belakang rumah itu, di
tempat maha kudus, tepat di bawah sayap kerub-kerub; 8 jadi kerub-kerub itu
mengembangkan kedua sayapnya di atas tempat tabut itu, sehingga kerub-kerub itu
menudungi tabut serta kayu-kayu pengusungnya dari atas. 9 Kayu-kayu pengusung itu
demikian panjangnya, sehingga ujungnya kelihatan dari tempat kudus, yang di depan
ruang belakang itu, namun tidak kelihatan dari luar; dan di situlah tempatnya sampai hari
ini. 10 Dalam tabut itu tidak ada apa-apa selain dari kedua loh yang ditaruh Musa ke
dalamnya di gunung Horeb, ketika TUHAN mengikat perjanjian dengan orang Israel pada
waktu perjalanan mereka keluar dari Mesir.
S
276
Gambaran ini sesuai dengan yang kita dapati di dalam Kitab 1 Raja-raja 8:2 dan
seterusnya, yang berisi catatan mengenai upacara khidmat saat tabut dibawa
masuk ke Bait Suci yang baru selesai dibangun itu.
1. Tidak dibutuhkan upacara khidmat untuk membawa masuk barang-barang
kudus (ay. 1). Barang-barang itu memang menambah perbendaharaan dan
mungkin juga keindahan Bait Suci, namun mereka tidak dapat menambah
kekudusan tempat itu, sebab Bait Sucilah yang menguduskan emas itu (Mat.
23:17). Lihatlah betapa adil sikap Salomo, baik kepada Tuhan maupun kepada
ayahnya. Apa pun yang telah dipersembahkan Daud kepada Tuhan , meskipun
sangat disukai olehnya, sama sekali tidak mau diambilnya. Sebaliknya, ia
menyimpannya bersama perbendaharaan Bait Suci. Anak-anak yang ingin
mewarisi berkat orangtua mereka yang saleh, haruslah melanjutkan niat hati
orang tua mereka yang saleh, dan tidak menggagalkannya. Sesudah Salomo
membuat semua perlengkapan Bait Suci dalam jumlah sangat besar (4:18),
masih banyak bahan baku yang tersisa. namun ia tidak mau me-
manfaatkannya untuk tujuan lain, melainkan menyimpannya di dalam
perbendaharaan untuk digunakan pada waktu dibutuhkan kelak. Benda-
benda yang telah dikhususkan bagi-Nya tidak boleh digunakan untuk tujuan
lain. Melakukan hal ini merupakan pelanggaran terhadap barang kudus.
2. Berbeda dengan barang-barang kudus, sungguh patut apabila tabut dibawa
masuk dengan upacara khidmat, dan itulah yang dilakukan. Semua
perlengkapan lain dibuat baru dan lebih besar, mengikuti ukuran rumah
Tuhan , dibanding yang digunakan di Kemah Pertemuan. Namun, tabut berikut
tutup pendamaian dan kerub masih tetap sama. Hadirat dan kasih karunia
Tuhan tetap sama, baik dalam perhimpunan kecil maupun besar, baik dalam
keadaan jemaat miskin maupun makmur. Sebab di mana dua atau tiga orang
berkumpul dalam nama Kristus, Ia tetap hadir seperti apabila yang
berhimpun itu berjumlah dua atau tiga ribu orang. Tabut itu dibawa masuk
dan diiringi sejumlah besar perhimpunan yang terdiri atas para tua-tua
Israel, yang datang untuk memberikan penghormatan dengan khidmat.
Tidak perlu diragukan lagi bahwa penampilan mereka sangat mewah (ay. 2-
4). Tabut perjanjian itu dibawa masuk oleh para imam ke ruang maha kudus,
tepat di bawah sayap kerub-kerub yang telah diletakkan Salomo di sana (ay.
7-8). Di situlah tempatnya sampai hari ini (ay. 9), namun bukan hari ketika
kitab ini ditulis sesudah pembuangan, melainkan saat kisah ini dicatat. Atau,
mungkin juga benda-benda itu berada di situ (boleh diartikan begini) sampai
hari ini, yaitu hari pemusnahan Yerusalem, hari celaka itu (Mzm. 137:7).
