2026

Tentang hewan 1


 



Al-Qur'an, kitab suci yang ber-

isikan ayat-ayat tanzīliyah, 

memiliki  fungsi utama 

sebagai petunjuk bagi seluruh umat 

manusia baik dalam hubungannya 

dengan Tuhan, manusia, maupun 

alam raya. Dengan begitu, yang dipa-

parkan Al-Qur'an tidak hanya masalah-

masalah kepercayaan (akidah), hu-

kum, ataupun pesan-pesan moral, 

namun  juga di dalamnya ada  

petunjuk memahami rahasia-rahasia 

alam raya. Di samping itu, ia juga 

ber-fungsi untuk membuktikan kebe-

naran Nabi Muhammad. Dalam 

beberapa kesempatan, Al-Qur'an 

menantang siapa pun yang mera-

gukannya untuk menyusun dan 

mendatangkan “semacam” Al-Qur'an 

secara keseluruhan (aţ-Ţūr/52: 35), 

atau sepuluh surah yang semacam-

nya (Hūd/11: 13), atau satu surah 

saja (Yūnus/10: 38), atau sesuatu 

yang “seperti”, atau kurang lebih, 

“sama” dengan satu surah darinya 

(al-Baqarah/2: 23). Dari sini muncul 

usaha-usaha untuk memperlihatkan 

berbagai dimensi Al-Qur'an yang 

dapat menaklukkan siapa pun yang 

meragukannya, sehingga kebenaran 

bahwa ia bukan tutur kata manusia 

menjadi tak terbantahkan. Inilah yang 

disebut i‘jāz. sebab  berwujud teks 

bahasa yang baru dapat bermakna 

sesudah  dipahami, usaha-usaha dalam 

memahami dan menemukan raha-

sia Al-Qur'an menjadi bervariasi 

sesuai dengan latar belakang yang 

memahaminya. Setiap orang dapat 

menangkap pesan dan kesan yang 

berbeda dari lainnya. Seorang pakar 

bahasa akan memiliki  kesan yang 

berbeda dengan yang ditangkap oleh 

seorang ilmuwan. 

Berbicara tentang Al-Qur'an dan ilmu 

pengetahuan, kita sering dihadapkan 

pada pertanyaan klasik: adakah kese-

suaian antara keduanya atau sebalik-

nya, bertentangan? Untuk menjawab 

pertanyaan ini ada baiknya dicermati 

bersama ungkapan seorang ilmuwan 

modern, Einstein, berikut, “Tiada 

ketenangan dan keindahan yang 

dapat dirasakan hati melebihi saat-

saat saat  memerhatikan keindahan 

rahasia alam raya. Sekalipun rahasia itu 

tidak terungkap, namun  di balik itu ada 

rahasia yang dirasa lebih indah lagi, 

melebihi segalanya, dan jauh di atas 

bayang-bayang akal kita. Menemukan 

rahasia dan merasakan keindahan ini 

tidak lain yaitu  esensi dari bentuk 

penghambaan.”

Dari kutipan ini,  agaknya 

Einstein ingin menunjukkan bahwa 

ilmu yang sejati yaitu  yang dapat 

mengantarkan kepada kepuasan dan 

kebahagiaan jiwa dengan bertemu 

dan merasakan kehadiran Sang 

Pencipta melalui wujud alam raya. 

Memang, dengan mengamati sejarah 

ilmu dan agama, ditemukan beberapa 

kesesuaian antara keduanya, antara 

lain dari segi tujuan, sumber, dan cara 

mencapai tujuan ini . Bahkan, 

keduanya telah mulai beriringan 

sejak penciptaan manusia pertama. 

Beberapa studi menunjukkan bahwa 

hakikat keberagamaan muncul dalam 

jiwa manusia sejak ia mulai bertanya 

tentang hakikat penciptaan (al-

Baqarah/2: 30-38).1

Lantas mengapa sejarah agama 

dan ilmu pengetahuan diwarnai dengan 

pertentangan? Diakui, di samping 

memiliki kesamaan, agama dan ilmu 

pengetahuan juga memiliki  objek 

dan wilayah yang berbeda. Agama 

(Al-Qur'an) mengajarkan bahwa selain 

alam materi (fisik) yang menuntut 

manusia melakukan eksperimen, objek 

ilmu juga mencakup realitas lain di luar 

jangkauan panca indera (metafisik) 

yang tidak dapat diobservasi dan 

diuji coba. Allah berfirman, “Maka 

Aku bersumpah demi apa yang dapat 

kamu lihat dan demi apa yang tidak 

kamu lihat.” (al-Hāqqah/69: 38). Un-

tuk yang bersifat empiris, memang 

dibuka ruang untuk menguji dan 

mencoba (al-‘Ankabūt/29: 20). Namun 

demikian, seorang ilmuwan tidak 

diperkenankan mengatasnamakan 

ilmu untuk menolak “apa-apa” yang 

non-empiris (metafisik), sebab di 

wilayah ini Al-Qur'an telah menyatakan 

keterbatasan ilmu manusia (al-Isrā'/17: 

85) sehingga diperlukan keimanan. 

Kerancuan terjadi manakala ilmuwan 

dan agamawan tidak memahami objek 

dan wilayahnya masing-masing.

Kalau saja pertikaian antara 

ilmuwan dan agamawan di Eropa pada 

abad pertengahan (sampai abad ke-18) 

tidak merebak ke dunia Islam, mungkin 

umat Islam tidak akan mengenal per-

tentangan antara agama dan ilmu 

pengetahuan. Perbedaan memang 

tidak seharusnya membawa kepada 

pertentangan dan perpecahan. Kedua-

nya bisa saling membantu untuk 

mencapai tujuan. Bahkan, keilmuan 

yang matang justru akan membawa 

kepada sikap keberagamaan yang 

tinggi (Fāţir/35: 27). 

Sejarah cukup menjadi saksi 

bahwa ahli-ahli falak, kedokteran, 

ilmu pasti dan lain-lain telah mencapai 

hasil yang mengagumkan di masa 

kejayaan Islam. Di saat yang sama 

mereka menjalankan kewajiban 

agama dengan baik, bahkan juga 

ahli di bidang agama. Maka amatlah 

tepat apa yang dikemukakan Maurice 

Bucaille, seorang ilmuwan Perancis 

terkemuka, dalam bukunya Al-Qur'an, 

Bibel, dan Sains Modern, bahwa tidak 

ada satu ayat pun dalam Al-Qur'an yang 

bertentangan dengan perkembangan 

ilmu pengetahuan. Inilah kiranya yang 

memicu  besarnya perhatian para 

sarjana untuk mengetahui lebih jauh 

model penafsiran Al-Qur'an dengan 

pendekatan ilmu pengetahuan. 

B. APA DAN MENGAPA 

TAFSIR ILMI?

Setiap Muslim wajib mempelajari dan 

memahami Al-Qur'an. Seorang Muslim 

diperintah Al-Qur'an untuk tidak ber-

iman secara membabi-buta (taqlīd), 

namun  dengan mempergunakan akal 

pikiran. Al-Qur'an mengajak umat 

manusia untuk terus berdialog de-

ngannya di sepanjang masa. Semua 

kalangan dengan segala keragaman-

nya diundang untuk mencicipi hidang-

annya, hingga wajar jika kesan yang 

diperoleh pun berbeda-beda. Ada yang 

terkesan dengan kisah-kisahnya seperti 

a♪-♫a‘labī dan al-Khāzin; ada yang 

memerhatikan persoalan bahasa dan 

retorikanya seperti az-Zamakhsyarī; 

atau hukum-hukum seperti al-Qurţubī. 

Masing-masing memiliki  kesan 

yang berbeda sesuai kecenderungan 

dan suasana yang melingkupinya. 

saat  gelombang Hellenisme 

masuk ke dunia Islam melalui pener-

jemahan buku-buku ilmiah pada 

masa Dinasti ‘Abbasiyah, khususnya 

pada masa Pemerintahan Khalifah 

al-Makmūn (w. 853 M), muncullah 

kecenderungan menafsirkan Al-Qur'an 


dengan teori-teori ilmu pengetahuan 

atau yang lalu  dikenal sebagi 

tafsir ilmi. Mafātihul-Gaib, karya ar-

Rāzī, dapat dibilang sebagai tafsir yang 

pertama memuat secara panjang-lebar 

penafsiran ilmiah terhadap ayat-ayat 

Al-Qur'an.2

Tafsir ilmi merupakan sebuah 

upaya memahami ayat-ayat Al-Qur'an 

yang mengandung isyarat ilmiah 

dari perspektif ilmu pengetahuan 

modern. Menurut Husain aż-Żahabī, 

tafsir ini membahas istilah-istilah 

ilmu pengetahuan dalam penuturan 

ayat-ayat Al-Qur'an, serta berusaha 

menggali dimensi keilmuan dan 

menyingkap rahasia kemukjizatannya 

terkait informasi-informasi sains yang 

mungkin belum dikenal manusia pada 

masa turunnya sehingga menjadi bukti 

kebenaran bahwa Al-Qur'an bukan 

karangan manusia, namun wahyu 

Sang Pencipta dan Pemilik alam raya. 

Di era modern tafsir ilmi semakin 

populer dan meluas. Fenomena ini 

setidaknya dipengaruhi oleh beberapa 

faktor berikut:

Pertama, pengaruh kemajuan 

teknologi dan ilmu pengetahuan 

2. Sedemikian banyaknya persoalan ilmiah dan 

logika yang disinggung, Ibnu Taimiyah berkata, “Di 

dalam tafsirnya ada  segala sesuatu kecuali 

tafsir”. Sebuah penilaian dari pengikut setia Hanābilah 

(pengikut Ahmad bin Hanbal), terhadap ar-Rāzī yang 

diketahui sangat getol dalam mendebat kelompok 

ini . Berbeda dengan itu, Tājuddīn as-Subkī 

berkomentar, “Di dalamnya ada  segala sesuatu, 

plus tafsir”. Lihat: Fakhruddīn ar-Rāzī, Fathullāh Khalīf, 

h. 13.

Barat (Eropa) terhadap dunia Arab 

dan kawasan Muslim. Terlebih pada 

paruh kedua abad kesembilan belas 

sebagian besar dunia Islam berada di 

bawah kekuasaan Eropa. Hegemoni 

Eropa atas kawasan Arab dan 

Muslim ini hanya dimungkinkan oleh 

superioritas teknologi. Bagi seorang 

Muslim, membaca tafsir Al-Qur'an 

bahwa persenjataan dan teknik-teknik 

asing yang memungkinkan orang-

orang Eropa menguasai umat Islam 

sebenarnya telah disebut dan diramal-

kan di dalam Al-Qur'an, bisa menjadi 

pelipur lara.3 Inilah yang diungkapkan 

M. Quraish Shihab sebagai kompensasi 

perasaan inferiority complex (perasaan 

rendah diri).4 Lebih lanjut Quraish 

menulis, “Tidak dapat diingkari bahwa 

mengingat kejayaan lama merupakan 

obat bius yang dapat meredakan sakit, 

meredakan untuk sementara, namun  

bukan menyembuhkannya.”5 

Kedua, munculnya kesadaran 

untuk membangun rumah baru bagi 

peradaban Islam sesudah  mengalami 

dualisme budaya yang tercermin pada 

sikap dan pemikiran. Dualisme ini 

melahirkan sikap kontradiktif antara 

mengenang kejayaan masa lalu dan 

keinginan memperbaiki diri, dengan 

kekaguman terhadap peradaban 

Barat yang hanya dapat diambil sisi 

materinya saja. Sehingga yang terjadi 

yaitu  budaya di kawasan Muslim 

“berhati Islam, namun  berbaju Barat”. 

Tafsir ilmi pada hakikatnya ingin 

membangun kesatuan budaya melalui 

pola hubungan harmonis antara Al-

Qur'an dan pengetahuan modern yang 

menjadi simbol peradaban Barat.6 Di 

saat yang sama, para penggagas tafsir 

ini ingin menunjukkan pada warga  

dunia bahwa Islam tidak mengenal 

pertentangan antara agama dan ilmu 

pengetahuan seperti yang terjadi di 

Eropa pada Abad Pertengahan yang 

mengakibatkan para ilmuwan menjadi 

korban hasil penemuannya.

Ketiga, perubahan cara pandang 

Muslim modern terhadap ayat-ayat Al-

Qur'an, terutama dengan munculnya 

penemuan-penemuan ilmiah modern 

pada abad ke-20. Memang Al-Qur'an 

mampu berdialog dengan siapa 

pun dan kapan pun. Ungkapannya 

singkat tapi padat, dan membuka 

ragam penafsiran. Misalnya, kata 

lamūsi‘ūn pada Surah az-Zāriyāt/51: 47, 

“Dan langit itu Kami bangun dengan 

kekuasaan (Kami), dan sesungguhnya 

Kami benar-benar meluaskan(nya)”, 

dalam karya-karya tafsir klasik ada 

yang menafsirkannya dengan “me-

luaskan rezeki semua makhluk 

dengan perantara hujan”; ada yang 

mengartikan “berkemampuan mencip-

takan lebih dari itu”; dan ada pula yang 

mengartikan “meluaskan jarak antara 

langit dan bumi”.7 Penafsiran ini didasari 

atas pandangan kasatmata dalam 

suasana yang sangat terbatas dalam 

bidang ilmu pengetahuan. Boleh jadi 

semuanya benar. Seiring ditemukannya 

penemuan ilmiah baru, seorang Muslim 

modern melihat ada tafsiran yang lebih 

jauh dari sekadar yang dikemukakan 

para pendahulu. Dari hasil penelitian 

luar angkasa, para ahli menyimpulkan 

sebuah teori yang dapat dikatakan 

sebagai hakikat ilmiah, yaitu nebula 

yang berada di luar galaksi tempat 

kita tinggal terus menjauh dengan 

kecepatan yang berbeda-beda, bahkan 

benda-benda langit yang ada dalam 

satu galaksi pun saling menjauh satu 

dengan lainnya, dan ini terus berlanjut 

sampai dengan waktu yang ditentukan 

oleh Sang Maha Kuasa.8

Keempat, tumbuhnya kesadaran 

bahwa memahami Al-Qur'an dengan 

pendekatan sains modern bisa menjadi 

sebuah ‘Ilmu Kalam Baru’. Kalau 

dulu ajaran Al-Qur’an diperkenalkan 

dengan pendekatan logika/filsafat se-

hingga menghasilkan ratusan bahkan 

ribuan karya ilmu kalam, sudah 

saatnya pendekatan ilmiah/ saintifik 

menjadi alternatif. Di dalam Al-Qur'an 

ada  kurang lebih 750-1000 

ayat kauniyah, sementara ayat-ayat 

hukum hanya sekitar 250 ayat.9 Lalu 

mengapa kita mewarisi ribuan buku 

fikih, sementara buku-buku ilmiah 

hanya beberapa gelintir saja, padahal 

Tuhan tidak pernah membedakan 

perintah-Nya untuk memahami ayat-

ayat Al-Qur'an. Kalaulah ayat-ayat 

hukum, muamalat, akhlak dan akidah 

merupakan ‘petunjuk’ bagi manusia 

untuk mengenal dan mencontoh 

perilaku Tuhan, bukankah ayat-ayat 

ilmiah juga petunjuk akan keagungan 

dan kekuasaaan Tuhan di alam raya ini? 

C. PRO-KONTRA TAFSIR ILMI

Model tafsir ilmi sudah lama di-

perdebatkan para ulama, mulai dari 

ulama klasik sampai ahli-ahli ke-

islaman di abad modern. Al-Gazālī, 

ar-Rāzī, al-Mursī dan as-Suyūţī dapat 

dikelompokkan sebagai ulama yang 

mendukung tafsir ini. Berseberangan 

dengan mereka, asy-Syāţibī menentang 

keras penafsiran model seperti ini. 

Dalam barisan tokoh-tokoh modern, 

para pendukung tafsir ini seperti, 

Muhammad ‘Abduh, Ţanţāwī Jawharī, 

Hanafī Ahmad berseberangan dengan 

tokoh-tokoh seperti Mahmūd Syaltūt, 

Amīn al-Khūlī, dan ‘Abbās ‘Aqqād.


Mereka yang berkeberatan de-

ngan model tafsir ilmi berargumentasi 

antara lain dengan melihat:

1. Kerapuhan filologisnya

Al-Qur'an diturunkan kepada bangsa 

Arab dalam bahasa ibu mereka, 

sebab nya ia tidak memuat sesuatu 

yang mereka tidak mampu mema-

haminya. Para sahabat tentu lebih 

mengetahui Al-Qur'an dan apa yang 

tercantum di dalamnya, namun  ti-

dak seorang pun di antara mereka 

menyatakan bahwa Al-Qur'an menca-

kup seluruh cabang ilmu pengetahuan.

2. Kerapuhannya secara teologis

Al-Qur'an diturunkan sebagai petun-

juk yang membawa pesan etis dan 

keagamaan; hukum, akhlak, muama-

lat, dan akidah. Ia berkaitan dengan 

pandangan manusia mengenai hidup, 

bukan dengan teori-teori ilmiah. Ia 

buku petunjuk dan bukan buku ilmu 

pengetahuan. Adapun isyarat-isyarat 

ilmiah yang terkandung di dalamnya 

dikemukakan dalam konteks petunjuk, 

bukan menjelaskan teori-teori baru.

3. Kerapuhannya secara logika

Di antara ciri ilmu pengetahuan yaitu  

bahwa ia tidak mengenal kata ‘kekal’. 

Apa yang dikatakan sebagai natural law 

tidak lain hanyalah sekumpulan teori 

dan hipotesis yang sewaktu-waktu bisa 

berubah. Apa yang dianggap salah di 

xxvSambutan dan Kata Pengantar

masa silam, misalnya, boleh jadi diakui 

kebenarannya di abad modern. Ini me-

nunjukkan bahwa produk-produk ilmu 

pengetahuan pada hakikatnya relatif 

dan subjektif. Jika demikian, patutkah 

seseorang menafsirkan yang kekal dan 

absolut dengan sesuatu yang tidak ke-

kal dan relatif? Relakah kita mengubah 

arti ayat-ayat Al-Qur'an sesuai dengan 

perubahan atau teori ilmiah yang tidak 

atau belum mapan itu?10

Ketiga argumentasi di atas ag-

ak-nya yang paling populer dikemuka-

kan untuk menolak tafsir ilmi. Pengant-

tar ini tidak ingin mendiskusikannya 

dengan menghadapkannya kepada 

argumentasi kelompok yang men-

dukung. Kedua belah pihak boleh jadi 

sama benarnya. sebab nya, tidak pro-

duktif jika terus mengkonfrontasi-

kan keduanya. Yang dibutuhkan ada-

lah formula kompromistik untuk lebih 

mengembangkan misi dakwah Islam di 

tengah kemajuan ilmu pengetahuan.

Diakui bahwa ilmu pengetahuan 

itu relatif; yang sekarang benar, bisa 

jadi besok salah. namun , bukankah 

itu ciri dari semua hasil budi daya 

manusia, sehingga di dunia tidak ada 

yang absolut kecuali Tuhan? Ini bisa 

dipahami sebab  hasil pikiran manusia 

yang berupa acquired knowledge (ilmu 

yang dicari) juga memiliki  sifat atau 

ciri akumulatif. Ini berarti, dari masa 

ke masa ilmu akan saling melengkapi, 

sehingga ia akan selalu berubah. Di sini 

manusia diminta untuk selalu berijtihad 

dalam rangka menemukan kebenaran. 

Apa yang telah dilakukan para ahli 

hukum (fuqaha), teologi, dan etika di 

masa silam dalam memahami ayat-

ayat Al-Qur'an merupakan ijtihad baik, 

sama halnya dengan usaha memahami 

isyarat-isyarat ilmiah dengan penemuan 

modern. Yang diperlukan yaitu  kehati-

hatian dan kerendahan hati. Tafsir, apa 

pun bentuknya, hanyalah sebuah upaya 

manusia yang terbatas untuk mema-

hami maksud kalam Tuhan yang tidak 

terbatas. Kekeliruan dalam penafsiran 

sangat mungkin terjadi, dan tidak 

akan mengurangi kesucian Al-Qur'an. 

namun  kekeliruan dapat diminimalisir 

atau dihindari dengan memperhatikan 

kaidah-kaidah yang ditetapkan oleh 

para ulama. 

