Tentang hewan 13
tuk memberitahu anggota
kelompok yang lain tentang lokasi
pemangsa itu. Cara demikian ini jauh
lebih membantu mereka selamat dari
pemangsa daripada lari beramai-ramai
secepatnya ke pintu lubang, sebab
hewan pemangsa mungkin saja segera
menunggu di pintu lubang.
Anjing prairie merupakan jenis
dengan peranan sentral dalam eko-
sistem padang rumput. Peranannya
dalam pelestarian dan persebaran
hewan dan tumbuhan di padang rum-
put sangat besar. Tanpa mereka, kehi-
dupan di padang rumput akan sangat
berbeda. Sebagai pemakan rumput,
tumbuhan perdu, akar, dan biji-bijian,
anjing prairie membuat tumbuhan
tetap pendek dan selalu ada pucuk
baru yang kaya akan nutrisi. Kebiasaan
mereka menggali untuk membuat
lubang sarang berfungsi seperti bajak;
memberi kesempatan setiap tumbuh-
an untuk berkembang dengan baik.
Dengan cara ini hewan lain, seperti bison
dan kelinci, tertarik untuk datang.
Lubang yang digali anjing prairie
seringkali juga menjadi tempat tinggal
hewan lain. Banyak tikus, kelinci, ular,
salamander, bahkan burung hantu
penggali lubang, dan lainnya, meman-
faatkan lubang anjing prairie untuk
tempat tinggalnya. Pada gilirannya,
hewan pemangsa seperti anjing liar,
elang, burung hantu, dan sejenisnya
memperoleh makanannya dari hasil
kerja anjing prairie.
Jenis hewan lain yang juga meng-
gunakan suara untuk berkomunikasi
yaitu lumba-lumba. Lumba-lumba
hidung botol (bottlenose dolphin)
yaitu salah satu kelompok dolphin
yang paling umum diketahui. Hewan
dari marga Tursiops ini terdiri dari dua
jenis, yaitu Tursips truncatus dan Tur-
siops aduncus, yang hidup di perairan
laut panas dan sedang.
Umumnya lumba-lumba hidup
berkelompok dengan anggota antara
10–30 ekor. Mereka memakan ikan-
ikan permukaan, memburunya secara
individu maupun bekerja sama dalam
kelompok. Kelompok ikan yang menjadi
mangsa mereka ciri dari suara yang
dipantulkan seperti sonar. Suara klik-
klik diperdengarkan oleh dolphin, yang
lalu dipantulkan oleh kelompok
ikan, yang akan menunjukkan lokasi
kelompok ikan ini berada. Dolphin juga
memakai suara seperti bersiul
untuk berkomunikasi. Mereka juga
berkomunikasi dengan bahasa tubuh
dan bentuk suara yang diakibatkan
lompatan keluar air atau pukulan per-
mukaan oleh ekornya.
Dolphin, seperti anak kecil, tidak
mau berhenti “bercakap-cakap”. Seca-
ra terus-menerus mereka mengelu-
arkan suara untuk berkomunikasi
maupun keperluan navigasi. Bunyi
dan cara mengeluarkannya berbeda
untuk kedua maksud ini. Untuk ke-
perluan navigasi dan berburu ikan,
mereka membuat suara yang disebut
Echolocation. Suaranya dibuat pada
saluran hidung yang terletak di bawah
lubang pernafasan di bagian atas
kepala. Bunyi yang dibuatnya disebut
clicks, yang menyerupai bunyi menge-
tuk. Bunyi click ini dapat keluar terus-
menerus dan dalam interval yang rapat,
sehingga berbunyi seperti berdegung
(buzz) atau seperti bunyi itik (wek–
quack). Suara ini lalu dipantulkan
oleh objek kembali ke sumber bunyi.
Peneliti menduga penyaluran suara
juga dimaksudkan untuk membuat
mangsa yang berukuran kecil tidak
berdaya.
Dengan pita suaranya dolphin
dapat menghasilkan suara siulan atau
memekik pada nada tinggi. Siulan
dilakukan secara single tone, tanpa
fibrasi, sehingga terdengar seperti ber-
dengung atau menderu. Selama ini,
siulan itu dipercaya dipakai dolphin
untuk komunikasi antarindividu, se-
dangkan pekikan dipakai sebagai
tanda bahaya atau rangsangan seksual.
Bunyi siulan dan memekik yang
bervariasi, baik nada, kecepatan, dan
pengulangannya dipakai untuk
mengkomunikasikan suasana emosi-
onal seekor dolphin kepada dolphin
lainnya. Salah satu kemampuan ber-
komunikasinya ini dilakukan untuk
mengorganisasi proses “menggiring”
kumpulan ikan pada saat berburu se-
cara berkelompok. Dengan kondisi
demikian, dapatkah dikatakan bahwa
dolphin berkomunikasi secara linguis-
tik? Jawabannya yaitu ya. Dolphin
umumnya hidup di lingkungan kelom-
poknya saja. Seringkali mereka sulit
berkomunikasi dengan dolpin asing.
Dari suatu penelitian diketahui bahwa
tiap dolphin memiliki “nama”. Paling
tidak, dolphin akan memakai
nada siulan tertentu untuk individu
tertentu, seperti halnya manusia me-
manggil sesamanya dengan menyebut
nama. Dolphin seperti dapat bercakap-
cakap layaknya manusia. Saat dua
dolphin “bercakap-cakap”, mereka
bersuara secara bergiliran, tidak bersa-
maan. Dengan demikian, komunikasi
yang dilakukannnya mirip sebuah per-
cakapan.
Hewan lain yang dikenal ber-
komunikasi dengan suara yaitu paus.
Istilah nyanyian ikan paus dipakai
untuk menjelaskan suatu pola dari
suara yang menerus dan dapat dipre-
diksi nadanya oleh beberapa jenis
paus, di antaranya paus biru (blue
whale) dan paus bungkuk (humpback
whale). Nyayian ikan paus ini sangat
mirip dengan lagu yang diciptakan
manusia. Asal suara berbeda antara
kelompok paus yang bergigi (seperti di
antaranya dolphin) dan mereka yang
memakai baleen sebagai ganti gigi
untuk menapis air untuk memperoleh
makanannya yang berupa udang kecil
atau ikan sardin (seperti ikan paus
biru). Pada kelompok ikan paus bergigi,
mereka tidak memproduksi suara yang
panjang dan memiliki frekuensi yang
tinggi. Mereka memproduksi suara
click dan siulan yang pendek-pendek.
Sementara itu, suara yang diha-
silkan paus ber-baleen sangat berbeda.
Paus ber-baleen tidak memiliki bibir
yang tepat untuk dapat mengeluarkan
bunyi siulan. Mereka memiliki pita
suara yang tidak memiliki kemampuan
mengeluarkan nada yang berbeda-
beda. Cara kerjanya sampai saat ini
belum terlalu banyak diketahui. Udara
yang dipakai untuk mengeluarkan
suara yaitu udara yang tersimpan
di paru-paru dan saluran pernafasan.
Peneliti menduga saluran pernafasan
itu sendiri yang memproduksi suara,
namun, kembali, namun mekanisme-
nya belum diketahui dengan baik.
Frekuensi suara yang dihasilkannya
antara 10 Hz sampai 31 kHz—suara
yang dapat didengar manusia berki-
sar antara 20 Hz sampai 20 kHz. Ke-
mampuan mengeluarkan suara untuk
navigasi belum dapat dijelaskan. Akan
namun , bagaimana mereka dapat me-
nyelam ke laut dalam, sedang kon-
disi penglihatan, pendengaran, dan
penciuman mereka lemah? Tampak-
nya, satu-satunya jawaban yaitu bah-
wa mereka memakai suara untuk navi-
gasinya itu.
Dua kelompok paus, yakni paus
biru dan paus bungkuk, sangat dikenal
dengan nyanyiannya yang terdiri atas
satu seri lagu yang diulang-ulang dalam
berbagai frekuensi. Lagu “ciptaannya”
itu yaitu salah satu hasil karya he-
wan yang sangat kompleks. Nyanyi-
an demikian ini hanya dilakukan
hewan jantan pada musim kawin,
sehingga diduga ia berguna menarik
hewan betina. Apakah nyanyian ini
merupakan kompetisi di antara hewan
jantan untuk menarik hewan betina,
belum sepenuhnya dimengerti. Yang
jelas, nyayian ini dilantunkan pada
saat mereka berenang bersama-sama
dalam kelompok, sehingga tampaknya
bukan untuk maksud kompetisi. Akan
namun , peneliti pernah menemukan
nyanyian itu “dilantunkan” pada ke-
lompok yang terdiri atas seekor jan-
tan dan beberapa betina, sehingga
menimbulkan kesan kompetisi.
Semua paus jantan dalam satu
area menyanyikan lagu yang sama
dalam waktu bersamaan, yang kemu-
dian sedikit semi sedikit berubah dengan
berjalannya waktu. Misalnya, dalam
waktu satu bulan, nyanyian dimulai
dalam frekuensi tertentu. Secara per-
lahan frekuensi mulai meninggi, dan
pada suatu saat menjadi nyanyian
yang mendatar. Pada area lain, tidak
ada perubahan frekuensi; yang ada
hanya semakin kerasnya suara. Per-
ubahan dapat terjadi dalam skala
tahunan. Kelompok yang sama akan
menyanyikan lagu yang sama sekali
berbeda dari tahun lalu, sedang
pada dua tahun ke depan, nyanyian itu
hanya mengalami sedikit perubahan.
Dari pengamatan selama 19 tahun,
diketahui bahwa pola nyanyian paus
cenderung berubah berdasar wak-
tu.
