delusi tuhan 12
tetapi itu bukan jenis buku yang seharusnya diberikan kepada
anak-anak untuk membentuk moral mereka. Kebetulan, kisah Yosua di Yerikho yaitu subjek
dari suatu eksperimen menarik mengenai moralitas anak-anak, yang akan dibahas nanti di bab
ini.
Jangan berpikir juga bahwa tokoh pencipta dalam cerita itu sedikit pun ragu atau khawatir
mengenai pembantaian dan genosida yang menyertai perebutan Tanah yang Dijanjikan.
Sebaliknya, perintahnya, misalnya dalam Ulangan 20, kejam dan eksplisit. Dia membedakan
secara jelas di antara orang yang hidup di tanah yang dibutuhkan, dan mereka yang hidup jauh
dari situ. Yang hidup jauh harus diajak menyerah dengan damai. Jika mereka menolak, semua
lelaki harus dibunuh dan para perempuan diambil untuk berkembang biak. Berbeda dengan
perlakuan yang relatif manusiawi ini, lihat apa yang menunggu suku-suku malang itu yang sudah
berdiam di Lebensraum yang dijanjikan: ‘Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa itu yang
diberikan pencipta , Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, janganlah kaubiarkan hidup apa
pun yang bernafas, melainkan kautumpas sama sekali, yakni orang Het, orang Amori, orang
Kanaan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh
pencipta , Allahmu’.
Apakah orang-orang ini yang menjunjung Alkitab sebagai inspirasi untuk kebaikan moral
mengetahui sedikit saja apa yang sebenarnya ditulis di dalamnya? Pelanggaran berikut layak
dihukum mati, menurut Imamat 20: mengutuki orang tua; berzinah; tidur dengan ibu tiri atau
anak menantu; homoseksualitas; menikahi seorang perempuan dan putrinya; bestialitas (dan,
yang membuatnya lebih buruk lagi, binatang yang malang itu juga harus dibunuh). Anda juga
akan dihukum mati, tentu saja, jika bekerja pada hari sabat: poin itu disampaikan berkali-kali
dalam Perjanjian Lama. Dalam Bilangan 15, anak-anak Israel menemukan orang di padang
gurun sedang mengumpulkan kayu pada hari terlarang. Mereka menahannya lalu bertanya
kepada pencipta apa yang harus dilakukan dengannya. Ternyata pencipta tidak ingin setengah-
setengah hari itu. ‘Lalu berfirmanlah pencipta kepada Musa: “Orang itu pastilah dihukum mati;
segenap umat Israel harus melontari dia dengan batu di luar tempat perkemahan.” Lalu segenap
umat menggiring dia ke luar tempat perkemahan, kemudian dia dilontari dengan batu, sehingga
ia mati’. Apakah pengumpul kayu bakar tidak berbahaya itu mempunyai istri dan anak yang
berkabung untuknya? Apakah dia merengek ketakutan saat batu-batu pertama dilempar, dan
menjerit kesakitan ketika lemparan pertama menghantam kepalanya? Yang paling mengejutkan
bagi saya saat ini mengenai kisah-kisah seperti itu bukan bahwa itu sebenarnya terjadi. Besar
kemungkinan tidak. Yang membuat saya melongo yaitu orang saat ini yang mendasarkan
hidupnya pada panutan yang begitu mengerikan seperti Yahweh – dan, lebih buruk lagi, mereka
mencoba untuk memaksakan monster jahat yang sama (apakah fakta atau fiksi) kepada kita-kita
yang lain.
Kekuasaan politik para penjunjung loh Sepuluh Perintah di Amerika secara khusus
disayangkan dalam republik besar itu yang konstitusinya dibuat oleh orang-orang Pencerahan
dalam bahasa yang secara eksplisit sekuler. Jika kita menganggap Sepuluh Perintah serius, kita
mengelompokkan pemujaan pencipta -pencipta yang salah, dan pembuatan patung, sebagai pertama
dan kedua di antara dosa-dosa lain. Daripada mengecam vandalisme tak terkatakan Taliban, yang
meledakkan Patung Buddha Bamiyan yang tingginya 50 meter di pegunungan Afganistan, kita
akan memujinya untuk kesalehannya. Apa yang kita anggap sebagai vandalismenya pasti
termotivasi oleh semangat religius yang tulus. Hal ini ditunjukkan dengan jelas oleh suatu cerita
yang sungguh aneh, yang menjadi kepala berita utama di Independent 6 Agustus 2005. Di bawah
kepala berita halaman pertama, ‘Penghancuran Mekkah’, Independent melaporkan:
Kota Mekkah yang historis, kota kelahiran Islam, sedang dikubur dalam suatu
penyerbuan oleh orang fanatik religius yang belum pernah disaksikan
sebelumnya. Hampir seantero sejarah kaya dan berlapis kota suci ini sudah
lenyap ... Kini tempat lahir Nabi Muhammad menghadapi alat berat, dengan
komplotan para ulama Saudi, yang interpretasi garis kerasnya mengenai Islam
mendorongnya untuk menghapus warisannya sendiri ... Motivasi di belakang
penghancuran yaitu ketakutan fanatik para Wahabi bahwa tempat yang
menarik secara historis atau religius dapat menimbulkan pemujaan berhala atau
politeisme, yakni, pemujaan banyak pencipta yang mungkin saja setara
kedudukannya. Praktik pemujaan berhala di Arab Saudi masih, secara prinsip,
dapat dihukum dengan pemenggalan kepala.*
Saya tidak percaya bahwa ada ateis apa pun di dunia ini yang akan meratakan Mekkah –
atau Chartres, York Minster atau Notre Dame, Shwedagon, kuil-kuil Kyoto, atau, tentu saja, para
Budha Bamiyan. Sebagaimana dikatakan oleh fisikawan Amerika pemenang penghargaan Nobel
Steven Weinberg, ‘kepercayaan yaitu suatu penghinaan terhadap martabat manusia. Dengannya atau
tanpanya, akan ada orang baik yang berbuat baik dan orang jahat yang berbuat jahat. Tetapi
untuk orang baik yang berbuat jahat, harus ada kepercayaan .’ Blaise Pascal (yang membuat taruhan)
mengatakan hal yang serupa: ‘Manusia tidak pernah berbuat jahat dengan begitu menyeluruh dan
* ‘We all fund this torrent of Saudi bigotry’ oleh Johann Hari yaitu suatu laporan investigatif mengenai pengaruh
bahaya Wahabisme Saudi di Britania saat ini. Pertama kali diterbitkan dalam Independent pada 8 Februari, 2007,
artikelnya direproduksi di berbagai situs web termasuk http://richarddawkins.net.
semangat seperti saat mereka melakukannya karena keyakinan religius.
Tujuan utama saya di sini bukan menunjukkan bahwa kita seharusnya tidak mendapat
moral-moral kita dari kitab suci (meskipun itu pendapat saya). Tujuan saya di sini yaitu
mendemonstrasikan bahwa kita (dan itu termasuk kebanyakan orang religius) pada kenyataan
tidak mendapat moral-moral kita dari kitab suci. Seandainya tidak seperti itu, kita akan
menjalankan sabat dengan ketat dan menganggap hukuman mati bagi siapa pun yang tidak
melakukan itu sebagai hal yang adil dan layak. Kita akan melempari dengan batu hingga mati
istri baru siapa pun yang tidak bisa membuktikan bahwa dia perawan, jika suaminya menyatakan
dirinya tidak puas dengannya. Kita akan menghukum mati anak-anak nakal. Kita akan...tetapi
tunggu. Barangkali saya yang kurang adil. Orang junjungan kristen yang baik hati pasti sudah memprotes
sepanjang seksi ini: semua orang tahu bahwa Perjanjian Lama tidak begitu menyenangkan.
Perjanjian Baru junjungan kristen memperbaiki kerusakannya dan meluruskan semuanya. Bukan?
APAKAH PERJANJIAN BARU LEBIH BAIK?
