Tentang hewan 2

Tampilkan postingan dengan label Tentang hewan 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang hewan 2. Tampilkan semua postingan

Tentang hewan 2




  bumi, niscaya yang di langit akan mengasihi 

kalian. Hubungan kekeluargaan yaitu  rangkaian 

dari Allah; barang siapa menyambung tali sila-

turahmi niscaya Allah akan menyambungnya 

(dengan rahmat-Nya), dan barang siapa memutus 

tali silaturahmi maka Allah akan memutusnya (dari 

rahmat-Nya). (Riwayat at-Tirmiżi dari Ibnu ‘Amr)

Selain itu, Nabi mengajarkan 

bahwa sikap dan tindakan manusia 

terhadap binatang akan  menentukan 

nasib mereka di akhirat, sebagaimana 

diriwayatkan dalam dua kesempatan 

terpisah berikut.

 ، َماَتْت  َحتَّى  َسَجنَْتَها  ٍة  ِهرَّ ِفْ  اْمَرَأٌة  َبِت  ُعذِّ

َفَدَخْلِت َالنَّاَر فِيَها ، الَ ِهَي َأْطَعَمْتَها َوَسَقْتَها إِْذ 

ِهَي َحَبَسْتَها ، َوالَ ِهَي َتَرَكْتَها َتْأُكُل ِمْن َخَشاِش 

البخاري ومسلم عن عبد اهلل  األَْرِض . )رواه 

بن عمر(

Seorang wanita disiksa Allah (pada hari kiamat) 

lantaran mengurung seekor kucing sehingga 

kucing itu mati. sebab  itu Allah memasukkannya 

ke neraka. Kucing itu dikurungnya tanpa diberi 

makan dan minum, dan tidak pula dilepaskannya 

supaya kucing itu makan serangga-serangga bumi 

(dengan sendirinya). (Riwayat al-Bukhāri dan 

Muslim dari ‘Abdullāh bin ‘Umar)

اْلَعَطُش  َعَلْيِه  اْشَتدَّ  بَِطِرْيٍق  َيْمِشْ  َرُجٌل  َبْينََم 

َفإَِذا  َخَرَج  ُثمَّ   ، َب  َفَشِ فِْيَها  َفنََزَل  بِْئًرا  َفَوَجَد   ،

َفَقاَل   ، اْلَعَطِش  ِمَن  الثََّرى  َيْأُكُل  َيْلَهُث  َكْلٌب 

ِمْثَل  اْلَعَطِش  ِمَن  اْلَكْلَب  َهَذا  َبَلَغ  َلَقْد   : ُجُل  الرَّ

ُه َماًء ،  ِذْي َكاَن َبَلَغ ِمنِّْي . َفنََزَل اْلبِْئَر َفَمأَل ُخفَّ الَّ

ُثمَّ َأْمَسَكُه بِِفْيِه َحتَّى َرِقَي َفَسَقى اْلَكْلَب َفَشَكَر 

اهللُ َلُه َفَغَفَر َلُه . َقاُلوا : َيا َرُسْوَل اهللِ َوإِنَّ َلنَا ِفْ 

َرْطَبٍة  َكبٍِد  ُكلِّ  ِفْ   : َفَقاَل  ؟  ألَْجًرا  اْلَبَهاِئِم  َهِذِه 

َأْجٌر . )رواه البخاري ومسلم عن أب هريرة(

Ada seorang pria yang sedang berjalan, lalu 

ia merasakan haus yang sangat. lalu  ia 

mendapati sebuah sumur, lalu ia mendekatinya 

dan minum dari air sumur ini . Ia pun beranjak 

meninggalkan sumur, saat  tiba-tiba ia mendapati 

seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya 

menjilati tanah akibat kehausan. Pria itu berkata, 

“Anjing ini benar-benar kehausan seperti yang aku 

alami tadi.” Maka ia turun (kembali) ke sumur tadi, 

dan diisinya sepatunya dengan ait. Ia memegangi 

sepatunya dan menuangkan air di dalamnya ke 

mulut anjing itu hingga rasa hausnya hilang. Anjing 

itu pun bersyukur kepada Allah atas bantuan pria 

tadi, dan sebab nya Allah pun mengampuni pria itu. 

Para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai 

Rasulullah, apakah kita akan dapat pahala dengan 

berbuat baik kepada hewan?” Beliau menjawab, 

“(Perbuatan baik kalian) kepada setiap makhluk 

yang bernyawa pasti diberi pahala.” (Riwayat al-

Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah)

Rasulullah melarang manusia 

berlaku kejam terhadap binatang, salah 

satunya dengan mengadu satu dengan 

lainnya. Dengan demikian, adu domba 

dan sabung ayam, misalnya yaitu  hal 

yang diharamkan oleh agama. Lomba 

melukai hewan, misalnya pertarungan 

antara banteng dan matador, yaitu  

sama kejinya dengan mengadu hewan, 

19Pandangan Islam tentang Hewan

dan sebab nya juga diharamkan.  De-

mikian pula membunuh binatang 

untuk  sekadar mencari kesenangan. 

Mari kita perhatikan hadis berikut.

ُه َدَخَل َعَل َيَْيى  َعِن اْبِن ُعَمَر َرِضَ اهللُ َعنُْهَم ، َأنَّ

َدَجاَجًة  َرابٌِط  َيَْيى  َبنِْي  ِمْن  َوُغاَلٌم   ، َسِعيٍد  ْبِن 

ُثمَّ  َها ،  ُعَمَر َحتَّى َحلَّ اْبُن  إَِلْيَها  َفَمَشى  َيْرِميَها ، 

َأْقَبَل ِبَا َوبِاْلُغاَلِم َمَعُه ، َفَقاَل : اِْزِجُرْوا ُغاَلَمُكْم 

َسِمْعُت   ْ َفإيِنِّ  ، لِْلَقْتِل  ْيَ  الطَّ َهَذا  َيْصِبَ  َأْن  َعْن 

َبِْيَمٌة  ُتْصَبَ  َأْن  َنَى  َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  النَّبِيَّ َصلَّ 

عن  ومسلم  البخاري  )رواه   . لِْلَقْتِل  َها  َغْيُ َأْو 

ابن عمر(

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, bahwa pada suatu 

hari ia bertandang ke rumah Yaĥyā bin Sa‘īd. Di sana 

ia mendapati seorang bocah yang merupakan salah 

satu anak Yaĥyā sedang mengikat seekor ayam dan 

melemparinya dengan batu. Ibnu ‘Umar bergegas 

mendekati ayam ini  dan melepaskan ikatan-

nya. Beberapa saat lalu  ia menemui Yaĥyā 

sambil memegang ayam dan memegang bocah 

tadi. Ia berkata, “Laranglah anakmu dari mengikat 

hewan ini untuk dibunuhnya! Sungguh, aku 

mendengar bahwa Rasulullah melarang mengikat 

binatang atau makhluk hidup lainnya untuk tujuan 

dibunuh.” (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari 

Ibnu ‘Umar)

Bila etika menyembelih hewan 

sudah dijelaskan dengan cukup rinci 

dalam banyak hadis, tidak demikian 

adanya pemanfaatan hewan sebagai 

objek percobaan/penelitian. Untuk 

mengetahui hukum hal ini  kita 

memerlukan kaidah-kaidah yang ada 

di dalam disiplin ilmu fikih. Fikih yang 

merupakan ilmu yang menuntun umat 

Islam dalam menentukan hukum suatu 

persoalan, apakah diperbolehkan atau 

dilarang. berdasar  kajian-kajian 

fikih diperoleh keputusan bahwa 

jika eksperimen pada hewan ber-

tujuan memperoleh pengetahuan 

yang benar-benar bermanfaat bagi 

kehidupan manusia dan/atau makhluk 

lainnya, maka eksperimen ini  

dapat disetujui; tidak bila didasarkan 

pada alasan yang tidak demikian. 

Terkait pemakaian  hewan seba-

gai objek eksperimen, fikih memberi 

rambu-rambu sebagai berikut.

1. Menjadikan hewan sebagai 

objek  eksperimen yang bersifat 

menyakiti, dan tindakan-tindak-

an lain yang mengakibatkan 

kebutaan atau cacat semisalnya 

pada hewan, hukumnya haram; 

2. Pengujian obat-obatan kepada 

hewan, sebelum obat itu dinya-

takan aman bagi manusia, hu-

kumnya boleh;

3. Menjadikan hewan sebagai objek 

eksperimen yang sembarangan 

dan tanpa tujuan yang jelas 

hukumnya haram.

Selain membicarakan hewan 

peliharaan yang jinak, Al-Qur'an juga 

menyebut binatang liar. Meski hanya 


disebut sebanyak satu kali, yaitu 

pada Surah at-Takwīr/81: 5, namun 

penyebutannya tergolong unik. Itu 

sebab  hewan liar disebut dalam 

rangkaian kejadian-kejadian yang di-

gambarkan terjadi pada hari kiamat.  

di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. 

Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha 

Pengampun.  (Fāţir/35: 28)

Beberapa jenis binatang disebut-

kan secara spesifik dalam Al-Qur'an, 

di antaranya sapi. Bahkan, hewan ini 

terkadang disebut lebih spesifik lagi, 

misalnya dengan sebutan anak sapi, 

sapi betina, atau sapi jantan. Anak 

lembu disebut dalam kisah Nabi Musa 

saat membawa Bani Israil keluar dari 

Mesir. Dikisahkan, dalam perjalanan 

keluar Mesir mereka mengalami 

pergeseran kepercayaan, dengan 

menyembah patung anak sapi. Inilah 

bukti kekufuran Bani Israel terhadap 

ajaran Allah.

jika  matahari digulung,  Dan jika  bintang-

bintang berjatuhan.  Dan jika  gunung-gunung 

dihancurkan.  Dan jika  unta-unta yang bunting 

ditinggalkan (tidak diperdulikan). Dan jika  

binatang-binatang liar dikumpulkan. Dan jika  

gunung-gunung dihancurkan.  (at-Takwīr/81: 1-5)

Dalam ayat-ayat yang lain hewan 

liar lebih sering dinyatakan sebagai 

“binatang melata” atau “binatang 

yang berjalan di perutnya”. Hal ini 

dapat kita lihat di antaranya dalam 

Surah Faţīr/35: 28 berikut, di mana 

binatang melata disandingkan dengan 

binatang ternak.   

