darma budha 1

Tampilkan postingan dengan label darma budha 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label darma budha 1. Tampilkan semua postingan

darma budha 1


 


Bhiksu Sakya Sugata (釋能修) atau kerap dipanggil 

dengan sebutan Suhu Neng Xiu, lahir di Tangerang, 

7 Agustus 1977, sebagai anak sulung dari lima 

bersaudara. Ia mulai mengenal agama Buddha saat 

duduk di bangku SMP dan langsung jatuh cinta 

sesudah  menyadari ternyata Buddha Dharma mampu 

menjawab apa yang selama ini dicarinya. Sejak 

SMU sampai lulus kuliah, ia aktif membabarkan 

Dharma di vihara-vihara daerah Tangerang dan 

sekitarnya.

Saat kuliah bahasa di Beijing, beliau mulai 

mengenal Y.M. Bhiksu Bhadra Pala dan Buddhisme 

Mahayana. Sejak itu, beliau aktif dalam Organisasi 

Buddhis Mangala Beijing, China, Tahun 2002-2004.

Demi memperdalam lebih jauh lagi tentang Huma- 

nistik Buddhisme,  beliau dikirim oleh Bhiksu 

Bhadra Pala untuk belajar lebih lanjut di Fo Guang 

Shan Tsung Lin University, Taiwan, 2004-2008.

Beliau mendapatkan penahbisan sebagai seorang 

Sramanera di Vihara Dharmasagara-Jakarta pada 

tanggal 5 Februari 2006 dengan Bhiksu Bhadra 

Pala sebagai Guru.  Pada Tanggal 22 November 

2011 beliau mengambil Upasampana Bhiksu di 

Vihara Da Xian, Taiwan. Sejak 2008 sampai 

sekarang, Bhiksu Sakya Sugata berdomisili di Mudita 

Center (喜來寺), Sunter, Jakarta Utara Indonesia.

Sejak kembali ke Indonesia, beliau aktif membabar-

kan Dharma melalui serangkaian aktivitas ceramah 

dan talkshow di berbagai daerah. Serta kerap 

menulis renungan harian yang disebarkannya melalui 

sms, bbm, dan facebook. Buku ini, yang merupakan 

kumpulan tulisannya merupakan buku keduanya. 

Buku pertama beliau berjudul "Sahabat Kehidupan".

Lipatan cover depan

Sejak 2008 > dinaikkan aja, dijadikan satu dengan paragraf atasnya.


Bhiksu Sakya Sugata (釋能修) atau kerap dipanggil 

dengan sebutan Suhu Neng Xiu, lahir di Tangerang, 

7 Agustus 1977, sebagai anak sulung dari lima 

bersaudara. Ia mulai mengenal agama Buddha saat 

duduk di bangku SMP dan langsung jatuh cinta 

sesudah  menyadari ternyata Buddha Dharma mampu 

menjawab apa yang selama ini dicarinya. Sejak 

SMU sampai lulus kuliah, ia aktif membabarkan 

Dharma di vihara-vihara daerah Tangerang dan 

sekitarnya.

Saat kuliah bahasa di Beijing, beliau mulai 

mengenal Y.M. Bhiksu Bhadra Pala dan Buddhisme 

Mahayana. Sejak itu, beliau aktif dalam Organisasi 

Buddhis Mangala Beijing, China, Tahun 2002-2004.

Demi memperdalam lebih jauh lagi tentang Huma- 

nistik Buddhisme,  beliau dikirim oleh Bhiksu 

Bhadra Pala untuk belajar lebih lanjut di Fo Guang 

Shan Tsung Lin University, Taiwan, 2004-2008.

Beliau mendapatkan penahbisan sebagai seorang 

Sramanera di Vihara Dharmasagara-Jakarta pada 

tanggal 5 Februari 2006 dengan Bhiksu Bhadra 

Pala sebagai Guru.  Pada Tanggal 22 November 

2011 beliau mengambil Upasampana Bhiksu di 

Vihara Da Xian, Taiwan. Sejak 2008 sampai 

sekarang, Bhiksu Sakya Sugata berdomisili di Mudita 

Center (喜來寺), Sunter, Jakarta Utara Indonesia.

Sejak kembali ke Indonesia, beliau aktif membabar-

kan Dharma melalui serangkaian aktivitas ceramah 

dan talkshow di berbagai daerah. Serta kerap 

menulis renungan harian yang disebarkannya melalui 

sms, bbm, dan facebook. Buku ini, yang merupakan 

kumpulan tulisannya merupakan buku keduanya. 

Buku pertama beliau berjudul "Sahabat Kehidupan".


Namo Amitofo,

Penyelarasan antara pikiran, ucapan, dan tulisan mele- 

bihi kata-kata yang tertuang di dalam buku.

Quotes yang dibaca ini, akan jauh lebih hidup jika  

tidak sekedar menikmatinya melalui mata dan pikiran, 

namun  seraplah dengan kelembutan hati dan transfor-

masikan melalui tindakan dan sikap kita pada lingkung- 

an dan kepada semua makhluk.

Berkaryalah demi semua makhluk tanpa pernah merasa 

telah berkarya.

With Mudita,

Bhiksu Bhadra Pala

( 釋賢秉 )

Sebenarnya, semesta tidak pernah merahasiakan apapun 

pada setiap kehidupan.

Ilusi tabir ke”Rahasia”an mulai terasa tatkala kita ber-

diam dalam dua kondisi:

Pertama, lupa bagaimana cara yang tepat dalam mema-

hami semesta, seperti seorang yang membongkar kecapi 

untuk menemukan letak keindahan suaranya

Kedua: menolak untuk menerima indahnya kebenaran 

semesta yang tanpa rahasia sebab  melekati pandangan 

salah yang menyengsarakannya, bagai ayah yang me-

nolak kembalinya anak yang hilang sebab  telah terlalu 

meyakini kematian anaknya..

Hyang Guru Buddha Sakyamuni, yaitu  Maha Guru se-

mesta yang dalam keagunganNya, menyatakan dengan 

jelas bahwa:

Sejumput Pinang

Kita perlu membebaskan diri dari kungkungan ilusi 

kerahasiaan yang semata disebabkan ketidakpahaman 

(avidya)

Semesta yaitu  bentukan kesempurnaan pikiran kita, 

tentunya tidak ada yang pada dasarnya tidak diketahui 

batin, asalkan kita mau mencari semua jawaban di 

tempat yang tepat, yaitu: “dasar batin tanpa inti”.

Semoga semua makhluk yang sejatinya sekedar terben-

tuk atas ilusi “kerahasiaan” kehidupan, senantiasa ter-

bebas darini lusi ketakutan, segera mencerap ketiadaan 

berbagaini lusi, sehingga dapat mengecap kebahagiaan 

tak terkatakan, Nirvana.

Sarva Sattva Bhavantu Sukhitatta

Semangat Shi Xiong...

Amitofo,

Sramanera Sakya Vipula

( 释能广 )

Namo Amitofo,

Terima Kasih kepada Guru saya Y.M. Bhiksu Bhadra 

Pala atau yang biasa kita kenal dengan Suhu Xian 

Bing yang selalu memberi kesempatan bagi kami murid-

muridnya untuk berkarya dan mendorong kami untuk 

terus melangkah maju dalam Buddha Dharma.

Juga ucapan terima kasih kepada adik seperguruan 

saya, Sramanera Sakya Vipula (Sami Neng Guang) 

yang telah banyak memberikan wawasan baru bagi saya 

dalam melihat kehidupan dan dunia apa adanya.

Sejak saya belajar di Buddhist College, kami telah dibi-

asakan belajar, bekerja, merenung, menulis, dan mem-

praktekkan Dharma dalam keseharian aktivitas kami, 

sehingga kebiasaan menulis sudah meresap ke sanubari. 

Semua ini tidak terlepas dari bimbingan dan arahan dari 

para Guru, teman, dan sahabat dalam perjalanan hidup 

ini, sehingga inspirasi-inspirasi untuk menulis bisa terus 

mengalir. 

Tulisan-tulisan dalam buku ini sebenarnya yaitu  tulisan 

untuk memotivasi diri sendiri yang masih dalam proses 

Seiris Gambir

belajar, proses pematangan, dan proses pendewasaan 

sebagai seorang sramana yang berjuang menaklukkan 

‘Sang Ego’.

Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi kita semua, 

yang masih belajar dan terus belajar. Semoga sharing 

Dharma ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Terima Kasih kepada semua pihak yang dengan penuh 

cinta kasih mewujudkan terbitnya buku ini. sebab  ide 

dan jerih payah mereka, maka buku ini dapat diterbit-

kan bersamaan dengan acara Talkshow yang berjudul 

“The Secret Of Life and Death”. Dan, tema “The   Secret of Life” 

menjadini nspirasi dari judul buku ini. 

