doktrin Advent 21

Tampilkan postingan dengan label doktrin Advent 21. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label doktrin Advent 21. Tampilkan semua postingan

doktrin Advent 21


 


pada kebangkitan ini: “namun 

orang-orang mati yang lain tidak bangkit se-

belum berakhir masa yang seribu tahun

itu” (Why. 20:5).

Berakhirnya Penawanan atas Setan. Ke-

bangkitan orang jahat pada akhir seribu tahun

itu melepaskan Setan dari penawanan “untuk

sedikit waktu lamanya” (Why. 20:3). Di

dalam upayanya yang terakhir untuk me-

nantang pemerintahan Tuhan ia “akan pergi

menyesatkan bangsa-bangsa pada keempat

penjuru bumi” (Why. 20:8). sebab  orang

jahat bangkit dengan roh pemberontakan se-

bagaimana tabiatnya waktu mereka mati,

maka pekerjaannya tidak begitu sulit lagi.

Serangan terhadap kota. Dalam tipuan-

nya yang terakhir Setan berusaha mengilhami

orang jahat dengan harapan dapat menak-

lukkan kerajaan Tuhan dengan kekerasan.

Dengan mengumpulkan bangsa-bangsa yang

ada di dunia, ia memimpin mereka melawan

kota yang dikasihi itu (Why. 20:8, 9).10

“Orang jahat yang dengan keras kepala me-

nolak pintu masuk Kota Allah sebab  berkat

atau jasa korban pendamaian Kristus, seka-

rang bertekad untuk memperoleh izin masuk

serta mengendalikannya melalui pengepungan

dan peperangan.”11

Kenyataan bahwa orang jahat, begitu

Tuhan memberikan napas hidup kembali ke-

pada mereka, segera berpaling untuk mela-

wan-Nya serta mencoba merebut kerajaan-

Nya akan mengukuhkan keputusan yang

telah dibuat-Nya mengenai nasib mereka.

Dengan cara beginilah nama-Nya dan tabiat-

Nya, yang selalu hendak dinodai Setan, akan

dihapuskan secara sempurna di hadapan

semua orang.12

Takhta Penghakiman yang Putih dan

Agung. Yohanes menunjukkan bahwa keti-

ka musuh-musuh Tuhan mengelilingi kota itu

dan siap menyerangnya, Allah menaruh takh-

ta-Nya yang putih dan agung. Sementara se-

luruh umat manusia berkumpul di sekeliling

takhta–sementara yang berada di dalam kota

merasa aman, yang di luar merasa gentar di

hadapan Hakim–Allah akan melaksanakan

fase terakhir penghakiman itu. Inilah saatnya

Kristus berbicara dari hal apa yang pernah di-

katakan-Nya, “Di sanalah akan ada  ra-

tap dan kertak gigi, jika  kamu akan meli-

hat Abraham dan Ishak dan Yakub dan se-

mua nabi di dalam Kerajaan Allah, namun  ka-

mu sendiri dicampakkan ke luar” (Luk.

13:28).

Untuk melaksanakan fase penghakiman

ini, kitab catatan Allah akan dibuka. “Dan di-

buka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehi-

dupan. Dan orang-orang mati dihakimi me-

nurut perbuatan mereka, berdasarkan apa

yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu

(Why. 20:12). Kemudian Tuhan mengumum-

kan hukuman.

Mengapa Tuhan membangkitkan orang-

orang ini hanya untuk memusnahkan mereka

selama-lamanya? Selama masa milenium itu,

orang-orang yang ditebus telah memperoleh

          Milenium dan Akhir Dosa  411

kesempatan untuk memeriksa keadilan per-

lakuan Allah atas setiap makhluk yang ber-

pikir di alam semesta. Kini, yang hendak di-

binasakan untuk selama-lamanya itu pun–

termasuk Setan dan malaikat-malaikatnya–

kan membenarkan keadilan jalan-jalan yang

ditempuh Tuhan.

Inilah takhta putih yang agung, pengha-

kiman yang dikatakan Paulus berlangsung di

depan takhta ini, “Sebab kita semua harus

menghadap takhta pengadilan Allah” (Rm.

14:10), akan digenapi. Di sanalah semua

makhluk–yang tidak jatuh ke dalam dosa dan

yang jatuh ke dalam dosa, yang diselamatkan

dan juga yang akan dibinasakan–bertelut dan

mengakui bahwa Yesus Kristus yaitu  Tu-

han (Flp. 2:10, 11; bandingkan Yes. 45:22,

23). Demikianlah pertanyaan mengenai ke-

adilan Tuhan telah dijawab untuk selama-la-

manya. Barangsiapa yang menerima hidup

kekal akan memiliki iman yang tidak akan

goyah di dalam Dia. Dosa tidak akan pernah

lagi menodai alam semesta atau balas den-

dam yang menghancurkan di dalam hati

penghuninya.

Setan dan Orang Berdosa Dibinasakan.

Menyusul pengumuman atas hukuman yang

dijatuhkan kepada mereka, Setan, para ma-

laikatnya, dan manusia yang menjadi peng-

ikutnya menerima hukuman. Mereka akan

mengalami kematian yang kekal. “Dari langit

turunlah api menghanguskan mereka” semua

yang tidak diselamatkan (Why.  20:9). Per-

mukaan bumi di luar kota Yerusalem Baru itu

tampak meleleh, menjadi lautan api yang sa-

ngat besar untuk “hari penghakiman dan

kebinasaan orang-orang fasik” (2 Ptr. 3:7).

“Sebab Tuhan mendatangkan hari pemba-

lasan” (Yes. 34:8) dan Ia menunjukkan per-

buatan-Nya–ganjil perbuatan-Nya itu” (Yes.

28:21) dalam membinasakan musuh-musuh-

Nya, sudah tiba saatnya. Kata Yohanes:

“Dan setiap orang yang tidak ditemukan na-

manya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia

dilemparkan ke dalam lautan api itu” (Why.

20:15). Iblis dan para pembantunya juga akan

mengalami nasib yang sama (Why. 20:10).

Konteks seluruh Alkitab menjadi jelas

bahwa “kematian yang kedua” ini (Why.

21:8) mengartikan bahwa derita yang dialami

orang jahat itu yaitu  penghancuran mereka

secara menyeluruh, tuntas. Lalu, apa gerang-

an yang dimaksud dengan konsep adanya ne-

raka yang menyala-nyala selama-lamanya?

Pengamatan yang saksama menunjukkan

bahwa Alkitab tidak mengajarkan neraka

atau api yang abadi seperti itu.

1. Neraka. Menurut Alkitab, neraka ada-

lah “tempat atau keadaan penghukuman dan

pembinasaan, oleh api abadi dalam kematian

yang kedua itu, yakni orang-orang yang me-

nolak Allah dan pemberian keselamatan di

dalam Yesus Kristus.”13

Beberapa versi Alkitab terjemahan dalam

bahasa Inggris sering menggunakan kata

“neraka” untuk menerjemahkan kata Ibrani

sheol dan bahasa Yunani hades. Pada

umumnya istilah ini menunjuk kepada kubur-

an di mana orang mati–baik yang benar mau-

pun yang jahat–menanti, dalam keadaan ti-

dak tahu apa-apa, menunggu kebangkitan (li-

hat bab 25). sebab  konsep dewasa ini

mengenai neraka begitu berbeda dari istilah

yang dikandung dalam bahasa Ibrani dan

Yunani ini, sejumlah versi modern menghindari

kata “neraka” dengan hanya menggunakan

kata Ibrani “Sheol” dan Yunani “Hades” se-

cara harfiah.