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-

binatang melata dan binatang-binatang ternak 

ada yang bermacam-macam warnanya (dan 

jenisnya).  Sesungguhnya yang takut kepada Allah 

Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu 

membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), 

lalu  kamu jadikan anak sapi (sebagai sem-

bahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenar-

nya kamu yaitu  orang-orang yang zalim. Dan 

(ingatlah), saat  Kami mengambil janji dari kamu 

dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya 

Kami berfirman), ‘Peganglah teguh-teguh apa 

yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!. 

Mereka menjawab:  ‘Kami mendengar namun  tidak 

mentaati’. Dan telah diresapkan ke dalam hati 

mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi 

sebab  kekafirannya. Katakanlah, ‘Amat jahat 

perbuatan yang telah diperintahkan imanmu 

kepadamu jika betul kamu beriman (kepada 

Taurat). (al-Baqarah/2: 92-93)

Anak lembu juga muncul dalam 

Surah al-�Ādiyāt/100: 26 dalam kisah 

Ibrahim; dan mimpi raja pada Surah 

Yūsuf/12: 43 dalam kisah Yusuf.

Sementara itu kambing (betina) 

muncul dalam Al-Qur'an dalam kisah 

Nabi Daud (Șād/38: 23–24). Hal yang 

ditekankan dalam kisah ini yaitu  

kejujuran dalam bekerja sama antara 

dua belah pihak atau lebih, dengan 

ilustrasi kambing sebagai komoditas-

nya. Babi disebut dalam Surah al-

Baqarah/2: 173 dan al-Mā'idah/5: 3, 

yang memastikan keharaman mengon-

sumsinya. Adapun rincian mengenai 

halal-haramnya daging, baik daging 

binatang liar (yang diburu) maupun 

binatang ternak (yang disembelih), 

serta status dan cara kematiannya, 

dibahas dalam Surah al-Mā'idah/5: 3 

berikut.

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, 

daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas 

nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, 

yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang 

buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, 

dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk 

berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib 

dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak 

panah itu) yaitu  kefasikan. pada hari ini orang-

orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) 

agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada 

mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini 

telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, 

dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan 

telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka 

barang siapa terpaksa sebab  kelaparan tanpa 

sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha 

Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Mā'idah/5: 

3)

Keledai muncul dalam Al-Qur'an 

sebagai permisalan orang yang buruk 

suaranya (Luqmān/31: 19) dan panik 

sebab  dikejar singa (al-Muddaššir/74: 

50–51). Hewan ini juga disebut ber-

sama bagal dan kuda pada ayat yang 

berbicara tentang banyaknya ciptaan 

Allah yang tidak diketahui manusia 

(an-Naĥl/16: 8). Kuda muncul di 

banyak ayat, baik sebagai tamsil atas 

Dan Apakah mereka tidak memperhatikan burung-

burung yang mengembangkan dan mengatupkan 

sayapnya di atas mereka? tidak ada yang mena-

hannya (di udara) selain yang Maha Pemurah. 

Sesungguhnya Dia Maha melihat segala sesuatu. 

(al-Mulk/67: 19)

Penelitian menemukan bagai-

mana beberapa jenis burung mempe-

ragakan kesempurnaannya dalam peri-

laku pergerakannya, misalnya dalam 

bermigrasi. Program migrasi sudah ada 

dalam kode genetika burung, dan itu 

menjelaskan bagaimana burung muda 

yang tak berpengalaman pun dapat 

bermigrasi dengan benar dan kembali 

lagi pada waktu yang sepertinya sudah 

dijadwalkan sebelumnya.

kekayaan (Āli ‘Imrān/3: 14), sebagai 

tunggangan yang tangguh (Șād/38: 

31–32; al-‘Ādiyāt/100: 1–2), maupun 

sebagai komoditas dalam hukum 

yang mengatur harta rampasan (al-

Ĥasyr/59: 6)

Unta disebut di banyak ayat 

misalnya sebagai padanan orang 

yang rakus (al-Wāqi‘ah/56: 55); unta 

juga disebut dalam kisah Salih (asy-

Syu‘arā'/26: 155; asy-Syams/91: 13–14), 

sebagai komoditas dalam hukum yang 

mengatur pengaturan harta rampasan 

(al-Ĥasr/59: 6);  sebagai permisalan api 

neraka yang menyerupai iringan unta 

kuning (al-Mursalāt/77: 33). Unta juga 

disebut berkaitan dengan perihal hari 

kiamat (at-Takwīr/81: 4) dan perihal 

penciptaan (al-Gāsyiyah/88: 17)

Burung yaitu  hewan yang juga 

banyak disebut dalam Al-Qur'an. Ia 

disebut dalam mukjizat Nabi Isa (Āli 

‘Imrān/3: 49; al-Mā'idah/5: 110); dalam 

penyebutan komunitas dalam binatang 

(al-An‘ām/6: 38); pemujaan dan keta-

atan terhadap Allah (an-Nūr/24: 41; 

Saba'/37: 10; Șād/38: 19; al-Mulk/67: 

19); dalam kisah peperangan melawan 

gajah (al-Fīl/105: 3); dan perihal kehi-

dupan di surga (al-Wāqi‘ah/56: 21). 

Beberapa ayat di antaranya bahkan 

sudah lebih rinci dengan menyebut 

jenis burung, seperti gagak dalam 

kisah Habil dan Qabil (al-Mā'idah/5: 

31) dan puyuh dalam kisah pelarian 

Nabi Musa dari Mesir (al-Baqarah/2: 

57; al-A‘rāf/7: 160; Tāhā/20: 80). Salah 

satu ayat yang menyebut burung 

bahkan bisa jadi memberi referensi 

mengenai salah satu perilakunya yang 

spektakuler, yaitu migrasi. Migrasi 

yaitu  perpindahan populasi jenis 

hewan dalam jumlah besar ke tempat 

lain, dan kembali lagi ke tempat 

semula, untuk berbagai maksud, di 

antaranya menghindari musim dingin, 

mencari ketersediaan pakan, melaku-

kan perkawinan,  mengasuh anak, dan 

masih banyak lagi.  Allah berfirman,

23Pandangan Islam tentang Hewan

Seperti hewan-hewan yang dise-

but sebelumnya, ikan juga disebut 

dalam Al-Qur'an. Ikan muncul dalam 

kisah pertemuan antara Nabi Musa 

dan Nabi Khidir (al-Kahf/18: 61, 63) dan 

dalam kisah Nabi Yunus (aș-Șāffāt/37: 

142). Serangga juga tidak luput dari 

perhatian Al-Qur'an. Beberapa jenis 

serangga disebutkan di sana, seperti 

nyamuk (al-Baqarah/2: 26) dan lalat (al-

Ĥajj/22: 73), dua hewan mungil namun 

tidak seorang pun dapat membuatnya; 

lebah dan perikehidupannya (an-

Naĥl/16: 68-69); belalang yang menjadi 

perumpamaan kondisi makhluk pada 

Hari Kebangkitan (al-Qamar/54: 7). 

Belalang juga disebut bersama-sama 

dengan bangkai, darah, kutu, dan katak 

sebagai mukjizat Nabi Musa untuk 

menghukum Firaun dan penduduk 

Mesir (al-A‘rāf/7: 133). Rayap juga 

disebut dalam kisah wafatnya Nabi 

Sulaiman (Saba'/34: 14). Laba-laba juga 

demikian; ia dijadikan perumpamaan 

rumah yang mengkhawatirkan (al-

Ankabūt/29: 41).

Ular banyak muncul dalam kisah 

Nabi Musa saat berhadapan dengan 

Firaun dan penyihir-penyihirnya (Tāhā/ 

20: 20; an-Naml/27: 10; al-Qașaș/28: 31). 

Pada dasarnya hewan diciptakan 

untuk memenuhi keperluan manusia, 

demikianlah pesan yang dapat disari-

kan dari berbagai ayat. Burung puyuh, 

misalnya, menjadi pasokan makanan 

bagi Bani Israil dalam pengembaraan 

mereka di Gurun Sinai pada masa Nabi 

Musa (al-Baqarah/2: 57). Binatang ter-

nak pun diciptakan untuk memenuhi 

kebutuhan manusia akan pangan, 

papan, sandang, dan transportasi (al-

An‘ām/6: 142; an-Naĥl/: 5–8, 66-69, 80; 

al-Ĥajj/: 36; Muĥammad/: 21–22; Yāsīn/: 

71–73; Gāfir/: 79–80)

Ayat yang berbicara tentang 

berbagai binatang dalam bentuk meta-

fora banyak ditemui dalam Al-Qur'an. 

Orang kafir misalnya di-umpamakan 

binatang yang mengabaikan panggilan 

penggembalanya. Allah berfirman,

Perumpamaan bagi (penyeru) orang yang kafir 

yaitu  seperti (penggembala) yang meneriaki 

(binatang) yang tidak mendengar selain panggilan 

dan teriakan. (Mereka) tuli, bisu dan buta, maka 

mereka tidak mengerti. (al-Baqarah/2: 171)

Hewan juga dijadikan tamsil bagi 

manusia dan jin yang lalai dan tidak mau 

membuka hatinya untuk menerima 

ayat-ayat Allah. Allah berfirman,


Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam 

banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka 

memiliki hati, namun  tidak dipergunakannya 

untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka 

memiliki mata (namun ) tidak dipergunakannya 

untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan 

mereka memiliki  telinga (namun ) tidak dipergu-

nakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). 

Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat 

lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah. (al-

A‘rāf/7: 179)

Allah telah berjanji akan mema-

sukkan mereka yang mirip hewan ini 

ke dalam neraka. 

dan Jahannam yaitu  tempat tinggal mereka. 

