doktrin dasar alkitab 14
stennya sudah berubah; bahkan ke-
mudian banyak dari antara mereka yang me-
nyebut diri mereka orang Kristen spiritualis,
seraya menyatakan bahwa mereka memiliki
iman Kristen yang sejati dan bahwa ”Kaum
spiritualis sajalah agama yang memakai
karunia roh yang dijanjikan Kristus, dan de-
ngan karunia itulah mereka menyembuhkan
penyakit serta menunjukkan kesadaran ter-
hadap masa mendatang dan eksistensi pro-
gresif.”15 Bahkan mereka membela bahwa
spiritualisme “memberikan kepada Anda pe-
ngetahuan dari semua sistem yang besar dari
agama, dan masih tetap, memberikan kepada
Anda pengetahuan yang lebih banyak me-
ngenai Alkitab Kristen lebih dibandingkan semua
tafsir jika digabungkan. Alkitab yang dimak-
sudkan ialah artikel Spiritualisme.”16
b. Kerja sama erat antara Protestan
dan Katolik Roma. Pada zaman Ellen
White, kesenjangan terjadi antara Protestan
dan Katolik Roma yang mencegah terjadinya
264 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
kerja sama apa pun antara keduanya. Di ka-
langan Protestan merajalela sikap anti Kato-
lik. Ia meramalkan bahwa perubahan besar di
dalam Protestanisme akan menjauhkan iman
dari Reformasi. Akibatnya, perbedaan anta-
ra Protestan dan Katolik akan dihilangkan,
mengadakan jembatan atas kesenjangan
yang memisahkan keduanya.17
Tahun-tahun sesudah kematiannya bangkit
gerakan oikumene, berdirinya Dewan Gereja-
gereja Dunia, Gereja Katolik Vatikan II dan
keluguan Protestan serta penolakan pandang-
an Reformasi mengenai penafsiran nubuat.18
Perubahan yang besar ini telah meruntuhkan
perintang antara orang-orang Protestan de-
ngan Katolik, menuju kepada kerja sama
yang bertumbuh.
3. Pengakuan atas penjelmaan Kris-
tus. Ellen White menulis secara luas tentang
kehidupan Kristus. Peranan-Nya sebagai
Tuhan dan Juruselamat, korban pendamaian
yang diadakan-Nya di atas kayu salib, dan
pekerjaan pengantaraan yang dilakukan-Nya
mendominasi karya-karya tulisnya. artikel nya
yang berjudul Kerinduan Segala Zaman
telah diakui sebagai salah satu artikel rohani
yang paling baik yang pernah ditulis mengenai
hidup Kristus, sedang Jalan Yang Terin-
dah merupakan artikel nya yang paling banyak
dicetak, yang telah menuntun berjuta-juta
kita semua mengalami hubungan yang akrab
dan mendalam dengan Dia. Karya-karya tu-
lisnya dengan jelas menggambarkan Kristus
benar-benar Allah dan benar-benar manu-
sia. Penjelasannya yang berimbang sungguh
selaras dengan pandangan Alkitab, dengan
saksama menghindari penekanan yang tidak
wajar atas satu dengan yang lain—sebuah
masalah yang telah menimbulkan begitu ba-
nyak pertikaian di dalam sejarah Kekristenan.
Penggambarannya mengenai pekerjaan
Kristus sangat praktis. Tidak menjadi soal as-
pek apa saja yang dibicarakannya, yang men-
jadi perhatiannya ialah membawa pembaca
kepada hubungan yang lebih erat dengan Ju-
ruselamat.
4. Pengaruh pekerjaannya. Sudah lebih
seabad berlalu sejak Ellen White menerima
karunia rohani. Jemaatnya dan hidup orang-
orang yang memperhatikan dan mengikuti
nasihatnya memperlihatkan dampak kehidup-
an dan pekabarannya.
“Walaupun ia tidak pernah menjabat su-
atu kedudukan resmi, bukan pula seorang
pendeta yang diurapi, dan tidak pernah me-
nerima upah dari jemaat sampai pada saat ke-
matian suaminya, pengaruhnya telah mem-
bentuk Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh
lebih dibandingkan faktor mana pun kecuali Al-
kitab yang Kudus.”19 Ialah kekuatan yang
menggerakkan di belakang pendirian pekerja-
an percetakan jemaat, sekolah-sekolah, pe-
kerjaan pengobatan misionaris, dan pekerjaan
jangkauan se dunia yang telah menjadikan
Jemaat Masehi Advent Hari Ketujuh salah
satu yang terbesar dan tercepat perkembang-
annya selaku organisasi misionaris Protestan.
Bahan-bahan yang ditulisnya lebih dari 80
buah artikel , 200 traktat dan pamflet serta 4600
artikel yang ditulis secara berkala di majalah.
Khotbah-khotbah, catatan harian, kesaksian-
kesaksian khusus, dan juga surat-surat meru-
pakan bahan dan naskah yang dapat berjum-
lah 60.000 halaman.
Ruang lingkup bahan itu amat mengejutkan.
Keahlian yang ditunjukkan Ellen White tidak-
lah terbatas pada bidang yang terbatas dan
tertentu saja. Tuhan memberikan pelbagai
nasihat kepadanya di bidang kesehatan, pen-
didikan, kehidupan keluarga, pertarakan,
evangelisasi, pekerjaan penerbitan, masalah
diet yang selayaknya, pekerjaan pengobatan
dan masih banyak lagi bidang kehidupan lain-
nya. Barangkali tulisan-tulisannya di bidang
Karunia Nubuat 265
kesehatan yaitu hal yang sangat menak-
jubkan sebab gagasan-gagasannya, keba-
nyakan dari antaranya diberikan lebih kurang
seabad yang lalu, telah dibenarkan oleh ilmu
pengetahuan modern.
Tulisan-tulisannya berpusatkan pada Kris-
tus Yesus serta meninggikan moral dengan
nilai-nilai etis tradisi Yudeo-Kristen.
Walaupun banyak tulisannya ditujukan
kepada Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh,
sebagian besar tulisan itu dihargai oleh khala-
yak yang lebih luas. artikel nya cukup terkenal
Jalan Yang Terindah telah diterjemahkan
ke dalam lebih 100 bahasa dan terjual lebih
kurang 15 juta buah. Karyanya yang paling
besar dan diterima dengan baik yaitu seri
Conflict of the Ages yang terdiri dari 5 jilid,
isinya mengungkapkan secara rinci pertikaian
hebat antara Kristus dan Setan, mulai dari
awal dosa dan pelenyapannya dari alam se-
mesta.
Dampak tulisan-tulisannya atas perse-
orangan cukup mendalam. Belum lama ber-
selang Lembaga Pelayanan Jemaat dari Uni-
versitas Andrews melakukan studi perban-
dingan antara sikap orang Kristen dan ting-
kah laku orang-orang Advent yang secara
ter-atur membaca artikel -artikel Ellen White de-
ngan orang-orang yang tidak membacanya.
Penelitian mereka dengan jelas menggaris-
bawahi dampak tulisan-tulisannya atas
orang-orang yang membacanya. Studi per-
bandingan itu memberikan kesimpulan seba-
gai berikut: “Para pembaca mempunyai hu-
bungan yang semakin erat dengan Kristus,
posisi mereka semakin pasti dengan Tuhan,
dan semakin mengenal karunia-karunia roha-
ni. Mereka pun semakin setuju dengan evan-
gelisasi umum serta berperan serta lebih
tangguh dalam proyek-proyek misionaris lo-
kal. Mereka merasa lebih siap untuk ber-
saksi dan melibatkan diri secara nyata dalam
program bersaksi dan berperan keluar. Ke-
inginan mereka untuk mempelajari Alkitab
lebih besar, belajar Alkitab sehari-hari, ber-
doa bagi orang-orang tertentu, berkumpul da-
lam kelompok persekutuan, dan mengada-
kan kebaktian keluarga setiap hari. Pandangan
mereka terhadap gereja semakin positif. Me-
reka bertanggung jawab untuk menobatkan
lebih banyak orang lagi.”20
Roh Nubuat dan Alkitab. Tulisan-tulisan
Ellen White bukanlah pengganti Alkitab. Tu-
lisan itu tidaklah boleh disamakan dengan Al-
kitab. Kitab Suci tetap satu-satunya, ukuran
unik yang dengan itulah dia dan tulisan-tulis-
annya harus ditimbang dan tunduk.
1. Alkitab sebagai standar tertinggi.
Masehi Advent Hari Ketujuh sepenuhnya
mendukung prinsip Reformasi sola scriptura,
Alkitab sendiri yang menafsirkan dirinya dan
hanya Alkitab saja yang menjadi dasar semua
doktrin. Pendiri-pendiri gereja mengembang-
kan kepercayaan fundamental melalui studi
Alkitab; mereka tidak menerima ajaran-
ajaran ini melalui khayal-khayal Ellen White.
