Tentang hewan 3
nyukai atau
membenci ular, namun apa pun
pilihannya, manusia sudah seharusnya
menghargai keberadaan ular. Berbeda
dengan anjing dan kucing, misalnya,
ular tidak menginginkan adanya ikatan
dengan manusia. Ular memilih untuk
tidak mengabdi kepada manusia.
Ular hanya ingin dibiarkan begitu saja
dan diperbolehkan melakukan apa
yang diperlukannya dalam usahanya
mengabdi kepada Allah Yang Maha-
kuasa.
Henry Beston, seorang naturalis,
memberikan sebuah nasihat bijak
yang selaras dengan salah satu ayat di
dalam Al-Qur'an. Ia berkata, “Hewan
janganlah diukur dengan ukuran
manusia. Mereka bukan saudara kita,
bukan pula bawahan kita. Mereka
yaitu bangsa tersendiri, yang ter-
perangkap dalam kebersamaan
dengan kita dalam jaringan kehidupan
dan waktu. Mereka yaitu teman
sependeritaan manusia di dunia yang
gemerlapan dan rapuh ini.” Pesan
yang hampir sama dapat kita jumpai
dalam Al-Qur'an yang turun belasan
abad yang lalu. Allah berfirman,
Maka Kami kirimkan kepada mereka topan,
belalang, kutu, katak dan darah (air minum
berubah menjadi darah) sebagai bukti-bukti
yang jelas, namun mereka tetap menyombongkan
diri dan mereka yaitu kaum yang berdosa. (al-
A‘rāf/7: 133)
Ayat ini menyebut lima dari
sembilan mukjizat Nabi Musa, yang
dinyatakan dalam Surah al-Isrā'/17: 101
berikut.
Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di
bumi dan burung-burung yang terbang dengan
kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan
umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu
pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, lalu
kepada Tuhan mereka dikumpulkan. (al-An‘ām/6: 38)
2. KATAK
Katak disebut sebagai salah satu dari
rangkaian mukjizat yang Allah berikan
kepada Nabi Musa. Allah berfirman,
Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa
sembilan mukjizat yang nyata maka tanyakanlah
kepada Bani Israil, saat Musa datang kepada
mereka lalu Fir'aun berkata kepadanya, “Wahai
Musa! Sesungguhnya aku benar-benar menduga
engkau terkena sihir.” (al-Isrā'/17: 101)
Empat mukjizat sisanya yaitu
tongkat yang berubah menjadi ular
(al-A‘rāf/7: 107), telapak tangan yang
bercahaya (al-A‘rāf/7: 108), tahun-
tahun kekeringan, dan kekurangan
pangan akibat gagal panen (al-A‘rāf/7:
130).
Allah mendatangkan katak dalam
jumlah yang luar biasa besar kepada
penduduk Mesir. Semua lahan terbuka
mendadak dipenuhi katak. Katak juga
nerserakan di rumah-rumah; meloncat
kesana kemari dan mengotori makan-
an yang ada di atas meja. Hal ini
membuat warga Mesir sangat
tertekan. Mereka mendatangi Musa
dan berjanji akan melepaskan Bani
Israil dari kungkungan mereka. Musa
menyanggupi permintaan mereka;
berdoa kepada Allah, dan Dia pun
mengangkat bencana itu dari tanah
Mesir. Akan namun , alih-alih mem-
bebaskan Bani Israi l , penguasa
Mesir malah mengingkari janjinya.
Akibatnya Allah pun mendatangkan
mukjizat berikutnya yang menguatkan
kebenaran Musa. Tiba-tiba saja air
sungai Nil berubah menjadi darah.
Pengiriman gerombolan katak
kepada warga Mesir yaitu
bentuk siksa Allah kepada mereka
yang mendurhakai Al lah dan
melampaui batas. Sebelumnya Allah
telah menurunkan topan dan air
bah yang menghanyutkan apa saja
yang dilaluinya, serta angin ribut
disertai kilat, guntur, api, dan hujan
yang merusak segalanya. Allah juga
menurunkan belalang yang merusak
tumbuhan dan menghancurkan per-
sediaan makanan mereka, serta
kutu yang menggangu dan menjadi
penyakit bagi manusia. Allah juga
mengubah air minum menjadi darah.
Itulah bukti-bukti yang nyata dan rinci
atas kekuasaan Allah dan kebenaran
Nabi Musa. Sayangnya, warga
Mesir tetap saja mengingkari tanda-
tanda kekuasaan Allah itu.
Perikehidupan Katak
Al-Qur'an selalu menyebut katak dalam
kata aď-ďafādi‘ (al-A‘rāf/7: 133), bentuk
plural (jamak) dari aď-ďifda‘. Kata
ini diterjemahkan ke dalam bahasa
Inggris menjadi “frog”. Kelompok ini
dibedakan dari kodok atau bangkong
yang biasa disebut “toad”. Dua
istilah ini kadang dipertukarkan
pemakaian nya, padahal keduanya
memiliki perbedaan mendasar. Katak
bertubuh pendek, gempal atau kurus,
dengan punggung agak bungkuk dan
kaki belakang panjang, sedang
kodok lebih gempal penampilannya,
dengan kaki belakang yang relatif lebih
pendek. Anatomi kodok yang demikian
ini merupakan bentuk adaptasinya
terhadap lingkungan hidupnya, yakni
daratan. Perbedaan berikutnya yaitu
bentuk kulit. Katak pada umumnya
berkulit halus dan lembap. Sebaliknya,
kodok atau bangkong berkulit kasar
berbintil-bintil kecil sampai berbing-
kul-bingkul besar, dan kerap kali
kering.
berdasar fosil yang ditemu-
kan, katak diduga mulai dikenali dari
fosil Triadobatrachus massinoti yang
hidup 250 juta tahun lalu, dari masa
Triasic, dari Madagaskar. Tengkorak
kepalanya mirip dengan katak modern,
namun bagian tubuh lainnya berbeda.
Pada masa Jurassic (188–213 juta tahun
lalu) ditemukan fosil Vieraella herbsti
yang mirip dengan katak modern saat
ini. Dari rangkaian fosil yang berhasil
digali dipastikan bahwa hidup katak
modern dimulai pada 125 juta tahun
yang lalu. Fosil ditemukan di semua
benua, kecuali Antartika. Meski demi-
kian, dari sudut
biogeografi katak di-
perkirakan saat itu hidup
di Antartika sebab benua ini
saat itu jauh lebih hangat dari-
pada saat ini.
Kodok dan katak mengawali
hidupnya sebagai telur yang dile-
takkan induknya di air, di sarang busa,
di sela-sela lumut yang tumbuh di
pohon hutan, atau di tempat-
tempat basah lainnya. Beberapa
jenis katak hutan menitipkan telur-
nya di punggung katak atau kodok
jantan yang akan selalu menjaga
dan membawanya hingga menetas,
bahkan hingga menjadi kodok kecil.
Telur-telur kodok dan katak menetas
menjadi berudu atau kecebong, yang
bertubuh mirip ikan, bernafas dengan
insang dan selama beberapa lama
hidup di air. Perlahan-lahan akan
tumbuh kaki belakang, yang kemu-
dian diikuti dengan tumbuhnya kaki
depan, menghilangnya ekor, dan
bergantinya insang menjadi paru-paru.
Pembuahan pada kodok dilakukan
di luar tubuh. Kodok jantan akan
melekat di punggung betinanya dan
memeluk erat ketiak si betina dari
belakang. Sambil berenang di air, kaki
belakang kodok jantan akan memijat
perut kodok betina dan merangsang
pengeluaran telur. Pada saat yang
bersamaan kodok jantan melepaskan
spermanya ke air sehingga bisa mem-
buahi telur-telur yang dikeluarkan si
betina.
Kodok dan katak hidup menyebar
luas, terutama di daerah tropis yang
berhawa panas. Makin dingin suatu
daerah, seperti puncak gunung atau
di daerah bermusim empat (tem-
perate), makin sedikit jenis kodok
yang ditemukan. Ini disebabkan salah
satunya oleh karakter kodok dan katak
yang berdarah dingin. Sebagai hewan
berdarah dingin mereka membutuhkan
panas dari lingkungannya untuk mem-
pertahankan hidupnya dan menjaga
metabolisme tubuhnya.
Hewan ini dapat ditemui hidup
mulai dari hutan rimba, padang pasir,
tepi-tepi sungai dan rawa, perkebunan
dan sawah, hingga permukiman ma-
nusia. Kodok memangsa berbagai jenis
serangga yang ditemuinya.Sebaliknya,
kodok dimangsa oleh makhluk lain:
ular, kadal, burung (seperti bangau
dan elang), garangan, linsang, bahkan
manusia.
Kodok membela diri dengan
melompat jauh dan mengeluarkan
lendir dan racun dari kelenjar di
kulitnya. Beberapa jenis kodok meng-
hasilkan semacam lendir pekat yang
lengket, membuat mulut pemang-
sanya melekat erat dan susah dibu-
ka. Beberapa jenis kodok Bufo meng-
hasilkan racun yang memiliki unsur
psychoactive. Jenis Bufo alvarius
memiliki racun yang mengandung
dua macam racun, yaitu 5-MeO-
DMT dan bufotenin, saat jenis lain
hanya memiliki bufotenin. Racun
ini mengakibatkan halusinasi, dan
sudah dikenal dan dipakai dalam
beberapa upacara keagamaan pen-
duduk asli Indian Amerika di masa
Precolumbian.
Semua kelompok kodok
memiliki kelenjar racun
(parotoid gland) yang terletak di
belakang mata, di bagian atas kepala.
Beberapa jenis katak, terutama katak
pohon, dikenal sangat beracun.
