doktrin dasar alkitab 3
beri dampak yang sa-
ngat besar kepada umat-Nya, namun peka-
baran yang disampaikan-Nya pada umum-
nya ditolak mereka (Yoh. 1:11; Luk. 23:18).
Dengan beberapa kekecualian Ia tidak diakui
sebagai Juruselamat dunia. Gantinya mene-
rima Dia sebagai Juruselamat, malahan me-
reka mengancam membunuh-Nya (Yoh. 5:
16; 7:19; 11:53).
Menjelang akhir tugas Yesus yang tiga
setengah tahun di dunia ini, Yudas Iskariot,
salah seorang dari antara murid-Nya, meng-
khianati-Nya (Yoh. 13:18; 18:2) dengan
uang tiga puluh keping perak (Mat. 26:14,
15). Gantinya menghalanginya, malahan Ia
menegur murid-Nya yang mencoba memper-
tahankan Dia (Yoh. 18:4-11).
Walaupun Ia tidak melakukan kesalahan
apa pun, kurang dari 24 jam sesudah Ia di-
tangkap, la telah diludahi, dipukul, diadili,
53Allah Anak
dihukum mati dan lalu disalibkan
(Mat. 26:67; Yoh. 19:1-16; Luk. 23:14, 15).
Para serdadu membuang undi atas jubah-Nya
(Yoh. 19:23, 24). Ketika Ia disalibkan tidak
satu pun tulang-tulang-Nya dipatahkan (Yoh.
19:32, 33, 36), dan sesudah Ia mati para ser-
dadu menikam lambung-Nya dengan sebuah
tombak (Yoh. 19:34, 37).
Para pengikut Kristus mengakui kematian-
Nya satu-satunya korban bagi orang-orang
yang berdosa.” Akan namun Allah menunjuk-
kan kasih-Nya kepada kita, oleh sebab Kris-
tus telah mati untuk kita, ketika kita masih
berdosa” (Rm. 5:8). “Dan hiduplah di dalam
kasih,” tulisnya,”sebagaimana Kristus Yesus
juga telah mengasihi kamu dan telah menye-
rahkan diri-Nya untuk kita sebagai persem-
bahan dan korban yang harum bagi Allah”
(Ef. 5:20).
Masa Tugas Pelayanan-Nya dan Saat
Kematian-Nya. Alkitab menyatakan bahwa
Allah mengutus Anak-Nya ke dunia ini “Se-
telah genap waktunya” (Gal. 4:4). Tatkala
Kristus memulai tugas pelayanan-Nya Ia me-
nyatakan, “Waktunya telah genap” (Mrk. 1:
15). Petunjuk mengenai waktu ini menun-
jukkan bahwa tugas Juruselamat dihasilkan
dalam keselarasan dengan perencanaan nu-
buatan yang saksama.
Lebih kurang 5 abad sebelumnya, Allah,
melalui Daniel, telah menubuatkan waktu
yang tepat permulaan pelayanan Kristus dan
waktu kematian-Nya.l
Menjelang akhir 70 tahun tertawannya
bangsa Israel di Babilon, Allah mengatakan
kepada Daniel bahwa Ia telah menetapkan
kepada orang-orang Yahudi dan kota Yeru-
salem sebuah kurun waktu percobaan yakni
70 minggu.
Selama kurun waktu ini, dengan meno-
batkan dan menyiapkan mereka sendiri un-
tuk menerima kedatangan sang Mesias,
bangsa Yahudi harus menggenapi tujuan-tu-
juan Allah yang ditentukan untuk mereka.
Daniel juga menulis mengenai “mengha-
puskan kesalahan” dan mendatangkan “kea-
dilan yang kekal” untuk menandai kurun
waktu ini. Kegiatan Mesias ini menunjuk-
kan bahwa Juruselamat datang di dalam ku-
run waktu ini (Dan. 9:24).
Nubuatan Daniel secara rinci menyatakan
bahwa Mesias akan tampak sampai ”ada tu-
juh kali tujuh masa; dan enam puluh dua kali
tujuh masa,” atau jumlah waktunya 69 masa
sesudah datangnya perintah bahwa “Yeru-
salem akan dipulihkan dan dibangun kemba-
li” (Dan. 9:25).
Kunci untuk memahami waktu nubuatan
terletak dalam prinsip Alkitabiah bahwa satu
hari waktu nubuatan yaitu sama dengan sa-
tu tahun (Bil. 14:34; Yeh. 4:6).2 Sesuai de-
ngan prinsip satu tahun ini, maka 70 masa
(minggu) 490 hari nubuatan) yaitu 490 ta-
hun.
Daniel mengatakan bahwa kurun waktu
ini haruslah dimulai “dari saat firman itu ke-
luar, yakni bahwa Yerusalem akan dipulih-
kan dan dibangun kembali” (Dan. 9:25).
Maklumat ini, memberikan kepada orang-
orang Yahudi otonomi penuh, dikeluarkan
pada tahun ketujuh Raja Artahsasta meme-
rintah kerajaan Persia dan perintah itu ber-
laku pada tahun 457 STM (Ezr. 7:8, 12-226;
9:9).3 Sesuai dengan nubuat, 483 tahun (69
minggu) sesudah firman itu keluar “seorang
raja” akan muncul. Empat ratus delapan pu-
luh tiga tahun sesudah tahun 457 SM jatuh
pada musim gugur tahun 27 TM, tatkala
Yesus dibaptiskan dan memulai tugas-Nya
di tengah-tengah masyarakat.4 Dengan me-
nerima penanggalan 457 SM, dan tahun 27
TM, Gleason Archer mengomentari bahwa
inilah “kegenapan nubuatan yang paling te-
pat dan paling menakjubkan dari nubuatan
yang dahulu. Hanya Tuhan Allah yang da-
54Allah Anak
Tepat seperti yang sudah dinubuatkan ter-
lebih dahulu, pada waktu Pesta Paskah dia-
dakan, Ia mati. “Sebab”, kata rasul Paulus,
“anak domba Paskah kita juga telah disem-
belih, yaitu Kristus” (1 Kor. 5:7). Nubuatan
mengenai waktu yang amat tepat ini meru-
pakan sebuah bukti yang paling kuat dari hal
kebenaran historis yang paling fundamental
bahwa Yesus Kristus yaitu Juruselamat du-
nia yang telah dinubuatkan.
Kebangkitan Juruselamat. Alkitab ti-
dak saja menubuatkan mengenai kematian
Kristus, namun juga kebangkitan-Nya. Daud
telah menubuatkan “bahwa Dia tidak diting-
galkan di dalam dunia orang mati, dan bah-
wa daging-Nya tidak mengalami kebinasa-
an” (Kis. 2:31; bandingkan Mzm. 16:10).
Walaupun Kristus telah membangkitkan
orang lain dari kematian (Mrk. 5:35-42; Luk.
7:11-17; Yoh. 11), kebangkitan-Nya menun-
jukkan kuasa di balik pernyataan-Nya se-
bagai Juruselamat dunia: “Akulah kebang-
kitan dan hidup; barangsiapa percaya kepa-
da-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah ma-
ti, dan setiap orang yang hidup dan percaya
kepada-Ku, tidak akan mati selama-lama-
nya” (Yoh. 11:25, 26).
sesudah kebangkitan-Nya Ia mengumum-
kan, “Jangan takut! Aku yaitu Yang Awal
dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah
½
pat meramalkan kedatangan Anak-Nya de-
ngan ketepatan yang sangat menakjubkan
itu; hal itu mengingkari semua penjelasan
yang rasionalistis.”5
Pada waktu Yesus dibaptiskan di sungai
Yordan, Ia diurapi Roh Kudus dan meneri-
ma pengakuan Allah sebagai “Mesias” (Ibra-
ni) atau “Kristus” (Yunani) kedua-duanya
berarti “yang diurapi” (Luk. 3:21, 22; Kis.
10: 38; Yoh 1:41). Pernyataan Yesus “Wak-
tunya telah genap” (Mrk. 1:15), menunjuk
kepada kegenapan nubuatan waktu ini.
Pertengahan dari tujuh puluh minggu ini,
pada musim semi tahun 31 TM, tepatnya 3
tahun sesudah Kristus dibaptiskan, Mesias
mengakhiri sistem korban dengan menyerah-
kan nyawa-Nya sendiri. Pada saat kematian-
Nya tirai bait suci “terbelah dua dari atas
sampai ke bawah” (Mat. 27:51), menunjuk-
kan bahwa sistem keimamatan dengan sega-
la upacara-upacara yang dilakukan dalam ba-
it suci sudah dihapuskan Tuhan.
Semua persembahan dan korban-korban
menunjuk kepada korban yang lengkap yang
dilakukan sang Mesias. Tatkala Yesus Kris-
tus, Anak domba Allah, dikorbankan di bu-
kit Golgota sebagai korban penebusan dosa-
dosa kita (1 Ptr. 1:9), lambang telah diwu-
judkan dalam kenyataan, bayang-bayang
menjadi realitas. Maka pelayanan bait suci
dunia tidak diperlukan lagi.
