delusi tuhan 4
untuk
dampak psikosomatik yang mungkin bisa terjadi jika seseorang tahu bahwa dia didoakan.
Doa dikirimkan dari jemaat di tiga gereja, satu di Minnesota, satu di Massachusetts dan
satu di Missouri, semua jauh dari ketiga rumah sakit. Para individu yang berdoa, sebagaimana
sudah dijelaskan, diberikan hanya nama depan dan huruf pertama nama belakang setiap pasien
yang akan didoakan. Salah satu praktek eksperimental yang baik yaitu menstandarkan sejauh
mungkin, dan karena itu, setiap orang yang berdoa disuruh untuk memasukkan dalam doanya
frasa ‘untuk bedah yang berhasil dengan penyembuhan yang cepat dan sehat dan tanpa
komplikasi’.
Hasilnya, dilaporkan dalam American Heart Journal dari April 2006, jelas. Tidak ada
perbedaan di antara pasien yang didoakan dan mereka yang tidak didoakan. Mengejutkan sekali.
Ada perbedaan di antara mereka yang tahu mereka sudah didoakan dan mereka yang tidak tahu
sama sekali; tetapi perbedaan itu menuju ke arah yang salah. Mereka yang tahu bahwa mereka
didoakan menderita jumlah komplikasi yang lumayan lebih banyak dibandingkan dengan mereka
yang tidak didoakan. Apakah pencipta menghajar mereka, untuk menunjukkan ketidaksetujuannya
terhadap prakarsa konyol itu? Sepertinya lebih mungkin bahwa pasien-pasien yang tahu mereka
didoakan menderita stres tambahan sebagai konsekuensi: ‘demam panggung’, sebagaimana
ditulis oleh para pembuat eksperimen. Dr Charles Bethea, salah satu peneliti, berkata, ‘Mungkin
itu membuat mereka ragu, bertanya apakah saya begitu sakit, sehingga tim doa harus dipanggil?’
Di masyarakat saat ini yang begitu suka menggugat, apakah kita boleh berharap bahwa pasien
yang menderita komplikasi jantung, sebagai konsekuensi dari pengetahuan bahwa mereka
menerima doa eksperimental, mungkin akan membuat gugatan perwakilan kelompok terhadap
Yayasan Templeton?
Pembaca tidak akan terkejut mengetahui bahwa kajian ini dilawan oleh teolog, mungkin
karena mereka khawatir tentang kemampuannya untuk menyebabkan ejekan terhadap kepercayaan .
Teolog Oxford Richard Swinburne, yang menulis setelah kajiannya gagal, membantahnya atas
dasar bahwa pencipta membalas doa hanya jika doa itu dipanjatkan untuk alasan yang baik.37
Berdoa untuk seseorang dan bukan untuk orang lain, hanya karena hasil acak dalam rancangan
eksperimen buta ganda, tidak merupakan alasan yang baik. pencipta akan melihat itu. Itu, memang,
yaitu maksud dari sindiran Bob Newhart saya, dan Swinburne juga benar untuk
mengusulkannya. Tetapi dalam bagian-bagian lain dari makalahnya, Swinburne sendiri
melampaui sindiran. Bukan untuk pertama kali, dia berusaha untuk membenarkan penderitaan
dalam dunia yang diperintah oleh pencipta :
Penderitaan saya memberi saya kesempatan untuk menunjukkan keberanian dan
kesabaran. Penderitaan itu memberi Anda kesempatan untuk menunjukkan
simpati dan membantu untuk meringankan penderitaan saya. Dan penderitaan
itu memberi masyarakat kesempatan untuk memilih apakah akan menginvestasi
banyak uang dalam usaha untuk mencari pengobatan untuk berbagai jenis
penderitaan ...Walaupun suatu pencipta yang baik menyesali penderitaan kita,
urusan terbesarnya pasti yaitu bahwa masing-masing kita menunjukkan
kesabaran, simpati dan kemurahan hati dan, melalui itu, membentuk watak yang
suci. Ada orang yang sangat perlu menjadi sakit demi dirinya sendiri, dan ada
orang yang sangat perlu menjadi sakit untuk memberi pilihan penting kepada
orang lain. Hanya dengan cara itu bisa orang bisa didorong untuk mengambil
keputusan serius mengenai akan jadi orang macam apa dia. Untuk orang lain,
penyakit tidak begitu berharga.
Penalaran yang menjijikkan ini, yang begitu tipikal bagi pikiran teologis secara yang
menelanjangi kekeliruannya, mengingatkan saya akan suatu peristiwa ketika saya di panitia
televisi dengan Swinburne, dan juga dengan kolega Oxford kami, Profesor Peter Atkins.
Swinburne pada satu saat berusaha untuk membenarkan Shoah atas dasar diberikannya orang
Yahudi kesempatan luar biasa untuk menjadi berani dan luhur. Peter Atkins dengan hebat
menggerutu, ‘Semoga kau membusuk di neraka.’*
Salah satu potongan penalaran teologis yang lain terjadi lebih akhir di artikel Swinburne.
Usulan dia benar bahwa jika pencipta ingin menunjukkan eksistensinya sendiri, dia akan mencari
cara-cara yang lebih baik daripada sedikit memengaruhi statistik penyembuhan kelompok
eksperimental dibandingkan dengan kelompok kontrol pasien jantung. Jika pencipta ada dan ingin
meyakinkan kita akan hal itu, dia bisa ‘mengisi dunia dengan keajaiban super’. Tetapi kemudian
Swinburne mengeluarkan kata-kata mutiara berikut: ‘Bagaimanapun, sudah ada cukup banyak
bukti untuk eksistensi pencipta , dan terlalu banyak mungkin tidak akan baik untuk kita.’ Terlalu
banyak mungkin tidak akan baik untuk kita! Bacalah sekali lagi. Terlalu banyak bukti mungkin
tidak akan baik untuk kita. Richard Swinburne yaitu pemegang (baru pensiun) salah satu posisi
profesor teologi yang paling bergengsi, dan juga yaitu Fellow British Academy. Jika Anda
mencari teolog, tidak ada banyak yang dianggap lebih berwibawa. Barangkali Anda tidak
mencari teolog.
Swinburne bukan satu-satunya teolog yang menyangkal kajian itu setelah kegagalannya.
Pendeta Raymond J. Lawrence diberi ruang opini yang cukup luas dalam New York Times untuk
menjelaskan kenapa pemimpin-pemimpin religius yang bertanggung jawab ‘akan merasa lega’
bahwa bukti kemujaraban doa syafaat tidak ditemukan sama sekali.38 Apakah kata-katanya akan
berbeda jika kajian Benson itu berhasil menunjukkan kekuatan doa? Mungkin tidak, tetapi kita
bisa yakin bahwa banyak pastor dan teolog lain akan seperti itu. Tulisan Pendeta Lawrence
paling mudah diingat untuk penyingkapan yang berikut: ‘Baru-baru ini, seorang kolega memberi
tahu saya tentang seorang perempuan taat dan terpelajar yang menuduh dokternya malapraktik
dalam pengobatan suaminya. Menjelang wafatnya suaminya, katanya dalam gugatannya, dokter
itu tidak berdoa untuknya.’
Teolog-teolog lain bergabung dengan orang-orang skeptis yang diinspirasi oleh NOMA
dalam berargumen bahwa mengkaji doa dengan cara ini hanya membuang uang karena pengaruh
supernatural menurut definisinya melampaui jangkauan ilmu pengetahuan. Tetapi sebagaimana
* Pertukaran kata-kata ini dipenggal dari versi siaran akhir. Bahwa pernyataan Swinburne itu tipikal bagi teologinya
ditunjukkan oleh komentarnya yang agak serupa mengenai Hiroshima dalam The Existence of God (2004), Bab 6:
‘Andaikan bahwa kurang satu orang terbakar oleh bom atomik Hiroshima. Lalu kesempatan untuk keberanian dan
simpati akan berkurang juga...’
