doktrin dasar alkitab 7
11 Prinsip ini merupakan pu-
sat nyanyian puji-pujian di ruang takhta sur-
ga: “sebab Engkau telah disembelih dan
de-ngan darah-Mu Engkau telah membeli
mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan
bahasa dan kaum dan bangsa. Dan Engkau
telah membuat mereka menjadi suatu kera-
jaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah
kita, dan mereka akan memerintah sebagai
raja di bumi” (Why. 5:9, 10).
Baik Adam maupun Kristus—“Adam
yang akhir,” atau “kita semua kedua” (1 Kor.
15:45, 47)—mewakili seluruh umat ma-
nusia. Sementara kelahiran alamiah membe-
bani setiap kita semua dengan akibat pelang-
garan Adam, setiap orang yang mengalami
kelahiran baru menerima manfaat dari kor-
ban dan kehidup-an Kristus yang sempurna.
“sebab sama se-perti semua orang mati da-
lam persekutuan dengan Adam, demikian pu-
la semua orang akan dihidupkan kembali da-
lam persekutuan dengan Kristus” (1 Kor. 15:
132Hidup, Mati dan Kebangkitan Kristus
22). Membawa dosa, hukuman, dan maut ke-
pada semua. Kristus sebaliknya membalik-
kan kecende-rungan itu. Di dalam kasih-Nya
yang agung, Ia menaklukkan diri-Nya kepa-
da pengadilan Ilahi mengenai dosa dan men-
jadi wakil bagi kita semua . Kematian-Nya se-
bagai pengganti, menyediakan kelepasan
dari hukuman dosa dan memberikan karu-
nia hidup kekal bagi orang berdosa yang te-
lah bertobat (2 Kor. 5:21; Rm. 6:23; 1 Ptr.
3:18).
Dengan jelas Kitab Suci mengajarkan si-
fat universal dari kematian pengganti yang
diberikan Kristus itu. Dengan “kasih karu-
nia Allah.” Ia mati bagi setiap orang (Ibr. 2:
9). Seperti halnya Adam, semuanya telah
berbuat dosa (Rm. 5:12), oleh sebab itu, se-
tiap orang mati—mengalami kematian yang
pertama. Kematian yang dirasakan Kristus
untuk semua orang yaitu kematian yang ke-
dua—untuk maut (Why. 20:6; baca juga bab
26).
KEHIDUPAN KRISTUS
DAN KESELAMATAN
“Sebab jikalau kita, ketika masih seteru,
diperdamaikan dengan Allah oleh kematian
Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang
telah diperdamaikan, pasti akan diselamat-
kan oleh hidup-Nya!” (Rm. 5:10). Dengan
hidup Kristus, sebagaimana juga dengan ke-
matian-Nya, menjembatani jurang yang di-
akibatkan dosa. Kedua-duanya perlu dan
ber-peran bagi keselamatan kita.
Apakah yang Dapat Diperbuat Hidup
Kristus yang Sempurna bagi Kita? Yesus
menghayati hidup yang murni, kudus, dan
penuh kasih sayang, dengan bergantung se-
penuhnya kepada Allah. Hidup yang mulia
ini dibagikan-Nya kepada orang berdosa
yang bertobat sebagai kasih karunia. Tabi-
at-Nya yang sempurna dilukiskan sebagai
pakaian Perjamuan Kawin (Mat. 22:11) atau
sebagai jubah kebenaran (Yes. 61:10) yang
diberikan-Nya untuk menutupi pakaian ma-
nusia yang sudah kumal dan kotor agar mem-
peroleh kebenaran (Yes. 64:6).
Sebaliknya keadaan kita sebagai kita semua
yang sudah rusak, apabila kita menyerahkan
diri sepenuhnya kepada Kristus, maka hati
kita dipadukan dengan hati-Nya, kehendak
kita lebur ke dalam kehendak-Nya, pikiran
kita menjadi sama dengan pikiran-Nya, pe-
mikiran kita dikungkung-Nya; maka kita pun
menghidupkan kehidupan-Nya. Kita dilin-
dungi dengan pakaian kebenaran-Nya. Apa-
bila Tuhan melihat orang yang percaya itu,
maka yang dilihat-Nya yaitu orang yang
sudah bertobat, bukan lagi yang telanjang
atau dicemari dosa, melainkan jubah kebe-
naran telah terwujud oleh penurutan yang
sempurna dari Kristus terhadap hukum.12 Ti-
dak seorang pun yang dapat dibenarkan tan-
pa jubah ini.
Dalam perumpamaan pakaian perjamuan
kawin dikatakan tamu yang hadir dengan
pakaian sendiri bukannya diusir sebab ku-
rang percaya. Ia menerima undangan untuk
menghadiri pesta itu (Mat. 22:10). namun
kedatangannya saja tidaklah cukup. Ia perlu
mengenakan pakaian perjamuan kawin. Be-
gitu pula, jika hanya percaya kepada salib
itu saja, tidaklah cukup. Agar dapat diterima
di hadapan Raja, kita juga memerlukan ke-
hidupan sempurna Kristus, tabiat-Nya yang
benar.
Sebagai orang berdosa kita tidak saja per-
lu menunda utang, namun kita perlu agar reke-
ning bank kita dipulihkan. Kita perlu lebih
dari sekadar lepas dari penjara, kita perlu
dimasukkan ke dalam keluarga Raja. Tugas
pengantaraan Kristus yang sudah bangkit itu
mempunyai tujuan ganda yakni pengampun-
an dan pakaian—penerapan kematian dan
133Hidup, Mati dan Kebangkitan Kristus
kehidupan-Nya ke dalam hidup kita dan ke-
dudukan kita di hadapan Allah. Jeritan di
Golgota “Sudahlah genap” menandai per-
lengkapan suatu kehidupan yang sempurna
dan korban yang sempurna. Orang-orang
yang berdosa memerlukan kedua-duanya.
Inspirasi dari Kehidupan Kristus. Ke-
hidupan Kristus di atas dunia ini juga mem-
berikan sebuah contoh kepada kita semua ba-
gaimana cara hidup. Petrus, sebagai contoh,
memberikan sebuah contoh kepada kita cara
bagaimana is menyambut penghinaan (1 Ptr.
2:21-23). Ia yang telah dibuat menjadi seru-
pa dengan kita dan telah dicobai dalam se-
gala rupa, menunjukkan bahwa siapa pun
yang bergantung kepada kuasa Allah tidak
perlu lagi terus melakukan dosa. Kehidup-
an Kristus memberikan jaminan bahwa kita
da-pat hidup penuh kemenangan. Rasul Pau-
lus memberikan kesaksian, “Segala perkara
dapat kutanggung di dalam Dia yang mem-
beri kekuatan kepadaku” (Flp. 4:13).
KEBANGKITAN KRISTUS DAN
KESELAMATAN
“namun andaikata Kristus tidak dibang-
kitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami,”
kata Rasul Paulus, “dan kamu masih hidup
dalam dosamu” (1 Kor. 15:14, 17). Kristus
secara jasmani bangkit (Luk. 24:36-43), naik
ke surga sebagai Allah kita semua , dan memu-
lai tugas pengantaraan-Nya yang berat se-
laku Pengantara di sebelah kanan Allah Bapa
(Ibr. 8:1, 2; baca juga bab 4 artikel ini).
Kebangkitan Kristus memberikan suatu
makna kepada salib yang tidak dapat dilihat
oleh murid-murid yang terpencar pada Ju-
mat penyaliban itu. Kebangkitan-Nya telah
mengubah murid-murid ini menjadi satu pa-
sukan yang perkasa yang mengubah sejarah.
Kebangkitan—tidak pernah dapat dilepas-
kan dari penyaliban—menjadi pusat peker-
jaan mereka. Mereka mengumumkan Kris-
tus yang disalibkan dan hidup kembali, yang
telah menang atas kekuatan pasukan si ja-
hat. Di sinilah letak kuasa pekabaran kera-
sulan.
“Kebangkitan Kristus,” tulis Philip Schaff,
“jelas-jelas merupakan sebuah pertanyaan yang
menguji, yang di dalamnya bergantung kebe-
naran atau kepalsuan agama Kristen. Itulah
mukjizat paling besar ataukah tipuan
,
yang
paling besar yang dicatat sejarah.”1 Wilbur
M. Smith memberi komentar, “Kebangkitan
Kristus yaitu benteng utama iman Kristen.