Ungkapan Kasih dengan sujud dan bakti kepada Para 

Buddha dan Para Bodhisattva yang telah membangkit-

kan semangat saya untuk tetap melangkah di dalam 

Jalan Bodhisattva demi membangkitkan Bodhicitta untuk 

menolong diri sendiri dan menolong semua makhluk 

yang membutuhkan.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Salam Mudita,

Bhiksu Sakya Sugata

(釋能修)


Terima Kasih Kepada Para Buddha, Para Bodhisattva, 

Para Guru, Para Orang Tua, Para Sahabat,  Saudara 

dalam  Dharma yang telah memberikan insiprasi bagi 

torehan tulisan ini. Jasa-jasa kebajikan ini dilimpahkan 

kepada Semua Makhluk di Semesta ini. 


Perhatian...

Cemberut, bete dan badmut,

dapat memicu ribut,

bahkan tubuh menciut,

kaya liliput,

muka keriput,

kaya cecurut,

ja lan nggak bisa ngebut,

kaya siput.

Jadi mending kita pasang muka imut.


Belajar untuk menjadi manusia yang jauh lebih baik, lebih 

bijaksana, dan memiliki kasih sayang dan cinta kasih. Se-

mua halangan yaitu  perkembangan dari bentuk-bentuk 

kemajuan batin. Jadikan setiap masalah sebagai bentuk 

pengembangan kematangan dalam pola berpikir dan 

bertindak.


Sebenarnya kehidupan itu tidak ada yang rahasia. Hanya 

sebab  tertutup oleh K ekotoran Batin dan tersembunyi 

dalam K etidaktahuan. Betapa lelahnya Sang Pikiran yang 

terus mencari jawaban keluar dari dalam diri, padahal 

kunci dari semua itu telah ada di dalam diri. 

Mengapa terus mengembara mencarinya? Bila saja kita 

mau mengubah cara berpikir, mencoba melihat ke dalam 

diri, dapat menerima kenyataan hidup apa adanya, dan 

pencerahan-pencerahan kecil bisa kita dapatkan berupa 

kunci-kunci kehidupan untuk membuka harta karun di 

dalam hati.

-Shi Neng Xiu (Bhiksu Sakya Sugata)-


Mengapa mengeluh, mengapa sedih, mengapa stres? 

Bila mengenal hakekat hukum alam, bahwa segala 

sesuatu yang berkondisi pasti akan berubah. Mengapa 

harus sampai ada niat bunuh diri?

Ketahuilah akibat dari bunuh diri akan memicu 

penderitaan panjang yang tiada akhir. Tiada orang suci 

yang hebat sekalipun mampu menolong mereka yang 

meninggal sebab  bunuh diri. Kehidupan saja tidak 

dihargainya, bagaimana mau diberi kehidupan baru? 

Maka sebaiknya kita tetap semangat menjalani hidup 

ini.

Hidup penuh dengan variabel perubahan. Yang baik 

jangan takabur, yang sedang di bawah jangan patah 

semangat. Yang sakit semoga cepat sembuh, yang 

sehat jagalah kesehatan.

Kidung Kehidupan

9

Yang gagal, pasti bisa sukses bila terus bersemangat. 

Yang sukses, jagalah diri dan batin kita, dan  jangan 

takabur.

Yang pemarah bisa menjadi lebih penyayang. Yang 

sudah penyayang, milikilah semangat bodhisattva untuk 

menolong sesama. Yang putus asa, ingatlah sebelum 

putus nafas masih banyak jalan keluar menuju kebaha-

giaan. Yang sudah tersadarkan, harus memberi motivasi 

bagi yang lainnya. Yang lemah bisa menjadi tegar. Yang 

tegar dapat menopang dan menyemangati yang lemah.

Bila harus meninggal semoga langsung ke tanah suci 

sukhavati, dan terus berjuang sampai mencapai kesem-

purnaan. Hukum semesta tidak akan pernah menyim-

pang dan mengecewakan, bila kita mampu menyadari 

hakekatnya. 

Mengapa harus membenci, bila sebuah kebencian akan 

menghasilkan milyaran penderitaan sebab  dibenci? Ibarat 

satu biji jeruk, mampu menjadi pohon dan menghasilkan 

milyaran biji jeruk baru sesudah  melewati proses pan-

jang perjuangannya. Demikian dengan tekad, niat, dan 

perbuatan baik, sekali saja menanam di ladang kebaji-

kan, akan berbuah milayaran kali buah kebahagiaan. 

Mengapa kita tidak menjadi lebih semangat?

10

Kerajaan Surga tidak perlu menunggu sesudah  kematian, 

tidak perlu harus dengan perjanjian. Surga ada di hati 

setiap manusia, saat mampu merasakan ketenangan, 

saat mampu berbahagia, hidup saling mencinta, saling 

berbagi, saling memahami, bebas dari kebencian, bebas 

dari keserakahan, iri hati, dan kemarahan.

Bila setiap manusia menciptakan surga di hatinya 

masing-masing, maka tempat di mana mereka berdiam 

akan menjadi tanah surga, kehidupan tanpa perang, 

tanpa kejahatan, tanpa ketakutan, kebencian. Itulah 

kerajaan surga. Hidup damai penuh dengan berkah.

Bila tanah ini tercemar oleh darah pembunuhan, oleh 

darah pembantaian, oleh darah sebab  permusuhan dan 

kebencian, maka kondisi surga dunia saja sudah tidak 

bisa diciptakan, bagaimana mengharap surga sesudah  

kematian?

Bila memegang janji untuk tidak membunuh, tidak men-

curi, tidak berbuat asusila, tidak berdusta, tidak mabuk-

mabukkan saja sulit dijaga dan direalisasikan bagaimana 

kebahagiaan surga bisa didapat?

Hidup tanpa membenci, tanpa menyakiti, penuh cinta, 

damai, tenang dan kebahagiaan itu muncul, semuanya 

bukan tanpa sebab. Diawali dengan kebesaran hati, di-

awali dengan kerendahan hati, diawali dengan ketulusan 

dan kasih sayang maka dengan seiring waktu akan 

terciptalah kebijaksanaan.

Belajar dan terus belajar untuk menggunakan akal sehat 

daripada perasaan dan dogmatis yang dapat menyebab-

kan perselisihan dan peperangan.

Tiada cinta yang dapat memuaskan semua pihak, se-

lain cinta kasih yang universal. Cinta yang tidak me-

miliki, cinta yang tidak menuntut, cinta yang tidak ada 

batasnya

Ada orang yang senang membuat baju. Dengan me-

teran, penggaris, pensil, gunting, benang, dan mesin 

jahit, hanya dalam waktu yang singkat telah jadi satu 

karya baju nan indah.

Ada yang senang melukis. Dengan kanvas, cat, serta 

kuas sudah mampu menuangkan semua inspirasi di 

benaknya. Ada yang senang membuat kue. Segala 

macam kue telah dihasilkannya. Ada yang senang 

menulis. Dengan tinta dan kertas mampu meluapkan 

segala bentuk perasaan dalam bentuk cerita, baik cerita 

sedih, senang, atau pun romantis. Semua tergantung 

perasaan dan skenario yang diinginkan.

Bila senang berbuat baik, ia pasti mampu memberi-

kan warna warni hidup kepada dirinya dan orang lain. 

Tanpa harus mengatakan akulah yang paling hebat, 

Skenario

aku yang paling baik, aku yang nomor satu, aku yang 

harus dipuji. Bila saja ia melakukannya maka semua 

pahalanya pun akan hilang.

namun  kalau yang senang marah, apa yang dihasil-

kannya? Hanyalah kekecewaan, sakit hati, pemerasan 

emosi, dan penyakit. Tiada satupun efek positif dari 

pikiran negatif.

Pada dasarnya semua orang sedang membuat skenario 

bagi dirinya, namun  banyak yang menganggap skenario 

itu sungguh terjadi dalam hidupnya. Walau hanya lakon 

belaka, namun  dirasakan benar-benar menjadi nyata. Ten-

tunya pembuat masalah bagi dirinya bukanlah orang lain, 

juga bukan orang lain yang menghancurkan hidupnya. 

Melainkan diri sendiri yang larut dalam permainan yang 

tidak jelas dalam kehidupan ini.

Cepat sadari untuk berubah, dan jangan patah semangat 

di kala kegagalan itu datang.

Mari bekerja dengan giat sebab  kesuksesan tinggal di 

ambang mata, buka mata hati. Dan di sana kita men-

dapat jawaban dari kebahagiaan sejati di dalam hati.

