Tentang hewan 14

Tampilkan postingan dengan label Tentang hewan 14. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang hewan 14. Tampilkan semua postingan

Tentang hewan 14


 



andang yang 

lazim dipakai  di Eropa dalam ku-

run waktu cukup lama. Sayangnya, 

kandang ini akan rusak setiap kali pe-

ternak memanen madu. Mulai abad 

XVII ditemukan kandang berupa kotak 

kayu yang dirancang sedemikian rupa 

agar tidak rusak pada saat panen. 

Kandang seperti yang kita kenal saat ini 

yaitu  hasil rancangan LL Langstroth 

pada abad XIX, tepatnya tahun 1851.

Domestikasi Kelinci

Sejak masa Romawi, mungkin juga 

jauh sebelumnya, manusia berusaha 

memelihara kelinci (Oryctolagus cuni-

culus) untuk diperoleh dagingnya. Se-

muanya ini diperkirakan berjalan pada 

abad I di kawasan Eropa. Tampaknya 

manusia membuat kesalahan dalam 

domestikasi kelinci ini. Populasinya 

yang meningkat cepat, serta kebiasa-

an meliang dan pola makannya yang 

rakus, sangat merugikan usaha per-

tanian dan peternakan lainnya. Hal ini 

secara nyata terjadi pada kelinci yang 

dibawa dari Eropa ke Australia.


Domestikasi Ayam Kalkun

Ayam kalkun yang dalam bahasa Inggris 

disebut Turkey (Meleagris gallopavo) 

hidup liar di Amerika bagian tengah 

dan utara. Hewan ini mulai didomesti-

kasi oleh warga  Aztec di Meksiko 

pada abad XIV. Ada kemungkinan pro-

ses domestikasi telah dimulai jauh 

sebelumnya oleh nenek moyang suku 

Aztec.

Ayam kalkun liar dibawa ke Eropa 

oleh orang Spanyol pada abad XVI. 

Ayam ini menjadi hewan ternak yang 

sangat populer dan dikembangkan 

hampir di seluruh Eropa. Pada abad 

XVII ayam kalkun hasil peternakan 

di Eropa dibawa kembali ke Amerika 

oleh para imigran Eropa. Ayam kalkun 

peliharaan yang ada pada saat ini 

yaitu  pengembangan ayam kalkun 

yang dibawa kembali dari Eropa yang 

dicampur kembali dengan kerabat 

liarnya.

Domestikasi Burung Unta

Burung unta atau Ostrich (Struthio 

camelus) mulai didomestikasi pada 

akhir abad XIX. Awalnya domestikasi 

bertujuan mendapatkan bulunya. Bulu 

burung unta menjadi bahan penting 

bagi gaya fashion para wanita saat itu. 

Permintaan bulu burung unta untuk 

dijadikan hiasan topi atau sebagai 

kipas membuat para peternak berlom-

ba menggembala burung unta. Pada 

akhir abad XX, dunia memandang bu-

rung unta sebagai sumber daging baru 

yang berpotensi tinggi. 

Burung unta yaitu  burung 

asli Afrika yang tidak dapat terbang. 

Jenis ini yaitu  satu-satunya bagian 

dari suku Struthionidae. Burung besar 

lainnya, seperti kiwi dan kasuari, ber-

asal dari suku lainnya. Burung unta 

diidentifikasi dengan leher dan kakinya 

yang jenjang. Burung ini dapat berlari 

cepat hingga sekitar 90 km/jam. 


Demikianlah daftar beberapa he-

wan yang telah berhasil didomestikasi 

manusia, lengkap dengan perkiraan 

waktu dan lokasinya. Seperti disebut 

sebelumnya, proses domestikasi he-

wan sangat erat kaitannya dengan 

keberadaan hewan ternak yang ban-

yak disebut dalam Al-Qur'an. Tanpa 

menyebut kata yang menunjukkan 

“domestikasi” secara spesifik, Allah 

memberi gambaran bagaimana Dia 

telah memberi petunjuk dengan menu-

runkan hewan ternak. Tentunya, ada-

nya hewan ternak dimulai dari suatu 

proses penjinakan jenis tertentu dari 

kerabatnya yang liar. Semuanya ini: 

hewan ternak dan semua proses penji-

nakannya, merupakan anugerah dari 

Dia menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) 

lalu  darinya Dia jadikan pasangannya dan 

Dia menurunkan delapan pasang hewan ternak 

untukmu. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu 

kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang 

(berbuat) demikian itu yaitu  Allah, Tuhan kamu, 

Tuhan yang memiliki kerajaan. Tidak ada tuhan 

selain Dia; maka mengapa kamu dapat dipalingkan? 

(az-Zumar/39: 6)


E. SIMBIOSIS PADA 

HEWAN

Dalam menciptakan manusia, Allah 

memberinya kelengkapan berupa otak 

untuk berpikir. Dengan pikiran itu 

manusia berhasil mengadakan hu-

bungan antarindividu dengan jenisnya 

sendiri maupun dengan jenis lainnya. 

Pikiran seperti itu tidak dipunyai oleh 

hewan, namun demikian hubungan 

antarjenis di antara mereka tetap saja 

berlangsung. Apa yang membimbing 

mereka untuk dapat melakukan hal itu? 

Tentu saja Allah-lah yang membimbing 

semua makhluk-Nya untuk dapat sa-

ling berhubungan dengan cara yang 

khas, sebagaimana dinyatakan-Nya da-

lam ayat berikut.

Dia (Musa) menjawab, “Tuhan kami ialah (Tuhan) 

yang telah memberikan bentuk kejadian kepada 

segala sesuatu, lalu  memberinya petunjuk. 

(Ţāhā/20: 50)

Ayat ini menunjukkan bahwa 

Allah memberikan akal, instink (naluri) 

dan kodrat alamiah kepada semua 

makhluk, tidak terkecuali hewan, un-

tuk dapat melangsungkan hidupnya 

masing-masing. Salah satunya berupa 


naluri untuk bekerja sama di antara 

jenis, baik yang menguntungkan kedua 

belah pihak maupun salah satunya.

Simbiosis yaitu  istilah ilmiah 

untuk dua jenis organisme yang hidup 

bersama sebagai kesatuan dan saling 

menolong satu sama lain. Walaupun 

simbiosis tidak selalu menguntung-

kan kedua pihak, namun tidak ada 

yang dirugikan jika  hanya satu 

organisme yang diuntungkan. Simbio-

sis terdiri atas dua tipe, yaitu simbiosis 

di luar tubuh (ectosymbiosis), seperti 

kepik pada tumbuhan. Lainnya yaitu  

simbiosis di dalam tubuh (endosym-

biosis), seperti jasad renik di dalam 

saluran pencernaan sapi.

Mengapa harus hidup bersama? 

Dalam kehidupan makhluk, termasuk 

hewan, selalu terjadi kompetisi untuk 

memperoleh makanan dan tempat 

tinggal. Untuk menghindari persaingan 

dengan jenis lain, pada umumnya satu 

jenis memiliki makanan dan lingkungan 

yang sangat spesifik, yang disebut 

“niche”. Cara lain untuk menghindari 

kompetisi yaitu  membuat hubungan 

yang stabil dengan jenis yang berte-

tangga. Keduanya akan dapat hidup 

secara harmonis dan membagi ruang 

dan makanan dengan baik.

Simbiosis ada beberapa macam, 

dibedakan dari cara berinteraksi jenis 

yang terlibat. Namun, ada beberapa 

interaksi yang masih dipertanyakan 

statusnya sebagai simbiosis ataukah 

hanya relasi yang dekat antara kedua 

organisme dalam satu ekosistem.

Mutualisme yaitu  salah satu 

bentuk simbiosis. Dalam simbiosis mu-

tualisme, kedua organisme memper-

oleh keuntungan dari interaksi ini. 

Keduanya tidak dirugikan dalam ben-

tuk apa pun dalam hubungan yang 

sedang berjalan. Contoh klasik simbio-

sis mutualisme yaitu  hubungan an-

tara bunga dengan polinator: lebah, 

burung, semut, kupu-kupu, lalat, nya-

muk, dan sejenisnya. Serangga mem-

bantu tumbuhan sebab  berperan 

mentransfer dan mempertemukan 

sel jantan (benangsari) dan sel betina 

(putik) tumbuhan. Pertemuan kedua-

nya akan berujung pada produksi buah 

dan biji yang menjadi alat perbanyakan 

pada tumbuhan. Di sisi yang lain, 

polinator mendapat keuntungan kare-

na memperoleh makanan berupa nek-

tar dan polen atau benangsari.


Contoh lain dari simbiosis mutu-

alisme yaitu  relasi antara hewan 

pemakan rumput atau pemakan da-

un dengan berjuta jasad renik yang 

hidup di saluran pencernaan makanan 

yang dinamai rumen. Kantong rumen 

terletak sebelum lambung. sesudah  

hewan pemakan rumput menelan 

rumputnya, rumput itu akan masuk ke 

kantong rumen. Di sini, rumput diolah 

oleh jasad renik yang mengeluarkan 

senyawa kimia tertentu yang dapat 

memecah sel-sel tumbuhan. Senyawa 

kimia ini tidak dapat diproduksi sendiri 

oleh hewan pemakan rumput. Dengan 

demikian, kehadiran jasad renik di sini 

menjadi sangat vital.