Sebaliknya, kata Yunani geenna, yang

menurut beberapa versi bahasa Inggris Per-

janjian Baru juga menerjemahkan kata “ne-

raka” yang menunjuk kepada tempat peng-

hukuman dengan api yang bernyala-nyala

bagi orang yang tidak mau bertobat. Kemu-

412                           Apa  yang Perlu Anda Ketahui Tentang. . . .

dian, di dalam Alkitab, “neraka” tidaklah sela-

manya mengandung makna yang sama–dan

sebab  ketidakberhasilan memperhatikan

perbedaan ini sering membawa kepada ke-

bingungan yang besar.

Geenna berasal dari bahasa Ibrani Ge

Hinnom, “Lembah Hinnom”–sebuah lembah

yang dalam di sebelah selatan Yerusalem. Di

sinilah orang Israel mengadakan upacara ka-

fir, membakar anak-anak untuk dipersembah-

kan kepada dewa Molokh (2 Taw. 28:3; 33:1,

6). Yeremia meramalkan, sebab  dosa inilah

maka Tuhan mengadakan lembah, sebuah

“Lembah Pembantaian,” di mana mayat-ma-

yat orang Israel akan dikuburkan di sana ka-

rena tidak ada lagi tempat yang lain. Sedang-

kan mayat yang lain akan menjadi “makanan

burung-burung” (Yer. 7:32, 33; 19:6; Yes.

30:33). Tidak dapat diragukan lagi bahwa

nubuatan Yeremia membuat orang Israel

menganggap Ge Hinnom yaitu  tempat

penghakiman bagi orang yang jahat, tempat

yang menjijikkan, hukuman dan yang me-

malukan.14 Menurut tradisi rabi yang bela-

kangan, mereka menganggap inilah tempat

membakar bangkai dan sampah.

Yesus menggunakan api Hinnom untuk

menggambarkan api neraka (misalnya dalam

Mat. 5:22; 18:9). Sehingga dengan demikian

api Hinnom melambangkan api yang meng-

hanguskan pada penghakiman yang terakhir.

Ia menyebutkan bahwa itulah sebuah penga-

laman di balik kematian (Luk. 12:5) dan bah-

wa neraka akan membinasakan tubuh dan

jiwa (Mat. 10:28).

Bagaimanakah sifat api neraka itu? Apa-

kah orang akan dibakar di sana selama-lama-

nya

2.  Nasib Orang Jahat. Menurut Alkitab,

Allah menjanjikan hidup kekal hanya kepada

orang yang benar. Upah dosa ialah maut,

bukan hidup kekal di dalam api neraka (Rm.

6:23).

Kitab Suci mengajarkan bahwa orang

jahat akan “dilenyapkan” (Mzm. 37:9, 34);

bahwa mereka akan binasa (Mzm. 37:20;

68:2). Mereka tidak hidup dalam keadaan sa-

dar selama-lamanya; melainkan akan diha-

nguskan (Mal. 4:1; Mat. 13:30, 40; 2 Ptr 3:10).

Mereka akan dibinasakan (Mzm. 145:20: 2

Tes. 1:9; Ibr. 2:14), dilenyapkan (Mzm.

104:35).

3. Hukuman kekal. Berbicara mengenai

penghakiman atas orang-orang yang jahat,

Perjanjian Baru menggunakan istilah “kekal”

dan “selama-lamanya.” Istilah ini merupakan

terjemahan dari Yunani Aionios, diterapkan

kepada Tuhan dan juga kepada manusia.

Untuk menghindarkan salah pengertian, se-

seorang harus mengingat bahwa aionios

yaitu  istilah relatif; maknanya ditentukan

oleh objek yang diterangkannya. Jadi, jika 

Kitab Suci menggunakan kata aionios (“se-

lama-lamanya,” “kekal”) mengenai Allah, itu

berarti bahwa Ia memiliki eksistensi yang ba-

ka–sebab  Tuhan itu abadi. namun  jika 

kata ini digunakan untuk manusia yang fana

atau makhluk yang dapat binasa, maka yang

dimaksudkannya ialah selama orang itu hidup

atau benda itu masih ada.

Yudas 7, sekadar contoh, mengatakan

bahwa Sodom dan Gomora menderita “siksa-

an api kekal.” Namun demikian kota-kota itu

toh tidak terbakar sampai sekarang ini. Pe-

trus mengatakan bahwa api itu membakar

kota tersebut menjadi debu, menghukum me-

reka dengan kebinasaan (2 Ptr. 2:6). “Api

kekal” membakar sampai tidak ada lagi yang

tersisa, dan sesudah itu padam (lihat juga

Yer. 17:27; 2 Taw. 36:19).

Begitu pula, jika  Kristus mengirimkan

orang jahat masuk ke dalam “api kekal”

          Milenium dan Akhir Dosa  413

(Mat. 25:41), api itu akan membakar orang

jahat dengan “api yang tidak terpadamkan”

(Mat. 3:12). Api itu padam bila tidak ada lagi

sesuatu yang akan dibakarnya.15

jika  Kristus berbicara mengenai “sik-

saan yang kekal” maka yang dimaksudkan-

Nya bukanlah hukuman yang kekal. Yang

dimaksudkan-Nya dengan “kehidupan yang

kekal (yang akan dinikmati orang yang benar)

akan berlangsung dari abad-abad kekekalan,

yang abadi dan tidak berkesudahan; sedang-

kan hukuman (bagi orang jahat) akan abadi

juga–yang dimaksudkan bukanlah ketahanan

yang abadi dengan kesadaran atas penderita-

an, melainkan hukuman yang sempurna dan

bersifat final. Tamatnya orang-orang yang

mengalami siksa kematian yang kedua itu.

Kematian ini untuk selama-lamanya, sebab 

dari situ tidak akan ada lagi dan tidak akan

dapat lagi kebangkitan yang bagaimana-

pun.”16

jika  Alkitab berbicara dari hal “kele-

pasan yang kekal” (Ibr. 9:12) dan “hukuman

kekal” (Ibr. 6:2), yang ditunjukkannya ialah

akibat yang kekal dari penebusan dan peng-

hakiman–bukanlah proses yang berkelanjutan

tidak ada akhirnya dari penebusan dan peng-

hakiman. Dengan cara yang sama, jika 

yang dibicarakan mengenai hukuman yang

abadi dan kekal, yang dimaksudkannya ialah

hasil akhir dan bukan proses penghukuman

itu. Kematian orang jahat itu merupakan

kematian yang akhir dan selama-lamanya.

4. Disiksa selama-lamanya. Ungkapan

yang digunakan Alkitab “sampai selama-la-

manya” (Why. 14:11; 19:3; 20:20) turut juga

membantu kepada kesimpulan bahwa proses

menghukum Setan dan orang jahat akan ber-

langsung secara kekal. Akan namun  seperti

“kekal atau selama-lamanya” maka objek

itulah 

.

yang menjelaskan makna pasti dari

kata “selama-lamanya.” jika  hal itu ber-

kaitan dengan Tuhan, maka maknanya ada-

lah mutlak–sebab  Tuhan itu kekal; jika 

itu berkaitan dengan manusia yang fana, ma-

ka maknanya terbatas.

Gambaran yang diberikan Kitab Suci me-

ngenai hukuman yang dijatuhkan kepada

Edom merupakan sebuah contoh yang pas

dalam penggunaan ini. Yesaya mengatakan

bahwa Tuhan akan menjungkirbalikkan ne-

geri itu dengan api ter yang akan menyala-

nyala “siang dan malam” dan asapnya akan

“naik untuk selama-lamanya. Negeri itu akan

menjadi reruntuhan turun temurun, tidak ada

orang yang melintasinya untuk seterusnya”

(Yes. 34:9, 10). Edom telah dibinasakan,

akan namun  tidak terus menyala sampai se-

karang. Kata “selama-lamanya” di sini digu-

nakan untuk menyatakan sampai kehancuran

itu sempurna betul.

