teologi kristen 2
ibadi Yesus yang unik
ini merupakan suatu misteri dari Tuhan.
Yesus melakukan perbuatan-perbuatan spektakuler dan menakjubkan, seperti:
menyembuhkan, membangkitkan orang dari kematian, mengusir roh-roh jahat,
dan lain-lain, sebagai bukti kasih-Nya. Namun, wujud kasih-Nya yang paling
besar yaitu penderitaan dan kematian-Nya. Pengorbanan Yesus membuktikan
bahwa Tuhan tidak hanya mengasihi dunia, tetapi Ia yaitu kasih yang sejati.
Karenanya, dikatakan: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari kasih yang
memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatNya” (Yohanes 15: 13).
Implikasi dari Yesus sebagai Penyelamat yaitu bahwa karya keselamatan itu
ditunjukkan kepada dunia seantero. Kehidupan religius, termasuk kehidupan
Kristiani bukanlah manifestasi dari upaya manusia untuk menyuap Tuhan karena
didorong oleh ketakutan akan Tuhan. Namun, sebagai ungkapan syukur dan
didorong oleh motivasi kasih sebagai respons terhadap kasih Tuhan. Tuhan
bukanlah kuasa yang memaksa, tetapi kasih yang persuasif. Itulah sebabnya, inti
dari kepercayaan Kristen yaitu kasih, baik kasih kepada Tuhan melalui kasih
kepada sesama maupun kasih bagi ciptaan lainnya.
3.3. Tuhan sebagai Pembaharu dalam Roh Kudus
Kata Ibrani untuk Roh ialah Ruach dan dalam bahasa Yunani disebut
Pneuma. Kedua istilah ini menunjuk pada:
(a) Gerakan udara yang disebabkan oleh nafas (Mazmur 33: 6; 135: 17; Yesaya
11: 14; Gerakan udara yang disebabkan oleh angin. Jadi, Ruach dan
Pneuma diartikan dengan angin sepoi-sepoi, angin kencang, angin ribut,
angin badai, angin tofan, dan lain-lain (Kejadian 3: 8; Keluaran 15: 8, 10;
Mazmur 55: 9, 78: 39;Yesaya 32: 2, 41: 16, 57: 13; Yeremia 13: 24).
(b) Tuhan sebagai Ruach (Roh). Roh yang memberi daya hidup dari sifat Ilahi.
Jadi, Tuhan Pada Perjanjian Baru (PB), Pneuma memiliki kesamaan arti
dengan Ruach yaitu nafas, angin (Yohanes 3: 6; 20: 22; Kisah Para Rasul 2:
2-4), nyawa dan prinsip hidup (Lukas 1: 46-47; 23: 46; Kisah Para Rasul 5:
5, 17: 16).
27
(c) Roh juga mempunyai pengertian antropologi dengan menunjuk pada salah
satu dimensi manusia, yakni dimensi batiniah yang tidak kelihatan (I
Korintus 5: 3-5; II Korintus 7: 1; Kolose 2: 5. Jadi, Roh itu berbeda dengan
badan (soma).
(d) Roh juga dapat diartikan dengan jiwa atau psykhe (I Tesalonika 5: 23; Filipi
1: 27; Ibrani 4: 12).
(e) Roh juga mempunyai arti psikologi, yaitu sebagai tempat aktivitas kejiwaan,
pengetahuan, pikiran, sikap, dan lain-lain (Markus 2: 8; 8: 12).
(f) Pada falsafah Yunani, terutama di dalam kelompok stoa, Roh dianggap saleh
sebagai pancaran dari yang Ilahi atau transenden. Roh terpancar dari yang
Ilahi dan Roh juga disebut Ilahi.
(g) Pada falsafah Yahudi, Roh tidak dipahami sebagai bagian dari jasmaniah. Ia
tidak dipertentangkan dengan materi, tetapi dengan daging (bazar). Daging
yaitu segala sesuatu yang bersifat sementara, lemah, insani, tetapi Roh
yaitu yang Ilahi dan bersifat kekal (abadi).
Berdasarkan kesaksian Perjanjian Lama, kita dapat mencatat karya-karya Roh
Kudus, sebagai berikut:
Pertama, Roh Kudus berkarya menyanggupi orang-orang yang dipanggil dan
diutus oleh Tuhan untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu. Berbagai cerita dalam
Perjanjian Lama memberikan kesaksian kepada kita bahwa Roh Kudus diberikan
oleh Tuhan untuk memampukan para pemimpin dalam pelaksanaan tugasnya. Hal
ini terungkap dalam kepemimpinan Musa. Pada kitab Keluaran 31: 3 dikatakan
bahwa Musa berhasil mengeluarkan orang-orang Israel keluar dari Mesir, tanah
perbudakan karena Tuhan yang memimpin Musa melalui Roh-Nya.
Selain itu, Kitab Hakim-hakim 3:10; 6: 34 memberikan keterangan bahwa
Roh Tuhan melengkapi dan memampukan Otniel dan Gideon untuk menjadi
pemimpin. Sebelumnya, mereka berdua tidak memiliki bakat alamiah untuk
menjadi seorang pemimpin. Mereka menjadi orang bijaksana dalam pengambilan
keputusan, dan berhasil mengalahkan musuh-musuh karena Roh Tuhan .
Selanjutnya, Kitab Hakim-hakim 14: 6, 19; 15: 14 menyaksikan pula bahwa
Simon mampu melakukan peristiwa-peristiwa luar biasa karena ia dikuasai oleh
28
Roh Tuhan . Pada zaman raja-raja, kita juga menyaksikan hal serupa. Raja Saul dan
Daud, misalnya, berhasil memenangkan berbagai peperangan melawan musuh
karena Roh Tuhan memberikan kekuatan kepada mereka untuk berperang.
Namun demikian, dalam Perjanjian Lama disaksikan pula bahwa Roh Tuhan
dapat ditarik dari para pemimpin umat, bila mereka tidak setia kepada Tuhan , Sang
Pemberi Roh itu. Misalnya: cerita tentang Simson. Dikatakan bahwa karena
Simson membiarkan dirinya jatuh dalam bujukan istrinya, Delila. Tuhan menarik
kembali Roh-Nya dari padanya, sehingga ia gagal melaksanakan tugasnya sebagai
hakim (Hakim-hakim 13: 5).
Demikian pula cerita tentang Saul. Dikisahkan, Saul tidak setia kepada Tuhan
dan melakukan hal-hal yang jahat di hadapan Tuhan , Roh Tuhan ditarik dari
padanya, sehingga ia gagal dalam kepemimpinannya sebagai raja di Israel (I
Samuel 15: 26; 16: 14). Bahkan, dalam kitab I Samuel 18: 6 dikatakan bahwa Saul
kerasukan roh jahat, sehingga kejahatannya bermuara pada praktik animisme (I
Samuel 28: 1 dan seterusnya).
Jadi, bila Roh Tuhan ditarik dari seseorang, tugasnya menjadi hampa, tanpa
makna. Walaupun begitu, Tuhan akan mengembalikan Roh-Nya, apabila para
pemimpin mengakui kesalahannya dan bertobat. Daud, misalnya, karena
menyadari dosanya, Tuhan mengampuni dan Roh Tuhan kembali menguasai
hidupnya. Daud, melalui doanya, mengakui semua kesalahannya di hadapan Tuhan
(Mazmur 51: 11).
Kedua, Roh Tuhan juga berkarya untuk menguasai kehidupan umat yang setia
kepada-Nya. Disaksikan dalam kitab Hagai 2: 5 bahwa Tuhan menyertai seluruh
bangsa Israel, tetapi penyertaan itu menuntut ketaatan yang mutlak kepada Tuhan .
