doktrin Advent 4
terhadap Roh Kudus," dan menga-
takan "jika seorang mengucapkan sesu-
atu menentang Anak Manusia, ia akan diam-
puni, namun jika ia menentang Roh Kudus,
ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak,
dan di dunia yang akan datang pun tidak"
(Mat. 12:31, 32). Ini benar hanya jika
Roh Kudus itulah Allah.
Kitab Suci menghubungkan sifat-sifat
llahi kepada Roh Kudus. Ia hidup. Paulus
menyatakan Dia sebagai "Roh, yang mem-
beri hidup" (Rm. 8:2). Ia kebenaran itu. Kris-
tus menyebut-Nya "Roh Kebenaran" (Yoh.
16: 13). Ungkapan "kasih Roh" (Rm. 15:30)
dan "Roh Kudus Allah" (Ef. 4:30) menun-
jukkan bahwa kasih dan kekudusan yaitu
bagian sifat-Nya.
Roh Kudus mahakuasa. Ia mengarunia-
kan karunia roh "kepada tiap-tiap orang se-
cara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya
(1 Kor. 12:11). Ia mahahadir. Ia akan "me-
nyertai" umat-Nya "selama-lamanya" (Yoh.
14:16). Tidak seorang pun yang dapat mele-
paskan diri dari pengaruh-Nya (Mzm. 139:7-
10). Ia juga mahatahu, sebab "Roh menye-
lidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang
tersembunyi dalam diri Allah" dan "siapa ge-
rangan di antara manusia yang tahu, apa yang
ada di dalam diri manusia selain Roh
Allah" (1 Korintus 2:10, 11).
Pekerjaan Allah juga ada hubungannya
dengan Roh Kudus. Penciptaan dan kebang-
kitan melibatkan-Nya. Ayub berkata, "Roh
Allah telah membuat aku, dan nafas Yang
Mahakuasa membuat aku hidup" (Ayb. 33:
4). Penulis Mazmur berkata, "jika Eng-
kau mengirim roh-Mu, mereka tercipta"
(Mzm. 104:30). Paulus menyatakan, "Maka
Ia, yang telah membangkitkan Kristus Ye-
75Allah Roh Kudus
sus dari antara orang mati, akan menghidup-
kan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-
Nya, yang diam di dalam kamu" (Rm. 8:11).
Hanya Allah yang mempunyai pribadi
dan hadir di mana-mana, bukan pengaruh da-
ri sesuatu yang tanpa pribadi, pun wujud
yang diciptakan, yang dapat mengadakan
mukjizat yang membawa Kristus yang Ilahi
kepada seorang individu, Maria. Pada hari
Pentakosta itu, Roh membuat Allah manu-
sia, Yesus, hadir secara universal kepada se-
mua orang yang mau menerima-Nya.
Roh Kudus dianggap setara dengan Al-
lah Bapa dan Allah Anak dalam baptisan
(Mat. 28:19), dalam doa penutup yang ber-
sifat memberkati (2 Kor. 13:14), dan karu-
nia-karunia rohani (1 Kor. 12:4-6).
ROH KUDUS DAN KEALLAHAN
Sejak abad kekekalan Allah Roh Kudus
itu hidup dalam Keallahan sebagai anggota
yang ketiga. Bapa, Anak dan Roh ada de-
ngan sendirinya, setara. Walaupun masing-
masing setara, ada pembagian tugas dalam
Tritunggal itu (baca bab 2).
Kebenaran mengenai Allah Roh Kudus
dapat dipahami dengan jelas dalam Yesus.
jika Roh turun kepada umat percaya, Ia
datang sebagai "Roh Kristus"—la tidak da-
tang dengan kehendak-Nya sendiri, mem-
bawa kuasa-Nya. Kegiatan-Nya dalam seja-
rah bertumpu pada misi keselamatan yang
dibawa Kristus. Roh Kudus terlibat secara
aktif dalam peristiwa kelahiran Kristus (Luk.
1:35), mengukuhkan tugas pelayanan-Nya
kepada orang banyak pada waktu pembap-
tisan-Nya (Mat. 3:16, 17), dan membawa
manfaat korban pendamaian Kristus serta
kebangkitan untuk manusia (Rm. 8:11).
Di dalam Keallahan, Roh tampaknya me-
laksanakan tugas pelaksanaan. Ketika Allah
Bapa memberikan Anak-Nya kepada dunia
ini (Yoh. 3:16), Ia dikandung oleh Roh Ku-
dus (Mat. 1:18-20). Roh Kudus datang un-
tuk menyelesaikan rencana itu, mewujud-
kannya.
Keterlibatan yang erat Roh Kudus dalam
penciptaan nyata dalam kehadiran-Nya pada
waktu Penciptaan (Kej. 1:2). Asal-usul dan
pemeliharaan hidup bergantung pada pelak-
sanaan tugas-Nya; jika Ia meninggalkannya
berarti maut. Alkitab berkata, jika Allah "me-
narik kembali Roh-Nya, dan mengembali-
kan nafas-Nya pada-Nya, maka binasalah
bersama-sama segala yang hidup, dan kem-
balilah manusia kepada debu" (Ayb. 34:14,
15; bandingkan 33:4). Kita dapat melihat re-
fleksi pekerjaan kreatif yang dilakukan Roh
dalam tugas pengolahan kembali masing-
masing orang yang terbuka bagi Allah. Al-
lah melaksanakan pekerjaan-Nya di dalam
individu-individu melalui Roh Pencipta.
Oleh sebab itu, di dalam penjelmaan, pen-
ciptaan dan penciptaan kembali, Roh mun-
cul untuk menuntaskan tujuan Allah.
ROH YANG DIJANJIKAN
Kita direncanakan menjadi tempat ting-
gal Roh Kudus (baca 1 Kor. 3:16). Dosa
Adam dan Hawa yang memisahkan mereka
baik dari Taman Eden dan juga sebagai tem-
pat tinggal Roh. Perpisahan itu berkelanjut-
an—bejatnya kejahatan sebelum datangnya
Air Bah membuat Allah mengumumkan,
"Roh-Ku tidak akan selama-lamanya ting-
gal di dalam manusia" (Kej. 6:3).
Pada zaman Perjanjian Lama Roh me-
lengkapi orang-orang tertentu untuk melak-
sanakan tugas-tugas khusus (Bil. 24:2; Hak.
6:34; 1 Sam. 10:6). Terkadang Dia "dalam"
orang-orang (Kel. 31:3; Yes. 63:11). Tentu
saja orang-orang yang benar-benar percaya
76Allah Roh Kudus
selalu merasakan kehadiran-Nya, bahkan nu-
buat meramalkan kecurahan Roh "atas se-
mua manusia" (Yl. 2:28)—suatu saat bila-
mana pernyataan Roh yang lebih besar da-
lam zaman baru.
Selama dunia ini masih di tangan peram-
pas kekuasaan, kecurahan Roh itu masih di-
tangguhkan. Sebelum Roh dapat mencurah-
kannya atas semua manusia, Kristus harus
melaksanakan tugas-Nya di dunia ini dan
mengadakan tugas melalui korban penda-
maian. Menunjuk kepada pelayanan Kristus
sebagai pelayanan Roh, Yohanes Pembaptis
berkata, "Aku membaptis kamu dengan air"
namun Ia "akan membaptiskan kamu dengan
Roh Kudus" (Mat. 3:11). Akan namun Injil
tidak memperlihatkan Yesus Kristus mem-
baptis dengan Roh Kudus. Beberapa jam
menjelang kematian-Nya, Yesus berjanji
kepada murid-murid-Nya, "Aku akan minta
kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepa-
damu seorang Penolong yang lain, supaya
Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu
Roh Kebenaran" (Yoh. 14:16, 17). Adakah
janji pembaptisan Roh itu diterima waktu
penyaliban? Tiada merpati yang muncul pa-
da waktu hari Jumat penyaliban itu—hanya
kegelapan belaka serta kilatan cahaya.
Beberapa waktu kemudian setelah ke-
bangkitan-Nya, Yesus mengembusi Roh Ku-
dus kepada murid-murid-Nya (Yoh. 20: 22).
Ia berkata, "Dan Aku akan mengirim kepa-
damu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. namun
kamu harus tinggal di dalam kota ini sam-
pai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan
dari tempat tinggi" (Luk. 24:49). Kuasa ini
akan diterima "kalau Roh Kudus turun ke
atas kamu," untuk menjadikan umat perca-
ya menjadi saksi-saksi-Nya sampai akhir du-
nia (Kis. 1:8).
Yohanes menulis, "Sebab Roh itu belum
datang, sebab Yesus belum dimuliakan"
(Yoh. 7:39). Penerimaan Allah Bapa atas pe-
ngorbanan Kristus yaitu syarat kecurahan
Roh Kudus.
