gereja masehi advent 2
sambil
menafsirkan angka-angka di dalam Alkitab (Daniel 8:14
4
dan 9:24
5
) akhirnya
membawanya pada kesimpulan bahwa Kristus akan datang kembali pada
tahun 1843 M, atau selambat-lambatnya tahun 1844 M.
6
Pada suatu sabtu pagi di tahun 1831 M, Miller merasakan adanya suara
desakan dalam batinnya untuk menyampaikan ke khalayak umum tentang
nubuatan Kitab Daniel itu. Khotbah dan penemuannya itu yang kemudian
1
Manembu dan T. Mangunsong, Menerobos Bersama Gereja Allah. Tejemahan
Departemen Kependetaan MAHK se-Dunia, negara kita Publishing House, Bandung, 1980, h. 113
2
Ellen G White, Kemenangan Akhir, negara kita Publishing House, Bandung, 2011, h.276
3
Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, Gunung Mulia,
Jakarta, 2009, h. 296
4
Maka ia menjawab: “Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat
kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar.”
5
Tujuh puluh kali tujuh masa telah ditetapkan atas bangsamu dan atas kotamu yang
kudus, untuk meenyapkan yang kefasikan, untuk mengakhiri dosa, untuk menghapuskan
kesalahan, untuk mendatangkan keadilan yang kekal, untuk menggenapkan penglihatan dan nabi,
dan untuk mengurapi yang maha kudus.
disampaikan di berbagai tempat, ternyata membangkitkan kebangunan rohani
bagi cukup banyak jemaat.
Pada mulanya Miller ragu-ragu menentukan tanggal yang tepat dari
Advent kedua itu. Tetapi sesudah tahun 1843 M berlalu tanpa peristiwa yang
berarti, maka pada tanggal 4 Februari 1844 M, Miller menulis artikel pada
majalah Signs of Times bahwa advent akan berlangsung antara tanggal 21
Maret 1843 M dan 21 Maret 1844 M. Para jemaat yang memercayai apa yang
diampaikan Miller mulai kecewa sesudah pada hari ini tidak terjadi apa-
apa. Padahal pengikutnya telah menjual harta benda atau membagikan pada
orang miskin.
Meskipun ada beberapa tokoh yang dianggap sebaagai peletak dasar
Adventisme, namun tokoh yang dipandang paling besar dari ajaran yang
mensucikan hari Sabat ini yaitu Ellen Gould Harmon White (lebih populer
dengan sebutan Ellen G. White 1827M-1915 M). Banyak pihak pada saat itu
menganggap Ellen memiliki karunia nubuat, bagaikan para nabi yang
disebutkan di Perjanjian Lama. Hal ini disebab kan penlihatan-penglihatannya
tentang “terang dan damai Kristus”. Berkat Ellen pula beberapa gerakan
Millerit yang sempat berjalan sendiri-sendiri pasca hari “kekecewaan Agung”
7
mampu bergabung dengan cukup cepat sehingga gereja ini mencapai
kemajuan besar.
8
Pada tahun 1860 M gereja ini mulai eksis dan bertumbuh-kembang di
Amerika dan membangun reputasinya dan menamai gereja ini dengan Seventh
Day Adventist.
9
Akhirnya pada tahun 1863 M diselenggarakan konferensi
umum yang pertama. Sejak tahun 1903 hingga sekarang kantor pusatnya
berlokasi di Takoma Park, Wasington DC.
10
7
Hari kekecewaan Agung terjadi pada tanggal 22 Oktober 1844. Hari di mana para
pengikut yang masih percaya akan advent dibuat kecewa untuk kedua kalinya sesudah prediksi
awal yang salah.
8
Sebagai agama mission, sebelum tahun 1870-an berakhir pekerja-
pekerja GMAHK telah menjelajah Swiss (daerah Prusia), Perancis dan Italia.
Pada tahun 1880-an mulailah penyebrangan ke negara-negara Mesir, Rusia,
Australia, Afrika Selatan, Hongkong, Pitcairm, dan Turki. Pada tahun-tahun
ini Ellen G. White berada di eropa.
B. Sejarah Masuknya GMAHK (Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh) di
negara kita
GMAHK masuk ke negara kita di bawa oleh Ralph Waldo Munson
dari New York, Amerika. Sebelum masuk ke negara kita Munson dan
keluarganya menuju Singapura. Mereka tiba di Teluk Bayur tepat pada 1
Januari 1900 M. Di Singapura Munson membaptiskan seorang dari Padang
(Sumatra Selatan, negara kita ) bernama Timothy (Tay Hong Siang). Kemudian
bersama Timothy, Munson dan keluarga pindah ke Padang. Sesampainya di
Padanag ia kembali membaptis seorang warga Padang bernama Siregar.
sesudah dibaptis kemudian namanya dikenal sebagai Immanuel Siregar.
sesudah dari Padang Munson melanjutkan misinya ke Jawa dengan
membuka percetakan di Sukabumi pada tahun 1909 M.pada 1919 M, didirikan
organisasi lokal di Kramat Pulo Jakarta dengan sebutan West Java Mission.
Demikianlah daerah-daerah lain secara berturut-turut, masing-masing: Est
Java Mission (1913 M), North Sumatra Mission (1917 M), South Sumatra
Mission (1917 M), Sulawesi Mission (1923 M), Ambon Mission (1929 M),
dan Batak Land Mission 1927 M).
C. Sejarah Desa Kuwaron
Kuwaron merupakan salah satu desa yang terletak di kecamatan
Gubug, Kabupaten Grobongan, Jawa Tengah. Diperkirakan desa ini berdiri
pada tahun 1811 M. Sosok dibalik pendirian Desa Kuwaron ialah Mbah
Dermo. Sejarahnya, pada saat itu Mbah Dermo dengan rombongan yang
berasal dari Pegandon, Kendal melarikan diri sebab ingin dijadikan tenaga
Rodi oleh pemerintahan Belanda saat itu. sesudah menemukan tempat yang
Munson sebelumnya bekerja sebagai seorang Missionary Methodist. Akan tetapi,
sebelum tahun 1900 ia tertarik untuk masuk dan menjadi seorang Advent.
saat ini yaitu Kuwaron, ia beserta rombongannya membuka hutan untuk
dijadikan pemukiman. Tidak lama berselang disusul oleh rombongan Mbah
Lebai yang berasal dari Indramayu yang akhirnya ikut menempati tempat
ini .
Namun hubungan kedua kelompok ini tidak harmonis. Hampir setiap
hari terjadi konflik yang melibatkan antar kedua kelompok dari Mbah Dermo
dan Mbah Lebai ini. Untuk menghindari konflik lebih parah, akhirnya Mbah
Lebai beserta rombongannya pindah ke tempat pinggir sungai Tuntang.
Pindahnya Mbah Lebai dan kelompoknya ke wilayah baru tidak
menyelesaikan masalah. sebab meskipun Mbah Lebai dan kelompoknya
sudah pindah, namun pertikaian kini terjadi di internal kelompok Mbah
Dermo. Sulitnya Mbah Dermo mengatur rombongannya, akhirnya Mbah
Dermo menyusul Mbah Lebai ke pinggir sungai Tuntang. Kepergian Mbah
Dermo menjadikan rombongan tidak ada yang memimpin. Suasana “Kowar-
kowar” ditunjukkan oleh warga. Maka desa ini di namai Kuwaron.
Karakteristik mayarakat Kuwaron ini sampai sekarang masih terjadi.
Namun ada sumber lain yang menyebutkan bahwa nama Kuwaron
diambil dari Bahasa Arab “kuwariro” yang artinya Kaca Benggala
14
.