Kasih Tuhan akan diberikan melalui Roh-Nya, apabila Israel setia memberlakukan
hukum-hukum Tuhan . Hal yang sama kita temukan pula dalam Nehemia 9:20,
dimana Nehemia memanjatkan permohonan kepada Tuhan untuk memberikan
Roh-Nya kepada para pemimpin umat, agar mereka dapat mengajarkan jalan
Tuhan kepada umat. Permohonan ini dikabulkan, bila umat Israel setia kepada
Tuhan , sebaliknya ditolak, bila umat Israel menunjukkan ketidak-setiaannya.
Ketiga, Roh Tuhan juga berkarya dalam rangka mempersiapkan manusia
melaksanakan tugas-tugas tertentu. Menurut kesaksian PL, sebelum seorang
29
pemimpin melaksanakan tugasnya, terlebih dahulu disiapkan oleh Roh Tuhan
karena tugas itu berasal dari Tuhan . Biasanya, para nabi diutus oleh Tuhan sebagai
utusan untuk menegur dan memberi petunjuk kepada para pemimpin (raja). Untuk
maksud itu, apabila seorang raja tidak mendengar suara nabi, ia akan gagal dalam
kepemimpinannya. Sebaliknya, apa bila seorang raja mendengar apa yang
disampaikan oleh nabi, raja itu akan berhasil dalam kepemimpinannya.
Keempat, Roh Kudus juga berkarya dalam pemeliharaan terhadap manusia
dan seluruh ciptaan (Mazmur 104: 29-30).
Kelima, Roh Kudus juga berkarya untuk menghidupkan manusia. Pekerjaan
ini diungkapkan dalam Kejadian 6: 3, “RohKu tidak akan selama-lamanya tinggal
di dalam manusia”. Ungkapan ini mirip dengan Ayub 27: 3, “Roh Tuhan masih di
dalam lubang hidungku”. Bahkan dalam Ayub 32: 8 dan 33: 4 dikatakan bahwa
nafas (ruach) Yang Maha Kuasa ada di dalam manusia.
Keenam, Roh Tuhan juga berkarya untuk menganugerahkan keterampilan,
akal budi dan seni kepada manusia (Keluaran 35: 31-35).
Selanjutnya, dikemukakan pula karya-karya Roh Kudus dalam Perjanjian
Baru (PB), sebagai berikut:
Pertama, Roh Kudus berkarya pada kelahiran Yohanes Pembaptis.
Berdasarkan Injil Lukas 1: 5-25 dapat dikatakan bahwa kelahiran Yohanes
Pembaptis yaitu bukti karya Roh Kudus terhadap pergumulan Zakaria dan
Elisabeth, orang tuanya. Dikatakan, Yohanes Pembaptis akan menjadi besar di
hadapan Tuhan, Ia tidak akan minum anggur atau minuman keras lainnya, tetapi
akan penuh dengan Roh Kudus, semenjak ia berada dalam rahim ibunya (Lukas 1:
15, 41, 67).
Kedua, Roh Kudus juga berkarya pada peristiwa kelahiran Yesus.
Pemberitahuan malaikat Gabriel kepada Maria bahwa ia akan melahirkan seorang
anak laki-laki dan akan diberi nama: Yesus, menimbulkan ketidak-percayaan.
Alasannya, Maria belum bersuami (Lukas 1: 34) dan Yusuf tidak bersetubuh
dengan Maria (Matius 1: 25). Namun, hal ini merupakan rencana Tuhan . Maria
telah melahirkan seorang anak laki-laki, Yesus, nama-Nya, yang dikandung oleh
Roh Kudus.
30
Jadi, dengan mengatakan bahwa Yesus dikandung oleh Roh Kudus, itu berarti
seluruh misi dan inkarnasi Yesus diarahkan oleh Roh Kudus. Dengan peristiwa
kelahiran-Nya, terungkap kemanusiaan dan ke-Tuhan -an Yesus. Keduanya
menyatu dan bersatu padu. Yesus disebut Anak Manusia karena lahir dari seorang
manusia (Maria) dan Anak Tuhan karena dikandung oleh Roh Kudus.
Ketiga, Roh Kudus juga berkarya pada peristiwa pembaptisan Yesus oleh
Yohanes Pembaptis. Para penginjil mencatat bahwa pada saat Yesus dibaptis,
terjadi peristiwa turunnya Roh Kudus seperti seekor burung merpati (Matius 3:
16-17; Markus 1: 10-11; Lukas 3: 21-22; Yohanes 1: 32-34). Para penginjil juga
sepakat bahwa Roh Kudus itu tidak identik dengan burung merpati. Penginjil
Lukas mengatakan bahwa turunnya Roh itu “dalam rupa burung merpati”.
Para penginjil, nampaknya sepakat untuk menekankan objektivitas dari
peristiwa yang dimaksud, artinya bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi.
Selanjutnya, terdengar ungkapan: “Kepada-Nya Aku berkenan”, menunjukkan
bahwa turunnya Roh Kudus merupakan tanda kelihatan bahwa Tuhan menerima
dan berkenan atas Sang Anak dalam pelayanan yang akan dimulai-Nya.
Pada peristiwa pelayanan Yesus, dapat dicatat 5 (lima) hal yang menjadi
karya Roh Kudus, yakni:
(a) Yesus diurapi oleh Roh Kudus untuk melaksanakan tugasNya sebagai Mesias
(Lukas 4: 18, band. Kisah Para Rasul 10: 38). Dengan kuasa Roh Kudus,
Yesus dimampukan untuk menyelesaikan karya penyelamatan Tuhan bagi
dunia. Dengan kata lain, Yesus tidak dapat melaksanakan tugas, bila tidak
menerima kuasa Roh Kudus. Yesus diurapi dalam 3 (tiga) jabatan yang
menunjuk pada dimensi pelayanan-Nya yang sempurna, paripurna. Pada
jabatan Raja, Yesus yaitu Raja di atas segala raja. Ia memerintah segala
kerajaan dan kerajaan-Nya kekal. Kekuasaan-Nya meluas, tidak sempit dan
terbatas pada kerajaan tertentu, seperti raja-raja dalam PL; Sebagai Imam, Ia
tidak hanya bertugas dalam Bait Tuhan saja. Lebih dari itu, Ia yaitu Imam
Agung yang telah mati di kayu salib. Sebagai Nabi, Ia yaitu utusan Tuhan
yang hadir di dunia untuk memberitakan kabar sukacita.
31
(b) Yesus dimateraikan dengan Roh Kudus, menunjuk bahwa Ia berasal dari
Tuhan dan Anak Tuhan yang diurapi untuk melaksanakan karya penyelamatan
Tuhan bagi manusia.
(c) Roh Kudus tinggal dan berkarya dalam diri Yesus. Hal ini dikatakan oleh
Yesus mengenai diri-Nya sendiri. Ketika Ia berbicara tentang perombakan
Bait Tuhan . “Rombak Bait Tuhan ini, dan dalam tiga hari Aku akan
mendirikannya kembali” (Yohanes 2: 9). Bait Tuhan yang dimaksudkan di
sini yaitu Tubuh Yesus sebagai tempat bertakhtanya Roh Kudus.
Selanjutnya, Bait Tuhan itu ditujukkan kepada pribadi-pribadi orang percaya.
(d) Pada pribadi dan pelayanan Yesus ada buah-buah Roh: kasih, sukacita,
damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-
lembutan, penguasaan diri (Galatia 5: 22-23). Buah-buah Roh dimaksud
merupakan ciri khas dari kehidupan Yesus. Ia selalu melakukan kebaikan
dan menentang perbuatan jahat.
(e) Oleh karena karya Roh Kudus, Yesus mempersembahkan hidup-Nya
menjadi korban tebusan bagi manusia (Ibrani 9: 14).
Keempat, Roh Kudus juga berkarya pada peristiwa kebangkitan Yesus.
