doktrin Advent 20

Tampilkan postingan dengan label doktrin Advent 20. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label doktrin Advent 20. Tampilkan semua postingan

doktrin Advent 20


 


an buah “pohon pe-

ngetahuan tentang yang baik dan yang jahat

itu.” Allah memperingatkan mereka, jika 

“engkau memakannya, pastilah engkau mati”

(Kej. 2:17).2

Maut: Upah Dosa. Bertentangan dengan

apa yang diperingatkan Tuhan bahwa pen-

durhakaan mereka akan mendatangkan ke-

matian, justru Setan berkata, “Sekali-kali ka-

mu tidak akan mati” (Kej. 3:4). namun  sesu-

dah mereka melanggar perintah Tuhan, ak-

hirnya Adam dan Hawa menerima upah dosa

yaitu maut (Rm. 6:23). Dosa mereka menda-

tangkan hukuman seperti berikut: Engkau

akan “kembali lagi menjadi tanah, sebab  dari

situlah engkau diambil; sebab engkau debu

dan engkau akan kembali menjadi debu”

(Kej. 3:19). Perkataan ini bukanlah menunjuk

kepada kehidupan yang berkelanjutan, me-

lainkan akhir dari kehidupan itu.

Setelah menyatakan hukuman, Allah me-

rintangi supaya jangan pasangan yang sudah

jatuh ke dalam dosa ini memetik buah kehi-

dupan dan “memakannya, sehingga ia hidup

untuk selama-lamanya” (Kej. 3:22). Tindakan

itu menunjukkan dengan jelas bahwa keke-

kalan yang telah dijanjikan itu bersyarat atas

penurutan, dosalah yang menghilangkannya.

Sekarang mereka menjadi fana, takluk kepa-

Kematian dan Kebangkitan 393

da maut. sebab  Adam tidak dapat mewaris-

kan apa yang tidak dimilikinya lagi, “demiki-

anlah maut itu telah menjalar kepada semua

orang, sebab  semua orang telah berbuat

dosa” (Rm. 5:12).

Hanyalah sebab  kemurahan Tuhan ma-

ka Adam dan Hawa tidak segera mati. Anak

Allah harus menyerahkan nyawa-Nya supa-

ya dengan demikian mereka memiliki kesem-

patan yang lain – kesempatan yang kedua. Ia

yaitu  “Anak Domba, yang telah disembelih”

(Why. 13:8) sejak dunia dijadikan.

Harapan bagi Manusia. Walaupun manusia

lahir fana, Alkitab memberikan dorongan ke-

pada mereka untuk mengusahakan kehidupan

yang abadi (misalnya lihat Rm. 2:7). Yesus

Kristus yaitu  sumber kekekalan ini: “namun 

karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam

Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm. 6:23; ban-

dingkan 1 Yoh. 5:11). “Yesus Kristus, yang

oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan

mendatangkan hidup yang tidak dapat bina-

sa” (2 Tim. 1:10). “sebab  sama seperti se-

mua orang mati dalam persekutuan dengan

Adam, demikian pula semua orang akan dihi-

dupkan kembali dalam persekutuan dengan

Kristus” (1 Kor. 15:22). Kristus sendiri me-

ngatakan bahwa suara-Nya akan membuka

pintu kubur dan membangkitkan orang mati

(Yoh. 5:28, 29).

Jika Kristus tidak kembali, maka manusia

tidak mempunyai harapan sama sekali, dan

semua orang yang mati akan binasa selama-

lamanya. Bagaimanapun, sebab  Dia, tidak

seorang pun yang perlu binasa. Yohanes

berkata, “sebab  begitu besar kasih Allah

akan dunia ini, sehingga Ia telah menga-

runiakan Anak-Nya yang tunggal, supaya se-

tiap orang yang percaya kepada-Nya tidak

binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”

(Yoh. 3:16). Oleh sebab  itu, percaya kepada

Kristus bukan hanya melenyapkan hukuman

dosa, namun  juga menjamin umat percaya atas

karunia kehidupan kekal yang tiada taranya

itu.

Kristus membawa “hidup yang tidak da-

pat binasa” melalui Injil (2 Tim. 1:10). Paulus

memberikan jaminan kepada kita bahwa

Kitab Sucilah yang dapat “memberi hikmat

kepadamu dan menuntun engkau kepada ke-

selamatan oleh iman kepada Kristus Yesus”

(2 Tim 3:15). Barangsiapa yang tidak meneri-

ma Injil tidak akan memperoleh kekekalan.

Menerima Kekekalan. Saat pencurahan

karunia kekekalan itu dilukiskan oleh Paulus:

“sebenarnya  aku menyatakan kepadamu

suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya,

namun  kita semuanya akan diubah, dalam se-

kejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang

terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan

orang-orang mati akan dibangkitkan dalam

keadaan yang tidak dapat binasa dan kita

semua akan diubah. sebab  yang dapat bina-

sa ini harus mengenakan yang tidak dapat

binasa, dan yang dapat mati ini harus menge-

nakan yang tidak dapat mati, maka akan

genaplah firman Tuhan yang tertulis: ‘Maut

telah ditelan dalam kemenangan’ (1 Kor.

15:51-54). Inilah yang membuat amat jelas

bahwa Tuhan tidaklah memberikan kekekalan

itu kepada orang yang percaya pada saat ke-

matian tiba melainkan pada waktu kebangkit-

an, saat “nafiri terakhir” dibunyikan. Kemu-

dian “yang dapat binasa ini” akan “mengenakan

yang tidak dapat binasa.” Sementara itu Yo-

hanes menyatakan bahwa kita menerima ka-

runia hidup kekal jika  kita menerima

Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi (1

Yoh. 5:11-13), pewujudan yang sebenarnya 

akan karunia ini berlangsung pada waktu

kedatangan Kristus yang kedua kali. Hanya

dengan demikianlah kita dapat diubah dari

394           Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang ...

yang dapat binasa kepada keadaan yang

tidak dapat binasa, dari tubuh yang fana

kepada tubuh yang baka.

SIFAT MAUT

Jika kematian itu merupakan berhentinya

hidup, apakah yang dikatakan Alkitab me-

ngenai keadaan seseorang yang berada di

alam maut itu? Mengapa penting bagi orang

Kristen untuk mengerti ajaran Alkitabiah ini?

Mati yaitu  Tidur. Kematian itu bukanlah

pembinasaan yang sudah sempurna–itu ada-

lah suatu keadaan ketidaksadaran saat sese-

orang menanti kebangkitan. Berulang-ulang

Alkitab mengatakan bahwa ini merupakan

lanjutan dari keadaan tidur. Berbicara me-

ngenai kematian, Perjanjian Lama melukiskan

Daud, Salomo dan raja-raja Israel lainnya,

begitu pula dengan Yehuda, sebagai sedang

tidur dengan leluhur mereka (1 Raj. 2:10;

11:43; 14:20, 31; 15:8; 2 Taw. 21:1; 26:33;

dsb). Ayub menyebut maut itu sebagai tidur

(Ayb. 14:10-12), sebagaimana halnya Daud

(Mzm. 13:4), Yeremia (Yer. 51:39, 57), dan

Daniel (Dan. 12:2).

Perjanjian Baru pun menggunakan gam-

baran yang sama. Dalam pelukisan keadaan

putri Yairus, yang telah mati itu, Kristus

mengatakan bahwa anaknya itu tidak mati

melainkan tidur (Mat. 9:24; Mrk. 5:39). Ia

juga menunjuk kepada Lazarus yang sudah

meninggal dunia itu dengan cara yang sama

(Yoh. 11:11-14). Matius menulis bahwa ba-

nyak “orang kudus yang telah meninggal

bangkit” setelah kebangkitan Kristus (Mat.

27:52), dan catatan yang dibuat mengenai

Stefanus yang mati syahid, Lukas menulis

bahwa “ia tertidur” (Kis. 7:60, KJV). Paulus

maupun Petrus juga mengatakan bahwa mati

itu hanyalah tidur (1 Kor. 15:51, 52; 1Tes.

4:13-17; 2Ptr. 3:4).

