doktrin dasar alkitab 16
us disingkirkan agar dengan demikian
orang-orang tidak terhalang datang ke ge-
reja.”41
Perubahan telah Dinubuatkan. Alkitab
menyatakan bahwa pemeliharaan hari Ming-
gu sebagai sebuah lembaga Kristen bermula
dari “rahasia kedurhakaan” (2 Tes. 2:7) yang
telah mulai bekerja pada zaman Rasul Paulus
(baca bab 12). Melalui nubuatan Daniel 7
Allah menyatakan lebih dahulu mengenai
perubahan hari perbaktian.
Khayal Daniel menggambarkan sebuah
serangan terhadap umat Tuhan dan hukum-
Nya. Kuasa yang menyerang itu diwakili oleh
tanduk kecil (dan oleh binatang dalam Why.
13:1-10), memberitakan tentang kemurtadan
besar di dalam jemaat Kristen (baca bab 12).
Timbul dari binatang keempat dan menjadi
kuasa besar yang menganiaya sesudah keja-
tuhan Roma (baca bab 18), tanduk kecil ber-
usaha “untuk mengubah waktu dan hukum”
(Dan. 7:25). Kuasa kemurtadan ini sangat
berhasil menipu hampir seluruh dunia, akan
namun pada akhir zaman penghakiman akan
mengambil kepastian atas yang menentangnya
(Dan. 7:11, 22, 26). Pada masa kesukaran
akhir itu Tuhan akan turut campur tangan de-
mi kepentingan umat-Nya dan akan melepas-
kan mereka (Dan. 12:1-3).
Nubuatan ini hanya pas bagi sebuah kuasa
yang ada dalam ke-Kristenan. Yakni,
sebuah organisasi agama yang menyatakan
memiliki hak istimewa untuk mengubah hu-
Hari Sabat 299
kum Ilahi. Menurut catatan sejarah, simaklah
apa yang pernah dinyatakan Katolik Roma:
Sekitar tahun 1400 TM Petrus de Ancha-
rano menegaskan bahwa “paus dapat meng-
ubah hukum Ilahi, sebab kuasanya bukan
berasal dari kita semua melainkan dari Allah,
dan ia bertindak atas nama Tuhan di atas
dunia ini, dengan kuasa penuh yang mengikat
dan melepaskan domba-dombanya.„42
Dampak penegasan yang mencengangkan
ini telah diperlihatkan selama masa Reformasi.
Luther menyatakan bahwa Kitab Suci saja-
lah dan bukan tradisi gereja yang menjadi pe-
nuntun hidupnya. Slogan yang digunakannya
ialah sola scriptura —“Alkitab dan hanya
Alkitab saja.” John Eck, salah seorang pem-
bela ajaran Katolik Roma yang terkemuka
menyerang Luther dalam masalah ini dengan
menyatakan bahwa otoritas jemaat atau ge-
reja di atas Alkitab. Ia menantang Luther me-
ngenai pemeliharaan hari Minggu ganti hari
Sabat. Eck berkata, “Kitab Suci mengajarkan:
‘Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam
hari lamanya engkau akan bekerja dan mela-
kukan segala pekerjaanmu, namun hari ketu-
juh yaitu hari Sabat Tuhan, Allahmu, dst.
Namun demikian, gereja telah mengubah Sa-
bat menjadi Minggu berdasar otoritas itu,
yang kau (Luther) tidak mempunyai hak atas
Kitab Suci.”43
Pada Konsili Trent (1545-1563), yang di-
pimpin oleh paus untuk menghadapi Protes-
tanisme, Gaspare de Fosso, uskup agung
Reggio, mengemukakan isu itu kembali. “O-
toritas gereja,” katanya, “lalu , dilukiskan
dengan sangat jelas oleh Kitab Suci; semen-
tara di satu pihak dia (gereja) memuji, me-
nyatakannya sebagai yang Ilahi (dan) me-
nyampaikan kepada kita untuk dibaca,... di
pihak lain, ajaran-ajaran yang sah atau legal di
dalam Kitab Suci yang diajarkan Tuhan telah
berakhir dengan kebajikan otoritas yang sa-
ma (gereja). Sabat, hari yang sangat dimu-
liakan di dalam hukum, telah diganti dengan
hari Tuhan.... Ini dan masalah-masalah lain-
nya tidak berakhir oleh kebajikan ajaran Kris-
tus (sebab Ia mengatakan bahwa ia telah
datang untuk menggenapi hukum, bukan un-
tuk membinasakannya), namun hukum-hukum
itu telah diubah atas otoritas gereja.”44
Bukankah gereja masih tetap memper-
tahankan keadaan ini? artikel The Convert’s
Catechism of Catholic Doctrine edisi 1977
memuat serangkaian tanya jawab yang ber-
ikut ini:
“T. Yang manakah hari Sabat itu?”
“J. Hari Sabtu yaitu hari Sabat.”
“T. Kalau begitu, mengapa kita me-
melihara hari Minggu, bukan hari Sabtu?
“Kita memelihara hari Minggu ganti hari
Sabtu sebab gereja Katolik memindahkan
kekhidmatannya dari Sabtu kepada Ming-
gu.”45
Di dalam artikel nya yang paling laris, The
Faith of Millions (1974), sarjana Katolik
Roma John A.O’Brien, menyampaikan ke-
simpulan sebagai berikut: “sebab Sabtu, bu-
kannya Minggu, hari yang istimewa di dalam
Alkitab, bukankah aneh bahwa orang-orang
yang bukan Katolik yang mengaku beragama
langsung dari ajaran Alkitab dan tidak dari ge-
reja, memelihara hari Minggu dan bukannya
hari Sabtu? Begitulah, mereka ini tidak kon-
sisten.” Kebiasaan memelihara hari Minggu,
katanya, “berdasar otoritas Gereja Kato-
lik dan bukan atas ayat-ayat Alkitab. Pemeli-
haraan itu tetap menjadi satu peringatan Ge-
reja Induk dan dari sanalah aliran-aliran yang
bukan Katolik beranjak—seperti seorang
anak tanggung yang lari dari rumahnya namun
masih tetap mengantongi gambar ibunya atau
ikat rambutnya.”46
Pernyataan atas pemilikan hak istimewa
ini menggenapi nubuatan dan menjadi pertan-
da dari kuasa tanduk kecil itu.
300 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
Pemulihan hari Sabat. Di dalam kitab Ye-
saya 56 dan 58 Allah memanggil bangsa Is-
rael supaya mengadakan pembaharuan Sa-
bat. Dengan menyatakan kemuliaan atas
berhimpunnya kelak orang-orang yang bukan
Yahudi ke dalam lingkungan-Nya (Yes.
56:8), Ia menghubungkan suksesnya misi ke-
selamatan dengan pemeliharaan serta pe-
ngudusan Sabat (Yes. 56:1, 2, 6, 7).
Dengan saksama Ia mengikhtisarkan pe-
kerjaan khusus bagi umat-Nya. Walaupun
misi mereka bersifat meliputi seluruh dunia,
petunjuk itu diberikan secara khusus kepada
satu golongan orang yang mengaku orang-
orang percaya akan namun dalam kenyataan
menyimpang dari ajaran-ajaran-Nya (Yes.
58:1, 2). Ia menyatakan tugas mereka kepada
orang yang mengaku selaku orang-orang
percaya dalam istilah seperti berikut ini:
“Engkau akan membangun reruntuhan yang
sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki
dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan.
Engkau akan disebutkan ‘yang memperbaiki
tembok yang tembus,”yang membetulkan
jalan supaya tempat dapat dihuni.’ Apabila
engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat
dan tidak melakukan urusanmu pada hari
kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari
Sabat ‘hari kenikmatan,’ dan hari kudus Tu-
han ‘hari yang mulia’; apabila engkau meng-
hormatinya dengan tidak menjalankan segala
acaramu dan dengan tidak mengurus urusan-
mu atau berkata omong kosong, maka eng-
kau akan bersenang-senang sebab Tuhan”
(Yes. 58:12-14).
Misi Israel rohani sejajar dengan misi
bangsa Israel masa dulu. Hukum Tuhan di-
langgar saat kuasa tanduk kecil itu mengubah
hari Sabat. Sebagaimana Sabat yang diinjak-
injak itu harus dipulihkan kembali di tengah-
tengah bangsa Israel, demikian pula yang ter-
jadi pada masa modern, lembaga Ilahi yakni
Sabat itu harus dipulihkan dan pelanggaran
atas tembok hukum Allah harus diperbaiki.47
yaitu proklamasi pekabaran dari Wahyu
14:6-12 dalam hubungannya dengan Injil ke-
kal itu yang menyudahkan pekerjaan pemu-
lihan dan pemuliaan hukum itu. Dan prokla-
masi pekabaran inilah menjadi misi sidang
Allah pada masa Kedatangan Kristus yang
kedua kali (baca bab 12). Pekabaran ini akan
membangunkan dunia, mengundang setiap
orang supaya siap menghadapi hari penghu-
kuman.
