doktrin dasar alkitab 17

Tampilkan postingan dengan label doktrin dasar alkitab 17. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label doktrin dasar alkitab 17. Tampilkan semua postingan

doktrin dasar alkitab 17



 an olah raga dan istirahat yang berimbang, kita

harus menerapkan cara makan yang paling sehat dan sama sekali

harus menjauhi makanan haram yang disebutkan dengan jelas dalam

Kitab Suci. Minuman yang mengandung alkohol, tembakau, dan pe-

nyalahgunaan obat-obat bius dan narkotik yang merusak tubuh, ha-

rus membebaskan kita dari semuanya itu. Sebaliknya, kita justru harus

melibatkan dalam apa pun yang membuat pikiran dan tubuh kita taat

kepada Kristus, yang menginginkan kita sehat, gembira dan baik.—

Fundamental Beliefs,—22.

317

Tingkah laku Kristen—gaya hidup seorang

      pengikut Allah–timbul sebagai satu sam-

butan sebab  rasa syukur kepada kesela-

matan agung Allah melalui Kristus. Kepada

semua orang Kristen, Paulus mengimbau:

“sebab  itu, saudara-saudara, demi kemurah-

an Allah aku menasihatkan kamu, supaya ka-

mu mempersembahkan tubuhmu sebagai

peraembahan yang hidup, yang kudus dan

yang berkenan kepada Allah: itu yaitu  iba-

dahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi

serupa dengan dunia ini, namun  berubahlah

oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu

dapat membedakan manakah kehendak Al-

lah: apa yang baik, yang berkenan kepada Al-

lah dan yang sempurna” (Rm. 12:1, 2). Oleh

sebab  itu orang Kristen haruslah dengan su-

karela menjaga dan mengembangkan mental,

jasmani dan kemampuan rohani agar mereka

dapat menghormati Pencipta dan Penebus

mereka.

Kristus berdoa, “Aku tidak meminta, su-

paya Engkau mengambil mereka dari dunia,

namun  supaya Engkau melindungi mereka dari

pada yang jahat. Mereka bukan dari dunia,

sama seperti Aku bukan dari dunia” (Yoh.

17:15, 16). Bagaimanakah seorang Kristen

dapat sekaligus berada di dunia ini dan dipi-

sahkan dari padanya? Bagaimanakah gaya

hidup orang Kristen berbeda dari dunia ini?

Orang-orang Kristen harus memakai ga-

ya hidup yang berbeda, bukan hanya sekadar

untuk berbeda melainkan sebab  Tuhan telah

menghimbau mereka hidup menurut prinsip.

Gaya hidup yang diminta-Nya agar mereka

hidupkan membuat mereka mampu meraih

potensi penuh sebagai makhluk ciptaan-Nya,

membuat mereka efisien dalam pelayanan-

Nya. Menjadi orang yang berbeda mereka

patut memajukan misi mereka: untuk melaya-

ni dunia—menjadi garam dunia dan mene-

ranginya. Apakah gunanya garam apabila su-

dah menjadi tawar, atau terang jika tidak

berbeda dari kegelapan?

Kristus itulah teladan kita. Ia menghayati

hidup yang demikian di dunia ini sehingga

orang banyak menuduh-Nya kita semua  “pela-

hap dan peminum” (Mat. 11:19), walaupun Ia

bukan seperti itu. Ia secara konsisten hidup

sesuai dengan asas-asas yang ditetapkan Al-

BAB 22

TINGKAH LAKU ORANG KRISTEN

318                 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

lah sehingga tidak ada seorang pun yang da-

pat membuktikan Ia bersalah (Yoh. 8:46).

TINGKAH LAKU DAN

KESELAMATAN

Untuk memastikan apakah tingkah laku

yang pantas, kita harus menghindari dua hal

yang ekstrem. Yang pertama penerimaan

hukum-hukum dan penerapan asas-asas

menjadi sebuah sarana keselamatan. Paulus

menyimpulkan sudut ekstrem ini dengan ka-

ta-kata, “Kamu lepas dari Kristus, jikalau ka-

mu mengharapkan kebenaran oleh hukum

Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia”

(Gal. 5:4).

Sudut ekstrem lainnya yang bertolak be-

lakang dengan yang di atas ialah kepercayaan

bahwa sebab  amal baik tidak menyelamatkan

maka hal itu tidaklah penting––jadi bagaimana

pribadi seseorang tidaklah menjadi soal. Ke-

pada ekstrem seperti ini Paulus berkata juga

sebagai berikut: “namun  janganlah kamu

mempergunakan kemerdekaan itu sebagai

kesempatan untuk kehidupan dalam dosa,

melainkan layanilah seorang akan yang lain

oleh kasih” (Gal. 5:13). Apabila setiap anggo-

ta atau setiap orang mengikuti hati nurani

sendiri, “maka tidak ada lagi tata tertib se-

sama Kristen sebagaimana digariskan dalam

Matius 18 dan Galatia 6:1, 2. Gereja tidak lagi

menjadi tubuh Kristus, yang di dalamnya ter-

dapat cinta kasih dan saling memperhatikan,

melainkan menjadi sebuah himpunan individu

yang tercerai-berai, masing-masing menurut

kemauan sendiri tanpa merasa perlu ber-

tanggung jawab atas sesama, sepersekutuan

atau merasa prihatin atas keperluan mere-

ka.”1

sebab  tingkah laku kita dan kerohanian

kita erat hubungannya, kita tidak akan pernah

dapat memperoleh keselamatan sebab  ting-

kah laku yang baik. Sebaliknya, tingkah laku

Kristen yaitu  buah keselamatan secara ala-

miah dan berlandaskan apa yang telah dise-

lesaikan Kristus bagi kita di Golgota.

BAIT SUCI ROH KUDUS

Bukan hanya jemaat namun  juga individu

Kristen merupakan bait suci Roh Kudus.

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu

yaitu  bait Roh Kudus yang diam di dalam

kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari

Allah,—dan bahwa kamu bukan milik kamu

sendiri?” (1 Kor. 6:19).

Oleh sebab  itu, orang-orang Kristen

menjalankan kebiasaan-kebiasaan hidup se-

hat untuk melindungi pusat komando bait suci

tubuh mereka, pikiran, tempat tinggal Roh

Kristus. Untuk alasan inilah gereja Masehi

Advent Hari Ketujuh selama kurang lebih

100 tahun yang lalu—telah menekankan pen-

tingnya kebiasaan hidup sehat yang wajar.2

Dan hasilnya sudah kelihatan seperti berikut:

Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa

orang-orang Advent ternyata lebih sedikit

terkena penyakit yang kebanyakan menimpa

masyarakat pada umumnya.3

Sebagai orang Kristen, kita merasa pri-

hatin atas aspek-aspek kehidupan baik aspek

rohaninya maupun aspek jasmaninya. Yesus,

yang menjadi panutan kita, menyembuhkan

“segala penyakit dan kelemahan di antara

bangsa itu” (Mat. 4:23).

Alkitab menganggap kita semua  sebagai

makhluk yang utuh (baca bab 7). “Pembagian

antara yang rohani dan jasmani agak asing

bagi Alkitab.”4 Demikianlah Allah mengim-

bau kesucian tubuh sama halnya dengan ke-

sehat-an jasmani. Susannah Wesley, ibu pen-

diri gereja Metodis, dengan cekatan meng-

ikhtisarkan asas ini sebagai berikut: “Apa pun

yang melemahkan akalmu, merusak kelemah-

lembutan hati nuranimu, yang mengaburkan

perasaanmu terhadap Allah, mengurangi ke-

Tingkah Laku  Orang Kristen 319

kuatan dan otoritas pikiranmu atas tubuhmu—

hal itu salah, betapapun kecilnya sehingga ti-

dak kelihatan salah.”5

Hukum Tuhan, yang termasuk dalamnya

hukum kesehatan, bukanlah sembarangan

atau mana suka, melainkan direncanakan

oleh Pencipta agar kita mampu menikmati

hidup sebaik-baiknya. Setan, sang musuh itu,

ingin mencuri kesehatan kita, kegembiraan

kita, kesejahteraan pikiran kita, dan pada

akhirnya ingin menghancurkan kita (baca

Yoh. 10:10).

BERKAT-BERKAT ALLAH BAGI

KESEHATAN MENYELURUH

Untuk memperoleh kesehatan ini, ber-

gantung pada praktik yang sederhana namun 

efektif—prinsip-prinsip yang diberikan Allah.

