delusi tuhan 16
lam konstitusi di antara gereja dengan negara,
orang tua ateis biasanya mengikuti arus dan membiarkan sekolah mengajarkan anaknya kepercayaan
apa pun yang dominan di kebudayaan itu. ‘The-Brights.net’ (suatu prakarsa Amerika untuk
menamakan ulang ateis sebagai Brights secara yang sama dengan cara para homoseksual berhasil
menamakan ulang dirinya sendiri sebagai ‘gay’) taat dalam menetapkan peraturan jika anak-anak
ingin bergabung. ‘Keputusan untuk menjadi seorang Bright harus diambil oleh anak. Anak siapa
pun yang diberi tahu bahwa dia wajib, atau harus, menjadi seorang Bright TIDAK bisa menjadi
seorang Bright.’ Bisakah Anda mulai membayangkan sebuah gereja atau masjid yang
mengeluarkan peraturan yang begitu menyangkal-diri? Tetapi bukankah mereka harus terpaksa
berbuat demikian? Kebetulan, saya bergabung dengan para Bright, sebagian karena saya
sungguh ingin tahu apakah kata seperti itu dapat direkayasa secara memetik ke dalam bahasa.
Saya tidak tahu, dan ingin tahu, apakah transmutasi ‘gay’ direkayasa dengan sengaja atau hanya
terjadi begitu saja.150 Kampanye Brights mulai dengan kurang mantap ketika dikecam dengan
marah sekali oleh ateis-ateis tertentu, takut sekali dianggap ‘arogan’. Gerakan Gay Pride,
untungnya, tidak menunjukkan kerendahan hati palsu seperti itu, dan mungkin itu alasan itu
berhasil.
Di salah satu bab sebelumnya, saya membahas tema ‘kebangkitan kesadaran’ secara
umum, bermula dari prestasi para feminis dalam membuat kita kurang nyaman ketika mendengar
frasa seperti ‘men of goodwill’ daripada ‘people of goodwill’. Di sini saya ingin membangkitkan
kesadaran dengan cara lain. Saya berpikir kita semua seharusnya kurang nyaman ketika kita
mendengar seorang anak kecil dilabeli sebagai anggota salah satu kepercayaan . Anak-anak kecil terlalu
muda untuk memutuskan pandangan mereka mengenai asal-usul kosmos, kehidupan dan
moralitas. Bunyi dari frasa ‘anak junjungan kristen ’ atau ‘anak Muslim’ saja seharusnya mengganggu
seperti kuku mencakar papan tulis.
Berikut ada suatu laporan, tertanggal 3 September 2001, dari acara Irlandia Aires di
stasiun radio Amerika KPFT-FM.
Gadis-gadis sekolah Katolik menghadapi unjuk rasa dari para Loyalis saat
mereka berusaha untuk memasuki SD Gadis Holy Cross di Ardoyne Road di
Belfast Utara. Polisi Ulster dan prajurit Angkatan Darat Britania harus
menyingkirkan pengunjuk rasa yang berusaha memblokade sekolahnya.
Pembatas-pembatas dibangun untuk membiarkan anak-anak itu melewati
pengunjuk rasa dan masuk sekolahnya. Para Loyalis mengejek dan meneriakkan
omelan sektarian sambil anak-anak itu, beberapa baru berusia 4 tahun,
didampingi oleh orang tuanya ke dalam sekolah. Sambil anak-anak dan orang
tua memasuki pagar depan sekolahnya para Loyalis melempar botol dan batu.
Tentu, orang baik siapa pun akan kurang nyaman mendengar kesusahan gadis-gadis
sekolah yang malang ini. Saya ingin membuat kita juga kurang nyaman mengenai ide melabeli
mereka ‘gadis-gadis Katolik’. (‘Loyalis’, sebagaimana saya tunjukkan di Bab 1, yaitu
eufemisme bacul Irlandia Utara untuk Protestan, sama seperti ‘Nasionalis’ yaitu eufemisme
untuk Katolik. Orang yang tanpa ragu melabeli anak ‘Katolik’ atau ‘Protestan’ tidak rela
menerapkan label kekepercayaan an yang sama – secara yang jauh lebih cocok – kepada teroris dan
massa yang dewasa.)
Masyarakat kita, termasuk sektor yang tidak religius, telah menerima ide konyol bahwa
mengindoktrinasi anak-anak yang masih sangat kecil ke dalam kepercayaan orang tuanya yaitu hal
yang biasa dan benar, dan melabeli mereka secara religius – ‘anak Katolik’, ‘anak Protestan’,
‘anak Yahudi’, ‘anak Muslim’, dst. – meskipun label yang lain yang serupa tidak boleh: tidak
ada anak konservatif, anak liberal, anak Republikan, anak Demokrat. Tolong, tolong bangkitkan
kesadaran Anda mengenai hal ini, dan bersuaralah kapan pun Anda mendengar hal ini terjadi.
Seorang anak bukan anak junjungan kristen , bukan anak Muslim, melainkan anak dari orang tua junjungan kristen
atau anak dari orang tua Muslim. Sebutan baru ini akan menjadi pembangkit kesadaran yang luar
biasa bagi anak-anak itu sendiri. Seorang anak yang diberi tahu bahwa dia yaitu ‘anak orang tua
Muslim’ akan langsung menyadari bahwa kepercayaan yaitu suatu untuk dipilih – atau ditolak – saat
dia sudah cukup umur untuk melakukannya.
Dapat pula diajukan dengan baik pengajaran kepercayaan komparatif. Tentu saja keraguan saya
sendiri pertama kali dibangkitkan, pada usia sekitar 9, oleh pelajaran (yang tidak berasal dari
sekolah tetapi dari orang tua saya) bahwa kepercayaan junjungan kristen yang di dalamnya saya dibesarkan
hanya merupakan salah satu dari banyak sistem kepercayaan yang tidak dapat disesuaikan satu
dengan yang lain. Para apologis religius sendiri menyadari akan hal ini yang sering menakutkan
bagi mereka. Setelah cerita pementasan kelahiran junjungan kristen di Independent, tidak ada sepucuk pun
surat dari pembaca yang mengeluh tentang pelabelan religius anak-anak berusia empat tahun.
Satu-satunya surat negatif berasal dari ‘Kampanye untuk Pendidikan Asli’, yang juru bicaranya,
Nick Seaton, berkata bahwa pendidikan religius lintas kepercayaan sangat berbahaya karena ‘Dewasa
ini, anak-anak diajarkan bahwa semua kepercayaan sama nilainya, yang berarti kepercayaan mereka sendiri
tidak bernilai secara khusus.’ Ya, memang; persis itu artinya. Juru bicara ini layak khawatir.
Pada kesempatan yang lain, individu yang sama berkata, ‘Mempresentasikan semua iman
sebagai sama-sama valid itu salah. Semua orang berhak untuk berpikir bahwa imannya superior
dibandingkan dengan yang lain, baik mereka Hindu, Yahudi, Muslim atau junjungan kristen – jika tidak,
buat apa beriman?’151
Memang, buat apa? Dan betapa blak-blakan omong kosong ini! Iman-iman ini tidak
dapat disesuaikan satu dengan yang lain. Jika sesuai buat apa menganggap iman Anda superior?
Mengikuti logika itu, kebanyakan tidak bisa ‘superior dibandingkan dengan yang lain’. Biarkan
anak-anak mempelajari iman-iman yang berbeda, biarkan mereka menyadari akan
ketidaksesuaiannya, dan biarkan mereka menarik kesimpulannya sendiri mengenai konsekuensi
ketidaksesuaian itu. Mengenai apakah mereka ‘valid’ biarkan anak-anak itu memutuskan sendiri
saat mereka cukup umur untuk melakukannya.
