delusi tuhan 12

Tampilkan postingan dengan label delusi tuhan 12. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label delusi tuhan 12. Tampilkan semua postingan

delusi tuhan 12



 tetapi itu bukan jenis buku yang seharusnya diberikan kepada 

anak-anak untuk membentuk moral mereka. Kebetulan, kisah Yosua di Yerikho yaitu  subjek 

dari suatu eksperimen menarik mengenai moralitas anak-anak, yang akan dibahas nanti di bab 

ini. 

  Jangan berpikir juga bahwa tokoh pencipta  dalam cerita itu sedikit pun ragu atau khawatir 

mengenai pembantaian dan genosida yang menyertai perebutan Tanah yang Dijanjikan. 

Sebaliknya, perintahnya, misalnya dalam Ulangan 20, kejam dan eksplisit. Dia membedakan 

secara jelas di antara orang yang hidup di tanah yang dibutuhkan, dan mereka yang hidup jauh 

dari situ. Yang hidup jauh harus diajak menyerah dengan damai. Jika mereka menolak, semua 

lelaki harus dibunuh dan para perempuan diambil untuk berkembang biak. Berbeda dengan 

perlakuan yang relatif manusiawi ini, lihat apa yang menunggu suku-suku malang itu yang sudah 

berdiam di Lebensraum yang dijanjikan: ‘Tetapi dari kota-kota  bangsa-bangsa itu yang 

diberikan pencipta , Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, janganlah kaubiarkan hidup apa 

pun yang bernafas, melainkan kautumpas sama sekali, yakni orang Het, orang Amori, orang 

Kanaan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh 

pencipta , Allahmu’. 

  Apakah orang-orang ini yang menjunjung Alkitab sebagai inspirasi untuk kebaikan moral 

mengetahui sedikit saja apa yang sebenarnya ditulis di dalamnya? Pelanggaran berikut layak 

dihukum mati, menurut Imamat 20: mengutuki orang tua; berzinah; tidur dengan ibu tiri atau 

anak menantu; homoseksualitas; menikahi seorang perempuan dan putrinya; bestialitas (dan, 

yang membuatnya lebih buruk lagi, binatang yang malang itu juga harus dibunuh). Anda juga 

akan dihukum mati, tentu saja, jika bekerja pada hari sabat: poin itu disampaikan berkali-kali 

dalam Perjanjian Lama. Dalam Bilangan 15, anak-anak Israel menemukan orang di padang 

gurun sedang mengumpulkan kayu pada hari terlarang. Mereka menahannya lalu bertanya 

kepada pencipta  apa yang harus dilakukan dengannya. Ternyata pencipta  tidak ingin setengah-

setengah hari itu. ‘Lalu berfirmanlah pencipta  kepada Musa: “Orang itu pastilah dihukum mati; 

segenap umat Israel harus melontari dia dengan batu di luar tempat perkemahan.” Lalu segenap 

umat menggiring dia ke luar tempat perkemahan, kemudian dia dilontari dengan batu, sehingga 

ia mati’. Apakah pengumpul kayu bakar tidak berbahaya itu mempunyai istri dan anak yang 

berkabung untuknya? Apakah dia merengek ketakutan saat batu-batu pertama dilempar, dan 

menjerit kesakitan ketika lemparan pertama menghantam kepalanya? Yang paling mengejutkan 

bagi saya saat ini mengenai kisah-kisah seperti itu bukan bahwa itu sebenarnya terjadi. Besar 

kemungkinan tidak. Yang membuat saya melongo yaitu  orang saat ini yang mendasarkan 

hidupnya pada panutan yang begitu mengerikan seperti Yahweh – dan, lebih buruk lagi, mereka 

mencoba untuk memaksakan monster jahat yang sama (apakah fakta atau fiksi) kepada kita-kita 

yang lain. 

  Kekuasaan politik para penjunjung loh Sepuluh Perintah di Amerika secara khusus 

disayangkan dalam republik besar itu yang konstitusinya dibuat oleh orang-orang Pencerahan 

dalam bahasa yang secara eksplisit sekuler. Jika kita menganggap Sepuluh Perintah serius, kita 

mengelompokkan pemujaan pencipta -pencipta  yang salah, dan pembuatan patung, sebagai pertama 

dan kedua di antara dosa-dosa lain. Daripada mengecam vandalisme tak terkatakan Taliban, yang 

meledakkan Patung Buddha Bamiyan yang tingginya 50 meter di pegunungan Afganistan, kita 

akan memujinya untuk kesalehannya. Apa yang kita anggap sebagai vandalismenya pasti 

termotivasi oleh semangat religius yang tulus. Hal ini ditunjukkan dengan jelas oleh suatu cerita 

yang sungguh aneh, yang menjadi kepala berita utama di Independent 6 Agustus 2005. Di bawah 

kepala berita halaman pertama, ‘Penghancuran Mekkah’, Independent melaporkan: 

   

Kota Mekkah yang historis, kota kelahiran Islam, sedang dikubur dalam suatu 

penyerbuan oleh orang fanatik religius yang belum pernah disaksikan 

sebelumnya. Hampir seantero sejarah kaya dan berlapis kota suci ini sudah 

lenyap ...  Kini tempat lahir Nabi Muhammad menghadapi alat berat, dengan 

komplotan para ulama Saudi, yang interpretasi garis kerasnya mengenai Islam 

mendorongnya untuk menghapus warisannya sendiri ... Motivasi di belakang 

penghancuran yaitu  ketakutan fanatik para Wahabi bahwa tempat yang 

menarik secara historis atau religius dapat menimbulkan pemujaan berhala atau 

politeisme, yakni, pemujaan banyak pencipta  yang mungkin saja setara 

kedudukannya. Praktik pemujaan berhala di Arab Saudi masih, secara prinsip, 

dapat dihukum dengan pemenggalan kepala.* 

 

  Saya tidak percaya bahwa ada ateis apa pun di dunia ini yang akan meratakan Mekkah – 

atau Chartres, York Minster atau Notre Dame, Shwedagon, kuil-kuil Kyoto, atau, tentu saja, para 

Budha Bamiyan.  Sebagaimana dikatakan oleh fisikawan Amerika pemenang penghargaan Nobel 

Steven Weinberg, ‘kepercayaan  yaitu  suatu penghinaan terhadap martabat manusia. Dengannya atau 

tanpanya, akan ada orang baik yang berbuat baik dan orang jahat yang berbuat jahat. Tetapi 

untuk orang baik yang berbuat jahat, harus ada kepercayaan .’ Blaise Pascal (yang membuat taruhan) 

mengatakan hal yang serupa: ‘Manusia tidak pernah berbuat jahat dengan begitu menyeluruh dan 

                                                 

* ‘We all fund this torrent of Saudi bigotry’ oleh Johann Hari yaitu  suatu laporan investigatif mengenai pengaruh 

bahaya Wahabisme Saudi di Britania saat ini. Pertama kali diterbitkan dalam Independent pada 8 Februari, 2007, 

artikelnya direproduksi di berbagai situs web termasuk http://richarddawkins.net. 

semangat seperti saat mereka melakukannya karena keyakinan religius. 

  Tujuan utama saya di sini bukan menunjukkan bahwa kita seharusnya tidak mendapat 

moral-moral kita dari kitab suci (meskipun itu pendapat saya). Tujuan saya di sini yaitu  

mendemonstrasikan bahwa kita (dan itu termasuk kebanyakan orang religius) pada kenyataan 

tidak mendapat moral-moral kita dari kitab suci. Seandainya tidak seperti itu, kita akan 

menjalankan sabat dengan ketat dan menganggap hukuman mati bagi siapa pun yang tidak 

melakukan itu sebagai hal yang adil dan layak. Kita akan melempari dengan batu hingga mati 

istri baru siapa pun yang tidak bisa membuktikan bahwa dia perawan, jika suaminya menyatakan 

dirinya tidak puas dengannya. Kita akan menghukum mati anak-anak nakal. Kita akan...tetapi 

tunggu. Barangkali saya yang kurang adil. Orang junjungan kristen  yang baik hati pasti sudah memprotes 

sepanjang seksi ini: semua orang tahu bahwa Perjanjian Lama tidak begitu menyenangkan. 

Perjanjian Baru junjungan kristen   memperbaiki kerusakannya dan meluruskan semuanya. Bukan? 

 

APAKAH PERJANJIAN BARU LEBIH BAIK? 