Yayasan Templeton kenali dengan benar saat mendanai kajian itu, apa yang dianggap sebagai
kekuatan doa syafaat setidaknya secara prinsip berada dalam jangkauan ilmu pengetahuan. Suatu
eksperimen buta ganda dapat dilakukan dan telah dilakukan. Eksperimen itu bisa saja
menghasilkan hasil yang positif. Dan seandainya begitu, apakah Anda dapat membayangkan
bahwa seorang tokoh apologetika religius pun akan menyangkal eksperimen itu atas dasar bahwa
penelitian ilmiah tidak ada sangkut-pautnya dengan persoalan religius? Tentu saja tidak.
Tidak perlu dikatakan bahwa hasil negatif eksperimen itu tidak akan mengguncangkan
orang yang beriman. Bob Barth, direktur rohani tempat bimbingan doa di Missouri yang
menyediakan sebagian dari doa-doa eksperimental, berkata: ‘Seorang yang beriman akan berkata
bahwa kajian ini menarik, tetapi kita sudah lama berdoa dan kita pernah melihat doa berhasil,
kita tahu doa berhasil, dan penelitian mengenai doa dan kerohanian baru saja mulai.’ Ya, betul:
kita tahu dari iman kita bahwa doa berhasil, jadi jika bukti gagal menunjukkannya kita akan
berlanjut saja sampai akhirnya kita mendapat hasil yang kita inginkan.
MAZHAB EVOLUSIONIS NEVILLE CHAMBERLAIN
Mungkin ada udang di balik batu bagi ilmuwan itu yang bersikeras akan NOMA –
kekebalan Hipotesis pencipta terhadap ilmu pengetahuan – yakni, suatu agenda politik khas
Amerika, yang didorong oleh ancaman kreasionisme populis. Di bagian-bagian tertentu Amerika
Serikat, ilmu pengetahuan sedang diserang oleh suatu oposisi yang terorganisasi dengan baik,
berhubungan secara politik dengan baik, dan, di atas semua, didanai dengan baik, dan pengajaran
evolusi berada di garis depan. Ilmuwan-ilmuwan dapat dimaafkan jika merasa terancam, karena
kebanyakan uang penelitian akhirnya berasal dari pemerintahan, dan wakil-wakil yang dipilih
harus melapor kepada orang yang tidak tahu-menahu dan berprasangka, bersama dengan orang
yang terpelajar, di wilayah yang mereka wakili.
Sebagai tanggapan terhadap ancaman macam itu, suatu lobi pertahanan evolusi telah
muncul, yang paling menonjol diwakili oleh Pusat Nasional Pendidikan Ilmu Pengetahuan
(National Center for Science Education, NCSE), yang dipimpin oleh Eugenie Scott, seorang
aktivis yang tidak pernah berhenti berjuang demi ilmu pengetahuan yang baru saja menghasilkan
bukunya sendiri, Evolution vs. Creationism. Salah satu tujuan politik utama NCSE yaitu untuk
membujuk dan memobilisasi pendapat religius yang ‘bijaksana’: anggota gereja moderat yang
tidak bermasalah dengan evolusi yang mungkin menganggapnya sebagai tidak relevan dengan
(atau bahkan secara aneh mendukung) imannya. Kelompok moderat imam, teolog, dan orang
beriman tidak fundamentalis ini, yang merasa malu terhadap kreasionisme karena merusak
reputasi kepercayaan , menjadi sasaran utama bujukan lobi pertahanan evolusi. Dan salah satu cara
untuk melakukan ini yaitu dengan bersusah-payah hormat terhadap mereka dengan
mempromosikan NOMA – setuju bahwa ilmu pengetahuan tidak mengancam sama sekali,
karena terpisah dari klaim-klaim kepercayaan .
Salah satu tokoh terkemuka lain dalam apa yang kita dapat sebut sebagai mazhab
evolusionis Neville Chamberlain yaitu filsuf Michael Ruse. Ruse yaitu pejuang yang berguna
melawan kreasionisme,39 baik dalam tulisannya maupun di pengadilan. Dia mengklaim dirinya
sebagai ateis, tetapi artikelnya dalam Playboy mengambil posisi bahwa
kita yang mencintai ilmu pengetahuan harus menyadari bahwa musuhnya
musuh kita yaitu teman kita. Terlalu sering para evolusionis membuang waktu
dengan menghina orang yang bisa menjadi sekutu. Hal ini khususnya benar
mengenai para evolusionis sekuler. Orang ateis menghabiskan lebih banyak
waktu untu menyerang orang junjungan kristen yang sudah bersimpati daripada melawan
para kreasionis. Ketika Yohanes Paulus II menulis surat yang mendukung
Darwinisme, Richard Dawkins hanya menanggapi bahwa paus yaitu orang
munafik, bahwa dia tidak mungkin jujur mengenai ilmu pengetahuan dan bahwa
Dawkins sendiri lebih memilih seorang fundamentalis yang jujur.
Dari sudut pandang yang murni taktis, saya bisa melihat daya tarik dangkal dalam
perbandingan yang dibuat Ruse dengan perjuangan melawan Hitler: ‘Winston Churchill dan
Franklin Roosevelt tidak menyukai Stalin dan komunisme. Tetapi ketika berjuang melawan
Hitler mereka menyadari bahwa mereka harus bekerja dengan Uni Soviet. Orang evolusionis dari
segala jenis harus bekerja sama juga untuk melawan kreasionisme. Tetapi saya akhirnya sepakat
dengan kolega saya, ahli genetika Chicago Jerry Coyne, yang menulis bahwa Ruse
gagal untuk memahami kodrat asli konflik ini. Persoalannya bukan hanya
evolusi versus kreasionisme. Bagi ilmuwan seperti Dawkins dan Wilson [E.O.
Wilson, biolog Harvard terkemuka], perang yang sesungguhnya terjadi di antara
rasionalisme dengan takhayul. Ilmu pengetahuan hanya merupakan salah satu
bentuk rasionalisme, sedangkan kepercayaan yaitu bentuk tahkayul yang paling
umum. Kreasionisme hanyalah suatu gejala dari apa yang mereka lihat sebagai
musuh yang lebih besar: kepercayaan . Sedangkan kepercayaan bisa ada tanpa kreasionisme,
kreasionisme tidak bisa ada tanpa kepercayaan .40
Ada satu hal yang sama di antara saya dengan para kreasionis. Seperti saya, tetapi
berbeda dengan ‘mazhab Chamberlain’, mereka tidak berurusan dengan NOMA dan lingkup
kewibawaannya yang terpisah. Jauh dari menghargai kemandirian wilayah ilmu pengetahuan,
kreasionis-kreasionis paling suka menginjaknya dengan kakinya yang kotor. Dan mereka juga
berkelahi kotor. Pengacara-pengacara untuk kreasionis, dalam kasus di pengadilan di daerah-
daerah kampung Amerika, mencari evolusionis yang ateis secara terbuka. Saya tahu – dan sangat
malu – bahwa nama saya pernah digunakan seperti ini. Taktik itu mujarab karena juri-juri yang
dipilih secara acak sangat mungkin berisi individu yang dibesarkan dengan kepercayaan bahwa
ateis yaitu penjelmaan iblis, setingkat dengan pedofil atau ‘teroris’ (setara dengan para penyihir
di Salem atau para komunis bagi Joseph McCarthy). Pengacara kreasionis siapa pun yang sempat
memeriksa saya di pengadilan bisa langsung memenangkan hati juri hanya dengan menanyai
saya: ‘Apakah pengetahuan Anda mengenai evolusi telah memengaruhi Anda ke arah menjadi
ateis?’ Saya harus menjawab ya, dan serentak saya akan kehilangan simpati juri. Sebaliknya,
jawaban yang benar secara yudisial dari pihak sekularis yaitu : ‘Kepercayaan religius saya, atau
ketiadaan kepercayaan itu, yaitu persoalan privat, bukan urusan pengadilan ini dan juga tidak
terkait sama sekali dengan ilmu pengetahuan.’ Saya tidak mampu mengatakan hal tersebut
dengan jujur, untuk alasan yang akan saya jelaskan dalam Bab 4.