Paus bungkuk juga menghasilkan
beberapa bunyi lain yang dipakai
untuk keperluan sosial lainnya, seper-ti
bunyi menggerutu, mengerang, men-
dengus atau menyalak. Kadangkala,
paus bungkuk menyanyikan nada-nada
yang tidak terkait dengan nyanyian
massal terutama saat terjadinya ritual
kawin. Paus ini juga menyanyikan lagu
lain (pada frekeunsi yang konstan,
menerus selama 5–10 detik) sebagai
panggilan makan. jika suara ini
dilantunkan, ikan akan lari menjauh
(walaupun pada saat penelitian ha-
nya dilantunkan dari pita rekaman).
Tampaknya ikan juga mempelajari nya-
nyian paus pemangsanya.
Komunikasi dengan Warna
Hewan memakai warna untuk
berkomunikasi dengan beberapa alas-
an, seperti penyamaran (camouflage),
mengubah penampakan dan menye-
rupai jenis atau hewan lain (mimicry),
membedakan antara jantan dan betina
(sexual dimorphism), dan keperluan
perilaku reproduksi.
Contoh hewan yang mengguna-
kan warna sebagai cara menyamarkan
diri atau kamuflase yaitu bunglon.
Bunglon dapat berubah warna untuk
menyamar dan menyatu dengan ling-
kungan sekitarnya. Dengan demikian,
hewan pemangsanya akan sulit meng-
identifikasi dan membedakan bunglon
dari lingkungannya. Ada juga hewan-
hewan, misalnya katak, yang memiliki
warna yang mencolok dan berwarna-
warni. Warna mencolok ini dipakai
untuk menandakan dirinya sebagai
katak yang berbisa dan berbahaya
untuk dimangsa. Dengan cara ini
katak mampu membuat nafsu makan
burung atau pemangsa lainnya hilang.
Kendati demikian, ada jenis katak lain
yang sebenarnya tidak berbisa namun
memakai pola warna katak ber-
bisa. Perilaku ini disebut mimicry. De-
ngan modal ini ia mengelabui pemang-
sa sehingga urung memangsanya.
Pada gambar 247 terlihat tiga
jenis katak berbeda yang sangat
mirip pola warnanya satu sama lain.
Sedemikian miripnya sampai-sampai
pemangsa sulit membedakan satu dari
yang lain. Katak yang hidup di Ekuador,
Amerika Selatan ini yaitu jenis
Allobates zaparo (gambar paling atas)
yang tidak berbisa dan hanya meniru
warna dari kerabatnya yang berbisa,
Epipedobates bilinguis—tengah, dan
katak lain yang jauh lebih berbisa, yak-
ni Epipedobates parvalus—bawah.
Warna sebagai penanda jenis
kelamin banyak ditemukan pada bu-
rung. Ada beberapa jenis burung yang
jantannya berubah warna bulunya
atau paruhnya menjadi lebih bersinar
saat musim kawin, dan memudar
sesudah nya, misalnya burung puffin
arktika jantan (Fratercula artica). War-
na yang ada di paruhnya akan lebih
tajam dan terlihat cemerlang pada
saat musim kawin, yaitu pada musim
panas. Adapaun pada musim dingin,
warna paruhnya memudar walaupun
polanya masih tetap ada. Warna
cemerlang pada paruhnya mungkin
dipakai nya untuk menarik lawan
jenisnya. Akan namun , sebab jenis ini
memiliki pasangan tetap dan tidak
berganti sepanjang hidupnya, maka
warna cemerlang itu mungkin juga
menandai kesiapan dirinya untuk
kawin.
Perbedaan warna juga ada
pada banyak jenis burung untuk mem-
bedakan jantan dari betina. Perbedaan
itu terkadang demikian mencolok
sehingga semula banyak yang meng-
anggap sebagai burung dari jenis
yang berbeda. Hal demikian ini banyak
ditemui pada burung-burung paruh
pengkok yang hidup di Australia, di
antaranya dari kelompok Australian
King Parrot. Salah satu jenis burung
paruh bengkok dari kelompok King
Parrot yaitu jenis Alisterns scapularis,
memiliki jantan yang berbulu dominan
merah dengan sayap hijau, sedang
burung betinanya berwarna hijau
polos. Kondisi demikian ini mirip
dengan apa yang ada pada burung
paruh bengkok marga Eclectus. Pada
kelompok burung cenderawasih, per-
bedaan jantan dan betina bahkan tidak
sebatas pada warna bulu saja, tapi juga
bentuk tubuh dan bulunya.
Kelompok hewan lain yang juga
memakai warna untuk berkomu-
nikasi yaitu cumi-cumi, di antaranya
383Perikehidupan Hewan
100 meter. Habitatnya selalu berubah-
ubah berdasar umur dan ukuran
cumi-cumi ini. Cumi muda umumnya
berkumpul di laut dangkal, di sekitar
rumput laut, pada kedalaman dua
meter. Dengan hidup di sini, ancaman
burung laut dapat di atasi. Mereka
juga tidak hidup di dasar perairan
sebab menghindari ikan pemangsa
yang banyak hidup di dasar perairan.
Cumi ini pada umumnya berwarna
kehijauan, hingga yang berwarna cok-
lat pada bagian punggungnya, dan
coklat muda kepucatan atau keputihan
di bagian perutnya.
Mereka berkomunikasi di antara
jenisnya dengan sinyal yang sangat
kompleks, yakni dengan mengontrol
pigmen pada kulitnya. Komunikasi
dilakukan dengan berbagai perubahan
warna, bentuk, dan corak di kulitnya.
Perubahan warna dan profil kulitnya
yang sangat cepat mampu dilakukan-
nya dengan bantuan sistem syaraf
yang mengontrol chromatophore. Or-
gan ini merupakan bagian otot yang
dikontrol langsung oleh otak. Peru-
bahan warna, ditambah dengan pola
renang tertentu, dipakai untuk
ritual pada musim kawin. pemakaian
warnanya sangat kompleks, sehingga
seekor cumi dapat mengirimkan sinyal
dengan warna kepada rekan di sebelah
kirinya, dan sinyal dengan warna lain
kepada rekan di sebelah kanannya.
jenis Sepiotethis sepioidae yang juga
disebut sebagai Carribean Reef Squid.
Kelompok ini hidup di wilayah ber-
karang di perairan dangkal di Laut
Karibia, Amerika Tengah, sampai Florida,
Amerika Serikat. Cumi-cumi ini ber-
ukuran kecil, dengan panjang sekitar
20 cm. Bentuk tubuhnya menyerupai
torpedo, dengan sirip memanjang di
hampir sepanjang tubuhnya. Baru-
baru ini diketahui bahwa cumi ini dapat
meloncat dan “terbang” di udara.
Sepiotethis sepioidae hidup ber-
kelompok, antara 4–30 ekor, di per-
airan karang sampai kedalaman sekitar
seaman.com; chemistry.csudh.edu)
Dari penelitian diketahui bahwa
cumi jenis ini memiliki lebih dari 40
corak. Selain untuk keperluan ko-
munikasi, perubahan bentuk (sehing-
ga tampak lebih besar daripada se-
benarnya) dan warna tubuh juga
mereka gunakan untuk pertahanan diri
dan kamuflase. Tidak saja bersembunyi
di sekitar terumbu karang, mereka juga
merubah warna tubuhnya menjadi
coklat gelap sampai merah, sehingga
menyatu dengan lingkungannya.
Mereka berenang berkelompok
dalam barisan, dengan cumi berukuran
besar di bagian depan dan tengah
rombongan. saat bahaya mendekat,
kolompok akan saling merapat, mem-
bentuk rombongan yang rapat satu
dengan lainnya. Rombongan akan ber-
gerak cepat ke arah yang dipilih secara
bersama-sama.
Dalam berkembang biak, cumi
ini masuk kelompok yang disebut se-
melparous, yaitu mati sesudah mela-
kukan aktivitas reproduksi. Cumi be-
tina akan mati sesudah meletakkan
telurnya di tempat yang tersembunyi,
sedang cumi jantan dapat mem-
buahi beberapa betina, sebelum mati.
Komunikasi dengan Gerakan
Komunikasi dengan gerakan banyak
dilakukan oleh serangga. Salah satu
yang sangat dikenal yaitu “tarian”
yang diperagakan oleh lebah pekerja.
saat lebah-lebah pencari menemu-
kan ladang bunga, mereka akan meng-
komunikasikan temuannya itu kepada
lebah pekerja lain sesampainya di
sarang. Dari pengamatan diperoleh
keterangan bahwa lebah pencari
dapat menginformasikan banyak hal,
termasuk bau (mutu) makanan, arah
ladang bunga dari sarang, dan jarak
sarang ke ladang bunga.
jika jarak ladang bunga sam-
pai dengan 75 meter dari sarang, maka
si lebah pencari akan menarikan “tarian
membulat” (round dance—gambar
253 kiri). jika jaraknya lebih dari
75 meter maka lebah akan melakukan
tarian wagle (wagle dance—gambar
253 kanan). Waggle dance terbagi atas
dua komponen, yaitu:
• Membuat garis lurus di tengah,
yang memberikan informasi me-
ngenai arah dari ladang bunga
• Kecepatan penari dalam meng-
ulang tariannya yang mengindika-
sikan seberapa jauh lokasi makanan
dari sarang.
Komunikasi dengan tarian yang
diperkenalkan oleh Von Frisch pada
tahun 1947 merupakan satu penda-
pat dalam hal bagaimana lebah meng-
komunikasikan dan mengorganisir pe-
ngumpulan pakan. Ada berpendapat
lain yang menyatakan bahwa peran
feromonlah yang bertanggung jawab
terhadap pengerahan lebah dalam
mengumpulkan makanan. Kendati de-
mikian, banyak peneliti menyatakan
bahwa komunikasi dengan tarian un-
tuk mengerahkan lebah pekerja lebih
masuk akal daripada teori bau dari
feromon. Belakangan ada satu lagi
bentuk tarian lebah yang dapat diciri
oleh para peneliti, yaitu tarian getar
atau tremble dance.