Tabut perjanjian itu merupakan perlambang akan Kristus, dan sebab itu
merupakan tanda hadirat Tuhan . Janji ilahi yang penuh rahmat itu, ketahuilah,
Kitab 2 Tawarikh 5:1-10
277
Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman, benar-benar
membawa tabut itu ke dalam perhimpunan jemaat kita, apabila melalui iman
dan doa kita mengamini janji itu. TUHAN, jika Engkau sendiri tidak mem-
bimbing kami, ke mana lagi kami hari pergi? Jika Kristus sampai
meninggalkan Bait Suci, maka tempat itu akan menjadi sunyi (Mat. 23:38).
3. Bersama tabut perjanjian itu, mereka membawa Kemah Pertemuan dan
segala barang kudus yang ada dalam kemah itu (ay. 5). Benda-benda itu tidak
disingkirkan, sebab telah dikhususkan bagi Tuhan . Juga tidak diubah atau
dilelehkan untuk dipergunakan dalam pekerjaan baru, meskipun tidak
diperlukan lagi. Sebaliknya, benda-benda itu disimpan dengan cermat
sebagai tanda peringatan dari masa lalu. Boleh jadi banyak perlengkapan
yang sesuai, masih digunakan.
4. Semua itu dilakukan dengan sukacita. Mereka menyelenggarakan perayaan
besar pada saat itu (ay. 3), dan mempersembahkan kambing domba dan
lembu sapi yang tidak terhitung dan tidak terbilang banyaknya (ay. 6).
Perhatikanlah,
(1) Pengukuhan ibadah umum bagi Tuhan sesuai ketetapan-Nya, ditambah
tanda kehadiran-Nya, merupakan dan sudah seharusnya menjadi hal
yang mendatangkan sukacita besar bagi siapa pun.
(2) Ketika Kristus masuk ke dalam jiwa seseorang, hukum-Nya tertulis di
dalam hatinya, dan tabut perjanjian bertakhta di sana sehingga menjadi
Bait Tuhan bagi Roh Kudus, maka terciptalah kepuasan sejati di dalam
jiwa orang tersebut.
(3) Apa pun penghiburan yang kita dapatkan, kita harus memuliakan Tuhan
dengan mempersembahkan korban puji-pujian, dengan tidak menahan-
nahan. Sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada
Tuhan . Apabila Tuhan bermurah hati kepada kita dengan kehadiran-Nya,
maka kita harus menghormati-Nya dengan pelayanan dan ibadah kita
yang terbaik.
Bait Suci Dipenuhi Kemuliaan
(5:11-14)
11 Lalu para imam keluar dari tempat kudus. Para imam yang ada pada waktu itu
semuanya telah menguduskan diri, lepas dari giliran rombongan masing-masing. 12
Demikian pula para penyanyi orang Lewi semuanya hadir, yaitu Asaf, Heman, Yedutun,
beserta anak-anak dan saudara-saudaranya. Mereka berdiri di sebelah timur mezbah,
berpakaian lenan halus dan dengan ceracap, gambus dan kecapinya, bersama-sama
seratus dua puluh imam peniup nafiri. 13 Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu
serentak memperdengarkan paduan suaranya untuk menyanyikan puji-pujian dan syukur
kepada TUHAN. Mereka menyaringkan suara dengan nafiri, ceracap dan alat-alat musik
278
sambil memuji TUHAN dengan ucapan: “Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-
lamanya kasih setia-Nya.” Pada ketika itu rumah itu, yaitu rumah TUHAN, dipenuhi awan,
14 sehingga imam-imam itu tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh
sebab awan itu, sebab kemuliaan TUHAN memenuhi rumah Tuhan .
Salomo dan para tua-tua Israel telah berbuat sebaik mungkin untuk
menghormati kehidmatan upacara membawa masuk tabut perjanjian itu. Namun
Tuhan , dengan memperlihatkan bahwa Ia menyambut baik apa yang mereka
lakukan itu, memberikan penghormatan tertinggi atas rumah itu. Awan
kemuliaan yang memenuhi rumah itu lebih memperindah tempat itu
dibandingkan dengan semua emas bertaburkan batu permata yang mereka
gunakan untuk menghiasinya. Walaupun demikian, kemuliaan ini tidak dapat
dibandingkan dengan kemuliaan masa dispensasi Injil (2Kor. 3:8-10). Amatilah,
I. Bagaimana Tuhan mengambil alih kepemilikan atas Bait Suci itu: Ia memenuhi
rumah Tuhan dengan awan (ay. 13).