Efek racunnya bervariasi, dari
sekedar menimbulkan rasa
gatal hingga halusinasi, kera-
cunan syaraf, convulsants, sampai
vasoconstrictors.
Jenis-jenis katak beracun yang
hidup di hutan hujan Amerika Tengah
dan Amerika Selatan sangat terkenal
akan keindahan dan perpaduan warna
kulitnya yang mencolok. Kelompok ini
dikenal sebagai poison dart frogs atau
poison arrow frogs. Istilah ini mungkin
berasal dari kebiasaan penduduk asli
Indian yang mengoleskan racun dari
kulit katak ini ke mata panah untuk
berburu. Berbeda dari kelompok
katak pada umumnya, jenis-jenis dari
suku Dendrobatidae ini aktif pada
siang hari. Jenis yang dimiliki oleh
suku ini cukup banyak, sekitar 175-an
jenis. Ukuran tubuhnya amat kecil,
hanya berkisar antara 1,5 cm sampai
6 cm, dengan berat sekitar 2 gram
saja. Warna yang cemerlang memberi
peringatan kepada pemangsa. Warna
ini mengindikasikan tingkat kandungan
racun dan alkaloid pada kulit ini .
Kebanyakan jenis poison dart
frogs yaitu orang tua yang baik. Ada
jenis-jenis yang membawa berudu
yang baru menetas di lendir yang ada
punggungnya, dan membawanya
ke puncak pohon. Di sana mereka
menempatkan berudu pada genangan
air yang tertampung pada tanaman
epifit. Masing-masing berudu akan
menempati genangan air tersendiri
sebab sifat kanibalnya.
Katak banyak muncul dalam
cerira rakyat, dongeng, dan budaya
populer. Gambaran yang biasa dibe-
rikan terhadap katak atau kodok
yaitu buruk rupa, canggung, namun
memiliki talenta tersembunyi.Pada
masa Peru Kuno, warga Moche
mendewakan binatang, dan mencan-
tumkan katak dalam ukiran-ukiran
mereka.
Dalam Al-Qur'an, katak dikaitkan
dengan siksa yang Allah turunkan
kepada kaum Firaun sebagai bukti
nyata dan rinci atas kekuasaan Allah
dan kebenaran Musa, namun mereka
tetap saja menyombongkan diri.
Meski konteksnya demikian, namun
itu tidak berarti katak selalu menjadi
musibah bagi manusia. Katak dan
kodok memiliki tempat tersendiri
dalam hati manusia. Perikehidupannya
banyak memberi contoh untuk diman-
faatkan bagi kesejahteraan hidup
manusia. Allah berfirman,
Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah
telah menundukkan apa yang ada di langit dan
apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu
dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir
dan batin. namun di antara manusia ada yang
membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu
atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi
penerangan. (Luqmān/31: 20)
B. HEWAN MENYUSUI
Hewan menyusui atau mamalia
termasuk hewan bertulang belakang
dan bernafas dengan paru-paru.
Kelompok mamalia dibedakan dari
kelompok hewan bertulang belakang
lainnya dengan adanya kelenjar
keringat, dan kelenjar air susu pada
hewan betinanya. Mamalia juga
dapat dibedakan dari hewan lainnya
dengan adanya rambut dan/atau bulu
di seluruh tubuhnya, baik pada hewan
betina maupun jantannya.
Pada saat ini diperkirakan ada
sekitar 5.400 jenis hewan menyusui,
dengan ukuran tubuh bervariasi, dari
30-an milimeter sampai dengan 33
meter. Mamalia terkecil yang diketahui
yaitu bumblebee-bat (Craseonycteris
thonglongyai), satu jenis kelelawar
yang hidup di gua-gua di beberapa
bagian Thailand. Ukuran tubuhnya
sekitar 29–33 milimeter, dengan
berat hanya 1,7–2 gram. Mamalia
terbesar yaitu paus biru (Balaenotera
musculus). Hewan ini memiliki panjang
tubuh lebih dari 33 meter, dengan
berat badan mencapai 181 metrik ton
atau lebih. Adapun kelompok dengan
jumlah individu terbanyak dari hewan
menyusui diwakili oleh Rodentia, seje-
nis hewan pengerat (tikus, landak, dan
sejenisnya), disusul lalu oleh
kelompok Chiroptera (kelelawar) dan
kelompok Soricormorpha (celurut).
Jenis mamalia muncul pada masa
Triassic (sekitar 200 juta tahun lalu).
Mula-mula banyak jenis yang mirip
mamalia, namun sebenarnya bukan.
Ini hanya merupakan percabangan-
percabangan dari kelompok yang
disebut synasids, yang di antaranya
akan menurunkan mamalia. Kelompok-
kelompok mamalia modern muncul
pada masa Palaecene dan Eocene.
Jenis pertama yang menyerupai
mamalia muncul pada masa Triassic. Fosil
Hadrocordium yang ditemukan pada
masa Jurassic (sekitar 195 juta tahun lalu)
memperlihatkan perupa-an mamalia
modern. Banyak ahli memperkirakan
bahwa munculnya kelenjar penghasil air
susu dimulai dari keperluan untuk selalu
membasahi telur yang disimpan dalam
suatu kantung di tubuhnya.
Sebagian besar mamalia melahir-
kan anaknya, suatu sistem reproduksi
yang biasa disebut vivipar; hanya
beberapa jenis yang bertelur. Meski
demikian, ada dua jenis mamalia, yakni
platypus Ornithorhynchus anatinus)
dan echidna (Echidna hystrix) yang
memiliki cara reproduksi berbeda
dari kedua cara di atas. Kedua jenis
ini bereproduksi dengan bertelur,
namun di saat yang sama keduanya
menghasilkan air susu sebagai sumber
nutrisi bagi anak-anaknya. Keduanya
ditemukan hidup secara alami di
Australia dan Papua Nugini.
Kebanyakan mamalia mempu-
nyai tulang leher. Hanya beberapa
jenis mamalia yang tak bertulang
leher, di antaranya jenis-jenis ikan
duyung. Paru-paru mamalia memiliki
bentuk seperti spons. Spons ini
seolah-olah berlubang-lubang oleh
banyaknya saluran yang disebut
epithelium. Proses bernafas sebagian
besar disebabkan gerakan dari
diafragma yang berotot. Diafragma
yaitu sekat yang memisahkan
rongga dada dan rongga perut,
serta menonjol ke arah rongga dada.
Kontraksi otot akan memicu
diafragma mendatar sehingga rongga
mamalia dengan tingkat intelegensi
tinggi alias cerdas.
Mamalia berevolusi dari nenek
moyang yang memiliki empat kaki.
Mereka memakai nya untuk me-
manjat, berenang, berjalan, dan ter-
bang. Beberapa jenis mamalia darat
memiliki jari yang dilengkapi kuku
untuk memanjat dan tumit untuk
berlari. Mamalia laut, seperti ikan
paus dan dolphin, memiliki sirip yang
berevolusi dari kaki.
Seperti dinyatakan sebelumnya,
untuk mempertahankan agar suhu
tubuh dan darahnya tetap hangat,
mamalia memerlukan asupan makan-
an yang cukup. saat mamalia untuk
pertama kali hadir di bumi, mereka
diduga berperan hanya sebagai
pemangsa. Dalam perkembangan-
nya secara perlahan beberapa jenis
memperkaya dietnya dengan tumbuh-
an. Dengan demikian, beberapa jenis
khusus memangsa hewan lain, baik
mamalia, burung, dan juga serangga.
Mereka ini disebut karnivora. Sebagian
yang lain memakan tumbuhan, dan
disebut herbivora. Sebagian lainnya
lagi memakan hewan dan tumbuhan,
dan disebut omnivora.
Hewan menyusui atau mamalia
disebut dalam banyak ayat maupun
hadis. Penyebutannya terkadang
dalam bentuk sangat umum, seperti
ternak, hewan melata, atau hewan
dada memiliki ruang yang luas.
Saat itu udara masuk ke dalam paru-
paru. Kontraksi selanjutnya akan
membuat rongga perut membesar
dan rongga dada menyempit. Saat itu
udara di tekan keluar dari paru-paru.
Cara kerjanya sangat mirip dengan
alat peniup api yang dipakai oleh
pandai besi.
Mamalia masuk dalam kelompok
hewan berdarah panas. Hampir semua
jenis mamalia memiliki rambut di
bagian luar tubuhnya untuk menjaga
agar badannya tetap hangat. Seperti
halnya burung, mamalia masih dapat
berburu pada musim yang sangat
dingin, saat kelompok ular dan
serangga tidak dapat melakukannya.
Sebagai hewan berdarah panas,
mamalia memerlukan banyak makanan
sebagai sumber energinya. Mamalia
kecil pemakan serangga, misalnya,
harus makan seberat bobot tubuhnya
dalam sehari.
Mamalia dengan tingkat intele-
gensi tinggi, seperti kera, memiliki
bagian otak bernama cerebrum
dengan ukuran lebih besar daripada
bagian otak lainnya. Intelegensi sendiri
tidak mudah didefinisikan dengan
pasti, namun untuk memudahkan bisa-
lah kita mengatakan bahwa intelegensi
yaitu suatu kemampuan untuk
belajar, yang sesuai dengan perilaku.