D. PRINSIP DASAR DALAM 

PENYUSUNAN TAFSIR ILMI

Dalam upaya menjaga kesucian Al-

Qur'an para ulama merumuskan be-

berapa prinsip dasar yang sepatutnya 

diperhatikan dalam menyusun sebuah 

tafsir ilmi, antara lain:11 

11. Poin-poin prinsip ini disimpulkan dari ketetapan 

Lembaga Pengembangan I‘jāz Al-Qur’an dan Sunnah, 

Rābiţah ‘Ālam Islāmī di Mekah dan lembaga serupa di 

Mesir (Lihat wawancara Zaglūl dalam Majalah Tasawuf 

Mesir Edisi Mei 2001 dan al-Kaun wal-I‘jāz al-‘Ilmī fīl-

Qur’ān karya Mansour Hasab an-Nabī, Ketua Lembaga 

I‘jāz Mesir) 


1. Memperhatikan arti dan kaidah-

kaidah kebahasaan. Tidak sepa-

tutnya kata “țayran” dalam 

Surah al-Fīl/105: 3, “Dan Dia 

turunkan kepada mereka Burung 

Ababil” ditafsirkan sebagai 

kuman seperti dikemukakan oleh 

Muhammad ‘Abduh dalam Tafsīr 

Juz ‘Amma-nya. Secara bahasa 

itu tidak dimungkinkan, dan 

maknanya menjadi tidak tepat, 

sebab akan bermakna, “dan Dia 

mengirimkan kepada mereka 

kuman-kuman yang melempari 

mereka dengan batu ...”.

2. Memperhatikan konteks ayat 

yang ditafsirkan, sebab ayat-ay-

at dan surah Al-Qur'an, bahkan 

kata dan kalimatnya, saling ber-

korelasi. Memahami ayat-ayat 

Al-Qur'an harus dilakukan secara 

komprehensif, tidak parsial. 

3. Memperhatikan hasil-hasil pe-

nafsiran dari Rasulullah șalallā-

hu ‘alaihi wa sallam selaku pe-

megang otoritas tertinggi, para 

sahabat, tabiin, dan para ulama 

tafsir, terutama yang menyang-

kut ayat yang akan dipahaminya. 

Selain itu, penting juga mema-

hami ilmu-ilmu Al-Qur'an lainnya 

seperti nāsikh-mansūkh, asbā-

bun-nuzūl, dan sebagainya.

4. Tidak memakai  ayat-ayat 

yang mengandung isyarat ilmiah 

untuk menghukumi benar atau 

salahnya sebuah hasil penemuan 

ilmiah. Al-Qur'an memiliki  

fungsi yang jauh lebih besar dari 

sekadar membenarkan atau me-

nyalahkan teori-teori ilmiah.

5. Memperhatikan kemungkinan 

satu kata atau ungkapan men-

gandung sekian makna, kenda-

tipun kemungkinan makna itu 

sedikit jauh (lemah), seperti di-

kemukakan pakar bahasa Arab, 

Ibnu Jinnī dalam kitab al-Khașā'iș 

(2/488). Al-Gamrawī, seorang 

pakar tafsir ilmiah Al-Qur'an Me-

sir, mengatakan, “Penafsiran Al-

Qur'an hendaknya tidak terpaku 

pada satu makna. Selama ungka-

pan itu mengandung berbagai 

kemungkinan dan dibenarkan 

secara bahasa, maka boleh jadi 

itulah yang dimaksud Tuhan”.12

6. Untuk bisa memahami isya-

rat-isyarat ilmiah hendaknya 

memahami betul segala sesuatu 

yang menyangkut objek bahas-

an ayat, termasuk penemuan-pe-

nemuan ilmiah yang berkaitan 

dengannya. M. Quraish Shihab 

mengatakan, “...sebab-sebab ke-

keliruan dalam memahami atau 

menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an 

antara lain yaitu  kelemahan 

dalam bidang bahasa serta ke-

12. Al-Islām fī ‘Așr al-‘Ilm, h. 294.

xxviiSambutan dan Kata Pengantar

dua tim; syar‘i dan kauni. Tim syar‘i 

bertugas melakukan kajian dalam 

perspektif ilmu-ilmu keislaman dan 

bahasa Arab, sedang tim kauni 

melakukan kajian dalam perspektif 

ilmu pengetahuan. 

Kajian tafsir ilmi tidak dalam 

kerangka menjastifikasi kebenaran 

temuan ilmiah dengan ayat-ayat Al-

Qur'an. Juga tidak untuk memaksa-

kan penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an 

hingga seolah-olah ber-kesesuaian 

dengan temuan ilmu pengetahuan. 

Kajian tafsir ilmi be-rangkat dari 

kesadaran bahwa Al-Qur'an bersifat 

mutlak, sedang penafsirannya, baik 

dalam perspektif tafsir maupun ilmu 

pengetahuan, bersifat relatif.

Akhirnya, segala upaya manu-

sia tidak lain hanyalah setitik jalan un-

tuk menemukan kebenaran yang ab-

solut. Untuk itu, segala bentuk kerja 

sama yang baik sangat diperlukan, 

terutama antara ahli-ahli di bidang 

ilmu pengetahuan dan para ahli di 

bidang agama, dalam mewujudkan 

pemahaman Al-Qur'an yang baik.[]



Hubungan antara manusia dan 

hewan telah berjalan sangat 

lama. Demikian erat hubung-

an itu hingga terjadi pemujaan terhadap 

hewan dalam ritual keagamaan.  Hal ini 

terjadi terutama pada warga  pra-

modern.

Pemujaan terhadap hewan oleh 

warga  maupun kepercayaan 

tertentu dimulai oleh beberapa ke-

mungkinan. Penulis kuno, Diodorus, 

menjelaskan bahwa pemujaan ter-

hadap hewan dimulai dari mitos dimana 

saat itu dewa-dewa sedang terancam 

oleh para raksasa. Untuk melindungi 

dirinya para dewa lalu menyamar 

menjadi hewan. warga , secara 

alami lalu  memuja hewan jelma-

an para dewa itu. Pemujaan terus 

berlanjut meski para dewa sudah 

tidak lagi menyembunyikan diri dalam 

rupa hewan. Teori yang lebih modern 

mengatakan bahwa pemujaan hewan 

dimulai dari keingintahuan warga  

secara alami terhadap perikehidupan 

hewan tertentu. Pengamatan yang 

mendalam dan intens menimbulkan 

kekaguman tersendiri terhadap hewan 

tertentu; kekaguman yang berlanjut 

pada pemujaan. Ada pendapat lain 

yang menyatakan bahwa pemujaan 

bermula dari pemilihan nama keluarga. 

Pengambilan nama keluarga dari he-

wan tertentu berubah menjadi keka-

guman terhadap hewan ini , dan 

dari situlah muncul pemujaan.

Pemujaan dan penempatan he-

wan menjadi hewan suci lalu  

Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an  &  Sains2

berkait dengan hukum mengenai 

makanan. Umumnya hewan yang di-

anggap suci ini  dilarang untuk 

diburu dan dimakan, atau sebaliknya, 

hewan ini  dianggap tidak bersih 

dan sebab nya harus dijauhi.

Dalam agama Mesir Kuno dikenal 

pemadanan dewa terhadap hewan, 

dimana hewan menjadi suci sebab  

dipadankan dengan dewa tertentu. 

Kucing, misalnya, dikaitkan dengan 

Dewa Bastet, belibis dan kera babon 

dikaitkan dengan Dewa Thoth, buaya 

dengan Dewa Sebek dan Ra, ikan 

dengan Dewa Set, musang dan burung 

dengan Dewa Horus, anjing dan ajak 

dengan Dewa Anubis, ular dan belut 

dengan Dewa Atum, kumbang dengan 

Dewa Khepera, sapi jantan dengan 

Dewa Apis, dan selanjutnya.

Kepercayaan bahwa hewan me-

rupakan bentuk kelahiran kembali di 

dunia bagi mereka yang sudah mati 

mulai ditolak oleh agama-agama 

Ibrahim. Tersebarnya agama Kristen 

dan lalu  Islam secara perlahan 

menghilangkan kepercayaan dan ritual 

penyembahan dan pemujaan terhadap 

objek inderawi, di antaranya hewan.

Beberapa jenis hewan yang 

diburu dapat sekaligus dianggap suci. 

Kesuciannya diberikan kepada individu 

tertentu, atau setiap kali hewan ter-

sebut dibunuh maka akan diberikan 

persembahan untuk arwahnya.  Bebe-

rapa jenis di antaranya yaitu :

1. Beruang; pemujaan terhadap 

beruang banyak dilakukan 

pada masa lalu, misalnya oleh 

warga  di kawasan Skan-

dinavia dan Asia Timur. Temuan 

arkeologi menunjukkan bahwa 

beruang juga sudah dipuja 

manusia Neanderthal pada masa 

pertengahan Masa Paleolithik. 

warga  Ainu, penghuni asli 

kepulauan Jepang, menamai 

beruang dengan “kamui” yang 

berarti dewa.  

2. Ikan Paus; di perairan Jepang 

ikan paus telah diburu manusia 

sejak lama. Di beberapa tempat 

ada kuburan yang didedikasikan 

kepada ikan paus yang telah 

ditangkap dan dikonsumsi di 

masa lalu. Ikan paus juga sangat 

dihormati oleh warga  asli 

Alaska.  

3. Sapi dan kerbau diagungkan 

dan disucikan dalam beberapa 

kepercayaan dan agama, seperti 

Hindu, Zoroaster, Yunani Kuno, 

dan Mesir Kuno.  

4. Domba dan kambing; domba 

dipuja oleh warga  Mesir 

Kuno. Dewa Amun, sebagai 

penguasa Thebes, Mesir, digam-

barkan berkepala domba. Dewa 

Yunani, Silenus, digambarkan 

sebagai satyr, manusia setengah 

Pendahuluan 3

domba. Hal yang hampir sama 

juga diberlakukan untuk kam-

bing. Pada umumnya kambing 

diasosiasikan dengan kemampu-

an seks laki-laki dan ilmu sihir 

hitam. Kepercayaan ini berkem-

bang di kawasan Asia Tengah 

sejak Masa Neolithik atau Masa 

Perunggu.

5. Anjing; pemujaan terhadap 

anjing dilakukan kaum Hindu 

di Nepal dan beberapa bagian 

India. Mereka percaya bahwa 

anjing yaitu  pesuruh Dewa 

Yama, dewa kematian.

6. Kuda; warga  Indo-Eropa 

dan Turki masa lalu memuja kuda. 

Penganut Hindu dan Buddha 

di beberapa bagian India, dan 

beberapa bagian warga  di 

Balkan, juga diketahui memuja 

kuda.

7. Gajah; penganut Buddha dan 

Hindu di berbagai daerah Asia 

memposisikan gajah cukup ting-

gi. warga  Thailand, misal-

nya, percaya bahwa gajah putih 

memiliki nyawa orang yang 

telah meninggal, yang kemung-

kinan yaitu  Buddha sendiri. 

Pengaruh gajah putih sangat 

dirasakan di Kamboja, negara-

negara Indo-China, dan Ethiopia. 

Penelitian juga mensinyalir bah-

wa warga  Sumatra dan 

Kalimantan bagian utara di masa 

lalu juga memuja gajah.

Hewan liar lainnya, seperti kelinci, 

serigala, kucing, kera, burung gagak, 

rajawali, ular, dan ikan, banyak dipuja 

di kalangan warga  di seluruh 

pelosok bumi. Semuanya memiliki  

“tugas” tertentu. Burung, misalnya, 

bertugas membawa berita dan menjadi 

perantara antara alam dunia dan alam 

lain. Burung dari kelompok merpati 

dianggap sebagai dukun pada kisah 

Nabi Nuh. Peran dukun juga dilakukan 

oleh penyu atau labi-labi di China. 

Hewan yaitu  elemen penting dalam 

praktik perdukunan. Peran utamanya 

yaitu  sebagai perantara antara alam 

gaib dan alam nyata.

Pada agama modern, peran 

hewan masih cukup penting, terutama 

dalam agama Buddha, Jain, dan Hindu. 

Sementara itu, pada agama-agama 

monoteisme, seperti Yahudi, Kristen 

dan Islam, hewan banyak dipakai  

sebagai permisalan.

Dalam ajaran Islam hewan ba-

nyak dipakai  sebagai ilustrasi dalam 

mukjizat-mukjizat pada banyak kisah 

dalam Al-Qur'an. Beberapa di antara-

nya yaitu :

• Burung gagak yang dikirimkan 

kepada putra Nabi Adam untuk 

mengajarinya cara menguburkan 

mayat saudaranya.

Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an  &  Sains4

• Burung yang dibunuh dan ditem-

patkan bagian-bagian tubuhnya 

oleh Ibrahim di beberapa puncak 

gunung, menjadi contoh kekuasaan 

Allah untuk menghidupkan makh-

luk yang sudah mati.

• Burung gagak milik Bani Israil yang 

diperintahkan Nabi Musa untuk 

mengungkap identitas pembunuh 

misterius.

• Serigala atau anjing hutan yang 

dituduh sebagai pembunuh Nabi 

Yusuf.

• Burung bulbul atau hupu yang 

memberitahu Sulaiman tentang 

Ratu Sheba (Saba').

• Rayap yang memakan tongkat 

Sulaeman dan mengungkap kenya-

taan bahwa Sulaiman telah wafat.

• Keledai milik Uzair yang dimatikan 

Allah selama 100 tahun dan dihi-

dupkan kembali.

• Ikan besar yang menelan Nabi 

Yunus dan mengeluarkannya kem-

bali sebab  dia yaitu  salah se-

orang penyembah Allah.

• Anjing yang tidur bersama Ashabul-

Kahfi selama tiga ratus sembilan 

tahun.

• Semut yang memperingatkan 

teman-temannya akan kedatangan 

Nabi Sulaiman dan pasukannya.

• Gajah pasukan Abrahah yang gagal 

saat diperintahkan untuk meng-

hancurkan Kabah.

• Perbandingan antara jaring laba-

laba dan rumah manusia―dan 

masih banyak lagi.

Hewan selain diposisikan sebagai 

permisalan dan mukjizat, dalam banyak 

ayatnya Al-Qur'an juga menjelaskan 

proses dan perikehidupannya.  

Hubungan manusia dan hewan 

dimulai dengan peringatan. Sebagai 

khalifah, manusia oleh Al-Qur'an da-

lam banyak ayatnya, demikian pula 

hadis Nabi, diperingatkan agar mem-

perlakukan hewan dengan baik. Allah 

menyatakan bahwa hewan yaitu  

umat Allah seperti halnya manusia. 

Bahkan, Allah meminta manusia untuk 

belajar dari perikehidupan hewan; 

belajar mengenai pola organisasi yang 

mengatur kehidupan hewan, cara 

mereka berkomunikasi, sistem yang 

memicu  hewan dapat meng-

hasilkan air susu, dan seterusnya. 

Begitu sadar bahwa hewan yaitu  juga 

makhluk Allah, maka manusia sudah 

sewajarnya harus berbagi sumber 

daya dengan hewan.

Al-Quran menjadikan hewan 

sebagai “guru” bagi manusia. Al-

Qur'an pun mengingatkan manusia 

bahwa hewan juga memiliki nurani, 

dan sebab nya harus diperlakukan 

dengan baik. 

Manusia dengan kemampuannya 

dapat menghindarkan hewan dari 

Pendahuluan 5

penderitaannya, dalam memenuhi 

kebutuhan manusia, atau paling tidak 

mengurangi penderitaan itu. Begi-

tupun dalam hal pemakaian  hewan 

sebagai objek percobaan. Memang, 

tidak ada petunjuk rinci mengenai 

subjek ini, akan namun  banyak ayat 

Al-Qur'an dan hadis yang setidaknya 

memberikan acuan dan rambu-rambu 

secara global.

Tidak seperti pemakaian  hewan 

sebagai objek percobaan, peman-

faatan daging dan bagian tubuh 

hewan lainnya oleh manusia diatur 

dengan rinci dalam Al-Qur'an maupun 

hadis. Semua hal yang berkaitan 

dengannya, misalnya perlakuan dalam 

pemeliharaan hewan, perlakuan dalam 

pengangkutan, hingga cara memotong 

hewan ternak dengan rinci dicatat 

di dua sumber utama syariat Islam 

ini . Tidak lupa, keduanya juga 

mengatur tentang perlakuan terhadap 

hewan dalam kancah olah raga, seperti 

mengadu hewan dengan hewan, atau 

mengadu hewan dengan manusia 

(rodeo, matador, dan sejenisnya). 

Meski aturan itu tidak mendetail, akan 

namun  ia sudah cukup memberikan 

aturan global dalam mengatur peng-

gunaan binatang sebagai objek per-

cobaan dan penelitian.

Buku ini menguraikan sedikit 

dari khazanah ilmu pengetahuan 

tentang hewan. Banyak bagian dari 

kajian ini yang masih perlu diperluas 

dan dipertajam. Penulis memandang 

bahwa apa yang disajikan dalam 

buku ini barulah sekelumit dari ilmu 

pengetahuan tentang hewan yang 

bisa disarikan dari ayat-ayat Al-Qur'an 

mengenai tema ini .  

sebab  Al-Qur'an yaitu  sumber 

ilmu yang berada pada tataran filo-

sofis, bukan pada tingkatan teori 

ilmu pengetahuan, maka Al-Qur'an 

bukanlah sumber langsung teori ilmi-

ah.  Kitab ini tidak pernah berbicara 

secara cukup terperinci, atau bahkan 

sangat teknis, mengenai fenomena 

alam. Ayat-ayat di dalamnya hanya 

memberikan motivasi kepada kita 

untuk mengamati dan memahami 

alam.

Pada akhirnya kami ingin meng-

garisbawahi bahwa tulisan tidak be-

rangkat dari upaya untuk sekadar 

mencocok-cocokkan ayat-ayat Al-

Qur'an dengan ilmu pengetahuan. 

Namun, jika  ternyata buku ini 

terkesan sebaliknya  maka hal itu tidak 

lain akibat ketidakmampuan penulis 

untuk menjelaskan dan menafsirkan 

ayat-ayat Al-Qur'an dengan benar. []



PANDANGAN ISLAM TENTANG HEWAN

Al-Qur'an memberi manusia ke-

kuatan untuk memperlakukan 

hewan dengan baik, untuk 

tidak menyakiti dan merendahkannya. 

Hewan, bersama dengan semua 

ciptaan Allah, dipercaya menyembah 

Allah, walaupun tidak dengan cara 

seperti yang manusia lakukan. Allah 

berfirman,

Secara eksplisit Al-Qur'an mem-

perbolehkan manusia untuk me-

ngonsumsi daging hewan. Walaupun 

banyak umat muslim yang memilih 

menjadi vegetarian, yang hanya makan 

produk tumbuhan, Al-Qur'an tidaklah 

mempersoalkan hal ini . Hewan 

jenis tertentu hanya dapat dimakan 

jika  disembelih dengan cara 

tertentu.  Di sisi yang lain, beberapa 

binatang dan produknya dinyatakan 

oleh Al-Qur'an sebagai barang ha-

ram, misalnya saja daging babi, 

darah, dan daging yang disembelih 

bukan atas nama Allah. Binatang 

pemangsa di darat dan burung 

Tidakkah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada 

Allah-lah bertasbih apa yang di langit dan di bumi, 

dan juga burung yang mengembangkan sayapnya. 

Masing-masing sungguh, telah mengetahui (cara) 

berdoa dan bertasbih. Allah Maha Mengetahui apa 

yang mereka kerjakan. (an-Nūr/24: 41)


dengan paruh yang membengkok 

dan tajam juga diharamkan. Akan 

namun , hewan-hewan laut, meskipun 

bentuk tubuhnya menyerupai hewan 

daratan yang diharamkan, tetap saja 

dihalalkan.  

Di antara hewan yang banyak 

disebutkan di dalam Al-Qur'an yaitu  

jenis-jenis hewan mamalia, burung, 

serangga, reptil, dan amfibi. Di 

kelompok burung ada burung hupu 

atau hud-hud yang berperan sebagai 

peninjau yang membawa balik berita 

mengenai sebuah negeri bernama 

Saba' dalam kisah Nabi Sulaiman. 