Abad baru mulai hanyalah jika Tuhan
kita yang telah menang itu duduk di atas
takhta surga. Hanya dengan demikianlah Ia
dapat mengirimkan Roh Kudus secara pe-
nuh. Dan setelah "Ia ditinggikan oleh tangan
kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang
dijanjikan itu,"kata Petrus, "dicurahkan-
Nya" Roh Kudus (Kis. 2:33) ke atas murid-
murid-Nya yang dengan penuh harap ber-
kumpul menyambut peristiwa ini, dan "se-
mua bertekun dengan sehati dalam doa ber-
sama-sama" (Kis. 1:5, 14). Pada hari Penta-
kosta, lima puluh hari setelah penyaliban di
Golgota, menyambut abad baru dengan se-
gala kuasa kehadiran Roh."Tiba-tiba turun-
lah dari langit suatu bunyi seperti tiupan
angin keras yang memenuhi seluruh rumah,
di mana mereka duduk; dan tampaklah kepa-
da mereka lidah-lidah seperti nyala api yang
bertebaran dan hinggap pada mereka ma-
sing-masing. Maka penuhlah mereka dengan
Roh Kudus" (Kis. 2:2-4).
Tugas Yesus dan Roh Kudus sepenuhnya
saling bergantung. Roh Kudus dapat dicu-
rahkan sepenuhnya hanyalah jika tugas
Yesus telah diselesaikan. Dan Yesus dikan-
dung Maria sebab Roh Kudus (Mat. 1:8-
21), dibaptiskan oleh Roh Kudus (Mrk. 1:9,
10), dibimbing oleh Roh (Luk. 4:1), menga-
dakan mukjizat-Nya melalui Roh (Mat.
12:24-32), mempersembahkan diri-Nya di
Golgota melalui Roh (Ibr. 9:14, 15) dan ke-
mudian dibangkitkan oleh Roh (Rm. 8:11).
Yesuslah Orang yang pertama mengala-
mi kepenuhan Roh Kudus. Kebenaran yang
sangat mengherankan itu, ialah bahwa Tu-
han kita mau mencurahkan Roh-Nya kepa-
da semua orang yang sungguh-sungguh me-
rindukan-Nya.
77Allah Roh Kudus
MISI ROH KUDUS
Petang sebelum kematian Kristus Ia me-
ngucapkan kata perpisahan yang menyebab-
kan murid-murid-Nya menjadi amat gelisah.
Dengan segera Ia menjamin bahwa Roh Ku-
dus akan diterima mereka sebagai wakil-Nya
secara pribadi. Mereka tidak akan ditinggal-
kan sebagai yatim piatu (Yoh. 14:18).
Asal-usul Misi itu. Perjanjian Baru me-
nyatakan Roh Kudus dalam cara yang unik.
Ia disebut "Roh Yesus" (Kis. 16:7), "Roh
Anak-Nya" (Gal. 4:6), "Roh Allah" (Rm.
8:9), "Roh Kristus" (1 Ptr. 1:11), dan "Roh
Yesus Kristus" (Flp. 1:19). Siapa yang me-
mulai misi Roh Kudus—Yesus Kristus atau-
kah Allah Bapa?
jika Kristus menyatakan asal-usul
misi Roh Kudus kepada sebuah dunia yang
telah hilang, ada dua sumber yang disebut-
kan-Nya. Pertama-tama Ia menunjuk kepa-
da Bapa: "Aku akan minta kepada Bapa, dan
Ia akan memberikan kepadamu seorang Pe-
nolong yang lain" (Yoh. 14:16; bandingkan
15:26, "yang keluar dari Bapa"). Baptisan
Roh Kudus disebut-Nya "janji Bapa" (Kis.
1:4). Kedua, Kristus menunjukkan diri-Nya
sendiri: "Aku akan mengutus Dia kepada-
mu" (Yoh. 16:7). Oleh sebab itu, Roh Ku-
dus mulai dari Allah Bapa dan Allah Anak.
Misi-Nya ke Dunia Ini. Kita dapat me-
ngakui Ketuhanan Kristus hanyalah mela-
lui pengaruh Roh Kudus. Paulus berkata,
"Tidak ada seorang pun, yang dapat meng-
aku: ‘Ye-sus yaitu Tuhan,’ selain oleh Roh
Kudus.” (1 Kor. 12:3).
Kepada kita diberikan jaminan bahwa,
melalui Roh Kudus, Kristus, "Terang yang
sebenarnya , “menerangi” setiap orang, se-
dang datang ke dalam dunia" (Yoh. 1:9). Mi-
si-Nya ialah untuk “menginsafkan dunia
akan dosa, kebenaran dan penghakiman”
(Yoh. 16:8).
Pertama-tama, Roh Kudus membawa
kepada kita suatu penyadaran akan dosa, te-
rutama dosa sebab tidak menerima Kristus
(Yoh. 16:9). Kedua, Roh mendorong semua
orang supaya menerima kebenaran Kristus.
Ketiga, Roh memperingatkan kita mengenai
penghakiman, sebuah alat yang penuh kua-
sa untuk membangkitkan pikiran orang yang
digelapi dosa atas perlunya pertobatan dan
perubahan.
jika kita telah bertobat maka kita da-
pat dilahirkan kembali melalui baptisan air
dan Roh Kudus (Yoh. 3:5). Kemudian kita
memperoleh hidup baru, sebab kita telah
menjadi tempat kediaman Roh Kristus.
Misi-Nya bagi Orang Percaya. Sebagi-
an besar nas mengenai Roh Kudus menying-
gung hubungan-Nya dengan umat Allah. Pe-
ngaruh-Nya yang menguduskan menuntun
kepada penurutan (1 Ptr. 1:2), akan namun
tidak seorang pun yang tetap akan menga-
lami kehadiran-Nya kalau tidak memenuhi
syarat-syarat tertentu. Petrus mengatakan Al-
lah telah mengaruniakan Roh kepada orang-
orang yang terus-menerus menurut Dia (Kis.
5:32).1 Oleh sebab itu, orang-orang percaya
diberi amaran mengenai perlawanan, men-
dukakan, dan memadamkan Roh (Kis. 7:51;
Ef. 4:30; 1 Tes. 5:19).
Apakah yang dilakukan Roh bagi orang-
orang beriman?
1. Ia menolong orang-orang percaya.
Tatkala memperkenalkan Roh Kudus, Kris-
tus menyebut-Nya "seorang Penolong (pa-
rakletos) yang lain" (Yoh. 14:16). Kata Yu-
nani parakletos diterjemahkan menjadi "Pe-
nolong," "Penghibur," "Penasihat," dan da-
pat juga berarti "Yang Mengantarai," "Pe-
rantara," atau "Pembela."
78Allah Roh Kudus
Parakletos satu-satunya yang lain dise-
butkan dalam Kitab Suci ialah Kristus sen-
diri. Ialah yang menjadi Pembela atau Pe-
ngantara di hadapan Bapa. "Anak-anakku,
hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya
kamu jangan berbuat dosa, namun jika se-
orang berbuat dosa, kita mempunyai seorang
pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus,
yang adil" (1 Yoh. 2:1). Sebagai Pengantara,
Mediator, dan Penolong, Kristus mengha-
dapkan kita kepada Allah dan memperlihat-
kan Allah kepada kita. Nah, demikian pula
Roh memimpin kita kepada Kristus dan me-
nyatakan anugerah Kristus kepada kita. Ini
menerangkan mengapa Kristus disebut "Roh
kasih karunia" (Ibr. 10:29). Salah satu sum-
bangan-Nya yang terbesar ialah penerapan
anugerah penebusan yang dilakukan Kris-
tus terhadap manusia (baca 1 Kor. 15:10; 2
Kor. 9:4; Yoh. 4:5, 6).
2. Ia membawa kebenaran Kristus.
Kristus menyebut Roh Kudus "Roh Kebe-
naran" (Yoh. 14:17; 15:26; 16:13). Tugas-
Nya juga termasuk "mengingatkan kamu
akan semua yang telah Kukatakan kepada-
mu" (Yoh. 14:26) dan membimbing "kamu
ke dalam seluruh kebenaran"(Yoh 16:13).
Pekabaran yang disampaikan-Nya ialah men-
jadi saksi bagi Kristus Yesus (Yoh. 15: 26).
"Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sen-
diri, namun segala sesuatu yang didengar-Nya
itulah yang akan dikatakan-Nya," kata Kris-
tus,"dan la akan memberitakan kepadamu
hal-hal yang akan datang. Ia akan memulia-
kan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepa-
damu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku"
(Yoh. 16: 13,14).
3. Ia membawa hadirat Kristus. Peka-
baran yang disampaikan-Nya bukan saja me-
ngenai Kristus, namun juga hadirat Kristus.
Yesus berkata, "yaitu lebih berguna bagi
kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku ti-
dak pergi, Penghibur. (Roh Kudus, Yoh. 14:
16, 17) itu tidak akan datang kepadamu, te-
tapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus
Dia kepadamu" (Yoh. 16:7).