D. Kondisi Geografi
Secara geografis Desa Kuwaron terletak pada 0,01mdpl. Suhu
minimum desa ini rata-rat 23°C dan suhu maksimum desa rata-rata yaitu
39°C, menyebakan suhu udara desa ini cukup panas pada siang hari. Desa
Kuwaron merupakan desa yang seluruh luas wilyahnya yaitu permukaan
datar. Secara administratif Desa Kuwaron terletak di Kecamatan Gubug,
Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Dengan letak Desa Kuwaron sebagai
berikut:
Sebelah utara berbatasan dengan Desa Gubug
Sebelah timur berbatasan dengan Desa Kunjeng
Wawancara dengan Mbah Heru pada tanggal 4 Desember 2019
Kaca Benggala berarti cerminan yang besar. Ini diharapkan bisa menjadi teladan bagi
desa-desa lain
Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kapung, Desa Mrisi, dan
Desa Ngambakrejo
Sebelah barat berbatasan dengan Desa Rowosari
15
Desa Kuwaron memiliki luas wilayah 480.608 Ha. Terbagi menjadi
tanah untuk pemukiman, tanah perkebunan, tanah persawahan, dan tanah
untuk fasilitas umum. Setengah luas wilayah desa Kuwaron merupakan lahan
pertanian dan perkebunan dengan luas 247.290 Ha. sedang sekitar
225.317 Ha merupakan pemukiman penduduk dan sisanya merupakan lahan
untuk fasilitas umum.
16
warga umumnya menanam padi pada musim
hujan. sedang pada musim kemarau para petani menanam palawija.
Desa Kuwaron terdiri atas empat dusun yaitu Krajan, Solotigi,
Jagansari dan Blumbung. Dukuh Krajan merupakan dukuh dengan wilayah
yang paling luas dibandingkan dengan tiga dukuh lainnya. Dari sembilan RW
yang ada di desa Kuwaron, hanya RW sembilan yang tidak berada di Dukuh
Krajan. sedang RW sembilan tersebar di tiga dukuh lainnya seperti
Solotigi, Jagansari dan Blumbung. Dengan pembagian wilayahnya sebagai
berikut:
RW 1 berjumlah 3 RT
RW 2 berjumlah 4 RT
RW 3 berjumlah 3 RT
RW 4 berjumlah 3 RT
RW 5 berjumlah 4 RT
RW 6 berjumlah 3 RT
RW 7 berjumlah 5 RT
RW 8 berjumlah 5 RT
RW 9 berjumlah 5 RT
Di desa ini ada fasillitas umum yang sangat urgen keberadaannya.
Seperti RS PKU (Rumah Sakit Pusat Kesehatan Umum) Muhammadiyah
Gubug dan juga Stasiun Kereta Api yang sampai saat ini masih aktif
beroperasi. Selain itu, desa Kuwaron memiliki letak geografis yang sangat
strategis. Hal ini sebab berbatasan dengan Desa Gubug yang merupakan
Kecamatan dari desa Kuwaron. Dengan faktor ini menjadikan aktivitas
perekonomian yang ada di Desa Kuwaron sangat aktif, khususnya dukuh
Krajan.
Selain dua bangunan ini , di Desa Kuwaron ada Pondok
Pesantren Roudlotul Qur’an - Nurul Jannah yang dipimpin oleh K.H. Muhajir
Zuhri bin Zuhri bin Shofwandurri yang sudah berdiri sejak lama.
17
Di sekitar
Pondok Pesantren berdiri satu-satunya masjid yang ada di desa Kuwaron yang
bernama Masjid Al Huda. Meskipun hanya ada satu bangunan masjid,
namun ada tigapuluh delapan bangunan mushola yang tersebar di desa
Kuwaron.
E. Kondisi Demografi dan Sosial Ekonomi
Data terbaru yang diperoleh pada tahun 2019 menunjukkan Desa
Kuwaron memiliki jumlah penduduk 9.236 jiwa. Dengan rincian laki-laki
sebanyak 4.612 jiwa. sedang jumlah perempuan sebanyak 4.624 jiwa.
18
Dari 9.236 jiwa, hampir 8.000 jiwa menempati dukuh Krajan. Sisanya tersebar
di tiga dukuh lainnya seperti Solotigi, Jagansari dan Blumbung.
Kepadatan penduduk yang terjadi di dukuh Krajan menjadikan
aktivitas perekonomian berpusat di dukuh ini . ada nya bangunan
rumah sakit, stasiun kereta api, pondok pesantren dan juga jarak pasar Gubug
yang terbilang dekat menjadi salah satu faktor ini . Hal ini yang
menjadikan warga desa Kuwaron banyak yang berprofesi sebagai
wiraswasta.
Meskipun setengah dari luas Desa Kuwaron yaitu persawahan, bukan
berarti mayoritas warga Desa Kuwaron berprofesi sebagai petani. Hanya
sekitar 15,7 persen warga Kuwaron yang berprofesi sebagai petani.
sedang persentase ini masih di bawah wiraswasta yang mencapai 59
persen dan karyawan pabrik yang mencapai 25,8 persen. Profesi petani hanya
didominasi warga yang telah berusia 40 tahun ke atas. Sebagian besar
warga yang berprofesi sebagai petani bahkan mempuyai pekerjaan lain.
Petani bukan menjadi pekerjaan utama bagi warga desa Kuwaron.
Banyaknya pabrik-pabrik di sekitar Grobogan dan sekitarnya,
khususnya Demak dan Semarang menjadikan warga desa Kuwaron
memilih menjadi karyawan pabrik. Mereka beralasan pendapatan yang
didapatkan lebih pasti. Banyak dari mereka (karyawan pabrik) memilih
bekerja di pabrik-pabrik yang berada di Semarang atau Demak. Upah yang
lebih tinggi yang diterima dari pabrik-pabrik yang berlokasi di Demak dan
Semarang dibanding Grobongan menjadi faktor banyaknya warga yang
memilih menjadi buruh pabrik. Mengingat UMK (Upah Minimum Kabupaten)
Grobogan jauh di bawah dua wilayah ini . Jarak Desa Kuwaron ke
Demak maupun Semarang yang hanya sekitar satu jam sebanding dengan
upah yang didapatkan.
F. Kondisi Sosial Budaya
Menurut Stele (1983) untuk mengetahui keadaan suatu penduduk yang
mendiami suatu wilayah, secara demografis biasanya dapat dilihat dari
karakteristik penduduk. Seperti struktur umur, jenis kelamin, jenis pekerjaan,
tingkat pendidikan, suku, agama dan sebagainya.
Data yang diperoleh di Desa Kuwaron menunjukkan bahwa secara
statistik mayarakat Desa Kuwaron yaitu muslim. Dari 9.236 jiwa, 9.110 jiwa
yaitu pemeluk Islam. Sisanya yaitu Kristen dengan 56 jiwa, Katholik
sebanyak 64 jiwa, Buddha sebanyak 3 jiwa dan kepercayaan sebanyak 3
jiwa.
Dari segi pendidikan warga desa Kuwaron mayoritas merupakan
orang yang berpendidikan tinggi. Minimal mereka lulus bangku SMA. Dan
tidak sedikit yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Ini ditunjukkan dengan
19
Data bersumber dari Sistem Informasi Manajemen Administrasi Kependudukan Desa
(Simakdes) Desa Kuwaron , Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan tanggal 04 Desember 2019
20
Taufik Arbain, h. 100
21
Data bersumber dari Sistem Informasi Manajemen Administrasi Kependudukan Desa
(Simakdes) Desa Kuwaron , Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan tanggal 04 Desember 2019
43
banyaknya warga yang berprofesi sebagai guru, perawat, dokter, anggota
DPR dan profesi-profesi yang memerlukan ijazah tinggi lainnya.
Sebagai desa yang mayoritas warga nya yaitu muslim,
menjadikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh desa lebih identik bercorak
islami. Seperti peringatan sedekah bumi (apitan) yang ritual upacara
berkonsep islam. Misalnya dalam apitan warga desa Kuwaron
mengadakan acara pengajian yang mengundang tokoh umat islam (kyai).