Di dalam Kitab Suci dengan jelas dika-

takan bahwa “selama-lamanya” itu mengan-

dung pengertian keterbatasan. Perjanjian La-

ma mengatakan bahwa seorang hamba me-

layani tuannya “selama-lamanya” (Kel.

21:6), bahwa Samuel yang masih kecil itu

tinggal “selama-lamanya” di dalam bait suci

(1 Sam. 1:22), dan bahwa Yunus mengira ia

akan tetap tinggal “selama-lamanya” di da-

lam perut ikan yang besar itu (Yun. 2:6). Per-

janjian Baru menggunakan istilah ini dengan

cara yang sama: sekadar contoh, Paulus me-

nasihati

Filemon supaya menerima Onesimus “se-

lama-lamanya” (Filemon 15). Dalam semua

contoh yang disebutkan di atas “selama-la-

manya” berarti “selama orang itu masih hi-

dup.”

Mazmur 92:7 mengatakan bahwa orang

jahat akan dibinasakan selama-lamanya.

Dan nubuatan mengenai akan adanya keba-

karan yang hebat yang terakhir, Maleakhi

berkata, “Bahwa sebenarnya  hari itu da-

tang, menyala seperti perapian, maka semua

414                           Apa  yang Perlu Anda Ketahui Tentang. . . .

orang gegabah dan setiap orang yang berbuat

fasik menjadi seperti jerami dan akan ter-

bakar oleh hari yang datang itu, firman Tuhan

semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya

akar dan cabang mereka” (Mal. 4:1).

Sekali orang jahat–Setan, malaikat-malai-

kat jahat umat yang tidak bertobat–dibina-

sakan oleh api, baik akar maupun cabangnya,

maka tidak ada gunanya lagi untuk maut mau-

pun hades (baca bab 25). Ini juga akan

dibinasakan Tuhan selama-lamanya (Why.

20:14).

Oleh sebab  itu, Alkitab menjelaskan de-

ngan tandas, bahwa hukuman, bukan peng-

hukuman, yang kekal–itulah kematian yang

kedua. Setelah hukuman ini tidak akan ada

lagi kebangkitan; efeknya yaitu  kekal.

Uskup Agung William Temple benar keti-

ka ia menyatakan, “Satu hal yang dapat kita

katakan dengan yakin: Siksaan kekal harus-

lah dikesampingkan. Jika orang tidak meng-

impor pengertian yang tidak Alkitabiah, dari

Yunani tentang sikap kebakaan jiwa individu,

dan kemudian membaca Perjanjian Baru de-

ngan apa yang telah ada dalam benak me-

reka, mereka akan memperoleh dari dalam-

nya (Perjanjian Baru) suatu kepercayaan,

bukannya dalam siksaan kekal, melainkan

pembinasaan atau pemusnahan. Apilah yang

disebut aeonian (kekal), bukannya kehidupan

yang dilemparkan ke dalamnya.”17

Hukuman selengkapnya dari hukum Allah

telah dilaksanakan, tuntutan keadilan dipenuhi.

Surga dan bumi menyatakan kebenaran Tu-

han.

5. Prinsip hukuman. Kematian yaitu 

hukuman yang paling tinggi sebagai akibat

dosa. Akibat dosa mereka, semua orang yang

menolak keselamatan yang diberikan Tuhan

akan mati selama-lamanya. namun  ada seba-

gian yang melakukan dosa yang keji, kejahat-

an yang mereka senangi sehingga menye-

babkan orang-orang lain sengsara. Sementara

sebagian lagi ada yang hidup relatif bermoral,

penuh damai, kesalahan mereka pada haki-

katnya ialah menolak keselamatan yang dise-

diakan Kristus. Apakah adil mereka menda-

pat hukuman yang sama?

Kristus berkata, “Adapun hamba yang

tahu akan kehendak tuannya, namun  yang ti-

dak mengadakan persiapan atau tidak mela-

kukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan

menerima banyak pukulan. namun  barangsiapa

tidak tahu akan kehendak tuannya dan mela-

kukan apa yang harus mendatangkan pukul-

an, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap

orang yang kepadanya banyak diberi, dari pa-

danya akan banyak dituntut, dan kepada sia-

pa yang banyak dipercayakan, dari padanya

akan lebih banyak lagi dituntut” (Luk. 12:47,

48).

Jelaslah, bahwa orang yang memberontak

melawan Allah yang paling banyak menderita

dibandingkan dengan orang yang tidak. Akan

namun  kita harus mengerti puncak penderitaan

mereka dalam istilah “kematian yang kedua”

yang ditanggung Kristus di kayu salib. Di sa-

nalah Ia menanggung dosa-dosa dunia. Be-

ratnya perpisahan dengan Bapa-Nya yang

diakibatkan dosa yang membuat derita yang

dialami-Nya begitu pahit–duka yang tidak

terperikan. Begitulah kelak akan dirasakan

orang yang hilang. Mereka menuai apa yang

ditaburnya bukan hanya ketika masih hidup di

dunia, namun  juga pada waktu pemusnahan

yang terakhir. Di hadapan Allah, kesalahan

yang mereka rasakan sebab  dosa-dosa yang

mereka lakukan akan membuat mereka men-

derita sengsara tak terperikan besarnya. Se-

makin besar kesalahan, semakin besar pula

deritanya. Setan, si penghasut dan penganjur

dosa, akan paling menderita.l8

Pembersihan Bumi. Dalam melukiskan

hari Tuhan, manakala semua jejak bekas do-

          Milenium dan Akhir Dosa  415

sa dilenyapkan, Petrus berkata, “Pada hari itu

langit akan lenyap dengan gemuruh yang

dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus

dalam nyala api, dan bumi dan segala yang

ada di atasnya akan hilang lenyap” (2 Ptr.

3:10).

Api yang akan membinasakan orang jahat

sekaligus akan membersihkan orang jahat

dari dunia ini dan juga pencemaran dosa. Dari

reruntuhan dunia ini Allah akan mengadakan

“langit yang baru dan bumi yang baru, sebab

langit yang pertama dan bumi yang pertama

telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi (Why.

21:1). Dari tempat yang telah disucikan ini,

dunia yang telah diciptakan kembali–rumah

kediaman mereka yang telah ditebus–Allah

akan menghapus selama-lamanya tangisan,

kesakitan, dan maut (Why. 21:4). Akhirnya

kutuk dosa telah diangkat (Why. 22:3).

Sehubungan dengan datangnya hari Tu-

han, saat mana dosa dan orang yang tidak

mau bertobat akan dibinasakan, Petrus ber-

kata kepada semua, “Jadi, jika segala sesuatu

ini akan hancur secara demikian, betapa suci

dan salehnya kamu harus hidup yaitu kamu

yang menantikan dan mempercepat keda-

tangan hari Allah.” Dengan mengandalkan

pengharapannya atas janji kedatangan Kris-

tus yang kedua kali, ia menegaskan, “Kita

menantikan langit yang baru dan bumi yang

baru, di mana ada  kebenaran. Sebab itu,

saudara-saudaraku yang kekasih, sambil me-

nantikan semuanya ini, kamu harus berusaha,

supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak

bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian

dengan Dia” (2 Ptr. 3:11, 13, 14).


