doktrin Advent 3
n yang rinci
yang diberikan rasul Paulus mengenai ka-
runia-karunia roh (1 Kor. 12:4-6). Kitab Suci
menggambarkan Yesus sebagai cahaya ke-
muliaan Allah dan “gambar wujud Allah”
(Ibr. 1:3). Dan ketika Yesus diminta untuk
memperlihatkan Allah Bapa, ia menjawab,
“Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah me-
lihat Bapa” (Yoh. 14:9).
7. Ia Disembah Sebagai Allah. Manu-
sia menyembah Dia (Mat. 28:17; bandingkan
Luk. 14:33). “Semua malaikat Allah harus
menyembah Dia” (Ibr. 1:6). Paulus menyu-
rati bahwa “supaya dalam nama Yesus ber-
tekuk lutut segala yang ada, ... dan segala li-
dah mengaku: ‘Yesus Kristus yaitu Tu-
57Allah Anak
han’” (Flp. 2:10, 11). Beberapa ucapan syu-
kur menujukan kepada Kristus “kemuliaan
selama-lamanya” (2 Tim. 4:18; Ibr. 13:21;
bandingkan 2 Ptr. 3:18).
8. Perlunya Sifat Ilahi Kristus. Kristus
memperdamaikan manusia dengan Allah.
Manusia memerlukan penyataan yang sem-
purna dari sifat Allah untuk mengembangkan
suatu hubungan pribadi dengan-Nya. Kris-
tus memenuhi kebutuhan ini dengan mem-
perlihatkan kemuliaan Allah (Yoh. 1:14).
“Tidak seorang pun yang pernah melihat Al-
lah; namun Anak Tunggal Allah, yang ada di
pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-
Nya”(Yoh. 1:18; bandingkan 17:6). Yesus
memberikan kesaksian bahwa “Barangsiapa
telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa”
(Yoh. 14:9).
Dalam ketergantungan yang penuh de-
ngan Bapa (Yoh. 5:30) Kristus menggunakan
kuasa Ilahi untuk menyatakan kasih Tuhan.
Dengan kuasa Ilahi Ia menyatakan diri-Nya
sebagai Juruselamat yang penuh kasih sa-
yang yang diutus Bapa untuk memberikan
kesembuhan, memulihkan dan mengampu-
ni dosa-dosa (Luk. 6:19; Yoh. 2:11; 5:1-15,
36; 11:42-45; 14:11; 8:3-11). Ia sama sekali
tidak pernah mengadakan mukjizat untuk
melepaskan diri-Nya dari kesulitan dan pen-
deritaan yang mungkin dialami orang lain
jika ditempatkan dalam keadaan yang seru-
pa.
Yesus Kristus “satu dalam tabiat, dalam
sifat dan dalam maksud-tujuan” dengan Al-
lah Bapa.l0 Ia benar-benar Allah.
Yesus Kristus Benar-benar Manusia.
Alkitab mengatakan bahwa selain sifat Ke-
ilahian-Nya, Kristus juga memiliki sifat ma-
nusia. Penerimaan ajaran ini sangat penting.
Setiap orang yang “mengaku, bahwa Yesus
Kristus telah datang sebagai manusia, beras-
al dari Allah” dan mereka yang tidak meng-
aku berarti “tidak berasal dari: Allah” (1 Yoh.
4:2, 3). Lahirnya Kristus sebagai manusia,
pertumbuhan dan sifat-sifat-Nya, dan kesak-
sian pribadi memberikan bukti yang mema-
dai tentang kemanusiaan-Nya.
1. Kelahiran-Nya sebagai Manusia.
“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam
di antara kita” (Yoh. 1:14). Di sini yang di-
maksudkan dengan “menjadi manusia” ia-
lah memiliki “sifat manusia,” sifat yang le-
bih rendah dengan apa yang pernah dimili-
ki-Nya di surga. Dalam bahasa yang jelas
Rasul Paulus berkata, “Allah mengutus
Anak-Nya, yang lahir dari seorang perem-
puan” (Gal. 4:4; bandingkan Kej. 3:15).
Kristus “mengambil rupa seorang manusia”
dan “dalam keadaan sebagai manusia” (Flp.
2:7, 8). Pernyataan Allah dalam wujud ma-
nusia ini sebenarnya “agunglah rahasia
ibadah” (1 Tim. 3:16).
Silsilah Kristus menunjuk Dia sebagai
“Anak Daud” dan “Anak Abraham” (Mat.
1:1). Kalau menurut keadaan kemanusiaan-
Nya, Ia disebut: “diperanakkan dari ketu-
runan Daud” (Rm. 1:3; 9:5) dan juga ”anak
Maria” (Mrk. 6:3). Walaupun Ia dilahirkan
seorang wanita sebagaimana lazimnya anak
yang lain, ada suatu perbedaan besar yang
terjadi di sana, suatu keunikan. Maria se-
orang anak dara, dan Anak yang dikandung-
nya dari Roh Kudus (Mat. 1:20-23; Luk. 1:
31-37). Ia dapat menyatakan kemanusiaan-
Nya yang sebenarnya melalui ibu-Nya.
2. Perkembangan-Nya Sebagai Manu-
sia. Yesus tunduk kepada hukum yang berlaku
dalam pertumbuhan manusia; “Anak itu ber-
tambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat”
(Luk. 2:40, 52). Pada waktu berusia 12 tahun
58Allah Anak
Ia mulai menyadari tugas Ilahi-Nya (Luk. 2:46-
49). Selama masa kanak-kanak-Nya Ia taat
kepada orangtua-Nya (Luk. 2:51).
Jalan menuju salib yaitu satu pertum-
buhan yang senantiasa melalui derita, yang
memegang peranan penting dalam perkem-
bangan-Nya. “Ia telah belajar menjadi taat
dari apa yang diderita-Nya, dan sesudah Ia
mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi
pokok keselamatan yang abadi bagi semua
orang yang taat kepada-Nya” (Ibrani 5:8, 9;
2:10, 18). Walaupun Ia menjalani pertum-
buhan yang demikian, Ia tidak pernah ber-
buat dosa.
3. Ia Disebut “Seorang.” Yohanes Pem-
baptis dan Petrus menyatakan Dia “Seorang”
manusia (Yoh. 1:30; Kis. 2:22). Paulus ber-
bicara mengenai “kasih karunia Allah dan
karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas se-
mua orang sebab satu orang, yaitu Yesus
Kristus” (Rm. 5:15). Ialah “Seorang” yang
mendatangkan “kebangkitan orang mati” (1
Kor. 15:21); “Dia yang menjadi pengantara
antara Allah dan manusia, yaitu manusia
Kristus Yesus” (1 Tim. 2:5). Dalam perca-
kapan-Nya dengan musuh-musuh-Nya, Kris-
tus menyatakan diri-Nya sebagai Manusia:
“namun yang kamu kerjakan ialah berusaha
membunuh Aku; Aku, seorang yang menga-
takan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran
yang Kudengar dari Allah” (Yoh. 8:40). Na-
ma yang paling digemari Kristus, yang di-
gunakan-Nya sampai 77 kali, yaitu “Anak
Manusia” (bandingkan Mat. 8:20; 26:2). Ge-
lar Anak Allah memusatkan perhatian kepa-
da hubungan-Nya dengan Keallahan. Nama
Anak Manusia menekankan solidaritas-Nya
terhadap umat manusia melalui penjelmaan-
Nya.
4. Sifat-sifat Kemanusiaan-Nya. Allah
menjadikan manusia “kurang sedikit dari-
pada segala malaikat” (Mzm. 8:6, Terjemah-
an Lama). Begitulah Alkitab menyatakan Ye-
sus sebagai Seorang “yang untuk waktu yang
singkat dibuat sedikit lebih rendah daripada
malaikat-malaikat” (Ibr. 2:9), Kemanusiaan-
Nya secara alamiah dibuat dan tidak memi-
liki kuasa yang luar biasa.
Kristus telah menjadi manusia yang se-
sungguhnya; ini menjadi sebagian dari pada
misi-Nya. Untuk memiliki sifat-sifat manu-
sia Ia harus menjadi manusia dalam”darah
dan daging” (Ibr. 2:14). “Dalam segala hal,”
Kristus telah dijadikan “disamakan” dengan
sesama-Nya manusia (Ibr. 2:17). Secara fi-
sik dan mental Ia memilikinya sama seperti
manusia lainnya: dalam soal lapar, dahaga,
letih dan cemas (Mat. 4:2; Yoh. 19:28; 4:6;
bandingkan Mat. 26:21; 8:24).
Di dalam pelayanan-Nya untuk orang-
orang lain Ia memperlihatkan kelembutan,
amarah yang tepat, dan dukacita (Mat. 9:36;
Mrk. 3:5). Sering Ia merasa susah dan ber-
dukacita, bahkan juga menangis (Mat. 26:38;
Yoh. 12:27; 11:33, 35; Luk. 19:41). Ia ber-
doa diiringi dengan tangisan, butir-butir air
mata, juga sampai mengeluarkan keringat
darah (Ibr. 5:7; Luk. 22:44). Hidup-Nya yang
penuh dengan doa menunjukkan ketergan-
tungan-Nya yang mutlak kepada Tuhan Al-
lah (Mat. 26:39-44; Mrk. 1:35; 6:46; Luk.