Sebagai manusia Yesus tidak dapat hadir
di mana-mana, oleh sebab itu sangatlah bi-
jaksana bila Ia pergi. Melalui Roh Ia dapat
hadir di mana-mana sepanjang masa. Yesus
berkata, "Aku akan minta kepada Bapa, dan
Ia akan memberikan kepadamu seorang Pe-
nolong yang lain, supaya Ia menyertai ka-
mu, yaitu Roh Kebenaran." Ia memberikan
jaminan bahwa Roh itu "akan diam di da-
lam kamu. Aku tidak akan meninggalkan
kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kem-
bali kepadamu" (Yoh. 14:16-18). "Roh Ku-
dus yaitu wakil Kristus, namun bebas dari
kepribadian manusia, dan ketergantungan-
nya."2
Pada waktu penjelmaan, Roh Kudus
menghadirkan Kristus kepada seorang—
Maria. Pada hari Pentakosta, Roh mengha-
dirkan Kristus yang telah menang itu kepa-
da dunia ini. Janji-janji Kristus ialah: "Aku
sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau"
(Ibr. 13:5) dan "Aku menyertai kamu senan-
tiasa sampai kepada akhir zaman" (Mat.
28:20)—diwujudkan melalui Roh. Oleh ka-
rena alasan itulah Perjanjian Baru memberi-
kan Roh itu sebuah nama yang belum per-
nah digunakan pada-Nya di dalam Perjanji-
an Lama, "Roh Yesus Kristus" (Flp. 1:19).
Hanya dengan demikianlah, melalui Roh,
baik Bapa maupun Anak menjadikan umat
percaya sebagai tempat tinggal Mereka (Yoh.
14:23), satu-satunya jalan bagaimana orang
beriman dapat tinggal di dalam Kristus, yak-
ni melalui Roh.
4. Ia menuntun jalannya jemaat. Kare-
na Roh Kudus menghadirkan hadirat Kris-
tus, Ia menjadi Wakil sejati Kristus di atas
79Allah Roh Kudus
dunia ini. Sebagai pusat yang kekal atas kua-
sa dalam masalah-masalah iman dan doktrin
maka cara-cara yang ditempuh-Nya untuk
menuntun jemaat sesuai dengan Alkitab. "Ci-
ri khas Protestantisme—ialah bahwa Roh
Kudus yaitu wakil sejati atau pengganti
Kristus di atas dunia ini. Kalau bergantung
kepada organisasi, para pemimpin, atau kebi-
jaksanaan manusia berarti menempatkan ma-
nusia di tempat yang Ilahi.3
Roh Kudus begitu terlibat dalam peker-
jaan kerasulan jemaat yang mula-mula itu.
Melalui doa, puasa, jemaat memilih misio-
naris, atas bimbingan Roh Kudus itu (Kis.
13:1-4). Orang-orang yang dipilih sudah di-
kenal baik sebagai orang yang membuka diri
terhadap bimbingan Roh Kudus. Kitab Ki-
sah Para Rasul melukiskan mereka sebagai
orang yang "penuh dengan Roh Kudus" (Kis.
13:9, bandingkan 52). Kegiatan-kegiatan
yang dilakukan mereka berada di bawah ken-
dali-Nya (Kis. 16:6, 7). Paulus mengingat-
kan tua-tua jemaat bahwa mereka ditempat-
kan pada kedudukan mereka oleh Roh Ku-
dus (Kis. 20: 28).
Roh Kudus melakukan sebuah peran pen-
ting dalam menyelesaikan kesukaran yang
serius yang mengancam kesatuan jemaat. Se-
sungguhnya, Kitab Suci memperkenalkan
keputusan-keputusan yang dibuat majelis je-
maat yang mula-mula itu dengan kata seperti
yang berikut: "Sebab yaitu keputusan Roh
Kudus dan keputusan kami...." (Kis. 15:28).
5. Ia melengkapi jemaat dengan karu-
nia istimewa. Roh Kudus telah mencurah-
kan karunia-karunia istimewa kepada umat
Allah. Pada zaman Perjanjian Lama "Roh
Tuhan menghinggapi dia" dan memberikan
kepada mereka kuasa istimewa untuk me-
mimpin dan melepaskan bangsa Israel (Hak.
3:10; 6:34; 11:29, dsb) dan kemampuan un-
tuk bernubuat (Bil. 11:17, 25, 26; 2 Sam.
23:2). Roh turun kepada Saul dan Daud ke-
tika mereka diurapi sebagai pemerintah umat
Tuhan (1 Sam. 10:6, 10; 16:13). Kepada se-
bagian orang, turunnya Roh itu membuat-
nya mampu melakukan karya-karya seni
yang unik (Kel. 28:3; 31:3; 35:30-35).
Pada jemaat yang mula-mula itu, Kristus
mencurahkan pelbagai karunia kepada je-
maat melalui Roh Kudus. Roh Kudus mem-
bagi-bagikan karunia ini kepada umat per-
caya untuk kemajuan jemaat, diberikan-Nya
karunia itu ketika dilihat-Nya layak untuk itu
(Kis. 2:38; 1 Kor. 12:7-11). Ia menyediakan
kuasa istimewa yang diperlukan untuk me-
nyampaikan Injil sampai ke ujung dunia (Kis.
1:8; baca bab 16 dari buku ini).
6. Ia mengisi hati orang percaya. Rasa
ingin tahu Paulus terhadap murid-murid yang
tinggal di Efesus dinyatakan sebagai berikut,
"Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ke-
tika kamu menjadi percaya?" (Kis. 19:2) ada-
lah sebuah pertanyaan yang sulit bagi setiap
orang percaya.
Manakala Paulus menerima jawaban
yang negatif maka ia menumpangkan tangan-
nya ke atas murid-murid itu sehingga me-
reka menerima baptisan Roh Kudus (Kis.
19:6).
Peristiwa ini menunjukkan bahwa kein-
safan akan dosa yang muncul sebab Roh
Ku-dus dan pengisian Roh kehidupan yaitu
dua pengalaman yang berbeda.
Yesus menyatakan perlunya lahir dari air
dan Roh (Yoh. 3:5). Sebelum Ia naik ke sur-
ga diperintahkan-Nya supaya orang-orang
yang baru percaya itu dibaptiskan dengan
"nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus"
(Mat. 28:19). Sesuai dengan perintah ini,
Petrus mengkhotbahkan bahwa "karunia
Roh Ku-dus" akan diterima pada saat bap-
tisan (Kis. 2:38). Dan Paulus mengukuhkan
pentingnya baptisan Roh Kudus (baca bab
80
14 dari buku ini) dengan panggilan yang
mendesak agar orang-orang percaya itu "pe-
nuh dengan Roh" (Ef. 5:18).
Dengan pemenuhan Roh Kudus, maka
kita pun diubah ke dalam citra Allah, mene-
ruskan pekerjaan penyucian yang dimulai
pada saat kelahiran baru itu. Allah telah me-
nyelamatkan kita sesuai dengan anugerah-
Nya "oleh permandian kelahiran kembali dan
oleh pembaruan yang dikerjakan oleh Roh
Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepa-
da kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita"
(Tit. 3:5, 6).
"Dengan tidak hadirnya Roh maka pe-
kerjaan Injil menjadi tidak berdaya sama se-
kali. Pengetahuan, bakat, kefasihan lidah,
atau setiap anugerah yang alamiah mungkin
dimiliki; namun , tanpa kehadiran Roh Allah,
tidak ada hati yang dapat disentuh, tidak ada
orang berdosa yang dimenangkan bagi Kris-
tus. Sebaliknya, jika mereka dihubungkan
dengan Kristus, jika karunia Roh menjadi mi-
lik mereka, murid-murid-Nya yang paling
miskin dan paling tidak berpengetahuan se-
kalipun akan memiliki kuasa yang akan ber-
bicara kepada hati mereka. Allah akan men-
jadikan mereka saluran pencurahan pengaruh
yang paling tinggi di alam semesta."4
Roh itu sangat menentukan. Semua peru-
bahan yang diakibatkan Yesus Kristus dalam
kita terjadi melalui pelayanan Roh. Sebagai
umat percaya kita harus senantiasa waspada
bahwa tanpa Roh kita tidak akan dapat mela-
kukan sesuatu (Yoh. 15:5).
Dewasa ini Roh Kudus mengarahkan per-
hatian kita kepada karunia kasih Allah ter-
besar yang diberikan dalam Anak-Nya. Ia
mengharapkan agar kita jangan menghala-
ngi permohonan-Nya, melainkan menerima
jalan satu-satunya itu, yang memungkinkan
kita diperdamaikan dengan Bapa kita yang
penuh kasih dan kemurahan.