Gambaran yang diberikan Alkitab menge-

nai kematian itu sebagai tidur, sangat tepat

dan jelas keadaannya, sebagaimana dengan

perbandingan yang berikut: 1. Orang yang

tidak sadar. “namun  orang yang mati tak tahu

apa-apa (Pkh. 9:5). 2. Waktu orang tidur, ia

berhenti berpikir. “jika  nyawanya mela-

yang... pada hari itu juga lenyaplah maksud-

maksudnya” (Mzm. 146:4). 3. Tidur meng-

hentikan segala kegiatan sehari-hari. “sebab 

tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan

dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana

engkau akan pergi” (Pkh. 9:10). 4. Tidur me-

misahkan kita dari orang-orang yang bangun,

dan juga dari segala kegiatan mereka. “Untuk

selama-lamanya tak ada lagi bagian mereka

dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah

matahari” (ayat 6). 5. Tidur yang normal

membuat emosi tidak aktif. “Baik kasih me-

reka, maupun kebencian dan kecemburuan

mereka sudah lama hilang” (ayat 6). 6. Wak-

tu tidur orang tidak memuji Tuhan. “Bukan

orang-orang mati akan memuji-muji Tuhan”

(Mzm. 115:17). 7. Tidur mengisyaratkan

adanya bangun. “Saatnya akan tiba, bahwa

semua orang yang di dalam kuburan akan

mendengar suara-Nya, dan mereka yang te-

lah berbuat baik akan keluar dan bangkit”

(Yoh. 5:28, 29).3

Kembali menjadi Debu. Untuk memahami

apa yang terjadi kepada seseorang pada

waktu mati, ia harus mengerti terbuat dari

apakah sebenarnya dirinya. Alkitab meng-

gambarkan seseorang sebagai kesatuan or-

ganik (lihat bab 7). Berulang-ulang pengguna-

an kata jiwa menunjuk kepada pribadi secara

keseluruhan, dan pada kali yang lain menun-

juk kepada kasih sayang dan emosi. Akan

namun  itu bukan berarti mengajarkan bahwa

manusia terdiri dari dua bagian yang terpisah.

Tubuh dan jiwa ada bersamaan; membentuk

persatuan yang sama sekali tidak dapat dipi-

Kematian dan Kebangkitan 395

sahkan. Pada waktu manusia dijadikan, per-

satuan debu tanah (unsur tanah) dan napas

hidup menghasilkan makhluk atau jiwa yang

hidup. Adam tidak menerima satu jiwa se-

bagai bagian yang terpisah–ia menjadi jiwa

yang hidup (Kej. 2:7; lihat juga bab 7). Pada

waktu mati maka sebaliknya yang terjadi:

debu dari tanah minus napas hidup menja-

dikan seseorang mati atau jiwa yang mati tan-

pa memiliki kesadaran apa pun (Mzm. 146:4).

Unsur-unsur yang menjadikan tubuh itu kem-

bali ke tanah tempat asalnya (Kej. 3:19). Jiwa

tidak memiliki kesadaran bila terpisah dari

tubuh, dan tidak ada ayat di dalam Alkitab

yang menunjukkan bahwa pada waktu mati

maka jiwa tetap hidup sebagai suatu wujud

yang memiliki kesadaran. sebenarnya ,

“Orang yang berbuat dosa, itu yang harus

mati” (Yeh. 18:20).

Tempat Tinggal Orang Mati. Menurut

Perjanjian Lama, tempat tinggal orang yang

mati ialah sheol (Ibrani), sedang  dalam

Perjanjian Baru disebut hades (Yunani). Di

dalam Alkitab, kata sheol paling sering digu-

nakan untuk pengertian kubur.4 Makna kata

hades juga sama dengan kata sheol.5

Semua orang mati masuk ke dalam tem-

pat seperti ini (Mzm. 89:49), baik orang benar

maupun orang jahat. Yakub berkata, “Aku

turun... ke dalam dunia orang mati (sheol)

(Kej. 37:35). jika  bumi membuka “mulut-

nya” menelan Korah yang jahat dan rom-

bongannya, mereka “turun ke dunia orang

mati (sheol)” (Bil.16:30).

Sheol menerima seluruh pribadi pada

waktu mati. Ketika Kristus mati, Ia dimasuk-

kan ke dalam kubur (hades) akan namun  wak-

tu kebangkitan jiwa-Nya meninggalkan ku-

bur (hades, Kisah 2:27, 31, atau sheol, Mzm.

16:10). jika  Daud mengucap syukur ke-

pada Tuhan atas kesembuhan, ia memberikan

kesaksian bahwa jiwanya telah diselamatkan

“dari dunia orang mati (sheol)” (Mzm. 30:3).

Kubur bukanlah tempat adanya kesa-

daran.6 sebab  mati itu merupakan tidur, ma-

ka orang yang mati tetap pada keadaan tidak

memiliki kesadaran di dalam kubur sampai

tiba hari kebangkitan, saat kubur (hades)

menyerahkan orang mati itu (Why. 20:13).

Roh Kembali kepada Allah. Walaupun tu-

buh kembali menjadi debu, roh kembali kepa-

da Allah. Salomo mengatakan bahwa pada

waktu mati “roh kembali kepada Allah yang

mengaruniakannya” (Pkh 12:7). Semuanya

ini benar, baik terhadap orang yang benar

maupun terhadap orang yang jahat. Banyak

orang beranggapan bahwa ayat ini menjadi

bukti bahwa hakikat pribadi tetap hidup sesu-

dah mati. Akan namun  di dalam Alkitab Ibrani

maupun Yunani istilah untuk roh (roach dan

pneuma,) tidaklah menunjuk kepada adanya

wujud yang berakal yang memiliki kesadaran

terpisah dari tubuh. Justru sebaliknya, istilah-

istilah ini digunakan untuk menyatakan “na-

pas”–percikan kehidupan yang esensial bagi

eksistensi individual, prinsip hidup yang

menghidupkan makhluk hewan dan manusia

(lihat bab 7).

Salomo menulis, “sebab  nasib manusia

yaitu  sama dengan nasib binatang, nasib

yang sama menimpa mereka; sebagaimana

yang satu mati, demikian juga yang lain. Ke-

dua-duanya mempunyai napas (“roh” yang

disebut ruach); dan manusia tak mempunyai

kelebihan atas binatang.... Kedua-duanya

menuju satu tempat; kedua-duanya terjadi

dari debu dan kedua-duanya kembali kepada

debu. Siapakah yang mengetahui, apakah na-

pas manusia naik ke atas dan napas binatang

turun ke bawah bumi” (Pkh. 3:19.-21). Demi-

kianlah menurut Salomo, pada waktu mati

tidak ada perbedaan antara roh manusia

dengan binatang.

Pernyataan Salomo bahwa roh (ruach)

396           Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang ...

kembali kepada Allah yang memberikannya

menunjukkan bahwa apa yang kembali ke-

pada Allah ialah sekadar prinsip kehidupan

yang telah diberikan-Nya. Tidak ada petun-

juk yang menyatakan bahwa roh atau napas,

yaitu  wujud yang sadar yang terpisah dari

tubuh. Ruach yang dimaksudkan di sini dapat

disamakan dengan “napas hidup” yang

dihem-buskan Tuhan kepada makhluk

manusia yang pertama yang menghidupkan

tubuh yang tidak bernyawa (bandingkan Kej.

2:7).

Keharmonisan Seluruh Ayat Kitab Suci.

Banyak orang Kristen yang jujur yang belum

mempelajari secara lengkap pengajaran Al-

kitab mengenai kematian tidak menyadari

bahwa kematian yaitu  tidur sampai tibanya

hari kebangkitan. Mereka menyangka bah-

wa ada pelbagai ayat yang mendukung ide

bahwa roh atau jiwa memiliki sebuah kesa-

daran setelah mati. Penyelidikan yang saksa-

ma menyatakan bahwa pengajaran yang

konsisten dari Alkitab ialah bahwa kematian

menyebabkan kesadaran itu berakhir.7

Spiritualisme. Jika orang mati tidak memi-

liki perasaan sama sekali, kalau begitu, de-

ngan siapakah atau apakah yang dikomuni-

kasikan pengantara arwah itu?

Setiap orang yang jujur akan mengakui

bahwa paling sedikit sebagian dari fenomena

ini yaitu  perbuatan curang; namun  sebagian

lagi yang lain tidak dapat diterangkan demi-

kian. Yang jelas ada kuasa yang gaib (super-

natural) yang berhubungan dengan spiritua-

lisme. Bagaimana pengajaran Alkitab menge-

nai hal ini?

1. Dasar spiritualisme. Spiritualisme

bermula dari dusta Setan yang pertama

kepada Hawa – “Sekali-kali kamu tidak akan

mati” (Kej. 3:4). Perkataannya itu merupakan

khotbah pertama mengenai kebakaan jiwa.

Sekarang ini, di seluruh penjuru dunia, banyak

agama yang tanpa sadar mengulang-ulangi

kesalahan yang sama. Seringkali kalimat Ilahi

yang berbunyi bahwa “orang yang berbuat

dosa, itu yang harus mati” (Yeh. 18:20) telah

dikacaukan dengan “jiwa, walaupun berdosa,

akan hidup abadi.”