5:16; Mrk. 6:12).
Yesus juga merasakan kematian (Yoh.
19:30, 34). Ia bangkit bukan seperti roh me-
lainkan dalam wujud tubuh (Luk. 24:36-43).
5. Perluasan Jati diri-Nya dengan Si-
fat Manusia. Alkitab menyatakan bahwa
Kristus menjadi Adam yang kedua, Ia hidup
“dalam daging, yang serupa dengan daging
yang dikuasai dosa sebab dosa” (Rm. 8:3).
Dalam hal apakah Ia menyamakan diri de-
ngan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa
itu? Pandangan yang benar mengenai per-
59Allah Anak
nyataan “serupa dengan daging yang dikua-
sai dosa sebab dosa,” atau manusia yang
berdosa, yaitu sangat penting. Pandangan-
pandangan yang keliru mengenai pernyataan
ini telah menimbulkan perbedaan dan per-
tengkaran sepanjang sejarah gereja Kristen.
a. Ia “yang Serupa dengan Daging
yang Dikuasai Dosa.” Di halaman sebelum-
nya telah dikemukakan mengenai ular yang
ditinggikan di padang belantara, memberi-
kan sebuah pemahaman mengenai sifat ke-
manusiaan Kristus. Sebagaimana tembaga
yang diukir berbentuk ular berbisa dan di-
tinggikan demi kesembuhan umat itu, de-
mikianlah Anak Manusia dijadikan “serupa
dengan daging yang dikuasai dosa sebab do-
sa” menjadi Juruselamat dunia.
Sebelum penjelmaan, Yesus yaitu “Al-
lah” untuk mengatakan bahwa sifat Ilahi se-
jak semula memang ada pada-Nya (Yoh. 1:1;
Flp. 2:6, 7). Ketika mengambil wujud “ham-
ba” Ia mengesampingkan hak-hak istimewa
Keilahian-Nya. Ia menjadi hamba Bapa-Nya
(Yes. 42:1), untuk melaksanakan kehendak
Allah (Yoh. 6:38); Mat. 26:39, 42). Ia mem-
bungkus keilahian-Nya dengan kemanusia-
an, Ia telah dijadikan “serupa dengan daging
yang dikuasai dosa sebab dosa” atau “da-
ging yang dikuasai dosa” atau “dengan sifat
manusia yang jatuh ke dalam dosa” (banding-
kan Rm. 8:3).11 Ini bukanlah menunjukkan
bahwa Yesus Kristus penuh dengan dosa,
atau turut melakukan perbuatan dan pikiran
yang penuh dosa. Walaupun dijadikan da-
lam bentuk atau serupa dengan daging yang
di-kuasai dosa, Ia sama sekali tidak berdosa
dan mengenai ketidakberdosaan ini tidaklah
perlu dipertanyakan.
b. Ia Menjadi Adam yang Kedua. Alki-
tab memberikan persamaan antara Adam dan
Kristus, menyebut Adam “manusia pertama”
dan Kristus “manusia kedua” dan “Adam
yang akhir” (1 Kor. 15:45, 47). namun Adam
masih lebih beruntung bila dibandingkan de-
ngan Kristus. Adam waktu jatuh ke dalam
dosa berada di taman Firdaus. Tubuhnya
sempurna, manusia sempurnayang memili-
ki kekuatan jasmani dan pikiran yang kokoh.
Berlainan dengan Yesus. Ketika Ia me-
ngenakan sifat manusia, manusia ketika itu
telah mengalami tingkat kemerosotan dosa
di planet yang terkutuk kurang lebih 4000
tahun. Oleh sebab itu, Ia harus menyelamat-
kan mereka yang sudah jauh merosot kea-
daannya, Kristus harus mengenakan sifat ke-
manusiaan seperti itu, yang jika diban-
dingkan dengan keadaan Adam yang belum
dicemari dosa, telah merosot kemampuan fi-
sik dan mental—namun walaupun demiki-
an, Ia sama sekali tidak berdosa.12
Tatkala Kristus menanggung akibat dosa
dengan sifat kemanusiaan yang seperti dise-
butkan di atas, maka Ia pun menjadi sasaran
kelemahan dosa seperti yang dialami oleh
semua manusia. Itu harus dialami-Nya. Si-
fat kemanusiaan-Nya “penuh dengan kele-
mahan” atau “menanggung penyakit kita”
(Ibr. 5:2; Mat. 8:17; Yes. 53:4). Ia merasa-
kan kelemahan-Nya. Ia telah mempersem-
bahkan “doa dan permohonan dengan ratap
tangis dan keluhan kepada Dia yang sang-
gup menyelamatkan-Nya dari maut” (Ibr.
5:7), sehingga dengan demikian menyama-
kan diri-Nya dengan kekurangan dan kele-
mahan yang umum dialami manusia.
Oleh sebab itu, “Kemanusiaan Kristus
bukanlah kemanusiaan Adam sebelum jatuh
ke dalam dosa ataupun di dalam segala segi
setelah jatuh ke dalam dosa. Bukanlah se-
perti Adam, sebab ketika itu masih belum
ada orang yang jatuh ke dalam dosa. Ketika
itu belumlah ada moral yang begitu me-
60Allah Anak
rosot. Justru dalam arti yang amat harfiah
dalam kemanusiaan kita, namun tidak terda-
pat dosa.13
c. Pengalaman-Nya Menghadapi
Penggodaan. Bagaimana pengaruh Allah
Anak penggodaan terhadap Kristus? Apakah
mu-dah atau sulit bagi-Nya menentangnya?
Cara Ia mengalami penggodaan membukti-
kan bahwa Ia memang benar-benar manu-
sia.
I. Ia Telah Dicobai Sama Seperti Kita
Dicobai. Bahwa Kristus “sama dengan kita,
Ia telah dicobai” (Ibr. 4:15), menunjukkan
bahwa Ia yaitu seorang yang turut mengam-
bil bagian dalam sifat kemanusiaan. Peng-
godaan yang sama dan juga kemungkinan
untuk berbuat dosa benar-benar dihadapi
oleh Kristus. Jika Ia tidak ada kemungkinan
untuk berbuat dosa maka Ia bukanlah manu-
sia atau teladan bagi kita. Kristus mengam-
bil wujud manusia dengan segala kemung-
kinan yang ada di dalamnya, termasuk
kemungkinan menyerah terhadap penggo-
daan.
Walaupun Ia jelas dapat digoda “sama de-
ngan kita” atau “dalam segala hal,” bukan-
lah berarti bahwa la mendapat penggodaan-
penggodaan yang serupa dengan kita alami
sekarang ini. Ia tidak pernah mengalami
penggodaan untuk menonton TV yang me-
nyajikan program yang jelek dan merusak
moral, atau mengendarai kendaraan mele-
wati batas kecepatan.
Masalah utama yang mendasari segala pen-
cobaan ialah masalah apakah kita mau tunduk
kepada kehendak Allah. Dalam menghadapi
pencobaan, Yesus selalu tunduk kepada Allah.
Dengan bergantung selalu kepada kuasa Ilahi,
Ia berhasil melawan penggodaan yang paling
keras sekalipun, dalam kemanusiaan-Nya.
Kemenangan Kristus atas penggodaan me-
layakkan-Nya merasa simpati kepada manu-
sia yang lemah. Kemenangan kita atas peng-
godaan diperoleh melalui ketergantungan kita
yang senantiasa kepada-Nya. “Sebab Allah se-
tia dan sebab itu Ia tidak akan membiarkan
kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada
waktu kamu dicobai Ia akan memberikan ke-
padamu jalan keluar, sehingga kamu dapat
menanggungnya (1 Kor 10:13).
Haruslah diakui bahwa pada akhirnya
“Akan tetap menjadi sebuah misteri yang ti-
dak terterangkan bagi manusia fana bahwa
Kristus dapat dicobai dalam segala segi sama
seperti kita, namun demikian tidak melaku-
kan dosa sama sekali.”14
II. “Menderita sebab Pencobaan.”
Kristus menderita sementara mendapat se-
rangan pencobaan (Ibr. 2:18). Ia menjadi “ke-
selamatan, dengan penderitaan” (Ibr. 2:10).
sebab Ia sendiri menghadapi kuasa penco-
baan, maka kita dapat mengetahui bahwa Ia
tahu betul bagaimana menolong orang yang
terkena pencobaan. Ia bersatu dengan orang
yang terkena pencobaan, yang menjadi bagi-
an manusia itu.