PENDIDIKAN kepercayaan SEBAGAI BAGIAN DARI BUDAYA SASTRA
Saya harus mengakui bahwa saya sendiri agak terkejut melihat ketidaktahuan mengenai
Alkitab yang sering diperlihatkan oleh orang yang dididik di dekade-dekade setelah saya. Atau
mungkin itu bukan masalah dekade. Bahkan di 1954, menurut Robert Hinde dalam bukunya
yang bijaksana, Why Gods Persist, suatu jajak pendapat Gallup di Amerika Serikat menemukan
yang berikut. Tiga per empat orang Katolik dan Protestan tidak mampu menyebut satu pun nama
nabi Perjanjian Lama. Lebih dari dua per tiga tidak tahu siapa yang memberi Khotbah di atas
Bukit. Sejumlah cukup besar mengira bahwa Musa yaitu salah satu dari dua belas rasul junjungan kristen ,
Itu, saya ulangi, terjadi di Amerika Serikat, yang jauh lebih religius daripada bagian lain dari
dunia maju.
Alkitab Raja James dari 1611 – Versi Berotoritas – mengandung tulisan yang luar biasa
unggul sebagai sastra sendiri, misalnya Kidung Agung, dan Pengkhotbah yang luar biasa indah
(yang kata orang lumayan baik dalam bahasa Ibrani asli juga). Tetapi alasan utama Alkitab
Bahasa Inggris harus menjadi bagian dari pendidikan kita yaitu karena buku itu merupakan
sumber utama untuk budaya sastra. Hal yang sama berlaku untuk legenda-legenda mengenai
dewa-dewi Yunani dan Romawi, dan kita belajar tentang semua legenda itu tanpa disuruh untuk
percaya. Berikut ada daftar singkat frasa dan kalimat dari Alkitab atau yang terinspiriasi dari
Alkitab yang sering muncul di sastra dan percakapan bahasa Inggris, dari puisi sangat bagus
hingga klise basi, dari perumpamaan hingga gosip.
Be fruitful and multiply • East of Eden • Adam’s Rib • Am I my brother’s
keeper? • The mark of Cain • As old as Methuselah • A mess of pottage • Sold
his birthright • Jacob’s ladder • Coat of many colours • Amid the alien corn •
Eyeless in Gaza • The fat of the land • The fatted calf • Stranger in a strange
land • Burning bush • A land flowing with milk and honey • Let my people go •
Flesh pots • An eye for an eye and a tooth for a tooth • Be sure your sin will find
you out • The apple of his eye • The stars in their courses • Butter in a lordly
dish • The hosts of Midian • Shibboleth • Out of the strong came forth sweetness
• He smote them hip and thigh • Philistine • A man after his own heart • Like
David and Jonathan • Passing the love of women • How are the mighty fallen? •
Ewe lamb • Man of Belial • Jezebel • Queen of Sheba • Wisdom of
Solomon • The half was not told me • Girded up his loins • Drew a bow at
a venture • Job’s comforters • The patience of Job • I am escaped with
the skin of my teeth • The price of wisdom is above rubies • Leviathan •
Go to the ant thou sluggard; consider her ways, and be wise • Spare the
rod and spoil the child • A word in season • Vanity of vanities • To
everything there is a season, and a time to every purpose • The race is
not to the swift, nor the battle to the strong • Of making many books there
is no end • I am the rose of Sharon • A garden inclosed • The little foxes •
Many waters cannot quench love • Beat their swords into plowshares •
Grind the faces of the poor • The wolf also shall dwell with the lamb, and
the leopard shall lie down with the kid • Let us eat and drink; for
tomorrow we shall die • Set thine house in order • A voice crying in the
wilderness • No peace for the wicked • See eye to eye • Cut off out of the
land of the living • Balm in Gilead • Can the leopard change his spots? •
The parting of the ways • A Daniel in the lions’ den • They have sown the
wind, and they shall reap the whirlwind • Sodom and Gomorrah • Man
shall not live by bread alone • Get thee behind me Satan • The salt of the
earth • Hide your light under a bushel • Turn the other cheek • Go the
extra mile • Moth and rust doth corrupt • Cast your pearls before swine •
Wolf in sheep’s clothing • Weeping and gnashing of teeth •Gadarene
swine • New wine in old bottles • Shake off the dust of your feet • He that
is not with me is against me • Judgement of Solomon • Fell upon stony
ground • A prophet is not without honour, save in his own country • The
crumbs from the table • Sign of the times • Den of thieves • Pharisee •
Whited sepulchre • Wars and rumours of wars • Good and faithful
servant • Separate the sheep from the goats • I wash my hands of it • The
sabbath was made for man, and not man for the sabbath • Suffer the little
children • The widow’s mite • Physician heal thyself • Good Samaritan •
Passed by on the other side • Grapes of wrath • Lost sheep • Prodigal son
• A great gulf fixed • Whose shoe latchet I am not worthy to unloose •
Cast the first stone • Jesus wept • Greater love hath no man than this •
Doubting Thomas • Road to Damascus • A law unto himself • Through a
glass darkly • Death, where is thy sting? • A thorn in the flesh • Fallen
from grace • Filthy lucre • The root of all evil • Fight the good fight • All
flesh is as grass • The weaker vessel • I am Alpha and Omega •
Armageddon • De profundis • Quo vadis • Rain on the just and on the
unjust
Setiap idiom, frasa atau klise ini berasal langsung dari Alkitab Versi Berotoritas Raja
James. Tentu ketidaktahuan mengenai Alkitab akan memiskinkan apresiasi seseorang mengenai
sastra Inggris? Dan tidak hanya sastra yang serius dan berat. Sajak berikut oleh Lord Justice
Bowen sangat lucu:
Hujan mengguyur orang adil
Dan juga orang tidak adil
Tapi terutama pada orang adil, karena
Orang tidak adil memegang payung orang adil.
Tetapi kenikmatannya berkurang jika Anda tidak menangkap alusinya pada Matius 5: 45
(‘Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik
dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar’). Dan pokok lelucon
fantasi Eliza Dolittle di My Fair Lady akan luput dari perhatian siapa pun yang tidak tahu
mengenai kematian Yohanes Pembaptis:
‘Terima kasih, Raja’ kataku secara sopan,
Tapi aku hanya menginginkan kepala Henry Higgins.’
P.G. Wodehouse yaitu , menurut saya, penulis komedi ringan terbaik dalam bahasa Inggris, dan
saya bertaruh bahwa separuh pun frasa-frasa Alkitab di daftar akan ditemukan sebagai alusi
dalam buku-bukunya, (Namun, suatu pencarian Google tidak akan menemukan semuanya.
Google tidak akan mendapat turunan judul cerpen ‘The Aunt and the Sluggard’ dari Amsal 6: 6.)
Kanon Wodehouse kaya akan frasa-frasa Alkitab yang lain yang tidak termasuk di daftar saya di
atas dan tidak digabungkan dalam bahasa sebagai peribahasa atau perumpamaan. Dengar
deskripsi Bertie Wooster mengenai bagaimana rasanya bangun setelah terlalu mabuk semalam:
‘Aku bermimpi ada yang menukul patok ke dalam otakku – bukan hanya patok biasa,
sebagaimana digunakan oleh Yael, isteri Heber, tetapi yang panas sekali.’ Bertie sendiri sangat
bangga akan satu-satunya prestasi akademik, penghargaan yang pernah dia raih karena
pengetahuan Alkitab.
Apa yang benar mengenai tulisan komik dalam bahasa Inggris lebih jelas benar mengenai
sastra serius. Perhitungan Naseeb Shaheen mengenai lebih dari 1300 rujukan pada Alkitab dalam
karya-karya Shakesepare dikutip secara luas dan sangat dapat dipercayai.152 Bible Literacy
Report yang diterbitkan di Fairfax, Virginia (yang memang didanai oleh Yayasan Templeton
yang terkenal itu) memberi banyak contoh, dan mengutip persetujuan mayoritas besar guru sastra
Inggris bahwa pengetahuan Alkitab itu esensial untuk apresiasi penuh akan subjeknya.153 Tak
teragukan hal yang sama benar mengenai sastra Prancis, Jerman, Rusia, Italia, Spanyol, dan
sastra Eropa besar yang lain. Dan, untuk penutur bahasa-bahasa Arab dan India, pengetahuan
Alquran atau Bhagawadgita kiranya sama esensial untuk apresiasi penuh akan warisan sastranya.