70 Minggu — 490 tahun
457 408 SM — TM 27 31 34
Daniel
538/
537 SM
7 Minggu
49 tahun 62 Minggu — 434 tahun
1 Minggu
7 tahun
55Allah Anak
mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai se-
lama-lamanya dan Aku memegang segala kua-
sa maut dan kerajaan maut” (Why. 1:17, 18).
DUA SIFAT KRISTUS
Dengan mengatakan, “Firman itu telah
menjadi kita semua , dan diam di antara kita”
(Yoh. 1:14) Yohanes menyatakan kebenaran
yang agung. Penjelmaan Allah Anak itu me-
rupakan sebuah misteri. Kitab Suci menye-
butkan Allah yang dinyatakan dalam ben-
tuk daging sebagai “Rahasia ibadah kita” (1
Tim. 3:16).
Pencipta seluruh dunia, yang di dalam-
Nya ada Keallahan yang sempurna,
menjadi seorang bayi yang tidak berdaya da-
lam palungan. Yang jauh lebih tinggi dari
semua malaikat, yang setara dengan Bapa
dalam wibawa dan kemuliaan, namun demi-
kian Ia direndahkan dengan mengenakan pa-
kaian kekita semua an!
Seorang tidak dapat begitu saja mengerti
misteri ini, lalu berharap hanya dengan per-
tolongan Roh Kudus untuk memperoleh pe-
nerangan atasnya. Untuk memahami penjel-
maan ada baiknya mengingat bahwa “hal-
hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan, Al-
lah kita, namun hal-hal yang dinyatakan ia-
lah bagi kita dan bagi anak-anak kita sam-
pai selama-lamanya” (Ul. 29:29).
Yesus Kristus Benar-benar Allah. Apa-
kah bukti bahwa Yesus Kristus itu Ilahi? Ba-
gaimanakah Ia sendiri menganggap diri-
Nya? Apakah orang mengenal Keilahian-
Nya?
1. Sifat-sifat Keilahian-Nya. Kristus
memiliki sifat-sifat Keilahian. Ia Mahakua-
sa. Ia mengatakan bahwa Bapa telah mem-
berikan kepada-Nya “segala kuasa di surga
dan di bumi” (Mat. 28:18; Yoh. 17:2).
Ia Mahatahu. Di dalam Dia, kata Paulus,
“tersembunyi segala harta hikmat dan penge-
tahuan” (Kol. 2:3).
Yesus menegaskan kemahahadiran-Nya
dengan jaminan “Dan ketahuilah, Aku me-
nyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir
zaman” (Mat. 28:20).
Walaupun keilahian-Nya memiliki ke-
mampuan alamiah atas kemahahadiran,
Kristus yang menjelma secara sukarela itu
membatasi diri-Nya dalam hal ini. Ia telah
memilih kemahahadiran itu melalui pela-
yanan Roh Kudus (Yoh. 14:16-18).
Ibrani membuktikan kebakaan-Nya de-
ngan berkata, “Yesus Kristus tetap sama, ba-
ik kemarin maupun hari ini dan sampai se-
lama-lamanya” (Ibr. 13:8).
Adanya diri-Nya sendiri yaitu merupa-
kan bukti apabila Ia menyatakan hidup di
dalam diri-Nya sendiri (Yoh. 5:26) dan Yoha-
nes memberi kesaksian “Dalam Dia ada hi-
dup dan hidup itu yaitu terang kita semua ”
(Yoh. 1:4). Pengumuman Kristus “Akulah
kebangkitan dan hidup” (Yoh. 11:25) mengu-
kuhkan bahwa di dalam Dia ada lah “hi-
dup, yang asli, yang tidak dipinjam, bukan
perolehan.”6
Kekudusan yaitu bagian sifat-Nya. Pada
waktu pemberitaan mengenai kelahiran-Nya,
malaikat berkata kepada Maria, “Roh Ku-
dus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang
Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab
itu anak yang akan kaulahirkan itu akan di-
sebut kudus, Anak Allah” (Luk. 1:35). Wak-
tu melihat Yesus, orang yang kerasukan Se-
tan berkata, “Apa urusan-Mu dengan kami,
... Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari
Allah” (Mrk. 1:24).
Ia kasih. “Demikianlah kita ketahui ka-
sih Kristus,” tulis Yohanes, “yaitu bahwa Ia
telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita”
(1 Yoh. 3:16).
Ia abadi. Yesaya menyebut-Nya “Bapa
56Allah Anak
yang Kekal” (Yes. 9:5). Mikha menyebut-
Nya sebagai Seorang “yang permulaannya
sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala
(Mi. 5:1). Rasul Paulus menandai ada-Nya
“terlebih dahulu dari segala sesuatu (Kol.
1:17), dan Yohanes sependapat dengan itu:
“Ia pada mulanya bersama-sama dengan
Allah. Sega-la sesuatu dijadikan oleh Dia
dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang te-
lah jadi dari sega-la yang telah dijadikan”
(Yoh. 1:2, 3).7
2. Kuasa Ilahi-Nya dan Hak Istimewa.
Karya Allah dinyatakan sebagai karya Ye-
sus. Ia dinyatakan sebagai Pencipta (Yoh. 1:
3; Kol. 1:16) dan Penyokong atau Penegak—
“segala sesuatu ada di dalam Dia” (Kol.
1:17; Ibr. 1:3). Ia dapat membangkitkan
orang mati dengan suara-Nya (Yoh. 5:28, 29)
dan akan menghakimi dunia pada hari ki-
amat (Mat. 25:31, 32). Ia mengampuni dosa
(Mat. 9:6; Mrk. 2:5-7).
3. Nama-nama Ilahi-Nya. Nama-nama
atau gelar-gelar yang diberikan kepada-Nya
menunjukkan sifat Ilahi-Nya. Imanuel ber-
arti “Allah menyertai kita” (Mat. 1:23). Baik
para pengikut-Nya, yakni orang-orang beri-
man, maupun Setan menyebut-Nya sebagai
Anak Allah (Mrk. 1:1; Mat. 8:29; banding-
kan Mrk. 5:7). Kitab Kudus Perjanjian Lama
memberi gelar kepada Allah Yahwe yang di-
kenakan kepada Yesus. Matius mengguna-
kan kata-kata Yesaya yang ada dalam
Yesaya 40:3, “Persiapkanlah jalan untuk Tu-
han,” untuk menggambarkan pekerjaan pen-
dahuluan untuk misi Kristus (Mat. 3:3). Lalu
Yohanes mengidentifikasi Yesus dengan Tu-
han duduk bersama-sama di atas takhta-Nya
(Yes. 6:1, 3; Yoh. 12:41).
4. Keilahian-Nya Diakui. Yohanes me-
lukiskan Yesus sebagai Kalam Ilahi yang te-
lah “menjadi kita semua ” (Yoh. 1:1, 14). To-
mas mengaku Kristus yang bangkit itu se-
bagai “Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20:28).
sedang Rasul Paulus menunjuk Dia se-
bagai Seorang “Allah yang harus dipuji sam-
pai selama-lamanya” (Rm. 9:5); dan Ibrani
menyebut Dia sebagai Tuhan dan Allah Pen-
cipta (Ibr. 1:8, 10).8
5. Kesaksian-Nya secara Pribadi. Ye-
sus sendiri menyatakan bahwa diri-Nya se-
tara dengan Tuhan Allah. ia menyatakan diri-
Nya sebagai “AKU TELAH ADA” (Yoh. 8:
58), Allah dari Perjanjian Lama. Ia menye-
but Tuhan “Bapa-Ku” ganti “Bapa kita”
(Yoh. 20:17). Dan pernyataan-Nya “Aku dan
Bapa yaitu satu” (Yoh. 10:30) menegaskan
pernyataan bahwa Ia yaitu “satu hakikat”
dengan Bapa, “memiliki ciri-ciri hakikat
yang sama.”9
6. Kesetaraan-Nya dengan Allah. Kese-
taraan-Nya dengan Allah Bapa dinyatakan
dalam pembaptisan (Mat. 28:19), dalam doa
syukur kerasulan (2 Kor. 13:14), dalam nasi-
hat perpisahan yang diberikan-Nya (Yoh.
14:16), dan di dalam penjelasan yang rinci
yang diberikan rasul Paulus mengenai ka-
runia-karunia roh (1 Kor. 12:4-6). Kitab Suci
menggambarkan Yesus sebagai cahaya ke-
muliaan Allah dan “gambar wujud Allah”
(Ibr. 1:3). Dan ketika Yesus diminta untuk
memperlihatkan Allah Bapa, ia menjawab,
“Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah me-
lihat Bapa” (Yoh. 14:9).
7. Ia Disembah Sebagai Allah. Manu-
sia menyembah Dia (Mat. 28:17; bandingkan
Luk. 14:33). “Semua malaikat Allah harus
menyembah Dia” (Ibr. 1:6). Paulus menyu-
rati bahwa “supaya dalam nama Yesus ber-
tekuk lutut segala yang ada, ... dan segala li-
dah mengaku: ‘Yesus Kristus yaitu Tu-
57Allah Anak
han’” (Flp. 2:10, 11). Beberapa ucapan syu-
kur menujukan kepada Kristus “kemuliaan
selama-lamanya” (2 Tim. 4:18; Ibr. 13:21;
bandingkan 2 Ptr. 3:18).