Ada juga burung gagak yang Allah 

kirim kepada putra Adam―dipercaya 

bernama Qabil―untuk mengajarinya 

cara menguburkan mayat saudara 

yang dibunuhnya. Ada pula burung 

puyuh (salwā) yang diturunkan Allah 

kepada umat Nabi Musa semasa 

dalam pelarian. Menu ini merupakan 

salah satu hidangan surgawi yang 

dianugerahkan kepada mereka―

menu yang satunya lagi bernama 

manna. Al-Qur'an juga menyebut 

burung-burung yang diutus oleh 

Allah untuk meluluhlantakkan tentara 

bergajah yang hendak menghancurkan 

Kabah. 

Unta juga merupakan hewan 

yang luar biasa. Allah melalui Al-Qur'an 

meminta manusia untuk merenungkan 

bagaimana ia diciptakan. Cara minum 

unta menjadi permisalan para peng-

huni neraka yang meminum air men-

didih dengan rakus. Al-Qur'an juga 

menyebut keledai dalam kisah Uzair 

yang diwaftakan Allah selama seratus 

tahun, dan dihidupkan kembali sete-

lah itu. Kitab ini jug menyebut kuda 

tunggangan yang menjadi salah satu 

perhiasan duniawi yang paling diingin-

kan oleh manusia dalam hidupnya. 

Sapi juga disebut dalam kisah 

tiga nabi, yaitu Ibrahim, Yusuf, dan 

Musa. Disebutkan bahwa Ibrahim 

menghidangkan sapi muda panggang 

untuk menjamu malaikat yang men-

jumpainya. Sapi juga disebut dalam 

mimpi penguasa Mesir yang lalu  

mampu ditakwilkan oleh Yusuf. 

Adapun kambing disebut dalam 

kisah Nabi Daud yang diminta menjadi 

pengadil saat  dua orang  bersaudara 

berselisih perihal kepemilikan hewan 

ini . Sementara itu, babi selalu 

digambarkan sebagai hewan yang 

haram dikonsumsi sekaligus dicela 

sifat-sifatnya. Dalam Al-Qur'an Allah 

melaknat orang-orang yang durhaka 

dengan merubah rupa mereka menjadi 

babi dan kera. Adapun anjing, binatang 

yang dibenci oleh sebagian orang, juga 

banyak disebut di sana, salah satunya 

yaitu  anjing bernama Qiţmīr. 

Ular disebut sebanyak lima 

kali di dalam Al-Qur'an; kesemuanya 

berkaitan dengan kisah penjelmaan 

9Pandangan Islam tentang Hewan

tongkat Nabi Musa menjadi ular saat  

dilempar. Adapun serangga, semut 

misalnya, dimasukkan dalam kisah 

Nabi Sulaiman. Sementara itu ikan 

dikisahkan dalam Al-Qur'an menelan 

Nabi Yunus yang sedang melarikan diri 

dari kaumnya. Semua ini menunjukan 

bahwa hewan yaitu  makhluk Tuhan 

seperti halnya manusia. Bedanya, Allah 

menjadikan mereka tunduk kepada 

manusia dan dapat diambil manfaatnya 

sebagai wujud dari kebesaran dan 

keagungan Allah. Itu semua sebab  

Allah telah menganugerahi manusia 

apa-apa yang berada di langit dan di 

bumi. (al-Gāsyiyah/45: 13)

Meski ada lebih dari 200 ayat 

di dalam Al-Qur'an yang berbicara 

tentang hewan, baik secara umum 

maupun menunjuk secara spesifik jenis 

tertentu, namun kehidupan hewan 

tidak menjadi tema yang mendominasi 

Al-Qur'an. Uraian mengenai hewan 

juga tidak terlalu rinci, kendati 

penduduk asli Jazirah Arab pada 

masa pra-Islam banyak memakai  

hewan sebagai permisalan, misalnya 

ayam jantan yang menggambarkan 

manusia yang ringan tangan kepada 

sesama, kadal yang merepresentasikan 

penghianat, burung puyuh yang me-

wakili orang dungu, dan singa yang 

menggambarkan pemberani.

Al-Qur'an juga menyebut jenis-

jenis hewan dengan ungkapan dābbah, 

bentuk tunggal dari ad-dawāb yang 

berarti makhluk yang melata. Dalam 

Surah al-Ĥajj/22: 18, an-Nūr/24: 45 dan 

Fāţir/35: 28, dijelaskan bahwa apa yang 

ada di langit dan bumi; matahari, bulan, 

bintang, tumbuh-tumbuhan, dan 

binatang, semuanya bersujud kepada 

Allah. Sebagian dari hewan-hewan itu 

berjalan di atas perutnya, sebagian 

lagi berjalan dengan dua kaki, dan 

sebagian lainnya dengan empat kaki. 

Allah menciptakan hewan-hewan itu 

beragam, baik jenis maupun warnanya. 

Ini semua membuktikan kekuasaan 

Allah yang tak terhingga. Dalam Surah 

Hūd/11: 16 Allah menegaskan bahwa 

betapapun hewan-hewan itu amat 

beragam, namun tidak satu pun dari 

mereka yang lepas dari pengawasan 

dan pemeliharaan Allah.

Kesetaraan di antara makhluk, 

terutama antara hewan dan manusia, 

sangat ditekankan Tuhan. Meski pada 

kenyataannya manusia jauh lebih mulia 

daripada hewan, namun di akhirat 

nanti keduanya akan dikumpulkan 

bersama oleh Allah di ujung zaman. 

Apakah dalam posisi sejajar atau tidak, 

kita tidak pernah tahu.  Ayat di bawah 

ini menunjukkan hal yang demikian.

10 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an  &  Sains

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di 

bumi dan burung-burung yang terbang dengan 

kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan 

umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu 

pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, lalu  

kepada Tuhan mereka dikumpulkan. (al-An‘ām/6: 

38)

Kesetaraan banyak dibicarakan 

dalam Al-Qur'an antara manusia di 

satu pihak dan hewan di pihak lain. 

Ayat di atas menjelaskan bahwa 

hewan juga umat Allah, sama dengan 

manusia. Walau mereka memiliki  

ciri, kekhususan, dan sistem kehidupan 

yang berbeda-beda, pada hakikatnya 

mereka sama dengan manusia di 

mata Allah. Manusia diwajibkan untuk 

mengingat hal itu; bahwa mereka 

semua yaitu  ummah. Ayat ini sudah 

sangat jauh melihat ke depan dalam 

implikasi moral dan ekologi di dunia ini.

Meski setara (dalam perlakuan), 

akan namun  hewan itu sendiri secara 

fisis bila dibandingkan manusia 

memang masih kalah mulia. Hewan 

yang hina secara fisi menjadi tamsil 

bagi orang kafir. Perhatikan firman 

Allah berikut!

Dan orang-orang yang kafir menikmati kesenangan 

(dunia) dan mereka makan seperti hewan makan; 

dan (kelak) nerakalah tempat tinggal bagi mereka. 

(Muĥammad/47: 12)

Beberapa ayat Al-Qur'an lainnya 

juga menyinggung perihal hewan; 

tentang bagaimana manusia harus 

memperlakukan hewan, kegunaan 

hewan bagi manusia, perilaku hewan 

yang patut ditiru manusia, dan banyak 

lagi lainnya. 

Membicarakan hubungan kese-

taraan antara manusia dengan hewan, 

Muhammad Fazlur Rahman Anshari 

menulis demikian, “Segala yang di 

muka bumi ini diciptakan untuk kita, 

maka sudah menjadi kewajiban alamiah 

kita untuk menjaga segala sesuatu dari 

kerusakan, memanfaatkannya dengan 

tetap menjaga martabatnya sebagai 

ciptaan Tuhan, dan melestarikannya 

sebisa mungkin. Dengan demikian 

kita mensyukuri nikmat Tuhan dalam 

bentuk perbuatan nyata.” 

Dalam Al-Qur'an banyak disebut-

kan nama-nama hewan, baik sebagai 

tamsil maupun model untuk memberi 

pelajaran dan petunjuk kepada manu-

sia. Peran hewan dalam kehidupan 

manusia sejajar dengan sumber daya 

alam lainnya, seperti air dan tumbuhan, 

dan semuanya merupakan tanda-

tanda keesaan Allah. Allah berfirman,  

Sungguh, Allah akan memasukkan orang-orang 

yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam 

surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. 


Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, 

pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar 

di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi 

manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit 

berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi 

sesudah  mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya 

bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin 

dan awan yang dikendalikan antara langit dan 

bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-

tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang 

mengerti. (al-Baqarah/2: 164)

Ayat di atas menegaskan bahwa 

hewan merupakan salah satu tanda 

keesaan dan kebesaran Allah, dan 

yang memahami hal ini  hanyalah 

manusia yang dapat memikirkannya. 

Ayat ini  juga bisa menjadi 

motivasi bagi manusia untuk meman-

faatkan hewan-hewan untuk kepen-

tingannya, salah satunya melalui 

proses yang dinamakan domestikasi 

hewan, dan juga tumbuhan tentunya. 

Domestikasi yaitu  proses penjinakan 

hewan dan penyesuaian hidup tum-

buhan untuk berbagai keperluan hidup 

manusia.  

Surah an-Naĥl/16: 5 berikut men-

jelaskan beberapa manfaat hewan, 

Dan hewan ternak telah diciptakan-Nya, untuk 

kamu padanya ada (bulu) yang menghangatkan 

dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu 

makan. Dan kamu memperoleh keindahan 

padanya, saat  kamu membawanya kembali ke 

kandang dan saat  kamu melepaskannya (ke 

tempat penggembalaan). Dan ia mengangkut 

beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak 

sanggup mencapainya, kecuali dengan susah 

payah. Sungguh, Tuhanmu Maha Pengasih, Maha 

Penyayang, dan (Dia telah menciptakan) kuda, 

bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan 

(menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang 

tidak kamu ketahui. (an-Naĥl/6: 5-8)

Ayat ini menegaskan bahwa 

kulit dan bulu binatang ternak boleh 

dimanfaatkan. Melengkapi kandungan 

ayat ini, Rasulullah melarang peng-

gunaan kulit binatang liar, baik se-

bagai pakaian, penutup lantai, mau-

pun pelana. Dalam sebuah hadis 

disebutkan,

َوَعْن  َهِب  بِالذَّ تٍُّم  َتَ َعْن  َأْو  َخَواتِْيَم  َعْن  ََنَاَنا 

baik hewan secara umum maupun 

satwa peliharaan secara khusus, bagi 

manusia.

12 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an  &  Sains

َوَعْن  ىِّ  اْلَقسِّ َوَعِن  اْلََياثِِر  َوَعِن  ِة  بِاْلِفضَّ ٍب  ُشْ

)رواه  ْيَباِج.  َوالدِّ ِق  َواإِلْسَتْبَ اْلَِرْيِر  ُلْبِس 

البخاري ومسلم عن الباء بن عازب(

Rasulullah melarang kami memakai cincin emas, 

minum dari wadah yang terbuat dari perak, 

memakai  alas pelana yang terbuat dari sutra, 

mengenakan pakaian bercampur sutra yang 

didatangkan dari Qas―sebuah wilayah di Mesir―

mengenakan pakaian dari sutra, sutra kasar dan 

tebal, serta sutra halus. (Riwayat al-Bukhāri dan 

Muslim dari al-Barrā' bin ‘Āzib)

Menurut sebagian ulama, al-

mayāšir yaitu  sejenis karpet berbahan 

sutra yang dahulu biasa diletakkan 

di atas pelana kuda. Sebagian yang 

lain memahaminya sebagai alas di 

atas pelana berbahan kulit binatang 

buas. Jika aturan atau himbauan yang 

dikemukakan Nabi ini ditaati oleh 

semua orang, maka pembunuhan sia-

sia terhadap beberapa jenis binatang 

liar demi meraih keuntungan dari 

kulitnya semata niscaya tidak terjadi.

Umat Islam diperbolehkan me-

ngonsumsi daging binatang yang 

dihalalkan. Akan namun  Rasulullah juga 

mensyaratkan sesuatu dalam proses 

perolehannya, yakni dengan disem-

belih. Beliau bersabda, 

َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  اهللِ  َرُسْوِل  َعْن  َحِفْظُتُهَم  ثِنَْتاِن 

ُكلِّ  َعَل  اإِلْحَساَن  َكَتَب  اهللَ  إِنَّ   : َقاَل   ، َم  َوَسلَّ

َذَبْحُتْم  اْلِقْتَلَة ، َوإَِذا  َفَأْحِسنُوا  َقَتْلُتْم  َفإَِذا  ٍء ،  َشْ

ْح  ْبَح ، َوْلُيِحدَّ َأَحُدُكْم َشْفَرَتُه َوْلُيِ َفَأْحِسنُوا الذَّ

َذبِْيَحَتُه . )رواه مسلم عن شداد بن أوس( 

Ada dua pesan yang aku ingat betul dari Rasulullah. 

Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan 

kita untuk berbuat baik dalam segala hal. Jika kalian 

membunuh maka lakukanlah dengan cara yang 

baik; jika kalian menyembelih maka sembelihlah 

dengan cara yang baik; hendaklah salah satu dari 

kalian mengasah mata pisaunya dan membuat 

nyaman hewan yang akan disembelihnya. (Riwayat 

Muslim dari Syaddād bin Aus)

Rasulullah juga melarang kita 

mengikat hewan yang akan disem-

belih. Hanya saja larangan ini tidak 

terkait halal-haramnya hewan yang 

disembelih, melainkan berkaitan dengan 

etika dalam menyembelih hewan ter-

sebut. Dalam sebuah hadis disebut-

kan,

َرُجٍل  َعَل  َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  اهللِ  َرُسْوُل  َمرَّ 

َشْفَرَتُه  َيُدُّ  َوُهَو  َشاٍة  َصْفَحِة  َعَل  ِرْجَلُه  َواِضٍع 

َقْبَل  َأَفاَل   : َفَقاَل   ، َها  بَِبَصِ إَِلْيِه  َتْلَحُظ  َوِهَي 

َمْوَتَتْيِ ؟ )رواه الطباين  ُتِْيَتَها  َأْن  َأُتِرْيُد  َهَذا ؟ 

والبيهقي عن ابن عباس(

Rasulullah berpapasan dengan seorang lelaki 

yang menginjakkan kakinya ke atas punggung 

seekor kambing sambil mengasah mata pisaunya, 

sedang  hewan itu melirik dengan matanya 

ke arah lelakai itu. lalu  beliau bersabda, 

“Mengapa tidak kauasah saja pisaumu sebelum ini? 

Sengajakah engkau ingin membuat kambingmu 

mati dua kali?” (Riwayat aţ-Ţabrāni dan al-Baihaqi 

dari Ibnu ‘Abbās)

13Pandangan Islam tentang Hewan

Islam mengajarkan pemeluknya 

untuk menyayangi binatang dan me-

lestarikan kehidupannya. Di dalam Al-

Qur'an Allah menekankan bahwa Dia 

telah menundukkan bagi kepentingan 

manusia apa saja yang ada di dunia ini. 

manusia memperlakukan binatang 

yang telah membantu kehidupannya. 

Konsep itu salah satunya terkandung 

dalam hadis-hadis berikut.

َذاَت  َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  اهللِ  َرُسْوُل  َأْرَدَفنِْي 

َيْوٍم َخْلَفُه ، َفَأَسَّ إَِلَّ َحِديًثا الَ ُأْخِبُ بِِه َأَحًدا َأَبًدا 

َأَحبُّ  َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  اهللِ  َرُسْوُل  َوَكاَن   ،

 ، َنْخٍل  َحاِئُش  َأْو  َهَدٌف  َحاَجتِِه  ِفْ  بِِه  اْسَتَتَ  َما 

َفإَِذا   ، األَْنَصاِر  ِحْيَطاِن  ِمْن  َحاِئًطا  َيْوًما  َفَدَخَل 

ٌز  َبْ َقاَل   ، َعْينَاُه  َوَذَرَفْت  َفَجْرَجَر  َأَتاُه  َقْد  َجٌَل 

َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  النَّبِيَّ  َرَأى  َفَلمَّ   : اُن  َوَعفَّ

اهللُ  َصلَّ  اهللِ  َرُسْوُل  َفَمَسَح  َعْينَاُه  َوَذَرَفْت  َحنَّ 

َمْن   : َفَقاَل   ، َفَسَكَن  َوِذْفَراُه  اَتُه  َسَ َوَسلََّم  َعَلْيِه 

َصاِحُب اْلََمِل ؟ َفَجاَء َفًتى ِمَن األَْنَصاِر ، َفَقاَل 

ِفْ  اهللَ  َتتَِّقي  َأَما   : َفَقاَل   ، اهللِ  َرُسْوَل  َيا  ِلْ  ُهَو   :

إَِلَّ  َشَكا  ُه  إِنَّ ؟  اهللُ  َملََّكَكَها  تِْي  الَّ اْلَبِهْيَمِة  َهِذِه 

ْيُعُه َوُتْدِئُبُه . )رواه أمحد عن عبد اهلل بن  َأنََّك ُتِ

جعفر(

Suatu hari Rasulullah memboncengkanku (menaiki 

unta) di belakangnya, lalu  beliau mem-

bisikkan suatu percakapan yang sampai kapan 

pun tidak akan aku sampaikan kepada orang lain. 

Rasulullah, saat  hendak membuang hajat, selalu 

saja berjalan ke arah gundukan tanah atau kebun 

kurma yang lebat (agar tidak terlihat orang lain). 

saat  beliau memasuki sebuah kebun kurma 

milik seorang sahabat Ansar. Tiba-tiba saja seekor 

unta menghampiri beliau dengan gemetaran dan 

bercucuran air mata. Bahz dan ‘Affān―dua perawi 

hadis ini―berkata, “Melihat hal itu Rasulullah 

Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan 

apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai 

rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang 

demikian itu benar-benar ada  tanda-tanda 

(kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir. 

(al-Jāšiyah/45: 13) 

Namun demikian, ayat ini tidak 

sama sekali meligitimasi manusia untuk 

berbuat semaunya dan sewenang-

wenang kepada makhluk-makhluk 

ini . Manusia tidak pula memiliki 

hak tak terbatas untuk memakai  

alam sehingga merusak keseimbangan 

ekologisnya.

Islam tidak membenarkan ma-

nusia untuk menyalahgunakan bina-

tang untuk tujuan olahraga maupun 

sebagai objek eksperimen semba-

rangan. Ayat ini mengingatkan umat 

manusia bahwa Sang Pencipta telah 

menjadikan semua yang ada di alam 

ini, termasuk satwa, sebagai amanat 

yang mesti dijaga. Konsep Islam dalam 

memenuhi hak-hak binatang sudah 

jelas, misalnya bagaimana seharusnya 

14 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an  &  Sains

tersedu-sedu dan berlinang air mata. lalu  

beliau mengelus-elus punuk dan tengkuk unta itu 

hingga kembali tenang. Beliau bertanya, “Siapa 

pemilik unta ini?” Seorang pemuda Ansar pun 

datang, “Unta itu milikku, wahai Rasulullah!” 

jawabnya. Rasulullah pun bertanya, “Tidakkah 

engkau takut kepada Allah terkait hewan ini yang 

telah Allah berikan kepadamu? Hewan ini mengadu 

kepadaku bahwa engkau membiarkannya 

kelaparan dan memaksanya bekerja keras!” 

