delusi tuhan 6
n sebagai ‘pembantahan paling ampuh atas teisme tradisional’. Tetapi itu hanyalah
argumen melawan eksistensi suatu pencipta yang baik. Kebaikan bukan bagian dari definisi
Hipotesis pencipta , hanya suatu tambahan yang diinginkan.
Tentu, orang yang cenderung teologis sering tidak mampu secara kronis membedakan di
antara apa yang benar dengan apa yang mereka ingin menjadi benar. Tetapi, untuk seorang yang
lebih terdidik yang percaya akan semacam kecerdasan supernatural, melampaui masalah
kejahatan yaitu hal yang mudah kekanak-kanakan. Lontarkan saja suatu pencipta jahat – seperti
yang menunggu di setiap halaman Perjanjian Lama. Atau, jika Anda tidak suka itu, ciptakan
suatu pencipta jahat yang terpisah, beri dia nama Iblis, dan salahkan pertempuran kosmiknya
melawan pencipta baik untuk kejahatan di dunia. Atau – suatu solusi yang lebih terdidik lagi –
lontarkan suatu pencipta dengan urusan lebih besar daripada khawatir tentang masalah-masalah
manusia. Atau suatu pencipta yang tidak masa bodoh terhadap penderitaan tetapi menganggapnya
sebagai harga yang harus dibayar untuk kehendak bebas dalam suatu kosmos yang teratur. Dapat
ditemukan teolog-teolog yang menerima semua pembenaran tersebut.
Untuk alasan-alasan ini, jika saya mengulangi latihan Bayesian Unwin, bukan masalah
kejahatan atau pun pertimbangan moral secara umum akan menggeser saya jauh, ke arah satu
atau yang lain, dari hipotesis nol (50 persennya Unwin). Tetapi saya tidak ingin berargumen soal
itu karena, bagaimanapun, saya tidak bisa bergairah mengenai pendapat pribadi, baik yang
Unwin ataupun yang saya.
Ada suatu argumen yang jauh lebih ampuh, yang tidak bergantung pada penilaian
subjektif, dan itu yaitu argumen dari ketidakmungkinan. Argumen itu benar-benar
memindahkan kita jauh secara dramatis dari agnostisime 50 persen, jauh menuju kutub teisme
menurut pandangan banyak teis, jauh menuju kutub ateisme menurut pandangan saya. Saya telah
merujuknya beberapa kali. Seluruh argumen itu ditentukan oleh pertanyaan lazim ‘Siapa yang
menciptakan pencipta ?’, yang ditemukan oleh kebanyakan orang berpikir dengan sendirinya. Suatu
pencipta perancang tidak dapat digunakan untuk menjelaskan kerumitan tertata karena pencipta apa
pun yang mampu merancang apa pun harus cukup rumit untuk menuntut jenis penjelasan yang
sama pada gilirannya. pencipta menunjukkan suatu regresi tak terbatas yang darinya dia tidak
mampu membantu kita keluar. Argumen ini, sebagaimana saya akan tunjukkan di bab
berikutnya, mendemonstrasikan bahwa pencipta , meskipun tidak dapat disangkal secara teknis,
tetap sangat sangat tidak mungkin.
BAB 4
KENAPA HAMPIR PASTI TIDAK ADA pencipta
Imam-imam dari sekte-sekte religius yang berbeda...membenci kemajuan ilmu pengetahuan
seperti penyihir membenci pendekatan fajar, dan memandang dengan muram pertanda berat itu
yang menyatakan bahwa penipuan yang menjadi mata pencarian mereka akan segera diperkecil.
– THOMAS JEFFERSON
BOEING 747 MUSTAHIL
Argumen dari ketidakmungkinan yaitu argumen utama. Dalam bentuk tradisionalnya,
yakni, argumen dari rancangan, ini yaitu argumen paling populer yang ditawarkan saat ini
untuk membela eksistensi pencipta dan dipandang, oleh sejumlah teis yang amat sangat besar,
sebagai meyakinkan secara menyeluruh dan mutlak. Argumen tersebut memang sangat kuat dan,
saya menduga, tidak dapat dibalas – tetapi persis berlawanan dengan maksud teis. Argumen dari
ketidakmungkinan, digunakan dengan layak, hampir membuktikan bahwa pencipta tidak ada.
Nama saya untuk demonstrasi statistik bahwa pencipta hampir pasti tidak ada yaitu taruhan
Boeing 747 Mustahil.
Nama itu berasal dari gambar lucu Fred Hoyle atas sebuah Boeing 747 dan suatu tempat
barang rongsokan. Saya kurang pasti apakah Hoyle pernah menulisnya sendiri, tetapi itu
diatribusikan kepadanya oleh kolega dekatnya Chandra Wickramasinghe dan dapat dianggap
autentik.58 Hoyle berkata bahwa kemungkinan kehidupan muncul di Bumi tidak lebih besar
daripada kemungkinan bahwa sebuah topan, yang menimpa tempat barang rongsokan akan
cukup beruntung untuk merakit sebuah Boeing 747. Orang lain telah meminjam metafora itu
untuk merujuk evolusi lebih akhir atas tubuh hidup rumit, di mana konsepnya tampak masuk
akal, meskipun anggapan itu keliru. Kemungkinan untuk merakit seekor kuda, kumbang, atau
burung unta yang berfungsi lengkap dengan mengocok bagiannya secara acak sekitar sama
kecilnya dengan contoh 747 di atas. Ini, secara ringkas, yaitu argumen kesukaan kreasionis –
suatu argumen yang dapat dilontarkan hanya oleh seseorang yang tidak memahami apa pun
mengenai seleksi alam: seseorang yang berpikir bahwa seleksi alam yaitu suatu teori mengenai
hasil acak, sedangkan – dalam arti acak yang relevan – justru sebaliknya.
Penyalahgunaan kreasionis atas argumen dari ketidakmungkinan selalu memakai bentuk
umum yang sama, dan tidak ada bedanya jika kreasionis itu memilih untuk menyamar dalam
pakaian mewah politik yang dapat diterima saat ini, yakni, ‘rancangan cerdas’ (intelligent design,
ID).* Suatu fenomena yang diamati – sering seekor makhluk hidup atau salah satu organnya
yang cukup rumit, tetapi bisa apa saja dari suatu molekul hingga alam semesta sendiri – dipuji,
dengan benar, sebagai sangat tidak mungkin secara statistik. Terkadang bahasa teori informasi
digunakan: orang Darwinian ditantang untuk menjelaskan sumber semua informasi dalam materi
hidup, dalam arti teknis isi informasi sebagai ukuran ketidakmungkinan atau ‘nilai kejutan’. Atau
argumen itu mungkin akan menggunakan semboyan klise ekonom: tidak ada makan siang gratis
– dan Darwinisme dituduh berusaha mendapatkan sesuatu dengan percuma. Sebenarnya,
sebagaimana saya akan demonstrasikan di bab ini, seleksi alam Darwinian yaitu satu-satunya
* Rancangan cerdas pernah dideskripsikan dengan kurang ramah sebagai kreasionisme yang sedang memakai
tuksedo murah.
solusi yang diketahui untuk teka-teki yang selain dari itu tidak dapat dijawab: yakni, dari mana
informasi itu berasal. Ternyata Hipotesis pencipta lah yang berusaha mendapat sesuatu dengan
percuma. pencipta mencoba mendapat makan siang gratis dan menjadinya juga. Seberapa pun tidak
mungkin secara statistik entitas yang ingin dijelaskan melalui suatu perancang, perancang itu
sendiri harus setidaknya sama tidak mungkinnya. pencipta yaitu Boeing 747 Mustahil.
Argumen dari ketidakmungkinan menyatakan bahwa hal-hal yang rumit tidak mungkin
terjadi secara acak. Tetapi banyak orang mendefinisikan ‘terjadi secara acak’ sebagai sinonim
untuk ‘terjadi tanpa rancangan yang sengaja’. Karena itu, tidak mengherankan bahwa mereka
menganggap ketidakmungkinan sebagai bukti untuk rancangan. Seleksi alam Darwinian
menunjukkan betapa salah anggapan itu mengenai ketidakmungkinan biologis. Dan meskipun
Darwinisme mungkin tidak langsung relevan dengan dunia yang tidak hidup – misalnya,
kosmologi – Darwinisme tetap membangkitkan kesadaran kita di bidang-bidang di luar wilayah
aslinya, biologi.