Para peneliti yang menyatakan
bahwa baulah yang berperan mem-
bimbing lebah pekerja menuju sumber
makanan berargumentasi bahwa tari-
an hanya merangsang para pekerja
untuk berkumpul, hanya sebagai pe-
narik perhatian. Yang lebih menjadi
pertimbangan, menurut mereka, ada-
lah nektar yang juga dibawa kembali
oleh lebah yang melakukan tarian.
Penelitian membuktikan bahwa bila
lebah pencari membawa pulang sum-
ber makanan berupa gula yang tak
berbau, para lebah pekerja yang disu-
guhi tarian untuk terbang menuju
sumber makanan itu sama sekali
tidak tertarik. Alasan lain yang me-
nguatkan teori ini yaitu sulitnya
menerima bahwa tarian yang begitu
sederhana dalam skala kecil ini dilak-
sanakan di lapangan. Mengenai arah,
misalnya, jika ada kesalahan mem-
baca beberapa derajat saja dari arah
yang disajikan dalam tarian, maka
lebah dapat saja sampai di suatu
tempat yang jauhnya beberapa kilo-
meter dari yang seharusnya dituju.
Dengan demikian, tentunya masih ha-
rus ditentukan seberapa besar presisi
yang harus dianut di sini.
Teori tentang bau ini tampaknya
tidak serta-merta mementahkan teori
tarian yang secara konsisten masih
dilakukan oleh lebah sampai saat ini.
Pada dasarnya teori ini ingin menam-
bahkan bahwa di samping tarian, pe-
ran bau nektar yang dibawa pulang
juga menentukan keputusan apakah
nektar itu diterima ataukah ditolak.
Debat akademis kedua teori tipe ko-
munikasi yang dilakukan oleh lebah
dalam pengumpulan makanan masih
berlangsung sampai saat ini. Pro dan
kontra, bahkan usulan penggabungan
keduanya, masih terus ditulis dalam
majalah-majalah sains internasional.
Hewan lain yang memakai
gerak dalam komunikasi di antara
jenisnya yaitu kepiting. Kelompok
yang menjadi favorit para peneliti da-
lam kaitan ini yaitu kepiting fiddler
(fiddler crab) dari marga Uca yang
banyak ditemukan hidup di kawasan
pantai pasir berlumpur di kawasan
pantai di Eropa, Afrika, Amerika, dan
Indo-Pasifik. Kepiting jantan diciri
dengan satu capitnya yang membesar.
jika , sebab satu dan lain sebab,
capit itu putus, maka capit yang
kecil akan membesar sampai ukuran
tertentu. Adapun pada tempat di mana
capit putus, akan tumbuh capit yang
kecil. Capit yang besar merupakan sa-
lah satu alat untuk menarik betinanya
dengan mengayun-ayunkannya. Cara
menarik dengan visual ini dilengkapi
pula dengan cara lain, yaitu dengan
sinyal akustik (suara).
Pada siang hari, beberapa jenis
Uca, di antaranya Uca pugilator yang
ditemukan di pantai tropis AS, menarik
betinanya dengan mengayun-ayunkan
capitnya. Jantan itu lalu me-
ngeluarkan suara saat sebagian tu-
buhnya berada di pintu liangnya.
Pada malam hari, kepiting jantan
akan mengeluarkan suara pada
frekuensi rendah, yang akan berubah
meninggi saat ada kepiting betina
menyentuhnya. Pada jenis-jenis
yang hidup di Eropa, di antaranya
Uca tangeri, banyak elemen yang
sama dalam berkomunikasi de-ngan
Uca pugilator. Perbedaannya, Uca
tangeri dapat memproduksi dua
macam suara, salah satunya yaitu
suara seperti genderang yang pendek
dan dikeluarkan saat peragaan se-
cara visual tidak dapat dilakukan,
umpamanya saat ritual kawin dilaku-
kan di bawah air saat pasang naik.
Adapun bunyi seperti genderang pan-
jang diperdengarkan pada waktu yang
lain. Beberapa jenis Uca yang dapat
ditemui di pantai-pantai Indonesia da-
pat dilihat pada gambar 255–256.
Komunikasi dengan mengguna-
kan gerakan dan suara juga banyak
ditemukan pada beberapa hewan yang
hidup di sekitar manusia, di antaranya
saat ayam jantan mengais tumpukan
daun dan sekaligus mengeluarkan
suara untuk memanggil betinanya
mendekat. Dengan cara ini ayam jan-
tan bermaksud menarik perhatian
ayam betina dengan makanan yang
ditemukannya di bawah tumpukan
daun yang ia kais. Burung merak jantan
juga demikian; ia mengembangkan
bulu badan, sayap, dan ekornya untuk
menarik betinanya; dan masih banyak
lagi contoh yang lain.
Dari uraian di atas, kembali Al-
Qur'an memperlihatkan banyaknya
pernyataan di dalamnya yang bersifat
ilmiah. Ini semua membuktikan bahwa
Allah-lah yang telah menciptakan se-
gala sesuatu di bumi, bahkan alam
raya ini. yaitu sangat mengagumkan
bagaimana pernyataan-pernyataan
itu terbukti secara sempurna dengan
ilmu pengetahuan dan temuan-temu-
an pada zaman modern ini. Allah
Yang Mahakuasa telah menjadikan
Al-Qur'an sebagai mukjizat sepanjang
masa dari Nabi Muhammad dan bukti
akan kenabiannya. Kitab suci ini telah
berdiri kokoh selama lebih dari 14
abad dengan semua pernyataannya,
temuannya, ucapan kenabiannya, dan
keajaibannya, yang selalu terbukti dan
sesuai dengan temuan-temuan manu-
sia saat ini. Allah telah berfirman,
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-
tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan
pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka
bahwa Al-Qur'an itu yaitu benar. Tiadakah cukup
bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas
segala sesuatu? (Fușșilat/41: 53)
Kemampuan semut untuk ber-
komunikasi; mengenali manusia, he-
wan lain, kawan sejenis atau sekelom-
pok, telah disampaikan oleh Al-Qur'an.
Pernyataan Allah Yang Mahabesar
ini sepenuhnya akurat secara ilmiah.
Semut nyatanya memang mampu ber-
komunikasi dan mengenali makhluk
lain. Sungguh, segala puji dan kemu-
liaan hanya milik Allah semata, yang
telah memfirmankan Al-Qur'an dan
semua inspirasi-Nya yang dikirimkan
kepada Nabi Muhammad, dan menja-
dikannya keajaiban yang tak lekang
oleh zaman.
C. AIR SUSU
Informasi tentang air susu yang
dihasilkan oleh hewan menyusui atau
mamalia, disebut beberapa kali dalam
Al-Qur'an. Beberapa di antaranya meng-
informasikan tentang asal dari air susu
itu, yaitu dalam firman Allah,
Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar
ada pelajaran bagi kamu. Kami memberimu
minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa)
susu murni antara kotoran dan darah, yang mudah
ditelan bagi orang yang meminumnya. (an-Naĥl/16:
66)
itu terbawa dan dimanfaatkan oleh
organ-organ yang memerlukannya. Se-
perti organ lain, kelenjar air susu juga
memperoleh makanannya dari darah.
sesudah melalui serangkaian proses,
susu yang bernutrisi tinggi lalu
dikeluarkan oleh kelenjar ini.
Ayat di atas menyebutkan bahwa
susu berada di antara darah dan tahi
(material makanan yang dicerna). Ma-
nusia tidak akan memperoleh keun-
tungan apa pun jika berusaha
memakan kedua bahan itu, bahkan
mungkin malah terkena penyakit. Ber-
syukurlah bahwa Allah telah mencip-
takan suatu sistem biologi kompleks
yang menghasilkan cairan susu yang
sangat tinggi nilai gizinya. Ilmu penge-
tahuan modern akhirnya dapat meng-
ungkap proses-proses yang mengarah
pada terjadinya air susu; suatu peng-
ungkapan kebesaran Allah yang tidak
akan tertandingi oleh siapa pun.
Interpretasi atas Surah an-
Naĥl/16: 66 di atas sebelum era ilmu
pengetahuan modern begitu beragam.
Secara literal kata farš, yang dalam
bahasa Inggris diterjemahkan menjadi
chyme, yaitu material tumbuhan
yang ada dalam rumen (bagian dari
saluran makanan hewan herbivora).
Material ini kadang juga disebut sarjīn
(faeces) yang masih ada dalam rumen.
Para ulama memiliki berbagai
interpretasi terhadap ayat ini, tergan-
Dan sesungguhnya pada hewan-hewan ternak
ada suatu pelajaran bagimu. Kami memberi
minum kamu dari (air susu) yang ada dalam perut-
nya, dan padanya juga ada banyak manfaat
untukmu, dan sebagian darinya kamu makan. (al-
Mu'minūn/23: 21)
Manusia dengan kemampuannya
telah lama mengerti hubungan antara
air susu yang diproduksi ternaknya,
khususnya sapi perah, dan makanan
yang dimakannya. Namun demikian,
manusia tidak mengetahui bagaimana
proses perubahan bahan makanan
tadi menjadi air susu, daging, tulang,
dan berbagai organ lainnya. Bahan
makanan dapat dimanfaatkan oleh
tubuh sesudah mengalami perubahan-
perubahan secara kimiawi di dalam
saluran pencernaan. Material yang
sudah dicerna ini lalu disalurkan
melalui dinding usus ke dalam aliran
darah. Dengan mengalirnya darah ke
semua bagian tubuh, bahan makanan
tung pemahaman mereka terhadap
beberapa kata yang disebut di dalam-
nya. Di antaranya yaitu pengguna-an
kata “min baini” yang secara harfiah
berarti “di antara”. Ada mufasir
yang menginterpretasikan kata ini
“sebagian dari chyme dan sebagian
lainnya dari darah.” Ada pula yang
menginterpretasikannya lebih pada
letaknya, yaitu ada bagian chyme dan
ada bagian darah, dan letak susu di
antara keduanya. Beberapa interpre-
tasi dapat digambarkan di bawah ini:
1. Sebuah riwayat daif dari Ibnu
‘Abbās menyatakan, “Jika seekor
hewan memakan rumput, lalu ba-
han ini sampai di rumen,
bahan itu digilingnya, dan terjadi-
lah pemisahan: chyme di bagian
bawah, air susu di tengah, dan
darah di bagian paling bawah.” Me-
lemahkan riwayat ini, Al-Baiďāwi,
al-Qurţubi, Abū Su‘ūd, dan mufasir
lainnya mengatakan bahwa tidak
demikian keadaan sebenarnya.