(Riwayat Aĥmad dari ‘Abdullāh bin Ja‘far) 

َم َأْبَصَ َناَقًة َمْعُقْوَلًة  إِنَّ النَّبِيَّ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ

َهِذِه  َصاِحُب  َأْيَن   : َفَقاَل   ، َجَهاُزَها  َوَعَلْيَها 

 ، ُتْعِلَفَها  َأْن  ا  إِمَّ ؟  فِْيَها  اهللَ  َتتَِّقي  َأالَ  ؟  اِحَلِة  الرَّ

)رواه   ! لِنَْفِسَها  َتْبَتِغَي  َحتَّى  ُتْرِسَلَها  َأْن  ا  َوإِمَّ

الطباين عن ابن عمر( 

Sesungguhnya Rasulullah melihat seekor unta 

yang sedang terikat sambil menggendong muatan 

(milik majikannya), lalu beliau bertanya, “Siapakah 

pemilik hewan ini? Tidakkah engkau takut kepada 

Allah berkaitan dengan hewan ini? Seharusnya 

engkau memberinya makan atau melepaskannya 

agar ia mencari makan sendiri!” (Riwayat aţ-

Ţabrāni dari Ibnu ‘Umar)

َم ، َوإِنَّا  ُكنَّا ِف َسَفٍر َمَع النَّبِيِّ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ

ْيِل َوَقْعنَا َوْقَعًة، َوالَ ُكنَّا ِفْ آِخِر اللَّ ْينَا َحتَّى   َأْسَ

 َوْقَعَة َأْحَل ِعنَْد اْلَُسافِِر ِمنَْها ، َفَم َأْيَقَظنَا إاِلَّ َحرُّ

َل َمِن اْسَتْيَقَظ ُفاَلٌن ُثمَّ ُفاَلٌن ْمِس ، َوَكاَن َأوَّ  الشَّ

ْيِهْم َأُبْو َرَجاٍء َفنَِسَ َعْوٌف ُثمَّ ُعَمُر  ُثمَّ ُفاَلٌن ُيَسمِّ

َعَلْيِه النَّبِيُّ َصلَّ اهللُ  َوَكاَن   ، ابُِع  الرَّ اْلَطَّاِب   ْبُن 

َم إَِذا َناَم َلْ ُيوَقْظ َحتَّى َيُكْوَن ُهَو َيْسَتْيِقُظ ،  َوَسلَّ

 ألَنَّا الَ َنْدِرْي َما َيُْدُث َلُه ِفْ َنْوِمِه ، َفَلمَّ اْسَتْيَقَظ

 ُعَمُر َوَرَأى َما َأَصاَب النَّاَس َوَكاَن َرُجاًل َجِلْيًدا ،

ُ َوَيْرَفُع َ َوَرَفَع َصْوَتُه بِالتَّْكبِْيِ ، َفَم َزاَل ُيَكبِّ  َفَكبَّ

 َصْوَتُه بِالتَّْكبِْيِ َحتَّى اْسَتْيَقَظ بَِصْوتِِه النَّبِيُّ َصلَّ

ِذْي الَّ إَِلْيِه  َشَكْوا  اْسَتْيَقَظ  َفَلمَّ   ، َم  َوَسلَّ َعَلْيِه   اهللُ 

 َأَصاَبُْم ، َقاَل : الَ َضْي َأْو : الَ َيِضُي ، اِْرَتُِلْوا !

َل َفَساَر َغْيَ َبِعْيٍد ، ُثمَّ َنَزَل َفَدَعا بِاْلُوُضْوِء  َفاْرَتَ

اَلِة َفَصلَّ بِالنَّاِس ، َفَلمَّ َأ ، َوُنْوِدَي بِالصَّ  ، َفَتَوضَّ

ُيَصلِّ َلْ  ُمْعَتِزٍل  بَِرُجٍل  ُهَو  إَِذا  َصاَلتِِه  ِمْن   اْنَفَتَل 

َ َمَع  َمَع اْلَقْوِم ، َقاَل : َما َمنََعَك َيا ُفاَلُن َأْن ُتَصلِّ

: َقاَل   ، َماَء  َوالَ  َجنَاَبٌة  َأَصاَبْتنِْي   : َقاَل  ؟   الَقْوِم 

النَّبِيُّ َساَر  ُثمَّ   ، َيْكِفْيَك  ُه  َفإِنَّ ِعْيِد  بِالصَّ  َعَلْيَك 

ِمَن النَّاُس  إَِلْيِه  َفاْشَتَكى  َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ   َصلَّ 

ْيِه َأُبْو َرَجاٍء  اْلَعَطِش ، َفنََزَل َفَدَعا ُفاَلًنا َكاَن ُيَسمِّ

 ، َنِسَيُه َعْوٌف َوَدَعا َعِليًّا َفَقاَل : اْذَهَبا َفاْبَتِغَيا اْلَاَء

َيا اْمَرَأًة َبْيَ َمَزاَدَتْيِ َأْو َسطِْيَحَتْيِ  ! َفاْنَطَلَقا َفَتَلقَّ

 ِمْن َماٍء َعَل َبِعْيٍ َلَا ، َفَقاالَ َلَا : َأْيَن اْلَاُء ؟ َقاَلْت

اَعَة َوَنَفُرَنا ُخُلْوٌف  : َعْهِدْي بِاْلَاِء َأْمِس َهِذِه السَّ

َقاالَ َأْيَن ؟  إَِل  َقاَلْت :  إًِذا  اْنَطِلِقْي ،  َلَا :   ، َقاالَ 

َقاَلْت : َم ،  َوَسلَّ َعَلْيِه  َرُسْوِل اهللَِّ َصلَّ اهللُ  إَِل   : 

َتْعنِْيَ ِذْي  الَّ ُهَو   : ابُِئ ؟ َقاالَ  َلُه الصَّ ُيَقاُل  ِذْي   الَّ

َعَلْيِه اهللُ  َصلَّ  النَّبِيِّ  إَِل  ِبَا  َفَجاَءا   ! َفاْنَطِلِقْي   ، 

َثاُه اْلَِدْيَث ، َقاَل : َفاْسَتنَْزُلْوَها َعْن َم َوَحدَّ  َوَسلَّ

َم بِإَِناٍء ، َها ، َوَدَعا النَّبِيُّ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ  َبِعْيِ

15Pandangan Islam tentang Hewan

ِه . َوَقاَل َأُبو اْلَعالَِيِة :  : َصَبَأ َخَرَج ِمْن ِديٍن إَِل َغْيِ

ُبْوَر ابِِئْوَن فِْرَقٌة ِمْن َأْهِل الِكَتاِب َيْقَرُءْوَن الزَّ الصَّ

)رواه البخاري عن عمران)  

Suatu saat  kami tengah dalam perjalanan 

bersama Rasulullah. Kami terus saja berjalan 

pada malam hari, sampai menjelang akhir malam 

kami pun rehat. Kami semua terlelap sangat 

nyenyak; tidak ada tidur yang lebih nyenyak bagi 

seorang musafir melebihi yang kami alami. Begitu 

lelapnya tidur kami hingga hanya terik matahari 

yang mampu membuat kami terbangun. Orang 

yang pertama kali bangun yaitu  si A, lalu si B, 

lalu si C―Abū Rajā' (salah satu perawi hadis ini) 

menyebut dengan jelas nama tiga orang ini, namun 

‘Auf (perawi di bawahnya) lupa―dan Umar bin 

al-Khațțāb yaitu  orang keempat yang bangun. 

Adapun Rasulullah, bila tidur, tidak ada yang berani 

membangunkannya sampai beliau bangun sendiri. 

Hal itu sebab  kami tidak tahu apa yang terjadi pada 

beliau dalam tidurnya―apakah sedang menerima 

wahyu ataukah tidak. saat  Umar―seorang 

pria yang sangat perkasa―bangun dan melihat 

apa yang menimpa kami (bangun kesiangan), 

ia bertakbir dengan suara lantang. Ia terus saja 

bertakbir dengan lantang hingga Rasulullah 

terbangun sebab nya. Begitu beliau bangun, orang-

orang mengadukan apa yang mereka alami kepada 

beliau. Beliau pun bersabda, “Tidak ada masalah―

atau tidak mengapa―, lanjutkanlah perjalanan 

kalian!” Beliau lalu meneruskan perjalanan. Tak 

begitu jauh, beliau kembali berhenti dan meminta 

air untuk wudu. Beliau lalu berwudu dan mengajak 

para sahabatnya untuk salat berjamaah. Usai salat, 

beliau mendapati seseorang yang memisahkan 

diri dan tidak ikut salat bersama yang lain. “Wahai 

Fulan, mengapa engkau tidak salat bersama yang 

lain?” tanya beliau. Ia menjawab, “Aku sedang 

berjunub, dan tidak ada air (yang bisa aku pakai 

untuk mandi).” Lantas beliau menjelaskan, “Kalau 

begitu, gunakanlah debu (untuk bertayamum), 

dan itu sudah cukup (untuk menghilangkan 

َغ فِْيِه ِمْن َأْفَواِه اْلََزاَدَتْيِ َأْو َسطِيَحَتْيِ َوَأْوَكَأ  َفَفرَّ

: النَّاِس  ِف  َوُنوِدَي   ، اْلَعَزاِلَ  َوَأْطَلَق   َأْفَواَهُهَم 

َمْن َواْسَتَقى  َشاَء  َمْن  َفَسَقى   ، َواْسَتُقوا   ُاْسُقْوا 

َأَصاَبْتُه ِذْي  الَّ َأْعَطى  َأْن  َذاَك  آِخُر  َوَكاَن   ،  َشاَء 

 اْلَنَاَبُة إَِناًء ِمْن َماٍء ، َقاَل : اِْذَهْب َفَأْفِرْغُه َعَلْيَك

 ! َوِهَي َقاِئَمٌة َتنُْظُر إَِل َما ُيْفَعُل بَِمِئَها ، َواْيُم اهللِ

َا َأَشدُّ ِمأَلًة ُه َلُيَخيَُّل إَِلْينَا َأنَّ  َلَقْد ُأْقِلَع َعنَْها ، َوإِنَّ

 ِمنَْها ِحْيَ اْبَتَدَأ فِْيَها ، َفَقاَل النَّبِيُّ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه

َم : اِْجَُعْوا َلَا ! َفَجَمُعْوا َلَا ِمْن َبْيِ َعْجَوٍة  َوَسلَّ

 َوَدِقْيَقٍة َوَسِوْيَقٍة َحتَّى َجَُعْوا َلَا َطَعاًما ، َفَجَعُلْوَها

الثَّْوَب َوَوَضُعوا  َها  َبِعْيِ َعَل  َومَحَُّلْوَها  َثْوٍب   ِفْ 

َتْعَلِمْيَ َما َرِزْئنَا ِمْن َماِئِك َيَدْيَا ، َقاَل َلَا :   َبْيَ 

ِذْي َأْسَقاَنا ! َفَأَتْت َأْهَلَها  َشْيًئا ، َوَلِكنَّ اهللَ ُهَو الَّ

 َوَقِد اْحَتَبَسْت َعنُْهْم ، َقاُلوا: َما َحَبَسِك َيا ُفاَلَنُة ،

 َقاَلْت : َاْلَعَجُب ! َلِقَينِْي َرُجاَلِن َفَذَهَبا ِبْ إَِل َهَذا

َفَواهللِ َوَكَذا،  َكَذا  َفَفَعَل  ابُِئ  الصَّ َلُه  ُيَقاُل  ِذْي   الَّ

َوَقاَلْت  ، َوَهِذِه  َهِذِه  َبْيِ  ِمْن  النَّاِس  ُه ألَْسَحُر   إِنَّ

َمِء بَّاَبِة، َفَرَفَعْتُهَم إَِل السَّ  بِإِْصَبَعْيَها اْلُوْسَطى َوالسَّ

ا ، َلَرُسْوُل اهللِ َحقًّ ُه  إِنَّ َأْو  َمَء َواألَْرَض   َتْعنِي السَّ

وَن َعَل َمْن َحْوَلَا  َفَكاَن اْلُْسِلُمْوَن َبْعَد َذلَِك ُيِغْيُ

ِهَي ِذْي  الَّ َم  ْ الصِّ ُيِصْيُبْوَن  َوالَ   ، ِكْيَ  اْلُْشِ  ِمَن 

َهُؤالَِء َأنَّ  ُأَرى  َما   : لَِقْوِمَها  َيْوًما  َفَقاَلْت   ،  ِمنُْه 

 اْلَقْوَم َيْدُعْوَنُكْم َعْمًدا ، َفَهْل َلُكْم ِف اإِلْساَلِم ؟

 َفَأَطاُعْوَها َفَدَخُلْوا ِف اإِلْساَلِم ، َقاَل َأُبو َعْبِد اهللِ

16 Hewan dalam Perspektif Al-Qur'an  &  Sains

janabahmu). lalu  Rasulullah melanjutkan 

perjalanan hingga para pengikutnya mengeluh 

kehausan. Rasulullah pun berhenti. Beliau 

memanggil seseorang―Abū Rajā' menyebut nama 

jelas pria ini , namun ‘Auf lupa―dan Ali. 

Kepada keduanya Rasulullah berpesan, “Pergilah 

kalian berdua untuk mencari air!” Mereka pun 

berangkat dan berjumpa seorang wanita yang 

menunggang unta dengan dua kantung air di 

kanan-kirinya. Keduanya bertanya kepadanya, 

“Dimana ada air?” Wanita itu menjawab, “Terakhir 

kali aku lihat air di sana, satu hari perjalanan dari 

tempat ini. Kaum pria desa kami pun pergi untuk 

mencari air.” Lalu keduanya berkata, “Kalau begitu, 

pergilah!” “Kemana?”, tanya wanita itu. Mereka 

menjawab, “Menghadap Rasulullah.” Wanita itu 

balik bertanya, “Menghadap pria yang disebut-

sebut sebagai murtad (șābi')?” Mereka menjawab, 

“Ya, pria itulah yang kaumaksud. Pergilah!” 

lalu  kedua sahabat Nabi itu bersama 

wanita ini  menemui Rasulullah. Keduanya 

menceritakan peristiwa yang baru mereka alami. 

Para sahabat lalu meminta wanita itu turun dari 

untanya. lalu  Rasulullah meminta bejana 

air; beliau lalu memenuhinya dengan air dari 

mulut kantong-kantong air (milik wanita itu). 

Beliau mengikat lubang atas kantong dan melepas 

ikatan di bagian bawahnya. “Minumlah kalian, 

dan minumilah hewan tunggangan kalian!” seru 

Rasulullah. Beberapa dari mereka pun minum 

dan beberapa lainnya meminumi tunggangan 

mereka. sesudah  semuanya selesai, barulah beliau 

memberi seember air kepada orang yang tadi 

terkena janabah. “Pergi dan mandilah!” perintah 

beliau. Sementara itu, wanita tadi sambil berdiri 

terus saja mengamati apa yang para sahabat 

lakukan terhadap air miliknya. Demi Allah, wanita 

itu terperanjat―kami juga demikian; kami 

saksikan jumlah air dalam wadah milik wanita tadi 

lebih banyak dibanding sebelum air di dalamnya 

dituangkan oleh Rasulullah. Rasulullah lalu 

bersabda kepada para sahabatnya, “Kumpulkanlah 

(bahan makanan) untuknya―sebagai imbalan 

atas air yang kalian gunakan!” Mereka pun 

bergegas mengumpulkan makanan berupa kurma, 

tepung, sawiq (campuran antara susu dan tepung) 

untuk wanita ini , dan memasukkannya ke 

dalam selembar kain. Mereka lalu menaikkan 

wanita itu ke punggung untanya, dan menaruh 

kain berisi bahan makanan tadi di depannya. 

Rasulullah berkata kepadanya, “Kautahu bahwa 

kami tidak mengurangi sedikit pun air milikmu, 

namun  Allah-lah yang telah memberi kami minum.” 

Pulanglah wanita itu menemui keluarganya―

ia datang terlambat. Mereka bertanya, “Wahai 

Fulanah, mengapa engkau datang terlambat?” 

Ia menjawab, “Sebuah keajaiban! Aku bertemu 

dua pria yang lalu  membawaku menemui 

seseorang yang disebut-sebut murtad―Șābi'. 

Laki-laki itu melakukan ini dan itu―menceritakan 

apa yang terjadi dengan panjang lebar. Demi 

Allah, dia yaitu  orang yang paling menakjubkan 

(membuatku sangat terkesan) di antara ini 

(langit) dan ini (bumi).” Ia berkata demikian 

sambil memberi isyarat dengan mengangkat jari 

tengah dan telunjuknya ke arah langit―mungkin 

ia bermaksud memberi isyarat yang berarti 

‘antara langit dan bumi,’ atau ia hendak bersaksi 

bahwa pria yang ditemuinya yaitu  benar-benar 

utusan Allah. Sejak saat itu kaum muslim selalu 

melindungi wanita ini  dari gangguan kaum 

musyrik di sekelilingnya. Mereka (kaum muslim) 

pun tidak pernah mengganggu kampung terpencil 

di mana wanita itu berasal. Suatu hari ia berkata 

kepada kaumnya, “Aku tidak yakin mereka (kaum 

muslim) sengaja membiarkan (tidak mengganggu) 

kalian. Tidakkah kalian mau masuk Islam?” Mereka 

pun kompak menaati seruan wanita ini , dan 

bersama-sama masuk Islam. (Riwayat al-Bukhāri 

dari ‘Imrān)

saat  berhenti di tengah per-

jalanan untuk sekadar beristirahat atau 

menunaikan salat, Rasul menganjurkan 

para sahabatnya agar mengurangi 

muatan pada hewan pemuat dan 

memberinya makan. Beliau juga mem-

peringatkan bahwa binatang-binatang 

17Pandangan Islam tentang Hewan

itu harus dimanfaatkan sesuai dengan 

fungsinya. Suatu saat  beliau melihat 

seseorang duduk di atas punggung 

unta di tengah-tengah pasar sambil 

mengobrol dengan sesamanya. Beliau 

lantas menegurnya,

َفإِنَّ  ، َمنَابَِر  ُكْم  َدَوابِّ ُظُهْوَر  َتتَِّخُذْوا  َأْن  اُكْم   إِيَّ

َتُكْوُنْوا َلْ  َبَلٍد  إَِل  َغُكْم  لُِتَبلِّ َلُكْم  َرَها  َم َسخَّ إِنَّ  اهللَ 

األَْرَض َلُكُم  َوَجَعَل   ، األَْنُفِس  بِِشقِّ  إاِلَّ   َبالِِغْيِه 

داود عن أبو  . )رواه  َحاَجَتُكْم  َفاْقُضْوا   َفَعَلْيَها 

عن أب هريرة )  

Janganlah kalian menjadikan punggung-pungung 

binatang peliharaanmu sebagai mimbar (untuk 

bercakap-cakap), sebab  sesunguhnya Allah mem-

buat mereka tunduk kepadamu (bukan untuk 

itu, melainkan) agar mereka membawamu pergi 

dari satu tempat ke tempat lain yang tidak dapat 

kamu capai kecuali dengan badan yang letih. Dan 

Allah telah menjadikan untuk kalian tanah, maka 

buanglah hajat kalian di sana. (Riwayat Abū 

Dāwūd dari Abū Hurairah)

Islam mengajari manusia untuk 

membalas pelayanan yang telah dibe-

rikan oleh binatang-binatang mereka 

dengan memperlakukan binatang itu 

sebaik mungkin.  Manusia diharuskan 

membantu memenuhi kebutuhan 

binatang peliharaan mereka. Islam 

mewajiban manusia berinteraksi 

dengan binatang menurut cara yang 

dibenarkan sebab  mereka yaitu  

juga ciptaan Allah. Sudah jelas bahwa 

hewan tidak punya kemampuan 

untuk menuntut haknya dari manusia. 

Namun demikian, menurut perspektif 

Islam, seseorang wajib berbuat baik 

dan memperhatikan apa yang men-

jadi hak hewan. Dalam kerangka 

inilah Rasulullah melarang manusia 

membunuh hewan apa pun tanpa 

tujuan yang dibenarkan.