________________:
1. Baca Arnold V. Wallenkampf, New by The Spirit (Mountain View, CA: Pacific Press, 1978), hlm. 49, 50.
2. White, Desire of Ages, hlm. 669.
3. LeRoy E. Froom, The Coming of the Comforter, edisi revisi (Washington, D.C.: Review and Herald, 1949), hlm. 66, 67.
4. White, Testimonies for the Church (Mountain View, CA: Pacific Press, 1948), jilid 8, hlm. 21, 22.
81
DOKTRIN TENTANG MANUSIA
82
Tuhan Pencipta segala sesuatu, dan hal itu telah dinyatakan dalam
Kitab Suci, catatan autentik atas kegiatan-Nya yang kreatif Di dalam
enam hari Tuhan menjadikan “langit dan bumi” dan semua makhluk
hidup yang ada di atas bumi, dan berhenti pada hari ketujuh pada minggu
yang pertama itu. Oleh sebab itu, Ia menjadikan Sabat sebagai pe-
ringatan yang abadi atas pekerjaan penciptaan yang sempurna yang
dilakukan-Nya itu. Leluhur manusia yang pertama itu, lelaki dan pe-
rempuan, yang telah dijadikan Tuhan menurut gambar-Nya sebagai
mahkota ciptaan, memerintah dunia dan diberi tugas untuk mengusa-
hakannya. Tatkala dunia ini sudah selesai diciptakan, maka segala
sesuatu itu “sungguh amat baik,” menyatakan kemuliaan Tuhan. —
___________________—6.
83
Catatan yang diberikan di dalam Alkitab
sangat sederhana. Dengan perintah Tu-
han, “langit dan bumi, laut dan segala isi-
nya” (Kel. 20:11) jadi dengan segera. Da-
lam enam hari saja tampak perubahan dari
yang “belum berbentuk dan kosong” men-
jadi planet yang penuh dan subur dengan
makhluk ciptaan dan pelbagai bentuk tanam-
an yang sudah dewasa. Planet kita dihiasi
dengan warna-warna yang cerah, bersih, se-
jati, dengan pelbagai bentuk dan keharum-
an, berbaur bersama-sama dengan selera
yang sangat baik dan ketepatan yang sem-
purna dalam segala fungsinya.
Kemudian Tuhan “berhenti” untuk me-
rayakan dan menikmatinya. Kejayaan serta
keindahan yang enam hari itu akan dikenang
selama-lamanya sebab Ia berhenti. Coba ki-
ta perhatikan sejenak bagaimana laporan Al-
kitab mengenai Permulaan itu.
“Pada mulanya Allah menjadikan langit
dan bumi.” Dunia dipenuhi dengan air dan
gelap gulita. Pada hari pertama, Allah memi-
sahkan terang dari gelap dan menamai ter-
ang itu “siang” dan gelap gulita itu “malam.”
Pada hari kedua Allah “memisahkan air,”
memisahkan air yang ada di bawah cakrawa-
la itu dari air yang ada di atasnya, untuk mem-
buat suasana nyaman bagi kehidupan. Pada
hari yang ketiga Allah menghimpun air ke
sebuah tempat, membuat bagian daratan dan
lautan. Kemudian Allah menyelimuti pantai,
bukit-bukit dan lembah-lembah, “tanah itu
menumbuhkan tunas-tunas muda, segala je-
nis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan se-
gala jenis pohon-pohonan yang menghasil-
kan buah yang berbiji” (Kej. 1:12).
Pada hari yang keempat Allah menjadi-
kan matahari, bulan dan bintang untuk “men-
jadi tanda yang menunjukkan masa-masa
yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun.”
Matahari memerintah siang, bulan memerin-
tah malam (Kej. 1:14-16).
Tuhan menjadikan burung-burung dan
makhluk yang hidup di dalam air pada hari
yang kelima. Ia menjadikan mereka “dan se-
gala jenis makhluk hidup” (Kej. 1:21), de-
ngan sebuah petunjuk bahwa makhluk yang
diciptakan-Nya akan menurunkan jenisnya.
Pada hari yang keenam Allah menjadikan
BAB 6
PENCIPTAAN
84Penciptaan
pelbagai jenis binatang yang melata. Ia ber-
kata, “Hendaklah bumi mengeluarkan sega-
la jenis makhluk yang hidup, ternak dan bi-
natang melata dan segala jenis binatang liar”
(Kej. 1:24).
Setelah itu, sebagai tindakan yang paling
mulia dan menjadi mahkota Ciptaan, Allah
menjadikan manusia “menurut gambar-Nya,
menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia;
laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya me-
reka” (Kej. 1:27).Allah melihat segala sesu-
atu yang diciptakan-Nya itu, “sungguh amat
baik” (Kej. 1:31).
FIRMAN KREATIF TUHAN
“Oleh firman Tuhan,” kata penulis Maz-
mur, “langit telah dijadikan, oleh nafas dari
mulut-Nya segala tentaranya” (Mzm. 33:6).
Bagaimanakah berlangsungnya kata-kata
yang kreatif ini?
Firman Kreatif dan Benda Pra-ada.
Kata yang ada dalam Kejadian, “Berfir-
manlah Allah,” mengenalkan perintah Ilahi
yang dinamis yang bertanggung jawab atas
peristiwa megah enam hari Penciptaan itu (Kej.
1:3, 6, 9, 11, 14, 20, 24). Setiap perintah mun-
cul dengan energi yang kreatif yang mengu-
bah planet yang “belum berbentuk dan ko-
song” (Kej. 1:2) menjadi sebuah Firdaus.
“Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi”
(Mzm. 33: 9). sebenarnya , “bahwa alam
semesta telah dijadikan oleh firman Allah”
(Ibrani 11:3).
Firman kreatif ini tidak bergantung pada
benda yang pra-ada (ex nihilo): “sebab
iman kita mengerti, bahwa alam semesta te-
lah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa
yang kita lihat telah terjadi dari apa yang ti-
dak dapat kita lihat” (Ibr. 11:3). Walaupun
kadang-ladang Allah menggunakan benda
pra-ada—Adam dan binatang-binatang dija-
dikan dari tanah, dan Hawa sendiri dijadi-
kan dari tulang rusuk Adam (Kej. 2:7, 19,
22)—alhasil, Allah yang menjadikan segala
sesuatu.
KISAH PENCIPTAAN
Banyak pertanyaan yang dikemukakan
mengenai catatan Kejadian yang ada da-
lam buku itu, tentang Penciptaan. Apakah ke-
dua penuturan mengenai Penciptaan yang
ter-dapat dalam buku pertama Alkitab berisi
laporan yang bertentangan ataukah memang
catatan itu konsisten? Apakah hari-hari Pen-
ciptaan memang secara harfiah ataukah
menggambarkan suatu periode yang amat
panjang? Benarkah langit—matahari, bulan
dan bintang—benar-benar dijadikan 6000 ta-
hun yang lalu?
Catatan Penciptaan. Dua catatan Al-
kitab mengenai penciptaan, satu ada da-
lam Kej. 1:1 sampai 2:3, sedang yang sa-
tu lagi ada dalam Kej. 2:4-25, selaras.
Tuturan yang pertama dilakukan secara
beruntun, yaitu deretan peristiwa penciptaan
segala sesuatu.
sedang tuturan yang kedua dimulai
dengan kata, “Inilah daftar keturunan...,” me-
rupakan sebuah pernyataan bahwa di dalam
Kejadian diperkenalkan sejarah keluarga
(bandingkan Kej. 5:1; 6:9; 10:1). Narasi ini
melukiskan tempat manusia dalam Pencip-
taan. Tidak terlalu kronologis namun me-
nampakkan bahwa segala sesuatu dijadikan
untuk menjadi lingkungan manusia itu.l Di-
berikannya gambaran yang lebih rinci me-
ngenai penciptaan Adam dan Hawa dan ling-
kungan yang dijadikan Allah di taman Eden.
Lagi pula, kepada kita diberikan informasi
mengenai keadaan manusia dan pemerintah-
an Ilahi. Hanyalah dengan menerima kedua
catatan Penciptaan ini sebagaimana adanya,
85Penciptaan
harfiah dan bersifat historis, membuatnya se-
laras dengan bagian-bagian selanjutnya da-
lam Kitab Suci.
Hari-hari Penciptaan. Hari-hari pencip-
taan menurut Alkitab yaitu menggunakan
hari yang benar-benar 24 jam secara harfi-
ah. Cara khas yang digunakan orang pada
zaman Perjanjian Lama, oleh umat Allah, ia-
lah dengan mengukur waktu dengan ungkap-
an “petang dan pagi” (Kej. 1:5, 8, 13, 19,
23, 31) menetapkan hari-hari yang dimulai
dengan petang atau waktu matahari terbenam
(baca Im. 23:32; Ul. 16:6). Tidak ada pem-
benaran yang mengatakan bahwa ungkapan
satu hari yang harfiah ini, misalnya, sama
dengan ribuan atau jutaan tahun dalam Ke-
jadian.
Kata Ibrani untuk hari ialah Yom dalam
Kejadian 1. jika kata yom disertai kata
penunjuk bilangan tentu, maka yang dimak-
sudkannya ialah selalu yang harfiah, hari 24
jam (misalnya dalam Kej. 7:11; Kel. 16:1)
—petunjuk lain yang menyatakan bahwa ca-
tatan dalam Penciptaan berbicara mengenai
hari secara harfiah, 24 jam sehari.