2. Komentator lainnya memberikan
masukan bahwa chyme yaitu sum-
ber untuk membentuk darah dan
air susu.
3. Banyak komentator yang menye-
tujui temuan modern mengenai
pembentukan air susu.
Di sini tampak bahwa beberapa
komentar dan interpretasi terhadap
proses terbentuknya air susu pada ayat
di atas kurang tepat sebab kurangnya
ilmu pengetahuan. Syukurlah, Allah
senantiasa membimbing manusia se-
hingga pada waktunya akan mengerti
dengan sebenarnya tentang proses
terbentuknya air susu.
Kata khālișan (asli, tidak ter-
campur bahan lainnya) dalam ayat
di atas sebenarnya sudah memberi
sinyal. Menyadari sinyal ini , aţ-
Ţabari mengatakan bahwa susu dilin-
dungi untuk tidak bercampur dengan
chyme dan darah. Artinya, susu tidak
berwarna merah seperti darah, dan
tidak bau (kotor) seperti chyme. Susu
bebas dari kotoran yang ditemukan
pada chyme dan darah.
Sebelum pengetahuan tentang
anatomi ditemukan pada dua abad
lalu, tidak ada yang dapat memahami
misteri apa yang terjadi di saluran
makanan hewan menyusui, terutama
sapi. sesudah beragam peralatan di-
temukan dan bermacam percobaan
ilmiah dilakukan selama beberapa
abad, barulah manusia mengetahui
proses terjadinya air susu. Air susu,
berdasar percobaan ini, berasal
dari chyme, suatu bentuk makanan
yang berupa rumput saat mengalami
proses pencernaan. Bahan ini
lalu diserap darah dan di antaranya
bergerak ke organ penghasil susu. Air
susu yang dihasilkan tidak memiliki
391Perikehidupan Hewan
cairi-ciri chyme dan darah sama sekali.
Selanjutnya, lactose ditambahkan dari
salah satu kelenjar, yang menjadikan
air susu mudah dicerna siapa pun yang
meminumnya.
Manusia mengetahui proses ini
sesudah melakukan percobaan ilmiah
yang memakan waktu berabad-abad,
jauh sesudah Al-Qur'an menyatakan
hal itu pada lebih dari 14 abad lalu.
Jika demikian, siapa yang memberi
tahu Rasulullah tentang proses yang
terjadi di dalam tubuh? Jawabannya
sudah pasti Allah. Betapa tidak, ting-
kat pengetahuan manusia saat itu
belumlah sampai pada level yang
dicapai pada saat ini. Ini membuk-
tikan bahwa Al-Qur'an berisi penge-
tahuan Allah, dan Muhammad yang
menyampaikan pengetahuan Allah itu
yaitu benar utusan-Nya. Allah telah
berfirman,
lainnya, yaitu sistem pencernaan dan
peranan organ-organ yang terkait,
serta kaitannya dengan sirkulasi da-
rah dalam pembagian makanan. Pe-
nelitian-penelitian ilmiah tentang
fungsi organ dan sistem pencernaan
manusia dan hewan telah dilakukan
secara bertahap sejak 1883 sampai
sekarang, saat proses pencernaan
dapat dimengerti, digambarkan, dan
diajarkan di sekolah-sekolah. Saat ini
sudah diketahui, misalnya, bagaimana
pemecahan unsur protein oleh ran-
tai enzim gastrointestinal yang ada
di dalam saluran pencernaan. Dapat
dimengerti pula bagaimana struktur
dan akibat dari cairan-cairan pencer-
naan, seperti lactase, lipase, dan pro-
tease. Ditemukan pula peranan dan
akibat hadirnya berbagai enzim dalam
berbagai tahapan proses pencernaan.
Beberapa peneliti yang membuka
cakrawala pengetahuan tentang or-
gan dan senyawa kimia yang berpe-
ran dalam proses pencernaan di
antaranya Bayliss dan Starling (1902)
yang menemukan hormon secretin,
Canon (1911) yang mengilustrasikan
faktor mekanisme yang terlibat dalam
proses pencernaan, dan Glinard (1913)
yang menyelesaikan studinya tentang
pergerakan usus dalam bentuk film,
dan seterusnya.
Ibnu Nafīs yaitu penemu sis-
tem peredaran darah pada manusia.
namun Allah menjadi saksi atas (Al-Qur'an) yang
diturunkan-Nya kepadamu (Muhammad). Dia me-
nurunkannya dengan ilmu-Nya, dan para malaikat
pun menyaksikan. Dan cukuplah Allah yang men-
jadi saksi. (an-Nisā'/4: 166)
Manusia tidak akan dapat meng-
ungkap rahasia Allah tentang proses
terbentuknya air susu jika sebelum-
nya tidak mengungkap rahasia Allah
Sebelumnya manusia percaya bahwa
darah dibersihkan di dalam kantong
di jantung. Karya Ibnu Nafīs lalu
diterjemahkan oleh Andrea Alpago ke
dalam bahasa latin, dan dipublikasikan
di Venice, Italia, pada 1547. Penelitian
tentang sistem peredaran darah
juga dilakukan oleh William Harvey,
yang dinilai sebagai penelitian besar
sebelum abad 19. Pada tahun 1877,
Claude Bernard membuktikan adanya
kandungan glukosa pada darah, yang
tingkatan kandungannya berhubung-
an dengan penyakit gula. Dia juga
menyempurnakan pendapat Lavoasier
dan Laplace, dan menyatakan bahwa
pembakaran tidak terjadi hanya di
paru-paru, namun juga di semua otot
di tubuh manusia. Ilmu tentang cara
kerja jantung dan paru-paru disempur-
nakan oleh Marey (1863, 1881). Di
samping itu, banyak penelitian yang
juga menyempurnakan pengetahuan
tentang peredaran darah, termasuk
peran dari pengaruh saraf terhadap
detak jantung, pergerakan darah di
dalam urat darah, dan fenomena-
fenomena lainnya. sesudah para ahli
memakai isotop radioaktif, per-
tukaran bahan di dalam urat darah
rambut lebih dipahami.
Dengan demikian, bagaimana air
susu disintesis dari pakan yang dima-
kan sapi ditemukan? Sintesis ditemu-
kan sesudah manusia memahami proses
dan tahap-tahap sistem pencernaan
dan sirkulasi darah, memahami fungsi
jantung dan pembuluh darah, dan
sirkulasi darah serta hubungannya de-
ngan proses pencernaan dan organ
lainnya, seperti organ ambing (organ
yang menghasilkan air susu) dan ke-
lenjar air susu yang ada di dalamnya.
Tahapan-tahapan yang dilalui untuk
menghasilkan air susu yaitu :
1. Pencernaan
Ada beberapa cara pencernaan yang
diketahui, yaitu pencernaan secara
mekanik, secara kimiawi (enzim), dan
secara mikrobial (dengan bantuan jasad
renik). Proses pencernaan dimulai dari
mulut tempat bahan makanan secara
mekanis dikunyah menjadi potongan-
potongan kecil yang dicampur dengan
air ludah. Air ludah mengandung en-
zim amylase yang memulai pencerna-
an secara kimiawi. Makanan kemu-
dian masuk ke lambung, dan kembali
ke mulut untuk dikunyah lagi dan
dicampur dengan air ludah. Hasil
kunyahan ini ditelan kembali untuk
lalu diproses secara mikrobial
oleh bakteri yang ada di dalam saluran
pencernaan selanjutnya. Proses leng-
kap pencernaan pada pemamah biak/
ruminansia, dalam hal ini sapi, yaitu
sebagai berikut.
Pola sistem pencernaan sapi sa-
ma dengan manusia, yaitu terdiri atas
393Perikehidupan Hewan
mulut, faring, esofagus, lambung, dan
usus. Bedanya, sapi tidak memiliki
gigi seri bagian atas dan gigi taring
layaknya manusia. Sapi juga memiliki
gigi geraham lebih banyak daripada
manusia. Hal ini sesuai dengan fungsi-
nya, yaitu untuk mengunyah makanan
berserat yang memiliki penyusun din-
ding sel tumbuhan yang terdiri atas
50% selulosa.
Volume lambung sapi sangat
besar, diperkirakan sekitar 3/4 dari
isi rongga perutnya. Lambung mem-
punyai peranan penting untuk menyim-
pan makanan sementara yang akan
dimamah kembali (kedua kali). Selain
itu, di lambung ini juga terjadi proses
pembusukan dan peragian.