Akhirnya, untuk menutup daftar ini, seorang tidak bisa mengapresiasi Wagner (musiknya, pernah
dikatakan dengan lucu, lebih baik dari kesannya jika didengar) tanpa sedikit mengenal para dewa
Norse.
Saya tidak perlu terlalu menekankan poin ini. Besar kemungkinan saya sudah
mengatakan cukup untuk meyakinkan setidaknya pembaca saya yang lebih tua bahwa suatu
pandangan dunia ateistik bukan justifikasi untuk mencerabut Alkitab, dan kitab-kitab suci lain,
dari pendidikan kita. Dan tentu saja kita bisa mempertahankan suatu kesetiaan sentimental
kepada tradisi-tradisi budaya dan sastra, misalnya, Yudaisme, Angklianisme atau Islam, dan
bahkan ikut serta dalam ritual kekepercayaan an seperti pernikahan dan pemakaman, tanpa menerima
kepercayaan supernatural yang secara historis menjadi satu paket dengan tradisi-tradisi itu. Kita
bisa melepaskan kepercayaan akan pencipta sambil tidak terputus dari warisan yang berharga.
BAB 10
SUATU CELAH YANG SANGAT DIBUTUHKAN?
Apa yang lebih menggetarkan jiwa daripada memandang melalui sebuah teleskop 100-inci pada
suatu galaksi yang jauh, memegang sebuah fosil yang usianya 100 juta tahun atau alat batu
yang usianya 500.000 tahun di tangan, berdiri di hadapan jurang ruang dan waktu dahsyat yang
dinamakan Grand Canyon atau mendengar seorang ilmuwan yang menatap muka ciptaan alam
semesta dan tidak sekejap pun berkedip? Itulah ilmu pengetahuan yang mendalam dan suci.
–MICHAEL SHERMER
‘Buku ini mengisi suatu celah yang sangat dibutuhkan.’ Lelucon itu berhasil karena kita
sekaligus memahami dua maknanya yang bertolak belakang. Kebetulan, saya mengira itu lelucon
rekaan saya, tetapi saya kaget melihat bahwa sudah pernah digunakan secara tulus oleh penerbit.
Lihat www.amazon.co.uk/Tel-Quel-Reader-Patrick-Ffrench/dp/0415157145 untuk sebuah buku
yang ‘mengisi suatu celah yang sangat dibutuhkan di literatur yang ada mengenai gerakan
pascastrukturalis’. Sepertinya cocok sekali bahwa buku yang diakui tidak perlu ada ini tentang
Michel Foucault, Roland Barthes, Julia Kristeva, dan ikon-ikon lain kepalsuan tinggi berbahasa
Prancis.
Apakah kepercayaan mengisi suatu celah yang sangat dibutuhkan? Sering dikatakan bahwa ada
celah berbentuk pencipta di otak yang perlu diisi: kita memiliki suatu kebupencipta psikologis untuk
pencipta – teman imajinasi, ayah, kakak, pendengar konfesi, penjaga rahasia – dan kebupencipta itu
harus dipenuhi apakah pencipta sebenarnya ada atau tidak. Tetapi mungkinkah pencipta mengotori
suatu celah yang sebaiknya kita isi dengan hal lain? Ilmu pengetahuan, barangkali? Seni?
Persahabatan manusia? Humanisme? Cinta akan hidup ini di dunia nyata, tanpa mengindahkan
hidup-hidup lain setelah kematian? Cinta akan alam, atau apa yang disebut entomolog besar E.O.
Wilson sebagai Biophilia?
kepercayaan di berbagai masa dianggap mengisi empat peran utama dalam hidup manusia:
penjelasan, himbauan, penghiburan, dan inspirasi. Secara historis, kepercayaan bercita-cita untuk
menjelaskan eksistensi kita sendiri dan kodrat alam semesta tempat kita kebetulan ada. Dalam
peran ini kepercayaan kini didahului secara menyeluruh oleh ilmu pengetahuan, dan saya sudah
membahas persoalan itu di Bab 4. Dengan himbauan saya memaksudkan ajaran moral dan
bagaimana kita harus berperilaku, dan saya membahas hal itu di bab 6 dan 7. Sampai saat ini
saya belum secara memadai membahas penghiburan dan inspirasi, dan di bab terakhir ini saya
akan membahasnya secara singkat. Sebelum membahas penghiburan itu sendiri, saya ingin mulai
dengan fenomena masa kanak-kanak ‘teman imajinasi’, yang saya percaya memiliki kesamaan
dengan kepercayaan religius.
BINKER
Christopher Robin, saya kira, tidak percaya bahwa Piglet dan Winnie the Pooh sungguh
berbicara dengannya. Tetapi apakah Binker berbeda?
Binker – aku menyebutnya begitu – yaitu rahasiaku,
Dan Binker alasannya aku tak pernah merasa sepi.
Bermain di kamar, duduk di tangga,
Apa pun kesibukanku, Binker akan ada.
Ayah memang cerdas, dia lelaki yang cerdas,
Dan Ibu yang terbaik sejak dunia bermula,
Dan Nenek yaitu Nenek, dan aku menyebutnya Nek –
Tapi mereka tak bisa melihat Binker.
Binker selalu berbicara, karena aku yang mengajarkannya
Terkadang dia melakukannya dengan suara cicit yang lucu,
Dan terkadang dia melakukannya dengan raungan dahsyat...
Dan aku harus melakukannya untuknya karena kerongkongannya parau.
Ayah memang cerdas, dia lelaki yang cerdas,
Dan Ibu tahu semua yang orang bisa tahu,
Dan Nenek yaitu Nenek, dan aku menyebutnya Nek –
Tapi mereka tak Mengenal Binker.
Binker berani bagai singa saat kami lari di taman;
Binker berani bagai harimau saat kami berbaring di kegelapan;
Binker berani bagai gajah. Dia tak pernah menangis...
Kecuali (seperti orang lain) ketika matanya kena sabun.
Ayah memang Ayah, dia lelaki macam Ayah,
Dan Ibu memang se-Ibu ibu mana pun,
Dan Nenek tetap Nenek, dan aku menyebutnya Nek –
Tapi mereka tak Seperti Binker.
Binker tak rakus, tapi dia suka makan
Jadi aku harus berkata kepada orang saat memberi permen,
‘Binker ingin cokelat, jadi boleh aku ambil dua?’
Dan aku memakannya untuknya, karena giginya agak baru.
Aku sangat suka Ayah, tapi dia tak bisa bermain,
Dan aku sangat suka Ibu, tapi dia terkadang pergi,
Dan aku sering marah dengan Nenek saat dia ingin sisir rambutku...
Tapi Binker selalu Binker, dan pasti akan ada.
–A.A. MILNE, Now We Are Six *
Apakah fenomena teman imajinasi merupakan suatu ilusi yang lebih tinggi, dalam suatu
kategori yang berbeda dengan khayalan masa kanak-kanak pada umumnya? Pengalaman saya
sendiri tidak begitu membantu di sini. Seperti banyak orang tua, ibu saya menyimpan catatan
mengenai omongan saya saat kecil. Selain dari khayalan sederhana (kini aku manusia di Bulan ...
sebuah akselerator ... seorang Babilon) sepertinya saya menyukai khayalan tingkat kedua (kini
aku seekor burung hantu yang berpura-pura menjadi roda air) yang terkadang refleksif (kini aku
seorang anak kecil berpura-pura menjadi Richard). Saya tidak pernah sekali pun percaya bahwa
saya sebenarnya menjadi apa pun itu, dan saya berpikir hal itu biasanya benar mengenai
permainan khayalan masa kanak-kanak. Tetapi saya tidak memiliki seorang Binker. Jika
kesaksian dari dirinya yang dewasa dapat dipercayai, setidaknya beberapa anak-anak biasa yang
mempunyai teman imajinasi sungguh percaya bahwa mereka ada, dan, dalam kasus tertentu,
melihatnya sebagai halusinasi yang jernih. Saya menduga bahwa fenomena Binker masa kanak-
kanak mungkin merupakan model yang baik untuk memahami kepercayaan teistik dalam orang
dewasa. Saya tidak tahu apakah para psikolog pernah mengkajinya dari sudut pandang ini, tetapi
itu akan merupakan penelitian yang layak dilakukan. Teman dan penjaga rahasia, seorang Binker
seumur hidup: itu tentu saja satu peran pencipta – satu celah yang mungkin akan tersisa jika pencipta
* Direproduksi atas izin penerus A. A. Milne.
menghilang.