1. Dengan cara itulah Ia menyatakan penerimaan-Nya atas Bait Suci ini
sama dengan penerimaan-Nya terhadap Kemah Pertemuan Musa. Ia
memberi kepastian kepada umat Israel bahwa Ia juga hadir di dalam
rumah itu, sebab dengan awanlah Ia menyatakan kehadiran-Nya di
hadapan umum (Kel. 40:34).
2. Demikianlah Ia mempertimbangkan kekurangan dan kelemahan orang-
orang kepada siapa Ia menyatakan diri, yang tidak tahan melihat kilauan
cahaya ilahi yang bisa menyilaukan mata mereka. Itulah sebabnya Ia
melingkupinya dengan awan-Nya (Ayb. 26:9). Kristus menyingkapkan
banyak hal kepada murid-murid-Nya menurut kemampuan mereka
untuk menerimanya, dan dalam bentuk perumpamaan, seperti mem-
bungkus perkara-perkara ilahi dengan awan.
3. Dengan cara itulah Tuhan akan memengaruhi hati semua orang yang
menyembah di pelataran-Nya dengan rasa hormat serta takut yang
kudus. Murid-murid Kristus takut saat mereka masuk ke dalam awan
(Luk. 9:34).
4. Dengan cara itulah Ia hendak menyatakan gelapnya masa dispensasi saat
itu, yang menjadi alasan mengapa mereka tidak dapat melihat dengan
jelas akhir dari segala sesuatu yang nantinya ditiadakan pada masa Injil
(2Kor. 3:13).
II. Kapan Tuhan mengambil kepemilikan atas Bait Suci.
1. Lalu para imam keluar dari tempat kudus (ay. 11). Beginilah caranya
kepemilikan itu diserahkan. Semua harus ke luar, supaya pemiliknya
Kitab 2 Tawarikh 5:1-10
279
yang sah dapat masuk. Inginkah kita agar Tuhan tinggal di dalam hati
kita? Kita harus menyediakan tempat bagi-Nya, dan membiarkan segala
hal lain memberi jalan bagi-Nya. Di sini kita diberi tahu bahwa dalam
peristiwa ini seluruh keluarga para imam hadir, bukan hanya satu rom-
bongan tertentu. Para imam yang ada pada waktu itu semuanya telah
menguduskan diri (ay. 11), sebab ada tersedia cukup pekerjaan bagi
mereka semua, mengingat korban yang hendak dipersembahkan
sangatlah banyak. Selain itu, sudah sepatutnya mereka semua menjadi
saksi mata atas upacara yang khidmat ini, dan dipengaruhi olehnya.
2. Ketika para penyanyi dan pemain musik memuliakan Tuhan , maka rumah
itu pun dipenuhi awan. Hal ini terlihat sangat jelas. Hal itu tidak terjadi
ketika mereka mempersembahkan korban bakaran, namun ketika mereka
menyanyikan puji-pujian dan syukur kepada TUHAN, maka Tuhan pun
memberi mereka tanda perkenan-Nya ini. Sebab, persembahan nyanyian
syukur pada pemandangan Tuhan itu lebih baik dari pada sapi jantan, dari
pada lembu jantan (Mzm. 69:32). Seluruh penyanyi dan pemain musik
bertugas, yaitu mereka semua dari ketiga keluarga. Lalu, untuk
melengkapi pagelaran musik itu, seratus dua puluh imam dengan nafiri
masing-masing ikut bergabung dengan mereka. Mereka semua berdiri di
sebelah timur ujung mezbah dan di sisi pelataran yang terletak paling
luar di dekat umat (ay. 12). Dan, ketika bagian upacara ini dimulai,
kemuliaan Tuhan pun datang. Amatilah,
(1) Hal itu terjadi ketika mereka sama-sama dengan serentak, ketika
mereka menjadi satu, memperdengarkan satu suara. Roh Kudus
turun ke atas para rasul ketika mereka berhimpun dan seia sekata
(Kis. 2:1-4). Di mana ada persatuan, di situlah TUHAN
memerintahkan berkat-Nya.