Tingkat pluralitas yang tinggi yang ada di desa Kuwaron tidak
menjadikan desa ini rawan akan konflik. Sebaliknya, harmonisitas
ditunjukkan oleh warga desa Kuwaron. Dalam bersosial misalnya,
banyak dari mereka tidak mempermasalahkan kepercayaan agama yang
dianutnya. ini yang memicu tidak ada sekat yang menjadikan
warga desa Kuwaron untuk bersosial.
Sebagaimana pendapat Bruner (1994) dalam kasus penelitiannya yang
menyatakan bahwa budaya dominan penduduk di suatu tempat menjadi acuan
bertingkah laku oleh penduduk di mana ia tinggal.
22
Hal ini tercermin oleh
warga Desa Kuwaron. Sebagai warga nonmuslim yang tinggal di
desa Kuwaron mereka diharuskan mampu memahami warga sekitar yang
mana yaitu muslim.
Salah satu kasus yaitu warga yang beragama nonmuslim tetap menghadiri
kenduren
23
saat mereka diundang oleh warga sekitar. Meskipun di
dalam acara ini ada bacaan-bacaan yang identik dengan islam.
Selain itu, pihak desa yang melarang dibangunnya sebuah tempat peribadatan
nonmuslim juga mampu dipahami oleh warga nomuslim pada umumnya.
Sikap bijak yang ditunjukkan oleh nonmuslim menjadikan desa ini terhindar
dari konflik agama.
Kristen Advent atau GMAHK masuk desa Kuwaron pada tahun 1972
M. Tokoh yang memperkenalkan Kristen Advent di desa Kuwaron yaitu
kakak beradik yang bernama Beny Tua Mulya dan Iwan Setiawan (koh Long).
Orang tua mereka merupakan pemeluk GKJ (Gereja Kristen Jawa). Awalnya
pada tahun 1965 M Beny dan empat saudara kandung lainnya, yang salah
satunya bernama Iwan Setiawan (Koh Long) diajak oleh pamannya pergi ke
Ambon, Maluku, Manado, Ternate dan beberapa wilayah lainnya di negara kita .
Nama paman ini yaitu Ishak Tua Mulya yang merupakan seorang
pendeta Kristen Advent. Sejak keikutsertaannya dalam khotbah-khotbah
pamannya di berbagai wilayah di negara kita , Beny dan saudaranya akhirnya
menjadi pemeluk Kristen Advent di usia muda. Paman yang sekaligus
merupakan seorang pendeta Advent akhirnya mengadopsi Beny dan saudara
perempuannya sebagai anaknya yang menjadikan nama Tua Mulya ada pada
namanya.
Sepulang dari Ambon pada tahun 1972 M, Beny Tua Mulya masih
sering tinggal di beberapa kota untuk jangka waktu yang lama sebab faktor
keluarga. saat kembali ke Desa Kuwaron pada tahun 1980, Beny Tua
Mulya tidak memiliki tempat tinggal di Desa ini . Dia memutuskan
untuk mengontrak rumah di salah satu warga setempat yang bernama ibu
Aminah yang beragama Islam pada masa itu.
26
Kecintaan dan ketekunannya
Beny Tua Mulya akan Alkitab membuat salah satu anak Ibu Aminah yang
bernama Budi tertarik untuk ikut belajar agama ini . Terlebih lagi Budi
melihat ada perbedaan yang sangat signifikan antara apa yang dilakukan Beny
Tua Mulya dengan Kristen pada umumnya. Tidak berselang lama Budi
dibaptis, dan beberapa tahun kemudian Ibu Aminah dan sekeluarga menyusul
masuk agama Kristen Advent.
27
Banyaknya persamaan antara Kristen Advent dengan Islam yang
dianut oleh mayoritas warga Desa Kuwaron dalam hal makanan,
membuat agama ini diterima dengan baik. Sebagai agama misi, kristen Advent
berusaha memperkenalkan agama ini kepada warga desa Kuwaron dan
sekitarnya. Pada periode 1990 sampai 2000an, agama ini mendapat dukungan
dari Semarang. Ini ditunjukkan dengan mengirim tenaga sukarela
28
yang
didatangkan dari Gereja Advent yang ada di daerah Mataram, Semarang.
29
Upaya-upaya yang dilakukan oleh Kristen Advent untuk
menyebarluaskan agama ini antara lain dengan mengadakan KKR (Kebaktian
Kebangunan Rohani)
30
, mengadakan pengobatan gratis
31
dan pembagian
sembako kepada orang miskin, para janda dan lansia di Desa Kuwaron dan
sekitarnya yang semua dilakukan secara intensif. Berkat kegiatan-kegiatan
ini , akhirnya menumbuhkan minat warga dan beberapa warga
Desa Kuwaron untuk masuk Kristen Advent.
32
Bertambahnya jemaat Kristen Advent di Desa Kuwaron dan sekitarnya
menginisiasi mereka untuk membangun gereja di wilayah sekitar. sebab
pada saat itu mereka harus ke Semarang setiap hari sabat untuk melakukan
kebaktian. Jauhnya jarak yang harus ditempuh menjadi salah satu faktor
sebagian jemaat Kristen Advent Desa Kuaron yang tidak aktif lagi. Oleh
sebab itu, jemaat akhirnya menjadikan rumah mereka sebagai tempat ibadah
di setiap hari sabat secara bergilir. Hal ini berlangsung selama beberapa
tahun.
33
Terbitnya Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri dalam
Negeri Nomor 9 Tahun 2006 Pasal 14 tentang Pendirian Rumah Ibadah
KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) merupakan khotbah atau ceramah yang
dilakukan oleh pendeta dalam sebuah ruang publik. Istilah ini bagi muslim negara kita biasa disebut
dengan pengajian (dalam Islam).
31
Dalam kegiatan pengobatan gratis sebelumnya diawali dengan khotbah-khotbah
tentang nubuatan dan penjelasan ayat-ayat Alkitab tentang makanan dan minuman yang baik bagi
tubuh
32
Wawancara dengan Pak Beny Tua Mulya pada tangga 30 November 2019
33
Wawancara dengan Pak Beny Tua Mulya
34
Pasal 14 ayat 2 poin 1 dan 2. a) Daftar nama dan kartu tanda penduduk pengguna
rumah ibadat paling sedikit 90 (sembilan puluh) orang yang disahkan leh pejabat setempat sesuai
dengan tingkat batas wilayah sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 ayat 3. b) dukungan
warga setempat paling sedikit 60 ( enam puluh) orang yang disahkan oleh lurah/kepala desa
46
menjadikan Kristen Advent mengalami kendala untuk membangun gereja.
Jumlah jemaat yang tidak memenuhi syarat menjadi kendala dalam upaya
pembangunan gereja yang ada di Desa Kuwaron.
H. Kehidupan Jemaat GMAHK Desa Kuwaron
Hubungan masyrakat pedesaan biasanya didasarkan pada kekuatan
ikatan tali persaudaraan, kekeluargaan, dan ikatan perasaan secara psikologis.
Hubungan-hubungan sosial pedesaan mencerminkan kesatuan-kesatuan
kelompok yang didasari hubungan kekerabatan atau garis keturunan.
Terkadang desa dihuni oleh beberapa kelompok kerabat atau keturunan,
terkadang pula hanya dihuni oleh warga dari garis keturunan yang sama. Hal
ini yang membuat tingkat homogentias yang tinggi di warga pedesaan.
Jemaat Advent Desa Kuwaron sebagian merupakan penduduk lokal
dan sekitarnya. Banyak dari mereka memiliki kerabat yang tinggal di Desa
Kuwaron. Fenomena ini menjadikan jemaat Advent Desa Kuwaronmemiliki
hubungan dengan warga sekitar cukup baik.
Interaksi sosial di antara jemaat Advent sangat baik. Karakteristik
kelompok minoritas yang memiliki solidaritas yang tinggi antar anggotanya
tercermin pula pada kelompok Advent Desa Kuwaron. Status sebagai
kelompok minoritas membuat jemaat Advent Desa Kuwaron memiliki
kedekatan antar jemaat layaknya saudara/ keluarga.
