delusi tuhan 4

Tampilkan postingan dengan label delusi tuhan 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label delusi tuhan 4. Tampilkan semua postingan

delusi tuhan 4


 


untuk 

dampak psikosomatik yang mungkin bisa terjadi jika seseorang tahu bahwa dia didoakan. 

  Doa dikirimkan dari jemaat di tiga gereja, satu di Minnesota, satu di Massachusetts dan 

satu di Missouri, semua jauh dari ketiga rumah sakit. Para individu yang berdoa, sebagaimana 

sudah dijelaskan, diberikan hanya nama depan dan huruf pertama nama belakang setiap pasien 

yang akan didoakan. Salah satu praktek eksperimental yang baik yaitu  menstandarkan sejauh 

mungkin, dan karena itu, setiap orang yang berdoa disuruh untuk memasukkan dalam doanya 

frasa ‘untuk bedah yang berhasil dengan penyembuhan yang cepat dan sehat dan tanpa 

komplikasi’. 

  Hasilnya, dilaporkan dalam American Heart Journal dari April 2006, jelas. Tidak ada 

perbedaan di antara pasien yang didoakan dan mereka yang tidak didoakan. Mengejutkan sekali. 

Ada perbedaan di antara mereka yang tahu mereka sudah didoakan dan mereka yang tidak tahu 

sama sekali; tetapi perbedaan itu menuju ke arah yang salah. Mereka yang tahu bahwa mereka 

didoakan menderita jumlah komplikasi yang lumayan lebih banyak dibandingkan dengan mereka 

yang tidak didoakan. Apakah pencipta  menghajar mereka, untuk menunjukkan ketidaksetujuannya 

terhadap prakarsa konyol itu? Sepertinya lebih mungkin bahwa pasien-pasien yang tahu mereka 

didoakan menderita stres tambahan sebagai konsekuensi: ‘demam panggung’, sebagaimana 

ditulis oleh para pembuat eksperimen. Dr Charles Bethea, salah satu peneliti, berkata, ‘Mungkin 

itu membuat mereka ragu, bertanya apakah saya begitu sakit, sehingga tim doa harus dipanggil?’ 

Di masyarakat saat ini yang begitu suka menggugat, apakah kita boleh berharap bahwa pasien 

yang menderita komplikasi jantung, sebagai konsekuensi dari pengetahuan bahwa mereka 

menerima doa eksperimental, mungkin akan membuat gugatan perwakilan kelompok terhadap 

Yayasan Templeton? 

  Pembaca tidak akan terkejut mengetahui bahwa kajian ini dilawan oleh teolog, mungkin 

karena mereka khawatir tentang kemampuannya untuk menyebabkan ejekan terhadap kepercayaan . 

Teolog Oxford Richard Swinburne, yang menulis setelah kajiannya gagal, membantahnya atas 

dasar bahwa pencipta  membalas doa hanya jika doa itu dipanjatkan untuk alasan yang baik.37 

Berdoa untuk seseorang dan bukan untuk orang lain, hanya karena hasil acak dalam rancangan 

eksperimen buta ganda, tidak merupakan alasan yang baik. pencipta  akan melihat itu. Itu, memang, 

yaitu  maksud dari sindiran Bob Newhart saya, dan Swinburne juga benar untuk 

mengusulkannya. Tetapi dalam bagian-bagian lain dari makalahnya, Swinburne sendiri 

melampaui sindiran. Bukan untuk pertama kali, dia berusaha untuk membenarkan penderitaan 

dalam dunia yang diperintah oleh pencipta : 

   

Penderitaan saya memberi saya kesempatan untuk menunjukkan keberanian dan 

kesabaran. Penderitaan itu memberi Anda kesempatan untuk menunjukkan 

simpati dan membantu untuk meringankan penderitaan saya. Dan penderitaan 

itu memberi masyarakat kesempatan untuk memilih apakah akan menginvestasi 

banyak uang dalam usaha untuk mencari pengobatan untuk berbagai jenis 

penderitaan ...Walaupun suatu pencipta  yang baik menyesali penderitaan kita, 

urusan terbesarnya pasti yaitu  bahwa masing-masing kita menunjukkan 

kesabaran, simpati dan kemurahan hati dan, melalui itu, membentuk watak yang 

suci. Ada orang yang sangat perlu menjadi sakit demi dirinya sendiri, dan ada 

orang yang sangat perlu menjadi sakit untuk memberi pilihan penting kepada 

orang lain. Hanya dengan cara itu bisa orang bisa didorong untuk mengambil 

keputusan serius mengenai akan jadi orang macam apa dia. Untuk orang lain, 

penyakit tidak begitu berharga. 

 

  Penalaran yang menjijikkan ini, yang begitu tipikal bagi pikiran teologis secara yang 

menelanjangi kekeliruannya, mengingatkan saya akan suatu peristiwa ketika saya di panitia 

televisi dengan Swinburne, dan juga dengan kolega Oxford kami, Profesor Peter Atkins. 

Swinburne pada satu saat berusaha untuk membenarkan Shoah atas dasar diberikannya orang 

Yahudi kesempatan luar biasa untuk menjadi berani dan luhur. Peter Atkins dengan hebat 

menggerutu, ‘Semoga kau membusuk di neraka.’* 

  Salah satu potongan penalaran teologis yang lain terjadi lebih akhir di artikel Swinburne. 

Usulan dia benar bahwa jika pencipta  ingin menunjukkan eksistensinya sendiri, dia akan mencari 

cara-cara yang lebih baik daripada sedikit memengaruhi statistik penyembuhan kelompok 

eksperimental dibandingkan dengan kelompok kontrol pasien jantung. Jika pencipta  ada dan ingin 

meyakinkan kita akan hal itu, dia bisa ‘mengisi dunia dengan keajaiban super’. Tetapi kemudian 

Swinburne mengeluarkan kata-kata mutiara berikut: ‘Bagaimanapun, sudah ada cukup banyak 

bukti untuk eksistensi pencipta , dan terlalu banyak mungkin tidak akan baik untuk kita.’ Terlalu 

banyak mungkin tidak akan baik untuk kita! Bacalah sekali lagi. Terlalu banyak bukti mungkin 

tidak akan baik untuk kita. Richard Swinburne yaitu  pemegang (baru pensiun) salah satu posisi 

profesor teologi yang paling bergengsi, dan juga yaitu  Fellow British Academy. Jika Anda 

mencari teolog, tidak ada banyak yang dianggap lebih berwibawa. Barangkali Anda tidak 

mencari teolog. 

  Swinburne bukan satu-satunya teolog yang menyangkal kajian itu setelah kegagalannya. 

Pendeta Raymond J. Lawrence diberi ruang opini yang cukup luas dalam New York Times untuk 

menjelaskan kenapa pemimpin-pemimpin religius yang bertanggung jawab ‘akan merasa lega’ 

bahwa bukti kemujaraban  doa syafaat tidak ditemukan sama sekali.38 Apakah kata-katanya akan 

berbeda jika kajian Benson itu berhasil menunjukkan kekuatan doa? Mungkin tidak, tetapi kita 

bisa yakin bahwa banyak pastor dan teolog lain akan seperti itu. Tulisan Pendeta Lawrence 

paling mudah diingat untuk penyingkapan yang berikut: ‘Baru-baru ini, seorang kolega memberi 

tahu saya tentang seorang perempuan taat dan terpelajar yang menuduh dokternya malapraktik 

dalam pengobatan suaminya. Menjelang wafatnya suaminya, katanya dalam gugatannya, dokter 

itu tidak berdoa untuknya.’ 

  Teolog-teolog lain bergabung dengan orang-orang skeptis yang diinspirasi oleh NOMA 

dalam berargumen bahwa mengkaji doa dengan cara ini hanya membuang uang karena pengaruh 

supernatural menurut definisinya melampaui jangkauan ilmu pengetahuan. Tetapi sebagaimana 

                                                 

* Pertukaran kata-kata ini dipenggal dari versi siaran akhir. Bahwa pernyataan Swinburne itu tipikal bagi teologinya 

ditunjukkan oleh komentarnya yang agak serupa mengenai Hiroshima dalam The Existence of God (2004), Bab 6: 

‘Andaikan bahwa kurang satu orang terbakar oleh bom atomik Hiroshima. Lalu kesempatan untuk keberanian dan 

simpati akan berkurang juga...’ 