Wartawan Guardian Madeleine Bunting menulis sebuah artikel yang berjudul ‘Kenapa
lobi rancangan cerdas bersyukur kepada pencipta untuk Richard Dawkins’.41 Tidak ada indikasi
dalam artikel itu bahwa dia berkonsultasi dengan siapa pun selain Michael Ruse, dan hasilnya
akan sama seandainya Ruse sendiri yang menulis artikelnya.* Dan Dennett membalas, mengutip
* Hal yang sama dapat dikatakan mengenai sebuah artikel, ‘When cosmologies collide’, dalam New York Time, 22
Januari 2006, oleh wartawan Judith Shulevitz yang cukup dihargai (tetapi biasanya lebih dipersiapkan). Peraturan
Uncle Remus dengan tepat:
Saya menganggap lucu bahwa dua orang Inggris – Madeleine Bunting dan
Michael Ruse – telah tertipu oleh suatu versi penipuan paling terkenal di cerita
rakyat Amerika (Why the intelligent design lobby thanks God for Richard
Dawkins, 27 Maret). Ketika Brer Rabbit ditangkap oleh si rubah, dia bermohon:
‘O tolong, tolong, Brer Fox, apa pun yang kau lakukan, jangan buang aku ke
dalam semak berduri yang seram itu!’ – tempat dia berakhir aman setelah si
rubah justru melakukan itu. Ketika tukang propaganda Amerika William
Dembski dengan cara menghina menulis kepada Richard Dawkins, menyuruh
dia agar meneruskan pekerjaannya yang baik demi rancangan cerdas, Bunting
dan Ruse tertipu! ‘Aduh, Brer Fox, pernyataanmu yang terus terang – bahwa
biologi evolusioner menyangkal ide akan suatu pencipta pencipta –
membahayakan pengajaran biologi di mata pelajaran IPA, karena mengajarkan
itu akan melanggar pemisahan gereja dan negara!’ Betul. Sebaiknya fisiologi
juga jangan terlalu ditekankan, karena menurutnya kelahiran dari perawan itu
mustahil...42
Seluruh persoalan ini, termasuk suatu diskusi terpisah mengenai Brer Rabbit dan semak
berduri, dibahas dengan baik oleh biolog P.Z. Myers, yang memiliki blog Pharyngula yang dapat
diandalkan untuk pikiran sehat yang kritis.43
Maksud saya bukan bahwa kolega-kolega saya dari lobi ‘pengalahan’ niscaya tidak jujur.
Mungkin mereka dengan tulus percaya pada NOMA, walaupun saya harus bertanya seberapa
menyeluruh mereka sudah memikirkannya dan bagaimana mereka menyelesaikan konflik-
konflik internal dalam pikiran mereka. Persoalan itu tidak perlu dibahas lebih lanjut pada saat ini,
tetapi siapa pun yang ingin memahami pernyataan-pernyataan terbitan ilmuwan mengenai hal-
hal religius sebaiknya mengingat konteks politiknya: perang-perang kultural sureal yang kini
merusak Amerika. ‘Mengalah’ gaya-NOMA akan muncul lagi di bab yang lebih akhir. Di sini,
saya kembali ke agnostisisme dan kemungkinan untuk mengurangi ketidaktahuan dan
ketidakpastian kita secara yang dapat diukur mengenai eksistensi atau non-eksistensi pencipta .
MAKHLUK-MAKHLUK ASING
Andaikan bahwa perumpamaan Bertrand Russell tidak bercerita tentang sebuah teko di
luar angkasa tetapi kehidupan di luar angkasa – subjek penolakan Sagan yang mudah diingat
untuk berpikir dengan firasat. Sekali lagi kita tidak dapat menyangkalnya, dan satu-satunya sikap
yang murni rasional yaitu agnostisisme. Tetapi hipotesis itu sudah tidak dangkal. Kita tidak
langsung mencium bau ketidakmungkinan ekstrem. Kita bisa mengadakan argumen yang
menarik berdasarkan bukti yang belum lengkap, dan kita dapat mencatat bukti jenis apa yang
akan mengurangi ketidakpastian kita. Kita akan marah betul jika pemerintahan berinvestasi di
teleskop-teleskop mahal hanya untuk tujuan mencari teko yang mengorbit. Tetapi kita bisa
menerima kasus untuk mendanai SETI, Pencarian untuk Kecerdasan Ekstraterestrial, dengan
menggunakan teleskop untuk memindai langit dengan harapan mendeteksi sinyal dari makhluk
asing yang cerdas.
Pertama Perang Jenderal Montgomery yaitu ‘Jangan serang Moskwa.’ Barangkali seharusnya ada Peraturan
Pertama Jurnalisme Ilmu Pengetahuan: ‘Wawancarai setidaknya satu orang selain dari Michael Ruse.’
Saya telah memuji Carl Sagan karena dia mengingkari firasat mengenai kehidupan asing.
Tetapi seseorang bisa (dan Sagan melakukannya) membuat penilaian serius mengenai apa yang
akan harus kita ketahui untuk memperkirakan probabilitasnya. Penilaian tersebut mungkin akan
mulai dari sekadar membuat daftar poin-poin ketidaktahuan kita, seperti dalam Persamaan Drake
yang terkenal yang, menurut kata-kata Paul Davies, mengumpulkan probabilitas-probabilitas.
Persamaan itu mengatakan bahwa, untuk memperkirakan jumlah peradaban yang berevolusi
secara mandiri di alam semesta, kita harus mengalikan tujuh bilangan. Tujuh bilangan tersebut
termasuk jumlah bintang, jumlah planet-seperti-Bumi per bintang, dan probabilitas beberapa hal
yang lain yang tidak perlu saya catat di sini karena saya hanya ingin menyampaikan poin bahwa
semuanya tidak diketahui, atau diperkirakan dengan batas kesalahan yang sangat besar. Ketika
begitu banyak bilangan yang sama sekali tidak diketahui atau hampir seperti itu dikalikan,
hasilnya – jumlah peradaban makhluk asing yang diperkirakan – memiliki batas kesalahan yang
begitu besar sehingga agnostisisme terkesan sangat masuk akal, dan bahkan sebagai satu-satunya
sikap yang kredibel.
Beberapa bilangan dalam Persamaan Drake sudah kurang tidak diketahui dibandingkan
dengan saat pertama kali dia mencatatnya di 1961. Pada saat itu, tata surya kita yang terdiri atas
planet-planet yang mengorbit sebuah bintang pusat yaitu satu-satunya yang diketahui, serta
analogi-analogi lokal yang disediakan oleh sistem-sistem satelit Jupiter dan Saturnus. Perkiraan
kita yang terbaik mengenai jumlah sistem yang mengorbit di alam semesta berdasarkan pada
model-model teoretis, serta ‘prinsip kebiasaan’ yang kurang resmi: perasaan (yang lahir dari
pelajaran sejarah kurang menyenangkan dari Copernicus, Hubble, dan orang lain) bahwa
seharusnya tidak ada yang begitu luar biasa mengenai tempat yang kebetulan kita hidup.
Sayangnya, prinsip kebiasaan pada gilirannya dikebiri oleh prinsip ‘antropik’ (lihat Bab 4): jika
tata surya kita sebenarnya yaitu satu-satunya di alam semesta, ini persis tempat kita, sebagai
makhluk yang memikirkan persoalan seperti itu, akan harus hidup. Fakta belaka eksistensi kita
dapat menentukan belakangan bahwa kita hidup di tempat yang sangat luar biasa.
Tetapi perkiraan saat ini mengenai penyebarluasan tata-tata surya sudah tidak
berdasarkan pada prinsip kebiasaan, tetapi dihidupi oleh bukti langsung. Spektroskop, musuhnya
positivisme Comte, menimpa sekali lagi. Teleskop-teleskop tidak mampu melihat planet-planet
yang mengorbit bintang-bintang lain secara langsung. Tetapi posisi sebuah bintang diganggu
oleh tarikan gravitasi planet-planetnya sambil mereka mengelilinginya, dan spektrospok dapat
mendeteksi geseran Doppler dalam spektrum bintang, setidaknya dalam kasus dengan planet
pengganggu yang besar. Umumnya menggunakan metode ini, pada waktu penulisan buku ini
kita mengetahui 170 planet ekstra-solar yang mengorbitkan 147 bintang,44 tetapi jumlah itu pasti
sudah meningkat pada waktu Anda membaca buku ini. Sejauh ini, planet ekstra-solar itu
merupakan ‘Jupiter-Jupiter’ yang besar, karena hanya Jupiter yang cukup besar untuk
mengganggu bintang hingga memasuki zona detektabilitas bagi spektroskop-spektroskop saat
ini.
