doktrin dasar alkitab 15

Tampilkan postingan dengan label doktrin dasar alkitab 15. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label doktrin dasar alkitab 15. Tampilkan semua postingan

doktrin dasar alkitab 15



 ia menantang mereka agar

mereka mempersembahkan diri sendiri

“menjadi senjata-senjata kebenaran. Sebab

kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa,

sebab  kamu tidak berada di bawah hukum

Taurat, namun  di bawah kasih karunia” (Rm.

6:13, 14). Oleh sebab  itu, orang Kristen tidak

memelihara hukum untuk memperoleh kese-

lamatan—barangsiapa yang berusaha mela-

kukan pemeliharaan hukum itu untuk mem-

peroleh keselamatan hanyalah akan memper-

dalam perhambaan dalam dosa. “Selama ma-

nusia berada di bawah hukum ia tetap di ba-

wah kuasa dosa, sebab  hukum tidak dapat

menyelamatkan seseorang dari hukuman

mau pun dari kuasa dosa. Akan namun  ba-

rangsiapa yang berada di bawah anugerah

mene-rima bukan saja kelepasan dari hu-

kuman (Rm. 8:1), namun  juga kuasa untuk

mengalahkan (Rm. 6:4). Dengan demikian,

maka dosa tidak lagi berkuasa atas mere-

ka.”23

“Sebab Kristus,” kata Paulus menambah-

kan, “yaitu  kegenapan hukum Taurat, se-

hingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang

yang percaya” (Rm. 10:4).  Lalu, setiap orang

yang percaya di dalam Kristus mengakui

bahwa Dialah akhir hukum yang menjadi se-

buah jalan untuk memperoleh kebenaran.

Kita yaitu  orang-orang yang berdosa, namun 

di dalam Kristus Yesus kita dibenarkan mela-

lui kebenaran-Nya yang dihisabkan.24

Di bawah anugerah itu, bukanlah berarti

orang-orang beriman bebas dan “bertekun

dalam dosa, supaya semakin bertambah ka-

sih karunia” (Rm. 6:1). Sebaliknya, anugerah

menambah kuasa yang membuat penurutan

dan kemenangan atas dosa itu mungkin di-

peroleh. ”Demikianlah sekarang tidak ada

penghukuman bagi mereka yang ada di dalam

Kristus” (dalam bahasa Indonesia terjemahan

baru) “yang tidak menuruti keinginan daging

melainkan menurut Roh” (terjemahan dalam

bahasa Inggris (Rm. 8:1).

Kematian Kristus memuliakan dan mem-

besarkan hukum, meninggikan otoritasnya

yang bersifat universal. Jika Sepuluh Hukum

(Dekalog) dapat diubah, maka Kristus tidak

perlu mati. Akan namun  sebab  hukum ini

mutlak dan tidak dapat diubah, kematian

menjadi syarat pembayarannya. Dengan ma-

tinya Kristus di kayu palang, persyaratan ini

dipenuhi, memungkinkan kehidupan kekal

dapat diperoleh semua orang yang menerima

pengorbanan-Nya yang amat mulia itu.

PENURUTAN KEPADA HUKUM

Tiada orang yang dapat memperoleh ke-

selamatan dengan usahanya yang baik. Pe-

nurutan yaitu  buah keselamatan di dalam

Kristus. Melalui anugerah-Nya yang ajaib,

terutama yang dinyatakan di kayu salib, Allah

telah membebaskan umat-Nya dari hukuman

dan kutuk dosa. Walaupun mereka yaitu 

orang-orang berdosa. Kristus memberikan

hidup-Nya untuk menyediakan bagi mereka

pemberian hidup kekal. Kasih karunia Allah

yang berkelimpahan timbul di dalam orang

berdosa yang bertobat sebuah sambutan

yang menampakkan diri di dalam penurutan

Hukum Tuhan Allah 283

yang penuh kasih melalui kasih anugerah

yang dilimpahkan dengan berkelimpahan.

Orang-orang percaya yang mengerti bahwa

Kristus menghargai hukum dan orang yang

mengerti bahwa Kristus menghargai hukum

dan orang yang mengerti berkat-berkat pe-

nurutan akan digerakkan dengan tangguh un-

tuk menghayati hidup seperti hidup yang di-

hayati Kristus.

Kristus dan Hukum. Kristus sangat meng-

hargai Sepuluh Hukum. Sebagaimana Yang

Agung “AKU yaitu  AKU,” Ia sendiri

mengumumkan hukum moral Bapa dari Sinai

(Yoh. 8:58; Kel. 3:14; baca juga bab 4). Seba-

gian dari tugas-Nya di dunia ini yaitu  “untuk

memberi pengajaran-Nya yang besar dan

mulia” (Yes. 42:21). Sebuah ayat dari Maz-

mur yang menyatakan bahwa Perjanjian Ba-

ru dikenakan kepada Kristus membuat jelas

sikap-Nya terhadap hukum: “Aku suka mela-

kukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu

ada dalam dadaku” (Mzm. 40:8; bandingkan

Ibr. 10:5,7).

Injil-Nya menghasilkan sebuah iman yang

senantiasa mengukuhkan keabsahan Sepuluh

Firman (Dekalog). Kata Paulus, “Jika demi-

kian, adakah kami membatalkan hukum Tau-

rat sebab  iman? Sama sekali tidak! Sebalik-

nya, kami meneguhkannya” (Rm. 3:31).

Oleh sebab  itu, Kristus datang bukan ha-

nya untuk menebus kita semua  namun  juga mem-

pertahankan otoritas dan kesucian hukum

Allah, menampilkan kebesaran dan kemuliaan

di hadapan orang banyak serta memberikan

kepada mereka teladan bagaimana berhu-

bungan dengannya. Sebagai pengikut-pengi-

kut-Nya, orang-orang Kristen dipanggil un-

tuk memuliakan hukum Tuhan selama hidup

mereka. Kristus menghayati suatu kehidupan

penurutan dengan kasih diri-Nya Sendiri, Ia

menekankan bahwa para pengikut-Nya ha-

rus menjadi pemelihara hukum. Apabila dita-

nyakan mengenai syarat-syarat untuk mem-

peroleh hidup kekal, Ia menjawab, “Jikalau

engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah

segala perintah Allah” (Mat. 19:17). Ia juga

mengamarkan pelanggaran terhadap asas ini,

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-

Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Ke-

rajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan

kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Para pe-

langgar hukum akan ditolak masuk ke da-

lamnya (Mat. 7:21-23).

Kristus Sendiri menggenapi hukum, bu-

kan dengan membinasakannya namun  melalui

hidup yang penuh dengan penurutan. “Se-

sungguhnya,” kata-Nya, “selama belum le-

nyap langit dan bumi ini, suatu iota atau satu

titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum

Taurat, sebelum semuanya terjadi” (Mat.

5:18). Dengan tegas Kristus menekankan

bahwa tujuan mulia hukum Allah itu haruslah

senantiasa disimpan di dalam pikiran: menga-

sihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu,

jiwa raga dan pikiranmu dan sesamamu se-

perti dirimu sendiri (Mat. 22:37, 38). Bagai-

manapun, Ia ingin agar para pengikut-Nya

jangan mengasihi sesamanya sebagaimana

menurut kasih yang ditafsirkan dunia ini—

yang mementingkan diri atau sentimental sa-

ja. Untuk menjelaskan kasih yang dibicarakan-

Nya, Kristus memberikan “hukum yang ba-

ru” (Yoh. 13:34). Hukum yang baru  ini bu-

kanlah mengambil tempat Sepuluh Firman,

melainkan menyediakan bagi umat percaya

dengan “sebuah teladan apa sebenarnya ka-

sih sejati yang tidak mementingkan diri sendiri

itu, kasih yang belum pernah disaksikan di

atas dunia ini. Dengan demikianlah perintah-

Nya ini dapat dilukiskan sebagai sebuah pe-

rintah baru. Yang memerintahkan mereka

bukan hanya sekadar “supaya kamu saling

mengasihi,” namun  “supaya kamu saling me-

ngasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu”

(Yoh. 15:12). Jelasnya, kita berada di sini juga

284               Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

satu lagi bukti bagaimana Kristus menghormati

hukum-hukum Bapa-Nya.25

Penurutan menyatakan cinta yang demi-

kian. Yesus berkata, “Jikalau kamu menga-

sihi Aku, kamu akan menuruti segala perin-

tah-Ku” (Yoh. 14:15). “Jikalau kamu menu-

ruti, perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam

kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Ba-

pa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya” (Yoh.

15:10). Sama halnya, jika kita mengasihi umat

Allah maka kita pun mengasihi Allah dan

“menuruti perintah-perintah-Nya” (1 Yoh.

2:3).