 

  Sebenarnya, tak terbantahkan bahwa, dari sudut pandang moral, junjungan kristen   merupakan 

peningkatan besar sekali di atas monster kejam Perjanjian Lama. Memang junjungan kristen  , jika dia pernah 

hidup (atau siapa pun yang menulis naskahnya jika tidak) tentu saja yaitu  salah satu inovator 

etis besar sepanjang sejarah. Khotbah di atas Bukit melampaui zamannya. ‘Berilah pipimu yang 

lain juga’nya mengantisipasi Gandhi dan Martin Luther King dua ribu tahun sebelum kedua 

tokoh itu hidup. Dengan alasan yang baik saya menulis sebuah artikel berjudul ‘Para Ateis 

Mendukung junjungan kristen  ’ (dan kemudian senang sekali diberikan kaos dengan semboyan itu).94 

  Tetapi keunggulan moral junjungan kristen   justru membuktikan poin saya. junjungan kristen   tidak sekadar 

menyarikan etikanya dari kitab-kitab yang menurutnya dia dibesarkan. Dia secara eksplisit 

menyimpang darinya, misalnya ketika dia meremehkan peringatan berat mengenai pekerjaan di 

hari sabat. ‘Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat’ telah 

menjadi amsal umum. Karena tesis utama bab ini yaitu  kita tidak, dan seharusnya tidak, 

menyarikan moral kita dari kitab suci, junjungan kristen   harus dihormati sebagai teladan tesis itu sendiri. 

  Nilai-nilai kekeluargaan junjungan kristen  , harus diakui, mungkin kurang layak mendapat perhatian 

kita. Dia singkat, hingga kasar, dengan ibunya sendiri, dan dia menyuruh rasulnya meninggalkan 

keluarganya dan mengikuti dia. ‘Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci 

bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan 

nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.’ Pelawak Amerika Julia Sweeney 

mengucapkan kebingungannya dalam pementasan solonya, Letting Go of God:95 ‘Bukankah itu 

modus kultus? Membuatmu menolak keluargamu agar kau bisa terindoktrinasi?’96 

  Terlepas dari nilai-nilai kekeluargaannya yang agak sulit diandalkan, ajaran-ajaran etis 

junjungan kristen   – setidaknya dibandingkan dengan daerah bencana etis itu, Perjanjian Lama – layak 

dipuji; tetapi ada ajaran-ajaran lain dalam Perjanjian Baru yang seharusnya tidak didukung oleh 

orang baik siapa pun. Saya merujuk secara khusus doktrin utama Kristianitas: ‘penebusan’ untuk 

‘dosa asal’. Ajaran ini, yang berada di inti teologi Perjanjian Baru, hampir sama 

menjengkelkannya secara moral dengan kisah Abraham yang berusaha memanggang Ishak, yang 

mirip dengannya – dan itu sengaja, sebagaimana dijelaskan oleh Geza Vermes dalam The 

Changing Faces of Jesus. Dosa asal sendiri berasal langsung dari mitos Perjanjian Lama 

mengenai Adam dan Hawa. Dosa mereka – memakan buah dari pohon terlarang – terkesan 

cukup enteng, sehingga mereka hanya layak ditegur saja. Tetapi kodrat simbolik buahnya 

(pengetahuan mengenai baik dan jahat, yang secara praktis ternyata yaitu  pengetahuan bahwa 

mereka telanjang) cukup untuk menjadikan petualangan gaya kancil mereka menjadi asal-usul 

segala dosa.* Mereka dan keturunannya diusir selamanya dari Taman Eden, pemberian 

kehidupan abadi dicabut, dan mereka terkutuk untuk pekerjaan menyakitkan selama bergenerasi-

generasi, di ladang dan saat melahirkan. 

  Sejauh ini, sudah lazim mendendam untuk Perjanjian Lama. Teologi Perjanjian baru 

menambah suatu ketidakadilan baru, disempurnakan dengan suatu sadomasokisme baru yang 

kekejamannya hampir tidak dilampaui oleh Perjanjian Lama pun. Ketika dipikir-pikir, cukup 

menakjubkan bahwa suatu kepercayaan  akan mengadopsi sebuah alat siksaan dan hukuman mati 

sebagai simbol sakralnya, sering dipakai sebagai kalung. Lenny Bruce dengan benar 

berkomentar bahwa ‘Jika junjungan kristen   dibunuh 20 tahun yang lalu, murid-murid sekolah Katolik akan 

memakai kursi listrik kecil di lehernya, bukan salib.’ Tetapi teologi dan teori hukuman di 

belakangnya lebih buruk lagi. Dosa Adam dan Hawa dianggap menurun melalui garis keturunan 

lelaki – ditransmisi melalui air mani, menurut Agustinus. Filsafat etis macam apa yang 

menghukum setiap anak, bahkan sebelum ia lahir, untuk mewarisi dosanya seorang leluhur jauh? 

Agustinus, sebagai tambahan, yang secara layak menganggap dirinya suatu otoritas mengenai 

dosa, bertanggung jawab untuk penciptaan frasa ‘dosa asal’. Sebelum dia konsepnya dikenal 

sebagai ‘dosa keturunan’. Pernyataan dan debat Agustinus merupakan teladan, bagi saya, atas 

obsesi tidak sehat para teolog Kristiani awal dengan dosa. Mereka bisa saja mengisi halaman-

halaman khotbahnya dengan pujian atas langit tepercik dengan bintang, atau gunung dan hutan 

hijau, lautan dan paduan suara fajar. Hal-hal itu sesekali disebut, tetapi fokus Kristiani secara 

besar yaitu  dosa dosa dosa dosa dosa dosa. Suatu obsesi jahat, seandainya mendominasi hidup 

seseorang. Sam Harris menulis dengan pedas sekali dalam Letter to a Christian Nation: ‘Urusan 

utamamu sepertinya yaitu  bahwa Pencipta alam semesta akan tersinggung karena suatu yang 

manusia lakukan saat telanjang. Ketakutan seksualmu berkontribusi setiap hari kepada surplus 

kesengsaraan manusia.’ 

  Tetapi sekarang, sadomasokismenya. pencipta  berinkarnasi sebagai manusia, junjungan kristen  , supaya 

dia disiksa dan dihukum mati sebagai penebusan untuk dosa turun-temurun Adam. Sejak Paulus 

pertama kali mengeluarkan doktrin jijik ini, junjungan kristen   dipuja sebagai penebus semua dosa kita. 

Tidak hanya dosa lampau Adam: dosa-dosa masa depan juga, apakah orang di masa depan 

memutuskan untuk melakukannya atau tidak! 

  Sebagai satu tambahan lagi, banyak orang telah berpikir, termasuk Robert Graves dalam 

novel epiknya King Jesus, bahwa Yudas Iskariot yang malang diperlakukan secara tidak adil 

oleh sejarah, karena ‘pengkhianatan’nya yaitu  bagian niscaya dari rencana kosmik. Hal yang 

sama dapat dikatakan mengenai mereka yang dianggap sebagai pembunuh junjungan kristen  . Jika junjungan kristen   

ingin dikhianati lalu dibunuh, supaya dia bisa menebus kita semua, bukankah agak tidak adil 

bagi mereka yang menganggap dirinya ditebus untuk menyalahkan Yudas dan para Yahudi 

sepanjang sejarah? Saya sudah menyebut daftar panjang injil-injil yang tidak masuk ke dalam 

kanon. Suatu naskah yang mengklaim dirinya sebagai Injil Yudas yang hilang baru saja 

diterjemahkan dan karena itu menerima publisitas.97 Keadaan penemuannya masih diperdebat, 

tetapi sepertinya naskah itu muncul di Mesir di sekitar 1970-an atau 60-an. Naskahnya ditulis 

dengan aksara Koptik pada 62 halaman papirus, dan menurut penanggalan radiokarbon ditulis di 

sekitar 300 M tetapi besar kemungkinan berdasarkan suatu naskah Yunani yang lebih awal. 

Siapa pun penulisnya, injilnya ditulis dari sudut pandang Yudas Iskariot dan menyampaikan 

bahwa Yudas mengkhianati junjungan kristen   hanya karena junjungan kristen   memintanya untuk memainkan peran itu. 