Perantaraannya yang utama selama perkem-
bangan doktrin-doktrin yaitu membimbing-
nya dalam pemahaman Alkitab serta mengu-
kuhkan kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh
melalui belajar Alkitab.21
Ellen White sendiri percaya dan meng-
ajarkan bahwa Alkitablah ukuran atau norma
pokok bagi jemaat. Di dalam artikel nya yang
pertama, yang diterbitkan tahun 1851, ia ber-
kata, “Saudara pembaca yang terhormat, sa-
ya menganjurkan kepada Saudara, gunakan-
lah firman Allah sebagai penguasa imanmu
dan kehidupanmu sehari-hari. sebab de-
ngan firman itulah kita dihakimkan.”22 Ellen
White tidak pernah mengubah pandangan ini.
Bertahun-tahun lalu ia menulis, “Di
dalam firman-Nya, Allah telah memberikan
kepada kita semua pengetahuan yang diperlukan
266 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
untuk keselamatan. Kitab Suci haruslah dite-
rima sebagai yang berkuasa, penyataan ke-
hendak-Nya yang tidak ada cacatnya. Itulah
yang menjadi ukuran atau standar tabiat,
penyata doktrin, dan ujian pengalaman.”23
Pada tahun 1909, waktu pidato terakhirnya
dalam rapat umum jemaat, ia membuka
Alkitab, mengangkatnya di hadapan jemaat
sambil berkata, “Saudara-saudari, saya
menganjurkan dan meninggikan artikel ini bagi
saudara.”24
Untuk menjawab orang-orang seiman
yang menganggap tulisan-tulisannya sebagai
tambahan kepada Alkitab, ia menulis dengan
bunyi seperti berikut, “Saya mengambil Al-
kitab yang sangat berharga mengitarinya de-
ngan beberapa Testimonies for the Church,
diberikan kepada umat Allah.... Maka sau-
dara tidak akan akrab dengan Kitab Suci.
Jikalau saudara menjadikan firman Allah
sebagai pelajaranmu, dengan keinginan untuk
memperoleh ukuran Alkitab serta mencapai
kesempurnaan Kristen, maka saudara tidak
memerlukan Testimonies. Hanyalah sebab
saudara lalai mengenal sendiri artikel yang
diilhamkan Tuhan maka Ia berusaha men-
jangkau saudara dengan kesaksian-kesaksian
yang sederhana dan langsung, mencoba
mengundang perhatian Saudara terhadap fir-
man yang diilhamkan yang selama ini sau-
dara lalai untuk menurutnya, serta mendorong
saudara untuk membentuk hidup saudara se-
laras dengan ajaran-ajaran yang sejati dan
meninggikan.”25
2. Sebuah penuntun menuju Alki-
tab. Ellen White melihat tugasnya menuntun
khalayak kembali kepada Alkitab. “Terlalu
sedikit perhatian yang diberikan kepada Al-
kitab,” katanya, oleh sebab itu ‘’Tuhan telah
memberikan sebuah terang kecil untuk me-
nuntun lelaki dan perempuan menuju terang
yang lebih besar.”26 “Firman Tuhan,” tulis-
nya, “cukup memadai menerangi pikiran
yang paling kalut sekalipun dan dapat dipaha-
mi oleh orang-orang yang ingin mengerti.
Akan namun , walaupun demikian, sebagian
orang yang mengaku menjadikan firman Al-
lah sebagai pokok pelajaran mereka ternyata
hidup bertentangan dengan ajaran-ajaran
yang sangat jelas itu. Agar orang ini
tidak mempunyai dalih, maka Tuhan membe-
rikan kesaksian-kesaksian yang jelas dan te-
gas agar mereka dapat dibawa kembali kepa-
da sabda yang telah dilalaikan mereka itu.27
.
3. Sebuah penuntun untuk mema-
hami Alkitab. Ellen White menganggap tu-
lisan-tulisannya sebagai sebuah penuntun ke
arah pemahaman yang lebih jernih terhadap
Alkitab. “Kebenaran tambahan tidak disam-
paikan; akan namun Tuhan melalui Kesak-
sian-kesaksian, menyederhanakan kebenar-
an-kebenaran agung yang telah diberikan dan
di dalam cara yang dipilih-Nya menyam-
paikannya kepada orang banyak agar bangkit
dan menanamkan kesan dalam benak mere-
ka, bahwa semuanya dapat ditinggalkan tan-
pa dalih.” “Kesaksian-kesaksian yang tertu-
lis diberikan bukanlah untuk terang yang baru,
melainkan untuk memberikan kesan yang le-
bih jelas kebenaran-kebenaran itu ke dalam
hati, kebenaran-kebenaran yang telah diilham-
kan dahulu.”28
4. Sebuah penuntun untuk menerap-
kan prinsip-prinsip Alkitab. Kebanyakan
nasihat yang ada di dalam tulisannya me-
nerapkan nasihat yang Alkitabiah untuk ke-
hidupan sehari-hari. Ellen mengatakan bah-
wa ia telah “disuruh untuk membawakan
prinsip-prinsip umum, baik secara lisan mau-
pun tulisan, dan pada waktu yang bersamaan
merinci bahaya-bahaya, kesalahan-kesalah-
an, dan dosa-dosa sebagian individu, yang ke-
semuanya perlu ditegur, diperbaiki, dan dina-
Karunia Nubuat 267
sihati.”29 Kristus yang telah menjanjikan tun-
tunan nubuat yang seperti itu untuk jemaat-
Nya. Sebagaimana Ellen White menulis,
“Kenyataannya Tuhan telah menyatakan ke-
hendak-Nya kepada kita semua melalui Firman-
Nya, tidak lalai untuk terus memberikan bim-
bingan Roh Kudus. Justru sebaliknya, Roh te-
lah dijanjikan oleh Juruselamat, untuk mem-
bukakan Sabda kepada hamba-hamba-Nya,
untuk menerangi dan menerapkan ajaran-
ajarannya.”30
Tantangan bagi umat percaya. Nubuat
penyataan bahwa “kesaksian Yesus” akan
menyatakan dirinya sendiri melalui “roh nu-
buat” pada zaman akhir sejarah dunia me-
nantang setiap orang agar jangan mengambil
sikap masa bodoh atau kurang percaya, me-
lainkan “menguji segala sesuatu” dan “berpe-
gang pada yang baik.”Banyaknya yang di-
peroleh—atau juga yang hilang—bergantung
pada apakah kita melaksanakan mandat Al-
kitabiah dalam penyelidikan kita. Yosafat
berkata, “Percayalah kepada Tuhan, Allahmu,
dan kamu akan tetap teguh! Percayalah ke-
pada nabi-nabinya, dan kamu akan berhasil”
(2 Taw. 20:20). Gema perkataannya masih
bergaung kebenarannya hingga kini.
____________________________:
1. Huruf miring ditambahkan.
2. Mengenai nabi-nabi Alkitab dari kalangan perempuan, baca Kel. 15:20; Hkm. 4:4; 2 Raj. 22:14; Luk. 2:36; Kis.
21:9.
3. Frank B. Holbrook, ‘The Bibilical Basis for a Modern Prophet,” hlm. 1 (Dokumen di lembaga Ellen G. White
Estate Inc., GC, 6840 Eastern Ave. NW, Washington, D.C. 20012). Bnd Jemison, A Prophet Among You,
Mountain View, CA: Pacific Press, 1955), hlm. 52-55.
4. Lihat Holbrook, “Modem Prophet,” hlm. 3-5.
5. Sayang sekali tidak ada catatan lengkap mengenai apa yang terjadi selama kurun waktu era Kristen yang tersedia.
6. Gerhard Friedrich, “Prophets and Prophecies in the New Testament” dalam Theological Dictionary of the New
Testament, jilid 6, hlm. 859.
7. Bnd Friedrich, hlm. 860, 861.
8. Ungkapan “kesaksian Yesus” dikenal baik sebagai subjektiva genetiva bukan objektiva genetiva. “Dua terjemahan
yang mungkin: a) Kesaksian mengenai atau tentang Yesus (Objektiva genetiva) = apa yang disaksikan orang
Kristen mengenai Yesus. ‘Yang membawa kesaksian kepada Yesus’ (RSV). b) Kesaksian dari atau oleh Yesus
(subjektiva genetiva) = pekabaran dari Yesus kepada jemaat. Bukti dari penggunaan ungkapan ini di dalam artikel
Wahyu menyarankan bahwa hal itu haruslah dipahami sebagai subjektiva genetiva (sebuah kesaksian dari atau
oleh Yesus), dan bahwa kesaksian ini diberikan melalui penyataan nubuat” (Holbrook, “Modern Prophet,” hlm.