Inilah doktrin yang menggoncanggancing
dunia pada abad pertama, yang meninggi-
kan Kekristenan lebih unggul atas Judais-
me serta agama-agama kafir di dunia Me-
diterania. Dengan demikian, hal itu menja-
di yang paling vital dan unik dalam Injil Tu-
han Yesus Kristus: ‘Jika Kristus tidak di-
bangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan ka-
mu’” (1 Kor. 15:17).”14
Pekerjaan Kristus kini berakar pada ke-
matian dan kebangkitan. Sementara korban
atau persembahan pendamaian di Golgota
sudah cukup dan lengkap, maka tanpa ke-
bangkitan kita tidak mempunyai jaminan
bahwa Kristus telah selesai dengan sukses
melakukan tugas keilahian-Nya di atas du-
nia ini. Bahwa Kristus telah bangkit itu me-
ngukuhkan realitas hidup di balik kubur serta
menunjukkan kebenaran janji Allah tentang
hidup kekal di dalam Dia.
HASIL PEKERJAAN KRISTUS YANG
MENYELAMATKAN
Pekerjaan pendamaian Kristus tidak saja
mempengaruhi umat kita semua namun juga se-
mesta alam.
Pendamaian Semesta alam. Rasul Pau-
lus menyatakan kebesaran keselamatan dari
134Hidup, Mati dan Kebangkitan Kristus
Kristus di dalam dan melalui jemaat: “Su-
paya sekarang oleh jemaat diberitahukan pel-
bagai ragam hikmat Allah kepada pemerin-
tah-pemerintah dan penguasa-penguasa di
surga” (Ef. 3:10). Lebih lanjut ia menyata-
kan bahwa hal itu berkenan kepada Allah
melalui Kristus “memperdamaikan segala se-
suatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bu-
mi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia
mengadakan pendamaian oleh darah salib
Kristus” (Kol. 1:20). Paulus mengungkap-
kan hasil yang mengejutkan dari pendamai-
an ini:
“Supaya dalam nama Yesus bertekuk lu-
tut segala yang ada di langit dan yang ada di
atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan
segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus yaitu
Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp.
2:10, 11).
Mempertahankan Hukum Tuhan. Kor-
ban pendamaian yang sempurna dari Kris-
tus meninggikan keadilan dan kebajikan atau
kebenaran hukum Allah yang kudus seba-
gaimana halnya tabiat-Nya yang penuh ke-
murahan. Kematian dan penebusan Kristus
memuaskan tuntutan hukum (sebab dosa
perlu dihukum), sementara membenarkan
orang-orang berdosa yang bertobat melalui
anugerah dan rahmat-Nya. Paulus berkata,
“Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan
hukum Taurat sebab tak berdaya oleh da-
ging, yang serupa dengan daging yang dikua-
sai dosa sebab dosa, Ia telah menjatuhkan
hukuman atas dosa di dalam daging, supaya
tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam
kita, yang tidak hidup menurut daging, teta-
pi menurut Roh” (Rm. 8:3, 4).
Pembenaran. Pendamaian dapat menja-
di efektif hanyalah apabila pengampunan
diterima. Anak yang hilang itu diperdamai-
kan dengan ayahnya apabila ia menerima ka-
sih ayahnya dan keampunan.
“Barangsiapa yang menerima dengan
iman bahwa Allah mendamaikan dunia ke-
pada diri-Nya dalam Kristus dan tunduk ke-
pada-Nya akan menerima dari Tuhan pem-
berian yang sangat berharga dengan pembe-
naran yang segera menjadi buah damai de-
ngan Allah. Rm. 5:1. Tidak lagi menjadi sa-
saran murka Allah, orang-orang percaya
yang dibenarkan telah menjadi tujuan per-
kenan Allah. Dengan terbukanya jalan menu-
ju takhta Allah melalui Kristus, mereka me-
nerima kuasa Roh Kudus untuk meruntuh-
kan segala rintangan atau tembok pemisah
dari perseteruan antara kita semua yang dilam-
bangkan dengan perseteruan yang ada
antara orang Yahudi dengan yang bukan Ya-
hudi. Bacalah Ef. 2:14-16.”
Sia-sia Keselamatan melalui Perbuat-
an. Pelayanan yang dilakukan Allah sehu-
bungan dengan pendamaian menunjukkan
betapa sia-sianya usaha kita semua untuk mem-
peroleh keselamatan melalui perbuatan me-
nurut hukum. Pandangan yang berharap ke-
pada anugerah Ilahi akan menuntun kepada
penerimaan kebenaran pembenaran yang di-
mungkinkan melalui iman dalam Kristus. Pe-
ngucapan syukur dari orang-orang yang te-
lah mengalami pengampunan menjadikan
penurutan sebagai suatu kegembiraan; oleh
sebab itu amal bukanlah landasan kesela-
matan, melainkan buah-buahnya.16
Sebuah Hubungan Baru dengan Allah.
Dengan adanya pengalaman atas anugerah
Allah, yang memberikan kehidupan yang
sempurna Kristus atas penurutan, kebenaran-
Nya, dan kematian-Nya yang mendamaikan
sebagai sebuah pemberian yang cuma-cuma,
menuntun kepada suatu hubungan yang le-
135Hidup, Mati dan Kebangkitan Kristus
bih dalam dengan Allah. Rasa syukur, puji-
an dan kegembiraan timbul, penurutan men-
jadi sebuah kesukaan, mempelajari Sabda-
Nya menjadi suatu kesenangan, sehingga pi-
kiran menjadi tempat tinggal yang siap bagi
Roh Kudus. Sebuah hubungan baru antara
Allah dan orang berdosa yang telah berto-
bat berlangsung. Persekutuan yang demiki-
an didasarkan atas kasih dan pujaan, bukan-
nya sebab takut atau sebab paksaan (Yoh.
15:1-10).
Makin dalam pemahaman kita atas anu-
gerah Allah dalam terang salib, makin berku-
ranglah kita membenarkan diri sendiri dan
semakin kita sadari berkat yang dicurahkan
kepada kita. Kuasa Roh Kudus yang lama
yang bekerja dalam Kristus ketika Ia bang-
kit dari kubur akan mengubah hidup. Kita
akan mengalami kemenangan atas dosa dari
hari ke hari, bukannya kegagalan.
Motivasi Tugas itu. Kasih yang menak-
jubkan itu diperlihatkan dalam pelayanan
Allah dalam pendamaian melalui Yesus Kris-
tus yang menggerakkan kita untuk memba-
gi-bagikan Injil kepada orang lain. Jika kita
sendiri telah mengalaminya, kita tidak da-
pat menahan rahasia kenyataan bahwa Al-
lah tidak akan memperhitungkan dosa ter-
hadap orang-orang yang telah menerima kor-
ban Kristus atas dosa-dosa. Kita akan me-
nyampaikan undangan Injil itu, “Sebab Al-
lah mendamaikan dunia dengan diri-Nya
oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan
pelanggaran mereka. Ia telah mempercaya-
kan berita pendamaian itu kepada kami” (2
Kor. 5:20, 21).
____________________________:
1. George E. Ladd, A Theology of the New Testament (Grand Rapids, MI: Wm B. Eerdmans, 1974), hlm. 453.
2. “Atonement”, SDA Bible Dictionary, edisi revisi., hlm. 97.
3. Untuk diskusi lengkap mengenai konsep Alkitabiah ini, baca Seventh-day Adventists Answer Questions on Doctrine
(Washington D.C.: Review and Herald, 1957), hlm. 341-355.
4. Vincent Taylor, The Cross of Christ (London: Macmillan, 1956), hlm. 88, 89.
5. Hans K. LaRondele, Christ Our Salvation (Mountain View, CA: Pacific Press, 1980), hlm. 25, 26.
6. Raoul Dederen, “Atoning Aspects in Christ’s Death,” in The Sanctuary and the Atonement, eds., Arnold V, Wallenkampf
dan W. Richard Lesher, (Washington. D.C.: Biblical Research Institute of the General Conference of Seventh-day Ad-
ventists, 1981), hlm. 295. la menambahkan: “Di kalangan penyembah berhala perdamaian dianggap sebagai suatu
kegiatan yang membuat penyembahnya mampu dengan diri sendiri menyediakannya sehingga membujuk supaya dewa
mengubah pikirannya. Ia sekadar mcnyuap dewanya supaya berkenan kepadanya. sedang di dalam Kitah Suci per-
damaian penebusan dianggap muncul dari kasih Allah” (ibid, hlm. 317).
7. LaRondelle, hlm. 26.
8. Ibid., hlm. 26, 27.
9. Dederen, hlm. 295.
10. LaRondelle, hlm. 28. Kutipan di sini herasal dari H.G Link dan C.Brown, “Reconciliation,” The New International
Dictionary of New Testament Theology (Grand Rapids. MLZondervan, 1978), jilid 3, hlm. 162.