(2) Kemuliaan Tuhan tampak, ketika mereka sedang memuji Tuhan
dengan bersemangat dan sepenuh hati, menyanyikan puji-pujian dan
syukur kepada TUHAN. Apabila kita melayani dan beribadah kepada
Tuhan dengan roh yang sungguh-sungguh, maka ibadah kita itu
berkenan bagi-Nya.
(3) Kemuliaan Tuhan datang, ketika di tengah puji-pujian, mereka
merayakan kasih setia dan kebaikan Tuhan yang kekal. Sama seperti
tidak ada ungkapan yang lebih sering diulang-ulang dalam Kitab Suci
dibanding yang satu ini, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih
setia-Nya yaitu dua puluh enam kali di dalam satu mazmur, yaitu
Mazmur 136, dan sering di ayat-ayat lain. Demikian pula tidak ada
ungkapan yang lebih diakui dari sorga selain ungkapan tersebut.
280
sebab bukan ungkapan perasaan penuh gairah dari para imam yang
bernyanyi yang membuat kemuliaan Tuhan muncul, melainkan
nyanyian yang sederhana ini, Ia baik! Bahwasanya untuk selama-
lamanya kasih setia-Nya. Kebaikan Tuhan yaitu kemuliaan-Nya, dan
Ia senang ketika kita memuliakan Dia atas kebaikan-Nya itu.
III. Akibat dari kehadiran kemuliaan-Nya. Para imam tidak tahan berdiri untuk
menyelenggarakan kebaktian oleh sebab awan itu (ay. 14). Ini memberi bukti
bahwa hukum Taurat menjadikan imam-imam sebagai manusia yang masih
memiliki kelemahan, dan juga (menurut pengamatan Uskup Patrick)
merupakan isyarat jelas bahwa sesudah Mesias datang, keimaman Lewi
harus berhenti dan mereka tidak lagi berdiri melayani. Di dalam diri-Nya
berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Tuhan an. Di dalam Dia,
kemuliaan Tuhan berdiam di antara kita, namun tertutup dengan awan.
Firman itu telah menjadi daging, dan ketika Ia datang ke Bait-Nya bagaikan
api tukang pemurni logam, siapakah yang dapat tahan akan hari
kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia
menampakkan diri? (Mal. 3:1-2).
PASAL 6
emuliaan Tuhan datang dengan mengendarai awan tebal dan memenuhi
rumah yang dibangun Salomo. Dengan cara itu Tuhan menyatakan
kehadiran-Nya di sana. Setelah melihat itu, Salomo segera mengambil
kesempatan itu dan berdoa kepada Tuhan , sebagai Tuhan yang sekarang ini
dengan cara yang istimewa berada dekat dengan mereka.
I. Salomo memaklumkan dengan sungguh-sungguh maksudnya
membangun rumah ini, untuk menyenangkan hati seluruh rakyat dan
memberi kemuliaan kepada Tuhan . Ia memuji Tuhan dan memberkati
rakyat (ay. 1-11).
II. Salomo memanjatkan doa yang sungguh-sungguh kepada Tuhan agar
Tuhan dalam kasih karunia-Nya menerima dan menjawab semua doa
yang dipanjatkan di atau ketika menghadap ke rumah-Nya itu (ay. 12-
42). Seluruh pasal ini telah kita baca sebelumnya dalam 1 Raja-raja
8:12-53, dengan sedikit sekali perbedaan, namun tidak ada salahnya jika
saat ini kita menengok kembali ke belakang.