Lambung ruminansia terdiri atas
empat bagian dengan ukuran yang
bervariasi sesuai umur dan makanan
alamiahnya. Melewati kerongkongan,
makanan masuk ke dalam rumen yang
berfungsi sebagai gudang sementara
bagi makanan yang tertelan. Di ru-
men terjadi pencernaan protein, po-
lisakarida, dan fermentasi selulosa
oleh enzim selulase yang dihasilkan
oleh bakteri dan jenis protozoa ter-
tentu. Dari rumen, makanan akan
diteruskan ke retikulum. Di tempat
ini makanan akan dibentuk menjadi
gumpalan-gumpalan kasar—disebut
bolus. Bolus akan dimuntahkan kembali
ke mulut untuk dimamah untuk kedua
kalinya. Dari mulut makanan akan
ditelan kembali untuk diteruskan ke
omasum. Di dalam omasum ada
kelenjar yang memproduksi enzim
yang akan bercampur dengan bolus.
Berikutnya bolus akan diteruskan ke
abomasum, yaitu perut yang sebe-
narnya. Di tempat ini masih terjadi pro-
ses pencernaan bolus secara kimiawi
oleh enzim.
Enzim selulase yang dihasilkan
oleh mikroba (bakteri dan protozoa)
akan merombak selulosa menjadi
asam lemak. Akan namun , bakteri tidak
tahan hidup di abomasum sebab pH
yang sangat rendah. Akibatnya bakteri
ini akan mati. Mikroba yang mati
dicerna untuk menjadi sumber protein
bagi hewan pemamah biak. Dengan
demikian, hewan ini tidak memerlukan
asam amino esensial seperti yang
diperlukan oleh manusia.
Hewan seperti kuda, kelinci, dan
marmut tidak memiliki struktur
lambung untuk fermentasi seluIosa
layaknya sapi. Proses fermentasi atau
pembusukan yang dilaksanakan oleh
bakteri pada hewan-hewan itu hanya
terjadi satu kali. Akibatnya, kotoran
kuda, kelinci, dan marmut lebih kasar.
Pada sapi proses pencernaan terjadi
dua kali, yang keduanya dilakukan
oleh bakteri dan protozoa tertentu.
Pada kelinci dan marmut, kotoran
yang telah keluar dari tubuh seringkali
mereka makan kembali. Kotoran yang
belum tercerna sempurna tadi masih
mengandung banyak zat makanan
yang akan dicerna kembali oleh hewan-
hewan ini .
Usus pada sapi sangat panjang;
usus halusnya bahkan dapat mencapai
40 meter. Hal itu disesauikan dengan
makanannya yang sebagian besar
terdiri dari serat (selulosa). Enzim
selulase yang dihasilkan oleh bakteri
ini tidak hanya berfungsi mencerna
selulosa menjadi asam lemak, namun
juga dapat menghasilkan biogas yang
berupa CH4 yang bisa dimanfaatkan
menjadi sumber energi alternatif. Ti-
dak tertutup kemungkinan bakteri
pada sekum akan keluar dari tubuh
organisme bersama feses, sehingga
di dalam feses (tinja) hewan yang
mengandung bahan organik akan di-
uraikan dan dapat melepaskan gas CH4
(biogas).
2. Ekstrasi dari chyme
Dinding usus kecil akan menyerap
berbagai nutrisi yang telah dipecah
dengan berbagai macam cara. Nutrien
ini lalu mencapai urat darah
halus yang terletak di antara sel-sel
epithel otot. Dari sini, darah dialirkan
ke urat darah yang lebih besar dan ikut
dalam proses sirkulasi darah.
3. Ekstrasi dari darah
Darah akan membawa semua nutrien
ini ke berbagai bagian tubuh, termasuk
sel-sel yang ada pada bagian ambing,
dimana komponen yang membentuk
air susu diekstrak dari darah.
4. Sintesis dari air susu di ambing
Ambing dapat disamakan dengan sua-
tu unit industri. Allah telah membuat
semua sel yang ada dalam organ ini
untuk berintegrasi dan merubah nutrisi
395Perikehidupan Hewan
yang ada di darah menjadi bahan susu
cair yang siap diekskresikan keluar dari
darah melalui dinding urat darah halus
ke ruang-rung di antara sel-sel otot.
Cairan ini lalu melakukan sintesis
yang menambahkan protein, seperti
immunoglobine, yang dikeluarkan oleh
sel-sel ambing. Bahan-bahan seperti
asam amino, gula, garam, lemak, dan
lainnya ditambahkan.
Susu sapi yaitu cairan bergizi
berwarna putih yang dihasilkan oleh
kelenjar susu hewan betina. Susu
yaitu sumber gizi utama bagi anaknya
sebelum mereka dapat mencerna
makanan padat. Susu sapi memiliki
banyak fungsi dan manfaat sebab
mengandung berbagai vitamin dan
protein. Susu juga dapat membantu
pertumbuhan balita dan anak-anak.
Bagi manusia lanjut usia, susu mem-
bantu mencegah pengeroposan tulang
(osteoporosis).
Susu dikonsumsi oleh manusia
sejak lama. Manusia memperoleh susu
dari hewan yang memiliki kelenjar
susu, seperti sapi, kuda, dan domba.
Sapi dan domba mulai dijinakkan sejak
8.000 SM untuk diambil daging, bulu,
dan susunya. Di Timur Tengah, pada
masa itu, para pengembara gurun
telah melakukan fermentasi susu.
Susu diperkirakan mulai merambah
daratan Eropa pada abad V SM. Pada
abad XV, para pelaut mulai membawa
sapi perah untuk dipelihara dan diter-
nakkan di dataran Eropa untuk kon-
sumsi susunya.
Saat ini, meminum susu telah
menjadi kebiasaan yang lumrah di
beberapa negara, terutama di kawasan
Eropa dan Amerika. Susu terus dijaga
pasokannya dengan mendirikan peter-
nakan sapi perah. Pada masa kini, susu
tidak hanya diminum dalam kondisi
segar. Susu juga diubah bentuknya
menjadi margarin, yogurt, bahkan es
krim. Berbagai produk susu pun te-
rus dikembangkan seiring kemajuan
zaman.
Saat masih berada di kelenjar
susu, susu dinyatakan steril. Begitu
sudah terkena udara, susu sudah tidak
dapat lagi dijamin kesterilannya. Susu
yang baik harus memenuhi syarat da-
lam beberapa hal, di antaranya warna,
rasa, bau, kekentalan, dan tingkat
keasaman. Warna susu bergantung
pada beberapa faktor, seperti jenis
ternak dan pakannya. Warna susu
normal biasanya berkisar dari putih
kebiruan hingga kuning keemasan.
Warna putihnya merupakan hasil dis-
persi cahaya dari butiran-butiran le-
mak, protein, dan mineral yang ada di
dalam susu. Lemak dan betakaroten
yang larut menciptakan warna kuning,
sedang jika kandungan lemak
dalam susu diambil, warna biru akan
muncul. Susu terasa sedikit manis dan
asin (gurih) sebab adanya kandungan
gula laktosa dan garam mineral di
dalamnya.
Kembali, Al-Qur'an memberitakan
sebuah keajaiban. Pernyataan Allah
tentang susu yang dibentuk dari pro-
ses chyme (makanan atau isi dari lam-
bung) dan darah telah dikonfirmasi
oleh ilmu pengetahuan. Perihal chyme
maupun peran darah beluam sedikit
pun diketahui saat Al-Qur'an diturun-
kan ke bumi; begitu pula bagaimana
darah yang merah membentuk susu
yang berwarna putih. sebab itu,
sudah seharusnya kita memanjatkan
puja dan puji kepada Allah yang telah
menjadikan Al-Qur'an sebuah kitab
yang sempurna dan tak lekang oleh
zaman; sebuah kitab yang penuh muk-
jizat.
D. PROSES DOMESTIKASI
HEWAN
Proses domestikasi hewan sangat ber-
kait dengan keberadaan hewan ter-
nak yang banyak disebutkan dalam Al-
Qur'an. Kata domestikasi berasal dari
bahasa latin, domesticus. Domesticus,
atau penjinakan, yaitu suatu proses
saat suatu populasi hewan atau
tumbuhan liar, melalui proses seleksi,
menjadi terbiasa hidup di sekitar dan
berada dalam kendali manusia. Ma-
nusia melakukan proses ini untuk
berbagai alasan, antara lain untuk
menjamin ketersediaan makanan (sa-
yuran, padi, ayam peliharaan, atau
kambing) atau barang-barang yang
berharga (seperti wool, kapas atau
sutra), untuk membantu melancarkan
pekerjaan (seperti transportasi), untuk
perlindungan bagi manusia dan ternak
(obat-obatan), sebagai sarana penya-
luran hobi (burung berkicau), maupun
untuk menghasilkan bahan perhiasan.
Dalam istilah warga Arab,
yang disebut hewan ternak yaitu 4
hewan menyusui: unta, sapi, domba,
dan kambing. Adapun kuda, keledai,
bagal, lebah, unggas serta jenis lain
yang dikenal di dunia peternakan saat
ini tidak termasuk dalam istilah hewan
ternak yang tercantum dalam Al-
Qur'an. Ayat berikut menyebut hewan
ternak sebagai anugerah Tuhan.
Dia menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam)
lalu darinya Dia jadikan pasangannya dan
Dia menurunkan delapan pasang hewan ternak
untukmu. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu
kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang
(berbuat) demikian itu yaitu Allah, Tuhan kamu,
Tuhan yang memiliki kerajaan. Tidak ada tuhan
selain Dia; maka mengapa kamu dapat dipalingkan?
(az-Zumar/39: 6)
Sesuai penjelasan di atas, yang
dimaksud dengan “delapan ekor yang
berpasangan” yaitu masing-masing
sepasang sapi, domba, kambing, dan
unta. Ayat lain yang juga berbicara ten-
tang ternak yaitu firman Allah,
Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk
mereka dan agar mere-ka menyebut nama Allah
pada beberapa hari yang telah ditentukan atas
rezeki yang diberikan Dia kepada mereka berupa
hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya
dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan
orang-orang yang sengsara dan fakir. (al-Ĥajj/22:
28)
Dan tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah
menciptakan hewan ternak untuk mereka, yaitu
sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan
kekuasaan Kami, lalu mereka menguasainya?