Tikus, misalnya, dianggap sebagai
Nanti (ada orang yang akan) mengatakan,
”(Jumlah mereka) tiga (orang), yang ke empat
yaitu anjingnya,” dan (yang lain) mengatakan,
“(Jumlah mereka) lima (orang), yang ke enam
yaitu anjingnya,” sebagai terkaan terhadap
yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan,
“(Jumlah mereka) tujuh (orang), yang ke delapan
yaitu anjingnya.” Katakanlah (Muhammad),
“Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka;
tidak ada yang mengetahui (bilangan) mereka
kecuali sedikit.” sebab itu janganlah engkau
(Muhammad) berbantah tentang hal mereka,
kecuali perbantahan lahir saja dan jangan engkau
menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda
itu) kepada siapa pun. (al-Kahfi/18: 22)
Menurut sebuah riwayat nama
anjing ini yaitu Qitmir atau
Raqim. Anjing juga dikaitkan dengan
sifat buruk seseorang, misalnya
mereka yang selalu mengikuti hawa
nafsunya dan mengingkari kehadiran
Tuhan.
liar; terkadang dalam bentuk sangat
spesifik dengan menyebut jenis
hewannya dengan jelas, misalnya
kambing, domba, sapi, unta, keledai,
bagal, kuda, dan lainnya. Hewan-
hewan ini terkadang dijadikan oleh Al-
Qur'an maupun hadis sebagai tamsil,
peringatan, tanda kekuasaan Allah,
hingga sebagai sesuatu yang sifatnya
fisik. Uraian lebih panjang mengenai
mamalia dapat disimak dalam bahasan
berikut.
1. ANJING
Anjing disebut dalam beberapa ayat
Al-Qur'an. Anjing, misalnya, disebut
dalam rangkaian kisah para pemuda
penghuni gua (așĥābul-kahf) berikut.
Dan engkau mengira mereka itu tidak tidur,
padahal mereka tidur; dan Kami bolak-balikkan
mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka
membentangkan kedua lengannya di depan pintu
gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentu
kamu akan berpaling melarikan (diri) dari mereka
dan pasti kamu akan dipenuhi rasa takut terhadap
mereka. (al-Kahfi/18: 18)
59Hewan dalam Al-Qur'an
yang hidup menggelandang. Anjing
yang seperti ini dapat saja membawa
beberapa penyakit sehingga dianggap
tidak bersih. Mungkin inilah yang
mendasari hadis di bawah ini,
اْلَيَُّة : َواْلََرِم لِّ اْلِ ِف ُيْقَتْلَن َفَواِسُق َخٌْس
اْلَعُقْوُر َواْلَكْلُب َواْلَفْاَرُة األَْبَقُع َواْلُغَراُب
ا . )رواه مسلم عن عائشة( َواْلَُديَّ
Ada lima hewan (bertabiat) buruk yang boleh
dibunuh di tanah halal maupun di tanah haram.
Mereka itu yaitu ular, burung gagak berbulu
campuran antara hitam dan putih, tikus, anjing
ganas, dan kalajengking. (Riwayat Muslim dari
‘Ā'isyah)
Ayat berikut ini berbicara tentang
binatang buas yang telah diajari
pemiliknya cara berburu menurut
kepandaian yang diperolehnya dari
pengalaman dan ide manusia, serta
ilham dari Allah. Termasuk dalam
golongan binatang buas terlatih
yang halal hasil buruannya yaitu
anjing pemburu, elang pemburu, dan
cheetah.
Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami
tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat)
itu, namun dia cenderung kepada dunia dan
mengikuti keinginannya (yang rendah), maka
perumpamaannya seperti anjing, jika kamu
menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu
membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga).
Demikianlah perumpamaan orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah
kisah-kisah itu agar mereka berpikir. (al-A‘rāf/7:
176)
Perumpamaan ini memperlihat-
kan perilaku anjing. Anjing hampir
selalu tampak menjulurkan lidah dan
meneteskan air liurnya. Ini dilakukan-
nya begitu saja tanpa menunggu
sebab tertentu, misalnya diserang,
dikejar, melepas lelah, atau istirahat.
Keadaan yang demikian ini menjadi
permisalan orang-orang yang menolak
kehadiran Allah. Baik sudah diberi
peringatan maupun belum, mereka
akan selalu meludahkan air liurnya
yang kotor. Perilaku demikian ini
muncul dari dan merusak jiwa mereka
sendiri. Akan namun , ia berpotensi
untuk menularkannya kepada orang
lain. sebab itu, semua orang harus
melindungi diri dari pengaruh mereka
itu. yaitu tugas semua orang untuk
memperingatkan dan menyadarkan
mereka yang sedang memperoleh
cobaan semacam ini.
Anjing peliharaan pada dasarnya
cukup aman sebab dipelihara, diberi
makan yang baik-baik, dan dibersihkan.
Tidak demikian adanya dengan anjing
Mereka bertanya kepadamu (Muhammad), “Apa-
kah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah,
60 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an & Sains
”Yang dihalalkan bagimu (yaitu makanan)
yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh
binatang pemburu yang telah kamu latih untuk
berburu, yang kamu latih menurut apa yang
telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah
apa yang ditangkapnya untukmu, ) dan sebutlah
nama Allah (waktu melepasnya). Dan bertakwalah
kepada Allah, sungguh, Allah sangat cepat
perhitungan-Nya.” (al-Mā'idah/5: 4)
Agar hewan yang disembelih
menjadi halal, penyembelih wajib
menyebut nama Allah saat menyem-
belih. Ritual ini bertujuan mengingat-
kan manusia bahwa mereka mem-
bunuh hewan ini untuk
mendapatkan daging konsumsi, bukan
sebab alasan sepele. Bila pembu-
nuhan tidak dilakukan dengan cara
menyembelih, melainkan dengan ber-
buru memanfaatkan jasa hewan buas
seperti elang, anjing, atau cheetah,
maka agar dagingnya menjadi halal
harus dipenuhi syarat-syarat berikut:
(1) hewan pemburu telah dilatih untuk
berburu sehingga tidak membunuh
mangsanya akibat menuruti naluri
membunuhnya saja; dan (2) orang yang
melepas hewan pemburu ini
mesti mengucapkan basmalah saat
melepas hewan itu untuk mengejar
buruan.
Salah satu hadis yang berbicara
mengenai hal itu yaitu ,
َم َعْن َصْيِد َسَأْلُت َرُسْوَل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ
َوَما ، َفُكْلُه ِه بَِحدِّ َأَصاَب َما : َفَقاَل ، اْلِْعَراِض
َصْيِد َعْن َوَسَأْلُتُه . َوِقْيٌذ َفُهَو بَِعْرِضِه َأَصاَب
ِمنُْه َيْأُكْل َوَلْ َعَلْيَك َأْمَسَك َما َفَقاَل : اْلَكْلِب ،
ِعنَْدُه َوَجْدَت َفإِْن ، َأْخُذُه َذَكاَتُه َفإِنَّ ، َفُكْلُه
َكْلًبا آَخَر َفَخِشْيَت َأْن َيُكْوَن َأَخَذُه َمَعُه َوَقْد َقَتَلُه
َم َذَكْرَت اْسَم اهللِ َعَل َكْلبَِك ، َوَلْ َفاَل َتْأُكْل ، إِنَّ
البخاري ومسلم عن . )رواه ِه َغْيِ َعَل َتْذُكْرُه
عدي بن حاتم(
Aku bertanya kepada Rasulullah tentang (hukum
daging) hewan yang diburu dengan tombak.
Beliau bersabda, “Jika hewan itu mati sebab
terkena bagian runcing (tajam)-nya tombak
maka makanlah (dagingnya), namun jika mati
terkena bagian tumpulnya maka (menjadi haram
untuk dimakan sebab ) ia mati sebab terpukul.”
lalu beliau melanjutkan, “jika anjing
itu menangkap buruan untukmu dan ia tidak
memakan sedikit pun darinya, maka makanlah
(hewan buruan itu) gigitan anjing pemburu itu
sama dengan penyembelihan terhadapnya. Akan
namun , jika engkau mendapati anjing lain yang
turut berburu, dan kamu khawatir anjing lain itu
turut membantu anjingmu dalam membunuh
binatang buruan tadi, maka jangan kamu makan
dagingnya. Sesungguhnya kamu menyebut nama
Allah untuk anjing pemburumu saja, dan tidak
kepada anjing lainnya.” (Riwayat al-Bukhāri dan
Muslim dari ‘Adiy bin Ĥātim)
Pandangan warga Islam
tentang peran anjing dalam kehidupan
berubah cukup dinamis, dari sebelum
masa Islam di Jazirah Arab sampai
masa pemakaian rasio pada masya-
rakat Islam modern. Persepsi-persepsi
seputar hewan ini perlu disikapi
dengan hati-hati dan rasional, misalnya
61Hewan dalam Al-Qur'an
persepsi tentang anjing berbulu hitam.
Serupa warga Eropa, warga
di Jazirah Arab pada zaman dulu
percaya bahwa anjing berbulu hitam
mewakili kejahatan. Bahkan, lebih dari
itu, ia merupakan perwujudan iblis
yang merupakan diri dalam bentuk
hewan. Meski persepsi ini bermula dari
mitologi pada masa pra-Islam, namun
hal ini bahkan dapat kita temukan
dalam sebuah hadis, walaupun banyak
ulama tidak menganggapnya sahih.
Hadis ini berbunyi demikian.
بَِقْتِلَها ألََمْرُت األَُمَم ِمَن ٌة َُأمَّ اْلِكاَلب َأنَّ َلْوالَ
ُه َفإِنَّ ، اْلَبِهْيَم األَْسَوَد اْلَكْلَب اْقُتُلوا َوَلِكِن ،
َشْيَطاٌن . )رواه ابن حبان عن جابر بن عبد اهلل(
Kalau saja anjing bukanlah salah satu dari makhluk
Allah, pastilah aku meminta kalian membunuhnya.
Namun, bunuhlah anjing yang berbulu hitam
legam, sebab yang demikian itu yaitu setan.