Doktrin yang salah ini, ihwal kekekalan

sifat telah menuntun orang percaya akan

adanya kesadaran dalam alam maut. Seba-

gaimana telah kita lihat, keadaan seperti ini

sangat bertentangan dengan pengajaran

yang ada  dalam Alkitab. Keyakinan se-

perti ini dipadukan ke dalam iman Kristen dari

filsafat kafir–khususnya dari Plato–pada ku-

run waktu kemurtadan besar (lihat bab 12).

Kepercayaan ini menjadi sangat umum di

kalangan umat Kristen dan terus memegang

peranan yang dominan sekarang ini.

Kepercayaan bahwa orang mati mem-

punyai kesadaran telah menyiapkan banyak

orang Kristen untuk menerima spiritualisme.

Jika orang mati tetap hidup dan berada di

hadapan hadirat Tuhan, mengapa mereka

tidak dapat turun ke dunia ini sebagai roh-roh

yang melayani? Dan jika sekiranya mereka

dapat, mengapa tidak mencoba berkomunikasi

dengan mereka untuk menerima nasihat me-

reka, juga memperoleh petunjuk, untuk

menghindari ketidakberuntungan, atau mene-

rima penghiburan waktu berduka?

Dengan mengandalkan diri kepada pemi-

kiran seperti ini, Setan dengan malaikat-ma-

laikatnya (Why. 12:4, 9) telah mendirikan se-

buah saluran komunikasi yang dapat diguna-

kan untuk menyempurnakan penipuan mere-

ka. Melalui sarana yang demikian sebagai

alat berhubungan dengan dunia roh, mereka

menyaru seperti orang yang sudah mati,

memberikan penghiburan dan jaminan bagi

orang yang masih hidup. Sering mereka

meramalkan peristiwa-peristiwa mendatang,

Kematian dan Kebangkitan 397

yang jika kebetulan tepat, memberikan pe-

ngukuhan kepada mereka. Bahayanya ialah

mereka berpegang kepada pernyataan au-

tentik ini, sekali pun itu bertentangan dengan

Alkitab dan hukum Tuhan. Jika rintangan ke-

pada kejahatan itu telah berhasil diatasi Se-

tan, maka dengan bebasnya ia akan memim-

pin orang menjauh dari Tuhan dan mem-

bawa mereka kepada kematian dan kebina-

saan yang pasti.

2. Amaran supaya Melawan Spiri-

tualisme. Sebenarnya tidak perlu ada orang

yang ditipu oleh spiritualisme. Dengan jelas

Alkitab menyatakan bahwa pernyataan-per-

nyataan mereka itu yaitu  palsu. Sebagai-

mana telah kita ketahui, Alkitab menceritakan

kepada kita bahwa orang mati tidak tahu apa-

apa, bahwa mereka berbaring dalam keada-

an tidak sadar di dalam kubur.

Alkitab juga dengan sangat tegas mela-

rang siapa pun berusaha berhubungan de-

ngan orang mati atau dunia arwah. Dikata-

kannya bahwa barangsiapa yang berhubungan

dengan orang mati, sebagaimana yang dila-

kukan pengantara spiritualisme dewasa ini,

sebenarnya  mereka itu berhubungan de-

ngan “roh-roh” seperti itu, yakni “roh-roh ja-

hat.” Tuhan mengatakan bahwa kegiatan se-

perti ini yaitu  kekejian, dan barangsiapa

yang melakukannya akan dihukum mati (Im

19:31; 20:27; bandingkan Ul 18:10, 11).

Dengan tepat Yesaya mengungkapkan

kebodohan spiritualisme: “Dan jika  orang

berkata kepada kamu: ‘Mintalah petunjuk ke-

pada arwah dan roh-roh peramal yang ber-

bisik-bisik dan komat-kamit,’ maka jawablah:

‘Bukankah suatu bangsa patut meminta pe-

tunjuk kepada Allahnya? Atau haruskah me-

reka meminta petunjuk kepada orang-orang

mati bagi orang-orang hidup?’ Carilah peng-

ajaran dan kesaksian! Siapa yang tidak ber-

bicara sesuai dengan perkataan itu, maka

baginya tidak terbit fajar” (Yes. 8:19, 20).

sebenarnya , hanya pengajaran Alkitablah

yang dapat menjadi penjaga yang aman bagi

orang Kristen untuk menentang kuasa peni-

puan.

3. Pernyataan-pernyataan spiritual-

isme. Alkitab mencatat sejumlah kegiatan

spiritualisme–mulai dari tukang sihir Firaun

dan ahli-ahli nujumnya, para peramal, ahli

perbintangan (tentang nasib dan bintang

Anda–penerjemah), petenung dan tukang

sihir Niniwe dan Babilon sampai kepada pe-

rempuan ahli sihir dan pengantara dengan

dunia roh-roh yang ada  di Israel–Tuhan

akan menghakimkan semuanya itu. Salah sa-

tu contoh ialah dukun perantara dengan dunia

roh yang ada  di Endor yang memikat

Saul sebagaimana dituturkan pada awal bab

ini.

Kitab Suci berkata, “Dan Saul bertanya

kepada Tuhan, namun  Tuhan tidak menjawab

dia, baik dengan mimpi, baik dengan Urim,

baik dengan perantaraan para nabi” (1 Sam.

28:6). Tuhan tidak campur tangan dengan

apa yang terjadi di Endor. Saul telah ditipu

oleh Iblis yang menyaru seperti Samuel yang

sudah meninggal; sebenarnya  tidak pernah

lagi ia melihat Samuel yang sebenarnya. Pe-

rempuan sihir itu melihat satu bentuk orang

yang sudah tua sementara Saul hanya “me-

ngetahui” atau menyimpulkan bahwa itulah

Samuel (ayat 14).

Seandainya kita percaya bahwa khayal itu

benar-benar yaitu  Samuel yang sesung-

guhnya, maka kita harus siap mempercayai

bahwa perempuan sihir, tukang tenung, ahli

ilmu gaib, kaum paranornal atau perantara

dapat memanggil orang benar yang sudah

meninggal dunia dari mana saja jika  me-

reka mati. Kita juga harus menerima bahwa

398           Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang ...

Samuel yang baik hati itu sadar di alam maut

di dalam bumi, sebab  orang tua itu bangkit

“dari dalam bumi” (ayat 13).

Hubungan dengan dunia arwah ini mem-

buat Saul merasa putus asa, tidak menda-

tangkan harapan. Keesokan harinya ia me-

lakukan bunuh diri (1 Sam. 31:4).Orang yang

menyebut dirinya Samuel meramalkan bah-

wa pada hari itu juga Saul dengan anak-

anaknya akan bersama-sama dengan dia (1

Sam. 28:19). Jika ia benar, maka kita harus

menyimpulkan bahwa sesudah meninggal

dunia Saul yang mendurhaka dengan Samuel

yang benar itu akan tinggal bersama-sama.

Sebaliknya, kita harus menyimpulkan bahwa

seorang malaikat jahat mengadakan penipuan-

penipuan dalam hubungan dengan dunia roh

ini.

4. Tipuan Terakhir. Pada masa lampau

pernyataan-pernyataan spiritualisme terbatas

pada perdukunan, akan namun  belakangan ini

sosoknya sudah tampak pada pertunjukan

“Kristiani” sehingga dengan demikian dapat

menipu dunia Kristen. Sambil mengaku me-

nerima Kristus dan Alkitab, spiritualisme

menjadi musuh yang paling berbahaya bagi

umat percaya. Efeknya sangat mengelabui

dan penuh dengan tipu daya. Melalui penga-

ruh spiritualisme “Alkitab ditafsirkan dengan

cara yang menyenangkan bagi hati yang be-

lum dibarui, kebenaran yang vital dan kudus

itu dibuat tidak memiliki daya sama sekali.

Kasih dijadikan menjadi ciri utama Allah,

akan namun  kadarnya direndahkan ke tingkat

sentimentalisme yang lemah, membuat yang

baik dan yang jahat itu seperti tidak ada

bedanya sama sekali. Keadilan Allah, cela-

an-Nya terhadap dosa, tuntutan-tuntutan hu-

kum-Nya yang kudus, semuanya luput dari

pemandangan. Umat diajar untuk memandang

Sepuluh Hukum itu sebagai huruf mati yang

tidak berkuasa. Lebih menyenangi cerita-

cerita dongeng yang mempesonakan sehingga

menuntun orang kepada penolakan Alkitab

sebagai fondasi iman mereka.8

Dengan cara seperti ini soal benar dan

salah menjadi relatif dan setiap orang, atau

situasi, atau kultur menjadi norma yang “be-

nar.” Pada hakikatnya setiap orang menjadi

allah, sehingga menggenapi janji Setan bah-

wa mereka akan “menjadi seperti Allah”

(Kej. 3:5).