Bagaimanakah Kristus menderita di ba-
wah tekanan pencobaan itu? Walaupun Ia
mempunyai “daging yang dikuasai dosa ka-
rena dosa,” kemampuan rohani-Nya bebas
dari jenis noda dosa mana pun. Akibatnya,
sifat-Nya yang kudus sangat sensitif. Segala
yang berkaitan dengan yang jahat selalu me-
nyakitkan-Nya. Dengan demikian, sebab Ia
menderita dalam penyempurnaan kekudus-
an-Nya, pencobaan membuat Yesus men-
derita melebihi derita yang mungkin dirasa-
kan manusia lain.
Sejauh manakah Kristus menderita? Pe-
ngalaman-Nya di padang belantara, Getse-
mani dan Golgota menunjukkan bahwa Ia
61Allah Anak
melawan pencobaan sampai mengucurkan
tetesan darah (bandingkan Ibr. 12:4).
Kristus bukan saja menderita sebab ke-
kudusan-Nya, la menghadapi pencobaan
yang jauh lebih besar daripada yang mung-
kin dihadapi sesama manusia. B.F. Wescott
menulis, “Simpati terhadap orang berdosa
dalam pencobaannya bukanlah bergantung
pada pengalaman dosa melainkan atas pe-
ngalaman bagaimana kuatnya godaan untuk
melakukan dosa yang intensitasnya secara
penuh yang hanya diketahui oleh orang yang
tidak berdosa saja. Ia yang jatuh menyerah
sebelum tekanan terakhir.”16 F.F. Bruce se-
pendapat dengan mengatakan, “Ia berhasil
menahan setiap bentuk penggodaan yang
mungkin dihadapi manusia, tanpa melemah-
kan iman-Nya pada Allah atas melonggar-
kan penurutan Dia kepada-Nya. Ketahanan
demikian menuntut lebih dari yang diderita
manusia.”17
Kristus juga menghadapi penggodaan
yang begitu dahsyat yang belum pernah di-
hadapi manusia—godaan untuk mengguna-
kan kuasa Ilahi-Nya demi kepentingan diri-
Nya. Ellen G. White berkata, “Ia telah mene-
rima penghormatan di surga dan amat me-
ngenal kuasa yang mutlak. Sulit bagi-Nya
mempertahankan tingkat kemanusiaan, seba-
gaimana bagi manusia untuk naik di atas si-
fat-sifat mereka yang rendah dan merosot, dan
sekaligus mengambil bagian sifat Ilahi.”18
d. Dapatkah Yesus Berdosa? Banyak
orang Kristen berbeda pendapat mengenai
pertanyaan apakah Kristus dapat berbuat do-
sa. Kita sependapat dengan Philip Schaff
yang berkata, “Jika Ia (Kristus) sudah dibe-
kali sejak semula dengan kondisi tanpa ca-
cat yang mutlak, atau ketidakmungkinan ber-
buat dosa, maka ia tidak akan dapat menja-
di manusia yang sebenarnya , tidak pula
dapat menjadi contoh yang patut kita tela-
dani, dalam kesuciannya, dengan kemam-
puannya yang serba bisa dan warisan pem-
bawaan, akan menjadi suatu kebetulan atau
karunia lahiriah saja, dan godaan yang dih-
adapinya merupakan sebuah pertunjukan
yang semu.”19 Karl Ullmann menambahkan,
“Sejarah penggodaan, betapapun itu dapat
dijelaskan, tidak akan mengandung makna;
dan pernyataan di dalam Surat Kiriman ke-
pada orang Ibrani bahwa ‘ia telah terkena
coba sama seperti kita,’ akan menjadi tidak
bermakna.”20
6. Sifat Kemanusiaan Yesus yang Ti-
dak Berdosa. Jelas bahwa sifat Ilahi Kris-
tus tidak berdosa. Akan namun bagaimana
dengan sifat kemanusiaan-Nya?
Alkitab menggambarkan kemanusiaan
Yesus Kristus yang tidak berdosa. Kelahiran-
Nya yang supra-alamiah—Ia ada sebab Roh
Kudus (Mat. 1:20). Sebagai seorang bayi
yang baru lahir Ia pantas “disebut kudus”
(Luk. l:35). Ia mengenakan wujud manusia
dalam keadaan manusia yang berdosa, da-
pat menanggung risiko dosa, tidak dalam do-
sa. Ia bersatu dengan manusia, namun tidak
dalam dosa.
Yesus “telah dicobai, hanya tidak berbuat
dosa,” yaitu “yang saleh, tanpa salah, tanpa
noda, yang terpisah dari orang-orang berdo-
sa” (Ibr. 4:15; 7:26). Paulus menulis bahwa
Ia “tidak mengenal dosa” (2 Kor. 5:21). Pe-
trus memberikan kesaksian bahwa Ia “tidak
berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mu-
lut-Nya” (1 Ptr. 2:22), dan membandingkan-
Nya dengan ”anak domba yang tak berno-
da” (1 Ptr. 1:19; Ibr. 9:24). “Dan di dalam
Dia” kata Yohanes, “tidak ada dosa.... Kris-
tus yaitu benar” (1 Yoh. 3:5-7).
Yesus mengenakan sifat kita ke atas diri-
Nya dan segala pertanggungan untuk itu, na-
mun demikian Ia bebas dari warisan kemero-
sotan dan dosa. Ia menantang para penen-
62Allah Anak
tang-Nya, “Siapakah di antaramu yang mem-
buktikan bahwa Aku berbuat dosa?” (Yoh.
8:46). Waktu Ia menghadapi pengadilan
yang amat kejam itu, Ia menyatakan, “Se-
bab penguasa dunia ini datang dan ia tidak
berkuasa sedikit pun atas diri-Ku” (Yoh. 14:
30). Yesus tidak mempunyai kecenderung-
an kepada keinginan dan nafsu dosa Tidak
ada satu pun dari serangan pencobaan yang
begitu gencar yang dapat meretakkan keta-
atan-Nya kepada Allah.
Yesus tidak pernah menyampaikan pe-
ngakuan dosa atau mempersembahkan se-
buah korban. Ia tidak pernah berdosa, “Bapa,
ampunilah Aku,” melainkan,”Ya Bapa, am-
punilah mereka” (Luk. 23:34). Ia senantiasa
melakukan kehendak Bapa, bukan berusaha
melakukan kehendak-Nya sendiri. Yesus se-
lalu bergantung kepada Bapa (bandingkan
Yoh. 5:30).
Tidak seperti sifat manusia yang sudah
jatuh ke dalam dosa, “sifat rohani” Kristus
yaitu suci dan kudus, “bebas dari segala
cacat dosa.”21 Salahlah beranggapan bahwa
Ia sama saja dengan kita, “manusia yang per-
sis dengan kita.” Ia Adam yang kedua, Anak
Allah yang unik. Jangan pula kita berang-
gapan bahwa Ia “memiliki kecenderungan-
kecenderungan dosa.” Manakala sifat kema-
nusiaan-Nya dicobai dalam segala hal seba-
gaimana layaknya umat manusia, Ia tidak
pernah gagal, Ia tidak pernah berbuat dosa.
Di dalam diri-Nya tidak pernah ditemukan
kecenderungan kepada yang jahat.22
sebenarnya , Yesus yaitu contoh dan
teladan manusia yang paling tinggi dan pa-
ling kudus. Ia tidak berdosa, dan apa yang
dilakukan-Nya menunjukkan kesempurnaan.
sebenarnya Ia teladan yang sempurna dari
hal manusia yang tidak berdosa.
7. Perlunya Kristus Mengenakan Si-
fat Manusia. Alkitab memberikan pelbagai
alasan mengapa Kristus harus mengenakan
sifat manusia.
a. Untuk Menjadi Imam Besar Bagi
Umat Manusia. Sebagai Mesias, Yesus ha-
rus menduduki jabatan imam besar atau pe-
ngantara antara Allah dan manusia (Za. 6:13;
Ibr. 4:14-16). Fungsi ini menuntut sifat ke-
manusiaan, Kristus memenuhi kualifikasi:
(i) Ia harus dapat mengerti “orang-orang
yang jahil dan orang-orang yang sesat” kare-
na Ia sendiri”penuh dengan kelemahan” (Ibr.
