delusi tuhan 10
g meme kurang tertata dan terstruktur dibandingkan dengan lungkang
gen, kita masih bisa membahas suatu lungkang meme sebagai bagian penting dari ‘lingkungan’
setiap meme dalam memepleks.
Suatu memepleks yaitu seperangkat meme yang, meskipun belum tentu pintar bertahan
hidup sendiri, tetap mampu bertahan dalam kehadiran anggota-anggota lain dalam memepleks.
Di seksi sebelumnya saya ragu bahwa detail-detail evolusi bahasa dipilih oleh jenis seleksi alam
apa pun. Saya menebak bahwa evolusi bahasa malah ditata oleh hanyutan acak. Dapat
dibayangkan bahwa vokal atau huruf mati tertentu lebih dapat terdengar dari jauh di daerah
pegunungan, dan karena itu mungkin akan menjadi huruf khas dalam, misalnya, dialek di Swiss,
Tibet, dan Andes, sedangkan bunyi-bunyi yang lain cocok untuk dibisik di hutan padat dan
karena itu menjadi unsur khas dalam bahasa Pigmi dan Amazon. Tetapi satu-satunya contoh
yang saya rujuk atas bahasa yang dipilih secara alami – teori bahwa Pergeseran Vokal Besar
mungkin memiliki penjelasan fungsional – bukan tipe ini. Sebaliknya, penjelasan itu terkait
dengan meme yang cocok dengan memepleks yang saling sesuai. Satu vokal bergeser pertama,
untuk alasan yang tidak diketahui – barangkali peniruan bergaya atas seorang individu yang
dikagumi atau berkuasa, seperti yang dianggap sebagai asal-usul keteloran Spanyol. Tidak
penting bagaimana Pergeseran Vokal Besar bermula: menurut teori ini, ketika vokal pertama
telah berubah, vokal-vokal lain harus ikut berubah, untuk mengurangi ambiguitas, dan seterusnya
seperti riam. Di tahap kedua proses, meme dipilih dibandingkan dengan latar belakang lungkang-
lungkang meme yang sudah ada, membentuk suatu memepleks baru dari meme-meme yang
saling sesuai.
Akhirnya kita siap membahas teori memetik kepercayaan . Ide-ide religius tertentu, seperti gen-
gen tertentu, mungkin bertahan karena keunggulan mutlaknya. Meme-meme ini akan bertahan
hidup di lungkang meme apa pun, dikelilingi meme lain apa pun. (Saya harus mengulangi poin
sungguh penting bahwa ‘keunggulan’ dalam arti ini hanya berarti ‘kemampuan untuk bertahan
hidup di lungkangnya’. Tidak ada unsur penilaian terlepas dari itu.) Ide-ide religius tertentu
bertahan hidup karena mereka sesuai dengan meme-mem yang lain yang sudah banyak di
lungkang meme – sebagian dari suatu memepleks. Berikut ada suatu daftar belum lengkap atas
meme-meme religius yang dapat dibayangkan memiliki nilai bertahan hidup di lungkang gen,
karena ‘keunggulan’ mutlak atau karena kesesuaian dengan suatu memepleks yang sudah ada:
• Anda akan bertahan hidup setelah kematian Anda.
• Jika Anda mati sebagai martir, Anda akan pergi ke suatu wilayah khusus di surga yang
luar biasa di mana Anda akan menikmati 72 bidadari (mari kita turut prihatin sebentar
dengan para bidadari malang itu).
• Para heretik, penista kepercayaan , dan pemurtad harus dibunuh (atau dihukum dengan cara
lain, misalnya dengan pembuangan dari keluarganya).
• Kepercayaan akan pencipta yaitu suatu keutamaan tinggi. Jika ternyata iman Anda goyah,
bekerja keras untuk memulihkannya, dan bermohon kepada pencipta untuk membantu
keadaan Anda yang tidak beriman. (Dalam diskusi saya mengenai Taruhan Pascal saya
menyebut asumsi aneh bahwa satu-satunya hal yang pencipta sebenarnya inginkan dari kita
yaitu iman. Pada waktu itu saya memperlakukannya sebagai hal aneh. Kini kita sudah
mendapat penjelasan untuknya.)
• Iman (kepercayaan tanpa bukti) yaitu suatu keutamaan. Semakin kepercayaan Anda
melawan bukti, semakin Anda berkeutamaan. Orang beriman virtuoso yang mampu
memercayai suatu yang sungguh aneh, tidak didukung dan tidak dapat dipertahankan, di
hadapan bukti dan akal budi, akan mendapat pahala yang tinggi secara khusus.
• Semua orang, bahkan mereka yang tidak menganut kepercayaan religius, harus
menghargai kepercayaan itu dengan suatu tingkat penghormatan yang otomatis dan tidak
dipertanyakan secara yang melebihi penghormatan yang diberi kepada jenis-jenis
kepercayaan yang lain (kita menemui fenomena ini di Bab 1).
• Ada hal-hal aneh tertentu (seperti Trinitas, transubstansiasi, inkarnasi) yang kita tidak
dimaksudkan untuk pahami. Jangan coba memahami salah satu dari ini, karena usaha itu
bisa menghancurkannya. Belajarlah cara mendapat kepuasan dengan menyebutnya suatu
misteri. Ingatlah kutukan ganas Martin Luther atas akal budi, dikutip di Bab 5, dan
bayangkan betapa kutukan itu akan melindungi bertahan hidupnya meme.
• Musik, seni, dan kitab indah merupakan, pada dirinya sendiri , token yang mereplikasi-
diri atas ide-ide religius.*
Beberapa dari daftar di atas besar kemungkinan memiliki nilai bertahan hidup mutlak dan
akan berkembang dengan baik di memepleks mana pun. Tetapi, sama seperti gen, ada meme
* Mazhab dan genre seni yang berbeda dapat dianalisis sebagai memepleks alternatif, karena seniman mencontek
ide dan motif dari seniman-seniman lebih awal, dan motif-motif baru bertahan hidup hanya jika mereka sesuai
dengan yang lain. Memang, seluruh jurusan akademik Sejarah Seni, dengan penelesurannya yang rumit atas
ikonografi dan simbolisme, dapat dipandang sebagai suatu kajian terperinci dalam memepleksitas. Detail-detail akan
dipilih atau tidak oleh kehadiran anggota lain yang ada di lungkang gen, dan populasi itu sering termasuk meme
religius.
tertentu yang hanya bertahan hidup dengan meme-meme lain yang cocok, yang menyebabkan
pembangunan memepleks-memepleks alternatif. Dua kepercayaan yang berbeda mungkin dapat
dipandang sebagai dua memepleks alternatif. Barangkali Islam yaitu analog dengan kompleks
gen karnivor, dan Buddhisme dengan herbivor. Ide-ide dalam satu kepercayaan tidak ‘lebih baik’
daripada yang lain dalam arti absolut apa pun, sama seperti gen karnivor tidak ‘lebih baik’
daripada gen herbivor. Meme-meme religius seperti ini belum tentu memiliki keterampilan
absolut apa pun untuk bertahan hidup; namun, mereka baik dalam arti mereka berkembang
dengan baik di kehadiran meme-meme lain dari kepercayaan nya sendiri, tetapi tidak di kehadiran
meme-meme dari kepercayaan yang lain. Menurut model ini, Katolik Roma dan Islam, misalnya,
belum tentu dirancang oleh individu-individu, tetapi berevolusi secara terpisah sebagai kumpulan
alternatif meme yang berkembang dengan baik dalam kehadiran anggota-anggota lain dari
memepleks yang sama.