Di hadapan kita terbentang “hari penco-

baan yang akan datang atas seluruh dunia

untuk mencobai mereka yang diam di bumi”

(Why. 3:10). Setan sedang menggunakan

mukjizat dan tanda-tanda yang hebat dalam

upaya terakhir menyesatkan dunia. Berbicara

mengenai penipuan yang amat lihai ini, Yo-

hanes berkata, “Dan aku melihat... keluar

tiga roh najis yang menyerupai katak. Itulah

roh-roh Setan yang mengadakan perbuatan-

perbuatan ajaib, dan mereka pergi mendapat-

kan raja-raja di seluruh dunia, untuk me-

ngumpulkan mereka guna peperangan pada

hari besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa”

(Why. 16:13, 14;bandingkan 13:13, 14).

Hanyalah mereka yang dipengaruhi oleh

kuasa Allah, yang pikirannya dapat dibentengi

dengan kebenaran-kebenaran Kitab Suci,

menerimanya sebagai satu-satunya kuasa,

akan dapat selamat. Semua orang yang tidak

memperoleh perlindungan akan disapu bersih

oleh tipuannya.

Kematian Pertama dan Kedua. Kematian

yang kedua merupakan hukuman terakhir

atas orang-orang berdosa yang tidak bertobat

–semua orang yang namanya tidak tertulis

dalam kitab kehidupan–yang terjadi pada

akhir masa 1000 tahun (baca bab 26). Tidak

ada lagi kebangkitan bagi orang yang terkena

kematian yang kedua. Dengan dibinasakannya

Setan dan orang yang jahat, maka dosa pun

dilenyapkan dan maut itu sendiri pun dihan-

Kematian dan Kebangkitan 399

curkan (1 Kor. 15:26; Why. 20:14; 21:8).

Kristus telah memberikan jaminan bahwa

“barangsiapa menang, ia tidak akan menderita

apa-apa oleh kematian yang kedua” (Why.

2:11).

Berdasarkan apa yang telah digambarkan

Alkitab mengenai kematian yang kedua, kita

dapat mengatakan bahwa kematian yang

pertama yaitu  apa yang dialami setiap orang

akibat pelanggaran Adam–kecuali orang-

orang yang sudah diubahkan. Yakni “akibat

yang normal yang terjadi kepada manusia

yang mengalami kemunduran akibat dosa.”9

KEBANGKITAN

Kebangkitan yaitu  “pemulihan hidup,

diiringi dengan kesempurnaan manusia dan

kepribadian, setelah kematian itu.”10 sebab 

manusia pada hakikatnya takluk kepada

maut, maka harus ada suatu kebangkitan

kembali jika mereka mau mengalami kehi-

dupan di balik kubur. Dalam Perjanjian Lama

dan Perjanjian Baru, jurukabar Allah telah

mengungkapkan pengharapan dalam kebang-

kitan (Ayb. 14:13-15; 19:25-29; Mzm. 49:16;

73:24; Yes. 26:19; 1 Kor. 15).

Pengharapan atas kebangkitan, dan bukti

yang cukup memadai, memberikan keberanian

kepada kita bahwa kita dapat menikmati ma-

sa depan yang lebih baik di balik dunia yang

sekarang ini masih harus menghadapi kema-

tian bagi semua orang.

Kebangkitan Kristus. Kebangkitan orang

yang benar yang sudah mati menuju kepada

kekekalan erat hubungannya dengan kebang-

kitan Kristus sebab  hanya kebangkitan Kris-

tuslah pada akhirnya yang akan membangkit-

kan orang yang sudah mati (Yoh.5:28, 29).

1. Pentingnya. Apakah gerangan yang

terjadi jika  Kristus tidak bangkit kembali?

Konsekuensinya diringkaskan Rasul Paulus

sebagai berikut ini: a. Tidak ada gunanya me-

ngabarkan Injil: “namun  andaikata Kristus

tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberita-

an kami dan sia-sialah juga kepercayaan

kamu” (1 Kor. 15:14). b. Tidak akan ada

pengampunan dosa: “Dan jika Kristus tidak

dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan

kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu”

(ayat 17). c. Tidak akan ada tujuan dalam

percaya kepada Kristus: “Jika Kristus tidak

dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan

kamu” (ayat 17). d. Tidak ada kebangkitan

umum dari kematian: “Jadi, bilamana kamu

beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari

antara orang mati, bagaimana mungkin ada di

antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak

ada kebangkitan orang mati?” (ayat 12). e.

Tidak ada harapan di balik kubur: “Jika

Kristus tidak dibangkitkan.... Demikianlah

binasa juga orang-orang yang mati dalam

Kristus” (ayat 17, 18).11

2. Kebangkitan secara tubuh. Kristus

yang keluar dari kubur yaitu  Kristus Yesus

yang sama yang hidup dalam jasmani dulu.

Kini Ia telah memiliki tubuh yang dimuliakan,

dan tetap merupakan tubuh yang sebenarnya.

Tubuh itu nyata benar sehingga orang-orang

lain tidak melihat adanya sesuatu perbedaan

(Luk. 24:13-27; Yoh. 20:14-18).

Yesus sendiri menyangkal bahwa Ia se-

macam roh atau hantu. Berbicara kepada

murid-murid-Nya, Ia berkata, “Lihatlah ta-

ngan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini;

rabalah Aku dan lihatlah, sebab  hantu tidak

ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu

lihat ada pada-Ku” (Luk. 24:39). Untuk

membuktikan realitas jasmani-Nya setelah

kebangkitan, Ia juga makan di hadapan

mereka (ayat 43).

3. Dampaknya. Kebangkitan juga mem-

400           Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang ...

punyai dampak yang menggetarkan kepada

murid-murid-Nya. Itulah yang mengubah se-

kelompok manusia yang lemah dan takut

menjadi rasul yang berani dan siap mela-

kukan segala sesuatu demi Tuhannya (Flp.

3:10, 11; Kis. 4:33). Misi yang diemban me-

reka sebagai basil perubahan tersebut meng-

goncang kerajaan Romawi dan menung-

gangbalikkan dunia (Kis. 17:6).

“Kepastian kebangkitan Kristus yang te-

lah mendatangkan kuasa untuk mengkhot-

bahkan Injil (bandingkan Flp. 3:10, 11). Pe-

trus berbicara mengenai “kebangkitan Yesus

Kristus dari antara orang mati’ menghasilkan

‘pengharapan’ di dalam diri umat percaya (1

Ptr. 1:3). Para rasul menganggap diri mereka

sendiri diurapi untuk bersaksi tentang ‘ke-

bangkitan-Nya’ (Kis. 1:22), dan mendasarkan

pengajaran mereka atas kebangkitan Kristus

selaku Mesias yang telah dinubuatkan Per-

janjian Lama (Kis. 2:31). Pengetahuan mere-

ka secara pribadi dari hal ‘kebangkitan Tuhan

Yesus,’ itulah yang memberikan ‘kuasa yang

besar’ bagi kesaksian mereka (Kis. 4:33).

Para rasul mendapat perlawanan dari pe-

mimpin-pemimpin Yahudi ketika mereka ke-

luar untuk mengkhotbahkan ‘kebangkitan

dari antara orang mati’ (ayat 2).... Ketika

Paulus dihadapkan ke muka Sanhedrin, Pau-

lus menyatakan bahwa sebab  ‘kebangkitan

dari antara orang mati inilah ia ‘dihadapkan’

kepada mereka (Kis. 23:6; bandingkan

24:21). Kepada orang-orang Roma, Paulus

menyurati bahwa Yesus Kristus yaitu 

‘Anak Allah yang berkuasa... oleh kebangkit-

an-Nya dari antara orang mati’” (Rm. 1:4).

Dalam baptisan, ia menerangkan, orang Kris-

ten menyaksikan imannya dalam kebangkitan

Kristus (Rm. 6:4, 5).12

Dua Kebangkitan. Kristus mengajarkan

bahwa ada dua kebangkitan umum: “kebang-

kitan untuk hidup yang kekal” bagi orang

yang benar dan yang satu lagi “kebangkitan

semua orang mati yang jahat”untuk menerima

hukuman (Yoh. 5:28, 29; Kis. 24:15). Masa

1000 tahun memisahkan kedua kebangkitan

ini (Why. 20:4,5).

1. Kebangkitan untuk memperoleh

kehidupan. Barangsiapa yang dibangkitkan

pada kebangkitan yang pertama disebut

“berbahagia dan kuduslah ia” (Why. 20:6).