Saat sedih, jangan terlalu bersedih. Saat senang jangan 

terlampau bahagia. sebab  dalam kesedihan terda-

pat banyak butiran- yang menguap, 

sampai kembali menyublim dan mencurahkan kembali 

hujan kebahagiaan.

Saat bahagia harus terus ingat berbuat baik, agar 

pohon kebajikan terus tumbuh subur. Walau kesedihan 

pasti akan datang menghadang setidaknya jasa-jasa ke-

bajikan yang berbuah mampu mengurangi bentuk-bentuk 

kesedihan yang ada.

Hidup itu memang penuh makna, bila kita mau mem-

buka mata hati, maka setiap pelajaran hidup akan 

mampu mendidik kita menjadi lebih matang dan bi-

jaksana. Pelajaran yang sulit, walaupun harus dilalui 

dengan terseok-seok, namun  bila akhirnya mampu dile-

wati maka penderitaan yang sulit pun sirna berganti 

kebahagiaan yang tiada taranya.

Pelajaran demi pelajaran pasti akan memperkaya nilai-

nilai kehidupan kita.

Jangan patah semangat dan teruslah berjuang menjalani 

jalan yang masih panjang, yang harus ditempuh dengan 

kesabaran, keuletan, dan tekad. Sampai semua mampu 

mencapai tujuan

Bila saja ada kesadaran untuk bangkit, maka sese-

orang pasti bisa bangkit. Bila saja ada kesadaran untuk 

berubah, maka semua orang pasti akan berubah. Bila 

saja ada kesadaran untuk meninggalkan semua sifat 

dan karakter yang buruk, maka yakinlah semua juga 

pelan-pelan bisa belajar. Bukan  untuk menjadi orang 

lain, hanya menemukan sosok yang berbeda dari diri 

sendiri yang sesungguhnya, yah kita sendiri. Pengenal-

an diri, pengembangan diri, pengendalian diri, dan pe-

nyesuaian dari perubahan diri, sangat diperlukan oleh 

siapapun yang ingin maju dalam batinnya.

Saat bahagia, kita menyadari kebahagiaan itu juga 

berubah dan menghargai setiap kebahagiaan yang di-

dapatkan. Saat sedih, kita mampu melihat sumber 

dan penyebab dari kesedihan itu sendiri. Kita harus 

mampu menganalisanya. sebab  kesedihan yang kita 

pikir sebab  faktor dari luar, faktor orang lain, ternyata 

sesungguhnya akar permasalahannya justru dari dalam 

diri kita sendiri. 

 

Nah, yang mampu menyelesaikan tuntas semuanya juga 

diri sendiri. Bila diri sendiri tidak mau menerima saran 

dan masukan dari orang lain, yah bagaimana kita bisa 

maju?

Saat kedewasaan berpikir dan bersikap itu muncul, ten-

tunya banyak cara yang dapat membangkitkan kema-

tangan itu sendiri. Ada yang menyakitkan, menyedihkan, 

membuat down. Ada yang membutuhkan usaha keras, 

menguras pikiran dan air mata, ada juga yang muncul 

saat  kita memperhatikan keluar masuk nafas. 

Intinya kesadaran dapat terjadi setiap momen, hanya 

saja kita mungkin tidak menyadari dan membiarkan ke-

sempatan untuk mengubah hidup kita berlalu begitu saja.

Mari kita berjuang untuk menjadi pahlawan kehidupan 

dengan menaklukkan musuh terbesar yang ada dalam 

diri sendiri.

Tertawa, Senyum, Marah, Jengkel, Cemberut, Kesakit-

an, Menangis. Semua yaitu  ekspresi dari emosi baik 

yang positif maupun yang negatif. Tentunya muncul 

dari bentuk-bentuk pikiran, bermain dalam perasaan, 

lalu disimpan dalam gudang kesadaran, distempel de-

ngan “like” and “dislike”. Tentunya bagi diri sendiri tidak 

masalah, ekspresini tu yaitu  spontan adanya, muncul 

dengan apa adanya.

Akan Menjadi masalah saat berhubungan dengan orang 

lain, atau menjadikan orang lain sebagai saluran pem-

buangan ‘emosi negatif’, atau memang sedang ribut 

dengan orang lain, sepertinya perang dunia akan terjadi 

kembali. 

Sebaliknya, bila memancarkan semua ‘emosi positif’ 

kepada orang di sekitar kita dengan senyum dan tawa 

Ekspresi Jiwa

yang tulus, maka hasilnya yaitu  semua orang akan 

terkena radiasi cinta dan kasih sayang yang universal. 

Semestinya bumi akan terasa semakin sejuk sebab  se-

mua terasa begitu bahagia.

 

Mau bahagia atau tidak, itu hak pribadi kita. namun  

yang negatif cukup dirasakan sendiri saja. Yang positif, 

kita saling berbagi. Dengan berbagi hal-hal yang positif, 

maka perlahan kesedihan kita akan berkurang, sebab  

radiasi kebahagiaan sesungguhnya mampu meluluhkan 

kesedihan.

Saudara kandung ada yang seperti teman atau sa-

habat, ada yang sangat dekat, saling mengerti, saling 

mengingatkan, saling bekerjasama, saling peduli, dan 

saling menjaga orang tuanya.

 

Ada juga hubungan sesama saudara yang terasa jauh, 

kadang antara saudara tidak mengerti jalan pemikiran 

dan sifat masing-masing. Rasanya justru bisa seperti 

orang lain yang baru kenal. Bahayanya bila saudara 

kandung sudah seperti musuh, yang pasti merasa pu-

sing tentunya orang tua. Saling rebutan warisan, bah-

kan saling menghasut dan menghancurkan.

Padahal berasal dari orang tua yang sama, ibarat satu 

pohon buahnya punya rasa yang berbeda.

Tidak ada orang tua yang membeda-bedakan anaknya, 

Sahabat Cahaya

walau anak-anaknya tentu banyak perbedaan. namun  

betapa sedih orang tuanya bila anak-anaknya tidak har-

monis. Dan sebaliknya, betapa bangga orang tuanya bila 

hubungan antar anak-anaknya sangat harmonis.

Hubungan teman dan sahabat ada yang seperti sau-

dara, terasa sangat dekat dan benar-benar melekat di 

hati. Dalam kesusahan bahkan akan menjadi memberi 

semangat bagi kita. 

Ada juga teman yang hanya setia hadir di saat kita 

senang dan paling cepat menghilang di saat kita men-

galami kesusahan. Hanya ibarat semut yang cepat da-

tang bila ada serpihan gula manis.

Dan bahayanya bila teman atau sahabat telah menjadi 

musuh. Mereka paling tahu segala kelemahan kita, dan 

menjelek-jelekkan di luar. Ibarat pagar makan tanaman. 

Kondisi yang sepertini ni sangat menyedihkan. 

Tentunya seorang Kalyana Mitra (Sahabat Sejati) akan 

mampu menjaga sahabatnya dari hal-hal negatif, bertin-

dak penuh dengan cinta kasih dan kasih sayang yang 

sepenuh hati.

Semoga kita semua memperoleh saudara dan teman 

serta sahabat yang baik, yang sehati, yang benar-benar 

membimbing kita ke cahaya terang kehidupan, bukan 

sebaliknya menghancurkan dan memporakporandakan 

hidup kita. Mari menjaga hati saudara dan sahabat 

agar selalu ada di hati.

Tujuan kita sekolah dan belajar yaitu  untuk mendapatkan 

pengetahuan, mengasah ketajaman otak kita, mencarini lmu, 

dan mendapatkan gelar. namun  di luar bangku pendidikan, 

kita bisa belajar dari orang-orang di sekitar kita, termasuk 

orang-orang kecil yang sesungguhnya punya jasa besar bagi 

kelangsungan hidup orang banyak.

Ada seorang anak yang sejak kecil selalu ditanamkan 

ayahnya untuk belajar, belajar, dan belajar. Awalnya ia 

sangat bersemangat dan takut ayahnya marah, maka 

belajarlah ia dengan giat. Saat SMA ia merasa bela-

jar hanyalah untuk mengejar nilai dan prestasi, bukan 

menambah pengetahuan, sebab  pengetahuan yang ia 

dapat di sekolah toh tak perlu untuk diterapkan di 

rumah dan di lingkungan. Demikian sampaini a kuliah 

S1 Sarjana Teknik Mesin, sampai meraih S2 di bidang 

yang sama. 