7). Sebagai sebuah bukti dari sekian banyak bukti Holbrook mengutip Wahyu 1:1, 2" Wahyu Yesus Kristus, yang
dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya.... Dan oleh malaikat-Nya
yang diutus-Nya, Ia telah menyatakannya kepada hamba-Nya Yohanes. Yohanes telah bersaksi tentang firman
Allah dan tentang kesaksian yang diberikan Yesus Kristus, yaitu segala sesuatu yang telah dilihatnya.” Di dalam
konteks inilah terbukti bahwa ‘wahyu Yesus Kristus’ menunjuk kepada satu penyataan dari atau oleh Yesus kepada
Yohanes. Yohanes mencatat kesaksian ini dari Yesus. Kedua ungkapan bentuk genetiva ini, yang lebih kena dalam
konteksnya sebagai subjektiva genetiva dan selaras dengan kata-kata penutup Kristus di dalam artikel : ‘Ia yang
memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: Ya, Aku datang segera!’ (Why. 22:20)” (Ibid, hlm. 7, 8).
9. Lihat SDA Bible Commentary, edisi revisi., jilid 7, hlm. 812; T.H. Blincoe,’The Prophets Were Until John,”
Ministry, Suplemen, Juli 1977, hlm. 24L; Holbrook, “Modern Prophet,” hlm. 8.
10. James Moffatt dalam Expositor’s Greek Testament, editor., W. Robertson Nicoll, jilid 5, hlm. 465.
11. “Spirit of Prophecy,” SDA Encyclopedia, edisi revisi, hlm. 1412. Orang-orang yang menantikan kedatangan
Kristus kedua kali, kata Paulus, memiliki kesaksian Kristus, yang dikukuhkan Kristus supaya mereka jangan
kekurangan karunia (1 Kor. 1:6, 7).
12. Uriah Smith, “Do We Discard the Bible by Endorsing the Visions?” Review and Herald, 13 Januari 1863, hlm. 52,
dikutip dalam Review and Herald, 1 Desember 1977, hlm. 13.
13. White, “A Messenger,” Review and Herald, 26 Juli 1906, hlm. 8. Judul “Utusan Tuhan” diberikan dengan wahyu
(Ibid).
268 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
14. White, Early Writings, hlm. 59.
15. J.M. Peebles, ‘The Word Spiritualism Misunderstood,” dalam Centennial Book of Modern Spiritualism in
America (Chicago, IL” National Spiritualist Association of the Unites States of Amerikca, 1948), hlm. 34.
16. B.F. Austin, “A Few Helpful Thoughts,” Centennial Book of Modern Spiritualism, hlm. 44.
17. White, The Great Controversy Between Christ and Satan (Mountain View, CA:,Pacific Press, 1950), hlm. 571,
588.
18. Untuk memperoleh pandangan historis mengenai nubuatan-nubuatan Daniel dan Wahyu yang mendominasi
Protestanisme dan Reformasi sampai abad kesembilan belas, baca tulisan Froom, Prophetic Faith of Our Fathers,
jilid 2-4. Baca juga bab 12.
19. Richard Hammill, “Spiritual Gifts in the Church Today,” Ministry, Juli 1982, hlm. 17.
20. Roger L. Dudley dan Des Cummings, Jr., “A Comparison of the Christian Attitudes and Behaviors Between Those
Adventist Church Members Who Regularly Read Ellen White Books and Those Who Do Not.” 1982, hlm 41, 42.
Laporan penelitian Lembaga Pelayanan Jemaat, Universitas Andrews, Berrien Springs, Michigan. Survai itu
memakai sampel lebih 8200 anggota yang berbakti dalam 193 jemaat di Amerika Serikat.
21. Jemison, Prophet Among You, hlm. 208-210; Froom, Movement of Destiny (Washington, D.C.: Review and
Herald, 1971), him. 91-132; Damsteegt, Foundation of the Seventh-day Adventist Message and Mission, hlm.
103-293.
22. White, Early Writing; hlm. 78.
23. White, Great Controversy, hlm. vii.
24. William A. Spicer, The Spirit of Prophecy in the Advent Movement (Washington, D.C.: Review and Herald, 1937),
hlm. 30.
25. White, Testimonies, jilid 5, hlm. 664, 665.
26. White, “An Open Letter,” Review and Herald, 20 Jan.1903, hlm. 15 dalam artikel White, Colporteur Ministry
(Mountain View, CA: Pacific Press, 1953), hlm. 125.
27. White, Testimonies, jilid 5, hlm. 663.
28. Ibid., hlm 665.
29. Ibid., hlm. 660
30. White, Great Controversy, hlm. vii.
269
DOKTRIN KEHIDUPAN KRISTEN
Prinsip-prinsip agung hukum Allah dinyatakan dalam Sepuluh Hu-
kum dan diteladani dari hidup Kristus. Prinsip dan hukum itu meng-
ungkapkan kasih Allah, kehendak dan segala maksud-Nya sehubung-
an dengan tingkah laku kita semua serta hubungannya dan mengikat
kita semua pada segala tingkat umur. Ajaran-ajaran ini merupakan da-
sar perjanjian Allah dengan umat-Nya dan menjadi ukuran di penga-
dilan Allah. Melalui Roh Kudus dosa dinyatakan serta membangkitkan
sebuah perasaan perlunya seorang Juruselamat. Keselamatan ada-
lah karunia bukannyu hasil perbuatan, namun buah-buahnya yaitu
penurutan Hukum. Penurutan ini mengembangkan tabiat Kristen ser-
ta menghasilkan kebaikan. Inilah sebuah bukti kasih kita kepada Tu-
han Allah dan rasa keprihatinan kita kepada sesama. Penurutan dalam
iman menunjukkan kuasa Kristus untuk mengubah hidup dan dengan
demikian menguatkan kesaksian Kristen.—Fundamental Beliefs, —19.
271
Semua mata tertuju ke atas gunung. Pun-
caknya ditutupi asap tebal, makin lama
makin gelap, merayap serta menyelimuti se-
mua gunung dalam misteri. Kilat menyambar
dalam kegelapan, guntur sambung menyam-
bung. “Gunung Sinai ditutupi seluruhnya de-
ngan asap, sebab Tuhan turun ke atasnya
dalam api; asapnya membubung seperti asap
dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar
sangat. Bunyi sangkakala kian lama kian ke-
ras” (Kel. 19:18, 19). Begitu dahsyat pernya-
taan kemuliaan hadirat Tuhan sehingga selu-
ruh bangsa Israel gemetar.
Tiba-tiba guntur dan terompet berhenti,
keheningan yang mencengkam terasa. Lalu
Tuhan berbicara dari tengah-tengah kabut
tebal itu, yang mengelilingi-Nya ketika Dia
berdiri di atas bukit. Digerakkan oleh kasih
yang sangat dalam terhadap umat-Nya, Ia
mengumumkan Sepuluh Hukum. Musa pun
berkata: “Tuhan datang dari Sinai... dan da-
tang dari tengah-tengah puluhan ribu orang
yang kudus; di sebelah kanan-Nya tampak
kepada mereka api yang menyala. Sungguh
Ia mengasihi umat-Nya; semua orang-Nya
yang kudus—di dalam tangan-Mulah mereka,
pada kaki-Mulah mereka duduk, menangkap
sesuatu dari firman-Mu” (Ul. 33:2, 3).
Waktu Ia menyampaikan hukum di atas
Bukit Sinai Allah tidak hanya menyatakan
diri-Nya sendiri sebagai penguasa tertinggi
dan dahsyat atas semesta alam. Ia juga
menggambarkan diri-Nya sebagai penebus
umat-Nya (Kel. 20:2). Hal ini dilakukan ka-
rena Ia Juruselamat yang telah memanggil
bukan saja bangsa Israel namun juga semua
kita semua (Pkh. 12:13) untuk menuruti kesepu-
luh ajaran yang singkat, luas dan mencakup
tanggung jawab umat kita semua terhadap Al-
lah dan sesamanya.
Dan Tuhan Allah berkata:
“Jangan ada padamu allah lain di hadap-
an-Ku.
“Jangan membuat bagimu patung yang
menyerupai apa pun yang ada di langit di atas,
atau yang ada di bumi di bawah, atau yang
ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud
menyembah kepadanya atau beribadah ke-
padanya, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, yaitu
Allah yang cemburu, yang membalaskan ke-
BAB 19
HUKUM TUHAN ALLAH
272 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
salahan bapa kepada anak-anaknya, kepada
keturunan yang ketiga dan keempat dari
orang-orang yang membenci Aku, namun Aku
menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu
orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan
yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.