kepercayaan -kepercayaan terlembaga diorganisasi oleh manusia: oleh pastor dan uskup, rabi, imam,
dan ayatollah. Tetapi, untuk mengulangi poin yang saya buat terkait Martin Luther, itu tidak
berarti kepercayaan itu diciptakan dan dirancang oleh manusia. Bahkan dalam kasus di mana kepercayaan
telah dieksploitasi dan dimanipulasi demi keuntungan individu-individu yang berkuasa,
kemungkinan kuat tetap ada bahwa bentuk terperinci setiap kepercayaan sebagian besar terbentuk oleh
evolusi tidak sadar. Tidak oleh seleksi alam genetik, yang terlalu lambat untuk menjelaskan
evolusi dan penyimpangan kepercayaan -kepercayaan yang cepat. Peran seleksi alam genetik dalam cerita
yaitu menyediakan untuk otak, dengan kecenderungan dan biasnya – dasar perangkat keras dan
perangkat lunak sistem dasar yang merupakan latar belakang untuk seleksi memetik. Dengan
latar belakang ini, semacam seleksi alam memetik menurut saya sepertinya menawarkan suatu
penjelasan yang masuk akal mengenai evolusi terperinci kepercayaan -kepercayaan tertentu. Pada tahap-
tahap awal evolusi suatu kepercayaan , sebelum terorganisasi, meme-meme sederhana bertahan hidup
karena daya pikat universalnya bagi psikologi manusia. Di sinilah teori meme kepercayaan dan teori
produk sampingan psikologis kepercayaan tumpang tindih. Tahap-tahap akhir, ketika kepercayaan menjadi
terlembaga, rumit, dan berbeda secara arbitrer dari kepercayaan -kepercayaan yang lain, ditangani dengan
sangat bagus oleh teori memepleks – kartel meme yang saling sesuai. Teorinya tidak
mengecualikan peran tambahan manipulasi sengaja oleh imam dan orang lain. Besar
kemungkinan kepercayaan , setidaknya sebagian, dirancang secara cerdas, sama seperti mazhab dan
gaya dalam seni.
Satu kepercayaan yang dirancang secara cerdas, hampir secara keseluruhan, yaitu
Scientology, tetapi saya menduga bahwa itu luar biasa. Salah satu calon lain untuk kepercayaan yang
murni dirancang yaitu Mormonisme. Joseph Smith, penciptanya yang secara menguntungkan
tidak jujur, sampai mengarang kitab suci lengkap baru, Kitab Mormon, menciptakan dari nol
suatu sejarah Amerika baru dan palsu, ditulis dalam bahasa Inggris abad ke-17 palsu. Namun,
Mormonisme telah berevolusi sejak dikarang pada abad ke-19 dan kini sudah menjadi salah satu
kepercayaan aliran utama yang cukup dihormati di Amerika – memang, Mormonisme mengklaim
dirinya sebagai kepercayaan yang tumbuh paling cepat, dan ada yang membahas kemungkinan seorang
calon presiden Mormon.
Kebanyakan kepercayaan berevolusi. Apa pun teori evolusi religius yang kita gunakan, teori itu
harus mampu menjelaskan kecepatan memukau yang dengannya proses evolusi religius, dengan
kondisi yang mendukung, dapat berjalan. Berikut, suatu studi kasus.
KULTUS-KULTUS KARGO
Dalam The Life of Brian, salah satu hal dari banyak yang benar pada representasi tim
Monty Python yaitu kecepatan ekstrem yang dengannya sebuah kultus religius baru dapat
bermula. Kultus dapat muncul tiba-tiba lalu digabungkan ke dalam suatu budaya, di mana kultus
itu memainkan peran yang secara mengusik dominan. ‘Kultus-kultus kargo’ di Melanesia Pasifik
dan Nugini menyediakan contoh paling terkenal dari dunia nyata. Seluruh sejarah beberapa
kultus ini, dari awal hingga akhir, dibungkus dalam ingatan hidup. Berbeda dengan kultus junjungan kristen ,
yang asal-usulnya tidak diketahui secara yang dapat diandalkan, kita dapat melihat seluruh
rangkaian peristiwa di depan mata (dan bahkan di sini, sebagaimana kita akan lihat, beberapa
detail sudah menghilang). Menarik sekali, membayangkan bahwa kultus Kristianitas hampir
pasti bermula dengan cara yang sangat serupa, dan pada awalnya menyebar pada kecepatan
tinggi yang sama.
Otoritas utama saya untuk kultus-kultus kargo yaitu buku David Attenborough, Quest in
Paradise, yang dengan ramah ia berikan kepada saya. Polanya sama untuk semuanya, dari
kultus-kultus paling awal pada abad ke-19 hingga yang lebih terkenal yang muncul setelah
Perang Dunia Kedua. Sepertinya dalam setiap kasus para penghuni pulau terpukau oleh barang
milik luar biasa imigran-imigran kulit putih di pulaunya, termasuk administrator, prajurit dan
misionaris. Mereka barangkali yaitu korban Hukum Ketiga (Arthur C.) Clarke, yang saya kutip
di Bab 2: ‘Teknologi apa pun yang cukup maju tidak dapat dibedakan dengan sihir.’
Para penghuni pulau melihat bahwa orang kulit putih yang menikmati barang ajaib itu
tidak pernah membuatnya sendiri. Ketika barang-barang membutuhkan perbaikan, mereka
dikirim ke luar, dan barang baru terus datang sebagai ‘kargo’ di kapal, atau, kemudian, pesawat.
Tak seorang kulit putih pun pernah dilihat membuat atau memperbaiki apa pun, atau memang
melakukan apa pun yang dapat dikenali sebagai pekerjaan berguna jenis apa pun (duduk di meja
mengocok kertas tentu merupakan semacam kewajiban religius). Jadi, jelas bahwa ‘kargo’ itu
memiliki asal-usul supernatural. Seolah-olah membenarkan pandangan tersebut, para lelaki kulit
putih melakukan hal tertentu yang pasti merupakan upacara ritual:
Mereka membangun menara tinggi dengan kawat dipasang padanya; mereka
duduk mendengar kotak-kotak kecil yang berpendar dengan cahaya dan
mengeluarkan bunyi aneh dan suara terjepit; mereka membujuk warga lokal
untuk memakai baju identik, dan menyuruh mereka berarak mondar-mandir –
dan membayangkan suatu pekerjaan yang lebih tidak berguna daripada itu
yaitu hal yang hampir mustahil. Lalu orang pribumi itu menyadari bahwa dia
telah menemukan jawaban terhadap misterinya. Tindakan-tindakan tidak
terpahami inilah merupakan ritual yang digunakan oleh lelaki kulit putih untuk
membujuk para dewa mengirim kargo. Jika orang pribumi menginginkan kargo,
dia juga harus melakukan hal-hal ini.
Sangat mengesankan bahwa kultus-kultus kargo yang serupa muncul secara mandiri di
pulau yang terpisah jauh baik secara geografis maupun budaya. David Attenborough melapor
bahwa:
Antropolog-antropolog telah mencatat dua epidemi terpisah di Kaledonia Baru,
empat di Kepulauan Solomon, empat di Fiji, tujuh di Hebrides Baru, dan lebih
dari 50 di Nugini, kebanyakan sangat mandiri dan tidak berhubungan satu sama
lain. Mayoritas dari kepercayaan -kepercayaan ini mengklaim bahwa seorang mesias tertentu
akan membawa kargo ketika hari kiamat datang.
Perkembangan mandiri dari begitu banyak kultus yang mandiri tetapi serupa
menunjukkan beberapa corak yang menyatukan mengenai psikologi manusia pada umumnya.
Satu kultus terkenal di pulau Tanna di Hebrides Baru (dikenal sebagai Vanuatu sejak
1980) masih ada. Kultus itu berpusat pada seorang tokoh mesias bernama John Frum. Rujukan
kepada John Frum di catatan resmi pemerintahan tidak ada sebelum 1940 tetapi, bahkan untuk
mitos yang begitu baru, tidak diketahui dengan pasti apakah dia pernah hidup sebagai manusia
nyata. Satu legenda mendeskripsikannya sebagai seorang lelaki kecil dengan suara tinggi dan
rambut pirang, yang memakai jas dengan kancing yang mengkilat. Dia membuat nubuat aneh,
dan dia bekerja sangat keras untuk membelokkan orang agar melawan para misionaris. Akhirnya
dia kembali ke para leluhur, setelah menjanjikan suatu kedatangan kedua penuh kemenangan,
dan membawa kargo yang berlimpah. Visi apokaliptiknya termasuk suatu ‘banjir dahsyat;
gunung-gunung akan diratakan dan lembah-lembah akan dipenuhi;* orang tua akan mendapat
kemudaannya kembali dan penyakit akan menghilang; orang kulit putih akan diusir dari pulau
dan tidak pernah kembali; dan kargo akan datang dalam jumlah besar supaya semua orang akan
mendapat sepuasnya.