Saat bekerja, ternyata yang diperlukan hanya se-per-

berapanya dari semua yang dipelajari dari bangku se-

kolah sampai bangku kuliah. sebab  ternyata pengala-

man jauh dari segala teori dan pengalaman itu bukan 

hanya sekedar coretan di atas kertas. Nyatanya opera-

tor mesin tempatnya bekerja, yang notabene lulusan 

Sekolah Kehidupan

STM atau SMK jauh lebih berpengalaman,  terampil 

dan cekatan di perusahaan tempat ia  bekerja. 

Teknisi lebih mengenal mesin dan  kendalanya. 

Bahkan terkadang hanya dengan mendengar suara 

mesin sudah tahu apa kerusakannya. 

Bahkan lucunya hanya dengan satu sentuhan kecil 

ke mesin, bisa membuat mesin menyala kembali. 

Alhasil, ia menjadikan teknisi, operator, dan mekanik 

sebagai gurunya. Ia belajar dari bawahannya. Dan 

ternyata semua teori  yang rumit hanya mem-

buat otak manusia berpikir tidak simpel. Padahal 

prakteknya hanya membutuhkan ketenangan, kehati- 

hatian, konsentrasi, dan sedikit pengalaman saja. 

Hal yang simpel ternyata kita sendiri membuatnya 

menjadi rumit.

Pelajaran yang didapat di sini yaitu , tujuan kita 

sekolah dan belajar yaitu  untuk mendapatkan 

pengetahuan, mengasah ketajaman otak kita, men-

carini lmu, dan mendapatkan gelar. namun  di luar 

bangku pendidikan, kita bisa belajar dari orang-

orang di sekitar kita, termasuk orang-orang kecil 

yang sesungguhnya punya jasa besar bagi kelang-

sungan hidup orang banyak. Jangan sombong dan 

tinggi hati. 

Belajarlah dari siapa saja yang memang berpengalaman 

di bidangnya. Jangan malu dan takut untuk bertanya 

dan belajar, sebab  pengalaman yaitu  guru yang 

paling baik.

Tundukkanlah harga diri kita, maka kita akan dimulia-

kan  tanpa bisa dinilai dengan harga berapa pun. 

Selamat belajar

Pikiran itu dashyat dan memang luar biasa. Begitu 

kebencian bersarang di dalamnya, susah dibuang atau 

tidak dipikirkan. Kebencian itu menyita banyak memori 

dalam gudang pikiran kita. Seperti virus komputer yang 

selalu menjelajahi sisi pikiran kita, mencemari sisi 

ruang batin kita. Sampai suatu saat siap meledak 

dan menjadi suatu kekuatan dahsyat, baru kita semua 

kebingungan menghadapinya.

Sakit hati juga sama, bercokol dalam relung batin ini. 

Memakan saraf-saraf kesabaran, saraf-saraf cinta, bah-

kan urat-urat kasih pun bisa putus sebab  sakit hatini ni. 

Bila saja kita mau untuk merenung sejenak, ‘sakit hati’ 

itu cuma perumpamaan, tidak ada hati yang benar-

benar sakit. Kalau beneran sakit ‘hati’ namanya sakit 

Liver, dan tentunya sudah masuk rumah sakit kali yah? 

Semua itu ternyata hanyalah ‘ego’ kita yang tersayat, 

Virus Pikiran

‘harga diri’ kita yang terluka, atau merasa terinjak dan 

tertindas. Ini baru tercabik-cabiknya ‘keangkuhan’ dan 

ke’aku’an yang membuat kita tersiksa.

Jadi bagaimana agar tidak sakit hati? Jangan banyak 

‘makan hati’ dan selalu ‘hati-hati’lah dalam setiap tin-

dakan agar selalu menjadi orang yang ‘baik hati’ yang 

sudah pasti memiliki ‘hati yang sehat’. ‘Sehat lahir 

batin’ ini jurus awet muda loh. Jadi jangan mikir yang 

jelek-jelek terus, terus mikir yang ruwet-ruwet. Percuma, 

sebab  hanya membuat cape.

Apa yang sudah berlalu yah sudah tak bisa diulang. 

Jadi, ngapain dipikirin?  Kalau mau mikir, yang positif 

aja! Yang negatif mah ngapain dipikirin? Hanya buang-

buang energi dan air mata.

Tulisan ini juga hanya sekedar iseng-iseng berhadiah. 

Siapa tahu memang ada yang lagi sakit hati. Mudah-

mudahan bisa sembuh, sehat hatinya, terobati luka 

hatinya, terhentilah air matanya. Jangan habiskan air 

matamu, mata air saja bisa habis apalagi air mata yang 

persediaannya nggak banyak.

 memiliki semangat hidup yang luar biasa, 

sangat liar, sebentar saja sulit dikendalikan, tumbuh 

bebas, dan berkembang biak sangat cepat. Bila dicabut 

tidak kena ke akarnya, sebentar saja akan tumbuh 

kembali. Semakin dicabut semakin menjalar dan tumbuh 

subur. Bila tidak diperhatikan, tiba-tiba daerah kekua-

saannya semakin melebar.

Bila semangat hidup seseorang diibaratkan  

ini, maka hidup mau susah seperti apa, ia akan terus 

berjuang dan berusaha, pantang mundur dan tetap se-

mangat. Semakin tinggi tingkat kesulitan hidup, semakin 

keras juga ia berjuang mencari celah untuk dapat ber-

tahan hidup. Memutar otak dan banting tulang, untuk 

mendapatkan semua peluang dan kesempatan agar 

hidupnya bertambah lebih baik.

namun  seseorang yang keras kepala, kaku, dan konsep 

serta pola pikirnya seperti  ini, bisa sangat 

berbahaya, bisa juga bermanfaat. Bahayanya, ia semakin 

dilarang, semakin menjadi-jadi. Semakin dibatasi semakin 

berontak. Semakin dijaga semakin liar, dan mengguna-

kan setiap kesempatan untuk hal yang  membahayakan 

dirinya dan orang lain dengan hal-hal negatif.

Disebut bermanfaat bila semangat dan kekuatan dari 

orang tipe ini jika diarahkan ke arah yang positif dapat 

sangat berguna bagi orang banyak.

Rumput oh rumput, walau sering diinjak-injak, dicabut, 

ditelantarkan, namun  merupakan sumber makanan bagi 

binatang yang senang merumput. Energi bagi kehidupan 

satwa pemakan rumput. sebab  rumput, kuda, sapi, ker-

bau dapat bekerja, demi kebutuhan manusia. Artinya jan-

gan pernah memandang remeh terhadap sesuatu yang 

kelihatan merusak, tidak bermanfaat, selama kita belum 

mengetahui kekuatan dan manfaatnya. sebab  dalam 

kehidupan ini besar-kecil, baik-buruk, semua memiliki arti 

dan maknanya masing-masing. Bebaskan pikiran kita dari 

negativitas, semua bisa akan sangat bermanfaat.

Awali harini ni dengan pikiran baik, ucapan baik, dan 

perbuatan baik. 

Tujuan yang baik akan mendapat berkah dan keberun-

tungan yang datang entah dari mana. sebab  pikiran 

yang baik akan menarik semua unsur dan gelombang 

yang baik pula. Dan sebaliknya, hal yang jelek akan 

terjadi bila pikiran kita dipenuhi oleh hal-hal yang 

negatif.

Bila masa lalu telah terjadi dan tak bisa diulang kem-

bali, biarlah semua itu terjadi. Bila masa kemarin baru 

saja terjadi, selama masih bisa diperbaiki, agar masa 

mendatang tidak terulang kembali.

Bila kita memiliki sesuatu yang mengganjal, keluar-

kanlah ganjalan itu sebelum kita terganjar. Bila kita 

Kebaikan Hati

memiliki kesalahan, akui kesalahan dan minta maaf 

pada yang bersangkutan, agar tidak terjadi salah 

paham berkepanjangan. Sungguh mudah menilai se-

seorang, namun  sulit menilai dan mengerti diri sendiri. 

Sebenarnya, jika mengerti diri sendiri saja sulit, lantas 

bagaimana kita bisa mengerti perasaan orang lain? 

Deburan ombak di laut, memberi suasana dan 

energinya sendiri, ditambah dengan sinar mentari yang 

mulai terbit, memberi kehangatan tersendiri bagi dunia. 

Semilir angin nan sepoi-sepoi memberi harapan akan 

sebuah kedamaian.

Deburan emosi demi emosi di dalam hati, akan mem-

buat diri tidak terkendali, tak ada jiwa yang tenang 

dan damai. Hari-hari pun akan berjalan sangat lambat, 

rumah terasa bagai neraka. Orang terdekat laksana 

musuh. Sedang musuh besar dalam dirinya sendiri, 

tidak disadari. Janganlah sebab  marah dan benci, 

mengharap makhluk lain celaka.  Berbuatlah untuk 

mengisi ladang hati dengan hal yang indah. Bunga-

bunga cinta di hati, semilir angin kesejukan jiwa, om-

bak perasaan yang menghanyutkan jiwa nan bahagia. 