Suatu pemahaman mendalam atas Darwinisme mengajarkan kita untuk waswas terhadap
asumsi enteng bahwa rancangan yaitu satu-satunya alternatif selain dari keacakan, dan
mengajarkan kita untuk mencari serentetan lereng bertahap yang kerumitannya meningkat
berangsur-angsur. Sebelum Darwin, filsuf seperti Hume memahami bahwa ketidakmungkinan
kecil kehidupan tidak berarti kehidupan harus dirancang, tetapi mereka tidak dapat
membayangkan alternatifnya. Setelah Darwin, kita semua harus merasa, di dalam tulang kita,
curiga terhadap ide rancangan belaka. Ilusi rancangan yaitu jebakan yang pernah menangkap
kita sebelumnya, dan Darwin seharusnya membuat kita kebal dengan membangkitkan kesadaran
kita. Akan lebih baik seandainya dia berhasil dengan kita semua.
SELEKSI ALAM SEBAGAI PEMBANGKIT KESADARAN
Dalam sebuah pesawat luar angkasa fiksi-ilmiah, para astronaut merindukan kampung
halamannya: ‘Bayangkan, sudah musim semi di Bumi sana!’ Mungkin Anda tidak akan langsung
menangkap apa yang keliru soal ini, karena sauvinisme belahan utara secara tidak sadar begitu
tertanam dalam diri kita yang hidup di sana, dan bahkan beberapa yang tidak. ‘Tidak sadar’
persis tepat. Inilah tempat kebangkitan kesadaran masuk. Ada alasan lebih mendalam daripada
lelucon bahwa, di Australia dan Selandia Baru, Anda bisa membeli peta dunia dengan Kutub
Selatan di atas. Peta-peta itu akan menjadi pembangkit kesadaran yang luar biasa jika
dilengketkan ke dinding ruang belajar belahan utara kita. Setiap hari, anak-anak akan diperingati
bahwa ‘utara’ yaitu suatu pengutuban arbitrer yang belum tentu sama dengan ‘atas’. Peta itu
akan menarik perhatian mereka dan juga membangkitkan kesadarannya. Mereka akan pulang dan
memberi tahu orang tua mereka – dan, sebagai tambahan, memberi anak sesuatu yang dengannya
mereka bisa mengejutkan orang tuanya yaitu salah satu hal terbaik yang dapat diberikan oleh
seorang guru.
Para feminis-lah yang membangkitkan kesadaran saya mengenai kekuatan kebangkitan
kesadaran. Herstory (istilah pengganti feminis untuk istilah history dalam bahasa Inggris) tentu
saja konyol, hanya karena ‘his’ dalam history tidak memiliki kaitan etimologis dengan kata ganti
maskulin. Itu sama konyolnya secara etimologis dengan pemberhentian, pada 1999, seorang
pejabat di Washington karena ada yang tersinggung saat dia memakai istilah niggardly (yang
berarti ‘pelit’ dan tidak merujuk ras sama sekali). Tetapi bahkan contoh-contoh bodoh seperti
niggardly dan herstory berhasil dalam membangkitkan kesadaran. Ketika kita sudah tenang
kembali secara filologis dan selesai tertawa, herstory memperlihatkan history kepada kita dari
sudut pandang yang berbeda. Kata ganti berkelamin secara terkenal menjadi garda depan dalam
kebangkitan kesadaran seperti itu. He or she must ask himself or herself whether his or her sense
of style could ever allow himself or herself to write like this. Tetapi jika kita mampu menerima
ketidaknyamanan bahasa seperti itu yang terkesan terlalu kaku, hal itu membangkitkan kesadaran
kita mengenai kepekaan separuh umat manusia. Man, mankind, the Rights of Man, all men are
created equal, one man one vote – bahasa Inggris sepertinya terlalu sering mengecualikan
perempuan.* Waktu saya kecil, saya tidak pernah kepikiran bahwa perempuan akan merasa
terhina oleh suatu frasa seperti ‘the future of man’. Selama beberapa dekade setelah itu,
kesadaran kita semua dibangkitkan. Bahkan mereka yang tetap menggunakan ‘man’ dan bukan
‘human’ melakukannya dengan nada permintaan maaf yang sadar – atau dengan menantang,
memperjuangkan bahasa tradisional, atau bahkan untuk sengaja mengganggu para feminis.
Kesadaran semua peserta dalam Zeitgeist telah dibangkitkan, bahkan mereka yang memilih
untuk menanggapinya secara negatif dengan ngotot dan mengulangi pelanggarannya.
Feminisme memperlihatkan kepada kita kekuatan kebangkitan kesadaran, dan saya ingin
meminjam teknik itu untuk seleksi alam. Seleksi alam tidak hanya menjelaskan keseluruhan
kehidupan; seleksi alam juga membangkitkan kesadaran kita mengenai kekuatan ilmu
pengetahuan untuk menjelaskan bagaimana kerumitan yang tertata dapat berasal dari permulaan
sederhana tanpa bimbingan sengaja sama sekali. Suatu pemahaman penuh atas seleksi alam
mendorong kita untuk maju dengan berani ke dalam bidang-bidang yang lain. Pemahaman
tersebut memicu kecurigaan kita, di bidang-bidang lain itu, mengenai jenis alternatif palsu itu
yang dahulu, di zaman pra-Darwinian, menghantui biologi. Siapa, sebelum Darwin, dapat
menebak bahwa suatu yang begitu tampak dirancang seperti sayap capung atau mata rajawali
sebenarnya merupakan hasil akhir dari serangkaian panjang penyebab yang tidak acak tetapi
murni alami?
Cerita Douglas Adams yang mengharukan dan lucu tentang konversi pribadinya ke
ateisme radikal – dia bersikeras akan istilah ‘radikal’ agar tidak ada yang salah mengira dia
agnostik – yaitu kesaksian bagi kekuatan Darwinisme sebagai suatu pembangkit kesadaran.
Saya berharap saya akan dimaafkan untuk pujian-diri yang akan tampak dalam kutipan berikut.
Alasan saya yaitu konversi Douglas oleh buku-buku saya yang lebih awal – yang tidak
bermaksud untuk mengonversikan siapa pun – menginspirasikan saya untuk mendedikasikan
kepada kenangannya buku ini – yang memang bermaksud untuk itu! Dalam suatu wawancara,
dicetak ulang setelah wafatnya dalam The Salmon of Doubt, dia ditanyai oleh seorang wartawan
bagaimana dia menjadi seorang ateis. Dia mulai balasannya dengan menjelaskan bagaimana dia
menjadi seorang agnostik, lalu berlanjut:
Dan saya berpikir dan berpikir dan berpikir. Tetapi saya tidak memiliki bukti
yang memadai, jadi saya tidak mencapai penyelesaian apa pun. Saya sangat
ragu mengenai ide pencipta , tetapi saya tidak cukup tahu mengenai apa pun untuk
memiliki suatu model yang baik dan berfungsi atas penjelasan apa pun yang lain
untuk kehidupan, alam semesta dan segala-galanya sebagai pengganti. Tetapi
saya terus berusaha, dan saya terus membaca dan saya terus berpikir. Suatu saat
di sekitar umur 30-an awal saya kebetulan menemukan biologi evolusioner,
* Bahasa Latin dan Yunani klasik memiliki perlengkapan yang lebih unggul. Homo dalam bahasa Latin (anthropo-
dalam bahasa Yunani) berarti manusia, berbeda dengan vir (andro-) yang berarti lelaki, dan femina (gyne-) yang
berarti perempuan. Karena itu antropologi bersangkutan dengan seluruh umat manusia, sedangkan andrologi dan
ginekologi merupakan cabang ilmu kedokteran yang ekslusif secara kelamin.
khususnya dalam bentuk buku-buku Richard Dawkins The Selfish Gene,
kemudian The Blind Watchmaker, dan tiba-tiba (sambil, saya kira, pembacaan
kedua The Selfish Gene) semuanya menjadi jelas. Konsep itu sederhana, tetapi
menimbulkan, secara alami, segala kerumitan kehidupan yang tidak terbatas dan
membingungkan. Rasa takjub yang dipicu olehnya dalam diri saya membuat
rasa takjub yang dibahas oleh orang lain mengenai pengalaman religius
terkesan, terus terang, konyol jika dibandingkan dengannya. Saya akan memilih
rasa takjub pemahaman daripada rasa takjub ketidaktahuan kapan pun.59
Konsep yang sederhana secara memukau yang dia sebut, tentu saja, tidak ada kaitan
dengan saya. Dia memaksudkan teori evolusi melalui seleksi alam Darwin – pembangkit
kesadaran ilmiah tertinggi. Douglas, aku merindukanmu. Kau yaitu mualafku yang paling
pintar, lucu, berpikiran terbuka, jenaka, tinggi, dan mungkin juga satu-satunya. Aku berharap
buku ini mungkin akan membuatmu tertawa – tetapi tidak sebanyak yang kau membuatku
tertawa.