(Muĥammad/47: 12)

Allah mengutuk mereka yang 

mengabaikan firman-Nya menjadi babi 

dan kera, sebagaimana dinyatakan 

dalam Surah al-Baqarah/2: 65 dan al-

Mā'idah/5: 60. Mereka yang menolak 

tanda-tanda yang diberikan Allah dium-

pamakan seperti anjing, sebagaimana 

dinyatakan dalam Surah al-A‘rāf/7: 176.

Demikianlah uraian mengenai 

pandangan Islam terhadap hewan, 

dan bagaimana Al-Qur'an tidak mele-

watkan begitu saja penyebutan 

beberapa jenis hewan di dalam ayat-

ayatnya. Uraian singkat ini menjadi 

pembukaan untuk melihat pola 

hubungan antara Islam dan hewan, 

baik yang masih liar maupun yang 

sudah didomestikasi manusia; suatu 

pola hubungan yang diatur dalam Al-

Qur'an dan hadis Rasulullah. []

Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang 

mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah 

yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. dan 

orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) 

dan mereka Makan seperti makannya binatang. 


HEWAN DALAM AL-QUR'AN

Banyak hewan yang disebut 

dalam Al-Qur'an. Sebagian 

darinya dijadikan perumpa-

maan atau tamsil, dan sebagian lagi 

memberi sedikit penjelasan mengenai 

perikehidupannya. Penyebutan ini ber-

tujuan agar manusia dapat memahami 

pesan Allah dan mempelajarinya demi 

kepentingan manusia sendiri.  Hewan-

hewan yang disebut dalam Al-Qur'an di 

antaranya yaitu  semut (an-Naml/27: 

18), Kera (al-Baqarah/2: 65), keledai 

(Luqmān/31: 19, lebah (an-Naĥl/16: 

68-69), unta (al-Gāsyiyah/88: 17), sapi 

(al-Baqarah/2: 71), kambing betina 

(Șād/38: 23-24), burung gagak (al-

Mā'idah/5: 31),  anjing (al-A‘rāf/7: 76), 

gajah (al-Fīl/105: 1), ikan (aș-Șāffāt/37: 

142), lalat (al-Ĥajj/22: 73), katak (al-

A‘rāf/77: 133), kuda (an-Naĥl/16: 8), 

singa (al-Muddaššir/74: 50-51), belalang 

(al-Qamar/54: 7), ular (asy-Syu‘arā'/26: 

32), domba (al-An‘ām/6: 143), laba-laba 

(al-Ankabūt/29: 41), babi (al-Baqarah/2: 

173) dan masih banyak lagi. Selain 

menyebut hewan tertentu dengan 

nama spesifiknya, Al-Qur'an terkadang 

hanya menyebut kelompoknya, se-

perti kelompok hewan ternak (az-

Zumar/39: 6), kelompok hewan liar 

(al-Mā'idah/81: 1-6), atau kelompok 

hewan melata (asy-Syūrā/42: 29).

Tidak hanya menyebut nama-

nama atau jenis-jenis hewan, hal-hal 

yang berkaitan dengan perikehidupan 

hewan juga tidak luput dari perhatian 

Al-Qur'an. Migrasi burung (al-Mulk/67: 

19) dan kemampuan hewan untuk 


berkomunikasi satu dengan lainnya 

(an-Naml/27: 17-18) yaitu  beberapa di 

antaranya. Salah satu tujuannya yaitu  

agar manusia berusaha memahami 

perikehidupan hewan dengan baik, 

dan dengan demikian dapat mengem-

bangkan ilmu pengetahuan. Tujuan 

yang sama itu pula yang Allah inginkan 

tatkala menyebut dalam firman-Nya air 

susu sapi (an-Naĥl/16: 66) dan adanya 

simbiosis pada hewan dan tumbuhan 

(Ţāhā/20: 50).

Al-Qur'an dan hadis juga banyak 

berbicara mengenai hak hewan dan 

etika manusia dalam memperlakukan 

hewan, baik hewan liar maupun jinak. 

Dua hal ini  diatur dengan sangat 

rinci, sehingga tidak seharusnya lagi 

terjadi pelanggaran atas hak hewan 

seperti jamak kita saksikan belakangan 

ini, mulai dari adu hewan, perlakuan tak 

manusiawi terhadap hewan sebelum 

dipotong (misalnya menggelonggong 

sapi), hingga menjadikan hewan seba-

gai objek percobaan untuk hal-hal 

yang tidak sama sekali terkait dengan 

kesehatan dan kesejahteraan manusia. 

Tema ini akan diuraikan di 

dalam bab-bab berikut. Sebagian 

darinya akan diuraikan dengan rinci, 

sedang  yang lainya tidak.

A.  REPTIL DAN AMFIBI

Jenis reptil (seperti ular dan kadal) 

dan amfibi (seperti katak) oleh Al-

Qur'an disebut sebagai dābbah, ad-

dawāb, atau man yamsyī ‘alā bațnih, 


sebutan yang lazim diterjemahkan 

ke dalam bahasa Indonesia menjadi 

“binatang melata” atau “hewan yang 

berjalan di atas perutnya”. Sebutan ini 

paling tidak dapat kita jumpai dalam 

Al-Qur'an sebanyak enam kali, yakni 

dalam firman-firman Allah berikut.

Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada 

di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud 

kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, 

gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan 

yang melata dan banyak di antara manusia? namun  

banyak (manusia) yang pantas mendapatkan azab. 

Barangsiapa dihinakan Allah, tidak seorang pun 

yang akan memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat 

apa saja yang Dia kehendaki. (al-Ĥajj/22: 18)

Dan Allah menciptakan semua jenis hewan dari air, 

maka sebagian ada yang berjalan di atas perutnya 

dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang 

sebagian (yang lain) berjalan dengan empat 

kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. 

Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. 

(an-Nūr/24: 45)

Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk 

bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan 

ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan 

jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut 

kepada-Nya, hanyalah para ulama. ) Sungguh, Allah 

Mahaperkasa, Maha Pengampun. (Fāţir/35: 28)

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya yaitu  

penciptaan langit dan bumi dan makhluk-makhluk 

yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. 

Dan Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya 

jika  Dia kehendaki. (asy-Syūrā/42: 29)

Dan pada penciptaan dirimu dan pada makhluk 

bergerak yang bernyawa yang bertebaran (di 

bumi) ada  tanda-tanda (kebesaran Allah) 

untuk kaum yang meyakini. (al-Jāšiyah/45: 4)

Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di 

bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. 

Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat 

penyimpanannya. ) Semua (tertulis) dalam Kitab 

yang nyata (Lauh Mahfuz). (Hūd/11: 6)

Ayat-ayat ini berbicara mengenai 

salah satu ciptaan-Nya, yakni kelompok 


reptil dan sedikit amfibi. Reptil yaitu  

satu kelas dari kerajaan binatang yang 

terdiri atas ular, kadal, penyu, buaya, 

dan tuatara.  

Tuatara (Sphenodon punctatus) 

yaitu  jenis reptil  langka serupa kadal 

yang hidup hanya di beberapa pulau 

kecil di sekitar Selandia Baru. Reptil 

ini disebut fosil hidup sebab  sisa dari 

kelompoknya sudah punah jutaan 

tahun lalu. Soal mengapa mereka 

masih bertahan hidup hingga masa 

kini, tidak ada yang tahu jawabannya. 

Baru sedikit perikehidupan tuatara 

yang diketahui.

Sementara itu, ular diperkirakan 

terdiri dari sekitar 2.500 jenis. Ular 

hidup menyebar di kawasan yang 

panas. Jenis ular sangat variatif, dari 

yang tidak berbahaya bagi manusia 

hingga yang memiliki bisa mematikan. 

Warnanya pun beragam, dari yang 

polos hingga yang berwarna-warni 

indah. Ukuran ular juga beragam, 

dari yang hanya berukuran kurang 

dari 10 cm sampai hingga yang me-

lebihi 17 meter. Persepsi manusia 

terhadap ular juga bervariasi; sebagian 

manusia memujanya dan sebagian 

yang lain begitu membencinya dan 

menyamakannya dengan iblis.

Dengan begitu banyaknya jenis 

binatang mengagumkan yang dicip-

takan Allah, mengapa Dia mencip-

takan mahluk yang “berjalan di atas 

perutnya?” Jawabannya tentu saja 

sebab  makhluk ini memiliki peran 

tersendiri dalam rantai makanan, 

dengan memakan tikus, kadal, dan 

sejenisnya, dan lalu  berbalik 

menjadi mangsa bagi binatang lain.  

Ada empat cara unik ular berge-

rak, yaitu: (1) mengelokkan badan, 

biasa disebut cara “serpentine”; (2) 

menekankan tubuh ke tanah dan 

bergerak maju dengan memakai  

Gambar 2–3

Tuatara (Sphenodon punctatus). (Sumber: archive.kaskus. co; earlham.edu) 

29Hewan dalam Al-Qur'an

kinerja otot yang diciptakan khusus 

untuk menunjang gerakan ini; (3) cara 

“caterpillar”, yaitu menggerakkan kulit 

dengan bantuan otot yang mengarah 

maju-mundur—cara ini lazim diguna-

kan oleh ular-ular berukuran besar; 

dan (4) memakai  sisik perut yang 

lebar untuk “memegang” bagian 

tanah yang tidak rata dan maju lurus 

ke depan. Kemampuan unik lain 

yang diberikan kepada ular yaitu  

caranya makan. Dengan fleksibilitas 

sendi rahang bawahnya ular mampu 

menelan mangsa berukuran jauh lebih 

besar daripada ukuran kepalanya. 

Ular perlu waktu yang relatif lama 

untuk mencerna mangsanya dengan 

sempurna. Ular sanca, misalnya, bisa 

saja hanya makan satu kali dalam satu 

tahun. 

Kelompok lain yang memiliki 

jenis hampir sama banyak dengan 

ular  yaitu  kadal. Kelompok ini terdiri 

dari sekitar 2.500 jenis. seperti halnya 

ular, kelompok kadal memiliki variasi 

bentuk dan warna yang sangat banyak. 

Salah satu dari jenis kadal yaitu  

bunglon. Hewan ini dapat merubah 

warna kulitnya sesuai keperluan. Ia 

juga dapat menggerakkan kedua 

matanya secara terpisah; satu mata 

untuk mengincar mangsa, dan yang 

lain untuk mengawasi datangnya 

pemangsa. Kadal secara umum ber-

jalan dengan empat kaki, namun 

beberapa jenis di antaranya memiliki 

bentuk tubuh mirip ular, tidak berkaki. 