Beberapa dari antaranya cukup jelas dan

umumnya orang setuju. Yang lain-lain, misal-

nya aturan makan yang baik, agak sukar di-

terima sebab  berkaitan dengan orientasi dan

kebiasaan-kebiasaan yang telah begitu men-

dasar atas gaya hidup kita. sebab  itulah, kita

harus mengabdikan lebih banyak kesempatan

untuk asas-asas ini sebab  kedua-duanya di-

salahpahami, diperdebatkan atau ditolak.6

Manfaat Olah Raga. Olah raga yang rutin

yaitu  formula sederhana untuk menambah

energi, ketegapan tubuh, kesantaian tubuh,

kulit yang lebih sehat, menambah rasa per-

caya diri, memulihkan pencernaan, meng-

efektifkan berat tubuh, dan mengurangi de-

presi serta risiko sakit jantung dan sakit kan-

ker. Olah raga bukan hanya sekadar pilihan,

justru ini penting agar dapat tetap sehat seca-

ra optimal—baik fisik maupun mental.7

Kegiatan yang bermanfaat cenderung

mendatangkan kesejahteraan; sedang 

ketidakaktifan dan kemalasan cenderung ke-

pada pertikaian (Ams. 6:6-13; 14:23). Allah

memberikan tugas untuk dikerjakan pasangan

leluhur kita yang pertama—untuk memelihara

taman yang menjadi rumah kediaman mere-

ka di tempat terbuka (Kej. 2:5, 15; 3:19). Kris-

tus sendiri memberikan sebuah teladan kegi-

atan jasmani. Hampir seluruh masa hidup-

Nya digunakan dalam pekerjaan kasar selaku

tukang kayu, dan selama Ia bekerja Ia berja-

lan menjelajahi jalan-jalan di Palestina.

Berkat Sinar Matahari. Terang sangat

penting bagi kehidupan (Kej. 1:3). Diberinya

kuasa untuk mengadakan proses yang meng-

hasilkan zat makanan yang memberi makan

dan energi bagi tubuh kita serta mengeluarkan

oksigen yang mau tidak mau harus kita miliki

supaya hidup. Sinar matahari memberi kese-

hatan dan kesembuhan.

Berkat Air. Tubuh kita semua  terdiri atas 75%

air, akan namun  cairan yang amat penting ini

terus-menerus hilang melalui udara yang di-

hembuskan, pernapasan, dan produk-produk

yang perlu dibuang. Meminum air putih 6-8

gelas setiap hari membantu membuat hidup

yang efisien dan bahagia. Fungsi penting lain-

nya air ini ialah untuk membersihkan dan

mendatangkan rasa santai.

Berkat Udara Segar. Lingkungan dengan

udara yang tidak bersih, di luar rumah, mem-

buat darah tidak dapat mengangkut oksigen

secara memadai sesuai dengan keperluan

yang harus ada untuk membuat setiap sel ber-

fungsi secara optimal. Kecenderungan ini

membuat seseorang kurang waspada dan

bertanggung  jawab. Oleh sebab  itu, betapa

pentingnya melakukan segala sesuatu yang

mungkin untuk memastikan persediaan udara

segar yang memadai setiap hari.

Berkat Bertarak, Bebas dari Obat Bius

dan Obat Perangsang Lainnya. Pelbagai

320                 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

obat bius sedang melanda masyarakat kita

sebab  obat-obatan ini telah memberikan

rangsangan bebas dari rasa stres dan rasa sa-

kit. Orang Kristen sekarang ini sedang digoda

untuk memakai nya. Banyak minuman

populer sekarang ini yang demikian: kopi, teh,

dan coca-cola berisi kafein,9 dan anggur sari

buah yang harum berisi alkohol. Penelitian

menunjukkan bahwa minuman ringan seka-

rang cenderung memakai  lebih keras

lagi yang dapat mempengaruhi pikiran.

Orang Kristen yang arif haruslah menjauhi

segala sesuatu yang merusak itu.

1. Tembakau. Dalam bentuk yang ba-

gaimanapun tembakau secara pelahan-lahan

menjadi racun yang sangat merusak tubuh,

mental dan kuasa moral. Pada mulanya efek-

nya memang sukar diamati. Mula-mula bersi-

fat merangsang dan lalu  melumpuhkan

saraf, melemahkan dan mengeruhkan otak.

Barangsiapa yang memakai  temba-

kau ia melakukan bunuh diri secara pelahan-

lahan ,10  melanggar hukum keenam: “Jangan

membunuh” (Kel. 20:13).

2. Minuman Beralkohol. Minuman al-

kohol merupakan minuman yang paling ba-

nyak digunakan secara meluas di Planet

Bumi. Telah berjuta-juta orang yang dibina-

sakannya. Hal itu bukan saja merusak orang

yang memakai nya, namun  juga meminta

korban yang cukup besar dari tengah-tengah

masyarakat pada umumnya—melalui rumah

tangga yang pecah belah, kematian mendadak

dan kemiskinan.

sebab  Allah berhubungan dengan kita

hanya melalui pikiran, maka ada baiknya kita

mengingat bahwa alkohol merusak setiap

fungsi. Kalau pengaruh alkohol itu sudah

sampai pada tingkat sistem tubuh, maka pe-

minumnya mulai kehilangan koordinasi, mulai

kacau, tidak dapat membulatkan pikiran, ke-

hilangan kesadaran, terbius, koma dan mati.

Umumnya, peminum alkohol yang terus-me-

nerus akan mengakibatkan berkurangnya da-

ya ingat, rusaknya pertimbangan dan ke-

mampuan belajar.11

Cerita-cerita yang ada  dalam Alkitab

yang berkaitan dengan pemakaian minuman

beralkohol tampaknya memberikan kesan

bahwa Tuhan berkenan atas pemakaiannya.

Bahkan Kitab Suci juga menunjukkan bahwa

umat Allah turut serta dalam tingkah laku so-

sial, misalnya praktik perceraian, poligami

dan perbudakan––perbuatan yang jelas-jelas

tidak dapat dimaafkan Tuhan. Dalam menaf-

sirkan ayat-ayat Kitab Suci yang demikian,

baik juga kita berpikir bahwa Allah tidak perlu

harus membenarkan apa yang dibiarkan-

Nya.

Jawaban Yesus atas pertanyaan yang

menyelidik, mengapa Musa mengizinkan per-

ceraian menunjuk kepada prinsip penafsiran

ini. Ia berkata, “sebab  ketegaran hatimu

Musa mengizinkan kamu menceraikan istri-

mu, namun  sejak semula tidaklah demikian”

(Mat. 19:8).12 Eden merupakan contoh Ilahi

yang olehnya Injil memulihkan kita. Sebagai-

mana benarnya praktik yang lain, jelaslah al-

kohol bukanlah bagian dari rencana Allah se-

jak semula.13

3. Obat-obat bius lainnya dan narko-

tika. Masih banyak lagi jenis obat-obat lain

yang merusak, juga narkotik, yang digunakan

Setan untuk menghancurkan hidup kita semua .14

Orang Kristen sejati yang selalu memandang

kepada Kristus akan terus memuliakan Allah

dengan tubuh mereka, menyadari bahwa me-

reka yaitu  milik yang berharga bagi-Nya,

yang telah dibeli-Nya dengan darah-Nya

yang sangat mulia.

Berkat Istirahat. Istirahat yang memadai

sangat penting bagi kesehatan tubuh dan pi-

Tingkah Laku  Orang Kristen 321

kiran. Kristus menyampaikan belas kasihan-

Nya kepada kita, belas kasihan yang pernah

ditunjukkan kepada murid-murid-Nya yang

lelah: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya

kita sendirian, dan beristirahatlah seketika”

(Mrk. 6:31). Saat istirahat, yakni istirahat

yang tenang sangat diperlukan untuk meng-

adakan hubungan dengan Allah: “Diamlah

dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!”

(Mzm. 46:11). Allah menekankan perlunya

kita istirahat dengan mengasingkan hari ketu-

juh dari minggu sebagai hari istirahat (Kel.

20:10).

Istirahat bukanlah sekadar tidur atau ber-

henti dari pekerjaan yang melelahkan. Di da-

lamnya terkait cara kita memakai  waktu

luang kita. Kelelahan tidaklah selalu disebab-

kan oleh stres atau sebab  bekerja terlalu be-

rat atau terlalu lama: Pikiran kita juga dapat

menjadi letih sebab  stimulasi berlebih-lebih-

an melalui media, penyakit atau sebab  masa-

lah pribadi lainnya.