Filsuf yang cekatan dalam ilmu pengetahuan itu, Daniel Dennett, menunjukkan bahwa
evolusi membantah salah satu ide kita yang tertua: ‘ide bahwa harus ada suatu yang besar,
mewah, dan pintar untuk membuat suatu yang kurang darinya. Saya menyebut itu teori
penciptaan menetes ke bawah. Anda tidak akan melihat sebuah tombak membuat seorang
pembuat tombak. Anda tidak pernah akan melihat sebuah ladam membuat seorang pandai besi.
Anda tidak akan pernah melihat sebuah gerabah membuat seorang perajin tembikar.’60
Penemuan Darwin akan suatu proses yang masuk akal yang membuat justru hal itu yang sangat
berlawanan dengan intuisi kita yaitu apa yang membuat kontribusinya kepada pemikiran
manusia begitu revolusioner, begitu sarat dengan kekuatan untuk membangkitkan kesadaran.
Mengejutkan betapa kebangkitan kesadaran seperti itu diperlukan, bahkan dalam pikiran
para ilmuwan luar biasa di bidang selain dari biologi. Fred Hoyle yaitu seorang fisikawan dan
kosmolog cemerlang, tetapi kesalahpahaman Boeing 747-nya, dan kesalahan-kesalahan lain
dalam biologi seperti usahanya untuk mengingkari fosil Archaeopteryx sebagai hoaks,
menunjukkan bahwa dia membutuhkan kesadarannya dibangkitkan oleh eksposur yang baik
terhadap dunia seleksi alam. Pada tataran intelektual, saya mengira dia memahami seleksi alam.
Tetapi barangkali seseorang harus dicelupkan dalam seleksi alam, direndam di dalamnya,
berenang mondar-mandir di dalamnya, sebelum dia bisa benar-benar mengenali kekuatannya.
Ilmu-ilmu lain membangkitkan kesadaran kita dengan cara-cara yang berbeda. Ilmu Fred
Hoyle sendiri, astronomi, menaruh kita pada tempat kita, baik secara metaforis maupun harfiah,
dengan memperkecil kesombongan kita hingga muat di panggung cilik di mana kita
menghabiskan kehidupan kita – butiran debu kita dari ledakan kosmik. Geologi mengingatkan
kita mengenai eksistensi singkat kita, baik sebagai individu maupun sebagai spesies. Geologi
meningkatkan kesadaran John Ruskin dan memicu teriakan hatinya yang terkenal pada 1851:
‘Seandainya para Geolog itu membiarkan saya sendiri, saya bisa baik-baik saja, tetapi palu-palu
dahsyat itu! Saya mendengar dentingannya pada akhir setiap ayat Alkitab.’ Evolusi melakukan
hal yang sama untuk rasa kita akan waktu – tidak mengejutkan, karena evolusi bekerja pada
skala waktu geologis. Tetapi evolusi Darwinian, khususnya seleksi alam, melakukan suatu yang
lebih dari itu. Seleksi alam memecahkan ilusi rancangan di wilayah biologi, dan mengajarkan
kita untuk curiga terhadap jenis hipotesis rancangan apa pun dalam fisika dan juga kosmologi.
Saya mengira fisikawan Leonard Susskind sedang memikirkan hal ini ketika dia menulis, ‘Saya
bukan seorang sejarawan, tetapi saya berani mengajukan pendapat ini: Kosmologi modern
sebenarnya mulai dengan Darwin dan Wallace. Berbeda dengan siapa pun sebelumnya, mereka
memberi penjelasan-penjelasan mengenai eksistensi kita yang menolak pelaku-pelaku
supernatural secara mutlak ... Darwin dan Wallace menetapkan suatu tolok ukur tidak hanya
untuk ilmu-ilmu kehidupan tetapi juga untuk kosmologi.’61 Ilmuwan-ilmuwan fisik lain yang
sangat tidak membutuhkan kebangkitan kesadaran seperti itu yaitu Victor Stenger, yang
bukunya Has Science found God? (Jawabannya tidak) saya sangat rekomendasikan, * dan Peter
Atkins, yang Creation Revisited-nya merupakan karya puisi prosa ilmiah kesukaan saya.
Saya terus dibuat heran oleh para teis yang kesadarannya, jauh dari dibangkitkan secara
yang saya usulkan, sepertinya bersukaria untuk seleksi alam sebagai ‘cara pencipta untuk mencapai
ciptaannya’. Mereka menyadari bahwa evolusi melalui seleksi alam akan merupakan suatu cara
yang sangat mudah dan rapih untuk mencapai suatu dunia yang penuh dengan kehidupan. pencipta
tidak perlu berbuat apa-apa! Peter Atkins, dalam buku yang baru saya sebut, mengembangkan
garis pemikiran ini hingga kesimpulannya yang secara masuk akal tidak berpencipta ketika dia
melontarkan suatu pencipta yang malas secara hipotetis, yang berusaha bekerja seminimum
mungkin untuk menghasilkan suatu alam semesta yang mengandung kehidupan. pencipta malas
Atkins bahkan lebih malas daripada pencipta deis dari Pencerahan abad ke-18: deus otiosus –
secara harfiah pencipta sedang beristirahat, tidak ada kesibukan, tidak ada pekerjaan, mubazir,
tidak berguna. Langkah demi langkah, Atkins berhasil mengurangi jumlah pekerjaan yang harus
dilakukan pencipta yang malas sehingga akhirnya dia tidak berbuat apa-apa: dia bisa saja tidak ada.
Ingatan saya dengan jelas mendengar ratapan Woody Allen yang tajam: ‘Jika ternyata ada
pencipta , menurutku dia tidak jahat. Tetapi yang terburuk yang dapat dikatakan tentangnya yaitu
dia seorang pemalas yang tidak mencapai potensinya.’
KERUMITAN YANG TAK TEREDUKSI
Kebesaran masalah yang diselesaikan oleh Darwin dan Wallace tidak dapat dilebih-
lebihkan. Saya bisa menyebut anatomi, struktur seluler, biokimia dan perilaku organisme apa
pun yang hidup sebagai contoh. Tetapi prestasi rancangan semu yang paling mengesankan
yaitu yang sudah dipilih – untuk alasan yang jelas – oleh para penulis kreasionis, dan dengan
ironi lembut saya mengambil prestasi yang akan saya bahas dari sebuah buku kreasionis. Life –
How Did It Get Here?, yang nama penulisnya tidak disebut, tetapi diterbitkan oleh Watchtower
Bible and Tract Society dalam 16 bahasa dan 11 juta eksemplar, tentu saja menjadi pilihan
karena sebanyak enam dari 11 juta eksemplar itu pernah dikirim kepada saya sebagai kado tidak
diminta oleh orang berniat baik dari belahan dunia.