(Riwayat Ibnu Ĥibbān dari Jābir bin ‘Abdullāh)
Hadis lain yang tampaknya
juga berpangkal pada kepercayaan
warga Arab pra-Islam yaitu ,
ْيِل بِاللَّ اْلُُمِر ْيَق َوَنِ اْلِكاَلِب ُنَباَح َسِمْعُتْم إَِذا
َتَرْوَن . )رواه َما الَ َيَرْيَن ُنَّ َفإِنَّ ، بِاهللِ ُذْوا َفَتَعوَّ
أمحد وأبو داود عن جابر بن عبد اهلل(
Jika kalian mendengar lolongan anjing dan
ringkikan keledai pada malam hari maka mintalah
perlindungan kepada Allah, sebab (saat itu)
mereka melihat sesuatu yang tidak bisa kalian
lihat. (Riwayat Aĥmad dan Abū Dāwūd dari Jābir
bin ‘Abdullāh)
Persepsi warga Islam
tentang anjing cukup banyak dipe-
ngaruhi oleh kepercayaan warga
Arab pra-Islam. Salah satu buktinya
yaitu kewajiban untuk membasuh
benda yang dijilat oleh anjing, apa
pun warnanya, sebanyak tujuh kali, di
mana salah satunya mesti dicampur
dengan tanah (debu). Hadis di bawah
ini menjelaskan hukum ini .
َفْلَيْغِسْلُه َسْبَع َأَحِدُكْم إَِناِء ِفْ اْلَكْلُب َب إَِذا َشِ
اٍت . )رواه البخاري ومسلم عن أب هريرة( َمرَّ
Jika seekor anjing menjilat wadah salah satu dari
kalian maka hendaklah ia mencucinya sebanyak
tujuh kali. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abū
Hurairah)
Mengenai berapa kali basuhan
yang mesti dicampur dengan debu,
ada banyak versi. Ada yang hanya
mengharuskan satu kali, tiga kali,
lima kali, bahkan ada pula yang tidak
mengharuskan campuran ini
sama sekali. Perintah ini nyata-nyata
memperlihatkan bahwa anjing—
dalam hal ini air liur anjing—tidak
steril, dan mengandung kotoran atau
penyakit. sebab itu, wajar jika kita
dianjurkan untuk mencuci objek yang
dijilatnya sebersih mungkin sebelum
dipakai untuk keperluan manusia.
Tidak hanya menunjukkan ko-
tornya air liur anjing dalam arti fisik,
kehadiran hadis ini bisa jadi juga
menunjukkan bahwa air liur anjing
kotor dalam artian spiritual. Air liur
anjing, dan mungkin saja tubuhnya
secara keseluruhan, memicu
ketidakbersihan dalam artian moral.
Muncul kecenderungan di sebagian
warga bahwa keberadaan anjing
di sekitar mereka memicu ke-
bersihan mereka saat hendak melak-
sanakan ritual agamanya akan ternodai.
Ketidakbersihan anjing dalam artian
moral dapat dilihat dari hadis yang
menyatakan bahwa malaikat sebagai
pembawa wahyu dari Allah tidak mau
hadir ke dalam rumah yang ada anjing
di sana. Rasulullah bersaba,
. ُصْوَرٌة َوالَ َكْلٌب فِْيِه َبْيًتا اْلَاَلِئَكُة َتْدُخُل الَ
)رواه البخاري ومسلم عن أب طلحة(
Malaikat tidak akan masuk ke dalam sebuah rumah
yang di dalamnya ada anjing maupun lukisan
(manusia atau hewan). (Riwayat al-Bukhāri dan
Muslim dari Abū Ţalĥah)
ْيُل ِجْبِ َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ َصلَّ اهللِ َرُسْوَل َواَعَد
اَلُم ِفْ َساَعٍة َيْأتِْيِه فِْيَها ، َفَجاَءْت تِْلَك َعَلْيِه السَّ
ِمْن َفَأْلَقاَها ، َعًصا َيِدِه َوِفْ ، َيْأتِِه َوَلْ اَعُة السَّ
َيِدِه ، َوَقاَل : َما ُيِْلُف اهللُ َوْعَدُه َوالَ ُرُسُلُه ، ُثمَّ
ْيِرِه ، َفَقاَل : َيا َت َسِ اْلَتَفَت ، َفإَِذا ِجْرُو َكْلٍب َتْ
َعاِئَشُة ، َمَتى َدَخَل َهَذا اْلَكْلُب َهاُهنَا ؟ َفَقاَلْت :
ْيُل ، َواهللِ َما َدَرْيُت ، َفَأَمَر بِِه َفُأْخِرَج ، َفَجاَء ِجْبِ
َم : َواَعْدَتنِْي َفَقاَل َرُسْوُل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ
اْلَكْلُب َمنََعنَِي َفَقاَل : َتْأِت ، َفَلْم َلَك َفَجَلْسُت
َبْيًتا فِْيِه َكْلٌب َبْيتَِك ، إِنَّا ال َنْدُخُل ِذْي َكاَن ِفْ الَّ
َوالَ ُصْوَرٌة . )رواه مسلم عن عائشة(
Jibril pernah berjanji kepada Rasulullah akan
mendatanginya pada suatu waktu yang telah
ditentukan. Lalu datanglah saat yang dijanjikan itu,
namun Jibril urung datang. Pada saat itu Rasulullah
sedang memegang tongkat, lalu beliau pun
melemparkannya sambil berkata, “Allah dan
utusan-utusannya tidak pernah mengingkari janji!”
Beliau lalu berpaling, dan sesaat melihat sesosok
anjing di bawah tempat duduknya. Beliau bertanya,
“Kapan anjing ini masuk ke sini, ‘Ā'isyah?” “Demi
Allah, aku tidak tahu!” jawab ‘Ā'isyah. Lalu Rasul
meminta anjing itu dikeluarkan. sesudah anjing itu
dikeluarkan, barulah Jibril datang. lalu Rasul
berkata, “Engkau sudah berjanji kepadaku, sebab
itu aku menunggumu, namun engkau urung
datang.” “Anjing yang ada di rumahmu tadi telah
menghalangi kedatanganku. Kami, para malaikat,
tidak akan masuk ke dalam suatu rumah yang
di dalamnya ada anjing maupun lukisan.”
(Riwayat Muslim dari ‘Ā'isyah)
Dalam hadis berikut Rasulullah
mengingatkan bahwa pemilik anjing
akan dikurangi pahalanya setiap hari,
kecuali jika dimanfaatkannya untuk
menjaga ternak, lahan, atau untuk
berburu.
َأْو َصْيٍد َأْو َماِشَيٍة َكْلَب إاِلَّ ، َكْلبًا َذ َ اتَّ َمِن
اٌط . )رواه ِقْيَ َيْوٍم َأْجِرِه ُكلَّ ِمْن اِْنَتَقَص َزْرٍع،
البخاري ومسلم عن أب هريرة(
63Hewan dalam Al-Qur'an
Barang siapa memelihara anjing, kecuali anjing
penjaga hewan piaraan, anjing pemburu, dan
anjing penjaga lahan pertanian, maka setiap
hari pahalanya akan dikurangi sebanyak satu
qirat. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abū
Hurairah)
Diduga, perlakuan terhadap
anjing saat itu berkaitan dengan
pencarian warga pra-modern
tentang batas yang membedakan
manusia dari hewan; yakni bahwa
hewan seharusnya lebih rendah
derajatnya daripada manusia. Artinya,
hewan sedang dipinggirkan atau
dimarjinalkan. Untuk itu, dipakai lah
anjing sebagai representasi seluruh
hewan. Keadaan ini diperburuk dengan
“kekuasaan laki-laki” yang sedang
berusaha memojokkan warga
“lain”. Anggota warga yang
dipilih yaitu wanita, nonmuslim, dan
tentunya, anjing. Dalam tradisi yang
demikian ini muncullah suatu klaim
dalam warga bahwa Nabi pernah
menyatakan jika ada wanita, orang
nonmuslim, keledai, atau anjing lewat
di depan jamaah yang sedang salat
maka salat mereka batal. Menariknya,
klaim ini diprotes oleh Aisyah, istri
Nabi. Menurutnya, menghubung-
hubungkan anjing dengan wanita
akan sangat merugikan kedudukan
wanita. Pada masa berikutnya, banyak
pemuka agama yang juga mendukung
pendapat Aisyah ini. Pernyataan
yang demikian ini, kata mereka, tidak
otentik dan diragukan dasarnya.
Banyak ulama yang menolak
legalisasi membunuh anjing sebab hal
ini tentu saja melenyapkan kehidupan
suatu ciptaan Allah. Hal ini tidak
sejalan dengan tugas kekhalifahan,
yang antara lain menghormati semua
ciptaan Allah. Suatu ciptaan tidak dapat
dengan demikian saja dimusnahkan,
dan kehidupan tidak dapat dihilangkan
tanpa alasan yang kuat. Tidak ada
alasan apa pun untuk membunuh
anjing sebab anjing memang dilarang
untuk dimakan.
Para ulama memperbolehkan
seseorang memelihara anjing untuk
keperluan membantu manusia dalam
pertanian, peternakan, atau perburuan,
namun tidak untuk keperluan mencari
kesenangan belaka. Beberapa ilmuwan
mencoba merasionalkan hal ini dengan
melihatnya sebagai hewan yang mem-
bahayakan keselamatan orang di
sekitarnya. Akan namun , hal lain yang
menonjol dalam penolakan ini yaitu
bahwa anjing dianggap najis sebab
kotor (tubuh dan air liurnya) bagi
mereka yang akan melakukan ritual
keagamaan. Kenajisan anjing sudah
cukup menjadi alasan bagi seseorang
untuk tidak memeliharanya, kecuali
ada keperluan lain yang mendesak.