3. “jika  binatang dan nabi palsu itu dicampakkan ke dalam lautan api (Why. 19:20), dan “semua orang lain”

(Why. 19:21), atau “yang sisa,” dari pengikut-pengikut mereka akan dibinasakan dengan pedang Kristus. Mereka

terdiri dari raja-raja, panglima, para pahlawan, dan “semua orang, baik yang merdeka maupun hamba” (Why.

19:18). Golongan yang sama juga disebutkan di bawah meterai keenam, yang berusaha menyembunyikan diri dari

wajah Anak Domba itu (Why. 6:14-17) tatkala langit lepas seperti gulungan dan setiap gunung dan pulau bergerak.

Jelaslah gambaran Kitab Suci ini menggambarkan peristiwa yang menggoncang yang serupa itu, kedatangan

Kristus yang kedua kali.

    “Berapa banyak yang terlibat dalam kematian “orang yang lain” itu? (Why. 19:21). Sesuai dengan Wahyu 13:8

yang ada  hanya ada dua golongan orang yang didapati di atas dunia ini pada waktu kedatangan Kristus yang

kedua kali: ‘semua orang yang tinggal di atas dunia harus menyembah dia (binatang itu), yang namanya tidak

tertera di dalam buku kehidupan.’ Dengan demikian, itulah terbukti bahwa jika ‘yang sisa’ itu ‘dibunuh dengan

pedang’ (Why. 19:21), tidak ada yang tinggal hidup kecuali orang-orang yang menahan binatang itu dengan

namanya, mereka yang tertulis namanya di dalam buku kehidupan itu (Why. 13:8)” 


Di dunia baru, yang menjadi tempat tinggal orang-orang saleh,

Allah akan menyediakan tempat kekal bagi orang yang telah ditebus

lengkap dengan lingkungan yang sempurna bagi kehidupan yang

abadi, penuh kasih sayang, kesukaan dan belajar di hadapan hadi-

rat-Nya, sebab  penderitaan dan kematian telah tiada. Perbantahan

besar itu sudah berakhir, dan dosa tidak akan pernah ada lagi. Segala

sesuatu, yang bernyawa maupun tidak bernyawa, akan menyatakan

bahwa Allah yaitu  kasih; dan Ia akan bertakhta selama-lamanya,

Amin.––___________________––28.

419

Setelah  ajal  mendekat  kepada   seorang

      anak lelaki berkata dengan tenang, “Ru-

mahku di surga, namun  aku tidak rindu pulang

ke rumah.” Seperti anak itu, banyak orang

merasa bahwa pada waktu meninggal maka

surga merupakan pilihan yang lebih disukai

ketimbang “tempat lain,” akan namun  itu me-

rupakan suatu kemalangan atas realitas dan

perangsang hidup di sini dan sekarang. Jika

pandangan yang dianut oleh banyak orang itu

benar tentang kehidupan sesudah yang seka-

rang, maka perasaan ini dapatlah dibenarkan.

Akan namun  menurut gambaran dan petunjuk

Kitab Suci menyatakan apa yang disediakan

Allah untuk dinikmati orang yang ditebus itu

merupakan hidup yang jauh lebih cemerlang

daripada yang ada sekarang, maka hanya

sedikit orang yang enggan meninggalkan du-

nia yang baru itu, untuk memperolehnya.

SIFAT DUNIA BARU

Suatu Realitas yang Sungguh-sungguh.

Dua bab pertama dari Alkitab menceritakan

dari hal penciptaan Tuhan atas dunia yang

sempurna sebagai sebuah rumah kediaman

bagi makhluk manusia yang diciptakan-Nya

itu. Dua bab akhir Alkitab juga berbicara me-

ngenai karya agung Tuhan atas dunia yang

sempurna bagi manusia–namun  kali ini yang

dimaksudkan ialah dunia yang diciptakan

kembali, dunia yang dipulihkan dari kerusakan

yang diakibatkan oleh dosa.

Berulang-ulang Alkitab menyatakan bah-

wa rumah kekal, akan menjadi tempat yang

sungguh nyata, tempat yang dihuni manusia

yang memiliki tubuh dan otak, yang dapat me-

lihat, mendengar, menjamah, merasa, men-

cium bau, bertindak, membayangkan, menguji

dan mengalami secara utuh. Di dunia barulah

Allah akan menempatkan surga yang se-

sungguhnya itu.

Dua Petrus tiga dengan tepat memberikan

gambaran ringkas latar belakang yang Alki-

tabiah dari hal konsep ini. Petrus berbicara

mengenai dunia dahulu kala (sebelum da-

tangnya air bah) sebagai “telah sejak dahulu,

dan juga bumi,” yang telah dibinasakan de-

ngan air. Dunia atau bumi yang kedua yaitu 

“bumi yang sekarang,” satu bumi yang akan

BAB 28

DUNIA BARU

420 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

dibasuh oleh api untuk menyiapkan dunia

yang ketiga, “bumi yang baru, di mana terda-

pat kebenaran” (ayat 6, 7,13).1 Dunia “ke-

tiga” yang dikatakan di sini yaitu  dunia yang

sama nyatanya dengan dua dunia yang per-

tama.

Kelanjutan dan perbedaan. Istilah “dunia

baru” mengungkapkan baik kelanjutan mau-

pun perbedaan dari dunia yang ada sekarang.

Dalam khayal Petrus dan Yohanes, mereka

melihat dunia yang sudah tua dibasuh dengan

api dari segala noda dan kemudian dibarui (2

Ptr.  3:10-13; Why. 21:1).3 Kemudian dunia

yang baru, dunia ini, bukan lagi tempat yang

asing. Walaupun sudah dibarui, dunia ini tetap

dapat dikenali––sebagai rumah. Betapa in-

dahnya! Bagaimanapun, dunia ini telah

menjadi baru, baru dalam pengertian bahwa

Allah menyingkirkan dari permukaan bumi ini

segala noda yang diakibatkan dosa.

YERUSALEM BARU

Yerusalem Baru yaitu  ibukota dunia ba-

ru. Di dalam bahasa Ibrani, Yerusalem arti-

nya “kota damai.” Yerusalem yang di dunia

ini jarang dapat mempertahankan namanya,

akan namun  Yerusalem Baru dengan sangat

tepat akan memantulkan kenyataan itu.

Mata rantai Penghubung. Salah satu pe-

mahaman yang terkandung dalam kata itu

yaitu  bahwa kota tersebut menghubungkan

surga dan dunia yang baru. Pada dasarnya,

istilah surga mengandung arti “langit.” Alki-

tab menggunakannya untuk menunjuk kepa-

da (1) cakrawala (Kej. 1:20), (2) langit yang

berbintang (Kej. 1:14-17), dan (3) “langit

ketiga,” tempat beradanya Firdaus (2 Kor.

12:2-4). Dari hubungan “langit” dengan Fir-

daus ini, itu sinonim dengan Firdaus, tempat

takhta Allah dan kediaman Allah. Oleh ka-

rena itu, dalam pengertian yang lebih luas,

kerajaan Allah dan pemerintahan-Nya dan

penduduk yang dengan sukarela menerima

pemerintahan-Nya, Kitab Suci menyebutnya

“kerajaan surga.”

Jawaban yang diberikan Tuhan melebihi

apa yang dimohon dalam Doa Bapa Kami,

“Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-

Mu di bumi seperti di surga” jika  Ia

menempatkan kembali Yerusalem Baru ke

Planet Bumi ini (Why. 21:1,2). Ia tidak hanya

membarui dunia, namun  juga membuatnya

menjadi mulia. Statusnya lebih penting da-

ripada sebelum Kejatuhan, dunia ini menjadi

ibukota alam semesta.