Menurut Paulus, Roh Kuduslah yang membangkitkan Yesus dari kematian (Roma
1: 4 dan 8: 11). Kebangkitan menunjukkan bahwa Yesus yaitu Anak Tuhan .
Kematian-Nya tidak mengakibatkan Yesus berlalu dalam pentas dunia. Setelah
Yesus mati, pada hari yang ketiga, dibangkitkan dari kematian-Nya.
Kelima, Roh Kudus juga berkarya melalui peristiwa pentakosta.
Yesus, sebelum berpisah dengan para murid, menjanjikan turunnya Roh Kudus.
Janji ini bukan suatu kebohongan belaka, tetapi digenapi pada peristiwa
pentakosta. Ada beberapa bukti yang dapat disebutkan, antara lain:
(a) Sebelum kebangkitan Kristus, para murid belum memiliki kuasa untuk
melaksanakan tugas. Mereka merasa takut dan berkumpul di suatu ruangan
yang tertutup untuk merenungkan nasib mereka dan merasa kuatir mengenai
apa yang bakal terjadi, seandainya Yesus tidak bangkit. Pada suasana
ketakutan dan kecemasan (kuatir) itu, Yesus hadir dan menyatakan diri
kepada para murid bahwa Ia telah bangkit. Dengan kebangkitan itu, Ia akan
32
memberikan Roh Kudus agar para murid mendapat kekuatan, keberanian
dan kuasa untuk menjadi saksi (Yohanes 14: 16-17; 16: 8, 13).
(b) Roh Kudus belum diberikan sebelum Yesus dipermuliakan (Yohanes 7: 39).
Dengan kebangkitan, Ia berhak menerima kemuliaan Tuhan . Tuhan
memuliakan Yesus karena Ia menang melalui kebangkitan-Nya (Kisah Para
Rasul 2: 33).
(c) Setelah kebangkitan, Yesus naik ke surga, masuk dalam kemuliaan Tuhan
Bapa dan dari sana Ia mengirim Roh Kudus sebagai bukti penyertaan bagi
para murid agar mereka dapat melanjutkan misi-Nya (Yohanes 16: 7).
(d) Yesus, sebelum naik ke sorga, melarang para murid untuk meninggalkan
Yerusalem, sebelum mereka menerima janji pemberian Roh Kudus. Setelah
10 hari yaitu genap 50 hari sesudah kebangkitan-Nya, janji pemberian Roh
Kudus digenapi. Pemenuhan para murid dengan Roh Kudus merupakan
tanda kesiapan melaksanakan misi Yesus.
(e) Keutuhan suatu persekutuan merupakan wujud kehadiran Kristus.
Karenanya, jemaat mesti mewujudkan suatu persekutuan yang utuh (Efesus
4: 16).
(f) Keberhasilan para murid untuk mendirikan suatu jemaat atau persekutuan
Kristen merupakan karya Roh Kudus. Tanpa Roh Kudus, para murid tidak
mampu melaksanakan tugas dengan baik.
Keenam, Roh Kudus juga berkarya sesudah peristiwa pentakosta.
Sesudah peristiwa pentakosta, Roh Kudus memberi kuasa kepada semua orang
percaya untuk melaksanakan tugas pekabaran Injil. Diantaranya, Barnabas
dipenuhi oleh Roh Kudus, sehingga ia mampu mengantar banyak orang kepada
pertobatan (Kisah Para Rasul 11: 24); Atas kuasa Roh Kudus, Paulus dapat
menguasai seorang tukang sihir yang bernama: Elymas (Kisah Para Rasul 3: 9);
Rasul-rasul memiliki pembantu-pembantu untuk melaksanakan tugas pelayanan
karena kuasa Roh Kudus (Kisah Para Rasul 6: 3); Rasul Petrus tanpa rasa takut
berbicara di tengah-tengah orang banyak, termasuk tua-tua, ahli-ahli Taurat,
orang-orang Farisi dan saduki karena Roh Kudus memimpinnya. Ia berani
33
menegur orang-orang Yahudi atas berbagai kesalahan mereka dan mengarahkan
pada jalan Kristus (Kisah Para Rasul 4: 8).
Selain itu, Roh Kudus juga berkarya sesudah pentakosta juga terlihat dari
karunia-karunia Roh yang diberikan oleh Tuhan kepada jemaat-jemaat untuk
membangun tubuh Kristus. Karunia-karunia itu berupa karunia untuk: berkata-
kata dalam hikmat, berpengetahuan, beriman, menyembuhkan, melakukan
mujizat, bernubuat, membedakan bahasa roh, berbahasa lidah, menjadi rasul,
mengajar, sebagai nabi, memimpin, untuk melayani (I Korintus 12: 8, 9, 10, 28);
karunia sebagai pemberita Injil, karunia sebagai gembala (Efesus 4: 11); karunia
untuk menasihati, memberi pimpinan dan karunia untuk menunjukkan kemurahan
(Roma 12: 8).
Ketujuh, Roh Kudus juga berkarya dalam doa orang-orang percaya.
Tuhan yaitu Roh, karenanya, manusia harus menyembah Tuhan dalam Roh dan
kebenaran (Yohanes 4: 24). Salah satu bentuk penyembahan manusia kepada
Tuhan dilakukan melalui doa. Berdoa dengan Roh berarti Roh yang mengajarkan
manusia untuk berdoa. Roh Kudus-lah yang menggerakkan orang-orang percaya
pada saat berdoa (Roma 8: 26-27). Sikap yang diminta dalam berdoa yaitu
keyakinan dan kepasrahan kepada kehendak Tuhan . Dengan begitu, Tuhan akan
menjawab setiap doa yang dinaikkan kepada-Nya (I Yohanes 5: 14).
Kedelapan, Roh Kudus juga berkarya dalam ibadah orang-orang percaya.
Pada Filipi 3: 3, Paulus mengemukakan bahwa ibadah tidak boleh dipahami
secara lahiriah, tetapi secara rohani. Maksudnya, ibadah harus dimengerti sebagai
suatu tindakan Roh Kudus dalam kehidupan orang-orang percaya untuk
merespons kasih Tuhan yang menyelamatkan. Roh Kuduslah menggerakkan hati
orang-orang percaya untuk beribadah kepada Tuhan. Karenanya, seluruh bentuk
ibadah yang dilakukan harus didasarkan pada kepemimpinan Roh Kudus, sebab
Tuhan yaitu Roh (I Yohanes 4: 2).
Kesembilan, Roh Kudus juga berkarya membimbing seseorang, seperti cerita
tentang perjumpaan malaikat dengan sida-sida dari Etopia dalam Kisah Para Rasul
8. Walaupun Penginjil Lukas mencatat bahwa seorang malaikat Tuhan
mengarahkan Filipus untuk meninggalkan Samaria menuju ke arah Gaza (Kisah
34
Para Rasul 8: 26), tetapi Roh Kudus-lah yang memimpin langkah Filipus untuk
mendekati orang Etiopia itu (Kisah Para Rasul 8: 29).
Kesepuluh, Roh Kudus juga berkarya dalam peristiwa pertobatan Saulus dari
Tarsus. Roh Kudus-lah yang telah menyadarkan dirinya terhadap penghambatan
yang dilakukan bagi orang-orang Kristen dan misi Yesus. Dengan kerja Roh
Kudus, Saulus bertobat dan percaya kepada Yesus (Kisah Para Rasul 9: 17).
Peristiwa pertobatan Kornelius juga merupakan karya Roh Kudus. Roh Kudus-lah
yang mengukuhkan bagi Kornelius dan seisi rumahnya pengampunan dosa oleh
karena nama Kristus (Kisah Para Rasul 10: 43). Ketika Petrus melaporkan
peristiwa-peristiwa yang membawa kepada pertobatan Kornelius, ia menyebut
pimpinan Roh (Kisah Para Rasul 11: 12).