Hanyalah dengan tinggal di dalam Kristus

kita dapat membuat hati yang penurut. “Sama

seperti ranting tidak dapat berbuah dari diri-

nya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok

anggur,” kata-Nya, “demikian juga kamu ti-

dak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di

dalam Aku .... Barangsiapa tinggal di dalam

Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak,

sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat

apa-apa” (Yoh. 15:4, 5). Agar dapat tinggal di

dalam Kristus kita harus disalibkan dengan-

Nya dan mengalami seperti apa yang ditulis

Paulus: “namun  bukan lagi aku sendiri yang

hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam

aku” (Gal. 2:20). Bagi orang yang sudah ber-

ada dalam kondisi seperti ini Kristus dapat

menggenapi Perjanjian Baru-Nya: ”Aku

akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi

mereka dan menuliskannya dalam hati me-

reka, maka Aku akan menjadi Allah mereka,

dan mereka akan menjadi umat-Ku” (Ibr.

8:10).

Berkat-berkat Penurutan. Penurutan me-

ngembangkan tabiat Kristen dan menghasilkan

suatu perasaan yang baik, menjadikan umat

percaya bertumbuh sebagai “bayi yang baru

lahir” dan akan diubah menjadi serupa de-

ngan gambar Kristus (baca 1 Ptr. 2:2; 2 Kor.

3:18). Perubahan dari orang berdosa menjadi

anak Allah akan menjadikan saksi yang ber-

hasil baik terhadap kuasa Kristus.

Kitab Suci menyatakan “berbahagialah”

semua “orang yang hidupnya tidak bercela,

yang hidup menurut Taurat Tuhan” (Mzm.

119:1), “yang kesukaannya ialah Taurat Tu-

han, dan yang merenungkan Taurat itu siang

dan malam” (Mzm. 1:2). Berkat-berkat pe-

nurutan itu banyak: (1) kebijaksanaan dan

akal budi (Mzm. 119:98, 99); (2) damai

(Mzm. 119:165; Yes. 48:18); (3) pembenaran

(Ul. 6:25; Yes. 48:18); (4) Kemurnian dan ke-

hidupan moral (Ams. 7:1-5); (5) pengetahu-

an akan kebenaran (Yoh. 7:17); (6) penjaga-

an terhadap penyakit; (7) panjang usia (Ams.

3:1, 2; 4:10, 22); (8) jaminan bahwa doa sese-

orang akan dijawab (1 Yoh. 3:22; bnd Mzm.

66:18).

Dengan mengundang kita supaya menjadi

penurut, Allah menjanjikan berkat yang ber-

kelimpahan (Im. 26:3-10; Ul. 28:1-12). Apa-

bila kita menyambut dengan positif, maka

kita akan menjadi “harta kesayangan” Tu-

han—“menjadi... kerajaan imam dan bangsa

yang kudus” (Kel. 19:5, 6; bandingkan 1 Ptr.

2:5, 9), ditinggikan “di atas segala bangsa di

bumi,” “menjadi kepala dan bukan menjadi

ekor” (Ul. 28:1, 13).

____________________________:

1. Holbrook, “What God’s Law Means to Me,” Adventist Review, 15 Januari 1987, hlm. 16.

2. White, Selected Messages, artikel  1, hlm. 235.

3. Ibid., hlm. 218.

4. Bnd Pengakuan Iman Westminster, 1647 TM, bab XIX, dalam Philip Schaff, The Creeds of Christendom, jilid 3,

hlm. 640-644.

5. Lihat Taylor G. Bunch, The Ten Commandments (Washington, D.C.: Review and Herald, 1944), hlm. 35, 36.

6. ‘Ten Commandments,” SDA Bible Dictionary, edisi revisi, hlm. 1106.

7. Hukum Musa dapat juga dirujuk kepada satu bagian Perjanjian Lama yang disebut Pentateukh—lima artikel  pertama

dari Alkitab (Luk. 24:44; Kis. 28:23).

Hukum Tuhan Allah 285

8. Yang termasuk juga di dalam perjanjian itulah beberapa peraturan keupacaraan dan hukum sipil tertentu. Peng-

ajaran-pengajaran sipil bukanlah sebuah tambahan terhadap Sepuluh Firman (Dekalog) melainkan hanyalah se-

kadar penerapan yang rinci dari prinsip atau asas itu secara luas. Hukum keupacaraan melambangkan injil dengan

menyediakan sarana anugerah bagi orang-orang yang berdosa. Oleh sebab  itu, Sepuluh Firman itulah yang men-

dominasi perjanjian itu. Bnd Yer. 7:21-23; Francis D. Nichol,Answers to Objections (Washington, D.C.: Review

and Herald, 1952), hlm. 62-68).

9. Arnold V. Wallenkampt, “Is Conscience a Safe Guide?” Review and Herald, 11 April 1983, hlm. 6.

10. Sebagian orang menafsirkan pernyataan Paulus bahwa “Kristus yaitu  kegenapan hukum untuk membenarkan

setiap orang yang percaya” dimaksudkan bahwa akhir atau tujuan hukum itu membawa kita kepada sasaran di mana

kita dapat melihat betapa berdosanya kita, dan datang kepada Kristus meminta pengampunan, menerimanya

melalui iman akan kebenaran-Nya. (Penggunaan kata “akhir” (Yunani, telos), juga ada  dalam 1 Tes. 1:5,

Yak. 5:11 dan dalam 1 Petr. 1:9). Lihat juga catatan 23.

11. Bnd SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 6, hlm. 961; White, Selected Messages, artikel  1, hlm. 233. Hukum

keupacaraan yaitu  sebuah guru yang membawa individu kepada Kristus namun  dengan sarana yang berbeda. Pela-

yanan di bait suci dengan segala persembahan pengorbanan menunjukkan kepada orang berdosa keampunan dari

dosa bahwa darah Anak Domba yang akan datang itu, Yesus Kristus, akan menyediakannya, dengan demikian

membawa kepada mereka pengertian terhadap anugerah injil itu. Hal itu direncanakan untuk menciptakan cinta

terhadap hukum Allah sementara persembahan-persembahan korban yaitu  menjadi gambaran dramatis dari kasih

Allah di dalam Kristus.

12. Ibid., hlm. 213.

13. White, The Desire of Ages, hlm. 329.

14. Bnd White, Education, hlm. 173-184.

15. Pengakuan-pengakuan yang bersifat historis, pengakuan iman yang meninggikan keabsahannya yaitu  “Ka-

tekhismus Waldensia, 1500 TM; Katekhismus kecil Luther, 1529 TM; Katekhismus Anglikan, 1549 TM dan

1662 TM; Pengakuan Iman Scottish, 1560 TM (Reformed); Katekhismus Heidelberg, 1563 TM (Reformed);

Konfensi Helvetic Kedua, 1566 TM (Reformed); Tigapuluh sembilan Artikel Agama, 1571 TM (Gereja Inggeris);

Formula Konkord, 1576 TM (Lutheran); Artikel-artikel Iman Irish, 1615 TM (Gereja Episkopal Irish); Konfesi

Iman Westminster, 1647 TM; Katekhismus Singkat Westminster, 1647 TM; Konfesi Waldenses, 1655 TM;

Deklarasi Savoy, 1658 TM (Congregational); Konfesi Masyarakat Sahabat, 1675 TM (Quakers); Konfesi

Philadelphia, 1688 TM (Baptis); Duapuluh lima Artikel Agama, 1784 TM (Metodis); Konferensi New Hamps-

hire, 1833 TM (Baptis); Katekhismus panjang dari Ortodoks, Katolik, Gereja Timur, 1839 TM (Gereja Yunani

Rusia), sebagaimaan dikutip dalam The Creeds of Christendom, “ed. Philip Schaff, revisi oleh David S. Schaff

(Grand Rapids: Baker Book House, 1983), jilid 1-3.

16. Rujukan untuk hukum-hukum pertama dan kedua, baca Kej. 35:1-4; keempat, Kej. 2:1-3; kelima, Kej. 18:29; ke-

enam, Kej. 4:8-11; ketujuh, Kej. 39:7-9; 19:1-10; kedelapan, Kej. 44:8; kesembilan, Kej. 12:11-20; 20:1-10; dan

kesepuluh, Kejadian 27.

17. Froom, Prophetic Faith of Our Fathers, jilid 1, hlm. 456, 894; jilid 2, hlm. 528, 784; jilid 3, hlm. 252, 744; jilid

4, hlm. 392, 846.

18. Questions on Doctrine, hlm. 142.

19. Kain dan Habil mengenal betul sistem persembahan korban (Kej. 4:3-5; Ibr. 11:4). Adam dan Hawa membuat pa-

kaian mereka yang pertama (Kej. 3:21) dari kulit binatang yang dikorbankan (dipersembahkan) untuk meng-

adakan pendamaian sebab  dosa-dosa mereka.