Mereka tidak akan mengalami kematian

yang kedua di dalam lautan api pada penu-

tupan masa 1000 tahun itu (ayat 14). Kebang-

kitan ini yaitu  kebangkitan untuk memperoleh

kehidupan dan kekekalan (Yoh. 5:29; 1 Kor.

15:52, 53) terjadi pada waktu Kedatangan

Kristus yang kedua kali (1 Kor. 15:22, 23; 1

Tes. 4:15-18). Orang yang mengalaminya

tidak akan mati lagi (Luk. 20:36). Mereka di-

satukan dengan Kristus untuk selama-lama-

nya.

Bagaimanakah wujud tubuh yang dibang-

kitkan kembali itu? Sama dengan Kristus,

begitulah orang-orang saleh yang telah di-

bangkitkan mempunyai tubuh yang sesung-

guhnya. Sebagaimana Kristus bangkit dan

dimuliakan, demikian pula nanti orang yang

benar itu. Paulus mengatakan bahwa Kristus

akan “mengubah tubuh kita yang hina ini,

sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang

mulia (Flp. 3:21). Ia menyebut tubuh yang

hina dan tubuh yang dimuliakan “tubuh

alamiah” dan “tubuh rohaniah,” dengan rasa

hormat; yang dahulu fana dan rusak, kemu-

dian menjadi abadi dan tidak akan pernah

dapat binasa lagi. Perubahan dari yang fana

kepada yang baka berlangsung secara seren-

tak pada waktu kebangkitan (baca 1 Kor.

15:42-54).

2. Kebangkitan untuk menerima

penghukuman. Orang-orang yang jahat di-

bangkitkan pada waktu kebangkitan umum

Kematian dan Kebangkitan 401

kedua, yang akan berlangsung pada akhir

masa 1000 tahun (lihat bab 27). Kebangkitan

ini berlanjut dengan penghakiman dan peng-

hukuman terakhir (Yoh. 5:29). Barangsiapa

yang namanya tidak tertulis dalam kitab

kehidupan akan dibangkitkan pada saat ini

dan kemudian “akan dilemparkan ke dalam

lautan api” serta mengalami kematian yang

kedua (Why. 20:15, 14).

Mereka seharusnya dapat terhindar dari

akhir tragedi ini. Dalam bahasa yang tidak

mungkin dapat disalahpahami, Alkitab mem-

bentangkan jalan keselamatan yang diberikan

Tuhan: “Bertobatlah dan berpalinglah dari

segala durhakamu, supaya itu jangan bagimu

menjadi batu sandungan, yang menjatuhkan

kamu ke dalam kesalahan. Buangkanlah dari

padamu segala durhaka yang kamu buat ter-

hadap Aku dan perbaruilah hatimu dan roh-

mu! Mengapakah kamu akan mati?... Sebab

Aku tidak berkenan kepada kematian seseo-

rang yang harus ditanggungnya, demiki-anlah

firman Tuhan Allah. Oleh sebab itu, berto-

batlah, supaya kamu hidup!” (Yoh. 18:30-

32).

Allah menjanjikan bahwa “barangsiapa

menang, ia tidak akan menderita apa-apa

oleh kematian yang kedua” (Why. 2:11). Ba-

rangsiapa yang menerima Yesus dan kesela-

matan yang dibawa-Nya akan mengalami

kegembiraan yang tiada taranya pada puncak

kedatangan-Nya kembali. Dalam kebahagiaan

yang tidak ada henti-hentinya itu, mereka

akan merasakan bersama-sama persahabatan

abadi dengan Tuhan dan Juruselamat mere-

ka.


orang mati. Akan namun  pandangan lebih jauh menunjukkan bahwa ayat-ayat itu sebenarnya  selaras dengan

bagian-bagian Alkitab berikutnya.

a. Kematian Rahel. Tentang kematian Rahel, Alkitab mengatakan bahwa “ia mati kemudian” (Kej. 35:18).

Ungkapan ini sekadar menunjukkan bahwa pada saat hidupnya yang terakhir ia sadar dan sebelum menghem-

402           Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang ...

buskan napasnya yang terakhir ia memberi nama kepada putranya. Terjemahan lain mengatakan: “Ia hendak

menghembuskan napas.”

b. Elia dengan anak lelaki yang meninggal dunia. jika  Elia berdoa supaya jiwa anak janda Sarfat ini

kembali, Allah menjawab doanya dengan menghidupkan kembali anak itu (1 Raj. 17:21, 22). Ini merupakan

basil persatuan prinsip hidup dengan tubuh, bukan sesuatu yang hidup atau sadar bersatu kembali setelah

mereka terpisah.

c. Penampakan Musa di atas bukit. Penampakan Musa di Bukit Kemuliaan bukanlah bukti adanya roh-roh yang

memiliki kesadaran atau hadirnya semua orang mati yang benar itu di surga. Menjelang peristiwa ini Yesus

telah mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa sebelum mereka mati, beberapa orang dari antara mereka

akan melihat Anak Manusia dalam kerajaan-Nya. Janji ini telah digenapi untuk Petrus, Yakobus dan Yohanes

(Mat. 16:28—17:3).

     Di atas bukit Kristus menyatakan kepada mereka miniatur kemuliaan kerajaan Tuhan. Di sanalah Kristus,

Raja yang penuh dengan kemuliaan, bersama-sama Musa dan Elia—mewakili dua tipe rakyat kerajaan itu.

Musa mewakili orang benar yang telah mati dan kemudian dibangkitkan dari kubur pada waktu Kedatangan

Kristus yang kedua kali, sedang  Elia mewakili orang benar yang hidup yang akan diubahkan dan diangkat

ke surga tanpa mengalami kematian (2 Raj. 2:11). Yudas memberikan bukti kebangkitan khusus yang terjadi

pada Musa. Sesudah Musa meninggal dunia dan dikuburkan (Ul. 34:5, 6), terjadilah pertengkaran antara

Mikhael dengan Iblis memperebutkan tubuh Musa (Yudas 9). Dari tampilnya Musa di atas bukit itu dapatlah

disimpulkan bahwa Iblis kalah dalam pertarungan itu sehingga Musa dibangkitkan dari kuburnya,

menjadikannya sebagai orang pertama yang dikenal dengan kuasa Kristus yang membangkitkan. Peristiwa ini

justru bukanlah menjadi bukti yang menguatkan ajaran kebakaan jiwa. Sebaliknya ini mendukung doktrin ada-

nya kebangkitan tubuh manusia.

d. Perumpamaan orang kaya dan Lazarus. Kisah yang diberikan Kristus mengenai orang kaya dan Lazarus

telah digunakan untuk mengajarkan adanya kesadaran orang mati (Luk. 16:19-31). Sayang sekali, orang-

orang yang menafsirkan dengan cara seperti ini tidak mengakui bahwa ini hanyalah sebuah perumpamaan

bahwa, jika diambil secara harfiah dalam setiap rinciannya, akan menjadi tidak masuk akal. Orang mati

berangkat ke rahmatullah sebagai makhluk yang sebenarnya , dengan tubuh dan bagian-bagian tubuh

misalnya mata, lidah dan jari-jari. Semua orang yang benar akan berada di pangkuan Abraham, dan surga

dengan neraka hanyalah sejarak pembicaraan. Kedua golongan manusia itu akan menerima upah mereka pada

waktu mati, berbeda sekali dengan apa yang diajarkan Kristus kepada mereka, bahwa mereka justru akan

menerimanya pada waktu Kedatangan Kristus yang kedua kali. (Mat. 25:31-41; Why. 22:12). Bagaimanapun,

kisah ini hanyalah perumpamaan—salah satu metode pengajaran yang disenangi Kristus. Setiap perum-

pamaan dimaksudkan untuk mengajarkan sebuah pelajaran, dan apa yang diajarkan Kristus tidak ada kaitan-

nya dengan keadaan orang mati. Moral yang dikandung dalam perumpamaan ini ialah pentingnya hidup dalam

Firman Allah. Yesus menunjukkan bahwa orang kaya itu dikuasai kekayaan dan tidak mau memperhatikan

orang yang berkekurangan. Kepastian kepemilikan kekekalan yaitu  dalam hidup ini dan tidak ada pintu

kasihan yang kedua. Alkitab yaitu  penuntun yang membawa orang kepada pertobatan dan keselamatan, dan

jika kita tidak mau memperhatikan amaran dari Firman Tuhan, maka tidak ada sesuatu apa pun yang

menjangkau kita. Itulah sebabnya Yesus mengakhiri perumpamaan itu dengan kata-kata “Jika mereka tidak

mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang

yang bangkit dari antara orang mati” (Luk. 16:31).