11. LaRondelle, hlm. 30.
12. Baca White, Christ’s Object Lessons (Washington, D.C.: Review and Herald, 1941), hlm. 312.
13. Philip Schaff, History of the Christian Church (Grand Rapids, MI: Wm B. Eerdmans, 1962), jilid 1, hlm. 173.
14. Wilbur M. Smith, “Twentieth-Century Scientists and the Resurrection of Christ” Christianity Today, 15 April 1957, hlm.
22. Argumentasi mengenai kesejarahan kcbangkitan kembali, baca Josh McDowell, Evidence That Demands a Verdict
(Campus Crusade for Christ, 1972), hlm. 185-274.
15. LaRondelle, hlm. 32, 33.
16. Lihat Hyde, “What Christ’s life Means to Me,” Adventist Review, 6 November 1986, hlm. 19.
136
Kasih dan kemurahan Tuhan yang tiada taranya membuat Kristus,
yang tidak mengenal dosa, menjadi dosa sebab kita, supaya di dalam
Dia kita dapat dibenarkan di hadapan Allah. Berkat bimbingan Roh
Kudus kita pun merasakan keperluan kita, mengaku bahwa kita penuh
dengan dosa, bertobat dari pelanggaran-pelanggaran kita, dan melatih
iman dalam Kristus Yesus sebagai Tuhan kita, sebagai Pengganti dan
Teladan. Iman ini yang mendatangkan keselamatan melalui kuasa Ilahi
dari Sabda merupakan karunia anugerah Allah. Melalui Kristus kita
dibenarkan, diangkat sebagai putra putri Allah, dan dilepaskan dari
perhambaan dosa. Melalui Roh kita dilahirkan kembali serta
dikuduskan; Roh membarui pikiran kita, menuliskan hukum kasih Allah
di dalam hati kita, dan kepada kita diberikan kuasa untuk menghidupkan
suatu kehidupan yang kudus. Kalau kita tinggal di dalam Dia maka kita
akan menjadi orang yang turut mengambil bagian dalam tabiat Ilahi
dan memperoleh jaminan keselamatan sekarang dan juga pada
penghakiman itu. —Fundamental Beliefs, —10.
137
Beberapa abad yang lalu, Gembala dari
Hermas bermimpi tentang seorang wa-
nita yang baik berusia lanjut. Di dalam mim-
pinya, wanita itu berubah, sementara waktu
berjalan terus, tubuhnya tetap tua dan ram-
but beruban, namun wajah wanita itu tam-
pak awet muda. Ia telah menjadi muda kem-
bali.
T.F. Torrance membandingkan wanita ini
dengan jemaat.l Orang-orang Kristen tidak
boleh bersifat statis. Jika Roh Kristus diam
di dalam mereka (Rm. 8:9) maka mereka
akan mengalami proses perubahan.
Paulus berkata, “Sebagaimana Kristus te-
lah mengasihi jemaat dan telah menyerah-
kan diri-Nya baginya untuk menguduskan-
nya, sesudah Ia menyucikannya dengan me-
mandikannya dengan air dan firman, supaya
dengan demikian Ia menempatkan jemaat di
hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa
cacat atau kerut atau yang serupa itu, namun
supaya jemaat kudus dan tidak bercela” (Ef.
5:25-27). Kesucian yang demikianlah yang
seharusnya menjadi cita-cita jemaat. Oleh
sebab itu, orang-orang beriman yang ber-
sekutu ke dalam jemaat dapat menjadi saksi
bahwa “meskipun kita semua lahiriah kami
semakin merosot, namun kita semua batiniah
kami dibarui dari sehari ke sehari (2 Kor.
4:16). “Dan kita semua mencerminkan ke-
muliaan Tuhan dengan muka yang tidak ber-
selubung. Dan sebab kemuliaan itu datang-
nya dari Tuhan yang yaitu Roh, maka kita
diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya,
dalam kemuliaan yang semakin besar” (2
Kor. 3:18). Perubahan ini merupakan pun-
cak Pentakosta.
Di dalam Kitab Suci gambaran pengala-
man orang-orang percaya—keselamatan,
pembenaran, penyucian, pembersihan dan
penebusan—dibicarakan sebagai (1) telah
dilengkapkan, (2) sekarang sedang diwujud-
kan, dan (3) akan nyata lalu . Pemaha-
man atas ketiga pandangan ini membantu un-
tuk memecahkan ketegangan yang tampak
dalam penekanan yang relatif atas pembe-
nar-an dan penyucian. Oleh sebab itu, bab
ini, terbagi atas tiga bagian penting yang
berka-itan dengan keselamatan orang per-
caya pada masa lalu, kini dan mendatang.
BAB 10
PENGALAMAN KESELAMATAN
138Pengalaman Keselamatan
PENGALAMAN KESELAMATAN
DAN MASA LAMPAU
Sebuah pengetahuan yang benar menge-
nai Allah dan kasih-Nya serta kemurahan-
Nya tidaklah cukup. Upaya yang dilakukan
dengan tidak mengikutsertakan Kristus, yak-
ni dengan kebajikan diri sendiri saja yaitu
lancung (palsu). Pengalaman keselamatan
yang jauh menyusup ke dalam jiwa hanya
berasal dari Tuhan saja. Berbicara menge-
nai pengalaman ini, Kristus berkata, “Aku
berkata kepadamu, sesungguhnya jika seo-
rang tidak dilahirkan kembali, ia tidak da-
pat melihat Kerajaan Allah.... Jika seorang
tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak
dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yoh.
3:3, 5).
Hanya melalui Kristus Yesus saja seseo-
rang dapat pengalaman keselamatan, “sebab
di bawah kolong langit ini tidak ada nama
lain yang diberikan kepada kita semua yang
olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis. 4:
12). Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebe-
naran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang
datang kepada Bapa, kalau tidak melalui
Aku” (Yoh. 14:6).
Pengalaman keselamatan menyangkut
pertobatan, pengakuan, keampunan, pembe-
naran dan penyucian.
Pertobatan. Menjelang penyaliban-Nya,
Yesus berjanji kepada murid-murid-Nya
akan memberikan Roh Kudus, yang akan me-
nunjukkan Dia melalui upaya untuk “meng-
insafkan dunia akan dosa, kebenaran dan
penghakiman” (Yoh. 16:8). Ketika Pentakos-
ta, Roh Kudus menginsafkan orang atas per-
lunya mereka memperoleh seorang Juruse-
lamat, dan mereka menanyakan bagaimana-
kah mereka sebaiknya menyambutnya, ma-
ka Petrus menjawab, “Bertobatlah!” (Kis. 2:
37, 38; bandingkan 3:19).
1. Apakah pertobatan itu. Kata per-
tobatan yaitu terjemahan dari bahasa Ibra-
ni nacham, “meminta maaf,’ “bertobat.” Pa-
danannya dalam bahasa Yunani metanoeo
yang berarti “mengubah pikiran seseorang,”
“merasa menyesal,” “bertobat.” Pertobatan
yang sejati timbul dalam satu perubahan
yang radikal dalam tingkah laku terhadap Al-
lah dan dosa. Roh Allah menginsafkan orang
yang menerima-Nya betapa seriusnya dosa
itu membawa mereka ke dalam suatu pe-
rasaan kebenaran Allah dan keadaan mere-
ka yang telah jauh terhilang. Mereka menga-
lami suatu perasaan duka mendalam, dan ra-
sa bersalah yang menekan. Dengan menga-
kui kebenaran sebab “siapa menyembunyi-
kan pelanggarannya tidak akan beruntung,
namun siapa mengakuinya dan meninggalkan-
nya akan disayangi” (Ams. 28:13), mereka
akan mengakui dosa-dosa mereka sampai se-
kecil-kecilnya. Dengan bertekad sepenuh ha-
ti, mereka tunduk sepenuhnya kepada Juru-
selamat serta meninggalkan tabiat mereka
yang penuh dengan dosa. Oleh sebab itu,
pertobatan mencapai puncaknya dalam pe-
ngakuan—orang berdosa yang berpaling ke-
pada Allah (dari bahasa Yunani epistrophe,
“berpaling kepada,” bandingkan Kis. 15:3).2
Pertobatan Daud dari dosa-dosanya, ber-
zina dan membunuh, jelas merupakan con-
toh bagaimana pengalaman ini menyiapkan
jalan kemenangan terhadap dosa. sebab di-
insafkan oleh Roh, ia merasa hina sebab do-
sanya, meratapi nasibnya dan memohon pe-
nyucian: “Sebab aku sendiri sadar akan pe-
langgaranku, aku senantiasa bergumul de-
ngan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap
Engkau sajalah aku telah berdosa dan mela-
kukan apa yang Kau anggap jahat.” “Kasiha-
nilah aku, Ya Allah, menurut kasih setia-Mu,
hapuskanlah pelanggaranku menurut rah-
mat-Mu yang besar!” “Jadikanlah hatiku ta-
hir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku de-
139Pengalaman Keselamatan
ngan roh yang teguh” (Mzm. 51:3, 5, 6, 12).