 َمْن َقَتَل ُعْصُفوًرا َعَبًثا َعجَّ إَِل اهللِ َعزَّ َوَجلَّ َيْوَم

 اْلِقَياَمِة ِمنُْه ، َيُقوُل : َيا َربِّ إِنَّ ُفاَلًنا َقَتَلنِي َعَبًثا

وابن والنسائي  أمحد  )رواه   . لَِنَْفَعٍة  َيْقُتْلنِي  َوَلْ 

 حبان عن الشيد بن سويد )  

Barang siapa membunuh burung pipit tanpa alasan 

yang dibenarkan maka burung ini  akan 

melapor kepada Allah pada hari kiamat. Ia berkata, 

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya Fulan telah 

membunuhku dengan sia-sia; ia tidak membunuhku 

untuk suatu manfaat.” (Riwayat Aĥmad, an-Nasā'i 

dan Ibnu Ĥibbān dari asy-Syuraid bin Suwaid)

Dalam rangka mengajak manusia 

untuk menjadi penyayang semua 

mahluk yang ada di muka bumi, Nabi 

mengkaitkannya dengan pahala dan 

siksa. Beliau bersabda dalam beberapa 

hadisnya,

مْحَُن ، اْرمَحُوا َمْن ِف األَْرِض امِحُوَن َيْرمَحُُهْم الرَّ  َالرَّ

مْحَِن ِحُم ُشْجنٌَة ِمْن الرَّ َمِء ، الرَّ  َيْرمَحُْكْم َمْن ِف السَّ

 . َفَمْن َوَصَلَها َوَصَلُه اهللُ َوَمْن َقَطَعَها َقَطَعُه اهللُ

( رواه أمحد والتمذي عن ابن عمرو)


Orang-orang yang penuh kasih sayang akan 

dikasihi oleh Allah Yang Maha Pengasih. Berkasih 

sayanglah kalian kepada siapa (dan apa) pun yang 

di


Tentang hewan 2




  bumi, niscaya yang di langit akan mengasihi 

kalian. Hubungan kekeluargaan yaitu  rangkaian 

dari Allah; barang siapa menyambung tali sila-

turahmi niscaya Allah akan menyambungnya 

(dengan rahmat-Nya), dan barang siapa memutus 

tali silaturahmi maka Allah akan memutusnya (dari 

rahmat-Nya). (Riwayat at-Tirmiżi dari Ibnu ‘Amr)

Selain itu, Nabi mengajarkan 

bahwa sikap dan tindakan manusia 

terhadap binatang akan  menentukan 

nasib mereka di akhirat, sebagaimana 

diriwayatkan dalam dua kesempatan 

terpisah berikut.

 ، َماَتْت  َحتَّى  َسَجنَْتَها  ٍة  ِهرَّ ِفْ  اْمَرَأٌة  َبِت  ُعذِّ

َفَدَخْلِت َالنَّاَر فِيَها ، الَ ِهَي َأْطَعَمْتَها َوَسَقْتَها إِْذ 

ِهَي َحَبَسْتَها ، َوالَ ِهَي َتَرَكْتَها َتْأُكُل ِمْن َخَشاِش 

البخاري ومسلم عن عبد اهلل  األَْرِض . )رواه 

بن عمر(

Seorang wanita disiksa Allah (pada hari kiamat) 

lantaran mengurung seekor kucing sehingga 

kucing itu mati. sebab  itu Allah memasukkannya 

ke neraka. Kucing itu dikurungnya tanpa diberi 

makan dan minum, dan tidak pula dilepaskannya 

supaya kucing itu makan serangga-serangga bumi 

(dengan sendirinya). (Riwayat al-Bukhāri dan 

Muslim dari ‘Abdullāh bin ‘Umar)

اْلَعَطُش  َعَلْيِه  اْشَتدَّ  بَِطِرْيٍق  َيْمِشْ  َرُجٌل  َبْينََم 

َفإَِذا  َخَرَج  ُثمَّ   ، َب  َفَشِ فِْيَها  َفنََزَل  بِْئًرا  َفَوَجَد   ،

َفَقاَل   ، اْلَعَطِش  ِمَن  الثََّرى  َيْأُكُل  َيْلَهُث  َكْلٌب 

ِمْثَل  اْلَعَطِش  ِمَن  اْلَكْلَب  َهَذا  َبَلَغ  َلَقْد   : ُجُل  الرَّ

ُه َماًء ،  ِذْي َكاَن َبَلَغ ِمنِّْي . َفنََزَل اْلبِْئَر َفَمأَل ُخفَّ الَّ

ُثمَّ َأْمَسَكُه بِِفْيِه َحتَّى َرِقَي َفَسَقى اْلَكْلَب َفَشَكَر 

اهللُ َلُه َفَغَفَر َلُه . َقاُلوا : َيا َرُسْوَل اهللِ َوإِنَّ َلنَا ِفْ 

َرْطَبٍة  َكبٍِد  ُكلِّ  ِفْ   : َفَقاَل  ؟  ألَْجًرا  اْلَبَهاِئِم  َهِذِه 

َأْجٌر . )رواه البخاري ومسلم عن أب هريرة(

Ada seorang pria yang sedang berjalan, lalu 

ia merasakan haus yang sangat. lalu  ia 

mendapati sebuah sumur, lalu ia mendekatinya 

dan minum dari air sumur ini . Ia pun beranjak 

meninggalkan sumur, saat  tiba-tiba ia mendapati 

seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya 

menjilati tanah akibat kehausan. Pria itu berkata, 

“Anjing ini benar-benar kehausan seperti yang aku 

alami tadi.” Maka ia turun (kembali) ke sumur tadi, 

dan diisinya sepatunya dengan ait. Ia memegangi 

sepatunya dan menuangkan air di dalamnya ke 

mulut anjing itu hingga rasa hausnya hilang. Anjing 

itu pun bersyukur kepada Allah atas bantuan pria 

tadi, dan sebab nya Allah pun mengampuni pria itu. 

Para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai 

Rasulullah, apakah kita akan dapat pahala dengan 

berbuat baik kepada hewan?” Beliau menjawab, 

“(Perbuatan baik kalian) kepada setiap makhluk 

yang bernyawa pasti diberi pahala.” (Riwayat al-

Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah)

Rasulullah melarang manusia 

berlaku kejam terhadap binatang, salah 

satunya dengan mengadu satu dengan 

lainnya. Dengan demikian, adu domba 

dan sabung ayam, misalnya yaitu  hal 

yang diharamkan oleh agama. Lomba 

melukai hewan, misalnya pertarungan 

antara banteng dan matador, yaitu  

sama kejinya dengan mengadu hewan, 

19Pandangan Islam tentang Hewan

dan sebab nya juga diharamkan.  De-

mikian pula membunuh binatang 

untuk  sekadar mencari kesenangan. 

Mari kita perhatikan hadis berikut.

ُه َدَخَل َعَل َيَْيى  َعِن اْبِن ُعَمَر َرِضَ اهللُ َعنُْهَم ، َأنَّ

َدَجاَجًة  َرابٌِط  َيَْيى  َبنِْي  ِمْن  َوُغاَلٌم   ، َسِعيٍد  ْبِن 

ُثمَّ  َها ،  ُعَمَر َحتَّى َحلَّ اْبُن  إَِلْيَها  َفَمَشى  َيْرِميَها ، 

َأْقَبَل ِبَا َوبِاْلُغاَلِم َمَعُه ، َفَقاَل : اِْزِجُرْوا ُغاَلَمُكْم 

َسِمْعُت   ْ َفإيِنِّ  ، لِْلَقْتِل  ْيَ  الطَّ َهَذا  َيْصِبَ  َأْن  َعْن 

َبِْيَمٌة  ُتْصَبَ  َأْن  َنَى  َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  النَّبِيَّ َصلَّ 

عن  ومسلم  البخاري  )رواه   . لِْلَقْتِل  َها  َغْيُ َأْو 

ابن عمر(

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, bahwa pada suatu 

hari ia bertandang ke rumah Yaĥyā bin Sa‘īd. Di sana 

ia mendapati seorang bocah yang merupakan salah 

satu anak Yaĥyā sedang mengikat seekor ayam dan 

melemparinya dengan batu. Ibnu ‘Umar bergegas 

mendekati ayam ini  dan melepaskan ikatan-

nya. Beberapa saat lalu  ia menemui Yaĥyā 

sambil memegang ayam dan memegang bocah 

tadi. Ia berkata, “Laranglah anakmu dari mengikat 

hewan ini untuk dibunuhnya! Sungguh, aku 

mendengar bahwa Rasulullah melarang mengikat 

binatang atau makhluk hidup lainnya untuk tujuan 

dibunuh.” (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari 

Ibnu ‘Umar)

Bila etika menyembelih hewan 

sudah dijelaskan dengan cukup rinci 

dalam banyak hadis, tidak demikian 

adanya pemanfaatan hewan sebagai 

objek percobaan/penelitian. Untuk 

mengetahui hukum hal ini  kita 

memerlukan kaidah-kaidah yang ada 

di dalam disiplin ilmu fikih. Fikih yang 

merupakan ilmu yang menuntun umat 

Islam dalam menentukan hukum suatu 

persoalan, apakah diperbolehkan atau 

dilarang. berdasar  kajian-kajian 

fikih diperoleh keputusan bahwa 

jika eksperimen pada hewan ber-

tujuan memperoleh pengetahuan 

yang benar-benar bermanfaat bagi 

kehidupan manusia dan/atau makhluk 

lainnya, maka eksperimen ini  

dapat disetujui; tidak bila didasarkan 

pada alasan yang tidak demikian. 

Terkait pemakaian  hewan seba-

gai objek eksperimen, fikih memberi 

rambu-rambu sebagai berikut.

1. Menjadikan hewan sebagai 

objek  eksperimen yang bersifat 

menyakiti, dan tindakan-tindak-

an lain yang mengakibatkan 

kebutaan atau cacat semisalnya 

pada hewan, hukumnya haram; 

2. Pengujian obat-obatan kepada 

hewan, sebelum obat itu dinya-

takan aman bagi manusia, hu-

kumnya boleh;

3. Menjadikan hewan sebagai objek 

eksperimen yang sembarangan 

dan tanpa tujuan yang jelas 

hukumnya haram.

Selain membicarakan hewan 

peliharaan yang jinak, Al-Qur'an juga 

menyebut binatang liar. Meski hanya 


disebut sebanyak satu kali, yaitu 

pada Surah at-Takwīr/81: 5, namun 

penyebutannya tergolong unik. Itu 

sebab  hewan liar disebut dalam 

rangkaian kejadian-kejadian yang di-

gambarkan terjadi pada hari kiamat.  

di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. 

Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha 

Pengampun.  (Fāţir/35: 28)

Beberapa jenis binatang disebut-

kan secara spesifik dalam Al-Qur'an, 

di antaranya sapi. Bahkan, hewan ini 

terkadang disebut lebih spesifik lagi, 

misalnya dengan sebutan anak sapi, 

sapi betina, atau sapi jantan. Anak 

lembu disebut dalam kisah Nabi Musa 

saat membawa Bani Israil keluar dari 

Mesir. Dikisahkan, dalam perjalanan 

keluar Mesir mereka mengalami 

pergeseran kepercayaan, dengan 

menyembah patung anak sapi. Inilah 

bukti kekufuran Bani Israel terhadap 

ajaran Allah.

jika  matahari digulung,  Dan jika  bintang-

bintang berjatuhan.  Dan jika  gunung-gunung 

dihancurkan.  Dan jika  unta-unta yang bunting 

ditinggalkan (tidak diperdulikan). Dan jika  

binatang-binatang liar dikumpulkan. Dan jika  

gunung-gunung dihancurkan.  (at-Takwīr/81: 1-5)

Dalam ayat-ayat yang lain hewan 

liar lebih sering dinyatakan sebagai 

“binatang melata” atau “binatang 

yang berjalan di perutnya”. Hal ini 

dapat kita lihat di antaranya dalam 

Surah Faţīr/35: 28 berikut, di mana 

binatang melata disandingkan dengan 

binatang ternak.   

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-

binatang melata dan binatang-binatang ternak 

ada yang bermacam-macam warnanya (dan 

jenisnya).  Sesungguhnya yang takut kepada Allah 

Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu 

membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), 

lalu  kamu jadikan anak sapi (sebagai sem-

bahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenar-

nya kamu yaitu  orang-orang yang zalim. Dan 

(ingatlah), saat  Kami mengambil janji dari kamu 

dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya 

Kami berfirman), ‘Peganglah teguh-teguh apa 

yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!. 

Mereka menjawab:  ‘Kami mendengar namun  tidak 

mentaati’. Dan telah diresapkan ke dalam hati 

mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi 

sebab  kekafirannya. Katakanlah, ‘Amat jahat 

perbuatan yang telah diperintahkan imanmu 

kepadamu jika betul kamu beriman (kepada 

Taurat). (al-Baqarah/2: 92-93)

Anak lembu juga muncul dalam 

Surah al-�Ādiyāt/100: 26 dalam kisah 

Ibrahim; dan mimpi raja pada Surah 

Yūsuf/12: 43 dalam kisah Yusuf.

Sementara itu kambing (betina) 

muncul dalam Al-Qur'an dalam kisah 

Nabi Daud (Șād/38: 23–24). Hal yang 

ditekankan dalam kisah ini yaitu  

kejujuran dalam bekerja sama antara 

dua belah pihak atau lebih, dengan 

ilustrasi kambing sebagai komoditas-

nya. Babi disebut dalam Surah al-

Baqarah/2: 173 dan al-Mā'idah/5: 3, 

yang memastikan keharaman mengon-

sumsinya. Adapun rincian mengenai 

halal-haramnya daging, baik daging 

binatang liar (yang diburu) maupun 

binatang ternak (yang disembelih), 

serta status dan cara kematiannya, 

dibahas dalam Surah al-Mā'idah/5: 3 

berikut.

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, 

daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas 

nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, 

yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang 

buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, 

dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk 

berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib 

dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak 

panah itu) yaitu  kefasikan. pada hari ini orang-

orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) 

agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada 

mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini 

telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, 

dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan 

telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka 

barang siapa terpaksa sebab  kelaparan tanpa 

sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha 

Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Mā'idah/5: 

3)

Keledai muncul dalam Al-Qur'an 

sebagai permisalan orang yang buruk 

suaranya (Luqmān/31: 19) dan panik 

sebab  dikejar singa (al-Muddaššir/74: 

50–51). Hewan ini juga disebut ber-

sama bagal dan kuda pada ayat yang 

berbicara tentang banyaknya ciptaan 

Allah yang tidak diketahui manusia 

(an-Naĥl/16: 8). Kuda muncul di 

banyak ayat, baik sebagai tamsil atas 

Dan Apakah mereka tidak memperhatikan burung-

burung yang mengembangkan dan mengatupkan 

sayapnya di atas mereka? tidak ada yang mena-

hannya (di udara) selain yang Maha Pemurah. 

Sesungguhnya Dia Maha melihat segala sesuatu. 

(al-Mulk/67: 19)

Penelitian menemukan bagai-

mana beberapa jenis burung mempe-

ragakan kesempurnaannya dalam peri-

laku pergerakannya, misalnya dalam 

bermigrasi. Program migrasi sudah ada 

dalam kode genetika burung, dan itu 

menjelaskan bagaimana burung muda 

yang tak berpengalaman pun dapat 

bermigrasi dengan benar dan kembali 

lagi pada waktu yang sepertinya sudah 

dijadwalkan sebelumnya.

kekayaan (Āli ‘Imrān/3: 14), sebagai 

tunggangan yang tangguh (Șād/38: 

31–32; al-‘Ādiyāt/100: 1–2), maupun 

sebagai komoditas dalam hukum 

yang mengatur harta rampasan (al-

Ĥasyr/59: 6)

Unta disebut di banyak ayat 

misalnya sebagai padanan orang 

yang rakus (al-Wāqi‘ah/56: 55); unta 

juga disebut dalam kisah Salih (asy-

Syu‘arā'/26: 155; asy-Syams/91: 13–14), 

sebagai komoditas dalam hukum yang 

mengatur pengaturan harta rampasan 

(al-Ĥasr/59: 6);  sebagai permisalan api 

neraka yang menyerupai iringan unta 

kuning (al-Mursalāt/77: 33). Unta juga 

disebut berkaitan dengan perihal hari 

kiamat (at-Takwīr/81: 4) dan perihal 

penciptaan (al-Gāsyiyah/88: 17)

Burung yaitu  hewan yang juga 

banyak disebut dalam Al-Qur'an. Ia 

disebut dalam mukjizat Nabi Isa (Āli 

‘Imrān/3: 49; al-Mā'idah/5: 110); dalam 

penyebutan komunitas dalam binatang 

(al-An‘ām/6: 38); pemujaan dan keta-

atan terhadap Allah (an-Nūr/24: 41; 

Saba'/37: 10; Șād/38: 19; al-Mulk/67: 

19); dalam kisah peperangan melawan 

gajah (al-Fīl/105: 3); dan perihal kehi-

dupan di surga (al-Wāqi‘ah/56: 21). 

Beberapa ayat di antaranya bahkan 

sudah lebih rinci dengan menyebut 

jenis burung, seperti gagak dalam 

kisah Habil dan Qabil (al-Mā'idah/5: 

31) dan puyuh dalam kisah pelarian 

Nabi Musa dari Mesir (al-Baqarah/2: 

57; al-A‘rāf/7: 160; Tāhā/20: 80). Salah 

satu ayat yang menyebut burung 

bahkan bisa jadi memberi referensi 

mengenai salah satu perilakunya yang 

spektakuler, yaitu migrasi. Migrasi 

yaitu  perpindahan populasi jenis 

hewan dalam jumlah besar ke tempat 

lain, dan kembali lagi ke tempat 

semula, untuk berbagai maksud, di 

antaranya menghindari musim dingin, 

mencari ketersediaan pakan, melaku-

kan perkawinan,  mengasuh anak, dan 

masih banyak lagi.  Allah berfirman,

23Pandangan Islam tentang Hewan

Seperti hewan-hewan yang dise-

but sebelumnya, ikan juga disebut 

dalam Al-Qur'an. Ikan muncul dalam 

kisah pertemuan antara Nabi Musa 

dan Nabi Khidir (al-Kahf/18: 61, 63) dan 

dalam kisah Nabi Yunus (aș-Șāffāt/37: 

142). Serangga juga tidak luput dari 

perhatian Al-Qur'an. Beberapa jenis 

serangga disebutkan di sana, seperti 

nyamuk (al-Baqarah/2: 26) dan lalat (al-

Ĥajj/22: 73), dua hewan mungil namun 

tidak seorang pun dapat membuatnya; 

lebah dan perikehidupannya (an-

Naĥl/16: 68-69); belalang yang menjadi 

perumpamaan kondisi makhluk pada 

Hari Kebangkitan (al-Qamar/54: 7). 

Belalang juga disebut bersama-sama 

dengan bangkai, darah, kutu, dan katak 

sebagai mukjizat Nabi Musa untuk 

menghukum Firaun dan penduduk 

Mesir (al-A‘rāf/7: 133). Rayap juga 

disebut dalam kisah wafatnya Nabi 

Sulaiman (Saba'/34: 14). Laba-laba juga 

demikian; ia dijadikan perumpamaan 

rumah yang mengkhawatirkan (al-

Ankabūt/29: 41).

Ular banyak muncul dalam kisah 

Nabi Musa saat berhadapan dengan 

Firaun dan penyihir-penyihirnya (Tāhā/ 

20: 20; an-Naml/27: 10; al-Qașaș/28: 31). 

Pada dasarnya hewan diciptakan 

untuk memenuhi keperluan manusia, 

demikianlah pesan yang dapat disari-

kan dari berbagai ayat. Burung puyuh, 

misalnya, menjadi pasokan makanan 

bagi Bani Israil dalam pengembaraan 

mereka di Gurun Sinai pada masa Nabi 

Musa (al-Baqarah/2: 57). Binatang ter-

nak pun diciptakan untuk memenuhi 

kebutuhan manusia akan pangan, 

papan, sandang, dan transportasi (al-

An‘ām/6: 142; an-Naĥl/: 5–8, 66-69, 80; 

al-Ĥajj/: 36; Muĥammad/: 21–22; Yāsīn/: 

71–73; Gāfir/: 79–80)

Ayat yang berbicara tentang 

berbagai binatang dalam bentuk meta-

fora banyak ditemui dalam Al-Qur'an. 

Orang kafir misalnya di-umpamakan 

binatang yang mengabaikan panggilan 

penggembalanya. Allah berfirman,

Perumpamaan bagi (penyeru) orang yang kafir 

yaitu  seperti (penggembala) yang meneriaki 

(binatang) yang tidak mendengar selain panggilan 

dan teriakan. (Mereka) tuli, bisu dan buta, maka 

mereka tidak mengerti. (al-Baqarah/2: 171)

Hewan juga dijadikan tamsil bagi 

manusia dan jin yang lalai dan tidak mau 

membuka hatinya untuk menerima 

ayat-ayat Allah. Allah berfirman,


Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam 

banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka 

memiliki hati, namun  tidak dipergunakannya 

untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka 

memiliki mata (namun ) tidak dipergunakannya 

untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan 

mereka memiliki  telinga (namun ) tidak dipergu-

nakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). 

Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat 

lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah. (al-

A‘rāf/7: 179)

Allah telah berjanji akan mema-

sukkan mereka yang mirip hewan ini 

ke dalam neraka. 

dan Jahannam yaitu  tempat tinggal mereka. 

(Muĥammad/47: 12)

Allah mengutuk mereka yang 

mengabaikan firman-Nya menjadi babi 

dan kera, sebagaimana dinyatakan 

dalam Surah al-Baqarah/2: 65 dan al-

Mā'idah/5: 60. Mereka yang menolak 

tanda-tanda yang diberikan Allah dium-

pamakan seperti anjing, sebagaimana 

dinyatakan dalam Surah al-A‘rāf/7: 176.

Demikianlah uraian mengenai 

pandangan Islam terhadap hewan, 

dan bagaimana Al-Qur'an tidak mele-

watkan begitu saja penyebutan 

beberapa jenis hewan di dalam ayat-

ayatnya. Uraian singkat ini menjadi 

pembukaan untuk melihat pola 

hubungan antara Islam dan hewan, 

baik yang masih liar maupun yang 

sudah didomestikasi manusia; suatu 

pola hubungan yang diatur dalam Al-

Qur'an dan hadis Rasulullah. []

Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang 

mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah 

yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. dan 

orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) 

dan mereka Makan seperti makannya binatang. 


HEWAN DALAM AL-QUR'AN

Banyak hewan yang disebut 

dalam Al-Qur'an. Sebagian 

darinya dijadikan perumpa-

maan atau tamsil, dan sebagian lagi 

memberi sedikit penjelasan mengenai 

perikehidupannya. Penyebutan ini ber-

tujuan agar manusia dapat memahami 

pesan Allah dan mempelajarinya demi 

kepentingan manusia sendiri.  Hewan-

hewan yang disebut dalam Al-Qur'an di 

antaranya yaitu  semut (an-Naml/27: 

18), Kera (al-Baqarah/2: 65), keledai 

(Luqmān/31: 19, lebah (an-Naĥl/16: 

68-69), unta (al-Gāsyiyah/88: 17), sapi 

(al-Baqarah/2: 71), kambing betina 

(Șād/38: 23-24), burung gagak (al-

Mā'idah/5: 31),  anjing (al-A‘rāf/7: 76), 

gajah (al-Fīl/105: 1), ikan (aș-Șāffāt/37: 

142), lalat (al-Ĥajj/22: 73), katak (al-

A‘rāf/77: 133), kuda (an-Naĥl/16: 8), 

singa (al-Muddaššir/74: 50-51), belalang 

(al-Qamar/54: 7), ular (asy-Syu‘arā'/26: 

32), domba (al-An‘ām/6: 143), laba-laba 

(al-Ankabūt/29: 41), babi (al-Baqarah/2: 

173) dan masih banyak lagi. Selain 

menyebut hewan tertentu dengan 

nama spesifiknya, Al-Qur'an terkadang 

hanya menyebut kelompoknya, se-

perti kelompok hewan ternak (az-

Zumar/39: 6), kelompok hewan liar 

(al-Mā'idah/81: 1-6), atau kelompok 

hewan melata (asy-Syūrā/42: 29).

Tidak hanya menyebut nama-

nama atau jenis-jenis hewan, hal-hal 

yang berkaitan dengan perikehidupan 

hewan juga tidak luput dari perhatian 

Al-Qur'an. Migrasi burung (al-Mulk/67: 

19) dan kemampuan hewan untuk 


berkomunikasi satu dengan lainnya 

(an-Naml/27: 17-18) yaitu  beberapa di 

antaranya. Salah satu tujuannya yaitu  

agar manusia berusaha memahami 

perikehidupan hewan dengan baik, 

dan dengan demikian dapat mengem-

bangkan ilmu pengetahuan. Tujuan 

yang sama itu pula yang Allah inginkan 

tatkala menyebut dalam firman-Nya air 

susu sapi (an-Naĥl/16: 66) dan adanya 

simbiosis pada hewan dan tumbuhan 

(Ţāhā/20: 50).

Al-Qur'an dan hadis juga banyak 

berbicara mengenai hak hewan dan 

etika manusia dalam memperlakukan 

hewan, baik hewan liar maupun jinak. 

Dua hal ini  diatur dengan sangat 

rinci, sehingga tidak seharusnya lagi 

terjadi pelanggaran atas hak hewan 

seperti jamak kita saksikan belakangan 

ini, mulai dari adu hewan, perlakuan tak 

manusiawi terhadap hewan sebelum 

dipotong (misalnya menggelonggong 

sapi), hingga menjadikan hewan seba-

gai objek percobaan untuk hal-hal 

yang tidak sama sekali terkait dengan 

kesehatan dan kesejahteraan manusia. 

Tema ini akan diuraikan di 

dalam bab-bab berikut. Sebagian 

darinya akan diuraikan dengan rinci, 

sedang  yang lainya tidak.

A.  REPTIL DAN AMFIBI

Jenis reptil (seperti ular dan kadal) 

dan amfibi (seperti katak) oleh Al-

Qur'an disebut sebagai dābbah, ad-

dawāb, atau man yamsyī ‘alā bațnih, 


sebutan yang lazim diterjemahkan 

ke dalam bahasa Indonesia menjadi 

“binatang melata” atau “hewan yang 

berjalan di atas perutnya”. Sebutan ini 

paling tidak dapat kita jumpai dalam 

Al-Qur'an sebanyak enam kali, yakni 

dalam firman-firman Allah berikut.

Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada 

di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud 

kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, 

gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan 

yang melata dan banyak di antara manusia? namun  

banyak (manusia) yang pantas mendapatkan azab. 

Barangsiapa dihinakan Allah, tidak seorang pun 

yang akan memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat 

apa saja yang Dia kehendaki. (al-Ĥajj/22: 18)

Dan Allah menciptakan semua jenis hewan dari air, 

maka sebagian ada yang berjalan di atas perutnya 

dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang 

sebagian (yang lain) berjalan dengan empat 

kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. 

Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. 

(an-Nūr/24: 45)

Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk 

bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan 

ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan 

jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut 

kepada-Nya, hanyalah para ulama. ) Sungguh, Allah 

Mahaperkasa, Maha Pengampun. (Fāţir/35: 28)

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya yaitu  

penciptaan langit dan bumi dan makhluk-makhluk 

yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. 

Dan Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya 

jika  Dia kehendaki. (asy-Syūrā/42: 29)

Dan pada penciptaan dirimu dan pada makhluk 

bergerak yang bernyawa yang bertebaran (di 

bumi) ada  tanda-tanda (kebesaran Allah) 

untuk kaum yang meyakini. (al-Jāšiyah/45: 4)

Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di 

bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. 

Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat 

penyimpanannya. ) Semua (tertulis) dalam Kitab 

yang nyata (Lauh Mahfuz). (Hūd/11: 6)

Ayat-ayat ini berbicara mengenai 

salah satu ciptaan-Nya, yakni kelompok 


reptil dan sedikit amfibi. Reptil yaitu  

satu kelas dari kerajaan binatang yang 

terdiri atas ular, kadal, penyu, buaya, 

dan tuatara.  

Tuatara (Sphenodon punctatus) 

yaitu  jenis reptil  langka serupa kadal 

yang hidup hanya di beberapa pulau 

kecil di sekitar Selandia Baru. Reptil 

ini disebut fosil hidup sebab  sisa dari 

kelompoknya sudah punah jutaan 

tahun lalu. Soal mengapa mereka 

masih bertahan hidup hingga masa 

kini, tidak ada yang tahu jawabannya. 

Baru sedikit perikehidupan tuatara 

yang diketahui.

Sementara itu, ular diperkirakan 

terdiri dari sekitar 2.500 jenis. Ular 

hidup menyebar di kawasan yang 

panas. Jenis ular sangat variatif, dari 

yang tidak berbahaya bagi manusia 

hingga yang memiliki bisa mematikan. 

Warnanya pun beragam, dari yang 

polos hingga yang berwarna-warni 

indah. Ukuran ular juga beragam, 

dari yang hanya berukuran kurang 

dari 10 cm sampai hingga yang me-

lebihi 17 meter. Persepsi manusia 

terhadap ular juga bervariasi; sebagian 

manusia memujanya dan sebagian 

yang lain begitu membencinya dan 

menyamakannya dengan iblis.

Dengan begitu banyaknya jenis 

binatang mengagumkan yang dicip-

takan Allah, mengapa Dia mencip-

takan mahluk yang “berjalan di atas 

perutnya?” Jawabannya tentu saja 

sebab  makhluk ini memiliki peran 

tersendiri dalam rantai makanan, 

dengan memakan tikus, kadal, dan 

sejenisnya, dan lalu  berbalik 

menjadi mangsa bagi binatang lain.  

Ada empat cara unik ular berge-

rak, yaitu: (1) mengelokkan badan, 

biasa disebut cara “serpentine”; (2) 

menekankan tubuh ke tanah dan 

bergerak maju dengan memakai  

Gambar 2–3

Tuatara (Sphenodon punctatus). (Sumber: archive.kaskus. co; earlham.edu) 

29Hewan dalam Al-Qur'an

kinerja otot yang diciptakan khusus 

untuk menunjang gerakan ini; (3) cara 

“caterpillar”, yaitu menggerakkan kulit 

dengan bantuan otot yang mengarah 

maju-mundur—cara ini lazim diguna-

kan oleh ular-ular berukuran besar; 

dan (4) memakai  sisik perut yang 

lebar untuk “memegang” bagian 

tanah yang tidak rata dan maju lurus 

ke depan. Kemampuan unik lain 

yang diberikan kepada ular yaitu  

caranya makan. Dengan fleksibilitas 

sendi rahang bawahnya ular mampu 

menelan mangsa berukuran jauh lebih 

besar daripada ukuran kepalanya. 

Ular perlu waktu yang relatif lama 

untuk mencerna mangsanya dengan 

sempurna. Ular sanca, misalnya, bisa 

saja hanya makan satu kali dalam satu 

tahun. 

Kelompok lain yang memiliki 

jenis hampir sama banyak dengan 

ular  yaitu  kadal. Kelompok ini terdiri 

dari sekitar 2.500 jenis. seperti halnya 

ular, kelompok kadal memiliki variasi 

bentuk dan warna yang sangat banyak. 

Salah satu dari jenis kadal yaitu  

bunglon. Hewan ini dapat merubah 

warna kulitnya sesuai keperluan. Ia 

juga dapat menggerakkan kedua 

matanya secara terpisah; satu mata 

untuk mengincar mangsa, dan yang 

lain untuk mengawasi datangnya 

pemangsa. Kadal secara umum ber-

jalan dengan empat kaki, namun 

beberapa jenis di antaranya memiliki 

bentuk tubuh mirip ular, tidak berkaki. 

Beberapa jenis kadal dapat berlari 

cepat di atas air memakai  kedua 

kaki belakangnya sebagai penopang 

laju. Beberapa jenis lainnya bahkan 

dapat melayang dengan bantuan 

“sayap” berupa kulit yang melebar di 

antara kaki depan dan belakangnya.  

Jenis kadal yang memiliki ukuran 

tubuh paling besar yaitu  komodo. 

Hewan ini dapat mencapai ukuran 

panjang sampai 8 meter (10 feet) dan 

berat 350 kilogram. Komodo yaitu  

hewan yang berbahaya, dan sebab nya 

Pulau Komodo di NTT merupakan 

pulau yang tidak aman untuk ditinggali. 

Tidak saja kehadiran komodo yang 

membuat pulau ini berbahaya, namun  

juga adanya beberapa jenis ular, 

kalajengking, dan laba-laba beracun 

dalam jumlah banyak.



Sedikit lebih kecil daripada ukur-

an komodo yaitu  “gila monster”, 

satu-satunya kadal beracun dari 

kawasan gurun Amerika Utara. 

Hewan ini hidup dari memakan telur 

burung dan tikus. sebab  kawasan 

itu tidak menyediakan makanan 

yang berlimpah, Tuhan memberinya 

kemampuan menyimpan lemak pada 

ekornya. Adapun kadal terkecil yaitu  

tokek yang berasal dari Pulau Virgin.

Variasi bentuk dan warna yang 

tinggi pada kelompok ular dan kadal 

tidak hadir begitu saja tanpa arti. Ini 

semua merupakan bukti betapa Allah 

Mahakuasa. Allah berfirman,


Keanekaragaman bentuk dan warna kelompok kadal. 

(Sumber: animalinformation.blogspot.com; 

bukisa.com)

Dan (Dia juga mengendalikan) apa yang Dia 

ciptakan untukmu di bumi ini dengan berbagai 

jenis dan macam warnanya. Sungguh, pada 

yang demikian itu benar-benar ada  tanda 

(kebesaran Allah) bagi kaum yang mengambil 

pelajaran. (an-Naĥl/16: 13)

Hewan yang sangat berbeda 

bentuknya, namun masih masuk 

dalam kelompok reptil, yaitu  kura-

kura atau penyu dan labi-labi. Ada 250 

jenis kura-kura yang hidup di bumi, 

mulai dari yang hidup di daratan 

(hutan sampai padang pasir) hingga 

yang hidup di perairan (laut, sungai, 

danau). Hewan ini dilengkapi tempat 

31Hewan dalam Al-Qur'an

berlindung berupa cangkang. Pada 

beberapa jenis berat cangkang bahkan 

dapat mencapai sekitar sepertiga 

berat badannya. Cangkang berfungsi 

melindungi kura-kura dari bahaya. 

Begitu kura-kura memasukkan kepala 

dan kakinya ke dalam cangkang, akan 

sulit bagi pemangsa untuk meng-

ganggunya. Bentuk kaki kura-kura 

bervariasi, bergantung pada tempat 

hidupnya. Kura-kura Galapagos memi-

liki kaki yang kuat untuk berjalan, 

sedang  penyu laut memiliki kaki 

yang berubah menjadi sirip untuk 

berenang. 

Hubungan antara manusia 

dengan kura-kura sudah berlangsung 

sejak lama. Pada banyak warga  

kura-kura dipakai  sebagai simbol 

kekuatan, keteguhan hati, dan kebi-

jakan. Manusia pada umumnya 

menyukai kura-kura, namun hal ini 

membuat malah mendorong seba-

gian orang menangkapinya untuk 

berbagai keperluan, dan merusak 

habitatnya sehingga membuatnya ter-

ancam punah. Manusia seharusnya 

mengapresiasi apa pun ciptaan Allah 

dan selalu mengingat firman-Nya,


Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di 

bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. 

Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat 

penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab 

yang nyata (Lauh Mahfuz). (Hūd/11: 6) 

Dari semua hewan reptil, buaya 

yaitu  yang paling ditakuti manusia. 

Ada 22 jenis buaya yang dikenal sampai 

saat ini. Buaya diperkirakan sudah ada 

di bumi sejak 200 juta tahun lalu. Buaya, 

sebagaimana kura-kura, sudah ada 

pada masa dinosaurus. Meski tampak 

kuno dan primitif, sebenarnya buaya 

dan kura-kura yaitu  jenis termaju di 

antara semua reptil. Dalam hal sistem 

peredaran darah, buaya lebih dekat 

kepada burung daripada kadal. 

Buaya membuat sarang dan 

dikenal sangat perhatian kepada anak-

anaknya. Bila pada hewan yang lain 

jenis kelamin calon anak ditentukan 

oleh kromosom, maka tidak demikian 

dengan buaya. Jenis kelamin mereka 

tidak ditentukan saat  masih dalam 

bentuk telur. Suhu saat setengah waktu 

pengeramanlah yang menentukannya. 

Pada jenis American alligator, bila suhu 

sarang tinggi maka telur akan menetas 

menjadi anak jantan, dan menjadi 

anak betina bila suhu sarang rendah. 

Berbeda dari jenis ini, jenis crocodile 

akan menghasilkan anak betina bila 

suhu sarang tinggi atau rendah, dan 

menetaskan anak jantan bila suhunya 

sedang.

Kodok dan katak yaitu  hewan 

amfibi yang paling dikenal. Kelompok 

ini biasa dianggap menjijikan tanpa 

alasan yang jelas. Katak bertubuh 

pendek, gempal atau kurus, dengan 


punggung agak bungkuk. Katak umum-

nya berkulit halus, lembap, dengan 

kaki belakang panjang, sedang  

kodok atau bangkong berkulit kasar 

berbintil, kering, dan dengan belakang 

seringkali pendek saja, membuatnya 

kurang pandai melompat jauh. Katak 

dan kodok bermula dari telur yang 

diletakkan di air, di sarang dari busa, 

di lumut pohon yang basah, atau di 

tempat basah lainnya, termasuk di 

punggung katak jantan. Telur menetas 

menjadi berudu atau kecebong yang 

masih bernafas dengan insang selama 

hidup di dalam air. Seiring waktu akan 

tumbuh kaki belakang pada berudu 

yang lalu  disusul munculnya kaki 

depan, dan pada akhirnya bernafas 

dengan paru-paru.

Kodok dan katak menyebar luas, 

terutama di daerah tropis. Jumlah 

jenis hewan ini makin berkurang 

jika  lokasinya makin dingin, seperti 

di atas gunung atau di daerah dengan 

empat musim. Itu sebab  binatang 

ini termasuk hewan berdarah dingin 

dan membutuhkan panas matahari 

di lingkungan hidupnya. Hewan ini 

dapat ditemui hidup mulai dari hutan, 

padang pasir, sungai, rawa, sawah, 

hingga lingkungan permukiman. Ia 

memangsa berbagai jenis serangga, 

dan dimangsa oleh ular, kadal, burung, 

linsang, bahkan oleh manusia. Ia 

membela diri secara fisik dengan 

melompat, dan beberapa di antaranya 

dengan melumuri tubuhnya dengan 

lendir pekat yang lengket atau lendir 

beracun.

Katak menjadi salah satu muk-

jizat Nabi Musa saat di Mesir. sesudah  

Allah membekali Musa dengan banyak 

mukjizat, seperti topan, serangan 

belalang dalam jumlah yang sangat 

banyak yang merusak pertanian, 

kutu yang mengganggu kehidupan 

warga  Mesir, dan mengubah air 

minum mereka menjadi darah, Allah 

melengkapinya dengan munculnya 

katak dalam jumlah sangat besar. 

Katak tiba-tiba berlompatan begitu 

saja di makanan penduduk Mesir, 

memenuhi rumah dan area mereka 

beraktivitas. Allah menjelaskan hal ini 

dalam firman-Nya,

ini digambarkan apa yang terjadi saat 

pertemuan antara Nabi Musa dan 

Firaun.

Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, 

belalang, kutu, katak dan darah (air minum 

berubah menjadi darah) sebagai bukti-bukti yang 

jelas, namun  mereka tetap menyombongkan diri 

dan mereka yaitu  kaum yang berdosa. (al-A‘rāf/7: 

133)

Dari kelompok hewan amfibi 

dan reptil, hanya katak dan ularlah 

yang disebut dalam Al-Qur'an. Perihal 

kedua hewan ini akan diuraikan lebih 

mendalam dalam buku ini.

1. ULAR

Ular cukup banyak disebut dalam Al-

Qur'an. Kebanyakan ayat-ayat terse-

but berkaitan dengan kisah mukjizat 

yang dianugerahkan Allah kepada 

Nabi Musa. Dalam dua ayat di bawah 

Dan Musa berkata, “Wahai Fir'aun! Sungguh, aku 

yaitu  seorang utusan dari Tuhan seluruh alam, 

aku wajib mengatakan yang sebenarnya tentang 

Allah. Sungguh, aku datang kepadamu dengan 

membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka 

lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersamaku.” Dia 

(Fir'aun) menjawab, “Jika benar engkau membawa 

sesuatu bukti, maka tunjukkanlah, kalau kamu 

termasuk orang-orang yang benar.” Lalu (Musa) 

melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu 

menjadi ular besar yang sebenarnya. (al-A‘rāf/7: 

104-107)

Dia (Musa) berkata, “(Dialah) Tuhan (yang 

menguasai) timur dan barat dan apa yang 

ada di antara keduanya; jika kamu mengerti.” 