Yayasan Templeton kenali dengan benar saat mendanai kajian itu, apa yang dianggap sebagai 

kekuatan doa syafaat setidaknya secara prinsip berada dalam jangkauan ilmu pengetahuan. Suatu 

eksperimen buta ganda dapat dilakukan dan telah dilakukan. Eksperimen itu bisa saja 

menghasilkan hasil yang positif. Dan seandainya begitu, apakah Anda dapat membayangkan 

bahwa seorang tokoh apologetika religius pun akan menyangkal eksperimen itu atas dasar bahwa 

penelitian ilmiah tidak ada sangkut-pautnya dengan persoalan religius? Tentu saja tidak. 

  Tidak perlu dikatakan bahwa hasil negatif eksperimen itu tidak akan mengguncangkan 

orang yang beriman. Bob Barth, direktur rohani tempat bimbingan doa di Missouri yang 

menyediakan sebagian dari doa-doa eksperimental, berkata: ‘Seorang yang beriman akan berkata 

bahwa kajian ini menarik, tetapi kita sudah lama berdoa dan kita pernah melihat doa berhasil, 

kita tahu doa berhasil, dan penelitian mengenai doa dan kerohanian baru saja mulai.’ Ya, betul: 

kita tahu dari iman kita bahwa doa berhasil, jadi jika bukti gagal menunjukkannya kita akan 

berlanjut saja sampai akhirnya kita mendapat hasil yang kita inginkan. 

  

MAZHAB EVOLUSIONIS NEVILLE CHAMBERLAIN 

 

  Mungkin ada udang di balik batu bagi ilmuwan itu yang bersikeras akan NOMA – 

kekebalan Hipotesis pencipta  terhadap ilmu pengetahuan – yakni, suatu agenda politik khas 

Amerika, yang didorong oleh ancaman kreasionisme populis. Di bagian-bagian tertentu Amerika 

Serikat, ilmu pengetahuan sedang diserang oleh suatu oposisi yang terorganisasi dengan baik, 

berhubungan secara politik dengan baik, dan, di atas semua, didanai dengan baik, dan pengajaran 

evolusi berada di garis depan. Ilmuwan-ilmuwan dapat dimaafkan jika merasa terancam, karena 

kebanyakan uang penelitian akhirnya berasal dari pemerintahan, dan wakil-wakil yang dipilih 

harus melapor kepada orang yang tidak tahu-menahu dan berprasangka, bersama dengan orang 

yang terpelajar, di wilayah yang mereka wakili. 

  Sebagai tanggapan terhadap ancaman macam itu, suatu lobi pertahanan evolusi telah 

muncul, yang paling menonjol diwakili oleh Pusat Nasional Pendidikan Ilmu Pengetahuan 

(National Center for Science Education, NCSE), yang dipimpin oleh Eugenie Scott, seorang 

aktivis yang tidak pernah berhenti berjuang demi ilmu pengetahuan yang baru saja menghasilkan 

bukunya sendiri, Evolution vs. Creationism. Salah satu tujuan politik utama NCSE yaitu  untuk 

membujuk dan memobilisasi pendapat religius yang ‘bijaksana’: anggota gereja moderat yang 

tidak bermasalah dengan evolusi yang mungkin menganggapnya sebagai tidak relevan dengan 

(atau bahkan secara aneh mendukung) imannya. Kelompok moderat imam, teolog, dan orang 

beriman tidak fundamentalis ini, yang merasa malu terhadap kreasionisme karena merusak 

reputasi kepercayaan , menjadi sasaran utama bujukan lobi pertahanan evolusi. Dan salah satu cara 

untuk melakukan ini yaitu  dengan bersusah-payah hormat terhadap mereka dengan 

mempromosikan NOMA – setuju bahwa ilmu pengetahuan tidak mengancam sama sekali, 

karena terpisah dari klaim-klaim kepercayaan . 

  Salah satu tokoh terkemuka lain dalam apa yang kita dapat sebut sebagai mazhab 

evolusionis Neville Chamberlain yaitu  filsuf Michael Ruse. Ruse yaitu  pejuang yang berguna 

melawan kreasionisme,39 baik dalam tulisannya maupun di pengadilan. Dia mengklaim dirinya 

sebagai ateis, tetapi artikelnya dalam Playboy mengambil posisi bahwa 

   

kita yang mencintai ilmu pengetahuan harus menyadari bahwa musuhnya 

musuh kita yaitu  teman kita. Terlalu sering para evolusionis membuang waktu 

dengan menghina orang yang bisa menjadi sekutu. Hal ini khususnya benar 

mengenai para evolusionis sekuler. Orang ateis menghabiskan lebih banyak 

waktu untu menyerang orang junjungan kristen  yang sudah bersimpati daripada melawan 

para kreasionis. Ketika Yohanes Paulus II menulis surat yang mendukung 

Darwinisme, Richard Dawkins hanya menanggapi bahwa paus yaitu  orang 

munafik, bahwa dia tidak mungkin jujur mengenai ilmu pengetahuan dan bahwa 

Dawkins sendiri lebih memilih seorang fundamentalis yang jujur. 

 

  Dari sudut pandang yang murni taktis, saya bisa melihat daya tarik dangkal dalam 

perbandingan yang dibuat Ruse dengan perjuangan melawan Hitler: ‘Winston Churchill dan 

Franklin Roosevelt tidak menyukai Stalin dan komunisme. Tetapi ketika berjuang melawan 

Hitler mereka menyadari bahwa mereka harus bekerja dengan Uni Soviet. Orang evolusionis dari 

segala jenis harus bekerja sama juga untuk melawan kreasionisme. Tetapi saya akhirnya sepakat 

dengan kolega saya, ahli genetika Chicago Jerry Coyne, yang menulis bahwa Ruse 

   

gagal untuk memahami kodrat asli konflik ini. Persoalannya bukan hanya 

evolusi versus kreasionisme. Bagi ilmuwan seperti Dawkins dan Wilson [E.O. 

Wilson, biolog Harvard terkemuka], perang yang sesungguhnya terjadi di antara 

rasionalisme dengan takhayul. Ilmu pengetahuan hanya merupakan salah satu 

bentuk rasionalisme, sedangkan kepercayaan  yaitu  bentuk tahkayul yang paling 

umum. Kreasionisme hanyalah suatu gejala dari apa yang mereka lihat sebagai 

musuh yang lebih besar: kepercayaan . Sedangkan kepercayaan  bisa ada tanpa kreasionisme, 

kreasionisme tidak bisa ada tanpa kepercayaan .40 

 

  Ada satu hal yang sama di antara saya dengan para kreasionis. Seperti saya, tetapi 

berbeda dengan ‘mazhab Chamberlain’, mereka tidak berurusan dengan NOMA dan lingkup 

kewibawaannya yang terpisah. Jauh dari menghargai kemandirian wilayah ilmu pengetahuan, 

kreasionis-kreasionis paling suka menginjaknya dengan kakinya yang kotor. Dan mereka juga 

berkelahi kotor. Pengacara-pengacara untuk kreasionis, dalam kasus di pengadilan di daerah-

daerah kampung Amerika, mencari evolusionis yang ateis secara terbuka. Saya tahu – dan sangat 

malu – bahwa nama saya pernah digunakan seperti ini. Taktik itu mujarab karena juri-juri yang 

dipilih secara acak sangat mungkin berisi individu yang dibesarkan dengan kepercayaan bahwa 

ateis yaitu  penjelmaan iblis, setingkat dengan pedofil atau ‘teroris’ (setara dengan para penyihir 

di Salem atau para komunis bagi Joseph McCarthy). Pengacara kreasionis siapa pun yang sempat 

memeriksa saya di pengadilan bisa langsung memenangkan hati juri hanya dengan menanyai 

saya: ‘Apakah pengetahuan Anda mengenai evolusi telah memengaruhi Anda ke arah menjadi 

ateis?’ Saya harus menjawab ya, dan serentak saya akan kehilangan simpati juri. Sebaliknya, 

jawaban yang benar secara yudisial dari pihak sekularis yaitu : ‘Kepercayaan religius saya, atau 

ketiadaan kepercayaan itu, yaitu  persoalan privat, bukan urusan pengadilan ini dan juga tidak 

terkait sama sekali dengan ilmu pengetahuan.’ Saya tidak mampu mengatakan hal tersebut 

dengan jujur, untuk alasan yang akan saya jelaskan dalam Bab 4. 