Rekreasi yaitu  rekreasi dalam arti yang

sesungguhnya dari perkataan itu. Rekreasi

itu meneguhkan, membangun, serta menye-

garkan pikiran dan jasmani, sehingga dengan

demikian menyiapkan umat percaya kembali

ke pekerjaan mereka dengan tenaga yang

baru. Menghayati hidup dengan sebaik-baik-

nya, meminta orang Kristen supaya mengejar

bentuk-bentuk rekreasi dan kesenangan

yang benar-benar menguatkan hubungan

mereka dengan Kristus serta memperbaiki

kesehatan semata.

Kitab Suci membentangkan prinsip ber-

ikut, yang akan membantu orang-orang Kris-

ten memilih rekreasi yang baik: “Janganlah

kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di

dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia,

maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam

orang itu. Sebab semua yang ada di dalam

dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan

mata serta keangkuhan hidup, bukanlah ber-

asal dari Bapa, melainkan dari dunia.” (1

Yoh. 2:15, 16).

1. Bioskop, televisi, radio dan video.

Media yang disebutkan ini dapat menjadi sa-

rana pendidikan yang sangat bermanfaat.

Media ini telah “mengubah atmosfer secara

menyeluruh, suasana dunia kita yang modern

serta mempermudah hubungan dalam hidup,

pikiran dan segala kegiatan yang mencakup

seluruh dunia.15 Orang Kristen akan meng-

ingat bahwa televisi dan video mendatangkan

dampak yang lebih besar atas hidup secara

individual ketimbang kegiatan tunggal lainnya.

Sayangnya, video dan televisi, yang ham-

pir seluruhnya dikuasai pertunjukan, membawa

pengaruh ke dalam rumah, yakni pengaruh

yang tidak meninggikan. Kalau kita tidak ber-

usaha memilih dan menyeleksi, maka media

itu akan “menjadikan rumah kita ruang bios-

kop dan pertunjukan lagu yang dangkal dan

murahan.”16 Orang-orang Kristen yang pe-

nuh pengabdian haruslah menjauhkan diri

dari yang tidak sehat, kekerasan, gambar dan

program televisi yang merangsang seks.

Sebenarnya alat bantu pandang (audio

visual) itu sendiri tidaklah jahat. Saluran yang

sama yang menyajikan dalamnya kejahatan

kita semua  juga digunakan untuk menyampaikan

khotbah Injil keselamatan. Masih banyak ju-

ga program lainnya yang cukup berharga di-

tayangkan. Akan namun  program yang baik itu

juga dapat digunakan orang untuk melepaskan

diri dari tanggung jawab dalam hidup ini.

Orang Kristen bukan hanya ingin menegakkan

prinsip yang menentukan apakah yang dapat

dilihat namun  juga menetapkan batas waktu

mereka menonton acara televisi, supaya de-

ngan demikian hubungan sosial dan tanggung

jawab hidup ini tidak mengalami kerugian.

Kalau kita tidak dapat memilih atau jika

kita tidak mampu mengendalikan media yang

ada pada kita, lebih baiklah kita tidak memi-

322                 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

likinya dibandingkan  benda itu menguasai hidup

kita serta mencemarkan pikiran atau meng-

habiskan sebagian besar waktu kita (baca

Mat. 5:29, 30).

Sehubungan dengan renungan kita atas

Kristus, sebuah prinsip Alkitabiah yang pen-

ting menyatakan bahwa “sebab  kemuliaan

itu datangnya dari Tuhan yang yaitu  Roh,

maka kita diubah menjadi serupa dengan

gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin

besar” (2 Kor. 3:18). Dengan memandang

terjadilah perubahan. Akan namun  orang-o-

rang Kristen haruslah senantiasa mengingat

bahwa prinsip ini pun berlaku untuk segi-segi

yang negatif. Gambar film secara grafis

menggambarkan dosa dan kejahatan manu-

sia—pembunuhan, perzinahan, perampokan

dan pelbagai kegiatan yang merusak lain-

nya—turut berperan memerosotkan akhlak.

Nasihat Paulus di dalam Filipi 4:8 mem-

bentangkan sebuah prinsip yang dapat mem-

bantu mengidentifikasi bentuk-bentuk rekreasi

yang bermutu: “Jadi akhirnya, saudara-sau-

dara, semua yang benar, semua yang mulia,

semua yang adil, semua yang suci, semua

yang manis, semua yang sedap didengar, se-

mua yang disebut kebajikan dan patut dipuji,

pikirkanlah semuanya itu.”

2. Bacaan dan Musik. Standar yang

tinggi juga diperlukan dalam bidang ini, baca-

an dan musik orang Kristen. Musik yaitu 

pemberian Tuhan untuk mengilhami kesucian,

agung dan pikiran yang luhur. Musik yang

baik haruslah yang bermutu tinggi, berbudi

luhur.

Musik yang rendah, sebaliknya, yaitu 

”merusak ritme jiwa serta merendahkan akh-

lak.” Oleh sebab  itu para pengikut Kristus

hendaklah menjauhi “jenis melodi mana pun

yang berbau jez, rock atau yang termasuk ke

dalam bentuk-bentuk liar, atau yang menggu-

nakan bahasa yang menyatakan kebodohan

atau perasaan-perasaan yang tidak berarti.”17

Hendaknya orang Kristen tidak mendengar

musik atau melodi yang berarah ke situ (Rm.

13:11-14; 1 Ptr. 2:11).18

Bacaan juga dapat mendatangkan faedah

yang sangat banyak. Cukup banyak bahan

bacaan yang dapat menghaluskan dan melu-

askan pikiran. Namun demikian banyak juga

“bacaan yang buruk, pada umumnya disalut

dengan cara yang sangat menarik akan namun 

merusak pikiran dan moral. Kisah-kisah me-

ngenai petualangan yang liar dan dibumbui

dengan moral yang lemah, apakah berbentuk

kisah rekaan ataupun berdasar  kenyata-

an,” tidak layak untuk dibaca umat percaya

sebab  pengaruh yang ditimbulkannya ialah

merendahkan keluhuran budi, merendahkan

kejujuran dan gaya hidup serta menghalangi

perkembangan persatuan dengan Kristus.19

3. Kegiatan yang tidak dapat diterima.

Masehi Advent Hari Ketujuh juga mengajar-

kan bahwa judi, bermain kartu, menonton

bioskop dan berdansa haruslah dijauhkan (1

Yoh. 2:15-17). Dipertanyakan juga tentang

pemakaian waktu untuk menonton olah raga

kekerasan (Flp. 4:8). Setiap kegiatan yang

melemahkan hubungan dengan Tuhan serta

mengakibatkan hilangnya pandangan kita

terhadap hal-hal yang abadi, membantu ran-

tai Setan mengikat jiwa kita lebih erat. Orang-

orang Kristen sebaiknya melibatkan diri da-

lam bentuk-bentuk kegiatan yang mengisi

masa senggang yang sehat dan menyegarkan

jiwa, tubuh dan pikiran mereka.

Berkat Makanan Bergizi. Kepada leluhur

kita semua  yang pertama, Sang Pencipta mem-

berikan aturan makanan yang ideal bagi me-

reka berdua: “Lihatlah, Aku memberikan ke-

padamu segala tumbuh-tumbuhan yang ber-

biji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan

yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi

Tingkah Laku  Orang Kristen 323

makananmu”(Kej. 1:29). sesudah  kejatuhan

kita semua  ke dalam dosa, Allah menambahkan

kepada makanan mereka “tumbuh-tumbuhan

di padang akan menjadi makananmu” (Kej.

3:18).

Persoalan kesehatan sekarang ini cende-

rung terpusat pada penyakit turunan yang se-

cara langsung dapat ditelusuri kepada ma-

kanan (diet) serta gaya hidup. Aturan ma-

kanan yang diberikan Tuhan dan direnca-

nakan-Nya terdiri dari gandum atau padi

(beras), buah-buahan, buah tanaman keras,

sayur-sayuran, yang kaya akan gizi yang

meningkatkan kesehatan pada tingkat yang

optimum.