                                                 

*        

Itu semua sebagian dari rencana untuk membuat junjungan kristen   disalibkan supaya dia dapat menebus 

umat manusia. Betapa pun menjengkelkannya doktrin itu, sepertinya menjadi lebih tidak 

menyenangkan lagi karena Yudas dibenci sejak saat itu.* 

  Saya telah mendeskripsikan penebusan, doktrin inti Kristianitas, sebagai kejam, 

sadomasokis, dan menjijikkan. Kita seharusnya juga menolaknya sebagai gila saja, tetapi 

konsepnya sudah terlalu akrab, sehingga objektivitas kita mengenainya sudah tidak tajam 

sebagaimana selayaknya. Jika pencipta  ingin mengampuni dosa kita, kenapa tidak mengampuninya 

saja, tanpa membuat dirinya disiksa dan dihukum mati sebagai bayaran – dan kebetulan, 

menghukum generasi Yahudi jauh di masa depan untuk mengalami pogrom-pogrom dan 

persekusi sebagai ‘pembunuh Kristus’: apakah dosa turun-temurun itu juga menurun dalam air 

mani? 

  Paulus, sebagaimana dijelaskan oleh sarjana Yahudi Geza Vermes, sangat menghayati 

prinsip teologis Yahudi lama bahwa tanpa darah, tidak ada penebusan.98 Penulis Surat kepada 

Orang Ibrani (9: 22) berkata demikian. Ahli etika progresif saat ini agak susah mempertahankan 

teori hukuman retributif jenis apa pun, apalagi teori kambing hitam – menghukum mati orang 

atau hewan yang tidak bersalah untuk melunasi dosa orang yang bersalah. Bagaimanapun (saya 

tidak bisa tidak bertanya), pencipta  pamer untuk siapa? Mungkin dirinya sendiri – hakim, juri, serta 

korban hukuman mati. Sebagai penutup, Adam, yang dianggap pelaku dosa asal, tidak pernah 

ada: suatu fakta janggal – dapat dimaklumi bahwa Paulus tidak mengetahuinya tetapi sepertinya 

diketahui oleh suatu pencipta  yang maha tahu (dan junjungan kristen  , jika Anda percaya bahwa dia pencipta ?) – 

yang secara mendasar menggerogoti premis teori kejam dan berkelok-kelok itu sendiri. Ah iya, 

tetapi tentu saja, kisah Adam dan Hawa itu hanya simbolik, bukan? Simbolik? Jadi, agar pamer 

untuk dirinya sendiri, junjungan kristen   membuat dirinya disiksa dan dihukum mati, sebagai hukuman 

pengganti untuk suatu dosa simbolik yang dilakukan oleh seorang individu yang tidak pernah 

ada? Seperti sudah saya katakan, sungguh gila, serta tidak menyenangkan dan kejam. 

  Sebelum meninggalkan Alkitab, saya harus menarik perhatian pembaca kepada satu 

aspek ajaran etisnya yang sulit sekali diterima. Orang junjungan kristen  jarang menyadari bahwa sebagian 

besar pertimbangan moral untuk orang lain yang sepertinya dipromosikan baik dalam Perjanjian 

Lama maupun Baru secara asali dimaksudkan untuk berlaku hanya untuk suatu kelompok dalam 

yang didefinisikan secara sempit. ‘Kasihilah sesamamu’ tidak berarti apa yang kini kita anggap 

sebagai artinya. Artinya hanya ‘Kasihilah orang Yahudi yang lain.’ Poin ini disampaikan secara 

mematikan oleh dokter dan antropolog evolusioner Amerika, John Hartung. Dia telah menulis 

sebuah makalah luar biasa mengenai evolusi dan sejarah alkitabiah moralitas kelompok dalam, 

dan menekankan juga sisi baliknya – permusuhan terhadap kelompok luar. 

 

KASIHILAH SESAMAMU 

 

  Humor gelap John Hartung tampak dari awal makalahnya,99 di mana dia bercerita tentang 

suatu prakarsa Southern Baptis untuk menghitung jumlah orang Alabama di neraka. 

Sebagaimana dilaporkan dalam New York Times dan Newsday, jumlah akhir, 1,86 juta, 

diperkirakan dengan menggunakan suatu rumus pembobotan rahasia, yang menurutnya orang 

Metodis lebih mungkin diselamatkan daripada orang Katolik Roma, sedangkan ‘hampir semua 

                                                 

* Tidak sempat dimasukkan ke dalam edisi hardback buku ini, Reading Judas. oleh Elaine Pagels dan Keren L. King 

telah muncul. Berdasarkan terjemahan Karen King atas Injil Yudas, bukunya memandang orang yang dituduh 

pengkhianat terbesar secara bersimpati (Yudas sendiri muncul dari perspektif orang ketiga dalam injilnya sendiri). 

orang yang tidak menjadi anggota suatu jemaat gereja dihitung sebagai tak terselamatkan’. 

Kesombongan orang-orang seperti itu yang betul-betul keterlaluan direfleksikan saat ini di 

berbagai situs web ‘pengangkatan’ (rapture), di mana penulis selalu berasumsi saja bahwa dia 

akan berada di antara mereka yang ‘menghilang’ ke dalam surga ketika ‘akhir zaman’ tiba. 

Berikut suatu contoh biasa, dari penulis ‘Rapture Ready’, salah satu contoh kesalehan palsu dari 

jenis itu yang lebih buruk daripada biasanya: ‘Jika pengangkatan terjadi, yang akan 

menyebabkan ketidakhadiran saya, para santo tribulasi akan harus membuat cermin atau 

mendukung situs ini secara finansial.’* 

  Menurut tafsir Alkitab Hartung, tidak ada dasar untuk kenyamanan sombong di antara 

para junjungan kristen . junjungan kristen   membatasi kelompok dalam orang selamat secara sempit pada orang 

Yahudi; dalam arti itu dia mengikuti tradisi Perjanjian Lama, dan hanya itu yang dia tahu. 

Hartung menunjukkan dengan jelas bahwa ‘Jangan membunuh’ tidak pernah dimaksudkan untuk 

berarti apa yang kita kini anggap sebagai artinya. Artinya saat itu, secara sangat khusus, yaitu  

jangan membunuh orang Yahudi. Dan semua perintah itu yang merujuk ‘sesamamu’ sama 

eksklusifnya. ‘Sesama’ berarti sesama Yahudi. Moses Maimonides, rabi dan dokter abad ke-12 

yang sangat dihormati, menguraikan makna penuh ‘Jangan membunuh’ sebagai berikut: ‘Jika 

seseorang membunuh seorang Israel, dia melanggar suatu perintah negatif, karena kata Kitab 

Suci, Jangan membunuh. Jika seseorang membunuh dengan sengaja di kehadiran saksi, dia 

dihukum mati dengan pedang. Tidak perlu dikatakan, tak seorang pun dihukum mati jika dia 

membunuh seorang kafir.’ Tidak perlu dikatakan! 

  Hartung mengutip Sanhendrin (Mahkamah Agung Yahudi, dipimpin oleh pendeta tinggi) 

secara serupa, sebagai mengampuni seorang yang secara hipotetis membunuh seorang Israel 

tanpa disengaja, saat bermaksud untuk membunuh seekor hewan atau seorang kafir. Teka-teki 

moral yang menggoda ini memunculkan poin menarik. Bagaimana jika dia melempar batu ke 

dalam kelompok sembilan kafir dan satu orang Israel dan sayangnya orang Israel yang kena dan 

mati? Hm, sulit! Tetapi jawabannya tersedia. ‘Kalau begitu fakta bahwa dia tidak bersalah dapat 

disimpulkan dari fakta bahwa mayoritasnya kafir.’ 