Sebenarnya jasad renik di da-

lam rumen memecah sel tumbuhan 

untuk dirinya sendiri, namun dalam 

bersamaan dengan itu hewan pema-

kan rumput akan memperoleh keun-

tungan dengan makin mudahnya ia 

mencerna makanan di lambung. De-

ngan demikian, sebenarnya hewan 

pemakan rumput “memelihara” jasad 

renik dengan suplai material makanan 

(rumput dan daun) serta tempat yang 

hangat dan aman.

Sama halnya dengan manusia; 

dalam usus manusia dapat ditemukan 

berjuta jasad renik dalam bentuk 

bakteri, jamur, dan protozoa. Mereka 

hidup di bagian ujung usus (bagian 

colon dan rectum). Bila ada makanan 

yang tidak diserap usus, maka menjadi 

tugas jasad renik untuk memprosesnya 

agar mudah dikeluarkan. Pada kulit 

manusia juga ada  berjuta mik-

roorganisme yang membantu mem-

bersihkan kulit dengan memakan sel-

sel kulit mati dan endapan keringat. 

Relasi antara manusia dengan semua 

jasad renik ini dapat dikategorikan 

sebagai mutualistik sebab  banyak 

di antara jasad renik itu dapat mem-

produksi senyawa kimia yang mengan-

dung vitamin, yang pada waktunya 

nanti akan diserap untuk keperluan 

manusia.

Contoh lain hubungan mutualis-

tik antara hewan dengan jasad renik 

yaitu  hubungan antara rayap dengan 

jasad renik dari kelompok flagelata 

yang hidup di saluran pencernaannya. 

Walaupun dapat mengunyah dan me-

nelan material kayu, rayap tidak mampu 

menyerapnya secara kimiawi. Harus 

ada oknum yang dapat membantunya 

merubah bahan kayu yang berupa 

selulosa menjadi gula. Untuk itu ra-

yap sangat bergantung pada jasad 

renik yang hidup di saluran makanan, 

seperti jenis-jenis Pyrsonympha dan 

Trichonympha. Kelompok ini hanya 

ditemukan di dalam saluran makanan 

rayap, dan tidak ditemukan di tempat 

lain di dunia ini.

Hubungan antara yang kuat dan 

yang lemah atau yang besar dan yang 

kecil banyak ditemukan. Lihatlah saja 

hubungan antara burung kelompok 

jalak dengan sapi liar, badak liar, dan 

sejenisnya. Simbiosis mutualisme da-

lam hubungan keduanya berupa jasa 

layanan cleaning service. Burung-bu-

rung ini membersihkan tubuh hewan 

liar ini dari tungau, caplak, lalat, dan 

larva berbagai jenis serangga yang 

mengisap darahnya. Kejadian demikian 

juga banyak ditemukan di laut. Di 

antaranya yaitu  hubungan antara 

ikan gobi dan udang pembersih parasit 

pada keong telanjang, sebagaimana 

dapat dilihat pada gambar 276.

Simbiosis mutualisme juga terjadi 

pada relasi udang renik yang menjadi 

pembersih ikan sidat dan ikan lainnya. 

Ikan-ikan yang ingin dibersihkan tu-

buhnya akan mendatangi beberapa 

stasiun pembersihan yang memiliki 

ciri- ciri tertentu. Hewan pembersih 

memiliki warna tertentu yang mem-

bantu pelanggan untuk mengenalinya, 


sehingga ia tidak dianggap sebagai 

mangsa. Garis-garis horizontal disetujui 

sebagai ciri ikan pembersih. Ikan-ikan 

419Perikehidupan Hewan

ini diperkenankan masuk ke insang 

dan mulut ikan yang dibersihkan, 

yang kebanyakan yaitu  ikan-ikan 

buas. Tidak hanya membersihkan pa-

rasit, ikan pembersih juga member-

sihkan kulit mati dan lendir. Kadang-

kala ikan pelanggan datang ke 

stasiun pembersihan dengan warna 

tubuh yang memudar. Hal ini tidak 

diketahui sebabnya, namun diduga 

yang demikian itu dipakai  untuk 

mengiklankan dirinya ingin dibersih-

kan. Bukan tidak mungkin juga pemu-

daran warna tubuh itu ditujukan untuk 

membantu ikan pembersih mengiden-

tifikasi parasit di tubuh ikan.

Banyak contoh simbiosis mutu-

alisme di antara serangga, seperti hu-

bungan antara semut dengan kutu 

daun (serangga dari Ordo Homoptera). 

Hubungan keduanya dapat digambar-

kan sebagai hubungan peternak de-

ngan ternaknya. Semut akan menjaga 

kutu daun, baik yang dewasa maupun 

telurnya, dan menyebarkan anakan 

kutu daun yang baru menetas ke 

cabang atau pohon lain. Dengan 

demikian, kutu daun yang menyesap 

cairan tumbuhan akan hidup dan me-

nyebar dengan aman. Sebagai imbal 

jasa, kutu daun menghasilkan kotoran 

berupa cairan gula yang manis yang 

disukai semut. 

Keadaan yang mirip terjadi anta-

ra semut jenis Formica fusca dengan 

kupu-kupu Glaucopsyche lygdamus. 

Kerja sama tidak terjadi pada dua 

jenis hewan dewasa, namun antara 

semut dewasa dan ulat kupu-kupu. 

Seperti halnya kutu daun, ulat ini juga 

menghasilkan kotoran berupa cairan 

manis yang disukai semut. Demi men-

dapat cairan manis itu semut rela mati-

matian melindungi ulat dari serangan 

pemangsa, seperti lebah atau lalat. 

Keduanya betul-betul diuntungkan da-

lam kerja sama ini.

Beberapa kepiting  memanfaat-

kan hewan beracun anemon untuk 


melindungi dirinya. Kepiting jenis Lybia 

tesselata dengan sengaja menaruh 

anemon pada capitnya. Begitu musuh 

atau pemangsa mendekat, kepiting 

akan mengayun-ayunkan capit itu un-

tuk menakut-nakuti. Gerakan inilah 

yang membuat kepiting ini dinamai 

boxer crab. Di sisi yang lain, anemon 

mendapat keuntungan sebab  bisa 

terus berpindah tempat dengan ke-

mungkinan ada nya makanan di 

tempat yang baryu, serta memperoleh 

serpihan-serpihan makanan yang di-

buang oleh kepiting saat  makan. 

Hubungan kedua hewan ini bukanlah 

“harga mati”. Tidak jarang kepiting ini 

terlihat tanpa disertai anemon laut di 

capitnya. Kadang kala anemon diganti 

dengan sponge atau koral. 

Baru-baru ini ditemukan bebe-

rapa jenis katak berukuran kecil yang 

dapat hidup berdampingan dengan 

laba-laba berukuran besar, yang seca-

ra teori dapat dengan mudah melahap-

nya. Salah satunya ditemukan di Peru, 

Amerika Selatan. Di sana ada  ka-

tak Chiasmocleis ventramaculata yang 

hidup berdampingan dengan laba-laba 

raksasa tarantula yang hidup di lubang 

tanah, Xenesthis immanis. Katak ini 

diduga memproduksi senyawa kimia 

yang memberitahu bahwa ia tidak 

enak dimakan. Sebuah penelitian per-

nah menemukan seekor anakan laba-

laba tarantula menangkap katak Chias-

mocleis, namun sesudah  beberapa saat 

memeriksanya, ia melepaskan begitu 

saja katak itu. Tampaknya katak ini 

memperoleh keuntungan dari kerja 

sama ini. Di antaranya sebab  ia mem-

peroleh sisa-sisa makanan yang diting-

galkan laba-laba, selain tentu saja, ke-

amanan. Di sisi lain, laba-laba diduga 

memperoleh keuntungan dengan ada-

nya katak ini sebab  katak ini mem-

punyai spesialisasi khusus sebagai pe-

makan semut. Dengan demikian, katak 

ini melindungi telur laba-laba dari se-

rangan semut.


dan dipenuhi nematocysts yang bera-

cun. Begitu ada ikan mendekat, ia 

akan melepaskan racunnya yang bisa 

mengakibatkan ikan yang tersengat 

pingsan atau mati. sesudah  itu ikan 

pun dimakan. Namun tidak begitu 

kejadiannya jika  yang mendekat 

yaitu  ikan badut. Sebabnya, tubuh 

ikan badut dilapisi oleh lendir yang ber-

peran menenolak atau mengurangi efek 

sengatan.