Paling mengkhawatirkan bagi pemerintahan, John Frum juga meramalkan bahwa, pada
kedatangan keduanya, dia akan membawa mata uang baru, dicetak dengan gambar kelapa.
Karena itu rakyat harus membuang semua uangnya yang bermata uang orang kulit putih. Pada
1941 nubuat ini menyebabkan pesta-pora pembelanjaan; rakyat berhenti bekerja dan ekonomi
pulau menurun secara drastis. Para administrator kolonial menahan biang keladinya tetapi tidak
ada yang bisa mereka lakukan untuk membunuh kultusnya, dan gereja dan sekolah misionaris
menjadi kosong.
Kemudian, suatu doktrin baru muncul bahwa John Frum yaitu Raja Amerika.
Kebetulan, prajurit Amerika datang di Hebrides Baru sekitar waktu ini dan, betapa ajaibnya, ada
di antaranya lelaki kulit hitam yang tidak miskin seperti para penghuni pulau tetapi
sama kayanya akan kargo dengan para prajurit kulit putih. Keramaian liar
membanjiri Tanna. Hari apokalips akan segera datang. Sepertinya semua orang
bersiap untuk kedatangan John Frum. Salah satu pemimpin berkata bahwa John
Frum akan datang dari Amerika naik pesawat dan ratusan lelaki mulai
merambah semak di pusat pulau agar ada landas pacu untuk pendaratan
pesawat.
Landas pacu itu dilengkapi dengan menara kontrol dari bambu dan ‘pengawas lalu lintas
udara’ yang memakai fon telinga palsu terbuat dari kayu. Ada pesawat-pesawat palsu di ‘landas
pacu’ untuk mengumpan pesawat John Frum.
Pada 1950-an, David Attenborough yang muda berlayar ke Tanna dengan seorang juru
kamera, Geoffrey Mulligan, untuk menginvestigasikan kultus John Frum. Mereka menemukan
banyak bukti mengenai kepercayaan nya dan akhirnya diperkenalkan dengan imam besarnya, seorang
bernama Nambas. Nambas menyebut mesiasnya secara akrab sebagai John, dan mengklaim
untuk berbicara dengannya secara berkala, melalui ‘radio’. Ini (‘radio punya John’) terdiri dari
* Bandingkan Yesaya 40: 4: ‘Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan.’ Kemiripan ini
belum tentu menunjukkan suatu corak fundamental jiwa manusia, atau ‘kesadaran kolektif’ Jungian. Pulau-pulau ini
sudah lama terinfestasi dengan misionaris.
seorang perempuan tua yang pinggangnya diikat dengan kawat listrik yang kesurupan dan
berbicara tidak jelas, yang ditafsir Nambas sebagai kata-kata John Frum. Nambas mengklaim
bahwa dia sudah tahu terlebih dahulu bahwa Attenborough akan mengunjunginya, karena John
Frum sudah memberitahukannya di ‘radio’nya. Attenborough meminta melihat ‘radio’nya tetapi
(dapat dimaklumi) ditolak. Dia mengubah subjek dan bertanya apakah Nambas pernah melihat
John Frum:
Nambas mengangguk dengan semangat. ‘Aku sering melihatnya.’
‘Penampilannya seperti apa?’
Nambas menunjuk diri saya. ‘Mirip denganmu. Mukanya putih. Orangnya
tinggi. Hidup sekitar Amerika Selatan.’
Detail ini bertolak-belakang dengan legenda yang dirujuk di atas bahwa John Frum
yaitu lelaki pendek. Begitulah legenda yang berevolusi.
Dipercayai bahwa hari kedatangan kembali John Frum yaitu 15 Februari, tetapi
tahunnya belum diketahui. Setiap tahun pada 15 Februari penganutnya berkumpul untuk suatu
upacara religius yang menyambut kedatangannya. Sampai sekarang dia belum kembali, tetapi
mereka tidak putus asa. David Attenborough berkata kepada seorang penganut kultus, bernama
Sam:
‘Tetapi, Sam, sudah 19 tahun sejak kata John kargo akan datang. Dia janji dan
dia janji, tetapi tetap kargonya tidak datang. Bukankah 19 tahun itu lama untuk
menunggu?’
Sam mengangkat matanya dari bumi dan memandangi saya. ‘Jika kau bisa
menunggu dua ribu tahun agar junjungan kristen Kristus datang dan dia tak datang, aku
bisa menunggu lebih lama dari 19 tahun untuk John.’
Buku Robert Buckman Can We Be Good Without God? mengutip balasan bijaksana itu
oleh seorang penganut John Frum, kali ini kepada seorang wartawan Kanada sekitar 40 tahun
setelah pertemuan David Attenborough.
Ratu dan Pangeran Philip mengunjungi daerah itu pada 1974, dan sang Pangeran
kemudian dideifikasi dalam suatu pengulangan atas kultus jenis John Frum (sekali lagi,
perhatikan betapa cepat detail dalam evolusi religius dapat berubah). Sang Pangeran yaitu
lelaki tampan yang pasti terlihat keren dengan seragam Angkatan Laut putih dan helm berbulu,
dan barangkali tidak mengejutkan bahwa dia, dan bukan Ratu, diangkat dengan cara ini, terlepas
dari fakta bahwa budaya para penghuni pulau membuat mereka sulit menerima seorang pencipta
perempuan.
Saya tidak ingin melebih-lebihkan kultus-kultus kargo di Pasifik Selatan. Tetapi mereka
menawarkan suatu model kekinian yang menarik sekali untuk cara kepercayaan muncul hampir dari
ketiadaan. Secara khusus, kultus kargo menunjukkan empat pelajaran tentang asal-usul kepercayaan
secara umum, dan saya akan menguraikannya secara ringkas di sini. Pertama, kecepatan luar
biasa yang dengannya sebuah kultus dapat muncul. Kedua, kecepatan yang dengannya proses
permulaan itu menutupi asal-usulnya. John Frum, jika dia pernah hidup, dapat diingat oleh
manusia yang masih hidup. Namun, bahkan untuk suatu kemungkinan yang begitu baru, tidak
pasti apakah dia pernah hidup. Pelajaran ketiga berasal dari kemunculan mandiri kultus-kultus
yang serupa di pulau-pulau yang berbeda. Kajian sistematis atas kemiripan-kemiripan ini dapat
memberi tahu kita sesuatu mengenai psikologi manusia dan kerentanannya terhadap kepercayaan .
Keempat, kultus-kultus kargo menyerupai, tidak hanya kultus kargo lain, tetapi kepercayaan -kepercayaan
yang lebih tua. Kristianitas dan kepercayaan -kepercayaan kuno yang lain yang telah merambah ke seluruh
dunia dapat diperkirakan mulai sebagai kultus-kultus lokal seperti kultus John Frum. Memang,
sarjana seperti Geza Vermes, Profesor Kajian Yahudi di Universitas Oxford, telah
mengemukakan bahwa junjungan kristen hanya merupakan salah satu dari banyak tokoh karismatik yang
muncul di Palestina pada zaman itu, dikelilingi oleh legenda yang serupa. Kebanyakan kultus itu
menghilang. Yang satu yang bertahan hidup, dari sudut pandang ini, yaitu yang kita temukan
hari ini. Dan, seiring berlalunya abad-abad, kultus itu telah dihaluskan oleh evolusi lebih lanjut
(seleksi memetik, jika Anda suka rumusan itu; jika tidak, tidak) hingga menjadi sistem rumit –
atau lebih tepatnya perangkat sistem-sistem keturunan yang menyimpang – yang kini
mendominasi wilayah dunia yang luas. Kematian tokoh modern karismatik seperti Haile
Selassie, Elvis Presley, dan Putri Diana menawarkan kesempatan lain untuk mengkaji
kemunculan cepat kultus dan evolusi memetiknya setelah kemunculan itu.