Kesebelas, Roh Kudus juga berkarya dalam nubuatan-nubuatan. Pada Kisah
Para Rasul 11: 28 dikatakan bahwa Agabus oleh kuasa Roh Kudus menubuatkan
kelaparan yang bakal menimpa seluruh dunia. Berdasarkan nubuatan itu, orang-
orang Kristen Anthiokhia segera mengirim sumbangan kepada Saudara-saudara
mereka di Yudea. Bagi orang-orang Kristen Anthiokhia, nubuat melalui Roh
Kudus memberikan tanggung jawab untuk bertindak. Sedangkan sumbangan yang
diberikan menunjuk pada respons mereka terhadap pimpinan Roh Kudus.
Selanjutnya, dalam Kisah Para Rasul 21: 10, Agabus kembali bernubuat
tentang nasib Paulus di Yerusalem yang menderita karena pemberitaannya tentang
Kristus. Boleh jadi nubuat ini juga merupakan sarana yang digunakan Roh untuk
mengarahkan jemaat di Anthiokhia agar mengutus Barnabas dan Saulus (Kisah
Para rasul 13: 1-3) dan menahan Paulus dan rombongannya agar tidak masuk ke
daerah Asia dan Bitinia (Kisah Para Rasul 16: 7).
Keduabelas, Roh Kudus juga berkarya untuk menyelesaikan pertikaian.
Misalnya, ketika masalah penyunatan orang-orang bukan Yahudi dikemukakan
kepada sidang di Yerusalem, di sana Petrus menceritakan bahwa Roh Kudus telah
dikaruniakan kepada orang-orang bukan Yahudi, sama seperti kepada orang
Yahudi (Kisah Para Rasul 15: 8). Roh Kudus tidak membedakan orang Yahudi
dan bukan Yahudi.
Ketigabelas, Roh Kudus juga berkarya bagi pelaksanaan misi untuk orang
bukan Yahudi. Hal ini terlihat ketika jemaat Anthiokhia merencanakan misi bagi
35
orang-orang bukan Yahudi. Roh Kudus berprakarsa menyuruh jemaat untuk
mengutus Barnabas dan Saulus untuk melaksanakan tugas tersebut (Kisah Para
Rasul 13: 2). Pengutusan seperti ini dipahami sebagai karya Roh Kudus (Kisah
Para Rasul 13: 4)
Selanjutnya, dikemukakan sifat-sifat Roh Kudus. Perlu dikemukakan bahwa
sifat-sifat Roh Kudus tidak dapat dilepas-pisahkan dari sifat-sifat Tuhan dan
Kristus. Alasannya, ketiga oknum ini (Bapa, Anak dan Roh) merupakan satu
pribadi saja. Pribadi yang satu (Tuhan Bapa) menyatakan diri dalam tiga wujud,
yaitu Tuhan di atas kita (Tuhan Bapa), Tuhan di tengah kita (Yesus Kristus) dan
Tuhan di dalam kita (Roh Kudus).
Dengan demikian, orang-orang Kristen tidak percaya kepada tiga Tuhan , tetapi
hanya kepada satu Tuhan , Tuhan Yang Esa. Karenanya, ketiga oknum yang Esa
juga memiliki sifat-sifat yang sama.
Bertolak dari dasar pemikiran tersebut, dapatlah dikedepankan sifat-sifat Roh
Kudus, sebagai berikut:
Pertama, Roh Kudus bersifat pribadi. Sama seperti Tuhan Bapa dan Tuhan
Anak yaitu satu pribadi, Roh Kudus juga merupakan satu pribadi. Ia memiliki
status, kedudukan dan fungsi yang sama dengan Tuhan Bapa dan Tuhan Anak.
Bukti-bukti yang mengungkapkan Roh Kudus sebagai suatu pribadi, yaitu : (a)
Roh Kudus memiliki kecerdasan. Ia mengetahui segala sesuatu dari Tuhan (I
Korintus 2: 10-11); Ia memiliki pikiran (Roma 8: 27), dan Ia dapat mengajar
manusia (I Korintus 2: 13), (b) Roh Kudus dapat menyatakan perasaan. Ia
berdukacita karena tindakan orang-orang percaya yang tidak sesuai dengan
kehendak Tuhan (Efesus 4: 30), (c) Roh Kudus memiliki kehendak. Ia melakukan
kehendak dengan memberikan karunia-karunia kepada jemaat sebagai tubuh
Kristus (I Korintus 12: 11). Ia juga memimpin seluruh kegiatan orang-orang
percaya (Kisah Para Rasul 16: 6-11).
Kedua, Roh Kudus memiliki sifat transenden atau ke-Ilahi-an. Sifat ini dapat
dibenarkan karena Roh itu berasal dari Tuhan dan Ia yaitu Tuhan .
Ketiga, Roh Kudus memiliki daya atau kekuatan yang berasal dan bersumber
dari Tuhan . Hal ini terlihat dalam berbagai aktifitas untuk melakukan hal-hal yang
36
spektakuler. Dengan demikian, Roh Kudus merupakan simbol dari dinamika
Tuhan yang hadir dan berkarya bagi manusia.
Keempat, sama seperti Tuhan yaitu suatu pribadi yang unik, Roh Kudus juga
bersifat unik. Keunikan itu terlihat dalam 2 (dua) hal, yakni: (a) Tuhan tidak dapat
berubah. Alkitab menyaksikan bahwa Tuhan yang telah menyatakan diri-Nya pada
masa lampau yaitu pribadi yang sama, yang kini menyatakan diri dalam Kristus
(Mazmur 102: 25-27; Ibrani 1: 10-12) dan melalui Roh Kudus yang kini
sementara bekerja bersama-sama orang-orang percaya melanjutkan karya
penyelamatan bagi dunia (band. Yohanes 16: 12-14). Demikian juga Roh Kudus
tidak berubah-ubah. Ia tetap sama dengan Bapa. Roh inilah yang terus bekerja
hingga Bapa kembali untuk kedua kali, (b) Sama seperti Tuhan tidak kelihatan,
Roh Kudus juga tidak kelihatan (Yohanes 1: 18). Ia hanya dapat dilihat melalui
karya-karya Tuhan (Roma 1: 19-20).
Kelima, sama seperti keesaan Bapa, Roh Kudus juga esa karena Ia berasal
dari Tuhan yang esa. Roh Kudus tidak dapat dipahami dan dimengerti oleh
manusia terlepas dari keesaan Tuhan (Matius 28: 19; II Korintus 13: 13; Efesus 4:
4-6, dan lain-lain).
Keenam, sama seperti Tuhan setia pada janji-janji-Nya, Roh Kudus juga setia
kepada Tuhan . Kesetiaan Roh itu nampak dalam perbuatan seperti: Roh mengajar
segala sesuatu kepada para murid dan mengingatkan mereka pada segala sesuatu
yang diajarkan oleh Kristus (Yohanes 16: 8); Roh berkarya untuk memuliakan
Kristus (Yohanes 16: 14); Roh selalu menyangkal diri, tidak pernah berbicara
berdasarkan kewibawaan-Nya sendiri; Roh tidak mencari kemuliaan sendiri, tetapi
mencari kemuliaan Tuhan . Roh itu tetap setia dan terus setia sampai Bapa kembali
dan menggenapi karya Roh Kudus.
Ketujuh, Roh itu bersifat kudus. Dengan sifat-Nya ini, hendak ditegaskan
bahwa Ia berbeda dengan roh-roh lain, seperti: roh manusia, roh zaman, roh
kebudayaan, roh sejarah, roh jahat, dan lain-lain. Selain itu, Ia dikhususkan untuk
melanjutkan, menyelesaikan dan menyempurnakan pekerjaan Tuhan Bapa dan
Tuhan Anak (Yohanes 16: 13-14). Sifat-Nya yang kudus juga mencerminkan
kebaikan dan kebenaran Kristus di dunia.