5:2). (ii) Ia “yang menaruh belas kasihan dan
yang setia” sebab dalam segala sesuatu Ia
telah dijadikan “sama dengan saudara-sau-
dara-Nya” (Ibr. 2:17). (iii) Ia “dapat meno-
long mereka yang dicobai” sebab “Ia sendiri
telah menderita sebab pencobaan” (Ibr. 2:
18). (iv) Ia menaruh simpati kepada orang
yang lemah sebab Ia “telah dicobai, hanya
tidak berbuat dosa”(Ibr. 4:15).
b. Untuk Menyelamatkan Orang yang
Paling Hina Sekalipun. Untuk menjangkau
orang di tempat mereka berada serta menye-
lamatkan orang yang paling tidak menaruh
harapan, Ia turun ke tingkat seorang hamba
(Flp. 2:7).
c. Menyerahkan Hidup-Nya sebab
Dosa-dosa Dunia. Sifat Keilahian Kristus
tidak dapat mati. Agar Kristus dapat mati ma-
ka Ia harus mengenakan sifat manusia. Ia
menjelma menjadi manusia dan membayar
hukuman sebab dosa, yakni dengan maut
(Rm. 6:23; 1 Kor. 15:3). Sebagai manusia Ia
merasakan maut bagi setiap orang (Ibr. 2:9).
d. Untuk Menjadi Teladan Kita. Un-
tuk memberikan teladan bagaimana seharus-
nya manusia hidup, Kristus harus mengha-
yati hidup yang tidak berdosa sebagai makh-
luk manusia. Sebagai manusia Adam yang
63Allah Anak
kedua Ia merontokkan mitos bahwa manu-
sia tidak dapat menuruti hukum Allah dan
dapat mengalahkan dosa. Ia menunjukkan
bahwa mungkin saja bagi manusia menjadi
tetap setia kepada kehendak Allah. Di tem-
pat manusia Adam yang pertama gagal, ma-
nusia Adam yang kedua dapat mengalahkan
dosa dan Setan serta menjadi Juruselamat
dan teladan yang sempurna bagi kita. Di da-
lam kekuatan-Nya, kemenangan-Nya dapat
menjadi bagian kita (Yoh. 16:33).
Dengan memandang kepada-Nya, manu-
sia “diubah menjadi serupa dengan gambar-
Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar”
(2 Kor. 3:18). “Marilah kita melakukannya
dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang
memimpin kita dalam iman, dan yang mem-
bawa iman kita itu kepada kesempurnaan....
Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun me-
nanggung bantahan yang sehebat itu terha-
dap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa,
supaya jangan kamu menjadi lemah dan pu-
tus asa” (Ibr. 12:2, 3). sebenarnya , Kris-
tus “telah menderita untuk kamu dan telah
meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu
mengikuti jejak-Nya” (1 Ptr. 2:21; banding-
kan Yoh. 13:15).
PERSATUAN KEDUA SIFAT ITU
Pribadi Yesus Kristus memiliki dua si-
fat: yang Ilahi dan manusia. Ia yaitu Ma-
nusia Allah. namun perlu diperhatikan bah-
wa penjelmaan-Nya melibatkan Anak Allah
yang kekal mengambil sifat manusia ke da-
lam diri-Nya, bukannya Anak Manusia yang
memperoleh Keilahian. Gerakan itu dari Al-
lah kepada manusia, bukan dari manusia ke-
pada Allah.
Di dalam Yesus, kedua sifat ini berpadu
menjadi satu pribadi. Cobalah simak bukti
Alkitabiah yang berikut ini:
Kristus yaitu Gabungan Dua Sifat.
Alkitab menggambarkan Yesus sebagai satu
pribadi, bukan dua. Banyak nas yang menun-
juk kepada sifat Keilahian dan kemanusiaan
itu, namun yang dibicarakannya hanya satu
pribadi saja. Rasul Paulus menggambarkan
pribadi Yesus Kristus sebagai Anak Allah
(dengan sifat Ilahi) yang dilahirkan seorang
wanita (dengan sifat atau keadaan manusia;
Gal. 4:4). Yesus “yang walaupun dalam rupa
Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan
Allah itu sebagai milik yang harus diperta-
hankan” (dengan keadaan manusia), “mela-
inkan telah mengosongkan diri-Nya sendi-
ri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan
menjadi sama dengan manusia” (keadaan
manusia; Flp. 2:6, 7).
Sifat Kristus yang seperti ini bukanlah
terdiri dari kuasa Ilahi yang abstrak atau pe-
ngaruh yang dihubungkan dengan kemanu-
siaan-Nya. “Firman itu,” kata Yohanes, “te-
lah menjadi manusia, dan diam di antara kita,
dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu
kemuliaan yang diberikan kepada-Nya se-
bagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karu-
nia dan kebenaran” (Yoh. 1:14). Paulus me-
nulis, Allah mengutus “Anak-Nya sendiri da-
lam daging, yang serupa dengan daging yang
dikuasai dosa” (Rm. 8:3); “Dia, yang telah
menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia”
(1 Tim. 3:16; 1 Yoh. 4:2).
Perpaduan Dua Sifat. Alkitab meng-
gambarkan Anak Allah dalam pelbagai isti-
lah sifat kemanusiaan-Nya. Allah menebus
jemaat-Nya dengan darah-Nya sendiri (Kis.
20: 28; bandingkan Kol. 1:13,14). Dalam
beberapa contoh lain dicirikan Anak Manu-
sia dalam istilah sifat Keilahian-Nya (ban-
dingkan Yoh. 3:13; 6:62; Rm. 9:5).
Ketika Kristus turun ke dunia ini, “satu
tubuh” telah disediakan bagi-Nya (Ibr. 10:5).
64Allah Anak
Manakala Ia mengenakan pada diri-Nya ke-
manusiaan itu, Keilahian disalut dengan ke-
manusiaan. Ia tidak muncul dari diri-Nya,
sebagai sesuatu sifat yang lain, melainkan
mengenakan kemanusiaan itu kepada diri-
Nya. Dengan demikian Keilahian dan kema-
nusiaan digabungkan.
Ketika Kristus menjelma menjadi manu-
sia, Kristus tidak berhenti sebagai Allah, ti-
dak juga Keilahian-Nya diturunkan ke ting-
kat kemanusiaan. Setiap sifat atau keadaan
itu tetap ada. “Sebab dalam Dialah,” kata
Rasul Paulus, “berdiam secara jasmaniah se-
luruh kepenuhan Keallahan” (Kol. 2:9). Di
kayu salib sifat atau keadaan manusia-Nya
mati, bukan ke-Tuhanan-Nya, sebab ke-Tu-
hanan itu mustahil mati.
Perlunya Gabungan Kedua Sifat itu.
Adanya pemahaman antar hubungan kedua
sifat Kristus memberikan sebuah wawasan
vital ke dalam misi Kristus dan keselama-
tan kita sendiri.
1. Untuk Mendamaikan Manusia de-
ngan Allah. Hanya Juruselamat yang manu-
sia Ilahi itu yang dapat membawa keselamat-
an. Pada waktu Kristus menjelma menjadi
manusia, dalam upaya membagikan sifat Ila-
hi-Nya kepada umat percaya, dikenakan-Nya
kemanusiaan pada diri-Nya. Melalui jasa da-
rah Allah manusia, umat percaya dapat me-
ngambil bagian dari sifat Ilahi itu (2 Ptr. 1:4).
Tangga dalam mimpi Yakub melambang-
kan Kristus yang menjangkau kita di mana
pun kita berada. Ia mengenakan kemanusiaan
dan sifat-sifat kemanusiaan itu serta menga-
lahkannya, supaya kita pun dengan sifat-Nya
itu dapat menang. Lengan-lengan Ilahi-Nya
meraih takhta Allah, sementara kemanu-
siaan-Nya memeluk bangsa manusia, meng-
hubungkan kita dengan Allah, menghubung-
kan bumi dengan surga.
Perpaduan sifat manusia Ilahi membuat
korban pendamaian Kristus menjadi efek-
tif. Kehidupan makhluk manusia yang tidak
berdosa atau hidup malaikat sekalipun tidak
dapat mengadakan pendamaian atas dosa-
dosa umat manusia. Hanyalah manusia Ila-
hi, sang Khalik yang dapat menebus manu-
sia.
2. Menyelubungi Keilahian dengan Ke-
manusiaan. Kristus menyalut keilahian-Nya
dengan jubah kemanusiaan, mengesamping-
kan kemuliaan dan keagungan-Nya yang sur-
gawi, demikianlah orang-orang berdosa akan
mampu berada di hadapan hadirat-Nya tan-
pa dibinasakan. Walaupun Ia-tetap Tuhan, Ia
tidak tampil sebagai Allah (Flp. 2:6-8).
3. Agar Dapat Hidup Menang. Kema-
nusiaan Kristus saja tidak akan dapat mena-
han tipu daya Setan yang amat berkuasa itu.
Ia dapat mengalahkan dosa sebab Ia ting-
gal dalam “seluruh kepenuhan Keallahan”
(Kol. 2:9). Percaya sepenuhnya kepada Ba-
pa, (Yoh. 5:19, 30;8:28), “kuasa Ilahi-Nya
digabungkan dengan kemanusiaan demi ke-
pentingan manusia untuk memperoleh ke-
menangan yang tidak ada batasnya.”23
Pengalaman Kristus dalam kehidupan
yang penuh kemenangan bukanlah merupa-
kan hak istimewa yang eksklusif. Ia tidak
pernah mempraktikkan kekuasaan yang ti-
dak dapat dipraktikkan manusia. Kita juga
dapat “dipenuhi di dalam seluruh kepenuh-
an, Allah” (Ef. 3:19). Melalui kuasa Ilahi
Kristus kita dapat jalan masuk “kepada sega-
la sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan
dan kebajikan.”