1. Makanan Semula. Alkitab tidak me-

larang makanan daging yang halal. namun 

sesungguhnya makanan yang semula disedia-

kan Tuhan Allah bagi kita semua  tidak termasuk

makanan daging sebab  Ia tidak berkenan

atas pembunuhan binatang dan juga sebab 

makanan vegetaris yang berimbang yaitu 

merupakan makanan yang paling sehat bagi

kesehatan—suatu kenyataan yang dikukuh-

kan oleh ilmu dan pengetahuan.20 kita semua 

menjadikan daging sebagai makanan mereka,

di dalam daging yang dimakan ada  bak-

teri atau virus-virus yang mengakibatkan pe-

nyakit yang membuat kesehatan mereka ter-

ganggu 21 Diperkirakan bahwa setiap tahun,

di Amerika Serikat saja, berjuta juta orang

yang menderita sakit sebab  makan daging

ayam yang sudah tercemar sebab  racun,

lalai me-meriksa kontaminasi yang diakibatkan

oleh salmonella dan mikroorganisme lainnya.22

Beberapa orang ahli merasa bahwa “konta-

minasi yang disebabkan bakteri mengakibat-

kan risiko yang jauh lebih besar dibandingkan

dengan akibat kimiawi serta pengawet ma-

kanan” dan menyatakan bahwa timbulnya

banyak penyakit disebabkan bakteri ini.23

Selanjutnya, studi yang diadakan belum

lama berselang menunjukkan bahwa bertam-

bahnya konsumsi daging dapat menyebabkan

pertambahan aterosklerosis, kanker, kelainan

ginjal, osteoporosis, trikhinosis dan menurun-

kan gairah hidup.24

Aturan makanan yang ditetapkan Tuhan

di Taman Eden—makanan vegetaris—yang

ideal, namun  kadang-kadang kita tidak dapat

memperoleh yang ideal seperti itu. Dalam ke-

adaan yang demikian, barangsiapa yang mau

tetap memperoleh kesehatan yang optimal

sebaiknya makan makanan yang terbaik

yang dapat diperolehnya.

2. Makanan yang halal dan tidak halal.

Hanyalah sesudah  peristiwa air bah Allah

memperkenalkan makanan daging sebagai

makanan. sebab  ketika itu semua makanan

dari sayur-sayuran binasa maka Tuhan mem-

beri izin Nuh dan keluarganya untuk makan

daging, dengan syarat bahwa mereka tidak

boleh makan darah dalam daging (Kej. 9:3-

5).

Ketentuan bersyarat yang lain yang ter-

dapat dalam Alkitab menyangkut ketentuan

yang diberikan Allah kepada Nuh bahwa ia

dan keluarganya dapat makan hanya hewan

yang disebutkan Tuhan sebagai hewan yang

halal. Nuh dan keturunannya memerlukan

daging yang halal sebagai makanan mereka,

begitu pula hewan korban persembahan

(Kej. 8:20) sehingga Tuhan Allah menyuruh

Nuh mengambil tujuh pasang masing-masing

dari jenis hewan yang halal, sedang  pa-

sangan hewan yang tidak halal dari setiap je-

nis hanya satu pasang saja, untuk dibawa ma-

suk ke dalam bahtera (Kej. 7:2, 3). Imamat 11

dan Ulangan 14 memberikan gambaran yang

panjang lebar mengenai hewan yang halal

dan yang tidak halal.25

Secara alamiah, hewan atau binatang

yang tidak halal bukanlah makanan yang se-

hat. Kebanyakan dari antaranya binatang pe-

324                 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

makan bangkai atau pemangsa—mulai dari

singa dan babi hingga jenis ikan yang hidup di

dasar laut, ikan jenis yang menyusui. sebab 

kebiasaan hewan-hewan itu membuat mere-

ka lebih tepat disebut sebagai pembawa pe-

nyakit.

Penyelidikan di bidang ini lebih lanjut me-

nyatakan bahwa “selain adanya sejumlah ko-

lesterol yang ada  di dalam daging babi

dan kerang, kedua jenis makanan ini 

mengandung sejumlah toksin dan kontaminasi

lainnya yang dapat meracuni kita semua .”26

Dengan makan makanan yang halal, umat

Allah menunjukkan rasa syukur mereka ka-

rena ditebus dari kerusakan, dari dunia yang

kotor yang ada  di sekelilingnya (Im.

20:24-26; Ul. 14:2). Allah tidak menginginkan

kita memasukkan makanan yang haram ke

dalam bait suci tubuh yang menjadi tempat

kediaman Roh Allah.

Perjanjian Baru pun tidak menghapuskan

adanya perbedaan antara makanan yang ha-

lal dan yang haram, yang terdiri dari daging.

Banyak orang yang percaya bahwa sebab 

undang-undang makanan ini disebutkan da-

lam artikel  Imamat maka peraturan itu berla-

ku hanya sebagai hukum keupacaraan atau

ritual belaka, sebab  itu dianggap tidak lagi

berlaku bagi orang Kristen. Haruslah dimak-

lumi bahwa pembedaan antara binatang yang

halal dan binatang yang haram haruslah dili-

hat kembali ke zaman Nuh—lama sebelum

bangsa Israel ada. Sebagai asas kesehatan,

peraturan mengenai makanan ini terus

 

ber-

langsung sebagai suatu kewajiban.27

3. Keteraturan, kesederhanaan dan

keseimbangan. Pembaharuan dalam hal

makanan secara berhasil maju terus dan ha-

ruslah dicapai secara cerdas. Sebaiknya kita

belajar menghilangkan atau penggunaan se-

cara sederhana saja makanan yang mengan-

dung banyak lemak atau mengandung ba-

nyak gula.

Selanjutnya, kita haruslah menyediakan

makanan yang kita makan dalam keseder-

hanaan dan kalau dapat sealamiah-alamiah-

nya, dan untuk memperoleh manfaat yang

optimum, hendaknya dengan teratur berselang-

seling. Makanan yang agak rumit, yang me-

rangsang sangat tidak menyehatkan tubuh.

Banyak bumbu dan rempah mengganggu

pencernaan,28 dan kalau digunakan umumnya

akan menimbulkan pelbagai gangguan kese-

hatan.29

Berkat Pakaian Kristiani. Allah menyedia-

kan pakaian yang pertama digunakan leluhur

kita Adam dan Hawa dan mengetahui bahwa

kita memerlukan pakaian yang pantas kita

gunakan untuk masa sekarang ini (Mat. 6:25-

33). Pilihan kita harus didasarkan atas asas

kesederhanaan, sopan, praktis, sehat dan me-

narik.

1. Sederhana. Sebagaimana juga dalam

segala aspek kehidupan kita, panggilan kepa-

da orang Kristen atas kesederhanaan berka-

itan juga dengan bagaimana cara kita berpa-

kaian. “Panggilan bagi orang Kristen ialah

bersaksi dalam kesederhanaan.

“Cara kita berpakaian menunjukkan ke-

pada dunia siapa dan bagaimana kita—bukan

menurut apa yang diturunkan pada zaman

Victoria, melainkan merupakan satu ungkapan

kasih kita kepada Yesus.”30

2. Tentang kebajikan moral yang ting-

gi. Orang-orang Kristen hendaknya jangan

menodai keindahan tabiat mereka dengan

gaya dan model berpakaian yang menim-

bulkan “keinginan daging dan keinginan ma-

ta” (1 Yoh. 2:16). sebab  mereka perlu ber-

saksi kepada orang lain maka mereka perlu

Tingkah Laku  Orang Kristen 325

mengenakan pakaian yang sopan, tidak

memakai  bagian-bagian tubuh untuk

merangsang keinginan seksual. Kesopanan

memajukan kesehatan moral. Tujuan orang

Kristen ialah memuliakan Allah, bukan diri

sendiri.

3. Praktis dan hemat. sebab  mereka

yaitu  penatalayan-penatalayan atas uang

yang dipercayakan Tuhan kepada mereka,

maka mereka sebagai orang Kristen harus

hemat, “jangan memakai emas atau mutiara

ataupun pakaian yang mahal-mahal” (1 Tim.

2:9). Bagaimanapun, berhemat bukanlah ber-

arti membeli pakaian yang paling murah. Se-

ringkali pakaian yang mahal lebih hemat un-

tuk jangka panjang.

4. Menyehatkan. Bukan hanya makanan

yang mempengaruhi kesehatan seseorang.

Orang Kristen hendaknya menjauhi gaya

berpakaian yang kurang mampu melindungi

tubuh atau sangat ketat yang berakibat kese-

hatan merosot.

5. Bercirikan anugerah dan keindah-

an yang alamiah. Orang Kristen memahami

amaran melawan “keangkuhan hidup” (1

Yoh. 2:16). Dengan membandingkan bunga

bakung, Kristus berkata, “Salomo dalam se-

gala kemegahannya pun tidak berpakaian

seindah salah satu dari bunga itu” (Mat.