Sebenarnya, tak terbantahkan bahwa, dari sudut pandang moral, junjungan kristen merupakan
peningkatan besar sekali di atas monster kejam Perjanjian Lama. Memang junjungan kristen , jika dia pernah
hidup (atau siapa pun yang menulis naskahnya jika tidak) tentu saja yaitu salah satu inovator
etis besar sepanjang sejarah. Khotbah di atas Bukit melampaui zamannya. ‘Berilah pipimu yang
lain juga’nya mengantisipasi Gandhi dan Martin Luther King dua ribu tahun sebelum kedua
tokoh itu hidup. Dengan alasan yang baik saya menulis sebuah artikel berjudul ‘Para Ateis
Mendukung junjungan kristen ’ (dan kemudian senang sekali diberikan kaos dengan semboyan itu).94
Tetapi keunggulan moral junjungan kristen justru membuktikan poin saya. junjungan kristen tidak sekadar
menyarikan etikanya dari kitab-kitab yang menurutnya dia dibesarkan. Dia secara eksplisit
menyimpang darinya, misalnya ketika dia meremehkan peringatan berat mengenai pekerjaan di
hari sabat. ‘Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat’ telah
menjadi amsal umum. Karena tesis utama bab ini yaitu kita tidak, dan seharusnya tidak,
menyarikan moral kita dari kitab suci, junjungan kristen harus dihormati sebagai teladan tesis itu sendiri.
Nilai-nilai kekeluargaan junjungan kristen , harus diakui, mungkin kurang layak mendapat perhatian
kita. Dia singkat, hingga kasar, dengan ibunya sendiri, dan dia menyuruh rasulnya meninggalkan
keluarganya dan mengikuti dia. ‘Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci
bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan
nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.’ Pelawak Amerika Julia Sweeney
mengucapkan kebingungannya dalam pementasan solonya, Letting Go of God:95 ‘Bukankah itu
modus kultus? Membuatmu menolak keluargamu agar kau bisa terindoktrinasi?’96
Terlepas dari nilai-nilai kekeluargaannya yang agak sulit diandalkan, ajaran-ajaran etis
junjungan kristen – setidaknya dibandingkan dengan daerah bencana etis itu, Perjanjian Lama – layak
dipuji; tetapi ada ajaran-ajaran lain dalam Perjanjian Baru yang seharusnya tidak didukung oleh
orang baik siapa pun. Saya merujuk secara khusus doktrin utama Kristianitas: ‘penebusan’ untuk
‘dosa asal’. Ajaran ini, yang berada di inti teologi Perjanjian Baru, hampir sama
menjengkelkannya secara moral dengan kisah Abraham yang berusaha memanggang Ishak, yang
mirip dengannya – dan itu sengaja, sebagaimana dijelaskan oleh Geza Vermes dalam The
Changing Faces of Jesus. Dosa asal sendiri berasal langsung dari mitos Perjanjian Lama
mengenai Adam dan Hawa. Dosa mereka – memakan buah dari pohon terlarang – terkesan
cukup enteng, sehingga mereka hanya layak ditegur saja. Tetapi kodrat simbolik buahnya
(pengetahuan mengenai baik dan jahat, yang secara praktis ternyata yaitu pengetahuan bahwa
mereka telanjang) cukup untuk menjadikan petualangan gaya kancil mereka menjadi asal-usul
segala dosa.* Mereka dan keturunannya diusir selamanya dari Taman Eden, pemberian
kehidupan abadi dicabut, dan mereka terkutuk untuk pekerjaan menyakitkan selama bergenerasi-
generasi, di ladang dan saat melahirkan.
Sejauh ini, sudah lazim mendendam untuk Perjanjian Lama. Teologi Perjanjian baru
menambah suatu ketidakadilan baru, disempurnakan dengan suatu sadomasokisme baru yang
kekejamannya hampir tidak dilampaui oleh Perjanjian Lama pun. Ketika dipikir-pikir, cukup
menakjubkan bahwa suatu kepercayaan akan mengadopsi sebuah alat siksaan dan hukuman mati
sebagai simbol sakralnya, sering dipakai sebagai kalung. Lenny Bruce dengan benar
berkomentar bahwa ‘Jika junjungan kristen dibunuh 20 tahun yang lalu, murid-murid sekolah Katolik akan
memakai kursi listrik kecil di lehernya, bukan salib.’ Tetapi teologi dan teori hukuman di
belakangnya lebih buruk lagi. Dosa Adam dan Hawa dianggap menurun melalui garis keturunan
lelaki – ditransmisi melalui air mani, menurut Agustinus. Filsafat etis macam apa yang
menghukum setiap anak, bahkan sebelum ia lahir, untuk mewarisi dosanya seorang leluhur jauh?
Agustinus, sebagai tambahan, yang secara layak menganggap dirinya suatu otoritas mengenai
dosa, bertanggung jawab untuk penciptaan frasa ‘dosa asal’. Sebelum dia konsepnya dikenal
sebagai ‘dosa keturunan’. Pernyataan dan debat Agustinus merupakan teladan, bagi saya, atas
obsesi tidak sehat para teolog Kristiani awal dengan dosa. Mereka bisa saja mengisi halaman-
halaman khotbahnya dengan pujian atas langit tepercik dengan bintang, atau gunung dan hutan
hijau, lautan dan paduan suara fajar. Hal-hal itu sesekali disebut, tetapi fokus Kristiani secara
besar yaitu dosa dosa dosa dosa dosa dosa. Suatu obsesi jahat, seandainya mendominasi hidup
seseorang. Sam Harris menulis dengan pedas sekali dalam Letter to a Christian Nation: ‘Urusan
utamamu sepertinya yaitu bahwa Pencipta alam semesta akan tersinggung karena suatu yang
manusia lakukan saat telanjang. Ketakutan seksualmu berkontribusi setiap hari kepada surplus
kesengsaraan manusia.’
Tetapi sekarang, sadomasokismenya. pencipta berinkarnasi sebagai manusia, junjungan kristen , supaya
dia disiksa dan dihukum mati sebagai penebusan untuk dosa turun-temurun Adam. Sejak Paulus
pertama kali mengeluarkan doktrin jijik ini, junjungan kristen dipuja sebagai penebus semua dosa kita.
Tidak hanya dosa lampau Adam: dosa-dosa masa depan juga, apakah orang di masa depan
memutuskan untuk melakukannya atau tidak!
Sebagai satu tambahan lagi, banyak orang telah berpikir, termasuk Robert Graves dalam
novel epiknya King Jesus, bahwa Yudas Iskariot yang malang diperlakukan secara tidak adil
oleh sejarah, karena ‘pengkhianatan’nya yaitu bagian niscaya dari rencana kosmik. Hal yang
sama dapat dikatakan mengenai mereka yang dianggap sebagai pembunuh junjungan kristen . Jika junjungan kristen
ingin dikhianati lalu dibunuh, supaya dia bisa menebus kita semua, bukankah agak tidak adil
bagi mereka yang menganggap dirinya ditebus untuk menyalahkan Yudas dan para Yahudi
sepanjang sejarah? Saya sudah menyebut daftar panjang injil-injil yang tidak masuk ke dalam
kanon. Suatu naskah yang mengklaim dirinya sebagai Injil Yudas yang hilang baru saja
diterjemahkan dan karena itu menerima publisitas.97 Keadaan penemuannya masih diperdebat,
tetapi sepertinya naskah itu muncul di Mesir di sekitar 1970-an atau 60-an. Naskahnya ditulis
dengan aksara Koptik pada 62 halaman papirus, dan menurut penanggalan radiokarbon ditulis di
sekitar 300 M tetapi besar kemungkinan berdasarkan suatu naskah Yunani yang lebih awal.
Siapa pun penulisnya, injilnya ditulis dari sudut pandang Yudas Iskariot dan menyampaikan
bahwa Yudas mengkhianati junjungan kristen hanya karena junjungan kristen memintanya untuk memainkan peran itu.