Doa Salomo kepada Tuhan
(6:1-11)
1 Pada waktu itu berkatalah Salomo: “TUHAN telah memutuskan untuk diam dalam
kekelaman. 2 Sekarang, aku telah mendirikan rumah kediaman bagi-Mu, tempat Engkau
menetap selama-lamanya.” 3 Kemudian berpalinglah raja lalu memberkati seluruh jemaah
Israel, sedang segenap jemaah Israel berdiri. 4 Ia berkata: “Terpujilah TUHAN, Tuhan orang
Israel, yang telah menyelesaikan dengan tangan-Nya apa yang difirmankan-Nya dengan
mulut-Nya kepada Daud, ayahku, demikian: 5 Sejak Aku membawa umat-Ku keluar dari
tanah Mesir, tidak ada kota yang Kupilih di antara segala suku Israel untuk mendirikan
rumah di sana sebagai tempat kediaman nama-Ku, dan tidak ada orang yang Kupilih
untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel. 6 namun kemudian Aku memilih Yerusalem
sebagai tempat kediaman nama-Ku dan memilih Daud untuk berkuasa atas umat-Ku
Israel. 7 Ketika Daud, ayahku, bermaksud mendirikan rumah untuk nama TUHAN, Tuhan
Israel, 8 berfirmanlah TUHAN kepadanya: Engkau bermaksud mendirikan rumah untuk
nama-Ku, dan maksudmu itu memanglah baik; 9 hanya, bukanlah engkau yang akan
K
284
mendirikan rumah itu, melainkan anak kandungmu yang akan lahir kelak, dialah yang
akan mendirikan rumah itu untuk nama-Ku. 10 Jadi TUHAN telah menepati janji yang telah
diucapkan-Nya; aku telah bangkit menggantikan Daud, ayahku, dan telah duduk di atas
takhta kerajaan Israel, seperti yang difirmankan TUHAN; aku telah mendirikan rumah ini
untuk nama TUHAN, Tuhan Israel, 11 dan telah menempatkan di sana tabut, yang memuat
perjanjian yang telah diikat TUHAN dengan orang Israel.”
Sangat besar dampaknya, apabila dalam semua tindakan ibadah kita, kita
merencanakannya dengan baik dan pandangan mata kita menyimpang.
Seandainya Salomo membangun Bait Tuhan ini sebab kesombongan hatinya,
seperti Ahasyweros mengadakan pestanya, hanya untuk memamerkan kekayaan
kemuliaan kerajaannya dan keindahan kebesarannya yang bersemarak, maka
pada akhirnya semua itu sama sekali tidak akan membawa keuntungan apa-apa
baginya. Akan namun , di sini Salomo mengemukakan alasan yang mendorongnya
untuk mendirikan rumah itu, dan semua alasan itu bukan hanya membenarkan,
namun juga membesarkan, upaya yang dilakukannya.
1. Ia mendirikannya untuk kemuliaan dan kehormatan Tuhan . Inilah tujuan
Salomo yang tertinggi dan terutama dalam membangun rumah itu. Rumah
itu dibangun untuk nama TUHAN, Tuhan Israel (ay. 10), untuk menjadi rumah
kediaman bagi-Nya (ay. 2). Tuhan sungguh, bagi kita, membuat kegelapan
menjadi pondok-Nya (ay. 1), namun biarlah rumah ini menjadi tempat
kediaman bagi kegelapan itu. Sebab di dunia yang di ataslah Dia berdiam di
dalam terang, yang begitu terang sampai tidak ada mata yang dapat
menjangkaunya.
2. Salomo mendirikannya sesuai dengan pilihan Tuhan yang berkenan untuk
menjadikan Yerusalem sebagai kota tempat kediaman nama-Nya (ay. 6): Aku
memilih Yerusalem. Ada sangat banyak bangunan megah di Yerusalem untuk
raja, para pemimpin, dan keluarga raja. Jika Tuhan memilih tempat itu,
sangatlah pantas jika dibangun suatu bangunan bagi Tuhan yang jauh
melebihi semua bangunan yang lain. Jika manusia begitu dihormati di sana,
kiranya Tuhan juga dihormati sedemikian.
3. Salomo mendirikannya untuk merampungkan maksud baik ayahnya, yang
tidak pernah mendapat kesempatan untuk melaksanakannya: “Daud,
ayahku, bermaksud mendirikan rumah untuk Tuhan .” Daud yang berencana,
biarlah itu diingat untuk kehormatannya (ay. 7), dan Tuhan mengizinkannya,
walaupun Dia tidak mengizinkan Daud untuk melaksanakan rencananya itu
(ay. 8), Maksudmu itu memanglah baik. Pengerjaan Bait Tuhan sering kali
dilakukan demikian, yang seorang menabur dan yang lain menuai (Yoh.
4:37-38), satu generasi memulai sesuatu yang disempurnakan oleh generasi
berikutnya. Janganlah orang-orang yang paling bijaksana menganggapnya
Kitab 2 Tawarikh 6:1-11
285
suatu penghinaan untuk menyelesaikan rancangan baik yang dimulai oleh
orang-orang sebelum mereka, dan untuk membangun di atas dasar yang
diletakkan orang lain. Semua karya yang baik bukanlah karya yang asli.