6:29). Dengan demikianlah Ia menggambarkan

bahwa pandangan Surga atas keindahan di-

tandai oleh anugerah, kesederhanaan, kemur-

nian, dan keindahan yang alamiah. Pameran

yang bersifat duniawi, sebagaimana diperlihat-

kan dalam bentuk-bentuk yang fana, tidak

ada harganya di pemandangan Allah (1 Tim.

2:9).

Orang-orang Kristen menarik orang-

orang yang tidak percaya bukanlah dengan

rupa dan penampilan seperti yang diperli-

hatkan dunia melainkan dengan memper-

lihatkan sesuatu yang berbeda namun  me-

narik dan menyegarkan. Petrus mengatakan

pasangan yang tidak seiman”tanpa perkataan

dimenangkan oleh kelakuan istrinya, jika me-

reka melihat, bagaimana murni dan salehnya

hidup istri mereka itu.” dibandingkan  memuji

yang bersifat lahiriah, ia menasihatkan supa-

ya orang beriman mengembangkan “kita semua 

batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan

yang tidak binasa yang berasal dari roh yang

le-mah-lembut dan tenteram, yang sangat

ber-harga di mata Allah”(1 Ptr. 3:1-4). Kitab

Suci mengajarkan bahwa:

a. Tabiat menunjukkan keindahan se-

seorang. Baik Petrus maupun Paulus mele-

takkan asas dasar untuk membimbing orang

Kristen, baik lelaki maupun perempuan, da-

lam bidang perhiasan: “Perhiasanmu janganlah

secara lahiriah... memakai perhiasan emas

atau dengan memakai  pakaian yang in-

dah-indah” (1 Ptr. 3:3). “Demikian juga hen-

daknya perempuan. Hendaklah ia berdan-

dan dengan pantas, dengan sopan dan se-

derhana, rambutnya jangan berkepang-ke-

pang, jangan memakai emas atau mutiara

ataupun pakaian yang mahal-mahal, namun 

hendaklah ia berdandan dengan perbuatan

baik, seperti yang layak bagi perempuan yang

beribadah” (1 Tim. 2:9, 10).

b. Penyelarasan kesederhanaan de-

ngan reformasi dan pembaruan kembali.

Apabila Yakub memanggil semua anggota

keluarganya untuk menahbiskan diri mereka

kepada Allah mereka meninggalkan semua

“dewa asing yang dipunyai mereka dan an-

ting-anting yang ada pada telinga mereka,”

dan Yakub memendamnya (Kej. 35:2, 4).31

sesudah  kemurtadan bangsa Israel dengan

membuat lembu emas, Allah menyuruh me-

reka, “Tanggalkanlah perhiasanmu, maka

326                 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

Aku akan melihat, apa yang akan Kulakukan

kepadamu.” Dengan hati yang bertobat me-

reka “tidak memakai perhiasan-perhiasan la-

gi” (Kel. 33:5, 6). Dengan jelas Paulus me-

nyebutkan bahwa Kitab Suci mencatat ke-

murtadan ini “sebagai contoh dan dituliskan

untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup

pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba”

(1 Kor. 10:11).

c. Penatalayanan yang baik menuntut

hidup berkorban. Sementara sebagian be-

sar dunia ini dilanda kekurangan makanan,

materialisme dibentangkan di hadapan o-

rang-orang Kristen sebagai penggodaan, mu-

lai dari pakaian yang mewah, mobil dan per-

mata hingga kepada rumah yang mewah-me-

wah. Kesederhanaan gaya hidup dan penam-

pilan membuat orang Kristen membuat per-

bedaan yang sangat nyata terhadap ketamak-

an, materialisme dan pamer kehambaran ke-

kafiran, masyarakat abad keduapuluh, di ma-

na nilai dipusatkan pada perkara-perkara ma-

teri bukannya pada kita semua .

Dengan memperhatikan ajaran-ajaran

Kitab Suci dan berlandaskan pada asas-asas

yang telah dibentangkan di atas, kita percaya

bahwa orang-orang Kristen tidak berusaha

memuliakan diri melalui perhiasan-perhiasan.

Kita mengetahui dan memahami bahwa pe-

makaian cincin, anting-anting, kalung, ikat

pinggang dan hiasan dasi—dan segala bentuk

lain dari bahan permata yang pada hakikat-

nya berfungsi pamer—tidak perlu dan tidak

selaras dengan kesederhanaan yang dianjur-

kan Kitab Suci.32

Alkitab menyamakan kosmetik dengan

kekafiran dan kemurtadan (2 Raj. 9:30; Yer.

4:30). Sehubungan dengan kosmetik, kita

percaya bahwa orang Kristen seharusnya

mengusahakan agar yang alamiah dan de-

ngan penampilan yang wajar dan sehat. Jika

kita meninggikan Juruselamat dalam cara ki-

ta berbicara, bertindak dan berpakaian, maka

kita akan menjadi seperti maknit,. menarik

orang kepada-Nya.33

PRINSIP-PRINSIP STANDAR

ORANG KRISTEN

Di dalam segala pernyataan, gaya hidup

orang Kristen yaitu  merupakan sambutan

atas keselamatan melalui Kristus. Kerinduan

orang Kristen ialah memuliakan Tuhan dan

hidup sebagaimana Yesus hidup. Sekalipun

ada orang beranggapan kehidupan Kristen itu

merupakan sejumlah jangan, kita seharusnya

menganggapnya sebagai sejumlah kegiatan

asas positif di dalam kerangka keselamatan.

Yesus menekankan bahwa Ia datang supaya

kita memperoleh hidup dan berkelimpahan di

dalamnya. Apakah prinsip-prinsip yang me-

nuntun kita supaya memperoleh hidup yang

penuh? Apabila Roh Kudus menempati hidup

seseorang, sesuatu perubahan yang pasti ter-

jadi yang menjadi bukti bagi orang yang ada di

sekitar orang ini  (Yoh. 3:8). Roh tidak

hanya mengadakan sebuah perubahan awal

dalam hidup; efeknya berkelanjutan. Buah

Roh yaitu  kasih (Gal. 5:22, 23). Alasan yang

paling kuat bagi keabsahan Kristiani ialah

kasih dan kemampuan mengasihi selaku

orang Kristen.

Hidup dengan Pikiran Kristus. “Hendak-

lah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh

pikiran dan perasaan yang ada  juga da-

lam Kristus Yesus” (Flp. 2:5). Dalam segala

keadaan, yang menyenangkan maupun tidak,

kita harus berusaha memahami dan hidup

selaras dengan kemauan dan pikiran Kristus

(1 Kor. 2:16).

Ellen White menjelaskan keindahan hidup

akibat hubungan dengan Kristus seperti ini:

“Semua penurutan yang sejati berasal dari

dalam hati. Hatilah yang bekerja dengan

Tingkah Laku  Orang Kristen 327

Kristus. Jika kita setuju, maka Ia akan me-

nyelaraskan diri-Nya sendiri dengan pikiran

dan tujuan kita, sehingga dengan demikian Ia

akan membaurkan hati dan pikiran kita se-

laras dengan kehendak-Nya, dan apabila kita

menuruti-Nya maka segala dorongan hati ki-

ta akan selaras dengan-Nya. Kemauan, yang

dimurnikan dan disucikan, akan merasakan

nikmatnya melakukan tugas untuk melaya-

ni-Nya. Apabila kita mengenal Allah seba-

gai sesuatu hal yang istimewa bagi kita untuk

mengenal-Nya, maka hidup kita akan terus

dalam penurutan. Oleh menghargai tabiat

Kristus, oleh perhubungan dengan Allah, ma-

ka dosa menjadi kebencian bagi kita.”34

Hidup untuk Memuji dan Memuliakan

Allah. Allah telah melakukan begitu banyak

hal untuk kita. Salah satu cara yang dapat kita

tempuh untuk menunjukkan rasa terima kasih

kita ialah dengan melalui pujian yang kita

berikan kepada-Nya.

Dalam kitab Mazmur aspek kehidupan ro-

hani ini ditekankan dengan kuat: “Demikianlah

aku memandang kepada-Mu di tempat ku-

dus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemu-

liaan-Mu. Sebab kasih setia-Mu lebih baik

dibandingkan  hidup; bibirku akan memegahkan

Engkau seumur hidupku dan menaikkan ta-

nganku demi nama-Mu. Seperti dengan le-

mak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan

bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-

muji” (Mzm. 63:3-6).

Bagi orang Kristen, sikap memuji yang

demikian akan membuat masalah-masalah

hidup lainnya dalam perspektif yang wajar.