Seorang anak yang lain, seorang gadis, memiliki seorang ‘lelaki ungu kecil’, yang
terkesan baginya sebagai kehadiran nyata dan terlihat, yang mengejawantahkan dirinya, berkelip
dari udara, dengan suara berkerincing lembut. Dia mengunjunginya secara berkala, terutama
ketika dia merasa kesepian, tetapi dengan frekuensi yang menurun seiring dia makin dewasa.
Pada satu hari khusus sebelum dia masuk TK, lelaki ungu kecil itu mendatanginya, diiringi
kerincingnya yang biasa, dan menyatakan bahwa dia sudah tidak akan mengunjunginya. Ini
menyedihkan baginya, tetapi lelaki ungu kecil itu memberi tahu dia bahwa dia sedang tumbuh
besar dan tidak akan membutuhkannya di masa depan. Dia harus meninggalkannya sekarang,
supaya dia bisa mengawasi anak-anak yang lain. Dia berjanji bahwa dia akan kembali kepadanya
jika dia pernah sungguh membutuhkannya. Dia memang kembali kepadanya, bertahun-tahun
kemudian dalam mimpi, ketika dia mengalami krisis pribadi dan berusaha memutuskan apa yang
akan dia lakukan dengan hidupnya. Pintu kamarnya membuka dan sebuah gerobak penuh dengan
buku muncul, didorong ke dalam kamar oleh ... lelaki ungu kecil. Dia menafsirkan ini sebagai
nasihat bahwa dia harus masuk universitas – nasihat yang dia terima dan kemudian nilai baik.
Cerita itu hampir membuat saya menangis, dan membawa saya sedekat yang saya bisa pada
pemahaman akan peran penghiburan dan bimbingan pencipta -pencipta imajinasi dalam hidup orang.
Suatu entitas bisa ada hanya dalam imajinasi, namun masih terkesan sungguh nyata bagi anak,
dan masih memberi hiburan nyata dan nasihat baik. Barangkali lebih baik lagi: teman-teman
imajinasi – dan pencipta -pencipta imajinasi – memiliki semua waktu dan kesabaran untuk memberi
penuh perhatian kepada penderita. Dan mereka jauh lebih murah daripada psikiater atau konselor
profesional.
Apakah pencipta , dalam perannya sebagai penghibur dan konselor, berevolusi dari binker,
melalui semacam ‘pedomorfosis’ psikologis’? Pedomorfosis yaitu bertahannya ciri-ciri masa
kanak-kanak di usia dewasa. Anjing Pekines memiliki wajah pedomorfik: anjing dewasa terlihat
seperti anak anjing. Pedomorfosis yaitu pola yang diketahui dengan baik dalam evolusi,
diterima secara umum sebagai penting untuk perkembangan ciri-ciri manusia seperti jidat kita
yang menonjol dan rahang kita yang pendek. Para ilmuwan evolusi telah mendeskripsikan kita
sebagai kera remaja, dan tentu saja benar bahwa simpanse dan gorila remaja lebih menyerupai
manusia daripada yang dewasa. Apakah kepercayaan pada mulanya berevolusi melalui penundaan
bertahap, selama bergenerasi-generasi, atas momen dalam hidup ketika anak-anak melepaskan
binkernya – sama seperti kita memperlambat, dalam evolusi, pendataran jidat kita dan
penonjolan rahang kita?
Saya mengira, untuk alasan kelengkapan, kita harus mempertimbangkan kemungkinan
yang bertolak belakang dengan yang di atas. Daripada pencipta yang berevolusi dari binker
purbakala, bisakah binker berevolusi dari pencipta purbakala? Ini terkesan kurang mungkin bagi
saya. Saya terpicu untuk memikirkannya sambil membaca buku psikolog Amerika Julian Jaynes,
The Origin of Consciousness in the Breakdown of the Bicameral Mind, sebuah buku yang seaneh
judulnya. Buku itu bisa saja omong kosong belaka atau karya seorang genius, tidak mungkin di
tengah kedua kutub itu! Lebih mungkin yang pertama, tetapi saya ingin hati-hati.
Jaynes mencatat bahwa banyak orang mempersepsi proses pemikirannya sendiri sebagai
semacam dialog di antara ‘diri’ dan seorang protagonis batin lain di dalam otaknya. Dewasa ini
kita memahami bahwa kedua ‘suara’ itu milik kita sendiri – atau jika tidak kita dianggap sakit
jiwa. Hal ini terjadi, untuk sementara, kepada Evelyn Waugh. Bukan orang yang suka basa-basi,
Waugh berkata kepada temannya: ‘Sudah lama aku tidak melihatmu, tetapi sebenarnya aku
hanya melihat beberapa orang karena – kamu tahu? – aku gila.’ Setelah pemulihannya, Waugh
menulis sebuah novel, The Ordeal of Gilbert Pinfold, yang mendeskripsikan kurun halusinasi ini,
dan suara-suara yang dia dengar.
Usulan Jaynes yaitu , pada suatu saat sebelum 1000 SM orang pada umumnya tidak
menyadari bahwa suara kedua itu – suara Gilbert Pinfold – berasal dari diri mereka sendiri.
Mereka mengira suara Pinfold yaitu dewa atau pencipta : misalnya, Apollo, atau Asterte atau
Yahweh, atau, lebih mungkin, suatu dewa rumah tangga kecil, yang menawarkan nasihat atau
perintah. Jaynes bahkan meletakkan suara para dewa di hemisfer otak yang bersebelahan dari
hemisfer yang menguasai tuturan yang dapat didengar. ‘Perobohan pikiran dua-kamar’ yaitu ,
bagi Jaynes, suatu transisi historis. Ada momen dalam sejarah ketika orang tiba-tiba sadar bahwa
suara luar yang sepertinya mereka dengar sebenarnya yaitu suara batin. Jaynes bahkan
melangkah lebih jauh dan mendefinisikan transisi historis ini sebagai permulaan kesadaran
manusia.
Ada ukiran Mesir kuno mengenai dewa pencipta Ptah, yang mendeskripsikan berbagai
dewa lain sebagai variasi ‘suara’ atau ‘lidah’ Ptah. Terjemahan modern menolak ‘suara’ harfiah
itu dan menafsirkan para dewa lain sebagai ‘konsepsi terobjektifikasi dari pikiran [Ptah]’. Jaynes
mengabaikan pembacaan terdidik itu, dan lebih memilih menganggap serius makna harfiahnya.
Para dewa yaitu suara terhalusinasi yang berbicara di dalam otak orang. Jaynes lebih lanjut
mengemukakan bahwa dewa seperti itu berevolusi dari ingatan mengenai raja-raja mati, yang
masih, dalam arti tertentu, berkuasa atas subjeknya melalui suara terimajinasi di dalam otaknya.
Apakah Anda menganggap tesisnya masuk akal atau tidak, buku Jaynes cukup menarik untuk
layak disebut dalam sebuah buku mengenai kepercayaan .