*
Itu semua sebagian dari rencana untuk membuat junjungan kristen disalibkan supaya dia dapat menebus
umat manusia. Betapa pun menjengkelkannya doktrin itu, sepertinya menjadi lebih tidak
menyenangkan lagi karena Yudas dibenci sejak saat itu.*
Saya telah mendeskripsikan penebusan, doktrin inti Kristianitas, sebagai kejam,
sadomasokis, dan menjijikkan. Kita seharusnya juga menolaknya sebagai gila saja, tetapi
konsepnya sudah terlalu akrab, sehingga objektivitas kita mengenainya sudah tidak tajam
sebagaimana selayaknya. Jika pencipta ingin mengampuni dosa kita, kenapa tidak mengampuninya
saja, tanpa membuat dirinya disiksa dan dihukum mati sebagai bayaran – dan kebetulan,
menghukum generasi Yahudi jauh di masa depan untuk mengalami pogrom-pogrom dan
persekusi sebagai ‘pembunuh Kristus’: apakah dosa turun-temurun itu juga menurun dalam air
mani?
Paulus, sebagaimana dijelaskan oleh sarjana Yahudi Geza Vermes, sangat menghayati
prinsip teologis Yahudi lama bahwa tanpa darah, tidak ada penebusan.98 Penulis Surat kepada
Orang Ibrani (9: 22) berkata demikian. Ahli etika progresif saat ini agak susah mempertahankan
teori hukuman retributif jenis apa pun, apalagi teori kambing hitam – menghukum mati orang
atau hewan yang tidak bersalah untuk melunasi dosa orang yang bersalah. Bagaimanapun (saya
tidak bisa tidak bertanya), pencipta pamer untuk siapa? Mungkin dirinya sendiri – hakim, juri, serta
korban hukuman mati. Sebagai penutup, Adam, yang dianggap pelaku dosa asal, tidak pernah
ada: suatu fakta janggal – dapat dimaklumi bahwa Paulus tidak mengetahuinya tetapi sepertinya
diketahui oleh suatu pencipta yang maha tahu (dan junjungan kristen , jika Anda percaya bahwa dia pencipta ?) –
yang secara mendasar menggerogoti premis teori kejam dan berkelok-kelok itu sendiri. Ah iya,
tetapi tentu saja, kisah Adam dan Hawa itu hanya simbolik, bukan? Simbolik? Jadi, agar pamer
untuk dirinya sendiri, junjungan kristen membuat dirinya disiksa dan dihukum mati, sebagai hukuman
pengganti untuk suatu dosa simbolik yang dilakukan oleh seorang individu yang tidak pernah
ada? Seperti sudah saya katakan, sungguh gila, serta tidak menyenangkan dan kejam.
Sebelum meninggalkan Alkitab, saya harus menarik perhatian pembaca kepada satu
aspek ajaran etisnya yang sulit sekali diterima. Orang junjungan kristen jarang menyadari bahwa sebagian
besar pertimbangan moral untuk orang lain yang sepertinya dipromosikan baik dalam Perjanjian
Lama maupun Baru secara asali dimaksudkan untuk berlaku hanya untuk suatu kelompok dalam
yang didefinisikan secara sempit. ‘Kasihilah sesamamu’ tidak berarti apa yang kini kita anggap
sebagai artinya. Artinya hanya ‘Kasihilah orang Yahudi yang lain.’ Poin ini disampaikan secara
mematikan oleh dokter dan antropolog evolusioner Amerika, John Hartung. Dia telah menulis
sebuah makalah luar biasa mengenai evolusi dan sejarah alkitabiah moralitas kelompok dalam,
dan menekankan juga sisi baliknya – permusuhan terhadap kelompok luar.
KASIHILAH SESAMAMU
Humor gelap John Hartung tampak dari awal makalahnya,99 di mana dia bercerita tentang
suatu prakarsa Southern Baptis untuk menghitung jumlah orang Alabama di neraka.
Sebagaimana dilaporkan dalam New York Times dan Newsday, jumlah akhir, 1,86 juta,
diperkirakan dengan menggunakan suatu rumus pembobotan rahasia, yang menurutnya orang
Metodis lebih mungkin diselamatkan daripada orang Katolik Roma, sedangkan ‘hampir semua
* Tidak sempat dimasukkan ke dalam edisi hardback buku ini, Reading Judas. oleh Elaine Pagels dan Keren L. King
telah muncul. Berdasarkan terjemahan Karen King atas Injil Yudas, bukunya memandang orang yang dituduh
pengkhianat terbesar secara bersimpati (Yudas sendiri muncul dari perspektif orang ketiga dalam injilnya sendiri).
orang yang tidak menjadi anggota suatu jemaat gereja dihitung sebagai tak terselamatkan’.
Kesombongan orang-orang seperti itu yang betul-betul keterlaluan direfleksikan saat ini di
berbagai situs web ‘pengangkatan’ (rapture), di mana penulis selalu berasumsi saja bahwa dia
akan berada di antara mereka yang ‘menghilang’ ke dalam surga ketika ‘akhir zaman’ tiba.
Berikut suatu contoh biasa, dari penulis ‘Rapture Ready’, salah satu contoh kesalehan palsu dari
jenis itu yang lebih buruk daripada biasanya: ‘Jika pengangkatan terjadi, yang akan
menyebabkan ketidakhadiran saya, para santo tribulasi akan harus membuat cermin atau
mendukung situs ini secara finansial.’*
Menurut tafsir Alkitab Hartung, tidak ada dasar untuk kenyamanan sombong di antara
para junjungan kristen . junjungan kristen membatasi kelompok dalam orang selamat secara sempit pada orang
Yahudi; dalam arti itu dia mengikuti tradisi Perjanjian Lama, dan hanya itu yang dia tahu.
Hartung menunjukkan dengan jelas bahwa ‘Jangan membunuh’ tidak pernah dimaksudkan untuk
berarti apa yang kita kini anggap sebagai artinya. Artinya saat itu, secara sangat khusus, yaitu
jangan membunuh orang Yahudi. Dan semua perintah itu yang merujuk ‘sesamamu’ sama
eksklusifnya. ‘Sesama’ berarti sesama Yahudi. Moses Maimonides, rabi dan dokter abad ke-12
yang sangat dihormati, menguraikan makna penuh ‘Jangan membunuh’ sebagai berikut: ‘Jika
seseorang membunuh seorang Israel, dia melanggar suatu perintah negatif, karena kata Kitab
Suci, Jangan membunuh. Jika seseorang membunuh dengan sengaja di kehadiran saksi, dia
dihukum mati dengan pedang. Tidak perlu dikatakan, tak seorang pun dihukum mati jika dia
membunuh seorang kafir.’ Tidak perlu dikatakan!
Hartung mengutip Sanhendrin (Mahkamah Agung Yahudi, dipimpin oleh pendeta tinggi)
secara serupa, sebagai mengampuni seorang yang secara hipotetis membunuh seorang Israel
tanpa disengaja, saat bermaksud untuk membunuh seekor hewan atau seorang kafir. Teka-teki
moral yang menggoda ini memunculkan poin menarik. Bagaimana jika dia melempar batu ke
dalam kelompok sembilan kafir dan satu orang Israel dan sayangnya orang Israel yang kena dan
mati? Hm, sulit! Tetapi jawabannya tersedia. ‘Kalau begitu fakta bahwa dia tidak bersalah dapat
disimpulkan dari fakta bahwa mayoritasnya kafir.’