“Jangan menyebut nama Tuhan, Allah-
mu, dengan sembarangan, sebab Tuhan akan
memandang bersalah orang yang menyebut
nama-Nya dengan sembarangan.
“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:
‘Enam hari lamanya engkau akan bekerja
dan melakukan segala pekerjaanmu, namun
hari ketujuh yaitu hari Sabat Tuhan, Al-
lahmu; maka jangan melakukan sesuatu pe-
kerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau
anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki,
atau hambamu perempuan, atau hewanmu
atau orang asing yang di tempat kediaman-
mu.’”
“Sebab enam hari lamanya Tuhan men-
jadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya,
dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah se-
babnya Tuhan memberkati hari Sabat dan
menguduskannya.
“Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya
lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan,
Allahmu, kepadamu.
“Jangan membunuh.
“Jangan berzinah.
“Jangan mencuri.
“Jangan mengucapkan saksi dusta tentang
sesamamu.
“Jangan mengingini rumah sesamamu;
jangan mengingini isterinya, atau hambanya
laki-laki, atau hambanya perempuan, atau
lembunya atau keledainya, atau apa pun yang
dipunyai sesamamu” (Kel. 20:3-17).
SIFAT HUKUM ITU
Sebagai pantulan tabiat Allah, Sepuluh
Hukum merupakan hukum moral, rohani, luas
dan lengkap, mengandung prinsip-prinsip
yang universal.
Pantulan Tabiat Pemberi Hukum itu. Ki-
tab Suci memperlihatkan ciri-ciri Allah di da-
lam hukum-Nya. Sebagaimana Tuhan Allah,
“Taurat Tuhan itu sempurna” dan “perintah
Tuhan itu murni” (Mzm. 19:8, 9). “Jadi hukum
Taurat yaitu kudus, dan perintah itu juga
yaitu kudus, benar dan baik” (Rm. 7:12).
“Dan segala perintah-Mu yaitu benar. Se-
jak dahulu aku tahu dari peringatan-peringat-
an-Mu, bahwa Engkau telah menetapkannya
untuk selama-lamanya” (Mzm. 119:151,
152). Sesungguhnya, “segala perintah-Mu
benar” (Mzm. 119:172).
Hukum Moral. Sepuluh hukum yang diberi-
kan Tuhan menjelaskan pola tingkah laku
Tuhan bagi umat kita semua . Hukum itu mem-
berikan penjelasan mengenai hubungan kita
dengan Pencipta dan Penebus serta tang-
gung jawab kita kepada sesama. Kitab Suci
mengatakan bahwa pelanggaran atas hukum
Tuhan yaitu dosa (1 Yoh. 3:4).
Hukum Rohani. “Bahwa hukum Taurat
yaitu rohani” (Rm. 7:14). Oleh sebab itu,
hanya orang-orang yang rohani dan yang
memiliki buah Roh dapat menurutinya (Yoh.
15:4; Gal. 5:22, 23). Roh Allah yang membuat
kita mampu melakukan kehendak-Nya (Kis.
1:8; Mzm. 51:11-13). Dengan tetap tinggal di
dalam Kristus, kita menerima kuasa yang kita
perlukan agar berbuah demi kemuliaan-Nya
(Yoh. 15:5).
Hukum-hukum kita semua ditujukan hanya
kepada perbuatan-perbuatan yang jelas-jelas
nyata. Akan namun Sepuluh Hukum “luas se-
kali” (Mzm. 119:96), menyentuh sampai ke
pikiran kita yang paling dalam, menyentuh
keinginan-keinginan kita, dan juga perasaan
Hukum Tuhan Allah 273
seperti rasa cemburu, iri hati, nafsu dan am-
bisi. Di dalam Khotbah di Atas Bukit, Yesus
menekankan dimensi rohani hukum itu, me-
nyatakan bahwa pelanggaran bermula di
dalam hati (Mat. 5:21, 22, 27, 28; Mrk. 7:21-
23).
Hukum yang Positif. Sepuluh Hukum lebih
dari sekadar satu rangkaian larangan; di da-
lamnya dikandung prinsip yang amat luas
jangkauannya. Yang dicakupnya bukan saja
hal-hal yang tidak boleh kita lakukan, namun
juga apa yang seharusnya kita lakukan. Kita
tidak boleh hanya menghindari dari perbuatan-
perbuatan yang jahat dan pikiran-pikiran
yang buruk; kita harus belajar memakai
talenta dan karunia yang telah diberikan Tu-
han kepada kita untuk tujuan yang baik. Oleh
sebab itu, setiap perintah yang negatif mem-
punyai dimensi yang positif.
Sekadar contoh, misalnya hukum keenam
berbunyi “Jangan membunuh,” memiliki sisi
positif bahwa “Kau harus meningkatkan hi-
dup.” “Kehendak Allah bagi umat-Nya ialah,
para pengikut itu meningkatkan segala segi
yang baik dan kebahagiaan setiap orang yang
berada di bawah dan lingkungan pengaruh
mereka. Di dalam makna yang sangat dalam
bahwa perintah injil—kabar baik akan kese-
lamatan dan kehidupan kekal di dalam Kris-
tus Yesus—terletak pada prinsip positif yang
ada dalam hukum keenam.”1
Hukum yang sepuluh itu janganlah dipan-
dang “sedapat-dapatnya dari sudut larangan,
sebagaimana juga dari sudut kemurahan. La-
rangan-larangan itu justru merupakan jaminan
kebahagiaan dalam penurutan. Kalau diterima
dalam Kristus, maka ia akan bekerja di dalam
diri kita untuk memurnikan tabiat yang men-
datangkan kegembiraan kepada kita sepanjang
abad kekekalan. Kepada yang menurut hu-
kum, hal itu menjadi tembok pelindung. Di
dalamnya akan kita lihat kebaikan Tuhan,
yang dengan menyatakan kepada kita semua
prinsip kebenaran yang tidak berubah-ubah,
akan melindungi mereka dari yang jahat
sebab pelanggaran.”2
Hukum yang Sederhana. Sepuluh Hukum
sangat jelas di dalam keluasannya yang se-
derhana. Hukum-hukum itu memang singkat
sehingga seorang anak kecil pun dapat de-
ngan mudah menghafalkannya, namun jang-
kauannya begitu luas sehingga dicakupnya
setiap dosa yang mungkin.
“Tidak ada misteri dalam hukum Allah.
Semua dapat memahami kebenaran-kebe-
naran yang agung yang ada di dalamnya.
Pikiran yang paling lemah sekalipun dapat
menangkap aturan-aturan ini; yang paling ti-
dak berpengetahuan sekalipun dapat mengatur
hidup dan membentuk tabiat yang sesuai
dengan ukuran Ilahi.”3
Hukum Asas. Sepuluh Hukum yaitu ikhti-
sar semua asas atau prinsip—yang berlaku
pada semua kita semua dari segala waktu. Al-
kitab berkata, “Takutlah akan Allah dan
berpeganglah pada perintah-perintah-Nya,
sebab ini yaitu kewajiban setiap orang”
(Pkh. 12:13).
Dekalog—Dasa Firman, atau Sepuluh Hu-
kum (Kel. 34:28) — berisi atau terdiri dari dua
bagian, ditunjukkan dengan adanya dua loh
batu yang berisi tulisan tangan Allah (Ul.
4:13). Pertama, empat hukum yang pertama
mengatur tanggung jawab kita terhadap Pen-
cipta dan Penebus, sedang yang terakhir
yang terdiri dari enam hukum mengatur tang-
gung jawab kita terhadap sesama.4
Kedua bagian ini diambil dari dua asas
fundamental yang agung dari hal kasih yang
merupakan landasan berlangsungnya kerajaan
Allah: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan
segenap hatimu dan dengan segenap kekuat-
274 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
anmu dan dengan segenap akal budimu, dan
kasihilah sesamamu kita semua seperti dirimu
sendiri.” (Luk. 10:27; bandingkan Ul. 6:4, 5;
Im. 19:18). Barangsiapa yang menghayati
prinsip-prinsip ini maka ia akan selaras de-
ngan Sepuluh Hukum, sebab perintah itu
mengungkapkan asas-asas ini dengan rinci
sekali.
Hukum yang pertama menyatakan seca-
ra langsung perbaktian hanya kepada satu
Tuhan saja. Kedua menyatakan supaya ja-
ngan menyembah ilah.5 Hukum yang ketiga
melarang sikap sembarangan dan bersumpah
palsu dengan memakai nama Tuhan.
Hukum yang keempat mengatakan supaya
menyucikan Sabat dan merupakan ciri-ciri
Allah yang benar selaku Pencipta langit dan
bumi.