Ikan badut banyak ditemukan 

di perairan berkarang di kawasan 

tropis Samudra Pasifik, Laut Merah, 

dan Samudra Hindia. Panjang tubuh 

ikan badut terbesar dapat mencapai 

18 centimeter, dan yang terkecil ku-

rang dari 10 centimeter. Ikan badut 

memakai  tentakel anemon seba-

gai sarana pertahanan diri. Mereka 

hidup di antara tentakel anemon, 

sebab nya jelas bagaimana ikan ba-

dut memperoleh manfaat dari hu-

Pada simbiosis mutualistis, keba-

nyakan hubungannya disebut faculta-

tive. Artinya, jenis yang berinteraksi 

dapat saja hidup dengan baik dalam 

kondisi terpisah, alias hidup sendiri-

sendiri, tidak bergantung satu kepada 

lainnya. Kendati demikian, ada pula 

yang hubungannya sangat dekat dan 

tidak dapat dipisah. Hubungan de-

mikian disebut sebagai hubungan 

yang obligate. Hubungan demikian ini 

banyak ditemui pada hubungan yang 

bersifat parasit maupun komensal, 

terutama pada hewan parasit. Semen-

tara itu, induk semang atau inang 

hewan parasit ini sama sekali tidak 

memerlukan hewan parasit dan ko-

mensal ini .

Komensalisme yaitu  bentuk lain 

simbiosis. Komensalisme yaitu  hu-

bungan simbiosis di mana hanya salah 

satu organisme memperoleh keun-

tungan di satu sisi, dan di sisi lain jenis 

lainnya sama sekali tidak dirugikan 

atau diuntungkan. Contohnya yaitu  

hubungan antara ikan hias dengan ane-

mon laut, seperti ikan badut (clown 

fish) Amphiprion ocellaris dengan ane-

mon laut Heteractis magnifica. 

Anemon laut yaitu  hewan tidak 

bertulang belakang yang berkerabat 

dekat dengan ubur-ubur, dan berkait 

dengan ekosistem karang. Tubuhnya 

menempel ke substrat karang atau 

batu, dengan tentakel yang lengket 


bungannya dengan anemon. Lalu, 

keuntungan apa yang diperoleh oleh 

anemon dari ikan badut, belum ada 

jawaban yang memuaskan. Beberapa 

peneliti menduga bahwa ikan badut 

menyumbang nutrien kepada anemon, 

namun hal ini belum terbukti secara 

ilmiah. Pendapat lainnya mengatakan 

bahwa anemon berperan sebagai pe-

mikat, sebab  warnanya yang cerah, 

agar ikan jenis lain datang dan terpe-

rangkap tentakel anemon. Kembali, 

pendapat ini pun baru sebatas dugaan 

belaka.

Contoh lain dari komensalisme 

yaitu  hubungan antara ikan mutiara 

(pearlfish) yang dapat hidup di dalam 

saluran pencernaan timun laut. Ti-

mun laut yang berbentuk seperti 

timun, memiliki  cara makan yang 

sederhana. Pada dasarnya, ia akan 

mengambil air (beserta pasir dan 

kotoran yang ada di dasar laut) dan 

disalurkan melalui perutnya, menya-

ring bahan organiknya dan membuang 

air dan kotorannya di ujung lain. Proses 

memasukkan dan mengeluarkan air 

dilakukan dengan cara kontraksi, seba-

gaimana paru-paru bekerja menarik 

dan mengeluarkan udara. 

Ikan mutiara yang memiliki pos-

tur tubuh panjang dan langsing ini 

hidup di siang hari di dalam saluran 

pencernaan. Cara makan timun laut 

dengan kontraksi ini mungkin men-

jamin selalu bergantinya air di dalam 

saluran makanannya, sehingga pasok-

an oksigen bagi ikan mutiara selalu 

terjamin. Ikan mutiara akan keluar 

dari anus saat hari mulai malam dan 

mencari makanan berupa udang renik. 

Mereka masuk lagi ke dalam saluran 

makan timun laut dengan cara bere-

nang mundur melalui anus. Dengan 

cara ini ikan akan memperoleh tempat 

yang aman dari predator pada siang 

hari, dan mencari makan, juga dengan 

aman, pada kegelapan malam. 

Simbiosis macam ini belum dapat 

dipastikan apakah termasuk komensal 

atau parasitis. Beberapa jenis ikan mu-

tiara terlihat menggigit-gigit sesuatu 

di dinding saluran makanan timun 

laut, namun tampaknya hal itu tidak 

mengganggu kehidupan normal timun 

laut. Dengan demikian, hubungan 

kedua jenis ini tampaknya masuk ke 

dalam simbiosis komensal, sebab  da-

lam hal ini timun laut tidak memper-


oleh keuntungan apa-apa, meski juga 

tidak dirugikan.

Contoh lain dari hubungan ko-

mensalisme yang klasik yaitu  relasi 

antara sarang burung dan pohon. 

Pohon tidak akan dirugikan sebab  

salah satu cabangnya dipakai  bu-

rung untuk tempat meletakkan sarang-

nya. Hal demikian ini oleh para ahli 

dinamai inquilinism. Kendati demikian, 

dalam beberapa kondisi inquilinism da-

pat diartikan sebagai hubungan yang 

berada pada perbatasan antara ko-

mensalisme dan parasitisme.

Hubungan lain yaitu  parasitis-

me. Dalam simbiosis parasitisme, 

hanya satu organisme yang memper-

oleh keuntungan, baik berupa makan-

an maupun perlindungan. Di sisi yang 

lian, jenis lainnya akan menderita dan 

terganggu akibat hubungan ini. Para 

peneliti seringkali terlibat dalam per-

debatan perihal simbiosis tipe ini, 

sebab  sebenarnya hubungan yang 

terjadi tidak terlihat simbiosis sama 

sekali; yang ada yaitu  “survival of the 

fittest”. Contohnya yaitu  hubungan 

antara hewan menyusui dengan kutu 

pengisap darah dan lintah, atau antara 

kutu daun dengan tumbuhan. Semua 

hewan ini memperoleh makanan dari 

inangnya, namun tidak memberikan 

imbal balik apa pun.

Contoh lain dari simbiosis para-

sitisme yaitu  hubungan antara bu-

rung reed wabler (Acrocephalus scir-

paceus) yang berukuran kecil dengan 

burung cuckoo (Cuculus canorus) 

yang berukuran beberapa kali lebih 

besar. Burung cuckoo betina akan 

meletakkan satu telurnya pada sarang 

burung reed wabler. Burung reed 

wabler akan menolak telur cuckoo bila 

mereka tahu saat  burung cuckoo 

meletakkan telurnya. Bila tidak tahu 

maka burung reed wabler tidak dapat 

membedakan antara telur miliknya 

sendiri dan telur yang “dititipkan”—

meski ukurannya sebenarnya berbeda. 

sesudah  menetas, anakan burung cuckoo 

dengan sengaja menjatuhkan semua 


telur yang belum menetas dan anakan 

reed wabler. Anak cuckoo akan meng-

habiskan semua energi yang diberikan 

induk angkatnya. Hanya dalam 20 hari 

anakan cuckoo dapat tumbuh dela-

pan kali lebih berat daripada induk 

angkatnya. Akan namun , induknya ma-

sih terus menyuapinya, seolah tidak 

dapat membedakan perbedaan mor-

fologi antara jenisnya dengan jenis 

lainnya.  

Hubungan parasit yang begitu 

kentara dapat diumpai pada jenis-jenis 

serangga, seperti antara beberapa 

jenis tawon yang menaruh telurnya 

pada badan ulat, atau tawon yang 

menyuntikan telur ke dalam tubuh 

kutu daun. Dengan menaruh telur pa-

da hewan hidup, tawon akan mem-

peroleh jaminan bahwa pada saat telur 

menetas, makanan sudah tersedia 

untuk anaknya. Strategi demikian ini 

banyak ditemukan pada serangga.

Ada pula bentuk hubungan 

yang masih diperdebatkan statusnya 

oleh para ahli. Hubungannya seperti 

parasit dan inang, namun dapat juga 

dipandang hanya sebagai penumpang 

dan alat transportasi. Hal demikian ba-

nyak ditemukan pada berbagai serang-

ga terbang dan tungau, sebagaimana 

terlihat 

bar ini tampak beberapa jenis tungau 

dan bahkan pseudoscorpion (menye-

rupai kalajengking) menempel pada 

beberapa serangga terbang. Apakah 

tungau dan jenis lain yang menempel 

ini merupakan hewan parasit yang 

merugikan inangnya, ataukah mereka 

tidak lebih dari penumpang saja, belum 

ada penelitian yang menawarkan ja-

waban pasti.

Kembali ke bagian permulaan 

tulisan ini; Allah Yang Mahabesar ada-

lah Tuhan yang telah menciptakan 

makhluk hidup. Masing-masing jenis 

diberikan kemampuan oleh-Nya untuk 


menjalani kehidupannya, termasuk ke-

perluannya untuk berinteraksi dengan 

jenis lainnya. Bagaimana hubungan-

hubungan itu terjadi, sedang  mere-

ka tidak memiliki otak layaknya manusia, 

tentu sebab  Allah membimbing me-

reka untuk melakukan hubungan dan 

perilaku khas, seperti dinyatakan da-

lam firman-Nya:  

Dia (Musa) menjawab, “Tuhan kami ialah (Tuhan) 

yang telah memberikan bentuk kejadian kepada 

segala sesuatu, lalu  memberinya petunjuk. 