Sepuluh Hukum merupakan bukti lain
bahwa Penciptaan dalam Kejadian menyang-
kut hari yang harfiah, 24 jam sehari. Dalam
hukum keempat Tuhan berkata, “Ingatlah dan
kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya
engkau akan bekerja dan melakukan segala
pekerjaanmu, namun hari ketujuh yaitu hari
Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan me-
lakukan sesuatu pekerjaan, ... Sebab enam
hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan
bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti
pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN
memberkati hari Sabat dan menguduskan-
nya” (Kel. 20:8-11).
Dengan ringkas, Allah menceritakan
kembali kisah Penciptaan. Setiap hari (yom)
diisi dengan kegiatan yang kreatif, dan Sa-
bat merupakan klimaks minggu Penciptaan
itu. Hari Sabat yang 24 jam itu, menjadi peri-
ngatan minggu harfiah Penciptaan. Hukum
keempat menjadi tidak bermakna jika hari
dikendurkan menjadi masa yang beribu-ribu
tahun.2
Orang yang mengutip 2 Petrus 3:8 “bah-
wa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti
seribu tahun,” mencoba membuktikan bah-
wa hari-hari Penciptaan itu bukanlah hari
yang ditafsirkan secara harfiah 24 jam seha-
ri, melupakan fakta bahwa pada ayat yang
sama dikatakan juga “seribu tahun” yaitu
“sama seperti satu hari.” Orang-orang yang
menafsirkan hari Penciptaan itu sama dengan
ribuan tahun atau membacanya sebagai satu
kurun waktu yang tidak terbatas menjadi juta
dan milyar tahun berarti mempertanyakan
keabsahan perkataan Allah—sama seperti
ular menggoda Hawa.
Apa itu “langit?” Banyak orang yang
bertanya-tanya, dan yang memahami pun be-
gitu, dengan adanya ayat-ayat yang menga-
takan bahwa Allah “menciptakan langit dan
bumi” (Kej. 1:1; bandingkan 2:1; Kel. 20:11)
dan bahwa Ia menjadikan matahari, bulan,
dan bintang pada hari keempat dalam ming-
gu Penciptaan 6000 tahun yang lalu (Kej.
1:14-19). Apakah semua benda-benda yang
ada di langit diadakan pada ketika itu
juga?
Tentu saja minggu Penciptaan yang di-
bicarakan di sini tidak mencakup langit yang
didiami Tuhan Allah sejak zaman kekekal-
an. ”Langit” yang disebutkan dalam Kejadi-
an 1 dan 2 mungkin menunjuk kepada pla-
net-planet serta bintang-bintang yang paling
dekat kepada bumi.
sebenarnya , bumi, ganti ciptaan per-
tama Kristus, sangat mungkin yaitu cipta-
an-Nya yang terakhir. Alkitab melukiskan
anak-anak Allah, kemungkinan yang dimak-
86Penciptaan
sud yaitu Adam-Adam dari dunia-dunia
yang tidak pernah jatuh ke dalam dosa, ber-
jumpa dengan Allah, mengadakan pertemu-
an di sebuah sudut yang jauh di alam semes-
ta (Ayb. 1:6-12). Sebegitu jauh, belum ada
penemuan mengenai planet-planet yang di-
huni. Tampaknya tempat yang dimaksudkan
itu amat jauh di keluasan alam semesta—di
luar jangkauan sistem bimasakti kita yang
telah dicemari dosa ini, untuk menjamin su-
paya jangan sampai ditulari dosa.
ALLAH PENCIPTAAN
Allah yang bagaimanakah Allah Pencipta
kita itu? Apakah semacam Pribadi yang tia-
da batasnya yang menaruh perhatian kepada
kita—noktah kehidupan yang terpencil di ke-
jauhan alam semesta-Nya? Setelah menja-
dikan bumi, apakah Ia menjadi semakin be-
sar dan menjadi benda yang semakin baik?
Allah yang Memelihara. Catatan Pen-
ciptaan menurut Alkitab dimulai dengan Al-
lah dan kemudian beralih kepada manusia.
Secara tidak langsung dikatakannya bahwa
dalam menciptakan langit dan bumi Allah
menyiapkan lingkungan yang sempurna bagi
umat manusia. Umat manusia, lelaki dan pe-
rempuan, yaitu karya ciptaan-Nya yang lu-
ar biasa mulianya.
Catatan itu menunjukkan Allah sebagai
perencana yang teliti sekali atas segala ke-
perluan makhluk ciptaan-Nya. Ia membuat
sebuah taman yang menjadi rumah kedia-
man khusus untuk manusia dan memberikan
tanggung jawab kepada manusia itu untuk
mengelolanya. Ia menjadikan manusia sede-
mikian rupa agar mereka dapat mengadakan
suatu hubungan dengan Allah. Hubungan
yang dimaksudkan bukanlah sebuah hubung-
an yang tidak alamiah, bukan yang dipaksa-
kan; Ia menjadikan mereka dengan memberi-
kan kebebasan untuk memilih dan dengan
kemampuan untuk mengasihi serta melay-
ani-Nya.
Siapakah Allah Pencipta itu? Semua
anggota Keallahan ‘terlibat dalam Pencip-
taan (Kej. 1:2, 26). Wakil yang giat yang tu-
rut serta yaitu Anak Allah, Kristus yang su-
dah ada sejak semula (pra-ada). Di dalam
prolog mengenai catatan Penciptaan, Musa
menulis: “Pada mulanya Allah menjadikan
langit dan bumi.”Mengingat kata-kata ini,
Yohanes melukiskan secara rinci mengenai
peranan Kristus dalam Penciptaan: “Pada
mulanya yaitu Firman; Firman itu bersa-
ma-sama dengan Allah dan Firman itu ada-
lah Allah.... Segala sesuatu dijadikan oleh
Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang
telah jadi dari segala yang telah dijadikan”
(Yoh. 1:1-3). Di dalam nas yang sama de-
ngan jelas Yohanes menuliskan siapa sebe-
narnya yang dimaksudkannya: “Firman itu
telah menjadi manusia, dan diam di antara
kita” (Yoh. 1: 14). Yesus yaitu Pencipta,
Seorang yang berbicara sehingga bumi pun
jadilah (baca Ef. 3:9; Ibr. 1:20).
Menunjukkan Kasih Allah. Betapa da-
lamnya kasih Allah itu! jika Kristus yang
penuh cinta kasih itu membuat tangan Adam,
pastilah Ia tahu bahwa tangan manusia pada
suatu saat nanti akan menghina dan menya-
libkan-Nya. Dalam satu pengertian yang
mendalam Penciptaan dan salib itu bersatu,
sebab Kristus sang Pencipta itu telah di-
sembelih sejak asas dunia ini (Why. 13:8).
Kemahatahuan-Nya3 sebagai yang Ilahi ti-
dak mencegah-Nya. Di bawah bayang-ba-
yang kabut Golgota yang tidak menyenang-
kan itu, Kristus menghembuskan napas ke-
hidupan ke lubang hidung Adam, dengan pe-
ngetahuan bahwa penciptaan itu akan men-
cabut nyawa-Nya. Kasih yang sukar dipaha-
87Penciptaan
mi itulah yang menjadi dasar Penciptaan.
TUJUAN PENCIPTAAN
Kasihlah yang menjadi pendorong sega-
la tindak laku Allah sebab Ia sendiri kasih
(1 Yoh. 4:8). Ia tidak hanya menciptakan kita
supaya mengasihi-Nya, namun juga supaya
kita dapat mengasihi-Nya. Kasih-Nya telah
membawa Dia ikut serta dalam Penciptaan,
salah satu karunia terbesar yang dapat diberi-
kan-Nya—eksistensi. Kemudian, adakah Al-
kitab, menunjukkan untuk maksud apa alam
semesta dan penghuninya diadakan?
Untuk Menyatakan Kemuliaan Tuhan.
Melalui ciptaan-Nya, Allah mengungkapkan
kemuliaan-Nya: “Langit menceritakan ke-
muliaan Allah, dan cakrawala memberitakan
pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan be-
rita itu kepada hari, dan malam menyampai-
kan pengetahuan itu kepada malam. Tidak
ada berita dan tidak ada kata, suara mereka
tidak terdengar; namun gema mereka terpen-
car ke seluruh dunia, dan perkataan mereka
sampai ke ujung bumi” (Mzm. 19:1-5).
Mengapa pertunjukan kemuliaan Allah
sedemikian rupa? Fungsi alam menyaksikan
kemuliaan Allah. Ia bermaksud menjadikan
karya ciptaan-Nya itu mengarahkan setiap in-
dividu kepada Pencipta mereka. “Sebab apa
yang tidak nampak dari pada-Nya,” kata Ra-
sul Paulus, “yaitu kekuatan-Nya yang kekal
dan Keilahian-Nya, dapat nampak kepada pi-
kiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan,
sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Rm.