Hukum yang kelima mengharuskan anak-
anak tunduk kepada orang tua mereka seba-
gai yang diangkat Tuhan untuk meneruskan
penyataan kehendak-Nya kepada generasi
berikutnya (baca Ul. 4:6-9; 6:1-7). Yang ke-
enam merupakan hukum yang melindungi
hidup sebagai kehidupan yang kudus. Yang
ketujuh menjaga kesucian dan kemurnian
hubungan perkawinan. Yang kedelapan ada-
lah hukum yang melindungi harta milik. Yang
kesembilan untuk menjaga agar tetap benar
dan membuang dusta. sedang yang kese-
puluh ditujukan kepada akar semua hubungan
kita semua dengan melarang orang mengingin-
kan kepunyaan orang lain.6
Hukum yang Unik. Sepuluh Hukum tentu-
lah merupakan hukum yang unik dan tegas
yang diucapkan Tuhan dengan nyaring kepa-
da seluruh bangsa (U1. 5:22).Hukum ini tidak
dipercayakan Tuhan kepada pikiran yang
mudah lupa, oleh sebab itu Tuhan mengukir-
nya dengan jari-Nya sendiri di atas dua loh
batu supaya dapat disimpan di dalam tabut di
bait Allah (Kel. 31:18; Ul. 10:2).
Untuk membantu bangsa Israel mene-
rapkan hukum-hukum itu, Allah memberikan
hukum tambahan yang lebih rinci kepada
mereka yang mengatur hubungan mereka
kepada-Nya dan kepada masing-masing me-
reka. Beberapa dari antara undang-undang
tambahan ini berfokus pada undang-undang
warga sipil bangsa Israel (hukum sipil), se-
mentara yang lain mengatur upacara-upa-
cara pelayanan di bait Allah (hukum keupa-
caraan). Tuhan Allah menyampaikan hukum-
hukum tambahan ini kepada umat dengan
perantaraan Musa yang lalu menulis-
kannya dalam “artikel hukum,” dan menempat-
kannya di samping “tabut perjanjian” (Ul.
31:25, 26)— tidak di dalam tabut sebagaimana
dilakukannya dengan penyataan tertinggi
Allah, yakni Sepuluh Hukum itu. Hukum-hu-
kum tambahan ini dikenal sebagai “kitab hu-
kum Musa” (Yos. 8:31; Neh. 8:1; 2 Taw.
25:4) atau dengan “Hukum Musa” (2 Raj.
23:25; 2 Taw. 23:18).7
Hukum yang Menyenangkan. Hukum
Tuhan itu merupakan inspirasi bagi jiwa.
Penulis Mazmur berkata, “Betapa kucintai
Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang
hari.” “Itulah sebabnya aku mencintai perin-
tah-perintah-Mu lebih dibandingkan emas, bahkan
dibandingkan emas tua.” Walaupun apabila “aku
ditimpa kesesakan dan kesusahan,” katanya
lebih lanjut, “namun perintah-perintah-Mu
menjadi kesukaanku” (Mzm. 119:97, 127,143).
Kepada barangsiapa yang mengasihi Allah,
“Perintah-perintah-Nya itu tidak berat” (1
Yoh. 5:3). Para pelanggar yang menganggap
hukum itu sebagai kuk yang menyusahkan,
sebab pikiran yang penuh dengan dosa
“tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini
memang tidak mungkin baginya” (Rm. 8:7).
Hukum Tuhan Allah 275
MAKSUD HUKUM
Allah memberikan hukum-Nya agar umat
memperoleh berkat yang berkelimpahan ser-
ta membimbing mereka ke dalam hubungan
yang menyelamatkan dengan diri-Nya. Co-
balah perhatikan dengan saksama tujuan dan
maksud yang dirinci secara khusus ini:
Hukum itu Menyatakan Kehendak Al-
lah bagi kita semua . Sebagai ungkapan tabiat
dan kasih Allah, Sepuluh Hukum menyatakan
kehendak dan maksud Allah bagi kita semua .
Hukum itu menuntut perlunya penurutan
yang sempurna, “sebab barangsiapa menuruti
seluruh hukum itu, namun mengabaikan satu
bagian dari padanya, ia bersalah terhadap
seluruhnya” (Yak. 2:10). Penurutan terhadap
hukum, sebagai peraturan yang menguasai
hidup, sangat penting bagi keselamatan kita.
Kristus sendiri berkata, “Jikalau engkau ingin
masuk ke dalam hidup, turutilah segala perin-
tah Allah” (Mat. 19:17). Penurutan ini hanya
mungkin dengan adanya Roh Kudus.
Basis Perjanjian Allah. Musa menuliskan
kembali Sepuluh Hukum berikut penjelasan-
penjelasan hukum lainnya di dalam artikel yang
disebut artikel perjanjian (Kel. 20:1-24:8).8 Ke-
mudian ia menyebut Sepuluh Hukum “loh-loh
batu, loh-loh perjanjian” menunjukkan penting-
nya sebagai basis perjanjian kekal (Ul. 9:9;
bandingkan 4:13. Tentang perjanjian ini, lihat
kembali bab 7).
Fungsinya sebagai Standar Penghakiman.
Seperti halnya Tuhan, “segala perintah-Nya
benar” (Mzm. 119:172). Oleh sebab itu, hu-
kum seperangkat ukuran kebenaran. Masing-
masing kita akan ditimbang dan dihakimkan
dengan ukuran prinsip kebenaran ini, bukan
dengan hati nurani kita. “Takutlah akan Allah
dan berpeganglah pada perintah-perintah-
Nya,” kata Kitab Suci, “... sebab Allah akan
membawa setiap perbuatan ke pengadilan
yang berlaku atas segala sesuatu yang ter-
sembunyi, entah itu baik, entah itu jahat” Pkh.
12:13, 14; bandingkan Yak. 2:12).
Hati nurani kita semua beraneka-ragam.
Ada hati nurani yang “lemah,” sedang
yang lain “najis” “jahat” atau “tipu daya pen-
dusta” (1 Kor 8:7, 12; Tit. 1:15; Ibr. 10:22; 1
Tim. 4:2). Sama seperti jam, bagaimana pun
baiknya, harus “diatur” oleh ukuran yang pas
dengannya. Hati nurani kita mengatakan
bahwa kita harus melakukan yang baik, akan
namun hati nurani itu tidak mengatakan kepa-
da kita apa yang baik. Hanya hati nurani yang
telah diatur dengan ukuran agung yang dite-
tapkan Allah–dengan hukum-Nya—dapat
menjaga kita menyimpang ke dalam dosa.9
Ditunjukkannya Dosa. Tanpa Sepuluh Hu-
kum umat tidak dapat melihat dengan jelas
kesucian Allah, kesalahan mereka, atau per-
lunya mereka bertobat.
Apabila mereka tidak mengetahui bahwa
mereka melanggar hukum Allah, maka mere-
ka tidak akan merasakan bahwa mereka hi-
lang, atau perlunya bagi mereka pendamaian
dengan darah Kristus.
Membantu kita semua supaya mengetahui
keadaan mereka yang sebenarnya, maka
fungsi hukum yaitu seperti sebuah cermin
(baca Yak. 1:23-25). Barangsiapa yang “me-
mandang” ke dalamnya maka mereka akan
melihat cacat tabiat sendiri yang bertentangan
dengan tabiat Allah yang benar. Oleh sebab
itu, hukum moral menunjukkan bahwa selu-
ruh dunia `bersalah di hadapan Allah (Rm.
3:20) sebab “sebab dosa ialah pelanggaran
hukum” (1 Yoh. 3:4). Sesungguhnya, kata
Paulus, “Justru oleh hukum Taurat aku telah
mengenal dosa” (Rm. 7:7). Meyakinkan
orang-orang yang berdosa atas dosa mereka,
akan membantu mereka sadar bahwa mere-
276 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
ka dihukumkan di bawah pengadilan murka
Allah dan bahwa mereka menghadapi huku-
man mati yang abadi. Itulah yang membuat
mereka merasa bahwa mereka sama sekali
tidak berdaya.
Alat Pertobatan. Hukum Allah merupakan
alat Roh Kudus yang digunakan untuk men-
datangkan pertobatan dalam diri kita: “Taurat
Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa”
(Mzm. 19:8). Apabila kita telah melihat tabiat
kita yang sebenarnya maka kita menyadari
bahwa kita yaitu orang berdosa, kita berada
di barisan orang yang akan dihukum mati
tanpa harapan, sehingga kita merasa perlu-
nya seorang Juruselamat. Dengan demikianlah
kabar baik injil itu menjadi benar-benar ber-
makna. Hukum itu mengarahkan kita kepada
Kristus, satusatunya harapan yang dapat
membantu kita lepas dari keadaan putus
asa.10 Dalam pengertian seperti inilah Paulus
merujuk baik kepada hukum moral maupun
hukum keupacaraan sebagai “penuntun bagi
kita” yang membawa kita kepada Kristus,
“supaya kita dibenarkan sebab iman” (Gal.