(Ţāhā/20: 50)


HAK DAN ETIKA TERHADAP HEWAN

Konsep Islam tentang hak he-

wan dan etika terhadapnya 

sangat jelas. Sebagian telah 

diuraikan pada bab pembuka buku 

ini. Misalnya, bagaimana seharusnya 

manusia memperlakukan hewan yang 

telah mempermudah kehidupannya. 

Salah satunya yaitu  petunjuk tentang 

bagaimana manusia, khususnya masya-

rakat Arab masa itu yang terkait de-

ngan ayat ini, harus memperlakukan 

unta yang membantu mereka mem-

bawa  barang  dalam perjalanan jauh.   

Dan ia mengangkut beban-bebanmu ke suatu 

negeri yang kamu tidak sanggup mencapainya, 

kecuali dengan susah payah. Sungguh, Tuhanmu 

Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan (Dia telah 

menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk 

kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah 

menciptakan apa yang tidak kamu ketahui. (an-

Naĥl/16: 7–8)

Al-Qur'an juga memperlihatkan 

bahwa tidak manusia yang menyem-

bah Allah, tapi hewan juga menyembah-

Nya dengan cara mereka sendiri.  


pa ratus lebah jantan, dan antara 

10.000–80.000 lebah pekerja yang 

semuanya betina. Ratu, yang hanya 

satu ekor pada tiap koloni, menjadi 

pusat kegiatan. Selain menjalankan 

tugas pokoknya sebagai penghasil 

telur, ratu juga melaksanakan tugas 

penting lainnya, yaitu mengeluarkan 

cairan kimia tertentu yang berfungsi 

memersatukan kelompok, dan mendo-

rong sistem kehidupan di sarang berja-

lan sebagaimana mestinya. Petugas-

petugas lainnya di sarang itu juga 

mepunyai pekerjaan masing-masing. 

Semua tugas dilaksanakan tanpa me-

nyimpang dari yang seharusnya.

Sistem sosial yang mengagumkan 

dapat pula dijumpai pada kelompok 

semut. Meski sebuah koloni semut 

didirikan oleh ribuan individu, namun 

semua pekerjaan dilakukan dengan 

presisi yang tinggi dan tidak menyim-

pang. Kelompok semut ini dapat men-

jadi contoh bagi warga  manusia 

sebab  mereka juga mengenal apa 

yang dilakukan oleh manusia modern, 

seperti mempraktikkan teknologi, me-

lakukan strategi militer, membentuk 

jaringan komunikasi yang canggih, 

mempraktikkan sistem organisasi struk-

tural, memiliki  disiplin tinggi, dan 

memiliki  perencanaan tata kota. 

Bahkan, jika  diteliti lebih dalam, 

manusia harus mengakui bahwa semut 

dan sistem kelompoknya merupakan 

Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di 

langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada 

Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-

gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata 

dan banyak di antara manusia? namun  banyak 

(manusia) yang pantas mendapatkan azab. Barang 

siapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan 

memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat apa saja 

yang Dia kehendaki. (al-Ĥajj/22: 18)

Bagaimana kedudukan dan ek-

sistensi hewan di muka bumi ini juga 

sudah disebut dengan jelas dalam 

firman-Nya, 

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di 

bumi dan burung-burung yang terbang dengan 

kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan 

umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu 

pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, lalu  

kepada Tuhan mereka dikumpulkan. (al-An‘ām/6: 

38)

Dari penelitian ekologi diketahui 

bahwa setiap jenis hewan berkelompok 

dengan sejenisnya. Dengan penelitian 

yang rinci dan memakan waktu yang 

lama diketahui bahwa ada  sistem 

sosial yang sangat sistematis di antara 

jenis hewan.

Lebah madu, misalnya, memiliki 

sistem kehidupan sosial yang menjadi 

sumber kekaguman para peneliti. Kolo-

ninya terdiri atas seekor ratu, bebera-

429Hak dan Etika terhadap Hewan

warga  madani, seperti yang se-

dang berusaha dicapai oleh umat ma-

nusia.

Hewan yang hidup dalam sistem 

organisasi juga memiliki  cara dalam 

menghadapi bahaya, misalnya dengan 

beramai-rami mengepung pemangsa. 

Perilaku agresif ini seringkali efektif 

mengusir pemangsa. Cara yang lain 

lagi dilakukan oleh hewan menyusui, 

misalnya kuda zebra. Begitu bahaya 

mengancam, semua hewan muda akan 

dikumpulkan di tengah kelompok. Me-

tode yang sama juga dilakukan oleh 

lumba-lumba, bahkan dalam keadaan 

terpaksa mereka berani menantang 

ikan hiu, tentunya bila lumba-lumba itu 

berada dalam kelompok besar.

Tidak terhitung contoh yang 

dapat dikemukakan mengenai kehi-

dupan sosial hewan di dunia hewan. 

Bukti ini diperoleh manusia berkat 

penelitian yang bertahun-tahun. Bukti-

bukti yang ditunjukkan oleh Al-Qur'an, 

jauh sebelum manusia mengetahui 

perilaku ini, memastikan bahwa kitab 

ini yaitu  betul-betul berisi kata-kata 

yang datangnya dari Allah.

Sebagaimana disebut dalam 

ayat-ayat Al-Qur'an di atas, Allah tidak 

membeda-bedakan makhluknya dan 

akan menerima tasbih atau ibadah 

mereka semua. Hal ini mengajarkan 

kepada umat Islam untuk menyaya-

ngi hewan dan melestarikan kehi-

dupannya. Melalui Al-Qur'an, Allah 

menekankan bahwa Dia telah meng-

anugerahi manusia wilayah kekuasaan 

yang mencakup segala sesuatu di 

dunia ini. Hal ini tertuang misalnya 

dalam Surah al-Jāšiyah/45: 13 berikut.  

Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan 

apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai 

rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang 

demikian itu benar-benar ada  tanda-tanda 

(kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir. 

(al-Jāšiyah /45: 13)

Ayat ini sama sekali tidak ber-

maksud memberi manusia legitimasi 

untuk berbuat sekendak hatinya. Ma-

nusia juga tidak memiliki hak absolut 

untuk mengeksploitasi alam sehingga 

merusak keseimbangan ekologisnya. 

Begitu pula, ayat ini tidak mendukung 

manusia untuk menyalahgunakan he-

wan demi tujuan olahraga maupun 

menjadikan hewan sebagai objek eks-

perimen serampangan. Ayat ini justru 

mengingatkan manusia bahwa Sang 

Pencipta telah menjadikan semua 

yang ada di alam ini, termasuk hewan, 

seba-gai amanah yang harus dijaga. 

Allah yaitu  pemiliknya, yang lantas 

memberikannya kepada manusia se-

bagai rahmat dari-Nya. sebab  itulah 

Allah mengingatkan bahwa manusia 


َحظََّها  بَِل  اْلِ َفَأْعُطوا  ْصِب  اْلِ ِف  َساَفْرُتْم  إَِذا 

نَِة َفَباِدُرْوا ِبَا  ِمَن اْلَْرِض ، َوإَِذا َساَفْرُتْم ِف السَّ

َا ُطُرُق  ِرْيَق َفإِنَّ ْسُتْم َفاْجَتنُِبوا الطَّ نَِقَيَها ، َوإَِذا َعرَّ

ْيِل . )رواه مسلم عن  َوابِّ َوَمْأَوى اْلََوامِّ بِاللَّ الدَّ

أيب هريرة( 

Jika kalian bepergian dan melewati padang rum-

put maka biarkanlah unta kalian memakan rumput 

di sana, dan jika kalian mengadakan perjalanan di 

musim kemarau maka percepatlah perjalananmu. 

Dan bila kamu istirahat dalam perjalanan maka 

jauhilah jalan raya, sebab  itulah tempat yang dila-

lui hewan melata dan serangga-serangga di waktu 

malam. (Riwayat Muslim dari Abū Hurairah)

Nabi juga menganjurkan para 

sahabatnya, saat  berhenti di tengah 

perjalanan untuk beristirahat atau 

menunaikan salat, agar menurunkan 

beban dari atas tubuh hewan-hewan 

itu serta memberinya makan. Beliau 

juga memperingatkan bahwa hewan-

hewan itu harus dimanfaatkan sesuai 

dengan fungsinya. Suatu saat  beliau 

melihat seseorang yang duduk di atas 

punggung unta di tengah pasar sambil 

berbincang dengan orang lain. Beliau 

lalu  menegur orang itu,

َفإِنَّ   ، َمنَابَِر  ُكْم  َدَوابِّ ُظُهْوَر  َتتَِّخُذْوا  َأْن  اُكْم  إِيَّ

َتُكْوُنْوا  َلْ  َبَلٍد  إَِل  َغُكْم  لُِتَبلِّ َلُكْم  َرَها  َم َسخَّ إِنَّ اهللَ 

الَْرَض  َلُكُم  َوَجَعَل   ، الَْنُفِس  بِِشقِّ  إاِلَّ  َبالِِغْيِه 

داود عن  أبو  . )رواه  َحاَجَتُكْم  َفاْقُضْوا  َفَعَلْيَها 

أيب هريرة( 

harus mempertanggungjawabkan per-

buatannya terhadap apa yang dibe-

rikan-Nya di dunia ini, kelak lalu  

hari.