Pengalaman Daud yang berikutnya menun-
jukkan bahwa pengampunan Allah tidak saja
menyediakan pengampunan bagi dosa teta-
pi juga memulihkan mereka kembali dari do-
sa.
Walaupun pertobatan mendahului peng-
ampunan, orang berdosa tidak dapat mela-
lui pertobatan itu melayakkan dirinya sendi-
ri untuk memperoleh jaminan berkat Allah.
Sesungguhnya, orang berdosa tidak dapat
menghasilkan dari diri sendiri pertobatan—
pertobatan itu karunia Allah (Kis. 5:31; ban-
dingkan Rm. 2:4). Roh Kudus yang menarik
orang berdosa kepada Kristus supaya orang
berdosa itu dapat memperoleh pertobatan de-
ngan hati yang sungguh-sungguh ikhlas me-
ratapi dosa.
2. Motivasi untuk bertobat. Kristus ber-
kata, “Dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari
bumi, Aku akan menarik semua orang da-
tang kepada-Ku” (Yoh. 12:32). Hati menja-
di luluh dan takluk apabila kita merasakan
bahwa kematian Kristus membenarkan kita
serta melepaskan kita dari hukuman mati.
Cobalah bayangkan perasaan narapidana
yang sedang menunggu pelaksanaan hukum-
an mati tatkala tiba-tiba pengampunan di-
berikan padanya.
Di dalam Kristus orang berdosa bukan sa-
ja diampuni namun juga dibebaskan—dan di-
nyatakan benar! Sebenarnya ia tidak layak
dan tidak akan dapat memperoleh perlakuan
demikian! Sebagaimana yang dinyatakan Ra-
sul Paulus, Kristus mati untuk membenarkan
kita tatkala kita masih dalam keadaan tidak
berdaya, penuh dengan dosa, kurang iman’
dan seteru Allah (Rm. 5:6-10). Tidak ada sen-
tuhan yang lebih dalam dibandingkan sentuhan
jiwa yang dilakukan oleh kasih Kristus yang
mengampuni itu. Apabila orang-orang ber-
dosa merenungkan kasih Ilahi yang tidak da-
pat diduga ini, yang diperlihatkan di atas ka-
yu salib, mereka menerima motivasi yang
paling tangguh yang mungkin didapat un-
tuk bertobat. Inilah kebajikan Allah yang me-
nuntun kita kepada pertobatan (Rm. 2:4).
Pembenaran. Di dalam kasih dan kemu-
rahan Allah yang tidak terduga dalamnya,
Allah menjadikan Kristus “yang tidak me-
ngenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa
sebab kita, supaya dalam Dia kita dibenar-
kan oleh Allah” (2 Kor. 5:21). Melalui iman
dalam Kristus, hati dipenuhi dengan Roh-
Nya. Melalui iman yang sama ini, yang men-
jadi karunia anugerah Allah (Rm. 12:3; Ef.
2:8), orang-orang berdosa yang bertobat di-
benarkan (Rm. 3:28).
Istilah “Pembenaran” yaitu terjemahan
dari bahasa Yunani dikaioma yang berarti “sya-
rat pembenaran, perbuatan,” “tindakan pem-
benaran,” “pemulihan nama baik,” dan dika-
iosis berarti “pembenaran,” “memulihkan na-
ma baik,””dibebaskan dari utang.” Kata kerja
dikaioo, artinya “dinyatakan dan diperlakukan
sebagai benar,” “dibebaskan,” “dibenarkan,”
“dilepaskan, dijadikan murni,” “pembenaran,”
“dipulihkan,” “melakukan yang adil,” mem-
beri gagasan tambahan atas makna istilah itu.
Secara umum, pembenaran, sebagaimana
digunakan menurut teologia, yaitu “tindak-
an Ilahi yang dengannya Allah menyatakan
kita semua yang menyesali dosanya dibenar-
kan, atau dianggap sebagai orang yang be-
nar. Pembenaran yaitu kata lawan penghu-
kuman” (Rm. 5:16).4 Dasar pembenaran itu
bukanlah penurutan kita, melainkan Kristus,
“sama seperti oleh satu pelanggaran semua
orang beroleh penghukuman, demikian pula
oleh satu perbuatan kebenaran semua orang
beroleh pembenaran untuk hidup.... Demiki-
an pula oleh ketaatan satu orang semua orang
menjadi orang benar” (Rm. 5:18, 19). Ia telah
memberikan penurutan ini kepada orang-
140Pengalaman Keselamatan
orang percaya yang “telah dibenarkan de-
ngan cuma-cuma sebab penebusan dalam
Kristus Yesus” (Rm. 3:24).”Bukan sebab
perbuatan baik yang telah kita lakukan, namun
sebab rahmat-Nya” (Tit. 3:5).
1. Peranan iman dan perbuatan. Ba-
nyak orang mempunyai keyakinan yang sa-
lah bahwa kedudukan mereka di surga ber-
gantung atas perbuatan baik atau perbuatan
buruk mereka. Mengenai pertanyaan bagai-
mana orang dibenarkan di hadapan Tuhan
Allah, jelas sekali Paulus berkata, “Malah-
an segala sesuatu kuanggap rugi, sebab pe-
ngenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, le-
bih mulia dibandingkan semuanya, ... supaya aku
memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia
bukan dengan kebenaranku sendiri... mela-
inkan dengan kebenaran sebab kepercayaan
kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah
anugerahkan berdasar kepercayaan” (Flp.
3:8, 9). Ia menunjuk kepada Abraham yang
percaya “kepada Tuhan, dan Tuhan memper-
hitungkan hal itu kepadanya sebagai kebe-
naran” (Rm. 4:3; Kej. 15:6). Ia dibenarkan
sebelum penyunatan, diperhitungkan benar
bukan sebab hal itu (Rm. 4:9, 10).
Kalau begitu, iman yang bagaimanakah
yang dimiliki Abraham? Kitab Suci menya-
takan bahwa “sebab iman Abraham taat” tat-
kala Allah memanggilnya, ia segera mening-
galkan tanah kelahirannya dan lalu ber-
angkat “dengan tidak mengetahui tempat
yang ia tujui” (Ibr. 11:8-10; bandingkan Kej.
12:4; 13:18). la memiliki iman sejati, iman
yang hidup dalam Tuhan yang dinyatakan-
nya melalui penurutan. Hanyalah berdasar-
kan iman yang dinamis inilah dibenarkan.
Rasul Yakobus juga mengamarkan ten-
tang pemahaman lain yang kurang tepat me-
ngenai dibenarkan oleh iman: bahwa sese-
orang dapat dibenarkan oleh iman tanpa me-
nunjukkan hubungan pekerjaan. Ia menun-
jukkan bahwa iman yang sejati tidak akan
ada tanpa perbuatan. Seperti halnya Paulus,
Yakobus melukiskan masalahnya dari sudut
pengalaman Abraham. Dengan perbuatan
Abraham mempersembahkan anaknya, Ishak
(Yak. 2:21) ditunjukkannya imannya. “Ka-
mu lihat,” kata Yakobus, “bahwa iman be-
kerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan
oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi
sempurna” (Yak. 2:22). “Jika iman itu tidak
disertai perbuatan, maka iman itu pada hake-
katnya yaitu mati” (Yak. 2:17). Pengalaman
Abraham menyatakan perbuatan yaitu buk-
ti hubungan yang sejati dengan Allah. Iman
yang membawa kepada pembenaran yaitu
iman yang hidup yang berbuat (Yak. 2:24).
Paulus dan Yakobus sepakat mengenai
pembenaran oleh iman. Sementara Paulus
mengamanatkan betapa tidak benarnya pen-
carian pembenaran melalui perbuatan, dan
Yakobus mengaitkan betapa berbahayanya
konsep pernyataan pembenaran tanpa per-
buatan. Baik amal maupun iman yang mati
tidaklah akan menuntun kepada pembenar-
an. Hal itu dapat diwujudkan hanyalah de-
ngan iman yang sejati yang bekerja berdasar-
kan kasih (Gal. 5:6) yang memurnikan jiwa.