20. Lihat juga misalnya, pengakuan iman yang historis yang berikut: Konfesi Iman Westminster, Artikel-artikel

Agama Irish; Deklarasi Savoy, Konfesi Philadelphia, Artikel-artikel Metodis mengenai Agama.

21. Bnd The SDA Bible Commentary, edisi revisi jilid 6, hlm. 204; White, Patriarchs and Prophets, hlm. 365.

22. Calvin, Commenting on a Harmony of the Evangelists, terjemahan William Pringle (Grand Rapids: Wm B.

Eerdmans, 1949), jilid 1, hlm. 277.

23. The SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 6, hlm. 541, 542.

24. Sebagian lagi para penafsir menafsirkan Kristus sebagai akhir (the end) hukum berarti bahwa Kristus yaitu  tujuan

atau arah yang dituju hukum itu (bnd. Gal. 3:24) atau penggenapan hukum itu (bnd Mat. 5:17). Bagaimana pun,

pandangan bahwa Kristus yaitu  akhir (termination) hukum itu sebagai alat keselamatan (bnd Rm. 6:14) tam-

paknya lebih cocok dengan konteks Rm. 10:4. “Paulus mengkontraskan cara Tuhan mengenai pembenaran oleh

iman dengan usaha kita semua  dengan pembenaran oleh hukum. Pekabaran yang ada  dalam Injil itulah Kristus

akhir dari hukum itu sebagai suatu jalan pembenaran bagi setiap orang yang memiliki iman” (The SDA Bible

Commentary, edisi revisi, jilid 6, hlm. 595). Bnd White, Selected Messages artikel  1, hlm. 394.

25. Nichol, Answers to Objections hlm. 100, 101.

Khalik yang penuh kemurahan, sesudah  enam hari Penciptaan,

berhenti pada hari ketujuh dan melembagakan hari Sabat bagi semua

umat sebagai satu peringatan Penciptaan. Perintah keempat dari

Hukum Allah yang tak dapat berubah itu mengharuskan pemeliha-

raan Sabat hari ketujuh ini sebagai hari istirahat, berbakti, dan me-

layani sesuai dengan ajaran dan praktik yang dilakukan Yesus Kris-

tus, Tuhan atas hari Sabat itu. Hari Sabat yaitu  hari perhubungan

yang menyenangkan dengan Tuhan Allah, dan juga dengan sesama.

Sabat merupakan sebuah lambang penebusan kita di dalam Kristus,

satu tanda penyucian kita, sebuah pernyataan bahwa kita tunduk dan

taat, sebuah gambaran mendatang tentang kehidupan yang abadi di

dalam kerajaan Allah. Sabat merupakan tanda Allah yang kekal, aba-

dinya perjanjian-Nya antara Dia dan umat-Nya. Pemeliharaan de-

ngan rasa gembira atas hari yang kudus ini dari senja kepada senja,

dari matahari terbenam sampai matahari terbenam, yaitu  sebuah

perayaan atas karya kreatif dan tindak perbuatan yang menebus yang

dilakukan Tuhan.—Fundamental Beliefs,—20.

287

Bersama  Allah,  Adam  dan  Hawa  mem-

perhatikan sekeliling rumah Firdaus me-

reka. Pemandangan itu tidak terlukiskan, ti-

dak terkatakan. Ketika matahari turun pe-

lahan pada hari Jumat itu, hari keenam pen-

ciptaan, dan bintang-bintang mulai muncul,

“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-

Nya itu, sungguh amat baik” (Kej. 1:31). De-

ngan demikian Allah menyelesaikan pencip-

taan “langit dan bumi dan segala isinya” (Kej.

2:1).

Betapa indahnya dunia yang telah dijadi-

kan dan diselesaikan-Nya itu, pemberian ter-

besar yang dapat diberikan Allah untuk pa-

sangan baru yang dijadikan-Nya, merupakan

sebuah hubungan yang sangat bersifat pri-

badi dan khusus dengan Allah. lalu  Ia

memberikan kepada mereka hari Sabat, hari

dengan berkat khusus, persekutuan dan per-

hubungan dengan Pencipta mereka.

SABAT MENURUT ALKITAB

Sabat yaitu  pusat perbaktian kita kepada

Allah. Peringatan atas Penciptaan, yang me-

nyatakan sebab-musabab mengapa Allah ha-

rus disembah: Ia Pencipta dan kitalah cipta-

an-Nya. Oleh sebab  itu, Sabat menjadi dasar

utama fondasi perbaktian kepada Tuhan, ka-

rena di dalamnya diajarkan pengajaran agung

yang sangat indah dalam cara yang amat

mengesankan, tidak ada lembaga yang setara

dengan itu. Dasar perbaktian yang benar

kepada Allah, bukan hanya pada hari yang

ketujuh itu saja, namun  juga semua perbaktian,

didasarkan dalam perbedaan antara Pencipta

dan makhluk ciptaan-Nya. Kenyataan agung

ini tidak akan pernah menjadi aus, dan tidak

akan pernah dapat dilupakan.”1 Itulah sebab-

nya Allah melembagakan Sabat ini, supaya

kebenaran ini tetap dipegang umat kita semua .

Sabat pada Penciptaan. Sabat diberikan

kepada kita dari dunia yang tidak berdosa.

Itulah karunia istimewa yang diberikan Allah,

yang akan menyanggupkan umat kita semua 

untuk dapat merasakan wujud surga di atas

dunia ini. Tiga tindakan Ilahi yang jelas dalam

mendirikan Sabat itu:

BAB 20

HARI SABAT

288            Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

1. Allah berhenti pada hari Sabat.

Pada hari yang ketujuh Allah “berhenti be-

kerja untuk beristirahat” (Kel. 31:17), namun

demikian Ia beristirahat bukan sebab  Ia me-

merlukannya (Yes. 40:28). Kata kerja “ber-

istirahat,” Shabath, secara harfiah berarti

“berhenti” dari pekerjaan atau kegiatan (ban-

dingkan Kej. 8:22). “Allah berhenti bukan

sebab  keletihan atau capek, melainkan ber-

henti dari pekerjaan yang lebih dahulu.”2

Allah beristirahat sebab  Ia ingin kita semua 

beristirahat; Ia membuat contoh untuk diikuti

kita semua  (Kel. 20:11).

Jika Allah telah selesai mengadakan Pen-

ciptaan pada hari keenam (Kej. 2:1), apakah

yang dimaksud Kitab Suci tatkala mengatakan

bahwa Ia “menyelesaikan pekerjaan yang

dibuat-Nya itu” pada hari yang ketujuh (Kej.

2:2)? Allah telah selesai mencipta langit dan

bumi di dalam enam hari, namun  toh Ia masih

menjadikan hari Sabat. Sabat dijadikan untuk

hari beristirahat. Dengan hari Sabat sebagai

penyelesaian akhir, maka Ia mengakhiri kar-

ya-Nya.

2. Allah memberkati hari Sabat. Allah

tidak hanya menjadikan hari Sabat, namun  Ia

juga memberkatinya. “Dengan diberkatinya

hari ketujuh itu, berarti itulah yang menya-

takan sebagai hal yang khusus diperkenan

Ilahi dan merupakan hari yang mendatangkan

berkat bagi makhluk yang diciptakan-Nya.3

3. Allah menyucikan Sabat. Arti me-

nyucikan ialah membuatnya kudus dan suci,

atau mengasingkannya sebagai sesuatu yang

suci dan digunakan untuk maksud-maksud

yang kudus saja; menahbiskannya. Khalayak,

tempat-tempat (misalnya bait suci, gereja

atau tempat kebaktian), dan waktu (hari-hari

yang kudus) dapat disucikan. Kenyataan

bahwa Allah menguduskan hari ketujuh ber-

arti bahwa hari itu memang kudus, bahwa Ia

menjadikannya khusus untuk tujuan yang

luhur untuk memperkaya hubungan kita semua -

llahi.

Allah memberkati dan menguduskan Sa-

bat hari ketujuh sebab  Ia beristirahat pada

hari ini dari semua pekerjaan-Nya. Ia mem-

berkati dan menguduskannya bagi umat ma-

nusia, bukan hanya untuk diri-Nya sendiri.

Hanyalah dengan kehadiran-Nya berkat Al-

lah dan pengudusan-Nya dapat berlangsung.

Sabat di Sinai. Peristiwa-peristiwa yang

mengikuti keluarnya bangsa Israel dari Mesir

menunjukkan bahwa sesungguhnya mereka

telah melalaikan pemeliharaan Sabat. Peratur-

an yang kejam ketika masih diperhamba tam-

paknya membuat pemeliharaan hari Sabat itu

sukar dilakukan. Begitu mereka memperoleh

kemerdekaan, Allah mengingatkan mereka

dengan tegas, melalui manna yang diberikan

secara ajaib dan pengumuman Sepuluh Hu-

kum, mengenai tugas mereka memelihara

Sabat hari yang ketujuh.