Anjing tidak selalu dikaitkan
dengan hal-hal negatif. Hewan ini
terkadang juga dikaitkan dengan
hal-hal positif. Dalam sebuah hadis
dinyatakan,
اْلَعَطُش، َعَلْيِه اْشَتدَّ بَِطِرْيٍق َيْمِشْ َرُجٌل َبْينََم
َفإَِذا َخَرَج ُثمَّ ، َب َفَشِ فِْيَها َفنََزَل بِْئًرا َفَوَجَد
َفَقاَل ، اْلَعَطِش ِمَن الثََّرى َيْأُكُل َيْلَهُث َكْلٌب
ِمْثَل اْلَعَطِش ِمَن اْلَكْلَب َهَذا َبَلَغ َلَقْد : ُجُل الرَّ
ُه َماًء ، ِذْي َكاَن َبَلَغ ِمنِّْي . َفنََزَل اْلبِْئَر َفَمأَل ُخفَّ الَّ
ُثمَّ َأْمَسَكُه بِِفْيِه َحتَّى َرِقَي َفَسَقى اْلَكْلَب َفَشَكَر
اهللُ َلُه َفَغَفَر َلُه . َقاُلوا : َيا َرُسْوَل اهللِ َوإِنَّ َلنَا ِفْ
َرْطَبٍة َكبٍِد ُكلِّ ِفْ : َفَقاَل ؟ ألَْجًرا اْلَبَهاِئِم َهِذِه
َأْجٌر . )رواه البخاري ومسلم عن أب هريرة(
Ada seorang pria yang sedang berjalan, lalu
ia merasakan haus yang sangat. lalu ia
mendapati sebuah sumur, lalu ia mendekatinya
dan minum dari air sumur ini . Ia pun beranjak
meninggalkan sumur, saat tiba-tiba ia mendapati
seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya
menjilati tanah akibat kehausan. Pria itu berkata,
“Anjing ini benar-benar kehausan seperti yang aku
alami tadi.” Maka ia turun (kembali) ke sumur tadi,
dan diisinya sepatunya dengan ait. Ia memegangi
sepatunya dan menuangkan air di dalamnya ke
mulut anjing itu hingga rasa hausnya hilang. Anjing
itu pun bersyukur kepada Allah atas bantuan pria
tadi, dan sebab nya Allah pun mengampuni pria itu.
Para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai
Rasulullah, apakah kita akan dapat pahala dengan
berbuat baik kepada hewan?” Beliau menjawab,
“(Perbuatan baik kalian) kepada setiap makhluk
yang bernyawa pasti diberi pahala.” (Riwayat al-
Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah)
Anjing yaitu makhluk ciptaan
Allah yang harus dilindungi dan
ditolong jika memerlukan. Hadis ini
menegaskan bahwa Allah tidak akan
melupakan begitu saja kebaikan yang
seseorang lakukan, bahkan kepada
anjing sekalipun.
Perikehidupan Anjing
Linnaeus, seorang akhli taksonomi,
pada 1758 mula-mula memasukkan
anjing hasil domestikasi ke dalam nama
Canis familiaris dan Canus familiarus
domesticus. Pada 1993, penempatan
nama ini lalu diusulkan
untuk diubah menjadi Canis lupus
familiaris, suatu anak jenis dari serigala
abu-abu, Canis lupus. Pengubahan ini
didasarkan pada bukti-bukti penelitian
perilaku, perawakan, dan penelitian
biologi molekuler, yang berujung pada
kesimpulan bahwa serigala abu-abu
yaitu nenek moyang dari sekian ba-
nyak turunan dari anjing peliharaan.
Hubungan antara anjing dan
manusia sudah berjalan lama. Anjing
telah menjadi teman dalam bekerja dan
berburu sepanjang sejarah kehidupan
manusia, sejak didomestikasi sekitar
15.000 tahun yang lalu. Sejak saat itu,
didasarkan pada keperluannya, telah
terbentuk ratusan turunan anjing
yang bervariasi penampilan maupun
perilakunya. Tinggi bahu anjing ber-
variasi. Anjing terpendek diketahui
memiliki tinggi bahu hanya 6,3 cm,
dari jenis Yorkshire Terrier. Anjing
turunan Cihuahua juga terhitung kecil.
Sementara itu, rekor anjng tertinggi
dipegang oleh anjing turunan Great
Dane, yang memiliki tinggi bahu 106,7
cm. Anjing turunan Irishwolfhound
juga terhitung sebagai anjing dengan
bahu tinggi. Warna, postur tubuh, dan
bulu anjing juga bermacam-macam.
Anjing dalam hubungannya
dengan kebudayaan manusia memiliki
kedudukan sosial yang jauh lebih
kompleks daripada nenek moyang-
nya, serigala abu-abu. Anjing, misal-
nya, dapat dilatih untuk berburu.
Di Jazirah Arab dikenal satu jenis
anjing saluki yang biasa warga
setempat gunakan untuk berburu.
Dalam berburu anjing ini biasanya
dipadukan dengan burung falcon.
Hubungan antara manusia dengan
anjing demikian dekat, walaupun pada
kenyataannya anjing sangat potensial
menjadi pemangsa yang sewaktu-
waktu dapat membahayakan manusia.
Anjing menjadi bagian penting dari
komunitas suku Indian Athabascan di
Amerika Utara, dan merupakan satu-
satunya hewan peliharaan mereka.
Anjing juga menjadi pembawa beban
pada saat migrasi suku Indian Apache
dan Navayo pada 1.400 tahun lalu.
Kebiasaan menjadikan anjing sebagai
pembawa beban masih dijumpai, meski
kuda sudah masuk ke Amerika.
Konon, migrasi manusia dari Asia
ke Amerika melalui Selat Bering pada
sekitar 12.000 tahun yang lalu tidak
mungkin terlaksana tanpa bantuan
anjing yang bertugas menarik kereta
es. Anjing membantu manusia dari
mulai berburu, menggembala ternak,
menjaga rumah, membantu tugas
kepolisian maupun militer, sebagai
teman, hingga membantu mereka yang
cacat (misalnya membantu menuntun
dan mengarahkan tunanetra).
Para ahli setuju proses domes-
tikasi anjing dilakukan setidaknya
15.000 tahun yang lalu, malah bebe-
rapa arkeolog percaya proses ini terjadi
lebih jauh sebelumnya. Beberapa uji
genetika bahkan menunjukkan bahwa
anjing sudah didometikasi antara
14.000–17.000 tahun lalu, yakni pada
masa Paleolithic, mendekati Pleis-
tocene/Holocene. Mana yang benar
belum dapat dipastikan sampai saat
ini. Pada 2008, mislanya, ditemukan
kerangka binatang menyerupai anjing
yang berukuran besar. Hewan ini
ditemukan hidup di gua-gua di Belgia
pada 31.700 tahun yang lalu. Diet
hewan ini terdiri dari kuda, rusa, dan
rubah. Sebelum temuan di Belgia,
fosil tulang kepala dan rahang anjing
ditemukan di Rusia dan Jerman. Umur
fosilnya diperkira-kan sekitar 14.000
tahun yang lalu.
Fosil jenis anjing yang lebih
kecil ditemukan di gua-gua Timur
Tengah, termasuk dalam sebuah
kuburan berumur antara 10.000–
12.000 tahun lalu. Dalam kuburan
ini ditemukan fosil anjing bersama
dengan kerangka manusia. sesudah
itu banyak ditemukan fosil anjing di
Eropa, Irak, dan Turki yang berumur
antara 8.000 sampai 10.000 tahun
yang lalu. Apakah proses domestikasi
terjadi dengan memelihara serigala
abu-abu secara langsung ataukah
berjalan secara bertahap, masih
dipertanyakan. Domestikasi diduga
bermula dari kehadiran beberapa ekor
serigala abu-abu di sekitar kampung
atau perkemahan sebab tertarik
dengan sisa makanan yang dibung.
Lama kelamaan mereka terbiasa
dekat dengan manusia. Secara alami,
individu yang nyaman berada di sekitar
manusia inilah yang menjadi modal
utama untuk didomestikasi.
Jika dilihat dari analisis DNA
maka waktu permulaan domestikasi
anjing semakin memanjang sampai
dengan 100.000–140.000 tahun lalu.
Pemecahan serigala dan coyote, seje-
nis serigala dengan perawakan yang
lebih kecil, diperkirakan terjadi sekitar
700.000 tahun yang lalu. Hanya saja
perkiraan memakai analisis DNA
ini masih banyak diperdebatkan para
ahli, terutama sebab pembandingnya,
anjing yang telah didomestikasi,
mengalami degradasi DNA sebab
terjadi perkawinan secara selektif
antarketurunan.
Data yang ada menunjukkan
bahwa domestikasi anjing dimulai dari
serigala di kawasan Asia Timur. Anjing
peliharaan ini lalu menyebar
ke seluruh dunia, dan diperkirakan
mencapai kawasan Amerika Utara
pada tahun 8.000 SM. Anjing turunan
yang dekat dengan nenek moyangnya
(diciri dengan DNA yang mirip dengan
serigala abu-abu), terutama keturunan
yang menempati Asia dan Afrika,
seperti anjing Basenji, Lhasa Apso,
dan Siberian Husky. Anjing keturunan
yang dianggap paling tua di antaranya
yaitu Pharaoh Hound, Ibizan Hound,
dan Norwegian Elkhound.
Anjing dan manusia memiliki
hubungan yang panjang. Serigala
dan jenis marganya yang liar lainnya
tampaknya memperoleh keuntungan
saat manusia mulai bermukim. Marga
manusia, Homo, mulai menyebar di
Afrika sekitar 400.000 tahun lalu.