  Wartawan Guardian Madeleine Bunting menulis sebuah artikel yang berjudul ‘Kenapa 

lobi rancangan cerdas bersyukur kepada pencipta  untuk Richard Dawkins’.41 Tidak ada indikasi 

dalam artikel itu bahwa dia berkonsultasi dengan siapa pun selain Michael Ruse, dan hasilnya 

akan sama seandainya Ruse sendiri yang menulis artikelnya.* Dan Dennett membalas, mengutip 

                                                 

* Hal yang sama dapat dikatakan mengenai sebuah artikel, ‘When cosmologies collide’, dalam New York Time, 22 

Januari 2006, oleh wartawan Judith Shulevitz yang cukup dihargai (tetapi biasanya lebih dipersiapkan). Peraturan 

Uncle Remus dengan tepat:  

   

Saya menganggap lucu bahwa dua orang Inggris – Madeleine Bunting dan 

Michael Ruse – telah tertipu oleh suatu versi penipuan paling terkenal di cerita 

rakyat Amerika (Why the intelligent design lobby thanks God for Richard 

Dawkins, 27 Maret). Ketika Brer Rabbit ditangkap oleh si rubah, dia bermohon: 

‘O tolong, tolong, Brer Fox, apa pun yang kau lakukan, jangan buang aku ke 

dalam semak berduri yang seram itu!’ – tempat dia berakhir aman setelah si 

rubah justru melakukan itu. Ketika tukang propaganda Amerika William 

Dembski dengan cara menghina menulis kepada Richard Dawkins, menyuruh 

dia agar meneruskan pekerjaannya yang baik demi rancangan cerdas, Bunting 

dan Ruse tertipu! ‘Aduh, Brer Fox, pernyataanmu yang terus terang – bahwa 

biologi evolusioner menyangkal ide akan suatu pencipta  pencipta – 

membahayakan pengajaran biologi di mata pelajaran IPA, karena mengajarkan 

itu akan melanggar pemisahan gereja dan negara!’ Betul. Sebaiknya fisiologi 

juga jangan terlalu ditekankan, karena menurutnya kelahiran dari perawan itu 

mustahil...42 

 

  Seluruh persoalan ini, termasuk suatu diskusi terpisah mengenai Brer Rabbit dan semak 

berduri, dibahas dengan baik oleh biolog P.Z. Myers, yang memiliki blog Pharyngula yang dapat 

diandalkan untuk pikiran sehat yang kritis.43 

  Maksud saya bukan bahwa kolega-kolega saya dari lobi ‘pengalahan’ niscaya tidak jujur. 

Mungkin mereka dengan tulus percaya pada NOMA, walaupun saya harus bertanya seberapa 

menyeluruh mereka sudah memikirkannya dan bagaimana mereka menyelesaikan konflik-

konflik internal dalam pikiran mereka. Persoalan itu tidak perlu dibahas lebih lanjut pada saat ini, 

tetapi siapa pun yang ingin memahami pernyataan-pernyataan terbitan ilmuwan mengenai hal-

hal religius sebaiknya mengingat konteks politiknya: perang-perang kultural sureal yang kini 

merusak Amerika. ‘Mengalah’ gaya-NOMA akan muncul lagi di bab yang lebih akhir. Di sini, 

saya kembali ke agnostisisme dan kemungkinan untuk mengurangi ketidaktahuan dan 

ketidakpastian kita secara yang dapat diukur mengenai eksistensi atau non-eksistensi pencipta . 

 

MAKHLUK-MAKHLUK ASING 

 

  Andaikan bahwa perumpamaan Bertrand Russell tidak bercerita tentang sebuah teko di 

luar angkasa tetapi kehidupan di luar angkasa – subjek penolakan Sagan yang mudah diingat 

untuk berpikir dengan firasat. Sekali lagi kita tidak dapat menyangkalnya, dan satu-satunya sikap 

yang murni rasional yaitu  agnostisisme. Tetapi hipotesis itu sudah tidak dangkal. Kita tidak 

langsung mencium bau ketidakmungkinan ekstrem. Kita bisa mengadakan argumen yang 

menarik berdasarkan bukti yang belum lengkap, dan kita dapat mencatat bukti jenis apa yang 

akan mengurangi ketidakpastian kita. Kita akan marah betul jika pemerintahan berinvestasi di 

teleskop-teleskop mahal hanya untuk tujuan mencari teko yang mengorbit. Tetapi kita bisa 

menerima kasus untuk mendanai SETI, Pencarian untuk Kecerdasan Ekstraterestrial, dengan 

menggunakan teleskop untuk memindai langit dengan harapan mendeteksi sinyal dari makhluk 

asing yang cerdas. 

                                                                                                                                                             

Pertama Perang Jenderal Montgomery yaitu  ‘Jangan serang Moskwa.’ Barangkali seharusnya ada Peraturan 

Pertama Jurnalisme Ilmu Pengetahuan: ‘Wawancarai setidaknya satu orang selain dari Michael Ruse.’ 

  Saya telah memuji Carl Sagan karena dia mengingkari firasat mengenai kehidupan asing. 

Tetapi seseorang bisa (dan Sagan melakukannya) membuat penilaian serius mengenai apa yang 

akan harus kita ketahui untuk memperkirakan probabilitasnya. Penilaian tersebut mungkin akan 

mulai dari sekadar membuat daftar poin-poin ketidaktahuan kita, seperti dalam Persamaan Drake 

yang terkenal yang, menurut kata-kata Paul Davies, mengumpulkan probabilitas-probabilitas. 

Persamaan itu mengatakan bahwa, untuk memperkirakan jumlah peradaban yang berevolusi 

secara mandiri di alam semesta, kita harus mengalikan tujuh bilangan. Tujuh bilangan tersebut 

termasuk jumlah bintang, jumlah planet-seperti-Bumi per bintang, dan probabilitas beberapa hal 

yang lain yang tidak perlu saya catat di sini karena saya hanya ingin menyampaikan poin bahwa 

semuanya tidak diketahui, atau diperkirakan dengan batas kesalahan yang sangat besar. Ketika 

begitu banyak bilangan yang sama sekali tidak diketahui atau hampir seperti itu dikalikan, 

hasilnya – jumlah peradaban makhluk asing yang diperkirakan – memiliki batas kesalahan yang 

begitu besar sehingga agnostisisme terkesan sangat masuk akal, dan bahkan sebagai satu-satunya 

sikap yang kredibel. 

  Beberapa bilangan dalam Persamaan Drake sudah kurang tidak diketahui dibandingkan 

dengan saat pertama kali dia mencatatnya di 1961. Pada saat itu, tata surya kita yang terdiri atas 

planet-planet yang mengorbit sebuah bintang pusat yaitu  satu-satunya yang diketahui, serta 

analogi-analogi lokal yang disediakan oleh sistem-sistem satelit Jupiter dan Saturnus. Perkiraan 

kita yang terbaik mengenai jumlah sistem yang mengorbit di alam semesta berdasarkan pada 

model-model teoretis, serta ‘prinsip kebiasaan’ yang kurang resmi: perasaan (yang lahir dari 

pelajaran sejarah kurang menyenangkan dari Copernicus, Hubble, dan orang lain) bahwa 

seharusnya tidak ada yang begitu luar biasa mengenai tempat yang kebetulan kita hidup. 

Sayangnya, prinsip kebiasaan pada gilirannya dikebiri oleh prinsip ‘antropik’ (lihat Bab 4): jika 

tata surya kita sebenarnya yaitu  satu-satunya di alam semesta, ini persis tempat kita, sebagai 

makhluk yang memikirkan persoalan seperti itu, akan harus hidup. Fakta belaka eksistensi kita 

dapat menentukan belakangan bahwa kita hidup di tempat yang sangat luar biasa. 

  Tetapi perkiraan saat ini mengenai penyebarluasan tata-tata surya sudah tidak 

berdasarkan pada prinsip kebiasaan, tetapi dihidupi oleh bukti langsung. Spektroskop, musuhnya 

positivisme Comte, menimpa sekali lagi.  Teleskop-teleskop tidak mampu melihat planet-planet 

yang mengorbit bintang-bintang lain secara langsung. Tetapi posisi sebuah bintang diganggu 

oleh tarikan gravitasi planet-planetnya sambil mereka mengelilinginya, dan spektrospok dapat 

mendeteksi geseran Doppler dalam spektrum bintang, setidaknya dalam kasus dengan planet 

pengganggu yang besar. Umumnya menggunakan metode ini, pada waktu penulisan buku ini  

kita mengetahui 170 planet ekstra-solar yang mengorbitkan 147 bintang,44 tetapi jumlah itu pasti 

sudah meningkat pada waktu Anda membaca buku ini. Sejauh ini, planet ekstra-solar itu 

merupakan ‘Jupiter-Jupiter’ yang besar, karena hanya Jupiter yang cukup besar untuk 

mengganggu bintang hingga memasuki zona detektabilitas bagi spektroskop-spektroskop saat 

ini. 