Hartung menggunakan banyak kutipan Alkitab yang sama yang saya gunakan di bab ini,
mengenai penaklukan Tanah yang Dijanjikan oleh Musa, Yosua, dan para Hakim. Saya dengan
saksama mengakui bahwa orang-orang religius sudah tidak berpikir secara alkitabiah. Bagi saya,
ini mendemonstrasikan bahwa moral-moral kita, apakah religius atau tidak, berasal dari sumber
lain; dan sumber lain itu, apa pun itu, tersedia untuk kita semua, tanpa mengindahkan adanya
kepercayaan atau ketiadaannya. Tetapi Hartung bercerita tentang suatu kajian mengerikan oleh seorang
psikolog Israel, George Tamarin. Tamarin mempresentasikan kepada lebih dari seribu anak
sekolah Israel, yang usianya di antara 8 dan 14, kisah pertempuran Yerikho di kitab Yosua:
Yosua berkata kepada bangsa itu: “Bersoraklah, sebab pencipta telah
menyerahkan kota ini kepadamu! Dan kota itu dengan segala isinya akan
dikhususkan bagi pencipta untuk dimusnahkan...Segala emas dan perak serta
barang-barang tembaga dan besi yaitu kudus bagi pencipta ; semuanya itu akan
dimasukkan ke dalam perbendaharaan pencipta ’...Mereka menumpas dengan
mata pedang segala sesuatu yang di dalam kota itu, baik laki-laki maupun
perempuan, baik tua maupun muda, sampai kepada lembu, domba, dan
keledai...Tetapi kota itu dan segala sesuatu yang ada di dalamnya dibakar
mereka dengan api; hanya emas dan perak, barang-barang tembaga dan besi
* Mungkin Anda tidak tahu makna ‘santo tribulasi’ di kalimat ini. Jangan repot: ada hal lebih baik yang Anda bisa
lakukan.
ditaruh mereka di dalam perbendaharaan rumah pencipta .
Lalu Tamarin menanyai anak-anak suatu pertanyaan moral sederhana: ‘Apakah menurut
Anda Yosua dan bangsa Israel bertindak dengan benar atau tidak?’ Mereka harus memilih di
antara A (mutlak setuju), B (setuju sebagian) dan C (mutlak tidak setuju). Hasilnya berkutub: 66
persen mutlak setuju dan 26 mutlak tidak setuju, dengan jumlah agak kurang (8 persen) di tengah
yang setuju sebagian. Berikut, tiga jawaban tipikal dari kelompok mutlak setuju (A):
Menurutku Yosua dan Anak-anak Israel bertindak dengan benar, dan inilah
alasan-alasanku: pencipta menjanjikan tanah ini kepada mereka, dan
membolehkan mereka menaklukkannya. Jika mereka tidak bertindak seperti itu
atau membunuh siapa pun, akan ada bahaya bahwa Anak-anak Israel akan
terasimilasi menjadi Goyim.
Menurutku Yosua benar saat dia melakukannya, satu alasan yaitu pencipta
menyuruhnya untuk memusnahkan orang-orang itu agar suku-suku Israel tidak
bisa berasimilasi di antara mereka dan belajar kebiasaan buruk mereka.
Yosua berbuat baik karena orang yang menduduki tanahnya berbeda kepercayaan ,
dan ketika Yosua membunuhnya dia memusnahkan kepercayaan nya dari muka bumi.
Pembenaran untuk pembantaian genosidal oleh Yosua bersifat religius dalam setiap kasus.
Bahkan mereka dalam kategori C, yang mutlak tidak setuju, melakukannya, dalam kasus
tertentu, untuk alasan-alasan religius terbalik. Salah satu anak perempuan, misalnya, tidak
menyetujui penaklukan Yerikho oleh Yosua karena, untuk melakukannya, dia harus memasuki
kota itu:
Aku mengira itu buruk, karena para Arab ternoda dan jika seseorang memasuki
tanah ternoda orang itu juga akan ternoda dan akan mengidap kutukan mereka.
Dua orang lain yang mutlak tidak setuju melakukannya karena Yosua menghancurkan segala-
galanya, termasuk hewan dan harta, daripada menyimpan sebagian untuk para orang Israel:
Menurutku Yosua tidak bertindak dengan benar, karena mereka bisa
menyelamatkan hewan-hewan untuk diri mereka sendiri.
Menurutku Yosua tidak bertindak dengan benar, karena dia bisa saja
membiarkan harta Yerikho; jika dia tidak menghancurkan hartanya, harta itu
akan menjadi milik bangsa Israel.
Sekali lagi Maimonides yang bijaksana, sering dikutip untuk kebijaksanaan ilmiahnya,
tidak ragu-ragu mengenai posisinya soal ini: ‘Menghancurkan tujuh bangsa itu merupakan
perintah positif, sebagaimana dikatakan: Kautumpas sama sekali. Jika seseorang tidak
menghukum mati siapa pun dari mereka yang dapat dibunuh, orang itu melanggar suatu perintah
negatif, sebagaimana dikatakan: Janganlah kaubiarkan hidup apa pun yang bernafas.’
Berbeda dengan Maimonides, anak-anak eksperimen Tamarin cukup muda untuk tidak .
Kita dapat mengira bahwa pandangan biadab yang mereka ucapkan yaitu pandangan orang
tuanya, atau kelompok budaya di mana mereka dibesarkan. Saya mengira mungkin saja anak-
anak Palestina, dibesarkan di negara berperang yang sama, akan menawarkan pendapat setara
yang sebaliknya. Pertimbangan ini membuat saya putus asa. Sepertinya kekuatan kepercayaan amat
besar, dan khususnya membesarkan anak secara religius dapat memecah belah orang dan
memelihara permusuhan historis dan pembalasan dendam yang turun-temurun. Saya tidak bisa
tidak berkomentar bahwa dua dari tiga kutipan representatif Tamarin dari kelompok A menyebut
kejahatan asimilasi, sedangkan yang ketiga menekankan pentingnya membunuh orang untuk
memusnahkan kepercayaan nya.
Tamarin mengadakan sebuah kelompok kontrol yang menarik sekali dalam
eksperimennya. Kelompok yang lain yang terdiri dari 168 anak Israel diberi teks yang sama dari
kitab Yosua, tetapi dengan nama Yosua sendiri digantikan dengan ‘Jenderal Lin’ dan ‘Israel’
digantikan dengan ‘suatu kerajaan Tiongkok 3000 tahun yang lalu’. Di sini hasil eksperimennya
terbalik. Hanya 7 persen menyetujui perilaku Jenderal Lin, dan 75 persen tidak menyetujuinya.
Dengan kata lain, ketika kesetiaannya kepada Yudaisme dihapus dari perhitungan, mayoritas
anak-anak itu setuju dengan penilaian moral yang akan sama bagi kebanyakan manusia modern.
Tindakan Yosua yaitu genosida biadab. Tetapi semuanya tampak secara berbeda dari sudut
pandang religius. Dan perbedaan itu muncul saat dini dalam kehidupan. kepercayaan lah yang
menentukan perbedaan di antara anak yang mengecam genosida dan anak yang
membolehkannya.
Di bagian kedua makalah Hartung, dia menggunakan Perjanjian Baru. Sebagai
rangkuman tesisnya, junjungan kristen yaitu penganut moralitas kelompok dalam yang sama – serta
permusuhan terhadap kelompok luar – yang diandaikan begitu saja dalam Perjanjian Lama.
junjungan kristen yaitu seorang Yahudi setia. Pauluslah yang menciptakan ide untuk membawa pencipta
Yahudi kepada para bukan-Yahudi. Hartung lebih berani berkata kasar daripada saya: junjungan kristen
akan gelisah dalam kuburannya seandainya dia tahu bahwa Paulus akan membawa rencananya
kepada babi-babi itu.’
Hartung bersenang-senang dengan kitab Wahyu, tentu salah satu kitab paling aneh dalam
Alkitab. Kitab itu konon ditulis oleh Santo Yohanes dan, sebagaimana dirumus dengan cerdas
oleh Ken’s Guide to the Bible, jika surat-suratnya dapat dipandang sebagai Yohanes setelah
mengisap ganja, Wahyu yaitu Yohanes setelah minum LSD.100 Hartung menunjukkan dua ayat
dalam Wahyu di mana jumlah orang yang ‘disegel’ (yang dalam aliran tertentu, seperti Saksi-
saksi Yehuwa, menafsir sebagai ‘diselamatkan’) terbatas pada 144.000. Poin Hartung yaitu
mereka semua pasti yaitu Yahudi: 12.000 masing-masing dari setiap 12 suku. Ken Smith
menyimpulkan lebih jauh, menunjukkan bahwa 144.000 terpilih itu ‘tidak menodai dirinya
dengan perempuan’, yang dapat diperkirakan berarti tidak ada perempuan. Tetapi begitulah yang
dapat kita harapkan.