Beberapa jenis kadal dapat berlari 

cepat di atas air memakai  kedua 

kaki belakangnya sebagai penopang 

laju. Beberapa jenis lainnya bahkan 

dapat melayang dengan bantuan 

“sayap” berupa kulit yang melebar di 

antara kaki depan dan belakangnya.  

Jenis kadal yang memiliki ukuran 

tubuh paling besar yaitu  komodo. 

Hewan ini dapat mencapai ukuran 

panjang sampai 8 meter (10 feet) dan 

berat 350 kilogram. Komodo yaitu  

hewan yang berbahaya, dan sebab nya 

Pulau Komodo di NTT merupakan 

pulau yang tidak aman untuk ditinggali. 

Tidak saja kehadiran komodo yang 

membuat pulau ini berbahaya, namun  

juga adanya beberapa jenis ular, 

kalajengking, dan laba-laba beracun 

dalam jumlah banyak.



Sedikit lebih kecil daripada ukur-

an komodo yaitu  “gila monster”, 

satu-satunya kadal beracun dari 

kawasan gurun Amerika Utara. 

Hewan ini hidup dari memakan telur 

burung dan tikus. sebab  kawasan 

itu tidak menyediakan makanan 

yang berlimpah, Tuhan memberinya 

kemampuan menyimpan lemak pada 

ekornya. Adapun kadal terkecil yaitu  

tokek yang berasal dari Pulau Virgin.

Variasi bentuk dan warna yang 

tinggi pada kelompok ular dan kadal 

tidak hadir begitu saja tanpa arti. Ini 

semua merupakan bukti betapa Allah 

Mahakuasa. Allah berfirman,


Keanekaragaman bentuk dan warna kelompok kadal. 

(Sumber: animalinformation.blogspot.com; 

bukisa.com)

Dan (Dia juga mengendalikan) apa yang Dia 

ciptakan untukmu di bumi ini dengan berbagai 

jenis dan macam warnanya. Sungguh, pada 

yang demikian itu benar-benar ada  tanda 

(kebesaran Allah) bagi kaum yang mengambil 

pelajaran. (an-Naĥl/16: 13)

Hewan yang sangat berbeda 

bentuknya, namun masih masuk 

dalam kelompok reptil, yaitu  kura-

kura atau penyu dan labi-labi. Ada 250 

jenis kura-kura yang hidup di bumi, 

mulai dari yang hidup di daratan 

(hutan sampai padang pasir) hingga 

yang hidup di perairan (laut, sungai, 

danau). Hewan ini dilengkapi tempat 

31Hewan dalam Al-Qur'an

berlindung berupa cangkang. Pada 

beberapa jenis berat cangkang bahkan 

dapat mencapai sekitar sepertiga 

berat badannya. Cangkang berfungsi 

melindungi kura-kura dari bahaya. 

Begitu kura-kura memasukkan kepala 

dan kakinya ke dalam cangkang, akan 

sulit bagi pemangsa untuk meng-

ganggunya. Bentuk kaki kura-kura 

bervariasi, bergantung pada tempat 

hidupnya. Kura-kura Galapagos memi-

liki kaki yang kuat untuk berjalan, 

sedang  penyu laut memiliki kaki 

yang berubah menjadi sirip untuk 

berenang. 

Hubungan antara manusia 

dengan kura-kura sudah berlangsung 

sejak lama. Pada banyak warga  

kura-kura dipakai  sebagai simbol 

kekuatan, keteguhan hati, dan kebi-

jakan. Manusia pada umumnya 

menyukai kura-kura, namun hal ini 

membuat malah mendorong seba-

gian orang menangkapinya untuk 

berbagai keperluan, dan merusak 

habitatnya sehingga membuatnya ter-

ancam punah. Manusia seharusnya 

mengapresiasi apa pun ciptaan Allah 

dan selalu mengingat firman-Nya,


Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di 

bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. 

Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat 

penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab 

yang nyata (Lauh Mahfuz). (Hūd/11: 6) 

Dari semua hewan reptil, buaya 

yaitu  yang paling ditakuti manusia. 

Ada 22 jenis buaya yang dikenal sampai 

saat ini. Buaya diperkirakan sudah ada 

di bumi sejak 200 juta tahun lalu. Buaya, 

sebagaimana kura-kura, sudah ada 

pada masa dinosaurus. Meski tampak 

kuno dan primitif, sebenarnya buaya 

dan kura-kura yaitu  jenis termaju di 

antara semua reptil. Dalam hal sistem 

peredaran darah, buaya lebih dekat 

kepada burung daripada kadal. 

Buaya membuat sarang dan 

dikenal sangat perhatian kepada anak-

anaknya. Bila pada hewan yang lain 

jenis kelamin calon anak ditentukan 

oleh kromosom, maka tidak demikian 

dengan buaya. Jenis kelamin mereka 

tidak ditentukan saat  masih dalam 

bentuk telur. Suhu saat setengah waktu 

pengeramanlah yang menentukannya. 

Pada jenis American alligator, bila suhu 

sarang tinggi maka telur akan menetas 

menjadi anak jantan, dan menjadi 

anak betina bila suhu sarang rendah. 

Berbeda dari jenis ini, jenis crocodile 

akan menghasilkan anak betina bila 

suhu sarang tinggi atau rendah, dan 

menetaskan anak jantan bila suhunya 

sedang.

Kodok dan katak yaitu  hewan 

amfibi yang paling dikenal. Kelompok 

ini biasa dianggap menjijikan tanpa 

alasan yang jelas. Katak bertubuh 

pendek, gempal atau kurus, dengan 


punggung agak bungkuk. Katak umum-

nya berkulit halus, lembap, dengan 

kaki belakang panjang, sedang  

kodok atau bangkong berkulit kasar 

berbintil, kering, dan dengan belakang 

seringkali pendek saja, membuatnya 

kurang pandai melompat jauh. Katak 

dan kodok bermula dari telur yang 

diletakkan di air, di sarang dari busa, 

di lumut pohon yang basah, atau di 

tempat basah lainnya, termasuk di 

punggung katak jantan. Telur menetas 

menjadi berudu atau kecebong yang 

masih bernafas dengan insang selama 

hidup di dalam air. Seiring waktu akan 

tumbuh kaki belakang pada berudu 

yang lalu  disusul munculnya kaki 

depan, dan pada akhirnya bernafas 

dengan paru-paru.

Kodok dan katak menyebar luas, 

terutama di daerah tropis. Jumlah 

jenis hewan ini makin berkurang 

jika  lokasinya makin dingin, seperti 

di atas gunung atau di daerah dengan 

empat musim. Itu sebab  binatang 

ini termasuk hewan berdarah dingin 

dan membutuhkan panas matahari 

di lingkungan hidupnya. Hewan ini 

dapat ditemui hidup mulai dari hutan, 

padang pasir, sungai, rawa, sawah, 

hingga lingkungan permukiman. Ia 

memangsa berbagai jenis serangga, 

dan dimangsa oleh ular, kadal, burung, 

linsang, bahkan oleh manusia. Ia 

membela diri secara fisik dengan 

melompat, dan beberapa di antaranya 

dengan melumuri tubuhnya dengan 

lendir pekat yang lengket atau lendir 

beracun.

Katak menjadi salah satu muk-

jizat Nabi Musa saat di Mesir. sesudah  

Allah membekali Musa dengan banyak 

mukjizat, seperti topan, serangan 

belalang dalam jumlah yang sangat 

banyak yang merusak pertanian, 

kutu yang mengganggu kehidupan 

warga  Mesir, dan mengubah air 

minum mereka menjadi darah, Allah 

melengkapinya dengan munculnya 

katak dalam jumlah sangat besar. 

Katak tiba-tiba berlompatan begitu 

saja di makanan penduduk Mesir, 

memenuhi rumah dan area mereka 

beraktivitas. Allah menjelaskan hal ini 

dalam firman-Nya,

ini digambarkan apa yang terjadi saat 

pertemuan antara Nabi Musa dan 

Firaun.

Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, 

belalang, kutu, katak dan darah (air minum 

berubah menjadi darah) sebagai bukti-bukti yang 

jelas, namun  mereka tetap menyombongkan diri 

dan mereka yaitu  kaum yang berdosa. (al-A‘rāf/7: 

133)

Dari kelompok hewan amfibi 

dan reptil, hanya katak dan ularlah 

yang disebut dalam Al-Qur'an. Perihal 

kedua hewan ini akan diuraikan lebih 

mendalam dalam buku ini.

1. ULAR

Ular cukup banyak disebut dalam Al-

Qur'an. Kebanyakan ayat-ayat terse-

but berkaitan dengan kisah mukjizat 

yang dianugerahkan Allah kepada 

Nabi Musa. Dalam dua ayat di bawah 

Dan Musa berkata, “Wahai Fir'aun! Sungguh, aku 

yaitu  seorang utusan dari Tuhan seluruh alam, 

aku wajib mengatakan yang sebenarnya tentang 

Allah. Sungguh, aku datang kepadamu dengan 

membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka 

lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersamaku.” Dia 

(Fir'aun) menjawab, “Jika benar engkau membawa 

sesuatu bukti, maka tunjukkanlah, kalau kamu 

termasuk orang-orang yang benar.” Lalu (Musa) 

melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu 

menjadi ular besar yang sebenarnya. (al-A‘rāf/7: 

104-107)

Dia (Musa) berkata, “(Dialah) Tuhan (yang 

menguasai) timur dan barat dan apa yang 

ada di antara keduanya; jika kamu mengerti.” 