Dia (Fir‘aun) berkata, “Sungguh, jika engkau 

menyembah Tuhan selain aku, pasti aku masukkan 

35Hewan dalam Al-Qur'an

itu) oleh orang yang tidak beriman kepadanya 

dan oleh orang yang mengikuti keinginannya, 

yang memicu  engkau binasa.” “Dan apakah 

yang ada di tangan kananmu, wahai Musa? ” 

Dia (Musa) berkata, “Ini yaitu  tongkatku, aku 

bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-

daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, 

dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain.” Dia 

(Allah) berfirman, “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” 

Lalu (Musa) melemparkan tongkat itu, maka tiba-

tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan 

cepat. (Tāhā/20: 15-20)

engkau ke dalam penjara.” Dia (Musa) berkata, 

“Apakah (engkau akan melakukan itu) sekalipun 

aku tunjukkan kepadamu sesuatu (bukti) yang 

nyata?” Dia (Firaun) berkata, “Tunjukkan sesuatu 

(bukti yang nyata) itu, jika engkau termasuk orang 

yang benar!” Maka dia (Musa) melemparkan 

tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu menjadi ular 

besar yang sebenarnya. (asy-Syu‘arā'/26: 28–32)

 Sebelum pertemuan kedua 

insan ini berlangsung sebagaimana 

digambarkan pada dua ayat di atas, 

terjadi dialog antara Musa dan Allah. 

Dalam dialog ini  tampak betapa 

Musa masih memperlihatkan sisi 

kemanusiaannya. Ia masih meragu-

kan kemampuannya sendiri dalam 

menghadapi keingkaran Firaun. 

sebab  itu Allah membesarkan hati 

Musa dan meyakinkannya dengan janji 

memberinya mukjizat yang membuk-

tikan kebenaran yang dibawanya.

Sungguh, hari Kiamat itu akan datang, Aku 

merahasiakan (waktunya) agar setiap orang 

dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan. 

Maka janganlah engkau dipalingkan dari (Kiamat 

Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, dia 

akan keluar putih (bercahaya) tanpa cacat, dan 

dekapkanlah kedua tanganmu ke dadamu jika  

ketakutan. Itulah dua mukjizat dari Tuhanmu 

(yang akan engkau pertunjukkan) kepada Fir‘aun 

dan para pembesarnya. Sungguh, mereka yaitu  

orang-orang fasik.”  (al-Qașaș/28: 32)

Maka dia (Musa) melemparkan tongkatnya, 

tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang 

sebenarnya. (asy-Syu‘arā’/26: 32)

Ular disebut dengan redaksi 

tsu‘bān, ĥayyān, dan jān. Dalam cerita 

Nabi Musa dikisahkan bahwa tongkat 

yang ia lemparkan berubah menjadi 

seekor ular yang merayap (ĥayyatun 

tas‘ā) (Tāhā/20: 20). Di tempat lain 

disebutkan tongkat itu bergerak-


gerak laksana seekor ular yang gesit 

(ka‘annahā jān) (al-Qașaș/28: 31). 

Disebutkan pula bahwa tongkat itu 

berubah menjadi ular yang sebenarnya 

(šu‘bānun mubīn) (al-A‘rāf/7: 107, asy-

Syu‘arā’/26: 32). Perbedaan ungkapan 

itu bisa dipahami dengan menjadikan 

beberapa peristiwa itu sebagai sebuah 

proses. Artinya, pada awalnya tongkat 

itu berubah menjadi seekor ular yang 

merayap dengan cepat, lalu  

berubah menjadi seekor ular kecil 

yang gesit, dan akhirnya menjadi ular 

besar yang sebenarnya. Ada pula yang 

menafsirkan bahwa tongkat Nabi 

Musa telah berubah menjadi seekor 

ular yang lincah dan gesit seperti ular 

kecil, namun sangat menakutkan 

seperti ular besar. Sebagian mufasir 

yang lain mengatakan bahwa 

perbedaan ungkapan itu disebabkan 

perbedaan tempat terjadinya muk-

jizat—mukjizat terjadi berkali-kali di 

tempat yang berbeda. Menurut yang 

terakhir ini perubahan bentuk tongkat 

menjadi ular jantan yang besar 

terjadi di hadapan Firaun, sedang  

perubahannya menjadi ular kecil terjadi 

pada malam saat  Nabi Musa diseru 

Allah untuk pertama kalinya. Ada juga 

yang memahaminya sebagai berikut: 

šu‘ban berarti arti ular yang panjang 

dan lincah, ĥayyah berarti tumpukan 

badan ular yang menyatu dan 

menakutkan, sedang jān berarti ular 

yang sangat menakutkan. Perbedaan 

penampakan ular itu dengan demikian 

disesuaikan dengan tempat, sasaran, 

dan tujuan penampakannya. Banyak 

riwayat yang menjelaskan bentuk ular 

ini , demikian juga cahaya yang 

bersinar dari tangan beliau, namun  

riwayat-riwayat ini  tidak dapat 

diyakini kesahihannya. Yang dapat 

kita pastikan yaitu  bahwa keduanya 

yaitu  peristiwa luar biasa yang 

nampak dengan jelas pada diri dan 

tongkat Musa, yang itu menjadi bukti 

kebenaran klaimnya sebagai utusan 

Allah.  

Perbedaan penyebutan bentuk 

ular dalam kisah Nabi Musa merupakan 

salah satu bukti kehebatan Al-

Qur'an dalam memilih kata-kata yang 

harmonis sesuai situasi dan konteks 

kisah secara keseluruhan. Kalau 

tongkat itu hanya berubah menjadi 

seekor ular yang merayap, mengapa 

Musa melihat ular itu bergerak gesit 

dan seberapa besar ular itu hingga 

membuat Firaun begitu takut saat  

Musa melemparkan tongkatnya, masih 

perlu jawaban. 

Pertemuan Musa dan Firaun 

merupakan kisah yang sering diulang 

dalam al-Qur'an, bahkan bisa dikatakan 

kisah ini yaitu  peristiwa yang paling 

banyak diulang dari sekian banyak 

pengulangan kisah-kisah dalam Al-

Qur'an. Pemunculan mukjizat ular 

ini dapat dipahami sebagai upaya 

Al-Qur'an untuk menunjukan arti 

penting pertemuan Musa dan Firaun; 

bahwa pada setiap zaman akan ada 

perseteruan antara yang hak dan 

batil, yang berkesudahan dengan 

kemenangan yang hak dan berasal 

dari Allah. 

Dalam Surah Tāhā/20: 66 dan 

asy-Syu‘arā'/26: 44, ular-ular yang 

dilemparkan oleh penyihir-penyihir 

Firaun diungkapkan dengan lafal 

ĥibāl. Ĥibāl (plural) dalam dua ayat ini 

oleh para mufasir ditafsirkan sebagai 

tali, yakni tali yang terlihat oleh mata 

manusia. Tali-tali ini  dengan 

pengaruh sihir mereka tampak seperti 

ular-ular yang bergerak dan menjalar 

untuk menakuti Nabi Musa. Akhirnya, 

berkat mukjizat yang diberikan Allah, 

Nabi Musa melemparkan tongkatnya 

yang lalu  berubah menjadi ular 

besar yang memakan �ular-ular” para 

penyihir Firaun. Ini membuktikan beta-

pa sihir tidak akan dapat mengalahkan 

mukjizat Allah (asy-Syu‘arā'/26: 69).

Kembali ke Surah al-Qașaș/28: 30-

35. Pada rangkaian ayat-ayat ini  

tampak betapa Nabi Musa agak takut 

dan ragu untuk bernegosiasi dengan 

Firaun dan para pejabatnya. Sementara 

ulama mengatakan bahwa Musa 

bukannya ragu untuk menjalankan 

misi ini . Ia sangat yakin akan 

perintah dan janji Allah, hanya saja ia 

belum sepenuhnya mendalami apa 

yang Allah bebankan kepadanya. 

Lebih-lebih, Musa sedang memiliki  

masalah yang belum terselesaikan 

dengan Firaun saat itu. Musa dikejar-

kejar tentara Firaun sebab  salah 

seorang anak buahnya mati di tangan 

Musa. Belum lagi masalah itu selesai, 

Allah justru memintanya menemui 

Firaun dan mengingatkannya akan 

eksistensi Allah. sebab  pertimbangan 

itu ia menyatakan keberatannya dari 

sudut manusiawinya, suatu hal yang 

lalu  dijawab oleh Allah dengan 

mengijinkan Harun, saudara Musa, 

untuk ikut dengannya dalam misi ini. 

Para mufasir menyatakan bah-

wa ular masuk dalam kelompok 

hewan yang boleh dibunuh meski 

sedang dalam kondisi berihram haji 

atau umrah. Ular tidak masuk dalam 

golongan hewan yang Allah haramkan 

membunuhnya kepada orang yang 

sedang berihram dalam ayat berikut.

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah 

kamu membunuh hewan buruan, saat  kamu 

disebut dalam hadis yang mengisahkan 

peristiwa saat  para sahabat sedang 

mendengarkan Surah al-Mursalāt di-

ucapkan oleh Rasulullah.

َم ِفْ  َبْينَا َنْحُن َمَع َرُسْوِل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ

ْينَاَها ِمْن  َغاٍر ، إِْذ َنَزَلْت َعَلْيِه َواْلُْرَساَلِت ، َفَتَلقَّ

فِْيِه َوإِنَّ َفاُه َلَرْطٌب ِبَا ، إِْذ َخَرَجْت َحيٌَّة ، َفَقاَل 

َم : َعَلْيُكُم اْقُتُلْوَها  َرُسْوُل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ

! َقاَل : َفاْبَتَدْرَناَها َفَسَبَقْتنَا ، َقاَل : َفَقاَل : ُوِقَيْت 

عن  البخاري  )رواه   . َها  َشَّ ُوِقْيُتْم  َكَم  ُكْم  َشَّ

ابن مسعود(

saat  kami sedang bersama Rasulullah di dalam 

sebuah gua, turunlah kepada beliau Surah al-

Mursalat. Kami pun mendengarnya langsung dari 

mulut beliau yang masih basah mengucapkannya. 

Tiba-tiba seekor ular keluar (dari liangnya). 

Rasulullah berkata, “Ayo, bunuhlah ular itu!” Kami 

bergegas mengejarnya, namun hewan itu sudah 

telanjur kabur. Rasulullah pun bersabda, “Ia telah 

diselamatkan dari gangguan kalian, seperti halnya 

kalian telah diselamatkan dari gangguannya.” 

(Riwayat al-Bukhāri dari Ibnu Mas‘ūd)

Riwayat ini dapat saja diartikan 

bahwa Nabi mengingatkan bahwa di 

dalam hati manusia masih banyak niat 

jahat. Nabi juga melarang membunuh 

ular yang hidup di dalam rumah 

melalui sabdanya, 

َدَخَل  ُه  َأنَّ ُزْهَرَة  ْبِن  ِهَشاِم  َمْوَل  اِئِب  السَّ َأِب  َعْن 

َفَوَجْدُتُه   : َقاَل   ، َبْيتِِه  ِفْ  اْلُْدِريِّ  َسِعْيٍد  َأِبْ  َعَل 

sedang ihram (haji atau umrah). Barangsiapa di 

antara kamu membunuhnya dengan sengaja, 

maka dendanya ialah mengganti dengan hewan 

ternak yang sepadan dengan buruan yang 

dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang 

adil di antara kamu sebagai hadyu yang dibawa 

ke Ka‘bah, atau kafarat (membayar tebusan 

dengan) memberi makan kepada orang-orang 

miskin, atau berpuasa, seimbang dengan makanan 

yang dikeluarkan itu, agar dia merasakan akibat 

buruk dari perbuatannya.  Allah  telah memaafkan 

apa yang telah lalu. Dan barangsiapa kembali 

mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. 

Dan Allah Mahaperkasa, memiliki (kekuasaan 

untuk) menyiksa. (al-Mā'idah/5: 95)

Yang dimaksud dengan bina-

tang buruan dalam ayat ini yaitu  

binatang yang diperbolehkan untuk 

dimakan. Dengan demikian, gagak, 

elang, kalajengking, tikus, anjing buas, 

dan ular tidak termasuk di dalamnya. 

Mereka juga memperkuat pendapat 

ini dengan hadis berikut. 

اْلَيَُّة   : َواْلََرِم  لِّ  اْلِ ف  ُيْقَتْلَن  َفَواِسُق  َخٌْس 

اْلَعُقْوُر  َواْلَكْلُب  َواْلَفْاَرُة  األَْبَقُع  َواْلُغَراُب 

ا . )رواه مسلم عن عائشة(  َواْلَُديَّ

Ada lima hewan (bertabiat) buruk yang boleh 

dibunuh di tanah halal maupun di tanah haram. 

Mereka itu yaitu  ular, burung gagak berbulu 

campuran antara hitam dan putih, tikus, anjing 

ganas, dan kalajengking. (Riwayat Muslim dari 

‘Ā'isyah)

Ular banyak disebut juga dalam 

banyak hadis, baik sebagai hewan 

nyata maupun sebagai tamsil. Ular 

39Hewan dalam Al-Qur'an

 ، َصاَلَتُه  َيْقِضَ  َحتَّى  َأْنَتظُِرُه  َفَجَلْسُت   ، ُيَصلِّ 

 ، اْلَبْيِت  َناِحَيِة  ِفْ  َعَراِجْيَ  ِفْ  ِرْيًكا  َتْ َفَسِمْعُت 

َفاْلَتَفتُّ َفإَِذا َحيٌَّة َفَوَثْبُت ألَْقُتَلَها ، َفَأَشاَر إَِلَّ َأِن 

َف َأَشاَر إَِل َبْيٍت ِف  اْجِلْس َفَجَلْسُت ، َفَلمَّ اْنَصَ

َنَعْم   : َفُقْلُت  اْلَبْيَت ؟  َهَذا  َأَتَرى   : َفَقاَل   ، اِر  الدَّ

 ، بُِعْرٍس  َعْهٍد  َحِدْيُث  ِمنَّا  َفًتى  فِْيِه  َكاَن   : َقاَل   ،

َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  اهللِ  َرُسْوِل  َمَع  َفَخَرْجنَا   : َقاَل 

َيْسَتْأِذُن  اْلَفَتى  َذلَِك  َفَكاَن   ، اْلَنَْدِق  إَِل  َم  َوَسلَّ

َم بَِأْنَصاِف النََّهاِر  َرُسْوَل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ

ِجُع إَِل َأْهِلِه ، َفاْسَتْأَذَنُه َيْوًما ، َفَقاَل َلُه َرُسْوُل  َفَيْ

َم : ُخْذ َعَلْيَك ِساَلَحَك  َعَلْيِه َوَسلَّ اهللِ َصلَّ اهللُ 

ُجُل  الرَّ َفَأَخَذ   ، ُقَرْيَظَة  َعَلْيَك  َأْخَشى   ْ َفإيِنِّ  ،

َقاِئَمًة  اْلَباَبْيِ  َبْيَ  اْمَرَأُتُه  َفإَِذا  ُثمَّ َرَجَع  ِساَلَحُه ، 

ٌة ،  بِِه َوَأَصاَبْتُه َغْيَ ْمَح لَِيْطُعنََها  إَِلْيَها الرُّ َفَأْهَوى 

اْلَبْيَت  َواْدُخِل  ُرْمََك  َعَلْيَك  ُاْكُفْف   : َلُه  َفَقاَلْت 

َفإَِذا  َفَدَخَل   ، َأْخَرَجنِْي  ِذْي  الَّ َما  َتنُْظَر  َحتَّى 

إَِلْيَها  َفَأْهَوى  اْلِفَراِش  َعَل  ُمنَْطِوَيٍة  بَِحيٍَّة َعظِْيَمٍة 

اِر  الدَّ ِف  َفَرَكَزُه  َخَرَج  ُثمَّ   ، بِِه  َفاْنَتَظَمَها  ْمِح  بِالرُّ

َع َمْوًتا  َُم َكاَن َأْسَ َفاْضَطَرَبْت َعَلْيِه ، َفَم ُيْدَرى َأيُّ

: اْلَيَُّة َأِم اْلَفَتى ، َقاَل : َفِجْئنَا إَِل َرُسْوِل اهللِ َصلَّ 

َم ، َفَذَكْرَنا َذلَِك َلُه َوُقْلنَا : ُاْدُع اهللَ  اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ

ِيِه َلنَا ! َفَقاَل : اِْسَتْغِفُرْوا لَِصاِحبُِكْم . ُثمَّ َقاَل  ُيْ

ِمنُْهْم  َرَأْيُتْم  َفإَِذا   ، َأْسَلُموا  َقْد  ِجنًّا  بِاْلَِدينَِة  إِنَّ   :

اٍم ، َفإِْن َبَدا َلُكْم َبْعَد َذلَِك  َشْيًئا ، َفآِذُنْوُه َثاَلَثَة َأيَّ

َم ُهَو َشْيَطاٌن . )رواه مسلم(  َفاْقُتُلوُه ، َفإِنَّ

Diriwayatkan dari Abus-Sā'ib, mantan budak 

Hisyām bin Zuhrah, bahwa suatu hari ia bertandang 

ke kediaman Abū Sa‘īd al-Khudri. Ia berkata, “Di 

rumah itu kudapati Abū Sa‘īd sedang salat. sebab  

itu aku duduk menunggunya menyelesaikan salat. 

Tiba-tiba aku mendengar sebuah gerakan dari arah 

kayu penyangga atap di dalam rumah ini . 

Aku menoleh, dan kulihat seekor ular di sana. 

Aku pun bergegas mendekatinya dengan maksud 

membunuhnya. Abū Sa‘īd (yang masih salat saat  

itu) memberi isyarat kepadaku agar aku duduk, 

membiarkan begitu saja ular ini . Aku pun 

duduk. Usai salat, ia menunjuk ke arah sebuah 

rumah di tengah perkampungan, sambil berkata, 

“Tidakkah kaulihat rumah di sana itu?” “Ya, aku 

lihat,” jawabku. Ia melanjutkan perkataannya, 

“Dulu di rumah itu tinggal seorang pemuda yang 

baru saja melangsungkan pernikahan. saat  

itu kami (termasuk pemuda itu) sedang pergi 

bersama Rasulullah sebagai tentara pada Perang 

Khandaq. Pada suatu siang yang terik pemuda 

itu meminta izin kepada Rasulullah untuk pulang 

menemui istrinya. Beliau pun mengizinkannya 

pulang. “Bawalah senjatamu! Aku khawatir Bani 

Quraizah akan membunuhmu.” pesan Rasulullah. 

Pulanglah pemuda itu. Tak berapa jauh dari 

rumahnya ia mendapati istrinya sedang berdiri 

di antara dua pintu (pintu rumahnya dan pintu 

tetangganya). Melihat kejadian ini , marahlah 

ia. Ia hampir saja melemparkan tombaknya ke 

arah istrinya sebab  terbakar cemburu. Sebelum 

semuanya benar-benar terjadi, istrinya berteriak, 

“Jangan kaulempar tombakmu. Masuklah lebih 

dulu ke rumah, maka engkau akan tahu apa yang 

memaksaku keluar rumah!” Ia lalu masuk rumah, 

dan ia melihat seekor ular melingkarkan tubuhnya 

di atas ranjang. Dengan cepat ia menusuk tubuh 

ular itu dengan tombaknya hingga tembus. Ia pun 

menenteng ular itu keluar rumah, saat  tiba-tiba 

ular itu meronta (dan menggigit sang pemuda). 

Tidak diketahui apakah ular atau pemuda itu 

yang lebih dahulu tewas. Lalu kami menghadap 


Rasulullah dan menceritakan apa yang terjadi. 

Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar 

Ia menghidupkannya kembali!” minta kami. 