Memilih satu halaman secara acak dari karya anonim dan tersebar dengan murah hati ini,
kita menemukan bunga karang yang disebut Venus’ Flower Basket dalam bahasa Inggris
(Euplectella), didampingi satu kutipan dari Sir David Attenborough: ‘Ketika Anda melihat
kerangka bunga karang rumit seperti yang terbuat dari duri-duri silika yang dikenal sebagai
Keranjang Bunga Venus, imajinasi dibuat kebingungan. Bagaimana bisa sel-sel mikroskopik
yang hanya separuh-mandiri bekerja sama mengeluarkan sejuta duri kaca dan membangun kisi
yang begitu halus dan indah? Kita tidak tahu.’ Para penulis Watchtower langsung masuk dengan
penjelasan mereka sendiri: ‘Tetapi satu hal yang kita ketahui: Keacakan bukan perancang yang
begitu mungkin.’ Memang begitu, keacakan bukan perancang yang begitu mungkin. Itu yaitu
satu hal yang tentangnya kita semua bisa sepakat. Ketidakmungkinan statistik fenomena seperti
* Lihat juga buku 2007-nya, God: the Failed Hypothesis: How Science Shows that God Does Not Exist.
kerangka Euplectella yaitu masalah inti yang harus diselesaikan oleh teori kehidupan apa pun.
Semakin besar ketidakmungkinan statistik, semakin kecil masuk akalnya bahwa keacakan yaitu
solusinya: itulah artinya tidak mungkin. Tetapi calon-calon solusi untuk teka-teki
ketidakmungkinan bukan, sebagaimana tersirat secara keliru, rancangan dan keacakan. Kedua
calon tersebut yaitu rancangan dan seleksi alam. Keacakan bukan suatu solusi karena tingkat
tinggi ketidakmungkinan yang kita lihat di organisme hidup, dan tak seorang pun biolog waras
pernah mengemukakan penjelasan itu. Rancangan bukan juga solusi yang benar, sebagaimana
akan kita lihat nanti: tetapi untuk saat ini saya ingin terus mendemonstrasikan masalah yang
harus diselesaikan oleh teori kehidupan apa pun: masalah bagaimana luput dari keacakan.
Dengan maju satu halaman dalam Watchtower, kita menemukan tanaman luar biasa yang
dikenal sebagai Pipa Belanda (Aristolochia trilobata), yang semua bagiannya sepertinya
dirancang dengan anggun untuk menangkap serangga, melumurinya dengan serbuk sari, dan
mengirimkannya ke Pipa Belanda yang lain. Keanggunan halus bunga itu mengharukan
Watchtower hingga bertanya: ‘Apakah semua ini terjadi secara acak? Atau apakah ini terjadi
karena rancangan cerdas?’ Sekali lagi, tidak, tentu saja itu tidak terjadi secara acak. Sekali lagi,
rancangan cerdas bukan alternatif yang layak dari keacakan. Seleksi alam bukan hanya suatu
solusi yang pelit, masuk akal, dan anggun; itu yaitu satu-satunya alternatif dari keacakan yang
berhasil yang pernah diusulkan. Rancangan cerdas dapat dibantah secara persis sama dengan
keacakan. Sederhananya, itu bukan suatu solusi yang masuk akal untuk teka-teki
ketidakmungkinan statistik. Dan semakin tinggi ketidakmungkinan, semakin rancangan cerdas
tidak masuk akal. Dilihat dengan jernih, rancangan cerdas ternyata menggandakan masalahnya.
Sekali lagi, ini karena perancang sendiri langsung menimbulkan masalah lebih besar mengenai
asal-usulnya sendiri. Entitas apa pun yang mampu merancang secara cerdas suatu yang begitu
tidak mungkin seperti Pipa Belanda (atau alam semesta) harus lebih tidak mungkin lagi daripada
Pipa Belanda. Jauh dari mengakhiri regresi setan ini, pencipta membuatnya lebih mendalam lagi.
Maju satu halaman lagi dalam Watchtower untuk suatu deksripsi atas Sequoiadendron
giganteum, sejenis pohon yang saya sukai secara khusus karena ada satu di halaman rumah saya
– masih bayi, umurnya hanya satu abad lebih sedikit, tetapi masih pohon tertinggi di perumahan
itu. ‘Seorang lelaki cilik, berdiri di kaki sequoia, hanya bisa memandang ke atas, tersentak
hening karena keagungannya yang megah. Apakah masuk akal untuk percaya bahwa
pembentukan raksasa agung ini, dan bibit kecil yang membungkusnya, tidak dirancang?’ Sekali
lagi, jika Anda berpikir bahwa satu-satunya alternatif dari rancangan yaitu keacakan, tidak, itu
tidak masuk akal. Tetapi sekali lagi para penulis gagal untuk menyebut alternatif yang
sebenarnya, seleksi alam, mungkin karena mereka dengan tulus tidak memahaminya atau karena
mereka tidak ingin memahaminya.
Proses yang melaluinya tumbuhan, baik bunga pimpernel yang kecil maupun pohon
wellingtonia yang massif, mendapat energi untuk membangun dirinya sendiri yaitu fotosintesis.
Watchtower lagi: “’Ada sekitar 70 reaksi kimia yang berbeda terlibat dalam fotosintesis,” kata
seorang biolog. “Itu yaitu peristiwa yang sungguh ajaib. Tumbuhan hijau pernah disebut
“pabriknya” alam – indah, sepi, tidak menyebar polusi, menghasilkan oksigen, mendaur ulang air
dan memberi makan kepada dunia. Apakah mereka hanya terjadi secara acak? Apakah itu
sungguh dapat dipercayai?’ Tidak, itu tidak dapat dipercayai; tetapi pengulangan contoh terus-
menerus tidak membantu sama sekali. ‘Logika’ kreasionis selalu sama. Suatu fenomena alam
terlalu tidak mungkin secara statistik, terlalu rumit, terlalu indah, terlalu mengagumkan sehingga
tidak mungkin terjadi secara acak. Rancangan yaitu satu-satunya alternatif dari keacakan yang
para penulis dapat bayangkan. Jadi suatu perancang pasti melakukannya. Dan jawaban ilmu
pengetahuan terhadap logika keliru ini selalu sama. Rancangan bukan satu-satunya alternatif dari
keacakan. Seleksi alam yaitu alternatif yang lebih baik. Memang, rancangan sebenarnya bukan
suatu alternatif karena memicu masalah yang lebih besar daripada yang diselesaikannya: siapa
yang merancang si perancang? Keacakan dan rancangan gagal sebagai solusi untuk masalah
ketidakmungkinan statistik, karena salah satunya yaitu masalahnya, dan yang lain merosot
kepada masalah itu. Seleksi alam yaitu suatu solusi yang nyata. Seleksi alam yaitu satu-
satunya solusi yang berhasil yang pernah dikemukakan. Dan seleksi alam bukan hanya suatu
solusi yang berhasil saja, melainkan suatu solusi yang keanggunan dan kekuatannya memukau.
Apa yang membuat seleksi alam berhasil sebagai suatu solusi untuk masalah
ketidakmungkinan, sementara baik keacakan maupun rancangan gagal di titik mula? Jawabannya
yaitu , seleksi alam merupakan suatu proses kumulatif, yang membongkar masalah
ketidakmungkinan menjadi potongan-potongan kecil. Masing-masing potongan kecil itu sedikit
tidak mungkin, tetapi tetap masuk akal. Ketika jumlah besar peristiwa yang sedikit tidak
mungkin ini dihimpun dalam suatu rangkaian, hasil akhir akumulasi memang sangat sangat tidak
mungkin, cukup tidak mungkin untuk jauh melampaui jangkauan keacakan. Hasil-hasil akhir
inilah yang merupakan subjek dari argumen kreasionis yang didaur ulang hingga membosankan.
Orang kreasionis melewatkan poin itu, karena dia bersikeras menganggap kejadian
ketidakmungkinan statistik sebagai suatu peristiwa tunggal. Dia tidak memahami kekuatan
akumulasi.
Dalam Climbing Mount Improbable, saya mengucapkan poin itu dalam perumpamaan.