Dia (Fir‘aun) berkata, “Sungguh, jika engkau 

menyembah Tuhan selain aku, pasti aku masukkan 

35Hewan dalam Al-Qur'an

itu) oleh orang yang tidak beriman kepadanya 

dan oleh orang yang mengikuti keinginannya, 

yang memicu  engkau binasa.” “Dan apakah 

yang ada di tangan kananmu, wahai Musa? ” 

Dia (Musa) berkata, “Ini yaitu  tongkatku, aku 

bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-

daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, 

dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain.” Dia 

(Allah) berfirman, “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” 

Lalu (Musa) melemparkan tongkat itu, maka tiba-

tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan 

cepat. (Tāhā/20: 15-20)

engkau ke dalam penjara.” Dia (Musa) berkata, 

“Apakah (engkau akan melakukan itu) sekalipun 

aku tunjukkan kepadamu sesuatu (bukti) yang 

nyata?” Dia (Firaun) berkata, “Tunjukkan sesuatu 

(bukti yang nyata) itu, jika engkau termasuk orang 

yang benar!” Maka dia (Musa) melemparkan 

tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu menjadi ular 

besar yang sebenarnya. (asy-Syu‘arā'/26: 28–32)

 Sebelum pertemuan kedua 

insan ini berlangsung sebagaimana 

digambarkan pada dua ayat di atas, 

terjadi dialog antara Musa dan Allah. 

Dalam dialog ini  tampak betapa 

Musa masih memperlihatkan sisi 

kemanusiaannya. Ia masih meragu-

kan kemampuannya sendiri dalam 

menghadapi keingkaran Firaun. 

sebab  itu Allah membesarkan hati 

Musa dan meyakinkannya dengan janji 

memberinya mukjizat yang membuk-

tikan kebenaran yang dibawanya.

Sungguh, hari Kiamat itu akan datang, Aku 

merahasiakan (waktunya) agar setiap orang 

dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan. 

Maka janganlah engkau dipalingkan dari (Kiamat 

Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, dia 

akan keluar putih (bercahaya) tanpa cacat, dan 

dekapkanlah kedua tanganmu ke dadamu jika  

ketakutan. Itulah dua mukjizat dari Tuhanmu 

(yang akan engkau pertunjukkan) kepada Fir‘aun 

dan para pembesarnya. Sungguh, mereka yaitu  

orang-orang fasik.”  (al-Qașaș/28: 32)

Maka dia (Musa) melemparkan tongkatnya, 

tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang 

sebenarnya. (asy-Syu‘arā’/26: 32)

Ular disebut dengan redaksi 

tsu‘bān, ĥayyān, dan jān. Dalam cerita 

Nabi Musa dikisahkan bahwa tongkat 

yang ia lemparkan berubah menjadi 

seekor ular yang merayap (ĥayyatun 

tas‘ā) (Tāhā/20: 20). Di tempat lain 

disebutkan tongkat itu bergerak-


gerak laksana seekor ular yang gesit 

(ka‘annahā jān) (al-Qașaș/28: 31). 

Disebutkan pula bahwa tongkat itu 

berubah menjadi ular yang sebenarnya 

(šu‘bānun mubīn) (al-A‘rāf/7: 107, asy-

Syu‘arā’/26: 32). Perbedaan ungkapan 

itu bisa dipahami dengan menjadikan 

beberapa peristiwa itu sebagai sebuah 

proses. Artinya, pada awalnya tongkat 

itu berubah menjadi seekor ular yang 

merayap dengan cepat, lalu  

berubah menjadi seekor ular kecil 

yang gesit, dan akhirnya menjadi ular 

besar yang sebenarnya. Ada pula yang 

menafsirkan bahwa tongkat Nabi 

Musa telah berubah menjadi seekor 

ular yang lincah dan gesit seperti ular 

kecil, namun sangat menakutkan 

seperti ular besar. Sebagian mufasir 

yang lain mengatakan bahwa 

perbedaan ungkapan itu disebabkan 

perbedaan tempat terjadinya muk-

jizat—mukjizat terjadi berkali-kali di 

tempat yang berbeda. Menurut yang 

terakhir ini perubahan bentuk tongkat 

menjadi ular jantan yang besar 

terjadi di hadapan Firaun, sedang  

perubahannya menjadi ular kecil terjadi 

pada malam saat  Nabi Musa diseru 

Allah untuk pertama kalinya. Ada juga 

yang memahaminya sebagai berikut: 

šu‘ban berarti arti ular yang panjang 

dan lincah, ĥayyah berarti tumpukan 

badan ular yang menyatu dan 

menakutkan, sedang jān berarti ular 

yang sangat menakutkan. Perbedaan 

penampakan ular itu dengan demikian 

disesuaikan dengan tempat, sasaran, 

dan tujuan penampakannya. Banyak 

riwayat yang menjelaskan bentuk ular 

ini , demikian juga cahaya yang 

bersinar dari tangan beliau, namun  

riwayat-riwayat ini  tidak dapat 

diyakini kesahihannya. Yang dapat 

kita pastikan yaitu  bahwa keduanya 

yaitu  peristiwa luar biasa yang 

nampak dengan jelas pada diri dan 

tongkat Musa, yang itu menjadi bukti 

kebenaran klaimnya sebagai utusan 

Allah.  

Perbedaan penyebutan bentuk 

ular dalam kisah Nabi Musa merupakan 

salah satu bukti kehebatan Al-

Qur'an dalam memilih kata-kata yang 

harmonis sesuai situasi dan konteks 

kisah secara keseluruhan. Kalau 

tongkat itu hanya berubah menjadi 

seekor ular yang merayap, mengapa 

Musa melihat ular itu bergerak gesit 

dan seberapa besar ular itu hingga 

membuat Firaun begitu takut saat  

Musa melemparkan tongkatnya, masih 

perlu jawaban. 

Pertemuan Musa dan Firaun 

merupakan kisah yang sering diulang 

dalam al-Qur'an, bahkan bisa dikatakan 

kisah ini yaitu  peristiwa yang paling 

banyak diulang dari sekian banyak 

pengulangan kisah-kisah dalam Al-

Qur'an. Pemunculan mukjizat ular 

ini dapat dipahami sebagai upaya 

Al-Qur'an untuk menunjukan arti 

penting pertemuan Musa dan Firaun; 

bahwa pada setiap zaman akan ada 

perseteruan antara yang hak dan 

batil, yang berkesudahan dengan 

kemenangan yang hak dan berasal 

dari Allah. 

Dalam Surah Tāhā/20: 66 dan 

asy-Syu‘arā'/26: 44, ular-ular yang 

dilemparkan oleh penyihir-penyihir 

Firaun diungkapkan dengan lafal 

ĥibāl. Ĥibāl (plural) dalam dua ayat ini 

oleh para mufasir ditafsirkan sebagai 

tali, yakni tali yang terlihat oleh mata 

manusia. Tali-tali ini  dengan 

pengaruh sihir mereka tampak seperti 

ular-ular yang bergerak dan menjalar 

untuk menakuti Nabi Musa. Akhirnya, 

berkat mukjizat yang diberikan Allah, 

Nabi Musa melemparkan tongkatnya 

yang lalu  berubah menjadi ular 

besar yang memakan �ular-ular” para 

penyihir Firaun. Ini membuktikan beta-

pa sihir tidak akan dapat mengalahkan 

mukjizat Allah (asy-Syu‘arā'/26: 69).

Kembali ke Surah al-Qașaș/28: 30-

35. Pada rangkaian ayat-ayat ini  

tampak betapa Nabi Musa agak takut 

dan ragu untuk bernegosiasi dengan 

Firaun dan para pejabatnya. Sementara 

ulama mengatakan bahwa Musa 

bukannya ragu untuk menjalankan 

misi ini . Ia sangat yakin akan 

perintah dan janji Allah, hanya saja ia 

belum sepenuhnya mendalami apa 

yang Allah bebankan kepadanya. 

Lebih-lebih, Musa sedang memiliki  

masalah yang belum terselesaikan 

dengan Firaun saat itu. Musa dikejar-

kejar tentara Firaun sebab  salah 

seorang anak buahnya mati di tangan 

Musa. Belum lagi masalah itu selesai, 

Allah justru memintanya menemui 

Firaun dan mengingatkannya akan 

eksistensi Allah. sebab  pertimbangan 

itu ia menyatakan keberatannya dari 

sudut manusiawinya, suatu hal yang 

lalu  dijawab oleh Allah dengan 

mengijinkan Harun, saudara Musa, 

untuk ikut dengannya dalam misi ini. 

Para mufasir menyatakan bah-

wa ular masuk dalam kelompok 

hewan yang boleh dibunuh meski 

sedang dalam kondisi berihram haji 

atau umrah. Ular tidak masuk dalam 

golongan hewan yang Allah haramkan 

membunuhnya kepada orang yang 

sedang berihram dalam ayat berikut.

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah 

kamu membunuh hewan buruan, saat  kamu 

disebut dalam hadis yang mengisahkan 

peristiwa saat  para sahabat sedang 

mendengarkan Surah al-Mursalāt di-

ucapkan oleh Rasulullah.

َم ِفْ  َبْينَا َنْحُن َمَع َرُسْوِل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ

ْينَاَها ِمْن  َغاٍر ، إِْذ َنَزَلْت َعَلْيِه َواْلُْرَساَلِت ، َفَتَلقَّ

فِْيِه َوإِنَّ َفاُه َلَرْطٌب ِبَا ، إِْذ َخَرَجْت َحيٌَّة ، َفَقاَل 

َم : َعَلْيُكُم اْقُتُلْوَها  َرُسْوُل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ

! َقاَل : َفاْبَتَدْرَناَها َفَسَبَقْتنَا ، َقاَل : َفَقاَل : ُوِقَيْت 

عن  البخاري  )رواه   . َها  َشَّ ُوِقْيُتْم  َكَم  ُكْم  َشَّ

ابن مسعود(

saat  kami sedang bersama Rasulullah di dalam 

sebuah gua, turunlah kepada beliau Surah al-

Mursalat. Kami pun mendengarnya langsung dari 

mulut beliau yang masih basah mengucapkannya. 

Tiba-tiba seekor ular keluar (dari liangnya). 

Rasulullah berkata, “Ayo, bunuhlah ular itu!” Kami 

bergegas mengejarnya, namun hewan itu sudah 

telanjur kabur. Rasulullah pun bersabda, “Ia telah 

diselamatkan dari gangguan kalian, seperti halnya 

kalian telah diselamatkan dari gangguannya.” 