Yang ada yaitu  rasa nyaman dan tentram di hati.

Buanglah amarah, benci, emosi, dan ketidaktenangan 

jiwa. sebab  yang negatif hanya akan memberikan pen-

deritaan. Ubahlah energi negatif menjadi energi positif 

agar berguna bagi kehidupan, hidup kita pun akan jauh 

lebih hidup.

Datang... Lihat... Buktikan. 

Inilah yang dikerjakan oleh orang Bijak, ia akan mem-

buktikan terlebih dahulu dibanding percaya begitu saja.... 

Mari analisa ombak-ombak perasaan, emosi, dan amarah 

di hati kita semua....

Dan, jadikan semua itu sebagai pelajaran bagi kehidu-

pan kita untuk belajar menilai yang salah sebagai kesa- 

lahan, dan yang benar sebagai kebenaran. Walau ada 

juga yang menyatakan kebenaran itu belum tentu benar, 

dan kesalahan itu juga belum tentu salah. Oh yaaa? 

Silahkan buktikan sendiri....

Dunia makin panas, terik dan gersang. Tumbuhan ter-

lihat menguning dan tak bergairah,

Burung-burung panik terbang kian kemari mencari la-

han hijau.  Semakin sulit menemukan keharmonisasian 

alam. Hutan ditebang untuk kepentingan pribadi. Air 

bersih semakin sulit dan semakin mahal. Jangan biar-

kan air minum lebih mahal dari bensin.

Air, udara, matahari, tanah, dan segalanya yaitu  gra-

tis. Untuk dipakai dan dimanfaatkan manusia. Hanya 

sebab  keserakahan manusia, semua dihitung dengan 

mata uang.  Sampai nanti udara bersih pun menjadi 

mahal. Semua itu dapat diperjualbelikan. Siapa ada 

uang, mampu membeli dunia beserta isinya. namun  

tetap saja  tak mampu membeli kebahagiaan dan ke-

bijaksanaan.

Harmonisasi Alam

Kehidupan bukan hanya sekali saja. Lingkaran tumim-

bal lahir tetap akan berjalan. Jagalah alam kita saat 

ini. Jangan sampai, nanti saat terlahir kembali di bumi 

ini semua sudah gersang. Tak ada taman, hutan, 

serta paru-paru kota. Semua menjadi seperti kota abad 

modern. Makan minum hanya dengan satu tablet. Se-

mua pakai masker oksigen. Seperti film-film masa depan 

yang canggih namun  gersang.

Demikian gambaran yang ada bila kita mengabaikan 

kelestarian lingkungan dan terus merusak alam ini. Men-

jadi baik itu mudah kok, mulailah dari menjaga hati. 

Siapa yang hatinya terjaga, maka ia akan menjaga ling-

kungannya. Semua pasti akan terlindungi dengan cinta 

kasih dan kesabaran. Syukur-syukur, semua bertekad 

terlahir di alam bahagia. 

Menjadikan bumi sebagai tanah suci tempat melatih diri, 

maka tanah suci para Buddha akan terwujud, saat me-

nutup mata dan berhentinya hembusan nafas.

Amitofo..Amitofo..Amitofo

Perasaan tidaklah kekal, selalu berubah dan terus beru-

bah. Dikatakan tidak punya perasaan, malah sesung-

guhnya seseorang memiliki perasaan yang sangat 

sensitif. Saking sensitifnya dikatakan tidak berperasaan. 

Artinya lebih dashyat dari orang yang berperasaan.

Persepsi muncul dari apa yang kita lihat, apa yang kita 

rasa, apa yang kita dengar, apa yang kita cium, apa 

yang kita sentuh dan apa yang kita pikirkan. Tepatnya, 

muncul dari 6 landasan indria. Persepsi ditambah 

dengan perasaan akan menjadi sebuah skenario hebat, 

kelihatannya menjatuhkan lawan, namun  salah persepsi 

akan menghancurkan diri sendiri.

Kesadaran bisa menjadi sangat kuat, bisa menjadi 

sangat lemah. Kesadaran yang didasari emosional, 

menjadikan seseorang gelap mata. Kesadaran yang di-

Kebodohan Batin 

dasari persepsi dan perasaan, bila benar akan menjadi 

kekuatan dari batin itu sendiri. namun , bila diikuti oleh 

persepsi dan perasaan yang salah dan negatif, kesa-

daran bisa menjadi memabukkan.

Dikatakan cemburu itu baik dan membangun, sebab  

masih ada cinta dan sayang. 

namun , cemburu buta itu pasti akan sangat menghancur-

kan. Selain menghancurkan orang lain, efek terbesarnya 

yaitu  diri sendiri.

Bila sesungguhnya tiada indera, tiada perasaan, tiada 

persepsi, tiada kesadaran, dan sesungguhnya tiada cem-

buru, senang dan tidak senang. Mengapa harus mele-

katinya, membawanya dalam hati sampai terbawa mati?

sebab  semua hanyalah kekosongan yang tanpa inti, 

namun  sebab  hati yang tercemar oleh kebodohan batin 

membuat semuanya menjadi nyata. Bukan membawa 

kebahagiaan,  namun  menjadikan beban hidupmu bertam-

bah berat. 


Antara ada dan tiada. Dikatakan ada sebab  selalu 

eksis, dikatakan tiada sebab  fisiknya tidak dapat selalu 

ditemui. Ada dan tiada sesungguhnya tidak berbeda.

 

Saat ada hampir jarang dipikirkan, saat tiada dicari pun 

hanya kenangan yang dapat dilihat.

Masih perlukah melekat dengan ada dan ketiadaan? 

Manusia semasih hidup, jarang diperhatikan, sesudah 

meninggal memberikan persembahan yang terbaik pun 

tak mampu menggantikan perlakuan dan pelayanan se-

waktu seseorang itu masih hidup.

Saat Ceng Beng semua orang ke kuburan, yang dilihat 

hanya batu nisan dan tumpukan tanah. Tiada yang 

dapat diajak bicara. Hanya dua keping uang logam 

alat komunikasi, untuk bertanya sudah cukup atau 

Ada dan Tiada

belum. Serta berbagai persembahan bagi mereka yang 

membutuhkan.

Makna terindah yaitu  kebersamaan, rasa bakti dari 

anak-anak yang berkumpul mendoakan leluhurnya. Men-

doakan agar mereka senantiasa terlahir di alam yang 

lebih baik dan tak terlahir di alam menderita, memberi-

kan laporan atas segala keturunan yang telah ada, dan 

cerita hidup setiap anak yang senantiasa mengharap 

berkah dari orang tua dan leluhurnya.

Inilah indahnya bentuk perhatian dan peringatan kepada 

mereka yang paling berjasa kepada kita.

namun  bila saat ini orang tua kita masih ada, masih 

sehat, berikanlah persembahan yang terbaik kepada 

mereka, yakni kasih sayang dan perhatian, serta ma-

kanan yang enak untuk mereka rasakan saat ini. Dan 

yang paling penting dari semua itu yaitu  ajaklah 

orang tua untuk mengenal ajaran kebajikan, agar se-

masa hidupnya memiliki tabungan kebajikan. Belajar 

untuk melakukan nian fo dan bertindak sesuai dengan 

ajaran kebenaran, agar nanti meninggal tidak kekurangan 

apapun dan menjadi penghuni tanah suci sukhavati nan 

bahagia.

Bakti yang terpenting yaitu  saat ini. Lakukanlah seka-

rang sebelum semua menjadi terlambat.

Memberi bukan berarti kehilangan. Yang penting sebe-

lum, pada saat memberi, dan sesudah memberi kita 

bahagia. Kekayaan yang sesungguhnya bukan uang, 

melainkan tabungan karma baik. Harta yang sesung-

guhnya bukan harta benda, melainkan kepuasaan, sifat 

rendah hati, ramah, dan kebajikan.

Bila kita mampu memiliki hati bodhisattva dan meya-

kini semua orang yaitu  calon Buddha, kepada siapa 

kita mampu untuk marah lagi? Kepada siapa kita bisa 

mendendam? Kepada siapa kita bisa berbuat jahat? 

sebab  di hati kita sudah terbebas dari keraguan, tak 

penting bagaimana sikap orang lain terhadap kita. Yang 

penting yaitu  apa yang kita lakukan untuk orang lain. 

sebab  semua orang memiliki bibit-bibit keBuddhaan. 