1. Sabat dan manna. Sebulan sebelum

Allah mengumumkan hukum dari bukit Sinai,

Ia menjanjikan kepada umat-Nya perlindung-

an dari penyakit jika mereka dengan rajin

memperhatikan “perintah-perintah-Nya dan

tetap mengikuti segala ketetapan-Nya” (Kel.

15:26; bandingkan Kej. 26:5). Segera sesudah 

memberikan janji ini Allah mengingatkan

orang-orang Israel mengenai kudusnya hari

Sabat. Dengan manna yang ajaib, mukjizat

mengajarkan kepada mereka secara nyata

betapa pentingnya Ia dianggap mereka harus

beristirahat pada hari ketujuh itu.

Sepanjang minggu, setiap hari dalam

minggu itu Allah memberikan kepada orang

Israel cukup manna bagi keperluan mereka.

Mereka tidak perlu menyimpan persediaan

untuk hari esok, sebab  manna itu akan rusak

jika mereka simpan (Kel. 16:4, 16-19). Pada

        Hari Sabat 289

hari keenam mereka disuruh untuk mengum-

pulkan dua kali lebih banyak dari hari biasa

supaya mereka mempunyai cukup makanan

hari itu dan esoknya, Sabat. Dengan demikian

kepada mereka diajarkan bahwa hari ke-

enam merupakan hari persediaan dan bagai-

mana seharusnya mereka memelihara Sabat.

Allah berkata, “Besok yaitu  hari perhentian

penuh, Sabat yang kudus bagi Tuhan; maka

roti yang perlu kamu bakar, bakarlah, dan apa

yang perlu kamu masak, masaklah; dan se-

gala kelebihannya biarkanlah di tempatnya

untuk disimpan sampai pagi” (Kel. 16:23).

Hanya pada hari ketujuh saja manna yang

disimpan tidak menjadi rusak (Kel. 16:24). Di

dalam bahasa yang serupa dengan hukum

yang keempat itu, Musa berkata, “Enam hari

lamanya kamu memungutnya, namun  pada

hari ketujuh ada Sabat; maka roti itu tidak ada

pada hari itu” (Kel. 16:26).

Selama empat puluh tahun, atau sama de-

ngan 2000 kali pergantian Sabat, orang-orang

Israel berada di padang belantara, mukjizat

manna mengingatkan mereka atas pola kerja

enam hari ini, dan mereka beristirahat pada

hari ketujuh.

2. Hari Sabat dan hukum. Allah me-

nempatkan hukum hari Sabat tepat pada pu-

sat Sepuluh Hukum atau Dekalog itu. Bunyi-

nya sebagai berikut:

“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:

enam hari lamanya engkau akan bekerja dan

melakukan segala pekerjaanmu, namun  hari

ketujuh yaitu  hari Sabat Tuhan, Allahmu;

maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan,

engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu

perempuan, atau hambamu laki-laki, atau

hambamu perempuan, atau hewanmu atau

orang asing yang di tempat kediamanmu.

Sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan

langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia

berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya

Tuhan memberkati hari Sabat dan mengu-

duskannya” (Kel. 20:8-11).

Semua perintah dalam Dekalog itu amat

penting, tidak boleh ada satu pun yang dilalai-

kan (Yak. 2:10), namun demikian Tuhan ma-

sih membedakan perintah hari Sabat dari

perintah-perintah yang lain. Sehubungan de-

ngan itu, Ia menyuruh “Ingatlah,” yang ber-

arti mengamarkan kepada kita semua  bahaya

melupakan betapa pentingnya hari itu.

Perkataan yang digunakan dalam hukum

itu dimulai dengan: “Ingatlah dan kuduskanlah

hari Sabat”—menunjukkan bahwa hari Sa-

bat bukannya dilembagakan untuk pertama

kalinya di Bukit Sinai. Perkataan itu menun-

jukkan bahwa lembaga ini  telah didiri-

kan jauh sebelumnya—sebenarnya pada

waktu hari penciptaan itulah, hukum hari ber-

istirahat itu dinyatakan. Allah bermaksud su-

paya kita memelihara Sabat sebagai kenang-

an kepada-Nya selaku Khalik. Itulah saat

beristirahat dan berbakti, saat kita secara

langsung merenungkan Dia dan karya-kar-

ya-Nya.

Sebagai kenangan atas hari Penciptaan,

pemeliharaan hari Sabat merupakan sebuah

penawar terhadap penyembahan ilah. Dengan

mengingatkan kita bahwa Allah menciptakan

langit dan bumi, membedakan Dia dari segala

dewa-dewa palsu. Dengan memelihara Sa-

bat, maka itulah yang menjadi tanda bahwa

kita tunduk kepada Allah yang benar—tanda

bahwa kita mengakui kekuasaan-Nya seba-

gai Pencipta dan Raja.

Fungsi hukum Sabat yaitu  sebagai cap

hukum Allah.4 Pada umumnya, cap itu berisi

tiga unsur: nama pemilik yang tertera dalam

cap itu, jabatan, dan yuridiksinya. Cap yang

resmi digunakan untuk mengesahkan doku-

men-dokumen yang amat penting. Dokumen

itu diberi cap secara resmi sesuai dengan

yang berhak atasnya. Cap itu mengartikan

bahwa pejabat termaksud menyetujui secara

290            Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

hukum dan didukung oleh kuasa resmi yang

dimiliki.

Di antara Sepuluh Hukum itu, hukum hari

Sabat sajalah yang berisi unsur-unsur vital

dari cap itu. Itulah satu-satunya dari sepuluh

hukum itu yang memiliki gambaran ciri-ciri

Allah yang benar dengan mencantumkan

nama-Nya: “Tuhan, Allahmu;” jabatan-Nya:

Oknum yang membuat—Sang Pencipta dan

wilayah-Nya: “langit dan bumi” (Kel. 20:10,

11). Hanya hukum yang keempat itulah yang

menunjukkan atas kuasa siapa Sepuluh Hu-

kum itu diberikan, oleh sebab  itu “berisi cap

Allah,” yang dilampirkan kepada hukum-Nya

sebagai bukti autentik dan kuasanya yang

mengikat.5

Sesungguhnya, Allah menjadikan hari Sa-

bat itu sebagai “pengingat atau tanda kuasa-

Nya dan otoritas-Nya di dalam dunia yang

tidak dicemari oleh dosa dan pemberontakan.

Dimaksudkan sebagai sebuah lembaga tugas

tanggung jawab pribadi yang abadi digabung

dengan permohonan “ingatlah dan kuduskan-

lah hari Sabat’ (Kel. 20:8).”6

Hukum ini membagi minggu itu ke dalam

dua bagian. Allah memberikan kepada manu-

sia waktu enam hari yang digunakan mereka

untuk “melakukan segala pekerjaanmu,”

akan namun  hari yang ketujuh “jangan mela-

kukan sesuatu pekerjaan” (Kel. 20:9, 10).

“Enam hari lamanya,” kata hukum itu, yaitu 

hari kerja, akan namun  “hari ketujuh” yaitu 

hari berhenti. Bahwa ‘hari yang ketujuh’ di-

khususkan sebagai hari perhentian, Tuhan

membuktikan di dalam kata pembukaan hu-

kum itu: ‘Ingatlah dan kuduskanlah hari Sa-

bat.’”7

3. Hari Sabat dan perjanjian. sebab 

hukum Allah yaitu  pusat perjanjian (Kel.

34:27), maka hari Sabat, yang terletak di

tengah-tengah hukum itu, yang utama di da-

lam perjanjian-Nya. Allah menyatakan Sa-

bat sebuah “peringatan di antara Aku dan

mereka, supaya mereka mengetahui bahwa

Akulah Tuhan yang menguduskan mereka”

(Yeh. 20:12; bandingkan Yeh. 20:20; Kel.

31:17). Oleh sebab  itu, Ia mengatakan pe-

meliharaan Sabat yaitu  “perjanjian abadi”

(Kel. 31:16). “Sama seperti perjanjian yang

didasarkan pada kasih Allah kepada umat-

Nya (Ul. 7:7, 8), begitu pula dengan Sabat,

sebagai tanda perjanjian, merupakan tanda

kasih Ilahi.”8

4. Sabat-sabat tahunan. Tambahan atas

Sabat-sabat mingguan (Im. 23:3), ada tujuh

sabat tahunan, di dalam kalender Israel yakni

sejumlah sabat keupacaraan. Sabat-sabat ta-

hunan ini tidaklah berhubungan langsung de-

ngan Sabat hari ketujuh atau dalam lingkaran

mingguan itu. Sabat-sabat ini, “belum terma-

suk hari-hari Sabat Tuhan” (Im. 23:38), ada-

lah hari-hari pertama dan terakhir dari Pesta

Roti yang Tak Beragi, Hari Pentakosta, Pes-

ta Serunai, Hari Pendamaian, yang pertama

dan hari-hari terakhir dari Pesta Korban Api-

apian (bandingkan Im. 23:7,8, 21, 24, 25, 27,

28, 35, 36).

sebab  penghitungan sabat-sabat ini ber-

gantung kepada permulaan tahun kudus,

yang didasarkan atas kalender bulan, maka

mungkin saja jatuh pada hari mana pun dalam

minggu itu. Apabila jatuh bersamaan dengan

hari Sabat dalam minggu itu, maka disebutlah

“hari yang besar” (bandingkan Yoh. 19:31).