8. Perlunya Sifat Ilahi Kristus. Kristus
memperdamaikan kita semua dengan Allah.
kita semua memerlukan penyataan yang sem-
purna dari sifat Allah untuk mengembangkan
suatu hubungan pribadi dengan-Nya. Kris-
tus memenuhi kebutuhan ini dengan mem-
perlihatkan kemuliaan Allah (Yoh. 1:14).
“Tidak seorang pun yang pernah melihat Al-
lah; namun Anak Tunggal Allah, yang ada di
pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-
Nya”(Yoh. 1:18; bandingkan 17:6). Yesus
memberikan kesaksian bahwa “Barangsiapa
telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa”
(Yoh. 14:9).
Dalam ketergantungan yang penuh de-
ngan Bapa (Yoh. 5:30) Kristus memakai
kuasa Ilahi untuk menyatakan kasih Tuhan.
Dengan kuasa Ilahi Ia menyatakan diri-Nya
sebagai Juruselamat yang penuh kasih sa-
yang yang diutus Bapa untuk memberikan
kesembuhan, memulihkan dan mengampu-
ni dosa-dosa (Luk. 6:19; Yoh. 2:11; 5:1-15,
36; 11:42-45; 14:11; 8:3-11). Ia sama sekali
tidak pernah mengadakan mukjizat untuk
melepaskan diri-Nya dari kesulitan dan pen-
deritaan yang mungkin dialami orang lain
jika ditempatkan dalam keadaan yang seru-
pa.
Yesus Kristus “satu dalam tabiat, dalam
sifat dan dalam maksud-tujuan” dengan Al-
lah Bapa.l0 Ia benar-benar Allah.
Yesus Kristus Benar-benar kita semua .
Alkitab mengatakan bahwa selain sifat Ke-
ilahian-Nya, Kristus juga memiliki sifat ma-
nusia. Penerimaan ajaran ini sangat penting.
Setiap orang yang “mengaku, bahwa Yesus
Kristus telah datang sebagai kita semua , beras-
al dari Allah” dan mereka yang tidak meng-
aku berarti “tidak berasal dari: Allah” (1 Yoh.
4:2, 3). Lahirnya Kristus sebagai kita semua ,
pertumbuhan dan sifat-sifat-Nya, dan kesak-
sian pribadi memberikan bukti yang mema-
dai tentang kekita semua an-Nya.
1. Kelahiran-Nya sebagai kita semua .
“Firman itu telah menjadi kita semua , dan diam
di antara kita” (Yoh. 1:14). Di sini yang di-
maksudkan dengan “menjadi kita semua ” ia-
lah memiliki “sifat kita semua ,” sifat yang le-
bih rendah dengan apa yang pernah dimili-
ki-Nya di surga. Dalam bahasa yang jelas
Rasul Paulus berkata, “Allah mengutus
Anak-Nya, yang lahir dari seorang perem-
puan” (Gal. 4:4; bandingkan Kej. 3:15).
Kristus “mengambil rupa seorang kita semua ”
dan “dalam keadaan sebagai kita semua ” (Flp.
2:7, 8). Pernyataan Allah dalam wujud ma-
nusia ini sesungguhnya “agunglah rahasia
ibadah” (1 Tim. 3:16).
Silsilah Kristus menunjuk Dia sebagai
“Anak Daud” dan “Anak Abraham” (Mat.
1:1). Kalau menurut keadaan kekita semua an-
Nya, Ia disebut: “diperanakkan dari ketu-
runan Daud” (Rm. 1:3; 9:5) dan juga ”anak
Maria” (Mrk. 6:3). Walaupun Ia dilahirkan
seorang wanita sebagaimana lazimnya anak
yang lain, ada suatu perbedaan besar yang
terjadi di sana, suatu keunikan. Maria se-
orang anak dara, dan Anak yang dikandung-
nya dari Roh Kudus (Mat. 1:20-23; Luk. 1:
31-37). Ia dapat menyatakan kekita semua an-
Nya yang sesungguhnya melalui ibu-Nya.
2. Perkembangan-Nya Sebagai Manu-
sia. Yesus tunduk kepada hukum yang berlaku
dalam pertumbuhan kita semua ; “Anak itu ber-
tambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat”
(Luk. 2:40, 52). Pada waktu berusia 12 tahun
58Allah Anak
Ia mulai menyadari tugas Ilahi-Nya (Luk. 2:46-
49). Selama masa kanak-kanak-Nya Ia taat
kepada orangtua-Nya (Luk. 2:51).
Jalan menuju salib yaitu satu pertum-
buhan yang senantiasa melalui derita, yang
memegang peranan penting dalam perkem-
bangan-Nya. “Ia telah belajar menjadi taat
dari apa yang diderita-Nya, dan sesudah Ia
mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi
pokok keselamatan yang abadi bagi semua
orang yang taat kepada-Nya” (Ibrani 5:8, 9;
2:10, 18). Walaupun Ia menjalani pertum-
buhan yang demikian, Ia tidak pernah ber-
buat dosa.
3. Ia Disebut “Seorang.” Yohanes Pem-
baptis dan Petrus menyatakan Dia “Seorang”
kita semua (Yoh. 1:30; Kis. 2:22). Paulus ber-
bicara mengenai “kasih karunia Allah dan
karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas se-
mua orang sebab satu orang, yaitu Yesus
Kristus” (Rm. 5:15). Ialah “Seorang” yang
mendatangkan “kebangkitan orang mati” (1
Kor. 15:21); “Dia yang menjadi pengantara
antara Allah dan kita semua , yaitu kita semua
Kristus Yesus” (1 Tim. 2:5). Dalam perca-
kapan-Nya dengan musuh-musuh-Nya, Kris-
tus menyatakan diri-Nya sebagai kita semua :
“namun yang kamu kerjakan ialah berusaha
membunuh Aku; Aku, seorang yang menga-
takan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran
yang Kudengar dari Allah” (Yoh. 8:40). Na-
ma yang paling digemari Kristus, yang di-
gunakan-Nya sampai 77 kali, yaitu “Anak
kita semua ” (bandingkan Mat. 8:20; 26:2). Ge-
lar Anak Allah memusatkan perhatian kepa-
da hubungan-Nya dengan Keallahan. Nama
Anak kita semua menekankan solidaritas-Nya
terhadap umat kita semua melalui penjelmaan-
Nya.
4. Sifat-sifat Kekita semua an-Nya. Allah
menjadikan kita semua “kurang sedikit dari-
pada segala malaikat” (Mzm. 8:6, Terjemah-
an Lama). Begitulah Alkitab menyatakan Ye-
sus sebagai Seorang “yang untuk waktu yang
singkat dibuat sedikit lebih rendah dibandingkan
malaikat-malaikat” (Ibr. 2:9), Kekita semua an-
Nya secara alamiah dibuat dan tidak memi-
liki kuasa yang luar biasa.
Kristus telah menjadi kita semua yang se-
sungguhnya; ini menjadi sebagian dari pada
misi-Nya. Untuk memiliki sifat-sifat manu-
sia Ia harus menjadi kita semua dalam”darah
dan daging” (Ibr. 2:14). “Dalam segala hal,”
Kristus telah dijadikan “disamakan” dengan
sesama-Nya kita semua (Ibr. 2:17). Secara fi-
sik dan mental Ia memilikinya sama seperti
kita semua lainnya: dalam soal lapar, dahaga,
letih dan cemas (Mat. 4:2; Yoh. 19:28; 4:6;
bandingkan Mat. 26:21; 8:24).
Di dalam pelayanan-Nya untuk orang-
orang lain Ia memperlihatkan kelembutan,
amarah yang tepat, dan dukacita (Mat. 9:36;
Mrk. 3:5). Sering Ia merasa susah dan ber-
dukacita, bahkan juga menangis (Mat. 26:38;
Yoh. 12:27; 11:33, 35; Luk. 19:41). Ia ber-
doa diiringi dengan tangisan, butir-butir air
mata, juga sampai mengeluarkan keringat
darah (Ibr. 5:7; Luk. 22:44). Hidup-Nya yang
penuh dengan doa menunjukkan ketergan-
tungan-Nya yang mutlak kepada Tuhan Al-
lah (Mat. 26:39-44; Mrk. 1:35; 6:46; Luk.
5:16; Mrk. 6:12).
Yesus juga merasakan kematian (Yoh.
19:30, 34). Ia bangkit bukan seperti roh me-
lainkan dalam wujud tubuh (Luk. 24:36-43).
5. Perluasan Jati diri-Nya dengan Si-
fat kita semua . Alkitab menyatakan bahwa
Kristus menjadi Adam yang kedua, Ia hidup
“dalam daging, yang serupa dengan daging
yang dikuasai dosa sebab dosa” (Rm. 8:3).