Setidaknya, kita telah memperbaiki perkiraan kita secara kuantitatif atas salah satu
bilangan dalam Persamaan Drake yang sebelumnya tersembunyi. Hal ini membolehkan suatu
pengenduran yang signifikan, meskipun tetap moderat, atas agnostisisme kita mengenai nilai
akhir yang dihasilkan oleh persamaan itu. Kita tetap harus agnostik mengenai kehidupan di
planet-planet lain – tetapi sedikit kurang agnostik, karena kita tahu sedikit lebih banyak. Ilmu
pengetahuan dapat perlahan mengurangi agnostisisme, dengan cara yang Huxley bersusah-payah
sangkal dalam kasus istimewa pencipta . Saya berargumen bahwa, tanpa mengindahkan usaha
Huxley, Gould, dan orang lain untuk secara sopan tidak ikut campur, pertanyaan pencipta tidak
secara prinsip dan selamanya melampaui wilayah ilmu pengetahuan. Sama seperti kodrat
bintang, contra Comte, dan sama seperti kemungkinan akan kehidupan yang mengorbit di
sekelilingnya, ilmu pengetahuan setidaknya dapat membuat serangan probabalistik ke dalam
wilayah agnostisisme.
Definisi saya atas Hipotesis pencipta memuat istilah-istilah ‘melampaui manusia’ dan
‘supernatural’. Untuk menjelaskan perbedaannya, bayangkan bahwa sebuah teleskop radio SETI
sungguh mendeteksi suatu sinyal dari luar angkasa yang menunjukkan, tanpa keraguan, bahwa
kita tidak sendiri di alam semesta. Sebenarnya, penting juga pertanyaan mengenai sinyal macam
apa yang akan meyakinkan kita atas asal-usul cerdasnya. Salah satu pendekatan yang bagus
yaitu membalikkan pertanyaannya. Apa yang harus kita lakukan secara cerdas agar
memamerkan kehadiran kita kepada pendengar-pendengar ekstraterestrial? Pulsa-pulsa berirama
tidak akan cukup. Jocelyn Bell Burnell, astronom radio yang pertama kali menemukan pulsar di
1967, didorong oleh ketepatan periodisitas 1.33-detiknya, untuk menamakannya, setengah
bercanda, sinyal LGM (Little Green Men, Makhluk-makhluk Asing). Dia kemudian menemukan
sebuah pulsar kedua, di tempat lain di langit dan dengan periodisitas yang berbeda, yang rata-rata
menghancurkan hipotesis LGM. Ritme-ritme seperti metronom dapat dihasilkan oleh banyak
fenomena yang tidak cerdas, dari dahan yang bergoyang hingga air yang menetes, dari
ketertinggalan waktu dalam umpan balik yang mengatur dirinya sendiri hingga benda-benda
langit yang berputar dan mengorbit. Kini lebih dari seribu pulsar telah ditemukan di galaksi kita,
dan pada umumnya diterima bahwa masing-masing yaitu sebuah bintang neutron berputar yang
mengeluarkan energi radio yang melemparkan energi tersebut di sekelilingnya seperti sinar
cahaya dari mercusuar. Memukau memikirkan sebuah bintang yang berputar pada skala waktu
detik (bayangkan jika masing-masing hari kita hanya berdurasi 1,33 detik daripada 24 jam),
tetapi hampir segala hal yang kita ketahui mengenai bintang neutron memukau. Poin saya yaitu
fenomena pulsar kini dipahami sebagai produk fisika dasar, bukan kecerdasan.
Jadi tidak ada yang sekadar berirama yang akan mengumumkan kehadiran cerdas kita
kepada alam semesta yang menantikannya. Bilangan prima sering disebut sebagai resep pilihan,
karena sulit memikirkan suatu proses murni fisik yang bisa menghasilkannya. Apakah dengan
mendeteksi bilangan prima atau melalui cara lain, bayangkan bahwa SETI mendapat bukti yang
tidak dapat diragukan akan kecerdasan ekstraterestrial, diikuti, barangkali, oleh suatu transmisi
pengetahuan dan kebijaksanaan yang sangat besar, seperti dalam karya fiksi ilmiah seperti A for
Andromeda-nya Fred Hoyle atau Contact-nya Carl Sagan. Bagaimana kita harus
menanggapinya? Salah satu tanggapan yang dapat dimaafkan yaitu suatu yang serupa dengan
pemujaan, karena peradaban apa pun yang mampu menyiarkan sinyal sejauh itu kemungkinan
besar jauh lebih hebat daripada peradaban kita. Meskipun peradaban itu tidak lebih maju
daripada peradaban kita pada waktu transmisi, jarak yang luar biasa besar di antara kita
mengizinkan kita untuk memperhitungkan bahwa mereka pasti beberapa milenium di depan kita
pada waktu pesan itu sampai ke kita (kecuali mereka sudah memunahkan dirinya sendiri, yang
mungkin saja terjadi).
Apakah kita mengetahui tentang mereka atau tidak, sangat mungkin bahwa ada
peradaban asing yang melampaui manusia, hingga menyerupai pencipta dalam cara yang melebihi
apa pun yang dapat dibayangkan oleh seorang teolog. Prestasi teknisnya akan terkesan sama
supernaturalnya bagi kita dengan prestasi kita untuk seorang petani Zaman Kegelapan yang
dipindahkan ke abad ke-21 kita. Bayangkan tanggapannya terhadap komputer laptop, telepon
genggam, bom hidrogen, atau pesawat berbadan lebar. Sebagaimana ditulis oleh Arthur C.
Clarke, dalam Hukum Ketiganya: ‘Teknologi apa pun yang cukup maju tidak dapat dibedakan
dengan sihir.’ Keajaiban-keajaiban yang dibuat oleh teknologi kita akan terkesan bagi orang-
orang kuno tidak kalah menakjubkan dengan kisah-kisah mengenai Musa yang membelah laut,
atau junjungan kristen yang berjalan di atasnya. Makhluk-makhluk asing dalam sinyal SETI kita akan
seperti dewa bagi kita, sama seperti misionaris diperlakukan seperti dewa (dan mengekploitasi
penghormatan yang tidak layak itu sebisa mungkin) ketika mereka muncul di budaya Zaman
Batu membawa senjata api, teleskop, korek api, dan almanak yang memprediksi eklips pada
skala detik.
Lalu, dalam arti apa makhluk asing SETI yang paling maju itu bukan dewa? Dalam arti
apa mereka melampaui manusia tetapi bukan supernatural? Dalam arti sangat penting, yang
bersenpencipta dengan argumen inti buku ini. Perbedaan krusial di antara dewa dengan makhluk
ekstraterestrial yang menyerupai dewa tidak berada pada sifatnya tetapi pada asal-usulnya.
Entitas-entitas yang cukup rumit untuk menjadi cerdas yaitu produk dari suatu proses
evolusioner. Sebanyak apa pun mereka sepertinya menyerupai dewa saat kita menemuinya,
mereka tidak bermula seperti itu. Penulis-penulis fiksi ilmiah, seperti Daniel F. Galouye dalam
Counterfeit World, bahkan pernah mengemukakan (dan saya tidak tahu cara untuk
menyangkalnya) bahwa kita hidup dalam suatu simulasi komputer yang dibuat oleh semacam
peradaban yang sangat tinggi. Tetapi para pembuat simulasi itu sendiri harus berasal dari suatu
tempat. Hukum-hukum probabilitas melarang segala gagasan bahwa mereka muncul secara
spontan tanpa pendahulu yang lebih sederhana. Besar kemungkinan mereka berutang untuk
eksistensinya kepada suatu versi (yang barangkali aneh) evolusi Darwinian: semacam ‘derek’
yang naik secara bertahap, dan bukan sebuah ‘kait dari langit’, menurut terminologi Daniel
Dennett.45 Kait dari langit – termasuk semua pencipta – yaitu sihir. Mereka tidak melakukan
pekerjaan penjelasan sejati dan menuntut lebih banyak penjelasan daripada yang mereka berikan.