37
Kedelapan, Roh kudus itu penuh dengan kasih Tuhan yang tidak pernah
berakhir.
Dengan kasih-Nya, Roh Kudus bersedia menyerahkan diri kepada manusia serta
bersama-sama dengan Tuhan Bapa dan Tuhan Anak, Roh Kudus bersedia
menyelesaikan karya penyelamatan Tuhan bagi manusia dan dunia. Kesediaan Roh
Kudus ini dinyatakan dengan penuh ketulusan hati, tanpa didorong, dipaksa dan
ditekan oleh pihak mana pun.
Kesembilan, Roh Kudus itu penuh dengan kuasa. Sama seperti Tuhan Bapa
dan Tuhan Anak memiliki segala kekuasaan di surga dan di bumi, demikian juga
Roh Kudus memiliki kekuasaan itu. Kejadian 1: 1-2 dikatakan Roh Tuhan
menjadikan kosmos oleh kemahakuasaan-Nya; Roh Tuhan juga mengubah jiwa
manusia yang telah rusak karena dosa menjadi rumah Tuhan ; Orang yang mati
rohaninya dihidupkan kembali oleh Roh Tuhan . Hal-hal ini menunjuk pada kuasa
Roh Kudus.
Kesepuluh, Roh Kudus bersifat kekal (Ibrani 9: 14) dan bebas dalam
tindakan-Nya (I Korintus 12: 11). Roh Kudus itu yaitu Tuhan , yang berkuasa dan
berwibawa yang memberi pimpinan dan pengajaran (Yohanes 14: 26; 16: 13; II
Korintus 3: 17).
Kesebelas, Roh Kudus bersifat penglipur (bahasa Yunani: parakletos, yang
datang dari Tuhan untuk memberi nasehat dan penghiburan kepada manusia
(Yohanes 14: 16).
Implikasinya, tugas Roh Kudus yaitu menghibur, mengingatkan dan
membaharui segala sesuatu, termasuk kehidupan manusia agar menjadi baru.
Tuhan akan membaharui segala sesuatu dan menghadirkan bumi baru dan langit
baru. Roh itu juga menggerakkan orang percaya untuk tetap melanjutkan kabar
sukacita bagi dunia, sambil berjuang untuk mewujudkan kasih, keadilan,
perdamaian, keutuhan ciptaan dan kesamaan derajat manusia.
Manusia seringkali menyamakan istilah etika dan moral. Kedua istilah ini
dianggap memiliki kesamaan arti karena menunjuk pada perbuatan atau tingkah
laku manusia. Anggapan seperti ini tidak dapat diterima sepenuhnya. Alasannya,
kata etika dan moral memiliki keluasan pengertian, walaupun sama-sama
menyinggung soal perbuatan atau perilaku manusia. Cicero, misalnya,
menterjemahkan kata ethikos dengan moralis untuk mengatakan bahwa kedua
kata ini mempunyai maksud yang sama. Namun, bila dipelajari lebih jauh,
keduanya memiliki cakupan pengertian yang cukup luas.
Kata etika berasal dari kata Yunani: ethos, yang berarti tempat kediaman yang
biasa dari seseorang, kebiasaan, kelaziman, adat istiadat, cara mengungkapkan
diri, tingkah laku, sikap, kecenderungan kepada kesusilaan. Etika yaitu ilmu atau
studi mengenai norma-norma yang mengatur perilaku manusia. Sementara itu,
kata moral berasal dari bahasa Latin: mores Kata ini dimengerti sebagai
moralitas, yaitu mengenai kesusilaan (mores) atau kebiasaan baik yang berlaku
pada sesuatu kelompok tertentu. Jadi, moral atau mores berarti perilaku yang
sesuai dengan norma-norma moral, namun relatif gampang berubah. Untuk
memahami kesadaran etis seseorang, kita perlu mengetahui kerangka teori
perkembangan moral oleh Kohlberg. Melaluinya, kita dapat mengetahui tingkat
kualitas kesadaran etis seseorang.
Menurut Kohlberg, seperti dikutip D. Nuhamara, dkk (2006: 34) bahwa
tahap-tahap perkembangan moral seseorang terdiri dari: pra konvensional,
konvensional, dan pasca konvensional. Masing-masing dibagi menjadi 2 (dua)
jenjang, sehingga seluruhnya menjadi 6 (enam) jenjang. Jenjang pertama,
kesadaran etis berorientasi pada kesadaran hukum. Jenjang kedua, tindakan moral
masih kanak-kanak, tetapi sudah lebih rasional, tidak mekanistis membabi buta,
sudah mulai menghitung-hitung dan memilih-milih. Jenjang ketiga, kesadaran etis
lebih berorientasi untuk menjadi anggota kelompok yang baik. Jenjang keempat,
39
kesadaran etis yang menunjuk pada suatu prinsip atau hukum yang lebih tinggi,
yaitu hukum objektif yang tidak hanya satu kelompok, tetapi hukum yang
mempunyai keabsahan yang lebih luas. Jenjang kelima, kesadaran etis yang
berorientasi pada akal, hukum/peraturan yang kritis, akal manusia mempunyai
fungsi kreatif, ia menciptakan yang lebih benar dan lebih baik. Jenjang keenam,
pemikiran moral seseorang mencapai puncaknya, yaitu moralitas yang berpusat
pada suara hati nurani dan keyakinan tentang yang baik dan benar.
Teori kohlberg mengenai perkembangan moral setiap individu, setidaknya
menyadarkan kita agar tidak terlalu cepat menilai moralitas orang lain. Alasannya,
perkembangan moral seseorang bertumbuh dan berkembang sesuai dengan tahap-
tahapnya.
B. Hubungan Moral Kristen dengan Alkitab
Moral Kristen dan Alkitab tidak dapat dilepas-pisahkan. Keduanya memiliki
pertautan yang saling kait-mengkait. Moral Kristen yaitu moral yang bersumber
dari Alkitab. Moral Kristen yaitu moral (perilaku) yang harus bersesuaian
dengan Firman Tuhan . Norma yang menjadi acuan penilaian bagi moral Kristen
yaitu Alkitab.
Penilaian terhadap baik-buruknya perbuatan seseorang dilihat dari norma-
norma yang terdapat dalam Alkitab. Apabila penampakan moral seseorang sesuai
dengan norma-norma yang terdapat dalam Alkitab, ia dianggap memiliki moral
yang baik. Sebaliknya, jika moralnya tidak sesuai dengan norma-norma yang ada
dalam Alkitab, orang tersebut dianggap memiliki moral yang tidak baik.
Jadi, Alkitab dijadikan sebagai cermin bagi moral atau perilaku orang Kristen.
Contoh: seseorang mencuri barang kepunyaan sesamanya, dianggap memiliki
moral yang tidak baik karena perbuatan itu dinilai tidak sesuai dengan norma
dalam Firman Tuhan : jangan mencuri. Sebaliknya, jika seseorang menolong
sesama yang tertimpa bencana alam, dikatakan memiliki moral yang baik karena
perbuatannya tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan .
40
C. Beberapa Contoh Masalah Moralitas dalam warga
Persoalan-persoalan moralitas yang sering mengemuka dalam realitas hidup
warga kita dewasa ini, antara lain: seks bebas, narkoba dan obat-obat
terlarang, HIV/AIDS, pornografi, mengkonsumsi minuman keras, tindakan
kekerasan, korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), kumpul kebo, homoseks,
lesbian, kemiskinan, konsumerisme, materialisme, hedonisme, suap, dan
sebagainya.
D. Pandangan Alkitab mengenai Masalah-masalah Moralitas
Pada bagian ini hanya dikemukakan pandangan Alkitab mengenai perilaku
seks bebas. Alkitab memberikan keterangan bahwa perilaku seks bebas yaitu
suatu perbuatan yang tidak bersesuaian kehendak Tuhan. Seks yaitu ciptaan
Tuhan. Seks yaitu sesuatu yang baik dan dinikmati dalam institusi pernikahan.