  Setidaknya, kita telah memperbaiki perkiraan kita secara kuantitatif atas salah satu 

bilangan dalam Persamaan Drake yang sebelumnya tersembunyi. Hal ini membolehkan suatu 

pengenduran yang signifikan, meskipun tetap moderat, atas agnostisisme kita mengenai nilai 

akhir yang dihasilkan oleh persamaan itu. Kita tetap harus agnostik mengenai kehidupan di 

planet-planet lain – tetapi sedikit kurang agnostik, karena kita tahu sedikit lebih banyak. Ilmu 

pengetahuan dapat perlahan mengurangi agnostisisme, dengan cara yang Huxley bersusah-payah 

sangkal dalam kasus istimewa pencipta . Saya berargumen bahwa, tanpa mengindahkan usaha 

Huxley, Gould, dan orang lain untuk secara sopan tidak ikut campur, pertanyaan pencipta  tidak 

secara prinsip dan selamanya melampaui wilayah ilmu pengetahuan. Sama seperti kodrat 

bintang, contra Comte, dan sama seperti kemungkinan akan kehidupan yang mengorbit di 

sekelilingnya, ilmu pengetahuan setidaknya dapat membuat serangan probabalistik ke dalam 

wilayah agnostisisme. 

  Definisi saya atas Hipotesis pencipta  memuat istilah-istilah ‘melampaui manusia’ dan 

‘supernatural’. Untuk menjelaskan perbedaannya, bayangkan bahwa sebuah teleskop radio SETI 

sungguh mendeteksi suatu sinyal dari luar angkasa yang menunjukkan, tanpa keraguan, bahwa 

kita tidak sendiri di alam semesta. Sebenarnya, penting juga pertanyaan mengenai sinyal macam 

apa yang akan meyakinkan kita atas asal-usul cerdasnya. Salah satu pendekatan yang bagus 

yaitu  membalikkan pertanyaannya. Apa yang harus kita lakukan secara cerdas agar 

memamerkan kehadiran kita kepada pendengar-pendengar ekstraterestrial? Pulsa-pulsa berirama 

tidak akan cukup. Jocelyn Bell Burnell, astronom radio yang pertama kali menemukan pulsar di 

1967, didorong oleh ketepatan periodisitas 1.33-detiknya, untuk menamakannya, setengah 

bercanda, sinyal LGM (Little Green Men, Makhluk-makhluk Asing). Dia kemudian menemukan 

sebuah pulsar kedua, di tempat lain di langit dan dengan periodisitas yang berbeda, yang rata-rata 

menghancurkan hipotesis LGM. Ritme-ritme seperti metronom dapat dihasilkan oleh banyak 

fenomena yang tidak cerdas, dari dahan yang bergoyang hingga air yang menetes, dari 

ketertinggalan waktu dalam umpan balik yang mengatur dirinya sendiri hingga benda-benda 

langit yang berputar dan mengorbit. Kini lebih dari seribu pulsar telah ditemukan di galaksi kita, 

dan pada umumnya diterima bahwa masing-masing yaitu  sebuah bintang neutron berputar yang 

mengeluarkan energi radio yang melemparkan energi tersebut di sekelilingnya seperti sinar 

cahaya dari mercusuar. Memukau memikirkan sebuah bintang yang berputar pada skala waktu 

detik (bayangkan jika masing-masing hari kita hanya berdurasi 1,33 detik daripada 24 jam), 

tetapi hampir segala hal yang kita ketahui mengenai bintang neutron memukau. Poin saya yaitu  

fenomena pulsar kini dipahami sebagai produk fisika dasar, bukan kecerdasan. 

  Jadi tidak ada yang sekadar berirama yang akan mengumumkan kehadiran cerdas kita 

kepada alam semesta yang menantikannya. Bilangan prima sering disebut sebagai resep pilihan, 

karena sulit memikirkan suatu proses murni fisik yang bisa menghasilkannya. Apakah dengan 

mendeteksi bilangan prima atau melalui cara lain, bayangkan bahwa SETI mendapat bukti yang 

tidak dapat diragukan akan kecerdasan ekstraterestrial, diikuti, barangkali, oleh suatu transmisi 

pengetahuan dan kebijaksanaan yang sangat besar, seperti dalam karya fiksi ilmiah seperti A for 

Andromeda-nya Fred Hoyle atau Contact-nya Carl Sagan. Bagaimana kita harus 

menanggapinya? Salah satu tanggapan yang dapat dimaafkan yaitu  suatu yang serupa dengan 

pemujaan, karena peradaban apa pun yang mampu menyiarkan sinyal sejauh itu kemungkinan 

besar jauh lebih hebat daripada peradaban kita. Meskipun peradaban itu tidak lebih maju 

daripada peradaban kita pada waktu transmisi, jarak yang luar biasa besar di antara kita 

mengizinkan kita untuk memperhitungkan bahwa mereka pasti beberapa milenium di depan kita 

pada waktu pesan itu sampai ke kita (kecuali mereka sudah memunahkan dirinya sendiri, yang 

mungkin saja terjadi). 

  Apakah kita mengetahui tentang mereka atau tidak, sangat mungkin bahwa ada 

peradaban asing yang melampaui manusia, hingga menyerupai pencipta  dalam cara yang melebihi 

apa pun yang dapat dibayangkan oleh seorang teolog. Prestasi teknisnya akan terkesan sama 

supernaturalnya bagi kita dengan prestasi kita untuk seorang petani Zaman Kegelapan yang 

dipindahkan ke abad ke-21 kita. Bayangkan tanggapannya terhadap komputer laptop, telepon 

genggam, bom hidrogen, atau pesawat berbadan lebar. Sebagaimana ditulis oleh Arthur C. 

Clarke, dalam Hukum Ketiganya: ‘Teknologi apa pun yang cukup maju tidak dapat dibedakan 

dengan sihir.’ Keajaiban-keajaiban yang dibuat oleh teknologi kita akan terkesan bagi orang-

orang kuno tidak kalah menakjubkan dengan kisah-kisah mengenai Musa yang membelah laut, 

atau junjungan kristen   yang berjalan di atasnya. Makhluk-makhluk asing dalam sinyal SETI kita akan 

seperti dewa bagi kita, sama seperti misionaris diperlakukan seperti dewa (dan mengekploitasi 

penghormatan yang tidak layak itu sebisa mungkin) ketika mereka muncul di budaya Zaman 

Batu membawa senjata api, teleskop, korek api, dan almanak yang memprediksi eklips pada 

skala detik.  

  Lalu, dalam arti apa makhluk asing SETI yang paling maju itu bukan dewa? Dalam arti 

apa mereka melampaui manusia tetapi bukan supernatural? Dalam arti sangat penting, yang 

bersenpencipta  dengan argumen inti buku ini. Perbedaan krusial di antara dewa dengan makhluk 

ekstraterestrial yang menyerupai dewa tidak berada pada sifatnya tetapi pada asal-usulnya. 

Entitas-entitas yang cukup rumit untuk menjadi cerdas yaitu  produk dari suatu proses 

evolusioner. Sebanyak apa pun mereka sepertinya menyerupai dewa saat kita menemuinya, 

mereka tidak bermula seperti itu. Penulis-penulis fiksi ilmiah, seperti Daniel F. Galouye dalam 

Counterfeit World, bahkan pernah mengemukakan (dan saya tidak tahu cara untuk 

menyangkalnya) bahwa kita hidup dalam suatu simulasi komputer yang dibuat oleh semacam 

peradaban yang sangat tinggi. Tetapi para pembuat simulasi itu sendiri harus berasal dari suatu 

tempat. Hukum-hukum probabilitas melarang segala gagasan bahwa mereka muncul secara 

spontan tanpa pendahulu yang lebih sederhana. Besar kemungkinan mereka berutang untuk 

eksistensinya kepada suatu versi (yang barangkali aneh) evolusi Darwinian: semacam ‘derek’ 

yang naik secara bertahap, dan bukan sebuah ‘kait dari langit’, menurut terminologi Daniel 

Dennett.45 Kait dari langit – termasuk semua pencipta  – yaitu  sihir. Mereka tidak melakukan 

pekerjaan penjelasan sejati dan menuntut lebih banyak penjelasan daripada yang mereka berikan. 