Pada satu sisi gunung itu ada tebing yang terjal, mustahil untuk dinaiki, tetapi di sisi lain ada
pendakian yang melandai hingga puncak. Di puncak ada sebuah perangkat rumit seperti mata
atau motor flagelum bakteria. Gagasan absurd bahwa kerumitan seperti itu dapat merakit dirinya
sendiri secara spontan diumpamakan dengan melompat dari kaki tebing hingga ke puncak dalam
satu lompatan. Evolusi, sebaliknya, masuk lewat belakang gunung dan mendaki pelan-pelan
melalui landaian hingga puncak: gampang! Prinsip mendaki landaian daripada melompat ke atas
tebing itu begitu sederhana, kita tergoda untuk bertanya kenapa waktu yang begitu lama
dibutuhkan sebelum seorang Darwin bisa datang dan menemukannya.. Ketika Darwin sudah
menemukan seleksi alam, hampir dua abad telah berlalu sejak annus mirabilis Newton,
meskipun prestasi Newton terkesan, pada permukaan, lebih sulit daripada prestasi Darwin.
Salah satu metafora kesukaan yang lain untuk ketidakmungkinan ekstrem yaitu gembok
kombinasi di ruang besi bank. Secara teori, seorang perampok bank bisa beruntung dan
menemukan kombinasi angka benar secara acak. Secara praktis, gembok kombinasi bank
dirancang dengan cukup ketidakmungkinan sehingga hal itu hampir mustahil – hampir sama
tidak mungkinnya dengan Boeing 747-nya Fred Hoyle. Tetapi bayangkan sebuah gembok
kombinasi yang dirancang secara buruk dan memberi petunjuk kecil secara progresif. Andaikan
bahwa ketika masing-masing lempengpemutar gemboknya mendekati setelan yang betul, pintu
ruang besi membuka sedikit, dan sedikit uang mengalir ke luar. Si perampok akan menemukan
kombinasi yang benar dalam waktu dekat.
Para kreasionis yang berusaha menggunakan argumen dari ketidakmungkinan sebagai
dukungan selalu berasumsi bahwa adaptasi biologis yaitu persoalan memenangkan semuanya
atau tidak dapat apa-apa. Salah satu nama lain untuk kekeliruan ‘memenangkan semuanya atau
tidak dapat apa-apa’ yaitu ‘kerumitan tak tereduksi’ (irreducible complexity, IC). Mata melihat
atau tidak. Sayap terbang atau tidak. Tidak ada tahap menengah berguna yang diasumsikan.
Tetapi anggapan itu keliru. Secara praktis, ada banyak sekali tahap menengah seperti itu – dan
justru itu yang seharusnya kita harapkan secara teori. Gembok kombinasi kehidupan yaitu suatu
perangkat yang memberi petunjuk. Kehidupan nyata mencari landaian di belakang Gunung
Ketidakmungkinan, sedangkan para kreasionis buta terhadap semua cara selain dari tebing ngeri
di depan.
Darwin menulis satu bab dalam Asal-usul Spesies tentang ‘Kesulitan mengenai teori
keturunan tanpa modifikasi’, dan sewajarnya dapat dikatakan bahwa bab singkat itu
mengantisipasikan dan menyelesaikan semua yang dianggap kesulitan yang pernah dikemukakan
sejak itu, hingga saat ini. Kesulitan-kesulitan yang paling hebat yaitu ‘organ kesempurnaan dan
kerumitan ekstrem’ Darwin, terkadang dideskripsikan secara keliru sebagai ‘rumit secara tak
tereduksi’. Darwin memilih mata sebagai organ yang melontarkan masalah yang menantang
secara khusus: ‘Mengandaikan bahwa mata dengan semua kerumitannya yang tidak dapat ditiru
untuk mengatur fokus untuk jarak-jarak yang berbeda, untuk membiarkan masuk jumlah-jumlah
cahaya yang berbeda, dan untuk mengoreksi penyimpangan dalam bentuk bola atau secara
kromatis, dapat dibentuk melalui seleksi alam, terkesan, saya mengaku dengan bebas, seabsurd-
absurdnya.’ Para kreasionis dengan riang mengutip kalimat ini berulang kali. Tidak perlu
dikatakan bahwa mereka tidak pernah mengutip bagian berikutnya. Pengakuan Darwin yang
bebas dan memuji lawannya ternyata yaitu sarana retoris. Dia membawa lawannya dekat agar
tinjunya, ketika datang, memukul dengan lebih keras. Tinju itu, tentu saja, yaitu penjelasan
fasih Darwin mengenai persis bagaimana mata berevolusi melalui tahap-tahap yang berangsur.
Darwin mungkin tidak menggunakan frasa ‘kerumitan tak tereduksi’, atau ‘gradien halus ke atas
Gunung Ketidakmungkinan’, tetapi dia jelas memahami kedua prinsip itu.
‘Apa gunanya separuh mata?’ dan ‘Apa gunanya separuh sayap?’ yaitu contoh atas
argumen dari ‘kerumitan tak tereduksi’. Suatu satuan yang berfungsi dianggap rumit secara tak
tereduksi jika pelepasan salah satu bagiannya membuat keseluruhannya tidak berfungsi lagi. Hal
ini pernah diasumsikan sebagai nyata pada dirinya sendiri untuk mata dan sayap. Tetapi sesegera
kita memikirkan asumsi-asumsi ini selama satu detik saja, kita langsung melihat kekeliruannya.
Seorang pasien katarak yang lensa matanya telah diangkat dengan pembedahan tidak mampu
melihat dengan jelas tanpa kacamata, tetapi ia mampu melihat dengan cukup baik untuk tidak
menabrak pohon atau jatuh dari tebing. Separuh sayap memang tidak sebaik sayap lengkap,
tetapi itu tentu saja lebih baik daripada tidak ada sayap sama sekali. Separuh sayap dapat
menyelamatkan nyawa dengan meringankan kejapencipta dari pohon dengan ketinggian tertentu.
Dan 51 persen sayap dapat menyelamatkan jika jatuhnya dari pohon yang sedikit lebih tinggi.
Seberapa pun fraksi sayap yang dipunyai, ada kejapencipta yang darinya sayap akan
menyelamatkan nyawa dalam keadaan sebuah sayap yang sedikit lebih kecil akan gagal.
Eksperimen pemikiran tentang pohon-pohon yang beda tingginya, dari mana kita bisa jatuh,
hanyalah satu cara melihat, secara teori, bahwa harus ada suatu gradien manfaat halus dari 1
persen saya hingga 100 persen. Hutan-hutan penuh dengan hewan yang meluncur atau berparasut
yang menunjukkan, secara praktis, setiap langkah hingga ke puncak Gunung Ketidakmungkinan
itu.
Melalui analogi dengan pohon-pohon yang beda tingginya, menjadi mudah untuk
membayangkan peristiwa di mana separuh mata akan menyelamatkan nyawa seekor hewan,
sedangkan 49 persen mata tidak. Gradien-gradien halus disediakan oleh variasi dalam kondisi
pencahayaan, variasi dalam jarak yang darinya mangsa – atau pemangsa – pertama kali terlihat.
Dan, sama seperti sayap dan permukaan terbang, tahap menengah yang masuk akal tidak hanya
mudah dibayangkan: tahap itu terdapat di mana pun di kerajaan animalia. Seekor cacing pipih
memiliki mata yang, menurut tolok ukur apa pun yang masuk akal, kurang dari separuh mata
manusia. Nautilus (dan barangkali saudaranya, Ammonoidea yang punah yang mendominasi
lautan di era Paleozoikum dan Mesozoikum) memiliki mata yang kualitasnya berada di tengah,
antara cacing pipih dengan manusia. Berbeda dengan mata cacing pipih, yang dapat mendeteksi
cahaya dan bayangan tetapi tidak melihat gambar, mata ‘kamera lubang jarum’ Nautilus
menghasilkan gambar sejati; tetapi gambar itu kabur dan redup dibandingkan dengan gambar
kita. Menetapkan bilangan untuk pembaikan itu merupakan suatu ketepatan palsu, tetapi tak
seorang pun dapat membantah dengan waras bahwa semua mata invertebrata ini, dan banyak
sekali yang lain, lebih baik daripada jika tidak ada mata sama sekali, dan semua berada
sepanjang suatu landaian yang berkesinambungan menuju puncak Gunung Ketidakmungkinan,
dengan mata kita dekat dengan salah satu puncak – bukan puncak tertinggi, tetapi tetap tinggi.