Hanya itulah yang ingin saya sampaikan mengenai akar-akar kepercayaan sendiri, terlepas dari
suatu pengulangan singkat di Bab 10 ketika saya membahas fenomena masa kanak-kanak ‘teman
imajinasi’ di bawah judul ‘kebupencipta ’ psikologis yang dipenuhi oleh kepercayaan .
Moralitas sering dianggap berakar dalam kepercayaan , dan di bab berikutnya saya ingin
mempertanyakan pandangan itu. Saya akan berargumen bahwa asal-usul moralitas sendiri dapat
menjadi subjek untuk suatu pertanyaan Darwinian. Sama seperti kita bertanya: Apa nilai
bertahan hidup Darwinian kepercayaan ?, kita dapat melontarkan pertanyaan yang sama mengenai
moralitas. Memang, besar kemungkinan moralitas mendahului kepercayaan . Sama seperti dalam kasus
kepercayaan kita mundur dari pertanyaan itu dan merumuskannya ulang, dengan moralitas kita akan
menemukan bahwa fenomena itu sebaiknya dilihat sebagai suatu produk sampingan dari suatu
yang lain.
BAB 6
AKAR-AKAR MORALITAS: KENAPA KITA BAIK?
Aneh betul keadaan kita di sini di Bumi. Kita masing-masing datang untuk suatu kunjungan
singkat, tidak mengetahui kenapa, namun terkadang sepertinya menyadari akan suatu tujuan.
Namun, dari sudut pandang kehidupan sehari-hari, ada satu hal yang kita ketahui: bahwa
manusia berada di sini demi manusia yang lain – di atas semua demi mereka yang dari senyum
dan keadaan baiknya kebahagiaan kita bergantung.
–ALBERT EINSTEIN
Banyak orang religius sulit membayangkan bagaimana, tanpa kepercayaan , seseorang bisa
menjadi baik, atau bahkan ingin menjadi baik. Saya akan membahas pertanyaan-pertanyaan
seperti itu di bab ini. Tetapi keraguannya lebih mendalam, dan mendorong beberapa orang
religius hingga mengamuk dengan kebencian terhadap mereka yang kepercayaannya berbeda.
Hal ini penting, karena pertimbangan moral bersembunyi di belakang sikap-sikap religius
terhadap topik-topik lain yang tidak sebenarnya berkaitan dengan moralitas. Sebagian besar
perlawanan terhadap pengajaran evolusi tidak berkaitan dengan evolusi sendiri, atau dengan apa
pun yang ilmiah, tetapi dipicu oleh kemarahan moral. Kemarahan ini bisa naif, seperti ‘Jika
Anda mengajarkan anak-anak bahwa mereka berevolusi dari monyet, mereka akan berperilaku
seperti monyet’ atau motivasi mendasar yang lebih cerdik untuk strategi ‘baji’ rancangan cerdas,
sebagaimana ditelanjangi tanpa ampun oleh Barbara Forrest dan Paul Gross dalam Creationism’s
Trojan Horse: The Wedge of Intelligent Design.
Saya menerima sejumlah besar surat dari pembaca buku saya,* kebanyakan ramah dan
bersemangat, sebagian kritis secara membantu, beberapa keji dan bahkan sengit. Dan yang
paling sengit, saya menyampaikan dengan berat hati, hampir tanpa pengecualian dimotivasi oleh
kepercayaan . Makian tidak Kristiani seperti itu sering dialami oleh mereka yang dilihat sebagai musuh
Kristianitas. Berikut, misalnya, sepucuk surat, dibagikan di Internet dan ditujukan kepada Brian
Flemming, penulis dan sutradara The God Who Wasn’t There,86 sebuah film yang tulus dan
mengharukan yang mendukung ateisme. Berjudul ‘terbakar sambil kami ketawa’ dan diterbitkan
pada 21 Desember 2005, isi surat ke Flemming sebagai berikut:
Beraninya kau. Aku akan dengan senang hati mengambil pisau, membuka
perutmu, dan teriak dengan riang sambil ususmu keluar di depanmu. Kau
berusaha memicu suatu perang salib di mana suatu hari aku, dan orang-orang
lain sepertiku, akan menikmati tindakan seperti yang tersebut.
Penulis pada saat ini sepertinya menyadari belakangan bahwa bahasanya tidak begitu
Kristiani, karena dia melanjutkan, dengan lebih murah hati:
Namun, pencipta mengajarkan kita untuk tidak membalas dendam, tetapi untuk
mendoakan orang seperti kalian.
Namun, belas kasihnya tidak bertahan lama:
Aku terhibur dengan mengetahui bahwa hukuman yang pencipta akan
* Lebih banyak daripada yang saya bisa harapkan untuk membalas dengan memadai, dan untuk itu saya minta maaf.
beri kepadamu akan 1000 kali lebih buruk daripada apa pun yang aku
mampu lakukan. Bagian terbaik yaitu , kau AKAN menderita selamanya
untuk dosa-dosa ini yang mengenainya kau tidak tahu-menahu. Murka
pencipta tidak mengenal ampun. Demi dirimu sendiri, aku berharap
kebenaran tersingkap kepadamu sebelum pisau bertemu dengan
dagingmu. Selamat NATAL!!!
PS Kalian benar-benar tidak tahu apa yang menunggumu...aku
bersyukur kepada pencipta bahwa aku bukan kau.
Saya sungguh bingung kenapa perbedaan pendapat teologis belaka dapat menghasilkan
kebencian seperti itu. Berikut ada contoh (dengan kekeliruannya dipertahankan) dari kotak
masuk Editor majalah Freethought Today, diterbitkan oleh Yayasan Kebebasan dari kepercayaan
(Freedom from Religion Foundation, FFRF), yang berkampanye secara damai melawan
penggerogotan pemisahan konstitusional di antara gereja dengan negara:
Halo, para bangsat pemakan keju. Ada jauh lebih banyak kami orang junjungan kristen
daripada kalian pecundang. TIDAK ADA pemisahan di antara gereja dengan
negara dan kalian para kafir akan kalah...
Kenapa keju harus disebut? Teman-teman dari Amerika pernah mengusulkan kepada
saya suatu hubungan dengan negara bagian Wisconsin yang terkenal liberal – markas FFRF dan
pusat peternakan susu – tetapi pasti ada yang lebih dari itu? Dan bagaimana dengan para ‘monyet
pemakan keju yang suka menyerah’ (cheese-eating surrender monkeys) di Prancis? Apa
ikonografi semiotik keju? Kita lanjut:
Sampah pemuja Iblis ... Silakan mati saja dan masuk neraka ... Aku harap kau
kena penyakit yang menyakitkan seperti kanker rektum dan mati pelan-pelan
kesakitan, agar kau bisa menemui pencipta mu, IBLIS...Hei Bung kebebasan dari
kepercayaan ini njs...Jadi kalian gay dan lesbi santai saja dan hati-hati ke mana-mana
karena kapan pun kalian tak menduga pencipta akan mendapatkanmu...Jika kalian
tak suka negara ini dan caranya & dan untuk & berdasarkan apa ia didirikan,
pergi saja anjing dan langsung masuk neraka...PS ngentot lu, pelacur
komunis...Bawa saja pantatmu yang hitam ke luar AS.... Kau tak dapat
diampuni. Ciptaan itu lebih dari cukup bukti atas kekuasaan mahakuasa
pencipta junjungan kristen KRISTUS.
Kenapa bukan kekuasaan mahakuasa Allah? Atau Dewa Brahma? Atau bahkan Yahweh?
Kami tak akan pergi dengan diam. Jika di masa depan itu membutuhkan
kekerasan, ingatlah bahwa kau yang mengundangnya. Senapanku sudah diisi.