Dalam hal apakah Ia menyamakan diri de-
ngan kita semua yang telah jatuh ke dalam dosa
itu? Pandangan yang benar mengenai per-
59Allah Anak
nyataan “serupa dengan daging yang dikua-
sai dosa sebab dosa,” atau kita semua yang
berdosa, yaitu sangat penting. Pandangan-
pandangan yang keliru mengenai pernyataan
ini telah menimbulkan perbedaan dan per-
tengkaran sepanjang sejarah gereja Kristen.
a. Ia “yang Serupa dengan Daging
yang Dikuasai Dosa.” Di halaman sebelum-
nya telah dikemukakan mengenai ular yang
ditinggikan di padang belantara, memberi-
kan sebuah pemahaman mengenai sifat ke-
kita semua an Kristus. Sebagaimana tembaga
yang diukir berbentuk ular berbisa dan di-
tinggikan demi kesembuhan umat itu, de-
mikianlah Anak kita semua dijadikan “serupa
dengan daging yang dikuasai dosa sebab do-
sa” menjadi Juruselamat dunia.
Sebelum penjelmaan, Yesus yaitu “Al-
lah” untuk mengatakan bahwa sifat Ilahi se-
jak semula memang ada pada-Nya (Yoh. 1:1;
Flp. 2:6, 7). Ketika mengambil wujud “ham-
ba” Ia mengesampingkan hak-hak istimewa
Keilahian-Nya. Ia menjadi hamba Bapa-Nya
(Yes. 42:1), untuk melaksanakan kehendak
Allah (Yoh. 6:38); Mat. 26:39, 42). Ia mem-
bungkus keilahian-Nya dengan kekita semua -
an, Ia telah dijadikan “serupa dengan daging
yang dikuasai dosa sebab dosa” atau “da-
ging yang dikuasai dosa” atau “dengan sifat
kita semua yang jatuh ke dalam dosa” (banding-
kan Rm. 8:3).11 Ini bukanlah menunjukkan
bahwa Yesus Kristus penuh dengan dosa,
atau turut melakukan perbuatan dan pikiran
yang penuh dosa. Walaupun dijadikan da-
lam bentuk atau serupa dengan daging yang
di-kuasai dosa, Ia sama sekali tidak berdosa
dan mengenai ketidakberdosaan ini tidaklah
perlu dipertanyakan.
b. Ia Menjadi Adam yang Kedua. Alki-
tab memberikan persamaan antara Adam dan
Kristus, menyebut Adam “kita semua pertama”
dan Kristus “kita semua kedua” dan “Adam
yang akhir” (1 Kor. 15:45, 47). namun Adam
masih lebih beruntung bila dibandingkan de-
ngan Kristus. Adam waktu jatuh ke dalam
dosa berada di taman Firdaus. Tubuhnya
sempurna, kita semua sempurnayang memili-
ki kekuatan jasmani dan pikiran yang kokoh.
Berlainan dengan Yesus. Ketika Ia me-
ngenakan sifat kita semua , kita semua ketika itu
telah mengalami tingkat kemerosotan dosa
di planet yang terkutuk kurang lebih 4000
tahun. Oleh sebab itu, Ia harus menyelamat-
kan mereka yang sudah jauh merosot kea-
daannya, Kristus harus mengenakan sifat ke-
kita semua an seperti itu, yang apabila diban-
dingkan dengan keadaan Adam yang belum
dicemari dosa, telah merosot kemampuan fi-
sik dan mental—namun walaupun demiki-
an, Ia sama sekali tidak berdosa.12
Tatkala Kristus menanggung akibat dosa
dengan sifat kekita semua an yang seperti dise-
butkan di atas, maka Ia pun menjadi sasaran
kelemahan dosa seperti yang dialami oleh
semua kita semua . Itu harus dialami-Nya. Si-
fat kekita semua an-Nya “penuh dengan kele-
mahan” atau “menanggung penyakit kita”
(Ibr. 5:2; Mat. 8:17; Yes. 53:4). Ia merasa-
kan kelemahan-Nya. Ia telah mempersem-
bahkan “doa dan permohonan dengan ratap
tangis dan keluhan kepada Dia yang sang-
gup menyelamatkan-Nya dari maut” (Ibr.
5:7), sehingga dengan demikian menyama-
kan diri-Nya dengan kekurangan dan kele-
mahan yang umum dialami kita semua .
Oleh sebab itu, “Kekita semua an Kristus
bukanlah kekita semua an Adam sebelum jatuh
ke dalam dosa ataupun di dalam segala segi
sesudah jatuh ke dalam dosa. Bukanlah se-
perti Adam, sebab ketika itu masih belum
ada orang yang jatuh ke dalam dosa. Ketika
itu belumlah ada moral yang begitu me-
60Allah Anak
rosot. Justru dalam arti yang amat harfiah
dalam kekita semua an kita, namun tidak terda-
pat dosa.13
c. Pengalaman-Nya Menghadapi
Penggodaan. Bagaimana pengaruh Allah
Anak penggodaan terhadap Kristus? Apakah
mu-dah atau sulit bagi-Nya menentangnya?
Cara Ia mengalami penggodaan membukti-
kan bahwa Ia memang benar-benar manu-
sia.
I. Ia Telah Dicobai Sama Seperti Kita
Dicobai. Bahwa Kristus “sama dengan kita,
Ia telah dicobai” (Ibr. 4:15), menunjukkan
bahwa Ia yaitu seorang yang turut mengam-
bil bagian dalam sifat kekita semua an. Peng-
godaan yang sama dan juga kemungkinan
untuk berbuat dosa benar-benar dihadapi
oleh Kristus. Jika Ia tidak ada kemungkinan
untuk berbuat dosa maka Ia bukanlah manu-
sia atau teladan bagi kita. Kristus mengam-
bil wujud kita semua dengan segala kemung-
kinan yang ada di dalamnya, termasuk
kemungkinan menyerah terhadap penggo-
daan.
Walaupun Ia jelas dapat digoda “sama de-
ngan kita” atau “dalam segala hal,” bukan-
lah berarti bahwa la mendapat penggodaan-
penggodaan yang serupa dengan kita alami
sekarang ini. Ia tidak pernah mengalami
penggodaan untuk menonton TV yang me-
nyajikan program yang jelek dan merusak
moral, atau mengendarai kendaraan mele-
wati batas kecepatan.
Masalah utama yang mendasari segala pen-
cobaan ialah masalah apakah kita mau tunduk
kepada kehendak Allah. Dalam menghadapi
pencobaan, Yesus selalu tunduk kepada Allah.
Dengan bergantung selalu kepada kuasa Ilahi,
Ia berhasil melawan penggodaan yang paling
keras sekalipun, dalam kekita semua an-Nya.
Kemenangan Kristus atas penggodaan me-
layakkan-Nya merasa simpati kepada manu-
sia yang lemah. Kemenangan kita atas peng-
godaan diperoleh melalui ketergantungan kita
yang senantiasa kepada-Nya. “Sebab Allah se-
tia dan sebab itu Ia tidak akan membiarkan
kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada
waktu kamu dicobai Ia akan memberikan ke-
padamu jalan keluar, sehingga kamu dapat
menanggungnya (1 Kor 10:13).
Haruslah diakui bahwa pada akhirnya
“Akan tetap menjadi sebuah misteri yang ti-
dak terterangkan bagi kita semua fana bahwa
Kristus dapat dicobai dalam segala segi sama
seperti kita, namun demikian tidak melaku-
kan dosa sama sekali.”14
II. “Menderita sebab Pencobaan.”
Kristus menderita sementara mendapat se-
rangan pencobaan (Ibr. 2:18). Ia menjadi “ke-
selamatan, dengan penderitaan” (Ibr. 2:10).
sebab Ia sendiri menghadapi kuasa penco-
baan, maka kita dapat mengetahui bahwa Ia
tahu betul bagaimana menolong orang yang
terkena pencobaan. Ia bersatu dengan orang
yang terkena pencobaan, yang menjadi bagi-
an kita semua itu.
Bagaimanakah Kristus menderita di ba-
wah tekanan pencobaan itu? Walaupun Ia
mempunyai “daging yang dikuasai dosa ka-
rena dosa,” kemampuan rohani-Nya bebas
dari jenis noda dosa mana pun. Akibatnya,
sifat-Nya yang kudus sangat sensitif. Segala
yang berkaitan dengan yang jahat selalu me-
nyakitkan-Nya. Dengan demikian, sebab Ia
menderita dalam penyempurnaan kekudus-
an-Nya, pencobaan membuat Yesus men-
derita melebihi derita yang mungkin dirasa-
kan kita semua lain.
Sejauh manakah Kristus menderita? Pe-
ngalaman-Nya di padang belantara, Getse-
mani dan Golgota menunjukkan bahwa Ia
61Allah Anak
melawan pencobaan sampai mengucurkan
tetesan darah (bandingkan Ibr. 12:4).