2. Pengalaman pembenaran. Melalui
pembenaran oleh iman di dalam Kristus, ke-
benaran-Nya dipertalikan kepada kita. Kita
menjadi benar di hadapan Allah sebab Kris-
tus telah menjadi Pengganti kita. Mengenai
Allah, kata Paulus, “Dia yang tidak menge-
nal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa kare-
na kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan
oleh Allah” (2 Kor. 5:21). Sebagai orang-
orang berdosa yang bertobat, kita mengalami
pengalaman dan pengampunan yang leng-
kap. Kita diperdamaikan kepada Allah!
Khayal yang diperoleh Zakharia menge-
nai Yosua, sang imam besar, digambarkan
dengan sangat indahnya akan pembenaran.
141Pengalaman Keselamatan
Dalam khayal itu dikatakan Yosua berdiri di
hadapan malaikat Tuhan dengan mengena-
kan pakaian kotor, yang mewakili betapa na-
jisnya dosa itu. Ketika ia berdiri di sana, Se-
tan meminta supaya ia dihukum. Tuduhan
Setan memang benar—Yosua memang tidak
layak. Akan namun Tuhan, dalam kemurahan-
Nya, mengecam Setan: “Bukankah dia ini
puntung yang telah ditarik dari api?” (Za. 3:
2). Bukankah ini milikku yang berharga yang
telah ku pelihara dengan cara istimewa?
Tuhan memerintahkan agar pakaian yang
kotor itu disingkirkan dengan segera, seraya
berkata, “Tanggalkanlah pakaian yang ko-
tor itu dari padanya.... Lihat, dengan ini aku
telah menjauhkan kesalahanmu dari pada-
mu! Aku akan mengenakan kepadamu pa-
kaian pesta” (Za. 3:4).Tuhan kita yang pe-
nuh kasih dan kemurahan melenyapkan tu-
duhan Setan, membenarkan orang berdosa
yang gemetar itu, menutupinya dengan ju-
bah kebenaran Kristus. Sebagaimana jubah
Yosua melambangkan dosa, begitu pula de-
ngan jubah baru melambangkan pengalaman
baru orang yang beriman dalam Kristus. Da-
lam proses pembenaran itu, dosa-dosa yang
diakui dan diampuni dialihkan kepada Anak
Domba si penanggung dosa, Anak Allah
yang kudus. “Orang percaya yang bertobat
serta tidak layak itu, bagaimanapun, diberi
jubah kebenaran Kristus. Penggantian jubah
ini, yang Ilahi, merupakan transaksi yang
menyelamatkan, yaitu ajaran Alkitabiah
mengenai pembenaran.” Orang percaya yang
dibenarkan mengalami pengampunan dan
dibersihkan dari dosa-dosanya.
Hasil-hasilnya. Apakah hasil-hasil per-
tobatan dan pembenaran?
1. Penyucian. Kata “penyucian” yaitu
terjemahan dari kata Yunani hagiasmos,
yang artinya “kekudusan,” “penahbisan,”
”penyucian,” dari hagiazo, yang artinya
“membuat, kudus,” “menahbiskan,” “me-
nguduskan,” “mengasingkan.” Padanannya
dalam bahasa Ibrani ialah qadash, “memi-
sahkan dari kegunaan yang biasa.”6
Pertobatan sejati dan pembenaran me-
nuntun kepada penyucian. Pembenaran dan
penyucian berhubungan erat,7 berbeda teta-
pi tidak dapat dipisahkan sama sekali. Ada
dua fase keselamatan yang dinyatakannya:
Pembenaran ialah apa yang dilakukan Tu-
han bagi kita, sedang penyucian yaitu
apa yang dilakukan Tuhan dalam kita.
Penyucian maupun pembenaran sama se-
kali bukanlah hasil jasa sebab perbuatan.
Kedua-duanya hanyalah menunjuk kepada
karunia Kristus dan kebenaran-Nya. “Kebe-
naran yang dengannya kita dibenarkan ada-
lah dihisabkan, kebenaran yang dengannya
kita disucikan yaitu dibenarkan. Yang per-
tama merupakan hak kita untuk masuk ke
surga, sedang yang kedua yaitu kela-
yakan kita masuk ke dalam surga.”8
Ketiga fase penyucian yang dikemukakan
Alkitab ialah: (1) perbuatan atau tindakan
penyempurnaan atas masa lalu orang yang
beriman; (2) sebuah proses yang masih ber-
langsung dalam pengalaman orang beriman
pada masa kini; (3) dan hasil akhir yang di-
alami orang beriman pada waktu kedatang-
an Kristus yang kedua kali.
Terhadap masa lalu orang beriman, pada
saat pembenaran orang beriman, maka itu
juga dikuduskan “dalam nama Tuhan Yesus
Kristus dan dalam Roh Allah kita” (1 Kor.
6:11). Pria maupun wanita menjadi “orang
saleh.” Pada keadaan yang demikian orang
yang beriman ditebus, dan sepenuhnya men-
jadi milik Allah.
Sebagai hasil panggilan Tuhan (Rm. 1:7),
orang-orang yang beriman disebut “orang
kudus” sebab mereka berada “dalam Kris-
tus Yesus” (Flp. 1:1; baca juga Yoh. 15:1-7),
142Pengalaman Keselamatan
bukan sebab mereka sudah mencapai suatu
keadaan tidak berdosa. Keselamatan yaitu
pengalaman yang sedang berlangsung. “Dia
telah menyelamatkan kita,” kata Paulus, “ka-
rena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran
kembali dan oleh pembaharuan yang diker-
jakan oleh Roh Kudus” (Tit. 3:5), telah meng-
asingkan serta menguduskan kita untuk tuju-
an yang suci serta untuk berjalan bersama
Kristus.
2. Diangkat ke dalam keluarga Allah.
Pada saat yang bersamaan orang-orang per-
caya yang baru telah menerima “Roh yang
menjadikan.” Allah telah menjadikan mere-
ka seperti anak-Nya, yang berarti menjadi
putra-putri Raja! Ia telah menjadikan mere-
ka milik-Nya, ahli waris, “menerimanya ber-
sama-sama dengan Kristus” (Rm. 8:15-17).
yaitu suatu kehormatan dan kegembiraan!
3. Jaminan keselamatan. Pembenaran
menjadi jaminan penerimaan orang beriman.
Didatangkannya kegembiraan sebab diper-
satukan kembali dengan Allah sekarang juga.
Tidak menjadi soal betapa berdosa pun sese-
orang pada masa lalu, Allah mengampuni se-
mua dosa kita sehingga kita tidak berada lagi
di bawah hukuman dan kutuk hukum. Pene-
busan telah menjadi sebuah kenyataan. “Se-
bab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita
beroleh penebusan, yaitu pengampunan do-
sa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya”
(Ef. 1:7).
4. Awal kehidupan baru yang penuh
kemenangan. Pelaksanaan bahwa darah Ju-
ruselamat menutupi dosa-dosa kita pada ma-
sa lampau mendatangkan kesembuhan tu-
buh, jiwa dan pikiran. Rasa bersalah tidak
diperlukan lagi sebab di dalam Kristus se-
muanya sudah diampuni dan semuanya men-
jadi baru. Dengan kecurahan anugerah-Nya
dari hari ke hari, Kristus mulai mengubah
kita ke dalam gambar Allah.
Sementara iman kita bertumbuh di dalam
Dia, pemulihan dan perubahan kita menda-
pat kemajuan, dan diberikan-Nya kepada
kita kemenangan atas kuasa kegelapan. Ke-
menangan-Nya atas dunia ini memberikan
jaminan kelepasan kita dari perhambaan
dosa (Yoh. 16:33).
5. Pemberian hidup kekal. Hubungan ki-
ta yang baru dengan Kristus mendatangkan
hidup kekal. Yohanes mengukuhkan, “Barang-
siapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; ba-
rangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak me-
miliki hidup” (1 Yoh. 5:12). Dosa kita yang
banyak pada masa lalu telah diselesaikannya;
melalui Roh yang tinggal di dalam kita, kita
dapat menikmati berkat keselamatan.
PENGALAMAN KESELAMATAN
DAN MASA KINI
Melalui darah Kristus yang menyucikan,
membenarkan serta memurnikan dan
menguduskan, orang percaya yaitu ”cipta-
an baru: yang lama sudah berlalu, sesung-
guhnya yang baru sudah datang” (2 Kor.
5:17).