Derek-derek yaitu  alat penjelasan yang sebenarnya menjelaskan. Seleksi alam yaitu  derek 

terbaik sepanjang sejarah. Derek itu telah mengangkat kehidupan dari kesederhanaan purba 

hingga ketinggian kompleksitas, keindahan, dan penampakan rancangan yang memukau kita hari 

ini. Hal ini akan menjadi tema utama Bab 4, ‘Kenapa hampir pasti tidak ada pencipta ’. Tetapi 

sebelum berlanjut dengan alasan utama saya untuk tidak percaya secara aktif pada eksistensi 

pencipta , saya bertanggung jawab untuk menyingkirkan argumen-argumen positif untuk 

kepercayaan yang pernah ditawarkan sepanjang sejarah. 

  

BAB 3 

 ARGUMEN-ARGUMEN UNTUK EKSISTENSI pencipta  

 

Suatu posisi profesor teologi seharusnya tidak mendapat tempat di institusi kita. 

  – THOMAS JEFFERSON 

 

  Argumen-argumen untuk eksistensi pencipta  telah dikodifikasikan selama berabad-abad 

oleh teolog, dan ditambah oleh orang lain, termasuk para penyebar ‘akal sehat’ yang salah 

dipahami. 

 

‘BUKTI-BUKTI’ THOMAS AQUINAS 

 

  Lima ‘bukti’ yang dinyatakan oleh Thomas Aquinas pada abad ke-13 tidak membuktikan 

apa pun, dan dapat dibongkar sebagai kosong dengan mudah – tetapi saya enggan berkata 

demikian, karena Aquinas begitu terkemuka. Ketiga bukti yang pertama hanya merupakan tiga 

cara berbeda untuk mengatakan hal yang sama, dan dapat dipertimbangkan bersama. Semua 

melibatkan suatu regresi tak terbatas – jawaban terhadap suatu pertanyaan memunculkan suatu 

pertanyaan yang lebih dahulu, dan seterusnya ad infinitum. 

 

1. Penggerak yang Tak Digerakkan. Tidak ada yang bergerak tanpa suatu penggerak yang 

lebih dahulu. Hal ini membawa kita sampai ke suatu regresi, dan satu-satunya jalan 

keluar yaitu  pencipta . Sesuatu harus membuat gerakan yang pertama, dan hal itulah yang 

kita sebut pencipta . 

 

2. Sebab yang Tak Disebabkan. Tidak ada yang disebabkan oleh dirinya sendiri. Setiap 

akibat memiliki sebab yang lebih dahulu, dan sekali lagi kita didorong kembali ke 

regresi. Regresi itu harus diakhiri oleh suatu sebab pertama, yang kita sebut pencipta . 

 

3. Argumen Kosmologis. Harus ada waktu ketika tidak ada hal-hal fisik. Tetapi, karena hal-

hal fisik ada sekarang, pasti ada suatu yang non-fisik yang menjadikannya, dan hal itulah 

kita sebut pencipta . 

  

 Ketiga argumen tersebut mengandalkan ide regresi dan menggunakan pencipta  untuk 

mengakhirinya. Mereka membuat asumsi yang sama sekali tidak layak bahwa pencipta  sendiri 

kebal terhadap regresi. Seandainya kita memberi diri kita hak istimewa, yang kurang layak, 

untuk menciptakan secara arbitrer suatu titik akhir bagi regresi tak terbatas dan memberi titik itu 

nama, hanya karena kita membutuhkannya, tidak ada alasan sama sekali untuk mengaruniai titik 

akhir itu dengan sifat-sifat apa pun yang biasanya diberi kepada pencipta : kemahakuasaan, 

kemahatahuan, kebaikan, kreativitas rancangan, belum lagi sifat-sifat manusia seperti mendengar 

doa, mengampuni dosa dan membaca pemikiran yang terdalam. Kebetulan, fakta bahwa 

kemahatahuan dan kemahakuasaan tidak dapat disesuaikan satu sama lain tidak luput dari 

perhatian para ahli logika. Jika pencipta  maha tahu, dia harus sudah tahu bagaimana dia akan ikut 

campur untuk mengubah sejarah dengan menggunakan kemahakuasaannya. Tetapi itu berarti dia 

tidak dapat berubah pikiran mengenai intervensinya, dan itu berarti dia tidak maha kuasa. Karen 

Owens telah menggambarkan paradoks cerdik kecil ini dalam sajak: 

 

  Dapatkah pencipta  Maha Tahu, yang 

  Tahu masa depan, menemukan 

  Kemahakuasaan untuk 

  Mengubah pikirannya di masa depan? 

 

  Kembali ke regresi tak terbatas dan kesia-siaan mengandalkan pencipta  untuk 

mengakhirinya, lebih pelit secara penjelasan untuk menciptakan, misalnya, suatu ‘singularitas 

ledakan dahsyat’, atau semacam konsep fisik lain yang belum diketahui. Menamakannya pencipta  

di satu sisi tidak berguna dan di sisi lain menyesatkan secara mencelakakan. Resep Konyol 

Edward Lear untuk Crumboblious Cutlets mengajak kita untuk ‘Peroleh beberapa potongan 

daging sapi, dan setelah sudah dipotong sekecil-kecilnya, potong lebih kecil lagi, delapan atau 

barangkali sembilan kali.’ Beberapa regresi memang memiliki suatu titik akhir alami. Dulu, para 

ilmuwan bertanya apa yang akan terjadi jika kita bisa membedah, misalnya, emas menjadi 

potongan paling kecil yang mungkin. Kenapa kita tidak bisa membelah salah satu potongan itu 

lagi dan menghasilkan potongan emas yang lebih kecil lagi? Regresi dalam kasus ini berakhir 

secara tegas pada atom. Potongan emas yang paling kecil yaitu  sebuah nukleus yang terdiri dari 

persis 79 proton dan sejumlah neutron yang sedikit lebih besar, ditemani oleh sekerumunan 79 

elektron. Jika emas ‘dipotong’ lebih kecil daripada tataran atom tunggal, apa yang dihasilkan 

bukan emas lagi. Atom merupakan suatu titik akhir alami untuk regresi jenis Crumboblious 

Cutlets. Belum tentu pencipta  merupakan suatu titik akhir alami untuk regresi-regresi Aquinas. 

Seperti kita akan lihat kemudian, di sini saya masih berbicara dengan agak sopan. Mari kita 

berlanjut dalam daftar Aquinas. 

 

4. Argumen dari Tahapan. Kita menyadari bahwa hal-hal di dunia berbeda satu dengan 

yang lain. Ada tahap-tahap misalnya, dalam kebaikan atau kesempurnaan. Tetapi kita 

menilai tahap tersebut hanya melalui perbandingan dengan suatu maksimum. Manusia 

bisa menjadi baik dan buruk, jadi kebaikan maksimal tidak berada pada kita. Jadi harus 

ada suatu maksimum yang lain yang menjadi tolok ukur untuk kesempurnaan, dan kita 

menyebut maksimum itu pencipta . 

 

  Itukah suatu argumen? Kita bisa saja berkata, orang berbeda-beda dalam baunya tetapi 

kita hanya bisa membandingkannya dengan merujuk suatu bau maksimum sempurna yang dapat 

dibayangkan. Jadi harus ada sesuatu yang paling bau, tanpa saingan, dan kita menyebutnya 

pencipta . Atau ganti dimensi perbandingan apa pun yang Anda inginkan, dan hasilkan kesimpulan 

yang sama konyolnya. 

 

5. Argumen Teleologis, atau Argumen dari Rancangan. Hal-hal di dunia, terutama makhluk 

hidup, tampak seolah-olah dirancang. Tidak ada yang kita tahu yang tampak dirancang 

kecuali hal itu dirancang. Jadi harus ada suatu perancang, dan kita menyebutnya pencipta .* 

Aquinas sendiri menggunakan analogi anak panah yang mendekati sasaran, tetapi sebuah 

peluru kendali melacak-panas anti-pesawat modern akan lebih cocok dengan tujuannya. 