Ada jauh lebih banyak dalam makalah Hartung yang menghibur. Saya hanya akan
merekomendasikannya sekali lagi, dan merangkumnya dengan suatu kutipan:
Alkitab yaitu cetak biru moralitas kelompok dalam, dilengkapi dengan
petunjuk untuk genosida, perbudakan kelompok luar, dan dominasi dunia.
Tetapi Alkitab tidak jahat karena tujuannya atau bahkan karena perayaannya
atas pembunuhan, kekejaman, dan pemerkosaan. Banyak karya-karya kuno
melakukan itu – Iliad, saga-saga Islandia, kisah-kisah orang Suriah kuno dan
ukiran orang Maya kuno, misalnya. Tetapi tak seorang pun menjual Iliad
sebagai dasar moralitas. Itu masalahnya. Alkitab dijual, dan dibeli, sebagai
panduan bagaimana orang harus hidup. Dan buku itu yaitu bestseller terbesar
di dunia sepanjang sejarah.
Agar pembaca tidak berpikir bahwa keekslusifan Yudaisme tradisional yaitu hal unik di
antara kepercayaan -kepercayaan lain, lihat kutipan penuh kepercayaan-diri berikut dari sebuah lagu gereja
oleh Isaac Watts (1674–1748):
pencipta , aku menganggap ini kehendakMu,
dan bukan kebetulan, seperti orang lain,
Bahwa aku lahir dari Bangsa Kristiani
Dan bukan Kafir atau Yahudi.
Apa yang membuat saya bingung mengenai lirik ini bukan keekslusifannya saja
melainkan logikanya. Karena banyak orang lain memang lahir dalam kepercayaan selain dari
Kristianitas, bagaimana pencipta memutuskan orang masa depan yang mana yang akan menerima
kelahiran terpilih seperti itu? Buat apa mengutamakan Isaac Waats dan individu-individu yang
dia bayangkan akan menyanyikan lagunya? Bagaimanapun, sebelum Isaac Waats dibuahi, apa
kodrat entitas itu yang diutamakan? Ini yaitu perairan yang mendalam, tetapi barangkali tidak
terlalu mendalam untuk pikiran yang berteologi. Lagu gereja Isaac Waats mengingatkan saya
akan tiga doa harian yang Yahudi Ortodoks dan Konservatif (tetapi bukan Reformasi) diajarkan
untuk bacakan: Diberkatilah Engkau karena tidak menjadikan aku seorang bukan-Yahudi.
Diberkatilah Engkau karena tidak menjadikan aku seorang perempuan. Diberkatilah Engkau
karena tidak menjadikan aku seorang budak.
Tidak dapat diragukan bahwa kepercayaan yaitu suatu kekuatan yang memecah-belah, dan ini
yaitu salah satu tuduhan utama terhadapnya. Tetapi sering dan dengan benar dikatakan bahwa
perang, dan perseteruan di antara kelompok atau sekte religius, sebenarnya jarang terjadi karena
pertikaian teologis. Ketika seorang paramiliter Protestan Ulster membunuh seorang Katolik, dia
tidak bergumam, ‘Matilah kau, berengsek, yang percaya transubstansiasi, memuja Maria dan
berbau dupa!’ Sangat lebih mungkin bahwa dia membalas dendam untuk seorang Protestan yang
lain yang dibunuh oleh seorang Katolik lain, dan pembalasan dendam berturut-turut itu
barangkali berkelanjutan selama bergenerasi-generasi. kepercayaan yaitu suatu label untuk
permusuhan dan pembalasan dendam kelompok dalam/kelompok luar, belum tentu lebih buruk
daripada label-label lain seperti warna kulit, bahasa, atau tim sepak bola yang disukai, tetapi
sering tersedia ketika tidak ada label lain.
Ya, Ya, tentu saja masalah-masalah di Irlandia Utara bersifat politik. Sungguh ada
penindasan politik dan ekonomi atas satu kelompok oleh yang lain, dan sejarahnya berabad-abad
lamanya. Sungguh ada keluhan dan ketidakadilan sejati, dan hal-hal ini sepertinya tidak begitu
berhubungan dengan kepercayaan ; kecuali bahwa – dan hal ini penting dan sering diabaikan – tanpa
kepercayaan tidak akan ada label yang dengannya kita memutuskan siapa yang akan ditindas, dan
untuk siapa kita akan membalas dendam. Dan masalah yang sebenarnya di Irlandia Utara yaitu ,
label-label itu diwariskan secara turun-temurun. Orang Katolik, yang orang tuanya, neneknya,
dan buyutnya belajar di sekolah Katolik, mengirim anaknya ke sekolah Katolik. Orang Protestan,
yang orang tuanya, neneknya, dan buyutnya belajar di sekolah Protestan, mengirim anaknya ke
sekolah Protestan. Dua kelompok manusia memiliki warna kulit yang sama, mereka
menggunakan bahasa yang sama, mereka menikmati hal-hal yang sama, tetapi seolah-olah
mereka anggota dua spesies yang berbeda, saking mendalamnya keretakan historis. Dan tanpa
kepercayaan , dan pendidikan yang dipisahkan secara religius, keretakan itu tidak akan ada. Suku-suku
yang berperang pasti sudah saling menikahi dan sudah lama saling melebur. Dari Kosovo ke
Palestina, dari Irak ke Sudan, dari Ulster ke sub-kontinen India, perhatikan dengan saksama
belahan dunia mana pun saat ini di mana terdapat permusuhan dan kekerasan antar-kelompok
yang tidak kunjung selesai. Saya tidak bisa menjamin bahwa Anda akan menemukan kepercayaan
sebagai label dominan untuk kelompok dalam dan kelompok luar. Tetapi taruhannya lumayan.
Di India saat pemisahan, lebih dari satu juta orang dibantai dalam kerusuhan religius di
antara para Hindu dan Muslim (dan 15 juta tergusur dari tempat asalnya). Tidak ada tanda selain
dari kepercayaan yang dapat digunakan untuk melabeli siapa yang akan dibunuh. Akhirnya, tidak ada
yang memisahkan mereka selain dari kepercayaan . Salman Rushdie terharu oleh serentetan
pembantaian religius yang lebih akhir di India, sehingga menulis sebuah artikel berjudul
‘kepercayaan , seperti selalu, yaitu racun di darah India’101 Berikut paragraf terakhir:
Ada apa yang harus dihormati dalam semua ini, atau di kejahatan apa pun yang
dilakukan hampir setiap hari di dunia atas nama angker kepercayaan ? Dengan begitu
bagus, dengan hasil yang begitu mematikan, kepercayaan membangun totem, dan kita
begitu rela membunuh untuknya! Dan ketika kita sudah cukup sering
melakukannya, kematian rasa yang disebabkan olehnya membuatnya lebih
mudah untuk diulangi.
Jadi masalah India ternyata yaitu masalah dunia. Apa yang terjadi di India
terjadi atas nama pencipta .
Nama masalahnya yaitu pencipta .
Saya tidak menyangkal bahwa kecenderungan kuat manusia untuk kesetiaan terhadap
kelompok dalam dan permusuhan terhadap kelompok luar akan ada meskipun kepercayaan tidak ada.
Pendukung tim sepak bola pesaing yaitu contoh fenomena ini pada skala kecil. Bahkan
penonton sepak bola terkadang dibagi berdasarkan kepercayaan , seperti terjadi dengan Glasgow
Rangers dan Glasgow Celtic. Bahasa (seperti di Belgia), ras, dan suku (khususnya di Afrika)
dapat menjadi token pembagian penting. Tetapi kepercayaan memperkuat dan mengompori kerusakan
melalui setidaknya tiga cara:
• Pelabelan anak-anak. Anak-anak disebut sebagai ‘anak Katolik’ atau ‘anak Protestan’
dsb. dari usia dini, dan tentunya jauh sebelum mereka mampu memutuskan untuk dirinya
sendiri apa yang mereka pikirkan mengenai kepercayaan (saya kembali ke penyalahgunaan
masa kanak-kanak di Bab 9).