Gambaran secara Fisik. Yohanes meng-

gunakan istilah-istilah yang romantik untuk

menggambarkan keindahan Yerusalem Baru;

Kota itu bagaikan “pengantin perempuan

yang berdandan untuk suaminya” (Why.

21:2). Lukisan yang diberikannya mengenai

ciri-ciri fasik kota itu menggambarkan kepa-

da kita keadaannya.

1. Cahayanya. Ciri khusus yang pertama

yang dicatat Yohanes ketika ia melihat

“mempelai Anak Domba” yaitu ” cahaya-

nya” (Why. 21:9, 11). Kemuliaan Tuhan me-

nerangi kota itu, membuat sinar matahari dan

bulan menjadi tidak dibutuhkan lagi (Why.

21:23, 24). Tidak ada lorong-lorong gelap

yang menodai Yerusalem Baru, sebab  tem-

bok-tembok dan jalan-jalannya tembus caha-

ya dan “sebab malam tidak akan ada lagi di

sana” (Why. 21:25). “Dan malam tidak akan

ada lagi di sana, dan mereka tidak memer-

lukan cahaya lampu dan cahaya matahari,

sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka”

(Why. 22:5).

2. Bangunannya. Allah menggunakan

hanya bahan yang terbaik saja, untuk pemba-

       Dunia Baru 421

ngunan kota itu. Dindingnya terbuat dari batu

yaspis, “permata yang

,

 paling indah” (Why.

21:11, 18).

Kedua belas pintu gerbangnya, masing-

masing terbuat dari mutiara, menjadi jalan

masuk ke dalam kota. Dasar-dasar tembok

kota itu, dihiasi dengan segala jenis permata:

yaspis, nilam, mirah, zamrud, unam, sardis,

ratna cempaka, beril, krisolit, krisopras, lazu-

ardi, kecubung (Why. 21:19, 20).

namun  permata-permata berharga itu

bukanlah satu-satunya bahan untuk pemba-

ngunan kota tersebut. sebab  sebagian besar

bangunan kota yang Allah dirikan itu–ge-

dung-gedung serta jalan-jalannya–berasal

dari emas murni (Why. 21:18, 21), logam

mulia yang dikenal pada zaman ini. Demikian

pula emas yang dipakai yaitu  emas murni

yang pernah dikenal sekarang, sebab Rasul

Yohanes menyebutnya “emas murni bagaikan

kaca bening” (Why. 21:18).

Permata dihasilkan oleh derita: sebuah

Benda kecil masuk ke dalam tiram, sesuatu

yang mengganggu dan memedihkan, dan

makhluk yang dimasuki itu menderita sebab -

nya, namun pengganggu yang menyakitkan

itu diubah menjadi mutiara yang sangat ber-

kilau-kilauan. Pintu-pintu gerbangnya dari

mutiara. Pintu masuk bagi saudara dan saya,

disediakan Tuhan dengan derita pribadi yang

tidak ada batasnya, yakni dalam Kristus yang

memperdamaikan segala sesuatu kepada di-

ri-Nya

sendiri.”4

Sebagaimana pentingnya daftar bahan-

bahan yang digunakan dewasa ini untuk pem-

bangunan kota, hal itu merupakan fakta bah-

wa malaikat yang menunjukkan kota itu ke-

pada Yohanes mengukur tembok-temboknya.

Bahwa tembok itu dapat diukur, bahwa tem-

bok itu memiliki ketinggian, panjang dan te-

balnya menyatakan kepada orang modern

yang mentalitasnya berorientasi kepada data,

dan kenyataan kota itu.

3. Makanan dan persediaan air. Dari

takhta Allah yang terletak di pusat kota itu,

mengalirlah “sungai air kehidupan” (Why.

22:1). Seperti pohon ara yang banyak ca-

bangnya dan rimbun, pohon kehidupan itu

,

bertumbuh “di seberang menyeberang sungai

itu.” Buahnya tiap-tiap bulan, dua belas bulan

berbuah terus, merupakan unsur yang amat

penting bagi umat manusia, yang tidak me-

reka peroleh sejak Adam dan Hawa diusir

dari taman Eden–memulihkan usia lanjut

yang sudah aus dan lelah (Why. 22:2; Kej

3:22). Barangsiapa yang memakan buah dari

pohon kehidupan ini tidak memerlukan ma-

lam untuk istirahat (bandingkan Why. 21:25),

sebab  di negeri yang baru itu mereka tidak

akan pernah lagi merasa letih.

RUMAH KITA YANG KEKAL

Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa

pada akhirnya orang yang telah diselamatkan

akan mewarisi bumi (Mat. 5:5; Mzm. 37:9,

29; 115:16). Yesus berjanji menyediakan bagi

para pengikut-Nya “tempat kediaman” di

rumah Bapa-Nya (Yoh. 14:1-3). Sebagaimana

telah kita katakan lebih dahulu, lokasi takhta

Bapa menurut Kitab Suci, dan pusat surga

yaitu  di Yerusalem Baru, yang akan turun

ke dunia ini (Why. 21:2, 3, 5).

Rumah Kota. Yerusalem Baru yaitu  kota

yang diidam-idamkan Abraham (Ibr. 11:10).

Di dalam kota yang besar itu Kristus menye-

diakan “tempat kediaman” (Yoh. 14:2), atau

sebagaimana kata aslinya menyatakan,

“tempat bagimu”–rumah kediaman yang

sebenarnya .

Tempat tinggal. Akan namun  orang yang

telah ditebus itu tidak tinggal dalam batas

tembok-tembok Yerusalem Baru itu saja.

Mereka akan mewarisi bumi. Dari rumah

422 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

kota mereka, umat tebusan itu akan pergi ke

pedalaman untuk merencanakan dan memba-

ngun rumah idaman mereka, menanam ta-

naman, menuai dan memakannya (Yesaya

65:21).

Tinggal Bersama Tuhan dan Kristus. Di

dunia baru, janji yang disampaikan Yesus ke-

pada murid-murid-Nya dulu akan mencapai

kegenapannya yang kekal: “Supaya di tempat

di mana Aku berada, kamu pun berada”

(Yoh. 14:3). Tujuan penjelmaan, “Allah be-

serta kita,” akhirnya terpenuhi. “Lihatlah,

kemah Allah ada di tengah-tengah manusia

dan Ia akan diam bersama-sama dengan me-

reka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia

akan menjadi Allah mereka” (Why. 21:3). Di

sinilah orang yang telah diselamatkan itu

memperoleh hak hidup di hadapan Bapa dan

Anak, dalam persekutuan dengan mereka.

HIDUP DI DUNIA BARU

Bagaimanakah gerangan hidup di dunia

baru itu?

Memerintah Bersama Allah dan Kristus.

Allah akan melibatkan orang yang ditebus itu

untuk mengurusi kerajaan-Nya. “Takhta Al-

lah dan takhta Anak Domba akan ada di da-

lamnya dan hamba-hamba-Nya akan ber-

ibadah kepada-Nya. Dan mereka akan me-

merintah sebagai raja sampai selama-lama-

nya” (Why. 22:3-5; Bandingkan 5:10).

Kita tidak mengetahui sejauh mana keter-

libatan mereka dalam pemerintahan itu. Na-

mun demikian, kita dapat menduga bahwa

peranan yang dilakonkan mereka di dalam

kerajaan itu yaitu  peran yang penting, umat

tebusan ini menjadi duta-duta Kristus kepada

alam semesta, memberikan kesaksian dari

hal pengalaman mereka dari hal kasih Allah.

Kesukaan mereka yang terbesar ialah untuk

memuliakan Tuhan.