4. Salomo mendirikannya dalam rangka melaksanakan perkataan yang
diucapkan Tuhan . Tuhan telah berfirman, anakmu yang akan mendirikan
rumah itu untuk nama-Ku. Dan sekarang Salomo telah mendirikannya (ay. 9-
10). Pelayanan itu ditugaskan kepadanya, dan kehormatan yang
menyertainya dirancangkan baginya, oleh janji ilahi. Jadi, Salomo bukan
melakukannya dari pemikirannya sendiri, melainkan dipanggil Tuhan untuk
melakukannya. Sudah selayaknya Dia yang menugaskan pekerjaan itu juga
menugaskan para pekerjanya. Dan orang dapat melakukan pekerjaannya
dengan kepuasan besar jika mereka melihat panggilan yang jelas untuk
melakukan pekerjaan itu.
Doa Salomo kepada Tuhan
(6:12-42)
12 Kemudian berdirilah ia di depan mezbah TUHAN di hadapan segenap jemaah Israel,
lalu menadahkan tangannya; 13 – sebab Salomo telah membuat sebuah mimbar tembaga
yang panjangnya lima hasta, lebarnya lima hasta dan tingginya tiga hasta, yang
ditaruhnya di halaman – ; ia berdiri di atasnya lalu berlutut di hadapan segenap jemaah
Israel dan menadahkan tangannya ke langit, 14 sambil berkata: “Ya TUHAN, Tuhan Israel!
Tidak ada Tuhan seperti Engkau di langit dan di bumi; Engkau yang memelihara perjanjian
dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di
hadapan-Mu; 15 Engkau yang tetap berpegang pada janji-Mu terhadap hamba-Mu Daud,
ayahku, dan yang telah menggenapi dengan tangan-Mu apa yang Kaufirmankan dengan
mulut-Mu, seperti yang terjadi pada hari ini. 16 Maka sekarang, ya TUHAN, Tuhan Israel,
peliharalah apa yang Kaujanjikan kepada hamba-Mu Daud, ayahku, dengan berkata:
Keturunanmu takkan terputus di hadapan-Ku dan tetap akan duduk di atas takhta
kerajaan Israel, asal anak-anakmu tetap hidup menurut hukum-Ku sama seperti engkau
hidup di hadapan-Ku. 17 Maka sekarang, ya TUHAN, Tuhan Israel, biarlah terbukti
kebenaran firman-Mu yang telah Kauucapkan kepada hamba-Mu Daud. 18 namun
benarkah Tuhan hendak diam bersama dengan manusia di atas bumi? Sesungguhnya
langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidaklah dapat memuat Engkau,
terlebih lagi rumah yang kudirikan ini. 19 Maka berpalinglah kepada doa dan permohonan
hamba-Mu ini, ya TUHAN Tuhan ku, dengarkanlah seruan dan doa yang hamba-Mu
panjatkan di hadapan-Mu ini! 20 Kiranya mata-Mu terbuka terhadap rumah ini, siang dan
malam, terhadap tempat yang Kaukatakan akan menjadi kediaman nama-Mu –
dengarkanlah doa yang hamba-Mu panjatkan di tempat ini. 21 Dan dengarkanlah
permohonan hamba-Mu dan umat-Mu Israel yang mereka panjatkan di tempat ini; bahwa
Engkau juga yang mendengarnya dari tempat kediaman-Mu, dari sorga; dan apabila
Engkau mendengarnya, maka Engkau akan mengampuni. 22 Jika seseorang telah berdosa
kepada temannya, lalu diwajibkan mengangkat sumpah dengan mengutuk dirinya, dan ia
datang bersumpah ke depan mezbah-Mu di dalam rumah ini, 23 maka Engkaupun
hendaklah mendengar dari sorga dan bertindak serta mengadili hamba-hamba-Mu, yaitu
membalas perbuatan orang bersalah dengan menanggungkannya kepada orang itu
sendiri, namun membenarkan orang yang benar dengan membalaskan kepadanya sesuai
dengan kebenarannya. 24 Apabila umat-Mu Israel terpukul kalah oleh musuhnya sebab
mereka berdosa kepada-Mu, kemudian mereka berbalik dan mengakui nama-Mu, dan
286
mereka berdoa dan memohon di hadapan-Mu di rumah ini, 25 maka Engkaupun kiranya
mendengar dari sorga dan mengampuni dosa umat-Mu Israel dan mengembalikan
mereka ke tanah yang telah Kauberikan kepada mereka dan nenek moyang mereka. 26
Apabila langit tertutup, sehingga tidak ada hujan, sebab mereka berdosa kepada-Mu, lalu
mereka berdoa di tempat ini dan mengakui nama-Mu dan mereka berbalik dari dosanya,