Derek-derek yaitu alat penjelasan yang sebenarnya menjelaskan. Seleksi alam yaitu derek
terbaik sepanjang sejarah. Derek itu telah mengangkat kehidupan dari kesederhanaan purba
hingga ketinggian kompleksitas, keindahan, dan penampakan rancangan yang memukau kita hari
ini. Hal ini akan menjadi tema utama Bab 4, ‘Kenapa hampir pasti tidak ada pencipta ’. Tetapi
sebelum berlanjut dengan alasan utama saya untuk tidak percaya secara aktif pada eksistensi
pencipta , saya bertanggung jawab untuk menyingkirkan argumen-argumen positif untuk
kepercayaan yang pernah ditawarkan sepanjang sejarah.
BAB 3
ARGUMEN-ARGUMEN UNTUK EKSISTENSI pencipta
Suatu posisi profesor teologi seharusnya tidak mendapat tempat di institusi kita.
– THOMAS JEFFERSON
Argumen-argumen untuk eksistensi pencipta telah dikodifikasikan selama berabad-abad
oleh teolog, dan ditambah oleh orang lain, termasuk para penyebar ‘akal sehat’ yang salah
dipahami.
‘BUKTI-BUKTI’ THOMAS AQUINAS
Lima ‘bukti’ yang dinyatakan oleh Thomas Aquinas pada abad ke-13 tidak membuktikan
apa pun, dan dapat dibongkar sebagai kosong dengan mudah – tetapi saya enggan berkata
demikian, karena Aquinas begitu terkemuka. Ketiga bukti yang pertama hanya merupakan tiga
cara berbeda untuk mengatakan hal yang sama, dan dapat dipertimbangkan bersama. Semua
melibatkan suatu regresi tak terbatas – jawaban terhadap suatu pertanyaan memunculkan suatu
pertanyaan yang lebih dahulu, dan seterusnya ad infinitum.
1. Penggerak yang Tak Digerakkan. Tidak ada yang bergerak tanpa suatu penggerak yang
lebih dahulu. Hal ini membawa kita sampai ke suatu regresi, dan satu-satunya jalan
keluar yaitu pencipta . Sesuatu harus membuat gerakan yang pertama, dan hal itulah yang
kita sebut pencipta .
2. Sebab yang Tak Disebabkan. Tidak ada yang disebabkan oleh dirinya sendiri. Setiap
akibat memiliki sebab yang lebih dahulu, dan sekali lagi kita didorong kembali ke
regresi. Regresi itu harus diakhiri oleh suatu sebab pertama, yang kita sebut pencipta .
3. Argumen Kosmologis. Harus ada waktu ketika tidak ada hal-hal fisik. Tetapi, karena hal-
hal fisik ada sekarang, pasti ada suatu yang non-fisik yang menjadikannya, dan hal itulah
kita sebut pencipta .
Ketiga argumen tersebut mengandalkan ide regresi dan menggunakan pencipta untuk
mengakhirinya. Mereka membuat asumsi yang sama sekali tidak layak bahwa pencipta sendiri
kebal terhadap regresi. Seandainya kita memberi diri kita hak istimewa, yang kurang layak,
untuk menciptakan secara arbitrer suatu titik akhir bagi regresi tak terbatas dan memberi titik itu
nama, hanya karena kita membutuhkannya, tidak ada alasan sama sekali untuk mengaruniai titik
akhir itu dengan sifat-sifat apa pun yang biasanya diberi kepada pencipta : kemahakuasaan,
kemahatahuan, kebaikan, kreativitas rancangan, belum lagi sifat-sifat manusia seperti mendengar
doa, mengampuni dosa dan membaca pemikiran yang terdalam. Kebetulan, fakta bahwa
kemahatahuan dan kemahakuasaan tidak dapat disesuaikan satu sama lain tidak luput dari
perhatian para ahli logika. Jika pencipta maha tahu, dia harus sudah tahu bagaimana dia akan ikut
campur untuk mengubah sejarah dengan menggunakan kemahakuasaannya. Tetapi itu berarti dia
tidak dapat berubah pikiran mengenai intervensinya, dan itu berarti dia tidak maha kuasa. Karen
Owens telah menggambarkan paradoks cerdik kecil ini dalam sajak:
Dapatkah pencipta Maha Tahu, yang
Tahu masa depan, menemukan
Kemahakuasaan untuk
Mengubah pikirannya di masa depan?
Kembali ke regresi tak terbatas dan kesia-siaan mengandalkan pencipta untuk
mengakhirinya, lebih pelit secara penjelasan untuk menciptakan, misalnya, suatu ‘singularitas
ledakan dahsyat’, atau semacam konsep fisik lain yang belum diketahui. Menamakannya pencipta
di satu sisi tidak berguna dan di sisi lain menyesatkan secara mencelakakan. Resep Konyol
Edward Lear untuk Crumboblious Cutlets mengajak kita untuk ‘Peroleh beberapa potongan
daging sapi, dan setelah sudah dipotong sekecil-kecilnya, potong lebih kecil lagi, delapan atau
barangkali sembilan kali.’ Beberapa regresi memang memiliki suatu titik akhir alami. Dulu, para
ilmuwan bertanya apa yang akan terjadi jika kita bisa membedah, misalnya, emas menjadi
potongan paling kecil yang mungkin. Kenapa kita tidak bisa membelah salah satu potongan itu
lagi dan menghasilkan potongan emas yang lebih kecil lagi? Regresi dalam kasus ini berakhir
secara tegas pada atom. Potongan emas yang paling kecil yaitu sebuah nukleus yang terdiri dari
persis 79 proton dan sejumlah neutron yang sedikit lebih besar, ditemani oleh sekerumunan 79
elektron. Jika emas ‘dipotong’ lebih kecil daripada tataran atom tunggal, apa yang dihasilkan
bukan emas lagi. Atom merupakan suatu titik akhir alami untuk regresi jenis Crumboblious
Cutlets. Belum tentu pencipta merupakan suatu titik akhir alami untuk regresi-regresi Aquinas.
Seperti kita akan lihat kemudian, di sini saya masih berbicara dengan agak sopan. Mari kita
berlanjut dalam daftar Aquinas.
4. Argumen dari Tahapan. Kita menyadari bahwa hal-hal di dunia berbeda satu dengan
yang lain. Ada tahap-tahap misalnya, dalam kebaikan atau kesempurnaan. Tetapi kita
menilai tahap tersebut hanya melalui perbandingan dengan suatu maksimum. Manusia
bisa menjadi baik dan buruk, jadi kebaikan maksimal tidak berada pada kita. Jadi harus
ada suatu maksimum yang lain yang menjadi tolok ukur untuk kesempurnaan, dan kita
menyebut maksimum itu pencipta .
Itukah suatu argumen? Kita bisa saja berkata, orang berbeda-beda dalam baunya tetapi
kita hanya bisa membandingkannya dengan merujuk suatu bau maksimum sempurna yang dapat
dibayangkan. Jadi harus ada sesuatu yang paling bau, tanpa saingan, dan kita menyebutnya
pencipta . Atau ganti dimensi perbandingan apa pun yang Anda inginkan, dan hasilkan kesimpulan
yang sama konyolnya.
5. Argumen Teleologis, atau Argumen dari Rancangan. Hal-hal di dunia, terutama makhluk
hidup, tampak seolah-olah dirancang. Tidak ada yang kita tahu yang tampak dirancang
kecuali hal itu dirancang. Jadi harus ada suatu perancang, dan kita menyebutnya pencipta .*
Aquinas sendiri menggunakan analogi anak panah yang mendekati sasaran, tetapi sebuah
peluru kendali melacak-panas anti-pesawat modern akan lebih cocok dengan tujuannya.