“Sementara hari Sabat mingguan itu ditahbis-

kan pada penutupan minggu Penciptaan bagi

semua umat kita semua , maka sabat-sabat ta-

hunan yaitu  merupakan bagian yang inte-

gral dari sistem upacara-upacara dan keupa-

caraan yang diadakan oleh orang Yahudi

yang dilembagakan di Bukit Sinai,... yang

menunjuk kepada datangnya sang Mesias,

dan pemeliharaannya yang berakhir pada

waktu kematian Yesus di kayu salib.”9

        Hari Sabat 291

Hari Sabat dan Kristus. Kitab Suci menya-

takan bahwa, sebagaimana Bapa, Kristus

yaitu  Pencipta (lihat 1 Kor. 8:6; Ibr. 1:1, 2;

Yoh. 1:3). Maka Dialah yang menetapkan

hari yang ketujuh itu sebagai hari berhenti

bagi kita semua .

Kristus menggabungkan Sabat dengan

penebusan yang dilakukan-Nya, juga dengan

karya ciptaan-Nya. Sebagaimana agungnya

“AKU yaitu  AKU” (Yoh. 8:58; Kel.

3:14) Ia memasukkan Sabat dalam Dekalog

sebagai pengingat yang tangguh atas perbak-

tian mingguan ini, yang telah ditentukan untuk

menyembah Khalik. Alasan lain ditambahkan-

Nya sehubungan dengan pemeliharaan Sa-

bat: Penebusan umat-Nya (Ul. 5:14, 15).

Oleh sebab  itu, Sabat menjadi pertanda bagi

orang-orang yang menerima Yesus sebagai

Pencipta dan Juruselamat.

Peranan Kristus yang bersifat ganda itu,

sebagai Pencipta dan Penebus membuat je-

las mengapa Ia menyatakan bahwa sebagai

Anak kita semua , Ia “juga Tuhan atas hari Sa-

bat” (Mrk. 2:28). Dengan otoritas yang de-

mikian, Ia dapat mengatur Sabat jika Ia mau,

namun  Ia tidak melakukan hal yang demikian.

Justru sebaliknya Ia menerapkannya bagi se-

mua umat kita semua  dengan berkata, “Hari

Sabat diadakan untuk kita semua ” (ayat 27).

Selama hidup-Nya di atas dunia Kristus

menunjukkan kesetiaan-Nya memelihara ha-

ri Sabat. “Kebiasaan-Nya” berbakti pada ha-

ri Sabat (Luk. 4:16). Keikutsertaan-Nya da-

lam perbaktian hari Sabat menunjukkan bah-

wa Ia membenarkannya sebagai hari per-

baktian.

Kristus sangat menaruh perhatian atas

kekudusan Sabat sehingga ketika Ia berbica-

ra mengenai aniaya yang akan terjadi sesudah 

kenaikan-Nya, Ia menasihatkan murid-mu-

rid-Nya mengenai hal itu. “Berdoalah,” ka-

ta-Nya, “supaya waktu kamu melarikan diri

itu jangan jatuh pada musim dingin dan jangan

pada hari Sabat” (Mat 24:20). Jelas ini meng-

artikan, sebagaimana yang dikatakan Jonathan

Edwards, “bahwa orang-orang Kristen itu

terikat dengan ketatnya akan pemeliharaan

Sabat.”10

Tatkala Kristus menyelesaikan pekerjaan

Penciptaan—tindakan-Nya yang agung perta-

ma di dalam sejarah dunia—Ia berhenti pada

hari yang ketujuh. Perhentian ini mengartikan

lengkapnya tugas itu. Begitu pula yang ba-

nyak dilakukan-Nya pada akhir tugas-Nya di

atas bumi ini, manakala Ia menyelesaikan

tindakan agung yang kedua di dalam sejarah.

Pada hari Jumat petang, hari keenam dalam

minggu itu, Kristus menyelesaikan tugas pe-

nebusan-Nya. Kata terakhir yang diucapkan-

Nya ketika itu, yakni “Sudah selesai” (Yoh.

19:30). Kitab suci menekankan bahwa ketika

Ia mati, hari itu yaitu  hari persiapan dan

Sabat hampir mulai” (Luk. 23:54). sesudah 

kematian-Nya, Ia beristirahat di kubur yang

melambangkan bahwa Ia telah menyelesaikan

penebusan bangsa kita semua . 11

Dengan demikian Sabat menjadi saksi

bagi karya Kristus atas Penciptaan dan pene-

busan. Dengan memelihara Sabat, para

pengikut-Nya bersukaria dengan Dia atas

tugas yang telah diselesaikan-Nya bagi ma-

nusia.12

Hari Sabat dan Para Rasul. Murid-murid

sangat menghormati hari Sabat. Ini terbukti

ketika kematian Kristus. Ketika hari Sabat

sudah tiba, menjelang persiapan penguburan

yang dilakukan mereka dan “pada hari Sabat

mereka beristirahat menurut hukum Taurat,”

dengan rencana akan melanjutkan pekerjaan

persiapan itu pada hari Minggu, “hari pertama

minggu itu” (Luk. 23:56; 24:1).

Seperti yang dilakukan Kristus, begitu pu-

la rasul-rasul, mereka berbakti pada hari Sa-

bat yang ketujuh itu. Dalam perjalanan evan-

gelisasi yang dilakukan Paulus, ia memasuki

292            Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

Sinagog pada hari Sabat dan mengkhotbahkan

Kristus (Kis. 13:14; 17:1, 2; 18:4). Bahkan

orang yang bukan Yahudi pun mengundang-

nya untuk menyampaikan firman Allah pada

hari Sabat (Kis. 16:13). Sebagaimana Kristus

selalu mengikuti kebaktian hari Sabat yang

menunjukkan penerimaan-Nya atas hari ke-

tujuh itu sebagai hari khusus untuk sembah-

yang, begitu pulalah dengan Paulus.

Kesetiaan rasul ini dalam memelihara hari

Sabat dengan tegas menunjukkan sikap yang

berbeda terhadap upacara-upacara sabat ta-

hunan. Dengan jelas dinyatakannya bahwa

orang-orang Kristen tidak wajib memelihara

hari-hari perhentian tahunan ini sebab  Kris-

tus sudah disalibkan bersama-sama hukum

keupacaraan itu (baca bab 18). Ia berkata,

“sebab  itu janganlah kamu biarkan orang

menghukum kamu mengenai makanan dan

minuman atau mengenai hari raya, bulan baru

ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah

bayangan dari apa yang harus datang, sedang

wujudnya ialah Kristus” (Kol. 2:16, 17). Ka-

rena “konteks (dalam wacana ini) berkaitan

dengan masalah-masalah keupacaraan, sabat

yang dimaksudkan di sini yaitu  sabat-sabat

upacara pesta tahunan Yahudi yang merupa-

kan “bayangan”, atau tipe yang kegenapannya

ada  dalam Kristus yang datang itu.”13

Begitu pula, di dalam kitab Galatia, Paulus

mencela pemeliharaan aturan hukum upacara.

Ia berkata, “Kamu dengan teliti memelihara

hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa

yang tetap dan tahun-tahun. Aku khawatir

kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah

sia-sia”(Gal. 4:10, 11).

Banyak orang menyangka bahwa Yoha-

nes menunjuk kepada hari Minggu manakala

ia mengatakan ia “dikuasai oleh Roh” “pada

hari Tuhan” (Why. 1:10). Bagaimana pun, di

dalam Kitab Suci, hari yang dianggap suci

hanyalah hari milik Tuhan yang khusus, yakni

hari Sabat. Kristus berkata, “Hari ketujuh

yaitu  hari Sabat Tuhan, Allahmu” (Kel.

20:10); belakangan disebut-Nya “hari kudus-

Ku” (Yes. 58:13). Dan Kristus menyebut di-

ri-Nya sendiri “Tuhan atas hari Sabat” (Mrk.