Beliau menjawab, “Sungguh, di Medinah ini ada 

sekelompok jin yang sudah masuk Islam. Jika kalian 

melihat salah satu dari mereka (dalam wujud ular) 

maka usirlah ia dengan halus selama tiga hari. Bila 

sesudah  tiga hari ia tetap saja enggan meninggalkan 

rumah, bunuhlah ia sebab  hewan yang demikian 

itu yaitu  setan!” (Riwayat Muslim) 

Melalui hadis berikut Nabi meng-

anjurkan para sahabatnya untuk hanya 

membunuh ular yang berekor buntung 

dengan dua lajur putih memanjang di 

punggungnya, 

َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهلُل  َصلَّ  اهللِ  َرُسْوَل  َسِمْعُت  إيِنِّ 

تِْي َتُكْوُن ِف اْلُبُيْوِت ، إاِلَّ  نَّاِن الَّ َنَى َعْن َقْتِل اْلِ

َذاِن َيْطَِفاِن اْلَبَصَ  َُم اللَّ ْفَيَتْيِ ، َفإِنَّ األَْبَتَ َوَذا الطُّ

مسلم  )رواه   . النَِّساِء  ُبُطوِن  ِف  َما  َوَيَتَتبََّعاِن 

وأمحد عن أب لبابة األنصاري( 

Aku mendengar bahwa Rasulullah melarang 

kami membunuh ular yang ada di dalam rumah, 

kecuali ular yang berekor pendek (atau yang putus 

ekornya) dan memiliki  dua garis lurus berwarna 

putih di punggungnya. Ular yang seperti ini mampu 

membutakan mata manusia dan membunuh janin 

di dalam kandungan ibu hamil. (Riwayat Muslim 

dan Aĥmad dari Abū Lubābah al-Anșāri)

Ular juga digambarkan sebagai 

makhluk yang akan muncul pada Hari 

Kebangkitan. Mereka yang lalai dalam 

berzakat akan diikuti terus dan dipatuk 

oleh ular belang dengan dua taring 

yang mengerikan. 

َيْوَم  َلُه  ُمثَِّل  َزَكاَتُه  ُيَؤدِّ  َفَلْم  َماالً  اهللُ  آَتاُه  َمْن 

َيْوَم  َيُطْوُقُه  َزبِْيَبَتاِن  َلُه   ، َأْقَرَع  ُشَجاًعا  اْلِقَياَمِة 

ُثمَّ   ، َشْدَقْيِه  َيْعنِْي   ، بِِلْهِزَمْيِه  َيْأُخُذ  ُثمَّ   ، اْلِقَياَمِة 

َيُقْوُل : َأَنا َماُلَك ، َأَنا َكنُْزَك ، ُثمَّ َتاَل : الَ َيَْسَبنَّ 

ِذْيَن َيْبَخُلْوَن ... اآلية. )رواه البخاري عن أب  الَّ

هريرة( 

Barang siapa diberi Allah harta, lalu ia tidak 

menunaikan zakatnya, maka harta itu akan diubah 

wujudnya oleh Allah menjadi ular belang yang 

memiliki dua taring. Ular itu akan mematuknya 

dan menggigitnya erat dengan dua sisi mulutnya, 

sambil berkata, “Aku yaitu  hartamu. Aku 

yaitu  simpananmu.” Lalu ular itu pun membaca 

ayat, “Janganlah sekali-kali orang yang kikir...

hingga akhir ayat.” (Riwayat al-Bukhāri dari Abū 

Hurairah)

Hubungan Ular dan Manusia

Dalam kitab-kitab suci, ular kebanyakan 

dianggap sebagai musuh manusia.

Dalam kisah Mahabharata misalnya, 

Krishna kecil sebagai jelmaan Dewa 

Wishnu mengalahkan ular berkepala 

lima yang jahat. Kesimpulan serupa 

juga dapat kita pahami dari ayat Al-

Qur'an maupun hadis-hadis di atas.

Sebaliknya, di beberapa belahan dunia 

ular dipuja dan ditinggikan, bahkan 

hingga saat ini. Dalam mitologi Hindu 

di India ular memperoleh kedudukan 

tinggi, hingga tidak ada yang berani 

membunuh ular kobra secara sengaja. 

Beberapa sekte Hindu bahkan mereka 

memuja dan “mengkreasikan” dewa 

ular. Sekte Manasa di India, misalnya, 

memiliki  Dewi Ular bernama 

Manasa. Sampai saat ini kita masih 

mudah menjumpai para wanita di India 

menuangkan susu di lubang ular, suatu 

hal yang sebenarnya tidak disukai ular 

itu sendiri.  

Ular juga dipuja di sebagian 

wilayah Afrika, seperti Dahomey, 

Madagaskar dan sekitarnya. Pemujaan 

ini muncul sesudah  terjadi persentuhan 

budaya dengan para pemuja ular dari 

luar kawasan ini. Beda Dahomey beda 

pula Mesir Kuno. Di sini hubungan 

antara manusia dan ular telah berjalan 

sangat lama. Beberapa dewa ular 

�dikreasi”, seperti Apophis dan Set. 

Mahkota Firaun juga selalu dihiasi 

patung ular kobra. Bangsa Sumeria 

pun demikian; mereka memiliki dewa 

ular bernama Ningizzida. 

Suku-suku asli di Benua Amerika 

memiliki  hubungan erat dengan 

ular. Hal ini terutama tampak pada 

kebudayaan Aztec dan budaya di 

kawasan budaya Meso-America. Hal 

yang sama terjadi pada warga  

Eropa Kuno, terutama Yunani dan 

Romawi. Dalam mitologi Yunani 

ular diasosiasikan dengan makhluk 

antagonis yang berbahaya dan me-

matikan, namun tidak dihubungkan 

dengan setan. Dalam budaya Cina, 

ular yaitu  salah satu dari 12 hewan 

suci yang menjadi nama shio dan 

dimasukkan dalam kalender Cina.

Ular juga kita jumpai dalam lambang 

kedokteran, yang mewakili makna 

farmasi dan obat secara umum. 

Tampaknya hal ini terpangaruh oleh 

budaya warga  Yunani Kuno 

yang menganggap ular sebagai sang 

penyembuh.

Ular sebagai tanda kekuasaan 

Tuhan muncul sebagai mukjizat saat Nabi 

Musa berhadapan dengan Firaun (al-

A‘rāf/7: 107; Ţāhā/20: 20; asy-Syu‘arā'/26: 

32; al-Qașaș/28: 32). Ular yang 

ditinggikan Nabi Musa di padang gurun 

dipadankan dengan Yesus yang harus 

ditinggikan manusia agar memperoleh 

hidup yang kekal (Injil Yohanes 3: 14). Di 

sisi yang lain, ular juga dikaitkan dengan 

perbuatan jahat, sebagaimana terjadi di 

Taman Eden saat mulai membujuk Hawa 

(Kejadian 3: 1). Ular juga muncul sebagai 

ular tua, naga, sekaligus setan dan iblis 

yang ditangkap oleh malaikat dalam 

Wahyu 20: 2. 

Ketidaksukaan manusia kepada 

ular hanyalah berdasar  anggapan-

anggapan yang sebenarnya kurang 

beralasan. Ini terjadi sebab  kurangnya 

pengetahuan mereka mengenai sifat 

dan bahaya yang mungkin ditimbulkan 

ular. Kasus kematian akibat gigitan 

ular sebenarnya sangat sedikit bila 

dibandingkan kasus kematian akibat 

penyakit yang ditimbulkan oleh gigitan 

nyamuk, atau bahkan kematian sebab  

kecelakaan di jalan raya.

Ular sejak lama telah dimanfaat-

kan manusia. Pada masa yang lebih 

terkini, bisa ular banyak dimanfaatkan 

sebagai serum, sedang  empedu, 

darah, dan daging beberapa jenis ular, 

seperti kobra (Naja spp.) sudah sejak 

lama dipercaya dapat menyembuhkan 

beberapa penyakit oleh warga  di 

Asia Timur, terutama Cina. Di beberapa 

bagian dunia, terutama India, banyak 

ditemukan pertunjukan tarian ular 

dengan memakai  ular King 

Cobra (Ophiophagus hannah) yang 

sangat berbisa. Dalam pertunjukan 

ini ular King Cobra yang ditaruh di 

dalam sebuah wadah seolah menari 

mengikuti irama alat musik serupa 

suling. Ular sebetulnya tidak memiliki 

organ luar telinga, walaupun secara 

terbatas memilki organ telinga di 

bagian dalam. Dengan demikian, 

reaksinya terhadap suara suling 

lebih disebabkan gerakan fisik suling 

daripada suara yang dihasilkan oleh 

suling itu sendiri. 

Kulit-kulit beberapa jenis ular, 

seperti ular sanca (Phyton reticulatus), 

43Hewan dalam Al-Qur'an

ular anaconda (Eunectes murnus) dan 

jenis ular lain yang berukuran cukup 

besar dipakai  sebagai bahan tas, 

sepatu, dan aksesori lainnya. Citra yang 

kurang baik terhadap luar akibat dari 

dongeng, mitos, dan semacamnya, 

ditambah dengan rusaknya habitat 

ular dan nilai ekonominya yang cukup 

tinggi, memicu  penurunan 

dras-tis populasi ular di alam. Ular 

sebagai musuh biologis beberapa 

hama per-tanian, seperti tikus, saat 

ini sudah sudah jauh berkurang, atau 

bahkan sudah tidak ada lagi di banyak 

tempat. Di beberapa tempat, sudah 

mulai ada usaha untuk melakukan 

reintroduksi beberapa ular sawah. 

warga  petani di beberapa desa 

di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, 

sudah mulai melakukan hal ini  

dan melarang perburuan ular di desa 

mereka.

Perikehidupan Ular 

Ular yaitu  kelompok hewan reptilia 

bertubuh bulat memanjang, tidak 

berkaki, dan semua jenisnya hidup 

sebagai pemangsa. Di dalam kelompok 

kadal, yang merupakan kerabat dekat 

ular, ada  juga jenis-jenis kadal 

tak berkaki yang mirip ular.Perbedaan 

kadal tak berkaki dengan ular yaitu  

tidak adanya kelopak mata dan daun 

telinga pada ular. Panjang tubuh ular 

bervariasi, dari yang hanya sepanjang 

10 cm (thread snake, Leptotyphlops 

humilis) hingga yang lebih dari 5 

meter, seperti anakonda (Eunectes 

murinus) yang tercatat 7,5 meter, 

atau ular sanca (Phyton reticulata) 

yang tercatat dalam rekor men-

capai panjang 9 meter. Fosil ular 

purba Titinoboa cerrejonensis bahkan 

diketahui memiliki panjang tubuh 

mencapai 15 meter. 

Kelompok ular berevolusi dari 

kelompok kadal yang hidup di bawah 

tanah atau perairan pada masa 


Penyebaran ular sampai dengan apa 

yang dikenal saat ini dimulai pada masa 

Paleocene (sekitar 66–56 juta tahun 

lalu). Dari penelitian diketahui bahwa 

kelompok ular kobra yaitu  yang 

paling sukses dalam persebarannya. 

Hal ini terutama disebabkan suksesnya 

persebaran kelompok tikus yang 

menjadi mangsa utama ular kobra di 

berbagai tipe habitat. 

Ular merupakan salah satu 

reptil yang paling sukses berkem-

bang di dunia. Di daratan, kita 

dapat menjumpai ular hampir di 

semua tipe habitat, kecuali kawasan 

berhawa dingin (Selandia Baru, 

ujung utara Eropa dan Amerika) atau 

di gunung-gunung tinggi. Seperti 

hewan berdarah dingin lainnya, ular 

makin jarang ditemui di daerah yang 

berhawa dingin. Ular dapat ditemui 

hidup melata di tanah atau di atas 

pohon sepanjang hidupnya. Beberapa 

di antaranya dapat hidup di tanah dan 


sesekali memanjat pohon, atau hidup 

sepenuhnya atau sebagian waktunya 

di perairan (laut, rawa, sungai, atau 

danau). 

Ular bergerak dengan beberapa 

cara, tergantung pada lingkungannya. 

Gerakan yang paling umum yaitu  

berkelok-kelok dengan mengarah ke 

depan. Gerakan ini dilakukan ular, 

baik saat di air maupun di daratan. 

Saat bergerak di daratan, gerakan 

mendorong ular terbantu oleh berma-

cam objek menonjol yang dilaluinya, 

seperti batu, ranting, tanah tak rata, 

dan lainnya.  Uniknya, setiap titik pada 

tubuh ular selau melewati tempat 

yang dilewati oleh titik sebelumnya. 

Dengan demikian, ular dengan mudah 

dapat melewati daerah tumbuhan 

yang padat dan lebat sekalipun. Beda 

di daratan, beda pula saat di air. saat  

berenang di air, gerakan arus air 

yang disebabkan gerakan ular turut 

membantu ular bergerak maju.

Bergerak meliuk dan mengarah 

menyamping dilakukan oleh jenis-jenis 

ular yang hidup di kawasan yang tidak 

memiliki objek untuk “berpegang”, 

seperti kawasan berlumpur atau gurun 

pasir. Sebagai hewan berdarah dingin, 

seringkali ular ditemukan berjemur 

di pagi hari untuk menghangatkan 

tubuhnya sebelum melakukan aktivitas 

hariannya. Kebiasaan ini juga sangat 

membantu dalam proses pencernaan. 

Kemampuan mata ular bervariasi. 

Beberapa jenis ular, seperti ular pohon, 

dapat mengikuti gerakan mangsanya 

dengan presisi. Beberapa lainnya 

memiliki pandangan yang sangat 

lemah, misalnya ular yang hidup di 

lubang. Tidak seperti penglihatannya, 

daya pencium ular, yang memakai  

lidahnya, umumnya cukup baik. Bagian 

tubuh yang bersentuhan dengan objek 

atau tanah umumnya sensitif terhadap 

getaran. Ular dapat menciri getaran 

yang disebabkan gerakan makhluk 

di sekitarnya dengan sangat tepat. 

Beberapa jenis ular memiliki reseptor 

gelombang infra merah yang sensitif. 

Kemampuan ini dimiliki ular berkat 


adanya organ yang terletak di antara 

mata dan lubang hidung. Mereka 

dapat “melihat” radiasi panas dari 

tubuh mangsanya. 

Ular juga memiliki kemampuan 

untuk berganti kulit. Fungsi pergantian 

kulit antara lain: (1) mengganti kulit 

tua yang sudah aus; (2) membantu 

membuang parasit (kutu dan caplak) 

yang menempel di kulit; dan (3) 

memungkinkan ular untuk tumbuh 

lebih besar. Fungsi yang terakhir ini 

belum final dan masih diperdebatkan 

para ahli. Pergantian kulit pada ular 

muda mencapai tiga sampai empat kali 

dalam satu tahun. Pada ular dewasa, 

pergantian kulit 

hanya terjadi satu atau 

dua kali dalam setahun. 

Semua ular yaitu  

pemangsa. Ular memakan 

binatang-binatang berukuran 

kecil, termasuk kadal, ular lain, 

mamalia kecil, burung, telur 

burung, ikan, keong, serangga, 

bahkan telur ikan. sebab  bentuk 

giginya tidak memungkinkan ular 

merobek dan memotong mangsanya, 

maka mangsa ditelan utuh. Itulah 

mengapa ular selalu menyesuaikan 

ukuran mangsanya dengan ukuran 

tubuhnya. Anak ular sanca, misalnya, 

mula-mula memangsa belalang, kemu-

dian kadal, hingga kijang atau babi 

hutan saat sudah dewasa. Pada bagian 

tengkoraknya, ular memiliki banyak 

keping-keping tulang yang saling 

bersambung. Sambungan-sambungan 

inilah yang membuat ular memiliki 

fleksibilitas dalam membuka rahang 

bawahnya. Dengan kemampuan se-

perti itu ular dapat menelan mangsa 

yang berukuran jauh 

lebih besar daripada 

kepalanya. 

Ular menelan mangsanya 

bulat-bulat, tanpa dikunyah. 

Gigi ular tidak berfungsi untuk 

mengunyah, melainkan sekadar 

untuk memegang mangsanya 


agar tidak terlepas. Umumnya ular 

menelan mangsanya dari bagian 

kepala lebih dahulu. Komposisi dan 

formasi gigi ular juga tidak seragam, 

tergantung pada keperluan dan jenis 

mangsanya. Ular pemakan keong, 

misalnya, punya lebih banyak gigi di 

sisi kiri rahangnya. Hal ini disesuaikan 

dengan lingkaran kerang yang se-

ringkali searah jarum jam. sesudah  

makan, ular akan “beristirahat” 

dan menunggu proses pencernaan 

makanannya berlangsung. sebab  

ular termasuk binatang berdarah 

dingin (ectothermic), maka suhu di 

sekelilingnya sangat berpengaruh 

terhadap proses pencernaan. Ular 

memerlukan suhu sekitar 30 �C untuk 

dapat mencerna makanannya dengan 

baik. Suhu permukaan tubuhnya dapat 

naik sekitar 1 �C pada saat proses 

pencernaan berjalan. Itulah sebabnya 

ular seringkali memuntahkan mangsa-

nya jika  merasa terancam. Seba-

gian ular membunuh mangsanya 

dengan cara melilit, misalnya ular 

sanca kembang (Phyton reticulatus). 

Sebagian lainnya memakai  bisa, 

seperti ular King Cobra (Ophiophagus 

hannah), ular weling/krait (Bungarus 

candidus), atau ular cabai (Maticora 

intestinalis). 

Kebanyakan ular memiliki bisa 

yang lebih sering dipakai nya untuk 

melumpuhkan atau membunuh mang-

sa daripada untuk mempertahankan 

diri. Bisa yaitu  modifikasi dari air 

ludah. Pada beberapa jenis, bisa 

disalurkan melalui taring yang ber-

lubang. Bisa ular, sebagaimana air 

ludah, juga membantu ular mencerna 

makanannya. Ular-ular kanibal yang 

memangsa ular lain, misalnya King 

Cobra, memiliki pertahanan terhadap 

racun sebab  memiliki anti racun. Bisa 

ular yaitu  campuran yang kompleks 

dari berbagai protein yang diproduksi 

oleh kelenjar yang terletak di bagian 

belakang kepalanya. Bisa ular dapat 

dibagi dalam campuran neurotoxin 

(racun yang menyerang sistem syaraf), 

hemotoxin (racun yang menyerang 

sistem peredaran darah), cytotoxin, 

bungarotoxin, dan masih banyak lagi, 

yang pada dasarnya mempengaruhi 

fungsi dan sistem tubuh dengan 

berbagai cara.

Dalam proses perkembangbiak-

annya semua ular menganut pembuah-

an di dalam (internal fertilization), 

meskipun cara reproduksinya berva-

riasi. Ular berkembang biak dengan 

bertelur. Jumlah telur ular berkisar 

dari hanya beberapa butir saja sampai 

dengan ratusan butir. Ular bertelur 

di lubang tanah, lubang kayu lapuk, 

atau di bawah timbunan serasah. 

Umumnya ular meninggalkan telurnya 

begitu saja dan menyerahkan nasibnya 

kepada alam, namun ada beberapa 

jenis, seperti kelompok ular sanca, 

yang mengerami telur dengan lilitan 

tubuhnya hingga menetas. Ular sanca 

betina tidak akan meninggalkan 

telurnya, kecuali jika  ia perlu 

minum atau berjemur. Ular King 

Cobra dikenal sebagai satu dari sedikit 

jenis ular yang membuat sarang dan 

tinggal di dekatnya untuk menjaganya.

Beberapa jenis ular menyimpan telur 

di dalam tubuhnya dan “melahirkan” 

anak-anaknya (ovovivipar). Baru-

baru ini para peneliti menemukan 

bahwa beberapa jenis ular, seperti 

ular Boa Constrictor dan Anakonda 

Hijau (Eunectes murinus) betul-

betul melahirkan anaknya (vivipar). 

Keduanya memberi makan anak-

anaknya dengan plasenta dan makanan 

yang tersedia dalam telurnya.

Sejenis ular primitif, yakni ular 

buta atau juga dikenal sebagai ular 

kawat (Rhampotyphlops braminus), 

sejauh ini hanya ditemukan betinanya 

saja. Ular yang mirip cacing kecil ini 

diduga mampu bertelur dan berbiak 

dengan pembuahan sendiri, tanpa 

kehadiran ular jantan (parthenoge-

nesis).

Uraian di  atas semestinya 

mampu memotivasi manusia untuk 

merubah persepsinya tentang ular. 

Kehadiran ular di dunia ini termasuk 

dalam rencana Allah yang rumit dan 

saling terkait satu dengan lainnya. 

Manusia dapat saja me