Argumen dari rancangan yaitu satu-satunya yang masih lazim digunakan saat ini, dan
* Saya tidak bisa tidak teringat akan silogisme abadi yang diselundupkan ke dalam suatu bukti Euklidean oleh
seorang teman sekolah, ketika kami belajar geometri: ‘Segitiga ABC tampak seperti segitiga sama sisi. Jadi...’
masih terdengar bagi banyak orang sebagai argumen yang mematikan. Darwin saat muda
terkesan olehnya ketika, sebagai mahasiswa sarjana di Cambridge, dia membacanya di Natural
Theology-nya William Paley. Sayangnya untuk Paley, Darwin saat dewasa membinasakannya.
Besar kemungkinan belum pernah ada kemenangan penalaran cerdik atas kepercayaan umum
yang begitu menghancurkan daripada destruksi Charles Darwin atas argumen dari rancangan. Itu
tidak terduga sama sekali. Berkat Darwin, sudah tidak benar mengatakan bahwa tidak ada yang
kita tahu yang tampak seolah-olah dirancang kecuali hal itu dirancang. Evolusi melalui seleksi
alam menghasilkan suatu peniruan luar biasa atas rancangan yang bahkan mencapai ketinggian
memukau kerumitan dan keanggunan. Dan di antara contoh rancangan semu yang paling unggul
ada sistem-sistem saraf yang – di antara prestasi-prestasi lain yang lebih sederhana –
memanifestasikan perilaku pencarian-tujuan yang, bahkan dalam serangga kecil, lebih
menyerupai sebuah peluru kendali melacak-panas canggih daripada sebilah anak panah biasa
menuju sasaran. Saya akan kembali ke argumen dari rancangan di Bab 4.
ARGUMEN ONTOLOGIS DAN ARGUMEN-ARGUMEN A PRIORI YANG LAIN
Argumen-argumen untuk eksistensi pencipta dapat dikelompokan menjadi dua kategori,
yakni, a priori dan a posteriori. Lima argumen Thomas Aquinas yaitu argumen a posteriori,
yang mengandalkan penyelidikan atas dunia. Argumen a priori yang paling terkenal, yaitu,
argumen yang hanya mengandalkan penalaran murni tanpa berurusan sama sekali dengan dunia
empiris, yaitu argumen ontologis, dikemukakan oleh Santo Anselmus dari Canterbury pada
1078 dan dirumus ulang dalam beberapa bentuk yang berbeda oleh berbagai filsuf sejak saat itu.
Salah satu aspek aneh dari argumen Anselmus yaitu , pada mulanya argumen itu tidak
dimaksudkan untuk didengar oleh manusia tetapi oleh pencipta sendiri, dalam bentuk doa
(bukankah dapat diduga bahwa entitas apa pun yang mampu mendengar doa tidak perlu dibujuk
mengenai eksistensinya sendiri?).
Dapat dibayangkan, kata Anselmus, suatu entitas yang darinya tiada yang lebih besar
yang dapat dibayangkan. Bahkan seorang ateis dapat membayangkan suatu entitas yang
sempurna itu, meskipun ia akan menyangkal eksistensinya di dunia nyata. Tetapi, menurut
argumennya, suatu entitas yang tidak ada di dunia nyata, karena fakta itu sendiri, kurang dari
sempurna. Jadi ada kontradiksi dan, sim salabim, pencipta ada!
Biarkan saya menerjemahkan argumen kekanak-kanakan ini ke dalam bahasa yang layak,
yakni, bahasa taman bermain:
‘Aku bisa membuktikan pencipta ada.’
‘Tidak bisa.’
‘Baiklah, bayangkan hal yang paling sempurna sempurna sempurna yang
mungkin ada.’
‘Baik, lalu?’
‘Lalu, apakah hal yang sempurna sempurna sempurna itu nyata? Apakah itu
ada?’
‘Tidak, itu hanya ada dalam pikiranku.’
‘Tetapi jika hal itu nyata, maka akan lebih sempurna lagi, karena sesuatu yang
benar-benar sempurna harus lebih baik dari sesuatu yang bodoh dan imajiner.
Jadi aku sudah membuktikan bahwa pencipta ada. Na na na na. Semua ateis itu
bebal.’
Saya membuat wakil anak saya memilih kata ‘bebal’ dengan alasan. Anselmus sendiri
mengutip ayat pertama Mazmur 14, ‘Orang bebal berkata dalam hatinya: “Tidak ada Allah,”’
dan dia cukup berani untuk menggunakan julukan ‘bebal’ (Latin insipiens) untuk ateis
hipotetisnya:
Jadi, bahkan orang bebal yakin bahwa sesuatu ada dalam pemahaman,
setidaknya, yang daripadanya tidak ada yang lebih besar yang dapat
dibayangkan. Karena, ketika dia mendengar tentang ini, dia memahaminya. Dan
apa pun yang dipahami, ada dalam pemahaman. Dan tentu saja itu, yang
daripadanya tidak ada yang lebih besar yang dapat dibayangkan, tidak bisa ada
hanya dalam pemahaman. Karena, andaikan bahwa itu ada hanya dalam
pemahaman: lalu dapat dibayangkan bahwa hal itu ada dalam realitas; dan itu
lebih besar.
Ide bahwa kesimpulan sebesar itu dapat ditarik dari penipuan semantik seperti itu bahkan
mengusik saya secara estetis, jadi saya harus berhati-hati untuk tidak terlalu enteng
menggunakan kata seperti ‘bebal’. Bertrand Russell (bukan orang bebal) secara menarik berkata,
‘lebih mudah merasa diyakinkan bahwa [argumen ontologis] harus keliru daripada menemukan
di mana persis kekeliruan itu berada.’ Russell sendiri, saat muda, untuk sementara diyakinkan
olehnya:
Saya mengingat momen persisnya, suatu hari di 1894 sambil saya berjalan
sepanjang Trinity Lane, ketika saya melihat sekejap (atau mengira bahwa saya
melihat) bahwa argumen ontologis itu sah. Saat itu saya sedang pulang setelah
membeli sekaleng tembakau; di jalan, saya tiba-tiba melemparkannya ke atas,
dan ketika menangkapnya, saya berseru: ‘Astaga, argumen ontologis itu sah.’
Kenapa, saya bertanya, dia tidak mengatakan sesuatu seperti: ‘Astaga, argumen ontologis
itu mungkin saja benar. Tetapi tidak mungkin suatu kebenaran agung mengenai kosmos akan
dihasilkan oleh permainan kata belaka? Saya harus mulai bekerja untuk menyelesaikan apa yang
barangkali yaitu paradoks, seperti paradoks-paradoks Zeno.’ Para Yunani sulit menyangkal
‘bukti’ Zeno bahwa Akhilles tidak pernah akan menangkap si kura-kura.* Tetapi mereka cukup
waras untuk tidak menyimpulkan bahwa karena itu Akhilles benar-benar tidak akan menangkap
si kura-kura. Mereka malah menyebutnya suatu paradoks dan menunggu penjelasan dari
generasi-generasi matematikawan di masa depan. Russell sendiri, tentu saja, seterkualifikasi
siapa pun untuk memahami kenapa kaleng tembakau seharusnya tidak dilempar untuk
merayakan kegagalan Akhilles menangkap si kura-kura. Kenapa dia tidak sewaswas itu dengan
Santo Anselmus? Saya menduga bahwa dia yaitu seorang ateis yang ingin wajar secara
berlebihan, begitu bersemangat untuk ditipu jika sepertinya itulah yang dituntut oleh logika.†
* Paradoks Zeno terlalu terkenal untuk detailnya dicatat di luar sebuah catatan kaki. Akhilles dapat lari 10 kali lebih
cepat daripada si kura-kura, jadi dia memberi hewan itu, misalnya, 100 meter terlebih dahulu. Akhilles lari 100
meter, dan kini si kura-kura berada 10 meter di depan. Akhilles lari 10 meter itu dan kini si kura-kura berada 1 meter
di depan. Akhilles lari 1 meter itu dan si kura-kura masih sepersepuluh meter di depan...dan seterusnya ad infinitum,
jadi Akhilles tidak pernah menangkap si kura-kura.