Aktivitas Jasmani di Dunia Baru. Kehi-

dupan di dunia baru akan merupakan tan-

tangan bagi orang-orang yang sangat berhas-

rat akan kehidupan kekal. Pandangan selin-

tas mengenai kategori kegiatan yang tersedia

bagi umat yang ditebus merangsang selera

kita, namun  tidak membatasi kemungkinan-

kemungkinan.

Kita mengetahui bahwa menurut janji

yang tertera dalam Kitab Suci, orang-orang

yang ditebus itu akan “mendirikan rumah-ru-

mah dan mendiaminya juga” (Yes. 65:21).

Pembangunan menyangkut perencanaan,

konstruksi, pemeliharaan dan kemampuan

untuk membentuk dan membangun kembali.

Dari kata “mendiami” kita dapat menarik ke-

simpulan dari seluruh spektrum kegiatan hi-

dup sehari-hari.

Motif utama eksistensi dunia baru secara

keseluruhan yaitu  pemulihan kembali apa

yang telah direncanakan Tuhan bagi makhluk

ciptaan-Nya sejak semula. Di Eden Tuhan

memberikan kepada leluhur manusia itu se-

buah taman supaya mereka “mengusahakan

dan memeliharanya” (Kej. 2:15). Jika, seperti

yang dikatakan Yesaya, di dunia baru itu

mereka akan menanam anggur, mengapa ti-

dak pohon buah-buahan dan ladang gandum?

Jika, sebagaimana ditunjukkan dalam Wahyu,

mereka akan memainkan kecapi, mengapa

bukan dengan terompet dan instrumen musik

lainnya? sebenarnya , Allah sendiri yang

menanamkan di dalam manusia itu dorongan

kreatif serta menempatkan mereka di sebuah

dunia yang tidak mengenal batas potensi

(Kej. 1:28-31).

Kehidupan Sosial di Dunia Baru. Di da-

lam pergaulan yang abadi tidak ada yang

       

tidak penting, semuanya menggembirakan

kita.

1. Sahabat dan keluarga. Akankah kita

mengenal sahabat-sahabat dan keluarga kita

setelah keadaan kita dimuliakan, dan diubah

menjadi serupa dengan citra Yesus? Setelah

Kristus bangkit dari kubur, murid-murid-Nya

tidak mengalami kesulitan untuk mengenali-

Nya. Maria mengenali suara-Nya (Yoh.

20:11-16), Thomas mengenali fisik-Nya

(Yoh. 20:27,28), dan murid yang dari Emaus

mengenali tingkah laku-Nya (Luk. 24:30, 31,

35). Di dalam kerajaan surga, Abraham,

Ishak dan Yakub tetap memiliki ciri-ciri ke-

pribadian dan nama mereka (Mat. 8:11). Kita

dapat memastikan bahwa di dunia baru itu

kita akan terus mengadakan hubungan de-

ngan orang-orang yang kita kenal dan kita

kasihi.

sebenarnya , pergaulan yang demikian

masih akan tetap kita nikmati di sana–bukan

hanya dengan keluarga dan sahabat yang kita

kenal sekarang–yang membuat surga itu

menjadi tempat idaman bagi kita. Kekayaan

yang ada “tidaklah dapat dibandingkan de-

ngan nilai-nilai abadi dalam hubungan dengan

Allah dan Bapa; dengan Juruselamat kita;

dengan Roh Kudus; dengan para malaikat;

dengan orang-orang saleh dari segala rum-

pun, bahasa, suku-bangsa; dan dengan kelu-

arga-keluarga kita....Tidak ada kepribadian

yang rusak, keluarga yang retak atau hu-

bungan yang kacau. Keutuhan dan keutuhan

belaka yang akan meliputi semesta atau uni-

versal. Keutuhan fisik dan mental akan mem-

buat surga dan kekekalan menjadi kegenapan

yang sempurna.5

“Kasih dan simpati yang telah ditanamkan

Allah sendiri di dalam jiwa akan menemukan

kesejatian yang sepenuh-penuhnya dan kein-

dahan yang paling manis. Hubungan yang

sejati dengan makhluk yang kudus, kehidupan

sosial yang harmonis dengan malaikat-malai-

kat yang penuh berkat dan orang yang setia-

wan dari zaman ke zaman...––inilah yang

akan membantu menegakkan kebahagiaan

umat yang ditebus itu.

2. Perkawinan? Beberapa orang yang

hidup pada zaman Kristus membawa kasus

seorang janda yang kawin berkali-kali dan

terus-menerus ditinggal oleh kematian suami,

telah bersuamikan 7 orang. Mereka mena-

nyakan kepada Yesus, kalau pada hari ke-

bangkitan kelak, istri siapakah ia nanti? Da-

patlah dibayangkan betapa rumitnya kelak

keadaan bila perkawinan yang di dunia ini

dilanjutkan di surga. Jawaban yang diberikan

Kristus menyatakan hikmat yang dimiliki

Ilahi: “Pada waktu kebangkitan orang tidak

kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup

seperti malaikat di surga” (Mat. 22:29, 30).

Apakah dengan demikian orang-orang

yang telah diselamatkan itu tidak akan mem-

peroleh keuntungan yang dirasakan dalam

pernikahan sekarang ini? Di dunia yang baru

orang-orang yang telah diselamatkan itu tidak

akan pernah dihalangi dari kebaikan yang

pernah diperoleh! Allah telah berjanji bahwa

“Ia tidak akan menahan kebaikan dari orang

yang hidup tidak bercela” (Mzm. 84:12). Jika

ini berlaku dalam kehidupan ini, betapa pula

dengan kehidupan mendatang.

Intisari perkawinan ialah kasih. Ikhtisar

kegembiraan yaitu  pernyataan kasih. Kitab

Suci berkata, “Allah yaitu  kasih,” dan “di

hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah,

di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa”

(1 Yoh. 4:8; Mzm. 16:11). Di dunia baru tidak

ada seorang pun yang kekurangan baik kasih

maupun kegembiraan dan kenikmatan. Di

sana tidak ada seorang pun yang merasa

kesepian, merasa hampa dan tidak dikasihi.

Kita dapat berharap bahwa Khalik yang

penuh kasih, yang telah merencanakan per-

424 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

kawinan untuk mendatangkan kegembiraan

di dunia ini, kelak akan memperoleh sesuatu

yang jauh lebih baik–sesuatu yang jauh lebih

tinggi daripada perkawinan seperti halnya

dengan dunia baru-Nya.


Pemulihan mental. “Dan daun pohon-po-

hon itu dipakai untuk menyembuhkan bang-

sa-bangsa” (Why. 22:2). Penyembuhan yang

dikatakan dalam Wahyu ini lebih dari sekadar

“pengobatan”– artinya juga “pemulihan,” ka-

rena di sana tidak ada lagi orang yang sakit

(Yes. 33;24, 20). Sebagaimana mereka me-

makan buah kehidupan, begitulah orang yang

telah ditebus itu bertumbuh secara fisik dan

mental, yang sudah berabad-abad dikacaukan

oleh dosa; mereka akan dipulihkan kembali

ke dalam citra Allah.

Potensi Tak Terbatas. Kekekalan membe-

rikan pemikiran-pemikiran intelektual yang

tidak terbatas. Di dunia baru “pikiran yang

baka akan merenung-renungkan keajaiban

kuasa kreatif Tuhan dengan kenikmatan

yang tidak pernah gagal, merenungkan

rahasia kasih yang mendatangkan penebusan

itu. Di sana tidak akan ada lagi kekejaman,

musuh yang licik untuk menggoda agar me-

lupakan Tuhan. Segala kemampuan dikem-

bangkan, segala daya pikir ditingkatkan. Per-

tambahan pengetahuan tidak akan mele-

lahkan pikiran atau membuat tenaga lemah.