     Kristus hanya sekadar menggunakan unsur yang umum di dalam kisah-kisah orang Yahudi di mana orang

yang mati dilibatkan dalam percakapan. (Konsep perumpamaan tentang pangkuan Abraham dan Hades

sangat mirip dengan tradisi orang Yahudi. Lihat “Discourse to the Greeks Concerning Hades,” Yosephus’

Complete Work.; terjemahan William Whiston (Grand Rapids: Kregel, 1960), hlm. 637). Yang serupa dengan

itu kita temukan juga dalam perumpamaan pohon yang berbicara (Hak. 9:7-15; bnd. 2 Raj. 14:9). Tidak

seorang pun akan menggunakan perumpamaan ini untuk membuktikan bahwa pohon dapat berbicara.

Sehingga dengan demikian orang pun harus menahan diri dari pemberian makna perumpamaan Kristus ini

bertentangan dengan bukti yang melimpah dari Alkitab dan juga kesaksian Kristus dalam pengajaran-Nya

secara pribadi bahwa kematian itu yaitu  sebuah tidur.

e. Janji Kristus kepada pencuri itu. Kristus memberikan janji kepada pencuri yang ada di kayu salib itu, “Aku

berkata kepadamu, sebenarnya  hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus”

(Luk. 23:43). Firdaus lama dengan surga (2 Kor. 12:4; Why. 2:7). Kalau menurut terjemahan ayat itu,

tentulah Kristus segera masuk ke dalam surga pada hari Jumat itu menghadap hadirat Tuhan, begitu pula

dengan pencuri itu. Namun, pada hari kebangkitan, pada pagi hari, Kristus sendiri mengatakan kepada Maria

ketika tersungkur menyembah di kaki-Nya, “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi

kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu” (Yoh. 20:17). Bahwasanya Kristus masih tetap

tinggal di dalam kubur pada akhir minggu itu dinyatakan oleh perkataan malaikat: “Mari, lihatlah tempat Ia

berbaring” (Mat. 28:6).

     Bukankah Kristus mempertentangkan diri-Nya sendiri? Tidak sama sekali. Jangan keluar untuk

Kematian dan Kebangkitan 403

memahami nas ini berkaitan dengan tanda koma. Naskah Alkitab yang dahulu tidak mengenal tanda koma

maupun jarak antara kata. Dengan ditambahkannya tanda-tanda baca maka muncullah perbedaan yang cukup

berarti atas makna nas itu. Para penerjemah Alkitab menggunakan akal pertimbangan mereka yang terbaik

dengan menaruh tanda baca, akan namun  karya itu tentu raja bukanlah diilhamkan.

     Jika para penerjemah, yang telah melakukan pekerjaan justru dengan sempurna pada umumnya, telah

menaruh koma dalam Luk 23:43 sesudah “hari ini” ganti daripada sebelumnya, ayat ini tidak bertentangan

dengan ajaran di dalam Alkitab mengenai kematian. Perkataan Kristus dapatlah dipahami secara wajar. “Aku

berkata kepadamu hari ini (hari ini, ketika Aku mati sebagai seorang penjahat), juga engkau akan ada bersama-

sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Sesuai dengan ajaran Alkitab, Yesus memberikan jaminan kepada pencuri

itu bahwa ia akan beserta-Nya di dalam Firdaus–janji yang akan digenapi menyusul kebangkitan orang benar

pada waktu kedatangan-Nya yang kedua kali.

f. Pergi dan diam bersama dengan Kristus. “sebab  bagiku hidup yaitu  Kristus dan mati yaitu  keuntungan,”

kata Paulus. “Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus—itu memang

jauh lebih baik” (Flp. 1;21, 23). Apakah Paulus berharap masuk ke surga begitu ia mati?

     Paulus menulis banyak masalah kebersamaan di dalam Kristus. Di dalam suratnya yang lain ia menulis

mengenai “orang yang tidur di dalam Yesus.” Pada waktu kedatangan Kristus yang kedua kali nanti, katanya,

orang benar yang mati akan dibangkitkan, dan bersama-sama dengan orang benar yang masih hidup mereka

akan “dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.... Akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam

awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan”

(1 Tes. 4:14, 17).

    Mengenai latar belakang ini, kita melihat bahwa di dalam suratnya kepada orang Filipi, Paulus tidak

memberikan gambaran yang rinci mengenai apa yang terjadi di alam maut. Ia hanya menyatakan

kerinduannya untuk meninggalkan keadaan yang menyusahkannya pada saat itu serta kerinduannya untuk

bersama-sama dengan Kristus, tanpa memberikan petunjuk atau penjelasan atas kurun waktu antara kematian

dengan kebangkitan. Pengharapannya dipusatkan kepada janji persekutuan pribadi dengan Yesus dalam

kekekalan. Bagi barangsiapa yang meninggal tidaklah ada jarak waktu yang lama antara waktu mereka

menutup mata pada saat meninggal dunia dengan waktu mereka membukanya pada hari kebangkitan. sebab 

orang yang telah mati itu tidak mengetahui apa-apa lagi di kubur maka soal waktu yang berlalu pun tidaklah

diketahui mereka, hari pagi kebangkitan itu datang bagaikan waktu saat meninggal dunia. Bagi orang Kristen,

maut itu mendatangkan: tiadanya lagi penggodaan, pencobaan, duka, dan pada waktu kebangkitan nanti akan

dimuliakan dengan kekekalan.

  8. White, Great Controversy, hlm. 558.

  9. “Kematian,” SDA Bible Commentary, edisi revisi, hlm. 278; bnd. Questions on Doctrine, hlm. 524.

10. “Kebangkitan,” SDA Bible Dictionary, edisi revisi, hlm., 935.

11. Questions on Doctrine, hlm. 67, 68.

12. “Kebangkitan,” SDA Bible Dictionary, edisi revisi, hlm. 936.

404

Milenium yaitu  1000 tahun pemerintahan Kristus bersama-sama

umat saleh-Nya di surga, antara kebangkitan pertama dengan ke-

bangkitan yang kedua. Dalam kurun waktu ini orang jahat akan di-

hakimkan; dunia menjadi sunyi-senyap tanpa ada manusia yang hi-

dup untuk menghuninya, melainkan Setan dan pengikutnya saja yang

tinggal di dunia. Setelah masa itu berakhir, Kristus dan umat-Nya

yang saleh beserta Kota Suci akan turun dari surga ke dunia ini.

Orang jahat yang mati akan dibangkitkan, Setan beserta para ma-

laikatnya, akan mengelilingi kota itu; akan namun  api dari Allah akan

turun menghanguskan mereka dan sekaligus membersihkan dunia ini.

Alam semesta dibe-baskan dari dosa dan orang yang berdosa untuk

sela-ma-lamanya


Sepanjang sejarah manusia ada saja yang

       mahir membuat kisah-kisah mengerikan

tentang neraka, mencoba mempermainkan

rasa takut manusia agar mereka mau datang

berbakti. Tuhan yang bagaimanakah sebenar-

nya yang digambarkan mereka itu?

Bagaimanakah Allah mengakhiri yang

jahat itu? Apa yang akan terjadi kepada Se-

tan? Apakah yang membuat dosa tidak dapat

menegakkan kepalanya yang buruk itu sekali

lagi? Bagaimanakah Allah itu adil dan sekali-

gus mengasihi?

PERISTIWA-PERISTIWA PADA

PERMULAAN MILENIUM

Selama berlangsungnya kurun waktu

milenium, 1000 tahun sebagaimana diung-

kapkan dalam Wahyu 20, pengaruh Setan

atas dunia akan dihalangi, dan Kristus akan

memerintah bersama-sama umat-Nya (Why.

20:1-4).

Kedatangan Kedua Kali. Wahyu 19 dan

20 merupakan kesatuan; tidak ada yang

memisahkan antara kedua pasal ini. Di situ

diterangkan kedatangan Kristus kembali

(Why. 19:11-21) dan dengan segera dilanjut-

kan dengan masa milenium, rangkaiannya

menunjukkan bahwa milenium mulai jika 

Kristus kembali.

Wahyu menggambarkan tiga kuasa yang

mengumpulkan bangsa-bangsa di dunia un-

tuk menentang pekerjaan Kristus dan umat-

Nya segera sebelum kedatangan Kristus

yang kedua kali, sebagai naga, binatang, dan

nabi palsu (Why. 16:13). jika  “binatang

itu dan raja-raja di bumi serta tentara-tentara

mereka” telah berkumpul untuk mengatur

siasat perang melawan Kristus pada waktu

kedatangan-Nya kembali, naga dan nabi pal-

su itu akan dibinasakan (Why. 19:19, 20).