† Mungkin saat ini kita sedang menyaksikan suatu yang serupa dalam ketidaktegasan filsuf Antony Flew yang
terlalu dipublikasikan. Flew mengumumkan pada masa tuanya bahwa dia telah diyakinkan agar percaya akan
semacam pencipta (dan hal itu memicu kegaduhan repetisi yang bersemangat di seantero Internet). Di sisi lain, Russell
Atau barangkali jawabannya terdapat dalam sesuatu yang Russell tulis sendiri di 1946, lama
setelah dia sudah membuang argumen ontologis:
Pertanyaan yang seharusnya yaitu : Apakah ada apa pun yang kita bisa
pikirkan yang, hanya karena fakta bahwa kita bisa memikirkannya, maka
didemonstrasikan bahwa hal itu ada di luar pemikiran kita? Setiap filsuf ingin
berkata ya, karena tugas seorang filsuf yaitu mengetahui hal tentang dunia
melalui pemikiran, bukan pengamatan. Jika ya yaitu jawaban yang benar, ada
jembatan dari pemikiran murni ke hal-hal. Jika tidak, tidak.
Perasaan saya sendiri, sebaliknya, akan menjadi kecurigaan yang otomatis dan mendalam
terhadap garis penalaran apa pun yang mencapai suatu kesimpulan yang begitu signifikan tanpa
memasukkan secuil data pun dari dunia nyata. Barangkali fakta itu hanya menunjukkan bahwa
saya seorang ilmuwan, bukan seorang filsuf. Para filsuf selama berabad-abad memang telah
menganggap argumen ontologis serius, baik yang mendukungnya maupun yang menolaknya.
Filsuf ateis J.L. Mackie menawarkan suatu diskusi yang luar biasa jelas dalam The Miracle of
Theism. Seorang filsuf hampir dapat didefinisikan sebagai seorang yang tidak akan menerima
akal sehat (common sense) sebagai jawaban, dan saya memaksudkan pernyataan itu sebagai
pujian.
Penyangkalan-penyangkalan argumen ontologis yang paling menentukan biasanya
diatribusikan kepada para filsuf David Hume (1711–76) dan Immanuel Kant (1724–1804). Kant
mengidentifikasikan kartu sulap tersembunyi di lengan baju Anselmus sebagai asumsi liciknya
bahwa ‘eksistensi’ itu lebih ‘sempurna’ daripada non-eksistensi. Filsuf Amerika Norman
Malcolm merumuskannya sebagai berikut: ‘Doktrin bahwa eksistensi yaitu suatu
kesempurnaan itu sangat aneh. Masuk akal dan benar untuk berkata bahwa rumah saya di masa
depan akan menjadi rumah yang lebih baik jika terinsulasi dibandingkan dengan tidak; tetapi apa
artinya berkata bahwa rumah itu akan lebih baik jika ada dibandingkan dengan jika tidak ada?’46
Filsuf Australia Douglas Gasking membuat suatu parodi ironis atas argumen Anselmus, yang dia
tidak catat, tetapi argumennya telah direkonstruksi oleh William Grey dari Universitas
Queensland sebagai berikut:
1. Penciptaan dunia yaitu prestasi paling hebat yang dabat dibayangkan.
2. Kebaikan suatu prestasi merupakan produk dari (a) kualitas intrinsiknya, dan (b)
kemampuan penciptanya.
3. Semakin tidak mampu penciptanya, makin besar prestasinya.
4. Halangan paling hebat untuk suatu pencipta yaitu non-eksistensi.
yaitu filsuf besar. Russell pernah memenangkan Penghargaan Nobel. Mungkin apa yang dianggap sebagai konversi
Flew akan diberi Penghargaan Templeton. Satu langkah pertama menuju arah itu yaitu keputusannya yang
memalukan untuk menerima, di 2006, ‘Penghargaan Phillip E. Johnson untuk Kebebasan dan Kebenaran’.
Pemegang pertama Penghargaan Phillip E. Johnson yaitu Phillip E. Johnson, pengacara yang dianggap
menciptakan ‘strategi baji’ Rancangan Cerdas. Flew akan menjadi pemegang kedua. Universitas yang memberi
penghargaan itu yaitu BIOLA, Institut Alkitab Los Angeles. Kita harus bertanya apakah Flew menyadari bahwa
dia diperalat. Lihat Victor Stenger, ‘Flew’s flawed science’, Free Inquiry 25: 2, 2005, 17–18;
www.secularhumanism.org/index.php?section=library&page=stenger_25_2.
5. Jadi jika kita mengandaikan bahwa alam semesta yaitu produk dari suatu pencipta yang
ada, maka kita dapat membayangkan suatu entitas yang lebih besar – yakni, suatu
pencipta yang menciptakan segala sesuatu sementara ia sendiri tidak ada.
6. Karena itu, suatu pencipta yang ada tidak akan merupakan suatu entitas yang daripadanya
suatu entitas yang lebih besar tidak dapat dibayangkan karena suatu pencipta yang
bahkan lebih hebat dan luar biasa yaitu suatu pencipta yang tidak ada.
Jadi:
7. pencipta tidak ada.
Tidak perlu dikatakan bahwa Gasking tidak sebenarnya membuktikan bahwa pencipta tidak
ada. Menurut penalaran yang sama, Anselmus tidak membuktikan bahwa pencipta ada. Satu-
satunya perbedaan yaitu , Gasking sengaja membuat lelucon. Sebagaimana dia sadari, eksistensi
atau non-eksistensi pencipta yaitu suatu pertanyaan yang terlalu besar untuk diputuskan melalui
‘sulap dialektis’. Dan saya tidak menganggap penggunaan licik atas eksistensi sebagai indikator
kesempurnaan sebagai masalah terburuk argumen itu. Saya melupakan detailnya, tetapi saya
pernah mengganggu sekelompok teolog dan filsuf dengan menyadur argumen ontologis untuk
membuktikan bahwa babi bisa terbang. Mereka merasa perlu mengandalkan Logika Modal untuk
membuktikan bahwa saya salah.
Argumen ontologis, seperti semua argumen a priori untuk eksistensi pencipta ,
mengingatkan saya akan lelaki tua di Point Counter Point-nya Aldous Huxley yang menemukan
suatu bukti matematis untuk eksistensi pencipta :
Kau mengetahui rumus itu, m dibagi nol yaitu tak terhingga, jika m yaitu
bilangan positif apa pun? Jadi, kenapa tidak mereduksi persamaannya menjadi
bentuk yang lebih sederhana dengan mengalikan kedua sisinya dengan nol. Lalu
kita dapat m yaitu tak terhingga dikali nol. Dengan kata lain, suatu bilangan
positif yaitu produk dari nol dan tak terhingga. Bukankah itu
mendemonstrasikan penciptaan alam semesta dari ketiadaan oleh suatu
kekuasaan tak terbatas? Bukan?
Sayangnya, cerita terkenal tentang Diderot, sang pembuat ensiklopedia Pencerahan, dan
Euler, sang matematikawan Swiss, dapat diragukan. Menurut legendanya, Katerina yang Agung
mengadakan debat di antara mereka berdua di mana Euler yang saleh menantang Diderot yang
ateistik: ‘Monsieur, (a + bn)/n = x, jadi pencipta ada. Balas!’ Poin dari mitos itu yaitu Diderot
bukan matematikawan dan karena itu harus mundur kebingungan. Namun, sebagaimana
ditunjukkan dalam American Mathematical Monthly (1942), Diderot sebenarnya yaitu
matematikawan yang lumayan bagus, dan tidak begitu mungkin dikalahkan dengan apa yang
dapat disebut Argumen dari Pembutaan dengan Ilmu Pengetahuan (dalam kasus ini matematika).
David Mills, dalam Atheist Universe, mentranskripsikan suatu wawancara radio atas dirinya
sendiri oleh seorang juru bicara religius, yang menggunakan Hukum Kekekalan Massa-Energi
dalam usaha aneh dan sia-sia untuk membutakan dengan ilmu pengetahuan: ‘Karena kita semua
tersusun dari materi dan energi, bukankah prinsip ilmiah itu memberi kredibilitas kepada
kepercayaan akan kehidupan kekal?’ Mills membalas dengan lebih sabar dan lebih sopan
daripada saya dalam posisi itu, karena apa yang dikatakan oleh pewawancara itu, diterjemahkan
ke dalam bahasa sederhana, tidak lebih dari: ‘Ketika kita mati, tidak satu pun dari atom dalam
tubuh kita (dan tidak sedikit pun dari energinya) menghilang. Jadi kita kekal.’