Barang siapa mengerjakan kebajikan maka itu 

yaitu  untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa 

mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa 

dirinya sendiri, lalu  kepada Tuhanmu kamu 

dikembalikan. (al-Jāšiyah /45: 15)

sebab  itulah umat manusia 

sudah semestinya memanfaatkan apa-

apa yang ada di bumi ini menurut cara 

yang dapat dipertanggungjawabkan. 

Dalam kaitan ini, Muhammad Fazlur 

Rahman Anshari menulis, “Apa saja yang 

ada di muka bumi ini diciptakan untuk 

kita, maka sudah menjadi kewajiban 

alamiah kita untuk menjaganya dari 

kerusakan; memanfaatkannya dengan 

tetap menjaga martabatnya sebagai 

ciptaan Tuhan; melestarikannya sebisa 

mungkin, yang dengan demikian itu 

kita dapat dikatakan mensyukuri nik-

mat Tuhan dalam bentuk perbuatan 

nyata.”

Nabi banyak mencontohkan 

bagaimana cara yang beradab dalam 

memperlakukan hewan ternak. Di an-

taranya, beliau memperingatkan ba-

gaimana unta seharusnya diperlakukan 

dalam perjalanan. Rasul bersabda, 


Janganlah kalian menjadikan punggung-pungung 

binatang peliharaanmu sebagai mimbar (untuk 

bercakap-cakap), sebab  sesunguhnya Allah mem-

buat mereka tunduk kepadamu (bukan untuk 

itu, melainkan) agar mereka membawamu pergi 

dari satu tempat ke tempat lain yang tidak dapat 

kamu capai kecuali dengan badan yang letih. Dan 

Allah telah menjadikan untuk kalian tanah, maka 

buanglah hajat kalian di sana. (Riwayat Abū 

Dāwūd dari Abū Hurairah) 

Ayat-ayat dan hadis-hadis ini me-

nuntun umat manusia untuk membalas 

jasa yang telah diberikan hewan-hewan 

mereka dengan memperlakukan he-

wan itu sebaik mungkin. Manusia di-

haruskan membantu menyediakan 

apa yang dibutuhkan oleh hewan 

peliharaan mereka. Manusia wajib 

berinteraksi dengan hewan menurut 

cara-cara yang dibenarkan sebab  

mereka itu juga ciptaan Tuhan. Sudah 

jelas kiranya bahwa hewan tidak me-

miliki kemampuan untuk menuntut 

haknya dari manusia, namun menurut 

perspektif Islam, manusia wajib ber-

buat baik dan memenuhi hak mereka. 

sebab  alasan itulah Nabi melarang 

umatnya membunuh hewan tanpa 

tujuan yang dibenarkan. Beliau menya-

takan bahwa barang siapa membunuh 

hewan, bahkan yang hanya sekecil 

burung pipit atau hewan yang lebih 

kecil lainnya, tanpa alasan yang dibe-

narkan agama, maka hewan itu akan 

menuntut pertanggungjawaban orang 

ini  di hadapan Allah pada hari 

kiamat kelak. 

Abū Bakar, khalifah pertama, 

atas dasar hadis di atas berpesan ke-

pada tentara muslim yang hendak 

berangkat perang ke Syiria, “Jangan-

lah kalian membunuh domba, sapi, 

atau unta kecuali untuk tujuan mem-

peroleh makanan!” Salah satu ilustrasi 

mengenai keadilan kepada hewan 

dapat pula kita jumpai pada hadis di 

bawah ini.

َنْمَلٌة  َفَلَدَغْتُه  َشَجَرٍة  َت  َتْ الَْنبَِياِء  ِمَن  َنبِيٌّ  َنَزَل 

بَِبْيتَِها  َأَمَر  ُثمَّ   ، تَِها  َتْ ِمْن  َفُأْخِرَج  بَِجَهاِزِه  َفَأَمَر 

َنْمَلًة  َفَهالَّ   : إَِلْيِه  اهللُ  َفَأْوَحى   ، بِالنَّاِر  َفَأْحَرَق 

َواِحَدًة ؟ )رواه البخاري ومسلم عن أيب هريرة( 

Pada suatu saat, seorang nabi di antara para nabi 

beristirahat di bawah pohon. Tiba-tiba seekor 

semut menggigitnya. Dia lantas menyuruh teman-

nya untuk memindahkan barang-barangnya dari 

bawah pohon itu, dan meminta agar sarang semut 

itu dibakar. Allah lalu mewahyukan kepadanya, 

“Mengapa tidak kaubunuh satu semut saja?” (Ri-

wayat al-Bukhārī dan Muslim dari Abu Hurairāh)

Dalam rangka mengajak manu-

sia untuk menyayangi semua makh-

luk, Nabi mengaitkannya dengan pa-

hala. Dikatakan oleh beliau bahwa 

Tuhan Yang Maha Penyayang akan 

memberikan kasih sayang-Nya kepada 

orang yang penyayang. Jika seseorang 

menunjukkan kasih sayang kepada 

semua makhluk yang ada dimuka 

bumi, maka Allah yang singgasana-Nya 

berada di langit akan mencurahkan 


kasih sayang kepadanya. Selain itu, Nabi 

juga mengajarkan bahwa perlakuan 

dan tindakan manusia terhadap hewan 

akan menentukan nasibnya di akhirat 

nanti. Nabi bersabda,

 ، َماَتْت  َحتَّى  َسَجنَْتَها  ٍة  ِهرَّ ِفْ  اْمَرَأٌة  َبِت  ُعذِّ

َفَدَخْلِت َالنَّاَر فِيَها ، الَ ِهَي َأْطَعَمْتَها َوَسَقْتَها إِْذ 

ِهَي َحَبَسْتَها ، َوالَ ِهَي َتَرَكْتَها َتْأُكُل ِمْن َخَشاِش 

البخاري ومسلم عن عبد اهلل  الَْرِض . )رواه 

بن عمر( 

Seorang wanita disiksa Allah (pada hari kiamat) 

lantaran mengurung seekor kucing sehingga 

kucing itu mati. sebab  itu Allah memasukkannya 

ke neraka. Kucing itu dikurungnya tanpa diberi 

makan dan minum, dan tidak pula dilepaskannya 

supaya kucing itu makan serangga-serangga bumi 

(dengan sendirinya). (Riwayat al-Bukhāri dan 

Muslim dari ‘Abdullāh bin ‘Umar)

اْلَعَطُش  َعَلْيِه  اْشَتدَّ  بَِطِرْيٍق  َيْمِشْ  َرُجٌل  َبْينََم 

َفإَِذا  َخَرَج  ُثمَّ   ، َب  َفَشِ فِْيَها  َفنََزَل  بِْئًرا  َفَوَجَد   ،

َفَقاَل   ، اْلَعَطِش  ِمَن  الثََّرى  َيْأُكُل  َيْلَهُث  َكْلٌب 

ِمْثَل  اْلَعَطِش  ِمَن  اْلَكْلَب  َهَذا  َبَلَغ  َلَقْد   : ُجُل  الرَّ

ُه َماًء ،  ِذْي َكاَن َبَلَغ ِمنِّْي . َفنََزَل اْلبِْئَر َفَمأَل ُخفَّ الَّ

ُثمَّ َأْمَسَكُه بِِفْيِه َحتَّى َرِقَي َفَسَقى اْلَكْلَب َفَشَكَر 

اهللُ َلُه َفَغَفَر َلُه . َقاُلوا : َيا َرُسْوَل اهللِ َوإِنَّ َلنَا ِفْ 

َرْطَبٍة  َكبٍِد  ُكلِّ  ِفْ   : َفَقاَل  ؟  لَْجًرا  اْلَبَهاِئِم  َهِذِه 

َأْجٌر . )رواه البخاري ومسلم عن أيب هريرة( 

Ada seorang pria yang sedang berjalan, lalu 

ia merasakan haus yang sangat. lalu  ia 

mendapati sebuah sumur, lalu ia mendekatinya 

dan minum dari air sumur ini . Ia pun beranjak 

meninggalkan sumur, saat  tiba-tiba ia mendapati 

seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya 

menjilati tanah akibat kehausan. Pria itu berkata, 

“Anjing ini benar-benar kehausan seperti yang aku 

alami tadi.” Maka ia turun (kembali) ke sumur tadi, 

dan diisinya sepatunya dengan ait. Ia memegangi 

sepatunya dan menuangkan air di dalamnya ke 

mulut anjing itu hingga rasa hausnya hilang. Anjing 

itu pun bersyukur kepada Allah atas bantuan pria 

tadi, dan sebab nya Allah pun mengampuni pria itu. 