Apa yang mengikuti kemudian dalam Wahyu

20, pasal mengenai milenium, berisi nasib

ketiga anggota Iblis itu, sang naga. Ia ditawan

dan dilemparkan ke dalam lubang maut

tempat ia berada 1000 tahun lamanya.1

Sebagaimana telah kita lihat dalam bab 24,

mengenai kedatangan Kristus yang kedua

kali, saat kerajaan-kerajaan dunia ini dihan-

BAB 27

MILENIUM DAN AKHIR DOSA

406                           Apa  yang Perlu Anda Ketahui Tentang. . . .

curkan, dan Tuhan mendirikan kerajaan ke-

muliaan-Nya–kerajaan yang kekal selama-

lamanya (Dan. 2:44). Itulah saatnya umat-

Nya akan memulai pemerintahan mereka.

Kebangkitan Pertama. Pada waktu ke-

datangan kedua kali, kebangkitan yang per-

tama itu terjadi: Orang benar, “berbahagia

dan kudus,” dibangkitkan –sebab  “kematian

yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka,

namun  mereka akan menjadi imam-imam Al-

lah dan Kristus, dan mereka akan meme-

rintah sebagai raja bersama-sama dengan

Dia, seribu tahun lamanya” (Why. 20:6; baca

juga bab 25 dari buku ini).

Orang Benar Masuk ke Surga. Sesudah

kebangkitan orang benar, mereka dan orang

benar yang masih hidup akan diangkat “ber-

sama-sama dengan mereka dalam awan me-

nyongsong Tuhan di angkasa” (1 Tes. 4:17).

Kemudian Kristus akan memenuhi janji yang

telah diberikan-Nya sebelum Ia meninggal-

kan dunia ini: “Sebab Aku pergi ke situ untuk

menyediakan tempat bagimu; Dan jika 

Aku telah pergi ke situ dan telah menye-

diakan tempat bagimu, Aku akan datang

kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku,

supaya di tempat di mana Aku berada, kamu

pun berada” (Yoh. 14:2, 3). Yesus melu-

kiskan tempat yang akan didiami para

pengikut-Nya kelak sebagai “rumah Bapa-

Ku,” di mana “banyak tempat tinggal,” atau

tempat kediaman (Yoh. 14:2). Yang dimak-

sudkan Yesus di sini ialah Yerusalem Baru,

yang belum turun ke dunia ini sebelum masa

milenium itu berakhir. Lalu, pada waktu ke-

datangan Kristus kedua kali, jika  orang

yang benar itu “bersama-sama... menyong-

song Tuhan di angkasa,” maka tujuan mereka

HARI-HARI  AKHIR 1000 TAHUN

(MILENIUM)

KEKEKALAN

KEBANGKITAN

PERTAMA

KEBANGKITAN

KEDUAKristus kembali

Orang saleh diangkat ke surga

(baik yang mati dibangkitkan

 dan yang hidup)

Orang jahat yang hidup

dibinasakan

(orang jahat yang mati

tetap di kuburnya)

Setan dirantai

(Dibatasi hanya di dunia ini)

Bumi sunyi senyap

(bela terakhir, gempa bumi;

dampak kedatangan Kristus

kedua kali)

Orang-orang Saleh Memerintah

Bersama-sama Kristus (di surga)

Terlibat dalam Fase Penghakiman

Kristus, Orang saleh,

Kota Suci Turun

Orang jahat dibangkitkan

Setan dilepaskan

(menghimpunkan pasukan

 untuk menyerang kota suci)

Fase pelaksanaan penghakim-

an

Setan, orang berdosa,

efek dosa, dibinasakan

Bumi dibarui menjadi abadi

Rumah orang saleh

          Milenium dan Akhir Dosa  407

yaitu  surga–bukan dunia yang baru saja

mereka tinggalkan.’ Kristus bukannya men-

dirikan kerajaan kemuliaan-Nya di dunia pa-

da saat itu. Peristiwa itu dilakukan-Nya pada

akhir masa milenium itu.

Musuh Kristus Dibinasakan. Kristus

membandingkan kedatangan-Nya kembali

seperti apa yang terjadi pada waktu Air Bah

dan kebinasaan Sodom dan Gomora (Mat.

24:37-39; Luk. 17:28-30). Perbandingannya

berisi dua hal: pertama, bahwa kebinasaan

menimpa orang jahat sekonyong-konyong;

kedua, bahwa apa yang datang ialah kebina-

saan–Air Bah “melenyapkan mereka se-

mua” (Mat. 24:39). Api dan belerang yang

menghujani Sodom “membinasakan mereka

semua” (Luk. 17:29; lihat juga Mat. 13:38-

40). Pada waktu kedatangan Kristus yang

kedua kali, Ia turun dari surga diiringi tentara-

tentara-Nya dengan menunggang kuda putih

yang membawa nama “Raja segala raja dan

Tuan di atas segala tuan” dan menyerang

bangsa-bangsa pemberontak yang di dunia

ini. Setelah binatang dan nabi palsu itu di-

binasakan, “yang sisa” dari pengikut-peng-

ikut Setan itu akan mati dan tidak ada lagi

yang tinggal hidup, sebab  mereka telah “di-

bunuh dengan pedang, yang keluar dari mulut

Penunggang kuda itu; dan semua burung

kenyang oleh daging mereka” (Why 19:21).3

Untuk melukiskan hal ini, Kitab Suci ber-

kata, “Sebab sebenarnya , Tuhan mau ke-

luar dari tempat-Nya untuk menghukum pen-

duduk bumi sebab  kesalahannya, dan bumi

tidak lagi menyembunyikan darah yang ter-

tumpah di atasnya, tidak lagi menutupi orang-

orang yang mati terbunuh di sana” (Yes.

26:21).

Bumi menjadi sunyi-senyap. Setelah

orang benar naik bersama Tuhan dan orang

jahat dibinasakan pada waktu Ia datang, bumi

kosong dari penghuninya, manusia. Alkitab

menyatakan keadaan yang demikian. Yeremia

berkata, “Aku melihat kepada bumi, ternyata

campur baur dan kosong, dan melihat kepada

langit, tidak ada terangnya. Aku melihat ke-

pada gunung-gunung, ternyata goncang; dan

seluruh bukit pun goyah. Aku melihat, ter-

nyata tidak ada manusia” (Yer. 4:23-25). Isti-

lah yang digunakan Yeremia ada  dalam

Kejadian 1:2, “campur baur dan kosong,” me-

nunjukkan bahwa bumi menjadi kacau-balau

seperti pada waktu awal Penciptaan.

Setan Dirantai. Peristiwa yang berlang-

sung pada saat ini digambarkan oleh kambing

(scapegoat) dalam upacara Hari Pendamaian

di pelayanan bait suci Israel. Pada Hari Pen-

damaian imam besar membersihkan bait suci

dengan darah pendamaian melalui darah

kambing yang dipersembahkan kepada Al-

lah. Hanyalah setelah pendamaian ini dilaku-

kan secara lengkap maka upacara itu meli-

batkan Azazel, kambing yang mengibaratkan

Setan, mulai (lihat bab 23). Dengan menum-

pangkan tangan di atas kepala kambing jan-

tan itu, imam besar mengakui “segala kesa-

lahan orang Israel dan segala pelanggaran

mereka, apa pun juga dosa mereka; ia harus

menanggungkan semuanya itu ke atas kepala

kambing jantan itu” (Im. 16:21). Kambing

jantan ini dihalau ke padang gurun, ke “tanah

tandus” yang tidak berpenghuni (Im. 16:22).

Begitu pula, Kristus, di bait suci surga, se-

telah melayani pendamaian yang sempurna

bagi umat-Nya; pada waktu kembali ke dunia

ini, Ia menebus mereka dan memberikan hi-

dup kekal kepada mereka. jika  Ia telah

menyelesaikan pekerjaan penebusan dan pe-

nyucian bait suci surga, Ia akan meletakkan

dosa-dosa umat-Nya ke atas Setan, awal dan

penghasut yang jahat itu. Tidak ada alasan

mengatakan bahwa Setan mengadakan pen-

damaian atas dosa-dosa umat percaya–ha-

408                           Apa  yang Perlu Anda Ketahui Tentang. . . .

nya Kristus yang benar-benar melakukan

semuanya itu. Akan namun  Setan harus ber-

tanggung jawab atas semuanya, dosa yang

dilakukan orang yang telah diselamatkan itu,

sebab  Setanlah yang menyebabkan mereka

melakukannya. Dan sebagaimana “yang la-

yak untuk itu” menghalau kambing ke padang

gurun yang tidak dihuni manusia, begitu pula

Setan dihalau Allah ke tempat yang sunyi

senyap yang tidak dihuni manusia, di bumi

(lihat bab 23).4

Penglihatan Yohanes mengenai Milenium

sangat jelas menggambarkan pemusnahan

Setan. Ia melihat bahwa pada permulaan ma-

sa 1000 tahun itu “naga, si ular tua itu, yaitu

Iblis dan Setan” dirantai dan dibatasi dan

dilemparkan ke “jurang maut” (Why. 20:2, 3).