Bahkan saya, dengan pengalaman saya yang panjang, belum pernah menemukan harapan
naif seperti itu. Namun, saya pernah menemukan banyak ‘bukti’ yang bagus sekali yang
dikumpulkan di http://www.godlessgeeks.com/LINKS/GodProof.htm, suatu daftar sangat lucu
atas ‘Lebih dari Tiga Ratus Bukti akan Eksistensi pencipta ’. Berikut enam yang lucu sekali, mulai
dengan Bukti Nomor 36.
36. Argumen dari Kebinasaan yang Kurang Lengkap: Sebuah pesawat jatuh, dengan korban
jiwa 143 penumpang dan awak. Tetapi satu anak bertahan hidup dengan hanya luka bakar derajat
III. Jadi pencipta ada.
37. Argumen dari Dunia-dunia yang Mungkin: Jika ada yang berbeda, berarti ada yang
berbeda. Itu akan buruk. Jadi pencipta ada.
38. Argumen dari Kemauan Belaka: Aku memang percaya akan pencipta ! Aku memang percaya
akan pencipta ! Aku percaya aku percaya aku percaya. Aku memang percaya akan pencipta ! Jadi
pencipta ada.
39. Argumen dari Ketidakpercayaan: Mayoritas populasi dunia tidak percaya pada Kristianitas.
Justru ini yang diinginkan oleh Iblis. Jadi pencipta ada.
40. Argumen dari Pengalaman Pasca-Kematian: Orang X mati sebagai ateis. Kini dia
menyadari akan kesalahannya. Jadi pencipta ada.
41. Argumen dari Pemerasan Emosional. pencipta mengasihimu. Bagaimana bisa kau tega tidak
percaya akannya? Jadi pencipta ada.
ARGUMEN DARI KEINDAHAN
Salah satu tokoh lain dalam novel Aldous Huxley yang baru disebut membuktikan
eksistensi pencipta dengan memutarkan kuartet gesek Beethoven nomor 15 dalam A minor
(‘heiliger Dankgesang’) di sebuah gramofon. Meskipun itu terdengar tidak meyakinkan,
pendekatan seperti itu mewakili suatu aliran argumen yang populer. Saya sudah tidak mampu
menghitung berapa kali saya menerima tantangan berikut, dengan tingkat kelancangan yang
bervariasi: ‘Kalau begitu, bagaimana bisa Anda menjelaskan Shakespeare?’ (Gantikan saja
dengan Schubert, Michelangelo, dst., sesuai selera.) Argumen itu akan begitu akrab, saya tidak
perlu mendokumentasikannya lebih lanjut. Tetapi logika di belakangnya tidak pernah dijelaskan,
dan semakin banyak dipikirkan semakin tampak kekosongannya. Tentu saja kuartet-kuartet akhir
Beethoven itu sublim. Sama dengan soneta-soneta Shakespeare. Mereka sublim jika pencipta ada
dan sublim jika tidak. Mereka tidak membuktikan eksistensi pencipta ; mereka membuktikan
eksistensi Beethoven dan Shakespeare. Konon, seorang konduktor agung pernah berkata: ‘Jika
ada Mozart untuk didengar, buat apa kita membutuhkan pencipta ?’
Saya pernah sebagai tamu mingguan di suatu acara radio Britania bernama Desert Island
Discs. Tamu harus memilih delapan rekaman yang akan dibawa jika terdampar di sebuah pulau
gurun. Di antara pilihan saya yaitu ‘Mache dich mein Herze rein’ dari karya Bach, Mätthaus-
Passion. Pewawancaranya tidak mampu memahami bagaimana saya bisa memilih musik religius
sementara saya tidak religius. Itu sama saja dengan berkata, bagaimana bisa Anda menikmati
Wuthering Heights jika Anda tahu bahwa Cathy dan Heathcliff tidak pernah sebenarnya ada?
Tetapi ada poin tambahan yang bisa saja saya sampaikan saat itu, dan yang harus
disampaikan kapan pun kepercayaan diberi pengakuan untuk, misalnya, Kapel Sistina atau Anunsiasi-
nya Raphael. Bahkan seniman-seniman besar harus mencari nafkah, dan mereka akan menerima
pesanan di mana pun mereka menemukannya. Saya tidak memiliki alasan untuk meragukan
bahwa Raphael dan Michelangelo yaitu junjungan kristen – itu hampir merupakan satu-satunya pilihan
pada zaman mereka – tetapi fakta itu hampir kebetulan. Kekayaannya yang luar biasa besar telah
menjadikan Gereja pendukung seni yang dominan saat itu. Jika sejarah terjadi secara yang
berbeda, dan Michelangelo dibayar untuk melukisi plafon untuk sebuah Museum Ilmu
Pengetahuan raksasa, mungkinkah dia bisa saja menghasilkan sesuatu yang setidaknya sama
menginspirasi dengan Kapel Sistina? Betapa menyedihkan bahwa kita tidak pernah akan
mendengar Simfoni Mesozoikum, atau opera Mozart, Alam Semesta yang Membesar. Dan sangat
disayangkan bahwa kita tidak diberikan Oratorio Evolusi Haydn – tetapi itu tidak menghalangi
kita dalam menikmati Schöpfung-nya. Untuk mendekati argumennya dari sisi lain, bagaimana
jika, seperti diusulkan secara merindingkan oleh istri saya, Shakespeare terpaksa menerima
komisi dari Gereja? Tentu saja kita kehilangan Hamlet, King Lear, dan Macbeth. Dan apa yang
akan kita dapat sebagai imbalan? Such stuff as dreams are made on? Tidak mungkin.
Jika ada suatu argumen logis yang mengaitkan eksistensi seni agung dengan eksistensi
pencipta , argumen itu tidak diuraikan oleh pendukungnya. Hal itu hanya diasumsikan nyata pada
dirinya sendiri, padahal tentu saja tidak. Mungkin pandangan mereka dimaksudkan untuk dilihat
sebagai salah satu versi lagi atas argumen dari rancangan: Otak musikal Schubert yaitu
keajaiban ketidakmungkinan, bahkan lebih ajaib daripada mata vertebrata. Atau, secara lebih
buruk, barangkali argumen mereka yaitu semacam kecemburuan terhadap kegeniusan.
Bagaimana bisa manusia lain berani membuat musik/puisi/seni yang begitu indah, jika saya tidak
bisa? Pasti pencipta yang melakukannya.
ARGUMEN DARI PENGALAMAN PRIBADI
Salah satu teman saya waktu kuliah yang agak lebih pintar dan lebih dewasa daripada
rata-rata, dan juga religius secara mendalam, pernah pergi berkemah di pulau-pulau Skotlandia.
Di tengah malam dia dan pacarnya dibangunkan dalam tendanya oleh suara Iblis – Iblis sendiri;
tidak dapat diragukan sama sekali: suara itu bukan main jahanamnya. Teman saya tidak pernah
akan melupakan pengalaman mengerikan ini, dan itu yaitu salah satu faktor yang kemudian
mendorongnya sehingga ditahbiskan. Diri pemuda saya sangat terkesan oleh ceritanya, dan saya
menceritakannya kepada sekelompok zoolog yang sedang bersantai di Rose and Crown Inn,
Oxford. Dua dari mereka kebetulan yaitu ornitolog berpengalaman, dan mereka terbahak-
bahak. ‘Penggunting-laut Manx!’ mereka teriak serentak dengan riang. Salah satunya menambah
bahwa teriakan dan penertawaan jahanam spesies ini telah mendapatkannya, di beberapa belahan
dunia dan berbagai bahasa, julukan lokal ‘Burung Iblis’.
Banyak orang percaya akan pencipta karena mereka percaya pernah melihat visi atasnya –
atau malaikat atau perawan berbaju biru – dengan matanya sendiri. Atau dia berbicara dengan
mereka di dalam pikirannya. Argumen ini dari pengalaman pribadi yaitu argumen paling
meyakinkan untuk mereka yang mengklaim pernah