Daya inisiatif yang agung dan mulia mening-

kat terus, aspirasi yang paling tinggi dicapai,

ambisi yang paling agung diwujudkan; akan

namun  masih ada yang tetap harus dijangkau,

ketinggian yang senantiasa baru, keajaiban

yang selalu patut dikagumi, kebenaran-kebe-

naran baru untuk dipahami, objek-objek yang

tetap segar untuk mengeluarkan kuasa pikir-

an, badan dan jiwa.”

Mengejar yang Rohani di Dunia Baru.

Kehidupan yang kekal tidak akan ada artinya

jika terpisah dari Kristus. Dari kekekalan ke-

pada kekekalan orang-orang yang ditebus itu

akan lapar dan dahaga akan Yesus–untuk

memperoleh pemahaman yang lebih luas dari

hal hidup-Nya dan pekerjaan-Nya, untuk

memperoleh perhubungan yang lebih banyak

dengan Dia, untuk memperoleh waktu lebih

banyak bersaksi bagi dunia-dunia yang tidak

jatuh ke dalam dosa mengenai kasih-Nya

yang tiada taranya, sebab  tabiat yang me-

mantulkan-Nya lebih akrab. Orang-orang

yang telah ditebus Kristus itu akan hidup bagi

Yesus dan dengan Dia. Mereka akan beristi-

rahat, memperoleh kepuasan yang penuh, di

dalam Dia untuk selama-lamanya!

Kristus sendiri hidup untuk melayani

(Mat. 20:28), dan Ia memanggil para peng-

ikut-Nya untuk memperoleh hidup yang seru-

pa. Bekerja dengan Dia sekarang, mendatang-

kan pahala dan memang itulah pahala. Dan

perhubungan yang demikian menghasilkan

berkat yang lebih besar dan hak untuk bekerja

dengan Dia di dunia yang baru. Di sanalah,

dengan kegembiraan dan kepuasan besar,

“hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-

Nya” (Why. 22:3).

Walaupun mereka yang telah ditebus

Kristus itu mempunyai kesempatan untuk

meneliti perbendaharaan permata Tuhan dan

alam, ilmu yang paling populer tetaplah ilmu

mengenai salib itu. Dengan kemampuan inte-

lek yang telah dipulihkan dan tajam seperti

yang direncanakan Tuhan sejak semula un-

tuk mereka miliki, dengan sirnanya dosa, me-

reka akan mampu mengerti kebenaran rohani

di dalam satu cara yang satu-satunya dapat

mereka rindukan di sini. Mereka akan mem-

buat mata pelajaran dari hal keselamatan–

       

sebuah mata pelajaran yang berisi kedalaman,

ketinggian dan keluasannya yang melebihi

segala imajinasi–pelajaran dan nyanyian me-

reka sepanjang zaman kekekalan. Melalui

pelajaran ini mereka yang ditebus akan meli-

hat kebenaran yang lebih besar sebagaimana

ada  di dalam Yesus.

Dari minggu ke minggu orang yang telah

diselamatkan berkumpul bersama-sama untuk

mengadakan perbaktian Sabat: “Dan Sabat

berganti Sabat, maka seluruh umat manusia

akan datang untuk sujud menyembah di ha

dapan-Ku, firman Tuhan.” (Yes. 66:23).

DI SANA TIDAK ADA LAGI...

Semua yang Jahat Telah Dimusnah-

kan. Beberapa janji yang paling mengesankan

dan memberikan hiburan dalam dunia baru

itu, ialah tentang sesuatu yang tidak akan

pernah lagi ada di sana. “Dan maut tidak akan

ada lagi, tidak akan ada lagi perkabungan,

atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala

sesuatu yang lama itu telah berlalu” (Why.

21:4).

Semua yang jahat akan lenyap selama-la-

manya sebab  Allah akan memusnahkan se-

gala bentuk dosa, penyebab segala yang ja-

hat. Alkitab menyebutkan pohon kehidupan

sebagai bagian dari dunia baru, namun  tidak

sekalipun disebutkan di sana termasuk pohon

pengetahuan yang baik dan yang jahat atau

apa pun lainnya yang menjadi sumber peng-

godaan. Di negeri yang senang itu orang

Kristen tidak lagi berperang melawan dunia,

daging atau yang jahat.

Jaminan bahwa dunia baru akan tetap

“baru” walaupun para imigran dari dunia

yang dicemari dosa, planet bumi yang sudah

tua merupakan kenyataan bahwa Allah akan

menyingkirkan “orang-orang keji, orang-

orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-

tukang sihir, penyembah-penyembah berhala

dan semua pendusta” (Why. 21:8; 22:15).

Semua alasan masuknya dosa itu, semuanya

harus dihancurkan.

“Semua bekas kutuk itu dihapuskan....

Satu-satunya yang tersisa: Penebus kita akan

tetap memiliki tanda bekas penyaliban-Nya.

Luka di dahi-Nya, di lambung-Nya, di tangan

dan kaki-Nya, yaitu  satu-satunya bekas ke-

kejaman yang diakibatkan dosa. Kata sang

nabi, dengan memandang Kristus dalam ke-

muliaan-Nya: ‘Ada kilauan seperti cahaya,

sinar cahaya dari sisi-Nya dan di situlah ter-

selubung kekuatan-Nya.’ Hab. 3:4.... Mela-

lui abad-abad kekekalan luka-luka Golgota

akan menyatakan pujian dan kuasa-Nya.”8

Yang Dulu Telah Dilupakan. Di dunia ba-

ru, menurut nabi Yesaya, ‘hal-hal yang da-

hulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan

timbul lagi dalam hati’ (Yes. 65:17). Bagai-

manapun, dengan membaca konteks itu, nya-

talah bahwa kesusahan-kesusahan hidup

yang dahulu akan dilupakan umat tebusan

(baca Yes. 65:16). Mereka tidak akan melu-

pakan hal-hal baik yang dilakukan Tuhan

untuk mereka, anugerah yang berkelimpahan

yang justru membuat mereka selamat, mem-

buat pergumulan dosa ini sama sekali tidak

ada lagi artinya. Pengalaman umat saleh sen-

diri dari hal anugerah Kristus yang menyela-

matkan merupakan inti kesaksian mereka da-

lam abad-abad kekekalan.

Selain itu, sejarah dari bentuk-bentuk dosa

merupakan satu unsur penting dari jaminan

bahwa “kesengsaraan tidak akan timbul dua

kali!” (Nah. 1:9). Pikiran-pikiran tentang pa-

hitnya akibat dosa telah menghasilkan pela-

yanan yang membuat orang jera dan takut

tergoda untuk memilih jalan bunuh diri. namun 

sementara peristiwa-peristiwa masa lalu itu

mempunyai tujuan yang penting, atmosfer

surga menghapuskan ingatan-ingatan yang

mengerikan dari mereka. Janji yang diberikan

426 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

kepada mereka ialah bahwa tidak akan di-

bangkitkan lagi dalam pikiran mereka ke-

nangan atas penyesalan, kekecewaan, ke-

sedihan atau kemarahan.

NILAI KEYAKINAN ATAS DUNIA

BARU

Percaya atas doktrin adanya dunia baru

akan membawa sejumlah keuntungan yang

praktis bagi orang Kristen.

Memberikan Dorongan untuk Bertahan.

Kristus sendiri, “mengabaikan kehinaan te-

kun memikul salib ganti sukacita” (Ibr. 12:2).