Kata undangan untuk menyembah sang
Pencipta, “Sembahlah Dia yang telah men-
jadikan langit dan bumi dan laut dan semua
mata air” (Why. 14:7), yaitu petunjuk lang-
sung terhadap hukum keempat dari hukum
Allah yang kekal. Amaran terakhir ini mene-
guhkan rasa keprihatinan khusus dari Tuhan
terhadap hari Sabat-Nya yang telah dilupa-
kan secara luas, dipulihkan sebelum Keda-
tangan Kristus yang kedua kali.
Pemberitaan kabar ini akan mempercepat
konflik yang akan melibatkan seluruh dunia.
Isu sentral yaitu penurutan kepada hukum
Allah dan pemeliharaan hari Sabat. Dalam
menghadapi konflik ini setiap orang haruslah
memutuskan apakah akan menuruti hukum-
hukum Allah ataukah mengikuti hukum-hu-
kum kita semua . Pekabaran ini akan mengha-
silkan satu umat yang tetap memelihara hu-
kum Allah dan beriman kepada Yesus. Ba-
rangsiapa yang menolaknya akan menerima
tanda binatang (Why. 14:9, 12; baca juga bab
12).
Supaya pelaksanaan misi ini berhasil de-
ngan baik demi kemuliaan hari Sabat-Nya
yang telah dilalaikan itu serta membesarkan
hukum Allah, umat Allah harus konsisten,
memberikan contoh pemeliharaan Sabat
yang penuh dengan kasih sayang.
Hari Sabat 301
PEMELIHARAAN SABAT
Untuk “ingatlah dan kuduskanlah hari Sa-
bat” (Kel. 20:8), kita harus memikir-mikirkan
hari Sabat sepanjang minggu dan mengadakan
persiapan yang diperlukan untuk memeliha-
ranya dengan Cara yang berkenan kepada
Allah. Kita haruslah berhati-hati agar jangan
sampai menghambur-hamburkan tenaga kita
sepanjang minggu sehingga kita tidak dapat
melibatkan diri dalam pelayanan hari Sabat.
sebab Sabat merupakan hari khusus
berhubungan dengan Allah dan di dalamnya
kita diundang supaya merayakannya dengan
penuh kegembiraan atas perbuatan-Nya da-
lam penciptaan dan penebusan, maka pen-
tinglah bagi kita menghindari apapun yang
cenderung menghilangkan suasana kesucian
itu. Dengan jelas Alkitab mengatakan supaya
kita berhenti dari segala pekerjaan sekular
pada hari Sabat (Kel. 20:10), menghindari
segala pekerjaan yang bersifat mencari naf-
kah dan segala transaksi bisnis (Neh. 13:15-
22). Kita harus menghormati Tuhan Allah,
dengan “tidak menjalankan segala acaramu
dan tidak mengurus urusanmu atau berkata
omong kosong” (Yes. 58:13). Kalau
,
hari ini
kita isi dengan hal-hal yang menyenang-nye-
nangkan diri kita sendiri, melibatkan diri da-
lam pelbagai keperluan yang bersifat sekular,
dengan omong kosong, atau percakapan me-
ngenai olah raga maka hal-hal itu akan men-
jauhkan kita dari perhubungan dengan Allah
Pencipta dan melanggar kekudusan hari Sa-
bat.48 Perhatian kita yang sungguh-sungguh
mengenai hari Sabat haruslah juga melibatkan
semua orang yang berada dibawah naungan
kita—anak-anak kita, orang yang bekerja ba-
gi kita, bahkan tetamu dan binatang peliha-
raan kita juga (Kel. 20:10), supaya dengan
demikian mereka dapat menikmati berkat
hari Sabat.
Hari Sabat dimulai pada saat matahari
terbenam pada hari Jumat petang dan ber-
akhir pada matahari terbenam hari Sabtu
petang baca Kej. 1:5; bandingkan Mrk.
1:32).49 Alkitab menyebut hari sebelum hari
Sabat (Jumat)—yaitu hari persediaan—
(Mrk. 15:42)—satu hari persiapan untuk hari
Sabat sehingga tidak ada sesuatu yang me-
nodai kekudusannya. Pada hari ini orang-
orang yang bertugas di tengah-tengah ke-
luarga untuk menyediakan makanan untuk
hari Sabat sudah harus menyediakan makan-
an pada waktu itu sehingga selama jam-jam
hari yang kudus itu mereka dapat berhenti
dari segala pekerjaan mereka (baca Kel.
16:23; Bil. 11:8).
Apabila jam-jam Sabat itu mendekat, se-
baiknya anggota keluarga atau kelompok
umat percaya berkumpul bersama-sama se-
belum matahari terbenam pada hari Jumat,
dengan menyanyi, berdoa dan membaca fir-
man Allah, supaya dengan demikian mengun-
dang Roh Kristus datang sebagai tamu yang
dihormati. Begitu pula hendaknya mereka
lakukan pada penutupan Sabat, mengadakan
kebaktian bersama pada hari Sabat, Sabtu
petang, seraya memohon kepada Allah agar
hadir dan menuntun sepanjang minggu ber-
ikutnya.
Allah memanggil umat-Nya supaya men-
jadikan hari Sabat itu sebagai hari kesukaan
(Yes. 58:13). Bagaimana mereka dapat ber-
buat seperti ini? Hanyalah jika mereka meng-
ikuti teladan Kristus, Tuhan hari Sabat, me-
reka dapat berharap mengalami kegembiraan
yang sejati, dan kepuasan yang disediakan
Tuhan pada hari ini.
Kristus secara teratur mengikuti kebaktian
pada hari Sabat, mengambil bagian dalam
pelbagai pelayanan, dan memberikan petun-
juk agama (Mrk. 1:21;3:1-4; Luk. 4:16-27;
13:10). Bahkan Ia melakukan hal yang lebih
dibandingkan sekadar berbakti. Ia turut dalam
persekutuan dengan yang lain (Mrk. 1:29-31;
302 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
Luk.14:1), memakai waktu-Nya di alam
terbuka (Mrk. 2:23), dan keluar untuk mela-
kukan perbuatan yang kudus dan penuh de-
ngan kemurahan. Apa yang dilakukan-Nya,
menyembuhkan yang sakit maupun yang
menderita sengsara (Mrk. 1:21-31; 3:1-5;
Luk. 13:10-17; 14:2-4;Yoh. 5:1-15; 9:1-14).
Apabila Ia dikritik sebab melakukan pe-
kerjaan yang meringankan penderitaan orang
banyak, Yesus menjawab, “Boleh berbuat
baik pada hari Sabat” (Mat. 12:12). Kegiatan
yang dilakukan-Nya, yakni dengan menyem-
buhkan yang sakit, bukanlah melanggar atau
memusnahkan hukum itu. Bahkan dengan
demikian dihentikannya peraturan yang
membebani yang telah mengacaukan makna
pemeliharaan Sabat—padahal Allah menga-
turnya sebagai alat
penyegaran dan kesukaan
rohani.50 Allah menginginkan Sabat itu seba-
gai kekayaan batiniah kita semua . Kegiatan
yang meninggikan hubungan dengan Allah
yaitu layak; barangsiapa yang menyimpang
dari tujuan itu dengan membuat hari Sabat
men-jadi suatu hari liburan yaitu tidak layak.
Tuhan hari Sabat itu mengundang semua
orang supaya mengikuti teladan yang diberi-
kan-Nya. Barangsiapa yang menerima pang-
gilan-Nya akan merasakan Sabat itu sebagai
suatu hari kesukaan dan pesta rohani—
sehingga dapat merasakan lebih dahulu sua-
sana surga. Mereka menemukan bahwa “ha-
ri Sabat itu direncanakan Allah untuk men-
cegah kekecewaan rohani. Dari minggu ke
minggu hari yang ketujuh itu memberikan
penghiburan kepada hati nurani kita, mem-
berikan jaminan kepada kita bahwa walaupun
tabiat kita belum sempurna kita dapat berdiri
secara utuh di dalam Kristus. Tindakan-Nya
di bukit Golgota dianggap menjadi pendamaian
bagi kita. Kita memasuki tempat perhentian-
Nya.”51
____________________________
1. John N. Andrews, History of the Sabbath, edisi kedua, (Battle Creek, MI: Seventh-day Advetist Publishing Assn.,
1873), edisi ketiga, hlm. 575.
2. SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 1, hlm. 220.
3. Ibid.
4. J.L Shuler, God’s Everlasting Sign (Nashville: Southern Pub. Assn., 1972), hlm. 114-116; M.L Andreason, The
Sabbath (Washington, D.C.: Review and Herald, 1942), hlm. 248; Wallenkampf, “The Baptism, Seal, and
Fullness of the Holy Spirit” (naskah yang tidak diterbitkan), hlm. 48; White, Patriarchs and Prophets, hlm. 307;
White, Great Controversy, hlm. 613, 640.
5. White, Patriarchs and Prophets; hlm. 307.
6. Wallenkampf, “Baptism, Seal, and the Fullness of the Holy Spirit,” hlm. 48.
7. SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 1, hlm. 605.
8. “Sabbath,” SDA Encyclopedia, edisi revisi, hlm. 1239.
9. “Sabbath, Annual,” Ibid., hlm. 1265.
10. Jonathan Edwards, The Works of President Edwards (New York: Leavitt & Allen, 1825 repr. dari edisi Wor-
cester), jilid 4, hlm. 622. Kaum Puritan menganggap Minggu sebagai Sabat Kristen.
11. Sungguh menarik, yaitu pada “hari yang ditinggikan” itu Yesus beristirahat di kubur—sebab Sabat itu yaitu hari
ketujuh dalam minggu itu dan sekaligus merupakan Sabat pertama dari Minggu Roti Tidak Beragi. Betapa
merupakan puncak penebusan! “yaitu baik” sebagaimana dikatakan dalam Penciptaan, berbaur dengan “sudah
selesai” dari penebusan sebagai Pencipta dan Penyudah sekali lagi berhenti dalam penyelesaian.
12. Samuel Bacchiocchi, Rest for Modern Man (Nashville: Southern Pub. Assn., 1976), hlm. 8, 9.
13. “Sabbath,” SDA Encyclopedia, edisi revisi, hlm. 1244. Baca juga SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 7, hlm.
205, 206; bnd White, “The Australia Camp Meeting,” Review and Herald, 7 Jan. 1896, hlm. 2.
14. Lihat SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 7, hlm. 735, 736. Bnd. White, Acts of the Apostles (Mountain
View, CA: Pacific Press, 1911), hlm. 581.
15. “Sabbath,” SDA Encyclopedia, hlm. 1237.
16. A.H. Strong, Systematic Theology, hlm. 408.
17. White, Patriarchs and Prophets, hlm. 48.
18. Bacchiocchi, Rest for Modern Man, hlm. 15.
Hari Sabat 303
19. Ibid., hlm. 19.
20. White, Testimonies, jilid 6, hlm. 350.
21. Andreasen, Sabbath, hlm. 25.
22. Legalisme dapat juga didefinisikan sebagai “upaya-upaya untuk memperoleh keselamatan dengan usaha individu.
Menyesuaikan tindakan dengan hukum serta peraturan-peraturan lainnya sebagai satu sarana pembenaran di ha-
dapan Allah. Ini salah sebab “tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh sebab melakukan
hukum Taurat’ (Rm. 3:20)” (Shuler, God’s Everlasting Sign, hlm. 90). Shuler melanjutkan, “Barangsiapa yang
menganggap pemeliharaan hari Sabat sebagai legalisme perlulah mempertimbangkan yang berikut ini: Jika seorang
Kristen yang dilahirkan kembali menjauhkan diri dari penyembahan ilah-ilah palsu dan berusaha menghormati apa
yang diajarkan dalam hukum pertama dan ketiga, apakah ia dengan demikian menentang keselamatan sebab anu-
gerah? Adakah kesucian, kejujuran, benar, sebagaimana dianjurkan oleh hukum ketujuh, kedelapan dan sembilan
bertentangan dengan anugerah yang diberikan secara cuma-cuma itu? Jawaban atas kedua pertanyaan ini ialah
Tidak. Walaupun demikian, pemeliharaan atas hari ketujuh dengan pembaruan jiwa bukanlah legalisme, tidak juga
bertentangan dengan keselamatan dengan anugerah. Sesungguhnya, hukum hari Sabat yaitu satu-satunya ajaran
di dalam hukum yang tetap berdiri sebagai satu tanda kelepasan dari dosa dan penyucian oleh anugerah saja” (ibid).
23. Ibid., hlm. 89.
24. Ibid., hlm. 94.
25. Andreasen, Sabbath, hlm. 105.
26. SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 7, hlm. 420.
27. Ibid.
28. James Gibson, The Faith of Our Fathers, ed. (Baltimore: John Murphy & Co., 1895), hlm. 111, 112, R.W. Dale,
seorang penganut Kongregasionalis, berkata, “Sungguh jelas, betapapun kakunya atau berbaktinya
.
kita pada hari
Minggu, kita tetap tidak memelihara Sabat.... Sabat didirikan atas perintah Ilahi secara khusus. Kita tidak dapat
membela perintah yang demikian dengan kewajiban memelihara hari Minggu” (R.W. Dale, The Ten Command-
ments, edisi keempat (London: Hodder and Stoughton, 1884), hlm. 100.
29. Andrew T. Lincoln, “From Sabbath to Lord’s Day: A Biblical and Theological Perspective,” dalam From Sabbath
to Lord’s Day: A Biblical, Historical, and Theological Investigation, ed. D.A.Carson (Grands Rapids: Zondervan,
1982), hlm. 386.
30. Ibid., hlm. 392.
31. Lihat Justin Martyr, First Apology, dalam Ante-Nicene Fathers (Grand Rapids: Wm. b. Eerdsmans,1979), jilid 9,
hlm. 186; Maxwell, God Cares (Mountain View, CA: Pacific Press, 1981), jilid 1, hlm. 130.
32. Lihat, contoh, Bacchiocchi,’The Rise of Sunday Observance in Early Christianity,” dalam The Sabbath in
Scripture and History, ed. Kenneth, A. Strand (Washington, D.C.: Review and Herald, 1982), hlm. 137; Baccio-
cchi, From Sabbath to Sunday (Rome: Pontifical Gregorian University Press, 1977), hlm. 223-232.
33. Socrates, Ecclesiastical History, artikel S, bab 22, terjemahan dalam Nicene and Post-Nicene Fathers, seri kedua
(Grand Rapids: Wm.B. Eerdmans, 1979), jilid 2, hlm. 132.
34. Sozomen, Ecclesiastical History, artikel 7, bab 19, terj. dalam Nicene and Post-Nicene Fathers , seri kedua, jilid 2,
hlm. 390.
35. Maxwell, God Cares, jilid 1, hlm. 131.
36. Gaston H. Halsberghe, The Cult of Sol Invictus (Leiden: E.J. Brill, 1972), hlm. 26, 44. Lihat juga Bacciocchi, “Rise
of Sunday Observbance,” hlm. 139.
37. Bacciocchi, “Rise of Sunday Observance,” hlm. 140. Lihat juga artikel Bacchiocchi, From Sabbath to Sunday, hlm.
252, 253.
38. Lihat Maxwell, God Cares, jilid 1, hlm. 129; H.G. Heggtveit, Illustreret Kirkehistorie (Christiana/Oslo/
Cammermeyers Boghandel, 1891-1895), hlm. 202, sebagaimana diterjemahkan dalam SDA Bible Students’ Sour-
ce boll; edisi revisi, hlm. 1000.
39. Codex Justitianus; artikel 3, judul 12, 3, terj. dalam Schaff, History of the Christian Church edisi kelima (New York:
Charles Scribner, 1902), jilid 3, hlm, 380, catatan 1).
40. Konsili Laodikea, Kanon 29, dalam Charles J. Hefele, A History of the Councils of the Church From the Original
Documents, terj. dan editor Henry N. Oxenham (Edinburgh: T and T Clark, 1876), jilid 2, hlm. 316. Lihat juga
SDA Bible Students’ Source book, edisi revisi, hlm. 885.
41. Giovanni Domenico Mansi, ed., Sacronum Conciliorum jilid 9, col. 919, dikutip oleh Maxwell, God Cares I,
hlm.129. Dikutip sebagian dalam Andrews, History of the Sabbath and First Day of the Week hlm. 374.
42. Lucius Ferraris “Papa,” artikel 2, Prompta Bibliotheca (Venetiis/Venice/:Caspa Storti, 1772), jilid 6. hlm. 29,
sebagaimana diterjemahkan dalam SDA Bible Students’ Source Boot; edisi revisi, 680.