Kristus bukan saja menderita sebab ke-
kudusan-Nya, la menghadapi pencobaan
yang jauh lebih besar dibandingkan yang mung-
kin dihadapi sesama kita semua . B.F. Wescott
menulis, “Simpati terhadap orang berdosa
dalam pencobaannya bukanlah bergantung
pada pengalaman dosa melainkan atas pe-
ngalaman bagaimana kuatnya godaan untuk
melakukan dosa yang intensitasnya secara
penuh yang hanya diketahui oleh orang yang
tidak berdosa saja. Ia yang jatuh menyerah
sebelum tekanan terakhir.”16 F.F. Bruce se-
pendapat dengan mengatakan, “Ia berhasil
menahan setiap bentuk penggodaan yang
mungkin dihadapi kita semua , tanpa melemah-
kan iman-Nya pada Allah atas melonggar-
kan penurutan Dia kepada-Nya. Ketahanan
demikian menuntut lebih dari yang diderita
kita semua .”17
Kristus juga menghadapi penggodaan
yang begitu dahsyat yang belum pernah di-
hadapi kita semua —godaan untuk mengguna-
kan kuasa Ilahi-Nya demi kepentingan diri-
Nya. Ellen G. White berkata, “Ia telah mene-
rima penghormatan di surga dan amat me-
ngenal kuasa yang mutlak. Sulit bagi-Nya
mempertahankan tingkat kekita semua an, seba-
gaimana bagi kita semua untuk naik di atas si-
fat-sifat mereka yang rendah dan merosot, dan
sekaligus mengambil bagian sifat Ilahi.”18
d. Dapatkah Yesus Berdosa? Banyak
orang Kristen berbeda pendapat mengenai
pertanyaan apakah Kristus dapat berbuat do-
sa. Kita sependapat dengan Philip Schaff
yang berkata, “Jika Ia (Kristus) sudah dibe-
kali sejak semula dengan kondisi tanpa ca-
cat yang mutlak, atau ketidakmungkinan ber-
buat dosa, maka ia tidak akan dapat menja-
di kita semua yang sesungguhnya, tidak pula
dapat menjadi contoh yang patut kita tela-
dani, dalam kesuciannya, dengan kemam-
puannya yang serba bisa dan warisan pem-
bawaan, akan menjadi suatu kebetulan atau
karunia lahiriah saja, dan godaan yang dih-
adapinya merupakan sebuah pertunjukan
yang semu.”19 Karl Ullmann menambahkan,
“Sejarah penggodaan, betapapun itu dapat
dijelaskan, tidak akan mengandung makna;
dan pernyataan di dalam Surat Kiriman ke-
pada orang Ibrani bahwa ‘ia telah terkena
coba sama seperti kita,’ akan menjadi tidak
bermakna.”20
6. Sifat Kekita semua an Yesus yang Ti-
dak Berdosa. Jelas bahwa sifat Ilahi Kris-
tus tidak berdosa. Akan namun bagaimana
dengan sifat kekita semua an-Nya?
Alkitab menggambarkan kekita semua an
Yesus Kristus yang tidak berdosa. Kelahiran-
Nya yang supra-alamiah—Ia ada sebab Roh
Kudus (Mat. 1:20). Sebagai seorang bayi
yang baru lahir Ia pantas “disebut kudus”
(Luk. l:35). Ia mengenakan wujud kita semua
dalam keadaan kita semua yang berdosa, da-
pat menanggung risiko dosa, tidak dalam do-
sa. Ia bersatu dengan kita semua , namun tidak
dalam dosa.
Yesus “telah dicobai, hanya tidak berbuat
dosa,” yaitu “yang saleh, tanpa salah, tanpa
noda, yang terpisah dari orang-orang berdo-
sa” (Ibr. 4:15; 7:26). Paulus menulis bahwa
Ia “tidak mengenal dosa” (2 Kor. 5:21). Pe-
trus memberikan kesaksian bahwa Ia “tidak
berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mu-
lut-Nya” (1 Ptr. 2:22), dan membandingkan-
Nya dengan ”anak domba yang tak berno-
da” (1 Ptr. 1:19; Ibr. 9:24). “Dan di dalam
Dia” kata Yohanes, “tidak ada dosa.... Kris-
tus yaitu benar” (1 Yoh. 3:5-7).
Yesus mengenakan sifat kita ke atas diri-
Nya dan segala pertanggungan untuk itu, na-
mun demikian Ia bebas dari warisan kemero-
sotan dan dosa. Ia menantang para penen-
62Allah Anak
tang-Nya, “Siapakah di antaramu yang mem-
buktikan bahwa Aku berbuat dosa?” (Yoh.
8:46). Waktu Ia menghadapi pengadilan
yang amat kejam itu, Ia menyatakan, “Se-
bab penguasa dunia ini datang dan ia tidak
berkuasa sedikit pun atas diri-Ku” (Yoh. 14:
30). Yesus tidak mempunyai kecenderung-
an kepada keinginan dan nafsu dosa Tidak
ada satu pun dari serangan pencobaan yang
begitu gencar yang dapat meretakkan keta-
atan-Nya kepada Allah.
Yesus tidak pernah menyampaikan pe-
ngakuan dosa atau mempersembahkan se-
buah korban. Ia tidak pernah berdosa, “Bapa,
ampunilah Aku,” melainkan,”Ya Bapa, am-
punilah mereka” (Luk. 23:34). Ia senantiasa
melakukan kehendak Bapa, bukan berusaha
melakukan kehendak-Nya sendiri. Yesus se-
lalu bergantung kepada Bapa (bandingkan
Yoh. 5:30).
Tidak seperti sifat kita semua yang sudah
jatuh ke dalam dosa, “sifat rohani” Kristus
yaitu suci dan kudus, “bebas dari segala
cacat dosa.”21 Salahlah beranggapan bahwa
Ia sama saja dengan kita, “kita semua yang per-
sis dengan kita.” Ia Adam yang kedua, Anak
Allah yang unik. Jangan pula kita berang-
gapan bahwa Ia “memiliki kecenderungan-
kecenderungan dosa.” Manakala sifat kema-
nusiaan-Nya dicobai dalam segala hal seba-
gaimana layaknya umat kita semua , Ia tidak
pernah gagal, Ia tidak pernah berbuat dosa.
Di dalam diri-Nya tidak pernah ditemukan
kecenderungan kepada yang jahat.22
Sesungguhnya, Yesus yaitu contoh dan
teladan kita semua yang paling tinggi dan pa-
ling kudus. Ia tidak berdosa, dan apa yang
dilakukan-Nya menunjukkan kesempurnaan.
Sesungguhnya Ia teladan yang sempurna dari
hal kita semua yang tidak berdosa.
7. Perlunya Kristus Mengenakan Si-
fat kita semua . Alkitab memberikan pelbagai
alasan mengapa Kristus harus mengenakan
sifat kita semua .
a. Untuk Menjadi Imam Besar Bagi
Umat kita semua . Sebagai Mesias, Yesus ha-
rus menduduki jabatan imam besar atau pe-
ngantara antara Allah dan kita semua (Za. 6:13;
Ibr. 4:14-16). Fungsi ini menuntut sifat ke-
kita semua an, Kristus memenuhi kualifikasi:
(i) Ia harus dapat mengerti “orang-orang
yang jahil dan orang-orang yang sesat” kare-
na Ia sendiri”penuh dengan kelemahan” (Ibr.
5:2). (ii) Ia “yang menaruh belas kasihan dan
yang setia” sebab dalam segala sesuatu Ia
telah dijadikan “sama dengan saudara-sau-
dara-Nya” (Ibr. 2:17). (iii) Ia “dapat meno-
long mereka yang dicobai” sebab “Ia sendiri
telah menderita sebab pencobaan” (Ibr. 2:
18). (iv) Ia menaruh simpati kepada orang
yang lemah sebab Ia “telah dicobai, hanya
tidak berbuat dosa”(Ibr. 4:15).
b. Untuk Menyelamatkan Orang yang
Paling Hina Sekalipun. Untuk menjangkau
orang di tempat mereka berada serta menye-
lamatkan orang yang paling tidak menaruh
harapan, Ia turun ke tingkat seorang hamba
(Flp. 2:7).
c. Menyerahkan Hidup-Nya sebab
Dosa-dosa Dunia. Sifat Keilahian Kristus
tidak dapat mati. Agar Kristus dapat mati ma-
ka Ia harus mengenakan sifat kita semua . Ia
menjelma menjadi kita semua dan membayar
hukuman sebab dosa, yakni dengan maut
(Rm. 6:23; 1 Kor. 15:3). Sebagai kita semua Ia
merasakan maut bagi setiap orang (Ibr. 2:9).
d. Untuk Menjadi Teladan Kita. Un-
tuk memberikan teladan bagaimana seharus-
nya kita semua hidup, Kristus harus mengha-
yati hidup yang tidak berdosa sebagai makh-
luk kita semua . Sebagai kita semua Adam yang
63Allah Anak
kedua Ia merontokkan mitos bahwa manu-
sia tidak dapat menuruti hukum Allah dan
dapat mengalahkan dosa. Ia menunjukkan
bahwa mungkin saja bagi kita semua menjadi
tetap setia kepada kehendak Allah. Di tem-
pat kita semua Adam yang pertama gagal, ma-
nusia Adam yang kedua dapat mengalahkan
dosa dan Setan serta menjadi Juruselamat
dan teladan yang sempurna bagi kita. Di da-
lam kekuatan-Nya, kemenangan-Nya dapat
menjadi bagian kita (Yoh. 16:33).