Kenapa, saya harus bertanya, pencipta dianggap membutuhkan pembelaan yang begitu
ganas? Kita bisa saja menganggap bahwa dia cukup mampu menjaga diri. Ingatlah, dalam semua
ini, bahwa Editor yang dilecehkan dan diancam dengan begitu keji yaitu seorang perempuan
muda yang lemah-lembut dan menawan.
Barangkali karena saya tidak tinggal di Amerika, kebanyakan surat kebencian saya kalah
berkualitas dengan yang di atas, tetapi tidak juga menunjukkan belas kasih yang membuat
pendiri Kristianitas terkenal. Surat berikut, dikirim pada Mei 2005, dari seorang dokter Britania,
meskipun jelas-jelas penuh kebencian, bagi saya terkesan sebagai lebih tersiksa daripada bengis,
dan menyingkapkan betapa persoalan moralitas ini merupakan suatu sumber permusuhan
mendalam terhadap ateisme. Setelah beberapa paragraf awal yang menghina evolusi (dan
bertanya dengan nada sarkastis apakah seorang ‘Negro’ ‘masih sedang berevolusi’), menghina
Darwin secara pribadi, salah mengutip Huxley sebagai anti-evolusi, dan menyuruh saya
membaca sebuah buku (saya pernah membacanya) yang berargumen bahwa usia dunia hanyalah
8 ribu tahun (apakah dia sebenarnya seorang dokter?) dia menyimpulkan:
Buku-bukumu sendiri, prestisemu di Oxford, segala sesuatu yang kau cintai
dalam kehidupan, dan pernah capai, merupakan latihan kesia-siaan
belaka...pertanyaan-tantangan Camus tak terelakkan: Kenapa kita semua tidak
bunuh diri saja? Memang, pandangan duniamu berdampak seperti itu pada
siswa dan banyak orang lain...bahwa kita semua berevolusi karena keacakan
buta, dari ketiadaan, dan kembali ke ketiadaan. Bahkan jika kepercayaan tidak benar,
tetap lebih baik, jauh, jauh, lebih baik, untuk percaya pada suatu mitos luhur,
seperti mitos Platon, jika kepercayaan itu menyebabkan kedamaian pikiran saat
kita hidup. Tetapi pandangan dunia kau menyebabkan kecemasan, kecanduan
narkoba, kekerasan, nihilisme, hedonisme, ilmu pengetahuan ala Frankenstein,
dan neraka di bumi, dan Perang Dunia III....aku bertanya seberapa kau bahagia
dalam hubungan pribadimu? Cerai? Duda? Gay? Orang-orang sepertimu tidak
pernah bahagia, atau mereka tidak akan berusaha dengan begitu keras untuk
membuktikan bahwa tidak ada kebahagiaan atau makna dalam apa pun.
Sentimen surat ini, jika bukan nadanya, sangat lazim. Darwinisme, orang ini percaya,
bersifat nihilistik secara inheren, mengajarkan bahwa kita berevolusi karena keacakan buta
(untuk kesekian kalinya, seleksi alam bertolak-belakang dengan suatu proses acak), dan binasa
saat kita mati. Sebagai konsekuensi langsung dari apa yang dianggap negativitas itu, segala
macam kejahatan menyusul. Kita dapat mengira bahwa dia tidak sebenarnya bermaksud bahwa
status duda dapat langsung disebabkan oleh Darwinisme saya, tetapi suratnya, pada titik itu, telah
mencapai tingkat permusuhan mengamuk yang saya berkali-kali kenali dalam surat dari teman-
teman junjungan kristen saya. Saya telah menulis sebuah buku (Unweaving the Rainbow) mengenai makna
terakhir, puisi ilmu pengetahuan, dan untuk membantah, secara khusus dan berkepanjangan,
tuduhan negativitas nihilistik, jadi saya akan menahan diri di sini. Bab ini membahas kejahatan,
dan lawannya, kebaikan; membahas moralitas: dari mana moralitas berasal, kenapa kita harus
merangkulnya, dan apakah kita membutuhkan kepercayaan untuk itu.
APAKAH RASA MORAL KITA MEMILIKI ASAL-USUL DARWINIAN?
Beberapa buku, termasuk Why Good is Good oleh Robert Hinde, The Science of Good
and Evil oleh Michael Shermer, Can We Be Good Without God? oleh Robert Buckman, dan
Moral Minds oleh Marc Hauser, telah berargumen bahwa rasa kita akan baik dan buruk berasal
dari masa lalu Darwinian kita. Seksi ini yaitu versi saya sendiri atas argumen itu.
Pada permukaannya, ide Darwinian bahwa evolusi terdorong oleh seleksi alam terkesan
kurang cocok untuk menjelaskan kebaikan yang kita miliki, atau perasaan kita akan moralitas,
kesusilaan, empati, dan belas kasih. Seleksi alam dapat dengan mudah menjelaskan rasa lapar,
takut, dan gairah seksual, karena semuanya berkontribusi secara langsung kepada bertahan hidup
kita atau kelestarian gen kita. Tetapi bagaimana dengan belas kasih mendalam yang kita rasakan
ketika melihat seorang anak yatim piatu menangis, atau seorang janda tua yang putus asa karena
kesepian, atau seekor hewan yang merengek kesakitan? Apa yang memberikan kita dorongan
kuat untuk mengirimkan sumbangan anonim berisi uang atau pakaian kepada korban tsunami di
belahan dunia jauh yang kita tidak pernah akan temui, dan besar kemungkinan tidak akan
membalas budi? Dari mana Orang Samaria yang Murah Hati dalam diri kita berasal? Bukankah
kebaikan tidak sesuai dengan teori ‘gen yang egois’? Tidak. Ini yaitu kesalahpahaman umum
atas teorinya – suatu kesalahpahaman yang cukup mengganggu (tetapi dapat saja dimaklumi).*
Kata yang tepat harus ditekankan. Gen yang egois yaitu tekanan yang betul, karena itu agak
berbeda dengan, misalnya, organisme yang egois, atau spesies yang egois. Biarkan saya jelaskan.
Logika Darwinisme menyimpulkan bahwa satuan hierarki kehidupan yang bertahan
hidup dan menurun melalui filter seleksi alam akan cenderung egois. Satuan-satuan yang
bertahan hidup di dunia yaitu mereka yang sukses bertahan hidup dengan mengorbankan
pesaingnya pada tataran hierarkinya sendiri. Itu, persis, yaitu makna ‘egois’ dalam konteks ini.
Pertanyaannya yaitu , apa tataran tindakannya? Maksud gagasan gen egois, dengan tekanan
yang seharusnya pada ‘gen’, yaitu , satuan seleksi alam (dengan kata lain, satuan yang
mementingkan diri sendiri) bukan organisme yang egois, kelompok yang egois atau spesies yang
egois atau pun ekosistem yang egois, melainkan gen yang egois. Genlah yang, dalam bentuk
informasi, bertahan hidup selama banyak generasi atau tidak. Berbeda dengan gen (dan mungkin
juga meme), organisme, kelompok, dan spesies bukan jenis entitias yang cocok untuk menjadi
satuan dalam arti ini, karena mereka tidak membuat salinan persis atas dirinya sendiri, dan tidak
berkompetisi dalam lungkang entitas yang sama-sama mereplikasi-diri. Persis itu yang dilakukan
gen, dan itulah pembenaran – yang pada esensinya logis – untuk memilih gen secara khusus
sebagai satuan ‘keegoisan’ dalam arti egois Darwinian khusus.