43. John Eck, Enchiridion of commonplaces Against Luther and Other Enemies of the Church, terjemahan Ford L.
Battles, edisi ketiga (Grand Rapids: Baker, 1979), hlm. 13.
44. Gaspare (Ricciulli) de Fosco, Amanat dalam Sesi 17 dari Konsili Trent, 18 Jan 1562, dalam mansi, Sacrorum Con-
ciliorum, jilid 33, col. 529, 530, menurut terjemahan dalam SDF Bible Students’ Source Book, edisi revisi,
hlm.887.
304 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
45. Peter Geiermann, The Convert’s Catechism of Catholic Doctrine (Rockford, IL: Tan Books and Publishers,
1977), hlm. 50.
46. John A. O’Brien, The Faith of Millions, edisi revisi (Huntington, IN: Our Sunday Visitor Inc. 1974), hlm. 400,
401.
47. Bnd. White, Great Controversy, hlm. 451-453.
48. White, Selected Messages, artikel 3, hlm. 258.
49. Dalam Alkitab, sebagaimana dijelaskan dalam kisah Penciptaan, hari ditandai dari matahari terbenam sampai
matahari terbenam. Baca juga Im. 23:32.
50. Apakah mandat teladan Kristus bahwa rumah sakit-rumah sakit Kristen dibuka terus selama tujuh hari tanpa mem-
beri istirahat kepada pengurusnya? Menyadari akan keperluan pegawai rumah sakit, White berkata sebagai ber-
ikut, “Juruselamat telah menunjukkan kepada kita melalui teladan-Nya bahwa menyembuhkan derita orang yaitu
baik dilakukan pada hari itu; akan namun para dokter dan perawat bukannya tidak perlu beristirahat dari peker-
jaannya. Pengobatan biasa dan pembedahan yang dapat ditunda, seharusnya diberikan untuk hari berikutnya. Biar-
lah para pasien mengetahui bahwa dokter pun perlu beristirahat dalam satu hari” (Medical Ministry/Mountain
View, CA: Pacific Press, 1963, hlm. 214. Pembayaran pengobatan pada hari ini hendaknya diasingkan sebagai
biaya untuk yang tidak mampu. White menulis, “Mungkin perlu juga mengabdi jam-jam hari Sabat itu untuk me-
nyembuhkan kita semua yang menderita. Akan namun pembayaran untuk pekerjaan yang demikian haruslah dima-
sukkan ke dalam perbendaharaan Tuhan, untuk digunakan membantu orang yang miskin, yang memerlukan
pengobatan medis namun tidak mampu membayarnya” (Ibid., hlm. 216).
51. George E. Vandeman, When God Make Rest (Boise, ID: Pacific Press, 1887), hlm. 21.
Kitalah penatalayan-penatalayan Allah, dipercayakan-Nya kepada
kita waktu dan kesempatan, kesang-gupan dan harta-milik dan juga
berkat-berkat bumi serta segala sumbernya. Kita bertanggung jawab
ke-pada-Nya atas penggunaannya dengan baik. Kita mengakui Allah
pemiliknya dengan pelayanan yang setia kepada-Nya dan kepada
sesama, dan dengan mengembalikan persepuluhan dan persembahan
untuk memproklamasikan Injil-Nya serta membantu dan mengem-
bangkan jemaat-Nya. Penatalayanan yaitu suatu hak istimewa
yang diberikan Allah kepada kita untuk dipelihara dengan kasih
sayang dan menang atas sifat mementingkan diri sendiri dan atas
keinginan terhadap milik orang lain. Penatalayan bergembira di da-
lam berkat-berkat yang datang kepada orang lain sebagai hasil dari
kesetiaannya.—Fundamental Beliefs,––21.
307
Hidup Kristen ialah berserah, tidak ada
yang lebih dari itu—menyerahkan diri
kita sendiri dan menerima Kristus. Jika kita
memperhatikan bagaimana Yesus menyerah-
kan dan memberikan diri-Nya kita sudah se-
layaknya berseru dengan nyaring, “Apakah
yang dapat kulakukan bagi-Mu?”
Lalu, jika kita memikirkan bahwa kita te-
lah melakukan penyerahan yang penuh, be-
nar-benar menyerah, maka sesuatu terjadi,
menunjukkan bahwa betapa dangkalnya pe-
nyerahan kita itu. Apabila kita mendapati ba-
gian-bagian baru dari kehidupan kita dipaling-
kan kepada Allah, maka penyerahan kita pun
semakin bertambah. Demikianlah, dengan le-
mah lembut Ia menarik perhatian kita ke ba-
gian yang lain lagi, diri yang sangat perlu dise-
rahkan. Sehingga hidup menjadi rangkaian
penyerahan kembali yang Kristiani, dalam
dan semakin dalam jauh di lubuk hati, gaya hi-
dup kita, bagaimana kita bertindak dan be-
reaksi.
Apabila kita memberikan semua yang ada
pada kita kepada Allah, yang menjadi pemilik
segalanya (1 Kor. 3:21-4:2), Ia menerimanya,
namun Ia menyerahkannya kembali kepada
kita selaku tanggung jawab kita, dan membu-
at kita sebagai penatalayan atau yang menja-
lankan segala sesuatu yang kita “miliki.”
Maka kecenderungan kita kepada hidup yang
nyaman, hidup yang sekadar mementingkan
diri sendiri dihancurkan dengan kesadaran
bahwa Tuhan pernah tidak memiliki pakaian,
terpenjara, dan seorang yang asing. Dan ke-
sabaran-Nya yang tidak mengenal lelah “O-
leh sebab itu, pergilah, ajarlah segala bang-
sa” membuat jemaat mempunyai kegiatan —
membagi iman, mengajar, berkhotbah, mem-
baptis—lebih berharga bagi kita. sebab Dia,
kita berusaha menjadi penatalayan yang se-
tia.
APAKAH PENATALAYANAN ITU?
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuh-
mu yaitu bait Roh Kudus... dan bahwa
kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu
telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar:
sebab itu muliakanlah Allah dengan tubuh-
mu!” (1 Kor. 6:19, 20). Kita telah dibeli dan
BAB 21
PENATALAYANAN
308 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
ditebus dengan harga yang sangat tinggi. Kita
milik Allah. Bahkan hal yang demikian meru-
pakan tindakan meminta kembali, sebab
sebenarnya Ia yang menjadikan kita; kita
menjadi milik-Nya sejak semula sebab “Pa-
da mulanya Allah menciptakan...” (Kej. 1:1).
Dengan jelas Alkitab menyatakan bahwa
“Tuhanlah yang empunya bumi serta segala
isinya, dan dunia serta yang diam di dalam-
nya” (Mzm. 24:1).
Pada saat Penciptaan, Tuhan membagi
milik-Nya kepada kita semua , dan Ia masih te-
tap menjadi pemilik yang sejati akan dunia ini,
berikut penghuninya, dan segala kekayaan
yang ada di dalamnya (Mzm. 24:1). Di
kayu salib Ia mengambil kembali milik-Nya
yang telah diserahkan kita semua kepada Setan
pada waktu kejatuhan (1 Kor. 6:19-20). Se-
karang Ia mengangkat umat-Nya untuk me-
layani sebagai penatalayan-penatalayan harta
milik-Nya.
Seorang penatalayan yaitu orang yang
“dipercayakan dengan pengelolaan seisi ru-
mah atau harta milik yang lain.” Penatalayanan
yaitu “kedudukan, tugas-tugas atau pelayan-
an seorang penatalayan.”1 Kepada orang
Kristen, penatalayanan berarti “tanggung ja-
wab kita semua kepada, dan penggunaan dari-
padanya, segala sesuatu yang dipercayakan
Tuhan kepadanya—hidup, tubuh, waktu, ta-
lenta dan kemampuan, benda-benda yang di-
miliki, kesempatan yang dimiliki untuk mela-
yani orang lain, dan pengetahuannya menge-
nai kebenaran.”2 Orang-orang Kristen beker-
ja selaku manajer atas milik Allah dan meng-
anggap hidup sebagai suatu kesempatan Ilahi
“untuk belajar menjadi penatalayan-penatala-
yan yang setia, supaya dengan demikian la-
yak untuk penatalayanan yang lebih tinggi,
yakni hal-hal yang abadi bagi kehidupan
mendatang.”3
Dalam dimensi yang lebih besar, kemu-
dian penatalayanan itu “menyangkut hikmat
dan penggunaan hidup yang tidak memen-
tingkan diri sendiri.”4
CARA-CARA UNTUK MENGAKUI
KEPEMILIKAN ALLAH
Hidup itu dapat dibagi dalam empat bagian
dasar, masing-masing yaitu pemberian Al-
lah. Ia memberikan kepada kita tubuh, ke-
mampuan, waktu dan harta milik. Tambahan
lagi, kita harus memperhatikan dunia sekeli-
ling kita, yang telah diserahkan kepada kita.