Sekarang, ke kemungkinan yang saya angkat, meminjam dari Jaynes, untuk membangun
suatu teori bahwa pencipta dan binker berhubungan dalam perkembangannya, tetapi bertolak-
belakang dengan hubungannya dalam teori pedomorfosis. Usulan utama teori ini yaitu ,
perobohan pikiran dua kamar tidak terjadi tiba-tiba dalam sejarah, melainkan merupakan suatu
kemunduran progresif ke dalam masa kanak-kanak atas momen ketika suara halusinasi dan
khayalan disadari sebagai tidak nyata. Dalam semacam pembalikan atas hipotesis pedomorfosis,
para dewa terhalusinasi menghilang dari pikiran dewasa dulu, lalu ditarik mundur makin awal ke
dalam masa kanak-kanak, hingga saat ini mereka hanya bertahan dalam fenomena Binker atau
lelaki ungu kecil. Masalah dari versi teori ini yaitu ia tidak menjelaskan kenapa dewa dan pencipta
bisa tetap ada bagi orang dewasa saat ini.
Mungkin lebih baik untuk tidak menganggap para dewa sebagai leluhur binker, atau
sebaliknya, tetapi untuk melihat keduanya sebagai produk sampingan dari kecenderungan
psikologis yang sama. pencipta /dewa dan binker memiliki sebagai kesamaan kemampuannya untuk
menghibur, dan menjadi pendengar yang jelas untuk menguji ide-ide. Kita belum berjalan jauh
dari teori produk sampingan psikologis di Bab 5 mengenai evolusi kepercayaan .
PENGHIBURAN
Sudah waktunya untuk menghadapi peran penting pencipta dalam menghibur kita; dan
tantangan kemanusiaan, jika dia tidak ada, untuk menggantikannya dengan sesuatu. Banyak
orang yang mengaku bahwa besar kemungkinan pencipta tidak ada, dan bahwa dia tidak niscaya
untuk moralitas, masih menggunakan apa yang mereka sering anggap sebagai kartu truf: apa
yang dianggap sebagai kebupencipta psikologis atau emosional untuk suatu pencipta . Jika kepercayaan
dihilangkan, mereka menantang, apa yang akan menggantikannya? Apa yang bisa Anda
tawarkan kepada pasien yang sekarat, orang yang menangis berduka, para Eleanor Rigby
kesepian yang untuknya pencipta yaitu satu-satunya teman?
Hal pertama yang harus dikatakan sebagai balasan yaitu suatu yang seharusnya tidak
perlu dikatakan. Kemampuan kepercayaan untuk menghibur tidak membuat kepercayaan benar. Meskipun
kita membuat pengakuan besar; meskipun didemonstrasikan secara pasti bahwa kepercayaan
akan eksistensi pencipta sepenuhnya esensial bagi keadaan baik psikologis dan emosional manusia;
meskipun semua ateis yaitu orang neurotik dan putus asa yang terdorong untuk bunuh diri oleh
kecemasan kosmik persisten – tidak satu pun dari semua itu yang akan mengontribusikan bukti
sedikit saja bahwa kepercayaan religius itu benar. Mungkin itu yaitu bukti yang mendukung
kebaikan dalam meyakinkan diri bahwa pencipta ada, meskipun dia tidak ada. Sebagaimana sudah
saya sebut, Dennett, dalam Breaking the Spell, membedakan kepercayaan akan pencipta dari
kepercayaan akan kepercayaan: kepercayaan bahwa kepercayaan diinginkan; meskipun
kepercayaan itu sendiri palsu: ‘Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini! (Markus 9:
24). Orang beriman didorong untuk mengaku percaya, terlepas mereka yakin atau tidak.
Mungkin jika kita mengulangi sesuatu dengan cukup sering, kita akan berhasil meyakinkan diri
kita mengenai kebenarannya. Saya mengira kita semua mengenal orang yang menikmati ide
iman religius, dan tidak suka serangan terhadapnya, sementara mereka sungkan mengaku bahwa
mereka sendiri tidak memilikinya. Saya sedikit terkejut ketika menemukan suatu contoh bagus
sekali di Bab 2 buku pahlawan saya Peter Medawar, The Limits of Science: ‘Saya menyesali
ketidakpercayaan saya akan pencipta dan jawaban-jawaban religius pada umumnya, karena saya
percaya bahwa hal itu akan memberi kepuasan dan penghiburan kepada banyak orang yang
membutuhkannya jika mungkin dapat ditemukan alasan-alasan filosofis dan ilmiah yang baik
untuk percaya akan pencipta .’
Sejak membaca mengenai pembedaan Dennett, saya sempat menggunakannya berkali-
kali. Saya tidak berlebihan ketika saya berkata bahwa mayoritas orang ateis yang saya kenal
menyembunyikan ateismenya di belakang kedok kesalehan. Mereka sendiri tidak percaya akan
apa pun yang supernatural, tetapi tetap mempertahankan titik lunak untuk kepercayaan irasional.
Mereka percaya akan kepercayaan. Luar biasa betapa banyak orang sepertinya tidak mampu
membedakan di antara ‘X itu benar’ dan ‘Lebih baik jika orang percaya bahwa X itu benar’.
Atau mungkin mereka sebenarnya tidak tertipu oleh kekeliruan logika ini, tetapi hanya menilai
kebenaran tidak penting dibandingkan dengan perasaan manusia. Saya tidak ingin menghina
perasaan manusia. Tetapi sebaiknya kita jelas, dalam percakapan apa pun, mengenai hal yang
sedang kita bahas: perasaan, atau kebenaran. Keduanya bisa saja penting, tetapi keduanya tidak
sama.
Bagaimanapun, pengakuan hipotetis saya berlebihan dan keliru. Saya tidak mengetahui
bukti apa pun bahwa ateis memiliki kecenderungan umum terhadap keputusasaan yang cemas
dan tidak bahagia. Ada ateis yang bahagia. Ada juga yang sengsara. Serupa, ada orang junjungan kristen ,
Yahudi, Muslim, Hindu, dan Buddha yang sengsara, sedangkan ada juga yang bahagia. Mungkin
ada bukti statistik mengenai hubungan di antara kebahagiaan dengan kepercayaan (atau
ketidakpercayaan), tetapi saya ragu efek itu kuat ke arah mana pun. Pertanyaan yang saya anggap
lebih menarik yaitu , apakah ada alasan yang baik untuk depresi jika kita hidup tanpa pencipta .
Saya akan mengakhiri buku ini dengan berargumen, sebaliknya, bahwa kita mengatakan terlalu
sedikit jika hanya berkata bahwa seseorang bisa hidup secara bahagia dan terpenuhi tanpa kepercayaan
supernatural. Namun, saya harus memeriksa terlebih dahulu klaim-klaim kepercayaan untuk
menawarkan penghiburan.
Penghiburan (consolation), menurut Shorter Oxford Dictionary, yaitu peredaan
kesedihan atau gangguan mental. Saya akan membagi penghiburan menjadi dua tipe.
1. Penghiburan fisik langsung Seseorang yang terpaksa bermalam di gunung mungkin
akan mendapat penghiburan dari seekor anjing St. Bernard yang besar dan hangat, tanpa
melupakan, tentu saja, tong brandy yang digantung di lehernya. Seorang anak yang
menangis dapat dihibur oleh pelukan tangan kuat yang merangkulnya dan kata-kata
semangat yang dibisik ke dalam telinganya.