Cara paling menonjol gen menjamin bertahan hidup ‘egois’nya sendiri dibandingkan
dengan gen-gen lain yaitu dengan memrogramkan organisme-organisme individu untuk
menjadi egois. Memang ada banyak keadaan di mana bertahan hidupnya organisme individu
akan menguntungkan gen yang berada di dalamnya. Tetapi keadaan lain mengutamakan taktik
yang berbeda. Ada keadaan – tidak begitu langka – di mana gen menjamin bertahan hidup
egoisnya dengan memengaruhi organisme agar berperilaku secara altruistik. Keadaan seperti itu
kini sudah cukup dipahami dan dapat dibagi menjadi dua kategori utama. Suatu gen yang
memrogramkan organisme-organisme individu untuk mengutamakan kerabat genetiknya lebih
mungkin secara statistik menguntungkan salinan-salinan dirinya sendiri. Frekuensi gen seperti
itu dapat meningkat di lungkang gen sehingga altruisme kerabat menjadi norma. Berbuat baik
kepada anak sendiri yaitu contoh yang paling mencolok, tetapi bukan satu-satunya. Lebah,
tawon, semut, rayap, dan, pada derajat yang lebih rendah, vertebrata tertentu seperti tikus
mondok telanjang, meerkat, dan burung pelatuk biji ek, telah mengevolusikan masyarakat di
mana kakak memelihara adik (yang besar kemungkinan sama-sama memiliki gen untuk
memelihara). Pada umumnya, sebagaimana ditunjukkan oleh almarhum kolega saya W.D.
Hamilton, hewan cenderung memelihara, melindungi, berbagi sumber daya dengan,
* Saya sungguh malu membaca dalam Guardian (‘Animal Instincts’, 27 Mei 2006) bahwa The Selfish Gene yaitu
buku kesukaan Jeff Skilling, CEO Enron Corporation yang terkenal buruk, dan bahwa dia terinspirasi secara
Darwinis Sosial olehnya. Wartawan Guardian Richard Conniff memberi penjelasan yang baik atas kesalahpahaman
itu: http://money.guardian.co.uk/workweekly/story/0,,1783900,00.html. Saya berusaha terlebih dahulu mencegah
kesalahpahaman yang serupa dalam prakata baru saya untuk edisi 30 tahun The Selfish Gene, yang baru diterbitkan
oleh Oxford University Press.
memperingati mengenai bahaya, atau dengan cara lain berperilaku secara altruistik terhadap
kerabat dekat karena kemungkinan statistik bahwa kerabat akan memiliki salinan dari gen yang
sama.
Bentuk altruisme utama yang lain yang untuknya kita memiliki suatu pembenaran
Darwinian yang cukup dikembangkan yaitu altruisme timbal balik (‘kamu membantu aku, aku
membantu kamu’). Teori ini, pertama kali diajukan dalam biologi evolusioner oleh Robert
Trivers dan sering diucapkan dalam bahasa matematis teori permainan, tidak bergantung pada
gen-gen bersama. Memang, teori ini berfungsi dengan sama baiknya, mungkin lebih baik, di
antara anggota spesies yang sangat berbeda, dan dalam kasus itu fenomenanya sering disebut
sebagai simbiosis. Prinsipnya yaitu dasar segala perdagangan dan barter di antara manusia juga.
Pemburu membutuhkan tombak dan pandai besi menginginkan daging. Asimetri menghasilkan
suatu kesepakatan. Lebah membutuhkan nektar dan bunga perlu diserbuki. Bunga tak bisa
terbang, jadi membayar lebah, menggunakan mata uang nektar, untuk jasa sayapnya. Burung
yang disebut pemandu madu dapat menemukan sarang lebah, tetapi tidak bisa membukanya.
Ratel dapat membuka sarang lebah, tetapi tidak memiliki sayap untuk mencarinya. Pemandu
madu menuntun ratel (dan terkadang manusia) ke madu dengan suatu pola penerbangan bujukan
yang khusus, yang tidak digunakan untuk tujuan lain. Kedua belah pihak mendapat manfaat dari
transaksinya. Sejumlah emas mungkin terletak di bawah sebuah batu besar, terlalu berat untuk
digeser oleh penemu emas itu. Dia memperoleh bantuan orang lain meskipun dia kemudian harus
membagi emasnya, karena tanpa bantuannya dia tidak akan dapat apa-apa. Kerajaan-kerajaan
hidup kaya akan hubungan mutualistik seperti itu: kerbau dan bangau, bunga merah berbentuk
pipa dan kolibri, ikan kerapu dan wrasse pembersih, sapi dan mikroorganisme dalam ususnya.
Altruisme timbal balik berhasil karena asimetri dalam kebupencipta dan dalam kemampuan untuk
memenuhi kebupencipta itu. Itulah alasannya altruisme tersebut sangat berhasil di antara spesies
yang berbeda: asimetrinya lebih besar.
Bagi manusia, surat promes dan uang yaitu perangkat yang membolehkan penundaan
dalam transaksi. Pihak-pihak dalam perdagangan tidak bertukar barang serentak tetapi dapat
berutang hingga masa depan, atau bahkan menjual utang itu ke orang lain. Sejauh yang saya
ketahui, tidak ada hewan non-manusia di rimba belantara yang memiliki hal setara secara
langsung dengan uang, Tetapi ingatan akan identitas individu memainkan peran yang sama
secara kurang resmi. Kelelawar vampir belajar individu lain yang mana dalam kelompok
sosialnya dapat diandalkan untuk membayar utangnya (dalam bentuk darah yang dimuntahkan)
dan individu mana yang curang. Seleksi alam memilih gen yang membuat individu-individu
cenderung, dalam hubungan kebupencipta dan kesempatan asimetris, memberi apa yang mereka
bisa, dan untuk meminta ketika tidak bisa. Seleksi alam juga memilih kecenderungan mengingat
kewajiban, mendendam, memolisikan relasi pertukaran dan menghukum individu yang curang
yang mengambil tetapi ketika gilirannya tidak memberi.
Karena selalu akan ada individu yang curang, dan solusi stabil untuk teka-teki teori
permainan altruisme timbal balik selalu melibatkan unsur hukuman atas individu yang curang.
Teori matematis menawarkan dua jenis solusi stabil untuk ‘permainan’ seperti ini. ‘Selalu
berbuat jahat’ bersifat stabil karena, jika semua orang lain melakukannya, satu individu tunggal
yang baik tidak bisa lebih sukses. Tetapi ada strategi lain yang juga stabil. (‘Stabil’ berarti, ketika
perilaku itu sudah melampaui suatu frekuensi kritis dalam populasi, tidak ada alternatif yang
lebih sukses.) Strateginya yaitu , ‘Bermula dengan bersikap baik, dan jangan langsung
menghukum yang lain. Kemudian membalas perbuatan baik dengan baik, tetapi membalas
dendam untuk perbuatan buruk.’ Dalam bahasa teori permainan, strategi ini (atau keluarga
strategi serupa) diberi berbagai nama, termasuk Tit-for-Tat, Pembalas Dendam (Retaliator) dan
Pembalas Jasa (Reciprocator). Strategi ini stabil secara evolusi dalam kondisi tertentu dalam arti
bahwa, dengan suatu populasi yang didominasi oleh pembalas jasa, tidak ada individu jahat
tunggal, atau individu baik tak bersyarat tunggal, yang akan lebih sukses. Ada varian Tit-for-Tat
yang lain yang lebih rumit yang bisa lebih sukses dalam keadaan tertentu.
Saya sudah menyebut kekerabatan dan timbal balik sebagai kedua pilar altruisme di dunia
Darwinian, tetapi ada struktur-struktur sekunder yang dibangun di atas dua pilar utama itu.
Terutama dalam masyarakat manusia, dengan bahasa dan gosip, reputasi menjadi penting.
Seorang individu mungkin memiliki reputasi untuk kebaikan dan kemurahan hati. Seorang
individu lain mungkin memiliki reputasi untuk tidak dapat diandalkan, untuk curang, dan untuk
ingkar janji. Seorang lain mungkin memiliki reputasi untuk kemurahan hati jika kepercayaan
sudah ditetapkan, tetapi untuk hukuman yang tidak mengenal ampun terhadap kecurangan. Teori
altruisme timbal balik yang tidak berbunga mengharapkan hewan dalam spesies apa pun untuk
mendasari perilakunya atas tanggapan tidak sadar terhadap sifat seperti itu pada sesamanya.