Penatalayanan Tubuh. Umat Allah yaitu
penatalayan-penatalayan atas diri sendiri.
Kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap
hati, dan dengan segenap jiwa, dengan sege-
nap tenaga, dan dengan segenap pikiran kita
(Luk. 10:27).
yaitu merupakan suatu hak istimewa
bagi orang Kristen untuk mengembangkan
jasmani mereka, begitu juga dengan kuasa pi-
kiran supaya mempunyai kemampuan yang
terbaik dan kesempatan-kesempatan yang
paling baik. Dengan berbuat demikian mere-
ka mendatangkan kehormatan kepada Allah
dan dapat memberikan bukti berkat yang le-
bih besar kepada sesama kita semua . (Baca
bab 22).
Penatalayanan Kemampuan. Setiap orang
memiliki talenta khusus. Ada orang yang ber-
talenta di bidang musik, sedang yang lain
mahir dalam soal perdagangan, sebagai tu-
kang jahit atau montir mobil. Ada pula orang
yang mudah sekali mendapat sahabat dan
berbaur dengan orang lain, sementara yang
lain secara alamiah cenderung menyendiri.
Setiap talenta dapat digunakan untuk me-
muliakan orang yang memilikinya atau Pem-
beri yang sebenarnya. Seorang dapat dengan
rajin mengusahakan kesempurnaan talentanya
Penatalayanan 309
demi kemuliaan Tuhan, atau demi kemuliaan
diri sendiri.
Kita harus berupaya mengusahakan pem-
berian Roh Kudus yang memberikan masing-
masing kita perintah untuk melipatgandakan
talenta ini (Mat. 25). Penatalayan yang baik
memakai pemberian yang mereka per-
oleh itu dengan murah hati agar mendatangkan
keuntungan yang besar bagi tuannya.
Penatalayanan Waktu. Sebagai penatala-
yan-penatalayan yang setia, kita memuliakan
Allah dengan memakai waktu kita de-
ngan bijaksana. “Apa pun juga yang kamu
perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu
seperti untuk Tuhan dan bukan untuk ma-
nusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah ka-
mu akan menerima bagian yang ditentukan
bagimu sebagai upah. Kristus yaitu tuan
dan kamu hamba-Nya” (Kol. 3:23, 24).
Alkitab meminta agar kita jangan menjadi
“seperti orang yang bebal, namun seperti
orang arif, dan pergunakanlah waktu yang
ada, sebab hari-hari ini yaitu jahat” (Ef.
5:15,16). Seperti Yesus, kita haruslah mela-
kukan pekerjaan yang dikerjakan Bapa (Luk.
2:49). Waktu yaitu pemberian Tuhan, setiap
saat sangat berharga. Pemberian ini diberi-
kan untuk membentuk tabiat bagi kehidupan
yang kekal. Penatalayan yang setia dalam so-
al waktu yang disebutkan di sini ialah dengan
memakai waktu itu untuk mengenal Al-
lah, menolong sesama kita semua serta memba-
gi-bagikan Injil.
Apabila, ketika Penciptaan, Allah mem-
berikan waktu kepada kita, Ia menyediakan
Sabat hari yang ketujuh itu sebagai waktu
yang kudus untuk berhubungan dengan Dia.
Akan namun ada waktu enam hari diberikan
kepada keluarga kita semua untuk digunakan
untuk pekerjaan yang bermanfaat.
Penatalayanan atas Harta Milik. Allah
memberikan kepada leluhur kita tanggung
jawab untuk menaklukkan bumi, memerintah
kerajaan binatang, serta memelihara Taman
Eden (Kej. 1:28; 2:15). Semua ini menjadi
kepunyaan mereka bukan untuk dinikmati
saja, namun juga untuk dikelola.
Satu larangan yang diberikan kepada me-
reka, yakni, mereka tidak boleh memakan bu-
ah pohon pengetahuan yang baik dan yang ja-
hat. Pohon ini tetap merupakan peringatan
bahwa Tuhanlah sebenarnya pemilik dan pe-
nguasa akhir atas dunia. Menghormati la-
rangan ini, berarti pasangan yang pertama itu
menunjukkan iman mereka di dalamnya dan
menunjukkan kesetiaan mereka kepada-
Nya.
Sesudah Kejatuhan, Allah tidak lagi mem-
berikan ujian kepada kita semua melalui pohon
pengetahuan itu. Akan namun kita semua masih
tetap memerlukan pengingat yang terus-me-
nerus bahwa Allah merupakan sumber sega-
la yang baik dan sumber pemberian yang
sempurna (Yak. 1:17) dan Ia yang menyedia-
kan kuasa bagi kita untuk memperoleh keka-
yaan (Ul. 8:18). Untuk mengingatkan kita
bahwa Ia sumber segala berkat, Allah mendi-
rikan sebuah sistem persepuluhan dan per-
sembahan.
Sistem inilah yang menunjang keuangan
para imam yang melaksanakan tugas keima-
matan di bait Allah. Gereja Masehi Advent
Hari Ketujuh mengambil model keimamatan
o-rang Lewi ini, metode yang ada di
dalam Alkitab untuk menunjang keuangan
penginjilan untuk menjangkau dunia. Allah
telah menetapkan bahwa penyebaran kabar
baik haruslah bergantung kepada upaya dan
persembahan umat-Nya. Ia mengajak mere-
ka supaya jangan mementingkan diri dan
hendaknya menjadi pekerja bersama Dia de-
310 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
ngan memberikan persepuluhan dan per-
sembahan kepada-Nya.
1. Persepuluhan. Sebagaimana sepertu-
juh dari waktu kita (Sabat) menjadi milik Al-
lah, maka begitu pula sepersepuluh dari sega-
la harta benda yang kita peroleh yaitu milik-
Nya. Kitab Suci mengatakan kepada kita
bahwa persepuluhan “dikuduskan bagi Tu-
han,” melambangkan kepemilikan Tuhan
atas segala sesuatu (Im. 27:30, 32). Perse-
puluhan itu haruslah dikembalikan kepada-
Nya sebagai milik-Nya.
Sistem persepuluhan sangat indah dalam
kesederhanaannya. Keadilannya dinyatakan
dengan tuntutannya yang berimbang baik un-
tuk orang kaya maupun untuk orang miskin.
Kesepadanan itu terletak pada Allah selaku
pemilik yang memberikan kepada kita untuk
digunakan, maka begitu pulalah kita harus
mengembalikan sepersepuluh penghasilan
kita kepada-Nya.
Waktu Tuhan meminta persepuluhan
(Mal. 3:10), Ia tidak meminta rasa syukur
atau kedermawanan. Walaupun sebenarnya
rasa syukur haruslah menjadi bagian pernya-
taan kita kepada Tuhan, kita memberikan
persepuluhan sebab Tuhan memerintahkan-
nya. Persepuluhan itu milik Tuhan dan Ia me-
minta supaya kita mengembalikannya kepada-
Nya.
a. Contoh persepuluhan. Pemberian
persepuluhan telah dipraktikkan dalam Kitab
Suci. Abraham memberikan kepada Melkise-
dek, imam Tuhan Yang Mahatinggi, “seper-
sepuluh dari semuanya” (Kej. 14:20). De-
ngan berbuat demikian, ia mengakui keima-
matan Melkisedek berasal dari Tuhan, dan
menunjukkan bahwa ia mengenal betul lem-
baga yang kudus ini. Penyerahan persepuluhan
ini menunjukkan bahwa kebiasaan ini telah
melembaga pada zaman dahulu.
Yakub juga mengenal betul aturan per-
sepuluhan ini. Sebagai seorang pelarian dan
buronan, ia berjanji kepada Tuhan, “Dari se-
gala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku
akan selalu kupersembahkan sepersepuluh
kepada-Mu” (Kej. 28:22). Dan sesudah Ke-
luaran (Eksodus), ketika bangsa Israel telah
ditetapkan sebagai satu bangsa, Tuhan me-
ngukuhkan kembali hukum persepuluhan se-
bagai lembaga Ilahi, yang di dalamnya ter-
gantung kemakmuran bangsa Israel (Im.