Salah satu cara merekatkan hubungan antar jemaat, pasca kebaktian di
Hari Sabtu jemaat biasanya memanfaatkan waktu ini untuk berdiskusi
tentang agama. Terlebih lagi, larangan untuk bekerja ataupun aktivitas yang
berbau keduniaan.
Jemaat Advent desa Kuwaron sebagian merupakan penduduk asli
Desa Kuwaron, dan sekitarnya. Menjadikan jemaat advent di sini memiliki
kerabat atau keturunan yang nenek moyangnya merupakan penduduk lokal.
memicu jemaat Advent Desa Kuaron mampu bersosial dengan baik
dengan warga setempat.
Kehidupan sosial antar jemaat Advent Desa kuwaron terbilang cukup
baik. Seperti
Kelangsungna kehidupan warga pedesaan sangat dipngaruhi oleh
kekuatan ikatan sosial, larangan dan kewajiban yang digariskan sebagai adat
istiadat. Tidak mengherankan jika kehidupan warga pedesaan sangat
berbeda jjauh dengan perkotaan. Tercermin dari tingkat solidaritas yang tinggi
ditunjukkan oleh warga desa.
warga Desa Kuwaron yang terbuka menjadikan mobilitas sosial
antar jemaat berlangsung baik. Tidak ada gerakan dari kelompok warga
yang melarang ibadah jemaat advent menjadikan jemaat tidak khawatir saat
beribadah.
Kehidupan saling menghargai ditunjukkan warga Desa Kuwaron
. kesadaran yang penting akan kehidupan yang penuh kedamaian menjadikan
desa ini minim akan konflik agama.
Tokoh agama memiliki peran penting dalam kehidupan sosial yang ada
di Desa kuwaron. Salah satu dan merupakan satu-satunya pondok pesantren
yang berada di desa Kuwaron asuhan K. Muhajir Zuhri bin Zuhri bin
Shofwandurri yaitu Pondok Pesantren Roudhlotul Qur’an- Nurul Jannah
memiliki andil besar terhadap kehidupan harmoni Desa Kuwaron.
Ditambah dengan hanya adanya satu masjid menjadikan tokoh agama mudah
mengordinir jemaahnya, yaitu umat muslim.
Kebijakan desa yang meemohon untuk tidak mendirikan tempat ibdah
nonmuslim dipatuhi oleh pemeluk agama lain. Termasuk GMAHK.
Dalam warga heterogen, kelompok mayoritas lebih dominnan
untuk mennguasai wilayah, terutama dari sektor politik. Islam yang menjadi
mayoritas memliki kontrol terhadap kebijakan desa. Seperti halnya kasus
diatas tentang larangnan mendirikan tempat ibaddah . sedang minoritas
menjadi kelompok yang lebih rentan menjadi sasaran diskriminasi.
Semenjak berkembangnya jemaat Advent, menginisiasi untuk
mendirikan gereja di wilayah Kuwaron. Memungkinkan supaya jemaat tidak
terlalu jauh untuk beribadah.
Kebijakan desa yang memohon kepada umat nonmuslim untuk tidak
membangun tempat ibadah di wilayah Kuwaron serta peraturan Perundang-
undangan yang memberikan syarat pendirian tempat ibadah membuaat jemaat
advent mengurungkan niat ini . Dan alternatifnya menjadikan rumah
warga sebagai tempat ibadah.
Keluhan jemaat di awal-awal yang menyebut terlalu jauh ibadahnya ke
Semarang menjadikan rumah jemaat sebagai tempat ibadah secara bergilir
dengan menghadirkan pendeta dua minggu sekali di hari sabat. Akhirnya pada
tahun 2014 jemaat Advent memiliki tempat ibadah tetap sesudah mengonntrak
salah satu rumah. Kehadiran tempat ibadah di tengah-tengah warga
muslim menambah tingakt pluralitas Desa Kuwaron. Bangunan yang secara
resmi bukan merupakan gereja tidak dipermasalahkan warga desa
Kuwaron.
I. Strategi Adaptasi Jemaat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Desa
Kuwaron
ada beberapa strategi yang dilakukan oleh jemaat Advent Desa
Kuwaron, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, diantaranya:
1. Menjaga Interaksi Sosial dengan warga Sekitar
saat seseorang tinggal dalam sebuah lingkungan yang baru perlu
melakukan pendekatan terhadap warga sekitar. Mengenal maupun
memperkenalkan diri ke warga sekitar merupakan salah satu akses
untuk mampu berkomunikasi lebih lanjut. Dengan begitu memudahkan
seseorang untuk mencapai tujuannya. Dalam hal ini yaitu adaptasi.
Dalam proses adaptasi, tidak hanya interaksi yang perlu diperhatikan.
Memahami kondisi sosial maupun perekonomin wilayah yang menjadi
tempat tinggalnya merupakan salah satu faktor yang perlu diidentifikasi
untuk melakukan sebuah strategi, dalam hal ini yaitu strategi adaptasi.
Desa misalnya, yang dulu sering diidentifikasi sebagai penduduk yang
dengan jumlah kecil dan bekerja di sektor pertanian. sedang terkait
relasi sosial, warga desa memiliki relasi yang kuat dibandingkan
dengan perkotaan.
Sebagimana dikutip dari Koentjaraningrat, bahwa warga desa
mengikat diri menjadi suatu persekutuan hidup dan kesatuan sosial
didasari oleh dua prinsip penting yaitu: (1) prinsip hubungan kekerabatan
(geneologis) dan (2) prinsip hubungan tinggal dekat/teritorial.
35
Sebagai kelompok minoritas yang tinggal di desa, interaksi sangat
penting bagi jemaat Advent. baik itu sesama jemaat atau warga
sekitar. Menurut Pak Long keberadaan jemaat Advent di Desa Kuwaron
yang sampai sekarang tetap eksis tidak lain sebab tetap menjaga relasi
yang baik kepada warga sekitar. Dari awal kemunculan sekte ini,
jemaat Kristen Advent tidak pernah membuat keributan. Setiap agenda
yang diselenggarakan oleh jemaat Advent, selalu diawali meminta ijin dari
pihak desa setempat.
Selain itu hubungan antar jemaat juga sangat diperhatikan. Interaksi
sosial yang dilakukan oleh jemaat Advent Desa Kuwaron anatar lain:
a. Berteman, jemaat Advent desa Kuwaron memiliki relasi yang baik
dengan warga sekitar. Perbedaan keyakinan tidak menjadikan
jemaat advent membatasi pergaulan dengan warga sekitar.
Sebagai kelompok minoritas mereka menyadari jika menjaga
hubungan baik dengan warga sekitar menjadi hal yang paling
dasar.
Ibu Aminah misalnya, salah satu jemaat advent yang semua
tetangganya yaitu muslim mengaku sering bergaul dan berbaur
dengan tetangga. Terlebih lagi sebagai orang yang pindah agama ia
berusaha agar tidak terkucilkan. Salah satunya yaitu dengan
melakukan silaturrahmi.
b. Gotong royong, merupakan tradisi yang identik dengan warga
pedesaan. Sebagai warga yang hidup di desa, jemaat Advent Desa
Kuwaron merupakan warga yang mengerti betul akan pentingnya
gotong royong dalam . Oleh sebab itu, jemaat Advent sering
berpartisipasi saat ada acara gotong royong. Baik dalam mendirikan
rumah warga, bersih-bersih desa dan kegiatan-kegiatan lain yang
melibatkan warga umum.
Ibu Aminah menjelaskan kehadirannya ke pasar dan juga ibu-ibu
jemaat advent lainnya yang intensif sebab belanja kebutuhan sehari-hari
menjadikan mereka untuk tetap berperilau baik. Mereka merasa mewakili
serta memiliki tanggung jawab terhadap jemaat advent lainnya di desa
Kuwaron. Selain itu, Pak Long yang memiliki sampingan mejual gas
elpiji juga menjelaskan dirinya harus berlaku jujur. Terlebih lagi tetangga-
tetangganya yang mayoritas merupakan muslim.