• Sekolah yang terpisah secara kepercayaan . Anak-anak dididik, sekali lagi sering dari usia
sangat dini, dengan anggota-anggota suatu kelompok dalam religius dan terpisah dengan
anak-anak yang keluarganya menganut kepercayaan yang lain. Tidak berlebihan mengatakan
bahwa masalah-masalah di Irlandia Utara akan menghilang dalam waktu satu generasi
jika pendidikan terpisah ditiadakan.
• ‘Menikah di luar’ yang dianggap tabu. Ini melanjutkan permusuhan dan dendam turun-
temurun dengan mencegah pembauran di antara kelompok yang bermusuhan. Pernikahan
campur, jika dibolehkan, akan secara alami cenderung menenangkan perseteruan.
Desa Glenarm di Irlandia Utara yaitu kampung leluhur para Earl dari Antrim. Pada satu
kesempatan dalam ingatan orang hidup, Earl pada saat itu melakukan suatu yang tak
terbayangkan: dia menikahi seorang Katolik. Seketika, di rumah-rumah di seluruh Glenarm, tirai
ditutup sebagai tanda berduka. Kengerian ‘menikah di luar’ juga tersebar luas di antara para
Yahudi religius. Beberapa anak-anak Israel yang dikutip di atas menyebut bahaya berat
‘asimilasi’ pertama dalam pertahanan mereka atas Pertempuran Yerikho Yosua. Ketika orang
berbeda kepercayaan menikah, hal itu dideskripsikan dengan ketakutan dari kedua belah pihak sebagai
‘kawin campur’ dan sering ada perkelahian panjang mengenai bagaimana anak-anak akan
dibesarkan. Ketika saya kecil dan masih sedikit memercayai Gereja Anglikan, saya habis kata-
kata ketika diberi tahu peraturan bahwa ketika seorang Katolik Roma menikahi seorang
Anglikan, anak-anak selalu dibesarkan secara Katolik. Saya dengan mudah memahami kenapa
seorang imam dari masing-masing aliran akan berusaha untuk bersikeras akan syarat itu. Yang
saya tidak mampu pahami yaitu asimetrinya. Kenapa para imam Anglikan tidak membalas
dendam dengan suatu peraturan yang bertolak-belakang? Kurang bengis saja, saya kira. Kapelan
saya dulu dan ‘Bapa Kami’ Betjeman hanya terlalu ramah.
Para sosiolog telah melakukan survei-survei statistik mengenai homogami religius
(menikahi seseorang yang kepercayaan nya sama) dan heterogami (menikahi seseorang yang kepercayaan nya
berbeda). Norval D. Glenn, dari Universitas Texas di Austin, mengumpulkan beberapa kajian
semacam itu hingga 1978 dan menganalisisnya bersama.102 Dia menyimpulkan bahwa ada
kecenderungan signifikan terhadap homogami religius dalam orang junjungan kristen (Protestan menikahi
Protestan, dan Katolik menikahi Katolik, dan ini melampaui akibat dari kedekatan secara
kebetulan), tetapi mencolok secara khusus di antara orang Yahudi. Dari suatu sampel sejumlah
6.021 penjawab kuesioner yang telah menikah, 140 menyebut dirinya Yahudi dan, dari mereka,
85,7 persen menikahi orang Yahudi. Ini jauh lebih besar daripada persentase pernikahan
homogamis yang dapat diharapkan secara acak. Dan tentu saja itu bukan hal baru bagi siapa pun.
Orang Yahudi taat dibuat tidak berani ‘menikah di luar’, dan tabu itu muncul dalam lelucon-
lelucon Yahudi mengenai ibu-ibu yang memperingatkan anak lelakinya mengenai gadis bukan-
Yahudi pirang yang ingin menjebaknya. Berikut ada tiga pernyataan tipikal dari tiga rabi
Amerika:
• ‘Saya menolak untuk memberkati pernikahan lintas kepercayaan .
• ‘Saya memberkati pernikahan ketika pasangan menyatakan niatnya untuk membesarkan
anaknya sebagai Yahudi.’
• Saya memberkati pernikahan jika pasangan setuju untuk konseling pra-nikah.’
Rabi-rabi yang rela memberkati bersama dengan seorang imam junjungan kristen cukup langka, dan sangat
dicari.
Bahkan jika kepercayaan sendiri tidak menyebabkan keburukan lain, kecenderungannya untuk
memecah belah yang ceroboh dan dipelihara dengan teliti – pembujukan sengaja dan
direncanakan atas kecenderungan alami manusia untuk mengutamakan kelompok dalam dan
menolak kelompok luar – akan cukup untuk menjadikannya suatu kekuatan kejahatan signifikan
di dunia.
ZEITGEIST MORAL
Bab ini mulai dengan menunjukkan bahwa kita tidak – bahkan orang-orang religius –
mendasari moralitas kita pada kitab-kitab suci, bagaimanapun kita suka membayangkannya.
Lalu, bagaimana kita memutuskan apa yang benar dan apa yang salah? Bagaimanapun kita
menjawab pertanyaan itu, ada suatu konsensus mengenai apa yang sebenarnya kita anggap benar
dan salah: suatu konsensus yang secara mengejutkan berlaku hampir di mana pun. Konsensus itu
tidak berkaitan secara jelas dengan kepercayaan . Namun, konsensusnya meliputi kebanyakan orang
religius, apakah mereka mengira moralnya berasal dari kitab suci atau tidak. Dengan beberapa
pengecualian yang harus dicatat seperti Taliban di Afganistan dan versi Kristianinya di Amerika,
kebanyakan orang mengakui konsensus luas liberal yang sama mengenai prinsip-prinsip etis.
Mayoritas dari kita tidak menyebabkan penderitaan yang tidak perlu; kita percaya pada
kebebasan berbicara dan melindunginya meskipun kita tidak setuju dengan apa yang dikatakan;
kita bayar pajak; kita tidak curang, tidak membunuh, tidak melakukan inses, tidak melakukan hal
kepada orang lain yang kita tidak ingin orang lain lakukan kepada kita. Beberapa prinsip baik ini
dapat ditemukan di kitab-kitab suci, tetapi dikubur bersama dengan banyak yang lain yang tak
seorang pun yang baik hati ingin ikuti: dan kitab-kitab suci tidak menyediakan peraturan apa pun
untuk membedakan prinsip-prinsip baik dari yang buruk.
Satu cara untuk mengucapkanmengekspresikan etika konsensual kita yaitu sebagai
suatu ‘Sepuluh Perintah Baru’. Berbagai individu dan lembaga telah berusaha membuatnya. Apa
yang signifikan yaitu mereka cenderung membuat hasil yang agak serupa satu sama lain, dan
apa yang mereka hasilkan bersifat khas bagi zaman di mana kebetulan mereka hidup. Berikut ada
satu perangkat ‘Sepuluh Perintah Baru’ dari saat ini, yang kebetulan saya temukan di suatu situs
web ateis.103
• Jangan lakukan kepada orang lain apa yang kau tidak ingin dilakukan kepadamu.
• Dalam segala hal, berusahalah untuk tidak menyakiti.
• Perlakukan sesama manusia, sesama makhluk hidup, dan dunia pada umumnya dengan
kasih, kejujuran, kesetiaan dan penghormatan.
• Jangan abaikan kejahatan atau enggan melaksanakan keadilan, tetapi selalu bersiap untuk
mengampuni kesalahan yang diakui dengan bebas dan disesali dengan jujur.
• Hiduplah dengan suatu rasa akan kegembiraan dan kekaguman.
• Selalu berusaha belajar hal baru.
• Uji segala hal; selalu bandingkan ide-idemu dengan fakta, dan bersiaplah untuk
membuang bahkan suatu kepercayaan yang disayangi jika tidak sesuai dengan fakta.
• Jangan pernah mencoba menyensor atau membentengi dirimu dari hal yang tidak kau
setujui; selalu hormati hak orang lain untuk tidak setuju denganmu.
• Bentuk pendapat mandiri atas dasar akal budi dan pengalamanmu sendiri; jangan biarkan
dirimu dipimpin secara buta oleh orang lain.
• Pertanyakan segala hal.