sebab Engkau telah menindas mereka, 27 maka Engkaupun kiranya mendengarkannya di
sorga dan mengampuni dosa hamba-hamba-Mu, umat-Mu Israel, – sebab Engkaulah
yang menunjukkan kepada mereka jalan yang baik yang harus mereka jalani – dan
Engkau kiranya memberikan hujan kepada tanah-Mu yang telah Kauberikan kepada
umat-Mu menjadi milik pusaka. 28 Apabila ada kelaparan di negeri ini, apabila ada
penyakit sampar, hama dan penyakit gandum, belalang dan belalang pelahap, apabila
musuh menyesakkan mereka di salah satu kota mereka, apabila ada tulah atau penyakit
apapun,
29 lalu seseorang atau segenap umat-Mu Israel memanjatkan doa dan permohonan di
rumah ini dengan menadahkan tangannya – sebab mereka masing-masing mengenal
tulahnya dan penderitaannya sendiri – 30 maka Engkaupun kiranya mendengar dari sorga,
tempat kediaman-Mu yang tetap, dan kiranya Engkau mengampuni, dan membalas
kepada setiap orang sesuai dengan segala perbuatannya, sebab Engkau mengenal
hatinya – sebab Engkau sajalah yang mengenal hati anak-anak manusia, – 31 supaya
mereka takut akan Engkau dan mengikuti segala jalan yang Engkau tunjukkan selama
mereka hidup di atas tanah yang telah Kauberikan kepada nenek moyang kami. 32 Juga
apabila seorang asing, yang tidak termasuk umat-Mu Israel, datang dari negeri jauh oleh
sebab nama-Mu yang besar, tangan-Mu yang kuat dan lengan-Mu yang teracung, dan ia
datang berdoa di rumah ini, 33 maka Engkaupun kiranya mendengar dari sorga, dari
tempat kediaman-Mu yang tetap, dan kiranya Engkau bertindak sesuai dengan segala
yang diserukan kepada-Mu oleh orang asing itu, supaya segala bangsa di bumi mengenal
nama-Mu, sehingga mereka takut akan Engkau sama seperti umat-Mu Israel, dan sehingga
mereka tahu, bahwa nama-Mu telah diserukan atas rumah yang telah kudirikan ini. 34
Apabila umat-Mu keluar untuk berperang melawan musuh-musuhnya, ke arah manapun
Engkau menyuruh mereka, dan apabila mereka berdoa kepada-Mu dengan berkiblat ke
kota yang telah Kaupilih ini dan ke rumah yang telah kudirikan bagi nama-Mu,
35 maka Engkau kiranya mendengar dari sorga doa dan permohonan mereka dan Engkau
kiranya memberikan keadilan kepada mereka. 36 Apabila mereka berdosa kepada-Mu –
sebab tidak ada manusia yang tidak berdosa – dan Engkau murka kepada mereka dan
menyerahkan mereka kepada musuh, sehingga mereka diangkut tertawan ke negeri yang
jauh atau yang dekat,
37 dan apabila mereka sadar kembali dalam hatinya di negeri tempat mereka tertawan,
dan mereka berbalik, dan memohon kepada-Mu di negeri tempat mereka tertawan,
dengan berkata: Kami telah berdosa, bersalah, dan berbuat fasik, 38 apabila mereka
berbalik kepada-Mu dengan segenap hatinya dan dengan segenap jiwanya di negeri
orang-orang yang mengangkut mereka tertawan, dan apabila mereka berdoa kepada-Mu
dengan berkiblat ke negeri mereka yang telah Kauberikan kepada nenek moyang mereka,
ke kota yang telah Kaupilih dan ke rumah yang telah kudirikan bagi nama-Mu, 39 maka
Engkau kiranya mendengarkan dari sorga, dari tempat kediaman-Mu yang tetap, kepada
doa dan segala permohonan mereka dan kiranya Engkau memberikan keadilan kepada
mereka, dan Engkau kiranya mengampuni umat-Mu yang telah berdosa kepada-Mu. 40
Sebab itu, ya Tuhan ku, kiranya mata-Mu terbuka dan telinga-Mu menaruh perhatian
kepada doa yang dipanjatkan di tempat ini. 41 Dan sekarang, bangunlah ya TUHAN Tuhan ,
dan pergilah ke tempat perhentian-Mu, Engkau serta tabut kekuatan-Mu! Kiranya, ya
TUHAN Tuhan , imam-imam-Mu berpakaian keselamatan, dan orang-orang yang Kaukasihi
bersukacita sebab kebaikan-Mu. 42 Ya TUHAN Tuhan , janganlah Engkau menolak orang
yang telah Kauurapi, ingatlah akan segala kasih setia-Mu kepada Daud, hamba-Mu itu.”