Dalam menjaga interaksi dengan warga sekitar misalnya, jemaat
advent sering menghabiskan waktu sore hari untuk berkumpul dengan
tetangga masing-masing. Saling bercerita tentang pekerjaan maupun
aktivitas keseharian masing-masing menjadi momen untuk tetap menjaga
keharmonisan sosial.
2. Bersikap Inklusif Terhadap warga Sekitar
Inklusif merupakan sikap yang perlu ditunjukkan oleh individu
maupun kelompok saat hidup bersosial. sebab pemilihan sikap dapat
memberi dampak pada individu maupun kelompok ini . Jemaat
Advent pada umumnya merupakan kelompok yang sangat terbuka. Tidak
heran jika aliran ini tersebar ke lebih dua ratus negara di dunia.
37
Sayangnya di negara kita , jemaat ini masih asing bagi kebanyakan
warga negara kita . Pun demikian bagi warga Desa Kuwaron,
Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan aliran ini masih tergolong hal
yang baru di telinga warga Kuwaron. Bahkan beberapa warga
Desa Kuwaron tidak mengetahui jika ada agama ini di desa mereka.
Seperti yang ditelah dijelaskan di bab sebelumnya dalam pengobatan
gratis, mereka tidak menutup-nutupi jika kegiatan ini merupakan
kegiatan yang dipelopori oleh advent. Dalam mendapatkan partisipan,
mereka secara terang-terangan mengakui bahaw kegiatan ini
mendapat support dari Advent dan mereka juga telah berkoordinasi
dengan pihak desa setempat untuk mensukseskan keiatan ini .
Selain mengadakan kegiatan sosial, penyelenggaraan KKR juga
bersifat terbuka. Ini menunjukkan bahwa langkah kristen advent dalam
memperkenalkan advent di desa kuwaron benar-benar terbuka.
Saat diwawancarai, Pak Beny mengungkapkan bahwa kegiatan
ini merupakan kegiatan untuk mengabarkan kepada warga
sekitar tentang apa yang ada pada perjanjian lama (Taurat). Tidak ada
unsur paksaan kepada warga yang datang dalam kegiatan ini
harus dibaptis/ dituntut untuk masuk agama kristen Advent. Oleh sebab
itu,
Sebagai minoritas, jemaat Advent sebisa mungkin bersikap terbuka
kepada semua warga . Bahkan pada awal kedatangan aliran ini, para
misionaris memperkenalkan agama ini secara terang-terangan.
Misalnya dalam kegiatan pengobatan gratis, mereka tidak menutup-
nutupi jika kegiatan ini merupakan kegiatan yang dipelopori oleh Advent.
Dalam mendapatkan partisipan, mereka secara terang-terangan mengakui
bahwa kegiatan ini mendapat support dari Advent dan mereka juga
telah berkoordinasi dengan kepala desa setempat untuk memsukseskan
kegiatan ini .
sikap inklusif yang ditunjukkan oleh jemaat Advent yaitu dengan tetap
menghormati pemeluk agama lain di sekitar lingkungannya. Ibu Aminah
menjelaskan, meskipun dirinya merupakan orang Advent baru, dia tidak
terus bersikap eksklusif dengan tetangganya yang mana mayoritas yaitu
muslim. Bahkan dirinya menyebutkan jika dia lebih sering aktif untuk
memulai membuka obrolan dengan tetangga.
Dia juga menegaskan, dirinya tidak pernah memulai pembicaraan
tentang kepercayaannya yang baru dipeluknya. Sikap inklusif yang
ditunjukkan oleh tetangga maupun warga sekitar yang tidak
mempersekusi, mengintervensi maupun mendiskriminasi jemaat advent
menjadikan Ibu Aminah melakukan hal yang sama yaitu tetap berbaur
dengan warga sekitar. Dia juga mengaku selama berpindah
kepercayaan, dirinya tidak merasa teralienasi.
Dengan demikian, sikap inklusif merupakan salah sikap yang
mendukung jemaat advent untuk bisa diterima dengan baik di desa
Kuwaron.
3. Integrasi dalam Kegiatan Sosial warga
Integrasi warga bisa diartikan sebagai bentuk penyatuan
warga yang terdiri atas berbagai macam elemen dalam lingkungan
pergaulan. Elemen-elemen ini biasnya memilki ciri khas masing-
masing bisa dalam wujud kebudayaan, bahasa, agama, etnik, ras, dan
sebagainya. Elemen-elemen yang ada kemudian melebur menjadi satu
dalam komunitas warga di mana mereka bisa hidup berdampingan
satu sama lain, di mana keberadaannya terikat oleh suatu aturan yang
sama.
Dari uraian ini , dapat disimpulkan bahwa integrasi sosial yaitu
sebuah keniscayaan bagi siapa saja (individu maupun kelompok) yang
hidup dalam komunitas yang heterogen. Pada jemaat Kristen Advent
kuwaron yang tinggal di warga yang plural misalnya, mereka pada
akhirnya bakal terlibat dengan warga sekitar.
Salah satu hal yang bisa menjadi tolak ukur sejauh mana integrasi
suatu kelompok dengan kelompok lain yaitu lewat interaksi dan juga
keterlibatan dengan kelompok lainnya. Ruang interaksi dalam kegiatan
sosial ini mendorong tejadinya penguatan frekuensi berinteraksi, tidak
sekedar saling menyapa, tetapi intensitas interaksi turut pula menguat
hingga diwujudkan dalam bentuk kerjasama di berbagai bidang. Hal ini
memberi pengaruh terhadap suatu kelompok terhadap stereotip yang telah
melekat pada kelompok ini .
Proses komunikasi yang secara intensif terjadi saat terlibat dalam
suatu kegiatan sosial memberi efek positif terhadap kelompok ini .
Misalnya mampu mengurangi stereotip tehadap suatu ras, etnis maupun
sekte sebuah agama. Seperti halnya advent yang dianggap melenceng dari
agama Kristen dan dianggap sebagai aliran yang berbahaya.
Bertolak pada pandangan di atas, keterlibatan dalam kegiatan sosial
menjadi aspek penting dalam mengukur strategi adaptasi yang dilakukan
jemaat Advent Desa Kuwaron. Dalam kegiatan-kegiatan desa misalnya,
jemaat Advent aktif berpartisipasi. Kegiatan ini mendorong warga
untuk berkomunikasi, berinteraksi dengan warga lainnya. Alhasil, ini
mempengaruhi jemaat advent Desa Kuwaron. Kehidupan di pemukiman
yang plural, menggugah kesadaran jemaat advent untuk adaptif terhadap
lingkungan sekitar seperti gotong royong disekitar komplek pemukiman.
Ibu Aminah salah satu jemaat advent menjelaskan warga desa
Kuwaron yang memiliki sikap toleran terhadap perbedaan keyakinan
menjadikan jemaat Advent mudah diterima dilingkungannya. Meskipun
keputusan untuk pensiun dini dari pekerjaannya sebagi pengajar sebab
faktor agama tidak menjadikan warga menentang dan dikucilkan
dalam kurun waktu yang lama. Tidak butuh waktu yang lama Ibu Aminah
dapat berbaur kembali dengan warga sekitar pasca pindah agama.
Kondisi warga pedesaan yang tidak bisa dilepaskan dari interaksi
sosial menjadikan jemaat advent desa kuwaron ikut terlibat dalam
kegiatan-kegiatan sosial. Hal ini membuat Jemaat Advent tidak bisa
bersikap apatis dengan warga . Mereka harus membangun kesadaran
baik individu maupun sesama jemaat advent desa kuwaron agar ikut
memerankan dirinya dan ikut menjadi bagian dari warga desa
Kuwaron.