1:20).
jika kita ditarik kepada Tuhan melalui
alam, kita dapat mempelajari lebih dalam ten-
tang kualitas Allah, kualitas yang dapat diwu-
judkan ke dalam hidup kita. Sehingga dengan
memantulkan sifat-sifat Allah, kita memulia-
kan-Nya, dan dengan demikianlah kita men-
datangkan kemuliaan bagi-Nya, memenuhi
maksud tujuan Allah dalam menciptakan kita.
Untuk Memenuhi Bumi. Pencipta du-
nia ini tidak menjadikan dunia ini menjadi
sebuah tempat yang sunyi sepi, menjadi se-
buah planet yang kosong; dunia ini dijadi-
kan untuk dihuni (Yes. 45:8). jika manu-
sia pertama itu merayakan perlunya seorang
kawan pendamping, maka Tuhan menjadi-
kan seorang perempuan baginya (Kej. 2:20;
1 Kor. 11:9). Ia mendirikan lembaga perka-
winan (Kej. 2:22-25). Pencipta tidak saja
memberikan pasangan itu tempat atas dunia
yang baru dijadikan ini—namun juga diser-
tai dengan perkataan, “Beranakcuculah dan
bertambah banyak” (Kej. 1:28), Ia memberi-
kan kepada mereka hak istimewa untuk me-
ngambil bagian dalam penciptaan itu.
MAKNA PENCIPTAAN
Orang banyak mudah tergoda untuk me-
lalaikan doktrin Penciptaan. “Siapa peduli,”
kata mereka, “bagaimana Tuhan mencipta-
kan dunia ini? Apa yang kita perlukan ialah
bagaimana mengetahui cara masuk ke dalam
surga.” Bagaimanapun doktrin bahwa dunia
ini diciptakan Tuhan membentuk “dasar yang
tidak terelakkan bagi orang Kristen dan teo-
logi Alkitabiah.”4 Sejumlah konsep Alkita-
biah yang fundamental berakar dalam Pen-
ciptaan. sebenarnya , sebuah pengetahu-
an bagaimana Allah menjadikan “langit dan
bumi” akan dapat membantu seseorang men-
cari jalan menuju langit dan bumi yang baru
seperti yang pernah dibicarakan Yohanes Pe-
wahyu. Apa lagikah yang ada dalam ajar-
an mengenai Penciptaan itu?
Menghilangkan Penyembahan Berhala.
Allah yang mampu mencipta itu membedakan-
Nya dari berhala-berhala (1 Taw. 16: 24-27;
88Penciptaan
Mzm. 96:5, 6; Yes. 40:18-26; 42:5-9; 44).
Kita harus menyembah Allah yang telah
menciptakan kita, bukan menyembah berhala
yang kita buat sendiri. Dengan kebajikan
kuasa cipta-Nya, Ia patut menerima ketaat-
an kita yang utuh. Hubungan yang bagaima-
napun yang mengganggu ketaatan kita sama-
lah dengan penyembahan berhala yang ke-
lak menjadi pokok penghakiman Ilahi. Oleh
sebab itu, kesetiaan yang penuh terhadap
Khalik yaitu masalah hidup dan mati.
Fondasi Perbaktian yang Benar. Per-
baktian kita kepada Tuhan didasarkan atas
kenyataan bahwa Dialah Khalik kita dan kita
ciptaan-Nya (Mzm. 95:6). Pentingnya tema
ini dinyatakan oleh dimasukkannya ke da-
lam panggilan yang diulurkan kepada pen-
duduk dunia ini tepat sebelum kedatangan
Kristus kembali supaya sujud kepada Seo-
rang “yang telah menjadikan langit dan bumi
dan laut dan semua mata air” (Why. 14:7).
Sabat—sebuah Peringatan Penciptaan.
Allah mengadakan Sabat hari ketujuh supaya
kita mengingat setiap minggu bahwa kita ada-
lah makhluk ciptaan-Nya. Sabat yaitu sebu-
ah pemberian anugerah, bukannya membica-
rakan apa yang sudah kita lakukan melainkan
mengenai apa yang telah dijadikan Tuhan. Hari
ini khusus diberkati-Nya serta disucikan-Nya
supaya kita jangan melupakannya, selain be-
kerja, hidup harus juga dimasukkan ke dalam
hubungan dengan Khalik, beristirahat seraya
merayakan karya ciptaan Tuhan yang sangat
menakjubkan itu (Kej. 2:2, 3). Untuk mene-
kankan pentingnya, Khalik menempatkan pe-
rintah untuk mengingat peringatan yang ku-
dus atas kuasa cipta-Nya di tengah-tengah hu-
kum moral sebagai sebuah tanda yang kekal
dan simbol Penciptaan (Kel. 20:8-11; 31:13-
17; Yeh. 20:20; baca bab 19 buku ini).
Perkawinan—Lembaga Ilahi. Selama
minggu Penciptaan itu, Allah mendirikan
perkawinan sebagai sebuah lembaga Ilahi.
Ia bermaksud agar persekutuan kudus antara
kedua insan ini janganlah dipisahkan: Lela-
ki “bersatu dengan isterinya,” dan mereka
akan “menjadi satu daging” (Kej. 2:24; baca
juga Mrk. 10:9; baca bab 22 dalam buku ini).
Landasan bagi Harga Diri yang Sejati.
Menurut laporan Penciptaan, kita dijadikan
atas gambar Tuhan. Pemahaman ini mem-
berikan sebuah konsep yang benar atas nilai
individual. Tidak ada tempat untuk mere-
mehkan diri kita sendiri. sebenarnya , kita
telah diberi sebuah tempat yang khas dalam
ciptaan, yaitu dapat mengadakan hubungan
yang tetap secara istimewa dengan Pencipta
serta memperoleh kesempatan untuk menja-
di serupa dengan Dia.
Landasan yang Sejati bagi Persekutu-
an. Daya cipta Allah itu memungkinkan Ia
menjadi bapa (Mal. 2:10) serta menyatakan
persaudaraan kepada seluruh umat manusia.
Tanpa memandang perbedaan seks, ras, pen-
didikan, atau kedudukan, semuanya telah di-
jadikan Allah dalam gambar-Nya. Memaha-
mi dan menerapkan, maka konsep ini akan
melenyapkan rasialisme, fanatisme, dan pel-
bagai bentuk diskriminasi lainnya.
Penatalayanan Pribadi. sebab Tuhan
Allah yang menciptakan kita maka kita men-
jadi milik-Nya. Kenyataan ini membuktikan
secara tidak langsung bahwa kita mempu-
nyai tanggung jawab yang kudus untuk men-
jadi penatalayan-penatalayan yang setia atas
tubuh, pikiran dan kemampuan rohani kita.
Bertindak lepas sama sekali dari Khalik ada-
lah pertanda tidak tahu terima kasih. (Baca
juga bab 20 buku ini).
89Penciptaan
Tanggung Jawab Terhadap Lingkung-
an. Pada Penciptaan, Tuhan menempatkan
leluhur manusia yang pertama itu, lelaki dan
perempuan, di sebuah taman (Kej. 2:8). Me-
reka diberi tanggung jawab untuk mengusa-
hakan tanah dan “taklukkanlah itu,” berkua-
sa atas seluruh kehidupan hewan (Kej. 1:28).
Oleh sebab itu, Tuhan memberikan kepada
kita tanggung jawab untuk memelihara ling-
kungan.
Martabat Kerja Kasar. Khalik berkata
kepada Adam supaya “mengusahakan dan
memelihara” taman Eden (Kej. 2:15). Ia
memberikan tugas kepada manusia keduduk-
an yang amat berguna ini, di dunia yang sem-
purna, menunjukkan martabat kerja kasar
atau kerja tangan.
Harga Semesta Secara Fisik. Pada setiap
langkah Penciptaan Allah mengatakan bahwa
apa yang telah dijadikan-Nya itu “baik ada-
nya” (Kej. 1:10, 12, 17, 21, 25) Dia mengu-
mumkan ciptaan yang telah dibuat-Nya itu
“sungguh amat baik” (Kej. 1:31). Oleh sebab
itu penciptaan benda tidaklah jahat secara in-
trinsik, melainkan baik adanya.
Obat Penawar terhadap Pesimisme,
Kesepian dan Kesia-siaan. Kisah mengenai
Penciptaan menunjukkan bahwa, bukannya
terjadi secara kebetulan seperti evolusi, sega-
la sesuatu telah diciptakan dengan sebuah
tujuan. Umat manusia telah direncanakan
untuk suatu hubungan yang abadi dengan
Khalik, Pencipta itu sendiri. jika kita me-
ngerti bahwa kita telah dijadikan untuk sua-
tu maksud tertentu, maka hidup pun akan pe-
nuh dengan makna dan sukses dan kesia-sia-
an yang menyakitkan serta ketidakpuasan
yang hampa dan tampak akan lenyap, digan-
tikan dengan cinta kasih Allah.
Kesucian Hukum Tuhan. Hukum Tu-
han Allah sudah ada sebelum manusia jatuh
ke dalam dosa. Dalam keadaan mereka yang
belum mengenal dosa mereka harus tunduk
pada hukum tersebut. Itu juga yang merupa-
kan amaran terhadap perusakan diri, untuk
menunjukkan batas-batas kebebasan (Kej.