Dengan memandang pada Juruselamat ter-

salib itu, kita digerakkan untuk melakukan

hanya “menuruti segala perintah-Nya dan

berbuat apa yang berkenan kepada-Nya” (1

Yoh. 3:22; bandingkan Ef. 5:10). Maka o-

rang-orang Kristen “tidak lagi hidup untuk

dirinya sendiri, namun  untuk Dia yang telah

mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2

Kor. 5:15). Setiap orang Kristen yang sejati

mendahulukan Tuhan dalam segala perbuat-

annya, dalam segala apa yang dipikirkannya,

dibicarakannya, dan dalam segala keinginan-

nya. Ia tidak mempunyai Allah lain di hadap-

an Penebusnya. (1 Kor. 10:31).

Hidup Menjadi Suatu Teladan. Paulus

berkata, “janganlah menimbulkan syak” ke-

pada siapa pun (1 Kor. 10:32). “Sebab itu aku

senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati

nurani yang murni di hadapan Allah dan ma-

nusia” (Kis. 24:16). Jika contoh yang kita be-

rikan membuat orang berdosa, maka kita

menjadi batu sandungan kepada orang-orang

yang untuknya Kristus telah mati. “Barang-

siapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam

Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah

hidup” (1 Yoh. 2:6).

Hidup untuk Melayani. Alasan utama

orang Kristen hidup demikian ialah untuk me-

nyelamatkan pria maupun wanita yang telah

hilang. Paulus berkata, “Sama seperti aku ju-

ga berusaha menyenangkan hati semua

orang dalam segala hal, bukan untuk kepen-

tingan diriku, namun  untuk kepentingan orang

banyak, supaya mereka beroleh selamat” (1

Kor. 10:33; bandingkan Mat. 20:28).

PERSYARATAN DAN PEDOMAN

sebab  dampak gaya hidup seseorang

berpengaruh atas pengalaman rohani dan ke-

saksiannya, sebagai sebuah organisasi gereja

kita telah membuat satu standar gaya hidup

tertentu sebagai persyaratan minimum untuk

menjadi anggota. Standar atau ukuran ini

mencakup upaya menjauhi tembakau, minum-

an beralkohol, obat-obatan yang mempenga-

ruhi pikiran, serta makanan haram dan bukti

pengalaman Kristen yang bertumbuh dalam

328                 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

hal berpakaian, dan penggunaan waktu terlu-

ang. Standar minimal ini belumlah meliputi

seluruh yang dicita-citakan Allah bagi umat

percaya. Di dalamnya ada  hanyalah

langkah pertama untuk pengembangan, pe-

ngalaman Kristiani yang bercahaya. Ukuran

yang demikian juga menyiapkan landasan

penting untuk menciptakan persatuan di da-

lam masyarakat umat percaya.

Perkembangan tingkah laku orang Kris-

ten—“menjadi serupa dengan Allah”—ber-

kaitan dengan persatuan seumur hidup de-

ngan Kristus. Hidup yang kudus tidak lain da-

ripada penyerahan kemauan dari hari ke hari

terhadap pengendalian Kristus dan kesela-

rasan hari demi hari atas pengajaran-penga-

jaran-Nya sebagaimana diungkapkan-Nya

kepada kita waktu belajar Alkitab dan ber-

doa. sebab  kita matang pada tingkat yang

berbeda, maka pentinglah bagi kita menahan

diri agar jangan menghakimi saudara-sauda-

ra kita yang lemah (Rm. 14:1; 15:1).

Tujuan persatuan orang Kristen dengan

Juruselamat hanyalah satu: agar mereka me-

lakukan yang terbaik untuk memuliakan Ba-

pa yang di surga, yang telah menyediakan

rencana yang begitu kaya demi keselamatan

mereka. “Jika engkau makan atau jika eng-

kau minum atau jika engkau melakukan se-

suatu yang lain, lakukanlah semuanya itu un-

tuk kemuliaan Allah” (1 Kor. 10:31).


13. Dalam Perjanjian Lama istilah umum yang digunakan untuk anggur ialah yayin. Istilah ini menunjuk kepada air

anggur pada segala tingkatannya mulai dari yang belum beragi sampai yang sudah beragi, walaupun sering

digunakan bagi anggur yang sudah lama yang tentu saja mengandung alkohol. Kata yang umum digunakan untuk

anggur yang belum beragi ialah tirosh. Seringkali diterjemahkan dengan kata “anggur baru” yang masih segar

diambil dari anggur. Kedua istilah itu diterjemahkan menjadi oinos dalam Septuagin Gerika yang diterjemahkan

dari Perjanjian Lama (LXX). Oinos yaitu  istilah umum yang digunakan untuk anggur di dalam Perjanjian Baru

dan menunjuk kepada anggur yang sudah beragi maupun yang belum beragi, bergantung kepada konteksnya.

(Untuk Perjanjian Lama baca tulisan Robert P. Teachout, ‘The Use of ‘Wine’ di dalam Perjanjian Lama’

(disertasi doktor 1979, dapat diperoleh dari University Microfilms International, Ann Arbpr, MI); Lael O.

Caesar, ‘The Meaning of Yayin”(tesis MA, tidak diterbitkan, Andrews University, Berrien Springs, MI, 1986;

William Patton, Bible Wines (Oklahoma City, OK: Sane Press, n.d.). hlm. 54-64.

Ungkapan “minuman keras” (shekar dalam bahasa Ibrani) berarti minuman yang manis, umumnya telah beragi

dan biasanya terbuat dari bahan selain anggur. Di dalamnya termasuk produk seperti bir (terbuat dari jelai, juwawut

atau gandum), dan dari buah kurma. Ungkapan itu tidak dimaksudkan kepada minuman keras yang disuling sebab 

penyulingan belum dikenal bangsa Israel (Patton, hlm. 57, 58, 62).

Anggur beragi. Kitab Suci menghakimkan anggur alkohol sebab  anggur ini menimbulkan kekerasan, kesengsaraan

dan kebinasaan (Am. 4:17; 23:29, 35). Anggur beragi itu membuat para pemimpin bangsa Israel menjadi penindas

(Yes. 56:10-12) dan mengacaukan pertimbangan para pemimpin bangsa Israel itu (Yes. 28:7) dan juga mengacau-

kan pikiran Raja Belsyasar (Dan. 5:1-30).

Anggur tidak beragi. Alkitab berbicara baik mengenai anggur yang tidak beragi atau sari buah dan menyatakannya

sebagai berkat yang besar. Bahan itu digunakan juga sebagai persembahan bagi Tuhan (Bil. 18:12, 13; Neh. 10:37-

39; 13:12, 13). Bahan yang demikian merupakan salah satu berkat Allah (Kej. 27:28, ‘anggur yang baru”; Ul.

7:13; 11:14; Ams. 3:10; Yes. 65:8; Yl 3:18), “yang menyukakan hati Allah dan kita semua ” (Hakim-hakim 9:13),

dan melambangkan berkat rohani (Yes. 55:1, 2; Ams. 9:2, 3). Minuman yang demikian merupakan minuman yang

menyehatkan (1 Tim. 5:23).

Perhatian yang ditujukan sama antara jasmani dengan rohani (Mat. 4:23; 1 Tes. 5:23; 1 Petr. 1:15, 16).

Pernyataan Markus bahwa Yesus mengatakan “semua makanan halal”, (Mrk. 4:29) bukanlah berarti bahwa Ia

menghapuskan perbedaan antara makanan yang halal dan yang tidak halal. Pembicaraan antara Yesus dan orang

Farisi dan Ahli Taurat tidak ada hubungannya dengan jenis makanan, melainkan berkaitan dengan tata cara

makan murid-murid itu. Pokok masalah yang sebenarnya ialah upacara pembasuhan tangan sebelum makan itu

perlu atau tidak (Mrk. 7:2-5). Alhasil, Yesus mengatakan apa yang menajiskan seseorang bukanlah makanan yang

dimakan sebab  tangan belum dibasuh melainkan perkara-perkara yang jahat yang timbul dari dalam hati (Mrk.

7:20-23), sebab  makanan “bukan masuk ke dalam hati namun  ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban.” Dengan

demikian Yesus menyatakan bahwa semua makanan yang dimakan tanpa membasuh tangan yaitu  “halal” (Mrk.

7:19).

Kata Yunani untuk makanan (bromata) yang digunakan di sini yaitu  istilah umum atas makanan dari segala jenis

makanan yang dimakan kita semua ; itu bukan menunjuk kepada makanan daging saja.