Pak Iwan misalnya, beliau diamanahi menjadi ketua RT sejak tahun
2000an hingga sekarang. Keterlibatannya pada desa menjadikan ia
memiliki hubugan yang baik dengan warga sekitar. Menyadari bahwa
ia berbeda dengan warganya, menjadikan dirinya terobsesi untuk menjadi
pribadi yang lebih baik. Baginya ini juga mewakili jemaat advent yang ada
di desa Kuwaron dan sekitarnya. Selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan
yang diselenggarakan oleh desa menjadikan dirinya dikenal warga
Kuwaron. Sebagai orang yang tinggal di desa, ia menyadari pentingnya
gotong-royong, kerja bakti dan kegiatan-kegiatan yang memerlukan
keterbitan warga .
Jemaat Advent perempuan desa Kuwaron juga memiliki hubungan
yang baik dengan warga sekitar. Keikutsertaannya pada perkumpulan
ibu-ibu seperti arisan, membuat ibu-ibu jemaat Advent desa Kuwaron
mampu beradaptasi dengan baik.
Integrasi yang dilakukan jemaat Advent dan warga desa Kuwaron
lainnya seperti pada acara-acara perlombaan Agustusan, acara perkawinan
dan acara sedekah bumi (apitan). Acara-acara ini merupakan salah
satu strategi adaptasi yang dilakukan jemaat Advent desa Kuwaron untuk
menunjukkkan kepedulian mereka akan sosial.
Pada konteks ini , sebagaimana yang diungkapkan Soerjono
Soekanto, yang menyebut bahwa usaha mengadaptasikan diri melalui
interaksi sosial akan menghasilkan dimensi baru, yaitu kerjasama
(cooperation) maupun pertikaian (conflict). Langkah adaptasi ini
tentu saja telah melalui kotak sosial dan juga komunikasi. Dan usaha
ini menghasilkan kerjasama antara jemaat advent dengan warga
sekitar.
Selain strategi ini , ada hal unik lainnya. Istri Pak Iwan yang
sampai saat ini masih memeluk agama Islam membuat dirinya ikut serta
dalam muulud rutinan. Para peserta yang terdiri dari ibu-ibu muslimah
ini tidak khawatir dengan apa yang disuguhkan hidangan saat giliran
ke rumah ibu Iwan. Menurutnya, kemiripan tentang halal dan haram dalam
agama Advent dengan Islam menjadikan jemaah muslimah tidak
mwngkhawatirkannya. Ditambah tidak adaya salib (dalam kepercayaan
Advent salib dilarang) di rumah-rumah jemaat advent menjadikan
warga sekitar bebas bertamu dan tidak risih dengan adanya simbol
salib.
Jemaat Advent desa kuwaron juga menampilkan sikap toleran pada
perayaan Hari Raya Idul Fitri. Mereka mempersilahkan rumah mereka
dikunjungi tetangga dan warga sekitar yang beragama Islam. Pun
sebaliknya, jemaat Advent juga bertamu ke rumah-rumah warga saat hari
raya idul fitri. Pemandangan seperti ini sudah berlangsung sejak lama.
Syaiful Amri menuturkan, semua warga terlibat langsung dalam
perayaan-perayaan yang bersifat nasional. Misalnya saat Pemilihan Umum
(Pemilu) baik tingkat desa, Kabupaten, provinsi maupun pemilihan
presiden semua warga terlibat dalam mensukseskan kegiatan
ini .
Pak Iwan yang merupakan ketua RT setempat sering terlibat langsung.
Bahkan dia menjelaskan, posisinya sebagai RT yang masih dipercaya
sampai saat ini menjadikan dirinya aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan
desa. Dia mengaku juga rajin berangkat dan aktif saat musyawarah desa.
4. Mematuhi Aturan serta Mencegah Konflik
Jemaat Advent Desa Kuwaron sebagian merupakan penduduk lokal,
dan sekitarnya. Banyak dari mereka memiliki kerabat yang tinggal di Desa
Kuwaron. Fenomena ini menjadikan jemaat Advent Desa Kuwaron
memiliki hubungan dengan warga sekitar yang cukup baik.
Dalam kondisi warga yang plural, sangat memungkinkan
timbulnya konflik di kemudian hari. Sebagai kelompok minoritas yang
tinggal di mayoritas muslim, harus bisa memahami apa yang.menjadi
keinginan mayoritas. Dalam hal ini yaitu muslim.
Sebagaimana diungkapkan Syaiful Amri yang menyebut bahwa untuk
saat ini, mbah yai (tokoh desa) mengharapkan agar tidak mendirikan
tempat ibadah nonmuslim. Baik itu gereja, klenteng, dan sebagainya. Bagi
warga nonmuslim yang ingin beribadah dapat beribadah ke Gubug.
sebab lokasi yang tidak jauh dari Desa Kuwaron.
Meskipun ada aturan adat yang sebenenarnya merupakan bentuk
diskriminasi, akan tetapi warga nonmuslim tidak mempermasalahkan
hal ini , termasuk jemaat Advent. Bagi jemaat Advent sendiri, selama
jemaat tidak merasa teralienasi di warga serta mengizinkan
pemakaian rumah sebagai tempat ibadah sudah merupakan rasa syukur.
Respon warga yang tidak mempermasalahkan hal ini menjadi
fenomena tersendiri untuk desa Kuwaron.
Jemaat Advent Desa Kuwaron memahami betul aturan undang-undang
tentang pendirian rumah ibadah. Mereka menyadari bahwa mendirikan
sebuah gereja bukan perkara yang mudah. Selain undang-undang yang
ada di negara kita , ijin dari desa maupun warga sekitar juga
merupakan hal yang harus diperhatikan.
Pak Beny menyadari bahwa kejadian-kejadian di wilayah lain tentang
penolakan pendirian rumah ibadah menjadi sebuah pembelajaran baginya
dan para jemaat lainnya. Bagi dirinya, arsitektur tempat ibadah yang
identik dengan agama tertentu tidak menjadi permasalahan. Dia juga
mengetahui jika di desanya tidak diperkenankan membangun gereja. Oleh
sebab itu, Pak Beny dan jemaat advent sudah bersyukur dengan
mengizinkan salah satu rumah untuk dijadikan tempat ibadah jemaat
Advent.
A. Strategi Adaptasi Jemaat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh
Adaptasi merupakan kemampuan makhluk hidup baik itu tumbuhan,
binatang maupun manusia untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan yang
terjadi dalam lingkungan hidupnya. Dalam melakukan suatu adaptasi,
mahkluk hidup khususnya manusia perlu melakukan strategi adaptasi agar
tujuannya tercapai. Strategi sendiri merupakan seni atau ilmu yang
menggunakan sumber daya untuk mencapai sasaran khusus.
Adaptasi mengharuskan individu untuk menyarinng manakah perilaku
yang harus dan tidak harus dia lakukan. Adaptasi nilai dan norma
antarpribadi/ kelompok sangat ditentukan oleh dua faktor, yaitu pilihan untuk
mengadaptasikan nilai dan nilai yang fungsional yang mendukung hubungan
antarpribadi maupun antar kelompok.
Jemaat Kristen Advent Desa Kuwaron juga melakukan strategi adaptasi
agar keberadaan jemaat advent tetap eksis sampai saat ini. Sebagai salah satu
kelompok minoritas yang ada di Desa Kuwaron, Jemaat Advent harus mampu
beradaptasi dengan penduduk desa Kuwaron. Berbeda dengan adaptasi yang
dilakukan para migran yang menghadapi tantangan yang lebih kompleks
seperti perbedaan suku, ras, bahasa maupun agama. Adaptasi yang dilakukan
oleh jemaat Advent Desa Kuwaron harusnya memiliki tantangan yang lebih
ringan dibandingkan dengan adaptasi para migran yang sebelumnya telah
terjadi konflik.
Seperti menurut Bennett yang menyatakan bahwa seorang atau kelompok
akan melakukan siasat untuk menghindari penolakan agar mampu
mempertahankan kehidupan di wilayah ini . Hal demikian juga yang
harus dilakukan oleh Jemaat Advent Desa Kuwaron supaya mereka bisa
bertahan hidup dan terhindar dari pengusiran.