2:28). Menurut Alkitab, satu-satunya hari

yang dikatakan Tuhan sebagai hari-Nya ada-

lah Sabat, hari yang ketujuh, maka wajarlah

menyimpulkan bahwa Sabat itulah yang di-

maksudkan oleh Yohanes. Tidak ada bukti

yang menguatkan di dalam Kitab Suci yang

menyatakan bahwa istilah itu digunakan un-

tuk menunjuk hari pertama  dalam minggu itu,

atau hari Minggu.14

Tidak ada  di dalam Alkitab yang me-

nyuruh kita memelihara hari mana saja dalam

minggu itu selain dari hari Sabat. Tidak per-

nah dikatakan hari lain yang diberkati atau di-

sucikan dalam minggu itu, kecuali Sabat. Per-

janjian Baru pun tidak menunjukkan bahwa

Tuhan telah mengubahnya dengan hari yang

lain dari hari-hari dalam minggu itu.

Sebaliknya, Kitab Suci menyatakan bah-

wa Allah menginginkan agar umat-Nya me-

melihara Sabat sampai pada hari kekekalan:

“Sebab sama seperti langit yang baru dan bu-

mi yang baru yang akan Kujadikan itu, tinggal

tetap di hadapan-Ku, demikianlah firman Tu-

han, demikianlah keturunanmu dan namamu

akan tinggal tetap. Bulan berganti bulan, dan

Sabat berganti Sabat, maka seluruh umat ma-

nusia akan datang untuk sujud menyembah di

hadapan-Ku, firman Tuhan” (Yes. 66:22,

23).

Makna Sabat. Hari Sabat memiliki makna

yang luas dan makna rohani yang kaya dan

mendalam.

1. Peringatan abadi akan Penciptaan.

Sebagaimana telah kita ketahui, makna

fundamental Sepuluh Hukum mengaitkan

Sabat sebagai peringatan penciptaan bumi

(Kel. 20:11, 12). Perintah untuk memelihara

        Hari Sabat 293

Sabat hari ketujuh ada “kaitan yang tidak ter-

pisahkan dengan tindakan penciptaan, pe-

lembagaan Sabat dan perintah untuk meme-

liharanya secara langsung merupakan konse-

kuensi tindakan penciptaan. Maka, seluruh

umat kita semua  berutang budi atas eksistensi

mereka berkat penciptaan yang dilakukan

Ilahi sehingga mereka perlu memperingatinya;

oleh sebab  itu, tugas supaya taat mengikuti

perintah memelihara Sabat sebagai peringatan

atas kuasa kreatif Allah jatuh pada seluruh

umat kita semua .”15 Pernyataan yang tegas

bahwa Sabat “kewajiban abadi yang dijadi-

kan Tuhan sebagai peringatan atas kegiatan

penciptaan.”16

Barangsiapa yang memeliharanya sebagai

suatu peringatan atas Penciptaan akan me-

lakukan demikian sebagai suatu pengakuan

rasa syukur “Bahwa Tuhan yaitu  Pencipta

mereka dan Penguasanya yang sungguh;

bahwa mereka yaitu  karya tangan-Nya dan

menjadi warga kekuasaan-Nya. Dengan de-

mikian lembaga itu sepenuhnya merupakan

peringatan, yang diberikan kepada seluruh

umat kita semua . Di dalamnya tidak ada yang

merupakan bayangan, atau tentang pene-

rapannya yang terbatas kepada umat yang

mana pun.”17 Selama kita menyembah Allah

sebab  Ia Khalik kita, selama itulah Sabat

berfungsi sebagai tanda dan peringatan pen-

ciptaan.

2. Lambang penebusan. Waktu Allah

melepaskan bangsa Israel dari perhambaan

di Mesir, hari Sabat itu telah menjadi hari

peringatan Penciptaan, yang menjadi sebuah

peringatan kelepasan juga (Ul. 5:15). “Tuhan

bermaksud supaya hari istirahat, hari Sabat

itu, yang ada  dalam siklus minggu, jika

dipelihara dengan layak, akan senantiasa me-

lepaskan kita semua  dari perhambaan Mesir

tidak terbatas pada lingkup negeri atau kurun

waktu namun  yang mencakup setiap negeri

dan lingkup dan zaman. kita semua  sekarang ini

perlu kelepasan dari perhambaan akibat ke-

tamakan, dan keuntungan dan kuasa, dari ke-

tidakpedulian sosial, dan juga dari dosa dan

sifat mementingkan diri sendiri.”18

Apabila kita memandang salib maka kita

akan melihat bahwa Sabat itu tetap merupa-

kan hari beristirahat, sebagai lambang khusus

dari penebusan. “Itulah merupakan peringatan

atas keluarnya dari perhambaan dosa di ba-

wah kepemimpinan Imanuel. Beban yang

paling besar yang kita tanggung yaitu  rasa

bersalah sebab  kita tidak menurut. Sabat

yang menjadi hari perhentian itu, dengan

mengingat kembali kepada Kristus yang ber-

istirahat di dalam kubur, istirahat sebab  ke-

menangan atas dosa, memberikan kepada

orang Kristen bukti nyata untuk menerima

dan merasakan keampunan dari Kristus, da-

mai dan sejahtera.”19

3. Tanda penyucian. Sabat merupakan

tanda kuasa Tuhan yang membentuk, sebuah

tanda kesucian atau penyucian.

Tuhan menyatakan, “Akan namun  hari-

hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab

itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun

temurun, sehingga kamu mengetahui bahwa

Akulah Tuhan, yang menguduskan kamu”

(Kel. 31:13; bandingkan Yeh. 20:20). Oleh

sebab  itu, Sabat juga merupakan satu tanda

Allah selaku Penyuci. Sebagai umat yang

disucikan oleh darah Kristus (Ibr. 13:12), Sa-

bat juga merupakan sebagai tanda penerimaan

umat percaya atas darah-Nya demi keampun-

an dosa.

Sebagaimana halnya Tuhan memisahkan

hari Sabat itu sebagai hari untuk tujuan yang

kudus, begitu pula Ia telah mengasingkan

umat-Nya untuk tujuan yang suci—menjadi

saksi yang khusus bagi-Nya. Bersatunya me-

reka pada hari itu membawa kepada keku-

dusan; mereka belajar bergantung bukan ke-

294            Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

pada sumber-sumber yang ada pada mereka

sendiri melainkan bergantung kepada Tuhan

yang menguduskan mereka.

“Kuasa yang menciptakan segala sesuatu

yaitu  kuasa yang menyegarkan kembali

jiwa dalam citra-Nya. Bagi barangsiapa yang

memelihara hari Sabat, hari itu merupakan

tanda penyucian. Penyucian yang kudus ber-

arti selaras dengan Dia, menjadi satu di dalam

tabiat-Nya. Ini diterima melalui penurutan

atas prinsip-prinsip yang menjadi gambaran

tabiat-Nya. Dan hari Sabat merupakan tanda

penurutan. Orang yang benar-benar dengan

sepenuh hati menuruti hukum keempat akan

memelihara seluruh hukum itu. Ia disucikan

melalui penurutan.„20

4. Tanda kesetiaan. Sebagaimana

Adam dan Hawa, kesetiaan mereka dicobai

dengan pohon pengetahuan baik dan jahat

yang ditempatkan di tengah-tengah taman

Eden, begitu pula kesetiaan setiap orang ter-

hadap Allah akan diuji dengan hukum hari Sa-

bat yang ditempatkan di tengah-tengah Sepu-

luh Hukum (Dekalog) itu.

Alkitab menunjukkan bahwa sebelum ke-

datangan Kristus yang kedua kali, seluruh du-

nia akan terbagi dalam dua kelompok: orang-

orang yang setia “yang menuruti perintah Al-

lah dan iman kepada Yesus,” serta orang-

orang yang menyembah “binatang dan pa-

tungnya itu” (Why. 14:12, 9). Pada saat itu

kebenaran Tuhan akan dimuliakan di hadap-

an dunia dan akan menjadi jelas kepada se-

mua orang bahwa menurut dan memelihara

Sabat hari yang ketujuh sesuai dengan yang

tertulis dalam Alkitab menyatakan bukti ke-

setiaannya kepada Pencipta.

5. Waktu persekutuan. Allah menjadi-

kan binatang sebagai teman kita semua  (Kej.

1:24, 25). Untuk pendamping yang lebih tinggi

dan mengadakan persekutuan yang setara,

Tuhan menjadikan lelaki dan perempuan un-

tuk saling berdampingan (Kej. 2:18-25).

Akan namun  pada hari Sabat, Allah memberi-

kan sebuah pemberian yang menjadi perse-

kutuan yang paling tinggi dan mulia—perse-

kutuan dengan Dia. Makhluk kita semua  dijadi-

kan bukan hanya untuk berteman dengan bi-

natang, tidak juga dengan sesamanya saja.

Mereka dijadikan untuk Tuhan.