Menikmati perbuatan seks di luar lembaga ini tidak dibenarkan, apapun
alasannya. Bagian-bagian Alkitab yang merujuk pada hal dimaksud, antara lain:
Keluaran 20: 14; I Korintus 6: 13-20, 10: 8; Galatia 5: 19; Efesus pasal 4 dan 5; I
Tesalonika 4: 3; I Timotius 5: 22.
A. Pengertian Iman Kristen
Setiap orang percaya pasti memiliki rumusan tersendiri mengenai pengertian
iman Kristen. Hal ini tentu dilatar-belakangi oleh berbagai pergumulan hidup
bersama Tuhan, ataupun dengan mempelajari Firman Tuhan. Hal ini dapat
dibenarkan, sejauh tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan. Terlepas dari itu,
perlu dikemukakan beberapa pengertian mengenai iman Kristen menurut
kesaksian Alkitab, sehingga kita dapat memahaminya.
Kata iman dalam bahasa Ibrani disebut: emunah, artinya percaya (Habakuk 2:
4) dan dalam kitab Ulangan diterjemahkan dengan kata kesetiaan (Ulangan 32:
20). Padanan kata emunah dalam bahasa Yunani yaitu kata pistis, artinya iman
(Roma 1: 17; Galatia 3: 11; Ibrani 10: 38, dan sebagainya).
Berdasarkan pengertian secara etimologis itu, dapatlah dirumuskan beberapa
pengertian iman Kristen, sebagai berikut:
(a) Iman harus dipahami sebagai sikap batin terhadap Tuhan (baca Roma 3: 22-
31, 5: 1, 3, 9: 30; Galatia 3: 26; Yohanes 3: 36, 5: 24, 6: 40, 11: 25). Iman
yaitu suatu keyakinan atau kepercayaan kepada Tuhan yang diakui sebagai
Penyelamat. Dengan meyakini Tuhan sebagai Penyelamat, berarti mengakui
Tuhan sebagai satu-satunya sumber keselamatan hidup kita. Pengakuan
tersebut juga sekaligus meniadakan andalan manusia terhadap kuasa lain, di
luar Tuhan .
(b) Iman yaitu penyerahan diri pribadi kepada Tuhan . Orang yang beriman
yaitu orang yang secara bebas menyerahkan diri secara utuh kepada Tuhan .
Orang yang demikian selalu percaya bahwa tidak ada sesuatu apa pun yang
terjadi dalam hidupnya tanpa seizin Tuhan . Ia selalu menunjukkan sikap
pasrah pada kehendak Tuhan, betapa pun nasib yang menimpa dirinya.
42
(c) Iman yaitu hidup karena mengandung kepastian hidup (Yohanes 20). Iman
yang demikian selalu mendorong manusia untuk melihat masa depan dan
tidak sekedar melihat masa lampau. Iman yang dimaksud, tidak membuat
orang pesimis untuk memandang masa depan, tetapi selalu membangun
sikap hidup yang optimis.
(d) Iman yaitu suatu kekuatan yang menguatkan manusia dalam perjuangan
hidup. Iman seperti ini sekaligus menjadi harapan. Iman yang mendorong
manusia untuk mencari Tuhan dalam kehendak-Nya untuk perjuangan hidup.
(e) Iman yaitu keberanian untuk hidup berdasarkan janji Tuhan. Iman yang
demikian yaitu iman yang sanggup menerima segala macam resiko hidup,
betapa pun berat resiko itu.
(f) Iman berhubungan dengan ketaatan (II Korintus 10: 6; Roma 1: 5; 16: 26).
Ketaatan iman bukan hanya berarti menjalankan perintah semata, tetapi juga
secara bebas menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan .
(g) Iman berhubungan dengan kesetiaan. Kesetiaan pada keputusan yang keluar
dari pusat hati dan kesetiaan pada pelaksanaan dalam tindakan nyata dengan
segala konsekuensinya di tengah perubahan atau pergolakan dan situasi baru
sekali pun.
Jelasnya, iman Kristen yaitu iman yang mesti tertancap masuk kedalam
pusat kehidupan. Iman seperti ini bagaikan orang yang membangun rumah di atas
batu karang. Bila rumah itu diterpa oleh angin, badai, ombak dan gelombong, ia
tidak akan goyah, rusak dan roboh. Dengan iman yang demikian, sekali pun
manusia mendapat berbagai tantangan, pencobaan dan penderitaan, tidak pernah
akan mundur. Bahkan, ia mampu untuk mengatasinya. Iman orang percaya jangan
seperti orang yang membangun rumah di atas pasir. Bilamana tiba angin, hujan,
badai, ombak dan gelombang rumah itu tidak dapat bertahan berdiri, tetapi roboh
karena tidak dibangun di atas fondasi yang kuat.
43
B. Hubungan Iman Kristen dan IPTEK
Secara singkat, hubungan iman dan ilmu pengetahuan dalam sejarah ke-
Kristenan dapat dibagi dalam dua bagian besar, yakni:
(a) Dominasi iman atau agama terhadap ilmu pengetahuan
Pada peradaban Barat selama abad pertengahan, kita menyaksikan dominasi
iman atas ilmu pengetahuan. Teologi pada saat itu, dianggap sebagai ratu ilmu
pengetahuan, telah menempatkannya sebagai ukuran kebenaran untuk segala hal,
lebih luas dari pada sekedar soal iman dan etika.
Akhirnya, Gereja sebagai pemegang otoritas kebenaran ajaran teologi,
menjatuhkan hukuman yang mengerikan bagi Galileo. Ia dihukum karena
temuannya bahwa bukan matahari yang berputar dari Timur ke Barat, melainkan
bumi yang berputar atau beredar mengelilingi matahari. Penemuan itu dianggap
bertentangan dengan diskripsi Alkitab yang ditafsirkan secara literal (harafiah)
dan dikenal dengan istilah Biblical Literalism, tanpa memperhatikan konteks
budaya, ketika Alkitab ditulis. Alkitab ditulis dalam konteks warga agraris
dan masih sederhana, serta diskripsinya tentang berbagai fenomena alam semata
sesuai pengamatan empiris.
(b) Dominasi ilmu atas iman
Sejak zaman pencerahan, dominasi iman atas ilmu mulai dipertanyakan.
Bahkan akhirnya berkembang menjadi dominasi ilmu atas iman. Tantangan utama
bagi agama atau iman dalam abad ilmu pengetahuan yaitu keberhasilan ilmu
pengetahuan. Nampaknya, ilmu pengetahuan (sains) memberikan satu-satunya
jalan yang dapat dipercaya menuju kepada pengetahuan (knowledge).
Banyak orang yang menganggap bahwa ilmu pengetahuan bersifat objektif,
universal, rasional, dan didasarkan pada bukti observasi atau pengamatan yang
kuat. Sedangkan, agama bersifat subjektif, parokial (sempit skopanya), emosional,
dan lebih sering didasarkan pada tradisi atau sumber kewibawaan yang ada
kalanya saling bertentangan satu sama lain. Bagi mereka yang lebih yakin
terhadap metode ilmu pengetahuan, lama kelamaan, mulai meragukan
keyakinannya. Bahkan, tidak sedikit orang yang meninggalkan agama sebagai
sesuatu yang tidak berdasar.
44
Demikianlah ilmu pengetahuan menempatkan rasio manusia menjadi
pembenar segala-galanya, bukan hanya dalam bidang ilmu pengetahuan, tetapi
juga dalam hal-hal yang bersifat imaniah dan kepercayaan. Akibatnya, ada juga
teolog yang mengadaptasi pernyataan Alkitab dengan berbagai temuan ilmu
pengetahuan.