Apapun kesalahan yang dilakukan pasti sebab  debu-

debu kekotoran batin. Saat batin telah terbebas dari 



debu, saat itulah Para Buddha muncul di hati. Jangan 

menunggu orang lain menjadi Buddha, namun  mari kita 

bertekad membangkitkan semangat bodhisattva, bela-

jar peduli pada orang lain, belajar mengerjakan untuk 

kepentingan orang banyak. Kita yaitu  orang yang 

paling beruntung di dunia.

Beberapa saat lalu di sebuah vihara di Taiwan, saya berjumpa 

dengan seorang volunteer. Saat itu,  saya berkata kepadanya, 

“辛苦你了”. Xin Ku Ni Le (maaf, sudah menyusahkan 

anda) namun  mereka malah berkata: “幸福我們的,不

會辛苦的 Xing Fu Women De, Bu Hui Xing Ku De” 

(Merupakan kebahagiaan bagi kami, kami tidak merasa 

direpotkan). Artinya pekerjaan apa pun bagi mereka 

bukanlah sesuatu yang menyebalkan, merepotkan, atau 

sesuatu yang menyusahkan. Selama berbuat baik, mere-

ka menganggap bahwa apa yang dikerjakan yaitu  

Kita bisa memiliki banyak barang, keinginan yang tidak 

terpuaskan untuk terus mencari dan mencari kekayaan 

sebanyak-banyaknya, namun  bisakah kita mengunakan 

semua dengan tepat, dan efisien? Bisakah kita me-

ngoptimalkan semua fungsi dari milik kita? Apa yang 

kurang? Rasa syukur, puas, serta tahu berterima kasih.

Ada pepatah yang berbunyi, “memiliki ratusan hektar 

sawah, namun  hanya sejumput padi untuk dimakan 

sehari”. Sama seperti halnya seseorang memiliki banyak 

rumah atau gedung mewah yang tersebar di setiap 

tempat, namun  hanya butuh ranjang untuk tidur seluas 

ukuran ranjangnya. Dan hanya butuh peti seukuran 

badannya saja saat kematiannya.

Memiliki namun  tidak dapat mengunakan apalagi menik-

matinya, sama seperti kebau yang kerja keras seharian 

namun  tidak pernah merasakan apa yang telah dikerja-

kannya. Kondisi alam, air terus menerus mengalir, udara 

ada sirkulasi, stock barang dan uang ada perputaran. 

Demikian juga halnya dengan kekayaan. Semua harus 

bisa berputar dari sepuluh penjuru dating dan dikemba-

likan manfaatnya ke sepuluh penjuru. Kekayaan kita ber-

asal dari berbagai kondisi dan faktor, buruh, karyawan, 

pembeli, dan masyarakat. Jadi seharusnya kembali lagi 

dapat dirasakan untuk masyarakat banyak. Itulah konsep 

seorang dermawan, yang selalu harum namanya dan 

dihormati oleh orang banyak.

Kita datang ke dunia dengan tangan hampa dan saat 

meninggal dunia juga tiada apapun yang dapat dibawa, 

selain karma baik atau buruk yang menjadi warisan se-

jati. Kekayaan hanyalah sebuah sirkulasi di dunia, yang 

bila tidak dimanfaatkan untuk kepentingan kebajikan, 

tidak akan mengahasikan apa-apa.

“Memiliki harta banyak yaitu  orang yang kaya, mereka 

yang tahu cara menggunakannya yaitu  orang yang 

kaya dan bijaksana”

Renungan dari Master Hsing Yun, Disadur dan 

dibahasakan kembali Oleh NX.

Kekuatan Supranatural atau Kesaktian Oleh Master 

Hsung Yun.

Kehidupan manusia terdiri dari penderitaan dan ketidak-

kekalan. Begitu banyak jenis masalah dan persoalan 

manusia yang sulit diatasi, dan biasanya manusia 

mencari cara untuk keluar dari problem kehidupan-

nya, baik dengan berdoa kepada para Buddha, 

Bodhisattva, dewa-dewi dan orang suci lainnya. Bahkan 

ada yang  mencari kesaktian, agar dapat memiliki 

kekuatan supranatural.

“Kekuatan Supranatural” yaitu  suatu kekuatan yang 

luar biasa, dapat diperoleh dari praktek Meditasi, dan 

hasil sampingan dari pengembangan spiritual. Hasilnya 

memang memiliki banyak kelebihan yang tidak dimi-

liki oleh orang lain. Namun, apakah sesudah  itu kita 

bebas berlalu sesuka hati? Dan bisa memiliki hidup 

yang damai? Rasanya belum tentu demikian.

Yang paling penting dari semua itu yaitu  praktek 

pengembangan spiritual itu sendiri dibanding keingin-

an memiliki kekuatan supranatural. sebab  kekuatan 

supranatural yang terhebat pun tidak bisa menandingi 

dan melawan “karma”. sebab  “karma” atau hukum 

sebab akibat yaitu  kekuatan yang paling hebat. 

Yang Arya Mogalanna yang paling sakti saja tidak 

bisa membebaskan ibunya dari alam menderita, yang 

terjatuh sebab  ‘karma beratnya’. Memang, Yang Arya 

Moggalana dapat pergi dan mengunjungi semua alam 

sampai menembus neraka terendah. namun , tetap tidak 

bisa mengubah karma berat Ibunya sendiri. Hanya 

dengan kekuatan bersama dari jasa kebajikan terhadap 

komunitas Sangha  yang bisa mengantarkan ibunya 

menuju alam yang lebih baik. 

Kekuatan Supranatural bukanlah segalanya. Kadang sete-

lah memilikinya malah semakin terasa fenomenanya. 

Tadinya, kita tidak bisa membaca pikiran orang, sete-

lah memiliki kekuatan itu, kita malah menjadi bingung, 

sebab  bisa mengetahui banyak orang yang lain di 

mulut lain di hati. Apakah kita bukannya menjadi sedih, 

di depan kita mereka begitu baik, namun di belakang 

ternyata begitu membenci dan mendendam kepada kita. 

Biasa kita tidak bisa mendengar percakapan orang-orang 

tentang kita, namun  sesudah  memiliki kekuatan tertentu, 

kita menjadi tahu semua hal, dan bisa mendengar pen-

deritaan dan curhat dari alam lain, apakah kita tidak 

bertambah stres? sesudah  mampu mengetahui kejadian 

yang akan menimpa seseorang, malah akan menjadi 

beban baru. Apakah dengan memiliki kemampun ini 

kita benar-benar bisa tenang dan tentram, bila tidak 

sanggup dan belum siap menerima semua fenomena 

yang ada?

Kekuatan Supranatural bukan hanya dimiliki oleh para 

Buddha, Bodhisattva dan para dewa-dewi saja, alam 

setan bahkan ashura pun memiliki kemampuan ini. 

Kemampuan alam untuk menyesuaikan pergerakan, 

perubahan iklim dan cuaca, musim, pergantian ro-

tasi, evolusi bumi, juga merupakan kekuatan fenomenal 

Natural. 

 

Saat ini, kita juga memiliki kemampuan hebat yang luar 

biasa, yaitu bisa telepati jarak jauh, dengan telephone 

ataupun gadget yang kita miliki, bisa terbang di ang-

kasa dengan pesawat terbang, bisa meng-kloning diri 

menjadi banyak, bisa melihat semua kejadian di bela-

han dunia dengan televisi, internet dan lainnya. Semua 

itu yaitu  kekuatan supranatural yang bisa kita miliki 

seiring dengan perkembangan jaman.

49

Kekuatan Supranatural merupakan akumulasi dari pen-

galaman hidup manusia, juga merupakan hasil pelatihan 

dan kemampuan tertinggi dari manusia, namun  bukan 

jaminan untuk hidup bahagia, sebab  kesaktian belum 

bisa menandingi kekuatan moralitas (sila) dan melampaui 

hakekat kekosongan tanpa Aku (Sunyata dan Annatta), 

serta kebijaksanaan tertinggi (Prajna) yang dapat mem-

bawa diri menuju pada Pembebasan Sejati.

Jadi, jangan gantungkan hidup kita pada kekuatan di 

luar diri, tapi jadikan diri sendiri sebagai pelindung 

yang sesungguhnya. Laksanakan Sila (latihan moralitas), 

Samadhi (meditasi) dan Prajna (kebijaksanaan) sampai 

pada mencapai Sunyata (kekosongan).

Sering kali seekor kucing berjalan mantap dengan 

anggunnya bak putrini stana. Terkadang, berjalan de-

ngan berhati-hati, ataupun berlari-larian tidak jelas arah. 