Khayal yang diterima Petrus mengenai binatang, yang ditulis dalam Kisah 10, tidaklah mengajarkan bahwa

makanan yang haram telah boleh dimakan, justru sebaliknya yang dimaksudkan ialah orang yang bukan Yahudi

tidaklah haram, dan bahwa ia dapat bergaul dengan mereka tanpa dicemarkan. Petrus sendiri memahami makna

khayal ini dengan menjelaskan sebagai berikut, “Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi bergaul

dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. namun  Allah telah menunjukkan kepadaku,

bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir’ (Kis. 10:28).

Di dalam suratnya yang ditujukan kepada orang Roma dan Korintus (Rm. 14; 1 Kor. 8:4-13; 10:25-28) Paulus

menyampaikan amanat kepada orang-orang Kristen mengenai praktik yang umum dilakukan di dunia orang yang

bukan Yahudi untuk mempersembahkan makanan daging bagi para ilah. Masalah yang timbul di kalangan orang

Kristen yang mula-mula itu ialah apakah dengan memakan makanan daging itu dianggap merupakan tindakan

penyembahan kepada berhala. Orang yang kuat imannya tidak percaya akan berhala itu, dan mereka dapat

memakan apa yang dipersembahkan kepada berhala. Dan mereka yang tidak. memiliki iman yang kuat dan hanya

memakan sayur-sayuran saja, yang tidak dipersembahkan kepada berhala. Paulus mengatakan janganlah seorang

pun menghina orang yang memakan sayur-sayuran saja, atau menghakimkan orang yang “makan segala jenis

makanan”yang dapat dimakan (Rm. 14:2).

Paulus memberikan nasihat untuk menentang kemurtadan yang melarang orang percaya mengambil bagian dalam

dua hal yang diberikan Tuhan kepada kita semua  pada waktu penciptaan—pernikahan dan makanan. Makanan yang

dimaksudkan di sini ialah makanan yang diberikan Tuhan untuk dimakan kita semua . Apa yang dikatakan Paulus di

sini janganlah diartikan bahwa makanan haram ‘dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang percaya dan yang

telah mengenal kebenaran” (1 Tim. 4:3).

Doktrin Mengenai Akhir Zaman

Pernikahan dilembagakan Ilahi di Eden dan dikukuhkan oleh Yesus

menjadi persatuan seumur hidup antara perempuan dengan laki-laki

dalam persekutuan kasih-sayang. Bagi orang Kristen, janji perni-

kahan itu yaitu  kepada Allah sebagaimana berlaku bagi pasangan

itu sendiri, dan seharusnya dilakukan oleh pasangan yang seiman

saja. Cinta kasih yang timbal-balik, penghormatan, penghargaan

dan tanggung jawab yaitu  hasil dari hubungan ini, yang me-

mantulkan kasih, yang menguduskan, mengakrabkan dan meru-

pakan hubungan yang permanen antara Kristus dan jemaat-Nya.

Sehubungan dengan soal perceraian, Yesus mengajarkan bahwa se-

seorang yang menceraikan pasangannya, kecuali sebab  perzinahan,

lalu kawin dengan orang lain, berarti melakukan perzinahan. Wa-

laupun banyak hubungan keluarga yang tidak serasi, pasangan yang

mengikatkan diri dalam pernikahan, yang telah menyerahkan diri

sepenuhnya satu dengan yang lain di dalam Kristus dapat meng-

usahakan kesatuan cinta kasih melalui bimbingan Roh dan peme-

liharaan jemaat. Allah memberkati keluarga dan bermaksud agar

setiap anggota keluarga saling membantu satu sama lain hingga

mencapai kematangan yang sempurna. Orang tua hendaknya mem-

besarkan anak-anak mereka dalam kasih dan penurutan kepada

Allah. Melalui contoh dan perkataan, mereka mengajarkan kepada

anak-anaknya bahwa Kristus penuh dengan disiplin kasih, penuh

kasih sayang dan perhatian, yang menginginkan mereka supaya

menjadi anggota tubuh-Nya, keluarga Allah. Keluarga yang semakin

erat hubungannya merupakan salah satu tanda pekabaran Injil yang

terakhir.—Fundamental Beliefs,––23.

335

Rumah tangga yaitu  tempat yang mula-

mula dibentuk untuk memulihkan kem-

bali citra Allah pada pria dan wanita. Di da-

lam keluarga, ayah, ibu dan anak-anak dapat

menyatakan diri mereka sepenuhnya, saling

mengisi keperluan sesama atas rasa memiliki,

cinta dan keakraban. Di sinilah jati diri diba-

ngun dan perasaan yang berharga sebagai

satu pribadi dikembangkan. Rumah juga tem-

pat di mana, dengan anugerah Allah, prinsip-

prinsip Kekristenan dipraktikkan, dan nilai-ni-

lai yang terkandung di dalamnya diteruskan

dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Keluarga dapat menjadi tempat kebaha-

giaan yang besar. namun  juga dapat menjadi

tempat yang amat menyakitkan. Hidup kelu-

arga yang harmonis menunjukkan asas-asas

hidup Kekristenan sejati, menunjukkan tabiat

Allah. Sayangnya, pernyataan tabiat seperti

ini sekarang jarang di rumah tangga modern.

Sebaliknya, banyak keluarga yang memperli-

hatkan pikiran dan maksud-maksud hati ma-

nusia yang hanya mementingkan diri sendi-

ri—pertengkaran, pemberontakan, persaing-

an, murka, menunjukkan perbuatan yang ti-

dak senonoh, bahkan kekejaman. Sesungguh-

nya tabiat seperti ini bukanlah merupakan ba-

gian dari rencana Tuhan yang semula. Yesus

berkata, “Sejak semula tidaklah demikian”

(Mat. 19:8).

DARI PERMULAAN

Sabat dan pernikahan merupakan dua

pemberian Tuhan yang semula bagi umat

kita semua . Kedua-duanya dimaksudkan untuk

mendatangkan kegembiraan dan kesenangan

serta rasa memiliki tanpa memandang waktu,

tempat dan kebudayaan. Pembentukan ke-

dua lembaga ini merupakan puncak penciptaan

Allah atas bumi ini. Lembaga-lembaga itu

merupakan pemberian-Nya yang paling

akhir, pemberian yang luar biasa baiknya

diberikan kepada kita semua  pada waktu Pen-

ciptaan. Dengan mengadakan Sabat itu, Al-

lah memberikan kepada kita semua  waktu un-

tuk beristirahat dan pembaruan, waktu berse-

kutu dengan-Nya. Dengan membentuk kelu-

arga leluhur yang pertama itu, Ia menegakkan

dasar kesatuan sosial bagi umat kita semua ,

BAB 23

PERNIKAHAN DAN KELUARGA

336 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

memberikan kepada mereka sebuah rasa

memiliki dan menyediakan untuk mereka

suatu kesempatan untuk bertumbuh dengan

baik dalam pribadi-pribadi untuk melayani

Allah dan sesama.

Laki-laki dan Perempuan Menurut Citra

Allah. Kejadian 1:26, 27 menggambarkan

penciptaan Tuhan atas kita semua  yang meng-

huni bumi: “Baiklah Kita menjadikan kita semua 

menurut gambar dan rupa Kita.... Maka Al-

lah menciptakan kita semua  itu menurut gam-

bar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-

Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-

Nya mereka.” Istilah kita semua  yang diguna-

kan di sini (baik di dalam bahasa Ibrani mau-

pun bahasa Inggris), menurut pengertian

umum, lebih kurang 500 kali di dalam Perjan-

jian Lama. Istilah ini mencakup pengertian

laki-laki dan perempuan. Ayat ini  men-

jelaskan dengan nyata bahwa itu bukanlah

kasus di mana laki-laki yang dijadikan menu-

rut gambar Allah sedang  perempuan me-

nurut gambar kita semua .1 Justru sebaliknya,

keduanya dijadikan menurut gambar Allah.

Sama seperti Bapa, Anak dan Roh Kudus

yaitu  Tuhan, laki-laki dan perempuan sama-

sama “kita semua .” Seperti halnya, walaupun

Mereka menjadi satu, namun  fungsi mereka

tidaklah sama. Mereka sama dalam wujud,

sama-sama berharga, namun  tidak dalam pri-

badi yang serupa betul (bandingkan Yoh.

10:30; 1 Kor. 11:3). Jasmani mereka saling

melengkapi, fungsinya pun bekerja sama.

Kedua jenis itu baik adanya (Kej. 1:31),

begitu pula dalam peran mereka yang berbe-

da. Keluarga dan rumah tangga dibangun

atas kenyataan jenis kelamin yang berbeda.