Beberapa bukti menunjukkan bahwa
saat manusia mulai bemukim dan
bertani pada sekitar 15.000 tahun lalu,
anjing sudah hidup di sekitar manusia.
Mereka mendapat keuntungan hidup
di sekitar manusia, seperti memperoleh
keamanan, ketersediaan makanan
yang lebih terjamin, berkurangnya
pemakaian energi, serta kesempatan
yang lebih besar untuk berkembang
biak. Anjing peliharaan diakui memiliki
kecerdasan sosial yang tertinggi,
jauh meninggalkan hewan lainnya.
Anjing mampu belajar dari melakukan
observasi. Anjing turunan Border Colie
diketahui sebagai turunan anjing yang
paling cerdas.
Mari kita kembali membahas
hadis al-Bukhārī yang membolehkan
manusia membunuh anjing dalam
kondisi tertentu.
اْلَيَُّة : َواْلََرِم لِّ اْلِ ِف ُيْقَتْلَن َفَواِسُق َخٌْس
اْلَعُقْوُر َواْلَكْلُب َواْلَفْاَرُة األَْبَقُع َواْلُغَراُب
ا . )رواه مسلم عن عائشة( َواْلَُديَّ
Ada lima hewan (bertabiat) buruk yang boleh
dibunuh di tanah halal maupun di tanah haram.
Mereka itu yaitu ular, burung gagak berbulu
campuran antara hitam dan putih, tikus, anjing
ganas, dan kalajengking. (Riwayat Muslim dari
‘Ā'isyah)
Penyakit anjing gila alias rabies
yaitu suatu penyakit menular yang
akut. Penyakit ini menyerang susunan
syaraf pusat, dan disebabkan oleh
virus rabies jenis Rhabdho virus. Virus
rabies, selain menempati susunan
syaraf pusat, juga ada pada air liur
hewan penderita rabies. Oleh sebab
itu penularan penyakit rabies pada
manusia atau hewan lain dilakukan
melalui gigitan. Virus ini dapat me-
nyerang semua hewan berdarah
panas, seperti kucing, kelelawar, kera,
termasuk juga manusia. Penyakit
rabies merupakan penyakit Zoonosa
yang sangat berbahaya dan ditakuti.
Begitu gejala klinis penyakit rabies
timbul maka umumnya akan diakhiri
dengan kematian jika tidak segera
ditangani.
Masa inkubasi (waktu antara
penggigitan sampai timbulnya gejala
penyakit) penyakit rabies pada hewan
sekitar 2–8 minggu, sedang pada
manusia antara 2–3 minggu sampai
1 tahun. Masa inkubasi ini dapat
berlangsung lebih cepat atau lebih
lambat, tergantung antara lain keda-
laman dan parahnya luka gigitan,
lokasi luka, banyaknya syaraf di sekitar
luka, pathogenitas dan jumlah virus
yang masuk, dan jumlah luka gigitan.
Perjalanan penyakit rabies pada
anjing dan kucing dibagi dalam 3
tahap, yaitu:
1. Tahap Prodormal. Pada tahap ini
hewan mencari tempat dingin
dan menyendiri, berubah lebih
agresif dan gelisah, pupil mata
meluas dan sikap tubuh tegang.
tahap ini berlangsung selama 1–3
hari. tahap prodormal diikuti oleh
tahap Eksitasi atau dapat saja
melompat ke tahap Paralisa.
2. Tahap Eksitasi. Pada tahap ini
hewan menjadi ganas dan me-
nyerang siapa saja yang ada di
sekitarnya dan memakan barang
yang aneh-aneh. Selanjutnya,
mata menjadi keruh dan selalu
terbuka, dan tubuh gemetaran.
3. Tahap Paralisa. Pada tahap ini
hewan mengalami kelumpuhan
pada semua bagian tubuhnya,
dan berakhir dengan kematian.
Gejala penyakit rabies pada
anjing dikenal dalam tiga bentuk:
1. Bentuk ganas (Furious Rabies).
Masa eksitasi pada bentuk
ini cukup panjang. Umumnya
kematian akan datang dalam
2–5 hari sesudah tanda-tanda
terlihat. Tanda-tanda yang sering
terlihat yaitu : hewan menjadi
penakut atau menjadi galak,
suka bersembunyi di tempat-
tempat yang dingin dan gelap,
menyendiri namun dapat menjadi
agresif, tidak menurut perintah
majikannya, nafsu makan hilang,
dan air liur menetes tak terken-
dali, menyerang apa saja yang
ada di sekitarnya, memakan
benda-benda asing seperti
batu dan kayu, menyerang dan
menggigit benda bergerak
apa saja yang dijumpai, kejang-
kejang yang disusul kelumpuhan,
dan menggelambirkan ekor di
antara dua paha.
2. Bentuk diam (Dumb Rabies).
Masa eksitasi pada bentuk ini
pendek, dan paralisa cepat
terjadi. Tanda- tanda yang sering
terlihat yaitu pada hewan
yang terjangkit rabies bentuk
ini yaitu suka bersembunyi di
tempat yang gelap dan sejuk,
kejang-kejang sangat singkat
bahkan sering tidak terlihat,
lumpuh, tidak dapat menelan,
mulut terbuka, dan air liur keluar
berlebihan.
3. Bentuk Asystomatis. Hewan
yang terjangkit rabies bentuk ini
seringkali tidak memperlihatkan
gejala sakit apa pun, namun tiba-
tiba saja mati.
Gejala yang terlihat pada kucing
yang terjangkit rabies mirip dengan
anjing, seperti menyembunyikan diri,
banyak mengeong, mencakar-cakar
lantai, dan menjadi agresif. Dalam 2–4
hari sesudah gejala pertama biasanya
terjadi kelumpuhan, terutama di bagi-
an belakang tubuh.
Yang penting diperhatikan pada
manusia bila terlihat padanya gejala-
gejala yang mencurigakan yaitu ada-
tidaknya riwayat gigitan hewan seperti
anjing, kucing, dan kera. Gejalanya
dimulai dari hilangnya nafsu makan,
sakit kepala, tidak bisa tidur, demam
tinggi, mual/muntah, pupil mata mem-
71Hewan dalam Al-Qur'an
besar, bicara tidak keruan, selalu ingin
bergerak dan tampak kesakitan. Gejala
lainnya yaitu munculnya rasa panas
(nyeri) pada tempat gigitan, menjadi
gugup, takut berlebihan pada air; peka
terhadap suara keras, cahaya, dan
angin; keluarnya air liur dan air mata
yang berlebihan, kejang-kejang yang
disusul kelumpuhan, dan berakhir
pada kematian. Penderita rabies akan
meninggal dalam 4–6 hari sesudah
gejala klinis atau tanda-tanda penyakit
pertama timbul.
jika seseorang digigit hewan
yang dicurigai membawa rabies maka
tindakan yang harus diambil yaitu :
1. Mencuci luka gigitan dengan
sabun atau deterjen selama 5–10
menit di bawah air mengalir.
Luka lalu diberi alkohol
70% atau yodium tincture. sesudah
itu korban disarankan pergi ke
puskesmas atau dokter untuk
mendapat pengobatan semen-
tara sambil menunggu hasil dari
rumah observasi hewan.
2. Melaporkan kasus penggigitan
ini kepada petugas Dinas
Peternakan setempat.
3. Mengirimkan hewan penggigit
ke rumah observasi hewan Dinas
Peternakan untuk diobservasi
dan diperiksa kesehatannya
selama 10–14 hari. Bila hewan itu
tidak diketahui atau tidak dapat
ditangkap maka korban gigitan
harus dibawa ke rumah sakit
khusus infeksi.
Dalam Al-Qur'an dan hadis jelas
sekali aturan-aturan yang diturunkan
Allah tentang anjing. Pada dasarnya
hal ini secara logis merupakan suatu
kenyataan. Air liur anjing tidak steril;
ia mengandung bahan yang kotor
dan dapat menimbulkan penyakit.
sebab itu, wajar jika mereka
yang tersentuh untuk membasuhnya
sebersih mungkin. Akan namun , anjing
sebagai ciptaan Allah tidak harus
dikutuk dan dibasmi dari muka bumi,
atau dikucilkan dan direndahkan.
Mereka tetap mesti dihargai sebagai
ciptaan Allah, dan ditolong jika
memerlukan. Pertolongan yang demi-
kian ini, seperti dinyatakan dalam
hadis, merupakan salah satu jalan
memperoleh ampunan Allah. Rasu-
lullah bersabda,
َبْينََم َكْلٌب ُيطِْيُف بَِرِكيٍَّة َقْد َكاَد َيْقُتُلُه اْلَعَطُش ، إِْذ
ُموَقَها َفنََزَعْت اِئْيَل إِْسَ َبنِْي َبَغاَيا ِمْن َبِغيٌّ َرَأْتُه
اُه ، َفُغِفَر َلَا بِِه. )رواه ، َفاْسَتَقْت َلُه بِِه َفَسَقْتُه إِيَّ
البخاري ومسلم عن أب هريرة(
saat seekor anjing sedang berjalan mengitari
sebuah sumur dengan rasa haus yang hampir
membuatnya mati, tiba-tiba seorang wanita
pelacur dari Bani Israil melihatnya. Ia lantas
melepas sepatunya, memenuhinya dengan air
dari sumur, dan menuangkannya ke mulut anjing
ini . sebab perbuatannya itu wanita ini
diampuni dosanya oleh Allah. (Riwayat al-Bukhāri
dan Muslim dari Abū Hurairah)
2. SINGA
Singa (dilafalkan dengan qaswarah)
hanya disebut sekali dalam Al-Qur'an,
yaitu dalam Surah al-Muddaššir/74:
51. Di sini singa dikisahkan menakuti
keledai sehingga lari tunggang-
langgang. Keduanya dijadikan perum-
pamaan keadaan manusia saat hari
kiamat tiba. Allah berfirman,
kut meminjam singa sebagai metafor
dari keberanian, kepahlawanan, mau-
pun keadaan yang gawat.