Ian Barbour, sebagaimana dikutip oleh Liek Wilardjo mencoba
mengemukakan 4 (empat) tipologi hubungan iman dan ilmu pengetahuan,
kemudian Liek mengelompokkan menjadi 4 P, yakni: (a) pertentangan (conflict),
(b) perpisahan (independence), (c) perbincangan (dialogue), (d) perpaduan
(integration). Makna dari keempat tipologi hubungan iman dan ilmu pengetahuan
dimaksud, sebagai berikut:
(a) Pertentangan (Conflict)
Pertentangan yaitu hubungan yang bertelingkah atau bertentangan
(conflicting), dan dalam kasus yang ekstrim barangkali bermusuhan (hostile). Ian
Barbour menunjukkan bahwa contoh historis dari masalah ini yaitu kasus
Galileo. Menurutnya, mereka (pihak ilmu pengetahuan) menganut materialisme
ilmiah berada pada pertentangan yang tidak terdamaikan dengan mereka (dari
pihak iman) yang menganut literalisme Alkitab.
Materialisme ilmiah maupun literalisme Alkitab percaya bahwa ada konflik
yang serius antara ilmu pengetahuan masa kini dengan kepercayaan-kepercayaan
agamawi yang klasik. Keduanya mencari pengetahuan dengan landasan yang
pasti: pada satu sisi, berdasarkan pada data logika dan inderawi, dan pada pihak
yang lain, berdasarkan pada kitab suci yang tidak ada salahnya (infallible
scripture). Keduanya mengklaim bahwa, baik ilmu pengetahuan maupun agama
membuat pernyataan-pernyataan yang bertentangan tentang hal yang sama:
misalnya sejarah dari alam ini. Karenanya, seseorang harus memilih salah satu
diantaranya.
Bagi Barbour, keduanya justru mewakili penyalahgunaan ilmu pengetahuan.
Penganut materialisme ilmiah, mulai dengan ilmu pengetahuan, tetapi kemudian
berakhir dengan membuat klaim-klaim filosofi yang luas. Sebaliknya, literalisme
Alkitabiah, bergerak dari teologi, kemudian berakhir dengan membuat klaim-
klaim tentang hal-hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Kedua aliran
45
atau kubu ini kurang memberi penghargaan yang memadai kepada perbedaan-
perbedaan kedua disiplin itu.
(b) Perpisahan (Independence)
Ilmu pengetahuan dan iman berjalan sendiri-sendiri dengan bidang garapan,
cara, dan tujuannya masing-masing tanpa saling mengganggu atau mempedulikan.
Hal ini merupakan salah satu cara untuk menghindari konflik atau saling
menyalahkan. Masing-masing mempunyai bidang yang berbeda, dan dengan
metode yang khas dapat dibenarkan atas dasar termenologinya sendiri-sendiri.
Pendukung dari pandangan ini berpendapat bahwa ada dua juridiksi (otoritas), dan
tiap pihak tidak boleh mencampuri urusan pihak yang lain, melainkan berurusan
dengan urusannya sendiri.
(c) Perbincangan (Dialogue – diperbincangkan)
Adanya hubungan yang saling terbuka dan saling menghormati, karena kedua
belah pihak ingin memahami persamaan dan perbedaan. Namun, dalam kategori
ini pun ada berbagai pendapat yang masih berbeda.
Ilmu pengetahuan dan iman dapat berdialog satu sama lain untuk saling
memperkaya dalam memenuhi panggilannya untuk memanusiakan manusia,
menjaga kelestarian alam semesta, dan memperkuat iman kepada Tuhan . Misalnya,
mengembangkan spiritualitas yang berpusat pada alam (nature). Sehubungan
dengan itu, teologi Kristen sebaiknya menjaga keseimbangan antara imanensi
Ilahi (Tuhan ) dalam alam, dan pada saat yang sama transendensi Ilahi (Tuhan ) atas
alam.
(d) Perpaduan (Integration)
Ian Barbour mengemukakan 3 (tiga) versi integrasi yang saling berbeda,
yakni: Pertama, teologi natural (alamiah) mengklaim bahwa eksistensi Tuhan
dapat disimpulkan dari bukti-bukti rancangan dalam alam. Keteraturan alam
membuktikan adanya sang perancang dibaliknya. Keteraturan ini tidak terjadi
dengan sendirinya. Melalui metode ilmu pengetahuan, manusia ditolong untuk
semakin menyadarinya. Kedua, dalam teologi tentang alam, sumber utama dari
teologi terletak di luar ilmu pengetahuan. Namun, teori-teori ilmiah dapat
mempengaruhi perumusan ulang dari doktrin-doktrin tertentu dalam agama,
46
khususnya doktrin mengenai penciptaan dan hakikat manusia. Ketiga, pada sintesa
sistimatis, baik ilmu pengetahuan maupun agama, menyumbang untuk
pengembangan dari suatu metafisik yang inklusif, seperti dalam filsafat proses.
J.A.B. Jongeneel mengemukakan 3 (tiga) pola hubungan iman Kristen dan
ilmu pengetahuan, yakni: Pertama, iman mendahului ilmu pengetahuan; Kedua,
ilmu pengetahuan memaksa iman menjalani proses terus menerus mengoreksi diri
sendiri dalam terang perkembangan ilmu pengetahuan; Ketiga, iman melampaui
ilmu pengetahuan.
Di bidang teologi, ilmu pengetahuan menunjang pemahaman baru terhadap
relasi manusia dengan Tuhan . Sehubungan dengan otonomi alam dan kebebasan
manusia, ilmu pengetahuan memungkinkan keterbukaan masa depan, yang secara
teologis mempertanyakan pemahaman mengenai predestinasi.
C. Hubungan Iman Kristen dan IPTEK
Adakah IPTEK dalam Alkitab?
Pertama, dalam sejarah air bah dengan jelas bahwa Tuhan memerintahkan
Nuh membuat kapal untuk menyelamatkan ia dan keluarganya dari kebinasaan
akibat air bah dan kebobrokan moral dunia pada waktu itu. Dimensi ruang dalam
kapal ataupun bahan telah ditentukan oleh Tuhan (Kej 6:14-15).
Kedua, ketika Musa diperintahkan untuk membuat Kemah Suci (Kel
25:9), Tuhan sendiri telah menjadi arsitek yang merencanakan ruang-ruang,
dimensi dan bahan untuk kemah suci tersebut (Kel 25:1-27:21). Kemudian kita
membaca bahwa kemuliaan Tuhan memenuhi Kemah Suci tersebut (Kel 40:35).
Ketiga, tentang Bait Suci dan istana yang dibangun oleh Salomo (1 Raj 7-
8). Dari contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa Tuhan tidak pernah
menghalangi ataupun menutup segala perkembangan IPTEK. Kita pun melihat
dalam contoh-contoh ini bahwa setiap teknologi selalu di kaitkan dengan
keselamatan dan maksud Tuhan terhadap manusia dan dunia.
Akan tetapi di sisi lain, kita akan melihat bahwa Tuhan juga menentang
setiap penciptaan teknologi yang bermotivasikan kebesaran diri, kelompok,
ataupun bangsa. Beberapa contoh dapat saya ketengahkan sebagai berikut:
Keempat, ketika Tuhan memporak-porandakan Babel (Kej 11:1-9), yang
ditentang bukanlah pendirian kota dan menara Babelnya tapi motivasi mereka
yang mencari nama dan ingin menyamai Tuhan (Kej 11:4).
Kelima, kemewahan, gemerlap teknologi di zaman Salomo dapat
menyebabkan dia banyak mengoleksi wanita asing sehingga dia kemudian jatuh
kepada penyembahan berhala (I Raj 11:1-13).
Keenam, Ketika murid-murid menunjuk pada bangunan Bait Suci, Yesus
mengatakan bahwa bangunan tersebut akan diruntuhkan (Mat 24:1-2).