27:30-32; Bil. 18:24, 26, 28; Ul. 12:6, 11, 17).
Jauh dari penghapusan lembaga ini, justru
Perjanjian Baru mengakui keabsahannya.
Yesus membenarkan persembahan persepu-
luhan dan menghakimkan orang yang me-
langgarnya (Mat. 23:23). Sementara hukum
keupacaraan mengatur persembahan korban
yang melambangkan korban pendamaian
Kristus berakhir pada saat kematian-Nya,
hukum mengenai persepuluhan tidak berakhir
di situ.
sebab Abraham yaitu bapa orang ber-
iman, maka ialah yang menjadi contoh pem-
bayaran persepuluhan kepada Melkisedek,
Imam Allah yang Mahatinggi, begitu pulalah
dengan orang yang beriman pada zaman Per-
janjian Baru, memberi persepuluhan kepada
Kristus, Imam Besar kita menurut peraturan
Melkisedek. (Ibr. 5:9, 10; 7:1-22).5
b. Penggunaan persepuluhan. Persepu-
luhan itu suci dan harus digunakan untuk tu-
juan-tujuan yang suci saja. Tuhan menyuruh,
“Demikian juga segala persembahan perse-
puluhan dari tanah, baik dari hasil benih di ta-
nah maupun dari buah pohon-pohonan, ada-
lah milik Tuhan; itulah persembahan yang ku-
dus bagi Tuhan.... Mengenai segala persem-
bahan-persepuluhan dari lembu sapi atau
kambing domba... harus menjadi persem-
bahan kudus bagi Tuhan” (Im. 27:30-32).
“Bawalah seluruh persembahan persepuluhan
Penatalayanan 311
itu ke dalam rumah perbendaharaan,” kata-
Nya, “supaya ada persediaan makanan di ru-
mah-Ku” (Mal. 3:10).
Di kalangan bangsa Israel, persepuluhan
itu digunakan hanya untuk orang-orang Lewi
yang sama sekali tidak menerima bagian apa-
apa dari suku-suku Israel, sebab mereka ha-
rus memakai seluruh waktu mereka me-
rawat perbaktian bangsa Israel, melayani pe-
kerjaan di kaabah, dan memberikan petunjuk
kepada orang banyak dalam hal yang berkait-
an dengan hukum Tuhan (Bil. 18:21, 24).
Sesudah Penyaliban, saat peranan lang-
sung keimamatan orang Lewi berakhir, per-
sembahan persepuluhan masih tetap diguna-
kan untuk membantu pelayanan gereja Tu-
han. Paulus menggambarkan dasar utama
prinsip ini dengan menyejajarkan pelayanan
Keimamatan dengan pelayanan Injil yang ba-
ru didirikan. Ia berkata, “Jadi, jika kami telah
menaburkan benih rohani bagi kamu, berle-
bih-lebihankah, kalau kami menuai hasil du-
niawi dibandingkan kamu? Kalau orang lain mem-
punyai hak untuk mengharapkan hal itu dari
pada kamu, bukankah kami mempunyai hak
yang lebih besar?... Tidak tahukah kamu,
bahwa mereka yang melayani dalam tempat
kudus mendapat penghidupannya dari tempat
kudus itu dan bahwa mereka yang melayani
mezbah, mendapat bahagian mereka dari
mezbah itu? Demikian pula Tuhan telah me-
netapkan, bahwa mereka yang memberitakan
Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu” (1
Kor. 9:11-14).
Oleh sebab itu, anggota-anggota gereja,
dengan sukarela membawa persepuluhan
mereka ke dalam “rumah perbendaharaan,
supaya ada persediaan makanan di rumah-
Ku” (Mal. 3:10)—dengan kata lain, supaya
cukup biaya di gereja Tuhan untuk mengada-
kan pelayanan serta meneruskan tugas Injil
ke luar.6, 7
2. Persembahan. Orang-orang Kristen
yang tahu berterima kasih tidak membatasi
bagian mereka membantu gereja hanya de-
ngan persepuluhan saja. Mezbah persembah-
an bangsa Israel, yang lalu dikenal de-
ngan Bait Allah, dibangun dari “pemberian
sukarela”—persembahan yang diberikan de-
ngan hati yang rela (Kel. 36:2-7; bandingkan
1 Taw. 29:14). Persembahan-persembahan
khusus menutupi biaya pembangunan tempat
kebaktian ini (Kel. 30:12-16; 2 Raj. 12:4, 5; 2
Taw. 24:4-13; Neh. 10:32, 33). Barangkali
bangsa Israel yang paling banyak memberi,
dari seperempat sampai sepertiga penghasilan
mereka dibaktikan kepada agama dan mak-
sud-maksud yang bersifat kedermawanan.
Apakah dengan turut sertanya memberi da-
lam jumlah besar dan berat itu membuat me-
reka jatuh miskin? Justru sebaliknya, Allah
berjanji untuk memberkati kesetiaan mereka
(Mal. 3:10-12).8
Begitu pula sekarang ini, Allah meminta
supaya kita memberi dengan murah hati se-
bagaimana Ia telah memberikan kemakmuran
kepada kita. Pemberian dan persembahan di-
perlukan untuk membangun, memelihara dan
menjalankan jemaat, juga untuk mendirikan
lembaga pengobatan sebagai tugas misionaris,
menunjukkan makna praktis Injil itu.
Apakah kita harus memberi seperti bang-
sa Israel memberi, ataukah pola dan cara me-
reka memberi itu tidak lagi dapat digunakan?
Di dalam Perjanjian Baru Kristus meletakkan
dasar-dasar penatalayanan yang sejati—
bahwa pemberian kita kepada Tuhan harus-
lah berimbang dengan terang dan hak-hak is-
timewa yang kita nikmati. la berkata “Setiap
orang yang kepadanya banyak diberi, dari-
padanya akan banyak dituntut, dan kepada
siapa yang banyak dipercayakan, dibandingkan -
nya akan lebih banyak lagi dituntut” (Luk.
12:48). Ketika Kristus mengutus para peng-
312 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
ikut-Nya untuk melakukan sebuah misi, Ia
berkata, “Kamu telah memperolehnya de-
ngan cuma-cuma, sebab itu berikanlah pula
dengan cuma-cuma” (Mat. 10:8). Prinsip ini
berlaku juga atas berkat-berkat keuangan ki-
ta.
Perjanjian Baru sama sekali tidak pernah
menghapuskan sistem ini. Jika kita memban-
ding-bandingkan hak-hak istimewa kita dan
berkat-berkat yang kita peroleh dengan
orang-orang Israel, maka kita akan melihat
bahwa di dalam Kristus bagian kita jauh lebih
besar. Akankah rasa syukur kita memperoleh
pernyataan hubungan melalui kedermawanan
yang lebih besar supaya dengan demikian Injil
keselamatan ini dapat diluaskan kepada
orang lain?9 Makin luas jangkauan Injil itu
diumumkan, makin besar bantuan yang diper-
lukan.
3. Prinsip yang masih tetap berlaku.
Prinsip penatalayanan berlaku juga atas apa
yang tetap ada pada kita sama seperti apa
yang kita berikan. Sementara persepuluhan
yaitu ujian dasar penatalayanan kita atas
harta milik kita yang bersifat sementara,10
penggunaannya tetap juga menjadi ujian bagi
kita.
Bagaimana kita memakai harta ben-
da kita menunjukkan sejauh mana kita me-
ngasihi Tuhan dan sesama kita. Uang mung-
kin menjadi satu kuasa demi kebaikan: jika
ada di tangan kita dapat kita gunakan untuk
memberi makan orang-orang yang lapar,
memberikan minuman bagi orang yang da-
haga, dan memberikan pakaian bagi orang
yang tidak berpakaian (Mat. 25:34-40). Dari
sudut Allah, uang sangat berharga apabila di-
gunakan untuk keperluan hidup, untuk mem-
berkati orang lain dan menunjang pekerjaan-
Nya.
4. Tidak setia dalam soal persepu-
luhan dan persembahan. Secara umum,
orang-orang tidak mengerti dan melalaikan
prinsip Ilahi mengenai penatalayanan. Bahkan
di kalangan orang Kristen sendiri hanya se-
dikit yang mengetahui peranan mereka sela-
ku penatalayan. Respons Tuhan terhadap ke-
tidaksetiaan bangsa Israel memberikan pan-
dangan yang jelas bagaimana Tuhan mem-
perhatikan hal ini. Apabila mereka menggu-
nakan persepuluhan dan persembahan untuk
kepentingan diri sendiri, Ia mengamarkan
mereka bahwa hal itu sama dengan pencuri
(Mal 3:8) dan menyifatkan kurangnya keber-
untungan mereka sebab mereka kurang se-
tia dalam soal keuangan: “Kamu telah kena
kutuk, namun kamu masih menipu Aku, ya
kamu seluruh bangsa!” (Mal. 3:9).