  Hartung menggunakan banyak kutipan Alkitab yang sama yang saya gunakan di bab ini, 

mengenai penaklukan Tanah yang Dijanjikan oleh Musa, Yosua, dan para Hakim. Saya dengan 

saksama mengakui bahwa orang-orang religius sudah tidak berpikir secara alkitabiah. Bagi saya, 

ini mendemonstrasikan bahwa moral-moral kita, apakah religius atau tidak, berasal dari sumber 

lain; dan sumber lain itu, apa pun itu, tersedia untuk kita semua, tanpa mengindahkan adanya 

kepercayaan  atau ketiadaannya. Tetapi Hartung bercerita tentang suatu kajian mengerikan oleh seorang 

psikolog Israel, George Tamarin. Tamarin mempresentasikan kepada lebih dari seribu anak 

sekolah Israel, yang usianya di antara 8 dan 14, kisah pertempuran Yerikho di kitab Yosua: 

   

Yosua berkata kepada bangsa itu: “Bersoraklah, sebab pencipta  telah 

menyerahkan kota ini kepadamu! Dan kota itu dengan segala isinya akan 

dikhususkan bagi pencipta  untuk dimusnahkan...Segala emas dan perak serta 

barang-barang tembaga dan besi yaitu  kudus bagi pencipta ; semuanya itu akan 

dimasukkan ke dalam perbendaharaan pencipta ’...Mereka menumpas dengan 

mata pedang segala sesuatu yang di dalam kota itu, baik laki-laki maupun 

perempuan, baik tua maupun muda, sampai kepada lembu, domba, dan 

keledai...Tetapi kota itu dan segala sesuatu yang ada di dalamnya dibakar 

mereka dengan api; hanya emas dan perak, barang-barang tembaga dan besi 

                                                 

* Mungkin Anda tidak tahu makna ‘santo tribulasi’ di kalimat ini. Jangan repot: ada hal lebih baik yang Anda bisa 

lakukan. 

ditaruh mereka di dalam perbendaharaan rumah pencipta . 

 

  Lalu Tamarin menanyai anak-anak suatu pertanyaan moral sederhana: ‘Apakah menurut 

Anda Yosua dan bangsa Israel bertindak dengan benar atau tidak?’ Mereka harus memilih di 

antara A (mutlak setuju), B (setuju sebagian) dan C (mutlak tidak setuju). Hasilnya berkutub: 66 

persen mutlak setuju dan 26 mutlak tidak setuju, dengan jumlah agak kurang (8 persen) di tengah 

yang setuju sebagian. Berikut, tiga jawaban tipikal dari kelompok mutlak setuju (A): 

 

Menurutku Yosua dan Anak-anak Israel bertindak dengan benar, dan inilah 

alasan-alasanku: pencipta  menjanjikan tanah ini kepada mereka, dan 

membolehkan mereka menaklukkannya. Jika mereka tidak bertindak seperti itu 

atau membunuh siapa pun, akan ada bahaya bahwa Anak-anak Israel akan 

terasimilasi menjadi Goyim. 

 

Menurutku Yosua benar saat dia melakukannya, satu alasan yaitu  pencipta  

menyuruhnya untuk memusnahkan orang-orang itu agar suku-suku Israel tidak 

bisa berasimilasi di antara mereka dan belajar kebiasaan buruk mereka. 

 

Yosua berbuat baik karena orang yang menduduki tanahnya berbeda kepercayaan , 

dan ketika Yosua membunuhnya dia memusnahkan kepercayaan nya dari muka bumi. 

 

Pembenaran untuk pembantaian genosidal oleh Yosua bersifat religius dalam setiap kasus. 

Bahkan mereka dalam kategori C, yang mutlak tidak setuju, melakukannya, dalam kasus 

tertentu, untuk alasan-alasan religius terbalik. Salah satu anak perempuan, misalnya, tidak 

menyetujui penaklukan Yerikho oleh Yosua karena, untuk melakukannya, dia harus memasuki 

kota itu: 

 

Aku mengira itu buruk, karena para Arab ternoda dan jika seseorang memasuki 

tanah ternoda orang itu juga akan ternoda dan akan mengidap kutukan mereka. 

 

Dua orang lain yang mutlak tidak setuju melakukannya karena Yosua menghancurkan segala-

galanya, termasuk hewan dan harta, daripada menyimpan sebagian untuk para orang Israel: 

 

Menurutku Yosua tidak bertindak dengan benar, karena mereka bisa 

menyelamatkan hewan-hewan untuk diri mereka sendiri. 

 

Menurutku Yosua tidak bertindak dengan benar, karena dia bisa saja 

membiarkan harta Yerikho; jika dia tidak menghancurkan hartanya, harta itu 

akan menjadi milik bangsa Israel. 

 

  Sekali lagi Maimonides yang bijaksana, sering dikutip untuk kebijaksanaan ilmiahnya, 

tidak ragu-ragu mengenai posisinya soal ini: ‘Menghancurkan tujuh bangsa itu merupakan 

perintah positif, sebagaimana dikatakan: Kautumpas sama sekali. Jika seseorang tidak 

menghukum mati siapa pun dari mereka yang dapat dibunuh, orang itu melanggar suatu perintah 

negatif, sebagaimana dikatakan: Janganlah kaubiarkan hidup apa pun yang bernafas.’ 

  Berbeda dengan Maimonides, anak-anak eksperimen Tamarin cukup muda untuk tidak . 

Kita dapat mengira bahwa pandangan biadab yang mereka ucapkan yaitu  pandangan orang 

tuanya, atau kelompok budaya di mana mereka dibesarkan. Saya mengira mungkin saja anak-

anak Palestina, dibesarkan di negara berperang yang sama, akan menawarkan pendapat setara 

yang sebaliknya. Pertimbangan ini membuat saya putus asa. Sepertinya kekuatan kepercayaan  amat 

besar, dan khususnya membesarkan anak secara religius dapat memecah belah orang dan 

memelihara permusuhan historis dan pembalasan dendam yang turun-temurun. Saya tidak bisa 

tidak berkomentar bahwa dua dari tiga kutipan representatif Tamarin dari kelompok A menyebut 

kejahatan asimilasi, sedangkan yang ketiga menekankan pentingnya membunuh orang untuk 

memusnahkan kepercayaan nya. 

  Tamarin mengadakan sebuah kelompok kontrol yang menarik sekali dalam 

eksperimennya. Kelompok yang lain yang terdiri dari 168 anak Israel diberi teks yang sama dari 

kitab Yosua, tetapi dengan nama Yosua sendiri digantikan dengan ‘Jenderal Lin’ dan ‘Israel’ 

digantikan dengan ‘suatu kerajaan Tiongkok 3000 tahun yang lalu’. Di sini hasil eksperimennya 

terbalik. Hanya 7 persen menyetujui perilaku Jenderal Lin, dan 75 persen tidak menyetujuinya. 

Dengan kata lain, ketika kesetiaannya kepada Yudaisme dihapus dari perhitungan, mayoritas 

anak-anak itu setuju dengan penilaian moral yang akan sama bagi kebanyakan manusia modern. 

Tindakan Yosua yaitu  genosida biadab. Tetapi semuanya tampak secara berbeda dari sudut 

pandang religius. Dan perbedaan itu muncul saat dini dalam kehidupan. kepercayaan lah yang 

menentukan perbedaan di antara anak yang mengecam genosida dan anak yang 

membolehkannya. 

  Di bagian kedua makalah Hartung, dia menggunakan Perjanjian Baru. Sebagai 

rangkuman tesisnya, junjungan kristen   yaitu  penganut moralitas kelompok dalam yang sama – serta 

permusuhan terhadap kelompok luar – yang diandaikan begitu saja dalam Perjanjian Lama. 

junjungan kristen   yaitu  seorang Yahudi setia. Pauluslah yang menciptakan ide untuk membawa pencipta  

Yahudi kepada para bukan-Yahudi. Hartung lebih berani berkata kasar daripada saya: junjungan kristen   

akan gelisah dalam kuburannya seandainya dia tahu bahwa Paulus akan membawa rencananya 

kepada babi-babi itu.’ 

  Hartung bersenang-senang dengan kitab Wahyu, tentu salah satu kitab paling aneh dalam 

Alkitab. Kitab itu konon ditulis oleh Santo Yohanes dan, sebagaimana dirumus dengan cerdas 

oleh Ken’s Guide to the Bible, jika surat-suratnya dapat dipandang sebagai Yohanes setelah 

mengisap ganja, Wahyu yaitu  Yohanes setelah minum LSD.100 Hartung menunjukkan dua ayat 

dalam Wahyu di mana jumlah orang yang ‘disegel’ (yang dalam aliran tertentu, seperti Saksi-

saksi Yehuwa, menafsir sebagai ‘diselamatkan’) terbatas pada 144.000. Poin Hartung yaitu  

mereka semua pasti yaitu  Yahudi: 12.000 masing-masing dari setiap 12 suku. Ken Smith 

menyimpulkan lebih jauh, menunjukkan bahwa 144.000 terpilih itu ‘tidak menodai dirinya 

dengan perempuan’, yang dapat diperkirakan berarti tidak ada perempuan. Tetapi begitulah yang 

dapat kita harapkan. 