(Yāsīn/36: 71)
Agar (dengan air itu) Kami menghidupkan negeri
yang mati (tandus), dan Kami memberi minum
kepada sebagian apa yang telah Kami ciptakan,
(berupa) hewan-hewan ternak dan manusia yang
banyak. (al-Furqān/25: 49)
Dia (Allah) telah menganugerahkan kepadamu
hewan ternak dan anak-anak. (asy-Syu‘arā'/26:
133)
Makanlah dan gembalakanlah hewan-hewanmu.
Sungguh, pada yang demikian itu, ada tanda-
tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.
(Ţāhā/20: 54)
Dalam beberapa ayat lain dinya-
takan bahwa adanya peternakan ada-
lah untuk dinikmati manusia dan mem-
buat manusia sejahtera. Ayat yang
menyatakan hal ini yaitu ,
Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia
cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa
perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda
yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak,
kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang.
Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-
lah tempat kembali yang baik. (Āli ‘Imrān/3: 14)
Hewan ternak juga disebutkan
sebagai hewan yang bermanfaat bagi
manusia dalam kehidupan keseharian-
nya, seperti untuk dikendarai, menarik
kereta, disembelih dan dimanfaatkan
dagingnya, serta diperoleh kulit dan
bulunya sebagai bahan pembuatan
tenda dan keperluan rumah tangga
lainnya.
Dan Allah menjadikan rumah-rumah bagimu seba-
gai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagimu
rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit hewan
ternak yang kamu merasa ringan (membawa)
nya pada waktu kamu bepergian dan pada waktu
kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari
bulu domba, bulu unta, dan bulu kambing, alat-
alat rumah tangga dan kesenangan sampai waktu
(tertentu). (an-Naĥl/16: 80)
Di antara ayat-ayat Al-Qur'an
yang menyinggung perihal hewan
ternak, ada beberapa ayat yang
bersifat ilmiah dan perlu diteliti lebih
lanjut oleh manusia. Setidaknya ada
dua hal yang dibicarakan, yaitu perihal
keberpasangan dalam ciptaan Allah
dan proses terjadinya air susu pada
hewan ternak (asy-Syūrā/42: 11; al-
Mu'minūn/23: 21; an-Naĥl/16: 66)
PROSES DOMESTIKASI
Bahan makanan manusia purba diduga
diperoleh dari bagian-bagian tumbuh-
an dan hewan kecil yang ada di sekitar
tempat hidupnya. jika sedang ber-
untung, mereka akan memperoleh
daging bangkai dari hewan buruan
yang ditinggalkan pemangsanya, atau
Dan di antara hewan-hewan ternak itu ada yang
dijadikan pengangkut beban dan ada (pula) yang
untuk disembelih. Makanlah rezeki yang diberikan
Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti
langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu
musuh yang nyata bagimu. (al-An‘ām/6: 142)
Dan hewan ternak telah diciptakan-Nya, untuk
kamu padanya ada (bulu) yang menghangatkan
dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu
makan. (an-Naĥl/16: 5)
Dan yang menciptakan semua berpasang-pasangan
dan menjadikan kapal untukmu dan hewan ternak
yang kamu tunggangi. (az-Zukhruf/43: 12)
Allah-lah yang menjadikan hewan ternak untukmu,
sebagian untuk kamu kendarai dan sebagian lagi
kamu makan. (Gāfir/40: 79)
399Perikehidupan Hewan
satu-satunya cara hidup sampai masa
Mesolitik, sekitar 10.000 tahun yang
lalu.
warga pemburu-pengumpul
yang lebih maju diperkirakan muncul
pada akhir Masa Paleolitik, sekitar
80.000–70.000 tahun lalu. saat itu
warga mulai melakukan seleksi
hewan buruan (seringkali hewan yang
lebih besar dari apa yang biasa diper-
oleh), di antaranya—sebagaimana
tergambar pada lukisan dinding gua
dari Chauvet, Perancis (sekitar tahun
28.000 SM)—kuda, badak berbulu
tebal, dan bison. Lukisan dinding gua
semacam ini diciptakan oleh manusia
Cro-Magnon (nenek moyang orang
Eropa) dari Zaman Batu. Walaupun di-
gambar pada dinding gua yang gelap,
detail penggambarannya cukup rinci
dan sangat akurat dilihat dari sudut
pandang anatomi.
hewan yang mati secara alami. Manusia
purba yang hidup pada masa Paleolitik
Bawah hidup di habitat campuran
yang memungkinkan mereka meman-
faatkan hasil laut yang ada di pantai
(keong, kerang, rumput laut, alga,
tripang, dan sejenisnya), serta telur,
biji, daun, dan buah dari daratan. Ke-
hidupan dengan cara memulung ini
secara perlahan berpindah menjadi
berburu-mengumpulkan.
warga pemburu-pengumpul
hampir sama dengan warga se-
belumnya; mereka secara langsung
memanen tumbuhan dan hewan dari
alam liar. Bedanya, mereka telah mulai
memakai alat dalam berburu dan
memanen hasil tumbuhan. warga
demikian mulai diciri pada warga
Homo erectus yang hidup pada sekitar
1,8 juta tahun lalu. Cara ini juga diciri
pada Homo sapiens pada sekitar 0,2
juta tahun lalu. Cara ini merupakan
buruan, para seniman ini juga melukis
proses berburu dan pemeliharaan he-
wan buruan, seperti lukisan berburu
bison (Lascaux, Perancis, 20.000 tahun
lalu), lukisan batu tentang menggem-
bala sapi di Sahara, Afrika (Sahara,
6.000 tahun lalu), dan kegiatan perta-
nian dan peternakan unggas (dinding
makam di Thebes, Mesir, 1.400 SM).
Sampai dengan 80% makanan
warga pemburu-pengumpul ini
diperoleh dari berburu dan mengum-
pulkan. 20% sisanya didapat dengan
sedikit bercocok tanam. Batas yang
memisahkan warga pengembara
ini dari warga yang mulai mene-
tap dan bertani, tidak tegas terlihat.
Perubahannya terjadi dengan lebih
menerus dan bersambung secara per-
lahan.
warga mulai cenderung
melakukan sesuatu yang lebih pasti
dan aman, yaitu menetap dan melaku-
kan usaha pertanian. Pertanian ber-
kembang secara terpisah di berbagai
tempat dan dimulai sekitar 10.000
tahun lalu. Perkembangannya secara
serentak terjadi di kawasan Timur
Tengah, Asia, Mesoamerica, dan Andes.
Pertanian tentunya harus dimulai
dengan domestikasi tumbuhan yang
diperuntukkan sebagai tanaman-ta-
naman pertanian. Pada masa yang
hampir bersamaan, manusia juga mulai
melakukan domestikasi hewan.
Seleksi hewan buruan ini dilaku-
kan bersamaan dengan berkembang-
nya alat buru yang lebih khusus. Per-
alatan khusus seperti jaring, pancing,
harpoon, dan sejenisnya, mulai dipakai
untuk menangkap hewan buruan yang
khusus pula. Selain melukis hewan
Pada masa Zaman Es, sekitar
20.000 tahun yang lalu, hewan-hewan
besar, seperti bison, banyak ditemui
di kawasan tundra di Eropa dan Asia.
Mereka diburu oleh dua kelompok
jenis yang lebih kecil dan lebih lemah,
yaitu manusia dan serigala. Hal yang
cukup mencengangkan yaitu bahwa
kedua jenis ini (yang memilki sistem
sosial yang sama) memburu bison
dengan cara yang sama dan sangat
efisien. Pada gambar di bawah tampak
serigala sedang mengepung bison,
dan manusia masa prasejarah sedang
berburu mamooth. Cara berburunya
dilakukan berdasar sistem warga.
Warga dipimpin oleh seorang pria
dominan (pada serigala dipimpin oleh
serigala jantan), dengan perempuan
sebagai pemimpin kedua. Warga ter-
diri dari orang-orang yang sudah sa-
ling mengenal, eksklusif, dan memili-
ki ikatan kekeluargaan yang kuat.
Mereka cenderung mencurigai orang
di luar kelompoknya. Semua orang
dewasa dalam warga, tidak hanya
orang tua kandung, menaruh perhatian
yang besar kepada anak-anak kecil
mereka. Hal yang sama ada pula
dalam kelompok serigala. Kedua jenis
pemburu ini sangat mahir menginter-
pretasikan suasana dalam warga mela-
lui mimik muka maupun bahasa tubuh.
Pada satu saat, jalan kedua jenis
pemburu itu bertemu. Dilakukanlah
kerja sama di antara mereka dengan
masing-masing memberikan kontribu-
si keunggulannya. Serigala menyum-
bangkan keahlian mencium mangsa
dan kelincahannya bergerak, sedang-
kan manusia menyumbangkan kecer-
dikannya dalam pakta ini. Hal ini tak
pelak membuat kedua jenis ini men-
jadi sangat akrab. Serigala belajar dan
menempatkan diri dengan baik dalam
hierarki yang berlaku pada warga
manusia. Tentunya mereka menempati
hierarki paling rendah. Manusia se-
nang dengan kehadiran serigala di
sekitarnya, dan mulai memelihara anak
serigala yang ditinggalkan rombong-
annya. Dengan demikian, dimulailah
proses domestikasi serigala menjadi
anjing peliharaan. Semua ini bermula
dari perasaan saling memerlukan dan
adanya keuntungan yang akan diper-
oleh dari kerja sama kedua belah pi-
hak. Keamanan dalam ketersediaan
makanan menjadi pengikat pakta ini.
Beberapa jenis hewan yang di-
domestikasi oleh manusia diuraikan di
bawah ini.