2. Penghiburan melalui penemuan akan suatu fakta yang sebelumnya kurang
diperhatikan, atau suatu cara yang sebelumnya belum ditemukan untuk memandangi
fakta yang sudah ada. Seorang perempuan yang suaminya mati dalam perang mungkin
akan terhibur saat mengetahui bahwa dia mengandung anak suaminya itu, atau bahwa
suaminya mati sebagai pahlawan. Kita juga bisa mendapat penghiburan melalui
penemuan akan suatu cara baru untuk memikirkan suatu keadaan. Seorang filsuf
menunjukkan bahwa tidak ada yang istimewa mengenai momen meninggalnya seorang
lelaki tua. Anak yang dahulu yaitu dirinya sudah lama ‘meninggal’, tidak karena tiba-
tiba berhenti hidup tetapi karena menjadi dewasa. Masing-masing dari tujuh usia manusia
Shakespeare ‘meninggal’ dengan pelan-pelan berubah menjadi yang berikutnya. Dari
sudut pandang ini, momen ketika seorang lelaki tua akhirnya mati tidak berbeda dengan
beberapa ‘kematian’ perlahan yang terjadi di sepanjang hidupnya.154 Seseorang yang
tidak suka memikirkan kematiannya sendiri mungkin akan terhibur oleh perspektif baru
ini. Atau mungkin tidak, tetapi itu yaitu satu contoh potensial mengenai penghiburan
melalui refleksi. Penyangkalan Mark Twain terhadap ketakutan akan kematian yaitu
contoh lain: ‘Aku tidak takut mati. Aku sudah mati selama miliaran tahun sebelum aku
lahir, dan aku tidak menderita ketidaknyamanan sedikit pun karenanya.’ Komentar itu
tidak mengubah apa pun mengenai fakta kematian kita yang tak terelakkan. Tetapi kita
telah ditawarkan suatu cara lain untuk memandang hal tak terelakkan itu dan kita
mungkin akan menganggap itu menghibur. Thomas Jefferson juga tidak takut sama sekali
akan kematian dan sepertinya tidak percaya akan kehidupan apa pun setelah kematian.
Sebagaimana diceritakan oleh Christopher Hitchens, ‘Menjelang kematiannya, Jefferson
lebih dari satu kali menulis kepada teman-temannya bahwa dia menghadapi akhir yang
mendatang tanpa harapan atau ketakutan. Hal ini sama saja dengan mengatakan, secara
yang tidak mungkin disalahpahami, bahwa dia bukan seorang junjungan kristen .’
Intelek yang kukuh mungkin akan siap menerima daging keras pernyataan Bertrand Russell,
dalam esainya dari 1925, ‘What I Believe’:
Aku percaya bahwa setelah aku mati aku akan membusuk, dan tidak ada apa
pun dari egoku yang akan bertahan. Aku tidak muda dan aku mencintai hidup.
Tetapi aku terlalu bangga untuk gemetar ketakutan saat memikirkan
ketumpasan. Kebahagiaan yaitu kebahagiaan sejati meskipun harus berakhir,
dan pemikiran dan cinta juga tidak kehilangan nilainya karena tidak abadi.
Banyak orang pernah bersikap bangga di atas tiang gantungan; tentu
kebanggaan yang sama seharusnya mengajarkan kita untuk berpikir dengan
benar mengenai tempat manusia di dunia. Meskipun jendela-jendela terbuka
ilmu pengetahuan pada awalnya membuat kita gemetar setelah kehangatan
nyaman dalam mitos tradisional yang memanusiakan, akhirnya udara segar
membawa semangat, dan ruang-ruang luas memiliki kemegahannya tersendiri.
Saya terinspirasi oleh esai Russell ini ketika saya membacanya di perpustakaan sekolah saya
pada usia sekitar 16, tetapi saya telah lupa. Mungkin saya memuji Russell secara tidak sadar
(serta Darwin secara sadar) ketika saya menulis, dalam A Devil’s Chaplain pada 2003,
Ada lebih dari sekadar keagungan dalam pandangan hidup ini, meskipun bisa
terkesan suram dan dingin jika dilihat dari posisi di bawah selimut aman
ketidaktahuan. Ada penyegaran mendalam yang kita peroleh saat berdiri dan
langsung menghadapi angin pemahaman yang tajam dan kuat. ‘Angin yang
berembus melalui jalanan berbintang’ Yeats.
Bagaimana kepercayaan dibandingkan dengan, misalnya, ilmu pengetahuan dalam
menyediakan dua tipe penghiburan ini? Melihat hiburan Tipe 1 terlebih dahulu, sangat masuk
akal bahwa tangan kuat pencipta , meskipun murni imajiner, dapat menghibur dengan cara yang
persis sama dengan tangan nyata seorang teman, atau seekor anjing St. Bernard dengan sebuah
tong brandi diikat di lehernya. Tetapi tentu saja obat ilmiah dapat menawarkan penghiburan –
biasanya lebih mujarab daripada brandy.
Kini lihat penghiburan Tipe 2, mudah untuk percaya bahwa kepercayaan bisa sangat mujarab.
Orang yang kena bencana dahsyat, seperti gempa bumi, sering mengutarakan bahwa mereka
mendapat penghiburan dari refleksi bahwa itu semua yaitu bagian dari rencana pencipta yang
tidak dapat diartikan: pada akhirnya kebaikan pasti akan datang. Jika seseorang takut akan
kematian, kepercayaan tulus bahwa dia memiliki suatu jiwa kekal dapat menghibur – kecuali,
tentu saja, dia berpikir dia akan masuk neraka atau purgatorium. Kepercayaan palsu dapat persis
sama menghiburnya dengan yang benar, sampai pada titik kita menyadari bahwa itu yaitu
khayalan. Hal ini juga berlaku untuk kepercayaan non-religius. Seseorang sakit kanker terminal
mungkin akan terhibur oleh dokter yang membohonginya dan berkata bahwa dia telah sembuh,
dengan efektivitas yang sama seperti seorang lain yang diberi tahu dengan jujur bahwa dia telah
sembuh. Kepercayaan tulus dan sepenuh hati akan kehidupan setelah kematian lebih kebal lagi
terhadap kesadaran akan khayalan daripada kepercayaan akan seorang dokter yang berbohong.
Kebohongan dokter hanya efektif hingga gejalanya sudah tidak dapat diabaikan. Seorang yang
percaya akan kehidupan setelah kematian tidak pernah bisa menyadari akan khayalannya.
Menurut jajak pendapat, sekitar 95 persen penduduk Amerika Serikat percaya bahwa
mereka akan bertahan hidup setelah kematiannya sendiri. Selain dari yang bercita-cita menjadi
martir, saya tidak bisa tidak bertanya berapa banyak orang religius moderat yang mengklaim
kepercayaan itu sungguh meyakininya, di lubuk hatinya. Jika mereka sungguh tulus, bukankah
mereka semua harus berperilaku seperti Abbas Ampleforth? Ketika Kardinal Basil Hume
mengabarinya bahwa dia akan mati, abbas itu bahagia sekali untuknya: ‘Selamat! Itu kabar baik
sekali. Seandainya aku bisa ikut!’155 Abbas itu, sepertinya, sungguh tulus percaya. Tetapi justru
karena begitu langka dan tak terduga, cerita itu menarik perhatian kita, hampir terkesan lucu –
serupa kartun seorang perempuan muda membawa spanduk ‘Bercinta, jangan berperang’,
telanjang bulat, dengan seorang penonton yang berkata, ‘Itu baru namanya ketulusan!’ Kenapa
semua orang junjungan kristen dan Muslim tidak berkata seperti abbas itu ketika mereka mendengar bahwa
seorang teman akan mati? Ketika seorang perempuan saleh diberi tahu oleh dokter bahwa dia
hanya akan hidup beberapa bulan lagi, kenapa dia tidak memancarkan antisipasi girang, seolah-
olah dia baru memenangkan liburan di Seychelles? ‘Aku tidak sabar menunggu!’ Kenapa para
penjenguk beriman tidak membanjirinya dengan pesan untuk orang yang sudah mati
sebelumnya? ‘Tolong sampaikan rasa sayangku kepada Paman Robert ketika kamu
melihatnya...’
Kenapa orang religius tidak berbicara seperti itu di hadapan orang yang akan mati?
Mungkinkah karena mereka tidak sungguh memercayai hal yang mereka pura-pura percayai?
Atau barangkali mereka memercayainya tetapi takut akan proses kematian. Dengan alasan baik,
karena spesies kita yaitu satu-satunya yang tidak boleh mengunjungi dokter hewan untuk
'ditidurkan' tanpa penderitaan. Tetapi kalau begitu, kenapa perlawanan paling berisik terhadap
eutanasia dan bunuh diri yang dibantu berasal dari orang religius? Menurut model kematian
‘Abbas Ampleforth’ atau ‘Liburan di Seychelles’, bukankah kita akan mengharapkan orang
religius akan paling tidak mungkin berpegang secara tidak senonoh pada kehidupan duniawi?