3:24).11
Walaupun hukum itu menyatakan dosa
kita, ia tidak dapat dan tidak akan pernah
menyelamatkan kita. Seperti halnya air yang
membersihkan wajah yang kotor, demikianlah
kita, sesudah kita menemukan kekurangan
kita di dalam cermin hukum moral Allah,
mencapai sumber yang terbuka “untuk mem-
basuh dosa dan kecemaran” (Za. 13:1) dan
dibasuh dengan “darah Anak Domba” (Why.
7:14). Kita harus memandang kepada Kris-
tus, “dan sebagaimana Kristus dinyatakan...
(kepada kita) di atas kayu salib Golgota, mati
di bawah himpitan beban dosa seluruh dunia,
Roh Kudus menunjukkan... (kepada kita)
sikap Allah terhadap semua orang yang
bertobat dari dosa pelanggaran mereka.”12
Maka, pengharapan mengisi jiwa kita, dan di
dalam iman kita sampai kepada Juruselamat
kita, yang mengulurkan kepada kita karunia
hidup kekal (Yoh. 3:16).
Disediakannya Kebebasan yang Sejati.
Kristus berkata bahwa “setiap orang yang
berbuat dosa, yaitu hamba dosa” (Yoh.
8:34). Apabila kita melanggar hukum Allah,
maka kita kehilangan kebebasan; akan namun
kalau menurut Hukum yang Sepuluh, diberi-
kan kepada kita jaminan yang sejati. Hidup
yang selaras dengan hukum Allah berarti ke-
bebasan dari dosa. Itu berarti kebebasan dari
hal-hal yang biasanya mengikuti dosa—ke-
cemasan yang berkelanjutan, luka hati nurani,
rasa bersalah yang bertumbuh dan penyesalan
yang melemahkan daya hidup yang vital.
Pemazmur berkata, “Aku hendak hidup da-
lam kelegaan, sebab aku mencari titah-titah-
Mu” (Mzm. 119:45). Yakobus menyebut De-
kalog itu “hukum utama,” “hukum yang sem-
purna, yaitu hukum yang memerdekakan
orang” (Yak. 2:8; 1:25).
Agar kita dapat menerima kemerdekaan
ini, Yesus mengundang kita supaya datang
kepada-Nya dengan beban dosa kita. Ia
memberikan kepada kita kuk-Nya yang ri-
ngan (Mat. 11:29, 30). Sebuah kuk yaitu alat
untuk melayani. Dengan membagi beban,
tugas yang dibebankan akan lebih ringan.
Kristus membagi kuk dengan kita. Kuk itulah
hukum; “hukum kasih yang agung dinyatakan
di taman Eden, diumumkan di bukit Sinai, dan
di dalam perjanjian baru dituliskan dalam hati,
itulah yang mengikat pekerja kita semua ke
dalam kehendak Allah.”13 Apabila kita sepe-
nanggungan kuk dengan Kristus, Ia menang-
gung beban yang berat dan menjadikan penu-
rutan itu sebagai sesuatu kesukaan. Ia me-
nyanggupkan kita hingga berhasil melaku-
kan apa yang tadinya tidak mungkin. Oleh
sebab itu, hukum yang tertulis dalam batin
kita, menjadi sebuah kegembiraan dan kesu-
Hukum Tuhan Allah 277
kaan. Kita merdeka sebab kita ingin melaku-
kan sebagaimana yang diperintahkan-Nya.
Jika hukum itu diberikan tanpa kuasa
Kristus, maka tidak ada kemerdekaan dari
dosa. Akan namun anugerah Allah yang me-
nyelamatkan, yang tidak membatalkan hu-
kum itu, membawa kuasa yang membebaskan
dari dosa, sebab “di mana ada Roh Allah, di
situ ada kemerdekaan” (2 Kor. 3:17).
Mengekang Kejahatan dan Mendatang-
kan Berkat. Pertambahan kejahatan, keke-
rasan, kebejatan moral dan kekejian yang
merajalela di dunia yaitu akibat melalaikan
Sepuluh Firman. Di mana hukum diterima de-
ngan baik, dosa dikekang dan dirintangi, di
situlah perbuatan yang benar dianjurkan, dan
menjadi sarana menegakkan kebenaran.
Bangsa-bangsa yang menerapkan asas-asas
itu ke dalam hukum-hukum mereka akan
memperoleh berkat besar. Sebaliknya, apabi-
la tidak menghiraukan asas-asas ini maka ke-
munduran yang terus-menerus akan terjadi.
Pada zaman Perjanjian Lama Allah sering
memberkati bangsa-bangsa dan individu se-
laras dengan penurutan mereka terhadap hu-
kum-Nya. “Kebenaran meninggikan derajat
bangsa,” kata Kitab Suci, dan sebuah “takhta
menjadi kokoh oleh kebenaran” (Ams. 14:34;
16:12). Barangsiapa yang menolak menuruti
perintah-perintah Tuhan akan menghadapi
ancaman malapetaka (Mzm. 89:31, 32). “Ku-
tuk Tuhan ada di dalam rumah orang fasik,
namun tempat kediaman orang benar diber-
kati-Nya” (Ams. 3:33; bandingkan Im. 26;
Ul. 28). Prinsip umum yang lama tetap ber-
laku sampai hari ini.14
KEKEKALAN HUKUM ITU
sebab hukum moral yang sepuluh itu
merupakan refleksi tabiat Allah, maka prin-
sip-prinsip itu tidaklah bersifat sementara
atau menurut situasi, melainkan mutlak, tidak
dapat berubah, dan sahih secara permanen
bagi kita semua . Orang-orang Kristen dari za-
man ke zaman mengukuhkan keteguhan dan
kekekalan hukum Allah, dengan kokoh mem-
benarkan keabsahannya secara terus-mene-
rus.15
Hukum sebelum Sinai. Hukum Tuhan su-
dah ada jauh sebelum diberikan-Nya Sepuluh
Hukum kepada bangsa Israel. Sebab kalau
tidak demikian, maka sebelum Sinai tidak ada
dosa, “sebab dosa ialah pelanggaran hukum
Allah” (1 Yoh. 3:4). Fakta bahwa Lusifer dan
malaikat-malaikatnya dinyatakan berdosa
menjadi bukti bahwa hukum sudah ada jauh
sebelum Penciptaan (2 Ptr. 2:4).
Tatkala Allah menjadikan Adam dan Ha-
wa di dalam gambar-Nya, Ia menanamkan
asas-asas moral dari hukum itu di dalam be-
nak mereka, secara alamiah diberikan kepa-
da mereka agar mereka dapat melakukan ke-
hendak-Nya. Pelanggaran yang dilakukan
mereka membuat dosa dikenal keturunan
umat kita semua (Rm. 5:12).
lalu Allah mengatakan tentang
Abraham bahwa ia “telah mendengarkan fir-
man-Ku dan memelihara kewajibannya ke-
pada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan
dan hukum-Ku” (Kej. 26:4, 5). Dan Musa
mengajarkan peraturan-peraturan Tuhan
dan hukum-Nya sebelum Sinai (Kel. 16;
18:16). Studi mengenai artikel Kejadian me-
nunjukkan bahwa Sepuluh Hukum telah dike-
nal baik sebelum Sinai. artikel itu menyatakan
dengan jelas bahwa umat mengetahui bawa
sebelum Allah memberikan Sepuluh Firman
(Dekalog) itu, perbuatan-perbuatan yang
dilarang itu salah.16 Pengertian yang telah
diterima secara umum ini, yakni hukum mo-
ral, menunjukkan bahwa Allah harus menye-
diakan bagi kita semua pengetahuan mengenai
Sepuluh hukum.
278 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
Hukum di Sinai. Selama masa perhambaan
yang cukup lama di Mesir, sebuah bangsa
yang tidak mengakui Allah yang benar (Kel.
5:2), orang-orang Israel hidup di tengah-te-
ngah penyembah berhala dan kebejatan. Aki-
batnya, mereka lupa dan kehilangan penger-
tian yang mendalam atas kesucian, kemurnian
dan prinsip-prinsip moral yang diberikan dan
dimiliki Allah. Status mereka sebagai hamba
mempersulit mereka untuk menyembah dan
berbakti kepada Tuhan.