 

  Argumen dari rancangan yaitu  satu-satunya yang masih lazim digunakan saat ini, dan 

                                                 

* Saya tidak bisa tidak teringat akan silogisme abadi yang diselundupkan ke dalam suatu bukti Euklidean oleh 

seorang teman sekolah, ketika kami belajar geometri: ‘Segitiga ABC tampak seperti segitiga sama sisi. Jadi...’ 

masih terdengar bagi banyak orang sebagai argumen yang mematikan. Darwin saat muda 

terkesan olehnya ketika, sebagai mahasiswa sarjana di Cambridge, dia membacanya di Natural 

Theology-nya William Paley. Sayangnya untuk Paley, Darwin saat dewasa membinasakannya. 

Besar kemungkinan belum pernah ada kemenangan penalaran cerdik atas kepercayaan umum 

yang begitu menghancurkan daripada destruksi Charles Darwin atas argumen dari rancangan. Itu 

tidak terduga sama sekali. Berkat Darwin, sudah tidak benar mengatakan bahwa tidak ada yang 

kita tahu yang tampak seolah-olah dirancang kecuali hal itu dirancang. Evolusi melalui seleksi 

alam menghasilkan suatu peniruan luar biasa atas rancangan yang bahkan mencapai ketinggian 

memukau kerumitan dan keanggunan. Dan di antara contoh rancangan semu yang paling unggul 

ada sistem-sistem saraf yang – di antara prestasi-prestasi lain yang lebih sederhana – 

memanifestasikan perilaku pencarian-tujuan yang, bahkan dalam serangga kecil, lebih 

menyerupai sebuah peluru kendali melacak-panas canggih daripada sebilah anak panah biasa 

menuju sasaran. Saya akan kembali ke argumen dari rancangan di Bab 4. 

 

ARGUMEN ONTOLOGIS DAN ARGUMEN-ARGUMEN A PRIORI YANG LAIN 

 

  Argumen-argumen untuk eksistensi pencipta  dapat dikelompokan menjadi dua kategori, 

yakni,  a priori dan a posteriori. Lima argumen Thomas Aquinas yaitu  argumen a posteriori, 

yang mengandalkan penyelidikan atas dunia. Argumen a priori yang paling terkenal, yaitu, 

argumen yang hanya mengandalkan penalaran murni tanpa berurusan sama sekali dengan dunia 

empiris, yaitu  argumen ontologis, dikemukakan oleh Santo Anselmus dari Canterbury pada 

1078 dan dirumus ulang dalam beberapa bentuk yang berbeda oleh berbagai filsuf sejak saat itu. 

Salah satu aspek aneh dari argumen Anselmus yaitu , pada mulanya argumen itu tidak 

dimaksudkan untuk didengar oleh manusia tetapi oleh pencipta  sendiri, dalam bentuk doa 

(bukankah dapat diduga bahwa entitas apa pun yang mampu mendengar doa tidak perlu dibujuk 

mengenai eksistensinya sendiri?). 

  Dapat dibayangkan, kata Anselmus, suatu entitas yang darinya tiada yang lebih besar 

yang dapat dibayangkan. Bahkan seorang ateis dapat membayangkan suatu entitas yang 

sempurna itu, meskipun ia akan menyangkal eksistensinya di dunia nyata. Tetapi, menurut 

argumennya, suatu entitas yang tidak ada di dunia nyata, karena fakta itu sendiri, kurang dari 

sempurna. Jadi ada kontradiksi dan, sim salabim, pencipta  ada! 

  Biarkan saya menerjemahkan argumen kekanak-kanakan ini ke dalam bahasa yang layak, 

yakni, bahasa taman bermain: 

  

‘Aku bisa membuktikan pencipta  ada.’ 

‘Tidak bisa.’ 

‘Baiklah, bayangkan hal yang paling sempurna sempurna sempurna yang 

mungkin ada.’ 

‘Baik, lalu?’ 

‘Lalu, apakah hal yang sempurna sempurna sempurna itu nyata? Apakah itu 

ada?’ 

‘Tidak, itu hanya ada dalam pikiranku.’ 

‘Tetapi jika hal itu nyata, maka akan lebih sempurna lagi, karena sesuatu yang 

benar-benar sempurna harus lebih baik dari sesuatu yang bodoh dan imajiner. 

Jadi aku sudah membuktikan bahwa pencipta  ada. Na na na na. Semua ateis itu 

bebal.’ 

 

  Saya membuat wakil anak saya memilih kata ‘bebal’ dengan alasan. Anselmus sendiri 

mengutip ayat pertama Mazmur 14, ‘Orang bebal berkata dalam hatinya: “Tidak ada Allah,”’ 

dan dia cukup berani untuk menggunakan julukan ‘bebal’ (Latin insipiens) untuk ateis 

hipotetisnya: 

   

Jadi, bahkan orang bebal yakin bahwa sesuatu ada dalam pemahaman, 

setidaknya, yang daripadanya tidak ada yang lebih besar yang dapat 

dibayangkan. Karena, ketika dia mendengar tentang ini, dia memahaminya. Dan 

apa pun yang dipahami, ada dalam pemahaman. Dan tentu saja itu, yang 

daripadanya tidak ada yang lebih besar yang dapat dibayangkan, tidak bisa ada 

hanya dalam pemahaman. Karena, andaikan bahwa itu ada hanya dalam 

pemahaman: lalu dapat dibayangkan bahwa hal itu ada dalam realitas; dan itu 

lebih besar. 

 

  Ide bahwa kesimpulan sebesar itu dapat ditarik dari penipuan semantik seperti itu bahkan 

mengusik saya secara estetis, jadi saya harus berhati-hati untuk tidak terlalu enteng 

menggunakan kata seperti ‘bebal’. Bertrand Russell (bukan orang bebal) secara menarik berkata, 

‘lebih mudah merasa diyakinkan bahwa [argumen ontologis] harus keliru daripada menemukan 

di mana persis kekeliruan itu berada.’ Russell sendiri, saat muda, untuk sementara diyakinkan 

olehnya: 

   

Saya mengingat momen persisnya, suatu hari di 1894 sambil saya berjalan 

sepanjang Trinity Lane, ketika saya melihat sekejap (atau mengira bahwa saya 

melihat) bahwa argumen ontologis itu sah. Saat itu saya sedang pulang setelah 

membeli sekaleng tembakau; di jalan, saya tiba-tiba melemparkannya ke atas, 

dan ketika menangkapnya, saya berseru: ‘Astaga, argumen ontologis itu sah.’ 

 

  Kenapa, saya bertanya, dia tidak mengatakan sesuatu seperti: ‘Astaga, argumen ontologis 

itu mungkin saja benar. Tetapi tidak mungkin suatu kebenaran agung mengenai kosmos akan 

dihasilkan oleh permainan kata belaka? Saya harus mulai bekerja untuk menyelesaikan apa yang 

barangkali yaitu  paradoks, seperti paradoks-paradoks Zeno.’ Para Yunani sulit menyangkal 

‘bukti’ Zeno bahwa Akhilles tidak pernah akan menangkap si kura-kura.* Tetapi mereka cukup 

waras untuk tidak menyimpulkan bahwa karena itu Akhilles benar-benar tidak akan menangkap 

si kura-kura. Mereka malah menyebutnya suatu paradoks dan menunggu penjelasan dari 

generasi-generasi matematikawan di masa depan. Russell sendiri, tentu saja, seterkualifikasi 

siapa pun untuk memahami kenapa kaleng tembakau seharusnya tidak dilempar untuk 

merayakan kegagalan Akhilles menangkap si kura-kura. Kenapa dia tidak sewaswas itu dengan 

Santo Anselmus? Saya menduga bahwa dia yaitu  seorang ateis yang ingin wajar secara 

berlebihan, begitu bersemangat untuk ditipu jika sepertinya itulah yang dituntut oleh logika.† 

                                                 

* Paradoks Zeno terlalu terkenal untuk detailnya dicatat di luar sebuah catatan kaki. Akhilles dapat lari 10 kali lebih 

cepat daripada si kura-kura, jadi dia memberi hewan itu, misalnya, 100 meter terlebih dahulu. Akhilles lari 100 

meter, dan kini si kura-kura berada 10 meter di depan. Akhilles lari 10 meter itu dan kini si kura-kura berada 1 meter 

di depan. Akhilles lari 1 meter itu dan si kura-kura masih sepersepuluh meter di depan...dan seterusnya ad infinitum, 

jadi Akhilles tidak pernah menangkap si kura-kura. 