Para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai 

Rasulullah, apakah kita akan dapat pahala dengan 

berbuat baik kepada hewan?” Beliau menjawab, 

“(Perbuatan baik kalian) kepada setiap makhluk 

yang bernyawa pasti diberi pahala.” (Riwayat al-

Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah)

Nabi melarang manusia melaku-

kan hal-hal kejam kepada hewan, 

seperti mengadu dan melemparinya. 

Hal itu dapat kita sarikan dari kisah 

berikut.

ُه َدَخَل َعَل َيَْيى  َعِن اْبِن ُعَمَر َرِضَ اهللُ َعنُْهَم ، َأنَّ

َدَجاَجًة  َرابٌِط  َيَْيى  َبنِْي  ِمْن  َوُغاَلٌم   ، َسِعيٍد  ْبِن 

ُثمَّ  َها ،  ُعَمَر َحتَّى َحلَّ اْبُن  إَِلْيَها  َفَمَشى  َيْرِميَها ، 

َأْقَبَل ِبَا َوبِاْلُغاَلِم َمَعُه ، َفَقاَل : اِْزِجُرْوا ُغاَلَمُكْم 

َسِمْعُت   ْ َفإِنِّ  ، لِْلَقْتِل  ْيَ  الطَّ َهَذا  َيْصِبَ  َأْن  َعْن 

َبِْيَمٌة  ُتْصَبَ  َأْن  َنَى  َم  َوَسلَّ َعَلْيِه  اهللُ  النَّبِيَّ َصلَّ 

عن  ومسلم  البخاري  )رواه   . لِْلَقْتِل  َها  َغْيُ َأْو 

ابن عمر( 

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, bahwa pada suatu 

hari ia bertandang ke rumah Yaĥyā bin Sa‘īd. Di sana 

ia mendapati seorang bocah yang merupakan salah 

433Hak dan Etika terhadap Hewan

satu anak Yaĥyā sedang mengikat seekor ayam dan 

melemparinya dengan batu. Ibnu ‘Umar bergegas 

mendekati ayam ini  dan melepaskan ikatan-

nya. Beberapa saat lalu  ia menemui Yaĥyā 

sambil memegang ayam dan memegang bocah 

tadi. Ia berkata, “Laranglah anakmu dari mengikat 

hewan ini untuk dibunuhnya! Sungguh, aku 

mendengar bahwa Rasulullah melarang mengikat 

binatang atau makhluk hidup lainnya untuk tujuan 

dibunuh.” (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari 

Ibnu ‘Umar)

berdasar  hadis ini, di samping 

alasan etika, kita dapat pastikan bah-

wa adu domba, sabung ayam, dan 

sejenisnya merupakan perbuatan ter-

larang. Lomba melukai banteng yaitu  

sama kejinya, dan sebab nya juga 

dilarang dalam Islam. Deretan gambar 

286 memberi gambaran kekejaman 

manusia kepada hewan.


Tidak saja diadu dengan sejenis-

nya, hewan juga tidak jarang diadu 

dengan manusia. Contoh paling nyata 

darinya yaitu  pertunjukan matador di 

Spanyol dan beberapa negara Amerika 

Latin. Pertunjukan ini biasanya ber-

akhir dengan kematian banteng akibat 


kehabisan darah sebab  luka-luka yang 

dideritanya.  Tidak jarang pula keadaan 

menjadi terbalik, di mana bukan ban-

teng yang menjadi korban, namun  sang 

matador, seperti tampak pada gambar 

288. 

Olah raga lain yang menjadikan 

banteng dan kuda sebagai subjek 

yaitu  pertunjukan rodeo di Amerika 

Serikat. Pada pertunjukan ini manusia 

dituntut selama mungin bertahan di 

atas punggung kuda atau sapi liar. 

Selain itu, ada juga pertunjukan yang 

tidak kalah miris, yakni lomba keteram-

pilan menjerat anak sapi. Dalam per-


tunjukan ini anak sapi yang yang se-

dang lari ketakutan dijerat lehernya 

dengan tali hingga tercekik dan ber-

henti berlari; sungguh memilukan. 

Di Inggris, bangsawan dari kalangan 

istana dengan sengaja melepas kelinci 

atau rubah untuk diburu oleh anjing-

anjing pemburu, seperti tampak pada 

gambar 290.

Ada lagi satu ulah manusia yang 

tidak masuk akal dan sangat biadab, 

yaitu melukai atau membunuh hewan 

tanpa tujuan yang jelas, melainkan 


untuk kesenangan belaka. Misalnya 

saja pertunjukan lompatan keledai 

dari ketinggian tertentu ke dalam bak 

air. Demikian pula pertunjukan Toro 

Jubilo. Dalam pertunjukan ini penye-

lenggara sengaja membakar sesuatu 

di antara kedua tanduk sapi sebelum 

dilepas di tengah kerumunan manusia. 

Pertunjukan ini tidak saja memakan 

korban sapi, namun  juga manusia.

Islam memperbolehkan peme-

luknya mengkonsumsi daging ternak 


yang halal. Namun untuk itu pun Islam 

memberi tuntunan yang memperlihat-

kan betapa agama ini sangat ramah 

terhadap hewan. Rasul bersabda,

َعَلْيِه  اهللُ  َصلَّ  اهللِ  َرُسْوِل  َعْن  َحِفْظُتُهَم  ثِنَْتاِن 

ُكلِّ  َعَل  اِلْحَساَن  َكَتَب  اهللَ  إِنَّ   : َقاَل   ، َم  َوَسلَّ

َذَبْحُتْم  اْلِقْتَلَة ، َوإَِذا  َفَأْحِسنُوا  َقَتْلُتْم  َفإَِذا  ٍء ،  َشْ

ْح  ْبَح ، َوْلُيِحدَّ َأَحُدُكْم َشْفَرَتُه َوْلُيِ َفَأْحِسنُوا الذَّ

َذبِْيَحَتُه . )رواه مسلم عن شداد بن أوس( 


Ada dua pesan yang aku ingat betul dari Rasulullah. 

Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan 

kita untuk berbuat baik dalam segala hal. Jika kalian 

membunuh maka lakukanlah dengan cara yang 

baik; jika kalian menyembelih maka sembelihlah 

dengan cara yang baik; hendaklah salah satu dari 

kalian mengasah mata pisaunya dan membuat 

nyaman hewan yang akan disembelihnya. (Riwayat 

Muslim dari Syaddād bin Aus) 

  Syarat di atas tidak berdiri 

sendiri; ada beberapa syarat lain yang 

mesti dipenuhi, seperti perlakuan 

yang manusiawi saat memelihara dan 

memindahkan ternak ke tempat pe-

motongan. Dengan cara demikian, 

predikat halal sepenuhnya dapat di-

peroleh. Peternakan ayam dengan 

sistem baterai, misalnya, betul-betul 

tidak memberikan kesempatan ayam 

untuk menikmati kebutuhan alaminya. 

Penempatan ayam di kandang yang 

sempit ini sangat menyiksa, meski de-

ngan cara itu makanan yang dikon-

sumsi ayam akan dikonversi secara 

maksimal menjadi daging, tidak ada 

Gambar 471

Pengandangan ayam dengan sistem batere sangatlah 

tidak manusiawi. 

yang terbuang akibat gerakan-gerakan 

lain yang dikatakan tidak berguna. 

Penyebutan nama Allah saat  

menyembelih hewan dimaksudkan 

untuk menciptakan rasa sayang dan 

simpati, serta mencegah kekejaman 

terhadap hewan. Ajaran-ajaran Al-

Qur'an dan sunah Nabi di atas jelas-

jelas menunjukkan bahwa meski ma-

nusia, berkat keabijaksanaan Allah, 

dianugerahi kekuasaan atas hewan, 

tapi manusia tetap saja harus mengikuti 

aturan Allah dalam memperlakukan 

hewan ini .

Cara pemotongan hewan yang 

manusiawi tampaknya tidak dijumpai 

pada suatu festival dalam ritual agama 

Hindu di Nepal. Pembantaian besar-

besaran hewan ternak dilakukan de-


ngan sangat biadab. Beberapa gambar 

di atas memperlihatkan suasana saat  

ritual keagamaan ini  berlang-

sung. Apa yang dilakukan di Nepal 

ini sama sekali bertentangan dengan 

cara-cara dan etika memotong hewan, 

sebagai berikut.

• Penyembelih harus seorang muslim 

dewasa yang sehat rohaninya;

• Penyembelih harus mengucapkan 

basmalah sebelum menyembelih. 


Pengucapan itu menekankan bah-

wa hewan itu disembelih sebab  

akan dikonsumsi atas izin Allah;

• Hewan harus disembelih dengan 

cara memotong lehernya dengan 

satu gerakan menerus, ke depan 

dan belakang, dengan pisau yang 

tajam dan tidak bercacat, yang 

membuat irisan tersendat dan me-

nyakiti hewan. Selain itu, penga-

sahan pisau tidak boleh dilakukan 

di hadapan hewan yang akan di-

potong;

• Hewan yang akan dipotong harus 

diperlakukan dengan baik;

439Hak dan Etika terhadap Hewan

• Hewan yang akan disembelih tidak 

boleh melihat hewan lain yang se-

dang dipotong;

• Hewan yang dipotong tidak boleh 

berada dalam posisi yang tidak 

nyaman saat penyembelihan.