Ajakan untuk Penyucian Hidup
Keselamatan mencakup menghidupkan
satu kehidupan yang disucikan berdasar
apa yang telah digenapkan oleh Kristus di
Golgota. Paulus mengajak umat percaya un-
tuk menghidupkan suatu kehidupan yang
berserah oleh perbuatan etis yang suci dan
bermoral (1 Tes. 4:7). Untuk menyanggup-
kan mereka mempunyai pengalaman penyu-
cian, maka Tuhan memberikan kepada umat
percaya “Roh kekudusan” (Rm. 1:4). “Me-
nurut kekayaan kemuliaan-Nya,” Paulus se-
lanjutnya berkata, Tuhan akan “menguatkan
143Pengalaman Keselamatan
dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya, se-
hingga oleh imanmu Kristus diam di dalam
batinmu” (Ef. 3:16, 17).
Sebagai ciptaan baru, orang-orang yang
beriman mempunyai tanggung jawab yang
baru. “Sebab lama seperti kamu telah menye-
rahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi
hamba kecemaran dan kedurhakaan yang
membawa kamu kepada kedurhakaan,” kata
Paulus, “ demikian hal kamu sekarang harus
menyerahkan anggota-anggota tubuhmu men-
jadi hamba kebenaran yang membawa kamu
kepada pengudusan” (Rm. 6:19). Maka me-
reka pun hidup “oleh Roh” (Gal. 5:25).
Orang-orang percaya yang dipenuhi Roh
itu “tidak hidup menurut daging, namun me-
nurut Roh” (Rm. 8:4). Mereka diubah kare-
na “keinginan daging yaitu maut, namun
keinginan Roh yaitu hidup dan damai se-
jahtera” (Rm. 8:6). Dengan tinggalnya Roh
Allah di dalam diri mereka, maka mereka “ti-
dak hidup dalam daging, melainkan dalam
Roh” (Rm. 8:9).
Tujuan tertinggi kehidupan yang dipenu-
hi dengan Roh ialah supaya berkenan kepa-
da Allah (1 Tes 4:1). Penyucian yaitu ke-
hendak Allah, kata Paulus. Oleh sebab itu,
“kamu menjauhi percabulan” dan “orang ja-
ngan memperlakukan saudaranya dengan ti-
dak baik atau memperdayakannya.... Allah
memanggil kita bukan untuk melakukan apa
yang cemar, melainkan apa yang kudus” (1 Tes.
4:3, 6, 7).
Perubahan batiniah. Pada kedatangan
Kristus yang kedua kali kita akan diubah seca-
ra jasmani. Tubuh yang fana dan rusak akan
dijadikan abadi (1 Kor 15:51-54). Bagaima-
napun, tabiat kita harus mengalami perubahan
dalam persiapan menyongsong hari kedatang-
an Yesus kedua kali itu.
Perubahan tabiat berkaitan dengan aspek
mental dan rohani terhadap citra Allah, bah-
wa “batiniah” itu dibaharui dari hari ke hari
(2 Kor. 4:16; Rm. 12:2). Seperti halnya pe-
rempuan tua yang diceritakan dalam kisah
Gembala Hermas, gereja bertambah muda
di dalam—setiap orang Kristen yang benar-
benar berserah diubah dari kemuliaan kepa-
da kemuliaan, pada hari kedatangan Kristus
yang kedua kali, perubahan untuk menjadi
serupa dengan gambar Allah disempurnakan.
1. Keterlibatan Kristus dan Roh Ku-
dus. Hanya Khalik saja yang dapat mengada-
kan pekerjaan yang kreatif di dalam meng-
ubah hidup kita (1 Tes. 5:23).Namun demi-
kian, tanpa kerja sama kita, Ia tidak dapat
melakukan hal itu. Kita harus menempatkan
diri kita sendiri dalam saluran pekerjaan Roh,
yang dapat kita lakukan dengan memandang
Kristus. Apabila kita merenung-renungkan
hidup Kristus, maka Roh Kudus akan me-
mulihkan kemampuan jasmani, pikirani dan
rohani (bandingkan dengan Tit. 3:5). Tugas
Roh Kudus termasuk di dalamnya menyata-
kan Kristus dan memulihkan kita kembali ke-
pada gambar-Nya (bandingkan Rm. 8:1-10).
Allah ingin hidup di dalam umat-Nya. Ka-
rena Ia pernah berjanji “Aku akan diam ber-
sama-sama dengan mereka” (2 Kor. 6:16;
bandingkan 1 Yoh. 3:24; 4:12) sehingga Pau-
lus dapat berkata: “Kristus yang hidup di da-
lam aku” (Gal. 2:20; bandingkan Yoh. 14:23).
Dengan adanya Khalik itu dalam kehidupan
dari sehari ke sehari maka orang-orang per-
caya dibarui secara batiniah (2 Kor. 4:16),
membarui pikiran mereka (Rm. 12:2; lihat
juga Flp. 2:5).
2. Turut serta dalam tabiat Ilahi. “Jan-
ji-janji yang berharga dan yang sangat be-
sar” yang diberikan Kristus, menjanjikan kua-
sa Ilahi-Nya untuk melengkapkan perubah-
an tabiat kita (2 Ptr. 1:4). Jalan untuk mem-
peroleh kuasa ini memungkinkan kita rajin
144Pengalaman Keselamatan
untuk “dengan sungguh-sungguh berusaha
untuk menambahkan kepada imanmu keba-
jikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,
dan kepada pengetahuan penguasaan diri, ke-
pada penguasaan diri ketekunan, dan kepa-
da ketekunan kesalehan, dan kepada kesaleh-
an kasih akan saudara-saudara, dan kepada
kasih akan saudara-saudara kasih akan se-
mua orang” (2 Ptr. 1:5-7). “Sebab apabila se-
muanya itu ada padamu dengan berlimpah-
limpah,” kata Petrus, “kamu akan dibuatnya
menjadi giat dan berhasil dalam pengenalan-
mu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. namun
barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia
menjadi buta dan picik” (2 Ptr. 1:8, 9).
a. Hanya melalui Kristus. Apa yang
mengubah kita semua menjadi serupa dengan
Penciptanya ialah dengan mengenakan atau
turut ambil bagian dalam Tuhan kita Yesus
Kristus (Rm. 13:14; Ibr. 3:14), yang “oleh
pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Ku-
dus” (Tit. 3:5).
Yakni dengan menyempurnakan kasih
Allah di dalam kita (1 Yoh. 4:12). Inilah se-
buah misteri yang erat kaitannya dengan pen-
jelmaan Anak Allah. Sebagaimana Roh Ku-
dus menyanggupkan Kristus yang Ilahi itu
mengambil rupa kita semua , begitu pula Roh
menyanggupkan kita turut mengambil bagi-
an dalam sifat-sifat Ilahi. Dengan pemilikan
sifat ini (yang Ilahi) maka pembaharuan pun
dapat berlangsung dalam batin seseorang,
membuat kita menjadi serupa dengan Kris-
tus, walaupun dalam tingkat yang agak ber-
beda. Kalau Kristus menjadi kita semua , namun
orang-orang percaya tidaklah menjadi Ilahi.
Sesungguhnya, mereka menjadi serupa de-
ngan Allah dalam tabiat.
b. Sebuah proses yang dinamis. Penyu-
cian itu progresif. Dengan berdoa dan mem-
pelajari Firman maka kita dapat senantiasa
bertumbuh dalam persekutuan dengan Allah.
Hanya sekadar pemahaman intelektual
atas rencana keselamatan tidaklah memadai.
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika-
lau kamu tidak makan daging Anak Manu-
sia dan minum darah-Nya,” kata Yesus, “ka-
mu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.
Barangsiapa makan daging-Ku dan minum
darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal
dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir
zaman. Sebab daging-Ku yaitu benar-benar
makanan dan darah-Ku yaitu benar-benar
minuman. Barangsiapa makan daging-Ku
dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam
Aku dan Aku di dalam dia”(Yoh. 6:53-56).
Dengan jelas dikatakan bahwa orang-
orang percaya haruslah bersatu dengan sab-
da Kristus. Yesus berkata, “Perkataan-per-
kataan yang Kukatakan kepadamu yaitu roh
dan hidup” (Yoh. 6:63; lihat juga Mat. 4:4).
Tabiat itu terbuat dari apa yang “dima-
kan dan diminum” pikiran. Apabila kita men-
cerna roti hidup maka kita diubahkan men-
jadi serupa dengan Kristus.
3. Kedua Perubahan. Pada tahun 1517,
tahun yang lama ketika Luther memancang-
kan ke-95 dalil ke pintu biara di Wittenberg,
Jerman. Rafael mulai melukiskan lukisan
Transfigurasi (Perubahan) yang sangat terke-
nal itu di Roma. Kedua peristiwa ini memi-
liki persamaan yang berarti. Tindakan Luther
menandai kelahiran Protestantisme, lukisan
Rafael walau pun tidak sengaja, memberi-
kan ringkasan semangat Reformasi.