Saat sedang santai, kucing akan melangkah tanpa 

beban, tidur tanpa peduli lingkungan sekitar, bermain 

sendiri dengan rumput dan lainnya. Hidup bebas tanpa 

ketakutan. 

namun , saat akan mencuri makanan, kucing menjadi 

sangat waspada, penuh curiga, dengan pandangan 

tajam, kuping peka, berjalan mengendap-ngendap meli-

hat kiri melihat kanan, penuh cemas dan was-was.

Bila mereka berdua atau banyakan, yang satu akan 

sibuk berjaga, yang lainnya akan mengambil kesem-

patan untuk mencuri. namun , masalah datang saat  

mereka hendak berbagi makanan curian, antara satu 

Kucing

dengan lainnya bisa ribut dan bertengkar. Jarang yang 

bisa makan bersama-sama dengan damai.

Kucing bisa merengek-rengek, memohon untuk dikasihani, 

sangat memelas, meminta welas asih kita, mengosok-

gosokan badannya ke kaki kita menandakan ia sayang 

kepada kita, menjilati kita agar memberikan kasih sa-

yang kepadanya. Saat kucing menemukan musuhnya 

atau saat akan bercinta, tingkat sensitivitas sangat tinggi, 

dan akan meraung-raung menakutkan. Cakar tajamnya 

siap mencakar siapapun yang ditemuinya. 

Demikian juga saat akan melahirkan, suara kucing akan 

terdengar pilu yang menyayat hati. sesudah  menjadini bu, 

kucing akan melindungi anak-anaknya dengan protektif 

dan kewaspadaan tinggi, menyusui dan merawatnya, me-

mindahkan anak-anaknya ke tempat yang aman. 

namun , bila ada tangan jahil manusia yang menyentuh 

anaknya, sang ibu pun tidak akan mengakui anaknya 

sebagai anaknya lagi, lantas membuang dan mencam-

pakkannya. sesudah  anak-anaknya besar dan dapat ber-

diri sendiri, kucing pun akan meninggalkan mereka untuk 

kembali hidup di dunianya sendiri.

Kucing binatang yang unik dan menjadi binatang mi-

tos bangsa tertentu, yang dihubungkan dengan misteri 

tertentu. Ia bisa jatuh dari ketinggian dengan posisi 

tetap berdiri tanpa terluka, dan kucing dapat mengobati 

dirinya sendiri.

Inilah sifat kucing. Ambil sifat yang baik. Yang tidak 

baik jangan ditiru dan silahkan dibuang, dan jangan 

sampai kita dijuluki kucing  garong.

Yang salah bukan pilihannya. Yang salah yaitu  pikiran 

dan sifat orang yang memilihnya, yang tidak pernah memi-

liki rasa puas dan bersyukur dengan apa yang telah dida-

patkannya. Dari pada memilih lagi, lebih baik menjaga apa 

yang telah ada, merawat yang telah terja lin, dan memper-

baiki sesuatu yang perlu diperbaiki.

Saat menjalani hidup ini harus menyadari konsep: 

“Tiada orang yang seratus persen baik di dunia ini, 

dan sebaliknya tidak ada orang yang seratus persen 

jahat di dunia ini.”

Siapapun ia, maka pertobatan dan tekad untuk meng-

ubah segala perbuatan tidak baik yang dijalani dengan 

ketulusan itu akan memiliki kekuatan baginya dalam 

menjalani hidupnya.

Kata ‘baik’ dan ‘tidak baik’ hanyalah pelabelan, banyak 

orang baik yang belum ketahuan ‘kejahatan’nya. Dan 

orang yang dicap jahat hanya sebab  kebetulan ‘keta-

huan’ perbuatannya. Banyak dari mereka yang dikata-

kan ‘orang jahat’ dan kemudian menyesal. namun  lebih 

ba-nyak lagi ‘orang baik’ yang tidak menyesali perbua-

tan jahatnya sebab  merasa masih di ‘level aman’.

Baik dan Buruk

Permainan ‘baik’ dan ‘buruk’ hanyalah permainan penja-

hat dan polisi. Yang diperankan silih berganti oleh orang 

yang sama.

Sesungguhnya kita sendiri yang paling tahu semua per-

buatan kita, dan kita sendiri yang harus bertanggung 

jawab dengan semua perbuatan itu.

Mereka yang menabur kebaikan akan mendapatkan hasil 

yang jauh lebih baik, walaupun banyak ilalang dan para-

sit yang mengerogotinya. Mereka yang menabur kejahat-

an tidak akan menuai hasil yang baik, walau terkadang 

tetap ada beberapa tanaman bagus yang tumbuh di 

tengah-tengah semak belukar.

 

 Semoga kegelapan di hati berangsur-angsur men-

jadi terang, menyadarkan kita bahwa kehidupan tidak 

selamanya gelap, dan biarlah sinar kebijaksanaan mem-

berikan pancaran kebahagiaan bagi semua orang, agar 

semuanya mampu menjalani hidupnya, dan dapat me-

nyadari peranannya di dunia yang penuh dengan sandi-

wara ini.

sesudah  melalui keributan yang sangat hebat sepasang 

suamini steri, datang menghadap kepada Master Zen 

untuk meminta pencerahan.

Suami berkata, “Master, kami sudah lama menikah, 

anak-anak pun sudah besar, namun  rumah tangga kami 

selalu dirundung masalah, keributan dan ketidakcocok-

an selalu terjadi setiap hari.  Saya sebagai suami 

ingin bercerai dengan isteri saya, dan hendak mencari 

pasangan hidup yang baru, mohon pencerahan dari 

Master.”

Sang Isteri tidak mau kalah berkata, “Master yang 

bijaksana, bagaimana saya tidak sabar, setiap hari 

perlakuan suami saya kasar, tidak peduli dengan anak-

anak, saya dengan tulus mengurus semua keperluan 

rumah tangga. Menyiapkan semuanya untuk suami dan 

anak-anak tercinta dengan penuh kesabaran, melayani 

suami tanpa pamrih, dan saya selalu setia menemani 

suami saya walau dengan air mata dan hati yang ter-

luka setiap hari, kerena pada dasarnya ia tidak setia, 

mana pernah senang berada di rumah. Saya ingin ber-

cerai, bagaimana pendapat Master?”

Master Zen berkata: ”Apapun keputusan yang kalian 

ambil, SEMUA HANYA AKAN MENJADI PENYESALAN. 

Silakan pulang dengan bahagia”. 

Mereka tidak puas, dan bertanya: ”Mengapa demikian?”

Master Zen pun berkata, ”bila saya menyetujui kalian 

bercerai, maka kamu sebagaini steri, akan menderita, se-

tiap saat bermandikan air mata PENYESALAN, selama 

ini telah hidup bersama dalam suka duka, membesarkan 

anak dengan susah payah, sebab  hal-hal NEGATIF 

yang selalu terlihat melupakan hal yang POSITIF dari 

suamimu kemudian bercerai dan harus menghadapi se-

gala persoalan sendiri, mengerjakan semua sendiri, kamu 

akan selalu menyalahkan diri sendiri. Kamu akan selalu 

berpikir tentang semua kekuranganmu dan akan MENYE-

SALI perceraian ini. Mengapa dahulu tidak mau berubah, 

mengapa tidak lebih sabar menghadapi suami dan me-

maafkan semua kesalahannya, mengapa tidak mencoba 

memperbaiki hubungan ini dan memberikan perhatian 

yang lebih kepadanya.”

Master ini  melanjutkan, ”kamu sebagai suami, 

mungkin akan memperoleh kebahagiaan yang baru 

dengan pilihanmu sendiri, selama belum terjadi masalah 

baru, maka semua akan terlihat baik-baik saja, be-

narkah? Semua kondisi kehidupan memiliki dua sisi 

positif dan negatif, begitu muncul persoalan-persoalan 

dalam hidupmu yang baru, apakah kau tetap bahagia? 

Apakah tidak akan muncul PENYESALAN? Mengapa 

telah mengecewakan orang yang kau telah nikahi 

dan menemanimu selama ini, meninggalkan anak demi 

kepuasan sesaat. Masalah yang sama akan kembali 

hadir, dan masalahmu akan menjadi bertambah. Keke-

cewaan dan penyesalahan akan muncul di hari tuamu, 

melihat sikap benci yang terpancar dari anak-anakmu 

terhadap kamu, jadi PENYESALAN pasti akan ada.

”Bila aku mencegah kalian untuk tidak BERCERAI, 

maka PENYESALAN pun akan ada. sebab  kalian 

akan pulang sekarang, dan kemudian hari akan ter-

ulang semua hal yang sama, lalu kalian akan me-

nyalahkan saya sebab  tidak mencegah kalian untuk 

bercerai. Kalian tetap tidak akan puas, sebab  dalam 

pikiran kalian hanya ada KATA CERAI, tidak ada kata 

BERUBAH. Bahkan kata CINTA pun telah lenyap dari 

pikiran kalian, dan yang pasti kalian tetap hidup dalam 

KETIDAKPUASAN, dan tidak ada jalan keluarnya”

”PULANGLAH DENGAN BAHAGIA!”