(Riwayat al-Bukhāri dari Ibnu Mas‘ūd)

Riwayat ini dapat saja diartikan 

bahwa Nabi mengingatkan bahwa di 

dalam hati manusia masih banyak niat 

jahat. Nabi juga melarang membunuh 

ular yang hidup di dalam rumah 

melalui sabdanya, 

َدَخَل  ُه  َأنَّ ُزْهَرَة  ْبِن  ِهَشاِم  َمْوَل  اِئِب  السَّ َأِب  َعْن 

َفَوَجْدُتُه   : َقاَل   ، َبْيتِِه  ِفْ  اْلُْدِريِّ  َسِعْيٍد  َأِبْ  َعَل 

sedang ihram (haji atau umrah). Barangsiapa di 

antara kamu membunuhnya dengan sengaja, 

maka dendanya ialah mengganti dengan hewan 

ternak yang sepadan dengan buruan yang 

dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang 

adil di antara kamu sebagai hadyu yang dibawa 

ke Ka‘bah, atau kafarat (membayar tebusan 

dengan) memberi makan kepada orang-orang 

miskin, atau berpuasa, seimbang dengan makanan 

yang dikeluarkan itu, agar dia merasakan akibat 

buruk dari perbuatannya.  Allah  telah memaafkan 

apa yang telah lalu. Dan barangsiapa kembali 

mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. 

Dan Allah Mahaperkasa, memiliki (kekuasaan 

untuk) menyiksa. (al-Mā'idah/5: 95)

Yang dimaksud dengan bina-

tang buruan dalam ayat ini yaitu  

binatang yang diperbolehkan untuk 

dimakan. Dengan demikian, gagak, 

elang, kalajengking, tikus, anjing buas, 

dan ular tidak termasuk di dalamnya. 

Mereka juga memperkuat pendapat 

ini dengan hadis berikut. 

اْلَيَُّة   : َواْلََرِم  لِّ  اْلِ ف  ُيْقَتْلَن  َفَواِسُق  َخٌْس 

اْلَعُقْوُر  َواْلَكْلُب  َواْلَفْاَرُة  األَْبَقُع  َواْلُغَراُب 

ا . )رواه مسلم عن عائشة(  َواْلَُديَّ

Ada lima hewan (bertabiat) buruk yang boleh 

dibunuh di tanah halal maupun di tanah haram. 

Mereka itu yaitu  ular, burung gagak berbulu 

campuran antara hitam dan putih, tikus, anjing 

ganas, dan kalajengking. (Riwayat Muslim dari 

‘Ā'isyah)

Ular banyak disebut juga dalam 

banyak hadis, baik sebagai hewan 

nyata maupun sebagai tamsil. Ular 

39Hewan dalam Al-Qur'an

 ، َصاَلَتُه  َيْقِضَ  َحتَّى  َأْنَتظُِرُه  َفَجَلْسُت   ، ُيَصلِّ 

 ، اْلَبْيِت  َناِحَيِة  ِفْ  َعَراِجْيَ  ِفْ  ِرْيًكا  َتْ َفَسِمْعُت 

َفاْلَتَفتُّ َفإَِذا َحيٌَّة َفَوَثْبُت ألَْقُتَلَها ، َفَأَشاَر إَِلَّ َأِن 

َف َأَشاَر إَِل َبْيٍت ِف  اْجِلْس َفَجَلْسُت ، َفَلمَّ اْنَصَ

َنَعْم   : َفُقْلُت  اْلَبْيَت ؟  َهَذا  َأَتَرى   : َفَقاَل   ، اِر  الدَّ

 ، بُِعْرٍس  َعْهٍد  َحِدْيُث  ِمنَّا  َفًتى  فِْيِه  َكاَن   : َقاَل   ،

َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  اهللِ  َرُسْوِل  َمَع  َفَخَرْجنَا   : َقاَل 

َيْسَتْأِذُن  اْلَفَتى  َذلَِك  َفَكاَن   ، اْلَنَْدِق  إَِل  َم  َوَسلَّ

َم بَِأْنَصاِف النََّهاِر  َرُسْوَل اهللِ َصلَّ اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ

ِجُع إَِل َأْهِلِه ، َفاْسَتْأَذَنُه َيْوًما ، َفَقاَل َلُه َرُسْوُل  َفَيْ

َم : ُخْذ َعَلْيَك ِساَلَحَك  َعَلْيِه َوَسلَّ اهللِ َصلَّ اهللُ 

ُجُل  الرَّ َفَأَخَذ   ، ُقَرْيَظَة  َعَلْيَك  َأْخَشى   ْ َفإيِنِّ  ،

َقاِئَمًة  اْلَباَبْيِ  َبْيَ  اْمَرَأُتُه  َفإَِذا  ُثمَّ َرَجَع  ِساَلَحُه ، 

ٌة ،  بِِه َوَأَصاَبْتُه َغْيَ ْمَح لَِيْطُعنََها  إَِلْيَها الرُّ َفَأْهَوى 

اْلَبْيَت  َواْدُخِل  ُرْمََك  َعَلْيَك  ُاْكُفْف   : َلُه  َفَقاَلْت 

َفإَِذا  َفَدَخَل   ، َأْخَرَجنِْي  ِذْي  الَّ َما  َتنُْظَر  َحتَّى 

إَِلْيَها  َفَأْهَوى  اْلِفَراِش  َعَل  ُمنَْطِوَيٍة  بَِحيٍَّة َعظِْيَمٍة 

اِر  الدَّ ِف  َفَرَكَزُه  َخَرَج  ُثمَّ   ، بِِه  َفاْنَتَظَمَها  ْمِح  بِالرُّ

َع َمْوًتا  َُم َكاَن َأْسَ َفاْضَطَرَبْت َعَلْيِه ، َفَم ُيْدَرى َأيُّ

: اْلَيَُّة َأِم اْلَفَتى ، َقاَل : َفِجْئنَا إَِل َرُسْوِل اهللِ َصلَّ 

َم ، َفَذَكْرَنا َذلَِك َلُه َوُقْلنَا : ُاْدُع اهللَ  اهللُ َعَلْيِه َوَسلَّ

ِيِه َلنَا ! َفَقاَل : اِْسَتْغِفُرْوا لَِصاِحبُِكْم . ُثمَّ َقاَل  ُيْ

ِمنُْهْم  َرَأْيُتْم  َفإَِذا   ، َأْسَلُموا  َقْد  ِجنًّا  بِاْلَِدينَِة  إِنَّ   :

اٍم ، َفإِْن َبَدا َلُكْم َبْعَد َذلَِك  َشْيًئا ، َفآِذُنْوُه َثاَلَثَة َأيَّ

َم ُهَو َشْيَطاٌن . )رواه مسلم(  َفاْقُتُلوُه ، َفإِنَّ

Diriwayatkan dari Abus-Sā'ib, mantan budak 

Hisyām bin Zuhrah, bahwa suatu hari ia bertandang 

ke kediaman Abū Sa‘īd al-Khudri. Ia berkata, “Di 

rumah itu kudapati Abū Sa‘īd sedang salat. sebab  

itu aku duduk menunggunya menyelesaikan salat. 

Tiba-tiba aku mendengar sebuah gerakan dari arah 

kayu penyangga atap di dalam rumah ini . 

Aku menoleh, dan kulihat seekor ular di sana. 

Aku pun bergegas mendekatinya dengan maksud 

membunuhnya. Abū Sa‘īd (yang masih salat saat  

itu) memberi isyarat kepadaku agar aku duduk, 

membiarkan begitu saja ular ini . Aku pun 

duduk. Usai salat, ia menunjuk ke arah sebuah 

rumah di tengah perkampungan, sambil berkata, 

“Tidakkah kaulihat rumah di sana itu?” “Ya, aku 

lihat,” jawabku. Ia melanjutkan perkataannya, 

“Dulu di rumah itu tinggal seorang pemuda yang 

baru saja melangsungkan pernikahan. saat  

itu kami (termasuk pemuda itu) sedang pergi 

bersama Rasulullah sebagai tentara pada Perang 

Khandaq. Pada suatu siang yang terik pemuda 

itu meminta izin kepada Rasulullah untuk pulang 

menemui istrinya. Beliau pun mengizinkannya 

pulang. “Bawalah senjatamu! Aku khawatir Bani 

Quraizah akan membunuhmu.” pesan Rasulullah. 

Pulanglah pemuda itu. Tak berapa jauh dari 

rumahnya ia mendapati istrinya sedang berdiri 

di antara dua pintu (pintu rumahnya dan pintu 

tetangganya). Melihat kejadian ini , marahlah 

ia. Ia hampir saja melemparkan tombaknya ke 

arah istrinya sebab  terbakar cemburu. Sebelum 

semuanya benar-benar terjadi, istrinya berteriak, 

“Jangan kaulempar tombakmu. Masuklah lebih 

dulu ke rumah, maka engkau akan tahu apa yang 

memaksaku keluar rumah!” Ia lalu masuk rumah, 

dan ia melihat seekor ular melingkarkan tubuhnya 

di atas ranjang. Dengan cepat ia menusuk tubuh 

ular itu dengan tombaknya hingga tembus. Ia pun 

menenteng ular itu keluar rumah, saat  tiba-tiba 

ular itu meronta (dan menggigit sang pemuda). 

Tidak diketahui apakah ular atau pemuda itu 

yang lebih dahulu tewas. Lalu kami menghadap 


Rasulullah dan menceritakan apa yang terjadi. 

Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar 

Ia menghidupkannya kembali!” minta kami. 