Kunci kepada pengalaman ini yaitu
iman terhadap “janji-janji yang berharga dan
yang sangat besar” sehingga kita “boleh me-
ngambil bagian dalam kodrat Ilahi, dan lu-
put dari hawa nafsu duniawi yang membina-
65Allah Anak
sakan dunia” (2 Ptr. 1:3, 4). Ia memberikan
kuasa yang serupa dan dengan kuasa yang se-
perti itulah Ia dapat menang, sehingga orang
mau menurut dengan setia serta memiliki ke-
hidupan yang menang.
Janji penghiburan Kristus yaitu salah sa-
tu kemenangan: “Barangsiapa menang, akan
Kududukkan bersama-sama dengan Aku di
atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah
menang dan duduk bersama-sama dengan
Bapa-Ku di atas takhta-Nya” (Why. 3:21).
TUGAS-TUGAS YESUS KRISTUS
Tugas-tugas nabi, imam dan raja memang
unik, pada umumnya mengharuskan adanya
pelayanan penahbisan melalui pengurapan
(1 Raj. 19:16; Kel. 30:30; 2 Sam. 5:3). Mesi-
as yang akan datang itu, Seorang yang Di-
urapi—telah dinyatakan melalui nubuat—
akan menjabat ketiga tugas ini. Kristus me-
laksanakan tugas-Nya sebagai pengantara
antara Allah dengan kita melalui jabatan na-
bi, imam dan raja. Kristus sang Nabi me-
nyatakan kehendak Allah kepada kita, Kris-
tus sang Imam mewakili kita kepada Allah
dan sebaliknya, Kristus sang Raja mempu-
nyai otoritas kemurahan Allah atas umat-
Nya.
Kristus Sang Nabi. Allah menyatakan
jabatan Kenabian Kristus kepada Musa: “Se-
orang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka
dari antara saudara mereka, seperti engkau
ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mu-
lutnya, dan ia akan mengatakan kepada me-
reka segala yang Kuperintahkan kepada-
nya” (Ul. 18:18). Orang yang hidup seza-
man dengan Kristus mengakui kegenapan
nubuatan ini (Yoh. 6:14; 7:40; Kis. 3:22, 23).
Yesus menyebut diri-Nya sebagai “nabi”
(Luk. 13:33). Ia mengajar dengan penuh kua-
sa kenabian (Mat. 7:29), menyatakan dasar-
dasar kerajaan Allah (Mat. 5:7; 22:23-36-
40), dan menyatakan yang akan datang (Mat.
24: 1-51; Luk. 19:41-44).
Sebelum penjelmaan-Nya Kristus meng-
isi para penulis Alkitab dengan Roh-Nya dan
menyatakan kepada mereka nubuat menge-
nai kesengsaraan dan berikut kemuliaan
yang diakibatkannya (1 Ptr. 1:11). Setelah
kenaikan-Nya ke surga Ia masih terus me-
nyatakan diri-Nya kepada umat-Nya. Kitab
Suci mengatakan Ia memberikan “kesaksian-
Nya”—“roh nubuat”—kepada umat-Nya
yang sisa dan setia (Why. 12:17; 19:10; baca
bab 17 dari buku ini).
Kristus Sang Imam. Sumpah Ilahi de-
ngan tegas menyatakan keimamatan Mesias:
“Tuhan telah bersumpah, dan Ia tidak akan
menyesal: ‘Engkau yaitu imam untuk se-
lama-lamanya, menurut Melkisedek” (Mzm.
110: 4). Kristus bukan keturunan Harun.
Seperti halnya Melkisedek, hak-Nya melak-
sanakan tugas keimamatan datang dari pe-
nentuan Ilahi (Ibr. 5:6, 10; baca bab 7). Tu-
gas keimamatan-Nya yang bersifat mengan-
tarai terbagi atas dua fase: di dunia maupun
di surga.
1. Keimamatan Kristus di Dunia. Pe-
ran imam di mezbah persembahan bakaran
melambangkan tugas pelayanan Kristus di
dunia. Yesus layak dan sempurna untuk ja-
batan imam: Ia manusia dan Ia “ditetapkan”
Allah dan bertindak “dalam hubungan mere-
ka dengan Allah,” ”dipanggil untuk itu oleh
Allah” dengan tugas istimewa mempersem-
bahkan “persembahan dan korban sebab
dosa” (Ibr. 5:1, 4, 10).
Imam memperdamaikan para penyembah
Allah melalui sistem persembahan yang
menggambarkan syarat pendamaian atas
dosa (Im. 1:4; 4:29, 31, 35; 5:10; 16:6; 17:
11). Oleh sebab itu, persembahan yang te-
66Allah Anak
rus-menerus di mezbah persembahan bakar-
an melambangkan tersedianya pendamaian
yang terus-menerus.
Pengorbanan-pengorbanan ini belumlah
memadai. Mereka tidak dapat membuat yang
mempersembahkannya sempurna, mele-
nyapkan dosa atau menghasilkan hati nura-
ni yang sempurna (Ibr. 10:1; 9:9). Korban-
korban persembahan itu hanyalah sekadar
bayang-bayang hal-hal yang baik yang ba-
kal terjadi (Ibr. 10:1; bandingkan 9:9, 23, 24).
Perjanjian Lama mengatakan bahwa Mesias
sendiri akan mengambil tempat korban-kor-
ban persembahan binatang itu (Ibr. 10:5-9;
Mzm. 40:7-9). Kemudian korban-korban ini
menunjuk kepada derita yang dirasakan demi
orang lain dan pendamaian sebab kematian
Kristus Juruselamat itu. Ia yang menjadi
Anak domba Allah, menjadi dosa sebab ki-
ta, menjadi satu kutuk bagi kita, darah-Nya
menyucikan kita dari segala dosa (2 Kor. 5:
21; Gal. 3:13; 1 Yoh. 1:7; bandingkan 1 Kor.
15:3).
Sehingga pada masa pelayanan Kristus
di atas dunia ini Ia bertindak sebagai imam
dan persembahan sekaligus. Kematian-Nya
di kayu salib merupakan bagian tugas keima-
matan-Nya. Sesudah korban di Golgota, ma-
ka pengantaraan-Nya yang bersifat keimam-
atan dipusatkan di bait suci yang di surga.
2. Keimamatan Surgawi Kristus. Pela-
yanan keimamatan Kristus dimulai di atas
dunia ini dan dilengkapkan-Nya di surga.
Penghinaan yang dialami-Nya di atas dunia
ini sebagai hamba Allah yang menderita me-
layakkan Dia menjadi Imam Besar di surga
(Ibr. 2:17, 18; 4:15; 5:2). Nubuatan-nubuat-
an menyatakan bahwa Mesias akan men-
dapat keagungan sebagai imam di takhta Al-
lah (Za. 6:13). Setelah kebangkitan-Nya dari
kubur, Kristus yang telah dihinakan itu di-
tinggikan. Dan sekarang Imam Besar kita du-
duk “di sebelah kanan takhta Yang Maha-
besar di sorga,” melayani di kaabah yang di
surga (Ibr. 8:1, 2; bandingkan 1:3;9:24).
Kristus memulai pekerjaan pengantara-
an-Nya begitu Ia naik ke surga. Asap dupa
yang naik ke atas di tempat yang kudus da-
lam bait suci melambangkan jasa Kristus,
doa-doa dan kebenaran yang melayakkan
perbaktian dan doa kita kepada Allah. Dupa
dapat dipersembahkan hanyalah dengan me-
ngambil bara dari mezbah persembahan ba-
karan, yang menyatakan hubungan erat an-
tara pengantaraan dengan persembahan pen-
damaian dari mezbah itu. Oleh sebab itu,
tugas pengantaraan Kristus dibangun atas
jasa pendamaian pengorbanan yang sempur-
na yang dilakukan-Nya.
Pengantaraan yang dilakukan Kristus
memberikan dorongan yang kuat bagi umat-
Nya: Ia mampu “juga menyelamatkan de-
ngan sempurna semua orang yang oleh Dia
datang kepada Allah. Sebab la hidup senan-
tiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibr.
7:25). sebab Kristus mengadakan pengan-
taraan bagi umat-Nya, semua tuduhan Se-
tan kehilangan keabsahan dasarnya (1 Yoh.
2:1; bandingkan Za. 3:1). Secara retoris Pau-
lus bertanya, “Siapakah yang akan menghu-
kum mereka?” Kemudian Ia memberikan ja-
minan bahwa Kristus sendiri yang di sebe-
lah kanan Allah, menjadi pengantara bagi ki-
ta (Rm. 8: 34). Untuk mengukuhkan peran-
an-Nya sebagai Pengantara, Kristus berka-
ta, “sebenarnya segala sesuatu yang kamu
minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya ke-
padamu dalam nama-Ku” (Yoh. 16:23).
Kristus Sang Raja. Tuhan telah “mene-
gakkan takhta-Nya di sorga dan kerajaan-
Nya berkuasa atas segala sesuatu (Mzm 103:
19). Dengan bukti diri-Nya sendiri, bahwa
Anak Allah sebagai salah seorang dari Ke-
allahan itu, turut dalam pemerintahan Ilahi
67Allah Anak
ini atas semesta alam.