ُه َسَيْسَأُلَك اآلَن َأْرَسَلنِي ُأَساَمُة إَِل َعِلٍّ َوَقاَل: إِنَّ
َفَيُقوُل: َما َخلََّف َصاِحَبَك ؟ َفُقْل َلُه : َيُقوُل َلَك
َأُكْوَن َأْن ألَْحَبْبُت األََسِد ِشْدِق ِفْ ُكنَْت َلْو :
ُيْعطِنِي َفَلْم . َأَرُه َلْ َأْمٌر َهَذا َوَلِكنَّ ، فِيِه َمَعَك
َجْعَفٍر َواْبِن َوُحَسْيٍ َحَسٍن إَِل َفَذَهْبُت ، َشْيًئا
عن البخاري )رواه . َراِحَلتِْي ِلْ َفَأْوَقُرْوا ،
حرملة(
Usāmah (bin Zaid) mengutusku (Ĥarmalah)
menghadap ‘Ali. Ia berkata, “Ali akan bertanya
kepadamu, ‘Apa yang memicu temanmu
tidak mau menemuiku.’ Katakan kepadanya, ‘Ia
(Usāmah) berpesan kepadamu (‘Ali), bahwa jika
engkau berada di mulut singa, aku pasti akan
dengan senang hati bersamamu di sana. Akan
namun , dalam persoalan yang satu ini saya tidak
akan ikut campur.’” Ĥarmalah menambahkan,
“Ali tidak memberiku hadiah apa pun (saat
aku menyampaikan pesan untuknya). Lalu aku
menemui Ĥasan, Ĥusain, dan Ibnu Ja‘far; mereka
pun membebani untaku dengan barang-barang
berharga.” (Riwayat al-Bukhāri dari Ĥarmalah)
َوفِرَّ ، َصَفَر َوالَ َهاَمَة َوالَ َة طَِيَ َوالَ َعْدَوى الَ
ِمَن اْلَْجُذوِم َكَم َتِفرُّ ِمَن األََسِد . )رواه البخاري
عن أب هريرة(
Tidak ada penyakit menular (yang menular dengan
sendirinya tanpa campur tangan Allah), tidak
ada pula kesialan akibat datangnya pertanda
tertentu, tidak pula kedatangan burung malam
memicu bahaya, dan tidak pula bulan
Lalu mengapa mereka (orang-orang kafir)
berpaling dari peringatan (Allah)? seakan-akan
mereka keledai liar yang lari terkejut, lari dari
singa. (al-Muddaššir/74: 49-51)
jika telah diketahui secara
pasti bahwa hari pengadilan pasti
akan datang, mengapa manusia tetap
saja tidak mengindahkan peringatan
Tuhan tentangnya? Mereka yang tidak
mengindahkannya akan panik luar
biasa saat kejadian itu tiba, seperti
kepanikan keledai saat dikejar singa.
Alih-alih mengikuti peringatan Allah
dan menghadapi hari pengadilan
itu, mereka malah mencoba lari dari
kenyataan.
Hadis-hadis dan kisah-kisah beri-
73Hewan dalam Al-Qur'an
kedatangan Safar itu membawa kesialan. Jauhilah
pengidap lepra seperti engkau lari dari seekor
singa. (Riwayat al-Bukhāri dari Abū Hurairah)
َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ َصلَّ اهللِ َرُسْوِل َمَع َخَرْجنَا
َجْوَلٌة لِْلُمْسِلِمْيَ َكاَنْت اْلَتَقْينَا َفَلمَّ ، ُحنَْيٍ َعاَم
ِمَن َرُجاًل َعاَل ِكْيَ اْلُْشِ ِمَن َرُجاًل َفَرَأْيُت ،
َوَراِئِه ِمْن َأَتْيُتُه َحتَّى َفاْسَتَدْرُت ، اْلُْسِلِمْيَ
َفْأَقَبَل ، َعاتِِقِه َحْبِل َعَل ْيِف بِالسَّ ْبُتُه َضَ َحتَّى
اْلَْوِت ِرْيَح ِمنَْها َوَجْدُت ًة َضمَّ نِْي َفَضمَّ َعَلَّ
ْبَن ُعَمَر َفَلِحْقُت ، َفَأْرَسَلنِْي اْلَْوُت َأْدَرَكُه ُثمَّ
َأْمُر اهللِ َباُل النَّاِس ؟ َقاَل : َفُقْلُت : َما اْلَطَّاِب
، ُثمَّ إِنَّ النَّاَس َرَجُعْوا ، َوَجَلَس النَّبِيُّ َصلَّ اهللُ
َبيِّنٌَة َعَلْيِه َلُه َقتِْياًل َقَتَل َفَقاَل : َمْن َم ، َعَلْيِه َوَسلَّ
ُثمَّ ؟ ِلْ َيْشَهُد َمْن : َفُقْلُت َفُقْمُت . َسَلُبُه َفَلُه
َبيِّنٌَة َعَلْيِه َلُه َقتِْياًل َقَتَل َمْن : َقاَل ُثمَّ ، َجَلْسُت
ُثمَّ ؟ ِلْ َيْشَهُد َمْن : َفُقْلُت َفُقْمُت . َسَلُبُه َفَلُه
َفَقاَل ، َفُقْمُت ، ِمْثَلُه الثَّالَِثَة َقاَل ُثمَّ ، َجَلْسُت
َم : َما َباُلَك َيا َأَبا َرُسْوُل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ
َرُجٌل َفَقاَل ، َة اْلِقصَّ َعَلْيِه َفاْقَتَصْصُت ؟ َقَتاَدَة
َفَأْرِضِه ِعنِْدْي َوَسَلُبُه ، اهللِ َرُسْوَل َيا َصَدَق :
: َعنُْه اهللُ َرِضَ ْيُق دِّ الصِّ َبْكٍر َأُبْو َفَقاَل ! َعنِّْي
الََها اهللِ إَِذا الَ َيْعَتِمُد إَِل َأَسٍد ِمْن َأَسِد اهللِ ُيَقاتُِل
ُيْعطِْيَك َم َوَسلَّ َعَلْيِه اهللُ َصلَّ َوَرُسْولِِه اهللِ َعِن
َم : َصَدَق َسَلَبَه . َفَقاَل النَّبِيُّ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ
َبنِْي ِفْ َمَْرًفا بِِه َفاْبَتْعُت ْرَع الدِّ َفبِْعُت َفَأْعَطاُه .
ْلُتُه ِف اإِلْساَلِم . )رواه ُل َماٍل َتَأثَّ ُه أَلَوَّ َسْلَمَة ، َفإِنَّ
البخاري ومسلم عن أب قتادة(
Kami berjuang bersama Nabi dalam Perang Hunain.
saat berhadap-hadapan dengan musuh, tentara
muslim agak kewalahan. saat itulah aku melihat
seorang tentara musuh hampir saja mengalahkan
seorang muslim. Aku bergegas memutar arah untuk
mendatanginya dari arah belakang dan menebas
pangkal lehernya dengan pedang. Tentara musuh
itu lantas berbalik dan mendesakku sampai-sampai
aku merasa hampir saja mati. Tiba-tiba kematian
menjemputnya sehingga ia melepaskanku. Aku
lantas bertemu ‘Umar, ‘‘Bagaimana keadaan
kaum muslim?” tanyaku. Ia menjawab, ‘‘Apa
yang dilakukan yaitu atas perintah Allah.”
lalu pasukan muslim kembali ke Medinah
(sesudah perang usai). Nabi duduk di antara para
sahabatnya, dan bersabda, “Siapa pun di antara
kalian yang telah membunuh orang kafir dan
memiliki saksi, ia akan memperoleh Salb (benda
milik musuh yang dibunuhnya).” Aku pun berdiri
dan berkata, “Siapa yang mau menjadi saksiku?”
dan duduk kembali. “Siapa pun di antara kalian
yang telah membunuh orang kafir dan memiliki
saksi, ia akan memperoleh Salb.” Aku pun berdiri
dan berkata lagi, “Siapa yang mau menjadi
saksiku?” dan duduk kembali. lalu Nabi
mengulangi perkataannya untuk ketiga kalinya.
Aku pun berdiri. Kali ini Nabi bertanya kepadaku,
“Ada apa denganmnu, wahai Abū Qatādah?”
Aku lalu menceritakan apa yang terjadi di
medan perang kepada beliau. Seseorang berkata,
“Abū Qatādah telah berkata benar. Salb-nya ada
padaku. Mintalah ia merelakannya untukku, wahai
Rasulullah.” Abu Bakar berkata, “Tidak. Demi
Allah, Rasulullah tidak akan membiarkan begitu
saja singa Allah yang telah bertempur demi Allah
dan rasul-Nya (tidak memperoleh haknya atas
Salb) dan malah memberikannya kepadamu!”
Nabi berkata, “Apa yang dikatakan Abu Bakar
yaitu benar.” Orang itu lantas menyerahkan
Salb ini kepada Rasulullah (untuk lalu
diserahkan kepadaku). Salb yang berupa baju zirah
itu lantas aku jual. Hasil penjualannya kubelikan
sepetak lahan di perkampungan Bani Salmah.