Beliau menjawab, “Sungguh, di Medinah ini ada 

sekelompok jin yang sudah masuk Islam. Jika kalian 

melihat salah satu dari mereka (dalam wujud ular) 

maka usirlah ia dengan halus selama tiga hari. Bila 

sesudah  tiga hari ia tetap saja enggan meninggalkan 

rumah, bunuhlah ia sebab  hewan yang demikian 

itu yaitu  setan!” (Riwayat Muslim) 

Melalui hadis berikut Nabi meng-

anjurkan para sahabatnya untuk hanya 

membunuh ular yang berekor buntung 

dengan dua lajur putih memanjang di 

punggungnya, 

َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهلُل  َصلَّ  اهللِ  َرُسْوَل  َسِمْعُت  إيِنِّ 

تِْي َتُكْوُن ِف اْلُبُيْوِت ، إاِلَّ  نَّاِن الَّ َنَى َعْن َقْتِل اْلِ

َذاِن َيْطَِفاِن اْلَبَصَ  َُم اللَّ ْفَيَتْيِ ، َفإِنَّ األَْبَتَ َوَذا الطُّ

مسلم  )رواه   . النَِّساِء  ُبُطوِن  ِف  َما  َوَيَتَتبََّعاِن 

وأمحد عن أب لبابة األنصاري( 

Aku mendengar bahwa Rasulullah melarang 

kami membunuh ular yang ada di dalam rumah, 

kecuali ular yang berekor pendek (atau yang putus 

ekornya) dan memiliki  dua garis lurus berwarna 

putih di punggungnya. Ular yang seperti ini mampu 

membutakan mata manusia dan membunuh janin 

di dalam kandungan ibu hamil. (Riwayat Muslim 

dan Aĥmad dari Abū Lubābah al-Anșāri)

Ular juga digambarkan sebagai 

makhluk yang akan muncul pada Hari 

Kebangkitan. Mereka yang lalai dalam 

berzakat akan diikuti terus dan dipatuk 

oleh ular belang dengan dua taring 

yang mengerikan. 

َيْوَم  َلُه  ُمثَِّل  َزَكاَتُه  ُيَؤدِّ  َفَلْم  َماالً  اهللُ  آَتاُه  َمْن 

َيْوَم  َيُطْوُقُه  َزبِْيَبَتاِن  َلُه   ، َأْقَرَع  ُشَجاًعا  اْلِقَياَمِة 

ُثمَّ   ، َشْدَقْيِه  َيْعنِْي   ، بِِلْهِزَمْيِه  َيْأُخُذ  ُثمَّ   ، اْلِقَياَمِة 

َيُقْوُل : َأَنا َماُلَك ، َأَنا َكنُْزَك ، ُثمَّ َتاَل : الَ َيَْسَبنَّ 

ِذْيَن َيْبَخُلْوَن ... اآلية. )رواه البخاري عن أب  الَّ

هريرة( 

Barang siapa diberi Allah harta, lalu ia tidak 

menunaikan zakatnya, maka harta itu akan diubah 

wujudnya oleh Allah menjadi ular belang yang 

memiliki dua taring. Ular itu akan mematuknya 

dan menggigitnya erat dengan dua sisi mulutnya, 

sambil berkata, “Aku yaitu  hartamu. Aku 

yaitu  simpananmu.” Lalu ular itu pun membaca 

ayat, “Janganlah sekali-kali orang yang kikir...

hingga akhir ayat.” (Riwayat al-Bukhāri dari Abū 

Hurairah)

Hubungan Ular dan Manusia

Dalam kitab-kitab suci, ular kebanyakan 

dianggap sebagai musuh manusia.

Dalam kisah Mahabharata misalnya, 

Krishna kecil sebagai jelmaan Dewa 

Wishnu mengalahkan ular berkepala 

lima yang jahat. Kesimpulan serupa 

juga dapat kita pahami dari ayat Al-

Qur'an maupun hadis-hadis di atas.

Sebaliknya, di beberapa belahan dunia 

ular dipuja dan ditinggikan, bahkan 

hingga saat ini. Dalam mitologi Hindu 

di India ular memperoleh kedudukan 

tinggi, hingga tidak ada yang berani 

membunuh ular kobra secara sengaja. 

Beberapa sekte Hindu bahkan mereka 

memuja dan “mengkreasikan” dewa 

ular. Sekte Manasa di India, misalnya, 

memiliki  Dewi Ular bernama 

Manasa. Sampai saat ini kita masih 

mudah menjumpai para wanita di India 

menuangkan susu di lubang ular, suatu 

hal yang sebenarnya tidak disukai ular 

itu sendiri.  

Ular juga dipuja di sebagian 

wilayah Afrika, seperti Dahomey, 

Madagaskar dan sekitarnya. Pemujaan 

ini muncul sesudah  terjadi persentuhan 

budaya dengan para pemuja ular dari 

luar kawasan ini. Beda Dahomey beda 

pula Mesir Kuno. Di sini hubungan 

antara manusia dan ular telah berjalan 

sangat lama. Beberapa dewa ular 

�dikreasi”, seperti Apophis dan Set. 

Mahkota Firaun juga selalu dihiasi 

patung ular kobra. Bangsa Sumeria 

pun demikian; mereka memiliki dewa 

ular bernama Ningizzida. 

Suku-suku asli di Benua Amerika 

memiliki  hubungan erat dengan 

ular. Hal ini terutama tampak pada 

kebudayaan Aztec dan budaya di 

kawasan budaya Meso-America. Hal 

yang sama terjadi pada warga  

Eropa Kuno, terutama Yunani dan 

Romawi. Dalam mitologi Yunani 

ular diasosiasikan dengan makhluk 

antagonis yang berbahaya dan me-

matikan, namun tidak dihubungkan 

dengan setan. Dalam budaya Cina, 

ular yaitu  salah satu dari 12 hewan 

suci yang menjadi nama shio dan 

dimasukkan dalam kalender Cina.

Ular juga kita jumpai dalam lambang 

kedokteran, yang mewakili makna 

farmasi dan obat secara umum. 

Tampaknya hal ini terpangaruh oleh 

budaya warga  Yunani Kuno 

yang menganggap ular sebagai sang 

penyembuh.

Ular sebagai tanda kekuasaan 

Tuhan muncul sebagai mukjizat saat Nabi 

Musa berhadapan dengan Firaun (al-

A‘rāf/7: 107; Ţāhā/20: 20; asy-Syu‘arā'/26: 

32; al-Qașaș/28: 32). Ular yang 

ditinggikan Nabi Musa di padang gurun 

dipadankan dengan Yesus yang harus 

ditinggikan manusia agar memperoleh 

hidup yang kekal (Injil Yohanes 3: 14). Di 

sisi yang lain, ular juga dikaitkan dengan 

perbuatan jahat, sebagaimana terjadi di 

Taman Eden saat mulai membujuk Hawa 

(Kejadian 3: 1). Ular juga muncul sebagai 

ular tua, naga, sekaligus setan dan iblis 

yang ditangkap oleh malaikat dalam 

Wahyu 20: 2. 

Ketidaksukaan manusia kepada 

ular hanyalah berdasar  anggapan-

anggapan yang sebenarnya kurang 

beralasan. Ini terjadi sebab  kurangnya 

pengetahuan mereka mengenai sifat 

dan bahaya yang mungkin ditimbulkan 

ular. Kasus kematian akibat gigitan 

ular sebenarnya sangat sedikit bila 

dibandingkan kasus kematian akibat 

penyakit yang ditimbulkan oleh gigitan 

nyamuk, atau bahkan kematian sebab  

kecelakaan di jalan raya.

Ular sejak lama telah dimanfaat-

kan manusia. Pada masa yang lebih 

terkini, bisa ular banyak dimanfaatkan 

sebagai serum, sedang  empedu, 

darah, dan daging beberapa jenis ular, 

seperti kobra (Naja spp.) sudah sejak 

lama dipercaya dapat menyembuhkan 

beberapa penyakit oleh warga  di 

Asia Timur, terutama Cina. Di beberapa 

bagian dunia, terutama India, banyak 

ditemukan pertunjukan tarian ular 

dengan memakai  ular King 

Cobra (Ophiophagus hannah) yang 

sangat berbisa. Dalam pertunjukan 

ini ular King Cobra yang ditaruh di 

dalam sebuah wadah seolah menari 

mengikuti irama alat musik serupa 

suling. Ular sebetulnya tidak memiliki 

organ luar telinga, walaupun secara 

terbatas memilki organ telinga di 

bagian dalam. Dengan demikian, 

reaksinya terhadap suara suling 

lebih disebabkan gerakan fisik suling 

daripada suara yang dihasilkan oleh 

suling itu sendiri. 

Kulit-kulit beberapa jenis ular, 

seperti ular sanca (Phyton reticulatus), 

43Hewan dalam Al-Qur'an

ular anaconda (Eunectes murnus) dan 

jenis ular lain yang berukuran cukup 

besar dipakai  sebagai bahan tas, 

sepatu, dan aksesori lainnya. Citra yang 

kurang baik terhadap luar akibat dari 

dongeng, mitos, dan semacamnya, 

ditambah dengan rusaknya habitat 

ular dan nilai ekonominya yang cukup 

tinggi, memicu  penurunan 

dras-tis populasi ular di alam. Ular 

sebagai musuh biologis beberapa 

hama per-tanian, seperti tikus, saat 

ini sudah sudah jauh berkurang, atau 

bahkan sudah tidak ada lagi di banyak 

tempat. Di beberapa tempat, sudah 

mulai ada usaha untuk melakukan 

reintroduksi beberapa ular sawah. 

warga  petani di beberapa desa 

di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, 

sudah mulai melakukan hal ini  

dan melarang perburuan ular di desa 

mereka.

Perikehidupan Ular 

Ular yaitu  kelompok hewan reptilia 

bertubuh bulat memanjang, tidak 

berkaki, dan semua jenisnya hidup 

sebagai pemangsa. Di dalam kelompok 

kadal, yang merupakan kerabat dekat 

ular, ada  juga jenis-jenis kadal 

tak berkaki yang mirip ular.Perbedaan 

kadal tak berkaki dengan ular yaitu  

tidak adanya kelopak mata dan daun 

telinga pada ular. Panjang tubuh ular 

bervariasi, dari yang hanya sepanjang 

10 cm (thread snake, Leptotyphlops 

humilis) hingga yang lebih dari 5 

meter, seperti anakonda (Eunectes 

murinus) yang tercatat 7,5 meter, 

atau ular sanca (Phyton reticulata) 

yang tercatat dalam rekor men-

capai panjang 9 meter. Fosil ular 

purba Titinoboa cerrejonensis bahkan 

diketahui memiliki panjang tubuh 

mencapai 15 meter. 