Sebenarnya Tuhan dapat mengembang biak-

kan hidup di atas dunia ini tanpa menciptakan

laki-laki dan perempuan sebagaimana ditunjuk-

kan dalam beberapa jenis binatang yang ber-

kembangbiak bukan dengan cara seks. Akan

namun  Tuhan menjadikan dua individu, ada

kesamaan secara umum dan juga dalam ka-

rakter, namun masing-masing ada sesuatu

yang kurang sehingga dapat saling meleng-

kapi.2 Sebuah dunia yang dibentuk khusus

untuk anggota satu jenis kelamin tertentu saja

tidaklah lengkap. Kelengkapan yang sesung-

guhnya dapat diperoleh hanyalah dalam

masyarakat yang memiliki jenis laki-laki dan

perempuan. Tentang kesamaan, janganlah

dipermasalahkan di sini, sebab  kedua-dua-

nya amat penting.

Pada hari pertama dalam hidup Adam,

anak sulung yang lalu  menjadi kepala

umat kita semua ,3 merasakan keunikannya—

tidak ada yang mirip dengan dia. “namun  bagi-

nya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang

sepadan dengan dia” (Kej. 2:20). Adam sa-

ngat peka atas kekurangannya ini, sehingga

Tuhan berkata, “Tidak baik, kalau kita semua  itu

seorang diri saja. Aku akan menjadikan pe-

nolong baginya, yang sepadan dengan dia”

(Kej. 2:18).

Kata Ibrani neged, yang diterjemahkan

“sepadan” di sini, yaitu  kata benda yang

berhubungan dengan preposisi yang mengan-

dung arti “sebelum, di depan, berhadapan,

berhubungan dengan” seseorang atau sesua-

tu. Dalam kasus ini orang yang berdiri di de-

pan Adam yaitu  pelengkap baginya, dihu-

bungkan dengan dia sebagai pasangan bagi-

nya. Oleh sebab  itu, Allah “membuat manu-

sia itu tidur nyenyak,” dan lalu  “meng-

ambil salah satu rusuk dari padanya” (Kej.

2:21), membentuknya menjadi pasangan ba-

ginya.4

Waktu terbangun, segera Adam mengeta-

hui hubungan yang akrab dan begitu dekat

sehingga tindakan yang spesifik ini mungkin

terjadi sebagai makhluk yang diciptakan. Itu-

lah sebabnya ia berkata, “Inilah dia, tulang da-

ri tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan

dinamai perempuan, sebab ia diambil dari

Pernikahan dan Keluarga 337

laki-laki” (Kej. 2:23; bandingkan 1 Kor. 11:8).

Pernikahan. Dari perbedaan antara laki-laki

dan perempuan itu Tuhan membuat aturan,

kesatuan. Pada hari Jumat pertama Ia meng-

adakan upacara pernikahan yang pertama,

menyatukan keduanya, sebagai lambang ci-

tra-Nya, untuk membuat mereka menjadi

satu. Dan pernikahan telah menjadi fondasi

keluarga, fondasi masyarakat sendiri, sejak

itu.

Kitab Suci melukiskan pernikahan sebagai

suatu tindakan yang bersifat menentukan, ba-

ik memisahkan dan menyatukan: sebab  se-

orang akan “meninggalkan ayahnya dan ibu-

nya dan bersatu dengan istrinya, sehingga ke-

duanya menjadi satu daging” (Kej. 2:24).

1. Meninggalkan. Yang amat penting

dalam hubungan pernikahan itu ialah mening-

galkan hubungan pertama yang dahulu. Hu-

bungan pernikahan menggantikan hubungan

dengan orang tua dan anak. Ini berarti “me-

ninggalkan” hubungan salah seorang dari ke-

luarga orang tuanya dan lalu  diizinkan

“bertaut” dengan seorang yang lain. Tanpa

adanya proses ini, maka fondasi yang kukuh

dari perkawinan itu tidak akan ada.

2. Bertaut. Istilah Ibrani menerjemahkan

“bertaut” itu dari pengertian kata yang berarti

“berteguh, mengencangkan, menggabungkan,

berpegang pada.” Sebagai kata benda itu da-

pat digunakan untuk pandai besi dengan

penempa logam (Yes. 41:7). Erat dan kuat-

nya ikatan ini menggambarkan sifat ikatan

perkawinan itu. Segala usaha yang hendak

merusak persatuan ini akan melukai ikatan

individu. Eratnya ikatan kedua orang ini juga

ditekankan oleh kenyataan bahwa kata kerja

yang sama digunakan untuk menggambarkan

ikatan antara Allah dengan umat-Nya: “Eng-

kau harus takut akan Tuhan, Allahmu, kepa-

da-Nya haruslah engkau beribadah dan ber-

paut, dan demi nama-Nya haruslah engkau

bersumpah” (Ul. 10:20).

3. Perjanjian. Di dalam Kitab Suci janji

ini, yang diberikan oleh pasangan yang meng-

ikatkan diri dalam pernikahan dikatakan se-

bagai sebuah “perjanjian,” istilah yang digu-

nakan bagi perjanjian yang kudus dan sangat

mengikat yang dikenal dalam Firman Allah

(Mal. 2:14; Ams. 2:16,17). Hubungan antara

suami dan istri haruslah menurut pola perjan-

jian Allah yang kekal dengan umat-Nya, je-

maat (Ef. 5:21-33). Janji antara mereka ber-

dua haruslah berlangsung di dalam kesetiaan

dan ketahanan yang menandai perjanjian

Allah (Mzm. 89:35; Rat. 3:23).

Allah dan keluarga pasangan itu, sahabat

dan masyarakat menyaksikan perjanjian,

yang mereka adakan satu dengan yang lain.

Perjanjian ini disahkan di surga. “sebab  itu,

apa yang telah dipersatukan Allah, tidak bo-

leh diceraikan kita semua ” (Mat. 19:6). Pa-

sangan orang Kristen memahami bahwa da-

lam pernikahan, mereka telah berjanji menja-

di setia satu dengan yang lain selama hidup

mereka berdua.5

4. Menjadi sedaging. Meninggalkan

dan perjanjian untuk bertaut mengakibatkan

persatuan yaitu  sebuah misteri. Inilah yang

dimaksudkan dengan kesatuan dalam penger-

tian yang sepenuhnya—pasangan yang me-

nikah itu berjalan bersama-sama, berdiri ber-

sama-sama dan membagikan keakraban

yang mendalam secara bersama-sama. Per-

mulaan kesatuan ini ditunjukkan pada persa-

tuan jasmani dalam perkawinan itu. Akan

namun  selain itu, ditujukan kepada kita ikatan

pikiran dan emosi yang akrab yang meliputi

segi fisik dari hubungan ini.

a. Berjalan bersama-sama. Mengenai

338 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

hubungan-Nya dengan umat-Nya, Allah ber-

tanya, “Berjalankah dua orang bersama-sa-

ma, jika mereka belum berjanji?”(Am. 3:3).

Pertanyaan yang serupa juga dapat diajukan

kepada orang yang akan menjadi sedaging.

Tuhan mengatakan kepada orang-orang Is-

rael supaya jangan kawin campur dengan

bangsa-bangsa di sekelilingnya, “sebab me-

reka akan membuat anakmu laki-laki me-

nyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka

beribadah kepada allah lain” (Ul. 7:4; ban-

dingkan Yos. 23:11-13). Apabila orang Israel

meremehkan perintah ini, maka mereka

mengalami akibat yang mengerikan (Hak.

14-16; 1 Raj. 11:1-10; Ezr. 9:10).

Paulus mengulangi prinsip ini dalam istilah

yang lebih luas: “Janganlah kamu merupa-

kan pasangan yang tidak seimbang dengan

orang-orang yang tak percaya. Sebab persa-

maan apakah ada  antara kebenaran dan

kedurhakaan? atau bagaimanakah terang da-

pat bersatu dengan gelap? Persamaan apa-

kah yang ada  antara Kristus dan Belial?

Apakah bagian bersama orang-orang percaya

dengan orang-orang tak percaya? Apakah

hubungan bait Allah dengan berhala? sebab 

kita yaitu  bait dari Allah yang hidup menurut

firman Allah” (2 Kor. 6:14-16; bandingkan

ayat 17, 18).

Dengan jelas Alkitab mengatakan bahwa

hendaknya orang yang beriman menikah de-

ngan orang lain yang seiman. Bahkan prinsip

ini diperluasnya. Tuntutan kesatuan yang se-

jati