Kumpulan kecil ini bukan karya seorang bijaksana besar atau nabi atau etikawan
profesional. Hanya usaha menawan dari seorang penulis blog biasa untuk merangkum prinsip-
prinsip kehidupan yang baik saat ini, untuk perbandingan dengan Sepuluh Perintah dalam
Alkitab. Itu yang pertama yang saya temukan ketika saya mengetik ‘New Ten Commandments’
dalam mesin pencarian, dan saya dengan sengaja tidak mencari lebih lanjut. Poin saya yaitu
daftar ini sejenis dengan yang akan dibuat oleh siapa pun yang baik biasa dan berbaik hati saat
ini. Tidak semua orang akan memilih daftar sepuluh perintah yang persis sama. Filsuf John
Rawls mungkin akan memasukkan suatu seperti yang berikut: ‘Selalu buat peraturanmu seolah-
olah kau tidak tahu apakah kau akan berada di atas atau di bawah hierarki. Konon ada sistem
Inuit untuk pembagian makanan yang merupakan suatu contoh praktis atas prinsip Rawls:
individu yang memotong makanan mendapat pilihan terakhir.
Dalam Sepuluh Perintah versi saya sendiri, saya akan memilih beberapa dari yang di atas,
tetapi saya juga akan berusaha untuk mencari ruang untuk, di antara lain:
• Nikmati kehidupan seksmu sendiri (asalkan tidak menyakiti orang lain) dan biarkan
orang lain menikmati kehidupan seks mereka, apa pun kecenderungannya, yang bukan
urusanmu.
• Jangan mendiskriminasi atau menindas atas dasar seks, ras atau (sejauh mungkin)
spesies.
• Jangan indoktrinasi anak-anakmu. Ajarkan mereka untuk berpikir sendiri, untuk
mengevaluasi bukti, dan untuk tidak setuju denganmu.
• Hargai masa depan pada skala waktu lebih panjang daripada skala waktumu sendiri.
Tetapi perbedaan prioritas kecil ini tidak begitu penting. Poin saya yaitu hampir semua
kita sudah maju, dan maju jauh, sejak zaman Alkitab. Perbudakan, yang diterima begitu saja
dalam Alkitab dan sepanjang sebagian besar sejarah, ditiadakan di negara-negara beradab pada
abad ke-19. Semua bangsa beradab kini menerima apa yang disangkal secara umum hingga
1920-an, yakni bahwa suara perempuan, dalam pemilu atau juri, yaitu setara dengan laki-laki.
Di masyarakat-masyarakat tercerahkan saat ini (suatu kategori yang dengan tegas tidak
memasukkan, misalnya, Arab Saudi), perempuan sudah tidak dianggap sebagai harta,
sebagaimana jelas mereka dianggap di zaman Alkitab. Sistem legal modern apa pun akan
menggugat Abraham untuk pelecehan anak. Dan seandainya dia sebenarnya melaksanakan
rencananya untuk mengurbankan Ishak, kita akan menyatakannya bersalah untuk pembunuhan
yang direncanakan. Namun, menurut kebiasaan zamannya, perilakunya sepenuhnya layak dipuji,
karena dia mematuhi perintah pencipta . Religius atau tidak, sikap kita mengenai apa yang benar
dan apa yang salah telah berubah secara amat besar. Apa kodrat perubahan ini, dan apa yang
mendorongnya?
Dalam masyarakat apa pun ada suatu konsensus yang agak misterius, yang berubah
selama berdekade-dekade, dan untuknya tidak berlebihan untuk menggunakan istilah bahasa
Jerman Zeitgeist (semangat zaman). Tadi saya berkata bahwa hak suara perempuan kini sudah
universal di demokrasi-demokrasi dunia, tetapi reformasi ini sebenarnya sangat dan secara
mengherankan baru. Berikut ada beberapa tanggal ketika perempuan diberi hak suara:
Selandia Baru 1893
Australia 1902
Finlandia 1906
Norwegia 1913
Amerika Serikat 1920
Britania 1928
Prancis 1945
Belgia 1946
Swiss 1971
Kuwait 2006
Rentang tanggal sepanjang abad ke-20 ini yaitu tolok ukur pergeseran Zeitgeist. Suatu
tolok ukur yang lain yaitu sikap kita terhadap ras. Di bagian awal abad ke-20, hampir semua
orang di Britania (dan banyak negara lain juga) akan dinilai rasis berdasarkan tolok ukur saat ini.
Kebanyakan orang berkulit putih percaya bahwa orang berkulit hitam (dan dalam kategori itu
mereka mengelompokkan orang Afrika yang sangat beraneka ragam dengan kelompok tidak
terkait dari India, Australia, dan Melanesia) yaitu inferior dibandingkan dengan orang berkulit
putih kecuali – secara menghina – rasa akan irama. Tokoh 1920-an yang setara dengan James
Bond yaitu pahlawan masa kanak-kanak yang ceria dan riang, Bulldog Drummond. Dalam satu
novel, The Black Gang, Drummond menyebut ‘Yahudi, orang asing, dan orang kotor yang lain’.
Dalam adegan klimaks The Female of the Species, Drummond dengan cerdik menyamar sebagai
Pedro, pelayan hitam penjahat utama. Untuk penyingkapan dramatisnya, kepada pembaca serta
penjahatnya, bahwa ‘Pedro’ sebenarnya yaitu Drummond sendiri, dia bisa saja berkata: ‘Kau
mengira aku Pedro. Kau belum menyadari, aku musuh utamamu Drummond, dihitamkan.’ Dia
malah memilih kata-kata ini: ‘Setiap jenggot itu tidak palsu, tetapi setiap nigger bau. Jenggot itu
tidak palsu, Sayang, dan nigger ini tidak bau. Jadi aku mengira ada yang tidak beres.’ Saya
membaca novel itu pada 1950-an, tiga dekade setelah ditulis, dan pada saat itu seorang anak
masih bisa menikmati dramanya dan tidak menyadari akan rasismenya. Dewasa ini, hal itu tidak
dapat dibayangkan.
Thomas Henry Huxley, menurut tolok ukurnya sendiri, yaitu seorang progresif yang
liberal dan tercerahkan. Tetapi zamannya bukan zaman kita, dan pada 1871 dia menulis yang
berikut:
Tak seorang pun yang rasional dan mengetahui fakta-fakta percaya bahwa orang
negro rata-rata setara dengan, apalagi lebih unggul daripada, orang berkulit
putih. Dan jika ini benar, sulit dipercaya bahwa, ketika semua cacatnya dihapus,
dan saudara kita yang bermulut tonggos berada di lapangan yang adil dan tidak
berpihak, dan tidak juga ditindas, dia akan mampu berkompetisi secara sukses
dengan pesaingnya yang otaknya lebih besar dan rahangnya lebih kecil, dalam
suatu kompetisi yang dijalankan dengan pemikiran dan bukan gigitan. Tempat
tertinggi di hierarki peradaban pasti tidak akan terjangkau oleh sepupu gelap
kita.104
Suatu kebiasaan bagi sejarawan yang baik yaitu , jangan menilai pernyataan dari zaman
lampau menurut tolok ukur zaman kita. Abraham Lincoln, seperti Huxley, melampaui zamannya,
namun pandangannya mengenai ras juga terdengar rasis dan terbelakang bagi kita. Berikut,
kutipan dia dalam suatu debat pada 1858 dengan Stephen A. Douglas:
Lalu saya akan berkata bahwa saya tidak, dan juga tidak pernah, mendukung
pelaksanaan dalam bentuk apa pun kesetaraan sosial dan politik di antara ras
putih dan ras hitam, bahwa saya tidak, dan juga tidak pernah, memberi orang
negro hak suara atau hak duduk di juri, atau membolehkan mereka memegang
jabatan, atau untuk menikahi orang putih, dan saya akan berkata, sebagai
tambahan, bahwa ada perbedaan fisik di antara ras putih dengan ras hitam yang
saya percaya akan selamanya melarang kedua ras itu hidup bersama dalam
kesetaraan sosial dan politik. Dan sejauh mereka tidak bisa hidup seperti itu,
sementara mereka tetap bersama harus ada posisi superior dan inferior, dan
saya, sama seperti semua orang lain, mendukung posisi superior itu ditetapkan
bagi ras putih.105
Seandainya Huxley dan Lincoln lahir dan terdidik di zaman kita, mereka akan malu
bersama kita ketika melihat sikap era Victoria mereka dan nada suara yang berminyak. Saya
mengutipnya hanya untuk menunjukkan bagaimana Zeitgeist mengalami kemajuan. Jika bahkan
Huxley, salah satu pemikir liberal besar pada zamannya, dan bahkan Lincoln, yang
membebaskan para budak, dapat berkata demikian, bayangkan saja apa yang pasti dipikirkan
oleh orang era Victoria biasa. Kembali ke abad ke-18, tentu saja sudah diketahui dengan baik
bahwa Washington, Jefferson, dan tokoh-tokoh Pencerahan lain memiliki budak. Zeitgeist tetap
maju, dengan begitu pasti sehingga kita terkadang mengandaikannya begitu saja dan lupa bahwa
perubahan itu yaitu suatu fenomena nyata pada dirinya sendiri.