Paulus membarui keberaniannya dengan me-

mikir-mikirkan kemuliaan yang akan datang:

Sebab itu kami tidak tawar hati.... Sebab pen-

deritaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan

bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi se-

gala-galanya, jauh lebih besar daripada pen-

deritaan kami” (2 Kor. 4:16, 17).

Membawa Kegembiraan dan Kepastian

Pahala. Kristus berkata, “Bersukacitalah

dan bergembiralah sebab  upahmu besar di

surga” (Mat. 5:12). Paulus mengulanginya,

“Jika pekerjaan yang dibangun seseorang ta-

han uji, ia akan mendapat upah” (1 Kor. 3:14).

Memberikan Kekuatan Melawan Peng-

godaan. Musa mampu menghindari “kese-

nangan dari dosa” dan “semua harta Mesir”

sebab  “pandangannya ia arahkan kepada

upah” (Ibr. 11:26).

Menyediakan Citarasa Surgawi. Upah

bagi orang Kristen bukan hanya untuk masa

mendatang (Ef. 1:14). Kristus berkata, “Jika-

lau ada orang yang mendengar suara-Ku dan

membukakan pintu, Aku akan masuk menda-

patkannya” (Why. 3:20). “Dan jika  Kris-

tus datang suasana surga selalu menyertai

Dia.” Dalam berhubungan dengan Dia “ter-

dapatlah surga di dalam hati; kemuliaan pun

dimulai; itulah keselamatan yang dinanti-nan-

tikan.”9

Menuntun Kepada Keefektifan yang

Lebih Besar. Beberapa orang menganggap

orang Kristen sebagai makhluk yang hanya

memikirkan surga saja sehingga seolah-olah

nilai yang di dunia ini tidak ada sama sekali.

Akan namun  sebenarnya  justru kepercayaan

atas adanya yang baka membuat orang-

orang Kristen sanggup menggerakkan bumi.

Sebagaimana menurut pengamatan C.S. Le-

wis: “Jika Anda membaca sejarah Anda akan

menemukan bahwa orang-orang Kristen

yang berbuat yang terbaik kepada dunia se-

karang ini justru yang sangat memikirkan du-

nia mendatang.... Justru jika orang-orang

Kristen berhenti memikirkan dunia yang lain

maka mereka menjadi begitu tidak efektif di

dunia ini. Tujukanlah pikiran ke surga maka

dunia akan “ditambahkan” padamu; tujukanlah

pikiranmu kepada dunia, maka tidak satu pun

yang akan Anda peroleh.”10

“Orang bijaksana akan lebih menaruh

perhatian kepada pemahatan tugu pualam

daripada pembangunan manusia salju.“11

Orang Kristen, yang mempunyai rencana hi-

dup untuk selama-lamanya, dengan sendiri-

nya akan membangun hidupnya lebih berhati-

hati (dengan demikian mempunyai dampak

yang konstruktif atas masyarakat) daripada

orang yang menganggap dirinya tidak lebih

dari sesuatu yang dapat dibuang begitu saja,

lahir hanya untuk dibuang percuma.

“Kesibukan atas perkara-perkara yang

surgawi, dengan bantuan Roh Kudus, mem-

punyai sebuah kuasa yang perkasa. Dengan

itu jiwa dapat ditinggikan dan diluhurkan.

Bidangnya dan kuasanya atas visi diperluas,

dan yang berhubungan dengan bagian-bagian

dan nilai hal-hal yang tampak dan tidak

       Dunia Baru 427

tampak secara jelas dapat dihargai.”12

Menyatakan Sifat Allah. Dunia yang kita

kenal kini lebih banyak salah mengerti tabiat

Allah maupun rencana-Nya yang semula

untuk planet ini. Dosa telah merusak ekosis-

tem fisik dunia sehingga banyak orang yang

sama sekali tidak dapat membayangkan hu-

bungan antara dunia yang sekarang dengan

Firdaus yang digambarkan dalam Kejadian 1

dan 2. Sekarang perjuangan untuk memper-

tahankan hidup secara terus-menerus menan-

dai hidup. Bahkan hidup orang percaya pun,

yang harus berperang dengan dunia ini,

memerangi keinginan daging dan yang jahat,

tidak melukiskan secara tepat gambar ren-

cana Allah yang semula. Di dalam apa yang

direncanakan Tuhan bagi umat yang ditebus–

sebuah dunia yang tidak disentuh oleh penga-

ruh Setan, sebuah dunia di mana maksud

Allah sendirilah yang memerintah–kita mem-

peroleh gambaran tabiat-Nya yang sejati.

Menarik Kita kepada Tuhan. Akhirnya,

Alkitab menggambarkan dunia baru itu un-

tuk menarik orang yang kurang beribadah

kepada Kristus. Ada seseorang, setelah

mendengar bahwa “bumi akan dipulihkan ke-

pada keindahan Eden yang dahulu, sama nya-

ta dengan ‘adanya dunia sekarang ini,’ yang

pada akhirnya akan menjadi rumah kediaman

umat saleh,” tempat mereka akan “bebas dari

semua derita, sakit dan kematian, dan satu

dengan yang lain dapat saling melihat muka

dengan muka,” dengan tegas ia menolaknya.

“Mengapa,” katanya, “tidak mungkin de-

mikian: itu hanya cocok untuk dunia; dunia

yang justru diinginkan oleh orang jahat.”

Banyak orang “beranggapan bahwa aga-

ma, dengan... pahalanya yang terakhir, ha-

ruslah sesuatu dunia yang sama sekali tidak

ada keinginan apa pun: oleh sebab  itu jika 

ada keadaan kebahagiaan yang bagaimanapun

disebutkan, di mana hati manusia, dalam

kondisinya yang fana, benar-benar diinginkan,

mereka anggap bukanlah bagian agama yang

benar.”13

Tujuan utama mengapa Allah memberita-

hukan apa yang telah disiapkan-Nya bagi

orang-orang yang mengasihi Dia ialah untuk

menarik perseorangan dari keasyikannya

terhadap dunia ini–untuk membantu mereka

memperhatikan nilai berikut dan memperoleh

pandangan yang selintas atas keindahan se-

suatu yang telah disediakan Bapa yang penuh

dengan cinta kasih itu.

BARU UNTUK SELAMA-

LAMANYA

Di dunia yang sudah tua ini sering terde-

ngar perkataan bahwa “segala sesuatu yang

baik akan berakhir.” Berita yang paling baik

mengenai dunia yang baru yaitu  bahwa

dunia yang baru itu tidak akan pernah ber-

akhir. Akan terjadi sebagaimana yang dikata-

kan lirik “Nyanyian Haleluya”: “Pemerintahan

atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia

yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah

sebagai raja sampai selama-lamanya” (baca

Why. 11:15; bandingkan Dan. 2:44; 7:27).

Dan Alkitab mengatakan, setiap makhluk

akan bergabung bersama-sama dalam lagu

pujian itu: “Bagi Dia yang duduk di atas takhta

dan bagi Anak Domba, yaitu  puji-pujian dan

hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai

selama-lamanya!” (Why. 5:13).

“Pertentangan besar berakhir sudah. Do-

sa dan orang berdosa sudah tidak ada lagi.

Alam semesta sudah bersih. Denyut harmo-

nis dan kegembiraan mengalun di alam se-

mesta yang luas. Dari Dia yang telah mencip-

takan sekaliannya mengalirlah kehidupan,

terang dan kesenangan di seluruh ruang dan

waktu yang tiada batasnya. Dari bagian-ba-

gian yang terkecil sampai kepada dunia yang

428 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

paling besar, segala sesuatu yang hidup mau-

pun yang tidak, di dalam keindahannya yang

tiada bayang-bayangnya, dalam kesukaan