Namun suatu fakta menakjubkan yaitu , jika Anda menemui seseorang yang dengan semangat
melawan pembunuhan belas kasihan, atau dengan semangat melawan bunuh diri yang dibantu,
Anda dapat bertaruh bahwa mereka religius. Alasan resminya mungkin yaitu , semua
pembunuhan yaitu dosa. Tetapi buat apa melabelinya sebagai dosa jika Anda sungguh percaya
bahwa Anda mempercepat perjalanan Anda ke surga?
Sikap saya terhadap bunuh diri yang dibantu, sebaliknya, berpijak dari pengamatan Mark
Twain, yang sudah dikutip. Pengalaman kematian tidak akan berbeda sedikit pun dengan
pengalaman belum lahir – saya akan persis sama seperti di zaman William sang Penakluk atau
dinosaurus atau trilobit. Tidak ada yang perlu ditakuti dalam hal itu. Tetapi proses kematian bisa
saja, tergantung keberuntungan kita, menyakitkan dan tidak nyaman – jenis pengalaman yang
darinya kita terbiasa dilindungi oleh anestesi umum, seperti pemotongan usus buntu. Jika hewan
peliharaan Anda sekarat, Anda akan dikecam kejam jika Anda tidak memanggil dokter hewan
dan memberi dia anestesi umum yang membuatnya tidak bangun lagi. Tetapi jika dokter Anda
memberikan layanan medis yang persis sama kepada Anda ketika Anda sekarat, dia berisiko
dituntut melakukan pembunuhan. Ketika saya sekarat, saya ingin hidup saya diakhiri dengan
anestesi umum, persis seolah-olah hidup saya itu usus buntu yang bengkak. Tetapi saya tidak
akan dihibahkan kesempatan itu, karena saya cukup sial untuk lahir sebagai anggota Homo
sapiens dan bukan, misalnya, Canis familiaris atau Felis catus. Setidaknya, begitulah
keadaannya kecuali saya pindah ke tempat yang lebih tercerahkan seperti Swiss, Belanda, atau
Oregon. Kenapa tempat tercerahkan seperti itu begitu langka? Terutama karena pengaruh kepercayaan .
Tetapi, dapat dikatakan, bukankah ada perbedaan penting di antara pengangkatan usus
buntu dan ‘pengangkatan’ nyawa? Tidak begitu; tidak ada jika Anda sudah sekarat. Dan tidak
ada jika Anda memiliki suatu kepercayaan religius tulus akan kehidupan setelah kematian. Jika
Anda memiliki kepercayaan itu, kematian hanyalah suatu transisi dari hidup yang satu ke hidup
yang lain. Jika transisi itu menyakitkan, Anda tidak akan ingin mengalaminya tanpa anestesi,
sama seperti Anda tidak akan ingin usus buntu Anda diangkat tanpa anestesi. Kita-kita yang
melihat kematian sebagai akhir dan bukan suatu transisi yang mungkin akan diharapkan secara
naif supaya menolak eutanasia atau bunuh diri yang dibantu. Namun kitalah yang
mendukungnya.*
Secara serupa, bagaimana kita harus menafsirkan pengamatan seorang perawat senior
yang saya kenal, dengan pengalaman seumur hidupnya mengepalai sebuah rumah untuk orang
* Satu kajian mengenai sikap terhadap kematian di antara orang-orang ateis Amerika menemukan yang berikut: 50
persen menginginkan suatu acara untuk memperingati kehidupannya; 99 persen mendukung bunuh diri dibantu
dokter bagi mereka yang menginginkannya, dan 75 persen menginginkannya untuk dirinya sendiri; 100 persen sama
sekali tidak ingin didatangi staf rumah sakit yang mempromosikan kepercayaan . Lihat
http://nursestoner.com/myresearch.html.
lansia, tempat kematian yaitu peristiwa yang lazim? Dia menyadari selama bertahun-tahun
bahwa individu yang paling takut mati yaitu orang religius. Pengamatannya harus dibenarkan
secara statistik tetapi, jika kita berasumsi bahwa dia benar, apa yang sedang terjadi? Apa pun
fenomena itu, pada permukaannya ia tidak begitu mendukung kekuatan kepercayaan untuk menghibur
orang sekarat.* Dalam kasus orang Katolik, mungkin mereka takut akan purgatorium? Kardinal
Hume yang suci berpisah dengan seorang teman dengan kata-kata ini: ‘Dah, kalau begitu.
Sampai jumpa di purgatorium, kukira.’ Yang saya kira yaitu , ada kilauan skeptis di mata tua
yang ramah itu.
Doktrin purgatorium menawarkan suatu penyingkapan konyol mengenai cara kerja
pikiran teologis. Purgatorium yaitu semacam Pulau Ellis ilahi, sebuah ruang tunggu tempat
jiwa-jiwa mati pergi jika dosanya tidak cukup buruk untuk mengirim mereka ke neraka, tetapi
mereka masih membutuhkan sedikit remediasi dan pemurnian sebelum mereka boleh memasuki
zona bebas-dosa surga.† Pada zaman pertengahan, Gereja rajin menjual ‘indulgensi’ (surat
penebusan dosa) untuk uang. Dalam indulgensi, orang membayar untuk remisi sejumlah hari
tertentu dari purgatorium, dan Gereja sungguh (dan dengan kesombongan yang sulit dipercayai)
mengeluarkan sertifikat yang ditandatangani yang menetapkan jumlah hari libur yang telah
dibeli. Gereja Katolik Roma yaitu lembaga yang untuk keuntungannya julukan ‘uang haram’
mungkin diciptakan secara khusus. Dan dari semua penipuannya demi uang, penjualan
indulgensi pasti digolongkan di antara muslihat terbesar sepanjang sejarah, hal setara di zaman
pertengahan dengan muslihat Internet Nigeria tetapi jauh lebih sukses.
Bahkan di 1903, Paus Pius X masih mampu menghitung jumlah hari remisi dari
purgatorium yang boleh dihibahkan oleh masing-masing tingkat di hierarki: kardinal 200 hari,
uskup agung 100 hari, uskup 50 hari saja. Namun, pada zamannya, indulgensi sudah tidak dijual
secara langsung untuk uang. Bahkan di Abad Pertengahan, uang bukan satu-satunya hal yang
dapat digunakan untuk membeli kebebasan bersyarat dari purgatorium. Orang bisa membayar
dengan doa juga, doa sendiri sebelum kematian atau doa orang lain atas nama orang itu, setelah
kematiannya. Dan uang dapat membeli doa. Jika ada orang kaya, dia dapat mendanai jiwanya
selamanya. Kolese Oxford saya sendiri, New College, didirikan pada 1379 (baru pada saat itu)
oleh salah seorang dermawan besar abad itu, William dari Wykeham, Uskup Winchester.
Seorang uskup pertengahan dapat menjadi Bill Gates pada zamannya, menguasai hal setara
dengan ‘jalan tol informasi’ (menuju pencipta ), dan mengumpul harta yang sangat banyak.
Keuskupannya sangat besar, dan Wykeham menggunakan kekayaan dan pengaruhnya untuk
mendirikan dua lembaga pendidikan besar, satu di Winchester dan satu di Oxford. Pendidikan itu
penting bagi Wykeham, tetapi menurut kata-kata sejarah resmi New College, diterbitkan di 1979
untuk menandai ulang tahunnya yang ke-600, tujuan fundamental kolese itu yaitu ‘sebagai
suatu sumbangan besar untuk membuat syafaat untuk istirahat jiwanya. Dia mendanai pelayanan
kapel oleh 10 kapelan, 3 pegawai, dan 16 anggota paduan suara, dan memerintahkan bahwa
hanya mereka yang boleh dipertahankan jika pendapatan kolese gagal.’ Wykeham mewariskan
* Seorang teman dari Australia menciptakan suatu frasa luar biasa untuk mendeskripsikan kecenderungan
peningkatan religiositas pada usia tua. Katakan ini dengan intonasi Australia, naik di akhir seperti suatu pertanyaan:
‘Belajar untuk UAS?’