Menjawab seruan permintaan mereka
yang amat sangat, Allah mengingat perjanjian-
Nya kepada Abraham dan bertekad mele-
paskan umat-Nya keluar dari “dapur pelebur-
an” (Ul. 4:20) dengan membawa mereka ke
sebuah negeri “agar supaya mereka tetap
mengikuti ketetapan-Nya, dan memegang
segala pengajaran-Nya” (Mzm. 105:43-45).
sesudah mereka dilepaskan, lalu Ia me-
nuntun mereka ke Gunung Sinai untuk mem-
berikan kepada mereka hukum moral yang
menjadi ukuran pemerintahan-Nya dan hu-
kum-hukum keupacaraan yang mengajarkan
kepada mereka jalan keselamatan yaitu
melalui pengorbanan pendamaian Jurusela-
mat. Di Sinai, lalu Tuhan memberikan
hukum secara langsung, dalam bentuk yang
sederhana dan jelas, dengan istilah yang mu-
dah, “oleh sebab pelanggaran-pelanggaran”
(Gal. 3:19), “supaya oleh perintah itu dosa
lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa”
(Rm. 7:13). Hanyalah dengan membuat hu-
kum Allah lebih terfokus maka mereka,
bangsa Israel, akan menyadari pelanggaran
mereka lebih tajam, sehingga mengetahui ke-
beradaan mereka yang tanpa daya, dan me-
reka nengetahui betapa perlunya keselamatan.
Hukum sebelum Kedatangan Kristus
Kedua Kali. Alkitab menunjukkan bahwa
hukum Tuhan menjadi sasaran serangan Se-
tan dan perang yang dilancarkannya terha-
dap hukum-hukum itu mencapai klimaks per-
sis mendahului kedatangan Kristus yang
kedua kali. Nubuat menunjukkan bahwa Se-
tan akan memimpin sejumlah besar kita semua
untuk mengingkari Allah (Why. 12:9). De-
ngan bekerja sama dengan kuasa “binatang”
itu, ia akan mengarahkan perhatian dunia
terhadap binatang itu, bukan kepada Allah
(Why. 13:3; untuk .memperoleh keterangan
lebih lanjut mengenai nubuat ini, silakan baca
kembali bab 12).
1. Hukum di bawah serangan. Daniel 7
menggambarkan kuasa yang sama dengan
menyebut tanduk kecil. Bab ini mengutarakan
empat binatang besar, yang mana, bahkan
sejak masa Kristus, para penafsir Alkitab te-
lah mengidentifikasinya sebagai kuasa-kuasa
dunia yang besar: Babilon, Medo-Persia, Ge-
rika dan Roma. Sepuluh tanduk dari empat
binatang besar itu menggambarkan pembagian
Kerajaan Roma sesudah kejatuhannya (476
TM).17
Khayal Daniel berpusat pada tanduk
kecil, sebuah kuasa menghujat yang mengeri-
kan yang bangkit di tengah-tengah sepuluh
tanduk, menyatakan timbulnya sebuah kuasa
dahsyat sesudah terpecah-pecahnya Keraja-
an Roma. Kuasa ini akan mencoba meng-
ubah hukum Allah (Dan. 7:25) dan akan terus
berlangsung sampai kedatangan Kristus
kembali (lihat bab 19). Serangan ini sendiri
membuktikan makna yang terus-menerus
hukum itu di dalam rencana keselamatan.
Khayal berakhir dengan menjamin kembali
umat Allah, bahwa kuasa ini tidak akan ber-
hasil melenyapkan hukum itu, sebab peng-
hakiman akan membinasakan tanduk kecil itu
(Dan. 7:11; 26-28).
2. Orang-orang Saleh mempertahan-
kan hukum itu. Penurutan menjadi ciri-ciri
orang saleh yang menanti Kedatangan Kris-
Hukum Tuhan Allah 279
tus yang kedua kali. Dalam konflik terakhir
mereka berlomba meninggikan hukum Allah.
Kitab Suci melukiskan mereka sebagai ber-
ikut: Mereka “yang menuruti perintah Allah
dan memiliki iman kepada kesaksian Yesus”
(Why. 12:17; 14:12) dan yang dengan sabar
menanti kedatangan Kristus kembali.
Dalam persiapan menanti Kedatangan
Kristus kedua kali, umat ini mengumumkan
Injil, memanggil orang lain supaya menyembah
Tuhan sebagai Pencipta (Why. 14:6, 7). Ba-
rangsiapa yang menyembah Allah di dalam
kasih akan menuruti-Nya; sebagaimana yang
dikatakan Yohanes: “Sebab inilah kasih ke-
pada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti pe-
rintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya
tidak berat” (1 Yoh. 5:3).
3. Pengadilan Tuhan dan hukum.
Pengadilan yang dilakukan Tuhan dengan
mendatangkan ketujuh malapetaka atas
orang yang tidak menuruti hukum itu bermula
dari kaabah “Bait Suci”—kemah kesaksian
di surga (Why. 15:5). Bangsa Israel telah
kenal betul ungkapan Bait Suci—kemah
kesaksian; yang dimaksudkannya ialah ke-
mah yang dibangun oleh Musa (Bil. 1:50, 53;
17:8; 18:2). Disebut demikian sebab kemah
suci itu memuat “kesaksian” (Kel. 26:34),
yang berisi “kedua loh hukum” (Kel. 31:18).
Oleh sebab itu, Sepuluh Hukum yaitu
“kesaksian”—saksi bagi kita semua dari hal
kehendak Allah (Kel. 34:28, 29).
Akan namun Wahyu 15:5 menunjuk kepa-
da “Bait Suci—kemah kesaksian di surga.
“Bait suci yang dibuat Musa hanyalah sebuah
contoh bait suci yang di surga (Kel. 25:8, 40;
bandingkan Ibr. 8:1-5); aslinya yang besar—
sepuluh hukum itu—disimpan di sana.
Penghakiman terakhir sangat erat kaitannya
dengan pelanggaran terhadap hukum Allah
menjadi bukti tambahan betapa abadinya Se-
puluh Hukum itu.
artikel Wahyu juga menggambarkan pem-
bukaan bait suci surga, yang menampakkan
pemandangan atas “tabut perjanjian-Nya”
(Why. 11:19). Frasa tabut perjanjian menun-
juk kepada tabut pada bait suci dunia; yang
berisi loh batu yang di dalamnya tertulis “fir-
man perjanjian” yakni Sepuluh Hukum” (Kel.
34:27; bandingkan Bil. 10:33; U1. 9:9). Tabut
perjanjian itu, yang ada di dalam bait suci
surga yaitu tabut yang asli yang berisi per-
kataan perjanjian kekal––Sepuluh firman
yang asli. Maka jelaslah bahwa waktu peng-
hakiman terakhir yang dilakukan Allah atas
dunia ini (Why. 11:18), berhubungan dengan
pembukaan bait suci surga dengan berfo-
kuskan pada tabut dengan Sepuluh Hukum—
sesungguhnya, merupakan sebuah gambaran
yang pantas dari besarnya hukum Allah se-
bagai ukuran penghakiman.
HUKUM DAN INJIL
Keselamatan yaitu karunia yang datang
sebab anugerah melalui iman, bukan karya
dari hukum itu (Ef. 2:8). “Bukan sebab per-
buatan yang baik sebab melakukan hukum,
bukan dengan usaha yang bagaimana pun
yang dipujikan, bukan pula sebab perbuatan
yang baik—apakah banyak atau sedikit, pe-
ngorbanan atau tidak,—dengan cara bagaima-
na pun dapat membenarkan orang berdosa
(Tit. 3:5; Rm. 3:20).”18
Di dalam Kitab Suci ada lah kese-
larasan yang sempurna antara hukum dan
Injil, satu dengan yang lain saling meninggikan.
Hukum dan Injil sebelum Sinai. Apabila
Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, maka
tahulah mereka apa artinya bersalah, takut,
dan kekurangan (Kej. 3:10). Allah menyambut
dan menjawab atas kekurangan mereka bu-
280 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
kan dengan menghapuskan hukum yang
menghakimkan mereka; melainkan dengan
memberikan kepada mereka Injil yang dapat
memulihkan mereka kembali ke dalam perse-
kutuan dan penurutan kepada-Nya.
Injil ini berisi janji penebusan melalui Ju-
ruselamat, benih perempuan itu, yang pada
suatu ketika kelak akan datang dan menang
atas yang jahat (Kej. 3:15). Sistem persem-
bahan yang diberikan Tuhan untuk mengajar-
kan kepada mereka pentingnya kebenaran
mengenai pendamaian: bahwa pengampunan
dapat diperoleh hanya melalui penumpahan
darah—melalui kematian Juruselamat. De-
ngan mempercayai bahwa korban binatang
yang dipersembahkan itu merupakan lambang
kematian yang mendatangkan pendamaian
dari Kristus demi mereka, maka mereka
memperoleh pengampunan dari dosa.19 Me-
reka diselamatkan oleh anugerah.