Kristus, sebagai Allah-manusia akan
memberlakukan pemerintahan-Nya sebagai
raja atas orang-orang yang menerima Dia se-
bagai Tuhan dan Juruselamat. “Takhtamu ke-
punyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan
selamanya,” katanya, “dan tongkat kerajaan-
mu yaitu tongkat kebenaran” (Mzm. 45:7;
Ibr. 1:8, 9).
Kerajaan Kristus bukannya dibangun tan-
pa perjuangan, sebab “raja-raja dunia ber-
siap-siap dan para pembesar bermufakat ber-
sama-sama melawan Tuhan dan yang diura-
pi-Nya (Mesias)” (Mzm. 2:2). namun segala
rencana dan daya upaya mereka tidak ber-
hasil. Allah akan menobatkan Mesias di atas
takhta-Nya dengan pengumuman: “Akulah
yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-
Ku yang kudus!” Ia mengumumkan pula,”
Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanak-
kan pada hari ini” (Mzm. 2:6, 7; Ibr. 1:5).
Nama Raja yang akan menduduki takhta
Daud yaitu “TUHAN KEADILAN KITA”
(Yer. 23: 5, 6), pemerintahan-Nya unik kare-
na Ia berfungsi sebagai imam dan raja di
takhta surga (Za. 6:13).
Kepada Maria, malaikat Gabriel membe-
ritahukan bahwa Yesus akan menjadi Me-
sias, dengan perkataan, “Ia akan menjadi raja
atas kaum keturunan Yakub sampai selama-
lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berke-
sudahan” (Luk. 1:33). Kerajaan-Nya digam-
barkan oleh dua takhta yang melambangkan
kedua kerajaan-Nya. “Takhta kasih karunia”
(Ibr. 4:16) menggambarkan kerajaan anuge-
rah; “takhta kemuliaan-Nya” (Mat. 25:31)
tetap untuk kerajaan kemuliaan.
1. Kerajaan Anugerah. Begitu manusia
jatuh ke dalam dosa, kerajaan anugerah itu
didirikan. Keberadaannya atas janji Allah.
Melalui iman manusia dapat menjadi rakyat-
nya. namun pengukuhannya belumlah leng-
kap sampai tiba saat kematian Kristus. Ke-
tika Ia berseru di kayu salib, “Sudah sele-
sai,” syarat rencana penebusan telah dipenu-
hi dan perjanjian baru diratifikasi (banding-
kan Ibr. 9:15-18).
Proklamasi Yesus, “Waktunya telah ge-
nap; Kerajaan Allah sudah dekat”(Mrk. 1:
15) yaitu petunjuk langsung kepada kera-
jaan anugerah yang akan segera didirikan
menyusul kematian-Nya. Didirikan atas ka-
rya penebusan, bukan dengan Penciptaan,
kerajaan ini menerima warganya melalui re-
generasi—kelahiran baru. Peraturan Yesus,
“Jika seorang tidak dilahirkan dari air dan
Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Keraja-
an Allah” (Yoh. 3:5; bandingkan 3:3). Ia
membandingkan pertumbuhannya kepada
pertumbuhan yang bersifat fenomena sebu-
ah pertumbuhan biji sesawi dan efek ragi atas
gandum (Mrk. 4:22-31; Mat. 13:33).
Kerajaan anugerah itu tidak tampak se-
cara lahiriah, akan namun efeknya nyata di
hati umat percaya. Kerajaan ini, kata Yesus
mengajarkan, “datang tanpa tanda-tanda la-
hiriah, juga orang tidak dapat mengatakan:
Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Se-
bab sebenarnya Kerajaan Allah ada di an-
tara kamu’” (Luk. 17:20, 21). Kerajaan-Nya
bukanlah berasal dari dunia ini, kata-Nya,
melainkan kerajaan kebenaran. “Aku yaitu
raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itu-
lah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya
Aku memberi kesaksian tentang kebenaran;
setiap orang yang berasal dari kebenaran
mendengarkan suara-Ku” (Yoh. 18:37).
Pendirian kerajaan ini merupakan suatu
pengalaman yang mengerikan, mengukuh-
kan pernyataan bahwa tidak ada mahkota tan-
pa derita. Pada penghujung tugas pelayanan-
Nya di atas dunia ini, Yesus, Sang Mesias,
Allah manusia, datang ke Yerusalem seba-
gai ahli waris takhta Daud. Ia duduk di atas
seekor keledai menurut kebiasaan orang Ya-
68Allah Anak
hudi bagi seorang raja yang masuk kota (Za.
9:9), Ia disambut khalayak secara spontan,
menyatakan dukungan dengan kegembi-raan
yang meluap-luap. Dalam perjalanan arak-
arakan memasuki kota Ia diiringi “orang ba-
nyak yang sangat besar jumlahnya meng-
hamparkan pakaiannya di jalan” sebagai alas
yang dilalui raja, mereka juga memotong
ranting-ranting pohon sambil berseru, kata-
nya ‘Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah
Dia yang datang dalam nama Tuhan!’” (Mat.
21:8, 9) dengan demikian menggenapi apa
yang telah dinubuatkan Zakharia sebelum-
nya. Sekarang Kristus tampil sebagai raja
Mesias.
Sayangnya, pernyataan-Nya dan tuntut-
an-Nya atas takhta bukannya tanpa perla-
wanan. Kebencian Setan meluap-luap terha-
dap “Orang yang tidak berdosa itu” menca-
pai puncaknya. Dalam tempo dua belas jam
saja para pembela iman, majelis Sanhedrin,
menangkap-Nya secara diam-diam, mem-
bawa Dia ke sidang pengadilan, dan men-
jatuhi hukuman mati.
Selama persidangan berlangsung, Yesus
terang-terangan mengukuhkan bahwa Ia ada-
lah Anak Allah dan Raja bagi umat-Nya
(Luk. 23:3; Yoh. 18:33-37). Sebagai sam-
butan atas pernyataan-Nya itu, Ia dikenakan
jubah dan mahkota raja cemoohan, bukan
dengan mahkota emas melainkan dengan
mahkota duri (Yoh. 19:2). Penerimaan atas-
Nya sebagai raja dinyatakan dengan olok-
olok dan cercaan yang luar biasa. Sambil me-
mukuli Dia, serdadu mengejek, “Salam, hai
raja orang Yahudi!” (Yoh. 19:3). Tatkala Pi-
latus, gubernur Roma, menampilkan Dia ke-
pada bangsa itu, ia berkata, “Inilah rajamu”
umat-Nya menolak Dia sambil berteriak,
“Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan
Dia!” (Yoh. 19:14, 15).
Melalui kehinaan yang amat sangat—de-
ngan kematian di kayu salib—Kristus mem-
bangun kerajaan anugerah. Tidak lama kemu-
dian derita yang hina itu digantikan peng-
agungan. Dengan kenaikan-Nya, Ia mendu-
duki takhta di surga selaku Imam dan Raja,
bertakhta bersama-sama Bapa (Mzm 2:7, 9;
bandingkan Ibr. 1:3-5; Flp. 2:9-11; Ef. 1:20-
23). Pemahkotaan ini bahkan memberikan
kepada-Nya, selaku Anak Allah yang Ilahi,
kuasa apa pun yang belum pernah dimiliki-
Nya sebelumnya. namun sekarang, sebagai
Pengantara yang Ilahi manusia, kemanusia-
an-Nya turut serta dalam kemuliaan surgawi
dan begitu pula dengan kuasa-Nya untuk per-
tama kalinya.
2. Kerajaan Anugerah. Gambaran kera-
jaan kemuliaan itu ditampilkan di Bukit Ke-
muliaan. Di sanalah Kristus menampilkan
diri-Nya dalam kemuliaan-Nya. “Wajah-Nya
bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya
menjadi putih bersinar seperti terang” (Mat.
17:2). Musa dan Elia mewakili orang yang
ditebus. Musa menggambarkan orang yang
mati dalam Kristus dan kemudian dibangkit-
kan, sedang Elia mewakili orang-orang
percaya yang akan dibawa ke surga tanpa
mengalami kematian pada waktu kedatang-
an-Nya kedua kali.
Kerajaan kemuliaan, akan didirikan de-
ngan diikuti peristiwa dahsyat waktu keda-
tangan Kristus (Mat. 24:27, 30, 31; 25:31,
32). Kemudian diikuti dengan pengadilan,
waktu Anak Manusia mengakhiri tugas peng-
antaraan-Nya di bait suci surga, “Yang Lan-
jut Usianya”—Allah Bapa—akan memberi-
kan kepada-Nya “kekuasaan dan kemuliaan
dan kekuasaan sebagai raja” (Dan. 7:9, 10,
14). Kemudian “pemerintahan, kekuasaan
dan kebesaran dari kerajaan-kerajaan di ba-
wah semesta langit akan diberikan kepada
orang-orang kudus, umat Yang Mahatinggi:
pemerintahan mereka yaitu pemerintahan
yang kekal, dan segala kekuasaan akan me-
69Allah Anak
ngabdi dan patuh kepada mereka” (Dan. 7:
27).