† Mungkin saat ini kita sedang menyaksikan suatu yang serupa dalam ketidaktegasan filsuf Antony Flew yang 

terlalu dipublikasikan. Flew mengumumkan pada masa tuanya bahwa dia telah diyakinkan agar percaya akan 

semacam pencipta  (dan hal itu memicu kegaduhan repetisi yang bersemangat di seantero Internet). Di sisi lain, Russell 

Atau barangkali jawabannya terdapat dalam sesuatu yang Russell tulis sendiri di 1946, lama 

setelah dia sudah membuang argumen ontologis: 

   

Pertanyaan yang seharusnya yaitu : Apakah ada apa pun yang kita bisa 

pikirkan yang, hanya karena fakta bahwa kita bisa memikirkannya, maka 

didemonstrasikan bahwa hal itu ada di luar pemikiran kita? Setiap filsuf ingin 

berkata ya, karena tugas seorang filsuf yaitu  mengetahui hal tentang dunia 

melalui pemikiran, bukan pengamatan. Jika ya yaitu  jawaban yang benar, ada 

jembatan dari pemikiran murni ke hal-hal. Jika tidak, tidak. 

 

  Perasaan saya sendiri, sebaliknya, akan menjadi kecurigaan yang otomatis dan mendalam 

terhadap garis penalaran apa pun yang mencapai suatu kesimpulan yang begitu signifikan tanpa 

memasukkan secuil data pun dari dunia nyata. Barangkali fakta itu hanya menunjukkan bahwa 

saya seorang ilmuwan, bukan seorang filsuf. Para filsuf selama berabad-abad memang telah 

menganggap argumen ontologis serius, baik yang mendukungnya maupun yang menolaknya. 

Filsuf ateis J.L. Mackie menawarkan suatu diskusi yang luar biasa jelas dalam The Miracle of 

Theism. Seorang filsuf hampir dapat didefinisikan sebagai seorang yang tidak akan menerima 

akal sehat (common sense) sebagai jawaban, dan saya memaksudkan pernyataan itu sebagai 

pujian. 

  Penyangkalan-penyangkalan argumen ontologis yang paling menentukan biasanya 

diatribusikan kepada para filsuf David Hume (1711–76) dan Immanuel Kant (1724–1804). Kant 

mengidentifikasikan kartu sulap tersembunyi di lengan baju Anselmus sebagai asumsi liciknya 

bahwa ‘eksistensi’ itu lebih ‘sempurna’ daripada non-eksistensi. Filsuf Amerika Norman 

Malcolm merumuskannya sebagai berikut: ‘Doktrin bahwa eksistensi yaitu  suatu 

kesempurnaan itu sangat aneh. Masuk akal dan benar untuk berkata bahwa rumah saya di masa 

depan akan menjadi rumah yang lebih baik jika terinsulasi dibandingkan dengan tidak; tetapi apa 

artinya berkata bahwa rumah itu akan lebih baik jika ada dibandingkan dengan jika tidak ada?’46 

Filsuf Australia Douglas Gasking membuat suatu parodi ironis atas argumen Anselmus, yang dia 

tidak catat, tetapi argumennya telah direkonstruksi oleh William Grey dari Universitas 

Queensland sebagai berikut: 

 

1. Penciptaan dunia yaitu  prestasi paling hebat yang dabat dibayangkan. 

 

2. Kebaikan suatu prestasi merupakan produk dari (a) kualitas intrinsiknya, dan (b) 

kemampuan penciptanya. 

 

3. Semakin tidak mampu penciptanya, makin besar prestasinya. 

 

4. Halangan paling hebat untuk suatu pencipta yaitu  non-eksistensi. 

                                                                                                                                                             

yaitu  filsuf besar. Russell pernah memenangkan Penghargaan Nobel. Mungkin apa yang dianggap sebagai konversi 

Flew akan diberi Penghargaan Templeton. Satu langkah pertama menuju arah itu yaitu  keputusannya yang 

memalukan untuk menerima, di 2006, ‘Penghargaan Phillip E. Johnson untuk Kebebasan dan Kebenaran’. 

Pemegang pertama Penghargaan Phillip E. Johnson yaitu  Phillip E. Johnson, pengacara yang dianggap 

menciptakan ‘strategi baji’ Rancangan Cerdas. Flew akan menjadi pemegang kedua. Universitas yang memberi 

penghargaan itu yaitu  BIOLA, Institut Alkitab Los Angeles. Kita harus bertanya apakah Flew menyadari bahwa 

dia diperalat. Lihat Victor Stenger, ‘Flew’s flawed science’, Free Inquiry 25: 2, 2005, 17–18; 

www.secularhumanism.org/index.php?section=library&page=stenger_25_2. 

 

5. Jadi jika kita mengandaikan bahwa alam semesta yaitu  produk dari suatu pencipta yang 

ada, maka kita dapat membayangkan suatu entitas yang lebih besar – yakni, suatu 

pencipta yang menciptakan segala sesuatu sementara ia sendiri tidak ada. 

 

6. Karena itu, suatu pencipta  yang ada tidak akan merupakan suatu entitas yang daripadanya 

suatu entitas yang lebih besar tidak dapat dibayangkan karena suatu pencipta yang 

bahkan lebih hebat dan luar biasa yaitu  suatu pencipta  yang tidak ada. 

 

Jadi: 

 

7.  pencipta  tidak ada. 

 

  Tidak perlu dikatakan bahwa Gasking tidak sebenarnya membuktikan bahwa pencipta  tidak 

ada. Menurut penalaran yang sama, Anselmus tidak membuktikan bahwa pencipta  ada. Satu-

satunya perbedaan yaitu , Gasking sengaja membuat lelucon. Sebagaimana dia sadari, eksistensi 

atau non-eksistensi pencipta  yaitu  suatu pertanyaan yang terlalu besar untuk diputuskan melalui 

‘sulap dialektis’. Dan saya tidak menganggap penggunaan licik atas eksistensi sebagai indikator 

kesempurnaan sebagai masalah terburuk argumen itu. Saya melupakan detailnya, tetapi saya 

pernah mengganggu sekelompok teolog dan filsuf dengan menyadur argumen ontologis untuk 

membuktikan bahwa babi bisa terbang. Mereka merasa perlu mengandalkan Logika Modal untuk 

membuktikan bahwa saya salah. 

  Argumen ontologis, seperti semua argumen a priori untuk eksistensi pencipta , 

mengingatkan saya akan lelaki tua di Point Counter Point-nya Aldous Huxley yang menemukan 

suatu bukti matematis untuk eksistensi pencipta : 

   

Kau mengetahui rumus itu, m dibagi nol yaitu  tak terhingga, jika m yaitu  

bilangan positif apa pun? Jadi, kenapa tidak mereduksi persamaannya menjadi 

bentuk yang lebih sederhana dengan mengalikan kedua sisinya dengan nol. Lalu 

kita dapat m yaitu  tak terhingga dikali nol. Dengan kata lain, suatu bilangan 

positif yaitu  produk dari nol dan tak terhingga. Bukankah itu 

mendemonstrasikan penciptaan alam semesta dari ketiadaan oleh suatu 

kekuasaan tak terbatas? Bukan? 

 

  Sayangnya, cerita terkenal tentang Diderot, sang pembuat ensiklopedia Pencerahan, dan 

Euler, sang matematikawan Swiss, dapat diragukan. Menurut legendanya, Katerina yang Agung 

mengadakan debat di antara mereka berdua di mana Euler yang saleh menantang Diderot yang 

ateistik: ‘Monsieur, (a + bn)/n = x, jadi pencipta  ada. Balas!’ Poin dari mitos itu yaitu  Diderot 

bukan matematikawan dan karena itu harus mundur kebingungan. Namun, sebagaimana 

ditunjukkan dalam American Mathematical Monthly (1942), Diderot sebenarnya yaitu  

matematikawan yang lumayan bagus, dan tidak begitu mungkin dikalahkan dengan apa yang 

dapat disebut Argumen dari Pembutaan dengan Ilmu Pengetahuan (dalam kasus ini matematika). 

David Mills, dalam Atheist Universe, mentranskripsikan suatu wawancara radio atas dirinya 

sendiri oleh seorang juru bicara religius, yang menggunakan Hukum Kekekalan Massa-Energi 

dalam usaha aneh dan sia-sia untuk membutakan dengan ilmu pengetahuan: ‘Karena kita semua 

tersusun dari materi dan energi, bukankah prinsip ilmiah itu memberi kredibilitas kepada 

kepercayaan akan kehidupan kekal?’ Mills membalas dengan lebih sabar dan lebih sopan 

daripada saya dalam posisi itu, karena apa yang dikatakan oleh pewawancara itu, diterjemahkan 

ke dalam bahasa sederhana, tidak lebih dari: ‘Ketika kita mati, tidak satu pun dari atom dalam 

tubuh kita (dan tidak sedikit pun dari energinya) menghilang. Jadi kita kekal.’ 