  Ada jauh lebih banyak dalam makalah Hartung yang menghibur. Saya hanya akan 

merekomendasikannya sekali lagi, dan merangkumnya dengan suatu kutipan: 

  

Alkitab yaitu  cetak biru moralitas kelompok dalam, dilengkapi dengan 

petunjuk untuk genosida, perbudakan kelompok luar, dan dominasi dunia. 

Tetapi Alkitab tidak jahat karena tujuannya atau bahkan karena perayaannya 

atas pembunuhan, kekejaman, dan pemerkosaan. Banyak karya-karya kuno 

melakukan itu – Iliad, saga-saga Islandia, kisah-kisah orang Suriah kuno dan 

ukiran orang Maya kuno, misalnya. Tetapi tak seorang pun menjual Iliad 

sebagai dasar moralitas. Itu masalahnya. Alkitab dijual, dan dibeli, sebagai 

panduan bagaimana orang harus hidup. Dan buku itu yaitu  bestseller terbesar 

di dunia sepanjang sejarah. 

 

  Agar pembaca tidak berpikir bahwa keekslusifan Yudaisme tradisional yaitu  hal unik di 

antara kepercayaan -kepercayaan  lain, lihat kutipan penuh kepercayaan-diri berikut dari sebuah lagu gereja 

oleh Isaac Watts (1674–1748): 

 

  pencipta , aku menganggap ini kehendakMu, 

  dan bukan kebetulan, seperti orang lain, 

  Bahwa aku lahir dari Bangsa Kristiani 

  Dan bukan Kafir atau Yahudi. 

 

  Apa yang membuat saya bingung mengenai lirik ini bukan keekslusifannya saja 

melainkan logikanya. Karena banyak orang lain memang lahir dalam kepercayaan  selain dari 

Kristianitas, bagaimana pencipta  memutuskan orang masa depan yang mana yang akan menerima 

kelahiran terpilih seperti itu? Buat apa mengutamakan Isaac Waats dan individu-individu yang 

dia bayangkan akan menyanyikan lagunya? Bagaimanapun, sebelum Isaac Waats dibuahi, apa 

kodrat entitas itu yang diutamakan? Ini yaitu  perairan yang mendalam, tetapi barangkali tidak 

terlalu mendalam untuk pikiran yang berteologi. Lagu gereja Isaac Waats mengingatkan saya 

akan tiga doa harian yang  Yahudi Ortodoks dan Konservatif (tetapi bukan Reformasi) diajarkan 

untuk bacakan: Diberkatilah Engkau karena tidak menjadikan aku seorang bukan-Yahudi. 

Diberkatilah Engkau karena tidak menjadikan aku seorang perempuan. Diberkatilah Engkau 

karena tidak menjadikan aku seorang budak. 

  Tidak dapat diragukan bahwa kepercayaan  yaitu  suatu kekuatan yang memecah-belah, dan ini 

yaitu  salah satu tuduhan utama terhadapnya. Tetapi sering dan dengan benar dikatakan bahwa 

perang, dan perseteruan di antara kelompok atau sekte religius, sebenarnya jarang terjadi karena 

pertikaian teologis. Ketika seorang paramiliter Protestan Ulster membunuh seorang Katolik, dia 

tidak bergumam, ‘Matilah kau, berengsek, yang percaya transubstansiasi, memuja Maria dan 

berbau dupa!’ Sangat lebih mungkin bahwa dia membalas dendam untuk seorang Protestan yang 

lain yang dibunuh oleh seorang Katolik lain, dan pembalasan dendam berturut-turut itu 

barangkali berkelanjutan selama bergenerasi-generasi. kepercayaan  yaitu  suatu label untuk 

permusuhan dan pembalasan dendam kelompok dalam/kelompok luar, belum tentu lebih buruk 

daripada label-label lain seperti warna kulit, bahasa, atau tim sepak bola yang disukai, tetapi 

sering tersedia ketika tidak ada label lain. 

  Ya, Ya, tentu saja masalah-masalah di Irlandia Utara bersifat politik. Sungguh ada 

penindasan politik dan ekonomi atas satu kelompok oleh yang lain, dan sejarahnya berabad-abad 

lamanya. Sungguh ada keluhan dan ketidakadilan sejati, dan hal-hal ini sepertinya tidak begitu 

berhubungan dengan kepercayaan ; kecuali bahwa – dan hal ini penting dan sering diabaikan – tanpa 

kepercayaan  tidak akan ada label yang dengannya kita memutuskan siapa yang akan ditindas, dan 

untuk siapa kita akan membalas dendam. Dan masalah yang sebenarnya di Irlandia Utara yaitu , 

label-label itu diwariskan secara turun-temurun. Orang Katolik, yang orang tuanya, neneknya, 

dan buyutnya belajar di sekolah Katolik, mengirim anaknya ke sekolah Katolik. Orang Protestan, 

yang orang tuanya, neneknya, dan buyutnya belajar di sekolah Protestan, mengirim anaknya ke 

sekolah Protestan. Dua kelompok manusia memiliki warna kulit yang sama, mereka 

menggunakan bahasa yang sama, mereka menikmati hal-hal yang sama, tetapi seolah-olah 

mereka anggota dua spesies yang berbeda, saking mendalamnya keretakan historis. Dan tanpa 

kepercayaan , dan pendidikan yang dipisahkan secara religius, keretakan itu tidak akan ada. Suku-suku 

yang berperang pasti sudah saling menikahi dan sudah lama saling melebur. Dari Kosovo ke 

Palestina, dari Irak ke Sudan, dari Ulster ke sub-kontinen India, perhatikan dengan saksama 

belahan dunia mana pun saat ini di mana terdapat permusuhan dan kekerasan antar-kelompok 

yang tidak kunjung selesai. Saya tidak bisa menjamin bahwa Anda akan menemukan kepercayaan  

sebagai label dominan untuk kelompok dalam dan kelompok luar. Tetapi taruhannya lumayan. 

  Di India saat pemisahan, lebih dari satu juta orang dibantai dalam kerusuhan religius di 

antara para Hindu dan Muslim (dan 15 juta tergusur dari tempat asalnya). Tidak ada tanda selain 

dari kepercayaan  yang dapat digunakan untuk melabeli siapa yang akan dibunuh. Akhirnya, tidak ada 

yang memisahkan mereka selain dari kepercayaan . Salman Rushdie terharu oleh serentetan 

pembantaian religius yang lebih akhir di India, sehingga menulis sebuah artikel berjudul 

‘kepercayaan , seperti selalu, yaitu  racun di darah India’101 Berikut paragraf terakhir: 

   

Ada apa yang harus dihormati dalam semua ini, atau di kejahatan apa pun yang 

dilakukan hampir setiap hari di dunia atas nama angker kepercayaan ? Dengan begitu 

bagus, dengan hasil yang begitu mematikan, kepercayaan  membangun totem, dan kita 

begitu rela membunuh untuknya! Dan ketika kita sudah cukup sering 

melakukannya, kematian rasa yang disebabkan olehnya membuatnya lebih 

mudah untuk diulangi. 

  Jadi masalah India ternyata yaitu  masalah dunia. Apa yang terjadi di India 

terjadi atas nama pencipta . 

  Nama masalahnya yaitu  pencipta . 

 

  Saya tidak menyangkal bahwa kecenderungan kuat manusia untuk kesetiaan terhadap 

kelompok dalam dan permusuhan terhadap kelompok luar akan ada meskipun kepercayaan  tidak ada. 

Pendukung tim sepak bola pesaing yaitu  contoh fenomena ini pada skala kecil. Bahkan 

penonton sepak bola terkadang dibagi berdasarkan kepercayaan , seperti terjadi dengan Glasgow 

Rangers dan Glasgow Celtic. Bahasa (seperti di Belgia), ras, dan suku (khususnya di Afrika) 

dapat menjadi token pembagian penting. Tetapi kepercayaan  memperkuat dan mengompori kerusakan 

melalui setidaknya tiga cara: 

 

• Pelabelan anak-anak. Anak-anak disebut sebagai ‘anak Katolik’ atau ‘anak Protestan’ 

dsb. dari usia dini, dan tentunya jauh sebelum mereka mampu memutuskan untuk dirinya 

sendiri apa yang mereka pikirkan mengenai kepercayaan  (saya kembali ke penyalahgunaan 

masa kanak-kanak di Bab 9).  