Jika parameter keberhasilan adaptasi yang dilakukan oleh sebuah
kelompok yaitu betah atau kerasan di mana ia bermukim, maka jemaat
Advent bisa diaggap berhasil dalam melakukan sebuah adaptasi. Kehidupan
jemaat advent yang telah puluhan tahun tinggal di Desa Kuwaron bisa
dijadikan tolak ukur ini .
Adaptasi yang dilakukan oleh jemaat Advent ada faktor pendukung
yang menjadikan jemaat Advent mampu beradaptasi dengan baik. Selain itu,
ada indikator sebagai acuan mengapa Jemaat Advent dapat dikatakan
berhasil dalam beradaptasi di Desa Kuwaron.
1. Faktor Pendukung Adaptasi Jemaat Gereja Masehi Advent Hari
Ketujuh
Dalam bab sebelumnya, penulis menyatakan bahwa adaptasi bukan
suatu hal yang mudah dilakukan oleh suatu individu maupun kelompok.
ada hal-hal yang harus diperhatikan dan juga faktor yang
mempengaruhi keberhasilan atau tidaknya suatu individu maupun
kelompok dalam hal adaptasi.
Dalam kehidupan warga kebutuhan akan sosial sangat
diperlukan. Untuk mendapatkan hak-hak semacam itu, individu maupun
kelompok pendatang atau kelompok baru perlu melakukan adaptasi.
Jemaat Advent sebagai aktor dalam penelitian ini, memiliki peran
tersendiri sebagai kelompok yang melakukan adaptasi.
Dalam waktu yang tidak bisa dibilang sebentar, keberadaan Jemaat
Advent di Desa Kuwaron pastilah ada faktor pendukung yang
memicu Jemaat Advent di Desa Kuwaron berhasil dalam hal
adaptasi. Dari hasil data yang diperoleh peneliti, ada faktor yang
mendukung keberhasilan adaptasi Jemaat Advent Desa Kuwaron, antara
lain:
a. Solidaritas Antar Jemaat
Solidaritas yang dapat diartikan sebagai sifat atau rasa senasib
menjadikan Jemaat Advent Desa Kuwaron memiliki rasa yang sama.
Sebagai kelompok minoritas yang identik dengan kesolidan antar
anggotanya. Pun demikian yang terlihat pada Jemaat Advent Desa
Kuwaron. Keakraban yang ditunjukkan oleh Jemaat Advent Desa
Kuwaron sangat trlihat. Tidak hanya saat kebaktian sabat, dalam
kesehariannya, jemaat Advent juga sering berkumpul.
Data yang diperoleh peneliti tentang solidaritas yag tinggi yang
ditunjukkan oleh jemaat Advent membuat mereka saling membantu
jika ada salah satu jemaat mengalami masalah, terlebih lagi
dengan warga sekitar.
Salah satu kesolidan yang ditunjukkan oleh jemaat Advent yaitu
mengenai bagaimana mereka memutuskan untuk menggunakan rumah
sebagai tempat ibadah. Akses ke Semarang yang jauh serta kepatuhan
semua jemaat Advent untuk beribadah dengan mematuhi aturan desa
yang ada menjadi bukti hubungan antar JemaatAdvent Desa
Kuwaronterbilang sangat baik.
b. warga yang Terbuka
Sebagai warga pedesaan, interaksi antar warga akan
terjadi secara intens. Fenomena seperti ini juga nampak terlihat di
Desa Kuwaron. Dalam aktivitas sehari-hari bertemunya orang yang
berlatarbekang berbeda-beda di suatu warga yang plural tidak
bisa dinafikan. Oleh sebab itu faktor lingkungan sangat berpengaruh
terhadap suatu adaptasi yag dilakukan oleh jemaat Advent Desa
Kuwaron.
warga Desa Kuwaron yang mayoritas merupakan pemeluk
Islam memahami betul akan pentingnya kehidupan yang damai.
Dengan pemahaman seperti ini menjadikan jemaat Advent Desa
Kuwaron lebih mudah beradaptasi dengan lingkunganyang seperti ini.
Seperti adanya rumah yang dijadikan jemaat Advent dalam
beribadah setiap hari Sabtu yang terletak di tengah-tengah penduduk
muslim. warga sekitar yang tidak mempermasalahkan rumah
ini memperlihatkan bahwa toleransi yang ditunjukkan oleh
warga sekitar sangattinggi.
Selain peristiwa ini , kasus Ibu Aminah yang pindah agama
serta istri Pak Iwan yang sampai saat ini masaih memeluk agama Islam
memperlihatkan juga bahwa warga Desa Kuwaron sangat
mengerti akan pilihan hidup, dalam hal ini yaitu kepercayaan.
c. Kesadaran warga
Kesadaran seseorang sebagai makhluk hidup yang tidak bisa hidup
sendiri tanpa bantuan orang lain menjadi alasan lainnya. Selain itu,
tanpa adanya kesadaran oleh warga mengenai toleransi tidak akan
tercipta kehidupan yang damai. Sebagai makhluk sosial manusia tidak
pernah lepas dari bantuan manusia lainnya. Kesadaran seperti ini yang
terlihat pada warga Desa Kuwaron.
Hasil wawancara dengan Syaiful Amri yang menganggap bahwa
warga Desa Kuwaron sangat menghargai kepercayaan seseorang
(agama) menjadi salah satu alasan adaptasi yang dilakukan oleh
Jemaat Advent Desa Kuwaron berjalan lancar dan tetap eksis sampai
saat ini. Meskipun ajaran-ajaran Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh
yang sangat kontras dengan Kristen pada umumnya tidak menjadikan
warga Desa Kuwaron mencurigai sekte ini. Meskipun ajaran-
ajaran yang ada pada sekte ini ada kemiripan dengan Islam yang
mana merupakan agama yang dipeluk oleh mayoritas warga Desa
Kuwaron.
d. Ajaran Agama
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yang merupakan nama dari
sekte salah satu agama tidak bisa dihindarkan dari keagamaan. Sebagai
kelopok keagamaan pastilah betul memahami ajaran-ajaran yang
ada di Alkitab. Seperti ajaran Yesus yang sangat identik dengan
ajaran kasih.
Hal semacam ini juga ditunjukkan oleh warga Desa Kuwaron
yang mayoritas merupakan muslim. Ajaran Islam yang yang sangat
menghargai umat lain, serta perbedaan merupakan sunnatullah.
Terlebih lagi keberadaan Pondok Pesantren yang diasuh oleh K.H.
Muhajir Zuhri yang mampu menjadi sosok penting terciptanya
kehidupan yang penuh toleransi di Desa Kuwaron.
2. Indikator Keberhasilan Srategi Adaptasi Jemaat Gereja Masehi
Advent Hari Ketujuh Desa Kuwaron
Keberhasilan suatu individu maupun kelompok dalam hal adaptasi
tidak bisa dilepaskan dari beberapa aktor maupun faktor. Kedua elemen ini
sangat mempengaruhi proses hingga keberhasilan suatu adaptasi. Sebagai
hasil dari proses yang panjang ini , tentu ada indikator sebagai tolak
ukur dalam mengukur keberhasilan suatu adaptasi. Dan indikator suatu
individu maupun kelompok dikatakan berhasil dalam hal adaptasi ialah
jika suatu individu ataupun kelompok tetap eksis dan meresa betah di
lingkungan di mana ia tinggal.
Dalam langkah melakukan adaptasi, ada tiga konsep yang
perlu diperhatikan menurut Jon W. Bennett. Seperti perilaku, siasat, dan
juga proses. Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan dan
dibandingkan dengan indikator keberhasilan suatu adaptasi maka dapat
disimpulkan sebagai berikut.
a. Terciptanya Interaksi Sosial di antara Jemaat Advent dan warga
Sekitar
Interaksi merupakan bentuk umum dari proses sosial. Ini dipahami
sebab interaksi sosial merupakan dasar utama terjadinya aktivitas-
aktivitas sosial. Suatu interaksi terjadi tidak lain sebab ada kebutuhan
dari seorang individu.