  Bahkan saya, dengan pengalaman saya yang panjang, belum pernah menemukan harapan 

naif seperti itu. Namun, saya pernah menemukan banyak ‘bukti’ yang bagus sekali yang 

dikumpulkan di http://www.godlessgeeks.com/LINKS/GodProof.htm, suatu daftar sangat lucu 

atas ‘Lebih dari Tiga Ratus Bukti akan Eksistensi pencipta ’. Berikut enam yang lucu sekali, mulai 

dengan Bukti Nomor 36. 

 

36. Argumen dari Kebinasaan yang Kurang Lengkap: Sebuah pesawat jatuh, dengan korban 

jiwa 143 penumpang dan awak. Tetapi satu anak bertahan hidup dengan hanya luka bakar derajat 

III. Jadi pencipta  ada. 

 

37. Argumen dari Dunia-dunia yang Mungkin: Jika ada yang berbeda, berarti ada yang 

berbeda. Itu akan buruk. Jadi pencipta  ada. 

  

38. Argumen dari Kemauan Belaka: Aku memang percaya akan pencipta ! Aku memang percaya 

akan pencipta ! Aku percaya aku percaya aku percaya. Aku memang percaya akan pencipta ! Jadi 

pencipta  ada. 

 

39. Argumen dari Ketidakpercayaan: Mayoritas populasi dunia tidak percaya pada Kristianitas. 

Justru ini yang diinginkan oleh Iblis. Jadi pencipta  ada. 

 

40. Argumen dari Pengalaman Pasca-Kematian: Orang X mati sebagai ateis. Kini dia 

menyadari akan kesalahannya. Jadi pencipta  ada. 

 

41. Argumen dari Pemerasan Emosional. pencipta  mengasihimu. Bagaimana bisa kau tega tidak 

percaya akannya? Jadi pencipta  ada. 

 

ARGUMEN DARI KEINDAHAN 

 

  Salah satu tokoh lain dalam novel Aldous Huxley yang baru disebut membuktikan 

eksistensi pencipta  dengan memutarkan kuartet gesek Beethoven nomor 15 dalam A minor 

(‘heiliger Dankgesang’) di sebuah gramofon. Meskipun itu terdengar tidak meyakinkan, 

pendekatan seperti itu mewakili suatu aliran argumen yang populer. Saya sudah tidak mampu 

menghitung berapa kali saya menerima tantangan berikut, dengan tingkat kelancangan yang 

bervariasi: ‘Kalau begitu, bagaimana bisa Anda menjelaskan Shakespeare?’ (Gantikan saja 

dengan Schubert, Michelangelo, dst., sesuai selera.) Argumen itu akan begitu akrab, saya tidak 

perlu mendokumentasikannya lebih lanjut. Tetapi logika di belakangnya tidak pernah dijelaskan, 

dan semakin banyak dipikirkan semakin tampak kekosongannya. Tentu saja kuartet-kuartet akhir 

Beethoven itu sublim. Sama dengan soneta-soneta Shakespeare. Mereka sublim jika pencipta  ada 

dan sublim jika tidak. Mereka tidak membuktikan eksistensi pencipta ; mereka membuktikan 

eksistensi Beethoven dan Shakespeare. Konon, seorang konduktor agung pernah berkata: ‘Jika 

ada Mozart untuk didengar, buat apa kita membutuhkan pencipta ?’ 

  Saya pernah sebagai tamu mingguan di suatu acara radio Britania bernama Desert Island 

Discs. Tamu harus memilih delapan rekaman yang akan dibawa jika terdampar di sebuah pulau 

gurun. Di antara pilihan saya yaitu  ‘Mache dich mein Herze rein’ dari karya Bach, Mätthaus-

Passion. Pewawancaranya tidak mampu memahami bagaimana saya bisa memilih musik religius 

sementara saya tidak religius. Itu sama saja dengan berkata, bagaimana bisa Anda menikmati 

Wuthering Heights jika Anda tahu bahwa Cathy dan Heathcliff tidak pernah sebenarnya ada? 

  Tetapi ada poin tambahan yang bisa saja saya sampaikan saat itu, dan yang harus 

disampaikan kapan pun kepercayaan  diberi pengakuan untuk, misalnya, Kapel Sistina atau Anunsiasi-

nya Raphael. Bahkan seniman-seniman besar harus mencari nafkah, dan mereka akan menerima 

pesanan di mana pun mereka menemukannya. Saya tidak memiliki alasan untuk meragukan 

bahwa Raphael dan Michelangelo yaitu  junjungan kristen  – itu hampir merupakan satu-satunya pilihan 

pada zaman mereka – tetapi fakta itu hampir kebetulan. Kekayaannya yang luar biasa besar telah 

menjadikan Gereja pendukung seni yang dominan saat itu. Jika sejarah terjadi secara yang 

berbeda, dan Michelangelo dibayar untuk  melukisi plafon untuk sebuah Museum Ilmu 

Pengetahuan raksasa, mungkinkah dia bisa saja menghasilkan sesuatu yang setidaknya sama 

menginspirasi dengan Kapel Sistina? Betapa menyedihkan bahwa kita tidak pernah akan 

mendengar Simfoni Mesozoikum, atau opera Mozart, Alam Semesta yang Membesar. Dan sangat 

disayangkan bahwa kita tidak diberikan Oratorio Evolusi Haydn – tetapi itu tidak menghalangi 

kita dalam menikmati Schöpfung-nya. Untuk mendekati argumennya dari sisi lain, bagaimana 

jika, seperti diusulkan secara merindingkan oleh istri saya, Shakespeare terpaksa menerima 

komisi dari Gereja? Tentu saja kita kehilangan Hamlet, King Lear, dan Macbeth. Dan apa yang 

akan kita dapat sebagai imbalan? Such stuff as dreams are made on? Tidak mungkin. 

  Jika ada suatu argumen logis yang mengaitkan eksistensi seni agung dengan eksistensi 

pencipta , argumen itu tidak diuraikan oleh pendukungnya. Hal itu hanya diasumsikan nyata pada 

dirinya sendiri, padahal tentu saja tidak. Mungkin pandangan mereka dimaksudkan untuk dilihat 

sebagai salah satu versi lagi atas argumen dari rancangan: Otak musikal Schubert yaitu  

keajaiban ketidakmungkinan, bahkan lebih ajaib daripada mata vertebrata. Atau, secara lebih 

buruk, barangkali argumen mereka yaitu  semacam kecemburuan terhadap kegeniusan. 

Bagaimana bisa manusia lain berani membuat musik/puisi/seni yang begitu indah, jika saya tidak 

bisa? Pasti pencipta  yang melakukannya. 

 

ARGUMEN DARI PENGALAMAN PRIBADI 

 

  Salah satu teman saya waktu kuliah yang agak lebih pintar dan lebih dewasa daripada 

rata-rata, dan juga religius secara mendalam, pernah pergi berkemah di pulau-pulau Skotlandia. 

Di tengah malam dia dan pacarnya dibangunkan dalam tendanya oleh suara Iblis – Iblis sendiri; 

tidak dapat diragukan sama sekali: suara itu bukan main jahanamnya. Teman saya tidak pernah 

akan melupakan pengalaman mengerikan ini, dan itu yaitu  salah satu faktor yang kemudian 

mendorongnya sehingga ditahbiskan. Diri pemuda saya sangat terkesan oleh ceritanya, dan saya 

menceritakannya kepada sekelompok zoolog yang sedang bersantai di Rose and Crown Inn, 

Oxford. Dua dari mereka kebetulan yaitu  ornitolog berpengalaman, dan mereka terbahak-

bahak. ‘Penggunting-laut Manx!’ mereka teriak serentak dengan riang. Salah satunya menambah 

bahwa teriakan dan penertawaan jahanam spesies ini telah mendapatkannya, di beberapa belahan 

dunia dan berbagai bahasa, julukan lokal ‘Burung Iblis’. 

  Banyak orang percaya akan pencipta  karena mereka percaya pernah melihat visi atasnya – 

atau malaikat atau perawan berbaju biru – dengan matanya sendiri. Atau dia berbicara dengan 

mereka di dalam pikirannya. Argumen ini dari pengalaman pribadi yaitu  argumen paling 

meyakinkan untuk mereka yang mengklaim pernah