Kerajaan kemuliaan pada akhirnya akan
didirikan di atas dunia pada akhir milenium
itu, manakala Yerusalem Baru akan turun da-
ri surga (Why. 20, 21). Dengan menerima
Yesus Kristus sebagai Juruselamat, kita da-
pat menjadi warga negara kerajaan kemu-
rahan-Nya sekarang dan kerajaan kemulia-
an pada waktu kedatangan-Nya, yang kedua
kali. Di hadapan kita terbentang kehidupan
yang mempunyai kemungkinan yang tiada
batasnya. Kehidupan yang diberikan Kris-
tus bukanlah suatu kehidupan yang dipenu-
hi kegagalan dan hadapan yang pudar serta
impian yang buyar, melainkan suatu kehi-
dupan yang bertumbuh, yang berjalan de-
ngan sukses bersama Kristus, Juruselamat.
Suatu kehidupan yang memperlihatkan ke-
hidupan cinta kasih yang sejati dan bertum-
buh terus, penuh kegembiraan, damai, pan-
jang sabar, lemah lembut, kebajikan, setia-
wan, ramah dan penuh pengendalian diri
(Gal. 5:22, 23)—buah-buah hubungan de-
ngan Yesus, yang diberikan-Nya kepada se-
mua orang yang mau memasrahkan hidup
kepada-Nya. Siapakah yang akan menolak
pemberian yang demikian?
________________:
1. Mengenai nubuatan 70 minggu. baca 70 weeks, Leviticus, and the Nature of Prophecy, ed., Frank B. Holbrook (Wash-
ington, D.C.” Biblical Research Institute, General Conference of Seventh-day Adventist, 1986), hlm. 3-127.
2. Mengenai Fondasi Alkitabiah prinsip tahun hari, lihat William H. Shea, Selected Studies on Prophetic Interpretation
(Washington, D.C.: Review and Herald, 1982), hlm. 56-93.
3. Tanggal-tanggal pemerintahan Artaxerxes dikukuhkan oleh tangga-tanggal Olimpiade, Kanon Ptolemy, Papirus Ele-
phantine dan tablet Kuniform Babilonia.
4. Lihat juga C. Mervyn Maxwell, God Cares (Mountain View, CA.: Pacific Press, 1981) Jilid 1, hlm. 216-218.
5. Gleason L. Archer, Encyclopedia of Bible Difficulties (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1982), hlm. 291.
6. White, The Desire of Ages (Mountain View, CA: Pacific Press, 1940), hlm. 530.
7. Alkitab menyebut Yesus “anak tunggal” dan “anak sulung” dan berbicara mengenai hari kelahiran-Nya bukanlah berarti
menyangkal keilahian-Nya serta keberadaan-Nya yang abadi. Istilah “anak tunggal” (Yoh. 1:14; 1:18; 3:16; 1 Yoh. 4:9)
berasal dari kata Yunani monogenes. Penggunaan yang Alkitabiah kata monogenes menyatakan bahwa cakupan makna-
nya “satu-satunya” yang “unik” menggambarkan suatu hubungan yang khusus, bukan suatu peristiwa kebetulan saja.
Misalnya, Ishak disebut “satu-satunya anak Abraham” sekalipun sebenarnya bukan hanya ialah anak satu-satunya, bah-
kan anak sulung sekalipun (Kej. 16:16; 21:1-21; 25:1-6). Ishak yaitu anak yang unik, yang tiada taranya, yang dimak-
sudkan sebagai pengganti Abraham. “Yesus Kristus, Allah yang sudah ada sejak dahulu, Firman Allah yang Ilahi, sebab
dengan penjelmaan-Nya menjadikan Ia sebagai Anak Allah yang unik—yang mana Ia dinyatakan “monogenes,” tidak
ada yang seperti Dia, yang unik dalam banyak hal aspek hidup dan wujud-Nya. Tidak ada anak manusia yang seperti
Dia, tiada taranya dalam hubungan-Nya dengan Keallahan, yang melakukan pekerjaan yang benar seperti yang dilaku-
kan-Nya. Oleh sebab itu, “monogenes” melukiskan hubungan antara Allah Bapa dengan Yesus Kristus sang Anak
sebagai Pribadi yang terpisah dalam Keallahan. Inilah hubungan yang dimiliki Yesus, dengan kepribadian-Nya yang
Ilahi, dalam hubungan dengan rencana keselamatan.” (Committe on Problem in Bible Translation, Problems in Bible
Translation [Washington, D.C.: Review and Herald, 1954] hlm. 202). Seperti halnya ketika Kristus disebut “anak tung-
gal” (Ibr. 1:6; Rm. 8:29; Kol. 1:15, 18; Why. 1:5), Istilah itu tidak merujuk pada segi waktu raja. Justru itu menekankan
pentingnya atau prioritas (bandingkan Ibr. 12:23). Dalam kultur Ibrani, biasanya anak sulung memperoleh hak-hak
istimewa dalam keluarga. Demikianlah Yesus, sebagai anak sulung di antara manusia, memenangkan kembali semua
hak-hak istimewa manusia yang telah hilang itu. Ia menjadi Adam yang baru, “anak sulung” yang baru atau pemimpin
umat manusia. Petunjuk yang diberikan Alkitab mengenai Yesus yang diperanakkan itu didasarkan atas konsep yang
sama dengan anak tunggal dan anak sulung. Dengan berdasarkan konteks itu, nubuat mengenai Mesias, “Anak-Ku
engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini” (Mzm. 2:7), menunjuk kepada Yesus dengan penjelmaan-Nya (Ibr.
1:6), kebangkitan (Kis. 13:33; bandingkan dengan ayat 30), atau penahbisan-Nya (Ibr. 1:3, 5).
8. Bukti tambahan diperoleh dalam hukum tata bahasa Yunani. (1) Penggunaan kata (menggunakan kata tanpa suatu
penunjuk/kata sandang tentu) “Lord” (Tuhan). Penerjemah LXX menerjemahkan YHWH dengan kurios amartria. Se-
ring benar, jika seseorang menemukan kurios di dalam Perjanjian Baru maka yang ditunjukkannya ialah Tuhan (mi-
salnya dalam Mat. 7:21; 8:2, 6. 25). (2) Sebuah kata sandang tunggal menyatakan dua kata benda. Misalnya di dalam
kedua frase ini Kristus digambarkan sebagai Allah “Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus” (Titus
70Allah Anak
2:13), “oleh sebab keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2 Ptr. 1:1). (3) jika ada dua kata benda dan
yang kedua itu dalam bentuk kasus genetif tanpa penunjuk tentu (artikel), yang lainnya kata benda yang saling mengisi
satu sama lain. Begitu pulalah dengan Rm. 1:17, 18. yang berbicara mengenai “kebenaran Allah” dan “murka Allah”,
dengan demikian Yesus dilukiskan sebagai “Anak Allah” (Luk 1:35).
9. White, “The True Sheep Respond to the Voice of the Shepherd,” Signs of the Times, 27 November 1893, hlm. 54.
10. White, Patriarchs and Prophets, hlm. 34.
11. Ungkapan-ungkapan ini sering digunakan oleh para penulis Advent untuk menggambarkan identitas Yesus terhadap
umat manusia (bangsa manusia), akan namun mereka menggunakannya bukan dalam pengertian dan lingkup yang penuh
dosa. Gereja secara resmi mengambil poisisi (sepanjang sejarahnya) bahwa Tuhan Yesus Kristus sama sekali tidak
berdosa.
12. Kristus mengenakan “tubuh dan pikiran yang sama mudahnya dipengaruhi” seperti orang yang hidup pada masa-Nya
(White, “Notes of Travel,”Advent Review and Sabbath Herald, 10 Februari 1885, hlm. 81)—keadaan manusia yang
sudah merosot “kekuatan jasmaninya, begitu pula kuasa pikiran dan moral”—secara moral Kristus tidak merosot, Ia pun
sama sekali tidak berdosa (White, “In All Points Tempted Like As We Are,” Signs, 3 Desember 1902, hlm. 2; White,
Desire of Ages, hlm. 49).
13. Henry Melvill dalam Sermons by Henry Melvill, B.D., ed., C.P. Mellvaine (New York, N.Y.: Stanford & Swords, 1844),
hlm. 47. Dengan “tanpa cacat-cela” dimaksudkannya lapar, sakit, duka, dsb. Ia menyebut pandangan ini “doktrin orto-
doks” sebelum dan sesudah Kejatuhan—sebagai sifat Kristus.
14. White, Letter 8, 1895 dalam The Seventh-day Adventist Bible Commentary, ed., Francis D. Nichol, rev. ed. (Washington,
D.C.” Review and Herald, 1980), jld 5, hlm. 1128,1129; bandingkan SDA Bible Commentary, rev. ed., jilid 7, hlm. 927.