† Purgatorium seharusnya tidak ditukar dalam pemahaman dengan Limbo, tempat yang dianggap sebagai tujuan bayi
yang mati sebelum dibaptis. Dan janin yang diaborsi? Blastosis? Kini, dengan kepercayaan diri yang khas sombong,
Paus Benediktus XVI baru saja meniadakan Limbo. Apakah itu berarti bahwa semua bayi yang merana di sana
selama berabad-abad ini akan tiba-tiba mengapung ke surga? Atau apakah mereka tetap di sana dan hanya yang baru
mati boleh keluar dari Limbo? Atau apakah paus-paus sebelumnya salah selama ini, meskipun mereka dianggap tak
bisa salah? Hal seperti ini yang kita dituntut untuk ‘hormati’.
New College kepada Fellowship, suatu badan yang memilih anggotanya sendiri yang sudah ada
secara berkesinambungan seperti organisme tunggal selama lebih dari 600 tahun. Sepertinya dia
memercayakan kami untuk terus mendoakan jiwanya selama berabad-abad.
Saat ini kolesenya hanya memiliki seorang kapelan* dan tidak seorang pun pegawai, dan
banjir doa yang tetap selama berabad-abad untuk Wykeham di purgatorium telah mengecil
hingga 2 doa per tahun. Para anggota paduan suara masih kuat dan musiknya memang magis.
Bahkan saya merasa sedikit bersalah, sebagai anggota Fellowship itu, karena mengkhianati
kepercayaan orang. Menurut pemahaman zamannya sendiri, Wykeham melakukan hal yang
sama seperti seorang kaya saat ini yang memberi dana besar kepada perusahaan kriogenik yang
berjanji untuk membekukan tubuhnya dan menjaganya dari gempa bumi, keresahan sosial,
perang nuklir dan mara bahaya lain, hingga suatu saat di masa depan ilmu kedokteran telah tahu
cara mencairkannya dan menyembuhkan penyakit apa pun yang membuatnya sekarat. Apakah
kami para Fellow New College melanggar kontrak kami dengan Sang Pendiri? Kalau begitu, ada
banyak teman kami yang sama. Ratusan dermawan abad pertengahan mati dengan kepercayaan
bahwa ahli warisnya, karena dibayar dengan baik, akan mendoakannya di purgatorium. Saya
tidak bisa tidak bertanya sebanyak apa khazanah seni dan arsitektur Eropa abad pertengahan
yang bermula sebagai uang muka untuk keabadian, dalam kontrak yang sudah dilanggar.
Tetapi apa yang sungguh menarik perhatian saya mengenai doktrin purgatorium yaitu
bukti yang telah dikemukakan para teolog untuknya: bukti yang begitu lemah, kepercayaan diri
tinggi yang menyertai pernyataannya menjadi makin lucu. Entri mengenai purgatorium di
Catholic Enyclopedia memiliki dengan judul ‘bukti-bukti’. Bukti esensial untuk eksistensi
purgatorium sebagai berikut. Jika orang mati masuk surga atau neraka saja berdasarkan dosa
mereka saat di Bumi, tidak ada alasan untuk mendoakan mereka. ‘Karena buat apa mendoakan
orang mati, jika tidak ada kepercayaan akan kekuatan doa untuk memberi penghiburan kepada
mereka yang sampai sekarang terkecuali dari pandangan pencipta .’ Dan kita memang mendoakan
orang mati, bukan? Jadi purgatorium harus ada, jika tidak doa kita tidak akan berguna! Q.E.D.
Ini sungguh yaitu contoh mengenai apa yang dianggap penalaran dalam pikiran teologis.
Kesimpulan keliru luar biasa itu dicerminkan pada skala lebih besar di salah satu
penggunaan lain yang lazim atas Argumen dari Penghiburan. Harus ada pencipta , menurut
argumen itu, karena jika tidak, hidup akan kosong, tanpa tujuan, sia-sia, suatu padang gurun
ketakbermaknaan dan ketakberartian. Apakah saya sungguh harus menunjukkan bahwa
logikanya gagal di langkah pertama? Mungkin kehidupan memang kosong. Mungkin doa kita
untuk orang mati sungguh tidak berguna. Berasumsi sebaliknya yaitu berasumsi bahwa
kesimpulan yang ingin kita buktikan sudah benar sendiri. Silogisme semu itu jelas-jelas
melingkar. Kehidupan tanpa seorang istri yang telah meninggal mungkin tidak dapat ditoleransi,
tandus dan kosong, tetapi sayangnya hal ini tidak membuatnya tidak mati. Ada suatu yang
kekanak-kanakan dalam andaian bahwa orang lain (orang tua dalam kasus anak, pencipta dalam
kasus orang dewasa) bertanggung jawab untuk memberi kehidupan Anda makna dan tujuan. Itu
semua konsisten dengan kekanak-kanakan orang yang, pada saat kakinya keseleo, mencari orang
untuk dituntut di pengadilan. Pasti ada orang lain yang bertanggung jawab atas keadaan baik
saya, dan pasti ada orang lain yang bersalah jika saya terluka. Apakah suatu sikap kekanak-
kanakan yang serupa sungguh menunggu di belakang ‘kebupencipta ’ untuk suatu pencipta ? Apakah
kita kembali ke Binker lagi?
Pandangan yang sungguh dewasa, sebaliknya, yaitu kehidupan kita sebermakna,
sepenuh dan sehebat yang kita pilih untuk menjadikannya. Dan memang kita bisa membuatnya
* Perempuan – bagaimana itu menurut Uskup William?
sangat hebat. Jika ilmu pengetahuan memberi penghiburan yang tidak material, maka hal itu
menyatu dengan topik terakhir saya, inspirasi.
INSPIRASI
Ini yaitu persoalan selera atau penilaian pribadi, yang mengakibatkan dampak yang
sedikit disayangkan bahwa metode argumen yang terpaksa saya gunakan yaitu retorika, bukan
logika. Saya pernah melakukannya sebelumnya, sama seperti banyak orang lain termasuk, jika
kita hanya membuat contoh yang agak baru, Carl Sagan dalam Pale Blue Dot, E.O. Wilson
dalam Biophilia, Michael Shermer dalam The Soul of Science dan Paul Kurtz dalam
Affirmations. Dalam Unweaving the Rainbow saya berusaha menyampaikan betapa beruntung
kita karena hidup, jika kita mempertimbangkan bahwa mayoritas besar orang yang bisa saja
dihasilkan oleh undian kombinasi DNA pada kenyataannya tidak pernah akan lahir. Bagi kita
yang cukup beruntung untuk hadir, saya menggambarkan kesingkatan relatif kehidupan dengan
membayangkan suatu lampu sorot setipis laser pelan-pelan berjalan sepanjang suatu penggaris
waktu raksasa. Segala sesuatu sebelum atau sesudah lampu sorotan itu diliputi kegelapan masa
lalu yang mati, atau kegelapan masa depan yang tidak diketahui. Kita sungguh beruntung karena
kebetulan berada di lampu sorot itu. Sebetapa singkat waktu kita di bawah matahari, jika kita
membuang satu detik pun, atau mengeluh bahwa waktu itu kurang menarik atau kosong atau
(seperti seorang anak) membosankan, bukankah itu dapat dilihat sebagai suatu hinaan kasar
terhadap triliunan orang yang tidak lahir yang tidak pernah akan ditawari kehidupan sama sekali?
Seperti banyak ateis pernah katakan dengan lebih fasih dari saya, pengetahuan bahwa kita hanya
memiliki satu kehidupan seharusnya membuatnya begitu lebih berharga. Karena itu, pandangan
ateis mengafirmasi kehidupan dan meningkatkan kehidupan, sambil pada titik yang sama tidak
pernah dinodai delusi-diri, angan-angan yan