Kelompok ular berevolusi dari 

kelompok kadal yang hidup di bawah 

tanah atau perairan pada masa 


Penyebaran ular sampai dengan apa 

yang dikenal saat ini dimulai pada masa 

Paleocene (sekitar 66–56 juta tahun 

lalu). Dari penelitian diketahui bahwa 

kelompok ular kobra yaitu  yang 

paling sukses dalam persebarannya. 

Hal ini terutama disebabkan suksesnya 

persebaran kelompok tikus yang 

menjadi mangsa utama ular kobra di 

berbagai tipe habitat. 

Ular merupakan salah satu 

reptil yang paling sukses berkem-

bang di dunia. Di daratan, kita 

dapat menjumpai ular hampir di 

semua tipe habitat, kecuali kawasan 

berhawa dingin (Selandia Baru, 

ujung utara Eropa dan Amerika) atau 

di gunung-gunung tinggi. Seperti 

hewan berdarah dingin lainnya, ular 

makin jarang ditemui di daerah yang 

berhawa dingin. Ular dapat ditemui 

hidup melata di tanah atau di atas 

pohon sepanjang hidupnya. Beberapa 

di antaranya dapat hidup di tanah dan 


sesekali memanjat pohon, atau hidup 

sepenuhnya atau sebagian waktunya 

di perairan (laut, rawa, sungai, atau 

danau). 

Ular bergerak dengan beberapa 

cara, tergantung pada lingkungannya. 

Gerakan yang paling umum yaitu  

berkelok-kelok dengan mengarah ke 

depan. Gerakan ini dilakukan ular, 

baik saat di air maupun di daratan. 

Saat bergerak di daratan, gerakan 

mendorong ular terbantu oleh berma-

cam objek menonjol yang dilaluinya, 

seperti batu, ranting, tanah tak rata, 

dan lainnya.  Uniknya, setiap titik pada 

tubuh ular selau melewati tempat 

yang dilewati oleh titik sebelumnya. 

Dengan demikian, ular dengan mudah 

dapat melewati daerah tumbuhan 

yang padat dan lebat sekalipun. Beda 

di daratan, beda pula saat di air. saat  

berenang di air, gerakan arus air 

yang disebabkan gerakan ular turut 

membantu ular bergerak maju.

Bergerak meliuk dan mengarah 

menyamping dilakukan oleh jenis-jenis 

ular yang hidup di kawasan yang tidak 

memiliki objek untuk “berpegang”, 

seperti kawasan berlumpur atau gurun 

pasir. Sebagai hewan berdarah dingin, 

seringkali ular ditemukan berjemur 

di pagi hari untuk menghangatkan 

tubuhnya sebelum melakukan aktivitas 

hariannya. Kebiasaan ini juga sangat 

membantu dalam proses pencernaan. 

Kemampuan mata ular bervariasi. 

Beberapa jenis ular, seperti ular pohon, 

dapat mengikuti gerakan mangsanya 

dengan presisi. Beberapa lainnya 

memiliki pandangan yang sangat 

lemah, misalnya ular yang hidup di 

lubang. Tidak seperti penglihatannya, 

daya pencium ular, yang memakai  

lidahnya, umumnya cukup baik. Bagian 

tubuh yang bersentuhan dengan objek 

atau tanah umumnya sensitif terhadap 

getaran. Ular dapat menciri getaran 

yang disebabkan gerakan makhluk 

di sekitarnya dengan sangat tepat. 

Beberapa jenis ular memiliki reseptor 

gelombang infra merah yang sensitif. 

Kemampuan ini dimiliki ular berkat 


adanya organ yang terletak di antara 

mata dan lubang hidung. Mereka 

dapat “melihat” radiasi panas dari 

tubuh mangsanya. 

Ular juga memiliki kemampuan 

untuk berganti kulit. Fungsi pergantian 

kulit antara lain: (1) mengganti kulit 

tua yang sudah aus; (2) membantu 

membuang parasit (kutu dan caplak) 

yang menempel di kulit; dan (3) 

memungkinkan ular untuk tumbuh 

lebih besar. Fungsi yang terakhir ini 

belum final dan masih diperdebatkan 

para ahli. Pergantian kulit pada ular 

muda mencapai tiga sampai empat kali 

dalam satu tahun. Pada ular dewasa, 

pergantian kulit 

hanya terjadi satu atau 

dua kali dalam setahun. 

Semua ular yaitu  

pemangsa. Ular memakan 

binatang-binatang berukuran 

kecil, termasuk kadal, ular lain, 

mamalia kecil, burung, telur 

burung, ikan, keong, serangga, 

bahkan telur ikan. sebab  bentuk 

giginya tidak memungkinkan ular 

merobek dan memotong mangsanya, 

maka mangsa ditelan utuh. Itulah 

mengapa ular selalu menyesuaikan 

ukuran mangsanya dengan ukuran 

tubuhnya. Anak ular sanca, misalnya, 

mula-mula memangsa belalang, kemu-

dian kadal, hingga kijang atau babi 

hutan saat sudah dewasa. Pada bagian 

tengkoraknya, ular memiliki banyak 

keping-keping tulang yang saling 

bersambung. Sambungan-sambungan 

inilah yang membuat ular memiliki 

fleksibilitas dalam membuka rahang 

bawahnya. Dengan kemampuan se-

perti itu ular dapat menelan mangsa 

yang berukuran jauh 

lebih besar daripada 

kepalanya. 

Ular menelan mangsanya 

bulat-bulat, tanpa dikunyah. 

Gigi ular tidak berfungsi untuk 

mengunyah, melainkan sekadar 

untuk memegang mangsanya 


agar tidak terlepas. Umumnya ular 

menelan mangsanya dari bagian 

kepala lebih dahulu. Komposisi dan 

formasi gigi ular juga tidak seragam, 

tergantung pada keperluan dan jenis 

mangsanya. Ular pemakan keong, 

misalnya, punya lebih banyak gigi di 

sisi kiri rahangnya. Hal ini disesuaikan 

dengan lingkaran kerang yang se-

ringkali searah jarum jam. sesudah  

makan, ular akan “beristirahat” 

dan menunggu proses pencernaan 

makanannya berlangsung. sebab  

ular termasuk binatang berdarah 

dingin (ectothermic), maka suhu di 

sekelilingnya sangat berpengaruh 

terhadap proses pencernaan. Ular 

memerlukan suhu sekitar 30 �C untuk 

dapat mencerna makanannya dengan 

baik. Suhu permukaan tubuhnya dapat 

naik sekitar 1 �C pada saat proses 

pencernaan berjalan. Itulah sebabnya 

ular seringkali memuntahkan mangsa-

nya jika  merasa terancam. Seba-

gian ular membunuh mangsanya 

dengan cara melilit, misalnya ular 

sanca kembang (Phyton reticulatus). 

Sebagian lainnya memakai  bisa, 

seperti ular King Cobra (Ophiophagus 

hannah), ular weling/krait (Bungarus 

candidus), atau ular cabai (Maticora 

intestinalis). 

Kebanyakan ular memiliki bisa 

yang lebih sering dipakai nya untuk 

melumpuhkan atau membunuh mang-

sa daripada untuk mempertahankan 

diri. Bisa yaitu  modifikasi dari air 

ludah. Pada beberapa jenis, bisa 

disalurkan melalui taring yang ber-

lubang. Bisa ular, sebagaimana air 

ludah, juga membantu ular mencerna 

makanannya. Ular-ular kanibal yang 

memangsa ular lain, misalnya King 

Cobra, memiliki pertahanan terhadap 

racun sebab  memiliki anti racun. Bisa 

ular yaitu  campuran yang kompleks 

dari berbagai protein yang diproduksi 

oleh kelenjar yang terletak di bagian 

belakang kepalanya. Bisa ular dapat 

dibagi dalam campuran neurotoxin 

(racun yang menyerang sistem syaraf), 

hemotoxin (racun yang menyerang 

sistem peredaran darah), cytotoxin, 

bungarotoxin, dan masih banyak lagi, 

yang pada dasarnya mempengaruhi 

fungsi dan sistem tubuh dengan 

berbagai cara.

Dalam proses perkembangbiak-

annya semua ular menganut pembuah-

an di dalam (internal fertilization), 

meskipun cara reproduksinya berva-

riasi. Ular berkembang biak dengan 

bertelur. Jumlah telur ular berkisar 

dari hanya beberapa butir saja sampai 

dengan ratusan butir. Ular bertelur 

di lubang tanah, lubang kayu lapuk, 

atau di bawah timbunan serasah. 

Umumnya ular meninggalkan telurnya 

begitu saja dan menyerahkan nasibnya 

kepada alam, namun ada beberapa 

jenis, seperti kelompok ular sanca, 

yang mengerami telur dengan lilitan 

tubuhnya hingga menetas. Ular sanca 

betina tidak akan meninggalkan 

telurnya, kecuali jika  ia perlu 

minum atau berjemur. Ular King 

Cobra dikenal sebagai satu dari sedikit 

jenis ular yang membuat sarang dan 

tinggal di dekatnya untuk menjaganya.

Beberapa jenis ular menyimpan telur 

di dalam tubuhnya dan “melahirkan” 

anak-anaknya (ovovivipar). Baru-

baru ini para peneliti menemukan 

bahwa beberapa jenis ular, seperti 

ular Boa Constrictor dan Anakonda 

Hijau (Eunectes murinus) betul-

betul melahirkan anaknya (vivipar). 

Keduanya memberi makan anak-

anaknya dengan plasenta dan makanan 

yang tersedia dalam telurnya.

Sejenis ular primitif, yakni ular 

buta atau juga dikenal sebagai ular 

kawat (Rhampotyphlops braminus), 

sejauh ini hanya ditemukan betinanya 

saja. Ular yang mirip cacing kecil ini 

diduga mampu bertelur dan berbiak 

dengan pembuahan sendiri, tanpa 

kehadiran ular jantan (parthenoge-

nesis).

Uraian di  atas semestinya 

mampu memotivasi manusia untuk 

merubah persepsinya tentang ular. 

Kehadiran ular di dunia ini termasuk 

dalam rencana Allah yang rumit dan 

saling terkait satu dengan lainnya. 

Manusia dapat saja me