Dalam Climbing Mount Improbable, saya membuat satu bab masing-masing untuk mata dan
sayap, dan mendemonstrasikan betapa mudah mereka berevolusi melalui derajat bertahap yang
berangsur (atau bahkan, mungkin, tidak begitu berangsur), dan saya tidak akan membahas subjek
itu lebih lanjut di sini.
Jadi, kita telah melihat bahwa mata dan sayap tentu saja tidak rumit secara tak tereduksi,
tetapi apa yang lebih menarik daripada contoh-contoh partikular ini yaitu pelajaran umum yang
kita tarik darinya. Fakta bahwa begitu banyak orang pernah seratus persen salah mengenai kasus-
kasus jelas ini seharusnya memperingatkan kita mengenai contoh-contoh lain yang tidak sejelas
itu, seperti kasus-kasus seluler dan biokimia yang kini dipamerkan oleh para kreasionis yang
berteduh di bawah eufemisme yang berguna secara politik, ‘teoretikus rancangan cerdas’.
Di sini ada suatu kisah peringatan, dan inilah apa yang disampaikan olehnya: jangan
hanya menyatakan bahwa sesuatu rumit secara tak tereduksi; besar kemungkinan Anda belum
perhatikan detailnya dengan cukup saksama, atau berpikir tentangnya dengan cukup saksama. Di
sisi lain, kita di kubu ilmu pengetahuan harus tidak terlalu percaya diri secara dogmatis.
Mungkin ada suatu di alam yang benar-benar membuat mustahil, karena kerumitannya yang
sungguh tak tereduksi, gradien halus menuju puncak Gunung Ketidakmungkinan. Para kreasionis
benar bahwa, jika kerumitan tak tereduksi yang sejati dapat didemonstrasikan secara layak, itu
akan menghancurkan teori Darwin. Darwin sendiri berkata demikian: ‘Jika dapat
didemonstrasikan bahwa ada organ rumit apa pun yang tidak mungkin terbentuk melalui banyak
modifikasi kecil yang berturut-turut, teori saya akan rusak secara mutlak. Tetapi saya tidak dapat
menemukan kasus seperti itu.’ Darwin tidak dapat menemukan kasus seperti itu, sama dengan
semua orang sejak zamannya Darwin, kendati usahanya yang keras dan bahkan nekat. Banyak
calon piala suci kreasionisme ini pernah dikemukakan. Tidak satu pun bertahan ketika dianalisis.
Lagi pula, meskipun kerumitan tak tereduksi sejati akan menghancurkan teori Darwin
seandainya ditemukan, bagaimana bisa kita tahu bahwa hal itu tidak akan menghancurkan teori
rancangan cerdas juga? Memang, hal itu sudah menghancurkan teori rancangan cerdas, karena,
seperti saya terus-menerus ulangi dan akan ulangi lagi, sebetapa sedikit yang kita ketahui
mengenai pencipta , satu-satunya hal yang tentangnya kita bisa pasti yaitu bahwa dia harus sangat
sangat rumit, dan dapat diandaikan rumit secara tak tereduksi!
PEMUJAAN CELAH
Mencari contoh partikular atas kerumitan tak tereduksi yaitu cara kemajuan yang secara
fundamental tidak ilmiah: suatu kasus istimewa berargumen dari ketidaktahuan masa kini.
Pencarian itu mengandalkan logika keliru yang sama seperti strategi ‘pencipta Celah-celah’ yang
diingkari oleh teolog Dietrich Bonhoeffer. Para kreasionis dengan semangat mencari suatu celah
dalam pengetahuan atau pemahaman kekinian. Jika suatu yang dianggap celah ditemukan, secara
otomatis diasumsikan bahwa pencipta lah yang harus mengisinya. Apa yang membuat teolog
bijaksana seperti Bonhoeffer khawatir yaitu celah-celah mengecil seiring kemajuan ilmu
pengetahuan, dan pencipta akhirnya terancam tidak memiliki aktivitas atau tempat persembunyian
lagi. Apa yang membuat ilmuwan-ilmuwan khawatir yaitu suatu yang lain. Mengakui
ketidaktahuan merupakan bagian esensial dari prakarsa ilmiah, bahkan merayakan ketidaktahuan
sebagai suatu tantangan terhadap penaklukan-penaklukan masa depan. Sebagaimana ditulis oleh
teman saya Matt Ridley, ‘Kebanyakan ilmuwan bosan dengan apa yang mereka sudah temukan.
Ketidaktahuan mendorong mereka maju.’ Para mistikus merayakan misteri dan
menginginkannya menjadi tetap misterius. Para ilmuwan merayakan misteri untuk alasan yang
lain: misteri memberi mereka pekerjaan. Secara lebih umum, sebagaimana saya akan ulangi di
Bab 8, salah satu efek kepercayaan yang sungguh buruk yaitu kepercayaan mengajarkan kita bahwa
menjadi puas dengan ketidakpahaman merupakan suatu keutamaan.
Pengakuan akan ketidaktahuan dan kebingungan sementara menghidupi ilmu
pengetahuan yang baik. Maka itu sangat disayangkan bahwa strategi utama para tukang
propaganda kreasionis yaitu strategi negatif yang mencari celah dalam pengetahuan ilmiah kita
dan mengklaim untuk mengisinya secara otomatis dengan ‘rancangan cerdas’. Yang berikut
bersifat hipotetis namun sangat lazim. Seorang kreasionis berbicara: ‘Sendi siku katak musang
berbintik kecil itu rumit secara tak tereduksi. Tidak ada bagiannya yang akan berguna kecuali
keseluruhannya sudah dirakit. Bertaruh, Anda tidak dapat memikirkan cara yang melaluinya siku
katak musang berevolusi secara bertahap berangsur-angsur. Jika ilmuwan tidak langsung
memberi suatu jawaban komprehensif, kreasionis menarik kesimpulan otomatis: ‘Baiklah, teori
alternatif, “rancangan cerdas”, menang secara otomatis.’ Perhatikan logikanya yang berat
sebelah: jika teori A gagal mengenai salah satu hal partikular, teori B pasti benar. Tidak perlu
dikatakan bahwa argumen itu tidak diterapkan secara terbalik. Kita didorong untuk langsung
melompat ke teori otomatis tanpa melihat pun apakah teori tersebut gagal dengan hal partikular
yang sama seperti teori yang dianggap digantikan olehnya. Rancangan cerdas – ID – diberi kartu
Bebas Penjara, suatu kekebalan magis terhadap tuntutan berat yang diterapkan kepada evolusi.
Tetapi poin saya sekarang yaitu muslihat kreasonis itu menggerogoti perayaan ilmuwan
yang alami – justru niscaya – akan ketidakpastian (sementara). Untuk alasan yang murni politis,
ilmuwan saat ini mungkin akan enggan mengatakan: ‘Hm, poin itu menarik. Saya jadi bertanya
bagaimana leluhur katak musang mengevolusikan sendi sikunya. Saya bukan spesialis katak
musang, saya harus ke Perpustakaan Universitas dan menelitinya. Mungkin ini proyek menarik
untuk mahasiswa pascasarjana.’ Pada saat seorang ilmuwan berkata demikian – dan jauh
sebelum mahasiswa itu memulai proyeknya – kesimpulan otomatis akan menjadi kepala berita
dalam pamflet kreasionis: ‘Katak musang hanya dapat dirancang oleh pencipta .’