15. Bnd. White, “In Gethsemane”, Signs, 9 Desember 1987, film. 3; White dalam SDA Bible Commentary, rev. ed., jld 7,
hlm. 426.
16. Brooke F. Wescott, The Epistle to the Hebrews (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans, 1950), hlm. 59.
17. F.F. Bruce, Commentary on Epistle to the Hebrews (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans, 1972), hlm. 85, 86.
18. White, The Temptation of Christ,” Review and Herald, 1 April 1875, hlm. 3.
19. Philip Schaff, The Person of Christ” (New York, NY: George H. Doran, 1913), hlm. 35, 36.
20. Karl Ullmann, An Apologetic View of the Sinless Character of Jesus, The Biblical Cabinet; atau Hermeneutical Exe-
getical, and Philological Library (Edinburgh, Thomas Clark, 1842) jld. 37, hlm. 11.
21. White, “In Gethsemane,” Signs, 9 Desember 1897, hlm. 3; bandingkan White, Desire of Ages, hlm. 266.
22. White, Letter 8, 1895, dalam SDA Bible Commentary, jilid 5, hlm. 1128, 1129. Pada masa E.G. White definisi Propen-
sity (kecenderungan) dipungut dari bahasa Latin propensus yang berarti “kecenderungan alamiah;prasangka, keras hati
akan” (Webster Collegiate Dictionary, edisi ketiga., (Springfield, MA: G.&C. Merriam Co., 1916): bandingkan Nut-
sall’s Standard Dictioinaty of the English Laguage (Boston, MA: De Wolfe, Fiske & Co., 1886). Webster’s Unabridged
Dictionary mengartikannya sebagai “kualitas atau keadaan cenderung (condong ke arah, dalam rasa moral); Kecende-
rungan alamiah; disposisi untuk melakukan yang baik atau jahat: prasangka, cenderung, tendensi” Webster’s lnterna-
tional Dictionary of the English Language (Springfield, MA: G.&C. Merriam & Co., 1890). Salah seorang penulis yang
sangat dikagumi E.G. White, Henry Melvin, menulis, ‘namun ia mengenakan kemanusiaan tanpa cacat-cela, Ia tidak
mengikuti kecenderungan hati terhadap dosa. Di sinilah Keilahiannya diserang. Roh Kudus menyelubungi Sang Pera-
wan, dan mengizinkan kelemahan datang dari padanya, menjauhkan yang jahat; sehingga mengakibatkan kemungkinan
adanya duka dan derita manusia, namun tidak bernoda dan bercacat-cela; manusia yang juga mengenal air mata, namun
tidak ada noda; kemungkinan untuk murka, namun tidak cenderung untuk mempertahankan diri; sangat mengenal
kesengsaraan namun bukan akibat perbuatannya (Melvin, hlm. 47). Baca Tim Poirier, “A Comparison of the Christology
of Ellen G. White and Her Literary Sources” (Naskah yang tidak diterbitkan dari Ellen G. White Estate, Inc., General
Conference of Seventh-day Adventists, Washington, D.C. 20012).
23. White, ‘Temptation of Christ” Review and Herald, 13 Oktober 1874, hlm. [1]; bandingkan White dalam SDA Bible
Commentary, jilid 7, hlm. 904.
71Allah Anak
72Allah Anak
Allah Roh yang kekal aktif bersama Bapa dan Anak dalam Penciptaan,
Penjelmaan dan penebusan. Ia mengilhami para penulis Kitab Suci. Ia
mengisi hidup Kristus dengan kuasa. Ia menarik pada-Nya serta menya-
darkan umat manusia; dan barangsiapa yang menyambutnya akan
dibaharui dan diubah menjadi serupa dengan gambar Allah. Diutus
oleh Bapa dan Anak supaya Ia senantiasa dengan anak-anak-Nya, Ia
menyo-dorkan karunia rohani kepada jemaat, memberinya kuasa untuk
menjadi saksi bagi Kristus, dan selaras dengan Kitab Suci yang
menuntun kepada semua kebenaran—___________________—5.
73
Walaupun penyaliban telah membi-
ngungkan, menimbulkan kesedihan
yang mendalam, dan menggentarkan pengi-
kut-pengikut Yesus, maka kebangkitan men-
datangkan fajar kepada hidup mereka. Apa-
bila Kristus menghancurkan belenggu maut,
kerajaan Allah terbit di dalam hati mereka.
Kini bara api yang tidak diragukan lagi
berkobar-kobar dalam jiwa mereka. Perbe-
daan-perbedaan pendapat yang beberapa
minggu sebelumnya terjadi di antara mere-
ka yakni, perbedaan pendapat yang sangat
tajam dan menjadi benteng pemisah di an-
tara sesama murid menjadi luluh. Mereka
saling mengaku dosa dan membuka diri me-
reka untuk menerima Yesus dengan segenap
hati, raja mereka yang telah naik ke surga.
Rasa persatuan semakin bertumbuh di ka-
langan murid-murid yang tadinya tercerai-
berai, berkat adanya doa dari hari ke hari.
Satu hari yang tidak dapat dilupakan ialah
ketika mereka memuji-muji Tuhan terde-
ngarlah suara gemuruh bagaikan badai yang
menghentakkan mereka. Bara api yang ber-
kobar dalam hati mereka kini semakin nya-
ta, lidah-lidah api hinggap di atas kepala
mereka masing-masing. Bagaikan nyala api
yang mengamuk, Roh Kudus hinggap di atas
mereka.
Dengan hati yang dipenuhi Roh Kudus,
mereka tidak dapat menahan kasih mereka
yang baru dan kegembiraan yang penuh se-
mangat dalam Yesus. Kobaran nyala api ke-
gembiraan ini mereka nyatakan kepada orang
banyak dengan penuh semangat, mereka mu-
lai mengumumkan kabar baik tentang kese-
lamatan. sebab gemuruh suara itu, orang-
orang yang ada di sekitar tempat itu, juga
para pendatang yang berasal dari pelbagai
bangsa yang kebetulan lewat, mengerumuni
tempat berbakti itu. Dengan rasa kagum dan
agak keheran-heranan mereka mendengar-
kan—dalam bahasa mereka masing-ma-
sing—kesaksian-kesaksian yang luar biasa
tentang pekerjaan Tuhan yang Mahakuasa
diucapkan orang-orang Galilea yang berpen-
didikan sangat sederhana itu.
"Saya tidak mengerti," kata orang yang
memperhatikannya, "Apa artinya semua
ini?" Orang-orang lain lewat sambil meng-
BAB 5
ALLAH ROH KUDUS
74Allah Roh Kudus
gerutu, "Ah, mereka itu sedang mabuk." "Bu-
kan," kata Petrus, "orang-orang ini tidak ma-
buk seperti yang kamu sangka sebab hari
baru pukul sembilan. Apa yang telah kamu
lihat dan dengar berlangsung di tempat ini
hanyalah sebab Yesus yang telah dibangkit-
kan itu dan kini ditinggikan serta duduk di
sebelah kanan Allah yang telah memberikan
kepada kami karunia Roh Kudus" (Kis. 2).
SIAPAKAH ROH KUDUS ITU?
Alkitab menyatakan bahwa Roh Kudus
itu satu pribadi, bukan sebuah kekuatan yang
tidak mempunyai pribadi. Perkataan yang
mengatakan "sebab berkenan kepada Ro-
hul Kudus dan kepada kami" (Kis. 15:28,
Terjemahan Lama) menunjukkan bahwa
umat percaya yang mula-mula itu mengang-
gap Roh Kudus sebagai satu pribadi. Kris-
tus juga berbicara mengenai Dia sebagai satu
pribadi yang jelas. "Ia akan memuliakan
Aku," kata-Nya, "sebab Ia akan memberita-
kan kepadamu apa yang diterima-Nya dari
pada-Ku" (Yoh. 16:14). Kitab Suci menun-
juk kepada Allah tritunggal, menyatakan
Roh Kudus sebagai satu pribadi (Mat. 28:19;
2 Kor. 13:14).
Roh Kudus memiliki kepribadian. Ia ber-
bantah-bantah (Kej. 6:3, Terjemahan Lama),
mengajar (Luk. 12:12), menyadarkan (Yoh.
16:8), menangani masalah-masalah gereja
(Kis. 13:2), menolong dan mengantarai (Rm.
8:26), mengilhami (2 Ptr. 1:21), dan mengu-
duskan (1 Ptr. 1:2). Kegiatan ini tidak dapat
diselenggarakan oleh kuasa saja, pengaruh
atau kebijaksanaan Allah. Hanya satu priba-
dilah yang dapat melakukannya.
ROH KUDUS yaitu ALLAH
Kitab Suci menganggap Roh Kudus seba-
gai Allah. Petrus mengatakan kepada Anani-
as bahwa, berdusta kepada Roh Kudus, ia
"bukan mendustai manusia namun mendus-
tai Allah" (Kis. 5:3, 4). Yesus menyatakan
bahwa dosa yang tidak dapat diampuni ia-
lah "hujat
.jpeg)