Dalam masyarakat manusia kita menambahkan kekuatan bahasa untuk menyebarkan reputasi,
biasanya dalam bentuk gosip. Anda tidak perlu menderita secara pribadi dari kegagalan X untuk
mentraktir ketika gilirannya di bar. Anda mendengar gosip bahwa X itu pelit, atau – untuk
menambah komplikasi ironis kepada contoh ini – bahwa Y yaitu penggosip. Reputasi itu
penting, dan para biolog dapat mengakui suatu nilai bertahan hidup Darwinian tidak hanya dalam
menjadi pembalas jasa yang baik yang baik tetapi untuk memelihara suatu reputasi sebagai
pembalas jasa yang baik juga. The Origins of Virtue oleh Matt Ridley, selain dari merupakan
suatu penjelasan jernih mengenai seluruh bidang moralitas Darwinian, khususnya bagus dalam
menjelaskan reputasi.*
Ekonom Norwegia-Amerika, Thorstein Veblen, dan, secara yang agak berbeda, zoolog
Israel Amotz Zahavi, telah menambahkan suatu ide lebih lanjut yang menarik sekali. Pemberian
altruistik mungkin merupakan suatu iklan mengenai dominasi atau superioritas. Para antropolog
mengenalnya sebagai Efek Potlatch, yang dinamakan untuk adat di mana kepala suku pesaing di
suku barat laut Amerika saling berkompetisi melalui acara makan yang saking besarnya
merusak. Dalam kasus ekstrem, pertempuran acara yang saling berbalasan berlanjut hingga salah
satu pihak jatuh miskin, dengan pemenang hanya sedikit lebih kaya. Konsep Veblen mengenai
‘konsumsi yang mencolok’ bertepatan dengan banyak pengamat adegan modern. Kontribusi
Zahavi, yang tidak diindahkan oleh biolog selama bertahun-tahun sebelum dibenarkan oleh
model-model matematis cemerlang dari teoretikus evolusi Alan Grafen, yaitu memberi suatu
versi evolusioner atas ide potlatch. Zahavi mengkaji Arabian babbler, burung cokelat kecil yang
hidup dalam kelompok sosial dan kawin secara kooperatif. Seperti banyak burung kecil, babbler
memberi nyanyian peringatan, dan mereka juga saling menyumbang makanan yang satu kepada
yang lain. Suatu penyelidikan Darwinian standar atas tindakan altruistik seperti itu akan mencari,
pertama-tama, hubungan timbal balik dan kekerabatan di antara burung-burungnya. Ketika
seekor babbler memberi makan kepada temannya, apakah itu dengan harapan akan diberi makan
suatu saat di masa depan? Atau apakah penerima itu yaitu saudara genetik dekat? Interpretasi
* Reputasi tidak terbatas pada manusia. Baru-baru ini ditunjukkan bahwa reputasi berlaku dalam salah satu kasus
klasik altruisme timbal balik dalam hewan, yakni, hubungan simbiotik di antara ikan pembersih kecil dengan klien
ikan besarnya. Dalam suatu eksperimen genius, wrasse-wrasse pembersih individu, Labroides dimidiatus, yang
pernah diamati oleh seekor bakal klien sebagai pembersih yang rajin, lebih mungkin dipilih oleh klien itu daripada
Labroides pesaing yang pernah diamati malas membersihkan. Lihat R. Bshary dan A. S. Grutter, ‘Image scoring and
cooperation in a cleaner fish mutualism’, Nature 441, 22 Juni 2006, 975–8.
Zahavi secara radikal baru. Babbler yang dominan menyatakan dominasinya dengan memberi
makan kepada subordinatnya. Dalam bahasa antropomorfik yang sangat disukai Zahavi, burung
dominan mengatakan hal setara dengan, ‘Lihatlah betapa superior diriku dibandingkan
denganmu, aku mampu memberi kau makan.’ Atau ‘Lihatlah betapa superior diriku, aku mampu
menjadikan diriku rentan terhadap serangan elang dengan duduk di dahan yang lebih tinggi, dan
menjadi penjaga yang memperingati kelompok yang makan di bumi.’ Pengamatan Zahavi dan
koleganya menunjukkan bahwa babbler berkompetisi secara aktif untuk peran penjaga yang
bahaya. Dan ketika seekor babbler subordinat mencoba menawarkan makanan kepada individu
yang dominan, kemurahan hati semu itu secara keras ditolak. Esensi ide Zahavi yaitu
pertunjukan akan superioritas dibenarkan oleh harganya. Hanya individu yang sungguh superior
mampu mengiklankan fakta itu melalui suatu pemberian yang berharga. Individu-individu
membeli kesuksesan, misalnya dalam menarik perhatian pasangan, melalui demonstrasi mahal
atas superioritasnya, termasuk kemurahan hati yang berlebih-lebihan dan pengambilan risiko
demi kebaikan publik.
Sekarang kita memiliki empat alasan Darwinian yang baik untuk individu-individu
menjadi altruistik, murah hati atau ‘moral’ terhadap sesamanya. Pertama, ada kasus istimewa
kekerabatan genetik. Kedua, ada timbal balik: pembalasan untuk bantuan yang telah diberi, dan
pemberian bantuan dengan ‘antisipasi’ pembalasan. Menurun dari alasan kedua, alasan ketiga
yaitu manfaat Darwinian dari memperoleh suatu reputasi untuk kemurahan hati dan kebaikan.
Dan keempat, jika Zahavi benar, ada manfaat tambahan khusus dari kemurahan hati yang
mencolok sebagai cara membeli periklanan asli yang tidak dapat dipalsukan.
Selama sebagian besar prasejarah, manusia hidup dalam kondisi yang akan sangat
memilih evolusi keempat jenis altruisme tersebut. Kita hidup di desa, atau sebelumnya di
kelompok mengembara diskrit seperti babun, agak terpisah dari kelompok atau desa tetangga.
Kebanyakan dari anggota kelompok Anda akan merupakan kerabat, dengan hubungan lebih
dekat dengan Anda daripada anggota-anggota kelompok-kelompok lain – banyak kesempatan
untuk evolusi altruisme kekerabatan. Dan, kerabat atau bukan, Anda akan cenderung menemui
individu-individu yang sama sepanjang hidup Anda – kondisi ideal untuk evolusi altruisme
timbal balik. Kondisi yang sama juga ideal untuk membangun reputasi untuk altruisme, dan
persis sama juga untuk mengiklankan kemurahan hati yang mencolok. Melalui satu atau empat
rute itu, kecenderungan genetik untuk altruisme akan dipilih di manusia awal. Mudah untuk
melihat kenapa leluhur kita di prasejarah akan berbuat baik terhadap kelompok dalamnya sendiri
tetapi buruk – sehingga xenofobia – terhadap kelompok-kelompok lain. Tetapi kenapa – karena
kini kebanyakan dari kita hidup di kota besar di mana kita sudah tidak dikelilingi kerabat, dan di
mana setiap hari kita menemui individu yang kita tidak pernah akan temui lagi – kenapa kita
masih begitu baik terhadap sesama, bahkan terkadang terhadap orang lain yang mungkin
dianggap termasuk dalam kelompok luar?
Penting untuk tidak salah merumuskan jangkauan seleksi alam. Seleksi tidak memilih
evolusi kesadaran kognitif mengenai apa yang baik untuk gen. Kesadaran itu terpaksa menunggu
hingga abad ke-20 untuk mencapai tingkat kognitif, dan bahkan sekarang pemahaman penuh
terbatas pada suatu minoritas spesialis ilmiah. Apa yang dipilih oleh seleksi alam yaitu
heuristik, yang berhasil secara praktis untuk mempromosikan gen yang membuatnya. Heuristik,
menurut kodratnya, terkadang gagal. Dalam otak burung, heuristik ‘Jaga makhluk kecil yang
berkuak di sarang, dan taruh makanan di mulutnya yang merah’ biasanya melestarikan gen yang
membuat heuristik itu, karena objek yang berkuak dan mengaung dalam sarang burung dewasa
biasanya yaitu keturunannya sendiri. Heuristik itu gagal jika ada anak burung lain yang entah
bagaimana memasuki sarangnya, suatu keadaan yang direkayasa secara positif oleh burung
kukuk. Apakah dorongan Orang Samaria yang Murah Hati yaitu kegagalan, analog dengan
kegagalan naluri pengasuh kerak basi ketika bersusah payah demi anak burung kukuk? Suatu
analogi yang lebih dekat lagi yaitu dorongan manusia untuk mengadopsi anak. Saya harus cepat
menambahkan bahwa ‘kegagalan’ hanya dimaksudkan dalam arti Darwinian sempit. Tidak ada
nuansa buruk sama sekali.