Dengan memandang kepada-Nya, manu-
sia “diubah menjadi serupa dengan gambar-
Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar”
(2 Kor. 3:18). “Marilah kita melakukannya
dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang
memimpin kita dalam iman, dan yang mem-
bawa iman kita itu kepada kesempurnaan....
Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun me-
nanggung bantahan yang sehebat itu terha-
dap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa,
supaya jangan kamu menjadi lemah dan pu-
tus asa” (Ibr. 12:2, 3). Sesungguhnya, Kris-
tus “telah menderita untuk kamu dan telah
meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu
mengikuti jejak-Nya” (1 Ptr. 2:21; banding-
kan Yoh. 13:15).
PERSATUAN KEDUA SIFAT ITU
Pribadi Yesus Kristus memiliki dua si-
fat: yang Ilahi dan kita semua . Ia yaitu Ma-
nusia Allah. namun perlu diperhatikan bah-
wa penjelmaan-Nya melibatkan Anak Allah
yang kekal mengambil sifat kita semua ke da-
lam diri-Nya, bukannya Anak kita semua yang
memperoleh Keilahian. Gerakan itu dari Al-
lah kepada kita semua , bukan dari kita semua ke-
pada Allah.
Di dalam Yesus, kedua sifat ini berpadu
menjadi satu pribadi. Cobalah simak bukti
Alkitabiah yang berikut ini:
Kristus yaitu Gabungan Dua Sifat.
Alkitab menggambarkan Yesus sebagai satu
pribadi, bukan dua. Banyak nas yang menun-
juk kepada sifat Keilahian dan kekita semua an
itu, namun yang dibicarakannya hanya satu
pribadi saja. Rasul Paulus menggambarkan
pribadi Yesus Kristus sebagai Anak Allah
(dengan sifat Ilahi) yang dilahirkan seorang
wanita (dengan sifat atau keadaan kita semua ;
Gal. 4:4). Yesus “yang walaupun dalam rupa
Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan
Allah itu sebagai milik yang harus diperta-
hankan” (dengan keadaan kita semua ), “mela-
inkan telah mengosongkan diri-Nya sendi-
ri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan
menjadi sama dengan kita semua ” (keadaan
kita semua ; Flp. 2:6, 7).
Sifat Kristus yang seperti ini bukanlah
terdiri dari kuasa Ilahi yang abstrak atau pe-
ngaruh yang dihubungkan dengan kemanu-
siaan-Nya. “Firman itu,” kata Yohanes, “te-
lah menjadi kita semua , dan diam di antara kita,
dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu
kemuliaan yang diberikan kepada-Nya se-
bagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karu-
nia dan kebenaran” (Yoh. 1:14). Paulus me-
nulis, Allah mengutus “Anak-Nya sendiri da-
lam daging, yang serupa dengan daging yang
dikuasai dosa” (Rm. 8:3); “Dia, yang telah
menyatakan diri-Nya dalam rupa kita semua ”
(1 Tim. 3:16; 1 Yoh. 4:2).
Perpaduan Dua Sifat. Alkitab meng-
gambarkan Anak Allah dalam pelbagai isti-
lah sifat kekita semua an-Nya. Allah menebus
jemaat-Nya dengan darah-Nya sendiri (Kis.
20: 28; bandingkan Kol. 1:13,14). Dalam
beberapa contoh lain dicirikan Anak Manu-
sia dalam istilah sifat Keilahian-Nya (ban-
dingkan Yoh. 3:13; 6:62; Rm. 9:5).
Ketika Kristus turun ke dunia ini, “satu
tubuh” telah disediakan bagi-Nya (Ibr. 10:5).
64Allah Anak
Manakala Ia mengenakan pada diri-Nya ke-
kita semua an itu, Keilahian disalut dengan ke-
kita semua an. Ia tidak muncul dari diri-Nya,
sebagai sesuatu sifat yang lain, melainkan
mengenakan kekita semua an itu kepada diri-
Nya. Dengan demikian Keilahian dan kema-
nusiaan digabungkan.
Ketika Kristus menjelma menjadi manu-
sia, Kristus tidak berhenti sebagai Allah, ti-
dak juga Keilahian-Nya diturunkan ke ting-
kat kekita semua an. Setiap sifat atau keadaan
itu tetap ada. “Sebab dalam Dialah,” kata
Rasul Paulus, “berdiam secara jasmaniah se-
luruh kepenuhan Keallahan” (Kol. 2:9). Di
kayu salib sifat atau keadaan kita semua -Nya
mati, bukan ke-Tuhanan-Nya, sebab ke-Tu-
hanan itu mustahil mati.
Perlunya Gabungan Kedua Sifat itu.
Adanya pemahaman antar hubungan kedua
sifat Kristus memberikan sebuah wawasan
vital ke dalam misi Kristus dan keselama-
tan kita sendiri.
1. Untuk Mendamaikan kita semua de-
ngan Allah. Hanya Juruselamat yang manu-
sia Ilahi itu yang dapat membawa keselamat-
an. Pada waktu Kristus menjelma menjadi
kita semua , dalam upaya membagikan sifat Ila-
hi-Nya kepada umat percaya, dikenakan-Nya
kekita semua an pada diri-Nya. Melalui jasa da-
rah Allah kita semua , umat percaya dapat me-
ngambil bagian dari sifat Ilahi itu (2 Ptr. 1:4).
Tangga dalam mimpi Yakub melambang-
kan Kristus yang menjangkau kita di mana
pun kita berada. Ia mengenakan kekita semua an
dan sifat-sifat kekita semua an itu serta menga-
lahkannya, supaya kita pun dengan sifat-Nya
itu dapat menang. Lengan-lengan Ilahi-Nya
meraih takhta Allah, sementara kemanu-
siaan-Nya memeluk bangsa kita semua , meng-
hubungkan kita dengan Allah, menghubung-
kan bumi dengan surga.
Perpaduan sifat kita semua Ilahi membuat
korban pendamaian Kristus menjadi efek-
tif. Kehidupan makhluk kita semua yang tidak
berdosa atau hidup malaikat sekalipun tidak
dapat mengadakan pendamaian atas dosa-
dosa umat kita semua . Hanyalah kita semua Ila-
hi, sang Khalik yang dapat menebus manu-
sia.
2. Menyelubungi Keilahian dengan Ke-
kita semua an. Kristus menyalut keilahian-Nya
dengan jubah kekita semua an, mengesamping-
kan kemuliaan dan keagungan-Nya yang sur-
gawi, demikianlah orang-orang berdosa akan
mampu berada di hadapan hadirat-Nya tan-
pa dibinasakan. Walaupun Ia-tetap Tuhan, Ia
tidak tampil sebagai Allah (Flp. 2:6-8).
3. Agar Dapat Hidup Menang. Kema-
nusiaan Kristus saja tidak akan dapat mena-
han tipu daya Setan yang amat berkuasa itu.
Ia dapat mengalahkan dosa sebab Ia ting-
gal dalam “seluruh kepenuhan Keallahan”
(Kol. 2:9). Percaya sepenuhnya kepada Ba-
pa, (Yoh. 5:19, 30;8:28), “kuasa Ilahi-Nya
digabungkan dengan kekita semua an demi ke-
pentingan kita semua untuk memperoleh ke-
menangan yang tidak ada batasnya.”23
Pengalaman Kristus dalam kehidupan
yang penuh kemenangan bukanlah merupa-
kan hak istimewa yang eksklusif. Ia tidak
pernah mempraktikkan kekuasaan yang ti-
dak dapat dipraktikkan kita semua . Kita juga
dapat “dipenuhi di dalam seluruh kepenuh-
an, Allah” (Ef. 3:19). Melalui kuasa Ilahi
Kristus kita dapat jalan masuk “kepada sega-
la sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan
dan kebajikan.”
Kunci kepada pengalaman ini yaitu
iman terhadap “janji-janji yang berharga dan
yang sangat besar” sehingga kita “boleh me-
ngambil bagian dalam kodrat Ilahi, dan lu-
put dari hawa nafsu duniawi yang membina-
65Allah Anak
sakan dunia” (2 Ptr. 1:3, 4). Ia memberikan
kuasa yang serupa dan dengan kuasa yang se-
perti itulah Ia dapat menang, sehingga orang
mau menurut dengan setia serta memiliki ke-
hidupan yang menang.
Janji penghiburan Kristus yaitu salah sa-
tu kemenangan: “Barangsiapa menang, akan
Kududukkan bersama-sama dengan Aku di
atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah
menang dan duduk bersama-sama dengan
Bapa-Ku di atas takhta-Nya” (Why. 3:21).