Jemaat Advent yang merupakan kelompok minoritas
memerlukan suatu interaksi dengan warga sekitar. Dengan
terciptanya interaksi yang terjadi antara Jemaat Advent dengan
warga sekitar maka akan berpengaruh pada kehidupan para
Jemaat Advent di Desa Kuwaron.
Penyesuaian diri yang berbentuk adjustive juga sangat diperlukan
oleh suatu individu maupun kelompok. Hal ini sebab sebagai manusia
perilaku sangat berpengaruh terhadap penerimaan suatu individu
maupun kelompok. Mematuhi aturan-aturan atau norma-norma yang
ada merupakan hal yang sangat penting.
Kehidupan Jemaat Advent yang bersikap terbuka dengan
warga menjadikan mereka mudah berbaur. Faktor keluarga serta
karakteristik orang pedesaan juga mempengaruhi terhadap
keberhasilan Jemaat Advent dalam menciptakan suatu interaksi
diantara warga sekitar.
Hasil observasi dan wawancara juga menjelaskan bahwa tingkat
frekuensi interaksi juga dipengaruhi oleh adanya fasilitas umum,
seperti pasar, sekolah, dan lain-lain. Fasilitas umum ini
menjadikan jemaat Advent mempuyai kesempatan untuk berbaur
dengan warga sekitar.
Dari fenomena di atas, dapat dilihat bahwa jemaat Advent desa
Kuwaron sangat mengerti betul pentingya menjaga interaksi dengan
warga sekitar. Mereka menyadari bahwa bukan hanya kebutuhan
biologis yang mampu menjadikan manusia tetap hidup. Akan tetapi,
ada faktor lain yang sangat mempengaruhi keberlangsungan hidup
manusia, yaitu warga sekitar. Oleh sebab itu, menjaga interaksi
dengan warga menjadi faktor fundamental bagi jemaat Advent
desa Kuwaron.
b. Diterimanya Jemaat Advent Di Desa Kuwaron
Dalam UUD pasal 28 dan 29 negara menjamin kebebasan hak
warga negara untuk memeluk agama serta ibadah sesuai dengan
kepercayaan yang mereka percayai. Dan diterimanya jemaat Advent di
Desa Kuwaron merupakan salah satu indikator keberhasilan dalam hal
adapatasi. Hal ini bisa dilihat dari keterlibatan Jemaat Advent di ruang
publik, seperti di bidang ekonomi, sosial, maupun politik.
Pak Iwan yang menjadi ketua RT di kampungnya menjadi contoh
bahwa Jemaat Advent diterima di Kuwaron. Hal ini juga
memperlihatkan jika Desa Kuwaron menampilkan keintegrasian,
terutama dalam bidang politik pemerintahan. Fenomena-fenomena
mengenai keterlibatan jemaat Advent dalam kegiatan sosial
kewarga an juga menambah tingkat integrasi Desa Kuwaron.
Proses sosial yang bersifat asosiatif ini memberikan rasa aman kepada
Jemaat AdventDesa Kuwaron. Hal ini berarti, keadaan lingkungan
yang positif telah membuat Jemaat Advent mencapai potensi
maksimalnya dalam hal strategi adaptasi yang dilakukannya.
c. Eksistensi Jemaat Advent Hingga Sekarang
Keberadaan jemaat Advent hingga saat ini menjadi indikator
puncak bahwa jemaat Advent di Desa Kuwaron mampu beradaptasi
dengan baik. Usia Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Desa Kuwaron
yang hampir setengah abad membuktikan bahwa warga desa
Kuwaron menerima jemaat ini.
Sebagai agama yang tergolong minoritas di wilayah ini, bahkan
masih asing bagi warga negara kita , jemaat Advent Desa Kuwaron
tetap berupaya untuk selalu eksis di tengah banyaknya konflik agama
yang terjadi di negara kita ini. ada beberapa faktor yang
memicu keeksistensi Jemaat Advent hingga saat ini.
Seperti halnya menurut Schneidrs bahwa lingkungan memiliki
peran yang sangat signifikan terhadap proses adaptasi. Lingkungan
kewarga an Desa Kuwaron yang damai, tentram, serta tidak
mengusik hal-hal yang bersifat religiusitas menjadikan jemaat Advent
masih eksis hingga sekarang.
Dalam periode yang lama ini , jemaat Advent tidak pernah
menyulut konflik. Sebagai kelompok minoritas, sikap inklusif
ditunjukkan oleh jemaat ini. Selain itu, perilaku yang ditampilkan oleh
jemaat Advent Desa Kuwaron yang mematuhi aturan desa untuk tidak
mendirikan gereja di Desa Kuwaron juga dipenuhi.
Berbagai hal yang telah disebutkan di atas, setidak-tidaknya dapat
menggambarkan bahwa strategi-strategi yang dilakukan oleh jemaat Advent
dalam upaya adaptasi di Desa Kuwaron yaitu bentuk strategi adaptasi dengan
cara yang damai. Pemahaman para jemaat tentang pentingnya kehidupan yang
harmonis juga menjadi faktor GMAHK tetap eksis keberadaannya sampai saat
ini di Desa Kuwaron.
sesudah diadakan berbagai wawancara, pengumpulan data serta analisa
yang diperoleh dalam rangka pembahasan skripsi yang berjudul “Strategi
Adaptasi Jemaat Advent (Studi Kasus Desa Kuwaron, Kecamatan Gubug,
Kabupaten Grobogan)” maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Dinamika sosial warga yang ada di Desa Kuwaron sangat baik.
Kehidupan warga Desa Kuwaron yang penuh dengan rasa toleransi.
2. Berdasarkan teori tentang strategi adaptasi menurut para tokoh yang telah
disebutkan di bab sebelumnya dengan serta indikatornya, maka jemaat
Advent telah berhasil dalam melakukan adaptasi, sebab eksistensi jemaat
ini di Desa Kuwaron sampai saat ini, meskipun penyebarannya tidak
masif.
3. Dalam proses adaptasiya, ada faktor-faktor yang mendukung
keberhasilan Jemaat Advent Desa Kuwaron dalam beradaptasi, antara
lain:
a. Solidaritas antar jemaat
b. warga Desa Kuwaron yang terbuka
c. Kesadaran warga Desa Kuwaron
d. Ajaran Agama
4. Selain itu ada indikator yang mencerminkan bahwa adaptasi yang
dilakukan jemaat Adent berhasil, diantaranya:
a. Terciptanya interaksi sosial di antara Jemaat Advent dan warga
Sekitar
b. Diterimanya jemaat Advet di Desa Kuwaron
c. Eksistensi Jemaat Advent hingga sekarang.
B. Saran-saran
Adapun saran yang dapat diberikan berdasarkan kesimpulan penelitian ini
yaitu :
1. Harapan penulis agar warga yang tinggal di Desa Kuwaron tetap
menjaga harmonitas agar tidak terjadi konflik kelompok di kemudian
hari. Dan diharapkan pula mendukung kelompok minoritas dalam
pembangunan tempat ibadah agar tidak ada kecemburuan sosial, dan
menjadikan desa Kuwaron sebagai cerminan desa-desa yagn lain.
2. Hasil penelitian ini tentunya msih jauh dari kata sempurna, sehingga
penulis menyarankan agar penelitian ini dapat dikembangkan lagi oleh
peneliti lainnya terkait proses adaptasi sosial.
3. Dalam penelitian ini ada kekurangan, disebab kan keterbatasan
peneliti dalam meng-explore data terlebih dalam hal mengenai adaptsi
jemaat advent Desa Kuwaron. Maka dari itu untuk penelitian
selanjutnya mengenai adaptasi sosial untuk dapat menggali data lebih
dalam.





.jpeg)