2:17), serta untuk menjaga kebahagiaan serta
kedamaian rakyat dalam kerajaan Allah
(Kej. 3:22-24; baca bab 18 buku ini).
Kekudusan Hidup. Pencipta kehidupan
terus-menerus melibatkan diri dalam pem-
bentukan hidup manusia, untuk membuat
hidup itu kudus. Daud memuji Tuhan kare-
na Ia terlibat dalam kelahirannya. “Sebab
Engkaulah yang membentuk buah pinggang-
ku, menenun aku dalam kandungan ibuku.
Aku bersyukur kepada-Mu oleh sebab keja-
dianku dahsyat dan ajaib.... Tulang-tulangku
tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadi-
kan di tempat yang tersembunyi, dan aku
direkam di bagian-bagian bumi yang paling
bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal
anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertu-
lis” (Mzm. 139:13-16). Di dalam kitab Ye-
saya Tuhan Allah menyatakan diri-Nya se-
bagai Seorang yang telah “membentuk eng-
kau sejak dari kandungan” (Yes. 44: 24). Ka-
rena hidup itu sendiri merupakan hidup yang
diberikan Allah, kita harus menghormatinya,
sebab itu, kita memiliki tanggung jawab
moral untuk kita pelihara.
TUGAS KREATIF ALLAH BERLAN-
JUT TERUS
Apakah Allah Telah Selesai dengan
Ciptaan-Nya? Kisah Penciptaan berakhir
dengan pernyataan “Demikianlah diselesai-
kan langit dan bumi dan segala isinya” (Kej.
2:1). Perjanjian Baru mengukuhkan bahwa
90Penciptaan
Ciptaan Allah telah lengkap “sejak dunia di-
jadikan” (Ibr. 4:3). Apakah ini berarti bah-
wa kuasa kreatif Kristus tidak berfungsi lagi?
Bukan demikian halnya. Firman yang krea-
tif masih tetap berfungsi dalam pelbagai
cara.
1. Kristus dengan Firman-Nya yang
Kreatif. Empat ribu tahun sesudah Pencip-
taan, seorang perwira datang dan berkata ke-
pada Kristus, “Katakan saja sepatah kata,
maka hambaku itu akan sembuh” (Mat. 8:8).
Sebagaimana telah dilakukan-Nya pada wak-
tu Penciptaan, Yesus berkata—maka hamba
itu pun sembuhlah. Selama pelayanan Kris-
tus di atas dunia ini, perkataan-Nya berkua-
sa dan kuasa yang sama pulalah yang telah
membuat Adam bernapas yang juga mem-
bangkitkan orang mati serta mendatangkan
hidup baru kepada orang-orang yang men-
derita yang meminta pertolongan-Nya.
2. Firman yang Kreatif Dewasa Ini.
Dunia ini dan alam semesta tidak memiliki
kuasanya sendiri yang membuatnya beker-
ja. Hanya Tuhan yang menciptakannya, me-
melihara dan mendukungnya. Dia “yang
menjadikan langit dan bumi,” “yang menye-
diakan hujan bagi bumi,” “yang membuat gu-
nung-gunung menumbuhkan rumput. Dia
yang memberi makanan kepada hewan, ke-
pada anak-anak burung gagak, yang me-
manggil-manggil” (Mzm. 147:8, 9; banding-
kan Ayb. 26:7-14). Ia meninggikan segala
sesuatu dengan firman-Nya, dan “segala se-
suatu ada di dalam Dia” (Kol. 1:17, ban-
dingkan Ibr. 1:3).
Kita bergantung kepada Tuhan atas fungsi
setiap sel yang ada dalam tubuh kita. Se-
tiap helaan napas, setiap denyutan jantung,
setiap kedipan mata berbicara mengenai pe-
meliharaan kasih sayang Tuhan. “Sebab di
dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita
ada,” (Kis. 17:28).
Kuasa kreatif Tuhan tidak hanya dalam
Penciptaan, akan namun juga dalam penebus-
an dan pemulihan. Allah membarui hati (Yes.
44:21-28; Mzm. 51:12). “sebab kita ini
buatan Allah,” kata Rasul Paulus, “dicipta-
kan dalam Kristus Yesus untuk melakukan
pekerjaan baik,” (Ef. 2:10). “Jadi siapa yang
ada di dalam Kristus, Ia yaitu ciptaan baru,”
(2 Kor. 5:17). Allah, yang melontarkan ba-
nyak galaksi ke kosmos, menggunakan kua-
sa yang sama pula untuk membuat ciptaan
baru, orang yang telah berdosa itu, menjadi
serupa dengan peta-Nya.
Penebusan ini, kuasa yang memulihkan
tidak terbatas pada pengubahan hidup manu-
sia. Kuasa yang sama, yang pada mulanya
menjadikan langit dan bumi, kelak, setelah
penghakiman terakhir, akan mengubahkan
mereka kembali—membuat mereka menja-
di ciptaan yang baru dan perkasa, langit yang
baru dan bumi yang baru (Yes. 65:17-19,
Why. 21:22).
PENCIPTAAN DAN KESELAMATAN
Demikianlah, di dalam Kristus, Pencip-
taan dan keselamatan bertemu. Ia menjadi-
kan alam semesta yang mulia dan juga men-
ciptakan dunia yang sempurna. Baik yang
kontras maupun yang paralel antara Pen-
ciptaan dan keselamatan yaitu bermakna.
Lamanya Penciptaan. Pada waktu pen-
ciptaan Kristus bersabda dan jadilah. Ber-
beda dengan jangka periode yang panjang
dari metamorfosis, sabda-Nya yang penuh
kuasa bertanggung jawab atas Penciptaan.
Dalam enam hari saja Ia menjadikan semua-
nya. Kalau begitu, mengapa harus menggu-
nakan waktu enam hari? Bukankah Ia dapat
91Penciptaan
bersabda dan segala sesuatu menjadi ada da-
lam seketika?
Barangkali Ia menikmati pembukaan pla-
net kita ini dalam enam hari itu. Atau ba-
rangkali “perpanjangan” waktu ini berkaitan
erat dengan nilai yang diletakkan-Nya atas
setiap ciptaan atau kerinduan-Nya untuk me-
nunjukkan tujuh hari dalam seminggu itu me-
rupakan sebuah model siklus kegiatan dan hari
istirahat yang dimaksudkan untuk manusia.
Akan namun yang jelas Kristus tidak me-
ngucapkan sepatah kata lantas keselamatan
itu pun jadilah. Proses penyelamatan manu-
sia membentang jangka waktu ribuan tahun.
Di dalamnya dilibatkan perjanjian yang lama
dan baru, hadirnya Kristus di dunia ini sela-
ma 33 1/2 tahun dan pengantaraan yang di-
lakukannya sudah hampir 2000 tahun. Ini
jangka waktu yang panjang—sesuai dengan
catatan yang beruntun dalam Kitab Suci,
6000 tahun sejak Penciptaan—manusia be-
lumlah dipulihkan ke taman Eden.
Perbedaan yang nyata antara waktu Pen-
ciptaan dengan pemulihan kembali menun-
jukkan bahwa kegiatan Tuhan senantiasa ber-
kaitan dengan kepentingan yang terbaik demi
manusia. Pendeknya jangka waktu Pencipta-
an membayangkan keinginan-Nya menjadi-
kan manusia itu berkembang dengan cepat
dan lengkap untuk menikmati ciptaan-Nya.
Menunda penyempurnaan Penciptaan de-
ngan membiarkannya bergantung pada pro-
ses pertumbuhan alamiah dengan memakan
waktu yang panjang yaitu bertentangan de-
ngan sifat Allah yang penuh kasih itu. Wak-
tu yang cukup lama yang dibiarkan Tuhan
untuk melakukan pembaruan kembali me-
nunjukkan keinginan Tuhan yang penuh ka-
sih sayang itu untuk menyelamatkan manu-
sia sebanyak-banyaknya (2 Ptr. 3:9).
Karya Kreatif Kristus. Di taman Eden,
Kristus mengucapkan Firman kreatif. Di
Betlehem, “Firman itu telah menjadi manu-
sia, dan diam di antara kita” (Yoh. 1:14)—
Pencipta menjadi bagian ciptaan itu. Beta-
pa merupakan sebuah keramahan yang luar
biasa diucapkan! Walaupun tidak seorang
pun menyaksikan Kristus menciptakan du-
nia ini, namun banyak orang yang menyaksi-
kan kuasa yang memberikan penglihatan
kepada orang yang buta (Yoh. 9:6, 7), mem-
berikan kemampuan berbicara kepada yang
bisu (Mat. 9:32, 33), menyembuhkan orang
yang berpenyakit kusta (Mat. 8:2, 3), dan
memberikan hidup kepada orang yang mati
(Yoh. 11:14-45).