TUGAS-TUGAS YESUS KRISTUS
Tugas-tugas nabi, imam dan raja memang
unik, pada umumnya mengharuskan adanya
pelayanan penahbisan melalui pengurapan
(1 Raj. 19:16; Kel. 30:30; 2 Sam. 5:3). Mesi-
as yang akan datang itu, Seorang yang Di-
urapi—telah dinyatakan melalui nubuat—
akan menjabat ketiga tugas ini. Kristus me-
laksanakan tugas-Nya sebagai pengantara
antara Allah dengan kita melalui jabatan na-
bi, imam dan raja. Kristus sang Nabi me-
nyatakan kehendak Allah kepada kita, Kris-
tus sang Imam mewakili kita kepada Allah
dan sebaliknya, Kristus sang Raja mempu-
nyai otoritas kemurahan Allah atas umat-
Nya.
Kristus Sang Nabi. Allah menyatakan
jabatan Kenabian Kristus kepada Musa: “Se-
orang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka
dari antara saudara mereka, seperti engkau
ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mu-
lutnya, dan ia akan mengatakan kepada me-
reka segala yang Kuperintahkan kepada-
nya” (Ul. 18:18). Orang yang hidup seza-
man dengan Kristus mengakui kegenapan
nubuatan ini (Yoh. 6:14; 7:40; Kis. 3:22, 23).
Yesus menyebut diri-Nya sebagai “nabi”
(Luk. 13:33). Ia mengajar dengan penuh kua-
sa kenabian (Mat. 7:29), menyatakan dasar-
dasar kerajaan Allah (Mat. 5:7; 22:23-36-
40), dan menyatakan yang akan datang (Mat.
24: 1-51; Luk. 19:41-44).
Sebelum penjelmaan-Nya Kristus meng-
isi para penulis Alkitab dengan Roh-Nya dan
menyatakan kepada mereka nubuat menge-
nai kesengsaraan dan berikut kemuliaan
yang diakibatkannya (1 Ptr. 1:11). sesudah
kenaikan-Nya ke surga Ia masih terus me-
nyatakan diri-Nya kepada umat-Nya. Kitab
Suci mengatakan Ia memberikan “kesaksian-
Nya”—“roh nubuat”—kepada umat-Nya
yang sisa dan setia (Why. 12:17; 19:10; baca
bab 17 dari artikel ini).
Kristus Sang Imam. Sumpah Ilahi de-
ngan tegas menyatakan keimamatan Mesias:
“Tuhan telah bersumpah, dan Ia tidak akan
menyesal: ‘Engkau yaitu imam untuk se-
lama-lamanya, menurut Melkisedek” (Mzm.
110: 4). Kristus bukan keturunan Harun.
Seperti halnya Melkisedek, hak-Nya melak-
sanakan tugas keimamatan datang dari pe-
nentuan Ilahi (Ibr. 5:6, 10; baca bab 7). Tu-
gas keimamatan-Nya yang bersifat mengan-
tarai terbagi atas dua fase: di dunia maupun
di surga.
1. Keimamatan Kristus di Dunia. Pe-
ran imam di mezbah persembahan bakaran
melambangkan tugas pelayanan Kristus di
dunia. Yesus layak dan sempurna untuk ja-
batan imam: Ia kita semua dan Ia “ditetapkan”
Allah dan bertindak “dalam hubungan mere-
ka dengan Allah,” ”dipanggil untuk itu oleh
Allah” dengan tugas istimewa mempersem-
bahkan “persembahan dan korban sebab
dosa” (Ibr. 5:1, 4, 10).
Imam memperdamaikan para penyembah
Allah melalui sistem persembahan yang
menggambarkan syarat pendamaian atas
dosa (Im. 1:4; 4:29, 31, 35; 5:10; 16:6; 17:
11). Oleh sebab itu, persembahan yang te-
66Allah Anak
rus-menerus di mezbah persembahan bakar-
an melambangkan tersedianya pendamaian
yang terus-menerus.
Pengorbanan-pengorbanan ini belumlah
memadai. Mereka tidak dapat membuat yang
mempersembahkannya sempurna, mele-
nyapkan dosa atau menghasilkan hati nura-
ni yang sempurna (Ibr. 10:1; 9:9). Korban-
korban persembahan itu hanyalah sekadar
bayang-bayang hal-hal yang baik yang ba-
kal terjadi (Ibr. 10:1; bandingkan 9:9, 23, 24).
Perjanjian Lama mengatakan bahwa Mesias
sendiri akan mengambil tempat korban-kor-
ban persembahan binatang itu (Ibr. 10:5-9;
Mzm. 40:7-9). lalu korban-korban ini
menunjuk kepada derita yang dirasakan demi
orang lain dan pendamaian sebab kematian
Kristus Juruselamat itu. Ia yang menjadi
Anak domba Allah, menjadi dosa sebab ki-
ta, menjadi satu kutuk bagi kita, darah-Nya
menyucikan kita dari segala dosa (2 Kor. 5:
21; Gal. 3:13; 1 Yoh. 1:7; bandingkan 1 Kor.
15:3).
Sehingga pada masa pelayanan Kristus
di atas dunia ini Ia bertindak sebagai imam
dan persembahan sekaligus. Kematian-Nya
di kayu salib merupakan bagian tugas keima-
matan-Nya. Sesudah korban di Golgota, ma-
ka pengantaraan-Nya yang bersifat keimam-
atan dipusatkan di bait suci yang di surga.
2. Keimamatan Surgawi Kristus. Pela-
yanan keimamatan Kristus dimulai di atas
dunia ini dan dilengkapkan-Nya di surga.
Penghinaan yang dialami-Nya di atas dunia
ini sebagai hamba Allah yang menderita me-
layakkan Dia menjadi Imam Besar di surga
(Ibr. 2:17, 18; 4:15; 5:2). Nubuatan-nubuat-
an menyatakan bahwa Mesias akan men-
dapat keagungan sebagai imam di takhta Al-
lah (Za. 6:13). sesudah kebangkitan-Nya dari
kubur, Kristus yang telah dihinakan itu di-
tinggikan. Dan sekarang Imam Besar kita du-
duk “di sebelah kanan takhta Yang Maha-
besar di sorga,” melayani di kaabah yang di
surga (Ibr. 8:1, 2; bandingkan 1:3;9:24).
Kristus memulai pekerjaan pengantara-
an-Nya begitu Ia naik ke surga. Asap dupa
yang naik ke atas di tempat yang kudus da-
lam bait suci melambangkan jasa Kristus,
doa-doa dan kebenaran yang melayakkan
perbaktian dan doa kita kepada Allah. Dupa
dapat dipersembahkan hanyalah dengan me-
ngambil bara dari mezbah persembahan ba-
karan, yang menyatakan hubungan erat an-
tara pengantaraan dengan persembahan pen-
damaian dari mezbah itu. Oleh sebab itu,
tugas pengantaraan Kristus dibangun atas
jasa pendamaian pengorbanan yang sempur-
na yang dilakukan-Nya.
Pengantaraan yang dilakukan Kristus
memberikan dorongan yang kuat bagi umat-
Nya: Ia mampu “juga menyelamatkan de-
ngan sempurna semua orang yang oleh Dia
datang kepada Allah. Sebab la hidup senan-
tiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibr.
7:25). sebab Kristus mengadakan pengan-
taraan bagi umat-Nya, semua tuduhan Se-
tan kehilangan keabsahan dasarnya (1 Yoh.
2:1; bandingkan Za. 3:1). Secara retoris Pau-
lus bertanya, “Siapakah yang akan menghu-
kum mereka?” lalu Ia memberikan ja-
minan bahwa Kristus sendiri yang di sebe-
lah kanan Allah, menjadi pengantara bagi ki-
ta (Rm. 8: 34). Untuk mengukuhkan peran-
an-Nya sebagai Pengantara, Kristus berka-
ta, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu
minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya ke-
padamu dalam nama-Ku” (Yoh. 16:23).
Kristus Sang Raja. Tuhan telah “mene-
gakkan takhta-Nya di sorga dan kerajaan-
Nya berkuasa atas segala sesuatu (Mzm 103:
19). Dengan bukti diri-Nya sendiri, bahwa
Anak Allah sebagai salah seorang dari Ke-
allahan itu, turut dalam pemerintahan Ilahi
67Allah Anak
ini atas semesta alam.
Kristus, sebagai Allah-kita semua akan
memberlakukan pemerintahan-Nya sebagai
raja atas orang-orang yang menerima Dia se-
bagai Tuhan dan Juruselamat. “Takhtamu ke-
punyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan
selamanya,” katanya, “dan tongkat kerajaan-
mu yaitu tongkat kebenaran” (Mzm. 45:7;
Ibr. 1:8, 9).
Kerajaan Kristus bukannya dibangun tan-
pa perjuangan, sebab “raja-raja dunia ber-
siap-siap dan para pembesar bermufakat ber-
sama-sama melawan Tuhan dan yang diura-
pi-Nya (Mesias)” (Mzm. 2:2). namun segala
rencana dan daya upaya mereka tidak ber-
hasil. Allah akan menobatkan Mesias di atas
takhta-Nya dengan pengumuman: “Akulah
yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-
Ku yang kudus!” Ia mengumumkan pula,”
Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanak-
kan pada hari ini” (Mzm. 2:6, 7; Ibr. 1:5).