Ketujuh, Tuhan Yesus juga menentang penyalahgunaan fungsi Bait Suci
yang dibangun selama empat puluh enam tahun menjadi arena komersil (Yoh
2:16).
Dari tinjauan Alkitab ini bisa disimpulkan bahwa IPTEK telah dimulai
sejak awal sejarah manusia. Manusia memiliki daya cipta IPTEK karena dia
diciptakan sebagai gambar Tuhan dan sebagai pribadi yang berakal budi. Tuhan
sendiri yaitu pencipta alam semesta, pendorong dan pencetus ide terhadap
lahirnya IPTEK. Kita harus ingat bahwa Yesus sendiri yaitu tukang kayu (Mrk
5:3). Ia yaitu seorang yang mengerti pondasi dan mekanika tanah (Mat 7:24-
27). Tuhan tidak pernah membatasi daya cipta dan kreasi manusia akan IPTEK.
Namun perlu juga dicatat bahwa ide dan tujuan penciptaan IPTEK dan produknya
oleh manusia akan dipengaruhi oleh pandangan-pandangannya terhadap Tuhan ,
manusia dan alam semesta.
D. Pandangan Iman Kristen mengenai IPTEK
Iman Kristen memandang IPTEK sebagai alat atau kelengkapan dari
anugerah Tuhan . Melaluinya, manusia dapat mewujudkan panggilan untuk
mengembangkan kehidupan yang manusiawi. IPTEK yaitu pemberian Tuhan.
IPTEK yaitu karunia Ilahi. Tuhan merupakan sumber dari segala ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Manusia dengan akalnya berupaya untuk mencari, menemukan, menggali dan
mengelola ilmu pengetahuan dan teknologi dengan rasa takut kepada Tuhan, demi
membangun hidup pribadi maupun hidup bersama. Namun, ilmu pengetahuan dan
teknologi yang dihasilkan oleh manusia memiliki keterbatasan. Alasannya,
48
manusia tidak dapat menyingkap dengan pancaindranya, semua realitas yang ada
di sekitarnya secara utuh dan tuntas. Karenanya, IPTEK harus tunduk pada
keterbatasan manusia. Atas kesadaran ini, manusia merendahkan diri dan
bergantung sepenuhnya pada Tuhan.
Sehubungan dengan itu, orang Kristen tidak boleh mengagung-agungkan ilmu
pengetahuan sebagai penyelamat, karena Tuhanlah penyelamat. Mengandalkan
IPTEK dapat berkembang menjadi sikap mendewakan IPTEK. Akibatnya, orang
Kristen dapat menyangkali kedaulatan dan kekuasaan Tuhan. IPTEK sebaiknya
diarahkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dengan demikian, IPTEK
merupakan perwujudan dan ekspresi yang sah dari kapasitas kreatif manusia serta
merupakan kontribusi esensial bagi kesejahteraannya. Pada dunia yang penuh
dengan penyakit dan kelaparan, dan sebagainya, IPTEK harus dijadikan sebagai
ekspresi keprihatinan kepada sesama.
Karenanya, pengembangan dan penggunaan IPTEK diarahkan untuk dapat
menjamin: Pertama, harkat dan martabat manusia, termasuk pemenuhan
kebutuhan hidupnya. Kedua, kelestarian alam, yakni menjaga keseimbangan
antara kepentingan manusia pada saat ini dan waktu yang akan datang. Ketiga,
keadilan sosial dari distribusi hasil teknologi.
Sekurang-kurangnya terdapat 2 (dua) sikap dasar Kristiani yang perlu dimiliki
oleh seorang ilmuwan dalam mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan
dan teknologi, yakni: Pertama, memiliki profesionalisme dalam bidang ilmunya.
Ilmuwan Kristen harus sungguh-sungguh menguasai ilmunya sedemikian rupa,
sehingga menjadi profesional. Kedua, memiliki integritas intelektual atau moral
yang baik, sehingga dapat mengembangkan dan menerapkan IPTEK secara
bertanggung jawab bagi manusia dan lingkungan alam sekitar.
Jelasnya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan hendaknya
berfaedah untuk membangun hidup bersama dan bukan untuk menghancurkan
atau membawa malapetaka bagi kehidupan orang banyak. Karenanya, manusia
bertanggung jawab atas IPTEK yang diproduksinya. Ilmuwan Kristen selalu
bertanya apakah IPTEK yang dihasilkannya membawa manfaat atau merugikan
sesama. Untuk itu, manusia harus memiliki kesadaran etis, sehingga pilihan
49
pengembangan dan penerapan IPTEK selalu diarahkan untuk membangun
kesejahteraan hidup orang banyak.
Agama Kristen dengan ilmu pengetahuan dapat saling menopang satu sama
lain, sebaliknya dapat menjadi berlawanan, dimana seringkali ilmu pengetahuan
menyerang ajaran-ajaran fundamental dalam agama yang dapat menggoyahkan
iman percaya Kristen. Agama mengalami pergeseran cara pemahaman yang
diakibatkan oleh ilmu pengetahuan. Alkitab yang tidak pernah berubah, tetapi
dibaca oleh orang orang yang tidak sama cara pemikirannya dari zaman ke zaman.
Apakah Iman dan Ilmu bertentangan? Di dalam dunia ini tidak ada hal yang
baru untuk diciptakan. Science is discovery of truth yang berarti segala sesuatu di
dunia ini telah ada, namun perlu ditemukan oleh manusia itu sendiri melalui ilmu
pengetahuan. Iman mengandung makna “percaya walau tidak melihat”. Sama
seperti otak manusia dimana kita percaya bahwa kita memiliki otak yang menjadi
pusat hidup manusia walau kita tidak pernah melihat otak itu. Oleh sebab itu,
dibutuhkan ilmuan-ilmuan untuk meneliti dan menemukan bagaimana bentuk dan
cara kerja otak itu. Ilmu pengetahuan yaitu sebagai penopang Iman untuk
sesuatu hal yang mustahil namun tidak semua hal Iman dapat dijelaskan melalui
ilmu pengetahuan. Hal-hal Iman tersebut banyak kita temukan dalam Alkitab;
Laut Tiberau yang terbelah dua, Tembok kota Yeriko yang runtuh, air biasa
manjadi anggur, hingga kebangkitan Yesus.
IMAN KRISTEN yaitu percaya mendahului pengetahuan yang berarti
“Percaya dulu pada Tuhan baru kita dapat mengenal DIA” karena DIA tidak dapat
dibuktikan melakui ilmu pengetahuan manusia yang terbatas. Untuk memperoleh
ilmu sejati, pertama-tama orang harus mempunyai rasa hormat dan takut kepada
TUHAN. Orang bodoh tidak menghargai hikmat dan tidak mau diajar (Amsal
1:7-BIS). Hiduplah dengan takut akan Tuhan dengan menghormati-NYA sebagai
Tuhan, maka DIA akan menolong kita untuk mengerti akan hal-hal yang sulit
dipahami.
Iman Kristen memandang IPTEK sebagai alat atau kelengkapan dari anugerah
Tuhan . Melaluinya, manusia dapat mewujudkan panggilan untuk mengembangkan
kehidupan yang manusiawi. IPTEK yaitu pemberian Tuhan.
warga majemuk yang berkeadaban yaitu suatu warga yang
memiliki keberagaman latar belakang kehidupan yang berbeda (multiple
identities), baik dari aspek suku bangsa, ras, agama dan keyakinan maupun
kulturalnya, dimana dalam hidup bersama, setiap orang atau kelompok
warga saling menunjukkan akhlak atau kesopanan dan kehalusan budi
berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Pengertian ini menunjuk pada 2 (dua) hal, yakni: Pertama, warga
(society) negara kita mencirikan sebuah warga yang majemuk (plural), bukan
homogen. Pada realitasnya, warga negara kita memiliki multi suku - sub suku.
Misalnya suku Ambon dengan sub sukunya: Seram,