Secara simbolis ini memberitahukan akhir

sementara kegiatan-kegiatan Setan dalam

penipuan dan aniaya, “supaya ia jangan lagi

menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum ber-

akhir masa seribu tahun itu” (Why. 20:3).

Istilah yang digunakan Yohanes–“jurang

maut” (bahasa Yunani, abussos)–dengan

tepat menggambarkan keadaan bumi pada

waktu itu.5 Bumi kita yang bopeng-bopeng

sebab  7 bela yang serta merta mendahului

kedatangan Kristus (lihat khusus Why.

16:18-21) dan dipenuhi dengan bangkai orang

jahat, akan menjadi bumi yang sunyi senyap

sama sekali. Dengan terbatasnya hanya pada

bumi ini saja, Setan “dirantai” oleh keadaan

sekelilingnya: sebab  dunia ini telah kosong

dari manusia, tidak ada lagi yang digoda dan

dianiaya. Ia dirantai dalam pengertian bahwa

tidak dapat melakukan apa-apa lagi.

PERISTIWA-PERISTIWA SELAMA

MILENIUM

Kristus bersama umat yang ditebus ber-

ada di surga. Pada waktu kedatangan Kristus

yang kedua kali, Ia membawa orang-orang

yang ditebus-Nya masuk ke surga, ke tempat

yang telah disediakan-Nya untuk mereka di

Yerusalem Baru. Seperti Musa dan bangsa

Israel, yang ditebus, penuh dengan rasa syu-

kur, menyanyikan lagu kelepasan mereka–

“Nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian

Anak Domba, bunyinya: ‘Besar dan ajaib

segala pekerjaan-Mu; ya Tuhan, Allah, Yang

Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu,

ya Raja segala bangsa!” (Why. 15:3).

Orang Saleh berkerajaan Bersama Kris-

tus. Selama masa milenium Kristus meme-

nuhi janji-Nya kepada para pemenang “kuasa

atas bangsa-bangsa” (Why. 2:26). Daniel

melihat bahwa sesudah pembinasaan musuh-

musuh Kristus “maka pemerintahan, kekuasa-

an dan kebesaran dari kerajaan-kerajaan di

bawah semesta langit akan diberikan kepada

orang-orang kudus, umat Allah Yang Maha-

tinggi” (Dan. 7:27). Barangsiapa yang di-

bangkitkan Kristus pada kebangkitan yang

pertama akan memerintah bersama-Nya

selama 1000 tahun (Why. 20:4).

namun  bagaimanakah dapat dikatakan

orang kudus memerintah jika mereka berada

di surga sementara semua orang jahat mati?

Pemerintahan mereka terdiri atas keterlibatan

dalam fase penting pemerintahan Kristus.6

Penghakiman Atas Orang Jahat. Yoha-

nes melihat bahwa selama milenium itu

orang-orang saleh dilibatkan dalam pengha-

kiman; ia melihat “takhta-takhta dan orang-

orang yang duduk di atasnya; kepada mereka

yang diserahkan kuasa untuk menghakimi”

(Why 20:4). Inilah saat penghakiman atas

Setan dan para malaikatnya sebagaimana

dinyatakan Kitab Suci (2 Ptr. 2:4; Yud. 6).

Inilah saat di mana pernyataan Paulus yang

menyatakan bahwa orang saleh akan meng-

          Milenium dan Akhir Dosa  409

hakimi dunia dan bahkan para malaikat juga

(1 Kor. 6:2, 3) akan terlaksana.7

Penghakiman milenium ini bukanlah me-

nentukan siapa yang akan dibinasakan. Allah

telah mengadakan keputusan sebelum keda-

tangan Kristus kedua kali; semua yang tidak

dibangkitkan ataupun tidak diubahkan akan

hilang selama-lamanya. Penghakiman yang

melibatkan orang benar menyatakan maksud

ataupun jawab atas pertanyaan apa pun yang

mungkin diajukan orang benar mengapa

orang yang jahat itu binasa. Allah ingin agar

orang yang diberi-Nya hidup kekal itu me-

miliki keyakinan yang pasti atas kepemim-

pinan-Nya, sehingga dengan demikian Ia

akan memperlihatkan kepada mereka jalannya

kemurahan dan keadilan-Nya.

Bayangkanlah bahwa Anda berada di

surga dan ternyata Anda mengetahui orang

yang sebenarnya Anda kasihi dan Anda ha-

rapkan ternyata tidak ada di sana. Hal seperti

ini mungkin menimbulkan pertanyaan atas

keadilan Tuhan–dan keragu-raguan yang de-

mikian justru dasar dosa. Untuk mendiam-

kan keragu-raguan yang demikian untuk se-

lama-lamanya–sehingga dengan demikian

dosa tidak akan pernah muncul lagi–Allah

menyediakan jawab atas segala pertanyaan

pada kurun waktu penghakiman milenium ini.

Dalam tugasnya ini orang-orang yang

ditebus mengerjakan pekerjaan yang berat

dalam pertarungan yang baik dan yang jahat.

“Mereka akan menetapkan secara memu-

askan untuk selama-lamanya betapa sungguh-

sungguh dan sabarnya Tuhan memelihara

dan memperhatikan orang yang akhirnya hi-

lang itu. Mereka akan melihat betapa sikap

tidak peduli dan keras kepala ada pada orang

yang berdosa yang menolak dan menghina

kasih-Nya. Mereka akan mengetahui bahwa

orang berdosa itu lebih menyukai rasa me-

mentingkan diri yang buruk itu daripada me-

nerima sistem nilai Tuhan dan Juruselamat

mereka.

Saat bagi Setan Merenungkan Kejahat-

annya. Selama milenium berlangsung, Setan

akan merasakan derita yang sangat da-lam.

Dirantai, bersama-sama malaikat-malaikat-

nya, di dunia yang sunyi senyap, ia tidak dapat

lagi menipu yang dahulu menjadi peker-

jaannya dari waktu ke waktu. Ia dipaksa me-

lihat basil pemberontakannya melawan Tu-

han dan hukum-Nya; ia harus merenung-

renungkan bagian yang dilakonkannya dalam

pertarungan antara yang baik dan yang jahat.

Masa depan yang dihadapinya penuh dengan

kegentaran atas hukuman yang mengerikan

yang akan menimpanya sebab  segala keja-

hatan yang harus menjadi tanggung jawabnya.

PERISTIWA-PERISTIWA PADA

AKHIR MILENIUM

Pada akhir masa seribu tahun itu “orang-

orang mati yang lain”–orang-orang jahat–

akan dibangkitkan, dengan demikian mele-

paskan Setan dari keadaan tidak mempunyai

kegiatan yang telah memenjarakannya

(Why. 20:5, 7). Dengan menipu orang-orang

jahat sekali lagi, ia menuntun mereka untuk

mengepung “perkemahan tentara orang-

orang dan kota yang dikasihi itu (Yerusalem

Baru)” (Why. 20:9), yang dengan Kristus,

turun dari surga.9

Kristus, Orang-orang Saleh, dan Kota

yang Turun. Kristus turun ke dunia ini lagi

bersama-sama orang saleh dan Yerusalem

Baru, untuk dua tujuan. Ia akan mengakhiri

perseteruan yang besar dengan melaksanakan

keputusan-keputusan penghakiman milenium

itu, dan Ia akan menguduskan dan membarui

dunia sehingga Ia dapat mendirikan di atas-

nya kerajaan-Nya yang kekal. Kemudian,

410                           Apa  yang Perlu Anda Ketahui Tentang. . . .

dalam pengertian yang sepenuh-penuhnya,

“Maka Tuhan akan menjadi Raja atas seluruh

bumi” (Za. 14:9).

Kebangkitan untuk Penghakiman. Sa-

atnya sekarang sudah tiba kegenapan yang

sempurna dari janji Kristus bahwa “semua

orang yang di dalam kuburan akan mende-

ngar suara-Nya” (Yoh. 5:28). Pada waktu

kedatangan-Nya yang kedua kali Kristus

membawa orang benar yang mati dari dalam

kubur pada kebangkitan yang pertama,

“bangkit untuk hidup kekal.”

sedang  kebangkitan yang lain dikata-

kan Yesus akan berlangsung dan “bangkit

untuk dihukum” (Yoh 5:29). Kitab Wahyu ju-

ga menunjuk ke