Lukisan itu menunjukkan Kristus berdiri
di atas bukit dan dari lembah ada orang yang
dirasuk Setan memandang kepada-Nya de-
ngan penuh pengharapan (bandingkan Mrk.
9:2-29). Kedua kelompok murid-murid itu
—satu kelompok di atas bukit, yang satu ke-
lompok lagi di lembah—menggambarkan
dua corak orang Kristen.
145Pengalaman Keselamatan
Murid-murid yang ikut ke bukit itu ingin
tetap bersama Kristus, tampaknya kurang pe-
duli terhadap kebutuhan orang-orang yang
berada di lembah. Selama berabad-abad ba-
nyak orang yang membangun di atas “bukit”
jauh dari orang-orang yang berkekurangan di
dunia ini. Pengalaman mereka yaitu doa tan-
pa perbuatan.
Sebaliknya, murid-murid yang ada di lem-
bah bekerja tanpa doa—dan usaha mereka un-
tuk mengusir Iblis tidak berhasil. Orang ba-
nyak terperangkap apakah itu dalam perangkap
bekerja bagi orang lain tanpa kuasa atau ber-
doa banyak tanpa melakukan sesuatu pun bagi
orang lain. Kedua jenis orang Kristen ini me-
merlukan citra Allah dipulihkan dalam mere-
ka.
a. Perubahan sejati. Harapan Allah ia-
lah mengubah kita semua yang telah jatuh da-
lam dosa itu kepada gambar-Nya dengan
mengubah kemauan mereka, pikirannya, ke-
inginannya serta tabiat mereka. Roh Kudus
mendatangkan kepada orang percaya satu
perubahan pandangan yang nyata. Buah-bu-
ahnya ialah “Kasih, sukacita, damai sejah-
tera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, ke-
setiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri”
(Gal. 5:22, 23), kini menjadi gaya hidup me-
reka—walaupun mereka masih tetap memi-
liki tubuh yang fana sampai kedatangan Kris-
tus kembali.
Jika kita tidak menghalangi Kristus maka
Dia “akan menyamakan diri-Nya dengan
pemikiran dan tujuan kita, memadukan hati
dan pikiran kita menjadi selaras dengan ke-
hendak-Nya, sehingga apabila kita mengiku-
ti Dia, kita tidak akan melakukan kehendak
kita sendiri. Kemauan, yang dibersihkan dan
disucikan, akan mencapai puncak kenik-
matannya dalam melayani-Nya.”9
b. Kedua tujuan. Pemuliaan Kristus me-
nampakkan hal yang mencolok lainnya. Kris-
tus dipermuliakan, namun dalam satu hal ter-
tentu, begitulah anak lelaki yang berada di
lembah itu. Anak muda itu telah diubah ke
dalam citra Iblis (baca Mrk. 9:1-29). Di sini
kita melihat gambaran dua rencana yang
amat bertentangan satu sama lain—rencana
Allah untuk memulihkan kita dan rencana
Setan untuk membinasakan kita. Kitab Suci
mengatakan Allah mampu memelihara kita
“dari kejatuhan” (Yud. 24). Sebaliknya, Set-
an melakukan upayanya dengan segala cara
sehingga kita tetap dalam keadaan berdosa.
Hidup senantiasa ada hubungannya de-
ngan perubahan yang terus-menerus. Tidak
ada basis netral. Kita mau ditinggikan atau-
kah direndahkan. Kita yaitu “hamba dosa”
atau “hamba kebenaran” (Rm. 6:17, 18). Sia-
pa yang menempati pikiran kita itulah yang
menguasai kita. Jika, melalui Roh Kudus,
Kristus menempati pikiran kita, maka kita
menjadi umat yang seperti Kristus—hidup
yang dipenuhi dengan Roh akan senantiasa
“menawan segala pikiran dan menaklukkan-
nya kepada Kristus” (2 Kor. 10:5). namun
apabila tidak bersama Kristus maka kita ter-
cabut dari sumber hidup dan berubah serta
membuat kebinasaan kita tidak terelakkan
lagi.
Kesempurnaan Kristus. Apakah yang di-
maksud dengan kesempurnaan menurut Al-
kitab? Bagaimanakah itu dapat diperoleh?
1. Kesempurnaan yang Alkitabiah. Ka-
ta “sempurna” dan “kesempurnaan” yaitu
terjemahan dari bahasa Ibrani atau tamim,
yang berarti “lengkap,” “betul,” “damai se-
jahtera,” “bunyi,” “sehat,” atau “tidak ber-
cacat.” Umumnya kata teleios dalam bahasa
Yunani berarti “lengkap,” “sempurna,” “de-
wasa,” “matang,” “berkembang dengan ba-
ik,” dan “mencapai sasarannya.”10
Di dalam Perjanjian Lama, apabila digu-
146Pengalaman Keselamatan
nakan sehubungan dengan kita semua , kata itu
mengandung suasana relatif. Nuh, Abraham
dan Ayub masing-masing digambarkan seba-
gai orang yang sempurna atau tidak berca-
cat-cela (Kej. 6:9; 17:1; 22:18; Ayb. 1:1, 18),
walaupun sebenarnya orang itu mempunyai
ketidaksempurnaan (Kej. 9:21, 20; Ayb. 40:
2-5).
Di dalam Perjanjian Baru kata sempurna
sering digunakan untuk menggambarkan
orang yang matang yang telah menghayati
kehidupan yang terbaik yang dapat dilaku-
kannya dalam terang yang diperolehnya, dan
memperoleh kerohanian yang potensial, be-
gitu pula dalam kemampuan mental, dan jas-
mani (bandingkan 1 Kor. 14:20; Flp. 3:15;
Ibr. 5:14). Orang-orang yang percaya harus-
lah sempurna dalam keterbatasannya, kata
Kristus, sebagaimana Kristus sempurna da-
lam ketidakterbatasan-Nya, Kristus yang ju-
ga memiliki ruang lingkup yang sempurna
(bandingkan Mat. 5:48). Pada pemandangan
Allah, seorang yang sempurna ialah yang
memiliki hati dan hidupnya sepenuhnya di-
serahkan untuk mengabdi dan berbakti kepa-
da Allah, yang senantiasa bertumbuh dalam
pengetahuan Ilahi, yang melalui anugerah-
Nya, hidup sesuai dengan terang yang dite-
rimanya, bersuka-suka dalam suatu kehidup-
an yang menang (bandingkan Kol. 4:12; Yak.
3:2).
2. Kesempurnaan yang lengkap dalam
Kristus. Bagaimana kita dapat sempurna?
Roh Kuduslah yang mendatangkan kesem-
purnaan Kristus di dalam kita. Melalui iman
maka kesempurnaan tabiat Kristus menjadi
milik kita. Orang tidak dapat menyatakan
bahwa kesempurnaan itu mandiri, seolah-
olah ia milik bawaan mereka, atau milik me-
reka dengan sendirinya. Kesempurnaan ada-
lah pemberian Allah.
Jika terpisah dari Kristus umat kita semua
itu tidak akan dapat memperoleh pembenar-
an. “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan
Aku di dalam dia,” kata Yesus, “ia berbuah
banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat
berbuat apa-apa” (Yoh. 15:5). Di dalam Kris-
tus, “yang oleh Allah telah menjadi hikmat
bagi kita. Ia membenarkan dan mengudus-
kan dan menebus kita” (1 Kor. 1:30).
Kadar kesempurnaan, kita peroleh di da-
lam Kristus. Untuk semuanya, Ia melengkap-
kan pengudusan dan penebusan kita. Tiada
seorang pun yang dapat menambahkan ke-
pada apa yang telah dilakukan-Nya. Jubah
pesta perkawinan yang kita miliki, atau ju-
bah kebenaran, telah ditenun oleh kehidup-
an Kristus, kematian dan kebangkitan-Nya.
Roh Kudus kini melaksanakan penyelesaian
dan pengerjaannya di dalam kehidupan Kris-
ten. Dengan jalan seperti inilah kita dapat”
dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah”
(Ef. 3:19).
3. Bergerak menuju kesempurnaan.
Sebagai umat percaya, peranan apakah yang
kita lakukan di dalam semua ini? Dengan
berada di dalam Kristus, kita mengalami per-
tumbuhan kepada kedewasaan rohani. Mela-
lui karunia Allah kepada jemaat-Nya kita da-
pat mengembangkan “kedewasaan penuh,
dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan
kepenuhan Kristus” (Ef. 4:13). Kita harus
bertumbuh melampaui pengalaman rohani
masa kanak-kanak (Ef. 4:14), dari kebenar-
an dasar pengalaman Kristen menuju kepa-
da “makanan keras” yang disediakan bagi
orang-orang Kristen yang dewasa (Ibr. 5:14).