Jadi ada suatu pertepatan yang disayangkan di antara kebupencipta metodologis ilmu
pengetahuan untuk mencari wilayah ketidaktahuan supaya mengarahkan penelitian, dan
kebupencipta ID untuk mencari wilayah ketidaktahuan supaya mengklaim kemenangan secara
otomatis. Persis fakta bahwa ID tidak memiliki bukti sendiri sama sekali, tetapi tumbuh seperti
rumput liar di celah-celah pengetahuan ilmiah, yang bertepatan secara tidak nyaman dengan
kebupencipta ilmu pengetahuan untuk mengidentifikasikan dan menyatakan celah-celah yang sama
sebagai pendahulu penelitian tentangnya. Dalam arti ini, ilmu pengetahuan ternyata bersekutu
dengan teolog-teolog terdidik seperti Bonhoeffer, bersatu melawan musuh bersama: teologi naif
populis dan teologi celah rancangan cerdas.
Hubungan cinta para kreasionis dengan ‘celah-celah’ dalam sejarah fosil menyimbolkan
seluruh teologi celah mereka. Saya pernah mengawali suatu bab dengan apa yang dinamakan
Letusan Kambrium dengan kalimat, ‘Seolah-olah fosil-fosil itu ditanam di sana tanpa sejarah
evolusioner apa pun.’ Sekali lagi, kalimat tersebut bersifat retoris, dimaksudkan untuk membuat
pembaca tertarik dengan penjelasan lengkap yang berikut. Kini saya dengan sedih menyadari
betapa dapat diprediksi bahwa penjelasan sabar saya akan dipotong dan bagian awal itu sendiri
akan dikutip dengan riang, tercerabut dari konteks. Para kreasonis mengagumi ‘celah’ dalam
catatan fosil, sama seperti mereka mengagumi celah pada umumnya.
Banyak transisi evolusioner dicatat dengan anggun oleh serentetan fosil menengah yang
berubah secara bertahap dan yang kurang lebih berkesinambungan. Beberapa tidak seperti itu,
dan ini yaitu ‘celah’ yang terkenal. Michael Shermer pernah menunjukkan dengan jenaka
bahwa jika suatu penemuan fosil baru dengan rapih membelah suatu ‘celah’, seorang kreasionis
akan menyatakan bahwa kini jumlah celah naik dua kali lipat! Tetapi bagaimanapun, perhatikan
sekali lagi penggunaan yang tidak layak atas argumen otomatis. Jika tidak ada fosil yang
mendokumentasikan suatu transisi evolusioner yang dilontarkan, asumsi otomatis yaitu tidak
ada transisi evolusioner, jadi pencipta pasti ikut campur.
Sangat tidak logis menuntut dokumentasi menyeluruh atas setiap langkah dalam narasi,
apakah dalam evolusi atau ilmu apa pun yang lain. Hal itu sama dengan menuntut, sebelum
menyatakan seseorang bersalah dalam kasus pembunuhan, suatu catatan sinematik lengkap atas
setiap langkah si pembunuh sebelum kejahatannya, tanpa kehilangan satu detik pun. Hanya
sebagian sangat kecil bangkai memfosil, dan kita beruntung memiliki sebanyak fosil menengah
yang kita miliki. Bisa saja kita tidak memiliki fosil sama sekali, dan bukti untuk evolusi dari
sumber-sumber lain, seperti genetika molekuler dan distribusi geografis, akan terlalu kuat. Di sisi
lain, evolusi membuat prediksi kuat bahwa jika satu fosil tunggal muncul di stratum geologis
yang salah, teorinya akan hancur. Ketika ditantang oleh seorang Popperian fanatik untuk
mengatakan bagaimana evolusi bisa difalsifikasi, J.B.S. Haldane dengan terkenal menggerutu:
‘Kelinci fosil dari Prakambrium.’ Fosil anakronis seperti itu tidak pernah sejatinya ditemukan,
kendati legenda kreasionis mengenai tengkorak manusia di strata yang tidak seharusnya dan
jejak kaki manusia dicampur dengan yang dinosaurus.
Celah, secara otomatis dalam pikiran kreasionis, diisi oleh pencipta . Hal yang sama berlaku
untuk semua yang dianggap tebing di Gunung Ketidakmungkinan, di mana landaian bertahap
tidak langsung jelas atau tidak dilihat karena alasan lain. Wilayah-wilayah di mana ada
kekurangan data, atau ketiadaan pemahaman, secara otomatis diasumsikan sebagai milik pencipta .
Kemunduran cepat ke suatu pernyataan dramatis, ‘kerumitan tak tereduksi’, merupakan
kegagalan imajinasi. Suatu organ biologis, jika bukan mata, motor flagelum bakteria atau jalur
biokimia, dinyatakan tanpa argumen lebih lanjut sebagai rumit secara tak tereduksi. Tidak ada
usaha untuk mendemonstrasikan kerumitan tak tereduksi. Tanpa mengindahkan kisah-kisah
peringatan tentang mata, sayap, dan banyak hal yang lain, setiap calon baru untuk julukan tidak
benar itu diasumsikan rumit secara tak tereduksi dan nyata pada dirinya sendiri, dan status itu
dinyatakan begitu saja. Tetapi pikirkan itu sejenak. Karena kerumitan tak tereduksi digunakan
sebagai argumen untuk rancangan, seharusnya itu tidak dinyatakan begitu saja, sama seperti
rancangan sendiri. Itu sama saja dengan menyatakan bahwa katak musang (kumbang pengebom,
dst.) mendemonstrasikan rancangan, tanpa argumen atau pembenaran lebih lanjut. Itu bukan
caranya melakukan ilmu pengetahuan.
Logikanya ternyata tidak lebih meyakinkan daripada ini: ‘Saya [masukkan nama sendiri]
secara pribadi tidak mampu membayangkan cara apa pun yang melaluinya [masukkan fenomena
biologis] dapat dibangun langkah demi langkah. Jadi fenomena itu rumit secara tak tereduksi.
Berarti fenomena itu dirancang.’ Rumuskanlah seperti itu, dan kita langsung melihat bahwa
argumennya rentan terhadap seorang ilmuwan yang datang dan menemukan suatu tahap
menengah; atau setidaknya membayangkan suatu tahap menengah yang masuk akal. Bahkan jika
tidak ada ilmuwan yang menghasilkan suatu penjelasan, berasumsi bahwa ‘rancangan’ akan
lebih bagus yaitu logika buruk saja. Penalaran yang melandasi teori ‘rancangan cerdas’ bersifat
malas dan mengalah – penalaran ‘pencipta Celah-celah’ klasik. Saya pernah menyebut penalaran
tersebut sebagai Argumen dari Ketidakpercayaan Pribadi.
Bayangkan bahwa Anda menonton suatu pertunjukan sulap yang bagus sekali. Pasangan
sulap terkenal, Penn and Teller, sering menampilkan adegan di mana mereka terlihat saling
menembak sekaligus, dan masing-masing terlihat menangkap pelurunya dengan giginya.
Persiapan saksama dilakukan untuk mencoret tanda identifikasi di pelurunya sebelum
dimasukkan ke dalam pistolnya, seluruh prosedurnya disaksikan dari dekat oleh sukarelawan dari
para hadirin yang berpengalaman dengan senjata api, dan sepertinya semua kemungkinan untuk
penipuan ditiadakan. Peluru Teller yang ditandai berakhir di mulutnya Penn dan peluru Penn
yang ditandai berakhir di mulutnya Teller. Saya [Richard Dawkins] sama sekali tidak mampu
membayangkan cara ini yaitu sulap. Argumen dari Ketidakpercayaan Pribadi teriak dari
kedalaman pusat otak saya yang pra-ilmiah, dan hampir memaksa saya untuk berkata, ‘Itu pasti
yaitu suatu keajaiban. Tidak ada penjelasan ilmiah. Itu pasti supernatural.’ Tetapi suara lembut
dan kecil pendidikan ilmiah berbicara dengan pesan yang berbeda. Penn dan Teller yaitu
tukang sulap kelas dunia. Ada penjelasan yang sangat memadai. Masalahnya saya terlalu naif,
atau terlalu ceroboh, atau kurang imajinatif, untuk membayangkannya. Itulah tanggapan yang
layak terhadap suatu sulap. Itu juga yaitu tanggapan yang layak terhadap fenomena biologis
yang tampak rumit secara tak tereduksi. Orang-orang itu yang melompat dari kebingungan
pribadi karena suatu fenomena alami langsung ke pengandaian atas hal supernatural sama
buruknya dengan orang bodoh yang melihat seorang pesulap membengkokkan sendok dan
langsung menarik kesimpulan bahwa itu ‘paranormal’.