Seperti halnya dalam agama 

atau budaya lain, ritual mengurbankan 

hewan juga dikenal dalam Islam. Ha-

nya saja, kurban mesti dilaksanakan 

dengan tetap memperhatikan syarat-

syarat di atas. Lebih dari itu, sesung-

guhnya bukan daging kurban itu yang 

akan sampai kepada Allah; ketakwaan 

pekurbanlah yang akan diterima oleh 

Allah. Allah berfirman,

Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-

kali tidak akan sampai kepada Allah, namun  yang 

sampai kepada-Nya yaitu  ketakwaan kamu. 

Demi-kianlah Dia menundukkannya untuk-mu agar 

kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang 

Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar 

gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. 

(al-Ĥajj/22: 37)

Bentuk pembantaian lain dapat 

ditemukan di kawasan dingin di belah-

an bumi utara. Beberapa gambar yang 

diperoleh dari Kanada dan Rusia ini 

memperlihatkan cara berburu anjing 



laut yang sangat biadab. Cara yang 

tidak kalah kejam juga dilakukan 

oleh sebagian Inggris saat  berburu 

rubah. Ada satu kebiasaan masyara-

kat yang tidak masuk akal. Hal ini ter-

jadi pada warga  yang tinggal di 

sekitar Madinah. Pada saat Rasulullah 

hijrah ke Medinah dari Mekah, masya-

rakat Medinah memiliki kebiasaan 

memotong punuk unta atau ekor dom-

ba yang berlemak. Prihatin akan hal 

ini , Rasulullah meminta mereka 

menghentikan perilaku tercela ini. 

warga  saat itu berpikiran bahwa 

mereka dapat menikmati lemak dan 

daging yang ada pada punuk unta 

dan ekor domba tanpa harus mem-

bunuhnya sehingga tetap dapat di-

manfaatkan di lalu  hari. Untuk 

menghentikan kebiasaan ini beliau 

menegaskan bahwa bagian tubuh 

mana pun yang dipotong dari seekor 

hewan yang masih dalam keadaan 

hidup, potongan itu termasuk bangkai, 

dan sebab nya haram dimakan.

Dewasa ini praktik yang serupa 

juga dapat kita temukan di Rusia, meski 

tidak untuk tujuan konsumsi. Sebagian 

warga  di Rusia memotong rang-

ga atau tanduk rusa untuk tujuan 

komersial. Walaupun pemotongan 

tanduk ini tidak mengakibatkan rusa 

itu mati, dan memang secara berkala 

rusa akan menanggalkan tanduknya 

dan menggantinya dengan yang baru, 


akan namun  perilaku ini tidak dapat 

dikatakan beradab.

Sementara itu, menjadikan he-

wan sebagai objek percobaan dalam 


suatu penelitian, merupakan isu yang 

tidak dibahas secara langsung oleh Al-

Qur'an dan sunah. Untuk membahas-

nya kita perlu melakukan kajian dalam 

kerangka ilmu fikih. Fikih menjadi 

jawaban bagi umat Islam dalam me-

nentukan hukum suatu isu yang diha-

dapi, apakah isu diperbolehkan atau 

dilarang. Dari kajian fikih atas isu ini 

diperoleh kesimpulan bahwa jika eks-

perimen pada hewan dilaksanakan 

atas dasar tujuan memperoleh penge-

tahuan yang benar-benar bermanfaat 

bagi hidup manusia atau makhluk 

lainnya, maka eksperimen ini  

dapat disetujui. Akan namun , bila dida-

sarkan pada kepentingan manusia 

yang mendesak (al-mașlaĥah aď-ďarū-

riyyah), maka hal ini lebih jauh dibatasi 

oleh prinsip-prinsip umum fikih sebagai 

berikut. 

a. Sesuatu yang dapat menuntun 

kepada hal-hal yang diharamkan 

hukumnya yaitu  haram.

b. Jika seseorang terpaksa memilih 

antara dua hal yang buruk maka 

ia harus memilih yang lebih kecil 

keburukannya untuk mencegah ke-

burukan yang lebih besar.

c. Sesuatu yang dihalalkan sebab  

alasan tertentu akan menjadi tidak 

halal jika alasan itu tidak ada lagi.

d. memakai  berbagai pilihan un-

tuk hal-hal yang tidak ada keten-

tuan (hukum fikih) tentangnya.

Dengan menerapkan prinsip-

prinsip fikih di atas pada kasus eksperi-

men terhadap binatang, kiranya dapat 

dikemukakan kesimpulan sebagai beri-

kut. 

1. Tindakan menjadikan hewan seba-

gai objek eksperimen yang bersifat 

menyakiti dan tindakan-tindakan 

lain yang mengakibatkan kebutaan 

atau cacat pada hewan, statusnya 

haram. 

2. Menjadikan hewan sebagai objek 

eksperimen untuk menguji obat-

obatan sebelum dinyatakan aman 

bagi manusia hukumnya boleh. 

3. Menjadikan hewan sebagai objek 

eksperimen sembarangan (tidak 

jelas tujuannya) statusnya haram.

4. Harus memiliki relevansi dengan 

penelitian mutakhir sehingga da-

pat memperkecil pemanfaatan he-

wan dalam percobaan.

Dari sekian banyak percobaan, 

dapat disebutkan di sini dua di antara-

nya yang terkenal. Keduanya dilakukan 

oleh para peneliti Rusia. Eksperimen 

pertama dilakukan oleh Pavlov, yang 

membuktikan bahwa rangsangan ter-

tentu akan memicu  terjadinya 

produksi air liur. Contohnya, begitu 

orang yang biasa memberi makan mun-

cul di hadapan seekor anjing, maka air 

liur mulai diproduksi oleh anjing ter-

sebut. Percobaan kedua dilakukan 


oleh Bryuhenko pada tahun 1928. Dia 

menghubungkan kepala anjing yang 

telah dipotong dengan autojektor 

(mesin jantung/paru-paru), dan kepala 

anjing itu tetap hidup. Hal ini dibuktikan 

saat kepala anjing bereaksi terhadap 

suara, mata anjing bereaksi terhadap 

cahaya, dan mulut anjing itu terbuka 

untuk memakan keju yang diberikan. 

Keju itu lantas keluar melalui saluran 

makanan yang terpotong di lehernya.

Al-Qur'an dan hadis sudah meng-

ingatkan manusia tentang beberapa 

hal yang harus dijadikan pertimbangan 

dalam memanfaatkan hewan, salah 

satunya berkaitan dengan usaha kon-

servasi hewan liar. Dalam kaitan pro-

duk hewan ternak dan hewan liar, Al-

Qur'an menyatakan bahwa manusia 

boleh memanfaatkan semua bagian 

tubuh hewan ternak, termasuk kulit-

nya.


Dan hewan ternak telah diciptakan-Nya, untuk 

kamu padanya ada (bulu) yang menghangatkan 

dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu 

makan. (an-Naĥl/16: 5)

Itulah aturan Islam tentang pe-

manfaatan hewan ternak. Di sisi yang 

lain, Rasulullah melalui sabdanya mela-

rang pemafaatan kulit hewan liar, 

meski untuk sekadar dijadikan alas 

lantai atau alas pelana (hadis sudah 

disebut pada bab sebelumnya). Jika 

aturan ini ditaati oleh semua orang, 

maka pembunuhan sia-sia terhadap 

beberapa jenis hewan liar demi meraih 

keuntungan semata niscaya tidak ter-

jadi lagi. 

Hal lain yang terjadi belakangan 

ini yaitu  “kesenangan” para peneliti 

“bermain-main” dengan gen hewan. 

Berbagai percobaan, yang mungkin 

saja tidak atau belum diketahui ke-

gunaannya bagi kesejahteraan ma-

nusia, dilakukan. Para peneliti memin-

443Hak dan Etika terhadap Hewan

dahkan gen tertentu yang membuat 

tikus dan kera dapat berpendar di 

tempat yang gelap. Bahkan dinyatakan 

bahwa individu yang sudah diberi gen 

tertentu ini  dapat menurunkan 

kemampuan berpendar kepada anak-

nya. Menurut para peneliti ini, per-

cobaan ini  berguna menanggu-

langi beberapa penyakit manusia. 

Kendati demikian, dapatkah hal yang 

demikian ini diterima menurut per-

spektif etika? Apakah individu yang 

berpendar ini diterima atau malah 

dikucilkan oleh komunitasnya? Apakah 

perasaan individu itu pernah dipertim-

bangkan oleh peneliti, ataukah indi-

vidu itu dianggap barang yang dapat 

dibuang saja sesudah  tidak ada man-

faatnya? Pertanyaan-pertanyaan ini 

seharusnya membuat para peneliti 

ini  berpikir ulang tentang apa 

yang dilakukannya. 

Al-Qur'an dan hadis telah me-

nerangkan, berikut contoh-contohnya, 

bagaimana harusnya manusia memper-

lakukan  makhluk hidup ciptaan Allah. 