Janji Injil ini yaitu pusat perjanjian Allah
yang kekal dari hal anugerah yang diberikan
kepada kita semua (Kej. 12:1-3; 15:4, 5; 17:1-9).
Hal ini sangat erat kaitannya dengan penu-
rutan kepada hukum Allah (Kej. 18:18, 19;
26:4, 5). Kepastian janji Allah itu yaitu Anak
Allah, yang satu-satunya menjadi inti Injil,
yakni “sejak dunia dijadikan di dalam kitab
kehidupan dari Anak Domba, yang telah di-
sembelih” (Why. 13:8). Anugerah Allah, se-
gera berlangsung begitu Adam dan Hawa
jatuh ke dalam dosa. Daud berkata, ”namun
kasih setia Tuhan dari selama-lamanya sam-
pai selama-lamanya atas orang-orang yang
takut akan Dia, ...bagi orang-orang yang ber-
pegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat
untuk melakukan titah-Nya” (Mzm. 103:17,
18).
Hukum dan Injil di Sinai. Ada hubungan
yang erat antara Sepuluh Firman dengan Injil.
Pendahuluan hukum itu, misalnya, menunjuk
kepada Allah sebagai Penebus (Kel. 20:1).
Dan sesudah proklamasi Sepuluh Hukum, Al-
lah menyuruh orang-orang Israel mendirikan
mezbah dan mulai mempersembahkan per-
sembahan yang mengungkapkan anugerah-
Nya yang menyelamatkan.
Di Bukit Sinai Allah memberikan sebagi-
an besar hukum keupacaraan yang berhu-
bungan dengan pembangunan kaabah, yang
menjadi tempat kediaman Allah bersama
umat-Nya dan tempat berjumpa dengan me-
reka untuk membagikan berkat-berkat-Nya
serta mengampuni dosa-dosa mereka (Kel.
24:9-31:18). Perluasan sistem persembahan
yang sederhana ini telah ada sebelum Sinai,
membayangkan karya pengantaraan Kristus
bagi penebusan orang-orang yang berdosa
dan pengesahan kuasa dan kesucian hukum
Allah.
Tempat kediaman Allah yaitu di Bilik
Yang Mahasuci yang ada di dunia, di
tempat kemurahan di tabut tempat beradanya
Sepuluh Hukum. Setiap aspek pelayanan bait
suci melambangkan Juruselamat. Korban
sembelihan menunjukkan kematian-Nya
yang mengadakan pengantaraan, yang akan
menebus umat kita semua dari hukuman yang
didatangkan oleh hukum itu (baca bab 4 dan
9).
Sementara Dekalog atau Sepuluh Firman
itu ditempatkan di dalam tabut, hukum-hukum
keupacaraan, bersama-sama dengan pera-
turan-peraturan sipil yang diberikan Tuhan
telah dituliskan di dalam “artikel Hukum” dan
ditempatkan di samping tabut perjanjian se-
bagai “saksi di situ terhadap engkau” (Ul.
31:26). Apabila mereka berdosa, maka “sak-
si” ini akan menghakimkan perbuatan mere-
ka serta menyediakan syarat yang terinci dan
panjang lebar mengenai pendamaian dengan
Allah. Mulai dari Sinai sampai kepada kema-
tian Kristus, para pelanggar Sepuluh Hukum
dapat memperoleh pengharapan, pengam-
punan dan penyucian dengan iman dalam Injil
Hukum Tuhan Allah 281
yang digambarkan oleh pelayanan bait suci
dari hukum keupacaraan itu.
Hukum dan Injil Sesudah Salib. Sesuai
dengan pengamatan sebagian besar orang
Kristen, Alkitab menunjukkan bahwa semen-
tara kematian Kristus menghapuskan hukum
keupacaraan, maka dikukuhkan seterusnya
keabsahan hukum moral.20 Simaklah bukti
berikut ini:
1. Hukum keupacaraan. Apabila Kris-
tus mati, Ia menggenapi lambang nubuat sis-
tem korban-korban persembahan. Lambang
dengan yang dilambangkannya bertemu, se-
hingga berakhirlah hukum keupacaraan itu.
Berabad-abad sebelumnya Daniel telah me-
ramalkan bahwa kematian Mesias akan
“menghentikan korban sembelihan dan kor-
ban santapan” (Dan. 9:27; baca juga bab 4).
Waktu Yesus mati, tirai di bait suci secara
ajaib tercarik dua dari atas ke bawah (Mat.
27:51), menunjukkan berakhirnya makna ro-
hani pelayanan di bait suci.
Walaupun hukum keupacaraan memenuhi
peran penting sebelum kematian Kristus, da-
lam banyak hal hukum ini tidaklah sempurna,
sebab sebagai “bayangan saja dari kesela-
matan yang akan datang” (Ibr. 10:1). Yang
diperankannya ialah tujuan yang bersifat se-
mentara dan membebani umat Allah sampai
tibanya “waktu pembaharuan” (Ibr. 9:10;
bandingkan Gal. 3:19)—sampai tiba waktu-
nya Kristus mati sebagai Domba Allah yang
sejati.
Pada waktu kematian Kristus batas hu-
kum keupacaraan berakhir. Korban penda-
maian yang dilakukan-Nya cukup mengam-
puni dosa-dosa semua orang. Tindakan ini
“menghapuskan surat utang, yang oleh ke-
tentuan-ketentuan hukum mendakwa dan
mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya de-
ngan memakukannya pada kayu salib” (Kol.
2:14; bandingkan Ul. 31:26). Oleh sebab itu,
tidak perlu lagi mengadakan upacara yang
telah dihapuskan, sebab hal itu tidak dapat
menghapus dosa atau menyucikan hati nurani
(Ibr. 10:4; 9:9, 14). Tidak perlu lagi dicemas-
kan hukum-hukum keupacaraan, berikut sya-
rat-syarat yang rumit mengenai persembahan
makanan dan minuman, perayaan-perayaan
atas pelbagai festival (Paskah, Pentakosta,
dsb.), bulan baru, atau sabat-sabat keupacara-
an (Kol. 2:16; bandingkan Ibr. 9:10), yang ha-
nya merupakan “bayangan dari apa yang ha-
rus datang” (Kol. 2:17).21
Dengan kematian Yesus, orang-orang
percaya tidak perlu lagi berhubungan dengan
bayang-bayang—refleksi realitas Kristus.
Secara langsung sekarang mereka dapat
menghampiri Juruselamat sendiri, “sedang
wujudnya ialah Kristus” (Kol. 2:17).
sebab penafsiran orang-orang Yahudi,
maka hukum keupacaraan itu telah menjadi
sebuah perintang antara mereka dengan
bangsa-bangsa lain. Hal itu telah menjadi
rintangan besar bagi misi mereka yang sebe-
narnya dimaksudkan untuk menerangi dunia
dengan kemuliaan Tuhan. Kematian Kristus
menghapuskan “segala perintah dan keten-
tuannya,” meruntuhkan “tembok pemisah”
antara orang yang bukan Yahudi dan orang
Yahudi sehingga menciptakan sebuah kelu-
arga baru, yakni umat percaya, yang diperda-
maikan ke dalam “satu tubuh... pada salib itu”
(Ef. 2:14-16).
2. Sepuluh Hukum dengan salib. Se-
mentara kematian Kristus mengakhiri otoritas
hukum keupacaraan, justru Sepuluh Hukum
itu ditegakkannya. Kristus menanggung ku-
tuk hukum, dengan demikian membebaskan
umat percaya dari hukuman. Dengan mela-
kukan demikian, bukan berarti bahwa hukum
itu sudah dihapuskan dan memberikan kebe-
basan kepada kita untuk melanggar asas-
282 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
asas atau prinsipnya. Cukup banyak kesaksi-
an yang diperoleh di dalam kitab Suci menge-
nai kekalnya hukum itu, menolak pandangan
yang disebutkan di atas.
Calvin dengan tegas mengatakan bahwa
“kita tidak boleh membayangkan bahwa ke-
datangan Kristus telah membebaskan kita
dari kekuasaan hukum; sebab hukum itulah
peraturan yang abadi dari pengabdian dan hi-
dup yang suci, dan harus, sebab itulah kea-
dilan Allah yang tidak pernah dapat ber-
ubah.”22
Paulus melukiskan hubungan antara pe-
nurutan dan Injil anugerah yang menyela-
matkan. Memanggil orang-orang beriman
agar hidup suci,
.jpeg)