Itulah harta pertama yang aku peroleh sejak masuk
Islam. (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari Abū
Qatādah)
sedang kisah sahabat dan
Nabi mengenai singa, antara lain:
a. Kisah Ali bin Abi Talib dalam
Perang Siffin, ia dikisahkan, “…
menyerang pasukan Muawiyah
dengan kebuasan seekor singa. Ia
menusuk jauh ke dalam pasukan
musuh dan memicu terjadinya
kerusakan…”
b. Mengenai pertempuran di saluran
air yang diikuti Ali, dikisahkan,
“...putra Amr jatuh ke tangan Ali. Saat
itu Ali bagaikan singa yang buas. Ia
bunuh Usl dengan sekali tebas. Itulah
sebabnya Naufal menyerang…”
c. Ali bin Abi Talib berbicara ten-
tang pemikiran etis seorang pe-
nguasa, “…seorang penguasa
dapat diibaratkan orang yang
mengendarai singa. Tidak dapat
ditebak bilamana singa itu berbalik
(peran sebagai hewan tunggangan)
dan memangsanya.”
d. Ali bin Abi Talib dalam pertempuran
di Khaibar dikisahkan berkata, “…
Antar, saya telah lengkap bersenjata.
Rumahku yaitu Khaibar. Aku
yaitu singa yang tidak seorang pun
dapat menandingi.”
e. Ali bin Abi Talib dalam Perang
Khaibar dilaporkan meneriakkan,
“Akulah Ali, singa Tuhan. Aku ber-
perang atas nama Allah. Bersiaplah
menerima takdirmu!”
f. Ali bin Abi Talib berkata, “…larilah
secepatnya, seperti domba yang lari
mendengar auman singa.”
g. Umar bin Khattab berkisah tentang
keadaan saat perang Bahrseer:
“…Tentara Persia dipimpin oleh
singa yang perkasa yang dilatih
khusus untuk bertempur. Singa itu
berlari kencang menuju jalur depan
pasukan muslim, yang membuat
kuda-kuda yang dikendarai pasukan
Muslim berlarian.”
h. Kisah tentang Nabi Muhammad
saat beliau memberikan deskripsi
keberanian Hamzah, “…Keberani-
annya membuatnya pantas disebut
“Singa Allah”. Ia menjadi pujaan
Islam dan …”
i. Kisah kecintaan Nabi Yahya ter-
hadap alam, “…atau di dalam
lubang di tanah. Kadangkala ia akan
bertemu dengan singa dan beruang
saat masuk ke dalam gua, akan
namun sebab ia begitu terlena di
dalam doanya...”
j. Tentang keberanian khalifah Ali bin
Abi Talib dalam pertempuran, “…
keberanian yang tidak ada tanding-
an memberinya julukan “Asadullāh”,
singa Allah, atau “Haidar Karrar”,
pahlawan yang tak tertandingi…”
k. Abu Bakar, saat penaklukan
Hirah dalam perang di timur Irak,
dilaporkan mengatakan, “…Wahai
kaum muslim, bersyukurlah bahwa
singa kalian telah menaklukan singa
Persia …”
Perikehidupan Singa
Singa (Panthera leon) yaitu salah
satu dari empat kucing besar yang
ada dalam marga Panthera. Dengan
berat badan mencapai 250 kilogram
pada singa jantan, jenis ini yaitu
kedua terberat sesudah harimau. Singa
liar saat ini ditemukan di kawasan
sub-Sahara di Afrika dan beberapa
bagian Asia. Pada masa lalu singa
juga menempati Afrika Utara dan Asia
Barat. Pada masa Pleistocene, sekitar
10.000 tahun lalu, singa termasuk jenis
yang menyebar luas di berbagai bagian
dunia. Mereka ditemukan di hampir
semua bagian Afrika, di sebagian
Eurasia (dari Eropa sampai India), dan
Amerika (dari Yukon sampai Peru).
Singa dapat mencapai umur
10–14 tahun di alam liar. Di tempat
pemeliharaan, singa umurnya dapat
mencapai umur 20 tahun. Di alam liar
singa jantan jarang dapat mencapai
umur 10 tahun sebab perkelahian
di antara singa jantan sangat mem-
pengaruhi umur hidupnya. Singa hidup
di kawasan padang rumput, walaupun
mereka dapat juga ditemui di semak-
semak dan hutan.
Dibandingkan kelompok kucing
lainnya, singa hidup berkelompok.
Kelompoknya dapat terdiri dari
anakan, singa muda, singa betina,
dan beberapa singa jantan. Singa
betina secara bersama-sama berperan
sebagai pemburu utama. Singa utama-
nya memangsa mamalia besar yang
masih hidup, jarang memakan bangkai.
Singa berevolusi di Afrika antara
satu juta dan 800.000 tahun yang
lalu, sebelum lalu menyebar
sampai ke Asia Tengah. Singa muncul
pertama kali di Eropa pada 700.000
tahun lalu. Beberapa anak jenis yang
dikenal yaitu Panthera leon persica
(Asia Selatan, Persia, India); Panthera
leon leo (sudah punah, menyebar
antara Maroko-Mesir); Panthera
leon senegalensis (Afrika Barat, dari
Senegal hingga Nigeria); Panthera
leon azandica (Kongo); Panthera leon
nubica (Afrika Timur, Ethiopia, Kenya,
Tanzania, Mozambique); Panthera
leon bleyenberghi (Afrika Barat Daya,
Namibia sampai Zimbabwe); Panthera
leon krugeri (Transvaal); dan Panthera
leon melanochaita (punah tahun 1860).
Beberapa anak jenis telah punah pada
masa prehistori, yaitu Panthera leon
atrox (Amerika), Panthera leon fossilis
(Eropa); dan Panthera leon spelaea
(Eurasia).
Pada abad ke-17 singa banyak
diadu dengan hewan lain, terutama
anjing, sampai akhirnya kegiatan
ini dilarang di Vienna (1800-an) dan
Inggris (1825). Penjinakan singa dila-
kukan untuk pertunjukan sirkus. Singa
telah menjadi simbol dalam berbagai
kebudayaan manusia sejak ribuan
tahun lalu. Simbol singa muncul dalam
budaya warga di Afrika, Eropa,
maupun Asia. Meski banyak manusia
yang terbunuh oleh singa, namun singa
memperoleh kehormatan yang tinggi
dan merepresentasikan kekuatan,
keberanian, serta kebangsawanan.
Singa biasa disebut “raja” hutan.
Dari budaya Aurignacia di
Jerman, dikenali ukiran singa pada
gading yang telah berumur 32.000
tahun lalu. Lukisan singa ditemukan
juga di gua Chauvet, Perancis, yang
diperkirakan dilukis sekitar 32.000
tahun lalu. Lukisan yang sama juga
ditemukan di Gua Lascaux, dan
diperkirakan berumur 15.000 tahun
lalu. Beberapa peneliti cenderung
menyamakan umur lukisan di gua
Chauvet dengan yang di gua Lascaux,
yaitu 15.000 tahun lalu. Lukisan dinding
di Gua Chauvet menggambarkan
suasana perburuan dari kelompok
singa betina. Siasat yang digambarkan
dalam lukisan ini sangat mirip dengan
siasat berburu dan perilaku singa yang
hidup saat ini. warga Mesir kuno
memakai singa betina dalam
77Hewan dalam Al-Qur'an
lambang perangnya, dan juga sebagai
penjaga makam berupa sphinx. Yunani
Kuno dan Romawi memakai
singa nemean sebagai simbol zodiak
leo. Singa juga menjadi simbol kota
Yerusalem dan Kerajaan Judah.
warga Turki dan Mongol sangat
mengenal singa dan memiliki nama
khusus untuk hewan ini. Dalam agama
Hindu makhluk setengah singa yang
digambarkan sebagai titisan Wisnu
muncul dengan nama Narashima.
Di Mesopotamia, singa menjadi
simbol raja di Kerajaan Sumeria, Asiria,
sampai Babilonia. Wujud singa betina
yang sekarat diukir pada satu panel;
diperkirakan diukir pada 650 tahun SM.
Singa betina ini digambarkan
dalam posisi membungkuk dengan
panah menancap di sekujur tubuhnya.
Di masa Babylonia, Dewi Ishthar di-
gambarkan mengendari kereta perang
yang ditarik oleh tujuh ekor singa
jantan. Dewi Inanna dari Sumeria,
suatu padanan Ishthar, seringkali
digambarkan berdiri di atas punggung
dua singa betina. Penguasa Irak,
Saddam Husein, mengadopsi sejarah
dan menamai tank buatan Irak
berteknologi Rusia “Lion of Babylonia”.
Sphinx juga dikenal di Mesopotamia
dan Persia. Wujud ini ditemukan
pertama kali dalam budaya Mesir
Kuno dengan nama Sphinx. Makhluk
berbentuk manusia dari kepala sampai
ke bahu, dan berbadan singa betina,
merepresentasikan dewi pelindung
Firaun. Belakangan, sphinx menjadi
representasi Firaun itu sendiri. Singa
asia juga banyak muncul dalam naskah-
naskah Cina, dan dimulai pada 40–500
tahun SM. Singa sangat populer pada
masa Dinasti Han (206–220 M), saat
singa ditempatkan sebagai penjaga
di pintu masuk istana. Sampai saat ini
tarian singa (barongsai) masih terus
ditarikan dalam menyambut perayaan
tahun baru Cina.
Singa juga muncul dalam
beberapa bagian kitab suci umat
Kristiani, seperti dalam Kitab Daniel
yang mengisahkan bagaimana Daniel
dimasukkan ke sarang singa dan secara
ajaib dapat selamat. Dalam kitab ini
pula dikisahkan bagaimana Samson
dapat membunuh singa dengan tangan
kosong. Dalam sejarah Islam dikenal
seorang yang digelari warga
sebagai “Singa Islam”. Dialah Ali bin
Abi Talib, seorang pria yang dikenal
dengan keberaniannya dalam berba-
gai peperangan,