Di sisi yang lain, beberapa contoh 

yang memperlihatkan kekejaman ma-

nusia, baik dalam bentuk fisik mau-

pun emosi, terhadap hewan telah 

diuraikan di muka. Jadi, yaitu  tugas 

manusia untuk menyikapinya secara 

proporsional; apakah manusia masih 

saja mengingkari hati nuraninya dan 

menuruti keserakahannya, ataukah 

menuruti apa-apa yang telah digariskan 

rambu-rambunya oleh Allah.

Melalui firman-firman-Nya Allah 

Yang Mahakuasa menegaskan betapa 

hewan yaitu  makhluk yang berharga 

dan, layaknya makhluk yang lain, me-

nyembah Allah dengan menguman-

dangkan pujian dan tasbih kepada-

Nya dengan caranya masing-masing. 

sebab  itu, manusia sebagai makhluk 

yang dibekali-Nya dengan akal dan 

ditugasi-Nya menjadi khalifah di bumi 

ini sudah seharusnya menghargai he-

wan dan memperlakukannya secara 


manusiawi dan beretika. sebab  semua 

makhluk-makhluk itu menyembah 

Allah maka tidak sepatutnya manusia 

menyombongkan diri dan berbuat 

sewenang-wenang kepada makhluk 

yang lain. Wallāhu a‘lam.

Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mem-

persekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan 

berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-

kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, 

tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, 

ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. 

Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang som-

bong dan membanggakan diri. (an-Nisā'/4: 36)

Adapun orang-orang yang beriman dan menger-

jakan kebajikan, Allah akan menyempurnakan 

pahala bagi mereka dan menambah sebagian dari 

karunia-Nya. sedang  orang-orang yang enggan 

(menyembah Allah) dan menyombongkan diri, 

Allah akan mengazab mereka dengan azab yang 

pedih. Dan mereka tidak akan mendapatkan pelin-

dung dan penolong selain Allah. (an-Nisā'/4: 173)

(Allah) berfirman, “Maka turunlah kamu dari-nya 

(surga); sebab  kamu tidak sepatutnya menyom-

bongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya 

kamu termasuk makhluk yang hina.” (al-A‘rāf/7: 

13)





2 ب b

3 ت t

4 ث š

5 ج j

6 ح ĥ

7 خ kh

8 د d

9 ذ ż

10 ر r

11 ز z

12 س s

13 ش sy

14 ص ș

15 ض ď

16 ط ţ

17 ظ ž

18 ع ‘

19 غ g

20 ف f

21 ق q

22 ك k

23 ل l

24 م m

1. Konsonan

2. Vokal Pendek

3. Vokal Panjang

4. Diftong

Pedoman Transliterasi  Arab-Latin

Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri P dan K

Nomor: 158 Tahun 1987 — Nomor: 0543 b/u/1987

1. Konsonan 

     

2. Vokal Pendek    3. Vokal Panjang

4. Diftong

           

No. Arab Latin

1. ا tidak dilamb ngka

2. ب b

3. ت t

4. ث š

5. ج j

6. ح ĥ

7. خ kh

8. د d

9. ذ ż

10. ر r

11. ز z

12. س s

13. ش sy

14. ص ș

15. ض ď

No. Arab Latin

16. ط ţ

17. ظ ž

18. ع `

19. غ g

20. ف f

21. ق q

22. ك k

23. ل l

24. م m

25. ن n

26. و w

27. هـ h

28. ء '

29. ي y

  َ                    = a             َكَتَب   kataba  

   ِ       =  i             ُسَِل   su`ila

              ُ                                           = u            َيذَهُب   yażhabu

 Qāla              َقاَل            ā    =            َ.ـا 

Qīla              ِقْيَل        ī    =         ِ.ـى

Yaqūlu                   َيُقْوُل           ū   =           ُ..ـو 

  kaifa     َكْيَف                                  ai   =     .َ.ـى

            haula   َحْو َل                             au   =      .َ..ـْو   

Pedoman Transliterasi  Arab-Latin

Keputusan Bers ma M nteri Ag ma dan M nteri P dan K

N mor: 158 Tahun 1987 — N mor: 0543 b/u/1987

1. K sonan 

     

2. Vokal Pendek    3. Vokal P jang

4. Diftong

           

No. Arab Latin

1. ا ti ak dilambangkan

2. ب b

3. ت t

4. ث š

5. ج j

6. ح ĥ

7. خ kh

8. د d

9. ذ ż

10. ر r

11. ز z

12. س s

13. ش sy

14. ص ș

15. ض ď

No. Arab Latin

16. ط ţ

17. ظ ž

18. ع `

19. غ g

20. ف f

21. ق q

22. ك k

23. ل l

24. م m

25. ن n

26. و w

27. هـ h

28. ء '

29. ي y

َ                   = a             َكَتَب   kataba  

   ِ      = i             ُسَِل   su`ila

              ُ                                           = u            َيذَهُب   y żhabu

 Qāla              َقاَل            ā    =            َ.ـا 

Qīla              ِقْيَل        ī    =         ِ.ـى

Yaqūlu                   َيُقْوُل           ū   =           ُ..ـو 

.َ.ـى    = ai                                  َكْيَف     kaifa  

=     .َ..ـْو    au                             َحْو َل   h ula            

Pe oman Transliterasi  Arab-Latin

Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri P dan K

Nomor: 158 Tahun 1987 — Nomor: 0543 b/u/1987

1  Konson n 

     

2. Vokal Pendek    3. Vokal Panjang

4. Diftong

           

No. Arab Latin

1. ا tidak dilambangkan

2. ب b

3. ت t

4. ث š

5. ج j

6. ح ĥ

7. خ kh

8. د d

9. ذ ż

10. ر r

11. ز z

12. س s

13. ش sy

14. ص ș

15. ض ď

No. Arab Latin

16. ط ţ

17. ظ ž

18. ع `

19. غ g

20. ف f

21. ق q

22. ك k

23. ل l

24. م m

25. ن n

26. و w

27. هـ h

28. ء '

29. ي y

  َ                    = a             َكَتَب   kataba  

   ِ       =  i             ُسَِل   su`ila

              ُ                                           = u            َيذَهُب   yażhabu

 Qāla              َقاَل            ā    =            َ.ـا 

Qīla              ِقْيَل        ī    =         ِ.ـى

Yaqūlu                   َيُقْوُل           ū   =           ُ..ـو 

  kaifa     َكْيَف                                  ai   =     .َ.ـى

            haula   َحْو َل                             au   =      .َ..ـْو   

Pedoman Transliterasi  Arab-Latin

Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri P dan K

Nomor: 158 Tahun 1987 — Nomor: 0543 b/u/1987

1. Konsonan 

     

2. Vokal Pendek    3. Vokal Panjang

4. Diftong

          

No. Arab Latin

1. ا tidak dilambangkan

2. ب b

3. ت t

4. ث š

5. ج j

6. ح ĥ

7. خ kh

8. د d

9. ذ ż

10. ر r

11. ز z

12. س s

13. ش sy

14. ص ș

15. ض ď

No. Arab Latin

16. ط ţ

17. ظ ž

18. ع `

19. غ g

20. ف f

21. ق q

22. ك k

23. ل l

24. م m

25. ن n

26. و w

27. هـ h

28. ء '

29. ي y

  َ                    = a             َكَتَب   kataba  

   ِ       =  i             ُسَِل   su`ila

              ُ                                           = u            َيذَهُب   yażhabu

 Qāla              َقاَل            ā    =            َ.ـا 

Qīla              ِقْيَل        ī    =         ِ.ـى

Yaqūlu                   َيُقْوُل           ū   =           ُ..ـو 

َ.ـى      =   ai                                  َكْيَف     kaifa  

=   .َ..ـْو     au                      َحْو َل   haula            

'

.

Pedoman Transliterasi  Arab-Latin

Keput san Bersama Menteri Agama dan Menteri P dan K

Nomor: 158 Tahun 1987 — Nomor: 0543 b/u/1987

1. Konsona  

    

2. Vokal Pendek    3. Vokal Panjang

4. Diftong

          

No. Arab Latin

1. ا tidak dilambangkan

2. ب b

3. ت t

4. ث š

5. ج j

6. ح ĥ

7. خ kh

8. د d

9. ذ ż

10. ر r

11. ز z

12. س s

13. ش sy

14. ص ș

15. ض ď

No. Arab Latin

16. ط ţ

17. ظ ž

18. ع `

19. غ g

0. ف f

1. ق q

22. ك k

23. ل l

24. م m

25. ن n

26. و w

27. هـ h

28. ء '

29. ي y

  َ                = a            َكَتَب   k t b   

   ِ       = i           ُسَِل   su`ila

              ُ = u      َيذَهُب   yażhabu

 Qāla              َقاَل          ā    =           َ.ـا 

Qīla              ِقْيَل        ī    =         ِ.ـى

Yaqūlu                َيُقْوُل        ū   =           ُ..ـو 

=     .َ.ـى ai              َكْيَف     kaifa  

َل               au  =     .َ..ـْو                haula   َحْو

25 ن n

26 و w

27 هـ h

28 ء '

29 ي y