Nama Raja yang akan menduduki takhta
Daud yaitu “TUHAN KEADILAN KITA”
(Yer. 23: 5, 6), pemerintahan-Nya unik kare-
na Ia berfungsi sebagai imam dan raja di
takhta surga (Za. 6:13).
Kepada Maria, malaikat Gabriel membe-
ritahukan bahwa Yesus akan menjadi Me-
sias, dengan perkataan, “Ia akan menjadi raja
atas kaum keturunan Yakub sampai selama-
lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berke-
sudahan” (Luk. 1:33). Kerajaan-Nya digam-
barkan oleh dua takhta yang melambangkan
kedua kerajaan-Nya. “Takhta kasih karunia”
(Ibr. 4:16) menggambarkan kerajaan anuge-
rah; “takhta kemuliaan-Nya” (Mat. 25:31)
tetap untuk kerajaan kemuliaan.
1. Kerajaan Anugerah. Begitu kita semua
jatuh ke dalam dosa, kerajaan anugerah itu
didirikan. Keberadaannya atas janji Allah.
Melalui iman kita semua dapat menjadi rakyat-
nya. namun pengukuhannya belumlah leng-
kap sampai tiba saat kematian Kristus. Ke-
tika Ia berseru di kayu salib, “Sudah sele-
sai,” syarat rencana penebusan telah dipenu-
hi dan perjanjian baru diratifikasi (banding-
kan Ibr. 9:15-18).
Proklamasi Yesus, “Waktunya telah ge-
nap; Kerajaan Allah sudah dekat”(Mrk. 1:
15) yaitu petunjuk langsung kepada kera-
jaan anugerah yang akan segera didirikan
menyusul kematian-Nya. Didirikan atas ka-
rya penebusan, bukan dengan Penciptaan,
kerajaan ini menerima warganya melalui re-
generasi—kelahiran baru. Peraturan Yesus,
“Jika seorang tidak dilahirkan dari air dan
Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Keraja-
an Allah” (Yoh. 3:5; bandingkan 3:3). Ia
membandingkan pertumbuhannya kepada
pertumbuhan yang bersifat fenomena sebu-
ah pertumbuhan biji sesawi dan efek ragi atas
gandum (Mrk. 4:22-31; Mat. 13:33).
Kerajaan anugerah itu tidak tampak se-
cara lahiriah, akan namun efeknya nyata di
hati umat percaya. Kerajaan ini, kata Yesus
mengajarkan, “datang tanpa tanda-tanda la-
hiriah, juga orang tidak dapat mengatakan:
Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Se-
bab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di an-
tara kamu’” (Luk. 17:20, 21). Kerajaan-Nya
bukanlah berasal dari dunia ini, kata-Nya,
melainkan kerajaan kebenaran. “Aku yaitu
raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itu-
lah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya
Aku memberi kesaksian tentang kebenaran;
setiap orang yang berasal dari kebenaran
mendengarkan suara-Ku” (Yoh. 18:37).
Pendirian kerajaan ini merupakan suatu
pengalaman yang mengerikan, mengukuh-
kan pernyataan bahwa tidak ada mahkota tan-
pa derita. Pada penghujung tugas pelayanan-
Nya di atas dunia ini, Yesus, Sang Mesias,
Allah kita semua , datang ke Yerusalem seba-
gai ahli waris takhta Daud. Ia duduk di atas
seekor keledai menurut kebiasaan orang Ya-
68Allah Anak
hudi bagi seorang raja yang masuk kota (Za.
9:9), Ia disambut khalayak secara spontan,
menyatakan dukungan dengan kegembi-raan
yang meluap-luap. Dalam perjalanan arak-
arakan memasuki kota Ia diiringi “orang ba-
nyak yang sangat besar jumlahnya meng-
hamparkan pakaiannya di jalan” sebagai alas
yang dilalui raja, mereka juga memotong
ranting-ranting pohon sambil berseru, kata-
nya ‘Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah
Dia yang datang dalam nama Tuhan!’” (Mat.
21:8, 9) dengan demikian menggenapi apa
yang telah dinubuatkan Zakharia sebelum-
nya. Sekarang Kristus tampil sebagai raja
Mesias.
Sayangnya, pernyataan-Nya dan tuntut-
an-Nya atas takhta bukannya tanpa perla-
wanan. Kebencian Setan meluap-luap terha-
dap “Orang yang tidak berdosa itu” menca-
pai puncaknya. Dalam tempo dua belas jam
saja para pembela iman, majelis Sanhedrin,
menangkap-Nya secara diam-diam, mem-
bawa Dia ke sidang pengadilan, dan men-
jatuhi hukuman mati.
Selama persidangan berlangsung, Yesus
terang-terangan mengukuhkan bahwa Ia ada-
lah Anak Allah dan Raja bagi umat-Nya
(Luk. 23:3; Yoh. 18:33-37). Sebagai sam-
butan atas pernyataan-Nya itu, Ia dikenakan
jubah dan mahkota raja cemoohan, bukan
dengan mahkota emas melainkan dengan
mahkota duri (Yoh. 19:2). Penerimaan atas-
Nya sebagai raja dinyatakan dengan olok-
olok dan cercaan yang luar biasa. Sambil me-
mukuli Dia, serdadu mengejek, “Salam, hai
raja orang Yahudi!” (Yoh. 19:3). Tatkala Pi-
latus, gubernur Roma, menampilkan Dia ke-
pada bangsa itu, ia berkata, “Inilah rajamu”
umat-Nya menolak Dia sambil berteriak,
“Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan
Dia!” (Yoh. 19:14, 15).
Melalui kehinaan yang amat sangat—de-
ngan kematian di kayu salib—Kristus mem-
bangun kerajaan anugerah. Tidak lama kemu-
dian derita yang hina itu digantikan peng-
agungan. Dengan kenaikan-Nya, Ia mendu-
duki takhta di surga selaku Imam dan Raja,
bertakhta bersama-sama Bapa (Mzm 2:7, 9;
bandingkan Ibr. 1:3-5; Flp. 2:9-11; Ef. 1:20-
23). Pemahkotaan ini bahkan memberikan
kepada-Nya, selaku Anak Allah yang Ilahi,
kuasa apa pun yang belum pernah dimiliki-
Nya sebelumnya. namun sekarang, sebagai
Pengantara yang Ilahi kita semua , kekita semua -
an-Nya turut serta dalam kemuliaan surgawi
dan begitu pula dengan kuasa-Nya untuk per-
tama kalinya.
2. Kerajaan Anugerah. Gambaran kera-
jaan kemuliaan itu ditampilkan di Bukit Ke-
muliaan. Di sanalah Kristus menampilkan
diri-Nya dalam kemuliaan-Nya. “Wajah-Nya
bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya
menjadi putih bersinar seperti terang” (Mat.
17:2). Musa dan Elia mewakili orang yang
ditebus. Musa menggambarkan orang yang
mati dalam Kristus dan lalu dibangkit-
kan, sedang Elia mewakili orang-orang
percaya yang akan dibawa ke surga tanpa
mengalami kematian pada waktu kedatang-
an-Nya kedua kali.
Kerajaan kemuliaan, akan didirikan de-
ngan diikuti peristiwa dahsyat waktu keda-
tangan Kristus (Mat. 24:27, 30, 31; 25:31,
32). lalu diikuti dengan pengadilan,
waktu Anak kita semua mengakhiri tugas peng-
antaraan-Nya di bait suci surga, “Yang Lan-
jut Usianya”—Allah Bapa—akan memberi-
kan kepada-Nya “kekuasaan dan kemuliaan
dan kekuasaan sebagai raja” (Dan. 7:9, 10,
14). lalu “pemerintahan, kekuasaan
dan kebesaran dari kerajaan-kerajaan di ba-
wah semesta langit akan diberikan kepada
orang-orang kudus, umat Yang Mahatinggi:
pemerintahan mereka yaitu pemerintahan
yang kekal, dan segala kekuasaan akan me-
69Allah Anak
ngabdi dan patuh kepada mereka” (Dan. 7:
27).
Kerajaan kemuliaan pada akhirnya akan
didirikan di atas dunia pada akhir milenium
itu, manakala Yerusalem Baru akan turun da-
ri surga (Why. 20, 21). Dengan menerima
Yesus Kristus sebagai Juruselamat, kita da-
pat menjadi warga negara kerajaan kemu-
rahan-Nya sekarang dan kerajaan kemulia-
an pada waktu kedatangan-Nya, yang kedua
kali. Di hadapan kita terbentang kehidupan
yang mempunyai kemungkinan yang tiada
batasnya. Kehidupan yang diberikan Kris-
tus bukanlah suatu kehidupan yang dipenu-
hi kegagalan dan hadapan yang pudar serta
impian yang buyar, melainkan suatu kehi-
dupan yang bertumbuh, yang berjalan de-
ngan sukses bersama Kristus, Juruselamat.
Suatu kehidupan yang memperlihatkan ke-
hidupan cinta kasih yang sejati dan bertum-
buh terus, penuh kegembiraan, damai, pan-
jang sabar, lemah lembut, kebajikan, setia-
wan, ramah dan penuh pengendalian diri
(Gal.
.jpeg)