 

• Sekolah yang terpisah secara kepercayaan . Anak-anak dididik, sekali lagi sering dari usia 

sangat dini, dengan anggota-anggota suatu kelompok dalam religius dan terpisah dengan 

anak-anak yang keluarganya menganut kepercayaan  yang lain. Tidak berlebihan mengatakan 

bahwa masalah-masalah di Irlandia Utara akan menghilang dalam waktu satu generasi 

jika pendidikan terpisah ditiadakan. 

 

• ‘Menikah di luar’ yang dianggap tabu. Ini melanjutkan permusuhan dan dendam turun-

temurun dengan mencegah pembauran di antara kelompok yang bermusuhan. Pernikahan 

campur, jika dibolehkan, akan secara alami cenderung menenangkan perseteruan. 

 

  Desa Glenarm di Irlandia Utara yaitu  kampung leluhur para Earl dari Antrim. Pada satu 

kesempatan dalam ingatan orang hidup, Earl pada saat itu melakukan suatu yang tak 

terbayangkan: dia menikahi seorang Katolik. Seketika, di rumah-rumah di seluruh Glenarm, tirai 

ditutup sebagai tanda berduka. Kengerian ‘menikah di luar’ juga tersebar luas di antara para 

Yahudi religius. Beberapa anak-anak Israel yang dikutip di atas menyebut bahaya berat 

‘asimilasi’ pertama dalam pertahanan mereka atas Pertempuran Yerikho Yosua. Ketika orang 

berbeda kepercayaan  menikah, hal itu dideskripsikan dengan ketakutan dari kedua belah pihak sebagai 

‘kawin campur’ dan sering ada perkelahian panjang mengenai bagaimana anak-anak akan 

dibesarkan. Ketika saya kecil dan masih sedikit memercayai Gereja Anglikan, saya habis kata-

kata ketika diberi tahu peraturan bahwa ketika seorang Katolik Roma menikahi seorang 

Anglikan, anak-anak selalu dibesarkan secara Katolik. Saya dengan mudah memahami kenapa 

seorang imam dari masing-masing aliran akan berusaha untuk bersikeras akan syarat itu. Yang 

saya tidak mampu pahami yaitu  asimetrinya. Kenapa para imam Anglikan tidak membalas 

dendam dengan suatu peraturan yang bertolak-belakang? Kurang bengis saja, saya kira. Kapelan 

saya dulu dan ‘Bapa Kami’ Betjeman hanya terlalu ramah. 

  Para sosiolog telah melakukan survei-survei statistik mengenai homogami religius 

(menikahi seseorang yang kepercayaan nya sama) dan heterogami (menikahi seseorang yang kepercayaan nya 

berbeda). Norval D. Glenn, dari Universitas Texas di Austin, mengumpulkan beberapa kajian 

semacam itu hingga 1978 dan menganalisisnya bersama.102 Dia menyimpulkan bahwa ada 

kecenderungan signifikan terhadap homogami religius dalam orang junjungan kristen  (Protestan menikahi 

Protestan, dan Katolik menikahi Katolik, dan ini melampaui akibat dari kedekatan secara 

kebetulan), tetapi mencolok secara khusus di antara orang Yahudi. Dari suatu sampel sejumlah 

6.021 penjawab kuesioner yang telah menikah, 140 menyebut dirinya Yahudi dan, dari mereka, 

85,7 persen menikahi orang Yahudi. Ini jauh lebih besar daripada persentase pernikahan 

homogamis yang dapat diharapkan secara acak. Dan tentu saja itu bukan hal baru bagi siapa pun. 

Orang Yahudi taat dibuat tidak berani ‘menikah di luar’, dan tabu itu muncul dalam lelucon-

lelucon Yahudi mengenai ibu-ibu yang memperingatkan anak lelakinya mengenai gadis bukan-

Yahudi pirang yang ingin menjebaknya. Berikut ada tiga pernyataan tipikal dari tiga rabi 

Amerika: 

 

• ‘Saya menolak untuk memberkati pernikahan lintas kepercayaan . 

• ‘Saya memberkati pernikahan ketika pasangan menyatakan niatnya untuk membesarkan 

anaknya sebagai Yahudi.’ 

• Saya memberkati pernikahan jika pasangan setuju untuk konseling pra-nikah.’ 

 

Rabi-rabi yang rela memberkati bersama dengan seorang imam junjungan kristen  cukup langka, dan sangat 

dicari. 

  Bahkan jika kepercayaan  sendiri tidak menyebabkan keburukan lain, kecenderungannya untuk 

memecah belah yang ceroboh dan dipelihara dengan teliti – pembujukan sengaja dan 

direncanakan atas kecenderungan alami manusia untuk mengutamakan kelompok dalam dan 

menolak kelompok luar –  akan cukup untuk menjadikannya suatu kekuatan kejahatan signifikan 

di dunia. 

  

ZEITGEIST MORAL 

 

  Bab ini mulai dengan menunjukkan bahwa kita tidak –  bahkan orang-orang religius –  

mendasari moralitas kita pada kitab-kitab suci, bagaimanapun kita suka membayangkannya. 

Lalu, bagaimana kita memutuskan apa yang benar dan apa yang salah? Bagaimanapun kita 

menjawab pertanyaan itu, ada suatu konsensus mengenai apa yang sebenarnya kita anggap benar 

dan salah: suatu konsensus yang secara mengejutkan berlaku hampir di mana pun. Konsensus itu 

tidak berkaitan secara jelas dengan kepercayaan . Namun, konsensusnya meliputi kebanyakan orang 

religius, apakah mereka mengira moralnya berasal dari kitab suci atau tidak. Dengan beberapa 

pengecualian yang harus dicatat seperti Taliban di Afganistan dan versi Kristianinya di Amerika, 

kebanyakan orang mengakui konsensus luas liberal yang sama mengenai prinsip-prinsip etis. 

Mayoritas dari kita tidak menyebabkan penderitaan yang tidak perlu; kita percaya pada 

kebebasan berbicara dan melindunginya meskipun kita tidak setuju dengan apa yang dikatakan; 

kita bayar pajak; kita tidak curang, tidak membunuh, tidak melakukan inses, tidak melakukan hal 

kepada orang lain yang kita tidak ingin orang lain lakukan kepada kita. Beberapa prinsip baik ini 

dapat ditemukan di kitab-kitab suci, tetapi dikubur bersama dengan banyak yang lain yang tak 

seorang pun yang baik hati ingin ikuti: dan kitab-kitab suci tidak menyediakan peraturan apa pun 

untuk membedakan prinsip-prinsip baik dari yang buruk. 

  Satu cara untuk mengucapkanmengekspresikan etika konsensual kita yaitu  sebagai 

suatu ‘Sepuluh Perintah Baru’. Berbagai individu dan lembaga telah berusaha membuatnya. Apa 

yang signifikan yaitu  mereka cenderung membuat hasil yang agak serupa satu sama lain, dan 

apa yang mereka hasilkan bersifat khas bagi zaman di mana kebetulan mereka hidup. Berikut ada 

satu perangkat ‘Sepuluh Perintah Baru’ dari saat ini, yang kebetulan saya temukan di suatu situs 

web ateis.103 

 

• Jangan lakukan kepada orang lain apa yang kau tidak ingin dilakukan kepadamu. 

 

• Dalam segala hal, berusahalah untuk tidak menyakiti. 

 

• Perlakukan sesama manusia, sesama makhluk hidup, dan dunia pada umumnya dengan 

kasih, kejujuran, kesetiaan dan penghormatan. 

 

• Jangan abaikan kejahatan atau enggan melaksanakan keadilan, tetapi selalu bersiap untuk 

mengampuni kesalahan yang diakui dengan bebas dan disesali dengan jujur. 

 

• Hiduplah dengan suatu rasa akan kegembiraan dan kekaguman. 

 

• Selalu berusaha belajar hal baru. 

 

• Uji segala hal; selalu bandingkan ide-idemu dengan fakta, dan bersiaplah untuk 

membuang bahkan suatu kepercayaan yang disayangi jika tidak sesuai dengan fakta. 

 

• Jangan pernah mencoba menyensor atau membentengi dirimu dari hal yang tidak kau 

setujui; selalu hormati hak orang lain untuk tidak setuju denganmu. 

 

• Bentuk pendapat mandiri atas dasar akal budi dan pengalamanmu sendiri; jangan biarkan 

dirimu dipimpin secara buta oleh orang lain. 

 

• Pertanyakan segala hal. 