Ide ‘kesalahan’ atau ‘produk sampingan’, yang saya dukung, bekerja sebagai berikut.
Seleksi alam, di zaman purbakala ketika kita hidup di kelompok kecil dan stabil seperti babun,
memrogramkan dorongan altruistik dalam otak kita, bersama dengan dorongan seksual,
dorongan lapar, dorongan xenofobik dan seterusnya. Pasangan cerdas dapat membaca Darwin
dan mengetahui bahwa alasan terakhir untuk dorongan seksualnya yaitu prokreasi. Mereka tahu
bahwa perempuannya tidak dapat hamil karena dia sedang minum KB. Namun, ternyata nafsu
seksual mereka tidak dikecilkan oleh pengetahuan itu. Nafsu seksual yaitu nafsu seksual dan
kekuatannya, dalam psikologi individu, bekerja secara terpisah dari tekanan Darwinian terakhir
yang mendorongnya. Dorongan kuat itu berada secara mandiri dari pembenaran terakhirnya.
Maksud saya yaitu , hal yang sama juga berlaku untuk dorongan untuk kebaikan – untuk
altruisme, kemurahan hati, empati, belas kasih. Di zaman purba, kita hanya sempat altruistik
terhadap kerabat dekat dan pembalas jasa potensial. Zaman sekarang pembatasan itu sudah tidak
berlaku, tetapi heuristiknya tetap ada. Kenapa tidak? Itu sama seperti nafsu seksual. Kita tidak
bisa tidak merasa iba melihat orang malang menangis (yang bukan kerabat dan tidak mampu
membalas jasa), sama seperti kita tidak bisa tidak bernafsu untuk lawan jenis (yang mungkin
mandul atau karena alasan lain tidak mampu bereproduksi). Kedua-duanya yaitu kegagalan,
kesalahan Darwinian: kesalahan berharga dan terberkati.
Jangan, selama satu detik pun, anggap pendarwinan seperti itu sebagai merendahkan atau
reduktif terhadap emosi-emosi luhur belas kasih dan kemurahan hati. Tidak juga nafsu seksual.
Nafsu seksual, ketika disalurkan melalui kebudayaan linguistik, muncul sebagai puisi dan drama
agung. Misalnya, puisi cinta John Donne, atau Romeo and Juliet. Dan tentu saja hal yang sama
terjadi dengan pengalihan akibat kegagalan atas belas kasih berdasarkan kerabat dan timbal
balik. Pengampunan terhadap orang yang berutang, ketika dilihat di luar konteksnya, sama tidak-
Darwiniannya dengan mengadopsi anak orang lain:
Pengampunan tak terpaksa.
Ia jatuh bagai hujan lembut dari langit
Pada tempat di bawah.
Nafsu seksual yaitu kekuatan yang mendorong sebagian besar ambisi dan perjuangan
manusia, dan kebanyakan merupakan kegagalan. Tidak ada alasan kenapa hal yang sama tidak
akan berlaku dalam nafsu untuk murah hati atau berbelas kasih, jika ini yaitu konsekuensi
kegagalan dari kehidupan desa purba. Cara terbaik seleksi alam bisa memrogramkan kedua jenis
nafsu di zaman purba yaitu dengan menginstal heuristik dalam otak. Heuristik itu masih
memengaruhi kita saat ini, bahkan ketika keadaan membuatnya tidak sesuai dengan fungsi
aslinya.
Heuristik itu tetap memengaruhi kita, tidak secara deterministik Kalvinis tetapi disaring
melalui pengaruh memperadabkan sastra dan adat, hukum dan tradisi – dan, tentu saja, kepercayaan .
Sama seperti heuristik otak primitif untuk nafsu seksual melewati saringan peradaban lalu
muncul dalam adegan cinta Romeo and Juliet, heuristik otak primitif mengenai pembalasan
dendam kita-melawan-mereka muncul dalam bentuk pertempuran terus-menerus di antara
keluarga Capulet dan Montague; sedangkan heuristik otak primitif untuk altruisme dan empati
akhirnya menjadi kegagalan yang menghibur kita dalam rekonsiliasi bertobat di adegan terakhir
Shakespeare.
SUATU STUDI KASUS DALAM AKAR-AKAR MORALITAS
Jika rasa moral kita, seperti nafsu seksual kita, memang berakar mendalam di masa lalu
Darwinian kita, secara yang mendahului kepercayaan , kita harus berharap bahwa penelitian mengenai
pikiran manusia akan menyingkapkan beberapa dalil moral universal, yang melintasi batas
geografis dan budaya, dan juga, secara krusial, batas religius. Biolog Harvard Marc Hauser,
dalam bukunya Moral Minds: How Nature Designed our Universal Sense of Right and Wrong,
telah mengembangkan garis subur eksperimen pemikiran yang pertama-tama dilontarkan oleh
para filsuf moral. Kajian Hauser juga akan berfungsi untuk memperkenalkan pembaca dengan
cara berpikir filsuf moral. Suatu dilema moral hipotetis dilontarkan, dan kesukaran yang kita
alami dalam menjawabnya memberi tahu kita sesuatu mengenai rasa baik dan buruk kita. Hauser
melampaui para filsuf karena dia sungguh melakukan survei statistik dan eksperimen psikologis,
yang menggunakan kuisioner di internet, misalnya, untuk menyelidiki rasa moral manusia nyata.
Dari sudut pandang kita di sini, hal yang menarik yaitu , kebanyakan orang mengambil
keputusan yang sama ketika menghadapi dilema-dilema ini, dan persetujuannya mengenai
keputusan itu sendiri lebih kuat daripada kemampuannya untuk mengartikulasikan alasannya. Ini
yaitu apa yang kita harus harapkan jika kita memiliki rasa moral yang diprogramkan dalam
otak kita, seperti naluri seksual atau ketakutan akan ketinggian atau, sebagaimana Hauser sendiri
suka berkata, seperti kemampuan kita untuk berbahasa (detailnya berbeda-beda di setiap budaya,
tetapi struktur mendalam tata bahasa yang melandasinya tetap universal). Sebagaimana kita akan
lihat, cara orang menanggapi ujian-ujian moral ini, dan ketidakmampuannya untuk
mengartikulasikan alasannya, sepertinya sebagian besar mandiri dari kepercayaan religiusnya,
atau ketiadaan kepercayaan itu. Pesan buku Hauser, menurut kata-katanya sendiri, sebagai
berikut: ‘Ada suatu tata bahasa moral universal yang mendorong penilaian-penilaian moral kita,
suatu kemampuan pikiran yang berevolusi selama jutaan tahun untuk memuat seperangkat
prinsip untuk membangun serentang sistem-sistem moral yang mungkin. Sama seperti bahasa,
prinsip-prinsip yang mengonstitusikan tata bahasa moral kita luput dari deteksi kesadaran kita.’
Salah satu contoh tipikal atas dilema-dilema moral Hauser yaitu variasi mengenai tema
truk atau ‘kereta’ yang tak terkendali yang akan membunuh sejumlah orang. Dalam versi cerita
paling sederhana, seseorang, Denise, yang berdiri dekat wesel dan mampu mengalihkan kereta
ke jalur samping untuk menyelamatkan lima orang yang terjebak di jalur utama di depan.
Sayangnya ada seseorang terperangkap di jalur samping. Tetapi karena dia hanya satu,
dibandingkan dengan lima orang yang teperangkap di jalur utama, kebanyakan orang setuju
bahwa boleh secara moral, atau bahkan wajib, agar Denise menarik wes