Tapi renungkanlah pesan ini, ”kebanyakan orang TIDAK 

PUAS dengan apa yang telah DIPILIHNYA.”

“saat  kalian memilih seseorang untuk menjadi pen-

damping hidup kalian, tentu melewati proses yang tidak 

mudah. Bila semua berjalan baik-baik saja, hidup ka-

lian akan bahagia, namun  begitu muncul segala macam 

masalah, maka pikiran yang muncul yaitu  SEANDAI-

NYA...., SEHARUSNYA...., BILA PADA AWALNYA... se-

mua akan membawa ingatan kalian pada pilihan yang 

dulu telah tersedia. Dan kalian akan menyalahkan ke-

adaan, menyalahkan kondisi, menyalahkan diri sendiri. 

Mengapa memilihnya, tidak memilih yang satunya?”

”Sama seperti memilih untuk membeli barang dari ter-

sedianya pilihan, saat  kita mengambil keputusan untuk 

membelinya, dan kemudian terjadi KETIDAKPUASAN, 

maka akan segera berpikir seandainya dulu saya me-

milih yang satunya.”  Padahal, bila kita memilih pilihan 

yang lain itu sendiri, belum tentu juga bahagia, pasti 

akan kembali terulang hal yang sama, sebab  pada 

dasarnya sifat KETIDAKPUASAN itu selalu ada dalam 

pikiran kita.”

”Yang salah bukan pilihannya. Yang salah yaitu  

PIKIRAN dan SIFAT orang yang memilihnya, yang tidak 

pernah memiliki rasa PUAS dan BERSYUKUR dengan 

apa yang telah didapatkannya. Dari pada memilih lagi, 

lebih baik menjaga apa yang telah ada, merawat yang 

telah terjalin, dan memperbaiki sesuatu yang perlu 

diperbaiki.”

”Jadi Pulanglah dengan BAHAGIA, BERCERAILAH 

dengan BAHAGIA, atau Kembalilah bersama-sama 

membina RUMAH TANGGA YANG BAHAGIA. Saranku 

CARILAH KEBAHAGIAAN bukan PENDERITAAN.”

Pembaca semua, marilah kembali pada penilaian 

masing-masing, kebijaksanaan masing-masing. Seorang 

Master Zen yang hebat sekalipun tidak dapat menentu-

kan kebahagiaan anda, sebab  anda sendiri yang dapat 

membuat diri anda BAHAGIA.

Mau bahagia atau mau menyesal? 

Penyesalan selalu datang belakangan, kalau datang di 

muka namanya Pendaftaran.

Diceritakan kembali secara bebas oleh: Sakya Sugata.


Aku yaitu  sebuah cincin kawin. Sejak lahir, aku sudah 

dipasangkan dengan pasanganku dan disatukan dalam 

kotak perhiasan yang indah. Kami dipajang di toko 

perhiasan sampai kami menemukan mereka yang berjo-

doh dengan kami, dan jadilah kami sebagai pelengkap 

jari manis mereka. Demikian juga dengan saudaraku 

yang lain, mereka mengharapkan ada sepasang muda-

mudi yang sedang jatuh cinta dan akhirnya melanjutkan 

dalam jenjang pernikahan, memilih saudaraku sebagai 

saksi bisu cinta mereka dan menemani sampai usia 

mereka telah senja. Tentunya inilah harapan kami para 

cincin. 

Selama aku berada di toko perhiasan ini, telah banyak 

saudaraku yang meninggalkan kami dan menjadi pen-

damping hidup para mempelai yang menikah. Walau 

banyak sekali cerita yang ada, saudara kami sering 

saat  Cincin Bicara

63

masuk ke pegadaian sebab  mereka terpaksa harus 

dilelang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga pemi-

liknya. Ada juga berita dari para cincin yang telah senior 

saat  mereka berkunjung ke toko ini. Mereka memberi 

semangat kepada kami semua untuk selalu tabah dan 

bersabar dalam menghadapi siapapun yang menjadi pe-

milik kami kemudian. Mereka mengatakan bahwa perni-

kahan tidak seindah yang ada di film, maupun buku-

buku percintaan. Banyak sekali kejadian-kejadian yang 

tidak akan habis untuk dibuat sinetron khusus untuk 

para cincin. Pokoknya para cincin senior kami selalu 

bercerita panjang lebar tentang kehidupan para cincin, 

kami hanya menjadi pendengar yang baik.

Sampai akhirnya aku dengan pasanganku merasakan 

sendiri apa itu perjalanan hidup yang baru bagi sepa-

sang cincin kawin. Aku tahu setiap manusia memiliki 

perasaan. Apalagi urusan cinta, siapa yang tidak per-

nah merasakannya? Dalam kehidupan ini, perasaan dan 

permainan cinta semua muncul dengan sendirinya. Ber-

langsung dan mungkin berakhir dalam suatu pernyataan, 

baik itu yang menyenangkan atau menyedihkan. Aku 

sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan diri kami 

kemudian. Kami para cincin yang selalu setia pada maji-

kan yang memiliki kami, akan selalu menemani sampai 

akhir hayat mereka.

Yang aku tahu, semua orang memiliki kesempatan yang 

sama untuk mencintai dan dicintai. Semua ada dalam 

proses perjalanan menemukan pasangan yang cocok 

dengan dirinya, yang kemudian berlanjut dalam masa-

masa penjajakan, pacaran, pertunangan, sampai pada 

jenjang pernikahan. Dan tidak ada orang yang bisa 

ikut campur dalam masalah perasaan, apalagi per-

mainan perasaan. Manusia membutuhkan kematangan 

dalam berpikir, bertindak dan menyelesaikan masalah-

nya sendiri. Apalagi kami benda kecil yang kerjanya 

hanya melingkar di jari manis, dan selalu bersikap 

manis tentu tidak bisa berbuat dan berkata apa-apa. 

Sejak seseorang sudah merasa mantap memilih dan 

mengambil keputusan untuk bersama dengan kekasih 

yang diyakini akan menjadi pendamping hidupnya, sam-

pai pada tahapan itulah aku telah melingkarkan diriku 

di jari manisnya. 

Artinya sebuah ‘perjanjian dan ikatan’ telah di mulai. 

Makanya disebut dengan memulai hidup baru, memulai 

sesuatu yang baru, memulai dengan menyatukan dua 

kebiasaan yang berbeda, dua keluarga yang berbeda, 

menyatukan persepsi dan jalan hidup yang berbeda 

menjadi selaras, harmonis, dan serasi. Padahal sejak 

saat itu aku telah terpisah dengan pasangan hidupku, 

sebab  aku melingkar di jari manis pengantin wanita, 

dan pasanganku melingkar di jari manis pengantin 

laki-laki. Sesungguhnya tugas kami yaitu  mengingat-

65

kan para mempelai bahwa ada kekuatan cinta kasih di 

dalam diriku yang membuat mereka menjadi satu dalam 

kesetiaan. 

Banyak yang bilang, sebab  diriku memiliki simbol dan 

makna yang menurut versi manusia yaitu  mengikat 

seseorang untuk tetap setia, mengikat seseorang untuk 

menyatakan selalu bersama sampai kapan pun dalam 

mengarungi bahtera rumah tangganya.

Menurut cerita para sesepuh kami para cincin, jaman 

dulu masih sering terlihat orang dengan bangga me-

makai mereka sampai akhir hidupnya. Mereka pun de-

ngan bangga menemai pemiliknya dengan setia di liang 

kubur atau hangus bersama kremasi jasad pemiliknya.

Saat kami yang lahir sebagai generasi jaman belakang-

an, mengapa sudah jarang terlihat mereka yang telah 

menikah membiarkan kami menghiasi jarinya. Fenomena 

apa yang terjadi belakangan ini? Mungkin sebab  kami 

merupakan benda yang dianggap historikal, benda ber-

harga yang harus dijaga agar jangan sampai hilang. 

Dan banyak yang menyimpan kami baik-baik di tempat 

yang aman. Akhirnya, banyak di antara kami menjadi 

penghuni safety box, lemari pakaian para pemilik kami, 

yang kemudian makna di balik kehadiran kami sendiri 

menjadi samar.

Sebagian orang berpendapat, kami mengingatkan mere-

ka pada janji yang dibacakan pada saat mereka 

menikah, mengingatkan pasangan sebagai suamini steri 

yang harus saling setia dan menjaga. Dan, yang pen-

ting