 

  Kumpulan kecil ini bukan karya seorang bijaksana besar atau nabi atau etikawan 

profesional. Hanya usaha menawan dari seorang penulis blog biasa untuk merangkum prinsip-

prinsip kehidupan yang baik saat ini, untuk perbandingan dengan Sepuluh Perintah dalam 

Alkitab. Itu yang pertama yang saya temukan ketika saya mengetik ‘New Ten Commandments’ 

dalam mesin pencarian, dan saya dengan sengaja tidak mencari lebih lanjut. Poin saya yaitu  

daftar ini sejenis dengan yang akan dibuat oleh siapa pun yang baik biasa dan berbaik hati saat 

ini. Tidak semua orang akan memilih daftar sepuluh perintah yang persis sama. Filsuf John 

Rawls mungkin akan memasukkan suatu seperti yang berikut: ‘Selalu buat peraturanmu seolah-

olah kau tidak tahu apakah kau akan berada di atas atau di bawah hierarki. Konon ada sistem 

Inuit untuk pembagian makanan yang merupakan suatu contoh praktis atas prinsip Rawls: 

individu yang memotong makanan mendapat pilihan terakhir. 

  Dalam Sepuluh Perintah versi saya sendiri, saya akan memilih beberapa dari yang di atas, 

tetapi saya juga akan berusaha untuk mencari ruang untuk, di antara lain: 

 

• Nikmati kehidupan seksmu sendiri (asalkan tidak menyakiti orang lain) dan biarkan 

orang lain menikmati kehidupan seks mereka, apa pun kecenderungannya, yang bukan 

urusanmu. 

 

• Jangan mendiskriminasi atau menindas atas dasar seks, ras atau (sejauh mungkin) 

spesies. 

 

• Jangan indoktrinasi anak-anakmu. Ajarkan mereka untuk berpikir sendiri, untuk 

mengevaluasi bukti, dan untuk tidak setuju denganmu. 

 

• Hargai masa depan pada skala waktu lebih panjang daripada skala waktumu sendiri. 

 

  Tetapi perbedaan prioritas kecil ini tidak begitu penting. Poin saya yaitu  hampir semua 

kita sudah maju, dan maju jauh, sejak zaman Alkitab. Perbudakan, yang diterima begitu saja 

dalam Alkitab dan sepanjang sebagian besar sejarah, ditiadakan di negara-negara beradab pada 

abad ke-19. Semua bangsa beradab kini menerima apa yang disangkal secara umum hingga 

1920-an, yakni bahwa suara perempuan, dalam pemilu atau juri, yaitu  setara dengan laki-laki. 

Di masyarakat-masyarakat tercerahkan saat ini (suatu kategori yang dengan tegas tidak 

memasukkan, misalnya, Arab Saudi), perempuan sudah tidak dianggap sebagai harta, 

sebagaimana jelas mereka dianggap di zaman Alkitab. Sistem legal modern apa pun akan 

menggugat Abraham untuk pelecehan anak. Dan seandainya dia sebenarnya melaksanakan 

rencananya untuk mengurbankan Ishak, kita akan menyatakannya bersalah untuk pembunuhan 

yang direncanakan. Namun, menurut kebiasaan zamannya, perilakunya sepenuhnya layak dipuji, 

karena dia mematuhi perintah pencipta . Religius atau tidak, sikap kita mengenai apa yang benar 

dan apa yang salah telah berubah secara amat besar. Apa kodrat perubahan ini, dan apa yang 

mendorongnya? 

  Dalam masyarakat apa pun ada suatu konsensus yang agak misterius, yang berubah 

selama berdekade-dekade, dan untuknya tidak berlebihan untuk menggunakan istilah bahasa 

Jerman Zeitgeist (semangat zaman). Tadi saya berkata bahwa hak suara perempuan kini sudah 

universal di demokrasi-demokrasi dunia, tetapi reformasi ini sebenarnya sangat dan secara 

mengherankan baru. Berikut ada beberapa tanggal ketika perempuan diberi hak suara: 

  

  Selandia Baru    1893 

   Australia    1902 

   Finlandia    1906 

   Norwegia    1913 

   Amerika Serikat    1920 

   Britania     1928 

   Prancis    1945 

   Belgia    1946 

   Swiss    1971 

   Kuwait    2006 

  

  

 Rentang tanggal sepanjang abad ke-20 ini yaitu  tolok ukur pergeseran Zeitgeist. Suatu 

tolok ukur yang lain yaitu  sikap kita terhadap ras. Di bagian awal abad ke-20, hampir semua 

orang di Britania (dan banyak negara lain juga) akan dinilai rasis berdasarkan tolok ukur saat ini. 

Kebanyakan orang berkulit putih percaya bahwa orang berkulit hitam (dan dalam kategori itu 

mereka mengelompokkan orang Afrika yang sangat beraneka ragam dengan kelompok tidak 

terkait dari India, Australia, dan Melanesia) yaitu  inferior dibandingkan dengan orang berkulit 

putih kecuali – secara menghina –  rasa akan irama. Tokoh 1920-an yang setara dengan James 

Bond yaitu  pahlawan masa kanak-kanak yang ceria dan riang, Bulldog Drummond. Dalam satu 

novel, The Black Gang, Drummond menyebut ‘Yahudi, orang asing, dan orang kotor yang lain’. 

Dalam adegan klimaks The Female of the Species, Drummond dengan cerdik menyamar sebagai 

Pedro, pelayan hitam penjahat utama. Untuk penyingkapan dramatisnya, kepada pembaca serta 

penjahatnya, bahwa ‘Pedro’ sebenarnya yaitu  Drummond sendiri, dia bisa saja berkata: ‘Kau 

mengira aku Pedro. Kau belum menyadari, aku musuh utamamu Drummond, dihitamkan.’ Dia 

malah memilih kata-kata ini: ‘Setiap jenggot itu tidak palsu, tetapi setiap nigger bau. Jenggot itu 

tidak palsu, Sayang, dan nigger ini tidak bau. Jadi aku mengira ada yang tidak beres.’ Saya 

membaca novel itu pada 1950-an, tiga dekade setelah ditulis, dan pada saat itu seorang anak 

masih bisa menikmati dramanya dan tidak menyadari akan rasismenya. Dewasa ini, hal itu tidak 

dapat dibayangkan. 

  Thomas Henry Huxley, menurut tolok ukurnya sendiri, yaitu  seorang progresif yang 

liberal dan tercerahkan. Tetapi zamannya bukan zaman kita, dan pada 1871 dia menulis yang 

berikut: 

   

Tak seorang pun yang rasional dan mengetahui fakta-fakta percaya bahwa orang 

negro rata-rata setara dengan, apalagi lebih unggul daripada, orang berkulit 

putih. Dan jika ini benar, sulit dipercaya bahwa, ketika semua cacatnya dihapus, 

dan saudara kita yang bermulut tonggos berada di lapangan yang adil dan tidak 

berpihak, dan tidak juga ditindas, dia akan mampu berkompetisi secara sukses 

dengan pesaingnya yang otaknya lebih besar dan rahangnya lebih kecil, dalam 

suatu kompetisi yang dijalankan dengan pemikiran dan bukan gigitan. Tempat 

tertinggi di hierarki peradaban pasti tidak akan terjangkau oleh sepupu gelap 

kita.104 

 

  Suatu kebiasaan bagi sejarawan yang baik yaitu , jangan menilai pernyataan dari zaman 

lampau menurut tolok ukur zaman kita. Abraham Lincoln, seperti Huxley, melampaui zamannya, 

namun pandangannya mengenai ras juga terdengar rasis dan terbelakang bagi kita. Berikut, 

kutipan dia dalam suatu debat pada 1858 dengan Stephen A. Douglas: 

 

Lalu saya akan berkata bahwa saya tidak, dan juga tidak pernah, mendukung 

pelaksanaan dalam bentuk apa pun kesetaraan sosial dan politik di antara ras 

putih dan ras hitam, bahwa saya tidak, dan juga tidak pernah, memberi orang 

negro hak suara atau hak duduk di juri, atau membolehkan mereka memegang 

jabatan, atau untuk menikahi orang putih, dan saya akan berkata, sebagai 

tambahan, bahwa ada perbedaan fisik di antara ras putih dengan ras hitam yang 

saya percaya akan selamanya melarang kedua ras itu hidup bersama dalam 

kesetaraan sosial dan politik. Dan sejauh mereka tidak bisa hidup seperti itu, 

sementara mereka tetap bersama harus ada posisi superior dan inferior, dan 

saya, sama seperti semua orang lain, mendukung posisi superior itu ditetapkan 

bagi ras putih.105 

 

  Seandainya Huxley dan Lincoln lahir dan terdidik di zaman kita, mereka akan malu 

bersama kita ketika melihat sikap era Victoria mereka dan nada suara yang berminyak. Saya 

mengutipnya hanya untuk menunjukkan bagaimana Zeitgeist  mengalami kemajuan. Jika bahkan 

Huxley, salah satu pemikir liberal besar pada zamannya, dan bahkan Lincoln, yang 

membebaskan para budak, dapat berkata demikian, bayangkan saja apa yang pasti dipikirkan 

oleh orang era Victoria biasa. Kembali ke abad ke-18, tentu saja sudah diketahui dengan baik 

bahwa Washington, Jefferson, dan tokoh-tokoh Pencerahan lain memiliki budak. Zeitgeist tetap 

maju, dengan begitu pasti sehingga kita terkadang mengandaikannya begitu saja dan lupa bahwa 

perubahan itu yaitu  suatu fenomena nyata pada dirinya sendiri. 