Allah menunjukkan panjang sabar-Nya,
kasih dan kemurahan dengan memberikan
amaran-Nya disertai dengan pemberian anu-
gerah: “Kembalilah kepada-Ku, maka Aku
akan kembali kepadamu” (Mal. 3:7). Ia
memberikan kepada mereka berkat yang
berkelimpahan seraya menantang mereka
supaya menguji kesetiaan-Nya. “Bawalah
seluruh persembahan persepuluhan itu ke
dalam rumah perbendaharaan, supaya ada
persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah
Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah
Aku tidak membukakan bagimu tingkap-ting-
kap langit dan mencurahkan berkat kepadamu
sampai berkelimpahan. Aku akan menghardik
bagimu belalang pelahap, supaya jangan di-
habisinya hasil tanahmu dan supaya jangan
pohon anggur di padang tidak berbuah bagi-
mu, firman Tuhan semesta alam. Maka sega-
la bangsa akan menyebut kamu berbahagia,
sebab kamu ini akan menjadi negeri kesuka-
an, firman Tuhan semesta alam” (Mal. 3:10-
12).
Penatalayanan bumi. Ilmu pengetahuan
modern telah menjadikan bumi ini sebuah la-
Penatalayanan 313
boratorium yang besar untuk penelitian dan
eksperimen. Penelitian yang demikian telah
memberikan banyak keuntungan, akan namun
revolusi industri juga telah mengakibatkan
pencemaran udara, air dan tanah. Dalam be-
berapa hal, teknologi telah memanipulasi
alam ketimbang mengelolanya dengan bijak-
sana.
Kitalah penatalayan dunia ini, dan kita ha-
rus melakukan segala upaya untuk memper-
tahankan hidup pada segala tingkat dengan
memelihara keseimbangan ekologi secara
utuh. Pada waktu kedatangan-Nya yang ke-
dua kali, Kristus akan “membinasakan ba-
rangsiapa yang membinasakan bumi” (Why.
11:18). Dari sudut ini penatalayan-penatala-
yan Kristen bertanggung jawab bukan saja
atas milik mereka namun bertanggung jawab
juga atas dunia sekelilingnya.
KRISTUS SEBAGAI PENATALAYAN
Penatalayanan yang baik ialah penatala-
yanan yang tidak mementingkan diri; memas-
rahkan diri kepada Tuhan sepenuhnya seraya
melayani kita semua . sebab kasih-Nya kepa-
da kita maka Kristus telah menanggung salib
yang kejam itu, bahkan rasa pahit yang paling
dalam sebab penolakan milik-Nya sendiri,
dan rasa ditinggalkan Allah yang tidak terdu-
ga dalamnya. Dibandingkan dengan pembe-
rian ini, bukan atas apa yang dipunyai-Nya—
sekalipun Ia telah memiliki segala sesuatu—
melainkan atas Diri-Nya sendiri. Itulah yang
dimaksudkan dengan penatalayanan. Dengan
merenung-renungkan karunia yang terbesar
ini kita tidak lagi dalam kedirian kita sendiri,
melainkan menjadi semakin serupa dengan
Dia. Itulah yang menggerakkan kita menjadi
orang yang amat memperhatikan jemaat, me-
melihara orang-orang yang berada dalam
lingkup orang percaya dan juga yang tidak
termasuk ke dalam lingkup itu. sebab Kris-
tus mati bagi dunia, penatalayanan, dalam
artinya yang lebih luas, yaitu untuk dunia ini.
BERKAT-BERKAT
PENATALAYANAN
Allah telah menempatkan kita selaku pe-
natalayan demi kepentingan diri kita sendiri,
pertumbuhan kita bukan demi Dia.
Berkat Pribadi. Salah satu alasan Tuhan
meminta kita supaya terus mengabdikan se-
luruh hidup kita kepada-Nya—waktu, kemam-
puan, tubuh dan harta milik kita—untuk me-
nguatkan pertumbuhan rohani kita sendiri,
dan untuk mengembangkan tabiat. Jika kita
senantiasa sadar atas kepemilikan Tuhan
atas segala sesuatu dan kasih yang tidak hen-
ti-hentinya yang dicurahkan-Nya kepada ki-
ta, maka kasih dan rasa syukur kita akan ter-
pelihara.
Penatalayanan yang setia juga membantu
kita untuk memperoleh kemenangan atas ra-
sa ingin terhadap milik orang lain dan sikap
mementingkan diri sendiri. Rasa ingin memili-
ki harta orang lain, salah satu musuh kita semua
yang terbesar, dihakimkan di dalam Sepuluh
Hukum. Yesus juga memberikan amaran
mengenai hal itu: “Berjaga-jagalah dan was-
pyaitu terhadap segala ketamakan, sebab
walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya,
hidupnya tidaklah tergantung dari pada keka-
yaannya itu” (Luk. 12:15). Memberi secara
teratur akan membantu mencabut rasa ta-
mak dan sifat mementingkan diri sendiri dari
hidup kita.
Penatalayanan menuntun perkembangan
tabiat ekonomis dan efisien. Jika “telah me-
nyalibkan daging dengan segala hawa nafsu
dan keinginannya” (Gal. 5:24),maka kita ti-
dak akan memakai apa pun untuk me-
muliakan diri sendiri. “Apabila prinsip-prinsip
penatalayanan telah menguasai hidup, maka
314 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
jiwa diterangi, maksud tujuan telah tetap, ke-
senangan sosial bebas dari yang bersifat pa-
mer, kehidupan bisnis berjalan di bawah pe-
ngaruh peraturan emas, maka keinginannya
hanyalah memenangkan jiwa. Kehidupan
yang penuh berkat dari perbendaharaan Tu-
han yang demikianlah tersedia dalam kehi-
dupan yang beriman dan setiawan.”11
Sebuah kepuasan yang dalam dan meng-
gembirakan muncul dari jaminan atas apa pun
yang ditanam demi keselamatan orang-o-
rang, yang untuknya Kristus mati. Tuhan
menjelaskan, “Sesungguhnya segala sesuatu
yang kamu lakukan untuk salah seorang dari
saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah
melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). “Ti-
dak ada yang terlalu berharga bagi kita untuk
diberikan kepada Yesus. Jika kita mengem-
balikan kepada-Nya talenta, harta benda
yang dipercayakan kepada pemeliharaan ki-
ta, maka Ia akan memberi lebih banyak lagi
kepada kita. Setiap usaha yang kita lakukan
bagi Kristus akan diberi ganjaran oleh-Nya,
dan segala tugas yang kita lakukan di dalam
nama-Nya akan mengerjakan kebahagiaan
bagi kita sendiri.”
Berkat kepada Orang Lain. Penatalayan
yang sejati ialah penatalayan yang memberkati
semua orang yang berhubungan dengan kita.
Mereka mempraktikkan penatalayanan yang
disarankan Paulus, “Peringatkanlah agar me-
reka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam ke-
bajikan, suka memberi dan membagi dan de-
ngan demikian mengumpulkan suatu harta
sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu
yang akan datang untuk mencapai hidup yang
sebenarnya” (1 Tim. 6:18, 19).
Penatalayanan menyangkut pelayanan
terhadap orang lain dan kerelaan membagikan
apa pun yang telah diberikan Tuhan kepada-
nya dengan limpah sehingga mendatangkan
berkat juga kepada orang lain. Ini berarti bah-
wa “kita tidak lagi beranggapan bahwa hidup
bergantung atas berapa banyak uang yang ki-
ta miliki, berapa banyak gelar yang kita san-
dang, berapa banyak orang penting yang kita
kenal, berapa banyak rumah dan tetangga
tempat kita tinggal, dan jabatan serta penga-
ruh yang kira-kira kita miliki.” Hidup yang se-
jati ialah pengenalan akan Allah, mengem-
bangkan kasih sayang dan sifat dermawan
seperti yang ada pada-Nya, memberi apa
yang dapat kita berikan, sesuai dengan keber-
untungan yang diberikan-Nya kepada kita.
Hidup yang sejati ialah hidup yang sama
dengan roh yang dimiliki Kristus.