Di dalam Sabat inilah kita dapat mera-

sakan secara khusus pengalaman atas keha-

diran Allah di antara kita. Tanpa Sabat, se-

mua orang akan bekerja keras dan memban-

ting tulang tanpa habis-habisnya. Hari-hari

akan dihabiskan untuk hal-hal yang sekular

saja. Dengan hadirnya hari Sabat, maka dida-

tangkannya pengharapan, kegembiraan, mak-

na dan keberanian. Itulah saat untuk meng-

adakan hubungan dengan Allah, melalui per-

baktian, doa, nyanyian, belajar dan mere-

nungkan Firman dan dengan membagi-bagi-

kan Injil kepada orang lain. Sabat merupakan

kesempatan bagi kita untuk merasakan hadi-

rat Allah.

6. Tanda dibenarkan oleh iman.

Orang-orang Kristen mengakui bahwa me-

lalui bimbingan hati nurani yang diterangi,

orang-orang yang bukan Kristen yang de-

ngan sungguh-sungguh mencari kebenaran

akan dapat dituntun oleh Roh Kudus ke dalam

pemaham-an atas asas-asas umum hukum

Allah (Rm. 2:14-16). Ini menjelaskan meng-

apa kesembilan hukum selain dari hukum

yang keempat ini, untuk suatu tingkat ter-

tentu, dipraktikkan di luar yang bukan Kris-

ten. Akan namun , bukan kasus yang demi-

kianlah yang menyangkut dengan hukum

yang keempat ini.

Banyak orang yang dapat memahami

sebab perlunya beristirahat di dalam minggu

itu, akan namun  sering mereka sulit memahami

mengapa pekerjaan, yang dilakukan dan di-

        Hari Sabat 295

anjurkan sepanjang hari-hari kerja dalam

minggu itu, justru bila dilakukan pada hari

Sabat dianggap dosa. Alam tidak menyediakan

landasan apa pun untuk pemeliharaan hari

yang ketujuh itu. Planet-planet beredar pada

orbit yang tetap, tumbuh-tumbuhan bertumbuh,

hujan dan sinar matahari silih berganti, dan

binatang-binatang pun memperlakukan hari

itu sama. Kalau begitu, mengapa justru ma-

nusia itu harus menyucikan hari Sabat, hari

yang ketujuh itu? “Bagi orang Kristen terda-

pat hanya satu alasan, dan tidak ada yang lain;

akan namun  alasan itu cukup memadai: Allah

mengatakannya.”21

Hanya berdasar  pernyataan khusus

Allah yang membuat orang mengerti sebab-

musabab pemeliharaan hari ketujuh itu. Me-

reka yang memelihara hari yang ketujuh, me-

lakukannya hanya berdasar  iman dan

berharap pada Kristus, yang dapat merasakan

nikmatnya pemeliharaan itu. Dengan memeli-

hara hari Sabat, umat percaya menyatakan

kerelaan menerima kehendak Allah bagi hi-

dup mereka bukannya bergantung kepada

pertimbangan mereka sendiri.

Dalam memelihara hari ketujuh, umat

percaya tidak berarti mengusahakan diri me-

reka supaya menjadi benar. Bukan itu. Mere-

ka memelihara Sabat sebagai hasil hubungan

mereka dengan Kristus sang Pencipta dan

Penebus.22 Pemeliharaan Sabat yaitu  hasil

pembenaran-Nya dan penyucian, menandai

bahwa mereka telah dilepaskan dari perham-

baan dosa dan menerima kebenaran-Nya

yang sempurna.

“Sebuah pohon apel tidaklah menjadi po-

hon apel sebab  membuahkan apel. Pertama-

tama pohon itu haruslah menjadi pohon apel.

Dan secara alamiah lalu  buahnya, buah

apel dihasilkan. Nah, demikianlah orang Kris-

ten yang sejati tidak memelihara Sabat atau

kesembilan hukum lainnya untuk mereka

dibenarkan. Melainkan ini merupakan buah-

buah yang alamiah dari kebenaran Kristus

yang dibagikan kepadanya. Orang yang me-

melihara hari Sabat dengan cara seperti ini

bukanlah seorang legalis, sebab  pemeliharaan

lahiriah atas hari yang ketujuh itu menandakan

pengalaman batiniah dari orang yang beriman

dalam pembenaran dan penyucian. Dengan

demikian, pemelihara Sabat yang sejati tidak

mengekang diri dari perbuatan-perbuatan

yang terlarang pada hari Sabat itu untuk se-

kadar diperkenankan Allah, melainkan kare-

na ia mengasihi Allah dan ingin menjadikan

hari Sabat itu sebagai persekutuan yang pa-

ling erat dengan Dia.”23

Pemeliharaan Sabat menyatakan bahwa

kita telah berhenti bergantung kepada amal

kita sendiri, bahwa kita menyadari bahwa

hanya Kristus sang Pencipta yang dapat me-

nyelamatkan kita. Sesungguhnya, “roh pe-

meliharaan Sabat yang sejati menyatakan

suatu kasih yang tertinggi terhadap Kristus

Yesus, Pencipta dan Juruselamat, yang

membuat kita menjadi orang-orang yang

baru. Itulah yang menjadikan pemeliharaan

hari itu sebagai hari yang benar dengan cara

yang benar dan tanda pembenaran sebab 

iman.”24

7. Sebuah lambang beristirahat dalam

Kristus. Hari Sabat itu, sebuah peringatan

atas pembebasan bangsa Israel dari Mesir,

yang dilakukan Tuhan, menuju Kanaan dunia,

yang membedakan yang ditebus pada ketika

itu dari bangsa-bangsa di sekelilingnya. Se-

perti itulah Sabat sebagai tanda kelepasan

dari dosa kepada hari perhentian Allah, men-

jadikan yang ditebus itu terpisah dari dunia ini.

Semua orang yang masuk ke tempat isti-

rahat yang disediakan Tuhan , “ia sendiri telah

berhenti dari segala pekerjaannya, sama se-

perti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya”

(Ibr. 4:10). “Perhentian ini merupakan per-

hentian rohani, berhenti dari ‘segala peker-

296            Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

jaannya’, berhenti berbuat dosa. Ke dalam

perhentian seperti inilah Tuhan memanggil

umat-Nya, perhentian inilah yang dilambang-

kan Sabat dan Kanaan.”25

Apabila Allah menyelesaikan pekerjaan-

Nya atas Penciptaan dan berhenti pada hari

yang ketujuh, Ia menyediakan bagi Adam dan

Hawa, pada Sabat itu, sebuah kesempatan

untuk beristirahat di dalam Dia. Walaupun

mereka gagal, maksud semula Allah dalam

memberikan hari perhentian itu bagi kita semua 

tetap tidak berubah. sesudah  kejatuhan manu-

sia ke dalam dosa, hari Sabat tetap me-

rupakan sebuah peringatan atas perhentian

itu. “Pemeliharaan Sabat hari ketujuh itu

bukan saja menunjukkan beriman kepada

Allah selaku Pencipta segala sesuatu, namun 

juga beriman kepada kuasa-Nya yang mem-

bentuk hidup dan kualitas lelaki dan perem-

puan agar mereka layak masuk ke dalam

‘perhentian’ yang abadi yang sejak semula

dimaksudkan-Nya bagi penghuni dunia ini.”26

Allah menjanjikan perhentian rohani ini

kepada bangsa Israel jasmani. Sekali pun me-

reka gagal memasukinya, undangan Tuhan

Allah masih tetap berlaku:”Jadi masih ter-

sedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi

umat Allah” (Ibr. 4:9). Semua orang yang

ingin masuk ke dalam hari perhentian itu

“harus pertama-tama masuk, oleh iman, ke

dalam ‘perhentian’ rohani-Nya, tempat per-

hentian jiwa dari dosa dan dari upaya-upa-

yanya sendiri untuk mencari keselamatan.”27

Undangan Perjanjian Baru bagi orang

Kristen bukanlah untuk menunggu agar

mengalami perhentian anugerah dan iman,

sebab  “pada hari ini” saat memasukinya

(Ibr. 4:7; 3:13). Semua yang sudah masuk ke

dalam perhentian ini—anugerah yang menye-

lamatkan dalam iman kepada Kristus Ye-

sus—telah berhenti dengan upaya sendiri un-

tuk memperoleh pembenaran sebab  perbuat-

an mereka sendiri. Dengan cara inilah, me-

melihara Sabat hari yang ketujuh itu menjadi

suatu lambang masuknya orang beriman ke-

pada peristirahatan Injil.

USAHA-USAHA UNTUK

MENGUBAH HARI PERBAKTIAN

sebab  Sabat memegang peranan vital

dalam perbaktian kepada Allah sebagai Pen-

cipta dan Penebus, maka tidaklah menghe-

rankan apabila Setan melakukan segala upa-

ya untuk memerangi dan menghancurkan

lembaga yang kudus ini.