Dalam bukunya Seven Clues to the Origin of Life, kimiawan Skotlandia A.G. Cairns-
Smith membuat poin tambahan, dengan menggunakan analogi pelengkung. Sebuah pelengkung
yang berdiri sendiri, terbuat dari batu kasar dan tanpa semen dapat merupakan struktur yang
stabil, tetapi rumit secara tak tereduksi: pelengkung runtuh jika salah satu batu dikeluarkan. Lalu,
bagaimana struktur itu dibangun terlebih dahulu? Salah satu cara yaitu membuat himpunan
padat dari batu, lalu menarik batunya satu per satu dengan saksama. Secara lebih umum, ada
banyak struktur yang tak tereduksi dalam arti mereka tidak akan bertahan jika salah satu bagian
diambil, tetapi yang dibangun dengan bantuan perancah yang kemudian diambil dan sudah tidak
kelihatan. Ketika struktur sudah selesai, perancah dapat dilepas dengan aman dan struktur itu
tetap berdiri. Dalam evolusi juga, organ atau struktur yang kita lihat mungkin pernah memiliki
perancah dalam leluhur yang sejak saat itu ditiadakan.
‘Kerumitan tak tereduksi’ bukan ide yang baru, tetapi fras itu sendiri diciptakan oleh
kreasionis Michael Behe pada 1996.62 Dia diatribusikan (jika memang dia layak diatribusikan
untuk ini) dengan menggerakkan kreasionsime ke dalam suatu wilayah biologi yang baru:
biokimia dan biologi sel, yang barangkali dia lihat sebagai tempat yang lebih beruntung untuk
memburu celah daripada mata atau sayap. Usaha dia yang paling mendekati suatu contoh yang
baik (tetap buruk) yaitu motor flagelum bakteria.
Motor flagelum bakteri yaitu hal yang luar biasa di alam. Motor itu mendorong satu-
satunya contoh as yang berputar bebas yang diketahui, di luar teknologi manusia. Roda-roda
untuk hewan besar akan, saya menduga, merupakan contoh sejati kerumitan tak tereduksi, dan
besar kemungkinan itulah alasan hal itu tidak ada. Bagaimana bisa saraf dan pembuluh darah
menyeberangi bantalannya?* Flagelum yaitu baling-baling yang menyerupai benang, yang
dengannya bakteri menggali dalam air. Saya berkata ‘menggali’ dan bukan ‘berenang’ karena,
pada skala eksistensi bakteri, cairan seperti air tidak akan terasa seperti air bagi kita. Air itu akan
terasa lebih seperti molases, atau selai, atau bahkan pasir, dan bakteri itu akan terlihat menggali
atau berputar melalui airnya, tidak berenang. Berbeda dengan apa yang disebut flagelum di
organisme-organisme lebih besar seperti protozoa, flagelum bakteri tidak hanya bolak-balik
seperti cambuk, atau bergerak seperti dayung. Flagelum bakteria memiliki sebuah as sejati yang
berputar terus-menerus dengan bebas di dalam suatu bantalan, didorong oleh sebuah motor
molekuler kecil yang menakjubkan. Pada tingkat molekuler, motor itu menggunakan secara
esensial prinsip yang sama seperti otot, tetapi dalam pemutaran bebas, bukan kontraksi
berselang.† Perangkat itu telah dideskripsikan dengan riang sebagai sebuah mesin tempel cilik
(tetapi menurut tolok ukur keinsinyuran – dan aneh untuk suatu mekanisme biologis – luar biasa
tidak efisien).
Tanpa satu kata pembenaran, penjelasan atau amplifikasi, Behe hanya menyatakan bahwa
motor flagelum bakteri rumit secara tak tereduksi. Karena dia tidak menawarkan argumen yang
mendukung pernyataannya, kita boleh mulai dengan menduga ada kegagalan dalam
imajinasinya. Dia kemudian mengklaim bahwa literatur biologis spesialis telah mengabaikan
masalahnya. Kesalahan klaim ini didokumentasikan secara dahsyat dan (bagi Behe) memalukan
di pengadilan Hakim John E. Jones di Pennsylvania pada 2005, ketika Behe menjadi saksi ahli
untuk sekelompok orang kreasionis yang telah berusaha memaksakan kreasionisme ‘rancangan
cerdas’ pada kurikulum ilmu pengetahuan di salah satu sekolah negeri lokal – suatu tindakan
yang ‘kekonyolannya memesona’, dalam kata-kata Hakim Jones (breathtaking inanity; frasa dan
manusia itu pasti ditakdirkan menjadi terkenal untuk waktu yang lama). Ini bukan satu-satunya
kali Behe dipermalukan di sidang itu, sebagaimana kita akan lihat.
Kunci untuk mendemonstrasikan kerumitan tak tereduksi yaitu menunjukkan bahwa
tidak ada bagian yang bisa berguna dengan sendirinya. Semua bagian harus berada pada
tempatnya sebelum satu pun bisa berguna (analogi kesukaan Behe yaitu perangkap tikus).
Sebenarnya, biolog-biolog molekuler dengan mudah sekali menemukan bagian yang berfungsi di
luar keseluruhan, baik untuk motor flagelum maupun untuk contoh-contoh lain yang Behe
anggap rumit secara tak tereduksi. Poin ini dirumuskan dengan baik oleh Kenneth Miller dari
Universitas Brown, yang hemat saya merupakan musuh ‘rancangan cerdas’ yang paling
meyakinkan, di antara alasan lain karena dia junjungan kristen taat. Saya sering merekomendasikan buku
Miller, Finding Darwin’s God, kepada orang-orang religius yang menulis ke saya setelah
dikelabui oleh Behe.
* Ada contoh dalam fiksi. Penulis sastra anak, Philip Pullman, dalam His Dark Materials, membayangkan sejenis
hewan, ‘mulefa’, yang hidup bersama dengan pohon yang menghasilkan polong buah yang bundar sempurna dengan
lubang di pusatnya. Para mulefa menggunakan polong buah itu sebagai roda. Rodanya, karena bukan bagian dari
tubuh, tidak memiliki saraf atau pembuluh darah yang termakan atau tertarik ‘as’ (cakar kuat dari tanduk atau
tulang). Pullman dengan cerdik mencatat suatu poin tambahan: sistem itu berfungsi hanya karena planet itu dicor
dengan lajur basal alami, yang digunakan sebagai ‘jalanan’. Roda tidak berguna di lahan yang kasar.
† Menarik sekali, prinsip otot digunakan dalam bentuk ketiga di beberapa serangga seperti lalat dan lebah, di mana
otot terbang dapat berputar secara intrinsik, seperti dalam motor bakar torak. Sedangkan serangga lain seperti
belalang mengirimkan perintah saraf untuk setiap gerakan sayap (seperti burung), lebah mengirimkan perintah untuk
menyalakan (atau mematikan) motor bakar toraknya. Bakteri memiliki mekanisme yang bukan penarik sederhana
(seperti otot terbang burung) dan bukan juga pembakar torak (seperti otot terbang lebah), melainkan suatu pemutar
sejati: dalam arti ini seperti motor elektrik atau mesin wankel.
Dalam kasus mesin wenkel bakteri, Miller mengajak kita untuk memperhatikan suatu
mekanisme yang disebut Sistem Sekresi Tipe Tiga atau TTSS (Type three secretion system).63
TTSS tidak digunakan untuk gerakan berputar. Sistem itu yaitu salah satu dari beberapa yang
digunakan oleh bakteri parasitik untuk memompakan zat-zat toksik melalui dinding selnya untuk
meracuni inangnya. Pada skala manusia kita, kita mungkin akan membayangkan menuang atau
menyemprotkan cairan melalui lubang; tetapi, sekali lagi, pada skala bakteri semua tampak
berbeda. Setiap molekul zat yang disekresi yaitu protein besar dengan struktur tiga-dimensi
tertentu pada skala yang sam