Salomo, di ayat-ayat sebelumnya, menandatangani dan memberi meterai,
demikianlah gambarannya, melalui sebuah upacara penyerahan Bait Suci untuk
Kitab 2 Tawarikh 6:1-11
287
dipersembahkan khusus untuk kehormatan dan ibadah kepada Tuhan . Nah, di
sini, Salomo memanjatkan doa pengudusan. Dalam doa itu, Bait Tuhan dibuat
menjadi perlambang Kristus, sang Mediator Agung, yang melalui-Nya kita
diperintahkan untuk memanjatkan segala doa kita, dan mengharapkan
perkenanan Tuhan , dan yang kepada-Nya kita diperintahkan untuk mengarahkan
mata kita dalam segala urusan kita yang berkaitan dengan Tuhan . Kita telah
melihat rincian doanya ini (1Raj. 8), jadi sekarang kita hanya akan memetik
beberapa bagian doa ini yang mungkin dapat menjadi pokok perenungan kita.
I. Berikut ini beberapa kebenaran dasar yang adakalanya ditegaskan.
1. Bahwa Tuhan Israel yaitu Pribadi yang tidak tertandingi dalam
kesempurnaan. Kita tidak dapat menjelaskan Dia. Akan namun , hal ini
yang kita ketahui, tidak ada Tuhan seperti Dia di langit dan di bumi (ay.
14). Semua ciptaan memiliki sesamanya, yaitu ciptaan lain yang sama,
namun sang Pencipta tidak memiliki sesama pencipta. Dia tidak terukur
mengatasi segala sesuatu, dan ada di atas segala sesuatu, Tuhan yang
harus dipuji sampai selama-lamanya.
2. Bahwa Dia itu benar dan akan selalu benar dalam setiap perkataan yang
diucapkan-Nya. Dan semua yang melayani Dia dalam ketulusan pasti
akan mendapati bahwa Dia setia dan murah hati. Orang-orang yang
selalu menempatkan Tuhan di hadapan mereka, dan hidup di hadapan-
Nya dengan segenap hati mereka, akan mendapati Dia selalu menepati
firman-Nya, dan bahkan lebih dari itu, Dia akan tetap memelihara ko-
venan-Nya dengan mereka dan menunjukkan belas kasih-Nya kepada
mereka (ay. 14).
3. Bahwa Dia itu pribadi yang tidak terbatas dan Mahabesar, yang tidak
dapat dimuat oleh langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun
tidak dapat memuat Dia, dan yang kebahagiaan-Nya tidak bertambah
oleh apa pun oleh pelayanan dan ibadah kita, sebaik apa pun itu (ay. 18).
Dia tak terhingga melebihi segala batasan yang mengikat benda dan
makhluk ciptaan dan jauh mengatasi semua puji-pujian semua makhluk
ciptaan yang berakal budi.
4. Bahwa Dia, dan Dia sajalah yang mengenal hati anak-anak manusia (ay.
30). Semua pikiran, tujuan, dan perasaan manusia tersingkap dan
terbuka di hadapan-Nya. Dan, sekalipun angan-angan dan maksud hati
kita dapat disembunyikan dari manusia, malaikat, dan iblis, namun
semua itu tidak dapat disembunyikan dari Tuha