  Ada banyak contoh yang lain. Ketika pelaut pertama kali mendarat di Mauritius dan 

melihat burung dodo yang lemah lembut, mereka hanya bisa berpikir untuk mementungnya 

hingga mati. Mereka pun tidak ingin memakannya (burung itu dideskripsikan sebagai tidak 

enak). Dapat diperkirakan bahwa memukul kepala burung yang tidak bisa terbang, jinak, dan 

tidak mampu mempertahankan dirinya merupakan hiburan saja. Zaman sekarang perilaku seperti 

itu sulit dibayangkan, dan pemunahan spesies setara di zaman modern dengan dodo, meskipun 

tidak sengaja, apalagi melalui pembunuhan sengaja oleh manusia, dianggap sebagai tragedi. 

  Persis tragedi itu, menurut tolok ukur iklim kebudayaan saat ini, yaitu  pemunahan lebih 

baru Thylacinus, harimau Tasmania. Kepala makhluk ini, yang sudah menjadi ikon ratapan, 

dapat dijual hingga 1909. Di novel-novel era Victoria mengenai Afrika, ‘gajah’, ‘singa’, dan 

‘antelop’ yaitu  ‘hewan buruan’ yang layak ditembak tanpa berpikir dua kali. Tidak untuk 

dimakan. Tidak untuk pertahanan diri. Untuk ‘rekreasi’. Tetapi kini Zeitgeist sudah berubah. 

Harus diakui bahwa ‘pemburu’ kaya dan sulit berjalan dapat menembak hewan Afrika liar dari 

tempat aman di dalam mobil Land Rover dan membawa kepalanya pulang. Tetapi mereka harus 

membayar sangat mahal untuk melakukannya, dan secara umum dibenci karenanya. Konservasi 

satwa dan konservasi lingkungan telah menjadi nilai yang diterima dengan status moral yang 

sama yang dulu diberi kepada penjagaan sabat dan penolakan berhala. 

  Dekade 1960-an dikenal legendaris untuk modernitas liberalnya. Tetapi pada awal 

dekade itu, seorang jaksa penuntut, dalam pengadilan pencabulan Lady Chatterley’s Lover, 

masih bisa menanyai juri: ‘Apakah Anda akan menyetujui anak lelaki muda, anak perempuan 

muda – karena perempuan dapat membaca dengan sama baiknya dengan lelaki [apakah Anda 

percaya dia mengatakan itu?] –  membaca buku ini? Apakah ini sebuah buku yang Anda ingin 

berada di rumah Anda? Apakah ini sebuah buku yang Anda pernah akan ingin istri Anda atau 

pembantu Anda baca? Pertanyaan retoris terakhir itu merupakan suatu ilustrasi yang sangat 

memukau mengenai kecepatan perubahan Zeitgeist. 

  Penyerbuan Irak oleh Amerika dikecam secara luas karena kematian warga sipil, namun 

jumlah kematian jauh lebih kecil daripada yang terjadi di Perang Dunia Kedua. Sepertinya ada 

tolok ukur yang berubah dengan pelan tetapi pasti mengenai apa yang dapat diterima secara 

moral. Donald Rumsfeld, yang terdengar begitu kasar dan buruk saat ini, akan terdengar seperti 

seorang liberal jika dia mengatakan hal yang sama saat Perang Dunia Kedua. Ada yang berubah 

selama dekade-dekade di antara kedua perang itu. Hal itu telah berubah dalam diri kita semua, 

dan perubahan itu tidak terkait kepercayaan . Sebaliknya, perubahan itu terjadi terlepas dari kepercayaan , 

bukan karenanya. 

  Perubahan itu terarah secara konsisten yang dapat dikenali, dan akan dinilai oleh 

kebanyakan dari kita sebagai pembaikan. Bahkan Adolf Hitler, dianggap secara umum sebagai 

memperluas batas kejahatan hingga wilayah yang belum dipetakan, tidak akan menonjol pada 

zaman Caligula atau Jenghis Khan. Hitler tentu saja membunuh lebih banyak orang daripada 

Jenghis, tetapi dia mampu memanfaatkan teknologi abad ke-20. Dan apakah Hitler mendapat 

kenikmatan-nya yang terbesar, sebagaimana konon terjadi dengan Jenghis, dari melihat ‘keluarga 

[korban]nya berlumuran air mata’? Kita menilai tingkat kejahatan Hitler menurut tolok ukur saat 

ini, dan Zeitgeist moral telah maju sejak zaman Caligula, sama seperti teknologi sudah maju. 

Hitler terkesan jahat secara khusus hanya berdasarkan tolok ukur zaman kita yang lebih ramah. 

  Dalam hidup saya, sejumlah besar orang dengan enteng menggunakan julukan yang 

menghina dan stereotipe nasional: Frog, Wop, Dago, Hun, Yid, Coon, Nip, Wog. Saya tidak akan 

mengklaim bahwa kata seperti itu sudah menghilang, tetapi kini bahasa seperti itu secara umum 

tidak boleh digunakan di lingkaran sopan-santun. Istilah negro, meskipun tidak dimaksudkan 

untuk menghina, dapat digunakan untuk mengetahui kapan suatu tulisan berbahasa Inggris 

ditulis. Prasangka memang merupakan pengungkapan akan kapan suatu tulisan ditulis. Pada 

zamannya sendiri, seorang Teolog Cambridge terhormat, A.C. Bouquet, mampu membuka bab 

mengenai Islam dalam bukunya Comparative Religion dengan kata-kata berikut: ‘Orang semit 

bukan monoteis alami, sebagaimana diandaikan di sekitar tengah abad ke-19. Dia yaitu  animis.’ 

Obsesi dengan ras (daripada kebudayaan) dan penggunaan bentuk tunggal (‘The Semite ... He is 

an animist’) untuk mereduksi seluruh pluralitas bangsa menjadi satu ‘tipe’ tidak jahat amat 

menurut tolok ukur apa pun. Tetapi itu yaitu  salah satu penunjuk lagi kepada Zeitgeist yang 

sedang berubah. Tak seorang profesor teologi Cambridge pun, atau profesor jurusan apa pun, 

akan menggunakan kata-kata itu saat ini. Petunjuk halus itu mengenai kebiasaan yang berubah 

memberi tahu kita bahwa Bouquet menulis paling akhir pada tengah abad ke-20. Pada kenyataan, 

1941. 

  Mundur empat dekade lagi, dan tolok ukur yang berubah tidak dapat diragukan lagi. 

Dalam sebuah buku saya yang lain, saya mengutip karya utopian H.G. Wells, New Republic, dan 

saya akan mengutipnya lagi karena itu merupakan suatu ilustrasi mengejutkan atas poin saya. 

   

Dan bagaimana akan Republik Baru memperlakukan ras-ras inferior? 

Bagaimana akan yang hitam diperlakukan?...orang 

kuning?...Yahudi?...kerumunan orang hitam, cokelat, putih kotor, dan kuning, 

yang tidak masuk ke dalam kebupencipta  baru untuk efisiensi? Dunia yaitu  dunia, 

bukan yayasan amal, dan saya kira mereka akan harus pergi...Dan sistem etis 

orang Republik Baru ini, sistem etis yang akan mendominasi negara dunia, akan 

terutama dibentuk untuk mengutamakan prokreasi atas apa yang luhur dan 

efisi