Di dalam Alkitab tidak ada  hak untuk

mengubah hari perbaktian kepada Allah yang

dijadikan di taman Eden dan yang dikukuhkan

kembali di Sinai. Orang-orang Kristen yang

lain, mereka yang memelihara hari Minggu,

mengakui akan hal ini. Kardinal Katolik Ja-

mes Gibbons menulis sebagai berikut, “Anda

dapat membaca Alkitab mulai dari Kejadian

sampai Wahyu, Anda tidak akan  menemukan

sebuah ayat pun yang menyatakan pengu-

dusan hari Minggu. Justru Alkitab menekankan

pemeliharaan hari Sabtu sebagai hari yang

dipelihara agama.”28

A.T. Lincoln, seorang Protestan, mengakui

bahwa “tidaklah dapat dibuktikan bahwa

Perjanjian Baru memberikan jaminan keya-

kinan bahwa sejak Kebangkitan, Allah men-

jadikan hari pertama itu dipelihara sebagai

hari Sabat.29 Ia mengakui: “Menjadi pemeli-

hara Sabat hari ketujuh satu-satunya arah tin-

dakan yang konsisten bagi siapa pun yang

memegangnya, bahwa seluruh Sepuluh Hu-

kum itu merupakan ikatan hukum moral.”30

Nah, jika tidak ada bukti yang ada 

dalam Alkitab bahwa Kristus atau murid-

murid-Nya mengubah hari perbaktian dari

hari yang ketujuh itu, mengapa begitu banyak

orang Kristen menerima hari Minggu sebagai

gantinya?

        Hari Sabat 297

Timbulnya Pemeliharaan Hari Minggu.

Perubahan dari Sabat kepada Minggu seba-

gai hari berbakti muncul pelahan-lahan. Ti-

dak ada bukti perbaktian Kristen pada hari

Minggu dalam minggu itu sebelum abad ke-

dua, akan namun  bukti menunjukkan bahwa

pada pertengahan abad itu beberapa Kristen

secara sukarela memelihara hari Minggu se-

bagai hari perbaktian, bukan sebagai hari

perhentian.31

Gereja Roma, yang sebagian besar ber-

asal dari umat percaya yang bukan rumpun

Yahudi (Rm. 11:13), yang menuntun kepada

kecenderungan pemeliharaan hari Minggu.

Di Roma, yang menjadi ibukota kerajaan,

rasa anti Yahudi sangat kuat, dan dari waktu

ke waktu semakin kuat saja. Reaksi terhadap

sentimen kebangsaan ini, sehingga orang-

orang Kristen yang diam di kota itu berusaha

membedakan diri mereka dari orang Yahu-

di. Mereka mulai meninggalkan beberapa

kebiasaan yang dilakukan orang Yahudi dan

mulai cenderung menjauh dari pemeliharaan

hari Sabat sehingga menuju kepada pemeliha-

raan hari Minggu secara eksklusif.32

Dari abad kedua sampai abad kelima, ma-

nakala pengaruh hari Minggu mulai bangkit,

orang-orang Kristen masih terus memeliha-

ra Sabat hari ketujuh di mana-mana di hampir

seluruh Kerajaan Roma. Sejarawan abad

kelima, Socrates, menulis sebagai berikut:

“Hampir semua gereja di seluruh dunia me-

melihara Sabat yang kudus setiap minggu, na-

mun orang Kristen yang di Aleksandria mau-

pun di Roma, dengan alasan beberapa tradisi

kuno, berhenti melakukannya.”33

Pada abad keempat dan kelima banyak

orang Kristen yang berbakti baik pada hari

Sabat maupun hari Minggu. Sozomen, se-

orang sejarawan lain pada kurun waktu yang

sama, menulis, “Penduduk Konstantinopel,

dan hampir semua di mana-mana pun, ber-

kumpul bersama-sama pada hari Sabat, dan

juga pada hari pertama dalam minggu itu,

kebiasaan yang tidak pernah dipelihara di

Roma atau di Aleksandria.”34 Catatan-catat-

an ini menunjukkan peranan Roma yang me-

nuntun kepada pelecehan pemeliharaan Sa-

bat.

Mengapa orang yang berpaling dari hari

ketujuh itu justru memilih hari Minggu dan

bukan hari lain dalam minggu itu? Alasan

paling utama yaitu  bahwa Kristus bangkit

pada hari Minggu; sehingga diakuilah bahwa

Ia telah membenarkan penyembahan pada

hari itu. “Akan namun , anehnya, tidak seo-

rang pun penulis pada abad kedua dan

ketiga yang mengutip satu ayat pun dari

Alkitab yang membenarkan pemeliharaan

Minggu sebagai ganti hari Sabat. Tidak juga

Barnabas, tidak juga Ignatius maupun Yus-

tianus, tidak juga Irenaeus maupun Tertullian,

tidak pun Clement dari Roma atau Clement

dari Aleksandria, tidak juga dari Origen atau

Ciprianus atau Vitorinus, maupun penulis lain

yang hidup dekat pada masa Yesus hidup me-

ngetahui petunjuk yang demikian dari Yesus

atau dari bagian mana pun dari Alkitab.35

Kepopuleran dan pengaruh penyembahan

matahari dari Roma kafir tidak diragukan lagi

memegang peranan penting dalam pemeliha-

raan hari Minggu, yang semakin bertumbuh

penerimaannya sebagai hari perbaktian. Pe-

nyembahan matahari memegang peranan

penting selama sejarah purbakala. Ini meru-

pakan “sebuah komponen yang paling tua da-

ri agama Romawi.” sebab  pemujaan mata-

hari Timur, “dari bagian awal abad kedua Ta-

rikh Masehi, aliran Sol Invictus sangat do-

minan di Roma dan di pelbagai bagian ke-

rajaan itu.”36

Agama populer ini memberi dampak pada

jemaat yang mula-mula melalui orang-orang

yang baru bertobat. “Orang-orang Kristen

yang ditobatkan dari kafir tetap tertarik pada

pemujaan matahari. Ini diindikasikan bukan

298            Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

hanya oleh betapa seringnya penghakiman

atas praktik semacam ini dari pihak (Gereja)

Bapa-bapa namun  juga oleh refleksi yang

begitu bermakna dari penyembahan Matahari

di dalam liturgi Kristen.”37

Pada abad keempat undang-undang hari

Minggu mulai diperkenalkan. Undang-un-

dang hari Minggu yang pertama dikeluarkan

dan lalu  menjadi undang-undang hari

Minggu yang bersifat religius. Undang-un-

dang sipil pertama mengenai hari Minggu di-

dekritkan oleh kaisar Konstantin pada tang-

gal 7 Maret 321 TM. Dengan melihat bahwa

hari Minggu itu sangat populer di kalangan

pemuja matahari dan juga di kalangan Kris-

ten, sehingga Konstantin berharap bahwa

dengan menjadikan hari Minggu itu sebagai

hari libur, ia dapat memastikan dukungan dari

kedua konstituensi ini bagi pemerintahannya.38

Undang-undang hari Minggu Konstantin

membayangkan latar belakangnya selaku pe-

nyembah matahari. Cobalah simak yang ber-

ikut: “Pada Hari pemujaan Matahari (vene-

rabili die Solis) hendaknya para hakim dan

penduduk yang tinggal di kota-kota beristirahat

dan tempat-tempat kerja ditutup. Di pedesa-

an, penduduk yang berhubungan dengan

pertanian dapat dengan bebas dan didukung

undang-undang meneruskan usaha mere-

ka.”39

Beberapa dekade lalu  gereja pun

mengikuti teladan itu. Konsili Laodikea (364

TM), yang tidak merupakan sebuah konsili

universal melainkan diselenggarakan oleh

Katolik Roma, untuk pertama kalinya menge-

luarkan undang-undang pemeliharaan hari

Minggu. Dalam Kanon 29 ketentuan gereja

menyatakan bahwa orang-orang Kristen ha-

ruslah memuliakan hari Minggu dan “jika

mungkin janganlah bekerja pada hari itu,”

sementara itu mencela praktik pemeliharaan

hari Sabat, dan mengatakan supaya orang-

orang Kristen janganlah “berpangku tangan

pada hari Sabtu (kata Yunani sabbaton,

“Sabat”), dan harus bekerja pada hari itu.”40

Pada tahun 538 TM, tahun tonggak awal

masa 1260 tahun nubuat (lihat bab 12), Kon-

sili ketiga Katolik Roma Orleans menge-

luarkan sebuah undang-undang yang lebih

keras dari yang dikeluarkan Konstantin. Ka-

non 28 dari konsili itu mengatakan bahwa

pada hari Minggu “pekerjaan pertanian pun

har