Berkat bagi Gereja. Penggunaan rencana
penatalayanan yang berdasar Alkitab
mutlak bagi gereja. Anggota jemaat yang te-
rus-menerus turut memberi—merupakan je-
maat yang kuat, turut membagikan berkat
yang telah dicurahkan Kristus atasnya, dan
siap menyambut apa pun yang diperlukan da-
lam pekerjaan Tuhan. Gereja akan memiliki
biaya yang cukup untuk melaksanakan pela-
yanan, untuk meluaskan kerajaan Tuhan di
sekitarnya, dan lalu meluaskannya ke
tempat yang lebih jauh lagi. Dengan sukarela
akan digunakannya waktu, talenta dan sara-
na apa pun yang ada bagi Tuhan di dalam rasa
syukur dan kasih atas berkat-berkat yang te-
lah diberikan-Nya.
Mengenai jaminan Kristus bahwa Ia akan
kembali apabila Injil kerajaan telah diumumkan
sebagai “kesaksian bagi semua bangsa”
(Mat. 24:14), semua diundang menjadi pena-
talayan-penatalayan dan pembantu-pemban-
tu-Nya. Dengan demikian kesaksian jemaat
akan menjadi kuasa yang mendatangkan ber-
kat bagi dunia, dan penatalayan yang setia
akan merasa gembira apabila mereka melihat
berkat-berkat Injil itu diteruskan kepada
orang-orang lain.
Penatalayanan 315
____________________________
1. Webster’s New Universal Unabridged Dictionary, edisi kedua, 1979, hlm. 1786.
2. SDA Encyclopedia, edisi revisi, hlm. 1425.
3. Ibid.
4. Paul G. Smith, Managing God’s Goods (Nashville: Southernn Pub. Assn. 1973), hlm. 21.
5. Lihat C.G. Tuland, “Tithing in the New Testament,” Ministry, Oktober 1961, hlm. 12.
6. Contoh dalam Keluaran 27:20 Allah memberikan petunjuk khusus bahwa minyak zaitun disediakan untuk lampu.
‘Persediaan minyak zaitun untuk tempat kebaktian supaya lampu itu berfungsi sebagaimana mestinya yaitu
merupakan kewajiban yang terus-menerus—namun biaya sehari-hari bukanlah berasal dari persepuluhan. Baca juga
tulisan White, Counsels on Stewardship (Washington, D.C.:Review and Herald, 1940), hlm. 102, 103. Ia menga-
takan bahwa guru Alkitab yang mengajarkan pelajaran Alkitab di sekolah Gereja haruslah dibiayai dari
persepuluhan (Ibid., hlm. 103), namun janganlah digunakan untuk maksud lain dari “tujuan sekolah,” pinjaman
sekolah atau membantu kolportir (White, Testimonies, jilid 9, hlm. 248, 249; White, Selected Message; artikel 2,
hlm. 209). tingkat pekerjaan ladang Tuhan yang seperti ini hendaknya dibantu dari persembahan.
7. T.H. Jemison membuat beberapa anjuran yang sangat praktis mengenai bagaimana menghitung persepuluhan. Ia
menulis, “Persepuluhan dari gaji mudah dihitung. Umumnya tidak ada ‘biaya bisnis’—yakni biaya-biaya yang di-
keluarkan untuk mendatangkan hasil itu—untuk dikurangi. Sepuluh persen dari gaji itu yaitu persepuluhan.
“Persepuluhan penghasilan usaha mempunyai beberapa variasi dibandingkan dengan persepuluhan dari gaji. Pen-
jualan keseluruhan atau eceran akan dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan usahanya sebe-
lum penghitungan persepuluhan itu. Di dalamnya termasuk biaya menggaji pembantu, listrik, pemanasan,
asuransi, sewa atau pajak yang harus dibayarkan dan hal-hal yang serupa itu. Pengurangan ini tentu saja tidak
termasuk dengan pengeluaran pribadi atau biaya untuk keluarga.
“Petani mengurangi biaya yang dikeluarkannya—upah, pupuk, biaya perbaikan, bunga, pajak dan semacamnya.
Bagaimana pun, petani harus menghitung juga penghasilan pertaniannya yang digunakan oleh keluarga, sebab ini
mengurangi biaya hidup keluarga dan dianggap juga sebagai penghasilan.
“Prosedur yang dapat dibandingkan dengan itu dapat diikuti oleh pengusaha pabrik, penanam modal atau orang-
orang yang profesional lainnya. Perhitungan yang tepat yang diperlukan sekarang ini dalam segala usaha memu-
dahkan penaksiran pertambahan persepuluhan, atau keuntungan dari, usaha. Ada sebagian usahawan yang mema-
sukkan persepuluhan mereka ke dalam perhitungan sistem pemartikel an yang reguler. “Kadang-kadang ada perem-
puan yang mempunyai suami yang tidak membayar persepuluhan menemui kesulitan untuk mengetahui bagai-
mana ia seharusnya membayar persepuluhan. Dalam kasus-kasus tertentu ia dapat membayar persepuluhannya
berdasar uang yang diterimanya untuk belanja rumah tangga. sedang dalam contoh lain hal ini tidak di-
perkenankan. Dalam kasus-kasus yang demikian kemungkinan ia dapat membayar persepuluhan berdasar uang
ekstra saja yang diperolehnya atau yang diterimanya sebagai pemberian. ‘Sebab jika kamu rela untuk memberi,
maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasar apa yang ada padamu, bukan berdasar
apa yang tidak ada padamu. (2 Kor. 8:12): Christian Beliefs, hlm. 267.
8. Sebagian pelajar Alkitab percaya bahwa bangsa Israel memberikan paling sedikit dua kali persepuluhan (sebagian
dari antara mereka beranggapan malahan tiga kali) selain pelbagai macam persembahan lainnya. Mengenai per-
sepuluhan yang pertama Tuhan berkata, “Mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala
persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya, untuk membalas pekerjaan yang di-
lakukan mereka” (Bil. 18:21). namun mengenai persepuluhan yang kedua Ia berkata, “Di hadapan Tuhan, Allah-
mu, di tempat yang akan dipilih-Nya untuk membuat nama-Nya diam di sana, haruslah engkau memakan per-
sembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, atau pun dari anak-anak sulung lembu
sapimu dan kambing dombamu, supaya engkau belajar untuk selalu takut akan Tuhan, Allahmu” (Ul. 14:23). Dari
tiga tahun, dua tahun digunakan bangsa Israel untuk membawa persepuluhan ini, atau dengan uang yang jumlahnya
kira-kira sama, ke dalam bait suci. Di sana persepuluhan itu digunakan untuk merayakan pesta agama dan juga
untuk keperluan orang Lewi, orang-orang asing, anak yatim dan para janda. Setiap tahun ketiga orang-orang Israel
memakai persepuluhan yang kedua di rumah untuk menjamu orang Lewi dan yang miskin. Oleh sebab itu,
persepuluhan yang kedua digunakan untuk usaha kedermawanan dan kemurahan hati (Ul. 14:27-29; 26:12). Baca
White, Patriarchs and Prophets, hlm. 530; “Tithe,” SDA Bible Dictionary, edisi revisi, hlm. 1127.
9. Bnd White, Testimonies, jilid 3, hlm. 392.
10. Kalau secara Alkitabiah pengertian memiliki bukanlah kepemilikan. Sikap kita terhadap persepuluhan menun-
jukkan apakah kita mengakui bahwa kita hanyalah pengelola ataukah kita berpura-pura menjadi pemilik.
11. Froom, “Stewardship in Its Larger Aspects,” Ministry, hlm. 20.
12. White, Testimonies, jilid 4, hlm. 19.
13. P.G. Smith, hlm. 72.
Kita dipanggil untuk menjadi umat yang saleh yang berpikir, me-
rasa dan bertindak selaras dengan asas-asas surga. sebab Roh di
dalam kita menciptakan kembali tabiat Tuhan maka kita melibatkan
diri hanyalah dalam perkara-perkara yang menghasilkan kesucian
seperti Kristus, kesehatan dan kegembiraan dalam hidup kita. Ini ber-
arti bahwa kesenangan dan kesukaan kita haruslah memenuhi ukuran
selera Kristen dan keindahan Kristiani. Sementara mengakui adanya
perbedaan budaya, pakaian kita haruslah sederhana, sopan, bersih,
sesuai dengan keindahan yang sejati bukannya dengan hiasan
lahiriah melainkan dengan hiasan yang tidak akan hancur yakni
dengan roh lemah lembut. Itu juga berarti sebab tubuh kita yaitu
bait suci Roh Kudus, maka kita harus memeliharanya dengan arif dan
bijaksana. Deng
.jpeg)