Domestikasi Anjing
Proses domestikasi anjing peliharaan
(Canis lupus familiaris) dari serigala
(Canis lupus) tercatat dimulai pada
antara 12.000 dan 15.000 tahun yang
lalu di Asia Timur. Angka ini, antara
lain, diperoleh dari umur tulang ra-
hang anjing yang ditemukan di gua
yang dihuni manusia. Tulang rahang
dan gigi yang ditemukan ini berbeda
dengan tulang rahang dan gigi serigala.
Ukurannya lebih kecil daripada apa
yang dimiliki serigala pada umumnya.
Diduga telah terjadi perkawinan se-
lektif (selective breeding) sehingga
muncul turunan yang sangat berbeda
performanya dari kerabat liarnya. Ma-
nusia memilih performa yang diingin-
kannya secara tidak sengaja (misalnya
lebih menyukai anakan yang memiliki
bulu lebih dari satu warna). sesudah
belajar lebih lanjut, barulah mereka
mulai memilih anjing berdasar
keuntungan yang mungkin mereka
peroleh. Mereka lantas memilih me-
ngembangkan anakan yang dominan
dan berukuran lebih besar daripada
lainnya, yang memiliki sifat-sifat baik,
dan keunggulan-keunggulan lainnya.
Fosil yang ditemukan menunjuk-
kan bahwa pada tahun 4.500 SM
telah ada lima turunan anjing yang
berbeda performanya. Lukisan-lukisan
anjing pada Masa Perunggu telah
menghias dinding gua, kuburan, dan
naskah-naskah yang ada di Eropa,
Timur Tengah, dan Amerika Utara.
Kadangkala ada gambar anjing yang
sedang berburu bersama manusia.
Pada masa Mesir Kuno, seperti
halnya kucing, anjing juga mendapat
kedudukan yang mulia. Hanya keluar-
ga bangsawan yang boleh memeli-
hara anjing turunan yang asli. Bebe-
rapa data dari lukisan dari Mesir
Kuno, patung dari masa Asyiria, dan
mosaik yang dibuat oleh orang-orang
Romawi, memperlihatkan banyaknya
keturunan anjing yang berbeda-beda
performanya. Demikian intensif manu-
sia melakukan pengawinan terselek-
si pada anjing sehingga sulit untuk
membayangkan bahwa anjing yang
tergolong paling kecil di dunia, yakni
anjing peking yang muncul pada abad-
1 Masehi, berasal dari serigala.
Hubungan manusia dengan an-
jing dilandasi oleh berbagai keperluan.
Pada masa Romawi, kaum wanita me-
nyukai anjing berukuran mini yang
mudah dipangku. Mereka percaya
bahwa kehangatan yang didapat keti-
ka memangku anjing dapat menolak
penyakit perut. Para penulis Romawi
juga “menentukan” warna tertentu
bagi anjing yang dipakai untuk
menangani pekerjaan tertentu. An-
jing penjaga ternak domba, misalnya,
harus berwarna putih untuk membe-
dakannya dari serigala. Untuk menjaga
rumah mereka memilih anjing berbulu
hitam untuk menakut-nakuti pencuri.
Pelatihan anjing untuk tujuan berburu
juga dilakukan. Berbagai performa di-
syaratkan, tergantung pada hewan bu-
ruan apa yang dituju.
Anjing dimanfaatkan untuk ber-
bagai keperluan manusia, salah satu-
nya menuntun orang buta. Dalam nas-
kah kuno dikatakan bahwa seorang
raja Jerman yang buta dan hidup pada
tahun 100 SM memakai jasa
anjing untuk menuntunnya berjalan.
Dalam sebuah lukisan dinding yang
ditengarai berumur sangat tua juga
dijumpai gambar anjing yang sedang
menuntun orang buta. Usai Perang
Dunia I, manusia mulai melatih anjing
untuk keperluan militer. Anjing juga
dilatih untuk menyelamatkan manusia,
seperti mencari korban bencana yang
tertimpa longsoran salju atau rerun-
tuhan bangunan.
Domestikasi Kambing, Domba, Sapi,
dan Babi
Keempat jenis ini diketahui sebagai
jenis-jenis pertama yang didomestikasi
untuk memenuhi keperluan konsumsi.
Keterjaminan pasokan makanan tam-
paknya tetap menjadi pilihan mereka
yang memelihara hewan ternak. Diban-
dingkan dengan kehidupan berburu
yang serba tidak pasti, kehidupan
beternak memang jauh lebih aman.
Domestikasi domba diperkirakan
dimulai sekitar 11.000–7.000 SM di
kawasan Timur Tengah. Bukti pertama
ditemukan pada sisa tulang domba
(Ovis aries) berumur satu tahun di
Shanidar, Iraq Utara. Salah satu jenis
domba liar yang dinamai mouflon
diduga merupakan nenek moyang
domba modern saat ini. Mouflon
hidup di kawasan Sardinia, Corsica,
dan Cyprus, di daerah pegunungan
berbatu dan curam, sebagai salah
satu cara menghindari pemangsa. Do-
mestikasi domba segera diikuti oleh
domestikasi kambing (Capra aegagrus
hircus). Keduanya cepat sekali menjadi
hewan peliharaan utama para peternak
pengembara yang bergerak sepanjang
tahun mengikuti ketersediaan rumput.
Sementara itu, sapi (Bos primigenius
taurus) dan babi (Sus scrofa domestica)
mulai didomestikasi sesudah manusia
mulai hidup menetap. Diperkirakan ke-
dua jenis ini mulai didomestikasi sekitar
tahun 7.000 SM. Sapi mulai dipelihara
di kawasan Asia Barat, sedang babi
di Cina.
Hewan-hewan peliharaan ini sa-
ngat berguna bagi manusia, baik dalam
kondisi hidup maupun mati. Saat mulai
mengenal pertanian, manusia mulai
memanfaatkan kotoran ternak sebagai
pupuk tanaman. Dalam kondisi mati,
hewan-hewan ternak itu dimanfaatkan
daging dan organ lainnya, seperti kulit
untuk pakaian dan bahan kemah;
tulang/tanduk untuk mata panah, ma-
ta tombak, dan jarum; lemak untuk
bahan bakar lampu minyak; dan kuku
untuk bahan lem.
Dari empat hewan utama di
bidang peternakan dan pertanian,
sapi yaitu jenis yang paling signifikan
merubah dan membentuk pertanian
sebagaimana yang ada pada saat ini.
Sapi bukan saja menyumbangkan susu-
nya untuk konsumsi manusia (sebab
dapat memproduksi lebih banyak dari
yang diperlukan anaknya), tapi dengan
kekuatan yang dimilikinya sapi dapat
membantu banyak pekerjaan manusia.
Sejak tahun 4.000 SM manusia telah
memperkerjakan sapi untuk menarik
selancar saat berpindah tempat. Da-
lam bentuk inovasi yang terpisah
antara Eropa dan Timur Tengah,
manusia mulai memanfaatkan sapi
sebagai penarik bajak dan gerobak.
Sapi dipakai untuk membajak lahan
guna memperoleh hasil pertanian
yang lebih banyak. Sementara itu, sapi
dimanfaatkan untuk menarik gerobak
sebagai alat transportasi pembawa
hasil panen dari ladang ke permu-
kiman.
India dan Asia Tenggara meng-
gunakan versi sapi yang berbeda
yang lebih tahan panas matahari,
yaitu kerbau (Bubalus bubalis). Kerbau
mampu menarik bajak di sawah yang
berlumpur dan tergenang air, begitu
pula menarik gerobak di panas terik
matahari. Seperti halnya keluarga
sapi, kerbau juga dapat menjadi pe-
nyedia susu. Kerbau pertama kali di-
domestikasi di kawasan tropis Asia,
meskipun waktu dan tempat domes-
tikasi yang spesifik belum dapat di-
pastikan. Kendati begitu, paling tidak
ada satu bukti yang memperlihatkan
bahwa kerbau telah dipelihara pada
masa peradaban di lembah Indus,
India, dengan ditemukannya satu cap
yang bergambar kerbau.
Kerbau liar Asia (Bubalus bubalis
arnee) yaitu nenek moyang kerbau
peliharaan saat ini. Kerbau liar sudah
jarang ditemukan sehingga berstatus
dilindungi. IUCN (International Union
on Conservation of Nature), suatu orga-
nisasi internasional yang menangani
perlindungan hewan dan tumbuhan
langka menyatakan bahwa kerbau
liar Asia tinggal tersisa 4.000 ekor
pada tahun 1968. Adapun kerbau liar
Afrika (Syncerus caffer) yaitu jenis
yang sama sekali berbeda dan tidak
ada hubungannya dengan kerbau liar
Asia.
Domestikasi Kucing
Belum diketahui secara pasti kapan
kucing (Felis catus) mulai didomestika-
si. Namun begitu, beberapa ahli mem-
perkirakan kucing pertama kali dipeli-
hara sekitar tahun 3.500 SM, bahkan
ada yang menyatakan tahun 7.500
SM. warga Mesir Kuno diduga
menjadi warga pertama yang
memelihara kucing sebab kucing di-
anggap sebagai hewan suci di sana.
Kucing suci akan diperlakukan layaknya
manusia. Kucing yang mati akan dija-
dikan mumi dan mendapatkan tata
cara penguburan yang sama dengan
manusia.
Saat orang Romawi menguasai
Mesir, mereka membawa kucing ke
Eropa. sesudah mengalami masa sulit
sebab warga Eropa menganggap
kucing sebagai bagian dari ilmu sihir,
kucing kembali mendapatkan kembali
statusnya di mata warga Eropa
saat tikus mulai masuk dari Asia ke
Eropa pada Abad Pertengahan. Saat
itu, penyakit yang disebabkan oleh
tikus melanda seluruh Eropa. Mereka
menandai bahwa keluarga yang me-
melihara kucing ternyata bebas dari
penyakit itu sebab tikus yang ada di
sana dimangsa oleh kucing. Kucing ke-
mudian dimanfaatkan untuk memus-
nahkan tikus. sebab perannya itu
kucing lantas memperoleh perlindung-
an melalui hukum yang khusus diada-
kan untuk hal ini.