Ada banyak contoh yang lain. Ketika pelaut pertama kali mendarat di Mauritius dan
melihat burung dodo yang lemah lembut, mereka hanya bisa berpikir untuk mementungnya
hingga mati. Mereka pun tidak ingin memakannya (burung itu dideskripsikan sebagai tidak
enak). Dapat diperkirakan bahwa memukul kepala burung yang tidak bisa terbang, jinak, dan
tidak mampu mempertahankan dirinya merupakan hiburan saja. Zaman sekarang perilaku seperti
itu sulit dibayangkan, dan pemunahan spesies setara di zaman modern dengan dodo, meskipun
tidak sengaja, apalagi melalui pembunuhan sengaja oleh manusia, dianggap sebagai tragedi.
Persis tragedi itu, menurut tolok ukur iklim kebudayaan saat ini, yaitu pemunahan lebih
baru Thylacinus, harimau Tasmania. Kepala makhluk ini, yang sudah menjadi ikon ratapan,
dapat dijual hingga 1909. Di novel-novel era Victoria mengenai Afrika, ‘gajah’, ‘singa’, dan
‘antelop’ yaitu ‘hewan buruan’ yang layak ditembak tanpa berpikir dua kali. Tidak untuk
dimakan. Tidak untuk pertahanan diri. Untuk ‘rekreasi’. Tetapi kini Zeitgeist sudah berubah.
Harus diakui bahwa ‘pemburu’ kaya dan sulit berjalan dapat menembak hewan Afrika liar dari
tempat aman di dalam mobil Land Rover dan membawa kepalanya pulang. Tetapi mereka harus
membayar sangat mahal untuk melakukannya, dan secara umum dibenci karenanya. Konservasi
satwa dan konservasi lingkungan telah menjadi nilai yang diterima dengan status moral yang
sama yang dulu diberi kepada penjagaan sabat dan penolakan berhala.
Dekade 1960-an dikenal legendaris untuk modernitas liberalnya. Tetapi pada awal
dekade itu, seorang jaksa penuntut, dalam pengadilan pencabulan Lady Chatterley’s Lover,
masih bisa menanyai juri: ‘Apakah Anda akan menyetujui anak lelaki muda, anak perempuan
muda – karena perempuan dapat membaca dengan sama baiknya dengan lelaki [apakah Anda
percaya dia mengatakan itu?] – membaca buku ini? Apakah ini sebuah buku yang Anda ingin
berada di rumah Anda? Apakah ini sebuah buku yang Anda pernah akan ingin istri Anda atau
pembantu Anda baca? Pertanyaan retoris terakhir itu merupakan suatu ilustrasi yang sangat
memukau mengenai kecepatan perubahan Zeitgeist.
Penyerbuan Irak oleh Amerika dikecam secara luas karena kematian warga sipil, namun
jumlah kematian jauh lebih kecil daripada yang terjadi di Perang Dunia Kedua. Sepertinya ada
tolok ukur yang berubah dengan pelan tetapi pasti mengenai apa yang dapat diterima secara
moral. Donald Rumsfeld, yang terdengar begitu kasar dan buruk saat ini, akan terdengar seperti
seorang liberal jika dia mengatakan hal yang sama saat Perang Dunia Kedua. Ada yang berubah
selama dekade-dekade di antara kedua perang itu. Hal itu telah berubah dalam diri kita semua,
dan perubahan itu tidak terkait kepercayaan . Sebaliknya, perubahan itu terjadi terlepas dari kepercayaan ,
bukan karenanya.
Perubahan itu terarah secara konsisten yang dapat dikenali, dan akan dinilai oleh
kebanyakan dari kita sebagai pembaikan. Bahkan Adolf Hitler, dianggap secara umum sebagai
memperluas batas kejahatan hingga wilayah yang belum dipetakan, tidak akan menonjol pada
zaman Caligula atau Jenghis Khan. Hitler tentu saja membunuh lebih banyak orang daripada
Jenghis, tetapi dia mampu memanfaatkan teknologi abad ke-20. Dan apakah Hitler mendapat
kenikmatan-nya yang terbesar, sebagaimana konon terjadi dengan Jenghis, dari melihat ‘keluarga
[korban]nya berlumuran air mata’? Kita menilai tingkat kejahatan Hitler menurut tolok ukur saat
ini, dan Zeitgeist moral telah maju sejak zaman Caligula, sama seperti teknologi sudah maju.
Hitler terkesan jahat secara khusus hanya berdasarkan tolok ukur zaman kita yang lebih ramah.
Dalam hidup saya, sejumlah besar orang dengan enteng menggunakan julukan yang
menghina dan stereotipe nasional: Frog, Wop, Dago, Hun, Yid, Coon, Nip, Wog. Saya tidak akan
mengklaim bahwa kata seperti itu sudah menghilang, tetapi kini bahasa seperti itu secara umum
tidak boleh digunakan di lingkaran sopan-santun. Istilah negro, meskipun tidak dimaksudkan
untuk menghina, dapat digunakan untuk mengetahui kapan suatu tulisan berbahasa Inggris
ditulis. Prasangka memang merupakan pengungkapan akan kapan suatu tulisan ditulis. Pada
zamannya sendiri, seorang Teolog Cambridge terhormat, A.C. Bouquet, mampu membuka bab
mengenai Islam dalam bukunya Comparative Religion dengan kata-kata berikut: ‘Orang semit
bukan monoteis alami, sebagaimana diandaikan di sekitar tengah abad ke-19. Dia yaitu animis.’
Obsesi dengan ras (daripada kebudayaan) dan penggunaan bentuk tunggal (‘The Semite ... He is
an animist’) untuk mereduksi seluruh pluralitas bangsa menjadi satu ‘tipe’ tidak jahat amat
menurut tolok ukur apa pun. Tetapi itu yaitu salah satu penunjuk lagi kepada Zeitgeist yang
sedang berubah. Tak seorang profesor teologi Cambridge pun, atau profesor jurusan apa pun,
akan menggunakan kata-kata itu saat ini. Petunjuk halus itu mengenai kebiasaan yang berubah
memberi tahu kita bahwa Bouquet menulis paling akhir pada tengah abad ke-20. Pada kenyataan,
1941.
Mundur empat dekade lagi, dan tolok ukur yang berubah tidak dapat diragukan lagi.
Dalam sebuah buku saya yang lain, saya mengutip karya utopian H.G. Wells, New Republic, dan
saya akan mengutipnya lagi karena itu merupakan suatu ilustrasi mengejutkan atas poin saya.
Dan bagaimana akan Republik Baru memperlakukan ras-ras inferior?
Bagaimana akan yang hitam diperlakukan?...orang
kuning?...Yahudi?...kerumunan orang hitam, cokelat, putih kotor, dan kuning,
yang tidak masuk ke dalam kebupencipta baru untuk efisiensi? Dunia yaitu dunia,
bukan yayasan amal, dan saya kira mereka akan harus pergi...Dan sistem etis
orang Republik Baru ini, sistem etis yang akan mendominasi negara dunia, akan
terutama dibentuk untuk mengutamakan prokreasi atas apa yang luhur dan
efisi