“Sebab itu,” kata rasul Paulus, “marilah kita
tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran ten-
tang Kristus dan beralih kepada perkem-
bangannya yang penuh” (Ibr. 6:1). “Dan ini-
lah doaku,” katanya, “semoga kasihmu ma-
147Pengalaman Keselamatan
kin melimpah dalam pengetahuan yang be-
nar dan dalam segala macam pengertian, se-
hingga kamu dapat memilih apa yang baik,
supaya kamu suci dan tak bercacat menje-
lang hari Kristus, penuh dengan buah kebe-
naran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus
untuk memuliakan dan memuji Allah” (Flp.
1:9-11).
Hidup yang disucikan bukanlah satu ke-
hidupan tanpa kesukaran dan rintangan. Pau-
lus meminta kepada orang-orang yang per-
caya supaya “tetaplah kerjakan keselamatan
dengan takut dan gentar, bukan saja seperti
waktu aku masih hadir, namun terlebih pula
sekarang waktu aku tidak hadir, sebab Al-
lahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik
kemauan maupun pekerjaan menurut kere-
laan-Nya” (Flp. 2:12, 13). Demikian ia me-
nambahkan perkataan yang menguatkan hati
mereka.
“namun nasihatilah seorang akan yang la-
in setiap hari,” katanya, “selama masih da-
pat dikatakan ‘hari ini,’ supaya jangan ada
di antara kamu yang menjadi tegar hatinya
sebab tipu daya dosa. sebab kita telah ber-
oleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita
teguh berpegang sampai kepada akhirnya
pada keyakinan iman kita yang semula (Ibr.
3:13, 14; bandingkan Mat. 24:13).
Akan namun Kitab Suci memberikan ama-
ran, “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa,
sesudah memperoleh pengetahuan tentang
kebenaran, maka tidak ada lagi korban un-
tuk menghapus dosa itu. namun yang ada ia-
lah kematian yang mengerikan akan peng-
hakiman dan api yang dahsyat akan meng-
hanguskan semua orang durhaka” (Ibr. 10:
26, 27).
Upaya nasihat menasihati ini merupakan
bukti bahwa orang Kristen “masih memer-
lukan hal yang lebih dibandingkan pengesahan
pembenaran atau penyucian. Mereka memer-
lukan kekudusan tabiat walaupun sebenar-
nya keselamatan hanyalah melalui iman.
Kelayakan masuk ke dalam surga terletak
pada kebenaran Kristus saja. Tambahan ke-
pada pembenaran, rencana Allah tentang
keselamatan yang diadakan dengan kelayak-
an masuk surga ini ialah dengan tetap ting-
gal di dalam Kristus. Kelayakan ini harus-
lah dinyatakan dalam tabiat moral kita semua
sebagai bukti bahwa keselamatan itu ‘telah
terjadi.’”11
Dalam istilah kita semua , apakah artinya
ini? Berdoa tidak berkeputusan untuk meng-
hidupkan suatu kehidupan yang dikuduskan
yang sempurna pada setiap langkah perkem-
bangannya. “Sebab itu sejak waktu kami
mendengarnya, kami tiada berhenti-henti
berdoa untuk kamu... sehingga hidupmu la-
yak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-
Nya dalam segala hal, dan kamu memberi
buah dalam segala pekerjaan yang baik dan
bertumbuh dalam pengetahuan yang benar
tentang Allah” (Kol. 1:9, 10).
Pembenaran dari Hari ke Hari. Semua
orang percaya yang hidup dalam kepenuhan
Roh dan yang dikuduskan (milik Kristus)
terus-menerus memerlukan pembenaran dari
hari ke hari (berkelimpahan dalam Kristus).
Kita memerlukan ini sebab menyadari pe-
langgaran dan kesalahan yang kita lakukan
secara tidak sadar. Dengan menyadari beta-
pa hati kita semua itu jahat adanya, Daud me-
mohon keampunan atas pelanggarannya
yang “tidak disadari” (Mzm. 19:13; ban-
dingkan Yer. 17:9). Berbicara secara khusus
mengenai dosa-dosa yang dilakukan orang
percaya, Allah memberikan jaminan kepa-
da kita bahwa “jika seorang berbuat dosa,
kita mempunyai seorang pengantara pada
Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil” (1 Yoh.
2:1).
148Pengalaman Keselamatan
PENGALAMAN KESELAMATAN
DAN MASA MENDATANG
Akhirnya keselamatan kita lengkap dan
sempurna pada waktu kita dibangkitkan atau
diubahkan untuk masuk ke dalam surga.
Melalui kemuliaan Allah terurailah kepada
orang-orang yang ditebus-Nya cahaya ke-
muliaan-Nya sendiri. Inilah pengharapan ki-
ta semua, yang seharusnya kita sambut se-
bagai anak-anak Allah. Paulus berkata, “Kita
bermegah dalam pengharapan akan mene-
rima kemuliaan Allah” (Rm. 5:2).
Ini digenapi pada saat kedatangan Kris-
tus yang kedua kali, tatkala Ia datang”untuk
menganugerahkan keselamatan kepada me-
reka, yang menantikan Dia” (Ibr. 9:28).
Pemuliaan dan Penyucian. Salah satu
syarat keselamatan mendatang ialah apabila
Kristus tinggal di dalam hati kita—pemulia-
an tubuh kita yang fana. “Kristus ada di te-
ngah-tengah kamu,” kata rasul Paulus, “ada-
lah pengharapan akan kemuliaan!” (Kol. 1:
27), dengan penjelasan lainnya, “Dan jika
Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus
dari antara orang mati,’diam di dalam kamu,
maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus
Yesus dari antara orang mati, akan menghi-
dupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh
Roh-Nya, yang diam di dalam kamu” (Rm.
8:11). Paulus memberikan jaminan kepada
kita, bahwa Allah “dari mulanya telah me-
milih kamu untuk diselamatkan dalam Roh
yang menguduskan kamu dan dalam kebe-
naran yang kamu percayai. . . sehingga kamu
boleh memperoleh kemuliaan Yesus Kristus”
(2 Tes. 2:13, 14).
Kalau kita di dalam Dia berarti kita telah
berada di ruangan takhta surga (Kol. 3:1-4).
Barangsiapa yang “pernah mendapat bagi-
an dalam Roh Kudus” sesungguhnya telah
mengecap “firman yang baik dari Allah dan
karunia-karunia dunia yang akan datang”
(Ibr. 6:4, 5). Dengan merenung-renungkan
kemuliaan Allah serta mengarahkan mata ki-
ta kepada keindahan tabiat Kristus, maka kita
“diubah menjadi serupa dengan gambar-
Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar”
(2 Kor. 3:18) — berarti kita telah siap untuk
perubahan yang akan kita alami pada saat
kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali-
nya.
Penebusan dan pengangkatan kita selaku
anak Allah pada akhirnya berlangsung sua-
tu saat kelak. Paulus berkata, “Sebab dengan
sangat rindu seluruh makhluk menantikan
saat anak-anak Allah dinyatakan,” dan tam-
bahnya, “kita juga mengeluh dalam hati kita
sambil menantikan pengangkatan sebagai
anak, yaitu pembebasan tubuh kita” (Rm.
8:19, 23; bandingkan Ef. 4:30).
Puncak peristiwa ini terjadi pada waktu
“pemulihan segala sesuatu” (Kis. 3:21).
Kristus menyebutnya “penciptaan kembali”
(Mat. 19:28; “pembaruan kembali segala se-
suatu” menurut terjemahan bahasa Inggris
NIV). “sebab makhluk itu sendiri juga akan
dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan
dan masuk ke dalam kemerdekaan kemulia-
an anak-anak Allah” Rm. 8:21).
Menurut pandangan Alkitabiah bahwa pa-
da satu sisi pengertian pengangkatan menja-
di anak dan penebusan—atau keselamatan
—telah “tersedia” lengkap sedang pema-
haman pada sisi lain bahwa mereka belum
dilengkapkan telah membingungkan banyak
orang. Sebuah studi lengkap dan menyelu-
ruh mengenai pekerjaan Kristus akan menye-
diakan jawaban untuk itu. “Paulus menghu-
bungkan keselamatan kita kini kepada keda-
tangan Kristus yang pertama. Dalam penya-
liban yang bersejarah itu, kebangkitan, dan
pelayanan surgawi yang dilakukan Kristus,
pembenaran dan penyucian kita dipastikan
sekali dan untuk semua. Kese
.jpeg)