Kristus datang sebagai Adam yang ke-
dua, permulaan yang baru bagi umat manusia
(Rm. 5). Ia memberikan pohon kehidupan
kepada manusia di Eden; manusia menggan-
tung-Nya pada sebuah pohon di Golgota. Di
Firdaus, manusia berdiri dalam gambar Al-
lah; di Golgota, Anak Manusia digantung de-
ngan gambar seorang penjahat. Pada Pen-
ciptaan hari Jumat dan penyaliban hari Ju-
mat, “Sudah selesai” mengatakan karya kre-
atif yang sudah lengkap (Kej. 2:2; Yoh. 19:
30)—satu diselesaikan Kristus sebagai Tu-
han, sedang yang satu lagi diselesaikan-
Nya sebagai Manusia; satu dengan kuasa
yang cepat, sedang yang satu lagi dalam
duka sengsara manusia; yang satu untuk satu
ketika, sedang yang lain untuk selama-
lamanya; satu lagi dengan kemungkinan da-
pat jatuh, sedang yang satu lagi ialah ke-
menangan atas Setan.
Tangan Kristus yang sempurna itulah
yang pertama-tama memberikan hidup ke-
pada manusia; dan tangan Kristus pulalah,
yang ditikam dan berlumuran darah, yang
akan memberikan hidup kekal kepada manu-
sia. sebab manusia bukan saja diciptakan;
namun manusia itu pun dibarui kembali. Cip-
taan Kristus bertumbuh menurut pertumbu-
han yang alamiah.
92Penciptaan
Kita yang diciptakan dalam gambar Al-
lah, dipanggil untuk memuliakan Allah. Se-
bagai mahkota ciptaan-Nya, Allah mengun-
dang masing-masing kita supaya Dia, dari
hari ke hari mengusahakan masuk ke dalam
perhubungan dengan kuasa yang memulih-
kan kembali, yang ada pada Kristus supaya
dengan demikian, demi kemuliaan Tuhan,
kita mampu memantulkan gambar-Nya de-
ngan lengkap:
________________ :
1. L. Berkhof, Systematic Theology, edisi keempat (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans, 1941), hlm. 182,
2. Kalau menganggap bahwa setiap hari Penciptaan itu sama dengan 1000 tahun maka banyaklah persoalan yang ditim-
bulkannya. Dengan skema yang demikian, maka sore hari dari “hari” keenam—”hari” pertama hidupnya—maka usia
Adam sudah lebih tua daripada jumlah yang dikatakan Alkitab mengenai usianya (Kej. 5:5). Baca Jemison Christian
Belief; hlm. 116, 117.
3. Baca bab 4 dari buku ini.
4. Ibid.: Arthur J. Ferch, “What Creation Means to Me, “Adventist Review, 9 Oktober 1986, hlm. 11-13.
93Penciptaan
94
Lelaki dan perempuan diciptakan dalam gambar Allah sebagai
manusia individu, disertai kuasa dan kebebasan berpikir dan bertindak.
Walaupun diciptakan sebagai makhluk bebas, masing-masing yaitu
terdiri dari badan, jiwa dan roh yang tidak terpisahkan, napas dan
hidupnya bergantung kepada Allah. Ketika leluhur kita yang pertama
mengingkari Allah, mereka menyangkal ketergantungan mereka kepada-
Nya sehingga mereka jatuh dari kedudukan yang tinggi di bawah kuasa
Allah. Gambar Allah dalam mereka dinodai dan mereka menjadi takluk
kepada maut. Keturunan mereka turut merasakan akibat-akibat sifat
kejatuhan ini. Mereka lahir dalam keadaan lemah dan memiliki
kecenderungan kepada yang jahat. namun Tuhan dalam Kristus
memperdamaikan dunia kepada diri-Nya dan melalui Roh-Nya
memulihkan citra Pencipta mereka di dalam diri mereka yang fana.
sebab mereka diciptakan untuk kemuliaan Allah maka mereka diminta
supaya saling mengasihi dan mengasihi-Nya, serta memelihara
lingkungan mereka.—Fundamental Beliefs.—7.
95
Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita men-
jadikan manusia menurut gambar dan
rupa Kita." Mengenai mahkota ciptaan ini,
Tuhan tidak bersabda lalu jadilah. Gantinya,
dengan penuh kasih sayang Ia membentuk
ciptaan baru ini dari debu tanah.
Pemahat dunia yang paling mahir dan
kreatif sekalipun tidak akan pernah dapat
mengukir makhluk semulia itu. Barangkali
Michelangelo dapat membuat eksterior yang
mempesona keindahannya, namun bagaima-
na dengan anatomi tubuh yang direncana-
kan begitu hati-hati agar berfungsi, sebagai-
mana juga keindahan itu?
Patung yang sempurna itu dilengkapi de-
ngan rambut, alis, kuku, akan namun belum-
lah selesai dikerjakan Tuhan. Manusia yang
dijadikan-Nya ini bukanlah kumpulan debu
melainkan harus hidup, berpikir, kreatif dan
bertumbuh dalam kemuliaan.
Sambil membungkuk atas ciptaan yang
agung ini, Khalik "menghembuskan nafas
hidup ke dalam hidungnya; demikianlah ma-
nusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Kej.
2:7; bandingkan 1:26). Dengan menyadari
bahwa manusia ini memerlukan pendam-
ping, Allah membuat "penolong baginya,
yang sepadan dengan dia." Allah mendatang-
kan "tidur nyenyak" atas Adam sehingga
Adam terlelap lalu Tuhan mengambil sebuah
tulang rusuk Adam dan menjadikannya pe-
rempuan (Kej. 2:18, 21, 22). "Maka Allah
menciptakan manusia itu menurut gambar-
Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya
dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya
mereka." (Kej. 1:27). Lalu Allah member-
kati mereka seraya berkata, "Beranakcucu-
lah dan bertambah banyak; penuhilah bumi
dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-
ikan di laut dan burung-burung di udara dan
atas segala binatang yang merayap di bumi."
(Kej. 1:28). Sebuah taman yang amat indah
yang tiada taranya di atas dunia ini diberi-
kan Tuhan kepada Adam dan Hawa. Ada pe-
pohonan, pohon-pohon anggur, bunga-bu-
nga, bukit-bukit, lembah-lembah, semuanya
dihiasi Allah sendiri. Ada dua pohon yang
istimewa di dalam taman itu, yakni pohon
kehidupan dan pohon pengetahuan yang baik
dan yang jahat. Kepada Adam dan Hawa
BAB 7
SIFAT DAN KEADAAN MANUSIA
96Sifat dan Keadaan Manusia
diberikan kebebasan untuk memakan buah
pohon-pohonan kecuali buah pohon penge-
tahuan yang baik dan yang jahat (Kej. 2:8,
9, 17).
Demikianlah peristiwa pemahkotaan ming-
gu Penciptaan itu telah disempurnakan. "Ma-
ka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya
itu, sungguh amat baik"(Kej. 1:31).
ASAL-USUL MANUSIA
Walaupun banyak orang dewasa ini per-
caya bahwa makhluk manusia berasal dari
bentuk hewan yang paling rendah dan meru-
pakan hasil proses alamiah yang berlangsung
selama biliun tahun, pemikiran yang demiki-
an tidak selaras dengan catatan yang terda-
pat dalam Alkitab. Proses perkembangan ma-
nusia seperti itu bertentangan dengan pan-
dangan Alkitab.1
Allah Menjadikan Manusia. Asal-usul
umat manusia sebenarnya ditemukan dalam
majelis Ilahi. Allah berkata, "Baiklah Kita
menjadikan manusia" (Kej. 1: 26). Kata ja-
mak "Kita" menunjuk kepada Keallahan
yang tri tunggal—Allah Bapa, Allah Anak
dan Roh Kudus Allah (baca bab 2). Kemu-
dian, untuk satu maksud, maka Allah men-
jadikan seorang manusia yang pertama (Kej.
1:27).
Dijadikan dari Debu Tanah. Allah men-
jadikan manusia dari "debu tanah" (Kej. 2:7),
menggunakan yang telah ada sebelumnya te-
tapi bukan dari jenis makhluk hidup lainnya,
misalnya dari makhluk yang hidup dalam air
atau binatang melata di darat. Tidak lama ke-
mudian, setelah organ-organ tubuh semua
terbentuk dan ditempatkan pada tempatnya
maka dihembuskan-Nya "napas hidup" se-
hingga manusia menjadi pribadi yang hidup.
Dijadikan Menurut Bentuk Ilahi. Al-
lah menjadikan setiap hewan dan makhluk
binatang lainnya—ikan, burung, reptil, se-
rangga, binatang menyusui, dsb,—"menurut
jenisnya masing-masing" (Kej. 1:21, 24, 25).
Setiap jenis makhluk memiliki bentuk khas-
nya sendiri serta memiliki kemampuan un-
tuk berbiak sesuai dengan jenisnya. Manu-
sia telah dijadikan menurut bentuk Ilahi, ti-
dak menurut bentuk salah satu jenis dalam
dunia binatang. A
.jpeg)