Selain anjing, kucing yaitu jenis
hewan yang diperbolehkan keluar-
masuk rumah dan hidup bersama
dengan manusia. Kucing juga satu-
satunya hewan hasil domestikasi yang
pada kehidupan liarnya hidup menyen-
diri, saat hewan domestikasi lain
pada umumnya hidup berkelompok.
Identitas liar pada kucing yang telah
dipelihara masih tetap ada. Banyak
kucing peliharaan yang meliar dan
dapat hidup dengan baik pada berba-
gai kondisi tanpa bantuan manusia.
Domestikasi Kuda
Dari bukti-bukti temuan arkeologi dan
antropologi kuda (Equus ferus cabal-
lus) diduga didomestikasi pada sekitar
tahun 3.000 SM. Maksud utama ku-
da dipelihara kala itu yaitu untuk
dimanfaatkan daging dan susunya.
Daging kuda telah dikonsumsi jauh
sebelum masa domestikasi itu, seperti
tergambar pada lukisan di tembok gua
kuno yang menceritakan perburuan
kuda liar. Lukisan ini telah berumur
30.000 tahun yang lalu. Pada masa-
masa yang lebih belakangan, sesudah
manusia menetap dan menekuni bi-
dang pertanian, kuda mendapatkan
kedudukannya yang penting dalam
budaya manusia.
Pada sejarah peradaban manu-
sia, berbagai turunan kuda sudah
menyebar di seluruh penjuru dunia.
Tulang-tulang kuda liar sisa konsumsi
manusia bahkan banyak ditemukan
dalam gua-gua prasejarah. Kuda juga
tergambar dalam lukisan dinding gua
sebagai hewan yang diburu.
Habitat alami kuda liar yaitu
padang rumput Asia Tengah. Kemam-
puannya untuk bergerak lincah pada
kawasan yang luas dapat mengatasi
masalah yang ditimbulkan oleh peru-
bahan musim dan ketersediaan rum-
put. Di sinilah pertama kali manusia
menangkap, menjinakkan, dan me-
ngembangbiakkan kuda pada 5.000
tahun lalu. Tujuan pertamanya, se-
bagaimana hewan ternak lainnya,
yaitu untuk diperoleh daging dan
susunya. Seiring berjalannya waktu,
pemanfaatan kuda bergeser menjadi
alat transportasi.
Pada masa awal domestikasi,
ukuran tubuh kuda mirip dengan apa
yang sekarang kita sebut sebagai kuda
poni. Kuda liar berukuran kecil ini masih
ditemukan di kawasan Mongolia pada
tahun 1870-an, dan diberi nama kuda
Przewalski. Saat ini kuda jenis ini hanya
ditemukan di kebun binatang dan
kawasan suaka margasatwa tertentu.
Semua turunan kuda, dari kuda pacu,
kuda pembajak ladang, hingga kuda
poni, merupakan hasil kerja manusia.
Domestikasi Keledai
Hampir sama dengan kuda, keledai
peliharaan (Equus africanus asinus) mu-
lai didomestikasi sekitar tahun 3.000
SM dari keledai liar, Equus africanus.
Lokasi domestikasi yaitu kawasan
sekitar Laut Hitam dan kawasan Kaspia.
Pada saat yang bersamaan, kerabat
liarnya juga didomestikasi di Mesir,
Afrika Tenggara, dan Mesopotamia.
Dengan demikian, kuda dan keledai
tersedia pada dua peradaban kuno,
Mesir dan Mesopotamia.
Domestikasi Ulat Sutra
Kupu-kupu Bombyx mori yaitu satu-
satunya hewan yang menghasilkan
kepompong sebagai bahan sutra.
Kupu-kupu ini mulai dipelihara dan di-
manfaatkan di Cina. Kehidupan hewan
ini pada saat sekarang bergantung
sepenuhnya kepada manusia, tidak
seperti serangga peliharaan lainnya
seperti lebah madu, yang mencari
pakannya sendiri. Tidak seperti lebah
madu, kupu-kupu ini tidak memiliki
kerabat liar. Kupu-kupu ini masih ada
di bumi hanya sebab sebab manusia
menyukai sutra. Benang sutra pertama
ditemukan pada keranjang bambu dari
galian arkeologi di Cina. Temuan ini
diperkirakan berasal dari suatu masa
antara tahun 2.850 dan 2.650 SM.
Domestikasi Unta
Pada masa lalu, unta bersama dengan
kuda dan keledai memiliki posisi
yang penting sebagai alat transportasi.
Usaha pemeliharaan unta diperkirakan
mulai dilakukan antara tahun 3.000
dan 1.500 SM. Sangat mungkin Jazirah
Arab menjadi kawasan di mana unta
mulai dipelihara pada sekitar tahun
1.500 SM. Pada sekitar tahun 1.000
SM, rombongan karavan yang terdiri
atas unta yang mengangkut berba-
gai barang dagangan sudah lalu lalang
di pantai barat Jazirah Arab, meng-
hubungkan India dengan Laut Tengah
dan Mesopotamia.
Di kawasan Afrika Utara dan
Asia ada dua jenis unta yang menjadi
andalan sebagai hewan pembawa be-
ban. Satu di antaranya berpunuk satu
(Camelus dromedarius) yang hidup di
kawasan Afrika Utara, Timur Tengah,
dan India, dan satunya lagi berpunuk
dua (Camelus bactrianus) yang hidup
di kawasan Asia Tengah dan Mongolia.
Dua kerabat dekat unta dapat
pula ditemui di benua Amerika, yaitu
yang disebut llama (Lama glama) dan
alpaca (Vicugna pacos). Kedua jenis
ini diperkirakan sudah hampir punah
sebelum diselamatkan oleh penduduk
asli Indian Amerika dengan cara me-
meliharanya. Domestikasi kedua jenis
ini diperkirakan dilakukan sekitar ta-
hun 2.400 SM di Peru. Llama yang
memiliki ukuran tubuh lebih besar
dimanfaatkan sebagai pengangkut be-
ban sekaligus alat transportasi. Adapun
alpaca yang lebih kecil dipakai
sebagai penghasil bulu untuk bahan
wool. Kedua jenis ini tidak cukup besar
dan kuat untuk menjadi penarik kereta.
Domestikasi Ayam dan Merpati
Asia merupakan kawasan di mana
domestikasi ayam berawal pada seki-
tar tahun 2.000 SM. Semua ayam pe-
liharaan (Gallus gallus domesticus) yang
ada saat ini bermoyangkan ayam hutan
yang ditemukan hidup di hutan-hutan
India dan Asia Tenggara. Ada dua jenis
ayam hutan yang hidup di Indonesia,
yaitu Gallus gallus (ayam hutan merah)
dan Gallus varius (ayam hutan hijau).
Hewan jantannya berjengger dan ber-
bulu indah serta mengeluarkan kokok
yang menarik.
Pada periode waktu yang ham-
pir bersamaan domestikasi merpati
(Columba livia) juga dilakukan di Mesir.
Seperti halnya ayam, domestikasi mer-
pati juga dimulai dari alasan klasik,
yaitu untuk dikonsumsi. 3.000 tahun
lalu manusia menemukan keah-
lian lain dari burung merpati. Saat ini
merpati lebih banyak dipertandingkan.
Domestikasi Gajah
India yaitu kawasan di mana gajah
Asia (Elephas maximus) pertama kali
didomestikasi pada sekitar tahun
2.000 SM. Lokasi persisnya berada di
Lembah Indus. Pada saat itu dua jenis
gajah yang ada menyebar di kawasan
yang lebih luas. Gajah Asia menyebar
dari Syiria hingga Asia Tenggara, se-
dangkan gajah Afrika (Elephas africa-
nus) menempati kawasan utara dan
selatan Gurun Sahara. Gajah Afrika
tidak pernah didomestikasi. Mammoth,
kerabat gajah yang sudah punah pada
10.000 tahun yang lalu, diburu dan
menjadi sumber protein hewani bagi
manusia yang hidup di zaman itu.
Tidak diketahui kapas persisnya
gajah mulai dilatih untuk berperang,
namun pada abad III gajah merupakan
bagian yang sangat penting dalam
strategi peperangan di India dan
Afrika Utara. Dengan kecerdasannya
gajah banyak dipergunakan dalam per-
tunjukan di sirkus di Roma pada masa
Romawi Kuno.
Domestikasi Lebah Madu
saat manusia pada masa mengem-
bara (berburu-pengumpul), menemu-
kan sarang lebah liar, mereka akan
mengorbankan diri untuk disengat
demi menikmati madu. Sejarah peme-
liharaan madu tampaknya yaitu usa-
ha untuk dapat “merampok” madu
dari sarang lebah dengan cara yang
lebih aman. Domestikasi lebah madu
(Apis spp.) dilakukan manusia sebelum
abad VI.
Penemuan terbesar manusia
dalam hal domestikasi lebah madu
yaitu saat mereka mulai mengetahui
bahwa lebah dapat “dibawa” dan
ditempatkan pada sarang yang berupa
kandang; suatu cara yang mudah dan
aman untuk mengoleksi madu dan
produk sampingannya. Tidak diperoleh
keterangan secara pasti kapan lebah
madu mulai didomestikasi. Kendati
begitu, diketahui bahwa domestikasi
dimulai di Yunani.
Bentuk kandang dari keranjang
jerami yang diletakkan terbalik (dise-
but skep) merupakan k


